Anda di halaman 1dari 12

Pemeriksaan Vital Sign

Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi pengukuran suhu badan, denyut nadi,


tekanan darah, dan pernapasan.

Tekanan Darah

Untuk pengukuran tekanan darah alat yang diperlukan adalah sebuah


sphygmomanometer dan stetoskop. Sphygmomanometer memiliki beberapa bentuk
yaitu sphygmomanometer merkuri (air raksa), aneroid, atau elektronik. Untuk
menentukan tekanan darah dengan tepat harus diperhatikan ukuran manset yang
sesuai, manset harus dapat mengembang paling sedikit 2/3 keliling lingkaran
lengan.

Neonatus 5 cm
Anak >5 tahun
12 cm
Manset yang biasa tersedia
23 cm
Lengan yang normal dan lengan yang
Tabel 1. Ukuran minimal manset untuk pengukuran tekanan darah

Tekanan darah pada sistem arteri bervariasi sesuai dengan siklus jantung,
yaitu memuncak pada waktu sistolik dan sedikit menurun pada waktu diastolik.
Beda antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan nadi.
Pada waktu ventrikel berkonstraksi, darah akan dipompakan ke seluruh
tubuh. Keadaaan ini disebut keadaan sistolik, dan tekanan aliran darah pada saat
itu disebut tekanan darah sistolik.
Pada saat ventrikel sedang rileks, darah dari atrium masuk ke ventrikel,
tekanan aliran darah pada waktu ventrikel sedang rileks disebut tekanan darah
diastolik.
Tingginya tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya aktifitas
fisik, keadaan emosi, rasa sakit, suhu sekitar, penggunaan kopi, tembakau, dll.

Tekanan darah pada dewasa ( JNC VII : JAMA 289:2560-72, 2003) :


• Normal : < 120 mmHg / <80 mmHg
• Prehipertensi : 120-139 mmHg / 80-89 mmHg
• Hipertensi stadium 1 : 140-159 mmHg / 90-99 mmHg
• Hipertensi stadium 2 : >160 mmHg / >100mmHg

Tekanan darah pada anak-anak adalah :


• Pada umur 1 tahun : 102 mmHg / 55 mmHg
• Pada umur 5 tahun : 112 mmHg / 69 mmHg
• Pada umur 10 tahun : 119 mmHg / 78 mmHg

Denyut Nadi
Jantung bekerja memompa darah ke sirkulasi tubuh (oleh ventrikel kiri) dan
paru ( oleh ventrikel kanan). Melalui ventrikel kiri, disemburkan darah ke aorta dan
kemudian diteruskan ke arteri di seluruh tubuh. Sebagai akibatnya, timbullah suatu
gelombang tekanan yang bergerak cepat pada arteri dan dapat dirasakan sebagai
denyut nadi. Dengan menghitung frekuensi denyut nadi, dapat diketahui frekuensi
denyut jantung dalam 1 menit. Lokasi pemeriksaan nadi dapat dilakukan pada :
a.radialis, a.karotis, a.brakialis, a.femoralis,a.poplitea, a.tibialis posteriior, a.dorsalis
pedis. Pada prinsipnya, pulsasi arteri dapat diraba jika arteri tersebut memiliki dasar
yang keras. Dalam praktek sehari-hari, pemeriksaan pulsasi a.radialis paling sering
dilakukan.

Penilaian denyut nadi meliputi :


a. Tegangan nadi
Biasanya berhubungan dengan tekanan darah. Macamnya :
1. Pulsus normal
2. Pulsus molis ( tegangan nadi lunak)
3. Pulsus durus (tegangan nadi keras)

b. Isi Nadi
Tergantung pada curah jantung ( cardiac output) dan keadaan pembuluh
darah. Macamnya :
1. Pulsus parfus (kecil)
2. Pulsus magnus ( besar )

c. Gelombang nadi
Macamnya :
1. Pulsus celer ( gelombang nadi tinggi) contoh : aorta insufisiensi, arterio
venous fistula, anemia gravis, beri-beri, basedow, patent ductus arteriosus
(PDA)
2. Pulsus tardus ( gelombnag nadi rendah), contoh : aorta stenosis.

d. Dikrotik : pulsus dikrotikans


e. Equalitas
1. Pulsus equal (sama besar kekuatan pulsasinya)
2. Pulsus unequal ( tidak sama besar kekuatan pulsasinya)

f. Frekuensi
1. Takikardia ( > 100 kali / menit )
Contoh : febris (demam), shock, dekompensasi jantung ( payah jantung),
hipertiroid.
2. Bradikardia ( <60 kali / menit )
Contoh : kongenital, atlet, mixedema, kaheksia, peninggian tekanan intra
kranial, stadium rekonvalesen.
3. Takikardia relatif
Contoh : tuberkulosis paru
4. Bradikardia relatif
Contoh : demam typhoid, meningitis tuberkulosis

g. Irama
1. Pulsus reguler ( irama nadi teratur )
2. Pulsus ireguler ( irama nadi tidak teratur )
Contoh : sinus aritmia, ekstra sistolik, pulsus bigeminus, pulsus
trigeminus, pulsus defisit ( atrial fibrilasi )

h. Pulsus paradoksus
Pulsasi yang melemah selama inspirasi, contoh : perikarditis adhesiva.

i. Pulsus Diferens
Pulsasi yang tidak sama pada kedua sisi tubuh yang bersesuaian

j. Keadaan dinding pembuluh darah


Perubahan di lapisan medial a.radialis dapat diketahui dengan palpasi.
Penebalan dapat ditemukan pada arteri orang tua.

Pernafasan
Bernafas adalah sutu tindakan yang tidak disadari, diatur oleh batang otak
dan dilakukan dengan bantuan otot-otot pernapasan. Pada suatu inspirasi,
diafragma dan otot-otot intrekostalis berkontraksi, memperluas rongga toraks dan
memekarkan paru-paru. Dinding dada akan bergerak ke atas, ke depan, dan ke
lateral, sedangkan difragma bergerak ke bawah. Setelah inspirasi berhenti, paru-
paru akan mengkerut, diafragma akan naik secara pasif dan dinding dada akan
kembali ke posisi semula.
Penilaian pada pemeriksaan pernafasan dapat meliputi :
1. Tipe pernafasan
a. Pernafasan abdomino-torakal : Pernafasan abdominal lebih dominan
dibandingkan toraks, umumnya pada leki-leki.
b. Pernafasan torako-abdominal : Pernafasan torakal lebih dominan
dibanding abdomen, pada perempuan.
2. Frekuensi
a. Normal : (12-20 kali permenit, tetapi ada pula yang menyatakan 8-16
kali/menit.
b. Polipnea (Takipna) : pernafasan yang cepat.
c. Oligopnea (Bradipnea) : pernafasan yang lebih lambat.
3. Kedalaman Pernafasan
a. Pernafasan normal
b. Pernafasan dangkal
c. Pernafasan dalam
4. Bau pernafasan

Suhu Badan
Suhu badan diperiksa dengan termometer badan dapat berupa termometer
air raksa atau termometer elektrik. Pemeriksaan dapat dilakukan pada mulut,
aksila, lipat paha atau rektum. Pengukuran suhu melalui mulut biasanya lebih
mudah dan hasilnya lebih tepat dibandingkan melalui rektum, tetapi termometer air
raksa dengan kaca tidak seyogyanya dipakai untuk mulut, pada penderita yang
tidak sadar, gelisah, atau tidak dapatmenutup mulutnya. Pemeriksaan secara
rektum biasanya memberikan hasil pemeriksaan yang lebih tinggi sebesar 0,4 – 0,5
derajat dibandingkan lewat mulut. Suhu tubuh normal : 36,6˚C – 37,2 ˚C. Pada
cuaca yang panas dapat meningkatkan hingga 0,5˚C dari suhu normal. Suhu aksila
0,5˚C lebih rendah dari suu mulut.
Jenis suhu:
- Sub febril / Sub febris
- Febril / Febris / Pireksia
- Hiperpireksia (> 41,6 ˚C), comtoh : heat stroke, malignant hyperthermia.
- Hipotermia (< 35 ˚C), contoh hipotiroidism, paparan terhadap dingin.

PELAKSANAAN PELATIHAN

Cara Pemeriksaan Suhu Badan :


Pemeriksaan pada mulu (oral)
Kibaskan termometer sampai permukaan air raksa menunjukkan di bawah 35,5 ˚C.
Masukkan termoneter di bawah lidah penderita. Mintalah penderita untuk menutup
mulut, dan tunggu sampai 2-3 menit. Kemudian bacalah termometer tersebut,
pasangkan lagi selama satu menit, dan baca kembali. Kalau suhu masih naik ulangi
prosedur diatas sampai suhu tetap (tidak naik lagi). Apabila penderita bari minim
dingin atau panas, pemeriksaan dengan cara ini harus ditunda selama 10-15 menit
dulu agar minuman tidak mempengaruhi hasil pengukuran.

Pemeriksaan pada rektum :


1. Pemeriksaan melalui rektum ini biasanya dilakukan terhadap bayi atau
pasien dewasa yang mengalami renjatan ( shock)
2. Pilihlah termometer dengan ujung yang bulat, beri pelumas dan masukkan
dalam anus sedalam 3-4 cm, dengan arah ke arah umbikulus, cabut dan baca
setelah 3 menit

Catatan : pada praktiknya, untuk menghemat waktu pada saat menunggu


pengukuran suhu juga dibarengi dengan pemeriksaan nadi dan napaas.

Pemeriksaan pada ketiak


1. Kibaskan termometer sampai permukaan air raksa menunjukkan di bawah
35,5˚C.
2. Tempatkan ujung termometer yang berisi air raksa pada apex fossa aksilaris
kiri dengan sendi bahu adduksi maksimal
3. Tunggu sampai 3 – 5 menit, kemudian dilakukan pembacaan

Cara pemeriksaan frekuensi nadi :


1. Penderita dapat dalam posisi duduk ataupun berbaring.
Lengan dalam posisi bebas ( rileks, perhiasan dan jam tangan dilepas )
2. Periksalah denyut nadi pergelangan tangan dengan menggunakan jari
telunjuk dan jari tengah tangan anda dengan menekkan a.radialis pada
pergelangan tangan, pada sisi fleksor bagian lateral dari tangan penderita
3. Hitunglah berapa denyutan dalam 1 menit dengan cara hitung denyutan
dalam 15 detik, kemudian hasilnya dikalikan dengan 4. Perhatikan pula irama
dan kuantitas denyutnya. Catatlah hasil pemeriksaan dari lengan kanan dan
kiri.

Cara pemeriksaan frekuensi napas :


1. Penderita diminta melepaskan baju
2. Secara inspeksi, perhatikan secara menyeluruh gerakan pernapasan
( lakukan ini tanpa mempengaruhi psikis penderita ).
3. Kadang diperlukan cara palpasi, untuk sekalian mendapatkan perbandingan
antara kanan dan kiri.
4. Pada inspirasi, perhatikanlah : gerakan ke samping iga, pelebaran sudut
epigastrium dan penambahan besarnya ukuran antero posterior dada.
5. Pada ekspirasi, perhatikanlah : masuknya kembali iga, penyempitan sudut
epigastrium, dan penurunan besarnya ukuran antero posterior dada
6. Perhatikan pula adanya penggunaan otot pernapasan pembantu
7. Catatlah irama, frekuensi, dan adanya kelainan gerakan

Cara Pemeriksaan Tekanan Darah :


• Siapkan tensimeter dan stetoskop
• Penderita dapat dalam keadaan duduk dan berbaring
• Lengan dalam keadaan bebas dan relaks, bebaskan dari tekanan oleh karena
pakaian
• Pasang manset sedemikian rupa sehingga melingkari lengan atas secara rapi
dan tidak terlalu ketat, kira-kira 2,5 cm di atas siku
• Tempatkan lengan penderita sedemikian sehingga siku dalam keadaan
sedikit ekstensi
• Carilah arteri brakialis, biasanya terletak di sebelah medial tendo biseps.
• Dengan satu jari meraba A.brakialis, pompa manset dengan cepat sampai
kira-kira 30 mmHg di atas tekanan ketika pulsasi A.brakialis menghilang
• Turunkan tekanan manset perlahan-perlahan sampai denyutan A.brakialis
teraba kembali. Inilah tekanan sistolik palpatoir
• Sekarang ambillah stetoskop, pasangkan corong bel stetoskop pada
A.brakialis
• Pompa manset kembali, sampai kurang lebih 30 mmHg di atas tekanan
sistolik palpatoir
• Kemudian secara perlahan turunkan tekanan manset dengan kecepatan kira-
kira 3-4 mmHg / detik. Perhatikan saat di mana denyutan A.brakialis
terdengar. Bunyi yang terdengar setelah manset dikempiskan disebut Bunyi
Korotkoff. Hal ini digunakan untuk menentukan secara kasar tekanan sistollik.
Lanjutkanlah penurunan tekanan manset sampai suara denyutan melemah
dan kemudian menghilang. Bunyi yang pertama kali muncul menunjukkan
tekanan sistolik sedangkan bunyi yang terakhir sebelum menghilang
menunjukkan tekanan diastolik.
• Apabila menggunakan tensimeter air raksa, usahakan agar posisi manometer
vertikal dan pada waktu membaca hasilnya, mata harus berada segaris
horizontal dengan level air raksa
• Pengulangan pengukuran dilakukan beberapa menit setelah pengukuran
pertama.
Checklist : Keterampilan pemeriksaan vital sign
Nilai
No Aspek yang Dinilai
0 1 2
A Memberi penjelasan dan informasi kepada pasien
Mempersiapkan perasaaan pasien untuk menghindari rasa
1
takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan tanda vital
Memberikan penjelasan dengan benar dan jelas tentang tujuan
2
dan manfaat sebelum pemeriksaan tanda vital
Memberi tahu adanya rasa tidak nyaman yang mungkin timbul
3
selama pemeriksaan tanda vital
B Pengukuran tekanan darah
Menempatkan pasien dalam keadaan duduk / berbaring
1 dengan lengan rileks, sedikit menekuk pada siku dan bebas
dari tekanan oleh pakaian
Menempatkan tensimeter dan membuka aliran raksa,
2 mengecek saluran pipa, dan meletakkan manometer vertikal
( pada sphygmomanometer merkuri )
3 Menggunakan stetoskop dengan corong bel terbuka
Memasang manset sedemikian rupa sehingga melingkari
4 lengan atas secara rapi dan tidak terlalu ketat (2,5 cm di atas
siku) dan sejajar jantung diperiksa dari pakaian
Dapat meraba pulsasi arteri brakialis di fossa cubiti sebelah
5
medial
Dengan satu jari meraba pulsasi A.brakialis dan memompa
6 sphygmomanometer dengan cepat sampai 30mmHg di atas
hilangnya pulsasi / melaporkan hasilnya
Menurunkan tekanan manset perlahan-lahan sampai pulsasi
7 arteri teraba kembali / melaporkan hasilnya sebagai tekanan
sistolik palpitoir
Mengambil stetoskop dan memasang corong bel pada tempat
8
perabaan pulsasi
Memompa kembali manset sampai 30mmHg di atas tekanan
9
sistolik palpitoir
Mendengarkan melalui stetoskop, sambul menurunkan
10 perlahan-lahan / 3mmHg/detik dan melaporkan saat
mendengar bising pertama/ sebagai tekanan sistolik
Melanjutkan penurunan tekanan manset sampai suara bising
11 yang terakhir sehingga setelah itu tidak terdengar lagi bising /
sebagai tekanan diastolik
12 Melaporkan hasil pemeriksaan tekanan darah dalam mmHg
C Pemeriksaan Nadi
1 Meletakkan lengan yang akan diperiksa dalam keadaan rileks
Menggunakan jari telunjuk dan jari tengah untuk meraba arteri
2
radialis
3 Menghitung frekuensi denyut nadi minimal 15 detik
4 Melaporkan hasil frekuensi dan vitalnya / menit
D Pemeriksaan suhu Badan
Kibaskan termometer sampai permukaan air raksa menunjuk
1
di bawah 35,5˚C
Tempatkan ujung termometer yang berisi air raksa pada apex
2
fossa axillaris kiri dengan sendi bahu adduksi maksimal
3 Tunggu sampai 3-5 menit, kemudian dilakukan pembacaan
E Pemeriksaan Frekuensi Napas
1 Meminta pasien melepas baju ( duduk atau berbaring)
Melakukan inspeksi atau palpasi dengan kedua tangan pada
2 punggung / dada untuk menghitung gerakan pernapasan
selama minimal 15 detik
3 Melaporkan hasil frekuensi nafas per menit
4 Menerangkan kesimpulan hasil pemeriksaan kepada pasien
5 Memberitahukan tindak lanjut kepada pasien

Sprain and Strain

Otot berikatan ke tulang melalui tendon, sementara ligamen menghubungkan


tulang dengan tulang untuk menjaganya tetap stabil pada sendi dan menjaga sendi
bekerja dengan baik. Bersama-sama, otot, tendon, dan tulang disebut sebagai
system musculoskeletal.

Jaringan lunak sepeti otot, tendon, ligamen yang berikatan ke atau


menguatkan tulang rangka juga bisa cedera atau rusak karena kecelakaan. Cedera
seperti ini biasa disebut sprain (robekan ligamen) dan strain (robekan otot).

Ketika tidak ada tulang yang cedera, maka disebut sebagai cedera jaringan
lunak ringan, Jika, tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kelemahan
jangka panjang dan malfungsi dari otot atau sendi.

Gejala dan tanda suatu strain atau sprain

Sulit membedakan antara strain, sprain, atau fraktur. Gejala dan tanda sprain atau
strain berupa:

• Nyeri dan ketegangan

• Ketidakmampuan untuk menggerakkan daerah yang cedera. Jika terjadi tiba-


tiba sering karena fraktur

• Bengkak dan memear. Muncul dalam beberapa jam, jika muncul segera
biasanya fraktur

Jenis cedera soft tissue


• Sprain : suatu bentuk cedera ligament yang mengakibatkan robekan atau
regangan yang berlebihan pada ligament

• Strain : robekan atau regangan berlebihan pada otot, terjadi pada darah
persambungan otot dan tendon

• Rupture : robekan sempurna dari otot atau ligament

• Bruising : pembengkakan, nyeri dan pendarahan bawah kulit. Jika darah yang
terkumpul cukup banyak disebut sebagai hematoma

Bagaimana menangani sprain dan strain

Setelah dilakukan protokol RICE, cedera soft tissue yang ringan harus
dipantau dengan baik. Latihan yang terkontrol dilakukan selama tidak nyeri.
Banyak strain atau sprain masih kaku, bengkak dan nyeri bahkan setelah 48
jam terapi RICE. Hal ini normal, dan penting untuk segera menggunakan otot
atau sendi. Jika tidak ditangani dengan baik dalam minggu-minggu pertama,
dapat menyebabkan masalah yang kambuh dalam jangka waktu panjang.

Pertolongan pertama pada strain dan sprain

• Ikuti prosedur RICE (Rice, Ice, Compress, Elevate)

• Rest : istirahatkan selama12-24 jam

• Ice : mengurangi nyeri dan bengkak menggunakan es dalam waktu pendek


selama 10-15 menit dalam 12-24 jam pertama. Jangan langsung meletakkan
es ke kulit, lapisi dengan kain

• Compress : berikan tekanan pada bagian yang cedera akan membuat pasien
lebih nyaman. Elastic verban yang dibalut melingkar memberi hasil terbaik.

• Elevate : tinggikan posisi kaki yang cedera diatas jantung untuk mengurangi
bengkak.

X-ray mungkin diperlukan untuk menentuka apakah cedera berupa sprain atau
fraktur. Pasien mungkin memerlukan fisioterapi atau dirujuk ke rumah sakit
untuk pengobatan

TEKNIK PEMBEBATAN (BANDAGES)

Tujuan pembebatan
1. Untuk menahan atau menjaga bagian tubuh yang mengalami cedera supaya
gerakannya terbatas

2. Mencegah terjadinya udema pada luka

3. Mencegah kontaminasi luka yang dapat menyebabkan infeksi

4. Mencegah pergesekkan antara kulit yang mengalami laserasi

Tipe-tipe bebat

1. Triangle cloth (mitela)

- Bebat berbentuk segitiga terbuat dari bahan katun

- Biasanya digunakan unuk bagian tubuh yang bulat atau melingkar atau
untuk menyangga bagian tubuh yang mengalami cedera (luka di kepala,
bahu, dada, tangan, paha, kaki, atau menyangga lengan)

2. Tie shape

- Merupakan mitela yang dlipat berkali-kali

- Biasanya digunakan untuk membebat mata, bagian kepala dan wajah,


mandibula, aksila, lengan, siku, ungkai, lutuy, atau kaki.

3. Stretchable roller bandage

- Bebat jenis ini biasanya terbuat dari katun, kassa, flanel atau meterial
elastis

- Ukuran lebar bebat jenis ini berbeda-beda tergantung kegunaannya:

o 2,5cm : untuk jari

o 5 cm : untuk leher dan pergelangan tangan

o 7,5 cm : untuk kepala, lengan, fibula, dan kaki

o 10 cm : untuk femur dan paha

o 10-15 cm: untuk dada, abdomen, dan punggung

- Bentuk-bentuk putaran bebat

o Circular turn

o Spiral turn
o Spiral-reversa turn

o Spica turn

4. Plaster

- Digunakan untuk menutupi luka, immobilisasi sendi dan tulang yang


fraktur

- Biasanya digunakan bersama-sama dengan antiseptik, khususnya


untukmenutupi luka

5. Bebat spesifik

- Sneverband : bebat berbentuk pita yang terbuat dari kassa steril.


Digunakan untuk menutup luka berukuran besar

- Sofratulle : kassa sterildengan krim antibiotic untuk menutup luka kecil.

Prinsip pemasangan bebat

1) Memilih bebat yang sesuai (jenis, panjang, lebar)

2) Gunakan bebat yang masih baru jika memungkinkan

3) Yakinkan bagian kulit pasien yang akan dibebat dalam keadaan kering dan
bersih

4) Tutup terlebih dahulu bagian luka sebelum dibebat

5) Gunakan seorang asisten jika bagian tubuh yang akan dibebat harus disangga
selama proses pembebatan dilakukan

6) Bebatlah bagian tubuh pada posisi yang akan dipertahankan

7) Jika memungkinkan, pembebatan dilakukan ke arah aliran vena untuk


mencegah bendungan aliran darah

8) Saat melakukan pembebatan pertahankan tegangan bebat

9) Yakinkan bebat terpasang rapi, tidak berkerut

10) Bebat terpasang dengan baik hingga di atas dan bagian bawah luka, jangan
lupa membiarkan bagian distal tetap terlihat (seperti jari tangan atau kaki)
supaya kita tetap bisa mengobservasi kondisi neurovaskuler

11) Potong bebat yang tidak terpakai, jangan membuat lilitan yang tidak
diperlukan
12) Bagian ujung bebat harus terpasang dengan baik tidak mudah lepas dan
tidak melukai pasien

Checklist: keterampilan teknik pembebatan (Bandage)

n Aspek yang dinilai skor


o
1 2 3
1 Membangun hubungan emosional dan komunikasi
2 Melakukan inspeksi, palpasi dan memeriksa rentang gerak
bagian tubuh yang cedera
3 Memilih bebat yang sesuai
4 Melakukan prosedur pemasangan bebat yang sesuai
5 Memeriksa hasil pembebatan : terlalu ketat? Longgar?
Hambatan terhadap gerakan sendi normal?
6 Memeriksa bagian proksimal distal bebat : sensasi, denyut
nadi, edema, suhu dan gerakan
7 Memberitahukan kepada pasien tentang perawatan
selanjutnya (follow up)

Keterangan:

0 = tidak dilakukan

1 = dilakukan, tetapi kurang benar

2 = dilakukan dengan benar

FINGER PRICK

Finger prick adalah teknik pengambilan darah kapiler pada ujung jari dengan
mengunakan teknik aseptic.

PENGAMBILAN DARAH KAPILER

1. Lokasi :

• Dewasa : - Jari ke 3 dan ke 4

• Lobus Telinga

• Bayi : - Tumit dan ibu jari kaki tanpa perdarahan ataupun


sianosis

2. Prosedur pengumpulan sampel


• Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus

• Bahan yang diperlukan :

o Kapas dengan alkohol70%

o Lancet

Langkah-langkah:

No. Aspek yang dinilai Nilai


0 1 2
1 Menentukan lokasi (jari ke3 atau ke 4)
2 Membersihkan lokasi dengan kapas alcohol
3 Menusuk jari bagian lateral dengan lanset
4 Menghisap dengan tissue tetesan darah pertama
5 Meletakkan ujung pipet pada tetesan darah dan menghisap
secukupnya
6 Menbersihkan bekas luka dengan kapas alkohol

Keterangan :

0 ; Tidak dilakukan

1 : Dilakukan tetapi kurang benar

2 : Dilakukan dengan benar