Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

PEMBUATAN BIOETANOL DARI KULIT KAYU MANGGA DENGAN


FERMENTASI MENGGUNAKAN Saccharomyces sp.
I. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Menguraikan karbohidrat kompleks dari biomassa (kulit kayu
mangga) menjadi gula sederhana melalui reaksi hidrolisis dengan
katalis asam kuat.
2. Mengolah hidrolisat dari biomassa (kulit kayu mangga) menjadi
alkohol melalui proses fermentasi.
3. Menghitung yield bioetanol yang dihasilkan.

II. DASAR TEORI
Adanya krisis energi di dunia telah mendorong para peneliti untuk
mendapatkan bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar yang
berasal dari minyak bumi. Bahan bakar alternatif yang layak
dikembangkan adalah bahan bakar yang bersifat renewable atau
terbarukan, ramah lingkungan dan efisien, khususnya yang berasal dari
bahan nabati. Salah satu jenis bahan bakar nabati yang layak
dikembangkan adalah bioetanol, etanol yang diperoleh melalui proses
fermentasi glukosa menggunakan enzim yang dihasilkan oleh
mikroorganisme Saccharomyces cerevisiae. Bioetanol tersebut merupakan
biofuel pengganti premium ataupun biokerosin (bahan bakar nabati untuk
memasak).
Bioetanol merupakan salah satu jenis bahan bakar alternatif yang
prospektif pada masa depan. Sebagai bahan bakar alternatif, bioetanol
digunakan untuk memasak. bioetanol dapat diproduksi dengan
menggunakan bahan baku berupa glukosa, pati, atau selulosa. Bahan baku
berupa glukosa atau gula sederhana misalnya adalah gula tebu dan buah
buahan yang telah masak. Sumber pati yang dapat diolah menjadi
bioetanol contohnya adalah singkong, jagung, ubi jalar. Adapun sumber
selulosa untuk bahan baku bioetanol dapat berupa merang padi, klobot
jagung, singkong, ilalang, kulit pisang, kulit nanas, serat kayu dan
sebagainya. Dibandingkan dengan glukosa, bahan baku berupa pati atau
selulosa lebih awet dan tidak mudah rusak oleh pengaruh lingkungan.
Jika digunakan bahan baku berupa pati atau selulosa, maka
sebelum dilakukan tahap fermentasi senyawa kompleks tersebut harus
terlebih dahulu diuraikan sehingga terbentuk gula sederhana. Pemecahan
senyawa kompleks menjadi glukosa dapat dilakukan dengan cara hidrolisis
dengan katalis asam mineral encer. Apabila bahan baku berupa pati, maka
penguraian karbohidrat kompleks dapat dilakukan secara enzimatis
menggunakan cendawan Aspergillus s.p. Cendawan itu menghasilkan
enzim alfaamilase dan glukoamilase yang berperan mengurai pati menjadi
gula sederhana. Setelah menjadi gula, dilakukan fermentasi menjadi etanol
dengan bantuan ragi roti (sacharomyces cereviceae).
Proses utama dalam pembuatan bioetanol adalah fermentasi
glukosa. Fermentasi merujuk pada proses yang meliputi pemecahan
molekul organik besar menjadi molekul yang lebih sederhana sebagai hasil
kinerja dari suatu mikroorganisme. Reaksi yang terjadi pada proses
fermentasi bioetanol adalah :

Setelah proses fermentasi yang berlangsung selama 7 hari,
bioetanol yang dihasilkan dapat dipisahkan dari campuran produk dengan
menggunakan metode distilasi.
Sejauh ini, bahan baku unggulan untuk produksi bioetanol di
Indonesia adalah gula tebu, jagung dan singkong. Akan tetapi bahan-bahan
tersebut merupakan komoditas pertanian yang ekonomis dan tergolong
dalam komoditas pangan, maka perlu di upayakan penggunaan bahan baku
nonpangan untuk mendukung terwujudnya industri biofuel dalam negeri.
Bahan baku dari sumber nabati yang banyak mengandung selulosa
merupakan alternatif yang layak untuk dikembangkan. Salah satu jenis
selulosa yang dapat digunakan untuk substrat pada pembuatan bioetanol
adalah kulit kayu mangga. (Tim Dosen Praktikum Teknologi Bioproses,
2013).
1. Bahan baku
Kulit kayu digunakan karena mengandung selulosa. Selulosa
tersebut diurai terlebih dahulu melalui proses hidrolisis kemudian di
fermentasi dengan menggunakan Saccharomyces cereviseae menjadi
alkohol. Bioetanol (C
2
H
5
OH) adalah cairan dari fermentasi gula dari
sumber selulosa menggunakan bantuan mikroorganisme (Anonim,
2007).
Sistematika Tumbuhan Mangga adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Class : Dicotylendonae
Ordo : Anarcardiales
Famili : Anarcardiaceae
Genus : Mangifera
Spesies : Mangifera indica L
Sifat-sifat fisik kayu mangga
berat rata-rata kering : 42 lbs/ft
3
(670 kg/m
3

specific gravity (mc 12%) :55, 67
kekerasan menurut test Janka : 1,120 lb
f
(4,980 N)
modulus patah : 13,300 lb
f
/in
2
(91.7 MPa)
modulus elastisitas : 1,673,000 lb
f
/in
2
(11.54
GPa)
penyusutan : Radial: 2.5%, Tangential:
5.4%, Volumetric: 8.1%, T/R Ratio: 2.2
Kayu adalah bahan organik yang terdiri atas unsur C 50%, H 6%,
O 44%, dan sedikit unsur lain (Suminar, 1990). Komponen kimia
penyusun kayu dibedakan atas komponen primer dan sekunder.
Komponen primer adalah senyawa-senyawa yang merupakan bagian
integral dinding sel, artinya menyatu dengan dinding sel. Sedangkan
komponen sekunder adalah komponen di luar dinding sel yang disebut
juga ekstraktif dan atau zat-zat infiltrasi atau komponen luar karena tidak
merupakan bagian integral dinding sel, tetapi diendapkan dalam rongga sel
dan meresap dalam rongga-rongga mikro dalam dinding sel (Soenardi,
1997).
Selulosa merupakan konstituen utama kayu, kira-kira 40-50%
bahan kering dalam kayu adalah selulosa terdapat dalam lapisan dinding
sel sekunder (Sjostrom, 1995). Selulosa dapat diperoleh dari semua
tumbuh-tumbuhan dengan mereaksikan bahan baku dengan zat-zat yang
diharapkan akan melarutkan zat-zat non selulosa (Soenardi, 1997).
2. Bioetanol
Bioetanol merupakan senyawa alkohol yang diperoleh lewat proses
fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Bahan baku
pembuatan bioetanol dapat berupa ubi kayu, jagung, ubi jalar, tebu dan
lain-lain. Semuanya merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang
sangat mudah ditemukan di Indonesia karena iklim dan keadaan tanah
Indonesia yang mendukung pertumbuhan tanaman tersebut Etanol adalah
senyawa organik yang terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen, sehingga
dapat dilihat sebagai derivat senyawa hidrokarbon yang mempunyai gugus
hidroksil dengan rumus C2H5OH. Etanol merupakan zat cair, tidak
berwarna, berbau spesifik, mudah terbakar dan menguap, dapat bercampur
dengan air dengan segala perbandingan.
a. Sifat-sifat fisis etanol
1) Rumus molekul : C2H5OH
2) Berat molekul : 46,07 gram / mol
3) Titik didih pada 1 atm : 78,4C
4) Titik beku : -112C
5) Bentuk dan warna : cair tidak berwarna
(Perry, 1984)
b. Sifat-sifat kimia etanol
1) Berbobot molekul rendah sehingga larut dalam air
2) Diperoleh dari fermentasi gula

Pembentukan etanol :

3) Pembakaran etanol menghasilkan CO2 dan H2O
Pembakaran etanol :

(Fessenden & Fessenden, 1997)
3. Hidrolisis
Hidrolisis adalah suatu proses antara reaktan dengan air agar
suatu senyawa pecah terurai. Reaksi Hidrolisis:

Reaksi antara air dan pati berlangsung sangat lambat sehingga
diperlukan bantuan katalisator untuk memperbesar kereaktifan air.
Katalisator bisa berupa asam maupun enzim. Katalisator asam yang
biasa digunakan adalah asam klorida, asam nitrat dan asam sulfat.
Dalam industri umumnya digunakan enzim sebagai katalisator. Salah
satu proses hidrolisis yaitu hidrolisis asam, dimana katalisatornya
menggunakan asam. Asam berfungsi sebagai katalisator dengan
mengaktifkan air. Di dalam industri asam yang dipakai adalah H2SO4
dan HCl. HCl lebih menguntungkan karena lebih reaktif dibandingkan
H2SO4. (Groggins,1992)
Faktor-faktor yang berpengaruh pada hidrolisis pati antara lain :
a. Suhu
Dari kinetika reaksi, semakin tinggi suhu reaksi makin
cepat pula jalannya reaksi. Tetapi apabila proses berlangsung pada
suhu yang tinggi, konversi akan menurun. Hal ini disebabkan
adanya glukosa yang pecah menjadi arang.
b. Waktu
Semakin lama waktu hidrolisis, konversi yang dicapai
semakin besar dan pada batas waktu tertentu akan diperoleh
konversi yang relatif baik dan apabila waktu tersebut diperpanjang,
pertambahan konversi kecil sekali.
c. Pencampuran reaksi
Karena pati tidak larut dalam air maka pengadukan perlu
diadakan agar persentuhan butir-butir pati dan air dapat
berlangsung dengan baik.
d. Konsentrasi katalisator
Penambahan katalisator bertujuan memperbesar kecepatan
reaksi. Jadi semakin banyak jumlah katalisator yang dipakai makin
cepat reaksi hidrolisis. Dalam waktu tertentu pati yang berubah
menjadi glukosa juga meningkat.
e. Kadar suspensi pati
Perbandingan antara air dan pati yang tepat akan membuat
reaksi hidrolisis berjalan cepat.
4. Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses perubahan peubahan kimia dalam
suatu substrat organik yang dapat berlangsung karena aksi katalisator
biokimia, yaitu enzim yang dihasilkan oleh mikrobia mikrobia
tertentu. (Tjokroadikoesoemo,1986)
Fermentasi gula oleh ragi, misalnya Saccharomyces cerevisiae
dapat menghasilkan etil alkohol (etanol) dan CO2 melalui reaksi
sebagai berikut:
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses fermentasi:
a. Keasaman (pH)
Tingkat keasaman sangat berpengaruh dalam perkembangan
bakteri. Kondisi keasaman yang baik untuk pertumbuhan bakteri
adalah 4 5. ( Winarno, 1984 )
b. Mikroba
Fermentasi biasanya dilakukan dengan menggunakan kultur
murni yang dihasilkan di laboratorium. Kultur ini dapat
disimpan dalam keadaan kering atau dibekukan. Berbagai
macam jasad renik dapat digunakan untuk proses fermentasi
antara lain yeast. Yeast tersebut dapat berbentuk bahan murni
pada media agar-agar atau dalam bentuk dry yeast yang
diawetkan. ( Winarno, 1984 )
c. Suhu
Suhu fermentasi sangat menentukan macam mikroba yang
dominan selama fermentasi. Tiap-tiap mikroorganisme memiliki
suhu pertumbuhan optimal, yaitu suhu yang memberikan
pertumbuhan terbaik dan perbanyakan diri secara tercepat. Pada
suhu 30oC mempunyai keuntungan terbentuk alkohol lebih
banyak karena ragi bekerja optimal pada suhu itu. ( Winarno,
1984 )
d. Oksigen
Udara atau oksigen selama proses fermentasi harus diatur sebaik
mungkin untuk memperbanyak atau menghambat mikroba
tertentu. Setiap mikroba membutuhkan oksigen yang berbeda
jumlahnya untuk pertumbuhan atau membentuk sel sel baru
dan untuk fermentasi. Misalnya ragi roti (Saccharomyces
cerevisiae) akan tumbuh lebih baik pada keadaan aerobik, tetapi
akan melakukan fermentasi terhadap gula jauh lebih cepat pada
keadaan anaerobik. ( Winarno, 1984 )
5. Distilasi
Distilasi adalah suatu proses penguapan dan pengembunan
kembali, yang dimaksudkan untuk memisahkan campuran dua atau
lebih zat cair ke dalam fraksi farksinya berdasarkan perbedaan titik
didih. Pada umumnya, pemisahan hasil fermentasi glukosa/dektrosa
menggunakan sistem uap-cairan, dan terdiri dari komponen
komponen tertentu yang mudah tercampur. Umumnya destilasi
berlangsung pada tekanan atmosfer, contoh dalam hal ini adalah
sistem alkohol air, yang pada tekanan atmosfer memiliki titik didih
sebesar 78,
o
6 C.(Tjokroadikoesoemo, 1986)


III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat


Gambar III.1 Beker glass Gambar III.2 Neraca analitik
Gambar III.3 Gelas arloji
GambarIII.4 Spatula Gambar III.5 Indikator universal GambarIII.6 Ball filler
Gambar III.7 Pipet volume
Gambar III.8 Gelas ukur Gambar III.9 Erlenmeyer

Gambar III. 11 Saringan Gambar III. 12 Kertas saring
Gambar III.13 Statif dan klem
Gambar III.14 Kondensor spiral Gambar III.15 Heating mantle




Gambar III.16 Kondensor libik Gambar III.17 Labu takar alas bulat
Gambar III.18 Termometer
Gambar III.19 Piknometer
Gambar III.20 Labu distilasi
Gambar III.21 Botol
B. Bahan
1. Serbuk kulit kayu mangga
2. HCl encer
3. Gula
4. NaOH
5. Urea
6. Aquades
7. Ragi roti

Anda mungkin juga menyukai