Anda di halaman 1dari 25

TEKNIK PENGOLAHAN

LIMBAH SECARA BIOLOGIS


OLEH :
HASNI KESUMA RATIH
OPTIMISMA SITUNGKIR
RIDHOLLAHI
KELAS : 2KB
DOSEN PEMBIMBING :
ADI SYAKDANI ,S.T.M.T

PENGHILANGAN WARNA
LIMBAH TEKSTIL DENGAN
Marasmius sp.
DALAM BIOREAKTOR UNGGUN
TETAP TERMODIFIKASI
(MODIFIED PACKED BED)
A. Pendahuluan
B.Pengolahan
C. Metodologi
D.Hasil dan diskusi
F.Daftar pustaka
E .Kesimpulan

A. PENDAHULUAN


Industri tekstil adalah salah satu industri yang
berkembang dengan pesat. Industri tekstil merupakan salahsatu
industri terpenting dalam suatu negara. Di Indonesia, industri
tekstil mengalami perkembangan sebesar 0,85% per tahun.
Perkembangan yang terjadi membawa manfaat yang baik bagi
kehidupan masyarakat. Namun,
halnya perkembangan industri lainnya, perkembangan industri
tekstil akan meningkatkan risiko kerusakan lingkungan jika limbah
yang dihasilkan tidak diolah dengan baik.

Apa resiko kerusakan yang terjadi???
Resiko yang paling mengganggu dari
limbah industri tekstil adalah kandungan zat
warna.




Zat warna yang dikandung limbah industri
tekstil dapat mengganggu kesehatan,
misalnya iritasi kulit dan iritasi mata hingga
menyebabkan kanker. Selain itu, zat warna
juga dapat menyebabkan terjadinya mutagen
(Mathur, 2005).


Beberapa investigasi menunjukkan bahwa:
limbah industri tekstil yang dibuang ke perairan masih
mengandung kandungan zat warna dan COD
(ChemicalOxygen Demand) yang tinggi. Kondisi ini terjadi
akibat belum berkembangnya teknologi pengolahan limbah
yang murah.
Sebagian besar zat warna yang digunakan dalam
pabrik tekstil mengandung senyawa benzen.
Limbah yang mengandung senyawa aromatik
memerlukan pengolahan khusus sebelum dibuang.
Biaya pengolahan limbah untuk senyawa aromatik
relatif mahal.
Hal ini menyebabkan industri enggan melakukan
pengolahan limbah yang baik dan tepat.
Akibat pengolahan yang memadai, limbah industri
tekstil akhirnya mengotori perairan sehingga
masyarkat tidak dapat menggunakan air dari
perairan tersebut.


Berikut ini gambar salah satu zat yang biasa di
guankan
B.Pengolahan limbah
proses pengolahan limbah berkembang menuju
pengolahan biologis.
Pengolahan limbah dengan bahan kimia mulai ditinggalkan
karena biaya yang relatif mahal.

Salah satu agen biologis yang sekarang diteliti berkaitan
dengan kemampuan yang dimiliki dalam degradasi zat
warna adalah jamur lapuk putih (white rot fungi).

Banyak penelitian telah membuktikan bahwa jamur lapuk
putih memiliki kemampuan mendegradasi limbah zat
warna lebih baik dibandingkan bakteri. Jamur lapuk putih
memiliki kemampuan untuk mendegradasi lignoselulosa,
selulosa, dan lignin.
Substrat berupa lignin dapat didegradasi secara
tuntas oleh jamur ini.
Degradasi lignin dilakukan melalui aktivitas
sekelompok enzim, yaitu lignin peroksidase,
mangan peroksidase, enzim penghasil H2O2,
dan lakase.
Enzim utama yang memulai pemecahan cincin
karbon adalah lakase.
Enzim lainnya terutama bermanfaat dalam
pembuatan dan transfer oksidan.
Aktivitas kelompok enzim pendegradasi lignin
dapat dilihat dalam Gambar 2.
Gambar 2. Oksidasi zat warna oleh
lakase dan mangan peroksidase

Berbagai penelitian yang telah dilakukan terhadap
kemampuan jamur lapuk putih dalam proses
penghilanganwarna menunjukkan hasil yang
menjanjikan. Beberapa penelitian pengolahan limbah
pewarna menghasilkan 90% penghilangan warna
dengan biaya operasi relatif kecil. Konfigurasi reaktor
yang sekarang sedang dikembangkan adalah reaktor
unggun tetap termodifikasi (modified packed bed).
Dalam bioreaktor unggun tetap termodifikasi, limbah
yang mengandung zat warna dimasukkan ke dalam
bioreaktor dalam jangka waktu perendaman tertentu.
Limbah kemudian dikeluarkan dari bioreaktor untuk
memberi jamur kesempatan tumbuh dan menghasilkan
enzim. Setelah jangka waktu tertentu, limbah kembali
dimasukkan ke dalam bioreaktor untuk diolah lebih lanjut
C.Metodologi
Penelitian diawali dengan penyiapan biakan jamur dalam
cawan Petri berisi medium padat potato dextrose agar (PDA).
Biakan kemudian dikultivasi ke spons luffa yang telah direndam
dalam medium Kirk.
Setelah biakan siap, spons dimasukkan ke dalam bioreaktor
pengolahan limbah.
Limbah yang digunakan adalah limbah sintetik yang dibuat dari
pewarna indigo dengan konsentrasi 100 ppm. Perendaman
limbah dilakukan selama 15 menit dan 30 menit dengan selang
waktu antar perendaman selama 6 jam. Setelah 8 hari,
dilakukan penambahan pewarna dengan konsentrasi yang
sama. Penambahan pewarna dilakukan sebanyak 3 kali.
Gambar 3. Diagram dan gambar sistem bioreaktor
unggun tetap termodifikasi
untuk pengolahan limbah pewarna
Marasmius sp.
di spons luffa

Fungi
support
tray
Sampel awal diambil sesaat setelah setiap penambahan
pewarna. Sampel selanjutnya diambil setiap hari setelah
limbah mengalami 4 kali perendaman.
Analisis sampel yang dilakukan adalah analisis intensitas
warna, konsentrasi protein, dan aktivitas enzim lakase..
Analisis awal intensitas warna dilakukan dengan
menggunakan Spectrofotometer UV-Vis.
Pengamatan intensitas warna selanjutnya dilakukan
dengan menggunakan Spectrofotometer Spectronic 20
pada panjang gelombang 661 nm. Analisis konsentrasi
protein dilakukan dengan menggunakan uji Bradford
sesuai prosedur yang dijelaskan Bradford (Bradford,
1976). Sementara itu, aktivitas enzim lakase diuji dengan
bantuan reagen ABTS (2,2'- AZINO-bis [3-
ethylbenziazoline-6-sulfonic acid]) (Bar, 2001).
D.Hasil Dan Diskusi
Dengan menggunakan metodologi di atas, terjadi
penghilangan warna limbah tekstil yang cukup signifikan.
Gambar 4 menunjukkan deretan sampel
pengolahan limbah tekstil selama delapan hari pada
pengolahan indigo dengan sistem waktu imersi 15
menit. Vial paling kiri (bertutup merah) pada Gambar 4
merupakan limbah yang belum mengalami pengolahan
dan delapan vial berikutnya adalah sampel yang diambil
setiap hari
Secara visual dapat terlihat terjadinya penghilangan
warna indigo (biru) secara signifikan.
Pada hari kedelapan, warna sampel menjadi berwarna
kuning yang merupakan warna dari medium awal.
Penghilangan warna yang cukup memuaskan
Gambar 4. Sampel pengolahan limbah tekstil
selama delapan hari.


Secara kuantitatif, terjadinya penghilangan warna dapat
dilihat pada Gambar 5a dan 5b . Gambar 5a adalah
kurva absorbansi sampel pada panjang gelombang 190-790
A sebelum dilakukan pengolahan sementara Gambar 5b
adalah kurva absorbansi sampel pada panjang gelombang
190-790 A pada hari kedelapan sesudah dilakukan
pengolahan. Pada sampel yang belum mengalami
pengolahan, terlihat adanya satu puncak pada rentang
panjang gelombang warna tampak, yaitu pada 661 nm.
Puncak ini adalah puncak untuk warna indigo. Pada sampel
yang telah diolah delapan hari, terlihat bahwa puncak pada
panjang gelombang 661 nm telah tidak ada dan tidak ada
lagi puncak gelombang pada panjang gelombang warna
tampak.
Gambar 5a Gambar 5b

Bila setelah mengalami pengolahan ternyata
terdapat
puncak pada panjang gelombang lain pada
rentang sinar tampak, maka peristiwa yang
terjadi hanyalah perubahan struktur indigo
menjadi struktur aromatik yang lain.
Ketidakadaan puncak pada panjang gelombang
sinar tampak menunjukan bahwa rantai aromatik
pada pewarna indigo telah sepenuhnya
teruraikan. Kedua variasi yang dilakukan
memiliki pola pengurangan puncak absorbansi
yang sama. Pengurangan puncak absorbansi
pada sampel sebelum perlakuan dan sampel
akhir pada siklus pertama dapat dilihat dalam
Gambar 5.
Analisis konsentrasi protein menunjukkan kenaikan
jumlah protein setiap penambahan pewarna.
Konsentrasi protein total tertinggi teridentifikasi pada
akhir siklus ketiga. Hasil pengujian keseluruhan
penelitian penghilangan warna pada pewarna indigo
pada panjang gelombang 661 nm memberikan data
yang tertera pada Gambar 6. Pada Gambar ini, terlihat
bahwa pada siklus pertama, laju pengurangan warna
untuk waktu imersi 30 menit lebih cepat dibandingkan
laju pengurangan warna untuk waktu imersi 15 menit.
Namun demikian, pada siklus kedua, laju pengurangan
warna untuk waktu imersi 30 menit mengalami
penurunan kecepatan sementara laju pengurangan
warna untuk waktu imersi 15 menit tidak banyak
berubah. Pada siklus ketiga, laju pengurangan warna
untuk waktu imersi 30 menit mengalami penurunan yang
signifikan. Penurunan laju pengurangan ini disebabkan
karena pada waktu imersi 30 menit telah terjadi wash
out.


Seperti yang telah diketahui, penguraian zat warna terjadi
karena adanya berbagai enzim pendegradasi lignin yang dikeluarkan
oleh jamur lapuk putih (Champagne, 2005). Pada penelitian yang
telah dilakukan terhadap jamur lapuk putih, diketahui bahwa enzim
yang berperan pada sebagian besar penghilangan zat warna adalah
enzim lakase (Couto, 2004). Pada pengujian dengan menggunakan
ABTS, aktivitas enzim lakase bervariasi dari waktu ke waktu.
Aktivitas enzim lakase tertinggi yang tercapai pada proses
pengolahan indigo adalah 0,0079 U/mL pada waktu imersi 15 menit
dan 0,007 U/mL pada waktu imersi 30 menit. Dari hasil ini, dapat
terlihat bahwa sistem imersi 15 menit memberikan waktu yang lebih
banyak bagi Marasmius sp. untuk memproduksi enzim. Namun
demikian, dari
gambar 6
terlihat bahwa perbedaan pengurangan warna untuk waktu imersi
15 dan 30 menit tidak berbeda jauh. Selain itu, terkadang aktivitas
enzim sangat rendah hingga terdeteksi setelah waktu yang lama.
Namun demikian,penghilangan warna tetap terjadi. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa enzim ligninolitik
lain turut berperan dalam penghilangan zat warna.
Gambar 6. Penghilangan zat warna pada tiga siklus
E.Kesimpulan
Dengan menggunakan sistem bioreaktor
unggun tetap termodifikasi dengan jamur lapuk
putih dapat dilakukan penghilangan warna
limbah tekstil yang efektif dan murah. Waktu
imersi harus dipilih sebaik mungkin agar sistem
tetap stabil dalam jangka waktu yang lama.
Pada hasil penelitian ini, ditunjukkan bahwa
waktu imersi 15 menit lebih baik dari waktu
imersi 30 menit. Selain itu, terlihat bahwa
penghilangan warna oleh Marasmius sp. terjadi
bukan hanya karena keberadaan enzim lakase.
F.Daftar Pustaka
Bar, M., (2001), Kinetics and Physico-Chemical Properties Of White-Rot
Fungal Laccases, Department of Microbiology and Biochemistry, University
of the Free State, Bloemfontein.
Bhmer, U., Suhardi, S. H. dan Bley, T., (2006), Decolorizing Reactive
Textile Dyes with White-Rot Fungi by Temporary Immersion Cultivation,
Engineering in Life Sciences, Volume 6, Issue 4 , Pages 417 - 420
Bradford, M. M. A, (1976), Rapid and Sensitive for The Quantitation of
Microgram Quantities of Protein Utilizing The Principle of Protein Dye
Binding, Analytical Biochemistry, 72:248-254. 1976
Champagne, P. P., J. A. Ramsay, (2005), Contribution of manganese
peroxidase and laccase to dye decoloration by Trametes versicolor. Appl
Microbiol Biotechnol 69: 276285.
Mathur, N., P. Bhatnagar, P. Bakre, (2005), Assessing Mutagenicity of
Textile Dyes From Pali (Rajasthan) Using Ames Bioassay. Applied ecology
and environmental research 4(1): 111-118.
Couto, S. R. , M. A. Sanroman, D. Hofer, G. M. Gbitz, (2004), Production
of Laccase by Trametes hirsuta Grownin an Immersion Bioreactor and its
Application in the Decolorization of Dyes from a Leather Factory, Eng. Life
Sci., 4, No. 3 (233-237).


THANKS FOR YOUR
ATTENTION