Anda di halaman 1dari 15

A.

Judul Percobaan : Voltametri Kuantitatif


B. Tanggal Percobaan : Senin 14 April 2014
C. Tujuan Percobaan : Dapat mengetahui konsentrasi sampel
D. Dasar Teori :
Voltametri adalah suatu elektrolisis dimana arus direkam sebagai suatu
fungsi potensial elektroda kerja. Voltametri merupakan elektrolisis dalam ukuran
mikroskala dengan menggunakan mikro elektroda kerja, disebut juga teknik arus
voltase. Potensial dari mikro elektroda kerja divariasikan dan arus yang dihasilkan
dicetak sebagai fungsi dari poetnsial. Hasil cetakan ini disebut voltamograf.
Voltametri berkembang pesat dibanding metode analisis lain, hal ini dikarenakan
kelebihan dalam sensitifitas, selektifitas, kesederhanaan dan kemudahan
penganalisisan. Pesatnya perkembangan voltametri setelah penemuan polarografi
oleh Jaroslav Heyrovsky, tahun 1920.
Voltametri didasarkan pengukuran arus sebagai fungsi dari potensial
aplikasi (applied potential) pada saat terjadi polarisasi pada indicator elektroda
atau elektroda kerja. Voltametri mempelajari hubungan voltase arus-waktu
selama elektrolisis dilakukan dalam suatu sel, di mana suatu elektroda mempunyai
luas permukaan yang relative besar, dan elektroda yang lain (elektroda kerja)
mempunyai luas permukaan yang sangat kecil dan seringkali dirujuk sebagai
mikroelektroda: lazimnya teknik ini mencakup pengkajian pengaruh perubahan
voltase pada arus yang mengalir di dalam sel. Mikroelektroda ini biasanya dibuat
dari bahan tak reaktif yang menghantar listrik seperti emas, platinum atau karbon,
dan dalam beberapa keadaan dapat digunakan suatu elektroda merkurium tetes
(D.M.E); untuk kasus istimewa ini teknik itu dirujuk sebagai polarografi.
Voltametri merupakan metoda elektrokimia yang mengamati perubahan arus dan
potensial. Potensial divariasikan secara sistematis sehingga zat kimia tersebut,
mengalami oksidasi dan reduksi dipermukaan elektroda. Dalam voltametri, salah
satu elektroda pada sel elektrolitnya terpolarisasi. Penelahan pada sistem tersebut
diikuti dengan kurva arus tegangan. Metode ini umum digunakan untuk
menentukan komposisi dan analisis kuantitatif larutan.
Dalam sistem voltametri ada yang disebut dengan siklik voltametri.
Voltametri ini merupakan tehnik voltametri dimana arus diukur selama
penyapuan potensial dari potensial awal ke potensial akhir dan kembali lagi
potensial awal atau disebut juga penyapuan (scanning) dapat dibalik kembali
setelah reduksi berlangsung. Dengan demikian arus katodik maupun anodik dapat
terukur. Arus katodik adalah arus yang digunakan pada saat penyapuan dari arus
yang paling besar menuju arus yang paling kecil dan arus anodik adalah
sebaliknya (Khopkar, 1985).
Sel voltametri, terdiri dari 3 elektroda yaitu elektroda pembanding,
elektroda kerja, dan elektroda pembantu. Elektroda kerja pada voltametri tidak
bereaksi, akan tetapi merespon elektroda aktif apa saja yang ada dalam sampel.
Pemilihan elektroda bergantung pada besarnya range potensial yang diinginkan
untuk menguji sampel.
Adapun jenis dan teknik yang termasuk kedalam voltametri adalah sebagai
berikut:
a. Polarografi
Polarografi adalah suatu bentuk elektrolisis dalam mana elektroda kerja berupa
suatu elektroda merkuri tetes, dan direkam suatu kurva arus voltase
(voltammogram). Polarogarfi digunakan secara luas untuk analisis ion ion logam
dan anion anion anorganik, seperti IO dan NO . Gugus fungsi senyawa organik
yang mudah teroksidasi atau tereduksi juga dipelajari dalam polarogarfi. Gugus
fungsi yang digunakan meliputi karbonil, asam karboksilat, dan senyawa karbon
yang memiliki ikatan rangkap (David, 2000).
b. Hydrodynamic Voltametri
Hydrodynamic voltametri bermanfaat untuk analisis reduksi atau oksidasi pada
potensial yang lebih positif karena hydrodynamic voltametri tidak dibatasi untuk
elektroda Hg. Arus pada hydrodynamic voltametri diukur sebagai fungsi dari
aplikasi potensial pada elektroda kerja.
c. Stripping voltametri
Stripping Voltametri terdiri atas tiga teknik yaitu : anoda, katoda, dan adsorpsi
stripping voltametri. Anodic stripping voltametri terdiri dari dua tahap Pertama
pengontrolan potensial elektrolisis yang mana elektroda kerja, biasanya tetes
merkuri atau lapis tipis merkuri, pada potensial katoda yang cukup untuk melapisi
ion logam pada elektroda. Tahap kedua, potensial anoda di scan kearah potensial
yang lebih positif. Ketika potensial pada elektroda kerja cukup positif analit
dilepaskan dari elektroda, larutan dikembalikan dalam bentuk oksidasi. Arus
selama tahap stripping dimonitor sebagai fungsi dari potensial, memberikan
bentuk kenaikan pada puncak voltammogram yang sama Puncak arus yang
proporsional pada konsentrasi analit dalam larutan. Anodic stripping voltametri
sangat sensitif pada percobaan, yang mana harus dikontrol dengan hatihati jika
hasilnya ingin akurat dan tepat.
d. Amperometri
Amperometri merupakan salah satu teknik voltametri yang mana potensial
konstan diaplikasikan pada elektroda kerja, dan arus diukur sebagai fungsi waktu
Karena potensial tidak discan, amperometri tidak mendorong kearah
voltammogram.
Aplikasi Amperometri
Aplikasi yang penting dari amperometri adalah dalam kontruksi sensor
kimia. Sensor amperometri yang pertama dikembangkan untuk melarutkan O
dalam darah, yang mana dikembangkan pada 1956 oleh L.C. Clark. Contoh lain
pada sensor amperometri adalah sensor glukosa (David, 2000). Dewasa ini,
biosensor telah banyak diteliti dan dikembangkan oleh para peneliti dan industri,
dan dalam dunia biosensor research, topik yang sedang berkembang sekarang ini
adalah biosensor yang berbasis DNA (genosensor). Berikut contoh dari biosensor
untuk hibridisasi asam nukleat (DNA).
Skema biosensor elektrokimia untuk hibridisasi asam nukleat atau analog
asam nukleat sebagai elemen pengenal dan teknik elektrokimia tahap transduksi
ditunjukkan oleh gambar berikut:

Gambar 1. Skema biosensor afinitas berdasarkan lapisan DNA sebagai
Biopengenal

Potensial yang diterapkan pada elektroda dalam teknik voltametri ini
biasanya bermacam-macam, yang menghasilkan beberapa varian teknik
voltametri diantaranya adalah : LSV (linear sweep voltammetry), CV (cyclic
voltammetry), DPV (differensian pulse voltammetry) dan SWV (square wave
voltammetry).
a. LSV (linear sweep voltammetry)
Linear sweep voltammetry adalah istilah umum untuk suatu teknik voltametri
dimana potensial yang diberikan pada elektroda kerja dengan variasi waktu linier.
Metode ini juga mencakup polarography, siklik voltametri rotating disc
voltametri. Slope yang dihasilkan dari metode ini memiliki unit potensial (volt)
per satuan waktu, dan biasanya disebut scan rate percobaan.
Nilai dari scan rate percobaan dapat divariasi dari tingkat rendah mV/sec (khusus
untuk polarography) sampai tingkat tinggi 1.000.000 V/sec (tercapai bila
digunakan ultra mikroelektrode sebagai electrode kerja). Dengan jalur linier
potensial, arus faraday ditemukan untuk menaikkan scan rates yang lebih tinggi.
b. CV (cyclic voltammetry)
Cyclic voltammetry adalah yang paling umum digunakan dalam teknik
elektrokimia, dan berdasarkan pada kelinieran potensial dari kurva. Sehingga
perubahan potensial sebagai fungsi linier dari waktu. Tingkat perubahan potensial
dengan waktu mengarah pada scan rate.
c. DPV (differensian pulse voltammetry)
Differensian pulse voltammetry diperoleh dengan menambahkan secara periodik
pulse potensial (meningkatkan potensial sementara) untuk menjalankan voltase
yang digunakan pada LSV. Arus diukur hanya khusus untuk pulse dan diakhiri
pada penerapan pulse. Perbedaan antara kedua arus diplotkan sebagai fungsi jalur
potensial pada LSV.
d. SWV (square wave voltammetry)
Square wave voltammetry dan differential pulse voltammetry keduanya digunakan
untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Metode ini mengambil keuntungan dari
timing sampel ke computer berulang kali pada dua titik relative terhadap waktu
penerapan tegangan square wave untuk electroda. Perbedaan antara dua nilai arus
diplotkan sebagai fungsi dari aplikasi potensial DC. Hasil yang diperoleh adalah
puncak dari voltammetryc wave , sesuai dengan aktivitas elektro dari spesies pada
sel elektrokimia.
Beberapa keungulan dari metode analisis voltametri jika dibandingkan
dengan metode yang lain adalah :
a. penyediaan cuplikan yang sederhana
b. waktu analisis yang cepat.
c. Penyedian cuplikan yang diperlukan biasanya hanya pelarutan tanpa
pemekatan
d. peralatan yang tidak begitu mahal
Elektroda amalgam
Amalgam adalah larutan logam dalam Hg cair. Pada elektroda ini,
amalgam logam M akan berada dalam kesetimbangan dengan ionnya (M
2+
).
Logam - logam aktif seperti Na dan Ca dapat digunakan sebagai elektroda
amalgam.
Elektroda pasta karbon
Sebuah elektroda karbon pasta (CPE) yang terbuat dari campuran
melakukan grafit bubuk dan cairan paste ini elektroda sederhana untuk membuat
dan menawarkan permukaan mudah terbarukan untuk pertukaran elektron .
Karbon elektroda pasta milik kelompok khusus heterogen karbon elektroda.
Elektroda ini banyak digunakan terutama untuk voltametri pengukuran, namun
berbasis karbon pasta sensor juga dapat diterapkan dalam coulometry (baik
amperometry dan potensiometri ).
Elektroda tembaga (Cu)
Tembaga (II) adalah elektroda jenis pertama, didasarkan pada reaksi
redoks dengan bantuan dari logam (tembaga) dan garamnya. Hal ini digunakan
untuk mengukur potensial elektrokimia dan merupakan elektroda referensi yang
paling umum digunakan untuk pengujian proteksi katodik korosi sistem kontrol.





E. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Instrumen Voltametri
b. Labu ukur
c. Gelas kimia
d. Pipet volume
e. Botol kecil
f. Karet penghisap
g. Pipet tetes
h. Amplas
i. Cutter
j. tang

F. Prosedur Kerja
Pembuatan larutan standart


Pembuatan elektroda

- dipotong dengan diameter 1,2 mm dan panjang 15 cm
-dikupas ujung-ujung kawat, atas : 1 cm ; bawah : 0,5 cm
- dihaluskan dengan amplas
- diasah dengan kain bludru/ Tissue Toilet
- dicuci dengan H
2
O
- dicelupkan larutan HgNO
3
selama 1 menit

Elektroda amalgam

Kawat tembaga
larutan induk K
4
Fe(CN)
6

-diambil 20 ml, 10 ml, 5 ml, 2,5 ml, 1,25 ml masing-
masing untuk konsentrasi (1, 2, 4, 8, 16) 10
-3
M
- dimasukkan ke dalam labu ukur
- ditambah aquades hingga mencapai tanda batas
Larutan K
4
Fe(CN)
6


2. Bahan
a. K
4
Fe (CN)
6
(1, 2, 4, 8, 16) 10
-3
M
b. Aquades
c. Larutan HgNO
3

d. Elektroda Cu

Pengujian Sampel


























Sampel
- dituang ke tempat sampel pada voltameter
- dicelupkan elektroda amalgam
- dianalisis menggunakan voltametri dengan K
4
Fe(CN)
6
(1, 2, 4, 8, 16) 10
-3
M
dan SR 0,1
- dipotong dengan diameter 1,2 mm dan panjang 15 cm
-dikupas ujung-ujung kawat, atas : 1 cm ; bawah : 0,5 cm
- dihaluskan dengan amplas
- diasah dengan kain bludru/ Tissue Toilet
- dicuci dengan H
2
O
- dicelupkan larutan HgNO
3
selama 1 menit
Konsentrasi sampel
G. Hasil Pengamatan
No Alur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan / Reaksi Kesimpulan
1 Pembuatan larutan standart






Larutan induk K
4
Fe(CN)
6
:
berwarna kuning (++)
K
4
Fe(CN)
6
1x10
-3
M: berwarna
kuning (---)

K
4
Fe(CN)
6
2x10
-3
M: berwarna
kuning (--)
K
4
Fe(CN)
6
4 x10
-3
M:
berwarna kuning (-)
K
4
Fe(CN)
6
8 x10
-3
M:
berwarna kuning
K
4
Fe(CN)
6
16 x10
-3
M:
berwarna kuning (+)
Semakin rendah
konsentrasi warna
kuning semakin
memudar

2 Pembuatan elektroda





HgNO
3
: larutan biru muda
Kawat tembaga : berwarna
kuning kecoklatan
Kawat tembaga setelah
diamplas : kuning kecoklatan
mengkilap.
Kawat tembaga setelah
dicelupkan dalam HgNO
3 :

putih mengkilap.




Elektroda amalgam
berwarna putih perak
mengkilap

larutan induk K
4
Fe(CN)
6

Larutan K
4
Fe(CN)
6


- diambil 20 ml, 10 ml, 5 ml 2,5 ml, 1,25 ml
masing-masing untuk konsentrasi (1, 2, 4, 8, 16)
10
-3
M
- dimasukkan ke dalam labu ukur
- ditambah aquades hingga mencapai tanda batas
Kawat tembaga
Elektroda amalgam

- dipotong dengan diameter 1,2 mm dan panjang
15 cm
- dikupas ujung-ujung kawat, atas : 1 cm ; bawah :
0,5 cm
- dihaluskan dengan amplas
- diasah dengan kain bludru/ Tissue Toilet
- dicuci dengan H
2
O
- dicelupkan larutan HgNO
3
selama 1 menit
3 Pengujian Sampel







Sampel: larutan berwarna
kuning

Konsentrasi sampel
yang diuji adalah
3.61E-02 M.










Sampel
Konsentrasi sampel
- dituang ke tempat sampel pada voltameter
- dicelupkan elektroda amalgam
- dianalisis menggunakan voltametri dengan
K
4
Fe(CN)
6
(1, 2, 4, 8, 16) 10
-3
M dan SR
0,1
H. Pembahasan
Praktikum voltametri ini dapat menuntun kita untuk mempelajari
bagaimana prinsip kerja dari voltametri. Voltametri dalam praktikum ini secara
kuantitatif untuk mengetahui konsentrasi sampel. Dalam voltametri ada 3 jenis
elektroda yaitu :
1. Elektroda kerja (working electrode) yaitu elektroda yang potensialnya
bergantung pada konsentrasi analit yang diukur.
2. Elektroda pembanding (reference electrode) yaitu elektroda yang potensialnya
tidak bergantung pada konsentrasi analit yang diukur.
3. Elektroda pembantu (auxiliary electrode)
Elektroda kerja atau working elektroda (WE) dalam praktikum ini
digunakan elektroda amalgam. Kawat tembaga berwarna kuning kecoklatan
setelah diamplas menjadi kuning kecoklatan mengkilap. Setelah dicelupkan dalam
HgNO
3
yang berupa larutan biru muda, kawat tembaga menjadi putih mengkilap.
Warna putih tersebut menunjukkan bahwa elektroda amalgam telah terbentuk.
Elektroda pembanding yang digunakan adalah elektroda Ag/AgCl. Jika ada arus
yang mengalir pada elektroda Ag/AgCl, maka konsentrasi Cl- akan berubah dan
potensial pun akan berubah. Hal ini menyebabkan pengertian elektroda
pembanding tidak terpenuhi. Agar potensial elektroda pembanding tetap,
digunakan elektroda pembantu yang memiliki hambatan lebih kecil daripada
elektroda Ag/AgCl. Akibatnya, arus yang mengalir ke elektroda pembanding
sangat kecil atau dianggap nol dan arus yang diukur adalah arus pada rangkaian
antara elektroda kerja dan elektroda pembantu.
Prinsip dari voltammetri adalah mempolarisasi elektroda dalam sel
elektrokimia pada serangkaian potensial range tertentu dan mengamati perubahan
arus yang dihasilkan oleh sel akibat adanya proses oksidasi reduksi analit.
Potensial dari elektroda kerja divariasikan dan arus yang dihasilkan dicetak
sebagai fungsi dari potensial. Hasil cetakan ini disebut voltamogram. Analit yang
digunakan dalam praktikum ini adalah K
4
Fe(CN)
6
dengan konsentrasi 1 x 10
-3
M,
2 x 10
-3
M, 4 x 10
-3
M, 6 x 10
-3
M, 8 x 10
-3
M dan 16 x 10
-3
M.
Oksigen yang
terlarut di dalam sebuah larutan dapat mengalami reaksi redoks pada permukaan
elektroda. Akibatnya, akan ditemukan puncak oksigen yang dapat menggangu
pengukuran. Untuk mengatasinya, ke dalam sel voltametri dialirkan gas nitrogen
yang dapat menghilangkan oksigen terlarut dengan cara mendesak oksigen,
karena nitrogen lebih berat daripada oksigen sehingga nitrogen cenderung berada
di bagian bawah.
Voltametri siklik merupakan teknik voltametri yang biasa digunakan pada
awal eksperimen untuk mempelajari sifat elektrokimia dari spesi yang diamati.
Teknik voltametri siklik dapat memberikan nilai potensial reduksi/oksidasi dari
spesi-spesi elektroaktif. Selama pengukuran dengan voltametri siklik, akan
diperoleh kurva antara arus terhadap potensial yang dikenal sebagai voltamogram
siklik. Dalam praktikum ini digunakan SR yaitu 0,1 didapatkan kurva sebagai
berikut :

Dari kurva tersebut dicari nilai I
PC
yaitu puncak arus pada katoda dan I
PA
yaitu
puncak arus pada anoda. Arus katodik adalah arus yang digunakan pada saat
penyapuan dari arus yang paling besar menuju arus yang paling kecil dan arus
anodik adalah sebaliknya. Pengolahan data mengasilkan data sebagai berikut
dimana Min (Y) merupakan I
PC
dan Max (Y) merupakan I
PA
:
-1.0 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0.0
-0.0001
0.0000
0.0001
0.0002
0.0003
0.0004
0.0005
Y

A
x
i
s

T
i
t
l
e
X Axis Title
SR0.02
SR0.04
SR0.06
SR0.08
SR0.1
1 x 10
-3
M
2 x 10
-3
M
4 x 10
-3
M
8 x 10
-3
M
16 x 10
-3
M





se(yEr) Min(Y) Imin(Y) Max(Y) Imax(Y) Range(Y) Sum(Y) N(Y)
0,015792 -0,99976 1 0 169 0,99976 -168,959 337
4,71E-06 -5,41E-05 1 3,78E-04 169 4,32E-04 0,007268 337
4,11E-06 -7,29E-05 337 3,01E-04 169 3,74E-04 0,004171 337
5,20E-06 -7,65E-05 337 3,52E-04 169 4,29E-04 0,006594 337
6,17E-06 -9,09E-05 287 3,97E-04 169 4,87E-04 0,006873 337
6,83E-06 -1,02E-04 290 4,27E-04 169 5,29E-04 0,002984 337

IPA IPC IPA/IPC SR akarSR
3,78E-04 5,41E-05 6,980822 0,02 0,141421
3,01E-04 7,29E-05 4,124966 0,04 0,2
3,52E-04 7,65E-05 4,605098 0,06 0,244949
3,97E-04 9,09E-05 4,362376 0,08 0,282843
4,27E-04 1,02E-04 4,169238 0,1 0,316228

Untuk pengujian secara kuantitatif dibuat grafik I
PC
vs konsentrasi.




y = -0.0028x - 6E-05
R = 0.8413
-1.20E-04
-1.00E-04
-8.00E-05
-6.00E-05
-4.00E-05
-2.00E-05
0.00E+00
0.00E+005.00E-03 1.00E-02 1.50E-02 2.00E-02
I
P
C

Konsentrasi
Grafik I
PC
vs Konsentrasi
IPC
Linear (IPC)
IPC C
5,41E-05 1,00E-03
7,29E-05 2,00E-03
7,65E-05 4,00E-03
9,09E-05 8,00E-03
1,02E-04 1,60E-02
Dari grafik tersebut didapatkan persamaan garis linier y = 0.0028x - 6E-05 dengan
R = 0,8413. Pengujian sampel dengan voltametri didapatkan kurva sampel
sebagai berikut :


Dari kurva tersebut diolah data dan mendapatkan hasil sebagai berikut:
se(yEr) Min(Y) Imin(Y) Max(Y) Imax(Y) Range(Y) Sum(Y) N(Y)
0.015792 -0.99976 1 0 169 0.99976 -168.959 337
3.86E-06 -4.11E-05 243 2.51E-04 169 2.92E-04 0.006526 3.37E+02

Dari data tersebut didapatkan I
PC
sampel = 4.11E-05. Karena y = IPC dan x =
konsentrasi sampel maka untuk menghitung konsentrasi sampel adalah sebagai
berikut:
y = 0.0028x - 6E-05
4.11E-05 = 0.0028x - 6E-05
x = 4.11E-5 + 6E-05
0.0028
x = 3.61E-02
Dari perhitungan tersebut didapatkan konsentrasi sampel adalah 3.61E-02 M.

I. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari percobaan voltametri ini adalah voltametri
mempelajari hubungan arus, voltase, dan waktu selama elektrolisis dilakukan
-1.00E-04
-5.00E-05
0.00E+00
5.00E-05
1.00E-04
1.50E-04
2.00E-04
2.50E-04
3.00E-04
-1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Series1
dalam suatu sel. Prinsip dari voltammetri adalah mempolarisasi elektroda dalam
sel elektrokimia pada serangkaian potensial range tertentu dan mengamati
perubahan arus yang dihasilkan oleh sel akibat adanya proses oksidasi reduksi
analit. Hasil praktikum didapatkan konsentrasi sampel yang diuji adalah 3.61E-02
M.

J. Daftar Pustaka
Basset, J. 1994. Vogel Analisa Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Erlangga
Day, R. A dan Underwood, A.L. diterjemahkan oleh Pudjaatmaka,
A.H. 1989. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Haryadi,W.1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia
Liadler, Keith. 1996. Principles of Chemistry. Kanada: The University of Ottawa.
Pringgodigdo. 1977. Ensiklopedia Umum. Jakarta : Erlangga














LAMPIRAN







Elektroda yang dicelupkan ke Hg(NO
3
) Alat voltameter
Alat voltameter Alat voltameter saat pengujian berlangsung