Anda di halaman 1dari 32

Makalah PAI Metodologi Pemahaman Islam

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, diyakini dapat menjamin
terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Didalamnya terdapat berbagai
petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara
lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai
kehidupan manusia, sebagaimana terdapat didalam sumber ajarannya, al-quran dan hadist,
tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, dengan
senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis,
berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan,
mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan sikap-sikap positif lainnya.
Gambaran ajaran Islam yang demikian ideal itu pernah dibuktikan dalam sejarah dan
manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia. Namun, kenyataan Islam sekarang
menampilkan keadaan yang jauh dari citra ideal tersebut. Ibadah yang dilakukan umat Islam
seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya hanya berhenti pada sebatas membayar
kewajiban dan menjadi lambang keshalehan, sedangkan buah dari ibadah yang berdimensi
kepedulian social sudah kurang tampak.
Sekarang, mungkin sudah saatnya kita mengembangkan indikasi keberagaman yang agak
berbeda dengan yang kita miliki selama ini. Meningkatnya jumlah orang mengunjungi rumah-
rumah ibadah, berduyun-duyunnya orang pergi haji, dan sering munculnya tokoh-tokoh dalam
acara social agama, sebenarnya barulah indikasi permukaan saja dalam masyarakat kita. Indikasi
semacam ini tidak menerangkan tentang perilaku keagamaan yang sesungguhnya, dimana nilai-
nilai keagamaan menjadi pertimbangan utama dalam berfikir maupun bertindak oleh individu
maupun sosial.
Dalam rangka mencapai suatu intepretasi yang tepat dalam memahami agama dengan
segala aspek yang terkandung di dalamnya diperlukan metode-meode yang dapat dipergunakan
untuk mendapat pemahaman yang tepat. Islam yang diturunkan di Arab lahir dan berkembang
seiring dengan adat budaya Arab. Hal ini memerlukan pengkajian yang komprehensif sebab
sumber agama Islam yakni Al Quran dan Sunah berbahasa Arab. Sehingga untuk memahaminya
wajib untuk memahami bahasa Arab. Berdasasarkan uraian di atas, penulis bermaksud untuk
menyusun sebuah makalah dengan judul Metodologi Pemahaman Islam.

I.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan metodologi?
2. Apa sajakah kegunaan metodologi?
3. Apa yang dimaksud metodologi pemahaman islam?
I.3. TUJUAN DAN MANFAAT
1. Untuk mengetahui definisi metodologi.
2. Untuk mengetahui kegunaan metodologi.
3. Untuk mengetahui definisi metodologi pemahaman islam.


BAB II
PEMBAHASAN

II.1. PENGERTIAN METODOLOGI

Dalam membahas metodologi pemahaman islam kita harus memahami pengertian
metodologi itu sendiri. Secara harfiah, kata metodologi berasal dari bahasa Greek, yakni
metha yang berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Sedangkan logos berarti ilmu
pengetahuan yang membahas tentang cara atau jalan yang harus dilalui . Jadi metodologi
pemahaman islam adalah ilmu yang membicarakan cara - cara memahami islam secara efektif
dan efisien.
Dalam rangka mencapai suatu intepretasi yang tepat dalam memahami agama dengan
segala aspek yang terkandung di dalamnya diperlukan metode-meode yang dapat dipergunakan
untuk mendapat pemahaman yang tepat. Menjawab berbagai masalah yang dihadapi saat ini,
diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman islam yang utuh dan komprehensif.
Dalam hubungan ini Mukti Ali pernah mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang
sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu.

II.2. KEGUNAAN METODOLOGI

Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13M. Hingga saat ini, fenomena pemahaman ke-
Islaman umat Islam Indonesia masih ditandai oleh keadaan amat variatif. Kondisi pemahaman
ke-Islaman serupa ini barangkali terjadi pula di berbagai negara lainnya. Kita misalnya melihat
adanya sejumlah orang yang pengetahuannya tentang ke-Islaman cukup luas dan mendalam,
namun tidak terkoordinasi dan tidak tersusun secara sistematis. Hal ini disebabkan karena orang
tersebut ketika menerima ajaran Islam tidak sistematik dan tidak terorganisasikan secara baik.
Mereka biasanya datang dari kalangan ulama yang belajar ilmu ke-Islaman secara otodidak atau
kepada berbagai guru yang antara satu dan lainnya tidak pernah saling bertemu dan tidak pula
berada dalam satu acuan yang sama semacam kurikulum.
Selanjutnya kita melihat pula munculnya paham ke-Islaman bercorak tasawuf yang
sudah mengambil bentuk tarikat yang terkesan kurang menampilkan pola hidup yang seimbang
antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi. Dalam tasawuf ini, kehidupan dunia terkesan
diabaikan. Umat terlalu mementingkan urusan akhirat, sedangkan urusan dunia menjadi
terbengkalai. Akibatnya keadaan umat menjadi mundur dalam bidang keduniaan, materi dan
fasilitas hidup lainnya.
Dari beberapa uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa metode memiliki peranan
sangat penting dalam kemajuan dan kemunduran. Untuk mencapai suatu kemajuan, kejeniusan
saja belum cukup, melainkan harus dilengkapi dengan ketepatan memilih metode yang akan
digunakan untuk kerjanya dalam bidang pengetahuan. Metode yang tepat adalah masalah
pertama yang harus diusahakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Kewajiban pertama
bagi setiap peneliti adalah memilih metode yang paling tepat untuk riset dan penelitinya. Kini
disadari bahwa kemampuan dalam menguasai materi keilmuan tertentu perlu diimbangi dengan
kemampuan dibidang metodologi sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat dikembangkan.

II.3. METODOLOGI PEMAHAMAN ISLAM

3.1. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG ISLAM

Ada dua sisi yang dapat digunakan untuk memahami pengertian Agama Islam, yaitu sisi
kebahasaan dan sisi peristilahan. Kebahasaan Islam dari bahasa Arab salima selamat, sentosa dan
damai. Kemudian Aslama berserah diri masuk dalam kedamaian.
NUR CHOLIS MAJID : Sikap pasrah kepada Tuhan adalah merupakan hakikat dari pengertian islam.
MAULANA MUHAMMAD ALI : Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokok yaitu keesaan Allah dan kesatuan
atau persaudaraan ummat manusia menjadi bukti nyata.
Dari sisi peristilahan dalam memberi pengertian para ilmuwan beragama dalam
memberi pengertian antara lain adalah :
Ahmad Abdullah Al-Masdoosi (1962) :
Islam adalah Kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke muka
bumi, dan terbina dalam bentuknya terakhir dan sempurna dalam al-Quran yang suci yang
diwahyukan Tuhan Kepada Nabi-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad Ibnu Abdullah, satu
kaidah yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia baik
spritual maupun material.

Pengertian Islam menurut Maulana Ali dapat dipahami dari Firman Allah surat Al-Baqorah ayat
208 :



Hai Orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Kedamaian/Islam secara menyeluruh
dan jangan kamu ikuti langkah-langkah Setan. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagimu
Kata yang dalam ayat diatas diterjemahkan kedamaian atas Islam, makna dasarnya adalah
damai atau tidak mengganggu.
HARUN NASUTION: Islam sebagai agama adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat
manusia melalui nabi Muhammad sebagai rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran
yang bukan hanya satu segi, tetapi mengenai beberapa segi dari kehidupan manusia.
ORIENTALIS : islam sering di identikkan dengan Mohammadanism dan Mohammedan. Peristilahan ini
disamakan pada umumnya agama diluar Islam yang namanya disandarkan kepada nama
pendirinya.
Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah
kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum yang mengatur hubungan
manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta.

3.2. BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM

Perjalanan Islam sampai kini telah melampui kurun waktu yang cukup lama dan
dipeluk oleh manusia diseluruh penjuru dunia. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai
sungai yang besar dan panjang. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih
serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar,
berliku-liku dan bercabang-cabang. Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan
sampah. Geraknyapun menjadi lamban.
Setiap pemikiran yang kemudian didukung oleh sekelompok orang, idenya muncul dan
nafasnya dihembuskan oleh semangat tokoh pemikir. Setiap pemikir ketika melontarkan gagasan
atau buah pikirannya tidak lepas oleh situasi lingkungan yang dihadapi , pandangan hidup dan
sikap politiknya. Menurut Sosiologi pemikiran teologi dan filosofi selalu terkait dengan politik
atau kemasyarakatan, demikian juga sebaliknya. Jika teori ini benar, maka kajian pemikiran
Islam hanya dibagi dalam bidang teologi (kalam), sufisme dan filsafat saja dengan meninggalkan
ketatanegaraan(politik) dan hukum, menjadi sebuah kajian yang tidak lengkap. Dengan demikian
untuk menghasilkan Islam secara utuh dan menyeluruh perlu menatapnya dari berbagai situasi
yang mengitari disekitar kalahiran Islam tersebut serta tokoh-tokoh yang mengembangkannya.
Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi
pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih
kompleks hingga hari ini. Namun demikian, masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam
dan untuk diri sendiri.
Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup, karena metode dan
pendekatan dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode
yang bersifat teologis dan normatif. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang
ada dalam buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah
sudah komprehensif.
Kami mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai
dari berbagai literaratur ke-islaman.
Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam, karya Ali Syariati dijumpai uraian
singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi.
Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja,
maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin
kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup apabila kita memahami secara
keseluruhan. Dengan berpedoman kepada semangat dan isi ajaran al-Quran yang diketahui
mengandung banyak aspek. Berbagai aspek yang ada dalam al-Quran jika dipelajari secara
menyeluruh akan menghasilkan pemahaman Islam yang menyeluruh.
Ali Syariati lebih lanjut mengatakan, ada berbagai cara memahami Islam :
a. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain
b. Dengan mempelajari Kitab suci Al-Quran dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi
(atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya.
c. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar
pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah.
d. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama
maupun aliran-aliran pemikiran lain.
Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Secara akademis suatu
perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Perbandingan menghendaki obyektifitas, tidak
ada pemihakan, blank mind, tidak ada pra-konsepsi dan semacamnya. Hal ini biasanya sulit
dilakukan oleh seorang yang meyakini kebenaran suatu agama yang dianutnya. Pendekatan
komparasi dalam memahami agama kelihatannya baru akan efektif apabila dilakukan oleh
seorang yang baru mau beragama. Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi, Ali
Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. Tugas intelektual
hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan
kehidupan manusia, perseorangan maupun masyarakat.
NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati
menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Memahami Islam secara
menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Begitulah cara paling minimal untuk
memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan
untuk menumbuhkan sikap yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. Untuk memahami agama
Islam secara benar Nasruddin Razak mengajukan empat cara :
1. Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Quran dan hadits. Kekeliruan memahami
Islam, karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari
bimbingan Al-Quran dan Al-Sunah, atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan
tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam
dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme,
yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni.
2. Islam harus di pelajari dengan integral, tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara
menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Memahami Islam secara
persial akan membahayakan, menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
3. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-
sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu
pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Quran dan Sunnah
Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.
4. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Quran, baru
kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosiologis yang ada di
masyarakat.
Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan diatas, akhir-akhir ini
sangat diperlukan dalam upaya menunjukan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran islam itu
sendiri.
Selain itu Mukti Ali juga mengajukan pendapat tentang metode memahami Islam
sebagaimana yang dikemukakan oleh Ali Syariati yang menekankan pentingnya melihat Islam
secara menyeluruh. Dalam hubungan ini Mukti Ali mengatakan, apabila kita melihat Islam hanya
dari satu segi saja, maka kita hanya akan melihat satu dimensi dari fenomena-fenomena yang
multi faset (terdiri dari banyak segi), sekalipun kita melihatnya itu betul. Islam seharusnya
dipahami secara bulat, yaitu pemahaman Islam dipahami secara komprehensif.
Metode lain yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode ini banyak ahli
sosiologi dianggap obyektif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu
dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Metode ini juga untuk
memahami agama Islam, juga agama-agama lain, kita dapat mengindentifikasi lima aspek dari
ciri yang sama dari agama lain, yaitu 1)aspek ketuhanan 2)aspek kenabian 3)aspek kitab suci dan
4)aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-
individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
Agar kita dapat memahami dengan betul ciri-ciri tuhan, kita harus kembali kepada al-
Quran dan Hadis Nabi serta keterangan yang diberikan para pemikir Muslim dalam bidang itu.
Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk
memahami Islam secara garis besar ada dua macam. Pertama metode Komparasi, yaitu suatu
cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam
tersebut dengan agama lainnya, dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang
obyektif dan utuh. Kedua, Metode sintesis yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan
antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional obyektif, kritis dan seterusnya dengan
metode teologis normatif.

Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci.
Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama
yang mutlak benar. Hal ini didasarkan pada alasan, karena agama bersal dari Tuhan, dan apa
yang berasal dari Tuhan Mutlak benar, maka agamapun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan
dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia
yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua
usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh dan militan pada Islam,
sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan
kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta
memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.


BAB III
PENUTUP

III.1. KESIMPULAN

Mukti Ali menyatakan bahwa dalam mempelajari dan memahammi Islam terdapat 3
(tiga) cara yang jelas yakni naqli (tradisional), aqli (rasional) dan kasyfi (mistis). Ketiga
pendekatan tersebut telah ada dalam pola pemikiran Rasulullah SAW dan terus dipergunakan
oleh para ulama Islam setelah beliau wafat hingga saat ini. Ketiga metode tersebut dalam
operasionalnya lebih dikenal dengan istilah pendekatan bayani, irfani dan burhani. Islam adalah
agama yang diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasul-rasul-Nya berisi hukum-hukum
yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan
alam semesta.



DAFTAR PUSTAKA

Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, 2006, Jakarta: Amanah, Hlm. 147
Abuddin NT, Metodologi Studi Islam, 2009, Jakarta: Rajawali Pers,Hlm.95
http://amiee43.blogspot.com/2012/10/makalah-pai-metodologi-pemahaman-islam.html

Pengertian, Ruang Lingkup dan Objek Kajian Studi Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Studi-studi agama dewasa ini mengalami perubahan orientasi yang jauh berbeda jika dibandingkan
dengan kajian-kajian agama sebelum abad ke-19. Umumnya pengkajian agama sebelum abad ke-19
memiliki beberapa karakteristik yang antara lain, sinkritisme, penemuan arca baru, dan untuk
kepentingan misionari dipicu oleh semangat dan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga orientasi dan
metodologi studi islam mengalami perubahan.
Adapun studi islam sendiri merupakan ilmu keislaman mendasar. Dengan studi ini, pemeluknya
mengetahui dan menetapkan ukuran ilmu, iman dan amal perbuatan kepada allah swt. Diketahui pula
bahwa islam sebagai agama yang memiliki banyak dimensi yaitu mulai dari dimensi keimanan, akal
fikiran, politik ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan hidup, dan masih banyak lagi yang
lainnya. Untuk memahami berbagai dimensi ajaran islam tersebut jelas memerlukan berbagai
pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Selama ini islam banyak dipahami dari segi teologis
dan normative.

B. RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini agar lebih mudah untuk dipahami maka penulis berupaya untuk memberikan
batasan hingga dapat dimengerti dengan jelas isi makalah ini sendiri secara baik dengan rumusan
sebagai berikut:
1. Apakah pengertian studi Islam
2. Bagaimanakah Ruang lingkup studi Islam
3. Kedudukan pengantar studi Islam
4. Islam sebagai objek kajian
5. Islam normatif dan historis
C. TUJUAN MASALAH
Mengetahui pengertian studi islam
Mengetahui ruang lingkup studi islam
Mengetahui kedudukan pengantar studi islam
Mengetahui islam sebagai objek kajian
Mengetahui islam normatif dan historis

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Studi Islam
Studi Islam secara etimologis merupakan terjemahan dari Bahasa Arab Dirasah
Islamiyah. Sedangkan Studi Islam di barat dikenal dengan istilah Islamic Studies. Maka studi Islam
secara harfiah adalah kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Makna ini sangat umum
sehingga perlu ada spesifikasi pengertian terminologis tentang studi Islam dalam kajian yang sistematis
dan terpadu. Dengan perkataan lain, Studi Islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui
dan memhami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan
dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya
secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.[1]
Studi Islam diarahkan pada kajian keislaman yang mengarah pada tiga hal: 1) Islam yang bermuara
pada ketundukan atau berserah diri, 2) Islam dapat dimaknai yang mengarah pada keselamatan dunia
dan akhirat, sebab ajaran Islam pada hakikatnya membimbing manusia untuk berbuat kebajikan dan
menjauhi semua larangan, 3) Islam bermuara pada kedamaian.[2]
Usaha mempelajari agama Islam tersebut dalam kenyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh
kalangan umat Islam saja, melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang di luar kalangan umat Islam.
Studi keislaman di kalangan umat Islam sendiri tentunya sangat berbeda tujuan dam motivasinya dengan
yang dilakukan oleh orang-orang di luar kalangan umat Islam. Di kalangan umat Islam, studi keislaman
bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat
melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar. Sedangkan di luar kalangan umat Islam, studi
keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk-beluk agama dan praktik-praktik keagamaan yang berlaku
di kalangan mat Islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan (Islamologi). Namun sebagaimana
halnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya, maka ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk
agama dan praktik-praktik keagamaan Islam tersebut bisa dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan-
tujuan tertentu, baik yang bersifat positif maupun negative.
Para ahli studi keislaman di luar kalangan umat Islam tersebut dikenal dengan kaum orientalis
(istisyroqy), yaitu orang-orang Barat yang mengadakan studi tentang dunia Timur, termasuk di kalangan
dunia orang Islam. Dalam praktiknya, studi Islam yang dilaukan oleh mereka, terutama pada masa-masa
awal mereka melakukan studi tentang dunia Timur, lebih mengarahkan dan menekankan pada
pengetahuan tentang kekurangan-kekurangandan kelemahan-kelemahan ajaran agama Islam dan
praktik-praktik pemgalaman ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari uamat Islam. Nmaun, pada
masa akhir-akhir ini banyak juga di antara para orientalis yang memberikan pandangan-pandangan yang
objektif dan bersifat ilmiah terhadap Islam dan umatnya. Tentu saja pandangan-pandangan yang
demikian itu kan bisa bermanfaat bagi pengembangan studi-studi keislaman di kalangan umat Islam
sendiri.
Kenyataan sejarah menunjukkan (terutama setelah masa keemasan Islam dan umat Islam sudah
memasuki masa kemundurannya) bahwa pendekatan studi Islam yang mendominasi kalangan umat
Islam lebih cenderung bersifat subjektif, apologi, dan doktriner, serta menutup diri terhadap pendekatan
yang dilakukan orang luar yang bersifat objektif dan rasional. Dengan pendekatan yang bersifat subjektif
apologi dan doktriner tersebut, ajaran agama Islam yang bersumber dari al-Quran dan hadits yang
pada dasarnya bersifat rasional dan adaptif terhadap tuntutan perkembangan zaman- telah berkembang
menjadi ajaran-ajaran yang baku dan kaku serta tabu terhadap sentuhan-sebtuhan rasional, tuntutan
perubahan, dan perkembangan zaman. Bahkan kehidupan serta keagamaan serta budaya umat Islam
terkesan mandek, membeku dan ketinggalan zaman. Ironisnya, keadaan yang demikian inilah yang
menjadi sasaran objek studi dari kaum orientalis dalam studi keislamannya.[3]

B. Ruang Lingkup Studi Islam
Agama sebagai obyek studi minimal dapat dilihat dari tiga sisi:
1. Sebagai doktrin dari tuhan yang sebenarnya bagi para pemeluknya sudah final dalam arti absolute,
dan diterima apa adanya.
2. Sebagai gejala budaya, yang berarti seluruh yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan
agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
3. Sebagai interaksi sosial, yaitu realitas umat islam.

Bila islam dilihat dari tiga sisi, maka ruang lingkup studi islam dapat dibatasi pada tiga sisi tersebut.
Oleh karena sisi doktrin merupakan suatu kenyakinan atas kebenaran teks wahyu, maka hal ini tidak
memerlukan penelitian didalamnya.[4]

C. KEDUDUKAN STUDI ISLAM DENGAN MATA KULIAH LAIN
Seiring berkembangnya zaman, mempelajari metodologi studi islam diharapkan dapat mengarahkan
kita untuk untuk mengadakan usaha-usaha pembaharuan dalam pemikiran aiaran-ajaran islam yang
merupakan warisan doktriner yang dianggap sudah mapan dan sudah mandek serta ketinggalan zaman
tersebut, agar mampu beradaptasi serta menjawab tantangan serta tuntutan zaman dan modernisasi
dunia dengan tetap berpegang terhadap sunber agama islam yang asli, yaitu al-quran dan as-sunnah.
Mempelejari metodologi studi islam juga diharapkan mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup
bagi umat islam agar tetap menjadi muslim yang sejati yang mampu menjawab tantangan serta tuntutan
zaman modern maupun era-globalisasi sekarang ini[5]
Maka dari itu kedudukan studi islam sangatlah penting peranannya dari semua disiplin ilmu lain yang
menyangkut tentang aspek islam, karena studi islam merupakan disiplin ilmu yang menerangkan dasar
seseorang dalam beragama. Oleh karenanya diharapkan mata kuliah ini harus ada dalam setiap studi
ilmu khususnya di Indonesia.
Dengan mempelajari studi islam, Mahasiswa diharapkan mempunyai pegangan hidup yang pada
akhirnya dapat menjadi muslim sejati.

D. ISLAM SEBAGAI OBJEK KAJIAN
Dari fenomena sosial yang terjadi di dalam masyarakat, Islam memang menarik untuk dijadikan
sebagai objek kajian dan dalam mengkaji Islam, tentu kita harus berpedoman pada dua sumber
otentiknya yakni Alquran dan hadis.
Orang yang memeluk Agama Islam, yang disebut muslim adalah orang yang bergerak menuju
ketingkat eksistensi yang lebih tinggi. Demikian yang tergambar dalam konotasi yang melekat dalam kata
Islam apabila kita melakukan suatu kajian tentang arti Islam itu sendiri.
Untuk memecahkan masalah yang timbul dalam masyarakat, maka seorang muslim mengadakan
suatu penafsiran terhadap Alquran dan hadis sehingga timbullah pemikiran Islam, baik yang bersifat
tekstual maupun kontekstual.
Islam sebagai agama, pemikiran atau penafsiran Alquran dan hadis, juga sebagai objek kajian,
sebuah sistem yang hidup dan dinamis. Sistem ini meliputi sebuah matriks mengenai nilai dan konsep
yang abadi. Hidup dan realistis sehingga memberikan karakter yang unik bagi peradaban. Karena Islam
merupakan suatu sistem total, maka nilai dan konsep ini menyerap setiap aspek kehidupan manusia.
Islam sebagai agama teologis juga merupakan agama pengetahuan yang melahirkan beragan
pemikiran, lahirnya pemikiran ini memberi indiksi yang kuat bahwa pada dataran pemahaman dan
aktualisasi nilai Islam merupakan suatu wujud keterlibatan manusia dalam Islam, dan bukan berarti
mereduksi atau mentransformasikan doktrin esensialnya. Bukankah dalam Islam telah memotivasi
pelibatan akal pikiran untuk dikenali, diketahui dan diimplementasikan ajarannya (QS. 96;1). Ajarannya
yang berbentuk universal hanya bisa ditangkap dalam bentuk nilai, sehingga ketika ia turun dan jatuh ke
tangan manusia, ia baru menjadi bentuk (Muhammad Wahyudi Nafis, 7).
Jadi, ketika pemikiran hendak masuk dalam wilayah Islam untuk dikaji dengan beragam intensi dan motif,
sudut pandang atau perspektif, metodologi dan berbagai aspeknya, maka dalam proses dan bentuknya
kemudian, Islam dapat dipandang sebagai pemikiran. Islam yang ditunjuk di sini tentu bukan saja apa
yang terdapat dalam Alquran dan hadis (tekstuan dan skriptual) tetapi mencakup juga Islam yang berupa
pemahaan dan pengejawantahan nilai-nilainya.[6]
Islam berbentuk nilai-nilai, jika pemikiran (akal pikiran) dilibatkan dalam proses memahami dan
mengaktualisasikannya dalan senarai sejarah Pemikiran Islam terpotret bagaimana pemikiran peminat
studi Islam memberi andil kreatif dan signifikan terhadap bangunan pemahaman ajaran Islam dalam
berbagai dimensinya yang melahirkan berbagai jenis pengetahuan Islam (ulumul Islam) seperti teologis,
filsafat Islam, ulumul Quran dan hadis, ilmu-ilmu syariah dan sebagainya.
Jadi, mengkaji Islam sebagai pemikiran berarti mempelajari apa yang dipahami oleh pemikir-pemikir
yang telah mengkaji ajaran-ajaran Islam yang melahirkan bentuk pemahaman atau kajian tertentu.

E. ISLAM NORMATIF DAN HISTORIS
1. Islam Normatif
Islam normatif adalah islam pada dimensi sakral yang diakui adanya realitas transendetal yang
bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau sering disebut realitas ke-Tuhan-an.[7]
Kajian islam normatif Melahirkan tradisi teks : tafsir, teologi, fiqh, tasawuf, filsafat.
Tafsir : tradisi penjelasan dan pemaknaan kitab suci
Teologi : tradisi pemikiran tentang persoalan ketuhanan
Fiqh : tradisi pemikiran dalam bidang yurisprudensi (tata hukum)
Tasawuf : tradisi pemikiran dan laku dalam pendekatan diri pada Tuhan
Filsafat : tradisi pemikiran dalam bidang hakikat kenyataan, kebenaran dan
2. Islam Historis
Islam historis adalah islam yang tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang
berada dalam ruang dan waktu. Islam yang terangkai dengan konteks kehidupan pemeluknya. Oleh
karenanya realitas kemanusiaan selalu berada dibawah realitas ke-Tuhan-an.[8]
Dalam pemahaman kajian Islam historis, tidak ada konsep atau hukum Islam yang bersifat tetap.
Semua bisa berubah. Mereka berprinsip: bahwa pemahaman hukum Islam adalah produk pemikiran para
ulama yang muncul karena konstruk sosial tertentu. Mereka menolak universalitas hukum Islam. Akan
tetapi, ironisnya pada saat yang sama, kaum gender ini justru menjadikan konsep kesetaraan gender
sebagai pemahaman yang universal, abadi, dan tidak berubah. Paham inilah yang dijadikan sebagai
parameter dalam menilai segala jenis hukum Islam, baik dalam hal ibadah, maupun muamalah.[9]
Islam historis merupakan unsur kebudayaan yang dihasilkan oleh setiap pemikiran manusia dalam
interpretasi atau pemahamannya terhadap teks, maka islam pada tahap ini terpengaruh bahkan menjadi
sebuah kebudayaan. Dengan semakin adanya problematika yang semakin kompleks, maka kita yang
hidup pada era saat ini harus terus berjuang untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran untuk mengatasi
problematika kehidupan yang semakin kompleks sesuai dengan latar belakang kultur dan sosial yang
melingkupi kita, yaitu Indonesia saat ini. Kita perlu pemahaman kontemporer yang terkait erat dengan
sisi-sisi kemanusiaan-sosial-budaya yang melingkupi kita.
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat menimbulkan perbedaan dalam
menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normatif, maka Islam merupakan agama
yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan muamalah. Sedangkan
ketika Islam dilihat dari sudut histories atau sebagaimana yang nampak dalam masyarakat, maka Islam
tampil sebagai sebuah disiplin ilmu (Islamic Studies).
Kajian islam historis melahirkan tradisi atau disiplin studi empiris: antropologi agama, sosiologi
agama, psikologi agama dan sebagainya.
Antropologi agama : disiplin yang mempelajari tingkah laku manusia beragama dalam hubungannya dengan kebudayaan.
Sosiologi agama : disiplin yang mempelajari sistem relasi sosial masyarakat dalam
hubungannya dengan agama.
Psikologi agama : disiplin yang mempelajari aspek-aspek kejiwaan manusia dalam
hubungannya dengan agama
3. Hubungan antara kedanya
Hubungan antara keduanya dapat membentuk hubungan dialektis dan ketegangan. Hubungan
Dialektis terjadi jika ada dialog bolak-balik yang saling menerangi antara teks dan konteks. sebaliknya
akan terjadi hubungan ketegangan jika salah satu menganggap yang lain sebagai ancaman.
Menentukan bentuk hubungan yang pas antara keduanya adalah merupakan separuh jalan untuk
mengurangi ketegangan antara kedua corak pendekatan tersebut. Ketegangan bisa terjadi, jika masing-
masing pendekatan saling menegaskan eksistensi dan menghilangkan manfaat nilai yang melakat pada
pendekatan keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing tradisi keilmuan.
Menurut ijtihad, Amin Abdullah, hubungan antara keduanya adalah ibarat sebuah koin dengangan
dua permukaan. Hubungan antara keduanya tidak dapat dipisahkan, tetapi secara tegas dan jelas dapat
dibedakan. Hubungan keduanya tidak berdiri sendiri-sendiri dan berhadap-hadapan, tetapi keduanya
teranyam, terjalin dan terajut sedemikian rupa sehingga keduanya menyatu dalam satu keutuhan yang
kokoh dan kompak. Makna terdalam dan moralitaskeagamaan tetap ada, tetap dikedepankan dan digaris
bawahi dalam memahami liku-liku fenomena keberagaman manusia, maka ia secara otomatis tidak bisa
terhindar dari belenggu dan jebakan ruang dan waktu.[10]

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Arah dan tujuan studi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) Untuk mempelajari secara
mendalam tentang apa sebenarnya (hakikat)agama Islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungannya
dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia; 2) Untuk mempelajari secara mendalam
pokok-pokok isi ajaran agama Islam yang asli, dan bagaimana penjabaran serta operasionalisasinya
dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban Islam sepanjang sejarahnya; 3) Untuk
mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi dan dinamis, dan
bagaimana aktualisasinya; 4) Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nili-nilai dasar
ajaran agama Islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta
mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini
Sedangkan ruang lingkup studi islam meliputi: 1) Sebagai doktrin dari tuhan yang sebenarnya bagi
para pemeluknya sudah final dalam arti absolute, dan diterima apa adanya.Sebagai gejala budaya,
yang berarti seluruh yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk
pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.3) Sebagai interaksi sosial, yaitu realitas umat islam.
Studi islam mempunyai kedudukan yang lebih tinggi disbanding dengan mata kulaih lain, karena
dalam studi islam, mahasiswa dapat belajar secara mendalam tentang dasar beragama dan dapat
menjadikan pegangan dalam hidupnya.
Islam normatif merupakan Islam pada dimensi sakral, Islam ideal atau yang seharusnya, Islam
sebagai realitas transendental, yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau
sering disebut sebagai realitas ke-Tuhan-an. Sedangkan islam historis merupakan islam yang tidak bisa
dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu, Islam yang
senyatanya, yang terangkai oleh konteks kehidupan pemeluknya, dan berada di bawah realitas ke-
Tuhan-an.
Hubungan diantara keduanya dapat berbentuk dialektis maupun ketegangan. Perlu kiranya dikaji dan
ditelaah ulang secara kritis-analitis-akademis dan sekaligus dialektis sesuai denga kaidah keilmuan
historis-empiris pada umumnya. Dengan demikian hubungan antara kedunaya terasa hidup, segar,
terbuka, open ended dan dinamis.

B. SARAN
Kami yakin bahwa tulisan kami ini, masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik dari
pembaca, penulis harapkan sekali demi penyempurnaan tulisan/tugas makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin. 1996. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ali, Mukti. Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam. Cet. II; Bandung: Mizan,
1993

M. Nurhakim, Metode Studi Islam, (Malang: Universitas Muhammadiyah
Malang, 2004)

Muhaimin, et.al.Kawasan dan Wawasan Studi iSlam,(Jakarta: Kencana, 2005)

Muqowim dkk.2005. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN
Sunan Kalijaga

Yusuf, Mundzirin dkk. 2005. Islam dan Budaya Lokal. Yogyakarta: Pokja
Akademik UIN Sunan Kalijaga

http://berlian90.blogspot.com/2013/01/pengertian-ruang-lingkup-dan-objek.html

Metodologi Studi Islam
"Berbagai Pendekatan dalam Studi Islam"

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Agama bukan hanya sekedar lambang kesalehan umat atau topik dalam kitab suci umat
beragama, namun secara konsepsional kehadiran agama semakin dituntut aktif untuk menunjukkan
cara-cara paling efektif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia.

Tuntutan yang demikian itu akan mudah dijawab oleh kita sebagai kalangan intelektual muslim
dan siapa saja tatkala kita sebagai muslim memahami agama kita sendiri, bukan hanya sekedar
pemahaman dengan pendekatan normatif namun juga harus dilengkapi dengan pendekatan lain, yang
secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan umat.
Berdasarkan latar belakang persoalan diatas, maka dirasa penting untuk mengetahui berbagai
pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami , sehingga agama akan terasa lebih bermakna dan
hadir kokoh dalam masyarakat tatkala kita paham akan agama kita.
Oleh karena itu, penulis mencoba memberikan sedikit ulasan dan penjelasan serta pengertian
metodologi studi islam dan metode-metode pendekatannya dengan tujuan untuk sedikit memberikan
pemahaman kepada pembaca mengenai pentingnya penguasaan sebuah studi keagamaan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud metodologi studi islam ?
2. Pendekatan apa yang digunakan dalam metodologi studi islam ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan pengertian metodologi studi islam.
2. Menyebutkan serta menjelaskan macam-macam metode pendekatan yang sering digunakan di dalam
studi islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metodologi Studi Islam
Metodologi berasal dari bahasa Yunani metodos, kata ini terdiri dari dua suku kata
yaitu methayang berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Metode
berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.[1]
Studi Islam adalah kajian yang mengungkapkan fenomena agama dengan berbagai
pandangan kajian dan bukan untuk mempersempit makna agama pada persoalan ketuhanan,
kepercayaan, ibadah, dan sistem peribadatan.
Nata mengatakan bahwa jika dilihat dari segi normatif islam lebih merupakan agama yang
dapat berlaku kepada paradigma ilmu pengetahuan yaitu paradigma analisis, kritis, jika dilihat dari segi
historis islam dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena ia dipraktikan oleh manusia dan tumbuh
serta berkembang dalam kehidupan manusia, sehingga ia bisa disebut sebagai ilmu keislaman atau
islamic studies.
Studi islam merupakan pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran islam yang dipraktikan
dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sedang pengetahuan agama adalah pengetahuan yang
sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran tentang akidah ibadah, membaca Al Quran dan akhlak.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metodologi studi islam adalah sebuah kajian
yang sistematis menggunakan pendekatan empiris tentang islam sebagai ajaran agama dan islam yang
berwujud kebudayaan dalam kehidupan umat islam dengan tujuan untuk dapat lebih memahami islam
secara rasional dan dapat dipraktikan dalam kehidupan umat secara nyata.
B. Pendekatan dalam Studi Islam
1. Pendekatan Teologis Normatif dalam studi islam
Pendekatan teologis normatif termasuk salah satu pendekatan studi islam yang cukup populer
dikalangan umat islam. Pendapat ini dalam memahami agama dengan mengunakan kerangka ilmu
ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap
yang paling benar dibandingkan dengan yang lainya.
Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan
beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Para teolog berupaya
menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar
dalam salah satu bidang dari topik-topik agama. Teologi memampukan seseorang untuk lebih
memahami tradisi keagamaannya sendiri ataupun tradisi keagamaan lainnya, menolong membuat
perbandingan antara berbagai tradisi, melestarikan, memperbaharui suatu tradisi tertentu, menolong
penyebaran suatu tradisi, menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam suatu situasi atau
kebutuhan masa kini, atau untuk berbagai alasan lainnya.[2]
Adapun kata normatif berarti berpegang teguh pada norma, menurut norma atau kaidah yg
berlaku.[3]Sedangkan istilah normatif adalah prinsip atau pedoman yang menjadi petunjuk manusia
pada umumnya untuk hidup bermasyarakat.
Pendekatan teologi dalam pendekatan pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang
menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai
yang paling benar sedangkan yang lainya adalah salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik
bahwa faham-nya lah yang paling benar sedangkan yang lainnya adalah salah, sehingga memandang
faham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya.
Pendekatan teologis ini erat kaitanya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan
yang memandang agama dari segi ajaranya yang pokok dan asli dari tuhan yang di dalamnya belum
terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologi normatif ini agama dilihat sebagai
suatu kebenaran mutlakdari tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tempat bersikap ideal.
Dari uraian diatas, pendekatan ini menunjukkan adanya kekurangan, antara lain: bersifat eklusif,
dogmatis, dan tidak mau mengakui kebenaran agama lain. Kekurangan pendekatan dapat dilengkapi
dengan pendekatan sosiologis.
Sedangkan kelebihan dari pendekatan teologis normatif adalah melalui pendekatan ini seorang
akan memiliki sikap mencintai dalam beragama yakni berpegang teguh kepada agama yang diyakininya
sebagai yang benar tanpa memandang dan meremehkan agama lain. Dengan pendekatan yang demikian
seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya.[4]
2. Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat di artikan sebagai salah satu upaya
memahami agama dengan cara melihat wujud praktis keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat. Antropologi dalam kaitan ini lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya
partisipatif. Penelitian antropologi yang induktif, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau
setidak-tidaknya dengan upaya pembebasan dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya
sangat abstrak sebagai mana yang dilakukan di bidang sosiologis.
Melalui pendekatan antropologis sebagaimana disebut di atas, kita melihat bahwa agama
ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan
ini, maka jika kita ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan
dengan cara mengubah pandangan keagamaanya.
Dengan demikian pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama,
karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan
ilmu antropologi dengan cabang cabangnya.[5]
3. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu tentang kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang
berhubungan dengan masyarakat.Sosiologi didefinisikan secara luas sebagai bidang penelitian yang
tujuannya meningkatkan pengetahuan melalui pengamatan dasar manusia,dan pola organisasi serta
hukumnya.Sosiologi dapat juga diartikan sebagai suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan
masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
Selanjutnya sosiologi digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam studi islam yang mencoba
untuk memahami islam dari aspek sosial yang berkembang dimasyarakat, sehingga pendidikan dengan
pendekatan sosiologis dapat diartikan sebagai sebuah studi yang memanfaatkan sosiologi untuk
menjelaskan konsep pendidikan dan memecahkan berbagai problema yang dihadapinya. Pendidikan
menurut pendekatan sosiologi ini dipandang sebagai salah satu konstruksi sosial atau diciptakan oleh
interaksi sosial. Pendekatan sosiologi dalam praktiknya, bukan saja digunakan dalam memahami
masalah-masalah pendidikan, melainkan juga dalam memahami bidang lainnya, seperti agama sehingga
munculah studi tentang sosiologi agama.
4. Pendekatan Fenomenologis
Ada dua hal yang menjadi karakteristik pendekatan fenomenologi. Pertama, bisa dikatakan
bahwa fenomenologi merupakan metode untuk memahami agama orang lain dalam perspektif
netralitas, dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk mencoba melakukan
rekonstruksi dalam dan menurut pengalaman orang lain tersebut. Dengan kata lain semacam tindakan
menanggalkan diri sendiri, dia berusaha menghidupkan pengalaman orang lain, berdiri dan
menggunakan pandangan orang lain tersebut.
Aspek fenomenologi pertama ini sangatlah fundamental dalam studi Islam. Ia merupakan kunci
untuk menghilangkan sikap tidak simpatik, marah dan benci atau pendekatan yang penuh kepentingan
dan fenomenologi telah membuka pintu penetrasi dari pengalaman keberagamaan Islam baik dalam
skala yang lebih luas atau yang lebih baik. Konstribusi terbesar dari fenomenologi adalah adanya norma
yang digunakan dalam studi agama adalah menurut pengalaman dari pemeluk agama itu sendiri. Hal
yang terpenting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa yang dialami oleh pemeluk agama,
apa yang dirasakan, diakatakan dan dikerjakan serta bagaimana pula pengalaman tersebut bermakna
baginya. Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara, ritual, seremonial,
doktrin, atau relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan pelaku.
Aspek Kedua dari pendekatan fenomenologi adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk
mengklasifikasikan fenomena masyarakat beragama dan berbudaya. Tugas fenomenologis setelah
mengumpulkan data sebanyak mungkin adalah mencari kategori yang akan menampakkan kesamaan
bagi kelompok tersebut. Aktivitas ini pada intinya adalah mencari struktur dalam pengalaman beragama
untuk prinsip-prinsip yang lebih luas yang nampak dalam membentuk keberagamaan manusia secara
menyeluruh.
5. Pendekatan Filosofis
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis
dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-
eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari
solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari
proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan
logika berpikir dan logika bahasa.
Dasar Pendekatan Filsafat Islam
Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi
mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Sumber ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek
itu adalah alquran dan hadis.
Keberadaan filsafat islam menimbulkan pro dan kontra. Sebagian yang berpikiran maju dan
bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam. Bagi mereka yang berpikiran
tradisional kurang mau menerima filsafat.
Islam menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran filsafat, itulah yang disebut filsafat Islam
bukan karena orang yang melakukan kefilsafatan itu orang muslim, tetapi dari segi obyek membahas
mengenai keislaman.
Hubungan filsafat Islam dengan filsafat modern ,secara khusus terdapat berbagai usaha yang
ditujukan untuk menemukan hubungan antara keduanya,baik sumber maupun pengantar-pengantar
filsafat modern. Batasannya yaitu terdapat pola titik persamaan dalam pandangan dan pemikiran.
6. Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan
memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.
Pendekatan kesejarahan amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri
turun dalam situasi yang kongkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam
hubungan ini kuntowijaya telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang yang dalam hal
ini islam menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan
bahwa pada dasarnya kandungan alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi konsep-
konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya
berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama
keluar dari konteks historisnya karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang
memahaminya.seseorang yang ingin memahami alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan
harus mempelajari sejarah turunya alquran atau kejadian kejadian yang mengiringi turunya alquran yang
selanjutnya disebut sebagai ilmu Asbab an Nuzul (ilmu tentang sebab sebab turunya ayat ayat alquran)
yang pada intinya berisi sejarah turunya ayat alquran. Dengan ilmu asbabun Nuzul ini seseorang akan
dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hukum tertentu
dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.
7. Pendekatan Politis
Secara harfiah, politik dapat diartikan sebagai usaha atau rekayasa yang diatur sedemikian rupa
dalam rangka mencapai tujuan. Dengan pengertian ini politik yang dalam bahasa arabnya dikenal
dengan istilah al-siyasah berlaku pada semua aspek kehidupan seperti pendidikan, keluaraga, ekonomi,
budaya, keagamaan, dan lain sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, politik sering dikaitkan
dengan urusan pemerintahan tersebut, tampaknya yang paling menonjol dibandingkan dengan
pengertian politik lainnya.
Politik yang bersifat demokratis akan mewarnai pelaksanaan pendidikan yang demokratis.
Sebaliknya, politik yang bercorak otoriter totaliter akan mempengaruhi pelaksanaan pendidikan yang
bercorak totaliter dan otoriter pula.
Signifikansi dan implikasi politik dan pengembangan madrasah atau pendidikan islam, pada
umumnya, bagi para penguasa muslim sudah jelas. Madrasah-madrasah tersebut didirikan untuk
menunjang kepentingan-kepentingan politik tertentu dari penguasa muslim, diantaranya untuk
menciptakan dan memperkokoh citra penguasa sebagai orang orang yangmempunyai kesalehan, minat,
dan kepedulian kepada kepentingan umat, dan ini lebih penting lagi sebagai pembeda antara ortodoksi
dan lainnya. Semua ini, menurut Azyumardi Azra, pada gilirannya akan memperkuat legitimasi penguasa
berkaitan dengan rakyat yang mereka pimpin.
8. Pendekatan Psikologis
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani, yaitu dari kata psyche yang berarti
"jiwa", dan logos yang berarti ,"ilmu". Jadi, secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang
mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan.
Secara garis besar, psikologi juga banyak kaitannya dengan agama, menurut Jalalludin dalam
bukunya Psikologi Agama, psikologi agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari
tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya
serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing.
Hasil kajian psikologi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti
bidang pendidikan, interaksi sosial, perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam bidang
pendidikan di sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung
jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak
agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagai hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian
pendidikan Islam ini tidak hanya dibatasi oleh institusi atau lapangan pendidikan tertentu, pendidikan
Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas.
Salah satu contohnya pendidikan dalam keluarga, pendidikan pertama pada anak adalah
keluarga, dari keluarga anak belajar banyak hal seperti sopan-santun, belajar mengenal agama sampai
pada tolerasi dan kasih sayang. Karena ibaratnya keluarga merupakan lingkungan kecil yang membentuk
suatu karakter pada diri anak. Oleh sebab itu diharapkan orang tua sebagai pendidik
sekaligus modelling bagi anak, dapat memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar
dari apa yang dia lihat, apa yang dia model, hal ini kaitannya dengan psikologi perilaku.
9. Pendekatan Interdisipliner
Pendekatan interdisliner yang dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah
pendekatan atau sudut pandang (perspektif). Dalam studi misalnya menggunakan pendekatan
sosiologis, historis dan normatif secara bersamaan. Pentingnya penggunaan pendekatan ini semakin
disadari keterbatasan dari hasil-hasil penelitian yang hanya menggunakan satu pendekatan tertentu.
Misalnya, dalam mengkaji teks agama, seperti Al-Quran dan sunnah Nabi tidak cukup hanya
mengandalkan pendekatan tekstual, tetapi harus dilengkapi dengan pendekatan sosiologis dan historis
sekaligus, bahkan masih perlu ditambah dengan pendekatan yang lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari kupasan diatas melahirkan beberapa catatan. Pertama, perkembangan pembidangan studi islam
dan pendekatannya sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Kedua, adanya
penekanan terhadap bidang dan pendekatan tetentu dimaksudkan agar mampu memahami ajaran islam
lebih lengkap (komprehensif) sesuai dengan kebutuhan tuntutan yang semakin lengkap dan kompleks.
Ketiga, perkembangan tersebut adalah satu hal yang wajar dan seharusnya memang terjadi, kalau tidak
menjadi pertanda agama semakin tidak mendapat perhatian.
Demikian makalah yang dapat kami susun. Tentunya dalam penguraian di atas masih banyak
pengurangan dan kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran pembaca yang sifatnya
membangun sangat kami harapkan. Untuk itu apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan
dalam uraian, kami mohon maaf yang sebesar besarnya. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kelompok kami khususnya dan bagi para para pembaca umumnya amin.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. 2000. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grassindo Persada.
Wikipedia, 2011. Teologi, (http://id.wikipedia.org/, diakses tanggal 17 November 2011).
Wikipedia, 2011.Metodologi, (http://id.wikipedia.org/, diakses tanggal 17 November 2011).
Kamusbesar.com, 2011 Deskripsi dari Normatif, diakses
dari http://www.kamusbesar.com/27285/normatif, pada tanggal 18 November 2011.
http://mzwahyu.blogspot.com/2011/12/metodologi-studi-islam.html

BEBERAPA METODE MEMAHAMI ISLAM

Perjalanan Islam sampai kini telah melampui kurun waktu yang cukup lama dan dipeluk
oleh manusia diseluruh penjuru dunia. Pemikiran Islam dapat diibaratkan dengan sebagai sungai
yang besar dan panjang. Wajar jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta
mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar, berliku-
liku dan bercabang-cabang. Airnya kian pekat karena mengangkut pula lumpur dan sampah.
Geraknyapun menjadi lamban.
Pencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai rangka historis bagi
pengembangan budaya dan peradaban telah dilanggengkan dan pernah berkembang lebih
kompleks hingga hari ini. Namun demikian, masyarakat-masyarakat Islam harus dikaji dalam
dan untuk diri sendiri.
Mempelajari Islam dengan metode ilmiah saja tidak cukup, karena metode dan pendekatan
dalam memahami Islam yang demikian itu masih perlu dilengkapi dengan metode yang bersifat
teologis dan normatif. Untuk itu dalam memahami dan menelaah ajaran Islam yang ada dalam
buku-buku ilmiah terkadang perlu kita cermati apakah ajaran ini persial atau apakah sudah
komprehensif.
Dalam buku yang berjudul Tentang Sosiologi Islam, karya Ali Syariati dijumpai uraian
singkat tentang metode memahami yang pada intinya Islam harus di lihat dari berbagai dimensi.
Dalam hubungan ini ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja,
maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin
kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup apabila kita memahami secara
keseluruhan. Dengan berpedoman kepada semangat dan isi ajaran al-Quran yang diketahui
mengandung banyak aspek. Berbagai aspek yang ada dalam al-Quran jika dipelajari secara
menyeluruh akan menghasilkan pemahaman Islam yang menyeluruh.
Ali Syariati lebih lanjut mengatakan, ada berbagai cara memahami Islam :
a. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain.
b. Dengan mempelajari Kitab suci Al-Quran dan membandingkan dengan kitab-kitab samawi
(atau kitab-kitab yang dikatakan sebagai samawi) lainnya.
c. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar
pembahruan yang pernah hidup dalam sejarah.
d. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkan tokoh-tokoh utama agama
maupun aliran-aliran pemikiran lain.
Pada intinya metode ini adalah metode komparasi (perbandingan). Secara akademis suatu
perbandingan memerlukan persyaratan tertentu. Perbandingan menghendaki obyektifitas, tidak
ada pemihakan, blank mind, tidak ada pra-konsepsi dan semacamnya. Hal ini biasanya sulit
dilakukan oleh seorang yang meyakini kebenaran suatu agama yang dianutnya. Pendekatan
komparasi dalam memahami agama kelihatannya baru akan efektif apabila dilakukan oleh
seorang yang baru mau beragama. Selain dengan menggunakan pendekatan komparasi, Ali
Syariati juga menawarkan cara memahami Islam melalui pendekatan aliran. Tugas intelektual
hari ini ialah mempelajari memahami Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan
kehidupan manusia, perseorangan maupun masyarakat.
NASRUDDIN RAZAK metode memahami Islam sama dengan Ali Syariati menawarkan
metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Memahami Islam secara menyeluruh adalah
penting walaupun tidak secara detail. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama
paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan
sikap yang hormat bagi pemeluk agama lainnya. Untuk memahami agama Islam secara benar
Nasruddin Razak mengajukan empat cara :
1. Islam harus dipelajari dari sumber aslinya Al-Quran dan hadits. Kekeliruan memahami
Islam, karena orang mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari
bimbingan Al-Quran dan Al-Sunah, atau melalui pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqh dan
tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam
dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme,
yakni bercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni.
2. Islam harus di pelajari dengan integral, tidak dengan cara persial artinya ia dipelajari secara
menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Memahami Islam secara
persial akan membahayakan, menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
3. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-
sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik yaitu
pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran Al-Quran dan Sunnah
Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.
4. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam al-Quran, baru
kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosiologis yang ada di
masyarakat.
Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan diatas, akhir-akhir ini
sangat diperlukan dalam upaya menunjukan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran islam itu
sendiri.
Dari beberapa metode diatas kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan untuk
memahami Islam secara garis besar adalah dengan metode Komparasi, yaitu suatu cara
memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut
dengan agama lainnya, dengan demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan
utuh.
Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci.
Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulai dari meyakini Islam sebagai agama
yang mutlak benar. Hal ini didasarkan pada alasan, karena agama bersal dari Tuhan, dan apa
yang berasal dari Tuhan Mutlak benar, maka agamapun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan
dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan aspek kehidupan manusia
yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologi normatif yang tergolong tua
usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh dan militan pada Islam,
sedangkan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan
kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta
memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.
http://amiee43.blogspot.com/2013/03/beberapa-metode-memahami-islam.html

METODE MEMAHAMI ISLAM

MAKALAH
METODE MEMAHAMI ISLAM

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu : Miftahul Huda, M. Ag
Disusun Oleh :
1. Naila Ilmanafia (2021 111 184)
2. Robiatul Khusnayati (2021 111 185)
3. Tsuwaibah Ummul Inayah(2021 111 186)
4. Fatikhiatus Sofa (2021 111 187)

Kelompok 5
Kelas E
JURUSAN TARBIYAH (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2012


BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Islam merupakan agama yang sangat komplek. Sehingga dalam memahaminya pun dibutuhkan cara
yang tepat agar dapat tercapai suatu pemahaman yang utuh tentang Islam. Di Indonesia sejak Islam
masuk pertama kali sampai saat ini telah timbul berbagai macam pemahaman yang berbeda mengenai
Islam. Sehingga dibutuhkanlah penguasaan tentang cara-cara yang digunakan dalam memahami Islam.
Maka, dalam makalah ini penulis akan mencoba membahas mengenai metodologi serta beberapa
hal yang berkaitan untuk memahami Isalam di Indonesia.
B. Rumusan Pembahasan
Dari latar belakang tersebut, pemakalah merumuskan masalah yang akan dibahas sebagai
berikut:
a. Apakah definisi metode dan metodologi ?
b. Apa perbedaan metode dan metodologi ?
c. Metode Studi Islam ?
d. Metode Memahami Islam ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode dan Metodologi
Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa Yunani yaitu meta (sepanjang), hodus (jalan).
Jadi, metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin
tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberi uraian, penjelasan dan penentuan
nilai. Jadi metode adalah suatu ilmu yang memberi penjelasan tentang sistem dan langkah yang harus
ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan.
1

Sedangkan metodologi berasal dari tiga kata Yunani (meta, hetodos dan logos). Meta berarti menuju,
melalui dan mengikuti. Heterodos berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai sesuatu.
Logos berati studi tentang atau teori tentang.JadiMetodologi adalah cara-cara yang digunakan manusia
untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran.
2

B. Perbedaan Metode dan Metodologi
Metode
1. Merupakan langkah langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu ilmu
tertentu yang sudah tidak dipertanyakan lagi (aplikatif).
2. Dianggap sudah bisa mengantarkan seseorang mencapai kebenaran dalam ilmu
tersebut.
3. Tidak ada perdebatan, refleksi dan kajian atas cara kerja ilmu pengetahuan.
4. Tidak menjadi bagian dari sistematika filsafat.
Metodologi
1. Merupakan kajian tentang cara kerja ilmu pengetahuan.
2. Terbuka luas untuk mengkaji, mendebat dan merefleksi cara kerja suatu ilmu.
3. Tidak lagi sekedar kumpulan cara yang sudah diterima tetapi berupa kajian tentang
metode.
4. Metodologi juga menjadi bagian dari sistematika filsafat.
3

C. Metode studi islam
Adapun metode studi Islam secara lebih rinci dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Metode Diakronis
Suatu metode mempelajari Islam yang menonjolkan aspek sejarah. Metode ini memberi kemungkinan
adanya studi komparasi tentang berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam
Islam.
Metode ini juga menghendaki adanya pengetahuan ,pemahaman dan penguraian ajaran ajaran Islam
dari sumber dasarnya, yakni Al-qur`an dan As-Sunnah serta latar belakang masyarakat, sejarah, budaya
disamping sirah Nabi SAW dengan segala akal dan pikirannya.
2. Metode Sinkronik Analitis
Suatu metode mempelajari Islam yang memberikan kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna
bagi perkembangan keimanan dan mental intelek umat Islam. Metode ini semata mata
mengutamakan segi aplikatif praktis, tetapi juga mengutamakan telaah teoritik.
Metode diakronis dan metode sinkronik analitik menggunakan asumsi dasar sebagai berikut :
a. Islam adalah agama wahyu Ilahi yang berlainan dengan kebudayaan sebagai hasil daya
cipta dan rasa manusia (Q.S. Al-Najm : 3-4).
b. Islam adalah agama yang sempurna dan di atas segala galanya (Q.S. Al-Maidah :3).
c. Isla merupakan supra sistem yang mempunyai beberapa sistem dan sub sistem serta
komponen dengan bagian bagiannya dan secara keseluruhan merupakan struktur yang unik
(Q.S. Fushilat :37).
d. Wajib bagi umat Islam untuk mengajak pad yang ma`ruf dan nahi munkar (Q.S. Ali Imran
:104).
e. Wajib bagi umat Islam untuk mengajak orang lain kejalan Allah SWT (Q.S. An- Nahl : 125)
f. Wajib bagi umat Islam untuk menyampaikan risalah Islam menurut kemampuannya .
g. Wajib bagi sebagian umat Islam untuk memperdalam ajaran agama Islam (Q.S. Al-
Taubah : 122).
3. Metode Problem solving (hallu al-musykilat)
Metode mempelajari Islam yang mengajak pemeluknya untuk berlatih menghadapi berbagai masalah
dari suatu cabang ilmu pengetahuan dengan solusinya.
4. Metode Emperis (Tajribiyah)
Suatu metode mempelajari Islam yang memungkinkan Umat Islam mempelajari ajarannya melalui
proses aktualisasi dan internalisasi norma norma dan kaidah Islam dengan suatu proses aplikasi yang
menimbulkan suatu interaksi sosial, kemudian secara deskriptif proses interaksi dapat dirumuskan
dalam suatu sistem norma baru.
Metode problem solving dan metode empiris menggunakan asumsi dasar sebagai berikut :
a. Norma (ketentuan ) kebajikan dan kemungkaran selalu ada dan diterangkan dalam Islam
(Q.S. Ali Imran : 104)
b. Ajaran Islam merupakan jalan untuk menuju ridla Allah SWT (Q.S. Al-Fath : 29).
c. Ajaran Islam merupakan risalah atau pedoman hidup di dunia dan akhirat (Q.S. Al-Syura
: 13).
d. Ajaran Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan (Q.S. Al-Baqarah :120 dan Al-Taubah
:122)
5. Metode Deduktif ( Al-Manhaj Al Istinbathiyah )
Suatu metode mamahami Islam dengan cara menyusun kaidah kaidah secara logis dan filosofis dan
selanjutnya kaidah tersebut diaplikasikan untuk menentukan masalah masalah yang dihadapi.Metode
ini dipakai untuk sarana meng-istimbatkan hukum syara` dan kaidah itu bener bener bersifat penentu
dalam masalah furu tanpa menghiraukan sesuai tidaknya dengan madzhabnya. Metode ini dikenal
dengan metode mutakallimin atau metode syafi`iyah.
6. Metode Induktif (al Manhaj al-Istiqraiyah)
Suatu metode memahami Islam dengan cara menyusun kaidah kaidah hukum untuk diterapkan
kepada masalah masalah furu` yang disesuaikan dengan madzhabnya terlebih dahulu.
Metode pengkajiannya dimulai dari masalah masalah khusus , lalu dianalisis, kemudian disusun kaidah
hukum dengan catatan setelah terlebih dahulu disesuaikan dengan madzhabnya.
4

D. Metode Memahami Islam
Memahami berasal dari kata paham yang artinya mengerti, memaklumi dan mengetahui
sesuatu hal yang sedang diamati, didengarkan, dikerjakan ataupun sesuatu hal yang sedang terjadi.
5

Metode dalam memahami Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Dalam hubungan ini, jika
kita meninjau Islam dari satu sudut pandang saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari
gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup bila
kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Alquran sendiri. Kitab ini memiliki banyak
dimensi, sebagiannya telah dipelajari oleh sarjana-sarjana besar sepanjang sejarah. Satu dimensi,
misalnya, mengandung aspek-aspek linguistik dan sastra Alquran. Para sarjana sastra telah
mempelajarinya secara terperinci. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan Alquran
yang menjadi bahan pemikiran bagi para filosof serta para teologi.
6

Ali Syariati lebih lanjut mengatakan, ada berbagai cara memahami Islam. Yaitu :
1. Dengan mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama-agama
lain.
2. Dengan mempelajari kitab Alquran dan membandingkannya dengan kitab-kitab samawi
lainnya.
3. Dengan mempelajari kepribadian rasul Islam dan membandingkannya dengan tokoh-
tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah.
4. Dengan mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan
tokoh-tokoh utama agama maupun alairan-aliran pemikiran lain.
Seluruh cara yang ditawarkan Ali Syariati itu pada intinya adalah metode perbandingan
(komparasi).
7

Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode ini
oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu
dibandingkan dengan topic dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Dalam hal agama Islam, juga
agama-agama lain, yaitu:
a. Aspek ketuhanan
b. Aspek kenabian
c. Aspek kitab suci
d. Aspek keadaan waktu munculnya nabi, orang-orang yang di dakwahinya, dan individu-
individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
8

Selanjutnya, terdapat pula metode memahami Islam yang dikemukakan oleh Nasruddin Razzak. Ia
mengajarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh. Cara tersebut digunakan untuk memahami
Islam paling besar agar menjadi pemeluk agama yang mantap dan untuk menumbuhkan sikap saling
menghormati terhadap pemeluk agam lain. Metode tersebut juga di tempuh dalam rangka menghindari
kesalahfahaman yang menimbulkan sikap dan pola hidup beragama yang salah.
Untuk memahami Islam secara benar, terdapat empat cara yang tepat menurut Nasruddin Razzak,
yaitu sebagai berikut:
1. Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alquran dan sunnah Rasul.
2. Islam harus dipelajari secara integral atau secara keseluruhan.
3. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaumzuama, dan sarjana
Islam.
4. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis dalam Alquran kemudian dihubungkan
dengan kenyataan historis, empiris dan sosologis.
Dari beberapa metode tersebut terdapat dua metode dalam memahami Islam secara garis
besar, yaitu:
1. Metode komparasi, yaitu metode memahami Islam dengan membandingkan seluruh
aspek Islam dengan agama lainnya agar tercapai pemahaman Islam yang objektif dan utuh.
Dalam komparasi tersebut terlihat jelas bahwa islam sangat berbeda dengan agama-agama lain.
Intinya Islam mengajarkan kesederhanaan dalam kehidupan dan dalam berbagai bidang.
2. Metode sintesis, yaitu metode memahami Islam dengan memadukan metode ilmiah
dengan metode logis normatif.
9

Sedangkan menurut Ali Anwar Yusuf dalam bukunya Studi Agama Islam, terdapat tiga metode dalam
memahami agama Islam , yaitu:
1. Metode Filosofis
Filsafat adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas segala sesuatu dengan tujuan untuk
memperoleh pengetahuan sedalam-dalamnya sejauh jangkauan kemampuan akal manusia, kemudian
berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal dengan meneliti akar
permasalahannya. Memahami Islam melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada
pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan tidak memiliki makna
apa-apa atau kosong tanpa arti. Namun bukan pula menafikan atau menyepelekan bentuk ibadah
formal, tetapi ketika dia melaksanakan ibadah formal disertai dengan penjiwaan dan penghayatan
terhadap maksud dan tujuan melaksanakan ibadah tersebut.
2. Metode Historis
Metode historis ini sangat diperlukan untuk memahami Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam
situasi yang konkret bahkan sangat berhubungan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Melalui
metode sejarah, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya dan hubungannya dengan
terjadinya suatu peristiwa.
3. Metode Teologi
Metode teologi dalam memahami Islam dapat diartikan sebagai upaya memahami Islam dengan
menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari satu keyakinan. Bentuk metode ini
selanjutnya berkaitan dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang Islam
dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Allah yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran
manusia.
10


BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas ,dapat disimpulkan bahwa:
metode adalah suatu ilmu yang memberi penjelasan tentang sistem dan langkah yang harus
ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan.
Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan.
Metodologi dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar
dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam.
Ada beberapa metode yang dipakai dalam studi Islam, seperti
Metode Diakronis
Metode Sinkronik-Analitik
Metode Problem solving
Metpde Empiris
Metode Deduktif
Metode Induktif
Metode dalam memahami Ajaran Islam, yaitu:
Metode Komparasi
Metode Sintesis
Metode Menyeluruh

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yatimin.2006.Studi Islam Kontemporer.Jakarta:Amzah.
Ali,Mukti.1991.Metode Memahami Islam.Jakarta:Bulan Bintang.
Fanani,Muhyar.2008.Metode Studi Islam:Aplikasi Sosiologi Pengetahuan sebagai Cara
pandang.Yogyakarta:Pustaka pelajar.
Muhaimin dkk.1994.Dimensi-Dimensi Studi Islam.Surabaya:Karya Abditama.
Nata,Abuddin.2009.Metodologi Studi Islam.Jakarta:PT.Rajawali Pers.
www.rolisiade.blogspot.com(31-03-12).
http://asef27.blogspot.com/2012/05/metode-memahami-islam.html