Anda di halaman 1dari 14

DASAR-DASAR TERAPI

CAIRAN DAN ELEKTROLIT


PENDAHULUAN
Gangguan cairan dan elektrolit dapat membawa penderita dalam kegawatan, yang
kalau tidak dikelola dengan cepat dan tepat dapat menimbulkan kematian. Usaha pemulihan
kembali volume serta komposisi cairan dan elektrolit tubuh dalam kondisi yang normal disebut
resusitasi cairan dan elektrolit.
Penyebab utama gangguan cairan dan elektrolit adalah diare, muntah-muntah,
peritonitis, ileus obstruktif, puasa, terbakar, atau karena pendarahan yang banyak. Tiap
penyakit memiliki gangguan tersendiri sehingga sasaran terapinya juga berbeda. gar terapi
cairan dan elektrolit kena pada sasarannya, diperlukan selain pengatahuan tentang patofisiologi
penyakit, juga fisiologi dari cairan dan elektrolit tubuh kita. !erikut ini akan dibahas tentang
dasar-dasar terapi cairan dan elektrolit agar sasaran terapi sesuai dengan kebutuhan penderita.
"#$U#G# %&'# $() TU!U*
+umlah total cairan tubuh ,Total Body Water - T!./ seseorang bervariasi antara 00-
123 dari berat badannya. 4ariasi ini tergantung dari banyaknya lemak yang dikandung
tubuhnya. 5emakin gemuk seseorang semakin kurang air yang dikandungnya, sebab lemak
kurang mengandung air. 6leh karena itu, cairan tubuh pada wanita relatif kurang
dibandingkan dengan pria, sebab wanita umumnya memiliki lemak lebih banyak dari pria ,7/.
'ata-rata T!.8 9 Pria 8 :23 !!
9 .anita 8 003 !!
5ecara anatomis, cairan tubuh kita dibagi atas dua kompartemen, yakni 8
Cairan intraseluler ,intracellular fluid - &%;/ 8 <23 !!
Cairan ekstraseluler ,extracellular fluid - =%;/ 8 >23 !!
"edua kompartemen tersebut di atas dipisahkan oleh dinding sel yang bersifat
semipermeabel, artinya permeabel terhadap air tetapi tidak atau kurang permeabel terhadap
elektrolit maupun ?at -?at lainnya.
5elanjutnya cairan ekstraseluler sendiri terbagi atas cairan interstisial ,interstitial
fluid/ 703 !!, yaitu cairan yang berada diantara sel, dan cairan intravaskuler
,intravascular fluid/ 03 !! yaitu cairan yang berada dalam pembuluh darah. "eduanya
dipisahkan oleh dinding kapiler yang terdiri dari selapis endotel. 6leh karena itu ?at-?at dengan
molekul kecil seperti 8 air, elektrolit, dan glukosa mudah melewati dinding kapiler tersebut,
sedangkan ?at-?at dengan molekul besar seperti koloid, protein plasma, atau eritrosit tidak
dapat melewati dinding kapiler tersebut.
5ebenarnya masih ada lagi kompartemen cairan yang oleh karena jumlahnya relatif
kecil dan tidak banyak berperan dalam perubahan cairan tubuh sehingga secara fungsional
dapat diabaikan dalam perhitungan jumlah cairan tubuh@ cairan tersebut adalah cairan
transeluler ,transcellulair fluid/ 8 >3 !!, misalnya cairan serebrospinal, cairan dalam sendi
,sinovial/, cairan dalam korpus vitreum, traktus biliaris, pleura, cairan peritoneal, dan lain-lain.
+adi secara anatomis cairan tubuh dibagi atas 8 ,lihat Gambar 7./
%airan intraseluler 8 <2 3 !!
%airan ekstraseluler 8 >2 3 !!, yang terdiri dari 8
cairan interstisial 8 70 3 !!.
cairan intravaskuler 8 0 3 !!
%airan transeluler 8 > 3 !!
.alaupun cairan intravaskuler atau cairan plasma hanya 03 dari !!, namun peranannya amat
penting dalam mempertahankan hemodinamik tubuh kita.
$engan mengetahui struktur anatomi cairan tubuh tersebut di atas, maka dapat dimengerti
bahwa 8
7. Pemberian cairan deAtrose 03 dapat dengan mudah melewati baik dinding endotel kapiler
maupun dinding sel. +adi pemberian infus deAtrose 03 akan berakhir di dalam sel.
$eAtrose 03 di dalam sel akan segera mengalami metabolisme menjadi *
>
2 dan %6
>.
Cairan intraseluler Cairan ekstraseluler
<23
>2 (

B

B

B
703
B

B
7>
( B

B

B
03
< (
$eAtrose 03
'inger laktat
#a%l 2,C3
"oloid
Protein plasma
$arah
&nterstisiel &ntravaskuler
Gamar !" Anat#mi cairan tuu$
%" Pemberian cairan kristaloid isotonis, seperti 'inger laktat atau #a%l 2,C3 fisiologis akan
mudah melewati dinding endotel kapiler tetapi tidak mudah melewati dinding sel. +adi
pemberian infus cairan tersebut akan berakhir di ruang interstisial.
&" Pemberian cairan koloid, plasma, atau darah akan menetap di dalam intravaskuler, sebab
tidak dapat melewati dinding endotel kapiler kecuali dalam keadaan patologis misalnya
pada keadaan kombusio. +adi dalam keadaan normal cairan ini akan menetap dan
menambah volume intravakuler untuk jangkah waktu yang cukup lama.
>
"6)P65&5& %&'# TU!U*
"omposisi cairan tubuh dapat dilihat pada Gambar >. di bawah ini. $isini jelas bahwa
#a
D
dan %l
-
merupakan elektrolit utama dari cairan ekstraseluler, sedangkan "
D
dan P6<
-
merupakan elektrolit utama dari cairan intraseluler.
"onsentrasi #a
D
cairan ekstraseluler adalah 7<> m=EF( sedangkan "
D
0 m=EF(, sebaliknya
konsentrasi "
D
intraseluler adalah 702 m=EF( dan #a
D
72 m=EF(.
70< m=EF( 70< m=EF( 70G m=EF( 70G m=EF( >22 m=EF( >22 m=EF(
Kati#n Ani#n Kati#n Ani#n Kati#n Ani#n
#a
D
7<> %l
-
72G #a
D
7<< %l
-
77< "
D
702 *P6<
--
*%6
G
-
>1 *%6
G
-
G2 56<
-
56
<
-
56
<
-
G
P6<
--
*%6
"
D
< 6rganic-
acids 0
"
D
< 6rganic-
acids 0
)g
DD
<2 *%6G
-
72
%a
DD
0 %a
DD
0 #a
D
72
)g
DD
G Proteins 7: )g
DD
> Proteins 7 Proteins <2
PLAS'A INTERSTITIEL INTRASEL
(LUID (LUID
Gamar %" K#m)#sisi elektr#lit k#m)artemen cairan tuu$ *+alam mE,-liter.
Tingginya konsentrasi #a
D
di luar sel dan tingginya konsentrasi "
D
di dalam sel
disebabkan karena setiap kali #a
D
masuk ke dalam sel selalu dipompakan keluar melalui
mekanisme Hsodium potassium pumpH, sehingga praktis dalam keadaan normal #a
D
lebih
banyak diluar sel dan "
D
lebih banyak di dalam sel. Untuk menjalankan pump ini dibutuhkan
energi yang diperoleh dari adenosin triphosphat ,TP/.
T="## 65)6T&"
Tekanan osmotik suatu larutan dinyatakan dengan osmol atau milliosmol/liter.
Tekanan osmotik suatu larutan ditentukan oleh banyaknya partikel yang larut dalam suatu
larutan. $engan kata lain makin banyak partikel yang larut makin tinggi tekanan osmotik yang
ditimbulkannya.
5ebagai contoh, misalnya 8 suatu molekul #a%l berionisasi penuh menjadi 7 ion #a
D
dan 7 ion %l
-
akan menghasilkan > milliosmol, di lain pihak 7 molekul #a
>
56
<
yang berionisasi
penuh menjadi > ion #a
D
dan 7 ion 56<
-
akan menghasilkan G milliosmol. $emikian pula
halnya dengan satu molekul glukosa yang tidak berionisasi menghasilkan 7 milliosmol dari
suatu larutan.
7 mol #a%l ------------- I 7 ion #a D 7 ion %l
G
7 mol #a>56< ------------- I > ion #a D 7 ion 56<
7 mol Glukosa ------------- I 7 mol Glukosa
.alaupun besar molekul glukosa lebih besar dari #a
>
56
<
namun tekanan osmotik
yang ditimbulkan oleh 7 mol #a
>
56
<
lebih besar dari 7 mol glukosa. +adi tekanan osmotik
ditentukan oleh banyaknya partikel yang larut bukan tergantung pada besar molekul yang
terlarut. Perbedaan komposisi ion antara cairan intraseluler dan ekstraseluler dipertahankan
oleh dinding sel yang bersifat semipermiabel. "edua kompartemen tersebut memiliki tekanan
osmotik yang sama sekitar G22 milliosmol.
)eskipun total tekanan osmotik suatu larutan merupakan penjumlahan tekanan dari
masing-masing ?at terlarut dalam suatu larutan, namun effective osmotic pressure tergantung
dari partikel-partikel yang tidak dapat melewati suatu dinding yang bersifat semipermeabel.
&tulah sebabnya protein yang terlarut dalam plasma yang tidak melewati dinding kapiler
merupakan faktor penentu effective osmotic pressure antara plasma ,cairan intravaskuler/
dengan cairan interstisiel. Tekanan osmotik yang ditimbulkan oleh protein yang tidak dapat
melewati dinding kapiler inilah yang disebut colloid osmotic pressure. $engan kata lain
tekanan onkotik dalam plasma ditentukan oleh konsentrasi protein yang larut dalam plasma.
6leh karena #a
D
merupakan ion yang terbanyak dalam cairan ekstraseluler, maka #a
D
memegang peranan terpenting dalam menentukan tekanan osmotik cairan ekstraseluler.
$isamping itu ?at-?at seperti protein dan glukosa yang tidak bebas melewati dinding sel juga
akan menambah effective osmotic pressure.
ir secara bebas melewati dinding sel sehingga effective osmotic pressure antara kedua
kompartemen tersebut dianggap sama sehingga setiap keadaan yang mengganggu atau
mengubah effective osmotic pressure kedua kompartemen akan menghasilkan redistribusi air
antara keduanya. ir akan mengalir atau berpindah dari tekanan osmotik rendah ke tekanan
osmotik yang tinggi sampai pada gilirannya yang kedua kompartemen tersebut memiliki
effective osmotic pressure yang sama. +adi bila terjadi kenaikan effective osmotic pressure
pada cairan ekstraseluler yang biasanya akibat dari naiknya konsentrasi #a
D
,hipernatremia/
akan menyebabkan mengalirnya air dari intraseluler ke ekstraseluler, demikian pula sebaliknya.
kan tetapi seandainya terjadi kehilangan volume cairan ekstraseluler tanpa perubahan
konsentrasi maka hampir tidak akan terjadi perpindahan air, yang terjadi hanyalah perubahan
volume cairan ekstraseluler saja.
&stilah tekanan osmotik harus dibedakan dengan tekanan onkotik ,oncotic pressure
atau colloid osmotic pressure/. Tekanan osmotik suatu larutan tergantung atas banyaknya
partikel yang terlarut, jadi semakin kecil partikelnya semakin banyak yang dapat terlarut,
semakin tinggi tekanan osmotik yang ditimbulkannya. 5ebagai contoh misalnya manitol
memiliki berat molekul yang kecil sehingga dapat meningkatkan tekanan osmotik bila
diberikan secara intravena.
5ebaliknya, senyawa seperti albumin, dekstran yang memiliki berat molekul sekitar
J2.222 tidak dapat menaikkan tekanan osmotik yang tinggi, akan tetapi senyawa ini dapat
menaikkan tekanan onkotik karena tidak dapat melewati dinding kapiler. 6leh karena itu,
infus albumin atau dekstran dapat menaikkan tekanan onkotik plasma darah, tetapi hampir
tidak mempengaruhi tekanan osmotik plasma darah. 5elain itu, tekanan onkotik diukur dengan
mm*g sedangkan tekanan osmotik diukur dengan mm6sm.
T6#&5&T5
<
&stilah tonisitas menggambarkan osmolaritas suatu larutan dibanding dengan larutan-
larutan lainnya. (arutan garam fisiologis ,#a%l 2,C3/ dan 'inger laktat, misalnya memiliki
osmolaritas yang sama dengan cairan esktraseluler yakni sekitar G22 milliosmol. %airan
tersebut disebut sebagai cairan isotonik terhadap cairan ekstraseluler. %airan yang memiliki
osmolaritas yang lebih tinggi dari osmolaritas cairan ekstraseluler disebut cairan hipertonik
misalnya aminovel, aminofusin dan lain-lain. 5edangkan cairan yang lebih rendah
osmolaritasnya disebut cairan hipotonik.
KLASI(IKASI PERU/AHAN CAIRAN TU/UH
Gangguan cairan tubuh dapat berupa perubahan 8
7. 4olume
>. "onsentrasi
G. "omposisi
"etiga macam gangguan tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang
lainnya sehingga dapat terjadi bersamaan. #amun demikian dapat juga terjadi secara terpisah
atau tersendiri yang memberi gejala-gejala tersendiri pula ,<,0,1/. Kang paling sering
dijumpai dalam klinik adalah gangguan volume.
Gangguan volume dapat dalam bentuk 8
Hipovolemik 8
9 Dehidrasi 8
- Puasa yang lama
- )untah-muntah, diare
- Peritonitis, ileus obstruktiva
9 Hipovolemi 8
- Perdarahan akut
- "ombusio
Hipervolemik 8
9 Overload 8
- Pemberian cairan isotonis, koloid, plasma atau darah yang berlebihan
9 Intoksikasi air 8
- Pemberian cairan hipotonis yang berlebihan.
P='U!*# 46(U)=
pabila seorang mendapat infus berupa cairan elektrolit yang isotonis misalnya #a%l
2,C3 fisiologis atau 'inger laktat, maka yang berubah atau bertambah adalah volume cairan
ekstraseluler saja. 5ebaliknya bila tubuh seseorang kehilangan cairan isotonis misalnya pada
diare, ileus obstruktif, peritonitis dan lain-lain@ maka yang berubah atau berkurang adalah
volume ekstraseluler sebab cairan yang hilang pada keadaan tersebut di atas dianggap isotonis.
$engan kata lain tidak akan terjadi perpindahan cairan dari ruang ekstraseluler ke intraseluler
sepanjang osmolaritas kedua kompartemen tersebut tetap sama. (ain halnya bila penderita
mendapat infus yang banyak dengan cairan hipotonis misalnya air atau $eAtrose 03 ,glukosa
bila telah mengalami metabolisme tinggal air/, maka akan terjadi perubahan volume baik
volume cairan ekstraseluler maupun volume cairan intraseluler, sebab air akan mengalir dari
ekstraseluler masuk ke dalam intraseluler sampai terjadi kesamaan tekanan osmotik. $engan
0
kata lain baik cairan ekstraseluler maupun intraseluler terjadi perubahan volume ,lihat Gambar
G/.
%airan intraseluler %airan ekstraseluler
7<2 m=E
G2 ltr

7<2 m=E

70 ltr
D G ( 'inger (aktat N#rmal D G ( $eA 03
%. intraseluler %.ekstraseluler %.intraseluler %.ekstraseluler
7<2 m=E
G2 ltr
7<2 m=E
7J ltr
7G2 m=E
G> ltr
7G2 m=E
7: ltr

In0us & liter cairan is#t#nis In0us & liter air $i)#t#nis
Gamar &" Perua$an v#lume cairan intraseluler +an ekstraseluler"
P='U!*# "6#5=#T'5&
!erbeda dengan keadaan di atas, apabila seseorang mendapat infus air atau glukosa
03 ,glukosa setelah masuk dalam tubuh akan mengalami metabolisme sehingga tinggal air
saja/, maka akan terjadi perubahan konsentrasi ?at yang terlarut, khususnya #a
D
. Turunnya
konsentrasi #a
D
dalam ekstraseluler akan menurunkan osmolaritas cairan tersebut sehingga air
akan mengalir dari ruang ekstraseluler ke ruang interstisiel sampai terjadi keseimbangan
kembali.
6leh karena ion #a
D
merupakan ion yang terbanyak dalam cairan ekstraseluler, maka
selain #a
D
merupakan ion penentu tekanan osmotik, juga ion #a
D
merupakan penentu
perubahan konsentrasi sehingga dikenal istilah hiponatremia atau hipernatremia.
#ormal konsentrasi ion #a
D
dalam cairan ekstraseluler sebanyak 7<2 m=E, maka
disebut hipernatremia bila konsentrasi ion #a
D
lebih dari 7<2 m=E dan sebaliknya
hipernatremia bila konsentrasi ion #a
D
kurang dari 7<2 m=E.
*iponatremia dapat dikoreksi dengan menggunakan rumus seperti di bawah ini.
%ontoh, konsentrasi #a
D
- 7G2 m=E berarti terjadi defisit sebanyak 72 m=E. Untuk
mengembalikan konsentrasi #a
D
menjadi normal dibutuhkan 8 2,: A !! A 72 m=E. +ika !! -
02 kg, maka dibutuhkan #a
D
sebanyak - 2.: A 02 A 72 m=E - G22 m=E.
P='U!*# "6)P65&5&
:
Perubahan komposisi itu dapat terjadi tersendiri tanpa mempengaruhi osmolaritas
cairan ekstraseluler. 5ebagai contoh, misalnya kenaikan konsentrasi "D dalam darah dari <
m=EF( menjadi J m=EF(, tidak akan mempengaruhi osmolaritas cairan ekstraseluler, tetapi
sudah cukup menganggu otot jantung. $emikian pula halnya dengan gangguan ion kalsium,
dimana pada keadaan hipokalsemia ,kadar %a kurang dari J m=EF(/, sudah akan timbul
kelainan klinik tetapi belum banyak menimbulkan perubahan osmilaritas.
KE/UTUHAN DASAR AIR DAN ELEKTROLIT
Kang dimaksud dengan kebutuhan dasar cairan dan elektrolit ialah kebutuhan cairan
dan elektrolit yang diperlukan dalam sehari tanpa aktifitas yang berlebihan guna mengganti
cairan yang hilang baik yang melalui urine dan faeces maupun yang hilang melalui kulit dan
paru-paru yang la?im disebut sebagai insensible loss. $engan kata lain kebutuhan dasar adalah
kebutuhan minimal yang dibutuhkan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang
setiap harinya.
"ebutuhan minimal untuk dipertahankan hemodinamik yang adekuat, ditentukan oleh
air yang hilang bersama urine dan faeces, serta yang hilang melalui kulit dan paru-paru,
dikurangi dengan air yang diproduksi tubuh sebagai hasil metabolisme. +umlah produksi urine
dianggap cukup untuk membuang ampas-ampas tubuh sebagai hasil metabolisme, khususnya
urea adalah sebanyak 7022 mlF>< jam, sedangkan insensible loss untuk daerah tropis tanpa
keringat 8 122 mlFm
>
!5Fhari, sedangkan air yang hilang melalui faeces sekitar 722 mlFhari.
+adi jumlah air yang harus hilang selama >< jam adalah 8
Produksi urine per >< jam 8 7.022 ml
&nsensible loss 7,G A 122 ml 8 C22 ml
,luas permukaan tubuh orang &ndonesia rata- rata 7,G m
>
/
ir bersama faeces 8 722 ml
---------------------------------
+umlah 8 >.022 ml
5edangkan air yang diproduksi tubuh sebagai hasil metabolisme sebanyak G02 Fm
>
!5 8 7,G A
G02 ml - 022 ml. +adi jumlah kebutuhan minimal air dalam >< jam 8 >.022 ml - 022 ml -
>.222 ml ,penderita tanpa febris/.
"ebutuhan air dalam >< jam dapat disederhanakan menjadi G0 mlFkg!!. +adi seorang
penderita dengan !! - :0 kg membutuhkan air sebanyak :0 A G0 ml - >.222 mlF ><jam.
Pada penderita dengan febris, maka setiap kenaikan suhu 7
o
%elcius, menyebabkan kenaikan
kebutuhan air sebanyak 723-703 dari total kebutuhannya.
+=#&5 %&'# K#G $&GU#"#
%airan yang umum digunakan adalah cairan elektrolit ,kristaloid/, cairan non-
elektrolit, dan cairan koloid. !erdasarkan penggunaannya, cairan ini dibagi atas beberapa
golongan , yaitu cairan pemeliharaan, cairan pengganti dan cairan defisit.
!" Cairan )emeli$araan *maintenence.
%airan pemeliharaan adalah cairan yang diberikan pada seseorang sesuai dengan
kebutuhan mereka selama >< jam. +umlah cairan pemeliharaan yang dibutuhkan tergantung
1
pada bebarapa faktor antara lain umur, berat badan dan suhu. Telah ditetapkan bahwa jumlah
kebutuhan minimal cairan selama >< jam pada penderita dewasa tanpa febris adalah >.222 ml
perhari.
%" Cairan +e0isit
%airan defisit adalah kekurangan cairan yang terjadi pada seseorang sebelum
melakukan tindakan. "eadaaan ini dapat ditemukan pada penderita dehidrasi, hipovolemik
oleh karena kombusio atau pendarahan akut.
&" Cairan )en11anti *re)lecement.
%airan pengganti yang hilang oleh karena faktor sekuestrasi atau proses patologis
seperti fistula, asites, drainase lambung dan sebagainya. %airan pengganti ini dapat dibagi
atas 8
a. Pengganti cairan third space (sekuestrasi
%airan third space adalah cairan yang hilang oleh karena faktor stress atau karena
manipulasi pada pembedahan. "emana cairan ini hilang, masih dalam perdebatan. %airan
ini dapat masuk ke dalam jaringan lemak, jaringan kolagen, fascia atau ke dalam ruang
interstisiel.
Pada operasi yang kecil diperkirakan cairan yang mengalami sekuestrasi sebanyak
< ccFkg!!Fjam.
Pada operasi yang sedang diperkirakan cairan yang mengalami sekuestrasi
sebanyak : ccFkg!!Fjam.
Pada operasi yang besar diperkirakan cairan yang mengalami sekuestrasi sebanyak
J ccFkg!!Fjam.
b. %airan pengganti darah yang hilang
c. Pengganti cairan yang hilang melalui drainage, fistel atau maag slang dan sebagainya.
Point a dan b merupakan cairan pengganti selama pembedahan, sedangkan point c
merupakan cairan pengganti pascabedah.
"=!UTU*# #T'&U) $# "(&U)
"ebutuhan #atrium perhari >-G m=EFkg!!. "adar #atrium dalam plasma berkisar
7G0-7<0 m=EF(, yang distribusinya terutama dalam cairan ekstraseluler. #atrium keluar dari
tubuh bersama urine dan keringat, hanya sedikit yang keluar bersama faeces.
"ebutuhan "alium perhari 7-> m=EFkg!!. "adar "alium dalam plasma berkisar G,0-0
m=EF(, yang distribusinya terutama dalam cairan intraseluler. "alium sebagian besar keluar
tubuh bersama urine dan sebagian kecil hilang bersama faeces. "adar "alium dalam plasma
sangat dipengaruhi oleh keadaan asam basa dalam tubuh.
"eadaaan asidosis biasanya menyertai hiperkalemia dan sebaliknya keadaan alkalosis
menyertai hipokalemia. "onsentrasi "
D
sangat mempengaruhi otot jantung, terutama pada
penderita yang mendapat digitalis, sebab akan memudahkan timbulnya fibrilasi ventrikel
sampai henti jantung ,cardiac arrest/, baik pada hiperkalemia maupun pada hipokalemia.
6leh karena itu pemberian "alium dosis tinggi harus memenuhi beberapa persyaratan,
yakni 8 produksi urine harus cukup, diberikan perinfus dengan kecepatan tidak melebihi >2
m=EFjam, dan tidak lebih >22 m=E dalam >< jam ,<,0,:,1/.
C#nt#$ Per$itun1an Keutu$an Cairan 'aintenance
Penderita dengan !! - :0 kg membutuhkan 8
J
jumlah air F >< jam - :0 A G0 ml - >.222 ml
jumlah #a F >< jam - :0 A > m=E - 7G2 m=E
jumlah " F >< jam - :0 A 7 m=E - :0 m=E

Pemberian kalium pascabedah dapat ditunda sampai hari ke-G jika pada waktu itu
penderita belum dapat intake oral. $engan demikian untuk hari ke-7 dan > pascabedah cukup
diberikan air >.222 ml dan #atrium 7G2 m=E. #atrium sebanyak 7G2 m=E dapat diperoleh
dari 7.222 ml 'inger (aktat dan sisanya 7.222 ml lagi dari $eAtrose 03. +adi perbandingan
$eAtrose 03 dan 'inger (aktat adalah > 8 > - >.222 ml dengan jumlah tetesan 8
>.2 ml A >2 tetes
- >1,1 tetesFmenit - >J
tetesFmenit
>< A :2
Umumnya 7 ml cairan melalui infus set biasa setara dengan >2 tetes, sedangkan
transfusi set setara dengan 70 tetes dan infus pediatrik ,microdrips/ setara dengan :2 tetes.
DEHIDRASI
Perdefinisi dehidrasi berarti kekurangan atau defisit air saja tetapi dalam praktek
keadaan ini hampir tidak pernah ditemukan, sebab setiap keadaan dehidrasi, selain kehilangan
air juga senantiasa disertai dengan kehilangan elektrolit utamanya ion natrium. +adi dehidrasi
berarti defisit air dan elektrolit.
5ecara anatomis dehidrasi berarti defisit cairan ekstraseluler utamanya cairan
interstisiel yang pada gilirannya diikuti dengan berkurangnya cairan intravaskuler. 6leh karena
cairan interstisiel merupakan bantalan dari jaringan dan mukosa, maka gejala yang menonjol
akibat defisit cairan interstisiel adalah gangguan kulit dan mukosa dengan gejala 8
Turgor kulit yang jelek
)ata cekung
Ubun-ubun cekung ,pada bayi dan anak/
)ukosa bibir dan kornea kering
5elanjutnya, jika defisit cairan interstisiel diikuti dengan defisit cairan intravasculer
maka gejala selain gangguan kulit dan mukosa juga disertai dengan gangguan hemodinamik .
Gejala gangguan hemodinamik berupa 8
*ipotensi
Takikardi
4ena-vena mengkerut ,kolaps/
!apillary refilled time memanjang
6liguri
5yok ,renjatan/
=tiologi dari suatu dehidrasi dapat disebabkan oleh karena intake air dan garam yang
kurang atau oleh karena output air dan garam terlalu banyak.
7. &ntake kurang 8
Tidak minum dan makan .
>. 6utput yang banyak 8
Penguapan dari kulit dan paru -paru 8 febris tinggi, berkeringat banyak
C
$iuresis yang banyak
)untah-muntah, diare
Translokasi air dan elektrolit pada 8 ileus obstruktif, peritonitis
Pada keadaan ileus obstruktif dan peritonitis, walaupun tak nampak adanya cairan
elektrolit yang keluar dari tubuh, namun dehidrasi berat dapat terjadi akibat banyak cairan dan
elektrolit yang mengalami perpindahan tempat ,translokasi/. Pada kasus ileus obstruktif,
translokasi cairan dan elektrolit terjadi pada lumen usus yang dapat mencapai 0-J liter.
5edangkan pada peritonitis, translokasi cairan dan elektrolit terjadi dalam peritoneum. 5eperti
diketahui bahwa luas peritoneum sekitar 7-7,0 m
>
sehingga setiap penebalan peritoneum >-G
mm saja dapat mengandung cairan dan elektrolit sebanyak G-0 liter. %airan yang mengalami
translokasi tersebut umumnya bersifat isotonis sehingga harus diganti dengan cairan yang
isotonis pula ,<,0,:/. Tergantung dari jenis cairan yang hilang maka dehidrasi dapat dibedakan
atas dehidrasi isotonis, dehidrasi hipertonis dan dehidrasi hipotonis ,lihat Tabel 7/.
$itinjau dari segi banyaknya defisit cairan dan elektrolit yang hilang, maka dehidrasi
dapat dibagi atas 8
!" De$i+rasi rin1an *+e0isit 23 //.
Tanda-tanda interstisiel minimal, sedangkan tanda-tanda intravaskuler belum nampak.
%" De$i+rasi se+an1 *+e0isit 43 //.
Tanda-tanda interstisiel jelas disertai tanda-tanda intravaskuler yang minimal.
&" De$i+rasi erat *+e0isit !%3 //.
Tanda-tanda interstisiel dan intravaskuler semakin jelas.
2" S5#k *+e0isit lei$ +ari !%3 //.
Tabel 7. +enis-jenis dehidrasi dan penyebabnya.
$ehidrasi isotonis, misalnya pada 8
&leus obstruktif
Peritonitis
$iare
!erkeringat banyak
;istel usus
dan lain-lain
$ehidrasi hipertonis, misalnya pada 8
92;ebris yang tinggi
97Puasa
9>Trakeostomi tanpa humadifikasi
9G*iperelementasi lama
9<Poliuri
dan lain-lain
$ehidrasi hipotonis, misalnya pada 8
'ehidrasi dengan $eAtrose 03
yang belum cukup
Gangguan reabsorpsi #a
72
Perlu ditekankan disini bahwa perkiraan defisit di atas tidak selalu tepat, sebab yang
penting adalah adanya pedoman atau patokan untuk segera memulai tindakan. Kang terpenting
dari segalanya adalah pemantauan ,monitoring/ yang ketat tentang keadaan penderita selama
terapi dilakukan ,1/.
%ontoh kasus 8
5eorang laki-laki umur G0 tahun dengan !! - 02 kg menderita peritonis dan
mengalami dehidrasi berat. !agaimana resusitasi cairannya L
caranya 8
7. Pemilihan jenis cairan adalah 'inger laktat oleh karena yang terjadi adalah dehidrasi
isotonis.
>. +umlah perkiraan defisit - 7>3 !! ,dehidrasi berat/. +adi jumlah defisit - 02 kg A 7>3 -
: liter - :.222 ml.
G. Teknik pemberian cairan adalah 8
a/ 5etengah ,023/ dari :.222 ml ,G.222 ml/ diberikan dalam J jam pertama. 5edangkan
023 sisanya ,G.222 ml/ diberikan dalam 7: jam berikutnya.
b/ gar gangguan hemodinamik cepat teratasi maka 7 jam pertama diberikan >2 mlFkg!!,
maka dalam 7 jam pertama diberikan - >2 ml A 02 - 7.222 ml.
RESUSITASI CAIRAN DAN ELEKTROLIT PADA LUKA /AKAR
"alau luka bakar luasnya >23 pada orang dewasa dan kurang dari 723 pada anak-
anak, maka umumnya tidak diperlukan resusitasi cairan. 'esusitasi cairan dan elektrolit
dilakukan bila luas luka bakar lebih dari >23 pada orang dewasa atau lebih dari 723 pada
anak-anak.
!erbagai formula yang dapat dipakai antara lain 8
a. =lektrolit D koloid D deAtrose 8
Elektr#lit K#l#i+ De6tr#se 73
=vans ,7C0>/ 7 mlFkg!!F3 #a%l 2,C3 7 mlFkg!!F3 >.222 ml
!rooke ,7C0G/ 7,0 mlFkg!!F3 'inger (aktat 2,0 mlFkg!!F3 >.222 ml
)ount 4ermon - >,0 mlFkg!!F3 >.222 ml
b. *anya 'inger (aktat 8 cara yang populer dilakukan adalah 8
"ormula Baxter # $arkland (%&'( ) ( ml#kgBB#* luka bakar+
$engan menggunakan formula di atas, maka luas luka bakar diperhitungkan maksimal
023. %aranya 8 jumlah cairan yang dipergunakan diperhitungkan menurut persentase luas luka
bakar. 5eparuh dari volume tersebut diberikan dalam J jam pertama setelah terjadi kebakaran
dan bukan setelah saat permulaan pengobatan. 5eparuh diberikan dalam 7: jam berikutnya.
"euntungan dari 'inger (aktat ialah 8
'inger (aktat adalah larutan garam yang seimbang.
77
Perbandingan laktat ,sebagai !ikarbonat/ terhadap klorida adalah >1 8 72G dan
p*nya 1,<. &ni mendekati komposisi dari cairan ekstraseluler.
$engan pemberian '(, asidosis dapat dikurangi.
$engan #a%l 2,C3 ,kadar #a
D
7<0 m=E/ maka kadar #a
D
dalam serum akan
meninggi dapat menambah beratnya asidosis.
"adar "
D
dalam '( sebesar < m=EF( dapat ditolerir oleh tubuh.
%airan '( gampang diperoleh.
Pemberian koloid dalam >< jam pertama menurut banyak ahli tidak dapat dibenarkan,
sebab ?at-?at koloid akan lolos melalui kapiler-kapiler yang rusak tadi. 5esudah >< jam,
permeabilitas kapiler-kapiler sudah hampir pulih kembali dan pemberian koloid baru dapat
dibenarkan untuk dapat mempertahankan tekanan osmotik koloid dengan batas normal. Pada
anak-anak, permeabilitas tadi sudah pulih kembali dalam 7J jam sehingga pemberian koloid
diberikan lebih awal.
Pemberian darah dalam >< jam pertama tidak diperlukan walaupun pada luka bakar
terjadi hemolisis, sepanjang kehilangan *b tidak melebihi 723 dari keseluruhannya, sebab
penambahan darah akan meninggikan viskositas darah.
%ontoh 8
5eorang dengan !! - 02 kg mengalami luka bakar dengan luas luka bakar 023. %ara
pemberian cairannya adalah sebagai berikut 8
+umlah cairan yang dibutuhkan - < ml A 02 A 02 - 72.222 ml ,72 literF>< jam/. +adi, 0
liter harus habis dalam J jam pertama dan 0 liter dalam 7: jam berikutnya. $engan cara ini
diperlukan monitoring berupa produksi urin dan tekanan vena sentralis ,%4P/ untuk
mengetahui apakah perfusi tetap terjadi dan tidak overload cairan.
Pada >< jam kedua, !aAter menganjurkan 8
a. +ika keadaan umum memungkinkan, cairan sedapat mungkin diberikan secara oral pada
hari ke->.
b. +ika cairan per os belum memungkinkan, maka infus dipertahankan dengan $eAtrose 03
sebanyak >.222 - 0.222 mlF><jam.
Pemberian glukosa bertujuan untuk 8
kebutuhan metabolisme
mengganti cairan yang hilang melalui sekuestrasi
memudahkan ekskresi sodium sehingga kadar serum sodium menjadi normal
,7GJ-7<> m=EF(/
c. Pada hari ke >, koloid sudah dapat diberikan karena permeabilitas membran kapiler sudah
pulih kembali. "oloid diberikan dalam bentuk $eAtran atau Plasma. Pada luka bakar
kurang dari 023 diberikan koloid 022 ml, sedangkan pada luka bakar lebih dari 123
diberikan koloid 7.022 ml. ;ormula lain dari pemberian koloid ini adalah 8
pada luka bakar G2-023 adalah 2,G mlFkg!!F3 luka bakar
pada luka bakar lebih dari 123 adalah 2,0 mlFkg!!F3 luka bakar
5etelah <J jam, apabila kehilangan akut sudah diatasi, maka tubuh masih kehilangan
plasma melalui luka bakar. $an ini harus diganti, disamping kebutuhan cairan seharinya. Untuk
memperhitungkan jumlah cairan yang menguap tadi dapat digunakan formula 8 ,>0 D 3 luas
luka bakar/ A m
>
luas permukaan tubuh - perkiraan jumlah cairan yang menguap perjam dalam
mililiter. %ontoh 8 luas luka bakar 023 dengan luas permukaan tubuh 7,1 m
>
maka penguapan
- ,>0 D 02/ A 7,1 - 7>0 mlFjam atau >< A 7>0 - G.222 mlF>< jam.
7>
*al yang perlu diperhatikan dalam resusitasi cairan adalah 8 monitoring ketat sangat
diperlukan pada >< jam pertama untuk mengetahui apakah resusitasi cairan yang dilakukan
cukup atau tidak. Tekanan darah, nadi, dan terutama produksi urine ,2,0 - 7 mlFkg!!Fjam/
merupakan parameter yang obyektif.
KESI'PULAN
Prinsip dasar terapi cairan dan elektrolit adalah 8
7. Pemahaman tentang anatomi cairan tubuh yang terdiri atas cairan intraseluler dan cairan
ekstraseluler dengan komposisi elektrolit yang berbeda.
>. Penambahan atau pengurangan cairan dan elektrolit tubuh ditujukan untuk mengembalikan
volume cairan dan komposisi elektrolit kebatas yang normal.
G. Pemilihan cairan dan elektrolit yang tersedia didasarkan atas patofisiologi penyakit yang
diderita oleh penderita.
<. "eberhasilan terapi cairan dan elektrolit dapat dilihat dari hasil pengamatan hemodinamik
dan komposisi elektrolit darah dari penderita.
7G
DA(TAR PUSTAKA
7. 5cribner !*. Fluid and Electrolyte Balance. University !ook 5tore, University of
.ashington, 5eattle, 'evision@ 7C:C8 <G>:.
>. hlgen =.. Rational Fluid Theraphy for Children. 5 refresher course in
naesthesiology@ 7C1C 8 7.
G. )essmer ". Surgery nder Hemodilution! "ost #perative $uto%lood Transfusion.
)edical post graduate, 7C1C@ 70 8 :.
<. 4igilio '.. Crystalloid vs Colloid Resuscitation! is one letter. 5urgery, 7C1C@ J08> 8
7>C-7GC.
0. )assion .*. Effect of Counterpressureon Haemodymanic &uring Shock.
naesthesiology, 5eptember 7CJ7@ 00 8 G.
:. )asud M". Crystalloid versus Colloid Fluid Theraphy in Hemorrhagic Shock"
naesthesiology, 5eptember 7CJ7@ 00 8 G.
1. .irjoatmojo ". 'engatasi "erdarahan dalam "em%edahan dengan Cairan. )akalah
H5imposium %airan TubuhN, Universitas irlangga@ 7C12.
7<

Anda mungkin juga menyukai