Anda di halaman 1dari 4

INDEKS DERAJAT KEPAHITAN Bagian Tengah dari permukaan atas lidah

Digunakan secara terapetik, penambah nafsu makan. Dikarenakan rasa pahit yg merangsang sekresi
senyawa di saluran pencernaan pd asam lambung.
Tingginya Indeks kepahitan memperlihatkan kandungan senyawa pada simplisia
Angka kepahitan digunakan perbandingan konsentrasi ambang pahit sampel dgn kinin HCl
Angka kepahitan dinyatakan dlm satuan unit ekivalen terhdp nilai kepahitan dr larutan yg
mengandung 1 gr KININ HIDROKSIDA dlm 2000 mL air.
Konsentrasi ambang pahit :konsentrasi terendah dimana suatu bahan terus memancing sensasi pahit
setelah 30 second
Kaitan antara indeks kepahitan dengan mutu dari suatu simplisia adalah semangkin tinggi indeks
kepahitan maka semangkin tinggi kualitas suatu simplisia. Karena Bahwa rasa pahit itu sendiri
kemungkinan besar berkontribusi terhadap aktivitas farmakologis yang diinginkan dapat mengatasi
berbagai permasalahan kesehatan untuk membantu fungsi pencernaan dan meningkatkan nafsu
makan. Secara fitokimia, struktur kimia zat pahit sangat bervariasi, antara lain senyawa seskuiterpen
absthintin (Artemisia absinthium Vault), glikosida seko-iridoid amarogentin dari akar gentian
(Gentiana luteaL.), alkaloid kuinin dari kulit batang kina (Cinchona ledgeriana Moens), dan
flavonoid jeruk (naringin dan neohesperidin) dll. Akan tetati Tentunya tidak semua herba yang berasa
pahit memiliki efek meningkatkan nafsu makan atau memperbaiki fungsi pencernaan, tetapi banyak
juga senyawa pahit yang bersifat toksis seperti strychnin dari Strychnos nux vomica L.
Kinin HCl dijadikan sbg standar indeks kepahitan karena senyawa pahit dari kinin HCl dapat
terdeteksi dengan dalam ambang yang sangat rendahpun.
























1. Prinsip dari iodi/iodometri adalah reaksi reduksi oksidasi. Reaksi-reaksi yang terjadi meliputi perubahan
bilangan oksidasi atau perpindahan elektron-elektron dari zat-zat yang bereaksi.
1. Iodimetri adalah penyelidikan untuk mengetahui kadar suatu zat dengan menggunakan larutan standar
iodium,
2. iodometri adalah titrasi terhadap iodium yang dibebaskan dari suatu reaksi kimia.
2. Iodimetri/langsung
Oksidator lemah
Iodium digunakan mengoksidasi reduktor yg dpt dioksidasi secara kuantitatif pd titik Ekivalensi
Ex persamaan reaksi : Tiosulfat


Iodometri/tidak langsung
Oksidator kuat
Analisa oksidator direaksi dgn ion halide berlebih dlm suasana asam tujuan untuk bereaksi dengan
iodium. Dan mentitrasi dengan natrium tiosulfat/asam aesient sehingga iodium yg di bebaskan.
Ex persamaan reaksi : Dikromat


Tembaga (II)

()


3. Erlenmeyer
Kalium Bikromat/ Kalium dikromat + Lar. Kanji + Asam Klorida


Buret
Natrium tiosulfat + Kalium Iodida


4. Penentuan kadar Cu
2+

Larutan Cu
2+
+ Kalium Iodida + Tiosulfat


Larutan Fe
3+
+ Kalium Iodida + Tiosulfat



5. Indicator yg digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi
Kloroform, Karbon Tetraklorida, Kanji

6. Karena amilum terdispersi berupa koloid sehingga apabila direaksikan amilum dengan adanya iodin (I
2
)
dengan ion iodide (I
-
) akan menghasilkan warna biru intensif yg digunakan mendeteksi TAT. Reaksi iodin
dengan ion iodide membentuk kompleks Triiodida


7. BE Na
2
S
2
O
3
. 5H
2
O = 1


8. CuSO
4

Cu
2+
= N x 63,57gr/L
9. Kesalahan
Adanya CO
2
dalam H
2
O yg digunakan untuk membuat larutan satandar dan juga CO
2
dr udara sehingga
terjadi pengendapan dari S
-
sehingga konsentrasi turun




Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi iodometri adalah sebagai berikut:
1. Larutan Na
2
S
2
O
3
yang digunakan harus netral. Kestabilan larutan natrium tiosulfat mudah dipengaruhi oleh pH
rendah, sinar matahari, dan adanya bakteri yang memanfaatkan sulfur. Pada pH yang rendah, kestabilan larutan
natrium tiosulfat akan terganggu sebab S
2
O
3
2-
akan mengalami penguraian. Reaksi penguraian pada S
2
O
3
2-

berjalan lambat, maka kesalahan pada waktu titrasi tidak perlu dikhawatirkan meskipun larutan yang ditirasi
bersifat cukup asam, asal titrasi dilakukan dengan penambahan titran yang tidak terlalu cepat. Ketidakstabilan
natrium tiosulfat juga dipengaruhi oleh aktivitas bakteri yang mneyebabkan terjadinya perubahan S
2
O
3
2-
mnejadi
SO
3-
, SO
4-
, dan S. Untuk menghindari ketidakstabilan natrium tiosulfat maka pada saat melarutkannya digunakan
larutan Na
2
CO
3
.
2. Penambahan KI dilakukan di awal titrasi. Jumlah KI yang ditambahkan harus berlebih agar semua analit
tereduksi, dengan demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodide tidak akan mengganggu jalannya titrasi
redoks, tetapi jika titrasi tidak dilakukan dengan segera maka I
-
dapat teroksidasi oleh udara menjadi I
2
. Titrasi
harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisir terjadinya oksidasi iodide oleh udara bebas yang
menyebabakan titrasi menjadi tidak kuantitatif.
3. Pada awal titrasi setelah penambahan KI, titran dikucurkan dengan cepat dan labu Erlenmeyer digoyang dengan
perlahan untuk meminimalisir luas permukaan.
4. Penambahan amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi, dimana hal ini ditandai dengan warna
larutan menjadi kuning muda/kuning jerami yang semula adalah coklat tua akibat terdapatnya I
2
dalam jumlah
banyak. Jika amilum ditambahkan di awal titrasi, kompleks amilum-I
2
terdisosiasi sangat lambat mengakibatkan
banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum sehingga larutan akan terus berwarna ungu kehitaman. Selain itu
iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga penambahan amilum yang dilakukan di akhir titrasi akan
menghindarkan terjadinya hidrolisis amilum.
5. Setelah penambahan amilum, titran dikucurkan sedikit demi sedikit dan labu Erlenmeyer digoyang dengan cepat.
Bertujuan untuk melepaskan ikatan antara amilum dan I
2
.
6. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat
pada area tertentu, penumpukan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat
sehingga menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya belerang dan larutan
menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S).
7. Adanya CO
2
dalam air yang digunakan untuk membuat larutan satandar dan juga karbon dioksida dari udara
sehingga terjadi pengendapan dari sulfur. Kekeruhan terjadi akibat endapan dari belerang, tetapi reaksi ini lebih
lambat dari pada reaksi S
2
O
3
2-
denga iodium, sehingga titrasi masih dapat dilakukan dalam suasana asam

Pada titrasi iodometri terdapat banyak kesalahan pada saat titik akhir tercapai dan penentuan kadar yang didapat
menjadi tidak tepat. Hal ini dikarenakan :
1. Kurangnya ketelitian penitrasi
2. Sifat I
2
yang mudah menguap, sehingga sangat tidak stabil
3. Penambahan KI yang tidak tepat (seharusnya jumlah KI harus ekivalen dengan sampel K
2
Cr
2
O
7
)
4. Pada saat pengenceran sampel, sampel sangat encer sehingga sulit untuk menentukan titik akhir
5. Suhu kamar
6. pH

Anda mungkin juga menyukai