Anda di halaman 1dari 102

i

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... i
DAFTAR TABEL ............................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 7
C. Tujuan Penelitian .................................................................................................... 7
D. Kontribusi Penelitian .............................................................................................. 8
E. Sistematika Pembahasan ......................................................................................... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 10
A. Tinjauan Empiris ................................................................................................... 10
1. Nina Angelina (2008) ....................................................................................... 10
2. Wendy Dwi Saputra(2013) ............................................................................... 11
B. Tinjauan Teoritis ................................................................................................... 13
1. Implementasi ..................................................................................................... 13
2. Tinjauan Umum Perpajakan ............................................................................. 15
3. Pajak Daerah ..................................................................................................... 20
4. Air Tanah .......................................................................................................... 28
5. Pajak Air Tanah ................................................................................................ 34

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................ 39
A. Jenis Penelitian ..................................................................................................... 39
B. Fokus Penelitian .................................................................................................... 40
C. Lokasi dan Situs Penelitian ................................................................................... 41
D. Sumber dan Jenis Data .......................................................................................... 42
E. Teknik Pengumpulan Data .................................................................................... 43
F. Instrumen Penelitian ............................................................................................. 44
G. Analisis Data ......................................................................................................... 45

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ ii
ii

DAFTAR TABEL
No Judul Hlm
1 Realisasi Pajak Daerah Kota Malang Tahun 2012 5
2 Perbandingan Penelitian Terdahulu . 13
3 Karakteristik Air Lapisan dan Air Celah.. 33

iii

DAFTAR GAMBAR
No Judul Hal
1 Rumus Pajak Terutang Air Tanah. 39
2 Rumus Pemakaian Volume Air. 40
1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sentralisasi kekuasaan berpengaruh dalam setiap aktivitas kepemerintahan
daerah pada masa Orde Baru. Segala aktivitas maupun program daerah lebih
sering mengacu pada pedoman yang ditetapkan Pemerintah Pusat. Sentralisasi
menimbulkan disparitas yang sangat lebar antar daerah, misalokasi dalam
penggunaan anggaran negara dan kelambanan dalam menuntaskan persoalan
(Sudantoko, 2003). Segala pembangunan dan kebijakan yang akan dilakukan di
daerah hanya bergantung pada keputusan Pemerintah Pusat. Padahal Pemerintah
Pusat tidak begitu menguasai dan memahami keadaan masing-masing daerah
yang dibawahinya dibandingkan dengan Pemerintah Daerah. Hal ini
mengakibatkan pembangunan yang dilakukan di daerah kurang efektif dan efisien.
Pemerintah menerapkan kebijakan desentralisasi kekuasaan atau yang
sering disebut dengan otonomi daerah pada tahun 1999. Hal ini disahkan dengan
ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 j.o Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang tersebut
memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Pemerintah Daerah untuk
mengatur daerahnya sendiri, kecuali di lima bidang yaitu pertahanan, agama,
hubungan luar negeri, moneter dan hukum.
Seiring diberlakukannya otonomi daerah, Pemerintah Daerah secara
bertahap mendapatkan wewenang untuk mengatur dan mengelola sendiri
kepentingan masyarakat sesuai dengan keadaan dan kondisi daerah baik secara
2

geologis maupun sosiologis, sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Hal ini
diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 j.o Undangundang Nomor
12 Tahun 2008 dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 j.o Undang-undang
Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah. Kedua undang-undang tersebut
menjelaskan bahwa penyelenggaraan pemerintahan daerah dilakukan dengan
memberikan kewenangan yang seluasluasnya disertai dengan pemberian hak dan
kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara.
Pendanaan untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah digali dari
sumber-sumber yang ditentukan oleh undang-undang. Berdasarkan Undang-
undang Nomor 33 Tahun 2004, sumber penerimaan daerah dalam pelaksanaan
desentralisasi terdiri atas:
1. Pendapatan Daerah yang bersumber dari:
a. Pendapatan Asli Daerah
b. Dana Perimbangan
c. Lain-lain pendapatan
2. Pembiayaan yang bersumber dari:
a. Sisa lebih perhitungan anggaran daerah
b. Penerimaan pinjaman daerah
c. Dana cadangan daerah
d. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
Sumber pembiayaan terbesar yang ideal dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD merupakan
pendapatan daerah yang potensinya berada di daerah dan dikelola oleh Pemerintah
Daerah yang juga merupakan cerminan kemampuan daerah dalam membiayai
kegiatan rutin dan pembangunan sehingga tidak selalu tergantung pada
3

Pemerintah Pusat. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, pada pasal 6,
menyebutkan bahwa PAD terdiri atas:
1. Hasil Pajak Daerah
2. Hasil Retribusi Daerah
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
4. Lain-lain pendapatan daerah yang sah
Salah satu pos PAD dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) adalah pajak daerah. Pajak daerah merupakan kontribusi wajib kepada
daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung
dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pajak daerah dibagi menjadi dua yaitu pajak provinsi dan pajak kabupaten. Pajak
provinsi terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, dan
Pajak Rokok. Sedangkan pajak kabupatan/kota terdiri dari Pajak Hotel, Pajak
Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral
Bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung
Walet, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, dan Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan.
Pajak Air Tanah merupakan pajak yang cukup prospektif di masa
mendatang. Akhir-akhir ini pemanfaatan air tanah terus meningkat. Air tanah
biasanya diambil, baik untuk sumber air bersih maupun irigasi, melalui sumur
terbuka, sumur tabung, spring atau sumur horizontal. Selain untuk keperluan
rumah tangga masyarakat, air tanah juga dimanfaatkan oleh perusahaan untuk
keperluan industri. Tumbuh pesatnya industri-industri dan perusahaan diikuti
4

dengan meningkatnya kebutuhan akan penggunaan air tanah sebagai sumber air
bersih untuk operasional usaha. Kecenderungan masyarakat dan industri untuk
memilih air tanah sebagai sumber air bersih dibandingkan dengan air permukaan
adalah berikut (Suripin, 2004:141):
(1) Tersedia dekat dengan tepat yang diperlukan, sehingga kebutuhan
bangunan pembawa/ distribusi lebih murah
(2) Debit (produksi) sumur biasanya relative stabil
(3) Lebih bersih dari bahan cemaran permukaan
(4) Kualitasnya lebih seragam
(5) Bersih dari kekeruhan, bakteri, lumut atau tumbuhan dan binatang air
Kota Malang merupakan kota yang mengalami perkembangan ekonomi
yang pesat dari tahun ke tahun. Sebutan sebagai kota pendidikan menjadikan Kota
Malang sebagai tujuan menuntut ilmu oleh pelajar, khususnya mahasiswa. Setiap
tahun penerimaan mahasiswa di Kota Malang meningkat secara signifikan. Pada
tahun 2011 saja, dari 800.000-an penduduk Kota Malang, sekitar 300.000 jiwa
adalah mahasiswa tanpa Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Malang (Irawati,
2011). Jumlah tersebut menjadi lebih besar dari waktu ke waktu. Peningkatan
jumlah penduduk di Kota Malang dimanfaatkan para pengusaha untuk membuka
usaha baru atau memperlebar usaha yang telah dimiliki. Tentunya air tanah sangat
dibutuhkan bagi para pengusaha atau industri sebagai sumber air bersih untuk
operasional usaha.
Pengambilan air tanah dapat dilakukan secara tertutup. Hal ini membuka
peluang bagi masyarakat untuk melanggar ketentuan yang berlaku dalam
pemanfaatan air tanah. Fenomena ini mengharuskan Dispenda Kota Malang untuk
lebih pro-aktif dalam mengelola, memonitor, dan mengevaluasi sistem
pemungutan Pajak Air Tanah sehingga dapat meningkatkan penerimaan pajak
5

daerah dan sekaligus dapat mengontrol pemanfaatan air tanah agar tidak
berdampak buruk terhadap ekosistem.
Isi dengan perkembangan pajak air tanah di kota Malang
Potensi pajak air tanah di kota Malang cukup tinggi. Tetapi pada
kenyataannya Pajak Air Tanah di Kota Malang tidak memiliki kontribusi yang
besar bagi PAD Kota Malang. Dapat dilihat pada Tabel 1 bahwa Pajak Air Tanah
hanya menyumbang sekitar 0,22% bagi PAD. Jika dibandingkan dengan Pajak
BPHTB yang menyumbang 33,99% terhadap PAD, dapat dikatakan Pajak Air
Tanah bukan merupakan pajak unggulan Pemerintah Kota Malang.

Tabel 1 Realisasi Pajak Daerah Kota MalangTahun 2012

NO
U R A I A N

TH 2012 KETERANGAN
TARGET REALISASI %
Realisasi
%
THD
PAD
( Rp ) ( Rp )
1 Pajak Hotel 8.913.290.057,77 9.787.551.997,94 109,81 4,25
2 Pajak Restoran 18.006.103.686,81 20.302.610.876,34 112,75 8,82
3 Pajak Hiburan 1.972.989.350,00 3.134.172.824,60 158,85 1,36
4 Pajak Reklame 8.556.778.935,00 9.256.619.495,45 108,18 4,01
5 Pajak Penerangan Jalan 26.828.633.250,00 29.144.310.755,76 108,63 12,65
6 Pajak Parkir 1,272.609.127,00 1.796.786.915,00 141,19 0,78
7 Pajak Air Tanah 400.772.081,00 509.265.868,70 127,07 0,22
8 Pajak BPHTB 59.877.500.269,19 85.192.801.059,10 142,28 33,99
HASIL PAJAK
DAERAH
125.828.676.756,77 159.124.119.792,89 126,46 69,10
Sumber: Buku Info PAD Kota Malang tahun 2012
Walaupun memiliki kontribusi yang sangat kecil terhadap PAD, tidak bisa
dikatakan bahwa pemungutan Pajak Air Tanah yang dilakukan oleh Dispenda
(Dispenda) Kota Malang kurang bagus. Pemungutan Pajak Air Tanah yang
dilakukan oleh Dispenda Kota Malang telah melebihi target yang dibuat. Seperti
6

yang tertera dalam Tabel 1 bahwa realisasi Pajak Air TanahKota Malang pada
tahun 2012 adalah sebesar Rp. 509.265.868,7. Jumlah ini lebih besar dari target
yang ditetapkan terhadap Pajak Air Tanah, yaitu sebesar Rp. 400.722.081. Untuk
memperbesar kontribusi Pajak Air Tanah terhadap PAD, Dispenda Kota Malang
perlu meningkatkan target penerimaan pajak daerah. Peningkatan target
penerimaan pajak daerah perlu diiringi dengan usaha intensifikasi dan
ekstensifikasi Pajak Air Tanah.
Usaha intensifikasi dan ekstensifikasi Pajak Air Tanah tentunya tidak
terlepas dari berbagai kendala dalam penyelenggaraannya. Kendala tersebut dapat
terjadi pada Dispenda Kota Malang sebagai instansi yang memiliki kewenangan
sesuai tugas dan fungsinya maupun pada kalangan wajib pajak sebagai pihak yang
memiliki hak dan kewajiban dalam pembayaran Pajak Air Tanah. Dispenda Kota
Malang dihadapkan pada beberapa kendala seperti tidak maksimalnya
pengawasan terhadap penggunaan air tanah, kurangnya sumberdaya manusia
dalam penyelenggaraan pemungutan Pajak Air Tanah dan lain-lain. Demikian
pula pada kalangan wajib pajak, adanya kecenderungan untuk menghindari pajak
atau yang sering disebut tax evasion merupakan kendala yang dihadapi para
instansi yang melakukan pemungutan pajak, baik pajak pusat maupun daerah
khususnya Pajak Air Tanah.Selain itu, ketidaktahuan dan kurang pahamnya
masyarakat tentang Pajak Air Tanah merupakan masalah dasar yang menjadi
tugas instansi terkait untuk menyelesaikannya.Ketidakpahaman masyarakat terkait
Pajak Air Tanah menimbulkan sikap kontra pada masyarakat yang berlanjut pada
tindakan tax evasion.
7

Berdasarkan beberapa kendala yang telah disebutkan di paragraf
sebelumnya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang implementasi
proses pemungutan pajak air tanah. Penelitian ini dapat dijadikan evaluasi bagi
instansi yang melakukan pemungutan Pajak Air Tanah yaitu Dispenda Kota
Malang dalam mengambil kebijakan yang tepat terkait pemungutan Pajak Air
Tanah di Kota Malang. Kebijakan yang diambil diharapkan dapat meningkatkan
kualitas sistem pemungutan Pajak Air Tanah di Kota Malang, sehingga
penerimaan Pajak Air Tanah dapat maksimal dan target Pajak Air Tanah pada
tahun berikutnya dapat ditingkatkan. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan,
maka penulis mengambil judul Implementasi Pemungutan Pajak Air Tanah
di Kota Malang (Studi pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang)
sebagai judul penelitian yang akan dilakukan.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Bagaimana implementasi proses pemungutan Pajak Air Tanah di Kota
Malang?
2. Apa saja kendala dan pendukung dalam implementasi pemungutan Pajak
Air Tanah di Kota Malang?
3. Apa saja upaya yang dilakukan dalam peningkatan proses pemungutan
Pajak Air Tanah di Kota Malang?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
8

1. Untuk mendeskripsikan pemungutan Pajak Air Tanah di Kota Malang.
2. Untuk mengetahui kendala dan pendukung dalam implementasi proses
pemungutan Pajak Air Tanah di Kota Malang.
3. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam peningkatan pemungutan
Pajak Air Tanah di Kota Malang
D. Kontribusi Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai
berikut:
1. Kontribusi Akademis
a. Sebagai salah satu bahan kajian dalam studi perpajakan dan berguna bagi
pembangunan ilmu pengetahuan mengenai pemungutan Pajak Air Tanah
di Kota Malang.
b. Penelitian ini diharapkandapat dijadikan sebagai referensi bagi penelitian
selanjutnya yang memiliki tema yang sama.
2. Kontribusi Praktis
a. Bagi instansi, dalam penelitian ini adalah Dispenda Kota Malang,
diharapkan dapat dijadikan masukan dan bahan referensi dalam
menentukan kebijakan dalam pemungutan Pajak Air Tanah di Kota
Malang.
b. Bagi Peneliti sebagai sarana untuk memperdalam wacana dan
pengetahuan, khususnya mengenai pemungutan Pajak Air Tanah di Kota
Malang.
9

E. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan berisi uraian secara singkat dan jelas atas seluruh
rangkaian pembahasan dari bab pertama sampai terakhir. Secara sistematis
penulisan dalam penelitian ini adalah:
1. BAB I Pendahuluan
Dalam pendahuluan terdapat sub bahasan; Latar Belakang, Rumusan Masalah,
Tujuan Penulisan, Kontribusi Penelitian dan Sistematika Pembahasan.
2. BAB II Kajian Pustaka
Dalam bab ini membahas mengenai teori-teori dari para pakar atau ahli yang
dipakai dalam penelitian ini. Teori-teori yang dipakai merupakan teori-teori
yang berkaitan dengan Teori Perpajakan Umum, Teori Pajak Daerah dan
Teori mengenai Pajak Air Tanah.
3. BAB III Metode Penelitian
Dalam metode penelitian akan dibahas mengenai jenis penelitian, fokus
penelitian, lokasi dan situs penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data,
instrument penelitian dan analisis data
4. BAB IV Hasil dan Pembahasan
Bab ini berisi tentang penyajian data yang terdiri atas gambaran umum Kota
Malang, gambaran umum Dinas Pendapatan Kota Malang, faktor-faktor yang
mempengaruhi pemungutan Pajak Air Tanah di Kota Malang dan lain-lain.
5. BAB V Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang dilanjutkan
dengan penyampaian saran sebagai tanggapan atas hasil penelitian.
10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Empiris
1. Nina Angelina (2008)
Nina melakukan penelitian yang berjudul Implementasi Koordinasi
Pemungutan Pajak Air Bawah Tanah di Kota Pekanbaru Riau. Penelitian ini
menganalisis, mengkaji dan membahas implementasi koordinasi pemungutan
Pajak Air Bawah Tanah di Kota Pekanbaru Riau dalam mendukung
optimalisasi penerimaan asli daerah.Beberapa instansi yang terkait dalam
penelitian ini adalah Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Riau, Kantor
Pendapatan Daerah Provinsi Riau Kota Pekanbaru dan Dinas Pertambangan.
Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan
data yang bersifat kualitatif.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah penelitian deskriptif.Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis data kualitatif.Penelitian dilakukan pada bulan
Januari Juni tahun 2008 dengan lokasi penelitian Kota Pekanbaru.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan koordinasi
dalam rangka pemungutan pajak air bawah tanah di Kota Pekanbaru Riau
belum baik.Walaupun perumusan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang
merupakan kunci dari keberhasilan koordinasi sudah dilakukan secara jelas,
namun dalam hal komunikasi masih belum efektif.Hal ini bisa dilihat dari
rapat yang belum terlaksana sesuai dengan tujuan koordinasi dan hubungan
kerja belum tergambar secara jelas. Selain itu kebijakan koordinasi yang baik
11

antar instansi terkait belum menunjukkan bentuk koordinasi timbal balik
dalam rangka pemungutan pajak air bawah tanah. Akibatya masing-masing
instansi melakukan kegiatan sesuai dengan kepentingan sendiri-sendiri tanpa
adanya hubungan saling ketergantungan.Padahal koordinasi timbale balik
yang efektif perlu diterapkan pada instansi terkait dalam rangka optimalisasi
pajak air bawah tanah.

2. Wendy Dwi Saputra (2013)
Wendy melakukan penelitian yang berjudul Kontribusi Pajak
Pengelolaan Air Tanah terhadap Pendapaan Asli Daerah Kabupaten Malang (
Studi pada Unit Pelayanan Terpadu Perijinan Kabupaten Malang). Peneliti
menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dimana yang
akan diambil berupa kata-kata dan mengambil perilaku masyarakat dan
stakeholder lainnya terkait dengan kontribusi pajak pengelolaan air tanah
terhadap PAD agar mendapat data yang sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya di lapangan.
Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan maka dapat
diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Dalam ukuran-ukuran dasar
pelaksanaan kebijakan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pengelolaan Air Tanah diharapkan mampu melindungi keadaan lingkungan
yang khususnya dalam pengelolaan air tanah atau pengeboran air tanah, yang
menjadi ukuran dasar kebijakan ini adalah pelaksanaan berbagai bentuk
kegiatan pengelolaan air tanah yang tepat guna dan tepat sasaran. Organisasi
pelaksana atas implementasi kebijakan pengelolaan air tanah terdiri dari
12

beberapa satuan kerja perangkat daerah yang tergabung dalam tim teknis.
Dalam hal ini dinas-dinas bertindak sebagai pembuat kebijakan yang
tergabung dalam tim teknis di antaranya Unit Pelayanan Terpadu Perizinan
selaku koordinator kemudian anggotanya adalah Dinas Energi Sumber Daya
Mineral, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset, Badan
Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan dan Dinas Pengairan. Selain organisasi-
organisasi pelaksana kebijakan, bagian terpenting adalah kelompok sasaran
kebijakan, yaitu pihak pengelola air tanah.

Tabel 2 Perbandingan Penelitian Terdahulu
Peneliti Judul Metode
Penelitian
Temuan
Nina
Angelia
Impelementasi
Koordinasi
Pemungutan Pajak
Air Bawah Tanah
di Kota Pekanbaru
Riau
Deskriptif
Analisis
Pelaksanaan koordinasi
dalam rangka
pemungutan pajak air
bawah tanah di Kota
Pekanbaru Riau belum
baik. Komunikasi antar
instansi masih belum
baik.
Wendy
Dwi
Saputra
Kontribusi Pajak
Pengelolaan Air
Tanah terhadap
Pendapatan Asli
Daerah Kabupaten
Malang
Deskriptif
Kualitatif
Ada beberapa faktor
pendukung dan
penghambat dalam
kegiatan pemungutan
Pajak Air Tanah.
Sumber: Diolah Penulis
13

B. Tinjauan Teoritis
1. Implementasi
Implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu
atau pejabat-pejabat kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang
diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam
keputusan kebijakan (Wahab, 2001:65). Implementasi dimaksudkan
membawa ke suatu hasil (akibat) melengkapi dan menyelesaikan.
Implementasi juga dimaksudkan menyediakan sarana (alat) untuk
melaksanakan sesuatu, memberikan hasil yang bersifat praktis terhadap
sesuatu. Pressman dan Wildavsky mengemukakan bahwa implementation as
to carry out, accomplish, fullfil, produce, complete maksudnya: membawa,
menyelesaikan, mengisi, menghasilkan, melengkapi (1978:21).
Jadi Implementasi dapat dimaksudkan sebagai suatu aktivitas yang
berkaitan dengan penyelesaian suatu pekerjaan dengan penggunaan sarana
(alat) untuk memperoleh hasil. Apabila dikaitkan dengan dengan kebijakan
publik, maka kata implementasi kebijakan publik dapat diartikan sebagai
aktivitas penyelesaian atau pelaksanaan kebijakan public yang telah
ditetapkan/disetujui dengan penggunaan sarana (alat) untuk mencapai tujuan
kebijakan.
Implementasi merupakan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan
yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. Tindakan tersebut
dilakukan baik oleh individu, pejabat pemerintah ataupun swasta. Dunn
mengistilahkannya implementasi secara lebih khusus, menyebutnya dengan
14

istilah implementasi kebijakan dalam bukunya yang berjudul Analisis
Kebijakan Publik. Menurutnya implementasi kebijakan (policy
implementation) adalah pelaksanaan pengendalian aksi-aksi kebijakan di
dalam kurun waktu tertentu (2003:132). Berkaitan dengan fackor yang
mempengaruhi implementasi kebijakan suatu program, G. Shabbir Cheema
dan Dennis A. Rondinelli dalam Subarsono mengemukakan bahwa terdapat
beberapa factor yang mempengaruhi implementasi kebijakan program-
program pemerintah yang bersifat desentralistis. Faktor- factor tersebut
diantaranya (( Subarsono, 2005:101):
a. Kondisi lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi implementasi kebijakan, yang
dimaksud lingkungan ini mencakup lingkungan sosio kultural serta
keterlibatan penerima program.
b. Hubungan antar organisasi
Dalam banyak program, implementasi sebuah program perlu dukungan
dan koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu diperlukan koordinasi
dan kerjasama antar instansi bagi keberhasilan suatu program.
c. Sumberdaya organisasi untuk implementasi program
Implementasi kebijakan perlu didukung sumberdaya baik sumberdaya
manusia (human resources) maupun sumberdaya non-manusia (non
human resources).
d. Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana
Yang dimaksud karakteristik dan kemampuan agen pelaksana adalah
mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang
terjadi dalam birokrasi, yang semuanya itu akan mempengaruhi
implementasi suatu program.
Berdasarkan pendapat dari G. Shabbir Cheema dan Dennis A.
Rondinelli tersebut terdapat faktor yang menentukan keberhasilan suatu
implementasi kebijakan yang diterapkan. Apabila kita ingin mengetahui
kebijakan yang diterapkan, kegagalan atau keberhasilannya bias diukur oleh
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan. Pemerintah Pusat dalam
15

melaksanakan kebijakan dapat melakukan upaya untuk mendorong
Pemerintahan Daerah dalam program-program pembangunan dan pelayanan
yang sejalan dengan kebijaksanaan nasional. Khususnya untuk membantu
pembiayaannya, Pemerintah Pusat bisa memberi bantuan berbentuk
subsidi yaitu transfer dana dari anggaran dan pembukuan pemerintah
Pusat kepada Pemerintah Daerah. Alokasi oleh Pemerintah Pusat kepada
Pemerintahan Daerah mengandung tujuan yang berbeda-beda yang
mempengaruhi bentuk dan lingkupannya. Pengertian subsidi dikemukakan
oleh Subarsono dalam bukunya yang berjudul Analisis Kebijakan Publik
(Konsep, Teori dan Aplikasi). Yang dimaksud subsidi adalah semua
bantuan financial pemerintah kepada individu, perusahaan, dan organisasi.
Maksud dari subsidi adalah untuk memberikan bantuan pembiayaan
terhadap berbagai aktivitas (Subarsono, 2005:109)

2. Tinjauan Umum Perpajakan
a. Pengertian pajak
Banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi
pajak. Berikut ini merupakan beberapa definisi pajak dari para ahli:
(1) Sommerfeld et.al (1983 : 1) merumuskan definisi pajak sebagai Any
non-penal yet compulsory transfer of resources from the private to the
public sector, levied on the basis of predetermined criteria and without
receipt of specific benefit of equal value, in order to accomplish some
of a nations economic and social objectives.
16

(2) Soemahamidjaja dalam disertasinya yang berjudul Pajak Berdasarkan
Asas Gotong Royong, Universitas Padjajaran, Bandung,
mengemukakan bahwa Pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau
barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma
hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa
kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum (Suandy, 2008 : 9).
(3) Sumitro dalam bukunya Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pajak
Pendapatan menyatakan: Pajak adalah iuran kepada kas negara
berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak
mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dan dapat
ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
(Suandy, 2008 : 10)
Dari beberapa definisi pajak yang sudah dibahas sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak adalah
sebagai berikut (Waluyo, 2011 : 3):
(1) Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan
pelaksanaannya yang sifatnya dapat dipaksakan.
(2) Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya
kontraprestasi individual oleh pemerintah.
(3) Pajak dipungut oleh negara baik Pemerintah Pusat maupun daerah.
(4) Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang
bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk
membiayai public investment.
(5) Pajak dapat pula mempunyai tujuan selain budegeter, yaitu mengatur.

b. Fungsi Pajak
1) Fungsi Budgetair
17

Pajak dipergunakan sebagai alat memasukkan dana secara
optimal ke kas negara berdasarkan undang-undang yang berlaku
(Nurmantu, 2003 : 30). Fungsi budgetair merupakan fungsi utama
pajak. Berdasarkan fungsi ini, pajak merupakan sumber dana bagi
pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran.
2) Fungsi Reguler
Fungsi reguler yaitu suatu fungsi yang memposisikan pajak
sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu oleh pemerintah.Fungsi
reguler merupakan fungsi tambahan karena hanya sebagai pelengkap
dari fungsi utama pajak yaitu fungsi budgetair.Agar mencapai tujuan
tertentu, pajak dipakai sebagai alat kebijaksanaan.Misalnya pemerintah
mempunyai sasaran untuk melindungi pabrik tekstil dalam negeri,
maka pemerintah dapat menaikkan tarif pajak Impor dan Bea Masuk.
Selain itu pemerintah dapat memberikan kemudahan atau fasilitas
perpajakan kepada pabrik tekstil (Nurmantu, 2003 : 36).
c. Pengelompokkan Pajak
Pengelompokkan atau penggolongan pajak didasarkan pada suatu
kriteria. Berikut ini adalah pengelompokkan pajak yang dirangkum oleh
Mardiasmo (2009 : 5-6):
1) Menurut Golongannya
(1) Pajak Langsung
Pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat
dibebanjan atau dilimpahkan kepada orang lain
(2) Pajak Tidak Langsung
Pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan
kepada orang lain.
2) Menurut Sifatnya
18

(1) Pajak Subjektif
Pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam
arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.
(2) Pajak Objektif
Pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan
keadaan diri Wajib Pajak.
3) Menurut Lembaga Pemungutnya
(1) Pajak Pusat
Pajak pusat yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Pajak pusat
mencakup; Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM), Bea
Meterai, Bea Masuk.
(2) Pajak Daerah
Pajak daerah yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah
dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak
daerah terdiri atas:
(1) Pajak Provinsi; Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Pajak
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor (BBNKB), Pajak Air permukaan.
(2) Pajak Daerah Kabupaten/ Kota; Pajak Hotel, Pajak Restoran,
Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak
Parkir, Pajak Air Tanah dan Pajak Pengambilan dan
Pengelolahan Bahan Galian Golongan.

d. Asas Pemungutan
Menurut Bapak Ekonomi Adam Smith dalam melakukan pungutan
pajak harus mengikuti suatu asas sebagai pedoman, yaitu asas keadilan
(equality), asas kejelasan (certainty), asas kesederhanaan (convenience)
dan asas efisien (efficiency).
(1) Asas Keadilan
Pemungutan pajak sebaiknya dilakukan dengan menyeimbangkan
tekanan pajak dengan kemampuan wajib pajak, yaitu seimbang dengan
penghasilan yang dinikmati di bawah perlindungan negara.
(2) Asas Kejelasan
19

Pemungutan pajak harus jelas dan pasti sesuai dengan aturan yang
telah ditetapkan.
(3) Asas Kesederhanaan
Pelaksanaan pemungutan pajak harus mudah sehingga tidak
menyulitkan dalam perhitungan dan pemungutan pajak baik untuk
petugas pajak maupun wajib pajak.
(4) Asas efisien
Pemungutan pajak harus selalu melihat apakah pajak yang ditetapkan
telah sesuai dengan apa yang didapat oleh wajib pajak. Selain itu
pemungutan pajak sebaiknya dilaksanakan dengan sehemat-
hematnya.Tingginya biaya pemungutan tidak boleh lebih tinggi dari
penerimaan pajak dari pemungutan yang dilakukan.

e. Sistem Pemungutan
1) Self Assesment System
Self Assessment System adalah suatu sistem perpajakan yang
memberikan kepercayaaan kepada Wajib Pajak untuk memenuhi dan
melaksanakan sendri kewajiban dan hak perpajakannya. Pihak yang
berperan aktif dalam system ini adalah Wajib Pajak. Peranan fiskus
dalam sistem ini adalah melakukan pengamatan dan pengawasan.
2) Official Assesment System
Official Assessment System adalah suatu sistem perpajakan
yang memposisikan fiskus sebagai pihak yang berinisiatif untuk
20

memenuhi kewajiban perpajakan wajib pajak.Sistem ini kebalikan dari
self assessment system. Sistem ini mengharuskan fiskus untuk aktif
dalam pemungutan pajak
3) Withholding Tax System
Withholding Tax System adalah suatu sistem perpajakan yang
menempatkan pihak tertentu (pihak ketiga) sebagai pihak yang
mendapat tugas dan kepercayaan dari undang-undang perpajakan
untuk memotong atau memungut pajak terhadap suatu jumlah
pembayaran atau transaksi yang dilakukan dengan Wajib Pajak.
Jumlah pajak yang dipotong diteruskan ke kas negara dalam jangka
waktu tertentu.


3. Pajak Daerah
a. Pengertian Pajak Daerah
Berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1
dan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 Pasal 1
ayat 7 dijelaskan bahwa Pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada
Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pada Pasal 1 ayat 1 Undang-
undang Nomor 28 Tahun 2009 menyebutkan bahwa yang dimaksud
21

dengan Daerah yang disebutkan dalam pengertian pajak daerah adalah
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah
yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
b. Jenis Pajak Daerah
Pajak daerah terbagi menjadi dua yaitu pajak provinsi dan
pajak kabupaten/kota. Rincian jenis pajak daerah sesuai yang tertera
dalam Pasal 2 UU Nomor 28 tahun 2009 sebagai berikut:
1) Jenis Pajak Provinsi terdiri atas
(a) Pajak Kendaraan Bermotor
(b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
(c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
(d) Pajak Air Permukaan
(e) Pajak Rokok
2) Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas
(a) Pajak Hotel
(b) Pajak Restoran
(c) Pajak Hiburan
(d) Pajak Reklame
(e) Pajak Penerangan Jalan
(f) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
(g) Pajak Parkir
(h) Pajak Air Tanah
(i) Pajak Sarang Burung Walet
(j) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
(k) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Selain jenis pajak yang disebutkan dalam Pasal 2 Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009, Pemerintah Daerah tidak boleh
memungut jenis pajak lain. Pemerintah Daerah hanya diperkenankan
memungut jenis pajak yang telah disebutkan dalam Undang-undang
22

Nomor 28 tahun 2009. Tetapi Pemerintah Daerah diperkenankan tidak
memungut seluruh jenis pajak yang ada apabila potensinya kurang
memadai atau disesuaikan dengan kebijakan Daerah yang ditetapkan
dengan Peraturan Daerah.
Pemerintah Kota Malang menetapkan 7 jenis pajak daerah yang
dipungut. Penetapan jenis pajak ini dipertimbangkan dengan potensi
dan kebijakan yang berlaku di Kota Malang. Berikut ini merupakan
pajak daerah yang dipungut Pemerintah Kota Malang:
(1) Pajak Hotel
(2) Pajak Restoran
(3) Pajak Hiburan
(4) Pajak Reklame
(5) Pajak Penerangan Jalan
(6) Pajak Parkir
(7) Pajak Air Tanah

c. Pemungutan Pajak Daerah
1) Larangan Pemungutan Pajak Daerah
Pasal 96 ayat 1 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009
menyebutkan bahwa pemungutan pajak dilarang diborongkan.
Ayat tersebut bermakna bahwa seluruh proses kegiatan
pemungutan pajak tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga.
Larangan ini termasuk kegiatan penghitungan besarnya pajak
terutang, pengawasan penyetoran pajak, dan penagihan pajak.
23

Kerjasama yang dapat dilaksanakan dengan pihak ketiga dalam
rangka pemungutan pajak dimungkinkan yakni pencetakan
formulir perpajakan, pengiriman surat-surat kepada wajib pajak,
atau penghimpunan data objek atau subjek data (Kurniawan &
Purwanto, 2004 : 130).
2) Sistem Pemungutan Pajak Daerah
Sebagaimana pemungutan pajak yang dilakukan oleh
Pemerintah Pusat, pemungutan pajak daerah juga menerapkan
beberapa sistem pemungutan pajak. Berdasarkan pasal 96 Undang-
undang Nomor 28 Tahun 2009 dapat ditarik kesimpulan bahwa
pajak daerah menerapkan self assessment system dan official
assessment system. Ketentuan mengenai sistem pemungutan pajak
tersebut antara lain sebagai berikut:
(a) Self Assessment System
Self Assessment System adalah suatu sistem perpajakan
yang memberikan kepercayaaan kepada Wajib Pajak untuk
memenuhi dan melaksanakan sendiri kewajiban dan hak
perpajakannya. Pengenaan pajak dilakukan dengan memberikan
kepercayaan kepada Wajib Pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang
terutang dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah
(SPTPD). Jika Wajib Pajak tidak memenuhi kewajibannya
sebagaimana semestinya, maka dapat diterbitkan SKPDKB
24

dan/atau SKPDKBT yang menjadi sarana penagihan. Ketentuan ini
terangkum dalam Pasal 96 ayat 5 Undang-undang Nomor 28
Tahun 2009 yang berbunyi Wajib pajak yang memenuhi
kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan menggunakan
SPTPD, SKPDKB, dan/atau SKPDKBT.
(b) Official Assessment System
Official Assessment System adalah suatu sistem perpajakan
yang memposisikan fiskus sebagai pihak yang berinisiatif untuk
memenuhi kewajiban perpajakan wajib pajak. Berdasarkan pasal
96 ayat 3 dan 4 yang berbunyi:
(3) Wajib pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan
berdasarkan penetapan Kepala Daerah dibayar dengan
menggunakan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(4) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) berupa karcis dan nota perhitungan.
Dapat disimpulkan bahwa pengenaan pajak dilakukan setelah
adanya penetapan dari Kepala Daerah. Oleh karena itu pajak yang
terutang akan dibayar oleh Wajib Pajak apabila SKPD atau
dokumen lain yang dipersamakan telah ditetapkan oleh Kepala
Daerah.
Hal ini juga dijelaskan dalam Pasal 67 Peraturan Daerah
Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010. Berikut ini merupakan
pembagian jenis pajak berdasarkan system pemungutannya:
25

1) Self Assessment System
(a) Pajak Hotel
(b) Pajak Restoran
(c) Pajak Hiburan
(d) Pajak Penerangan Jalan
(e) Pajak Parkir
2) Official Assessment System
(a) Pajak Reklame
(b) Pajak Air Tanah
3) Jenis Surat Ketetapan Pajak Daerah
Surat Ketetapan Pajak Daerah adalah surat ketetapan pajak
yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak yang terutang. Surat
Ketetapan Pajak Daerah terbagi menjadi:
(1) Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB)
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar adalah surat
ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak,
jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak,
besarnya sanksi administratif, dan jumlah pajak yang masih harus
dibayar.
(2) Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan
(SKPDKBT)
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan adalah
surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak
26

yang telah ditetapkan. SKPDKBT diterbitkan oleh Kepala Daerah
dalam jangka 5 tahun sesudah saat terutangnya pajak jika ditemukan
data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang
menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang.Jumlah
kekurangan pajak yang terutang dikenakan sanksi administratif berupa
kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak.
(3) Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN)
Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang selanjutnya disingkat
SKPDN, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok
pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak
terutang dan tidak ada kredit pajak. SKPDN diterbitkan oleh Kepala
Daerah dalam jangka 5 tahun sesudah saat terutangnya pajak jika
jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak
atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
(4) Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar (SKPDLB)
Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya
disingkat SKPDLB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan
jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih
besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
4) Penagihan Pajak Daerah
STPD yang merupakan singkatan dari Surat Tagihan Pajak
Daerah adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi
27

administrative berupa bunga dan/atau denda. Kepala Daerah dapat
menerbitkan STPD jika:
(a) Pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. Jumlah
kekurangan pajak ditambah dengan sanksi administrative berupa
bunga sebesar 2% setiap bulan untuk paling lama 15 bulan sejak
sasat terutangnya pajak.
(b) Dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran
sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung. Jumlah kekurangan
pajak ditambah dengan sanksi administrative berupa bunga sebesar
2% setiap bulan untuk paling lama 15 bulan sejak sasat terutangnya
pajak.
(c) Wajib pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau
denda. Selain itu STPD dapat digunakan untuk menagih SKPD
yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran.

5) Tata Cara Pembayaran
Kepala Daerah menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran
dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 hari kerja setelah
saat terutangnya pajak dan paling lama 6 bulan sejak tanggal
diterimanya SPPT oleh Wajib Pajak. SPPT, SKPD, SKPDKB,
SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, dan Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak
yang harus dibayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak dan
harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 bulan sejak tanggal
28

diterbitkan. Kepala Daerah atas permohonan Wajib Pajak untuk
mengangsur atau menunda pembayaran pajak, dengan dikenakan
bunga sebesar 2% sebulan. Pajak yang terutang berdasarkan SPPT,
SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan,
Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang tidak atau
kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya dapat ditagih dengan
Surat Paksa yang dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-
undangan.



4. Air Tanah
a. Pengertian Air Tanah
Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat di
dalam ruang-ruang antara butir-butir tanah yang membentuk itu dan di
dalam retak-retak batuan (Sosrodarsono & Takeda, 2009). Berdasarkan
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, Pajak Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan
tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Peraturan Pemerintah
Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah juga memuat hal yang sama
tentang pengertian air tanah pada Pasal 1 ayat 1. Pemerintah DaerahKota
Malang memiliki pengertian yang agak berbeda dengan pengertian air
tanah yang tertuang dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 dan PP Nomor 43
29

Tahun 2008.Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun
2010 tentang Pajak Daerah, Air Tanah adalah air yang berada di perut
bumi termasuk mata air yang muncul secara alamiah di atas permukaan
tanah.
b. Keadaan Air Tanah
1) Lapisan Permeable dan Lapisan Impermeabel (Permeable
Layer dan I mpermeable Layer)
Lapisan yang dapat dilalui dengan udah oleh air tanah disebut
lapisan permeabel.Contohnya adalah lapisan pasir dan lapisan kerikil.
Sedangkan lapisan yang sulit dilalui oleh air tanah (lapisan kedap air)
dan lapisan yang menahan air (lapisan kebal air) disebut lapisan
impermeabel. Contoh dari lapisan kedap air (aquiclude) adalah lapisan
lempung atau lapisan silt, sedangkan lapisan kebal air (aquifuge)
adalah lapisan batu. Lapisan permeabel yang jenih dengan air tanah
disebut juga akuifer.

2) Air Bebas dan Air Terkekang (Free Water and Confined Water)
Air tanah dalam akuifer yang tertutup dengan lapisan
impermeabel mendapat tekanan dan disebut air terkekang.Air tanah
dalam akuifer yang tidak tertutup dengan lapisan impermeabel disebut
air tanah bebas atau air tanah tak terkekang. Permukaan air tanah di
sumur dari air tanah bebas adalah permukaan air bebas, sedangkan
permukaan air tanah dari akuifer adalah permukaan air terkekang.

30

3) Air Tanah Tumpang (Perched Ground Water)
Jika di dalam zona tak jenuh terbentuk sebuah lapisan air
impermeabel, maka air tanah yang terbentuk di atas lapisan ini disebut
air tanah tumpang.Air tumpang ini tidak dapat dijadikan sebagai suatu
usaha pengembangan air tanah, karena mempunyai variasi permukaan
air dan volume.

4) Karakteristik Air Lapisan dan Air Celah
Karakterisitik mengenai air lapisan dan air celah dapat dilihat
pada Tabel berikut ini:


Tabel 3 Karakteristik Air Lapisan dan Air Celah

Air Lapisan Air Celah
Kondisi Kadar Air

Air terdapat dalam ruang
antara butir-butir tanah
dari lapisan
Air terdapat dalam ruang
celah sekunder atau zona
retakan
Teori Air Tanah Umumnya dapat
diadakan
Dalam banyak hal tidak
dapat diadakan
Keadaan Akuifer



Akuifer itu dibentuk dan
didistribusi secara teratur
menurut kondisi
sedimentasi. Air diisi
terutama melalui akuifer
Akuifer khusus tidak
dibentuk dan didistribusi
secara tidak teratur. Air
diisi terutama melalui
zona celah dan retakan
31

Sumber: Hidrologi untuk Pengairan (2009 : 94)

c. Penggunaan Air Tanah
Penggunaan air tanah ditujukan untuk pemanfaatan air tanah dan
prasarana pada cekungan air tanah. Cekungan air tanah adalah suatu
wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian
hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan perlepasan air
tanah berlangsung. Penggunaan air tanah dilakukan sesuai dengan
penatagunaan dan penyediaan air tanah yang telah ditetapkan pada
cekungan air tanah.Penggunaan air tanah dilakukan dengan
mengutamakan pemanfaatan air tanah pada akuifer dalam yang
pengambilannya tidak melebihi daya dukung akuifer terhadap
pengambilan air tanah.Akuifer adalah lapisan batuan jenuh air tanah yang
dapat menyimpan dan meneruskan iar tanah dalam jumlah cukup dan
ekonomis.Penggunaan air tanah dilakukan melalui pengeboran atau
penggalian air tanah. Pengeboran atau penggalian air tanah ditujukan
untuk mengeluarkan air tanah dari akuifer melalui sumur bor, sumur gali
atau dengan cara lainnya. Pengeboran atau penggalian air tanah wajib
mempertimbangkan jenis dan sifat fisik batuan, kondisi hidrogeologis,
letak dan potensi sumber pencemaran serta kondisi lingkungan sekitarnya
dan dilarang dilakukan pada zona perlindungan air tanah. Debit
pengambilan air tanah ditentukan berdasar atas:
(1) daya dukung akuifer terhadap pengambilan air tanah;
(2) kondisi dan lingkungan air tanah;
32

(3) alokasi penggunaan air tanah bagi kebutuhan mendatang;
(4) penggunaan air tanah yang telah ada.
Penggunaan air tanah terdiri atas pemakaian air tanah dan
pengusahaan air tanah. Pemakaian air tanah merupakan kegiatan
penggunaan air tanah yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pokok
sehari-hari, pertanian rakyat, dan kegiatan bukan usaha. Kegiatan bukan
usaha mencakup pesantren, rumah ibadah dan kantor pemerintah.
Pemakaian air tanah untuk pertanian rakyat hanya dapat dilakukan apabila
air permukaan tidak mencukupi untuk operasional pertanian.Pemakaian air
tanah dapat dilakukan setelah memiliki hak guna pakai air dari
pemanfaatan air tanah.
Hak guna pakai air dari pemanfaatan air tanah untuk kegiatan
bukan usaha diperoleh dengan izin pemakaian air tanah yang diberikan
oleh bupati/walikota.Izin pemakaian air tanah tersebut dapat diberikan
kepada perseorangan, badan usaha, instansi pemerintah atau badan sosial.
Hak guna pakai air dari pemanfaatan air tanah diperoleh tanpa izin apabila
untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan
pertanian rakyat. Hak guna pakai air dari pemanfaatan air tanah untuk
memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan ditentukan
sebagai berikut:
(1) penggunaan air tanah dari sumur bor berdiameter kurang dari 2 (dua)
inci (kurang dari 5 cm);
(2) penggunaan air tanah dengan menggunakan tenaga manusia dari sumur
gali; atau
(3) penggunaan air tanah kurang dari 100 m3/bulan per kepala keluarga
dengan tidak menggunakan system distribusi terpusat.
33


Hak guna pakai air dari pemanfaatan air tanah untuk memenuhi
kebutuhan pertanian rakyat ditentukan sebagai berikut:
(1) sumur diletakkan di areal pertanian yang jauh dari pemukiman;
(2) pemakaian tidak lebih dari 2 (dua) liter per detik per kepala keluarga
dalam hal air permukaan tidak mencukupi; dan
(3) debit pengambilan air tanah tidak mengganggu kebutuhan pokok
sehari-hari masyarakat setempat.

d. Dampak Pengambilan Air Tanah
1) Penurunan Muka Air Tanah
Pengambilan air tanah secara berlebihan mengakibatkan
menurunnya permukaan air tanah (land subsidence). Terzaghi dalam
Kodoatie & Sjarif (2010 : 33) menjelaskan bahwa penurunan
permukaan air tanah akan mengkibatkan pengurangan gaya angkat
tanah sehingga terjadi peningkatan tegangan efektif tanah. Akibat
meningkatnya tegangan efektif ini akan menyebabkan penyusutan
butiran tanah sehingga terjadi penurunan tanah. Jadi penurunan terjadi
karena pengambilan air tanah sekaligus peningkatan tegangan efektif
secara simultan.
2) Amblesan Tanah (Land Subsidence)
Amblesan tanah (land subsidence) timbul akibat pengambilan
air tanah yang berlebihan pada lapisan pembawa air (akuifer) yang
tertekan (confined aquifer). Air tanah yang tersimpan dalam pori-pori
lapisan penutup akuifer akan terperas keluar yang mengakibatkan
34

penyusutan lapisan penutup tersebut, akibatnya terjadi amblesan tanah
di permukaan.
3) Pencemaran Air Tanah
Akibat pengambilan air tanah yang intensif dapat
mengakibatkan pencemaran air tanah dalam yang berasal dari tanah
dangkal. Kualitas yang semula baik menjadi menurun dan bahkan
tidak dapat digunakan sebagai bahan baku minum. Hal ini diakibatkan
oleh ekploitasi air tanah yang berlebihan yang berdampak bagi
menurunnya tinggi muka air tanah secara berkelanjutan.Kemungkinan
terjadinya rembesan air sungai ke akuifer sangat besar. Jika akuifer
terbentuk dari tanah yang memiliki permeabilitas besar dan
pencemaran yang terjadi di sungai cukup tinggi, maka akan
mengakibatkan pencemaran air tanah. (Kodoatie & Sjarif, 2010 : 35).
Pengambilan air tanah secara berlebihan di daerah pantai dapat
menimbulkan intrusi air laut.Instrusi air laut terjadi karena pergerakan
air laut ke air tanah akibat penurunan tinggi muka air tanah. Tentunya
hal ini akan menyulitkan masyarakat yang bergantung pada air tanah
untuk kehidupan sehari-hari.

5. Pajak Air Tanah
a. Pengertian Pajak Air Tanah
Menurut Pasal 1 ayat 33 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009
dan Pasal 1 ayat 24 dalam Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16
Tahun 2010 , Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau
35

pemanfaatan air tanah. Selanjutnya pada Pasal 1 ayat 34 Undang-undang
Nomor 28 Tahun 2009 dijelaskan bahwa yang dimaksud deoffngan air
tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
permukaan tanah. Sedangkan dalam pasal 1 ayat 25 Peraturan Daerah
Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 dijelaskan bahwa yang dimaksud
dengan air tanah adalah air yang berada di perut bumi termasuk mata air
yang muncul secara alamiah di atas permukaan tanah.




b. Objek Pajak Air Tanah
Objek Pajak Air Tanah adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan
air tanah. Pengambilan atau pemanfaatan air tanah dikecualikan dari objek
Pajak Air Tanah adalah:
(1) Pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah untuk keperluan dasar
rumah tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat, serta
peribadatan; dan
(2) Pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah lainnya yang diatur
dengan Peraturan Daerah.

c. Subjek dan Wajib Pajak Air Tanah
Subjek Pajak Air Tanah adalah orang pribadi atau Badan yang
melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.Wajib Pajak Air
36

Tanah adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan
dan/atau pemanfaatan Air Tanah.

d. Dasar Pengenaan Pajak Air Tanah
Dasar pengenaan Pajak Air Tanah adalah nilai Perolehan Air
Tanah. Nilai Perolehan Air Tanah tersebut dinyatakan dalam rupiah yang
dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor
berikut:
(1) jenis sumber air;
(2) lokasi sumber air;
(3) tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
(4) volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan;
(5) kualitas air; dan
(6) tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan
dan/atau pemanfaatan air.
Penggunaan faktor-faktor tersebut disesuaikan dengan kondisi
masing-masing Daerah. Besarnya Nilai Perolehan Air Tanah ditetapkan
dengan Peraturan Bupati/Walikota.
e. Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan Pajak Air Tanah
Dasar pengenaan pajak yakni nilai perolehan air tanah. Sedangkan
cara menghitung nilai perolehan air yakni mengalikan volume air dengan
harga dasar, yang ditetapkan oleh kepala daerah secara periodik. Tarif
Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% dan ketentuan
37

mengenai besarnya tarif Pajak Air Tanah ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.

Gambar 1
Rumus Pajak Terutang Air Tanah



Harga dasar air telah ditentukan oleh kepala daerah dalam suatu
tabel menurut jenis pemakai yang memanfaatkan air. Cara penetapan
pemakaian air dapat dilakukan dengan cara berikut (Kurniawan &
Purwanto, 2004 : 95):
(1) Pemakaian air yang menggunakan meter air dalam setiap meter
kubiknya, ditetapkan atas pengurangan antara angka meter terakhir
dengan meter awal.
(2) Pemakaian air yang tidak menggunakan meter air dihitung berdasarkan
debit air yang tercantum dalam izin atau berdasarkan diameter pipa
yang digunakan untuk mengambil air tanah. Cara menghitung
pemakaian volume air yakni sebagai berikut.


Gambar 2
Rumus Pemakaian Volume Air





Pajak Terutang = (pemakaian volume air x harga dasar) x Tarif

38



39

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang mempunyai tujuan
untuk menggambarkan secara tepat mengenai sifat-sifat individu, keadaan, gejala,
atau kelompok-kelompok tertentu, atau dengan tujuan untuk menentukan
frekuensi penyebaran suatu gejala, atau adanya hubungan tertentu antara gejala
yang satu dengan gejala yang lain dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1991 :
290). Adapun ciri-ciri dari metode deskriptif adalah sebagai berikut (Surakhmad,
1998 : 140):
(1) Memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang pada masa
sekarang, pada masalah-masalah yang actual
(2) Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian
dianalisa (karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik)
Selain itu peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.Sampai saat ini
belum ada definisi pasti mengenai penelitian kualitatif.Berikut ini adalah beberapa
pengertian para ahli mengenai penelitian kualitatif:
(1) Qualitative research, also is multi-method in focus, involving an
interpretive, naturalistic approach to its subject matter. This means that
qualitative researchers study things in their natural settings, attempting to
make sense of, or interpret phenomena in terms of the meanings people
bring to them. Qualitative research involves the studied use and collection
od a variety of empirical materials-case study, personal experience,
instropective, life story, interview, observational, historical, interactional
and visual texts-that describe routine and problematic moments and
meanings in individuals lives (Denzin & Lincoln, 2004 dalam
Wahyuni(2012:2).
(2) Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
40

perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, daln lain-lain secara holistik dan
dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu
konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah (Moleong, 2006 : 6).
Penggunaan metode kualitatif dapat dilakukan pada ketidakseimbangan
antara teori yang ada dengan teori yang diuji. Metode kualitatif dapat
menghasilkan data yang tidak bisa didapatkan dari metode kuantitatif.Misalnya
penelitian tentang kehidupan seseorang, cerita, perilaku, bahkan organisasi,
gerakan sosial atau hubungan interaksional (Symons & Cassel, 1998 : 2 ; Strauss
& Corbin, 1990 : 17). Penulis berusaha memberikan gambaran atas suatu
fenomena yang dijadikan perhatian dalam suatu uraian sistematis, faktual, akurat,
dan jelas terkait pemungutan pajak air tanah di Kota Malang.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian adalah hal-hal yang dijadikan pusat perhatian dalam
penelitian, sehingga akan memudahkan peneliti menentukan data mana yang
diperlukan untuk suatu penelitian. Penentuan fokus penelitian merupakan unsur
penting dalam sebuah penelitian. Pada dasarnya fokus penelitian mempunyai dua
tujuan yaitu membatasi studi sehingga peneliti dapat melakukan penelitian pada
tempat yang tepat dan membantu dalam menetapkan kriteria untuk menyaring
informasi data. Dengan demikian penelitian yang dilakuakan akan fokus ke satu
arah, sehingga objek atau sasaran yang diteliti tidak kabur atau mengambang.
Dalam penelitian ini, yang menjadi fokus penelitian adalah:
1. Pemungutan Pajak Air Tanah Kota Malang, antara lain:
a. Penghimpunan data objek pajak dan subjek pajak
41

b. Penentuan besarnya pajak
c. Penagihan pajak
d. Pengawasan penyetoran
2. Kendala dan pendukung dalam implementasi pemungutan pajak air tanah di
kota Malang
3. Upaya yang dilakukan dalam peningkatan pemungutan Pajak Air Tanah di
Kota Malang
C. Lokasi dan Situs Penelitian
Lokasi penelitian adalah ruang atau tempat penelitian akandilaksanakan.
Lokasi pada penelitian ini adalah Kota Malang. Adapun yang menjadi alasan
peneliti memilih lokasi penelitian di Kota Malang adalah Kota Malang memiliki
sumber air tanah yang cukup potensial dan berkembang pesatnya usaha-usaha di
Kota Malang yang membutuhkan sumber air bersih dalam operasional usahanya.
Hal ini seharusnya berdampak pada pajak yang dibebankan terhadap pengusaha
yang ada di Kota Malang.
Pengertian situs adalah tempat sebenarnya peneliti dapat menangkap
keadaan objek yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, yang menjadi situs
penelitian adalah Dispenda Kota Malang yang terletak pada Perkantoran Terpadu
Kota Malang.

42

D. Sumber dan Jenis Data
Sumber data adalah menyangkut sumber-sumber penyediaan informasi
yang mendukung dalam penelitian. Adapun yang menjadi sumber data dalam
penelitian ini adalah:
1. Sumber data primer
Sumber data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari
sumbernya, kemudian diamati dan dicatat untuk pertama kali.Data primer
dalam penelitian ini diperoleh dari pegawai atau staf yang
bertanggungjawab atas pemungutan air tanah di Dinas Pendapatan Kota
Malang. Adapun pegawai atau staf yang menjadi sumber data penelitian
ini yaitu:
a. Kepala Dispenda Kota Malang
b. Kepala Bidang Pajak Daerah Lainnya Dispenda Kota Malang
c. Kepala Seksi Pendataan pada Bidang Pajak Daerah Lainnya Dispenda
Kota Malang
d. Kepala Seksi Pendaftaran pada Bidang Pajak Daerah Lainnya
Dispenda Kota Malang
e. Kepala Seksi Penetapan pada Bidang Pajak Daerah Lainnya Dispenda
Kota Malang
f. Kepala Bidang Penagihan Dispenda Kota Malang
g. Kepala Seksi Penagihan Pajak Daerah Lainnya pada Bidang Penagihan
Dispenda Kota Malang
43

h. Kepala Seksi Penyelesaian Keberatan Pajak Daerah Lainnya pada
Bidang Penagihan Dispenda Kota Malang
i. Kepala Bidang Pembukuan, Pengembangan Potensi dan Pelaporan
Dispenda Kota Malang
j. Kepala Seksi Pengembangan Potensi pada Bidang Pembukuan,
Pelaporan dan Pengembangan Potensi Dispenda Kota Malang
k. Kepala Seksi Pembukuan pada Bidang Pembukuan, Pelaporan dan
Pengembangan Potensi Dispenda Kota Malang
2. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung
dan memberikan informasi tambahan bagi peneliti.Sumber data sekunder
dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen, kompilasi data,
laporan, catatan-catatan, majalah ilmiah, makalah serta arsip yang
berkaitan dengan penelitian. Dokumen tersebut diantaranya:
a. Profil Kota Malang
b. Profil Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang
c. Info Pendapatan Asli Daerah Kota Malang
E. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian
ini adalah:
1. Observasi, yaitu kegiatan pengamatan dan pencatatan secara langsung
terhadap objek penelitian guna memperoleh data yang actual dari sumber data.
Observasi adalah pemilihan dan perilaku pencatatan orang di lingkungan
44

mereka. Metode ini berguna untuk menghasilkan deskripsi yang mendalam
dari organisasi atau kejadian, untuk memperoleh informasi yang tidak
terjangkau dan untuk melakukan penelitian ketika metode lainnya tidak
memadai (Wahyuni, 2012 : 21).
2. Interview, yaitu dengan melakukan wawancara langsung dengan informan
penelitian. Interview atau wawancara diartikan sebagai metode pengumpulan
data atau informasi dengan cara tanya jawab sepihak, dikerjakan secara
sistemik dan berlandaskan pada tujuan penyelidikan (Subiyantoro &
Suwarto, 2007 : 97). Jenis wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara
terstruktur. Pelaksanaan wawancara didasarkan pada pedoman yang telah
dibuat sebelum pelaksanaan wawancara.
3. Dokumentasi, yaitu dengan mencatat dan memanfaatkan data-data yang ada di
instansi yang berkaitan dengan penelitian, yang berupa dokumen atau catatan-
catatan.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu dalam pengumpulan data.
Ketepatan dalam menggunakan intrumen penelitian merupakan salah satu faktor
yang menentukan keberhasilan penelitian. Adapun instrument atau alat bantu yang
dapat digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Peneliti sendiri, yang merupakan pengumpul data utama, terutama dalam
proses wawancara dan analisa data
2. Pedoman wawancara atau interview guide, yaitu beberapa daftar pertanyaan
yang diajukan kepada inforan dalam melakukan wawancara.
45

3. Perangkat penunjang, yang meliputi buku catatan dan alat tulis menulis yang
diperlukan dalam pengumpulan data
G. Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam proses
penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif.
Tahapan analisis data yang dilakukan oleh peneliti adalah tahapan analisis
data menurut Miles dan Huberman dalam Husaini Usman dan Purnomo Setiady
Akbar (2009 : 85), yaitu sebagai berikut:
(a) Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari
catatan-catatan lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data, dimulai
dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-
gugus, menulis meo, dan lain sebagainya dengan maksud menyisihkan
data/informasi yang tidak relevan. Reduksi dara merupakan suatu bentuk
analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengapresiasikan, mengarahkan,
membuang data yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sedemikian rupa
sehingga akhirnya data yang terkumpul dapat diverifikasi.
(b) Penyajian data adalah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang
memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif.
Penyajian juga dapat berbentuk matriks, grafik, jairngan dan bagan. Semuanya
46

dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang
padu dan mudah dipahami.
(c) Penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan kegiatan akhir penelitian
kualitatif. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan
verifikasi, baik dari segi makna maupun kebenaran kesimpulan yang
disepakati oleh subjek tempat penelitian itu dilaksanakan. Makna yang
dirumuskan harus diuji kebenaran, kecocokan dan kekokohannya.

47

BAB IV
PEMBAHASAN
1. Gambaran Umum Kota Malang
a. Kondisi Daerah
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah
Kota Surabaya (berjarak 90 Km dari Surabaya), dikelilingi wilayah
Kabupaten Malang dan disebelah barat berbatasan dengan Kota Batu.
Merupakan kota yang berada di bagian tengah Provinsi Jawa Timur berada
pada 11234'9"-11241'34" Bujur Timur dan 754'2"-83'5" Lintang Selatan
di ketinggian antara 400 667 meter di atas permukaan laut (dpl).
Berdasarkan letak tersebut, kota Malang memiliki udara sejuk dengan suhu
rata-rata 24,13C dengan kelembaban udara 72% serta curah hujan rata-rata
1.883 milimeter pertahun, sehingga kota Malang merupakan wilayah dataran
tinggi dengan suasana yang sejuk dan asri. Apalagi ditunjang dengan
pemandangan alamnya yang indah dan bersih.
Kota Malang berada pada posisi strategis karena dikelilingi oleh
Gunung Anjasmoro dan Gunung Welirang di sebelah Barat Laut, Gunung
Semeru dan Gunung Bromo di sebelah Timur, Gunung Kawi dan Gunung
Kelud di sebelah Barat Daya, serta Gunung Arjuno dan Gunung Panderman di
sebelah Barat.

b. Batas Wilayah
Batas-batas wilayah Kota Malang adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Karangploso
48

Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Pakisaji
Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Tumpang
Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Dau
Kota Malang area luasnya 110,06 Km2 dengan jumlah penduduknya
817.588 jiwa pada semester II tahun 2012 tersebar di 5 (lima) Kecamatan
(Monografi Bag. Pemerintahan). Tingkat kepadatan penduduk kota rata-rata
mencapai 8.461 jiwa per km2. Kepadatan penduduk tertinggi berada di
Kecamatan Sukun mencapai 179.213 jiwa, sedangkan tingkat kepadatan
penduduk terendah berada di Kecamatan Klojen yang mencapai 132.339 jiwa.
Dengan laju pertumbuhan penduduk mencapai 0,86% per tahun, Kota Malang
menjadi daerah hunian yang semakin padat ditandai oleh pembangunan
perumahan dan permukiman baru di wilayah pinggiran kota dan pertumbuhan
kawasan perdagangan yang semakin tinggi. Dalam kontek regional kedudukan
dan peranan kota Malang cukup strategis karena sebagai salah satu pusat
pengembangan wilayah dataran tinggi. Dan sekarang termasuk sebagai kota
terkemuka kedua di Jawa Timur karena memiliki sarana dan prasarana
perkotaan yang cukup memadai.
c. Wilayah Administratif
Kota Malang terdiri dari 5 Kecamatan dan 57 Kelurahan sebagai
berikut :
1) Kecamatan Blimbing, terdiri dari 11 Kelurahan :
(1) Kelurahan Bale Arjosari
(2) Kelurahan Arjosari
49

(3) Kelurahan Polowijen
(4) Kelurahan Purwodadi
(5) Kelurahan Blimbing
(6) Kelurahan Pandanwangi
(7) Kelurahan Purwantoro
(8) Kelurahan Bunulrejo
(9) Kelurahan Ksatrian
(10) Kelurahan Polehan
(11) Kelurahan Jodipan
2) Kecamatan Klojen, terdiri dari 11 Kelurahan :
(1) Kelurahan Rampalcelaket
(2) Kelurahan Kidul Dalem
(3) Kelurahan Kasin
(4) Kelurahan Kauman
(5) Kelurahan Samaan
(6) Kelurahan Klojen
(7) Kelurahan Oro-oro Dowo
(8) Kelurahan Penanggungan
(9) Kelurahan Sukoharjo
(10) Kelurahan Bareng
(11) Kelurahan Gading Kasri

3) Kecamatan Lowokwaru, terdiri dari 12 Kelurahan :
50

(1) Kelurahan Lowokwaru
(2) Kelurahan Ketawanggede
(3) Kelurahan Dinoyo
(4) Kelurahan Jatimulyo
(5) Kelurahan Sumbersari
(6) Kelurahan Tasikmadu
(7) Kelurahan Tlogomas
(8) Kelurahan Merjosari
(9) Kelurahan Tulusrejo
(10) Kelurahan Tunjungsekar
(11) Kelurahan Tunggulwulung
(12) Kelurahan Mojolangu
4) Kecamatan Sukun, terdiri dari 11 Kelurahan :
(1) Kelurahan Sukun
(2) Kelurahan Ciptomulyo
(3) Kelurahan Pisangcandi
(4) Kelurahan Gadang
(5) Kelurahan Kebonsari
(6) Kelurahan Bandungrejosari
(7) Kelurahan Bandulan
(8) Kelurahan Karangbesuki
(9) Kelurahan Bakalankrajan
(10) Kelurahan Mulyorejo
51

(11) Kelurahan Tanjungrejo
5) Kecamatan Kedungkandang, terdiri dari 12 Kelurahan :
(1) Kelurahan Kedungkandang
(2) Kelurahan Lesanpuro
(3) Kelurahan Madyopuro
(4) Kelurahan Kotalama
(5) Kelurahan Mergosono
(6) Kelurahan Sawojajar
(7) Kelurahan Buring
(8) Kelurahan Bumiayu
(9) Kelurahan Wonokoyo
(10) Kelurahan Cemorokandang
(11) Kelurahan Arjowinangun
(12) Kelurahan Tlogowaru
d. Visi dan Misi
Visi Kota Malang adalah Terwujudnya Kota Malang Sebagai Kota
Pendidikan Yang Berkualitas, Kota Sehat Dan Ramah Lingkungan, Kota
Pariwisata Yang Berbudaya, Menuju Masyarakat Yang Maju Dan Mandiri.
Misi Kota Malang yang terkait dengan Pajak Asli Daerah adalah :
Mewujudkan upaya reformasi melalui pembenahan sistem administrasi publik
dan sistem administrasi kebijakan publik, dengan syarat rasa kebersamaan
52

seluruh masyarakat yang pluralistik, persatuan dan kesatuan, kerjasama dan
merupakan gerakan rakyat.
1) Mendayagunakan secara optimal potensi penduduk, potensi geografis
strategis dan sumber daya alam yang memadai untuk memajukan
masyarakat Kota Malang dan kontribusi maksimal bagi kemajuan dan
kesejahteraan bangsa.
2) Mewujudkan Kota Malang sebagai kota pendidikan melalui peningkatan
kualitas pendidikan bagi masyarakat miskin perkotaan;
3) Mewujudkan Kota Malang sebagai Kota Sehat melalui peningkatan
kualitas kesehatan masyarakat bagi masyarakat kurang mampu dan
meningkatkan penghijauan kota;
4) Mewujudkan semangat dan cita-cita reformasi dalam upaya pemulihan
ekonomi kota menuju terwujudnya Indonesia baru berlandaskan pada
negara dengan pondasi sistem kehidupan ekonomi, sosial, budaya yang
dijiwai prinsip-prinsip demokrasi kebangsaan dan keadilan sosial dalam
ikut serta menertibkan persatuan dan kesatuan, serta kerukunan Kota
Malang;
5) Mewujudkan tuntutan reformasi dalam tatanan sistem politik pemerintahan
dan tatanan paradigma pembangunan berdasarkan pada wawasan
kebangsaan, demokrasi, persatuan dan kesatuan, otonomi daerah, iman dan
takwa, budi pekerti, hak asasi manusia, dan keadilan sosial.


53

2. Gambaran Umum Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang
a. Sejarah
Pada awalnya Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang disebut Dinas
Pendapatan Daerah Kotapraja Malang yang terbentuk berdasarkan Surat
Keputusan Walikota Malang Nomor 4/U tanggal 01 Januari 1970. Dalam
rangka menunjang pelaksanaan tugas dan menyesuaikan kebutuhan akibat
meningkatnya volume dan jenis pekerjaan, maka berdasarkan Keputusan
Walikota Malang Nomor 45/U Tahun 1973 tentang Struktur Organisasi Dinas
Pendapatan, maka penyebutannya berubah menjadi Dinas Pendapatan Daerah
Daerah Tingkat II Malang.
Dalam perkembangan selanjutnya Dinas Pendapatan mengalami
beberapa perubahan yang mendasar yang didukung dengan Peraturan
perundangan antara lain:
1) Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 973-442 tanggal 26 Mei
1988 tentang Sistem dan Prosedur Perpajakan.
2) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 1989 Tentang
Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Dipenda Tingkat II
3) Peraturan Daerah Kotamadya Dati II Malang Nomor 18 Tahun 1989
Tentang Susunan Organisasi Dipenda
4) Peraturan Daerah Kotamadya Dati II Malang Nomor 9 Tahun 1996 dan
dikukuhkan dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 546 Tahun
1996.(perubahan Dipenda Kotamadya Daerah Tingkat II Malang
ditingkatkan klasifikasinya menjadi tipe A ).
54


Memasuki masa Otonomi Daerah yang terhitung sejak tanggal 1
Januari 2001 maka terjadi beberapa perubahan dalam keorganisasian Dinas
Pendapatan, hal ini terlihat dengan diterbitkannya Peraturan Daerah Nomor 9
Tahun 2000 Tentang Pembentukan, Kedudukan, Tugas Pokok dan Stuktur
Organisasi Dinas Sebagai Unsur Pelaksana Pemerintah Daerah dan keluarnya
Keputusan Walikota Malang Nomor 10 Tahun 2001 Tentang Uraian, Tugas,
Fungsi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Kota Malang.
Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
Tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-
undang 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua atas Undang undang No 32
Tahun 2004, maka terdapat penyesuaian struktur organisasi pada Dinas
Pendapatan Daerah Kota Malang yang didasarkan pada Peraturan Daerah
Kota Malang Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas
Pendapatan Daerah Kota Malang serta Peraturan Walikota Malang Nomor 58
Tahun 2008 Tentang Uraian Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas
Pendapatan Daerah Kota Malang.
b. Visi dan Misi
1) Visi Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang
Visi Dinas Pendapatan Kota Malang adalah Terwujudnya Peningkatan
Pendapatan Daerah dalam rangka Mendukung Pertumbuhan
Perekonomian Kota Malang
2) Misi Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang
55

Misi Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang sebagai berikut:
(1) Meningkatkan sumber-sumber Pendapatan Daerah;
(2) Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintah.

c. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi
Dinas Pendapatan Daerah merupakan pelaksana Otonomi Daerah
di bidang pemungutan pajak Daerah.Dinas Pendapatan dipimpin oleh
Kepala Dinas yang dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui
Sekretaris Daerah. Untuk Tugas Pokok Dinas Pendapatan Daerah Kota
Malang menyebutkan bahwa Dinas Pendapatan Daerah bertugas untuk
melaksanakan sebagian urusan rumah tangga Daerah dibidang pendapatan
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pendapatan
sesuai dengan Kebijakan Kepala Daerah.
Sedangkan untuk fungsinya dapat diuraikan seperti ini:
1) Perumusan kebijakan teknis di bidang penerimaan dan pendapatan
Daerah;
2) Penyusunan dan pelaksanaan rencana strategis dan rencana kerja
tahunan di bidang penerimaan dan pendapatan Daerah;
3) Pelaksanaan dan pengawasan pendataan, pendaftaran, penetapan dan
pemungutan Pajak Daerah;
4) Pelaksanaan dan pengawasan pengelolaan dan penagihan penerimaan
lain-lain;
56

5) Pelaksanaan pengembangan potensi dan pengendalian operasional
penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
6) Penyusunan rencana penerimaan dan pendapatan asli daerah, dana
perimbangan dan pendapatan lain-lain yang sah ;
7) Penyusunan rencana intensifikasi dan ekstensifikasi Pajak Daerah,
Retribusi Daerah dan Dana Perimbangan serta pendapatan lain-lain
yang sah;
8) Pengkoordinasian penerimaan Pendapatan Asli Daerah ;
9) Pembinaan dan pengendalian benda-benda berharga serta pembukuan
dan pelaporan atas pemungutan, penyetoran Pajak Daerah, Retribusi
Daerah dan pendapatan Daerah lainnya ;
10) Pembinaan dan pengendalian terhadap sistem pemungutan Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah ;
11) Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di bidang penerimaan
dan pendapatan daerah ;
12) Pemberdayaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) ;
13) Pengelolaan administrasi umum meliputi penyusunan program,
ketatalaksanaan, ketatausahaan, keuangan, kepegawaian, rumah
tangga, perlengkapan, kehumasan dan perpustakaan serta kearsipan ;
14) Pelaksanaan penerbitan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) ;
15) Evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas dan fungsi;
16) Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah
sesuai dengan tugas dan fungsinya.
57


d. Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan suatu kerangka yang dapat
memperlihatkan adanya pembagian tugas, alur pendelegasian dan alur
pelaporan/ pertanggungjawaban atas tugas/kewajiban yang dilaksanakan pada
Dinas PendapatanDaerah kota Malang. Struktur organisasi Dispenda Kota
Malang (lihat lampiran) terdiri dari:
1) Kepala Dinas;
2) Sekretariat, terdiri dari :
(1) Subbagian Penyusunan Program;
(2) Subbagian Keuangan;
(3) Subbagian Umum;
3) Bidang Pajak Bumi dan Bangunan, terdiri dari :
(1) Seksi Pelayanan, Pengawasan dan Penyelesaian Sengketa;
(2) Seksi Pendataan, Penilaian dan Penetapan;
(3) Seksi Pengolahan Data;
4) Bidang Pajak Daerah Lainnya, terdiri dari :
(1) Seksi Pendataan;
(2) Seksi Pendaftaran;
(3) Seksi Penetapan;
5) Bidang Pembukuan dan Pengembangan Potensi, terdiri dari :
(1) Seksi Pembukuan dan Pelaporan;
(2) Seksi Pengelolaan Benda Berharga;
(3) Seksi Pengembangan Potensi;
58

6) Bidang Penagihan, terdiri dari :
(1) Seksi Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan;
(2) Seksi Penagihan Pajak Daerah Lainnya;
(3) Seksi Penyelesaian Keberatan Pajak Daerah Lainnya;
7) Unit Pelaksana Teknis (UPT);
8) Kelompok Jabatan Fungsional
Sekretariat dipimpin oleh Sekretaris dan Bidang dipimpin oleh Kepala
Bidang yang dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.

e. Tugas Pokok dan Fungsi Bidang-bidang
Adapun uraian tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian pada
struktur organisasi Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang sebagai berikut:
1) Kepala Dinas
Kepala Dinas mempunyai tugas menyelenggarakantugas pokok dan fungsi,
mengkoordinasikan dan melakukan pengendalian internal terhadap unit kerja di
bawahnya serta melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai tugas
dan fungsinya.
2) Sekretariat
Sekretariat melaksanakan tugas pokok pengelolaanadministrasi umum
meliputi penyusunan program, ketatalaksanaan, ketatausahaan, keuangan,
kepegawaian, urusan rumah tangga, perlengkapan, kehumasan dan
kepustakaan serta kearsipan.
Untuk melaksanakan tugas pokok Sekretariat mempunyai fungsi :
59

(1) penyusunan Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja
(RENJA);
(2) penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA);
(3) penyusunan dan pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan
Anggaran(DPA) dan Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran
(DPPA);
(4) penyusunan Penetapan Kinerja (PK);
(5) pelaksanaan dan pembinaan ketatausahaan, ketatalaksanaan dan
kearsipan;
(6) pengelolaan urusan kehumasan, keprotokolan dan kepustakaan;
(7) pelaksanaan urusan rumah tangga;
(8) pelaksanaan administrasi dan pembinaan kepegawaian;
(9) pelaksanaan pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap
berwujud yang akan digunakan dalam rangka penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi;
(10) pelaksanaan pengadaan blanko benda-benda berharga
PBBPerkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya sesuai dengan
kebutuhan;
(11) pelaksanaan distribusi blanko benda-benda berharga PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya sesuai dengan
kebutuhan;
(12) pelaksanaan pemeliharaan barang milik daerah yang digunakan dalam
rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi;
60

(13) pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang milik daerah;
(14) pengelolaan anggaran;
(15) pelaksanaan administrasi keuangan dan pembayaran gaji pegawai;
(16) pelaksanaan verifikasi Surat Pertanggungjawaban (SPJ) keuangan;
(17) pengkoordinasian pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(18) pengkoordinasian penyusunan tindak lanjut hasil pemeriksaan;
(19) penyusunan dan pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan
Standar Operasional dan Prosedur (SOP);
(20) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(21) pelaksanaan pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM)
dan/atau pelaksanaan pengumpulan pendapat pelanggan secara
periodik yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas layanan;
(22) penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Perangkat Daerah;
(23) pengelolaan pengaduan masyarakat di bidang pemungutan Pajak
Daerah;
(24) penyampaian data hasil pembangunan dan informasi lainnya terkait
layanan publik secara berkala melalui web site Pemerintah Daerah;
(25) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi;
(26) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai
dengan tugas pokoknya.
Sekretariat, terdiri dari Subbagian penyusunan program, Subbagian
keuangan, dan Subbagian umum.Masing-masing Subbagian dipimpin oleh
61

Kepala Subbagian yang dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris.
3) Subbagian Penyusunan Program
Subbagian Penyusunan Program melaksanakan tugas pokok
penyusunan program, evaluasi dan pelaporan. Untuk melaksanakan tugas
pokok, Subbagian Penyusunan Program mempunyai fungsi :
(1) penyusunan Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja (Renja);
(2) penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA);
(3) penyusunan dan pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan
Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(4) penyusunan Penetapan Kinerja (PK);
(5) penyusunan laporan dan dokumentasi pelaksanaan program dan kegiatan;
(6) penyusunan laporan penerapan dan pencapaian Standar Pelayanan
Minimal (SPM);
(7) penyusunan dan pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar
Operasional dan Prosedur (SOP);
(8) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(9) pelaksanaan pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan/atau
pelaksanaan pengumpulan pendapat pelanggan secara periodik yang
bertujuan untuk memperbaiki kualitas layanan;
(10) penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Perangkat Daerah;
(11) penyampaian data hasil pembangunan dan informasi lainnya terkait
layanan publik secara berkala melalui web site Pemerintah Daerah;
62

(12) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
(13) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan
tugas pokoknya.
4) Subbagian Keuangan
Subbagian Keuangan melaksanakan tugas pokok pengelolaan anggaran
dan administrasi keuangan. Untuk melaksanakan tugas pokok, Subbagian
Keuangan mempunyai fungsi :
(1) Pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(2) pelaksanaan penatausahaan keuangan;
(3) pelaksanaan verifikasi Surat Pertanggungjawaban (SPJ) keuangan;
(4) penyusunan dan penyampaian laporan penggunaan anggaran;
(5) penyusunan dan penyampaian laporan keuangan semesteran dan akhir
tahun;
(6) penyusunan administrasi dan pelaksanaan pembayaran gaji pegawai;
(7) penerimaan, pengadministrasian dan penyetoran pajak daerah dan/atau
lain-lain pendapatan yang sah;
(8) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(9) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
(10) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai tugas
pokoknya.
5) Subbagian Umum
63

Subbagian Umum melaksanakan tugas pokok pengelolaan administrasi
umum meliputi ketatalaksanaan, ketatausahaan, kepegawaian, urusan rumah
tangga, perlengkapan, kehumasan dan kepustakaan serta kearsipan.Untuk
melaksanakan tugas pokok, Subbagian Umum mempunyai fungsi :
(1) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(2) pelaksanaan ketatausahaan, ketatalaksanaan dan kearsipan;
(3) pelaksanaan administrasi kepegawaian;
(4) pelaksanaan kehumasan, keprotokolan dan kepustakaan;
(5) pelaksanaan urusan rumah tangga;
(6) pelaksanaan pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang
akan digunakan dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi;
(7) pelaksanaan pengadaan blanko benda-benda berharga PBB Perkotaan,
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya sesuai dengan kebutuhan;
(8) pelaksanaan pengadaan blanko Tanda Terima Sementara (TTS)
pembayaran PBB Perkotaan;
(9) pelaksanaan pemeliharaan barang milik daerah yang digunakan dalam rangka
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi;
(10) pelaksanaan dan penatausahaan barang milik daerah;
(11) pengelolaan pengaduan masyarakat di bidang pemungutan Pajak
Daerah;
(12) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(13) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
64

(14) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan
tugas pokoknya.

6) Bidang Pajak Daerah Lainnya
Bidang Pajak Daerah Lainnya melaksanakan tugas pokok pelayanan,
pendataan, pendaftaran, penilaian dan penetapan serta pengawasan BPHTB
dan Pajak Daerah Lainnya. Untuk melaksanakan tugas pokok, Bidang Pajak
Daerah Lainnya mempunyai fungsi :
(1) Perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis Bidang BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya;
(2) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka perencanaan teknis
pendataan, pendaftaran dan penetapan obyek, subyek dan wajib BPHTB
dan Pajak Daerah Lainnya dan sistem pengarsipan serta
pendokumentasian;
(3) penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di bidang pemungutan
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(4) pelaksanaan dan pengawasan pendaftaran, pendataan, penetapan BPHTB
dan Pajak Daerah Lainnya;
(5) pelaksanaan pemeriksaan obyek, subyek dan wajib BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya;
(6) perumusan teknis penghitungan dan penetapan BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya;
(7) pelaksanaan penilaian obyek, subyek dan wajib BPHTB;
65

(8) pelaksanaan penghitungan dan penetapan pengenaan BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya;
(9) pelaksanaan pemungutan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(10) pengendalian pendistribusian SKPD Pajak Daerah Lainnya;
(11) pengendalian pendistribusian SSPD BPHTB;
(12) pemeriksaan permohonan pengurangan dan penundaaan
pembayaran denda BPHTB;
(13) pengendalian pemrosesan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah
(NPWPD);
(14) penyiapan ketetapan SKPD, SKPDKB dan SKPDLB BPHTB dan
Pajak Daerah Lainnya;
(15) pelaksanaan penyelesaian kelebihan pembayaran atas BPHTB dan
Pajak Daerah Lainnya;
(16) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan
Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(17) penyiapan bahan dalam rangka pemeriksaan dan tindak lanjut Hasil
Pemeriksaan;
(18) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar
Operasional Prosedur (SOP);
(19) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(20) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(21) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi;
dan
66

(22) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai
dengan tugas pokoknya.
Bidang Pajak Daerah Lainnya yang masing-masing Seksi dipimpin
oleh Kepala Seksi yang dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya berada
di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.terdiri dari :
(1) Seksi Pendataan
Seksi Pendataan melaksanakan tugas pokok pendataan obyek dan
wajib BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya. Untuk melaksanakan tugas pokok,
Seksi Pendataan mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
pendataan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidang pendataan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(c) pelaksanaan monitoring dan evaluasi obyek BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya;
(d) pelaksanaan pemungutan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(e) pelaksanaan penyelesaian atas keberatan BPHTB;
(f) penyimpanan dan pendokumentasian arsip dan data BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya;
(g) pelaksanaan pemeriksaan obyek, subyek dan wajib BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya;
(h) pelaksanaan penilaian obyek, subyek dan wajib BPHTB;
67

(i) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(j) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP);
(k) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(l) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(m) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
(n) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan
tugas pokoknya.
(2) Seksi Pendaftaran
Seksi Pendaftaran melaksanakan tugas pokok pendaftaran obyek dan
wajib BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya. Untuk melaksanakan tugas pokok,
Seksi Pendaftaran mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
pendaftaran BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidang pendaftaran BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(c) penyiapan formulir pendaftaran Wajib BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
yang meliputi Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD);
(d) penyerahan formulir pendaftaran SPTPD kepada Wajib BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya setelah dilakukan pencatatan dalam buku dan daftar
SPTPD;
(e) pemrosesan penetapan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD);
68

(f) penyampaian Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) kepada Wajib
Pajak Daerah;
(g) pelaksanaan dokumentasi arsip Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah
(NPWPD);
(h) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(i) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP);
(j) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(k) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(l) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
(m) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan
tugas pokoknya.
(3) Seksi Penetapan
Seksi Penetapan melaksanakan tugas pokok penghitungan dan
penetapan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya. Untuk melaksanakan tugas
pokok, Seksi Penetapan mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
penetapan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidang penetapan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(c) pelaksanaan penghitungan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
69

(d) pemrosesan penetapan SKPD, SKPDKB, SKPDLB, dan SKPDN BPHTB
dan Pajak Daerah Lainnya;
(e) pelaksanaan pencetakan dan penerbitan SKPD, SKPDKB, SKPDLB, dan
SKPDN BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(f) pelaksanaan porporasi benda-benda berharga BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya;
(g) pelaksanaan pelayanan kelebihan pembayaran atas BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya;
(h) penyusunan daftar rekapitulasi SKPD dan Surat Ketetapan lainnya yang
telah diterbitkan;
(i) pendistribusian SSPD BPHTB dan SKPD kepada Wajib Pajak Daerah
Lainnya;
(j) pelaksanaan pemungutan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(k) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(l) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP);
(m) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(n) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(o) pengevaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
(p) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan
tugas pokoknya.

7) Bidang PBB
70

Bidang Pajak Bumi dan Bangunan melaksanakan tugas pokok
pelayanan, pendataan, penilaian dan penetapan serta pengawasan PBB
Perkotaan. Untuk melaksanakan tugas pokok, Bidang Pajak Bumi dan
Bangunan mempunyai fungsi :
(1) perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis Bidang Pajak Bumi dan
Bangunan;
(2) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka perencanaan teknis
pendataan, penilaian dan penetapan obyek, subyek dan wajib PBB
Perkotaan dan sistem pengarsipan serta pendokumentasian;
(3) penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di bidang pemungutan
PBB Perkotaan;
(4) pelaksanaan dan pengawasan pendataan dan penetapan PBB Perkotaan;
(5) pelaksanaan pemeriksaan obyek, subyek dan wajib PBB Perkotaan;
(6) perumusan teknis penghitungan dan penetapan PBB Perkotaan;
(7) pemeriksaan Nota Penghitungan PBB Perkotaan;
(8) perumusan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP);
(9) pelaksanaan penilaian obyek, subyek dan wajib PBB Perkotaan;
(10) pelaksanaan penghitungan dan penetapan pengenaan PBB
Perkotaan;
(11) pelaksanaan pemungutan PBB Perkotaan;
(12) pelaksanaan pemeriksaan ketetapan SPPT, SKPD, SKPDT,
SKPDKB dan SKPDLB PBB Perkotaan;
71

(13) pengendalian pendistribusian SPPT, SKPD, SKPDT, SKPDKB
dan SKPDLB PBB Perkotaan;
(14) pemeriksaan permohonan pengurangan dan penundaaan
pembayaran denda PBB Perkotaan;
(15) penyiapan ketetapan SPPT, SKPD, SKPDT, SKPDKB dan
SKPDLB PBB Perkotaan;
(16) pelaksanaan penyelesaian keberatan PBB Perkotaan meliputi
pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan, penghapusan dan
pengurangan sanksi;
(17) pelaksanaan penyelesaian kelebihan pembayaran atas PBB
Perkotaan;
(18) pelaksanaan penyelesaian sengketa PBB Perkotaan;
(19) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan
Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(20) penyiapan bahan dalam rangka pemeriksaan dan tindak lanjut Hasil
Pemeriksaan;
(21) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar
Operasional Prosedur (SOP);
(22) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(23) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(24) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi;
dan
72

(25) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai
dengan tugas pokoknya.
Bidang Pajak Bumi dan Bangunan yang masing-masing Seksi
dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang,
terdiri dari :

(1) Seksi Pelayanan, Pengawasan dan Penyelesaian Sengketa
Seksi Pelayanan, Pengawasan dan Penyelesaian Sengketa
melaksanakan tugas pokok penyelenggaraan pelayanan, pengawasan dan
penyelesaian sengketa PBB Perkotaan. Untuk melaksanakan tugas pokok),
Seksi Pelayanan, Pengawasan dan Penyelesaian Sengketa mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
pelayanan, pengawasan dan penyelesaian sengketa PBB Perkotaan;
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidang pelayanan, pengawasan dan penyelesaian sengketa PBB Perkotaan;
(c) pelaksanaan pelayanan pemungutan PBB Perkotaan;
(d) pelaksanaan pengawasan pemungutan PBB Perkotaan;
(e) pemeriksaan permohonan pengurangan dan penundaaan pembayaran
denda PBB Perkotaan;
(f) pelaksanaan penyelesaian keberatan dan sengketa PBB Perkotaan;
(g) pelaksanaan penyelesaian kelebihan pembayaran PBB perkotaan;
73

(h) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(i) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP);
(j) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(k) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(l) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
(m) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan
tugas pokoknya.
(2) Seksi Pendataan, Penilaian dan Penetapan
Seksi Pendataan, Penilaian dan Penetapan melaksanakan tugas pokok
penyelenggaraan pendataan, penilaian dan penetapan obyek dan wajib PBB
Perkotaan. Untuk melaksanakan tugas pokok, Seksi Pendataan, Penilaian dan
Penetapan mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis
bidangpendataan, penilaian dan penetapan obyek dan wajib PBB
Perkotaan
(b) pengumpulan data dalam rangka perencanaan pendataan obyek dan
wajib pajak PBB Perkotaan
(c) pengumpulan data dalam rangka perencanaan penghitungan dan
penetapan PBB Perkotaan
(d) penyiapan formulir SPOP Wajib Pajak Daerah PBB Perkotaan
74

(e) pelaksanaan pemantauan pengembalian dan pemeriksaan formulir
SPOP yang telah diisi oleh Wajib Pajak atau kuasanya
(f) pelaksanaan penilaian obyek Pajak dalam rangka penentuan besarnya
NJOP
(g) perumusan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)
(h) pelaksanaan penghitungan dan penetapan besaran pengenaan PBB
Perkotaan
(i) pendistribusian SPPT dan SKPD PBB Perkotaan kepada Wajib Pajak
Daerah
(j) pelaksanaan pemeriksaan obyek Pajak dalam rangka penyelesaian
keberatan atas ketetapan besaran pengenaan PBB Perkotaan
(k) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
(l) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
(m) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(n) pelaksanaanStandar Pelayanan Minimal (SPM)
(o) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(p) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai
dengan tugas pokoknya.
(3) Seksi Pengolahan Data.
Seksi Pengolahan Data melaksanakan tugas pokok pengolahan data
dalam rangka perencanaan teknis pendataan, pendaftaran dan pendataan
75

obyek, subyek dan wajib PBB Perkotaan, dan sistem pengarsipan serta
pendokumentasian. Untuk melaksanakan tugas pokok, Seksi Pengolahan Data
mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis
bidangPBB Perkotaan
(b) penyimpanan dan pendokumentasian arsip dan data PBB Perkotaan
(c) pelaksanaan pengembangan Sistem Informasi Manajemen PBB
Perkotaan
(d) pelaksanaan pencetakan dan penerbitan SPPT dan/atau SKPD PBB
Perkotaan
(e) pelaksanaan porporasi benda-benda berharga PBB Perkotaan
(f) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
(g) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
(h) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(i) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
(j) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(k) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai
dengan tugas dan fungsinya.

8) Bidang Pembukuan dan Pengembangan Potensi
Bidang Pembukuan dan Pengembangan Potensi melaksanakan tugas
pokok pembukuan dan pelaporan, pengelolaan benda berharga, dan
76

pengembangan potensi PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya.
Untuk melaksanakan tugas pokok, Bidang Pembukuan dan Pengembangan
Potensi mempunyai fungsi :
(1) Perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis Bidang Pembukuan dan
Pengembangan Potensi;
(2) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka perencanaan teknis
pembukuan, pelaporan, pengelolaan benda berharga dan pengembangan
potensi PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(3) penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di bidang pembukuan
dan pengembangan potensi;
(4) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka pembukuan dan pelaporan
realisasi penerimaan pendapatan lain-lain yang sah;
(5) pencatatan ke buku jenis Pajak Daerah terhadap penerimaan PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(6) penelitian dan pengendalian terhadap pembukuan dan pencatatan Realisasi
Penerimaan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah lainnya, serta
pendapatan lain-lain yang sah yang dipungut;
(7) penelitian terhadap akurasi pelaporan realisasi Penerimaan PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya serta pendapatan lain-lain
yang sah yang dipungut secara berkala;
(8) penyusunan laporan tunggakan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya;
77

(9) penyusunan laporan realisasi tunggakan PBB Perkotaan, BPHTB dan
Pajak Daerah Lainnya;
(10) pembuatan laporan secara berkala (Bulanan dan Tahunan) Target
dan Realisasi Penerimaan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya, serta pendapatan lain-lain yang sah yang dipungut;
(11) pengelolaan benda-benda berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan
Pajak Daerah Lainnya;
(12) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka pengelolaan benda-
benda berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(masuk Seksi Pengelolaan Benda Berharga)
(13) penyusunan rencana kebutuhan benda-benda berharga PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya setiap tahunnya; (masuk
Seksi Pengelolaan Benda Berharga)
(14) pencatatan penerimaan, pengeluaran dan pengendalian benda-benda
berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya; (masuk
Seksi Pengelolaan Benda Berharga)
(15) pengelolaan distribusi benda-benda berharga PBB Perkotaan,
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya; (masuk Seksi Pengelolaan Benda
Berharga)
(16) penyusunan laporan secara berkala jumlah persediaan Benda-benda
Berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya; (masuk
Seksi Pengelolaan Benda Berharga)
78

(17) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka perencanaan
pengembangan potensi dan peningkatan penerimaan PBB Perkotaan,
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(18) penyusunan rencana intensifikasi dan ekstensifikasi PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(19) pengkajian potensi PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya;
(20) pelaksanaan pembinaan teknis pemungutan di bidang pemungutan
PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(21) pelaksanaan pengkajian implementasi produk hukum Daerah yang
berkaitandengan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya;
(22) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan
Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(23) penyiapan bahan dalam rangka pemeriksaan dan tindak lanjut Hasil
Pemeriksaan;
(24) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar
Operasional dan Prosedur (SOP);
(25) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(26) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
(27) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi;
dan
(28) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai
dengan tugas pokoknya.
79

Bidang Pembukuan dan Pengembangan Potensi yang Masing-masing
Seksi dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang,
terdiri dari :
(1) Seksi Pembukuan dan Pelaporan;
Seksi Pembukuan dan Pelaporan melaksanakan tugas pokok
pembukuan dan pelaporan target dan realisasi penerimaan PBB Perkotaan,
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya, serta pendapatan lain-lain yang sah yang
dipungut.Untuk melaksanakan tugas pokok, Seksi Pembukuan dan Pelaporan
mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
pembukuan dan pelaporan
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidang pembukuan dan pelaporan
(c) pencatatan ke buku jenis Pajak Daerah terhadap penerimaan PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(d) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka pembukuan dan pelaporan
realisasi penerimaan pendapatan lain-lainyang sah
(e) penelitian dan pengendalian terhadap pembukuan dan pencatatan Realisasi
Penerimaan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah lainnya, serta
pendapatan lain-lain yang sah yang dipungut
80

(f) penelitian terhadap akurasi pelaporan realisasi Penerimaan PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya, serta pendapatan lain-lain
yang sah yang dipungut secara berkala
(g) penyusunan laporan tunggakan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya
(h) pembuatan laporan secara berkala (Bulanan dan Tahunan) Target dan
Realisasi Penerimaan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya,
serta pendapatan lain-lain yang sah yang dipungut
(i) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
(j) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
(k) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(l) pelaksanaanStandar Pelayanan Minimal (SPM)
(m) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(n) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai tugas
pokoknya.
2) Seksi Pengelolaan Benda Berharga
Seksi Pengelolaan Benda Berharga melaksanakan tugas pokok
pengelolaan benda-benda berharga. Untuk melaksanakan tugas pokok, Seksi
Pengelolaan Benda Berharga mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
pengelolaan benda berharga
81

(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidangpengelolaan benda berharga
(c) pengelolaan benda-benda berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak
Daerah Lainnya
(d) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka pengelolaan benda-benda
berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(e) penyusunan rencana kebutuhan benda-benda berharga PBB Perkotaan,
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya setiap tahunnya
(f) pencatatan penerimaan, pengeluaran dan pengendalian benda-benda
berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(g) pelaksanaan penyimpanan benda-benda berharga pajak daerah
(h) penyusunan laporan secara berkala jumlah persediaan Benda-benda
Berharga PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(i) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
(j) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
(k) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(l) pelaksanaanStandar Pelayanan Minimal (SPM)
(m) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(n) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai tugas
pokoknya
3) Seksi Pengembangan Potensi
82

Seksi Pengembangan Potensi melaksanakan tugas pokok
pengembangan potensi dan peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) melalui pemungutan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya. Untuk melaksanakan tugas pokok, Seksi Pengembangan Potensi
mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
pengembangan potensi
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidangpengembangan potensi
(c) pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka perencanaan
pengembangan potensi dan peningkatan penerimaan PBB Perkotaan,
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(d) penyusunan rencana intensifikasi dan ekstensifikasi PBB Perkotaan,
BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(e) pengkajian potensi PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(f) pelaksanaan pembinaan teknis pemungutan di bidang pemungutan PBB
Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(g) pelaksanaan pengkajian implementasi produk hukum Daerah yang
berkaitandengan PBB Perkotaan, BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(h) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
(i) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
83

(j) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(k) pelaksanaanStandar Pelayanan Minimal (SPM)
(l) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(m) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai tugas
pokoknya.

9) Bidang Penagihan
Bidang Penagihan melaksanakan tugas pokok penagihan PBB
Perkotaan dan Pajak Daerah Lainnya, serta penyelesaian keberatan Pajak
Daerah Lainnya. Untuk melaksanakan tugas pokok, Bidang Penagihan
mempunyai fungsi :
(a) perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis Bidang Penagihan;
(b) pelaksanaan penagihan PBB Perkotaan dan Pajak Daerah Lainnya;
(c) pelaksanaan penyelesaian keberatan Pajak Daerah Lainnya;
(d) penyusunan laporan realisasi tunggakan PBB Perkotaan, BPHTB dan
Pajak Daerah Lainnya;
(e) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA);
(f) penyiapan bahan dalam rangka pemeriksaan dan tindak lanjut Hasil
Pemeriksaan;
(g) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional dan
Prosedur (SOP);
(h) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI);
(i) pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);
84

(j) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi; dan
(k) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan
tugas pokoknya.
Bidang Penagihan yang Masing-masing Seksi dipimpin oleh Kepala
Seksi yang dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Bidang, terdiri dari :

(1) Seksi Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan
Seksi Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan melaksanakan tugas pokok
penagihan atas tunggakan pajak bumi dan bangunan Perkotaan. Untuk
melaksanakan tugas pokok, Seksi Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan
mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
penagihan pajak bumi dan bangunan
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidangpenagihan pajak bumi dan bangunan
(c) pelaksanaan penagihan atas tunggakan pajak bumi dan bangunan
perkotaan
(d) penyusunan laporan realisasi tunggakan PBB Perkotaan
(e) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
85

(f) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
(g) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(h) pelaksanaanStandar Pelayanan Minimal (SPM)
(i) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(j) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai tugas
pokoknya.


(2) Seksi Penagihan Pajak Daerah Lainnya
Seksi Penagihan Pajak Daerah Lainnya melaksanakan tugas pokok
penagihan atas tunggakan BPHTB dan Pajak Daerah lainnya. Untuk
melaksanakan tugas pokok , Seksi Penagihan Pajak Daerah Lainnya
mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
penagihan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidang penagihan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(c) pelaksanaan penagihan atas tunggakan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(d) penyusunan laporan realisasi tunggakan BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya
(e) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
86

(f) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
(g) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(h) pelaksanaanStandar Pelayanan Minimal (SPM)
(i) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(j) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai tugas
pokoknya.


(3) Seksi Penyelesaian Keberatan Pajak Daerah Lainnya
Seksi Penyelesaian Keberatan Pajak Daerah Lainnya melaksanakan
tugas pokok penyelesaian keberatan atas BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya.
Untuk melaksanakan tugas pokok, Seksi Penyelesaian Keberatan Pajak
Daerah Lainnya mempunyai fungsi :
(a) penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis bidang
penyelesaian keberatan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(b) penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program di
bidang penyelesaian keberatan BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya
(c) pelaksanaan pemeriksaan obyek pajak dalam rangka penyelesaian
keberatan atas ketetapan besaran pengenaan BPHTB dan Pajak Daerah
Lainnya
(d) pelaksanaan pemeriksaan obyek BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya dalam
rangka penentuan perubahan besaran ketetapan pajak daerah
87

(e) pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)
(f) pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP)
(g) pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
(h) pelaksanaanStandar Pelayanan Minimal (SPM)
(i) pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
(j) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai tugas
pokoknya

f. Sumber Daya Manusia
Pada saat ini Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang memiliki jumlah
pegawai sejumlah 122 orang. Berikut disajikan dalam daftar pegawai
berdasarkan jabatan,bidang, pangkat dan golongan dalam bentuk tabel.
Tabel 4 Jumlah Pegawai Berdasarkan Jabatan
No. Jabatan Jumlah
1. Kepala 1 orang
2. Sekretaris 1 orang
3. Subbag 3 orang
4. Kepala Bidang 4 orang
5. Kepala Seksi 12 orang
6. Staff 97 orang
7. PTT 1 orang
8. Out Source 3 orang
TOTAL 122 orang

88

Tabel 5 Jumlah Pegawai Berdasarkan Bidang
No. Nama PNS CPNS TOTAL
1. Kepala 1 orang 0 1
2. Sekretariat 28 orang 0 28
3. Pajak Daerah Lainnya 35 orang 0 35
4. PBB 18 orang 0 18
5. Penagihan 23 orang 0 23
6. P3 13 orang 0 13
7. Nanang Rumpono PTT 0 1
8. Sugiarto, Dadan, Ana Out Source 0 3
TOTAL 118 orang 0 122


Tabel 6 Jumlah Pegawai Berdasarkan Golongan
Pangkat Gol Jumlah
Juru Muda I/a 1 orang
Juru Muda Tingkat 1 I/b 2 orang
Juru I/c 0 orang
Juru Tingkat 1 I/d 3 orang
Pengatur Muda II/a 6 orang
Pengatur Muda
Tingkat 1
II/b 26 orang
Pengatur II/c 9 orang
Pengatur Tingkat 1 II/d 8 orang
Penata Muda III/a 11 orang
Penata Muda Tingkat 1 III/b 27 orang
Penata III/c 12 orang
Penata Tingkat 1 III/d 7 orang
Pembina IV/a 5 orang
Pembina Tingkat 1 IV/b 1 orang
Pembina Utama Muda IV/c 1 orang
Pembina Utama Madya IV/d 0 orang
Pembina Utama IV/e 0 orang
TOTAL 118 orang

89



90

B. Data Fokus Penelitian
Pemungutan pajak air tanah di kota Malang dilakukan oleh Dispenda Kota
Malang. Sesuai dengan pengertian pemungutan menurut UU No 28 tahun
2009, kegiatan pemungutan pajak terdiri atas penghimpunan data objek pajak
dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak, penagihan pajak dan pengawasan
penyetoran. Kegiatan-kegiatan tersebut telah dilaksanakan oleh Dispenda Kota
Malang. Kegiatan-kegiatan pemungutan pajak air tanah yang dilakukan oleh
Dispenda kota Malang secara sederhana dapat dilihat di gambar berikut ini:

Gambar 3
Kegiatan Pemungutan Pajak Air Tanah di Kota Malang

Sumber: Diolah penulis

Secara singkat penjelasan dari gambar 3 adalah sebagai berikut:
1. Pendataan
Dispenda sebagai instansi yang bertanggungjawab untuk memungut pajak
termasuk pajak air tanah bertugas untuk memastikan bahwa segala
pemanfaatan air tanah yang merupakan objek pajak air tanah telah didata
Pendataan Pendaftaran Penetapan
Penagihan
Penyelesaian
Keberatan
91

untuk kepentingan pemenuhan kewajiban perpajakannya. Oleh karena itu
Dispenda melakukan monitoring dan evaluasi objek pajak air tanah. Dispenda
melakukan pendataan atas pemanfaatan pajak air tanah yang telah memenuhi
kriteria sebagai objek pajak air tanah. Kemudian setelah melakukan
pendataan, orang pribadi atau badan yang memanfaatkan atau bertanggung
jawab atas objek pajak air tanah diarahkan untuk melakukan pendaftaran.
2. Pendaftaran
Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan atau bertanggung jawab
atas objek pajak air tanah wajib mendaftarkan diri ke Dispenda Kota
Malang untuk diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD)
dan dikukuhkan sebagai wajib pajak air tanah. Namun pada prakteknya,
tidak sedikit juga wajib pajak yang dikukuhkan sebagai wajib pajak daerah
secara jabatan (didaftarkan dan ditetapkan sebagai wajib pajak oleh
petugas Dispenda).
Dalam rangka melakukan pendaftaran, wajib pajak harus mengisi formulir
pendaftaran dan melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan. Setelah
itu nantinya wajib pajak akan memperoleh NPWPD khusus pajak air
tanah. NPWPD tersebut merupakan identitas untuk melakukan kewajiban
perpajakan yang berkaitan dengan pajak air tanah.
3. Penetapan
Wajib pajak air tanah yang sudah memiliki NPWPD wajib melaksanakan
kewajiban perpajakannya, yaitu membayar pajak setiap bulannya. Dalam
kegiatan ini, Dispenda menetapkan berapa pajak terutang yang harus
92

dibayar Wajib Pajak. Untuk pajak air tanah di kota Malang, system
pemungutannya merupakan self assessment. Wajib pajak yang
bertanggung jawab untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri
pajak terutangnya. Selain itu dalam kegiatan ini, Dispenda bertugas untuk
menerbitkan SKPD yang terbagi atas SKPDKB, SKPDKBT, SKPDN,
SKPDLB.
4. Penagihan
Penagihan pajak merupakan proses akhir dari kegiatan pemungutan pajak.
Penagihan dilakukan dengan tujuan terjaminnya penerimaan pajak dari
wajib pajak yang harus dilaksanakan secara efektif. Penagihan dilakukan
dengan dasar SKPD yang dibuat oleh bagian Penetapan.
5. Penyelesaian Keberatan
Dalam prakteknya banyak wajib pajak yang merasa keberatan atas pajak
terutang yang ditetapkan. Wajib pajak diperkenankan untuk mengajukan
keberatan kepada Dispenda atas pajak terutang yang ditetapkan sesuai
dengan prosedur yang ada.

Berikut ini merupakan penyajian data dari kegiatan pemungutan pajak
yang dilaksanakan oleh Dispenda Kota Malang disesuaikan dengan fokus
penelitian yang telah ditentukan

1. Pemungutan Pajak Air Tanah Kota Malang
93

Pemungutan pajak air tanah di kota Malang dilakukan oleh Dispenda
Kota Malang. Sesuai dengan pengertian pemungutan menurut UU No 28
tahun 2009, kegiatan pemungutan pajak terdiri atas penghimpunan data
objek pajak dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak, penagihan pajak
dan pengawasan penyetoran.
a. Penghimpunan data objek pajak dan subjek pajak
Penghimpunan data objek pajak dan subjek pajak ditangani oleh
bidang Pajak Daerah Lainnya. Bagian yang mempunyai andil dalam
penghimpunan data objek pajak dan subjek pajak adalah Bagian
Pendataan dan Bagian Pendaftaran. Kedua bagian tersebut
bertanggung jawab atas usaha untuk mengenakan seluruh subjek pajak
dan objek pajak yang telah memenuhi kriteria sebagaimana dalam
Peraturan Daerah Kota Malang No 16 tahun 2010 agar memenuhi
kewajban perpajakannya.

b. Penentuan besarnya pajak
Bagian Penetapan dalam bidang Pajak Daerah Lainnya merupakan
bagian yang bertanggung jawab untuk menetapkan besarnya pajak
terutang untuk semua jenis pajak termasuk pajak air tanah. Besarnya
pajak air tanah yang terutang ditetapkan dengan melihat volume
pemakaian air dan harga dasar air. Harga dasar air terbagi menjadi 3,
yaitu Non Niaga, Niaga dan Industri dengan bahan baku air. Harga
dasar air dapat dilihat secara detail pada lampiran IV Perwal Nomor 20
94

tahun 2013. Hal ini disampaikan Ibu Sriyono selaku Kasie Penetapan
dalam bidang Pajak Daerah Lainnya:
Apabila wajib pajak tidak mempunyai meteran maka penetapannya melalui
SIPA. Apabila wajib pajak mempunyai meteran, kita lihat di sana (meteran)
kontrolnya. Jadi awal bulan meteran berapa, akhir bulan kita juga lihat
meterannya berapa. Meteran akhir dikurang meteran awal itu pemakaiannya
(volume pemakaian air). Lalu kita kalikan dengan harga dasar air. Harga dasar
air juga ada beberapa macam juga sesuai Perwal Nomor 20 tahun 2013.
Kemudian kita kalikan dengan tarif pajak air tanah sebesar 20%.

c. Penagihan pajak
Kegiatan penagihan pajak di Dispenda Kota Malang dilakukan apabila
SKPD yang telah diterbitkan oleh bidang Pajak Daerah Lainnya tidak
ditindaklanjuti dengan pembayaran sampai jatuh tempo. Tidak
ditindaklanjutinya SKPD dengan pembayaran sampai jatuh tempo
dikategorikan sebagai tunggakan, dan atas tunggakan tersebut
dikenakan denda.
Dalam prakteknya, banyak wajib pajak yang enggan untuk membayar
denda.
d. Pengawasan penyetoran
2. Pendukung dan kendala dalam pemungutan pajak air tanah kota Malang
95

Pelaksanaan proses pemungutan pajak tentunya terdapat berbagai
pendukung maupun kendala, baik itu pajak pusat maupun pajak daerah.
Pemungutan pajak daerah termasuk pajak air tanah yang dilakukan oleh
Dispenda Kota Malang juga terdapat beberapa pendukung dan kendala
dalam pelaksanaanya. Berikut ini merupakan rincian beberapa pendukung
dan kendala yang terdapat dalam proses pemungutan pajak air tanah:
a. Pendukung
b. Kendala
3. Upaya yang dilakukan dalam peningkatan pemungutan PAjak Air Tanah
Kota Malang
C. Pembahasan
1. Pemungutan Pajak Air Tanah Kota Malang
a. Penghimpunan data objek pajak dan subjek pajak
b. Penentuan besarnya pajak
c. Penagihan pajak
d. Pengawasan penyetoran
2. Pendukung dan kendala dalam pemungutan pajak air tanah kota Malang
3. Upaya yang dilakukan dalam peningkatan pemungutan PAjak Air Tanah
Kota Malang



ii

DAFTAR PUSTAKA
Angelia, N. (2008). Implementasi Koordinasi Pemungutan Pajak Air Bawah
Tanah di Kota Pekanbaru Riau. Depok: FISIP UI.
Brantas. (2009). Dasar-dasar Manajemen. Bandung: Alfabeta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2011). Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia.
Endarmoko, E. (2006). Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Grameda
Pustaka Utama.
Fauzan, M. (2006). Hukum Pemerintahan Daerah: Kajian tentang Hubungan
Keuangan antara Pusat dan Daerah. Yogyakarta: UII Press.
Irawati, D. (2011, Maret 3). Mahasiswa di Malang Setor Rp 300 M per Tahun.
Retrieved Oktober 25, 2013, from Kompas.com:
http://regional.kompas.com/read/2011/03/03/00063956
Julitriarsa, D., & Suprihantu, J. (1998). Manajemen Umum: Sebuah
Pengantar. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Kodoatie, R. J., & Sjarif, R. (2010). Tata Ruang Air. Yogyakarta: Penerbit
Andi.
Koentjaraningrat. (1991). Metode Peneli mtian Masyarakat. Jakarta:
Gramedia.
Kurniawan, P., & Purwanto, A. (2004). Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
di Indonesia. Malang: Bayumedia Publishing.
Mardiasmo. (2009). Perpajakan Edisi Revisi Tahun 2009. Yogyakarta:
Penerbit Andi Yogyakarta.
iii

Moleong, L. J. (2006). Metode Penelitian Kulitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mori, K. (2009). Manual on Hidrology. In S. Sosrodarsono, & K. Takeda,
Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Notodarmojo, S. (2005). Pencemaran Tanah dan Air Tanah. Bandung:
Peneribit ITB.
Nurmantu, S. (2003). Pengantar Perpajakan. Jakarta: Granit.
Rue, L. W., & Byars, L. L. (1997). Management; Skill and Application (8 ed.).
(J. R. Brooks, Ed.) Georgia: The McGraw-Hill Companies.
Saputra, W. D. (2013). Kontribusi Pajak Pengelolaan Air Tanah terhadap
Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Malang (Studi Pada Unit
Pelayanan Terpadu Perijinan Kabupaten Malang). Malang: FIA UB.
Sommerfeld, R. M., Anderson, H. M., & Brock, H. R. (1983). An Introduction
to Taxation. New York: Harcourt Brace Jovanovic Inc.
Strauss, A., & Corbin, J. (1990). Bassics of Qualitative Research Grounded
Theory Procedures and Thechniques. California: SAGE Publications,
Inc.
Suandy, E. (2008). Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat.
Subiyantoro, A., & Suwarto, F. (2007). Metode dan Teknik Penelitian Sosisal.
Yogyakarta: Penerbit Andi.
Sudantoko, H. D. (2003). Dilema Otonomi Daerah. Yogyakarta: Penerbit
Andi Yogyakarta.
iv

Sule, E. T., & Saefullah, K. (2005). Pengantar Manajemen. Jakarta: Prenada
Media.
Surakhmad, W. (1998). Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar, Metode dan
Teknik. Bandung: Tarsito.
Suripin. (2004). pelestarian sumer daya tanah dan air. Yogyakarta: Penerbit
Andi.
Symons, G., & Cassel, C. (1998). Qualitative Methods and Analysis in
Organizational Research. London: SAGE Publications Ltd.
Usman, H., & Akbar, P. S. (2009). Metodology Penelitian Sosial. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Wahyuni, S. (2012). Qualitative Research Method: Theory and Practice.
Jakarta: Salemba Empat.
Waluyo. (2011). Perpajakan Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

UNDANG-UNDANG
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2008 tentang Air Tanah.
Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah.
v