Anda di halaman 1dari 183

1

Matahari bersinar cerah pagi ini dan angin bertiup semilir membawa bau
harum bunga-bunga yang mulai bermekaran di taman bunga pada awal musim
semi. Pohon-pohon melambai-lambaikan daunnya – menari-nari riang dengan
gemulai menyambut datangnya hari yang cerah ini.
Burung-burung pun menari dengan lincahnya dan bernyanyi bersuka ria
di angkasa diiringi gemericik air mancur di tengah kolam yang berhiaskan
patung-patung dewa-dewi Yunani Kuno yang indah di jalan menuju Troglodyte
Oinos.
Di antara taman bunga yang sedang bersemi itu tampak seorang gadis
cantik yang tampak sibuk memetik bunga-bunga yang sedang bermekaran itu.
Gadis itu mengenakan gaun putih yang putihnya hampir seputih kulitnya,
gaun itu melambai-lambai tertiup angin menerjang lembut bunga-bunga di
sekitarnya, rambut pirangnya bersinar-sinar bagai sinar mentari pagi yang
cerah.
Dengan keranjang yang berisi bunga-bunga yang indah di tangan kirinya,
gadis itu nampak seperti seorang peri di tengah taman bunga yang indah.
Sesekali angin memainkan rambut pirangnya yang tergerai mencapai
pinggangnya. Namun ia tak menghiraukannya, ia begitu tenggelam dalam
kesibukannya hingga tak mengetahui kedatangan sebuah kereta.
Gadis itu baru menyadari kedatangan kereta itu tatkala kereta itu pergi
dengan kecepatan tinggi menerbangkan debu jalan ke mana-mana.
Dipandanginya kereta itu sesaat lamanya. Kereta itu ditarik oleh dua ekor
kuda yang berwarna coklat yang tampaknya sudah mulai tua. Diperhatikannya
kereta itu hingga menikung di jalan ke desa, kusir kuda itu dengan mahirnya
menikung di jalan itu dengan kecepatan yang masih tinggi. Lalu ia melanjutkan
kesibukannya lagi.
Tak lama kemudian, Nanny menghampirinya dan berkata “Yang Mulia ingin
bertemu dengan Anda, Tuan Puteri.”
Snow Angel memandang Nanny tanpa berkata apa-apa. “Saya kira bunga
yang ada di keranjang bunga Anda sudah cukup banyak untuk mengisi
jambangan bunga di kamar Anda,” tambahnya.
1
Snow Angel mengalihkan pandangan matanya ke keranjang bunga di
tangan kirinya yang hampir penuh dengan bermacam-macam bunga-bunga
yang indah.
Kemudian ia menganggukkan kepalanya kepada Nanny yang langsung
mengantarnya ke Ruang Perpustakaan untuk menemui Countess of Tritonville,
ibunya.
Dari balik pintu ruang perpustakaan, terdengar suara wanita yang
bercakap-cakap dengan beberapa pria. Mereka menghentikan percakapan
mereka takala mendengar pintu dibuka, dan memandangnya.
Di ruang itu dilihatnya ibunya serta kedua kakak laki-lakinya dan seorang
laki-laki yang mirip temannya bermain sewaktu kecil, Vladimer, sedang duduk
di sofa di depan perapian. Laki-laki itu memandangnya juga dan mereka saling
menatap dengan sorot mata yang sama dinginnya.
Tiba-tiba kedua kakak Snow Angel tertawa terbahak-bahak melihat
keduanya yang saling memandang dengan sorot mata dingin sambil berusaha
mengenali lawan pandang masing-masing.
Sementara itu Countess of Tritonville menggeleng-gelengkan kepalanya
sembari tersenyum geli memandangi dua sahabat lama yang bertemu kembali
setelah sekian tahun, yang sekarang saling memandang itu.
“Tak pernah kuduga bahwa pertemuan antara dua manusia es yang
bersahabat bertahun-tahun lalu akan jauh lebih menggelikan daripada yang
kubayangkan,” kata Oscar, kakak Snow Angel yang termuda sambil menahan
tawanya.
“Kau benar Oscar, kedua makhluk ini sangat aneh. Kuakui baru kali ini aku
melihat dua orang sahabat yang bertemu kembali setelah sekian tahun tak
berjumpa saling memandang dengan sorot mata dingin, bukannya senang,”
tambah Frederick.
“Aku ingin tahu, apakah dua makhluk es ini memang tak bisa meleleh,”
goda Oscar.
Seketika itu juga dua orang yang saling memandang itu menatap Oscar
dan Frederick dengan tajam. Tetapi rupanya kedua orang yang sibuk bercanda
itu berpura-pura tidak tahu kalau sedang dipandangi oleh dua pasang sorot
mata yang tajam dan dingin.
“Kenapa berhenti? Teruskan saja, kami tidak akan mengganggu kalian
yang saling pandang. Siapa tahu nanti salah satu dari kalian akan meleleh,”
goda Frederick.
2
“Jangan memandang kami begitu. Seakan-akan kalian ingin membekukan
kami dengan pandangan mata kalian,” kata Oscar tak mau kalah.
Countess menghela napas dalam-dalam sambil tersenyum melihat
kelakuan putra-putrinya. Memang Frederick dan adiknya, Oscar terkenal ramah
dan suka bercanda.
Sebaliknya adik mereka terkenal sebagai gadis yang pendiam dan
berhati dingin, sedingin es. Frederick dan Oscar senang sekali menggoda adik
mereka, Snow Angel.
Sebenarnya namanya bukanlah Snow Angel, melainkan Angella. Oscar
dan Frederick-lah yang pertama kali memanggilnya Snow Angel. Entah
bagaimana jadinya hingga gadis itu lebih dikenal dengan nama Snow Angel
daripada nama aslinya, Angella.
“Sudahlah, jangan menggoda mereka lagi,” sela Countess berusaha
menghentikan canda kedua putranya.
“Jangan khawatir, Mama. Kami hanya ingin melelehkan suasana beku yang
mereka buat,” sahut Oscar.
“Benar, Mama. Menurut Mama, bagaimana rupa Snow Angel saat ini.
Menurut saya, ia sekarang ini jauh lebih tampak sebagai bidadari es, bukan
manusia es lagi. Dengan gaunnya yang putih, kulitnya yang seputih salju,
rambutnya yang pirang bersinar bagai cahaya matahari, dan keranjang bunga
di tangan kiri yang menambah kecantikkannya, adikku yang manis ini benar-
benar mirip bidadari, namun sayang hatinya dingin sedingin es,” kata Frederick
yang tak mau berhenti menggoda adiknya, Snow Angel dan sahabatnya,
Vladimer.
“Bagaimana pendapatmu, Vladimer? Sejak tadi engkau hanya diam saja,
tanpa memberi komentar apa pun. Padahal dulu sewaktu masih kecil, engkau
selalu berceloteh tiap bertemu dengan Snow Angel.”
Vladimer tidak menanggapi ucapan Frederick, ia heran melihat perubahan
Angella. Dulu sewaktu masih kecil, Angella memang pendiam, tapi bila digoda,
ia akan marah dengan muka bersemu merah hingga tak jarang gadis itu
menangis kesal karena digoda terus menerus.
Kedua kakaknya senang sekali melihatnya marah dengan muka merah
padam, yang menurut mereka semakin membuat Angella mirip boneka yang
cantik.
Namun sekarang yang dilihatnya bukanlah Angella yang dulu. Yang
dilihatnya kini adalah Snow Angel, seorang gadis yang terkenal akan
3
kecantikannya namun berhati dingin sedingin es.
Tak pernah sekali pun terbersit dugaan dalam benak Vladimer bahwa
Snow Angel yang terkenal dan sering dibicarakan orang itu adalah makhluk
yang sama dengan Angella, adik sahabatnya, Frederick dan Oscar. Tanpa sadar,
ia menggelengkan kepalanya melihat perubahan Angella.
“Kenapa engkau menggelengkan kepalamu, Vladimer?” tanya Countess.
“Saya hanya heran melihat perubahan yang terjadi dalam diri Angella.”
Inilah kalimat yang pertama diucapkan Vladimer setelah bertemu dengan
Angella.
“Tak hanya engkau saja yang heran, Vladimer. Kami pun heran melihat
perubahan dirinya,” kata Countess menyetujui ucapan Vladimer.
“Lebih-lebih kami. Dulu ia selalu marah-marah dengan muka merah padam
bila kami goda, tapi kini ia hanya diam saja bila kami goda.”
“Membuat kami merasa gemas saja, ia benar-benar membuat kami
merasa seperti menggoda gunung es. Namun kami tetap senang
menggodanya sebab kami penasaran dengannya, kami akan tetap
menggodanya sampai ia memberi reaksi seperti waktu kecil, “ kata Oscar.
Snow Angel manatap tajam kepada Oscar, lalu ia membalikkan badan
meninggalkan Ruang Perpustakaan. Ia merasa godaan mereka sudah lebih dari
cukup. Saat meninggalkan Ruang Perpustakaan, ia mendengar gelak tawa
kakak-kakaknya.
Ia menarik napas dalam-dalam, ia sudah terbiasa dengan godaan kakak-
kakaknya dan ia menganggap kedua kakaknya itu sebagai pengangguran yang
kurang pekerjaan. Kata-kata kakaknya sewaktu ia meninggalkan Ruang
Perpustakaan, masih terngiang di telinganya saat ia melangkahkan kakinya
menuju kamar tidurnya.
“Nah, bagaimana menurutmu, Vladimer? Bagaimana engkau akan
menghadapi gadis yang sama dinginnya denganmu?” tanya Oscar pada saat
pintu ruang perpustakaan ditutup oleh Snow Angel. “Kurasa kunjunganmu ini
akan menjadi kunjungan yang paling menarik dari yang sudah-sudah.”
“Aku ingin mengetahui bagaimana perkembangan kalian, manusia-
manusia es selama musim ini. Bayangkan saja Oscar! Dua manusia es yang
terkenal itu berkumpul di rumah kita. Pasti akan lebih seru daripada kejadian-
kejadian yang lain yang pernah ada di dunia ini. Apalagi dua makhluk es ini
dulunya merupakan sahabat dekat. Siapa tahu cinta akan bersemi di hati
mereka,” goda Frederick.
4
Snow Angel menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan ingin
mengeluarkan ingatannya dari kata-kata kakaknya sewaktu ia meninggalkan
Ruang Perpustakaan. Diraihnya jambangan bunga yang berada di samping
tempat tidurnya. Dengan cekatan ia mengganti bunga-bunga yang ada di
jambangan itu dengan bunga-bunga yang baru dipetiknya dari taman bunga di
depan Troglodyte Oinos.
Tangannya yang terampil sibuk menata bunga di jambangan itu,
sedangkan pikirannya melayang-layang entah ke mana. Ia memikirkan
perjumpaannya dengan Vladimer tadi juga ucapan kakak-kakaknya.
Tangannya yang sibuk menata bunga itu tiba-tiba berhenti dan mukanya
memerah. Ia teringat kembali kalimat terakhir kakaknya yang didengarnya
‘Siapa tahu cinta bersemi di hati mereka.’ Cinta!? Snow Angel terdiam
beberapa saat, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya, ingin
melupakan kalimat itu.
Tangannya kemudian sibuk melanjutkan pekerjaannya yang terhenti,
sambil berusaha melupakan kata-kata Frederick dan Oscar yang mengganggu
pikirannya itu. Setelah berusaha keras, akhirnya ia berhasil mengalihkan
perhatiannya. Perhatiannya kini benar-benar tercurah pada bunga-bunga di
tangannya itu.
Snow Angel memperhatikan jambangan bunga yang baru selesai
ditatanya itu untuk menilai hasil pekerjaannya. Setelah dirasanya cukup baik,
ia meletakkan jambangan itu di tempat asalnya. Ia berusaha mendengarkan
suara di luar kamarnya, tapi ia tak mendengar apa pun. Ia menduga kalau
mereka pergi beristirahat.
Snow Angel lalu melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya yang
terbuka menuju serambi depan kamarnya. Ia duduk di atas pagar batu yang
mengeliling serambi itu.
Snow Angel memandang jauh ke depan, dari serambi kamarnya di
tingkat dua itu, ia dapat melihat garis cakrawala di kejauhan, pertanian yang
terhampar bagai permadani hijau, rumah-rumah penduduk yang menyembul di
tengah-tengah kerimbunan pepohonan, bukit-bukit di kejauhan, taman bunga
tempatnya memetik bunga, serta kolam di depan rumahnya yang berkilau
tertimpa cahaya matahari.
Ia memandang kolam itu dengan penuh kekaguman. Patung dewa-dewi
Yunani yang menghiasi kolam itu tampak bermandikan sinar matahari dan air
yang berkilau-kilau serta tampak olehnya sebuah pelangi kecil yang timbul
5
karena pembiasan sinar matahari oleh air sedang memayungi dewa-dewi
tersebut.
Dialihkannya pandangan matanya pada langit yang biru cerah dan awan-
awan putih yang menghiasinya. Snow Angel memperhatikan awan-awan yang
bergerak perlahan ditiup angin. Dilihatnya pula daun-daun pepohonan yang
melambai-lambai seakan-akan ingin mengucapkan selamat jalan pada awan
yang berada di atasnya.
Snow Angel menghentikan penjelajahan matanya saat ia mendengar
suara orang bercakap-cakap serta suara kuda yang berjalan perlahan-lahan
menuju Troglodyte Oinos.
Snow Angel memandang ke jalan yang menuju ke rumahnya, dan
dilihatnya kakak-kakaknya serta Vladimer menunggangi kuda sambil bercakap-
cakap menuju rumah. Pandangan matanya terus mengikuti mereka hingga
mereka berbelok menuju kandang kuda di belakang rumah.
Snow Angel memandangi langit lagi dan berkata dalam hati “Hari ini
memang baik untuk menunggang kuda. Kapan mereka berangkatnya? Kenapa
aku tak mendengarnya? … Ah, mungkin karena aku sibuk menata bunga
hingga tak mendengarnya.”
Ia teringat masa lalunya, saat-saat Vladimer datang. Orang tua Vladimer,
Duke dan Duchess Cardington bersahabat dengan Earl dan Countess of
Tritonville, orang tuanya, sehingga tidaklah mengherankan apabila Vladimer
sering berkunjung ke rumahnya.
Begitu Vladimer datang, kedua kakaknya langsung ribut mengajaknya
berkuda. Mereka berdua ingin berkuda bersama-samanya begitu dia datang,
namun Countess tak mengijinkan. Countess ingin Vladimer istirahat dulu
setelah berkereta ratusan mil jauhnya.
Tetapi, karena Frederick dan Oscar begitu berambisi untuk berlomba
dengan Vladimer, maka setelah semua orang di rumah itu pergi beristirahat,
mereka berdua mengajak Vladimer pergi. Vladimer tak pernah menolak bila
diajak pergi berkuda oleh kakak adik itu, sebab ia pun senang berlomba
dengan mereka.
Snow Angel tahu kemampuan berkuda mereka bertiga hampir sama,
sehingga sulit dicari siapa yang paling pandai. Mereka bertigalah yang
mengajarinya menunggang kuda, mereka pula yang sering mengajaknya
bermain dan berkuda di hutan belakang rumah.
Tengah asyik-asyiknya melamun, ia dikejutkan suara orang mengetuk
6
pintu kamarnya. “Sudah hampir waktu makan siang. Saya rasa Anda bisa
bersiap-siap sekarang,” kata Nanny setelah menutup pintu kamar.
Snow Angel beranjak bangkit dari serambi menuju meja rias, ia
membiarkan Nanny menata rambutnya. Seperti biasanya, Nanny menata
rambut Snow Angel sambil bercerita.
Nannylah yang mengasuhnya dan kedua kakaknya sejak kecil,
sebelumnya, Nanny mengasuh ibu mereka. Karena Nanny tak punya keluarga
lagi, maka ibu mereka mengajaknya ke rumah ini setelah menikah.
Menurut orang-orang, Nanny seharusnya menikmati hari tuanya, namun
Nanny menolak pendapat itu, ia bersikeras mengasuh mereka walau saat ini
mereka sudah dewasa, terutama Snow Angel. Dari antara mereka bertiga,
Snow Angellah yang paling disayanginya.
Nanny merupakan satu-satunya orang yang tidak menyukai panggilan
yang diberikan kedua kakaknya baginya.
“Sungguh tidak pantas untuk Anda, Tuan Puteri. Anda tidak pantas
dipanggil ‘Snow Angel”, saya tahu walaupun Anda bersikap dingin, tetapi hati
Anda tidak benar-benar dingin. Saya tahu itu!” kata Nanny pada suatu ketika.
Saat itu Snow Angel hanya tersenyum saja menanggapi perkataan Nanny.
“Bagaimana pendapat Anda mengenai Tuan Muda Vladimer, Tuan Puteri?
Menurut saya, ia benar-benar tampan dan gagah, persis seperti yang saya
duga,” tanya Nanny tiba-tiba.
Snow Angel diam saja mendengar ucapan Nanny, dari ekspresi wajahnya
terlihat jelas bahwa ia sama sekali tak ingin berkomentar apa pun.
Mengetahui bahwa Snow Angel diam saja, maka Nanny melanjutkan:
“Saya rasa rumah ini akan bertambah ramai, seperti dulu saat Tuan Muda
Vladimer datang untuk menginap. Rasanya amat menyenangkan waktu itu,
mendengar tawa canda kalian, melihat kalian bermain, walau kadang-kadang
membuat saya jengkel dengan ulah kalian yang sulit diatur. Saya masih ingat,
Anda selalu mengadu pada saya dengan berurai air mata bila digoda mereka.
Setelah itu saya pasti memarahi mereka, namun mereka tak pernah jera. Ah …,
waktu memang cepat berlalu, tak terasa kalian sudah dewasa kini.”
Snow Angel melihat senyum kebahagiaan di wajah Nanny yang sudah tua
itu melalui kaca di depannya. Ia tahu kini Nanny sedang tenggelam dalam
pikirannya dan mengenang masa lalu.
“Engkau benar Nanny, waktu cepat berlalu. Tanpa terasa sudah delapan
tahun kami tak berjumpa, sejak Vladimer harus berangkat ke Eton untuk
7
menempuh pendidikan di sana, hingga hari ini dan juga tanpa terasa sudah
empat tahun berlalu sejak kejadian tragis itu. Jenny… Jenny … kasihan engkau.
Entah bagaimana kabarmu kini juga Charlemagne, ia berada di mana kini?
Tentu ia sudah besar sekarang. Kuharap mereka baik-baik saja,” kata Snow
Angel dalam hati.
Melalui kaca di depannya, Snow Angel melihat rambutnya yang hampir
selesai ditata Nanny. Oleh Nanny, rambutnya itu diikat jadi satu tinggi-tinggi
dengan pita biru cerah yang tampak serasi dengan rambut pirangnya itu.
Setelah itu Nanny membuat rambutnya yang terurai menjadi gelungan spiral-
spiral yang panjang dan kecil-kecil.
Nanny mengamati bayangan wajah Snow Angel di cermin beberapa saat
setelah ia selesai menatanya.
“Anda sudah siap kini, Tuan Puteri,” kata Nanny dengan nada puas.
“Terima kasih, Nanny.”
“Tiap kali saya memandang Anda, saya selalu merasa bahwa Anda
semakin cantik, Tuan Puteri. Saya yakin semua orang juga berpendapat
demikian.”
“Sudahlah, jangan memuji-mujiku terus menerus, Nanny. Lebih baik
Nanny ambil saja bunga yang ada di keranjangku, lalu buanglah. Bunga di
jambangan itu sudah kuganti,” kata Snow Angel tersipu-sipu.
Nanny tersenyum melihat Snow Angel. Ia tahu sekali watak anak
asuhnya itu. Snow Angel memang sering mendapat pujian-pujian dari orang-
orang di sekitarnya, namun ia tak pernah menanggapinya.
Inilah salah satu sebab mengapa ia dipanggil “Snow Angel”. Tetapi Snow
Angel selalu tersipu-sipu bila dipuji Nanny.
Menurutnya, pujian Nanny benar-benar tulus dari lubuk hati yang
terdalam, tidak seperti orang lain yang selalu berlebih-lebihan dalam memuji
dirinya.
Nanny mengambil keranjang yang dimaksudkan Snow Angel kemudian
melangkah maju untuk membukakan pintu kamar bagi Snow Angel. Snow
Angel meninggalkan kamarnya untuk menuju ruang makan, sewaktu melewati
kamar Frederick yang berada di sebelah kanan kamarnya, ia mendengar suara
kakak-kakaknya serta Vladimer bercakap-cakap.
“Tak pernah kuduga hanya dalam waktu sekian tahun, kemampuan
berkudamu menjadi lebih baik dari kami,” kata Frederick.
“Kurasa tidak juga, mungkin karena kebetulan saja kuda yang
8
kutunggangi lebih baik daripada kuda yang kalian tunggangi,” kata Vladimer
merendah.
“Kalau begitu, bila kita berlomba lagi, engkau akan kusuruh
menggunakan si tua Blintz saja,” sahut Oscar kesal.
“Bagus juga idemu itu, Oscar. Blintz memang sudah terlalu tua untuk
dibawa berlomba dan dengan begitu pasti kita yang akan menang,” kata
Frederick diiringi tawa geli.
“Rupanya sekarang kemampuan berkuda Vladimer lebih unggul dari
mereka,” kata Snow Angel pada dirinya sendiri sambil menuruni tangga.

9
2

Di ruang makan belum ada siapapun. Ruang makan ini tidak seperti
ruang makan-ruang makan lain. Ruang ini berada di sayap kanan rumah yang
menghadap ke arah taman dan hutan yang mengitari Troglodyte Oinos.
Ruangan ini diapit dua ruangan lain di sisi kiri kanannya.
Tembok yang menghadap taman dari ruangan ini terbuat dari kaca
dengan sehelai tirai tipis yang menutupinya di waktu malam dan di siang hari
tirai itu disibakkan, sehingga taman dapat terlihat jelas dari ruangan ini.
Snow Angel duduk menghadap taman. Ia mengamati pemandangan yang
indah di depannya sembari menanti kedatangan yang lain.
Tengah asyik memandangi kupu-kupu di luar yang hinggap dari satu
bunga ke bunga yang lain, ia mendengar suara langkah-langkah kaki yang
berat namun tegas mendekat. Sesaat kemudian didengarnya suara pintu ruang
makan terbuka dan suara orang bercakap-cakap pelan di belakangnya. Tanpa
menoleh pun ia tahu kalau yang datang dengan bercakap-cakap pelan itu
kedua kakaknya dan Vladimer.
Ia tidak menyambut kedatangan mereka dan tetap memandang taman di
depannya. Ia tak membalas sapaan mereka bertiga, bahkan ketika Vladimer
duduk di sebelahnya, ia tidak menoleh seakan-akan matanya terpaku pada
pemandangan siang hari yang cerah di hadapannya.
Vladimer memandangnya terheran-heran. Matanya mengikuti arah
pandangan mata Snow Angel dan berkata:
“Kelihatannya engkau begitu terpaku pada pemandangan di depan.”
“Engkau salah, Vladimer bila menganggapnya terpaku pada taman itu.
Kurasa ia cuma tidak mau menghiraukan kita,” tukas Oscar.
“Kenapa begitu?”
“Oh … Vladimer yang malang, tak tahukah kau bahwa delapan tahun itu
sudah cukup untuk membuat orang berubah. Mengapa engkau tidak mengerti
juga kalau anak manis yang bernama Angella itu sudah berubah menjadi gadis
yang cantik jelita dan berhati sedingin es,” desah Frederick yang selalu
menyayangkan perubahan adik bungsunya itu.
Vladimer semakin terheran-heran melihat Angella karena gadis itu diam
10
tak bereaksi mendengar perbincangan yang menyangkut dirinya. Padahal
sewaktu kecil, mukanya akan langsung merah padam bila tahu ada orang
yang sedang membicarakan dirinya.
Semakin terheran-herannya ia, semakin besar pula keinginannya untuk
mengetahui penyebab gadis itu berubah. Ia merasa aneh dengan perubahan
Angella ini, ia tahu Angella memang pendiam. Tetapi ia tidak sediam dan
sedingin ini waktu kecil.
“Apa yang menyebabkan ia berubah sedemikian rupa?” tanya Vladimer
terheran-heran.
“Kami sendiri kurang tahu apa yang menyebabkannya berubah. Banyak
yang telah terjadi dalam delapan tahun, delapan tahun itu bukanlah waktu
yang singkat, Vladimer,” jawab Countess yang tiba-tiba muncul di ambang
pintu mengejutkan mereka yang asyik bercakap-cakap.
Vladimer yang duduk membelakangi pintu segera menoleh memandang
Countess, demikian pula Frederick dan Oscar yang duduk menghadap pintu
segera memandang ibu mereka.
Rupanya mereka kecuali Snow Angel, terlalu asyik bercakap-cakap
hingga tak menyadari kedatangan Countess. Bahkan Frederick dan Oscar yang
duduk menghadap pintu pun juga terkejut melihat ibu mereka yang berdiri di
ambang pintu.
Vladimer memang terkejut melihat Countess, tapi ia lebih terkejut lagi
melihat Snow Angel yang tetap memandang ke depan. Kontan saja Frederick
dan Oscar tertawa terbahak-bahak melihat Vladimer yang terkejut melihat
Snow Angel diam bagai patung. Sesaat tampak seulas senyum menghias wajah
Snow Angel saat ia memalingkan kepalanya ke arah Vladimer.
Tawa kedua kakak Snow Angel semakin keras ketika melihat Vladimer
terpaku pada senyum sesaat di wajah Snow Angel. Bahkan Countess pun ikut
tertawa melihat Vladimer yang tengah terpaku itu.
Ia sama sekali tak menyadari kalau raut mukanya saat ini mirip seorang
bocah yang baru saja mendapat hadiah yang mengejutkan, tapi hadiah itu
langsung hilang.
Vladimer saat ini memang terkejut, heran sekaligus senang. Ia terkejut
dan heran melihat dua hal yang menyangkut diri Angella yang baru saja
terjadi. Pertama karena kediamannya saat ibunya datang.
Dan kedua karena senyumnya yang sesaat itu. Senyum yang tampak
geli, namun pandangan matanya tak tampak geli, dingin … seperti biasanya.
11
Tawa mereka terhenti begitu pelayan masuk membawa makan siang.
Countess mengambil tempat di ujung meja yang biasa diperuntukkan bagi
kepala keluarga karena saat ini ia-lah yang menjadi kepala keluarga.
“Vladimer … Vladimer … mengapa engkau terkejut melihat Snow Angel
tetap tak bergerak saat Mama datang,” ujar Oscar tersenyum untuk menahan
tawanya yang siap meledak setiap saat.
“Malang benar engkau, Vladimer. Baru beberapa jam engkau tiba setelah
delapan tahun tak kemari sudah mendapatkan berbagai tantangan,” kata
Frederick seolah menyesalkan nasib Vladimer.
“Tantangan yang menarik! Bukan begitu, Frederick?”
Frederick mengangguk menyetujui ucapan Oscar, ia tersenyum dan
berkata:
“Kau benar, Oscar. Engkau tentu mengetahui banyak wanita bahkan
hampir semua wanita berusaha menaklukan Vladimer atau katakanlah menarik
perhatian Vladimer. Jadi pastilah ini merupakan tantangan yang menarik
baginya.”
“Biasanya ia menghadapi wanita yang berusah menarik hatinya, tapi kini
ia menghadapi wanita yang mengacuhkannya, wanita yang sama dinginnya
dengan dia, bahkan lebih dingin darinya, kurasa.”
“Setuju!” seru Oscar.
Snow Angel dan Vladimer memang sama-sama berhati dingin. Namun di
antara keduanya terdapat perbedaan yang cukup mencolok akan kedinginan
hati dan tindak tanduk mereka.
Vladimer cenderung dingin kepada wanita dan orang yang kurang
dikenalnya. Ia bersikap lebih ramah dan hangat kepada keluarga dan sahabat-
sahabatnya, walau kadang-kadang ia bersikap dingin pula pada mereka.
Sedangkan Snow Angel bersikap dingin terhadap siapa saja bahkan
terhadap keluarganya sendiri, kecuali anak-anak. Ia jarang bahkan dapat
dikatakan tak pernah berbicara dengan ramah, ia lebih sering berbicara
dengan datar, tanpa ekspresi apa-apa.
Selain itu, Vladimer masih mempedulikan keberadaan orang lain
sedangkan Snow Angel tidak. Ia tidak pernah mengacuhkan keberadaan orang
lain di sekitarnya, ia mengangap di sekitarnya selalu tidak ada siapa-siapa
seperti tadi, ia tak mempedulikan kedatangan kakak-kakaknya di ruangan ini.
Countess yang sejak tadi tersenyum melihat kedua putranya menggoda
Vladimer ikut menggoda:
12
“Benarkah itu? Wah … bagaimana perasaanmu Vladimer setelah terbiasa
menghadapi wanita yang berusaha menarik perhatianmu kini menghadapi
gadis yang sama sekali berbeda? Jengkel, sedih atau senang?”
Vladimer bingung tak tahu bagaimana menanggapi pertanyaan itu. Ia
tidak tahu bagaimana perasaannya kini pada Angella. Tapi yang pasti, ia
merasa senang bisa berjumpa kembali dengan mereka yang telah dianggapnya
sebagai keluarga sendiri.
Apalagi bila mengingat dirinya yang sebagai anak tunggal itu, pastilah ia
senang dapat bertemu kembali dengan Frederick, Oscar serta Angella yang
telah dianggapnya sebagai saudara sendiri. Sesekali ia melirik Angella yang tak
peduli pada percakapan itu sambil berusaha menerka perasaannya sendiri
yang campur aduk tak karuan.
“Jawablah, Vladimer! Kami menanti jawabanmu. Bagaimana perasaanmu
kini?” desak Oscar tak sabar.
“Tenanglah, Oscar. Biarkan Vladimer berpikir dulu.”
“Mama, kurasa ia segan menjawab pertanyaan Mama tadi. Tapi saya
yakin ia merasa jengkel karena di sini tidak ada yang berusaha menarik
perhatiannya.”
“Bagaimana engkau tahu, Frederick?” tanya Oscar.
“Bagaimana perasaanmu setelah biasanya dikejar-kejar Lady Elize lalu
diacuhkannya? Kau pasti jengkel, bukan begitu?” Frederick balas bertanya.
“Oh … kalau aku pasti senang sekali seandainya Lady Elize berhenti
memburuku.”
“Sungguh?” tanya Frederick lagi.
“Tentu saja. Aku sudah pernah memberitahumu kalau Lady Elize itu
cerewet bagai burung beo, bukan? Aku tak tahan mendengar ocehannya yang
membosankan itu.”
“Membosankan atau menyenangkan, Oscar?”
“Sungguh, Frederick. Percayalah! Tidak pernah sekali pun aku merasa
senang mendengarnya berceloteh bagai burung beo mengenai hal-hal yang
membosankan itu.”
“Siapakah Lady Elize itu?” tanya Vladimer ingin tahu.
“Adik Earl of Wicklow,” jawab Countess.
“Wanita yang tak punya belas kasihan sama seperti kakaknya,” kata
Snow Angel pada dirinya sendiri.
“Ia tergila-gila pada Oscar, namun sayang Oscar tidak mau dengannya.
13
Padahal Lady Elize itu cantik,” tambah Frederick.
“Tapi tak secantik Snow Angel! Kalau kau mau, ambil saja, aku rela malah
senang,” bantah Oscar.
“Oh … maaf. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengambilnya dari
sisimu. Aku tidak tertarik kepadanya. Aku lebih tertarik pada gadis yang seperti
Snow Angel. Sayang di dunia ini tak ada gadis yang menyamainya, andaikan
ada pasti akan langsung kulamar,” kata Frederick.
“Sama! Aku juga lebih tertarik pada gadis yang seperti Snow Angel.”
Snow Angel amat disayang oleh kedua kakaknya yang tampan itu.
Mereka selalu berusaha menjaga dan melindunginya sebaik mungkin. Walau
kini ia sudah dewasa, namun kedua kakaknya masih sering mengawalnya jika
ia pergi ke luar rumah.
Bahkan kamar tidur mereka berdua berada di kanan-kiri kamarnya. Dapat
dikatakan kedua kakaknya itu bukan hanya saudara bagi Snow Angel
melainkan juga pengawal pribadi.
Maka tidaklah mengherankan bila banyak gadis-gadis yang tertarik pada
kakak-kakaknya itu cemburu padanya dan juga ketika kedua kakaknya
mengatakan lebih tertarik pada gadis yang seperti dirinya.
“Wah…, bisa-bisa terjadi persaingan di antara kalian,” kata Countess
menggoda kedua putranya.
“Tidak mungkin Mama. Oscar sudah memiliki Lady Elize.”
“Siapa yang berkata begitu!? Aku tidak akan pernah menyukai wanita
itu! Tidak akan!” bantah Oscar sambil memelototi Frederick.
“Bila mereka berdua bercanda selalu saja menimbulkan pertengkaran.
Harus dihentikan sekarang sebelum terjadi pertengkaran yang hebat,” pikir
Vladimer.
Untuk mengalihkan topik pembicaraan, maka ia berkata:
“Di mana Paman Hendrick, Bibi Stefanie?”
“Saat ini ia di Skotlandia, memenuhi undangan temannya untuk berburu
di sana,” jawab Countess.
“Papa berangkat kemarin. Sayang kau tak datang sehari lebih awal
kemari agar bisa berjumpa dengan Papa. Aku yakin Papa akan gembira dapat
bertemu kembali denganmu, Vladimer,” tambah Frederick.
Vladimer berhasil mengalihkan pokok pembicaraan, kini mereka sibuk
membicarakan tentang berburu di Skotlandia yang merupakan daerah yang
paling menarik bagi mereka yang gemar berburu.
14
Di daerah ini masih banyak hutan-hutan yang banyak hewannya
sehingga menarik minat para pemburu terutama di musim semi seperti ini di
mana tumbuhan-tumbuhan tumbuh subur. Hal ini menambah daya tarik
Skotlandia bagi mereka yang gemar berburu.
Frederick, Oscar serta Earl of Tritonville, ayah mereka termasuk di antara
orang-orang yang tertarik untuk berburu di Skotlandia. Sering teman ayah
mereka yang tinggal di sana mengundang mereka bertiga untuk menghadiri
pesta berburu yang diadakannya tiap tahun.
Tahun ini Frederick dan Oscar tidak ikut pergi berburu di Skotlandia
karena beberapa hari sebelum keberangkatan mereka ke Skotlandia, Countess
sakit. Pada awalnya, Earl of Tritonville merencanakan agar kedua putranya saja
yang berangkat memenuhi undangan itu.
Namun Frederick dan Oscar tahu ayah mereka akan sangat kecewa bila
tahun ini tidak dapat ke sana, apalagi tahun ini, menurut teman Earl,
merupakan tahun yang paling baik untuk berburu.
Karena itulah kemudian mereka berdua membujuk agar ayahnya saja
yang pergi dan mereka akan tetap tinggal untuk menjaga ibu mereka. Mulanya
Earl tak menyetujui usul itu, namun setelah melalui perdebatan yang panjang
khirnya Earl menyetujui usul itu.
Sehari sebelum keberangkatan Earl, mereka kembali berdebat untuk
menentukan siapa yang akan berangkat sebab saat itu keadaan Countess
kembali parah. Setelah dibujuk oleh Countess, akhirnya Earl mau mengikuti
rencana semula, pergi sendirian untuk memenuhi undangan itu.
Snow Angel menghabiskan makanan di piringnya sambil mendengarkan
mereka yang bercakap-cakap. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya
sewaktu ia makan. Ia melayangkan pikirannya ke Skotlandia dan mencoba
membayangkan daerah yang belum pernah dikunjunginya itu pada musim
semi seperti ini.
Dibayangkannya pohon-pohon besar yang rimbun menyelimuti
Skotlandia, menghampar laksana permadani hijau. Semak-semak dan
rerumputan yang tumbuh di sekitar pohon itu serta beraneka ragam bunga
yang berwarna-warni bermekaran.
Sinar mentari yang menerobos kegelapan hutan melalui celah-celah
dedaunan pohon yang rimbun membuat hutan tampak terang benderang. Air
danau yang bening berkilau-kilau memantulkan sinar mentari.
Matahari yang muncul perlahan-lahan di ufuk timur menerangi langit biru
15
dan kicau burung menyambut datangnya hari baru serta udara pagi yang
sejuk. Seluruh hewan dari segala penjuru hutan bangun dan memulai
kegiatannya, demikian pula dengan para petani yang mulai mengolah
sawahnya.
Semua bekerja dengan semangat baru hingga matahari kembali ke
peraduannya di senja hari meninggalkan langit yang memerah di ufuk barat.
Dan ketika malam tiba, bulan muncul perlahan-lahan diiringi gerlap-
gemerlap bintang di langit. Berpuluh-puluh bintang yang gemerlapan berusaha
menyaingi sinar bulan yang keperakan. Lolong hewan buas yang berasal dari
hutan meniupkan suasana yang mencekam.
Suara gemeretak kayu yang terbakar di perapian mengiringi suasana
gembira keluarga yang berkumpul kembali setelah bekerja seharian. Yang tua-
tua duduk dan mulai bercerita, yang muda-muda diam mendengarkan dengan
seksama. Demikianlah acara makan siang ini dilalui Snow Angel dengan
melamun.
Setelah makan siang usai, mereka menuju Ruang Duduk. Ketika Countess
hendak kembali ke kamarnya untuk beristirahat, Snow Angel juga kembali ke
kamarnya. Mereka berdua meninggalkan ketiga orang laki-laki yang sibuk
bercakap-cakap di Ruang Duduk itu.
Snow Angel menggandeng ibunya berjalan menuju ke kamar ibunya.
Ketika mereka hampir tiba, Countess tiba-tiba bertanya penuh pengertian
kepada Snow Angel:
“Mengapa engkau diam saja sejak tadi, Nak?”
“Tidak apa-apa, Mama. Saya hanya merasa tak ingin berbicara.”
“Sudah Mama duga. Di antara kalian hanya engkaulah yang berbeda.
Engkau pendiam, sedang kakak-kakakmu tidak.”
“Manusia memang berbeda-beda, Mama.”
“Engkau memang pandai berfilsafat,” kata Countess sembari tersenyum.
“Sudahlah, Mama. Selamat beristirahat.”

16
3

Setelah mencium mencium kedua pipi Countess kemudian Snow Angel


pergi bergegas menuju kamarnya. Ia berencana akan pergi ke gereja di
pemukiman penduduk terdekat. Sesampainya di kamar, dilihatnya Nanny
sedang menanti kedatangannya.
“Tuan Puteri, apakah kita akan berangkat sekarang?”
“Tidak, Nanny. Aku ingin memetik bunga dulu baru kemudian kita
berangkat.”
“Bunga?” tanya Nanny keheranan.
“Ya, Nanny. Bunga-bunga yang ada di taman sedang bermekaran semua.
Dan kurasa alangkah baiknya bila kita membawanya serta untuk diletakkan di
gereja.”
“Anda benar, Tuan Puteri. Mengapa hal ini tak terpikirkan oleh saya
sebelumnya,” keluh Nanny.
Snow Angel diam tak menanggapinya. Ia terbayang masa lampau saat
untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di gereja yang keadaannya
sama sekali jauh dengan gereja keluarganya yang letaknya di samping kiri
rumah ini.
Gereja yang bernama Saint Augustine itu keadaannya benar-benar
tragis. Pendeta di gereja itu sudah tua sekali, lebih tua beberapa tahun dari
Nanny.
Gereja yang sudah tua itu menimbulkan kesan yang menakutkan karena
di sana sini tumbuh tumbuhan liar. Demikian pula keadaan di dalamnya yang
tampak suram.
Walaupun begitu di sana selalu terdengar tawa anak-anak yang berasal
dari Panti Asuhan Gabriel di samping gereja itu. Keadaan panti asuhan itu juga
tak kalah menyedihkannya dari gereja itu.
Snow Angel tahu jemaat gereja itu bukanlah orang yang berkelimpahan
seperti dirinya, melainkan mereka yang hidupnya pas-pasan saja. Karena itu ia
kemudian meminta ayahnya untuk memperbaiki gereja berikut panti asuhan
itu.
Dan kini kedua bangunan itu tampak jauh lebih baik daripada empat
17
tahun lalu saat ia pertama kali mengijakkan kakinya di sana untuk
menyelesaikan suatu urusan penting. Sejak saat itu Snow Angel sering
mengunjungi panti asuhan itu dengan Nanny.
Nanny mengambilkan topi bagi Snow Angel untuk menahan sengatan
sinar matahari pada kulitnya. Kemudian berdua mereka memetik bunga di
taman bunga. Setelah keranjang bunganya penuh dengan bunga barulah
mereka berhenti memetik bunga.
Nanny menuju ke belakang rumah untuk memanggil kereta kuda milik
keluarga ini sementara Snow Angel menanti di tepi kolam.
Tak lama kemudian Nanny kembali bersama kereta kuda yang nantinya
akan membawa mereka ke panti asuhan itu. Kereta kuda itu ditarik empat ekor
kuda yang lincah.
Seorang kusir kuda yang sudah setengah baya yang rambutnya mulai
memutih duduk di depan kereta untuk mengendalikan keempat ekor kuda itu
yang meringkik seakan mengungkapkan kegembiraannya karena akan
berjalan-jalan setelah seharian berada di kandangnya.
Kusir yang biasa dipanggil Thompson ini sudah bekerja puluhan tahun di
sini. Thompson tidak memiliki putra sedangkan istrinya sudah meninggal
bertahun-tahun lalu jauh sebelum Snow Angel lahir. Istri Thompson yang sudah
meninggal itu disemayamkan dekat Gereja St. Augustine dan dari Thompsonlah
Snow Angel mengetahui keberadaan gereja ini.
Nanny meraih keranjang bunga yang dipegang Snow Angel dan dua
penjaga kuda yang tiba-tiba muncul dari belakang kereta kuda membantunya
dan Nanny naik ke kereta. Sesaat kemudian mereka meninggalkan Troglodyte
Oinos menuju Panti Asuhan Gabriel.
Sepanjang jalan Snow Angel melayangkan pandangan matanya ke
jalanan yang dilaluinya sambil mendengarkan Nanny yang sibuk bercerita.
Lima belas menit kemudian mereka tiba di Panti Asuhan Gabriel. Dua orang
penjaga kuda yang tadi membantu mereka naik, kembali membantu mereka
turun.
Kaki Snow Angel baru saja menyentuh tanah saat terdengar seruan
gembira anak-anak panti asuhan yang menanti kedatangannya. Tak lama
kemudian anak-anak berhamburan menghampirinya dari segala penjuru
seakan-akan mereka muncul tiba-tiba untuk menyerbu sasarannya.
Nanny tersenyum gembira menyambut anak-anak itu. Yang putri sibuk
mengamati bunga-bunga yang ada di keranjang bunga Snow Angel, sedangkan
18
yang putra sibuk mengelus kuda yang menarik kereta yang tadi ditumpangi
Snow Angel sambil mengagumi kuda-kuda beserta kereta itu.
Dari dalam rumah muncul dua orang wanita yang mengenakan pakaian
biarawati yang berwarna hitam. Yang seorang tampak tua dan yang satunya
tampak masih muda.
Kedua biarawati inilah yang menjaga dan mengepalai panti asuhan ini.
Keduanya tersenyum menyambut kedatangan Snow Angel. “Apa kabar, Miss
Gazetta?” tanya Miss Lyne, biarawati yang sudah tua itu begitu Snow Angel
mendekat.
Kedua suster ini tidak tahu bahwa ia adalah putri Earl of Tritonville. Snow
Angel sengaja menyembunyikan hal ini karena ia merasa lebih baik bila kedua
suster ini, Miss Lyne dan Miss Mary juga pendeta Gereja St. Augustine, Mr. Paul
tidak mengetahui bahwa ia adalah putri Earl of Tritonville.
Nanny hanya tahu anak asuhnya itu ingin menyembunyikan identitasnya
dan Nanny tidak pernah curiga akan maksud lain di balik penyembunyian
identitas itu.
“Baik-baik saja. Terima kasih. Bagaimana dengan kalian?” tanya Snow
Angel.
“Kami semua baik-baik saja kecuali Lizt,” jawab Miss Lyne.
“Lizt!? Ada apa dengannya?” tanya Snow Angel terkejut.
Setahu Snow Angel ibu Lizt meninggal saat ia baru berusia dua tahun,
sedangkan ayahnya hilang tak tentu rimbanya sejak meninggalkan Lizt yang
fisiknya lemah seperti ibunya di depan pintu Gereja St. Augustine, sembilan
tahun yang lalu.
Menurut penduduk sekitar, ayah Lizt meninggalkannya di depan pintu
gereja karena merasa tak mampu merawatnya. Harta benda ayahnya habis
untuk membiayai pengobatan istrinya yang sakit berbulan-bulan lamanya
sebelum akhirnya meninggal.
Gadis kecil yang malang itu juga sering sakit-sakitan seperti ibunya,
namun beberapa tahun belakangan ini keadaan gadis ini tidak selemah dulu. Ia
jarang sakit, bahkan dalam dua bulan terakhir ini ia tidak sakit sama sekali.
Karena itulah Snow Angel terkejut mendengar berita ini.
“Mari masuk, Miss Gazetta. Akan kami ceritakan segala-galanya di
dalam,” kata Miss Lyne.
Snow Angel dibawa masuk ke dalam panti asuhan itu. Panti asuhan ini
memiliki banyak kamar yang di tiap-tiap kamarnya terdapat banyak tempat
19
tidur. Di panti asuhan ini juga terdapat sebuah dapur yang cukup besar dan
ruang makan yang besar pula dan tentu saja ruang belajar. Dapat dikatakan
panti asuhan ini besar hanya saja perlengkapannya kurang memadai.
Peraturan di panti asuhan ini dikenal sangat ketat, tiap-tiap anak
diharuskan merapikan tempat tidurnya tiap pagi. Tiap hari mereka harus
bangun pagi-pagi untuk dapat mengikuti misa pagi di Gereja St. Augustine.
Tiap hari mereka diberi tugas secara bergilir seperti memasak, membersihkan
panti, dan lain-lain. Dan seperti anak-anak lainnya, anak-anak di panti asuhan
ini juga mendapat pendidikan dari kedua ibu asuh mereka, Miss Lyne dan Miss
Mary.
Kadang kala datang seseorang yang ingin mengambil seorang anak
untuk dijadikan anak angkatnya dari panti asuhan ini. Tak dapat disangkal lagi,
setiap kali ada seorang anak yang diambil menjadi anak angkat oleh seseorang
pasti diiringi oleh tangis gembira bercampur sedih dari kedua biarawati ini.
Kedua biarawati ini begitu menyayangi anak-anak begitu pula anak-anak
yang juga menyayangi kedua ibu asuhnya.
Kedua biarawati ini membawa Snow Angel menuju ruang kepala Panti
Asuhan Gabriel. Nanny tidak ikut masuk bersamanya, ia sibuk menjaga dan
menemani anak-anak sambil bercerita dongeng. Anak-anak seperti halnya
Snow Angel waktu kecil senang sekali mendengar cerita dongeng Nanny yang
selalu menarik.
Sesampainya di ruang kepala Panti Asuhan Gabriel, Snow Angel segera
melepaskan topinya. Warna topi itu senada dengan gaun yang dikenakannya.
Dengan bentuknya yang sederhana dan sebuah pita besar yang berwarna
magenta yang tampak kontras dengan warna rambutnya, topi itu menambah
kesan keanggunannya.
Ruangan yang berukuran sedang ini memiliki sebuah jendela yang
terletak di pojok kiri, sedangkan di pojok kanannya terdapat sebuah meja kayu
dengan tiga kursi yang terbuat dari kayu pula. Miss Lyne duduk di balik meja di
hadapan Snow Angel yang duduk menghadap tembok, dan Miss Mary duduk di
sebelah Snow Angel.
“Bagaimana keadaan Lizt, Miss Lyne?” tanya Snow Angel mengawali
percakapan.
“Beberapa hari belakangan ini ia demam, namun sekarang keadaannya
sudah mulai membaik,” jawab Miss Lyne.
“Bagaimana ia bisa sakit kembali? Bukankah sudah sekitar dua bulan ini
20
ia tidak sakit.”
“Itulah yang saya kurang mengerti. Tapi jangan khawatir, Miss Gazetta.
Kata dokter ia hanya demam biasa dan pasti lekas sembuh,” jawab Miss Lyne.
“Pada hari ketika ia jatuh sakit, saya melihatnya bermain di luar ketika
angin bertiup cukup kencang tanpa mengenakan pakaian hangat. Waktu itu dia
sudah saya tegur, namun ia tidak menghiraukan saya. Maka saya masuk untuk
mengambilkannya syal dan ketika saya kembali, ia sudah tidak ada.”
“Saya segera ke Gereja St. Augustine, sebab saya menduga ia di sana.
Ternyata dugaan saya keliru, kemudian saya mencoba mencarinya di sekitar
sini. Saya tidak dapat menemukannya dan ketika hari menjelang sore ia baru
muncul kembali dengan suhu tubuh yang panas. Saya segera merawatnya
waktu itu juga,” kata Miss Mary.
“Mengapa engkau tak memberitahuku waktu itu juga, Miss Mary?”
“Maafkan saya, Miss Lyne. Waktu itu saya benar-benar panik dengan
keadaan Lizt.”
“Sudahlah, Miss Lyne, Miss Mary. Sekarang kita pikirkan saja kesehatan
Lizt. Nanti bila ia sudah sembuh, barulah kita menasehatinya agar
mengenakan gaun yang tebal bila bermain di luar pada saat angin bertiup.”
“Kurasa Anda benar, Miss Gazetta,” kata Miss Lyne.
“Bagaimana keadaan panti akhir-akhir ini?”
“Sama saja, Miss Gazetta. Anak-anak tetap bandel, namun kami masih
bisa mengatasinya. Kesulitan kami akhir-akhir ini hanyalah mengenai jumlah
anak yang semakin membengkak. Minggu ini saja kami mendapatkan
tambahan anak sebanyak tiga orang. Tiga bersaudara ini dititipkan oleh kedua
orang tuanya untuk sementara waktu,” jawab Miss Lyne.
“Mengapa kedua orang tuanya menitipkan mereka di sini?” tanya Snow
Angel keheranan.
“Kami kurang tahu, yang kami ketahui hanyalah kedua orang tua anak-
anak itu hendak pergi entah ke mana untuk jangka waktu yang cukup lama dan
mereka tidak dapat membawa serta ketiga anak mereka karena perjalanan
yang jauh dan sukar, selain itu juga karena ketiga anak mereka masih kecil dan
tidak memiliki sanak saudara yang dekat. Yang tertua saja baru berusia lima
tahun,” jelas Miss Mary.
“Jumlah anak yang bertambah terus itu pastilah membuat Anda berdua
kerepotan dan suatu saat nanti kamar tidur anak-anak tersebut tidak…” Snow
Angel belum menyelesaikan perkataannya saat terdengar suara pintu diketuk
21
seseorang.
“Silakan masuk!” sahut Miss Lyne.
Pintu terbuka perlahan-lahan dan tampak seorang wanita tua yang tidak
lain adalah Nanny. “Di depan ada seorang pria yang mengatakan ingin bertemu
dengan kepala panti asuhan ini.”
“Siapakah dia?” tanya Miss Lyne.
“Entahlah, ia tidak memberitahu saya namanya. Ia hanya mengatakan
kalau ingin bertemu dengan Anda, Miss Lyne,” jawab Nanny.
“Saya akan menemuinya.” Miss Mary segera beranjak bangkit dari kursi
untuk menemui tamu yang dikatakan Nanny.
Sesaat sesudah Miss Mary meninggalkan ruang itu, Snow Angel juga
bangkit berdiri. “Kalau begitu saya permisi dulu. Saya ingin melihat keadaan
Lizt.”
Snow Angel dan Nanny sudah meninggalkan ruangan itu sebelum Miss
Lyne berkata apa-apa untuk mencegahnya.
Nanny menemani Snow Angel sampai di kamar tempat Lizt terbaring. Lizt
sedang tidur saat ini, wajahnya pucat.
“Kasihan Lizt, wajahnya pucat sekali,” kata Nanny.
Snow Angel mengangguk dan berkata:
“Mari kita ke gereja, Nanny dan berdoa untuk kesembuhannya.”
Mereka kemudian meninggalkan Lizt yang masih tertidur menuju ke
Gereja St. Augustine. Di luar, Snow Angel melihat keretanya ditambatkan pada
sebatang pohon dan di dekatnya ada sebuah kereta lain yang menurut dugaan
Snow Angel milik tamu yang baru tiba itu.
Kedua penjaga kuda Snow Angel tampak sibuk melayani pertanyaan
anak-anak yang mengelilingi keretanya.
Thompson tidak tampak di antara mereka. Snow Angel tahu Thompson
sedang mengunjungi makam istrinya.
“Saya akan mengambil keranjang bunga yang saya letakkan di kereta
tadi,” kata Nanny.
“Sekalian tolong letakkan topi ini di kereta, Nanny,” kata Snow Angel
mengulurkan topinya ke arah Nanny.
“Sebaiknya Anda mengenakan topi itu, Tuan Puteri. Sinar matahari dapat
membakar kulit Anda yang putih itu.”
“Tidak apa-apa, Nanny. Letakkan saja topi ini di kereta, lagipula matahari
tak terlalu terik saat ini,” desak Snow Angel sambil menyodorkan topinya ke
22
tangan Nanny.
Dengan enggan Nanny menerima topi itu dan berjalan menuju kereta.
Sesaat kemudian Nanny berjalan kembali ke arah Snow Angel dengan
membawa keranjang bunga.
“Bagaimana pendapatmu, Nanny bila kita mengunjungi makam istri
Thompson dulu sebelum ke gereja?” tanya Snow Angel ketika Nanny tiba di
sisinya.
“Itu ide yang bagus sekali,” jawab Nanny senang. “Saya sudah lama tak
mengunjungi makamnya. Sayang ia meninggal sebelum Anda lahir. Bila tidak
Anda akan tahu bagaimana baik dan ramahnya ia.”
Mereka berjalan memutari panti asuhan itu menuju ke pemakaman
penduduk setempat. Suasana di pemakaman itu tampak mencekam dengan
latar belakang hutan yang belum terjamah.
Dari kejauhan, mereka berdua melihat Thompson yang sedang berlutut
di depan makam istrinya. Makam itu tampak tak terawat, di sekitarnya tumbuh
rumput liar.
Mereka berdua berjalan perlahan-lahan mendekati Thompson. Ketika
mereka semakin mendekat, Thompson tiba-tiba berdiri dan terpekik kaget. Ia
memandangi mereka berdua dan dari sorot matanya tampak ia sangat
terkejut.
Baru saja Snow Angel hendak mengatakan sesuatu ketika Thompson
berkata:
“Maafkan saya, Tuan Puteri. Saya terkejut sekali sewaktu saya melihat
gaun Anda yang berwarna putih itu melambai-lambai tertiup angin. Tadi …
saya mengira … Anda itu … hantu.”
Nanny tertawa geli mendengar ucapan Thompson, sedangkan Snow
Angel hanya tersenyum dingin. “Tidak mengapa, Thompson,” katanya tanpa
ekspresi, ”Suasana di makam ini memang sangat mencekam dengan latar
belakang hutan yang gelap itu sehingga gaun saya yang melambai-lambai
tertiup angin ini membuat saya nampak seperti hantu dan membuat semua
orang ketakutan.”
“Saya rasa tidak mungkin orang akan ketakutan bila hantunya secantik
Anda, Tuan Puteri,” canda Thompson.
“Bolehkah saya berdoa untuk istrimu, Thompson?” tanya Snow Angel
datar mengacuhkan perkataan Thompson tadi.
“Silakan, Tuan Puteri.” Thompson memberi tempat bagi mereka berdua
23
untuk berdoa di depan makam istrinya.
Saat Snow Angel hendak berlutut di depan makam istri Thompson, Nanny
segera mencegahnya. “Nanti gaun Anda kotor,” katanya. Maka Snow Angel
berdoa bagi istri Thompson dengan berdiri di samping Nanny yang berlutut di
depan makam istri Thompson.
Gaun yang dikenakan Nanny berwarna hitam sehingga tidak akan
nampak kotor terkena tanah, sedangkan gaun Snow Angel berwarna putih yang
pasti akan tampak kotor bila ia berlutut seperti Nanny.
Sesaat lamanya mereka berdoa, lalu Snow Angel mengambil beberapa
kuntum bunga mawar yang berwarna ungu dari keranjang bunganya yang
dibawa Nanny dan membungkuk untuk meletakkan bunga itu di depan pusara
istri Thompson.
“Terima kasih, Tuan Puteri. Terima kasih, Nanny,” kata Thompson terharu.
“Sudahlah, Thompson. Jangan engkau memikirkan hal ini! Istrimu
memang pantas mendapatkannya,” kata Nanny tersenyum memandangi
Thompson yang tampak terharu dengan apa yang baru saja mereka lakukan
bagi almarhum istrinya.
“Kami permisi dulu, Thompson. Kami hendak ke gereja sekarang,” kata
Snow Angel kemudian.
“Oh … kalau begitu akan saya temani kalian.”
“Tidak perlu, Thompson. Tetaplah di sini menemani istrimu. Biarlah saya
sendiri yang menemani Tuan Puteri,” usul Nanny.
“Tapi berbahaya bagi kalian berdua berjalan sendirian di pemakaman
yang sepi seperti ini,” bantah Thompson.
“Tidak mengapa, Nanny benar, Thompson. Tetaplah di sini untuk
menemani istrimu, lagipula engkau sudah lama tidak mengunjungi
makamnya,” kata Snow Angel tegas.

24
4

Setelah berpamitan kepada Thompson, mereka berdua berjalan lagi ke


Gereja St. Augustine. Suasana di dalam gereja itu sangat sunyi. Tak
seorangpun tampak di sana. Mereka berdua berlutut di depan altar dan berdoa.
Nanny berdiri menuju altar dan mengambil jambangan bunga yang ada
di atas meja lalu membantu Snow Angel menata bunga di jambangan itu.
Saat Nanny meletakkan kembali jambangan yang baru saja mereka tata
itu di atas meja, terdengar suara pintu gereja berderit terbuka dan tampak
seorang pendeta yang telah tua tersenyum berjalan ke arah mereka berdua.
“Tuhan memberkati Anda berdua.” Kalimat ini selalu dilontarkan pendeta
tua itu sebagai salam pada mereka berdua.
“Terima kasih Anda berdua sudi meletakkan bunga-bunga yang indah itu
di jambangan bunga yang sudah tua di atas altar itu.”
“Tidak apa-apa, Pendeta. Kami merasa itu sudah menjadi kewajiban kami
sebagai anggota gereja,” kata Snow Angel datar.
“Andaikan semua orang di dunia ini sebaik Anda, pasti dunia akan
tentram dan damai,” kata Pendeta Paul tersenyum.
“Ceritakanlah mengenai keadaan gereja akhir-akhir ini, Pendeta!” kata
Nanny.
Mereka bertiga kemudian duduk di kursi yang disediakan bagi para
jemaat gereja. Snow Angel diam mendengarkan percakapan Pendeta dengan
Nanny. Snow Angel berpendapat bahwa kedua orang ini cocok satu sama lain.
Pendeta Paul dan Nanny sama-sama senang bercerita, acapkali mereka
bercerita hingga lupa waktu. Namun Snow Angel membiarkan hal itu sebab ia
sendiri senang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Sekali waktu mereka saling bercerita mengenai masa lalu mereka
masing-masing, lain waktu tentang jemaat gereja atau penduduk setempat
atau hal-hal lain yang menarik yang terjadi di sekitar mereka.
Mereka berdua selalu berbicara tiada putus-putusnya, seakan-akan tidak
pernah kehabisan bahan pembicaraan. Selalu saja ada yang mereka bicarakan.
Belum sampai sepuluh menit Snow Angel mendengar kedua orang itu
bercerita ketika terdengar suara pintu berderit kembali. Mereka bertiga segera
25
memalingkan kepala dan melihat kepada dua sosok wanita yang mengenakan
pakaian biarawati muncul dari balik pintu yang dibuka itu.
Menilik pakaiannya, Snow Angel langsung tahu siapa kedua orang itu.
Mereka tak lain adalah Miss Lyne dan Miss Mary.
Wajah Miss Lyne dan Miss Mary tampak berseri-seri bahagia ketika
mendekati mereka.
“Mengapa kalian tampak gembira sekali?” tanya Pendeta Paul ingin tahu.
“Oh … Pendeta. Dapatkah Anda membayangkan betapa gembiranya hati
saya ini. Lizt baru saja pergi dibawa ayahnya,” kata Miss Mary gembira.
“Ayahnya?” tanya Pendeta Paul.
“Betul, Pendeta. Tadi datang seorang pria yang mengaku sebagai ayah
Lizt, ia kemari hendak mengambil Lizt yang ditinggalkannya di depan pintu
gereja sembilan tahun yang lalu. Ia juga berkata akan segera membawa Lizt ke
dokter,” Miss Lyne menjelaskan.
“Tuhan memang Maha Baik. Akhirnya Lizt yang malang dapat berjumpa
kembali dengan ayahnya,” Pendeta Paul turut bergembira.
Mereka berempat terlalu gembira untuk menyadari ekspresi wajah Snow
Angel yang kaku dan dingin.
Snow Angel turut merasa senang mengetahui Lizt telah berkumpul
kembali dengan ayahnya.
Tapi ia juga merasa benci pada ayah Lizt yang selama sembilan tahun
setelah meninggalkan Lizt di depan pintu gereja, tidak pernah menghubungi
panti asuhan untuk mengetahui keadaan anaknya kini tiba-tiba muncul hanya
untuk mengambil anaknya.
Ia tidak habis mengerti mengapa pria tersebut bisa berbuat begitu kejam
pada anak kandungnya sendiri. Meninggalkannya di depan pintu gereja lalu
kembali lagi hanya untuk mengambilnya.
Mengambilnya kembali setelah selama sembilan tahun tidak pernah
mengasuh dan merawatnya, tidak pernah peduli pada keadaan putrinya.
Setelah meninggalkannya di depan pintu gereja saat di mana anak itu
membutuhkan kasih sayang, saat gadis itu masih berumur dua tahun.
Entah berapa lamanya ia berpikir, entah berapa lamanya pula keempat
orang itu bercakap-cakap dengan gembira. Yang pasti mereka berlima terkejut
saat mendengar suara pintu gereja berderit dan muncul anak-anak dari Panti
Asuhan Gabriel.
Mereka langsung menghambur mengelilingi kelima orang yang masih
26
belum pulih dari keterkejutannya itu.
Seorang anak laki-laki yang berusia sekitar enam tahun berjalan
mendekati Snow Angel dan langsung duduk di pangkuannya kemudian
memeluknya.
Snow Angel balas memeluk bocah di pangkuannya itu dan bertanya
lembut:
“Ada apa, Max?”
Max sudah tinggal di panti asuhan ini sejak bayi. Tiada orang yang tahu
asal-usulnya, bocah ini ditemukan di tepi jalan oleh Pendeta Paul kemudian
olehnya bayi itu dibawanya ke Panti Asuhan Gebriel dan diberi nama Max.
Max seperti halnya anak-anak panti yang lain sayang sekali pada Snow
Angel, bahkan bocah ini sudah menganggapnya sebagai ibunya, ia memanggil
‘Mom’ pada Snow Angel. “Saya rindu sekali pada Anda, Mom,” katanya.
“Maukah Anda membacakan sebuah buku untukku?”
“Kami juga!” seru anak-anak yang lain.
“Tentu saja saya mau membacakan sebuah buku bagi kalian semua, anak
manis, sepuluh pun saya mau. Mari ikut saya,” kata Snow Angel tersenyum
lembut pada anak-anak itu.
Snow Angel menganggukan kepala kepada keempat orang yang lebih tua
darinya itu mohon diri meninggalkan gereja. Ia berjalan keluar menggendong
Max diiringi anak-anak yang lain.
Keempat orang yang ada di dalam gereja itu memandangi kepergiannya
diiringi anak-anak dengan tersenyum. Mereka semua terutama Nanny tahu
gadis itu selalu bersikap dingin terhadap siapa saja kecuali anak-anak.
Gadis itu selalu bersikap ramah dan lemah lembut kepada anak-anak.
Kepada orang dewasa, ia bersikap dingin dan acuh.
Mereka berempat kemudian meninggalkan gereja dan mendapati Snow
Angel duduk di sebuah bangku di bawah sebatang pohon dikelilingi anak-anak
yang memperhatikan cerita gadis itu.
Mereka berempat kemudian segera bergabung dengan gerombolan anak-
anak yang sedang bergembira itu. Mereka semua bergembira ria hingga hari
sore. Seperti biasanya, menjelang waktu minum teh, Snow Angel dan Nanny
segera berpamitan pulang.
Di tengah perjalanan Nanny berkata, “Kelihatannya tadi Anda tidak
begitu gembira sewaktu mengetahui Ayah Lizt mengambil Lizt kembali.”
“Aku hanya tidak senang dengan tindakannya meninggalkan Lizt di
27
depan pintu gereja saat anak itu baru berusia dua tahun, kemudian
mengambilnya kembali setelah anak itu sudah besar,” kata Snow Angel tajam.
“Saya sendiri juga kurang menyetujui tindakan Ayah Lizt itu. Namun
setelah saya pikirkan kembali, saya merasa tindakannya itu tepat. Entah
bagaimana keadaan Lizt sekarang seandainya ayahnya tidak meninggalkannya
di depan pintu gereja setelah kematian istrinya,” kata Nanny mencoba
memberi pengertian pada Snow Angel.
“Saya rasa ayah Lizt meninggalkannya di depan pintu gereja karena
merasa tak sanggup merawat anak sekecil itu, dan sekarang ia mengambilnya
karena merasa bertanggung jawab pada diri Lizt.”
Snow Angel tak memperhatikan ucapan Nanny. Saat ini matanya terpaku
pada lapangan rumput yang ada di sisi kanan kereta.
Di tengah-tengah lapangan itu tampak sebuah tenda besar yang sedang
didirikan oleh beberapa pria dan beberapa kereta serta sekelompok orang yang
terlihat sibuk pula dan beberapa anak kecil yang sedang bermain.
Hatinya tersentak gembira melihat sederetan huruf pada sebuah kereta
yang paling besar yang membentuk kalimat “Boudini’s Theatre.”
BOUDINI! Jadi keluarga Boudini akan mengadakan pertunjukkan di sini.
Charlemagne… Charlemagne… akhirnya aku akan bertemu denganmu kembali.
Oh Jenny… tahukah kau anakmu ada di sini sekarang, pikirnya gembira.
Ia begitu gembira membayangkan akan berjumpa kembali dengan
Charlemagne, putra Jenny dan memperhatikan sekelompok anak kecil yang
sedang bermain di lapangan rumput itu mencari Charlemagne hingga tidak
mendengar segala cerita Nanny.
“Boudini’s Theatre” milik keluarga Boudini merupakan teater keliling
yang terkenal di mana-mana. Walaupun sedikit jumlah aktris yang dimilikinya,
namun teater ini mampu menampilkan pertunjukan-pertunjukan yang baik dan
bersaing dengan teater-teater besar lainnya. Teater yang tak pernah menetap
lebih dari tiga bulan di suatu tempat ini selalu dibanjiri pengunjung.
Tiba-tiba muncul suatu gagasan dalam benak Snow Angel untuk
menghentikan kereta dan mengunjungi Charlemagne hari ini juga saat kereta
itu mulai menjauhi lapangan rumput tadi. Namun diurungkannya niat itu
karena ia tahu mereka sangat sibuk saat ini, sibuk mempersiapkan panggung
pertunjukan mereka.
Lalu muncul gagasan lain dalam benaknya, ia berkata tegas:
“Nanny, mintalah pada Thompson untuk mengantar kita ke Guest Mess!”
28
Wanita tua itu terheran-heran dengan permintaan anak asuhnya itu.
Namun ia tetap melakukan apa yang diperintahkan padanya itu.
Ia melongokkan kepalanya melalui jendela dan berseru kepada
Thompson, “Antarkan kami ke Guest Mess, Thompson!”
“Baik,” seru Thompson pula.
Kemudian Nanny memandang heran pada Snow Angel.
Mengerti arti pandangan itu, maka Snow Angel menjelaskan, “Aku ingin
menghabiskan waktu minum teh sore ini di luar rumah.”
Nanny mengangguk mendengarnya. Saat ini memang sudah hampir tiba
waktunya untuk minum teh dan Guest Mess merupakan sebuah kedai minum
yang setiap harinya menyediakan acara minum teh di sore hari seperti ini.
Kereta membelok di tikungan dekat lapangan rumput tadi menuju ke
Guest Mess yang letaknya di pusat kota kecil ini. Dengan segera mereka tiba di
sana. Begitu turun dari kereta, Snow Angel berkata:
“Nanny! Engkau, Thompson dan dua penjaga kuda itu pergilah
menghabiskan waktu minum teh ini di Guest Mess.”
“Anda akan ke mana, Tuan Puteri?”
“Aku akan berbelanja di Shawky Market.”
“Biarlah saya menemani Anda berbelanja, Tuan Puteri.”
“Tidak, Nanny. Pergilah bersama mereka. Aku ingin berbelanja sendiri.
Bila kalian sudah selesai, kalian pergilah ke Shawky Market untuk membantu
membawa belanjaanku,” tukas Snow Angel tegas.
Walaupun Nanny selalu menuruti permintaannya, namun kali ini ia
bersikeras untuk menemaninya. Selain karena bahaya bila seorang gadis
apalagi yang semuda dan secantik Snow Angel berbelanja sendirian, juga
dikarenakan ini pertama kalinya gadis itu pergi berbelanja sendirian.
Biasanya kedua kakaknya selalu menemaninya, dan bila mereka tidak
dapat menemaninya, mereka akan memaksa Snow Angel agar mau ditemani
Countess atau Nanny.
“Pergilah, Nanny!” kata Snow Angel memaksa.
Ia menyerahkan beberapa lembar uang kepada Nanny untuk membayar
nanti kemudian berjalan berbalik menuju Shawky Market meninggalkan mereka
yang terkejut dengan tindakannya.
“Entah apa kata Tuan Muda Frederick dan Oscar nanti,” kata Thompson
memandangi sosok Snow Angel yang berjalan semakin jauh kemudian berbelok
masuk ke Shawky Market.
29
“Aku sendiri tidak tahu apa yang akan dikatakan kedua Tuan Muda kelak
bila mengetahui hal ini. Tapi bila kita tidak menuruti perintah Tuan Puteri, ia
akan marah,” kata Nanny kebingungan.
“Entahlah Thompson... Aku sendiri bingung apa yang harus kita lakukan
sekarang. Mungkin lebih baik bila kita turuti saja perintah Tuan Puteri dan
kemudian merahasiakan hal ini dari kedua Tuan Muda.”
“Mungkin kau benar, Nanny,” kata mereka serempak.
Mereka kemudian masuk ke Guest Mess untuk menghabiskan waktu
minum teh di sana seperti yang diperintahkan Snow Angel. Mereka makan
dengan tergesa-gesa karena khawatir akan keadaan Tuan Puteri mereka.

-----0-----

Setelah meninggalkan keempat pelayannya, Snow Angel bergegas


menuju Shawky Market. Toko yang besar itu menjual berbagai macam barang,
di sana ia bermaksud membeli sejumlah barang bagi keluarga Boudini dan
terutama Charlemagne.
Ia tidak ingin keempat pelayannya mengetahui barang-barang yang akan
dibelinya dan untuk siapa ia membeli barang-barang tersebut, maka ia sengaja
menyuruh mereka minum-minum di Guest Mess sementara ia berbelanja.
Sepanjang jalan orang-orang memandangnya seakan-akan melihat
sesuatu yang begitu indah dan menakjubkan. Beberapa pria mencoba bersikap
kurang ajar padanya. Namun belum sempat mereka melakukannya, mereka
sudah langsung mundur melihat tatapannya yang tajam dan dingin.
Begitulah gadis itu, banyak dikagumi orang karena kecantikkannya,
sekaligus disegani orang karena kedinginan hati dan sikapnya seperti yang
dikatakan keluarganya.
Saat itu mereka dalam perjalanan pulang setelah menghadiri pesta di
rumah Lord Herald, saat yang pertama kalinya bagi Snow Angel untuk
menghadiri pesta perjamuan makan malam.
Dalam pesta perjamuan itu, ia dikelilingi banyak laki-laki yang
mengagumi kecantikkannya, namun ia bersikap dingin pada mereka. Hal
tersebut membuat tamu-tamu yang lain heran, sebab tidak biasanya seorang
gadis yang secantik dan semuda ia yang saat itu baru berusia empat belas
tahun bersikap dingin kepada laki-laki yang mengaguminya.
Kebanyakkan gadis-gadis yang cantik akan senang bila ada pria yang
30
mengaguminya, tapi hal ini rupanya tidak berlaku bagi Snow Angel. Ia bersikap
acuh pada pujian-pujian yang ditujukan baginya.
Sejak saat itu ia menjadi terkenal akan kecantikkannya dan kedinginan
hatinya dan sejak saat itu pula banyak laki-laki yang berusaha melelehkan
kedinginan hati dan sikapnya.
“Mengapa engkau tadi bersikap begitu dingin, Nak?” tanya Countess
lembut pada Snow Angel.
Snow Angel menjawab singkat, “Tidak apa-apa, Mama.”
Countess menghela napas mendengar jawaban putri satu-satunya itu. Ia
berusaha menasehati putrinya dengan lembut agar tidak bersikap begitu
dingin.
Selama ini Countess tak pernah memarahi anak-anaknya, ia selalu
berusaha bersikap lembut dalam menghadapi tingkah laku putra-putrinya.
Ia tahu kemarahan tidak akan menghasilkan apa-apa, demikian pula Earl
of Tritonville yang juga selalu bersikap lembut namun tegas dalam menghadapi
putra-putrinya. Inilah yang menyebabkan mereka begitu disayang oleh anak-
anak mereka.
“Kelak engkau tak boleh bersikap begitu dingin lagi kepada mereka,”
nasehat Earl.
“Saya mengerti, Papa. Namun saya tak menyukai cara mereka dalam
mendekati saya,” kata Snow Angel hati-hati, ia tak ingin membuat kedua orang
tuanya marah. “Maafkan saya, Papa. Saya benar-benar tak menyukai cara
mereka.”
“Tahukah engkau, Angella? Teman-temanku tadi banyak yang
mengatakan kalau engkau benar-benar cantik bahkan kata mereka engkau
gadis tercantik yang pernah mereka jumpai, juga gadis yang paling dingin yang
pernah mereka jumpai,” Frederick menimpali.
“Kurasa nama ‘Angella’ kurang tepat baginya. Mungkin lebih tepat ‘Snow
Angel’,” usul Oscar.
“Mengapa engkau berkata begitu, Oscar?” tanya Earl.
“Karena ‘Snow Angel’ lebih tepat untuk menggambarkan pribadi Angella,
Papa. Nama …”
“Aku mengerti maksudmu, Oscar! ‘Snow’ menggambarkan kedinginannya
dan ‘Angel’ menggambarkan kecantikkannya. Betul, bukan?” potong Frederick.
“Aku setuju sekali denganmu. ‘Snow Angel’ memang lebih tepat daripada
‘Angella’. Bagaimana pendapat Papa Mama?”
31
“Ya … ya … nama itu lebih tepat baginya,” Earl tersenyum menyetujui
usul kedua putranya akan nama baru putrinya, Angella. “Bagaimana
denganmu, Stefanie?”
“Aku juga setuju dengan kalian, tapi kita tak boleh memanggilnya begitu
bila ia tak menyetujuinya,” jawab Countess.
“Kau setuju, Angella?” tanya Frederick dan Oscar serempak.
“Terserah,” jawab Angella dingin.
Rupa-rupanya semua orang kecuali Nanny menyetujui nama barunya
yang diusulkan Frederick dan Oscar.
Dan sejak saat itu nama ‘Angella’ digantikan ‘Snow Angel’ dengan
cepatnya, secepat melambungnya ketenaran akan kecantikkan dan kedinginan
hatinya di mata semua orang, baik kaya maupun miskin, secepat
bertambahnya wanita yang iri dan cemburu baik karena kecantikkannya
maupun karena perhatian kedua kakaknya yang sangat besar kepada dirinya.
Banyak wanita yang berusaha merebut perhatian kedua kakaknya. Tapi
mereka sulit sekali mendapatkannya karena kedua kakaknya hanya
memperhatikan Angella.
Mereka harus bersaing dengan Angella untuk dapat mengalihkan
perhatian kedua pria itu dari adiknya, Angella.
Dalam setiap kesempatan, mereka selalu berusaha menyaingi
kecantikkan Angella. Mereka selalu berusaha tampil lebih menarik daripada
Angella dengan gaun-gaun mereka yang mahal.
Tetapi mereka tetap tidak dapat merebut perhatian Frederick maupun
Oscar. Kedua pria itu tetap tidak melihat kepada wanita yang lain selain adik
mereka.
Hal ini membuat banyak orang kagum pada rasa sayang kedua kakak
Angella pada dirinya. Bahkan ada yang pernah menggoda mereka karena rasa
sayang mereka yang sangat besar pada diri Angella.
“Kalian sangat menyayangi Angella sehingga tidak melihat wanita lain.
Kalian seperti suami yang sangat mencintai istrinya,” kata orang itu.
Frederick dan Oscar tersenyum mendengarnya, mereka menyahut
serempat, “Kami memang ingin mempunyai istri yang sangat cantik seperti
Angella. Namun sayang di dunia ini tidak ada orang yang sanggup menyaingi
kecantikkannya dan kedinginan hatinya.”
Demikian pula mereka yang mengejar Angella, harus bisa menghadapi
kedua kakak Angella yang menjaganya dengan ketat. Kedua kakaknya itu
32
selalu terlihat di sisinya kemanapun gadis itu pergi.
Setibanya di Shawky Market, ia disambut oleh seorang wanita setengah
baya yang tidak lain adalah istri pemilik Shawky Market.
Wanita itu memandang heran padanya karena melihatnya datang
sendirian tanpa kedua kakaknya ataupun pengawal seperti biasanya. Beberapa
orang yang ada di Shawky Market juga memandang heran padanya.
Snow Angel tak mempedulikan pandangan orang-orang yang ada di sana
pada dirinya.
“Selamat datang di Shawky Market, Miss. Adakah yang dapat saya
lakukan untuk Anda?” wanita itu menyambut kedatangannya dengan ramah.
“Saya ingin mencari beberapa baju,” jawabnya.
Shawky Market merupakan toko pakaian yang paling baik di tempat ini.
Di dalam toko yang cukup luas ini, pakaian-pakaiannya diatur sedemikian rupa
sehingga pengunjung dapat dengan mudah menemukan baju yang dicarinya.
Pakaian-pakaiannya diatur menurut tingkat usia, pakaian bagi anak-anak
dipisahkan dengan pakaian orang dewasa dengan pakaian bayi.
“Silakan sebelah sini,” kata wanita itu sambil menunjukkan tempat baju-
baju bagi gadis seusianya.
“Tidak, saya tidak memerlukan baju bagi saya. Saya mencari baju bagi
anak yang berusia empat tahun dan baju bagi orang yang berusia sekitar lima
puluhan,” terang Snow Angel.
“Di sebelah sini baju untuk anak berusia sekitar empat tahun,” kata
wanita itu menunjuk tempat yang lain.
Snow Angel dengan sibuknya memilih-milih baju dengan dibantu wanita
itu. Wanita itu melayaninya dengan cepat. Ia menunjukkan pakaian-pakaian
yang baru saja datang kepada Snow Angel.
Snow Angel berbelanja dengan cepat. Ia tahu pelayannya tidak mungkin
berlama-lama berada di Geust Mess karena mereka pasti mengkhawatirkan
dirinya. Ia membeli beberapa potong baju bagi Charlemagne, serta Mr dan Mrs
Boudini.
Tanpa mempedulikan keheranan wanita tadi serta beberapa orang yang
memperhatikan barang-barang yang dibelinya, ia terus memilih belanjaannya.
Tepat seperti dugaannya, Nanny masuk ke Shawky Market bersama
Thompson saat ia membayar rekening atas barang-barang belanjaannya yang
telah dibungkus rapi oleh wanita yang menyambutnya saat ia masuk toko tadi.
“Untunglah aku berbelanja dengan cepat,” pikirnya lantas meminta
33
kepada mereka berdua untuk membantu membawakan belanjaannya yang tak
seberapa banyak itu ke dalam kereta.
Dalam perjalanan pulang, Nanny ingin sekali bertanya apa isi dari tiga
kotak berukuran sedang yang dibeli Snow Angel dari Shawky Market. Namun ia
menahan keinginan hatinya untuk bertanya itu. Ia tahu Snow Angel tak akan
memberitahunya apa isi kotak itu.
Snow Angel tahu Nanny ingin sekali tahu apa isi kotak-kotak yang berasal
dari Shawky Market itu. Karena ia tidak ingin memberi tahu apapun mengenai
isi kotak itu pada siapapun, maka ia membiarkan keingintahuan Nanny itu
terus membumbung. Ia tahu Nanny tidak akan berani membuka kotak itu
tanpa seijinnya.
Ketika kereta berhenti di depan pintu Troglodyte Oinos, Snow Angel
memberi perintah lagi pada mereka berempat untuk langsung menuju ke
belakang dan membawa kotak-kotak yang berisi barang belanjaannya itu
langsung ke kamarnya melalui pintu belakang.
Dan kepada Nanny ditekankannya agar meletakkan kotak-kotak itu di
bawah meja rias di dekat jendela menuju serambi dan tidak membukanya. Ia
memperhatikan kereta itu berlalu hingga membelok menuju ke belakang
rumah kemudian ia membuka pintu.
Ia tahu ia akan menghadapi sejumlah pertanyaan dari kedua kakaknya
karena berpergian keluar rumah hingga matahari mulai terbenam di sebelah
barat. Ia tak ingin melibatkan Nanny, maka tadi ia sengaja memerintahkan
Nanny untuk membawakan kotak-kotak yang berisi belanjaannya langsung ke
kamarnya melalui pintu belakang.

34
5

Frederick dan Oscar berjalan mondar-mandir dengan gelisah di Ruang


Bbesar menantikan adik mereka. Sesekali mereka melihat keluar melalui
jendela di samping pintu masuk Troglodyte Oinos.
Sebentar duduk, sebentar berjalan dan sebentar-sebentar mereka
memandang keluar jendela. Kegelisahan mereka berdua dalam menanti adik
mereka membuat Vladimer yang juga gelisah menjadi pusing.
“Kalian jangan mondar-mandir terus membuat aku menjadi pusing saja,”
gerutu Vladimer kesal melihat kedua kakak beradik itu mondar-mandir terus di
Ruang Besar sejak waktu minum teh.
Tadi sewaktu minum teh, mereka bertiga berkumpul di Ruang Duduk
tanpa Countess dan Snow Angel. Countess saat itu sedang beristirahat di
kamarnya dan mereka menduga Snow Angel menemani Countess minum teh di
kamarnya.
Tetapi setelah mereka selesai menyantap hidangan kecil itu, barulah
mereka mengetahui bahwa Snow Angel pergi sejak tadi dan belum kembali.
Frederick dan Oscar khawatir sekali akan keadaan Snow Angel. Mereka
sengaja tak memberi tahu ibu mereka mengenai hal ini karena khawatir ia
akan jatuh sakit lagi setelah mulai sembuh dari sakitnya.
Tidak biasanya Snow Angel keluar rumah hingga matahari mulai
terbenam. Biasanya bila ia berpergian tanpa dikawal kedua kakaknya, ia sudah
tiba di rumah sebelum waktu minum teh.
Bila ia berpergian dengan dikawal kedua kakaknya, barulah ia pulang
seusai waktu minum teh.
Dan hari ini, ia pergi tanpa pengawalan kedua kakaknya hingga langit
mulai gelap. Kedua kakaknya benar-benar khawatir akan keadaannya. Begitu
khawatirnya mereka hingga membuat Vladimer yang turut khawatir dengan
keadaan gadis itu menjadi pusing.
“Ya … ya … Kami mengerti,” kata Frederick cemas lalu duduk di kursi
dekat tempat Vladimer duduk.
Oscar memandang gelisah keluar. “Ke manakah perginya ia? Mengapa
tidak pulang-pulang? Apakah terjadi sesuatu padanya?”
35
“Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku menyesal, kenapa tadi tidak
kutanyai dia sewaktu kulihat pergi dengan kereta,” keluh Frederick
menyalahkan dirinya sendiri.
“Sudahlah! Ia pasti baik-baik saja, bukankah Nanny turut pergi
dengannya,” Vladimer menenangkan Frederick.
“Aku tahu, aku juga melihat Nanny pergi bersama Snow Angel. Tapi aku
tetap khawatir. Aku tidak akan memaafkan diriku bila terjadi sesuatu padanya,”
gumam Frederick sedih.
“Tunggu! Kalian mengatakan melihat kepergian Snow Angel?” tanya
Oscar.
“Ya, aku melihatnya berdiri di tepi kolam lalu Nanny datang membawa
kereta dan pergi bersamanya,” jawab Vladimer.
“Kenapa kalian tidak menghentikannya? Kenapa kalian diam saja?”
sembur Oscar marah.
“Kau jangan marah-marah pada kami, Oscar. Kami tidak mengira ia akan
pergi hingga selarut ini. Lagipula kita sama-sama tahu Snow Angel sering pergi
dengan Nanny, walau kuakui ia jauh lebih sering kita kawal bila berpergian,”
pinta Frederick yang berusaha meredakan amarah Oscar yang memang mudah
marah apalagi bila menyangkut masalah adik kesayangan mereka.
“Jangan marah! Bagaimana mungkin aku tidak marah? Bagaimana
mungkin?” tanya Oscar gusar, “Oh … aku benar-benar khawatir dengan anak
satu ini.”
“Percuma saja kau marah-marah sekarang, Oscar. Tidak hanya kau yang
khawatir akan keadaan Angella, kami pun khawatir,” kata Vladimer tenang
sambil berusaha menekan kegundahan hatinya sendiri. “Lagipula ia sekarang
sudah pergi dan kita hanya bisa menantikan kedatangannya.”
Oscar terus mondar-mandir di ruangan itu dengan cemas. Sesekali ia
berhenti di depan jendela untuk melihat bila adiknya datang.
“Ke mana perginya anak itu? Mengapa tidak lekas pulang? Apakah terjadi
sesuatu padanya?” tanyanya lagi.
“Duduklah diam, Oscar. Kau membuatku bertambah pusing saja,”
perintah Frederick.
“Tidak mungkin aku bisa duduk diam sementara sesuatu bisa saja
menimpa Snow Angel saat ini,” bantahnya.
“Aku mengerti. Tapi cobalah diam, jangan mondar-mandir terus. Ingatlah
ia tidak sendirian, ia pergi dengan Nanny,” ulang Frederick.
36
“Aku tahu … aku tahu … Tapi ke mana perginya dia? Kenapa ia tak lekas
pulang? Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya Oscar lagi untuk yang kesekian
kalinya.
“Kau jangan bertanya-tanya begitu terus. Kami sendiri tidak tahu ke
mana perginya Angella juga apa yang terjadi padanya sehingga ia tidak lekas
pulang,” ujar Vladimer menanggapi pertanyaan-pertanyaan Oscar yang
diulang-ulang terus menerus itu.
Suasana hening sejenak di sini, ketiga pria itu gelisah menanti
kedatangan Snow Angel. Pada wajah mereka terlukis jelas kekhawatiran
mereka.
“Aku akan pergi mencarinya,” kata Oscar tiba-tiba.
“Untuk apa? Bagus kalau engkau dapat bertemu dengannya, kalau tidak
nanti engkau hanya akan menambah kecemasan kami,” cegah kakaknya.
“Tapi aku tidak bisa diam saja di sini seperti orang gila. Aku harus
mencarinya,” kata Oscar keras kepala.
“Frederick benar, kau hanya akan menambah kecemasan kami bila
engkau pergi mencari Angella.”
“Tapi ini sudah terlalu terlambat. Ia tidak seharusnya berada di luar
rumah malam-malam begini. Aku harus segera mencarinya! Aku khawatir
sesuatu yang tidak kuinginkan telah terjadi padanya. Aku harus!” kata Oscar
bersikeras.
“Kami juga khawatir. Tetapi jangan gegabah, ia tidak sendirian. Nanny
dan Thompson ikut bersamanya, juga dua penjaga kuda. Mereka pasti
menjaganya dengan baik,” kata Frederick menenangkan dirinya sendiri dan
adiknya.
“Ini sudah malam, Fred!” Oscar bersikeras terus.
“Memang ini sudah malam tapi Nanny tidak mungkin membiarkan anak
itu berkeliaran di desa jika matahari sudah terbenam. Kita sama-sama tahu
Nanny sayang sekali padanya, tak mungkin ia akan membiarkannya. Sabarlah
mungkin sekarang ia sedang dalam perjalanan pulang,” kata Frederick.
“Aku juga berharap begitu,” kata Oscar akhirnya mengurungkan niatnya
mencari adiknya.
Kedua kakak Snow Angel selalu berhati-hati menjaganya, mereka selalu
memperlakukannya seperti saat mereka memperlakukannya ketika ia masih
kecil walau kini ia telah berusia delapan belas tahun.
Snow Angel tahu kakaknya memperlakukannya seperti anak kecil karena
37
begitu besarnya rasa sayang mereka padanya dan ia tak pernah bermanja-
manja pada kakak-kakaknya maupun kedua orang tuanya.
“Langit sudah mulai gelap, tapi kenapa Snow Angel belum muncul-
muncul juga?” tanya Oscar gusar.
“Entahlah apa yang terjadi, mengapa ia tak kunjung-kunjung pulang? Apa
yang harus kita katakan nanti bila Mama bertanya tentangnya?” timpal
Frederick.
“Aku juga tidak tahu apa yang harus kita katakan pada Mama nanti. Aku
tak ingin Mama khawatir, ia bisa sakit lagi bila terlalu khawatir,” kata Oscar
bingung.
Frederick baru saja hendak mengusulkan apa yang akan dikatakannya
pada Countess nanti bila ia bertanya mengenai Snow Angel ketika sayup-sayup
terdengar suara kereta mendekat.
Oscar yang berada di jendela segera berseru gembira melihat kereta
milik keluarganya memasuki pekarangan Troglodyte Oinos. “Ia datang! Snow
Angel datang!”
Sesaat kemudian pintu terbuka dan tampak sosok Snow Angel berjalan
masuk. Kegelisahan mereka bertiga langsung lenyap melihatnya membuka
pintu.
Kedua kakak Snow Angel berlari gembira menghampirinya dan kemudian
memeluknya tepat pada saat ia akan menutup pintu.
Snow Angel terkejut karena tiba-tiba dipeluk dengan erat oleh kedua
kakaknya. Ia tak mengira kakak-kakaknya akan langsung memeluknya begitu
ia tiba. Semula ia mengira kedua kakaknya akan marah-marah pada dirinya
karena pulang terlambat untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Vladimer tersenyum geli melihat adegan itu. Sejak kecil, Snow Angel
memang sering dipeluk kakak-kakaknya. Tetapi kali ini sungguh menggelikan
melihatnya dipeluk keduanya sekaligus dengan tiba-tiba.
Ia juga sama sekali tak menduga bahwa mereka akan langsung berlari
mendekati Snow Angel dan memeluknya erat-erat seperti orang tua yang
memeluk anaknya yang baru diketemukan setelah si anak hilang.
“Oh … Snow Angel, lega hatiku melihatmu kembali. Aku khawatir sekali,”
kata Frederick lega.
“Ke mana saja engkau? Engkau membuat kami cemas, tahu!?” kata
Oscar pura-pura marah walau sebenarnya ia memang ingin memarahi adiknya
itu. Ia tahu ia tidak akan pernah bisa marah pada adik kesayangannya itu.
38
“Maafkan aku. Aku keasyikan berbelanja hingga lupa waktu,” kata Snow
Angel setengah berdusta.
Ia memang berbelanja tadi, tapi ia masih menyadari hari yang mulai
malam saat berbelanja tadi.
Perlahan-lahan mereka melepas pelukannya dan memandangnya lekat-
lekat. Mereka berdua memandang heran pada adik mereka.
Mereka berdua sama-sama tahu Snow Angel tak seperti gadis-gadis
lainnya yang selalu royal dalam berbelanja hingga lupa waktu. Snow Angel
selalu berbelanja barang-barang yang diperlukannya saja. Bukan karena semua
keperluannya telah dipenuhi oleh kedua orang tuanya juga kakak-kakaknya,
tetapi itu memang merupakan kebiasaannya sejak kecil.
Sejak kecil ia selalu menolak bila ditawari suatu barang, ia selalu berkata:
“Aku sudah mempunyai banyak barang. Apa yang kubutuhkan sudah
disediakan Papa Mama, bahkan lebih dari yang kubutuhkan. Lebih baik barang
itu disumbangkan saja kepada orang lain.”
“Mengapa engkau tidak pulang terlebih dulu atau setidak-tidaknya
kirimkanlah seseorang untuk memberi tahu kami agar kami dapat
menemanimu berbelanja hingga selarut ini?” tanya Frederick.
“Berbahaya bagimu untuk berbelanja seorang diri hingga larut walaupun
engkau ditemani Nanny. Lagipula tidak biasanya engkau bisa sampai lupa
waktu dalam berbelanja,” tambah Oscar.
“Maafkan aku telah membuat kalian khawatir. Aku tahu aku salah karena
pergi keluar rumah hingga lewat waktu minum teh tanpa ditemani kalian. Tapi
manusia bukanlah makhluk tanpa cela, bukan?”
Teringat akan ibunya, maka Snow Angel bertanya cemas, “Bagaimana
Mama?”
“Mama tidak mengetahui hal ini. Kami sengaja tak memberitahukan hal
ini padanya,” jawab Frederick.
Snow Angel memandang lega pada kedua kakaknya.
Melihat itu, Oscar berkata masam, “Ya, kau boleh lega sekarang, tapi kau
harus menceritakan pada kami apa saja yang kaulakukan hingga pulang
terlambat.”
Snow Angel sudah menduga akan adanya pertanyaan ini, tapi ia tidak
ingin menceritakan segala sesuatunya yang dilakukannya di luar rumah tadi
pada siapa pun.
“Aku pergi berbelanja,” katanya tajam.
39
“Ya, engkau sudah mengatakannya tadi. Tapi mana belanjaanmu? Aku
tidak melihatnya. Aku rasa kau pasti berbohong,” tuduh Oscar.
Sebenarnya ia tidak ingin menuduh adiknya, ia hanya ingin memancing
kemarahan Snow Angel sehingga gadis itu bercerita selengkap-lengkapnya
mengenai apa saja yang terjadi selama perginya hingga ia pulang terlambat. Ia
tahu Snow Angel tidak mungkin mau menceritakan semua pengalamannya
selama berpergian tadi.
“Belanjaanku sudah dibawa masuk oleh Nanny. Ia kusuruh membawanya
melalui pintu belakang,” sembur Snow Angel tajam. “Dan kuminta kalian tidak
menyalahkan orang lain atas tindakanku ini!”
Snow Angel marasa marah dituduh seperti itu, walau ia tahu Oscar tidak
benar-benar bermaksud menuduhnya. Tapi ia tetap merasa jengkel mendengar
tuduhan itu.
Oscar terkejut mendengar ucapan Snow Angel yang tajam itu. Ia
menyesal telah menuduhnya. “Maafkan aku, aku bicara begitu karena aku
khawatir.”
“Aku tahu,” kata Snow Angel dingin.
Vladimer yang sejak tadi diam mendengar percakapan mereka mulai
merasa tidak enak. Ia merasa dirinya dilupakan begitu saja, namun ia mengerti
Frederick dan Oscar terlalu gembira melihat kedatangan Angella sedangkan
Angella sibuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan kedua kakaknya sehingga
melupakan dirinya.
Yang membuatnya merasa tak enak bukanlah karena dilupakan tetapi
adalah suasana yang mulai menengang di antara mereka bertiga.
“Apakah tidak lebih baik bila kalian membiarkan Angella beristirahat dulu
baru kemudian meminta penjelasan darinya lebih lanjut,” usul Vladimer
mencoba mengurangi ketegangan yang terjadi.
Frederick dan Oscar terkejut mendengar kata-kata Vladimer. Mereka
merasa tidak enak pada Vladimer karena baru saja melupakan kehadirannya di
ruang ini dan mereka juga merasa ucapan Vladimer itu benar.
Mereka memandang wajah Snow Angel yang memang menampakkan
sedikit kelelahannya setelah berpergian dan merasa menyesal karena tidak
menyadari kelelahan adik mereka bahkan telah menahannya.
“Kau benar,” kata Frederick pada Vladimer – menyalahkan dirinya sendiri
kemudian ia berkata pada Snow Angel, “ Pergilah beristirahat dulu, kami akan
menanyaimu lagi nanti.”
40
Snow Angel merasa gembira mendengar kata Frederick itu, ia memang
ingin sekali menghindar dari pertanyaan-pertanyaan kakak-kakaknya itu sedari
tadi. Ia tak ingin membiarkan dirinya lebih lama lagi di ruang itu – diiterogasi
habis-habisan.
Tanpa berkata apa-apa, gadis itu pergi meninggalkan Ruang Besar
menuju ke kamarnya. Ia sama sekali tidak mempedulikan keterkejutan
Vladimer akan sikapnya yang acuh.
Saat ini ia merasa ingin lekas bertemu dengan Charlemagne esok. Ia
terlalu gembira untuk memikirkan keterkejutan Vladimer tadi yang
menampakkan ketersinggungannya atas perlakuan acuhnya pada dirinya.

41
6

Di kamar, Nanny telah memasang beberapa lilin dan menyiapkan sebuah


bak mandi baginya. Tanpa mengatakan apa-apa, ia segera membantu Snow
Angel melepaskan pakaiannya. Snow Angel segera masuk ke bak dan
membasuh badannya dengan air hangat di bak itu.
Snow Angel merasa segar kembali setelah selesai mandi, ketika ia
melihat Nanny hendak meraih sebuah gaun malam, lekas-lekas ia mencegah:
“Jangan, Nanny! Ambilkan saja sebuah gaun tidur untukku!”
Kening Nanny mengkerut heran mendengarnya, namun ia tetap meraih
sebuah gaun tidur bagi Snow Angel sesuai dengan permintaannya.
Gaun tidur yang diambil Nanny untuk Snow Angel itu berwarna ungu
muda yang tampak manis dengan lengannya yang panjang dan renda yang
berwarna hijau cerah di bagian leher.
Snow Angel mengerti keheranan Nanny saat ia membantunya
mengenakan gaun tidur itu. Ia tidak ingin membuat wanita yang disayanginya
itu bingung, maka ia menjelaskan:
“Malam ini aku ingin makan di kamar. Tolong katakan hal ini pada
Frederick dan Oscar, Nanny. Aku merasa letih dan ingin lekas beristirahat.”
Nanny mengangguk mengerti, sambil menyisiri rambut Snow Angel yang
telah diuraikannya kembali itu, ia bertanya:
“Anda akan makan malam sekarang atau nanti, Tuan Puteri?”
“Nanti saja, Nanny. Bukankan tak lama lagi tiba waktunya untuk makan
malam ?”
“Kalau begitu saya akan mengambilkan teh untuk Andda, Tuan Puteri.
Tadi sore Anda tidak makan atau minum apapun.”
Snow Angel mengangguk perlahan. Saat ini ia memang haus dan lelah.
Tapi ia tidak begitu merasa lapar. Dibiarkannya Nanny keluar kamarnya untuk
mengambilkan secangkir teh baginya.
Kini ia sendirian di kamarnya yang besar itu, dipandanginya kotak-kotak
yang berisi barang-barang yang tadi dibelinya dari Shawky Market untuk
Charlemagne serta Mr dan Mrs Boudini yang berada di dekat kaki meja riasnya
yang terbuat dari kayu mahony yang diukir dengan indahnya.
42
Kemudian ia melangkahkan kakinya ke serambi kamarnya. Angin malam
yang bertiup menembus gaun tidurnya yang tipis membuat kulitnya
kedinginan. Tetapi ia tidak menghiraukannya, saat ini pikirannya melayang jauh
memikirkan banyak hal. Pandangan matanya menerawang jauh ke depan
menembus kegelapan malam.
Sebuah gagasan muncul dalam benaknya tepat ketika Nanny masuk ke
kamarnya kembali dengan membawa sebuah nampan di tangannya.
Nanny terpekik kaget melihatnya berdiri di serambi dengan hanya
mengenakan gaun tidurnya yang tipis membuyarkan lamunannya:
“Ya ampun, Tuan Puteri! Apa yang Anda lakukan? Anda bisa jatuh sakit
bila berdiri di sana terus-terusan tanpa mengenakan mantel.”
Nanny meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja rias, lalu
mendekati Snow Angel yang masih agak terkejut. Ia membimbing Snow Angel
masuk dan kemudian menutup jendela yang menuju ke serambi.
Tirai-tirai jendela itu yang menyentuh lantai dibiarkannya terbuka agar
sinar bulan dapat masuk ke kamar ini. Snow Angel masih belum pulih dari
keterkejutannya sehingga ia diam saja.
“Mengapa Anda tadi berdiri di luar tanpa mengenakan mantel, Tuan
Puteri? Walaupun sekarang sudah menjelang musim semi, tetapi angin dingin
yang bertiup dapat membuat Anda sakit,” nasihat Nanny lembut sambil
menuangkan teh dan menyodorkannya kepada Snow Angel.
“Minumlah teh hangat ini, Tuan Puteri agar badan Anda menjadi hangat
dan tidak sampai jatuh sakit setelah berdiri di serambi tadi.”
Snow Angel menerima teh itu dari tangan Nanny dan meminum
beberapa teguk sebelum menyerahkannya kembali itu kepada Nanny.
“Terima kasih, Nanny. Sudahkan kau sampaikan pesanku kepada
Frederick dan Oscar?”
“Sudah, Tuan Puteri. Mereka juga berpesan kepada saya untuk
menyampaikan kepada Anda agar Anda segera tidur dengan nyenyak.”
Snow Angel tersenyum ragu-ragu dalam hati mendengar pesan kakak-
kakaknya itu, ia ragu apakah ia sanggup tidur dengan nyenyak malam ini. Ia
merasa terlalu gembira untuk tidur nyenyak. Namun ia menahan perasaannya
itu dengan berkata:
“Dapatkah engkau mengambilkan beberapa helai kertas dan pena
untukku, Nanny?”
Nanny terkejut mendengar permintaan Snow Angel, ia tidak menduga
43
gadis ini akan memintanya mengambil beberapa kertas dan pena baginya. Ia
berharap gadis ini lekas tidur seperti yang dipesankan kakak-kakaknya, sebab
gadis ini tampak lelah walaupun Snow Angel tidak mengakuinya.
“Tentu saja, Tuan Puteri. Tetapi untuk apa, Tuan Puteri?” tanya Nanny
ingin tahu.
“Ambilkan saja untukku, Nanny. Ambilkan dari ruang perpustakaan. Kau
tahu tempatnya bukan?” kata Snow Angel menegaskan permintaannya.
“Ya, saya tahu tempatnya. Tapi …” jawab Nanny ragu-ragu.
“Ayolah, Nanny. Ambilkan untukku,” desak Snow Angel setengah
memohon.
Mendengar desakan Snow Angel yang memohon itu, hati Nanny tergerak.
Ia bingung tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukannya, menuruti Snow Angel
atau menyuruhnya beristirahat. Saat ini ia menginginkan Snow Angel
beristirahat, namun hati kecilnya juga memintanya untuk menuruti permintaan
Snow Angel.
Snow Angel memperhatikan Nanny yang kebingungan itu. Ia ingin
memberi waktu kepada Nanny untuk berpikir sebelum mengambil keputusan.
Ia tidak akan memaksa pengasuhnya itu.
Bila pengasuhnya itu menolak dan memintanya untuk tidur, maka ia
akan pura-pura tidur. Lalu setelah Nanny meninggalkan kamarnya, ia akan
pergi diam-diam ke ruang perpustakaan untuk mengambil beberapa helai
kertas dan pena.
Snow Angel hanya dapat diam – memandang Nanny sambil berharap
Nanny mau mengambilkan apa yang diinginkannya saat ini. Ia sama sekali tak
sadar kalau Nanny tergerak hatinya saat memandang wajahnya yang penuh
harapan itu.
Ia merasa putus asa, “Nanny akan menyuruhku tidur dan tidak akan
mengambilkannya untukku,” pikirnya.
Snow Angel bukanlah gadis yang suka main perintah pada orang lain.
Kalaupun ia memberi perintah, biasanya perintahnya itu lebih halus kata-
katanya sehingga lebih terasa sebagai permintaan bukan perintah.
Mungkin itulah sebabnya mengapa tiap ia memberi perintah, orang lain
pasti melakukannya dengan sepenuh hati. Walau mula-mula mereka ragu-ragu,
seperti Nanny saat ini. Wanita tua ini ragu-ragu tetapi akhirnya ia berkata:
“Baiklah, Tuan Puteri. Akan saya ambilkan.”
Snow Angel tersenyum puas mendengarnya. Dipandanginya sosok Nanny
44
yang berjalan ke pintu kamarnya kemudian menghilang di balik pintu itu. Ia
tahu sekali Nanny jarang menolak permintaannya, Nanny selalu berusaha
menuruti permintaannya sejak ia masih kecil.
Sambil duduk di kursi depan perapian kamarnya, ia mulai merangkai
kata-kata yang akan ditulisnya pada kertas itu nanti. Pada kertas-kertas itu
akan ditulisnya sebuah surat yang mengabarkan kedatangan Charlemagne
kepada nenek serta ibunya. Ia yakin nenek Charlemagne akan senang
mendengar berita ini, tetapi entah sang ibu akan senang atau tidak.
Ia bimbang sebaiknya memberitakan kabar ini pada mereka atau tidak,
dipikirkannya kembali gagasan ini masak-masak. Ia tidak ingin membuat
mereka gusar terutama Ibu Charlemagne walau ia tahu Nenek Charlemagne
pasti gembira mendengar kabar ini.
Tapi merupakan suatu kesalahan besar bila tidak memberitahu mereka
kabar ini atau setidak-tidaknya memberitahukan kedatangan Charlemagne ini
kepada neneknya. “Ya, aku akan memberitahukan kabar ini kepada nenek
Charlemagne dulu baru kemudian ibunya,” gumamnya sendiri.
Ia memandang pintu menanti kedatangan Nanny. Lama ia memandang
pintu itu menanti Nanny, ia mulai berpikir apa yang sedang dilakukan Nanny
sehingga tidak segera muncul-muncul.
Sesaat kemudian terdengar langkah-langkah kaki di koridor depan
kamarnya. Langkah-langkah kaki itu bukan langkah-langkah ringan seorang
wanita seperti yang diharapkannya, melainkan langkah-langkah berat seorang
pria yang dikenalnya dengan baik sebagai langkah Frederick.
Frederick terus berjalan melewati kamarnya sendiri dan berhenti di
depan pintu kamar Snow Angel. Snow Angel menjadi kesal mendengar
kakaknya yang mengetuk pintu bukan Nanny seperti yang sedang
diharapkannya.
Ia tidak ingin mendengar ceramah Frederick untuk malam ini. Ia ingin
segera lekas menulis surat bagi nenek dan ibu Charlemagne.
“Masuk!” serunya dingin menandakan kekesalan hatinya.
Ia memandang kesal pada Frederick yang berjalan ke arahnya. Di
tangannya, ia memegang beberapa helai kertas dan sebuah pena seperti yang
sedang diinginkannya saat ini.
Tiba-tiba muncul prasangka buruk dalam hatinya, muncul perasaan
bahwa Frederick telah mengetahui semua yang dilakukannya selama ia pergi
tadi dari Nanny. Ia menyesal tidak meminta Nanny untuk merahasiakan segala
45
tindakannya tadi kepada Frederick dan Oscar.
Dilihatnya raut wajah Frederick yang aneh yang nampak seperti
menahan perasaan entah perasaan apa.
Ia akan memarahiku, pikir Snow Angel kesal.
Frederick berjalan hingga sampai di samping adiknya. Ditatapnya lekat-
lekat wajah adiknya seolah tak ingin membiarkan Snow Angel kabur. Ia
mengangkat barang yang dibawanya dan melambai-lambaikan barang itu
sambil berkata:
“Kata Nanny, kau meminta kertas dan pena ini. Boleh aku tahu untuk apa
kertas dan pena ini?”
“Menulis,” jawab Snow Angel singkat.
Frederick menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban
adiknya. “Ya, aku tahu bila seseorang membutuhkan pena dan kertas, ia pasti
akan menulis. Yang kuingin tahu darimu adalah kau ingin menulis apa pada
kertas ini?”
“Kau tak perlu tahu,” jawab Snow Angel dingin.
Frederick tersenyum lembut pada adiknya, diletakkannya kertas-kertas
dan pena itu di pangkuan Snow Angel. Lalu ia duduk di atas lantai yang
berpermadani itu di samping adiknya sambil tetap memandangi wajah adiknya.
“Kau akan menulis surat?” tanyanya hati-hati.
Snow Angel diam tidak menanggapi pertanyaan Frederick. Ia
memandang ke depan ke perapian yang tak menyala itu. Pandangan matanya
menerawang di keremangan kamarnya terus menembus ke dalam kegelapan
perapian itu.
Sesaat kemudian terasa tangannya ditepuk-tepuk lembut penuh kasih
sayang oleh Frederick. Ia diam tak bereaksi – tetap memandang ke depan.
“Kenapa tak kau katakan kepadaku saja?” tanya Frederick lembut.
Snow Angel langsung menoleh – menatap wajah Frederick mendengar
pertanyaan Frederick itu. “Kepadamu?”
“Aku tahu. Aku tahu semuanya…”
“Dari Nanny?” potong Snow Angel tajam.
“Ya,” kata Frederick menganggukan kepalanya, “Nanny mengatakan
kalau kalian pergi ke Panti Asuhan Gabriel sebelum berbelanja.”
“Lalu?” potong Snow Angel lagi sambil memincingkan matanya hendak
menyelidiki apa saja yang diketahui Frederick.
“Lalu aku mengambil kesimpulan kalau kau akan meminta kepada Papa
46
untuk membantu Panti Asuhan Gabriel itu saat Nanny muncul ke Ruang
Perpustakaan hendak mengambilkanmu kertas dan pena.”
“Oh ya,” kata Snow Angel sinis.
Frederick menghela napas dalam-dalam dan menepuk tangan adiknya
lagi. “Nanny juga bercerita kepadaku tentang keadaan panti itu. Dan kau tahu
kalau selama Papa pergi, akulah yang mengurus segala-galanya. Lagipula aku
tak pernah menolak permintaanmu, bukan?”
Snow Angel pandangan matanya ke perapian lagi. Dibiarkannya tangan
Frederick memegang tangannya. Ia merasa lega Nanny tak menceritakan
kepada kakak-kakaknya bahwa tadi ia pergi berbelanja sendiri, dan kini
Frederick menduga ia akan menulis surat pada Earl, ayah mereka.
Tapi ia juga cemas memikirkan ia terpaksa harus berbohong pada
Frederick. Ia tidak ingin membohongi kakaknya.
Frederick diam memandang adiknya. Ia berusaha membaca perasaan
adiknya, berusaha mengerti apa yang sedang dipikirkan adiknya itu.
Sesaat suasana menjadi hening dalam kamar itu, sebelum pada akhirnya
Frederick berkata:
“Aku tahu kau marah padaku atas kelakuan kami sewaktu engkau tiba
tadi sehingga engkau tidak mau menceritakannya kepadaku.”
Frederick diam sejenak untuk mengetahui reaksi Snow Angel. Adiknya
diam saja – tak bereaksi apa pun, maka ia menduga tebakannya tepat.
“Maafkan kami, Snow Angel. Kau tahu kami tadi berbuat begitu karena kami
mengkhawatirkan dirimu. Kami tak bermaksud menyalahkanmu, kami hanya
cemas menunggumu,” lanjutnya.
Snow Angel merasa sedih mendengar kata-kata Frederick yang terasa
memohon itu. Dipandanginya wajah kakaknya dengan pandangan mengiba.
“Tak ada suatu pun yang perlu dimaafkan. Kalian tak perlu minta maaf padaku.
Aku sendiri juga bersalah dalam hal ini, aku membuat kalian cemas. Lagipula
aku tidak sedang marah pada kalian.”
“Kau tahu aku tidak pernah marah pada kalian. Aku tahu kalian berbuat
seperti itu karena sayang padaku dan tak ingin sesuatu yang tak diharapkan
terjadi padaku. Tapi, Freddy, tak dapatkah kau dan Oscar berhenti
memikirkanku atau setidak-tidaknya pikirkan juga diri kalian.”
Frederick terkejut mendengar kalimat terakhir adiknya. Ia terpekik kaget,
“Apa maksudmu berbicara begitu? Kau itu …”
Frederick tidak dapat melanjutkan kata-katanya, jari-jari adiknya
47
menahan kata-katanya di mulutnya.
“Oh … Freddy jangan marah. Bukan maksudku untuk menyinggung
perasaanmu. Aku tahu kau akan selalu memikirkanku karena aku adikmu.
Maksudku tak pernahkah kau dan Oscar berpikir tentang masa depan kalian.”
Frederick mengangkat tangan adiknya dari mulutnya dan
menggenggamnya. “Aku tiap hari selalu berpikir tentang itu. Tiap hari aku
berpikir mengenai masa depanmu dengan seorang pria yang tampan dan
gagah seperti Vladimer, misalnya,” kata Frederick. Mata Frederick bersinar-
sinar membayangkan hal itu, secercah senyum bahagia tersungging di
bibirnya.
Tak disadarinya perubahan muka adknya yang kini menjadi kaku dan
tegang. Adiknya itu tak pernah sekalipun memikirkan masa depan khususnya
yang menyangkut pernikahan bagi dirinya. Ia senantiasa memikirkan kakak-
kakaknya.
“Freddy, bukan masa depanku yang kumaksudkan,” sahutnya kaku,
“Yang aku maksudkan masa depanmu dan Oscar. Tidak sadarkah engkau, kau
ini semakin tua bukan semakin muda begitu juga Oscar. Tahun ini saja umurmu
sudah 33 tahun dan Oscar 28 tahun, tetapi kalian tidak …”
“Berhenti! Aku tahu kelanjutannya, tidak perlu dilanjutkan. Mama Papa
sudah sering mengatakannya,” potong Frederick cepat-cepat sebelum adiknya
menyelesaikan kalimatnya.
Ia merasa bosan mendengar kalimat-kalimat yang bernada hampir sama
dengan kalimat adiknya. Memang sudah sering kedua orang tuanya memberi
nasehat padanya mengenai usianya yang semakin tua tetapi belum menikah
padahal ialah yang kelak diharapkan untuk menggantikan ayahnya.
Snow Angel tertegun mendengar kata-kata kakaknya itu, tak pernah
dikiranya orang tuanya sudah sering mengucapkan hal itu pada kedua
kakaknya juga, sebab selama ini tak pernah sekalipun mereka berbicara
tentang hal tersebut di depan matanya.
Selama ini ia selalu mengira bahwa kedua orang tuanya merasa bahwa
kedua kakaknya itu sudah mengerti akan hal itu sehingga tak perlu mereka
memperingati kedua kakak-kakaknya itu.
“Mama Papa?”
“Ya.”
“Kapan? Mengapa aku tidak tahu?” tanya Snow Angel heran.
“Mereka membicarakannya padaku dan Oscar bila kau tak ada.”
48
“Mengapa mereka tak membicarakannya selagi aku ada?”
“Karena permintaanku.”
“Permintaanmu?” ulang Snow Angel.
“Ya.” Frederick menganggguk membenarkan pernyataan tadi.
“Mengapa?”
“Karena aku tidak ingin engkau memikirkannya juga. Tapi sungguh tak
kusangka ternyata engkau juga memikirkannya, selama ini kau tampak selalu
acuh. Kau ini memang sulit ditebak,” jawab Frederick menggoda adiknya.
“Karena aku juga telah ikut memikirkannya, maka maukah engkau mulai
sekarang memikirkan hal ini juga?”
“Tidak,” jawabnya tegas.
“Mengapa?” tanya Snow Angel berusaha memahami jalan pikiran
kakaknya.
“Karena janji,” jawab Frederick singkat tak mau menjelaskan lebih lanjut.
Namun hal ini membuat adiknya semakin ingin mengetahui jalan pikiran
Frederick yang tak mau memikirkan masa depannya sendiri. “Janji apa?” desak
Snow Angel.
Frederick menggelengkan kepalanya menolak menjawab pertanyaan
adiknya. Ia memandang wajah adiknya dalam keremangan cahaya lilin di
ruangan itu. Wajah adiknya menyorotkan keinginan agar pertanyaannya
dijawab dengan jujur.
Hati Frederick terombang-ambing antara keinginan menolak pertanyaan
itu dan keinginan untuk mengabulkan keinginan adiknya.
Bukan hanya sekali ini saja ia bimbang karena adiknya yang satu ini.
Acap kali apa yang dianggapnya paling baik bagi Snow Angel bertentangan
dengan keinginan adiknya itu. Dan biasanya pada akhirnya ia mengalah pada
keinginan adiknya.
“Karena janjiku pada diriku sendiri,” jawab Frederick pada akhirnya,”
Janjiku sewaktu engkau lahir.”
“Aku?” kata Snow Angel tak mengerti.
“Waktu engkau lahir, aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu
menjagamu. Bahkan …,” jelasnya, “Bahkan … aku berjanji untuk tidak
memikirkan kepentingan diriku sendiri sampai engkau benar-benar mandiri.”
“Aku sekarang telah dewasa, bukan? Kurasa sekarang engkau dapat
mulai memikirkan dirimu sendiri.”
“Tidak, aku masih belum dapat melakukannya,” bantah Frederick.
49
“Mengapa?” tuntut Snow Angel.
“Di usiamu yang sekarang ini, engkau memang telah dewasa. Tapi aku
masih menganggap kedewasaanmu itu belum cukup matang untuk
membuatku berhenti mencemaskanmu.”
“Apa yang masih kurang pada diriku sehingga kau masih belum dapat
berhenti mencemaskanku?”
“Pendamping! Sampai saat itu tiba, aku tidak dapat berhenti. Aku baru
rela berhenti mencemaskanmu bila engkau telah berada di tangan orang yang
tepat.”
“Freddy, kurasa selama ini aku sudah punya pendamping seperti yang
kaukatakan. Selama ini kau dan Oscar selalu mendampingiku ke mana pun aku
pergi.”
“Sudahlah, jangan membujukku terus menerus. Sekarang, engkau mau
mengatakan permintaanmu pada Papa?”
“Entahlah.”
“Mengapa…,” kata Frederick terhenti oleh suara ketukan pintu. “Kurasa
Nanny yang datang.”
Frederick bangkit kemudian meminta penegasan dari adiknya,
“Berjanjilah bahwa kau akan menceritakannya padaku.”
Snow Angel memikirkannya apa yang harus dilakukan agar rahasia tetap
menjadi rahasia. Setelah menimbang masak-masak jawaban yang akan
diutarakannya, ia akhirnya menganggukan kepala.
Frederick tersenyum puas melihatnya, “Bila demikian halnya, engkau
sudah tidak memerlukan kertas-kertas itu lagi.”
“Tidak, biarkan saja barang-barang ini tetap di sini,” sahutnya.
Setelah mencium pipi adiknya dan mengucapkan selamat malam,
Frederick meninggalkan adiknya yang kini ditemani Nanny.
“Silakan makan, Tuan Puteri! Makanan telah saya siapkan.”
Gadis itu bangkit kemudian meletakkan barang-barang di pangkuannya
itu di meja rias. Nafsu makannya hilang setelah percakapannya dengan
kakaknya tadi. Namun demi menyenangkan hati wanita tua itu, ia memakan
makanan itu.
Nanny segera membawa makanan-makanan itu ke dapur setelah Snow
Angel menyelesaikan makan malamnya.
Kini Snow Angel sendirian di kamarnya. Ia duduk di depan meja rias dan
mulai menulis surat bagi Mrs. Dellas, nenek Charlemagne. Disimpannya surat
50
itu di laci meja tersebut kemudian ia berbaring di tempat tidurnya.

51
7

Matahari bersinar lembut menyibakkan kabut tipis di dalam hutan


sekeliling Troglodyte Oinos. Daun - daun meneteskan embun pagi yang
berkilau-kilauan tertimpa sinar mentari pagi. Udara pagi yang dingin tak
menyurutkan keinginan Snow Angel untuk berjalan-jalan di hutan itu.
Kakinya terus melangkah makin dalam ke hutan itu. Sebentar-sebentar ia
berhenti untuk mengamati alam sekitarnya. Senandung kicau burung pagi
menghilangkan kegundahan hatinya. Bibirnya bersenandung kecil mengikuti
nyanyian burung-burung pagi.
Ketika matahari mulai melenyapkan kabut tipis hutan itu, ia berbalik
pulang. Belum jauh ia berjalan kembali ke rumahnya tatkala ia melihat semak-
semak di depannya bergoyang-goyang dan kemudian muncul sesosok anak
kecil.
“Hai,” sapanya.
Anak yang disapanya itu berlari keluar dari semak-semak tempatnya
semula menuju ke arahnya. “Hai,” balas anak itu.
“Kenalkan namaku Charlemagne, tapi semua orang memanggilku
Charlie,” katanya sambil mengulurkan tangannya pada Snow Angel.
Snow Angel terhenyak mendengar nama anak itu. Bukan main
senangnya hatinya melihat anak itu. Tak disangkanya ia akan bertemu
dengannya secepat ini. Ia tadinya berencana akan menemuinya serta Mr dan
Mrs. Boudini sore ini di Boudini’s Theatre tapi nyatanya ia bertemu dengan
Charlemagne sekarang secara kebetulan di hutan sekeliling rumahnya.
Snow Angel menyambut tangan kecil itu. “Saya Angella, orang-orang
memanggilku Snow Angel,” katanya memperkenalkan diri.
“Anda Snow Angel yang terkenal itu ya!?” seru Charlemagne.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Snow Angel terheran-heran.
“Kemarin waktu kami baru tiba, saya mendengar banyak orang yang
membicarakan Anda. Kata mereka Anda cantik sekali seperti bidadari tapi saya
tak percaya. Makanya pagi ini saya sengaja datang kemari dan berharap dapat
bertemu Anda.”
“Sekarang saya percaya pada perkataan mereka. Anda memang seperti
52
malaikat yang sering Ibu ceritakan padaku. Sayang mereka salah dalam satu
hal, mereka mengatakan Anda dingin. Tetapi saya melihat Anda tidak dingin,
buktinya tangan Anda hangat,” jelas Charlemagne panjang lebar.
Snow Angel tersenyum melihat anak itu bercerita panjang lebar seperti
tak ada habis-habisnya. Diam-diam ia mengagumi keberanian dan kecerdasan
Charlemagne.
Tidaklah mengherankan baginya melihat keberanian dan kecerdasan
anak yang baru berusia empat tahun itu. Sejak bayi, Charlemagne sudah
tinggal dalam lingkungan teater. Justru akan membuatnya heran bila seseorang
yang tinggal dalam lingkungan teater menjadi penakut.
Namun ia tetap mengagumi keberanian Charlemagne yang berani
datang sendirian ke Troglodyte Oinos yang letaknya agak terpencil dari desa
terdekat sepagi ini.
Suasana sekitar Troglodyte Oinos memang terkesan menyeramkan.
Rumah ini dikelilingi oleh hutan yang sekaligus menjadi “tembok pembatas”
antara rumah ini dengan desa terdekat.
Namun, hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri dari rumah ini. Rumah
yang dikelilingi hutan ini bagaikan gua tempat tinggal manusia purba di tengah
hutan pada masa purba.
Rumah ini dibangun oleh kakek moyangnya. Kakek moyangnya itu
senang akan kesunyian, karena itulah ia mendirikan rumah yang dikelilingi
hutan.
Ia juga memberi nuansa Yunani Kuno pada rumah itu karena kakek
moyangnya mengagumi budaya Yunani Kuno antara lain memberi nama yang
berasal dari Bahasa Yunani bagi rumah yang didirikannya itu.
Sewaktu orang-orang mendengar kakek moyangnya itu akan mendirikan
rumah di tengah hutan, banyak dari mereka yang menganggapnya aneh. Tak
sedikit teman-teman kakeknya itu yang menggodanya sewaktu pembangunan
rumah itu mulai dilaksanakan.
Tetapi rupanya jerih payah kakek moyangnya dalam mendirikan rumah di
tengah hutan itu tidak sia-sia. Terbukti sejak didirikannya Troglodyte Oinos,
tidak ada seorang pun dari teman-teman kakeknya yang mengejek rumah itu.
Banyak di antara mereka yang mengagumi rumah ini. Beberapa di antara
mereka memberi nama ‘Heaven in The Middle of The Jungle’ pada Troglodyte
Oinos karena keindahan rumah ini.
Rumah yang dikelilingi hutan ini memang indah. Bangunan utamanya
53
dikelilingi kebun yang cantik dengan sebuah kolam air mancur indah yang juga
turut menghiasinya di tengah jalan menuju rumah ini.
Pada bagian dalam rumah ini banyak sekali ukiran-ukiran yang
bernuansa Yunani Kuno. Tidak sedikit pula patung dewa-dewi Yunani Kuno yang
terdapat di dalam rumah ini. Kesemuanya itu menambah indahnya rumah ini.
Saat itu Troglodyte Oinos banyak dibicarakan orang, sebab kakeknya itu
merupakan satu-satunya bangsawan yang mendirikan rumah di tengah hutan.
Namun tak seorangpun di antara mereka yang tidak mengagumi keindahan
Troglodyte Oinos.
Kakek moyangnya itu memiliki keahlian sebagai seorang arsitektur. Ia-lah
yang merancang pembuatan Troglodyte Oinos dan bagian-bagian dalam rumah
ini. Kakeknya itu merancang sedemikian rupa sehingga siapa pun yang tinggal
di rumah ini tidak akan merasa bosan ataupun terpencil walaupun dikelilingi
hutan.
Semua anak-cucunya tidak ada yang mengeluh karena tinggal di rumah
yang dikelilingi hutan. Pelayan-pelayan pun tidak ada yang merasa terpencil.
Semua merasa senang tinggal di rumah yang dibangun kakek moyangnya itu.
“Bagaimana kabar Mr dan Mrs. Boudini? Apakah mereka tahu engkau
kemari?”
“Mereka baik-baik saja,” jawabnya lalu ia meneruskan dengan nada
bersalah, “Mereka tidak mengetahui kepergianku kemari.”
“Seharusnya engkau memberitahu mereka tentang kepergianmu ini juga
engkau seharusnya tidak pergi sendirian kemari. Engkau telah membuat Mr
dan Mrs. Boudini cemas,” nasehat Snow Angel.
“Saya tahu. Saya meyesal tak memberitahu ayah ibu bahwa saya akan
pergi ke sini, pasti sekarang mereka cemas akan keadaanku. Saya berjanji
pada Anda tidak akan mengulanginya lagi dan juga saya berjanji akan meminta
maaf pada ayah ibu.”
“Saya senang engkau menyesali tindakanmu itu. Tapi jangan hanya
berjanji padaku bahwa engkau tidak akan mengulanginya lagi. Engkau juga
harus berjanji pada mereka.”
“Saya mengerti.”
“Nah, Charlie. Tadi engkau mengatakan engkau ingin bertemu denganku,
bukan?” Charlemagne mengangguk kemudian Snow Angel meneruskan,
“Sekarang saya ingin mengundangku ke rumahku. Kau mau?”
“Mau!” seru Charlie girang, “Tapi…”
54
“Soal orang tua baptismu jangan khawatir. Akan kukirimkan seseorang
untuk memberitahu mereka kalau engkau ada bersamaku.”
“Orang tua baptis? Saya tidak mempunyai orang tua baptis,” kata
Charlemagne membenarkan ucapannya.
Snow Angel termangu-mangu mendengar ucapan Charlie. Ia merasa ada
sesuatu yang salah sepanjang yang diketahui anak ini. Ia memutuskan tidak
bertanya lebih jauh tentang itu kepada Charlie sebelum menanyakannya lebih
dahulu kepada Mr dan Mrs. Boudini.
“Maaf. Maksudku, saya akan mengirim seseorang untuk memberitahu
ayah ibumu bahwa engkau ada bersamaku di sini sehingga mereka tidak
cemas sementara engkau kuundang ke rumahku. Bagaimana engkau setuju?”
ulang Snow Angel.
“Setuju!” seru anak itu kembali sambil menarik tangan Snow Angel.
Snow Angel tersenyum melihat kegirangan anak itu. Sepanjang jalan
anak itu bercerita tentang teman-temannya di Boudini’s Theatre, tentang
pertunjukan-pertunjukan Boudini’s Thetre, tempat-tempat yang dikunjunginya
dan berbagai hal yang telah dialaminya.
Sambil bercerita, Charlie sesekali melucu dengan menirukan tingkah
teman-temannya yang membuat Snow Angel yang jarang tertawa itu mau tak
mau tertawa melihatnya.
Mereka terus berjalan mendekati Troglodyte Oinos. Ketika kolam air
mancur di depan Troglodyte Oinos mulai tampak jelas, Charlie berseru
kegirangan dan berlari mendekati kolam itu.
“Charlie, jangan berlari! Nanti jatuh,” seru Snow Angel mencegah Charlie.
Namun Charlie terus berlari mendekati kolam itu. Snow Angel mempercepat
langkahnya mendekati Charlie.
Ketika ia tiba di sisinya, Charlie langsung berseru,” Ini rumah Anda?
Indah sekali!”
“Kau suka?” tanya Snow Angel.
“Ya,” jawabnya, “Apa nama rumah ini?”
“Troglodyte Oinos.”
“Trog… Troglog … Ah, bukan itu. Apa namanya?” kata Charlie sebal.
Snow Angel tertawa melihat kesebalan Charlie hanya karena tak dapat
mengucapkan nama rumah ini dengan tepat.
“Troglodyte Oinos,” ulang Snow Angel.
“Sulit sekali mengucapkan nama rumah ini,” keluh Charlie.
55
“Tentu saja sulit. Sebab nama rumah ini dari Bahasa Yunani,” kata Snow
Angel membesarkan hati anak itu.
“Bahasa Yunani?” ulang Charlie.
Snow Angel menganggukan kepalanya.
“Pantas namanya sulit kuucapkan dan terdengar aneh,” kata Charlie,
“Apa artinya?”
“Troglodyte berarti ‘seorang memasuki gua’ sedangkan Oinos artinya
‘rumah’. Jadi arti Troglodyte Oinos adalah ‘rumah manusia gua,” jelas Snow
Angel.
“Rumah manusia gua? Aneh sekali!”
“Menurutku tidak.”
“Mengapa?”
“Karena nama itu tepat dengan suasana di sekitar rumah ini yang
dikelilingi hutan. Seperti gua tempat tinggal manusia purba yang letaknya di
tengah hutan.”
“Aku tak mengerti,” kata Charlie.
“Kelak engkau akan mengerti.”
Charlie kemudian sibuk memperhatikan kolam di depannya itu
sementara Snow Angel duduk di tepi kolam sambil memperhatikan Charlie
tanpa menyadari sepasang mata yang sedang mengamati mereka.
Rupanya tidak hanya mereka berdua saja yang berada di sekeliling kolam
itu. Agak jauh dari kolam itu di balik sebuah pohon seorang laki-laki mengawasi
mereka dari kejauhan. Orang itu tak lain adalah Vladimer.
Seperti halnya mereka berdua, ia baru saja dari berjalan-jalan di hutan
sekeliling Troglodyte Oinos. Semula ia akan berjalan terus masuk ke dalam
hutan itu, tapi ia tiba-tiba mendengar suara seruan. Segera ia mendekati asal
seruan tersebut dan mendapati Angella bercakap-cakap dengan anak kecil. Ia
memandang takjub pemandangan di depannya itu. Ia merasa sukar
mempercayai apa yang dilihat matanya itu.
Sukar dipercaya memang melihat gadis itu tertawa riang. Gadis itu
terkenal sedemikian dinginnya sehingga orang-orang percaya sukar
membuatnya tertawa bahkan sebagian dari mereka percaya gadis itu tidak
dapat tertawa riang.
Namun apa yang dilihatnya kini benar-benar berbeda dengan pendapat
orang mengenai gadis itu. Ia melihat dan mendengar sendiri Angella bercanda
dengan anak kecil itu.
56
“Siapa mereka?” tanya Charlie sambil menunjuk patung dewa-dewi
Yunani yang menghiasi kolam itu.
“Mereka adalah dewa-dewi Yunani Kuno,” jawab Snow Angel.
“Ini siapa?” tanyanya sambil menunjuk sebuah patung.
“Itu dewa Apollo, putra dewa Zeus. Ia itu dewa kesusastraan sedangkan
ayahnya adalah raja segala dewa. Ini patungnya,” kata Snow Angel menunjuk
patung yang lain.
“Hebat sekali! Saya juga mau menjadi raja para dewa.”
“Tetapi menjadi raja para dewa itu berat sekali.”
“Berat?”
“Ya, engkau akan mempunyai banyak tugas. Engkau harus berbuat ini…
berbuat itu. Pokoknya banyak sekali sehingga engkau tidak punya waktu untuk
bermain.”
Charlie termenung murung dan berkata, “Saya tidak lagi berniat ingin
menjadi raja para dewa. Kasihan Dewa Zeus. Ia tidak bisa bermain-main seperti
saya. Pasti sekarang ia repot sekali, ya?”
Snow Angel tersenyum geli melihat keluguan Charlie.
“Mamanya Dewa Apollo mana?” tanya Charlie sambil memandangi
patung-patung itu satu per satu.
“Ini. Namanya Dewi Hera,” tunjuk gadis itu.
“Lalu yang lainnya ini siapa?” tanya Charlie ingin tahu.
“Yang ini putri Dewa Zeus, Dewi Athena. Di sisi kirinya itu adalah Dewi
Aphrodite. Lalu yang memegang tombak berujung tiga itu Dewa Poseidon.”
“Mereka tentu hebat-hebat,” seru Charlie kagum.
“Benar, mereka semuanya hebat. Tetapi dewa-dewi Yunani Kuno itu
banyak sekali, tidak hanya mereka ini.”
“Benarkah? Maukah Anda memberi tahuku?”
“Tentu, tetapi tidak sekarang. Sekarang kita masuk dulu dan makan pagi.
Engkau belum makan pagi, bukan?”
Charlie mengangguk membenarkan Snow Angel.
”Anda berjanji akan menceritakan tentang dewa-dewi itu pada saya?”
mohon Charlie.
“Ya, saya berjanji akan menceritakannya padamu, anak manis,” tegas
Snow Angel, “Sekarang mari kita masuk.”
Dibimbingnya anak itu meninggalkan kolam air mancur yang sejak tadi
dikaguminya itu, langsung menuju ke kamarnya.
57
Ketika ia masuk ke kamarnya, ia mendapati Nanny sedang merapikan
kamarnya.
Nanny terkejut melihat kedatangannya bersama seorang anak laki-laki. Ia
baru saja hendak bertanya mengenai anak itu ketika Snow Angel berkata:
“Nanny, saya ingin makan pagi bersama anak ini di Ruang Kanak-Kanak.”
Snow Angel tidak ingin memberi penjelasan kepada Nanny mengenai
anak yang dibawanya itu. Segera, setelah menyampaikan pesannya pada
Nanny, ia meninggalkan kamarnya dan mengajak Charlie ke Ruang Kanak-
Kanak.
Nanny memaklumi sikap gadis itu yang tak ingin memberi penjelasan
mengenai anak yang dibawanya serta dari berjalan-jalan di sekitar Troglodyte
Oinos.
“Mungkin Tuan Puteri tidak tahu siapa anak itu sehingga ia tidak berkata
apa-apa mengenai anak laki-laki itu,” pikir Nanny sambil mengawasi sosok
mereka berdua yang menghilang di balik pintu, “Tapi siapakah anak itu? Dari
mana Tuan Puteri menemukan anak itu? Mengapa sepagi ini anak itu berada di
hutan sekitar rumah ini?”
Nanny terus berpikir berusaha menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan
yang muncul di benaknya. Tetapi ia tetap tidak dapat menjawabnya. Ia merasa
kecewa tidak dapat menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Dengan segera ditepisnya perasaan itu dan ia mulai menyelesaikan
tugasnya merapikan kamar Snow Angel. Selesai merapikan kamar gadis itu, ia
bergegas ke dapur hendak mengambilkan sarapan pagi bagi Snow Angel dan
anak itu.
Juru masak yang melihat Nanny menyiapkan sarapan pagi untuk dua
orang, bertanya heran:
“Untuk siapa saja Anda menyiapkan sarapan pagi itu, Nanny?”
“Untuk Tuan Puteri dan seorang anak kecil yang dibawanya,” jawab
Nanny.
“Anak kecil?” tanya pelayan lain yang mendengar jawaban Nanny.
“Ya. Tadi Tuan Puteri membawa seorang anak laki-laki sepulang berjalan-
jalan di hutan sekitar rumah ini,” ulang Nanny.
“Siapa anak itu? Di mana Tuan Puteri menemukannya dan juga mengapa
anak itu berada di hutan sekitar rumah ini sepagi ini?” tanya juru masak.
“Saya tidak tahu. Pertanyaan itu tadi jega muncul dalam benak saya, tapi
saya tidak mampu menjawabnya. Tuan Puteri juga tidak berkata apa pun
58
mengenai anak itu. Mungkin tadi Tuan Puteri tidak sengaja melihat anak itu di
hutan dan kemudian dibawanya anak itu kemari,” ujar Nanny.
“Ya. Itu mungkin saja,” kata pelayan tadi menyetujui ucapan Nanny
kemudian ia meninggalkan Nanny dan juru masak itu berdua sebab masih ada
tugas yang harus diselesaikannya.
“Di mana orang tua anak itu? Mengapa mereka membiarkan anak itu
berada di sekitar sini sepagi ini?” tanya juru masak tak mengerti.
Nanny mengakui kebenaran ucapan juru masak itu. Walaupun hutan di
sekitar Troglodyte Oinos bukanlah hutan angker, tetapi tetap saja berbahaya
bagi seorang anak kecil untuk berada sendirian di sana pada pagi hari.
“Saya tidak tahu,” jawab Nanny sambil mengangkat bahunya, “Tapi
sepertinya anak itu bukan anak terlantar, pakaian anak itu cukup baik. Anak itu
juga tampak sehat.”
“Saya rasa ada baiknya bila Anda membawakan segelas susu segar bagi
anak itu,” usul juru masak.
“Ya, Anda benar. Anak itu pasti senang sekali,” kata Nanny menyetujui
usul juru masak itu.
Juru masak menyiapkan segelas susu kemudian memberikannya kepada
Nanny.
“Bagaimana rupa anak itu?”
“Anak itu lucu dan cukup tampan. Tapi menurut saya, tak selucu dan
setampan Tuan Muda Frederick dan Tuan Muda Oscar sewaktu kecil. Rambut
anak itu warnanya hitam seperti rambut Tuan Muda Frederick, matanya juga
berwarna hitam.”
Juru masak tertawa mendengar ucapan Nanny. “Tentu saja Anda
menganggap Tuan Muda lebih lucu dan tampan dari anak itu sebab Anda lebih
menyayangi Tuan Muda berdua.”
“Sudahlah. Saya permisi dulu. Saya akan mengantarkan sarapan ini bagi
mereka berdua,” kata Nanny sambil mengangkat nampan berisi makanan itu
dan bergegas menuju Ruang Kanak-Kanak.
Ketika hampir tiba di Ruang Kanak-Kanak, didengarnya suara canda tawa
mereka berdua. Nanny tersenyum bahagia mendengarnya.
Perlahan-lahan dibukanya pintu Ruang Kanak-Kanak itu. Dilihatnya anak
asuhnya itu sedang bermain dengan anak itu. Mereka tampak gembira sekali
bermain di Ruang Kanak-Kanak itu. Hampir semua mainan yang dulu
merupakan milik kakak-kakak Snow Angel dikeluarkan oleh gadis itu untuk
59
dipakai bermain oleh anak itu.
Nanny terharu melihat kebahagiaan anak asuhnya itu, sudah lama ia tak
melihat gadis itu sebahagia kini, walaupun gadis itu sering bermain bersama
anak-anak Panti Asuhan Gabriel.
Dengan hati-hati ditatanya makanan yang dibawanya itu agar tidak
menganggu mereka berdua, di meja yang terletak di tengah ruangan itu.
Nanny tidak ingin mengganggu mereka tapi ia tahu ia harus memberi
tahu mereka bahwa makanan telah siap. Dengan enggan Nanny memanggil
anak asuhnya itu.
Snow Angel memalingkan kepalanya mendengar panggilan Nanny. Ia
segera bangkit dan meminta Nanny untuk mengirimkan kedua pucuk surat
yang dibawanya.
Nanny menerima surat-surat itu dan bergegas meminta Thompson untuk
mengirimkan kedua pucuk surat itu.
“Thompson, apakah engkau sedang sibuk?”
“Tidak, Nanny. Seperti yang Anda lihat, saya sedang bercanda dengan
kuda-kuda ini,” jawab Thompson, “Ada keperluan apa sehingga Anda
mencariku, Nanny?”
“Tuan Puteri meminta Anda untuk mengirimkan kedua pucuk surat ini,”
jawab Nanny sambil menyerahkan kedua pucuk surat yang diterimanya dari
Snow Angel itu kepada Thompson.
Thompson mengambil kedua pucuk surat itu dari tangan Nanny dan
membaca alamat surat itu. Ia mengangguk tanda mengerti dan berkata, “Saya
mengerti, Nanny. Akan segera saya kirimkan surat-surat ini.”
Nanny meninggalkan Thompson yang sedang mempersiapkan kuda.
Tanpa terburu-buru ia kembali ke Ruang Kanak-Kanak. Nanny terkejut
mendapati Lady Stefanie sedang menangis terharu di depan pintu Ruang
Kanak-Kanak.
“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Nanny cemas.
“Oh, Nanny… Tak kaudengarkah itu. Sudah lama sekali aku tak
mendengar suara tawa anak itu,” jawab Countess terharu.
“Ya, memang telah lama Tuan Puteri tidak tertawa seriang ini.”
“Siapakah anak kecil yang bersamanya itu, Nanny? Aku juga mendengar
suara anak kecil yang berasal dari Ruang Kanak-Kanak ini.”
“Saya juga tidak tahu. Tadi Tuan Puteri membawa serta anak itu
bersamanya sepulang berjalan-jalan di hutan. Sepertinya anak itulah yang
60
membuat Tuan Puteri bahagia.”
“Mungkin juga, Nanny.”
Tiba-tiba Nanny terpekik pelan, “Mengapa Anda berada di sini, Yang
Mulia? Bukankah seharusnya Anda beristirahat di kamar, Anda baru saja
sembuh dari sakit.”
“Aku tahu hal itu, Nanny. Tadi sewaktu aku baru kembali dari Ruang
Makan dan hendak menuju kamar, saya mendengar suara tawa yang berasal
dari ruangan ini. Karena tertarik mendengarnya, maka saya ke mari dan
menyadari tawa itu tak lain adalah tawa anakku,” cerita Countess, “Tawa yang
selama ini kurindu-rindukan.”
“Nanny, sebaiknya kita biarkan saja mereka berdua. Aku tidak ingin
menganggu kebahagiaan mereka berdua.”
“Anda benar, Yang Mulia. Mari saya antarkan Anda ke kamar Anda.”

61
8

“Ruang Kanak-Kanak?” tanya Charlie.


“Ya, kita akan ke sana.”
“Tempat apa itu?”
“Itu adalah tempat tidurku sewaktu masih kecil. Di sana banyak
mainannya. Engkau pasti akan senang.”
“Sungguh?” tanya Charlie tak percaya.
“Benar. Percayalah padaku. Engkau akan gembira,” kata Snow Angel
meyakinkan Charlie.
Snow Angel sengaja meminta Nanny untuk menyiapkan makan pagi di
Ruang Kanak-Kanak yang terletak di ujung lorong ini karena ia ingin membawa
Charlie ke ruang tersebut untuk bermain.
Di ruang itu banyak mainan-mainan baik miliknya maupun milik kedua
kakanya sewaktu mereka masih kecil. Ia ingin membuat Charlie gembira
dengan mainan-mainan tersebut. Ia tahu Charlie juga mempunyai mainan. Tapi
ia tidak yakin anak itu memiliki mainan sebanyak yang ada di ruangan itu.
Walaupun Boudini’s Theatre cukup terkenal, namun sebagian besar dari
penghasilan teater itu digunakan untuk meluaskan usahan teater tersebut dan
Snow Angel tahu itu. Karena itulah ia mengajak Charlie ke Ruang Kanak-Kanak.
Ia ingin Charlie gembira dapat bermain sepuas hatinya di sana.
“Banyak sekali mainannya!” seru anak itu kegirangan melihat mainan
yang terdapat di Ruang Kanak-Kanak.
“Engkau boleh bermain dengan mainan-mainan itu sepuas hatimu.”
“Sungguh?” tanya Charlie tak percaya.
Snow Angel menganggukan kepalanya yang segera disambut anak itu
dengan berlari ke lemari tempat mainan-mainan itu tersimpan. Dengan hati-
hati dikeluarkannya mainan-mainan tua itu bagi Charlie.
Charlie menerima mainan demi mainan yang diulurkan gadis itu
kepadanya. Ia merasa gembira sekali dapat bermain dengan mainan-mainan
yang dikaguminya itu. Begitu banyaknya mainan di ruang itu sehingga
membuatnya bingung memilih mainan yang akan dimainkannya.
Seandainya anak seorang bangsawan yang kini berada di ruang itu
62
bersama gadis itu, anak itu tidak akan sekagum Charlie. Bagi Charlie ini
pertama kalinya ia melihat begitu banyak mainan dan mainan yang bagus-
bagus seperti yang ada di ruang ini. Tetapi seorang anak bangsawan, mungkin
akan mengejek mainan-mainan itu.
Mainan-mainan yang ada di ruang ini bukanlah mainan terbaru
melainkan mainan tua yang dulu dimainkan oleh ketiga kakak beradik itu
sewaktu mereka masih kecil.
Kesemua mainan itu dirawat dengan baik sehingga masih bisa digunakan
oleh Charlie walau telah bertahun-tahun berada di ruangan ini. Bahkan kuda-
kudaan kayu yang dulu merupakan mainan kesayangan Frederick masih kuat
menahan berat Charlie.
Sejak kecil mereka bertiga dididik oleh kedua orang tua mereka untuk
selalu menyayangi benda-benda milik mereka dan merawatnya dengan baik
dan ajaran itu telah melekat di hati mereka sejak kecil hingga kini. Maka
tidaklah mengherankan melihat mainan-mainan bayi pun masih tersimpan
dalam keadaan baik di sini.
Snow Angel memandang sekeliling Ruang Kanak-Kanak. Ruangan tempat
ia dirawat oleh Nanny sewaktu masih kecil ini, masih tetap seperti dulu. Tak
ada yang berubah pada ruangan ini. Tempat tidurnya sewaktu kecil masih
berada di tempatnya, di dekat jendela. Meja tempat ia dulu belajar pun masih
tetap berada di tengah ruangan ini.
Kerinduan muncul di hatinya, ia rindu berada di ruang yang banyak
menyimpan kenangan masa kecilnya yang bahagia. Sudah lama ia tidak ke
ruangan ini sejak ia diminta oleh ibunya untuk menemani anak teman Earl dan
Countess yang kebetulan diajak serta oleh orang tuanya ke Troglodyte Oinos.
Dan itupun sekitar enam tahun yang lampau.
Snow Angel masih dapat mengingat jelas kenakalan dan kesombongan
anak yang bernama Neil itu. Saat itu anak itu baru berusia enam tahun, tapi ia
sudah amat sombong. Anak itu mengejek mainan-mainan yang ada di ruang
ini.
“Mainan apa ini! Mainan setua ini tidak seharusnya berada di sini,
seharusnya dibuang saja. Aku tidak mau bermain bermain dengan barang-
barang rongsokan ini,” kata Neil waktu itu.
Saat itu Snow Angel merasa lega kedua kakaknya sedang pergi sehingga
tidak mendengar ejekan Neil. Ia yakin kedua kakaknya akan marah besar bila
mendengar ejekan anak ini sebab mereka amat sayang pada mainan yang ada
63
di ruangan ini.
Waktu Snow Angel masih kecil, kedua kakaknya setiap hari menemaninya
bermain di ruangan ini sambil memuji-muji mainan mereka masing-masing. Ia
tidak pernah bosan mendengar mereka memuji-muji mainan mereka.
Setiap saat mereka menemani Snow Angel kecil bermain di ruangan ini
walaupun sudah bukan saatnya lagi bagi mereka berdua untuk bermain.
Vladimer pernah menggoda mereka berdua saat melihat mereka bermain
dengan si kecil Angella.
“Kalian ingin menjadi bayi lagi, ya? Tiap hari bermain-main saja dengan
si kecil ini,” katanya sambil menunjuk Angella yang duduk di pangkuan
Frederick.
Angella yang saat itu masih berusia satu tahun tidak mengerti apa-apa.
Ia menggapai-gapaikan tangan mungilnya hendak meraih jari telunjuk
Vladimer yang diarahkan padanya sambil tertawa-tawa riang menyebut
namanya.
“Rupanya anak ini ingin bermain denganmu, Vladimer,” kata Frederick
mengacuhkan godaan Vladimer.
Vladimer segera membungkukkan badannya dan menangkap tangan
kecil yang menggapai-gapai itu. Oscar yang juga berada di ruangan itu tertawa
melihat Vladimer bermain dengan Angella kecil.
“Kau sendiri juga senang bermain dengan Angella, bukan?”
“Ya, kuakui itu. Anak ini manis sekali. Siapa pun yang melihatnya pasti
ingin bercanda dengannya,” jawab Vladimer.
“Kau benar. Aku iri sekali pada Oscar, ia masih dapat bermain dengan
Angella sepuas hatinya. Sedangkan aku, kau tahu bukan? Aku tidak dapat
bermain terus menerus dengan anak ini. Aku harus belajar, harus menemani
Papa Mama ke pertemuan, dan benyak lagi keharusan yang kulakukan. Aku
ingin sekali menjadi anak kecil lagi agar dapat bermain dengan Angella sepuas
hatiku seperti Oscar,” keluh Frederick.
“Sabar, Frederick. Sabar… Usiamu yang sekarang ini sudah tidak dapat
dikatakan anak kecil lagi. Jadi keharusan itu sudah menjadi kewajibanmu,” kata
Vladimer menenangkan Frederick.
“Aku tahu itu. Kadang kala aku merasa sedih Angella lahir saat aku
menginjak usia dewasa.”
“Frederick!” pekik terkejut Vladimer, “Bibi Stefanie pasti sedih bila
mendengar ucapanmu itu.”
64
“Maafkan aku. Aku hanya cemburu pada Oscar. Dulu waktu Oscar lahir,
aku masih berusia lima tahun jadi aku masih dapat bermain-main dengannya.”
“Dulu aku selalu merasa senang bila Frederick berada di Ruang Kanak –
Kanak ini, tetapi sekarang aku lebih senang bila Frederick tidak ada di ruangan
ini. Sebab bila ia ada di sini maka ia tidak memberiku kesempatan untuk
bermain dengan Angella,” sahut Oscar.
“Itu adil. Engkau setiap hari berada di sini sehingga dapat bermain-main
dengan Angella sepanjang waktu sedangkan aku tidak setiap hari memiliki
waktu luang untuk bermain-main dengannya. Kau tahu itu bukan?” balas
Frederick tak mau kalah.
“Ya, aku memang tahu itu. Tapi aku tetap merasa tidak sengang bila
engkau berada di sini, engkau selalu mendominasi Angella. Engkau tahu,
Frederick? Engkau kekanak-kanakan,” balas Oscar tak mau kalah juga.
“Tidak, aku tidak kekanak-kanakan. Aku hanya sayang pada Angella.
Betulkan, Angella?” elak Frederick sambil menimang-nimang adik bungsunya
dan sesekali bercanda dengannya.
“Itu kekanak-kanakan namanya. Bukan sayang,” kata Oscar menanggapi
tindakan Frederick.
“Tidak! Aku tidak kekanak-kanakan!”
“Sudah … Sudah … Jangan bertengkar lagi,” sela Vladimer di tengah
pertengkaran kedua bersaudara itu.
Vladimer tahu Frederick dan Oscar selalu hidup rukun. Mereka jarang
bertengkar. Keduanya selalu berbagi, saling mengalah, dan mengasihi. Namun
jika mereka bertengkar, akan sulit mendamaikan mereka. Bahkan bisa berhari-
hari lamanya mereka bertengkar dan saling tak berbicara. Karena itu ia lekas
menghentikan pertengkaran mereka selagi mereka baru mulai bertengkar.
“Seharusnya kalian jangan bertengkar. Kalian seharusnya senang
mempunyai saudara. Tidak sepertiku yang anak tunggal.”
Frederick dan Oscar segera menghentikan pertengkaran mereka dan
menatap Vladimer.
“Jangan bersedih hanya karena tak mempunyai saudara. Aku akan
menjadi kakakmu,” kata Frederick membesarkan hati Vladimer.
“Dan aku menjadi adikmu,” tambah Oscar.
“Kalian memang sudah kuanggap sebagai saudaraku.”
“Lalu bagaimana dengan Angella?” tanya Frederick dan Oscar serempak.
“Tentu saja bayi manis ini juga kuanggap sebagai adik perempuanku,”
65
jawab Vladimer sambil mengangkat Angella dari pangkuan Frederick.
Snow Angel memandang Charlie yang duduk di lantai sambil bermain.
Tak bosan-bosannya ia mengagumi mainan yang di hadapannya itu. Anak itu
tampak gembira sekali. Perlahan-lahan didekatinya anak itu, “Charlie, tetaplah
di sini. Jangan ke mana-mana. Saya akan pergi sebentar.”
Charlie mengangguk mendengar kata-kata Snow Angel. Segera ia
tenggelam lagi ke dalam keasyikannya bermain.
Snow Angel meninggalkan Charlie yang masih sibuk bermain itu dan
bergegas menuju kamarnya. Ia meraih pena yang semalam digunakannya
untuk menulis surat kepada Nenek Charlie dan mulai menulis surat kepada Mr.
dan Mrs. Boudini untuk mengabarkan keberadaan Charlie.
Tak lama kemudian ia meninggalkan kamarnya dengan membawa dua
pucuk surat. Di Ruang Kanak – Kanak, ia melihat Charlie masih asyik bermain.
Semula ia hanya ingin mengamati Charlie yang sibuk dengan mainan-mainan
di sekelilingnya, namun karena Charlie memintanya untuk bermain
bersamanya maka ia turut bermain pula.
Mereka begitu sibuknya bermain, bercanda hingga tak menyadari
keadaan sekelilingnya. Mereka sama-sama terkejut ketika Nanny memanggil
mereka berdua.
“Oh … kau, Nanny. Kau membuatku terkejut. Ada apa?”
“Hidangan sudah tersedia. Anda bisa makan sekarang.”
“Terima kasih, Nanny,” katanya sembari mengajak Charlie ke meja
tempat Nanny menyipkan makan pagi mereka, “Nanny, tolong kauminta
Thompson untuk mengirimkan kedua surat ini.”
“Untuk siapa saja, Tuan Puteri?” tanya Nanny ingin tahu.
“Alamatnya sudah kutulis pada surat itu. Thompson pasti tahu,”
jawabnya.
Nanny membaca alamat masing-masing surat dan kemudian
memandang heran pada Snow Angel, “Untuk Mrs. Dellas… ibu Jenny?”
“Berikan saja pada Thompson agar dapat segera sampai pada yang
bersangkutan,” tegas Snow angel.
“Baik, Tuan Puteri,” begitu Nanny pergi, Snow Angel membantu Charlie
duduk di kursi di depan meja tempat Nanny meletakkan makan pagi mereka
dan membantu Charlie mengambil hidangan. Snow Angel bergembira melihat
nafsu makan anak itu yang cukup besar dari perkiraannya semula.
Setelah makan, Charlie hendak bermain lagi tapi ditahan oleh Snow
66
Angel. Menurutnya, tidak baik bermain setelah makan. Persis seperti yang
biasa Nanny ajarkan padanya sewaktu ia kecil.
Charlie cemberut ketika dilarang bermain, namun ia gembira lagi ketika
gadis itu berjanji akan memperbolehkan Charlie bermain lagi kapan pun juga di
sini, di Ruang Kanak-Kanak ini.
Dibawanya anak itu kembali ke kamarnya. Sepanjang jalan, Charlie
memastikan janji Snow Angel dengan berulang kali bertanya kesungguhan janji
Snow Angel padanya. Berulang kali pula gadis itu meyakinkan anak itu bahwa
ia bersungguh-sungguh dengan janjinya yang tadi itu.
“Charlie, engkau mau kuberi hadiah?”
“Mau!” seru Charlie kegirangan, “Mana?”
“Sebentar,” jawab Snow Angel sambil membuka kotak yang berisi
pakaian untuk Charlie yang kemarin dibelinya dari Shawky Market. “Ini. Engkau
suka?” Ditunjukannya baju itu satu per satu pada Charlie yang tampak gembira
sekali. Dengan hati-hati dicobakannya baju itu satu per satu pada Charlie dan
ia bersyukur baju-baju tersebut semuanya cocok pada tubuh Charlie, tidak ada
yang kekecilan maupun kebesaran.
“Bila aku pulang dengan memakai baju ini, Ayah dan Ibu pasti terkejut
melihatku,” katanya sambil berputar-putar di depan cermin yang memantulkan
bayangannya sendiri.
Snow Angel tertawa melihat ulah Charlie itu, “Tentu saja, engkau tampak
semakin tampan dengan baju itu. Engkau boleh memakai pakaian itu saat
pulang nanti.”
“Sungguh?” tanya Charlie memastikan kata-kata Snow Angel.
“Sungguh. Baju itu milikmu.”
“Milikku?”
“Iya. Bukankah tadi aku mengatakan akan memberimu hadiah? Itulah
hadiahku untukmu.”
“Baju-baju ini?” tanya Charlie meyakinkan dirinya untuk kesekian kalinya.
Melihat Snow Angel menganggukan kepalanya, Charlie melompat-lompat
gembira hingga membuat Snow Angel kewalahan. Ia berusaha keras
mendiamkan anak itu, namun Charlie tetap saja tidak mau berhenti. Hingga
pada akhirnya ia berkata,
“Charlie, bila engkau tidak bisa diam, aku tidak akan mengantarmu ke
Ruang Kanak-Kanak untuk bermain lagi.”
Mendengar ancaman itu, Charlie seketika itu juga berhenti melompat-
67
lompat dan mendekati Snow Angel, “Kita akan bermain di Ruang Kanak-Kanak
lagi?”
“Tentu, bila engkau dapat diam. Tetapi bila engkau tidak dapat diam,
maka kita tidak jadi ke Ruang Kanak-Kanak.”
“Baiklah, aku akan diam. Aku janji!” kata Charlie bersungguh-sungguh.
Kemudian ia duduk di lantai, menunggu Snow Angel yang memasukkan baju-
baju itu kembali ke kotaknya. Baju yang dikenakan Charlie sewaktu datang ke
Troglodyte Oinos dibungkus tersendiri. Kotak-kotak yang lain diambilnya dari
bawah meja rias kemudian ditumpuk jadi satu dengan kotak yang tadi
dibukanya dan bungkusan yang berisi baju Charlie di atas meja rias.
Setelah selesai dengan segala kesibukannya, ia mengajak Charlie ke
Ruang Kanak-Kanak lagi. Di sana, segala sesuatunya telah dibereskan
termasuk mainan-mainan yang dikeluarkan oleh Snow Angel untuk Charlie.
Ia meminta Charlie memilih mainan dan mengeluarkannya dari lemari.
Snow Angel menemani Charlie bermain di ruangan itu sambil menanti Nanny.
Sesekali ia bercerita tentang mainan-mainan tersebut pada Charlie. Dari
seluruh mainan-mainan itu. Charlie paling menyukai orang-orangan dari kayu
yang berbaju prajurit.
Mainan itu diberikan oleh orang tua Snow Angel sebagai hadiah ulang
tahun kakak keduanya yang ke lima. Orang-orangan dari kayu yang seluruhnya
berjumlah sepuluh butir itu dulu pernah menjadi mainan kesayangan Oscar.
Namun hal ini tidak dapat bertahan lama, ketika Oscar mendapat mainan baru
pada hari Natal, ia melupakan orang-orangan tersebut.
Charlie bermain perang-perangan dengan orang-orangan tersebut. Selain
itu kereta kayu dan berbagai macam mainan yang ada digunakannya pula
daalam perangnya. Snow Angel-pun tak mau berpangku tangan melihat
peperangan Charlie. Berulang kali ia ikut ambil andil dalam perang itu. Charlie
tidak mengeluh ketika gadis itu ikut mengambil peran dalam perangnya, ia
senang ketika Snow Angel turun tangan dalam peperangannya.
Sungguh tak disangka, walaupun Snow Angel seorang gadis, namun ia
pandai menyusun strategi perang. Charlie yang melihat hal ini tak mau kalah,
ia turut menyusun strategi-strategi perang untuk melawan musuhnya. Perang
besar pun tak terelakkan. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak.
Dor… dor … dor…! Jatuh lagi seorang korban. Keluhan sedih pihak yang
kalah terdengan mengiringi tawa senang pihak yang menang.
Keduanya saling memberi perlawanan sengit tanpa menghiraukan
68
sekelilingnya. Mereka sama-sama tak mau menjadi pihak yang kalah. Satu
sama lain berusaha menghancurkan musuhnya. Mereka sangat sibuk
memusatkan pikiran pada peperangan mereka. Benar-benar pertempuran yang
seru!
Mereka bermain tanpa menyadari matahari yang semakin tinggi. Ketika
matahari mulai memasuki ruangan itu, mereka baru menyadari hari yang mulai
siang, “Hari sudah siang. Sebaiknya aku mengantarkanmu pulan sekarang.”
“Sekarang? Tapi saya tidak ingin pulang sekarang, saya ingin bermain.”
Charlie mengeluh sedih.
Snow Angel memahami perasaan Charlie. Ia tersenyum lembut padanya
dan berkata dengan sabar untuk memberi pengertian padanya, “Aku rasa aku
telah mengatakan padamu bahwa engkau boleh bermain di sini sepuas hatimu
kapanpun kau mau. Engkau boleh datang lagi ke mari dengan syarat atas ijin
Mr. dan Mrs. Boudini. Sekarang engkau lebih baik pulang, jangan membuat
mereka semakin cemas.”
“Tapi Anda sudah memberi tahu mereka kalau saya berada di sini
bersama Anda,” kata Charlie mengingatkan, “Mereka pasti tidak cemas lagi.
Mereka pasti mengijinkan saya bermain lebih lama lagi di sini. Percayalah!”
“Hal itu mungkin juga. Tetapi aku belum tentu mengijinkanmu bermain di
sini.”
“Anda tidak mengijinkanku? Tapi tadi Anda bilang…,” kata Charlie panik.
Snow Angel terkejut melihat reaksi Charlie. Ia tidak bermaksud membuat
Charlie kecewa, ia hanya main-main saja sewaktu mengucapkan kalimat itu. Ia
merasa bersalah karenanya.
“Maafkan aku. Aku hanya main-main tadi. Aku sama sekali tidak
bermaksud melarangmu. Engkau boleh bermain di sini kapan pun engkau mau.
Tapi untuk hari ini bermainnya cukup sampai di sini saja, besok datanglah lagi.
Mereka pasti sedang menunggu kedatanganmu sekarang.”
“Baiklah. Aku akan pulang sekarang. Tapi besok aku akan kemari lagi,”
akhirnya Charlie menyetujui gadis itu.
Snow Angel merasa lega karena pada akhirnya ia bisa meyakinkan
Charlie untuk pulang. Ia meminta Charlie menunggunya sebentar. Setelah itu ia
segera meninggalkan ruangan itu.
Ia melihat Nanny berjalan mendekat.
“Tolong jaga anak itu, Nanny!” katanya ketika Nanny sudah dekat.
“Anda hendak pergi ke mana?” tanya Nanny.
69
“Aku akan mengantar anak itu pulang,” jawab Snow Angel.
“Tapi Thompson belum kembali, Tuan Puteri,” kata Nanny memberi tahu,
“Atau begini saja, saya akan memanggil sebuah kereta kuda untuk Anda.”
“Terima kasih atas sarannya, Nanny. Tapi sebenarnya hal itu tidak perlu
karena aku sendiri yang akan mengantar anak itu.”
“Sendirian!” pekik Nanny, “Tapi…, Tuan Puteri, berbahaya bila Anda pergi
sendirian dan juga bagaimana bila kakak-kakak Anda tahu? Apa yang harus
saya katakan?”
“Karena itu, Nanny, jangan biarkan mereka mengetahui hal ini.
Berjanjilah kepadaku, engkau akan membuat hal ini menjadi rahasia di antara
kita berdua,” kata Snow Angel setengah memaksa setengah memohon.
Nanny kebingungan. Ia harus memilih membiarkan gadis itu pergi
sendirian untuk mengantar anak yang tak dikenalnya itu atau tidak. Sungguh
suatu pilihan yang sulit. Di satu sisi, ia ingin menuruti segala keinginan anak
kesayanganya itu. Tapi di sisi lain, ia mengkhawatirkan keselamatan mereka
berdua.
Nanny benar-benar dibuat bingung karenanya. Snow Angel yang
mengetahui kebingungan Nanny, terus menerus membujuk Nanny. Berkali-kali
ia berusaha meyakinkan Nanny kalau ia akan baik-baik saja walau pergi
sendirian.
Siapa yang tahan dibujuk gadis semanis Angella? Nanny? Tentu saja
Nanny tidak akan tahan mendengar bujukan gadis itu, ia begitu menyayangi
gadis itu.
Semula Nanny hendak menyertainya, namun Snow Angel melarangnya.
Ia mengingatkan Nanny pada tugasnya mengelabuhi kakak-kakaknya bila
mereka menayakan dirinya. Dengan terpaksa Nanny membatalkan niatnya.
“Anda sangat memperhatikan anak itu,” komentar Nanny, “Sebenarnya,
siapa dia?”
“Rahasia,” kata Snow Angel sambil bergegas menuju kamarnya.
Tak lama kemudian Snow Angel sudah keluar dari kamarnya dengan
membawa tumpukan kotak yang diletakkannya di meja rias tadi. Diletakkannya
kotak-kotak itu di depan kamarnya kemudian ia menuju Ruang Kanak-Kanak.
Seperti biasanya, Nanny duduk di kursi goyang kesayangannya di depan
jendela sambil mengawasi Charlie. Kursi yang disediakan khusus untuk Nanny
itu diletakkan di depan jendela atas permintaan Nanny sendiri.
“Anda akan mengantarnya sekarang?” tanya Nanny melihat kedatangan
70
Snow Angel.
“Ya, Nanny. Aku tidak ingin membuat orang tua anak ini semakin cemas,”
jawabnya. “Ayo kembalikan mainan-mainan itu pada tempatnya,” katanya pada
Charlie.
“Jangan, Tuan Puteri! Antarkan saja anak itu, mainan itu biar saya yang
mengembalikannya,” kata Nanny, “Hari sudah siang. Jangan membiarkan
orang tua anak itu menunggu lebih lama lagi. Di samping itu Anda harus buru-
buru, jangan sampai kakak-kakak Anda tiba sebelum Anda.”
“Kau benar, Nanny. Aku memang harus buru-buru, jangan sampai mereka
tiba lebih dulu. Terima kasih, Nanny.” Kemudian ia berpaling pada Charlie,
“Mari kita pulang sekarang. Sebelumnya ucapkan selamat tinggal dulu pada
Nanny.”
Mereka berpamitan pada Nanny dan kemudian meninggalkan Nanny
sendirian. Mereka berjalan meyusuri koridor dan berhenti sebentar di depan
kamar Snow Angel untuk mengambil kotak-kotak yang ada di depan kamar.
Charlie membantunya membawa barang-barang itu, ia membawa bungkusan
yang berisi bajunya. Sisanya dibawa oleh Snow Angel.
Charlie tampak senang sekali ketika mereka tiba di kandang kuda.
Penjaga kuda segera memasang pelana pada seekor kuda ketika melihat Tuan
Puteri mereka datang. Penjaga kuda itu menaikkan Charlie di depan pelana
atas perintah Snow Angel. Mereka memperingati untuk berhati-hati sebab ini
pertama kalinya Snow Angel berkuda dengan membawa seorang anak.
Sebenarnya Snow Angel sendiri merasa ragu-ragu pada kemampuan
berkudanya dengan membawa Charlie. Ini pertama kalinya ia berkuda dengan
membawa seorang anak, namun ia tidak mau menyerah pada keragu-
raguannya. Ia yakin ia dapat melakukannya bila ia berhati-hati.
“Kau takut?” tanyanya ketika mereka mulai meninggalkan Troglodyte
Oinos.
Sebagai jawaban, Charlie menggelengkan kepalanya. Berlainan sekali
dengan Snow Angel. Sewaktu ia diajak naik kuda untuk pertama kalinya, ia
menangis ketakutan sampai kedua kakaknya kewalahan membujuknya agar
berhenti menangis. Saat itu usianya lebih muda daripada Charlie.
“Jangan takut! Aku ada di sini, nanti aku akan memegangimu agar kamu
tidak jatuh,” bujuk Frederick.
Angella menolak tangan Frederick yang terulur padanya dan mempererat
pegangannya pada gendongan Oscar sambil terus menangis. Oscar membelai-
71
belai rambut adiknya, “Jangan menangis! Jangan takut, Oscar juga akan
menjagamu. Frederick pandai berkuda, kamu pasti tidak akan jatuh.”
“Kalau Tuan Puteri tidak mau, jangan dipaksakan,” tegur Nanny yang
mengawasi mereka sejak tadi.
“Tidak apa-apa, Nanny. Kalau ia tidak dibiasakan sejak sekarang, nanti ia
akan takut kuda untuk selama-lamanya,” bantah Frederick.
“Ya, itu betul, Nanny. Seorang putri bangsawan harus bisa berkuda,”
tambah Oscar mantap.
“Kalau begitu terserah kalian tapi jangan sampai Tuan Puteri jatuh,” kata
Nanny.
“Jangan khawatir, Nanny. Kami juga tidak ingin Angella jatuh,” kata
mereka serempak.
“Ayo, Angella duduk di depanku. Aku akan mengajakmu jalan-jalan
mengelilingi rumah ini,” bujuk Frederick sambil menarik tubuh Angella dari
gendongan Oscar.
“Tidak apa-apa, Angella. Kamu tidak akan jatuh. Aku akan ikut jalan-jalan
juga. Jangan takut, ya?” Oscar ikut membujuk Angella sambil melepaskan
tangan adiknya yang melingkari lehernya, “Kasihan Frederick yang sudah dari
tadi duduk di atas kuda.”
Tiba-tiba Frederick dan Oscar berseru serempak melihat Vladimer datang
mendekat, “Jangan membela Angella lagi!”
Vladimer terkejut mendengar teriakan mereka itu. Ia segera mengerti
masalahnya ketika melihat Angella menangis di gendongan Oscar sedangkan
kedua kakaknya sibuk melepaskan gendongannya sambil terus membujuk
Angella. Yang satu melepaskan tangan Angella, yang satunya lagi menarik
tubuh Angella dari atas kuda.
“Jangan khawatir! Untuk kali ini aku setuju dengan kalian. Angella tidak
boleh takut pada kuda, ia harus belajar berkuda. Kelak bila ia sudah bisa, kita
tidak lagi bertiga bila berjalan-jalan, melainkan berempat. Pasti akan sangat
menyenangkan!” kata Vladimer menyetujui tindakan mereka.
Angella yang berharap Vladimer membelanya lagi, menangis semakin
keras ketika mendengar Vladimer menyatakan persetujuannya atas tindakan
kakak-kakaknya. Angella merasa sedih. Vladimer yang selalu membelanya, kini
tidak mau membelanya.
Akhirnya Angella berhasil didudukkan di depan Frederick dengan sedikit
paksaan dan bujukan. Angella menangis ketakutan walau badannya sudah
72
dipegangi Frederick. Ia meminta tolong pada Nanny, namun karena Nanny
sudh berjanji akan membiarkan mereka, maka ia diam saja. Angella menangis
terus sambil memeluk erat-erat tangan kanan Frederick yang melingkari
badannya.
Berkat kesabaran kedua kakaknya dan Vladimer, ketakutan Angella pada
kuda hilang. Ia mulai meyukai kuda. Berkat mereka pula ia dapat berkuda.
Sejak saat itulah ia sering diajak bepergian oleh mereka.
Snow Angel dan Charlemagne akhirnya tiba di lapangan rumput tempat
tenda ‘Boudini’s Theatre’ berdiri. Charlie berteriak-teriak memanggil kedua
orang tua baptisnya dari atas kuda ketika mereka semakin mendekat.
Dari sebuh kereta yang bertuliskan ‘Boudini’s Theatre’ muncul dua orang
yang sudah cukup umur. Merekalah Mr. dan Mrs. Boudini. Mrs. Boudini bertubuh
gemuk, rambutnya yang mulai memutih itu disanggul rapi, wajahnya
senantiasa menunjukkan keramahan. Mr. Boudini bertubuh tegap, wajahnya
tampak menyeramkan dengan jenggot yang dipeliharanya itu. Namun
sebenarnya ia tidak segalak yang terlihat, ia penuh keramahan seperti istrinya.
Snow Angel turun dari kuda dan mengambil alih kotak-kotak yang
dipegang Charlie di depannya. Setelah meletakkannya di tanah, ia membantu
Charlie turun dari kuda. Mr. Boudini mengambil alih kudanya dan
mengikatkannya paa sebuah tiang.
“Ibu! Ibu!” teriak Charlie sambil berlari mendekati Mrs. Boudini.
Mrs. Boudini memeluk Charlie. “Ke mana saja engkau? Ibu
mencemaskanmu ketika mengetahui engkau pergi tanpa pamit,” katanya lega.
“Maafkan aku, Ibu. Tadi aku pergi ke rumah Tuan Puteri. Aku berjanji tidak
akan pergi tanpa pamit lagi,” kata Charlie menyesal. “Lihat, Bu! Tuan Puteri
memberiku pakaian ini.”
Mrs. Boudini tengah mengamati baju baru Charlemagne yang diberi
Snow Angel ketika Mr. Boudini tiba-tiba berbicara, “Charlie, pergilah bermain!”
“Baik,” Charlie berlari mendekati sekelompok anak yang bermain di
lapangan itu.
Setelah kepergian Charlie, Mrs. Boudini mengajak Snow Angel masuk ke
sebuah tenda yang cukup besar. Snow Angel memberikan kotak-kotak yang
dibawanya kepada Mrs. Boudini.
“Kami telah menerima surat Anda. Thompson yang mengantarkannya,”
kata Mr. Boudini.
“Anda tentunya telah mengetahui tujuan saya datang kemari,” kata Snow
73
Angel langsung menuju pokok permasalahan.
“Maafkan kami, Tuan Puteri. Kami tidak sanggup mengatakan padanya
bahwa kami bukan orang tua kandungnya,” kata Mrs. Boudini.
“Anda berdua tidak perlu meminta maaf. Saya rasa sayalah yang terlalu
egois. Saya meminta bantuan Anda untuk merawatnya tanpa memikirkan
perasaan Anda berdua.”
“Anda tidak perlu cemas, Tuan Puteri. Kami menyayanginya seperti
menyayangi anak kandung kami. Kami merasa senang dapat merawat anak
sebaik Charlie,” kata Mr. Boudini.
“Di situlah letak permasalahannya. Seharusnya saya tahu Anda tidak
sanggup mengatakan yang sebenarnya padanya karena Anda menyayanginya.
Tapi saya masih terlalu muda saat itu sehingga saya tidak mampu berpikir
lebih jauh. Maafkan saya karena waktu itu saya terlalu egois, memaksa anda
berdua mengatakan yang sebenarnya pada anak itu.”
“Sekarang saya ingin secara perlahan-lahan mengatakan segala
kebenaran yang menyangkut dirinya pada Charlie. Anda berdua tidak
berkeberatan, bukan? Dalam waktu dekat ini saya akan mengajaknya menemui
neneknya.”
“Kami tidak keberatan sama sekali, Tuan Puteri. Cepat atau lambat
Charlie pasti tahu segala sesuatunya. Kami menyadari hal itu. Kami tidak dapat
terus membohongi anak itu seumur hidup,” kata Mr. Boudini.
“Terima kasih atas pengertian Anda berdua.”

------0-----

Sementara itu di suatu desa kecil, beberapa mil dari Troglodyte Oinos,
seorang wanita tua yang sedang duduk termenung di depan rumahnya,
dikejutkan suara orang yang memanggilnya.
“Mengapa Anda termenung di sini, Mrs. Dellas?”
“Tidak ada apa-apa. Mengapa kau ada di sini, Thompson?”
“Tuan Puteri meminta saya mengantar surat ini pada Anda,” kata
Thompson.
Mrs. Dellas mengambil surat itu dari Thompson, “Mengapa Tuan Puteri
mengirim surat? Apakah ada kabar mengenai cucuku?”
“Mengapa Anda tidak membaca surat itu agar Anda tahu tujuan Tuan
Puteri mengirim surat,” usul Thompson.
74
Mrs. Dellas membuka surat itu dan mulai membacanya. Tangannya
tampak gemetar membayangkan isi surat itu. Tiap-tiap kata membuat hatinya
semakin berdebar karena senang. Isi surat itu pendek namun dapat
membuatnya melupakan semua kesedihannya.
Mrs. Dellas, saya mempunyai kabar gembira bagi Anda sekeluarga.
Cucu Anda, Charlemagne ada di kota ini. Dalam waktu dekat, saya
akan membawanya mengunjungi Anda sekeluarga.
“Cucuku ada di sana, Thompson. Dan Tuan Puteri akan membawanya
kemari dalam waktu dekat,” Mrs. Dellas menerangkan isi surat tersebut pada
Thompson dengan gembira, “Aku akan memberi tahu Jenny.”
“Saya permisi dulu, saya harus segera kembali,” kata Thompson.
“Masuklah dulu untuk beristirahat. Anda baru menempuh perjalanan
jauh.”
“Terima kasih, tetapi saya harus buru-buru. Tuan Puteri mungkin
memerlukan saya.”
“Kalau begitu halnya, silakan.”
Mrs. Dellas masuk ke dalam rumahnya setelah kepergian Thompson. Ia
duduk mendekati putrinya yang duduk di atas tempat tidur. Pandangan
matanya tampak kosong. “Anakmu ada di sana, Jenny. Tuan Puteri akan
membawanya berkunjung kemari,” katanya mencoba memberi tahunya.
Wanita muda itu diam saja. Hati Mrs. Dellas terasa pilu melihat putrinya
itu. “Mengapa engkau diam saja, anakku? Bergembiralah karena engkau akan
bertemu anakmu.” Wanita itu memalingkan wajahnya kepada ibunya dan mulai
bertingkah seperti anak kecil.
“Semoga Charlemagne dapat membuatmu pulih,” harap sang Ibu melihat
tingkah putrinya.

75
9

Snow Angel berdiri di serambi kamarnya memandang langit yang


semakin memerah di kaki gunung. Ia merasa senang telah menyelesaikan
segalanya tanpa sepengetahuan orang lain. Ia telah bertemu keluarga Boudini
dan Charlemagne serta memberi tahu Mrs. Dellas. Kini tibalah ia pada masalah
yang paling sulit. Bagaimana mempertemukan Jenny dengan Carlemagne?
Tiba-tiba ia mendapat perasaan buruk ketika ia sedang memikirkan cara
untuk mempertemukan mereka. Ia segera memalingkan kepalanya ke arah
lapangan rumput tempat tenda Boudini’s Theatre berdiri. Dilihatnya asap hitam
mengepul, membumbung ke atas.
“Charlemagne!” pikirnya panik.
Ia membalikkan badan dan berlari panik. Dibukanya pintu kamarnya
dengan tergesa-gesa dan hampir menabrak Nanny yang akan membuka pintu
kamarnya. Ia terus berlari tanpa menghiraukan Nanny yang kebingungan
melihatnya. Demikian pula ketika ia bertemu kakak-kakaknya dan Vladimer di
luar rumah. Ia terus berlari menuju kandang kuda.
Mereka berjalan menuju rumah dengan bercakap-cakap ketika Snow
Angel muncul dengan tergesa-gesa. Ketiganya terkejut karenanya. “Apa yang
terjadi? Mengapa engkau terburu-buru?” tanya Frederick. Namun gadis itu
terus berlari menuju ke belakang rumah.
Snow Angel beruntung, pelana kuda yang dipakai mereka bertiga belum
dilepas. Segera ia meraih seekor kuda yang masih berpelana itu dan melompat
ke punggung kuda itu. Thompson dan para penjaga kuda itu terkejut
melihatnya datang dengan tiba-tiba dan kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
Ketiga pria yang masih bingung melihat tingkah Snow Angel sangat
terkejut ketika gadis itu tiba-tiba muncul. Snow Angel memacu kudanya
dengan cepat menuju kota.
“Engkau akan pergi ke mana?” tanya Frederick dengan suara keras.
Namun adiknya terus memacu kudanya. Ketiganya berpandang-pandangan
bingung melihatnya.
“Aku akan mengikutinya,” kata Vladimer ketika sosok Snow Angel
menghilang di tikungan menuju kota dan berlari ke kandang kuda. Sesaat
76
kemudian ia muncul dan tanpa menghiraukan kakak beradik yang masih
kebingungan itu, ia pergi menyusul Snow Angel.
“Mengapa kita diam saja? Mari kita menyusul mereka,” kata Frederick
sesaat setelah Vladimer meninggalkan Troglodyte Oinos.
Api dengan ganasnya melahap tenda-tenda Boudini’s Theatre. Banyak
orang yang menyaksikan kebakaran itu. Sebagian dari mereka mencoba
memadamkan api itu. Sebagian mencoba menyelamatkan barang yang belum
terbakar habis.
Snow Angel memacu kudanya mendekati seorang anak yang
memandang kobaran api di depannya. Ia melihat Charlie menangis. “Ayah…
Ibu…,” katanya.
“Di mana Mr. dan Mrs. Boudini?” tanyanya.
“Mereka … mereka … ada di … sana,” jawab Charlie menunjuk kobaran
api itu.
Snow Angel memandang kobaran api di depannya. Samar-samar ia
melihat sosok seseorang yang mencoba menyelamatkan diri dari kobaran api.
Snow Angel segera menaikkan Charlie ke atas kuda dan memukul kuda itu
menjauhi kobaran api.
Ia memanggil-manggil Mr. dan Mrs. Boudini dengan panik. Namun tak
ada jawaban. Ia terus memanggil mereka. Hingga samar-samar terdengar
teriakan. “Tolong selamatkan Charlie, Tuan Puteri!”
Ia terus memanggil kedua orang itu hingga tenda itu roboh dan
terdengar jeritan dari dalam kobaran api itu. Ia termangu di depan kobaran api
itu. Ia terus menatap kobaran api yang terus mengganas itu. Entah berapa
lama ia diam memandangi api yang menjalar semakin dekat. Lidah-lidah api itu
berada dekat sekali dengannya.
Tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang meraih pinggangnya dan
mengangkatnya ke atas kuda. Ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika orang itu
membawanya menjauhi kobaran api yang semakin mengganas itu. Matanya
terus memandang lidah-lidah api yang menari-nari itu.
“Apa yang kaulakukan!? Apakah kau tidak menyadari api itu bisa
melahapmu juga,” kata pria itu dengan marah karena cemas.
Snow Angel tersadar dari keterkejutannya karena bentakan pria itu.
“Charlie? Di mana dia?” tanyanya panik.
“Ia selamat.”
Pria itu membawanya mendekati seorang anak yang duduk ketakutan di
77
atas kuda, memandangi kobaran api yang melahap semua yang ada di
dekatnya. Anak itu menangis ketika melihatnya mendekat.
Snow Angel mengulurkan tangannya pada Charlie dengan gemetar. Ia
memeluk Charlie dan berkata, “Jangan sedih! Ibumu masih hidup.” Suaranya
terdengar makin lemah dan akhirnya hilang sama sekali.
Charlie memanggil-manggilnya sambil menggoyang-goyangkan
tubuhnya. Namun gadis itu tetap saja tak bergerak.
Pria itu melepaskan pelukan Snow Angel dengan hati-hati. “Jangan
khawatir! Ia hanya pingsan,” katanya pada anak itu. Kemudian ia memeluk
gadis itu dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lainnya memegang
tali kendali kudanya.
Dari kejauhan muncul Frederick dan Oscar yang datang tergesa-gesa.
Mereka memacu kudanya semakin cepat ketika melihat Vladimer duduk di atas
kuda sambil memeluk adik mereka.
“Apa yang terjadi? Angella kenapa? Siapa anak itu?” tanya mereka panik
melihat kepala Snow Angel terkulai lemah di bahu Vladimer.
“Tenang dulu. Aku akan menjelaskannya satu per satu. Pertama, aku
tidak tahu apa yang terjadi. Ketika aku tiba di sini kulihat Angela berdiri di
dekat kobaran api. Aku segera membawanya menjauhi api dan tiba-tiba ia
pingsan. Pertanyaan kedua telah kujawab, sekarang yang terakhir. Aku tidak
tahu siapa anak ini. Tapi yang pasti Angella terburu-buru ke sana untuk
menolong anak ini,” jelas Vladimer.
Kakak beradik itu memandang Charlie dan memikirkan tujuan Angella
menolongnya. Mereka merasa pernah melihat anak itu sebelumnya, tetapi
mereka tidak ingat kapan dan di mana.
“Aku tidak tahu apa tujuan Angella menolong anak ini. Tapi kurasa
sebaiknya ia kita bawa ke rumah,” kata Frederick.
“Mengapa kalian lama sekali?” tanya Vladimer.
“Kami harus menunggu kuda-kuda ini dipasangi pelana sebelum kami
bisa menaikinya,” jelas Oscar.
“Sekarang kita tidak punya banyak waktu untuk bercakap-cakap.
Vladimer, kenakan mantel ini pada Angella dan bawalah ia pulang ke rumah.
Oscar, kau pergilah memanggil dokter dan aku akan mencari tahu apa yang
terjadi di sini,” perintah Frederick.
“Nanny yang menyuruh kami membawanya. Katanya udara di luar
sangat dingin, kami disuruh membawakannya untuk Angella agar ia tidak
78
sakit,” jelas Oscar ketika melihat Vladimer yang kebingungan.
“Anak ini bagaimana?” tanya Vladimer setelah menyampirkan mantel itu
di pundak Angella.
“Untuk sementara anak ini ada di sini bersamaku. Nanti bila urusanku di
sini sudah selesai, aku akan membawanya pulang,” kata Frederick. “Sekarang
lekas pergi!”
Mereka bertiga berpencar. Frederick tetap berada di sana untuk mencari
tahu apa yang terjadi. Vladimer membawa Angella pulang dan Oscar pergi
memanggil dokter.
Sepanjang jalan Vladimer memeluk erat-erat tubuh Angella. Tangan
kanannya memeluk erat-erat pinggang gadis yang menyandar lemah pada
tubuhnya itu dan yang lainnya memegang tali kendali kuda.
Ia mencemaskan keadaan gadis itu tetapi ia tidak dapat mempercepat
lari kudanya. Ia menyesalkan Troglodyte Oinos yang terletak di tengah hutan
sehingga semakin membuatnya semakin lama mencapai rumah itu untuk
segera membaringkan Angella yang pingsan.
Seisi rumah terkejut ketika Vladimer datang dengan membawa Angella
yang pingsan. Countess tampak sangat cemas melihat Angella tak sadarkan
diri, demikian pula Nanny.
“Cepat bawa Angella ke kamar,” kata Countess panik.
“Dokter? Apakah sudah memanggil dokter?” tanya Nanny tak kalah
paniknya.
“Sudah, Nanny. Oscar sekarang pergi memanggil dokter,” jawab
Vladimer.
“Lekas bawa Angella ke kamarnya,” kata Countess lagi.
Nanny berjalan mendahului Vladimer. Berulang kali ia memperingatkan
Vladimer agar berhati-hati ketika mereka menaiki tangga. Vladimer berjalan
perlahan-lahan agar dapat membuat Nanny sedikit lega.
Nanny membuka pintu kamar Angella lebar-lebar dan menyiapkan
tempat tidurnya. Vladimer meletakkan Angella dengan hati-hati di atas tempat
tidurnya. Nanny menyelimuti tubuh Angella dan meraba keningnya. “Tidak
panas,” kata Nanny, “Apa yang terjadi pada Tuan Puteri?”
“Aku tidak tahu, Nanny. Kita tunggu saja Frederick yang sekarang sedang
mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi,” jawab Vladimer.
Nanny duduk di samping Angella yang terbaring lemah di tempat
tidurnya. Dari wajahnya tampak ia sangat mencemaskan keadaan Angella. Ia
79
tampak sangat gelisah sekali menanti Oscar yang sedang memanggil dokter.
“Jangan cemas, Nanny. Oscar pasti segera datang,” Vladimer mencoba
mengurangi kecemasan Nanny.
Kata-kata Vladimer terbukti. Sesaat kemudian, terdengar derap kaki
kuda. Nanny bangkit dari duduknya dan segera menuju serambi kamar Angella
untuk melihat siapa yang datang. Nanny tampak sangat lega sekali melihat
Oscar datang bersama seorang dokter.
Oscar dengan terburu-buru mengajak dokter itu segera memasuki
rumah. Sementara itu para pelayan yang menanti kedatangan Tuan Muda
mereka tampak lega melihat kedatangan Oscar bersama seorang dokter.
Countess yang menanti kedatangan Oscar tampak lega melihat putranya
datang bersama Dokter Leo yang menjadi dokter keluarga mereka. Countess
dengan segera mengantarnya ke kamar Angella.
Vladimer dan Oscar menanti dengan cemas di luar kamar. Sementara
Dokter Leo memeriksa Angella. Nanny dan Countess berada di dalam kamar
untuk membantu dokter itu apabila memerlukan sesuatu.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Countess ketika dokter itu selesai
memeriksa Angella.
“Saya masih belum dapat menjelaskannya sebelum mengetahui sebab
Angella pingsan,” jawab dokter yang rambutnya sudah memutih semuanya itu.
“Saya tidak tahu sebab Angella pingsan, tetapi mungkin anak saya
mengetahuinya,” kata Countess.
Oscar mengajukan pertanyaan yang sama seperti Countess ketika ia
melihat Dokter Leo keluar kamar bersama ibunya. Dokter Leo kembali memberi
jawaban yang sama seperti yang diberikannya kepada Countess.
Namun sayang penjelasan yang diberikan Vladimer dan Oscar kurang
lengkap sebab mereka kurang mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Untunglah, Frederick segera datang tak lama setelah kedatangan Oscar.
Frederick menceritakan semua hasil penyelidikannya kepada mereka
semua di Ruang Perpustakaan. Ia mengatakan api mulai membakar tenda
Boudini’s Theatre sejak sore tadi. Asal api itu masih belum diketahui, namun
polisi menduga api itu berasal dari sebuah tenda yang khusus didirikan bagi
para pekerja. Masyarakat sekarang masih berusaha memadamkan api itu.
Ia juga mengatakan api telah membakar habis Boudini’s Theatre. Pemilik
Boudini’s Theatre, Mr. dan Mrs. Boudini ikut terbakar di dalam kebakaran itu. Ia
juga menambahkan bahwa ia membawa Charlemagne, anak Mr. dan Mrs.
80
Boudini pulang bersamanya sebab Angella tadi terburu-buru ke sana ketika
melihat asap hitam membumbung ke atas untuk menolong anak itu.
Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Countess yang ingin mengetahui
alasan Angella menolong anak itu sebab ia sendiri juga tidak tahu pasti. Namun
berdasarkan apa yang berhasil didapatnya dari Charlie, ia mendapat
kesimpulan adiknya menolongnya karena merasa cemas.
“Rupanya Angella memang sangat menyukai anak-anak sehingga ia
menjadi sangat cemas ketika melihat kebakaran itu terjadi,” komentar
Countess mendengar jawaban Frederick. “Nanny, sebaiknya engkau segera
membawa anak itu beristirahat di Ruang Kanak-Kanak. Ia kelihatannya lelah
sekali dan tentunya ia masih sangat terpukul mengetahui apa yang terjadi
pada orang tuanya.”
“Baik, Yang Mulia. Mari, kita pergi Charlie.” Nanny segera membawa
Charlie keluar meninggalkan Ruang Perpustakaan.
Frederick melanjutkan lagi ceritanya. “Anak itu tidak hanya mengatakan
bahwa ia baru bertemu dengan Angella pagi ini. Tetapi ia juga mengatakan
sesuatu yang membuatku sangat terkejut.”
“Apa itu,” tanya Oscar ingin tahu.
“Ia mengatakan ketika Angella datang, ia berdiri di depan kobaran api
yang membakar tenda, menanti Mr. dan Mrs. Boudini keluar dari tempat yang
terbakar itu. Angella kemudian menaikkannya ke atas kuda dan
menjauhkannya dari api. Sementara itu Angella berdiri di depan kobaran api itu
memanggil-manggil mereka berdua.” Frederick menghela nafasnya kemudian
sambil mengangkat bahunya ia berkata, “Dan menurut dugaanku …”
“Angella melihat sendiri bagaimana Mr. dan Mrs. Boudini itu tewas
terbakar api,” sahut Vladimer.
“Ya, itulah dugaanku.”
“Sekarang aku mengerti mengapa Angella diam saja seperti patung
ketika aku membawanya menjauhi api,” kata Vladimer lagi.
“Oh… Kasihan Angella, ia pasti sangat shock sekali,” kata Countess
terkejut mendengar cerita Frederick.
“Berdasarkan cerita kalian, saya menyimpulkan Angella terlalu shock dan
terlalu banyak menghirup asap sehingga ia pingsan. Saya sarankan sebaiknya
ia beristirahat untuk beberapa hari untuk menghindari hal-hal yang buruk yang
dapat menimpa paru-parunya, seperti radang paru-paru,” kata Dokter Leo usai
mendengar cerita Frederick. “Udara segar di sekitar hutan yang mengelilingi
81
rumah ini akan sangat membantu penyembuhannya.”
“Apakah itu berarti kami harus sering membawanya ke hutan untuk
menghirup udara segar?” tanya Oscar.
“Jangan konyol, Oscar! Tentu saja bukan itu yang dimaksudkan Dokter
Leo. Maksud Dokter Leo, lebih baik Angella sering menghirup udara segar
untuk mempercepat penyembuhannya tetapi tetap tidak meninggalkan
kamarnya,” kata Frederick memarahi kekonyolan Oscar. “Entah apa yang akan
terjadi nanti bila engkau sering membawanya berkeliling hutan sementara
badannya masih lemah.”
“Ya, itulah yang hendak saya katakan,” kata Dokter Leo.
Dokter itu mengeluarkan sesuatu dari tas yang berisi perlengkapan
dokternya dan mulai menulis. “Ini obat yang harus diminum Angella.”
Setelah memberikan obat itu kepada mereka, Dokter Leo berpamitan
kepada mereka.
“Tunggulah sebentar, Dokter. Saya akan menyuruh Thompson mengantar
Anda pulang,” kata Countess.
Dokter Leo menggelengkan kepala menolak usul Countess.
“Tidak apa-apa, Dokter. Kami telah merepotkan Anda, sudah selayaknya
kami mengantar Anda pulang. Kereta yang Anda tumpangi tadi sudah pergi,
lagipula Thompson juga akan pergi membelikan obat untuk Angella,” kata
Frederick mendesak.
Akhirnya dokter tua itu mengalah. Frederick, Oscar serta Vladimer
mengantar dokter itu menuju kereta yang telah menantinya. Frederick
memberikan resep obat itu kepada Thompson dan memberikan perintah
kepadanya untuk mengantar Dokter Leo.
Sebelum naik ke kereta, Dokter Leo berkata, “Saya memberikan obat
penenang kepada Tuan Puteri sebab saya khawatir ia masih dihantui kejadian
yang membuatnya shock itu.”
Setelah kereta menghilang di dalam kepekatan malam, Frederick, Oscar
serta Vladimer masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan menuju kamar Angella.
Di sana, Countess duduk dengan sedih di tepi tempat tidur putrinya.
“Mama, jangan cemas. Pergilah beristirahat biar kami yang menjaga
Angella. Mama kelihatan sangat lelah,” kata Frederick.
Countess menggelengkan kepala menolak usulan Frederick, ia bersikeras
menjaga Angella hingga gadis itu sadar.
“Mama, bila Mama ikut sakit pula. Kami akan menjadi sangat cemas,
82
kami tak ingin Mama sakit. Saat ini kami sudah cukup mencemaskan Angella,
janganlah Mama menambah kecemasan kami,” bujuk Frederick. “Biarlah kami
yang menjaga Angella sementara Mama beristirahat. Percayalah kami akan
menjaga Angella dengan baik.”
Oscar mengantarkan ibunya kembali ke kamarnya setelah ibunya
menyatakan persetujuannya. Sebelum kembali ke kamar Angella, ia pergi ke
Ruang Kanak-Kanak dulu. Dilihatnya Nanny sedang berusaha membujuk anak
itu agar lekas tidur.
“Tidurlah yang nyenyak agar engkau besok menjadi segar kembali,”
bujuk Nanny.
Charlie menggelengkan kepala dan berkata dengan keras kepala, “Aku
ingin bertemu dengan Tuan Puteri dulu.”
“Tuan Puteri baik-baik saja, sekarang ia sedang beristirahat,” kata Nanny
berbohong. “Engkau juga harus beristirahat.”
Anak itu menggelengkan kepalanya lagi. Ia berlari mendekati Oscar
ketika melihat pria itu datang. “Bagaimana keadaan Tuan Puteri?” tanyanya
kepada Oscar.
“Ia baik-baik saja. Engkau harus menuruti kata-kata Nanny,” kata Oscar
kepada anak itu.
“Tidak! Saya tidak bisa tidur, saya ingin bertemu Tuan Puteri.”
“Angella sekarang sedang tidur. Ia akan sedih sekali bila melihat engkau
keras kepala seperti ini. Ia tadi terburu-buru datang ke lapangan rumput yang
terbakar itu karena mencemaskanmu. Sekarang engkau turutilah kata-kata
Nanny, jangan membuatnya semakin cemas. Kata dokter ia memerlukan
istirahat. Besok engkau boleh menjenguknya,” kata Oscar.
“Apakah itu benar?” tanya Charlie.
“Ya.”
“Baiklah saya akan menuruti Nanny. Anda berjanji akan mengijinkan saya
menemui Tuan Puteri lagi?”
“Ya, saya berjanji. Engkau juga harus berjanji kepada saya akan selalu
menuruti Nanny,” kata Oscar.
“Saya janji selama Anda tidak ingkar janji,” kata Charlie.
“Saya tidak akan mengingkari janji saya,” kata Oscar menyakinkan
Charlie.
Anak itu menurut ketika Nanny menggantikan bajunya dengan baju tidur
yang tak jelas milik siapa, milik Frederick atau Oscar semasa kecilnya. Sesaat
83
kemudian anak itu sudah tertidur dengan nyenyak.
“Bagaimana keadaan Tuan Puteri?” tanya Nanny lirih.
“Kata dokter ia baru mengalami suatu kejutan dan ia memerlukan
istirahat yang cukup dan udara segar,” jawab Oscar.
“Saya akan menjaga Tuan Puteri,” kata Nanny.
“Tidak perlu, Nanny. Sekarang Nanny mempunyai seorang anak yang
harus Nanny perhatikan dan jaga baik-baik,” kata Oscar sambil memandang
Charlie yang tertidur nyenyak.
“Tetapi merawat Tuan Puteri adalah tugas saya,” bantah Nanny.
“Sekarang tidak lagi, Nanny. Tugas itu kami yang mengambil alih.
Sekarang tugas Nanny adalah merawat anak itu.” Oscar menepuk pundak
Nanny. “Angella sekarang benar-benar memerlukan pengawasan yang ketat
agar hal ini tidak terjadi lagi. Percayakanlah anak kesayangan Nanny itu pada
kami. Kami janji akan menjaganya dengan baik”
Nanny menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Oscar. Anak yang
dulu paling nakal itu kini telah banyak berubah. Ia menjadi semakin dewasa
setiap harinya. Ia mulai mengerti tanggung jawabnya. Ia telah berubah dari
anak yang nakal menjadi seorang pria yang mengerti apa yang dilakukannya.
Nanny menyayangi mereka bertiga. Frederick yang penuh tanggung
jawab. Oscar yang periang dan adik mereka, Angella, gadis manis yang
menjadi kebanggaannya. Ia menyayangi mereka semua.
“Baiklah. Saya mempercayakan Tuan Puteri kepada kalian,” kata Nanny.
“Tapi hati-hati bila kalian tidak menjaganya dengan baik seperti yang kalian
janjikan.”
Oscar ingin tertawa mendengar ancaman Nanny yang seolah
menyerahkan Angella dengan terpaksa kepada sekelompok penjahat. Ia
menahannya kuat-kuat hingga perutnya terasa sakit karenanya. “Jangan
khawatir, Nanny sayang,” ia mencium pipi wanita tua itu.
Ia segera meninggalkan Ruang Kanak-Kanak sebelum ia tidak dapat
menahan lagi keinginannya untuk tertawa. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak
tertawa karena dapat membangunkan orang-orang yang sedang beristirahat
malam itu. Kemudian dengan menegakkan punggung ia menuju kamar
adiknya.
“Mengapa engkau lama sekali?” tanya Frederick saat melihat Oscar
menutup pintu kamar Angella.
“Aku pergi ke Ruang Kanak-Kanak dulu sebelum kemari untuk
84
memberitahukan Nanny keadaan Angella. Semula kukira aku tidak akan lama
berada di sana, tetapi ternyata aku salah. Aku masih harus menghadapi
seorang anak keras kepala yang tidak mau tidur,” kata Oscar.
Kemudian ia menceritakan kejadian yang dialaminya selama berada di
Ruang Kanak-Kanak. Sekali lagi ia berusaha menahan tawanya ketika
mengulangi ancaman Nanny.
“Ada apa, Fred? Apakah aku salah mengatakan kepada Nanny bahwa
sekarang kitalah yang akan mengawasi Angella?” tanya Oscar ketika melihat
wajah kakaknya yang aneh.
“Tidak, engkau benar. Aku hanya terkejut mendengar apa yang
kaukatakan kepada Nanny itu sama persis dengan apa yang sedang kupikirkan.
Semula aku ingin membicarakan masalah ini dulu di antara kita bertiga
sebelum memberitahu Nanny. Tetapi karena engkau telah memberitahu Nanny
dulu, maka kurasa hal itu tidak perlu,” kata Frederick.
“Aku kira itu ide yang bagus. Aku mulai merasa ada yang ganjil dalam
hubungan Angella dengan anak itu. Ada baiknya kita sendiri yang mengawasi
Angella,” kata Vladimer.
“Apa maksudmu dengan ada yang ganjil dalam hal hubungan Angella
dengan anak itu?” tanya Oscar tak mengerti.
“Tadi pagi aku melihat Angella bersama anak itu berbincang-bincang di
kolam depan rumah. Waktu itu aku sedang berjalan-jalan setelah sekian tahun
aku tidak kemari. Aku sedang berjalan masuk ke arah hutan ketika aku tiba-tiba
mendengar suara teriakan dan aku mendekati arah asal suara itu,” cerita
Vladimer. “Dan aku melihat mereka sedang berbincang-bincang di kolam itu.
Aku juga melihat Angella membawa anak itu masuk ke dalam rumah.”
“Di mana letak keganjilannya?” tanya Oscar.
“Mereka berbincang-bincang seperti sahabat akrab yang sudah saling
kenal. Dan juga cara Angella menatap anak itu. Aku merasa caranya menatap
anak itu tidak seperti seseorang yang baru saja bertemu tetapi seperti
seseorang yang baru bertemu kembali setelah sekian lama.”
“Maksudmu mereka sebelumnya sudah saling mengenal?” kata Oscar.
“Tidak aku tidak mengatakan mereka sudah saling mengenal
sebelumnya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menduga mereka saling
mengenal sebelumnya”
“Tetapi bagaimana mungkin. Terakhir kalinya Boudini’s Theatre
mengadakan pertunjukkan di sini adalah sekitar empat atau lima tahun yang
85
lalu. Dan aku menduga umur anak itu belum genap empat tahun. Itu yang
pertama. Kedua, mereka baru tiba kemarin sore dan kita sendiri telah
mengetahuinya sewaktu kita pergi berkuda.”
“Dugaanmu sama sepertiku, Vladimer.” Kata Frederick.
“Engkau juga, Fred? Sebenarnya, apa yang telah kalian ketahui tentang
anak itu? Aku tidak mengerti sama sekali apa yang membuat kalian
mempunyai dugaan bahwa mereka telah bertemu sebelumnya.”
“Kami tidak mengetahui apa-apa mengenai anak itu,” kata mereka
serempak.
“Apa yang membuatmu menduga demikian, Fred?” tanya Vladimer.
“Hal yang berhasil kudapat dari anak itu,” jawab Frederick.
“Apakah ia mengatakan kepadamu bahwa ia telah mengenal Angella
sebelumnya atau ia mengatakan ia sudah dapat berbicara sejak bayi?” tanya
Oscar marah karena ia tidak dapat mengerti jalan pikiran Frederick dan
Vladimer.
“Tidak, ia tidak mengatakan banyak hal kepadaku. Sulit membuat anak
itu mau menceritakan segalanya. Untuk mendapatkan keterangan dari anak itu
benar-benar membutuhkan banyak waktu,” kata Frederick.
“Tadi aku hampir putus asa mendapatkan sedikit keterangan dari anak
itu ketika tiba-tiba aku mendapatkan gagasan untuk menggunakan nama
Angella agar ia mau bercerita kepadaku. Dan usahaku itu berhasil. ‘Engkau
harus mau menceritakan apa yang terjadi padaku bila engkau ingin menolong
Angella,’ kataku padanya.”
“Mendengar itu, anak itu tidak henti-hentinya bertanya, ‘Apakah benar
bila aku mau menceritakan segala yang kuketahui, Tuan Puteri akan tertolong?’
Aku sampai merasa bosan meyakinkan anak itu bahwa segala yang kukatakan
itu benar.”
“Anak itu rupanya tidak mudah mempercayai orang lain,” komentar
Vladimer setelah mendengar cerita panjang Frederick.
“Apakah kehidupan di teater dapat membuat seorang anak menjadi sukar
mempercayai orang lain?” tanya Oscar.
“Kukira tidak, kebanyakan orang yang hidup dalam llingkungan teater
menjadi mudah mempercayai orang lain karena dalam kehidupan sehari-
harinya ia telah biasa bertemu banyak orang,” jawab Vladimer.
“Anak itu termasuk golongan anak aneh rupanya.” Oscar itu memberi
pendapat. “Ia tadi juga berulang-ulang menanyakan kesungguhanku
86
memberinya ijin untuk menemui Angella esok pagi.”
“Ia memberiku keterangan seperti yang telah kuceritakan kepada kalian.
Sebenarnya, masih ada lagi satu keterangan yang belum kuceritakan kepada
kalian,” kata Frederick.
“Apakah itu?” tanya Oscar ingin tahu.
“Ia mengatakan sesuatu yang membuatku mempunyai dugaan yang
hampir sama seperti Vladimer,” kata Frederick.
“Engkau tadi mengatakan dugaanmu sama dengan Vladimer sekarang
hampir sama, mana yang benar?” tuntut Oscar.
“Keduanya. Aku menduga Angella dan anak itu telah berkenalan
sebelumnya tetapi Angella lebih mengenal anak itu daripada anak itu
mengenal Angella,” kata Frederick menanggapi kata-kata Oscar yang bernada
menuduh itu.
“Apa maksudmu?” tanya Oscar tak mengerti.
“Katakan saja apa yang dikatakan anak itu sehingga engkau mempunyai
dugaan seperti itu,” kata Vladimer.
“Ia mengatakan, sebelum pingsan Angella membisikkan sesuatu di
telinganya.”
“Ayolah Frederick jangan berteka-teki. Katakan apa yang dibisikkan
Angella kepada anak itu,” kata Oscar mulai tak sabar.
“Jangan sedih! Ibumu masih hidup,” kata Frederick.
Vladimer dan Oscar tampak terkejut sekali mendengar kata-kata
Frederick.
“Mungkin Angella mengatakan itu hanya karena tidak menginginkan
anak itu sedih,” kata Oscar setelah pulih dari keterkejutannya.
“Tidak mungkin. Bila ia bermaksud tidak membuat anak itu sedih,
mengapa ia tidak mengatakan orang tuamu melainkan ibumu? Selain itu ia
masih terlalu shock setelah melihat sendiri Mr. dan Mrs. Boudini tewas terbakar
di depan matanya,” bantah Frederick.
“Aku tadi juga ikut mendengarnya sewaktu Angella memeluk anak itu.
Sehingga dapat kupastikan anak itu berkata benar. Tapi aku tadi tidak
mendengar secara lengkap sebab suara Angella semakin lemah. Aku hanya
mendengar ‘Jangan sedih! Ibumu masih…,’ ”kata Vladimer memperkuat
perkataan Frederick.
“Benar juga kata-katamu itu,” gumam Oscar. “Mengapa tadi tidak engkau
katakan sewaktu kita semua berkumpul di Ruang Perpustakaan?”
87
“Apakah engkau ingin membuat Bibi Stefanie terkejut?” tanya Vladimer.
“Kalian sendiri sudah sangat terkejut seperti itu. Bagaimana dengan
Mama bila ia ikut mendengarnya,” kata Frederick.
“Siapa nama anak itu? Berapa usianya?” tanya Oscar.
“Ia mengatakan nama aslinya Charlemagne, namun semua orang
memanggilnya Charlie. Mengenai usianya, ia tidak berkata apa-apa,” jawab
Frederick.
“Charlemagne? Raja dari Frank dan pendiri kerajaan Romawi Kuno,” kata
Vladimer.
“Kau tahu sejarah Charlemagne?” tanya Oscar tertarik.
“Sedikit. Aku mendengar ia bertahta di Perancis dan ia juga memerangi
bangsa Moor dalam usahanya membebaskan Spanyol dari bangsa itu,” jawab
Vladimer.
“Cukup! Jangan bercerita lagi mengenai Charlemagne. Sekarang yang
harus kita pikirkan adalah bagaimana membuat Angella mengatakan segala
yang diketahuinya tentang anak itu kepada kita,” kata Frederick.
“Sebenarnya apa tujuanmu berusaha mencari keterangan lebih banyak
lagi mengenai anak itu dari Angella?” tanya Oscar.
“Aku merasa pernah melihat anak itu dan itulah yang membuatku tertarik
untuk mengetahui lebih banyak lagi mengenai anak itu,” jawab Frederick.
“Aku juga merasa pernah melihat anak itu. Tapi aku rasa akan sulit
berusaha mendapatkan keterangan dari Angella mengingat sikapnya yang
sangat dingin itu,” kata Oscar.
“Aku melihat ia tidak sedingin yang kudengar,” kata Vladimer.
“Mungkin karena ada engkau, maka ia tidak bersikap sedingin biasanya,”
kata Frederick.
“Mungkin karena aku belum lama tinggal di sini,” kata Vladimer. “Tapi
aku masih percaya ia memang sedingin yang kalian katakan. Aku masih ingat
bagaimana ia menatapku pada hari kedatanganku.”
“Engkau kecewa karena tidak mendapat sambutan yang ramah darinya?”
tanya Oscar ingin tahu.
Vladimer diam saja. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Dalam
kehidupan sehari-harinya yang penuh kebosanan karena dikagumi banyak
wanita, ia menginginkan semua wanita itu menjauh darinya. Tetapi ketika ia
mendapatkan keinginannya itu di sini, di rumah ini, ia merasa aneh. Ia merasa
kecewa, sedih, dan entah macam apa lagi perasaan yang muncul bila ia
88
mengingat tatapan Angella yang begitu dingin hingga terasa menusuk kulit
setiap kali ia memandangnya.

89
10

Angella membuka matanya perlahan-lahan. Melalui keremangan cahaya


kamarnya ia melihat kedua kakaknya tertidur di samping tempat tidurnya. Di
kursi depan perapian, ia melihat Vladimer yang tengah tertidur.
Ia mulai mengingat-ingat kejadian yang baru dialaminya sore itu. Api
yang melahap tenda-tenda Boudini’s Theatre dengan rakusnya. Suara hiruk-
pikuk orang yang panik. Lidah-lidah api yang terasa panas di depannya. Jeritan
Mr. dan Mrs. Boudini serta ucapan terakhir mereka. ‘Tolong selamatkan Charlie,
Tuan Puteri!’
“Charlie! Di mana dia?” pikirnya panik.
Angella membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan sekuat
tenaganya ia mencoba berdiri di tepi tempat tidurnya. Tangannya memegang
meja kecil tempat ia biasa meletakkan vas bunga, tangannya yang lain
berpegangan pada tepi tempat tidur.
Tiba-tiba ia merasa kakinya lemas dan tanpa dapat ditahannya lagi ia
terjatuh di karpet. Meja kecil yang dipenggangnya ikut terjatuh hampir
bersamaan dengan jatuhnya. Vas bunga yang berada di atasnya, terjatuh
dengan suara yang cukup keras sehingga membangunkan ketiga pria yang
tertidur itu.
“Apa yang kaulakukan?” tanya Frederick terkejut melihat adiknya duduk
di karpet.
Vladimer yang tiba terlebih dulu di sisinya, segera mengangkatnya ke
tempat tidur ketika melihat air vas bunga itu membasahi karpet dan bunga dari
vas itu berserakan di dekat Angella.
Angella mau tidak mau teringat kembali saat pria itu meraih
pinggangnya dan mengangkatnya ke atas kuda serta membawanya menjauhi
api. Jantung Angella berdebar-debar karenanya dan ia merasa pipinya menjadi
panas.
“Char… Charlie…! Di… ma…na di…a?” tanyanya terbata-bata dengan
suara yang amat lemah.
“Dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang tidur di Ruang Kanak-Kanak dan
Nanny menjaganya. Engkau tidak perlu khawatir lagi,” kata Oscar. “Engkau
90
tidurlah lagi ini masih tengah malam.”
“Aku… ti… dak… i… ngin ti… dur,” kata Angella terbata-bata. “A… ku…
ingin… me… li…hat Charlie.”
“Jangan berbicara banyak, engkau terlihat seperti orang yang baru
belajar bicara. Lebih baik sekarang engkau beristirahat, besok kami akan
membawa Charlie kemari. Engkau masih terlalu lemah untuk pergi ke Ruang
Kanak-Kanak,” kata Frederick.
Melihat adiknya yang seperti memaksakan diri untuk dapat berbicara
dengan jelas, membuat Frederick teringat kembali saat Angella baru belajar
bicara. Saat itu ia merasa sangat senang. Ia dan Oscar berlomba-lomba
membuat Angella dapat menyebut namanya.
“Ayo, Angella. Sebut namaku, Frederick,” kata Frederick mendahului
Oscar.
“Fredlick… Fredlick,” kata Angella sambil bertepuk tangan.
Oscar tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya cemberut melihat
Angella tidak dapat menyebut namanya dengan benar. “Sudah! Sekarang
giliranku. Panggil aku, Angella. Oscar.”
“Tidak! Aku belum selesai. Ayo, Angella! Sebut namaku dengan benar F…
r… e… d… e… r… i… c… k…, Frederick,” kata Frederick tak mau berputus asa.
Sekali lagi Angella tidak dapat menyebut nama Frederick dengan benar.
Frederick terus berusaha agar adiknya menyebut namanya dengan benar,
tetapi tetap saja sang adik tidak dapat menyebut namanya dengan benar.
Frederick menjadi kesal karena Oscar menertawakan kekalahannya.
“Jangan tertawa dulu, belum tentu Angella dapat menyebut namamu
dengan benar,” kata Frederick.
“Pasti Angella dapat menyebutnya dengan benar,” kata Oscar percaya
diri, “Ayo, Angella. Panggil aku, Oscar.”
“Oscar… Oscar…,” kata Angella bertepuk tangan.
Frederick menjadi semakin jengkel melihat Angella dapat menyebut
nama Oscar dengan benar.
“Bagaimana, Fred? Engkau kalah,” ejek Oscar.
“Tidak, aku belum kalah. Walaupun Angella dapat menyebut namamu
dengan benar, tetapi ia lebih sayang padaku. Betulkan, Angella?” kata
Frederick bermain dengan Angella.
“Tidak! Ia lebih sayang padaku,” bantah Oscar.
“Fredlick… Fredlick… Oscar… Oscar…,” kata Angella.
91
“Aku tahu,” kata Frederick tiba-tiba. “Kalau engkau tidak dapat menyebut
namaku dengan benar, panggil saja aku Freddy,” katanya kepada Angella.
Angella diam sebentar, ia tampak bingung. Kemudian ia memanggil
nama kakaknya, “Freddy… Freddy… Oscar… Oscar…,” katanya senang.
“Kau curang!” tuduh Oscar.
“Biar saja. Asalkan ia dapat memanggilku,” kata Frederick.
Oscar memperhatikan Angella yang kelihatan senang sekali dengan kata-
kata barunya. Berulang kali ia menyebut-nyebut nama kedua kakaknya.
“Fred, aku juga akan memanggilmu Freddy. Nama itu kelihatannya lebih
menyenangkan dan mudah daripada Frederick.”
“Tidak boleh! Hanya Angella yang boleh memanggilku Freddy,” kata
Frederick.
“Kau tidak adil!” kata Oscar jengkel karena keinginannya tidak
dikabulkan kakaknya.
Sejak saat itu Angella selalu memanggil kakak tertuanya dengan Freddy.
Nama itu sudah menjadi nama kesayangannya.
“Oscar, tolong ambilkan segelas air untuk Angella. Ia sebaiknya minum
obat yang diberikan dokter agar dapat tidur nyenyak,” kata Vladimer.
Angella membuka mulut hendak menyatakan penolakannya. Namun
tangan kakaknya sudah menutupi mulutnya sebelum ia berbicara.
“Engkau harus minum obat bila engkau ingin lekas sembuh dan bertemu
anak itu,” katanya.
Angella memandang bunga yang berserakan di karpet. Frederick yang
mengetahui pikiran adiknya berkata, “Jangan khawatir! Esok akan kusuruh
pelayan membersihkannya dan mencarikan bunga yang baru untuk
kaumasukkan ke dalam jambangan bunga itu.”
Oscar datang dengan membawa segelas air di tangannya. Frederick
dengan hati-hati mengangkat kepala Angella dan membantunya meminum
obatnya. Setelah itu ia meletakkan kembali badan Angella dan membetulkan
letak selimutnya.
“Sekarang tidurlah yang nyenyak. Kami akan menjagamu,” kata
Frederick.
“Kalian benar, ada yang ganjil dalam hubungan Angella dengan anak
itu,” kata Oscar setelah Angella tertidur.
“Memang sudah seharusnya engkau mempercayai kami setelah
mendengar cerita kami yang panjang itu,” kata Frederick.
92
“Kapan kita akan menanyai Angella?” tanya Oscar.
“Bila ia sudah tidak terlalu lemah lagi. Aku rasa saat itu yang paling
tepat,” kata Vladimer.
“Aku setuju. Selanjutnya, siapa yang akan menanyai Angella? Bila kita
bertiga yang bertanya padanya, aku yakin ia enggan mengatakannya,” kata
Oscar.
“Hal itu kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita harus memikirkan
kesehatan Angella dulu,” kata Frederick.
“Bagaimana bila Nanny yang kita minta untuk menanyai Angella,” saran
Oscar.
“Nanny! Ya… Nanny. Mengapa aku tidak memikirkannya sejak tadi! Kita
tidak akan menanyai Angella. Kita akan bertanya kepada Nanny. Aku rasa
Nanny pasti juga mengetahuinya. Bukankan ia yang paling dekat dengan
Angella?” kata Frederick.
“Ya, Nanny pasti juga mengetahuinya. Besok kita akan bertanya pada
Nanny,” kata Oscar.
Esok paginya, mereka membagi tugas. Vladimer bertugas menjaga
Charlie dan Angella di kamar Angella. Oscar dan Frederick bertanya kepada
Nanny di Ruang Kanak-Kanak.
“Nanny, kami ingin tahu apakah engkau mengetahui tentang anak itu?”
tanya Frederick memulai pertanyaan.
“Saya tidak mengetahui apa-apa mengenai anak itu. Tuan Puteri tidak
menceritakan apa-apa kepada saya sewaktu ia kemarin pagi datang bersama
anak itu,” jawab Nanny.
“Apakah itu benar, Nanny?” tanya Oscar.
“Ya, saya baru mengetahui bahwa ia putra dari Mr. dan Mrs. Boudini
kemarin malam ketika Tuan Muda bercerita kepada kami,” jawab Nanny, “Kalau
boleh saya tahu, mengapa Tuan Muda menanyakan hal ini kepada saya?”
“Tidak apa-apa, Nanny. Kami hanya ingin tahu saja mengenai anak itu,”
jawab Frederick.
“Nanny, dapatkan Anda menceritakan apa saja yang dilakukan mereka
berdua sewaktu berada di sini?” tanya Oscar.
“Saya tidak banyak mengetahui apa yang dilakukan Tuan Puteri bersama
Charlie. Sebab saya tidak selalu bersama Tuan Puteri ketika anak itu ada di sini
bersamanya,” kata Nanny.
“Apa maksudmu, Nanny?” tanya Oscar.
93
“Kemarin pagi sewaktu Tuan Puteri datang bersama anak itu, Tuan Puteri
tidak bercerita apa-apa mengenai anak itu. ia hanya mengatakan kepada saya
bahwa ia ingin sarapan pagi bersama anak itu di Ruang Kanak-Kanak,” kata
Nanny.
“Kemudian ketika saya tiba di Ruang Kanak-Kanak dengan baki berisi
makanan di tangan saya, saya melihat Tuan Puteri sedang mengawasi anak itu
bermain. Saat itu saya juga tidak dapat lama-lama bersama Tuan Puteri sebab
setelah itu ia meminta saya menyuruh Thompson mengantar dua pucuk surat.”
“Dua surat?” sela Oscar.
“Untuk siapa saja surat itu, Nanny?” tanya Frederick.
“Yang satu untuk Mr. Boudini dan yang satunya untuk ibu Jenny, Mrs.
Dellas,” jawab Nanny.
“Jenny? Siapa dia? Rasanya aku pernah mendengar namanya,” kata
Oscar sambil berpikir-pikir.
“Jenny dulu pernah bekerja di sini sebagai pelayan Tuan Puteri. Tetapi
beberapa tahun yang lalu ia tiba-tiba berhenti bekerja,” kata Nanny.
“Ya, aku ingat Jenny! Ia tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang jelas,” kata
Oscar.
“Lanjutkan lagi ceritamu, Nanny,” perintah Frederick.
Nanny melanjutkan ceritanya, “Saya segera memberikan surat itu
kepada Thompson kemudian saya kembali ke Ruang Kanak-Kanak. Di depan
ruangan itu, saya melihat Yang Mulia sedang berdiri terharu. Saya mengajak
Yang Mulia kembali ke kamarnya dan menemaninya selama beberapa waktu.”
“Saya kembali lagi ke Ruang Kanak-Kanak ketika Tuan Puteri hendak
mengantar anak itu pulang. Tuan Puteri meminta saya menjaga anak itu
bermain sementara ia bersiap-siap untuk mengantar anak itu.”
“Apakah Angella mengantar sendiri anak itu?” tanya Frederick.
“Ya. Tuan Puteri sendiri yang mengantar anak itu pulang sebab saat itu
Thompson belum kembali,” jawab Nanny.
“Mengapa engkau tidak menemaninya, Nanny?” tanya Oscar.
“Sebab saat itu saya sedang mengatur kembali Ruang Kanak-Kanak.
Selain itu Tuan Puteri melarang saya ikut bersamanya mengantar anak itu,”
jawab Nanny.
“Saya tahu saya telah bersalah membiarkan Tuan Puteri pergi seorang
diri, tetapi saat itu saya melihat Tuan Puteri benar-benar tidak mau ditemani,”
kata Nanny ketika melihat raut wajah kedua kakak Angella yang seperti
94
menahan amarah.
“Tidak apa-apa, Nanny. Kami tahu suatu hari nanti ia akan menolak
dikawal ke mana pun ia pergi,” kata Frederick.
“Apakah Anda memanggilkan kereta bagi Angella ketika ia mengantar
anak itu pulang?” tanya Oscar.
Nanny diam. Ia tidak tahu harus menawab apa. Ia sudah berjanji pada
Angella ia tidak akan memberitahu kedua kakaknya bahwa ia mengantar anak
itu pulang naik kuda tidak dengan kereta seperti yang disarankan Nanny.
“Anda tidak perlu menjawab, Nanny. Sebab kami sudah dapat menebak
bahwa Anda tidak memanggilkan kereta bagi Angella,” kata Frederick.
“Ya, saya memang tidak melakukannya karena Tuan Puteri menolaknya,”
kata Nanny berterus terang.
“Terima kasih atas keteranganmu, Nanny,” kata Frederick.
“Tuan Muda, tolong jangan jauhkan Tuan Puteri dari anak itu. Tuan Puteri
sangat menyayangi anak itu. Saya dapat melihat ia jauh lebih menyayangi
anak itu daripada anak-anak yang ada di Panti Asuhan Gabriel,” kata Nanny.
“Kami mengerti, Nanny,” kata Frederick kemudian meninggalkan Ruang
Kanak-Kanak bersama Oscar.

-----0-----

Vladimer dengan tenang duduk di kursi depan perapian memperhatikan


Angella dan anak itu. Charlie dengan riangnya bercerita tentang teman-
temannya sambil meniru gerakan teman-temannya itu. Ia juga bercerita saat ia
bersama Nanny di Ruang Kanak-Kanak.
Vladimer dapat melihat Angella tersenyum dan matanya tidak lagi
memandang dingin seperti biasanya, matanya terlihat ramah. Matanya kembali
dingin hanya ketika ia secara tidak sengaja bertemu pandang dengannya.
Angella tampaknya berusaha menghindari tatapan Vladimer.
“Boleh aku ke beranda itu?” tanya Charlie.
Sebelum Angella menjawab, anak itu sudah berlari ke beranda. Angella
merasa cemas melihat Charlie yang selalu lincah itu. Ia berusaha bangkit untuk
menjaga Charlie selama ia berada di beranda itu. Ia khawatir Charlie terjatuh
dari beranda itu.
Vladimer segera bangkit dari duduknya dan mencegah Angella
meninggalkan tempat tidurnya. “Tetaplah di sini, aku akan mengawasi anak
95
itu,” katanya sambil menyandarkan punggung Angella di bantal.
Ia pergi ke beranda dan membujuk Charlie untuk masuk. Rupanya
Vladimer juga mengalami kesulitan seperti kedua kakak Angella dalam
menghadapi Charlie. Anak itu dengan keras kepala menolak masuk.
Angella menoleh ke arah pintu ketika terdengar suara ketukan di pintu
itu.
“Masuk,” katanya lirih.
Ia menduga yang datang adalah Countess atau kedua kakaknya, tetapi
rupanya seorang pelayan yang datang untuk memberitahukan ada seseorang
yang mencari Angella. Tanpa diberitahu siapa orang itu, Angella sudah dapat
menebak. Ia tahu betul siapa yang biasa mengunjunginya setiap minggu.
Vladimer mendengar suara pintu diketuk dan ia melihat seorang pelayan
masuk. Ia masuk kembali ke dalam kamar Angella dengan terlebih dulu
berpesan kepada Charlie agar berhati-hati.
“Ada apa?” tanyanya kepada pelayan itu ketika dilihatnya muka Angella
menampakan kejengkelannya.
Pelayan itu tampak ragu-ragu sebentar kemudian ia berkata, “Di Ruang
Besar ada seorang pria yang mencari Tuan Puteri.”
“Katakan kepadanya untuk menunggu sebentar, aku akan segera
menemuinya,” kata Vladimer.
“Tetapi…,” kata pelayan itu ragu-ragu.
“Frederick dan Oscar memintaku untuk mengurusi segala hal yang
menyangkut adiknya selama mereka tidak berada di sisinya,” kata Vladimer.
“Baik, Tuan Muda,” kata pelayan itu.
Sebenarnya Vladimer bisa mengatakan kepada pelayan itu untuk
mengatakan kepada pria itu bahwa Angella sakit sehingga ia tidak dapat turun
untuk menemuinya. Namun ia ingin mengetahui pria yang mencari Angella.
Ia ingin mengetahui pria seperti apa yang berusaha menundukkan
kedinginan Angella itu. Ia mendekati Charlie dan berkata, “Dengar, Charlie! Aku
akan pergi sebentar. Sekarang kuserahkan tugas menjaga Angella kepadamu.
Engkau harus berjanji menjaganya dengan baik.”
“Baik, saya berjanji,” kata anak itu senang.
“Sekarang engkau harus masuk ke dalam agar dapat melakukan
tugasmu dengan baik,” katanya kemudian ia menuntun anak itu masuk ke
dalam ruangan.
Ia berjalan mendekati Angella. “Aku akan menemui pria itu,” katanya.
96
“Terima kasih,” kata Angella perlahan.
“Tidak apa-apa. Aku memang ingin bertemu dengan pria itu,” katanya.
“Engkau tidak mengerti. Aku tidak berterima kasih atas itu. Aku hanya
ingin berterima kasih karena kemarin engkau telah menyelamatkanku,” kata
Angella tersipu-sipu.
Vladimer tersenyum melihat pipi Angella yang memerah itu. Ia menjadi
semakin yakin dugaannya yang lain benar. “Tidak apa-apa,” katanya kemudian
ia meninggalkan mereka berdua.
Charlie duduk di sisi Angella dan bertanya, “Apa yang terjadi?”
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya.
“Tuan Puteri, apakah benar ibu saya masih hidup?” tanya Charlie.
“Ya, ibumu masih hidup,” katanya perlahan.
“Di mana ia? Bolehkah saya menemuinya?” tanya Charlie ingin tahu.
“Saya tidak dapat memberitahu lebih banyak lagi kepadamu sekarang,
tetapi percayalah saya akan membawamu menemuinya suatu hari nanti,” kata
Angella.
Ia menutup matanya mencoba membayangkan apa yang akan terjadi
apabila ia memberitahu Charlie segala kebenaran yang menyangkut dirinya itu.
Ia juga tidak tahu bagaimana reaksi Jenny bila ia membawa Charlie
menemuinya.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Suara langkah kaki datang mendekat. Angella membuka kembali
matanya dan menanti kedatangan mereka yang berjalan mendekati kamarnya.
Pintu kamar terbuka dan muncullah kedua kakaknya. Mereka
memandang heran pada adiknya dan Charlie yang duduk di sisi Angella.
“Di mana Vladimer?” tanya Frederick.
“Ia menemui Danny di Ruang Besar,” jawab Angella.
“Apakah Vladimer akan mencegah ia menemuimu?” tanya Oscar.
“Aku tidak tahu. Tapi aku yakin ia akan mencegahnya,” kata Angella.
“Bagaimana bila ia tidak mencegahnya?” tanya Oscar.
“Akan kuserahkan hal itu kepada kalian,” jawab Angella dengan tenang.
Ia mengetahui kedua kakaknya tidak menyukai Danny. Mereka selalu
mencegah Danny menemui adiknya walau Snow Angel mau menemuinya.
Tetapi biasanya ia selalu menolak bertemu dengan Danny pada setiap
kunjungan rutinnya.

97
11

Pria berdiri dengan segala keangkuhan yang tampak jelas dari cara
berdirinya. Wajahnya menunjukkan sikapnya yang penuh percaya diri. Matanya
memandang rendah segala yang ada di hadapannya.
Vladimer merasa tidak senang melihat pria yang sombong itu walau ini
pertama kalinya ia bertemu dengan pria itu. Namun diakuinya pria itu cukup
tampan sehingga ia berani mencoba menundukkan kedinginan Angella.
Pria itu menoleh ketika mendengar ia datang mendekat. Dengan rasa
heran yang tampak jelas ia bertanya, “Anda siapa?”
“Saya kakak Angella, Vladimer,” kata Vladimer dingin – tak mau bersikap
ramah kepada pria itu.
“Setahu saya, kakak Snow Angel hanya dua orang,” kata pria itu.
“Bolehkah saya tahu apa keperluan Anda datang kemari?” tanya
Vladimer tajam.
Pria itu tampak jengkel karena kata-katanya diabaikan Vladimer. “Saya
datang kemari untuk menemui Snow Angel,” jawabnya.
“Angella tidak dapat menemui Anda,” kata Vladimer.
“Katakan padanya bahwa Danny datang untuk menemuinya. Saya yakin
ia akan menemui saya,” kata pria itu percaya diri.
“Angella saat ini sedang istirahat. Ia terlalu lemah untuk menemui Anda.
Sebaiknya Anda pulang sekarang, daripada Anda nanti menjadi semakin
kecewa,” kata Vladimer tetap tidak mau bersikap ramah kepada tamu Angella.
“Apakah ia sakit?” tanya pria itu cemas.
“Apakah kata-kata saya kurang jelas?” tanya Vladimer tajam.
Pria itu tampak marah sekali telah diabaikan oleh Vladimer. Namun ia
tidak menunjukkan kemarahanannya secara langsung kepada Vladimer.
“Tolong katakan padanya saya mendoakannya agar lekas sembuh,” kata
pria itu setelah berhasil menahan amarahnya.
“Saya tidak dapat berjanji,” kata Vladimer.
Pria itu tampak marah sekali mendengar jawaban Vladimer. Ia segera
meninggalkan Troglodyte Oinos. Dari langkah kakinya, Vladimer tahu pria itu
merasa terhina.
98
Vladimer merasa puas telah berhasil membuat kesombongan pria itu
jatuh. Ia tidak mengerti mengapa dirinya ingin sekali membuat kesombongan
pria itu jatuh.
Ia telah bertemu orang yang sombong sebelumnya, tetapi ia masih dapat
menahan kata-katanya demi sopan santun. Tetapi terhadap pria tadi?
Ia heran mengapa ia sangat ingin membuat pria itu merasakan
bagaimana bila kesombongannya hancur, merasakan bagaimana bila harga
dirinya itu hancur. Ia tidak mengerti sama sekali.
Ia tidak tahu mengapa ia merasa tidak senang terhadap pria itu padahal
ia baru bertemu dengannya hari ini. Sewaktu ia bertemu dengan orang
sombong lainnya, ia tidak menganggap mereka ada. Ia mengacuhkan mereka.
Tetapi terhadap pria tadi?
Ia benar-benar tidak mengerti mengapa ia bisa seperti itu. Mengapa ia
tidak mengacuhkannya saja seperti ia mengacuhkan teman-temannya yang
memiliki sifat sama seperti pria itu?
“Bagaimana pertemuanmu dengan Danny?” tanya Oscar.
“Buruk. Aku merasa tidak senang kepadanya. Aku melarangnya menemui
Angella,” kata Vladimer.
“Memang itu yang harus kaulakukan kepadanya. Kami akan marah
padamu bila engkau mengijinkannya menemui Angella,” kata Oscar.
“Kalian juga tidak senang kepada pria itu?” tanya Vladimer.
“Ya, kami semua termasuk Angella sendiri,” jawab Frederick. “Ia selalu
datang kemari seminggu sekali untuk menemuinya walaupun Angella selalu
menolak bertemu dengannya.”
“Danny itu suka mempermainkan wanita. Dan kami menduga ia
berusaha menaklukan kedinginan Angella hanya karena ia merasa terhina
sebab Angella selalu menolaknya,” tambah Oscar.
“Aku telah menduganya. Pria yang seperti itu memang suka
mempermainkan wanita,” kata Vladimer.
“Kau menyinggung perasaanku, Vladimer,” kata Oscar.
“Aku tidak merasa menyinggung perasaanmu,” elak Vladimer.
“Ia tidak suka bila engkau mengatakan pria yang berambut pirang
sepertinya suka mempermainkan wanita. Lebih baik bila engkau mengatakan
sikap pria itu menunjukkan dengan jelas sifatnya yang suka mempermainkan
wanita,” Frederick memberi penjelasan kepada Vladimer.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyamakanmu dengan pria itu.
99
Walaupun begitu engkau harus mengakui engkau dan dia mempunyai
kesamaan. Sama-sama berambut pirang, sama tampannya, sama….”
“Vladimer!” Oscar mulai marah.
“Maaf aku hanya bercanda,” kata Vladimer.
“Apa yang kaukatakan kepadanya?” tanya Angella yang sedari tadi diam
melihat tingkah mereka.
Vladimer menjelaskan secara singkat pembicaraannya dengan Danny
kepada mereka. Oscar tertawa terbahak-bahak usai mendengar cerita
Vladimer.
“Tepat! Tepat sekali! Memang itu yang harus kita lakukan kepadanya
sejak dulu,” kata Oscar.
“Sudah kuduga engkau akan melakukannya lebih baik daripada kami,”
tambah Frederick.
“Aku merasa yakin ia merasa terhina sekali dengan sikapmu,” kata Oscar.
“Sebenarnya, siapakah pria itu?” tanya Vladimer.
“Engkau tidak tahu?” tanya Oscar.
“Aku hanya pernah sekali mendengar namanya dan reputasinya,” kata
Vladimer.
“Kami akan menceritakan secara lengkap kepadamu. Ia adalah
keponakan Earl of Wicklow dan ia menjadi pewaris tunggal pamannya itu.
Sebelumnya ia memang sudah sombong dan ia menjadi semakin sombong
ketika mengetahui bahwa ialah satu-satunya pewaris harta pamannya,” kata
Frederick.
“Apakah ia anak dari kakak atau adik Earl?” tanya Vladimer.
“Tidak. Ia putra dari sepupu Earl of Wicklow,” jawab Frederick. “Earl of
Wicklow tidak mempunyai kakak. Sedangkan adiknya, Lady Elize belum
menikah.”
“Earl pernah menikah, tetapi sayang istrinya meninggal dalam
kecelakaan sebelum memberikan keturunan padanya,” tambah Oscar.
“Sebenarnya ia bisa menikah lagi sebab ia tidak terlalu tua. Usianya belum ada
setengah abad. Tetapi kudengar ia sangat mencintai istrinya sehingga ia
enggan menikah lagi.”
Angella menutup matanya mendengar cerita mereka. Baginya
mendengar cerita mereka bagaikan mengulang cerita masa lalu yang suram.
Charlie tampak cemas melihat Angella diam sambil menutup matanya.
“Tuan Puteri, Anda baik-baik saja?”
100
“Engkau baik-baik saja?” tanya Oscar.
“Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa lelah,” katanya dengan perlahan.
“Kami akan pergi agar engkau dapat beristirahat. Oscar, engkau menjaga
Angella sementara aku dan Vladimer berbicara. Dan, engkau Charlie, pergilah
ke Ruang Kanak-Kanak dan bermainlah di sana. Biarkan Angella beristirahat,”
kata Frederick.
“Tapi…,” Charlie tampak ragu-ragu.
“Nanny telah menunggumu di sana. Jangan kecewakan Nanny, engkau
telah berjanji akan menuruti Nanny,” kata Oscar.
“Tetapi Nanny tidak meminta saya bermain di Ruang Kanak-Kanak,”
bantah Charlie.
“Nanny pasti akan menyuruhmu menjauh bila Angella akan beristirahat,”
kata Frederick.
Angella melihat mereka tampak kewalahan menghadapi Charlie.
“Turutilah kata mereka, Charlie. Percayalah kepada mereka,” bisiknya kepada
anak itu.
“Baik,” kata Charlie dan ia pun berlari menuju Ruang Kanak-Kanak.
Disusul kepergian Vladimer dan Frederick.
“Apa yang kaukatakan kepada anak itu sehingga ia menuruti kata-kata
kami?” tanya Oscar ingin tahu.
“Aku hanya mengatakan kepadanya agar menuruti kata-kata kalian.”
“Tampaknya anak itu lebih menuruti kata-katamu daripada kami semua.
Sekarang tidurlah yang nyenyak, aku akan menjagamu,” kata Oscar.
Oscar membaringkan tubuh Angella yang semula bersandar pada tepi
tempat tidunya.
Vladimer dan Frederick segera pergi ketika Angella telah menutup
matanya dan membawa dirinya ke alam impian.
Oscar duduk di tepi tempat tidur Angella sambil mengawasi wajah
adiknya yang sedang tertidur.
Pintu kamar diketuk perlahan oleh seseorang. Oscar berdiri dari sisi
adiknya dan membuka pintu dengan perlahan agar adiknya tidak terbangun.
Seorang pelayan berdiri dengan membawa seikat besar bunga di tangannya.
“Untuk Tuan Puteri,” kata pelayan itu.
Oscar mengambil bunga yang diserahkan pelayan itu, pada bunga itu
dilihatnya secarik kertas. Ia membaca kertas itu ‘Semoga lekas sembuh. Dari
Danny’. Oscar membawa bunga itu ke dalam kamar adiknya.
101
Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan bunga itu. Tetapi ia
merasa yakin adiknya akan menolak bila bunga itu diletakkan di kamarnya.
“Letakkan saja bunga itu di ruangan yang lain. Jangan di kamarku!” kata
Angella melihat Oscar datang membawa seikat besar bunga.
“Engkau belum tidur?” tanya Oscar.
“Aku tidak dapat tidur,” kata Angella. “Letakkan bunga itu di ruangan
yang lain.”
“Engkau yakin? Bunga ini indah sekali,” goda Oscar.
“Lakukan saja apa yang kukatakan.”
“Bunga ini pasti indah sekali bila kuletakkan di vas bunga itu. Bunga yang
kemarin terjatuh itu belum diganti,” Oscar terus menggoda adiknya.
“Aku lebih memilih bunga yang kalian petikkan untukku walaupun jelek
daripada bunga indah dari Danny itu,” kata Angella tajam.
“Baiklah. Akan kusuruh pelayan meletakkan bunga ini di Ruang Makan
atau di Ruang Perpustakaan,” kata Oscar berhenti menggoda adiknya.
Oscar membunyikan bel yang terletak di dekat tempat tidur adiknya. Tak
lama kemudian seorang pelayan datang.
“Letakkan bunga ini di Ruang Perpustakaan atau di mana saja sesukamu.
Dan ambilkan segelas air untuk Tuan Puteri,” perintah Oscar kepada pelayan
itu.
“Engkau harus minum obatmu lagi agar dapat tidur,” kata Oscar ketika
melihat adiknya tampak jengkel. “Dokter memberikan obat penenang
kepadamu bila engkau tidak dapat tidur.”
Oscar berusaha keras membujuk adiknya untuk minum obat. Adiknya
akhirnya mengalah, ia meminum obat yang diberikan Oscar kepadanya. Tak
lama kemudian Angella tertidur nyenyak.
Oscar berdiri di beranda sambil menjaga adiknya yang tertidur itu. ia
merenungkan kembali pembicaraannya dengan Nanny dan pembicaraannya
dengan Frederick serta Vladimer semalam. Ia mencoba menghubung-
hubungkan hal-hal yang diketahuinya menjadi sesuatu yang jelas.
“Apa yang kaupikirkan?” tanya Frederick.
Oscar terkejut mendengar pertanyaan kakaknya, “Engkau
mengejutkanku! Aku sedang berpikir apa hubungan anak itu dengan Mrs.
Dellas dan Jenny.”
“Aku dan Vladimer juga telah memikirkannya. Bahkan kami menduga
Thompson mengetahui sesuatu,” kata Frederick.
102
“Di mana dia?” tanya Oscar ketika melihat Vladimer tidak bersama
kakaknya.
“Ia sedang berusaha mendekati anak itu. Kita telah terbukti tidak
berhasil dengan baik mendekati anak itu. Satu-satunya yang belum berusaha
mendekati anak itu adalah Vladimer. Siapa tahu ia berhasil mendekati anak
itu,” kata Frederick.
“Apakah kita akan menanyai Thompson juga?” tanya Oscar.
“Kami belum memutuskannya,” jawab Frederick.
“Aku memutuskan menanyai Thompson. Aku yang akan bertanya
kepadanya sekarang,” kata Oscar.
“Kurasa percuma saja engkau mencari Thompson sekarang,” kata
Frederick sambil menyadarkan badannya ke pagar batu yang mengelilingi
beranda kamar adiknya yang berbentuk setengah lingkaran itu.
“Apa maksudmu?” tanya Oscar.
“Lihatlah ke bawah.”
“Ada apa di bawah, Fred? Jangan membuatku bingung,” kata Oscar
mengikuti perbuatan kakaknya.
“Apakah engkau tidak melihat Thompson dan Vladimer sekarang sedang
mengajari anak itu berkuda?” kata Frederick.
“Vladimer mendekati anak itu dengan cara itu? Pintar sekali dia,” kata
Oscar setelah menemukan mereka bertiga di bawah.
“Ya. Kami tadi memutuskan bahwa kita akan berusaha mendekati anak
dengan mengajaknya bermain atau berjalan-jalan. Seperti yang kita lakukan
pada Angella sewaktu ia masih kecil,” kata Frederick.
“Apakah kau yakin cara ini akan berhasil? Ada perbedaan yang cukup
menyolok dalam hal ini. Kita dulu sering mengajak Angella bermain karena kita
menyayanginya. Tetapi anak itu, karena kita ingin mendekatinya,” kata Oscar.
“Itulah tujuan sebenarnya dalam hal ini. Kita akan mencoba membuat
anak itu menyayangi kita seperti ia menyayangi Angella.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan bila rencana kalian itu berhasil?” tanya
Oscar.
“Bila kita berhasil membuat anak itu menyayangi kita, kita tentunya akan
lebih mudah mendapatkan keterangan yang kita inginkan darinya,” kata
Frederick.
“Lalu bagaimana perasaan kita terhadap anak itu? Tidak adil bila kita
mencoba membuat anak itu menyayangi kita tetapi kita sendiri tidak mencoba
103
menyayangi anak itu,” tuntut Oscar.
“Kita juga akan mencoba menyayangi anak itu. Bila Angella dapat
melakukannya mengapa kita tidak?” kata Frederick.
Suasana hening di antara mereka. Mereka sibuk memperhatikan
Vladimer dan Thompson yang sedang mengajari Charlie berkuda.
“Apakah engkau yang menyuruh pelayan meletakkan bunga itu di Ruang
Perpustakaan?” tanya Frederick.
“Bagaimana engkau tahu?”
“Aku sedang menceritakan hasil yang kita dapat dari Nanny kepada
Vladimer ketika pelayan itu datang. Kata pelayan itu engkau yang menyuruh
meletakkannya di sana,” kata Frederick.
“Ya, aku yang menyuruh pelayan itu tetapi atas permintaan Angella
sendiri,” kata Oscar.
“Sepertinya Angella akan mendapatkan kiriman bunga secara rutin
setiap hari,” kata Frederick.
“Dan bila bunga itu selalu diletakkan di Ruang Perpustakaan, aku berani
menjamin tak lama lagi ruangan itu penuh dengan bunga,” kata Oscar.
“Tadi aku melihat muka Vladimer agak aneh ketika aku memberitahunya
bahwa bunga itu untuk Angella dari Danny,” kata Frederick.
“Mungkinkah perkiraan kita benar?” tanya Oscar.
“Aku hanya dapat mengatakan hampir benar,” kata Frederick.
“Aku akan sangat senang sekali bila perkiraan kita itu benar. Sudah sejak
kecil aku mengharapkannya,” kata Oscar senang.
“Aku juga,” kata Frederick.
Malam itu mereka kembali berkumpul di kamar Angella. Charlie duduk di
sisi Angella mendengarkan gadis itu menceritakan dongeng-dongeng Yunani
Kuno seperti yang pernah dijanjikannya kepada anak itu.
Ketiga pria yang menjaga Angella duduk dengan tenang, ikut
mendengarkan Angella bercerita.
Ketika melihat anak itu mulai mengantuk, Vladimer menyarankan anak
itu untuk pergi tidur.
Tetapi anak itu menolaknya, ia ingin mendengarkan cerita Angella lagi.
Akhirnya anak itu menurut ketika Angella yang menyuruhnya tidur, ia juga
berjanji kepada Charlie akan bercerita lagi esok malam.
“Benar-benar sulit memisahkan mereka berdua,” kata Oscar tak lama
setelah Angella tertidur.
104
“Charlie tampaknya ingin selalu berada di sisi Angella,” Vladimer
memberi pendapat.
“Mama tadi tampak senang ketika melihat Angella sudah lebih baik
daripada kemarin,” kata Frederick.
“Ya, aku juga melihatnya. Aku merasa tidak hanya sulit memisahkan
Charlie dari Angella. Tetapi juga membujuk Mama agar beristirahat dan
meyakinkannya bahwa kita akan menjaganya dengan baik,” kata Oscar.
“Bagaimana hasil penyelidikanmu?” tanya Frederick kepada Oscar.
“Buruk. Thompson sama sekali tidak membantu apa-apa. Ia mengatakan
bahwa ia tidak tahu sama sekali mengenai anak itu. Ia juga tidak tahu apa isi
surat yang ia antarkan kepada Mrs. Dellas,” jawab Oscar.
“Aku rasa kita tidak memiliki pilihan yang lain selain mencoba membuat
Angella menceritakan segalanya kepada kita,” kata Frederick.
“Aku mendapat sesuatu yang menarik dari anak itu,” kata Vladimer.
“Apa yang kaudapat?” tanya Oscar.
“Ia mengatakan kepadaku dan Thompson bahwa ia masih mempunyai
ibu,” kata Vladimer.
“Saat itu aku mencoba berkata kepadanya bahwa aku merasa ikut sedih
atas kematian orang tuanya.
Anak itu menjawab, “Aku masih mempunyai Ibu.”
“Siapa yang mengatakannya?” tanyaku.
“Tuan Puteri yang mengatakan kepadaku,” jawab anak itu.
“Boleh aku tahu apa yang dikatakan Angella kepadamu?” tanyaku lagi.
“Tuan Puteri mengatakan ibuku masih hidup di suatu tempat dan ia
berjanji akan mengajakku menemuinya suatu hari nanti,” jawab Charlie.
“Apakah ia mengatakan yang lainnya kepadamu?” tanyaku lagi.
“Tidak. Tuan Puteri hanya mengatakan itu,” jawab Charlie.
Aku melihat tidak hanya aku yang terkejut mendengar jawaban anak itu,
Thompson juga sama terkejutnya denganku. Aku merasa apa yang dikatakan
Thompson kepada Oscar itu benar,” cerita Vladimer.
“Kesimpulan yang kita dapat dari penyelidikan kita selama hari ini adalah
ibu Charlie masih hidup di suatu tempat dan hanya Angella yang mengetahui
siapa ibu kandung anak itu dan di mana sekarang ia berada,” kata Frederick.
“Masih ada yang membuatku bertanya-tanya,” kata Vladimer.
“Apakah itu?” tanya Oscar.
“Mengapa Charlie tidak dirawat oleh ibu kandungnya sendiri? Mengapa
105
ibu kandung Charlie menyerahkannya kepada keluarga Boudini kemudian
merahasiakannya? Dan bagaimana Angella bisa mengetahuinya? Apakah ibu
kandung Charlie dekat dengan Angella?”
“Menurut pendapatku, pertanyaanmu itu akan dapat terjawab semuanya
bila kita dapat membuat Angella menceritakan segala kebenaran yang
berhubungan dengan anak itu kepada kita,” kata Frederick.
“Dan kita harus berusaha keras untuk itu,” tambah Oscar.
Malam itu, Vladimer sukar memejamkan matanya. Ia masih teringat
sosok Angella yang sedang memetik bunga pada hari kedatangannya. Gadis itu
tampak seperti peri kecil di antara bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Vladimer tidak dapat menjawab semua pertanyaan yang berada di
benaknya. Ia tidak mengerti hubungan Angella dengan Charlie. Terlalu banyak
hal yang berubah pada diri Angella sejak kedatangan anak itu.
Gadis yang semula tidak pernah tertawa itu kini sering tertawa riang.
Gadis yang semula pendiam itu kini mulai banyak berkata-kata. Mata gadis itu
yang semula tampak dingin kini tidak pernah lagi tampak dingin.
Vladimer berpikir ke manakah perginya Snow Angel? Di manakah Angella
menyembunyikan Snow Angel? Mengapa Charlie dapat mengembalikan
Angella? Apa yang menyebabkan anak itu dapat menghapus kedinginan hati
Angella?
Hari-hari berikutnya dilalui Angella di atas tempat tidurnya. Kedua
kakaknya tidak mengijinkannya turun dari tempat tidurnya. Namun mereka
tetap berusaha membuat Angella merasa betah berada di kamarnya sepanjang
hari.
Di pagi hari ia bersama kakak-kakaknya dan Vladimer mendengarkan
Charlie menceritakan segala kegiatannya pada hari sebelumnya. Charlie selalu
bercerita dengan penuh semangat membuat Angella dapat merasakan
kesenangan anak itu.
Di siang hari ibunya dan Nanny menemaninya, kadang kakaknya juga
menemaninya. Tetapi biasanya kedua kakaknya dan Vladimer sibuk bermain
dengan Charlie. Mereka menemaninya hingga tengah hari. Sebab biasanya
pada saat itu ibunya beristirahat di kamarnya.
Ketika ibunya beristirahat di kamarnya, kakak-kakaknya dan Vladimer
menemaninya. Charlie bersama Nanny di Ruang Kanak-Kanak. Kadang Charlie
juga menemaninya.
Di malam hari mereka bertiga ikut mendengarkan Angella bercerita
106
mengenai para dewa-dewi Yunani Kuno kepada Charlie. Bila Charlie sudah
kembali ke Ruang Kanak-Kanak, Angella mau disuruh tidur oleh mereka.
Mereka bertiga selalu menemaninya sampai pagi walaupun Angella
sudah menyarankan agar mereka tidur di kamarnya masing-masing atau
mereka bergiliran menjaganya.
Pernah di suatu sore Angella terbangun dan melihat Vladimer datang
dengan membawa seikat bunga di dalam jambangan bunga yang biasa
diletakkannya di meja kecil di sisi tempat tidurnya. Ia melihat Vladimer
meletakkan jambangan bunga itu sisi tempat tidurnya. Ia berpura-pura tidur
ketika Vladimer menoleh kepadanya.
Angella menduga bunga itu bukan dari Danny. Ia dapat melihat bunga itu
masih segar karena baru dipetik dari taman bunga. Ia menduga Vladimer dan
kakak-kakaknya yang telah memetik bunga-bunga itu untuknya.
Seminggu setelah peristiwa kebakaran yang membuat Angella pingsan,
Earl datang dari Skotlandia.
“Selamat datang, Papa,” sambut Oscar ketika melihat ayahnya turun dari
kereta, “Bagaimana perjalanan Papa?”
“Oscar!” tegur Frederick melihat tingkah Oscar yang seperti anak kecil
yang dengan penuh semangat menyambut kedatangan orang tuanya, “Jangan
seperti anak kecil. Papa baru datang, ia tentu lelah.”
“Biarkan, Frederick. Kita semua tahu, ia memang selalu penuh canda
sehingga membuat dirinya selalu tampak seperti anak kecil,” kata Earl.
“Selamat siang, Paman Hendrick,” kata Vladimer ketika Earl melihat
padanya.
“Bagaimana kabarmu, Vladimer? Sudah lama kita tidak berjumpa,” kata
Earl, “Kapan engkau tiba?”
“Sehari setelah Paman berangkat ke Skotlandia,” kata Vladimer.
“Sayang sekali. Seharusnya aku tidak pergi ke sana sehingga aku bisa
bertemu denganmu,” kata Earl.
“Jangan menyesal, Papa. Bukankah Vladimer masih berada di sini saat
ini?” kata Frederick.
“Ya, benar. Sekarang ceritakan padaku, Vladimer apa yang kaulakukan
selama bertahun-tahun engkau mengurung dirimu di Eton dan membuat dirimu
terkenal sebagai manusia es.”
Earl terdiam. Ia melihat sekeliling Ruang Besar seperti mencari sesuatu.
“Di mana gadis esku?” tanya Earl pada Frederick dan Oscar.
107
Frederick dan Oscar tersenyum melihat kebingungan ayahnya sedangkan
Vladimer tidak mengerti siapa yang disebut Earl dengan gadis es.
“Angellakah gadis es yang Paman maksud?” tanya Vladimer.
“Ya, aku lebih sering memanggilnya demikian,” kata Earl.
“Ia sakit,” jawab Frederick.
“Sakit?” kata Earl tak percaya, “Selama ini gadis esku jarang sakit.
Mengapa ia sampai bisa sakit?”
“Jangan melihat kami seperti itu, Papa,” kata Oscar.
“Kami merasa bersalah karena tidak menjaganya dengan baik sehingga
ia jatuh sakit,” kata Frederick.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Earl ketika mendengar suara
tawa anak kecil di lantai atas.
“Mari kita ke Ruang Perpustakaan, Papa. Kami akan menceritakannya di
sana,” kata Frederick.
Earl mendahului mereka menuju Ruang Perpustakaan. Ia duduk di depan
ketiga pria itu seperti seorang hakim yang tengah menanti pengakuan
terdakwanya.
“Suara tawa yang tadi Papa dengar itu adalah tawa Charlemagne,” kata
Frederick memulai ceritanya.
“Charlemagne?” ulang Earl, “Sepertinya aku pernah mendengar nama
itu.”
“Itu nama raja yang mendirikan Kerajaan Romawi Kuno,” sahut Vladimer.
“Ya, aku ingat ia memang raja yang besar. Mengapa anak itu mempunyai
nama seperti itu?”
“Kami tidak tahu, Papa. Orang tua anak itu tewas dalam kebakaran yang
menimpa Boudini’s Theatre dan kami membawanya kemari karena Angella
berusaha menyelamatkan anak itu dalam peristiwa itu,” kata Frederick.
“Bagaimana kejadiannya?” tanya Earl.
Bergantian mereka bertiga mengulangi kejadian itu kepada Earl dan
mejawab semua pertanyaan yang ditujukan Earl pada mereka.
Mereka sibuk bercakap-cakap sehingga tidak mendengar suara pintu
dibuka.
“Papa!” kata Angella.
“Kukira aku tidak akan mendapat sambutan darimu kali ini,” goda Earl
sambil memeluk putrinya yang berjalan mendekat.
“Snow Angel, mengapa engkau meninggalkan kamarmu?” tanya
108
Frederick.
“Apakah engkau juga hendak melarang aku menemui Papa?” tanya
Angella tajam.
“Aku tidak melarangmu, tetapi engkau masih belum boleh keluar kamar.
Engkau tahu itu,” kata Frederick.
“Mengapa engkau melanggar peraturan yang dibuat kakak-kakakmu,
gadis esku?” tanya Earl.
“Karena mereka mengurungku di sana dan tidak mengijinkanku
meninggalkan tempat tidurku.”
“Turutilah kakak-kakakmu. Mereka tahu apa yang terbaik untukmu.
Kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah, Nanny pasti cemas bila tahu
engkau meninggalkan kamarmu sedangkan tubuhmu masih lemah.”
“Nanny sedang menemani Charlie. Ia mengira aku sedang tidur,” kata
Angella.
“Kembalilah ke kamarmu, Snow Angel,” kata Frederick.
“Vladimer, antarkan Snow Angel. Aku yakin ia mau bila engkau yang
mengantarkannya,” goda Oscar.
Angella menatap tajam kepada Oscar sebelum ia beralih pada Vladimer
yang enggan melihat padanya.
“Aku bisa kembali ke kamarku sendirian,” kata Angella tajam kemudian ia
segera pergi meninggalkan mereka.
“Vladimer, antarkan gadis esku. Aku takut ia jatuh,” kata Earl.
“Baik, Paman,” kata Vladimer dengan enggan.
Dengan enggan pula Vladimer mendekati Angella yang sedang membuka
pintu dan sebelum gadis itu bisa berbuat apa-apa, ia mengangkat tubuhnya
dan membawanya meninggalkan ruangan yang sekarang dipenuhi tawa
Frederick dan Oscar.
“Apa yang terjadi pada mereka berdua? Mengapa mereka seperti orang
yang sedang bermusuhan?” tanya Earl tak mengerti.
“Beginilah, Papa, pertemuan dua manusia es yang terkenal itu. Kami
tidak tahu mengapa mereka bersikap seperti dua musuh yang harus
berhadapan,” kata Oscar.
Earl menggelengkan kepalanya. “Terlalu banyak yang terjadi selama aku
pergi.”
“Tentu saja, Papa. Banyak yang terjadi selama dua manusia es itu
dipertemukan dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata
109
Frederick.
“Aku yakin selama perjalanan menuju kamar Angella, mereka berdua
pasti berdiam diri sambil membuang muka,” sahut Oscar, “Aku ingin melihat
mereka tetapi aku takut menganggu.”
Beberapa hari setelah kedatangan Earl, mereka sekeluarga menjadi
bingung karena tidak lama lagi akan tiba hari pernikahan Earl dan Countess.
Biasanya mereka selalu merayakannya. Setiap tahunnya mereka mengadakan
pesta dan mengundang kawan-kawan dekat Earl dan Countess.
Tetapi tahun ini mereka tidak tahu apakah akan tetap mengadakan pesta
atau tidak sebab Angella masih belum sembuh benar.
Angella mengetahui itu dan ia bersikeras agar mereka tetap mengadakan
pesta tahunan mereka. Ia mengatakan ia sudah sembuh dan cukup kuat untuk
hadir di pesta tersebut.
Kedua kakak Angella yang tidak menginginkan orang tuanya
membatalkan pesta tahunan mereka juga ikut bersikeras agar mereka tetap
mengadakan pesta tersebut. Mereka berjanji akan mengawasi Angella selama
pesta itu.
Setelah dipaksa putra-putrinya, akhirnya Earl dan Countess tetap
melaksanakan pesta tahunan itu.
Beberapa hari sebelum pesta tersebut dilaksanakan, semua orang di
Troglodyte Oinos tampak sibuk kecuali Angella sebab ia masih tidak
diperbolehkan meninggalkan tempat tidurnya oleh kakak-kakaknya.

110
12

Pesta itu berlangsung meriah.


Angella berdiri di dekat kolam air mancur bersama kakak-kakaknya dan
Vladimer serta Charlie. Orang tuanya tampak gembira mendapat ucapan
selamat dari teman-temannya.
Orang tua Vladimer juga diundang ke pesta ulang tahun perkawinan itu.
Mereka berdiri tak jauh dari orang tua Angella. Mereka tampak sedang
berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain.
Angella tampak anggun dengan gaun yang dikenakannya. Gaun
berlengan panjang itu diberikan kepadanya oleh Frederick sehari sebelum
pesta dilangsungkan. Frederick memaksanya mengenakan gaun itu selama
pesta sebab pesta itu dilangsungkan di halaman rumah.
“Mengapa aku harus mengenakan gaun itu?” tanya Angella saat
Frederick memberikan gaun itu kepadanya.
Frederick meletakkan gaun itu di kursi yang selalu diletakkan di depan
perapian oleh Angella. Kemudian ia memandang Angella yang sedang
bersandar pada tepi tempat tidurnya.
Angella tidak melihat pada gaun merah muda yang dibawanya. Mata
gadis itu mengawasi langit yang mulai gelap di luar melalui pintu beranda
kamarnya yang terbuka.
“Karena pesta itu akan diadakan di halaman dan engkau tidak boleh
terkena angin malam yang dingin,” jawab Frederick.
“Tetapi, Freddy, aku sudah mempunyai banyak gaun yang juga berlengan
panjang seperti gaun itu,” kata Angella.
“Engkau harus mengenakan gaun itu. Gaun itu khusus dipesan untukmu
oleh Mama. Mama ingin engkau mengenakannya dalam pesta itu,” kata
Frederick memaksa Angella.
“Tolong katakan pada Mama, aku berterima kasih atas gaunnya tetapi
aku tidak dapat menerimanya. Gaunku sudah terlalu banyak.”
“Mama akan sedih sekali bila tahu engkau menolak mengenakan gaun
yang sengaja dipesannya untukmu. Kenakanlah gaun ini di pesta esok malam.”
“Jangan membujukku terus, Freddy!”
111
“Jangan kembali lagi menjadi Snow Angel lagi. Lebih baik engkau menjadi
Angella yang manis dan penurut,” goda Frederick.
“Bila engkau tidak menyukainya, silakan pergi,” kata Angella tajam.
“Rupanya aku harus memanggil bantuan untuk membujukmu,” kata
Frederick.
“Siapapun yang membantumu tidak akan membuatku terbujuk.”
Frederick menggelengkan kepalanya dan berkata, “Jangan terlalu yakin,
Angella. Aku bisa menyakinkanmu bahwa ia akan berhasil membujukmu.”
“Silakan coba,” kata Angella tetap tajam.
“Sungguh? Apakah engkau nanti tidak menyesal?” kata Frederick
menantang adiknya.
“Untuk apa mundur bila aku telah yakin.”
“Baiklah. Aku akan meminta bantuan Vladimer, mungkin ia dengan
sikapnya yang dingin itu mampu membuatmu mau mengenakan gaun itu.”
Angella mengeluh mendengar nama Vladimer disebut Frederick, “Oh,
jangan dia lagi. Aku tidak ingin bertemu dengannya.”
“Sungguh? Mungkin saat ini engkau mengatakan tidak tetapi siapa tahu
esok engkau mengatakan yang sebaliknya,” goda Frederick.
“Tidak. Sekarang dan selamanya,” kata Angella tajam.
“Bila demikian, engkau harus mau mengenakan gaun itu? Atau aku akan
meminta Vladimer untuk membujukmu,” kata Frederick.
Dalam beberapa hari ini, semua orang yang tinggal di Troglodyte Oinos
telah mengetahui Angella dan Vladimer tengah bermusuhan. Tidak seorangpun
dari mereka yang saling menyapa.Tidak ada yang tahu penyebab permusuhan
mereka ini kecuali mereka sendiri.
Countess sangat sedih ketika mengetahui antara Angella dan Vladimer
tumbuh semacam permusuhan yang tidak kentara. Berlainan dengan kedua
kakak Angella, mereka tidak merasa sedih adik mereka bermusuhan dengan
sahabat mereka.
Mereka semakin rajin menggoda Angella. Kali ini Angella tidak selalu
diam saja bila digoda. Kedua kakak Angella telah mendapatkan apa yang
mereka harapkan, Angella sering bersemu merah bila mereka menggoda gadis
itu. Tetapi mereka tidak berhenti menggoda Angella seperti yang mereka
katakan bahwa mereka akan berhenti menggoda Angella bila gadis itu telah
bersemu merah bila mereka menggodanya. Setiap hari mereka tidak hanya
rajin menggoda Angella tetapi juga Vladimer.
112
Mereka menduga permusuhan mereka ini bagaikan jalan bagi Vladimer
dan Angella untuk dapat menyadari bahwa mereka saling mencintai.
Sejak kecil Angella selalu terlihat lebih menyayangi Vladimer dari pada
kedua kakaknya yang selalu menggodanya. Setiap kali ia diganggu Frederick
atau Oscar, ia selalu berlari kepada Vladimer.
Vladimer pun tidak pernah mengabaikan Angella. Ia selalu membela
Angella dan menjaganya seperti menjaga adiknya sendiri.
Sikap Angella yang seperti itu sering membuat Frederick dan Oscar
merasa cemburu pada Vladimer. Mereka marah pada Vladimer yang lebih
sering mendapatkan perhatian dari Angella kecil yang manis.
“Baiklah, aku akan mengenakan gaun itu di pesta kebun besok malam,”
kata Angella mengalah.
Pilihan mengadakan pesta di halaman Troglodyte Oinos itu memang
tepat karena bersamaan dengan akan diadakannya pesta itu, bunga-bunga di
taman bunga bermekaran semua seperti ikut menyambut dan memeriahkan
pesta itu.
Angella merasa senang dapat keluar kamarnya setelah pada hari-hari
sebelumnya ia tidak diijinkan meninggalkan kamarnya oleh kakak-kakaknya. Ia
merasa seperti seekor burung yang baru dilepaskan dari sangkarnya.
Charlie berdiri dengan tenang di sisi Angella. Tangannya menggandeng
tangan Angella. Ia tidak henti-hentinya mengagumi pesta itu. Tingkahnya yang
lucu itu membuat mereka tertawa.
Seseorang datang mendekati mereka. “Selamat malam, Snow Angel.
Engkau tampak cantik sekali malam ini,” kata laki-laki itu.
Suasana ceria di antara mereka menjadi beku ketika pria itu datang. Ia
mengulurkan tangan hendak mencium tangan Angella, namun gadis itu
menepisnya.
“Ada keperluan apa engkau kemari, Danny?” tanya Frederick.
“Oh, engkau Frederick. Maaf aku tidak melihatmu sebelumnya. Aku
kemari hendak mengajak adikmu berdansa denganku nanti,” kata Danny.
“Maaf, Danny. Engkau terlambat, Angella sudah berjanji akan berdansa
dengan Vladimer,” kata Oscar.
Angella diam memandang tajam pada Oscar kemudian kepada Danny.
“Bila keperluanmu telah selesai, silakan pergi,” katanya tajam setajam tatapan
matanya.
“Jangan begitu! Biarkanlah aku ikut bercanda bersama kalian. Aku
113
melihat kalian sedang asyik bercanda tadi,” kata Danny.
“Mari kita pergi, Charlie,” kata Angella sembari menggandeng Charlie
menjauh.
Pria itu menyadari keberadaan Charlie ketika Angella mengajaknya
menjauh. Ia memandang Charlie dan merasa pernah melihatnya.
Vladimer segera mengikuti Angella yang pergi menjauh itu. Kedua kakak
Angella tetap berdiri di dekat kolam itu untuk menghadapi Danny.
“Engkau telah melihat sendiri bahwa Angella tidak menyukaimu.
Mengapa engkau tidak berhenti mengganggunya?” kata Frederick.
“Aku tidak merasa ia tidak menyukaiku. Sebaliknya aku merasa ia
sebenarnya menyukaiku hanya saja kalian yang melarangnya bergaul
denganku. Bila ia tidak menyukaiku, mengapa ia menjauh dariku?” kata Danny
dengan penuh percaya diri.
“Dengar, Danny! Kami tidak ingin engkau merusak pesta ini, jadi pergilah
menjauh dari Angella. Tidakkah engkau melihat Angella dan Vladimer?” kata
Oscar menahan marah sambil menunjuk Vladimer dan Angella yang berdiri di
bawah pepohonan menanti mereka.
Danny melihat ke arah yang ditunjuk Oscar. Ia melihat Vladimer dan
Angella memandang sama dinginnya kepadanya. Ia merasa gentar ketika
teringat perjumpaannya yang pertama dengan Vladimer.
“Baiklah, aku akan pergi. Tetapi aku berjanji aku akan tetap berusaha
menaklukkan Snow Angel,” kata Danny.
“Aku peringatkan kepadamu, Danny. Rintanganmu akan menjadi semakin
sulit dari yang sebelumnya. Karena kini Angella sedang dekat dengan
Vladimer,” kata Frederick memanasi Danny.
“Aku tidak akan putus asa mendengar kata-kata kalian,” kata pria itu.
“Kami tahu engkau akan terus berusaha hingga berhasil. Kami hanya
ingin memperingatimu,” kata Oscar kepada Danny ketika ia pergi menjauh.
Setelah pria itu menjauh, mereka berjalan ke tempat Vladimer dan
Angella menanti mereka. Mereka berdua sedang berbincang-bincang dengan
orang tua Vladimer.
“Kalian juga tampak lebih dewasa dari saat terakhir kali kita bertemu,”
kata Duke.
“Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan Anda berdua?”
kata Frederick.
“Kami baik-baik saja. Bagaimana keadaan kalian? Kami dengar kalian
114
sekarang sibuk menjadi pengawal Angella,” kata Duchess.
“Ya, kami sekarang memang sibuk menjaga Angella. Baru-baru ini ia
sakit, sehingga kami harus menjaganya lebih ketat dari sebelumnya,” kata
Oscar.
“Oh… Apakah engkau sudah merasa lebih baik sekarang, Angella?”
Duchess merasa prihatin.
“Ia sudah lebih baik sekarang. Tetapi kami merasa masih harus tetap
mengawasinya ke manapun ia pergi,” kata Frederick sebelum Angella
menjawab.
“Kalian sangat menyayangi adik kalian hingga merasa wajib menjaganya
dalam keadaan apapun,” kata Duchess, “Di mana, Nanny? Aku tidak
melihatnya sejak tadi. Biasanya ia berada di sampingmu, Angella.”
“Nanny sekarang berada di Ruang Kanak-Kanak. Mungkin sekarang ia
sedang menyiapkan tempat tidur bagi Charlie,” kata Frederick.
“Nama anak ini Charlie? Sejak tadi aku ingin tahu nama anak itu, anak itu
tampaknya mirip sekali dengan seseorang,” kata Duke.
“Kami juga merasa ia mirip seseorang, tetapi kami tidak ingat siapa yang
memiliki wajah seperti anak itu,” kata Frederick.
“Di mana orang tuamu, Charlie?” tanya Duchess.
“Orang tuanya telah meninggal, Mama,” kata Vladimer.
“Aku turut bersedih. Apakah orang tuanya telah lama meninggal?
Mengapa ia berada di sini?” tanya Duchess ingin tahu.
“Orang tuanya baru saja meninggal beberapa minggu yang lalu dalam
kebakaran yang menimpa Boudini’s Theatre,” kata Frederick.
“Ia putra Mr. dan Mrs. Boudini. Kami yang membawanya kemari sebab
kami merasa kasihan kepada anak malang ini,” tambah Oscar.
“Tentunya anak itu masih sangat terkejut setelah peristiwa itu,” kata
Duchess.
“Engkau jangan membuat anak itu semakin teringat peristiwa yang
membuatnya kehilangan kedua orang tuanya itu,” tegur Duke kepada istrinya.
“Bagaimana liburanmu di sini, Vladimer?” tanya Duchess.
“Menyenangkan, Mama,” jawab Vladimer.
“Dan sangat seru. Kunjungan Vladimer kali ini berbeda dari kunjungan-
kunjungannya yang sebelumnya,” tambah Oscar.
“Mengapa demikian?” tanya Duches tak mengerti.
“Dalam kunjungannya kali ini ia harus berhadapan dengan Snow Angel
115
yang sikapnya sama dinginnya dengan dirinya,” jawab Frederick.
“Dan ia harus menghadapi permusuhannya dengan Snow Angel,” kata
Oscar.
“Oh, benarkah kalian bermusuhan?” tanya Duchess pada Angella dan
Vladimer, “Mengapa kalian bermusuhan?”
“Tidak apa-apa, Mama. Hanya sedikit kesalahpahaman di antara kami.
Dan pasti kesalahpahaman itu akan segera terselesaikan,” kata Vladimer.
“Lebih baik kalian segera menyelesaikan kesalahpahaman itu,” saran
Duchess.
“Mari kita pergi sekarang. Kita masih harus memberi selamat kepada Earl
dan Countess of Trintonville,” kata Duke pada Duchess.
“Silakan kalian melanjutkan perbincangan kalian. Kami akan pergi
sekarang,” kata Duchess.
“Aku yakin saat ini Danny akan merasa sangat marah sekali,” kata Oscar
ketika orang tua Vladimer meninggalkan mereka berlima.
Frederick menceritakan percakapan mereka dengan Danny kepada
mereka. Angella diam saja mendengarnya. Vladimer tampak sangat jengkel
mendengar cerita mereka.
“Suatu hari nanti harga dirinya yang tinggi itu akan jatuh dan hancur
berkeping-keping,” kata Angella tajam.
“Kejam sekali kata-katamu itu,” kata Oscar.
“Ada yang datang mendekat,” kata Frederick ketika melihat seorang
pemuda datang mendekat.
“Ada apa, Neil?” tanya Frederick ketika pemuda itu sudah dekat.
“Kakakku mengatakan ia tidak akan berhenti sebelum ia berhasil
mendapatkan apa yang diinginkannya,” kata pemuda itu sambil menatap
Angella.
Angella menatap tajam kepada anak itu dan berkata, “Katakan
kepadanya walaupun gunung es telah berubah menjadi taman bunga, taman
bunga itu takkan mengijinkannya datang.”
“Apa maksud perkataan Anda?” tanya Neil.
“Bila ia sepandai yang dikatakannya, ia akan mengerti,” kata Angella
tanpa mengurangi ketajaman kata-katanya.
“Rupanya kedinginanmu muncul kembali setelah selama engkau sakit
kedinginan hatimu itu hilang,” kata Oscar mendengar kata-kata tajam adiknya.
“Apa arti kata-kata itu?” tanya Charlie.
116
“Kelak engkau akan mengerti,” jawabnya.
“Sejujurnya, aku sendiri tidak mengerti arti kata-katamu itu tadi,” kata
Oscar.
“Adalah suatu khayalan yang terlalu tinggi bila Danny mengharapkan aku
mau berbicara dengannya,” terang Snow Angel.
“Tidak hanya terlalu tinggi tetapi juga sangat tinggi,” Oscar
membenarkan kata-kata adiknya.
“Lihat, Oscar! Siapa yang datang mendekat itu?” kata Frederick.
“Mengapa wanita itu tidak juga berhenti mengejarku?” keluh Oscar.
“Keponakan dan bibi sama saja, bila sudah mengejar tak akan berhenti
hingga berhasil,” kata Vladimer.
“Engkau benar, Vladimer. Mereka semua sama saja. Aku lebih baik pergi
sekarang,” kata Oscar.
“Percuma, Oscar. Ia akan terus mengejarmu. Lebih baik bila engkau
menolaknya dengan tegas,” kata Vladimer.
“Selamat malam, Oscar. Mengapa akhir-akhir ini aku tak melihatmu?”
tanya Lady Elize.
“Kami menjaga Angella selama ia sakit,” kata Oscar.
“Ya, aku telah mendengar dari Danny bahwa adik kalian sakit.” Lady Elize
melihat pada Angella dan berkata, “Sepertinya ia sudah tampak sembuh
sekarang.”
“Belum, ia belum sembuh benar,” kata Frederick ketika ia melihat Angella
hendak membenarkan kata-kata Lady Elize.
“Ia masih memerlukan pengawalan kami,” kata Oscar, “Karena itu aku
tidak mempunyai waktu untuk berbicara apalagi berdua dengan Anda, seperti
yang Anda inginkan.”
“Siapa dia?” tanya Lady Elize melihat Vladimer.
“Ia teman kami, Vladimer,” jawab Frederick.
“Vladimer, putra tunggal Duke dan Duches of Cardington rupanya. Lalu
siapa anak itu?” tanya Lady Elize melihat anak yang memegang tangan
Angella.
Sesaat ia tampak terkejut melihat wajah anak itu, ia mengenal baik
wajah itu.
“Apabila urusan Anda telah selesai silakan pergi,” kata Angella yang
menyadari tatapan Lady Elize kepada Charlie. Ia merasa cemas karena tatapan
Lady Elize itu. Ia tidak ingin mendekatkan Charlie lebih lama lagi dengan
117
wanita itu.
“Mari kita pergi, Charlie. Aku akan menceritakan tentang patung-patung
yang ada di kolam itu kepadamu.”
Mereka berdua berjalan menuju kolam air yang terletak di depan
Troglodyte Oinos. Angella mendudukkan Charlie di pinggiran kolam itu
kemudian ia memulai ceritanya. Charlie tampak senang sekali mendengar
ceritanya. Angella terus bercerita tanpa mempedulikan tatapan beberapa
orang yang terkejut melihatnya bersama seorang anak kecil.
Ketiga pria yang selalu menjaganya itu menyadari keinginan Angella
yang ingin menyendiri dengan Charlie. Mereka mengawasinya dari kejauhan di
bawah kerimbunan pepohonan hutan sekeliling Troglodyte Oinos.
“Aku ingin mendengar cerita Hercules lebih banyak lagi,” kata Charlie.
“Apakah engkau menyukai Hercules?” tanya Angella.
“Iya. Aku sangat menyukainya,” jawab Charlie.
“Baiklah. Aku akan menceritakan lebih banyak lagi kepadamu. Aku akan
bercerita mengenai kedua belas tugas Hercules.”
“Apakah tugas-tugas itu berat?” tanya Charlie ingin tahu.
“Ya, sangat berat. Hanya ia yang dapat melakukannya.”
“Ia pasti sangat hebat sekali.”
“Ya, ia sangat hebat. Tunggulah di sini. Aku akan mengambilkan buku
yang berisi mengenai Hercules dan kedua belas tugasnya itu di Ruang
Perpustakaan,” kata Angella.
Angella berjalan meninggalkan Charlie menuju Ruang Perpustakaan. Ia
mencari buku itu di rak-rak yang terletak di sekeliling tembok Ruang
Perpustakaan. Ia dapat menemukan buku itu dengan mudah sebab ia sering
membaca buku-buku tentang Yunani Kuno itu.
Dengan buku di tangannya, ia berjalan kembali ke tempat Charlie. Ia
terkejut ketika melihat anak itu dikelilingi banyak orang. Ia berdiri mengawasi
Charlie di pintu depan. Ia melihat tidak ada salahnya membiarkan Charlie
bergaul dengan banyak orang.
“Rupanya hanya engkau yang dapat menaklukan kedinginan Snow
Angel,” kata seorang pria.
“Kami yang telah dewasa ini kalah oleh anak kecil sepertimu,” kata pria
yang lain.
“Wajahnya mirip seseorang, tetapi siapakah orang itu?” kata seseorang.
“Aku ingat. Wajahnya mirip dengan Earl of Wicklow.”
118
“Ya, benar. Aku ingat sekarang. Wajahnya mirip sekali dengan Earl of
Wicklow.”
“Sebenarnya siapakah engkau, Nak?”
Angella terkejut mendengar kata-kata orang-orang itu. Ia bergegas
mendekati Charlie dan menatap mereka dengan tajam. Mereka memberi jalan
kepada gadis itu.
Charlie menangis melihat kedatangan gadis itu. Rupanya ia ketakutan
dikelilingi banyak orang. Ia mengulurkan tangannya melihat gadis itu
mendekat.
Angella memberikan buku yang dibawanya kepada Charlie kemudian
menggendong Charlie menjauh dari kerumunan orang-orang itu. “Charlie, hari
sudah malam. Aku akan bercerita kepadamu di Ruang Kanak-Kanak,” bisiknya
kepada Charlie yang tampak lelah.
Ketika ia semakin mendekati pintu depan Troglodyte Oinos, ia dihadang
seseorang. Orang itu menghalangi jalan di pintu depan.
“Siapa anak itu? Mengapa ia mirip sekali dengan kakakku?” tanya Lady
Elize.
“Apakah Anda tidak mengenali keponakan Anda sendiri, Lady Elize?” kata
Angella tajam.
Lady Elize tampak terkejut mendengar kata-kata tajam Angella. “Apa
maksud perkataan Anda?” tanyanya
Angella tidak menghiraukan pertanyaan wanita itu. Ia terus berjalan
menuju Ruang Kanak-Kanak, meninggalkan pertanyaan di benak wanita itu.
Charlie sudah tertidur di gendongannya ketika ia sampai di ruang itu.
Nanny yang telah menanti Charlie di ruang itu segera menyiapkan
tempat tidur ketika melihat Angella datang dengan menggendong anak yang
telah tertidur itu.
“Ia tampak lelah sekali,” kata Nanny setelah Angella meletakkan Charlie
di atas tempat tidur.
“Saat ini memang telah melewati jam tidurnya.”
“Tuan Puteri, Anda kembalilah ke pesta itu. Saya akan menjaga Charlie,”
kata Nanny.
“Terima kasih, Nanny. Engkau telah menjaganya selama aku sakit.”
“Tidak apa-apa, Tuan Puteri. Saya senang dapat menjaga anak sebaik
dia.”
“Ia tentu telah banyak merepotkan Anda.”
119
“Tidak. Ia tidak merepotkan saya,” bantah Nanny, “Memang pada hari
pertama kedatangannya ia sulit diatur. Tetapi pada hari-hari berikutnya ia
menjadi penurut.”
“Terima kasih, Nanny. Engkau telah bersabar menghadapinya,” kata
Angella.
Angella tidak kembali ke pesta itu seperti yang disarankan Nanny. Ia
meninggalkan Troglodyte Oinos melalui pintu belakang dan terus berjalan ke
hutan.

-----0-----

“Mengapa Snow Angel belum kembali juga?” tanya Oscar cemas.


“Tenanglah. Mungkin ia sekarang sedang bersama Nanny menjaga anak
itu,” kata Frederick.
“Aku akan melihatnya di Ruang Kanak-Kanak.”
Vladimer merasa cemas. Ia melihat Angella tadi tampak pucat ketika ia
berjalan mendekati Charlie. Entah apa yang telah membuatnya pucat.
Mereka melihat Angella menggendong Charlie memasuki rumah. Dan
sudah lama ia sejak ia mengantarkan Charlie kembali ke Ruang Kanak-Kanak,
namun ia belum tampak juga.
Dari tempat mereka berdiri, mereka dapat melihat Lady Elize
menghadang Angella. Lady Elize tampak mengatakan sesuatu kepada Angella.
Kemudian Angella menjawabnya dengan tajam sehingga membuat wajah Lady
Elize tampak pucat.
Nanny duduk di kursi kesayangannya mengawasi Charlie.
Ia melihat Vladimer datang dan bertanya, “Ada apa, Tuan Muda?”
“Tidak ada apa-apa, Nanny. Aku hanya ingin melihat Charlie,” katanya
berbohong.
Vladimer melihat Charlie yang tertidur dengan nyenyak itu. Matanya
mencari Angella, namun ia tidak dapat menemukan gadis itu.
Di depan kamar gadis itu, ia berhenti dan mengetuk perlahan daun pintu
itu. Ketika tidak ada jawaban ia membuka pintu kamar itu dan melihat kamar
itu kosong.
Sambil mememikirkan keberadaan gadis itu, ia kembali ke bawah
kerimbunan pepohonan, tempat kakak-kakak Angella menunggunya.
“Di mana dia?” tanya mereka serempak.
120
“Aku tidak menemukannya baik di Ruang Kanak-Kanak maupun di
kamarnya,” jawab Vladimer. “Tetapi jangan cemas aku dapat menduga ia
berada di mana sekarang.”
“Di mana?” tanya Oscar ingin tahu.
“Aku menduga ia berada di danau kecil yang terletak di belakang
rumah,” jawab Vladimer.
“Apa yang dilakukan anak itu di sana?” kata Frederick cemas.
“Jangan marah dulu. Aku hanya mengatakan aku menduga, belum tentu
ia berada di sana,” kata Vladimer.
“Engkau kembali membela Snow Angel lagi setelah selama beberapa hari
ini tidak membelanya lagi,” tuduh Oscar.
“Aku menduga ia sedang merenungkan sesuatu di sana,” kata Vladimer.
“Biasanya, ia senang berada di danau kecil itu sambil melamun.”
“Tetapi mengapa harus tengah malam seperti ini?” kata Frederick.
“Aku tidak tahu. Menurut pendapatku, ia sekarang sedang memikirkan
anak itu. Tadi sewaktu aku berjalan menuju rumah, aku mendengar beberapa
orang yang membicarakan kemiripan anak itu dengan Earl of Wicklow,” kata
Vladimer.
“Earl of Wicklow!” seru Oscar terkejut.
“Jadi inilah sebabnya mengapa aku merasa pernah melihat anak itu
sebelumnya,” kata Frederick.
“Tetapi apa hubungan anak itu dengan sang Earl?” tanya Oscar.
“Aku tidak tahu, hanya Angella yang tahu,” kata Vladimer.
“Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk membujuk Angella
mengatakan segalanya,” kata Frederick.
“Siapa di antara kita yang akan membujuknya?” tanya Vladimer.
Sebagai jawaban, kedua kakak beradik itu menatap Vladimer.
“Mengapa aku?” tanya Vladimer.
“Pertama, karena engkau selalu membela Snow Angel. Kedua, karena
Snow Angel lebih mempercayaimu daripada kami berdua. Ketiga, karena
engkau juga menyayangi Snow Angel. Keempat…,” kata Frederick.
“Baik. Aku mengerti,” sahut Vladimer.
Vladimer berjalan memutari Troglodyte Oinos dan terus berjalan
menembus kegelapan hutan di sekeliling Troglodyte Oinos yang mencekam di
bawah sinar bulan yang sesekali menampakkan dirinya dari balik awan-awan
yang memayungi langit malam.
121
Angella duduk di sebuah batu di tepi danau itu. Matanya mengawasi
bayangan bulan yang sesekali tampak di permukaan danau. Angin yang
bertiup semilir sesekali mempermainkan rambutnya yang terurai. Kedua
tangannya yang terletak di pangkuannya itu menopang wajahnya. Dari sikap
duduknya, ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Vladimer berjalan perlahan-lahan mendekati gadis itu agar tidak
mengejutkannya. Ia berdiri di sisi gadis itu.
Angella menyadari keberadaan Vladimer, ia melihat sebentar kepada
Vladimer kemudian memandang permukaan danau lagi.
“Malam ini sangat dingin. Mengapa engkau termenung di sini seorang
diri?” tanya Vladimer.
Angella tidak menghiraukan pertanyaan Vladimer. Ia terus memandang
bayangan bulan di atas permukaan danau.
Vladimer membungkuk mengambil sebuah batu kecil kemudian
melemparkannya ke permukaan danau untuk mengalihkan perhatian Angella.
“Mengapa engkau merusak bayangan bulan itu?” tuntut Angella.
“Apa yang kaurenungkan di sini?” tanya Vladimer setelah berhasil
mendapatkan perhatian Angella.
Angella kembali diam memandang permukaan danau. Bayangan bulan di
permukaan danau itu mulai muncul kembali setelah dirusak Vladimer.
“Apakah engkau memikirkan Charlie?”
Diam tak ada jawaban.
“Apakah Charlie putra Earl of Wicklow?”
Angella terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak menduga Vladimer
mengetahui apa yang dibicarakan oleh orang-orang yang tadi mengelilingi
Charlie. Namun ia menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih banyak kepada
Vladimer.
“Apakah itu benar?” desak Vladimer.
Angella tetap tak bergeming. Ia seolah-olah terpaku pada pemandangan
danau yang berkilau tertimpa cahaya rembulan padahal keseluruhan dirinya
menanti dengan cemas kelanjutan perkataan Vladimer.
“Katakanlah kepadaku yang sebenarnya. Apakah anak itu putra Earl of
Wicklow? Engkau tidak dapat terus menerus menyembunyikan hal ini dari anak
itu,” desak Vladimer.
Angella menutup wajahnya. Kedua tangannya tampak gemetar di
pangkuannya. Ia tampak berusaha keras menahan perasaannya.
122
Vladimer melihat Angella tampak menahan kesedihannya yang siap
meluap itu. ia mengeraskan hati untuk tidak menghibur gadis itu.
“Apakah engkau berniat terus menyembunyikan kenyataan yang
sebenarnya dari semua orang? Katakanlah kepadaku apakah itu benar?”
“Pergilah, jangan menggangguku!” Angella akhirnya berbicara kepada
Vladimer.
“Aku tidak akan pergi sebelum segalanya menjadi jelas bagiku,” kata
Vladimer mendesak Angella.
“Pergilah! Kumohon pergilah. Biarkan aku sendiri,” kata Angella
memohon.
“Aku tahu engkau sedih memikirkan Charlie. Tidak dapatkah engkau
membagi kesedihanmu itu denganku? Biarkanlah aku ikut memikirkan masalah
yang merisaukanmu itu,” bujuk Vladimer.
“Pergilah, Vladimer! Kumohon,” kata Angella memohon.
“Engkau tidak dapat menyembunyikan hal itu terus menerus. Charlie
mempunyai hak untuk mengetahui asal usulnya,” kata Vladimer lembut.
Angella tidak pernah berniat menyembunyikan hal itu terus menerus dari
Charlie. Ia berusaha keras menahan air matanya yang siap mengalir di pelupuk
matanya. Ia merasa kata-kata Vladimer yang lembut itu mengembalikan masa
lalu yang suram.
“Apakah engkau sudah tidak mempercayaiku lagi?” tanya Vladimer.
“Engkau kejam bila engkau tidak mau menceritakan segala sesuatunya
kepada Charlie,” kata Vladimer ketika melihat Angella tetap diam. “Engkau
kejam telah membuat anak itu tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya.”
Akhirnya pertahanan Angella runtuh. Ia merasa sudah tidak dapat lagi
menahan gejolak perasaannya.
“Mereka jauh lebih kejam dari padaku. Aku tidak pernah berniat
memisahkan mereka. Setiap hari aku berpikir bagaimana cara
mempertemukan Charlie dengan… dengan… Jenny…, ibunya,” kata Angella.
Vladimer terkejut mendengar nama ibu kandung Charlie.
Sebelumnya Frederick telah menceritakan kepadanya bahwa Angella
mengirim surat untuk Mrs. Dellas, nenek Jenny pada hari yang sama dengan
kedatangan pertama Charlie.
Kata Frederick, dulu Jenny adalah pelayan Angella dan beberapa tahun
yang lalu ia secara tiba-tiba berhenti tanpa sebab yang jelas. Jenny lebih tua
beberapa tahun dari Angella dan mereka berteman baik. Angella lebih sering
123
memperlakukan Jenny sebagai seorang sahabat daripada seorang pelayan.
Mereka menduga Angella mengirimkan surat kepada nenek Jenny karena
ia ingin mengetahui kabar Jenny yang mungkin telah bekerja di tempat lain.
Mereka bertiga, Frederick, Oscar serta Vladimer tidak pernah menduga
bahwa Jenny adalah ibu kandung Charlie.
“Aku akan membantumu memecahkan masalah ini. Tetapi sebelumnya
engkau harus menceritakan apa yang membuatmu memisahkan mereka
berdua,” kata Vladimer.
Angella marah sekali mendengar kata-kata Vladimer yang seperti
menuduhnya telah berbuat kejam dengan memisahkan seorang anak dari
ibunya. Ia memalingkan wajahnya dan menatap tajam Vladimer.
Vladimer terkejut ketika melihat wajah Angella yang basah karena air
mata itu.
“Bukan aku yang membuat mereka harus berpisah! Bukan aku, tetapi
keluarga itu,” kata Angella tajam.
Angella menangis tersedu-sedu setelah mengucapkan kata-kata itu.
Vladimer langsung memeluk gadis itu dan menghiburnya.
Setelah tangis Angella mereda, ia bertanya dengan hati-hati, “Apa yang
mereka lakukan kepada Jenny?”
“Mereka telah menyakiti hatinya. Sangat menyakiti,” katanya terisak-
isak.
Vladimer diam memeluk gadis itu, ia tidak mengatakan ataupun
bertanya apa-apa. Ia tahu gadis itu akan bercerita kepadanya.

124
13

“Tuan Puteri, siapakah orang itu?” tanya Jenny kepada Angella.


Saat itu mereka berada di kamar Angella. Mereka baru saja menemui
tamu orang tua Angella yang hendak menginap selama beberapa hari.
“Mengapa engkau ingin tahu nama orang itu? Apakah engkau tertarik
padanya?” goda Angella.
“Saya… saya…,” kata Jenny tersipu-sipu.
“Saya apa?” goda Angella.
“Saya… baru sekali ini menemui seorang pria setampan dia,” kata Jenny
mengakui.
“Lalu mengapa engkau bertanya nama orang itu kepadaku?” kata
Angella terus menggoda Jenny yang tersipu-sipu itu.
“Saya… saya jatuh cinta kepadanya,” jawab Jenny.
“Ceritakan kepadaku Jenny, bagaimana rasanya jatuh cinta itu?” kata
Angella ingin tahu.
“Saya… saya… tidak tahu, Tuan Puteri. Tetapi perasaan itu membuat
saya merasa bahagia sekali, seperti… seperti berada di surga,” kata Jenny.
“Apakah itu benar, Jenny?” kata Angella semakin tertarik.
“Tuan Puteri jangan bertanya lebih banyak lagi. Kelak Tuan Puteri juga
akan jatuh cinta,” kata Jenny.
“Kelak aku akan mencintai pria yang seperti apa?” tanya Angella pada
dirinya.
“Tentunya pria itu tampan sekali, Tuan Puteri,” kata Jenny.
“Apakah ia akan setampan kakak-kakakku?” tanya Angella.
“Tentunya pria itu tampan seperti Tuan Muda Vladimer. Menurut saya
Tuan Muda Vladimer setampan kakak-kakak Anda. Hanya pria yang seperti itu
yang pantas mendampingi Anda yang cantik jelita,” kata Jenny.
“Engkau juga cantik Jenny,” kata Angella tersipu-sipu.
“Tetapi saya tidak secantik Anda, Tuan Puteri,” kata Jenny.
“Jangan memujiku terus menerus, Jenny,” kata Angella semakin tersipu-
sipu karena perkataan pelayannya itu.
“Anda memang pantas mendapatkan pujian-pujian, Tuan Puteri. Kelak
125
bila Anda sudah dewasa, Anda akan menjadi semakin cantik dan semakin
banyak orang yang memuji Anda,” kata Jenny.
“Engkau ingin tahu atau tidak nama pria itu?” tanya Angella
menghentikan kata-kata Jenny yang terus memujinya.
“Tentu saja saya ingin tahu, Tuan Puteri,” kata Jenny.
Angella tersenyum melihat wajah Jenny yang memerah itu. Gadis itu
tampak semakin cantik dengan wajahnya yang memerah itu. Hampir semerah
rambutnya. Angella selalu mengagumi rambut Jenny yang kemerahan juga
mata hijaunya.
Ia menyukai warna hijau mata Jenny yang sehijau daun mawar. Angella
selalu menginginkan memiliki mata yang hijaunya sehijau mata Jenny daripada
warna matanya yang sebiru langit carah.
“Pria itu adalah Earl of Wicklow. Namanya Kart.”
Berhari-hari berlalu sejak mereka membicarakan kedatangan Earl of
Wicklow. Sejak kedatangan Earl, Jenny jarang menemani Angella. Angella tidak
pernah mengetahui di mana Jenny berada bila ia tidak bersama Jenny.
Semula Angella sering ditemani Jenny. Namun sejak kedatangan Earl,
Angella lebih sering bersama Nanny.
Nanny sering bertanya kepadanya mengenai Jenny yang akhir-akhir ini
jarang menemaninya lagi. Angella tidak pernah menjawab pertanyaan Nanny
itu, ia hanya mengatakan, “Jenny pasti baik-baik saja, Nanny. Jangan Khawatir!”
Pada suatu sore ketika Jenny menemani Angella memetik bunga di taman
bunga, ia bertanya kepada Jenny.
“Akhir-akhir ini engkau pergi ke mana, Jenny? Nanny sering bertanya
mengenaimu kepadaku.”
Jenny tersenyum malu-malu. Angella dapat menebak jawabannya
melihat wajah Jenny yang memerah.
“Engkau sering bersamanya?”
“Tuan Puteri, bolehkah saya besok selama sehari pergi ke luar rumah?”
tanya Jenny malu-malu. “Ia mengajak saya jalan-jalan.”
Melihat sikap Jenny yang malu-malu itu, Angella dapat menebak orang
yang mengajak Jenny pergi. “Pergilah, Jenny.”
“Apakah Anda bersungguh-sungguh, Tuan Puteri?” tanya Jenny tak
percaya.
“Jangan mencemaskanku. Pergilah, aku tahu engkau ingin sekali pergi
dengan Earl,” kata Angella. “Nanny akan bersamaku selama engkau pergi.
126
Frederick dan Oscar juga akan selalu menjagaku.”
“Tuan Muda Frederick dan Oscar selalu menjaga Anda dengan baik, Tuan
Puteri. Anda beruntung mempunyai kakak-kakak yang sangat menyayangi
Anda,” kata Jenny.
“Kadang aku merasa mereka terlalu mencemaskanku. Entah aku berada
di rumah, entah aku pergi, mereka selalu memaksaku untuk dijaga Nanny atau
engkau. Bila kalian berhalangan, merekalah yang akan menjagaku,” keluh
Angella.
“Anda jangan mengeluh, Tuan Puteri. Mereka berbuat seperti itu karena
mereka sangat menyayangi Anda,” tegur Jenny.
“Aku tahu mereka sangat menyayangiku sehingga mereka rela
mengawalku di manapun aku berada,” kata Angella. “Apakah kakakmu tidak
menyayangimu, Jenny?”
“Kakak saya sangat menyayangi saya hanya saja ia tidak dapat selalu
menemani saya karena ia harus bekerja di tanah pertanian kami,” kata Jenny.
“Aku ingin lekas dewasa sepertimu, Jenny. Bila aku telah dewasa mungkin
Frederick dan Oscar tidak akan mengawalku ke manapun aku pergi lagi,” kata
Angella.
“Tak lama setelah Anda dewasa, Tuan Puteri,” kata Jenny, “Anda pasti
akan menemukan seseorang yang menawan hati Anda.”
Angella tersipu-sipu mendengar kata-kata Jenny.
Keesokan harinya Jenny pergi tanpa diketahui seorangpun kecuali
Angella. Nanny juga tidak menanyakan kepergian Jenny. Kedua kakaknya tidak
mempedulikan Jenny yang menghilang.
Tidak ada seorangpun yang menduga hari itu akan berakibat menjadi
malapetaka yang berkepanjangan bagi Jenny.
Angella sangat terkejut ketika Jenny menceritakan sesuatu yang
membuat Angella menjadi sangat menyesal atas kecerobohannya.
“Tuan Puteri, apa yang harus saya lakukan?” kata Jenny terisak-isak.
“Apa yang terjadi, Jenny?” tanya Angella kebingungan.
“Saya… saya… hamil,” kata Jenny tersendat-sendat.
Petir di luar menggelegar dengan murka, seirama dengan petir yang
menyambar hati Angella.
Hujan di sore yang suram itu bagaikan alam yang turut bersedih akan
keadaan Jenny. Petir bersahut-sahutan seakan-akan memarahi mereka. Rintik-
rintik air hujan memukul-mukul jendela kamar Angella seperti mengingatkan
127
mereka pada kesalahan mereka.
Angella terdiam untuk sesaat dan kemudian berkata dengan sangat
perlahan hampir seperti berbisik, “Engkau… hamil? Bagaimana ini bisa terjadi,
Jenny?”
Jenny diam menundukan kepala. Air matanya terus membasahi pipinya
yang memucat itu.
Angella bertanya lagi dengan perlahan, “Siapakah yang membuatmu
begini, Jenny?”
Dengan terbata-bata Jenny berkata, “Earl, Tuan Puteri.”
Angella menjadi semakin terkejut mendengar nama itu. Ia mulai
menyalahkan dirinya yang telah berbuat ceroboh. Ia menyesal telah
membiarkan Jenny dekat dengan Earl.
“Mengapa ini bisa terjadi?” katanya menyalahkan dirinya.
Mereka terdiam untuk sesaat, saling menyalahkan diri sendiri.
“Jenny, maafkan aku. Ini semua karena kesalahanku. Andaikan aku tidak
membiarkanmu…,” kata Angella.
“Jangan menyalahkan diri Anda sendiri, Tuan Puteri. Sayalah yang harus
disalahkan,” kata Jenny.
“Apa yang akan engkau lakukan, Jenny?” tanya Angella.
“Saya… saya akan memberitahu hal ini kepada Earl,” kata Jenny. “Earl
berjanji kepada saya ia akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu.”
“Benar, Jenny. Beritahukan kepada Earl,” kata Angella memberi
semangat, “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”
Jenny terus menangis terisak-isak. Ia tampak putus asa dengan
keadaannya.
Angella menyalahkan dirinya sendiri melihat Jenny yang bersedih itu. Ia
sangat menyayangi Jenny, ia tidak ingin seorang pun menyakiti Jenny. Tetapi
sekarang… karena kecerobohannya, Jenny menjadi sedih.
“Oh… Jenny, maafkan aku. Aku ini sangat ceroboh,” kata Angella.
Keesokan paginya, Jenny pergi ke rumah Earl yang berjarak sekitar
delapan puluh mil dari Troglodyte Oinos.
Angella dengan cemas menanti di rumah. Seharian ia berada di gereja
yang terletak di samping kiri rumahnya untuk berdoa bagi Jenny. Nanny yang
menemaninya merasa heran melihatnya terus menerus berdoa sepanjang hari
itu. Namun Angella tidak mengatakan apa-apa kepada Nanny.
Angella menjadi sangat cemas ketika Jenny belum tiba pada sore hari itu.
128
Ia terus menanti Jenny hingga larut malam. Malam itu, Angella tidak dapat
tidur karena mencemaskan Jenny.
Ia sangat lega ketika pada siang hari berikutnya, Jenny muncul. Tetapi
kelegaan hati Angella tidak bertahan lama. Ia menjadi cemas ketika melihat
wajah Jenny kini menjadi kuyu.
Angella menarik Jenny ke kamarnya dan bertanya kepadanya, “Apa yang
terjadi, Jenny? Mengapa engkau menjadi seperti ini?”
Jenny menangis di pangkuan Angella. Membuat Angella menjadi semakin
cemas.
“Apa yang terjadi, Jenny? Katakanlah kepadaku,” kata Angella.
“Mereka… mereka… mengusir saya, Tuan Puteri,” kata Jenny.
Angella terkejut mendengar kata-kata itu. Ia diam tanpa mampu berbuat
apa-apa. Hatinya menjadi sangat kacau karenanya. Marah, sedih, kasihan,
bersalah, dan segala macam perasaan yang membuatnya tampak pucat.
Dengan terbata-bata Jenny bercerita kepadanya:
“Ketika saya tiba di rumah itu. Saya mengatakan kepada pelayan yang
membuka pintu bahwa saya ingin menemui Earl. Semula pelayan itu tampak
ragu-ragu, saya mengatakan berkata:
“Tolonglah, ijinkan saya menemui Earl. Ini penting sekali.”
Pelayan itu mengijinkan saya masuk lalu ia memanggil Earl. Tak lama
kemudian, ia datang bersama seorang wanita muda. Wanita muda itu
memandang rendah saya.
“Apa keperluanmu bertemu dengan kakakku?” tanya wanita itu.
“Ini penting sekali. Saya harus bertemu dengan Earl,” kata saya.
“Saat ini ia tidak ada di rumah. Katakan saja keperluanmu kepadaku,
nanti akan kusampaikan kepadanya,” kata wanita itu dengan kasar.
“Saya tidak dapat mengatakannya kepada Anda. Saya harus bertemu
dengannya. Tolonglah, ini sangat penting sekali,” kata saya memohon.
“Bagiku juga penting untuk mengetahui tujuanmu menemuinya.”
“Saya tidak dapat mengatakannya kepada Anda,” ulang saya, “Tolong
berikan kertas dan pena kepada saya. Saya akan menulis keperluan saya
datang kemari dan tolong berikan kepada Earl.”
“Untuk apa membuang kertas untuk itu bila surat itu juga akan kubaca.
Lebih baik engkau katakan saja keperluanmu atau aku tidak akan pernah
mengijinkanmu menemui kakakku,” perintahnya.
“Tolonglah ijinkan saya menemuinya. Ini menyangkut anaknya yang saya
129
kandung,” saya kelepasan bicara.
Wanita itu tertawa mendengar kata-kata saya. “Jangan berbohong
kepadaku. Kata-katamu itu takkan pernah membuatku percaya.”
Saya menjadi pucat mendengar ejekan wanita itu. “Percayalah kepada
saya, apa yang saya katakan ini benar.”
“Engkau benar-benar membuatku ingin tertawa. Merupakan suatu
keajaiban bila kakakku berhubungan denganmu apalagi sampai membuatmu
hamil,” ejek wanita itu.
Saya terus memohon kepadanya untuk mempercayai kata-kata saya.
Tetapi wanita itu tidak memperdulikan saya. Ia menyuruh pelayannya mengusir
saya. Saya terus mengetuk pintu itu dan memohon tak henti-hentinya. Tetapi
mereka tidak mengijinkan saya masuk.”
Angella merasa seperti diterpa angin ribut mendengar cerita Jenny.
Wajahnya sepucat wajah Jenny. Untuk sesaat ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia
tampak sangat terkejut.
Tanpa diberi tahu Jenny, ia dapat mengetahui seperti apa wanita yang
tega mengusir Jenny. Ia mengenal wanita itu. Ia adalah Lady Elize. Adik Earl itu
sangat menyukai kakaknya, Oscar.
Wanita itu sangat cantik. Rambutnya sehitam kakaknya. Mata hijaunya
selalu menatap rendah semua orang. Angella telah mengetahui kesombongan
Lady Elize dan ia tidak pernah menyukai wanita itu, namun ia tidak pernah
menampakkannya.
Lady Elize sering mengajaknya bepergian sebab ia mengetahui satu-
satunya cara untuk mendapatkan Oscar adalah melalui adiknya. Oscar sangat
menyayangi adiknya, ia selalu apa yang dikatakan Angella.
Namun Lady Elize tidak pernah memperhitungkan bahwa Angella tidak
pernah menyukai dirinya. Angella selalu menolak bila wanita itu mengajaknya.
Ia lebih memilih bersama Nanny atau Jenny atau kedua kakaknya daripada
bersama wanita itu.
Tidak jarang pula Angella menunjukkan kepada Lady Elize bahwa ia tidak
akan pernah merelakan Oscar kepadanya. Ia tidak pernah mengatakannya
secara langsung kepada wanita itu. Tetapi sikapnya yang menjadi semakin
tidak ingin jauh dari Oscar ketika wanita itu ada, telah cukup mengatakan
kepada Lady Elize.
Lady Elize tidak pernah menyerah. Ia telah mengetahui sikap Angella
yang menentang keinginannya. Tetapi ia tetap memilih bersaing dengan gadis
130
itu daripada menyerah.
“Maafkan semua kesalahanku, Jenny,” kata Angella sambil memeluk
Jenny. “Andaikan aku tidak pernah mengijinkanmu.”
Jenny semakin sedih mendengar Angella yang telah dianggapnya sebagai
adik, menyalahkan dirinya sendiri.
“Jangan menyalahkan diri Anda, Tuan Puteri. Anda tidak bersalah. Saya
juga tidak menyalahkan Anda, karena itu janganlah menyalahkan diri Anda
sendiri,” kata Jenny.
“Apa yang akan engkau lakukan, Jenny?” tanya Angella.
“Saya tidak tahu, Tuan Puteri. Mungkin saya akan pulang menemui ibu
saya,” kata Jenny sedih.
“Aku ikut denganmu, Jenny. Aku tidak ingin membiarkanmu pulang
sendirian dalam keadaan seperti ini,” kata Angella.
“Jangan, Tuan Puteri. Saya harus menghadapinya seorang diri,” kata
Jenny.
“Tetapi…”
“Tuan Puteri, janganlah terus menyalahkan diri Anda. Saya tidak ingin
Anda ikut bersedih,” kata Jenny terisak-isak.
“Baiklah, Jenny. Bila engkau tidak ingin saya mengantarkanmu, maka
saya ingin engkau menyerahkan surat saya kepada ibumu,” kata Angella.
“Akan saya lakukan permintaan Anda, Tuan Puteri. Tetapi Anda tidak
boleh terus menyalahkan diri Anda sendiri. Saya mohon kepada Anda untuk
tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun, Tuan Puteri.”
Angella menganggukkan kepalanya dan segera menulis surat kepada ibu
Jenny, Mrs. Dellas.
Mrs. Dellas, melalui surat ini, saya ingin meminta maaf kepada
Anda atas kecerobohan saya. Saya mohon Anda jangan
menyalahkan Jenny. Ini semua karena kesalahan saya sehingga
Jenny menjadi seperti ini.
Andaikan saya tidak mengijinkannya pergi, tentu segalanya tidak
akan menjadi seperti ini. Tetapi saat itu kami benar-benar tidak
menduga akan berakibat seburuk ini.
Saya mengerti permintaan maaf saja tidak akan mampu
mengembalikan segalanya menjadi seperti semula. Saya tidak
akan marah bila Anda tidak mau memaafkan saya, saya merasa
memang sudah selayaknya itu saya terima karena kesalahan saya
131
yang tak dapat ditebus dengan apapun, bahkan dengan nyawa
saya.
Saya dengan tulus hati memohon kepada Anda untuk tidak
menimpakan semua kesalahan kepada Jenny. Saya sangat
menyayangi Jenny, namun saya telah melakukan kesalahan besar
kepadanya. Saya memohon kepada Anda dengan setulus hati
saya.

Angella
Angella memasukkan surat itu ke dalam amplop putih dan
memberikannya kepada Jenny. “Kapan engkau akan pulang, Jenny?”
“Besok, Tuan Puteri,” jawab Jenny.
“Aku akan merindukanmu, Jenny. Aku menyayangimu,” kata Angella
dengan sedih.
“Saya juga akan sangat merindukan Anda, Tuan Puteri. Tetapi inilah satu-
satunya yang dapat saya lakukan,” kata Jenny, “Saya sangat menyayangi
Anda, Tuan Puteri. Tidak hanya sebagai majikan tetapi juga sebagai adik saya.”
Jenny segera berlari meninggalkan Angella dengan menangis setelah
mengucapkan kata-kata perpisahan itu.
Esok paginya, Angella tidak dapat menemui Jenny di mana-mana. Ia
merasa sedih tidak dapat mengantar kepergian Jenny. Seharian ia mengurung
diri di kamarnya.
Nanny menjadi cemas melihatnya mengurung diri di kamar sepanjang
hari. Ia masuk ke kamar Angella dan melihat gadis itu sedang menangis di
tempat tidur. Nanny duduk di sampingnya.
“Apa yang terjadi, Tuan Puteri? Mengapa Anda menangis?” tanya Nanny
dengan cemas.
Angella memeluk Nanny dan menangis lagi. “Jenny pergi, Nanny,”
katanya tersedu-sedu.
“Mengapa ia pergi?” tanya Nanny keheranan.
Angella hampir saja mengatakan segalanya kepada Nanny. Tetapi
kemudian ia ingat akan janjinya kepada Jenny. “Aku… aku tidak tahu, Nanny,”
katanya berbohong.
“Mungkin ia pergi ke suatu tempat, Tuan Puteri. Bukankah akhir-akhir ini
Jenny sering menghilang?” kata Nanny menghibur Angella.
Angella memeluk Nanny semakin erat dan berkata, “Tidak, Nanny. Ia
132
pergi dan tidak akan kembali. Aku melihatnya menata barang-barangnya
kemarin.”
Nanny terkejut mendengar kata-katanya. “Mengapa ia pergi
meninggalkan Anda?”
Angella menggelengkan kepalanya dan terus menangis di pelukan
Nanny. Nanny terus menghiburnya sepanjang hari itu.
Keluarga Angella sangat terkejut ketika mendengar Jenny pergi. Mereka
tidak pernah mengira bahwa Jenny akan tega meninggalkan Angella. Mereka
tahu Jenny sangat menyayangi Angella, demikian pula Angella.
Setiap hari kedua kakak Angella menghiburnya dan mengajaknya
bepergian. Angella tahu kakak-kakaknya tidak ingin melihatnya bersedih
karena itu ia selalu berpura-pura bahagia di hadapan mereka.
Hari demi hari dilalui Angella dengan penuh kecemasan akan keadaan
Jenny. Setiap malam ia mendoakan Jenny.
Ia kini telah terbiasa tanpa kehadiran Jenny. Nanny dan kedua kakaknya
selalu menemaninya, membuat Angella tidak merasa kesepian.
Hari ini keluarga Angella akan berangkat ke Skotlandia, Angella tidak ikut
walau mereka telah mengajaknya serta.
“Benar, engkau tidak mau ikut?” tanya Countess.
“Mama jangan mencemaskanku. Nanny akan menjagaku,” kata Angella
meyakinkan mereka.
“Jangan nakal selama kami tidak ada,” pesan Frederick.
“Aku bukan anak kecil lagi, Freddy. Tanpa engkau nasehatipun aku telah
mengerti,” kata Angella.
“Engkau masih anak-anak, Angella. Dan akan selalu begitu di mata
kami,” kata Oscar.
“Segeralah pergi! Papa dan Mama telah menunggu kalian,” kata Angella
marah.
“Jangan marah seperti itu. Kami hanya mencemaskanmu, kami tidak
ingin terjadi sesuatu padamu,” kata Frederick.
“Aku mengerti,” kata Angella.
Kedua kakaknya mencium pipinya dan berkata, “Selamat tinggal,
Angella. Jaga dirimu baik-baik.”
“Aku akan merindukan kalian.”
“Kami juga akan merindukanmu, Angella.”
Angella mengantar mereka hingga ke kereta. Ia melambaikan tangannya
133
hingga kereta itu menghilang. Kemudian bersama Nanny, ia masuk.
Delapan bulan telah berlalu sejak kepergian Jenny tanpa ada kabar berita
darinya. Dari hari ke hari Angella semakin mencemaskannya. Angella ingin
sekali bertemu dengan Jenny, namun ia tidak mengetahui keberadaan Jenny.
Beberapa hari setelah kepergian orang tuanya, Nanny jatuh sakit.
Angella menemani Nanny setiap hari.
“Sekarang keadaan kita menjadi terbalik,” kata Nanny sambil tersenyum.
“Apa maksudmu, Nanny?” tanya Angella tak mengerti.
“Biasanya saya yang menemani Anda. Sekarang terbalik, Anda yang
menemani saya,” kata Nanny menerangkan.
“Engkau lucu, Nanny. Aku merasa ini memang sudah seharusnya
kulakukan. Aku menyayangimu, aku ingin selalu berada di sampingmu selama
engkau sakit,” kata Angella tertawa.
“Agar aku dapat mengawasimu. Apakah engkau menuruti kata-kata
dokter atau tidak,” tambah Angella.
“Sudah lama Anda tidak tertawa seriang itu,” kata Nanny.
Muka Angella bersemu merah mendengar kata-kata Nanny.
Pagi itu Angella duduk di kebun belakang Troglodyte Oinos. Matanya
dengan tekun membaca surat kabar di tangannya.
Tiba-tiba matanya membelalak melihat sebuah berita. Angella merasa
terguncang karena berita itu.
“Jenny? Bagaimana bila Jenny mengetahuinya? Aku harus menemui
Jenny.” Ia berkata kepada dirinya sendiri dengan cemas.
Sepanjang pagi itu, Angella tampak gelisah. Pikirannya melayang-layang
ke Jenny. Ia ingin selekas mungkin menemui Jenny, tetapi ia tidak mengetahui
rumah Jenny.
“Thompson, apakah engkau mengetahui rumah Jenny?” tanya Angella.
“Apakah Anda ingin mengunjungi Jenny?” tanya Thompson.
“Apakah engkau tahu?” tanya Angella lagi.
“Ya, saya mengetahui rumah Jenny. Apakah Anda ingin menemui Jenny?”
kata Thompson.
“Ya, Thompson. Aku ingin bertemu dengannya. Dapatkah kita pergi ke
sana siang ini?”
“Tetapi…, Tuan Puteri. Apakah Nanny akan mengijinkan Anda?” tanya
Thompson cemas.
“Tidak apa-apa, Thompson. Nanny masih belum sembuh. Nanti siang bila
134
Nanny telah tidur, kita akan pergi ke rumah Jenny,” kata Angella.
“Tolonglah, Thompson. Aku ingin sekali bertemu dengannya,” kata
Angella melihat keragu-raguan Thompson.
“Saya bisa mengantarkan Anda, tetapi tidak siang ini. Bagaimana bila
esok siang?”
“Baiklah, besok siang kita pergi,” kata Angella
“Jangan beri tahu siapa pun tentang kunjunganku ke rumah Jenny ini,”
tambah Angella.
Esok siangnya setelah Nanny tertidur, Angella diantar Thompson ke
rumah Jenny. Sepanjang jalan Angella tampak cemas. Berulang kali ia berdoa
bagi Jenny.
Mereka telah tiba. Seorang pria muda muncul dari rumah kecil itu,
mendengar kedatangan mereka. Wajah pria itu mirip Jenny. Angella menduga
ia adalah kakak Jenny. Ia mirip seperti yang sering Jenny ceritakan kepadanya.
“Selamat siang. Dapatkah saya bertemu dengan Jenny?” tanya Angella.
“Bolehkah saya tahu nama Anda?” pria itu balik bertanya.
“Saya harus menemui Jenny, ini penting sekali,” kata Angella mendesak.
Seorang wanita tua muncul dengan menggendong seorang bayi yang
tampak tertidur nyenyak. “Siapa, Bill?” tanyanya.
“Apakah bayi ini anak Jenny?” tanya Angella menghampiri wanita tua itu.
“Ya,” jawab wanita tua itu kebingungan.
“Di mana Jenny? Saya harus menemuinya, saya mencemaskan
keadaannya,” kata Angella.
“Silakan masuk,” kata pria itu.
Angella dibawa masuk oleh mereka ke sebuah ruang yang sederhana.
Angella mengambil tempat di sisi wanita tua yang menggendong bayi. Pria itu
duduk di depan Angella.
“Bolehkah saya tahu nama Anda? Mengapa Anda mengetahui tentang
Jenny?” tanya pria itu.
“Nama saya Angella. Dulu Jenny adalah pelayan saya,” jawab Angella.
Mereka terkejut mendengar jawaban Angella. Mereka tidak menduga
Angella akan datang ke rumah mereka.
Angella menduga mereka terkejut karena tak menduga akan bertemu
dengannya yang bersalah atas keadaan Jenny.
“Saya tahu saya bersalah kepada Anda semua. Saya minta maaf kepada
Anda. Namun kedatangan saya kali ini bukanlah untuk menyakiti Jenny lagi,
135
saya hanya mencemaskan keadaan Jenny,” kata Angella.
“Anda tidak bersalah, Tuan Puteri. Kami tidak menyalahkan Anda,” kata
pria itu. “Saya Bill, kakak Jenny dan ini ibu kami.”
“Saya mengerti Anda sangat menyesal atas apa yang telah terjadi dan
Anda merasa bersalah. Anda tidak perlu meminta maaf, semua ini bukanlah
kesalahan Anda,” kata Mrs. Dellas.
“Bagaimana keadaan Jenny?” tanya Angella cemas.
“Ia… ia…,” wanita tua itu menitikkan air mata.
“Ia terguncang sekali dan saat ini ia tidak dapat Anda temui,” Bill
melanjutkan kata-kata ibunya.
“Apakah ia terguncang karena berita itu?” tanya Angella.
“Ya. Ia membaca berita perkawinan pria itu dan ia menjadi sangat
terguncang sehingga ia melahirkan sebelum waktunya,” kata Mrs. Dellas.
“Ia tidak berbicara apa-apa, ia juga tak melakukan apa-apa. Sepanjang ia
hari ia duduk termenung dan bila ia berbicara, tak ada suatu katapun yang
dapat dimengerti oleh kami,” tambah Bill.
“Tolonglah kami, Tuan Puteri. Tolong jauhkan anak ini dari Jenny,” kata
Mrs. Dellas sambil menyerahkan bayi itu kepada Angella.
Angella yang belum pulih dari terkejutnya hanya dapat termangu-mangu.
Ia menerima bayi itu. “Mengapa anak ini harus saya jauhkan dari Jenny?”
“Saya tidak dapat membiarkan anak ini berada di sini. Jenny sangat
membenci anak ini. Pada waktu melahirkannya, ia menjadi histeris ketika kami
menunjukkan bayi ini kepadanya. Waktu itu ia akan melempar anak ini tetapi
kami mencegahnya. Kami sangat menyayangi anak ini, tetapi kami tidak dapat
membiarkan anak ini tumbuh di bawah kebencian ibunya. Kami tak mengerti
mengapa Jenny membenci anaknya,” kata wanita tua itu terisak-isak.
“Jenny selalu menjadi histeris bila melihat anaknya. Kami tidak ingin
terjadi sesuatu pada anak Jenny. Kami mohon bantulah kami menjauhkan anak
ini dari ibunya,” kata Bill meyakinkan Angella.
“Tetapi apa yang harus saya lakukan? Apa yang harus saya katakan bila
kelak ia menanyakan ibunya?” tanya Angella kebingungan.
“Jangan beri tahu anak itu keadaan ibunya. Kami tidak ingin anak itu
mengetahui keadaan ibunya yang seperti ini. Kami dengan berat hati
menyerahkan anak ini kepada Anda,” kata Mrs. Dellas.
Angella benar-benar kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus
dilakukannya terhadap anak Jenny. Ia tidak ingin memasukkan anak yang
136
digendongnya ke panti asuhan.
Ia memandang anak itu. Bayi itu sangat lucu. Pipinya yang montok
tampak kemerah-merahan. Angella tidak dapat mengerti mengapa Jenny
membenci anaknya, tetapi ia hanya dapat menduga mungkin karena Jenny
membenci Earl yang mengingkari janjinya.
Thompson tiba-tiba muncul di ruang itu. “Kita harus segera pulang, Tuan
Puteri. Langit sangat gelap mungkin sebentar lagi akan turun hujan,” katanya.
Angella bangkit dan mendekati Thompson. “Thompson, tolonglah aku.
Apakah engkau tahu apa yang harus kulakukan dengan bayi ini? Aku tidak
ingin memasukkannya ke panti asuhan.”
“Saya tidak tahu, Tuan Puteri,” kata Thompon ragu-ragu.
“Bagaimana bila kita memberikan anak ini kepada seseorang untuk
dirawat?” kata Thompson setelah terdiam.
“Bagaimana menurut Anda, Mrs. Dellas?” tanya Angella.
“Kami menyerahkan semuanya kepada Anda, Tuan Puteri,” jawab Mrs.
Dellas. “Kami sudah tidak tahu apa yang harus kami lakukan.”
“Kepada siapa kita menyerahkan bayi ini?” tanya Angella pada
Thompson.
Thompson terdiam lagi kemudian ia berkata, “Mungkin keluarga Boudini
mau merawat anak ini. Saya kenal baik dengan mereka. Mereka tidak memiliki
anak.”
Angella memikirkan usul Thompson. Ia menimbang baik buruknya
menyerahkan anak Jenny kepada keluarga Boudini yang saat ini sedang
mengadakan pertunjukan di kota, dekat Troglodyte Oinos.
“Baiklah, Thompson. Kita akan menemui keluarga itu sekarang,” kata
Angella.
Mereka segera berpamitan kepada keluarga Jenny dan bergegas menuju
kereta di bawah naungan langit yang semakin gelap, menandakan akan segera
turun hujan.
Tak lama setelah mereka meninggalkan rumah Jenny, hujan mulai turun
dengan deras. Di dalam kereta, Angella sibuk menenangkan anak Jenny yang
menangis mendengar suara guntur yang bersahut-sahutan.
Thompson membawa Angella ke lapangan rumput tempat tenda
Boudini’s Theatre berdiri. Hujan deras membuat Angella membatalkan niatnya
menemui keluarga itu.
Ia meminta tolong kepada Thompson untuk menemui keluarga itu.
137
Kepadanya, ia berpesan untuk menanyakan kesediaan keluarga itu menjadi
orang tua baptis anak Jenny dan merawatnya.
“Mereka sangat senang mendengar permintaan Anda, Tuan Puteri.
Mereka dengan senang hati bersedia menjadi orang tua baptis bagi anak itu
dan merawatnya,” kata Thompson.
“Di mana kita akan membaptis anak ini, Thompson? Kita tidak dapat
membawa anak ini ke gereja samping rumah,” kata Angella.
“Saya tahu ke mana kita dapat membaptisnya, Tuan Puteri. Anda jangan
cemas,” kata Thompson.
Tak lama kemudian mereka dan sebuah kereta lain berangkat ke gereja
yang ditunjuk Thompson. Nama gereja itu St. Augustine. Gereja itu terletak di
tepi kota, di samping gereja itu ada sebuah panti asuhan yang bernama
Gabriel.
Angella berlari menuju gereja itu. Dengan tubuhnya, ia melindungi bayi
dalam gendongannya dari air hujan yang dengan ganasnya menerpa
permukaan bumi.
Cuaca saat itu sama persis dengan cuaca saat Jenny mengutarakan
pengkauannya kepada Angella. Hati Angella menjadi sedih mengingat saat-
saat yang mengejutkannya itu.
Setelah upacara pembaptisan itu, Angella berbicara kepada Mr. dan Mrs.
Boudini.
“Saya berterima kasih karena Anda mau menjadi orang tua Charlemagne
dan merawatnya,” katanya.
“Kami yang seharusnya berterima kasih kepada Anda, Tuan Puteri.
Karena Anda memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi orang tua
baptis anak ini dan merawatnya,” kata Mr. Boudini.
“Saya akan memberi tahu neneknya bahwa kini cucunya telah aman
bersama Anda berdua. Saya juga berterima kasih atas nama yang Anda
berikan padanya,” kata Angella.
Keluarga Boudini terlalu bahagia untuk bertanya mengenai asal usul
anak itu kepada Angella. Thompson juga tidak bertanya apa-apa kepadanya.
Angella bersyukur karenanya. Ia merasa senang dapat menepati janjinya pada
keluarga Jenny.
“Saya mohon kepada Anda berdua untuk tidak menyembunyikan
kenyataan yang sebenarnya bahwa ia bukan anak kandung Anda berdua,” kata
Angella.
138
“Kami mengerti, Tuan Puteri,” kata Mrs. Boudini.
Kini, setelah keadaan Jenny yang seperti itu maka hanya Angella yang
paling mengetahui segala sesuatunya yang menyangkut anak Jenny.

139
14

Vladimer terperangah mendengar cerita Angella. Ia telah menduga gadis


itu mengetahui banyak tentang Charlemagne. Tetapi ia tetap terkejut
mendengar cerita itu.
Ia tidak menduga Angella berperan sangat penting dalam kehidupan
Charlemagne sejak anak itu baru lahir.
Vladimer tidak dapat membayangkan perasaan Angella yang saat itu
masih sangat muda dan bahkan mungkin masih kekanak-kanakan, yang
mengetahui semua itu dan menolong putra sahabatnya, kesedihan Angella
saat menggendong Charlemagne menerobos hujan deras menuju Gereja St.
Augustine.
“Jadi itu sebabnya,” gumam Vladimer.
“Sebab apa?” tanya Angella tak mengerti sambil menghapus air
matanya yang masih tersisa.
“Engkau bersikap dingin kepada semua orang tidak terkecuali
keluargamu karena engkau telah kehilangan kepercayaanmu terhadap orang-
orang di sekitarmu,” kata Vladimer.
Angella dengan tersipu-sipu membenarkan kata-kata Vladimer. Ia
memang telah kehilangan kepercayaannya terhadap semua orang akibat
peristiwa yang menimpa Jenny.
“Aku dapat menyimpulkan bahwa aku sangat beruntung karena engkau
mempercayaiku. Apakah sekarang engkau menyesal karena telah melanggar
janjimu?”
“Aku tidak tahu. Aku…,” kata Angella, “Aku telah melanggar janjiku.”
“Jangan menyesal. Apa yang kaulakukan ini memang benar. Tidak
seharusnya engkau memendam ini semua,” kata Vladimer menghibur Angella.
“Berjanjilah kepadaku, Vladimer. Berjanjilah engkau tidak akan
menceritakannya kepada siapapun termasuk kakak-kakakku,” kata Angella.
“Mengapa engkau bersikeras menyembunyikan hal ini dari kakak-
kakakmu? Biarkanlah mereka mengetahuinya, mereka akan lebih banyak
memberimu bantuan daripada aku,” bujuk Vladimer.
“Bila engkau melanggar janjimu, aku tidak akan memaafkanmu,” kata
140
Angella tajam.
“Baiklah, aku tidak akan memintamu berterus terang kepada mereka.
Aku juga tidak akan melanggar janjiku. Aku tidak ingin kehilangan
kepercayaanmu yang sangat langka itu, karena itu percayalah,” kata Vladimer.
“Engkau harus memegang teguh kata-katamu itu.”
“Sekarang apa yang akan kaulakukan?”
“Aku akan membawa Charlie menemui neneknya. Aku juga akan
berusaha menghapus kebencian Jenny kepada anaknya. Bila aku dapat
menghilangkan kebencian Jenny, aku akan mengembalikan Charlie kepada
mereka.”
“Kapan engkau akan membawanya?”
“Aku tidak tahu. Freddy dan Oscar menjagaku lebih ketat dari biasanya
akhir-akhir ini. Di samping itu aku belum memberitahu Charlie. Aku tidak tahu
apakah anak itu akan siap menerima kenyataan ini. Ia sangat menyayangi
keluarga Boudini.”
“Apabila engkau berterus terang kepada mereka, tentunya mereka akan
mengerti.”
“Vladimer!”
“Jangan marah. Aku tidak bermaksud membujukmu, aku hanya
mengatakan yang sebenarnya,” kata Vladimer. “Masih ada satu hal yang tidak
kumengerti. Mengapa engkau sangat yakin kelak harga diri Danny akan jatuh?”
“Karena bila Earl mengetahui ia memiliki putra, dengan sendirinya Danny
tidak akan menjadi pewaris Earl. Kesombongannya karena menjadi pewaris
pamannya akan jatuh bila ia mengetahui Charlie adalah pewaris Earl,” kata
Angella menjelaskan. “Selama ini ia sangat bangga pada posisinya.”
“Aku mengerti. Mengapa engkau yakin Earl tidak mengetahui bahwa ia
mempunyai putra? Bagaimana bila Earl menolak mengakui Charlie sebagai
putranya?” tanya Vladimer.
“Bila Earl mengetahui bahwa ia mempunyai putra, ia pasti berusaha
menemukan Charlie sejak kematian istrinya. Tetapi ia tidak melakukannya, di
samping itu aku yakin Lady Elize tidak memberi tahu kedatangan Jenny pada
Earl,” jawab Angella, “Harga diri Earl yang tinggi tidak akan mengijinkannya
memilih Danny sebagai pewarisnya. Ia akan memilih anaknya daripada
keponakannya.”
“Sepertinya engkau sangat yakin dengan perkataanmu itu.”
“Aku telah mengenal baik keluarga yang berharga diri tinggi itu. Karena
141
itu aku sangat yakin,” kata Angella.
“Aku mengerti,” Vladimer berdiri.
“Apa yang kaulakukan!?” tanya Angella panik ketika Vladimer
mengangkat tubuhnya.
“Aku akan membawamu kembali ke kamarmu,” jawab Vladimer tenang.
“Aku bisa berjalan sendiri. Turunkan aku!” kata Angella.
“Jangan keras kepala. Aku tidak yakin engkau akan sampai di kamarmu
dengan selamat setelah mendapat berbagai kejutan akhir-akhir ini,” kata
Vladimer, “Sekarang lingkarkan saja tanganmu pada leherku.”
Angella menuruti keinginan Vladimer. Kemudian ia menyembunyikan
wajahnya yang memerah di bahu Vladimer.

-----0-----

“Bagaimana keadaan Angella?” tanya Frederick ketika melihat Vladimer


meninggalkan kamar adiknya.
“Ia baik-baik saja. Ia baru saja tertidur.”
“Apakah engkau berhasil?” tanya Oscar.
“Ia telah menceritakan segalanya kepadaku, tetapi aku tidak dapat
memberi tahu kalian. Aku telah berjanji kepadanya,” kata Vladimer.
“Katakan saja kepada kami. Kami janji tidak akan membuka mulut,” kata
Oscar mendesak.
“Jangan mendesaknya, Oscar. Seorang pria harus memegang teguh
janjinya,” tegur Frederick.
“Tetapi…”
“Aku akan membujuknya agar ia mau bercerita kepada kalian juga,” kata
Vladimer sambil menyembunyikan keraguannya.
Vladimer merasa ragu apakah ia berhasil membujuk Angella untuk
menceritakan masalah ini kepada kakak-kakaknya. Ia telah mengalami
kesulitan sewaktu mencoba membuat Angella menceritakan segala sesuatu
tentang Charlemagne. Dan ia merasa kali ini akan jauh lebih sulit membujuk
Angella agar mau menceritakan hal ini kepada kakak-kakaknya. Gadis itu telah
menunjukkan sikapnya yang tidak mempercayai siapa pun selama bertahun-
tahun.
Kini, pertanyaan yang muncul di benak Vladimer adalah apakah Angella
benar-benar mempercayainya? Apakah Angella akan tidak mempercayainya
142
lagi? Apakah Angella tetap akan mempercayainya bila ia membujuk gadis itu?
Terlalu besar resiko yang harus ditanggungnya. Ia tidak ingin kehilangan
kepercayaan Angella yang sangat berharga itu. Tetapi ia juga tidak dapat
membiarkan gadis itu terus menerus menyembunyikan kenyataan yang
sebenarnya dari kakak-kakaknya.
Ia ingin membantu gadis itu, ia tidak ingin Angella menanggung sendiri
beban itu. Selama empat tahun lebih, Angella menanggung kepedihan itu
dengan penuh ketabahan.
Bertahun-tahun gadis itu memendam dirinya dalam kesedihan, dalam
kedinginan hatinya. Ia ingin mengeluarkan gadis itu dari belenggu kesedihan
yang membuat Angella berubah dari seorang anak pendiam yang ceria
menjadi gadis cantik yang sangat pendiam dan dingin. Tetapi Vladimer juga
menemui resiko bila ia ingin meruntuhkan dinding es yang menutupi hati gadis
itu.
Ada kemungkinan Angella tidak menyukai pria setelah ia mengetahui
apa yang terjadi pada sahabatnya, Jenny.
Dan itu telah terbukti. Gadis itu tidak pernah mau didekati pria baik itu
tua maupun muda selain kakak-kakaknya dan ayahnya. Sikap gadis itu jauh
lebih dingin kepada pria daripada kepada wanita. Gadis itu menutup dirinya
dari semua pria.
Angella membuat semua pria merasa tertarik untuk menembus
kedinginan hatinya. Tetapi tidak seorangpun dari mereka yang berhasil.
Danny yang selama ini terkenal sebagai pria yang sangat tampan juga
tidak berhasil menembus kedinginan hati Angella. Walaupun banyak wanita
yang ingin menjadi kekasih Danny, tetapi pria itu tidak berhasil menembus
kedinginan hati Angella.
Frederick dan Oscar juga telah bercerita kepadanya mengenai segala
tingkah Angella yang membuat semua pria merasa semakin tertarik untuk
mencoba menundukkan kedinginan hatinya.
Mereka juga mengatakan bahwa Angella sering mendapat undangan
jamuan, tetapi gadis itu selalu menolaknya. Tetapi tidak semua undangan bisa
ditolaknya, ada beberapa undangan dari kawan Earl yang tidak bisa ditolak
Angella.
Dalam menghadiri undangan yang tidak dapat ditolaknya itu, Angella
selalu dikawal kedua kakaknya. Kedua kakaknya yang selalu berada di sisinya,
membuat setiap pria berpikir berulang kali sebelum mendekatinya.
143
Semua orang tahu Frederick dan Oscar sangat menyayangi Angella.
Mereka tidak akan membiarkan Angella didekati pria manapun.
Terlalu sulit membujuk kedua kakak Angella agar mau meninggalkan
adiknya seorang diri bila mereka berada di luar Troglodyte Oinos.
Pernah pada suatu saat Angella terpaksa hadir dalam suatu jamuan
seorang diri. Saat itu tidak ada seorangpun dari keluarganya yang dapat
menghadiri jamuan itu selain dirinya. Mereka tidak dapat menolak undangan
itu karena undangan itu berasal dari sahabat keluarga Earl.
Keluarga Arkt dan keluarga Tritonville telah bertahun-tahun bersahabat,
sejak kakek moyang mereka. Turun temurun mereka telah menjalin
persahabatan yang baik.
Untuk menjaga persahabatan yang telah berjalan lama itu, Angella
terpaksa menghadiri jamuan makan malam yang diadakan keluarga itu.
Semua orang yang hadir di pesta itu terkejut melihat Angella datang
sendiri tanpa kedua kakaknya.
Putra tertua Earl of Arkt, Hilbert menyambut Angella dengan sangat
ramah, namun Angella menerima sambutan itu dengan sikap yang sangat
dingin.
Selama perjamuan itu, Hilbert tidak pernah beranjak dari sisi Angella. Ia
berusaha memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk meruntuhkan
kedinginan hati Angella.
Semua pria lainnya yang hadir di dalam perjamuan itu merasa iri pada
Hilbert. Mereka mengira Angella membukakan hatinya yang dingin itu bagi
Hilbert. Namun ternyata mereka salah.
Ketika jamuan itu selesai, mereka menuju ke Ruang Duduk. Saat itu
Hilbert dengan sengaja memasang musik waltz yang lembut. Setelah itu pria
itu tanpa berkata apa-apa menarik tangan Angella ke lantai dansa.
Saat itu Angella masih duduk bersama wanita-wanita yang lain. Ia
memainkan gelas yang berisi anggur di tangannya sambil mendengarkan para
wanita itu bercakap-cakap.
Ketika tangan Hilbert menyentuh tangannya, Angella tanpa berkata apa-
apa segera menyiramkan anggur yang berada di tangannya itu.
Semua yang hadir terkejut dengan sikap Angella. Mereka hanya dapat
memandang tanpa melakukan apa-apa melihat Hilbert marah-marah terhadap
perlakuan Angella yang kasar itu.
“Wanita macam apa engkau ini! Tidak tahu sopan santun, seenaknya
144
menyiramkan anggur ke wajah orang,” kata Hilbert sambil menyeka wajahnya
yang basah.
Angella dengan tenang meletakkan gelas itu di meja yang berada di
dekatnya dan berkata, “Lebih tidak sopan seorang pria yang memaksakan
kehendaknya kepada wanita.”
Hilbert segera terdiam mendengar kata-kata Angella yang tenang namun
dingin dan tajam itu.
Tanpa mempedulikan apa yang telah dilakukannya, Angella
meninggalkan Ruang Duduk.
Ia mengucapkan terima kasih atas jamuan makan malam itu kepada Earl
of Arkt kemudian meninggalkan rumah itu bersama Thompson yang terus
menantinya sejak mereka tiba.
Ketika Earl of Tritonville mengetahui apa yang telah dilakukan putrinya
dalam jamuan itu, ia menasehati Angella untuk bersikap lebih sopan bila ia
hendak menolak ajakan seseorang.
“Ia pantas mendapatkan itu, Papa. Agar ia tidak berbuat seenaknya lagi
kepadaku,” kata Angella dengan tenang.
Earl dan Countess hanya dapat menasehati Angella, tetapi mereka tidak
dapat membuat Angella merasa menyesal pada tindakannya itu.
Sikap Earl dan Countes ketika mengetahui kejadian dalam jamuan itu
berlainan dengan Frederick dan Oscar. Kedua kakak Angella sangat menyetujui
tindakan adiknyai tu. Mereka memuji Angella yang menurut mereka berbuat
yang seharusnya.
Hilbert sejak kejadian itu berusaha dengan keras untuk menundukkan
kedinginan hati Angella. Tetapi ia tidak pernah berhasil bahkan hingga saat ini
ia tidak berhasil membuat Angella mengeluarkan sepatah katapun bila mereka
bertemu.
Sikap Angella pada putra tertuanya tidak membuat Earl of Arkt
memutuskan tali persahabatan kedua keluarga itu.
Bahkan Earl of Arkt menyetujui sikap Angella pada putra tertua mereka
yang telah berbuat tidak sopan kepada dirinya.
Terlalu banyak resiko yang harus diambil Vladimer bila ia ingin
mengeluarkan Angella dari kesedihan yang telah mengurung dirinya.
Ia tidak bisa membuat gadis itu terus menutup hatinya dari dunia luar. Ia
tidak bisa membiarkan Angella terus tidak mempercayai orang lain. Tetapi ia
tidak ingin membuat gadis itu menjauhinya apalagi membencinya seperti
145
gadis itu membenci keluarga Earl of Wicklow.
“Baiklah. Kami akan memberikan kesempatan kepadamu untuk berdua
dengan Angella agar engkau bisa dengan leluasa berbicara kepadanya,” kata
Frederick.
Hari-hari berikutnya Angella tetap tidak diijinkan meninggalkan
kamarnya oleh kedua kakaknya walau telah dilarang oleh kedua orang tua
mereka.
Frederick menepati kata-katanya. Ia sering membiarkan Angella dan
Vladimer berdua. Setiap hari ia dan Oscar berusaha mengalihkan perhatian
Charlie dari Angella.
Countess dan Nanny juga semakin jarang menemani Angella ketika
mereka mengetahui gadis itu semakin dekat dengan Vladimer. Mereka
menduga kedua insan itu sedang jatuh cinta. Mereka berusaha memberi
kesempatan kepada kedua insan itu untuk berdua tanpa mengetahui bahwa
mereka telah membantu Frederick dan Oscar juga Vladimer sendiri.
“Aku pernah melihatmu membawakan bunga untukku ketika aku sakit,”
kata Angella mengejutkan Vladimer yang datang diam-diam dengan membawa
sekeranjang bunga di tangannya.
“Maaf aku membuatmu terbangun,” kata Vladimer.
“Tidak apa-apa, aku tidak dapat tidur sejak tadi,” kata Angella.
“Mengapa engkau tidak tidur? Bukankah dokter berpesan engkau harus
beristirahat,” kata Vladimer memarahi Angella.
“Aku sudah sembuh. Mengapa aku harus beristirahat sepanjang hari dan
tidak boleh meninggalkan kamar ini?” kata Angella.
“Suhu tubuhmu kemarin malam tinggi sekali,” kata Vladimer
mengingatkan Angella akan keadaannya pada malam sebelumnya.
“Tetapi suhu tubuhku sudah turun,” protes Angella.
“Kakak-kakakmu mengkhawatirkanmu.”
“Aku merasa mereka marah kepadaku karena itu aku tidak boleh
meninggalkan kamar.”
Vladimer tersenyum melihat Angella yang sedang marah. “Mereka tidak
pernah marah padamu, mereka sangat menyayangimu.”
“Aku yakin mereka marah padaku karena aku hanya bercerita
kepadamu.”
“Karena itu biarkanlah mereka mengetahui semuanya,” bujuk Vladimer.
“Jangan membujukku, engkau telah berjanji,” kata Angella.
146
“Jangan cemberut, aku tidak suka melihat wajahmu yang seperti itu.”
“Bila engkau tidak suka, maka silakan pergi,” kata Angella tajam.
“Jangan bersikap dingin seperti itu kepadaku. Aku lebih menyukai
keramahanmu.”
“Mengapa engkau tetap berada di sini bila engkau tidak suka?” tanya
Angella.
Vladimer memberikan keranjang bunga itu kepada Angella. “Karena aku
belum memberikan bunga ini kepadamu,” kata pria sambil tersenyum
meletakkan keranjang bunga itu di pangkuan Angella.
“Engkau telah memberikannya kepadaku. Sekarang engkau boleh pergi
bila engkau tidak suka,” kata Angella tanpa mengurangi ketajaman kata-
katanya.
“Aku senang berada di sisimu. Walaupun engkau bersikap dingin
kepadaku,” kata Vladimer, kemudian ia duduk di sisi Angella untuk
menunjukkan kepada gadis itu kesungguhan kata-katanya.
Angella merasa malu mendengar keterusterangan Vladimer. “Mengapa
engkau tidak membawakan bunga yang seperti waktu itu?” katanya
mengalihkan topik.
“Karena aku percaya engkau lebih menyukai merangkai bunga sendiri
daripada bunga yang dirangkaikan oleh Nanny.”
“Bunga yang waktu itu Nanny yang merangkainya?”
Vladimer menganggukan kepala. “Apakah engkau menyukai bunga itu?”
“Aku menyukainya. Apakah engkau yang memetik bunga ini?”
“Bukan. Bukan aku. Sejujurnya aku tidak mengerti tentang bunga. Kakak-
kakakmu dan Charlie yang memetiknya untukmu.”
“Katakan kepada mereka aku menyukai bunga ini.”
Vladimer memperhatikan Angella yang sibuk menata bunga. Dengan
tekun, Angella membuang bagian bunga yang tak diperlukan dan
mengumpulkannya di keranjang itu. Kemudian merangkai bunga itu di
jambangan di sampingnya. Ia tampak terhanyut dalam kesibukannya.
“Mengapa engkau memandangku seperti itu?” tanya Angella ketika
menyadari Vladimer tengah memperhatikannya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu bagaimana engkau bisa
membangun dinding es yang sangat tebal di sekeliling kehangatan hatimu.”
“Bagaimana engkau dapat mempercayai bahwa aku tidak sedingin yang
mereka katakan?” tanya Angella.
147
“Karena aku telah melihat kehangatanmu itu.”
“Engkau akan menyesal bila mengetahui bahwa engkau salah,” kata
Angella memperingatkan Vladimer.
“Aku tidak mungkin salah. Sebelum engkau menceritakan hal itu
kepadaku, aku telah menduga engkau mendirikan dinding es di sekeliling
kelembutan hatimu,” kata Vladimer sambil tersenyum memandang Angella.
Angella merasa salah tingkah melihat senyuman Vladimer. “Engkau
sendiri juga terkenal akan kedinginan sikapmu.”
“Ya, engkau benar. Tetapi aku berbeda denganmu. Aku bersikap dingin
bukan karena aku membangun dinding es sepertimu tetapi karena aku tidak
ingin mereka mendekatiku,” kata Vladimer.
“Aku tak mengerti,” kata Angella.
“Aku tidak ingin didekati wanita manapun karena itu aku bersikap dingin
kepada mereka. Aku berpikir bila aku bersikap seperti itu, mereka dengan
sendirinya akan menjauhiku dan itu telah terbukti kebenarannya,” kata
Vladimer.
“Bagaimana dengan kawan-kawanmu?” tanya Angella.
“Aku tidak tahu,” jawab Vladimer.
“Itu berarti engkau bersikap dingin bukan karena engkau tidak ingin
didekati mereka tetapi karena engkau memang dingin,” kata Angella.
“Mungkin engkau benar.”
“Apakah engkau mengetahui bahwa Mama dan Nanny menduga kita
saling mencintai?”
“Aku tidak tahu. Dari mana engkau tahu?”
“Mata mereka yang mengatakannya. Bila mereka tahu yang sebenarnya,
tentu mereka akan kecewa.”
“Mereka benar,” kata Vladimer.
Angella terkejut mendengar penyataan Vladimer. “Apa yang kaukatakan?
Apakah engkau…? Jangan bercanda, tidak mungkin itu benar,” kata Angella
mengelengkan kepala antara percaya dan tidak, antara senang dan bingung.
“Lupakan saja yang kukatakan,” kata Vladimer sedih melihat reaksi
Angella. “Apakah engkau telah menemukan cara untuk mengajak Charlie
mengunjungi neneknya?”
“Belum. Aku tidak akan pernah dapat mengajak Charlie bila Frederick
dan Oscar tidak mengijinkanku keluar kamar,” kata Angella dengan sedih.
“Menurutku, engkau lebih baik memberi tahu mereka. Mereka akan
148
mengijinkanmu bila mereka tahu,” saran Vladimer.
Angella merenungkan saran Vladimer. “Baiklah, aku menceritakan
semuanya kepada mereka dan Charlie malam ini di gereja samping rumah
bukan di sini.”
“Mengapa tidak di kamar ini?” tanya Vladimer tak mengerti.
“Karena aku tidak ingin orang lain turut mendengarkan.”
“Mengapa?” tanya Vladimer tetap tak mengerti.
“Kejadian tragis yang menimpa Jenny ini bukan cerita yang patut
disebarkan,” kata Angella tajam.
Vladimer tersenyum mendengar Angella. “Baiklah, aku akan memberi
tahu mereka. Mereka pasti senang bila mendengar hal ini.”

149
15

“Mengapa engkau pergi sendiri? Bukankah aku telah mengatakan aku


akan mengantarmu,” kata Vladimer ketika melihat Angella telah berada di
gereja bersama Charlie.
“Jangan marah. Aku tidak sendiri, Charlie bersamaku,” kata Angella
tenang.
“Bagaimana bila terjadi sesuatu kepadamu selama perjalananmu menuju
tempat ini?” tanya Vladimer semakin marah.
“Aku telah berada di sini dengan selamat, karena itu jangan marah,” kata
Angella mencoba meredakan kemarahan Vladimer.
“Sudah, kalian jangan bertengkar. Kita berkumpul di sini bukan untuk
mendengar kalian bertengkar tetapi untuk mendengar penjelasan yang sangat
penting dari Angella,” kata Oscar tak sabar.
Angella mengangkat Charlie ke pangkuannya. “Dengar, Charlie. Apa
yang akan kukatakan ini sangat penting. Karena itu engkau harus
mempercayaiku.”
“Saya selalu mempercayai Anda.”
“Aku senang mendengarnya. Sekarang dengarkan dengan baik-baik,”
Angella berhenti sebentar kemudian melanjutkan, “Mr. dan Mrs. Boudini bukan
orang tua kandungmu, mereka orang tua baptismu. Dulu ibumu adalah
pelayanku. Namanya Jenny. Dan engkau juga mempunyai seorang nenek dan
paman. Atau dengan kata lain, engkau tidak sebatang kara di dunia ini.”
Charlie terkejut mendengarnya tetapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya
memeluk erat Angella.
“Aku ingin mengajakmu menemui mereka suatu saat nanti. Tetapi aku
tidak bisa mempertemukanmu dengan ibumu,” kemudian dengan
mengeraskan hati ia melanjutkan, “Karena… karena… ibumu sangat
terguncang dan ia… ia… menjadi… menjadi….”
Angella tak sanggup meneruskan perkataannya, air matanya kembali
membasahi pipinya. Vladimer dengan segera berusaha menghibur Angella.
Setelah tangis Angella mereda, Vladimer melanjutkan cerita Angella.
“Jenny sangat terguncang ketika mengetahui ayah Charlie menikah
150
dengan gadis lain. Pikirannya menjadi …”
“Apa yang terjadi pada Jenny, Vladimer? Katakanlah kepada kami,” desak
Oscar.
“Sabarlah, Oscar. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya berhenti
bercerita,” kata Frederick menenangkan Oscar kemudian menatap Angella.
“Kami tidak dapat menceritakannya kepada Charlie. Charlie akan sangat
terguncang bila mengetahui keadaan ibunya. Biarkanlah ia tidur, aku melihat
ia mulai mengantuk,” kata Angella.
Angella memeluk Charlie erat-erat. Ia merasa kasihan kepada anak itu. Ia
membuai anak itu seperti membuai seorang bayi ke alam mimpi, seperti yang
dilakukannya pada anak itu ketika mereka meninggalkan rumah Jenny dalam
hujan deras yang mengguyur bumi.
“Vladimer, tolong kau ceritakan kepada mereka. Aku tidak sanggup,”
kata Angella setelah Charlie tertidur.
Vladimer menceritakan kembali cerita Angella. Kedua kakak Angella
tampak terkejut mendengar cerita panjang itu.
“Tak kuduga Earl of Wicklow itu sangat kejam terutama adiknya. Untung
aku tidak pernah menyukai wanita itu. Entah apa yang akan dilakukannya
padaku bila aku memilihnya. Mungkin aku akan diusirnya juga bila ia sudah
tidak menyukaiku lagi seperti ia mengusir Jenny yang sedang mengandung,”
kata Oscar penuh kemarahan.
“Apakah engkau yakin Charlie adalah putra Jenny dan Earl of Wicklow?”
tanya Frederick.
“Tentu saja aku yakin. Aku sendiri yang menyerahkan anak ini kepada
keluarga Boudini sehari setelah kelahirannya,” kata Angella dengan marah di
sela-sela tangisnya, “Sifat anak ini sudah cukup membuktikan bahwa aku
benar. Ia keras kepala seperti ibunya dan ia juga tidak mudah mempercayai
orang seperti keadaan Jenny ketika mengandung.”
“Maaf, aku hanya ingin kebenaran yang jelas,” kata Frederick.
“Apakah peristiwa yang menimpa Jenny itu belum jelas?” tanya Angella
tajam.
“Frederick!” tegur Vladimer ketika melihat Frederick akan mengatakan
sesuatu.
“Kami mempercayai cerita itu. Jangan menangis lagi, aku tidak ingin
melihatmu bersedih,” kata Oscar sambil berlutut di depan Angella.
“Sekarang yang harus kita lakukan adalah mempertemukan Charlie
151
dengan keluarganya,” kata Vladimer.
“Dan memberi tahu Earl mengenai hal ini,” tambah Frederick.
“Apakah Earl akan mempercayai kenyataan ini?” tanya Oscar.
“Ia pasti percaya bila ia melihat anak ini dan Jenny,” kata Vladimer.
“Baiklah. Karena kalian telah sepakat, aku juga setuju,” kata Oscar,
“Bagaimana denganmu Angella?”
“Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Mrs. Dellas,” kata Angella ragu-
ragu, “Tetapi bila kalian bersikeras, maka aku tidak akan mencegah kalian. Aku
tahu kalian tidak dapat dihentikan bila kalian bersungguh-sungguh melakukan
sesuatu. Kalian yang membuat rencananya, aku menjalankannya.”
“Sekarang semua telah diputuskan. Bila keadaan Angella sudah
membaik, kita akan mengantar Charlie menemui keluarganya. Dan aku akan
memberi tahu Earl,” kata Frederick.
“Jangan terburu-buru memberi tahu Earl. Tunggulah sampai kebencian
Jenny berkurang. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya bila Earl muncul
dengan tiba-tiba untuk mengambil putranya,” kata Angella.
“Earl tidak akan mengambil putranya saja, tetapi ia juga akan
mengambil Jenny. Percayalah, aku akan membuatnya menjadi kenyataan. Bila
ia tidak mau membawa Jenny, maka ia tidak akan mendapatkan putranya. Aku
yang akan memastikannya,” kata Frederick bersungguh-sungguh.
“Yang harus kita lakukan sekarang adalah membawa Angella dan Charlie
kembali ke kamar,” kata Vladimer.
“Oscar antarkan mereka kembali ke kamarnya. Ada yang ingin
kubicarakan dengan Vladimer,” kata Frederick.
Oscar mengambil Charlie dari pangkuan Angella dan mengajak Angella
meninggalkan gereja. Sepanjang jalan mereka tak berbicara apa-apa.
“Apakah engkau marah kepadaku?” tanya Angella memecahkan
keheningan di antara mereka.
“Tidak,” jawab Oscar singkat.
“Engkau bohong! Aku tahu engkau marah kepadaku karena aku
menyembunyikan hal ini dari kalian selama empat tahun lebih.”
Oscar tetap berdiam diri.
“Maafkan aku, Oscar. Aku tidak berniat menyembunyikannya dari kalian,
tetapi aku telah berjanji kepada Jenny,” kata Angella melihat Oscar yang
terdiam.
“Aku mengerti. Jangan khawatir, aku tidak marah kepadamu,” kata Oscar.
152
“Mengapa engkau diam saja?”
“Aku sedang memikirkan langkah yang harus kita ambil untuk
menyelesaikan masalah ini tanpa membuatmu bersedih lagi,” jawab Oscar.
“Aku tidak dapat menghentikan kesedihanku ini sebelum aku melihat
mereka bahagia,” kata Angella.
“Percayalah pada kami, kami akan membuat mereka bahagia. Engkau
jangan bersedih lagi juga jangan merasa bersalah lagi.”
“Tetapi karena kecerobohanku semua ini terjadi,” protes Angella.
“Saat itu engkau tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Engkau tidak
bersalah.”
“Engkau dan Vladimer sama saja. Kalian tidak mengerti perasaanku.”
“Vladimer pernah mengatakannya juga?” tanya Oscar tak percaya.
“Ya. Setiap hari ia mengatakan aku tidak perlu merasa bersalah karena
saat itu aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
“Karena itu jangan merasa bersalah lagi.”
“Aku tidak dapat menghentikannya, Oscar. Aku tidak dapat
menghilangkan perasaan itu. Sejak semua ini terjadi, aku selalu menyalahkan
diriku sendiri.”
“Berusahalah. Engkau pasti bisa,” kata Oscar.
Oscar mengantar Angella ke kamarnya kemudian menyerahkan Charlie
yang sudah tertidur kepada Nanny. Setelah melaksanakan tugas yang
diberikan Frederick, ia pergi ke tempat Frederick dan Vladimer berbicara.
Dalam perjalanan ke gereja, ia memikirkan kata-kata adiknya sebelum masuk
kamar.
“Mereka sudah tidur?” tanya Frederick.
Oscar menganggukan kepalanya kemudian bertanya, “Apa yang kalian
bicarakan?”
“Kami membicarakan pembagian tugas selama kunjungan Angella ke
rumah Jenny. Kami memutuskan besok lusa bila keadaan Angella membaik, ia
boleh pergi ke sana bersama Charlie,” kata Vladimer.
“Apakah ia akan setuju dengan keputusan kalian?” tanya Oscar.
“Ia pasti setuju. Ia telah menyerahkan segalanya kepada kita,” kata
Frederick meyakinkan Oscar.
“Siapa yang akan menjaganya selama kunjungannya ke rumah Jenny?”
tanya Oscar.
“Besok lusa, engkau yang menjaganya. Kemudian pada kunjungannya
153
yang selanjutnya, kita akan secara bergiliran menemani mereka,” kata
Frederick.
“Menurutmu, apakah mudah menghilangkan kebencian Jenny pada
anaknya?”
“Aku tidak tahu, Oscar. Masalahnya adalah Charlie mirip sekali dengan
Earl, sedangkan Jenny membenci Earl karena telah melanggar janjinya,” kata
Frederick.
“Masalah ini akan sangat sulit terselesaikan,” kata Vladimer.
“Tidak!” seru Oscar mengejutkan Frederick dan Vladimer, “Masalah ini
akan cepat terselesaikan. Aku yakin Jenny masih mencintai Earl. Mungkin pada
saat ia melihat Charlie untuk pertama kalinya, ia akan menjadi histeris tetapi
lama kelamaan ia akan terbiasa dengan kehadiran Charlie.”
“Setelah itu kita mengajak Earl menemui Jenny. Aku yakin kedatangan
Earl setelah kebencian Jenny terhadap anaknya berkurang, akan
mempengaruhi pikiran Jenny. Dan bila dugaanku benar, mungkin Jenny bisa
pulih seperti sedia kala.”
“Mengapa engkau sangat yakin pada kata-katamu?” tanya Frederick.
“Angella memberi tahuku kemungkinan itu. Kata Angella, ia telah banyak
membaca buku mengenai ini. Dan inilah kesimpulan Angella.”
“Rupanya Angella benar-benar memikirkan Jenny dan putranya,” kata
Vladimer.
“Setiap saat ia selalu memikirkan orang-orang yang disayanginya. Dan
Jenny salah satu orang yang disayanginya,” kata Frederick.
“Walaupun ia berhati dingin, tetapi sebenarnya ia penuh perhatian,”
tambah Oscar.
“Karena itu, berdoalah agar engkau juga termasuk di antara orang-orang
yang disayanginya, Vladimer,” goda Frederick.
“Salah, Frederick. Bukan disayangi tetapi dicintai. Berharaplah Vladimer,”
Oscar ikut menggoda.
Vladimer tidak menghiraukan godaan mereka. Ia sibuk dengan
pikirannya sendiri. Mengapa Angella terkejut ketika ia membenarkan dugaan
Nanny dan Countess? Mengapa ia tampak tidak senang?
Angella memprotes ketika mendengar keputusan mereka. Tetapi ia tetap
menyetujui keputusan itu. Sepanjang hari ia mempersiapkan mental Charlie
untuk bertemu keluarganya terutama ibunya. Ia tidak ingin Charlie terguncang
melihat keadaan ibunya.
154
Nenek Charlie sangat senang ketika melihat cucunya. Charlie juga
tampak senang bertemu keluarganya. Bill, paman Charlie mengajak
keponakannya berkeliling ketika Angella dan Oscar berbicara dengan Mrs.
Dellas.
“Kami baru mendengar apa yang terjadi pada Jenny. Kami turut merasa
menyesal,” kata Oscar.
“Maafkan saya, Mrs. Dellas. Saya tidak dapat menepati janji saya. Orang
tua angkat Charlie telah meninggal dan saya tidak tega melihatnya sebatang
kara karena itu saya menceritakan segalanya kepada anak itu.”
Mrs. Dellas tampak terkejut mendengar berita itu. Setelah menguasai
dirinya ia berkata, “Tidak apa-apa, Tuan Puteri. Mungkin memang sudah
kehendak-Nya anak itu mengetahui segalanya.”
“Mrs. Dellas, kami memutuskan untuk memberi tahu ayah Charlie. Ia
harus bertanggung jawab terhadap anaknya,” kata Oscar.
“Jangan lakukan itu! Ia tidak boleh memisahkan Jenny dari putranya.
Walaupun Jenny membenci anak itu, tetapi ia tetap ibu Charlie. Saya percaya
suatu saat nanti Jenny akan dapat menghilangkan kebenciannya itu.”
“Kami tidak bermaksud memisahkan mereka. Kami akan memastikan
ayah Charlie tidak hanya mengambil Charlie tetapi juga Jenny,” kata Oscar.
“Percayalah, Mrs. Dellas. Kami tidak ingin memisahkan mereka. Kami
hanya ingin melihat mereka bahagia,” kata Angella memohon.
“Baiklah. Anda boleh memberi tahu ayah Charlie karena memang sudah
seharusnya ia bertanggung jawab terhadap anak itu. Tetapi saya tidak akan
mengijinkan bila ia hendak memisahkan Jenny dan Charlie.”
“Kami akan memastikan itu, Mrs. Dellas,” kata Angella, “Saya tahu Anda
ibu yang pengertian. Saya tidak akan mengecewakan Anda lagi.”
“Karena Anda telah setuju. Kami akan mengajak ayah Jenny kemari bila
Jenny tidak lagi membenci Charlie seperti dulu lagi. Untuk itu kami
membutuhkan bantuan Anda.”
“Kami akan membantu Anda. Jenny harus menghilangkan kebenciannya
pada putranya sendiri. Saya percaya hal ini akan terjadi. Jenny pasti bisa,” kata
Mrs. Dellas terharu.
Ketika Bill dan Charlie tiba, mereka segera menghentikan percakapan
mereka. Charlie dengan penuh semangat menceritakan segala yang dilihatnya
kepada mereka. Ia tampak senang sekali dengan pertanian ini. Ia juga
bercerita mengenai beberapa ternak yang dilihatnya.
155
Bill tampak menyukai keponakannya itu. Kata Bill, Charlie memaksa
mengajaknya berkuda. Semula ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya,
tetapi Charlie sudah berada di atas kuda ketika ia baru memutuskan tidak
mengijinkan anak itu. Ia mengaku bahwa ia terkejut karena Charlie sudah
dapat berkuda.
Charlie bercerita mengenai pelajaran berkuda yang diberikan oleh kedua
kakak Angella serta Vladimer. Dengan penuh semangat ia bercerita mengenai
kunjungannya selama berada di Troglodyte Oinos.
Mrs. Dellas senang mendengar cerita cucunya, tetapi ia harus melakukan
sesuatu yang penting. Ia harus mempertemukan Charlie dengan ibunya.
Suasana terasa tegang ketika Bill membuka pintu kamar Jenny.
Jenny yang sedang duduk termenung di tempat tidurnya, menjerit
histeris ketika melihat Charlie. Tangannya meraih barang-barang yang ada di
dekatnya dan melemparkannya ke Charlie sambil mengusirnya pergi.
Angella hendak berdiri di depan Charlie untuk melindunginya, tetapi
Oscar menahannya. Sebagai gantinya, Oscar berdiri melindungi mereka
berdua.
Charlie menangis ketakutan melihat ibunya. Angella dan Mrs. Dellas
sibuk menenangkan Charlie.
“Jangan menangis, Charlie. Ibumu tidak mengenalmu sehingga ia seperti
ini, bila engkau menangis ia semakin tidak mengenalmu,” bujuk Mrs. Dellas.
“Engkau harus bersabar menghadapinya, ia menyayangimu. Ia hanya
terkejut melihatmu,” bujuk Angella. “Jangan menangis, engkau anak yang
berani.”
Bill mendekati Jenny. Ia mencengkeram kuat-kuat tangan adiknya. “Apa
yang kaulakukan? Apakah engkau tidak menyadari engkau bisa melukai
putramu?” bentaknya.
Jenny tampak termenung melihat kemarahan kakaknya. Ia melihat
Charlie yang ketakutan. Ia terus menatap anak itu.
Charlie tiba-tiba berlari mendekati Jenny. Angella dan Mrs. Dellas tampak
cemas melihat anak itu mendekati Jenny. Mereka tidak dapat menduga reaksi
Jenny. Mereka hanya berharap Jenny tidak melakukan sesuatu yang lebih buruk
terhadap anak itu lagi.
“Lihatlah! Ia putramu sendiri, anak yang kausayangi. Mengapa sekarang
engkau tidak mengenalinya lagi?” tanya Bill melihat Charlie mengguncang
tubuh Jenny sambil memanggil namanya.
156
Jenny tetap tidak bergerak ketika Charlie memanggil namanya. Ia
memandangi wajah anak itu tanpa berkata apa-apa.
Angella tidak sanggup melihat adegan itu, ia menarik Oscar
meninggalkan keluarga itu. Oscar mengibur Angella yang mulai menangis di
pelukannya.
“Oscar, kita pulang saja. Aku tidak sanggup melihat mereka,” kata
Angella.
“Bagaimana dengan Charlie?” tanya Oscar.
“Biarkan Charlie di sini. Ia pasti senang berkumpul dengan keluarganya.”
“Baiklah. Aku akan memberi tahu mereka. Tunggu di sini,” kata Oscar.
Oscar masuk kembali ke kamar Jenny, Angella mendengar mereka
berbicara. Terdengar Oscar dengan keras kepala meyakinkan mereka bahwa
Charlie harus berkumpul dengan keluarganya. Setelah berhasil meyakinkan
mereka, ia kembali ke sisi Angella.
Dalam perjalanan pulang, Angella tampak sedih. Ia duduk termenung.
Oscar membiarkan Angella. Ia tahu adiknya sedang memikirkan sesuatu. Pada
mulanya, Oscar membiarkan adiknya terdiam, tetapi tak lama kemudian ia
mulai merasa cemas ketika Angella tidak berbicara apa-apa.
“Apa yang terjadi padamu, Angella? Mengapa engkau diam saja sejak
kita meninggalkan rumah Jenny?” tanya Oscar memecahkan lamunan Angella.
Angella tersentak kaget. “Tidak… tidak ada apa-apa,” katanya terbata-
bata karena belum pulih dari terkejutnya.
“Mengapa engkau terbata-bata seperti itu bila tidak terjadi apa-apa? Apa
yang kaupikirkan?” desak Oscar.
“Aku…,” kata Angella enggan menjawab. Ia menatap lekat-lekat mata
Oscar yang menampakkan dengan jelas tuntutannya. Angella menghela napas
kemudian melanjutkan:
“Aku hanya berpikir apakah Jenny akan menerima kehadiran Charlie di
sana. Aku tidak pernah melihat mata Jenny yang seperti itu.”
“Percayalah, cepat lambat Jenny akan menerima Charlie. Ikatan antara
seorang ibu dan anak itu sangat erat,” kata Oscar menyakinkan Angella.
“Aku sependapat denganmu. Aku dapat melihat mata Jenny
memancarkan kasih sayangnya ketika melihat Charlie. Aku tidak tahu
kapankah waktu yang tepat untuk mempertemukan Earl dengan mereka.”
“Saat itu pasti segera tiba.”
Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Angella memandang
157
keluar jendela melihat gerakan awan putih di langit yang biru. Merasakan
angin yang menerpa wajahnya.
“Mereka pasti sedih,” kata Angella tiba-tiba.
“Mereka siapa?” tanya Oscar tak mengerti.
“Mama, Nanny, dan semua orang di rumah yang menyayangi Charlie.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada mereka. Aku tidak ingin
memberi tahu mereka bahwa Charlie berada di tengah-tengah keluarganya.
Saat ini aku tidak ingin seorang pun selain kita yang mengetahui bahwa
Charlie masih mempunyai keluarga,” kata Angella.
“Mengapa?”
“Karena masalah ini belum selesai. Aku ingin semua orang
mengetahuinya setelah kita menyelesaikannya dengan baik,” jawab Angella.
“Sepertinya engkau merencanakan sesuatu,” kata Oscar mendengar
tekanan Angella pada kata-kata terakhirnya.
Angella tidak menjawab Oscar. Ia tersenyum lembut kepadanya. Tetapi
mata Angella berkilat-kilat tajam penuh misteri. Membuat Oscar bertanya-
tanya.
Tepat seperti yang dikatakan Angella pada Oscar, semua orang di
Troglodyte Oinos yang menyayangi Charlie merasa sedih ketika mengetahui
anak itu telah pergi.
Angella melarang keras kakak-kakaknya, Vladimer juga Thompson
memberi tahu siapa pun bahwa sekarang Charlie berada di tengah-tengah
keluarganya.
Melalui sikapnya itu, ia telah membuat sebuah tanda tanya besar di
dalam benak semua orang. Baik mereka yang mengetahui kejadian
sebenarnya juga mereka yang tidak tahu apa-apa.
Apakah Angella tengah merencanakan sesuatu? Tidak ada seorang pun
yang tahu kecuali dirinya sendiri. Mereka hanya dapat menebak.
Pada kunjungan kedua Angella ke rumah Jenny, Frederick menemaninya.
Angella tampak sangat senang sekaligus tak percaya ketika melihat Jenny
sudah dapat menerima kehadiran Charlie. Ia tampak tenang walaupun Charlie
memegang tangannya. Kata-katanya mulai dapat dimengerti, walaupun
kadang-kadang sulit. Tetapi telah banyak perubahan Jenny selama minggu-
minggu terakhir ini. Doa Mrs. Dellas telah dikabulkan.
Tangan Angella yang menutupi mulutnya tampak bergetar ketika ia
melihat Charlie dengan sabar meladeni ibunya. Air mata kebahagiannya tidak
158
terbendung lagi. Mrs. Dellas ikut terharu ketika melihat air mata Angella.
“Hati Anda sangat lembut, Tuan Puteri,” kata Mrs. Dellas.
“Tidak, Anda tidak benar,” bantah Angella.
Frederick tersenyum melihat wajah Angella yang memerah. “Apakah
Anda tidak tahu, gadis ini terkenal sangat dingin? Tetapi sekarang kelembutan
hatinya telah muncul kembali.”
“Apakah itu benar? Saya tidak pernah mendengarnya, tetapi saya pernah
mendengar seorang gadis yang sangat dingin. Namanya Snow Angel,” kata
Mrs. Dellas tak percaya.
“Snow Angel dan Angella adalah orang yang sama. Kami yang
memberinya nama itu,” kata Frederick tanpa menghiraukan protes Angella.
Wanita tua itu tampak terkejut. “Apakah Anda menyembunyikan
kelembutan hati Anda karena Jenny? Saya tidak menduga begitu besar rasa
bersalah Anda pada Jenny,” katanya terharu.
Angella tertunduk diam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan wanita itu.
Ia telah mendirikan dinding es yang tebal, namun dinding es itu mulai menipis.
Apakah dinding es itu akan tetap ada ataukah dinding es itu akan
melebur, Angella tidak tahu. Ia hanya mengetahui seorang pria telah
menemukan lubang di dinding es itu kemudian memasuki tempat yang
dilindungi dinding itu.
Ia merasa sangat sedih karena pria itu kini menjauhinya. Pria itu selalu
menghindar darinya, ia tidak lagi mengajak Angella berbicara. Ia segera pergi
menjauh bila melihatnya walaupun pria itu melihatnya dari kejauhan seakan-
akan Angella adalah makhluk berbahaya yang harus dijauhi selagi ada
kesempatan.
Pernah Angella mengajaknya bicara, namun ia tampak enggan berbicara
kepadanya. Hal itu membuat Angella semakin sedih. Akhirnya Angella
meninggalkan pria itu, ia tidak lagi berusaha mengajak bicara pria itu.
Nanny dan Countess yang melihat mereka menjadi dingin satu sama lain
lagi, merasa sedih. Mereka menduga Angella dan Vladimer bertengkar lagi
untuk kedua kalinya.
Oscar dan Frederick juga merasa sedih. Mereka tidak tahu mengapa
Angella dan Vladimer tidak seakrab dulu lagi. Mereka merasa harapan mereka
sejak kecil tidak dapat terwujud ketika melihat hubungan kedua insan itu
menjadi lebih dingin dari permusuhan mereka yang pertama.
Angella juga tidak tahu mengapa Vladimer menjauhinya. Ia merasa
159
sedih karenanya, namun ia tidak pernah menampakkan kesedihannya di depan
siapa pun, karena itu tidak ada yang mengetahui perasaannya yang
sebenarnya.
“Kapan kami dapat membawa ayah Charlie ke mari?” tanya Frederick.
“Sebaiknya bila Jenny benar-benar telah terbiasa dengan Charlie,” kata
Mrs. Dellas.
“Aku ingin segera melihat wajah pria yang telah menyakiti hati adikku,”
geram Bill.
“Bill!” tegur ibunya, “Walaupun pria itu telah menyakiti hati Jenny, tetapi
ia tetap ayah Charlie. Engkau jangan berbuat apa-apa terhadapnya bila ia
datang.”
“Beberapa minggu lagi kami akan membawanya ke mari. Bagaimana
menurut Anda?”
“Saya setuju, Tuan Muda. Charlie dalam waktu satu minggu lebih telah
mampu menghilangkan kebencian ibunya, tentu dalam waktu sekian minggu
hubungan mereka akan semakin dekat,” kata Mrs. Dellas.

160
16

Akhirnya hari yang dinantikan Angella tiba. Hari ini ia akan membuka
kartu yang akan menggemparkan semua orang sekaligus menyakitkan bagi
segelintir orang.
Seusai sarapan pagi, mereka berempat meninggalkan rumah dengan
alasan hendak berkuda. Angellalah yang menyarankan hal ini. Ia bersikeras
naik kuda ke tempat yang yang akan mereka tuju. Ia mengatakan kepada
mereka agar orang tuanya tidak curiga.
Ia menyadari protes keras ketiga pria itu dengan usulnya. Tetapi mereka
tetap setuju, karena mereka tahu percuma membantah gadis itu saat ia
menatap tajam pada mereka. Mereka tidak menyadari rencana di balik semua
ini. Tidak seorang pun dari ketiga pria itu yang mencurigainya.
Mereka berpisah tak jauh dari Troglodyte Oinos. Frederick dan Oscar
menemui Earl sedangkan Angella dan Vladimer menuju rumah Jenny.
“Apakah engkau marah kepadaku?” tanya Angella.
“Tidak, aku tidak marah kepadamu,” jawab Vladimer.
“Engkau bohong. Engkau marah kepadaku sehingga engkau
menjauhiku,” kata Angella. “Apakah engkau marah karena malam itu aku pergi
sendiri ke gereja?”
“Tidak, aku tidak marah kepadamu,” ulang Vladimer.
“Jangan menipuku!” kata Angella tajam, “Matamu mengatakannya
kepadaku.”
“Engkau membuatku bingung. Engkau tidak mempercayai orang lain,
tetapi engkau mempercayai mata mereka.”
“Mata tidak dapat menipu,” kata Angella datar.
“Baru kali ini aku mendengarnya. Siapa yang mengatakannya
kepadamu?”
“Nanny. Nanny sering mengatakan kepadaku bahwa mulut bisa berbicara
banyak, tetapi mata dapat berbicara jujur.”
“Apakah itu sebabnya engkau selalu memandang mata orang yang
berbicara?”
“Ya. Apakah sekarang engkau mau jujur kepadaku? Aku minta maaf bila
161
engkau marah karena aku malam itu aku pergi sendiri. Aku tidak berniat
membuatmu marah, aku hanya tidak ingin membuatmu semakin repot.”
“Aku tidak pernah merasa repot bila membantumu, aku senang
melakukannya. Aku juga tidak marah kepadamu. Bila mataku menunjukkan
kemarahan, percayalah itu tidak kutujukan padamu.”
“Bila bukan kepadaku, kepada siapa?” tanya Angella tajam. “Aku sedih
melihat matamu yang penuh kemarahan itu.”
Kemudian ia memacu kudanya meninggalkan Vladimer.
“Jangan sedih! Aku tidak bermaksud membuatmu sedih,” kata Vladimer
setelah berhasil menyusul Angella. “Aku marah kepada diriku sendiri.”
“Mengapa? Engkau tidak pernah berbuat salah akhir-akhir ini. Engkau
menepati janjimu. Di mana letak kesalahanmu? Aku tidak melihatnya,” kata
Angella bingung.
“Engkau salah. Aku telah membuat suatu kesalahan besar.”
“Kesalahan apa?” desak Angella.
“Aku telah membuatmu sedih. Aku tidak ingin membuatmu sedih tetapi
aku telah melakukannya. Bagiku itulah kesalahan terbesarku seumur hidupku,”
jawab Vladimer.
“Mengapa engkau berkata seperti itu? Selama beberapa tahun terakhir
ini aku memang sedih, tetapi itu bukan karenamu. Engkau telah
mengetahuinya juga,” kata Angella sedih. “Memang selama beberapa hari ini
engkau membuatku sedih karena engkau menjauhiku. Tetapi kemarahanmu itu
sudah kulihat sebelum engkau mulai menjauhiku. Mata itu mulai menunjukkan
kemarahan pada malam kita berkumpul di gereja.”
“Jangan sedih, Angella!” hibur Vladimer, “Aku tidak ingin menjauhimu
tetapi aku terpaksa melakukannya sebab….”
“Sebab apa?” tanya Angella dengan lembut melihat keragu-raguan
Vladimer.
Sejenak Vladimer tampak terkejut mendengar kata-kata lembut Angella,
tetapi ia tetap tidak melanjutkan kata-katanya.
“Katakan kepadaku, Vladimer. Bila masalah ini selesai, engkau akan
pulang, bukan? Karena itu, jangan membuatku penasaran,” bujuk Angella.
“Aku terpaksa melakukannya sebab engkau tampak sedih ketika
mengatakan kepadaku bahwa Nanny dan ibumu menduga kita saling
mencintai.”
“Mengapa engkau menduga seperti itu?”
162
“Engkau tampak kebingungan dan sedih ketika aku membenarkan
pendapat mereka,” kata Vladimer tak kalah sedih dari Angella.
“Waktu itu aku memang bingung, tetapi aku tidak sedih. Aku…,” Angella
malu mengakui perasaannya saat itu. “Mungkin aku tampak sedih, tetapi
sesungguhnya aku tidak merasa demikian. Sebaliknya aku merasa senang,
tetapi aku tidak percaya. Bahkan akhir-akhir ini ketika engkau menjauhiku, aku
semakin merasa engkau berbohong kepadaku ketika mengatakan itu.”
“Mengapa engkau tidak mempercayaiku?” tanya Vladimer.
“Karena matamu saat itu tampak ragu-ragu. Seperti…,” kata Angella
perlahan-lahan, “Seperti tidak bersungguh-sungguh.”
“Saat itu aku memang ragu-ragu mengatakannya,” kata Vladimer.
“Mengapa?” sahut Angella.
“Karena aku tidak yakin apa yang akan kaulakukan. Aku menduga
engkau membenci semua pria setelah kejadian yang menimpa Jenny itu.”
“Kau tahu? Aku tidak membenci semua pria di dunia ini setelah kejadian
itu. Aku percaya tidak semua pria seperti Earl. Bila aku membenci semua pria,
aku tidak akan mempercayaimu,” kata Angella semakin sedih.
“Jangan bersedih lagi. Aku tidak ingin melihatmu bersedih. Maafkan aku
yang telah membuatmu bersedih. Aku ingin engkau mempercayai kata-kataku.
Untuk kali ini aku tidak akan ragu-ragu, aku akan mengatakan dengan penuh
keyakinan. Tidak peduli apa yang akan kaulakukan.”
Angella menghentikan langkah kudanya, demikian pula Vladimer. Ia
menatap dalam-dalam mata Vladimer. Ia merasa jantungnya seperti berhenti
berdetak karena tegang menanti apa yang akan dikatakan Vladimer.
Tangannya menggenggam erat-erat tali kendali kuda.
Vladimer menatap lekat-lekat mata Angella. Ia melihat Angella tampak
tegang. Ia ingin mengulurkan tangannya untuk menghilangkan ketegangan
gadis itu. Tetapi ia menahan keras keinginannya itu.
“Aku mencintaimu,” kata Vladimer dengan segenap perasaannya.
Angella terkejut mendengar pengakuan Vladimer. Ia tertunduk malu
tanpa dapat mengutarakan perasaannya.
“Sejak dulu aku menyayangimu tetapi bagiku alasan itu tidak cukup
menjelaskan perasaanku yang aneh ketika mengetahui tentang Danny. Aku tak
dapat mengerti diriku sendiri yang dengan mudahnya membenci pria yang
baru kulihat itu.”
“Dan aku merasa bersalah telah menuduhmu bersikap tidak benar
163
dengan meletakkan bunga itu di Ruang Perpustakaan. Seharusnya aku tahu
bahwa engkau memang tidak menyukai baik bunga yang dikirim Danny itu
maupun Danny sendiri.”
Angella teringat pada suatu siang ketika Vladimer menemaninya. Saat
itu tiba-tiba suara pintu diketuk perlahan memecahkan keheningan dalam
kamar Angella.
Angella yang sejak tadi memejamkan matanya, membuka matanya dan
melihat Vladimer berdiri dari kursi depan perapian yang akhir-akhir ini menjadi
kursi kesayangannya bila ia berada di kamar Angella. Pria itu selalu duduk di
sana sambil menemani Angella.
Ketika pintu dibuka, tampak seorang pelayan membawa seikat besar
bunga mawar merah. Wajah pelayan ini tertutup oleh ikatan bunga mawar
yang besar dan megah itu.
“Letakkan bunga itu di Ruang Perpustakaan,” kata Angella ketika
Vladimer mengulurkan tangannya hendak menerima bunga itu dari pelayan.
Pria itu terkejut mendengar suara Angella yang tajam. Ia menatap wajah
Angella yang tak berperasaan itu.
“Bunga ini sangat indah. Pasti akan memperindah kamarmu bila
diletakkan di vas dekat tempat tidurmu itu,” kata Vladimer dengan nada yang
aneh.
Pria itu tidak mengerti mengapa dirinya merasa marah ketika Angella
mendapat kiriman bunga yang indah itu dari Danny. Ia menduga itu karena ia
tidak menyukai Danny dan segala hal yang berhubungan dengan pria itu.
Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu itu salah. Bukan karena itu ia tidak
menyukai Angella mendapat kiriman bunga yang sangat indah itu.
“Letakkan di Ruang Perpustakaan,” kta Angella tajam.
Vladimer meminta pelayan itu menyerahkan rangkaian bunga mawar itu
di Ruang Perustakaan.
Setelah menutup pintu kamar Angella, ia kembali ke tempatnya semula.
“Mengapa engkau bersikap seperti itu?” tanya Vladimer.
“Karena tidak ada alasan bagiku untuk menerimanya,” jawab Angella
dengan tenang.
“Katakan sejujurnya padaku, apakah engkau menyukai bunga itu?”
“Takkan ada wanita yang mengatakan bunga itu buruk.”
“Mengapa engkau bersikap seperti seorang pengecut? Mengapa engkau
tidak menerima bunga itu kalau engkau memang menyukainya?”
164
“Aku tidak menyukainya,” kata Angella tajam.
“Engkau marah pada Danny yang tidak mengantarkan bunga itu sendiri
setiap hari. engkau marah karena Danny menyuruh orang lain mengantar
bunga itu bukan ia sendiri yang mengantarnya. Benarkah demikian?”
Angella menatap tajam pada Vladimer.
Vladimer melihat pandangan mata Angella sangat dingin. Pandangan
terdingin yang pernah dilihatnya.
Ia percaya bila ia bukan orang yang juga memiliki sikap yang sama
dinginnya dengan Angella, ia akan merasa beku oleh pandangan mata yang
lebih dingin dari es manapun itu.
“Apakah hakmu mengatur aku?” kata Angella tajam.
Vladimer terdiam. Ketika ia akan mengatakan sesuatu, Angella telah
mendahuluinya:
“Bila aku mengatakan tidak suka kepada seseorang, aku tidak akan
pernah menyukainya. Untuk apa membohongi diriku sendiri?”
“Jangan membohongiku, Angella. Aku telah melihat banyak wanita yang
berbuat tidak sesuai dengan perasaan mereka. Apa yang mereka lakukan
berbeda dengan apa yang ada di hati mereka,” kata Vladimer tak kalah
tajamnya.
“Jangan samakan aku dengan wanita-wanitamu,” balas Angella.
“Mengapa aku tidak boleh menyamakanmu bila kenyataannya memang
demikian? Jujurlah, Angella. Engkau merasa sakit hati karena bukan Danny
yang mengantar bunga itu untukmu.”
“Kalau pun aku merasa sakit hati itu bukan masalahmu,” kata Angella
dingin sedingin tatapannya saat itu.
“Memang bukan masalahku,” kata Vladimer.
“Pergilah engkau! Aku tidak ingin melihatmu lagi, pergilah sejauh
mungkin,” kata Angella sambil menahan gejolak perasaannya.
“Mengapa, Angella? Engkau mengakuinya?” tanya Vladimer dengan
suara mengejek.
“Pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. walaupun aku
beribu-ribu kali menjelaskannya kepadamu tetapi tetap tidak akan ada
gunanya,” kata Angella, “Sekarang pergilah, tinggalkan aku sendiri.”
“Baik. Bila engkau menginginkan waktu untuk menyadari kesalahanmu
yang telah meminta pelayan meletakkan bunga itu di Ruang Perpustakaan,”
kata Vladimer, “Dan ketahuilah Angella engkau adalah wanita yang paling
165
sombong tetapi pengecut yang pernah kujumpai.”
Setelah pria itu pergi, Angella merasa sangat marah dan sedih. Ia
memejamkan matanya.
“Bagaimana Vladimer bisa mengatakan hal itu?” kata Angella pada
dirinya sendiri, “Ia telah mengetahui aku tidak pernah menyukai Danny.
Mengapa ia mengatakan hal itu? mengapa ia menyamakan aku dengan wanita-
wanitanya?”
Gadis itu berusaha menjawab semua pertanyaan itu. Tetapi tiap kali
pertanyaan baru muncul di benaknya. Akhirnya dengan perasaan jengkel dan
sedih Angella membuat suatu keputusan bagi dirinya sendiri.
Angella memutuskan sejak saat itu ia tidak akan mau melihat wajah
Vladimer lagi. Pria itu boleh menganggapnya seperti apa saja sesuka hatinya,
sedangkan yang sebenarnya ia tidak seperti yang dianggap pria itu.
Vladimer tidak tahu mengapa Angella bersikap sangat dingin seperti itu
bahkan terkesan sangat sombong. Pria itu tidak tahu apa-apa mengenai gadis
itu sejak sejak kepergiannya ke Eton, delapan tahun lalu.
Pria itu boleh mengatakan bahwa ia seorang pengecut, tetapi ia tahu ia
tidak pernah berusaha menghindari Danny. Ia memang tidak menyukai Danny.
“Bagaimana dengan sikapku yang selalu menolak bertemu Danny setiap
kali pria itu berkunjung ke rumahnya? Bagaimana dengan sikapku pada bunga-
bunga yang dikirim pria itu?” tanya Angella pada dirinya sendiri.
Angella diam berpikir, kemudian menjawab pertanyaan yang muncul di
benaknya itu, “Pria sombong itu akan semakin sombong bila aku menerima
setiap kunjungannya dan bunga-bunganya. Saat ini mungkin ia menjadi lebih
sombong karena mengira aku menerima bunga-bunganya, tetapi kelak ia akan
tahu aku tidak pernah menerimanya.”
Ia merasa kata-kata Vladimer itu merupakan suatu tanda permusuhan
bagi mereka. Seolah-olah pria itu telah memberinya tanda perang, ia merasa ia
tidak dapat membiarkan Vladimer terus mengejek dirinya.
Pada saat yang bersamaan, Angella merasa perasaannya sangat pilu.
Seolah-olah tidak dapat menahan gejolak perasaannya lagi, ia menangis
tersedu-sedu.
Sejak saat itu permusuhan pertama mereka muncul. Tetapi permusuhan
itu menghilang bersamaan ketika Angella menunjukkan kepercayannya pada
Vladimer dengan menceritakan segala sesuatu mengenai Charlie pada pria itu.
Vladimer memandang Angella yang masih menundukkan kepalanya
166
mendengar ceritanya. Kemudian ia melanjutkan:
“Aku minta maaf telah menuduhmu sangat sombong dan pengecut.
Seharusnya saat itu aku tidak mengatakan hal seperti itu. Aku seharusnya
percaya pada kata-katamu. Engkau memang dingin tetapi aku tidak pernah
merasa engkau sangat sombong. Saat itu aku hanya merasa cemburu pada
Danny yang telah mengirimimu bunga yang sangat indah sehingga aku
mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan itu.”
“Aku… tidak menyalahkanmu atas… atas kata-katamu waktu itu. Kata-
katamu… waktu itu memang… sangat… menyakitkan, tetapi… lebih
menyakitkan tindakanmu… yang menjauhiku,” kata Angella perlahan.
“Aku minta maaf, Angella, saat itu aku tidak menyadari bahwa aku
mencintaimu. Aku baru menyadari perasaanku ketika engkau bertanya
mengenai sikapku yang dingin. Saat itu aku menyadari alasanku bersikap
dingin kepada wanita lain. Aku berusaha menghindari mereka karena aku
mencintaimu.”
Vladimer memandang wajah Angella yang memerah.
“Aku sangat mencintaimu sehingga saat aku melihat engkau tampak
sedih ketika secara tidak langsung aku mengungkapkan perasaanku
kepadamu, aku merasa telah membuat kesalahan besar.”
“Aku mulai menduga engkau membenci semua laki-laki. Hal itulah yang
mendorongku melakukan tindakan yang tidak ingin kulakukan. Aku mulai
menjauhimu karena aku takut engkau semakin membenciku. Aku takut selama
ini engkau menganggapku hanya main-main dengannya, hanya
menggodamu.”
Angella mengangkat kepalanya. Ia menatap lekat-lekat mata Vladimer.
“Itu tidak benar,” katanya lirih, “Aku tidak pernah berpikiran seperti itu
terhadapmu. Aku… aku… mencintaimu.”
Angella tertunduk malu ketika ia menyatakan perasaan yang telah lama
dipendamnya, jauh sebelum Charlie lahir.
“Percayalah, aku benar-benar mencintaimu. Bukan karena engkau mirip
Frederick, tetapi karena engkau selalu baik kepadaku walaupun kadang-kadang
engkau juga dingin kepadaku sehingga membuat aku merasa sedih,” kata
Angella tiba-tiba.
Vladimer tersenyum lembut pada Angella. Ia tidak menyalahkan gadis itu
atas dugaannya. Ia mengakui ia dan Frederick mirip. Apabila mereka bertiga
berdiri bersama, orang akan menduga ialah adik Frederick.
167
Rambutnya sehitam rambut Frederick demikian pula matanya. Yang
membedakan hanyalah sorot mata mereka. Sorot mata Frederick ramah,
sedangkan sorot matanya dingin dan tajam seperti Angella.
“Aku percaya padamu, Angella,” kata Vladimer. Kemudian ia dengan
lembut mencium bibir Angella untuk semakin meyakinkan gadis itu.
Angella terkejut dengan gerakan Vladimer yang tak diduganya itu.
Tubuhnya terasa bergetar ketika Vladimer menciumnya.
“Aku mempercayaimu dan akan selalu mempercayaimu. Aku ingin
rasanya membuatmu mengetahui besarnya cintaku padamu tetapi kita masih
mempunyai urusan yang sangat penting,” kata Vladimer dengan tersenyum,
“Mari kita berangkat sekarang, aku khawatir kita terlambat.”
Angella merasa jantungnya berdebar-debar melihat senyuman Vladimer
yang jarang dilihatnya itu. Ia membalas senyuman Vladimer dan mulai
melanjutkan perjalanan.
Semakin mendekati rumah Jenny, mata Angella tampak semakin penuh
misteri. Tetapi Vladimer tidak menyadarinya karena ia sedang mencurahkan
semua perhatiannya pada kuda yang ditungganginya.
Keluarga Jenny menyambut mereka dengan ramah, Charlie tampak
semakin akrab dengan ibunya. Angella menemani mereka berdua, Jenny
melihat padanya terus menerus seakan-akan ingin mengenali Angella.
Vladimer menanti di luar, ia bercakap-cakap dengan Bill.
Ketika hari mulai siang, Frederick dan Oscar datang. Sekali lagi Angella
membuat pertanyaan di benak kakak-kakaknya dan Vladimer. Ia melarang
kakak-kakaknya mengatakan kepada keluarga Jenny bahwa ayah Charlie akan
datang.
Tak lama setelah kedatangan mereka, sebuah kereta mendekat dan
akhirnya berhenti tepat di depan rumah Jenny. Ketiga pria itu, menyambut
kedatangan Earl. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada keluarga Jenny.
Angella juga melarang mereka memberi tahu keluarga Jenny bahwa pria itulah
ayah Charlie.
Angella tampak tenang, ia sengaja tidak menyambut kedatangan Earl.
Dengan tenang, ia membisikkan sesuatu kepada Jenny dan Charlie. Setelah itu
ia meninggalkan mereka berdua.
Di luar, Bill dan Mrs. Dellas tampak kebingungan melihat Earl yang
datang dengan sebuah kereta kuda yang megah. Angella tersenyum misterius
melihat mereka, ia menyuruh Bill dan Mrs. Dellas masuk. Setelah itu ia berkata
168
perlahan kepada Earl agar ketiga pria yang kebingungan melihatnya itu tidak
mendengar apa yang dikatakannya kepada Earl.
Ketiga pria itu tidak dapat mendengar apa yang dibicarakan Angella
dengan Earl. Mereka hanya dapat melihat Angella menatap tajam kepada Earl
kemudian Earl menganggukkan kepala. Setelah itu Earl mengikuti Angella
menuju rumah Jenny.
Angella tidak masuk ke dalam, ia hanya berdiri di pintu. Setelah Earl
masuk, ia segera menutup pintu rumah Jenny dan menghampiri kakak-
kakaknya dan Vladimer.
“Sebenarnya, saat ini engkau sedang merencanakan apa?” tanya Oscar.
“Aku tidak merencanakan apa-apa,” jawab Angella tenang.
“Bila engkau tidak merencanakan apa-apa, mengapa tingkahmu sangat
misterius? Apa yang kaukatakan kepada Earl tadi?” tanya Oscar.
“Tunggu saja. Bagaimana pertemuanmu dengan Earl?”
“Ia memberi kami kejutan yang takkan pernah kami duga. Kami tidak
segera mengatakan segalanya kepadanya. Pertama, kami menanyakan apakah
ia ingat pada Jenny. Pada awalnya ia enggan menjawab, tetapi setelah kami
desak agar jujur, akhirnya ia menjawab ia masih ingat,” kata Frederick.
“Kemudian aku bertanya kepadanya bagaimana perasaannya kepada
Jenny. Frederick marah kepadaku karena menanyakan hal itu. Tetapi aku terus
mendesak Earl, aku berkata, ‘Ini demi masa depan keluarga Anda.’ Frederick
sangat marah kepadaku, tetapi kemudian ia dan aku sama-sama terkejut
dengan jawaban Earl,” kata Oscar.
Oscar tertawa geli, Frederick marah melihatnya. “Wajah Frederick saat
itu lucu sekali. Aku bisa mati tertawa bila mengingat wajahnya saat itu. Sayang
saat itu suasana di sana sedang tegang sehingga aku tidak bisa tertawa
melihat wajah Frederick yang baru pertama kali kulihat itu. Ia melongo,
matanya membelalak seperti ikan koki.”
“Oscar!” bentak Frederick, mukanya merah pada karena malu dan
marah.
Oscar tidak berhenti tertawa melihat wajah kakaknya yang merah
padam. Vladimer juga tertawa geli melihat wajah Frederick, Angella hanya
tersenyum geli.
Angella tahu Frederick akan semakin marah bila mereka, Vladimer dan
Oscar terus menertawakannya. “Apa yang dikatakan Earl?” tanyanya untuk
mengalihkan perhatian ketiga pria itu.
169
“Oh…, Angella. Apakah engkau memang terbuat dari es? Mengapa
engkau tidak tertawa melihat wajah Frederick yang seperti itu? Vladimer yang
sama dinginnya denganmu saja bisa tertawa,” keluh Oscar.
Frederick tidak menghiraukan keluhan Oscar. Ia menjawab, “Earl
mengatakan ia sangat mencintai Jenny. Kami terkejut mendengarnya kemudian
Oscar bertanya,
“Bila Anda mencintai Jenny, mengapa Anda menikah dengan wanita
lain?”
Earl menjawab, “Aku menikah dengan istriku karena ia adalah tunangan
yang dipilihkan orang tuaku. Aku tidak berani menentang mereka. Setelah
kematian istriku, aku berharap dapat bertemu Jenny lagi.”
“Apakah itu sebabnya Anda tidak menikah lagi?” tanya Oscar.
Earl menganggukan kepala. Kemudian aku mengatakan segalanya pada
Earl. Mengenai Jenny juga mengenai putranya, Charlie. Aku bercerita persis
seperti yang Vladimer ceritakan kepada kami.
Earl terkejut mendengar cerita itu. “Di mana Jenny? Di mana putraku?”
tanyanya.
Aku menjawab, “Kami akan mengantar Anda menemui mereka bila Anda
berjanji kepada kami bahwa Anda mau bertanggung jawab terhadap mereka
berdua. Tetapi yang kami inginkan bukanlah sekedar janji. Kami menginginkan
perbuatan yang nyata.”
“Aku akan bertanggung jawab atas mereka. Aku akan menjaga mereka
dengan sungguh-sungguh untuk menebus dosaku selama ini kepada mereka
berdua,” kata Earl.
“Tetapi Anda harus ingat bahwa keadaan Jenny yang sekarang tidak
sama dengan dulu,” kata Oscar mengingatkan.
“Tidak apa-apa. Aku senang dapat bertemu dengannya lagi. Aku percaya
aku dan putraku akan dapat memulihkan keadaannya,” kata Earl bersungguh-
sungguh.
Setelah meyakinkan kami berdua, Earl segera mempersiapkan kereta.
Kemudian kami mengantarnya ke tempat ini.”
“Sudah kuduga Ldy Elize tidak mengatakan mengenai kedatangan Jenny
kepada Earl. Apa yang dikatakan Earl ketika kalian mengatakan bahwa Jenny
diusir oleh adiknya?” tanya Angella.
“Ia tampak marah sekali. Ia menatap adiknya penuh kebencian ketika
kami melihatnya berdiri kebingungan di depan pintu melihat kami bergegas
170
pergi,” kata Frederick.
“Sekarang giliran kami yang bertanya dan engkau yang menjawab,” kata
Oscar. “Apa yang sedang kaurencanakan?”
“Aku tidak merencanakan apa pun,” kata Angella tenang.
“Apa yang kaukatakan kepada Earl?” tanya Oscar lagi.
“Tunggulah sampai mereka keluar.”
“Mengapa engkau membiarkan mereka berbicara sendiri di dalam? Kita
berada di sini untuk membantu mereka, bukan berdiri menanti di luar.”
“Tenanglah, Oscar. Tunggulah sampai mereka keluar. Setelah itu akan
jelas segalanya bagi kalian.”
Angella menghampiri tempat kudanya ditambatkan. Ia mengelus-elus
bulu kuda itu seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ketiga pria itu telah dibuatnya
bingung.
Ketika matahari mulai menuruni langit, ia melompat ke atas kudanya.
Kemudian menghampiri ketiga pria yang semakin bingung melihatnya.
“Mungkin sebentar lagi kita dapat pulang. Aku merasa tak lama lagi
pembicaraan mereka akan selesai dan mereka akan keluar.”
Benar apa yang dikatakan Angella. Setelah ia menyelesaikan kalimatnya,
seorang pria yang menggendong seorang anak laki-laki muncul dari balik
pintu.
“Terima kasih karena kalian mau mempertemukan kami kembali,” kata
Earl.
“Terima kasih kembali karena Anda telah menepati janji Anda,” kata
Frederick.
“Mulai sekarang engkau akan tinggal dengan ayah dan ibumu, Charlie,”
kata Angella. “Engkau harus menyayangi dan meenghormati mereka seperti
yang engkau janjikan kepadaku.”
“Baik, Tuan Puteri,” kata Charlie.
“Mulai sekarang engkau jangan memanggilku Tuan Puteri lagi,” kata
Angella, “Panggillah aku dengan namaku, Angella.”
“Tetapi saya lebih suka memanggil Anda ‘Tuan Puteri’ daripada Angella.”
“Berusahalah engkau pasti bisa,” kata Angella. “Bagaimana pembicaraan
Anda?”
“Tepat seperti yang Anda katakan. Mula-mula mereka terkejut dan
marah. Tetapi setelah saya mengatakan segalanya seperti yang Anda
sarankan, mereka mulai mengerti. Kalian jangan khawatir lagi, segalanya telah
171
beres,” kata Earl.
“Apakah saya boleh bermain lagi di Ruang Kanak-Kanak?” tanya Charlie.
“Tentu saja. Kami akan menanti kedatanganmu,” kata Angella.
Charlie berseru gembira. Ia senang bermain di Ruang Kanak-Kanak dan
ia tidak pernah merasa bosan bila berada di sana.
“Apakah Tuan Muda mau mengajak saya bepergian naik kuda lagi?”
“Jangan memanggil kami Tuan Muda lagi. Sepertinya sekarang engkau
tidak memerlukan kami lagi bila ingin berkuda. Engkau dapat melakukannya
tanpa kami, engkau dapat berkuda dengan ayahmu,” kata Frederick.
“Tetapi bila ayahmu mengijinkan, kami dengan senang hati akan
mengajakmu berkuda sambil mengelilingi hutan di sekitar rumah kami,” kata
Oscar.
Sekali lagi Charlie berseru gembira kemudian ia berkata, “Apakah aku
boleh bermain ke Troglog… Trog….” Charlie mengeluh lagi karena tidak dapat
menyebut nama rumah Earl of Tritonville dengan benar.
“Ya, engkau boleh bermain ke Troglodyte Oinos kapan pun kau mau,”
kata Earl. “Aku juga akan mengajarimu mengucapkan Troglodyte Oinos dengan
benar.”

172
17

Angella merasa lega. Earl tidak hanya menepati janjinya tetapi juga
sangat menyayangi Charlie. Charlie juga tampak sangat menyayangi Earl.
“Apakah kalian akan menunggu hingga mereka kembali atau kita pulang
sekarang?” tanya Angella kepada kakak-kakaknya. “Kurasa sebaiknya kita
pulang dulu, biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka.”
“Baiklah. Kita akan pulang. Lagipula engkau masih harus menjelaskan
beberapa hal kepada kami,” kata Frederick.
Ketiga pria itu mengikuti langkah Angella. Mereka menuju ke tempat
kuda mereka ditambatkan, kemudian kembali ke sisi Angella. Mereka
berpamitan kepada Earl dan keluarga Jenny.
Setelah agak jauh dari rumah Jenny, Frederick bertanya kepada Angella,
“Apa yang sedang kaurencanakan?”
“Engkau harus menjawab sekarang. Tidak ada jalan untuk lari lagi.
Mereka telah selesai berbicara,” kata Oscar.
“Baiklah, aku akan menceritakannya kepada kalian. Tetapi pertama-tama
kalian harus mempercayai bahwa aku tidak merencanakan apa-apa,” kata
Angella.
“Baiklah, kami percaya kepadamu,” kata Oscar.
“Aku tidak merencanakannya, semuanya terjadi dengan sendirinya.”
“Apa maksudmu?” sela Oscar.
“Jangan menyela, Oscar. Ia belum selesai bercerita,” bentak Frederick.
“Baik. Baik, aku tidak akan menyela lagi. Teruskan ceritamu, Angella,”
kata Oscar.
“Aku akan memulai dari percakapanku dengan Earl. Aku mengatakan
kepada Earl bahwa keluarga Jenny tidak mengetahui siapa ayah Charlie.
Mereka pasti terkejut bila tahu ayah Charlie adalah seorang Earl, karena itu
aku meminta kepadanya untuk berbicara dengan perlahan namun jujur. Aku
memintanya untuk tidak segera mengatakan kepada keluarga Jenny bahwa ia
seorang Earl dan berniat membawa mereka.”
“Keluarga Jenny tidak tahu? Selama ini kukira mereka tahu ayah Charlie
adalah seorang Earl,” sela Oscar terkejut.
173
“Oscar!” bentak Frederick dan Vladimer.
“Maaf. Mungkin memang sudah kebiasaanku menyela pembicaraan
orang.”
Angella melanjutkan, “Keluarga Jenny memang tidak tahu. Aku tidak tahu
mengapa Jenny tidak mengatakannnya kepada mereka, tetapi aku juga tidak
dapat memberi tahu mereka bahwa pria itu adalah seorang Earl. Aku berpikir
mungkin Jenny tidak ingin Mrs. Dellas dan Bill mengetahuinya. Jenny tidak
pernah menyebut namanya di hadapan mereka, ia hanya mengatakan pria
itu.”
“Jadi itu sebabnya mereka hanya mengatakan ayah Charlie atau
ayahnya, tanpa pernah menyebut namanya,” kata Frederick.
Sekarang giliran Oscar dan Vladimer yang membentak Frederick.
Frederick segera meminta maaf kepada mereka.
“Pertama, Earl kusarankan agar meminta maaf atas perbuatannya empat
tahun silam kepada mereka. Aku memintanya untuk menceritakan dulu
kejadian itu dengan sejujur-jujurnya.”
“Aku juga menyarankan agar ia meyakinkan mereka bahwa ia tidak tahu
mengenai kedatangan Jenny dalam keadaan mengandung ke rumahnya dan
bahwa ia tidak tahu keadaan Jenny. Baru setelah mereka mengerti masalah itu,
ia boleh mengatakan kepada mereka bahwa ia seorang Earl dan ia berniat
membawa Jenny dan putranya ke rumahnya. Itulah yang kukatakan kepada
Earl.”
“Ya, aku mengerti sekarang,” kata Oscar. “Lalu, mengapa kita tidak
membantu mereka tadi melainkan hanya menunggu di luar?”
“Karena kita telah membantu mereka berkumpul lagi. Biarkan mereka
berkumpul dan berbicara sendiri sebagai satu keluarga. Kehadiran kita hanya
akan mengganggu bukan membantu. Kadang kala pembicaraan suatu keluarga
ada baiknya bila tanpa campur tangan orang luar,” jawab Angella.
“Engkau telah menjadi lebih dewasa dan bijaksana sekarang,” kata
Frederick.
“Masih ada yang kausembunyikan dari kami. Ceritakan apa yang ada di
pikiranmu,” kata Vladimer.
“Aku tidak mengerti,” kata Angella pura-pura tidak mengerti.
“Apakah masih ada yang lain? Ceritakan kepada kami, Angella,” kata
Frederick.
“Baiklah. Saat ini aku sedang memikirkan besarnya akibat dari kejadian
174
ini.”
“Apa maksudmu?” tanya Oscar. “Sejak tadi engkau hanya tenang-tenang
saja, membuat kami bingung.”
“Semua orang pasti akan gempar bila mengetahui Earl tiba-tiba
mempunyai seorang putra dan istri baru. Danny pasti akan sangat terpukul bila
mengetahui ia tidak lagi menjadi pewaris pamannya. Harga dirinya akan jatuh
dan hancur berkeping-keping. Kemudian, Lady Elize pasti akan merasa sangat
malu kepada kakaknya juga kepada Jenny bila mereka berkumpul di rumah
itu.”
“Engkau membuatku teringat akan Danny. Apakah engkau sekarang
akan menjadi lebih hangat kepadanya setelah mengetahui keluarganya
tidaklah seburuk yang kaukatakan?” tanya Frederick.
“Tidak. Bila aku ingin bersikap lebih baik kepadanya, tentunya aku tidak
akan membuka rahasia yang akan membuatnya jatuh ini,” kata Angella
tenang, “Di samping itu aku tidak ingin membuat seseorang menjadi cemburu
lagi.”
“Apakah engkau berhasil, Vladimer? Sejak tadi aku melihat kalian
menjadi semakin akrab dari biasanya,” tanya Oscar ingin tahu.
Angella melihat mereka dengan kebingungan. Vladimer tersenyum
melihat kebingungan Angella.
“Seperti yang kalian harapkan,” kata Vladimer.
Kedua kakak Angella berseru gembira seperti anak kecil, “Akhirnya apa
yang kita harapkan sejak kecil menjadi kenyataan,” kata mereka.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Angella kebingungan.
“Kami akan mengatakannya kepadamu pada saat pernikahanmu,” kata
Oscar.
Mereka tersenyum melihat Angella yang menunduk malu. Mereka tahu
Angella merasa senang mendengar kata-kata Oscar.
“Benar apa yang kita duga waktu mereka bertengkar, Oscar,” kata
Frederick.
“Apa yang kalian pikirkan saat kami bertengkar?” tanya Vladimer.
“Kami merasa pertengkaran kalian itu seperti jalan agar kalian dapat
menyadari bahwa kalian saling mencintai.”
“Pertengkaran konyol,” kata Angella dingin.
“Engkau tahu, Angella? Aku merasa engkaulah satu-satunya gadis yang
sanggup menghadapi sikapku yang sangat dingin itu,” kata Vladimer, “Dan
175
ketika kita bertengkar itu, aku merasa benar-benar berhadapan dengan orang
yang sangat tepat, yang dapat membalas semua kata-kataku yang
menyakitkan.”
“Mengapa engkau berkata seperti itu?” protes Angella, “Tetapi apa yang
kaukatakan memang benar. Saat itu aku juga merasa berhadapan dengan
orang yang tepat.”
“Kalian memang cocok satu sama lain. Sama-sama dinginnya,” kata
Frederick.
“Dan bila bertengkar sangat seru,” timpal Oscar.
“Oscar! Jangan berkata seperti itu. Bukankah kita tidak mengharapkan
mereka bertengkar lagi,” tegur Frederick.
“Jangan khawatir, Frederick. Kurasa mereka tidak akan bertengkar lagi.”
“Apakah engkau bersedia menjadi mempelaiku?”
Angella tetap tertunduk malu, tetapi mereka sudah mengetahui jawaban
gadis itu. Harapan kedua kakak Angella telah menjadi kenyataan, sekarang
mereka menanti suara dentang lonceng .

-----0-----

Apa yang dikatakan Angella memang tepat.


Semua orang terkejut ketika mengetahui Earl of Wicklow mempunyai
seorang putra yang sangat lucu.
Lady Elize merasa serba salah terhadap kakaknya. Wanita itu memilih
tinggal di tempat lain untuk menghindari perasaannya yang berkecamuk
melihat wanita yang dulu diusirnya kini tinggal bersamanya.
Sehari setelah Earl of Wicklow membawa Charlemagne pulang, wanita
itu pindah ke Skotlandia.
Danny tampak terpukul mendengar berita itu. Ia kini tidak lagi sering
terlihat. Pria itu seperti sedang bersembunyi untuk menyembunyikan
keterkejutannya.
Memang semua orang terkejut mendengar berita itu, tetapi mereka lebih
terkejut ketika mengetahui sepasang manusia yang terkenal dingin itu
melangsungkan pernikahannya.
Atas permintaan Angella, pernikahan itu dilangsungkan di Gereja St.
Augustine.
Semula kedua orang tua Angella dan orang tua Vladimer tidak setuju,
176
tetapi karena Vladimer dan kedua kakak Angella menyetujuinya, akhirnya
pernikahan itu dilangsungkan di Gereja St. Augustine.
Satu hal yang membuat mereka terkejut adalah jumlah orang yang hadir
dalam pernikahan itu.
Mereka hanya mengundang keluarga yang sangat dekat saja dalam
upacara pemberkatan pernikahan itu, namun jumlah yang hadir melebihi yang
mereka perkirakan. Jumlah mereka yang sangat banyak membanjiri gereja tua
itu.
Rupanya banyak orang yang ingin mengetahui bagaimana pernikahan
antara seorang gadis cantik yang berhati dingin dengan pria tampan yang juga
berhati dingin.
Suasana di dalam maupun di luar gereja itu sangat berbeda dari
sebelumnya. Halamannya yang semula banyak ditumbuhi tumbuhan liar, kini
terlihat rapi dan banyak bunga yang bermekaran di halaman itu.
Anak-anak dari Panti Asuhan Gabriel berdiri dengan penuh senyum di
depan gereja. Mereka menyambut setiap orang yang hadir. Setiap ada yang
datang, mereka menyambut dengan riang.
Ketika kereta terakhir tiba, mereka segera berlari mendekat.
Pintu kereta terbuka dan muncullah Earl of Tritonville dengan senyuman
senang. Ia mengulurkan tangannya ke dalam kereta.
Dari dalam kereta, terulur tangan yang bersarung putih. Tangan itu
menerima uluran tangan Earl of Tritonville dan kemudian menampakkan
dirinya dari dalam kereta.
Angella tampak sangat cantik dalam gaun pengantinnya. Walaupun
wajahnya masih tertutup kerudung pengantin, namun tidak menutupi
kebahagiaan yang tercermin di sana.
Earl of Tritonville menuntun Angella menuju ke altar yang berhiaskan
bunga-bunga yang sangat indah, ke samping pria yang dicintainya.
Angella merasa sangat bahagia melihat Vladimer yang telah berdiri di
depan altar. Hatinya terasa damai dan bahagia ketika ia mendekati pria itu.
Pria itu tampak semakin tampan dalam kemeja hitamnya. Pria itu
tersenyum menyambut kedatangannya.
Vladimer mengulurkan tangannya pada Angella yang segera
menyambutnya. Pria itu tersenyum lembut pada Angella.
“Kuserahkan putriku padamu. Jagalah dia baik-baik,” bisik Earl.
Matanya tampak basah oleh air mata kebahagiaan. Senyumnya terus
177
mengembang ketika ia menghampiri keluarganya yang berada di barisan
terdepan tempat duduk jemaat itu.
Pendeta segera memulai upacara pemberkatan itu. Dan ketika upacara
itu selesai, ia segera memberi ucapan selamat kepada mereka berdua.
“Saya berdoa agar kalian bahagia selalu,” kata Pendeta Paul.
“Terima kasih, Pendeta,” kata Vladimer.
Setelah ucapan selamat dari Pendeta Paul, mereka terus menerima
ucapan-ucapan selamat yang terus membanjir.
Hingga mereka berada di Cardington House, ucapan semacam itu terus
membanjir.
Miss Lyne serta Miss Mary juga anak-anak Panti Asuhan Gabriel diundang
dalam pesta pernikahan mereka di Cardington House. Pendeta Paul juga turut
diundang.
“Anda telah berbohong kepada kami ketika Anda mengatakan nama
Anda Gazetta,” kata Miss Lyne sambil tersenyum.
“Maafkan saya, Miss Lyne. Saya harus melakukannya karena saya tidak
ingin seorang pun mengetahui saya pernah ke sana dengan membawa
seorang bayi,” kata Angella.
“Kalau begitu cerita itu benar?” tanya Miss Mary.
“Cerita apa, Miss Mary?” tanya Nanny.
“Pendeta Paul pernah bercerita kepada saya bahwa Miss Gazetta….
Oh,….”
“Tidak apa-apa, Miss Mary. Anda belum terbiasa dengan nama saya yang
sebenarnya,” kata Angella memaklumi kekeliruan Miss Mary.
“Pendeta Paul pernah mengatakan kepada saya bahwa ketika Anda
pertama kalinya datang ke Gereja St. Augustine, Anda membawa seorang
bayi,” kata Miss Mary malanjutkan ceritanya.
“Itu benar. Ketika saya pertama kali ke Gereja St. Augustine, saya
membawa Charlemagne yang saat itu masih bayi.”
“Charlemagne, putra Earl of Wicklow?” kata Miss Lyne terkejut.
“Jadi berita yang ditulis koran itu benar,” kata Miss Lyne melihat Angella
menganggukan kepalanya.
“Benar,” kata Vladimer yang tiba-tiba muncul di teras Cardington House
tempat mereka bercakap-cakap.
“Anda mengejutkan kami, Tuan Muda,” kata Miss Mary.
“Saya mengucapkan selamat kepada Anda, Tuan Muda. Istri Anda benar-
178
benar luar biasa,” kata Miss Lyne, “Ia sangat baik hati dan tabah.”
“Saya sependapat dengan Anda, Miss Lyne. Angella memang luar biasa.
Saya sangat beruntung bisa meruntuhkan kedinginan hatinya,” kata Vladimer
sambil tersenyum pada Angella.
“Sejujurnya saya sangat terkejut ketika mengetahui Snow Angel yang
terkenal dingin itu adalah Anda,” kata Miss Lyne pada Angella.
“Saya juga terkejut ketika mengetahui Snow Angel itu adalah adik teman
saya,” kata Vladimer, “Ia memang suka membuat kejutan.”
“Tuan Puteri tidak berhati dingin,” protes Nanny.
Angella tersenyum dingin pada Vladimer. Namun Vladimer pura-pura
tidak tahu, ia merangkulkan tangannya pada pundak Angella.
“Maafkan saya. Saya harus membawa Angella masuk. Kakak-kakak
Angella telah memberi peringatan pada saya untuk menjaga Angella baik-baik.
Mereka akan sangat marah pada saya bila mengetahui saya tidak segera
menyuruh Angella masuk di malam yang dingin seperti ini.”
“Malam ini memang sangat dingin, Tuan Muda,” kata Miss Lyne kemudian
berkata kepada Angella, “Sebaiknya Tuan Puteri segera masuk dan
beristirahat, Anda terlihat sangat letih.”
“Kalian juga sebaiknya masuk,” kata Angella.
“Tidak, Tuan Puteri. Kami masih harus mengawasi anak-anak yang
bermain di halaman yang sangat luas ini,” kata Miss Mary.
“Tetapi….”
“Saya akan menemani mereka, Tuan Puteri. Anda harus beristirahat,
Anda terlihat sangat letih,” kata Nanny.
“Mari Angella, engkau tidak ingin kakak-kakakmu marah padaku,
bukan?” kata Vladimer membujuk.
“Aku akan meminta anak-anak itu masuk. Mereka juga bisa sakit bila
terkena udara malam yang dingin,” kata Angella.
“Biarkanlah mereka bermain dulu, Angella. Mereka kelihatan sangat
senang. Nanny, Miss Lyne serta Miss Mary akan menjaga mereka dengan baik.
Mereka tentu juga tidak ingin anak-anak itu sakit.”
“Baiklah, Vladimer,” kata Angella mengalah.
“Kami permisi dulu,” kata Vladimer sambil menggandeng tangan
Angella.
“Mereka sangat serasi,” kata Miss Mary sambil memandangi kedua orang
itu memutari Cardington House.
179
“Sejak kecil mereka memang selalu terlihat serasi,” kata Nanny.
“Tuan Puteri memang beruntung. Ia disayangi banyak orang.”
“Itu karena ia selalu penuh perhatian, Miss Lyne. Walaupun ia terkenal
akan kedinginannya tetapi ia selalu penuh perhatian. Saya tahu itu dan karena
itu pula saya tidak setuju mereka mengatakan Tuan Puteri berhati dingin,” kata
Nanny.
“Tuan Puteri memang luar biasa. Ia sangat disayangi kakak-kakaknya
tetapi ia tidak pernah terlihat manja.”
“Saya sependapat dengan Anda, Miss Lyne. Jarang saya melihat orang
yang tidak manja walaupun hidupnya penuh dengan perhatian. Biasanya
mereka yang sangat diperhatikan oleh keluarganya menjadi manja.”
“Itu karena Tuan Puteri menyadari ia tidak boleh bermanja-manja
walaupun ia sangat disayangi keluarganya, terutama Tuan Muda Frederick dan
Oscar.”
“Dapat saya bayangkan, Nanny. Mereka pasti sangat sedih harus
menyerahkan adik mereka kepada Tuan Muda Vladimer.”
“Mereka memang sangat sedih. Tetapi mereka pula yang terlihat sangat
bahagia dengan pernikahan ini. Saya percaya Tuan Muda Frederick dan Oscar
tidak akan pernah menyetujui pernikahan Tuan Puteri andai ia menikah dengan
orang lain,” kata Nanny.
“Tuan Puteri memang sangat beruntung, ia sangat disayangi kakak-
kakaknya. Tetapi ia lebih beruntung karena dapat menikah dengan orang yang
dicintainya.”
“Tuan Muda Vladimer juga sangat beruntung, Miss Mary. Ia dapat
menikah dengan Snow Angel yang terkenal sangat sulit didekati itu.”
“Saya menyesal tidak mengetahui apa-apa tentang masalah itu. Andai
saya juga mengetahuinya, Tuan Puteri pasti tidak akan menjadi sangat dingin
seperti itu.”
“Jangan sedih, Nanny. Tuan Puteri melakukannya pasti karena ia tidak
ingin Anda merasa cemas. Ia seorang gadis yang sangat tabah. Saya tidak
dapat membayangkan bagaiamana perasaannya ketika membawa
Charlemagne ke Gereja St. Augustine dalam cuaca yang sangat buruk.”
“Itulah salah satu kelebihannya yang lain, Miss Mary,” kata Miss Lyne.
Angella menduga Vladimer ingin menghindari tamu-tamu yang masih
berada di Ruang Besar dengan membawanya memutari Cardington House
menuju kebun belakang yang berhubungan dengan Ruang Perpustakaan.
180
“Rupanya engkau masih tetap dingin,” kata Angella dengan tersenyum.
Vladimer yang mengetahui apa yang dimaksudkan oleh Angella pura-
pura marah, “Jadi begitu, ya. Engkau menganggap aku masih berhati dingin.”
“Engkau menghindari tamu-tamu itu,” kata Angella dengan tenang.
“Kukira aku telah meruntuhkan semua dinding es yang menyelubungi
hatimu,” kata Vladimer melihat wajah Angella yang dingin.
“Engkau telah melakukannya. Dinding es itu telah lenyap tanpa bekas,”
kata Angella.
“Menurutmu apakah banyak orang yang terkejut mendengar penikahan
kita ini?” tanya Vladimer.
“Bila melihat jumlah tamu yang hadir dalam upacara pernikahan kita
tadi, aku rasa tidak hanya banyak orang yang terkejut, semua orang akan
terkejut.”
Vladimer tertawa mendengar jawaban itu, “Mereka pasti tidak pernah
menduga hal ini. Aku pun tidak pernah menduga hal ini akan menjadi
kenyataan.”
“Mengapa?”
“Karena banyak pria yang mencoba meruntuhkan dinding es itu tetapi
tidak pernah ada yang berhasil.”
“Kasihan, Danny,” kata Angella tiba-tiba.
“Apakah engkau mengasihani Danny karena ia tidak dapat menikah
denganmu?”
“Jangan marah, Vladimer. Aku hanya merasa kasihan pada Danny yang
tidak dapat menjadi pewaris tunggal Earl of Wicklow.”
“Satu hal dari kelebihanmu yang kusukai adalah engkau selalu penuh
perhatian.”
“Aku… aku berharap dapat… lebih memperhatikan… dirimu,” kata
Angella perlahan.
“Oh, Angella. Itulah yang kusukai darimu, engkau selalu penuh perhatian
kepada siapapun. Engkau telah memberikan banyak kebahagiaan padaku,”
kata Vladimer sambil memeluk Angella.
“Sungguh?” tanya Angella tak percaya.
“Sejak engkau masih kecil,” kata Vladimer, “Terlebih lagi sejak saat ini,
sejak engkau menjadi milikku untuk selamanya. Aku begitu khawatir engkau
akan jatuh ke tangan pria lain karena kecantikanmu.”
“Aku… sangat mencintaimu, Vladimer. Dan aku tidak peduli pada pria
181
lain karena aku hanya mencintaimu,” kata Angella.
“Oh, Angella, engkau tahu? Engkau sangat cantik tadi pagi, aku merasa
setiap hari engkau bertambah cantik saja. Dan itu membuat aku semakin
mencintaimu.”
“Sejak kapan engkau menjadi pandai merayu?” goda Angella.
“Sejak engkau merayuku,” jawab Vladimer dengan tenang.
“Kapan aku merayumu? Aku tidak pernah merayumu,” protes Angella.
“Setiap hari engkau merayuku dengan wajahmu yang cantik itu dan
membuat aku ingin sekali memeluk dan menciummu.”
Vladimer mengatakan itu dengan tenang dan sungguh-sungguh. Dan itu
membuat Angella merasa malu.
Angella merasa semakin memerah ketika Vladimer menciumnya dengan
lembut sambil terus memandangi matanya.
Mata Vladimer menatap lekat-lekat wajah Angella yang memerah. Ia
tersenyum pada Angella yang juga menatap wajahnya dari jarak yang sangat
dekat.
“Aku harus mengucapkan terima kasih karena engkau telah mengundang
anak-anak Panti Asuhan Gabriel ke mari,” kata Angella mengganti topik.
“Rupanya engkau memang pandai mengalihkan perhatian orang,” kata
Vladimer sambil tersenyum yang membuat jantung Angella berdebar semakin
kencang, “Aku tahu engkau meminta upacara pernikahan kita itu tidak
dilakukan di gereja samping rumahmu melainkan di Gereja St. Augustine itu
karena anak-anak itu.”
“Bagaimana engkau mengetahuinya?” tany Angella keheranan.
“Karena sikapmu yang penuh perhatian itu,” kata Vladimer sambil
tersenyum.
Sejak awal, Vladimer telah mengetahui Angella meminta upacara itu
dilakukan di Gereja St. Augustine karena anak-anak Panti Asuhan Gabriel.
Angella ingin agar setiap orang yang diundang ke upacara yang suci itu
mengetahui keadaan Panti Asuhan Gabriel dan membantu Panti Asuhan itu.
“Aku masih ingat Nanny sangat senang hingga menangis ketika Oscar
dan Frederick mengatakan kita akan segera menikah,” kata Angella, “Tadi
Charlie juga tampak senang, sayang aku tidak melihat Jenny dan Earl of
Wicklow.”
“Semua orang juga senang, Angella.”
“Menurutmu, bagaimana kabar mereka?”
182
“Mereka pasti baik-baik saja, Angella. Engkau tidak perlu khawatir,
mereka pasti juga datang tetapi engkau tidak melihatnya.”
“Aku bahagia sekali…, Vladimer, hingga aku… takut semua ini… hanya
mimpi,” kata Angella perlahan.
“Ini bukan mimpi, Angella,” kata Vladimer sambil mempererat
pelukannya kemudian ia mencium Angella lagi.
Angella merasakan sesuatu yang aneh, yang tidak pernah dirasakannya
sebelumnya menjalari tubuhnya ketika Vladimer menciumnya.
“Aku… mencintaimu,” bisik Angella.
“Sebaiknya aku membawamu masuk sekarang juga daripada nanti kedua
saudaramu memarahiku karena engkau sakit,” kata Vladimer sambil
membopong Angella.
Angella tersenyum. Dia tahu Vladimer akan membawanya masuk ke
dalam kebahagiaan yang tiada batasnya dan tiada orang lain selain mereka
berdua. Kebahagiaan abadi yang selalu diidamkannya.

183