Anda di halaman 1dari 13

Makalah Kristalografi Mineral

SISTEM KRISTAL


OLEH :
Kelompok I
YAKMUR (F1B1 10 009)
RIRIN PASI (F1B1 10 010)


PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA
JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Batuan adalah kumpulan satu atau lebih mineral, yang dimaksud dengan
mineral sendiri adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah yang
memiliki komposisi kimia tertentu dan struktur Kristal yang beraturan.
Bidang keilmuan yang mempelajari mengenai Kristal adalah Kristalografi.
Dahulu, Kristalografi merupakan bagian dari Mineralogi. Tetapi karena bentuk-
bentuk kristal cukup rumit, maka pada akhir abad XIX, Kristalografi
dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan tersendiri.
Kristalografi merupakan ilmu pengetahuan Kristal yang dikembangkan
untuk mempelajari pembentukan Kristal, perkembangan dan pertumbuhan Kristal,
termasuk bentuk, sifat-sifat dan sistem kristal.
Pemahaman mengenai hal-hal tersebut di atas, merupakan kunci untuk
mempelajari Mineral-mineral yang juga merupakan bahan utama penyusun
Batuan.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang dari makahah ini, maka dapat dirumuskan
beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pembentukan Kristal?
2. Bagaiman Sistem Suatu Kristal?
3. Bagaimana Sifat Suatu Kristal

1.3.Tujuan
Berdasarkan Rumusan Masalah, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
sebagai berukut:
1. Untuk mengetahui proses pembentukan Kristal
2. Untuk mengetahui sistem suatu Kristal
3. Untuk mengetahui sifat suatu Kristal
1.4.Manfaat
Setelah mempelajari makalah ini, diharapkan dapat menambah
pengetahuan mengenai sistem kristal, mulai dari proses pembentukannnya, sistem
serta sifatnya.



























BAB II
PEMBAHASAN

Kata kristal berasal dari bahasa Yunani, Crystallon yang berarti
tetesan yang dingin atau beku. Menurut pengertian kompilasi yang diambil untuk
menyeragamkan pendapat para ahli, maka kristal adalah bahan padat homogen,
biasanya anisotrop dan tembus cahaya serta mengikuti hukum-hukum ilmu pasti
sehingga susunan bidang-bidangnya memenuhi hukum geometri; jumlah dan
kedudukan bidang kristalnya selalu tertentu dan teratur. Kristal-kristal tersebut
selalu dibatasi oleh beberapa bidang datar yang jumlah dan kedudukannya
tertentu. Keteraturannya tercermin dalam pembentukan kristal yang berupa
bidang-bidang datar dan rata yang mengikuti pola-pola tertentu. Bidang-bidang ini
disebut sebagai muka kristal. Sudut antara bidang-bidang muka kristal yang saling
berpotongan besarnya selalu tetap pada suatu kristal.
Bila ditinjau lebih dalam mengenai pengertian kristal, mengandung
pengertian sebagai berikut:
1. Bahan padat homogen, biasanya anisotrop dan tembus cahaya:
Tidak termasuk di dalamnya cair dan gas
Tidak dapat diuraikan kesenyawa lain yang lebih sederhana oleh proses
fisika
Terbentuknya oleh proses alam
2. Mengikuti hukum-hukum ilmu pasti sehingga susunan bidang-bidangnya
mengikuti hukum geometri:
Jumlah bidang suatu kristal selalu tetap
Macam atau model bentuk dari suatu bidang kristal selalu tetap
Sifat keteraturannya tercermin pada bentuk luar dan kristal yang tetap
Apabila unsur penyusunnya tersusun secara tidak teratur dan tidak mengikuti
hukum-hukum diatas, atau susunan kimianya teratur tetatpi tidak dibentuk oleh
proses alam (dibentuk secara laboratorium), maka zat atau bahan tersebut bukan
disebut sebagai kristal.

2.1. Proses Pembentukan Kristal
Kristal terbentuk dari komposisi atom-atom, ion-ion atau molekul-molekul
zat padat yang memiliki susunan berulang dan jarak yang teratur dalam tiga
dimensi. Pada hubungan lokal yang teratur, suatu kristal harus memiliki rentang
yang panjang pada koordinasi atom-atom atau ion dalam poli tiga dimensi
sehingga menghasilkan rentang yang panjang sebagai karakteristik dari bentuk
kristal tersebut.
Ditinjau dari struktur atom penyusunnya, bahan padat dibedakan menjadi
tiga yaitu kristal tunggal (monocrystal), polikristal (polycrystal), dan amorf. Pada
krsital tunggal, atom atau penyusunnya mempunyai struktur tetap karena atom-
atom atau molekul-molekul penyusunnya tersusun secara teratur dalam poli tiga
dimensi dan pola-pola ini berulang secara periodic dalam rentang yang panjang
tak berhingga. Polikristal dapat didefenisikan sebagai kumpulan dari kristal-kristal
tunggal yang memiliki ukuran sangat kecil dan saling menumpuk dan membentuk
benda padat.
Struktur amorf mempunyai pola hampir sama dengan kristal, akan tetapi
susunan atom-atom, ion-ion atau molekul-molekul yang dimiliki tidak teratur
dengan jangka yang pendek. Amorf terbentuk karena proses pendinginan yang
terlalu cepat sehingga atom-atom tidak dapat dengan tepat menempati lokasi
kisinya. Bahan seperti gelas, nonkristalin, ataupun vitrus memiliki struktur yang
identik dengan amorf.

Gambar 1. (a).Susunan atom kristal, (b) Susunan atom amorf

Pada Kristal, ada beberapa tahapan dalam pembentukan kristal. Proses
yang dialami oleh suatu kristal akan mempengaruhi sifat-sifat dari kristal tersebut.
Proses ini juga bergantung pada bahan dasar serta kondisi lingkungan tempat
dimana kristal tersebut terbentuk.
Berikut ini adalah fase-fase pembentukan kristal yang umumnya terjadi pada
pembentukan kristal:
a. Fase cair ke padat: Kristalisasi suatu lelehan atau cairan sering terjadi pada
skala luas dibawah kondisi alam maupun industri. Pada fase ini cairan atau
lelehan dasar pembentuk kristal akan membeku atau memadat dan membentuk
kristal. Biasanya dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan.
b. Fase gas ke padat (sublimasi): kristal dibentuk langsung dari uap tanpa
melalui fase cair. Bentuk kristal biasanya berukuran kecil dan kadang-kadang
berbentuk rangka (skeletal form). Pada fase ini, kristal yang terbentuk adalah
hasil sublimasi gas-gas yang memadat karena perubahan lingkungan.
Umumnya gas-gas tersebut adalah hasil dar aktivitas vulkanis atau dari
gunung api dan membeku karena perubahan temperatur
c. Fase padat ke padat: proses ini dapat terjadi pada agregat kristal dibawah
pengaruh tekanan dan temperatur (deformasi). Yang berubah adalah struktur
kristalnya, sedangkan susunan unsur kimia tetap (rekristalisasi). Fase ini
hanya mengubah kristal yang sudah terbentuk selamanya karena tekanan dan
temperatur yang berubah secara signifikan. Sehingga kristal tersebut akan
berubah bentuk dan unsur-unsur fisiknya. Namun, komposisi dan unsur
kimianya tidak berubah karena tidak adanya faktor lain yang terlibat kecuali
tekanan dan temperatur.







2.2. Sistem Kristal
Dalam mempelajari dan mengenal bentuk kristal secara mendetail, perlu
diadakan pengelompokkan yang sistematis. Pengelompokkan ini didasarkan pada
perbandingan panjang, letak (posisi) dan jumlah serta nilai sumbu tegaknya.
Sistem kristal dapat dibagi ke dalam tujuh sistem kristal. Adapun ke tujuh
sistem kristal tersebut adalah Kubus, Tetragonal, Ortorombik, Heksagonal,
Trigonal, Monoklin, dan Triklin
2.2.1. Sistem Kristal Kubus (Isometrik)
Sistem kristal kubus memiliki panjang rusuk yang sama (a=b=c) serta
memiliki sudut (==) sebesar 90
0
. Sistem kristal kubus ini dapat dibagi ke
dalam tiga bentuk yaitu kubus sederhana (Simple Cubic/SC), kubus berpusat
badan (body-centered cubic/BCC) dan kubus berpusat muka (Face-centered
cubic/FCC).
Berikut bentuk dari ketiga jenis kubus tersebut:
Kubus Sederhana
Pada bentuk kubus sederhana, masing-masing satu atom pada semua sudut
(pojok) kubus
Pada bentuk kubus BCC, masing-masing terdapat satu atom pada semua pojok
kubus, dan terdapat satu atom pada pusat kubus (yang ditunjukkan dengan
atom waran biru).
Pada Kubus FCC, selain terdapat masing-masing satu atom pada semua pojok
kubus, juga terdapat atom pada diagonal dari masing-masing sisi kubus (yang
ditunjukkan dengan atom warna merah).

Gambar 2. Sistem Kristal Kubus
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Isometrik ini adalah Gold, Pyrite,
Galena, Halite, Flourite.
2.2.2. Sistem Kristal Tetragonal
Pada sistem tetragonal, dua rusuknya yang memiliki panjang sama (a=bc)
dan semua sudut (==) sebesar 90
0
. Pada sistem kristal ini hanya memiliki dua
bentuk yaitu sederhana dan berpusat badan.
Pada bentuk tetragonal sederhana, mirip dengan kubus sederhana, dimana masing-
masing terdapat satu atom pada semua sudut (pojok) tetragonalnya.
Sedangkan pada tetragonal berpusat badan, mirip pula dengan kubus berpusat
badan, yaitu memiliki 1 atom pada pusat tetragonal (ditunjukkan pada atom warna
biru), dan atom lainnya berada pada pojok (sudut) tetragonal tersebut.

Gambar 3. Sistem Kristal Tetragonal
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal tetragonal adalah Rutil, Autunite,
Scapolite.
2.2.3. Sistem Kristal Ortorombik
Sistem kristal ortorombik terdiri atas 4 bentuk, yaitu: ortorombik
sederhana, body center (berpusat badan) (yang ditunjukkan atom dengan warna
merah), berpusat muka (yang ditunjukkan atom dengan warna biru), dan berpusat
muka pada dua sisi ortorombik (yang ditunjukkan atom dengan warna hijau).
Panjang rusuk dari sistem kristal ortorombik ini berbeda-beda (abc), dan
memiliki sudut yang sama (==) yaitu sebesar 90
0
.

Gambar 4. Sistem Kristal Ortorombik
Beberapa contoh mineral dari sistem ini adalah Stibnite, Aragonite dan Witherite.
2.2.4. Sistem kristal Monoklin
Sistem kristal monoklin terdiri atas dua bentuk, yaitu: monoklin sederhana
dan berpusat muka pada dua sisi monoklin (yang ditunjukkan atom dengan warna
hijau). Sistem kristal monoklin ini memiliki panjang rusuk yang berbeda-beda
(abc), serta sudut = = 90
0
dan 90
0
.

Gambar 5. Sistem Kristal Monoklin
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Monoklin ini adalah azurite,
malachite, colemanite, gypsum, dan epidot.


2.2.5. Sistem kristal triklin
Pada sistem kristal triklin, hanya terdapat satu orientasi. Sistem kristal ini
memiliki panjang rusuk yang berbeda (abc), serta memiliki besar sudut yang
berbeda-beda pula 90
0
.

Gambar 6. Sistem Kristal Triklin
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal triklin adalah albite, anorthite,
labradorite, microcline, dan anortoclase.
2.2.6. Sistem Kristal rombohedral atau trigonal
Pada sistem kristal ini, panjang rusuk memiliki ukuran yang sama (a=bc).
sedangkan sudut-sudutnya adalah = = 90
0
dan = 120
0
.

Gambar 7. Sistem Kristal Trigonal
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal trigonal adalah Tourmaline, dan
Cinabaur.
2.2.7. Sistem kristal heksagonal
Pada sistem kristal ini, sesuai dengan namanya heksagonal (heksa =
enam), maka sistem ini memiliki sisi yang sama. Sistem kristal ini memiliki dua
nilai sudut yaitu 90
0
dan 120
0
( = = 90
0
dan = 120
0
), sedangkan panjang
rusuk-rusuknya adalah a = b c, semua atom berada pada sudut-sudut (pojok)
heksagonal dan terdapat masing-masing atom berpusat muka pada dua sisi
heksagonal (yang ditunjukkan atom dengan warna hijau).

Gambar 8. Sistem Kristal Heksagonal
Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Heksagonal adalah Quartz,
Corundum, Hematite, Calcite, Dolomite, Apatite.

2.3. Sifat Kristal
Kristal mempunyai sifat dasar yang diutarakan oleh Steno yaitu dua
bidang muka kristal yang berimpit selalu membentuk sudut yang besarnya tetap
pada suatu kristal. Hukum ini kemudian dikenal dengan Hukum Ketetapan Sudut
bidang dua atau Hukum Steno.
Bidang muka kristal adalah bidang-bidang datar yang membentuk permukaan
kristal. Masing-masing akan mempunyai letak dan arah bidang muka kristal
tertentu dan berbeda-beda.


BAB III
KESIMPULAN

Sebagai penutup dari makalah ini, disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Kristal terbentuk dari komposisi atom-atom, ion-ion atau molekul-molekul
zat padat yang memiliki susunan berulang dan jarak yang teratur dalam
tiga dimensi. Tahapan proses pembentukan kristal akan mempengaruhi
sifat-sifat dan sistem krital yang terbentuk.
2. Sistem kristal dapat dibagi ke dalam tujuh sistem kristal. Adapun ke tujuh
sistem kristal tersebut adalah Kubus, Tetragonal, Ortorombik, Heksagonal,
Trigonal, Monoklin, dan Triklin. Pembagian sifat kristal didasarkan pada
perbandingan panjang, letak (posisi) dan jumlah serta nilai sumbu
tegaknya.
3. Sifat kristal sangat tergantung pada Sistem (susunan atom-atomnya). Besar
kecilnya kristal tidak mempengaruhi, yang penting bentuk dibatasi oleh
bidang-bidang Kristal.














DAFTAR PUSTAKA
http://furqanwera.blogspot.com/2012/12/tujuh-sistem-kristal-beserta-gambar-
dan.html
http:geoenviron.blogspot.com/2012/02/kristalografi-sistem-kristal.html