Anda di halaman 1dari 9

Kanggaroo Mother Care (KMC) atau Perawatan Metode Kangguru (PMK)

KMC adalah kontak kulit di antara ibu dan bayi secara dini. Terus menerus
dan dikombinasi dengan pemberian ASI eksklusif. Tujuannya adalah agar bayi
kecil tetap hangat. Dapat dimulai segera setelah lahir atau setelah bayi stabil.
KMC dapat dilakukan di rumah sakit atau di rumah setelah bayi pulang. Bayi
tetap dapatdirawat dengan KMC meskipun belum dapat menyusu, berikan ASI
peras dengan menggunakan salah satu alternative pemberian minum.
Metode Kanguru adalah suatu metode perawatan BBLR yang diilhami oleh
cara seekor kanguru merawat anaknya yang selalu lahir prematur. Bayi dalam
posisi tegak (upright) atau prone (bila ibu berbaring), hanya memakai popok dan
penutup kepala, didekap di antara kedua payudara ibu, bersentuhan kulit dengan
kulit, dada dengan dada secara berkesinambungan.


Gambar 1: Cara perawatan metode kanguru dan berbagai posisi
dalam kegiatan sehari-hari. Dikutip dari Alisjahbana dkk., 1998

A. Durasi
1. Dijalankan sampai berat badan bayi 2500 gram atau mendekati 40 minggu
atau sampai kurang nyaman dengan KMC, misalnya:
a. Sering bergerak
b. Gerakan ekstrimitas berlebihan
c. Bila akan dilakukan KMC lagi bayi nangis
2. Bila ibu perlu istirahat, dapat digantikan ayah, saudara atau petugas
kesehatan. Bila tidak ada yang menggantikan, bayi diberi pakaian hangat
dan topi, dan diletakkan di boks bayi dalam ruangan yang hangat.
3. Bila bayi sudah kurang nyaman dengan KMC, anjurkan ibu untuk
menyapih bayi dari KMC dan dapat melakuka kontak kulit lagi pada
waktu bayi sehabis mandi, waktu malam yang dingin, atau kapan saja dia
menginginkan.
B. Pakaian dan posisi
1. Berilah bayi pakaian, topi, popok dan kaos kaki yang telah dihangatkan
lebih dulu.
2. Letakkan bayi di dada ibu
a. Dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu, dan lihat apakaj kepala
bayi sudah terfiksasi pada dada ibu
b. Posisikan bayi dalam frog position yaitu fleksi pada siku dan
tangkai, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak
ekstensi.
3. Tutupi bayi dengan pakaian ibu di tambah selimuti yang sudah
dihangatkan sebelumnya.
a. Tidak perlu baju khusus bila baju dikenakan sudah cukup hangat dan
nyaman selama bayi kontak kulit ibu.
b. Pada waktu uadar dingin, kamar harus hangat
c. Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi, dia dapat menggunakan
handuk atau kain (dilipat diagonal, dan difiksasi dengan ikatan atau
peniti yang aman di baju ibu), kain lebar yang elastic, atau kantong
yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi.
d. Dapat pula memakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu,
bayi diletakkan diantara payudara ibu, baju ditangkupkan. Kemudian
ibu memakai selendang yang dilitkan di perut ibu agar bayi tidak
jatuh.
C. Aktivitas ibu
1. Ibu dapat bebas bergerak walau berdiri, duduk, jalan, makan dan
mengobrol.
2. Pada waktu tidue, KMC dapat dilaksanakan dengan cara posisi ibu
setengah duduk (15 horizontal) atau dengan jalan meletakkan beberapa
bantal di belakang punggung ibu.
D. Nutrisi dan pertumbuhan bayi
1. Posisi KMC ideal untuk menyusui bayi
2. Ajari ibu cara menyusui dan pelekatan yang benar
3. Bila ibu cemas tentang pemberian minum pada bayi, dorong ibu agar
mampu melakukannya
4. Bila ibu tidak dapat menyusui, berilah ASI peras dengan menggunakan
salah satu alternative cara pemberian minum.
5. Pantau dan nilai jumlah ASI yang diberikan setiap hari. Bila ibu menyusi
catat waktu ibu menyusui bayinya.
6. Timbang berat badan bayi setiap hari dan nilai tingkatannya.
E. Pemantauan
1. Jelaskan pada ibu mengenai pola pernafasan dan warna bayi normal serta
kemungkinan variasinya yang masih dianggap normal. Mintalah pada ibu
waspada terhadap tanda yang tidak biasanya ditemui atau tidak normal.
2. Jelaskan pula KMC penting agar pernafasan bayi baik dan menguangi
resiko terjadinya apnea, disbanding bila bayi diletakkan dalam boks.
3. Ajari ibu cara menstimulasi bayi (mengelus dada atau punggung, atau
menyentil kaki bayi) bila bayi tampak biru di daerah lidah, bibir atau
sekitar mulut atau pernafasan berhenti lama.
a. Tidak perlu melakukan pemantuan suhu selama bayi kontak dengan
kulit ibu.
b. Bila suhu normal selama 3 hari berturut-turut, ukur suhu setiap 12
jam selama 2 hari kemudian hentikan pengukuran.
c. Bila suhu abnormal, lihat sub suhu tubuh abnormal
F. Memulangkan bayi
Butuh waktu beberapa hari-minggu sampai bayi siap dipulangkan,
tergantung berat lahir.
Ibu dan bayi dapat dipulangkan apabila bayi:
1. Tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit
2. Berat badan naik > 20 g/hari selama 3 hari berturut-turut
Beri dorongan bahwa ibu dapat merawat bayinya dan dapat melanjutkan
KMC di rumah, dan dapat kembali untuk melakukan kunjungan tindak
lanjut secara rutin.
G. Kunjungan tindak lanjut
1. Satu minggu setelah pulang, timbang bayi setiap hari bila memungkinkan
dan diskusikan setiap masalah yang ada dengan ibu. Beri dukungan pada
ibu
2. Pada minggu ke II lakukan kunjungan 2 kali per minggu sampai bayi
berumur 40 minggu konsepsi atau berat bayi 2500 gram. Timbang bayi
dan nasehati ibu untuk menghentikan KMC bila bayi mulai kurang
toleran (lihat di atas)
3. Bila sudah lepas KMC,lanjutkan kunjungan tindak lanjut tiap bulan
sampai bayi berumur beberapa bulan untuk memantau pemberian minum
dan tumbuh kembang bayi. `
H. Perawatan Metode Kanguru
1. Perhatikan keadaan umum dan suhu bayi
2. Pastikan tidak ada komplikasi dan tidak membutuhkan perawatan intensif.
3. Tempat perawatan metode kanguru dalam keadaan hangat (suhu ruangan
22o-24oC)
4. Jaga kebersihan ibu terutama area dada dan perut ibu dalam keadaan
hanggat.
5. Bayi dalam keadaan hangat, setiap bayi berkemih/defekasi harus segera
dibersihkan dan dikerinngkan.
6. Pstikan kancing dan ikat telah terpasang baik dan uat untuk mencegah bayi
tidak jatuh.
7. Perhatikan keamanan bayi pada saat berada dalam dekapan ibu.
8. Pastikan bai tetap bisa bernapas, kepala agak ekstensi dipalingkan ke kiri
dan ke kanan.
9. Cuci tangan sbelum dan sesudah melakukan tindakan.
I. Keuntungan menggunakan metode kanguru.
1. Peningkatan hubungan emosi ibu-bayi
Hubungan emosional ibu dengan bayi dimulai sejak kehamilan.
Ikatan emosional yang disebut attachment atau bonding ini merupakan
suatu proses hubungan bayi dengan orangtuanya. Kebutuhan bayi
terhadap orangtua bersifat absolut, tetapi kebutuhan orangtua terhadap
bayi bersifat relatif. Neonatus secara total sangat tergantung secara fisik
dan emosional kepada yang merawatnya. Bayi dengan kontak yang dini
dengan ibunya, lebih sedikit menangis, lebih sering tersenyum, dan lebih
banyak memanfaatkan ASI daripada bayi yang kontak dengan ibunya
terlambat atau tidak adekuat.
Tessier dkk melaporkan bahwa ibu-ibu yang menggunakan metode
kanguru merasa lebih percaya diri dalam merawat bayinya dibanding
kelompok kontrol, dan apabila bayinya bermasalah sehingga perlu dirawat
lebih lama di rumah sakit, perasaan khawatir akan keadaan anaknya lebih
besar daripada kelompok kontrol. Di samping itu metode kanguru juga
meningkatkan rasa kedekatan ibu dengan bayinya,mengurangi perasaan
stres pada ibu sebagaimana pada bayi, serta membuat ibu dan bayi lebih
tenang dan rileks. Semakin dini metode kanguru diterapkan hasilnya akan
semakin baik. Di Colombia, ibu dari bayi yang lahir prematur sering
menolak kehadiran bayinya karena dianggap tidak akan bertahan hidup.
Akibatnya banyak BKB 3g mati karena kurang diperhatikan dan terjadi
sindrom gagal tumbuh. Dengan diterapkannya metode kanguru penolakan
terhadap BKB menjadi berkurang dan sebaliknya ikatan emosi ibu-bayi
meningkat.
2. Stabilisasi suhu tubuh
Terdapat beberapa cara untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat
yaitu dengan metode kanguru, ruangan hangat, botol yang dihangatkan,
radiant warmer, tempat tidur berisi air yang dihangatkan, dan inkubator.
Metode kanguru tanpa biaya, kecuali. Suatu fenomena menarik tentang
pengaturan suhu tubuh ibu yang menggunakan metode kanguru
ditemukan oleh LudingtonHoe, dkk. Didapatkan bahwa suhu ibu akan
meningkat bila bayi mulai dingin dan bila bayi telah hangat maka suhu
ibu menurun kembali. Hal ini tanpa disadari oleh ibu tersebut. Mereka
menyebut fenomena ini sebagai maternal-neonatal thermal synchrony.
Christenson K dkk. melakukan penelitian terhadap 80 bayi yang berisiko
rendah terhadap hipotermia di RS Pendidikan di Lusaka, Zambia. Secara
acak bayi-bayi tersebut dibagi menjadi dua kelompok, kelompok I
mendapat perawatan metode kanguru (skin-to-skin / STS) dibandingkan
dengan kelompok II yang dirawat di inkubator dengan suhu 35C;
kemudian suhu rektal diukur secara berkala. Hasilnya pada menit ke-240
didapatkan bahwa 90% bayi kelompok I (metode kanguru) mencapai suhu
normal (36,5C), sedangkan pada kelompok II (inkubator) hanya 60%.22
Pada metode kanguru tidak terjadi proses kehilangan panas baik
melalui radiasi, konveksi, evaporasi, maupun konduksi.
3. Stabilisasi laju denyut jantung dan pernapasan
Ludington-Hoe dkk. dalam penelitiannya menggunakan alat monitor
kontinyu, menemukan bahwa selama perawatan menggunakan metode
kanguru laju denyut jantung bayi relatif stabil dan konstan sekitar 140-
160 kali per menit. Ketika bayi tidur saat perawatan metode kanguru,
denyut jantung menjadi Teratur.
4. Pengaruh terhadap berat badan dan pertumbuhan
Pertumbuhan secara keseluruhan bukan hanya berat badan, dapat
meningkat selama perawatan dengan metode kanguru. Hal ini terjadi
karena bayi dalam keadaan rileks, beristirahat dengan posisi yang
menyenangkan, mirip dengan posisi dalam rahim, sehingga kegelisahan
bayi berkurang dan tidur lebih lama. Pada keadaan demikian konsumsi
oksigen dan kalori berada pada tingkat paling rendah, sehingga kalori
yang ada digunakan untuk menaikkan berat badan. Selain itu peningkatan
berat badan juga disebabkan oleh produksi ASI yang meningkat dan
frekuensi menyusu yang lebih sering.
5. Pengaruh terhadap tingkah laku bayi
Pada bayi yang dirawat dengan metode kanguru, respons seperti
frekuensi jantung, pernafasan, warna kulit dan lain-lain tidak terjadi.
Apabila kita mengetuk punggung bayi perlahan-lahan atau membuat
keributan di dekatnya, reaksi bayi hanya berupa kerutan wajah serta
pergerakan jari tangan dan kaki yang berlangsung singkat. Selanjutnya
bayi melanjutkan tidurnya dengan tenang tanpa terbangun. Bahkan di
Colombia bayi dengan metode kanguru tidak semuanya menangis saat
diambil darahnya.Anderson dkk. meneliti kadar kortisol saliva pada bayi
yang dipisahkan dari ibunya dibandingkan dengan yang dirawat sendiri
oleh ibunya. Secara teoritis kadar kortisol akan meningkat pada saat stres.
Dilaporkan bahwa kadar kortisol saliva meningkat bermakna pada bayi
yang dirawat terpisah dari ibunya.Pada perawatan metode kanguru bayi
tidur dua kali lebih sering, serta lebih lama dan dalam. Hal ini penting
agar bayi dapat waspada (alert), sehingga bayi dapat melakukan kontak
mata dengan ibunya dan memper-kuat ikatan ibu-bayi. Masa waspada
bayi berlangsung lebih lama saat perawatan metode kanguru daripada
bayi yang dirawat terpisah dari ibu.
6. Peningkatan produksi air susu ibu
Air Susu Ibu pada kelompok metode kanguru jumlahnya lebih
banyak secara bermakna dibanding kelompok kontrol. Peningkatan
produksi ASI dapat terjadi dengan menguatnya ikatan emosi ibu-bayi
sehingga terjadi letdown refleks yang penting bagi pengeluaran ASI. Di
samping itu, stres yang biasa terjadi pada ibu-ibu yang bayinya dirawat di
rumah sakit akan berkurang bila ibu diberi kesempatan mendekap bayinya
dalam metode kanguru, hal ini berpengaruh positif terhadap produksi ASI.
7. Pengaruh terhadap kejadian infeksi
Tidak satu pun laporan tentang penggunaan metode kanguru yang
menyatakan adanya peningkatan kejadian sepsis.
8. Berkurangnya hari rawat di Rumah Sakit
Dengan diterapkannya metode kanguru hari rawat di rumah sakit
menjadi jauh berkurang, meskipun jumlah kunjungan untuk kontrol
meningkat. Hal ini menyebabkan penghematan biaya perawatan,
berkurangnya beban perawat di rumah sakit serta menurunnya kejadian
infeksi nosokomial.


























DAFTAR PUSTAKA

Sudarti dkk. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Anak
Balita.Yogyakarta: Nuha Medika
Wahyuni, Sari. 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita; Penuntun Belajar
Praktik Klinik. Jakarta: EGC
Pediatri, Sari. 2010. Metode Kanguru Sebagai Pengganti Inkubator untuk BBLR.
Online. http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/2-1-5.pdf Diunduh pada Jumat, 7
Maret 2014 pukul 10.00 Wita.