Anda di halaman 1dari 20

1

AMALIA ZATALINI
14010411100036 / 035
NEGOSIASI DAN RESOLUSI KONFLIK INTERNASIONAL
HUBUNGAN INTERNASIONAL


1. Jenis konflik yang mudah diselesaikan:
Jenis konflik yang mudah diselesaikan adalah konflik internal atau intrastate
conflict karena selama berlangsungnya konflik tidak ada pihak luar yang terlibat
sehingga konflik dapat diselesaikan tanpa terlalu banyak campur tangan pihak asing dan
tekanan-tekanan yang diakibatkan oleh kepentingan pihak-pihak luar yang
berkepentingan dengan konflik tersebut. Beberapa contoh inrastate conflict yang berhasil
diselesaikan antara lain:

Konflik Bosnia
Awal mula konflik
Peristiwa genosida terjadi di Bosnia semasa pemerintahan Slobodan Millosevic.
Konflik berawal dari perbedaan cara pandang antara etnis Serbia dengan etnis Bosnia
dalam memahami keyakinan dan kepentingan satu sama lain sehingga berujung pada
peristiwa pembantaian massal yang dilakukan oleh tentara Ultra nasionalis Serbia
terhadap etnis Bosnia yang mayoritas Islam.
Melalui referendum, pada tanggal 3 Maret 1992 rakyat BosniaHerzegovina
menyepakati pemisahan diri mereka dari Yugoslavia dan mendirikan negara Republik
BosniaHerzegovina. Hal ini menimbulkan kekecewaan etnis Serbia yang berada di
Bosnia dan menjadi titik awal dari perang etnis terbesar dalam sejarah Eropa
kontemporer. Di bawah komando Slobodan Millosevic dukungan terhadap etnis Serbia
yang bermukim di Bosnia pun datang dari tentara Ultra nasionalis Serbia dimana mereka
menjadikan kaum Muslim Bosnia sebagai sasarannya. Banyak dari tentara Ultra
2

nasionalis yang melakukan kekejaman seperti pembunuhan terhadap penduduk sipil
(terutama warga Muslim), pemerkosaan massal, pemindahan penduduk secara paksa, dan
pengerusakan fasilitas umum saat peperangan berlangsung.
Perang tersebut berlangsung selama 3,5 tahun dan telah menyebabkan 250.000
lebih warga Muslim Bosnia tewas serta 1,5 juta lainnya terpaksa hidup dalam
pengungsian. Petinggi militer Serbia dan penguasa rezim fasis di Yugoslavia diduga
menjadi otak dari semua peristiwa berdarah tersebut dimana tokohnya seperti Radovan
Karadzic, Ratko Mladic, Milan Gvero dan Soblodan Millosevic adalah arsitek utama
genosida di BosniaHerzegovina.
Analisis konflik
Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis konflik Bosnia yakni rational
actor. Hal ini berdasarkan fakta bahwa genosida yang dilakukan oleh pemerintah
disebabkan oleh keinginan pemerintah untuk mempertahankan wilayah kedaulatannya.
Seperti yang diketahui bahwa pada saat itu Yugoslavia pecah menjadi 6 negara yang
didasarkan oleh etnis. Berbeda dengan negara pecahan lainnya yang lebih mudah
mendapatkan kemerdekaan, Bosnia mengalami kesulitan untuk mencapai hal tersebut
meskipun referendum telah dilakukan. Sebaliknya, Bosnia justru harus menghadapi 2
pilihan sebagai akibat dari hasil referendum tersebut. Pertama, Bosnia tetap menjadi
bagian dari Yugoslavia dimana etnis Serbia Bosnia akan mendapatkan pekerjaan yang
lebih baik dibandingkan dengan etnis Muslim dan Kroasia yang berada di sana. Kedua,
memisahkan diri dari Yugoslavia namun etnis Muslim Bosnia tidak mendapatkan
perlindungan dan akses militer.
Dipersulitnya Bosnia untuk memisahkan diri dikarenakan sebagai bagian yang
memilki etnis yang kompleks, Bosnia terdiri dari tiga etnis yaitu Muslim, Serbia, dan
Kroasia dimana etnis Serbia yang bermukim di Bosnia menolak untuk memisahkan diri
3

dari Yugoslavia. Alasan lainnya yakni wilayah Bosnia pada masa Yugoslavia masih
dipimpin oleh Broz Tito difokuskan untuk menjadi basis industri yang mana industri
militer termasuk di dalamnya sehingga apabila Bosnia melepaskan diri maka akan sangat
merugikan bagi Yugoslavia.
Resolusi konflik
Atas kejahatan terhadap kemanusiaan yang telah dilakukan oleh tentara Ultra
nasionalis Serbia maka dibentuklah International Criminal Tribunal for the former
Yugoslavia (ICTY) demi mempertanggungjawabkan perbuatan keji tersebut. Keberadaan
pengadilan tersebut merupakan hasil dari Resolusi 827 yang dikeluarkan oleh Dewan
Keamanan PBB yang dibentuk dengan tujuan menyelidiki, mengadilkan para individu
yang telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia atau kejahatan terhadap
kemanusiaan, genosida di wilayah Yugoslavia. Pada tanggal 25 Mei 1993 anggota
Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat memilih untuk mendirikan ICTY serta
menilai bahwa pembunuhan massal, pembersihan etnis, penyiksaan, perkosaan dan
kejahatan lain yang terjadi pada saat konflik di wilayah Yugoslavia merupakan ancaman
bagi perdamaian dan keamanan internasional.
ICTY mempekerjakan sekitar 1.200 staff serta mempunyai tiga komponen
organisasi yaitu Chambers, Registry, dan Office of The Prosecutor (OTP). Chambers
terdiri dari hakim-hakim yang bekerja di pengadilan tingkat pertama dan pengadilan
banding. Pengadilan banding dalam ICTY juga merangkap fungsi sebagai pengadilan
banding ICTR. Registry merupakan organisasi yang bertanggungjawab terhadap
keseluruhan administrasi dari ICTY seperti menyimpan catatan pengadilan,
mengalihbahasakan dokumen pengadilan. Registry juga bertanggungjawab atas unit
penahanan (Detention Unit) bagi tersangka yang sedang menjalani proses pengadilan dan
program Legal Aid bagi tersangka yang tidak mampu membayar untuk pembelaannya.
4

Sementara OTP bertanggungjawab untuk melaksanakan investigasi terhadap kejahatan,
mengumpulkan bukti, dan menuntut tersangka.
Tahun 2011, penangkapan terhadap Ratko Mladic yang merupakan komandan
senior militer Angkatan Darat Serbia-Bosnia baru dilakukan sejak ia didakwa tahun 1995
oleh ICTY. Ratko Mladic didakwa dengan 15 tuduhan genosida dan kejahatan perang
terhadap kemanusiaan, terutama terhadap warga sipil Muslim Bosnia, Kroasia Bosnia
dan nonSerbia di wilayah Bosnia-Herzegovina tahun 1992-1995 dengan kejahatan
meliputi:
a. Pembunuhan hampir 8.000 pria Muslim Bosnia dan anak laki-laki di Srebrenica pada
tahun 1995.
b. Pembunuhan, penganiayaan, pemindahan paksa, penahanan dan penganiayaan
terhadap kaum Muslim Bosnia dan Kroasia Bosnia selama kampanye dengan tujuan
menghapus permanen orang tersebut dari wilayahnya di bawah kendali kekuatan
Republika Srpska.
c. Kampanye teror dan penembakan dan mengecam warga sipil di Sarajevo oleh
pasukan Serbia Bosnia di bawah komandonya dan kontrol yang mengakibatkan
pembunuhan dan melukai ribuan warga sipil, termasuk banyak wanita dan anak.
d. Pengambilan pengamat militer PBB dan personil pemelihara perdamaian sebagai
sandera Mei dan Juni 1995.
Ratko Mladic diadili lebih lanjut oleh pengadilan di Den Haag Belanda dan
mendapatkan perhatian dunia internasional. Selain Mladic, ICTY juga menghukum
mantan Jenderal Serbia Bosnia Zdravko Tolimir dengan hukuman penjara seumur hidup
atas tuduhan genosida terhadap Muslim selama perang Bosnia.
Ada pula Stanko Kojic yang dijatuhi hukuman penjara selama 43 tahun karena
keterlibatannya dalam eksekusi massal ratusan Muslim Bosnia di Srebrenica. Selanjutnya
5

tiga mantan tentara Serbia-Bosnia yang dieksekusi karena kasus yang sama yakni Kos
Franc dan Zoran Goronja dimana masing-masing dipenjara selama 40 tahun serta
Vlastimir Golijan selama 19 tahun karena dia berusia di bawah 21 tahun saat itu. Pun
begitu ketiganya dibebaskan dari tuduhan genosida karena kurangnya bukti tentang niat
mereka untuk melakukan genosida. Kojic mendapatkan hukuman terlama karena hakim
menilai ia telah melakukan pembantaian secara kejam dari yang lain dan kemudian
berbohong tentang jumlah orang-orang yang telah dibunuhnya. Keempatnya bertugas di
unit komando 10 tentara Serbia-Bosnia dan total hukuman 142 penjara yang dijatuhkan
pada mereka merupakan tuntutan terpanjang yang pernah dijatuhkan oleh pengadilan
kejahatan perang Bosnia.
Pengadilan bagi Millosevic sendiri baru dimulai di Den Haag pada 12 Februari
2002 dimana Millosevic bertindak sebagai pembela dirinya sendiri dan tidak mengakui
yurisdiksi ICTY. Jaksa penuntut membutuhkan dua tahun untuk menyampaikan
tuntutannya pada bagian pertama dari pengadilan itu yang mencakup perang di Kroasia,
Bosnia dan Kosovo. Selama masa itu sakit yang didera Millosevic semakin parah hingga
menyebabkan jeda dan pengadilan yang diperpanjang hingga sekurang-kurangnya enam
bulan. Awal 2004, ketika Millosevic muncul di pengadilan untuk mulai menyampaikan
pembelaanya dengan menyebutkan lebih dari 1.200 orang saksi, kedua hakim ICTY
memutuskan untuk menunjuk dua orang pengacara dimana tindakan ini ditentang oleh
Miloevi sendiri serta kedua pengacara Britania yang ditunjuk mendampinginya. Ia pun
dijatuhi dakwaan atas kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan yang ia
lakukan di Kosovo. Kemudian pada tanggal 11 Maret 2006 Millosevic meninggal di sel
tahanannya di Den Haag sehingga vonis terhadapnya tidak pernah terjadi.
Dalam kasus Bosnia ini menurut pengamatan International Court Justice (ICJ)
Serbia tidak bertanggungjawab atas pemusnahan massal dimana ICJ hanya memutuskan
6

bahwa Serbia melakukan kealalaian dengan membiarkan terjadinya genosida di daerah
negaranya sendiri. Tuntutan Bosnia agar Serbia bertanggungjawab menganti rugi kepada
para muslim korban di desa-desa Bosnia Timur pun tidak disetujui oleh pihak ICJ.
Namun ICJ telah menemukan beberapa bukti bahwa pembunuhan secara masif benar-
benar terjadi di kamp-kamp konsentrasi di wilayah yang terjadi konflik, terjadinya
pemerkosaan, serta pencacatan secara fisik dengan sengaja. Sayangnya ICJ belum
menemukan bukti kuat kejadian ini terjadi atas dasar keinginan Serbia untuk
menghilangkan etnis Muslim Bosnia. Hal ini menyebabkan munculnya spekulasi bahwa
keputusan Mahkamah Internasional membatalkan tuntutan Bosnia kepada Serbia agar
bertanggung jawab atas genosida terhadap warga Muslim Bosnia di kota Srebenica telah
diintervensi oleh beberapa pihak. Opini yang beredar juga beranggapan bahwa apabila
rakyat Bosnia mayoritas beragama Kristen mungkin negara-negara Barat tidak akan
tinggal diam menyaksikan pembantaian massal pada puluhan ribu warga Muslim Bosnia
dan lambat dalam menanganinya.

Konflik Sri Lanka
Awal mula konflik
Sebelum menjadi negara merdeka, sejak tahun 1658 Sri Lanka merupakan salah
satu wilayah jajahan Inggris. Penduduk Sri Lanka terdiri atas etnis Sinhala, Tamil, serta
kelompok lain yang jumlahnya tidak mencapai 10%. Etnis Sinhala yang menganut
agama Budha merupakan penduduk mayoritas sedangkan etnis Tamil yang menganut
agama Hindu merupakan penduduk minoritas dan mendiami wilayah utara serta timur
Sri Lanka. Kedua etnis tersebut memang berbeda baik secara agama maupun kultural
karena etnis Tamil sendiri bukanlah penduduk asli Sri Lanka melainkan penduduk
keturunan India.
7

Perselisihan tampak ketika Inggris berencana untuk mendirikan parlemen lokal
dimana jumlah anggota parlemen ditentukan atas dasar jumlah etnis. Dengan adanya
rencana tersebut dapat dipastikan bila etnis Sinhala akan mendominasi sementara etnis
Tamil sebagai penduduk minoritas akan dikesampingkan. Dari permasalahan inilah
kemudian keretakan hubungan natara etnis Sinhala dengan Tamil makin meluas.
Saat Sri Lanka memperoleh kemerdekaannya, pemerintah mengeluarkan
kebijakan bila Sri Lanka akan menggunakan bentuk negara kesatuan. Dengan keluarnya
kebijakan tersebut seolah menyiratkan bila pemerintah yang didominasi oleh Sinhala
berusaha untuk mempertahankan status quo mereka atas etnis minoritas di negeri
tersebut. Tentunya hal ini bertentangan dengan keinginan etnis Tamil yang menghendaki
pembentukan negara federal. Setelah kebijakan mengenai bentuk negara, pemerintah
kembali mengeluarkan kebijakan-kebijakan seperti penggunaan bahasa Sinhala sebagai
bahasa nasional serta dilarangnya media cetak maupun film berbahasa Tamil dari India
masuk ke Sri Lanka.
Pada tanggal 23 Juli 1983 terjadi pembantaian terhadap etnis Tamil yang mana
peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Balck July. Dalam peristiwa tersebut sekitar 200
hingga 3000 etnis Tamil tewas terbunuh sedangkan 25.000 penduduk lainnya menjadi
tunawisma. Black July inilah yang kemudian mengantarkan Sri Lanka pada perang sipil
antara pemerintah dengan kelompok separatis Tamil yang menginginkan pembentukan
Tamil Eelam (Negara Tamil).
Analisis konflik
Sama halnya dengan konflik yang terjadi di Rwanda, konflik Sri Lanka ini
disebabkan oleh ketidakadilan dan ketidaksetaraan baik dalam bidang sosial, budaya, dan
ekonomi yang menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar meliputi kebutuhan
secara fisik, mental, dan sosial sehingga berujung pada timbulnya konflik.
8


Etnis Tamil yang menjadi penduduk minoritas merasa disisihkan oleh pemerintah
Sri Lanka melalui kebijakan-kebijakan yang diberlakukan. Kondisi ini kemudian menjadi
runyam ketika peristiwa Black July terjadi yang mana dengan adanya peristiwa ini
menjadi pemantik bagi berkobarnya perang di negara tersebut.
Resolusi konflik
1. Perjanjian Indo Sri Lanka
India merupakan negara pertama yang bertindak terhadap konflik yang
menimpa Sri Lanka dengan memberikan bantuan kemanusiaan. Pada 29 Juli
1987, Presiden Sri Lanka Jayawardane dan Perdana Menteri India Rajiv
Gandhi menyepakati pengiriman pasukan perdamaian India ke Sri Lanka
dimana dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan mengenai pembentukan
dewan provinsi. Namun dalam pelaksanannya kesepakatan tidak berjalan
sesuai harapan. Banyak pihak merasa tidak puas terutama dari kubu Macan
Tamil yang kembali mengangkat senjata. Kekerasan terhadap pasukan
perdamaian India tidak dapat dihindari sehingga pada Maret 1990 Presiden
Ranasinghe Premadasa (presiden selanjutnya yang menggantikan
Jayawardane) meminta supaya dilakukan penarikan terhadap pasukan
perdamaian tersebut.
2. Mediasi oleh Norwegia
Pada tahun 2000 Norwegia ditunjuk untuk menjadi mediator bagi pemerintah
Sri Lanka dengan Macan Tamil. Tanggal 22 Februari 2002 baik pemerintah
Sri Lanka maupun Macan Tamil akhirnya bersedia untuk menandatangani
perjanjian gencatan senjata. Guna menjaga pelaksanaan MoU maka dibentuk
komite Sri Lanka Monitoring Mission (SLMM) yang beranggotakan
9

Norwegia, Islandia, Swedia, dan Denmark yang mana tugas dari SLMM ini
adalah untuk melakukan pemantauan terhadap kedua pihak yang bertikai.
Namun pelaksanaan MoU tidak dapat bertahan lama sebab rasa kepercayaan
diantara kedua pihak sulit dibangun sehingga pada tahun 2008 MoU ini resmi
berakhir.
3. Resolusi PBB
Konflik Sri Lanka baru berakhir setelah pemerintah berhasil mengalahkan
pemberontak Macan Tamil. Lalu, demi menindaklanjuti pelanggaran HAM
yang terjadi semasa perang pada tanggal 22 Juni 2010 Sekertaris Jendral PBB,
Ban Ki-Moon meresmikan pembentukan panel yang berisikan 3 anggota.
Panel tersebut diketuai oleh Marzuki Darusman yang merupakan mantan Jaksa
Agung Indonesia sementara 2 anggota lainnya yakni Yasmin Sooka, seorang
pakar HAM dari Afrika Selatan, dan Steven Ratner, seorang pengacara
berkebangsaan Amerika yang menjadi penasehat PBB dalam langkah memeja
hijaukan Khmer Merah di Kamboja. Dalam laporannya, panel menyebutkan
adanya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah Sri Lanka dan
Macan Tamil ketika konflik berlangsung. Terkait hal tersebut, pihak Amerika
Serikat kemudian mengajukan resolusi kepada PBB dimana resolusi tersebut
akhirnya disetujui oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB dengan 24 negara
pendukung.

Konflik Rwanda
Awal mula konflik
Genosida yang terjadi di Rwanda merupakan sebuah gambaran nyata bagaimana
kecemburuan sosial dapat membawa dampak yang sangat mengerikan terhadap
10

kehidupan manusia. Dimulai dengan kedatangan suku Tutsi yang kemudian
mendominasi suku Hutu dari segi perekonomian dimana Tutsi menjadi suku dari para
orang-orang ningrat sementara Hutu menjadi masyarakat kelas bawah di negerinya
sendiri. Kesenjangan sosial diantara kedua suku semakin parah saat masa penjajahan
Belgia yang tetap mempertahankan sistem sosial seperti itu.
Pemerintah kolonial menganggap bila suku Tutsi lebih menyerupai mereka dari
segi penampilan fisik dan menempatkan mereka pada posisi-posisi di pemerintahan.
Sedangkan Hutu semakin menjadi suku yang terpinggirkan di tanahnya dengan di
tempatkan pada pekerjaan-pekerjaan kerah biru. Diskriminasi yang terjadi tidak hanya
diterapkan pada sektor pemerintahan namun juga terhadap sektor pendidikan. Oleh
pemerintah, suku Hutu dilarang untuk memperoleh pendidikan tinggi dengan tujuan
menutup kesempatan mereka untuk meraih pekerjaan yang lebih baik sehingga pada
akhirnya mereka tetap akan menjadi warga negara kelas bawah di Rwanda. Tidak
berhenti di situ, pemerintah Belgia bahkan menerapkan kebijakan penerapan kartu
indentitas penduduk pada tahun 1993 dimana dalam kartu tersebut wajib dicantumkan
kesukuan pemiliknya. Secara nyata, pemerintah kolonial memang sengaja menggunakan
politik devide et impera untuk menyebar perpecahan diantara kedua suku. Diskriminasi
yang dilakukan oleh Belgia kemudian menimbulkan ketidakstabilan dalam negeri. Suku
Hutu berusaha untuk melepaskan diri dari tekanan diskriminasi yang menghimpit mereka
sehingga muncullah perjuangan untuk meraih kemerdekaan.
Akhirnya di tahun 1959, demi meredakan kekacauan yang terjadi pemerintah
Belgia mengganti hampir setengah suku Tutsi yang duduk di pemerintahan dengan suku
Hutu. Partai politik Hutu pun terbentuk dengan nama Permehutu (Parti du Mouvement et
de I`emancipation des Bahutu) dimana pada tahun 1961 partai ini berhasil memenangi
pemilu. Gregoir Kayibanda menjabat sebagai presiden. Rezim yang baru terbentuk itu
11

menggunakan sistem sentralisme dalam menjalankan pemerintahannya. Diskriminasi
yang dialami oleh Hutu semasa pemerintahan Tutsi menjadi justifikasi bagi mereka
dalam melakukan tindakan kekerasan terhadap suku Tutsi dan genosida kecil-kecilan
terhadap Tutsi pun mulai terjadi. Di samping itu, sistem sentralisasi yang digunakan
menjadikan pemerintahan Kayibanda bersifat otoriter. Ia melakukan pemaksaan dalam
menjalankan kebijakan-kebijakannya.
Pada tahun 1973 terjadi pemindahan kekuasaan kepada kelompok militer Hutu
dimana Juvenal Habyarimana berhasil melakukan kudeta terhadap Kayibanda. Rwanda
pun berubah menjadi negara dengan sistem monopartai di tahun 1975 dengan partai
MRND (Mouvement Revolutionnaire National Parle Development) sebagai partai
tunggal yang berkuasa. Namun di bawah kekuasaan Habyarimana nasib suku Tutsi tidak
jauh berbeda justru mereka semakin tersingkirkan di Rwanda sehingga membuat mereka
terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga. Dengan kondisi seperti itu, suku Tutsi di
bawah pimpinan Paul Kagame membentuk RPF (Rwanda Patriotic Front) di tahun 1990
dan menyerang Rwanda sehingga pecahlah konflik antara pemerintah Rwanda dengan
RPF. Tujuan dari serangan RPF adalah supaya pemerintah memberikan porsi kursi
pemerintahan bagi suku Tutsi juga. Tuntutan mereka terimplementasi dalam Arusha
Accords yang lalu ditolak oleh Hutu ekstrimis. Keadaan semakin terpuruk dengan
tewasnya Presiden Juvenal Habyarimana ketika pesawat yang ditumpangi olehnya
ditembak jatuh sehingga menewaskan sang presiden. Suku Hutu kemudian menuduh bila
suku Tutsi merupakan pelakunya sehingga memberikan celah bagi kelompok militan
Hutu untuk melaksanakan aksinya. Belakangan diketahui bahwasannya pelaku
penembakan tersebut tidak dilakukan oleh Tutsi melainkan oleh orang-orang Hutu
sendiri yang tidak menghendaki adanya perjanjian perdamaian.

12

Analisis konflik
Konflik yang terjadi di Rwanda merupakan konflik etnis yang dikategorikan ke
dalam konflik intrastate. Fredrick Barth mendefinisikan etnis sebagai himpunan manusia
yang terbentuk atas dasar persaman ras, agama, asal-usul, bangsa, maupun kombinasi
dari hal-hal tersebut yang mana mereka terikat pada sistem nilai dan budaya.
Konflik yang terjadi di Rwanda dapat dijelaskan menggunakan teori kebutuhan
manusia yang berhubungan dengan teori transformasi konflik. Berdasarkan teori
kebutuhan manusia (basic needs), konflik timbul ketika kebutuhan dasar manusia tidak
terpenuhi sehingga menimbulkan rasa ketidakamanan terhadap individu maupun
kelompok masyarakat tertentu. Kebutuhan dasar yang dimaksud meliputi kebutuhan
secara fisik, mental, dan sosial. Sedangkan teori transformasi konflik berasumsi bila
ketidakadilan dan ketidaksetaraan baik dalam bidang sosial, budaya, dan ekonomi
merupakan sebab timbulnya konflik.
Ketidakharmonisan antara pemerintah dengan kelompok identitas sudah terjadi
sejak masa kolonialisme yakni suku Tutsi terhadap Hutu. Demi menjaga supaya suku
Hutu tetap menjadi warga negara kelas bawah, pemerintah mencoba mengeliminasi
mereka. Eliminasi yang dilakukan oleh pemerintah menebarkan perasaan tidak aman
dikalangan suku tersebut. Mereka diperlakukan dengan diskriminatif dan disingkirkan
dengan pemberlakuan sistem stratifikasi sosial yang ekstrim sehingga menutup akses
mereka terhadap pendidikan. Padahal tanpa pendidikan yang baik mereka tidak dapat
memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik pula. Hal ini kemudian
berujung pada permasalahan ekonomi dan menjadi sebuah lingkaran yang menjebak
suku Hutu di dalamnya. Tekanan yang diterima oleh suku Hutu akibat ketidakadilan ini
lalu menjadi bom waktu yang menumbuhkan rasa dendam dan menimbulkan
perlawanan. Oleh sebab itu ketika suku Hutu berhasil meraih kursi kepemimpinan,
13

situasi menjadi terbalik. Suku Tutsi mereka pandang sebagai sebuah ancaman yang harus
disingkirkan keberadaannya sehingga terjadilah genosida terhadap Tutsi.
Resolusi konflik
Dalam mencapai perdamaian, teori kebutuhan manusia dan teori transformasi
konflik memiliki fokus yang berbeda namun saling berkaitan. Pertama diawali dengan
teori kebutuhan manusia yang berfokus pada tindakan membantu pihak-pihak yang
berkonflik dalam menentukan pilihan-pilihan guna memenuhi kebutuhan mereka yang
tidak terpenuhi. Teori transformasi konflik lebih berfokus kepada perubahan struktur
yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, meningkatkan hubungan antara
pihak-pihak yang berkonflik, serta mengembangkan segala hal yang menunjang adanya
keadilan, perdamaian, dan rekonsiliasi.
Upaya rekonsiliasi secara demokratis antara suku Tutsi dan Hutu pun telah
dilakukan sejak masa Presiden Juvenal Habyarimana. Habyarimana berusaha untuk
menyatukan kedua pihak yang bertikai dimana rencana ini tertuang dalam Arusha
Accord pada 1993. Sayangnya proses demokrasi tersebut berlangsung saat dimana
lembaga yang mengatur kehidupan sipil belum cukup mapan dan diperburuk dengan
adanya elite politik yang justru merasa terancam dengan adanya demokratisasi dalam
bentuk pembagian kekuasaan dengan Tutsi. Upaya rekonsiliasi Habyarimana pun
semakin sulit ketika kondisi ekonomi Rwanda semakin menurun. Ekstrimis Hutu pun
menyatakan ketidaksetujuan mereka dengan langkah yang diambil Habyarimana untuk
menghapus sistem pemerintahan satu suku di Rwanda.
PBB juga membentuk pasukan United Nations Assistance Mission for Rwanda
atau UNAMIR. UNAMIR dibentuk berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB 872
(1993) pada 5 Oktober 1993 dengan misi menjaga perdamaian di Rwanda yang terdiri
14

dari lebih 2.500 personil militer. Adapun mandat yang diberikan kepada UNAMIR
berdasarkan resolusi:
1. No. 893 (1994): menyetujui pengiriman lebih awal batalyon infantri kedua ke zona
demiliterisasi.
2. No. 909 (1994): memperpanjang mandat UNAMIR sampai dengan 29 juli 1994
3. No. 912 (1994): memutuskan pengurangan jumlah pasukan UNAMIR dari 2.539
menjadi 270 tentara
4. No. 918 (1994): mengesahkan pembentukan UNAMIR II yang terdiri dari 5.500
pasukan militer.
Sayangnya misi UNAMIR dianggap gagal karena tidak dapat mencegah
terjadinya genosida. Namun kegagalan tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada
pihak pasukan perdamaian karena pasukan ini memiliki keterbatasan mandat yang
menyebabkan adanya keterbatasan personil serta persenjataan. Mereka bahkan turut
menjadi objek penyerangan militan Hutu.
Berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. S/RES/955 tahun 1994
dibentuklah ICTR (International Criminal Tribunal for Rwanda) di Arusha, Tanzania.
Tujuan pembentukan ICTR adalah untuk menuntut serta mengadili orang-orang yang
bertanggung jawab atas genosida dan kejahatan berat lain yang melanggar hukum
humaniter internasional di Rwanda.

Konflik Kamboja
Awal mula konflik
Konflik terjadi pada masa Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot berkuasa di
Kamboja tahun 1975 hingga 1979. Pol Pot ingin membangun Kamboja dari awal maka
pada 17 April 1975 ia memplokamirkan Kambojayang dulunya bernama
15

Kampucheasebagai negara baru serta menyebutnya sebagai Year Zero. Pada masa
Year Zero masyarakat Kamboja dimurnikan dalam artian semua pengaruh asing seperti
kapitalisme, budaya Barat, dan bahkan agama harus disingkirkan dalam kehidupan
masyarakat, warga negara asing yang berada di Kamboja diusir, pemutusan hubungan
diplomatik, dan penolakan terhadap bantuan ekonomi maupun medis dari pihak asing.
Selain itu, Pol Pot juga memproklamirkan bahwa pada 17 April 1975 merupakan
Liberation Day yakni lepasnya Kamboja dari rezim Lon Nol yang dikenal buruk dan
korup. Di bawah pimpinan Pol Pot, Kamboja berubah menjadi negara komunis yang
tertutup dari dunia luar serta diasingkan oleh masyarakat internasional.
Rezim Pol Pot juga sangat memusuhi orang-orang yang berpendidikan, yang
memiliki kekuasaan dan pengaruh, serta yang dulunya bekerja di bawah pemerintahan
Lon Nol dan tidak segan-segan membunuh orang-orang tersebut. Kebanyakan dari
mereka dieksekusi di Choeung Ek.Selain Choeung Ek, ada sekitar 343 ladang
pembantaian (killing fileds) yang tersebar di seluruh penjuru wilayah Kamboja. Sikap
Pol Pot ini tidak terlepas dari pemikirannya dalam menerapkan paham komunisme.
Paham tersebut tidak mendukung adanya kelas-kelas dalam masyarakat dan sebaliknya
mendukung adanya kesetaraan.
Analisis konflik
Pendekatan yang digunakan untuk menganalisa konflik Kamboja adalah
pendekatan rational actors. Pemerintahan komunis yang dijalankan oleh Pol Pot
sebenarnya terinspirasi dari Revolusi Kebudayaan yang berhasil dilakukan oleh Mao
Zedong di Cina. Selama 4 tahun masa kepemimpinannya, Pol Pot melalui Khmer Merah
mencoba untuk mengubah Kamboja yang tadinya merupakan negara republik menjadi
negara Maois dengan konsep agrarianisme. Dalam mendukung tujuannya tersebut, rezim
Pol Pot secara paksa memindahkan sekitar dua juta penduduk Pnom Penh ke desa
16

dengan berjalan kaki untuk dipekerjakan sebagai petani. Namun dalam kasus Khmer
Merah, Pol Pot menerapkannya secara ektrim.
Resolusi konflik
Komunisme ekstrim yang Pol Pot terapkan selama masa pemerintahannya telah
mengakibatkan kematian sekitar 1,7 juta penduduk Kamboja yang merupakan 26% dari
populasi Kamboja saat itu. Khmer Merah pun bahkan tetap mengejar orang-orang yang
berhasil menyelamatkan diri ke Vietnam. Atas dasar pelanggaran yang terjadi di daerah
perbatasan Kamboja - Vietnam maka pada 25 Desember 1978 Vietnam melakukan
invansi terhadap Kamboja dan berhasil mengalahkan rezim Pol Pot.
Genosida yang dilakukan oleh rezim Pol Pot termasuk dalam kejahatan
kemanusiaan berat sekaligus merupakan tragedi kemanusiaan terburuk yang terjadi di
abad ke-20. Kejahatan genosida merupakan bagian dari norma jus cogens yakni prinsip
dasar yang diakui oleh komunitas internasional sebagai norma yang tidak boleh
dilanggar. Seperti yang tercantum dalam pasal 6 Statuta Roma, genosida diartikan
sebagai setiap tindakan berikut yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan,
secara keseluruhan ataupun sebagian, kelompok bangsa, etnis, ras, atau agama:
(a) Pembunuhan para anggota kelompok
(b) Menyebabkan kerusakan/luka-luka tubuh ataupun mental yang sangat serius terhadap
para anggota kelompok
(c) Dengan sengaja merugikan kondisi-kondisi kehidupan kelompok yang
diperhitungkan dapat berakibat pada kerusakan fisik secara keseluruhan ataupun
sebagian
(d) Tindakan-tindakan berat yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran kelompok itu
(e) Pemindahan paksa anak-anak dari suatu kelompok ke kelompok lain
17

Terkait dengan kasus Khmer Merah, hampir semua dari poin-poin di atas telah
dilakukan terhadap rakyat Kamboja. Dari pembunuhan terhadap pengikut Lon Nol,
penyiksaan terhadap para tahanan, hingga pengambilan paksa anak-anak dari orang
tuanya. Atas perbuatan tersebut maka dibentuklah Pengadilan Khusus Khmer Merah
untuk mempertanggungjawabkan semua kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang telah
mereka lakukan. Pengadilan Khusus Khmer Merah mulai bekerja pada tahun 2006.
Namun hingga saat ini pengadilan tersebut baru berhasil memberikan satu putusan
terhadap Duch (Kaing Guek Eav) yang merupakan seorang Kepala Penjara. Sedangkan
Pol Pot yang merupakan pimpinan rezim tersebut sudah meninggal karena serangan
jantung sebelum dapat tersentuh oleh hukum.

2. Makalah yang paling baik dan alasannya:
Ada delapan makalah yang telah dipresentasikan di kelas meliputi konflik di
empat wilayah (Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika) baik yang resolusinya berhasil
maupun yang gagal. Dari kedelapan makalah tersebut, makalah berjudul Konflik India
dan Pakistan dalam Perebutan Wilayah Kashmir merupakan yang paling bagus menurut
pendapat saya.
Pertama, secara umum konflik antara India dan Pakistan dalam memperebutkan
wilayah Kashmir merupakan konflik politik. Dalam makalah tersebut dijelaskan
mengenai kondisi Kashmir dengan detail, baik secara geografis maupun demografis,
yang menjadi penyebab (latar belakang) dari timbulnya konflik tersebut pada tahun 1941.
Kedua, makalah tersebut menjelaskan mengenai elemen-elemen yang terdapat
dalam konflik India Pakistan secara sistemastis meliputi:
Penjelasan mengenai aktor-aktor yang terlibat di dalamnya antara lain
pemerintah India, Pakistan, PBB, serta negara-negara luar seperti Cina,
18

Amerika Serikat, dan Rusia beserta kepentingan mereka terlibat dalam
konflik tersebut.
Tindakan-tindakan (actions) yang mereka lakukan untuk mengancam pihak
satu dan lainnya dimana dalam hal ini pihak India mengancam Pakistan
melalui ecological type of threats yang merupakan suatu aksi yang dilakukan
untuk mengancam lawan dengan hal-hal yang berhubungan dengan
lingkungan dan ekologis yakni dengan menutup saluran sumber air yang
telah lama digunakan masyarakat Pakistan untuk kehidupan pertaniannya
dengan cara membangun sejumlah kanal dan hidro-elektrik sehingga
mengurangi jumlah air yang dialirkan ke daerah pertanian Pakistan. Selain
itu India juga melakukan military type of threats yaitu dengan menggunakan
hal-hal yang berhubungan dengan militer, bahkan hingga terjadi perang
dimana dalam makalah secara berurutan disebutkan perang-perang yang
terjadi antara kedua negara tersebut yang terjadi sejak tahun 1947 hingga
tahun 1999.
Incompabilities yang menjadi penyebab timbulnya konflik.
Ketiga, dalam menjelaskan mengenai pendekatan (approach) menggunakan
grafik. Pendekatan yang digunakan untuk menganalisa konflik India Pakistan adalah
pendekatan dinamika. Dengan adanya grafik memudahkan saya untuk memahami
mengapa konflik tersebut dianalisis menggunakan pendekatan dinamikan dan bukan
menggunakan pendekatan yang lainnya. Serta disebutkan pula resolusi-resolusi yang
sesuai untuk mengatasi konflik yang mengalami dinamika seperti establishing dialogue,
confidence building measure, roles parties with non-violent methods (NGO) meskipun
pada kenyataannya konflik terus berlanjut disebabkan oleh dialog-dialog yang dibangun
tidak mencapai kesepakatan di antara kedua negara.
19

Keempat, dalam mengkategorikan konflik tidak hanya menggunakan satu tipologi
saja berdasarkan aktor yang terlibat di dalamnya namun dilihat juga dari beberapa
indikator seperti jumlah korban serta penyebab konflik. Kelima, dalam usaha
menyelesaikan konflik India Pakistan dalam makalah tidak hanya disebutkan resolusi-
resolusi apa saja yang telah dilakukan namun juga dijelaskan mengapa resolusi-resolusi
tersebut gagal dicapai.

Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Srebrenica
http://sejarahunj.blogspot.com/2010/05/genosida-di-bosnia.html
http://www.voa-islam.com/news/world-world/2012/06/16/19535/empat-tentara-
serbia-pembantai-800-muslim-bosnia-divonis-142-tahun-penjara/
http://sejarah.kompasiana.com/2011/01/12/genosida-di-bosnia-herzegovina-
334157.html
http://dunia-islam.pelitaonline.com/news/2013/04/28/serbia-minta-maaf-atas-
pembantaian-muslim-bosnia#.UZ5AkWq2buQ
http://kelaspshamb2012.blogspot.com/2012/04/international-criminal-tribunal-
for_29.html
http://republik-tawon.blogspot.com/2012/02/macan-tamil-pasukan-pemberontak.html
http://guardian.co.uk/world/2007/oct/22/srilanka
http://diplomasisenin1245.blogspot.com/2010/06/usaha-negosiasi-damai-
pemerintah.html
http://hartantowae.blogspot.com/2012/02/konflik-rwanda.html
http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/26/tentang-konflik-rwanda-488087.html
http://forum.detik.com/sejarah-kelam-kamboja-killing-fields-t80515.html
20

http://www.asal-usul.com/2009/04/khmer-merah-lembar-sejarah-kelam.html
http://hiburan.kompasiana.com/film/2010/12/05/movie-the-killing-fields-323305.html
http://restsindo-berita.blogspot.com/2013/01/seputar-kisah-polpot-sejarah-kelam.html
http://www.elsam.or.id/?id=21&lang=in&act=view&cat=AskExpert/105
http://www.asiacalling.org/in/berita/cambodia/2936-court-to-try-khmer-rouge-
leaders-dying