Anda di halaman 1dari 11

Nama: Sri Laras Setiasih

Kelas: X.1 Kimia Analisis



Potensial Elektroda standar

Potensial elektroda tidak dapat diukur. Yang dapat diukur adalag beda potensial dari
kedua elektroda (dalam suatu sel).Untuk itu perlu suatu elektroda yang potensialnya diketahui
dan ini tidak ada. Oleh karena itu dipilih elektroda hidrogen standar sebagai pembanding, dengan
konvensi bahwa elektroda ini mempunyai potensial sama dengan nol.
Untuk mengetahui potensial dari suatu elektroda, maka disusun suatu sel yang terdiri dari
elektroda tersebut dipasangkan dengan elektroda hidrogen standar (Standard Hydrogen
Electrode). Potensial suatu elektroda C didefinisikan sebagai potensial sel yang dibentuk dari
elektroda tersebut dengan elektroda hidrogen standar, dengan elektroda C selalu bertindak
sebagai katoda. Sebagai contoh potensial elektroda Cu
2+
/Cu adalah untuk sel :



Karena pada adalah nol, maka :



Jika diperoleh E
sel
untuk sel diatas adalah 0,337 V, jadi . Nilai
potensial elektroda bukan nilai mutlak, melainkan relatif terhadap elektroda hidrogen. Karena
potensial elektroda dari elektroda C didefinisikan dengan menggunakan sel dengan
elektroda C bertindak sebagai katoda (ada di sebelah kanan pada notasi sel), maka potensial
elektroda standar dari elektroda C sesuai dengan reaksi reduksi yang terjadi pada elektroda
tersebut. Oleh karena itu semua potensial elektroda standar adalahpotensial reduksi.

Dari definisi ,

Kanan dan kiri disini hanya berhubungan dengan notasi sel, tidak berhubungan dengan
susunan fisik sel tersebut di laboratorium.
Jadi yang diukur di laboratorium dengan potensiometer adalah emf dari sel sebagai volta
atau sel galvani, dengan emf > 0. Sebagai contoh untuk sel yang terdiri dari elektroda seng dan
elektroda hidrogen dari pengukuran diketahui bahwa elektron mengalir dari seng melalui
rangkaian luar ke elektroda hidrogen dengan emf sel sebesar 0,762 V.




Jika potensial elektroda berharga positif, artinya elektroda tersebut lebih mudah
mengalami reduksi daripada H
+
, dan jika potensial elektroda berharga negatif artinya elektroda
tersebut lebih sulit untuk mengalami reduksi dibandingkan denga H
+
.
Potensial elektroda seringkali disebut sebagai potensial elektroda tunggal, sebenarnya
kata ini tidak tepat karena kita tahu bahwa elektroda tunggal tidak dapat diukur.








Oleh karena potensial oksidasi merupakan kebalikan dari potensial reduksinya maka data
potensial elektrode suatu logam tidak perlu diketahui dua-duanya, melainkan salah satu saja.
Misalnya, data potensial reduksi atau data potensial oksidasi. Menurut perjanjian IUPAC,
potensial elektrode yang dijadikan sebagai standar adalah potensial reduksi. Dengan demikian,
semua data potensial elektrode standar (E) dinyatakan dalam bentuk potensial reduksi standar.
Potensial reduksi standar adalah potensial reduksi yang diukur pada keadaan standar,
yaitu konsentrasi larutan M (sistem larutan) atau tekanan atm (sel yang melibatkan gas) dan suhu
25 C.
Untuk mengukur potensial reduksi standar tidak mungkin hanya setengah sel (sel
tunggal) sebab tidak terjadi reaksi redoks. Oleh sebab itu, perlu dihubungkan dengan setengah
sel oksidasi. Nilai GGL sel (potensial sel) yang terukur dengan voltmeter merupakan selisih
kedua potensial sel yang dihubungkan (bukan nilai mutlak). Berapakah nilai pasti dari potensial
reduksi?
Oleh karena nilai GGL sel bukan nilai mutlak maka nilai potensial salah satu sel tidak diketahui
secara pasti. Jika salah satu elektrode dibuat tetap dan elektrode yang lain diubah-ubah, potensial
sel yang dihasilkan akan berbeda. Jadi, potensial sel suatu elektrode tidak akan diketahui secara
pasti, yang dapat ditentukan hanya nilai relatif potensial sel suatu elektrode.
Oleh karena itu, untuk menentukan potensial reduksi standar diperlukan potensial
elektrode rujukan sebagai acuan. Dalam hal ini, IUPAC telah menetapkan elektrode standar
sebagai rujukan adalah elektrode hidrogen, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Elektrode hidrogen ditetapkan sebagai elektrode standar.
Elektrode hidrogen pada keadaan standar, E, ditetapkan pada konsentrasi H
+
1 M dengan
tekanan gas H
2
1 atm pada 25 C. Nilai potensial elektrode standar ini ditetapkan sama dengan
nol volt atau E
o

H
+
H2
= 0,00 V. Potensial elektrode standar yang lain diukur dengan cara
dirangkaikan dengan potensial elektrode hidrogen pada keadaan standar, kemudian GGL selnya
diukur.
Oleh karena potensial elektrode hidrogen pada keadaan standar ditetapkan sama dengan
nol, potensial yang terukur oleh voltmeter dinyatakan sebagai potensial sel pasangannya.
Contoh Soal Menentukan Potensial Elektrode Standar :
Hitunglah potensial elektrode Cu yang dihubungkan dengan elektrode hidrogen pada
keadaan standar jika voltmeter menunjukkan nilai 0,34 volt.
Jawaban :
Sebelumnya pelajarilah terlebih dahulu materi potensial sel.
Persamaan setengah reaksi sel yang terjadi:
Katode : Cu
2+
(aq) + 2e

Cu(s)
Anode : H
2
(g) 2H
+
(aq)
Nilai GGL sel :
E
sel
= E
katode
E
anode

0,34 V = E
o
Cu
- E
o
H2

0,34 V = E
o
Cu
0,00 V E
o
Cu
= 0,34 V
Jadi, potensial reduksi standar untuk elektrode Cu adalah 0,34 volt.
Berdasarkan Contoh soal di atas, potensial elektroda yang lain untuk berbagai reaksi setengah sel
dapat diukur, hasilnya ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Potensial Reduksi Standar Beberapa Elektroda
Kopel (oks/red) Reaksi katoda (reduksi) E, Potensial
reduksi, volt
(elektroda
hidrogen standar =
0)
Li
+
/Li Li
+
+ e- D Li -3,04
K
+
/K K
+
+ e- D K -2,92
Ca
2+
/Ca Ca
2+
+ 2e- D Ca -2,87
Na
+
/Na Na
+
+ e- D Na -2,71
Mg
2+
/Mg Mg
2+
+ 2e- D Mg -2,37
Al
3+
/Al Al
3+
+ 3e- D Al -1,66
Zn
2+
/Zn Zn
2+
+ 2e
-
D Zn -0,76
Fe
2+
/Fe Fe
2+
+ 2e
-
D Fe -0,44
PbSO
4
/Pb PbSO
4
+ 2e
-
D Pb + 2SO
4
-0,36
Co
2+
/Co Co
2+
+ 2e
-
D Co -0,28
Ni
2+
/Ni Ni
2+
+ 2e- D Ni -0,25
Sn
2+
/Sn Sn
2+
+ 2e- D Sn -0,14
Pb
2+
/Pb Pb
2+
+ 2e- D Pb -0,13
D
+
/D
2
2D
+
+ 2e
-
D D
2
-0,003
H
+
/H
2
2H
+
+ 2e
-
D H
2
0,000
Sn
4+
/Sn
2+
Sn
4+
+ 2e- D Sn
2+
+0,15
Cu
2+
/Cu Cu
2+
+ 2e
-
DCu +0,34
I
2
/I
-
I
2
+ 2e
-
D 2I
-
+0,54
O
2
/H
2
O
2
O
2
+ 2H
+
+ 2e
-
D H
2
O
2
+0,68
Fe
3+
/Fe
2+
Fe
3+
+ e
-
D Fe
2+
+0,77
Hg
2

2+
/Hg Hg2 2+ + 2e- D 2Hg +0,79
Ag
+
/Ag Ag
+
+ e
-
D Ag +0,80
NO
3

-
/N
2
O
4
2NO
3

-
+ 4H
+
+ 2e
-
D N
2
O
4
+ 2H
2
O +0,80
NO
3

-
/NO NO3 -+ 4H+ + 3e- D NO + 2H2O +0,96
Br
2
/Br Br
2
+ 2e
-
D 2Br +1,07
O
2
/H
2
O O
2
+ 4H
+
+ 4e
-
D 2H
2
O +1,23
Cr
2
O
7

2-
/Cr
3+
Cr
2
O
7

2-
+ 14H
+
+ 6e
-
D 2Cr
3+
+ 7H
2
O +1,33
Cl
2
/Cl
-
Cl
2
+ 2e- D 2Cl- +1,36
PbO
2
/Pb
2+
PbO
2
+ 4H
+
+ 2e
-
D Pb
2+
+ H
2
O +1,46
Au
3+
/Au Au
3+
+ 3e
-
D Au +1,50
MnO
4

-
/Mn
2+
MnO
4

-
+ 8H
+
+ 5e- D Mn
2+
+ 4H
2
O +1,51
HClO/CO
2
2HClO + 2H
+
+ 2e
-
D Cl
2
+ 2H
2
O +1,63
PbO
2
/PbSO
4
PbO
2
+ SO
4

2-
+ 4H
+
+ 2e
-
D PbSO
4
+ 2H
2
O +1,68
H
2
O
2
/H
2
O H
2
O
2
+ 2H
+
+ 2e
-
D 2H
2
O +1,78
F
2
/F F
2
+ 2e
-
D 2F +2,87


Pada sel volta yang tersusun dari elektroda Zn dan Cu, ternyata elektroda Zn mengalami
oksidasi. Hal ini menunjukkan bahwa logam Zn lebih cenderung mengalami oksidasi
dibandingkan logam Cu.

Gambar 2. Sel volta hipotesis untuk menentukan potensial elektroda. Elektroda hidrogen
merupakan elektroda pembanding.
Untuk membandingkan kecenderungan logam-logam mengalami oksidasi digunakan
elektroda hidrogen sebagai pembanding yang potensial elektrodanya adalah 0 volt. Potensial sel
yang dihasilkan oleh elektroda logam dengan elektroda hidrogen pada kondisi standar, yaitu
pada suhu 25C, tekanan gas 1 atmosfer dan konsentrasi ion-ion 1M disebut potensial elektroda
standar logam tersebut dan diberi lambang E. Elektroda yang lebih mudah mengalami reduksi
dibanding hidrogen mempunyai potensial elektroda > 0 (positif) sedangkan elektroda yang lebih
sukar mengalami reduksi dibanding hidrogen mempunyai potensial elektroda < 0 (negatif). Jadi,
potensial elektroda standar menunjukkan urutan kecenderungan untuk mengalami reduksi,
sehingga dikenal sebagai potensial reduksi standar.
Bila ion logam dalam sel lebih mudah mengalami reduksi dibanding ion H
+
, maka
potensial elektroda logam tersebut lebih besar dari potensial elektroda hidrogen sehingga
bertanda positif. Bila elektroda logam lebih mudah mengalami oksidasi dibandingkan elektroda
hidrogen, maka potensial elektrodanya lebih kecil dibandingkan potensial elektroda hidrogen
sehingga bertanda negatif. [1]

c. Kekuatan Oksidator dan Reduktor

Data potensial reduksi standar pada Tabel 1. menunjukkan urutan kekuatan suatu zat
sebagai oksidator (zat tereduksi).

Oksidator + n e Reduktor

Semakin positif nilai E
sel
, semakin kuat sifat oksidatornya. Sebaliknya, semakin negatif
nilai E
sel
, semakin lemah sifat oksidatornya.

Berdasarkan data potensial pada Tabel 1., oksidator terkuat adalah gas fluorin (F
2
) dan
oksidator paling lemah adalah ion Li
+
. Reduktor paling kuat adalah logam Li dan reduktor paling
lemah adalah ion F

.

Reduktor Oksidator + ne

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suatu reduktor paling kuat merupakan
oksidator yang paling lemah. Sebaliknya, suatu oksidator terkuat merupakan reduktor terlemah.

Contoh Soal Menentukan Kekuatan Relatif Zat Pengoksidasi dan Pereduksi :

Urutkan oksidator berikut menurut kekuatannya pada keadaan standar : Cl
2
(g), H
2
O
2
(aq),
Fe
3+
(aq).

Jawaban :

Perhatikanlah data potensial reduksi pada Tabel 1. Dari atas ke bawah menunjukkan urutan
bertambahnya kekuatan oksidator (zat tereduksi).


Cl
2
(g) + 2e

2Cl

(aq) E = 1,36 V
H
2
O
2
(aq) + 2H
+
(aq)+ 2e

2H
2
O(l) E = 1,78 V
Fe
3+
(aq) + e

Fe
2+
(aq) E = 0,77 V

Jadi, kekuatan oksidator dari ketiga spesi itu adalah : H
2
O
2
(aq) > Cl
2
(g) > Fe
3+
(aq).

Berdasarkan pengetahuan kekuatan oksidator dan reduktor, Anda dapat menggunakan
Tabel 1. untuk memperkirakan arah reaksi reduksioksidasi dalam suatu sel elektrokimia.

Suatu reaksi redoks dalam sel elektrokimia akan berlangsung secara spontan jika oksidatornya
(zat tereduksi) memiliki potensial reduksi standar lebih besar atau GGL sel berharga positif.

Contoh Soal Menentukan Arah Reaksi dari Potensial Elektrode Standar

Sel elektrokimia dibangun dari reaksi berikut.

Sn(s) | Sn
2+
(aq) || Zn
2+
(aq) | Zn(s)

Apakah reaksi akan terjadi spontan menurut arah yang ditunjukkan oleh persamaan reaksi
tersebut?

Pembahasan :

Pada reaksi tersebut, Sn sebagai reduktor (teroksidasi) dan Zn
2+
sebagai oksidator
(tereduksi). Potensial reduksi standar untuk masing-masing setengah sel adalah


Zn
2+
(aq) + 2e

Zn(s) E = 0,76 V
Sn
2+
(aq) + 2e

Sn(aq) E = 0,14 V

Suatu reaksi redoks dalam sel elektrokimia akan berlangsung spontan jika zat yang
berperan sebagai oksidator lebih kuat.

Berdasarkan nilai E, Zn
2+
merupakan oksidator lebih kuat dibandingkan dengan Sn
2+
.
Oleh karena itu, reaksi akan spontan ke arah sebagaimana yang dituliskan pada persamaan
reaksi.

Zn(s) + Sn
2+
(aq) Zn
2+
(aq) + Sn(aq)

Reaksi ke arah sebaliknya tidak akan terjadi sebab potensial sel berharga negatif.

d. Cara Menentukan GGL Sel

Nilai GGL sel elektrokimia dapat ditentukan berdasarkan tabel potensial elektrode
standar. Syarat bahwa sel elektrokimia akan berlangsung spontan jika oksidator yang lebih kuat
berperan sebagai pereaksi atau GGL sel berharga positif.

E
sel
= (E
katode
E
anode
) > 0

Sel elektrokimia yang dibangun dari elektrode Zn dan Cu memiliki setengah reaksi reduksi dan
potensial elektrode berikut.


Zn
2+
(aq)+ 2e

Zn(s) E = 0,76 V
Cu
2+
(aq) + 2e

Cu(s) E = +0,34 V

Untuk memperoleh setengah reaksi oksidasi, salah satu dari reaksi tersebut dibalikkan.

Pembalikan setengah reaksi yang tepat adalah reaksi reduksi yang potensial setengah
selnya lebih kecil. Pada reaksi tersebut yang dibalik adalah reaksi reduksi Zn
2+
sebab akan
menghasilkan nilai GGL sel positif. Pembalikan reaksi reduksi Zn
2+
menjadi reaksi oksidasi akan
mengubah tanda potensial selnya.


Zn(s) Zn
2+
(aq) + 2e

E = +0,76 V
Cu
2+
(aq) + 2e

Cu(s) E = +0,34 V

Penggabungan kedua setengah reaksi tersebut menghasilkan persamaan reaksi redoks dengan
nilai GGL sel positif.


Zn(s) Zn
2+
(aq)+ 2e

E = +0,76 V
Cu
2+
(aq) + 2e

Cu(s) E = +0,34 V
Zn(s) + Cu
2+
(aq) Zn
2+
(aq) + Cu(s) E
sel
= +1,10 V

Nilai GGL sel sama dengan potensial standar katode (reduksi) dikurangi potensial standar anode
(oksidasi). Metode ini merupakan cara alternatif untuk menghitung GGL sel.
E
sel
= E
katode
E
anode

E
sel
= E
Cu
E
Zn
= 0,34 V (0,76 V) = 1,10 V

Contoh Soal Menghitung GGL Sel dari Data Potensial Reduksi Standar :

Hitunglah nilai GGL sel dari notasi sel berikut.

Al(s) | Al
3+
(aq) || Fe
2+
(aq) | Fe(s)

Penyelesaian :

Setengah reaksi reduksi dan potensial elektrode standar masing-masing adalah :
Al
3+
(aq) + 3e

Al(s) E = 1,66 V
Fe
2+
(aq) + 2e

Fe(s) E = 0,41 V

Agar reaksi berlangsung spontan, Al dijadikan anode atau reaksi oksidasi.

Oleh karena itu, setengah-reaksi Al dan potensial selnya dibalikkan:


Al(s) Al
3+
(aq) + 3e

E = +1,66 V
Fe
2+
(aq) + 2e

Fe(s) E = 0,41 V

Dengan menyetarakan terlebih dahulu elektron yang ditransfer, kemudian kedua reaksi
setengah sel digabungkan sehingga nilai GGL sel akan diperoleh :


2Al(s) 2Al
3+
(aq) + 6e

E = +1,66 V
3Fe
2+
(aq) + 6e

3Fe(s) E = 0,41 V
2Al(s) + 3Fe
2+
(aq) 2Al
3+
(aq) + 3Fe(s) E = 1,25 V