Anda di halaman 1dari 51

STANDAR

PELAYANAN KAMAR
OPERASI





RUMAH SAKIT PRIMA MEDIKA
PEMALANG

SURAT KEPUTUSAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT PRIMA MEDIKA
PEMALANG

Nomor : 001/III/ Dir/RSBL/SK/2014
Perihal : Falsafah dan Tujuan Kamar Operasi RSPM
Lampiran :
Direktur Rumah Sakit Prima Medika
Menimbang : Perlunya penertiban dan konsolidasi internal seluruh aspek
pelayanan dan pengelolaan Rumah sakit secara keseluruhan
Mengingat : 1. SK menkes No.67781/RS/63 tahun 1963 tentang syarat-syarat
pokok Rumah sakit swasta
2. Daftar Tata cara dan syarat pendirian / Pembangunan dan
penyelenggaraan Rumah sakit swasta
3. SK Badan Pendiri Yayasan Kesehatan Prima Medika
No.446/01/YKPM/SK/Sek/07 tentang pengangkatan Direktur Rumah
Sakit Prima Medika
Memutuskan
Menetapkan :
Falsafah Kamar Operasi RS. Prima Medika :
Memberikan pelayanan Kamar Operasi kepada pasien, keluarga pasien
dan masyarakat secara profesional dan holistik, dengan mengedepankan
nilai - nilai kemanusiaan dan solusi tanpa membeda bedakan bangsa, suku,
agama, dan dilaksanakan oleh seluruh perawat RS. Prima Medika secara
cepat, ramah, dan ilmiah
Tujuan Pelayanan Kamar Operasi RS. Prima Medika:
Memberikan Pelayanan kamar Operasi yang bermutu tinggi, efektif dan
efisien kepada pasien, keluarga pasien dan masyarakat di RS Prima Medika Pemalang



TATA RUANG DAN BANGUNAN
KAMAR OPERASI


LOKASI
Lokasi OK harus mudah di capai dari bagian lain dan satu sama lain
BENTUK
Sudut-sudutnya todak boleh tajam, baik sudut lantai, dinding maupun langit
langit
Dinding, lantai dan langit-langit terbuat dari bahan yang keras, tidak berpori,
tahan api, kedap air tidak mudah kotor, tidak licin, tidak mempunyai
sambungan, warna terang.\, mudah dibersihkan dan tidak ada tempat
menampung debu
UKURAN
Ukuran minimal 30 40 m2, maksimal 55 60 m2 tinggi plafon minimal 2,5 m,
maksimal 3,65 m
PINTU
Sebaiknya bentuk pintu sliding, namun bila pintu swing, maka pintu harus
selalu tertutup dengan menggunakan penutup otomatis
Ukuran pintu minimal 1,2 X 2,10 m
Pintu harus selalu terawat, dan tidak boleh mengeluarkan suara
JENDELA
Harus ada kaca tembus pandang agar orang dari luar dapat melihat
keadaan di dalam kamar bedah tanpa harus masuk
VENTILASI
Memakai AC dilengkapi filter dan sistem ultraclean luminay airflow
Suhu diatur antara 19 22 oC dan kelembaban udara 50 60 %
SISTEM PENERANGAN
Lampu ruangan memakai lampu pijar putih tertanam di dalam langit-langit
sehingga tidak menampung debu dan mudah dibersihkan
Pencahayan ruangan sesuai peraturan pencahayaan pada buku ini
Lampu operasi merupakan lampu khusus yang terdiri dari beberapa lampu
yang fokusnya dapat diatur, tidak panas, terang, tidak menyilaukan dan tidak
menimbulkan bayangan
SISTEM GAS
Sistem gas sebaiknya dibuat sentral memakai sistem pipa
Sistem pipa melalui bawah lantai atau diatas langit-langit
Dibedakan sistem pipa O2 dan Nitrogen Oksida
SISTEM LISTRIK
Harus ada sistem penerangan darurat dan sistem listrik cadangan
Bila dalam kamar bedah ada beberapa titik penyambungan aliran listrik,
maka sebaiknya dibedakan sirkuitnya sehingga bila terjadi gangguan listrik
pada satu titik, maka bisa dipindahkan ke titik lainnya
SISTEM KOMUNIKASI
Harus ada sistem komunikasi dengan ruangan lain di dalam RS dan ke luar
RS
INTRUMENTASI
Semua peralatan harus mobile, mempunyai roda atau diletakkan diatas
trolley beroda
Semua alat sebaiknya terbuat dari stainless steel dan mudah dibersihkan












I. SISTEM ZONASI DI KOMPLEKS OK

ZONA 1 : Zona Bebas terbatas ditandai dengan warna hijau
ZONA 2 : Zona Bersih (Clean Zone) ditandai dengan warna kuning
ZONA 3 : Zona Steril ditandai dengan warna merah

No Variable Zona 1 Zona 2 Zona 3 Ket
1. Pakaian -Pakaian luar
OK masih
boleh dipakai

-Pakaian
khusus OK
tidak boleh
lebih luar dari
zona ini
-Pakaian luar
OK masih boleh
dipakai. Tidak
boleh lebih
dalam dari zona ini.
Pergantian
pakaian OK
Pakaian Luar
OK disini
-Tim Operasi
memakai jas
operasi


-Petugas O
memakai
HandschoenK

2. Alas Kaki -Alas Kaki luar
OK masih bisa
di pakai. Tidak
boleh lebih
dalam dari zona
ini, pergantian
alas kaki luar-
OK disini
-Alas Kaki OK
tidak boleh lebih
luar dari zona ini
Alas kaki OK
harus mulai
dipakai
Alas Kaki
khusus OK
saja

3. Bed
Pasien
Boleh masuk Hanya sampai
Recovery Room
boleh masuk
Tidak boleh
masuk

4. Brankar
OK
Boleh masuk.
Tidak boleh
lebih luar dari
zona ini
Boleh masuk Boleh masuk
untuk keluar
lagi

5. Petugas
luar OK
Boleh masuk Boleh masuk Tidak boleh
masuk

6. Lain2 -Berbatas Pintu
dari luar
kompleks OK
-Berbatas Pintu
dari Zona /
ruangan lain
Berbatas pintu
dengam zona /
ruangan lain
Syarat tata
Ruangan
sesuai
standard

Ditetapkan di Pemalang
Pada tanggal 01/01/2014
Direktur Rumah Sakit Prima Medika


(dr. Ary Risqi Rachman )




















STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT
PRIMA MEDIKA
TATA KERJA KAMAR OPERASI

PERSIAPAN TINDAKAN OPERASI

1. Persiapan Pasien Operasi
A. Serah terima pasien

Rumah Sakit Prima Medika Serah terima pasien Pra &
Posca Oprasi

29/KEP/SOP No Revisi
Prosedur tetap Tanggal terbit Ditetapkan
Direktur

Pengertian : Tata cara serah terima pasien yang akan dioperasi antara
perawat ruangan dan staf kamar operasi.
Tujuan :
- Diketahui program pengobatan dan pelaksanaan operasi oleh
petugas ruangan dan kamar operasi agar pelaksanaan
operasi bisa berhasil dengan baik dan mengutamakan
keselamatan pasien.
- Menyiapkan obat-obatan, alat-alat, darah dan persiapan
khusus lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang
pelaksanaan operasi tersebut.
Kebijakan : Petugas ruangan dan petugas kamar operasi bertanggung
jawab atas persiapan pasien calon operasi ini.
Prosedur :
1. Petugas ruangan mengetahui jadwal operasi
2. Petugas ruangan mempersiapkan area operasi sesuai prosedur yang berlaku.
3. Petugas ruangan mengisi berita acara.
4. Petugas ruangan mempersiapkan semua catatan medik pasien termasuk
surat izin operasi untuk dibawa bersama pasien ke ruang operasi.
5. Petugas ruangan menyertakan perlengkapan penunjang operasi misalnya :
persediaan obat-obatan atau persediaan darah yang diperlukan saat operasi
dilakukan yang akan dibawa bersama pasien ke kamar operasi.
6. Setengah jam sebelum jadwal operasi atau setelah ada panggilan dari
petugas kamar operasi, pasien dibawa ke kamar operasi dengan memakai
tempat tidur yang dipakai di ruangan.
7. Serah terima pasien pra operasi dilakukan di ruang transfer.
8. Petugas ruangan menyerahkan pasien disertai berita acara serah terima
yang ditanda tangani oleh petugas ruangan dan petugas kamar operasi dan
ditulis dalam buku register kamar operasi.
9. Petugas kamar operasi memeriksa kelengkapan berita acara, kelengkapan
identitas, catatan medik pasien, keadaan umum pasien, surat izin tindakan
dan kelengkapan penunjang lainnya seperti obat-obatan dan persediaan
darah.
10.Kejadian khusus dan pengobatan selama operasi berlangsung dicatat dalam
berita acara oleh asisten operasi / omloop.
11.Setelah operasi selesai, asisten menyiapkan berita acara, catatan medik
pasien.
12.Pasien dipersiapkan untuk serah terima dengan petugas ruangan.
13.Serah terima dilakukan di ruang transfer, petugas kamar operasi
menyerahkan pasien beserta semua kelengkapannya yang ditandai dengan
penandatanganan berita acara serah terima pasien pasca operasi.









B. Persiapan fisik
Pasien harus dalam kondisi aman untuk dilakukan operasi yang
ditandai oleh :
Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil
pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen
RSBL menunjukkan kondisi dalam batas toleransi
Dilakukan pemeriksaan penunjang yang lengkap, meliputi
pemeriksaan laboratorium hematologi, kimia klinik, dan lainnya,
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan EKG, dan pemeriksaan lain
yang diperlukan dengan hasil pemeriksaan penunjang dalam
batas normal atau dalam batas toleransi / aman
Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen penyakit dalam dan
atau dokter konsulen anestesi dan atau dokter konsulen lainnya
menyatakan pasien dapat dioperasi
Bila diperlukan dilakukan persiapan terhadap pasien untuk
menunjang kelancaran operasi, seperti pemasangan infus,
lavement, puasa, istirahat total, pemasangan Supportif seperti
O2, Foley catheter, NGT , dll.
Pasien dalam keadaan bersih, bila perlu sudah mandi, pakaian
dari RS, bersih.
Diberikan antibiotik perioperatif sesuai petunjuk dokter

C. Persiapan mental
Pasien harus memahami maksud dan tujuan operasi serta resiko
yang harus dihadapi dalam menjalani operasi ini. Lakukan
Informed Consent sesuai prosedur.
Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar
menghadapi tindakan operasi yang akna dijalaninya. Pasien
diminta untuk berdoa menurut keyakinannya masing-masing.
Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung
secara moril.
D. Persiapan area operasi
Pengertian : Tata cara mempersiapkan area pada tubuh pasien yang akan
dilakukan operasi.
Tujuan : Menyiapkan area operasi untuk menghindari dari infeksi nosokomial.
Kebijakan :
- Adanya rencana operasi yang ditentukan oleh dokter
operator yang diketahui oleh dokter ruangan, petugas
ruangan dan bagian keuangan.
- Petugas ruangan yang bertanggung jawab atas persiapan
pasien calon operasi ini.
Prosedur :
1. Petugas ruangan mengetahui rencana operasi dari pasien tersebut.
2. Petugas ruangan mengetahui jenis operasi yang akan dilakukan
sehingga bisa mengetahui area mana yang perlu dipersiapkan.
3. 2 jam sebelum jadwal operasi ditentukan, petugas ruangan
mempersiapkan area operasi.
4. Selain itu diperhatikan higiene pasien : mulut, kuku, rambut dan kulit.
5. Persiapkan area operasi dengan dilakukan pencukuran di area operasi
yang cukup luas dengan mempertimbangkan keperluan untuk
perluasan luka operasi.
6. Pencukuran menggunakan pisau cukur searah dengan rambut
kemudian dicuci dengan sabun sampai bersih.
7. Setelah dilakukan pencukuran, pasien dimandikan dan dikenakan
pakaian khusus dan memakai tutup kepala.
8. Perhiasan, gigi palsu, kontak lens dan lain-lain harus sudah
ditanggalkan dan diserahkan pada keluaga.





E. Persiapan Kamar Operasi
Pembersihan Rutin
Pembersihan Harian
- Setiap hari seluruh permukaan lantai kompleks OK di bersihkan dan di desinfeksi
- Setiap hari dilakukan pemeriksaan prasarana seperti penyediaan air bersih, kelistrikan,
pencahayaan, ventilasi, dsb
- Setelah dibersihkan dilakukan sterilisasi ruangan dengan lampu ultraviolet secara terus
menerus hingga saat dibersihkan keesokan harinya.
- Pelaksana adalah tim pemeliharaan, dan penanggung jawab adalah Kepala OK
Pembersihan Mingguan
- Seluruh permukaan dinding Kamar Operasi dibersihkan dengan air mengalir dan
didesinfeksi
- Lantai dibersihkan dengan air mengalir / disemprot , dicuci dengan detergent, di
keringkan dan didesinfeksi
- Seluruh permukaan lain seperti permukaan lampu operasi, trolley anestesi, Kabel-kabel
dan selang , cuff, Tabung O2, Tabung N2O, meja obat, kursi, AC dll dibersihkan dan
didesinfeksi
- Kamar mandi dibersihkan
- Semua peralatan sterilisasi dibersihkan
- Dilakukan rutin dan teratur seminggu sekali .
- Pelaksana adalah tim pemeliharaan dan penanggung jawab adalah kepala OK
Pembersihan Bulanan
- Dilakukan Pemeriksaan dan penilaian kondisi dan fungsi
serta inventarisasi dan kondisi sarana fisik bangunan, prasarana dan peralatan serta obat-
obatan di kompleks OK
- Semua bahan medis yang disterilisasi kering diperiksa kapasitas formalinnya
- Semua hasil pemeriksaan dilaporkan di rapat bulanan




Pembersihan pra dan pasca operasi
Pembersihan Pra Operasi
- Bila jadwal operasi dilaksanakan setelah dilakukan pembersihan rutin maka ruangan
bedah tidak perlu dibersihkan lagi
- Bila jadwal operasi sebelum dilaksanakan pembersihan rutin, maka segera dilakukan
pembersihan ruangan Operasi dan sekitarnya.
Pembersihan Pasca Operasi
- Cipratan pada dinding dibersihkan dan didesinfeksi
- Lantai dibersihkan dan di desinfeksi
- Meja Operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Bebaskan pengunci roda, lantai dibawah
meja operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Roda meja operasi digelindingkan ke atas
cairan desinfektan bolak balik. Setelah selesai semua, kembalikan meja operasi ke posisi
semula dan kunci rodanya.
- Semua kabel dan selang alat yang berada di dalam ruangan bedah dibersihkan
- Alat-alat penunjang seperti suction, cauter meja instrument bila terkontaminasi cairan
tubuh pasien dibersihkan dan dibawa keluar OK.
Hati hati kontaminasi roda. Bila perlu roda dibersihkan sebelumnya.
- Setelah selesai, ruangan operasi ditutup dan lampu UV dinyalakan
- Bersihkan koridor dan ruangan lainnya
- Penanggung Jawab adalah paramedik yang bertugas di OK Persiapan lain pra operasi
- Nyalakan AC suhu dibawah 27o C
- Nyalakan lampu penerangan
- Siapkan lampu operasi
F. Persiapan instrumen, Linen dan peralatan lain
Persiapan I nstrumen
- Persiapan instrumen dilakukan oleh instrumenter dibantu oleh Onloop
dan Asisten dua. Bila Operasi cito, maka persiapan dapat dilakukan oleh paramedik jaga
rawat inap
- Instrumenter mengetahui rencana tindakan operasi.
- Bila diperlukan instrumenter bisa melihat langsung pasien sehingga mendapatkan
gambaran tentang segala kebutuhan di ruang operasi
- Instrumen , dan omloop berbagi tugas mempersiapkan instrumen, alat dan ruangan
- Instrumen yang akan dipakai dikeluarkan dan disusun pada trolley.
- Jenis instrumen dan jumlah disesuaikan standar .
- Instrumen diperiksa kelayakan pakainya. Pastikan kebersihannya.
- Instrumen dikelompokkan per jenis instrumen.
- Pastikan semua kunci instrumen terbuka.
- Lakukan sterilisasi
- Sterilisasi dapat dilakukan dengan steam pressure (autoclave) atau dry heat ( UV+panas)
sesuai prosedur.
- Siapkan nampan yang sudah dialasi duk steril, Siapkan Trolley yang sudah dialasi Duk
steril berlapis
- Keluarkan instrumen, letakkan pada nampan kemudian pindahkan
pada trolley. Teknik dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga jarak
antara bahan medik atau instrumen yang keluar dari sterilisator dengan trolley sependek
mungkin dan setertutup mungkin dari kemungkinan kontaminasi pasca sterilisasi
- Susun sedemikian rupa sehingga instrumen mudah disediakan secara berurutan sesuai
urutan tindakan.
- Tutup trolley denganduk sehingga instrumen diatas trolley tertutup seluruhnya.
Persiapan Linen
- Instrumenter dibantu omloop menyiapkan sejumlah linen sesuai kebutuhan jenis tindakan
operasi
- Jenis linen disesuaikan dengan standar
- Lakukan sterilisasi. Sterilisasi linen harus sudah selesai sebelum instrumen
- Nampan dan Trolley diberi alas linen steril. Bila perlu berlapis 2.
- Letakkan linen pada trolley
- Tutup trolley dengan linen steril





SKEMA ALUR PENGELOLAAN INSTRUMEN






























G. Persiapan Personil Kamar Operasi
1. Dokter operator menentukan pasien untuk dioperasi, memberitahukan paramedik tentang
waktu operasi.
2. Paramedik melaporkan kepada dokter anestesi untuk meminta persetujuan waktu operasi.
3. Paramedik mengatur / mengusahakan kesepakatan waktu antara dokter
operator dan dokter anestesi.
4. Jika waktu operasi sudah disepakati, paramedik memberitahukan staf kamar operasi.
5. Staf kamar oprasi mengusahakan tim operasi selengkap mungkin.
6. Staf kamar operasi segera mempersiapkan operasi.
Penunjukkan personil kamar operasi
1. Staf kamar oprasi menentukan tim yang akan ditugaskan dalam pelaksanaan operasi
2. Paramedik yang ditugaskan di OK datang paling lambat 30 menit sebelum jadwal operasi.
3. Jika diperlukan paramedik jaga ruang rawat inap/UGD membantu menyiapkan
instrumentasi dan ruangan OK
4. Selalu konfirmasi dan pastikan semua siap hadir tepat pada waktunya
Pembagian tugas personil OK
1. Scrub Nurse ( Instrumenter)
Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril mengelola semua kebutuhan
Sebelum, selama dan sesudah oprasi
Tanggung jawab : menjaga keutuhan dan efisisensi derah steril dengan menyediakan
instrumen dan supply steril yang diperlukan
Syarat :
- Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
- Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
- Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan
kemungkinan kegawatan
- Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
- Mengenal karakteristik operator



Tugas :
Sebelum Operasi
- Asisten oprasi menyiapkan instrumen dan alat-alat termasuk benang jahit, jarum,
juga ketersediaan obat2an anestesi, dan cairan
- Memeriksa ulang kesiapan instrumentasi , pastkan susunan berdasarkan urutan
tindakan operasi.
- Onloop mempersiapkan keperluan oprasi seperti tempat sampah, alas meja oprasi
- Melakukan cuci tangan bedah, memakai jas operasi dan sarung tangan steril dengan
teknik yang benar
- Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan antiseptik kulit. Berdiri pada
disisi operator / asisten satu saat melakukan antiseptik kulit.
- Membantu menutup pasien dengan duk steril
- Menyiapkan dan memberikan instrument
Selama Operasi
- Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba membaca keperluan operator satu
langkah lebih dahulu.
- Selalu tersedia kasa di daerah operasi. Sediakan pada wadah tertentu seperti
nerbekken.
- Ingat! Kelompokkan kasa dalam satu ikatan dengan jumlah yang tertentu. Buka lah
bundel satu persatu bila diperlukan agar tidak tercampur satu sama lain. Hitung
selalu kasa yang tersedia di area operasi dan kasa yang sudah terpakai. Kumpulkan
kasa yang sudah terpakai pada nerbekken agar lebih mudah menghitung kasa yang
sudah terpakai.
- Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering
- Instrumen tidak boleh menumpuk tapi harus tersusun.
- Jangan biarkan darah mengering pada instrumen
- Bila sarung tangan bolong atau robek atau tertusuk, segera diganti
- Posisi tubuh harus tegak, tidak boleh bersandar pada meja instrumen.
- Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa, instrumen, jarum.


Pasca Operasi
- Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril, keringkan dengan kasa
kering
- Luka oprasi di oles betadin dengan menggunakan kasa steril
- Luka operasi ditutup potongan sufratul dan kasa steril dan difixir dengan plester /
Hypafix
- Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai tertinggal
- Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan chlorine 0,5%, biarkan
selama10 menit. Rendam secara sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit
instrument yang direndam.
- Lepaskan bisturi dari gagang mes
- Buang bisturi dan jarum yang sudah tidak terpakai di tempat sampah benda tajam
- Sebelum dicabut, kanul dan selang harus selalu di spooling / bilas dengan air
chlorine 0,5% dan air bersih
- Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum dilepaskan. Jangan lepas
handschoen sebelum semua pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai
prosedur buku ini.
- Bila ada spesimen yang sudah disiapkan Onloop, dicek kembali .
1. Asisten utama (asisten satu)
Pengertian : Petugas yang mebantu operator melaksanakan operasi
Tanggung jawab : Membantu mengatur jalanya operasi agar terlaksana dengan baik dan
aman.
Syarat : - Dokter/Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
- Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
- Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan
kegawatan
- Mampu mengelola pasien gawat
- Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
- Mengenal karakteristik operator
- Teliti dan cekatan
- Diutamakan berpengalaman
Tugas :
Sebelum operasi
- Berkomunikasi dengan operator mengenai rencana tindakan operasi dan
kemungkinan komplikasi
- Memastikan identitas pasien dan kelengkapan administrasi
- Memeriksa pasien yang akan di operasi
- Memastikan kelengkapan instrumen dan peralatan
- Memastikan kesiapan kegawatan
- Memastikan kesiapan anestesi
- Memastikan kesiapan fasilitas ruangan operasi
- Membantu memposisikan pasien
- Membantu operator melakukan antiseptik
- Membantu operator menutupi pasien dengan duk steril
- Berkomunikasi dengan anestesi tentang kesiapan tindakan operasi dan kondisi
pasien
- Cuci tangan bedah dan mengenakan jas operasi
Selama Operasi
- Membantu operator dalam setiap tindakan yang dilakukan
- Memberikan lapang pandang yang baik pada area operasi dan bersih sepanjang
operasi
- Memantau dan meminimalisir perdarahan
- Mengawasi kondisi pasien dan berkomunikasi dengan anestesi
- Mengawasi kinerja instrumenter dan asisten dua
- Mengantisipasi kebutuhan operator baik kebutuhan personal maupun kebutuhan
tindakan operasi, selangkah di depan operator
- Bertindak sebagai manajer dari tim pendukung operasi
Sesudah operasi
- Membantu menutup luka, membersihkan pasien
- Membantu anestesi mengamankan pasien
- Membantu transport pasien
- Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien
- Berkomunikasi dengan operator tentang follow up pasien
2. Asisten Madya (asisten dua)
Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril membantu operator dan asisten
Utama selama operasi
Syarat : - Paramedik terlatih secara intern RS
- Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptic
- Menguasai / fasih intrumen operasi
Tugas :
Sebelum Operasi
- Bersama onloop menyiapkan instrumen dan alat-alat termasuk benang jahit, jarum,
juga ketersediaan obat2an anestesi, dan cairan
- Melakukan cuci tangan bedah, memakai jas operasi dan sarung tangan steril dengan
teknik yang benar
- Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo
- Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan antiseptik kulit. Berdiri pada
disisi operator / asisten satu saat melakukan antiseptik kulit.
- Membantu menutup pasien dengan duk steril
Selama Operasi
- Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba membaca keperluan operator satu
langkah lebih dahulu.
- Menghitung selalu kasa yang tersedia di area operasi dan kasa yang sudah terpakai.
- Buang Kasa yang sudah terpakai pada tempat sampah infeksius
- Menjaga agar daerah operasi selalu rapih dan kering
- Membantu sehingga Instrumen tidak boleh menumpuk tapi harus tersusun.
- Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa, instrumen, dan jarum.
Pasca Operasi
- Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril, keringkan dengan kasa
kering
- Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dankasa steril dan difixir dengan
plester / Hypafix
- Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai tertinggal
- Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan chlorine 0,5%, biarkan
selama10 menit. Rendam secara sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit
instrument yang direndam.
- Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam
- Membantu malakukan spooling / bilas kanul dan selang dengan air chlorine 0,5%
dan air bersih
- Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum dilepaskan. Jangan lepas
handschoen sebelum semua pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai
prosedur buku ini.
- Membantu kegiatan omloop dan instrumenter
3. Circuler (Onloop)
Nama jabata : Sirkuler / Onloop
Pengertian : Petugas kamar operasi yang tidak steri ( tidak memakai jas operasi tidak
Memakai handscond steril )
Tanggung jawab: - Membantu memenuhi seluruh kebutuhan kamar operasi, operator,
anestesi, instrumenter dan pasien sebelum, selama dan sesudah
operasi.
- Membantu team yang steril dengan supply yang steril
Syarat : - Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
- Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
- Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan
kegawatan
- Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan dan letak
penyimpanan instrumen dan bahan medis lain dalam kompleks OK
- Cekatan dan inisisatif
Tugas :
Sebelum Operasi
- Cuci tangan bedah tapi tidak memakai jas dan handschoen steril. Handschoen dapat
yang steril tapi tidak dijaga sterilitasnya.
- Memeriksa kebersihan ruangan , membersihkan ruangan jika belum dibersihkan
- Membantu mempersiapkan instrumen bersama Instrumenter
- Identifikasi pasien dan serah terima pasien, memastikn kelengkapan administrasi
- Membantu transport pasien senyaman mungkin
- Mengganti pakaian pasien
- Membantu memposisikan pasien di meja operasi
- Menyambungkan alat 2 ke supply listrik, menyambungkan selang dan kabel steril
dengan alat yang non steril spt suction atau diatermi
- Membantu team steril mengenakan apron, jas operasi, sepatu goggle
- Mengisi buku catatan operasi, catatan pasien, formulir pemeriksaan, dsb
Selama Operasi
- Melihat jalannya operasi dan selalu memenuhi alat , supply atau instrumen yang
dibutuhkan team
- Menghitung kasa yang dipakai
- Memperhatikan kebutuhan pasien semisal pasien kedinginan, infus habis , posisi
dsb
- Selalu berkomunikasi dengan seluruh tim . Bila keluar ruangan agar
memberitahukan instrumenter
- Menerima spesimen dengan baik dan mengelolanya dengan benar
- Membantu kebutuhan personal tim steril seperti menghapus keringat, menghapus
cipratan darah, membenahi pakaian , menyediakan alas kain pada lantai dsb
- Menjaga agar ruang operasi selalu bersih , rapi, dan nyaman
Setelah Operasi
- Menyediakan waskom chlorine 0,5% untuk cuci handscoond operator, melepaskan
jas operasi
- Memasangkan plester pada kasa / dressing
- Membersihkan pasien dari darah dan kotoran lainnya dari tubuh.
- Memakaikan pakaian pasien dengan baik
- Transport pasien ke ruang pemulihan bersama peata anestesi atau serah terima
pasien dengan petugas rawat inap.
- Menyiapkan laporan operasi, formulir pemeriksaan, atau resep , serta konsumsi
untuk operator
- Membantu instrumenter membersihkan alat dan Instrument
- Membersihkan ruangan operasi dan menyiapkan ruangan operasi
H. Transport Pasien
Pasien diantarkan ke Ruang operasi oleh paramedic ruangan rawat inap
Tergantung kondisi pasien, pasien dapat diantar dengan membawa bed atau dengan
kursi roda
Dilakukan serah terima berita acara tindakan operasi antara paramedik ruangan dengan
petugas OK, besaerta status pasien dan obat-obatan yang diperlukan
Petugas OK memeriksa kembali kelengkapan administrasi dan identitas pasien
Setelah dinilai lengkap, pasien dibawa ke koridor transport pasien untuk kemudian
dipindahkan ke brankar OK
Lakukan pemindahan senyaman mungkin
Setelah pasien diatas brankar, possikan senyaman mungkin, bed pasien dikeluarkan.
Pasien dibawa ke koridor ruang recovery
Ganti semua pakaian dengan duk bersih, lepaskan semua perhiasan, beri penutup kepala,
lakukan senyaman mungkin sesuai tata krama. Tenangkan pasien.
Setelah selesai, pasien ditransport ke ruang operasi, pindahkan pasien ke meja operasi
senyaman mungkin. Posisikan senyaman mungkin.
Semua suportif diperiksa kelancarannya : IV line, urine catheter, O2, Pasang manset
Tekanan darah, pasang pulse oxymetri, nyalakan pulse oksimeter/ECG Monitor

II. PELAKSANAAN TINDAKAN OPERASI

Surgical Scrub
Pengertian : Adalah cara cuci tangan bedah yang dilakukan sebelum operasi
Tujuan : Mencegah terjadinya infeksi dari tangan kepada pasien selama operasi
Kebijakan :
- Cuci tangan dilakukan ditempat cuci tangan khusus
- Air yang digunakan adalah air tanah yang mengalir dan sudah teruji
secara biologis
- Antiseptik yang digunakan adalah Chlorhexidine tanpa diencerkan
-
Prosedur :
1. Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan
2. Pastikan bagian lengan pakaian OK tidak terlalu dekat ke siku
3. Buka keran, biarkan air mengalir sejenak
4. Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, alirkan air sedemikian rupa sehingga
seluruh permukaan jari-jari, telapak tangan, punggung tangan, pergelangan dan
lengan bawah terbasuh dan air mengalir ke arah siku
5. Lakukan pada lengan yang satunya.
6. Keluarkan Chlorhexidine secukupnya dengan tangan satu dan menampungnya
dengan tangan lainnya
7. Lakukan tujuh langkah pencucian tangan :
a. Gosok-gosokkan kedua telapak tangan
b. Gosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan jari saling terkait diantara jari
sedemikian rupa sehingga sela jari terkena
c. Gosok-gosok punggung tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain ,
kaitkan jari diantara jari tangan yang lain sehingga sela jari terkena, lakukan
secara bergantian
d. Letakkan punggung jari-jari tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain
dengan jari saling mengunci lalu gosok-gosok sedemikian rupa sehingga ujung
jari-jari tangan yang satu membersihkan buku-buku jari tangan yang lain
e. Gosok-gosok ibu jari tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain secara
berputar, lakukan bergantian
f. Kuncupkan tangan yang satu sehingga semua ujung jari bertemu, lalu gosok-
gosokkan ke telapak tangan yang satunya, secara berputar ke kiri dan ke kanan,
lakukan bergantian
g. Gosok-gosok seluruh permukaan pergelangan tangan hingga sepertiga tengah
lengan bawah oleh telapak tangan yang lain, lakukan bergantian
8. Seluruh proses 7 langkah tadi dilakukan selama 1 menit, bisa dibagi2 per langkah
atau lagkah tadi dilakukan berulang kali
9. Biarkan keran air terbuka dan air mengalir sepanjang proses cuci tangan tadi
10. Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bilaslah seluruh tangan dan lengan
dengan air mengalir sedemikian rupa sehingga seluruh permukaan terbasuh dan
buih dari antiseptik terbasuh
11. Lakukan 7 langkah cuci tangan seperti diatas dengan antiseptik chlorheksidin
sekali lagi.
12. Tutup keran dengan menggunakan siku
13. Pertahankan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bila perlu jabatkan kedua tangan.
Posisi tangan jangan terlalu tinggi jangan terlalu dekat dengan wajah.
14. Kenakan jas operasi dan Handschoen dengan lengan dan tangan masih terbalur
antiseptik
Surgical gown
1. Pakaian OK dan APP tim operasi sesuai prosedur
2. Jas wajib dipakai pada setiap operasi sedang hingga besar / luar biasa
3. Setelah cuci tangan selesai, dan petugas sudah di dalam ruang operasi, buka Ikatan jas
operasi
4. Kenakan jas dengan memasukkan tangan dan lengan kedalam lengan jas yang sesuai.
Genggam ujung lengan jas dengan tangan.
5. Biarkan onloop mengikatkan tali di bagian belakang jas
6. Ikatlah tali pada lengan jas sehingga ujung lengan jas melekat pada pergelangan
7. Kenakan Handschoen dan posisikan tangan selalu diatas pusar
8. Ingat, walaupun sudah memakai jas, bagian pusar ke bawah
tetap dianggap non steril.
Handgloving
1. Kenakan Handschoen secara hand to hand glove to glove
2. Handschoen selalu dalam keadaan bagian lengan terlipat keluar.
3. Ambil handshoen kanan dengan tangan kiri dengan memegang bagian lipatan
handschoen kanan yang merupakan sisi yang melekat ke kulit
4. Masukkan tangan kanan hingga semua jari masuk ke tempatnya masing masing.
Lepaskan tangan kiri dan biarkan handschoen masih dalam keadaan terlipat ditangan
kanan
5. Ambil handschoen kiri dengan menggunakan tangan kanan yang sudah memakai
handschoen dengan mengaitkan jari tangan kanan ke dalam lipatan, yaitu sisi yang
kelak akan menghadap ke luar, tidak melekat ke kulit
6. Masukkan tangan kiri hingga jari-jari masuk ketempatnya masing masing. Dengan jari
tangan kanan yang masih mengait ke lipatan handschoen kiri, lipatan kemudian di
buka sedemikian rupa sehingga bagian lengan handschoen menutupi sepertiga distal
lengan bawah tangan kiri.
7. Jari tangan kiri mengait ke lipatan handschoen kanan pada sisi yang kelak menghadap
keluar, kemudian membuka lipatan sedemikian rupa sehingga sepertiga distal lengan
bawah kana tertutup handschoen
8. Posisikan tangan diatas pusar
Posisikan tubuh pasien
1. Posisi Anestesi
Anestesi Umum
Bila dilakukan anestesi umum, maka sebelum anestesi umum pasien sudah
diposisikan terlentang. Posisikan senyaman mungkin. Ikat tungkai pada bagian atas
lutut. Posisi lengan terlentang dan terikat pada penyanggah.
Anestesi spinal
Bila dilakukan anestesi spinal, maka posisi anestesi spinal adalah duduk dengan
tungkai lurus ke depan atau uncang-uncang pada kedua sisi bed operasi, tangan
diletakkan pada bed atau tungkai dengan posisi palmar diatas, lemas, kepala
tertunduk.
Posisikan pasien sesuai kebutuhan operasi setelah anestesi selesai.
2. Posisi Terlentang
Setelah proses anestesi selesai, maka posisi lengan disesuaikan kebutuhan apakah akan
terlentang dan terikat pada penyanggah, atau terlipat dibawah kepala, atau lurus
disamping tubuh pasien, Tungkai biasanya lurus dan terikat pada bagian atas lutut,
tambahan-tambahan lain semisal penyanggah bahu, penyanggah panggul dsb
disesuaikan kebutuhan
3. Posisi Litothomi
Posisi bokong pasien pada batas bagian badan dan tungkai bed operasi. Siapkan
penyanggah tungkai di sisi kiri dan kanan batas tersebut.
Letakkan pelindung / pad pada penyanggah tungkai, lalu letakkan bagian belakang
lutut pada penyanggah, sedemikian rupa sehingga bagian perineum terekspos dengan
baik dan tungkai terposisikan dengan nyaman.
Posisikan lengan terlentang dan terikat pada penyanggah
Tutup pasien dengan baik
4. Posisi miring
Posisi pasien miring kiri atau kanan sedemikian rupa sehingga area operasi terekspos
dengan baik, jalan nafas dan anestesi tidak terganggu, dan posisi pasien stabil tidak
dapat jatuh ke posisi depan atau belakang.
5. Posisi tengkurap
Idem posisi miring.
Antiseptik area operasi
- Dengan bantuan sponge clamp / klem kassa / penser klem, balurkan Betadine ke area
operasi menggunakan kassa steril
- Bila area operasi dinilai kotor , terkontaminasi, misal pada fraktu daerah ekstremitas,
terutama tungkai, apalagi fraktur terbuka, area operasi dapat dicuci dulu dengan NaCl
0,9% steril dengan atau tanpa larutan savlon sebelum dibalur betadine. Pencucian
dilakukan oleh onloop menggunakan handschoen non steril.
- Balurkan mulai titik tengah area operasi berputar kekiri atau ke kanan terus makin luas
sedemikian rupa sehingga area yang terbalur betadine cukup luas dan jauh dari area
operasi.
- Bila terpaksa membalur dengan arah lurus, maka balurkan menjauh area operasi.
- Betadine yang dibalurkan harus cukup banyak, tidak tipis-tipis.
- Pada area operasi pembaluran dapat dilakukan berkalikali disertai sedikit tekanan agar
kasa sekaligus berfungsi membersihkan kulit juga.
- Buanglah kasa ke tempat sampah bila betadine yang terdapat
pada kasa tinggal sedikit. Ganti kasa dengan yang baru sebelum memulai membalur
lagi.
- Daerah sela-sela selangkangan dibalur terakhir. Klem kasa yang sudah dipakai
membalur daerah selangkangan tidak boleh dipakai lagi sebelum disteril ulang,
- Setelah selesai antisepsis, klem kasa dipisahkan dengan alat lain dan dianggap non steril.
- Bila sudah ditutup dengan duk, betadine pada area operasi dibersihkan dengan alkohol
70%
Menutup area operasi
- Setelah Proses antisepsis selesai, batasi area operasi dengan duk steril.
- Pertama tutup bagian tungkai hingga batas bawah area operasi. Pada posisi lithotomi
tutup bagian alas bokong dan bagian bawah bed.
- Bila menggunakan duk bolong, maka langkah selanjutnya hanya memakai duk bolong
ini.
- Bila menggunakan duk biasa, maka setelah bagian tungkai, maka tutup bagian atas
pasien hingga batas atas area operasi. Hati-hati duk menutupi wajah pasien
- Setelah itu tutup bagian samping tubuh pasien hingga batas lateral area operasi kiri dan
kana. Fiksasi duk dengan doek klem. Posisikan doek klem supaya tidak menonjol /
mengganggu pelaksanaan operasi.
- Lapisi bagian bawah dengan duk satu lagi sehingga bila bagian bawah dipakai
menyimpan instrumen tidak mudah melorot atau basah dan terkena bed operasi.
Beberapa petunjuk selama operasi
a. Menggunakan hak
- Agar tercipta lapang pandang yang baik sisi luka perlu ditarik ke arah luar atau atas.
- Gunakan hak yang sesuai dengan ukuran luka operasi dan kedalaman lapang
pandang yang dibutuhkan. Contoh untuk ekstirpasi FAM mungkin hanya dibutuhkan
hak Gigi atau langenbeck kecil saja. Untuk Hernia mungkin perlu hak Roche
dan langenbeck saja, Untuk hysterctomy pada yang kurus bisa hanya blaas hak saja
atau hak cangku / langenbeck besar pada orang gemuk dsb.
- Selalu lepaskan hak dari area operasi bila tangan operator masuk, karena selain bisa
menghalangi tangan juga menyebabkan sakit pada tangan operator
- Perhatikan arah operator , gerakkan / pindahkan hak untuk
memberi lapang pandang yang lebih baik bila diperlukan
b. Membersihkan darah
- Untuk darah yang menggenang, gunakan suction dengan canul.
- Untuk perdarahan yang banyak dan cepat dapat menggunakan suction tanpa kanul.
Hindari tangan terlalu dekat dengan area operasi / menghalangi pandangan.
- Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang sempit / dangkal, gunakan kasa
depper kecil / terlipat pada klem kasa
- Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang dalam/luas, gunakan kasa
depper besar / tak terlipat / bendera pada klem kasa. Gunakan hanya 1 kasa saja
untuk mencegah ketinggalan.
- Menggunakan kasa depper adalah dengan di tekan-tekankan, bukan di usap /
gosokan pada luka karena gesekan bisa menimbulkan kembali perdarahan, terutama
pada daerah yang rapuh
- Ingat usahakan selalu area operasi dalam keadaan yang kering dan bersih.
- Gunakan kasa untuk membersihkan area operasi dan instrument dari bekuan darah.
c. Menghentikan perdarahan
- Harus pro aktif dalam menghentikan perdarahan. Bedakan perdarahan yang
merembes dari jaringan, mengalir dari pembuluh vena dan menyemprot dari
pembuluh arteri
- Perdarahan yang merembes dari jaringan yang robek / di sayat, berasal dari
pembuluh darah kecil. Coba lakukan pembersihan dengan kasa. Biasanya lama-
kelamaan berhenti sendiri.bila masih, coba lakukan penekanan dengan kasa selema
beberapa detik.
- Bila tampak perdarahan mengalir, atau tidak berhenti dengan tekanan, mungkin
berasal dari pembuluh vena yang ukurannya kecil sampai besar. Darah yang mengalir
biasanya lebih gelap dan tidak ada pullsasi. Gunakan klem untuk menjepit pembuluh
darah. Biarkan beberapa saat. Bila perdarahan berhenti, maka tidak perlu dijahit/
cauter. Tapi bila masih ada perdarahan, maka jepit ulang dengan klem untuk
selanjutnya dijahit / diikat/ atau dibakar dengan cauter.
- Pengikatan / penjahitan perdarahan pada bagian tubuh yang menetap dalam tubuh
menggunakan plain gut atau chromic gut.
- Untuk bagian tubuh yang akan dibuang, menggunakan silk/seide.
- Cauterisasi dengan menempelkan ujung pen pada klem. Tekan tombol coagulate
untuk membakar pembuluh darah selama beberapa detik hingga tampak bagian yang
dijepit menghitam. Hindari klem atau cauter menempel pada jaringan epidermis
kulit. Lepskan klem, perhatikan apakah perdarahan berhenti.
d. Tentang Jarum
- Selalu memegang benda tajam seperti bisturi atau jarum dengan alat, baik
pinset,klem atau naldfulder.
- Jarum dapat dipakai kembali sedangkan bisturi harus dibuang ditempat sampah
benda tajam. jenis jarum menurut mata jarumnya
- Jarum taper bermata jaru bulat, bila ditusukkan tidak merobek jaringan yang
ditembusnya. Digunakan untuk menjahit jaringan lunak dibawah jaringan kutis.
Kecuali pada jaringan yang keras seperti cervix uteri, kelenjar payudara yang
displastik, bisa dipakai jarum cutting dengan pengawasan perdarahan.
- Jarum Cutting bermata jaru segi tiga, bila ditusukkan akan merobek jaringan yang
ditembusnya sehingga bisa menimbulkan perdarahan. Digunakan untuk menjahit
kulit atau jaringan yang keras.
- Jarum non traumatik, yaitu jarum yang langsung terhubung dengan benang diujung
belakang /pangkalnya. Tidak memiliki lubang jarum sehingga dapat menembus
jaringan dengan mulus. Misal jarum pada benang dalam kemasan sachet.
- Ekor benang pada lubang jarum jangan terlalu pendek sehingga mudah lepas atau
terlalu panjang sehingga mengganggu penjahitan. Standar panjang ekor benang
adalah 4 5 cm.



e. Tentang benang
- Mengambil benang dalam kaset harus menggunakan naldfulder atau klem . tarik
sebanyak 2 kali panjang naldfulder atau kirakira 40cm. Atau sesuaikan dengan
kebutuhan / karakter operator.
- Mengambil benang dari sachet juga menggunakan naldfulder. Buka lipatan dan
ambil jarum dengan nalfulder, dan tarik hingga benang keluar seluruhnya.
- Secara umum benang operasi dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu benang
absorbable ( dapat diabsorpsi) dan non absorbable ( tidak diabsorpsi)
- Benang yang dapat diabsorpsi dapat dicerna tubuh untuk kemudian hancur oleh
proses radang / inflamasi / reaksi tubuh sendiri sehingga hubungan antar 2 sisi bisa
saja lepas . Jangka waktu penghancuran ini berbeda beda berkisar antara 3 hari
hingga 3 bulan.
- Benang yang non absorpsi tidak dapat dicerna tubuh. Bisa bertahan di dalam tubuh
selama bertahun-tahun karena bersifat Inert ( tidak menimbulkan / merangsang reaksi
tubuh) digunakan untuk kulit atau jaringan dibawah kulit yang sukar sembuh.
- Contoh benang absorpsi adalah plain gut, chromic gut , Polyglycolic acid (dexxon /
Atramat / polysorb) poligaktin ( Safil, safi quick)
- Contoh benang non absorpsi adalah silk / seide, nilon (monosof , Dermalon ),
Polypropylen ( Prolene , mersilene)
- Ukuran benang bermacam-macam, pemakaiannya tergantung kebutuhan / jenis
operasinya.
f. Tentang gunting
- Semua instrumen yang memiliki bagian yang diperuntukkan jari seperti gunting,
klem, dsb di pegang dengan memasukkan ibu jari pada lubang yang satu dan jari
manis pada lubang yang lain. Jari telunjuk dan tengah menopang instrumen dan
membantu mengarahkan instrumen
- Dalam hal gunting, untuk menjaga agar tangan tidak goyah yang bisa berakibat fatal,
maka jari pada tangan kiri ikut membantu menopang gunting saat pengguntingan
dilakukan








PASCA OPERASI

1. Pengelolaan Pasien
Perawatan luka operasi
- Segera setelah selesai tindakan operasi, area operasi dicuci bersih dengan NaCL
0,9% steril.
- Pembersihan dilakukan mulai dari luka sayatan meluas kesekitarnya.
- Luka operasi ditutup dengan kasa kompres betadine , lalu kasa steril polos.
- Fixasi kasa dengan Hypafix atau plester
- Setelah masuk rawat inap perawatan luka sebagaimana standar asuhan keperawatan.

Membersihkan Pasien dan memberikan pakaian
- Setelah area operasi dan sekitarnya dibersihkan pasien dipindahkan ke brankar
dengan hati-hati.
- Bersihkan bagian tubuh pasien yang menempel pada bed operasi dengan air bersih
dan washlap. Miring-mairingkan pasien untukmencapai bagian itu.
- Sambil dibersihkan, pakaian pasien diiapkan. Kenakan pakaian pada pasien, beri
sarung atau kain bersih, serta selimuti ia.
- Pasien pindah ke bed pasien dalam keadaan sadar / tidak, pakaian dan tempat tidur
rapi.
Recovery Room (RR) dan Pengawasan di ruang rawat inap
- Tempatkan pasien dalam RR sampai pasien sadar betul.
- Petugas OK melaksanakan tugas pasca operasi sambil mengawasi pasien. Setelah
selesai atau setelah pasien stabil dan sadar betul , pasien ditranfer ke rawat inap.
- Kemungkinan lain adalah setelah selesai operasi pasien langsung ditransfer ke rawat
inap dan ditempatkan di HCU untuk beberapa jam sampai pasien sadar betul dan
diawasi petugas rawat inap. Bila sudah sadar betul / stabil, dapat dipindahkan ke
ruangan inapnya.



Pengelolaan Linen
- Segera dekatkan waskom berisi Chlorine 0,5%, untuk cuci handschoen operator.
Mintalah operator melepaskan handschoen untuk direndam pada waskom tsb.
- Segera buka jas operasi operator. Letakkan didalam ember linen kotor berpenutup.
- Semua duk dimasukkan ke ember linen kotor. Jangan biasakan menjatuhkan duk di
lantai.
- Jika ada kain alas kaki dilantai juga dimasukkan ke dalam ember tsb.
- Jika apron terbuat dari plastik saja dan tidak ada bagian yang menyerap cairan tubuh
pasien cukup dibersihkan dengan cairan chlorine saja. Tapi bila terbuat dariparasit dan
atau ada bagian yang menyerap cairan tubuh pasien, harus diperlakukan sebagaimana
linen.
- Pakaian OK setelah berganti pakaian diletakkan didalam ember. Jangan dibiasakan
berserakan dilantai
- Penutup kepala dan masker dibuang kedalam tempat sampah infeksius. Selanjutnya
Transport Linen kotor dalam ember tertutup menggunakan trolley khusus dengan jalur
yang sudah ditentukan, langsung ke ruang laundry. Jangan berhenti atau mampir ke
manamana.
- Linen diolah di ruang laundry sesuai prosedur.
Pengelolaan I nstrumen
- Segera rendam instrumen kedalam larutan chlorine 0,5% yang terdapat dalam wadah /
ember plastik.
- Sebaiknya instrumen direndam sekaligus, jangan sedikit-sedikit.
- Rendam selama 10 menit. Bila instrumen direndam sedikit-sedikit, maka hitungan 10
menit sejak instrumen terakhir dimasukkan.
- Rendam sampai seluruh instrumen terendam seluruhnya, jangan lupa membuka
pengunci instrument
- Untuk selang dan atau kanul, maka sebelum direndam dilakukan spooling dulu
dengan larutan chlorine 0,5% untuk kemudian direndam selama 10 menit.
- Setelah 10 menit lakukan pencucian dengan detergent dan pembilasan dengan air
bersih mengalir dan penyikatan jika diperlukan. Untuk kanul dispooling dengan air
detergent dan dispooling dengan airbersih dan dibilas.
- Keringkan dengan menggunakan handuk bersih atau dianginkan menggunakan
hairdryer
- Bila instrumen termasuk dalam packing, maka setelah kering dilakukan packing
kembali dan dilakukan sterilisasi segera. Bila instrumen tidak termasuk yang di
packing maka instrumen disimpan dalam lemari kaca yang dilengkapi kantung karbon
hidrophilik dan penerangan sekaliguss pemanasan dengan lampu pijar 10 Watt.
Pengelolaan Peralatan dan Fasilitas
Bed Operasi
- Seluruh permukaan bed operasi dibersihkan dengan chlorine
0,5%
- Buka kunci roda, dan pindahkan bed agar lantai dibawah bed bisa dibersihkan.
Gulirkan roda diatas genangan larutan chlorine bolak balik, keringkan lantai,
kemudian kembalikan bed ke tempat semula dan di kunci roda
Trolley
- Perlakuan sama dengan bed operasi.
- Trolley diletakkan di ruang peralatan
Brankar dan standar
- Perlakuan sama dengan bed operasi.
- Standar diletakkan di ruang peralatan, brankar di koridor transport / RR
Lampu Operasi
- Seluruh permukaan lampu operasi dibersihkan dengan chlorine 0,5%
- Periksa adakah bola lampu yang rusak. Segera laporkan kepada bagian pemeliharaan
untuk segera diganti.
Alat anestesi
- Permukaan trolley di bersihkan dengan chlorine 0,5%
- Vaporizer ditutup, O2 dan N2O ditutup.
- Facemask di bersihkan denganchlorine 0,5%
- Selang, canule, ETT, mayo diperlakukan sebagaimana instrumen.
Monitor EKG
- Matikan monitor ECG, cabut kabel dari stekker
- Gulung dengan bai semua kabel dan letakkan pada gantungannya.
AC
- Matikan AC
Pengelolaan Ruangan
- Lantai dibersihkan dengan chlorine 0,5%
- Dinding dibersihkan dengan chlorine 0,5%
- Tempat cuci tangan diperiksa kebersihannya
- Spoolhoek diperiksa kebersihannya
- Ruang ganti pakaian dan Ruang dokter diperiksa kebersihannya
- Kamar mandi diperiksa
- Ruang instrumen diperiksa
- Ruang RR diperiksa
- Ruang sterilisasi diperiksa.
Pengelolaan Spesiment
Hal-hal yang harus diperhatikan pada penanganan spesiment adalah label yang
benar, pengawetan (preserverasi) dan pengiriman yang benar, sebab bila pemberian label
yang salah atau specimen tertukar dapat berari menentukan diagnose yang salah untuk
dua orang pasien.
Hilangnya spesiment dapat berarti tidak dapat menentukan diagnose atau harus dilakukan
pengambilan spesiment baru dengan kemungkinan tidak mendapatkan specimen yang
sama jenisnya dengan yang hilang.
Oleh karena itu semua specimen harus diamankan kecuali dokter memintanya untuk
membuang.
a) Prosedur penanganan specimen
1. Tangani specimen dengan hati-hati
2. Instrumenter mengkonfirmasikan lagi dengan dokter mengenai sifat specimen dan
jenis pemeriksaan yang akan dilakukan, kemudian periksa ulang dengan om loop
sebelum menyerahkan kepada on loop.
3. Om loop menyimpannya ke dalam tempat yang tepat, seperti kantong plastik,
stoples dan sebagainya yang steril.
4. Berikan label yang memuat :
a. Nama pasien
b. Nomor C.M. ( Catatan Medik )
c. Tanggal Operasi
d. Nama specimen
5. Apabila diambil lebih dari satu specimen, specimen-specimen itu harus diberi
nomor label sesuai dengan urutan diangkatnya dan tempatkan dalam tempat yang
terpisah kecuali dokter meminta untuk menyimpan dalam satu wadah.
6. Organ-organ yang solid seperti : hati, limpa, uterus, dan lain-lain biasanya
dipotong dahulu oleh Dokter sebelum disimpan pada tempat yang sudah berisi
pengawet.
7. Organ yang berbentuk pipa seperti : jaster, Colon, Vesica Winara harus dibuka
dulu agar bahan pengawet mengenai sisi luar dan dalamnya.
8. Jangan membuat trauma pada jaringan specimen seperti biopsy nosofaringeal.
9. Tidak boleh memasukkan dengan paksa ke dalam tempat yang sempit.
10. Jangan membuang specimen kecuali Dokter memintanya untuk dibuang.
b) Prosedur khusus Penanganan Specimen untuk Pemeriksaan Histologi
1. Rendam specimen dalam formalir 10% (0 cc larutan formalir kadar 40% dalam 90
cc air )
2. Tutup rapat-rapat tempat specimen tadi untuk mencegah penguapan bahan
pengawet.
c) Prosedur Khusus penanganan Specimen Untuk Kultur.
1. Simpan dalam stoples atau tabung pemeriksaan / test tube yang steril oleh
instrumenter.
2. Tidak boleh diberi bahan pengawet, karena jaringan harus dalam keadaan segar
dan seperti asalnya.
3. Idealnya specimen untuk kultur dikirim segera kalau tidak specimen tersebut harus
disimpan oleh kotak yang bersuhu ruangan, untuk mempertahankan agar jumlah
bakteri tetap sampai kultur dilakukan.
d) Prosedur Khusus Penanganan Specimen untuk Frozen Section
1. Pastikan bahwa bagian ahli, Patologi sudah diberitahu sebelumnya, biasanya sehari
sebelumnya diberitahu oleh dokter ahli bedah yang akan mengoperasi pasien.
2. Perintahlah seseorang untuk bersiap-siap pergi mengantarkan specimen ke bagian
Patologi Anatomi.
3. Ingatkan dokter untuk mengisi formulir Histologi dengan tepat, misalnya riwayat
klinis dan penemuan operasi.
4. Simpan specimen dalam wadah yang sudah diberi label. Untuk pemeriksaan ini
tidak perlu bahan pengawet.
5. Tuliskan nomor telepon yang harus dihubungi oleh ahli oleh patologi pada sebelah
kanan atas formulir sehingga hasil dapat diperoleh dengan cepat.
6. Specimen dikirimkan ke Laboratorium P.A.
7. Catatkan hasil pemeriksaan dengan nama pasien nomor catatan medik, bila cocok
laporkan segera ke dokter.
8. Jika specimen dikembalikan ke kamar bedah, rendam specimen itu dalam formulir
tandai pada tempat specimen itu Frosen section sudah dilakukan.
e) Prosedur Khusus Penanganan Specimen Untuk Difoto.
1. Tempatkan specimen pada sebuah tempat yang datar, kalau perlu yang dilapisi
duk.
2. Sebelum dilakukan pemeriksaan specimen tidak boleh diberi bahan pengawet.
f) Prosedur khusus Penanganan Benda Asing.
1. Simpan dalam kotak kontainer seperti stoples, kemudian kembalikan pada pasien,
benda asing ini dapat berupa : tulang ikas, gigi palsu, dan sebagainya.
2. Benda asing jika perlu dibungkus dengan kertas kasa, kemudian masukkan ke
dalam wadah/stoples, catat dalam buku catatan benda asing, kemudian serahkan
kepada polisi sebagai tanda polisi mengambilnya ia harus menandatangani catatan
tadi.
3. Data yang dibentuk dalam tubuh dimasukkan ke dalam kantong plastik tanpa
bahan pengawet dan diberi label. Tanyakan pada dokter apakah data tersebut
diperlukan oleh analisa atau diserahkan ke keluarganya.
Catatan :
- Semua specimen harus dikirimkan dengan formulir yang tepat dan sudah
ditandatangani.
- Specimen pada bagian yang menular misalnya : Hepatitis B harus ditangani
lebih hati-hati.
- Simpan specimen ini pada stoples yang berlabel khusus, sehingga orang-orang
yang menanganinya akan lebih hati-hati.



























DEKONTAMINASI, DESINFEKSI , STERILISASI

A. DEFINISI
Pada dasarnya, ada banyak usaha kita untuk meminimalisir potensi infeksi di
RSBL dalam rangka pengendalian infeksi nosokomial.
Dari sekian banyak usaha tersebut tidak ada satupun yang bisa secara mandiri
dipergunakan tanpa dibantu usaha lain, tidak ada satu pun cara yang bisa digunakan
untuk semua komponen benda hidup dan benda mati. Semua merupakan suatu
kesatuan usaha yang bertujuan satu : Menghilangkan sebanyak mungkin
mikroorganisme dalam proses interaksi pasien RS dalam proses pelayanan medis di
RS.
Secara umum usaha-usaha tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Dekontaminasi
Adalah suatu proses / kegiatan yang berusaha menghilangkan kontaminasi suatu benda
oleh benda lain yang potensial menjadi sumber infeksi yang sekaligus juga
menghilangkan sebagian mikroorganisme penting.
Desinfeksi
Adalah suatu proses / kegiatan yang berusaha membasmi sebagian besar mikroorganisme
pada benda mati. Pengertian yang sama pada makhluk hidup disebut Antisepsis.
Sterilisasi
Adalah suatu proses yang berusaha membasmi semua mikroorganisme pada benda mati.
B. DEKONTAMINASI
Di RSPM Proses dekontaminasi dilakukan paling awal yaitu segera setelah benda
terpapar atau potensial terpapar dengan cairan tubuh pasien yang potensial
mengandung mikroorganisme yang berbahaya. Dekontaminasi dapat juga dilakukan
sebagai tindakan pencegahan .
- Pelaksana:
Handschoen dan instrumen : Operator/Asisten/onloop
Linen : Bagian laundry
- Perlengkapan :
Pasca operasi : masih memakai APP dan memakai sarung tangan karet / Rumah tangga
Petugas laundry memakai APP sesuai prosedur pengelolaan linen kotor
- Dekontaminasi dapat dilakukan dengan beberapa tahap :
Tahap 1 : jika benda mati terkontaminasi cairan atau jaringan tubuh pasien dalam
bentuk yang lebih padat, atau keras, atau jumlah banyak . Biasanya dilakukan pada
linen, sedangkan instrumen dan peralatan jarang terkontaminasi dengan kondisi seperti
diatas. Contoh : Linen terkontaminasi stoolcell, atau feces , atau sisa makanan akibat
muntah. Sebab dikhawatirkan bahan desinfektan yang selanjutnya akan diberikan bisa
berkurang efektifitasnya jika bereaksi dengan bahan2 tsb.
Cara :
Dilakukan pencucian pada daerah yang terpapar saja dengan bantuan air mengalir yang
kuat / disemprot dan dibantu penyikatan. Dilaksanakan oleh paramedis sebelum linen
ditransfer ke laundry. Dilaksanakan di spoolhoek di OK / VK
Tahap 2 : Dengan merendam instrumen / alat / linen dalam larutan chlorine 0,5%
selama 10 menit. Tahap ini dapat membasmi kuman hingga 80% termasuk Virus HIV,
HBV dan HCV
Cara membuat larutan chlorine :
a. Menggunakan Bayclin ; 1 bagian bayclin + 9,5 bagian air bersih
b. Menggunakan Presept ; 5 gram Presept setiap liter air
c. Menggunakan Kaporit 60% ; 1 ons / 100 gram kaporit + 12 liter air bersih
d. Menggunakan Kaporit 0,5% ; 14 gram kaporit setiap liter air bersih
Cara merendam :
a. Untuk instrumen dan handschoen Dilaksanakan di spoolhoek di OK / VK. Untuk
Linen dilaksanakan di Ruang Laundry.
b. Untuk Instrumen dan handschoen larutan chlorine disediakan dalam wadah plastik.
Beri tanda ketinggian pada wadah tersebut untuk tiap kenaikan 1 liter airnya.
Wadah untuk Handschoen dan instrumen terpisah. Untuk Linen , larutan chlorine
disediakan dalam bak cuci.
c. Handschoen sebelum dilepaskan dicuci dahulu dalam larutan chlorine, baru
dilepaskan sesuai aturan dan direndam dalam keadaan terbalik.


d. Instrumen direndam dalam keadaan terbuka kuncinya, dan sebaiknya direndam
sekaligus tidak sedikit2. Sebab sifat korosif chlorine, maka masalah lama
perendaman menjadi penting. Bila direndam sedikit-sedikit, maka hitungan 10
menit dimulai sejak instrumen terakhir dimasukkan.
e. Linen langsung direndam dalam bak berisi larutan chlorine, serta diaduk-aduk
sebentar agar semua linen terbasahi dengan baik.
f. Rendam selama 10 menit.
g. Instrumen kemudian diangkat, dicuci dan disikat dengan air detergent, dan dibilas
dengan air mengalir
h. Handschoen diangkat, dicuci dan dikucek dengan air detergent, dan dibilas bersih
dengan air mengalir
i. Linen diangkat, diperas, dan dibilas bersih dengan air mengalir.
j. Selanjutnya sesuai prosedur pengelolaan masing-masing.
Catatan : Larutan chlorine 0,5% dapat juga dipakai sebagai usaha desinfeksi dengan
membasuh permukaan seperti permukaan lantai, kaca, meja , meja operasi.

C. DESINFEKSI
Desinfeksi di RSPM dilakukan dengan beberapa cara : Menggunakan bahan kimia,
dengan perebusan, dan desinfeksi ruangan dengan sinar Ultra violet

Desinfeksi dengan bahan kimia
Syarat bahan desinfektan yang baik :
Potensi desinfeksi / antisepsis baik / kuat, spektrum luas
Tidak bersifat toksik / karsinogenik / korosif / iritatif/ non alergenik
Mudah didapat, harga ekonomis

No Jenis Karakteristik Penggunaan
1



Sabun Antiseptik



Antiseptik lemah Efektif
melepaskan
kotoran pada tubu atau
benda mati
Cuci tangan biasa



2

3



4





5



6





7




8

Karbol (phenol)
Cresol (Lysol)
Iodine/Betadine



Alkohol 70%





Chlorhexidine



H2O2
(Hidrogen Peroksida)




Formalin




Chlorine
Desinfektan kuat
Iritable dan toksik
Spektrum luas
antisepsis/desinfektan sedang
Tidak begitu toksik, tidak
iritatif,tidak korosif
Terpengaruh darah Ekonomis
Antisepsis dan desinfektan
kuat, spektrum luas
Tidak terlalu toksik, sedikit
iritatif, mudah menguap,
tidak korosif, mdh terbakar
Harga ekonomis
Antiseptik kuat, makin kuat
jika dicampur alkohol atau
detergent. Tidak toksik
Relatif ekonomis
Antiseptik lambat, namun
karena melepaskan ion
dapar membasmi kuman
anaerob Iritatif pada luka
ekonomis
Antisepsis dan desinfektan
kuat karsinogenik sangan
iritatif dan kuat bila dicampur
alkohol bisa sporisidal
ekonomis
Dengan kadar ppm yang
tepat dapat bersifat
desinfektan kuat hingga
sporisidal
Mengepel Lantai
dan dinding keramik
Antisepsis area
tindakan / operasi
Desinfeksi darurat
Instrument
Antisepsis tubuh
Desinfeksi darurat
instrumen



Cuci tangan bedah
Merendam
instrumen

Membersihkan linen
dari darah




Mengawetkan
spesimen
Desinfeksi
handschoen daur
ulang
Desinfeksi semua
alat, instrumen,
linen, permukaan
Agak toksik
Iritatif dan korosif
ekonomis
Contoh penggunaan Presept :
Desinfeksi Linen 5g untuk 20 L air direndam selama 1 jam
Desinfeksi Lantai 5g untuk 20L air sebagai air pel
Desinfeksi Alat makan 5g untuk 20L air direndam 1 menit

Desinfeksi Ruangan dengan sinar Ultra Violet
Keluarkan semua alat mobile. Setelah ruangan dibersihkan dan didesinfeksi
permukaan, ruangan ditutup dan lampu UV dinyalakan terus menerus selama 24 jam




















D. STERILISASI
Ada 2 cara sterilisasi yang dilaksanakan di RSPM
1. Sterilisasi Steam pressure (Uap Bertekanan) dengan Autoclave
Alat Auto Clave
a. Katup pengaman
b. Indikator tekanan
c. Katup pembuka
d. Tutup autoclave
e. Baut
f. Kunci wing
g. Gasket /pelapis
h. Container
i. Tangki sterilisasi
j. Tatakan berlubang
k. Tabung pemanas
l. Lampu Indikator
m. Keran pengeluaran
n. Alat pembuka mur
Cara Penggunaan :
A. Pengemasan
Kemas / bungkus benda yang akan disterilisasi dengan baik. Susun paket-paket
tersebut pada tatakan berlubang dalam tangki sterilisasi, sisakan jarak diantara
paket2 tsb agar pemanasan dapat tersebar dengan baik.
B. Penambahan air
Tambahkan 4 liter air bersih kedalam tanki utama. Selama proses sterilisasi, air akan
menguap secara bertahap dan level air akan menurun. Jadi air yang dimasukkan
harus cukup sedemikian sehingga menegah tabung pemanas terbakar karena air
dibawah level tabung pemanas.
C. Penyegelan
Masukkan tangki sterilisasi kedalam tanki utama. Sisipkan pipa lunak yang terdapat
pada tutup ke celah setengah lingkaran disisi tangki nsterilisasi. Kemudian tutup.
Paskan posisi antara cekungan pada tutup dengan yang pada tangki utama. Dan
kuatkan penutupan dengan kunci wing searah jarum jam sedemikian sehingga
kedap udara.
D. Pemanasan
Colokkan kabel listrik ke stekker PLN, maka tabung pemanas akan menjadi makin
panas. Selama pemanasan, katup pengeluaran dalam posisi terbuka, sampai
tampak adanya uap menyemprot keluar, maka katup pengeluaran ditutup. Indikator
tekanan akan segera bergerak searah jarum jam petanda tekanan di dalam tangki
makin naik.
E. Sterilisasi
Ketika tekanan mencapai batas yang diharapkan, mulailah hitung waktu yang
dibutuhkan untuk sterilisasi. Lihatlah tabel dibawah ini. Ingat, tekanan dalam tanki
tidak boleh dibawah 0,14Mpa, dan bila kita tidak mengontrol tekanan dengan
menyesuaikan voltase listrik, katup pengaman akan membuka sendiri bila tekanan
melebihi 0,165Mpa.
Jenis benda Waktu tekanan Suhu
Benda Karet 15 0,1-0,11 121
Linen 30-45 0,1-0,15 121-126
Instrumen 15 0,1-0,15 121-126
Cairan dlm botol 20-40 0,1-0,15 121-126
F. Pengeringan
Benda-benda seperti instrumen, linen, dsb akan seger kering dengan cepat. Setelah
sterilisasi selesai, bukalah katup pemuangan. Ketika jarum indikator menunjukkan
angka 0, tunggu 1 2 menit lalu buka penutupnya dan teruskan pemanasan hingga
10 15 menit untuk menguapkan sisa air. Kemudian matikan pemanas dengan
menekan saklar ke posisi OFF.
G. Pendinginan
Jika yang disterilisasi adalah cairan, maka tidak akan cepat kering. Karenanya
jangan segera membuka katup pembuangan ketika waktu sterilisasi selesai, untuk
menghindari cairan yang mendidih itu tumpah atau meledakkan wadahnya. Karena
itu ketika sterilisasi selesai, matikan listriknya, dan biarkan tangki mendingin, sampai
jarum indikator tekanan menunjukkan angka 0. Tunggu beberapa menit, kemudian
buka katup pembuangan , lalu buka penutup.
H. Pemeliharaan
Sebelum dioperasikan, periksalah apakah airnya cukup (4liter lebih) dan level air
diatas tabung pemanas
Ketika memulai pemanasan, buka dulu katup pembuangan untuk mengeluarkan
udara dingin dalam tanki, kalau tidak, udara akan menghambat panas dan efek
sterilisasi akan terganggu.
Jika ingin mensterilkan cairan, tempatkan cairan kedalam botol kaca tahan
panas hingga 3/4nya saja. Tutup botol dengan kain dan kasa dan ikat dengan
tali. Jangan menggunakan sumbat karet atau kayu, karena botolnya bisa pecah.
Letakkan botol diatas wadah metal yang lebih besar, sehingga bila botol pecah
pecahan tidak berhamburan.INGAT ! jngan langsung membuka katup
pembuangan ketika waktu sterilisasinya selesai.
Jangan mecampur bahan yang akan disterilisasi yang berbeda waktu
sterilisasinya. Atau berbeda jnis seperti cairan dengan linen, misalnya.
Setelah sterilisasi selesai dan jarum indikator tekanan menunjuk ke angka 0,
kalau tidak bisa membuka penutupnya, bukalah katup pembuangan untuk
membiarkan udara luar masuk ke dalam tanki.
Periksa secra berkala kondisi autoclave
Lebih bagus lagi jika air yang digunakan adalah air ion atau air suling.
Ganti gasket / pelapis secara periodik
Buanglah air jika autoclave tidak digunakan lagi.
Pastikan jarum menunjuk ke angka 0 sebelum pemanasan dimulai.
1. Sterilisasi kering dengan Sterilisator Kombinasi UV-Heat
Sterilisator Kering UV-Heat :
a. Pintu penutup
b. Jendela
c. Pengatur Suhu
d. Timer
e. Lampu Indikator panas
f. Lampu Indikator UV
g. Tombol start UV
h. Selektor UV / Heat
i. Fuse/sikring
Cara penggunaan :
A. Pengemasan
Kemas / bungkus benda yang akan disterilisasi dengan baik. Susun paket-paket
tersebut pada Rak , sisakan jarak diantara paket2 tsb agar pemanasan dapat
tersebar dengan baik. Tutup pintu.
B. Sterilisasi
Aturlah panas yang ingin kita capai, Nyalakan lampu UV dengan menekan tombol
GL start. Aturlah waktu yang ingin kita pakai sesuai standar sterilisasi pada tabel.
Jika suhu yang kita inginkan tercapai, maka lampu indikator akan menyala.
Hitunglah waktunya.
Jenis benda Waktu Suhu
Benda Karet 15-20 120
Linen 30-45 120
Instrumen 15-20 120
C. Pemeliharaan
Bersihkan dan keringkan bagian dalam sterilisator setelah selesai pemakaian.
Pintu harus selalu tertutup
Periksa kondisi sterilisator secara berkala
1. Sterilisasi dengan bahan Kimia.
Bahan Kimia yang digunakan adalah Glutaraldehyde (Cidex)
Cara :
Cara ini digunakan untuk instrumen dan rubber yang berlumen seperti selang
yang perlu disimpan dlam keadaan selalu siap pakai.
Cidex membasmi bakteri vegetatif dalam 2 menit
Cidex membasmi kuman TBC dalam 10 menit
Cidex membasmi spora dalam 10 jam
Efektifitas bertahan selama 14 hari
Iritatif thd kulit sehingga pemakaian instrumen harus memakai handschoen dan
harus dibilas dengan air steril sebelum digunakan.
1. Pelaksanaan Sterilisasi
a. Sterilisasi Instrumen dalam wadah tray berpenutup
Menggunakan Sterilisator kering.
Susun instrumen yang akan disteril pada rak atas, wadah tray dan tutup pada rak
bawah.
Setelah selesai sterilisasi, wadah dikeluarkan, masukkan instrumen ke dalam
tray menggunakan korentang yang juga disteril bersama.
Ambil tutup tray dan tutup wadah.
Beri label tanggal pelaksanaan sterilisasi.
a. Sterilisasi Instrumen dalam packing duk
Menggunakan Sterilisator kering
Instrumen yang disimpan dalam packing /paket disusun dalam duk kemudian
ditutup dengan cara menggulung duk pada kumpulan instrumen tsb.
Packing diperkuat dengan selotip / label dengan tulisan tanggal pelaksanaan
steril.
Masukkan ke dalam sterilisator diatas rak.
Setelah selaesai, paket disimpan kembali dalam lemari / wadah tertutup.
a. Sterilisasi Handschoen
Menggunakan sterilisator kering
Setelah handschoen ditiriskan, dan kering, handschoen kemudian diberi sedikit
talcum powder, dan dilipat sebagaimana kondisi saat masih baru.
Letakkan duk sebagai alas tromol/pembungkus handschoen
Susun handschoen dalam tromol , pisahkan kiri dan kanan
Buka kisi-kisi tromol.
Tutup tromol dan kunci
Setelah selesai sterilisasi, kisi-kisi ditutup, tromol diberi label tanggal
pelaksanaan sterilisasi.
a. Sterilisasi Linen
Menggunakan autoclave
Jika linen akan didistribusikan ke ruangan2, duk disimpan dalam tromol.
Linen disusun sebaiknya dalam bentuk gulungan2.sehingga ada ruang diantara
tiap linen. Jika disusun dalam bentuk lipatan, maka disusun dengan berjajar,
bukan menumpuk.
Buka Kisi-kisi tromol , lalu lakukan sterilisasi sesuai petunjuk autoclave.
Setelah selesai tromol diangkat dan kisi-kisi ditutup.
Tromol diberi label tanggal pelaksanaan steril.
Jika linen hendak langsung dipakai, linen dapat langsung disimpan dalam tanki
sterilisasi dan baru dimasukkan ke dalam autoclave.
a. Sterilisasi Kasa / verband
Menggunakan sterilisator kering atau autoclave
Susun kasa dalam tromol dengan posisi berjajar bukan menumpuk
Buka kisi-kisi , tutup tromol, lakkukan sterilisasi.
Setelah selesai, tutp kisi-kisi , tromol diberi label tanggal pelaksanaan sterilisasi.
a. Sterilisasi Rubber
Menggunakan autoclave, dryheat atau cidex
Tidak menggunakan wadah
a. Sterilisasi air
Menggunakan autoclave
Air disimpan didalam botol kaca, berpenutup sumbat kain atau kasa
Botol ditaruh diatas wadah logam
Lakukan sterilisasi sesuai petunjuk autoclave.
Setelah selesai, botol diangkat, sumbat di perkuat dengan plester/hypafix.
Administrasi
Beberapa catatan administratif yang harus dilengkapi :
1. Formulir Persetujuan Tindakan Medik
2. Formulir Informed Consent
3. Formulir Berita Acara serah terima pasien Operasi
4. Formulir hasil pemeriksaan laboratorium
5. Formulir Laporan Operasi
6. Formulir Perincian Kamar Operasi
7. Buku Register Kamar Operasi
8. Formulir pengumpulan data Indikator mutu pelayanan Kamar Operasi