Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Reaksi asam-basa atau biasa disebut reaksi penetralan, tidak akan terlepas
dari titrasi asam-basa. Adapun titrasi asam-basa ini terdiri dari titrasi asam kuat-
basa kuat, titrasi asam kuat-basa lemah, titrasi basa lemah-asam kuat dan titrasi
asam-basa lemah. Titrasi asam-basa ini ditentukan oleh titik ekuivalen dengan
menggunkan indikator asam-basa.
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kada suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat didalam proses titrasi, sebagai
contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa,
titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi
kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan
lain sebagainya.
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titran dan biasanya
diletakkan didalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui
konsentrasinya disebut titer dan biasanya diletakkan didalam buret.
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun
titrant. Titrasi asam basa berdasarkan pada reaksi penetralan. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Oleh karena itu dilakukan percobaan kurva titrasi asam basa ini agar dapat
mengetahui konsentrasi asam atau basa melalui metode titrasi, dapat menentukan
konsentrasi asam/basa dari larutan yang diujikan dan agar, dapat bermanfaat pada
kehidupan sehari-hari. Dan agar dapat mengetahui titik ekuivalen (TE) dari suatu
grafik yang dibuat berdasarkan percobaan. Serta mengetahui volume titik
ekuivalen pada sistem HCl-NaOH dan CH
3
COOH-NaOH, mengetahui volume
TAT pada sistem HCl-NaOH dan CH
3
COOH-NaOH dan agar dapat mengetahui
konsentrasi asam atau basa melalui metode titrasi. Dan juga untuk mengetahui pH
campuran dari sistem HCl dengan NaOH dan pH campuran dari sistem
CH
3
COOH dengan NaOH. Sehingga diketahui pH dari kedua sistem tersebut
secara praktek dan dapat ditentukan pH secara teorinya.

1.2 Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui volume titrasi HCl dengan NaOH
Untuk mengetahui volume titrasi CH
3
COOH dengan NaOH
Untuk mengetahui titik ekuivalen sistem CH
3
COOH-NaOH
Untuk mengetahui titik ekuivalen sistem HCl-NaOH
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Volume pada jumlah reagen yang ditambahkan tepat sama dengan yang
diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis disebut sebagai titik
ekuivalen. Perbedaan antara titik akhir dan titik ekuivalen disebut sebagai
kesalahan titik akhir. Kesalahan titik akhir adalah kesalahan acak yang berbeda
untuk setiap sistem. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan nilainya
dapat dihitung. Dengan menggunakan metode potensiometri dan konduktometri
kesalahan titik akhir ditekan sampai nol (Khopkar, 1990).
Mengukur volume larutan adalah jauh lebih cepat dibandingkan dengan
menimbang berat suatu zat dengan suatu metode gravimetri. Akurasinya sama
dengan metode gravimetri. Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri,
dimana zat yang akan dianalisi dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang
konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam bentuk larutan konsentrasi
larutan yang tidak diketahui (analit). Kemudian dihitung. Syaratnya adalah reaksi
berlangsung secara cepat, reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi
samping. Selain itu juga reagen penitrasi yang diberikan berlebih, maka harus
dapat diketahui dengan suatu indikator (Khopkar, 1990).
Semua metode titrimetri tergantung pada larutan standar yang
mengandung sejumlah reagen persatuan volume larutan dengan ketetapan yang
tinggi konsentrasi dinyatakan dalam normalitas; larutan standar disiapkan dengan
menimbang reagen murni secara tepat, karena tidak semua standar tersedia dalam
keadaan murni. Oleh karena itu dikenal standar primer, yaitu zat yang tersedia
dalam komposisi kimia yang jelas dan murni. Larutan tersebut hanya bereaksi
pada kondisi titrasi dan tidak melakukan reaksi sampingan. Tidak berubah
ataupun bereaksi ditempat terbuka (atmosfer). Garam terhidrat tidak baik untuk
larutan standar primer. Berat ekuivalennya sebenarnya besar, untuk
menghindarkan kesalahan akibat penimbangan. Bila suatu asam atau basa maka
hendaknya mempunyai tetapan ionisasi yang besar (Khopkar, 1990).
Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan
untuk itu digunakan pengamatan dengan indikator bila pH pada titik ekivalen
antara 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi akan tajam pada titrasi asam atau
basa lemah jika penitrasian adalah basa atau asam kuat dengan perbadingan
tetapan disosiasi asam lebih besar dari 10
4
. Selama titrasi asam basa, pH larutan
berubah secara khas. pH berubah secara drastic bila volume titrannya mencapai
titik ekuivalen. Kecuraman perubahan pH untuk tiga asam yang berbeda terlihat
pada kurva titrasi (Khopkar, 1990).
Sebagian besar titrasi asam basa dilakukan pada temperatur kamar, kecuali
titrasi yang meliputi basa-basa yang mengandung CO
2
. Jadi titrasi dengan Na
2
CO
3

dilakukan pada temperatur 0 C. Temperatur mempengaruhi titrasi asam basa, pH
dan perubahan warna indikator tergantung secara tidak langsung pada temperatur.
Ini disebabkan perubahan kesetimbangan asam-basa dengan temperatur. Ka akan
bertambah besar dengan kenaikan temperatur sampai suatu batas tertentu.
Kemudian akan turun kembali pada kenaikan lebih lanjut. Ini sesuai dengan
turunnya tetapan dielektrikum air dengan kenaikan temperatur sehingga air sulit
tuk memisahkan muatan ionic. Jika tetapan ionisasi makin kecil, maka makin
tergantung pada temperatur (Khopkar, 1990).
Analis mendapat keuntungan dari perubahan pH yang besar yang terjadi
dalam titrasi untuk menentukan saat kapan titik ekuivalen dicapai. Ada banyak
asam dan basa organik lemah yang bentuk tak terurainya dan bentuk ioniknya
memiliki warna yang berbeda. Molekul tersebut biasa digunakan untuk
menentukan kapan penambahan titran telah mencukupi dan dinamakan indikator
visual. Sebuah contoh sederhana adalah R nitrofenol, yang merupakan asam
lemah, yang terurai (Day, 2002).
Supaya suatu reaksi kimia cocok digunakan dalam titrasi, reaksinya harus
sempurna pada titik ekuivalen. Derajat kesempurnaan reaksi menentukan ukuran
dan ketajaman bagian vertikal dari kurva titrasi. Semakin besar tetapan
kesetimbangan, semakin sempurna reaksinya. Semakin besar perubahan pH dekat
titik ekuivalen dan semakin sempurna reaksinya, semakin besar perubahan pH
dekat titik ekuivalen, semakin mudah untuk menempatkan titik ekuivalen dengan
presisi yang bagus. Kesempurnaan reaksi berhubungan dengan kelayakan praktis
dari titrasi ekuivalen. Secara teori, kita bias menempatkan titik ekuivalen dari
suatu reaksi yang tidak berjalan sempurna, tetapi secara praktis ini sulit (Day,
2002).
Salah satu teknik yang paling penting dalam kimia analitik ialah titrasi,
yaitu penambahan secara cermat volume suatu larutan yang mengandung zat A
yang konsentrasinya diketahui, kepada larutan kedua yang mengandung zat B
yang konsentrasinya tidak diketahui yang akan mengakibatkan reaksi antara
keduanya secara kuantitatif. Titik akhir dapat dideteksi dalam campuran reaksi
yang tidak bewarna dengan menambahkan zat yang disebut indikator, yang
mengubah warna pada titik akhir atau kenaikan atau penurunan pH tiba-tiba,
walaupun pH campuran reaksi berubah secara kontinu. Selama proses titrasi
asam-basa grafik pH versus volume dari larutan titrasi V disebut kurva titrasi.
Bentuknya tergantung pada nilai Ka dan konsentrasi asam dan basa yang bereaksi.
Konsep kesetimbangan asam-basa dapat dipakai untuk mencari bentuk yang tepat
dari kurva titrasi bila semua besaran ini diketahui konsep yang sama juga dapat
digunakan untuk menghitung Ka dan konsentrasi yang tidak diketahui
berdasarkan kurva titrasi eksperimen (Oxtoby, 2001).
Tujuan titrasi, misalnya dari suatu larutan basa dengan larutan standar
suatu asam adalah untuk menetapkan jumlah asam yang secara kimiawi adalah
tepat ekuivalen dengan jumlah basa yang ada. Keadaan (atau saat) pada mana ini
dicapai, adalah titik ekuivalen, titik stoikiometri, atau titik akhir teoritis, hasilnya
adalah larutan air dari garam bersangkutan. Jika baik asamnya, maupun basanya,
merupakan elektrolit kuat, larutan yang dihasilkan akan netral dan mempunyai pH
7, tetapi jika asamnya atau basanya adalah elektrolit lemah, garam itu akan
terhidrolisis sampai derajat tertentu dan larutan pada titik ekuivalen itu akan
lemah sedikit basa, atau sedikit asam. pH tepat dari larutan pada titik ekuivalen,
dapat mudah dihitung dari tetapan ionisasi dari asam lemah atau basa lemah itu
dan konsentrasi larutan untuk setiap titrasi yang sesungguhnya, titik-akhir yang
benar akan ditandai oleh suatu nilai tertentu dari konsentrasi ion hidrogen larutan
itu (Basset, 1994).
BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
Gelas ukur
Corong kaca
Buret
Tiang Statif
Klem
Pipet tetes
Gunting
Botol semprot
Gelas beaker
Erlenmeyer

3.1.2 Bahan-bahan
Larutan HCl 0,1 N
Larutan NaOH 0,1 N
Larutan CH
3
COOH 0,1 N
Aquades
Tisu
pH universal
Indikator pp

3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 HCl dengan NaOH
Diambil HCl 25 mL 0,1 N
Diukur pH awal
Ditambah 20 tetes indikator pp
Dititrasi dengan NaOH 0,1 N dengan variasi 5, 10, 15, 20 dan
seterusnya sampai TAT sambil terus dilakukan pengadukan
Diukur pH larutan setiap penambahan 5 mL volume larutan NaOH 0,1 N
Dihentikan titrasi saat TAT netral
Diamati volume titrasi yang digunakan

3.2.2 CH
3
COOH dengan NaOH
Diambil CH
3
COOH 25 mL 0,1 N
Diukur pH awal
Ditambah 20 tetes indikator pp
Dititrasi dengan NaOH 0,1 N dengan variasi 5, 10, 15, 20 dan
seterusnya sampai TAT sambil terus dilakukan pengadukan
Diukur pH larutan setiap penambahan 5 mL volume larutan NaOH 0,1 N
Dihentikan titrasi saat TAT netral
Diamati volume titrasi yang digunakan
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengamatan
4.1.1 Sistem HCl + NaOH
HCl (mL) NaOH (mL) pH
50 mL
0 mL
5 mL
10 mL
15 mL
20 mL
25 mL
30 mL
35 mL
40 mL
45 mL
49,5 mL
1
1
1
2
2
2
2
2
2
3
8

4.1.2 Sistem CH
3
COOH + NaOH
CH
3
COOH (mL) NaOH (mL) pH
50 mL
0 mL
5 mL
10 mL
15 mL
20 mL
25 mL
30 mL
35 mL
40 mL
45 mL
47,2 mL
3
4
4
4
4
4
5
5
6
7
8
TE
TE
4.2 Reaksi
4.2.1 Indikator pp + NaOH
C
O
C
O
C
C
O
ONa
OH
OH
O
ONa
+ 2 NaOH + 2 H
2
O

4.2.2 Indikator pp + CH
3
COOH
+
CH
3
COOH
C
C
O
O
OH OH

4.2.3 Indikator pp + HCl
+
HCl
C
C
O
O
OH OH

4.3 Perhitungan
4.3.1 Sistem HCl + NaOH
4.3.1.1 NaOH 0 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 0 mL = 0 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 0 mmol 5 mmol - -
B : 0 mmol 0 mmol 0 mmol 0 mmol
S : - 5 mmol 0 mmol 0 mmol
M =
v
n

=



= 0,1 M
[H
+
] = . M
= 1 . 0,1
= 0,1
pH = -log [H
+
]
= - log 0,1
= 1
4.3.1.2 NaOH 5 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 0 mL = 0,5 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 0,5 mmol 5 mmol - -
B : 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol
S : - 4,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol
[H
+
] =


= 0,0818
pH = -log [H
+
]
= - log [0,0818]
= 1,0872
4.3.1.3 NaOH 10 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 10 mL = 1 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 1 mmol 5 mmol - -
B : 1 mmol 1 mmol 1 mmol 1 mmol
S : - 4 mmol 1 mmol 1 mmol
[H
+
] =


= 0,0666
pH = -log [H
+
]
= - log [0,0666]
= 1,1765
4.3.1.4 NaOH 15 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 15 mL = 1,5 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 1,5 mmol 5 mmol - -
B : 1,5 mmol 1,5 mmol 1,5 mmol 1,5 mmol
S : - 3,5 mmol 1,5 mmol 1,5 mmol
[H
+
] =


= 0,0538
pH = -log [H
+
]
= - log [0,0538]
= 1,2692
4.3.1.5 NaOH 20 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 20 mL = 2 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 2 mmol 5 mmol - -
B : 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmol
S : - 3 mmol 2 mmol 2 mmol
[H
+
] =


= 0,0428
pH = -log [H
+
]
= - log [0,0428]
= 1,3685
4.3.1.6 NaOH 25 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 25 mL = 2,5 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 2,5 mmol 5 mmol - -
B : 2,5 mmol 2,5 mmol 2,5 mmol 2,5 mmol
S : - 2,5 mmol 2,5 mmol 2,5 mmol
[H
+
] =


= 0,0333
pH = -log [H
+
]
= - log [0,0333]
= 1,4775
4.3.1.7 NaOH 30 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 30 mL = 3 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 3 mmol 5 mmol - -
B : 3 mmol 3 mmol 3 mmol 3 mmol
S : - 2 mmol 3 mmol 3 mmol
[H
+
] =


= 0,025
pH = -log [H
+
]
= - log [0,025]
= 1,6020
4.3.1.8 NaOH 35 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 35 mL = 3,5 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 3,5 mmol 5 mmol - -
B : 3,5 mmol 3,5 mmol 3,5 mmol 3,5 mmol
S : - 1,5 mmol 3,5 mmol 3,5 mmol
[H
+
] =


= 0,0176
pH = -log [H
+
]
= - log [0,0176]
= 1,7544
4.3.1.9 NaOH 40 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 40 mL = 4 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 4 mmol 5 mmol - -
B : 4 mmol 4 mmol 4 mmol 4 mmol
S : - 1 mmol 4 mmol 4 mmol
[H
+
] =


= 0,0111
pH = -log [H
+
]
= - log [0,0111]
= 1,9546
4.3.1.10 NaOH 45 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 45 mL = 4,5 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 4,5 mmol 5 mmol - -
B : 4,5 mmol 4,5 mmol 4,5 mmol 4,5 mmol
S : - 0,5 mmol 4,5 mmol 4,5 mmol
[H
+
] =


= 5,2631 x 10
-3

pH = -log [H
+
]
= - log [5,2631 x 10
-3
]
= 3 log 5,2631
= 2,2787
4.3.1.11 NaOH 49,5 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 49,5 mL = 4,95 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 4,95 mmol 5 mmol - -
B : 4,95 mmol 4,95 mmol 4,95 mmol 4,95 mmol
S : - 0,05 mmol 4,95 mmol 4,95 mmol
[H
+
] =


= 5,0251 x 10
-4

pH = -log [H
+
]
= - log [5,0251 x 10
-4
]
= 4 log 5,0251
= 3,2988
4.3.1.12 NaOH 50 mL
n HCL = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
M : 5 mmol 5 mmol - -
B : 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmol
S : - - 5 mmol 5 mmol
pH = 7
4.3.2 Sistem CH
3
COOH + NaOH
4.3.2.1 NaOH 0 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 0 mL = 0 mmol
[H
+
] =


= 7,0710 x 10
-3

pH = -log [H
+
]
= - log [7,0710 x 10
-3
]
= 3 log 7,0710
= 2,1506
4.3.2.2 NaOH 5 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 5 mL = 0,5 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 0,5 mmol - -
B : 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol
S : 4,5 mmol - 0,5 mmol 0,5 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 9 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [9 x 10
-5
]
= 5 log 9
= 5 0,9542
= 4,0458
4.3.2.3 NaOH 10 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 10 mL = 1 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 1 mmol - -
B : 1 mmol 1 mmol 1 mmol 1 mmol
S : 4 mmol - 1 mmol 1 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 4 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [4 x 10
-5
]
= 5 log 4
= 5 0,6020
= 4,398
4.3.2.4 NaOH 15 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 15 mL = 1,5 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 1,5 mmol - -
B : 1,5 mmol 1,5 mmol 1,5 mmol 1,5 mmol
S : 3,5 mmol - 1,5 mmol 1,5 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 10
-5
. 2,3333
= 2,3333 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [2,3333 x 10
-5
]
= 5 log 2,3333
= 4,6321
4.3.2.5 NaOH 20 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 20 mL = 2 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 2 mmol - -
B : 2 mmol 2 mmol 2 mmol 2 mmol
S : 3 mmol - 2 mmol 2 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 1,5 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [1,5 x 10
-5
]
= 5 log 1,5
= 5 0,1760
= 4,824
4.3.2.6 NaOH 25 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 25 mL = 2,5 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 2,5 mmol - -
B : 2,5 mmol 2,5 mmol 2,5 mmol 2,5 mmol
S : 2,5 mmol - 2,5 mmol 2,5 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 10
-5
. 1
= 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [10
-5
]
= 5 log 10
= 5
4.3.2.7 NaOH 30 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 30 mL = 3 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 3 mmol - -
B : 3 mmol 3 mmol 3 mmol 3 mmol
S : 2 mmol - 3 mmol 3 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 10
-5
. 0,6666
= 0,6666 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [0,6666 x 10
-5
]
= 5 log 0,6666
= 5 (0,1761)
= 5 + 0,1761
= 5,1761
4.3.2.8 NaOH 35 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 35 mL = 3,5 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 3,5 mmol - -
B : 3,5 mmol 3,5 mmol 3,5 mmol 3,5 mmol
S : 1,5 mmol - 3,5 mmol 3,5 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 10
-5
. 0,4285
= 0,4285 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [0,4285 x 10
-5
]
= 5 log 0,4285
= 5 (0,3680)
= 5 + 0,3680
= 5,3680
4.3.2.9 NaOH 40 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 40 mL = 4 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 4 mmol - -
B : 4 mmol 4 mmol 4 mmol 4 mmol
S : 1 mmol - 4 mmol 4 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 0,25 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [0,25 x 10
-5
]
= 5 log 0,25
= 5,6020
4.3.2.10 NaOH 45 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 45 mL = 4,5 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 4,5 mmol - -
B : 4,5 mmol 4,5 mmol 4,5 mmol 4,5 mmol
S : 0,5 mmol - 4,5 mmol 4,5 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 10
-5
. 0,1111
= 0,1111 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [0,1111 x 10
-5
]
= 5 log 0,1111
= 5,9542
4.3.2.11 NaOH 47,2 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 45 mL = 4,72 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 4,72 mmol - -
B : 4,72 mmol 4,72 mmol 4,72 mmol 4,72 mmol
S : 0,5 mmol - 4,72 mmol 4,72 mmol
[H
+
] = Ka


= 10
-5


= 10
-5
. 0,0593
= 0,0593 x 10
-5

pH = -log [H
+
]
= - log [0,0593 x 10
-5
]
= 5 log 0,0593
= 6,2269
4.3.2.12 NaOH 50 mL
n CH
3
COOH = M . V = 0,1 M . 50 mL = 5 mmol
n NaOH = M . V = 0,1 M . 45 mL = 5 mmol
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
M : 5 mmol 5 mmol - -
B : 5 mmol 5 mmol 5 mmol 5 mmol
S : - - 5 mmol 5 mmol
[OH
-
] =

]
=


= 7,0710 x 10
-5

pOH = - log [OH
-
]
= - log [7,0710 x 10
-5
]
= 5 log 7,0710
= 4,1505
pH = 14 4,1505
= 9,8495












4.4 Grafik
4.4.1 Grafik HCl-NaOH Secara Praktek

4.4.2 Grafik HCl-NaOH Secara Teori









0
2
4
6
8
10
0 10 20 30 40 50 60
p
H

V NaOH
HCl-NaOH
0
1
2
3
4
5
6
7
8
0 10 20 30 40 50 60
p
H

V NaOH
HCl-NaOH
4.4.3 Grafik CH
3
COOH-NaOH Secara Praktek

4.4.4 Grafik CH
3
COOH-NaOH Secara Teori


4. 5 Pembahasan
Titik akhir titrasi adalah suatu keadaan dimana suatu titrasi harus diakhiri
dengan ditandai perubahan warna.
Titik ekuivalen adalah suatu keadaan dimana zat peniter sama dengan zat
yang dititer
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0 10 20 30 40 50
p
H

V NaOH
CH
3
COOH-NaOH
0
2
4
6
8
10
12
0 10 20 30 40 50 60
p
H


V NaOH
CH
3
COOH-NaOH
Titran adalah larutan standar yang telah diketahui dengan tepat
konsentrasinya.
Titrat adalah bahan atau larutan yang akan dititrasi dengan larutan kimia
agar berlangsung suatu reaksi dapat diamati dengan jelas menggunakan indikator
perubahan warna.
Titrasi adalah suatu metode analisis kimia secara kuantitatif yang biasa
digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan.
Indikator asam basa adalah senyawa halokromik yang ditambahankan
dalam jumlah kecil kedalam sampel, umumnya adalah larutan yang akan
memberikan warna sesuai dengan kondisi pH larutan tersebut.
Dalam melakukan titrasi diperlukan beberapa persyaratan yang harus
diperhatikan, yaitu:
Reaksi harus berlangsung secara stoikiometri dan tidak terjadi reaksi samping
Reaksi harus berlangsung secara cepat
Reaksi harus kuantitatif
Pada titik ekivalen, reaksi harus dapat diketahui titik akhirnya dengan tajam
(jelas perubahannya)
Harus ada indikator, baik langsung atau tidak langsung.
Reaksi netralisasi merupakan reaksi penetralan asam oleh basa dan
menghasilkan air. Hasil air merupakan produk dari reaksi antara ion H
+
pembawa
sifat asam dengan ion hidroksida (OH
-
) pembawa sifat basa.
Reaksi: H
+
+ OH
-
H
2
O
HCl + NaOH NaCl + H
2
O
Titrasi asam basa sering juga disebut dengan titrasi netralisasi. Titrasi
asam basa tergolong pada dua metode yaitu asidimetri dan alkalimetri. Asidimetri
yang secara kata berarti asam (acid) dan pengukuran (metri), diartikan sebagai
pengukuran menggunakan basa, yaitu pengukuran terhadap larutan asam bebas
atau larutan garam yang berasal dari basa lemah dengan larutan basa yang telah
diketahui konsentrasinya.
Beberapa trayek pH indikator asam-basa yaitu:
Indikator
Perubahan warna dengan
meningkatkan pH
Rentang pH
Asam pikrat Tidak bewarna ke kuning 0,1 0,8
Timol Biru Merah ke kuning 1,2 2,8
2,6 Dinitrofenol Tidak bewarna ke kuning 2,0 4,0
Metil Kuning Merah ke kuning 2,9 4,0
Bromfenol Biru Kuning ke biru 3,0 4,6
Metal Orange Merah ke kuning 3,1 4,4
Brom Kresol Hijau Kuning ke biru 3,8 5,4
Metal Merah Merah ke kuning 4,2 6,2
Litmus Merah ke biru 5,0 8,0
Metil Ungu Ungu ke hijau 4,8 5,4
P Nitrofenol Tidak bewarna ke kuning 5,6 7,6
Brom Kresol Ungu Kuning ke ungu 5,2 6,8
Brom Timol Biru Kuning ke biru 6,0 7,6
Netral Merah Merah ke kuning 6,8 8,0
Fenol Merah Kuning ke biru 6,8 8,4
- - Naftolftalein Kuning ke biru 7,0 9,0
Fenolftalein Tidak bewarna ke merah 8,0 9,6
Timolftalein Tidak bewarna ke biru 9,3 10,6
Alizarin kuning R Kuning ke violet 10,1 12,0
1,3,5 Trinitro benzene Tidak bewarna ke orange 12,0 14,0
Prinsip percobaan kali ini didasarkan pada titrasi netralisasi yang akan
terbentuk garam normal yang termal pada titik ekivalennya, dimana NaOH
sebagai titran dimana akan bereaksi dengan HCl sebagai asam kuat dengan dan
CH
3
COOH sebagai asam lemah sebagai titrat hingga mencapai titik ekuivalen
dengan bantuan indikator pp untuk menunjukkan titik akhir titrasi yang ditandai
dengan perubahan warna pada larutan yaitu merah lembayung penambahan titran
kepada titrat dilakukan tetes demi tetes melalui buret hingga tercapai titik akhir
titrasi yaitu satu tetes setelah titik ekuivalen yang ditandai dengan perubahan
warna dimana titrasi kita dihentikan.
Pada percobaan ini digunakan indikator pp karena sebagai indikator basa
sebab yang digunakan larutan NaOH. Dan indikator pp memiliki pH diatas 7 yang
bersifat basa.
Beberapa faktor kesalahan pada percobaan ini, yaitu:
Kurang telitinya dalam melihat skala pada buret
Kurang telitinya dalam melihat Titik Akhir Titrasi
Beberapa fungsi alat pada percobaan ini yaitu:
Gelas ukur berfungsi untuk mengukur banyaknya volume yang ingin
digunakan
Corong kaca berfungsi untuk alat memindahkan larutan agar tidak tertumpah
Buret berfungsi untuk alat titrasi
Tiang statif berfungsi sebagai tiang penyangga pada buret
Pipet tetes berfungsi untuk mengambil larutan
Gunting berfungsi untuk memotong pH universal
Botol semprot berfungsi untuk tempat menyimpan aquades
Gelas beaker berfungsi sebagai wadah untuk meyimpan larutan.
Beberapa fungsi bahan, yaitu:
Larutan HCl 0,1 N berfungsi sebagai titran
Indikator pp berfungsi sebagai indiaktor basa
Larutan NaOH 0,1 N berfungsi untuk larutan yang akan dititrasi dan bersifat
basa kuat
Larutan CH
3
COOH 0,1 N berfungsi sebagai larutan asam
Aquades berfungsi untuk mencuci alat-alat yang digunakan
pH universal berfungsi untuk mengetahui pH
Pada percobaan ini dilakukan dua percobaan yaitu HCl dengan NaOH dan
CH
3
COOH dengan NaOH. Pada percobaan HCl dengan NaOH, pertama-tama
diambil HCl 25 mL 0,1 N dan diukur pH awalnya, kemudian ditambahkan 20
tetes indikator pp, setelah itu dititrasi dengan NaOH dengan variasi 5, 10, 15, 20
dan seterusnya samapai TAT sambil terus dilakukan pengadukan. Diukur pH
larutan setiap penambahan 5 mL larutan NaOH. Pada HCl 50 mL dan NaOH 0
mL didapatkan pH 1. Pada NaOH 5 dan 10 mL juga didapatkan pH 1. Pada NaOH
15-40 mL didapatkan pH 2. Dan pada NaOH 45 mL didapatkan pH 3. Pada NaOH
49,5 mL didapatkan pH 8. Kemudian dihentikan titrasi saat TAT netral dan
diamati volume titrasi yang digunakan.
Pada percobaan kedua yaitu sistem CH
3
COOH dengan NaOH. Pertama-
tama diambil CH
3
COOH 25 mL 0,1 N dan diukur pH awalnya, setelah itu
ditambahkan 20 tetes indikator pp, kemudian dititrasi dengan NaOH 0,1 N dengan
variasi 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai TAT. Setelah itu dilakukan
pengukuran pH larutan setiap penambahan 5 mL volume larutan NaOH 0,1 N.
Pada CH
3
COOH 5 mL dengan NaOH 0 mL didapatkan pH yaitu 3. Pada NaOH 5
mL 25 mL didapatkan pH 4, sedangkan pada pH 30 dan 35 mL didapatkan pH
5. Pada NaOH 45 mL didapatkan pH 8. Setelah itu dihentikan titrasi saat TAT
netral. Dan diamati volume titrasi yang digunakan.
pH praktek dan teori ada yang berbeda. Hal ini dikarenakan konsentrasi
yang tidak tepat, didalam larutan masih terdapat zat pengotor dan pada saat
membaca pH atau volume kurang teliti sehingga dapat mempengaruhi hasil yang
didapatkan.
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Volume titrasi HCl dengan NaOH yaitu 49,5 mL
Volume titrasi CH
3
COOH dengan NaOH yaitu 47,2 mL
Pada sistem CH
3
COOH-NaOH titik ekivalen berada pada NaOH 20 mL
Pada sistem HCl-NaOH titik ekivalen pada NaOH 30 mL

5.2 Saran
Sebaiknya pada percobaan selanjutnya dapat dilakukan penentuan kurva
titrasi asam kuat dan basa lemah HCl dengan NH
4
OH agar dapat diketahui
perbandingannya.
DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. 1994. Kimia Analisi Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
Day, R.A, J R dan Underwood A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi ke
empat. Jakarta: Erlangga
Kopkar, 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press
Oxtoby, dkk. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern Edisi ke empat Jilid 1. Jakarta:
Erlangga

Anda mungkin juga menyukai