Anda di halaman 1dari 20

Intoleransi Laktosa pada Bayi

Adatya Stevani P Putuhena


102010253
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat

Pendahuluan
Diare merupakan keluhan pasien yang cukup banyak ditemukan dalam praktek
sehari-hari di Indonesia. Diare ini lebih banyak mengenai anak-anak dibanding dewasa.
World Health Organization (WHO) melaporkan sekitar 3,5 juta kematian pertahun
disebabkan diare, dimana 80% dari kematian ini mengenai anak-anak dibawah umur 5 tahun.
Penyebab diare terbanyak di Indonesia masih infeksi, hal ini disebabkan sanitasi dan higiene
yang masih buruk. Walau demikian penyebab-penyebab lain dari diare perlu diwaspadai dan
perlu dicegah serta diobati sesegera mungkin. Pada kasus Intoleransi laktosa terjadi karena
tubuh tidak mampu mencerna laktosa atau gula yang terkandung dalam susu. Intoleransi
laktosa pada bayi terutama ditandai dengan nyeri perut dan diare, meskipun beberapa bayi
mungkin akan mengalami muntah dan eksim.

Tanda-tanda intoleransi laktosa biasanya muncul sekitar 30 sampai 60 menit
setelah bayi mengonsumsi susu formula atau ASI. Adapun intoleransi laktosa menyebabkan
nyeri perut dari kelebihan produksi gas dalam usus. Seringkali bayi akan menunjukkan rasa
sakit setelah menyusui yang ditandai dengan menangis atau rewel. Bayi juga akan mengalami
kesulitan tidur atau tiba-tiba terbangun dan menangis.
Kolik dan gas yang berlebihan serta diare dan muntah adalah tanda-tanda intoleransi
laktosa pada bayi. Tinja pada bayi dengan intoleransi laktosa umumnya berair, berwarna
gelap, dan diare terjadi berkali-kali sepanjang hari. Karena muntah dan diare dapat
menyebabkan dehidrasi, sangat penting segera menghubungi dokter untuk mendapatkan saran
tentang cara mencegah dehidrasi. Intoleransi laktosa pada bayi juga dapat menyebabkan
eksim. Eksim ditandai kulit kering dengan tekstur kasar dan timbulnya benjolan putih kecil.
Adapun intoleransi laktosa ini harus dibedakan dari beberapa penyakit seperti alergi dari
susu. Alergi susu terjadi ketika sistem kekebalan terhadap merespon protein dalam susu.


Anamnesis
Alloanamnesis menyeluruh dilakukan untuk mendeteksi penyebab organik menangis.
Diagnosis sebaiknya diberikan pengertian dan diyakinkan agar mengurangi kecemasan.
Orang tua juga disarankan untuk membuat catatan harian mengenai tangisan bayi dan
penambahan berat badan untuk meyakinkan diri mereka.
1

Pada pasien diare, anamnesis yang dapat ditanyakan kepada pasien yaitu:
2

1. Sudah berapa lama mengalami diare?
2. Frekuensi BAB berarpa kali sehari?
3. Apa disertai demam?
4. Apa disertai mual muntah?
5. Apa BAB encer atau air?
6. Apa volume tinja banyak atau sedikit?
7. Apa disertai lendir atau darah?.
8. Bagaimana bau feses saat konstipasi?
9. Apa disertai dengan diuresis?
10. Tanyakan apakah ada penyakit penyerta seperti malnutrisi atau infeksi?
11. Bagaimana dengan riwayat makan/minum sebelum/sesudah diare?
12. Adakah penderita diare di sekitar`rumah?
13. Bagaimana dengan berat badan sebelum sakit?
14. Apakah mempunyai intoleransi laktosa?
15. Apakah baru saja bepergian?
16. Adakah pemakaian antobiotik injeksi/oral sebelum diare?

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
3
:
1. Pengukuran pH tinja (pH < 6)
2. Penentuan kadar gula dalam tinja dengan tablet Clinitest Normal tidak terdapat gula
dalam tinja.
3. Laktosa loading (tolerance) test
Setelah pasien dipuasakan selama semalam diberi minum laktosa 2 g/kgBB.
Dilakukan pengukuran kadar gula darah sebelum diberikan dan setiap 1/2 jam
kemudian sehingga 2 jam lamanya. Positif jika didapatkan grafik yang mendatar
selama 2 jam atau kenaikan kadar gula darah kurang dari 25 mg%.
4. Barium meal lactose
Setelah penderita dipuasakan semalam, kemudian diberi minum larutan barium
laktosa. Positif bila larutan barium lactose terlalu cepat keluar (1 jam) dan berarti
sedikit yang diabsorbsi.
5. Biopsi
Biopsi mukosa usus halus dan ditentukan kadar enzim laktose dalam mukosa tersebut.
6. Sugar Chromatography dari tinja dan urin

Epidemiologi
Sekitar 70% dari penduduk dunia mengalami intoleransi laktosa. Dari semuanya itu,
penduduk di Eropa memiliki tingkat kejadian paling rendah, sedangkan di Asia serta
Afrika memiliki tingkat kejadian toleransi laktosa yang paling tinggi. Di Amerika
terdapat lebih dari 50 juta orang menderita intoleransi laktosa. Jenis kelamin tidak
memiliki peran dalam kasus intoleransi laktosa.
3

Sejak lahir dan selama masa bayi, mikrovili akan membentuk laktase sebagai akibat
rangsangan laktosa yang terdapat dalam ASI atau susu foemula. Namun selanjutnya
sesudah anak disapih terjadi perbedaan antara anak di negeri berkembang dengan anak di
negeri maju, yaitu karena pada anak di negeri berkembang biasanya tidak diberikan susu
terus menerus lagi, sehingga rangsangan terhadap mikrovili untuk membentuk laktase
juga berkurang.
3

Intoleransi laktosa ini sering muncul pada anak usia mulai 2 tahun keatas, karena
produksi enzim laktase diprogram secara genetik untuk menurun pada usia tersebut.
Namun tidak menutup kemungkinan pada usia dibawah 2 tahun dapat menderita
intoleransi laktosa (khususnya bayi-bayi prematur).
3


Patofisiologi
Intoleransi laktosa timbul bila tubuh mengalami difesiensi salah satu atau lebih enzim
disakarida dan atau adanya gangguan absorbsi serta pengangkutan monosakarida ke
dalam usus. Jadi ada dua faktor yang mempengaruhi timbulnya intoleransi laktosa yaitu
faktor pencernaan dan faktor absorbsi. Gangguan kedua jenis faktor ini dapat bersifat
bawaan (kongenital) atau didapat (sekunder). Pada primer, penyebabnya adalah karena
genetik, sedangkan pada sekunder dapat karena produksi enzim yang tidak sempurna,
pasca operasi, malnutrisi energi protein.
3

Proses pencernaan disempurnakan oleh suatu enzim dalam usus halus. Banyak
diantara enzim-enzim itu terdapat pada brush border usus halus dan mencernakan zat-zat
makanan sambil diabsorbsi. Enzim laktose adalah enzim yang memecahkan laktosa
(disakarida) menjadi glukosa dan galaktosa (monosakarida) pada brush border, sehingga
absorbsi dapat berlangsung. Bila laktosa tidak dihidrolisis masuk usus besar, dapat
menimbulkan efek osmotik yang menyebabkan penarikan air ke dalam lumen kolon.
Bakteri kolon juga meragikan laktosa yang menghasilkan asam laktat dan asam lemak
yang merangsang kolon, sehingga terjadilah peningkatan pergerakan kolon. Diare
disebabkan oleh peningkatan jumlah molekul laktosa yang aktif secara osmotik yang
tetap dalam lumen usus menyebabkan volume isi usus meningkat. Kembung dan flatulens
disebabkan oleh produksi gas (CO2 dan H2) dari sisa disakarida di dalam colon.
3,4



sumber: asuhan keperawatan gastroenteritis gudangaskep.wordpress.com

Etiologi
Sebagian besar karbohidrat yang dimakan sehari-hari terdiri dari disakarida dan
polisakarida. Karbohidrat dapat dibagi dalam monosakarida (glukosa, galaktosa, dan
fruktosa), disakarida (laktosa atau gula susu, sukrosa atau gula pasir dan maltosa) serta
polisakarida (glikogen, amilum, tepung). Setelah masuk ke dalam usus, disakarida akan
diabsorbsi dan masuk ke dalam mikrovili usus halus dan dipecah menjadi monosakarida
oleh enzim disakaridase (laktase, sukrase, dan maltase) yang ada di permukaan mikrovili
tersebut. Defisiensi enzim disakaridase selektif menyebabkan gangguan hidrolisis
karbohidrat pada membran enterosit meskipun tidak ada cedera mukosa.
5,6

Laktosa merupakan sumber energi utama dan hanya terdapat di dalam susu mamalia.
Laktosa ini akan diuraikan oleh enzim laktase (-galactosidase) yang terdapat di brush
border
mukosa usus halus, menjadi glukosa dan galaktosa, yang kemudian akan diserap oleh
tubuh di usus halus. Enzim Laktase ini terdapat di bagian luar pada brush border mukosa
usus halus, dan jumlah yang sedikit.
4,5


Sumber: Lactose Intolerance : Definition, Causes, Symptoms, Diagnosis and ...
www.rayur.com

Diagnosis Kerja
Diagnosis kerja pada bayi ini adalah diare akut et causa intoleransi laktosa.

Gejala Klinik
Baik pada yang bawaan maupun pada yang didapat penderita menunjukkan gejala
klinis yang sama, yaitu diare yang sangat frekuen, cair, bulky, dan berbau asam,
meteorismus, flatulens, dan kolik abdomen. Akibat gejala tersebut, pertumbuhan anak
akan terlambat bahkan tidak jarang terjadi malnutrisi.
3


Diagnosis Banding
1. Keracunan makanan
Keracunan makanan adalah penyakit yang timbul akibat mengkonsumsi makanan
yang terkontaminasi oleh racun baik akibat dari ada faktor lain yang menyebabkan
kehadiran racun tersebut didalam makanan atau racun tercebut berasal dari salah satu
bahan makanan. Gejala keracunan makanan identik dengan ganguan pencernaan yang
berarti geja-gejala yang terlihat seperti mual, sakit perut, muntah, dan atau diare.
Beberapa jenis racun dapat menganggu sistem syaraf. Keracunan makanan biasanya
juga dikenal sebagai bakterial gastroenteritis
- Staphylococcus aureus
Organisme Staph dapat ditemukan pada manusia dan lingkungan dalam debu,
udara, dan limbah. Bakteri ini menyebar terutama oleh penjamahan makanan
sebab tidak mengunakan kaidah praktek-praktek sanitasi. Hampir setiap makanan
dapat terkontaminasi, terutama salad/lalapan, produk susu, kue krim, dan makanan
yang bukan disimpan pada suhu panas atau dingin. Sulit untuk memperkirakan
jumlah kasus keracunan makanan tahunan bakteri ini karena gejala yang
dihasilkan sangat mirip dengan yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun
lainnya. kasus yangterjadi sebagian besar ringan. Korban mungkin akan cuti satu
hari dari runtinitas sehari-hari atau bekerja tetapi tidak pernah mencari
pertolongan dokter untuk konfirmasi keracunan makanan. Gejala kejadian ini
muncul dengan cepat, biasanya 1-6 jam setelah memakanan makanan yang telah
tercemar. Pada kejadian akut gejala muntah dan kram perut yang parah tanpa
demam biasanya dapat berlangsung mulai tiga sampai enam jam dan jarang lebih
dari 24 jam. Kebanyakan orang sembuh tanpa bantuan medis. Kematian jarang
terjadi.
2. Malnutrisi
Kesehatan yang baik tidak terjadi karena ada perubahan yang berupa kekurangan zat
makanan tertentu ( defisiensi ) atau berlebih. Kekurangan umumnya mencakup
protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Sedangkan kelebihan umumnya mencakup
konsumsi lemak, protein, dan gula. Untuk mencapai kondisi anak perlu/cukup gizi
harus memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan serta melakukan kegiatan yang
baik seperti olah raga, dan lain lain. Konsumsi yang kurang baik kualitas dan
kuantitasnya akan memberikan kondisi kesehatan gizi kurang/defisiensi. Keadaan
kesehatan gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas
dan kuantitas hidangan.
1. Efek terpenting yg perlu diperhatikan adalah menurunnya intake zat gizi selama
diare, hal ini terjadi karena :
~ Anorexia ( berkurangnya nafsu makan ) yg terjadi bersamaan dgn infeksi.
~ Muntah dan batuk
~ Pantangan terhadap bahan makanan tertentu
~ Kebiasaan menghentikan makanan selama diare
~ Kebiasaan mengencerkan susu atau makanan cair selama 3 6 hari
~ Kehilangan langsung zat2 makanan melalui usus ( 30 40 % dari total
energi yg dikonsumsi )
~ Kehilangan cairan dan elektrolit ( 10 % atau lebih )
~ Berkurangnya absorbsi zat gizi selama diare, karena :
- kerusakan sel mukosa usus ole infeksi virus, bakteri dan parasit
- difisiensi enzim pencernaan dalam sel mukosa usus terutama laktase
- berkurangnya transit time makanan didalam intestin sehingga tidak
cukup waktu untuk menyerap dan mencerna zat makanan
- pencernaan dan penyerapan zat2 makanan yg tdk baik karena rusaknya
mukosa usus dan hilangnya enzim2 untuk pencernaan makanan
- terjadinya diare osmotik sebagai akibat tdk terserap dan tercernanya
makanan dgn baik, sehingga tekanan osmotik didalam lumen usus halus
dan usus besar meningkat yg menyebabkan menjadi hiperosmolernya
cairan didalam lumen usus, yg mengakibatkan tertariknya cairan
extraseluler kedalam lumen usus.
7

Penatalaksanaan
Diberikan susu rendah laktosa (LLM, Almiron, eiwit melk) atau Free lactose milk
formula (sobee, Al 110) selama 2-3 bulan kemudian diganti kembali ke susu formula
yang biasa. (kadar laktosa Almiron 1,0%, eiwit melk 1,4%, LLM 0,8%, Sobee 0% dan Al
110 (0%). Pada intoleransi laktosa sementara, sebaiknya diberikan susu rendah laktosa
selama 1 bulan sedangkan pada penderita dengan intoleransi laktose primer (jarang di
Indonesia) diberikan susu bebas laktosa. Respon klinis terhadap pemberian diet bebas
laktosa merupakan suatu alternatif untuk pemeriksaan tinja atau uji diagnostik spesifik.
Pembatasan laktosa seharusnya menghasilkan penyembuhan cepat diarenya dalam 2-3
hari, jika ada defisiensi laktase. Harus bisa membedakan intoleransi laktosa dengan
keadaan sensitif terhadap protein, gastroenteritis akut tidak memicu sensitivitas susu.
Cukup beralasan bila susu sapi diganti dengan susu formula susu kedelai jika dicurigai
intoleransi laktosa karena formula susu kedelai mengandung tepung rantai pendek atau
sukrosa sebagai sumber gulanya.
3,7

Prognosis
Pada kelainan primer (kongenital) prognosisnya kurang baik, sedangkan pada
kelainan didapat (sekunder) prognosisnya baik.
3


Penutup

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan penunjang serta teori-teori yang sudah dijelaskan,
bisa disimpulkan bahwa bayi tersebut menderita diare yang disebabkan oleh intoleransi
laktosa. Karena kemungkinan intoleransi lemak bisa disingkirkan dengan pemeriksaan tinja.
Kemudian untuk kemungkinan alergi bisa dibedakan dengan menggunakan beberapa tes
seperti pemeriksaan IGe pada pasien. Dan untuk tatalaksanaannya bisa dengan menggunakan
susu yang rendah laktosa atau tidak ada laktosanya sama sekali, kemudia mencegah adanya
dehidrasi pada bayi karena ada gejala diarenya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Schwartz MS. Pedoman klinis pediatri. Edisi ke-1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2005. h. 103.
2. Kolopaking MS. Diare. Dalam: Setiati S, Sari DP, Rinaldi I, Ranitya R, Pitoyo CW.
Lima puluh masalah kesehatan di bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta: Interna
Publishing; 2008.h.102-8.
3. Staf pengajar ilmu kesehatan anak FK UI. Buku kuliah ilmu kesehatan anak. Edisi ke-11.
Jakarta: Info medika; 2007. h. 298-9.
4. Berhman E, Arvin AM, Kliegman RM. Ilmu kesehatan anak nelson. Edisi ke-15. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. h.1355-8
5. Egayanti, Yusra. Kenali Intoleransi Laktosa Lebih Lanjut dalam InfoPOM vol. 9. No. 1.
Januari 2008, hal.1-3.
6. Baas, Atan. Intoleransi Laktosa. dalam Majalah Kedokteran Nusantara volume 39. No 4.
Desember 2006, hal.424-9.
7. Wong DL et al. Buku ajar keperawatan pediatrik volume 1. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2009. h. 447.
8. Widyastuti P. Penyakit Bawaan Makanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2005. H. 108-110.






















A. Definisi
Ada beberapa terminologi yang perlu dipahami sehubungan dengan gangguan
absorbsi laktosa, yaitu:
1

1. Defisiensi laktase yaitu keadaan dimana aktifitas enzim laktase rendah (atau tidak
ada) pada pemeriksaan hasil biopsi mukosa usus halus.
2. Malabsorpsi laktosa yaitu ketidakmampuan usus halus mengabsorbsi laktosa yang
dibuktikan dengan pemeriksaan yang sesuai (uji beban laktosa, uji hidrogen
pernafasan).
3. Intoleransi laktosa yaitu munculnya gejala-gejala klinis setelah makan atau minum
bahan yang mengandung laktosa (mencret, mual, muntah, perut kembung dan sakit
perut).
Hal yang perlu diperhatikan ialah karena seseorang dengan defisiensi laktase belum tentu
mengalami malabsorpsi laktosa. Malabsorpsi laktosa juga bisa disebabkan kerusakan
mukosa usus halus. Penderita malabsopsi laktosa belum tentu juga mengalami intoleransi
laktosa.
1

Intoleransi laktosa adalah sindrom klinis terdiri dari satu atau lebih gejala sebagai
berikut: nyeri perut, diare, mual, dan perut kembung setelah menelan laktosa atau zat
makanan yang mengandung laktosa. Jumlah laktosa yang akan menyebabkan gejala
bervariasi dari individu ke individu, tergantung pada jumlah laktosa yang dikonsumsi,
tingkat kekurangan laktase, dan bentuk bahan pangan yang laktosa tertelan. Malabsorpsi
laktosa adalah masalah fisiologis yang dapat bermanifestasi sebagai intoleransi laktosa
dan disebabkan ketidakseimbangan antara jumlah laktosa ditelan dan kapasitas laktase
untuk untuk menghidrolisis disakarida tersebut.
1,2,4


B. Anatomi dan Fisiologi
Usus halus merupakan organ yang berlipat-lipat terbentang dari pilorus sampai
katup ileosekal. Dinding usus halus terdiri atas lapisan serosa, lapisan otot, lapisan sub
mukosa dan lapisan mukosa. Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan
sirkuler, yang menonjol ke dalam lumen 3-10 mm. Lipatan tersebut nyata pada
duodenum dan jejunum, menghilang pada pertengahan ileum. Pada lipatan-lipatan
tersebut (vilus) terdapat mikrovili, yang pada mikroskop elektron tampak sebagai brush
border. Enzim-enzim yang terletak pada brush border menyelesaikan proses absorpsi.
1,5

Di sekeliling vilus terdapat kripta lieberkuhn yang merupakan kelenjar-kelenjar
usus yang menghasilkan sekret mengandung enzim-enzim pencernaan termasuk laktase.
Sel-sel yang tidak berdiferensiasi di dalam kripta berproliferasi cepat dan bermigrasi ke
ujung vilus dimana mereka menjadi sel-sel absortif. Pada ujung vilus, sel-sel ini akan
lepas ke dalam usus halus. Pada permukaan membran mikrofili, laktosa dihidrolisis oleh
enzim laktose menjadi glukosa dan galaktosa, kemudian secara aktif diserap dan
diangkut melalui sel absorbtif selanjutnya dialirkan ke vena porta.
1,5
Karbohidrat yang dimakan diserap dalam bentuk monosakarida (glukosa,
galakosa, dan frukstosa). Karena itu laktosa harus dihidrolisa menjadi glukosa dan
galaktosa agar proses absorpsi berlangsung. Laktosa merupakan sumber energi yang
memasok hampir setengah keseluruhan kalori susu (35-45%). Disamping itu laktosa juga
penting untuk absorpsi kalsium. Hidrolisa ini dilakukan oleh laktase (-galactosidase),
suatu enzim yang terdapat di brush border mukosa usus halus. Distribusi enzim laktase
ini tidak merata sepanjang usus halus, konsentrasi tertinggi berada di yeyenum
proksimal, rendah di duodenum dan yeyenum distal serta terendah di ileum terminal.
2

Enzim lain yang terdapat di brush border adalah sukrase, maltase dan
glukoamilase. Laktase dijumpai pada bagian luar brush border dan diantara semua
disakaride, laktase yang paling sedikit. Aktivitas enzim laktase bekerja pada pH optimal
5,5-6,0 dan mulai terdeteksi pada bulan ketiga kehamilan. Aktivitas enzim ini akan
meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan, dari 30% pada kehamilan 26-34
minggu menjadi 70% pada kehamilan 35-38 minggu dan mencapai 100% pada usia 2-4
minggu setelah lahir. Kadar tersebut bertahan sampai 2-5 tahun. Setelah itu aktivitas
enzim laktase secara genetik akan menurun dan mencapai kadar terendah pada masa
dewasa.
2,6

C. Etiologi
Intoleransi laktosa dapat terjadi karena adanya defisiensi enzim laktase dalam
brush border usus halus. Defisiensi laktase diartikan sebagai keadaan aktivitas laktase
dibawah normal yang diukur pada spesimen biopsi mukosa usus halus. Sampai sekarang
dikenal 2 bentuk dari defisiensi laktase, yaitu defisiensi laktase primer dan sekunder.
2

Defisiensi laktase primer terdiri dari 3 tipe yaitu:
2,6

a. Defisiensi laktase developmental yang terdapat pada bayi dengan usia kehamilan 26-
32 minggu.
b. Defisiensi laktase bawaan, yaitu tidak terdapatnya enzim laktase pada brush border
epitel usus halus. Defisiensi laktase yang diwariskan (congenital lactase deficiency),
terjadi pada individu dengan genotip homozigot resesif. Kejadian ini sangat jarang,
jarang yaitu 1 perseratus ribu penduduk, sehingga sering sekali tidak dibicarakan.
c. Defisiensi laktase dewasa yaitu kelainan yang timbul perlahan-lahan yang terjadi
pada anak usia 2-5 tahun hingga dewasa serta timbulnya bervariasi tergantung ras.
Defisiensi laktase ini dapat terjadi sebagai akibat induksi sintesis laktase yang
menurun. Laktase merupakan enzim yang sintesisnya dapat diinduksi. Ketidaksukaan
minum susu mungkin dapat memicu keadaan ini, sebab tidak ada induksi enzim
laktase. Defisiensi laktase primer dapat dijumpai pada bayi prematur sehubungan
dengan perkembangan usus yang imatur (developmental lactase deficiency).
Defisiensi laktase sekunder yang menyertai malabsorbsi dapat terjadi pada
kerusakan mukosa usus halus, misalnya akibat infeksi. Kejadian ini sering kali dijumpai
pada anak diare setelah minum susu botol. Tentunya laktase tidak mengalami defisiensi
lagi bila kerusakan mukosa usus telah membaik dan infeksi telah teratasi. Beberapa
faktor lain penyebab intoleransi laktosa antara lain:
2

Gastroenteritis, dapat menyebabkan terjadinya gangguan penguraian enzim
laktase yang dapat berlangsung sampai beberapa minggu
Infeksi parasit, dapat menyebabkan pengurangan jumlah laktase sementara waktu.
Defisiensi besi, rendahnya asupan besi dapat mengganggu pencernaan dan
penyerapan laktosa.
Obat-obatan diantaranya kanamisin, kolkisin, neomisin dan metrotreksat.

D. Patofisiologi
Terdapat tiga macam bentuk karbohidrat yaitu monosakarida (glukosa, fruktosa
dan galaktosa), disakarida (laktosa, sukrosa dan maltosa) dan polisakarida (pati, glikogen
dan selulosa). Hidrolisis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa terjadi di dalam usus
halus memerlukan enzim laktase. Bila terjadi defisiensi laktase baik primer maupun
sekunder, maka pencernaan laktosa akan terganggu.
1,2

Bila ada defisiensi laktase, laktosa tidak akan didigesti akibatnya tidak ada
penyerapan oleh mukosa usus halus. Laktosa yang tidak dihodrolisis akan diteruskan ke
usus besar. Disakarida ini merupakan bahan osmotik yang akan menarik air ke lumen.
Jumlah air yang keluar sebanding dengan jumlah laktosa yang tinggal di lumen usus.
Penambahan volume lumen usus akan menyebabkan rasa mual, muntah dan peningkatan
peristaltik. Peristaltik usus yang meninggi menyebabkan waktu transit usus makin
pendek sehingga mengurangi kesempatan untuk digesti dan absorpsi. Laktosa dan
air/elektrolit yang tidak diserap meninggalkan usus halus sampai di kolon. Di kolon,
laktosa ini akan difermentasi oleh flora normal menjadi gas (CO2, H2, dan CH4), asam
lemak rantai pendek (butirat, propional dan asetat) dan asam laktat.
1,2,5
Pembentukan gas menyebabkan perut kembung dan sakit perut. Pembentukan gas
hidrogen oleh flora di kolon dapat dideteksi di udara pernafasan. Ini yang menjadi dasar
uji hidrogen pernafasan. Pembentukan asam lemak rantai pendek tadi diperlukan oleh
tubuh karena asam lemak ini dapat digunakan sebagai sumber energi. Disamping itu,
pembentukan asam lemak rantai pendek ini berguna untuk nutrisi kolon, membantu
absorpsi air/elektrolit dan motilitas kolon.
1,2,5
Lebih kurang 70% dari nutrisi kolon berasal dari intraluminal. Karena itu secara
fisiologis dalam keadaan normal dijumpai malabsorpsi laktosa/karbohidrat. Sedangkan
penyerapan asam laktat oleh kolonosit menyebabkan asidosis metabolik. Air/ elektrolit
yang sampai di kolon dan hasil fermentasi tadi diserap oleh kolonosit (colonic salvage).
Bila colonic salvage dilewati, maka asam laktat banyak dijumpai di tinja yang akan
menyebabkan kadar air tinja meningkat (diare osmotik) dan bahan-bahan reduksi
(laktosa) dijumpai dalam tinja.
1,2,5

Pada defisiensi laktase sekunder kondisi yang bertanggung jawab untuk
kekurangan laktase meliputi infeksi akut (misalnya, rotavirus). Infeksi menyebabkan
usus kecil cedera dengan hilangnya laktase yang terkandung pada sel epitel dari ujung
vili tersebut. Sel epitel yang belum matang yang mengganti mengandung laktase yang
lebih sedikit, menyebabkan kekurangan laktose sekunder.
1,2,5

E. Manifestasi Klinis
Terjadinya reaksi terhadap konsumsi laktosa dan manifestasi klinis yang
menyertainya terutama tergantung pada aktivitas laktase dalam usus. Selain itu juga
dipengaruhi oleh jumlah dan frekuensi, serta cara bagaimana laktosa dikonsumsi, waktu
singgah disaluran cerna.
7,8
Orang yang mengalami intoleransi laktosa biasanya mempunyai batas toleransi
untuk mengkonsumsi laktosa, yang jika mereka mengkonsumsi dalam batas ini maka
mereka akan mengalami gejala yang minimal. Beberapa gejala intoleransi laktosa antara
lain sakit perut, perut kembung, mengeluarkan gas (flatus), borborigmic, mual, muntah
dan diare yang sangat frekuen, cair, bulky dan berbau asam. Tinja sering mengapung
karena kandungan gasnya yang tinggi. Selanjutnya pertumbuhan anak akan terhambat
bahkan tidak jarang dapat terjadi malnutrisi. Pada keadaan yang ringan dapat
menyebabkan sakit perut berulang-ulang dan hilang timbul. Kadang-kadang gejala
intoleransi laktosa sering disalah artikan sebagai gejala dari irritable bowel syndrome
(IBS), padahal penderita IBS bukanlah penderita intoleransi laktosa. Penderita IBS
cenderung mengalami kesulitan dalam mentoleransi lemak.
5

Gejala batas toleransi laktosa yang muncul akibat dari konsumsi laktosa yang
terlalu banyak adalah produksi gas yang berlebihan (kentut terus) atau serangan diare.
Orang yang memiliki kelainan batas toleransi laktosa dapat meminum sekitar 250 ml
susu setiap hari tanpa gejala yang parah.
1

Untuk menguji batas toleransi laktosa dapat dilakukan tes pernafasan hidrogen
(hydrogen breath test) atau tes keasaman kotoran (stool acidity test) agar didapatkan
diagnosis klinis. Orang yang menderita batas toleransi laktosa dapat mengkonsumsi
produk-produk bebas-laktosa, misalnya susu kedelai, susu almond dan susu beras. Batas
toleransi laktosa tidak sama dengan alergi susu, yang merupakan reaksi tubuh terhadap
protein susu.
1,2,5

F. Penegakkan Diagnosis
Diagnosis intoleransi laktosa merupakan gabungan gejala klinik dan
uji/pemeriksaan yang sesuai. Secara klinis dengan uji toleransi laktosa. Setiap bayi
minum bahan yang mengandung laktosa akan timbul gejala klinis (diare, perut kembung,
dll). Bila laktosa dieliminasi dari dietnya maka gejala tersebut akan hilang. Uji
pemeriksaan yang dilakukan bertujuan untuk menentuan adanya malabsorpsi laktosa.
Adanya bahan-bahan reduksi dan pH tinja yang asam mengindikasikan adanya
malabsorpsi laktosa. Walaupun pemeriksaan ini bersifat uji saring dan kualitatif, uji ini
valid bila: hanya laktosa yang diminum, waktu transit usus yang cepat, tinja yang segar
dan harus diperiksa segera, dan degradasi laktosa oleh flora kolon tidak komplit.
1,2
Beberapa metode dapat digunakan untuk mendiagnosa intoleransi laktosa, antara
lain:
1,2
a. Hydrogen breath test (uji hidrogen nafas)
Merupakan pengujian terhadap jumlah gas hidrogen yang ditiupkan keluar
melalui pernafasan. Laktosa, yang seharusnya dicerna oleh laktase, mengalami
fermentasi oleh bakteri di saluran pencernaan, sehingga akan menyebabkan produksi
gas hidrogen lebih banyak dari keadaan normal. Uji ini tidak invansif dan dapat
dilakukan pada bayi. Setelah puasa malam hari, peningkatan gas hidrogen >20 ppm
sehabis minum laktosa mengindikasikan adanya malabsorpsi laktosa. Setelah
dipuasakan 6 jam pada anak diberikan larutan laktosa sebanyak 2 g/kg BB
(maksimum 50 gram) dalam konsentrasi 20%. Sedangkan pada bayi usia kurang dari
6 bulan diberikan dalam konsentrasi 10 %. Sampel udara nafas diambil sesaat
sebelum meminum larutan laktosa (menit 0) dan setiap 30 memint sesudahnya selama
2 jam. Analisis hidrogen dilakukan secara kromatografi. Kenaikan kadar hidrogen
sama atau lebih dari 20 ppm menunjukkan malabsorbsi laktosa. Peningkatan sebesar
10-19 ppm dianggap peralihan kecuali bila disertai gejala klinis dianggap positif.
Peningkatan dibawah 10 ppm dianggap negatif.
2,8
Uji hidrogen nafas akan memberikan hasil akhir positif palsu pada keadaan
puasa kurang adekuat, tidur yang lama dan lelap, keadaan hipoventilasi, setelah
pemberian asam asetil salisilat, metoklopramid serta adanya bakteri tumbuh lampau.
Hasil negatif palsu dapat pula terjadi karena hiperventilasi, diare akut, setelah
pemberian antibiotik, laksatif atau tindakan enema serta pada populasi yang flora
kolonnya tidak memproduksi hidrogen.
2,8
Fermentasi laktosa akan menghasilkan gas hidrogen, karbondioksida, methan,
asam organik (asam asetat, butirat, propionat). Produksi hidrogen akan terjadi optimal
bila jumlah bakteri penghasil hidrogen memadai dan terjadi pada pH 7-7,5. Jumlah
bakteri akan berkurang setelah pemberian antibiotik, laksan atau tindakan enema.
Sekitar kurang lebih 2-9% flora kolon normal tidak membentuk hidrogen. Penurunan
pH kolon dapat disebabkan banyaknya asam organik yang terbentuk. Selanjutnya
sekitar 86% persen gas yang terbentuk akan dikeluarkan melalui flatus. Sisanya 14%
akan diserap melalui epitel usus dan memasuki sistem portal akan mencapai paru dan
dikeluarkan saat ekspirasi.
2,8
b. Elimination diet
Merupakan diagnosa dengan cara meniadakan konsumsi makanan yang
mengandung laktosa untuk melihat perbaikan gejala. Jika gejala muncul kembali
ketika makanan yang mengandung laktosa diberikan lagi, hampir bisa dipastikan
penyebabnya adalah intoleransi terhadap laktosa.
2

G. Penatalaksanaan
Banyak orang yang mengalami intoleransi laktosa mengatasinya dengan
pembatasan konsumsi laktosa, seperti hanya minum segelas susu. Bagi mereka yang
mengalami intoleransi laktosa terdapat beberapa tatalaksana, yaitu:
1,2,4
a. Pemberian diet rendah dan bebas laktosa
Pemberian diet pada penderita yang mengalami intoleransi laktosa tergantung
pada berat ringannya intoleransi. Diet rendah laktosa diberikan pada penderita
intoleransi laktosa ringan dan sedang, sedangkan diet bebas laktosa diberikan kepada
penderita laktosa berat. Diet rendah atau bebas laktosa dapat diberikan pada penyakit
diare akut.
1,2,4
Terjadinya diare kronik menurut Leventhal adalah terjadinya kerusakan
mukosa usus yang berkepanjangan yang menyebabkan defisiensi enzim laktase secara
berkepanjangan pula. Pada keadaan diare kronik diberikan susu formula yang bebas
laktosa. Pada penderita kurang gizi dan malnutrisi didapatkan gangguan absorbsi
laktosa karena adanya atropi sel-sel epitel mukosa usus halus sehingga produksi
enzim laktase sangat berkurang. Pemberian diet bebas laktosa sangat bermanfaat bagi
penderita ini.
1,2,4
Beberapa anjuran berikut ini mungkin dapat membantu dalam menjalani diet
rendah dan bebas laktosa:
1
1. Baca label pangan dengan seksama bagi penderita intoleransi laktosa agar
terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, penting untuk membaca label
pangan dengan seksama pada bagian daftar bahan pangan. Produk pangan perlu
dihindari/dibatasi jumlah yang dikonsumsi, jika mengandung bahan-bahan
seperti berikut ini misalnya padatan susu, padatan susu bebas lemak, whey, gula
susu.
2. Minum susu yang mengandung banyak lemak susu, karena lemak dapat
memperlambat transportasi susu dalam saluran perncernaan sehingga dapat
menyediakan waktu yang cukup untuk enzim laktase memecah gula susu.
3. Hindari mengkonsumi susu rendah atau bebas lemak oleh karena susu lebih
cepat ditransportasi dalam usus besar dan cenderung menimbulkan gejala pada
penderita intoleransi laktosa. Disamping itu, beberapa produk susu rendah
lemak juga mengandung serbuk susu skim yang mengandung laktosa dalam
dosis tinggi.
4. Jangan menghindari semua produk susu oleh karena nilai gizi susu pada
dasarnya sangat dibutuhkan tubuh.
5. Mengkonsumsi susu dengan laktosa yang telah diuraikan (susu bebas laktosa).
6. Minum susu dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Banyak penderita
intoleransi laktosa dapat meminum 240 ml susu per hari, tetapi perlu untuk
mengamati/ seberapa besar tingkatan toleransi tubuh sendiri terhadap laktosa.
Banyak penderita toleran terhadap sejumlah laktosa yang terdapat dalam
setengah cangkir susu full cream, tiga perempat cangkir es krim, tiga perempat
cangkir yoghurt, tiga perempat cangkir keju mentah (unripened cheeses).
7. Konsumsi produk susu yang diolah dengan proses pemanasan (seperti susu
bubuk), karena pada pemanasan, laktosa akan dipecah menjadi glukosa dan
galaktosa, sehingga produk seperti ini akan ditoleransi lebih baik.
8. Konsumsi produk kedelai karena produk kedelai bebas laktosa dan merupakan
sumber kalsium yang bagus dan baik untuk menggantikan susu dan produk susu
lainnya.
b. Pemberian probiotik atau susu fermentasi
Probiotik berasal dari bahasa Yunani probios yang berarti untuk kehidupan.
Probiotik adalah suplementasi makanan dengan menggunakan bakteri hidup yang
mempunyai pengaruh menguntungkan terhadap kesehatan pejamu dengan
memperbaiki keseimbangan mikroflora usus. Pemakaian probiotik yang efektik
sebagai terapi harus memenuhi beberapa syarat berikut, yaitu: memberikan efek yang
menguntungkan pada pejamu, tidak patogenik dan tidak toksik, mengandung
sejumlah besar sel hidup, mampu bertahan dan melakukan kegiatan metabolisme
usus, tetap hidup selama dalam masa penyimpanan dan sewaktu digunakan dan tahan
terhadap asam lambung dan garam empedu.
2
Sampai saat ini telah banyak spesies mikroorganisme yang digunakan sebagai
probiotik, tetapi yang paling sering digunakan adalah golongan mikroorganisme yang
menghasilkan asam laktat, yaitu: Lactobacili (Lacobacillus rhamnosus, L. Casei, L.
Gasseri, L. Bulgaricus), genus Lactococci (L.cremoris, L.lactis), genus Streptococci
(S. Thermophilus), genus Enterococci, dan Bifidobacteria.
2,4

Pemilihan probiotik Lacto yang berisi gabungan probiotik (Lacobacillus
acidophus, Bifidobacterium longum, Streptococcus faecium) selain memenuhi sifat
probiotik pada umumnya juga mempunyai kemampuan untuk menempel pada sel
epitel mukosa usus (enterosit) sebagi sifat adhesi. Sebagaimana diketahui bahwa
penempelan bakteri probiotil pada sel epitel merupakan permulaan kolonisasi yang
penting bagi mikroorganisme. Selain itu juga probiotik Lacto mengandung -
galaktosidase (enzim laktase) yang tinggi yang sangat penting untuk menghidrolisis
laktosa.
2,4
Ada beberapa kemungkinan mekanisme peranan probiotik dalam memperbaiki
pencernaan laktosa pada penderita laktosa, yaitu: 1) -galactosidase (enzim laktase)
yang dimiliki bakteri aktif dalam produk susu yang tahan terhadap asam lambung dan
garam empedu dapat melewati lambung dan sampai di usus halus membantu
pencernaan laktosa. 2) Konsumsi jangka pendek dan jangka panjang laktosa dan
bakteri dalam produk susu yang difermentasi dapat mempengaruji pH susu,
mikroflora usus, fermentasi laktosa, kepekaan pejamu terhadap ganggguan
gastrointestinal dan sekaligus memperbaiki gejala intoleransi laktosa.
2,4
Yoghurt yang mengandung lactobacillus bugaricus bila diberikan pada
penderita defisiensi laktase dapat mencerna laktosa. Terdapat dua mekanisme kerja
yoghurt dalam membantu mencerna laktosa, yaitu:1) aktivitas enzim laktase yang
terkandung dalam yoghurt, 2) pengosongan lambung dan perjalanan yoghurt dalam
usus yang lambat disebabkan viskositas yoghurt lebih besar dan pH lebih rendah jika
dibandingkan susu biasa.
2,4

c. Pemberian enzim laktase
Susu yang sebelumnya telah diberikan enzim laktase dapat diperoleh di
pasaran. Susu ini secara khusus berisi 70 % laktosa perhidrolisa, dapat digunakan
secara efektif mengurangi gejala intoleransi laktosa. Preparat enzim laktase dapat
berupa cairan, kaplet, kapsul, tablet kunyah. Dalam bentuk cair dapat dibubuhkan ke
dalam susu sebanyak 5-15 tetes/quart (1 quart=0,95 liter) dan mampu menghidrolisis
70-99% laktosa selama masa inkubasi 24 jam di tempat pendingin. Untuk setiap 12
ons susu dapat digunakan 2-3 tablet, 1-2 kapsul, - 3 kaplet, diminum sebelum atau
bersamaan dengan makan makanan yang mengandung laktosa.
2