Anda di halaman 1dari 25

1

SKENARIO 3
KLINIK DOKTER KELUARGA
Dr. Ahmad, 31 tahun, praktek di sebuah klinik dokter keluarga. Klinik ini dikelola
dengan manajemen yang baik sehingga dalam waktu yang relatif singkat mengalami
kemajuan yang cukup pesat dan dikenal luas di masyarakat.
Suatu hari hari klinik ini dikunjungi seorang pasien, Ny. A, 38 tahun dengan
kehamilan trimester 1 pada G5P2A2. Pasien ingin melakukan pemeriksaan kehamilan secara
rutin di klinik Dr. Ahmad karena pasien mendapat informasi bahwa pelayanan di klinik ini
baik. Pasien mempunyai keluhan sering mual, muntah, lemas, cepat lelah, dan sesak. Dokter
kemudian melakukan pemeriksaan sesuai prosedur pemeriksaan standar dokter keluarga
bersama bidan. Sebagai dokter muslim, Dr. Ahmad sangat memperhatikan adab dan tata cara
pemeriksaan dan penanganan pasien sesuai ajaran Islam.
Pada pemeriksaan ditemukan bahwa kandungan dalam kondisi yang baik namun ibu
tampak pucat, takikardi, murmur, takipnea dan terdapat nyeri tekan epigastrium.
Dr. Ahmad menyarankan agar pasien mengikuti pemeriksaan ANC secara teratur dan
direncanakan menjelang partus pasien akan dirujuk ke spesialis Obgyn yang sudah bekerja
sama dengan klinik dokter keluarga tersebut.
Pasien menanyakan ke dokter tentang pilihan pembiayaan persalinan, mengingat
kemungkinan membutuhkan biaya yang lebih besar. Dr. Ahmad kemudian menjelaskan
tentang sistem pembiayaan kesehatan.

2

I. LANGKAH 1
Kata-kata sulit:
a. Manajemen : Pengelolaan
b. G5P2A2 : Riwayat persalinan seseorang
c. Adab : Kebiasaan yang mengarah pada etika
d. ANC : Antenatal Care / pemeriksaan kehamilan
e. Klinik : Fasilitas kesehatan publik kecil yang didirikan untuk memberikan
perawatan pada pasien
Pertanyaan:
1. Bagaimana manajemen yang baik dalam sebuah klinik?
2. Apa saja pemeriksaan standar dalam klinik dokter keluarga?
3. Apa saja bentuk kerjasama antara klinik dokter keluarga dengan dokter spesialis?
4. Bagaimana cara melakukan rujukan?
5. Apa yang dimaksud dengan sistem pembayaran kesehatan?
6. Apa saja adab dan tatacara pemeriksaan dan penanganan pasien sesuai ajaran Islam?

Jawaban:
1. - Ada dokter
- SDM yang baik
- Ada perawat
- Administrasi yang jelas
- Ada lab, apotek
- Lingkungan baik, bersih dan
strategis
2. Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (jika ada indikasi)
3. Merujuk pasien, bekerjasama dalam pengobatan pasien
4. Pasien diberi informasi yang jelas kenapa harus dirujuk ke dokter spesialis yang sudah
bekerjasama dengan klinik dokter keluarga
5. Sistem pembayaran kesehatan yang dilakukan pasien yang terbagi 2 jenis, yaitu: asuransi
dan pribadi
6. - Diawali dengan bismillah
- Diusahakan sesuai gender atau didampingi oleh keluarga / tenaga medis lain
- Empati
- 5 S (senyum, sapa, salam, sopan, santun)






3

Hipotesis:



























Pasien
G5P2A2
Klinik
kedokteran
keluarga
Manajemen
yang baik
Standar
pemeriksaan
yang baik dan
Islami
Kerjasama yang baik
antara klinik dokter
keluarga dan dokter
spesialis
Sistem pembiayaan kesehatan
4



SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Prosedur Pemeriksaan Standar Kedokteran Keluarga
2. Memahami dan Menjelaskan Manajemen Klinik Dokter Keluarga
3. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pembiayaan Kesehatan di Klinik Dokter Keluarga
4. Memahami dan Menjelaskan Peran Dokter Serta Mitra Kerjanya Dalam Pelayanan
Kedokteran Keluarga
5. Memahami dan Menjelaskan Sistem Rujukan Pada Klinik Dokter Keluarga
6. Memahami dan Menjelaskan Adab dan Tatacara Dokter Muslim Dalam Menangani
Pasien

II. LANGKAH 2
Kegiatan Mandiri

5

III. LANGKAH 3
LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Prosedur Pemeriksaan Standar Kedokteran
Keluarga
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
3. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
4. Prognosis
5. Konseling : membantu pasien (dan keluarga) untuk menentukan pilihanterbaik penatalaksanaan untuk
pasien sendiri.
6. Konsultasi : jika diperlukan, dokter keluarga dapat melakukan konsultasike dokter lain (dokter keluarga
lain, dokter keluarga konsultan, dokterspesialis, atau dinas kesehatan) yang dianggap lebih
berpengalaman.
7. Rujukan
8. Tindak lanjut
9. Pengobatan rasional
10. Pembinaan keluarga : dilakukan bila dinilai bahwa penatalaksanaan pasienakan lebih baik jika adanya
partisipasi keluarga.

LI. 2. Memahami dan Menjelaskan Manajemen Klinik Dokter Keluarga
Jenis klinik dokter keluarga
Standard pelayanan
Syarat SDM dalam klinik dokter keluarga:
Dokter: 2
Bidan: 1
Asisten analis: 1 (honor)
6

Asisten apoteker: 1
Staf administrasi dan keuangan: 1
OB: 1
1. Ruang tunggu :
Bersih
Terang
Ventilasi baik
Lantai tidak licin
Tidak berbau
Tidak bising
Suhu nyaman
Terpisah dari pasien infeksius
2. Kerahasiaan dan privasi
Ruang konsultai terpisah dari ruang tunggu
Sistem yang menjamin kerahasiaan medik
Menjamin kerahasiaan pasien setelah pelayanan

3. Bangunan dan interior
Merupakan bangunan permanen atau semi permanen yang dirancang sesuai pelayanan
medis strata pertama yang aman dan terjangkau
Memiliki ruang :
o Ruang administrasi
o Ruang tunggu
o Ruang pemeriksaan
o Kamar kecil
o Dapat melindungi dari panas dan
hujan
o Relatif mudah diberishkan
o Mempunyai ventilasi cukup atau ber
ac
o Mempunyai sinar yang cukup

4. Alat komunikasi
Memiliki alat komunikasi yang biasa digunakan masyarakat sekitar

5. Papan nama
Poisis papan nama mudah dibaca
Tidak ada hiasan maupun lampu warna
Ukuran minimal 40x60cm maksimal 60x90cm
Warna dasar putih dengan huruf balok warna hitam
Memuat nama dokter,sip,alamat praktek ,dan jadwal praktek.

6. Peralatan klinik
Memiliki alat alat pemeriksaan fisik sebagai berikut :
o Alat tes sensasi
kulit
o Auriskop
o Lampu senter
dan kepala
o Palu refleks
o Peak flow
meter
o Ophtalmoscop
o Penekan lidah
o Pengukur tinggi
badan
o Snellen chart
o Spekulum vagina
o Stetoskop
o Tensimeter
o Termometer
o Timbangan badan
o Memiliki alat
laboratorium
o Alat monitoring gula
darah
o Alat pengukur kadar
hemoglobin
o Alat pemulas sediaan
gram
o Alat pemulas sediaan
basah
o Gelas obyek dan
penutup
o Mikroskop

Memiliki alat tidanakan sebagai berikut
7

o Bak instrumen
mental
o Benang otot
dan sutra
o Forsep hemostatik
o Gunting perban
o Jarum kulit
o Jarum suntik
o Kapas,perban,plester
o Minor set
o Peralatan resusitasi

Tas dokter untuk perawatan rumah
o Alat penekan
lidah forsep
hemostat
o Jarum suntik
o Kapas dan
alkohol
o Lampu senter
o Obat2an
o Pali refleks
o Spuit
o Stetoskop
o Tensimeter
o Termometer
o Peralatan luka
o Kasa
o Antiseptik
o Larutan irigasi
o Perangkat intravena
o Kateter

Persediaan obat
o Adrenalin
o Kortokosteroid
o Antihistamin
o Analgetik
o Anti asma
o Anti konvulsan
o Cairan infus
o Parasetamol
o Nsaid
o Obat luka
o Anti konvulsan
o Spasmolitik
o Anestesi lokal
o Metode kontrasepsi
Manajemen klinik
Peningkatan Kemampuan & Pengembangan Staf
o Bentuk: Kursus, pelatihan, pendidikan formal,dll
o Bentuk Lain: Selia Bestari (peer review) di antara sesama staf (medis dan non-medis)
Pengaturan: Bisa dibuat perjanjian tersendiri
o Proses: berdasarkan permintaan karyawan atau kebutuhan KDK
Untuk tenaga medis
o PKB (pendidikan kedokteran berkelanjutan) Seminar, Simposium, Lokakarya.
o Peer Review: Pembahasan kasus secara EBM
o Kursus singkat untuk satu ketrampilan tertentu (ATLS, ACLS, EKG, Kepemimpinan,
dll)
o Pendidikan formal (S2 Aktuaria, S2 Kesehatan Kerja, dll)
Untuk paramedis
o Kursus keperawatan
o Peer Review: Diskusi kelompok
o membahas satu masalah (rutin)
o Kursus Manajemen pengelolaan
o keperawatan di klinik (asuhan
keperawatan,dll)
o Pendidikan formal seperti Akademi
Keperawatan, Akademi Kebidanan, dll
Untuk tenaga non-medis
o Kursus penggunaan alat tertentu
o Kursus Manajemen laboratorium,
o Pemeriksaan Kesehatan Berkala
o Pendidikan Formal seperti Akademi Penata Rontgen, AKK, Kursus perpajakan


8

LI. 3. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pembiayaan Kesehatan di Klinik Dokter
Keluarga
Keuangan dalam praktik DOGA tercatat secara seksama dengan cara yang umum dan bersifat
transparansi. Manajemen keuangannya dapat mengikuti sistem pembiayaan praupaya maupun
sistem pembiayaan fee for service.
BPJS : Badan Pengelola Jaminan Sosial
Manajemen Pembiayaan Klinik Doga:
Berdasarkan bagan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem pembiayaan klinik dokter
keluarga dapat berasal dari asuransi sosial, asuransi komersial, dan out of pocket. Model
pembiayaan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan.
Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga tentu diperlukan tersedianya
dana yang cukup. Tidak hanya untuk pengadaan pelbagai sarana dan prasarana medis dan non
medis yang diperlukan (investment cost), tetapi juga untuk membiayai pelayanan dokter
keluarga yang diselenggarakan (operational cost) Seyogiyanyalah semua dana yang
diperlukan ini dapat dibiayai oleh pasien dan atau keluarga yang memanfaatkan jasa
pelayanan dokter keluarga. Masalah kesehatan seseorang dan atau keluarga adalah tanggung
9

jawab masing-masing orang atau keluarga yang bersangkutan. Untuk dapat mengatasi
masalah kesehatan tersebut adalah amat diharapkan setiap orang atau keluarga bersedia
membiayai pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya.
Mekanisme pembiayaan yang ditemukan pada pelayanan kesehatan banyak macamnya.
Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, pembiayaan
secara tunai (fee for service), dalam arti setiap kali pasien datang berobat diharuskan
membayar biaya pelayanan. Kedua, pembiayaan melalui program asuransi kesehatan (health
insurance), dalam arti setiap kali pasien datang berobat tidak perlu membayar secara tunai,
karena pembayaran tersebut telah ditanggung oleh pihak ketiga, yang dalam hat ini adalah
badan asuransi.
Tentu tidak sulit dipahami, tidaklah kedua cara pembiayaan ini dinilai sesuai untuk
pelayanan dokter keluarga. Dari dua cara pembiayaan yang dikenal tersebut, yang dinilai
sesuai untuk pelayanan dokter keluarga hanyalah pembiayaan melalui program asuransi
kesehatan saja. Mudah dipahami, karena untuk memperkecil risiko biaya, program asuransi
sering menerapkan prinsip membagi risiko (risk sharing) dengan penyelenggara pelayanan,
yang untuk mencegah kerugian, tidak ada pilihan lain bagi penyelenggara pelayanan tersebut,
kecuali berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, dan atau mencegah para anggota
keluarga yang menjadi tanggungannya untuk tidak sampai jatuh sakit. Prinsip kerja yang
seperti ini adalah juga prinsip kerja dokter keluarga.

Bentuk - Bentuk Pembiayaan Pra-Upaya
Mengingat bentuk pembayaran pra-upaya banyak menjanjikan keuntungan, maka pada
saaat ini bentuk pembayaran pra-upaya tersebut banyak diterapkan. Pada dasarnya ada tiga
bentuk pembiayaan secara pra-upaya yang dipergunakan.
Ketiga bentuk yang dimaksud adalah:
1. Sistem kapitasi (capitation system)
Yang dimaksud dengan sistem kapitasi adalah sistem pembayaran dimuka yang
dilakukan oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan
kesepakatan harga yang dihitung untuk setiap peserta untuk jangka waktu tertentu. Dengan
sistem pembayaran ini, maka besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada
penyelenggara pelayanan yang tidak ditentukan oleh frekwensi penggunaan pelayanan
kesehatan oleh peserta, melainkan ditentukan oleh jumlah peserta dan kesepakatan jangka
waktu jaminan.
2. Sistem paket (packet system)
Yang dimaksud dengan sistem paket adalah sistem pembayaran di muka yang
dilakukan oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan
kesepakatan harga yang dihitung untuk suatu paket pelayanan kesehatan tertentu. Dengan
sistem pembayaran ini, maka besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada
penyelenggara pelayanan kesehatan tidak ditentukan oleh macam pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan, melainkan oleh paket pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan.
Penyakit apapun yang dihadapi, jika termasuk dalam satu paket pelayanan yang sama,
mendapatkan biaya dengan besar yang sama. Sistem pernbiayaan paket ini dikenal pula
dengan nama sistem pembiayaan kelompok diagnosis terkait (diagnosis related group)
yang di banyak negara maju telah lama diterapkan.
10

3. Sistem anggaran (budget system)
Yang dimaksud dengan sistem anggaran adalah sistem pembayaran di muka yang
dilakukan oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan kesehatan berdasarkan
kesepakatan harga, sesuai dengan besarnya anggaran yang diajukan penyelenggara
pelayanan kesehatan. Sama halnya dengan sistern paket, pada sistem anggaran ini,
besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada penyelenggara pelayanan
kesehatan tidak ditentukan oleh macam pelayanan kesehatan yang diselenggarakan,
melainkan oleh besarnya anggaran yang telah disepakati.
Info terbaru terkait sistem pembiayaan dalam SKN:
Salah satu solusi yang dilakukan dalam sumber pembiayaan (termasuk nantinya
pembiayaan praktek dokter keluarga) untuk menyelenggarakan Sistem Kesehatan
Nasional yang baik adalah dengan menyelenggarakan amanat Undang-Undang Sistem
Jaminan Sosial Nasional. Undang-Undang yang telah ditetapkan tahun 2004 ini
mengalami kendala dalam realisasinya terkait pembentukan badan penyelenggaranya
(BPJS) yang seharusnya telah ditetapkan saat 2009. Akhirnya pada hari rabu, 28 oktober
2011 sekitar pukul 20.40 WIB, RUU BPJS disahkan menjadi UU BPJS dengan
kesepakatan bahwa BPJS I yang mengurus jaminan kesehatan diselenggarakan oleh
ASKES akan mulai beroperasi pada tanggal 1 januari 2014. Sedangkan BPJS II
(Jamsostek, Taspen, dan Asabri) yang mengurus ketenagakerjaan selambat-lambatnya
beroperasi 1 juli 2015. Dengan demikian diharapkan penyelenggaraan sistem dokter
keluarga dapat menjadi lebih baik.

Pemakai jasa pelayanan yaitu besarnya dana yang dikeluarkan untuk dapat memanfaatkan
suatu upaya kesehatan
Terdapat 3 jenis pembiayaan kesehatan berdasarkan ideologi negara di dunia, yaitu :
1. Sosialis (welfare state). Pada negara-negara tersebut, negara mempunyai kewajiban
penuh untuk memenuhi biaya kesehatan. Bisa juga disebut tanggungan negara 100%.
2. Liberalis-kapitalis. Di sini biaya kesehatan diserahkan pada mekanisme pasar atau
pemerintah tidak menanggung biaya kesehatan) sehingga pelayanan kesehatan menjadi
berorientasi pada keuntungan semata.
3. Kombinasi antara sosialis dan kapitalis. Biaya kesehatan pada negara yang mengacu
sistem pembiayaan kombinasi ditanggung oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Berdasarkan dari jenis pembiayaan kesehatan tersebut, dapat ditentukan Indonesia
mengikuti sistem kombinasi dimana pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat sama-sama
menanggung beban pembiayaan kesehatan.

Jenis biaya kesehatan
Dilihat dari pembagian pelayanan kesehatan, biaya kesehatan dibedakan:
1. Biaya pelayanan kedokteran yaitu biaya untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kedokteran, tujuan utamanya lebih ke arah pengobatan dan
pemulihan dengan sumber dana dari sektor pemerintah maupun swasta.
2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat yaitu biaya untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat, tujuan utamanya lebih ke arah
11

peningkatan kesehatan dan pencegahan dengan sumber dana terutama dari sektor
pemerintah.
Sumber biaya kesehatan
Pelayanan kesehatan dibiayai dari berbagai sumber, yaitu :
1. Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten
atau koya) dengan dana berasal dari pajak (umum dan penjualan), deficit financial
(pinjaman luar negeri) serta asuransi sosial.
2. Swasta, dengan sumber dana dari perusahaan, asuransi kesehatan swasta, sumbangan
sosial, pengeluaran rumah tangga serta communan self help.
Metode pembayaran di KDK
Metode pembayaran di klinik dokter keluarga:
1. Fee for service
2. Asuransi, ciri asuransi di klinik kedokteran keluarga:
a. Dokter keluarga melakukan pembinaan kesehatan pada keluarga yang menjadi
kliennya. Targetnya adalah penurunan angka kesakitan. Bentuknya berapa kunjungan
secara berkala ke rumah asien dan memberikan penyuluhan.
b. Dokter dibayar secara flat setiap bulannya, bukan berdasarkan jumlah kasus yang
ditangani.
c. Bila jumlah kasus sedikit maka dokter untung, namun bila banyak maka dokter tidak
akan memperoleh keuntungan.
d. Premi ditetapkan secara kapitasi, yaitu dihitung berdasarkan faktor resiko dari setiap
individu, frekuensi terjadinya penyakit dalam setahun, dan kemungkinan biaya yang
dibutuhkan bila ia sakit
Macam-macam biaya kesehatan:
Tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
dan atau dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kedokteran,
maka biaya kesehatan tersebut. Secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni:
1. Biaya pelayanan kedokteran
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan intuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kedokteran. Yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati
penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.
2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Yakni yang tujuan utamanya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.



12

Biaya kesehatan dapat dilihat dari dua sudut:
1. Penyedia pelayanan kesehatan (health provider)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan
dan lebih menunjuk pada seluruh biaya investasi (investment cost) dan biaya operasional
(operational cost). Ini merupakan persoalan utama dari pihak pemerintah atau swasta
yakni pihak-pihak yang menyelenggarakan upaya kesehatan.
2. Pemakai jasa kesehatan (health consumer)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan.ini
menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan.

Unsur-unsur Pembiayaan Kesehatan
Dana
Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait,
dari masyarakat, maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk mendukung
pelaksanaan pembangunan kesehatan. Dana yang tersedia harus mencukupi dan dapat
dipertanggung-jawabkan.
Sumber daya
Sumber daya pembiayaan kesehatan terdiri dari: SDM pengelola, standar, regulasi dan
kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya
penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung
terselenggaranya pembangunan kesehatan.
Pengelolaan Dana Kesehatan
Prosedur/Mekanisme Pengelolaan Dana Kesehatan adalah seperangkat aturan yang
disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan
kesehatan, baik oleh Pemerintah secara lintas sektor, swasta, maupun masyarakat yang
mencakup mekanisme penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan.

Tujuan Pembiayaan Kesehatan
Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil
dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, untuk menjamin terselenggaranya
pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya.

Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:
a. Mengupayakan kecukupan dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pafa tingkat pusat
dan daerah
b. Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan pembiayaan
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan rentan melalui
pengembangan jaminan
c. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan

13

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memberi fokus strategi pembiayaan kesehatan yang
memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan program aksi itu pada
umumnya adalah dalam area sebagai berikut:
a. Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan
b. Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan permeliharaan kesehatan
masyarakat miskin
c. Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi kesehatan
sosial (shi)
d. Penggalian dukungan nasional dan internasional
e. Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional
f. Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan fakta
ilmiah
g. Pemantauan dan evaluasi.

Prinsip Subsistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia
1. Jumlah dana untuk kesehatan harus cukup tersedia dan dikelola secara berdaya-guna, adil
dan berkelanjutan yang didukung oleh transparansi dan akuntabilitas.
2. Dana pemerintah diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perorangan bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin.
3. Dana masyarakat diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan perorangan yang
terorganisir, adil, berhasil-guna dan berdaya-guna melalui jaminan pemeliharaan
kesehatan baik berdasarkan prinsip solidaritas sosial yang wajib maupun sukarela, yang
dilaksanakan secara bertahap.
4. Pemberdayaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan diupayakan melalui
penghimpunan secara aktif dana sosial untuk kesehatan (misal: dana sehat) atau
memanfaatkan dana masyarakat yang telah terhimpun (misal: dana sosial keagamaan)
untuk kepentingan kesehatan.
5. Pada dasarnya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan pembiayaan kesehatan di
daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun untuk pemerataan
pelayanan kesehatan, Pemerintah menyediakan dana perimbangan (maching grant) bagi
daerah yang kurang mampu.

Sumber Biaya Kesehatan:
Pemerintah, swasta, masyarakat, sumber lain(hibah, pinjaman dari luarnegri).
o Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
o Tergantung dari bentuk pemerintahan yang dianut, ada ditemukan suatu negara yang
menanggung biaya kesehatan sepenuhnya (cuma-cuma), pada negara seperti ini tidak
ditemukan pelayanan kesehatan swasta.
o Sebagian ditanggung oleh masyarakat
o Masyarakat diajak berperan serta, baik dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
ataupun pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Dapat ditemukan
pelayanan kesehatan swasta,dalam hal ini masyarakat diharuskan membayar pelayanan
kesehatan yang dimanfaatkannya.

14

Asuransi Kesehatan
Suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko kelompok.
Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban ekonomi yang
harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih tetapi mengandung kepastian
karena memperoleh jaminan. Unsur-unsur asuransi kesehatan:
ada perjanjian
ada pembelian perlindungan
ada pembayaran premi oleh masyarakat

Jenis-jenis asuransi kesehatan di Indonesia:
a) Asuransi kesehatan sosial (social health insurance) asuransi ini memegang teguh
prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial, pelayanan kesehatan tidak
boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial masyarakat sehingga semua
lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanankesehatan. contoh: PT.askes,
PT.jamsostek. Prinsip kerja:
Keikutsertaannya bersifat wajib
Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya
Iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Idealnya harus dihitung 5%
dari GDP
Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan tenaga
kerja.
Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada
resikokelompok (collective risk sharing)
Tidak diperlukan pemeriksaan awal
Jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh
(universal coverage)
Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi
kesehatansosial di Indonesia. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk mengikuti
asuransi kesehatan
b) Asuransi kesehatan komersial perorangan (private voluntary health insurance) jenis
asuransi ini dapat dibeli preminya baik individu maupun segmen masyarakat kelas
menengah keatas. Prinsip kerja:
Kepersertaan bersifat perorangan dan sukarela
Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis
tanggunganyang dipilih.
Premi berdasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan faktor usia, jenis
kelamin, jenis pekerjaan.
Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal
Santunan diberikan sesuai kontrak
Peranan pemerintah relatif kecil
c) Asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated private health insurance) ini
merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial. Prinsip-prinsip dasar:
Keikutsertaan bersifat sukarela berkelompok
15

Iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut
Perhitugan premi bersifat community rating yang berlaku untuk
kelompok masyarakat
Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak
Tidak diperlukan pemeriksaan awal
LI. 4. Memahami dan Menjelaskan Peran Dokter Serta Mitra Kerjanya Dalam
Pelayanan Kedokteran Keluarga
Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK)

Pada dasarnya sistem perlayanan dokter keluarga (selanjutnya digunakan
SPDK), haruslah menerapkan ketiga tahapan pelayanan medis sesempurna
mungkin. Komponen sistem, yang sekarang biasa disebut sebagai pemegang
saham (stakeholders), paling tidak terdiri atas:
1. DPU/DK (Sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Primer)
2. DSp (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Sekunder)
3. DSpK (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Tersier)
4. Dokter gigi
5. Pihak pendana (Asuransi Kesehatan, Pemerintah, dsb.)
6. Regulasi (perundangan, Sistem Kesehatan Nasional, dsb.)
7. Pasien (dengan keluarga dan masyarakatnya)
8. Farmasi (profesional dan pengusaha)
9. Staf klinik selain dokter (Bidan, perawat, dsb)
10. Karyawan non-medis
Mereka harus bekerjasama secara mutualistis mewujudkan pelayanan
kesehatan yang bermutu. Semua pemegang saham mempunyai andil, hak dan kewajiban
yang sama dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Yang dimaksud
dengan pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan
bagi pasien, tidak melanggar aturan atau perundangan maupun etika profesi, dan menjamin
kesejahteraan bagi penyelenggaranya. Jika salah satu komponen sistem merusak
tatanan, menyalahi aturan main agar memperoleh keuntungan bagi dirinya, maka akibat
negatifnya akan dirasakan oleh seluruh komponen sistem termasuk, pada akhirnya, yang
menyalahi aturan itu. Oleh karena itu diperlukan kerjasama profesional yang
mutualistis di antara anggota sistem.
Dengan kata lain, dalam sistem pelayanan dokter keluarga pelayanan
diselenggarakan oleh tim kesehatan yang bahu-membahu mewujudkan
pelayanan yang berumutu. Setiap komponen sistem mempunyai tugas masing-
masng dan harus dikerjakan sungguh-sungguh sesuai dengan tatanan yang
berlaku. Bidan dan perawat membantu dokter di klinik misalnya, memberikan
obat kepada pasien d ibawah tanggung-jawab dokter. Jadi bidan dan perawat tidak
memberikan obat tanpa persetujuan dokter. Sebaliknya dokter harus memberikan
perintah tertulis di dalam rekam medis untuk setiap pemberian obat. Bidan dan
perawat dibenarkan mengingatkan dokter jika perintah pemberian obat itu tidak
jelas atau belum dicantumkan. Demikian pula dokter keluiarga yang sebenarnya
dokter praktik umum dibenarkan mengingatkan dan diharuskan bertanya langsung
kepada dokter spesialis yang dikonsuli atau dirujuki jika ada hal yang kurang jelas
atau berbeda pendapat. Demikianpula komponen system yang lain termasuk
16

masyarakat pasien dibenarkan dan bahkan diharuskan saling kontrol saling
mengingatkan agat tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dapat di lihat bentuk komunikasi atau kerjasama antara dokter dan teman sejawatnya di
lakukan dalam berbagai hal seperti :

1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas
pelayanan, dokter yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman sejawat
lainnya.
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan
jenis kelamin, ras, usia, kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan
kompetensi yang dapat merugikan hubungan profesional antar sejawat.
3. Bekerja dalam tim
Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin.
4. Mengatur dokter pengganti.
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter
pengganti serta mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif dengan
dokter pengganti.
5. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerjapada institusi pelayanan atau pendidikan kedokteran
harus mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter
pengganti.
6. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan
spesialis, mahasiswa kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas
nama dokter yang merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam
melaksanakan prosedur dan terapi yang sesuai dengan peraturan baru.

Komunikasi Dokter-Profesi Lain

1. Kolaborasi
Pengertian Menurut Shortridge, et al (1986)
Hubungan timbal balik di mana [pemberi pelayanan] memegang tanggung jawab paling
besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif mereka.
Kolaborasi Prinsip: Perencanaan
Pengambilan keputusan bersama
Berbagi saran / ide
Kebersamaan
Tanggung gugat
Elemen-elemen Kolaborasi
a. Struktur
b. Proses
c. Hasil Akhir

17

Model Kolaboratif Tipe I
1. Menekankan Komunikasi Dua Arah
2. Masih menempatkan Dokter pada posisi utama
3. Masih membatasi Hubungan Dokter dengan Pasien

Model Kolaboratif Tipe II
1. Lebih berpusat pada Pasien
2. Semua Pemberi Pelayanan harus bekerja sama
3. Ada kerja sama dengan Pasien
4. Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus
Kolaboratif tipe II







Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah cukup lama
dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien. Perspektif yang berbeda dalam
memandang pasien, dalam prakteknya menyebabkan munculnya hambatan-hambatan
teknik dalam melakukan proses kolaborasi. Kendala psikologis keilmuan dan individual,
factor sosial, serta budaya menempatkan kedua profesi ini memunculkan kebutuhan
akan upaya kolaborasi yang dapat menjadikan keduanya lebih solid dengan semangat
kepentingan pasien.

Hambatan kolaborasi dokter dan perawat sering dijumpai pada tingkat profesional dan
institusional. Perbedaan status dan kekuasaan tetap menjadi sumber utama ketidaksesuaian
yang membatasi pendirian profesional dalam aplikasi kolaborasi. Dokter cenderung pria,
dari tingkat ekonomi lebih tinggi dan biasanya fisik lebih besar dibanding perawat, sehingga
iklim dan kondisi sosial masih medukung dominasi dokter. Inti sesungguhnya dari konflik
perawat dan dokter terletak pada perbedaan sikap profesional mereka terhadap pasien
dan cara berkomunikasi diantara keduanya.

Kolaborasi adalah suatu proses dimana praktisi keperawatan atau perawat klinik bekerja
dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup praktek profesional
keperawatan, dengan pengawasan dan supervisi sebagai pemberi petunjuk pengembangan
kerjasama atau mekanisme yang ditentukan oleh peraturan suatu negara dimana pelayanan
diberikan. Perawat dan dokter merencanakan dan mempraktekan bersama sebagai
18

kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batas-batas lingkup praktek dengan berbagi
nilai-nilai dan pengetahuan serta respek terhadap orang lain yang berkontribusi terhadap
perawatan individu, keluarga dan masyarakat.

Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan
untuk mencapai tujuan kolaborasi team :
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian
unik profesional.
b. Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
c. Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
d. Meningkatnya kohesifitas antar profesional
e. Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
f. Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami orang lain

Kesuksesan kolaborasi dalam suatu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh faktor:
a. Faktor interaksi (interactional determinants), yaitu hubungan interpersonal diantara
anggota tim yang terdiri dari kemauan untuk berkolaborasi, percaya, saling
menghargai dan berkomunikasi .
b. Faktor Organisasi (organizational determinants) yaitu kondisi di dalam organisasi
tersebut yang terdiri dari:
Organizational structure (struktur horisontal dianggap lebih berhasil daripada struktur
hierarkis);
Organizations philosophy (nilai nilai keterbukaan, kejujuran, kebebasan
berekspresi, saling ketergantungan, integritas dan sikap saling percaya;
Administrative support (kepemimpinan);
Team resource (tersedianya waktu untuk bertemu dan berinteraksi, membagi
lingkup praktek dengan profesional lain, bekerja dalam suatu unit yang kecil) ;
Coordination mechanism (pertemuan formal untuk diskusi, standarisasi prosedur
dalam bekerja ).
Faktor lingkungan organisasi(organizations environment/ systemic determinants)
yaitu elemen diluar organisasi, seperti sistem sosial, budaya, pendidikan dan profesional.

2. Pendekatan Praktik Hirarkis
Menekankan Komunikasi satu arah
Kontak Dokter dengan Pasien terbatas
Dokter merupakan Tokoh yang dominan
Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, spt IGD

Sebelum ada model Kolaborasi, hubungan yang ada adalah Model
PRAKTIK HIRARKIS. Praktik Hirarkis merupakan salah satu pendekatan
yang dilakukan sebelum profesi perawat semakin berkembang. Selanjutnya
dikenal ada 2 (dua) model Kolaborasi yang lain (Model 1 dan Pendekatan
Praktik Hirarkis). Pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktek
dokter di Indonesia.

19









Komunikasi Dokter-Apoteker
Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, dokter perlu mengetahui apa yang menjadi
tanggung jawab profesi apoteker dalam pelayanan farmasi. Pelayanan farmasi dapat
dilakukan di berbagai tempat seperti rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik, Apotek, dll.
Adanya pemahaman masing-masing pada profesi mitra kerjanya akan memudahkan
terjadinya komunikasi yang baik antar profesi .
Empat unsur Pelayanan Farmasi
1. Pelayanan Farmasi yang baik.
2. Pelayanan profesi apoteker dalam penggunaan obat.
3. Praktik dispensing yang baik.
4. Pelayanan profesional apoteker yg proaktif dalam berbagai kegiatan yg bertujuan
untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.
LI. 5. Memahami dan Menjelaskan Sistem Rujukan Pada Klinik Dokter Keluarga
Definisi
Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus
penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lain yang sesuai. Rujukan
dalam pelayanan kedokteran ini umumnya kepada pelayan yang lebih tinggi ilmu, peralatan
dan strata yang lebih tinggi dalam rangka mengatasi kasus atau problem tersebut.

Karakteristik
1. Ruang lingkup kegiatan : konsultasi memintakan bantuan profesional dari pihak ke tiga.
Rujukan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang
sedang dihadapi kepada pihak ketiga.
2. Kemampuan dokter : konsultasi ditujukan kepada dokter yang lebih ahli atau yang lebih
berpengalaman. Pada rujukan hal ini tidak mutlak.
3. Wewenang dan tanggung jawab : konsultasi wewenang dan tanggung jawab tetap pada
dokter yang meminta konsultasi. Pada rujukan sebaliknya.

Macam-macam Rujukan :

20

Rujukan medis:
o Rujukan pasien (transfer of patient)
o Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)
o Rujukan bahan (transfer of specimens)
Rujukan kesehatan:
o Rujukan tenaga
o Rujukan sarana
o Rujukan operasional

Manfaat Konsultasi dan Rujukan :
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (bila sistemnya berjalan sesuai dengan
yang seharusnya)
2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien akan terpenuhi (terbentuk team work)

Masalah Konsultasi dan Rujukan
1. Rasa kurang percaya pasien terhadap dokter (bila rujukan/konsultasi inisiatif dokter)
2. Rasa kurang senang pada diri dokter (bila rujukan/ konsultasi atas permintaan pasien)
3. Bila tidak ada jawaban dari konsultasi
4. Bila tidak sependapat dengan saran/tindakan dokter konsultan
5. Bila ada pembatas (sikap/ perilaku,biaya, transportasi)
6. Apabila pasien tidak bersedia untuk dikonsultasikan dan ataupun dirujuk.

Tata Laksana Konsultasi dan Rujukan
Dasarnya adalah kepatuhan terhadap kode etik profesi yg telah disepakati bersama, dan
sistem kesehatan terutama sub sistem pembiayaan kesehatan yang berlaku.
Konsultasi (McWhinney, 1981):
a. Penjelasan lengkap kepada pasien alasan untuk konsultasi
b. Berkomunikasi secara langsung dengan dokter konsultan (surat, formulir khusus, catatan
di rekam medis, formal/ informal lewat telefon)
c. Keterangan lengkap tentang pasien
d. Konsultan bersedia memberikan konsultasi

Tata Cara Rujukan
i. Pasien harus dijelaskan selengkap mungkin alasan akan dilakukan konsultasi dan
rujukan. Penjelasan ini sangat perlu, terutama jika menyangkut hal-hal yang peka, seperti
dokter ahli tertentu.
ii. Dokter yang melakukan konsultasi harus melakukan komunikasi langsung dengan dokter
yang dimintai konsultasi. Biasanya berupa surat atau bentuk tertulis yang memuat
informasi secara lengkap tentang identitas, riwayat penyakit dan penanganan yang
dilakukan oleh dokter keluarga.
iii. Keterangan yang disampaikan tentang pasien yang dikonsultasikan harus selengkap
mungkin. Tujuan konsultasi pun harus jelas, apakah hanya untuk memastikan diagnosis,
menginterpretasikan hasil pemeriksaaan khusus, memintakan nasihat pengobatan atau
yang lainnya.
21

iv. Sesuai dengan kode etik profesi, seyogianya dokter dimintakan konsultasi wajib
memberikan bantuan profesional yang diperlukan. Apabila merasa diluar keahliannya,
harus menasihatkan agar berkonsultasi ke dokter ahli lain yang lebih seuai.
v. Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
vi. Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
vii. Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak

Pembagian Wewenang dan Tanggung Jawab
1. I nterval referral, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya
kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu tersebut
dokter tsb tidak ikut menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan
wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.
LI. 6. Memahami dan Menjelaskan Adab dan Tatacara Dokter Muslim Dalam
Menangani Pasien
Adab-adab yang bersifat khusus diantarany:
1. Berusaha menjaga kesehatan pasien sebagai konsekuensi amanah dan tanggung
jawabnya dan berusaha menjaga rahasia pasien kecuali dalam kondisi darurat atau untuk
tindakan preventif bagi yang lainnya. Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda:
"Barangsiapa yang menutup (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup (aibnya)
pada hari kiamat. " (HR. al-Bukhari 2442 dan Muslim 7028).

2. Senantiasa menyejukkan hati pasien, menghiburnya dan mendo'akannya. Salah satunya
ialah dengan mengucapkan "Tidak mengapa, insyaallah ini adalah penghapus dosa",
atau meletakkan tangan kanan di tempat yang sakit seraya berdo'a:
"Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit tersebut, sembuhkanlah, Engkau adalah
penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak
ditimpa penyakit lagi. " (HR. Muslim 2191 dan yang lainnya).

22

3. Hendaknya memberitahukan kepada pasien bahwa yang menyembuhkan hanya Allah
Ta'ala sehingga hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada dokter. Nabi sholallohu
'alaihi wasalam berkata kepada Abu Rimtsah (seorang dokter ahli):
"Allah adalah dokter, sedangkan kamu adalah orang yang menemani yang sakit. " (HR.
Abu Dawud 4209, ash-shahiihah 1537).

4. Seorang dokter tidak boleh membohongi pasiennya. Misalnya tatkala stok obat habis ia
memberikan obat yang tidak sesuai dengan penyakitnya atau memberikan obat yang di
dalamnya terkandung bahan-bahan yang diharamkan.

5. Hendaknya profesi dalam bidang kedokteran bertujuan untuk memuliakan manusia. Oleh
karena itu tidak diperkenankan bagi seorang dokter atau petugas kesehatan lainnya untuk
membakar potongan tubuh pasien, namun hendaknya diberikan kepada sang pasien atau
keluarganya untuk dikubur. Selain itu tidak diperbolehkan memperjualbelikan darah
pasien, mengadakan operasi-operasi plastik untuk mengubah wajah, telinga, alis, hidung
dan lainnya, karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah yang diharamkan dalam
Islam. Allah Ta'ala berfirman:

(Setan berkata) : "Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-
benar mereka mengubahnya. " (QS. an-Nisa' (4) : 119).
Di samping itu, tidak diperbolehkan ta'awun dalam kejelekan, seperti menjual obat-obat
penggugur kehamilan sehingga melariskan perzinaan.

6. Seorang dokter, perawat, mantri, bidan, apoteker dan petugas kesehatan lainnya
hendaknya betul-betul meningkatkan dan menekuni pekerjaanya. Rosulullah sholallohu
'alaihi wasalam:
"Barangsiapa yang menerjuni kedokteran sedangkan tidak diketahui orang itu ahli
kedokteran, maka ia menanggung (kerugian pasien)." (HR. Abu Dawud 4586, ash-
shahiihah 635).

7. Profesi dalam bidang pengobatan termasuk pekerjaan yang mulia sehingga diharapkan
bagi para dokter untuk menggapai ridha Allah dalam setiap aktivitasnya. Nabi sholallohu
'alaihi wasalam bersabda :
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."
(Dikeluarkan oleh ad-Daruqutni, ash-shahiihah 426).

8. Memberikan keringanan biaya pasien yang kurang mampu. Rosulullah sholallohu 'alaihi
wasalam bersabda:
"Barangsiapa yang melapangkan kesusahan dunia seorang mukmin, maka Allah akan
melapangkan kesusahannya di akhirat." (HR. Muslim 2699).

Adapun adab dan akhlak yang bersifat umum yang harus dimiliki seorang dokter adalah:
1. Tidak boleh berduaan dengan pasien wanita dalam satu ruangan tanpa ditemani mahram
sang perempuan. Minimal pintu ruangan harus terbuka sehingga terlihat oleh
keluarganya.
2. Seorang dokter tidak boleh menyalami perempuan yang bukan mahramnya atau
memperbanyak pembicaraan dengannya kecuali untuk kepentingan pengobatan.
3. Hendaknya tetap menjaga shalatnya, kecuali dalam kondisi genting maka tidak mengapa
ia menjama' dua shalat.
23

4. Hendaknya menjauhi syiar-syiar dan gaya orang kafir, seperti mencukur jenggot,
memanjangkan kumis, isbal, bebas bercakap-cakap dengan dokter atau perawat wanita.
Di samping adab-adab tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para
petugas kesehatan tentang rumah sakit, klinik, apotek maupun tempat praktiknya, yaitu:
1. Hendaknya mengkhususkan satu ruangan untuk shalat, baik bagi laki-laki maupun
perempaun, mengingat pentingnya masalah sahalat.
2. Menjadi kewajiban dan PR kita bersama untuk menjadikan rumah sakit terhindar dari
ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram).
3. Tidak diperkenankan menggantung gambar makhluk bernyawa di tembok atau dinding.
4. Hendaknya tidak menyediakan asbak bagi para pengunjung rumah sakit karena itu
adalah bentuk ta'awun dalam kejelekan.
5. Hendaknya memisahkan antara ruangan pasien yang berpenyakit menular dengan yang
tidak menular, demikian pula agar para pengunjung tidak kontak langsung dengan si
pasien tersebut sehingga penyakitnya tidak menular- dengan izin Allah- kepada yang
lainnya. Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Jangan sekali-kali
mencampur yang sakit dengan yang sehat." (HR. al-Bukhari 5328). Hal itu dikuatkan
juga dengan sabda beliau tentang wabah penyakit menular : "Jika kalian mendengar
(ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya." (HR. al-Bukhari
5287 dan Muslim 5775).
6. Hendaknya kamar mandi atau WC tidak menghadap ke arah kiblat atau
membelakanginya, sebagaimana sabda Nabi sholallohu 'alaihi wasalam : "Jangan
menghadap kiblat tatkala buang air besar dan kencing dan jangan pula
membelakanginya." (HR. al-Bukhari 144, Muslim 264, at-Tirmidzi 8, Abu Dawud 9).
7. Dianjurkan untuk mengubah kantornya ke arah kiblat dan duduk menghadap kiblat,
berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Rowulullah sholallohu 'alaihi wasalam
bersabda : "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki tuan, dan tuannya majelis adalah
arah kiblat." (HR. ath-Thabrani dalam al-Ausath 2354, dan dihasankan Syaikh al-
Haitsami 8/114, as-Sakhawi (102) dan Syaikh al-albani dalam ash-Shahiihah (2645) dan
Shahiih at-Targhib (3085) ).
Adab pemeriksaan terhadap pasien

Jika dokter laki-laki (dikarenakan tidak terdapat dokter perempuan) dengan dalih
mengobati dan atau pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan di atas
(memandang dan menyentuh) seperti; mendeteksi denyut nadi, mengambil darah dan
memijit, dimana dokter tidak memiliki cara lain kecuali terpaksa memandang badan yang
bukan mahramnya atau menyentuh badannya (dan tidak memungkinkan dia menggunakan
kaos tangan atau semacamnya, dengan maksud menyentuh secara tidak langsung), dalam hal
ini menyentuh dan memandang tidak ada masalah.
Akan tetapi jika dalam masalah ini dokter mampu mengobati hanya dengan
memandang saja dan atau hanya dengan menyentuh pasien yang bukan mahramnya tersebut
maka dokter harus mencukupkan dengan memandang saja atau menyentuh saja (itupun
sebatas darurat) dan lebih daripada itu tidak boleh. Dokter perempuan dalam hal memandang
dan menyentuh pasien laki-laki yang bukan mahramnya juga berlaku hukum demikian.
Begitu para ulama mengatakan.
Karena orang yang sakit sengaja menemui dan menaruh kepercayaan terhadap dokter,
para terapis atau ahli medis harus memberikan pelayanan dan perlindungan yang terbaik bagi
pesiennya. Namun harus tetap menjaga syariat. Misalnya tidak boleh memberikan obat yang
24

haram. Juga harus menjaga hubungan lawan jenis. Jika pasiennya bukan muhrimnya,
hendaklah ada pihak ketiga yang menemani. Jangan hanya berdua didalam kamar
pengobatan.
Telah di nukil dari Imam Musa ibnu Jafar yang mengatakan: Seorang lelaki buta
dengan lebih dahulu meminta izin telah memasuki rumah Fatimah (sepertinya dia perlu
dengan Rasulullah SAW) Fatimah mengambil kerudungnya dan beliau bersembunyi di
dalam kerudung tersebut (mengambil hijab), Nabi SAW berkata: Putriku mengapa engkau
menutup dirimu sedangkan dia tidak melihatmu? Beliau berkata: Apabila dia tidak melihat
saya, tapi saya melihat dia dan dia (jika tidak melihat dan buta) tetapi dia mencium bau
wanita. Rasulullah SAW sedemikian gembiranya sambil berkata: Saya bersaksi bahwa
engkau adalah belahan jiwaku. (Hayaatu Al-Imam Husain,Khutbah Hadrat Zaenab)
Lihatlah begitu diagungkannya urusan hijab oleh Rasulullah SAW.
Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'am/6 ayat 119:



"Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya".
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan
untuk menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan
maslahat, seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya.
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti
rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan mahram
adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslim/muslimah
terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter yang berbeda jenis, ia harus didampingi
mahramnya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau
ruang periksa.
Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Baz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian
tubuh yang nampak, seperti kepala, tangan, dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut
aurat wanita, meskipun sudah ada perawat wanita misalnya, maka keberadaan suami atau
wanita lain (selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari
kecurigaan.
Adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan berguna agar kaum Muslim tidak
tersesat di dunia. Adab-adab tersebut antara lain:
1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis. Allah berfirman: Katakanlah kepada
laki-laki beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara
kemaluannya. Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS. An-Nur: 30-31)
2. Tidak berdua-duaan. Rasulullah saw bersabda: Janganlah seorang laki-laki berdua-
duaan (khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya. (HR. Bukhari dan
Muslim)
3. Tidak menyentuh lawan jenis. Di dalam sebuah hadits, Aisyah ra berkata, Demi Allah,
tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat
membaiat (janji setia kepada pemimpin). (HR. Bukhari). Hal ini karena menyentuh
lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di
dalam Islam. Rasulullah bersabda, Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum
besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR.
Thabrani dengan sanad hasan)

25

DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Kedokteran Keluarga & Pelayanan Kedokteran yang Bermutu. Semarang.

Gani A. Pembiayaan Kesehatan. FKM UI. 1996

Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia. 2010

Tristantoro L. Prinsip-Prinsip Asuransi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kedokteran Dan
Residen. FK UGM.