Anda di halaman 1dari 13

PROBLEM, TANTANGAN DAN SOLUSI

PENGEMBANGAN PTAI

MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
MAKALAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN
DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Zubaedi, M.Ag. M.Pd

DISUSUN OLEH :
Leni Gustini (2103227005)
Mardalena Kustanti (2103227006)

JURUSAN TADRIS PENDIDIKAN BAHASA ARAB
STAIN BENGKULU
2013
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum. Wr.Wb
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah Kapita Selekta Pendidikan Problem, Tantangan dan
Solusi Pengembangan PTAI, kemudian sholawat beserta salam kita doakan
kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana Beliau telah membawa umat manusia
dari zaman Jahiliyyah kepada zaman Ilmu Pengetahuan, seperti yang kita rasakan saat
sekarang ini.
Kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Zubaedi
selaku Dosen Pembimbing mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan dan kepada pihak-
pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran tentang kekurangan dan
kesalahan dalam menyelesaikan makalah ini, karena penulis menyadari banyak
terdapat kekurangan dan keterbatasan kemampuan. Semoga makalah yang penulis
buat bermanfaat bagi para pembaca dalam meningkatkan pengetahuannya.
Wassalamualaikum. Wr.Wb


Bengkulu, Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Tantangan Perguruan Tinggi Agama Islam ...
B. Problematika Perguruan Tinggi Agama Islam ..
C. Solusi Masalah Pelaksanaan Pendidikan Islam di PTAI ..
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Amir Faisal (1995 : 141) mengemukakan Sejak lahirnya Tri Dharma
Perguruan Tinggi yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1961
menetapkan bahwa sebuah perguruan tinggi seperti Universitas, Institut, Sekolah
Tinggi, Akademik dan sebagainya mempunyai kewajiban untuk melaksanakan
pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional
BAB VI, pasal 19 tentang Pendidikan Tinggi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan
menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister,
spesialis dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
2. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.

Selanjutnya dalam pasal 20 dijelaskan :
1. Perguruan tinggi dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi,
institut dan universitas.
2. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan
pengabdian kepada masyarakat.
3. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi
dan/atau vokasi.
4. Ketentuan mengenai perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

B. Rumusan Masalah

A. Problem PTAI ?
B. Tantangan PTAI ?
C. Solusi Pengembangan PTAI ?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui dan menambah
wawasan kita tentang Problem, Tantangan dan Solusi Pengembangan PTAI.













BAB II
PEMBAHASAN
A. Tantangan Perguruan Tinggi Agama Islam
Saat ini adalah zaman globalisasi. Globalisasi akan berdampak terhadap
berbagai aspek kehidupan. Perguruan Tinggi Agama Islam akan menghadapi
berbagai tantangan dalam melaksanakan visi dan misinya. Misri (2004 : 11) dalam
tulisannya Tantangan Perguruan Tinggi Agama Islam (Arah dan Tuntutan Reformasi
Sistem Pendidikan Islam dalam Swara Perguruan Tinggi Agama Islam bahwa
perguruan tinggi agama mendapat tugas dan amanah menumbuhkan profesionalisme;
khususnya dalam pembangunan mental spritual Islam. Berkaitan dengan kurikulum
kendala yang masih ada bahwa kurikulum dan silabus PTAI antara lain materi yang
ditawarkan kepada mahasiswa tidak mengarah kepada aplikasi pengetahuan
sedangkan titik lemah metode pengajaran dosen antara lain kecenderungannya
menyajikan materi lebih dominan, sedangkan transfer keahlian atau sisi afektif dan
psikomotor kurang menjadi fokus kegiatan dan perhatian.
Ruang lingkup yang lebih luas tantangan Perguruan Tinggi Agama Islam
menurut Kartini Kartono (1977 : 6) dalam Sopiah (2004 : 20) Pendidikan harus
menjadi instrumen pembangunan pribadi dan masyarakat. Dalam hal ini pendidikan
harus :
1. Berfungsi dalam realitas nyata ditengah masyarakat, mengubah daya hidup
dan kemajuan
2. Bisa menjawab masalah lokal, regional nasional (bahkan internasional)
3. Terdapat kegiatan-kegiatan merefleksikan diri untuk menemukan identitas
sendiri / jati diri dan lingkungan.

Berbagai kelemahan praktik pendidikan Islam di Indonesia selama ini
menurut Sopiah (2004 : 18-19) adalah :
1. Pendidikan hanya menekankan pada kemampuan menalar
2. Lingkungan pendidikan belum memberikan keteladanan yang baik
3. Kurangnya peran serta orang tua dan masyarakat dalam pendidikan
4. Masih kuatnya pemisahan antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama
5. Belum memadainya komponen-komponen pendidikan
6. Belum terbudayanya hubungan timbal balik yang edukatif antara dosen dan
mahasiswa.

B. Problematika Perguruan Tinggi Agama Islam
Problem yang sedang dihadapi PTAI adalah :
1. Kurang tumbuhnya tradisi berfikir kritis dan analitis
2. Mahasiswa tidak dibekali dengan bidang keahlian dan kualifikasi yang
dapat diterapkan secara bermanfaat dalam proses pembangunan
3. Mahasiswa ke Perguruan Tinggi pertama-tama adalah untuk mengejar
status dan selembar ijazah, bukan keahlian, keterampilan dan
profesionalisme.
Disamping problem-problem besar diatas, nampaknya masih banyak problem yang
hingga kini masih sering kita saksikan, misalnya :
1. Bagaimana bangunan epistemologi keilmuan yang dikembangkan PTAI
selama ini, apakah sudah tepat dan atau tidak tepat sama sekali ? jika
demikian, bagaimana pemecahannya ? pertanyaan ini penting diajukan,
mengingat struktur keilmuan (keagamaan) islam yang dikembangkan di PTAI
pada umumnya selama ini cenderung terkesan dikotomis, jika tidak disebut
antagonis terhadap ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum.
2. Jika demikian, apakah masih perlu dilakukan transformasi / konversi,
misalnya institut menjadi universitas, dan atau sekolah tinggi menjadi institut
? pertanyaan ini juga penting diangkat, sebab sebagian besar praktisi dan
penentu kebijakan pendidikan dinegeri ini masih menganggap institut
sebagai hal sangat penting, sehingga perubahan-perubahan tidak bisa
dilakukan tanpa melakukan perubahan terhadap institusinya terlebih dahulu.
3. Bagaimana dengan SDM yang dimiliki PTAI, apakah sudah benar-benar siap
dalam menghadapi akselerasi yang terjadi, baik yang menyangkut masalah-
masalah sosial, budaya, politik maupun ekonomi.
4. Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana dengan kurikulum,
ketersediaan dana, dan sarana-prasarana, sistem kerjasama dengan pihak lain
(stakeholders).

C. Solusi Masalah Pelaksanaan Pendidikan Islam di PTAI
Dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi PTAI di atas, harus segera dicarikan
solusi, diantaranya:
a. menarik minat mahasiswa untuk masuk PTAI.
Langkah yang dapat dilakukan oleh PTAI adalah menjaga kualitas lulusannya dengan
baik. Maksudnya, lulusannya dapat diterima di masyarakat dan selalu dicari pengguna
lulusan, yakni masyarakat. Untuk bisa mencapai hal tersebut, tentunya kualitas lulusan harus
dijaga. Jangan hanya menghasilkan sarjana yang tidak mempunyai kompetensi. Akibatnya,
hanya menambah pengangguran yang terdidik. Sebaliknya, apabila kualitas lulusan dijaga
dengan baik, bukan hal yang mustahil PTAI tersebut akan selalu dibanjiri peminat.
b. meningkatkan profesionalisme dosen
Langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme dosen adalah
dengan menciptakan iklim akademik yang kondusif bagi dosen untuk mengembangkan tugas
ke profesional dosen. Misalnya pihak yayasan untuk mendorong dosen terbiasa meneliti
dengan cara menfasilitasi pendirian penerbitan jurnal penelitian. Selain itu, pemberian
stimulus bagi dosen yang dapat menulis di jurnal yang diakui nasional maupun internesional
diberikan insentif yang layak.
Kemudian untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan dosen, pihak yayasan perlu
mendorong dosen agar melanjutkan pendidikan setidaknya mempunyai kualifikasi
pendidikan, yaitu minimal harus magister (S-2), atau doktor S3 bahkan mendapatkan gelar
puncak akademik, yakni guru besar (professor). Pendanaan studi lanjut bagi dosen bisa saja
berasal dari anggran PTAI sendiri, atau memberikan rekomendasi untuk mengikuti seleksi
beasiswa S2/S3 yang diselenggarakan berbagai instansi pemerintah baik Kementerian Agama
atau Kementerian Pendidikan Nasional atau swasta.
c. Melengkapi sarana dan prasarana
Kelengkapan sarana prasarana perlu ditingkatkan terus menerus. Karena, dengan
sarana prasarana yang lengkap akan mendorong kualitas PTAI tersebut. Misalnya, dalam
perkuliahan bahasa Arab atau Inggris perlu ada laboratorium bahasa. Atau juga laboratorium
micro teaching yang bertujuan sebagai tempat latihan guru mengajar sebelum nantinya terjun
ke kelas sesungguhnya.
Untuk melengkapi sarana prasarana perlu adanya dana yang cukup. Pendanaan ini
bisa berasal dari mahasiswa, atau yayasan, atau pemerintah, atau pihak swasta, atau juga
dapat digalang dari sumber dana melalui pemetaan ekonomi para konglomerat (aghniya) dan
dilanjutkan dengan penyadaran akan pentingnya pendidikan tinggi Islam.
Pendidikan tinggi merupakan investasi manusia. Memang, harus diakui bahwa masih
banyak orang mempertanyakan tentang efektivitas investasi melalui pendidikan, terutama
efektifitasnya dalam memberikan nilai timbal balik bagi ekonomi individu dan masyarakat.
Pendidikan dalam kenyataannya masih belum mampu menjadi sarana investasi yang
menggiurkan bagi banyak orang, terutama PTAI yang berbasis pendidikan humaniora. PTAI
lebih menawarkan tentang bagaimana menjadi orang baik dan kurang menawarkan
bagaimana menjadi orang berguna.

d. meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas
Dosen sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang
sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan dosen
sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di dalam ruangan maupun di luar
ruangan. Dosen harus pandai membawa peserta didik kepada tujuan yang hendak dicapai.
Oleh karenanya, dosen harus menguasai materi pengajaran, menguasai beberapa
metode pengajaran sehingga ia mampu menggunakan metode yang sesuai dengan situasi dan
kondisi peserta didik, dan sebagainya. Dengan demikian, dalam pembaruan pendidikan,
keterlibatan dosen mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan
dan evaluasinya memainkan peranan yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi
pendidikan. (Muhaimin, 2005 :120) Bagi dosen yang belum bisa mewujudkan kelas yang
menarik, bisa saja dosen tersebut dikirim untuk mengikuti shourt course (pendidikan singkat)
di dalam maupun luar negeri.
e. Meningkatkan penguasaan bahasa Arab dan Inggris.
Pada abad 21 memunculkan tantangan internasional dan perspektif global. Model
mahasiswa internasional dan pertukaran program fakultas di perguruan tinggi menjadi tren.
(Syafaruddin, 2005: 329) Karenanya, untuk memenangi tantangan internasional tersebut,
penguasaan bahasa asing (Arab maupun Inggris) adalah syarat mutlak. Bahkan, kalau bisa
tidak hanya kedua bahasa asing tersebut, tetapi ditambah dengan bahasa asing lainnya
misalnya, mandarin. Karena sekarang ini bahasa mandarin banyak dipelajari seiring
kemajuan yang dialami negeri Cina.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tantangan janganlah dijadikan rintangan tapi dijadikan sebagai bahan untuk
membuka peluang. Walaupun para sarjana pendidikan agama Islam banyak
dikucilkan karena tidak mengikuti zaman akibat materi yang dipelajari hanya bersifat
akhirat atau abstrak belaka, tapi semua itu perlu diluruskan bahwa ajaran/pendidikan
agama Islam tidak hanya mengajarkan kehidupan akhirat tapi juga kehidupan dunia.
Jadi, kekontekstualan pendidikan Islam perlu diajarkan oleh para sarjana pendidikan
Islam supaya dapat diterima oleh masyarakat muslim di Indonesia yang multikultural.
Makalah ini telah berusaha membahas peluang dan tantangan yang dihadapi
oleh Sarjana Agama dewasa ini. Dikemukakan bahwa, di era millenium ini, Sarjana
Agama memiliki peluang yang amat luas seiring dengan kemajuan ummat manusia
yang kemudian menimbulkan kebutuhan akan keseimbangan hidup secara fisik dan
spiritual. Sektor spiritual guna mengimbangi kehidupan fisik yang makin maju itulah
peluang yang dapat dimasuki oleh Sarjana Agama. Namun, kebutuhan akan ahli ilmu
agama ini dibarengi dengan tuntutan standar kualitas yang lebih tinggi. Ahli agama di
masa depan dituntut untuk bukan saja menguasai ilmu agama melainkan juga
memahami perkembangan iptek karena masyarakat di era millenium ini akan semakin
lekat dengan penggunaan iptek. Itulah juga yang menjadi tantangan bagi Sarjana
Agama dewasa ini. Kemampuan mereka untuk memanfaatkan peluang yang terbuka
lebar akan sangat tergantung pada kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan
standar kualitas yang ditetapkan oleh masyarakat yang dilayaninya. Dalam hal ini,
kemampuan berbahasa asing dan wawasan global ikut menentukan kebarhasilan
mereka memanfaatkan peluang itu.
Sebagai penutup, penulis ingin meminta pertanggung jawaban PTAI sebagai
produsen para Sarjana Agama ini karena tinggi rendahnya kualitas Sarjana Agama,
untuk sebagian, ditentukan juga oleh cara mendidik lembaga pendidikan yang
menghasilkannya.
Saran
Penulis mengharapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca jika terdapat
kesalahan atau pun kekeliruan dalam penyusunan makalah ini, hanya ini yang bisa
penulis torehkan dalam makalah ini, dan penulis sangat mengharapkan kritik-kritik
kreatif dari pembaca, guna pengembangan diri dan berharap dapat berguna dimasa
yang akan datang, mudah-mudahan dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah
pengetahuan bagi pembaca , serta bermanfaat bagi semua.











DAFTAR PUSTAKA
Drs. Ahmad Jazuli, Dkk, 2006, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bengkulu
http://www.scribd.com/doc/90004420/Dinamika-PTAI
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/03/praktek-penelitian-sanad.html
http://masudaheducation.blogspot.com/2013/05/makalah-peluang-dan-tantangan-
sarjana.html
http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=1156
http://fai.uniga.ac.id/index.php/joomla-pages-iii/category-list/46-artikel-2
http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=2607