Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN

PENGAMATAN PERILAKU MONYET EKOR PANJANG



















Disusun oleh :

Putri Etty Ferayanti B1J011060
Caisar Aditya B1J011117
Aldillah Abdul Hanif B1J011151
Desi Tri Handayani B1J012075
Kelompok : 4A
Asisten : Alain Maulana










KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Monyet Ekor Panjang atau Macaca fascicularis memang monyet populer.
Monyet dengan ekor panjang inilah yang sering kita lihat. Selain populasi monyet
jenis ini cenderung masih banyak, kemampuannya beradaptasi membuat monyet
ekor panjang terbiasa dengan kehadiran manusia sehingga banyak dipelihara.
Bahkan monyet ini populer dipergunakan dalam atraksi topeng monyet.
Dalam bahasa Inggris, monyet ekor panjang dinamakan Crab-eating
Macaque atau Long-tailed Macaque. Sedangkan dalam bahasa latin (nama ilmiah)
primata ini dinamai Macaca fascicularis yang bersinonim dengan Macaca irus.
Di beberapa daerah di Indonesia, Monyet Ekor Panjang disebut dengan berbagai
nama seperti Bojog (Bali), Kethek atau Munyuk (Jawa), Monyet, Kunyuk atau
Onces (Sunda).
Monyet yang berkerabat dekat dengan Beruk Mentawai dan Monyet
Hitam Sulawesi ini sering dijadikan hewan peliharaan juga juga sering
dimanfaatkan untuk keperluan penelitian medis dan sebagai hewan percobaan. Di
Indonesia Monyet Ekor Panjang sering juga dijadikan pertunjukan topeng monyet.
Saat dewasa Monyet Ekor Panjang mempunyai panjang tubuh sekitar 38-55 cm
ditambah ekor sepanjang 40-65 cm. Berat tubuh Long-tailed Macaque berkisar
antara 5-9 kg untuk jantan dan 3-6 kg untuk monyet betina.
Bulu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) berwarna coklat keabu-
abuan hingga coklat kemerahan dengan wajah berwarna abu-abu kecoklatan serta
jambang di pipiberwarna abu-abu, terkadang terdapat jambul di atas kepala.
Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. Monyet ini memiliki gigi seri
berbentuk sekop, gigi taring dan geraham untuk mengunyah makanan.
Monyet Ekor Panjang hidup berkelompok dengan anggota antara 5 hingga
40-an ekor lebih. Dalam satu kelompok terdapat 2-5 pejantan dengan jumlah
betina 2-5 kali lipatnya dengan salah satu monyet jantan sebagai pemimpin
kelompok. Seekor pejantan biasanya melakukan perkawinan dengan beberapa
betina sekaligus.
Monyet yang populer dipelihara dan dijadikan hiburan topeng monyet
termasuk hewan omnivora. Makanannya bervariasi mulai dari buah, daun, bunga,
umbi, jamur, serangga, siput, rumput muda, bahkan kepiting. Meskipun mayoritas
yang dikonsumsi adalah buah-buahan.

B. Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui prilaku monyet ekor panjang atau Macaca fascicularis
dan membedakan tingkat kedewasaannya.

II. DESKRIPSI LOKASI
Lokasi praktikum Taman Wisata Wangon Ajibarang dan praktikum
dimulai pukul 07.00 10.00 WIB.


III. TINJAUAN PUSTAKA
Ciri-ciri umum monyet ekor panjang adalah sebagai berikut : panjang
tubuh dewasa berkisar antara 400-500 mm, dengan panjang ekor berkisar 400-500
mm, panjang telapak kaki belakang berkisar antar 120-140 mm sedangkan
tengkoraknya memiliki ukuran sekitar 120 mm dengan panjang telinga 3-3,33 mm
dan mempunyai berat tubuh 3-6,5 kg (Anonim, 1978).
Dalam hidupnya monyet ekor panjang ini melewati fase pergantian warna
tubuh, yaitu fase bayi dengan warna tubuh oranye dan fase dewasa dengan warna
tubuh yang coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan. Rambut diatas kepala
tumbuh ke arah belakang, kadang-kadang membentuk jambul dan rambut yang
terdapat pada pipi menjurai di mukanya. Pada bagian mata selalu ada kulit yang
tidak berbulu berbentuk seperti segitiga (Veer & Carter, 1978 dalam Setiana,
1994).
Perbedaan antara jantan dan betina, secara morfologis terletak pada
perkembangan alat kelamin sekunder. Sedangkan kelompok umur pada monyet
dibedakan berdasarkan ukuran tubuh dan aktifitas hariannya. Pada jantan dewasa
(Adult male) mempunyai ukuran tubuh relatif besar sekitar 5-9 kg, tegap dan kuat
serta lebih agresif dan lincah. Mempunyai bagian dada yang lebar mengecil pada
bagian pinggang, bulu pada bagian muka lebih panjang daripada individu betina.
Jantan dewasa memiliki penis yang kecil dengan scrotum yang berbentuk tombol
bundar. Pada betina dewasa (adult female) memiliki ukuran tubuh 50-75% dari
ukuran jantan dewasa yaitu sekitar 3-6 kg. Kelenjar mammae berkembang dengan
baik serta prilaku yang lebih tenang. Individu pradewasa mempunyai ukuran
tubuh yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan individu dewasa dengan warna
tubuh yang lebih kecoklat-coklatan dan belum mempunyai rambut yang berbentuk
jambul pada kepalanya. Individu yang tergolong anak (juvenil) mempunyai
ukuran tubuh lebih kecil daripada individu pradewasa, sudah lepas dari induknya
(bergerak secara independent), dan biasanya mempunyai tingkah laku bermain
yang lebih menonjol dari individu kelompok umur lainnya. Sedangkan individu
yang masih bayi berwarna oranye terlihat jelas berada di dalam gendongan betina
dewasa ataupun menggelantung pada perut (Napier & Napier, 1978).
Salah satu ciri khas monyet ini adalah bantalan keras dari kulit tebal pada
pantat yang disesuaikan terhadap lamanya waktu tidur di dahan pohon. Bantalan
yang disebut kapal pantat ini melekat langsung pada bagian bawah pinggul. Maka
tidak ada urat syaraf atau pembuluh darah yang terhimpit, sehingga tungkai
monyet ini tidak akan kesemutan bial berat badannya menekan bantalan tadi.
(Eimerl & DeVore, 1978).
Cara bergerak Monyet Ekor Panjang pada umumnya adalah quadropedal
(bergerak dengan menggunakan keempat anggota badan). Selain itu, pergerakan
juga dilakukan dengan cara melompat, memanjat, bipedalisme (gerakan dengan
menggunakan dua kaki), dan brakiasi (gerakan dengan dua tangan untuk
menggantung). Bipedalisme biasa terjadi saat tangan memegang makanan, oleh
karena itu Monyet Ekor Panjang dapat bergerak bebas di permukaan tanah
maupun di pepohonan. Proporsi waktu yang digunakan untuk aktifitas di
permukaan tanah dan pepohonan bervariasi.dalam dan antar kelompok. Selama
pergerakan di cabang-cabang pohon, tangan bersifat digitigrade (Napier & Napier,
1967). Eisenberg et al. (1979: 468) menyebutkan bahwa aktifitas harian Monyet
Ekor Panjang sebagian besar dilkukan di permukaan tanah (semi terestrial).

IV. MATERI DAN METODE
A. Materi
Materi yang diamati dari acara praktikum ini adalah tingkah laku primata
jenis Macaca fasicularis/ Monyet ekor panjang. Untuk memudahkan pengamatan
monyet ekor panjang dibedakan menurut tingkat kedewasaan dan jenis kelamin
yaitu AM = Adult Male (jantan dewasa), AF = Adult Female (betina dewasa), SM
= Sub Adult Male (jantan remaja), SF = Sub Adult Female (betina dewasa), JM =
Juvenile Male (anakan jantan), JF = Juvenile Female (anakan betina) dan Infant
(bayi).
B. Metode
1. Dilakukan pengamatan terhadap tingkah laku monyet ekor panjang/
Macaca fascicularis.
2. Dihitung jumlah populasi dan bedakan tingkat kedewasaan.
3. Dicatat tingkah laku monyet ekor panjang meliputi aktivitas makan,
mencari makan, berjalan, istirahat dan prilaku social (bermain, agonistik,
grooming, dan kopulasi dengan selang waktu 10 menit selama 6 kali
pengulangan.
4. Dicatat pakan yang di makan oleh monyet ekor panjang.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Populasi Monyet Ekor Panjang
Kelompok
Monyet
Pengamatan AM AF SM SF JM JF IF Jumlah
I 1
2
3
4
5
1
1
1
2
3
3
2
2
-
-
4
4
1
-
1
-
2
-
3
-
-
1
2
1
6
1
-
1
1
-
-
-
-
-
-
9
10
7
7
10
II 1
2
3
4
5
1
1
-
-
1
2
1
2
2
3
4
1
3
3
1
2
-
1
1
-
7
9
5
1
-
2
4
-
1
3
1
2
-
-
1
19
18
11
8
9


2. Tingkah Laku Harian Monyet Ekor Panjang (persentase)
No. Aktivitas AM AF SM SF JM JF IF
1. Makan 1 2 4 1 2 1 -
2. Berjalan - - - - 1 - -
3. Mencari Makan 2 - 2 4 - 2 -
4. Istirahat 1 - 3 - 2 - 1
5. Social
a. Grooming
b. Bermain
c. Kopulasi
d. Agonistik

1
-
2
1

1
-
-
3

-
2
1
1

2
1
1
-

1
4
-
2

1
4
-
-

2
3
-
-

3. Komponen Makanan Monyet Ekor Panjang (persentase)
No. Jenis AM AF SM SF I Rerata
1. Buah - - - - -
2. Batang, Ranting - - 1 - 2
3. Daun, Bunga, Tunas - - - - -
4. Rumput - - - -
5. Insekta - - - - -
6. Pengunjung 3 5 3 2 -




B. Pembahasan
Praktikum pengamatan monyet ekor panjang di dilakukan di Kawasan
Cagar Budaya Cikakak. Pengamatan difokuskan pada tingkah laku harian monyet
ekor panjang. Populasi monyet ekor pankang dihitung pada masing-masing
kelompok dan dibedakan menurut tingkat kedewasaan dan jenis kelaminnya.
Pengamatan dimulai pukul 10.00 WIB, belum begitu banyak aktivitas monyet
yang terlihat pada pukul 10.00 WIB, aktivitas monyet mulai terlihat sekitar pukul
10.15 WIB, monyet mulai tampak bergelantungan di pepohonan, mencari makan
turun ke tanah, berjalan, monyet seukuran jantan remaja atau betina remaja
banyak yang bermain sesama monyet seusianya, monyet betina dewasa juga ada
yang menyusui anakanya.
Monyet ekor panjang tergolong monyet kecil yang berwarna coklat
dengan bagian perut berwarna lebih muda dan disertai rambut keputih-putihan
yang jelas pada bagian muka. Dalam perkembangannya, rambut yang tumbuh
pada muka memiliki karakter spesifik yang berbeda pada setiap individu.
Perbedaan warna ini dapat menjadi indikator dalam mengenali individu
berdasarkan jenis kelamin dan kelas umurnya (Aldrich-Black, 1976 dan Chivers,
1980). Monyet jantan dapat dikenali dengan jambang di wajahnya yang kurang
lebat, berkumis, bantalan duduk kiri dan kanan menyatu, dan adanya skrotum
(testis). Monyet jantan dikelompokkan sebagai jantan dewasa apabila badannya
besar, taringnya panjang, dan tingkah lakunya relative superior. Monyet betina
ditandai dengan wajah berjambang lebat, berjenggot, bantalan duduk kiri dan
kanan terpisah, dan adanya vulva vagina. Monyet betina dikelompokkan sebagai
betina dewasa apabila jambang dan putting susunya sudah menggelantung.
Pada kelompok muda, jenis kelamin lebih sukar untuk dibedakan. Monyet
jantan yang badannya lebih kecil dan tingkah lakunya permisif terhadap jantan
dewasa yang ada saat itu, dan betina yang belum menunjukkan puting susu
menggelantung dikelompokkan sebagai monyet muda. Batas bawah umur monyet
muda adalah berubahnya warna rambut hitam di kepala menjadi ke abu-abuan.
Sementara, monyet baru lahir dan monyet yang masih memiliki warna hitam pada
rambut kepala dikelompokkan sebagai anakan. Jumlah anggota masing-masing
kelompok sosial, selanjutnya digabung menjadi satu data populasi lokal.
Penghitungan secara langsung bisa dimulai dari kelompok anakan atau jantan
dewasa atau lainnya sesuai situasi dan kondisi ( I Gede Soma, 2009).
Monyet ekor panjang sangat bergantung pada tumbuhan terutama buah
sebagai sumber makanannya. Buah merupakan sumber makanan yang paling
disukai oleh monyet ekor panjang, selain bagian daun, umbi, dan bunga. Bagian
tumbuhan tersebut disukai karena memiliki kandungan air dan protein yang
tinggi, persebarannya luas, dan tersebar di daerah jelajah monyet ekor panjang
Jenis tumbuhan sumber pakan monyet ekor panjang yang teridentifikasi yaitu 75
jenis. Jenis tumbuhan sumber pakan monyet ekor panjang tersebut jenis yang
sering dimanfaatkan yaitu F. sumatrana, B. arborescens, A. laurifolia dan H.
peltata. Tumbuhan sumber pakan perdu dan semak yang sering dimanfaatkan
yaitu P. valentonic, M. polyantum, E. odoratum dan C. javanica (Yohan, 2009).

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil praktikum pengamatan perilaku monyet ekor panjang dapat
diambil kesimpulan:
1. Perilaku harian monyet ekor panjang yaitu meliputi makan, mencari makan,
grooming, berjalan, agonistik, berjalan.
2. Populasi monyet ekor panjang di Kawasan Cagar Budaya di Cikakak
sebagian didominasi oleh monyet ekor panjang berusia dewasa yaitu dengan
jumlah di area yang diamati yaitu 11 ekor jantan dewasa, 7 ekor betina
dewasa dan jumlah terendah yaitu spesies betina remaja dengan jumlah 1
ekor.


B. Saran
Pengamatan Hendaknya dimulai lebih pagi agar perilaku monyet ekor panjang di
pagi hari dapat teramati.
DAFTAR REFERENSI
Supriatna J, Wahyono EH.2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Roonwal ML, Monhot SM. 1977. Primate of South Asia. Cambridge: Harvard
Univ Pr.
Hasanbahri S, Djuwantoko, Ngariana IN. 1996. Komposisi jenis tumbuhan pakan
kera ekor panjang (Macaca fascicularis) di habitat hutan jati.Abstract in
English. Biota 1 (2): 1-8.
Alikodra, H.S., 1990. Pengelolaan Satwa Liar Jilid I.Bogor: Pusat Antar
Universitas Ilmu Hayati IPB.
[BKSDA] Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat II. 2006. Rencana
Pengelolaan Taman Wisata Alam Pangandaran.Balai KSDA Jawa Barat
II.Ciamis.
Muhibbuddin.2005. Studi Perilaku Satwa liar Kera Ekor Panjang (Macaca
fascicularisRaffles, 1821) untuk Pengembangan Ekowisata diKawasan
Hutan Wisata Kaliurang Yogyakarta.[Tesis]. Yogyakarta:Program Studi
Ilmu Kehutanan. Jurusan Ilmu-Ilmu Pertanian. SekolahPascasarjana
UGM.
I Gede Soma.2009. Dinamika Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis) di Hutan Wisata Alas Kedaton Tabanan.
Djuwantoko dkk,. 2008. Perilaku Agresif Monyet, Macaca fascicularis (Raffles,
1821) terhadap Wisatawan di Hutan Wisata Alam Kaliurang,
Yogyakarta. Biodiversitas.Vol 9.no 4 (301-305).
Hambali Kamarul et al,.2012. Daily Activity Budget of Long-tailed
Macaques(Macaca fascicularis) in Kuala Selangor Nature Park.
International Journal ofBasic and Applied Sciences IJBAS-IJENS Vol:12
No:04 (47-53).
Yohan. 2006. Aktivitas makan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
kelompok Pancalikan di Situs Ciung Wanara, Ciamis, Jawa Barat
[skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.