Anda di halaman 1dari 29

RAMBU- RAMBU PENYUSUNAN

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN


SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/ MADRASAH ALIYAH KEJURUAN

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
JAKARTA
2006
DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN
A. Landasan
B. Tujuan Rambu-rambu Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
C. Pengertian
D. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
E. Prinsip Pelaksanaan KTSP SMK/MAK
F. Struktur Kurikulum SMK/MAK
II. KOMPONEN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
A. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan
B. Acuan Operasional Penyusunan KTSP
C. Struktur dan Muatan KTSP
D. Kalender Pendidikan
III. PENGEMBANGAN SILABUS
A. Pengertian Silabus
B. Prinsip-prinsip Pengembangan Silabus
C. Langkah-langkah Pengembangan Silabus
D. Unit Waktu Silabus
E. Pengembangan Silabus Berkelanjutan
IV. PELAKSANAAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN
A. Analisis Konteks
B. Mekanisme Penyusunan

1
I. PENDAHULUAN
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Indonesia dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan
tersusunnya kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan
dasar dan menengah dengan mengacu kepada Standar Isi dan Standar
Kompetensi Lulusan serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan.
Rambu-rambu ini dimaksudkan sebagai acuan bagi sekolah menengah
kejuruan untuk menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

A. Landasan
1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional:
Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 32 ayat
(1), (2), dan (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), dan (4);
Pasal 37 ayat (1), (2), dan (3); Pasal 38 ayat (1) dan (2).
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan:
Pasal 1 ayat (5), (13), (14), dan (15); Pasal 5 ayat (1) dan (2); Pasal 6
ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), dan (8); Pasal 8
ayat (1), (2), dan (3); Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3); Pasal 11 ayat (1),
(2), (3), dan (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 14 ayat (1),
(2), dan (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Pasal 17 ayat (1)
dan (2); Pasal 18 ayat (1), (2), dan (3), dan Pasal 20.
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 22 tahun
2006 tentang Standar Isi.
4. Permendiknas No 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan (SKL).
5. Permendiknas No 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar Isi
SKL pada satuan pendidikan dasar dan menengah.

B. Tujuan Rambu-rambu Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan
Tujuan rambu-rambu penyusunan KTSP ini adalah sebagai acuan bagi
satuan pendidikan SMK/MAK dalam menyusun dan mengembangkan
kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang
bersangkutan.

C. Pengertian
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum
operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan
pendidikan.

2
D. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan SMK/MAK
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK/MAK sebagai perwujudan dari
kurikulum pendidikan menengah kejuruan dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
Sekolah/Madrasah. Sekolah Menengah Kejuruan di bawah koordinasi
dan supervisi dinas pendidikan provinsi sedangkan MAK dibawah
koordinasi dan supervisi departemen yang menangani urusan
pemerintahan di bidang agama, yang berpedoman pada standar isi dan
standar kompetensi lulusan serta panduan penyusunan kurikulum yang
disusun oleh BSNP.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dikembangkan berdasarkan prinsip-


prinsip berikut:

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan


kepentingan peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk
mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan,
dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.

2. Beragam dan terpadu


Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman
karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis
pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat,
serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi
komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan
diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan
kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,


dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh
karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk
mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.

3
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku
kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan
dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan
kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu,
pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir,
keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan
vokasional merupakan keniscayaan (keharusan).

5. Menyeluruh dan berkesinambungan


Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,
bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

6. Belajar sepanjang hayat


Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan
formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan
tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan
manusia seutuhnya.

7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah


Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional
dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan
daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto
Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

E. Prinsip Pelaksanaan KTSP SMK/MAK


Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan
menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan
kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi
dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan
pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk
mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
b. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu:
(1) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
(2) belajar untuk memahami dan menghayati,
4
(3) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
(4) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan
(5) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
c. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat
pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan
sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik
dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi
peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan,
dan moral.
d. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan
pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan
hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing
ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di
tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan
contoh dan teladan).
e. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi
dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan
memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan
prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan
berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan
alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
f. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial
dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan
dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
g. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata
pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam
keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan
memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

F. Struktur Kurikulum SMK/MAK


Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan
program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta
mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina
yang tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu
pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu
berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki
kemampuan mengembangkan diri. Struktur kurikulum pendidikan kejuruan
dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah
Kejuruan (MAK) diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kurikulum
SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib, mata pelajaran Kejuruan, Muatan
Lokal, dan Pengembangan Diri .

5
Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama, Pendidikan
Kewarganegaraan, Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Seni dan Budaya,
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, dan Keterampilan/Kejuruan
{Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) dan
Kewirausahaan}. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia
Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja.
Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran
(dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi
Kejuruan) yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi
kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang
keahliannya.
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas, potensi daerah, dan prospek
pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak
dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan
lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian
yang diselenggarakan.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh
oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai
dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan
kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing
oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam
bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling
yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar,
dan pembentukan karier peserta didik. Pengembangan diri bagi peserta didik
SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan
bimbingan karier.
Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang
ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat
diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII
atau kelas XIII. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar
kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.

6
II. KOMPONEN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SMK/MAK

A. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan SMK/MAK


Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

B. Acuan Operasional Penyusunan KTSP SMK/MAK


Kurikulum tingkat satuan pendidikan disusun dengan memperhatikan:
1. Peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia.
Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar
pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum yang
disusun memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang
peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.

2. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat


perkembangan dan kemampuan peserta didik;
Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman
potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spritual, dan
kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat
perkembangannya.

3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan;


Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan
keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus
memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat
memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah.

4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;


Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan
tuntutan pembangunan daerah dan nasional.

5. Tuntutan dunia kerja;


Kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta
didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan
peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka
yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

7
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan
berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni.
7. Agama;
Kurikulum harus dikembangkan untuk meningkatkan toleransi dan
kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang
berlaku di lingkungan sekolah
8. Dinamika perkembangan global;
Kurikulum harus dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing
secara global dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain.
9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan;
Kurikulum harus mendorong wawasan dan sikap kebangsaan dan
persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
10. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat, dan
Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik
sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya.
11. Kesetaraan Jender
Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan
mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan jender.
12. Karakteristik satuan pendidikan.
Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan,
kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.

C. Struktur dan Muatan KTSP SMK/MAK


Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 37, menyatakan
bahwa kurikulum SMK/MAK wajib memuat:
1. Pendidikan Agama;
2. Pendidikan kewarganegaraan;
3. Bahasa;
4. Matematika;
5. IPA;
6. IPS;
7. Seni dan budaya;
8. Pendidikan jasmasi dan olah raga;
9. Keterampilan/kejuruan dan;
10. Muatan lokal;
8
Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMK/MAK
memperhatikan kelompok mata pelajaran sebagai berikut:
Tabel 1. Cakupan Kelompok Mata Pelajaran

No Kelompok Mata Cakupan Mata Pelajaran/


Pelajaran Komponen
Terkait
Agama, Pendidikan
1. Agama dan Kelompok mata pelajaran agama
kewarganegaraan,
Akhlak Mulia dan akhlak mulia dimaksudkan
Pengembangan Diri,
untuk membentuk peserta didik
IPA, Seni Budaya,
menjadi manusia yang beriman dan
IPS, Penjaskes,
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Matematika dan
Esa serta berakhlak mulia. Akhlak
Kejuruan.
mulia mencakup etika, budi pekerti,
atau moral sebagai perwujudan dari
pendidikan agama.

2. Kewarganega- Kelompok mata pelajaran Agama,


raan dan kewarganegaraan dan kepribadian Kewarganegaraan,
Kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan Bahasa Indonesia ,
kesadaran dan wawasan peserta Bahasa Inggris, Seni
didik akan status, hak, dan Budaya, Penjaskes,
kewajibannya dalam kehidupan dan Pengembangan
bermasyarakat, berbangsa, dan diri.
bernegara, serta peningkatan
kualitas dirinya sebagai manusia.
Kesadaran dan wawasan termasuk
wawasan kebangsaan, jiwa dan
patriotisme bela negara,
penghargaan terhadap hak-hak asasi
manusia, kemajemukan bangsa,
pelestarian lingkungan hidup,
kesetaraan gender, demokrasi,
tanggung jawab sosial, ketaatan
pada hukum, ketaatan membayar
pajak, dan sikap serta perilaku anti
korupsi, kolusi, dan nepotisme.

3. Ilmu Kelompok mata pelajaran ilmu Bahasa Indonesia,


Pengetahuan pengetahuan dan teknologi pada Bahasa Inggris,
dan Teknologi SMK/MAK dimaksudkan untuk Matematika, IPA,
menerapkan ilmu pengetahuan dan IPS, Kejuruan,
teknologi, membentuk kompetensi, KKPI, dan Muatan
kecakapan, dan kemandirian kerja. Lokal.

9
No Kelompok Mata Cakupan Mata Pelajaran/
Pelajaran Komponen
Terkait

4. Estetika Kelompok mata pelajaran estetika Bahasa Indonesia,


dimaksudkan untuk meningkatkan Bahasa Inggris,
sensitivitas, kemampuan Seni Budaya,
mengekspresikan dan kemampuan KKPI, Kejuruan
mengapresiasi keindahan dan dan Muatan Lokal.
harmoni. Kemampuan
mengapresiasi dan mengekspresikan
keindahan serta harmoni mencakup
apresiasi dan ekspresi, baik dalam
kehidupan individual sehingga
mampu menikmati dan mensyukuri
hidup, maupun dalam kehidupan
kemasyarakatan sehingga mampu
menciptakan kebersamaan yang
harmonis.

5. Jasmani, Kelompok mata pelajaran jasmani, Penjaskes, IPA, dan


Olahraga dan olahraga dan kesehatan pada Muatan Lokal.
Kesehatan SMK/MAK dimaksudkan untuk
meningkatkan potensi fisik serta
membudayakan sikap sportif,
disiplin, kerja sama, dan hidup
sehat.
Budaya hidup sehat termasuk
kesadaran, sikap, dan perilaku hidup
sehat yang bersifat individual
ataupun yang bersifat kolektif
kemasyarakatan seperti
keterbebasan dari perilaku seksual
bebas, kecanduan narkoba,
HIV/AIDS, demam berdarah,
muntaber, dan penyakit lain yang
potensial untuk mewabah.

Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau


kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 7.
Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan meliputi sejumlah mata pelajaran
yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar peserta didik
pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan
pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.

10
1. Mata pelajaran
Mata pelajaran beserta alokasi waktu pada struktur kurikulum SMK/MAK
tercantum pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Mata Pelajaran dan Alokasi Waktu pada Struktur Kurikulum
SMK/MAK
Durasi
Komponen Waktu
(Jam)
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama 192
2. Pendidikan Kewarganegaraan 192
3. Bahasa Indonesia 192
4. Bahasa Inggris 440 a)
5. Matematika
5. 1 Matematika Kelompok Seni, Pariwisata, dan 330 a)
Teknologi Kerumahtanggaan
5. 2 Matematika Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran 403 a)
dan Akuntansi
5. 3 Matematika Kelompok Teknologi, 516 a)
Kesehatan, dan Pertanian

6. Ilmu Pengetahuan Alam


6. 1 IPA 192 a)
6. 2 Fisika
6. 2. 1 Fisika Kelompok Pertanian 192 a)
6. 2. 2 Fisika Kelompok Teknologi 276 a)
6. 3 Kimia
6. 3. 1 Kimia Kelompok Pertanian 192 a)
6. 3. 2 Kimia Kelompok Teknologi dan Kesehatan 192 a)
6. 4 Biologi
6. 4. 1 Biologi Kelompok Pertanian 192 a)
6. 4. 2 Biologi Kelompok Kesehatan 192 a)

7. Ilmu Pengetahuan Sosial 128 a)


8. Seni Budaya 128 a)
9. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan 192
10. Kejuruan
10. 1Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi 202
10. 2Kewirausahaan 192
10. 3Dasar Kompetensi Kejuruan b) 140
10. 4Kompetensi Kejuruan b) 1044 c)

B. Muatan Lokal 192

C. Pengembangan Diri d) (192)

11
Keterangan notasi

a) Durasi waktu adalah jumlah jam minimal yang digunakan oleh setiap program keahlian. Program
keahlian yang memerlukan waktu lebih, jam tambahannya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran
yang sama, di luar jumlah jam yang dicantumkan.
b) Terdiri dari berbagai mata pelajaran yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan setiap program
keahlian.

c) Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi
kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1000 jam.

d) Ekuivalen 2 jam pembelajaran (per minggu jika dalam satu semester terdapat 16 kali tatap muka,
untuk pembiasaan dalam pengembangan diri selama 3 tahun, dengan jumlah jam maksimal 192
jam).
Durasi jam yang tertulis pada struktur kurikulum adalah jumlah jam pembelajaran tatap muka. Dua jam
pembelajaran praktek di sekolah atau empat jam pembelajaran praktek di DU/DI setara dengan satu jam
tatap muka.
Alokasi waktu untuk prakerin diambil dari durasi waktu komponen mata pelajaran Kompetensi Kejuruan
(1044 jam).

Implikasi dari struktur kurikulum di atas dijelaskan sebagai


berikut.
a. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi
ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok normatif, adaptif, dan
produktif. Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang
dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama,
Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan, dan Seni Budaya. Kelompok
adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika,
IPA, IPS, Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi, dan
Kewirausahaan. Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata
pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan
dan Kompetensi Kejuruan. Kelompok adaptif dan produktif adalah
mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan
kebutuhan program keahlian, dan dapat diselenggarakan dalam
blok waktu atau alternatif lain.

b. Materi pembelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi


Kejuruan disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk
memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja.
c. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu
standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi
dasar dari setiap mata pelajaran.
d. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan
sistem ganda.
e. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit.
f. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap
muka, praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia
usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran per minggu.
12
g. Minggu efektif penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK adalah 38
minggu dalam satu tahun pelajaran.
h. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun,
maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian.
2. Muatan lokal
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk
keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata
pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan
pendidikan.
Untuk memilih muatan lokal yang sesuai dengan potensi daerah dapat
dilakukan langkah-langkah berikut ini:

Identifikasi
Potensi dan Kebijakan
Daerah

Analisis

Pilihan muatan lokal yang mungkin dikembangkan dan


sesuai dengan program keahlian

Penentuan Standar Kompetensi muatan


lokal bersama fihak terkait

Penyusunan silabus
muatan lokal

3. Kegiatan pengembangan diri


Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh
oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai
dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan
kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau
dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat
dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan
diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan
dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan
pengembangan karir peserta didik.

13
Untuk SMK/MAK pengembangan diri terutama ditujukan untuk
pengembangan kreativitas dan bimbingan karir.
• Pengembangan kreativitas
Pengembangan kreativitas dapat dilakukan melalui kegiatan
ekstrakurikuler antara lain pramuka, paskibra, PMR, karya ilmiah siswa,
pameran hasil karya siswa, lomba karya ilmiah siswa, dan pentas seni.
• Pengembangan karir.
Pengembangan karir dapat dilakukan antara lain melalui pemberian
informasi lapangan kerja, bimbingan tata cara mancari pekerjaan,
bimbingan profesi, pengenalan serta pengembangan kepribadian.

4. Beban belajar
a. Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan
pendidikan SMK/MAK kategori standar.
SMK/MAK katagori standard adalah SMK/MAK yang belum memenuhi
8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Istilah tentang sekolah katagori standar dapat dilihat pada glosarium.
b. Jam pelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket
dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum (Tabel 2).
Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum 4 (empat) jam
pelajaran per minggu secara keseluruhan. Penambahan 4 jam
pelajaran per minggu dapat dilakukan terhadap satu atau lebih mata
pelajaran tanpa menambah mata pelajaran baru. Penambahan jam
pelajaran dapat dilakukan untuk mencapai kompetensi baru atau
menambah durasi waktu pembelajaran pada mata pelajaran tertentu
untuk mencapai kompetensi yang sesuai dengan SKL.
Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan
kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.
c. Alokasi untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak
terstruktur dalam sistem paket untuk SMK/MAK 0% - 60% dari waktu
kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan
alokasi waktu tersebut mempertimbangkan kebutuhan peserta didik
dalam mencapai kompetensi.
Istilah tentang penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak
terstruktur dapat dilihat pada glosarium.
d. Dua jam pembelajaran kegiatan praktik di sekolah atau empat jam
pembelajaran kegiatan praktik di luar sekolah setara dengan satu jam
pembelajaran tatap muka.

14
5. Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan
Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan mengacu kepada Standar
Penilaian yang dikembangkan oleh BSNP.

6. Pendidikan kecakapan hidup


a. Kurikulum untuk SMK/MAK dapat memasukkan pendidikan kecakapan
hidup yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan
akademik, dan kecakapan vokasional.
b. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian dari pendidikan
(terintegrasi) pada semua mata pelajaran.
c. Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan
pendidikan yang bersangkutan dan atau dari satuan pendidikan formal
lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.
Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang memberikan
kecakapan personal, kecakapan social, kecakapan intelektual dan
kecakapan vocational untuk bekerja atau usaha mandiri (penjelasan
pasal 26, ayat 3, UU No. 20 tahun 2003)
Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh melalui kegiatan
instruksional, ekstrakurikuler, kegiatan organisasi siswa dan
kepemudaan, pemberdayaan perempuan, kursus , dan lain-lain.

7. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global


a. Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan
pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
b. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan
bagian dari semua mata pelajaran.
c. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat diperoleh
peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan atau dari
satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah
memperoleh akreditasi.

D. Kalender Pendidikan
Satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan
kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan
masyarakat.
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran
peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun
pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

1. Alokasi Waktu

15
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan
pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk
setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap
minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran
termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan
pengembangan diri.
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu
libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir
tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari
besar nasional, dan hari libur khusus.

Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya
tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan


No Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
1. Minggu efektif belajar Minimum 34 Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif
minggu dan pada setiap satuan pendidikan
maksimum 38
minggu
2. Jeda tengah semester Maksimum 2 Satu minggu setiap semester
minggu
3. Jeda antarsemester Maksimum 2 Antara semester I dan II
minggu

4. Libur akhir tahun Maksimum 3 Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan


pelajaran minggu administrasi akhir dan awal tahun pelajaran
5. Hari libur keagamaan 2 – 4 minggu Daerah khusus yang memerlukan libur
keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya
sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu
efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
6. Hari libur umum/nasional Maksimum 2 Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah
minggu
7. Hari libur khusus Maksimum 1 Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri
minggu kekhususan masing-masing
8. Kegiatan khusus Maksimum 3 Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan
sekolah/madrasah minggu secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa
mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan
waktu pembelajaran efektif

2. Penetapan Kalender Pendidikan


16
a. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir
pada bulan Juni tahun berikutnya.
b. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya
keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi
penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.
c. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur
serentak untuk satuan-satuan pendidikan.
d. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-
masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana
tersebut pada dokumen Standar Isi dengan memperhatikan ketentuan dari
pemerintah/pemerintah daerah.

17
III. PENGEMBANGAN SILABUS

A. Pengertian Silabus
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian
kompetensi untuk penilaian.

B. Prinsip Pengembangan Silabus


1. Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus
harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi
dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual,
sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3. Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional
dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi
dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar,
dan sistem penilaian.
5. Memadai
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar,
dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi
dasar.
6. Aktual dan kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar,
dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi,
dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta
didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan
tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif,
afektif, dan psikomotor).

18
C. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

Langkah-langkah pengembangan silabus disajikan pada diagram alir


berikut ini:

Diagram alir penyusunan silabus mata pelajaran


Pengkajian

Standar Kompetensi lulusan (SKL


dan SKKNI) SMK/MAK

Standar kompetensi
kelompok mata pelajaran

Standar kompetensi
lulusan mata pelajaran

Standar Kompetensi dan


kompetensi dasar

Penyusunan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar

Indikator pencapaian kompetensi dasar

Analisis kedalaman Materi pokok Penilaian


dan keluasan materi

Pengalaman belajar

Alokasi waktu

Sumber belajar
Komponen silabus
19
Komponen-komponen pengembangan silabus mencakup unsur-unsur di
bawah ini,. Sistim penomoran yang ada bukan merupakan urutan
sedangkan urutan pengembangan silabus disajikan pada diagram alir di
atas.

1. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar


Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
sebagaimana tercantum pada standar isi, sesuai dengan tuntutan
kegiatan pembelajaran, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi;
b. keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran;
c. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata
pelajaran.

2. Mengidentifikasi materi pokok


Mengidentifikasi materi pokok yang menunjang pencapaian standar
kompetensi dan kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
a. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan
spiritual peserta didik ;
b. kebermanfaatan bagi peserta didik;
c. struktur keilmuan;
d. kedalaman dan keluasan materi;
e. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan;
f. alokasi waktu.

3. Mengembangkan pengalaman belajar


Pengalaman belajar merupakan kegiatan mental dan fisik yang
dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar,
melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan
peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang
perlu dikuasai peserta didik. Rumusan pengalaman belajar juga
mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik.

4. Merumuskan indikator keberhasilan belajar


Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang
menunjukkan tanda-tanda, perbuatan, dan/atau respon yang
dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik.

20
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan
pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik dan dirumuskan dalam
kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5. Penentuan jenis penilaian


Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan
berdasarkan indikator-indikator yang memuat satu ranah atau lebih.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam
bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian
hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan
penilaian diri dll.

6. Menentukan alokasi waktu


Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan
pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per
minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar,
keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan
kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus
merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk
menguasai kompetensi dasar.

7. Menentukan sumber belajar


Sumber belajar adalah rujukan, objek, dan/atau bahan yang
digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa
media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam,
sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan
kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan
indikator pencapaian kompetensi.

D. Unit Waktu Silabus


1. Silabus mata pelajaran:
• Disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan
untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di
tingkat satuan pendidikan.
• Penyusunan silabus dilaksanakan bersama-sama oleh guru yang
mengajarkan mata pelajaran yang sama pada tingkat satuan
pendidikan untuk satu sekolah atau kelompok sekolah, dengan
tetap memperhatikan karakteristik masing-masing sekolah.

21
2. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan:
• Penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar untuk kelompok normatif dan adaptif dengan
alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum .
• Penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi pada mata
pelajaran kejuruan (kelompok produktif).

E. Pengembangan Silabus Berkelanjutan


Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-
masing guru.
Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan
memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses
(pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi rencana pembelajaran.

22
IV. PELAKSANAAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN

A. Analisis Konteks
1. Analisis potensi dan kekuatan/kelemahan yang ada di sekolah:
peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, sarana prasarana,
biaya, program-program yang ada di sekolah.
2. Analisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan
lingkungan sekitar: komite sekolah, dewan pendidikan, dinas
pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri, dan dunia kerja, sumber
daya alam dan sosial budaya.
3. Mengidentifikasi standar isi dan standar kompetensi lulusan sebagai
acuan dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

B. Mekanisme Penyusunan
1. Tim penyusun
Kurikulum SMK/MAK dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh
sekolah/madrasah dan komite sekolah/komite madrasah di bawah
koordinasi dan supervisi dinas pendidikan provinsi atau departemen
yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama.
23
Tim penyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan SMK/MAK terdiri
atas:
• Guru,
• Konselor,
• Kepala sekolah,
• Komite sekolah, dan
• Nara sumber
Kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota.
Dinas pendidikan provinsi dan departemen yang menangani urusan
pemerintahan di bidang agama yang bertanggung jawab di bidang
pendidikan bertindak sebagai koordinator dan supervisor.
Guru, konselor, komite sekolah dan nara sumber bertindak sebagai
anggota tim penyusun kurikulum SMK/MAK.

2. Kegiatan
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan merupakan bagian
dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. Kegiatan ini dapat
berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau
kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka
waktu sebelum tahun pembelajaran baru.
Tahap kegiatan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan
secara garis besar meliputi:
• Penyiapan dan penyusunan draf,
• Reviu dan revisi,
• Finalisasi.
Langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatan diatur dan
diselenggarakan oleh tim penyusun.

3. Pemberlakuan
Dokumen KTSP SMK dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah serta
diketahui oleh komite sekolah dan dinas kabupaten/kota/provinsi yang
bertanggung jawab di bidang pendidikan.
Dokumen KTSP MAK dinyatakan berlaku oleh kepala madrasah serta
diketahui oleh komite madrasah dan oleh departemen yang
menangani urusan pemerintahan di bidang agama.

24
GLOSARIUM
1. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem
pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Badan Standar Nasional Pendidikan yang disingkat BSNP adalah badan
mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, mamantau
pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.
3. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang
dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan
kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus
dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
4. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.
5. Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang ditetapkan
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan
kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan
pendidikan.
6. Keunggulan lokal adalah potensi unggulan daerah dal;am bentuk
sumberdaya alam, seni, budaya, produk, jasa, kerajinan, bahasa dan lain-
lain.
7. Keunggulan global adalah kompetensi yang dapat digunakan pada tingkat
internasional.
8. Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang
disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
9. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan tertentu.
10. Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara
konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan
yang dimiliki oleh peserta didik.
11. Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan; Standar Kompetensi
Lulusan meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau seluruh
kelompok mata pelajaran.
12. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran adalah kualifikasi
kemampuan minimal peserta didik pada setiap kelompok mata pelajaran
yang mencakup kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia,
kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi,
estetika dan jasmani, olahraga dan kesehatan.
13. Standar Kompetensi Mata Pelajaran adalah kualifikasi kemampuan minimal
peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan

25
keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan/atau
semester untuk mata pelajaran tertentu.
14. Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan
yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan/atau semester; standar
kompetensi terdiri atas sejumlah kompetensi dasar sebagai acuan baku
yang harus dicapai dan berlaku secara nasional.
15. Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang memberikan
kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual dan
kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri.
16. Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki
peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk
menyusun indikator kompetensi.
17. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan
oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem
tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur
untuk mencapai standar kompetensi lulusan serta kemampuan lainnya
dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.
18. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses
interaksi antara peserta didik, materi pembelajaran, pendidik dan
lingkungan.
19. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa
pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh
pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi dan atau
kemampuan lainnya pada kegiatan tatap muka. Waktu penyelesaian
penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Penugasan terstruktur
termasuk kegiatan perbaikan, pengayaan, dan percepatan
20. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang
berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain
oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi mata
pelajaran atau lintas mata pelajaran atau kemampuan lainnya yang waktu
penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.
21. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang
peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan
beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan
struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan yang dimaksud.
22. Sistem Kredit Semester (SKS) adalah sistem penyelenggaraan program
pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan
matapelajaran-matapelajaran yang diikutinya setiap semester pada satuan
pendidikan yang dimaksud.

23. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan


pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan
26
mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu
pembelajaran efektif dan hari libur.
24. Permulaan tahun ajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran
pada awal tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan.
25. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk
setiap tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan.
26. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu,
meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk
muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
27. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu
libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir
tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum (termasuk hari-hari
besar nasional), dan hari libur khusus.
28. Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang
harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan
pembelajaran. Susunan mata pelajaran tersebut terbagi dalam lima
kelompok yaitu kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
kewarganegaraan dan kepribadian; ilmu pengetahuan dan teknologi,
estetika; jasmani, olahraga dan kesehatan.

27