Anda di halaman 1dari 153

Rangkaian diagram garis star delta pada motor induksi AC 3 phasa

Rangkaian diagram garis star delta pada motor induksi AC 3 phasa


Mungkin semua sudah tahu apa itu rangkaian star delta? Dan apa fungsi dari rangkaian star
delta itu sendiri. Untuk yang belum tahu akan saya jelaskan secara singkat. Rangkaian star
delta adalah rangkaian instalasi motor dengan sambungan bintang segitiga (Y), atau lebih
dikenal dengan nama koneksi star delta. lalu apa fungsi dari koneksi motor secara star delta
itu? Fungsi dari koneksi star delta adalah untuk menurunkan atau mengurangi besarnya arus
start motor.
Bagaimana teori atau metode koneksi star delta ini bisa menurunkan besarnya arus starting
motor? sebelumnya tentu kita tahu besarnya tegangan dan arus itu berbanding terbalik.
Semakin besar tegangan maka arus akan semakin kecil begitu sebaliknya semakin kecil
tegangan maka arus akan semakin besar. Bagaimana itu terjadi ?untuk menjawab itu kita
harus tahu dulu, hubungan antara daya ( P ), tegangan( V ) , dan arus ( I ).


Dari rumus diatas tentu kita sudah mengerti. Coba anda hitung berapa besarnya arus ( I )?,
dengan daya (P) yang sama, coba anda bagi dengan tegangan(V) yang berbeda. Tentu saja
hasilnya sudah bisa ditebak, dengan tegangan yang besar maka arus akan kecil, begitu juga
sebaliknya. Lalu apa hubungannya rumus diatas dengan rangkaian star delta?? Pada koneksi
star delta ada perbedaan antara besarnya tegangan pada koneksi star dan besarnya tegangan
pada koneksi delta.
Tegangan dan arus pada koneksi star delta
Besarnya tegangan(V) line pada sambungan star/bintang (Y) adalah akar 3 . V fasa, dan
besarnya arus line pada sambungan star/bintang sama dengan besarnya arus fasa. Sedangkan
pada sambungan delta/segitiga() tegangan(V) line = V fasa, dan arus(I) line = akar 3 .
arus(I) fasa.
Contohnya dengan tegangan fasa 220V berapa tegangan line untuk hubung star dan hubung
delta?
Tegangan pada sambungan star --- Vline = akar 3 . V fasa = 1.73 . 220V = 380V
Tegangan pada sambungan delta--- V line = V fasa = 220V
Dari hasil diatas pada hubungan star memiliki tegangan yang lebih besar dibanding tegangan
pada hubungan delta. dan tentu sudah terbukti metode starting motor secara star delta dapat
menurunkan besarnya arus start.
Kesalahan pada koneksi star delta
Mungkin semua sudah tahu apa itu star delta beserta fungsi-fungsinya. Namun mungkin
masih banyak yang belum mengerti bagaimanana melakukan instalasi/penyambungan star
delta sesuai standar yang benar. Melakukan instalasi sesuai standar yang benar itu sangat
penting agar kita tidak dirugikan dengan pemasangan instalasi yang salah/ngawur. Contohnya
pada koneksi delta jika pada pemasangannya kita tidak berhati-hati dan tidak sesuai dengan
standar tentu bisa membuat koneksi motor tersebut kehilangan salah satu fasa (phase loss).
Dan apa akibatnya bila motor 3 fasa dioperasikan dengan kehilangan salah satu fasa?, tentu
saja lilitan motor akan terbakar dalam waktu singkat atau jika anda beruntung mungkin akan
membuat breaker atau protector(overload relay) cuma trip. Tetapi itu dengan catatan jika
anda memasang atau mensetting breaker dan protector dengan standar yang benar. Tentu kita
tidak ingin kedua hal tersebut terjadi dan merugikan kita. Karena itulah standarisasi SPL
(single point lesson) begitu penting dan selalu terapkan di semua perusahaan. Berikut ini
gambaran kesalahan pada koneksi star delta yang sering terjadi pada rangkaian dayanya.


Mungkin anda bertanya-tanya apa yang salah dengan rangkaian daya diatas? Dari Kedua
rangkaian daya diatas memang tidak ada yang salah dari koneksi starnya, namun ada
beberapa kesalahan di dalam koneksi deltanya. Memang dalam instalasi motor dengan sistem
starting secara star delta ini, kebanyakan kesalahan terdapat dalam pemasangan pada koneksi
delta. hal ini disebabkan karena pemasangan untuk hubung delta bisa dikatakan lebih rumit
daripada hubung star. Pada gambar 1 rangkaian daya diatas jelas terlihat tegangan fasa R
(kabel berwarna merah) dihubungkan pada terminal motor dengan label U1 dan U2, hal ini
berarti tegangan fasa R hanya dihubungkan pada 1 belitan/lilitan pada motor. hal yang sama
juga terlihat pada tegangan fasa S dan T. Apa yang salah dengan itu? Tentu saja sangat
salah/ngawur. Sebelumnya tentu anda tahu kenapa koneksi pada motor disebut star dan
delta?hal itu karena pada koneksi motor tersebut bisa dibentuk/terlihat seperti bintang
ataupun segitiga. Coba anda ubah gambar 1 dan gambar 2 rangkaian daya diatas menjadi
koneksi star delta secara terpisah dan sederhana tanpa memperhatikan kontaktor dan
protector. Lalu lihat dengan seksama apakah gambar diatas mirip dengan rangkaian delta?
jawabannya tentu saja tidak. Untuk memperjelas pemahaman anda tentang koneksi star dan
koneksi delta secara benar coba anda lihat gambar dibawah berikut ini.
Gambar koneksi star dan koneksi delta


Gambar diatas bisa menjadi patokan bagaimana melihat koneksi star delta yang benar dan
salah. Contohnya secara sederhana begini, jika anda perhatikan gambar pada sebuah
rangkaian daya star delta anda bisa melihat pada koneksi starnya apakah mirip dengan
star/bintang, dan pada koneksi deltanya apakah mirip delta/segitiga seperti gambar koneksi
star delta diatas. Jika itu mirip atau sama bisa dipastikan rangkaian daya itu benar. Dan juga
perlu diingat jika anda ingin membalik putaran motor pada rangkaian star delta dengan
membalik salah satu tegangan maka anda juga harus membalik salah satu tegangan pada satu
sisi yang lain.

Rangkaian daya dan rangkaian kontrol star delta yang benar


Kesimpulan dari artikel rangkaian star delta. Setelah panjang lebar penjelasan tentang star
delta, kita bisa menarik kesimpulan kalau pemasangan instalasi motor itu harus sesuai standar
yang benar agar tidak terjadi hasil yang tidak diinginkan seperti lilitan motor terbakar
dikarenakan phase loss, hubungan singkat atau sebab-sebab lainnya. Khususnya kita harus
berhati-hati pada motor yang label terminalnya sudah hilang atau motor hasil
repairan/perbaikan yang mungkin sudah tidak sesuai lagi antara terminal dan lilitannya. Jadi
kita harus bisa tentukan dulu mana U1U2, V1V2, dan W1W2.
















Cara Membalik Arah Putaran Motor Star Delta
Mungkin ini adalah artikel lanjutan dari merubah arah putaran motor listrik. Dan artikel kali
ini akan membahas bagaimana cara merubah atau membalik arah putaran motor induksi
listrik 3 fasa yang beroperasi dengan koneksi star delta.
Untuk membalik arah putaran motor star delta sebenarnya sama saja dengan membalik
putaran motor induksi 3 fasa yang beroperasi dalam koneksi delta ataupun motor induksi 3
fasa yang beroperasi dalam koneksi star, yaitu dengan membalik salah satu tegangan yang
masuk ke motor. Namun dalam metode start star delta, motor 3 fasa tersebut dioperasikan
dalam kedua koneksi yaitu koneksi star pada mula startnya dan setelah itu berganti dengan
koneksi delta. karena hal itu akan ada 6 terminal pada motor yang didesain untuk metode start
star delta. Perhatikan gambar dibawah ini. (jika gambar kurang jelas klik pada gambar untuk
memperjelas)

Diagram rangkaian daya beserta koneksinya
Mungkin gambar diatas sudah menjelaskan begitu banyak tentang koneksi motor secara star,
delta, dan star delta. Coba perhatikan pada gambar C (koneksi star delta) diatas, jika K1 dan
K3 bekerja maka motor akan beroperasi pada koneksi star dan jika K1 dan K2 yang bekerja
motor akan beroperasi dalam koneksi delta. Lalu bagaimana cara membalik arah putaran
motor koneksi star delta tersebut ? untuk membaliknya kita bisa membalik salah satu
tegangan yang masuk ke motor, untuk membalik tegangan tersebut kita harus berhati-hati
agar motor tidak kehilangan salah satu tegangan (phase loss). Untuk lebih mudahnya kita bisa
membalik tegangan pada titik sumbernya untuk menghindari phase loss. Seperti pada gambar
dibawah berikut ini. (jika gambar kurang jelas klik pada gambar untuk memperjelas)

Membalik arah putaran motor star delta dengan mengubah polaritas pada titik sumber
tegangan
Dari gambar diatas jelas terlihat kalau sumber tegangan tiga fasa RST dibalik menjadi SRT,
sehingga arah putaran motor bisa berbalik. Memang arah putaran motor bisa berputar balik
namun rangkaian tersebut terlihat tidak selaras atau tidak seragam dengan rangkaian-
rangkaian yang lain. Oleh karena itu para mekanik biasanya lebih memilih untuk membalik
tegangan pada terminal motor. Dan cara membalik putaran motor seperti inilah yang biasanya
terjadi kesalahan phase loss, oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam membalik salah
satu tegangan tersebut. Perhatikan gambar dibawah ini.

Membalik putaran motor star delta. mengubah polaritas tegangan yang masuk pada terminal
motor
Dari gambar diatas terlihat tegangan R(berwarna merah) dibalik dengan tegangan S(berwarna
kuning). Coba perhatikan gambar diatas, tegangan yang dibalik tidak hanya pada satu ujung
terminal belitan U1V1W1, namun juga pada ujung terminal belitan yang lain U2V2W2
dalam contoh ini (pada motor tipe lain biasanya terminal motor diberi label UVWXYZ).
Yang terpenting dalam membalik rangkaian ini adalah kita harus tahu terlebih dulu, yang
mana belitan U1U2, V1V2, W1W2.


Hubungan Bintang Delta pada Motor Listrik 3 Fasa OLEH : WAHYU
PRAM




Motor 3 fasa bekerja dengan 2 hubungan yaitu :
a. Motor bekerja Bintang/ Star (Y)
Berarti motor harus dihubungkan bintang baik secara langsung pada terminal maupun melalui rangkaian kontrol.


Gambar 1. Hubungan Bintang/ Star (Y)



b. Motor bekerja segitiga /Delta ()
Berarti motor harus dihubungkan segitiga baik secara langsung pada terminal maupun melalui rangkaian kontrol.
Kecuali mesin-mesin yang berkapasitas tinggi diatas 10 HP, maka motor tersebut wajib bekerja segitiga () dan
harus melalui rangkaian kontrol star delta baik secara mekanik, manual, plc



Gambar 2. Hubungan Delta ()



Dimana bekerja awal (start) motor tersebut bekerja bintang hanya sementara, selang berapa waktu barulah
motor bekerja segitiga dan motor boleh dibebani.
Cara menghubungkan motor dalam hubungan bintang (Y) :
1. Cukup mengkopelkan/ menghubungkan salah satu dari ujung-ujung kumparan phasa menjadi satu.
2. Sedangkan yang tidak dihubungkan menjadi satu dihubungkan kesumber tegangan.
Cara menghubungkan motor dalam hubungan segitiga () :
1. Ujung pertama dari kumparan phasa I dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan phasa III
2. Ujung pertama dari kumparan phasa II dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan phasa I
3. Ujung pertama dari kumparan phasa III dihubungkan dengan ujung kedua dari kumparan phasa II.
Mengapa motor harus dihubungkan dengan Star (Y) Delta ()?
1. Beban dengan inersia yang tinggi/ besar akan menyebabkan waktu starting motor menjadi lama untuk
mencapai kecepatan nominalnya.
2. Selama periode starting tersebut, maka pada stator dan rotor akan mengalir arus yang besar sehungga
bisa terjadi pemanasan berlebih (overheating) pada motor
3. Lebih buruk lagi menyebabkan gangguan pada sistem jala-jala sumber listriknys sehingga akan
menurunkan tegangannya. hal ini akan mengganggu beban listrik lainnya.
4. Untuk menghindari hal tersebut, suatu motor induksi seringkali di start dengan level tegangan yang lebih
rendah dari tegangan nominalnya.
5. Pengurangan tegangan starting tersebut akan membatasi dayas yang diberikan ke motor, namun
demikian disis lain pengurangan tegangan ini akan berdampak memperpanjang waktu/ periode starting
(waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan nominalnya).
2. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa
Rangkaian sederhana dengan menggunakan kontaktor magnet yaitu mengontrol sebuah motor listrik.
Pengontrolan oleh kontaktor magnet menggunakan 2 rangkaian yaitu rangkaian kontrol dan rangkaian utama.
Peralatan kontrol yang digunakan dalam pengoperasianya yaitu, MCB 3 fasa, TOR (Thermal Overload Relay),
sakelar tekan ON/ OFF dan kontaktor.
Rangkaian kontrol merupakan rangkaian yang mengendalikan/ mengoperasikan rangkaian utama, sedangkan
rangkaian utama merupakan aliran hubungan ke beban (motor 3 fasa). Rangkaian utama menggunakan kontak
utama (1-3-5 dan 2-4-6) dari kontaktor magnet untuk menghubungkan/ memutuskan jaringan dengan motor
listrik. Karena arus yang mengalir pada rangkaian utama relaitf lebih besar daripada rangkaian kontrol, maka
pada rangkaian utama dilengkapi dengan TOR (Thermal Overload Relay) atau pengaman beban lebih dari
hubung singkat ataupun beban yang lebih.
Pada rangkaian kontrol, arus yang mengalir relatif kecil. Rangkaian kontrol dilengkapi dengan sakelar tekan NO
untuk tombol NP dan NC untuk tombol OFF. Karena menggunak open.an tombol (sakelar) tekan, maka pada
tombol ON dibuat pengunci (sakelar bantu) dari kontak bantu kontaktor yang normally open.


Gambar 3. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa




2. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa Hubungan Bintang Segitiga
Rangkaian daya hubungan bintangsegitiga menggunakan tiga buah kontaktor Q1, Q2, dan Q3Gambar 4. Fuse
F1 berfungsi mengamankan jika terjadi hubungsingkat pada rangkaian motor. Saat motor terhubung bintang
kontaktor Q1 dan Q2 posisi ON dan kontaktor Q3 OFF. Beberapa saat kemudian timer yang disetting waktu 60
detik energized, akan meng-OFF-kan Q1, sementara Q2dan Q3 posisi ON, dan motor terhubung segitiga.
Pengaman beban lebih F3 (thermal overload relay) dipasangkan seri dengan kontaktor, jika terjadi beban lebih
disisi beban, relay bimetal akan bekerja dan rangkaian kontrol berikut kontaktor akan OFF.
Tidak setiap motor induksi bias dihubungkan bintang-segitiga, yang harus diperhatikan adalah tegangan name
plate motor harus mampu diberikan tegangan sebesar tegangan jala-jala (Gambar 4), khususnya pada saat
motor terhubung segitiga. Jika ketentuan ini tidak dipenuhi, akibatnya belitan stator bisa terbakar karena
tegangan tidak sesuai. Rangkaian kontrol bintang-segitiga (Gambar 4), dipasangkan fuse F2 untuk pengaman
hubung singkat pada rangkaian kontrol.

Gambar 4. Rangkaian System Kendali Elektromagnetik Pada Motor Induksi 3 Fasa Hubungan Bintang Segitiga


Hubungan Bintang

Tombol S2 di-ON-kan terjadi loop tertutup pada rangkaian koil Q1 dan menjadi energizedbersamaan dengan
koil Q2. Kontaktor Q1 dan Q2 energized motor terhubung bintang. Koil timer K1akan energized, selama setting
waktu berjalan motor terhubung bintang.

Hubungan Segitiga
Saat Q1 dan Q2 masih posisi ON dan timer K1 masih energized, sampai setting waktu berjalan motor terhubung
bintang. Ketika setting waktu timer habis, kontak Normally Close K1 dengan akanOFF menyebabkan koil
kontaktor Q1 OFF, bersamaan dengan itu Q3 pada posisi ON. Posisi akhir kontaktor Q2 dan Q3 posisi ON dan
motor dalam hubungan segitiga. Untuk mematikan rangkaian cukup dengan meng-OFF-kan tombol
tekan S1 rangkaian kontrol akan terputus dan seluruh kontaktor dalam posisi OFF dan motor akan berhenti
bekerja. Kelengkapan berupa lampu-lampu indikator dapat dipasangkan, baik indikator saat rangkaian
kondisi ON, maupun saat saat rangkaian kondisi OFF, caranya dengan menambahkan kontak bantu normally
open yang diparalel dengan koil kontaktor dan sebuah lampu indicator.



Elevator & Eskalator Pada Perencanaan Instalasi Gedung Bertingkat
Posted on Rabu, 1 Agustus 2007 by faiq
Jika kita mendirikan bangunan, bukan hanya keindahan tampak bangunan dan keserasian
bangunan terhadap lingkungan yang harus kita perhatikan.
Namun juga keamanan bangunan tersebut terhadap segala bencana yang dapat diakibatkan
oleh kurang diperhatikannya perencanaan instalasi yang terdapat didalam bangunan tersebut.
Selain itu juga harus diusahakan kemudahan bagi penyelamatan penghuni bila terjadi
bencana.
Setiap rencana instalasi dari bangunan yang akan dilaksanakan harus diteliti dahulu oleh seksi
Instalasi dan Perlengkapan Bangunan/TPIB (Team Penasehat Instalasi dan Perlengkapan
Bangunan).
Beberapa macam Instalasi yang harus diperhatikan :
1. Instalasi Pemadam Kebakaran
Sistem yang bisa digunakan antara lain :
* Sistem Hydrant
* Sistem Sprinkler
* Sistem Fire Alarm
2. Instalasi Elevator & Eskalator
Didalam perencanaan instalasi Elevator dan Eskalator, yang harus diperhatikan:
* Pola lalu lintas orang dan barang disekitar dan didalam gedung harus diperhatikan
* Elevator penumpang, barang dan kebakaran harus terpisah
* Cara penanggulangan bila terjadi keadaan darurat.
3. Instalasi Air Buangan
Didalam perencanaan instalasi air buangan, yang harus diperhatikan antara lain :
* Sistem jaringan air kotor dan air hujan diluar bangunan
* Sistem pengelolaan air kotor
* Pengolahan air kotor tidak boleh mengganggu lingkungan sekitarnya.
4. Instalasi Listrik
Didalam perencanaan instalasi listrik yang harus diperhatikan adalah :
* Sakelar khusus ukuran (rating) pengaman jenis pengaman dan penampang kabel
* Penempatan generator genset
* Sumber tenaga yang digunakan PLN, atau pembangkit tenaga listrik sendiri.
5. Instalasi Plumbing
Didalam perencanaan instalasi plimbing yang harus diperhatikan adalah :
* Sistem pemipaan air bersih
* Sistem pemipaan air limbah
* Sistem pemipaan air hujan
* Sistem pemipaan air limbah.
6. Instalasi Air Codition dan Refrigeration
* Apabila harus terjadi kebakaran, AHU pada lokasi kebakaran harus mati secara otomatis
berbarengan dengan fire alarm bekerja
* Faktor keamanan yang dipakai.
===OOO===
Dari sekian banyak instalasi gedung bertingkat yang harus diperhatikan, berikut ini akan
sedikit diulas tentang instalasi alat transportasi vertikal pada gedung bertingkat.
*****
ALAT TRANSPORTASI VERTIKAL
Suatu bangunan yang besar & tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi yang nyaman
untuk aktifitas perpindahan orang dan barang secara VERTIKAL. Sarana angkut vertikal
yang bekerja secara mekanik elektrik adalah :
Elevator (Lift).
Eskalator
Travelator / Moving walk
Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13, tenaga manusia
dan binatang merupakan tenaga penggerak.
Pada tahun 1850 telah diperkenalkan elevator uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi babak
baru dalam sejarah elevator yaitu penemuan elevator yang aman pertama di Dunia oleh
Elisha Graves Otis.
RIWAYAT ELEVATOR/LIFT
Elevator penumpang pertama dipasang oleh Otis di New York pada tahun 1857. Setelah
meninggalnya Otis pada tahun 1861, anaknya, Charles dan Norton mengembangkan warisan
yang ditinggalkan oleh Otis dengan membentuk Otis Brothers & Co., pada tahun 1867.
Pada tahun 1873 lebih dari 2000 elevator Otis telah dipergunakan di gedung-gedung
perkantoran, hotel, dan department store di seluruh Amerika, dan lima tahun kemudian
dipasanglah elevator penumpang hidrolik Otis yang pertama.Berikutnya adalah era Pencakar
Langit.
Pada tahun 1889 Otis mengeluarkan mesin elevator listrik direct-connected geared pertama
yang sangat sukses.
Pada tahun 1903, Otis memperkenalkan desain yang akan menjadi tulang punggung
industri elevator,yaitu : elevator listrik gearless traction yang dirancang dan terbukti
mengalahkan usia bangunan itu sendiri. Hal ini membawa pada berkembangnya jaman
struktur-struktur tinggi, termasuk yang paling menonjol adalah Empire State building dan
World Trade Center di New York, John Hancock Center di Chicago dan CN Tower di
Toronto.
Selama bertahun-tahun ini, beberapa dari inovasi yang dibuat oleh Otis dalam bidang
pengendalian otomatis adalah Sistem Pengendalian Sinyal, Peak Period Control, Sistem
Autotronik Otis dan Multiple Zoning. Otis adalah yang terdepan di dunia dalam
pengembangan teknologi komputer dan perusahaan tersebut telah membuat revolusi dalam
pengendalian elevator sehingga tercipta peningkatan yang dramatis dalam hal waktu reaksi
elevator dan mutu berkendara dalam elevator.
CARA KERJA ELEVATOR/LIFT
Pada sistem geared atau gearless (yang masing-masing digunakan pada instalasi gedung
dengan ketinggian menengah dan tinggi), kereta elevator tergantung di ruang luncur oleh
beberapa steel hoist ropes, biasanya dua puli katrol, dan sebuah bobot pengimbang
(counterweight). Bobot kereta dan counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara
puli katrol dan hoist ropes sehingga puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan bergerak
serta menahan kereta tanpa selip berlebihan. Kereta dan counterweight bergerak sepanjang rel
yang vertikal agar mereka tidak berayun-ayun.

Mesin Lift Gearless
Mesin untuk menggerakkan elevator terletak di ruang mesin yang biasanya tepat di atas ruang
luncur kereta. Untuk memasok listrik ke kereta dan menerima sinyal listrik dari kereta ini,
dipergunakan sebuah kabel listrik multi-wire untuk menghubungkan ruang mesin dengan
kereta. Ujung kabel yang terikat pada kereta turut bergerak dengan kereta sehingga disebut
sebagai kabel bergerak (traveling cable).

Jalur Lift (Hoistway) dan ruang mesin di atasnya
Mesin geared memiliki motor dengan kecepatan lebih tinggi dan drive sheave dihubungkan
dengan poros motor melalui gigi-gigi di kotak gigi, yang dapat mengurangi kecepatan rotasi
poros motor menjadi kecepatan drive-sheave rendah. Mesin gearless memiliki motor
kecepatan rendah dan puli katrol penggerak dihubungkan langsung ke poros motor.

Sistem pergerakan Elevator/Lift dengan Gearless
Pada sistem hidrolik (terutama digunakan pada instalasi di gedung rendah, dengan kecepatan
kereta menengah), kereta dihubungkan ke bagian atas dari piston panjang yang bergerak naik
dan turun di dalam sebuah silinder. Kereta bergerak naik saat oli dipompa ke dalam silinder
dari tangki oli, sehingga mendorong piston naik. Kereta turun saat oli kembali ke tangki oli.
Aksi pengangkatan dapat bersifat langsung (piston terhubungkan ke kereta) atau roped
(piston terikat ke kereta melalui rope). Pada kedua cara tersebut, pekerjaan pengangkatan
yang dilakukan oleh pompa motor (energi kinetik) untuk mengangkat kereta ke elevasi yang
lebih tinggi sehingga membuat kereta mampu melakukan pekerjaan (energi potensial).
Transfer energi ini terjadi setiap kali kereta diangkat. Ketika kereta diturunkan, energi
potensial digunakan habis dan siklus energi menjadi lengkap sudah. Gerakan naik dan turun
kereta elevator dikendalikan oleh katup hidrolik.
******
RIWAYAT ESKALATOR
Pada tahun 1899, Charles D. Seeberger bergabung dengan Perusahaan Otis Elevator Co.,
yang mana dari dia timbullah nama eskalator (yang diciptakan dengan menggabungkan kata
scala, yang dalam bahasa Latin berarti langkah-langkah (step), dengan elevator).
Bergabungnya Seeberger dan Otis telah menghasilkan eskalator pertama step type eskalator
untuk umum, dan eskalator itu dipasang di Paris Exibition 1900 dan memenangkan hadiah
pertama. Mr. Seeberger pada akhirnya menjual hak patennya ke Otis pada tahun 1910.


Eskalator lurus dan melengkung
Dalam perkembangannya, perusahaan Mitsubishi Electric Corporation telah berhasil
mengembangkan eskalator spiral (kenyataannya lebih cenderung melengkung/curve daripada
melingkar/spiral) dan secara eksklusif dijual sejak pertengahan tahun 1980. Eskalator ini
dipasang di Osaka, Jepang pada tahun 1985.
CARA KERJA ESKALATOR
Pendaratan/Landing
Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk jalan ke
ruang mesin yang berada di bawah floor plates.
Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak. Comb
plate ini sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-celah anak
tangga-anak tangga. Tepi muka gerigi comb plate berada dibawah permukaan cleat.
Landasan penopang/Truss
Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara pendaratan
bawah dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak berongga yang terbuat dari
bagian-bagian bersisi dua yang digabungkan bersama dengan menggunakan sambungan
bersilang sepanjang bagian dasar dan tepat dibawah bagian ujungnya. Ujung-ujung truss
tersandar pada penopang beton atau baja.

Struktur perletakan Eskalator pada lantai gedung
Lintasan
Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan rantai anak
tangga, yang menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat dua lintasan: satu
untuk bagian muka anak tangga (yang disebut lintasan roda anak tangga) dan satu untuk roda
trailer anak tangga (disebut sebagai lintasan roda trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-
lintasan ini menyebabkan anak tangga-anak tangga muncul dari bawah comb plate untuk
membentuk tangga dan menghilang kembali ke dalam landasan penopang.


Sistem pergerakan Eskalator

Anak tangga (individual steps) dari Eskalator
escalator-animation.swf
Animasi gerak eskalator
Lintasan pembalikan di pendaratan atas menggulung anak tangga-anak tangga mengelilingi
bagian ujung dan kemudian menggerakkannya kembali ke arah yang berbeda. Lintasan
overhead berfungsi untuk memastikan bahwa roda trailer tetap berada di tempatnya saat
rantai anak tangga diputar kembali.
******
RIWAYAT MOVING WALK
Banyak sebutan pada alat yang satu ini, di antaranya adalah Moving Walkway, Moving
Sidewalk, Moving Pavement, Walkalator, Travelator, atau Moveator.
Moving Walkway adalah alat angkut perpindahan orang dan barang dari satu tempat ke
tempat lain pada satu lantai atau pada lantai yang berbeda level dan bergerak sesuai dengan
prinsip pergerakan pada eskalator. Dengan demikian, konveyor ini adalah pengembangan ide
dari eskalator dan bisa dipasang pada posisi mendatar (horisontal) ataupun miring (inclined)
dengan kemiringan 10 20 derajat.

Moving walkway (horisontal) di Bandara Internasional Port Columbus

Moving walkway (inclined) di Stasiun Metro Beadry, Montreal

Moving walk (horisontal) di Stasiun metro Bienvenue Paris berkecepatan 9 km/jam
Kegunaan dari alat transportasi ini adalah berfungsi untuk membawa barang-barang bawaan
yang diletakkan di dalam kereta dorong (trolley) naik atau turun dari lantai satu ke lantai lain.
Biasanya terdapat di supermarket, mal, stasiun kereta ekspress, dll.
Dan bila dipasang secara mendatar pada satu lantai, berfungsi untuk meringankan beban dari
orang yang berjalan dengan membawa barang dan menempuh jarak yang relatif jauh.
Misalnya pada terminal di bandara internasional yang luas, musium, kebun binatang, atau
aquarium (water world).

Contoh gambar konveyor Moving Walkway
















Elevator & Eskalator Pada Perencanaan Instalasi Gedung Bertingkat
October 22nd, 2009 Related Filed Under
Jika kita mendirikan bangunan, bukan hanya keindahan tampak bangunan dan keserasian
bangunan terhadap lingkungan yang harus kita perhatikan.
Namun juga keamanan bangunan tersebut terhadap segala bencana yang dapat diakibatkan
oleh kurang diperhatikannya perencanaan instalasi yang terdapat didalam bangunan tersebut.
Selain itu juga harus diusahakan kemudahan bagi penyelamatan penghuni bila terjadi
bencana.
Setiap rencana instalasi dari bangunan yang akan dilaksanakan harus diteliti dahulu oleh seksi
Instalasi dan Perlengkapan Bangunan/TPIB (Team Penasehat Instalasi dan Perlengkapan
Bangunan).
Beberapa macam Instalasi yang harus diperhatikan :
1. Instalasi Pemadam Kebakaran
Sistem yang bisa digunakan antara lain :
Sistem Hydrant
Sistem Sprinkler
Sistem Fire Alarm
1. Instalasi Elevator & Eskalator
Didalam perencanaan instalasi Elevator dan Eskalator, yang harus diperhatikan:
Pola lalu lintas orang dan barang disekitar dan didalam gedung harus diperhatikan
Elevator penumpang, barang dan kebakaran harus terpisah
Cara penanggulangan bila terjadi keadaan darurat.
1. Instalasi Air Buangan
Didalam perencanaan instalasi air buangan, yang harus diperhatikan antara lain :
Sistem jaringan air kotor dan air hujan diluar bangunan
Sistem pengelolaan air kotor
Pengolahan air kotor tidak boleh mengganggu lingkungan sekitarnya.
1. Instalasi Listrik
Didalam perencanaan instalasi listrik yang harus diperhatikan adalah :
Sakelar khusus ukuran (rating) pengaman jenis pengaman dan penampang kabel
Penempatan generator genset
Sumber tenaga yang digunakan PLN, atau pembangkit tenaga listrik sendiri.
1. Instalasi Plumbing
Didalam perencanaan instalasi plimbing yang harus diperhatikan adalah :
Sistem pemipaan air bersih
Sistem pemipaan air limbah
Sistem pemipaan air hujan
Sistem pemipaan air limbah.
1. Instalasi Air Codition dan Refrigeration
Apabila harus terjadi kebakaran, AHU pada lokasi kebakaran harus mati secara otomatis
berbarengan dengan fire alarm bekerja
Faktor keamanan yang dipakai.
Dari sekian banyak instalasi gedung bertingkat yang harus diperhatikan, berikut ini akan
sedikit diulas tentang instalasi alat transportasi vertikal pada gedung bertingkat.
ALAT TRANSPORTASI VERTIKAL
Suatu bangunan yang besar & tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi yang nyaman
untuk aktifitas perpindahan orang dan barang secara VERTIKAL. Sarana angkut vertikal
yang bekerja secara mekanik elektrik adalah :
Elevator (Lift).
Eskalator
Travelator / Moving walk
Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13, tenaga manusia
dan binatang merupakan tenaga penggerak.
Pada tahun 1850 telah diperkenalkan elevator uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi babak
baru dalam sejarah elevator yaitu penemuan elevator yang aman pertama di Dunia oleh
Elisha Graves Otis.
RIWAYAT ELEVATOR/LIFT
Elevator penumpang pertama dipasang oleh Otis di New York pada tahun 1857. Setelah
meninggalnya Otis pada tahun 1861, anaknya, Charles dan Norton mengembangkan warisan
yang ditinggalkan oleh Otis dengan membentuk Otis Brothers & Co., pada tahun 1867.
Pada tahun 1873 lebih dari 2000 elevator Otis telah dipergunakan di gedung-gedung
perkantoran, hotel, dan department store di seluruh Amerika, dan lima tahun kemudian
dipasanglah elevator penumpang hidrolik Otis yang pertama.Berikutnya adalah era Pencakar
Langit.
Pada tahun 1889 Otis mengeluarkan mesin elevator listrik direct-connected geared pertama
yang sangat sukses.
Pada tahun 1903, Otis memperkenalkan desain yang akan menjadi tulang punggung
industri elevator,yaitu : elevator listrik gearless traction yang dirancang dan terbukti
mengalahkan usia bangunan itu sendiri. Hal ini membawa pada berkembangnya jaman
struktur-struktur tinggi, termasuk yang paling menonjol adalah Empire State building dan
World Trade Center di New York, John Hancock Center di Chicago dan CN Tower di
Toronto.
Selama bertahun-tahun ini, beberapa dari inovasi yang dibuat oleh Otis dalam bidang
pengendalian otomatis adalah Sistem Pengendalian Sinyal, Peak Period Control, Sistem
Autotronik Otis dan Multiple Zoning. Otis adalah yang terdepan di dunia dalam
pengembangan teknologi komputer dan perusahaan tersebut telah membuat revolusi dalam
pengendalian elevator sehingga tercipta peningkatan yang dramatis dalam hal waktu reaksi
elevator dan mutu berkendara dalam elevator.
CARA KERJA ELEVATOR/LIFT
Pada sistem geared atau gearless (yang masing-masing digunakan pada instalasi gedung
dengan ketinggian menengah dan tinggi), kereta elevator tergantung di ruang luncur oleh
beberapa steel hoist ropes, biasanya dua puli katrol, dan sebuah bobot pengimbang
(counterweight). Bobot kereta dan counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara
puli katrol dan hoist ropes sehingga puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan bergerak
serta menahan kereta tanpa selip berlebihan. Kereta dan counterweight bergerak sepanjang rel
yang vertikal agar mereka tidak berayun-ayun.
Mesin untuk menggerakkan elevator terletak di ruang mesin yang biasanya tepat di atas ruang
luncur kereta. Untuk memasok listrik ke kereta dan menerima sinyal listrik dari kereta ini,
dipergunakan sebuah kabel listrik multi-wire untuk menghubungkan ruang mesin dengan
kereta. Ujung kabel yang terikat pada kereta turut bergerak dengan kereta sehingga disebut
sebagai kabel bergerak (traveling cable).
Mesin geared memiliki motor dengan kecepatan lebih tinggi dan drive sheave dihubungkan
dengan poros motor melalui gigi-gigi di kotak gigi, yang dapat mengurangi kecepatan rotasi
poros motor menjadi kecepatan drive-sheave rendah. Mesin gearless memiliki motor
kecepatan rendah dan puli katrol penggerak dihubungkan langsung ke poros motor.
Pada sistem hidrolik (terutama digunakan pada instalasi di gedung rendah, dengan kecepatan
kereta menengah), kereta dihubungkan ke bagian atas dari piston panjang yang bergerak naik
dan turun di dalam sebuah silinder. Kereta bergerak naik saat oli dipompa ke dalam silinder
dari tangki oli, sehingga mendorong piston naik. Kereta turun saat oli kembali ke tangki oli.
Aksi pengangkatan dapat bersifat langsung (piston terhubungkan ke kereta) atau roped
(piston terikat ke kereta melalui rope). Pada kedua cara tersebut, pekerjaan pengangkatan
yang dilakukan oleh pompa motor (energi kinetik) untuk mengangkat kereta ke elevasi yang
lebih tinggi sehingga membuat kereta mampu melakukan pekerjaan (energi potensial).
Transfer energi ini terjadi setiap kali kereta diangkat. Ketika kereta diturunkan, energi
potensial digunakan habis dan siklus energi menjadi lengkap sudah. Gerakan naik dan turun
kereta elevator dikendalikan oleh katup hidrolik.
RIWAYAT ESKALATOR
Pada tahun 1899, Charles D. Seeberger bergabung dengan Perusahaan Otis Elevator Co.,
yang mana dari dia timbullah nama eskalator (yang diciptakan dengan menggabungkan kata
scala, yang dalam bahasa Latin berarti langkah-langkah (step), dengan elevator).
Bergabungnya Seeberger dan Otis telah menghasilkan eskalator pertama step type eskalator
untuk umum, dan eskalator itu dipasang di Paris Exibition 1900 dan memenangkan hadiah
pertama. Mr. Seeberger pada akhirnya menjual hak patennya ke Otis pada tahun 1910.
Dalam perkembangannya, perusahaan Mitsubishi Electric Corporation telah berhasil
mengembangkan eskalator spiral (kenyataannya lebih cenderung melengkung/curve daripada
melingkar/spiral) dan secara eksklusif dijual sejak pertengahan tahun 1980. Eskalator ini
dipasang di Osaka, Jepang pada tahun 1985.
CARA KERJA ESKALATOR
Pendaratan/Landing
Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk jalan ke
ruang mesin yang berada di bawah floor plates.
Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak. Comb
plate ini sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-celah anak
tangga-anak tangga. Tepi muka gerigi comb plate berada dibawah permukaan cleat.
Landasan penopang/Truss
Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara pendaratan
bawah dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak berongga yang terbuat dari
bagian-bagian bersisi dua yang digabungkan bersama dengan menggunakan sambungan
bersilang sepanjang bagian dasar dan tepat dibawah bagian ujungnya. Ujung-ujung truss
tersandar pada penopang beton atau baja.
Lintasan
Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan rantai anak
tangga, yang menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat dua lintasan: satu
untuk bagian muka anak tangga (yang disebut lintasan roda anak tangga) dan satu untuk roda
trailer anak tangga (disebut sebagai lintasan roda trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-
lintasan ini menyebabkan anak tangga-anak tangga muncul dari bawah comb plate untuk
membentuk tangga dan menghilang kembali ke dalam landasan penopang.






LIFT PADA GEDUNG BERTINGKAT
Posted by Muhammad Taufan
I. JENIS ELEVATOR / LIFT
Secara umum jenis lift dilihat dari pemakaian muatan dapat digolongkan
menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu :

1. Lift Penumpang ( Passenger Elevator)
2. Lift Barang ( Freight elevator )
3. Lift Pelayan ( Dumb Waiter, lift barang berukuran kecil ).
Secara teknis lift-lift tersebut tidak jauh berbeda secara prinsip.
Perbedaan yang nyata pada interior dan perlengkapan operasi dari lift-lift
tersebut. Juga pada sistem pengamanan operasi yang dipasang sebagian
besar sama, hanya pada dumb waiter sistem pengamanan operasi yang
disediakan lebih sederhana.

Perbedaan tersebut akan semakin nyata apabila dibandingkan antara lift
barang untuk pabrik (besar) dengan lift penumpang yang dipergunakan
didalam gedung-gedung diperkantoran. Lift barang untuk pabrik (sesuai
dengan kebutuhan) dilengkapi dengan pembuka pintu yang lebih besar,
baik dipasang dengan pembukaan secara horizontal (terdiri lebih dari dua
pintu) maupun yang dipasang dengan sistem pembukaan pintu vertikal
(biasanya terdiri dari dua daun pintu atau lebih)
Perbedaan lain juga dapat dilihat pada cara penulisan kapasitas
muatannya. Kapasitas digerakan pada COP (Car Operation Panel,
Operation Panel Board) didalam kereta biasanya dinyatakan dalarn
kilogram (kg) atau (Ib) untuk jenis lift barang, sedangkan untuk
penumpang sering dinyatakan dalam jumlah orang (persons) atau
kombinasi keduanya. Akan tetapi perbedaan tersebut akan menjadi
semakin tipis apabila kita bandingkan lift penumpang dan lift barang yang
terpasang dalam gedung perkantoran. Hal tersebut disebabkan karena
sebagian besar lift barang yang terpasang didalam gedung hunian
dipersyaratkan juga untuk dapat mengangkut penumpang atau orang.

Jenis Elevator / lift dilihat dari penggunaannya, adalah ;
1. Passenger Elevator.
2. Observation Elevator (Panoramic Elevator, Lift Capsul).
3. Service Elevator (passenger-freight elevator).
4. Fireman lift (lift Pemadam Kebakaran).
Observation elevator adalah jenis lift penumpang yang sebagian besar
pada dindingnya atau pintunya dilengkapi dengan kaca. Sehingga
memungkinkan penumpangnya dapat melihat kearah luar. Lift jenis ini
biasanya dipasang pada pertokoan atau hotel yang memiliki pemandangan
yang bagus.


II. KOMPONEN UTAMA ELEVATOR
Komponen utama elevator terdiri dari 2 ( dua ) bagian besar , yaitu ruang
mesin ( Machine Room ) dan ruang luncur ( Hoistway ).



1. Ruang mesin ( Machine Room )
Ruang mesin adalah ruang terpenting, dimana diruangan tersebut
terjadinya semua proses pengoperasian elevator berlangsung secara
keseluruhan. Didalam ruang mesin terdapat beberapa alat penggerak
elevator.

2. Motor penggerak
Motor penggerak elevator ini memiliki asupan daya tegangan bolak-balik
(Ac) dari PLN yang sangat berperan dalam pelaksanaan kerja elevator,
motor penggerak ini mempunyai kemampuan putar antara 50 putaran per
menit sampai dengan 210 putaran per menit. Dengan kapasitas tegangan
motor yang disesuaikan dengan kapasitas angkut .

Motor penggerak ini dilengkapi dengan rem magnet ( magnetic brake )
yang berfungsi menahan motor ketika kereta telah sampai pada lantai
yang dituju, pergerakan cepat atau lambatnya elevator diatur oleh PLC
(Programable Logic Control) . Motor penggerak dalam menarik dan
menurunkan elevator menggunakan tali baja ( rope ) yang melingkar pada
puli mesin ( sheave ).

Jenis Penggerak Elevator / lift pada umumnya
Pada umumnya jenis penggerak lift dapat digolongkan menjadi dua
kelompok yaitu :
A. Lift dengan sistem pengerak hidrolis (hydrolic elevator).
B. Lift dengan sistem penggerak dengan motor listrik (traction type
elevator).

Perbedaan pokok dari kedua jenis lift tersebut yaitu :
No Perbandingan Traction Machine Hydrolic
1. Pelayanan tidak terbatas terbatas 20 meter
2. Pemakaian Lebih dari 80 start /stop
perjam.
Terbatas 80 start
/stop perjam
3. Kecepatan Tidak terbatas
(1000m/menit)
Terbatas (maks 90
m/menit)

Jenis Lift Dengan Traction Motor
Lift yang mempergunakan tarction motor dapat dibedakan menjadi 2
(dua) yaitu :
1. Jenis Tarikan Langsung (Drum Type)
2. Jenis Tarikan Gesek (Traction Drive)

1. Drum Type Elevator
Cara operasi lift jenis ini seperti crane-crane pada proyek kontruksi
bangunan, dengan menggulung tali baja pada tabung gulung. Pemakaian
jenis lift ini pada lift penumpang tidak terlalu populer seperti pada lift
traksi jenis motor pully, hal ini disebabkan adanya beberapa keterbatasan
dalam pemakaian. Oleh karena itu lift jenis ini hanya dipergunakan untuk
lift-lift dengan kapasitas kecil seperti pada lift perumahan (home
elevator) dan (lift pelayan) dumbwaiter.

Adapun kelemahan tersebut, antara lain :
a. Kecepatan yang dapat dicapai secara teknis terbatas ( +/- 15 m/menit)
b. Kapasitas angkut terbatas (maksimal 200 kg).
c. Penggunaan tenaga listrik lebih boros ( tanpa bobot imbang ).

2. Traction Type Elevator
Lift jenis ini dapat digolongkan menjadi 2 (dua ) penggolongan, yaitu :
a. Dilihat dari segi mesin penggerak , dibagi menjadi 2 (dua ) yaitu :
a.1 Geared Elevator
a.2 Gearless Elevator

b. Dilihat dari jenis motor traksi yang dipergunakan dapat menjadi dua
(2) jenis, yaitu :
b.1 Lift traksi motor AC
b.2 Lift traksi motor DC
Geared elevator dengan penggerak motor AC geared biasanya
dipergunakan pada lift berkecepatan rendah dan sedang. Sebaliknya
Gearless elevator dengan penggerak motor DC ( AC VVVF ) dipergunakan
pada lift kecepatan tinggi.

Pada umumnya lift jenis traksi meletakkan motor traksi dan panel control
diatas ruang luncur (hoistway), namun demikian dalam beberapa kasus
tertentu penempatan motor traksi dan panel control ada yang diletakkan
samping bawah atau disamping atas ruang luncur. Untuk mengatasi
masalah dimana ketinggian bangunan yang terbatas.

3. Governor
Governor adalah komponen penggerak utama dalam elevator, didalam
governoor ini terdapat saklar yang berfungsi untuk menonaktifkan semua
rangkaian sehingga otomatisasi elevator mati dan tidak berfungsi. Selain
saklar juga terdapat pengait rem, pengait rem ini berfungsi untuk
menghentikan kawat selling dan kawat selling ini menarik rem yang ada di
kereta elevator.

4. Panel
Panel ini adalah tempat control elevator secara otomatis, panel ini
terdapat inverter motor dan program logic control yang berfungsi untuk
mengatur geraknya elevator.

5. Ruang luncur
Ruang luncur ini adalah tempat dimana elevator beroperasi berbentuk
lorong vertikal, disinilah elevator menjangkau tiap-tiap lantainya.didalam
ruang luncur ini terdapat beberapa komponen utama yang tak kalah
pentingnya dibandingkan dalam ruang mesin.



6. Kereta ( Sangkar )
Kereta elevator beroperasi pada ruang luncur dan menapak pada rail di
kedua sisinya, pada sisi kanan dan kiri terdapat pemandu rail ( sliding
guide ) yang berfungsi memandu atau menapaki rail.

Selain pemandu rail ( sliding guide ) juga terdapat karet peredam (
silencer rubber ) yang berfungsi untuk mengurangi kejutan ketika
elevator berhenti maupun mulai start, selain itu pula terdapat pendeteksi
beban (switch overload) yang terdapat dibawah kereta elevator. Pada
pintu kereta elevator juga terdapat sensor gerak ( safety ray ) dan sensor
sentuh ( safety shoe ) yang terpasang pada pintu kereta dan berfungsi
supaya untuk penumpang elevator tidak terjepit pintu elevator, didalam
kereta elevator juga terdapat tombol-tombol pemesanan lantai ( floor
button ) yang akan dituju oleh pengguna elevator.
Kereta elevator memiliki pintu otomatis yang digerakkan oleh motor
stepper yang bekerja berdasarkan sinyal digital yang asalnya dari sensor
kedekatan ( proximity ) yang berfungsi menentukan level atau tidaknya
lantai, setelah lantai dinyatakan level atau rata maka motor stepper akan
membuka pintu secara otomatis.

Ada beberapa komponen pendukung kerja elevator antara lain seperti
dibawah ini :
1. Saklar pintu ( door contact )
Saklar pintu ( door contact ) ini termasuk dalam komponen pengaman
elevator.
2. Kunci pintu ( door lock )
Berfungsi untuk mengunci pintu agar pintu tidak dapat dibuka dari luar
3. Saklar batas atas ( final up ) dan bawah ( final down )

Saklar batas atas dan bawah berfungsi untuk mengamankan kereta
elevator terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan kecepatan.

7. Saklar Pintu
Saklar pintu atau sering disebut dengan door contact adalah salah satu
komponen yang termasuk penting dalam pengamanan elevator, cara kerja
dari saklar pintu ( door contact ) ini adalah saklar di hubungkan kabel
saklar pintu ( door contact ) tiap-tiap lantai secara seri.
Apabila salah satu pintu dibuka secara sengaja maka elevator tidak akan
bekerja, ini dikarenakan untuk keselamatan pengguna elevator atau
bagian perawatan elevator.

8. Bobot imbang ( counterweight )
Bobot imbang atau counterweight biasanya terpasang dibelakang atau
disamping kereta elevator, bobot dari bobot imbang ini harus sesuai
dengan ketentuan yang ada. Faktor-faktor yang menentukan berapa berat
dari bobot imbang ini diantaranya harus memperhitungkan berat kereta,
kapasitas penuh pada kereta dan faktor keseimbangan.

9. Peralatan Pengaman ( Safety Device )
Peralatan pengaman safety device pada lift meliputi

a. Circuit braker
Memutuskan sumber (aliran) listrik dari panel induk (sub panel) ke panel
control lift.
Menjaga peralatan elektronik dari lift jika terjadi arus lebih (over
current).

b. Governoor
Memutuskan power/aliran listrik ke control panel lift jika governor
mendeteksi
terjadinya overspeed (kecepatan lebih) pada traffict lift (putaran roda
pulley
governoornya). Menjepit sling governor (catching).Secara mekanik bandul
governor akan menjepit sling overnor (rope governor) dan dengan
terjepitnya
sling ini,maka sling ini akan menarik safety wedge pada unit safety
gear/safety
wedge yang terletak di bawah car lift dan akan mencengkaram rail untuk
melakukan pengereman secara paksa terhadap lift.

c. Final limit switch (upper/bagian atas)
Merupakan double proteksi untuk menghentikan operasi lift jika limit
switch (upper)
gagal beroperasi.

d. Limit switch (upper/bagian atas)
Berfungsi menjaga lift beroperasi melewati batas travel lantai
tertingginya.

e. Emergency exit (manhole)
Penumpang dapat di evakuasasi dari dalam sangkar melalui manhole ini
pada saat
emergency.Manhole ini hanya dapat di buka dari sisi luar bagian atas.jika
pintu ini
terbuka lift otomatis akan berhenti.

f. Emergency light (lampu emergency)
Lampu emergency akan menyala secara otomatis jika terjadi pemadaman
sumber listrik.Lampu ini dapat bertahan rata-rata sampai dengan 15
menit.

g. Safety gear/safety wedge
Melakukan pengereman (menjepit) terhadap rail jika governor
mendeteksi terjadinya
over speed.

h. Limit switch (Lower/bagian bawah)
Menjaga lift beroperasi melewati batas travel lantai terendahnya.

i. Final limit switch (lower/bagian bawah)
Merupakan double proteksi untuk menghentikan opersi lift jika limit
switch
gagal beroperasi.

j. Lubang kunci pintu luar
Terletak di sisi sebelah atas dari pintu luar lift yang memungkinkan untuk
di buka
jika ingin melakukan pertolongan darurat pada penumpang jika terjadi
emergency.

k. Door lock switch
Mencegah pintu terbuka pada saat lift sedang beroperasi (running).Pintu
hanya
dapat di buka setelah sangkar berhenti.

l. Interphone
Penumpang dapat berkomunikasi dengan petugas teknisi (building
maintenance)
di ruang mesin,ruang control atau ruang security jika terjadi pemdaman
listrik atau
hal emergency.

m. Safety shoe
Mendeteksi gangguan pada saat pintu akan menutup dan membuka
kembali
jika mendeteksi sesuatu.Photocell dapat di gunakan secara bersamaan
safety shoe ini.

n. Weighing Device (pendeteksi beban)
Memberikan / mengaktifkan buzzer alarm pada saat weighing device ini
mendeteksi
beban sangkar yang berlebih.jika weighing device ini aktif pintu lift akan
tetap terbuka
sampai dengan sangkar di kurang bebannya.

o. Apron
Mencegah penumpang terjatuh ke dalam hoistway (ruang luncur lift) pada
saat
penumpang mencoba keluar ketika lift berhenti tidak level.

p. Buffer
Jika sangkar atau counterweight (beban penyeimbang) bergerak ke arah
paling bawah,
buffer akan mengurangi terjadinya shock (guncangan).

10. Lobi lift ( Lift Hall ):
a. Lobi lift (Lift Hall) adalah ruang bebas yang lerletak didepan pintu hall
lift.
b. Tombol Lantai (Hall button ) adalah Tombol pemanggil kereta, di hall.
c. Sakelar Parkir (Parking switch) terletak di lobby utama didekat tombol
lantai (hall button),
berfungsi mematikan dan menjalankan lift.
d. Sakelar Kebakaran (Fireman Switch) terletak di lobby utama disisi atas
hall button,
berfungsi untuk mengaktipkan fungsi fireman control atau fireman
operation.
e. Petunjuk Posisi Kereta (Hall indicator) terletak di transom masing-
masing lift.
Berfungsi untuk mengetahui posisi masing-masing kereta.

11. Konstruksi tali baja tarik
Tali baja tarik khusus untuk lift harus dibuat dari kawat baja yang cukup
kuat, tetapi cukup lemas tahan tekukan, dimana tali tersebut bergerak
bolak balik melalui roda. Batas patah elemen kawat baja ialah kira-kira
19.000 kgf/cm
2
atau 190kgf/mm
2
(high content carbon steel).
Konstruksi tali yang khas untuk lift terdiri dari 8 pintalan yang dililitkan
bersama, arah kekiri ataupun kekanan dengan inti ditengah dari serat
sisal manila henep, yang jenuh mengandung minyak lumas. Tiap-tiap
pintalan terdiri dari 19 kawat yaitu 9.9.1, artinya 9 kawat diluar, 1
dipusat dan 9 lagi diantaranya. Biasanya 9 elemen kawat baja yang diluar
dibuat dari baja "lunak" (130 kgf7mm
2
) agar menyesuaikan gesekan
dengan roda puli dari besi tuang, tanpa rnenimbulkan keausan
berlebihan. Konstruksi tali sering disebut atau ditulis 8x19 atau 8 x 9.9.1.
FC (fibre core).
Inti serat sisal dapat juga diganti dengan serat sintetis. Adapun tujuannya
hanya sebagai bantalan untuk mempertahankan bentuk bulat tali dan
memberikan pelumasan pada elemen kawat. Tali baja yang dilengkapi inti
serat diberi kode FC (fibre core), untuk membedakan dengan tali yang
dilengkapi inti kawat baja atau kawat besi yang diberi kode IWC
(independent wire core). Yang tersebut terakhir tidak memberikan
pelumasan dan tidak digunakan untuk lift karena tidak luwes.

Dilihat dari segi arah pilinan, tali dibedakan atas 2 jenis yaitu :
1. Regular lay, jika arah pilinan kawat berlawanan dengan arah lilitan dan
strand
2. Lang lay, jika arah pilinan kawat sama searah dengan lilitan dan stand.
Keuntungan dari lang lay ialah kemuluran tali lebih kecil yaitu 0.1 %
hanya dibanding dengan regular lay 0.5%. Tekanan pada alur puli lebih
kecil sehingga lebih awet dan lebih luwes, tidak mempunyai sifat kaku
(menendang) saat mau dipasang. Lang lay dipakai untuk instalasi lift
berkecepatan tinggi diatas 300 m/menit, dan jarak lintas diatas 200 m.
Lang lay juga lebih tahan terhadap fatigue, tetapi batas patah lebih kecil
kira-kira 10% dibanding dengan regular lay. Umpama pada tali
berdiameter 13 mm, untuk regular lay batas patah 6500 kgf, sedangkan
pada lang lay sebesar kira-kira 5800 kgf.

Tali baja kompensasi
Tali baja kompensasi dipasang sebagai pengimbang berat tali baja tarik,
terutama pada instalasi lift dengan tinggi lintas lebih dari 35 meter dan
lift dengan berkecepatan 210 m/menit keatas. Lift dengan lintas rendah
sampai 35 m dan berkecepatan dibawah 210 m/menit menggunakan
rantai gelang sebagai pengimbang berat tali baja tarik.

Salah satu manfaat penggunaan kompensasi berat atas tali baja ialah
menjaga hubungan traksi T
1
/T
2
konstan sepanjang lintasan. Lonjakan
kereta dapat terjadi saat bobot imbang membentur peredam di pit. Oleh
karena itu overhead harus diperhitungkan tingginya untuk cukup
menampung tinggi ruang aman disamping lonjakan kereta setinggi
setengah langkah peredam. Setelah terjadi Ionjakan, kereta akan jatuh
kembali ke posisi menggantung dengan menimbulkan tegangan dinamis
pada tali baja tarik sesaat, setelah lonjakan. Kejutan semacam itu juga
dapat terjadi saat pesawat pengaman bekerja yaitu kereta meluncur
overspeed kebawah tiba-tiba dihentikan, sehingga bobot irnbang
melonjak keatas sesaat dan kembali ke kedudukannya menggantung
dengan menimbulkan tegangan dinamis pada tali baja tarik.

Tali kompensasi mempunyai peranan meredam peristiwa lonjakan
tersebut. Untuk mengurangi tegangan dinamis pada tali baja tarik,
terutama pada lift berkecepatan diatas 210 m/m, maka dipasang roda
teromol di pit sebagai penegang tali kompensasi. Teromol tersebut
beralur sesuai dengan jumlah dan besarannya tali kompensasi serta duduk
pada rumah yang bebas naik-turun mengikuti ayunan, yang dipandu oleh
sepasang rel vertikal.

Gerakan ayunan naik-turun rumah teromol tersebut perlu diredam dengan
satu atau dua buah shock breaker (sejenis yang digunakan pada
kendaraan bermotor) yang diikat pada dasar pit sekaligus sebagai
penahan kereta agar tidak atau hampir tidak melonjak. Posisi kereta
diujung atas dimulai dari tali kendor atau kecepatan V
o
= 0, saat bobot
imbang membentur penyangga dan terhenti. Tahapan berikutnya
tegangan puncak tali terjadi saat tali baja tarik menahan kereta yang
turun kembali dari lonjakan.

Jika tali kompensasi tidak dilengkapi dengan teromol penegang yang
sesuai, dan peredam dari bobot imbang tidak dilengkapi dengan saklar
pemutus arus, maka kereta dapat saja meloncat sampai membentur
bagian bawah lantai kamar mesin, yaitu sesaat setelah bobot imbang
membentur penyangga. Peristiwa ini sering disebut oleh teknisi lapangan
sebagai peristiwa "jatuh keatas".

0 comments:
Poskan Komentar




Penyambungan Rangkaian Motor On Off (interlock)


klik gambar untuk memperbesar atau mendownload

Rangkaian ini dikenal juga dengan istilah DOL Starter seperti artikel yang pernah
saya bahas sebelumnnya. Sebelum melihat gambar penyambungan rangkaian
motor On Off ini, anda sebaiknya membaca artikel saya yang berjudul InterLock
Kontaktor.. disana anda akan menemukan penjelasan apa dan bagaimana cara
kerja rangkaian ini, berikut juga wiring diagramnya.

Di foto gambar penyambungan rangkaian motor On Off ini, saya menggunakan
tegangan 380V pada kontrol pengendalinya. Artinya, disini saya menggunakan
Kontaktor 380V agar lebih efisien. Nah... bagaimanakah wiring diagramnya bila
menggunakan kontaktor 220V? (cari caranya sendiri yahh.. :P).

Penyambungan Rangkaian Motor Star Delta (Bintang Segitiga)

klik gambar untuk memperbesar atau mendownload

Dalam penyambungan rangkaian motor star delta ini, mungkin sedikit agak berbeda
dari wiring diagram yang ada pada artikel saya sebelumnya yaitu yang berjudul
Wiring Diagram Star Delta dan Pengaplikasian Kerja NO dan NC Proteksi Motor
Listrik. Tetapi tidak akan menjadi masalah, karena prinsip kerjanya tetaplah sama.

Disini saya menggunakan 1 tegangan pada rangkaian pengendalinya.. yaitu 220V
untuk Kontaktor dan Timer. Khusus untuk timer, saya menggunakan Omron H3CR-
A8, 220V, yang mempunyai range 0~30 Jam. Selamat menikmati keruwetan
gambarnya.. :)

Penyambungan Rangkaian Motor Forward Reverse (bolak balik)


klik gambar untuk memperbesar atau mendownload

Pada gambar diatas, secara prinsipanya sama dengan wiring diagram yang terdapat
pada artikel saya sebelumnya yang berjudul Wiring Diagram Motor Bolak Balik
(Forward Reverse), hanya saja disini saya memasang NC dari thermal overload
langsung pada koil kontaktor, dan NC dari K1 dan K2 yang terhubung dari NO
tombol masing-masing. Silahkan untuk membandingkan wiring diagramnya dengan
foto gambar penyambungannya diatas

Prinsip kerjanya adalah, bila tombol fwd ditekan maka motor akan berputar
kekanan. Untuk memutar balik putaran motor kekiri maka perlu ditekan terlebih
dahulu tombol Off, baru bisa memutar kearah sebaliknya (kiri) dengan menekan
tombol rev. Dan untuk mematikannya tekan tombol Off yang sama, karena fungsi
tombol Off disini untuk memutuskan kedua fungsi kerja rangkaian.
Penyambungan Rangkaian Motor Off dengan Timer


klik gambar untuk memperbesar atau mendownload

Rangkaian ini belum pernah saya bahas sebelumnya, tetapi bila anda jeli untuk
mempelajari artikel-artikel tentang wiring diagram saya yang ada di blog ini, maka
anda pasti akan menemukan prinsip dasar kerjanya.

Prinsip kerja dari rangkaian ini adalah, memutus kerja rangkaian kontaktor sesuai
dengan waktu yang diinginkan secara otomatis dengan timer. Pada rangkaian ini,
saya juga memasang tombol off sebagai pemutus rangkaian manual. Hal tersebut
semata-mata hanya untuk menjaga kalau-kalau kerja rangkaian tersebut tidak
sesuai yang diharapkan atau mengalami masalah (trouble).

Penyambungan Rangkaian Motor Work Interchangeably (Kerja Bergantian)


klik gambar untuk memperbesar atau mendownload

Khusus untuk foto gambar rangkaian ini, saya mengadaptasikan kerja rangkaian
lampu flip-flop seperti pada artikel saya sebelumnya yang berjudul Wiring Diagram
Rangkaian Lampu Flip Flop Menggunakan TDR (Timer), dengan hanya
menggunakan 2 timer saja pada kerja rangkaiannya. Rangkaian ini bisa
diaplikasikan pada rangkaian kerja motor sirkulasi, atau kerja motor induksi 3 phasa
yang bekerja secara terus menerus. Pada sistem kerja seperti itulah rangkaian ini
sangat dibutuhkan, agar motor induksi dapat diistirahatkan kerjanya. Karena
pemakaian yang terlalu lama bisa juga mengurangi umur sebuah motor induksi.

Prinsip kerjanya adalah, ketika tombol On ditekan maka motor 1 akan bekerja sesuai
waktu yang diinginkan. Ketika telah mencapai waktunya, maka motor 1 akan mati
dan bersamaan itu juga motor 2 akan bekerja sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan. Dan begitu telah mencapai waktunya, maka motor 2 akan mati dan
motor 1 akan menyala lagi sesuai ketetapan waktunya.. begitu seterusnya. Dan
untuk mematikan kerja rangkaian ini, cukup dengan menekan tombol Off. Rangkaian
ini menggunakan tegangan 220V pada rangkaian pengendalinya, artinya Timer,
Relay dan Kontaktor menggunakan koil bertype 220V (perhatikan pengabelan yang
berwarna hijau terang).

Catatan
Motor Induksi 3/380V diatas 5 HP, harus dihubung star delta. (atau
baca dulu penjelasan tentang name plate-nya disini)
Karena penampakan gambar rangkaian diweb browser ini amat
terbatas, Anda disarankan untuk mendownload gambar-gambar yang
ada dan mencetaknya dengan printer berwarna agar lebih jelas
mempelajarinya.













Simbol - simbol gambar listrik untuk Single Line Diagram rangkaian pengendali.


Catatan:
NO dan NC yang terdapat pada gambar adalah NO NC dari semua peralatan yang telah
dijelaskan sebelumnya, yaitu: Kontaktor, Relay, Timer dan Tripper / Over Load. Tinggal
bagaimana kita menamakannya, contoh: NOK, NCT, NOR atau NC OL.















Elevator & Eskalator Pada Perencanaan Instalasi Gedung Bertingkat
October 22nd, 2009 Related Filed Under
Jika kita mendirikan bangunan, bukan hanya keindahan tampak bangunan dan keserasian bangunan
terhadap lingkungan yang harus kita perhatikan.
Namun juga keamanan bangunan tersebut terhadap segala bencana yang dapat diakibatkan oleh
kurang diperhatikannya perencanaan instalasi yang terdapat didalam bangunan tersebut.
Selain itu juga harus diusahakan kemudahan bagi penyelamatan penghuni bila terjadi bencana.
Setiap rencana instalasi dari bangunan yang akan dilaksanakan harus diteliti dahulu oleh seksi
Instalasi dan Perlengkapan Bangunan/TPIB (Team Penasehat Instalasi dan Perlengkapan Bangunan).
Beberapa macam Instalasi yang harus diperhatikan :
1. Instalasi Pemadam Kebakaran
Sistem yang bisa digunakan antara lain :
Sistem Hydrant
Sistem Sprinkler
Sistem Fire Alarm
1. Instalasi Elevator & Eskalator
Didalam perencanaan instalasi Elevator dan Eskalator, yang harus diperhatikan:
Pola lalu lintas orang dan barang disekitar dan didalam gedung harus diperhatikan
Elevator penumpang, barang dan kebakaran harus terpisah
Cara penanggulangan bila terjadi keadaan darurat.
1. Instalasi Air Buangan
Didalam perencanaan instalasi air buangan, yang harus diperhatikan antara lain :
Sistem jaringan air kotor dan air hujan diluar bangunan
Sistem pengelolaan air kotor
Pengolahan air kotor tidak boleh mengganggu lingkungan sekitarnya.
1. Instalasi Listrik
Didalam perencanaan instalasi listrik yang harus diperhatikan adalah :
Sakelar khusus ukuran (rating) pengaman jenis pengaman dan penampang kabel
Penempatan generator genset
Sumber tenaga yang digunakan PLN, atau pembangkit tenaga listrik sendiri.
1. Instalasi Plumbing
Didalam perencanaan instalasi plimbing yang harus diperhatikan adalah :
Sistem pemipaan air bersih
Sistem pemipaan air limbah
Sistem pemipaan air hujan
Sistem pemipaan air limbah.
1. Instalasi Air Codition dan Refrigeration
Apabila harus terjadi kebakaran, AHU pada lokasi kebakaran harus mati secara otomatis
berbarengan dengan fire alarm bekerja
Faktor keamanan yang dipakai.
Dari sekian banyak instalasi gedung bertingkat yang harus diperhatikan, berikut ini akan sedikit
diulas tentang instalasi alat transportasi vertikal pada gedung bertingkat.
ALAT TRANSPORTASI VERTIKAL
Suatu bangunan yang besar & tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi yang nyaman untuk
aktifitas perpindahan orang dan barang secara VERTIKAL. Sarana angkut vertikal yang bekerja secara
mekanik elektrik adalah :
Elevator (Lift).
Eskalator
Travelator / Moving walk
Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13, tenaga manusia dan
binatang merupakan tenaga penggerak.
Pada tahun 1850 telah diperkenalkan elevator uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi babak baru
dalam sejarah elevator yaitu penemuan elevator yang aman pertama di Dunia oleh Elisha Graves
Otis.
RIWAYAT ELEVATOR/LIFT
Elevator penumpang pertama dipasang oleh Otis di New York pada tahun 1857. Setelah
meninggalnya Otis pada tahun 1861, anaknya, Charles dan Norton mengembangkan warisan yang
ditinggalkan oleh Otis dengan membentuk Otis Brothers & Co., pada tahun 1867.
Pada tahun 1873 lebih dari 2000 elevator Otis telah dipergunakan di gedung-gedung perkantoran,
hotel, dan department store di seluruh Amerika, dan lima tahun kemudian dipasanglah elevator
penumpang hidrolik Otis yang pertama.Berikutnya adalah era Pencakar Langit.
Pada tahun 1889 Otis mengeluarkan mesin elevator listrik direct-connected geared pertama yang
sangat sukses.
Pada tahun 1903, Otis memperkenalkan desain yang akan menjadi tulang punggung industri
elevator,yaitu : elevator listrik gearless traction yang dirancang dan terbukti mengalahkan usia
bangunan itu sendiri. Hal ini membawa pada berkembangnya jaman struktur-struktur tinggi,
termasuk yang paling menonjol adalah Empire State building dan World Trade Center di New York,
John Hancock Center di Chicago dan CN Tower di Toronto.
Selama bertahun-tahun ini, beberapa dari inovasi yang dibuat oleh Otis dalam bidang pengendalian
otomatis adalah Sistem Pengendalian Sinyal, Peak Period Control, Sistem Autotronik Otis dan
Multiple Zoning. Otis adalah yang terdepan di dunia dalam pengembangan teknologi komputer dan
perusahaan tersebut telah membuat revolusi dalam pengendalian elevator sehingga tercipta
peningkatan yang dramatis dalam hal waktu reaksi elevator dan mutu berkendara dalam elevator.
CARA KERJA ELEVATOR/LIFT
Pada sistem geared atau gearless (yang masing-masing digunakan pada instalasi gedung dengan
ketinggian menengah dan tinggi), kereta elevator tergantung di ruang luncur oleh beberapa steel
hoist ropes, biasanya dua puli katrol, dan sebuah bobot pengimbang (counterweight). Bobot kereta
dan counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara puli katrol dan hoist ropes sehingga
puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan bergerak serta menahan kereta tanpa selip berlebihan.
Kereta dan counterweight bergerak sepanjang rel yang vertikal agar mereka tidak berayun-ayun.
Mesin untuk menggerakkan elevator terletak di ruang mesin yang biasanya tepat di atas ruang
luncur kereta. Untuk memasok listrik ke kereta dan menerima sinyal listrik dari kereta ini,
dipergunakan sebuah kabel listrik multi-wire untuk menghubungkan ruang mesin dengan kereta.
Ujung kabel yang terikat pada kereta turut bergerak dengan kereta sehingga disebut sebagai kabel
bergerak (traveling cable).
Mesin geared memiliki motor dengan kecepatan lebih tinggi dan drive sheave dihubungkan dengan
poros motor melalui gigi-gigi di kotak gigi, yang dapat mengurangi kecepatan rotasi poros motor
menjadi kecepatan drive-sheave rendah. Mesin gearless memiliki motor kecepatan rendah dan puli
katrol penggerak dihubungkan langsung ke poros motor.
Pada sistem hidrolik (terutama digunakan pada instalasi di gedung rendah, dengan kecepatan kereta
menengah), kereta dihubungkan ke bagian atas dari piston panjang yang bergerak naik dan turun di
dalam sebuah silinder. Kereta bergerak naik saat oli dipompa ke dalam silinder dari tangki oli,
sehingga mendorong piston naik. Kereta turun saat oli kembali ke tangki oli.
Aksi pengangkatan dapat bersifat langsung (piston terhubungkan ke kereta) atau roped (piston
terikat ke kereta melalui rope). Pada kedua cara tersebut, pekerjaan pengangkatan yang dilakukan
oleh pompa motor (energi kinetik) untuk mengangkat kereta ke elevasi yang lebih tinggi sehingga
membuat kereta mampu melakukan pekerjaan (energi potensial). Transfer energi ini terjadi setiap
kali kereta diangkat. Ketika kereta diturunkan, energi potensial digunakan habis dan siklus energi
menjadi lengkap sudah. Gerakan naik dan turun kereta elevator dikendalikan oleh katup hidrolik.
RIWAYAT ESKALATOR
Pada tahun 1899, Charles D. Seeberger bergabung dengan Perusahaan Otis Elevator Co., yang mana
dari dia timbullah nama eskalator (yang diciptakan dengan menggabungkan kata scala, yang dalam
bahasa Latin berarti langkah-langkah (step), dengan elevator). Bergabungnya Seeberger dan Otis
telah menghasilkan eskalator pertama step type eskalator untuk umum, dan eskalator itu dipasang
di Paris Exibition 1900 dan memenangkan hadiah pertama. Mr. Seeberger pada akhirnya menjual
hak patennya ke Otis pada tahun 1910.
Dalam perkembangannya, perusahaan Mitsubishi Electric Corporation telah berhasil
mengembangkan eskalator spiral (kenyataannya lebih cenderung melengkung/curve daripada
melingkar/spiral) dan secara eksklusif dijual sejak pertengahan tahun 1980. Eskalator ini dipasang di
Osaka, Jepang pada tahun 1985.
CARA KERJA ESKALATOR
Pendaratan/Landing
Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk jalan ke ruang
mesin yang berada di bawah floor plates.
Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak. Comb plate ini
sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-celah anak tangga-anak tangga.
Tepi muka gerigi comb plate berada dibawah permukaan cleat.
Landasan penopang/Truss
Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara pendaratan bawah
dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak berongga yang terbuat dari bagian-bagian
bersisi dua yang digabungkan bersama dengan menggunakan sambungan bersilang sepanjang
bagian dasar dan tepat dibawah bagian ujungnya. Ujung-ujung truss tersandar pada penopang beton
atau baja.
Lintasan
Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan rantai anak tangga, yang
menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat dua lintasan: satu untuk bagian muka
anak tangga (yang disebut lintasan roda anak tangga) dan satu untuk roda trailer anak tangga
(disebut sebagai lintasan roda trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-lintasan ini menyebabkan anak
tangga-anak tangga muncul dari bawah comb plate untuk membentuk tangga dan menghilang
kembali ke dalam landasan penopang.
Diposkan 28th January o



















InterLock Kontaktor / On Off Kontaktor
Tweet
More Sharing Services5

Sebelumnya klik disini untuk mempelajari simbol-simbol gambar teknik listrik. Lalu
perhatikan gambar dibawah ini:


Apa yang akan terjadi ketika tombol ditekan?

Pada gambar terlihat Kontaktor dan Relay saling terhubung, tetapi pada Relay terlebih
dahulu terhubung pada NO dari Kontaktor. Ketika tombol ditekan maka arus listrik akan
mengalir ke koil Kontaktor dan mengalir juga pada Relay karena NO dari Kontaktor akan
berubah menjadi NC dan mengalirkan arus listrik ke koil Relay. Akan tetapi ketika tombol di
lepas maka kedua peralatan tersebut (Kontaktor dan Relay) akan mati dan tidak bekerja.

Kesimpulannya: semua aktivitas kerja dua peralatan itu tergantung pada kerja tombol.

Perhatikan kembali gambar di bawah ini..


Pada gambar tersebut NO dari Kontaktor saya pindahkan dan diparalelkan dengan tombol,
dan Relay pun menjadi paralel dengan Kontaktor. Maka ketika tombol ditekan maka arus
listrik akan menghidupkan Kontaktor, selain itu perhatikan NO dari Kontaktor.. YAHHH... NO
Kontaktor menjadi NC dan mengalirkan juga arus listrik dari sumber. Maka ketika tombol
dilepaspun arus listrik tetap akan mengalir pada rangkaian.

Kesimpulannya: arus listrik aka tetap mengalir pada rangkaian walaupun tombol dilepas.

Lalu bagaimana mematikan arus listriknya? perhatikan gambar dibawah ini


Yahhh... hanya butuh tombol pemutus NC yang terhubung sebelum arus listrik ke tombol
penghubung. Karena pemutusan arus listrik sesaatpun bisa memutuskan arus listrik pada
rangkaian..

Kesimpulan:
Rangkaian ini disebut juga rangkaian InterLock Kontaktor atau sering juga disebut DOL
Starter. Rangkaian ini adalah rangkaian dasar dari semua sistem pengendali yang sangat
pasti membutuhkan sebuah rangkaian untuk menghidup- matikan kan sebuah sistem
pengendali kelistrikan.

























Setelah pada artikel sebelumnya di sini yang membahas mengenai peralatan listrik rumah tinggal,
maka artikel kali ini akan membahas lebih detail lagi mengenai satu peralatan instalasi listrik yang
digunakan, yaitu plug dan socket. Plug dan socket listrik (dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan
colokan dan stop-kontak) 2 pin awalnya diciptakan oleh Harvey Hubbell dan dipatenkan pada tahun
1904. Karya Hubbell ini pun menjadi rujukan pembuatan plug dan socket setelahnya dan menjelang
tahun 1915 penggunaannya semakin meluas, walaupun pada tahun-tahun 1920an peralatan rumah
serta komersial masih menggunakan socket lampu jenis screw-base Edison.

Kemudian plug 3 pin diciptakan oleh Albert Bttner pada tahun 1926 dan mendapatkan hak paten
dari badan paten jerman (DE 370538), karyanya tersebut dikenal dengan nama "schuko". Namun
ada juga pencipta plug 3 pin ini, yaitu Philip F. Labre, semasa beliau masih menuntut ilmu di Sekolah
Kejuruan Milwaukee (MSOE) dan mendapatkan hak paten dari amerika serikat pada 5 Juni 1928.
Siapa pun penenmunya, penemuan plug atau colokan 3 pin ini merupakan sesuatu yang sangat luar
biasa, karena memperhatikan aspek keselamatan manusia, sehingga plug atau colokan listrik jenis ini
menjadi standar dihampir semua negara sampai saat ini.

Jenis-Jenis Plug dan Socket

Jenis-jenis plug dan socket diklasifikasikan berdasarkan tegangan dan frekuensi yang digunakan pada
suatu negara, sehingga dapat dikatakan hanya ada dua jenis yang berdasarkan klasifikasi ini, yaitu:
Untuk tegangan 110-220 volt pada frekuensi 60 hz
Untuk tegangan 220-240 volt pada frekuensi 50 hz

ada juga beberapa negara yang menggunakan plug dan socket untuk keduanya, lihat peta
penggunaan tegangan dan frekuensi listrik di dunia dibawah ini. (klik gambar untuk melihat peta
lebih besar lagi)


Sedangkan berdasarkan pengamannya plug dan socket diklasifikasikan menjadi:
Tanpa pembumian, ungrounded. Biasanya untuk plug yang 2 pin, dan menurut standar IEC
merupakan class-II
Dengan pembumian, Grounded. Biasanya untuk plug yang 3 pin, dan menurut standar IEC
merupakan class-I
Dengan pembumian dan sekering, Grounded and fuse. Biasanya untuk plug yang 3 pin.



Berdasarkan klasifikasi-klasifikasi diatas, maka plug dan socket setiap negara dapat berbeda-beda,
dan secara umum jenis dan standar dari plug dan socket adalah:

1. Jenis A


2 pin dengan standar NEMA 115 (North American 15 A/125 V ungrounded)
plug jenis A juga dapat digunakan pada socket jenis B.

JISC 8303, Class II (Japanese 15 A/100 V ungrounded) merupakan standar plug dan socket di jepang
yang mirip dengan plug dan socket jenis A, dan juga harus lulus uji dari MITI (Ministry of
International Trade and Industry) dan JIS (Japanese Industrial Standards).


2. Jenis B


3 pin dengan standar NEMA 515 (North American 15 A/125 V grounded), merupakan plug dan
socket standar di amerika utara (Canada, Amerika Serikat dan Mexico), juga digunakan di Amerika
tengah, Karibia, Colombia, Ecuador, Venezuela dan sebagian Brazil, Jepang, Taiwan dan Saudi Arabia

3 pin dengan standar NEMA 520 (North American 20 A/125 V grounded), digunakan untuk
instalasi rumah tanggal mulai tahun 1992, dengan slot socket model T.

JIS C 8303, Class I (Japanese 15 A/100 V grounded)

3. Jenis C

CEE 7/16 (Europlug 2.5 A/250 V ungrounded), Plug ini biasa digunakan dalam aplikasi-aplikasi class
II (ungrounded). Plug ini adalah salah satu plug internasional yang paling banyak digunakan karena
cocok dengan soket apapun yang bisa menerima kontak 4.0 4.8 mm dengan jarak pisah 19 mm.
Plug ini bisa digunakan di semua negara-negara Eropa kecuali Inggris dan Irlandia (karena
Inggris/Irlandia punya standar tersendiri). Tapi penggunaan plug ini secara umum memang terbatas
untuk penggunaan aplikasi-aplikasi Class II yang memerlukan arus di bawah 2,5 A dan unpolarized.


CEE 7/17 (German/French 16 A/250 V ungrounded), ukurannya hampir sama dengan tipe E dan F,
pada plug nya dilapisi dengan karet atau plastik. Digunakan juga di korea selatan untuk peralatan
listrik yang tidak dibumikan dan di italia di kategorikan dengan Italian standard CEI 23-5


BS 4573 (UK shaver), digunakan di Inggris untuk kegunaan alat-alat cukur atau shaver yang ada di
kamar mandi. Jarak antar pin 5,08 mm dengan panjang pin 15,88 mm dan telah digunakan di inggris
sejak tahun 1960an.

Soviet plug (6 A/250 V ungrounded), hampir sama dengan French type E dan CEE7/17

4. Jenis D


BS 546 (United Kingdom, 5 A/250 V grounded), equivalent to IA6A3 (India), rated at 6A / 250V

BS 546 (United Kingdom, 15 A/250 V grounded), equivalent to IA16A3 (India) & SABS 164 (South
Africa), rated at 16A / 250V

5. Jenis E


CEE 7/5 (French type E)

6. Jenis F


CEE 7/4 (German "Schuko" 16 A/250 V grounded)
Gost 7396 (Russian 10 A/250 V grounded)

7. Jenis E/F Hybrid


CEE 7/7 (French/German 16 A/250 V grounded)

8. Jenis G


BS 1363 (British 13 A/230-240 V 50 Hz grounded and fused), equivalent to IS 401 & 411 (Ireland), MS
589 (Malaysia) and SS 145 (Singapore), SASO 2203 (Saudi Arabia)

9. Jenis H


SI 32 (Israeli 16 A/250 V grounded)
Thai 3 pin plug TIS166-2549 (2006)

10. Jenis I


AS/NZS 3112 (Australasian 10 A/240 V)

CPCS-CCC (Chinese 10 A/250 V)


IRAM 2073 (Argentinian 10 A/250 V)

11. Jenis J


SEV 1011 (Swiss 10 A/250 V)

12. Jenis K


Section 107-2-D1 (Danish 13 A/250 V earthed)

13. Jenis L

CEI 23-16/VII (Italian 10 A/250 V and 16 A/250 V)
CEI 23-16/VII (Italian 10 A/250 V)
CEI 23-16/VII (Italian 16 A/250 V)

14. Jenis M
BS 546 (South African 15 A/250 V)

15. Belum Mendapatkan kategori
IEC 60906-1 (Brazilian 10 A and 20A /250 V)

Kesimpulan:
Ada 14 pola standar plug dan socket yang digunakan di seluruh dunia, baik untuk aplikasi-aplikasi
Class I (grounded) maupun Class II (ungrounded), dengan rating arus berkisar 2,5 16 A. Standar-
standar tersebut adalah standar-standar Amerika Serikat, Amerika Utara, Argentina, Australia,
Daratan Eropa, Europlug, Cina, Denmark, India/Afrika Selatan, Israel, Itali, Jepang, Swiss, dan
Inggris/Irlandia.
Peta dibawah akan menjelaskan mengenai Negara-negara didunia dan jenis plug & socket yang
digunakan




Kontrol Star Delta Motor AC 3 Phasa
Kontrol Star Delta

Apa yang anda ketahui tentang kontrol star delta?
Seperti namanya, secara garis besar starter wye-delta bekerja dengan dua tahap Awalnya motor
berjalan dengan rangkaian belitan wye (Y) Setelah beberapa saat, motor melepas rangkaian belita
wye dan beroperasi dengan belitan delta. Jenis kontrol star-delta atau wye-delta cocok
digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan arus starting lebih rendah ketimbang saat
menggunakan starter DOL.

Bagaimana kontrol dari starter wye-delta? Berikut gambaran sederhananya.
Kontrol Star
Delta Motor AC 3 Phasa

Cara Kerja Kontrol Star Delta
Dalam operasinya, kontaktor utama K3 dan kontaktor bintang K1 awalnya akan energized
kemudian setelah beberapa waktu kontaktor bintang akan de-energized digantikan oleh
kontaktor delta K2. Kontrol kapan aktifnya kontaktor-kontaktor ini diatur oleh timer K1T
yang waktunya bisa diatur. Hubungan bintang dan delta akan diproteksi dari potensi aktif
pada saat yang bersamaan dengan menggunakan interlok anak kontak masing-masing
terhadap lawannya.

Kerja rangkaian starter star-delta adalah sebagai berikut:
Kondisi OFF. Semua kontaktor belum aktif dan anak kontaknya masih di posisi normalnya.
Kondisi bintang. Kontaktor Utama K3 dan bintang K1 akan aktif dengan kontaktor delta tidak aktif.
Belitan motor akan terhubung bintang dengan konsumsi arus sekitar 1/3 dari arus DOL.
Kondisi terbuka. Kontaktor utama masih tertutup sedangkan kontaktor delta dan bintang terbuka.
Tegangan sudah ada di salah satu ujung belitan motor (misal: U1, V1, W1) sementara yang lain masih
terbuka sehingga belum ada aliran arus. Motor telah berputar dan beraksi sebagai generator.
Kondisi delta. Kontaktor Utama K1 dan delta K2 aktif sementara kontaktor K1 tidak aktif. Motor akan
terhubung delta mendapatkan tegangan dan daya serta torsi penuh dari supply.
Hubungan bintang delta atau star-delta atau wye-delta ini memang cukup digemari sebagai
pilihan aplikasi yang membutuhkan konsumsi arus yang kecil beberapa saat awal motor
dihidupkan namun memiliki suatu kelemahan yang membuatnya kurang menjadi pilihan
setelah adanya pengembangan reduced voltage starter yang leibh lebih baik seperti soft
starter. Satu-satunya alasan pemilihan jenis starter ini adalah biaya yang lebih murah
dibandingkan reduced voltage starter lainnya.
Umumnya motor listrik memiliki nilai arus starting yang menakjubkan besarnya sekitar
empat hingga tujuh kali dari nilai ratingnya. Rangkaian pengurangan tegangan adalah salah
satu cara untuk mengatasi masalah motor dapat bekerja tanpa trip dini.

Kenapa arus starting star-delta bisa lebih kecil dari DOL?
Arus starting motor listrik biasanya adalah sekitar empat hingga tujuh kali lebih besar dari
arus nominalnya. Kenapa? Karena motor listrik membutuhkan torsi awal yang besar agar
dapat melawan inersianya dan inersia bebannya dari keadaan diam. Torsi adalah proporsional
dengan kuadrat fluks. Fluks adalah perbandingan tegangan dan frekuensi. Tegangan memiliki
hubungan sebanding dengan arus. Pada akhirnya, torsi besar berarti akan membutuhkan
konsumsi arus yang besar juga. Nah, berikut adalah pembuktian singkat mengapa arus
starting star-delta lebih kecil daripada saat DOL.
Perbandingan Arus Starting Star
Delta

Kelihatan dari penurunan persamaan-persamaan di atas bahwa arus star adalah tiga kali lebih
kecil dari arus deltanya (rangkaian DOL). Ini juga menandakan bahwa torsi awal saat star
akan lebih kecil 1/3 daripada DOL (saat rangkaian delta).
Satu dari beberapa hal yang perlu diingat sebelum memutuskan untuk memilih starter star-
delta adalah pastikan bahwa pengurangan torsi karena rangkaian star saat starting masih
memungkinkan beban bisa diputar oleh motor listrik. Kontrol ini kurang ekonomis untuk
beban yang membutuhkan torsi awal besar dari 40% karena kita harus menggunakan frame
size yang lebih besar dari seharusnya.












Mengenal peralatan instalasi listrik rumah tinggal
00:39 Dunia Listrik No comments
Anda pasti sudah mengenal peralatan listrik yang terpasang dirumah anda seperti
sakelar, stop kontak, steker, sekering dan lainnya. Dan untuk anda yang awam dengan dunia
listrik, artikel kali ini akan mengajak anda untuk mengenal fungsi dan jenis peralatan listrik
tersebut secara umum.

Pengenalan peralatan listrik instalasi listrik rumah tinggal ini akan dimulai dengan
Bargainser.

BARGAINSER

Bargainser merupakan alat yang berfungsi sebagai pembatas daya listrik yang masuk ke
rumah tinggal, sekaligus juga berfungsi sebagai pengukur jumlah daya listrik yang digunakan
rumah tinggal tersebut (dalam satuan kWh). Ada berbagai batasan daya yang dikeluarkan
oleh PLN untuk konsumsi rumah tinggal, yaitu 220 VA, 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, dan
2.200 VA.

Pada bargainser terdapat tiga bagian utama, yaitu:
- MCB atau Miniature Circuit Breaker, berfungsi untuk memutuskan aliran daya listrik
secara otomatis jika daya yang dihantarkan melebihi nilai batasannya. MCB ini bersifat
on/off dan dapat juga berfungsi sebagai sakelar utama dalam rumah. Jika MCB bargainser ini
dalam kondisi off, maka seluruh aliran listrik dalam rumah pun terhenti. Sakelar ini biasanya
dimatikan pada saat akan dilakukan perbaikan instalasi listrik dirumah.

- Meter listrik atau kWh meter, alat ini berfungsi untuk mengukur besaran daya yang
digunakan oleh rumah tinggal tersebut dalam satuan kWh (kilowatt hour). Pada bargainser,
meter listrik berwujud deretan angka secara analog ataupun digital yang akan berubah sesuai
penggunaan daya listrik.

- Spin Control, merupakan alat kontrol penggunaan daya dalam rumah tinggal dan akan
selalu berputar selama ada daya listrik yang digunakan. Perputaran spin control ini akan
semakain cepat jika daya listrik yang digunakan semakin besar, dan akan melambat jika daya
listrik yang digunakan berkurang/sedikit.

Pada kanal output Bargainser biasanya terdapat 3 kabel, yaitu kabel fasa, kabel netral dan
kabel ground yang dihubungkan ketanah. Listrik dari PLN harus dihubungkan dengan
bargainser terlebih dahulu sebelum masuk ke instalasi listrik rumah tinggal.

PENGAMAN LISTRIK

Instalasi listrik rumah tinggal pun membutuhkan pengaman yang berfungsi untuk
memutuskan rangkaian listrik apabila terjadi gangguan pada instalasi listrik rumah tinggal
tersebut, seperti gangguan hubung singkat atau short circuit atau korsleting.

Terdapat dua jenis pengaman listrik pada instalasi listrik rumah tinggal, yaitu:
- Pengaman lebur biasa atau biasa disebut sekering, alat pengaman ini bekerja memutuskan
rangkaian listrik dengan cara meleburkan kawat yang ditempatkan pada suatu tabung apabila
kawat tersebut dialairi arus listrik dengan ukuran tertentu.

- Pengaman listrik thermis, biasa disebut MCB dan merupakan alat pengaman yang akan
memutuskan rangkaian listrik berdasarkan panas .


SAKELAR

Sakelar atau switch merupakan komponen instalasi listrik yang berfungsi untuk menyambung
atau memutus aliran listrik pada suatu pemghantar.
Berdasarkan besarnya tegangan, sakelar dapat dibedakan menjadi:
- sakelar bertegangan rendah.
- Sakelar tegangan menengah.
- Sakelar tegangan tinggi serta sangat tinggi.


Sedangkan berdasarkan tempat dan pemasangannya, sakelar dapat dibedakan menjadi :
- Sakelar in-bow, sakelar yang ditanam didalam tembok.
- Sakelar out-bow, sakelar yang dipasang pada permukaan tembok.

Jenis sakelar berikutnya dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, yaitu:
- Sakelar on-off, merupakan sakelar yang bekerja menghubungkan arus listrik jika tombolnya
ditekan pada posisi on. Untuk memutuskan hubungan arus listrik, tombol sakelar harus
ditekan pada posisi off. Sakelar jenis ini biasanya digunakan untuk sakelar lampu.

- Sakelar push-on, merupakan sakelar yang menghubungkan arus listrik jika tombolnya
ditekan pada posisi on dan akan secara otomatis memutus arus listrik, ketika tombolnya
dilepas dan kembali ke posisi off dengan sendirinya. Biasanya sakelar jenis ini digunakan
untuk sakelar bel rumah.

Berdasarkan jenis per-unitnya, sakelar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
- Sakelar tunggal, merupakan sakelar yang hanya mempunyai satu buah kanal input yang
terhubung dengan sumber listrik, serta kanal output yang terhubung dengan beban listrik/alat
listrik yang digunakan.

- Sakelar majemuk, merupakan sakelar yang memiliki satu buah kanal input yang terhubung
dengan sumber listrik, namun memiliki banyak kanal output yang terhubung dengan beberapa
beban/alat listrik yang digunakan. Jumlah kanal output tergantung dari jumlah tombol pada
sakelar tersebut.


STOP KONTAK

Stop kontak, sebagian mengatakan outlet, merupakan komponen listrik yang berfungsi sebagi
muara hubungan antara alat listrik dengan aliran listrik. Agar alat listrik terhubung dengan
stop kontak, maka diperlukan kabel dan steker atau colokan yang nantinya akan ditancapkan
pada stop kontak.

Berdasarkan bentuk serta fungsinya, stop kontak dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
- Stop kontak kecil, merupakan stop kontak dengan dua lubang (kanal) yang berfungsi untuk
menyalurkan listrik pada daya rendah ke alat-alat listrik melalui steker yang juga berjenis
kecil.

- Stop kontak besar, juga nerupakan stop kontak dengan dua kanal AC yang dilengkapi
dengan lempeng logam pada sisi atas dan bawah kanal AC yang berfungsi sebagai
ground.sakelar jenis ini biasanya digunakan untuk daya yang lebih besar.


Sedangkan berdasarkan tempat pemasangannya. Dikenal dua jenis stop kontak, yaitu:
- Stop kontak in bow, merupakan stop kontak yang dipasang didalam tembok.
- Stop kontak out bow, yang dipasang diluar tembok atau hanya diletakkan dipermukaan
tembok pada saat berfungsi sebagai stop kontak portable.


STEKER

Steker atau Staker atau yang kadang sering disebut colokan listrik, karena memang berupa
dua buah colokan berbahan logam dan merupakan alat listrik yang yang berfungsi untuk
menghubungkan alat listrik dengan aliran listrik, ditancapkan pada kanal stop kontak
sehingga alat listrik tersebut dapat digunakan.


Berdasarkan fungsi dan bentuknya, steker juga memliki dua jenis, yaitu:
- Steker kecil, merupakan steker yang digunakan untuk menyambung alat-alat listrik berdaya
rendah, misalnya lampu atau radio kecil, dengan sumber listrik atau stop kontak.

- Steker besar, merupakan steker yang digunakan untuk alat-alat listrik yang berdaya besar,
misalnya lemari es, microwave, mesin cuci dan lainnya, dengan sumber listrik atau stop
kontak. Steker jenis ini dilengkapi dengan lempeng logam untuk kanal ground yang berfungsi
sebagai pengaman.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang PLUG dan SOCKET ini, silahkan membaca artikelnya
di sini.
KABEL

Kabel listrik merupakan komponen listrik yang berfungsi untuk menghantarkan energi listrik
ke sumber-sumber beban listrik atau alat-alat listrik.

Untuk instalasi listrik rumah tinggal, kabel yang digunakan biasanya berjenis sebagai berikut:
- NYA, kabel jenis ini merupakan kabel listrik yang berisolasi PVC dan berintikan/berisi satu
kawat. Jenisnya adalah kabel udara atau tidak ditanam dalam tanah. Kabel listrik ini biasanya
berwarna merah, hitam, kuning atau biru. Isolasi kawat penghantarnya hanya satu lapis,
sehingga tidak cukup kuat terhadap gesekan, gencetan/tekanan atau gigitan binatang seperti
tikus. Karena kelemahan pada isolasinya tersebut maka dalam pemasangannya diperlukan
pelapis luar dengan menggunakan pipa conduit dari PVC atau besi.

- NYM, merupakan kabel listrik yang berisolasi PVC dan berintikan kawat lebih dari satu,
ada yang 2, 3 atau 4. Jenis kabel udara dengan warna isolasi luar biasanya putih dan warna
isolasi bagian dalam beragam, karena isolasi yang rangkap inilah maka kabel listrik NYM ini
relative lebih kuat terhadap gesekan atau gencetan/tekanan.

- NYY, kabel listrik jenis ini merupakan kabel berisolasi PVC, berintikan 2, 3 atau 4 dengan
warna isolasi luarnya hitam. Jenis kabel tanah, sehingga tahan terhadap air dan gencetan atau
tekanan.

- NYMHYO, kabel jenis ini merupakan kabel serabut dengan dua buah inti yang terdiri dari
dua warna. Kabel jenis ini biasa digunakan pada loudspeaker, sound sistem, lampu-lampu
berdaya kecil sampai sedang.















Name Plate Motor 3 Phasa (umum)
Tweet
More Sharing Services6
Pada umumnya name plate pada motor induksi 3 phasa terdapat hal hal penting tentang
klasifikasi motor itu sendiri. Tetapi hal yang paling dasar yang perlu kita ketahui adalah
Tegangan (Volt), Horse Power (HP), daya (KVA), kecepatan (RPM) dan juga wiring
inputnya.

Dalam kesempatan ini saya hanya akan membahas tentang tegangan dan wiring input yang
terdapat pada name plate-nya saja, atau bagaimana cara membaca name plate secara
umum. Karena saya sering menjumpai pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hal ini.

Volts : 380V

Motor induksi 3 phasa yang standard digunakan di Indonesia adalah motor induksi 3 phasa
untuk tegangan 380V saja, dan biasanya pada salah satu bagian name plate nya tertulis
"Volts : 380V". Untuk motor induksi 3 phasa yang berdaya diatas 5 HP harus dihubung
dengan rangkaian kontaktor Star Delta, dan untuk motor induksi yang berkapasitas dibawah
5 HP bisa langsung dihubung Star (bintang) atau Delta (segitiga) dengan sebuah rangkaian
interlock kontaktor (klik disini bagaimana cara penyambungannya). Perhatikan contoh foto
name plate 380V dibawah ini..

contoh gambar name plate motor 380V


gambar ilustrasi umum gulungan motor 3 phasa
Pada motor ber name plate seperti ini, saat hubung start menggunakan suplay tegangan
380V, namun masing-masing phasanya hanya menerima 220V, dan pada saat hubung delta
phasanya akan menerima 380V. Maka rating motornya untuk delta adalah 380V, dan rating
perphasanya (tegangan kerja)-nya adalah 380V.

Volts : 220V/380V

Untuk motor induksi 3 phasa yang ber-name plate 220V/380V ini, tidak dapat digunakan
pada rangkaian kontaktor hubung Star Delta. Motor induksi 3 phasa jenis ini menunjukkan
kalau motor yang terhubung Delta (segitiga) tegangan suplaynya harus bertegangan 220
Volt 3, dan kalau terhubung Star (bintang) tegangan suplaynya haruslah bertegangan 380
Volt 3. Perhatikan contoh foto name plate 220/380Vdibawah ini..

contoh gambar name plate motor 220/380V

gambar pengkabelan motor 220V/380V
Hal itu disebabkan rating perphasa (tegangan kerja) motor tersebut adalah 220V. Jadi motor
yang mempunyai name plate 220/380V seperti foto name plate diatas, tidak bisa dihubung
Star Delta dikarenakan tegangan kerjanya yang berbeda. Motor 3 phasa jenis ini, pada
umumnya mempunyai daya yang kecil atau lebih kurang dibawah 10 HP yang mempunyai
kisaran Arus kerja maksimal 7 amper. Karena itulah motor jenis ini sangat aman bila
langsung dihubung Star (bintang) dengan sebuah rangkaian interlock kontaktor, pada
tegangan kerja 380V 3.

Volts : 220V/380V/440V/660V

Khusus untuk motor yang mempunyai name plate seperti ini terdapat keistimewaan dalam
hal gulungannya, karena terdapat 12 buah kabel input dan bisa dioperasikan pada 4 macam
tegangan input yaitu 220V, 380V, 440V dan 660V. Dapat dilihat ilustrasinya pada gambar
dibawah ini:


gbr. ilustrasi gulungan motor 3 phasa 12 kabel
Dan sistem pengkabelan-nya pun bervariasi, seperti pada gambar dibawah ini:


gbr. pengkabelan motor 3 phasa 12 kabel
Demikian saja penjelasan dari saya untuk pembahasan seputar name plate yang umum
terdapat dan digunakan di Indonesia. Sebenarnya masih banyak hal yang perlu dibahas
seputar name plate motor induksi 3 phasa ini. Namun sebagai pengetahuan dasar umum
kelistrikan industri, saya rasa semua hal yang telah dijelaskan diatas sudahlah cukup.
Terutama untuk mempelajari semua artikel saya selanjutnya di blog ini.


















Panel Listrik Genset ATS AMF
July 23, 2013

Panel genset ATS -AMF
Panel Genset A.M.F A.T.S (Automatic start and stop Genset).
Fungsi Dari A.M.F(Automatic Main Failure) Adalah:
Fungsi A.T.S (Automatic Transfer Switch) Adalah
secara otomatis Membuka Supply listrik dari genset
dan menutup suplay listrik dari PLN
membuka supply listrik dari PLN dan Menutup supply listrik dari
genset secara otomatis ketika listrik dari PLN Menyala kembali
Panel Listrik LVMDP
July 23, 2013

Panel Listrik LVMDP
Fungsi dari low Voltage main distribution panel (LVMDP) adalah
sebagai panel penerima daya/power dari transformer (trafo) dan mendistribusikan power
tersebut lebih lanjut ke panel Low voltage sub distribution (LVSDP), Menggunakan Air Circuit
Breaker atau moulded case Circuit Breakers.
sedangkan fungsi Low voltage sub distribution (LVSDP) adalah
mendistribusikan power tersebut ke peralatan electrical.














Pengenalan Sistem Instalasi Elevator (Lift)






3 Votes

Elevator Sistem Motor Traksi
Desain Elevator ini menggunakan motor listrik, tali, dan counterweight bukan peralatan
hidrolik. Rel panduan utama sudah terpasang pada setiap sisi kotak penumpang (box) dan
sepasang tambahan rel penyeimbang terletak pada satu sisi atau di belakang. Mesin
diarahkan, bersama dengan peralatan drive terkait, umumnya terletak di atas hoistway di
ruang mesin penthouse. Dalam beberapa situasi terbatas, dapat terletak di sebelah hoistway
pada pendaratan lebih rendah. Pengaturan yang terakhir ini disebut sebagai traksi basement.

Motor digerakan oleh listrik AC atau DC.
Mesin roda gigi cacing untuk mengontrol gerakan mekanik kabin lift dengan rolling baja
hoist tali melalui puli katrol penggerak yang melekat ke gearbox digerakkan oleh motor
kecepatan tinggi. Mesin ini umumnya pilihan terbaik untuk bangunan tinggi yang
menyediakan ruang bawah tanah dan penggunaan traksi overhead untuk kecepatan hingga
500 ft / menit (2,5 m / s)memungkinkan kontrol kecepatan yang akurat dari motor, untuk
kenyamanan penumpang, sebuah kerekan DC motor didukung oleh AC / DC motor-generator
(MG) adalah seperangkat solusi yang diinginkan dalam lalu lintas tinggi instalasi lift selama
beberapa dekade . MG set juga biasanya didukung pengontrol relay dari lift, yang memiliki
keuntungan tambahan elektrik mengisolasi lift dari seluruh sistem listrik sebuah bangunan,
sehingga menghilangkan lonjakan daya sementara dalam pasokan listrik bangunan yang
disebabkan oleh motor start dan stop (menyebabkan redup pencahayaan setiap kali lift
digunakan misalnya), serta gangguan pada peralatan listrik lain yang disebabkan oleh
lengkung dari kontaktor relay di sistem kontrol.
Mesin traksi gearless
Mesin traksi dengan roda non gigi, putaran torsi motor listrik didukung baik oleh AC atau
DC. Dalam hal ini, puli katrol penggerak langsung melekat ke ujung motor. Lift traksi
gearless dapat mencapai kecepatan hingga 2.000 ft / menit (10 m / s), atau bahkan lebih
tinggi. Rem listrik terpasang antara motor dan drive sheave (atau gearbox) untuk menahan lift
diam di lantai. Rem ini biasanya tipe Drum eksternal dan digerakkan oleh gaya pegas dan
ditahan terbuka elektrik, listrik mati akan menyebabkan rem untuk bekerja dan mencegah lift
jatuh (lihat keselamatan melekat dan teknik keamanan).
DC Motors yg digunakan pada Elevator
M-G Set (motor/generator)
Sebuah motor-generator (MG set atau dynamotor untuk dinamo-motor) adalah perangkat
untuk mengkonversi daya listrik ke bentuk lain. Motor-generator set yang digunakan untuk
mengkonversi frekuensi, tegangan, atau fase.
Satu set motor generator yang dapat terdiri dari 2 motor yang berbeda yg digabungkan
bersama-sama, satu unit motor-generator memiliki dua kumparan rotor dari motor dan
pembangkit sekitar rotor tunggal, dan kedua kumparan berbagi bidang yang sama atau
magnet.
The Silicon-Controlled Rectifier (SCR) DC
Kecepatan motor DC dapat dikendalikan dengan menggunakan SCR di AC sirkuit seperti
yang ditunjukkan pada gambar di bawah. A dan B SCR penyearah, tegangan o / p
transformator T1 dan mengaplikasikan tegangan DC berdenyut ke gulungan dinamo dan
penyearah C memasok tegangan mirip dengan motor berliku lapangan. O / p dari SCR
penyearah dapat dikendalikan dengan mengendalikan arus masuk ke gerbang SCR. Jadi, cara
SCR ini dapat beroperasi pada berbagai tingkat konduksi dengan menerapkan tegangan
bervariasi ke dinamo motor, cara ini dapat megendalikan kecepatan motor DC. Jika perilaku
SCR untuk jangka waktu yang lama tegangan lebih diterapkan ke gulungan dinamo dan
kecepatan meningkat motor. Untuk kasus berikutnya tindakan, operasi akan menjadi
sebaliknya dengan yg dpt tembus.

PWM-DC
Metode Pulse Width Modulation (PWM) adalah metode yang cukup efektif untuk
mengendalikan kecepatan motor DC. PWM ini bekerja dengan cara membuat gelombang
persegi yang memiliki perbandingan pulsa high terhadap pulsa low yang telah tertentu,
biasanya diskalakan dari 0 hingga 100%. Gelombang persegi ini memiliki frekuensi tetap
(biasanya max 10 KHz) namun lebar pulsa high dan low dalam 1 periode yang akan diatur.
Perbandingan pulsa high terhadap low ini akan menentukan jumlah daya yang diberikan ke
motor DC. Untuk menjalankan motor DC dengan PWN tidak dapat digunakan relay,
melainkan harus digunakan rangkaian driver motor DC lainnya. Rangkaian ini yang paling
sederhana berupa transistor yang disusun secara Darlington. Apabila diinginkan motor DC
dapat bergerak 2 arah, maka diperlukan menyusun rangkaian H-Bridge. Selain transistor,
dapat juga digunakan IC driver motor DC khusus. Anda dapat juga menggunakan modul
driver motor DC yang siap pakai untuk mikrokontroler.
AC Motors
Variable Voltage
V V V F Inv. (V/Hz) Open/Closed Loop
Vector Control Inv. Open/Closed Loop
Synchronous PM Inv. Closed Loop
Regen or Non-Regen
Kontrol Elevator
Lift pada awalnya tidak memiliki posisi pendaratan otomatis. Lift dioperasikan oleh operator
lift menggunakan kontroler motor. Kontroler ini terkandung dalam wadah silinder tentang
ukuran dan bentuk wadah kue dan ini dioperasikan melalui pegangan memproyeksikan. Hal
ini memungkinkan kontrol atas energi yang dipasok ke motor (terletak di bagian atas poros
lift atau di samping bagian bawah poros lift) dan sebagainya memungkinkan lift yang akan
akurat diposisikan jika operator itu cukup terampil. Lebih biasanya operator harus
jogging kontrol untuk mendapatkan lift yang cukup dekat dengan titik pendaratan dan
kemudian mengarahkan penumpang keluar dan masuk untuk melihat langkah. Beberapa lift
barang tua dikendalikan oleh switch dioperasikan dengan menarik tali yang berdekatan.
Keselamatan Interlocks memastikan bahwa pintu dalam dan luar ditutup sebelum lift
diperbolehkan untuk bergerak. Sebagian besar lift yang dikendalikan secara manual yang
lebih tua telah dipasang dengan kontrol otomatis atau semi-otomatis.
Lift otomatis mulai muncul pada awal 1930-an . Sistem elektromekanis ini menggunakan
sirkuit logika relay untuk mengontrol kecepatan, posisi dan operasi pintu elevator atau kabin
dari lift. Sistem Otis Autotronik dari awal 1950-an membawa sistem prediksi awal yang dapat
mengantisipasi pola lalu lintas dalam bangunan untuk menyebarkan gerakan lift dengan cara
yang paling efisien. Relay yang dikendalikan sistem lift tetap umum sampai tahun 1980-an,
dan penggantian bertahap sistem ini dengan solid-state kontrol berbasis mikroprosesor yang
sekarang menjadi standar industri lift.

HARDWIRED CIRCUITS
Pada perancangan perangkat keras lift terdapat banyak komponen elektronika untuk dapat
membangun sebuah sistem lift. Komponen komponen yang dibutuhkan dalam membangun
sistem lift ini dibutuhkan beberapa jenis sensor dan komponen komponen elektronika
lainnya. Berikut komponen yang digunakan pada sistem lift serta rangkaian elektronika untuk
mengkontrol perangkat keras antara lain :
Kontrol Tombol
Kontrol Driver Motor DC dan Motor DC Gear
Kontrol Penstabil Tegangan (Regulator)
Power On Reset
Kontrol Alarm
Sensor Limit Switch
BRAKE CONTROL
Lift menggabungkan beberapa fitur keamanan untuk mencegah kabin menabrak bagian
bawah shaft. Pengaman diinstal pada kabin bisa mencegah jenis kecelakaan yg terjadi ketika
rem motor gagal atau tali kawat cangkang tiba2 putus Namun, desain yang melekat pada
pengaman kabin dibuat untuk tidak berlaku ke arah atas.
Dalam arah ke atas, rem motor diperlukan untuk menghentikan kabin ketika kondisi darurat
terjadi. Dalam operasi normal, rem motor hanya berfungsi sebagai rem parkir untuk menahan
kabin saat berhenti. Namun, ketika kondisi darurat terdeteksi, desain kontrol lift sistem
moderen hanya mengandalkan rem motor untuk menghentikan kabin.
Electrical Braking (Rem pada Motor Electric)
DC injection braking.
Plugging.
Eddy current braking.
Dynamic resistor braking.
Regenerative braking.

GOVERNOR ROPE MONITOR
Tali governor pada lift disediakan dengan rem tambahan yang merupakan rem fail safe dan
yang beroperasi untuk menghentikan gerakan tali governor ketika mobil lift bergerak dari
pendaratan dengan pintu terbuka. Rem ini mencakup dua rahang gripper tali di ruang mesin
di bawah sheave governor, yang rahang diadakan jauh dari tali governor oleh solenoid selama
listrik tersedia untuk memberi energi solenoida. Bila catu daya ke solenoida terganggu,
rahang yang dirilis jatuh oleh gravitasi terhadap satu sama lain untuk pegangan tali governor.
Rem mobil darurat dengan demikian tersandung dan pergerakan mobil berhenti. Rem juga
dapat diberikan untuk mengendalikan tali penyeimbang governor.
BACK OUT OF OVER TRAVEL SWITCH
Overtravel (posisi di luar jarak pengoperasian) aktif aktuasi kadang-kadang terjadi pada lift
tambang. Banyak faktor dapat menyebabkan hal ini terjadi seperti perubahan suhu,
overloading dari alat angkut, peregangan tali, atau berhenti darurat. Limit switches, peralatan
ini dipasang pada lantai paling bawah dan paling atas. Peralatan ini untuk mencegah
terjadinya over travel lift baik saat lift naik maupun saat lift turun.
CABIN AND COUNTERWEIGHT BUFFER SWITCHES (Penyanggah Ruang Kabin)
gbr.penyanggah ruang kabin
DOOR SAFETY SWITCH
Peralatan ini dipasang terintegrasi dengan door lock device, peralatan ini bekerja secara
electrical, apabila pintu dibuka maka lift tidak akan dapat difungsikan untuk jalan.












Prinsip Kerja Elektro Mekanis Magnetik (dasar NO & NC)
Tweet
More Sharing Services25
Sebelum mempelajari lebih dalam mengenai Time Delay Relay (Timer), Thermal Over Load Relay
(Tripper Over Load), Relay Contactor (Relay), dan Magnetic Contactor (Kontaktor), Sebaiknya kita
mempelajari sistem kerjanya terlebih dahulu. agar mampu memahami suatu fungsi rangkaian kerja
otomatis.

Relay dan Kontaktor (Relay and Magnetic Contactor)

Prinsipnya kerjanya adalah rangkaian pembuat magnet untuk menggerakkan
penutup dan pembuka saklar internal didalamnya. Yang membedakannya dari kedua
peralatan tersebut adalah kekuatan saklar internalnya dalam menghubungkan besaran arus
listrik yang melaluinya.

Pemahaman sederhananya adalah bila kita memberikan arus listrik pada coil relay atau
kontaktor, maka saklar internalnya juga akan terhubung. Selain itu juga ada saklar
internalnya yang terputus. Hal tersebut sama persis pada kerja tombol push button, hanya
berbeda pada kekuatan untuk menekan tombolnya. Klik disini untuk mempelajari Tombol

Saklar internal inilah yang disebut sebagai kontak NO (Normally Open= Bila coil contactor
atau relay dalam keadaan tak terhubung arus listrik, kontak internalnya dalam kondisi
terbuka atau tak terhubung) dan kontak NC (Normally Close= Sebaliknya dengan
Normally Open). Seperti dijelaskan pada gambar dibawah ini.


Relay dianalogikan sebagai pemutus dan penghubung seperti halnya fungsi pada tombol
(Push Button) dan saklar (Switch)., yang hanya bekerja pada arus kecil 1A s/d 5A.
Sedangkan Kontaktor dapat di analogikan juga sebagai sebagai Breaker untuk sirkuit
pemutus dan penghubung tenaga listrik pada beban. Karena pada Kontaktor, selain
terdapat kontak NO dan NC juga terdapat 3 buah kontak NO utama yang dapat
menghubungkan arus listrik sesuai ukuran yang telah ditetapkan pada kontaktor tersebut.
Misalnya 10A, 15A, 20A, 30A, 50Amper dan seterusnya. Seperti pada gambar dibawah ini.


gambar kontak internal pada Kontaktor

gambar kontak internal pada
relay


Penyambungan sederhana rangkaian kontaktor:


Perhatikan bagaimana lampu akan menyala ketika switch saklar dihubungkan ke sumber
listrik. Mengapa begitu repot menggunakan kontaktor untuk menyalakan sebuah lampu
bohlam? Mengapa rangkain ini menggunakan dua buah sumber listrik yang berbeda?

Itulah yang disebut Rangkain Pengendali dan Rangkain Utama.

Time Delay Relay (Timer) dan Thermal Over Load Relay (Tripper)
Sebagaimana yang telah diterangkan diatas, maka pada kedua komponen ini Timer dan
Tripper juga mempunyai kontak NO dan NC. Dan yang membedakannya hanya pada
kondisi pengaktifannya saja.

Kontak NO dan NC pada Timer (Time Delay Relay) akan
bekerja ketika timer diberi ketetapan waktunya, ketetapan waktu ini dapat kita tentukan pada
potensiometer yang terdapat pada timer itu sendiri. Misalnya ketika kita telah menetapkan
10 detik, maka kontak NO dan NC akan bekerja 10 detik setelah kita menghubungkan timer
dengan sumber arus listrik. Perhatikan gambar Timer di bawah ini.

Sedikit berbeda dengan kontak NO dan NC yang terdapat di
Timer, padaTripper (Thermal Over Load Relay) kontak NO dan NC nya bekerja karena
mendapat daya tekan dari bimetal trip yang terdapat di dalamnya. Bimetal Trip ini akan
melengkung apabila resistance wire dilewati arus lebih besar dari nominalnya dan menekan
lengan kontak, sehingga kontak NC berubah menjadi kontak NO.
Kegunaan NO dan NC

Setelah paham bagaimana kerja kontak NO dan NC yang terdapat pada peralatan tersebut
diatas, maka saya sarankan untuk mempelajari bagaimana kontak NO NC tersebut
digunakan semaksimal mungkin untuk sebuah rangkaian pengendali pada rangkaian utama.



Rangkaian Kontaktor Star Delta Manual
Tweet
More Sharing Services
Artikel ini cuma posting iseng dan hanya menulis ulang dari page saya di Elektro Mekanik
dengan menambahkan beberapa gambar pelengkap dan penjelasannya. Sebelumnya klik
disini untuk melihat wiring diagram Star Delta automatis dengan timer (TDR) untuk
perbandingan.

Prinsip kerja rangkaian star delta manual ini, sama dengan prinsip kerja rangkaian Star
Delta automatis dengan timer (TDR) yang umum ditemui,. termasuk perubahan kontak NO
NC nya. Yang membedakan dari rangkaian Star Delta manual ini hanyalah pada
penggunaan DOL (on off) relay yang menggantikan fungsi timer. Tentu saja sistem DOL
relay ini menggunakan sebuah push botton untuk mengaktifkannya, dan tombol inilah yang
nanti berfungsi untuk merubah rangkaian star ke delta. Klik disini untuk melihat sistem DOL
(on off) sebuah rangkaian kontaktor.

Pada gambar yang ada di Page Elektro Mekanik (klik disini untuk melihat gambar dengan
menggunakan relay 11 pin), Saya menggunakan Relay 11 pin agar bisa menggunakan 3
buah NO NC untuk mengamankan rangkaian kontaktor dari hubung singkat, ketika merubah
dari hubung star ke delta. Namun disini saya memodifikasinya dengan menggunakan relay 8
pin serta menambahkan sebuah pilot lamp sebagai indikator bahwa rangkaian sudah
terhubung delta.

Perhatikan gambar wiring diagramnya dibawah ini..


gambar wiring diagram star delta manual 8 pin
klik gambar untuk memperbesar

Cara Kerja Rangkaian

Ketika tombol 1 (ON Star) ditekan motor akan bekerja pada hubung STAR (K1 dan K2
menyala), setelah beberapa detik yang kita rasakan cukup untuk merubah ke hubung
DELTA, maka kita diharuskan menekan tombol 2 (ON Delta), untuk merubah rangkaian
menjadi hubung Delta (K1 dan K3 menyala, juga R1). Dan fungsi tombol Off disini adalah
untuk mematikan kerja rangkaian.

Peralatan yang dibutuhkan:

1 pcs push botton off
2 pcs push button on
1 pcs relay 11 pin Omron MK3P-I 220V (R1) atau 8 pin MK2P-I
3 pcs kontaktor 220v (sesuaikan dengan motor) (K1, K2 dan K3)
2 pcs overload (sesuaikan dengan kontaktor)
1 pcs pilot lamp (green)
cable wire 1.5 mm secukupnya
Box Panel

Sebagai pelengkap saya lampirkan juga foto gambar penyambungan rangkaian star delta
manual ini, agar anda bisa langsung mempraktekkannya.


foto gambar penyambungan rangkaian star delta manual
klik gambar untuk memperbesar

Demikian saja ulasan singkat tentang rangkaian kontaktor Star Delta manual ini. yang tentu
saja memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri bila dibandingkan dengan yang
automatis..


Pengasutan Motor Induksi dengan menghubungkan langsung pada saluran (Direct On
Line)

Pengasutan ini digunakan untuk motor-motor berdaya kecil. Pada cara ini motor dapat
diasut pada tegangan saluran penuh dengan menggunakan penstart saluran yang dilengkapi
dengan relai termis beban lebih. Cara ini dapat menghasilkan kopel start yang lebih besar
mengingat kopel motor induksi berbanding lurus dengan kuadrat tegangan yang dikenakan.
Kelemahan pengasutan cara ini adalah dapat menghasilkan arus start yang besar, karena
itulah hanya digunakan untuk motor-motor yang berdaya kecil.

Gambar rangkaian pengasutan langsung pada saluaran atau Direct On Line (DOL)
Rangkaian kendalinya disuplai dari tegangan 220 Volt. Pada saat tombol start S2 ditekan arus
mengalir melalui F2 S1 S2 K1. Kontaktor megnetik 1 (K1) bekerja, kontak bantu K1
(NO) menutup dan motor terhubung pada saluran. Untuk selanjutnya, arus akan mengalir
melalui F2 S1 Kontak bantu K1 K1.

Pengasutan Motor Induksi dengan menggunakan penstart bintang/Stardelta (Y-)

Pada pengasutan ini selama periode start lilitan motor akan berada dalam hubungan bintang
dan setelah selang waktu tertentu akan berpindah ke hubungan lilitan delta. Dengan cara ini
kenaikan arus start dapat dibatasi hingga sepertiga kali saja dibandingkan bila motor langsung
terhubung delta. Gambar berikut memperlihatkan rangkaian daya dan rangkaian kendali
pengasutan star delta.

Gambar rangkaian start motor star/bintang delta/segitiga
Rangkaian kendali pengasutan dengan cara ini disuplai oleh tegangan 220 Volt. Cara
kerjanya : jika tombol start S2 ditekan, arus mengalir melalui F2 S1 S2 kontak bantu
timer T (NC) kontak bantu K3 K1. Kontaktor magnetik 1 (K1) bekerja dan motor
terhubung dalam lilitan bintang. Saat itu juga kontak bantu K1 (NC) membuka dan kontak
bantu K1 (NO) menutup sehingga arus mengalir melalui F2 S1 S2 kontak bantu K1
(NO) K2. Kontaktor magnetik 2 (K2) bekerja dan motor terhubung pada sumber tegangan.
Pada saat yang sama kontak bantu K2 (NO) menutup dan timer T bekerja. Setelah t detik
kontak bantu T (NC) membuka sehingga K1 tidak dilewati arus (K1 tidak bekerja), kontak
bantu T (NC) menutup, arus mengalir melalu F2 S1 kontak K2 (NO) kontak bantu T
(NO) kontak bantu K1 (NC) K3. Kontaktor magnetik K3 bekerja, motor terhubung dalam
belitan delta. Tombol S1 digunakan untuk melepaskan motor dari sumber tegangan.

Dengan pengasutan cara ini, kenaikan arus start dapat dibatasi hingga sepertiga kali saja
dibandingkan bila lilitan motor langsung terhubung delta. Hal ini dapat dibuktikan sebagai
berikut:

Hubungan belitan, Tegangan, Arus Star dan Delta
Bila stator dihubung star, maka :
- Tiap belitan mendapatkan tegangan sebesar U/3
- Sehingga arus yang mengalir ditiap belitan sebesar IY
- Arus yang mengalir ditiap belitan akan sama dengan arus arus fasa IY

Bila stator dihubungkan delta, maka :

- Tiap belitan mendapatkan tegangan sebesar U
- Sehingga arus yang mengalir ditiap belitan sebesar If
- Arus fasa untuk belitan delta : I = 3 If

Bila dibandingkan,


Rangkaian Bintang/Star-Delta (Y-) Motor Induksi Tiga Fasa




A. Rangkaian Starting Motor Star-Delta
Untuk mengurangi besarnya arus start motor yang mendekati 7x arus nominal
maka dapat dengan menggunakan metode start Star-Delta. Dengan metode ini
motor awalnya diset pada asutan Star, setelah motor mencapai kecepatan 80%
kecepatan maksimal, sambungan diubah ke sambungan Delta. Dengan cara ini
maka torsi dapat dipertahankan sedangkan lonjakan arus start dapat ditekan.

Berikut adalah gambar pengawatan dari Rangkaian Kontrol, Rangkaian Power Star-
Delta



Gb. Rangkaian Kendali



Gb. Rangkaian Power Star-Delta


B. Prnsip Kerja Rangkaian

Fungsi dari rangkaian Star-Delta sendiri adalah untuk mengurangi arus start
yaitu saat pertama kali motor di hidupkan Star delta adalah sebuah sistem starting
motor yang paling banyak dipergunakan untuk starting motor listrik. Dengan
menggunakan star delta starter Lonjakan arus listrik yang terlalu tinggi bisa
dihindarkan. cara kerjanya adalah saat start awal motor tidak dikenakan tegangan
penuh hanya 0.58 dengan cara dihubung bintang/ star. Setelah motor berputar dan
arus sudah mulai turun dengan menggunakan timer arus dipindahkan menjadi
segitiga/ delta sehingga tegangan dan arus yang mengalir ke motor penuh.





















Star-Delta Motor Starter
Posted Apr 10 2012 by jiguparmar in Motor with 24 Comments

Star-delta motor starter panel
Introduction to Star-Delta motor starter

Star-delta starter panel

Most induction motors are started directly on line, but when very large motors are started that
way, they cause a disturbance of voltage on the supply lines due to large starting current
surges. To limit the starting current surge, large induction motors are started at reduced
voltage and then have full supply voltage reconnected when they run up to near rotated speed.
Two methods used for reduction of starting voltage are: Star delta starting and Auto transformer
starting.

Working Principle of Star-Delta Starter
This is the reduced voltage starting method. Voltage reduction during star-delta starting is
achieved by physically reconfiguring the motor windings as illustrated in the figure below.
During starting the motor windings are connected in star configuration and this reduces the
voltage across each winding 3. This also reduces the torque by a factor of three.

Scheme - Working Principle of Star-Delta Starter

After a period of time the winding are reconfigured as delta and the motor runs normally.
Star/Delta starters are probably the most common reduced voltage starters. They are used in
an attempt to reduce the start current applied to the motor during start as a means of reducing
the disturbances and interference on the electrical supply.
Traditionally in many supply regions, there has been a requirement to fit a reduced voltage starter
on all motors greater than 5HP (4KW). The Star/Delta (or Wye/Delta) starter is one of the lowest
cost electromechanical reduced voltage starters that can be applied.
The Star/Delta starter is manufactured from three contactors, a timer and a thermal overload.
The contactors are smaller than the single contactor used in a Direct on Line starter as they
are controlling winding currents only. The currents through the winding are 1/root 3 (58%) of
the current in the line.
There are two contactors that are close during run, often referred to as the main contractor
and the delta contactor. These are AC3 rated at 58% of the current rating of the motor. The
third contactor is the star contactor and that only carries star current while the motor is
connected in star.
The current in star is one third of the current in delta, so this contactor can be AC3 rated at
one third (33%) of the motor rating.

Star-delta Starter Consists following units
1. Contactors (Main, star and delta contactors) 3 Nos (For Open State Starter) or 4 Nos (Close
Transient Starter).
2. Time relay (pull-in delayed) 1 No.
3. Three-pole thermal overcurrent release 1 No.
4. Fuse elements or automatic cut-outs for the main circuit 3 Nos.
5. Fuse element or automatic cut-out for the control circuit 1No.

Power Circuit of Star Delta Starter
The main circuit breaker serves as the main power supply switch that supplies electricity to
the power circuit.
The main contactor connects the reference source voltage R, Y, B to the primary terminal of
the motor U1, V1, W1.
In operation, the Main Contactor (KM3) and the Star Contactor (KM1) are closed initially,
and then after a period of time, the star contactor is opened, and then the delta contactor
(KM2) is closed. The control of the contactors is by the timer (K1T) built into the starter.
The Star and Delta are electrically interlocked and preferably mechanically interlocked as
well.

Power circuit of Star-Delta starter

I n effect, there are four states:
The star contactor serves to initially short the secondary terminal of the motor U2, V2, W2
for the start sequence during the initial run of the motor from standstill. This provides one
third of DOL current to the motor, thus reducing the high inrush current inherent with large
capacity motors at startup.
Controlling the interchanging star connection and delta connection of an AC induction
motor is achieved by means of a star delta or wye delta control circuit. The control circuit
consists of push button switches, auxiliary contacts and a timer.

Control Circuit of Star-Delta Starter (Open Transition)

Scheme - Control Circuit of Star-Delta Starter (Open Transition)

The ON push button starts the circuit by initially energizing Star Contactor Coil (KM1) of
star circuit and Timer Coil (KT) circuit. When Star Contactor Coil (KM1) energized, Star
Main and Auxiliary contactor change its position from NO to NC.
When Star Auxiliary Contactor (1) (which is placed on Main Contactor coil circuit ) become
NO to NC its complete The Circuit of Main contactor Coil (KM3) so Main Contactor Coil
energized and Main Contactors Main and Auxiliary Contactor Change its Position from NO
to NC. This sequence happens in a friction of time.
After pushing the ON push button switch, the auxiliary contact of the main contactor coil (2)
which is connected in parallel across the ON push button will become NO to NC, thereby
providing a latch to hold the main contactor coil activated which eventually maintains the
control circuit active even after releasing the ON push button switch.
When Star Main Contactor (KM1) close its connect Motor connects on STAR and its
connected in STAR until Time Delay Auxiliary contact KT (3) become NC to NO.
Once the time delay is reached its specified Time, the timers auxiliary contacts (KT)(3) in
Star Coil circuit will change its position from NC to NO and at the Same Time Auxiliary
contactor (KT) in Delta Coil Circuit(4) change its Position from NO To NC so Delta coil
energized and Delta Main Contactor becomes NO To NC. Now Motor terminal connection
change from star to delta connection.
A normally close auxiliary contact from both star and delta contactors (5&6)are also placed
opposite of both star and delta contactor coils, these interlock contacts serves as safety
switches to prevent simultaneous activation of both star and delta contactor coils, so that one
cannot be activated without the other deactivated first. Thus, the delta contactor coil cannot
be active when the star contactor coil is active, and similarly, the star contactor coil cannot
also be active while the delta contactor coil is active.
The control circuit above also provides two interrupting contacts to shutdown the motor. The
OFF push button switch break the control circuit and the motor when necessary. The thermal
overload contact is a protective device which automatically opens the STOP Control circuit
in case when motor overload current is detected by the thermal overload relay, this is to
prevent burning of the motor in case of excessive load beyond the rated capacity of the motor
is detected by the thermal overload relay.
At some point during starting it is necessary to change from a star connected winding to a
delta connected winding. Power and control circuits can be arranged to this in one of two
ways open transition or closed transition.

What is Open or Closed Transition Starting
1. Open Transition Starters
Discuss mention above is called open transition switching because there is an open state
between the star state and the delta state.
In open transition the power is disconnected from the motor while the winding are
reconfigured via external switching.
When a motor is driven by the supply, either at full speed or at part speed, there is a rotating
magnetic field in the stator. This field is rotating at line frequency. The flux from the stator
field induces a current in the rotor and this in turn results in a rotor magnetic field.
When the motor is disconnected from the supply (open transition) there is a spinning rotor
within the stator and the rotor has a magnetic field. Due to the low impedance of the rotor
circuit, the time constant is quite long and the action of the spinning rotor field within the
stator is that of a generator which generates voltage at a frequency determined by the speed of
the rotor.
When the motor is reconnected to the supply, it is reclosing onto an unsynchronized generator and
this result in a very high current and torque transient. The magnitude of the transient is dependent
on the phase relationship between the generated voltage and the line voltage at the point of
closure can be much higher than DOL current and torque and can result in electrical and mechanical
damage.
Open transition starting is the easiest to implement in terms or cost and circuitry and if the
timing of the changeover is good, this method can work well. In practice though it is difficult
to set the necessary timing to operate correctly and disconnection/reconnection of the supply
can cause significant voltage/current transients.
I n open transition there are four states:
1. OFF State: All Contactors are open.
2. Star State: The Main [KM3] and the Star [KM1] contactors are closed and the delta [KM2]
contactor is open. The motor is connected in star and will produce one third of DOL torque
at one third of DOL current.
3. Open State: This type of operation is called open transition switching because there is an
open state between the star state and the delta state. The Main contractor is closed and the
Delta and Star contactors are open. There is voltage on one end of the motor windings, but
the other end is open so no current can flow. The motor has a spinning rotor and behaves
like a generator.
4. Delta State: The Main and the Delta contactors are closed. The Star contactor is open. The
motor is connected to full line voltage and full power and torque are available

2. Closed Transition Star/Delta Starter
There is a technique to reduce the magnitude of the switching transients. This requires the use
of a fourth contactor and a set of three resistors. The resistors must be sized such that
considerable current is able to flow in the motor windings while they are in circuit.
The auxiliary contactor and resistors are connected across the delta contactor. In operation,
just before the star contactor opens, the auxiliary contactor closes resulting in current flow via
the resistors into the star connection. Once the star contactor opens, current is able to flow
round through the motor windings to the supply via the resistors. These resistors are then
shorted by the delta contactor.
If the resistance of the resistors is too high, they will not swamp the voltage generated by the
motor and will serve no purpose.
In closed transition the power is maintained to the motor at all time.
This is achieved by introducing resistors to take up the current flow during the winding
changeover. A fourth contractor is required to place the resistor in circuit before opening the
star contactor and then removing the resistors once the delta contactor is closed.
These resistors need to be sized to carry the motor current. In addition to requiring more
switching devices, the control circuit is more complicated due to the need to carry out resistor
switching
I n close transition there are four states:
1. OFF State. All Contactors are open
2. Star State. The Main [KM3] and the Star [KM1] contactors are closed and the delta [KM2]
contactor is open. The motor is connected in star and will produce one third of DOL torque
at one third of DOL current.
3. Star Transition State. The motor is connected in star and the resistors are connected across
the delta contactor via the aux [KM4] contactor.
4. Closed Transition State. The Main [KM3] contactor is closed and the Delta [KM2] and Star
[KM1] contactors are open. Current flows through the motor windings and the transition
resistors via KM4.
5. Delta State. The Main and the Delta contactors are closed. The transition resistors are
shorted out. The Star contactor is open. The motor is connected to full line voltage and full
power and torque are available.

Effect of Transient in Starter (Open Transient starter)
It is Important the pause between star contactor switch off and Delta contactor switch is on
correct. This is because Star contactor must be reliably disconnected before Delta contactor is
activated. It is also important that the switch over pause is not too long.
For 415v Star Connection voltage is effectively reduced to 58% or 240v. The equivalent of
33% that is obtained with Direct Online (DOL) starting.
If Star connection has sufficient torque to run up to 75% or %80 of full load speed, then the
motor can be connected in Delta mode.
When connected to Delta configuration the phase voltage increases by a ratio of V3 or 173%.
The phase currents increase by the same ratio. The line current increases three times its value
in star connection.
During transition period of switchover the motor must be free running with little deceleration.
While this is happening Coasting it may generate a voltage of its own, and on connection to
the supply this voltage can randomly add to or subtract from the applied line voltage. This is
known as transient current. Only lasting a few milliseconds it causes voltage surges and
spikes. Known as a changeover transient.

Size of each part of Star-Delta starter
1. Size of Over Load Relay
For a star-delta starter there is a possibility to place the overload protection in two positions,
in the line or in the windings.
Overload Relay in Line:
In the line is the same as just putting the overload before the motor as with a DOL starter.
The rating of Overload (In Line) = FLC of Motor.
Disadvantage: If the overload is set to FLC, then it is not protecting the motor while it is in
delta (setting is x1.732 too high).
Overload Relay in Winding:
In the windings means that the overload is placed after the point where the wiring to the
contactors are split into main and delta. The overload then always measures the current inside
the windings.
The setting of Overload Relay (In Winding) =0.58 X FLC (line current).
Disadvantage: We must use separate short circuit and overload protections.
2. Size of Main and Delta Contractor
There are two contactors that are close during run, often referred to as the main contractor
and the delta contactor. These are AC3 rated at 58% of the current rating of the motor.
Size of Main Contactor= IFL x 0.58
3. Size of Star Contractor
The third contactor is the star contactor and that only carries star current while the motor is
connected in star. The current in star is 1/ 3= (58%) of the current in delta, so this contactor
can be AC3 rated at one third (33%) of the motor rating.
Size of Star Contactor= IFL x 0.33

Motor Starting Characteristics of Star-Delta Starter
Available starting current: 33% Full Load Current.
Peak starting current: 1.3 to 2.6 Full Load Current.
Peak starting torque: 33% Full Load Torque.

Advantages of Star-Delta starter
The operation of the star-delta method is simple and rugged
It is relatively cheap compared to other reduced voltage methods.
Good Torque/Current Performance.
It draws 2 times starting current of the full load ampere of the motor connected

Disadvantages of Star-Delta starter
1. Low Starting Torque (Torque = (Square of Voltage) is also reduce).
2. Break In Supply Possible Transients
3. Six Terminal Motor Required (Delta Connected).
4. It requires 2 set of cables from starter to motor.
.
5. It provides only 33% starting torque and if the load connected to the subject motor requires
higher starting torque at the time of starting than very heavy transients and stresses are
produced while changing from star to delta connections, and because of these transients
and stresses many electrical and mechanical break-down occurs.
.
6. In this method of starting initially motor is connected in star and then after change over the
motor is connected in delta. The delta of motor is formed in starter and not on motor
terminals.
.
7. High transmission and current peaks: When starting up pumps and fans for example, the
load torque is low at the beginning of the start and increases with the square of the speed.
When reaching approx. 80-85 % of the motor rated speed the load torque is equal to the
motor torque and the acceleration ceases. To reach the rated speed, a switch over to delta
position is necessary, and this will very often result in high transmission and current peaks.
In some cases the current peak can reach a value that is even bigger than for a D.O.L start.
.
8. Applications with a load torque higher than 50 % of the motor rated torque will not be able
to start using the start-delta starter.
.
9. Low Starting Torque: The star-delta (wye-delta) starting method controls whether the lead
connections from the motor are configured in a star or delta electrical connection. The initial
connection should be in the star pattern that results in a reduction of the line voltage by a
factor of 1/3 (57.7%) to the motor and the current is reduced to 1/3 of the current at full
voltage, but the starting torque is also reduced 1/3 to 1/5 of the DOL starting torque.
.
10. The transition from star to delta transition usually occurs once nominal speed is reached, but
is sometimes performed as low as 50% of nominal speed which make transient Sparks.

Features of star-delta starting
1. For low- to high-power three-phase motors.
2. Reduced starting current
3. Six connection cables
4. Reduced starting torque
5. Current peak on changeover from star to delta
6. Mechanical load on changeover from star to delta

Application of Star-Delta Starter
The star-delta method is usually only applied to low to medium voltage and light starting
Torque motors.
The received starting current is about 30 % of the starting current during direct on line start
and the starting torque is reduced to about 25 % of the torque available at a D.O.L start. This
starting method only works when the application is light loaded during the start.
If the motor is too heavily loaded, there will not be enough torque to accelerate the motor up
to speed before switching over to the delta position.


















Saklar dan Tombol | Switch and Push Button
Tweet
More Sharing Services4
Berbagai macam saklar (zakelar, swtch) listrik dan elektronik yang umum digunakan berikut
simbolnya ditampilkan dalam daftar berikut. Secara mendasar semua saklar melakukan
kontak nyala | padam (on | off) dalam berbagai cara berbeda, tapi tiap saklar melakukan
tugas sama, yakni membuka dan menutup sirkuit listrik.

Beberapa saklar yang melakukan kontak berbeda, dinamakan sesuai dengan bentuk,
fungsi, dan atau cara operasinya.Misal, tombol atau kancing-tekan (push button) adalah
saklar yang beroperasi dengan cara ditekan, dan bisa melakukan dua fungsi berbeda, yakni
menutup sirkuit bila ditekan, atau justeru membuka sirkuit bila ditekan. Jika tekanan
dilepaskan atau terjadi tekanan berikutnya, maka akan menormalkan kembali tombol ke
posisi semula dan sirkuit kembali ke status semula.



simbol saklar (zakelar, switch) dan tombol-tekan (push button) tipe umum.]




SPST (single-pole single-throw) swith

Saklar kutub-tunggal lemparan-tunggal.


SPST rocker switch
Saklar sederhana dan paling umum digunakan, untuk mengubah status
dari padam (off) ke nyala (on), dimana bila ditekan ke satu arah, saklar
memutus sambungan sehingga sirkuit membuka, dan bila ditekan ke arah
sebaliknya, saklar mengubungkan sambungan sehingga sirkuit
menutup.Banyak digunakan pada berbagai perangkat listrik dan
elektronik, terutama sebagai saklar daya (power switch) atau saklar nyala |
padam utama (main on | off switch).

Contohnya adalah seperti yang digunakan sebagai saklar catu daya
(power supply) komputer., dan juga tipe saklar yang digunakan di dinding
rumah.


SPST toggle switch
Saklar SPST sederhana dan juga umum digunakan, untuk mengubah
status dari padam (off) ke nyala (on), dimana bila ditekan ke satu arah,
saklar memutus sambungan sehingga sirkuit membuka, dan bila ditekan
ke arah sebaliknya, saklar mengubungkan sambungan sehingga sirkuit
menutup. Kelebihan saklar ini adalah pengoperasiannya menggunakan
tungkai (lever), shg bisa diperpanjang atau diperjauh jarak jamahnya.

SPST key switch
Saklar ini hadir dalam berbagai bentuk. Berfungsi untuk melakukan
pengamanan terbatas (limited security).

Contohnya adalah seperti yang digunakan sebagai saklar kunci kontak
sepedamotor dan mobil.


SPST DIP (dual in-line package) switch
Saklar ini umumnya digunakan pada PCB (printed circuit board) | papan
rangkaian tercetak elektronik, untuk meilih berbagai konfigurasi operasi.

Contohnya adalah seperti yang digunakan pada PCB komputer.


PTM (push to make) switch | NOPB (normaly-open push-button)


PTB (push to-break) switch) | NCPB (normaly-close push-button)



Saklar tekan, tombol atau kancing-tekan (push button) adalah saklar yang
beroperasi dengan cara ditekan, dan jenis berbeda melakukan dua fungsi
berbeda, dimana,


PTM (push to make) switch | NOPB (normaly-open push-button)
adalah tombol menutup sirkuit bila ditekan, dan

PTB (push to-break) switch) | NCPB (normaly-close push-button)
adalah tombol yang membuka sirkuit bila ditekan. Jika tekanan dilepaskan
atau terjadi tekanan berikutnya, maka akan menormalkan kembali tombol
ke posisi semula dan sirkuit kembali ke status semula.

Contoh tombol PTM | NOPB adalah seperti yang digunakan sebagai
tombol klakson sepedamotor dan mobil.

Contoh tombol PTB | NCPB adalah seperti yang digunakan sebagai
tombol penyala lampu penerangan-dalam pada pintu kulkas dan pintu
mobil, dimana lampu padam bila pintu ditutup dan sebaliknya menyala bila
pintu dibuka..



SPDT (single-pole double-throw) switch | SPSS (single-pole selector
switch)
Saklar kutub-tunggal lemparan-ganda.Umumnya digunakan sebagai
saklar pemilih (selector) dua sirkuit, atau sebagai pengganti pasangan dua
saklar SPST untuk efisiensi.

com = common | shared contact point, atau titik kontak umum | bersama.


SPDT rocker switch


SPDT toggle switch


SPDT slide switch

SPDT micro switch
Saklar mikro bisa sangat kecil. Biasanya dipasang pada suatu lengan
yang ketika tertekan karena dipegang membuat klik saklar sehingga sirkuit
menutup.

Saklar ini meski sangat kecil tapi sangat berguna dalam berbagai
perangkat listrik dan elektronik, antara lain sebagai saklar keselamatan
(safety switch) yang menghindarkan dan mencegah peguna dari sengatan
listrik yang tak perlu terjadi dan menahan arus listrik terus-menerus
mengalir ketika tak diperlukan. Ketika saklar mikro membuka dengan

sendirinya sirkuit listrik pun terputus.

DPST (doube-pole single-throw) switch
Saklar kutub-ganda lemparan-tunggal. Digunakan untuk memutus atau
menghubungkan sambung dua jalur kelistrikan sekaligus. Biasanya satu
kutub untuk listrik positiv dan satu kutub untuk listrik negativ.

DPST rocker switch

DPDT (double-pole double-throw) switch | DPSS (double-pole
selector switch)
Saklar kutub-ganda lemparan-ganda.Umumnya digunakan sebagai saklar
pemilih (selector) dua sirkuit, atau sebagai pengganti pasangan dua saklar
SPDT atau sebagai pengganti pasangan dua saklar DPST untuk efisiensi.

DPDT slide switch
Saklar geser kutub-ganda lemparan-ganda.

Contoh saklar geser DPDT adalah seperti yang digunakan sebagai saklar
pemilih lampu belok (turn lampu, sign lamp) sepedamotor.


TPST (triple-pole single-throw) switch
Saklar kutub-tiga lemparan-tunggal. Digunakan untuk memutus atau
menghubungkan sambung tiga jalur kelistrikan sekaligus.




MPST (multi-pole single-throw) switch | push-button
Saklar | tombol kutub-rangkap. Digunakan untuk memutus atau
menghubungkan sambung beberapa jalur kelistrikan sekaligus.
______________________________














RCP relay dan Phase Failure Relay
Tweet
More Sharing Services2
RCP relay & Phase Failure Relay

RCP relay dan Phase Failure Relay ini berfungsi untuk memonitoring tegangan listrik jatuh,
urutan fasa dan asimetri keteradaan tiga satuan gelombang. RCP relay ini akan beroperasi
pada tegangan jatuh dan kebalikan gelombang, yang sangat penting untuk proteksi kerja
motor induksi.

RCP relay




Phase Failure Relay

Sebenarnya RCP relay dan Phase Failure Relay ini sama fungsinya seperti thermal overload
dan alat alat proteksi motor lainnya, yaitu memutus rangkaian pengendali dari suatu sistem
kerja motor listrik.


dalam gambar diatas RCP relay dan Phase Failure Relay mempunyai kontak NO dan NC, sama seperti
yang terdapat pada thermal overload.












TDR Time Delay Relay / Timer
Tweet
More Sharing Services5
TDR (Time Delay Relay) sering disebut juga relay timer atau relay penunda batas waktu
banyak digunakan dalam instalasi motor terutama instalasi yang membutuhkan pengaturan
waktu secara otomatis.

Peralatan kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain, contohnya dengan
MC (Magnetic Contactor), Thermal Over Load Relay, dan lain-lain.

Fungsi dari peralatan kontrol ini adalah
sebagai pengatur waktu bagi peralatan yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk
mengatur waktu hidup atau mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem bintang ke
segitiga dalam delay waktu tertentu.

Timer dapat dibedakan dari cara kerjanya yaitu timer yang bekerja menggunakan induksi
motor dan menggunakan rangkaian elektronik.

Timer yang bekerja dengan prinsip induksi motor akan bekerja bila motor mendapat
tegangan AC sehingga memutar gigi mekanis dan menarik serta menutup kontak secara
mekanis dalam jangka waktu tertentu.

Sedangkan relay yang menggunakan prinsip elektronik, terdiri dari rangkaian R dan C yang
dihubungkan seri atau paralel. Bila tegangan sinyal telah mengisi penuh kapasitor, maka
relay akan terhubung. Lamanya waktu tunda diatur berdasarkan besarnya pengisian
kapasitor.

Bagian input timer biasanya dinyatakan sebagai kumparan (Coil) dan bagian outputnya
sebagai kontak NO atau NC.

Kumparan pada timer akan bekerja selama mendapat sumber arus. Apabila telah mencapai
batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis timer akan mengunci dan membuat
kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO.


Pada umumnya timer memiliki 8 buah kaki yang 2 diantaranya merupakan kaki coil sebagai
contoh pada gambar di atas adalah TDR type H3BA dengan 8 kaki yaitu kaki 2 dan 7 adalah
kaki coil, sedangkan kaki yang lain akan berpasangan NO dan NC, kaki 1 akan NC dengan
kaki 4 dan NO dengan kaki 3. Sedangkan kaki 8 akan NC dengan kaki 5 dan NO dengan
kaki 6. Kaki kaki tersebut akan berbeda tergantung dari jenis relay timernya.
Thermal Over Load Relay
Tweet
More Sharing Services3
Fungsi dari Overload relays adalah untuk proteksi motor listrik dari beban lebih. Seperti
halnya sekring (fuse) pengaman beban lebih ada yang bekerja cepat dan ada yang lambat.
Sebab waktu motor start arus dapat mencapai 6 kali nominal, sehingga apabila digunakan
pengaman yang bekerja cepat, maka pengamannya akan putus setiap motor dijalankan.


Overload relay yang berdasarkan pemutus bimetal akan bekerja sesuai dengan arus yang
mengalir, semakin tinggi kenaikan temperatur yang menyebabkan terjadinya pembengkokan
, maka akan terjadi pemutusan arus, sehingga motor akan berhenti. Jenis pemutus bimetal
ada jenis satu phasa dan ada jenis tiga phasa, tiap phasa terdiri atas bimetal yang terpisah
tetapi saling terhubung, berguna untuk memutuskan semua phasa apabila terjadi kelebihan
beban. Pemutus bimetal satu phasa biasa digunakan untuk pengaman beban lebih pada
motor berdaya kecil.

Mekanisme kerja Over load relay: apabila resistance wire dilewati arus lebih besar dari
nominalnya, maka bimetal trip, bagian bawah akan melengkung ke kiri dan membawa slide
ke kiri, gesekan ini akan membawa lengan kontak pada bagian bawah terdorong ke kiri dan
kontak NC (95-96) akan lepas, dan membuat kontak NO (97-98) akan terhubung.


gambar kegagalan 1 phasa akibat arus lebih
dari arus nominal pada Thermal Overload Relay

Selama bimetal trip itu masih panas, maka dibagian bawah akan tetap terbawa ke kiri,
sehingga kontak kontaknya belum dapat dikembalikan ke kondisi semula walaupun reset
buttonnya ditekan, apabila bimetal sudah dingin barulah kontaknya dapat kembali lurus dan
kontaknya baru dapat di hubungkan kembali dengan menekan reset button.












Chapter 1.3. Full-voltage single-phase motors
Diagram ini adalah untuk kendali motor satu fase. Rangkaian ini menggunakan kontaktor, relay
overload, satu blok kontak bantu, satu PB start (NO), satu PB Stop (NC), dan power supply.

Chapter 1.4. Star Delta Open Transition 3-phase Motors
Diagram berikut merupakan kendali motor 3-fase hubungan star-bintang. Rangkaina ini
menggunakan tiga buah kontaktor, relay overload, satu kontak blok tambahan, satu PB Start (NO)
dan satu PB Stop (NC), Timer ON delay on 0-20 detik dan power supply.

Chapter 5. Motor Control Circuit
Interlocking (sebagai proteksi) pada bab sebelumnya, membuat motor on selama tombol
ditekan. Jika kita ingin motor terus on dengan sekali tekan kita harus mengubah rangkaian dengan
menambahkan rangkaian latch (pengunci). Rangkaian ini sering digunakan dalam dunia industri :

Jika tombol forward ditekan, maka M1 akan on, dan akan tetap on. Demikian juga jika tombol
reverse ditekan maka M2 akan on, dan akan tetap on. Kontak close dari M1 dan M2 mencegah koil
M1 dan M2 menjadi on bersamaan. Iini sering disbut sebagai seal contact (kontak pengaman) atau
latch (pengunci). Bagaimana untuk menghentikan motor, rangkaian harus kita ubah sebagai berikut:

Rangakain diatas masih ada persolan. Bagaimana menghentikan motor yang sedang berjalan.
Maka ditambahlah push button stop (NC) pada bagian belakang rangkaianr. Dengan menekan push
button stop maka rangkaian latch akan di putuskan. Untuk rangkaian yang menjalankan motor lebih
dari satu, biasanya ditambah lagi sebuah tombol emergency. Jadi jika terjadi sesuatu yang
membahayakan dengan menekan PB Emergency (push lock) maka semua proses akan dihentikan.
Secara logika rangkaian di atas sudah cukup baik. Tetapi kita harus mempertimbangkan aspek
lain dari rangkaian tersbut disesuikan dengan kondisi lapangan. Misalnya perubahan beban
mekanis, seperti kipas yang besar, dimana saat tombol stop ditekan, motor akan tetap berjalan
selama beberapa saat sebelum berhenti total. Akan imbul masalah jika operator akan menjalankan
motor dalam arah sebaliknya tanpa menunggu kipas angin berhenti berputar karena inertia motor
akan berjuang melawan arah putaran sebelumnya. Beban bagi besar bagi motor dan akan menjadi
cepat panas. Oleh karena itu perlu penambahan sistem delay, untuk memberi waktu motor
berhenti. Sehingga penekanan tombol untuk menjalankan motor pada arah sebaliknya secara
mendadak dapat dicegah dengan adanya rangkaian waktu tunda (off delay). Sebagai berikut:


Jika motor berjalan forward, baik M1 dan TD1 akan on. Kontak TD1 (NC) antara kabel 8 dan 5
akan open. Ketika tombol stop ditekan, TD1 kehilangan catu (off) maka kontak TD1 tetap open
dalam selang waktu tertentu sebelum kembali ke kondisi normalnya (NC). Setelah kontak TD1
menjadi NC maka penekanan tombol reverse baru dapat membuat on M2 (reverse). Jadi
timer memberikan selang waktu untuk motor berhenti dulu baru bisa di start kembali.
Jika teliti, maka kita dapat melihat bawhwa TD1 dan TD2 saling interlock. Oleh karenanya kita
dapat menghilangkan kontak M1 dan M2 dan menggantikannya dengan kontak TD1 dan TD2. Setiap
waktu tunda relay akan melayani tujuan ganda: mencegah kontaktor lainnya dari energi saat motor
sedang berjalan, dan mencegah kontaktor yang sama dari energi sampai waktu yang ditentukan
setelah motor dimatikan. Maka kita dapat menyederhanakan rangkaian menjadi sebagai berikut :




















Wiring Diagram Motor Bolak Balik (Forward Reverse Three Phase
Motor)
Tweet
More Sharing Services10
Motor Bolak Balik ini adalah salah satu kerja motor induksi 3 phasa yang sering digunakan
pada mesin mesin produksi oleh banyak kalangan industri, baik industri kecil maupun
industri besar. Secara spesifik penggunaannya tidaklah terlalu penting, karena mesin mesin
produksi terus mengalami perkembangan dari segi pemanfaatan dan kontruksi mesinnya itu
sendiri. Namun secara prinsipalnya adalah sama, yaitu membolak balikkan arah putaran
motor induksi dengan tombol tombol atau rangkaian interlock tertentu.

Baiklah.. langsung saja saya jelaskan prinsip sederhana dari rangkaian Motor induksi 3
phasa Bolak Balik atau Forward Reverse, melalui bahasa gambar agar mudah
mempelajarinya. Coba lihat gambar di bawah ini



Dalam gambar diatas dijelaskan:
gambar A: arah putaran motor ke arah kanan bila urutan phasa input R-S-T masuk
dalam rangkaian Breaker dan Kontaktor ke motor.
gambar B: arak putaran motor ke arah kiri bila urutan phasa input yang masuk
dalam rangkaian dan ke motor adalah kebalikannya, yaitu T-S-R
Klik disini untuk mengetahui secara teoritis bagaimana arah putaran motor menjadi bolak
balik sesuai dengan urutan phasa input. Lalu perhatikan gambar berikut dibawah ini.


Dalam gambar diatas dijelaskan
gambar A: Saya sudah menambahkan thermal overload dan 2 kontaktor dalam
rangkaian, yaitu K1 dan K2. Dalam gambar A ini K1 dalam posisi NC atau sedang
dalam kondisi ON, dan K2 dalam posisi Off. Lihatlah bagaimana urutan phasa input
R-S-T masuk dalam rangkaian, sehingga putaran motor menjadi kearah kanan.
gambar B: Dalam gambar B ini urutan phasa input yang masuk dalam rangkaian
adalah kebalikannya, yaitu T-S-R bila K2 dalam posisi NC atau ON,
dan K1 dalam posisi Off. Dan membuat arah putaran motor menjadi
kearah kiri.
Dalam penggambaran realnya atau Rangkaian Utamanya dapat dilihat pada gambar
dibawah ini:

urutan phasa input motor R-S-T


urutan phasa input motor T-S-R

Pada gambar A dibawah ini adalah wiring untuk menghidup matikan K1 dan K2 satu
persatu. Artinya adalah: bila tombol hijau ditekan, maka K1 akan bekerja dan berhenti bila
tombol dilepas. Begitu juga K2 bila tombol merah ditekan dan dilepas. Bisakah Anda
bayangkan bila tombol tombolnya ditekan bersamaan ?? iya... pada rangkaian utamanya
akan terjadi korsleting 3 phasa!! Lalu bagaimana kelanjutannya..??

Lihat gambar B !!

klik gambar untuk memperbesar

Untuk membuat kerja K1 dan K2 secara bergantian, kita bisa memanfaatkan NC pada
masing masing kontaktor seperti pada gambar B. NC dari K1 dipasang seri pada jalur input
koil K2, begitu juga sebaliknya, NC dari K2 dipasang seri pada jalur input koil K1.

Lalu lihat gambar C dan D !!
bila tombol hijau ditekan, maka K1 akan bekerja dan NC dari K1 akan menjadi NO yang
menyebabkan tombol merah atau K2 tidak akan bisa berfungsi karena jalur inputnya
terputus selama K1 masih bekerja. Begitu juga sebaliknya yang terjadi bila tombol merah
ditekan setelah K1 tidak bekerja.

Sebagi finalisasi wiring rangkaian Forward Reverse ini, kita harus memasang juga sistem
Proteksi Motor untuk mengamankan motor dari beban lebih dengan menggunakan NC dari
Thermal Overload yang telah terpasang sebelumnya, seperti pada gambar berikut dibawah
ini


Dan saya sertakan juga wiring rangkaian Forward Reverse ini dengan sistem interlock untuk
fungsi kerja motor lain yang mungkin Anda butuhkan.



Demikian saja pembahasan tentang Wiring Motor Bolak Balik (Forward Reverse) ini. Klik
disini bila ingin melihat foto gambar penyambungan rangkaian kontaktornya.











Wiring Diagram Star Delta / Bintang Segitiga
Tweet
More Sharing Services20
Coba perhatikan lagi gambar hubung star delta yang telah saya perjelas dari gambar artikel
sebelumnya di bawah ini:

gbr. wiring star dan delta
Rangkaian star delta ini diawali dengan hubung star terlebih dahulu, setelah itu baru
terhubung delta. Penggambarannya sebagai berikut:
gbr. wiring rangkaian utama
star delta
Penjelasan:

Untuk syarat syarat motor induksi 3 phasa yang bisa dihubung Star Delta bisa baca disini

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa wiring star delta menggunakan 3 buah kontaktor
utama yang terdiri dari K1 (input utama) K2 (hubung star) dan K3 (hubung delta). Dan
semua itu disebut juga Rangkaian Utama, yang pemahaman dasarnya telah
dibahas pada artikel sebelumnya.

Pada gambar, ketika K1 dan K2 aktif atau berubah menjadi NC maka hubungan yang terjadi
pada motor menjadi hubung star, dan ketika K2 menjadi NO maka K3 pada saat yang
bersamaan menjadi NC. Dan perubahan ini menyebabkan rangkaian pada motor menjadi
hubung delta.

Bagaimana kita membuat K1, K2 dan K3 bekerja secara otomatis merubah hubung motor
menjadi star delta?
Perhatikan gambar dibawah ini:
gbr. wiring diagram star delta

Gambar diatas adalah gambar wiring diagram star delta yang merupakan perpaduan antara
interlock kontaktor dan fungsi NO dan NC dari timer. Perhatikan sekali lagi gambar di bawah
ini, yang merupakan penjelasan dari gambar diatas.

gbr. penjelasan wiring diagram star delta

Pada kotak yang berwarna pink adalah wiring diagram dari interlock kontaktor, dan kotak
yang berwarna hijau adalah kerja dan fungsi dari NO dan NC pada timer. Ketika tombol
ON ditekan maka K1 akan bekerja, begitu juga T dan K2 (hubung star). Dalam hal ini K2
akan langsung bekerja karena terhubung pada NC dari T, disaat bersamaan T akan bekerja
dan menghitung satuan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya ( 3~8 detik, tergantung
besar kecilnya arus asut dari motor induksi yang digunakan). Dimana setelah habis ketapan
waktunya maka NCnya akan berubah menjadi NO begitu juga sebaliknya. Perubahan inilah
yang dimanfaatkan untuk menghidupkan K3 (hubung delta). Dan wiring diagram tersebut
dikenal juga sebagai Rangkaian Pengendali.
Sebagai finalisasi wiring diagram star delta ini, maka saya tambahkan NC pada K2 dan K3
yang saling bertautan pada masing masing kontaktornya. Arus listrik akan mengalir terlebih
dahulu pada NC K3 sebelum masuk koil K2, begitu juga sebaliknya. Hal ini semata-mata
untuk menghindari terjadinya kedua kontaktor itu bekerja secara bersamaan bila terjadi
hubung singkat, yang bisa menyebabkan kerusakan pada Rangkaian Utamanya, seperti
pada gambar dibawah ini.
gbr. wiring rangkaian pengendali
star delta

Cukup itu saja penjelasan dari saya tentang wiring diagram star delta ini. Semoga
penjelasan ini menjadi gerbang pembuka untuk mempelajari dan membuat wiring diagram
rangkaian otomatis lainnya termasuk dasar pemograman PLC.

Klik disini untuk mempelajari penerapan sistem proteksi motor listrik pada rangkaian
pengendali Star Delta. Atau disini bila ingin langsung mengetahui gambar penyambungan
rangkaian Star Deltanya.



Apa itu PLC dan prinsip kerja PLC (seri belajar PLC)
October 15th, 2012 Musbikhin

Sebuah PLC berisi CPU (central processing unit) atau otak dari plc yang berisi sebuah
aplikasi program, modul interface input dan output yang terhubung secara langsung ke field
I/O devices dan lebih lengkapnya PLC dapat diartikan sebuah alat kontrol yang bekerja
berdasarkan pada pemrograman dan eksekusi instruksi logika. PLC mempunyai fungsi
internal seperti timer, counter dan shift register. PLC beroperasi dengan cara memeriksa input
dari sebuah proses guna mengetahui statusnya kemudian sinyal input ini diproses berdasarkan
instruksi logika yang telah diprogram dalam memori. Dan sebagai hasilnya adalah berupa
sinyal output. Sinyal output inilah yang dipakai untuk mengendalikan peralatan atau mesin.
Antarmuka (interface) yang terpasang di PLC memungkinkan PLC dihubungkan secara
langsung ke actuator atau transducer tanpa memerlukan relay.
Struktur PLC dapat dibagi ke dalam empat komponen utama :
1. Antarmuka ( interface ) input
2. Antarmuka ( interface ) output
3. Prosessing Unit ( CPU- Central Prosessing Unit )
4. Unit memori

Arus informasinya dalam PLC akan mengikuti jalur yang sederhana seperti dibawah ini :
1. CPU akan membaca unit memori
2. Memeriksa status Antarmuka input
3. Memperbaharui status CPU
4. Memperbaharui status Antarmuka output
Sedangkan prinsip kerja plc dapat diuraikan sebagai berikut : PLC merupakan peralatan
elektronik yang dibangun dari mikroprosesor untuk memonitor keadaan dariperalatan input
untuk kemudian di analisa sesuai dengan kebutuhan perencanan ( programmer) untuk
mengontrol keadaan output. Sinyal input diberikan kedalam input card.
Ada 2 jenis input card, yaitu :
1. Analog input card
2. Digital input card
Setiap input mempunyai alamat tertentu sehingga untuk mendeteksinya mikroprosesor
memanggil berdasarkan alamatnya. Banyaknya input yang dapat diproses tergantung jenis
PLC- nya. Sinyal output dikluarkan PLC sesuai dengan program yang dibuat oleh pemakai
berdasarkan analisa keadan input.
Ada 2 jenis output card, yaitu :
1. analog output card
2. digital output card
setiap ouput card mempunyai alamat tertentu dan diproses oleh mikroprosesor menurut
alamatnya. Banyaknya output tergantung jenis PLC- nya. Pada PLC juga dipersiapkan
internal input dan output untuk proses dalam PLC sesuai dengan kebutuhan program. Dimana
internal input dan output ini hanya sebagai flag dalam proses. Di dalam PLC juga
dipersiapkan timer yang dapat dibuat dalam konfigurasi on delai , off delai, on timer, off
timer dan lain- lain sesuai dengan programnya. Untuk memproses timer tersebut, PLC
memanggil berdasarkan alamatnya.
Untuk melaksanakan sebagai kontrol system, PLC ini didukung oleh perangkat lunak yang
merupakan bagian peting dari PLC. Program PLC biasanyaterdiri dari 2 jenis yaitu ladder
diagram dan instruksi dasar diagram, setiap PLC mempunyai perbedaan dalam penulisan
program.


Peran PLC dalam sistem kontrol (Seri Belajar PLC)
October 14th, 2012 Musbikhin

Dalam industry otomasi, PLC merupakan inti dari sebuah sistem kontrol. Dengan sebuah
program aplikasi kontrol yang disimpan dalam sebuah memori plc yang selanjutnya
dieksekusi, plc dapat secara konstan memonitor tiap state sistem melalui signal dari
perangkat input. Dan akan diproses lebih lanjut seperti dioutputkan pada perangkat output.
PLC banyak dipakai seperti untuk kontrol tugas sederhana dan berulang-ulang sampai dengan
tugas yang rumit yang saling berhubungan dengan controller yang lain atau terhubung dengan
sebuah komputer melalui jaringan komunikasi.
Perangkat Input (device input)
Kecerdasan sebuah sistem otomasi juga sangat bergantung pada kemampuan PLC untuk
membaca berbagai macam signal baik dari sensor otomatis atau perangkat input manual
(Seperti push button, keypad, toggle switch). Atau dengan kata lain untuk mendeteksi suatu
benda, memonitor suatu pergerakan, mengecek tekanan atau level cairan dan banyak yang
lain, plc akan memproses signal dari suatu perangkat sensor tertentu seperti proximity switch,
limit switch, photoelectric sensor,level sensordan sejenisnya. Tipe dari signal input plc yaitu
logik on/off atau tipe analog. Sinyal input dihubungkan ke plc melalui berbagai jenis modul
input plc.

Perangkat Output (device output)
Suatu sistem otomatis tidak lengkap jika tanpa dilengkapi perangkat/device output. Beberapa
device output yang paling umum adalah motor, solenoida, indikaor relay, buzzer dll. Melalui
aktivasi motor dan selenoida plc dapat mengontrol sistem yang sederhanan seperti pick and
Place sampai dengan sistem yang kompleks seperti servo positioning system.

Perangkat output lainnya seperti pilot lamp, buzzers dan alarm yang hanya dimaksudkan
untuk memberitahukan suatu indikator. Seperti interfacing sinyal input, sinyal dari perangkat
output yang dihubungkan ke plc melalui berbagai modul output plc.

PLC (PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER)
Pengertian
Programmable Logic Controllers (PLC) adalah komputer elektronik yang mudah digunakan
(user friendly) yang memiliki fungsi kendali untuk berbagai tipe dan tingkat kesulitan yang
beraneka ragam .
Definisi Programmable Logic Controller menurut Capiel (1982) adalah :
sistem elektronik yang beroperasi secara dijital dan didisain untuk pemakaian di lingkungan
industri, dimana sistem ini menggunakan memori yang dapat diprogram untuk penyimpanan
secara internal instruksi-instruksi yang mengimplementasikan fungsi-fungsi spesifik seperti
logika, urutan, perwaktuan, pencacahan dan operasi aritmatik untuk mengontrol mesin atau
proses melalui modul-modul I/O dijital maupun analog .
Berdasarkan namanya konsep PLC adalah sebagai berikut :
1. Programmable
menunjukkan kemampuan dalam hal memori untuk menyimpan program yang telah
dibuat yang dengan mudah diubah-ubah fungsi atau kegunaannya.
2. Logic
menunjukkan kemampuan dalam memproses input secara aritmatik dan logic (ALU), yakni
melakukan operasi membandingkan, menjumlahkan, mengalikan, membagi, mengurangi,
negasi, AND, OR, dan lain sebagainya.
3. Controller
menunjukkan kemampuan dalam mengontrol dan mengatur proses sehingga
menghasilkan output yang diinginkan.
PLC ini dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay sequensial dalam suatu sistem
kontrol. Selain dapat diprogram, alat ini juga dapat dikendalikan, dan dioperasikan oleh orang
yang tidak memiliki pengetahuan di bidang pengoperasian komputer secara khusus. PLC ini
memiliki bahasa pemrograman yang mudah dipahami dan dapat dioperasikan bila program yang
telah dibuat dengan menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC yang digunakan sudah
dimasukkan.
Alat ini bekerja berdasarkan input-input yang ada dan tergantung dari keadaan pada suatu
waktu tertentu yang kemudian akan meng-ON atau meng-OFF kan output-output. 1 menunjukkan
bahwa keadaan yang diharapkan terpenuhi sedangkan 0 berarti keadaan yang diharapkan
tidak terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan untuk pengendalian sistem yang memiliki output
banyak.
Fungsi dan kegunaan PLC sangat luas. Dalam prakteknya PLC dapat dibagi secara
umum dan secara khusus.
Secara umum fungsi PLC adalah sebagai berikut:
1. Sekuensial Control
PLC memproses input sinyal biner menjadi output yang digunakan untuk keperluan
pemrosesan teknik secara berurutan (sekuensial), disini PLC menjaga agar semua step atau
langkah dalam proses sekuensial berlangsung dalam urutan yang tepat.
2. Monitoring Plant
PLC secara terus menerus memonitor status suatu sistem (misalnya temperatur, tekanan,
tingkat ketinggian) dan mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses yang
dikontrol (misalnya nilai sudah melebihi batas) atau menampilkan pesan tersebut pada
operator.
Sedangkan fungsi PLC secara khusus adalah dapat memberikan input ke CNC ( Computerized
Numerical Control). Beberapa PLC dapat memberikan input ke CNC untuk kepentingan
pemrosesan lebih lanjut. CNC bila dibandingkan dengan PLC mempunyai ketelitian yang lebih
tinggi dan lebih mahal harganya. CNC biasanya dipakai untuk proses finishing, membent uk
benda kerja, moulding dan sebagainya.
Prinsip kerja sebuah PLC adalah menerima sinyal masukan proses yang dikendalikan lalu
melakukan serangkaian instruksi logika terhadap sinyal masukan tersebut sesuai dengan
program yang tersimpan dalam memori lalu menghasilkan sinyal keluaran untuk
mengendalikan aktuator atau peralatan lainnya.


Bahasa pemograman PLC


Terdapat lima tipe bahasa pemrograman yang bisa dipakai untuk memprogram PLC, meski
tidak semuanya di-support oleh suatu PLC, yaitu antara lain :
1. Bahasa pemrograman Ladder Diagram (LD)
2. Bahasa pemrograman Instruction List (IL)/Statement List (SL)
3. Bahasa pemrograman Sequential Function Chart (SFC)/Grafcet
4. Bahasa pemrograman Function Block Diagram (FBD)
5. Bahasa pemrograman tingkat tinggi (high-level), contohnya Visual Basic
Penulis akan membahas bahasa pemrograman PLC yang paling populer digunakan dan paling
mudah dipahami, yaitu Ladder Diagram, dengan menggunakan contoh rangkaianInterlock. Ladder
Diagram mudah dipahami karena menggunakan pendekatan grafis, yaitu menggunakan simbol-
simbol komponen elektromagnetik-mekanik relay (coil dan contact), blok-blok fungsi (function
block), seperti timer, counter, trigger, kondisional, serta blok fungsi yang didefinisikan sendiri oleh
programmer. Selain itu, karena Ladder Diagram menggunakan pendekatan grafis, maka programmer
menjadi lebih mudah untuk melakukan troubleshooting pada program yang akan dijalankan pada
PLC.

Pemanfaatan Programmable Logic Controller (PLC) dalam Dunia Industri
Perkembangan industri dewasa ini, khususnya dunia industri di negara kita, berjalan amat pesat
seiring dengan meluasnya jenis produk-produk industri, mulai dari apa yang digolongkan sebagai
industri hulu sampai dengan industri hilir. Kompleksitas pengolahan bahan mentah menjadi bahan
baku, yang berproses baik secara fisika maupun secara kimia, telah memacu manusia untuk selalu
meningkatkan dan memperbaiki unjuk kerja sistem yang mendukung proses tersebut, agar semakin
produktif dan efisien. Salah satu yang menjadi perhatian utama dalam hal ini ialah penggunaan
sistem pengendalian proses industri (sistem kontrol industri).

Dalam era industri modern, sistem kontrol proses industri biasanya merujuk pada otomatisasi sistem
kontrol yang digunakan. Sistem kontrol industri dimana peranan manusia masih amat dominan
(misalnya dalam merespon besaran-besaran proses yang diukur oleh sistem kontrol tersebut dengan
serangkaian langkah berupa pengaturan panel dan saklar-saklar yang relevan) telah banyak digeser
dan digantikan oleh sistem kontrol otomatis.

Sebabnya jelas mengacu pada faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas industri
itu sendiri, misalnya faktor human error dan tingkat keunggulan yang ditawarkan sistem kontrol
tersebut. Salah satu sistem kontrol yang amat luas pemakaiannya ialah Programmable Logic
Controller (PLC). Penerapannya meliputi berbagai jenis industri mulai dari industri rokok, otomotif,
petrokimia, kertas, bahkan sampai pada industri tambang, misalnya pada pengendalian turbin gas
dan unit industri lanjutan hasil pertambangan. Kemudahan transisi dari sistem kontrol sebelumnya
(misalnya dari sistem kontrol berbasis relay mekanis) dan kemudahan trouble-shooting dalam
konfigurasi sistem merupakan dua faktor utama yang mendorong populernya PLC ini.

Artikel ini mecoba memberikan gambaran ringkas tentang PLC ini dari sudut pandang piranti
penyusunnya. Apakah Sebenarnya PLC itu? NEMA (The National electrical Manufacturers
Association) mendefinisikan PLC sebagai piranti elektronika digital yang menggunakan memori yang
bisa diprogram sebagai penyimpan internal dari sekumpulan instruksi dengan mengimplementasikan
fungsi-fungsi tertentu, seperti logika, sekuensial, pewaktuan, perhitungan, dan aritmetika, untuk
mengendalikan berbagai jenis mesin ataupun proses melalui modul I/O digital dan atau analog.

PLC merupakan sistem yang dapat memanipulasi, mengeksekusi, dan atau memonitor keadaan
proses pada laju yang amat cepat, dengan dasar data yang bisa diprogram dalam sistem berbasis
mikroprosesor integral. PLC menerima masukan dan menghasilkan keluaran sinyal-sinyal listrik untuk
mengendalikan suatu sistem. Dengan demikian besaran-besaran fisika dan kimia yang dikendalikan,
sebelum diolah oleh PLC, akan diubah menjadi sinyal listrik baik analog maupun digital,yang
merupakan data dasarnya.. Karakter proses yang dikendalikan oleh PLC sendiri merupakan proses
yang sifatnya bertahap, yakni proses itu berjalan urut untuk mencapai kondisi akhir yang diharapkan.
Dengan kata lain proses itu terdiri beberapa subproses, dimana subproses tertentu akan berjalan
sesudah subproses sebelumnya terjadi. Istilah umum yang digunakan untuk proses yang berwatak
demikian ialah proses sekuensial (sequential process). Sebagai perbandingan, sistem kontrol yang
populer selain PLC, misalnya Distributed Control System (DCS), mampu menangani proses-proses
yang bersifat sekuensial dan juga kontinyu (continuous process) serta mencakup loop kendali yang
relatif banyak.

Piranti Penyususnan PLC
PLC yang diproduksi oleh berbagai perusahaan sistem kontrol terkemuka saat ini biasanya
mempunyai ciri-ciri sendiri yang menawarkan keunggulan sistemnya, baik dari segi aplikasi
(perangkat tambahan) maupun modul utama sistemnya. Meskipun demikian pada umumnya setiap
PLC (sebagaimana komputer pribadi Anda yang cenderung mengalami standarisasi dan kompatibel
satu sama lain) mengandung empat bagian (piranti) berikut ini:

1. Modul Catu daya.
2. Modul CPU.
3. Modul Perangkat Lunak.
4. Modul I/O.


Modul Catu Daya (Power Supply: PS)
PS memberikan tegangan DC ke berbagai modul PLC lainnya selain modul tambahan dengan
kemampuan arus total sekitar 20A sampai 50A, yang sama dengan battery lithium integral (yang
digunakan sebagai memory backup). Seandainya PS ini gagal atau tegangan bolak balik masukannya
turun dari nilai spesifiknya, isi memori akan tetap terjaga. PLC buatan Triconex, USA, yakni Trisen
TS3000 bahkan mempunyai double power supply yang berarti apabila satu PS-nya gagal, PS kedua
otomatis akan mengambil alih fungsi catu daya sistem.

Modul CPU
Modul CPU yang disebut juga modul kontroler atau prosesor terdiri dari dua bagian:
1. Prosesor berfungsi:
o mengoperasikan dan mengkomunikasikan modul-modul PLC melalui bus-bus serial
atau paralel yang ada.
o Mengeksekusi program kontrol.
2. Memori, yang berfungsi:
o Menyimpan informasi digital yang bisa diubah dan berbentuk tabel data, register
citra, atau RLL (Relay Ladder Logic), yang merupakan program pengendali proses.


Pada PLC tertentu kadang kita jumpai pula beberapa prosesor sekaligus dalam satu modul, yang
ditujukan untuk mendukung keandalan sistem. Beberapa prosesor tersebut bekerja sama dengan
suatu prosedur tertentu untuk meningkatkan kinerja pengendalian. Contoh PLC jenis ini ialah Trisen
TS3000 mempunyai tiga buah prosesor dengan sistem yang disebut Tripple Redundancy Modular.

Kapasitas memori pada PLC juga bervariasi. Trisen TS3000, misalnya, mempunyai memori 384 Kbyte
(SRAM) untuk program pengguna dan 256 Kbyte (EPROM) untuk sistem operasinya. Simatic S5
buatan Siemens mempunyai memori EPROM 16Kbyte dan RAM 8 Kbyte. PLC FA-3S Series
mempunyai memori total sekitar 16 Kbyte. Kapasitas memori ini tergantung penggunaannya dan
seberapa jauh Anda sebagai mengoptimalisasikan ruang memori PLC yang Anda miliki, yang berarti
pula tergantung seberapa banyak lokasi yang diperlukan program kontrol untuk mengendalikan
plant tertentu. Program kontrol untuk pengaliran bahan bakar dalam turbin gas tentu membutuhkan
lokasi memori yang lebih banyak dibandingkan dengan program kontrol untuk menggerakkan
putaran mekanik robot pemasang bodi mobil pada industri otomotif. Suatu modul memori
tambahan bisa juga diberikan ke sistem utama apabila kebutuhan memori memang meningkat.

Modul Program Perangkat Lunak PLC mengenal berbagai macam perangkat lunak, termasuk State
Language, SFC, dan bahkan C. Yang paling populer digunakan ialah RLL (Relay Ladder Logic). Semua
bahasa pemrograman tersebut dibuat berdasarkan proses sekuensial yang terjadi dalam plant
(sistem yang dikendalikan). Semua instruksi dalam program akan dieksekusi oleh modul CPU, dan
penulisan program itu bisa dilakukan pada keadan on line maupun off line. Jadi PLC dapat bisa
ditulisi program kontrol pada saat ia mengendalikan proses tanpa mengganggu pengendalian yang
sedang dilakukan. Eksekusi perangkat lunak tidak akan mempengaruhi operasi I/O yang tengah
berlangsung.

Modul I/O
Modul I/O merupakan modul masukan dan modul keluaran yang bertugas mengatur hubungan PLC
dengan piranti eksternal atau periferal yang bisa berupa suatu komputer host, saklar-saklar, unit
penggerak motor, dan berbagai macam sumber sinyal yang terdapat dalam plant.
1. Modul masukan
Modul masukan berfungsi untuk menerima sinyal dari unit pengindera periferal, dan
memberikan pengaturan sinyal, terminasi, isolasi, maupun indikator keadaan sinyal
masukan. Sinyal-sinyal dari piranti periferal akan di-scan dan keadaannya akan
dikomunikasikan melalui modul antarmuka dalam PLC.

Beberapa jenis modul masukan di antaranya:
o Tegangan masukan DC (110, 220, 14, 24, 48, 15-30V) atau arus C(4-20mA).
o Tegangan AC ((110, 240, 24, 48V) atau arus AC (4-20mA).
o Masukan TTL (3-15V).
o Masukan analog (12 bit).
o Masukan word (16-bit/paralel).
o Masukan termokopel.
o Detektor suhu resistansi (RTD).
o Relay arus tinggi.
o
o Relay arus rendah.
o Masukan latching (24VDC/110VAC).
o Masukan terisolasi (24VDC/85-132VAC).
o Masukan cerdas (mengandung mikroprosesor).
o Masukan pemosisian (positioning).
o Masukan PID (proporsional, turunan, dan integral).
o Pulsa kecepatan tinggi.
o Dll.
2. Modul keluaran
Modul keluaran mengaktivasi berbagai macam piranti seperti aktuator hidrolik, pneumatik,
solenoid, starter motor, dan tampilan status titik-titik periferal yang terhubung dalam
sistem. Fungsi modul keluaran lainnya mencakup conditioning, terminasi dan juga
pengisolasian sinyal-sinyal yang ada. Proses aktivasi itu tentu saja dilakukan dengan
pengiriman sinyal-sinyal diskret dan analog yang relevan, berdasarkan watak PLC sendiri
yang merupakan piranti digital. Beberapa modul keluaran yang lazim saat ini di antaranya:
o Tegangan DC (24, 48, 110V) atau arus DC (4-20mA)
o Tegangan AC (110, 240V) atau arus AC (4-20mA).
o Keluaran analog (12-bit).
o Keluaran word (16-bit/paralel)
o Keluaran cerdas.
o Keluaran ASCII.
o Port komunikasi ganda.


Dengan berbagai modul di atas PLC bekerja mengendalikan berbagai plant yang kita miliki.
Mengingat sinyal-sinyal yang ditanganinya bervariasi dan merupakan informasi yang memerlukan
pemrosesan saat itu juga, maka sistem yang kita miliki tentu memiliki perangkat pendukung yang
mampu mengolah secara real time dan bersifat multi tasking,. Anda bayangkan bahwa pada suatu
unit pembangkit tenaga listrik misalnya, PLC Anda harus bekerja 24 jam untuk mengukur suhu buang
dan kecepatan turbin, dan kemudian mengatur bukaan katup yang menentukan aliran bahan bakar
berdasarkan informasi suhu buang dan kecepatan di atas., agar didapatkan putaran generator yang
diinginkan! Pada saat yang sama sistem pelumasan turbin dan sistem alarm harus bekerja baik baik
di bawah pengendalian PLC! Suatu piranti sistem operasi dan komunikasi data yang andal tentu
harus kita gunakan. Teknologi cabling, pemanfaatan serat optik, sistem operasi berbasis real time
dan multi tasking semacam Unix, dan fasilitas ekspansi yang memadai untuk jaringan komputer
merupakan hal yang lazim dalam instalasi PLC saat ini.




PLC (PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER)
Pengertian
Programmable Logic Controllers (PLC) adalah komputer elektronik yang
mudah digunakan (user friendly) yang memiliki fungsi kendali untuk berbagai
tipe dan tingkat kesulitan yang beraneka ragam [2]. Definisi
Programmable Logic Controller menurut Capiel (1982) adalah :sistem elektronik
yang beroperasi secara dijital dan didisain untuk pemakaian di lingkungan
industri, dimana sistem ini menggunakan memori yang dapat diprogram untuk
penyimpanan secara internal instruksi-instruksi yang mengimplementasikan
fungsi-fungsi spesifik seperti logika, urutan, perwaktuan, pencacahan dan
operasi aritmatik untuk mengontrol mesin atau proses melalui modul -modul I/O
dijital maupun analog [3].
Berdasarkan namanya konsep PLC adalah sebagai berikut :
1. Programmable, menunjukkan kemampuan dalam hal memori untuk
menyimpan program yang telah dibuat yang dengan mudah diubah-ubah fungsi
atau kegunaannya.
2. Logic, menunjukkan kemampuan dalam memproses input secara aritmatik
dan logic (ALU), yakni melakukan operasi membandingkan, menjumlahkan,
mengalikan, membagi, mengurangi, negasi, AND, OR, dan lain sebagainya.
3. Controller, menunjukkan kemampuan dalam mengontrol dan mengatur
proses sehingga menghasilkan output yang diinginkan.
PLC ini dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay sequensial dalam
suatu sistem kontrol. Selain dapat diprogram, alat ini juga dapat dikendalikan, dan
dioperasikan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan di bidang
pengoperasian komputer secara khusus. PLC ini memiliki bahasa pemrograman
yang mudah dipahami dan dapat dioperasikan bila program yang telah dibuat
dengan menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC yang digunakan
sudah dimasukkan.Alat ini bekerja berdasarkan input-input yang ada dan tergantung
dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian akan meng-ON atau meng-
OFF kan output-output. 1 menunjukkan bahwa keadaan yang diharapkan
terpenuhi sedangkan 0 berarti keadaan yang diharapkan tidak terpenuhi. PLC
juga dapat diterapkan untuk pengendalian sistem yang memiliki output banyak.
Fungsi dan kegunaan PLC sangat luas. Dalam prakteknya PLC dapat dibagi
secara umum dan secara khusus [4]. Secara umum fungsi PLC adalah sebagai
berikut:
1. Sekuensial Control. PLC memproses input sinyal biner menjadi output yang
digunakan untuk keperluan pemrosesan teknik secara berurutan (sekuensial),
disini PLC menjaga agar semua step atau langkah dalam proses sekuensial
berlangsung dalam urutan yang tepat.
2. Monitoring Plant. PLC secara terus menerus memonitor status suatu sistem
(misalnya temperatur, tekanan, tingkat ketinggian) dan mengambil tindakan
yang diperlukan sehubungan dengan proses yang dikontrol (misalnya nilai
sudah melebihi batas) atau menampilkan pesan tersebut pada
operator.
Sedangkan fungsi PLC secara khusus adalah dapat memberikan input ke CNC
(Computerized Numerical Control). Beberapa PLC dapat memberikan input ke
CNC untuk kepentingan pemrosesan lebih lanjut. CNC bila dibandingkan
dengan PLC mempunyai ketelitian yang lebih tinggi dan lebih mahal harganya.
CNC biasanya dipakai untuk proses finishing, membentuk benda kerja,
moulding dan sebagainya.
Prinsip kerja sebuah PLC adalah menerima sinyal masukan proses yang
dikendalikan lalu melakukan serangkaian instruksi logika terhadap sinyal
masukan tersebut sesuai dengan program yang tersimpan dalam memori lalu
menghasilkan sinyal keluaran untuk mengendalikan aktuator atau peralatan
lainnya.
Keuntungan dan Kerugian PLC [2][5]
Dalam industri-industri yang ada sekarang ini, kehadiran PLC sangat dibutuhkan
terutama untuk menggantikan sistem wiring atau pengkabelan yang sebelumnya masih
digunakan dalam mengendalikan suatu sistem. Dengan menggunakan PLC akan diperoleh
banyak keuntungan diantaranya adalah sebagai berikut:
Fleksibel
Pada masa lalu, tiap perangkat elektronik yang berbeda dikendalikan dengan
pengendalinya masing-masing. Misal sepuluh mesin membutuhkan sepuluh pengendali,
tetapi kini hanya dengan satu PLC kesepuluh mesin tersebut dapat dijalankan dengan
programnya masing-masing.
Perubahan dan pengkoreksian kesalahan sistem lebih mudah
Bila salah satu sistem akan diubah atau dikoreksi maka pengubahannya hanya
dilakukan pada program yang terdapat di komputer, dalam waktu yang relatif singkat,
setelah itu didownload ke PLC-nya. Apabila tidak menggunakan PLC, misalnya relay
maka perubahannya dilakukan dengan cara mengubah pengkabelannya. Cara ini
tentunya memakan waktu yang lama.
Jumlah kontak yang banyak
Jumlah kontak yang dimiliki oleh PLC pada masing-masing coil lebih banyak
daripada kontak yang dimiliki oleh sebuah relay.
Harganya lebih murah
PLC mampu menyederhanakan banyak pengkabelan dibandingkan dengan sebuah
relay. Maka harga dari sebuah PLC lebih murah dibandingkan dengan harga beberapa
buah relay yang mampu melakukan pengkabelan dengan jumlah yang sama dengan
sebuah PLC. PLC mencakup relay, timers, counters, sequencers, dan berbagai fungsi
lainnya.
Pilot running
PLC yang terprogram dapat dijalankan dan dievaluasi terlebih dahulu di kantor atau
laboratorium. Programnya dapat ditulis, diuji, diobserbvasi dan dimodifikasi bila memang
dibutuhkan dan hal ini menghemat waktu bila dibandingkan dengan sistem relay
konvensional yang diuji dengan hasil terbaik di pabrik.
Observasi visual
Selama program dijalankan, operasi pada PLC dapat dilihat pada layar CRT.
Kesalahan dari operasinya pun dapat diamati bila terjadi.
Kecepatan operasi
Kecepatan operasi PLC lebih cepat dibandingkan dengan relay. Kecepatan PLC
ditentukan dengan waktu scannya dalam satuan millisecond.
Metode Pemrograman Ladder atau Boolean
Pemrograman PLC dapat dinyatakan dengan pemrograman ladder bagi teknisi, atau
aljabar Boolean bagi programmer yang bekerja di sistem kontrol digital atau Boolean.
Sifatnya tahan uji
Solid state device lebih tahan uji dibandingkan dengan relay dan timers mekanik atau
elektrik. PLC merupakan solid state device sehingga bersifat lebih tahan uji.
Menyederhanakan komponen-komponen sistem kontrol
Dalam PLC juga terdapat counter, relay dan komponen-komponen lainnya, sehingga
tidak membutuhkan komponen-komponen tersebut sebagai tambahan. Penggunaan
relay membutuhkan counter, timer ataupun komponen-komponen lainnya sebagai
peralatan tambahan.
Dokumentasi
Printout dari PLC dapat langsung diperoleh dan tidak perlu melihat blueprint circuit-
nya. Tidak seperti relay yang printout sirkuitnya tidak dapat diperoleh.
Keamanan
Pengubahan pada PLC tidak dapat dilakukan kecuali PLC tidak dikunci dan
diprogram. Jadi tidak ada orang yang tidak berkepentingan dapat mengubah program
PLC selama PLC tersebut dikunci.
Dapat melakukan pengubahan dengan pemrograman ulang
Karena PLC dapat diprogram ulang secara cepat, proses produksi yang bercampur
dapat diselesaikan. Misal bagian B akan dijalankan tetapi bagian A masih dalam proses,
maka proses pada bagian B dapat diprogram ulang dalam satuan detik.
Penambahan rangkaian lebih cepat
Pengguna dapat menambah rangkaian pengendali sewaktu-waktu dengan cepat,
tanpa memerlukan tenaga dan biaya yang besar seperti pada pengendali konvensional.

Selain keuntungan yang telah disebutkan di atas maka ada kerugian yang dimiliki
oleh PLC, yaitu:
Teknologi yang masih baru
Pengubahan sistem kontrol lama yang menggunakan ladder atau relay ke konsep
komputer PLC merupakan hal yang sulit bagi sebagian orang
Buruk untuk aplikasi program yang tetap
Beberapa aplikasi merupakan aplikasi dengan satu fungsi. Sedangkan PLC dapat
mencakup beberapa fungsi sekaligus. Pada aplikasi dengan satu fungsi jarang sekali
dilakukan perubahan bahkan tidak sama sekali, sehingga penggunaan PLC pada
aplikasi dengan satu fungsi akan memboroskan (biaya).
Pertimbangan lingkungan
Dalam suatu pemrosesan, lingkungan mungkin mengalami pemanasan yang tinggi,
vibrasi yang kontak langsung dengan alat-alat elektronik di dalam PLC dan hal ini bila
terjadi terus menerus, mengganggu kinerja PLC sehingga tidak berfungsi optimal.
Operasi dengan rangkaian yang tetap
Jika rangkaian pada sebuah operasi tidak diubah maka penggunaan PLC lebih
mahal dibanding dengan peralatan kontrol lainnya. PLC akan menjadi lebih efektif bila
program pada proses tersebut di-upgrade secara periodik.

Bagian-Bagian PLC
Sistem PLC terdiri dari lima bagian pokok, yaitu:
Central processing unit (CPU). Bagian ini merupakan otak atau jantung
PLC, karena bagian ini merupakan bagian yang melakukan operasi /
pemrosesan program yang tersimpan dalam PLC. Disamping itu CPU juga
melakukan pengawasan atas semua operasional kerja PLC, transfer informasi
melalui internal bus antara PLC, memory dan unit I/O.
Bagian CPU ini antara lain adalah :
Power Supply, power supply mengubah suplai masukan listrik menjadi suplai
listrik yang sesuai dengan CPU dan seluruh komputer.
Alterable Memory, terdiri dari banyak bagian, intinya bagian ini berupa chip
yang isinya di letakkan pada chip RAM (Random Access Memory), tetapi isinya
dapat diubah dan dihapus oleh pengguna / pemrogram. Bila tidak ada supplai
listrik ke CPU maka isinya akan hilang, oleh sebab itu bagian ini disebut
bersifat volatile, tetapi ada juga bagian yang tidak bersifat volatile.
Fixed Memory, berisi program yang sudah diset oleh pembuat PLC, dibuat
dalam bentuk chip khusus yang dinamakan ROM (Read Only Memory), dan
tidak dapat diubah atau dihapus selama operasi CPU, karena itu bagian ini
sering dinamakan memori non-volatile yang tidak akan terhapus isinya
walaupun tidak ada listrik yang masuk ke dalam CPU. Selain itu dapat juga
ditambahkan modul EEPROM atau Electrically Erasable Programmable Read Only
Memory yang ditujukan untuk back up program utama RAM prosesor sehingga
prosesor dapat diprogram untuk meload program EEPROM ke RAM jika program di
RAM hilang atau rusak [6].
Processor, adalah bagian yang mengontrol supaya informasi tetap jalan dari
bagian yang satu ke bagian yang lain, bagian ini berisi rangkaian clock,
sehingga masing-masing transfer informasi ke tempat lain tepat sampai pada
waktunya
Battery Backup, umumnya CPU memiliki bagian ini. Bagian ini berfungsi
menjaga agar tidak ada kehilangan program yang telah dimasukkan ke dalam
RAM PLC jika catu daya ke PLC tiba-tiba terputus.
Programmer / monitor (PM). Pemrograman dilakukan melalui keyboard
sehingga alat ini dinamakan Programmer. Dengan adanya Monitor maka dapat
dilihat apa yang diketik atau proses yang sedang dijalankan oleh PLC. Bentuk
PM ini ada yang besar seperti PC, ada juga yang berukuran kecil yaitu hand-eld
programmer dengan jendela tampilan yang kecil, dan ada juga yang berbentuk
laptop. PM dihubungkan dengan CPU melalui kabel. Setelah CPU selesai
diprogram maka PM tidak dipergunakan lagi untuk operasi proses PLC,
sehingga bagian ini hanya dibutuhkan satu buah untuk banyak CPU.
(deleted)
Modul input / output (I/O).Input merupakan bagian yang menerima sinyal
elektrik dari sensor atau komponen lain dan sinyal itu dialirkan ke PLC untuk
diproses. Ada banyak jenis modul input yang dapat dipilih dan jenisnya
tergantung dari input yang akan digunakan. Jika input adalah limit switches dan
pushbutton dapat dipilih kartu input DC. Modul input analog adalah kartu input
khusus yang menggunakan ADC (Analog to Digital Conversion) dimana kartu ini
digunakan untuk input yang berupa variable seperti temperatur, kecepatan,
tekanan dan posisi. Pada umumnya ada 8-32 input point setiap modul inputnya.
Setiap point akan ditandai sebagai alamat yang unik oleh prosesor. Output
adalah bagian PLC yang menyalurkan sinyal elektrik hasil pemrosesan PLC ke
peralatan output. Besaran informasi / sinyal elektrik itu dinyatakan dengan
tegangan listrik antara 5 15 volt DC dengan informasi diluar sistem tegangan
yang bervariasi antara 24 240 volt DC mapun AC. Kartu output biasanya
mempunyai 6-32 output point dalam sebuah single module. Kartu output analog
adalah tipe khusus dari modul output yang menggunakan DAC (Digital to Analog
Conversion). Modul output analog dapat mengambil nilai dalam 12 bit dan
mengubahnya ke dalam signal analog. Biasanya signal ini 0-10 volts DC atau 4-
20 mA. Signal Analog biasanya digunakan pada peralatan seperti motor yang
mengoperasikan katup dan pneumatic position control devices.Bila dibutuhkan,
suatu sistem elektronik dapat ditambahkan untuk menghubungkan modul ini ke
tempat yang jauh. Proses operasi sebenarnya di bawah kendali PLC mungkin
saja jaraknya jauh, dapat saja ribuan meter.

Printer. Alat ini memungkinkan program pada CPU dapat di printout atau
dicetak. Informasi yang mungkin dicetak adalah diagram ladder, status register,
status dan daftar dari kondisi-kondisi yang sedang dijalankan, timing diagram
dari kontak, timing diagram dari register, dan lain-lain.
The Program Recorder / Player.
Alat ini digunakan untuk menyimpan program dalam CPU. Pada PLC yang
lama digunakan tape, sistem floopy disk. Sekarang ini PLC semakin berkembang
dengan adanya hard disk yang digunakan untuk pemrograman dan perekaman.
Program yang telah direkam ini nantinya akan direkam kembali ke dalam CPU
apabila program aslinya hilang atau mengalami kesalahan.
Untuk operasi yang besar, kemungkinan lain adalah menghubungkan CPU
dengan komputer utama (master computer) yang biasanya digunakan pada
pabrik besar atau proses yang mengkoodinasi banyak Sistem PLC .

Konsep Perancangan Sistem Kendali dengan PLC [7][8]
Dalam merancang suatu sistem kendali dibutuhkan pendekatan-pendekatan
sistematis dengan prosedure sebagai berikut :
1. Rancangan Sistem Kendali
Dalam tahapan ini si perancang harus menentukan terlebih dahulu sistem apa yang
akan dikendalikan dan proses bagaimana yang akan ditempuh. Sistem yang
dikendalikan dapat berupa peralatan mesin ataupun proses yang terintegrasi yang sering
secara umum disebut dengan controlled system.
2. Penentuan I/O
Pada tahap ini semua piranti masukan dan keluaran eksternal yang akan
dihubungkan PLC harus ditentukan. Piranti masukan dapat berupa saklar, sensor, valve
dan lain-lain sedangkan piranti keluaran dapat berupa solenoid katup elektromagnetik
dan lain-lain.
3. Perancangan Program (Program Design)
Setelah ditentukan input dan output maka dilanjutkan dengan proses merancang
program dalam bentuk ladder diagram dengan mengikuti aturan dan urutan operasi
sistem kendali.
4. Pemrograman (Programming)
5. Menjalankan Sistem (Run The System)
Pada tahapan ini perlu dideteksi adanya kesalahan-kesalahan satu persatu (debug),
dan menguji secara cermat sampai kita memastikan bahwa sistem aman untuk
dijalankan.
elain fungsi yang telah diceritakan sebelumnya PLC di pakai juga untuk Emergency
Shutdown System (ESD) karena responnya yang cepat dibandingkan DCS .
berikut adalah jenis PLC Programming berdasarkan IEC-61131-3 .. ada lima bahasa
pemrograman yang diakui oleh standar ini..
- Ladder Diagram (LD)
- Function Block Diagram (FBD)
- Instruction List (IL)
- Structure Text (ST)
- Sequential Function Chart (SFC)
yang paling sering dipakai adalah LD tapi saya lebih senang kalo pake FBD.
Memang tergantung background lah kalo orang listrik lebih familiar dengan LD karena
rancangan PLC dari awal adalah menggantikan sistem konvensional relay yang buanyak
banget wiring nya . Sedangkan kalo anak kuliahan biasanya lebih senang FBD karena
biasanya sudah familiar dengan Sistem Digital (Diagram Block AND, OR, dll)
Manufacturer atau pembuat PLC diantaranya sebagai berikut:
Allen Bradley (www.ab.com) -> Nama2 PLC nya: Control Logix, PLC-5, SLC, Flex
Logix, dll. sedangkan software yang dipakai adalah RSLogix dan RSLinx.
http://www.ab.com/programmablecontrol/
Schneider Electric
(http://www.telemecanique.com/en/functions_discovery/function_5_11.htm) ->
Modicon Quantum, Compact, Momentum, Micro, Premium, dll. Software yang di
pakai adalah Concept buat Modicon Quantum, dan ada lagi yang lain .. lupa namanya
euy nanti kalo ketemu saya update lagi .. ;)
Siemens -> S7-400, S7-300, S5 (sudah tidak diproduksi lagi .. cuman masih banyak
yang pakai .. dan masih ada stock). Software yang dipakai Step7 (S7-400 dan S7-300)
dan Step5 (buat S5, masih under DOS tampilannya)
Mitsubishi
GE Fanuc
dll




Apa itu SCADA?
Jun 29
Posted by Amar
SCADA atau Supervisory Control and Data Acquition adalah
sebuah sistem yang dirancang untuk sebuah pengendalian dan pengambilan data dalam
pengawasan (Operator/Manusia). biasanya SCADA digunakan untuk pengendalian suatu
proses pada industri. SCADA merupakan sistem yang terdiri dari banyak komponen
penyusunnya.
Dalam aplikasinya, Subsistem penyusun SCADA terdiri dari:

1. HMI (Human Machine Interface)
2. MTU (Master Terminal Unit)
3. RTU (Remote Terminal Unit)
4. PLC atau Device Lainnya
5. Sistem Komunikasi (Antar MTU dan RTU)
6. Data Acquisition
Berikut merupakan gambaran umum arsitektur SCADA. Klik pada gambar untuk ukuran
penuh.

HMI Adalah subsistem dari SCADA yang berfungsi menampilkan data dari hasil
pengukuran di RTU ataupun menampilkan proses yang sedang terjadi pada keseluruhan
sistem. HMI merupakan sebuah software pada computer berbasis grafis yang berfungsi untuk
mempermudah pengawasan (Supervisory) kepada sang operator. HMI mengubah data-data
dan angka kedalam animasi, grafik/trend, dan bentuk yang mudah diterjemahkan oleh sang
operator.
MTU atau Master Terminal Unit merupakan sebuah sistem komputer(bisa komputer bisa
PLC ataubahkan microcontroller) yang bertugas memberikan data kepada HMI dari RTU. di
lain sisi MTU ini juga bertugas mengambil data dari tiap-tiap RTU (jika RTU lebih dari 1)
untuk diterjemahkan dan di berikan ke HMI. sistem pengambilan data dari tiap-tiap RTU
disebut Polling. terkadang MTU dan HMI dapat dijadikan 1 bagian, ketika MTU
menggunakan komputer yang sama dengan HMI.
RTU atau Remote Terminal Unit adalah subsistem SCADA yang berfungsi sebagai terminal-
terminal (semacam stasiun data) dari hasil pengukuran, pengendalian, pemantauan status dan
lain-lain. RTU juga berfungsi menerjemahkan, mengkonversi, menghitung sinyal dari
transducer seperti pengukuran arus listrik , Flow, Static Pressure, Differensial Pressure,
temperatur, dan lain-lain. dari hasil pengukuran tersebut hal yang dilakukan RTU adalah
melakukan kendali(jika merupakan sistem kendali) kemudian mentransmit data ke MTU atau
langsung mentransmit ke MTU jika sistem di RTU bukan untuk pengendalian (Controlling).
RTU juga dapat berfungsi sebagai pengatur set point yang dikirimkan dari HMI/MTU ke
RTU tersebut.
PLC atau Programmable Logic Controller adalah sebuah controller logic yang dapat
diProgram sesuai kebutuhan kita. PLC pada sistem SCADA biasanya di tempatkan pada
RTU, jadi PLC merupakan subsistem dari RTU. PLC ini bertugas melakukan
pengolahan/pengambilan data dari transducer/sensor transmitter yang juga memungkinkan
untuk melakukan pengendalian pada sistem di RTU tersebut misal digunakan untuk
pengaturan bukaan Valve.
Sistem Komunikasi, merupakan sebuah cara untuk mengkomunikasikan data dari RTU ke
MTU. pada RTU yang terletak jauh dari pusat control (MTU) maka sistem komunikasi
biasanya menggunakan Radio. pada industri tertentu ada yang lebih memilih menggunakan
GSM Radio yang biasanya untuk RTU yang sangat jauh tidak terjangkau dengan radio biasa
atau bisa menggunakan radio biasa namun harus menggunakan beberapa repeater agar radio
pada RTU dapat berkomunikasi dengan Radio pada MTU.













Belajar Dasar SCADA
13:37 Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik 2Komentar
Apa manfaat SCADA bagi Anda?SCADA bukanlah teknologi khusus, tapi lebih
merupakan sebuah aplikasi. Kepanjangan SCADA adalah Supervisory Control And Data
Acquisition, semua aplikasi yang mendapatkan data-data suatu sistem di lapangan dengan
tujuan untuk pengontrolan sistem merupakan sebuah Aplikasi SCADA! Seperti telah dibahas
pada artikel lainnya di sini.

Ada dua elemen dalam Aplikasi SCADA, yaitu:
1. Proses, sistem, mesin yang akan dipantau dan dikontrol - bisa berupa power plant, sistem
pengairan, jaringan komputer, sistem lampu trafik lalu-lintas atau apa saja;
2. Sebuah jaringan peralatan cerdas dengan antarmuka ke sistem melalui sensor dan luaran
kontrol. Dengan jaringan ini, yang merupakan sistem SCADA, membolehkan Anda
melakukan pemantauan dan pengontrolan komponen-
komponen sistem tersebut.

Anda dapat membangun sistem SCADA menggunakan berbagai macam teknologi maupun
protokol yang berbeda-beda.

DIMANAKAH SCADA DIGUNAKAN?

Anda dapat menggunakan SCADA untuk mengatur berbagai macam peralatan. Biasanya,
SCADA digunakan untuk melakukan proses industri yang kompleks secara otomatis,
menggantikan tenaga manusia (bisa karena dianggap berbahaya atau tidak praktis -
konsekuensi logis adalah PHK), dan biasanya merupakan proses-proses yang melibatkan
faktor-faktor kontrol yang lebih banyak, faktor-faktor kontrol gerakan-cepat yang lebih
banyak, dan lain sebagainya, dimana pengontrolan oleh manusia menjadi tidak nyaman lagi.
Sebagai contoh, SCADA digunakan di seluruh dunia misalnya untuk
Penghasil, transmisi dan distribusi listrik: SCADA digunakan untuk mendeteksi besarnya
arus dan tegangan, pemantauan operasional circuit breaker, dan untuk
mematikan/menghidupkan the power grid;
Penampungan dan distribusi air: SCADA digunakan untuk pemantauan dan pengaturan laju
aliran air, tinggi reservoir, tekanan pipa dan berbagai macam faktor lainnya;
Bangunan, fasilitas dan lingkungan: Manajer fasilitas menggunakan SCADA untuk
mengontrol HVAC, unit-unit pendingin, penerangan, dan sistem keamanan.
Produksi: Sistem SCADA mengatur inventori komponen-komponen, mengatur otomasi alat
atau robot, memantau proses dan kontrol kualitas.
Transportasi KA listrik: menggunakan SCADA bisa dilakukan pemantauan dan
pengontrolan distribusi listrik, otomasi sinyal trafik KA, melacak dan menemukan lokasi KA,
mengontrol palang KA dan lain sebagainya.
Lampu lalu-lintas: SCADA memantau lampu lalu-lintas, mengontrol laju trafik, dan
mendeteksi sinyals-sinyal yang salah.

Dan, tentunya, masih banyak lagi aplikasi-aplikasi potensial untuk sistem SCADA. SCADA
saat ini digunakan hampir di seluruh proyek-proyek industri dan infrastruktur umum.

Intinya SCADA dapat digunakan dalam aplikasi-aplikasi yang membutuhkan kemudahan
dalam pemantauan sekaligus juga pengontrolan, dengan berbagai macam media antarmuka
dan komunikasi yang tersedia saat ini (misalnya, Komputer, PDA, Touch Screen, TCP/IP,
wireless dan lain sebagainya).

NGAPAIN JUGA PAKE SCADA?

Coba sekarang pikirkan tanggung-jawab atau tugas Anda di perusahaan, berkaitan dengan
segala macam operasi dan parameter-parameter yang akhirnya mempengaruhi hasil produksi:
Apakah peralatan Anda membutuhkan Catu Daya, suhu yang terkontrol, kelembaban
lingkungan yang stabil dan tidak pernah mati?
Apakah Anda perlu tahu - secara real time - status dari berbagai macam komponen dan
peralatan dalam sebuah sistem kompleks yang besar?
Apakah Anda perlu tahu bagaimana perubahan masukan mempengaruhi luaran?
Peralatan apa saja yang perlu Anda kontrol - secara real time - dari jarak jauh?
Apakah Anda perlu tahu dimanakah terjadinya kesalahan/kerusakan dalam sistem sehingga
mempengaruhi proses?

PEMANTAUAN DAN PENGONTROLAN SECARA REAL-TIME
MENINGKATKAN EFISIENSI DAN MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN

Tanyakan beberapa poin tersebut sebelumnya, saya yakin Anda akan bisa memperkirakan
dimanakah Anda bisa mengaplikasikan SCADA. Bisa jadi Anda akan berkata lagi Terus
ngapain? So What?. Apa yang sebenarnya ingin Anda ketahui adalah hasil secara nyata yang
bagaimanakah yang bisa Anda harapkan dengan mengaplikasikan SCADA?
Berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan dengan Sistem SCADA:
Mengakses pengukuran kuantitatif dari proses-proses yang penting, secara langsung saat itu
maupun sepanjang waktu.
Mendeteksi dan memperbaiki kesalahan secara cepat.
Mengukur dan memantau trend sepanjang waktu.
Menemukan dan menghilangkan kemacetan (bottleneck) dan pemborosan (inefisiensi).
Mengontrol proses-proses yang lebih besar dan kompleks dengan staf-staf terlatih yang
lebih sedikit.

Intinya, sebuah sistem SCADA memberikan Anda keleluasaan mengatur maupuan
mengkonfigurasi sistem. Anda bisa menempatkan sensor dan kontrol di setiap titik kritis di
dalam proses yang Anda tangani (seiring dengan teknologi SCADA yang semakin baik, Anda
bisa menempatkan lebih banyak sensor di banyak tempat). Semakin banyak hal yang bisa
dipantau, semakin detil operasi yang bisa Anda lihat, dan semuanya bekerja secara real-time.
Tidak peduli sekompleks apapun proses yang Anda tangani, Anda bisa melihat operasi proses
dalam skala besar maupun kecil, dan Anda setidaknya bisa melakukan penelusuran jika
terjadi kesalahan dan sekaligus meningkatkan efisiensi. Dengan SCADA, Anda bisa
melakukan banyak hal, dengan ongkos lebih murah dan, tentunya, akan meningkatkan
keuntungan!

Contoh Arsitektur SCADA

Bagaimana SCADA bekerja?

Sebuah sistem SCADA memiliki 4 (empat) fungsi , yaitu:
1. Akuisisi Data,
2. Komunikasi data jaringan,
3. Peyajian data, dan
4. Kontrol (proses)

Fungsi-fungsi tersebut didukung sepenuhnya melalui 4 (empat) komponen SCADA, yaitu:
1. Sensor (baik yang analog maupun digital) dan relai kontrol yang langsung berhubungan
dengan berbagai macam aktuator pada sistem yang dikontrol;
2. RTUs (Remote Telemetry Units). Merupakan unit-unit komputer kecil (mini),
maksudnya sebuah unit yang dilengkapi dengan sistem mandiri seperti sebuah komputer,
yang ditempatkan pada lokasi dan tempat-tempat tertentu di lapangan. RTU bertindak sebagai
pengumpul data lokal yang mendapatkan datanya dari sensor-sensor dan mengirimkan
perintah langsung ke peralatan di lapangan;
3. Unit master SCADA (Master Terminal Unit - MTU). Kalo yang ini merupakan komputer
yang digunakan sebagai pengolah pusat dari sistem SCADA. Unit master ini menyediakan
HMI (Human Machine Iterface) bagi pengguna, dan secara otomatis mengatur sistem sesuai
dengan masukan-masukan (dari sensor) yang diterima;
4. Jaringan komunikasi, merupakan medium yang menghubungkan unit master SCADA
dengan RTU-RTU di lapangan.

SISTEM SCADA PALING SEDERHANA DI DUNIA!

Sistem SCADA yang paling sederhana yang mungkin bisa dijumpai di dunia adalah sebuah
rangkaian tunggal yang memberitahu Anda sebuah kejadian (event). Bayangkan sebuah
pabrik yang memproduksi pernak-pernik, setiap kali produk pernak-pernik berhasil dibuat,
akan mengaktifkan sebuah saklar yang terhubungkan ke lampu atau alarm untuk
memberitahukan bahwa ada satu pernak-pernik yang berhasil dibuat.
Tentunya, SCADA bisa melakukan lebih dari sekedar hal sederhana tersebut. Tetapi
prinsipnya sama saja, Sebuah sistem SCADA skala-penuh mampu memantau dan (sekaligus)
mengontrol proses yang jauh lebih besar dan kompleks.

AKUISISI DATA

Pada kenyataannya, Anda membutuhkan pemantauan yang jauh lebih banyak dan kompleks
dari sekedar sebuah mesin yang menghasilkan sebuah produk (seperti contoh sebelumnya).
Anda mungkin membutuhkan pemantauan terhadap ratusan hingga ribuan sensor yang
tersebar di seluruh area pabrik. Beberapa sensor digunakan untuk pengukuran terhadap
masukan (misalnya, laju air ke reservoir), dan beberapa sensor digunakan untuk pengukuran
terhadap luaran (tekanan, massa jenis, densitas dan lain sebagainya).

Beberapa sensor bisa melakukan pengukuran kejadian secara sederhana yang bisa dideteksi
menggunakan saklar ON/OFF, masukan seperti ini disebut sebagai masukan diskrit atau
masukan digital. Misalnya untuk mengetahui apakah sebuah alat sudah bekerja (ON) atau
belum (OFF), konveyornya sudah jalan (ON) atau belum (OFF), mesinnya sudah mengaduk
(ON) atau belum (OFF), dan lain sebagainya. Beberapa sensor yang lain bisa melakukan
pengukuran secara kompleks, dimana angka atau nilai tertentu itu sangat penting, masukan
seperti ini disebut masukan analog, bisa digunakan untuk mendeteksi perubahan secara
kontinu pada, misalnya, tegangan, arus, densitas cairan, suhu, dan lain sebagainya.

Untuk kebanyakan nilai-nilai analog, ada batasan tertentu yang didefinisikan sebelumnya,
baik batas atas maupun batas bawah. Misalnya, Anda ingin mempertahankan suhu antara 30
dan 35 derajat Celcius, jika suhu ada di bawah atau diatas batasan tersebut, maka akan
memicu alarm (baik lampu dan/atau bunyi-nya). Terdapat empat alarm batas untuk sensor
analog: Major Under, Minor Under, Minor Over, dan Major Over Alarm.

KOMUNIKASI DATA

Dari contoh sederhana pabrik pernak-pernik, yang dimaksud jaringan pada kasus tersebut
adalah sekedar kabel yang menghubungkan saklar dengan panel lampu. Kenyataannya,
seringkali Anda ingin memantau berbagai macam parameter yang berasal dari berbagai
macam sensor di lapangan (pabrik), dengan demikian Anda membutuhkan sebuah jaringan
komunikasi untuk melakukannya.
Pada awalnya, SCADA melakukan komunikasi data melalui radio, modem atau jalur kabel
serial khusus. Saat ini data-data SCADA dapat disalurkan melalui jaringan Ethernet atau
TCP/IP. Untuk alasan keamanan, jaringan komputer untuk SCADA adalah jaringan komputer
lokal (LAN - Local Area Network) tanpa harus mengekspos data-data penting di Internet.

Komunikasi SCADA diatur melalui suatu protokol, jika jaman dahulu digunakan protokol
khusus yang sesuai dengan produsen SCADA-nya, sekarang sudah ada beberapa standar
protokol yang ditetapkan, sehingga tidak perlu khawatir masalah kecocokan komuninkasi
lagi.

Karena kebanyakan sensor dan relai kontrol hanyalah peralatan listrik yang sederhana, alat-
alat tersebut tidak bisa menghasilkan atau menerjemahkan protokol komunikasi. Dengan
demikian dibutuhkan RTU yang menjembatani antara sensor dan jaringan SCADA. RTU
mengubah masukan-masukan sensor ke format protokol yang bersangkutan dan mengirimkan
ke master SCADA, selain itu RTU juga menerima perintah dalam format protokol dan
memberikan sinyal listrik yang sesuai ke relai kontrol yang bersangkutan.

Gambar Contoh Jaringan pada Sistem SCADA

PENYAJIAN DATA

Untuk kasus pabrik pernak-pernik kita, satu-satunya tampilan adalah sebuah lampu yang akan
menyala saat saklar diaktifkan. Ya, tentu saja kenyataannya bisa puluhan hingga ratusan
lampu, bayangkan siapa yang akan Anda minta untuk mengawasi lampu-lampu tersebut,
emangnya lampu hiasan? Bukan khan?
Sistem SCADA melakukan pelaporan status berbagai macam sensor (baik analog maupun
digital) melalui sebuah komputer khusus yang sudah dibuatkan HMI-nya (Human Machine
INterface) atau HCI-nya (Human Computer Interface). Akses ke kontrol panel ini bisa
dilakukan secara lokal maupun melalui website. Bahkan saat ini sudah tersedia panel-panel
kontrol yang TouchScreen. Perhatikan contoh-contoh gambar dan penjelasan pada STUDI
KASUS.

Gambar Contoh akses SCADA melalui website KONTROL

Sayangnya, dalam contoh pabrik pernak-pernik kita tidak ada elemen kontrol. Baiklah, kita
tambahkan sebuah kontrol. Misalnya, sekarang operator juga memiliki tombol pada panel
kontrol. Saat dia klik pada tombol tersebut, maka saklar di pabrik juga akan ON.
Okey, jika kemudian Anda tambahkan semua kontrol pabrik ke dalam sistem SCADA
melalui HMI-nya, maka Anda mendapatkan sebuah kontrol melalui komputer secara penuh,
bahkan menggunakan SCADA yang canggih (hampir semua produk perangkat lunak SCADA
saat ini sudah canggih-canggih) bisa dilakukan otomasi kontrol atau otomasi proses, tanpa
melibatkan campur tangan manusia. Tentu saja, Anda masih bisa secara manual
mengontrolnya dari stasion master.

Tentunya, dengan bantuan SCADA, proses bisa lebih efisien, efektif dan meningkatkan profit
perusahaan.

Bagaimana mengevaluasi Sistem dan Perangkat Keras SCADA?

Okey, sekarang persoalannya adalah petunjuk bagaimana memilih dan memilah sistem
SCADA yang baik. Apalagi sistem SCADA akan Anda gunakan hingga 10 sampai 15 tahun
yang akan datang, tentunya Anda harus mencari produk-produk yang terkenal reputasinya.
Namun hal ini akan berdampak pada investasi yang harus dilakukan, sebuah produk dengan
reputasi handal dan terkenal tentu harganya jauh lebih mahal dibandingkan produk-produk
SCADA baru yang saat ini mulai banyak bermunculan.
Ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan, antara lain:
Anda bisa menghabiskan masa depan pabrik dengan ongkos berlebih yang tidak perlu;
Kadangkala setelah menghabiskan dana yang sangat besar, akhirnya Anda hanya
mendapatkan sebuah sistem yang kurang atau bahkan tidak memenuhi apa yang diinginkan;
Atau barangkali saat ini sistem betul-betul memenuhi kebutuhan, tetapi tidak untuk
pengembangan masa depan.

Catatan singkat mengenai Sensor dan Jaringan

Sensor dan relai kontrol merupakan komponen yang penting. Tentu saja, ada beberapa sensor
yang lebih baik daripada lainnya, namun tersedianya datasheet untuk sebuah sensor akan
membantu Anda mengenali lebih detil dari sensor yang bersangkutan, sehingga Anda bisa
memilih mana yang terbaik.
Sebuah jaringan (LAN/WAN) berbasis TCP/IP merupakan jaringan yang mudah digunakan,
dan jika pabrik Anda belum semuanya memiliki jaringan, transisi ke jaringan LAN bisa jadi
merupakan tujuan jangka panjang perusahaan. Namun Anda tidak perlu langsung
menerapkan jaringan LAN semuanya untuk mendapatkan keuntungan dari penggunaan
SCADA. Sistem SCADA yang baik akan mendukung jaringan lama Anda dan jaringan LAN,
sehingga Anda bisa melakukan transisi secara bertahap.

Berikut saya sampaikan beberapa petunjuk (dari pengalaman dan beberapa rujukan dari
online maupun offline) dalam membangun sistem SCADA terutama masalah pemilihan RTU
dan MTU.

Apa yang perlu Anda perhatikan dalam memilih SCADA RTU

SCADA RTU Anda harus mampu berkomunikasi dengan segala macam peralatan yang di
pabrik dan bisa bertahan terhadap berbagai macam kondisi industri (panas, dingin, tekanan
dan lain sebagainya). Berikut ceklis untuk pemilihan RTU yang berkualitas:
Kapasitas yang cukup untuk mendukung berbagai macam peralatan di pabrik (dalam
cakupan SCADA yang diinginkan), tetapi tidak lebih dari yang dibutuhkan. Jangan sampai
Anda membeli RTU dengan kapasitas yang berlebih sedemikian hingga akhirnya tidak akan
pernah digunakan, ini adalah pemborosan.
Konstruksi yang tahan banting dan kemampuan bertahan terhadap suhu dan kelembaban
yang ekstrim. Sudah jelas khan? Kalo tidak tahan banting dan tidak bisa bertahan buat apa
pasang RTU tersebut? Bisa jadi hasil pengukuran menjadi tidak akurat dan alat jebol.
Catu daya yang aman dan berlimpah. Sistem SCADA seringkali harus bekerja penuh 24 jam
setiap hari. Seharusnya digunakan RTU yang mendukung penggunaan daya dari baterei,
idealnya, ada dua sumber catu daya (listrik dan baterei).
Port komunikasi yang cukup. Koneksi jaringan sama pentingnya seperti catu daya. Port
serial kedua atau modem internal bisa menjaga agar RTU tetap online walaupun jaringan saat
itu sedang rusak atau gagal. Selain itu, RTU dengan port komunikasi beragam dapat
mendukung strategi migrasi LAN.
Memori nonvolatile (NVRAM) untuk menyimpan firmware. NVRAM dapat menyimpan
data walaupun catu daya dimatikan. Firmware baru (hasil modifikasi dan lain sebagainya)
dapat diunduh ke penyimpan NVRAM melalui jaringan, sehingga kemampuan RTU akan
selalu up-to-date (terbaharui) tanpa harus mengunjungi lokasi RTU yang bersangkutan.
Kontrol cerdas. Sistem SCADA yang canggih saat ini bisa melakukan kontrol dengan
sendirinya sesuai dengan program atau pengaturan yang dimasukkan, terutama tanggapan
terhadap berbagai macam masukan sensor-sensor. Ini jelas tidak perlu untuk semua aplikasi,
namun menawarkan kemudahan operasional.
Jam waktu-nyata (real-time clock). untuk pencetakan tanggal/waktu pada laporan secara
tepat dan akurat;
Pewaktu watchdog yang memastikan RTU bisa start-ulang setelah terjadinya kegagalan
daya (power failure).

Tipikal arsitetur RTU

Apa yang perlu Anda perhatikan dalam memilih SCADA MTU

SCADA master atau MTU harus mampu menampilkan berbagai informasi dalam bentuk
yang familiar bagi pengguna atau operator-nya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
berkaitan dengan SCADA MTU:
Fleksibel, tanggapan terhadap sensor bisa diprogram. Cari sistem yang menyediakan
perangkat yang mudah untuk memprogram soft alarm (laporan kejadian yang kompleks yang
merupakan kombinasi antara masukan sensor dan pernyataan tanggal/jam) dan soft control
(tanggapan terhadap sensor yang bisa diprogram).
Bekerja penuh 24/7, peringatan melalui SMS (pager) dan pemberitahuan email secara
otomatis. Anda tidak perlu mempekerjakan orang untuk mengamati papan pemantauan 24
jam sehari. Jika peralatan membutuhkan campur tangan manusia, maka secara otomatis
sistem akan mengirimkan peringatan melalui SMS atau email ke penanggung-jawab yang
bersangkutan.
Tampilan informasi secara detil. Tentunya Anda ingin sebuah sistem yang menampilkan
dalam bahasa harian Anda (Inggris, Indonesia, dll) yang jelas dan sederhana, dengan
penjelasan yang lengkap terhadap aktivitas yang sedang terjadi dan bagaimana Anda
seharusnya menangani atau menanggapinya.
Tapis untuk alarm mengganggu (tidak perlu). Alarm-alarm yang mengganggu akan
membuat para staff menjadi tidak peka lagi terhadap pelaporan alarm, dan mereka mulai
percaya bahwa semua alarm merupakan alarm menganggu. Akhirnya mereka akan berhenti
menanggapi semua alarm termasuk alarm yang kritis (alarm yang benar-benar harus
mendapatkan perhatian). Gunakan SCADA yang dapat menapis dan memilah-milah alarm-
alarm mana yang mengganggu dan yang kritis.
Kemampuan pengembangan kedepan. Sebuah sistem SCADA merupakan investasi jangka
panjang (10 hingga 15 tahun). Sehingga Anda perlu memastikan kemampuan SCADA untuk
pengembangan dalam jangka waktu 15 tahun kedepan.
Pencadangan yang beragam. Sistem SCADA yang baik mendukung berbagai macam
pencadangan master, di beberapa lokasi. Jika master SCADA utama gagal, master yang
kedua dalam jaringan akan mengambil alih secara otomatis, tanpa adanya interupsi fungsi
pemantauan dan pengontrolan.
Mendukung berbagai macam tipe protokol dan peralatan. Jika jaman dulu SCADA hanya
dbuat untuk protokol-protokol tertentu yang tertutup. Solusi vendor tunggal bukan merupakn
ide yang bagus - seringkali vendor tidak lagi menyediakan dukungan untuk produk-produk
mereka. Dukungan terhadap berbagai macam protokol yang terbuka akan mengamankan
sistem SCADA Anda dari keusangan yang tak-terencana.