Anda di halaman 1dari 12

Hasil pengumpulan data perkebunan yang telah dilakukan oleh petugas

kecamatan di lapang dan dilaporkan ke pusat perlu dilakukan verifikasi dan vali-
dasi data antara lain untuk melihat konsistensi pengisian data antar kolom, antar
waktu, kewajaran data, serta melihat parameter lainnya. Verifikasi dan validasi
data dilakukan melalui koordinasi, sinkronisasi dan rapat-rapat pertemuan dengan
instansi terkait baik di pusat maupun di daerah yang menangani data perkebunan.
Pada tahun 2012, Pusdatin telah melakukan sinkronisasi data perkebunan dan im-
plementasi e-form perkebunan. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat
mendukung tersedianya data perkebunan secara lengkap, tepat waktu dan valid.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian sebagai salah satu unit instansi
di Kementerian Pertanian mempunyai tugas pokok diantaranya mengumpulkan,
mengolah dan menganalisis data serta membuat kajian berbagai komoditas perta-
nian strategis. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan data perkebunan dengan
menggunakan aplikasi yaitu e-Form Perkebunan. Untuk pelaksanaan aplikasi ini
didaerah, maka berdasarkan SK Kuasa Pengguna Anggaran / KPA Pusat Data
dan Sistem Informasi Pertanian No. 61E/Kpts/KU.110/A6/04/2012, tanggal 16
April 2012, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian
melaksanakan kegiatan Implementasi e-Form Perkebunan. Tujuan dari kegiatan
ini adalah melakukan pelatihan penggunaan e-form perkebunan kepada petugas
pengelola data perkebunan tingkat provinsi dan kabupaten sehingga dapat diimple-
mentasikan dalam penyampaian data dari daerah ke pusat.
Kegiatan Pelaksanaan Implementasi e-Form Perkebunan di Provinsi Lam-
pung dilaksanakan di Hotel Bukit Randu pada tanggal 11-12 Juli 2012. Instruktur
yang menjadi fasilitator dalam pelaksanaan Implementasi e-Form Perkebunan Ta-
hun 2012 berasal dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin), lain
IMPLEMENTASI e-FORM PERKEBUNAN
DI PROVINSI LAMPUNG

ISSN : 1411-9196
Vol. 9 No. 90 Bulan Juli 2012 http://pusdatin.deptan.go.id
Daftar Isi :
Pembukaan Implementasi e-Form Perkebunan

Daftar Isi :
Implementasi e-Form Perkebunan
di Provinsi Lampung.....(1)
Persiapan Kajian Neraca Bahan
Makanan (NBM).....(2)
Keamanan Informasi.....(4)
Analisis Jabatan.....(5)
Supervisi Pengumpulan Data
Produktivitas Padi Dengan Metode
Area Frame Di Kabupaten
Cianjur.....(6)
Pelatihan Penggunaan GPS dan GIS
Dinas Pertanian Kelautan dan
Perikanan Kota Balikpapan
Kalimantan Timur.....(7)
Pelaksanaan Workshop Kegiatan
Analisis dan Penataan Data Iklim,
Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT) dan Bencana Alam.....(8)
Pelaporan Pengadaan
Menggunakan Sistem Pakar.....(9)
Studi Banding Teknologi Edukasi
Digital dan Diorama Digital.....(11)

Tim Redaksi :

Pelindung :
Ir. Tassim Billah, MSc
Penasehat :
Agus Sunarya, SE, MM
Ir. Sari Sutiyorini, MM
Ir, Bayu Mulyana, MM
Ir. Dewa Ngakan Cakrabawana, MM
Penanggung Jawab :
Sukim Supandi, S.Sos, MM
Redaksi :
Dedi Triyono
Editor :
Dra. Laelatul Hasanah, MSi
Dra. P.Hanny Mulyani, MM
Eko Nugroho, S.Kom, MM
Redaktur Pelaksana :
Evita Wahyu Puspitasari, S.Kom
Dian Prasetyorini
Sekretariat :
Dwi Wulandari
Agus
Musdino

Redaksi menerima tulisan maupun saran
dan kritik untuk Newsletter Pusdatin

Kirimkan ke alamat redaksi :
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Jl. Harsono RM No. 3 Gd. D Lantai IV
Pasar Minggu Jakarta 12550
Telp : 021-7805305, 7816384
Fax : 021-7822638
e-mail : newsletter@deptan.go.id

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
H A L A M A N 2
hal dengan narasumbernya yang berasal dari
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
(Pusdatin) dan Dinas Perkebunan Provinsi
Lampung yang memberikan pengarahan dan
memonitor jalannya pelaksanaan implemen-
tasi e-form perkebunan. Materi Implementasi
e-Form Perkebunan Tahun 2012 diberikan
selama 2 hari 1 malam dengan rincian materi
sebagai berikut:
Diberikan pree test, post test dan evaluasi
materi kepada para peserta terhadap materi
yang diberikan.
Materi yang diberikan bagi petugas
provinsi dan kabupaten adalah Petunjuk
Operasional e-Form Perkebunan.

Pelaksanaan Implementasi e-Form
Perkebunan berjalan dengan lancar sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan. Hal ini
tidak lepas dari peran tim kesekretariatan
daerah yang membantu penuh terselengga-
ranya acara tersebut. ( Diah)
Lanjutan Berita Implementasi e-Form Perkebunan...
Peserta Implementasi e-
Form Perkebunan
Peserta Implementasi e-
Form Perkebunan
Dalam rangka mendukung target
pembangunan pertanian diantaranya
swasembada berkelanjutan dan peningkatan
diversifikasi pangan maka diperlukan
ketersediaan data dan informasi konsumsi
yang lengkap. Data konsumsi yang selama
ini tersedia bersumber dari Survei Sosial
Ekonomi Nasional (Susenas), BPS yang
dilaksanakan setiap tahun dan dapat memberi
gambaran pola konsumsi pangan penduduk di
suatu wilayah yang didasarkan pada besarnya
pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi.
Selain itu juga data ketersediaan pangan yang
bersumber dari Neraca Bahan Makanan
(NBM) yang diterbitkan oleh Badan
Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian
Pertanian yang dapat memberi gambaran
penyediaan, penggunaan dan ketersediaan
bahan pangan per kapita di suatu wilayah.
Data NBM diperoleh dari perhitungan dengan
komponen penyusunnya diantaranya data
produksi, ekspor, impor, stok, tercecer, untuk
bibit, pakan, diolah untuk industri dan bahan
makanan. Oleh karen itu data NBM pada
beberapa komoditas terdapat perbedaan yang
cukup jauh dengan data konsumsi dari
Susenas, untuk itu perlu dilakukan kajian
terhadap metode perhitungan NBM untuk
beberapa komoditas yang cukup jauh dari
data konsumsi-Susenas.
Pusat Data dan Sistem Informasi
Pertanian (Pusdatin) mempunyai misi
diantaranya melakukan pengumpulan, pengo-
lahan, analisis dan penyebaran data dan infor-
masi pertanian didalamnya termasuk data
konsumsi pangan. Oleh karena itu Pusdatin
pada tahun 2012 akan melakukan kegiatan
penataan database dan kajian data konsumsi
yang dapat digunakan untuk melengkapi
ketersediaan data konsumsi secara series dan
terupdate serta melakukan kajian sejauh
mana keragaan dan prediksi konsumsi pangan
serta penyediaan, penggunaan pangan serta
ketersediaan per kapita pangan di Indonesia.
Kajian konsumsi ini diharapkan menjadi ba-
han masukan bagi pengambil kebijakan sek-
tor pertanian dan pengguna data dan infor-
masi lainnya.
Neraca Bahan Makanan (NBM)
adalah penyajian data pangan dalam bentuk
tabel yang dapat menggambarkan situasi dan
kondisi ketersediaan pangan untuk konsumsi
penduduk di suatu wilayah (negara/provinsi/
kabupaten) pada waktu tertentu. Komponen-
nya yaitu penyediaan (supply), penggunaan
(utilization) dan ketersediaan. Metode pen-
ghitungan NBM sebagai berikut :

TD = O (S) + M X (P+B+I+C)

Keterangan :
TD = ketersediaan pangan utk dikonsumsi
penduduk
0 = Produksi (masukan/keluaran)
S = Perubahan stok
M = Impor
X = Ekspor
P = Pakan
B = Bibit
I = Industri (makanan dan bukan
makanan)
C = Tercecer

Tujuan dari kajian NBM yaitu melakukan
identifikasi permasalahan dalam metode
penghitungan Neraca Bahan Makanan yang
digunakan saat ini dan merumuskan alternatif
pemecahan masalah terhadap permasalahan
yang ditemukan.
1. Telah dilakukan identifikasi permasalahan
dalam penghitungan Neraca Bahan
Makanan yang ditemui selama ini
digunakan oleh Tim NBM nasional. Hasil
identifikasi diantaranya sebagai berikut :
Tidak tersedia data perubahan stock,
kecuali untuk beras bersumber dari
PERSIAPAN KAJIAN NERACA
BAHAN MAKANAN (NBM)
Dokumentasi Kegiatan
Kajian Neraca Bahan
Makanan (NBM)
Dokumentasi Kegiatan
Kajian Neraca Bahan
Makanan (NBM)
Implementasi
e-Form
Perkebunan
di Provinsi
Lampung dan
Persiapan Kajian
Neraca Bahan
Makanan (NBM)
H A L A M A N 3
Bulog dan gula pasir dari Dewan Gula
Indonesia yang merupakan stok pemerintah,
belum mencakup stok di masayarakat.
Underestimate nya data industry makanan
maupun non makanan, yang bersumber dari
hasil survey industry besar sedang BPS, belum
mencakup industry kecil rumah tangga;
Besarnya konversi (bibit, pakan dan tercecer)
tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang;
Konversi yg digunakan sebagian besar hasil
studi tahun 1970-an sehingga perlu konversi
baru dengan dilakukan kajian ulang yang sesuai
dengan kondisi saat ini;
Data ekspor belum termasuk data produk
olahan dan perlunya kode HS yang jelas dari
masing-masing penyusun komoditas;
Di kolom NBM terdapat kolom untuk minyak
kacang tanah, sementara data di lapangan
kacang tanah dalam bentuk kacang tanah kupas
dan kacang tanah berkulit;
Beberapa komoditas perkebunan tidak ada data
NBM, seperti teh, kopi, lada dan kakao;
Konversi produksi yang digunakan harus
sejalan dengan konversi yang digunakan pada
saat penyajian data produksi di masing-masing
sub sektor pertanian.
2. Dalam penghitungan NBM tersebut digunakan
beberapa tabel konversi yang disusun oleh Tim
NBM nasional antara lain :
Tabel konversi produksi komoditas yang
digunakan untuk masukan (input) menjadi
output. Input unsur produksi yang akan
mengalami proses selanjutnya dan output
unsur produksi hasil turunan (perlu angka
konversi).
Tabel konversi penggunaan (pakan, bibit,
industri makanan dan industri non makanan dan
tercecer) yang merupakan persentase dari
penyediaan dalam negeri. Penggunaan tabel
konversi tersebut, jika di daerah tersedia dan
memenuhi syarat (misal: hasil penelitian yang
dapat dipertanggung jawabkan), dapat diguna-
kan dengan menyebut sumbernya, jika tidak
tersedia maka akan digunakan konversi na-
sional.
3. Dari tabel konversi yang digunakan tersebut telah
dilakukan identifikasi dengan hasil sebagai
berikut :
Untuk tabel konversi produksi pada umumnya
digunakan sejak tahun 1970, dan hanya
beberapa komoditas yang mengalami
penyempurnaan antara lain sejak tahun 2002
(minyak sawit ke minyak goreng dan karkas ke
daging), 2003 (bawang merah segar ke kering)
dan 2009 (GKG ke beras).
Untuk tabel konversi penggunaan berasal dari
beberapa sumber antara lain (1) rasio tabel I-
O 2000, sementara telah tersedia tabel I-O
2005 (2) Hasil kajian NBM tahun 2002 dan
2003, (3) konversi NBM lama tahun 1970-an
dan (4) Hasil Struktur Ongkos Usaha Tani
(SOUT) tahun 1989
4. Dari beberapa permasalahan yang ditemukan
dalam penghitungan Neraca Bahan Makanan
tersebut diatas, maka pada hari kamis, tanggal 21
Juni 2012 diadakan rapat koordinasi dengan Tim
NBM Pusat yang dihadiri kurang lebih 30 peserta
terdiri dari wakil masing-masing unit eselon I tek-
nis lingkup Kementerian Pertanian, Badan Pusat
Statistik, PSEKP dan Tim dari Pusdatin. Hasil
pertemuan tersebut dapat dirumuskan beberapa
alternatif pemecahan permasalahan berdasarkan
masukan-masukan dari berbagai sumber :
Pada permasalahan tidak tersedia data
perubahan stok, dapat digunakan tabel input
output tahun 2005 terbitan BPS, pada kolom
304 yaitu perubahan stok dipersentasekan ter-
hadap total penyediaan, dapat juga digunakan
hasil kajian-kajian yang telah dilakukan;
Underestimate-nya data industri, dapat
digunakan (1) survei industri besar sedang,
BPS, (2) hasil survei industri kecil/rumah
tangga, BPS (3) tabel input output tahun 2005
untuk industri makanan dan non makanan
(pakan).
Besarnya konversi (bibit, pakan dan tercecer)
tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang :
untuk mengisi konversi penggunaan bibit
pada NBM dapat digunakan (1) Hasil
Survei Struktur Ongkos Usaha Tani
(SOUT) dari BPS untuk padi, jagung,
kedele dan tebu tahun 2010; (2) Informasi
penggunaan bibit dari masing-masing sub
sektor; (3) Tabel input ouput tahun 2005,
BPS.
Untuk konversi pakan dapat digunakan
tabel input ouput tahun 2005, pada kolom
pakan ternak dipersentasekan dengan total
penyediaan
Untuk konversi tercecer, pada tabel Input
output 2005 menjadi satu dengan
penggunaan bibit, sehingga perlu ditelusuri
dari lembar kerja tabel input output, bila
terdapat hasil survei direktorat pasca panen
masing-masing sub sektor atau dari BPS
Permasalahan Data ekspor belum termasuk
data produk olahan, dapat dilakukan
penyusunan kode HS untuk masing-masing
komoditas yang terdapat dalam NBM
berdasarkan masukan Direktorat Jenderal
terkait agar terjaga konsistensi atau dapat juga
digunakan konversi hasil studi Pusat Studi
Keanekaragaman Pangan dan Gizi, IPB.
Lanjutan Berita Persiapan Kajian Neraca...
V O L . 9 N O . 9 0 B U L A N J U L I 2 0 1 2
H A L A M A N 4
Beberapa komoditas perkebunan tidak
ada data NBM, berdasarkan syarat
dalam penyusunan NBM adalah
komoditas dengan produksi diatas 500
ton untuk NBM nasional dan 500 kilo-
gram untuk NBM provinsi maka ko-
moditi seperti kakao, kopi, teh, lada,
cengkeh dan jambu mete sudah me-
menuhi syarat untuk dimasukan dalam
perhitungan NBM, namun menurut
berdasarkan hasil diskusi dengan Dit-
jen Perkebunan sementara NBM tetap
pada komoditas utama yaitu kelapa
sawit, kelapa dan gula pasir, mengingat
data pendukung belum tersedia.
Konversi produksi yang digunakan
harus sejalan dengan konversi yang
digunakan pada saat penyajian data
produksi di masing-masing sub sektor,
dapat digunakan konversi yang dipakai
dalam buku pedoman/panduan
pengumpulan data yang diterbitkan
oleh masing-masing sub sektor.
Untuk data produksi pisang dan nenas
selama ini adalah dalam wujud pisang
dengan tandan segar dan nenas dengan
mahkota, sehingga perlu ada nilai
konversi ke pisang tanpa tandan dan
nenas tanpa mahkota dalam bentuk
segar segar.
5. Tindak lanjut dari kegiatan ini, antara lain
1) Melakukan pengumpulan data pendu-
kung ke beberapa instansi di pusat dan
daerah dan 2) Melakukan kajian penyem-
purnaan penghitungan NBM.
( Sehusman/Laela)
Penerapan tata kelola Teknologi Infor-
masi dan Komunikasi (TIK) saat ini sudah
menjadi kebutuhan dan tuntutan di setiap
instansi penyelenggara pelayanan publik
mengingat peran TIK yang semakin penting
bagi upaya peningkatan kualitas layanan se-
bagai salah satu realisasi dari tata kelola pe-
merintahan yang baik (Good Corporate
Governance). Dalam penyelenggaraan tata
kelola TIK, faktor keamanan informasi meru-
pakan aspek yang sangat penting diperhatikan
mengingat kinerja tata kelola TIK akan ter-
ganggu jika informasi sebagai salah satu ob-
jek utama tata kelola TIK mengalami ma-
salah keamanan informasi yang menyangkut
kerahasiaan (confidentiality), keutuhan
(integrity) dan ketersediaan (availability).

Mengapa informasi perlu diamankan?
INFORMATION is knowledge or data that
has value to the organisation. (ISO
27000:2009)

Sadarkah Anda bahwa file Anda dapat
diambil orang tanpa Anda tahu? Bagi suatu
organisasi/instansi kehilangan file akan mem-
pengaruhi kelangsungan proses dan fungsi
pekerjaan dalam organisasi/instansi tersebut
karena mungkin saja file tersebut berisi infor-
masi rahasia, penting dan berharga. Informasi
merupakan aset (paling) penting saat ini
karena kekuatan tidak lagi ditentukan oleh
finansial, kekuasaan, atau sumberdaya alam,
tetapi ditentukan oleh informasi, Knowledge
is Power, siapa yang menguasai informasi
maka Ia menguasai dunia.

Oleh sebab itu sangat penting untuk
melindungi informasi dari segala ancaman
keamanan informasi. Ancaman kehilangan
informasi dapat disebabkan oleh si pembuat,
si pengguna, si pengolah, si pendistribusi
dan/atau si penyimpan informasi. Kesadaran
individu tentang pengamanan informasi akan
sangat berguna untuk mencegah terjadinya
kebocoran informasi akibat segala ancaman
keamanan informasi.

Bagaimana Mengamankan Informasi?
Pengamanan informasi diawali dengan Klasi-
fikasi Informasi (rahasia, penting atau ber-
harga) dan Kajian Risiko terhadap gang-
guan kerahasiaan, keut uhan, dan
ketersediaan. Siklus pengamanan informasi
dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Lanjutan Berita Persiapan Kajian Neraca...
KEAMANAN INFORMASI
Persiapan Kajian
Neraca Bahan
Makanan (NBM)
dan Keamanan
Informasi
Dokumentasi Kegiatan
Kajian Neraca Bahan
Makanan (NBM)
H A L A M A N 5
Dalam mengamankan informasi perlu memper-
hatikan komponen keamanan informasi berikut:
1. Confidentiality (Kerahasiaan) : menjamin agar
informasi hanya dapat diakses oleh pihak yang
berwenang.
2. Integrity (Keutuhan) : mengamankan ketepatan
dan kelengkapan informasi dan metode pem-
rosesannya
3. Availability (Ketersediaan) : menjamin pihak
yang berwenang dapat mengakses informasi saat
diperlukan.

Keamanan informasi bisa dicapai dengan cara
mengimplementasikan suatu kontrol dalam bentuk
kebijakan, prosedur, struktur organisasi, sistem dan
fungsi untuk menjamin bahwa objektivitas keamanan
informasi dari suatu organisasi/instansi tersebut bisa
tercapai.
Beberapa tips singkat dan mudah untuk
menghindari ancaman keamanan informasi yang di-
kutip dari http://saifuladi.wordpress.com/2007/10/18/
ancaman-keamanan-informasi-dalam-tik/ yaitu : (1)
Jangan gunakan program yang diberikan oleh orang
yang tidak dikenal; (2) Bacalah peringatan keamanan
yang muncul sebelum meng-klik-nya; (3) Gunakan
password dengan benar; (4) Gunakan program fire-
wall, antivirus, antispyware, antispam yang baik dan
selalu diperbaharui; (5) Back-up file-file penting dalam
sebuah media eksternal dan simpan ditempat yang
aman; (6) Berhati-hatilah saat meng-klik sebuah situs
yang dirujuk dalam sebuah e-mail; serta (7) Gunakan
sistem penyandian yang baik untuk melakukan
koneksi wireless ataupun menyimpan dan mendistri-
busikan data. ( Yenni)
V O L . 9 N O . 9 0 B U L A N J U L I 2 0 1 2
Lanjutan Berita Keamanan Informasi...
Organisasi birokrasi dihadapkan pada harapan
masyarakat yang semakin tinggi, agar organisasi bi-
rokrasi semakin mampu bekerja secara professional,
efektif dan efisiensi, maka diperlukan pemetaan yang
lengkap dan menyeluruh atas seluruh informasi jabaan
dalam organisasi yang dikenal dengan analisis jabatan.
Melalui pemetaan tersebut akan diperoleh informasi
yang akurat untuk menyusun program dan kegiatan
pemetaan manajemen sumber daya aparatur, kelemba-
gaan, ketatalaksanaan serta perencanaan pendidikan
dan pelatihan.
Analisis jabatan merupakan suatu cara men-
dasar dalam manajemen sumber daya manusia untuk
mendapatkan gambaran menyeluruh dan lengkap men-
genai suatu posisi jabatan, kemudian menyadurnya
kedalam format yang memudahkan memahami secara
akurat informasi tentang jabatan dalam organisasi,
serta merancang program dan kegiatan penataan ja-
batan dan peningkatan kompetensi jabatan.
Analisis Jabatan yang dilakukan dengan teliti
akan menghasilkan informasi jabatan yang akurat dan
kemudian dapat dijadikan bahan baku baik untuk
proses pengelolaan sumber daya manusia, seperti
evaluasi jabatan, recruitment dan seleksi, manajemen
kinerja, penyusunan kompetensi dan pelatihan.
Dalam analisis jabatan pada Pusat Data dan
Sistem Informasi Pertanian pada saat ini sudah ada
jabatan fungsional umum sebanyak 18 jabatan fung-
sional umum yang terdiri dari :
1. Agendaris
2. Pemegang Uang Muka Kegiatan (PUMK)
3. Bendahara Pengeluaran
4. Verifikator Keuangan
5. Pengadministrasi Keuangan
6. Penatausaha BMN
7. Sekretaris Pimpinan
8. Caraka
9. Pengemudi
10. Satpam
11. Petugas Simak BMN
12. Bendahara Gaji
13. Penyusun Laporan
14. Pramu bakti
15. Penyusun Rencana Anggaran dan Kegiatan
16. Petugas SAK
17. Pramu Pameran dan Peragaan
18. Petugas Operasional Kendaraan Dinas
Sedangkan pada jabatan Fungsional Khusus ada 13
Jabatan Fungsional Khusus yang terdiri dari :
1. Statistisi Pertama
2. Statistisi Muda
3. Statistisi Madya
4. Statistisi Penyelia
5. Statistisi Pelaksana Lanjutan
6. Pranata Komputer Muda
7. Pranata Komputer Pertama
8. Pranata Komputer Madya
9. Pranata Komputer Penyelia
10. Analisis Kepegawaian Pemula
11. Pranata Humas Pemula
12. Pustakawan Pemula
13. Arsiparis Pemula
Dari hasil jumlah jabatan fungsional umum
maupun jabatan fungsional khusus yang ada di Pusat
Data dan Sistem Informasi Pertanian dapat dibuatkan
peta jabatan yaitu susunan jabatan yang digambarkan
secara vertical maupun horizontal menurut struktur
kewenangan, tugas dan tanggung jawab jabatan serta
persyaratan jabatan, peta jabatan menggambarkan
seluruh jabatan yang ada dan kedudukannya dalam
unit kerja. ( Purwanti)
ANALISIS JABATAN
H A L A M A N 6
Untuk dapat menghasilkan data yang
berkualitas, maka seluruh tahapan mulai dari
pengumpulan data, pengolahan dan penyajian
harus memenuhi kaidah-kaidah yang telah
ditetapkan, sebab mutu data sangat dipenga-
ruhi oleh prosedur/tatacara pengumpulan
data, kelengkapan dokumen, konsistensi
dalam formulir serta jadwal pelaporan yang
tepat. Oleh karena itu, pada tanggal 25 27
Juni 2012 telah dilaksanakan supervisi dalam
rangka untuk melakukan pengawasan
(Quality Control) terhadap pelaksanaan taha-
pan kegiatan survey area frame untuk pengu-
kuran produktivitas padi tersebut. Pada super-
visi ini tim yang terdiri dari 6 (enam) orang
pelaksana Pusdatin Kementerian Pertanian
didampingi dengan 2 (dua) orang petugas
kabupaten telah melihat dan mewawancarai
petugas di kecamatan yang berkaitan dengan
pelaksanaan tata cara penentuan lokasi mesh,
pemilihan petak ubinan, prosedur ubinan,
kendala yang dihadapi pada saat melakukan
listing dengan metode area frame, sehingga
diharapkan data yang dikumpulkan oleh petu-
gas dilapangan akurat dan dapat dipertang-
gungjawabkan. Kegaiatan supervise ini juga
dimaksudkan untuk melakukan evaluasi ter-
hadap seluruh tahapan kegiatan ini, sehingga
mendapat masukkan dari petugas lapang un-
tuk perencanaan ke depan yang lebih baik.
Supervisi pertama dilakukan di Desa
Tanjungsari, Dusun Setiamanah Rw.03 Rt.01,
Kelompok Tani Kertamukti, Kecamatan Su-
kaluyu, Kabupaten Cianjur. Nomor mesh
URN 29 dan dilakukan pengambilan sampel
secara acak sistematik menurut buku pedo-
man. Dari pengambilan sampel secara acak
sistematik diketahui ada 5 petak terpilih den-
gan nomor urut rumah tangga 4,10,17,22 dan
27. Selanjutnya, untuk mengetahui rencana
pelaksanaan ubinan maka data tersebut dip-
indahkan ke Daftar Sampel Rumah Tangga
(SAUP-DSRT12) pada subround II (Mei
Agustus) Tahun 2012. Berdasarkan daftar
SAUP-DSRT12, maka pelaksana supervisi
mendatangi lokasi yang akan melakukan
panen pada saat dilaksanakannya supervisi
yaitu di Desa Tanjungsari. Dari informasi
yang disampaikan oleh petugas di kecamatan
Sukaluyu yaitu Bapak Nurul Hikmah bahwa
pelaksanaan panen pada minggu ke empat
tanggal 27 Juni 2012, no urut rumah tangga
10 yaitu Bapak Ena dengan jumlah petak 6,
petak terpilih secara acak adalah petak nomor
1. Rumah tangga berikutnya adalah Bapak
Hasan dengan jumlah petak 5, petak terpilih
nomor urut 2.
Pelaksanaan Ubinan milik Bapak Ena
adalah sebagai berikut : ubinan dilaksanakan
di Petak Sawah nomor 1, pertama menentu-
kan titik arah barat daya sebagai titik pangkal
petak yang akan diubin. Petak berbentuk bujur
sangkar, ambillah ujung barat daya dari petak
lahan tersebut sebagai pangkal sumbu (O).
Ukurlah panjang kedua sisi petak sawah
tersebut, panjang sisi Barat Timur (B-T) dan
Utara Selatan (US), dengan mempergunakan
langkah kaki biasa dan hasilnya panjang sisi B
-T (X) sebanyak 37 langkah dan panjang sisi U
-S sebanyak 40. Jumlah digit dari panjang
kedua sisi petak sawah tersebut panjang sisi B
-T dalam puluhan langkah terdiri dari 2 digit
dan panjang sisi U-S dalam puluhan langkah (2
digit), maka jumlah digit dari panjang kedua
sisi petak sawah tersebut 2 + 2 = 4 digit. Maka
angka random yang dicari harus dibawah 3740.
Kemudian, karena pelaksanaan ubinan
dilakukan pada hari Rabu, tanggal 27 Juni,
maka tabel angka random dipilih adalah
halaman 3 (hari Rabu), baris ke 27 dan kolom
ke 6 (bulan Juni), sehingga angka dalam daftar
yang memenuhi syarat adalah 3027 yang
berarti titik pangkal ubinan (P) akan berada 30
langkah dari titik 0 (Barat Daya) searah sisi B
-T dan 27 langkah dari sisi U-S. Kemudian
dilakukan pemasangan alat ubinan 2,5 m x 2,5
m pada titik pangkal ubinan searah jarum jam.
Setelah itu dilakukan pemanenan
dengan menggunakan sabit dan perontokan
dengan menggunakan alas dan papan perontok
oleh petani (Bapak Ena). Selanjutnya petugas
melakukan wawancara kepada petani dan di-
catat pada Formulir SAUP-S12. Berat hasil
ubinan padi milik Bapak Ena adalah sebesar
5,07 kg GKP, atau setara dengan 8,112 ton per
hektar GKP atau setara dengan 7,017 ton/ha
GKG. Satuan produktivitas yang standar
adalah ton gabah kering giling (GKG). Jumlah
rumpun pada plot ubinan sebanyak 64 rumpun.
Koordinat petak ubinan pda posisi 6
0
4920
LS dan 107
0
1315 BT.
Ubinan yang kedua adalah padi sawah
milik Bapak Hasan. Ubinan dilaksanakan di
petak sawah nomor 2. Panjang sisi Barat
Timur petak tersebut adalah 47 langkah sedang-
kan sisi Utara Selatan sebesar 14 langkah. Dari
tabel angka random yang memenuhi syarat
adalah 1204 berarti titik pangkal ubinan (P)
akan berada 12 langkah dari titik 0 (Barat
Daya) searah sisi B-T dan 04 langkah dari sisi
U-S. Kemudian dilakukan pemasangan alat
ubinan seluas 2,5 m x 2,5 m pada titik pangkal
tersebut. Setelah itu petani (Bapak Hasan) me-
lakukan pemanenan dengan menggunakan
sabit dan perontokan dengan menggunakan
alas dan papan perontok.
Berat hasil ubinan padi milik Bapak
Hasan adalah sebesar 4,4 kg GKP, atau setara
dengan 7,04 ton atau setara dengan 7,04 ton
per hektar GKP atau setara dengan 6,09 ton/ha
Gambar 1. Penentuan
Titik Pangkal Ubinan
Gambar 2. Pemotongan
Padi Yang Masuk Area
Plot Ubinan
SUPERVISI PENGUMPULAN DATA PRODUKTIVITAS PADI
DENGAN METODOLOGI AREA FRAME DI KABUPATEN CIANJUR


Gambar 3. Perontokan
Hasil Panen Dalam Plot
Ubinan
Gambar 4. Penimbangan
Hasil Ubinan


H A L A M A N 7
GKG. Jumlah rumpun pada plot ubinan sebanyak 80
rumpun. Koordinat petak ubinan pda posisi 6
0
4923
LS dan 107
0
139 BT.
Pada hari kedua dilakukan supervisi ke Desa
Limbangan Sari, Kecamatan Cianjur, Kabupaten
Cianjur. Nama kepala rumah tangga petani yang ter-
pilih adalah sawah milik Bapak Ali. Mesh yang ter-
pilih adalah nomor AARN16, berarti tergolong sawah
dataran rendah dengan tanpa program SLPTT. Hasil
ubinan pada plot ini adalah sebesar 4,95 kg KGP atau
setara dengan 6,85 ton GKG per hektar.
Dalam kegiatan supervisi ini, pelaksana mela-
kukan wawancara kepada petugas kecamatan yang
berkaitan dengan pelaksanaan Area Frame. Dari hasil
pantauan berdasarkan beberapa pertanyaan yang dia-
jukan sesuai form Supervisi dapat disimpulkan seba-
gai berikut :
Metoda Area Frame, oleh sebagian petugas masih
ada kendala dengan penggunaan GPS pada saat
menentukan titik koordinat pada mesh terpilih. Hal
ini karena petugas belum terbiasa menggunakan
peralatan GPS. Salah satu keuntungan dengan
kegiatan ini adalah alat GPS yang berada di Dinas
Pertanian kabupaten dapat lebih dimanfaatkan.
Beberapa petugas menyatakan bahwa alat ubinan
dilaporkan tidak tersedia sehingga petugas pada
saat melakukan ubinan harus meminjam atau mela-
kukan ubinan dengan peralatan seadanya. Disamp-
ing itu banyak petugas mengeluhkan alat ubinan
yang cukup berat, sehingga kurang praktis untuk
dibawa kemana-mana, terutama pada saat melaku-
kan ubinan pada sawah yang cukup jauh dari jalan
raya.
Petugas pada umumnya mengalami sedikit ke-
sulitan dalam melakukan listing karena ukuran mesh
yang terlampau luas, yaitu 1000 m x 1000 m atau se-
tara dengan 100 ha. Berdasarkan evaluasi ini ke depan
perlu dipertimbangkan untuk memperkecil ukuran
mesh. ( Hafidz)

Lanjutan Berita Supervisi Pengumpulan Data...
V O L . 9 N O . 9 0 B U L A N J U L I 2 0 1 2
PELATIHAN PENGGUNAAN GPS DAN GIS
DINAS PERTANIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
KOTA BALIKPAPAN KALIMANTAN TIMUR
Pelatihan GPS dan Pengolahan Pemetaan Di-
nas Kota Balikpapan dilaksanakan pada tanggal 11-14
Juni 2012 dengan jumlah peserta sebanyak 6 orang,
yang bertempat di Kantor Pusat Data dan Sistem In-
formasi Pertanian Kementerian Pertanian. Para pe-
serta ini terdiri dari staf dinas pertanian dan petugas
kecamatan kota Balikpapan.
Pelatihan dimulai dengan pembukaan oleh Dr.
M. Luthful Hakim, Kepala Subbidang Prasarana yang
dilanjutkan dengan materi pengenalan GPS secara
umum, pengenalan tentang alat GPS TrimbleJuno SB
Hanheld, setting GPS serta cara menggunakan GPS.
Kegiatan Pada hari kedua adalah praktek penggunaan
GPS di Lapangan Kementerian Pertanian, serta pen-
golahan hasil pengukuran dengan GPS. Praktek GPS
meliputi Cara merekam titik (point), Cara merekam
garis (line), Cara merekam area, Cara nesting, Cara
offset, Cara vertex, Fungsi Nesting, Offset dan Vertex.
Kegiatan Pada Hari Ketiga yaitu pengolahan
hasil pengukuran dengan GPS yang diawali dengan
meng-install software activesync, pathfinder dan soft-
ware GIS, kemudian transfer data dan selanjutnya
melakukan pengolahan hasil pengukuran dengan GPS
menggunakan software ArcGIS dimulai dengan pem-
buatan layout sampai pencetakan peta.
Para peserta sangat antusias dalam mengikuti
kegiatan pelatihan tersebut karena sebagian besar pe-
serta baru pertama kali mengikuti pelatihan peng-
gunaan alat GPS dan hal tersebut merupakan pengeta-
huan baru bagi mereka yang nantinya dapat diterapkan
didaerahnya. ( Ade/Azhar)
H A L A M A N 8
Data iklim, OPT dan bencana alam sangat terkait erat dengan kegiatan usaha tani.
Perubahan iklim akan menyebabkan terjadinya perubahan pola curah hujan, kelembaban udara,
kenaikan suhu serta peningkatan kejadian ekstrim seperti kekeringan, kebanjiran dan serangan
opt yang pada akhirnya akan berdampak serius terhadap sektor pertanian. Faktor iklim ini akan
berpengaruh terhadap produktivitas berbagai komoditas pertanian. Terkait dengan tujuan untuk
mendukung tersedianya data iklim, OPT dan bencana alam, Pusdatin melakukan kegiatan
penataan data tersebut sekaligus juga melakukan analisisnya.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan terkait penataan data dan analisis data iklim,
opt dan bencana alam, pada tanggal 20 Juni telah dilaksanakan kegiatan workshop dengan tema
Analisis Dampak Perubahan Iklim terhadap Usaha Tani dan Serangan OPT Komoditas
Pertanian. Bertindak selaku pembicara pada workshop ini adalah Balai Besar Peramalan OPT
dan Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Secara rinci jadwal acara workshop adalah
sebagai berikut:

Tabel 1. Jadwal Acara Workshop Kegiatan Analisis dan Penataan Data Iklim, OPT dan
Bencana Alam

Workshop diselenggarakan di Hotel Pangrango 2, Jl. Pajajaran no. 32, Bogor.
Pembukaan dilakukan oleh Kepala Pusdatin, Ir. M. Tassim Billah, MSc dan dihadiri oleh 45
orang yang berasal dari semua instansi terkait baik di dalam maupun di luar Kementerian
Pertanian. Bertindak selaku narasumber dan moderator adalah sbb:

Tabel 2. Daftar Pembicara dan Moderator

Balai Besar Peramalan OPT merupakan instansi terkait yang berada di bawah Ditjen
Tanaman Pangan, berlokasi di Jatisari, Karawang Jawa Barat. Dalam makalahnya yang
dibawakan oleh Edi Suwardiwijaya, SP, diuraikan bahwa peramalan OPT adalah suatu
kegiatan yang diarahkan untuk mendeteksi atau memprediksi populasi/serangan OPT serta
kemungkinan penyebaran dan akibat yang ditimbulkannya dalam ruang dan waktu tertentu.
Tujuan dari peramalan OPT adalah menyusun saran tindak pengelolaan atau penanggulangan
OPT sesuai dengan prinsip dan strategi PHT sehingga populasi/serangan OPT dapat ditekan,
tingkat produktivitas tanaman pada taraf tinggi, secara ekonomis menguntungkan dan aman
terhadap lingkungan.
PELAKSANAAN WORKSHOP KEGIATAN ANALISIS
DAN PENATAAN DATA IKLIM, ORGANISME PENGGANGGU
TANAMAN (OPT) DAN BENCANA ALAM
No Waktu Acara Narasumber
1 09.00 09.30 Pembukaan Kapusdatin
2 09.30 11.00 Peramalan OPT Komoditas
Pertanian
Balai OPT
3 11.00 12.30 Dampak Perubahan Iklim
Terhadap Kalender Tanam dan
Serangan OPT Komoditas
Tanaman Pangan
BalitklimatBesar Peramalan
4 12.15 13.30 Rehat Siang
5 13.30 15.00 Peran Pusdatin dalam
Mendukung Ketersediaan Data
dan Informasi
Ir. M. Tassim billah, MSc
SESI PEMBICARA INSTANSI MODERATOR
1 Ir. M. Tassim Billah, MSc Pusdatin Ir. Dewa N. Cakrabawa, MM
2 Edi Suwardiwijaya, SP Balai Penelitian OPT Dr. M. Lutful Hakim
3 Ir. Erni Susanti Balitklimat Ir. Wieta B. Komalasari, MSi
Ir. M. Tassim Billah Pada
Pemaparan Sesi Pusdatin
Edi Suwardijaya, SP Pada
Pemaparan Sesi Balai
Peramalan OPT
Ir. Erni Susanti Pada Pe-
maparan Sesi Balitklimat
Para Peserta Workshop
Dari Berbagai Instansi
Terkait
Para Peserta Workshop
Dari Berbagai Instansi
Terkait





H A L A M A N 9
Gambar 1. Proses Pembangunan dan Pengembangan
Model Peramalan OPT

Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi
merupakan instansi terkait di bawah Badan Litbang
Pertanian, berlokasi di Bogor. Dalam makalahnya
yang disampaikan oleh Ir. Erni Susanti, diuraikan
bahwa yang dimaksud perubahan iklim adalah
berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau
tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga men-
yebabkan perubahan komposisi atmosfer secara
global dan perubahan variabilitas iklim alamiah yang
teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.
Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah pe-
rubahan onset (awal tanam) dan akhir musim tanam
yang sangat berpengaruh terhadap pola tanam dan po-
tensi luas tanam tanaman pangan. Terkait dengan hal
ini maka Balitklimat menyusun KATAM (Kalender
Tanam) yang merupakan pedoman untuk menentukan
pola dan waktu tanam yang memiliki resiko minimum.
Katam yang tersusun memberi informasi awal musim
tanam (onset) dan alternatif pola tanam dengan 3 ske-
nario iklim, yaitu. El-Nino (kering), Normal and La-
Nina (basah) sepanjang tahun sampai tingkat Kecama-
tan. Katam dapat diakses melalui website Kemente-
rian Pertanian (www.deptan.go.id) atau langsung ke
alamat www.katam.info. ( Wieta)
Gambar 2. Kalender Tanam Terpadu
Lanjutan Berita Pelaksanaan Workshop Kegiatan...
V O L . 9 N O . 9 0 B U L A N J U L I 2 0 1 2
Penggunaan Sistem Pengadaan Secara
Elektronik atau yang disingkat menjadi SPSE sejak
awal tahun 2012 ini sudah mulai dipergunakan secara
penuh. Instansi yang berada di bawah Kementerian
pertanian menggunakan aplikasi ini saat
menyelenggarakan lelang yang harus dilakukan pada
tahun berjalan.
Setiap minggunya Pusat Data dan Sistem Informasi
Pertanian membuat laporan mengenai proses
pelelangan yang sudah dilaksanakan secara elektronik
secara penuh baik mengenai pelelangan yang sudah
selesai maupun prosesnya masih terus berjalan.
Laporan setiap minggu ini dilaporkan pada saat rapim
dan dikirimkan ke masing-masing eselon I di
Kementerian pertanian.
Selain laporan yang dibuat oleh Pusat Data dan Sistem
Informasi Pertanian yang didistribusikan setiap
minggu ke setiap Eselon I, Pusat Data dan Sistem
Informasi Pertanian bekerjasama dengan LPSE
Propinsi Jawa Barat mempergunakan laporan secara
online yang dikenal dengan sistem pakar.
Sistem pakar dapat diakses oleh umum melalui alamat
website reportlpse.deptan.go.id. Laporan yang tampil
berupa laporan dari awal LPSE digunakan hingga
tanggal berjalan sehingga data yang disajikan bersifat
real time. Data yang dapat dilihat berupa jumlah
keseluruhan paket pengadaan, jumlah paket
pengadaan yang sudah selesai diproses, total pagu,
total pagu yang sudah selesai dikerjakan, kemudian
data penawaran dan jumlah rupiah untuk efisiensi
ketika menggunakan aplikasi SPSE.
PELAPORAN PENGADAAN MENGGUNAKAN
SISTEM PAKAR
H A L A M A N 1 0
Pelaporan
Pengadaan
Menggunakan
Sistem Pakar
Gambar 1. Tabel Paket Lelang Rekap Bulanan

Gambar 2. Grafik Paket Lelang Rekap
Bulanan
Gambar 3. Tabel Paket Lelang Rekap Tahunan
Data paket lelang yang disebutkan di
atas dapat dilihat berdasarkan bulan atau
tahun. Pengguna tinggal mengklik menu
paket lelang dan melihat data yang diperlukan
berdasarkan per bulan atau per tahun. Data
yang muncul akan berupa tabel dan
dilengkapi dengan grafik bila memang
diperlukan dengan mengklik gambar tabel
excel dibagian atas tabel.
Selain data paket lelang, data yang dapat
dilihat adalah mengenai jumlah penyedia
yang sudah terdaftar di LPSE Kementerian
Pertanian berdasarkan badan usahanya. Cara
mengaksesnya pun cukup mudah, hanya
dengan mengklik menu Penyedia maka akan
terlihat data penyedia yang sudah terdaftar di
LPSE Kementerian Pertanian meskipun tidak
seluruh penyedia yang terdaftar mendaftar
langsung di LPSE Kementerian Pertanian
melainkan melalui proses agregasi yang sudah
disediakan oleh LKPP.
Gambar 4. Tabel Rekanan Per Badan Usaha

Gambar 5. Grafik Rekap Penyedia Berdasarkan
Bentuk Usaha
Dengan adanya sistem pakar,
diharapkan kebutuhan akan data real time
pengadaan yang sudah dan sedang berjalan di
LPSE Kementerian Pertanian dapat di
akomodir.( Lilik)


Lanjutan Berita Pelaporan Pengadaan...
H A L A M A N 1 1
Dalam rangka studi banding dan upgrade
knowledge tentang Edukasi digital dan pengembangan
diorama berbasis digital, Kementerian Pertanian pada
tanggal 4 Juli 2012 bersama dengan perwakilan dari
Samsung Indonesia melakukan field visiting ke IDX
(Indonesia Stock Exchange) yang terletak di Jalan Jen-
dral Sudirman Kavling 52-53. Perwakilan dari pihak
Samsung dipimpin oleh Bapak Bayu Eko Satrio, se-
mentara dari Kementerian Pertanian, yang dipimpin
langsung oleh Ibu Nani Sufiani, terdiri dari Pusdatin
(Subbidang Sistem Jaringan Komuter) dan Biro Hu-
kum dan Informasi Publik (Subbidang Multimedia).
Sedangkan dari pihak BEJ diwakili oleh Bapak Taufiq
Rochman dari divisi edukasi dan marketing.

Pada kesempatan kunjungan ke IDX Tim dari
Kementerian Pertanian, tim diijinkan untuk melihat
kedalam ruang bursa dan juga ruang diorama sebagai
sarana pembelajaran dan pengenalan tentang saham
dan juga pengenalan proses jual-beli saham dengan
menggunakan digitalisasi perangkat yang melibatkan
teknologi visual, audio dan interaktif. Salah satu media
interaktif yang dimiliki oleh Indonesia Stock Exchange
adalah buku digital interaktif di dalam media ini pen-
gunjung mendapatkan pengenalan singkat tentang sa-
ham dari saham konvensional sampai dengan saham
yang berbasis syariah.
V O L . 9 N O . 9 0 B U L A N J U L I 2 0 1 2
STUDI BANDING TEKNOLOGI EDUKASI DIGITAL
DAN DIORAMA DIGITAL
Di dalam ruang diorama disajikan juga sebuah
dinding informasi yang menjelaskan perjalanan sejarah
dari bursa efek Indonesia. Pengguna informasi harus
berada di posisi yang tepat yang telah disediakan me-
lalui gambar foot print agar sensor dapat mendeteksi
bahwa ada object yang berada di depan papan infor-
masi, nantinya papan informasi akan menyala dan
mengeluarkan informasi berupa audio yang menjelas-
kan sesuai dengan informasi yang telah dipilih oleh
object.
Pada ruangan simulasi tim disugukan dengan
layar LED touch screen 40 inch, disana kita dapat
menlakukan simulasi melakukan transaksi saham seba-
gai broker yang sudah terintegrasi dengan system yang
dimiliki oleh IDX tentunya dengan aplikasi yang ber-
beda dengan system utama mereka.
H A L A M A N 1 2
Studi Banding
Teknologi Edukasi
Digital dan
Diorama Digital
Pada ruang diorama kami juga
disuguhkan dengan teknologi terbaru yaitu VR
(Virtual Reality), apabila kita memilih infor-
masi seputar saham maka akan muncul se-
sosok pembawa informasi yang hampir
menyerupai 3 D. ( Ardi)





Lanjutan Berita Studi Banding Teknologi...
Kirimkan ke alamat redaksi :
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Jl. Harsono RM No. 3 Gedung D Lantai IV
Pasar Minggu - Jakarta Selatan 12550
Phone : 021 7805305; 7816384
Fax : 021 - 7822638
E-mail : newsletter@deptan.go.id
PUSAT DATA DAN SISTEM
INFORMASI PERTANIAN
Redaksi menerima tulisan maupun
saran dan kritik untuk Newsletter
Pusdatin
KEMENTERIAN
PERTANIAN

Tim Redaksi


Pelindung :
Ir. Tassim Billah, MSc

Penasehat :
Agus Sunarya, SE, MM
Ir. Sari Sutiorini, MM
Ir. Bayu Mulyana, MM
Ir. Dewa Ngakan Cakrabawana, MM

Penanggung Jawab :
Sukim Supandi, S.Sos, MM

Redaksi :
Dedi Triyono

Editor :
Dra. Laelatul Hasanah, MSi
Dra. P. Hanny Mulyani, MM
Eko Nugroho, S.Kom, MM

Redaktur Pelaksana :
Evita Wahyu Puspitasari, S. Kom
Dian Prasetyorini

Sekretariat :
Dwi Wulandari
Agus
Musdino



http://
pusdatin.deptan.go.id