Anda di halaman 1dari 8

BAB V

PEMBAHASAN
Inflamasi diartikan sebagai suatu respon protektif
normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma
fisik, zat kimia yang merusak atau zat- zat mikrobiologik.
Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau
merusak organisme yang menyerang, menghilangkan zat
iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui efek obat
obat antiinflamasi terhadap hewan coba Mencit (Mus
musculus ). Alasan pemilihan mencit sebagai hewan coba
adalah agar pengamatan terhadap pembengkakan kaki
mencit mudah diamati dan diukur.
Dalam percobaan ini digunakan 5 jenis obat obat
anti inflamasi yaitu Meloksikam, deksametason, M-
prednisolon, diklofenak dan Ibuprofen.
Meloksikam merupakan obat antiinflamasi golongan
oksikam. Mekanisme kerja dari obat ini belum pasti, tetapi
diperkirakan obat ini bekerja dengan cara menghambat
COX-1 dan COX-2.
Deksametason dan metil prednisolon merupakan obat
antiinflamasi golongan kortikosteroid. Obat golongan
kortikosteroid sebenarnya memiliki efek yang sama dengan
hormon cortisone dan hydrocortisone yang diproduksi oleh
kelenjar adrenal, kelenjar ini berada tepat diatas ginjal kita.
Dengan efek yang sama bahkan berlipat ganda maka
kortikosteroid sanggup mereduksi sistem imun (kekebalan
tubuh) dan inflamasi, makanya kalo orang dengan penyakit-
penyakit yang terjadi karena proses dasar inflamasi seperti
rheumatoid arthritis, gout arthritis (asam urat) danalergi
gejalanya bisa lebih ringan setelah pemberian kortikosteroid.
Diklofenak merupakan obat antiinflamasi golongan
asam karboksilat derivat asam fenilasetat. Mekanisme kerja
obat ini adalah menghambat jalan enzim siklo-oksigenase
sehingga pembentukan prostaglandin terhambat.
Ibuprofen merupakan obat antiinflamasi golongan
asam propionat. Mekanisme kerja dari golongan ini adalah
menghambat siklo-oksigenase yang reversibel. Obat ini
memiliki daya inflamasi yang lemah dibandingkan dengan
obat-obat AINS lainnya.
Untuk percobaan kali ini, pertama disediakan 6 ekor
mencit yang sudah di ukur berat badannya. Kemudian di
puasakan terlebih dahulu selama 8 jam. Hal ini bertujuan
untuk mengurangi variasi biologis yang mungkin dapat
terjadi sehingga efek obat yang diinginkan dapat cepat
diamati. Selanjutnya mencit di induksi dengan putih telur (
albumin ) pada kakinya hingga kelihatan membengkak.
Kemudian diukur pembengkakan tersebut dengan
menggunakan benang godam dan penggaris. Tujuan
dilakukannya pengukuran awal ini adalah agar nantinya
dapat diketahui seberapa besar efek obat obat anti
inflamasi tersebut dalam mengurangi bengkak / peradangan
pada kaki mencit yang telah diinduksi. Setelah pengukuran
awal tadi, mencit kemudian diberi minum obat. Mencit
pertama dijadikan sebagai kontrol, tanpa diberikan larutan
obat sama sekali. Mencit kedua dengan berat 25 gram
diberikan obat meloksikam sebanyak 0,83 ml, mencit ketiga
dengan berat 27 gram diberikan obat deksametason
sebanyak 0,9 ml, mencit ke empat dengan berat 30 gram
diberikan obat metil prednisolon sebanyak 1 ml, mencit ke
lima dengan berat 27 gram diberikan obat diklofenak
sebanyak 0,9 ml dan yang terakhir mencit dengan berat 29
gram diberikan obat ibuprofen sebanyak 0,96 ml. Pemberian
obat obat tersebut dilakukan secara per oral dengan
menggunakan spoit dan kanula. Mencit yang telah diberikan
obat kemudian dibiarkan. 30 menit kemudian, pengukuran
pada kaki mencit kembali dilakukan. Begitu pula pada menit
ke 60, 90 dan 120.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan,
diperoleh hasil sebagai berikut :
- Untuk perlakuan obat meloksikam diperoleh data pada
pengukuran awal sebesar 2,3 cm. Setelah diinduksi
inflamasi sebesar 2,5 cm. Setelah pemberian pada menit ke
30 sebesar 2,5 cm, menit ke 60 2,4 cm, menit ke 90 2,3 cm
dan menit ke 120 sebesar 2,3 cm.
- Untuk perlakuan obat deksametason diperoleh data pada
pengukuran awal sebesar 1,9 cm. Setelah diinduksi
inflamasi sebesar 2,6 cm. Setelah pemberian pada menit ke
30 sebesar 2,5 cm, menit ke 60 2,1 cm, menit ke 90 1,9 cm
dan menit ke 120 sebesar 1,9 cm.
- Untuk perlakuan obat metil prednisolon diperoleh data
pada pengukuran awal sebesar 2 cm. Setelah diinduksi
inflamasi sebesar 2,1 cm. Setelah pemberian pada menit ke
30 sebesar 2,1 cm, menit ke 60 2,0 cm, menit ke 90 2,0 cm
dan menit ke 120 sebesar 2,0 cm.
- Untuk perlakuan obat diklofenak diperoleh data pada
pengukuran awal sebesar 2 cm. Setelah diinduksi inflamasi
sebesar 2,2 cm. Setelah pemberian pada menit ke 30
sebesar 2,2 cm, menit ke 60 2,0 cm, menit ke 90 2,0 cm dan
menit ke 120 sebesar 2,0 cm.
- Untuk perlakuan obat Ibuprofen diperoleh data pada
pengukuran awal sebesar 1,6 cm. Setelah diinduksi
inflamasi sebesar 1,9 cm. Setelah pemberian pada menit ke
30 sebesar 1,7 cm, menit ke 60 1,7 cm, menit ke 90 1,6 cm
dan menit ke 120 sebesar 1,6 cm.
Dari hasil pengamatan di peroleh bahwa obat yang
paling cepat berefek sebagai antiinflamasi adalah
deksametason. Berdasarkan literatur, t1/2 dari obat obat
antiinflamasi tersebut adalah meloksikam 20 jam,
deksametason 190 menit, metil prednisolon 188 menit,
diklofenak 1,5 jam dan ibuprofen 2 jam. Jadi, berdasarkan
literatur obat antiiflamasi yang paling baik adalah diklofenak
dengan t1/2 90 menit atau 1,5 jam. Jadi hasil yang diperoleh
tidak sama dengan literatur. Kesalahan hasil ini dapat
disebabkan oleh berbagai faktor kesalahan seperti :
1. Kaki mencit yang diinduksi tidak terlalu bengkak
2. Kesalahan dalam pengukuran
3. Kesalahan dalam pemberian dosis obat pada mencit.
4. Mencit yang digunakan tidak dipuasakan





BAB VI
PENUTUP
VI.1. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan maka dapat di
simpulkan bahwa obat yang paling cepat berefek sebagai
antiinflamasi yaitu deksametason, ibuprofen, diklofenak,
meloksikam, dan terakhir metil prednisolon.
VI.2. Saran
Sebaiknya asisten selalu mendampingi praktikannya
selama kegiatan praktikum berlangsung.













DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010, Penuntun praktikum Farmakologi dan
Toksikologi II. Universitas Muslim Indonesia, Makassar.

Abrams, 2005. Respon tubuh terhadap cedera. EGC :
Jakarta.
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III,
DEPKES RI, Jakarta.
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV,
DEPKES RI, Jakarta.
Dorland, W.A.N. ,2002, Kamus Kedokteran Dorland
,Setiawan, A., Banni, A.P., Widjaja, A.C., Adji, A.S.,
Soegiarto, B., Kurniawan, D., dkk , penerjemah. Jakarta:
EGC.

Guyton, A.C. & Hall, J.E.. Buku ajar fisiologi kedokteran ,
1997, EGC; Jakarta.

Mitchell, R.N. & Cotran, R.S.2003. Inflamasi akut dan
kronik. Philadelphia: Elsevier Saunders.

Mycek,j mary, 2001. Farmakologi Ulasan
Bergambar.Widya Medika, Jakarta.

Rukmono, 2000, Kumpulan kuliah patologi. Jakarta:
Bagian patologi anatomik FK UI.

Sulaksono, M.E., 1987. Peranan, Pengelolaan dan
Pengemb angan
Hewan Percob aan . Jakarta