Anda di halaman 1dari 2

Menggagas Peran Pelajar-Mahasiswa dalam Bencana

Oleh : Muhammad Fikru Rizal



Indonesia adalah negara yang sering mengalami gempa bumi, tsunami, gunung meletus,
banjir, dan bencana alam lainnya. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana
menunjukkan bahwa tingkat kejadian bencana dan korban akibat bencana di Indonesia
tergolong cukup tinggi. Jawa tengah dan Yogyakarta adalah daerah dengan sebaran kejadian
bencana alam tertinggi di Indonesia. Hampir 1400 kejadian bencana terjadi di Yogyakarta
dan Jawa Tengah. Yogyakarta sendiri tergolong sebagai zona 3 rawan gempa.
Setiap bencana pasti akan menimbulkan korban baik jiwa maupun harta benda. Gempa
tektonik yang melanda provinsi DIY pada 27 Mei 2006, telah menewaskan 5.048 orang (Data
BAPPEDA,per tanggal 24 Juli 2006 Jam 13.00 WIB), 8.686 orang luka berat, 541 orang luka
sedang dan ribuan lainnya mengalami luka ringan.
Banyaknya korban bencana alam terjadi akibat jumlah tenaga kesehatan yang sedikit dan
sulitnya akses pertolongan ke lokasi bencana. Sementara itu, program penanggulangan
bencana dari pemerintah untuk mengurangi banyaknya korban selama ini belum bisa
menjangkau seluruh daerah di Indonesia.
Peran pemerintah untuk mengurangi jumlah korban bencana sendiri juga mengalami
berbagai kendala seperti : (1) banyaknya personel aparat pemerintahan yang menjadi korban
baik hartanya maupun jiwanya; (2) APBD provinsi DIY belum dapat dilaksanakan karena
masih menyisakan beberapa persoalan di dalamnya; (3) pemerintah belum siap menghadapi
bencana besar yang melanda wilayahnya; (4) keterbatasan sarana dan prasarana bagi
penanganan para korban; dan (5) mentalitas birokrasi yang masih menghinggapi sebagian
aparatur sehingga memperlambat penanganan bencana tersebut.
Oleh karena itu, adanya kader kesehatan yang berasal di daerah rawan bencana sangat
diperlukan untuk membantu korban. Karena kader kesehatan mempunyai akses yang lebih
cepat untuk melakukan pertolongan. Kader kesehatan dibentuk dari pelajar sekolah
mengingat segi kuantitas yang lebih dari cukup dan segi kualitas yang masih bisa
dikembangkan lebih jauh lagi.
Adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah seperti PMR dan Pramuka yang bergerak
dibidang sosial menjadi faktor pendukung terbentuknya kader kesehatan. Namun sayang
tidak sedikit dari pelajar yang tergabung dalam kegiatan ekstrakkurikuler ini tidak bisa
mendapatkan kesempatan atau wadah untuk mengembangkan potensi mereka lebih dalam.
Terutama dalam hal peningkatan kemampuan pertolongan kesehatan kepada masyarakat.
Tidak sedikit dari petugas PMR yang merupakan petugas kesehatan di sekolah belum bisa
melakukan prosedur Basic Life Support yang baik dan benar.
Oleh karena itu, kegiatan pelatihan Basic Life Support perlu dilakukan untuk
menciptakan kader kesehatan di sekolah. Sehingga diharapkan para pelajar bisa
meningkatkan kompetensi mereka dalam melakukan pertolongan pertama. Selain itu, pelajar
akan bisa mendapatkan ilmu tentang bagaimana melakukan prosedur pertolongan pertama
dengan baik dan benar. Sehingga kader yang terbentuk nantinya bisa bermanfaat bagi sekolah
dan lingkungan sekitarnya terutama jika terjadi bencana alam.

Anda mungkin juga menyukai