Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

ANALISIS STUDI KASUS SIMULASI PERANG


AS-CINA

DITUJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
KEAMANAN GLOBAL 1

DISUSUN OLEH:
ANGGUN LAZUARDI 170210110015
ANANDA SUCI MUNGGARAN 170210110029
MILA OKTAVIANI 170210110033
JAMAL BAZIAD 170210110034
ANGGIKA RAHMADIANI KURNIA 170210110035
PUTRI NURIL KOMARI BADRI 170210110047
RISKY FEBRIAN 170210110049
RISKA SETIAWATI 170210110066
IKA PRASTIA LUTFIANTI 170210110108
IKHSAN HANAFI 170210110118
FINA DEVALENTIA DAUD 170210110135
AYUDIA PUTRI PERMATA 170210110148





UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
2014
BAB I
Pendahuluan
1. Latar Belakang dan Pembatasan Masalah
Di tengah persaingan ekonomi antara Cina dan Amerika Serikat, kedua negara
tersebut turut melakukan persaingan dalam bidang keamanan mengenai persenjataan
nuklir. Dalam hal ini nuklir dijadikan sebagai detterence tool bagi kedua negara. Pada
dasarnya, kedua negara tersebut telah lama membicarakan mengenai kepemilikan
senjata nuklir antara kedua negara tersebut. Sejak tahun 1980 telah terjadi pembicaraan
mengenai nuklir di antara mereka.
1
Pada pertemuan tersebut menyepakati bahwa
pembahasan mengenai nuklir akan dilakukan dengan cara track I diplomacy yakni
pemerintah dengan pemerintah (G to G) atau track II diplomacy yakni antar aktor non
negara.
2
Adanya pertemuan tersebut tidak menjamin bahwa masing-masing negara akan
memberitahukan perkembangan nuklirnya. Hal ini seperti yang dilakukan Cina dimana
melakukan pengembangan nuklir tanpa sepengatahuan AS dan pada faktanya
mengambil teori nuklir dari AS.
Pada Januari 1999, bagian dari badan keamanan Amerika yakni Cox
mengatakan bahwa setelah dilakukan penyelidikan terbukti Cina telah memodernisasi
senjata nuklirnya dengan cara mencuri pengetahuan nuklir Amerika Serikat.
3
Akibat
dari tindakan yang dilakukan oleh Cina ini maka Cina mendapatkan keuntungan-
keuntungan sebagai berikut:
1. Cina telah mencuri informasi desain 7 senjata termonuklir paling canggih milik
Amerika Serikat
2. Desain yang telah dicuri mampu membuat Cina untuk mendesain,
mengembangkan dan menguji nuklirnya dalam waktu yang lebih cepat dari
yang diperkirakan

1
John K. Warden, et al. 2013. Nuclear Weapons and US-China Relations. Washington DC : Center For
Strategic & International Studies, hal 16.
2
Li Bin. 2011. Promoting Effective China-U.S Strategic Nuclear Dialogue. Carnegie Endowment For
International Peace. Dari http://carnegieendowment.org/2011/10/18/promoting-effective-china-u.s.-
strategic-nuclear-dialogue/8kzx diakses pada 08 April 2014.
3
Hans. M. Kristensen, et al. 2006. Chinese Nuclear Forces and U.S Nuclear War Planning. Washington
DC: The Federation of American Scientist & The Natural Resources Defense Council, hal 23-24.
3. Adanya pencurian ini membuat kapabilitas nuklir Cina dapat menyamai
Amerika Serikat
4. Cina akan mampu untuk melakukan pengembangan pada nuklirnya khususnya
pada bagian small warheads di tahun 2002.
5. Tindakan Cina ini diperkirakan terus dilakukan sampai saat ini secara diam-
diam.
4

Adanya tindakan pencurian yang dilakukan oleh Cina membuat Amerika Serikat
khawatir akan keamanan negaranya. Amerika Serikat pun memberikan status kepada
Cina sebagai negara yang mendapat perhatian lebih mengenai senjata nuklirnya. Hal ini
pun seperti yang disampaikan Amerika Serikat pada era Bush tahun 2002 dalam
Nuclear Posture Review yang menyatakan secara eksplisit bahwa Cina sebagai
kemungkinan yang paling berpotensi atau terdekat untuk melawan kekuatan nuklir
Amerika Serikat.
5
Adanya pernyataan AS ini tidak membuat Cina terkejut karena Cina
telah terlebih dahulu memiliki masalah dengan Amerika Serikat atas Taiwan.
6
Status
Taiwan pada saat ini masih merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina, tetapi
Amerika Serikat dengan inisiatifnya ingin membantu Taiwan untuk menjadi negara
yang merdeka.
7
Dari permasalahan ini timbullah ketegangan antara Amerika Serikat dan
Cina. Ketegangan antara AS dan Cina membuat AS mengambil sebuah tindakan
strategis.
Tindakan tersebut berasal dari Pentagon dengan menulis sebuah rencana perang
baru (Operations Plan (OPLAN) 5077).
8
Dari tahun 2003 2005, Pentagon
memasukkan OPLAN 5077 ke dalam operasi pengawasan perairan di Selat Taiwan
dimana daratan Cina menjadi objek sasarannya.
9
Selain itu, dalam operasi tersebut juga
telah terdiri dari persiapan yang diperlukan bila akan terjadi perang dengan Cina serta
telah ada rencana untuk menggunakan nuklir.
10
Dalam hal ini terlihat bahwa AS telah

4
Hans. M. Kristensen et al, ibid hal 24.
5
Lora Saalman. 2011. China & The U.S Nuclear Posture Review. Washington DC : Carnegie-Tsinghua,
hal 3.
6
Joanne Tompkins. 2003. How US Strategic Policy is Changing Chinas Nuclear Plans. Arms Control
Association diakses dari http://www.armscontrol.org/act/2003_01-02/tompkins_janfeb03 diakses pada
08 April 2014.
7
Joanne Tompkins, ibid
8
Hans. M. Kristensen et al, ibid hal 19
9
Hans. M. Kristensen et al, ibid
10
Hans. M. Kristensen et al, ibid
memiliki rencana untuk menyerang Cina bahkan bila serangan nuklir dibutuhkan, AS
akan melakukannya. Berkaitan dengan respon Cina atas rencana serangan AS, terdapat
beberapa pandangan. Beberapa pihak menyatakan bahwa Cina akan melanggar doktrin
nuklirnya sendiri yaitu no-first-use.
11
Namun, pada tahun 2005 kejadian serangan AS
tersebut belum terjadi sehingga masih belum dapat diketahui mengenai keteguhan Cina
dalam melaksanakan doktrinnya.
Ketegangan nuklir antara AS dan Cina, masih terus terjadi hingga saat ini. Pada
19 Juni 2013, Amerika Serikat dibawah pemerintahan Obama mengeluarkan sebuah
statement melalui pidatonya di Berlin mengenai Nuclear Weapons Employment
Strategy.
12
Dalam Report on The Nuclear Weapons Employment Strategy tersebut,
terdapat bagian yang menyatakan bahwa Amerika Serikat masih memberikan perhatian
penuh terhadap nuklir Cina yakni The United States is concerned about many aspects
of Chinas conventional military modernization efforts and is watching closely the
modernization and growth of Chinanuclear arsenal
13
. Respon Cina atas kebijakan
yang dikeluarkan AS tersebut adalah terus melakukan perkembangan terhadap
kapabilitas nuklirnya.
14

Dalam hal ini terlihat bahwa kedua negara melakukan persiapan kapabilitas
nuklir di wilayahnya masing-masing. Kemungkinan terjadinya nuclear warfare antara
kedua negara tersebut akan selalu ada. Pada makalah ini akan difokuskan untuk melihat
kemungkinan nuclear warfare berdasarkan kondisi pada tahun 2005 ketika Amerika
Serikat menyertakan OPLAN 5507 (war plan) ke dalam operasi militernya di perairan
Selat Taiwan dimana Cina menjadi objek sasarannya.


11
Bill Gertz. 2013. First Strike : China Omission of No-First-Use Nuclear Doctrine in Defense White
Paper Signals Policy Shift. The Washington Free Beacon. Dari http://freebeacon.com/national-
security/first-strike/ diakses pada 8 April 2014.
12
Chris Lindborg et al. 2013. Implications of President Obamas Speech in Berlin and Nuclear Strategy
Review. British American Security Information Council. Dari
http://www.basicint.org/news/2013/implications-president-obama%E2%80%99s-speech-berlin-and-
nuclear-strategy-review, diakses pada 8 April 2014.
13
Department of Defense. 2013. Report on Nuclear Employment Strategy of The United States Specified
in Section 491 of 10 U.S.C. hal 3.
14
Richard Weltz. 2013. Chinese Nuclear Force Modernization and Its Arms Control Implications. ISN
ETH Zurich. Dari http://www.isn.ethz.ch/Digital-Library/Articles/Detail/?id=171723 diakses pada 8
April 2014.
BAB II
Tinjauan Teoritis
1. Offensive Realism
Dari beberapa jenis aliran realisme yang ada, hakikatnya semua aliran
menyepakati beberapa konsep bersama sebagai landasan. Konsep yang paling penting
adalah konsep 3S (statism, self-help, survival). Disepakati pula bahwa pada dasarnya
sistem-lah yang menentukan hasil dan perilaku dari politik internasional. Terakhir,
negara disepakati sebagai sebagai aktor rasional dalam setiap proses pembuatan
keputusan luar negeri. Tetapi, terdapat beberapa perbedaan pada beberapa isu yang ada
diantara jenis-jenis realisme tersebut. Salah satunya adalah offensive realism.
Offensive realism memandang bahwa power merupakan sebuah cara untuk
mencapai survival karena pada dasarnya survival merupakan tujuan setiap negara.
15

Bukan untuk menjadi global hegemon. Bukan pula power tersebut sebagai tujuan akhir.
Tetapi kemudian, pertanyaan yang muncul adalah seberapa besar power yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut? Menurut offensive realism , dalam menjaga
dan memaksimalkan sekuritas-nya, great power hanya perlu untuk memaksimalkan
relative power yang mereka miliki terhadap entitas lain dan memaksimalkan share of
world power yang mereka miliki
16
Negara yang memaksimalkan relative power akan
selalu berusaha untuk mendapatkan power advantage sebesar mungkin dari rivalnya.
Mereka tidak akan memperhatikan seberapa besar power yang mereka miliki. Hal yang
paling penting adalah bagaimana caranya agar rival mereka tidak mendapatkan
keuntungan atau power yang lebih besar. Hal tersebut dilakukan karena pada dasarnya
great power hanya memiliki dua pilihan yaitu balancing atau buck-passing dalam
penggunaan power-nya.
Buck-passing sendiri adalah usaha yang dilakukan dengan cara menggunakan
negara lain untuk memikul beban atau sebagai tameng dari usaha untuk menghalangi

15
John J. Mearsheimer. 2001. The Tragedy of Great Power Politics. New York : W.W.Norton 2001, hal.
24; dan Eric J.Labs. 1997. Beyond Victory: Offensive Realism and the Expansion of War Aims. Security
Studies 6, no.4 hal 1-49.
16
Ibid.,
kemungkinan berperang terhadap negara agresor.
17
Singkatnya great power tidak
terlibat langsung dalam peperangan dan hanya menyokong buck-catcher. Sebagai
contohnya AS menjadikan Jepang sebagai buck-catcher untuk mengimbangi kekuatan
Cina di kawasan Asia Timur. Buck-passing dilakukan karena jika memilih
bandwagoning atau teknik lainnya, negara agresor seolah dikaui power-nya sebagai
ancaman bagi great power dan pada akhirnya agresor mendapatkan keuntungan lebih
banyak. Selain itu, dengan memilih buck passing, great power hanya mengeluarkan
sedikit biaya karena tidak terlibat langsung tetapi tetap mendapatkan keuntungan
banyak karena agresor dapat ditangani melalui buck-catcher.
Yang menjadi catatan adalah buck-passing tidak bisa dilakukan pada sistem
bipolar karena pada akhirnya akan menjadi balancing. Selain itu, faktor geografis pun
menentukan pelaksanaan buck-passing.
18
Jika great power dan agresor berbatasan
secara geografi, maka buck-passing tidak mungkin dilakukan karena mau tidak mau, hal
yang muncul adalah balancing secara langsung antara great power dan agresor.
Singkatnya kondisi geografis dan distribusi power menjadi bahan pertimbangan great
power untuk memilih buck-passing atau balancing.
Dalam penentuan pemilihan buck-passing atau balancing pun great power akan
berfokus terhadap potensi kapabilitas rival bukan apa tujuan rival.
19
Great power akan
mengakumulasikan seberapa besar power yang dimiliki rival dan tidak akan terlalu
memperhatikan tindakan ofensif yang dilakukan oleh rivalnya jika akumulasi power
rival dinilai tidak terlalu mengancam posisi mereka. Great power lebih memperhatikan
bagaimana caranya untuk mempertahankan situasi balancing yang ada dari ancaman
lawan yang lebih powerful. Great power membiarkan hal tersebut menjadi peluang bagi
negara yang lebih lemah untuk merubah sistem balancing sesuai yang mereka mau.
Great power hanya akan merubah sistem balance of power jika keuntungan yang
didapat lebih besar dibanding biaya yang harus dikeluarkan dengan melakukan

17
Randall L.Schweller. Unanswered Threats : A Neoclassical Realist Theory of Underbalancing,
International Security. Vol.29 No.2 (Autumn, 2004) Hal.166
18
David C.Kang. China Rising: Peace, Power and Order in East Asia. Asia Policy, No.6 (July 2008)
hal.176
19
Yuan Kang Wang. Offensive Realism and the Rise of China. Issues & Studies 40 no.1 (March 2004):
173-201. Hal 181
balancing.
20
Sehingga pada akhirnya seluruh negara kecuali negara hegemon, adalah
revisionist yang berusaha mengubah sistem balance of power yang sesuai mereka
harapkan ketika ada peluang untuk memperoleh power yang lebih .
21

2. Defence Dilemma
Untuk memahami defence dilemma ini merujuk kepada perkembangan
instrumen militer yang digunakan oleh suatu negara sebagai akibat dari permasalahan
yang dimunculkan oleh perang itu sendiri. Sedangkan perang berkaitan dengan masalah
keamanan nasional yang merujuk kepada persaingan langsung serta permusuhan
antarnegara sebagai sumber utama konflik untuk memperebutkan wilayah/teritorial
tertentu. Pandangan mengenai konflik mengarah kepada hasil prilaku negara sebagai
bagian hubungan di dalam tatanan sistem internasional. Oleh karena itu, Buzan
menggambarkan bahwa konflik berkaitan antara negara dengan studi keamanan dan
perang ke dalam beberapa tipe, yaitu :
1. Tipe pertama merujuk dari pandangan realis memperlihatkan international
system as a struggle for power dan conflict as the power struggle.
2. Tipe kedua merujuk kepada pandangan moderat memperlihatkan the
international system as a struggle for security.
Berdasarkan hal diatas, maka antara perebutan power dengan keamanan saling
berkaitan dan memiliki pengaruh interaksi yang nyata antara satu dengan yang lainnya
sehingga pada akhirnya menimbulkan dilemma tersendiri bagi aktor yang
memainkannya. Dilema itu sendiri muncul dari proses perbedaan logika yang dimiliki
aktor negara untuk mengelola masalah keamanan nasionalnya. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Buzan mengenai konsep defence dilemma ini the nature and
dynamics of military means as they are developed and deployed by states, and defence
dilemma occurs when military measures actually contradict security, in that military
preparations in the name defence themselves pose serious threats to the state.
22

Berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Buzan tersebut memperlihatkan bahwa di

20
Ibid.,
21
Ibid.,
22
Barry Buzan. 1983. People States, and Fear: The National Security Problem in International Relations.
Inggris: British Library Cataloguing in Publication. Hal.159
dalam sistem internasional, kekuatan persenjataan juga menjadi sumber ancaman
utama terhadap keamanan nasional suatu negara dimana awalnya kekuatan ini
dijadikan sebagai hal paling penting di dalam politik internasional anarki sebagai
akibat dari tuntutan atas kepentingan perpolitikan domestik suatu negara. Awalnya
sering diasumsikan bahwa kekuatan militer-persenjataan selalu berkorelasi positif
dengan keamanan nasional. Namun, di dalam kenyataannya akibat dari dukungan
kemajuan teknologi serta pertimbangan pembiayaannya, kekuatan persenjataan militer
ini malahan menjadi sesuatu yang dapat membahayakan negara itu sendiri serta
lingkungannya, salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi senjata nuklir.
Dengan kata lain, senjata yang dimiliki oleh suatu aktor menghasilkan ancaman
penghancur bagi aktor tersebut sehingga dilema ini akan muncul dari logika suatu
negara melihat bagaimana mengelola keamanan nasionalnya terhadap ancaman yang
menghampirinya. Apakah seluruh kemampuan dan kapabilitas untuk mengalokasikan
sumber daya alam dan kekuatan ekonomi diarahkan kepada pembuatan/perkembangan
persenjataan militer demi mempertahankan keamanan nasionalnya ataukah kepada
aspek kehidupan yang lain yang lebih bersifat non-militeristik. Secara nyata, ketika
suatu negara memiliki kekuatan ekonomi dan pengaruh perpolitikannya yang besar,
kekuatan militer yang mereka miliki belum tentu dapat menjamin secara efektif
melindungi dan mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh komponen lainnya seperti
ketika menghadapi masalah sosial, kelaparan, dan kemiskinan.
Di samping itu, hal yang sama juga diungkapkan oleh Daniel dan Richard
Matthew bahwa defense dilemma such tradeoffs include the traditional guns for
butter tradeoffs between defense and private consumption, as well as between defense
and education, health care, environmental clean up and the development of
environmentally benign technologie
.23
Hal ini memperlihatkan kepada kita, dilemma
tersebut muncul dari pemanfaatan kekuatan militer melihat pertimbangan pembiayaan
serta proses pembuatannya yang dikeluarkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
proses pembiayaan aspek kehidupan yang lainnya. Jika negara hanya memfokuskan
pada perkembangan militer demi pertahanan keamanan nasionalnya, bisa saja akan
berdampak keos pada dirinya sendiri dimana peningkatan teknologi militer akan

23
Daniel H. Deudney and Richard A. Matthew. 1999. Security and Conflict in The New Environmental
Politics. Albany: State University of New York Press. Hal. 137.
melemahkan keamanan di sektor lainya. Disamping itu, juga diperparah pada
konsekuensi yang mengancam lingkungan negara tersebut sebagai resiko bencana yang
diakibatkan oleh pembuatan persenjataan militer misalnya pada perkembangan
teknologi nuklir, kemungkinan akan terjadi kecelakaan dari tumpahan minyak di dalam
proses pembuatan nuklir ataupun radiasi yang dipancarkan oleh nuklir itu sendiri. Jadi,
dapat dikatakan bahwa defence dilemma akan serius terjadi ketika pengelolaan militer
yang mengatasnamakan pertahanan merupakan ancaman terhadap kelangsungan hidup
negara.
3. Security Dilemma
Dalam membahas makalah ini, kami pun menggunakan teori security dilemma.
Security dan military keduanya identik dengan realisme karena menyangkut hal-hal
yang berkaitan dengan negara atau state centric. Security dilemma terjadi ketika suatu
negara ingin meningkatkan keamanannya, namun disisi lain apa yang dilakukan oleh
negara tersebut ternyata menimbulkan reaksi dari negara lain karena dirasa akan
menyaingi keamanan negara nya.
24
Pada dasarnya, security dilemma ini terjadi disaat
suatu negara, pemerintahnya sedang menghadapi kesulitan dalam proses menentukan
kebijakan keamanan. Di satu sisi, jika suatu negara mengurangi kekuatannya dalam hal
keamanan, maka negara tersebut akan rawan diserang oleh negara lain, disisi lain jika
negara tersebut meningkatkan kekuatannya dalam keamanan, maka negara tersebut
secara tidak langsung sudah sepakat untuk bersedia melawan menghadapi segala resiko
yang ada. Resiko tersebut seperti akan terjadinya kompetisi yang intense antar negara
yang menyebabkan perlombaan senjata satu sama lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa sebenarnya mereka tidak menyadari bahwa aksi yang dilakukannya tersebut
dapat mengakibatkan situasi yang lebih buruk karena harus diakui bahwa antar negara
akan selau terjadi kompetisi terlebih dari sisi keamanan negara.
Security dilemma biasanya terjadi dalam dua kondisi ini. Kondisi pertama adalah
ketika offensive and defensive military forces state, kekurangan atau kelebihan. Pada
saat itu pula negara tidak dapat menjelaskan kondisi keamanan negaranya tersebut.
Kondisi kedua adalah terjadi perlawanan antara offense dengan defense. Ketika kondisi
ini terjadi, negara harus memilih untuk menyerang (offensive) jika ingin survive. Realis

24
Posen, Barry. 1993. The Security Dilemma and Conflict: Survival no.1. Hal.22-47
menyatakan bahwa jika dalam suatu negara mengalami security dilemma, akan
menybabkan resiko yang tinggi hingga muncul konflik yang tinggi pula diantara negara-
negara yang terlibat sehingga menimbulkan ketegangan dunia. Seperti yang telah
disebutkan sebelumnya bahwa security dilemma akan menimbulkan kompetisi.
Kompetisi disini tidak selamanya bersifat jujur, bahkan akan sampai pada titik banyak
kecurangan dimana-mana dan membuat negara yang berkompetisi tersebut menjadi
musuh. Oleh karena itu, para neorealis menganggap security dilemma ini bersifat anarki
dimana tidak ada otoritas tertinggi. Meskipun saat ini banyak negara yang telah
menjalin kerjasama dibidang-bidang tertentu, hal tersebut tidak menjamin bahwa
negara-negara tersebut akan tetap berdamai.
4. Nuclear Utilization Target Selection (NUTS) Theory
Dunia masih mengingat dengan jelas ketika Amerika Serikat menjatuhkan Little
Boy (bom atom uranium-235 yang belum pernah diujicobakan dan merupakan produk
dari penelitian seharga 2 juta dolar) di Hiroshima yang menyebabkan kematian
langsung 70.000 orang dan ditambah kematian 70.000 orang lagi dikarenakan radiasi
selama lima tahun.
25
Hal ini telah menimbulkan rasa takut yang menyebabkan negara-
negara terutama Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk mengembangkan teknologi
senjata nuklir. Nuklir telah dijadikan sebagai deterrence strategy yang dianggap dunia
merupakan penyeimbang power yang paling baik. Pada tahun 1960, persepsi ini
dikarakterisasi sebagai Mutual Assured Destruction (MAD).
26

Dengan perkembangan senjata nuklir dimana ketepatan sasaran semakin akurat
telah menstimulus terciptanya pendekatan konseptual nuklir yang berbeda yang disebut
sebagai Nuclear Utilization Target Selection (NUTS). Strategi ini pertama kali
dideskripsikan pada tahun 1970 dan seringkali disebut sebagai American First Strike
Capability
27
dengan perkiraan bahwa AS lah yang akan menyerang pertama karena
adanya estimasi bahwa AS memiliki 30.000 warheads yang 10.000 diantaranya diakui

25
Jennifer Rosenberg. The Atomic Bombing of Hiroshima and Nagasaki. Dari
http://history1900s.about.com/od/worldwarii/a/hiroshima.htm, diakses tanggal 9 April 2014.
26
Spurgeon M. Keeny Jr. and Wolfgang K.H Panofsky. Can Doctrine or Weaponry Remedy the Mutual
Hostage Relationship of the Superpowers?. Dari http://www.jstor.org/stable/20041081, diakses tanggal 9
April 2014.
27
Anonim. Nuclear Utilization Target Selection Strategy. Dari http://neohumanism.org/n/nu/nuclear_
utilization_target_selection_1.html, diakses tanggal 9 April 2014.
merupakan strategic in character
28
. NUTS merupakan konsep yang begitu
bertolakbelakang dengan MAD dimana NUTS menekankan pada penggunaan senjata
nuklir dengan target yang terbatas alih-alih hanya menggunakan nuklir sebagai
pencegah. Keeny dan Panofsky mendefinisikan NUTS sebagai berikut:
We have chosen the acronym of NUTS to characterize the various doctrines that seek to
utilize nuclear weapons against specific targets in a complex of nuclear war-fighting
situations intended to be limited, as well as the management over an extended period of
a general nuclear war between the superpowers.
29

Pendekatan NUTS memiliki beberapa kelebihan. Pertama, NUTS diklaim lebih
manusiawi dibandingkan dengan MAD dimana NUTS hanya akan menyerang target-
target yang telah ditentukan sehingga pemusnahan masal akan dapat terhindarkan.
Kedua, NUTS diklaim merupakan cara efektif untuk memenangkan perang dengan
penggunaan nuklir yang terbatas. Hal ini dikarenakan target-target yang akan diserang
merupakan tempat-tempat penyimpanan senjata. Di lain sisi, NUTS juga memiliki
kekurangan yang tidak kalah banyak. Pertama, adanya daftar target penyerangan justru
akan menjadi malapetaka sebagaimana yang dikatakan oleh Keeny dan Panofsky:
Whatever the declaratory policy might be, those responsible for the strategic forces
must generate real target lists and develop procedures under which various
combinations of targets could be attacked. In consequence, the perceived need to attack
every listed target, even after absorbing the worst imaginable first strike from the
adversary, creates procurement "requirements," even though the military or economic
importance of many of the target is small.
30

Kedua, NUTS memerlukan senjata nuklir yang benar-benar canggih dengan
ketepatan akurat yang tentunya sangat mahal. Ada 35 negara yang memiliki ballistic
missiles, dan hanya lima yaitu AS, Rusia, Cina, Korea Utara, dan India yang memiliki
Intercontinental Ballistic Missiles.
31
Ketiga, NUTS menyebabkan negara-negara lain
juga berlomba-lomba untuk menciptakan senjata nuklir termutakhir.
32
Hal ini pada
akhirnya akan menyebabkan terciptanya defence dilemma dan security dilemma bagi
negara-negara di dunia. Keempat, penggunaan senjata nuklir tidak hanya akan

28
Keeny, Loc.Cit.
29
Ibid.
30
Keeny, Loc.Cit.
31
George C. Marshall. Misslie Threat. Dari http://missilethreat.com/missiles-of-the-world/, diakses
tanggal 9 April 2014.
32
Maria Cosma. MAD and NUTS about Nuclear Weapon. Dari http://sites.psu.edu/mariacosma/2012/
12/06/mad-and-nuts-about-nuclear-weapons/, diakses tanggal 9 April 2014.
membunuh banyak manusia, akan tetapi juga akan memiliki dampak berkepanjangan
tidak hanya pada manusia, akan tetapi juga lingkungan layaknya yang terjadi di
Hiroshima. Pendekatan NUTS akan digunakan dalam makalah ini untuk menganalisis
simulasi pre-emptive strike dari Amerika Serikat terhadap Cina.

BAB III
Pembahasan, Deskripsi, dan Analisis
1. Perbandingan Kekuatan Nuklir Amerika dan China (ICBM dan SLBM)

Mengacu kepada simulasi perang yang akan diskenariokan, kelompok ini
memakai data kekuatan nuklir Amerika dan China pada saat tahun 2006. Skenario
pertama adalah Amerika akan menyerang China dengan memakai Submarine-Launched
Ballistic Missiles (SLBM) Trident II D5 dari Pangkalan Militer Bangor, Washington
DC ke Inter-Continental Ballistic Missiles (ICBM) dengan tipe (DF-5A).
33
Untuk
memulai suatu simulasi perang, diperlukan kalkulasi perbandingan kekuatan
persenjataan antar kedua pihak. Dengan kondisi pada tahun 2006, ketika Amerika dan
China masih dipengaruhi sindrom pasca Perang Dingin dan isu Teluk Taiwan, terjadi
sebuah fenomena security dilemma antar dua belah pihak negara.
Dari jumlah hulu ledak nuklir, Amerika menang jauh dari Cina yang hanya
memiliki 200 hulu ledak, Amerika mempunyai hampir 10.000 buah hulu ledak dengan
jenis andalan yang akan dipakai di simulasi ini adalah W76 dan W88. Selain itu, dari
segi ICBM, Amerika Serikat memiliki 11 jenis yaitu Snark, Navaho, Goose, Atlas,
Titan, Titan II, Minuteman I, Minuteman II, Minuteman III, Peacekeeper, Midgetman.
34

Untuk SLBM, Amerika memiliki 4 jenis yaitu UGM-27 Polaris, UGM-73 Poseidon,
UGM-96 Trident I (C4), UGM-133 Trident II (D5).
35
Dua jenis yang terbaru yaitu
Trident I C4 dan Trident II D5 yang dipakai dalam simulasi perang ini. Modernisasi ini
dilakukan bersamaan dengan perkembangan hululedak nuklir yang dipakai yaitu W76
dan W88. Trident II D5 SLBM sengaja diperbaharui dari Triden I C4 untuk tujuan
implikasi target penyerangan ke Cina yang lebih akurat dan berkapabilitas di medan
Asia Pasifik. D5 akan membawa hululedak jenis W88 yang merupakan misil terkuat
yang dipunyai Amerika Serikat dengan daya jangkau 455 kT dan W76 untuk tingkat
akurasi yang lebih baik dengan efek destruksi yang lebih lemah.

33
Hans Kristensen, et al. 2006. Simulated US and Chinese Nuclear Strikes,
http://www.nukestrat.com/china/Book-173-196.pdf, diunduh pada 7 April 2013 pukul 16:47:21.
34
Federation of American Scientist, 2005, Intercontinental Ballistic and Cruises Missiles,
http://www.fas.org/nuke/guide/usa/icbm/index.html, diunduh pada 7 April 2013.
35
McKinzie, et all. 2001. The U.S. Nuclear War Plan: A Time for Change,
http://holtz.org/Library/Social%20Science/Political%20Science/US%20Nuclear%20War%20Plan%20-
%20NRDC%202001.pdf, diunduh pada 3 April 2014 pada pukul 15:43:29.
China muncul sebagai orientasi baru strategi pengembangan senjata nuklir
Amerika karena potensinya sebagai ancaman pesaing baru bagi Amerika dengan
pergerakan modernisasi nuklirnya. Pada Juli 2006, pengakuan internasional akan
perkembangan progresif nuklir Cina dilontarkan oleh Mayor Jenderal Rusia, Vladimir
Belous bahwa Cina hampir mendekati jumlah hululedak nuklir yang dimiliki Prancis
dan Inggris. Menurut sumber dari media negara barat, sumber persediaan hulu ledak
nuklir Cina mencapai 200, melampaui Inggris dan Prancis sebagai dua dari lima negara
pemilik senjata nuklir dibawah Non-Proliferation Treaty dengan jumlah hululedak
nuklir 225 dan 300.
36
Beralih ke rudal peluncur misil, China dalam segi Submarine-
Lauched Ballistic Missiles hanya mempunyai dua jenis yaitu JL-1 dan JL-2, dimana
hanya JL-1 yang sudah siap dioperasikan sedangkan total jenis Inter-Continental
Ballistice Missile yang dimiliki oleh Cina ada 3 macam yaitu DF-31, DF-31A, dan DF-
5A dengan total jumlah keseluruhan 20 yang mampu mencapai wilayah Amerika.
Untuk simulasi ini DF-5A diskenariokan ditempatkan di pegunungan Cina bagian
Tengah dengan kemampuang meluncurkan hulu ledak nuklir sebanyak 20 buah.
37

Dengan status sebagai negara yang sedang melakukan modernisasi senjata nuklir
khususnya dalam bentuk MIRV atau miniaturisasi hululedak nuklir
38
, tindakan China
dilihat sebagai bentuk dari keadaan security dilemma dimana China berada dalam posisi
revisionist interest yang berusaha mengubah status quo arm-race untuk menjadi pesaing
dari Amerika Serikat di sektor persenjataan nuklir. Selain itu, hal ini merupakan respon
dari military capability spectacle Amerika dalam berbagai peperangan seperti Perang
Teluk 1991, Pemboman Yugoslavia tahun 1995, dan Invasi Irak tahun 2003.
39
Hal ini
pula yang disebut oleh Barry Buzan sebagai massive momentum of arm dynamic,
terdapat siklus inovasi dan perkembangan senjata berkelanjutan yang menstimulasi
sebuah permintaan akan senjata dan mengakselerasi dinamika arm-race tersebut.
40


36
Daryl Kimbal, 2013, Nuclear Weapons: Who Has What at a Glance dari
,http://www.armscontrol.org/factsheets/Nuclearweaponswhohaswhat, diunduh pada tanggal 5 April 2014,
pukul 14:59:35.
37
Office of the Secretary of Defense, 2008, Military Power of the Peoples Republic of China,
http://www.defenselink.mil/pubs/pdfs/China_Military_Report_08.pdf, diunduh pada tanggal 8 April 2014
pukul 19:40:56.
38
Center for Nonproliferation studies, 1998, China Nuclear Warhead Modernization,
http://cns.miis.edu/archive/country_china/coxrep/wwhmdat.htm, diunduh pada tanggal 8 April 2014 pada
pukul 04:58:31.
39
Hans Kristensen, 2006, Chinese Nuclear Forces and U.S. Nuclear War Planning,
http://www.fas.org/nuke/guide/china/Book2006.pdf, diunduh pada tanggal 4 April 2014 pukul 12:58:20
40
Barry Buzan, 1983, People, State and Fear, United Kingdom: Wheatsheaf Books.
Militer Cina yang tergabung dalam People Liberation Army menuntut kapabilitas nuklir
Cina harus mampu bersaing dengan tekhnologi persenjataan Amerika yang canggih,
akurat dan terintegrasi.
Tendensi untuk melakukan first strike oleh Amerika pun bisa terlihat dari
penyusunan strategi perang Amerika yang mulai mengacu kepada perkembangan-
perkembangan nuklir China yang mulai meresahkan. Terdapat ketakutan berlebih
sehingga proses maximizing power terlihat dari semakin diperkuatnya efek deterrent
pangkalan-pangkalan militer yang berada di sekitar Asia Pasifik misalnya di Guam dan
Pearl Harbor. Lebih jauh lagi, Amerika mulai mempersepsikan Cina sebagai potensi
ancaman keamanan yang berbahaya ketika prinsip penggunaan senjata nuklir Cina no-
first-use policy yang terbaru dalam kasus ini yaitu di Buku Putih Pertahanannnya tahun
2005, tidak dijalankan secara konsisten dengan kesimpulan para ahli dari Kementrian
Pertahanan Amerika Serikat menyimpulkan adanya perubahan tendensi menjadi limited
deterrent action bahkan sampai ke nuclear balance shift.

2. Serangan I: Preemptive Strike dari Amerika sebagai Aplikasi Nuclear Utilization
Target Selection Theory

Walaupun kekuatan nuklir Amerika Serikat sangat besar dibandingkan Cina,
dengan security dilemma yang dialami oleh Amerika Serikat dan anggapan terhadap
Cina yang dilihat sebagai sumber ancaman, Amerika Seriat dapat melakukan serangan
pre emptive dengan sebagian kecil senjata nuklirnya dengan target pusat kendali dan
fasilitas-fasilitas militer Cina.
Skenario serangan nuklir Amerika Serikat melibatkan serangan menggunakan
SLBM (Submarine Launched Ballistic Missile), lebih tepatnya Trident II D5 yang
ditempatkan dalam kapal selam SSBN Trident di samudra Pasifik. Opsi penggunaan
Trident II D5 dipilih karena, jika menggunakan peluncuran misil balistik dari darat akan
memakan waktu lebih lama dan tentunya resiko yang lebih besar pula, karena jika
menggunakan misil balistik berbasis darat, yang dipusatkan di silo-silo kawasan
Midwest, maka misil balistik Amerika Serikat harus melewati Rusia dan beresiko
memicu sistem peringatan dini Rusia. Berkaitan dengan pemusatan senjata nuklir
Amerika Serikat di Pasifik pasca Perang Dingin, maka skenario yang dipilih adalah
penyerangandengan menggunakan kapal selam SSBN Trident, terhadap sistem
peluncuran senjata nuklir Dong Feng 5A (DF-5A), ICBM Cina yang mampu membawa
hulu ledak nuklir dan mencapai target continental United States (CONUS). Kapal-kapal
SSBN Trident yang ditempatkan di pangkalan kapal selam Bangor di Washington
memiliki kapasitas 24 misil yang berisi lebih dari 6 hulu ledak di tiap misil, dan terdapat
8 kapal selam SSSBN Trident di pangkalan Bangor.
41

Dalam skenario penyerangan kapal-kapal Trident melakukan patroli di Samudra
Pasifik, kemudian mencapai hawaii dan ditempatkan menyebar disekitar hawaii, setelah
mencapai jangkauan target, misil-misil di kapal dipersiapkan dan kemudian
diluncurkan. Lokasi silo-silo ICBM DF-5A Cina dipekirakan berada 240 km dari timur
Xian, jarak antara target dan peluncuran misil balistik dari SSBN Trident diperkirakan
sejauh 7000 km, sehingga butuh sekitar 30 menit untuk misil-misil Trident II D5
Amerika Serikat untuk mencapai target, dengan asumsi Amerika Serikat telah
mengetahui lokasi pasti silo-silo DF-5A. Untuk dapat menghancurkan silo-silo DF-5A
Cina, maka diperkirakan dibutuhkan 20 hulu ledak W88 yang memiliki kekuatan
ledakan sebesar 455kiloton/hulu ledak.
Skenario yang telah dibahas sebelumnya, sesuai dengan pendekatan NUTS
(Nuclear Utilization Target Selection) dalam strategi nuklir, pendekatan ini
mempercayai bahwa perang nuklir dalam skala tertentu dapat dilakukan dan
dimenangkan. Perang yang dimaksud adalah dengan melakukan penyerangan ke
fasilitas sistem peluncuran senjata nuklir, dan memusnahkan senjata nuklir lawan,
dengan kata lain tujuan kemenangan penyerangan adalah pelumpuhan kemampuan
senjata nuklir ofensif lawan. Pendekatan NUTS menekankan pada pemusnahan fasilitas
penyimpanan senjata nuklir (counterforce) dibandingkan penyerangan wilayah sipil
(countervalue), dan untuk dapat memusnahkan target-target tersebut maka diperlukan
senjata nuklir dengan tingkat akurasi yang memadai, agar fasilitas penyimpanan
senajata nuklir lawan dapat benar-benar dimusnahkan.
42

Setelah membaca paparan singkat mengenai pendekatan NUTS, maka dapat
dilihat bahwa Amerika Serikat menggunakan pendekatan NUTS dalam penyerangan

41
PSR. Trident Facts and Figures. Dari http://www.psr.org/chapters/washington/energy-and-
peace/trident.html pada 8 April 2014.
42
Cosma, Maria. 2012. MAD and NUTS About Nuclear Weapons. diakses dari
http://sites.psu.edu/mariacosma/2012/12/06/mad-and-nuts-about-nuclear-weapons/ pada 8 April 2014.
silo-silo DF- 5A Cina. Sesuai dengan pendekatan NUTS yang mengutamakan akurasi
serangan, Amerika Serikat memiliki senjata yang tepat untuk melakukan serangan ini.
Trident II memiliki akurasi yang sangat baik (90m CEP) untuk mencapai target yang
dimaksud, dan dengan kemampuan membawa lebih dari 6 hulu ledak berkekuatan 475
kiloton, persenjataan Amerika Serikat dinilai cukup untuk melakukan serangan pertama
ke silo DF-5A.
43

Penyerangan yang dilakukan Amerika Serikat, bertujuan untuk memusnahkan
hulu ledak dan ICBM yang dimiliki Cina, sehingga Cina tidak lagi memiliki
kemampuan untuk melakukan serangan nuklir ke Amerika Serikat melalui silo DF-5A,
dengan asumsi serangan Amerika Serikat berhasil memusnahkan seluruh hulu ledak dan
ICBM Cina. Sesuai dengan pendekatan NUTS, Amerika Serikat tidak perlu
mengerahkan seluruh kekuatan nuklirnya untuk menyelesaikan misi dalam skenario,
hanya sebagian misil Trident II yang perlu diluncurkan, karena target penyerangan
dibatasi pada silo-silo ICBM DF-5A Cina.

3. Serangan II sebagai Respon dari China : Penyerangan Kota-Kota di Amerika

Berbagai analisis terhadap spesifikasi dan karakteristik dari kekuatan nuklir
strategis China yang ada dalam skenario ini memunculkan pertanyaan, seberapa
besarkah kapabilitas senjata nuklir strategis China untuk menjangkau target-targetnya di
daratan Amerika Serikat? Dari perbandingan kekuatan senjata nuklir antara China dan
Amerika Serikat secara kasar memang jelas terlihat bahwa Amerika Serikat lah yang
memenangkan superioritas senjata nuklir strategis, seperti yang sudah dijelaskan di
bagian-bagian sebelumnya. Namun apakah kemudian superioritas senjata nuklir
Amerika Serikat dapat menghancurkan dan meredam semua kapabilitas nuklir yang
dimiliki China?
Seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya, China memiliki kurang
lebih 20 Inter-Continental Ballistic Missile (ICBM) tipe DF-5A yang mempunyai
kapabilitas untuk menyerang kota-kota besar di Amerika Serikat. Setelah serangan
pertama yang dijalankan Amerika Serikat, seperti yang dijelaskan pada skenario satu,

43
Anonim. 2012. UGM-133 TRIDENT D-5. Dari http://missilethreat.com/missiles/ugm-133-trident-d-5/,
diakses pada 8 April 2014.
terhadap instalasi silo China yang terletak di Luoning, fakta di lapangan kemudian
menunjukkan bahwa China memasang beberapa "decoy" silos yang ternyata kosong
untuk mengelabui serangan Amerika Serikat. Berkat strategi China tersebut, beberapa
DF-5A berhasil selamat dari serangan nuklir Amerika Serikat dan masih mempunyai
kapabilitas untuk menyerang daratan Amerika Serikat.
Kekuatan deterrence nuklir China terhadap Amerika Serikat memang sangat
berbeda jauh, karena tidak terlepas dari doktrin nuklir China yang mengatakan bahwa
senjata nuklir China is one of no-first-use, dan China sangat konsisten dengan
kebijakannya tersebut.
44
Kapabilitas senjata nuklir China untuk mengancam kekuatan
nuklir Amerika Serikat memang tidak mencukupi dalam hal kuantitas dan akurasi,
tetapi hal ini juga merupakan sebuah "keuntungan" bagi China karena dapat dengan
mudah mengenai target-target yang berpopulasi tinggi, seperti perkotaan di Amerika
Serikat.
Sebagai gambaran, jarak maksimal yang dapat ditempuh dari DF-5A China
adalah sejauh 13000 km.
45
Jika diluncurkan dari silo yang terletak di Luoning, dan
menghitung pula lintasan circumpolar yang menjadi ciri khas ICBM, maka hanya
dibutuhkan sekitar 11000 km untuk menghancurkan kota-kota yang terletak di bagian
West Coast dan wilayah utara hingga tengah dari daratan Amerika Serikat. Jarak 12000
km sudah cukup untuk mencapai bagian East Coast, termasuk di dalamnya kota New
York dan Washington DC. Dan jika DF-5A berhasil mencapai jarak maksimalnya, yaitu
13000 km,
46
maka seluruh daratan Amerika Serikat dapat menjadi target. Tetapi hal ini
kemudian akan menjadi dilema karena lintasan tersebut akan melalui wilayah udara
Rusia dan dapat mengaktifkan early warning system yang dimiliki Rusia. Sebagai
catatan, Rusia bersama Suriah dan China serta Amerika Serikat sendiri merupakan
negara dengan sistem pertahanan udara yang tercanggih di dunia. Butuh rudal
berkecepatan hipersonik yang terbang dengan kecepatan Mach 5 (6125 km/jam) sampai
Mach 10 (12250 km/jam) untuk dapat melewati sistem pertahanan udara Rusia tanpa

44
Ibid. hal 186
45
Ibid. Hal 187
46
Ibid.
terdeteksi sedikitpun.
47
Namun DF-5A milik China belum memiliki spesifikasi
hipersonik tersebut, dan jika memlilih jalur lintasan tanpa melewati wilayah udara
Rusia, yang berarti harus melalui Samudera Pasifik, maka akan memakan jarak lebih
dari 17000 km, jauh melampaui jarak maksimal DF-5A.
Hulu ledak nuklir yang dibawa oleh DF-5A dipercaya dapat mencapai 3
megaton hingga 5 megaton,
48
lebih tinggi dari hulu ledak nuklir yang dimiliki Amerika
Serikat. Sebagai perbandingan, hulu ledak nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan
Nagasaki pada masa perang dunia kedua hanya sebesar 15 kiloton, dan sudah
menimbulkan dampak yang sangat luar biasa bagi Jepang pada masa itu. Berdasarkan
simulasi komputer yang mengkalkulasi seberapa parah dampak hulu ledak nuklir DF-
5A, pada ground zero hingga sejauh 10 km akan terjadi kehancuran total, dan blast
effect akan menghancurkan lebih dari radius 35 km, jika hal ini terjadi terjadi pada kota
New York maka seluruh kota akan hancur dengan seketika dan membunuh 2 juta jiwa
di dalamnya.
49
Seluruh skenario di atas terlepas dari peranan sistem pertahanan udara
Amerika Serikat.
Terlepas pula dari skenario-skenario di atas, dalam kenyataan saat ini memang
hubungan kedua negara tersebut mulai memanas seiring dengan berpindahnya counter-
hegemony ke kawasan Asia Pasifik, terutama China dengan berbagai sengketanya. John
Mearsheimer mengatakan bahwa kemungkinan Amerika Serikat dan China berperang di
masa depan lebih besar daripada konflik Uni Soviet dan NATO selama perang dingin.
Dia mengatakan bahwa pusat gravitasi dari Perang Dingin Amerika Serikat dan Uni
Soviet adalah di daratan Eropa tengah. Hal ini menciptakan situasi yang cukup stabil,
menurut Mearsheimer, siapapun di seluruh Eropa Tengah akan paham bahwa perang
dingin akan cepat berubah menjadi perang nuklir yang akan menghancurkan semuanya.
Hal ini memberikan kesadaran kuat pada kedua belah pihak untuk menghindari konflik
nuklir di Eropa Tengah. Berbeda dengan persaingan strategis Amerika Serikat dengan
China, Mearsheimer mengidentifikasi beberapa titik potensial di mana ia percaya bahwa

47
Pentagon Butuh Senjata Hipersonik untuk Mengalahkan Sistem Pertahanan Udara Rusia. Dari
http://www.artileri.org/2014/03/pentagon-butuh-senjata-hipersonik-untuk-kalahkan-rusia.html, diakses
pada 8 April pukul 21.00.
48
Op. Cit. Hal 187
49
Ibid. Hal 189
Amerika Serikat dan China bisa terlibat perang, yaitu Semenanjung Korea, Selat
Taiwan dan Laut Cina Timur dan Selatan.
50

4. Kalkulasi Kemungkinan Kerusakan dari Serangan I dan Serangan II
Terkait dengan penghitungan secara kuantitatif atas dampak negatif dari senjata
nuklir secara mendalam, kombinasi antara Geographical Information System (GIS)
software, termasuk Google Earth dan U.S Government Computer Code menciptakan
sebuah aplikasi yang disebut dengan Hazard Prediction Assesment Capability (HPAC
versi 3.2.1 dan 4.04). Efek dari senjata nuklir dibagi menjadi Prompt (seketika) efek
dan Fallout (radiasi) efek. Prompt efek yakni gelombang ledakan (termasuk
hembusan anginnya), radiasi thermal (panas) dan initial yakni efek dari retakan neutron
serta sinar gamma, di menit-menit awal ledakan nuklir. Sedangkan Fallout efek
dirasakan 24 jam pasca ledakan, potensi daerah yang terkena dampak lebih luas. HPAC
mengkalkulasikan secara terpisah, Prompt efek, Fallout efek sampai pengasumsian
terkait jumlah korban baik yang berada di dalam bangunan (terlindung) maupun di
tempat terbuka. Ditinjau dari Prompt efek, korban yang berada di dalam gedung lebih
parah kondisinya di banding perkiraan korban yang berada di ruang terbuka yang
disebabkan oleh Fallout efek.
Berikut prediksi kerugian yang disebabkan serangan senjata nuklir dari beberapa
aspek yakni jumlah korban tewas, jangkauan daerah yang terkena efek nuklir, efek
radiasi dan kesehaatan, serta efek lingkungan.
Scenario One: U.S. Nuclear Strike Against Chinese Long-Range ICBMs
Sekitar 100,000 korban dari Prompt efek diperkirakan mengenai populasi sekitar
6.2 12.4 mil (10 20 km) dari sasaran utama. Untuk orang yang berada di luar ruangan
saat terjadi serangan diperkirakan mengalami sekitar 75% kefatalan, sedangkan yang
berada di dalam ruangan sekitar 40% kefatalan yang dialaminya. Tapi bagaimanapun
Fallout efek cakupannya lebih luas karena ditentukan oleh jumlah bahan radiokatif yang
dihasilkan dalam ledakan dan kecepatan angin yang juga mempengaruhi arah dari

50
Rivalitas AS-China Lebih Berbahaya dari Perang Dingin. Dari http://www.artileri.org/2014/01/
rivalitas-as-china-lebih-berbahaya-dari-perang-dingin.html, diakses pada 8 April pukul 23.00.
awan-awan yang terbentuk dan mengandung bahan-bahan berbahaya dari ledakan awal.
Seperti yang diketahui bahwa ada bulan-bulan tertentu di mana kecepatan angin akan
lebih besar. Mengingat bahwa krisis yang mengarah pada serangan nuklir ke China pada
prinsipnya bisa terjadi kapan saja, pola tersebut bisa relevan dengan analisis korban.
Output dari perhitungan HPAC dalam dosis untuk orang selama 48 jam pertama
setelah serangan. Sebagian besar dosis radiasi kepada korban akan turun menjadi satu
persen dari nilai awal setelah dua hari (tentu saja untuk zona yang paling intens
kejatuhan-lebih dari 100 kali dari ambang batas untuk kesehatan-pancaran radiasi
lanjutan akan berbahaya). Efek jangka panjang dari kejatuhan termasuk pencemaran
lingkungan dan pertanian, perpindahan pengungsi - banyak di antaranya akan
memerlukan perhatian medis dan akses makanan dan air yang tidak terkontaminasi, dan
tidak lupa istilah "hot spot" (curah hujan).
Dalam kasus 20 W88, ditemukan bahwa gabungan Fallout Pattern akan
menciptakan kondisi berbahaya mencapai lebih dari 620 mil (1.000 km) dari ground
zero. Zona kejatuhan di mana 48 jam dosis untuk orang yang terkena melebihi 150
REM akan mencakup 12.360 sampai 21.620mil
2
(32.000 sampai 56.000km
2
). Di zona
tersebut, korban akan mengalami penyakit radiasi parah dalam beberapa jam atau hari
setelah ledakan, bahkan kematian. Zona kejatuhan untuk 48 jam pancaran melebihi 450
REM (kematian 50 persen) mencakup 6.950 sampai 14.670 mil persegi (18.000 sampai
38.000 km2), dan zona paling intens dari kejatuhan melebihi 600 REM (kemungkinan
punah) akan meliputi area seluas 4.633 sampai 5.405 mil persegi (12.000 sampai 14.000
km2). Kedua jenis pola kejatuhan (Juni dan Desember atau bulan lainnya) dihitung
untuk 20 W88 ditunjukkan pada gambar.

Fallout Patters For Hypothetical U.S. Strike On Chinese DF-5A Silos





Calculated fallout patterns from the 20 W88 warhead strike on the DF-5A (CSS-4 Mod 2) silos at
Luoning for winds typical of December (left) and June (right). Note: The precise locations of Chinese
DF-5A silos are not known.
Jumlah rata-rata korban yang -diasumsikan tidak dalam wilayah Sheltering-
mencapai 18jt, 2/3 korbannya meninggal, sedangkan jumlah yang -jika seluruhnya
dalam wilayah Sheltering- mencapai 4,7jt, hanya 20% dari korban yang meninggal. Dan
dirata-rata dari kedua kemungkinan tadi, maka kematian dari serangan 20W88 sekitar
3.5jt dan korban cedera (penyakit radiasi) sebanyak 7.7jt.
Scenario Two: Chinese Nuclear Strikes Against U.S. Cities
Menggunakan HPAC dapat diketahui efek gabungan dari ledakan nuklir 4Mt
pada 20 kota terpadat di AS, termasuk WashingtonDC menyebabkan 13.8j -26.1jt
kematian dan 40.6jt41.3jt korban luka-luka. Juga dketahui bahwa rata-rata jumlah
kematian per serangan senjata adalah 800.000, dan rata-rata jumlah korban per senjata
adalah 2jt untuk nuklir airburst ini. Hasilnya serangan senjata ini juga relatif, tidak
seakurat yang diperkirakan (Circular Eror Probable atau CEP). Mereka (AS) juga
mengeksplor efek dari kejatuhan, akan hulu ledak dari nuklir China yang tipe
ledakannya ground bursts. Ledakan tersebut secara sgnifikan meningkatkan dampak
radioaktif, dan ini merupakan scenario terburuk. Jumlah kerusakan dan korban
mencapai dua sampai empat kali lebih tinggi dibandingkan air bursts, dan
kontaminasi yang sangat luas akan terjadi di seluruh United States dan Easter Canada.
Fallout From Attack On 20 US Cities With 20 DF-5A 4-Mt Ground Burst
Warheads






Komunitas intelijen AS memperkirakan bahwa pada tahun 2015 China akan
mengerahkan 75-100 hulu ledak "primarily targeted" melawan Amerika Serikat.
Pangkal dari perkiraan ini membayangkan campuran dari 20 hulu ledak 4Mt pada DF-
5As dan 55 hulu ledak 250kt pada DF-31As. Dengan menambahkan 55 hulu ledak
250kt dan 20 hulu ledak 4 Mt yang ada dalam gudang senjatanya, China berpotensi
dapat menggunakan hulu ledak 250kt untuk memegang kendali di tambahan 55 kota AS
dengan populasi berkisar antara 250.000-750.000 (Austin, Memphis, Tucson, Atlanta,
dll) seiring dengan memegang kendali terbesar di daerah metropolitan AS dengan hulu
ledak 4Mt (New York, Los Angeles, Chicago, dll -kota dengan populasi di kisaran
750.000 sampai beberapa juta-). Serangan balasan yang imbang ini dengan 75 hulu
ledaknya (93,75Mt air burst) akan mencapai korban lebih dari 50 juta, atau lebih dari
16 persen dari penduduk AS saat ini.
Ada kemungkinan kesalahan atas proyeksi komunitas intelijen AS yang
menyebutkan 75-100 hulu ledak Cina "primarily targeted" melawan AS pada tahun
2015, juga bahwa China malah memutuskan untuk mengganti DF-5A dengan DF-31A.
Untuk menguji skenario dan efeknya pada deterrent China, AS dengan HPACnya
(memasukan data) menggunakan target yang sama yakni kota AS di skenario serangan
dari China menggunakan DF-5A masih dapat diimbangi oleh mereka. Ketinggian
optimal ledakan 250kt hulu ledak (16 kali lebih kecil dari hulu ledak 4 Mt pada DF-5A)
memaksimalkan area sampai 10 psi atau tekanan yg lebih besar adalah 4.593 kaki
(1.400 meter). Untuk airbursts, ditemukan bahwa akan ada sekitar 12jt korban dari
penggunaan 20 hulu ledak 250kt pada 20 kota di AS, termasuk 3-6jt korban. Jika hulu
ledak 250kt diledakkan sebagai semburan tanah, pola kejatuhan yang ada
dikombinasikan dengan efek nuklir yang cepat akan menghasilkan 6-8 juta korban.
Fallout From Attack On 20 US Cities With DF-31A Ground Bursts Warheads






5. Konsekuensi Preemptive Strike dari Amerika Serikat

A. Keamanan Kawasan Asia Pasifik
Kiblat yang digunakan untuk menelaah konsekuensi dari preemptive strike
Amerika Serikat terhadap Cina menghadap kepada teori lebensraum yang dikemukakan
oleh Friederich Ratzel. Asia-Pasifik adalah kawasan dengan daya persaingan yang
tinggi, insekuritas, dan negara-negara kawasan Asia Pasifik memiliki basis yang
mampu saling mencurigai satu sama lain. Meski stabilitas dalam kawasan dapat
terjaga karena aktor regional lebih membahas kerjasama ekonomi daripada aspek
keamanan kawasan dan politik internasional, namun ancaman terhadap batas-batas
ruang akan meningkat seiring dengan probabilitas hilangnya keseimbangan antara dua
negara adidaya. Ruang geografi utama kawasan Asia Pasifik umumnya bersifat
landlocked
51
dan sisanya adalah maritim. Luasnya ruang gerak yang dimiliki oleh
negara-negara di kawasan Asia Pasifik sangat menentukan pembentukan kubu negara-
negara berseteru, sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan hilangnya stabilitas
keamanan kawasan apabila negara-negara di kawasan Asia Pasifik kerap menunjukkan

51
APEC. Mongolia dan Laos. Dari http://www.apec.org/. Faye mengidentifikasikan landlocked countries
sebagai negara-negara yang keseluruhan bagian wilayahnya tidak memiliki garis pantai, atau dalam artian
lain keseluruhan batas-batas wilayahnya berupa daratan.
sikap provokatif. Kondisi keamanan yang tidak merata juga akan meningkatkan
terjadinya isu kejahatan di negara-negara maritim.
Apa yang mampu memicu hilangnya keseimbangan keamanan dalam kawasan
juga diakibatkan oleh tidak setaranya kapabilitas tiap negara dalam pemenuhan
kepentingan nasional.
52
Terciptanya konflik yang bersifat geopolitik akan langsung
berimplikasi pada terganggunya batas-batas negara baik dalam segi politik, ekonomi,
ataupun militer. Kondisi akan semakin parah dengan posisi mayoritas negara yang
merupakan wilayah maritime dan pasokan sumberdaya utama serta aktivitas militer lain
berada dalam sektor lepas pantai. Ini nantinya akan berpengaruh juga terhadap
keberpihakan negara dalam konflik. Pada tahap selanjutnya, setelah munculnya konflik-
konflik baru yang bersifat internal maupun eksternal menjadi tidak terelakkan.
Hubungan historis pada masa kolonialisme juga sangat berpengaruh dalam hubungan
multilateral pascakonflik. Setiap negara dalam kawasan akan berusaha untuk tetap
mencapai kepentingan nasionalnya sehingga memungkinkan satu dan negara lainnya
untuk menciptakan atau bahkan memecah hubungan yang telahdibangun sebelumnya.

B. Konstelasi Politik Internasional
Cina memiliki wilayah darat yang berbatasan langsung dengan 14 negara, yaitu:
Burma, India, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Mongolia, Nepal, North Korea, Pakistan,
Russia, Tajikistan, Vietnam, Afghanistan, dan Bhutan. Sementara, perbatasan lautnya
berhubungan langsung dengan Jepang, Taiwan, Filipina, dan beberapa negara Asia
Tenggara lain di laut Cina Selatan. Dari sini sudah mampu disimpulkan bahwa hampir
sebagian wilayah yang berbatasan dengan Cina telah berada di bawah pengaruhAmerika
Serikat, seperti India, Kazakhstan, Korea Selatan, Jepang, danTaiwan. Namun, apa yang
dimiliki Cina adalah kepentingan secara geopolitik dan geokultur. Yang dapat diambil
dari fakta ini adalah bahwa hubungan antar Amerika Serikat dan Cina jelas berada
dalam ambiguitas. Cina dalam upaya untuk memenuhi kepentingan negaranya, sedang
mencari kerjasama dengan Amerika Serikat karena berbagai alasan, termasuk kebutuhan
untuk menutup kesenjangan antardaerah maju dan berkembang, keharusan

52
Faye, M., Mc Arthur, J., Sachs, J., Snow, T. 2004. The Challenges Facing Landlocked Developing
Countries, Journal of Human Development, 05/01. Dari http://www.
unmillenniumproject.org/documents/JHD051P003TP.pdf, diakses tanggal 9 April 2014.
menyesuaikan institusi politik terhadap revolusi ekonomi, dan perkembangan teknologi.
Ini menjadikan preemption strike bukanlah suatu kebijakan yang layak diberlakukan
kepada negara besar seperti China.
53
Terlepas dari ancaman keamanan terhadap
Amerika Serikat, namun secara jelas dapat dikatakan bahwa preemptive strike dapat
menjatuhkan keseimbangan politik internasional secara serta merta yang sudah
semestinya disadari oleh AmerikaSerikat.
Jika bicara mengenai konsepsi politik tradisional, maka konflik yang akan
diakibatkan oleh kebijakan ini tidak akan jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada
masa Perang Dunia I merangkap juga kepada humanitarian intervention, namun apa
yang akan memperburuk kesejarahan konflik dunia dewasa ini adalah timbulnya suatu
ruang gerak baru yang melibatkan peran individu dalam roda baru masyarakat dunia.
Belum lagi kondisi di Timur Tengah yang tidak stabil, konflik ini akan semakin
memperkeruh kondisi politik internasional.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak awal diberlakukannya kebijakan preemptive
strike, memunculkan banyak gerakan-gerakan radikal yang menggunakannya sebagai
ajang untuk melawan dominasi Amerika Serikat. Tidak hanya negara, pengaruh
preemptive strike juga akan mempengaruhi konstelasi politik internasional hingga
memungkinkan munculnya gerakan terorisme baru yang bersifat multidimensional,
seperti munculnya rezim baru dan lahirnya operasi militer ekstrim lain yang bersifat
lintas negara. Kecenderungan radikalisme ini didukung oleh pesatnya teknologi yang
menyokong pembentukan reaksi aktor, serta pesatnya hubungan antara dua negara
berkonflik pada lingkup internasional sehingga mampu menyeret dinamika
internasional ke dalam kondisi chaotic.

C. Interdependensi Ekonomi
Meletusnya konflik antara Amerika Serikat dan Cina akan memberikan
pengaruh yang sangat besar terhadap hubungan ekonomi dunia. Hal ini tidak hanya

53
Robert J Art dalam The United States and The Rise of China juga berpendapat bahwa Amerika
Serikat bisa saja menyerang China terlebih dahulu karena China belum mempunyai senjata nuklir yang
dapat menyaingi AmerikaSerikat. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah kepentingan Amerika Serikat
karena para pembuat kebijakan Amerika Serikat percaya bahwa penyerangan senjata nuklir berakibat
sangat buruk dan mempunyai resiko yang sangat tinggi.
berdampak dari segi saham atau lonjakan hebat dalam kurs, permasalahan ekonomi
akan juga berdampak kepada masalah sosial. Amerika Serikat sebagai negara adidaya
tak bisa menampik jika interdependensi telahmenjalar di hampir seluruh sektor industri
dalam negerinya. Kemunculan berbagai embrio kekuatan baru dengan ragam ideologi
yang dibawanya seolah menabuh genderang perang abad baru. Embrio kekuatan baru
ini lahir sebagai indikasi kejenuhan terhadap monopoli kebijakan internasional yang
banyak dimainkan oleh Amerika Serikat yang dianggap merugikan banyak negara
pemasok bahan baku. Sedangkan apabila perekonomian Amerika Serikat mengalami
kemunduran, maka telah dapat dipastikan bahwa pemutusan hubungan ekonomi
pertama adalah terhadap Cina. Sedangkan dampaknya terhadap Cina sendiri, pemutusan
kerjasama ekspor sumber daya kepada Amerika Serikat pula yang akan menjadi salah
satu faktor dari kemunduran ekonomi Cina.
Di sinilah titik awal dari interdependensi ekonomi pascakonflik. Seperti telah
dikatakan sebelumnya, keberadaan ruang multidimensional baru bernama globalisasi
ternyata ikut pula mempercepat aktivitas ekonomi dunia. Namun, jika ditelaah lebih
lanjut, konsep globalisasi ekonomi mengacu kepada kepemilikan otoritas suatu negara
dalam menjadi core pemegang stabilitas ekonomi internasional. Dan apabila konflik
terjadi serta terjadi kemunduran pada kedua negara, dapat dipastikan sistem ekonomi
internasional yang sarat globalisasi seperti saat ini akan mengalami signifikansi fatal
apabila variabel ekonomi internasional masih dipengaruhi oleh dinamika politik.

BAB IV
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Terdapat dua poin yang bisa ditarik dari kasus Nuclear Warfare antara Amerika
Serikat dan Cina, yang pertama adalah Cina dan Amerika Serikat memiliki kapasitas
nuklir yang berbeda namun modernisasi nuklir Cina merupakan ancaman bagi Amerika
Serikat, dan yang kedua adalah strategi antara Cina dan Amerika Serikat dalam skenario
yang sudah dipaparkan sebelumnya. Kasus ini memang hampir mirip dengan kasus
krisis nuklir di Teluk Babi, kembali lagi Amerika Serikat sebagai aktor yang melakukan
pre-emptive strike terhadap lawannya. Dari segi opportunity cost, memang memiliki
kelebihan dan kekurangan posisi Amerika Serikat dalam melakukan pre-emptive strike;
1.) Amerika Serikat diuntungkan karena kapasitas nuklir yang lebih dibandingkan
dengan Cina. Secara rasional, pre-emptive strike juga menjadi warning sign dari
Amerika Serikat dengan menunjukkan kapasitas dan kapabilitas nuklir Amerika
Serikat.
2.) Amerika Serikat juga dirugikan dengan pre-emptive strike karena musuh bisa
melihat strategi lawan dengan target-target nukir (dalam hal ini SLBM) Amerika
Serikat (NUTS) dan didukung oleh Cina yang menerapkan prinsip no-first-use.
Perang Nuklir kedua Negara menjadi hal yang menarik apabila dianalisis
melalui karakter kedua Negara. Amerika Serikat -seperti krisis nuklir di Teluk Babi-
selalu menjadi initiator karena untuk menjadi Negara hegemon, Amerika selalu menjadi
pihak yang offensive ditunjukkan dengan pre-emptive strike. Cina sebagai Negara yang
menjungjung tinggi national aim-nya, tidak akan melakukan pre-emptive strike yang
ditunjukkan dengan prinsip no-first-use. Hal yang menarik dari analisis karakteristik ini,
Cina akan menjadi aktor ancaman bagi Amerika Serikatsetelah Uni Soviet jatuh-
karena kebijakan-kebijakannya yang tidak bisa diprediksi terutama oleh analis
kebijakan dan strategi Amerika Serikatdalam hal ini adalah Pentagon.
Mulai analisis tersebut, skenario kedua muncul yaitu serangan balik Cina ke
Amerika Serikat. Hal yang menarik dari skenario kedua adalah ICBM Cina, apabila
target SBBM Amerika lebih kepada menghancurkan ICBM DF-5A Cina, namun Cina
tidak melakukan hal yang serupa, ICBM DF-5A Cina menghancurkan wilayah dimana
populasi terbanyak Amerika Serikat berada disitu, yaitu West Coast (New York dan
Washington DC berada disitu). Dilihat melalui proporsi kerugian antara serangan kedua
Negara tersebut, karena ICBM DF-5A Cina terletak di Xian, kerugian Cina mencapai 24
juta populasi dan 20 silo ICBM sedangan Amerika Serikat mencapai 40 juta populasi.
Walaupun Amerika Serikat mempunyai nuklir yang banyak, kerugian yang disebabkan
oleh serangan Cina akan memberikan efek yang lebih dan seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya, Cina tidak hanya memiliki satu jenis ICBM, dan Cina bisa
melakukan serangan lanjutan dimana Amerika Serikat tidak bisa memprediksi bentuk
dan target serangan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas militer -dalam hal
ini nuklir- suatu Negara tidak mempengaruhi apakah Negara tersebut akan
memenangkan suatu perang atau tidak, yang paling penting dari suatu perang adalah
bagaiman strategi suatu Negara dalam memenangkan suatu perang.
Saran dan Rekomendasi Kebijakan
Menurut kelompok kami, saran yang bisa diaplikasikan oleh Perang Nuklir
Amerika Serikat dan Cina adalah kebijakan. Terdapat dua point of view mengenai
kebijakan yang akan digunakan yaitu dari sisi Amerika Serikat dan dari sisi Cina.
Tujuan kebijakan ini untuk menghindari seringan lanjutan dari kedua pihak sehingga
terciptanya balance of power antara kedua Negara.
Cina dan Amerika Serikat harus berhati-hati dalam meluncurkan nuklirnya,
bagaimana pun Amerika Serikat akan selalu menjadi first strike karena Cina tidak akan
meluncurkan nuklirnya sebelum ada yang meluncurkannya terlebih dahulu. Agar
terciptanya balance of power, Amerika Serikat tidak akan melakukan pre-emptive strike
dari Samudera Pasifik melalui SLBM karena hal tersebut sudah diprediksi oleh Cina.
Amerika Serikat harus menarik balik SLBMnya dari Samudera Pasifik dan tidak akan
melakukan serangan duluan. Apa yang harus dilakukan Amerika Serikat? Security
Dilemma yang dialami oleh Amerika Serikat adalah bagaimana Cina menyerang
Amerika Serikat terlebih dahulu, padahal Cina tidak akan pernah menyerang Negara
manapun sebelum Negara tersebut menyerang duluan. Hal yang bisa dilakukan Amerika
Serikat untuk membuat Cina mengalami Security Dilemma yang sama adalah dengan
meningkatkan standar minimum deterrence-nya karena dengan meningkatkan standar
minimum, Cina juga akan meningkatkan standar minimum-nya namun tidak akan
terjadi perang antara kedua Negara tersebut. Cina juga sangat konsisten dengan prinsip
no-first-use, Amerika juga harus konsisten dengan prinsip standar minimumnya. Selain
itu, Amerika Serikat, Cina, Rusia, Inggris, dan Perancis sebagai Negara permanent five
harus menetapkan batas maksimal nuclear deterrence, di bawah pengawasan IAEA
walaupun sudah ada Non-Proliferation Agreement. Problematika yang menjadi ironi isu
keamanan global adalah Amerika Serikat selalu menjadi first strike dengan asumsi
Negara lain bisa menerima hal tersebut, namun yang terjadi adalah asumsi tersebut
menjadi boomerang bagi Amerika Serikat karena tidak semua Negara akan mengikuti
arahan Amerika Serikat yang notabene-nya statusnya adalah state. Terutama Amerika
Serikat dan Cina dimana keduanya ingin mempertahankan status quo-nya di kawasan
Asia Pasifik.
Oleh karena itu, kelompok kami menyarankan, state yang akan melakukan pre-
emptive strike harus melihat bagaimana karakter dan kondisi lawannya bukan hanya
sekedar target namun mempertimbangkan after-attack atau serangan balasan. Alangkah
baiknya, dalam kasus ini, Amerika Serikat tidak akan melakukan pre-emptive strike
kepada Cina karena Amerika Serikat sendiri tidak bisa memprediksi strategi Cina dalam
melakukan serangan dan Cina juga berbatasan langsung dengan Rusia dan Korea Utara,
apabila terjadi serangan lanjutan oleh Amerika Serikat, efeknya bisa meluas hingga ke
Rusia maupun Korea Utara walaupun ICBM atau SLBM Amerika menggunakan
teknologi NUTS. Hal ini akan memicu Korea Utara dan Rusia meluncurkan ICBM-nya
dan dampak kontinyunya adalah Negara-negara yang memiliki nuklir akan meluncurkan
nuklirnya, hal ini juga bisa memicu Perang Dunia ke-III.









Daftar Pustaka
Anonim. 2012. UGM-133 TRIDENT D-5. Dari http://missilethreat.com/missiles/ugm
133-trident-d-5/, diakses pada 8 April 2014.

Anonim. Nuclear Utilization Target Selection Strategy. Dari
http://neohumanism.org/n/nu/nuclear_utilization_target_selection_1.html,
diakses tanggal 9 April 2014.

APEC. Mongolia dan Laos. Dari http://www.apec.org/. Diakses pada 9 April 2014.

Bin, Li. 2011. Promoting Effective China-U.S Strategic Nuclear Dialogue. Carnegie
Endowment For International Peace. Dari
http://carnegieendowment.org/2011/10/18/promoting-effective-china-u.s.-
strategic-nuclear-dialogue/8kzx diakses pada 08 April 2014.

Buzan, Barry. 1983. People States, and Fear: The National Security Problem in
International Relations. Inggris: British Library Cataloguing in Publication.

Center for Nonproliferation Studies. 1998. China Nuclear Warhead Modernization.
Dari http://cns.miis.edu/archive/country_china/coxrep/wwhmdat.htm, diakses
pada tanggal 8 April 2014.

Cosma, Maria. MAD and NUTS about Nuclear Weapon. Dari
http://sites.psu.edu/mariacosma/2012/12/06/mad-and-nuts-about-nuclear-
weapons/, diakses tanggal 9 April 2014.

Department of Defense. 2013. Report on Nuclear Employment Strategy of The United
States Specified in Section 491 of 10 U.S.C.

Deudney, Daniel H. dan Richard A. Matthew. 1999. Security and Conflict in The New
Environmental Politics. Albany: State University of New York Press.

Faye, M., Mc Arthur, J., Sachs, J., Snow, T. 2004. The Challenges Facing Landlocked
Developing Countries. Journal of Human Development, 05/01. Dari
http://www.unmillenniumproject.org/documents/JHD051P003TP.pdf, diakses
tanggal 9 April 2014.

Federation of American Scientist, 2005, Intercontinental Ballistic and Cruises Missile.
Dari http://www.fas.org/nuke/guide/usa/icbm/index.html, diunduh pada 7 April
2013.

Gertz, Bill. 2013. First Strike: China Omission of No-First-Use Nuclear Doctrine in
Defense White Paper Signals Policy Shift. The Washington Free Beacon. Dari
http://freebeacon.com/national-security/first-strike/ diakses pada 8 April 2014.

Kang, David C. China Rising: Peace, Power and Order in East Asia. Asia Policy, No.6
(July 2008).
Keeny, Spurgeon M. Jr. and Wolfgang K.H Panofsky. Can Doctrine or Weaponry
Remedy the Mutual Hostage Relationship of the Superpowers?. Dari
http://www.jstor.org/stable/20041081, diakses tanggal 9 April 2014.

Kimbal, Daryl. 2013. Nuclear Weapons: Who Has What at a Glance. Dari
http://www.armscontrol.org/factsheets/Nuclearweaponswhohaswhat,
diunduh pada tanggal 5 April 2014.

Kristensen, Hans. M. et al. 2006. Chinese Nuclear Forces and U.S Nuclear War
Planning. Washington DC: The Federation of American Scientist & The Natural
Resources Defense Council.

Kristensen, Hans et al. 2006. Simulated US and Chinese Nuclear Strikes. Dari
http://www.nukestrat.com/china/Book-173-196.pdf, diunduh pada 7 April 2013.

Lindborg Chris et al. 2013. Implications of President Obamas Speech in Berlin and
Nuclear Strategy Review. British American Security Information Council. Dari
http://www.basicint.org/news/2013/implications-president-
obama%E2%80%99s-speech-berlin-and-nuclear-strategy-review, diakses pada 8
April 2014.

Marshall, George C. Misslie Threat. Dari http://missilethreat.com/missiles-of-the-
world/, diakses tanggal 9 April 2014.

McKinzie, et all. 2001. The U.S. Nuclear War Plan: A Time for Change. Dari
http://holtz.org/Library/Social%20Science/Political%20Science/US%20Nuclear
%20War%20Plan%20-%20NRDC%202001.pdf, diunduh pada 3 April 2014.

Mearsheimer, John J. 2001. The Tragedy of Great Power Politics. New York : W.W.
Norton. hal. 24; dan Eric J.Labs. 1997. Beyond Victory: Offensive Realism and
the Expansion of War Aims. Security Studies 6, no.4.

Office of the Secretary of Defense. 2008. Military Power of the Peoples Republic of
China. Dari http://www.defenselink.mil/pubs/pdfs/China_Military_Report
_08.pdf, diunduh pada tanggal 8 April 2014.

Pentagon Butuh Senjata Hipersonik untuk Mengalahkan Sistem Pertahanan Udara
Rusia. Dari http://www.artileri.org/2014/03/pentagon-butuh-senjata-hipersonik-
untuk-kalahkan-rusia.html, diakses pada 8 April 2014.

Posen, Barry. 1993. The Security Dilemma and Conflict: Survival no.1.

PSR. Trident Facts and Figures. Dari http://www.psr.org/chapters/washington/energy-
and-peace/trident.html pada 8 April 2014.

Rivalitas AS-China Lebih Berbahaya dari Perang Dingin. Dari
http://www.artileri.org/2014/01/rivalitas-as-china-lebih-berbahaya-dari-perang-
dingin.html, diakses pada 8 April 2014.
Rosenberg, Jennifer. The Atomic Bombing of Hiroshima and Nagasaki. Dari
http://history1900s.about.com/od/worldwarii/a/hiroshima.htm, diakses tanggal 9
April 2014.

Saalman, Lora. 2011. China & The U.S Nuclear Posture Review. Washington DC:
Carnegie-Tsinghua.

Schweller, Randall L. Unanswered Threats : A Neoclassical Realist Theory of
Underbalancing, International Security. Vol.29 No.2 (Autumn, 2004).

Tompkins, Joanne. 2003. How US Strategic Policy is Changing Chinas Nuclear Plans.
Arms Control Association. Dari http://www.armscontrol.org/act/2003_01-
02/tompkins_janfeb03 diakses pada 08 April 2014.

Wang, Yuan Kang. Offensive Realism and the Rise of China. Issues & Studies 40 no.1
(March 2004).

Warden, John K. et al. 2013. Nuclear Weapons and US-China Relations. Washington
DC: Center For Strategic & International Studies.

Weltz, Richard. 2013. Chinese Nuclear Force Modernization and Its Arms Control
Implications. ISN ETH Zurich. Dari http://www.isn.ethz.ch/Digital
Library/Articles/Detail/?id=171723 diakses pada 8 April 2014.