Anda di halaman 1dari 14

1

MENENTUKAN PERCEPATAN BENDA


PADA SUDUT YANG BERBEDA
Arif Rahman
E-mail : ar_rachmman@yahoo.co.id
Program S-1 Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
INTISARI
Eksperimen alat untuk mengetahui pengaruh sudut terhadap percepatan
benda pada bidang miring telah dilakukan dengan meluncurkan benda (mobil-
mobilan) dengan massa 25 gram pada lintasan berupa bidang miring dengan
panjang 81,5 cm. Lintasan terbuat dari bahan acrylic yang koefisien geseknya
sangat kecil sehingga gaya geseknya diabaikan. Percobaan ini dirancang agar
kemiringan lintasan terhadap bidang datar dapat diatur.
Dengan mengatur sudut kemiringan bidang sebesar, 5, 10, 15, 20 dan
25, secara eksperimen diperoleh percepatan benda s, untuk sudut 5 didapatkan
sebesar 0,840011770 m/s
2
, sudut 10 diperoleh 1,985780351 m/s
2
, sudut 15
diperoleh 2,272065168 m/s
2
, untuk sudut 20 diperoleh 3,251779501 m/s
2
, dan
untuk sudut 25 diperoleh 4,004481082 m/s
2
. Sedangkan percepatan yang
dihitung secara teoritis diperoleh 0,871557427 m/s
2
untuk sudut 5, 1,736481777
2

m/s
2
untuk sudut 10, 2,588190451 m/s
2
untuk sudut 15, 3,420201433 m/s
2
untuk
sudut 20, dan 4,226182617 m/s
2
untuk sudut 25.
Berdasarkan hasil pengujian alat untuk mengetahui pengaruh sudut
terhadap percepatan benda pada bidang miring yang dilakukan, nilai
eksperimental memiliki tingkat kesesuaian yang baik dengan nilai prediksi
teoritisnya, dengan ralat relatif sebesar 3,619458206 % pada pengukuran dengan
sudut elevasi 5, 14,35653271 % pada pengukuran dengan sudut elevasi 10,
12,21414301 % pada pengukuran dengan sudut elevasi 15, 6,386230059 % pada
pengukuran dengan sudut elevasi 20, dan 5,245900678 % pada pengukuran
dengan sudut elevasi 25.
Berdasarkan percobaan bisa diketahui bahwa percepatan benda pada
bidang miring dipengaruhi sudut kemiringan bidang. Semakin besar sudut elevasi
bidang miring terhadap bidang datar, maka waktu yang dibutuhkan benda untuk
mencapai titik akhir semakin singkat, sehingga bisa dikatakan percepatan benda
semakin besar.
Kata Kunci : Bidang Miring, Pengaruh Sudut Bidang terhadap Percepatan Benda.




3

ABSTRACT
Experimental tool to determine the effect of acceleration of the object at an
angle to the inclined plane has been done with the launching of objects (cars) with
a mass of 25 grams on the track in the form of an inclined plane with a length of
81.5 cm. Tracks made of acrylic material that is so small that friction coefficient
friction force is negligible. This experiment is designed so that the slope of the
trajectory of the plane can be arranged.
By adjusting the tilt angle of the field, 5, 10, 15, 20 and 25,
experimentally derived object's acceleration, for a 5 angle obtained by
0.840011770 m/s
2
, 10 angle obtained 1.985780351 m/s
2
, angle of 15 obtained
2.272065168 m/s
2
, obtained for an angle of 20 3.251779501 m/s
2
, and for an
angle of 25 obtained 4.004481082 m/s
2
. While acceleration is calculated
theoretically obtained 0.871557427 m/s
2
for 5 angle, 1.736481777 m/s
2
for 10
angle, 2.588190451 m/s
2
for 15 angle, 3.420201433 m/s
2
for 20 angle , and
4.226182617 m/s
2
for 25 angle.
Based on the results of the testing tool to determine the effect of
acceleration of the object at an angle to the inclined plane is done, the
experimental values have a good level of compliance with the theoretical
prediction value, with a relative error of 3.619458206 % in the measurement of
the elevation angle of 5, 14.35653271 % on measurement of the elevation angle
10, 12.21414301 % in the measurement of elevation angle 15, 6.386230059 %
in the measurement of elevation angle 20, and 5.245900678 % on measuring the
elevation angle of 25.
4

Based on the experiments can be known that the acceleration of the object
on an inclined plane tilt angle affected areas. The greater the elevation angle of the
incline to the plane, then the time required to reach the endpoint object is getting
shorter, so that it can be said the acceleration of the larger object.
Key words: Inclined plane, Effect of Angle on the Acceleration of Objects.













5

1. Pendahuluan
Prinsip bidang miring banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari.
Hal yang menarik untuk diamati berkaitan dengan bidang miring adalah gerak
luncuran benda, misalnya luncuran pada perosotan. Kemiringan perosotan
harus disesuaikan agar aman untuk digunakan, karena jika kemiringannya tidak
disesuaikan dan tidak ada hambatan dalam hal ini adalah koefisien gesek antara
benda dengan permukaan bidang, maka kecepatan luncur tidak akan terkendali
dan dapat membahayakan(Giancoli, D).
Beberapa percobaan mengenai pengaruh sudut terhadap percepatan telah
dilakukan, seperti percobaan yang dilakukan oleh M Raza Primadi bertujuan
utnuk menentukan percepatan benda pada bidang miring. Percobaan ini
dilakukan dengan meluncurkan benda (mobil-mobilan) pada bidang miring
yang lintasannya sudah diketahui jaraknya.
Kemudian waktu yang diperlukan benda untuk menempuh bagian
lintasan tersebut diukur dengan menggunakan stop watch dengan luncuran
dimulai dari ujung bidang yang paling tinggi. Dengan mengatur sudut
kemiringan bidang sebesar 5,10, 15, 20 dan 25 diperoleh percepatan benda
secara eksperimen, yaitu sebesar 0.88999644 m/s
2
untuk sudut 5, 1.64365549
m/s
2
untuk sudut 10, 2.100399076 m/s
2
untuk sudut 15, 2.872737719 m/s
2

untuk sudut 20, dan 3.698224852 m/s
2
untuk sudut 25. Sedangkan percepatan
yang dihitung secara teoritis diperoleh 0.854126279 untuk sudut 5,
1.701752141 untuk sudut 10, 2.536426642 untuk sudut 15, 3.351797405
untuk sudut 20, dan 4.141658965 untuk sudut 25.
6

Besar sudut kemiringan bidang berpengaruh terhadap percepatan benda.
Sehingga alat ini dibuat untuk menentukan percepatan benda pada sudut yang
berbeda.
2. Dasar Teori
Benda yang diletakkan pada bidang miring akan bergerak dengan
percepatan tertentu, karena adanya interaksi gaya yang bekerja pada benda.
Percepatan gerak benda pada bidang miring dapat dianalisa dengan
memanfaatkan hukum Newton tentang gerak, seperti pada Gambar 1

Gambar 1. Interaksi gaya-gaya yang bekerja pada benda yang
bergerak pada bidang miring
Gambar 1 merupakan gambar interaksi gaya yang bekerja pada benda
yang bergerak pada bidang miring, diantaranya gaya berat dan gaya
normal(Young,dkk). Dari interaksi gaya-gaya tersebut, persamaan dapat
diperoleh dengan menggunakan analisis vektor dengan acuan koordinat sumbu
x merupakan permukaan bidang dan sumbu y pada tegak lurus bidang.
7

Sehingga gaya berat dapat diuraikan menjadi komponen arah sumbu x dengan
persamaan
= sin (1)
dan komponen berat arah sumbu y
= cos (2)
dengan w merupakan berat benda (N) dan merupakan sudut permukaan
bidang miring terhadap bidang datar ().
Pada arah sumbu y terdapat gaya normal (N) yang berlawanan arah
dengan komponen gaya berat pada arah sumbu y (w
y
). Resultan gaya pada arah
sumbu y adalah nol karena tidak ada gerak pada arah sumbu y, sehingga
berlaku hukum I Newton dengan persamaan
=0 (3)
sehingga diperoleh persamaan
cos =0 (4)
= cos (5)
dengan N merupkan gaya normal (N) dan w merupakan berat benda (N). Dari
persamaan (3) terlihat bahwa gaya normal pada kotak yang diberikan oleh meja
mempunyai besar yang sama dengan kompon berat kotak arah sumbu y.
Namun, karena dalam percobaan ini gaya gesek antara benda dengan
permukaan bidang diabaikan, maka gaya normal tidak akan berpengaruh
terhadap percepatan benda (Giancoli, D).
Benda bergerak pada arah sumbu x dengan percepatan tertentu dan
berlaku hukum II Newton dengan persamaan
8

= (6)
gaya-gaya yang bekerja pada arah sumbu x adalah komponen berat arah sumbu
x dan gaya gesek kinetik yang arahnya saling berlawanan, sehingga diperoleh
persamaan :
sin = (7)
sehingga, diperoleh persamaan untuk menentukan percepatan benda secara
teoritik yaitu
=
sin
m
(8)
dengan a merupakan percepatan benda (m/s
2
), w merupakan gaya berat benda
(N), merupakan sudut permukaan bidang miring terhadap bidang datar
(),dan m merupakan massa benda (kg).
Untuk mengulur percepatan benda secara eksperimen, digunakan
persamaan
=2/
2
(9)
dengan s merupakan panjang lintasan (m), dan t adalah waktu tempuh dari titik
awal samapai titk akhir (s).
Pengukuran keberhasilan sistem dilakukan dengan perhitungan ralat
relatif antara nilai percepatan yang diperoleh berdasar eksperimen dengan nilai
percepatan yang dihitung secara teori dengan persamaan..


100% (10)
dengan xeksperimen adalah jarak maksimum yang diperoleh dari hasil
ekperimen dan xteori adalah jarak maksimum hasil dari prediksi teoritik.
9

3. Tata Kerja
3.1. Bahan dan Alat
Permukaan lintasan yang digunakan dalam percobaan ini menggunakan
bahan acrylic dengan koefisien gesek sangat kecil, sehingga gaya geseknya
diabaikan. Lintasan berupa bidang miring dengan panjang 81,5 cm yang
dirancang agar kemiringan lintasan terhadap bidang datar dapat diatur.
Untuk mengukur waktu yang dibutuhkan benda dari titik awal hingga
titik akhir digunakan sensor LED dan LDR yang dirangkai diposisi awal dan
posisi akhir lintasan, kemudian sensor tersebut disambungke software
audacity yang membaca waktu lintas benda. Benda yang digunakan dalam
percobaan ini adalah mobil-mobilan dengan massa 25 gram. Desain alat pada
Gambar 2 :

Gambar 2. Rancangan Alat untuk Mengetahui Pengaruh sudut terhadap
Percepatan Benda.


10

3.2. Pengujian pengaruh sudut terhadap percepatan gerak benda pada
bidang miring.
Pecobaan ini dilakukan dengan memvariasi sudut antara permukaan
lintasan dengan bidang datar, sehingga diperoleh waktu tempuh yang berbeda
pada setiap sudut. Waktu yang diperoleh dari pecobaan akan dikonfersi ke
persamaan (9) sebagai nilai percepatan secara ekperimen. Percepatan akan
dianalisis pada sudut elevasi sebesar 5,10, 15, 20 dan 25. Sebagai
perbandingan, pecepatan juga akan dihitung secara teoritis menggunakan
persamaan (8). Ralat relatif antara percepatan yang diukur secara eksperimen
dengan perhitungan secara teori akan dihitung dengan persamaan (10).
4. Hasil dan Pembahasan
Metode analisis akan dilakukan dengan dua cara yaitu dengan analisis
data hasil ekperimen dan perhitungan secara teoritik. Hasil analisis dari kedua
metode akan korelasi sebagai ralat relatif untuk gambaran dari keberhasilan
sistem.







11

4.1.1. Pengaruh Sudut terhadap Percepatan Benda pada Bidang Miring
secara Eksperimen
Berdasarkan percobaan pengaruh sudut terhadap percepatan benda
pada bidang miring, diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Data Pengaruh Sudut terhadap percepatan benda pada
bidang miring Hasil Eksperimen
No () t (s) a (m/s2)
1 5 1,393 0,840011770
2 10 0,906 1,985780351
3 15 0,847 2,272065168
4 20 0,708 3,251779501
5 25 0,638 4,004481082

Berdasarkan data dari tabel 1 dapat diketahui bahwa semakin besar
sudut elevasi antara bidang miring terhadap bidang datar, maka waktu yang
dibutuhkan benda dari titik awal hingga titik akhir semakin singkat,
sehingga bisa diketahui bahwa percepatannya juga semakin besar.
4.1.2. Pengaruh Sudut terhadap Percepatan Benda pada Bidang Miring
secara Teori
Besar percepatan untuk setiap sudut pada bidang miring dihitung
dengan persamaan (10), sehingga diperoleh :


12

Tabel 2. Data Pengaruh Sudut terhadap Percepatan Benda pada
Bidang Miring Hasil Perhitungan Teoritik
No () a (m/s2)
1 5 0,871557427
2 10 1,736481777
3 15 2,588190451
4 20 3,420201433
5 25 4,226182617

Perbandingan antara jarak maksimum yang diperoleh secara
ekperimen dengan jarak maksimum hasil perhitungan teoritik adalah :

Tabel 3. Jarak Maksimum dari Hasil Eksperimen dan Perhitungan Teoritik
No ()
Percepatan (m/s2) ralat relatif
(%) Eksperimen Teori
1 5 0,840011770 0,871557427 3,619458206
2 10 1,985780351 1,736481777 14,35653271
3 15 2,272065168 2,588190451 12,21414301
4 20 3,251779501 3,420201433 6,386230059
5 25 4,004481082 4,226182617 5,245900678

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa nilai eksperimental
memiliki tingkat kesesuaian yang baik dengan nilai prediksi teoritisnya,
13

dengan ralat relatif sebesar 3,619458206 % untuk sudut 5, 14,35653271 %
untuk sudut 10, 12,21414301% untuk sudut 15, 6,386230059 % untuk
sudut 20 dan 5,245900678 % untuk sudut 25.
4. Pengembangan Lebih Lanjut
Seiring kemajuan teknologi, alat ini masih perlu pengembangan untuk
mendapatkan hasil eksperimen yang sangat valid. Sebelumnya alat ini
dirancang hanya dengan dua lokasi sensor LDR dan LED yang disambungkan
ke komputer yakni pada awal benda bergerak dan di akhir benda bergerak.
Sensor tersebut sejatinya tidak hanya pada awal ataupun diakhir lintasan,
melainkan disetiap lintasan diberi sensor 3 atau lebih sesuai dengan kebutuhan
praktikan.
5. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan pengaruh sudut terhadap percepatan benda pada
bidang miring dapat disimpulkan bahwa percepatan benda pada bidang miring
dipengaruhi sudut elevasi antara bidang miring terhadap bidang datar. Semakin
besar sudut elevasi bidang miring terhadap bidang datar, maka waktu yang
dibutuhkan benda untuk mecapai titik akhir semakin singkat, sehingga bisa
dikatakan percepatan benda semakin besar . Hasil eksperimental memiliki
tingkat kesesuaian yang baik dengan nilai prediksi teoritisnya, dengan ralat
relatif sebesar 3,619458206 % untuk sudut 5, 14,35653271 % untuk sudut 10,
12,21414301 % untuk sudut 15, 6,386230059 % untuk sudut 20 dan
5,245900678 % untuk sudut 25.
14

DAFTAR PUSTAKA

Foster B,2004. Fisika SMA Untuk Kelas X, Jakarta: Erlangga.
Giancoli, Douglas C..2001. Fisika Edisi Kelima J ilid 1. Jakarta: Erlangga.
Vernier Software & Technology, 13979 S.W. Millikan Way, Beaverton, OR
97005-2886; http://www.vernier.com.
Young, H. D. dan Freedman, R. A. 2000. Fisika Universitas. Addison Wesley
Longman : New York

Anda mungkin juga menyukai