Anda di halaman 1dari 8

ALAM SUMBER ISNPIRASI

OLEH:
SUTEJA, DRS., M.Ag.

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)


CIREBON
1430 H./ 2009 M.

ALAM SUMBER ISNPIRASI


OLEH: SUTEJA, DRS., M.Ag.
(Dosen STAIN Cirebon)
ُ َ َ َ
،‫د‬ َْ
ِ ‫شا‬ ‫واْلِر‬
َ ‫ف‬ ِْ‫لط‬
ّ‫بال‬ ِ
ُ
ّ َْ
‫مان‬ ‫ ال‬،‫د‬ِ ‫دا‬‫باْلَع‬
َْ ِ ِ
‫صاء‬َْ‫اْلِح‬ ْ‫َن‬
‫ُ ع‬‫مه‬ُ‫ع‬
َِ
‫ْ ن‬ َّ‫ذي ج‬
‫لت‬ ِّ
‫ ال‬،‫د‬ ََ‫ْج‬
ِ ‫وا‬
َ
ّ ‫ِ ال‬‫بر‬
ّ َْ
‫ِ ال‬
‫له‬ّ‫ل‬
ِ ُ ‫ْحَم‬
‫ْد‬ ‫ال‬
َ َ َ َ َ ْ ْ َ
ّ َ
ّ َ َ َ َ َ
‫ُه‬
ُ َْ
‫بد‬ ‫دا ع‬ ً‫م‬َّ‫ُح‬
‫ّ م‬‫ُ أن‬ ‫َد‬
َ
‫وأشْه‬َ ،‫ر‬
ُ ّ‫غ‬
‫فا‬ َ‫ُ ال‬ ‫واحِد‬
ََ ‫ُ ال‬ ‫َ إل الله‬
َ
‫ْ ل إله‬ ‫ُ أن‬ ‫ أشْه‬.‫د‬
‫َد‬ ِ ‫شا‬َ
َّ‫ِ الر‬‫بيل‬
َِ‫دي إلى س‬ َْ
ِ ‫ها‬‫ال‬
ُ
‫عد‬َْ
‫ما ب‬ َ َ ّ ََ ّ ّ َْ‫مخ‬ ْ َ
َ‫مصْط‬ْ ُ
ّ‫أ‬ .‫م‬َ‫َل‬‫وس‬ ‫له‬
َ ِ ِ‫ِ وآ‬ ‫ْه‬
‫ُ علي‬ ‫َلى الله‬ ‫ ص‬,‫ر‬ُ ‫تا‬ ُ‫فى ال‬ ُ‫ُ ال‬ ‫سوله‬ ‫ور‬
َُ َ:

A. LINGKUNGAN ALAM
Selain konsep manusia, konsep alam juga menjadi acuan pokok pendidikan Islam. Alam
dalam pandangan Islam, diatur oleh Allah di ’arasy yang dilakukan oleh malaikat
dan Jibril AS. Hal itu sejalan dengan pandangan realisme metafisik yang
beranggapan keteraturan alam diatur oleh Allah. Gerakan malaikat dan Jibril AS.
dari Allah ke bumi, dikemukakan al-Quran dalamrelativitas waktu yaitu satu hari
berbanding seribu tahun (Q..S al-Sajadah : 5) dan satu hari berbanding 50.000
tahun (Q.S. al-Ma'arij : 4).

َ ُ
ّ‫ع‬
‫دون‬ َُ َ
‫ما ت‬‫ة م‬
ِّ ٍَ
‫َن‬ َْ
‫ف س‬ ‫َل‬
‫ُ أ‬‫ُه‬
‫دار‬ ِْ
َ‫ق‬‫َ م‬‫كان‬َ ‫م‬
ٍْ‫َو‬
‫في ي‬ ‫ْه‬
ِ ِ ‫َي‬
‫إل‬ِ ُ
‫ُج‬‫عر‬
َْ
‫م ي‬َُ
ّ‫ض ث‬
ِْ‫لى اْلَر‬
َ‫ِ إ‬
ِ ‫ماء‬ ََ‫َ الس‬
ّ ‫ِن‬‫َ م‬ ‫ُ اْلَم‬
‫ْر‬ ‫ّر‬‫َب‬
ِ ‫ُد‬
‫ي‬
5 :‫))السجدة‬
Artinya:
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya
dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Q.S al-
Sajadah : 5)
4 :‫ٍ )المعارج‬‫َة‬‫َن‬
‫ف س‬ ‫َل‬
َْ ‫َ أ‬
‫سين‬ ‫ُ خَم‬
ِْ ‫ُه‬‫دار‬ِْ
َ‫ق‬ ‫َ م‬
‫كان‬َ ‫م‬
ٍْ‫َو‬
‫في ي‬ِ ِ ‫َي‬
‫ْه‬ ‫إل‬
ِ ُ
‫روح‬ُ
ّ ‫وال‬ َُ
َ ‫ة‬‫ِك‬‫مَلئ‬
َْ
‫ُ ال‬‫ُج‬
‫عر‬َْ
‫)ت‬
Artinya:
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang
kadarnya limapuluh ribu tahun.(Q.S. al-Ma'arij : 4).
SUTEJA

Pengaturan dari atas arasy, menggambarkan kebesaran alam semesta dan manfaatnya
bagi manusia serta stabilitas dan regularitas fenomena alam pada sisi lain.
Kebesaran, kemanfaatan, stabilitas dan regularitas fenomena alam, menunjukkan
adanya hukum sebab akibat dengan ukuran yang pasti antar benda dan peristiwa (Q.S.
al-Anfal : 38 ; QS Fathir : 43).
َ‫ة ال‬ َ ََ َ ُْ
ّ
:‫َ )النفال‬ ‫لين‬ِ‫و‬
ّ ُّ‫ُن‬‫ْ س‬ ‫ْ م‬
‫َضَت‬ ‫قد‬ََ
‫دوا ف‬ ُ ‫عو‬َُ
‫ْ ي‬‫ِن‬‫وإ‬
َ ‫ف‬ َ‫ل‬‫ْ س‬ ‫ما قَد‬َ ‫م‬ ‫َه‬
ُْ ‫ْ ل‬‫فر‬ُْ
َ‫غ‬ ‫هوا ي‬ َُ
‫ْت‬‫َن‬
‫ْ ي‬‫ِن‬
‫روا إ‬ ََ
ُ‫ف‬‫َ ك‬
‫ذين‬ِ‫ل‬ ‫ل‬
ِ ‫قل‬
38)
Artinya:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : "Jika mereka berhenti (dari
kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang
sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi[610] sesungguhnya akan berlaku (kepada
mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu ."(al-Anfal: 38)
َ ‫ّة‬ َ َ َ
‫لين‬
َ َ
ّ‫َ اْل‬
ِ‫و‬ َ
‫ُن‬‫إّل س‬
ِ َ ‫رون‬ُُ‫ْظ‬
‫َن‬‫ْ ي‬ ‫َه‬
‫َل‬ ‫ِ ف‬
‫له‬ِْ ‫إّل ب‬
‫ِأه‬ ‫َي‬
ِ ُ‫ّئ‬
ِّ‫ُ الس‬ ‫ْر‬ َْ
‫مك‬ ‫ق ال‬ُ‫حي‬
َِ‫وَل ي‬َِ‫ّئ‬ ‫َي‬
ِّ ‫ْر‬
‫َ الس‬ ‫َك‬
‫وم‬َ ‫ض‬
ِْ‫في اْلَر‬
ِ ‫را‬ َْ
ً ‫با‬ ‫ِك‬
‫ْت‬‫اس‬
َ
ّ َ َ
ّ َ َ
43 :‫ويًل )فاطر‬ ِ ْ
‫ح‬ َ
‫ت‬ ‫ه‬
ِ ‫ل‬ ‫ال‬ ‫ة‬ّ
‫ن‬ ‫س‬‫ل‬ َ
‫د‬ ‫ج‬
ِ ُِ ِ ْ ََ
‫ت‬ ‫ن‬ َ
‫ل‬ ‫و‬ ً
‫ل‬‫دي‬ ‫ب‬ َ
‫ت‬
ِْ ِ ‫ه‬‫ل‬ ‫ال‬ ‫ة‬ّ
‫ن‬ ‫س‬‫ل‬ َ
‫د‬
ِ ُِ ِ ْ ‫ج‬َ
‫ت‬ ‫ن‬‫ل‬ َ
‫ف‬ )
Artinya:
karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat.
Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya
sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah
yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak
akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan
menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (Fathir: 43)

Bumi diciptakan Allah untuk kesejahteraan manusia (Q.S. al-Baqoroh : 29) dan
disiapkan sedemikian rupa sehingga manusia mampu mengatur dan memakmurkannya.
َ
‫ّ شَيْء‬
ٍ ‫ُل‬
ِ ‫ِك‬
‫َ ب‬‫ُو‬‫وه‬
َ ‫ت‬ ٍ‫وا‬
َ‫م‬
ََ‫َ س‬‫بع‬‫َ س‬
َْ ‫ُن‬
ّ ََ
‫واه‬
ّ ‫َس‬
‫ِ ف‬‫ماء‬ََ
‫لى الس‬
ّ َ‫وى إ‬
ِ ََ ‫ْت‬
‫م اس‬ َُ
ّ ‫عا ث‬ً‫مي‬َِ‫ض ج‬ ‫في اْلَر‬
ِْ ِ ‫ما‬َ ‫م‬ ‫َك‬
ُْ ‫ق ل‬ ََ‫ذي خ‬
َ‫ل‬ ِّ‫َ ال‬‫ُو‬
‫ه‬
29 :‫م )البقرة‬ ‫لي‬
ٌ َِ
‫ع‬ )
Artinya:
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Baqoroh : 29)
ُ
‫فك‬ِْ‫َس‬
‫وي‬َ ‫ها‬ ِ ُ
َ ‫في‬ ُْ
‫فسِد‬‫َنْ ي‬‫ها م‬ ِ ُ
َ ‫في‬ ‫عل‬ ‫َت‬
َْ‫َج‬ ‫لوا أ‬ُ‫قا‬َ ‫ة‬ َ‫لي‬
ً‫ف‬ َِ‫ض خ‬ ‫في اْلَر‬
ِْ ِ ٌ‫ِل‬‫جاع‬َ ‫ني‬ّ
ِ‫إ‬ِ ‫ة‬َِ‫ِك‬ َْ
‫مَلئ‬‫لل‬ ‫ُك‬
ِ َ ‫َب‬
ّ ‫قاَل ر‬
َ ْ
‫إذ‬ِ‫و‬َ
َ َ َ َ َ َ َ َ َ
30 :‫َ )البقرة‬ ‫مون‬
ُ‫عل‬َْ‫ما ل ت‬ َ ‫م‬ُ‫ْل‬‫ني أع‬ّ
ِ‫إ‬ِ ‫س لك قال‬ ُّ
‫قد‬
ِ َُ
‫ون‬َ ‫ِك‬ ‫ْد‬ ‫ُ ب‬
‫ِحَم‬ ‫ِح‬‫ب‬‫ُس‬
َّ ‫ُ ن‬‫َحْن‬
‫ون‬َ ‫ء‬ َّ
َ‫ما‬‫) الد‬
ِ
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui." (Q.S. al-Baqoroh : 30)
َ َ َ
‫ض‬‫َ اْلَر‬
ِْ ‫ِن‬ ُْ
‫م م‬‫ْشَأك‬
‫َ أن‬
‫ُو‬‫ُ ه‬
‫ُه‬‫ْر‬ ‫َه‬
‫ٍ غَي‬ ‫إل‬
ِ ْ‫ِن‬
‫م م‬‫َك‬
ُْ ‫ما ل‬ ‫له‬
َ َ ّ‫دوا ال‬ُْ
ُ‫ب‬‫م اع‬
ِْ َ ‫قاَل‬
‫يا قَو‬ َ ‫حا‬
ًِ
‫صال‬
َ ‫م‬
ُْ ََ
‫خاه‬‫َ أ‬ َُ
‫مود‬ َ‫وإ‬
‫لى ث‬َِ
61 :‫ٌ ) هود‬
‫جيب‬‫ٌ م‬
ُِ َِ‫بي ق‬
‫ريب‬ ّ
َِ‫َ ر‬
ّ
‫إن‬ ‫ْه‬
ِ ِ ‫َي‬
‫إل‬ِ ‫بوا‬
ُ ‫تو‬ َُ
ُ ‫م‬
ّ‫ُ ث‬
‫روه‬
ُ‫ف‬َْ
ِ‫غ‬‫ْت‬ َ ‫ها‬
‫فاس‬ َ ‫في‬ ُْ
ِ ‫م‬‫َك‬‫مر‬َْ
َ‫ع‬‫ْت‬‫واس‬
َ)
Artinya:
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena
itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku
amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (Q.S. Hud : 61)

Potensi dasar manusia yang dikembangkan itu, tidak lain adalah berAllah dan
cenderung kepada kebaikan bersih dari dosa, berilmu pengetahuan serta bebas
memilih dan berkreasi. Dapat dikatakan, Pendidikan Islam adalah upaya pelayanan
bagi mengembangkan potensi dasar manusia dalam berkeAllahan, berbuat baik,
kekhalifahan, berilmu pengetahuan dan berpikir serta bertindak tegas.
Mengembangkan potensi bertawhid, mengharuskan pendidikan Islam berisi tentang hal
yang menyangkut tentang Allah serta membimbing untuk hidup dengan sikap berAllah
yaitu mengabdi kepada ketentuan Allah.

SUTEJA

Ketentuan Allah menyangkut Allah itu sendiri, alam dan manusia. Karena itu,
mengikuti aturan Allah berarti pula mengembangkan potensi kemanusiaan yang terkait
kepentingan hubungan dengan sesama manusia dan alam. Dengan demikian, materi
(kurikulum) pendidikan Islam tidak hanya menyangkut hubungan dengan Allah (ibadah
mahdhah), tetapi juga termasuk di dalamnya materi ibadah ghairi mahdhah. Hal itu
akan lebih mendukung pengembangan potensi kekhalifahan manusia, yaitu
mengembangkan kemampuan dalam mengurus alam dan manusia sekaligus juga
merealisasikan posisi manusia sebagai Abdullah.
Alam berkembang secara bertahap, bermanfaat, stabil, reguler dan dapat diatur
manusia, maka Pendidikan Islam adalah pendidikan yang memiliki tahapan,
berkesinambungan, output dan outcome pendidikannya berguna bagi dirinya (Q.S. al-
Tahrim : 6) dan masyarakatnya (Q.S. al-Maidah : 2).
َ
ٌ‫َِلظ‬ ٌَ
‫ة غ‬‫ِك‬‫ََلئ‬
‫ها م‬‫لي‬
َْ ََ‫ُ ع‬‫َة‬
‫جار‬َِ‫ْح‬
‫وال‬َ ‫س‬ُ‫نا‬َ‫ها ال‬
ّ َُ ُ‫و‬
‫قود‬ َ َ‫را‬ً ‫نا‬
َ ‫م‬ُْ
‫ليك‬ ‫َه‬
ِْ ‫وأ‬َ ‫م‬ُْ
‫َك‬‫فس‬ ‫َن‬
ُْ ُ ‫نوا‬
‫قوا أ‬ َُ
‫َ آم‬ ِّ
‫ذين‬‫ها ال‬‫َي‬
ُ
َّ ‫يا أ‬
َ
6:‫َ )المآئدة‬ ‫رون‬ ‫م‬ ْ
‫ؤ‬‫ي‬ ‫ما‬ َ
‫ن‬ ُ
‫لو‬‫ع‬َْ
‫ف‬‫ي‬ ‫و‬ ‫م‬ُ
‫ه‬ ‫ر‬‫م‬ َ
‫أ‬ ‫ما‬ ‫ه‬ ّ
‫ل‬‫ال‬ َ
‫ن‬ ‫صو‬ ْ
‫ع‬‫ي‬ ‫ل‬َ ‫د‬ َ
‫دا‬ ‫ش‬)
ُ َ ُ َ َ َ ْ َ َ َ َ ُ َ ٌ ِ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. al-Tahrim : 6)
َ ُ َ
َ‫مين‬َ‫وَل آ‬
ِ
ّ َ َ
‫ِد‬‫قَلئ‬
َْ
‫وَل ال‬ َ ‫ي‬َْ
‫َد‬‫ْه‬
‫وَل ال‬ َ ‫م‬َ‫را‬ََ‫ْح‬
‫َ ال‬ ‫ْر‬ َ‫ِ وَل الش‬
‫ّه‬ َ ‫له‬ّ‫َ ال‬ ‫ِر‬ ََ‫لوا ش‬
‫عائ‬ ِّ‫ُح‬
‫نوا َل ت‬ َُ
‫َ آم‬ ِّ
‫ذين‬‫ها ال‬ َّ‫َي‬
ُ ‫يا أ‬
َ
َ َ ‫وَل ي‬ َْ ‫ْت‬ ََ‫ذا ح‬ ‫َضًْل م‬
ْ
‫م أن‬ ٍْ‫ُ قَو‬
‫ن‬ ‫م شَن‬
َ‫َآ‬ ُْ
‫ّك‬‫َن‬‫َجْرِم‬ َ ‫دوا‬ ُ ‫طا‬‫فاص‬ َ ‫م‬ُْ ‫لل‬ َ‫إ‬
ِ‫و‬َ ‫نا‬ً‫وا‬
َْ‫ِض‬‫ور‬
َ ‫م‬ ‫ّه‬
ِْ ‫َب‬
ِ ‫ِنْ ر‬ ‫َ ف‬‫غون‬َُ
‫بت‬ ‫م ي‬
َْ ََ‫ْح‬
َ‫را‬ ‫َ ال‬ ‫ْت‬ َْ
‫بي‬‫ال‬
‫لى اْلِث‬
ِْ
‫م‬ ََ
‫نوا ع‬ُ‫و‬َ‫عا‬ ‫وَل ت‬
ََ َ ‫وى‬َ‫ق‬َْ
ّ
‫والت‬ َ ِ‫ِر‬
ّ ‫ْب‬‫لى ال‬ ََ
‫نوا ع‬ ُ‫و‬
َ‫عا‬ََ
‫وت‬َ ‫دوا‬َُ َْ
‫عت‬ ‫ْ ت‬‫َن‬
‫م أ‬ِ‫را‬ََ‫ْح‬
‫ِ ال‬ ‫ِد‬
‫ْج‬ َْ
‫مس‬‫ِ ال‬ ‫َن‬
‫م ع‬ُْ
‫دوك‬َُ
ّ ‫ص‬
ْ َ
ّ َ َ
ّ َ ْ
2 :‫ب )المآئدة‬ ِ‫قا‬َ‫ع‬
ِ ‫ل‬ ‫ا‬ ُ
‫د‬ ‫دي‬َ‫ش‬
ِ َ ‫ه‬‫ل‬ ‫ال‬ ّ
‫ن‬ ‫إ‬
ِ َ‫ه‬‫ل‬ ‫ال‬ ‫قوا‬ُّ
‫ت‬ ‫وا‬ ‫ن‬‫وا‬
َ ِ َ ْ
‫د‬ ‫ع‬
ُ‫ل‬ ‫وا‬
َ)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan
jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-
binatang had-ya[391], dan binatang-binatang qalaid, dan jangan (pula) mengganggu
orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan
dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah
berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada
mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al Maidah : 2).

B. BELAJAR DENGAN ALAM


Lingkungan dalam arti sempit berarti situasi di sekitar kita. Dalam dunia
pendidikan lingkungan berarti segala sesuatu yang berada di luar peserta didik
dalam alam semesta ini. Sesuatu itu berupa makhluk hidup dan benda benda mati.
Disamping hal-hal konkrit lingkungan ada juga yang bersifat abstrak misalnya
situasi sosial, ekonomi, politik, sosial, kepercayaan, ideologi, adat istiadat,
kebudayaan dan sebagainya. Dari segi tempatnya, lingkungan terdiri dari
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ketiga
lingkungan itu saling berkaitan dan saling mempengaruhi.
Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup merumuskan lingkungan hidup sebagai
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup (termasuk
didalamnya manusia dan perilakunya) yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan
dn kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan hidup, dengan
demikian, adalah alam semesta (jagat raya), manusia dan perilakunya baik secara
sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya.
Dalam perspektif al-Quran manusia tidak saja pihak yang diberi tanggung jawab
(amanat) melainkan juga pihak yang pertama-tama diberikan beban dan tannggung
jawab padanya untuk mengelola, memelihara dan melestarikan lingkungan. Al-Quran
memberikan kelebihan-kelebihan manusia di atas yang lainnya, karena dia diangkat
menjadi wakil Allah di muka bumi ini. Karenanya, al-Quran mengajak manusi untuk
mengetahui hikmah penciptaan alam serta memberikan kemungkinan untuk dapat
mengambil manfaat dari lingkungan. Dan, yang sangat essensial, manusia
diperintahkan untuk selalu tunduk dan patuh (beribadah) kepada-Nya dalam bentuk
interaksi yang saling menguntungkan baik dengan alam maupun sesama makhluk.
Aturan-aturan alam yang berjalan sesuai dengan ketentuan Allah dan aturan-aturan
al-Quran dapat membimbing manusia memperoleh kebajikan, kebenaran dan kebahagiaan.
Semua itu merupakan kehendak Allah.
Allah adalah Pencipta manusia dan alam semesta selainnya. Al-Quran menghendaki
pendidikan dapat memberikan kejelasan dan keyakinan adanya hubungan antara
Pencipta dan yang diciptakan-Nya (makhluk). Segala bentuk peribadatan kepada
Allah musti didasari oleh kepatuhan dan ketaatan serta rasa menganggungkan-Nya,
bukan karena takut ataupun mengharapkan imbalan dari-Nya.
Allah, sebagai pendidik, mengajarkan apa yang dikehendaki dengan kebijaksanaan-Nya
yang abadi dan ilmu-Nya yang kekal. Dialah Allah idealisasi contoh dan teladan
dalam hal kebenaran, kebaikan, dankeindahan yang dapat dan musti diteledanai
setiap pendidik dan orang tua.
Ayat kesatu sampai dengan kelima surat al-‘Alaq menyuruh manusia membaca. Semenjak
ayat-ayat itu turun tidak henti-hentinya al-Quran berbicara tentang alam dan
lingkungan hidup di setiapsurat dalamal-Quran. Ayat-ayat tentang alam bertujuan
memberi pengajaran mengenai peran manusia dalam mengelola danmemberdayakan alam
dan lingkunagnnya.

C. PESAN AL-QURAN TENTANG ALAM


Aqidah Islam menegaskan bahwa, Allah adalah pencipta jagat raya dan manusia. Dia
menciptakan alam semesta dengan segala daya dan kekuatan yang terkandung di
dalamya. Alam semesta bukanlah musuh bagi kehidupan manusia. Alam adalah amanat
bagi manusia, karena manusia adalah hamba dan juga khalifah Allah di muka bumi.

30 : ‫ )البقرة‬... ‫ني جاعل في الرض خليفة‬


ّ‫بك للملئكة إ‬
ّ ‫)و إذ قال ر‬
Artinya :
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…….. (Q.S. al-Baqarah : 30).

Alam semesta adalah sebuah keutuhan yang integral karena merupakan karya Pencipta
Yang Tunggal yang aturan dan disain-Nya telah memasuki setiap bagian alam semesta.
Tata kosmis terdiri dari hukum-hukum alam (sunnatullah). Didalam alam semesta
terdapat semua yang menjadi kebutuhan manusia. Keseluruhan alam semesta dapat
menerima perubahan karena inisiatif manusia dan ia mengalami transformasi ke dalam
pola-pola yang dikehendaki manusia.
Sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab menciptakan kemakmuan dan
kesejahteraan bersama, manusia dapat memenuhi alam semesta dengan kleindahan dan
menyuburkannya. Kepatuhan alam semesta kepada manusia tidak mengenal batas.
SUTEJA

Kekuatan-kekuatan alam jagat raya seluruhnya diciptakan untuk bekerjasama dengan


manusia dan menjadi sahabat yang saling membantu. Sedangkan manusia bertugas
mengkaji alam jagat raya ini sebgai bentuk ibadah kepada Allah, yang karenanya
manusia berhak menjadi khalifah.
Serluruh ayat-ayat al-Quran tentang alam menegaskan bahwa, alamt semesta ini
diciptakan demi kepentingan manusia. Manusia adalah hamba tetapi sekaligus juga
khalifat Allah fi l-Ardh.
1. Alam Semesta itu Baru
Setiap sesuatu selain Allah itu baru dan karenanya alam semesta adalah baru.
Setiap yang baru selalu menerima perubahan dan cenderung untuk rusak atau hancur.
Termasuk di dalamnya manusia. Akan tetapi, roh atau jiwa manusia tetap kekal
karena ia terpisah dari jasad yang hancur.
Kehancuran alam semesta dan jagat raya ini tidak serta merta menggantikan
pendirian kaum pendidik dan para orang tua murid. Pendidikan qurani memberikan
keyakinan bahwa, aspek mental spiritul harus tetap diutamakan pendidikannya
daripada aspek fisik jasmaniah dan ketrampilan-ketrampilan bermain atau
berolahraga.
Kaidah dan norma atau aturan baku pendidikan moral dan mental spiritual
mengenai baik dan buruk, indah dan jelek, terpuji dan tercela, ataupun benar dan
salah akan selalu tetap berjalan dan dipedomani dalam dunia pendidikan, meskipun
para penggagas dan pelopor penegak kebaikan sudah hilang termakan usia
dandigantikan oleh generasi yang baru secara simultan dan berkesinambungan. Alam
selalu memberikan norma “mati satu tumbuh seribu” dalam pewarisan nilai-nilai
budaya dan peradaban manusia, demi kesejahteraan dan kemakmuran, serta tegaknya
kemanusiaan.
Sebagian benda-benda di alamsemesta ini menuju kepada proses kehancuran baik
secara cepat ataupun lambat, termasuk tubuhmanusia. Akan tetapi, kehancuran fisik
atau benda tidak mengharuskan kehancuran roh atau jiwa manusia. Karenanya,
Pendidikan yang dikehendaki al-Quran tidak mentolelir hancuranya nilai-nilai
universal tawhidullah, meskipun telah terjadi beratus-ratus generasi.
2. Konsistensi dan Kesetiaan Alam
Alam adalah adalah segala sesuatu selain Allah. Ia memiliki ruang beredar,
tempat bergerat sebagai keseluruhan. Setiap bagian dari alam mempunyai wujud,
aturan dan disiplin sendiri yang khas. Setiap planet memiliki kaitan dengan yang
lainnya. Tetapi,setiap planet memiliki aturan dan disiplin sendiri-sendiri.
Benda yang jatuh selalu turun ke bawah karena ada gravitasi dari bumi. Konsistensi
alam juga terlihat pada hukum atau sunnah alam itu selalu konsisten. Alam
menyuguhkan ajaran sangat bernilai kepada manusia, sebagai pendidik dan peserta
didik, tentang konsistensi dan disiplin dalam menjalankan aturan dan ketentuan
yang berlaku.
3. Inisiatif Alam
Bila pandangan kita tertuju kepada pertumbuhan tanaman yang bertunas kita akan
dapati bahwa, tunas-tunas daun muda disiapkan dengan dendiri oleh tanaman sebelum
ia mengalami masa kelangkaan daun-daun padanya. Hal ini memberikan kesan bahwa,
diantara sunnah Allah yang berlaku bagi makhluk hidup
dan musti diikuti oleh manusia adalah inisiatif dan kreativitas untuk
mempertahankan eksistensi dan mempertahankan diri tetap bertahan hidup (survive).
Alam semesta mengajarkan kepada kita, hasrat dan tindakan mempertahankan spesies-
nya secara mandiri tanpa harus dipaksakan oleh pihak luar. Alam selalu
berinisisatif untuk dapat bertahan hidup dan mengembangkan keturunannya secara
periodic dan berkesinambungan. Inisiatif adalah modal dasar untuk dapat bertahan
hidup. Kreativitas adalah salah satu upaya untuk tujuan aktualisasi diri (self
actualization).
4. Perubahan Evolusioner
Alam dan seluruh isi serta fenomenanya, sesuai dengan tabi’at atau karakter
makhluk ciptaan Allah, senantiasa berubah dan mengalami ke-baru-an. Islam
mengakui perubahan dan perkembangan. Seluruh makhluk hidup pada umumnya terjadi
dari air. Jirim-jirim di langit umumnya terjadi dari asap. Kemudian dengan
berangsur-angsur sampai kepada kesempurnaannya. ”Proses pendidikan tidak lain
adalah menyampaikan sesuatu kepada titik kesempurnaannya secara evlusioner dan
berangsur-angsur”.
5. Alam itu Harmonis
Setiap bagian dari alam semesta ini bergerak mengikuti hukum yang umum
sebagai sunnatullah. Setiap orang yang berhadapan dengan fenomena alam semesta
akan berhadapan dengan sebuah kejadian yang rapih dan harmonis secara keseluruhan.
SUTEJA

ّ‫درناه منازل ح‬
‫تى عاد‬ ّ ‫ والقمر ق‬.‫ّ لها ذالك تقدير العزيز العليم‬‫والشمس تجري لمستقر‬
‫ّ في فلك‬
‫ وكل‬.‫ُ سابق النهار‬‫َ ول الليل‬
‫ُ ينبغي لها أن تدرك القمر‬
‫ ل الشمس‬.‫كالعرجون القديم‬
40 - 38 : ‫) يسبحون )يس‬

Artinya :
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya; demikianlahketetapan Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dantelah Kami tetapkan bagi bulan-bulan tempat-
tempat, sehinggasetelah dia sampai ke tempat teral\khir kembalilah dia sebagai
bentuk badan yang tua. Tidaklah mungkin mataharai mendapatkan (berjumpa) bulan dan
malam puntidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis
edarnya (Q.S. Yasin : 38-40).

6. Kausalitet
Ada hubungan yang erat antara sebab dan akibat. Undang-undang sebab akibat
menghubungkan kejadian alam semacam urutan mata rantai yang berentetan. Sebagai
sesuatu yang baru alam terjadi dari adanya sebab yang mendahuluinya. Air akan
mendidih manakala direbus, air akan membeku manakala berada di bawah titik nol
derajat, air akan menguap manakala dilakukan padanya pemanasan oleh matahari, dan
setersunya. Proses itu berjalan sesuai dengan sunnah (pola-pola) yang telah
ditentukan Allah dan alam menerimanya.
Pendidikan, dengan mengaca pada fenomena alam semesta, dengan demikian musti
berjalan di atas ketentuan atau norma sebab akibat. Pendidikan yang dikehendaki
al-Quran dan al-Sunnah berjalan dengan melalui proses alami dalam arti tidak
mengabaikan nilai-nilai dasariah fithrah manusia, disamping berlandasakan hukum
sebab akibat.
7. Alam Berasal dari Yang Maha Sempurna
Alam ada karena Yang Maha Ada. Ia tidak mungkin terwujud secara kebetulan.
Allah adalah sumber alam semesta. Allah terbebas dari sifat-sifat tidak sempurna,
tercela dan kekurangan. Dunia Pendidikan dengan demikian terkena konsekuensi dari
kesempurnaan tersebut. Kaum pendidik dan para orang tua seyogyanya menteladani
sifat-sifat sempurna itu.
SUTEJA

C. Simpulan
Al-Quran mengarahkan perhatian manusia kepada alam agar manusia memahami hal-hal
sebagai berikut :
1. alam diciptakan berdasdarkan kebenaran dan aturamn-aturan yang baik.
Sesungguhnya alam ini berjalan sesuai dengan aturam-aturan yang pasti. Oleh sebab
itu alam ini diciptakan bukan sekadar permainan, siai-sia tanpa ada gunanya.
2. manusia musti mempelajari dan menyelediki aturan-aturan alam, isi dan
rahasai-rahasianya sesuai kemampuan yang ada pada dirinya dan mengakui kebesaran
Allah, serta kekuasaan-Nya.
3. Allah menciptakan manusia agar dapat menjinakkan makhlukp-makhluk lain dan
mengolah alam guna memenuhi kebutuhan mereka dengan tanpa berlebih-lebihan dan
dapat memanfaatkannya sebaik mungkin.
Pendidikan tentang Lingkungan Hidup adalah sebuah proses pendidikan Qurani
tentang perilaku manusia yang berhubungan dengan tata cara menerima kehadiran
alam, cara mengolah alam demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama, serta
bagaimana cara melakukan tindakan-tindakan pelestarian (dan harmonisasi)
lingkungan hidup sejauh dapat dilakukan secara wajar. Pelestarian lingkungan
hidup dapat ditempuh dengan dua cara utama, yaitu pencegahan dan pemeliharaan.
Proses Pendidikan, yang bertumpu pada proses pembelajaran, bertanggung jawab dalam
pewarisan nilai-nilai dan tradisi yang dikehendaki al-Quran -sebagai perwakilan
Allah- dalam proses penciptaaan, pengelolaan dan pemeliharaan lingkungan hidup.
Proses itu berjalan evolusioner, bertahap dan melalui tahapan-tahapan proses.
Hasil sebuah proses pendidikan tidak secara serta merta dapat dilihat
dandirasakan hasilnya. Hasil pendidikan juga tidak dapat langsung dinikmati oleh
generasi sekarang, dan bahkan oleh kaum pendidik dan orang tua yang tengah
terlibat dalam proses tersebut.
SUTEJA

Alam mengajarkan kepada kita bahwa, kekuasaan dan iradah Allah juga melalui
tahapan-tahapan proses. Renungkan firman Allah didalam surat al-Mu’minun: 12 yang
berbunyi:
12 : ‫م جعلناه من نطفة في قرار مكين )المؤمنون‬ّ‫)ولقد خلقناكم من سللة من طين ث‬
Artinya :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari saripati berasal dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani yangdisimpan dalam tempat yang kokoh
(rahim). (Q.S. al-Mu’minun : 12).
‫ )الحجرات‬... ‫نا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبآئل لتعارفوا‬ّ‫يآ أيها الناس إ‬
13 :)
Artinya :
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dariseorang laki-laki seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
mengenal. (Q.S. al-Hujurat : 13).
.... ‫دة ورحمة‬
ّ ‫ومن آيانه أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لنسكنوآ إليها وحعل بينكم مو‬
21 : ‫))الروم‬
Artinya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang …. (Q.S. al-Rum : 21).
Ayat-ayat tersebut di atas menegaskan bahwa :
1. Allah menciptakan (‫ )خلق‬manusia pada mulanya tidak melibatkan pihak-
pihaklain, terutama manusia.
2. Ketika Allah berkehendak untuk menjadikan (‫ )جعل‬manusia dalam berbagai suku
bangsa, ras dan agama maka manusia dilibatkan dalam proses tersebut.
3. Hasil dari proses tersebut sama sekali tidak ditentukan secara pasti oleh-
Nya, melainkan sangat bergantung kepada usaha manusia itu sendiri.
SUTEJA

4. Usaha manusia hendaknya lahir dari kesadaran untuk memahami kehendak Allah.

Bumi, langit dan segala isinya adalah amanah bagi manusia. Amanah ini sekurang-
kurangnya ada dua macam. Pertama, kesanggupan manusia mengembangkan sifat-sifat
Allah pada dirinya. Kedua, berkenaan dengan cara-cara pengelolaan dan pemeliharaan
sumber-sumber yang ada di bumi dan di langit. Dengan demikian, konsep ibadah
diperluas menjadi pengelolaan dan pemeliharaan sesuai dengan amanah Allah. Atau,
ibadah adalah pengembangan potensi-potensi berupa sifat-sifat Allah pada diri
pendidik dan atau peserta didik.

BACAAN LEBIH LANJUT


Engr. Akhtar K. Bahatti dan Gul-e-Jamat, The Holy Quiran on Environment, Delhi,
Adam Publisher & Distributors, 1997.
al-Faruqi, Isma’il Raji, Islamisasi Pengetahuan, terj. Bandung, Pustaka, 1984.
al-Jamaly, Moh. Fadhil, Filsafat Pendidikan dalam al-Quran, terj. Jakarta, Bulan
Bintang, 1983.
Langgulung, Hasan, Azas-azas Pendidikan Islam, Jakarta, al-Husna, 1987.
al-Syaybani, Mohammad al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Jakarta, Bulan
Bintang, 1979.
Soejono, Agus, Ilmu Pendidikan Umum, Bandung, Ilmu, t.th.

SUTEJA