Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan SK Menkes No. 123 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar
Pusat Kesehatan Masyarakat, Pelayanan Gizi Puskesmas adalah salah satu
pelayanan kesehatan perorangan maupun masyarakat yang merupakan salah satu
upaya wajib puskesmas. Puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat
pertama bertanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan
kesehatan gizi. Pelayanan kesehatan gizi meliputi pelayanan di dalam gedung dan
di luar gedung.
Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan, Puskesmas menjalankan
program-program yang tercakup dalam kegiatan pokok Puskesmas yang bertujuan
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan gizi. Upaya perbaikan gizi melalui
Puskesmas bertujuan untuk menanggulangi masalah gizi dan meningkatkan status
gizi masyarakat.
Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu
ditanggulangi secara terpadu oleh berbagai sektor termasuk kesehatan.Masalah
gizi utama yang dihadapi masyarakat adalah kekurangan energi dan protein
(KEP), kekurangan Vitamin A (KVA), gangguan akibat kekurangan iodium
(GAKY), Anemia Gizi. Salah satu faktor yang melatarbelakangi masalah tersebut
adalah masyarakat kurang memiliki pengetahuan dan adanya kebiasaan yang salah
2

terhadap konsumsi makanan. Masalah gizi menjadi bertambah luas dan kompleks
karena tingkat penghasilan penduduk yang masih rendah.
Kasus gizi buruk bukanlah kasus penyakit yang baru akan tetapi
merupakan kasus penyakit yang bersambung dan melibatkan banyak faktor.
Antara lain disebabkan oleh berkurangnya konsumsi pangan akibat pendapatan
yang rendah, harga pangan yang tinggi menyebabkan menurunnya asupan gizi
bagi individu terutama bayi dan balita. Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat
yang berpenghasilan rendah terutama di wilayah kerja Puskesmas Beruntung
Raya.
Untuk memberikan pelayanan perbaikan gizi yang menyeluruh diperlukan
kerjasama lintas program (KIA, Imunisasi, BP, UKS) maupun lintas sektor (PKK,
PKH). Salah satu upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah
melalui Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang sebagian besar kegiatannya
dilaksanakan di Posyandu. Usaha perbaikan gizi keluarga selama ini
dititikberatkan pada kegiatan penyuluhan gizi dengan menggunakan pesan-pesan
gizi sederhana, pelayanan gizi, pemanfaatan lahan pekarangan yang keseluruhan
kegiatan tersebut dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri.
Penulisan makalah ini, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dan masukan dalam menyusun dan memperbaharui kebijakan-
kebijakan yang telah ada dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
lingkungan yang optimal di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya
Banjarmasin.

3

B. Tujuan
Memberikan gambaran pelaksanaan program gizi di Puskesmas Beruntung
Raya selama tahun 2012 yang bertujuan meningkatkan perbaikan gizi terutama
penyakit kurang gizi yang umumnya banyak diderita oleh masyarakat
berpenghasilan rendah terutama pada balita dan wanita. Hal ini mendukung upaya
penurunan angka kematian bayi, balita dan kematian ibu serta mendorong
terwujudnya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Serta mewujudkan
kesadaran yang tinggi dalam masyarakat terhadap peranan gizi yang baik dalam
masyarakat sehingga angka kunjungan konsultasi gizi oleh masyarakat dapat
meningkat yang mencerminkan suatu masyarakat yang sadar gizi.














4

BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1 Keadaan Geografi
Puskesmas Beruntung Rayaberalamat di Jalan AMD Komp. Tata Banua Indah
RT.19, Kelurahan Tanjung Pagar, Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota
Banjarmasin. Luas Wilayah Kerja Puskesmas Beruntung Raya 315 Ha/m
2
.

Gambar 2.1. Peta Puskesmas Beruntung Raya

Puskesmas Beruntung Raya membawahi 1 (satu)kelurahan, yaitu Kelurahan
Tanjung Pagar dengan batas-batas:
1. Sebelah Barat : Kelurahan Kelayan Timur
2. Sebelah Utara : Kelurahan Murung Raya
3. Sebelah Timur : Kelurahan Pemurus Dalam
4. Sebelah Selatan : Kabupaten Banjar

5

1. Distribusi penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya
Tabel 2.1 Distribusi Penduduk Per Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Beruntung
Raya Kota Banjarmasin

No. Kelurahan
Luas Wilayah
(km)
Jumlah Kepala Keluarga
(jiwa)
Jumlah
Penduduk
(jiwa)
1.
Tanjung
Pagar
3.186,23 2139 8707

Sumber: Proyeksi Badan Pusat Statistik Tahun 2012
Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk dalam luas wilayah (Km
2
)
dikali 100, disebut padat jika >250 jiwa/Km
2
dan sangat padat jika > 400 jiwa/Km2.
Kepadatan penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Beruntung Raya Kota Banjarmasin
sebesar 273 jiwa/ Km
2
yang artinya padat.

2. Distribusi penduduk menurut jenis kelamin di Puskesmas Beruntung Raya
Tabel 2.2 Distribusi penduduk menurut jenis kelamin
No. Kelurahan Laki- laki (jiwa) Perempuan (jiwa)
Jumlah
(jiwa)
1.
Tanjung
Pagar
4362 4345 8707
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Beruntung RayaTahun 2012

Gambar 2.3. Distribusi penduduk menurut jenis kelamin


4330
4340
4350
4360
4370
Laki-Laki Perempuan
Laki-Laki
Perempuan
6

3. Distribusi penduduk menurut kelompok umur di Puskesmas Beruntung Raya
Tabel 2.3.Distribusi penduduk menurut Kelompok Umur
No Kelompok Umur (tahun)
Jenis Kelamin
Jumlah
L P
1 0 4 504 467 971
2 5 9 479 432 911
3 10 14 425 429 854
4 15 19 387 378 765
5 20 24 308 352 660
6 25 - 29 380 416 796
7 30 - 34 414 433 847
8 35 - 39 392 365 757
9 40 - 44 312 296 608
10 45 - 49 245 220 465
11 50 - 54 207 190 397
12 55 - 59 126 113 239
13 60 - 64 83 91 174
14 65 - 69 41 61 102
15 70 - 74 34 54 88
16 75+ 25 48 73
JUMLAH 4362 4345 8707
Sumber :ProyeksiBadan Pusat Statistik Tahun 2012
Berdasarkan data demografi, peta wilayah, kepadatan penduduk, distribusi
penduduk menurut umur dan wilayah dapat disimpulkan bahwa pendudk di
wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya tergolong padat namun distribusi
penduduk tidak merata pada semua wilayah kerja sehingga untuk melingkupi
seluruh wilayah didirkan satu Puskesmas pembantu,satu puskesdes, lima
posyandu balita serta satu posyandu lansia. Jumlah tersebut cukup untuk bisa
melayani dan menjangkau seluruh masyarakat Kelurahan Tanjung Pagar. Dengan
Jumlah penduduk Usia produktif yang cukup banyak dapat diberdayakan sebagai
kader-kader Puskesmas yang dapat membantu kinerja petugas kesehatan. Jumlah
7

kader yang aktif hingga saat ini adalah 23 orang yang tersebar diseluruh posyandu
yang ada.
Sedangkan program yang dilaksanakan di Puskesmas Beruntung Raya
terdiri dari program kesehatan wajib dan program kesehatan pengembangan, yaitu
:
Upaya Kesehatan Wajib
a. Upaya Promosi Kesehatan
Kegiatan ini dilaksanakan untuk melalukan sosialisasi kesehatan di wilayah
lingkungan kerja Puskesmas untuk meningkakan taraf kesehatan warga
sekitar.
b. Upaya Kesehatan Lingkungan
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengadakan pengawasan, pemeriksaan dan
pengolahan meliputi: TTU (tempat-tempat umum), TPM (tempat pengolahan
makanan), dan rumah sakit.
c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperluas jangkauan pelayanan dan juga
untuk meningkatkan cakupan program KIA melalui kegiatan pencarian aktif
ibu hamil yang baru dan pengawasan ibu hamil yang di data dengan
memberikan pelayanan : pemeriksaan tekanan darah, penimbangan,
pemeriksaan tinggi fudus uteri, pemberian Fe dan imunisasi TT (calon
pengantin dan untuk ibu hamil). Kegiatan KB ini dilaksanakan untuk
meningkatkan taraf ekonomi dan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh
berupa penjarangan dan pengatur kehamilan.
8

d. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka penyakit gizi yang
kurang, umumnya banyak diderita oleh masyarakat berpenghasilan rendah,
terutama pada anak balita dan wanita.
e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
Kegiatan P2M ini terdiri dari :
Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular langsung ; P2TB,
P2malaria, P2ISPA, P2Kusta, P2Diare)
Pencegahan dan pemberantasan penyakit yang ditularkan oleh binatang
seperti : Demam Berdarah dan Malaria.
Imunisasi yaitu program yang bertujuan untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian serta kecatatan sebagai akibat penyakit yang
dicegah dengan imunisasi (PD3) seperti : Polio, Dipteri, Pertusis, Campak
dan hepatitis.
Pencegahan penyakit (surveilans) kegiatan ini dilaksanakan untuk
mendapatkan informasi epidemiologi yang tepat, cermat dan akurat
sehingga mengelola program dapat melakukan perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan dan evaluasi program dengan efektif dimana berdasarkan
proses pengumpulan, pengolahan dan analisis data.
f. Upaya Pengobatan
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pelayanan pengobatan yang diberikan
kepada seseorang untuk mengobati penyakit atau gejala-gejalanya.

9

Upaya Kesehatan Pengembangan
a. PHN (Public Health Nursing)
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengadakan asuhan keperawatan. Adapun
sarana kegiatan meliputi:
Pembinaan keluarga rawan
Penanganan tindak lanjut penderita (follow up care)
Penanganan kasus resiko tinggi
Kunjungan dan pembinaan panti asuhan
b. UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
Pembinaan UKS
Kegiatan ini dilaksanakan untuk pembinaan UKS di sekolah baik SD, MI,
SMP, SMU, dan SMK
Kegiatannya yaitu melakukan penyuluhan dan penjaringan anak sekolah
SD, MI, SMP, SMU, SMA, SMK setra melakukan pelatihan dokter kecil
(SD) dan kader kesehatan remaja (SMP, SMA SMK).
Targetnya 2 kali per sekolah/tahun
c. UKGS (Upaya Kesehatan Gigi Sekolah)
Kegiatannya dilakukan di sekolah SD, MI, SMP, SMA, SMK.Yang mana
kegiatannya berupa penyuluhan sekolah dan sikat gigi massal
(bersama).Targetnya 2 kali per sekolah/ tahun
d. Kesehatan Mata
Kegiatan ini bertujuan untuk pengobatan penyakit mata pada umumnya dan
deteksi kasus katarak untuk dilakukan rujukan.
10

e. Kesehatan Jiwa
Kegiatan ini dilaksanakan untuk pencarian, penemuan dan pengobatan
penderita psikosis, penyalahgunaan obat, retardasi mental, epilepsi dan
gangguan jiwa lainnya.Kegiatan ini juga dilakukan rujukan kasus yang tidak
tertangani serta kunjungan rumah dan penyuluhan.
f. Laboratorium
Kegiatan ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pelaksanaan pemeriksaan
laboratorium bekerjasama dengan lintas program.
g. Lansia
- Penjaringan lansia
Kegiatan ini dilaksanakan untuk pengobatan dan pendataan jumlah lansia
yang ada di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya guna persiapan
untuk pembentukan Posyandu/karang lansia.
- Pembinaan Karang Lansia
Kegiatan ini dimaksud untuk pengobatan, pembinaan karang lansia dan
persiapan pembentukan posyandu lansia.Jumlah karang lansia yang sudah
ada 3 buah.
h. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
Kegiatan ini dilaksanakan untuk melakukan penyuluhan didalam dan diluar
gedung baik yang berupa penyuluhan keliling dan penyuluhan kelompok.
Penyuluhan ini berupa semua program kegiatan yang ada di Puskesmas
Beruntung Raya Kota Banjarmasin.
11

Program-program tersebut dilaksanakan di dalam gedung dan di luar
gedung puskesmas, yaitu dengan melaksanakan pelayanan dan pencatatan
kegiatan serta pelaporan hasil kegiatan.





















12

BAB III
UPAYA POKOK PUSKESMAS PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

3.1. Definisi dan Cakupan Gizi
Gizi secara umum berhubungan dengan kesehatan manusia, yaitu suatu zat
yang diperlukan dalam penyediaan energi, membangun dan memelihara jaringan
tubuh. Status gizi mencerminkan kondisi seseorang yang terjadi dalam suatu
jangka yang lama dalam keseimbangan antara penyerapan dan penggunaan zat
gizi.
Zat gizi adalah bahan-bahan kimia dalam makanan yang memberi makan
kepada tubuh. Secara garis besar zat gizi terbagi atas 2 jenis yaitu makronutrisi
dan mikronutrisi. Makronutrisi, yang terdiri dari protein, lemak, karbohidrat dan
beberapa mineral yang dibutuhkan tubuh sehari-hari dalam jumlah yang besar.
Makronutrisi merupakan bagian terbesar dari makanan dan menyediakan energi
yang diperlukan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan kegiatan tubuh.
Mikronutrisi diperlukan dalam jumlah kecil (miligram sampai mikrogram).
Termasuk ke dalam mikronutrisi adalah vitamin dan mineral tertentu yang
menyebabkan perubahan kimia dalam penggunaan makronutrisi.
Kebutuhan energi bervariasi mulai dari 1000-4000 kalori/hari tergantung kepada
umur, jenis kelamin dan kegiatan fisik :
1. Wanita yang tidak beraktivitas, anak-anak kecil dan dewasa tua membutuhkan
sekitar 1600 kalori/hari.
13

2. Anak-anak yang lebih tua, wanita aktif dan laki-laki yang tidak beraktivitas
membutuhkan sekitar 2000 kalori/hari
3. Remaja laki-laki yang aktif dan laki-laki dewasa muda membutuhkan sekitar
2400 kalori/hari.
Adapun komposisi dari kalori adalah 55% berasal dari karbohidrat, 30%
berasal dari lemak, 15% berasal dari protein. Bila asupan energi tidak sesuai
dengan kebutuhan tubuh, akan terjadi penurunan berat badan. Cadangan lemak
dalam tubuh akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi yang diperlukan.
Dalam keadaan yang lebih parah, tubuh akan menggunakan protein sebagai
sumber energinya.
Tujuan dari makanan yang tepat adalah untuk mencapai dan
mempertahankan komposisi tubuh dan kekuatan fisik dan mental yang baik.
Kebutuhan zat gizi esensial sehari-hari tergantung kepada umur, jenis kelamin,
berat badan, tinggi badan serta aktivitas fisik dan metabolisme.
Adapun tugas pokok pelaksana gizi di Puskesmas Beruntung Raya :
1. Tugas Pokok
a) Melaksanakan pelayanan gizi
b) Menerima konsultasi dibidang gizi
c) Melakukan komunikasi, edukasi, dan informasi gizi
d) Pemberian vitamin
e) Melatih kader gizi
f) Menjelaskan cara pengisian dan penggunaan KMS
g) Distribusi garam beryodium, tablet Fe, dan obat cacing
14

h) Membuat pencatatan dan laporan
i) Membuat laporan telaahan posyandu
j) Membuat jadwal Posyandu
2. Tugas penunjang/ Tambahan
a. Membuat laporan kegiatan bulanan
b. Menghadiri pertemuan : rapat, seminar/ lokakarya, pelatihan
c. Melakukan Posyandu, pembinaan UKS, dan pembinaan panti
d. penyuluhan
Ruang lingkup upaya perbaikan gizi secara keseluruhan diantaranya
mencakup :
1. Upaya perbaikan gizi masyarakat
a. Pemberian kapsul Vitamin A pada balita 2kali/tahun
b. Pemberian tablet Besi (30 tablet) pada Bumil
c. Pemberian tablet Besi (90 tablet) pada Bumil
d. Partisipasi masyarakat (D/S)
e. Liputan program (K/S)
f. Hasil pencapaian program (N/S)
g. Hasil kelangsungan penimbangan (D/K)
h. Hasil penimbangan (N/D)
i. MP-ASI pada BGM dari Gakin
j. Balita gizi buruk mendapat perawatan
k. Balita bawah garis merah (BGM)
l. Kecamatan bebas rawan gizi.
15

2. Bayi mendapat ASI eksklusif

3.2.Tujuan dan Sasaran Program Perbaikan Gizi Masyarakat Puskesmas
Beruntung Raya
a. Tujuan
Secara garis besar tujuan program perbaikan gizi di Puskesmas Beruntung
Raya adalah untuk meningkatkan perbaikan gizi masyarakat yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya sehingga tercapai peningkatan
derajat kesehatan masyarakat untuk membentuk sumber daya manusia yang
berkualitas menuju Indonesia Sehat.

b. Sasaran Program Perbaikan Gizi Masyarakat
Sasaran program perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas Beruntung
Raya adalah sebagai berikut :
1) Bayi (0-12 bulan)
2) Balita (1-5 tahun)
3) Ibu hamil, menyusui, nifas
4) Ibu yang mempunyai balita
5) Wanita usia subur
6) Keluarga
Kegiatan program perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas Beruntung
Raya dilaksanakan oleh 1 orang tenaga gizi.

16


Gambar 3.1 Struktur Pengawas Gizi Puskesmas Beruntung Raya

Adapun rincian kegiatan tugas pokok tenaga pelaksana gizi di Puskesmas
Beruntung Raya diantaranya :
a) Melaksanakan pelayanan gizi
Pelayanan gizi di laksanakan setiap hari jam kerja dan bertempat di
puskesmas dan posyandu. Jenis pelayanan berupa konsultasi gizi, edukasi dan
informasi gizi dengan sasaran bayi dan balita, ibu hamil dan nifas serta gizi
keluarga. Pelayanan gizi terutama konsultasi gizi yang terdapat di masyarakat
Beruntung Raya tidak berjalan maksismal karena kesadaran masyarakat
dalam pentingnya gizi yang baik masih sangat kurang. Hal ini terbukti dari
tidak adanya kunjungan langsung pada poli gizi. Sedangkan untuk pemberian
informasi gizi di masyarakat berjalan seiring kegiatan Posyandu balita dan
lansia berupa penyuluhan - penyuluhan gizi.
Kepala
Puskesmas
Kepala UKM
Tenaga Gizi
Kader
Masyarakat
Kader
Masyarakat
Kader
Masyarakat
Kader
Masyarakat
Kader
Masyarakat
17


Gambar 3.2 Alur Pelayanan Gizi di Puskesmas Beruntung Raya
b) Menerima konsultasi dibidang gizi
Konsultasi gizi klinik di puskesmas setiap hari kerja. Konsultasi ini
meliputi konsultasi gizi bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan pasien yang
mendapat rujukan dari poliklinik, KIA, laboratorium, konsultasi gizi
menggunakan food model, leaflet, dan lembar balik.
Pelayanan dan Konsultasi Gizi
Tabel 3.23 Angka Kunjungan Konsultasi Gizi di Puskesmas Beruntung Raya
tahun 2012
Jumlah
TKTP 9
DM 3
Tinggi Fe 3
RG 1
RL 1
RC 1
Emisis 1
Poli
Gizi
Loket
BP
Umum/
BP Anak
PKPR
KIA
18



Gambar3.23 Angka Kunjungan Konsultasi Gizi di Puskesmas Beruntung Raya
tahun 2012
Untuk kunjungan konsultasi gizi tahun 2012, hanya terdapat 9 kunjungan
dengan kasus TKTP, 3 kunjungan DM, 3 kunjungan Tinggi Fe, dan masing-
masing 1 kunjungan untuk kasus rendah garam, rendah lemak, rendah karbohidrat,
dan emesis. Hal ini menunjukkan kurangnya angka kunjungan langsung di Poli
Gizi. Pemeriksaan di poli gizi berdasarkan rujukan dali program yang lain.
Sehingga data di atas tidak dapat menjadi tolak ukur bahwa masalah gizi yang
terdapat di Puskesmas Beruntung Raya karena data tersebut tidak
merepresentasikan seluruh masyarakat.
c) Melakukan komunikasi, edukasi, dan informasi gizi
Dilakukan kegiatan penyuluhan pada masyarakat yang bertempat di
sekolah, di posyandu dan di Puskesmas. Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat
yang mendasari apakah seseorang bisa berusaha untuk menjaga kesehatannya dan
mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang.
d) Pemberian vitamin
0
2
4
6
8
10
9
3 3
1 1 1 1
Kunjungan Konsultasi Gizi Tahun 2012
TKTP
DM
Tinggi Fe
RG
RL
RC
19

Pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan balita dilaksanakan setiap
bulan Februari dan Agustus. Kapsul vitamin A biru diberikan pada bayi umur 6-
11 bulan dan kapsul vitamin A merah diberikan pada balita umur 12-59 bulan.
Pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas diberikan setiap kali ada
persalinan. Setiap ibu nifas mendapat dua kapsul vitamin A yang diberikan oleh
bidan maupun petugas gizi. Berikut data mengenai distribusi vitamin A baik pada
ibu hamil dan balita di Puskesmas Bruntung Raya pada tahun 2012 :
1. Pemberian Kapsul Vit.A pada bayi dan balita
Tabel 3.2 Pemberian kapsul Vit.A pada bayi dan balita
Bayi Balita Bayi dan Balita
Target 80 80 80
2011 92,4 84,4 88,4
2012 90,1 86,3 88,2


Gambar 3.3 Pemberian kapsul Vit.A pada bayi dan balita
Untuk pemberian vitamin A pada bayi dan balita tahun 2011 sudah
mencapai target yaitu 88.4% dan 88.2% untuk tahun 2012. Dengan rincian
masing-masing sebagai berikut: untuk tahun 2011, pemberian vitamin A pada
bayi 92.4% dan pada balita 84.4%. Sedangkan untuk tahun 2012, pemberian
vitamin A pada bayi 84.4% dan 86.3% pada balita. Target tersebut dapat tercapai
60
80
100
Bayi Balita Bayi dan
Balita
80 80 80
92.4
84.4
88.4 90.1
86.3
88.2
Pemberian Vitamin A Bayi dan
Balita Tahun 2011-2012
Target
2011
2012
20

karena pada kegiatan Posyandu maupun pemeriksaan berkala di poli KIA sudah
digalakkan untuk pemeberian vitamin A yang berkala sesuai jadwal imuniasasi
sehingga diharapkan pencapaian pada tahun 2013 dapat lebih tinggi lagi.

2. Pemberian Obat Tambah darah dan Kapsul Vit.A pada ibu hamil dan ibu
nifas
Tabel 3.3 Pemberian Fe 1,Fe3 ibu hamil dan vitamin A ibu nifas
Fe1 Fe3
Target 78 78
2011 79,3 72,3
2012 96,9 86,79


Gambar 3.2 Pemberian Fe 1,Fe3 ibu hamil dan vitamin A ibu nifas
Untuk pemberian Fe 1 tahun 2011 sudah mencapai target yaitu 79.3% dan
96.9% untuk tahun 2012. Namun, untuk pemberian Fe 3 pada tahun 2011 belum
mencapai target yaitu 72.3% dan meningkat menjadi 86.79% pada tahun 2012.
Sama halnya dengan ba;ita distribusi vitamin A pada ibu hamil dilakukan dengan
lebih intesif yakni di Posyandu maupun di poli KIA sehingga angka tercapainya
distribusi vitamin A dapat lebih tinggi pada tahun 2013. Kunci dari pencapaian
0
20
40
60
80
100
Fe 1 Fe 3
78 78
79.3
72.3
96.9
86.79
Target (%)
2011
2012
21

tersebut yakni angka kunjungan Posyandu yang baik, berakibat terhadap
pemeriksaan ibu hamil, pemeriksaan balita, penyampaian pesan gizi,
penyuuluhan, distribusi vitamin dan berbagai kegiatan Puskesmas dapat lebih
baik.
3. Distribusi Pemberian Vitamin A Bufas Tahun2011-2012
Tabel 3.4 Distribusi Pemberian Vitamin A Bufas Tahun 2011-2012
Vit. A Bufas (%)
Target 80
2011 88,8
2012 100,7


Gambar 3.4 Distribusi Pemberian Vitamin A Bufas Tahun 2011-2012
Untuk pemberian vitamin A pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas
Beruntung Raya tahun 2011 dan 2012 masing-masing telah mencapai target, yaitu
88.8% pada tahun 2011 dan 110.7% pada tahun 2012. Pemberian vitamin A pada
ibu setelah melahirkan sebanyak 2 butir, yang diminum dalam jangka 24 jam
setelah 1 butir dikonsumsi.
e) Distribusi garam beryodium, tablet Fe, dan obat cacing
Kegiatan garam beryodium dilakukan diposyandu, di sekolah dan RT.
Adapun pengujian garam yang digunakan mengandung iodium atau tidak,
0
200
2011 2012
88,8 100,7
Distribusi Vitamin A Bufas Tahun 2011-
2012
Pencapaian (%)
Target (%)
22

dilakukan dengan menggunakan iodium test. Dengan mengambil sampel beberapa
merk garam yang ada dipasaran yang digunakan oleh masyarakat. Garam tersebut
mengandung iodium apabila saat ditetesi larutan iodium test maka akan berwarna
biru, semakin tua warna birunya maka semakin banyak mengandung iodium, dan
apabila berwarna biru muda maka garam tersebut hanya mengandung sedikit zat
iodium.
Pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil diberikan paling sedikit 90
tablet (3 bungkus) pada setiap orang. Distribusi obat cacing dilakukan setiap
tahunnya. Sasaran pemberian obat cacing adalah anak kelas I, II dan III SD yang
dilaksanakan secara bertahap setiap bulannya selama tahun 2012.
Pemantauan Garam Beryodium
Tabel 3.23 Pemantauan Garam beryodium di sekolah wilayah kerja Puskesmas
Beruntung Raya tahun 2012
Kategori
Baik 23
Tidak Baik 3


Gambar 3.5 Pemantauan Garam beryodium di sekolah wilayah kerja Puskesmas
Beruntung Raya tahun 2012
0
50
Baik Tidak baik
23
3
Pemeriksaan Kategori Garam
Beryodium Tahun 2012
Jumlah
23

Tabel 3.24 Pemantauan Garam beryodium di wilayah kerja Puskesmas Beruntung
Raya tahun 2012
Sampel
Baik 46
Tidak Baik 4


Gambar 3.6 Pemantauan Garam beryodium di wilayah kerja Puskesmas
Beruntung Raya tahun 2012
Pemantauan garam beryodium dilaksanakan di 5 sekolah pada bulan Juni
2012. Dari hasil kegiatan, diketahui bahwa seluruh sampel garam yang berjumlah
26 sampel, yang diuji pada sekolah hasilnya 23 sampel (88,46%) mengandung
iodium, dan 3 sampel (11,54%) memberikan hasil yang kurang baik. Sedangkan
untuk sampel garam yang berjumlah 50, diambil dari warga di wilayah kerja, dan
diperoleh 46 sampel (92%) mengandung iodium dan 4 sampel (8%) memberikan
hasil yang kurang baik. Artinya, masyarakat sudah menggunakan garam yang
beryodium, namun masih ada segelintir warga yang belum mengerti cara
penyimpanan garam yang baikdan sebagian yang belum menggunakan garam
beryodium, yang harus diberikan penyuluhan.

0
50
Baik Tidak baik
46
4
Pemeriksaan Sampel Garam Beryodium
Tahun 2012
Jumlah
24

Distribusi Obat Cacing
Tabel 3.26Distribusi Obat Cacing di Puskesmas Beruntung Raya tahun 2012
%
SDN Tanjung Pagar 1 42,02
SDN Tanjung Pagar 4 49,26
MI Darunnasihin 90,1
MI Darul Khairat 100


Gambar3.7 Distribusi Obat Cacing di Puskesmas Beruntung Raya tahun 2012
Untuk distribusi obat cacing pada tahun 2012, telah mencapai target untuk
MI Darul Khairat, 90,1% untuk di MI Darunnasihin, 49,26% di SDN Tanjung
Pagar 4, dan 42,04% di SDN Tanjung Pagar 1.
Berdasarkan data yang didapat di Puskesmas Beruntung Raya pada tahun
2012, tidak terdapat pasien dengan kasus defisiensi yodium, dan cacingan. Namun
untuk kasus anemia terdapat 9 pasien, sehingga dapat dikatan berhasil berdasarkan
data distribusi zat besi, obat cacing, dan garam beryodium di masyarakat sehingga
berguna sebagai upaya preventif terhadap berbagai masalah gizi tersebut.
f) Membuat pencatatan dan laporan
0
20
40
60
80
100
42.02
49.26
90.1
100
Persentase Distribusi Obat Cacing
Tahun 2012
SDN Tanjung Pagar 1
SDN Tanjung Pagar 4
MI Darunnasihin
MI Darul Khairat
25

Setiap program kerja yang dilaksanakan dilakukan pencatatan dan
pendataan untuk mempermudah monitoring dan evaluasi kerja bagi instansi
terkait.Guna peningkatan layanan kesehatan masyarakat, mengurangi angka
kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya, dan
meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
g) Membuat laporan telahan posyandu
Pembuatan laporan bertujuan untuk monitoring dan evaluasi guna
peningkatan layanan kesehatan masyarakat, mengurangi angka kejadian gizi
kurang dan gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya, dan
meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Tabel 3.1 Kasus Gizi Buruk di Posyandu
Posyandu Jumlah
Teratai 1 0
Teratai 2 0
Teratai 3 0
Teratai 4 1
Pokbang 0


Gambar 3.8 Kasus Gizi Buruk di Posyandu


0
0.5
1
Teratai
1
Teratai
2
Teratai
3
Teratai
4
Teratai
5
0 0 0
1
0
Kasus Gizi Buruk di Posyandu
Jumlah
26

Tabel 3.2 Status Gizi Balita tahun 2012

Gambar 3.9 Persentase Gizi Balita pada Tahun 2012

Tabel 3.3 Status Gizi Balita menurut Berat Badan Tahun 2012
%
Sangat Kurus 2,5
Kurus 15,8
Normal 79,2
Gemuk 2,5


Gambar 3.10 Status Gizi Balita menurut Berat Badan

0
10
20
30
40
50
60
Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih
10
35
54.2
0.8
Persentase Gizi Balita pada Tahun 2012
0
50
100
Sangat
Kurus
Kurus Normal Gemuk
2.5
15.8
79.2
2.5
Persentase Berat Badan Balita pada
Tahun 2012
27

Tabel 3.4 Status Gizi Balita menurut Tinggi Badan pada tahun 2012
%
Sangat Pendek 21,7
Pendek 27,5
Normal 50,8


Gambar 3.11 Status Gizi Balita menurut Tinggi Badan

Tabel 3.5 Angka Kejadian Kasus KEP tahun 2011-2012
KEP Ringan KEP Berat
2011 1 1
2012 3 1


Gambar 3.12 Angka Kejadian Kasus KEP

0
20
40
60
Sangat
Pendek
Pendek Normal
21.7
27.5
50.8
Persentase Tinggi Badan-ABS Tahun 2012
Sangat Pendek
Pendek
Normal
0
1
2
3
2011 2012
1
3
1 1
KEP Ringan
KEP Berat
28

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak bailta
54.2 % memiliki gizi yang baik, hal ini mencerminkan pola pemenuhan gizi yang terdapat
pada keluarga - keluarga dalam ruang lingkup wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya
sudah cukup baik. Namun persentase gizi kurang 35 % serta gizi buruk 10 %, juga bukan
masalah yang kecil sehingga upaya pemenuhan kebutuhan gizi seta penyampain
informasi mengenai gizi juga harus terus ditingkatkan.
Pada data diatas ditemukan suatu kasus dengan KEP berat atau gizi buruk satu
orang, upaya penanganannya harus intensif. dalam hal ini puskesmas harus bekerja sama
dengan berbagai pihak baik itu puskesmas lain, dinas kesehatan, serta Rumah Sakit yang
dijadikan rujukan penanganan gizi buruk.
Posyandu sebagai lini pertama dalam penemuan kasus gizi buruk, kemudian akan
dilaporkan kepada puskesmas induk yang akan menentukan apakah pasien dirawat jalan
atau harus dirujuk. Pasien dengan gizi buruk murni akan dirujuk ke puskesmas dengan
fasilitas perbaikan gizi. Namun, pada kasus gizi buruk dengan penyakit penyerta yang
lain akan segera dirujuk ke Rumah Sakit. Peranan Dinas Keshatan dlam hal ini agar
penangan gizi buruk dapat maksismal yakni dengan pemberian subsidi (dana PMT) yang
dapat membantu keluarga pasien dalam masa pengobatan tersebut.
29


Gambar 3.13 Alur Penanganan Gizi Buruk di Puskesmas Beruntung Raya

h) Membuat jadwal Posyandu
Jadwal posyandu balita dan usila dibuat setiap akhir tahun. Jadwal
posyandu disusun sesuai dengan kader dan petugas gizi. Jadwal dikirim ke
posyandu dan Dinas Kesehatan.
Posyandu balita dilaksanakan setiap bulan oleh semua posyandu yang ada
di wilayah Puskesmas Beruntung Raya. Kegiatan ini dilaksanakan 5 kali per
bulan. Jumlah posyandu balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Beruntung
Raya berjumlah 5 buah posyandu balita dan 1 buah posyandu.





Posyandu
Puskesmas
Induk
Puskesmas
dengan
fasilitas
perbaikan gizi
Rumah Sakit
Rujukan
30

Tabel 3.6 Nama Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas BeruntungRaya
No Nama Posyandu
1 Posyandu Teratai I
2 Posyandu Teratai II
3 Posyandu Teratai III
4 Posyandu Teratai IV
5 Posyandu Teratai V
6 Posyandu Lansia


Ruang lingkup upaya perbaikan gizi secara keseluruhan diantaranya mencakup :
A. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
Operasi Timbang
Kegiatan Operasi timbang dilakukan pada bulan Februari, yang
dilaksanakan di 5 Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya.Tujuan
pelaksanaan Operasi Timbang adalah untuk mengetahui perkembangan berat
badan dan panjang/tinggi badan anak.Kegiatan ini efektif karena bisa menghemat
waktu dan biaya, dan terbukti bisa meningkatkan angka kunjungan, melacak kasus
gizi kurang dan buruk.
Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap
orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita
didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini, bersifat
irreversible (tidak dapat pulih).
31

Status gizi pada balita dapat diketahui dengan cara mencocokkan umur
anak (dalam bulan) dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat
badannya kurang, maka status gizi kurang. Di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu),
telah disediakan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang juga bisa digunakan untuk
memprediksi status gizi anak berdasarkan kurva KMS. Perhatikan dulu umur
anak, kemudian plot berat badannya dalam kurva KMS. Bila masih dalam batas
garis hijau maka status gizi baik, bila di bawah garis merah, maka status gizi
buruk.
SKDN Balita (Status Gizi Balita)
KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak.
KMS harus dibawa ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa
kesehatan anak dengan demikian pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan
lengkap bagi anak yang bersangkutan, sedangkan pada lingkungan kelurahan
bentuk pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN. SKDN adalah data untuk
memantau pertumbuhan balita SKDN sendiri mempunyai singkatan yaitu sebagai
berikut:
S= adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu,
K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS,
D= jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini,
N= jumlah balita yang naik berat badanya.

Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan
penimbangan (K/S), kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu (D/K),
32

tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi
(N/D), efektifitas kegiatan (N/S) . Pemantauan status gizi dilakukan dengan
memanfaatkan data hasil penimbangan bulanan posyandu yang didasarkan pada
indikator SKDN tersebut. Indikator yang dipakai adalah N/D (jumlah anak yang
berat badannya naik dibandingkan dengan jumlah anak yang ditimbang dalam %).
Peramalan dilakukan dengan mengamati kecenderungan N/D dan D/S setiap bulan
pada wilayah masing-masing wilayah kecamatan. Pematauan status gizi
dilaporkan setiap bulan dengan mempergunakan format laporan yang telah ada.
Balita yang datang dan ditimbang (D/S).
Pengertian
Balita yang datang dan ditimbang (D) adalah semua balita yang datang dan
ditimbang berat badannya.
Dalam pengolahan penghitungan N dan D harus benar. Misalnya seorang
anak setelah ditimbang mengalami kenaikan berat badan 0,1 kg,ketika data berat
tersebut dipindahkan ke KMS ternyata tidak naik mengikuti pita warna, pada
contoh ini anak tidak dikelompokkan sebagai balita yang mengalami kenaikan BB
(lihat buku pemantau pertumbuhan). Data SKDN dihitung dalam bentuk jumlah
misalnya S,K,D,N atau dalam bentuk proporsi N/D, D/S, K/S dan BMG/D untuk
masing-masing posyandu. Biasanya setelah melakukan kegiatan di Posyandu atau
di pospenimbangan petugas kesehatan dan kader Posyandu (petugas sukarela)
melakukan analisis SKDN. Analisinya terdiri dari:
33

Tingkat partisipasi Masyarakat dalam Penimbangan Balita Yaitu jumlah
balita yang ditimbang dibagi dengan jumlah balita yangada di wilayah
kerja Posyandu atau dengan menggunakan rumus (D/Sx 100%), hasilnya
minimal harus mencapai 80%, apabila dibawah 80% maka dikatakan
partisipasi masyarakat untuk kegiatan pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan berat badan sangatlah rendah. Hal ini akan berakibat pada
balita tidak akan terpantau oleh petugas kesehatan ataupun kader Posyandu
akan memungkinkan balita ini tidak diketahui pertumbuhan berat
badannya atau pola pertumbuhan baerat badannya.
Tingkat Liputan Program Yaitu jumlah balita yang mempunyai KMS
dibagi dengan jumlah seluruh balita yang ada diwilayah Posyandu atau
dengan menggunakan rumus (K/S x 100%). Hasil yang didapat harus
100%. Alasannya balitabalita yang telah mempunyai KMS telah
mempunyai alat instrument untuk memantau berat badannya dan data
pelayanan kesehatan lainnya. Apabila tidak digunakan atau tidak dapat
KMS makan pada dasarnya program POSYANDU tersebut mempunyai
liputan yang sangat rendah atau bisa juga dikatakan balita tersebut. Khusus
untuk Tingkat Kehilangan Kesempatan ini menggunakan rumus (S-K)/S x
100%), yaitu jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu dikurangi Jumlah
balita yang mempunyai KMS, hasilnya dibagi dengan jumlah balita yang
ada diwilayah Posyandu tersebut. Semakin tinggi Presentasi Kehilangan
kesempatan, maka semakin rendah kemauan orang tua balita untuk dapat
memanfaatkan KMS. Padahal KMS sangat baik untuk memantau
34

pertumbuhan berat badan balita atau juga pola pertumbuhan berat badan
balita
Indikator lainnya2 adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang naik
berat badannya dibandingkan dengan jumlah seluruh balita yang
ditimbang. Sebaiknya semua balita yang ditimbang harus mengalami
peningkatan berat badan.
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indicator Drop-Out, yaitu balita
yang sudah mempunyai KMS dan pernah datang menimbang berat
badannya tetapi kemudian tidak pernah datang lagi di Posyandu untuk
selalu mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumusnya yaitu jumlah balita
yang telah mendapatkan KMS dikurangi dengan jumlah balitayang
ditimbang, dan hasilnya dibagi dengan balita yang mempunyai KMS ((K-
D)/K x 100%).
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indikator perbandingan antara
jumlah balita yang status gizinya berada di Bawah Garis Merah (BGM)
dibagi dengan banyaknya jumlah balita yang ditimbang pada bulan
penimbangan (D). Rumusnya adalah (BGM/D 100%)A.
Kinerja output disini meliputi cakupan hasil program gizi di Posyandu
yang dapat dilihat dalam bentuk persentase cakupan yang berhasil dicapai oleh
suatu Posyandu. Adapun cakupan hasil program gizi di Posyandu tersebut adalah
sebagai berikut :
35

Cakupan Program (K/S)
Cakupan program (K/S) adalah Jumlah Balita yang memiliki Kartu enuju
Sehat (KMS) dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu
kemudian dikali 100%. Persentase K/S disini, menggambarkan berapa
jumlah balita diwilayah tersebut yang telah memiliki KMS atau berapa
besar cakupan program di daerah tersebut telah tercapai.
Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S)
Cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah Jumlah Balita yang
ditimbang di Posyandu dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah
kerja Posyandu kemudian dikali 100 %. Persentase D/S disini,
menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah
tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Kelangsungan Penimbangan (D/K)
Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K) adalah Jumlah Balita yang
ditimbang di Posyandu dalam dibagi dengan jumlah balita yang telah
memiliki KMS kemudian dikali 100%. Persentase D/K disini,
menggambarkan berapa besar kelangsungan penimbangan di daerah
tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D)
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) adalah : Rata rata jumlah Balita yang
naik berat badan (BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ditimbang di
Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase N/D disini, menggambarkan
berapa besar hasil penimbangan didaerah tersebut yang telah tercapai.
36

SKDN Bayi Tahun 2013
Tabel 3.5 SKDN Bayi Tahun 2013
JAN PEB MRT APR MEI
S 156 156 156 156 156
K 156 156 156 156 156
D 119 141 111 124 116
N 97 96 88 98 89


Gambar 3.4 SKDN Bayi Tahun 2013
SKDN Anak Balita Tahun 2013
Tabel 3.6 SKDN Anak Balita Tahun 2013
JAN PEB MRT APR MEI
S 715 715 715 715 715
K 715 715 715 715 715
D 405 558 387 446 494
N 377 492 387 362 360

0
20
40
60
80
100
120
140
160
Jan Feb Mar Apr Mei
156 156 156 156 156
119
141
111
124
116
97 96
88
98
89
S
K
D
N
37


Gambar 3.5 SKDN Anak Balita Tahun 2013

SKDN Balita Tahun 2013
Tabel 3.7 SKDN Balita Tahun 2013
JAN PEB MRT APR MEI
S 871 871 871 871 871
K 871 871 871 871 871
D 524 699 498 570 610
N 474 588 454 460 449


Gambar 3.6 SKDN Balita Tahun 2013
0
100
200
300
400
500
600
700
800
Jan Feb Mar Apr Mei
715 715 715 715 715
405
558
387
446
494
377
492
366 362 360
S
K
D
N
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
Jan Feb Mar Apr Mei
871 871 871 871 871
524
699
498
570
610
474
588
454 460
449
S
K
D
N
38


SKDN Bayi
Tabel 3.8 SKDN Bayi
S K D N
2011 150 150 104 80
2012 152 152 130 90


Gambar 3.7 SKDN Bayi

Tabel 3.9 SKDN Bayi
K/S N/S N/D D/K D/S
2011 100 55,1 87,9 71,9 71,9
2012 100 66,9 95,6 84,1 84,1


Gambar 3.8 SKDN Bayi Tahun 2011-2012
0
50
100
150
200
S K D N
150 150
104
80
152 152
130
90
2011
2012
0
20
40
60
80
100
K/S N/S N/D D/K D/S
100
55.1
87.9
71.9 71.9
100
66.9
95.6
84.1 84.1
2011
2012
39

Tabel 3.10 SKDN Anak Balita
S K D N
2011 802 802 381 305
2012 664 664 440 377


Gambar 3.9 SKDN Anak Balita

Tabel 3.11 SKDN Anak Balita
K/S N/S N/D D/K D/S
2011 100 55,1 87,9 71,9 71,9
2012 100 66,9 95,6 84,1 84,1


Gambar 3.10 SKDN Anak Balita
0
200
400
600
800
1000
S K D N
802 802
381
305
664 664
440
377
2011
2012
0
20
40
60
80
100
K/S N/S N/D D/K D/S
100
55.1
87.9
71.9 71.9
100
66.9
95.6
84.1 84.1
2011
2012
40

SKDN Balita
Tabel 3.11 SKDN Balita
S K D N
2011 952 952 485 385
2012 816 816 570 476


Gambar 3.11 SKDN Balita

Tabel 3.12 SKDN Balita
K/S N/S N/D D/K D/S
2011 100 46,3 89,1 58,8 58,8
2012 100 60,1 94,5 74,3 74,3


Gambar 3.12 SKDN Balita
0
200
400
600
800
1000
S K D N
952 952
485
385
816 816
570
476
2011
2012
0
20
40
60
80
100
K/S N/S N/D D/K D/S
100
46.3
89.1
58.8 58.8
100
60.7
94.5
74.3 74.3
2011
2012
41

Tabel 3.13Bayi-Balita Gizi Bawah Garis Merah tahun 2012
BGM
2011 18
2012 22


Gambar 3.13 Bayi-Balita Gizi Bawah Garis Merah tahun 2012


Taburia
Taburia merupakan tambahan multivitamin dan multimineral untuk
memenuhi kebutuhan gizi dan tumbuh kembang balita umur 6-24 bulan. Tujuan
pemberian taburia antara lain untuk membantu balita tumbuh kembang secara
optimal, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan nafsu makan, mencegah
anemia dan mencegah kekurangan zat gizi. Kegiatan Pembagian Taburia
dilaksanakan selama 2 bulan, jumlah sasaran adalah 30 anak yang terdapat di 5
posyandu wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya.
Tabel 3.19 Pemberian Taburia pada Anak kurang gizi tahun 2012
Orang
MP-ASI Biskuit 4
0
20
40
2011 2012
18
22
Bayi-Balita Bawah Garis Merah
Tahun 2011-2012
Jumlah Bayi-Balita
42

Taburia 5


Gambar 3.19 Pemberian Taburia pada Anak kurang gizi tahun 2012
Tabel 3.20 Kasus Gizi Buruk di Posyandu
Posyandu Jumlah
Teratai 1 0
Teratai 2 0
Teratai 3 0
Teratai 4 1
Pokbang 0

Taburia merupakan suplemen tambahan yang diberikan dengan
menaburkannya di hidangan makanan untuk anak yang dikatakan gizi kurang dan
gizi buruk. Pemberian suplemen Taburia dianjurkan 2x untuk 1 minggu yaitu pada
hari senin dan kamis selama 1 bulan dengan jumlah total 8 bungkus kecil
suplemen Taburia. Adapun cara penaburannya dihidangan yang tidak panas dan
tidak berkuah, gunanya disini agar terhindar kerusakan zat-zat yang terkandung
didalamnya akan proses panas dan terlarut dalam hidangan berkuah.
Pada kegiatan ini sebanyak 5 anak BGM di wilayah puskesmas Beruntung
Raya diberikan Taburia selama 2 bulan.Rata-rata kenaikan berat badan bayi/balita
BGM selama 2 bulan adalah 290 gram.
0
5
MP-ASI Taburia
4
5
Pemberian MP-ASI dan Taburia Tahun
2012
Jumlah Resipien
43

Tabel 3.21 Pemberian Makanan Tambahan Ibu Hamil dengan Kekurangan Energi
Kronis
Orang
Gakin 9
Non Gakin 6


Gambar 3.20 Pemberian Makanan Tambahan Ibu Hamil dengan Kekurangan
Energi Kronis
Untuk kasus kekurangan energikronis pada ibu hamil, terdapat 9 kasus
dari keluarga miskin dan 6 kasus dari non keluarga miskin.
B. Bayi mendapat ASI eksklusif
ASI ekslusif adalah pemberian air susu kepada bayi sejak pertama bayi lahir dan ASI
keluar tanpa diberikan minuman/makanan selain ASI itu sendiri termasuk air putih
maupun susu formula sampai umur bayi 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan, baru bisa
diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI).Adapun beberapa manfaat ASI yaitu,
mengandung semua zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh pertumbuhan bayi, memberikan
kekebalan dan melindungi bayi dari berbagai penyakit seperti diare, dan biayanya hemat
praktis dan ramah lingkungan.
Pemantauan ASI eksklusif dilakukan selama 12 bulan. Dengan Target 70%,
pencapaian ASI eksklusif sebesar 43.5 % pada 2012, dan 27.4% pada 2011. Hal
0
10
Gakin Non-gakin
9
6
PMT Ibu Hamil dengan KEK Tahun
2012
Jumlah
44

yang menyebabkan kurangnya kesadaran ibu menyusui untuk tidak memberikan
ASI nya kepada bayinya. Seperti tidak adanya pengetahuan tentang pentingnya
ASI eksklusif, bahwa ASI eksklusif itu lebih sehat dan bergizi seimbang
dibandingkan susu formula pada masa usia bayi 0-6 bulan.
Tabel 3.22 Pencapaian ASI Eksklusif
ASI Eksklusif (%)
Target 70
2011 27,4
2012 43,5


Gambar 3.21 Pencapaian ASI Eksklusif
Untuk pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Beruntung
Raya tahun 2011 dan 2012 masing-masing belum mencapai target, yaitu 27,4%
pada tahun 2011 dan 43,5% pada tahun 2012.





0
20
40
60
80
2011 2012
27.4
43.5
Target (70 %)
Pencapaian (%)
45

BAB IV
ANALISIS MASALAH UPAYA PERBAIKAN GIZI

4.1 Analisis SWOT
1.1 Kekuatan (Strength).
a. Program-program yang ada telah menunjukan trend peningkatan dari
tahun 2011 ke 2012.
b. Tersedianya obat cacing, vitamin A, tablet Fe yang akan didistribusikan ke
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.
c. Adanya posyandu sehingga dapat melaksanakan program gizi di seluruh
wilayah kerja Puskesmas, seperti dilakukan penimbangan balita dan bayi
tiap bulan di Posyandu yang memudahkan pengontrolan gizi di wilayah
kerja Puskesmas.
d. Adanya PONED pada Puskesmas memudahkan dalam pendataan bayi
baru lahir dan ibu nifas.
e. Pihak Puskesmas rutin ke Posyandu, sehingga mudah bagi masyarakat
untuk mendapatkan pengobatan serta perbaikan gizi.
f. Banyaknya kader kesehatan yang aktif yang dimiliki di semua Posyandu
dan Puskesmas memudahkan masyarakat untuk konsultasi kesehatan dan
perbaikan gizi.
g. Pemberian obat cacing dilakukan langsung disekolah, dimana anak-anak
sudah terkumpul.
46

h. Pencatatan data SKDN sudah baik, didapatkan gambaran mengenai profil
kesehatan masyarakat
i. Program-program tertentu, seperti pemberian vitamin A mencakup
pelaksanaan diluar puskesmas, tidak hanya menunggu kesadaran
masyarakat untuk datang ke puskesmas.

1.2 Kelemahan (Weakness)
a. Jumlah petugas yang sedikit dan banyaknya kegiatan ahli gizi puskesmas
baik di dalam maupun di luar puskesmas menyebabkan konseling gizi
terhadap Usila maupun Balita masih terbatas.
b. Masih ditemukan kasus gizi kurang (BGM) di wilayah kerja Puskesmas
c. Angka cakupan ASI eksklusif masih jauh dari target yang diharapkan.
d. Layanan konsultasi gizi tidak berjalan efektif padahal jumlah pasien
dengan penyakit seperti DM serta HT banyak.
e. Keterbatasan SDM menjadikan ruang upaya pokok gizi sering kali kosong
karena ditinggal ke Pustu, Posyandu, Poskesdes dan lain-lain.
f. Kunjungan langsung ke Poli gizi tidak ada

1.3 Kesempatan (Oppurtunity)
a. Adanya SD di wilayah kerja yang dekat dengan puskesmas sehingga
mempermudah pelaksanaan upaya pokok gizi tertentu, seperti pemberian
obat cacing.
47

b. Adanya SMP di wilayah kerja puskesmas sehingga dapat dilakukan
kerjasama dengan pihak UKS dalam upaya mengurangi angka anemia
pada remaja putri dengan pemberian tablet Fe.
c. Jumlah penduduk usia produktif yang cukup banyak dapat dijadikan
sumber kaderisasi posyandu yang potensial
d. Menurut data dari kelurahan, kepala Puskesmas Beruntung Raya
merupakan ketua RW di kelurahan Tanjung Pagar, sehingga dapat
mempermudah untuk kerjasama lintas sektoral di wilayah kerja
puskesmas.
1.4 Ancaman (Threat)
a. Rendahnya tingkat pendidikan di masyarakat sehingga secara langsung
dan tidak langsung mempengaruhi kualitas gizi masyarakat.
b. Rendahnya tingkat perekonomian masyarakat akan mempengaruhi daya
beli konsumsi gizi.
c. Kesadaran masyarakat untuk konsultasi gizi masih kurang.
d. Kebudayaan setempat masih sering menghambat upaya pokok gizi,
contohnya pada kasus anemia pada ibu.
e. Cakupan ASI eksklusif yang rendah menjadikan anak-anak rentan
terserang penyakit.
f. Masih banyak jajanan yang tidak sehat di sekolah-sekolah.



48

4.2 Pemecahan Masalah
1. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dilakukan pembinaan oleh
petugas kader terutama pada saat kegiatan posyandu agar lebih berperan
aktif meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya posyandu,
misalnya melakukan kunjungan rumah oleh kader serta diperlukan peran
serta tokoh masyarakat untuk mengajak masyarakat datang ke posyandu
dan petugas terus meningkatkan penyuluhan terhadap ibu-ibu balita
tentang pola asuh, pola makan yang baik untuk anak.
2. Mengintensifkan program posyandu dan mengoptimalkan kinerja petugas
kesehatan dalam pendataan, pemantauan dan pengawasan kasus gizi
kurang dan gizi buruk.
3. Menambah jumlah SDM pada untuk petugas bagian Gizi.
4. Mengoptimalkan penyuluhan pada ibu hamil dan ibu nifas tentang
pentingnya dan bagaimana cara memberikan ASI yang benar.
5. Bekerjasama dengan pihak sekolah SMP dan UKS dalam upaya
mengurangi angka anemia pada remaja putri dengan pemberian tablet Fe.
6. Meningkatkan peran aktif pihak sekolah untuk menunjang kegiatan upaya
pemberian obat cacing.
7. Melengkapi sarana dan prasarana untuk penyuluhan gizi seperti ruangan
khusus gizi, piramida makanan serta jenis-jenis makanan sehat.



49

BAB V
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Puskesmas Beruntung Raya berada di Kecamatan Banjarmasin Selatan
Kota Banjarmasin dengan wilayah kerja sebanyak 1 Kelurahan yaitu Kelurahan
Tanjung Pagar.Dengan Luas Wilayah 315 Ha wilayah kerja Puskesmas Beruntung
Raya memiliki jumlah penduduk sebanyak 8707 jiwa.
Puskesmas Beruntung Raya sekarang telah memiliki unit-unit kegiatan
yang masing-masing unit tersebut memiliki program kesehatan tersendiri dan
masing-masing unit yang telah melaksanakan program tersebut. Hasil kegiatan
pada umumnya mengalami peningkatan dibanding tahun lalu walaupun masih ada
beberapa yang belum memenuhi target.
Sebagian besar masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya
sudah menyadari akan pentingnya gizi mereka serta anaknya namun masih ada
yang mengalami kekurangan gizi dikarenakan oleh kondisi ekonomi dan tingkat
pendidikannya yang rendah.
B. Saran
Dari data yang telah didapatkan disarankan:
1. Perencanaan dilakukan lebih matang mengenai program dan dengan jumlah
tenaga yang tersedia sehingga hambatan berupa kurangnya tenaga kesehatan
dapat di minimalisasi serta dilakukan koordinasi antara berbagai sektor yang
50

terkait dalam kegiatan puskesmas agar pelaksanaan kegiatan program dapat
tercapai dan berjalan dengan baik.
2. Pengoptimalkan tenaga dari puskemas dan pengrekrutan kader-kader yang
berupaya lebih dimasyarakat
3. Memanfaatkan organisasi serta tempat-tempat umum yang banyak tersedia di
masyarakat sehingga penyampaian informasi menyeluruh dan berkelanjutan.
4. Kerjasama dengan dinas terkait dan lintas sektoral untuk menjalankan
program
5. Pembuatan sistem yang efisien dan tepat sasaran dalam pengawasan dan
penataan masyarakat

51

Daftar Pustaka

1. Laporan Kegiatan Perbaikan Gizi Masyarakat Puskesmas Beruntung Raya
Tahun 2012
2. Profil Puskesmas Beruntung Raya Tahun 2012
3. Data Dinding Puskesmas Beruntung Raya Tahun 2012