Anda di halaman 1dari 38

Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 1

BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit parkinson merupakan suatu kelainan neurologi yang bersifat kronik progresif,
ditandai dengan adanya kelainan dari segi fungsi motorik dan non-motorik dalam berbagai
derajat (chronic progresif movement disorder). Secara neuropatologi penyakit parkinson ditandai
oleh berkurangnya neuromelanin yang mengandung neuron dopaminergik di substansia nigra
pars kompakta dengan terdapatnya eosinofil intracytoplasmik, inklusi protein, yang disebut
sebagai Lewy bodies. Sel-sel yang masih ada akan tampak menciut dan bervakuola.
1
Dalam sejarah terdahulu, penyakit parkinson didefinisikan sebagai kelainan neurologi
yang diyakini lebih mengenai fungsi motorik. Namun pada saat ini, sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan, penyakit parkinson lebih dikaitkan pada terdapatnya defisit fungsi kognitif,
dimana demensia merupakan defisit kognitif yang paling sering dijumpai.
2
Pada tahun 1817, dalam tulisannya yang berupa buku kecil An essay on the shaking
palsy, James Parkinson untuk pertama kalinya mendeskripsikan gejala gejala klinik dari suatu
sindrom, yang pada nantinya sindrom tersebut dinamakan sesuai dengan namanya sendiri. Pada
saat itu dia berhasil mengidentifikasi 6 (enam) kasus, dimana 3 diantara kasus tersebut diperiksa
sendiri olehnya, dan 3 lainnya hanya melalui observasi di kota London. James Parkinson sendiri
menggunakan istilah Paralysis Agitans, yang oleh Charcot pada abad ke 19 menjulukinya
sebagai maladie de Parkinson atau Parkinsons Disease. Charcot juga berhasil mengenali
bentuk non-tremor dari Parkinsons Disease dan secara benar mengemukakan bahwa
kelambanan gerakan harus dibedakan dari kelemahan atau pengurangan kekuatan otot.
1
Lebih dari 100 tahun kemudian setelah deskripsi yang dikemukakan oleh Parkinson yaitu
pada tahun 1919, diketahui bahwa pasien dengan penyakit parkinson kehilangan sel-sel di
substansia nigra. Pada tahun 1957, dopamin diketemukan sebagai putative neurotransmitter oleh
Carlsson dan koleganya di Lund, Swedia. Pada tahun 1960 didapatkan penemuan oleh Ehringer
dan Hornykiewicz yang menyatakan bahwa konsentrasi dopamin menurun secara tajam di
striatum pasien dengan penyakit Parkinson. Hal tersebut merintiskan jalan pada dilakukannya
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 2

percobaan pertama penggunaan levodopa pada pasien dengan penyakit Parkinson. Penggunaan
levodopa tersebut kemudian mengantarkan Carlsson mendapatkan Nobel Prize in Medicine
pada tahun 2000.
1
Kemampuan levodopa secara injeksi dalam memperbaiki akinesia pada pasien dengan
penyakit parkinson, untuk pertama kali didemonstrasikan pada tahun 1961 kemudian diikuti oleh
pengembangan levodopa dalam bentuk oral di tahun tahun berikutnya. Baru-baru ini
ditemukan keterlibatan faktor mutasi genetik, akumulasi protein dan fosforilasi protein,
peningkatan stress oksidatif, disfungsi mitokondria, inflamasi dan mekanisme patogenik lainnya
telah berhasil diidentifikasi sebagai faktor kontribusi dalam kematian sel dopaminergik dan non-
dopaminergik dalam otak pasien dengan penyakit parkinson.
1
Hingga saat ini diagnosis dari penyakit parkinson didasarkan pada kriteria klinik, karena
belum adanya tes definitif dalam menegakkan diagnosis penyakit parkinson. Resting tremor,
bradikinesia, rigidity, dan postural instability secara umum merupakan tanda-tanda pokok dari
penyakit parkinson dan merupakan suatu disfungsi motorik.

Adanya tanda tanda spesifik
tersebut diatas merupakan hal yang dapat membedakan penyakit parkinson dengan parkinsonian
disorder (parkinsonism).
2







Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1. Definisi
Penyakit parkinson (paralysis agitans) merupakan suatu penyakit karena gangguan
pada ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamin dari
substansia nigra ke globus palidus / neostriatum (striatal dopamine deficiency).
Penyakit parkinson adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang berkaitan erat
dengan usia. Penyakit ini mempunyai karakteristik terjadinya degenerasi dari neuron
dopaminergik di substansia nigra pars kompakta, ditambah dengan adanya inklusi
intraplasma yang terdiri dari protein yang disebut dengan lewy bodies. Neurodegeneratif
pada parkinson juga terjadi pasa daerah otak lain termasuk lokus ceruleus, raphe nuklei,
nukleus basalis Meynert, hipothalamus, korteks cerebri, saraf kranial, dan sistem saraf
otonom.
2
II. 2. Etiologi
Parkinson primer masih belum diketahui pasti penyebabnya. Terdapat beberapa
dugaan, di antaranya ialah : infeksi oleh virus yang non-konvensional (belum diketahui),
reaksi abnormal terhadap virus yang sudah umum, pemaparan terhadap zat toksik yang
belum diketahui, terjadinya penuaan yang prematur atau dipercepat.
2
Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra.
Suatu kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki (involuntary).
Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak
disadarinya. Mekanisme bagaimana kerusakan itu belum jelas benar. Beberapa hal yang
diduga bisa menyebabkan parkinson adalah sebagai berikut

:
2
y Usia
Insiden meningkat dari 10 : 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200 : 10.000
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 4

penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi mikroglia yang
mempengaruhi kerusakan neuronal, terutama pada substansia nigra pada penyakit
parkinson.
y Geografi
Di Libya 31 dari 100.000 orang, di Buenos aires 657 per 100.000 orang. Faktor resiko
yang mempengaruhi perbedaan angka secara geografis ini termasuk adanya perbedaaan
genetik, kekebalan terhadap penyakit dan paparan terhadap faktor lingkungan.
y Periode
Fluktuasi jumlah penderita penyakit parkinson tiap periode mungkin berhubungan
dengan hasil pemaparan lingkungan yang episodik, misalnya proses infeksi,
industrialisasi ataupun gaya hidup. Data dari Mayo Klinik di Minnesota, tidak terjadi
perubahan besar pada angka morbiditas antara tahun 1935 sampai tahun 1990. Hal ini
mungkin karena faktor lingkungan secara relatif kurang berpengaruh terhadap
timbulnya penyakit parkinson.
y Genetik
Penelitian menunjukkan adanya mutasi genetik pada sinuklein E yang berperan pada
penyakit parkinson, yaitu mutasi pada gen kromosom 4 (PARK1) pada pasien dengan
parkinsonism autosomal dominan. Pada pasien dengan autosomal resesif parkinson,
ditemukan delesi dan mutasi point pada gen parkin (PARK2) di kromosom. Selain itu
juga ditemukan adanya disfungsi mitokondria. Adanya riwayat penyakit parkinson pada
keluarga meningkatkan faktor resiko menderita penyakit parkinson sebesar 8,8 kali
pada usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada usia lebih dari 70 tahun. Meskipun
sangat jarang, jika disebabkan oleh keturunan gejala parkinsonisme tampak pada usia
relatif muda. Kasus-kasus genetika di USA sangat sedikit, belum ditemukan kasus
genetika pada 100 penderita yang diperiksa. Di Eropa pun demikian. Penelitian di
Jerman menemukan hasil nol pada 70 penderita. Contoh klasik dari penyebab genetika
ditemukan pada keluarga-keluarga di Italia karena kasus penyakit itu terjadi pada usia
46 tahun.
y Faktor Lingkungan
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 5

a. Xenobiotik
Terdapat hubungan lemah antara penyakit parkinson dengan paparan pestisida yang
dapat menimbulkan kerusakan mitokondria.
b. Pekerjaan
Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi dan lama.
c. Infeksi
Paparan virus influenza intrauterin diduga turut menjadi faktor predesposisi
penyakit parkinson melalui kerusakan substansia nigra. Penelitian pada hewan
menunjukkan adanya kerusakan substansia nigra oleh infeksi Nocardia astroides.
d. Diet
Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah satu
mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit parkinson. Sebaliknya, kopi
merupakan neuroprotektif.
e. Trauma kepala
Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit parkinson. Banyak kasus yang
terjadi dalam praktek sehari-hari.
f. Stress dan depresi
Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik.
Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena pada stress dan
depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stress oksidatif.
Diketahui pula bahwa hasil metabolisme heroin sintetis yaitu MPTP (1 metil-4
phenyl-1,2,3,6 tetrahydropyridine) dapat menyebabkan parkinsonisme akut, merupakan hal
penting dalam etiologi penyakit parkinson. Fakta bahwa toksin eksogen yang tidak umum
dapat menyebabkan kerusakan SSP tertentu dan parkinsonisme, menunjukkan bahwa
penyakit parkinson idiopatik mungkin disebabkan oleh paparan faktor lingkungan yang
lebih sering, namun belum teridentifikasi, mungkin melalui mekanisme yang serupa
dengan MPTP.
3


Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 6






Gambar.1 MPTP dan etiologi penyakit Parkinson. Toksin MPTP melintasi sawar darah-otak dan diubah menjadi
metabolit aktif MPP+ oleh enzim monoamin oksidase tipe B (MAO-B) pada sel glia. MPP+, suatu radikal bebas,
akan terkonsentrasi pada neuron dopaminergik, yang masuk melalui mekanisme pengambilan kembali dopamin,
sehingga secara selektif akan merusak sel-sel ini. MPP+ adalah racun mitokondria, yang menghambat Kompleks I
rantai respirasi, sehingga merusak produksi energi sel.

II. 3. Epidemiologi
Penyakit parkinson cukup sering ditemukan, mungkin mengenai 1-2 % populasi
berusia lebih dari 60 tahun, dengan adanya bias jenis kelamin yang tidak begitu signifikan.
Distribusi ditemukan di seluruh dunia, walaupun tampaknya lebih sering terjadi di Eropa
dan Amerika Utara.
3
Penyakit parkinson dapat mengenai seluruh ras, baik pria maupun wanita dalam
perbandingan yang hampir sama, dan kecenderungan penyakit pada pria. Prevalensi
meningkat secara tajam pada kisaran usia 65 hingga 90 tahun. Kurang lebih 0,3% dari
seluruh populasi dan 3% manusia dengan usia diatas 65 tahun terkena penyakit parkinson.
5-10% pasien penyakit parkinson, memiliki gejala pada usia kurang dari 40 tahun (varietas
ini diklasifikasikan sebagai young onset parkinsons disease atau penyakit parkinson
yang terjadi pada usia muda). Insidensi terendah terdapat pada populasi Asia dan kulit
hitam Afrika. Sedangkan insidensi tertinggi didapatkan pada kaum kulit putih. Kulit hitam
Afrika memiliki insidensi yang lebih rendah dibandingkan kulit hitam Amerika. Meskipun
demikian, prevalensi terdapatnya Lewy bodies dalam jaringan otak ras Nigeria tampak
sama dengan populasi ras kulit putih Amerika. Pola ini memberikan kecenderungan bahwa
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 7

perkembangan penyakit parkinson adalah global dan menyeluruh, namun faktor lingkungan
memiliki peranan penting dalam menimbulkan penyakit ini.
1
Di Indonesia sendiri, dengan jumlah penduduk 210 juta orang diperkirakan ada
sekitar 200.000 - 400.000 penderita. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan di beberapa
rumah sakit di Sumatera dan Jawa pada pasien dengan rentang usia 18 hingga 85 tahun,
rata-rata usia penderita di atas 50 tahun. Statistik menunjukkan. Baik di luar negeri maupun
di dalam negeri, lelaki lebih banyak terkena dibanding perempuan (3:2) dengan alasan yang
belum diketahui.
2
II. 4. Klasifikasi
1,2
Gangguan parkinsonian dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu:
1. Parkinsonismus primer atau idiopatik (paralysis agitans)
Sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan kronis, tetapi penyebabnya
belum jelas. Kira-kira 7 dari 8 kasus parkinson termasuk jenis ini.
2. Parkinsonismus sekunder atau simtomatik
Dapat disebabkan pasca ensefalitis virus, pasca infeksi lain : tuberkulosis,
sifilis meningovaskuler, iatrogenik atau drug induced, misalnya golongan fenotiazin,
reserpin, tetrabenazin dan lain-lain, misalnya perdarahan serebral petekial pasca trauma
yang berulang-ulang pada petinju, infark lakuner, tumor serebri, hipoparatiroid dan
kalsifikasi.
3. Sindrom paraparkinson (parkinson plus)
Pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian dari gambaran
penyakit keseluruhan. Jenis ini bisa didapat pada penyakit Wilson (degenerasi hepato-
lentikularis), hidrosefalus normotensif, sindrom Shy-drager, degenerasi striatonigral,
atropi palidal (parkinsonismus juvenilis).


Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 8

II. 5. Patofisiologi
Penyakit parkinson terutama mengenai neuron dopaminergik yang berproyeksi dari
substansia nigra otak tengah sampai striatum ganglia basalis (nukleus kaudatus dan
putamen). Secara makroskopis, didapatkan atrofi substansia nigra pada penyakit parkinson
tahap lanjut, yang dikenali dari hilangnya pigmentasi melanin pada region ini. Secara
mikroskopis, didapatkan kerusakan berat neuron pada substansia nigra, dan neuron yang
tersisa seringkali mengandung bahan inklusi intrasel, yaitu badan Lewy. Gejala penyakit
parkinson terlihat jika kerusakan neuron dopaminergik nigrostriatum telah mencapai 60-
80%.
3





Gambar 2 Badan Lewy (tanda panah).
Secara patofisiologis, kerusakan jaras dopaminergik menyebabkan
ketidakseimbangan sistem ekstrapiramidal dengan mekanisme kolinergik dan
neurotransmitor lainnya. Ganglia basalis dapat dianggap sebagai suatu sistem untuk
menggubah output motorik karena kawasan itu menerima inputnya dari daerah-daerah
motorik kortikal dan outputnya ditujukan kembali kepada daerah-daerah motorik kortikal
melalui thalamus.
3,4
Dua hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal pada
penyakit parkinson ialah : hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.
2


Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 9

1. Hipotesis radikal bebas
Diduga bahwa oksidasi enzimatik dari dopamin dapat merusak neuron nigrostriatal,
karena proses ini menghasilkan hidrogen peroksid dan radikal oksi lainnya. Walaupun
ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress oksidatif, namun pada
usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.
2. Hipotesis neurotoksin
Diduga satu atau lebih macam zat neurotoksik berperan pada proses neurodegenerasi
pada parkinson. Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam
menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan
bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat
sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya
adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan
melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi sewaktu program gerakan
diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan
involunter. Dasar patologinya mencakup lesi di ganglia basalis (kaudatus, putamen,
palidum, nukleus subtalamus) dan batang otak (substansia nigra, nukleus rubra, lokus
sereleus).

Pada penyakit parkinson terjadi degenerasi sel-sel neuron yang meliputi berbagai
inti subkortikal termasuk di antaranya substansia nigra, area ventral tegmental, nukleus
basalis, hipotalamus, pedunkulus pontin, nukleus raphe dorsal, lokus sereleus, nucleus
central pontine dan ganglia otonomik. Beratnya kerusakan struktur ini bervariasi. Pada
otopsi didapatkan kehilangan sel substansia nigra dan lokus sereleus bervariasi antara 50%
- 85%, sedangkan pada nukleus raphe dorsal berkisar antara 0% - 45%, dan pada nukleus
ganglia basalis antara 32 % - 87 %. Inti-inti subkortikal ini merupakan sumber utama
neurotransmiter. Terlibatnya struktur ini mengakibatkan berkurangnya dopamin di nukleus
kaudatus (berkurang sampai 75%), putamen (berkurang sampai 90%), hipotalamus
(berkurang sampai 90%). Norepinefrin berkurang 43% di lokus sereleus, 52% di substansia
nigra, 68% di hipotalamus posterior. Serotonin berkurang 40% di nukleus kaudatus dan
hipokampus, 40% di lobus frontalis dan 30% di lobus temporalis, serta 50% di ganglia
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 10

basalis. Selain itu juga terjadi pengurangan nuropeptid spesifik seperti met-enkephalin, leu-
enkephalin, substansi P, dan bombesin.
2




Gambar 3. Hilangnya pigmen pada substansia nigra. (a) Normal ; (b) penyakit Parkinson
Perubahan neurotransmiter dan neuropeptid menyebabkan perubahan
neurofisiologik yang berhubungan dengan perubahan suasana perasaan. Sistem transmiter
yang terlibat ini menengahi proses reward, mekanisme motivasi, dan respons terhadap
stres. Sistem dopamin berperan dalam proses reward dan reinforcement. Febiger
mengemukakan hipotesis bahwa abnormalitas sistem neurotransmiter pada penyakit
parkinson akan mengurangi keefektifan mekanisme reward dan menyebabkan anhedonia,
kehilangan motivasi dan apatis. Sedang Taylor menekankan pentingnya peranan sistem
dopamin forebrain dalam fungsi-fungsi tingkah laku terhadap pengharapan dan antisipasi.
Sistem ini berperan dalam motivasi dan dorongan untuk berbuat, sehingga disfungsi ini
akan mengakibatkan ketergantungan yang berlebihan terhadap lingkungan dengan
berkurangnya keinginan melakukan aktivitas, menurunnya perasaan kemampuan untuk
mengontrol diri. Berkurangnya perasaan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dapat
bermanifestasi sebagai perasaan tidak berguna dan kehilangan harga diri. Ketergantungan
terhadap lingkungan dan ketidakmampuan melakukan aktivitas akan menimbulkan
perasaan tidak berdaya dan putus asa. Sistem serotonergik berperan dalam regulasi suasana
perasaan, regulasi bangun tidur, aktivitas agresi dan seksual. Disfungsi sistem ini akan
menyebabkan gangguan pola tidur, kehilangan nafsu makan, berkurangnya libido, dan
menurunnya kemampuan konsentrasi. Penggabungan disfungsi semua unsur yang tersebut
di atas merupakan gambaran dari sindrom klasik depresi.
2
The image cannot be displayed. Your computer may not have enough memory to open the image, or the image may have been corrupted. Restart your computer, and then open the file again. If the red x still
appears, you may have to delete the image and then insert it again.
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 11

Banyak fakta yang menyatakan tentang keberadaan disfungsi mitokondria dan
kerusakan metabolisme oksidatif dalam pathogenesis penyakit parkinson. Keracunan
MPTP (1 methyl, 4 phenyl, 12,3,6 tetrahydropyridine) dimana MPP+ sebagai toksik
metabolitnya, pestisida dan limbah industri ataupun racun lingkungan lainnya,
menyebabkan inhibisi terhadap komplek I (NADH-ubiquinone oxidoreduktase) rantai
elektron transpor mitokondria, dan hal tersebut memiliki peranan penting terhadap
kegagalan dan kematian sel. Pada penyakit parkinson, terdapat penurunan sebanyak 30-
40% dalam aktivitas komplek I di substansia nigra pars kompakta. Seperti halnya kelainan
yang terjadi pada jaringan lain, kelainan di substansia nigra pars kompakta ini
menyebabkan adanya kegagalan produksi energi, sehingga mendorong terjadinya apoptosis
sel.
1,3
Dalam keadaan normal, terdapat sebuah regulasi yang ketat dalam produksi dan
pembuangan beberapa oksidan yang dihasilkan dari metabolisme sel neuron. Termasuk
didalamnya hydrogen peroksida, superoksida, radikal peroksida, nitric oxide, dan hidroksi
radikal. Molekul-molekul ini bereaksi dengan asam nukleat, protein, lemak dan molekul
lainnya sehingga terjadilah perubahan struktur molekul yang mengakibatkan kerusakan sel.
Beberapa fakta mengemukakan bahwa pada penyakit parkinson, terdapat kelebihan oksigen
reaktif dan peningkatan stress oksidatif.
1
Adanya peningkatan zat besi yang terdeteksi pada substansia nigra pasien dengan
penyakit parkinson meyakinkan pentingnya peranan stress oksidatif dalam pathogenesis
penyakit parkinson. Menariknya, peningkatan zat besi dan berkurangnya aktivitas komplek
I tidak ditemukan dalam otak pasien dengan Lewy body disease, yang kemudian
memberi kesan bahwa telah terjadi perubahan sekunder lainnya dalam jaringan tersebut.
1
Metabolime dopamin endogen ternyata juga menyebabkan peningkatan produksi
racun yang mempertinggi terjadinya stress oksidatif pada pasien dengan penyakit
parkinson. Kemungkinan ini pada akhirnya menimbulkan kecemasan tersendiri terhadap
terapi dengan levodopa yang pada akhirnya levodopa ini akan dikonversi menjadi dopamin
sehingga pada mekanisme lebih lanjut akan mempercepat kematian sel neuron dalam pars
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 12

kompakta substansia nigra. Tentu saja, argumen ini merupakan salah satu penyebab
penundaan pemakaian levodopa pada pasien penyakit parkinson. Walaupun bukti nyata
dari berbagai penelitian mengenai efek toksik levodopa masih diperdebatkan dan observasi
klinik terhadap manusia tanpa penyakit parkinson namun diberi terapi dengan levodopa,
tidak menampakkan timbulnya toksisitas.
1
Pengembangan percobaan penyakit parkinson melalui penggunaan MPTP terhadap
makhluk primata menciptakan pandangan terbaru dalam suatu strategi terapi. Pada binatang
percobaan pada akhirnya berkembang suatu sindroma parkinson tipikal, yang ditandai
dengan hilangnya sel dopaminergik di substansia nigra dan ditemukannya aktivitas spontan
yang abnormal (gerakan involunter abnormal) serta respon abnormal sensorimotor dari
neuron di basal ganglia. Dasar dari penelitian tersebut dihubungkan oleh adanya defisiensi
dopamin yang menyebabkan peningkatan aktivitas inhibisi terhadap -aminobutyric acid
(GABA) dan penggunaannya (GABAergic) di nucleus basal ganglia, segmen dalam globus
pallidus, dan pars retikulata substansia nigra. Peningkatan aksi dari 2 struktur terakhir di
atas setidaknya dapat dibangkitkan melalui 2 mekanisme, yaitu pengurangan inhibisi
GABAergik secara langsung berasal dari striatum (nucleus caudatus dan putamen) dan
eksitasi yang berlebihan melalui mekanisme tidak langsung, yang terdiri dari 2 hubungan
neuron penghambat. Pertama dari striatum ke segmen externa globus pallidus dan kedua
berasal dari segmen nukleus subtalamikus. Nukleus subtalamikus membangkitkan segmen
internal globus palidus dan pars retikulata substansia nigra melalui neurotransmiter
glutamat.
1
Di striatum, output dari neuron GABAergik bekerja secara langsung pada segmen
internal globus pallidus dan pars retikulata substansia nigra yang didominasi oleh reseptor
dopamin D1. Sedangkan reseptor D2 dopamin lebih dominan pada output neuron
GABAergik di segmen external globus palidus. Dopamin memiliki efek yang berbeda
terhadap reseptor-reseptor ini dan oleh karena itu, pada perangsangan neuron di daerah
striatal akan membangkitkan reseptor D1 (sumber dari jalur langsung striatopalidal) dan
menginhibisi neuron dengan reseptor D2 (sumber dari jalur tidak langsung striatopalidal).
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 13

Dalam keadaan normal (non-defisiensi dopamin) terdapat keseimbangan aktivitas antara
jalur langsung dan jalur tidak langsung pada internal segmen globus palidus dan pars
retikulata substansia nigra. Sedangkan pada defisiensi dopamin (misalnya pada keracunan
MPTP dan penyakit parkinson) menyebabkan overaktivitas dalam jalur tidak langsung,
dikarenakan peningkatan glutamatergik ke dalam segmen internal globus palidus dan pars
retikulata substansia nigra serta mengurangi aktivitas inhibisi terhadap jalur langsung
GABAergik. Bahkan lebih jauh lagi, dapat meniadakan aktivitas inhibisi pada internal
segmen globus palidus dan pars retikulata substansia nigra. Karena struktur ini
menggunakan neurotransmitter GABA sebagai inhibitor, maka kelebihan output dari basal
ganglia akan menimbulkan peningkatan inhibisi bahkan dapat mematikan nukleus dari
thalamus dan batang otak yang menerima aliran tersebut.
1
Inhibisi yang berlebihan di thalamus menimbulkan supresi terhadap sistem motorik
kortikal yang memungkinkan terjadinya akinesia, rigiditas, dan tremor. Sedangkan inhibisi
terhadap proyeksi desendens area lokomotor batang otak dapat menyebabkan abnormalitas
gaya berjalan dan postur tubuh. Studi menggunakan positron-emission tomografi
menunjukkan kebalikan dari akinesia dengan obat-obatan dopaminergik yang dihubungkan
dengan peningkatan abnormal aktifitas dari area korteks motorik dan premotorik. Studi ini
menunjukkan bahwa dopamin dapat mengurangi kelebihan aliran inhibisi dari nukleus
basal ganglia. Tentu saja, terdapat pengurangan gejala dengan pemberian reseptor dopamin
agonis apomorphine (D1 dan D2) dalam dosis terapi parkinson pada primata yang diberi
MPTP dan pasien penyakit Parkinson.
1





Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 14






Gambar 4 Konsep keseimbangan neurokimia pada sistem ekstrapiramidal.
II. 6. Gambaran Klinis
Orang dengan penyakit parkinson mempunyai sikap berdiri dan berjalan khas,
yaitu badannya tidak bisa berdiri tegak tetap. Tubuh bagian atas berfleksi ke depan pada
persendian lumbal, kedua tungkai berfleksi pada sendi lutut dan panggul sehingga dalam
keseluruhannya didapatkan sikap membungkuk. Kedua lengan melekat pada samping
badan dalam posisi fleksi di siku dan pergelangan tangan. Langkah gerakan berjalan
dilakukan setengah diseret dan jangkauannya pendek-pendek. Kepalanya sedikit menunduk
dan bersikap kaku pada leher. Oleh karena sikap kepala tersebut dan karena kesulitan
menggerakkan bibir, maka seringkali air liur keluar mulut tanpa usaha untuk
membersihkan mulut atau menutup mulutnya secara rapat. Sewaktu berjalan kedua
lengannya tidak dilenggangkan, melainkan tetap melekat pada badannya dalam posisi fleksi
sedikit di sendi siku, sebaliknya tangan dan jari-jarinya sibuk bergemetar.
5
Berdiri dari tempat duduk untuk memulai berjalan tidak dapat dilaksanakan. Kalau
sudah dapat berdiri dengan pertolongan, kesukaran memulai gerakan berjalan dapat terlihat
pula dalam usahanya untuk menindakkan kakinya. Badan dan tungkai berancang-ancang
untuk bergerak, tetapi tidak berhasil. Dengan perintah lisan, gerakan berjalan dapat
dimulai. Kaki tidak dapat ditindakkan melainkan diseret dan sering berhenti di tengah jalan
tanpa sebab atau karena jalanan sedikit menyempit atau membelok. Penderita penyakit
parkinson tidak saja sukar memulai suatu gerakan, tetapi juga sukar untuk menghentikan
The image part with relationship ID rId11 was not found in the file.
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 15

gerakan yang sedang berlangsung, sehingga ia berjalan terus ke depan (propulsi) atau ke
belakang (retropulsi) atau ke samping (lateropulsi).
5

Bila penderita diminta untuk menempatkan secara santai tangannya di atas paha,
maka tremor langsung bangkit. Bila pada posisi demikian penderita disuruh menekuk-
nekukkan jari-jari tangan, maka tremor akan hilang. Raut muka penderita penyakit
parkinson tidak bercahaya dan tidak hidup, melainkan menyerupai raut wajah topeng.
Tawa, senyum, merengut, gerakan bola mata, dan gerakan kepala yang menghidupkan raut
muka orang sehat semuanya tidak terlihat padanya. Pandangan tampak kosong dengan
mulut terbuka dan matanya jarang mengedip. Penderita berbicara sangat pelan, tanpa aksen
(monoton), dan menjadi gagap karena mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan
pikirannya sehingga kata-katanya menjadi kurang jelas, lambat, dan sering diulang-ulang
kembali. Sebagian besar penderita memiliki intelektual yang normal, tetapi ada juga yang
menjadi pikun.
5,6

II. 6. 1. Gejala Motorik
y Tremor
Tremor saat istirahat Resting Tremor merupakan gejala tersering dan
mudah dikenali pada penyakit Parkinson. Tremor bersifat unilateral, dengan
frekuensi antara 4 sampai 6 Hz, dan hampir selalu terdapat di extremitas distal.
Tremor pada tangan digambarkan seperti memulung-mulung pil (pill rolling) atau
menghitung recehan logam. Resting tremor pada pasien penyakit parkinson tidak
hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi dapat pula mengenai bibir, dagu, rahang
dan tungkai. Namun tidak seperti tremor pada umumnya, tremor pada penyakit
parkinson jarang mengenai leher atau kepala dan suara. Karakteristik resting tremor
adalah tremor akan menghilang ketika penderita melakukan gerakan, juga selama
tidur. Beberapa pasien mengatakan adanya internal tremor yang tidak dikaitkan
dengan tremor yang terlihat. Pada awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi,
namun semakin berat penyakit tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi.
1,2,5
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 16


Beberapa pasien penyakit parkinson juga memiliki postural tremor yang
dirasa lebih utama dan lebih mengganggu dibandingkan resting tremor dan
mungkin merupakan manifestasi awal penyakit. Parkinson dengan adanya postural
tremor (re-emergent tremor) berbeda dari tremor essential dimana tremor
menghilang setelah pasien membentangkan tangannya dalam posisi horizontal.
Karena re-emergent tremor terjadi dalam frekuensi yang sama seperti halnya
resting tremor, dan juga memiliki respon terhadap terapi dengan obat-obatan
dopaminergik, maka re-emergent tremor dapat dianggap sebagai varian dari resting
tremor. Ada beberapa petunjuk dalam mendiagnosa tremor essential pada pasien
dengan penyakit parkinson. Termasuk didalamnya adalah anamnesa mengenai
lamanya tremor terjadi, riwayat keluarga dengan tremor, tremor pada region kepala
dan suara, dan tremor yang tidak berhenti dengan dilakukannya pembentangan
kedua tangan di depan tubuh ke arah horizontal, ada tidaknya rasa gemetar saat
menulis dan memilin, juga adanya tremor yang bertambah dengan konsumsi
alkohol.
1,5
Dalam perjalan penyakit parkinson, keberadaan resting tremor bervariasi
pada setiap pasien. Dalam salah satu studi, Hughes dan koleganya melaporkan
bahwa 69% pasien penyakit parkinson memiliki resting tremor saat onset penyakit
dan 75% pasien penyakit parkinson baru memiliki tremor pada perjalanan penyakit.
Tremor juga dilaporkan tidak dijumpai pada 9% pasien penyakit parkinson tahap
kronik, bahkan dilaporkan bahwa hanya 11% pasien penyakit parkinson yang sama
sekali tidak memiliki tremor. Studi patologi klinik mengatakan bahwa terjadi
degenerasi pada neuron di daerah otak tengah pada pasien penyakit parkinson
dengan gejala tremor.
1

y Rigidity
Rigiditas ditandai dengan adanya peningkatan tahanan otot, biasanya
disertai oleh adanya cogwheel phenomenon yang secara khusus dihubungkan
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 17

dengan adanya tremor. Terdapat melalui pergerakan pasif extremitas baik flexi,
extensi atau rotasi sendi. Jika kepalan tangan yang tremor tersebut digerakkan (oleh
orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu pada pergelangan tangan, terasa ada
tahanan seperti melewati suatu roda yang bergerigi sehingga gerakannya menjadi
terpatah-patah/putus-putus. Rigiditas dapat terjadi di tubuh bagian proximal
maupun bagian distal. Selain di tangan maupun di kaki, kekakuan itu bisa juga
terjadi di leher. Akibat kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak halus lagi seperti
break-dance. Foments maneuver merupakan manuver yang biasa digunakan
untuk memeriksa adanya rigiditas. Keistimewaan manuver ini dapat mendeteksi
rigiditas yang masih ringan.
1,2
Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan dengan postur yang
membungkuk. Sikap tubuh bagian atas berfleksi ke depan pada persendian lumbal,
kedua tungkai berfleksi pada sendi lutut dan panggul serta kedua lengan melekat
pada samping badan dalam posisi fleksi di siku dan pergelangan tangan. Langkah
gerakan berjalan dilakukan setengah diseret dan jangkauannya pendek-pendek
untuk mempertahankan pusat gravitasinya.
2,5
Rigiditas dapat disertai dengan nyeri, dan nyeri pada bahu adalah satu hal
tersering yang merupakan manifestasi dini penyakit Parkinson sehingga seringkali
terjadi misdiagnosis sebagai arthritis, bursitis, atau cedera pada otot-otot rotator
cuff. Sebuah prospektif studi yang dilakukan pada 6038 orang (usia rata-rata 68,5
tahun) dimana tidak terdapat demensia ataupun gejalan parkinsonism, ditemukan
adanya kekakuan, tremor, dan ketidakseimbangan yang diasosiasikan dengan
peningkatan resiko terjadinya penyakit parkinson. Melalui penelitian dengan
kohort, dengan follow up selama 5,8 tahun ditegakkan diagnosis 56 kasus penyakit
parkinson.
1



Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 18

y Bradikinesia
Bradikinesia berarti kelambanan dalam pergerakan dan merupakan
manifestasi klinik penyakit parkinson yang karakteristik, meskipun bradikinesia
juga dapat dijumpai pada penyakit lain, termasuk depresi. Bradikinesia merupakan
hal yang patognomonik yang menunjukkan kerusakan pada basal ganglia, meliputi
kesulitan dalam merencanakan dan menyelenggarakan gerakan, memulai gerakan,
dan kesulitan dalam melaksanakan gerakan secara simultan. Manifestasi awal
sering diawali dengan kelambanan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (ADL)
dan perlambatan pergerakan serta respon time yang menurun. Hal ini termasuk
kesulitan dalam melakukan gerak motorik halus seperti membuka kancing baju, dan
menggunakan perkakas. Manifestasi lain bradikinesia adalah hilangnya pergerakan
dan langkah spontan, air liur yang menetes dikarenakan gangguan menelan,
monotonik dan hipofonik disartria, kehilangan ekspresi wajah (hipomimia) dan
penurunan kedipan mata, pengurangan ayunan tangan sehingga cara berjalan tidak
lagi melenggang. Bradikinesia merupakan gejala dari penyakit parkinson yang
paling mudah untuk dikenali, dan mungkin terlihat jelas walaupun belum dilakukan
pemeriksaan neurologis. Pada bradikinesia juga dapat ditemukan gejala tambahan
seperti gerakan cepat, berulang, pergerakan tangan bergantian (ketukan jari,
menggenggan-genggam tangan, pronasi-supinasi tangan). Serta ketukan tumit tidak
hanya lambat tetapi juga amplitudo yang melemah.
1,5
Seperti halnya yang tampak dalam gejala parkinsonian yang lain,
bradikinesia bergantung pada keadaan emosional pasien. Sebagai contoh, pasien
yang sedang diam dan dalam keadaan tidak tertekan mungkin akan dapat
melakukan suatu pergerakan yang cepat seperti menangkap bola (atau mungkin
dapat berlari jika seseorang meneriakkan kebakaran). Fenomena ini (kinesia
paradoxica) menunjukkan bahwa pasien dengan penyakit parkinson memiliki fungsi
motorik yang utuh dan tidak terganggu, namun memiliki kesulitan dalam memulai
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 19

gerakan tanpa pencetus dari luar, seperti suara keras, musik keras, atau isyarat
visual yang meminta penderita untuk melintasi rintangan.
1
Meskipun patofisiologi dari bradikinesia masih belum dapat digambarkan
dengan baik, gejala ini tetap menjadi gejala utama yang mengemukakan kaitan
penyakit dengan tingkat defisiensi dopamin. Hal ini didukung dengan dilakukannya
observasi terhadap penurunan jumlah neuron di substansia nigra pada pasien usia
tua dengan gejala parkinsonism yang akhirnya didiagnosis sebagai penyakit
parkinson. Disamping itu, positron emission tomografi pada pasien dengan penyakit
parkinson menunjukkan penurunan pengambilan F-fluorodopa di striatum dan
accumbens-caudate komplek yang proporsional (berbanding lurus) dengan derajat
keparahan bradikinesia.
3,4
Secara hipotesa dikatakan bahwa bradikinesia merupakan gangguan pada
aktivitas normal korteks motorik yang disebabkan karena penurunan dopamin.
Studi fungsional neuroimaging juga memperlihatkan adanya gangguan penerimaan
pada sistem kortikal dan subkortikal yang meregulasi parameter pergerakan
(misalnya : kecepatan). Sebaliknya, penerimaan dari berbagai area premotor, seperti
kontrol visuomotor meningkat. Secara anatomi, defisit yang terjadi berlokasi di
putamen dan globus palidus yang menyebabkan penurunan produksi tenaga otot
dalam permulaan gerakan. Analisis melalui elektromiografi menunjukkan bahwa
pasien dengan bradikinesia tidak dapat menyediakan tenaga yang cukup untuk
memulai suatu gerakan dan mempertahankan kecepatan gerakan tersebut. Karena
pasien dengan penyakit parkinson memiliki penurunan dalam aktifitas
elektromiografi, maka mereka memerlukan pencetus agonis multipel untuk
menyelesaikan serangkaian pergerakan.
1,2

y Freezing
Gejala lain adalah freezing yang berarti motor block, yaitu berhenti di
tempat saat mau mulai melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik, dan start
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 20

hesitation, yaitu ragu-ragu untuk mulai melangkah. Merupakan suatu bentuk
akinesia (hilang pergerakan) dan merupakan gejala disabilitas paling penting pada
penyakit parkinson. Meskipun freezing merupakan gejala klinik yang khas, gejala
ini tidak selalu terdapat pada pasien dengan penyakit parkinson. Gejala ini lebih
sering terdapat pada laki-laki dibandingkan pada wanita. Freezing paling sering
mengenai tungkai saat berjalan, tetapi lengan dan kelopak mata juga dapat terkena.
Manifestasi klinik dapat terjadi secara mendadak dan bersifat sementara (biasanya
kurang dari 10 detik), sehingga dapat terjadi kesulitan dalam berjalan. Dalam hal ini
mungkin meliputi kesulitan untuk memulai berjalan atau terjadi secara tiba-tiba saat
sedang berjalan melintasi jalanan yang padat dan ramai. Freezing merupakan sebab
tersering terjadinya trauma.
1,2
Episode freezing tampak lebih parah pada fenomena OFF, yang mana
gejala ini dapat diredakan melalui terapi dengan levodopa. Faktor resiko
berkembangnya freezing termasuk ada tidaknya rigiditas, bradikinesia, instabilitas
postural dan lamanya pasien tersebut mengidap penyakit parkinson. Tremor yang
terjadi saat onset penyakit, dihubungkan dengan peningkatan resiko terjadinya
freezing. Freezing yang terdapat terutama pada fenomena ON, tidak selalu
memberikan respon dengan pemberian obat-obat dopaminergik, tetapi pasien
dengan pemberian selegilin memiliki resiko yang lebih rendah. Penyuntikan toksin
Botulinum walaupun efektif untuk bermacam-macam gejala parkinsonian, seperti :
tremor, distonia, dan sialorrhoea, namun secara konsisten masih belum efektif untuk
terapi terhadap freezing.
1,2

y Abnormalitas Motorik Lainnya

Pasien dengan penyakit Parkinson mungkin menunjukkan beberapa gejala
motorik sekunder yang dapat berpengaruh terhadap kegiatan mereka saat di rumah,
kantor, ataupun saat mengendarai mobil. Karena kerusakan pada lobus frontal yang
menghalangi terjadinya mekanisme inhibisi, beberapa pasien menunjukkan adanya
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 21

refleks primitif. Pada satu penelitian pada pasien penyakit parkinson, ditemukan
80,5% dari 41 pasien memiliki refleks primitif glabella. Gejala ini cukup sensitif
(83,3%) mengindikasikan adanya parkinsonian, namun tidak spesifik (47,5%) untuk
penyakit parkinson. Dalam penelitian ini juga didapatkan peningkatan sebanyak
34,1% terhadap refleks palmomental. Gejala ini tidaklah sensitif (33.3%) namun
lebih spesifik (90%) dibandingkan refleks glabella. Namun begitu, refleks-refleks
primitif ini tidak dapat dibedakan diantara 3 jenis kerusakan Parkinsonian (penyakit
Parkinson, PSP-progresif supranuclear palsy, MSA-multiple systems atrophy).
1,3
Gangguan pada bulbar ditandai oleh adanya disartria, hipofonia, disfagia
dan sialorea yang dalam pengamatan terhadap pasien penyakit parkinson dirasa
lebih mengganggu dibandingkan gejala-gejala utamanya. Gejala-gejala ini diduga
memiliki kaitan dengan orofacial-laryngeal bradikinesia dan rigiditas. Kesulitan
dalam berbicara pada pasien penyakit parkinson ditandai oleh monotonus, bicara
yang lembut, kesulitan dalam menemukan kata-kata yang dikenal dengan tip-of-
the-tongue phenomenon. Speech terapi seperti Lee Silverman Voice Treatment,
mempunyai penekanan dan upaya yang kuat dalam meningkatkan volume dan
kualitas berbicara, dan mungkin dapat meringankan gejala disartria. Disfagia
biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk memulai refleks menelan atau
disebabkan oleh pemanjangan pergerakan laring maupun esophagus. Disfagia
sering kali merupakan gejala subklinik, terutama pada fase awal perjalanan
penyakit. Penyakit parkinson yang dikaitkan dengan adanya gejala air liur yang
menetes merupakan manifestasi dari adanya penurunan dalam fungsi menelan.
1,5
Beberapa kelainan dalam neuro-ophtalmological mungkin dapat dijumpai
pada pasien dengan penyakit parkinson. Termasuk di dalamnya frekuensi kedipan
mata, iritasi permukaan ocular, halusinasi visual, blepharospasm dan penurunan
daya konvergensi. Derajat abnormalitas dalam neuro-ophtalmological dikaitkan
dengan progresifitas penyakit. Terapi dengan obat-obat dopaminergik, secara umum
meningkatkan perubahan ini. Namun, dalam salah satu penelitian dikemukakan
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 22

bahwa tidak terdapat perbedaan dalam kelainan neuro-ophtalmological antara
periode ON dan OFF pada pasien penyakit parkinson. Abnormalitas lain bidang
neuro-ophtalmological termasuk apraksia dalam membuka mata, oculogyric crises
dan keterbatasan dalam memandang keatas.
1
Gangguan respirasi pada pasien dengan penyakit parkinson dapat
merupakan suatu kelainan yang restriktif maupun obstruktif. Komplikasi ini sangat
penting dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas. Pneumonia merupakan faktor
prediksi dalam mortalitas pasien yang membutuhkan perawatan dirumah. Gangguan
respirasi bentuk obstruktif mungkin dikaitkan dengan adanya rigiditas, arthrosis
servikal atau pergerakan yang terbatas pada leher, sedangkan gangguan respirasi
bentuk restriktif mungkin dikaitkan dengan adanya rigiditas pada dinding dada.
1













Gambar 5 Postur khas pasien penyakit Parkinson.


The image part with relationship ID rId12 was not found in the file.
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 23

II. 6. 2. Gejala Non Motorik
y Disfungsi Otonom
Kegagalan fungsi otonom saat ini merupakan gejala klinik penyakit
parkinson, meskipun secara tipikal sering dihubungkan dengan MSA. Gejalanya
antara lain: hipotensi ortostastik, disfungsi dalam sekresi keringat, disfungsi proses
miksi dan disfungsi ereksi.
1
y Abnormalitas Fungsi Kognitif dan Neurobehaviour
Gangguan neuropsikiatrik dapat mengganggu sama halnya seperti gejala
motorik. Studi yang dilakukan oleh Sydney Multicenter of Parkinson Disease
menunjukkan bahwa 84% pasien mengalami penurunan fungsi kognitif yang setelah
diikuti selama 15 tahun, 48% diantaranya memenuhi kriteria diagnosis untuk
demensia. Prospektif studi lainnya menunjukkan bahwa pasien penyakit parkinson
memiliki resiko enam kali lipat lebih besar untuk terjadinya demensia dikemudian
hari. Penyakit parkinson yang dihubungkan dengan terjadinya demensia juga
dihubungkan komorbiditas neuropsikiatri. Diantara 537 pasien, depresi (58%),
apatis (54%), anxietas (49%), dan halusinasi (44%) merupakan hal yang tersering
dilaporkan. Sehubungan dengan disfungsi afektif dan kognitif, banyak pasien
dengan penyakit parkinson dilaporkan memiliki tingkah laku obsesif-kompulsif dan
impulsif. Gejala tingkah laku ini terkadang merupakan gejala hedonistic
homeostatic dysregulation. Disfungsi kognitif dan tingkah laku pada pasien
penyakit parkinson masih belum dapat dimengerti sepenuhnya.
1
y Gangguan Tidur
Meskipun gangguan tidur (misalnya : tidur yang berlebihan, serangan tidur)
untuk sebagian besar dianggap berasal dari efek terapi farmakologis, namun
beberapa klinikus saat ini percaya bahwa hal ini merupakan satu bagian integral
dari penyakit parkinson. Hal ini didukung oleh adanya suatu observasi yang
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 24

menunjukkan adanya rapid eye movement (REM) dalam gangguan tidur, yang
terdapat setidaknya pada 1/3 (sepertiga) pasien dengan penyakit parkinson.
Gangguan tidur REM saat ini telah dianggap sebagai pre-parkinsonian state yang
ditandai dengan peningkatan mimpi buruk, seperti : bicara dalam tidur, berteriak,
menyumpah, memukul, menendang, dan hal lainnya yang melibatkan aktivitas
motorik. Insomnia juga bisa terjadi (dengan prevalensi > 50%) dalam frekuensi
yang berbeda-beda di setiap pasien.
1
y Abnormalitas Sistem Sensorik
Gejala sensorik seperti disfungsi olfaktorik, nyeri, parestesi, akathisia, nyeri
daerah mulut, dan nyeri pada regio genitalia merupakan gangguan terbanyak namun
sekaligus sering tidak dikenali sebagai gejala parkinsonian. Dalam salah satu studi
ditemukan bahwa disfungsi sistem olfaktori (hiposmia) mungkin merupakan tanda
dini dari penyakit parkinson, hal ini dikorelasikan dengan meningkatnya resiko
sebanyak 10% terhadap terjadinya penyakit dalam 2 tahun kemudian. Telah
didalilkan bahwa disfungsi olfaktori dihubungkan dengan hilangnya neuron di area
kortikomedial amigdala, atau hilangnya neuron dopaminergik di bulbus
olfaktorius.
1,5
II. 7. Diagnosis
Diagnosis penyakit parkinson ditegakkan berdasarkan adanya tiga gambaran klinis.
Asimetri tanda-tanda penyakit saat onset merupakan hal yang penting. Jika diagnosis masih
diragukan, maka respons pasien terhadap terapi medikamentosa dapat berguna untuk
membantu diagnosis.
3

II. 7. 1. Kriteria Diagnostik oleh UK Parkinsons Disease Society Brain Bank
1
y Step 1
Bradikinesia
Setidaknya 1 dari kriteria di bawah ini :

Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 25

Rigiditas
Resting tremor 4-6 Hz
Instabilitas postural yang tidak disebabkan oleh gangguan primer visual,
vestibular, cerebellar ataupun gangguan proprioseptif
y Step 2
Singkirkan penyebab lain Parkinsonism
y Step 3
Setidaknya tiga dari faktor pendukung di bawah ini :
Onset unilateral
Resting tremor
Kerusakan progresif
Asimetris primer persisten sejak onset
Respon sempurna (70-100%) dengan levodopa
Chorea (diskinesia) berat diakibatkan penggunaan levodopa
Respons terhadap levodopa dalam 5 tahun atau lebih
Terdapat gejala klinis selama 10 tahun atau lebih
II. 7. 2. Kriteria Diagnostik Berdasar National Institute of Neurological Disorders
and Stroke (NINDS)
1
y Group A (Gejala khas penyakit Parkinson)
- Resting tremor
- Bradikinesia
- Rigiditas
- Onset asimetris
y Group B (Kriteria diagnosis alternative)
- Manifestasi klinis yang tidak biasa di awal penyakit
- Instabilitas postural dalam 3 tahun pertama setelah timbulnya gejala
- Freezing fenomena dalam 3 tahun pertama
- Halusinasi yang tidak terkait dengan pengobatan dalam 3 tahun pertama
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 26

- Demensia yang mendahului gejala motorik atau terdapat pada tahun
pertama
- Supranuclear gaze palsy
- Disautomonia simptomatik yang tidak terkait medikasi
- Adanya kondisi yang dapat menimbulkan gejala parkinsonism (lesi otak
fokal atau penggunaan obat neuroleptika dalam 6 bulan terakhir)
Kriteria definitive penyakit Parkinson
Seluruh kriteria yang menunjang Parkinson telah dijumpai
Konfirmasi histopatologi saat dilakukannya otopsi
Kriteria probable penyakit Parkinson
Ditemukan setidaknya 3 dari 4 kriteria grup A
Tidak terdapat salah satu kriteria dalam grup B
Respons terhadap levodopa ataupun dopamin agonis yang lamban
Kriteria possible penyakit Parkinson
Setidaknya 2 dari 4 kriteria grup A dijumpai
Tidak terdapat salah satu kriteria dalam grup B
Respons terhadap levodopa ataupun dopamin agonis yang sangat lamban
II. 8. Diagnosis banding dan Pemeriksaan Penunjang
1. Atrofi sistem multiple (multiple system atrophy, MSA)
Gambaran ekstrapiramidal bersama dengan satu atau lebih gejala berikut :
- Kegagalan otonom (sindrom Shy Drager)
- Disfungsi serebelar
- Gambaran pyramidal
Jika parkinsonisme lebih dominan, maka sindrom ini disebut MSA-P, sebaliknya bila
gambaran serebelar lebih dominan maka disebut MSA-C.
2. Palsi supranuklear progresif (PSP, sindrom Steel Richardson Olszweski)
Kegagalan pandangan volunter (pertama melirik ke arah bawah, kemudian ke arah atas,
kemudian horizontal) berhubungan dengan disfungsi ekstrapiramidal dengan
instabilitas postural awal dan demensia.
3. Sindrom kombinasi gambaran parkinsonian dan disfungsi korteks serebri
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 27

Degenerasi kortikobasal (sangat jarang)
Demensia yang disertai badan Lewy.
2,3
Beberapa gejala klinik seperti tremor, gaya berjalan yang abnormal (seperti,
freezing), instabilitas postural, gejala-gejala piramidal lain yang responsif dengan
pemberian levodopa dapat digunakan sebagai pembeda penyakit parkinson dengan
gangguan parkinsonian lainnya. Meskipun adanya perbedaan kepadatan reseptor dopamin
postsinaptik pada pasien dengan penyakit parkinson atau gangguan atypical parkinsonian
lainnya telah dikemukakan sebagai penjelasan terhadap lemahnya respon terhadap
pengobatan dengan levodopa, hal ini bukan merupakan satu-satunya penjelasan. Baru-baru
ini positron emission tomografi menunjukkan adanya preservasi relatif reseptor dopamin
pada PSP, yang diduga memiliki peranan terhadap penurunan respon terapi dengan
levodopa. Lebih jauh lagi pasien dengan MSA pada awalnya memiliki respon yang
sempurna, namun kemudian terjadi orofacial diskinesia dan hilangnya kemanjuran
antiparkinsonian terkait dengan pemberian levodopa. Meskipun adanya perbaikan dengan
levodopa diduga kuat sebagai penyakit parkinson, namun tidak berarti hal ini dapat
sepenuhnya membedakan penyakit parkinson dari penyakit parkinsonian lainnya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa 77% pasien yang memiliki respon sempurna terhadap terapi
dengan levodopa, secara patologik merupakan pasien dengan penyakit parkinson. Injeksi
subkutan apomorfin telah digunakan untuk membedakan penyakit parkinson dengan
gangguan parkinsonian lainnya; namun bagaimanapun test ini tidaklah lebih unggul
dibandingkan uji levodopa dan memiliki kontribusi yang kecil dalam evaluasi diagnostik.
1,3
Tehnik neuroimaging juga dapat berguna dalam mendiagnosis penyakit parkinson,
seperti : MRI, [
18
F]-fluorodopa positron emission tomografi, [
11
C]-eaclopride imaging of
dopamine D2 receptors dan single photon emission computed tomografi dari striatal
dopamine re-uptake. Satu penelitian mengungkapkan bahwa sonografi parenkim otak
mungkin memiliki spesifikasi yang tinggi dalam membedakan penyakit parkinson dengan
atypical parkinsonism. Walau bagaimanapun, hyperechogenicity yang abnormal dapat
ditemukan tidak hanya pada penyakit parkinson, melainkan juga pada tremor essential.
1
II. 9. Terapi
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 28

II. 9. 1. Terapi Medikamentosa
Dengan ditegakkannya diagnosis penyakit parkinson, tidaklah semata-
mata memulai terapi dengan pemberian obat-obatan. Terapi farmakologis
dibenarkan jika pasien telah merasa terganggu dengan gejala-gejala yang ada,
atau jika mulai timbul kecacatan. Keinginan dan pilihan pasien merupakan hal
yang mendasar dalam membuat keputusan untuk dimulainya terapi farmakologis.
2

Jika pasien membutuhkan terapi untuk mengatasi gejala motorik, maka
obat paling tepat yang digunakan untuk memulai terapi adalah levodopa, agonis
dopamin, antikolinergik, amantadin dan selektif monoamine oxidase B (MAO-B)
inhibitors. Kecuali untuk dilakukannya perbandingan pada individu dengan
pemakaian agonis dopamin dan levodopa, dalam hal ini tidak terdapat perbedaan
yang kuat mengenai keunggulan 2 obat tersebut. Namun pengalaman secara klinik
menunjukkan bahwa obat-obat dopaminergik lebih poten dibandingkan
antikolinergik, amantadin, dan selektif monoamine oxidase B (MAO-B)
inhibitors. Dengan adanya alasan inilah obat-obat dopaminergik digunakan
sebagai terapi inisial. Guidelines dari the American Academy of Neurology dan
evidence-based menurut Movement Disorder Society menyatakan bahwa terapi
inisial dengan menggunakan levodopa atau agonis dopamin, memiliki alasan yang
dapat diterima.
1
y Levodopa

Levodopa merupakan prekursor dopamin, diyakini merupakan obat
antiparkinsonian yang paling efektif. Di dalam otak, levodopa dirubah menjadi
dopamin. L-dopa akan diubah menjadi dopamin pada neuron dopaminergik oleh
L-aromatik asam amino dekarboksilase (dopa dekarboksilase). Walaupun
demikian, hanya 1-5% dari L-Dopa memasuki neuron dopaminergik. Sisanya
dimetabolisme di sembarang tempat, mengakibatkan efek samping yang luas.
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 29

Karena mekanisme feedback, akan terjadi inhibisi pembentukan L-Dopa
endogen.
2
Levodopa dalam penggunaannya dikombinasikan dengan peripheral
decarboxylase inhibitor seperti carbidopa, untuk mengurangi terjadinya
dekarboksilasi levodopa sebelum mencapai neuron dopaminergik di otak.
Tersedia dalam bentuk immediate-release dan controlled-release. Carbidopa plus
levodopa dikombinasikan dengan catechol O-methyltransferase inhibitor,
entacapone, merupakan satu preparat lain yang di produksi untuk menciptakan
suatu prolong aksi dengan mencegah terjadinya metilasi.
1
Dalam percobaan yang membandingkan efektivitas levodopa dan agonis
dopamin yang dilakukan secara random, menunjukkan peningkatan Activities of
Daily Living (ADL) dan motorik sebanyak 40-50% dengan penggunaan levodopa.
Levodopa mengurangi tremor, kekakuan otot dan memperbaiki gerakan.
1,2
Banyak dokter menunda pengobatan simtomatis dengan levodopa sampai
memang dibutuhkan. Bila gejala pasien masih ringan dan tidak mengganggu,
sebaiknya terapi dengan levodopa jangan dilakukan. Hal ini mengingat bahwa
efektivitas levodopa berkaitan dengan lama waktu pemakaiannya. Levodopa
melintasi sawar darah otak dan memasuki susunan saraf pusat dan mengalami
perubahan enzimatik menjadi dopamin. Dopamin menghambat aktivitas neuron di
ganglia basal.
2
Efek samping levodopa dapat berupa :
2
1) Nausea, muntah, distress abdominal
2) Hipotensi postural
3) Sesekali akan didapatkan aritmia jantung, terutama pada penderita yang
berusia lanjut. Efek ini diakibatkan oleh efek beta-adrenergik dopamine pada
system konduksi jantung. Ini bisa diatasi dengan obat beta blocker seperti
propanolol.
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 30

4) Diskinesia, yang paling sering ditemukan melibatkan anggota gerak, leher atau
muka. Diskinesia sering terjadi pada penderita yang berespon baik terhadap
terapi levodopa. Beberapa penderita menunjukkan gejala on-off yang sangat
mengganggu karena penderita tidak tahu kapan gerakannya mendadak menjadi
terhenti, membeku, dan sulit. Jadi, gerakannya terinterupsi sejenak.
5) Abnormalitas laboratorium. Granulositopenia, fungsi hati abnormal, dan ureum
darah yang meningkat merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada terapi
levodopa.
Efek samping levodopa pada pemakaian bertahun-tahun adalah
diskinesia yaitu gerakan motorik tidak terkontrol pada anggota gerak maupun
tubuh. Respon penderita yang mengkonsumsi levodopa juga semakin lama
semakin berkurang. Untuk menghilangkan efek samping levodopa, jadwal
pemberian diatur dan ditingkatkan dosisnya. Juga dengan memberikan tambahan
obat-obat yang memiliki mekanisme kerja berbeda seperti dopamin agonis,
COMT inhibitor atau MAO-B inhibitor. Jika kombinasi obat-obatan tersebut juga
tidak membantu, disini dipertimbangkan pengobatan operasi. Operasi bukan
merupakan pengobatan standar untuk penyakit parkinson dan juga bukan sebagai
terapi pengganti terhadap obat-obatan yang diminum.
2
Banyak alasan yang mendasari terjadinya kegagalan terapi dengan
menggunakan levodopa, termasuk di dalamnya penggunaan yang tidak sesuai
indeks respon (seperti tremor), dosis yang tidak adekuat, durasi terapi yang tidak
adekuat, dan interaksi obat (misalnya : penggunaan levodopa bersamaan dengan
metoclopramide atau risperidone). Percobaan dengan levodopa harus digunakan
selama 3 bulan dengan peningkatan dosis bertahap, setidaknya 1000 mg per hari
(bentuk immediate-release) atau sampai dosis limitasi yang menampakkan efek
merugikan sebelum pasien tidak memiliki respon lagi terhadap pengobatan
dengan levodopa. Karena kegagalan terapi terhadap dosis terapi levodopa hanya
dicapai sebanyak kurang dari 10% pasien yang secara patologi terbukti menderita
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 31

penyakit parkinson, maka kegagalan yang timbul diduga merupakan suatu
kemungkinan dari adanya kerusakan lain yang mengindikasikan tidak adanya
terapi farmakologis ataupun terapi pembedahan yang menguntungkan.
1,2

y Agonis Dopamin
Meskipun agonis dopamin kurang efektif dibandingkan dengan levodopa,
obat-obatan ini merupakan obat first line alternative dalam terapi penyakit
parkinson. Bermacam-macam agonis dopamin memiliki efektivitas yang hampir
mirip. Salah satu keuntungan yang potensial dari obat ini dibandingkan dengan
levodopa ialah rendahnya resiko untuk terjadinya diskinesia dan fluktuasi fungsi
motorik sebagai efek terapi dalam 1 hingga 5 tahun pengobatan, khususnya pada
pasien yang mendapatkan agonis dopamin sebagai pengobatan tunggal. Namun
bagaimanapun, sering dibutuhkan penggunaan kombinasi dari agonis dopamin
dan levodopa selama beberapa tahun setelah diagnosis ditegakkan, untuk
mengontrol gejala-gejala lanjutan. Agonis dopamin dihindari pemakaiannya pada
pasien dengan demensia, karena kecenderungan obat ini dalam menimbulkan
halusinasi.
1
Obat-obat agonis dopamin yang lama dikenal, seperti bromokriptine dan
pergolid merupakan derivat ergot yang jarang menimbulkan fibrosis
retroperitoneal, pleural, dan pericardial. Baru-baru ini dilaporkan mengenai
hubungan antara penggunaan pergolid dengan terjadinya penebalan dan disfungsi
katup-katup jantung. Hasil echocardiografi pada pasien dengan penggunaan
pergolid jangka panjang menunjukkan adanya penyakit restriktif valvular dengan
resiko 2 sampai 4 kali lipat lebih besar dibandingkan pasien penyakit parkinson
yang tidak mendapat terapi dengan pergolid. Dengan adanya peristiwa ini, agonis
dopamin yang berasal dari derivat ergot, seperti pramipexole dan ropinirole tidak
diberikan.
1
y Obat-obatan Lainnya
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 32

Secara umum antikolinergik tidak digunakan sebagai pengobatan dalam
penyakit parkinson, dikarenakan efeknya yang merugikan. Namun, obat-obatan
golongan ini kadang ditambahkan jika gejala tremor dirasa sangat mengganggu
dan tidak responsif dengan pengobatan lain meskipun sesungguhnya fakta di
lapangan menunjukkan kekurangefektifan obat ini dalam mengurangi tremor.
Obat golongan antikolinergik merupakan kontraindikasi pada pasien dengan
demensia dan biasanya dihindari penggunaannya pada pasien yang berusia lebih
dari 70 tahun.
1
MAO inhibitor dan amantadin memiliki beberapa efek yang merugikan
dan membutuhkan peningkatan titrasi sedikit demi sedikit untuk mencapai dosis
terapetik. Namun karena efek dari obat-obatan ini cenderung lemah, maka obat ini
tidak digunakan sebagai obat tunggal dalam pengobatan.
1










Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 33










Gambar 6Mekanisme kerja obat yang meningkatkan trans-misi dopaminergik pada penyakit
Parkinson. Amantadin, obat anti-Parkinson yang lemah, bekerja melalui bebera-pa mekanisme.
Selain efek yang diilustrasikan pada gambar yang ber-hubungan langsung dengan transmisi dopa-
minergik, juga ada efek tidak langsung (indi-rek) melalui jalur yang menggunakan neuro-
transmitorlain, misalnya glutamat.








Gambar 7. Jalur metabolisme dopamine. Selain degradasi enzimatik oleh monoamin oksidase
tipe B (MAO-B) dan katekol-O-metil transferase (COMT), dopamin juga dipindahkan dari celah
sinaps oleh mekanisme reuptake selektif ke dalam neuron.


Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 34

Tabel 1. Obat-obatan untuk mengobati penyakit Parkinson
7
Obat Aturan Pemakaian Keterangan
levodopa
(dikombinasikan
dengan karbidopa)
Merupakan pengobatan utama
untuk Parkinson
Diberikan bersama karbidopa untuk
meningkatkan efektivitasnya &
mengurangi efek sampingnya
Mulai dengan dosis rendah, yg
selanjutnya ditingkatkan sampai
efek terbesar diperoleh
Setelah beberapa
tahun digunakan,
efektivitasnya bisa
berkurang
bromokriptin atau
pergolid
Pada awal pengobatan seringkali
ditambahkan pada pemberian
levodopa untuk meningkatkan kerja
levodopa atau diberikan kemudian
ketika efek samping levodopa
menimbulkan masalah baru
Jarang diberikan
sendiri
Selegilin
Seringkali diberikan sebagai
tambahan pada pemakaian levodopa
Bisa meningkatkan
aktivitas levodopa
di otak
Obat antikolinergik
(benztropin &
triheksifenidil), obat
anti depresi tertentu,
antihistamin
(difenhidramin)
Pada stadium awal penyakit bisa
diberikan tanpa levodopa, pada
stadium lanjut diberikan bersamaan
dengan levodopa, mulai diberikan
dalam dosis rendah
Bisa menimbulkan
beberapa efek
samping
Amantadin
Digunakan pada stadium awal untuk
penyakit yg ringan
Pada stadium lanjut diberikan untuk
meningkatkan efek levodopa
Bisa menjadi tidak
efektif setelah
beberapa bulan
digunakan sendiri

II. 9. 2. Terapi Non Farmakologis
y Terapi Pembedahan
Thalamotomy dan thalamic stimulation, deep brains stimulation (DBS)
dengan implantasi elektroda dapat merupakan terapi yang mujarab dalam
mengatasi tremor pada penyakit parkinson ketika sudah tidak ada lagi respon
dengan pengobatan non surgical. Pallidotomy, pallidal deep brain stimulation
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 35

dapat mengatasi gejala-gejala penyakit parkinson pada pasien yang responnya
terhadap medikasi antiparkinsonism mengalami komplikasi dengan adanya
fluktuasi fungsi motorik yang memburuk dan diskinesia. Pada tahap dini, terapi
pembedahan bukan merupakan indikasi. Tindakan ini juga cukup beresiko serta
membutuhkan biaya yang mahal, maka terapi pembedahan ini tidak mempunyai
peran pada awal penyakit Parkinson.
1,3
Transplantasi sel dengan menggunakan substansia nigra fetus masih
merupakan teknik yang eksperimental. Perannya terhadap terapi penyakit
parkinson idiopatik masih belum ditetapkan walau pada pasien parkinsonisme
akibat MPTP telah menunjukkan perbaikan yang bermakna.
3
y Terapi Neuroprotektif
Saat ini, belum ditemukan bukti yang mendukung bahwa pemberian
neuroprotektif memiliki efektivitas. Namun begitu, percobaan klinik menyatakan
bahwa selektif MAO-B inhibitor, agonis dopamin dan coenzyme Q10 mungkin
dapat memperlambat progresivitas penyakit. Masih banyak data yang dibutuhkan
untuk menjelaskan efektivitas neuroprotektif dalam terapi penyakit parkinson.
y Terapi Psikis
Dukungan dan edukasi merupakan hal sangat kritis saat seorang pasien
didiagnosis sebagai penderita penyakit parkinson. Pasien harus mengerti bahwa
penyakit parkinson merupakan penyakit kronik progresif dengan tingkat
progresivitas yang berbeda-beda pada setiap orang. Telah banyak pendekatan
yang dilakukan untuk memperingan gejala. Adanya group pendukung yang
berisikan pasien penderita parkinson tahap lanjut, akan lebih membantu penderita
yang baru saja didiagnosis sebagai penderita penyakit parkinson. Pasien harus
diberikan nasehat mengenai latihan, termasuk stretching, strengthening, fitness
kardiovaskular, dan latihan keseimbangan walaupun hanya dalam waktu singkat.
Studi jangka pendek menyatakan bahwa hal ini dapat meningkatkan kemampuan
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 36

penderita dalam melakukan aktivitas sehari-hari, kecepatan berjalan, dan
keseimbangan.
1
II. 10. Prognosis
Obat-obatan yang ada sekarang hanya menekan gejala-gejala parkinson,
sedangkan perjalanan penyakit itu belum bisa dihentikan sampai saat ini. Sekali terkena
parkinson, maka penyakit ini akan menemani sepanjang hidupnya.
2
Tanpa perawatan, gangguan yang terjadi mengalami kemajuan hingga terjadi total
disabilitas yang sering disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak secara umum dan
dapat menyebabkan kematian.
2
Dengan perawatan, gangguan pada setiap pasien berbeda-berbeda. Kebanyakan
pasien berespon terhadap medikasi, perluasan gejala berkurang, dan lamanya gejala
terkontrol sangat bervariasi. Efek samping pengobatan terkadang dapat sangat parah.
2
Penyakit parkinson sendiri tidak dianggap sebagai penyakit yang fatal, tetapi
berkembang sejalan dengan waktu. Rata-rata harapan hidup pada pasien penyakit
parkinson pada umumnya lebih rendah dibandingkan yang tidak menderita penyakit
parkinson. Pada tahap akhir, penyakit parkinson dapat menyebabkan komplikasi seperti :
tersedak, pneumoni, dan memburuk yang dapat menyebabkan kematian.
2
Progresivitas gejala pada penyakit parkinson dapat berlangsung 20 tahun atau
lebih. Namun demikian, pada beberapa orang dapat lebih singkat. Tidak ada cara yang
tepat untuk memprediksikan lamanya penyakit ini pada masing-masing individu. Dengan
penanganan yang tepat, kebanyakan pasien penyakit parkinson dapat hidup produktif
beberapa tahun setelah didiagnosis.
2

Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 37

BAB III
PENUTUP
Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif,
merupakan suatu penyakit/sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau
tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/ neostriatum (striatal
dopamine deficiency). Ditandai dengan adanya kelainan dari segi fungsi motorik dan non-
motorik dalam berbagai derajat.
Hingga saat ini diagnosis dari penyakit parkinson didasarkan pada kriteria klinik, karena
belum adanya test definitif dalam menegakkan diagnosis penyakit parkinson. Resting tremor,
bradikinesia, rigidity, dan postural instability secara umum merupakan tanda-tanda pokok dari
PD dan merupakan suatu disfungsi motorik.

Adanya tanda tanda spesifik tersebut diatas
merupakan hal yang dapat membedakan penyakit parkinson dengan parkinsonian disorder
(parkinsonism).
Kriteria klinik lain pada penyakit parkinson termasuk gejala motorik sekunder; seperti
hypomimia, disartria, disfagia, sialorhoea, mikrografia, shuffling gait, festination, freezing.
distonia, glabela reflek. Gejala non-motorik; disfungsi otonom, defisit kognitif dan
neurobehavioral, gangguan tidur, abnormalitas dari fungsi sensorik seperti anosmia, parestesia
dan nyeri.
Ketiadaan resting tremor, sikap/cara berjalan yang terganggu, instabilitas postural,
demensia, halusinasi dan adanya gangguan fungsi otonom, oftalmoparesis, ataxia dan gejala
atypical lainnya, disertai respon terhadap levodopa yang tidak baik dan tidak memuaskan,
memberi kesan diagnosis lain diluar penyakit parkinson.
Pengertian secara cermat, tepat, dan luas dalam manifestasi klinis penyakit parkinson
merupakan hal yang mendasar dalam menegakkan diagnosis. Mutasi genetik atau variannya,
abnormalitas dalam neuroimaging dan tes lainnya merupakan biomarker potensial dalam
mengembangkan diagnosis dan mengidentifikasi resiko yang dialami pasien.
Parkinson Tyas Andiany Pravitasari (406090071)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang
Periode 18 Januari 20 Februari 2010 38

Medikasi yang ada saat ini, hanya mengobati gejala yang timbul dan gagal untuk
menghentikan kematian sel-sel neuron dopaminergik. Halangan terbesar dalam pengembangan
terapi neuroprotektif adalah keterbatasan dalam memahami proses penyakit yang berperan dalam
kematian neuron dopaminergik. Sementara etiologi dari kematian neuron dopaminergik masih
sukar untuk dipahami. Kombinasi dari kerentanan genetik dan faktor lingkungan, tampaknya
memiliki peranan yang penting.
Penyakit parkinson merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara
holistik meliputi berbagai bidang. Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit
ini, tetapi pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul . Obat-obatan yang ada
sekarang hanya menekan gejala-gejala parkinson, sedangkan perjalanan penyakit itu belum bisa
dihentikan sampai saat ini. Sekali terkena parkinson, maka penyakit ini akan menemani
sepanjang hidupnya.
Tanpa perawatan, gangguan yang terjadi mengalami kemajuan hingga terjadi total
disabilitas, sering disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak secara umum, dan dapat
menyebabkan kematian. Dengan perawatan, gangguan pada setiap pasien berbeda-berbeda.
Kebanyakan pasien berespon terhadap medikasi. Perluasan gejala berkurang, dan lamanya gejala
terkontrol sangat bervariasi. Efek samping pengobatan terkadang dapat sangat parah.