Anda di halaman 1dari 4

SISTEM ENERGI

Energi diperlukan untuk menggerakkan berbagai aktivitas, baik alami maupun buatan. Energi
menjadi salah satu penentu keberlangsungan hidup suatu masyarakat, dalam kemampuannya menjaga
berbagai proses ekologis, menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi dan secara umum meningkatkan
kualitas hidup. Keberlangsungan tingkat dan kualitas aktivitas sangat tergantung kepada ketersediaan dan
konsumsi energy (Hughes, 2000). Secara teknis, energy diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan
usaha. Namun demikian, energy sering secara keliru disinonimkan dengan sumber energy (seperti listrik,
gas, batubara, biomassa dan lainnya). Terdapat perbedaan mendasar pula antara energy dan suatu
komoditas, misalnya besi, tembaga, atau beras.

Yang dimanfaatkan dari energy adalah layanan yang disediakannya, bukan energy itu sendiri.
Layanan energy (energy service) adalah berupa manfaat yang dihasilkan oleh pembawa energy bagi
kepentingan hidup manusia (Modi dkk., 2005). Contoh layanan energy yang diterima oleh manusia seperti
panas untuk memasak, cahaya untuk penerangan rumah atau pabrik, daya mekanis untuk menumbuk atau
menggiling biji bijian, komunikasi, dan lainnya. Sementara Lovins (2004) mengartikan layanan energy
sebagai fungsi yang dituju dengan melakukan konservasi energy sebagai fungsi yang dituju dengan
melakukan konversi energy dalam berbagai piranti. Fungsi tersebut misalnya kenyamanan, mobilitas, udara
segar, fisibilitas, hiburan, reaksi elektrokimia, dan sebagainya.
Terdapat berbagai macam pembawa energy, seperti listrik yang dapat dibangkitkan dari bermacam
macam sumber energy (air, angin, matahari atau batubara). Sementara itu, layanan energy dapat
diperoleh dari beragam pembawa energy tersebut, misal cahaya dari bahan bakar atau listrik atau daya
mekanik yang diperoleh dari energy potensial air, energy kinetic angin, atau dari listrik. Sementara itu yang
penting dari sisi pemakai adalah layanan energy, bukan sumber energy. Pemakai (rumah tangga, bisnis dan
lainnya) menuntut adanya kehandalan (reliability), keterjangkauan (affordability) dan akses (accessibility)
terhadap layanan energy. Ketersediaan energy merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia.
Ketersediaan energy tersebut mempengaruhi cara manusia mengolah bahan dan hasil pertanian, memasak,
menerangi ruangan, menyediakan fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas usaha, fasilitas
telekomunikasi, fasilitas hiburan dan sekitarnya.
Ada tingkat minimal konsumsi energy per kapita per hari tertentu yang harus dicapai oleh suatu
negara agar warganya dapat terpenuhi kebutuhan hidup dasarnya dan mencapai standar hidup yang layak.
Satu analisis memperkirakan bahwa diperlukan setidaknya 100 watts per kapita per hari (Najam dan
Cleveland, 2003) untuk penyediaan fasilitas masak dengan gas (seperti LPG-Liquidi Petroleum Gas) serta
listrik untuk penerangan, kipas angin, lemari pendingin kecil, dan televisi. Angka tersebut hanya
sepersepuluh konsumsi energi yang diperlukan untuk memenuhi standar hidup Eropa Barat.

Peran Energi di Indonesia
Energi mempunyai peran luas dan signifikan bagi Indonesia. Dalam perekonomian Indonesia yang
mendasarkan pada kerangka pembangunan nasional, peran sector energy sering dikaitkan dengan
sector sumber daya mineral. Menurut ESDM (2008), peran dua sector tersebut dapat ditelaah dari
Sembilan sudut pandang sebagai berikut:
Sebagai sumber energy domestic
Sebagai sumber penerimaan negara
Sebagai pendukung pembangunan daerah
Sebagai faktor penting dalam neraca perdagangan
Sebagai sumber sasaran investasi
Sebagai beban subsidi
Sebagai faktor penting Indeks Harga Saham Gabungan
Sebagai bahan baku industri
Sebagai pemicu efek positif berantai




Ketahanan Energi
Dewasa ini ketahanan energy makin menjadi pusat perhatian dominan dalam kebijakan
energy. Berbagai organisasi masing masing mengemukakan definisi ketahanan energy
mereka yang dapat dicermati misalnya dalam UN-ESCAP (2008). Laporan Asia Pacific Energy
Research Centre mendefinisikan ketahanan energy sebagai kemampuan sebuah sistem
ekonomi untuk menjamin ketersediaan pasokan energy secara berkelanjutan dan dalam
waktu yang tepat dengan tingkat harga yang tidak merugikan kinerja sistem ekonomi
tersebut.
Konsep ketahanan energy mencakup berbagai jenis energy di sepanjang rantai pasokannya
(supply chain) dengan memasukkan variabel ketersediaan fisik dan harga. Ketahanan
energy merupakan kondisi yang menghubungkan berbagai variabel, seperti energy, politik
dan pembangunan ekonomi. Dapat dikatakan secara singkat bahwa perwujudan ketahanan
energy ditandai dengan tercapainya kemampuan merespon dinamika perubahan energy
global (eksternal) dan kemandirian dalam menjamin ketersediaan energy (internal). Hal ini
harus diusahakan dengan kebijakan yang sekaligus mengatur sisi pasokan dan sisi
kebutuhan.

Persoalan Mendasar Sistem Energi
Layanan energy perlu ditopang oleh suatu sistem yang berkelanjutan. Seperti halnya
ekosistem, sistem energy yang berkelanjutan ditandai oleh kemampuannya memasok layanan
energy dalam batas ketersediaan sumber energy dan kemampuan mengurai berbagai limbah
dan dampak negative sebagai akibat siklus hidup pemanfaatan sumber energy tersebut
(Hughes, 2000). Kemampuan suatu ekosistem untuk mendaur ulang bahan makanan dan limbah
dibatasi oleh kemampuan berbagai organisme (seperti berbagai tumbuhan dan berbagai bakteri
an aerobic) dalam mengkonversi sumber energy non-organik (misal energy matahari) menjadi
berbagai bentuk organic energy (misal melalui proses fotosintesis). Namun demikian aplikasi
berbagai teknologi memungkinkan manusia membangkitkan aliran energy jauh di atas yang
ditemui dalam sistem biologis alami. Dalam aktivitas manusia laju produksi barang dan jasa
serta berbagai jenis limbah berhubungan sangat erat dengan laju konsumsi energy. Sistem
energy yang berkelanjutan tersebut harus mampu memenuhi kebutuhan energy umat manusia
secara berkelanjutan, suatu sistem yang selalu mampu memenuhi kebutuhan namun tidak
membahayakan daya dukungan lingkungan.

Lebih luas dari sekedar tinjauan lingkungan dalam sistem berkelanjutan, saat ini terdapat
berbagai persoalan mendasar, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Ketergantungan berlebih terhadap sumber energy fosil
Rendahnya rasio elektrifikasi
Ketergantungan terhadap biomassa tradisional

Apa yang Dimaksud dengan Bahan Bakar dan Energi?
Dalam kamus bahasa Inggris, bahan bakar didefinisikan sebagai suatu zat yang dibakar
untuk menghasilkan panas atau tenaga. Panas diperoleh dari proses pembakaran, dimana
karbon dan hidrogen pada bahan bakar bereaksi dengan oksigen dan melepaskan panas.
Pengadaan energi sebagai panas atau tenaga, baik dalam bentuk mekanis atau listrik,
merupakan alasan utama pembakaran bahan bakar. Istilah energi, bila digunakan secara tepat
dalam statistik energi, merujuk hanya pada panas dan tenaga, tetapi secara bebas digunakan
oleh banyak orang untuk mencakup bahan bakar juga.

Apa Itu Komoditas Energi Primer dan Sekunder?
Komoditas energi bisa ditambang atau diperoleh langsung dari sumber daya alam (diberi
istilah primer) seperti minyak bumi, batubara padat, gas bumi, atau yang diproduksi dari
komoditas primer. Seluruh komoditas energi yang bukan primer tetapi diproduksi dari
komoditas primer disebut komoditas sekunder. Energi sekunder berasal dari transformasi
energi primer ataupun sekunder. Pembangkitan listrik dengan membakar bahan bakar minyak
merupakan salah satu contohnya. Contoh lainnya termasuk produk kilang (sekunder) dari
minyak mentah (primer), kokas (sekunder) dari batubara (primer), arang (sekunder) dari kayu
bakar (primer), dan lain-lain. Baik listrik maupun panas dapat diproduksi dalam bentuk primer
maupun sekunder. Listrik dalam bentuk primer akan dibahas dalam bab listrik. Panas primer
merupakan panas yang diperoleh dari sumber daya alam (panel surya, reservoir panas bumi)
dan dikenal sebagai energi terbarukan dalam pasokan nasional komoditas energi. Panas
sekunder diperoleh dari penggunaan komoditas energi yang telah diperoleh atau diproduksi
dan dicatat sebagai bagian dari pasokan nasional (sebagai contoh: panas dari fasilitas kombinasi
listrik dan panas ).

Apakah Bentuk Bahan Bakar Fosil dan Energi Terbarukan?


















Komoditas energi primer terbagi atas bahan bakar yang berasal dari fosil dan energi
terbarukan. Bahan bakar fosil berasal dari sumber daya alam yang terbentuk dari biomassa
yang mengalami proses geologis di masa lalu. Istilah fosil juga diterapkan pada bahan bakar
sekunder yang diproduksi dari bahan bakar fosil. Komoditas energi terbarukan, kecuali panas
bumi, diambil secara langsung atau tidak langsung dari tenaga surya dan energi gravitasi yang
tersedia secara konstan. Contohnya, energi pada biomassa diperoleh dari cahaya matahari
yangdigunakan oleh tumbuhan selama pertumbuhannya. Ilustrasi skematis tentang energi
terbarukan dibandingkan dengan bukan energi terbarukan, serta energi primer dibandingkan
dengan energi sekunder.

Bagaimana Mengukur Kuantitas dan Nilai Panas?
Bahan bakar diukur untuk diperdagangkan dan untuk memantau proses-proses yang
berkaitan dengan produksi maupun pemakaiannya. Satuan yang digunakan pada saat
mengukur disesuaikan dengan kondisi fisiknya (padat, cair, atau gas) dan hanya memerlukan
alat ukur paling sederhana. Satuan-satuan ini dinyatakan sebagai satuan alami bahan bakar
(atau dipakai juga istilah satuan fisik). Contoh yang umum adalah satuan massa untuk bahan
bakar padat (kilogram atau ton) dan satuan volume untuk bahan bakar cair dan gas (liter atau
meter kubik). Terdapat beberapa pengecualian, seperti kayu bakar yang sering diukur dalam
meter kubik atau dalam satuan volume setempat. Energi listrik diukur dalam satuan energi,
yaitu kilowatt-jam (kWh). Kuantitas panas dalam aliran uap dihitung dari ukuran tekanan dan
temperatur uapnya, dan dinyatakan dalam kalori atau joule. Selain untuk menghitung
kandungan panas uapnya, aliran panas jarang diukur tetapi diperkirakan dari bahan bakar yang
diperlukan untuk memproduksinya. Sesuatu yang juga umum dilakukan adalah mengonversi
cairan dalam satuan liter atau galon ke satuan ton. Hal ini memungkinkan penjumlahan dari
beberapa produk cair yang berbeda. Konversi dari satuan volume ke satuan massa ini
memerlukan berat jenis dari cairan.
Bila bahan bakar dinyatakan dalam satuan fisik, kuantitasnya dapat dikonversi ke satuan
lain. Hal ini dilakukan antara lain untuk membandingkan kuantitas berbagai jenis bahan bakar,
memperkirakan efisiensi, dan lain-lain. Satuan yang paling umum dipakai adalah satuan energi
karena potensi peningkatan panas dari bahan bakar tersebut sering menjadi alasan kenapa
bahan bakar tersebut dibeli atau digunakan.

Penggunaan satuan energi juga memungkinkan penjumlahan kandungan energi
dari berbagai bahan bakar dalam kondisi fisik yang berbeda. Konversi kuantitas bahan bakar
dari satuan fisik maupun satuan intermediate lain (seperti massa) menjadi satuan energi
membutuhkan suatu faktor konversi yang menyatakan panas yang diperoleh dari satu satuan
bahan bakar. Faktor konversi ini disebut nilai kalor atau nilai panas bahan bakar. Ekspresi
khusus dari nilai ini adalah 26 gigajoule/ton (GJ/t) untuk batubara atau 35,6 megajoule per
meter kubik (MJ/M3) untuk gas. Pada buku Manual ini, akanakan digunakan istilah nilai kalor
meskipun nilai panas juga digunakan secara luas

Nilai kalor dari bahan bakar diperoleh dari pengukuran di laboratorium yang khusus untuk
mengukur kualitas bahan bakar. Produsen bahan bakar (perusahaan penambangan,
pengilangan, dll.) akan mengukur nilai kalor dan kualitas lain dari bahan bakar yang
diproduksinya. Metode pengukuran nilai kalor tidak penting untuk buku Manual ini tetapi
adanya air dalam pembakaran bahan bakar akan mempengaruhi nilai kalor.