Anda di halaman 1dari 261

RENCANA PROGRAM INVESTASI

JANGKA MENENGAH (RPIJM)


KOTA LHOKSEUMAWE
TAHUN 2013 - 2017

Bidang Cipta Karya
PEMERINTAH KOTA LHOKSEUMAWE
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
TAHUN 2012

http://www.bappedalhokseumawe.web.id
Bappeda Kota Lhokseumawe
BAB I

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-1

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017



PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan Nasional harus dilaksanakan secara merata diseluruh
wilayah Indonesia, bersama seluruh tingkat pemerintahan dari pusat sampai
dengan pemerintah daerah dengan cara yang lebih terpadu, efisien, efektif serta
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat. Salah
satu perwujudan pembangunan nasional tersebut adalah pelaksanaan
pembangunan infrastruktur yang disiapkan secara lebih cerdas, terencana dan
terpadu dengan kaidah pembangunan berkelanjutan.
Pendayagunaan sumber daya yang sinergis diharapkan mampu
mengoptimalisasikan pelaksanaan dan hasil pembangunan untuk mendukung
laju pertumbuhan ekonomi nasional, peningkatan derajat kesehatan,
peningkatan kualitas perumahan dan permukiman, penciptaan lapangan kerja
dan penanggulangan kemiskinan dengan tetap menjaga daya dukung
lingkungan serta pengembangan wilayah baik diperkotaan maupun perdesaan.
Untuk mewujudkan hal tersebut perlu disiapkan perencanaan program
infrastruktur yang dapat mendukung kebutuhan sanitasi, air minum dan
lingkungan secara terpadu. Departemen Pekerjaan Umum khususnya Direktorat
Jenderal Cipta Karya mengambil inisiatif untuk mendukung Kota
Lhokseumawe, Provinsi Aceh untuk dapat mulai menyiapkan perencanaan
program yang dimaksud khususnya Bidang PU/ Cipta Karya melalui penyiapan
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) sebagai embrio
terwujudnya perencanaan program infrastruktur yang lebih luas. Dengan
adanya RPIJM tersebut, Kota Lhokseumawe dapat menggerakkan semua sumber
daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan daerah, mendorong dalam
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan serta
mewujudkan lingkungan yang layak huni (liveable).
BAB

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-2

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
RPIJM yang disusun perlu memperhatikan aspek kelayakan program dari
masing-masing kegiatan dan kelayakan spasialnya sesuai skenario
pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang yang ada, serta
kelayakan sosial dan lingkungannya. Disamping itu RPIJM yang disusun daerah
harus mempertimbangkan kemampuan pendanaan dan kapasitas kelembagaan
dalam mendukung pelaksanaan program investasi yang telah disusun.
Dengan demikian Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kota
Lhokseumawe diharapkan dapat mengakomodasikan dan merumuskan
kebutuhan pembangunan Kota Lhokseumawe secara spesifik, sesuai dengan
karakteristik dan potensi Kota Lhokseumawe agar dapat mendorong
pembangunan ekonomi lokal, pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas
pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan nyata dapat dicapai.

1.2. Landasan Hukum
Penyusunan RPIJM Kota Lhokseumawe bertitik tolak (mengacu) pada
peraturan perundangan maupun kebijakan yang berlaku pada saat RPIJM
disusun. Adapun acuan peraturan dan perundangan maupun kebijakan tersebut
sebagai berikut:
1.2.1 Peraturan Perundangan
1. Undang-undang Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pembentukan
Pemerintah Kota Lhokseumawe (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2001 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3851;
2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air;
5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
7. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
8. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-3

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
9. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;
10. Undang-undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional;
11. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

1.2.2 Kebijakan dan Strategi
1. Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2004 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009;
2. Permen PU 494/ PRT/ M/ 2005 tentang Kebijakan Nasional Strategi
Pengembangan (KNSP) Perumahan dan Permukiman, bahwa
pembangunan perkotaan perlu ditingkatkan dan diselenggarakan secara
berencana dan terpadu;
3. Permen PU 20/ PRT/ M/ 2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan (KNSP) Sistem Penyediaan Air Minum;
4. Permen PU 21/ PRT/ M/ 2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan (KNSP-SPP) Sistem Pengelolaan Persampahan;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2007 tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun
Anggaran 2008;
6. Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 1 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Nanggroe
Aceh Darussalam Nomor 11);
7. Qanun Kota Lhokseumawe Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Lhokseumawe Tahun
2007-2012;
8. Qanun Kota Lhokseumawe Nomor 4 Tahun 2009 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Dinas, Lembaga Teknis Daerah dan
Kecamatan Kota.




Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-4

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
1.3. Tujuan dan Pentingnya RPIJM
Rencana Program Investasi Jangka Menengah Bidang PU/ Cipta Karya
atau disingkat sebagai RPIJM Bidang PU/ Cipta Karya merupakan dokumen
rencana kerjasama pembangunan infrastruktur (Infrastruktur Development Plan:
IDD ) di Kota Lhokseumawe yang bersifat lintas sektoral.
RPIJM Bidang PU/ Cipta Karya merupakan dokumen teknis bidang
PU/ Cipta Karya sebagai Considated Feasibility Study (CFS) yang berisi rencana
penyelenggaraan pembangunan infrastruktur bidang PU/ Cipta Karya dengan
pendekatan keterpaduan dan pengembangan wilayah berkelanjutan.
Tujuan RPIJM adalah untuk mewujudkan kemandirian kota dalam
penyelenggaraan pembangunan yang layak huni, berkeadilan, berbudaya,
produktif dan berkelanjutan, menciptakan kualitas kehidupan masyarakat yang
lebih baik yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional.
RPIJM menjadi penting artinya bagi pembangunan infrastruktur Kota
Lhokseumawe mengingat:
RPIJM Bidang PU/ Cipta Karya merupakan penjabaran program investasi
infrastruktur Kota Lhokseumawe dari Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) yang menjabarkan Visi, Misi, Program Walikota
Terpilih. RPJMD Kota Lhokseumawe yang merupakan pedoman bagi
dinas/ instansi dalam menyusun Rencana Startegis Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Renstra-SKPD) dinas/ instansi lingkup Kota Lhokseumawe;
RPIJM Bidang PU/ Cipta Karya menjadi bahan masukan pada Pemerintah
Kota Lhokseumawe dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD) yang bersifat tahunan. RKPD Kota Lhokseumawe merupakan
penjabaran dari RPJMD Kota Lhokseumawe dan rangkuman hasil
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) serta kebijakan
pembangunan kota yang disinkronkan dengan kebijakan nasional dan
provinsi;
Penyusunan RPIJM Bidang PU/ Cipta Karya merupakan Penguatan Peran
Pemerintah Kota dalam menetapkan berbagai kebijakan pembangunan
infrastruktur kota mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-5

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pembangunan infrastruktur kota khususnya dibidang PU/ Cipta Karya
(Perencanaan Partisipatif). Pemerintah Kota Lhokseumawe dapat mengambil
keputusan secara mandiri tentang program-program infrastruktur bidang
PU/ Cipta Karya yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan
prioritas permasalahan yang dihadapi pemerintah Kota Lhokseumawe,
sedangkan pemerintah pusat akan memfasilitasi dan meningkatkan kapasitas
manajemen pembangunan daerah untuk mendorong terwujudnya
kemandirian daerah dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur ke
PU-an guna mendukung pembangunan permukiman perkotaan dan
perdesaan yang layak huni, berkeadilan sosial, berbudaya, berproduktif dan
berkelanjutan serta saling memperkuat dalam mendukung pengembangan
wilayah;
Penyusunan RPIJM Bidang PU/ Cipta Karya merupakan dasar evaluasi
penyelenggaraan pembangunan infrastruktur perkotaan sebelumnya,
sehingga pembangunan infrastruktur selanjutnya menjadi lebih terpadu,
efektif dan efisien sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat luas;
Dalam penyusunan RPIJM selain memuat Rencana dan Program
Pembangunan juga menyiapkan Rencana Pembiayaan/ Investasi secara
terintegrasi yang dapat dimobilisasi dari berbagai sumber pembiayaan terkait,
baik potensi daerah, Provinsi, maupun dunia usaha dan Pemerintah Pusat
melalui Program Pembangunan Infrastruktur Permukiman bidang PU/ Cipta
Karya;
RPIJM penting untuk lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas
penyelenggaraan pembangunan di daerah.
RPIJM akan menjadi dokumen kelayakan dan kerjasama program dan
anggaran pembangunan bidang PU/ Cipta Karya di daerah antara Pemerintah
Pusat, Provinsi dan Kota Lhokseumawe.

1.4. Mekanisme dan Framework Penyusunan RPIJM
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Pembangunan
Infrastruktur (bidang PU/ Cipta Karya) 2013-2017 harus dapat disiapkan oleh

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-6

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Pemerintah Daerah Kabupaten sesuai dengan arahan RENSTRA Departemen PU
(Permen PU No. 51/ PRT/ M/ 005 tanggal 7 Maret 2005), melalui proses
partisipatif yang mengakomodasikan kebutuhan nyata masyarakat sesuai
dengan strategi dan arah pembangunan Kota yang telah ditetapkan dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah, serta memperhatikan karakteristik dan potensi
daerah masing-masing untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi
lokal, penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kualitas pelayanan.
Dalam menyusun RPIJM, selain menyusun Rencana dan Program
Pembangunan juga harus disiapkan Rencana Pembiayaan/ Investasi secara
terintegrasi yang dapat dimobilisasi dari berbagai sumber pembiayaan terkait
baik potensi daerah kota, provinsi, maupun dunia usaha dan pemerintah pusat
melalui Program Pembangunan Infrastruktur.
Mekanisme penyusunanan RPIJM Bidang PU/ Cipta Karya dilakukan
oleh Bappeda dan instansi lain yang terkait dengan membentuk Satgas RPIJM
Kota Lhokseumawe yang dibentuk dengan Keputusan Walikota. Untuk dapat
melaksanakan penyiapan RPIJM diatas, Direktorat Jenderal Cipta Karya telah
menyiapkan suatu jalur bantuan teknis yang didukung oleh program dan
sumber tenaga ahli yang sesuai untuk kebutuhan setiap sektor pembangunan
Pekerjaan Umum/ Cipta Karya dan untuk mewujudkan rencana dan program
yang integratif berdasarkan Rencana Tata Ruang. Pada tingkat Pusat, dibentuk
Satgas RPIJM tingkat Pusat yang terdiri dari pejabat yang mewakili Direktorat
Bina Program, Direktorat Pengembangan Permukiman, Direktorat Tata
Bangunan dan Lingkungan, Direktorat Pengembangan Air Minum dan
Direktorat Pengembangan PLP. Satgas RPIJM tingkat Pusat tidak akan bekerja
secara langsung dengan memfasilitasi dan kemudian bekerjasama dengan Satgas
RPIJM Kota dan Kabupaten, tetapi akan bekerja melalui Satgas RPIJM Provinsi
yang ketua dan anggotanya terdiri atas pejabat yang mewakili instansi cerminan
Satgas RPIJM Pusat dan juga RPIJM Kota. Satgas RPIJM tingkat Provinsi dapat
dibentuk dengan SK Gubernur.
RPIJM ini merupakan produk daerah, dimana RPIJM merupakan
pedoman perencanaan dan penganggaran pembangunan khususnya di Kota

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-7

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Lhokseumawe. Sebagai tindak lanjutnya, penganggaran akan mengacu kepada
dokumen RPIJM. Hanya Kabupaten/ Kota yang mempunyai RPIJM yang akan
mendapatkan prioritas APBN. Dengan demikian dokumen RPIJM harus dapat
diselesaikan pada tahun 2012 ini.

1.5. Sistematika Pembahasan Dokumen RPIJM Kota Lhokseumawe
Sistematika Pembahasan Dokumen RPIJM Kota Lhokseumawe ini dibuat
berdasarkan Pedoman Penyusunan RPIJM Mengacu pada Surat Edaran Direktur
Jenderal Cipta Karya No. Pr.02.03-Dc/ 496 Tanggal 9 Desember 2005 tentang
Penyusunan RPIJM Bidang CK/ PU Kab./ Kota yang diuraikan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
Pada Bab ini diuraikan secara rinci mengenai latar belakang penyusunan RPIJM
bidang PU/ Cipta Karya, landasan hukum, tujuan dan pentingnya penyusunan
RPIJM dan mekanisme framework penyusunan RPIJM serta sistematika
dokumen RPIJM bidang PU/ Cipta Karya Kota Lhokseumawe.

BAB II : GAMBARAN UMUM DAN KONDISI WILAYAH KOTA
LHOKSEUMAWE

Berisikan gambaran umum dan kondisi wilayah Kota Lhokseumawe serta
penataan ruang wilayah dan struktur pengembangan wilayah yang berkaitan
dengan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Provinsi maupun Kota, meliputi
administratif, demografi, sosial budaya serta kondisi sarana dan prasarana
daerah.

BAB III : RENCANA STRATEGI PEMBANGUNAN WILAYAH KOTA
LHOKSEUMAWE

Berisikan pokok-pokok perencanaan strategis Kota Lhokseumawe yang
berkaitan dengan struktur pengembangan wilayah berdasarkan RTRW dan
struktur pembangunan infrastruktur dalam rangka mendukung kegiatan sosial
ekonomi dan lingkungan.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-8

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
BAB IV : RENCANA PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR KOTA
LHOKSEUMAWE

Pada Bab ini diuraikan tentang rencana program investasi infrastruktur Kota
Lhokseumawe yang meliputi; rencana pengembangan permukiman, rencana
investasi penataan bangunan dan lingkungan, rencana investasi sub-bidang air
limbah, rencana investasi sub-bidang persampahan, rencana investasi sub-
bidang drainase dan rencana investasi sub-bidang air minum.

BAB V : SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN
Berisikan mengenai dukungan daerah dalam menilai kelayakan rencana
investasi pada bidang infrastruktur ditinjau melalui dampak lingkungan,
pemantauan lingkungan, serta pengelolaan lingkungan, baik yang berupa
dampak fisik ataupun dampak sosial.

BAB VI : KEUANGAN DAN RENCANA PENINGKATAN
PENDAPATAN

Pada bab ini menguraikan kondisi kemampuan daerah dalam hal pendanaan
serta pendapatan asli daerah untuk dapat diketahui seberapa besar kemampuan
daerah dalam melakukan pembiayaan pembangunan khususnya pada bidang
infrastruktur.

BAB VII : KELEMBAGAAN DAERAH DAN RENCANA PENINGKATAN
KAPASITAS KELEMBAGAAN

Pada Bab ini diuraikan tentang kondisi struktur kelembagaan daerah Kota
Lhokseumawe serta rencana peningkatan kapasitas kelembagaan, sehingga
dapat mewujudkan sistem kelembagaan yang baik, efisien dan efektif yang
mampu mendorong peningkatan kinerja antar instansi terkait terhadap
pembangunan.

BAB VIII : RENCANA KESEPAKATAN (MEMORANDUM) PROGRAM
INVESTASI KOTA LHOKSEUMAWE

Berisikan tentang rencana kesepakatan (memorandum) program investasi bidang
PU/ Cipta Karya Kota Lhokseumawe serta uraian matrik program serta
pembiayaan jangka menengah mulai tahun 2013 hingga tahun 2017.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 I-9

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017


http://www.bappedalhokseumawe.web.id
Bappeda Kota Lhokseumawe
BAB II

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-1

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017




GAMBARAN UMUM
DAN KONDISI WILAYAH
KOTA LHOKSEUMAWE


2.1. Kondisi Umum
Kota Lhokseumawe adalah sebuah kota di Provinsi Aceh yang berada
persis di tengah-tengah jalur timur Sumatera, di antara Banda Aceh dan Medan,
sehingga kota ini merupakan jalur distribusi dan perdagangan yang sangat
penting bagi Aceh. Lhokseumawe ditetapkan statusnya menjadi pemerintah
kota berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2001.

Sejarah
Sebelum abad ke-20, negeri ini telah diperintah oleh Uleebalang
Kutablang. Tahun 1903 setelah perlawanan pejuang Aceh terhadap penjajah
Belanda melemah, Aceh mulai dikuasai. Lhokseumawe menjadi daerah
taklukan dan mulai saat itu status Lhokseumawe menjadi Bestuur Van
Lhokseumawe dengan Zelf Bestuurder adalah Teuku Abdul Lhokseumawe
tunduk di bawah Aspiran Controeleur dan di Lhokseumawe berkedudukan juga
Wedana serta Asisten Residen atau Bupati.
Pada dasawarsa kedua abad ke-20 itu, di antara seluruh daratan Aceh,
salah satu pulau kecil luas sekitar 11 km yang dipisahkan Sungai Krueng Cunda
diisi bangunan-bangunan Pemerintah Umum, Militer dan Perhubungan Kereta
Api oleh Pemerintah Belanda. Pulau kecil dengan desa-desa Kampung Keude
Aceh, Kampung Jawa, Kampung Kutablang, Kampung Mon Geudong,
Kampung Teumpok Teungoh, Kampung Hagu, Kampung Uteuen Bayi dan
Kampung Ujong Blang yang keseluruhannya baru berpenduduk 5.500 jiwa
BAB

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-2

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
secara jamak disebut Lhokseumawe. Bangunan demi bangunan mengisi daratan
ini sampai terwujud embrio kota yang memiliki pelabuhan, pasar, stasiun kereta
api dan kantor-kantor lembaga pemerintahan.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan, Pemerintahan Negara Republik
Indonesia belum terbentuk sistemik sampai kecamatan ini. Pada mulanya
Lhokseumawe digabung dengan Bestuurder Van Cunda. Penduduk didaratan
ini makin ramai berdatangan dari daerah sekitarnya seperti Buloh Blang Ara,
Matangkuli, Blang Jruen, Lhoksukon, Nisam, Cunda serta Pidie.
Pada tahun 1956 dengan Undang-undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956,
terbentuk daerah-daerah otonom kabupaten-kabupaten dalam lingkup daerah
Provinsi Sumatera Utara, di mana salah satu kabupaten diantaranya adalah Aceh
Utara dengan ibukotanya Lhokseumawe.
Kemudian Pada Tahun 1964 dengan Keputusan Gubernur Daerah
Istimewa Aceh Nomor 34/ G.A/ 1964 tanggal 30 November 1964, ditetapkan
bahwa kemukiman Banda Sakti dalam Kecamatan Muara Dua, dijadikan
Kecamatan tersendiri dengan nama Kecamatan Banda Sakti.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Pemerintahan di Daerah, berpeluang meningkatkan status Lhokseumawe
menjadi Kota Administratif, pada tanggal 14 Agustus 1986 dengan Peraturan
Daerah Nomor 32 Tahun 1986 Pembentukan Kota Administratif Lhokseumawe
ditandatangani oleh Presiden Soeharto, yang diresmikan oleh Menteri Dalam
Negeri Soeparjo Roestam pada tanggal 31 Agustus 1987. Dengan adanya hal
tersebut maka secara dejure dan de facto Lhokseumawe telah menjadi Kota
Administratif dengan luas wilayah 253,87 km yang meliputi 101 desa dan 6
kelurahan yang tersebar di lima kecamatan yaitu: Kecamatan Banda Sakti,
Kecamatan Muara Dua, Kecamatan Dewantara, Kecamatan Muara Batu dan
Kecamatan Blang Mangat.
Sejak tahun 1988 gagasan peningkatan status Kotif Lhokseumawe
menjadi Kotamadya mulai diupayakan sehingga kemudian lahir UU Nomor 2
Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe tanggal 21 Juni 2001 yang
ditandatangani Presiden RI Abdurrahman Wahid, yang wilayahnya mencakup

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-3

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tiga kecamatan, yaitu: Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua dan
Kecamatan Blang Mangat.


2.1.1 Profil Geografi
Secara Geografis Kota Lhokseumawe berada pada posisi 04 54 05 18
Lintang Utara dan 96 20 97 21 Bujur Timur, dengan batas-batas sebagai
berikut:
- Sebelah Utara dengan Selat Malaka.
- Sebelah Barat dengan Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara.
- Sebelah Selatan dengan Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara.
- Sebelah Timur dengan Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara.
Kota Lhokseumawe memiliki luas wilayah 181,10 km, yang secara Administratif
Kota Lhokseumawe terbagi kedalam 4 Kecamatan dan 68 Gampong.
Kecamatan-kecamatan di Kota Lhokseumawe:
1. Kecamatan Banda Sakti
2. Kecamatan Muara Dua
3. Kecamatan Blang Mangat
4. Kecamatan Muara Satu

2.1.2 Profil Demografi
Kependudukan merupakan hal paling mendasar dalam pembangunan.
Dalam nilai universal penduduk merupakan pelaku dan sasaran pembangunan
sekaligus yang menikmati hasil pembangunan. Dalam kaitan peran penduduk
tersebut, kualitas mereka perlu ditingkatkan dan pertumbuhan serta
mobilitasnya harus dikendalikan.
Dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan memanfaatkan jumlah
penduduk yang besar sebagai kekuatan pembangunan bangsa, maka perlu
ditingkatkan upaya pembinaan, pengembangan dan pemberdayaan potensi
sumber daya manusia serta upaya meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai
sektor yang mendorong perluasan lapangan kerja. Dengan usaha-usaha tersebut
diharapkan dapat tercipta manusia-manusia pembangunan yang tangguh,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-4

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
berbudi luhur, terampil, percaya diri dan bersemangat membangun dalam
berbagai lapangan kerja produktif.

2.1.2.1 Struktur Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Struktur Umur
Jumlah total penduduk pada wilayah Kota Lhokseumawe pada tahun
2009 berjumlah 159.239 jiwa, terjadi kenaikan sebesar 7% bila dibandingkan
dengan jumlah penduduk tahun 2010 yaitu berjumlah 171.163 jiwa. Penyebaran
penduduk pada tiap kecamatan belum merata, di mana jumlah penduduk
tertinggi berada pada Kecamatan Banda Sakti yaitu pada tahun 2009 berjumlah
71.749 jiwa dan pada tahun 2010 berjumlah 73.542 jiwa, sedangkan penduduk
terendah terdapat di Kecamatan Blang Mangat yaitu pada tahun 2009 berjumlah
18.869 jiwa dan pada tahun 2010 berjumlah 21.689 jiwa.
Struktur penduduk menurut jenis kelamin di wilayah Kota
Lhokseumawe pada tahun 2009 terdiri dari 79.254 jiwa laki-laki dan 79.985 jiwa
perempuan dan untuk tahun 2010 terdiri dari 85.436 jiwa laki-laki dan 85.727
jiwa perempuan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1
Jumlah Penduduk dan Jenis Kelamin Menurut Kecamatan
di Kota Lhokseumawe Tahun 2009 - 2010
Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total
1 Blang Mangat 9,426 9,443 18,869 10,836 10,853 21,689
2 Muara Dua 18,466 18,666 37,132 21,929 22,280 44,209
3 Muara Satu 15,677 15,812 31,489 15,815 15,908 31,723
4 Banda Sakti 35,685 36,064 71,749 36,856 36,686 73,542
Total 79,254 79,985 159,239 85,436 85,727 171,163
Sumber : Lhokseumawedalam Angka 2009-2010
No 2010 2009
Tahun
Kecamatan
Selanjutnya struktur penduduk menurut kelompok umur di wilayah
Kota Lhokseumawe pada tahun 2010, di mana usia 0-4 tahun merupakan jumlah
penduduk terbanyak, yakni terdiri dari 9.502 jiwa laki-laki dan 9.018 jiwa
perempuan dan usia penduduk yang paling sedikit adalah usia di atas 75 tahun
yakni sebesar 419 jiwa laki-laki dan 799 jiwa perempuan. Untuk lebih jelas dapat
dilihat pada tabel 2.2 berikut:

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-5

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur
di Kota Lhokseumawe Tahun 2010

Kelompok
Umur
Laki-Laki Perempuan Jumlah
2 3 4 5
0-4 9.502 9.018 18.520
5-9 9.382 8.737 18.119
10-14 9.450 8.863 18.313
15-19 8.689 8.673 17.362
20-24 8.152 8.692 16.844
25-29 7.789 8.369 16.158
30-34 7.042 7.365 14.407
35-39 5.983 6.519 12.502
40-44 5.252 5.561 10.813
45-49 4.630 4.656 9.286
50-54 3.807 3.300 7.107
55-59 2.549 1.940 4.489
60-64 1.353 1.421 2.774
65-69 864 1.026 1.890
70-74 573 788 1.361
75+ 419 799 1.218
Total 85.436 85.727 171.163
Sumber: Lhokseumawe Dalam Angka, 2010

2.1.2.2 Laju Pertumbuhan Penduduk
Laju pertumbuhan selama 5 (lima) tahun terakhir yakni dari tahun 2005-
2010 sebesar 2,11 persen. Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Muara Dua
adalah yang tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lain di Kota
Lhokseumawe yakni sebesar 4,52%. Sedangkan yang terendah di Kecamatan
Muara Satu yakni sebesar 0,63 persen. Laju pertumbuhan Kecamatan Blang
Mangat sebesar 3,54 persen dan Kecamatan Banda Sakti sebesar 1,03 persen.
Sementara konsentrasi penduduk lebih banyak berada di Kecamatan Banda Sakti
sebagai pusat Pemerintahan Kota Lhokseumawe dan sekaligus masih
merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Utara. Penduduk di
Kecamatan ini mencapai 73.542 jiwa (42,96 %) dari total penduduk
Lhokseumawe, disusul oleh Kecamatan Muara Dua, penduduknya adalah
44.209 jiwa (25,82%) dan Kecamatan Muara Satu Jumlah penduduk 31.723 jiwa

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-6

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
(18,53%). Sementara penduduk yang paling sedikit adalah di Kecamatan Blang
Mangat, yaitu hanya 21.689 jiwa (12,67 %)

2.1.2.3 Struktur Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Struktur penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kota
Lhokseumawe untuk tingkat pendidikan SD/ MI dan SMP/ MTs, terlihat bahwa
Kecamatan Banda Sakti yang memiliki Angka Partisipasi Sekolah (APS) yang
tinggi, yakni sebesar 121,08 untuk tingkat SD/ MI dan 154,25 untuk tingkat
SMP/ MTs. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut ini.
Tabel 2.3.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2011/2012
Kota Lhokseumawe

Jlh Murid Usia
7 - 12 Tahun
Jlh Pdd Usia
7 - 12 Tahun
APS
Jlh Murid Usia
13 - 15 Tahun
Jlh Pdd Usia
13 - 15 Tahun
APS
1 Banda Sakti 9,484 8,806 121.08 3,600 4,196 154,25
2 Muara Dua 4,121 5,867 76.68 1,799 2,992 100,33
3 Blang Mangat 2,308 2,745 97.16 1,144 1,361 133,83
4 Muara Satu 3,726 4,524 96.73 1,842 2,272 145,98
SD/MI SMP/MTs
Kecamatan No
Sumber: Disdikpora Kota Lhokseumawe, 2012

2.1.3 Profil Ekonomi
Kota Lhokseumawe selain sebagai pusat pemerintahan, pendidikan dan
perekonomian juga termasuk pusat perdagangan. Banyak perusahaan barang
dan jasa yang melakukan aktifitas kegiatannya di Kota Lhokseumawe. Selain
perusahaan besar, pedagang usaha menengah dan kecil yang berskala mikro
tampak mewarnai kehidupan perekonomian di sektor perdagangan yang marak
berkembang disebagian besar masyarakat Kota Lhokseumawe.
Secara kuantitas mungkin perkembangan tersebut tidak merupakan
masalah, tetapi dari segi kualitas masih perlu dikembangkan dan ditingkatkan
melalui penciptaan usaha yang kondusif dalam memanfaatkan setiap peluang
yang ada bagi para pengusaha untuk mampu bersaing dan meningkatkan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-7

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
produksinya dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi sumber daya
yang tersedia, terutama sumber daya lokal.

2.1.3.1 Struktur Ekonomi
A. Dengan Minyak dan Gas
Struktur perekonomian Kota Lhokseumawe jika memasukkan komponen
minyak bumi dan gas pada tahun 2010 paling besar didominasi oleh kelompok
sekunder yang terdiri dari sektor industri pengolahan, sektor listrik dan air
bersih, serta sektor konstruksi. Kelompok ini menyumbang sebesar 57,76 persen
dari total PDRB Kota Lhokseumawe.
Besarnya sumbangan sektor sekunder disebabkan oleh sektor industri
pengolahan yang memberikan sumbangan mencapai 49,92 persen pada tahun
2010. Besarnya sumbangan sektor tersebut terutama disumbangkan oleh
industri pengolahan gas alam, meskipun dalam kurun waktu 2007-2010 sektor
ini cenderung menurun yang diakibatkan semakin berkurangnya produksi gas
alam cair.
Kelompok tersier yang terdiri dari empat sektor merupakan penyumbang
kedua terbesar komponen PDRB Kota Lhokseumawe. Kelompok ini
menyumbangkan 37,33 persen dari total PDRB Kota Lhokseumawe. Nilai ini
terus mengalami peningkatan selama kurun waktu 2007-2010. Sektor yang
paling dominan dalam kelompok tersier yaitu dari sektor perdagangan, hotel
dan restoran yang mencapai angka sebesar 26,77 persen.
Sementara itu, sektor-sektor pada kelompok primer yang terdiri dari
sektor pertanian dan pertambangan penggalian pada tahun 2010 hanya
memberikan kontribusi sebesar 4,91 persen yang sebesar 4,74 persen berasal dari
pertanian dan sisanya 0,17 persen berasal dari sektor pertambangan dan
penggalian.
Secara umum struktur ekonomi Kota Lhokseumawe dengan
memasukkan unsur migas masih di dominasi oleh sektor-sektor pada kelompok
sekunder selama periode 2007-2010, walaupun mempunyai kecenderungan
menurun setiap tahunnya pada periode 2007-2010.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-8

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dari tabel 2.4 terlihat bahwa sejak tahun 2007 ada kecenderungan
sumbangan kegiatan tersier terhadap PDRB terus meningkat sehingga
menempati urutan kedua setelah sumbangan sektor sekunder yang cenderung
terus menurun. Untuk lebih jelasnya tentang struktur perekonomian dengan
minyak dan gas tahun 2007-2010 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.4
Struktur Perekonomian dengan Minyak & Gas Tahun 2007-2010 (persen)

Sektor 2007 2008 2009* 2010**
1 2 3 4 5
Primer 4,67 4,57 4,77 4,91
1. Pertanian 4,52 4,43 4,61 4,74
2. Pertambangan & Penggalian 0,15 0,15 0,16 0,17
Sekunder 71,28 67,14 62,48 57,76
3. Industri Pengolahan 67,32 62 55,84 49,92
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,05 0,06 0,07 0,09
5. Konstruksi 3,9 5,08 6,58 7,75
Tersier 24,05 28,29 32,75 37.33
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 16,79 20,3 23,45 26,77
7. Pengangkutan & Komunikasi 3,76 4,27 5,09 6,09
8. Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan 0,81 0,98 1,26 1,48
9. Jasa-jasa 2,69 2,74 2,95 2,98
PDRB
100,00 100,00 100,00 100,00

*Angka Diperbaiki
**Angka Sementara
Sumber: BPS Kota Lhokseumawe, 2011

B. Tanpa Minyak dan Gas
Peranan sektor minyak dan gas semakin menurun setiap tahunnya
sebagaimana penjelasan sebelumnya. Tetapi, hal ini disertai dengan peningkatan
peran sektor pada kelompok tersier seperti yang dapat kita lihat pada Tabel 2.5
Struktur perekonomian Kota Lhokseumawe dengan tidak memasukkan unsur
minyak dan gas pada perhitungan PDRB tahun 2010 didominasi oleh kelompok
tersier sebesar 72,50 persen dan 52,00 persen disumbangkan oleh sektor
perdagangan, hotel dan restoran.



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-9

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel 2.5
Struktur Perekonomian Tanpa Minyak dan Gas Tahun 2007-2010 (persen)

Sektor 2007 2008 2009* 2010**
1 2 3 4 5
Primer 13,80 11,69 10,52 9,53
1. Pertanian 13,37 11,32 10,17 9,20
2. Pertambangan & Penggalian 0,43 0,37 0,34 0,33
Sekunder 15,12 16,01 17,27 17,97
3. Industri Pengolahan 3,45 2,88 2,61 2,74
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,14 0,14 0,15 0,17
5. Konstruksi 11,53 12,98 14,51 15,06
Tersier 71,08 72,30 72,21 72,50
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 49,62 51,88 51,71 52,00
7. Pengangkutan & Komunikasi 11,11 10,92 11,23 11,84
8. Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan 2,39 2,51 2,78 2,88
9. Jasa-jasa 7,96 6,99 6,50 5,79
PDRB
100,00 100,00 100,00 100,00

*Angka Diperbaiki
**Angka Sementara
Sumber: BPS Kota Lhokseumawe, 2011

Sektor perdagangan, hotel dan restoran memberikan kontribusi terbesar
dari total PDRB tanpa migas. Sektor ini terus meningkat dari tahun ke tahun,
sama halnya dengan sektor jasa-jasa dan sektor pengangkutan & komunikasi
serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang juga semakin
meningkat dalam kurun waktu 2007-2010.
Kelompok primer berada pada posisi kedua terbesar peranannya dalam
pembentukan PDRB Kota Lhokseumawe. Pada tahun 2010 kelompok primer
ini memberikan kontribusi sebesar 9,53 persen. Namun, kontribusi yang
diberikan cenderung menurun setiap tahunnya. Misalnya saja pada tahun 2007
kontribusi kelompok ini mencapai angka 13,80 persen.
Sektor yang dominan pada kelompok primer adalah sektor pertanian
dimana pada tahun 2010 memberikan kontribusi sebesar 9,20 persen. Sementara
itu sumbangsih sektor pertambangan dan penggalian tidak menyumbang lebih
dari setengah persen sejak periode 2007-2010.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-10

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Yang berada di posisi ketiga adalah kelompok sekunder yang terdiri dari
sektor industri pengolahan, sektor listrik dan air bersih serta sektor konstruksi.
Kelompok sekunder ini lebih didominasi oleh sektor konstruksi yang
memberikan kontribusi sebesar 15,06 persen pada tahun 2010. Sektor konstruksi
juga menunjukkan kecenderungan meningkat peranannya setiap tahun.
Sementara itu sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar
2,74 persen pada tahun 2010. Sedangkan sektor listrik dan air bersih
kontribusinya masih sangat kecil baru mencapai 0,17 persen terhadap
pembentukan PDRB Kota Lhokseumawe tahun 2010. Sektor ini juga merupakan
sektor yang paling kecil kontribusinya. Untuk lebih jelas tentang peranan
sektoral PDRB dengan Migas dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut.

Grafik 2.1
Peranan Sektoral PDRB dengan Migas Tahun 2010 (persen)











Sumber: BPS Kota Lhokseumawe, 2011










Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-11

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Sementara ini peranan sektoral PDRB tanpa Migas dapat dilihat pada
gambar 2.2 berikut
Grafik 2.2
Peranan Sektoral PDRB tanpa Migas Tahun 2010 (persen)


Sumber: BPS Kota Lhokseumawe, 2011


2.1.3.2 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe sangat dipengaruhi oleh
pertumbuhan sektor industri, terutama industri minyak dan gas. Selama kurun
waktu 2007 hingga 2010, pertumbuhan ekonomi menunjukkan kecenderungan
yang menurun seiring dengan menurunnya pertumbuhan sektor industri
pengolahan di Kota Lhokseumawe yang didominasi industri gas alam cair oleh
PT. Arun N.G.L. Untuk lebih jelasnya tentang laju pertumbuhan sektor ekonomi
Kota Lhokseumawe tahun 2007-2010 dapat dilihat pada tabel 2.6 berikut ini:





Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-12

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel 2.6
Laju Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tahun 2007-2010 (persen)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010*
1 2 3 4 5
1. Pertanian (2,39) 1.23 1.54 2.22
2. Pertambangan & Penggalian 4,35 2.81 3.29 5.26
3. a. Industri Pengolahan (16,37) (12.56) (15.08) (17.19)
3. b. Industri Pengolahan (Tanpa Migas) 2,12 4.05 2.35 2.29
4. Listrik, Gas & Air Bersih 38,20 7,13 10,76 12,26
5. Konstruksi 7,31 6,64 4,29 4,41
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 21,28 9,41 7,94 8,07
7. Pengangkutan & Komunikasi 13,03 3,96 4,58 5,02
8. Keuangan, Persewaan & J asa
Perusahaan 17,03 5,43 5,51 8,75
9. Jasa-jasa 3,01 3,05 3,51 2,85
PDRB dengan Migas
(7,81) (5,69) (6,57) (6,45)
PDRB tanpa Migas
12,11 6,38 5,66 5,93

*Angka Sementara
Sumber: BPS Kota Lhokseumawe, 2010

Pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe tahun 2010 sebesar 5,93
persen yang ditunjukkan oleh PDRB atas dasar harga konstan 2000.
Pertumbuhan PDRB tersebut tanpa memasukkan unsur minyak dan gas.
Sedangkan dengan memasukkan unsur minyak dan gas, pertumbuhan ekonomi
Kota Lhokseumawe masih minus yaitu minus 6,45 persen.
Tanpa penghitungan dengan minyak dan gas, secara sektoral di tahun
2010 seluruh sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif dan pertumbuhan
tertinggi secara berturut-turut dialami oleh sektor listrik dan air bersih sebesar
12,26 persen; sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan sebesar 8,75
persen; sektor perdagangan, hotel dan restoran 8,07 persen; pertambangan dan
penggalian 5,26 persen; pengangkutan dan komunikasi 5,02 persen; konstruksi
4,41 persen; jasa-jasa 2,85 persen; industri pengolahan 2,29 persen; serta sektor
pertanian tumbuh terkecil yaitu sekitar 2,22 persen. Sedangkan pertumbuhan
industri pengolahan dengan memperhitungkan minyak dan gas pada tahun 2010
minus 17,19 persen.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-13

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Jika dilihat, pertumbuhan ekonomi Kota Lhokseumawe periode 2006-
2009, pertumbuhan dengan minyak dan gas mengalami pertumbuhan negatif
setiap tahunnya. Sementara itu pertumbuhan tanpa memasukkan komponen
minyak dan gas, setiap tahun mengalami pertumbuhan yang positif.
Grafik 2.3.
Laju Pertumbuhan Ekonomi menurut Sektor Tahun 2010 (persen)











Keterangan:
1. Sektor Pertanian
2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
3a. Sektor Industri Pengolahan (dengan minyak dan gas)
3b. SektorIndustriPengolahan (tanpa minyak dan gas)
4. Sektor Listrik, Gas, dan Air Minum
5. Sektor Bangunan/ Konstruksi
6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
9. Sektor Jasa-jasa





2,22
5,26
(17,19)
2,29
12,26
4,41
8,07
5,02
8,75
2,85
(20,00)
(15,00)
(10,00)
(5,00)
-
5,00
10,00
15,00
01 02 03a 03b 04 05 06 07 08 09 P
e
r
s
e
n
Growth without oil and gas =5.93% Growth with oil and gas =-6,45 %

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-14

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2.1.3.3 Pendapatan Per Kapita
A. Dengan Minyak dan Gas
Pendapatan per kapita Kota Lhokseumawe yang diperoleh dari PDRB
dengan minyak dan gas mempunyai nilai yang cukup besar, baik atas dasar
harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Pada tahun 2010 tercatat
pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku sebesar 58,78 juta rupiah dan
atas dasar harga konstan sebesar 22,43 juta rupiah.
Grafik 2.4
Pendapatan Regional Perkapita dengan Migas Atas Dasar Harga Berlaku dan
Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2007 2010 (juta rupiah).










Pendapatan per kapita senilai tersebut di atas bukanlah langsung berarti
pendapatan perkapita riil masyarakat Kota Lhokseumawe setiap tahunnya,
melainkan hanya jumlah PDRB Kota Lhokseumawe dibagi dengan jumlah
penduduk setiap tahunnya.
B. Tanpa Minyak dan Gas
Pendapatan per kapita Kota Lhokseumawe yang diperoleh dari PDRB
tanpa minyak dan gas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik atas
dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan.
0,00
10,00
20,00
30,00
40,00
50,00
60,00 56,29
28,85
58,94
26,66
58,01
24,41
58,78
22,43
M
i
l
l
i
o
n
s
2007
2008
2009
2010
PendapatanRegional Per
Kapita Harga Berlaku
PendapatanRegional Per
Kapita Harga Konstan 2000

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-15

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Berdasarkan harga berlaku pendapatan perkapita tahun 2007 tercatat
sebesar 19,05 juta rupiah, kemudian meningkat menjadi 23,06 juta rupiah pada
tahun 2008. Tahun 2009 meningkat menjadi 26,3 juta rupiah dan pada tahun
2010 naik lagi menjadi 30,26 juta rupiah. Secara rata-rata terjadi laju
pertumbuhan pendapatan perkapita atas dasar harga berlaku sebesar 16,7 persen
setiap tahunnya pada periode 2007-2010.
Sedangkan pendapatan per kapita atas dasar harga konstan 2000 juga
mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan rata-rata laju pertumbuhan
sebesar 3,94 persen pada periode 2007-2010. Pada tahun 2007 pendapatan
perkapita atas dasar harga konstan 2000 tercatat sebesar 10,85 juta rupiah,
kemudian meningkat menjadi 11,32 juta pada 2008, kembali meningkatmencapai
nilai 11,7 juta rupiah tahun 2009, dan naik menjadi 12,2 pada 2010.
Tren pendapatan perkapita dari PDRB tanpa minyak dan gas dapat
dilihat pada Gambar 2.5 berikut.
Grafik 2.5
Pendapatan Regional Perkapita Tanpa Migas Atas Dasar Harga Berlaku dan
Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2007 2010 (juta rupiah).









-
5,00
10,00
15,00
20,00
25,00
30,00
35,00
19,05
10,85
23,06
11,32
26,31
11,72
30,26
12,19
M
i
l
l
i
o
n
s
2007
2008
2009
2010
PendapatanRegional Per
Kapita Harga Berlaku
PendapatanRegional Per
Kapita Harga Konstan 2000

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-16

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2.1.3.4 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dihitung untuk mengetahui
total produksi barang dan jasa suatu daerah pada periode tertentu. Yang
dimaksud dengan produksi adalah aktivitas ekonomi menggunakan sumber
daya yang tersedia untuk memproduksi barang dan jasa. PDRB merupakan
neraca makro ekonomi yang dihitung secara konsisten dan terintegrasi dengan
berdasar pada konsep, definisi, klasifikasi dan cara perhitungan yang telah
disepakati secara internasional. PDRB pada dasarnya merupakan jumlah nilai
tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu.
Perubahan PDRB dari waktu ke waktu terjadi karena dua hal, yaitu
terjadinya perubahan harga barang dan jasa atau karena terjadinya perubahan
volume. Penggunaan harga yang berlaku pada periode yang telah lalu
menghasilkan PDRB atas harga konstan. PDRB atas harga konstan disebut
sebagai PDRB volume atau PDRB real. Dalam publikasi ini selain disajikan
PDRB atas harga berlaku yang bisa menggambarkan pergeseran struktur
ekonomi, juga disajikan PDRB dengan menggunakan tahun dasar 2000 yang bisa
menggambarkan pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Ada tiga pendekatan yang digunakan dalam perhitungan PDRB, yaitu
pendekatan produksi, pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
Pendekatan produksi menghitung nilai tambah sumbangan tiap sektor
produksi terhadap total output dengan cara mengurangkan output dengan
barang dan jasa yang dibeli dari unit produksi lain dan habis digunakan untuk
menghasilkan output tersebut (dinamakan konsumsi antara). Hasil
penghitungan tersebut adalah nilai tambah. Nilai tambah dapat dinyatakan
dalam nilai bruto dan netto tergantung apakah sudah dikurangi dengan
penyusutan barang modal.
Sektor produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 9
lapangan usaha (sektor) yaitu:
1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan,
2. Pertambangan dan Penggalian,
3. Industri Pengolahan,
4. Listrik, Gas dan Air Bersih,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-17

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
5. Bangunan/ Kontruksi,
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran,
7. Pengangkutan dan Komunikasi,
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan,
9. Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah.
Pendekatan pengeluaran menghitung PDRB dengan menjumlahkan
seluruh permintaan akhir yang terdiri dari konsumsi rumah tangga dan lembaga
nirlaba, konsumsi pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB),
perubahan stok dan ekspor neto.
Pendekatan pendapatan menghitung PDRB sebagai penjumlahan dari
balas jasa faktor produksi (kompensasi pekerja, sewa, penyusutan, bunga dan
keuntungan) dalam wilayah. Hal ini menunjukkan dua hal dalam perekonomian
suatu daerah. Pertama, menunjukkan pembagian PDRB menurut berbagai
pendapatan seperti balas jasa tenaga kerja, keuntungan serta balas jasa barang
modal lainnya, dan pajak produksi setalah dikurangi subsidi. Kedua, membantu
menjelaskan perbedaan antara PDRB dengan pendapatan yang dapat digunakan.
PDRB mencakup:
1. Semua barang dan jasa yang penghasilannya mendapatkan kompensasi.
2. Produksi yang ilegal dan tersembunyi.
3. Produksi barang untuk dikonsumsi sendiri.
4. Jasa yang dihasilkan oleh pemerintah dan lembaga nirlaba.
5. Jasa sewa rumah yang dihuni oleh unit rumah tangga sendiri.
6. Jasa rumah tangga dan perseorangan untuk konsumsi sendiri oleh pekerja
rumah tangga yang dibayar.
PDRB tidak mencakup:
1. Produksi jasa perseorangan dan rumah tangga untuk digunakan sendiri yang
dihasilkan oleh anggota rumah tangga yang tidak dibayar.
2. Aktivitas sosial, budaya serta sukarela dari lembaga nirlaba atau pemerintah
yang tidak dibayar.
3. Dekorasi, perbaikan besar dan kecil barang tahan lama dan rumah yang
dilakukan sendiri oleh rumah tangga.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-18

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2.1.3.5 Kegunaan Statistik Pendapatan Regional
Beberapa manfaat statistik pendapatan untuk level regional adalah:
1. PDRB nominal (harga berlaku) menunjukkan kemampuan sumber daya
ekonomi suatu wilayah. Semakin besar nilai PDRB menunjukkan semakin
besar kekuatan ekonomi wilayah tersebut;
2. Distribusi PDRB nominal (harga berlaku) menurut sektor menunjukkan
struktur perekonomian dan menunjukkan peranan masing-masing sektor
dalam perekonomian suatu wilayah. Semakin besar peranan suatu sektor
menunjukkan basis perekonomian dalam wilayah tersebut;
3. PDRB riil (harga konstan) dapat digunakan untuk menunjukkan laju
pertumbuhan ekonomi atau sektor ekonomi dari periode ke periode;
4. PDRB harga berlaku menurut penggunaan menunjukkan penggunaan produk
barang dan jasa menurut konsumsi, investasi, dan perdagangan luar wilayah;
5. Distribusi PDRB menurut penggunaan menunjukkan besarnya peranan
kelembagaan dalam menggunakan hasil produksi barang dan jasa.
PDRB penggunaan atas harga konstan menunjukkan laju pertumbuhan
konsumsi, investasi dan perdagangan regional.

2.1.4 Profil Sosial dan Budaya
Upaya penanggulangan kemiskinan difokuskan pada: Pertama,
perluasan akses masyarakat miskin terhadap pendidikan, kesehatan,
infrastruktur dasar dan kesempatan memperoleh pekerjaan dan berusaha.
Kedua, upaya penanggulangan kemiskinan memerlukan upaya yang bersifat
pemberdayaan. Upaya pemberdayaan masyarakat miskin menjadi penting
karena akan menempatkan mereka bukan sebagai obyek melainkan subyek
berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. Untuk meningkatkan posisi tawar
masyarakat miskin, diperlukan berbagai upaya pemberdayaan agar masyarakat
miskin lebih berkesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Selain itu diperlukan upaya pemberdayaan agar masyarakat miskin dapat
berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi sehingga mengubah pandangan terhadap
masyarakat miskin dari beban (liabilities) menjadi potensi (assets). Berbagai

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-19

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
proses pemenuhan kebutuhan dasar dan pemberdayaan tersebut di atas perlu
didukung oleh perbaikan sistem bantuan dan jaminan sosial serta kebijakan
ekonomi yang pro-poor termasuk tata kelola pemerintahan yang baik.
Beberapa masalah pokok yang dihadapi oleh masyarakat miskin antara
lain sebagai berikut: Pertama, rendahnya kemampuan daya beli dan kesadaran
masyarakat akan pangan dengan gizi yang layak yang merupakan persoalan
utama bagi masyarakat miskin. Kedua, terbatasnya akses atas kebutuhan dasar
terutama pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Selama ini kelompok
masyarakat miskin dihadapkan pada masalah tingginya biaya pendidikan, oleh
karena itu telah menyebabkan tingginya angka putus sekolah. Hal ini masih
terjadi terutama pada jenjang pendidikan menengah, karena alasan anak harus
membantu orang tua mencari nafkah. Kelompok masyarakat miskin juga
dihadapkan pada mahalnya biaya pengobatan dan perawatan, jauhnya tempat
pelayanan kesehatan, dan rendahnya jaminan kesehatan. Ketiga, masih
minimnya penanganan dibidang kesejahteraan sosial, baik ditingkat perorangan,
keluarga maupun kelompok masyarakat.
Perlindungan sosial bagi masyarakat miskin, khususnya fakir miskin dan
PMKS, diperlukan agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar secara
mandiri dan dapat mengakses sistem pelayanan sosial dasar, penyandang cacat,
anak terlantar, anak korban penyalahgunaan NAPZA, gelandangan dan wanita
rawan sosial ekonomi. Kelima, belum adanya rasa aman terhadap masyarakat
yang tertimpa bencana, serta terjaminnya ketersediaan bantuan dan relokasi
korban dalam situasi darurat sehingga dapat mengurangi penderitaan
masyarakat yang terkena bencana.
Fenomena ini merupakan realitas yang harus mendapat perhatian serius
dalam program pembangunan tahun 2013-2017. Pembangunan diselenggarakan
secara holistik yang memiliki keterkaitan (linkages) dengan kegiatan sektoral
melalui pendekatan multiplayer effect dengan membuat skala prioritas dari
kegiatan yang dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan.
Penduduk miskin yang umumnya berpendidikan rendah harus bekerja apa saja
untuk mempertahankan hidupnya. Kondisi tersebut menyebabkan lemahnya

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-20

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
posisi tawar masyarakat dan tingginya kerentanan terhadap perlakuan yang
merugikan disamping itu juga harus menerima pekerjaan dengan imbalan yang
sangat rendah, tanpa sistem kontrak atau tidak adanya kepastian perlindungan
hukum terhadap pekerja informal tersebut.
Kantong-kantong kemiskinan pada umumnya terdapat pada zona pesisir
dan desa-desa terpencil dengan sumber mata pencaharian sebagai nelayan dan
petani tradisional dengan upah dan pendapatan yang relatif kecil. Oleh karena
itu perlu paradigma baru dalam memanfaatkan sumberdaya lokal sebagai
potensi yang dapat dikembangkan dalam proses percepatan pembangunan serta
mengurangi ketimpangan pembangunan. Potensi tersebut adalah pemanfaatan
pengembangan kawasan-kawasan secara optimal sebagai pusat-pusat
pertumbuhan (growth center) melalui pembentukan pengelompokan pemukiman
baru sebagai daerah pertumbuhan ekonomi dan pengembangan perluasan
kesempatan berusaha.

2.1.4.1 Penduduk Miskin
Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang,
laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk
mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
Kemiskinan itu sendiri dapat didefinisikan di antaranya, kemiskinan absolut
adalah situasi di mana penduduk tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan
pokok minimum seperti pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan
pendidikan yang diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja. Kemiskinan relatif
adalah situasi ataupun kondisi dimana penduduk miskin terjadi karena
pengaruh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh
lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan,
dan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang ditengarai atau didalihkan
disebabkan dari kondisi struktur, atau tatanan kehidupan yang tak
menguntungkan karena tatanan itu tak hanya menerbitkan akan tetapi (lebih
lanjut dari itu) juga melanggengkan kemiskinan di dalam masyarakat. (Suyanto,
1995:59).

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-21

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Kemiskinan merupakan suatu persoalan yang pelik dan
multidimensional. Ianya merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan
dan mekanisme ekonomi, sosial dan politik yang berlaku. Setiap upaya
penanggulangan masalah kemiskinan secara tuntas menuntut peninjauan
sampai ke akar masalah, tak ada jalan pintas untuk menanggulangi masalah
kemiskinan ini.
Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan,
pemerintah sangat memerlukan data jumlah penduduk terutama jumlah rumah
tangga miskin yang akan digunakan sebagai tolok ukur penyusunan kebijakan
sampai pada tingkat yang paling kecil. Dengan berpedoman pada data jumlah
penduduk miskin, pemerintah akan berusaha mengatasi dan mengurangi
ketertinggalan yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya.
Dalam rangka mengurangi angka kemiskinan di Kota Lhokseumawe
Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) 2007-2012 telah menetapkan tujuh Misi
Pembangunan Jangka Menengah, salah satunya adalah mendorong
pengembangan sektor-sektor ekonomi kerakyatan meliputi perdagangan, jasa,
dan industri guna memperluas kesempatan kerja dan peningkatan daya beli
masyarakat. Untuk mencapai misi tersebut kebijakan umum yang ditempuh di
antaranya yaitu dengan meningkatkan kemandirian petani dalam berusaha dan
peningkatan kapasitas kelembagaan petani, serta peningkatan kesejahteraan
masyarakat dalam rangka mengurangi angka kemiskinan.
Di Kota Lhokseumawe jumlah penduduk miskin pada tahun 2009
berjumlah 22.530 jiwa, terjadi penurunan sebesar 3,3% bila dibandingkan pada
tahun 2010 berjumlah 21.770 jiwa. Sedangkan persentase jumlah penduduk
miskin terhadap jumlah total penduduk Kota Lhokseumawe pada tahun 2009
sebesar 14,00 % dan persentase jumlah penduduk miskin terhadap jumlah total
penduduk Kota Lhokseumawe pada tahun 2010 sebesar 12,00 %, untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.7 berikut:




Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-22

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel 2.7
Jumlah Penduduk Miskin Kota Lhokseumawe Tahun 2009-2010
No Tahun
Jumlah
Penduduk
Jumlah Penduduk
Miskin (jiwa)
Persentase
(%)
1 2009 159,238 22,530 14,00 %
2 2010 171,163 21,770 12,00 %
Sumber : BPS Kota Lhokseumawe

2.1.4.2 Jumlah Tenaga kerja
Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam
kehidupan manusia, karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Oleh
karenanya, setiap upaya pembangunan selalu diarahkan pada perluasan
kesempatan kerja dan lapangan usaha, dengan harapan penduduk dapat
memperoleh manfaat langsung dari pembangunan. Tenaga kerja di Kota
Lhokseumawe pada tahun 2009 berjumlah 53.808 jiwa mengalami kenaikan
sebesar 8.7% dibandingkan tenaga kerja tahun 2010 yang berjumlah 58.478 jiwa.
Namun bila dilihat dari persentase jumlah tenaga kerja terhadap total jumlah
penduduk pada tahun 2009 sebesar 33,8% dan persentase jumlah tenaga kerja
terhadap total jumlah penduduk pada tahun 2010 sebesar 34,0 %. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.8 berikut:
Tabel 2.8
Jumlah Tenaga Kerja Kota Lhokseumawe Tahun 2009-2010
No Tahun
Jumlah
Penduduk
Jumlah Tenaga
Kerja (jiwa)
Persentase
(%)
1 2009 159,238 53,808 33.8%
2 2010 171,163 58,478 34,0%
Sumber : BPS Kota Lhokseumawe



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-23

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2.1.4.3 Jumlah Pengangguran
Masalah pengangguran umumnya lebih banyak dicirikan oleh daerah
perkotaan sebagai efek dari industrialisasi. Pengangguran terjadi sebagai akibat
dari tidak sempurnanya pasar tenaga kerja, atau tidak mampunya pasar tenaga
kerja dalam menyerap tenaga kerja yang ada. Akibatnya timbul sejumlah
pekerja yang tidak diperdayakan dalam kegiatan perekonomian. Ini merupakan
akibat tidak langsung dari penawaran (supply) tenaga kerja di pasar tenaga kerja
melebihi permintaan (demand) untuk mengisi kesempatan kerja yang tercipta.
Di Kota Lhokseumawe tingkat pengangguran pada tahun 2009 berjumlah
8.228 jiwa mengalami penurunan sebesar 4.6% dibandingkan tahun 2010 yaitu
berjumlah 7.848 jiwa. Sedangkan persentase jumlah pengangguran terhadap
jumlah penduduk Kota Lhokseumawe terhadap jumlah total penduduk Kota
Lhokseumawe pada tahun 2009 sebesar 5,2% dan pada tahun 2010 persentase
jumlah pengangguran terhadap jumlah total penduduk sebesar 4,0 %. Untuk
lebih jelas dapat dilihat pada tabel 2.10 berikut:
Tabel 2.9
Jumlah Pengangguran Kota Lhokseumawe Tahun 2009-2010
No Tahun
Jumlah
Penduduk
Jumlah
Pengangguran
(jiwa)
Persentase
(%)
1 2009 159.238 8.228 5,2%
2 2010 171.163 7.848 4,0 %
Sumber : BPS Kota Lhokseumawe

2.2. Kondisi Prasaran Bidang PU/Cipta Karya
2.2.1 Sub Bidang Air Minum
Sistem penyediaan air minum di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten
Aceh Utara dikelola oleh operator yang sama yaitu PDAM Tirta Mon Pase
dengan sistem IPA lengkap. Pada sistem IPA lengkap terdapat sumber air baku,
sistem transmisi, pengolahan lengkap, dan distribusi yang sebagian besar sudah
dibuat dengan system zona pada pelayanannya. Sumber air baku yang

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-24

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
digunakan berasal dari air permukaan yaitu sungai Krueng Pase dengan
kapasitas debit 100 lt/ detik, Kreung Mane kapasitas debit 200-300 lt/ detik, dan
Krueng Keureutau kapasitas debit 100-300 lt/ detik.
Total produksi air minum yang dikelola PDAM Tirta Mon Pase pada saat
ini adalah sebesar 305 lt/ detik yang berasal dari 8 IPA dan 1 sumur bor yang
masih beroperasi.
IPA Krueng Pase dengan konstruksi beton yang dibangun tahun 2003
memiliki kapasitas terpasang 100 lt/ detik dan total produksi 95 lt/ detik yang
beroperasi selama 18 jam sehari. Pendistribusian dari IPA Krueng Pase melayani
kota Lhokseumawe. Jumlah penduduk Kota Lhokseumawe tahun 2010 sekitar
171.163 jiwa, sedangkan jumlah pelanggan PDAM Tirta Mon Pase untuk tahun
2010 sejumlah 6.746 pelanggan. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk di
Kota Lhokseumawe dan jumlah penduduk yang mengakses air bersih pada
PDAM, maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa air bersih yang
didistribusikan ke Kota Lhokseumawe sangat kecil, belum lagi tingginya angka
kebocoran air seluruhnya diperkirakan mencapai 45 %.
Selain IPA Krueng Pase, PDAM Tirta Mon Pase juga menyediakan air
bersih di Kota Lhokseumawe dengan sumur bor di Simpang Keramat dengan
kapasitas terpasang 65 lt/ detik dan total produksi 30 lt/ detik yang beroperasi
selama 22 jam sehari.
Air permukaan (sungai) dapat dimanfaatkan sebagai air baku melalui
pengolahan. Mengenai jenis dan tingkat pengolahannya dibutuhkan masih
diperlukan penelitian lebih lanjut. Sementara itu sumber air tanah yang berasal
dari air tanah umum terdapat secara merata di seluruh penjuru kota. Namun
perlu diingat bahwa air tanah ini kurang baik dijadikan sebagai sumber air baku,
karena sebagian sumbersumber air tanah yang ada telah terintrusi air laut dan
berwarna kekuningkuningan.
Berdasarkan standar air bersih dan target kebutuhan tersebut dapat
diketahui rencana kebutuhan air bersih di Kota Lhokseumawe tahun 2011 yaitu
sebesar 46.067.550 liter/ hari atau 460,68 liter/ detik, dengan jumlah sambungan
sebanyak 49.139 sambungan. Pelayanan sambungan ini terdiri dari kebutuhan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-25

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
domestik dan non domestik yang meliputi kebutuahan untuk rumah tangga,
kebutuhan sosial, kebutuahan komersial, institusi dan lain-lain.
Sementara itu kebutuhan untuk saluran umum (kran umum) 10 % dari
kebutuhan rumah tangga yaitu sebesar 46,07 liter/ detik, kebutuhan fasilitas
(perkantoran, komersial, umum dan sosial) sebesar 20 % dari kebutuhan rumah
tangga yaitu sebasar 92,14 liter/ detik, dan kebutuhan industri 20 % dari
kebutuhan rumah tangga yaitu sebesar 92,14 liter/ detik. Tingkat kebocoran
keseluruhannya diasumsikan sekitar 20% dari total pemakai yakni 20 % x (460,68
+ 46,07 + 92,14 + 92,14 liter/ detik) dengan jumlah 138,21 liter/ detik. Total
kebutuhan air bersih keseluruhannya adalah 829,24 lt/ dt. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 2.10 berikut ini.

Table 2.10
Jumlah Pelanggan PDAM Tirta Mon Pase
di Kota Lhokseumawe Tahun 2010
No Kategori Pelanggan Jumlah Pelanggan
1 Rumah Tangga 6.157
2 Badan Sosial/ Rumah Sakit 36
3 Fasilitas Umum 9
4 Toko, Industri dan Perusahaan 468
5 Instansi Pemerintah 76
JUMLAH 6.746

Sumber: Lhokseumawe Dalam Angka, 2010


Sementara banyaknya air minum yang disalurkan ke pelanggan setiap
bulan di Kota Lhokseumawe pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:







Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-26

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Table 2.11
Banyaknya Air Minum yang Disalurkan ke Pelanggan Setiap Bulan
di Kota Lhokseumawe 2010
No Bulan Operasi
Air Minum yang
Disalurkan (M3)
1 Januari 135.892
2 Februari 118.988
3 Maret 104.952
4 April 128.994
5 Mei 124.272
6 Juni 132.994
7 Juli 129.376
8 Agustus 131.749
9 September 126.335
10 Oktober 140.544
11 November 78.195
12 Desember 146.210
JUMLAH 1.498.501
Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka, 2010

Untuk mengantisipasi perkembangan penduduk dimasa yang akan
datang, perlu ditingkatakan ruang lingkup atau jangkauan pelayanannya yaitu
berupa penambahan langganan dan jaringan di wilayah yang belum terjangkau
oleh sistem distribusi.
Rencana program sistem penyediaan air bersih Kota Lhokseumawe
diuraikan sebagai berikut:
a. Pengoperasian dan pengoptimalan kapasitas instalasi pengolahan air bersih,
guna didistribusikan ke wilayah perkotaan dengan target awal 40%
penduduk dilayani.
b. Pembangunan reservoir distribusi.
c. Pengadaan dan pemasangan jaringan pipa distribusi.
d. Pendistribusian pelayanan berupa sambungan rumah maupun kran umum.
e. Pembuatan sarana kran umum bagi kawasan pemukiman yang padat dan
berpenghasilan rendah.
f. Peyuluhan pada masyarakat, mengenai arti pentingnya air bersih berkaitan
dengan sistem yang mungkin diterapkan.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-27

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
g. Penelitian lebih lanjut tentang keberadaan sumber-sumber air potensial bagi
air baku.
h. Peningkatan pelayanan ke penduduk hingga melebihi 80%, dengan
menekan angka bocoran sampai dibawah 20%.
i. Perlindungan secara ketat daerah resapan air bagi kelestarian kontinuitas air
tanah.
Sementara mulai tahun 2011 Kota Lhokseumawe telah memiliki PDAM
sendiri yang bernama Ie Beusare Rata, namun sampai saat ini belum lagi
beroperasi, karena masih dalam tahap pembicaraan atau negosiasi mengenai
asset dengan PDAM Tirta Mon Pase Kabupaten Aceh Utara.

2.2.2 Sub Bidang Sampah
Sampah yang dihasilkan di Kota Lhokseumawe terdiri dari sampah yang
berasal dari domestik dan non domestik. Sampah yang berasal dari domestik
ditampung ditempat penampungan sementara yang berupa bak-bak sampah
yang selanjutunya diangkut oleh truk sampah (dump truck) menuju ke tempat
pembuangan akhir yang berada di Alue Lim dengan sistem open dumping.
Dengan standar besaran jumlah sampah yang ditimbulkan oleh rumah tangga
(domestik) sebesar 1,5 liter/ hari, maka dapat diperoleh jumlah produksi sampah
domestik Kota Lhokseumawe hingga akhir tahun 2026 yaitu sebesar 345.172
liter/ hari. Jumlah sampah non-domestik adalah 40% dari sampah domestik,
yaitu sebesar 138.070 liter/ hari. Total produksi sampah ini keluruhannya adalah
sebesar 483.242 liter/ hari.
Saat ini sarana persampahan yang terdapat di Kota Lhokseumawe masih
jauh dari cukup untuk melayani produksi sampah Kota Lhokseumawe. Kondisi
pelayanan sarana persampahan yang ada hampir sepenuhnya digunakan untuk
melayani produksi sampah di kawasan pusat kota saja. Untuk lebih jelasnya
mengenai sarana persampahan dapat dilihat pada tabel 2.12 berikut:




Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-28

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel 2.12
Sarana dan Prasarana Sampah di Kota Lhokseumawe

No Kecamatan Sarana dan Prasarana Vol / Unit
Jumlah TPS/ Drum 2.250
Jumlah TPS/ Bak 29
Jumlah TPS/ Gerobak Sampah 8
Jumlah TPS/ Container 13
Mobil Kijang Pick Up 5
Truck 8
Jumlah TPS/ Drum 950
Jumlah TPS/ Bak 11
Jumlah TPS/ Gerobak Sampah 2
Jumlah TPS/ Container 1
Truck 3
Jumlah TPS/ Drum 250
Jumlah TPS/ Bak 5
Jumlah TPS/ Gerobak Sampah 2
Jumlah TPS/ Container 1
Truck 3
Jumlah TPS/ Drum 250
Jumlah TPS/ Bak 4
Jumlah TPS/ Gerobak Sampah 2
Jumlah TPS/ Container 1
Truck 3
Sumber : BLHK Kota Lhokseumawe, 2010
Blang Mangat
2
3
4
Banda Sakti 1
Muara Satu
Muara Dua

Selanjutnya berbagai sarana lainnya dalam persampahan dapat dilihat
pada tabel 2.13 berikut ini.
Tabel 2.13
Sarana Lainnya Dalam Persampahan

No Sarana dan Prasarana Ket
1 Tempat Pengolahan Akhir
- Lokasi Desa Alue Lim
- Sistem yang digunakan Open dumping
- Jarak Dari Kota, Luas dan Status TPA Jarak 20 Km dari Pusat
Kota, Luas 8 ha, dan Status
Milik Pemerintah Kota
Lhokseumawe yang
dikelola oleh BLHK Kota
Lhokseumawe
- Volume sampah yang masuk ke TPA 202 m3/ hari
- Alat Berat
2 Unit (Beco dan Buldozer)
Dalam Kondisi Baik
2 Fasilitas Pendukung
- Ketersediaan instalasi pengolahan air
lindi (leachate)
1 Unit
- Sumur Pantau 3 Unit
Sumber : BLHK Kota Lhokseumawe, 2010


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-29

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Permasalahan dibidang sampah antara lain adalah minimnya sistem
perencanaan persampahan termasuk database persampahan. Database ini
tentunya sangat berguna bagi pemerintah dalam upaya melakukan forecasting
terhadap permasalahan sampah. Kemudian sarana dan prasarana sampah
belum mampu menjawab kebutuhan akan pelayanan persampahan yang baik.
Lokasi TPA misalnya, bila masih menggunakan model pengelolaan sampah
hanya dengan menggunakan metode open dumping saja, maka dalam waktu yang
tidak begitu lama, pemerintah harus mencari lokasi baru atau melakukan
perluasan lokasi TPA. Artinya life time penggoperasian TPA tidak begitu lama.
Permasalahan selanjutnya terdapat beberapa wilayah di Kota Lhokseumawe
yang belum terjangkau oleh layanan persampahan. Keterbatasan kemampuan
pemerintah dalam memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada semua
anggota masyarakat membuat masalah persampahan menjadi tidak tuntas
ditangani. Artinya pelayanan ini masih bersifat parsial. Kemudian permasalahan
juga dikarenakan masih terbatas pada pemanfaatan sampah yang masih dapat
dijual kembali bukan secara langsung mendaur ulang sampah tersebut.
Kelompok masyarakat yang berhubungan dengan kegiatan persampahan
umumnya.
2.2.3 Sub Bidang Air Limbah
Pembangunan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan di
perkotaan dan perdesaan Kota Lhokseumawe belum begitu mendapatkan
perhatian dan prioritas. Penanganan masalah limbah masih terbatas pada tahap
konsep penanganan dan belum diwujudkan ke dalam pembangunan fisik. Selain
itu, pengelolaan limbah manusia secara sistematik belum dilakukan. Penanganan
limbah pada tingkat rumah tangga dilayani melalui jamban dengan tangki
septik, sedangkan masyarakat yang tidak memiliki jamban menggunakan tempat
pembuangan limbah tradisionil seperti sungai, saluran drainase kota, dan lain-
lain.
Perkembangan jumlah penduduk berakibat meningkatnya kebutuhan
permukiman baru sehingga mendorong adanya penciptaan permukiman-
permukiman baru maupun bertambah padatnya permukiman yang sudah ada.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-30

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Hal yang tidak bisa dihindari adanya peningkatan jumlah limbah cair yang
dihasilkan pada lingkungan permukiman tersebut. Limbah cair rumah tangga
pada permukiman apabila tidak ditangani dengan cukup baik, akan
berpengaruh terhadap kualitas lingkungan diantaranya penurunan kualitas air
badan air dan air tanah, penurunan tingkat kesuburan tanah, maupun
penurunan tingkat estetika suatu wilayah.
Ketika jumlah penduduk masih sedikit, maka daya dukung lingkungan
masih mampu melalukan pembersihan sendiri (self purification), namun dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan peningkatan debit limbah cair yang
dihasilkan maka diperlukan metode pengelolaan sehingga yang terbuang pada
lingkungan diharapkan sudah memenuhi syarat.
Instansi Pemerintah Kota Lhokseumawe yang menangani masalah
Limbah Cair adalah, Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Kota
Lhokseumawe dan Dinas Pekerjaan Umum. Sesuai dengan hasil survei
kesehatan lingkungan maka di wilayah Kota Lhokseumawe dapat kita ketahui
bahwa ada 31.415 jamban dengan berbagai jenis jamban dan juga terdapat 26.377
unit SPAL. Secara umum semua fasilitas jamban dan SPAL dibangun secara
swadaya oleh masyarakat sendiri.
Pemerintah Kota telah melakukan pengadaan sarana dan prasarana yang
berhubungan dengan pengelolaan limbah ini. Dari data Badan Kebersihan dan
Lingkungan Hidup bahwa Kota Lhokseumawe telah memiliki Instalasi
Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) sebanyak 1 unit. Pemerintah pun telah
memiliki 2 unit mobil penyedot dan pengangkut tinja. Volume lumpur tinja yang
dibuang ke ILPT ini berkisar 8 m
3
/ hari.
Masyarakat mempunyai perannya masing-masing sesuai dengan tingkat
kesadaran akan kesehatan lingkungan dan kemampuan finansialnya masing-
masing. Masyarakat yang telah mampu, umumnya telah memiliki fasilitas
penanganan limbah cair dengan baik. Namun masyarakat yang belum memiliki
kemampuan finansial, penyediaan sarana ini menjadi sulit bagi mereka.
Sehingga dapat kita katakan dengan kondisi masyarakat dengan berbagai latar
belakang yang dimilikinya, penanganan limbah ini belum maksimal. Hal ini

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-31

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
terlihat dari data kesehatan lingkungan bahwa 36.119 rumah yang disurvei,
hanya 14.201 rumah yang memiliki SPAL. Bahkan dari total 14.201 SPAL
tersebut, 53,84 % SPAL berada dalam kondisi memadai, sedangkan sisanya
sebesar 46,16 % berada dalam kondisi tidak memadai.
Untuk penangganan air limbah ini ada beberapa permasalahan yang
dijumpai, diantaranya adalah masih ada pandangan dari masyarakat yang
beranggapan bahwa pengelolaan limbah ini tidak begitu mendesak atau tidak
menjadi fokus utama bagi mereka. Masyarakat masih menggunakan cara yang
tidak sehat yaitu dengan memanfaatkan badan sungai atau saluran drainase
untuk memenuhi kebutuhan sarana prasarana pengelolaan limbah cair ini.
Kemudian untuk wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang
tinggi dan juga ketersediaan lahan yang tidak begitu luas bagi penyediaan SPAL,
tentunya sistem SPAL berskala rumah tangga lebih sulit diterapkan karena
keterbatasan lahan yang dimiliki.
Target pengelolaan air limbah diarahkan melalui upaya-upaya intensif
baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun peningkatan kesadaran
masyarakat mengenai pentingnya kondisi sanitasi lingkungan yang baik, dalam
hal ini perlu dilanjutkan terus dengan memperhatikan kegiatan penyuluhan
secara intensif serta menggunakan cara yang sesuai dengan lingkungan
setempat. Untuk lebih jelasnya tentang Rencana Pelayanan Air limbah di Kota
Lhokseumawe dapat di lihat pada tabel 2.15 berikut :

Tabel 2.14
Rencana Pelayanan Air Limbah Kota Lhokseumawe

Target Pelayanan Air Limbah (m
3
)
No Kecamatan
2012 2017 2022 2027
1 Blang Mangat 14.958 15.528 16.119 16.732
2 Banda Sakti 59.254 61.509 63.851 66.281
3 Muara Dua 30.270 31.423 32.619 33.860
4 Muara Satu 26.916 27.941 29.004 30.108
TOTAL 131.398 136.401 141.593 146.981
Sumber: Hasil Analisis (RPIJM Kota Lhokseumawe 2009-2013)

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-32

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2.2.4 Sub Bidang Drainase
Secara umum, sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian
bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/ atau membuang kelebihan
air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara
optimal.
Bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain),
saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran
induk (main drain), dan badan air penerima (receiving waters). Di sepanjang
sistem sering dijumpai bangunan lainnya seperti gorong-gorong, jembatan air
(aquaduct), pintu-pintu air, kolam tando, dan stasiun pompa.
Dalam rangka pengembangan dan penataan kawasan permukiman dan
peningkatan taraf hidup masyarakat di Kota Lhokseumawe, penanganan
drainase merupakan salah satu prioritas yang perlu mendapatkan penanganan.
Karena gangguan dan kerugian akan masalah banjir dan genangan telah
mengakibatkan dampak penurunan kondisi sosial ekonomi masyarakat,
kerusakan lingkungan pemukiman dan sektor-sektor ekonomi yang potensial.
Pembangunan rencana sistem drainase saat ini antara lain belum
memadainya jaringan drainase baik dalam jumlah maupun kapasitas. Sistem
drainase eksisting baru mencakup sebagian kecil dari daerah pelayanan dan
sebagian besar berada di daerah pusat-pusat kegiatan saja. Dapat dikatakan
banyak terdapat fungsi saluran drainase yang masih digunakan bersama-sama
dengan sistem penyaluran air limbah baik domestik maupun industri (sistem
tercampur) sehingga terjadi penurunan kapasitas aliran pada saat musim hujan.
Rencana pengembangan prasarana drainase disesuaikan dengan tingkat
perkembangan kawasan terbangun dan prasarana jalannya serta terintegrasi
dengan pengendalian banjir dan program perbaikan jalan.
Perencanaan sistem drainase di Kota Lhokseumawe meliputi pembuatan
sistem saluran primer, sekunder, dan tersier (kawasan permukiman), rehabilitasi
saluran yang kondisinya buruk, pemasangan pompa dan pemasangan pintu-
pintu air. Saluran drainase primer mengikuti jalan utama (arteri primer, arteri
sekunder dan kolektor primer), sedangkan saluran drainase sekunder mengikuti

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-33

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
jalan kolektor sekunder dan jalan lokal, sementara saluran drainase tersier
mengikuti jalan lingkungan permukiman penduduk.
Sementara itu, untuk kondisi drainase di Kota Lhokseumawe saat ini
khususnya di Kecamatan Banda Sakti yang merupakan pusat perkantoran dan
perdagangan hampir semua drainase rampung dikerjakan pada tahun 2011.

2.2.5 Sub Bidang Tata Bangunan Lingkungan
Penataan bangunan dan lingkungan adalah kegiatan pembangunan
untuk merencanakan, melaksanakan, memperbaiki, mengembangkan atau
melestarikan bangunan dan lingkungan/ kawasan tertentu sesuai dengan prinsip
pemanfaatan ruang dan pengendalian bangunan gedung dan lingkungan secara
optimal, yang terdiri atas proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi,
serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung
dan lingkungan.
Lahan terbangun di Kota Lhokseumawe untuk permukiman seluas
10.877 ha, perdagangan dan jasa 49,36 ha, industri besar 923,76 ha, pendidikan
0,60 ha dan perkantoran 14,35 ha.
Bangunan di Kota Lhokseumawe meliputi permukiman dan perumahan,
sarana kesehatan, pendidikan umum, pendidikan agama, dan peribadatan.
Untuk sarana kesehatan yang tersedia di Kota Lhokseumawe terdiri dari 5
Puskesmas, 12 Puskesmas Pembantu, 32 Polindes, 85 praktik dokter, 9 praktik
dokter gigi dan 77 toko obat. Sarana pendidikan umum yang ada di Kota
Lhokseumawe sampai dengan tahun 2007, terdiri dari Taman Kanak-kanak 25
unit (swasta 24 unit), Sekolah Dasar sebanyak 59 unit, SLTP 15 unit serta
SMU/ SMK sebanyak 13 unit, Akademi/ Perguruan Tinggi 10 unit. Sarana
pendidikan agama yang ada 8 unit Madrasah Ibtidaiyah (5 negeri dan 3 swasta),
6 unit Madrasah Aliyah (1 negeri dan 5 swasta). Di Kota Lhokseumawe memiliki
26 unit Pondok Pasantren dan 189 unit Balai Pengajian. Sarana peribadatan yang
dimiliki Kota Lhokseumawe adalah 180 unit, yang terdiri 42 unit mesjid, 70 unit
meunasah, 70 unit mushalla, 2 unit gereja dan 1 unit vihara. Secara umum

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-34

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
kondisi bangunan fasilitas umum Kota Lhokseumawe dalam keadaan baik dan
terawat.
Kawasan permukiman di Kota Lhokseumawe tersebar diseluruh
kecamatan dengan persebaran kepadatan penduduk berbeda-beda untuk setiap
kecamatan. Tingkat kepadatan persebaran dan persebaran rumah tangga
penduduk mempengaruhi tingkat kepadatan permukiman penduduk.
Berdasarkan jumlah penduduk Kota Lhokseumawe termasuk dalam klasifikasi
kawasan perkotaan sedang dengan jumlah penduduk tahun 2010 adalah 171.163
jiwa. Pengembangan perumahan diarahkan ke pinggiran kota yaitu wilayah-
wilayah yang masih memiliki banyak lahan kosong dan merupakan lahan tidak
produktif. Di pusat kota tidak memungkinkan lagi untuk dikembangkan
kawasan perumahan dikarenakan sudah terbatasnya lahan karena memiliki
kepadatan penduduk tinggi dan permukiman padat serta daerah pusat kota
sudah banyak digunakan untuk untuk pembangunan fasilitas pelayanan umum
dan pusat pemerintahan Kota Lhokseumawe.
Untuk menjaga kelestarian lingkungan di Kota Lhokseumawe adanya
kawasan perlindungan setempat yang kebanyakan berupa kawasan penyangga
dalam bentuk sempadan pantai seluas 24,90 ha. Selain sempadan pantai juga
terdapat sempadan sungai dengan luas 109,79 ha dan kawasan sekitar
danau/ waduk dengan luas 26,59 ha.

2.2.6 Sub Bidang Pengembangan Permukiman
Luas wilayah Lhokseumawe 18.106 ha telah dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan atau kebutuhan oleh 171,163 jiwa penduduk. Dilihat dari tata
guna pemanfaatan lahan (wilayah) yang ada, peruntukan untuk kebutuhan
pemukiman sangat menonjol, yaitu sekitar 10.887 ha atau sekitar 60,12 % dari
luas wilayah seluruhnya, berarti terjadi peningkatan dari tahun 2004 dimana
lahan yang digunakan untuk pemukiman hanya 8.491 Ha (47 %). Untuk lebih
jelasnya tentang luas wilayah dan tingkat kepadatan penduduk menurut
Kecamatan di Kota Lhokseumawe dapat dilihat pada tabel 2.16 berikut.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 II-35

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel 2.15
Luas Wilayah dan Tingkat Kepadatan Penduduk
menurut Kecamatan Kota Lhokseumawe

No.
Kecamatan Penduduk
Luas Wilayah
(Km2)
Kepadatan
1.
2.
3.
4.
Banda Sakti
Muara Satu
Muara Dua
Blang Mangat
73.543
31.723
44.209
21.689
11,24
55,90
57,80
56,12
6543
567
765
386

Jumlah 171,163 181,08 945
Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka, Tahun 2010
Dengan tingkat kepadatan penduduk yang relatif tinggi untuk
pemukiman menimbulkan permasalahan menjadi begitu kompleks.
Permasalahan yang timbul antara lain adalah, persampahan, genangan banjir,
kurangnya luasan ruang terbuka hijau, termasuk penanganan masalah
kebakaran, telah mencuat sebagai hal yang sangat memerlukan penanganan
yang sungguh-sungguh. Lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan tata
ruang Kota Lhokseumawe, telah menciptakan wajah kota yang semakin
semberaut. Perlu adanya peningkatan kinerja dari Badan Koordinasi Penataan
Ruang Daerah (BKPRD) sehingga terjadinya sinkronisasi terhadap pelaksanaaan
dan pengawasan pelaksanaan tata ruang yang ada.
Catatan terakhir di empat Kecamatan menunjukkan 2.390 unit rumah
warga mengalami kerusakan, dimana sekitar 603 unit rumah yang rusak total
dan 380 unit yang rusak berat, disamping rumah yang rusak ringan sebanyak
1.409 unit.
Kewenangan pemukiman dan perumahan diarahkan kepada
peningkatan sarana air bersih, penataan kawasan pemukiman yang indah dan
nyaman, perkembangan perumahan bagi keluarga yang kurang mampu dan
peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keserasian pemukiman.
http://www.bappedalhokseumawe.web.id
Bappeda Kota Lhokseumawe
BAB III


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-1


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017




RENCANA PEMBANGUNAN
KOTA

3.1. Strategi Pengembangan Kota Lhokseumawe
3.1.1 Fungsi dan Peran Kota Lhokseumawe Berdasarkan Rencana Penataan
Tata Ruang (RTRW)

Sistem Perkotaan
Struktur Ruang Wilayah Kota Lhokseumawe dibentuk oleh:
Sistem perkotaan, yang terdiri dari pusat kota dan sub-sub pusat dengan
fungsinya masing-masing dalam lingkup pengembangan wilayah.
Sistem jaringan prasarana wilayah yang mengaitkan secara fungsional dan
spasial antar kota-kota yang akan dikembangkan.
Pengembangan sistem perkotaan di Kota Lhokseumawe didasarkan pada
kriteria:
Meningkatkan pemerataan kawasan terbangun di wilayah Kota
Lhokseumawe;
Pengurangan beban pusat kota dengan mendistribusikan fungsi kegiatan di
Kecamatan Banda Sakti ke wilayah lainnya;
Meningkatkan akses antar wilayah dengan penyediaan sarana dan prasarana
transportasi;
Meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor, terutama sektor
ekonomi dalam rangka merubah orientasi sektor basis dari industri
pengolahan migas menjadi industri pengolahan hasil pertanian;
Meningkatkan penyediaan infrastruktur penunjang kegiatan perekonomian;
Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat;
BAB


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-2


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Secara teknis aman dari bahaya bencana alam dan memiliki akses yang
berorientasi dalam skala pelayanan regional dan lokal;
Mengoptimalkan eksplorasi potensi sumberdaya alam.
Secara konseptual struktur ruang wilayah Kota Lhokseumawe pada
awalnya merupakan pola konsentrik, dimana terjadi pemusatan kegiatan pada
satu titik (wilayah Banda Sakti), sehingga pada masa yang akan datang sistem
perkotaan yang akan dikembangkan di Kota Lhokseumawe adalah pola multi
pusat (multiplenuclei) yang dilakukan dengan mempertimbangkan:
1. Kebijaksanaan tata ruang yang telah ada, baik dalam lingkup nasional
(Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional) dan Provinsi (Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Aceh);
2. Kecenderungan pemusatan yang terjadi di wilayah Kecamatan Banda Sakti
baik yang menyangkut kegiatan ekonomi, maupun fisik tata ruang dalam
dekade terakhir serta sebaran penduduk perkotaan dan gampong-gampong
yang mempunyai sifat perkotaan (desa urban);
3. Rencana pengembangan kegiatan fungsional perkotaan dan kawasan
terbangun yang dapat menarik minat investasi di sektor non migas;
4. Fungsi kota sebagai pusat pelayanan jasa dan produksi yang didukung oleh
tingkat ketersediaan prasarana dan sarana lingkungan permukiman yang
memadai serta memberikan manfaat meningkatkan ketersediaan untuk
pengembangan wilayahnya, meningkatkan perkembangan lintas sektor,
terutama sektor ekonomi, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat;
5. Daya dukung lahan terkait dengan kawasan rawan bencana disekitar pusat-
pusat pemukiman yang ada;
6. Kemudahan akses yang berorientasi pada skala pelayanan regional dan lokal.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, kemudian ditentukan hirarki dari
masing-masing kota di wilayah Kota Lhokseumawe seperti terlihat pada tabel 3.1
berikut.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-3


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

Tabel 3.1
Sistem Perkotaan di Kota Lhokseumawe

Hirarki I
(Pusat)
Hirarki II
(Sub Pusat 1)
Hirarki III
(Sub Pusat 2)
Pusong Baru Banda Sakti
Ujung Blang
Muara Satu (Batuphat Timu) Cot Trieng
Blang Panyang
Muara Dua (Blang Poroh) Alue Awe
Meunasah Uteunkot
Meunasah Panggoi
Pusat Kota
(Banda Sakti )
Blang Mangat (Keude
Punteut)
Alue Lim
Blang Peunteut

Sumber: Hasil Analisis, 2012

Pengembangan wilayah Kota Lhokseumawe tidak hanya diarahkan pada
kawasan perkotaan melainkan mencakup pula kawasan bukan perkotaan. Sistem
perkotaan merupakan arahan untuk menetapkan sistem perwilayahan dengan
hirarki pusat-pusat pelayanan jasa dan produksi sesuai dengan fungsi,
kecenderungan perkembangan dan orientasi perkembangannya. Sistem
perkotaan dilakukan melalui pengembangan pusat-pusat permukiman sebagai
pusat pelayanan jasa ekonomi, jasa pemerintahan dan jasa sosial lainnya, bagi
kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan, maupun dalam hubungan
interaksi antar pusat-pusat permukiman dengan wilayah-wilayah yang
dilayaninya secara hirarkis. Dengan demikian, pusat-pusat permukiman
sebagaimana dimaksud diatas meliputi pusat-pusat permukiman perkotaan dan
perdesaan.
Berdasarkan penentuan sistem perkotaan di atas, homogenitas kawasan,
serta interaksi antar wilayah, maka sistem kota disusun dalam Bagian Wilayah
Kota. Wilayah pengembangan di Kota Lhokseumawe dibagi atas 4 (empat)
Bagian Wilayah Kota (BWK), yang masing-masing meliputi beberapa Sub Bagian
Wilayah Kota (Sub BWK).



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-4


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

1. Pusat Kota
Bagian Wilayah Kota Pusat Kota ini mencakup seluruh wilayah administrasi
Kecamatan Banda Sakti. Bagian ini merupakan kawasan pusat kota yang
menjadi pusat kegiatan regional (primer) maupun lokal (sekunder). Pusat kota
ini didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa (komersial), perkantoran,
pariwisata, dan permukiman. Pusat dari Bagian Wilayah Kota ini terdapat
pada kawasan perdagangan dan jasa di Kelurahan Kampung Jawa Lama.
Bagian wilayah kota ini meliputi Sub Bagian Wilayah Kota PK1 di bagian
selatan dan Sub Bagian Wilayah Kota PK2 di bagian utara.
2. Barat Kota
Bagian wilayah kota yang terletak di sebelah barat Kota Lhokseumawe ini
didominasi oleh fungsi kegiatan industri dan pertanian/ perkebunan serta
didukung oleh fungsi kawasan permukiman. Pusat dari bagian wilayah kota
ini terletak pada daerah yang terpadat yaitu di Gampong Batuphat Timu, dan
terdiri dari tiga sub bagian wilayah kota yang berpusat di Gampong Cot
Trieng (B1) dan Gampong Blang Panyang (B2).
3. Selatan Kota
Bagian wilayah kota Selatan mencakup seluruh wilayah administrasi
Kecamatan Blang Mangat yang fungsi utama kotanya adalah kegiatan
pendidikan, pertanian/ perkebunan dan hutan. Pusat dari bagian Selatan
Kota terletak pada Gampong Keude Punteut, sedangkan pusat dari sub
bagian wilayah kotanya adalah Gampong Blang Punteut untuk sub bagian
wilayah kota S1 dan Gampong Alue Lim untuk sub bagian wilayah kota S2.
4. Tenggara Kota
Bagian wilayah kota ini meliputi seluruh wilayah administrasi Kecamatan
Muara Dua. Bagian wilayah kota ini direncanakan untuk menampung fungsi
kegiatan pusat pemerintahan, permukiman, pertanian/ perkebunan dan
hutan. Pusat dari bagian wilayah kota ini terletak pada daerah yang
direncanakan sebagai daerah relokasi kawasan pemerintahan. Bagian
wilayah kota ini terbagi menjadi 3 sub bagian wilayah kota dengan pusat sub


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-5


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
bagian wilayah kotanya terletak di Gampong Cot Panggol (B1), Gampong
Meunasah Utenkot (B2) dan Gampong Alu Awe (B3).
Untuk mewujudkan struktur ruang dan arah pengembangan di tiap kota
maupun tiap bagian wilayah kota maka perlu adanya fungsi pengembangan
yang harus ditetapkan agar ada ketegasan dalam kebijaksanaan pengembangan
di masa mendatang. Penetapan fungsi didasarkan pada pertimbangan:
Hiraki kota/ kawasan perkotaan;
Jangkauan pelayanan perkotaan tersebut terhadap wilayah belakangnya;
Basis ekonomi kota/ kawasan perkotaan dalam wilayah yang lebih luas;
Kedudukan perkotaan tersebut dalam skala regional;
Berdasarkan pertimbangan di atas, rencana struktur kegiatan fungsional
kota di Kota Lhokseumawe meliputi:
1. Komplek Pemerintahan Kota Lhokseumawe;
2. Kawasan Perkantoran Komersial dan perdagangan eceran di Kecamatan
Banda Sakti;
3. Kawasan Pendidikan Tinggi di Bukit Rata;
4. Kawasan Industri di Batuphat Timur;
5. Kawasan Militer di Muara Dua.

Arahan fungsi kota untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2
Arahan Fungsi Kawasan Pusat-pusat Pertumbuhan
di Kota Lhokseumawe

No Bagian Wilayah Kota Pusat
Pertumbuhan
Fungsi Utama Kawasan
Hirarki I
1 BWK Pusat Kota
(Banda Sakti)
Ujung Blang
Pusong Baru
Perdagangan dan Jasa
Perikanan
Permukiman
Pariwisata
2 BWK Barat Kota
(Muara Satu)
Batuphat Timu
Blang Panyang
Cot Trieng
Industri
Perdagangan dan Jasa
Permukiman
Pertanian
Perkebunan


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-6


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
No Bagian Wilayah Kota Pusat
Pertumbuhan
Fungsi Utama Kawasan
Hirarki I
3 BWK Tenggara Kota
(Muara Dua)
Meunasah
Panggol
Meunasah
Utenkot
Alu Awe
Pemerintahan
Pertahanan & Keamanan
Permukiman
Pertanian
Perkebunan
Hutan
4 BWK Selatan Kota
(Blang Mangat)
Blang Peunteut
Alue Lim
Bukit Rata
Pendidikan
Permukiman
Pertanian
Perkebunan
Hutan
Pariwisata

Sumber: Hasil Analisis, 2012


3.1.2 Visi dan Misi Pembangunan Kota Lhokseumawe
Apabila dilihat dari capaian pembangunan tahap pertama, ada beberapa
permasalahan yang masih dihadapi Kota Lhokseumawe kedepan, antara lain:
1. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan
Penanggulangan Kemiskinan. Permasalahan Pembangunan Daerah dalam
kaitannya dengan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, perluasan
kesempatan kerja dan penanggulangan Kemiskinan merupakan isu strategis
dan mendesak yang menjadi agenda untuk diprioritaskan penanganan pada
tahun 2012-2017, karena berkaitan langsung dengan aktifitas perekonomian
dan kehidupan social masyarakat, diantaranya yang terpenting adalah
Pertama, masih rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan
masih sangat tergantung kepada belanja pemerintah dan konsumsi
masyarakat. Kedua, masih rendahnya peran sector swasta termasuk Sektor
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terhadap perkonomian daerah. Ketiga
tingginya tingkat kemiskinan dan sebaran penduduk miskin lebih dominan di
gampong-gampong. Keempat, tingginya tingkat pengagguran dan rendahnya
persentase tenaga kerja formal;
2. Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi
Pendukung Investasi. Permasalahan pembangunan dan pemeliharaan


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-7


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
infrastruktur dan sumber daya energy pendukung investasi yang perlu
menjadi perhatian dan penanganan mendesak, anatara lain: Pertama, masih
banyaknya jumlah rumah yang tidak layak huni. Kedua, masih adanya
kawasan pemukiman kumuh (Pusong). Ketiga, belum optimalnya penyediaan
air bersih, penanganan air limbah, pengelolaan persampahan dan drainase
kota. Keempat, masih adanya keterbatasan kewenangan dan regulasi. Kelima,
Alih fungsi lahan eksistin jalur kereta api. Keenam, Terbatasnya perluasan
dan pemerataan jangkauan masyarakat akan informasi dan komunikasi.
3. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar.
Pembangunan bidang Pendidikan di Kota Lhokseumawe masih diharapkan
pada empat kelompok permasalahan yang perlu menjadi perhatian dan
penanganan mendesak sebagai berikut: Pertama, pemerataan kesempatan
belajar belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kedua masih
rendahnya kualitas, relevansi dan daya saing lulusan lembaga pendidikan.
Ketiga, masih lemahnya manajemen pelayanan pendidikan yang ditandai
dengan tata kelola dan tingkat akuntabilitas yang belum optimal. Keempat,
implementasi pendidikan yang bernuansa islami belum berjalan sesuai
dengan harapan;
4. Pelaksanaan Nilai-nilai Dinul Islam di Kota Lhokseumawe yang belum
maksimal, terutama disebabkan karena masih kurangnya pemahaman,
penghayatan dan pengamalan ajaran agama dikalangan masayrakat. Berbagai
prilaku masyarakat masih banyak yang bertentangan dengan moralitas dan
etika agama. Pemahaman dan pengamalan agama dikalangan peserta didik
(sekolah umun dan agama) juga belum memuaskan disebabkan antara lain:
masih kurangnya materi dan jam pelajaran agama dibandingkan dengan
pelajaran umum. Disisi lain, derasnya arus globalisasi yang umumnya tidak
sejalan bahkan bertentangan dengan tuntutan moral Islam, telah
mempengaruhi dan mendorong perilaku masyarakat kearah yang negatif;
5. Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan. Beberapa
permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah dalam bidang Kesehatan yang
perlu menjadi perhatian dan penanganan mendesak adalah pelayanan


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-8


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
kesehatan dan disparitas status kesehatan. Dimana dalam hal ini mempunyai
beberapa permasalahan seperti kinerja pelayanan kesehatan yang masih
rendah dan akses pelayanan kesehatan masih terbatas;
6. Penciptaan Pemerintah yang Bersih serta penyehatan Birokrasi Pemerintah.
Sejalan dengan dinamika pembangunan, dalam penyelenggaraan
Pemerintahan terdapat berbagai hambatan antara lain: Pertama, masih
rendahnya kesadaran dan disiplin aparatur daerah dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya. Kedua, belum proporsionalnya tugas SKPK sesuai
dengan pelaksanaan tugas dan fungsinya dan Ketiga, penempatan pegawai
aparatur daerah belum professional sesuai bidang keahliannya;
7. Keterlibatan Peran Swasta dalam Pembangunan Aceh Masih Rendah.
Struktur perekonomian Kota Lhokseumawe masih didominasi oleh konsumsi
pemerintah. Partisipasi pihak swasta belum menunjukkan pengaruh yang
besar terhadap pembangunan Kota Lhokseumawe. Pihak swasta masih sangat
tergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Disisi
lain, pemerintah daerah sangat mengharapkan investasi swasta, baik yang
bersumber dari pengusaha lokal yang ada di daerah, atau pengusaha daerah
yang berada di luar daerah, ataupun kemampuan pengusaha daerah untuk
menarik pengusaha luar daerah bahkan dari luar negeri untuk berinvestasi.
Sinkronisasi investasi pembangunan menjadi imperative agar terjadi sinergi
yang optimal anatara berbagai pelaku ekonomi melalui pembentukan
kemitraan pemerintah-swasta-masyarakat. Kemitraan tersebut ditujukan
untuk mensinergikan aktivitas yang dilakukan oleh dunia usaha dengan
program pembangunan daerah. Implementasi dari hubungan kemitraan
dilaksanakan melalui pola-pola kemitraan yang sesuai dengan sifat, kondisi
budaya dan kearifan lokal.
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka yang
menjadi agenda utama pembangunan Kota Lhokseumawe akan dituangkan
dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kota Lhokseumawe Tahun 2012-2017.



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-9


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
3.1.2.1. Visi
Dalam menentukan arah pandang ke depan yang menggambarkan tujuan
yang ingin dicapai dari penyelenggaraan pembangunan, penataan kelolaan
pemerintah daerah, pengutan struktur ekonomi, pengefektifan peyelenggaraan
Dinul Islam dan pemberdayaan masyarakat, serta guna menyatukan persepsi,
interprestasi serta komitmen seluruh komponen masyarakat dalam
penyeleggaraan pembangunan daerah, maka perlu ditetapkan Visi Pemerintah
Kota Lhokseumawe 2012-2017.
Memperhatikan berbagai indikator serta kondisi dan karakteristik lokal
Aceh dengan berbagai permasalahan yang ada di Pemerintah Kota
Lhokseumawe saat ini, maka dapatlah dilakukan analisis berbagai hambatan dan
tantangan serta upaya solutif dalam mengatasinya serta meningkatkan potensi
pembangunan daerah secara komprehensif.
Berdasarkan potensi yang dimiliki, baik potensi sumberdaya alam
maupun potensi sumberdaya manusia termasuk potensi sosial budaya dan
sinergitas diantara berbagai sumberdaya tersebut serta didukung oleh kuatnya
partisipasi aktif dan seluruh stakeholder pembangunan di Kota Lhokseumawe,
maka dengan mengucapkan Bismillahirrahmanir-rahim dengan mengharap
Ridha Allah SWT, kami menetapkan Visi Pemerintah Kota Lhokseumawe
Periode Tahun 2012-2017 adalah: KOTA LHOKSEUMAWE YANG
BERMARTABAT, SEJAHTERA, BERKEADILAN DAN MANDIRI
BERLANDASKAN UUPA SEBAGAI WUJUD MoU HELSINKI.
Kata-kata yang tergabung di dalam kalimat membentuk visi tersebut,
bermakna;
Bermartabat, dapat diwujudkan dengan berpedoman melalui peraturan-
peraturan hasil turunan UUPA dan peraturan perundangan lainnya,
pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, bebas dari praktek
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, serta penegakan supremasi hukum dan HAM,
mengangkat kembali budaya Aceh, khususnya Kota Lhokseumawe yang islami


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-10


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
dan pelaksanaan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatanan kehidupan
bermasyarakat.
Sejahtera, adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat Kota
Lhokseumawe melalui pembangunan ekonomi berazaskan pada potensi
unggulan lokal dan budaya saing, pengoptimalisasi pemanfaatan sumberdaya
alam dan geopolitik, peningkatan indeks pembangunan manusia dan
mengembangkan kemampuan menguasai kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Berkeadilan, adalah terwujudnya pembangunan yang adil dan merata
yang dilakkukan secara partisipatif, proporsional dan berkelanjutan berdasarkan
prinsip kebutuhan dan azas manfaat bagi masyarakat Kota Lhokseumawe.
Mandiri, adalah Kota Lhokseumawe mampu memanfaatkan potensi
sumber daya alam yang melimpah dan keunggulan geostrategis melalui
penguatan kapasitas sumberdaya manusia, efesiensi dan efektifitas anggaran,
serta penguasaan teknologi informasi, sehingga bermanfaat sebesar-besarnya
untuk kesejahteraan masyarakat Kota Lhokseumawe.
Berdasarkan UUPA sebagai wujud MoU Helsinki, adalah mewujudkan
pelaksanaan Pemerintahan Kota Lhokseumawe yang efektif dan efesien
sebagaimana yang telah dituangkan dalam Undang-Undang tersebut guna
tercapainya masyarakat Kota Lhokseumawe yang mandiri, makmur dan
sejahtera.
3.1.2.2. Misi
Dalam mewujudkan visi Kota Lhokseumawe tersebut ditempuh melalui 6
(enam) misi pembangunan Kota Lhokseumawe sebagai berikut:
Misi Pertama, Menjalankan tata kelola Pemerintahan Kota Lhokseumawe yang
amanah dengan mengimplementasikan UUPA. Ini bermaksud mewujudkan
penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan amanah melalui implementasi
peraturan-peraturan turunan UUPA. Selanjutnya, peningkatan profesionalisme


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-11


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
dan pengelolaan sumber daya aparatur, peningkatan kualitas pelayanan publik,
membangun transparansi dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan
daerah. Menjadikan UUPA dan turunan peraturannya sebagai acuan
pelaksanaan dan percepatan pembangunan Kota Lhokseumawe secara
menyeluruh serta mewujudkan perdamaian abadi;
Misi Kedua, Menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan nilai-nilai Dinul Islam di
semua sektor kehidupan masyarakat adalah membangun masyarakat Kota
Lhokseumawe yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, beretika dan
berkarakter, dengan mengangkat kembali budaya Aceh yang bernafaskan Islami
dalam upaya pengembalian harkat dan martabat masyarakat Aceh.
mengimplementasikan budaya Aceh dan nilai-nilai Dinul Islam dalam tatanan
pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat secara efektif dan tepat;
Misi Ketiga, Memperkuat struktur ekonomi dan kualitas sumber daya manusia
adalah mengembangkan kerangka ekonomi kerakyatan melalui peningkatan
potensi sektor unggulan daerah dalam upaya membangun kualitas hidup
masyarakat secara optimal; menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran,
memperluas kesempatan kerja melalui pembangunan infrastruktur ekonomi
sektor riil dan pemihakan kepada UKM dan koperasi. Pembangunan ekonomi
yang di fokuskan kepada sektor pertanian yang berbasis potensi lokal masing-
masing kecamatan;
Misi Keempat, Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat
Kota Lhokseumawe adalah mewujudkan pemerataan kualitas pelayanan
pendidikan, mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui
meningkatnya angka harapan hidup, menurunkan angka kematian bayi,
menurunkan angka prevalensi gizi buruk serta efektifitas penanganan penyakit
menular;
Misi Kelima, Melaksakan pembangunan Kota Lhokseumawe yang proporsional,
terintegrasi dan berkelanjutan adalah terwujudnya pembangunan daerah yang
berbasis kebutuhan dan kemanfaatan melalui perencanaan yang tepat, fokus dan


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-12


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tuntas. Terwujudnya penanganan tata ruang terpadu dalam pelaksanaan
pembangunan daerah melalui pembangunan berbasis lingkungan, pengelolaan
dan pengendalian bencana, perbaikan sistem dan jaringan sarana dan prasarana
transportasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang adil dan merata;
Misi Keenam, Mewujudkan peningkatan nilai tambah produksi masyarakat dan
optimalisasi pemanfaatan SDA adalah terwujudnya masyarakat Kota
Lhokseumawe yang mampu memanfaatkan potensi-potensi sumberdaya alam
yang berdayaguna dan berhasil guna secara optimal dengan mendorong
masyarakat yang lebih produktif, kreatif dan inovatif.

Sasaran dan Kebijakan
Pembangunan Kota Lhokseumawe 2012-2017 merupakan perwujudan
visi dan misi Kepala Daerah yang akan dilaksanakan melalui Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Untuk menerjemahkan visi dan misi
yang telah kami susun diatas maka perlu kami rumuskan dan dijabarkan lebih
operasional ke dalam sejumlah dan sasaran dan kebijakan, sehingga lebih mudah
di implementasikan dana diukur tingkat keberhasilannya.
Misi Pertama, Menjalankan tata kelola Pemerintahan Kota Lhokseumawe yang
amanah dengan mengimplementasikan UUPA, dengan sasaran sebagai berikut:
1. Terwujudnya implementasi UUPA secara cepat dan akurat melalui
implementasi berbagai turunan UUPA yang mengikat dalam upaya
pencapaian keutuhan, perdamaian abadi dan percepatan pembangunan yang
berkelanjutan;
2. Terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang bermartabat, baik bersih dan
amanah serta bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme, dengan
mengedepankan kualitas kerja dan profesionalisme;
3. Terwujudnya birokrasi yang kuat melalui mengoptimalkan pelayanan publik,
menjaga kelangsungan pembangunan yang berkelanjutan serta tersedianya
ruang dialog publik yang bebas dan bertanggung jawab serta peningkatan


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-13


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
peran serta dan partisipasi masyarakat sipil dalam kehidupan politik dan
kegiatan pembangunan;
4. Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai dengan peraturan perundang-
undangan dengan penguatan sistem kelembagaan yang memiliki nilai-nilai
demokrasi yang diitik-beratkan kepada prinsip-prinsip trnsparansi,
akuntabilitas, non-diskriminasi dan kemitraan.

Kebijakan
1. Melaksanakan UUPA secara sungguh-sungguh dan menyeluruh sebagai
konsekwensi logis dari hasil MoU Helsinki;
2. Membangunn transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan
melalui peningkatan kualitas sumber daya aparatur sesuai dengan potensi
dan profesionalisme bidang tugasnya;
3. Memperkuat birokrasi pemerintahan dengan penguatan sistem penataan
kelembagaan satuan kerja dan semangat demokrasi untuk meningkatkan
peran serta masyarakat dan seluruh stakeholder dalam perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan;
4. Fasilitasi penguatan pengawasan keuangan daerah dan pembinaan
administrasi anggaran daerah secara transparan dan akuntabel.
Misi Kedua, Menerapkan budaya-budaya Aceh dan nilai-nilai Dinul Islam
disemua sektor kehidupan dengan sasaran sebagai berikut:
1. Membangkitkan kembali pemahaman dan penghayatan masyarakat terhadap
sejarah Aceh sebagai nilai budaya dalam tatanan kehidupan;
2. Terwujudnya masyarakat Aceh berkualitas, memiliki karakter islami yang
dicirikan dengan sehat jasmani, rohani dan sosial, beriman dan bertaqwa
kepada Allah SWT, memiliki moral dan etika yang baik, rajin, tangguh, cerdas
dan memiliki kompetensi dan daya saing, toleransi tinggi, berbudi luhur,
peduli lingkungan, patuh kepada hukum, serta mencintai perdamaian;


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-14


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
3. Meningkatnya pemahaman, penghayatan, pengamalan dan ketaatan
masyarakat serta aparatur pemerintah terhadap pelaksanaan nilai-nilai Dinul
Islam;
4. Meningkatnya peran ulama terhadap penetapan kebijakan penyelenggaraan
pemerintahan untuk pengefektifan penerapan nilai-nilai Dinul Islam dan
mengangkat kembali budaya-budaya Aceh yang Islami.
}}
Kebijakan
1. Membangun kembali pengetahuan dan wawasan sejarah dan nilai-nilai
budaya Aceh dalam kehidupan masyarakat;
2. Melaksanakan secara baik dan bersih serta di dalam kehidupan pemerintahan
secara baik dan bersih serta di dalam kehidupan masyarakat secara
komprehensif dengan mengedepankan kearifan lokal;
3. Mensosialisasikan qanun dan aturan yang berkenaan dengan pelaksanaan
nilai-nilai Dinul Islam;
4. Meningkatkan kapasitas aparatur pelaksana nilai-nilai Dinul Islam dan peran
serta ulama dalam penyelenggaran pemerintahan yang berfungsi
menegakkan amar makruf nahi mungkar;
5. Meningkatkan kerjasama antar lembaga terutama dengan lembaga
pendidikan dalam upaya membangun pemahaman dan pengetahuan tentang
nilai-nilai Dinul Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan penyelenggaraan
pemerintahan;
6. Menjamin hak-hak kerukunan beragama dalam upaya peninkatan toleransi
dan kedamaian.
Misi Ketiga, Memperkuat Struktur Ekonomi dan Kualitas Sumber Daya
Manusia dengan sasaran sebagai berikut:
1. Terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan
kompetitif serta terwujudnya sektor pertanian, industri, perdagangan dan
pariwisata menjadi basis aktivitas ekonomi yang dikelola secara efisien
sehingga menghasilkan komoditas unggulan yang berkualitas;


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-15


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2. Menurunnya angka kemiskinan absolut dengan perbaikan pendapatan dan
pemberdayaan kemandirian melalui perluasan lapangan usaha;
3. Meningkatnya luasan areal baru lahan pertanian dan produktivitas lahan
pertanian dengan penyediaan prasarana dan pengendalian dalam
mendukung peningkatan produki pertanian;
4. Meningkatnya keberdayaan dan kemandirian masyarakat dengan penyediaan
fasilitas usaha mikro dan kawasan pesisir;
5. Meningkatnya pemulihan dan pertumbuhan sosial ekonomi daerah terpencil
dan pesisir melalui pengolahan hasil pertanian dan perikanan budidaya yang
berkelanjutan dengan penguatan peran dan fungsi lembaga otoritas investasi
dalam mengembangkan usaha penjamin hasil produksi pertanian dan
perikanan;
6. Pengembangan sektor pertanian berbasis komoditi unggulan sesuai dengan
sumberdaya alam dan agro ekosistem wilayah;
7. Terwujudnya pendidikan yang berkualitas pada pendidikan dasar,
pendidikan menengah, pendidikan dayah dan pendidikan tingi dalam
menjawab tantangan global dan kebutuhan ketenagakerjaan;
8. Tersalurnya pemberian bantuan subsidi dan beasiswa bagi keluarga miskin
dan penerapan pendidikan dasar dan menengah gratis;
9. Terwujudnya layanan kesehatan yang berkualitas melalui pemenuhan
kebutuhan fasilitas dan infrastruktur kesehatan.

Kebijakan
1. Menumbuhkembangkan komoditas unggulan daerah yang sesuai dengan
agro ekosistem wilayah dalam upaya menciptakan mata pencaharian tetap
kepada masyarakat dengan skala usaha menguntungkan;
2. Pengembangan industri dan pariwisata berbasis sumberdaya lokal untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan,
menurunkan pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi;
3. Perluasan areal pertanian serta optimalisasi penggunaan lahan terlantar;


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-16


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4. Pembangunan dan pemeliharaan pengairan dan sistem irigasi yang melayani
daerah-daerah serta produki pertanian demi peningkatan kuantitas dan
kualitas produksi;
5. Pengembangan investasi swasta, baik yang bersumber dari pengusaha lokal
yang ada di daerah, atau pengusaha yang berada di luar daerah, ataupun
kemampuan pengusaha daerah untuk menarik pengusaha luar daerah
bahkan luar negeri untuk berinvestasi melalui pembentukan kemitraan
pemerintah-swasta-masyarakat;
6. Tercapainya perluasan dan pemerataan akses pendidikan pada Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan
dayah yang bermutu, relevan dengan kebutuhan masyarakat melalui
penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas secara merata
dan proporsional antar lembaga pendidikan;
7. Peningkatan kualitas layanan pendidikan daerah melalui penyediaan yang
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis muatan lokal (IPTEK
dan IMTAQ);
8. Peningkatan pelayanan pendidikan melalui pemberian bantuan beasiswa dan
penerapan pendidikan dasar dan menengah gratis;
9. Peningkatan pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui pemenuhan
kebutuhan fasilitas dan infrastruktur kesehatan.
Misi Keempat, Melaksanakan Pembangunan Kota Lhokseumawe yang
proporsional, terintegrasi dan berkelanjutan, dengan sasaran sebagai berikut:
1. Terciptanya pembangunan terintegrasi dengan berbagai sektor pembangunan
secara berkelanjutan melalui berbagai komitmen terhadap pemanfaatan tata
ruang dan dokumen perencanaan yang telah ditetapkan;
2. Terwujudnya pembangunan infrastruktur daerah yang seimbang, merata dan
proporsional sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatan masyarakat.






Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-17


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Kebijakan
1. Menciptakan pembangunan yang sesuai dengan perencanaan pembangunan
daerah;
2. Pengembangan seluruh potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup
secara seimbang dan berdaya guna.
Misi Kelima, Mewujudkan Peningkatan Nilai Tambah Produksi Masyarakat dan
Optimalisasi pemanfaatan SDA, dengan sasaran sebagai berikut:
1. Terwujudnya ketahanan pangan daerah melalui pemanfaatan SDA secara
berkelanjutan dengan pemeliharaan keanekaragaman hayati dan kekhasan
sumber daya alam tropis lainnya yang dimanfaatkan untuk mewujudkan nilai
tambah dan daya saing daerah;
2. Terwujudnya produktivitas dan nilai tambah pertanian, perkebunan,
peternakan dan perikanan serta hasil pertambangan yang dapat berfungsi
sebagai lumbung energi daerah dengan tetap memperhatikan keseimbangan
ekosistem;
3. Terwujudnya pusat pertumbuhan (growth pole and growth centre) sebagai daya
saing wilayah dengan menciptakan produk unggulan lokal yang kreatif,
inovatif, serta memiliki nilai kekhasan yang kuat tanpa merusak lingkungan.
Kebijakan
1. Meningkatkan inovasi dan kreativitas yang memberikan nilai tambah pada
produksi masyarakat dengan pemanfaatan sumber daya alam secara optimal
dan berkelanjutan berdasarkan keseimbangan wilayah;
2. Menumbuhkembangkan konsep agribisnis dan agroindustri dengan
memanfaatkan investasi untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian
dan menyerap tenaga kerja;
3. Mengembangkan kawasan potensi perikanan tangkap untuk menjadi
kawasan minapolitan dengan memanfaatkan investasi usaha perikanan dalam
upaya membuka lapangan kerja dan nilai tambah masyarakat;


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-18


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4. Meningkatkan dukungan inovasi teknologi untuk menciptakan pemanfaatan
sumber daya alam terbarukan melalui pemberdayaan masyarakat dalam
rangka peningkatan nilai tambah dari produktivitas;
5. Membangun sistem pengolahan dan pemanfaatan hasil pertambangan
sebagai kawasan industri dengan memperhatikan dampak lingkungan dan
risiko bencana;
6. Mengembangkan kawasan industri wisata melalui pemanfaatan sumber daya
alam dengan membangun prinsip ekonomi kreatif berdasarkan komoditi
unggulan daerah;
7. Melakukan pembinaan dan penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) untuk mengembangkan hasil pemanfaatan sumber daya alam yang
berdaya saing.

3.1.3 Arahan Pengembangan Struktur Kota Lhokseumawe
Ruang sebagai sumber daya pada dasarnya tidak mengenal batas
wilayah. Namun, untuk mewujudkan ruang wilayah yang aman, nyaman,
produktif dan berkelanjutan serta sejalan dengan kebijakan otonomi daerah yang
nyata, luas dan bertanggungjawab, penataan ruang menuntut kejelasan
pendekatan dalam proses perencanaannya demi menjaga keselarasan,
keserasian, keseimbangan, dan keterpaduan antar daerah, antara pusat dan
daerah, antar sektor dan antar pemangku kepentingan.
Untuk itu pelaksanaan penyesuaian Tata Ruang Wilayah Kota
Lhokseumawe akan dilakukan didasarkan pada pendekatan sistem, fungsi
utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kawasan dan nilai strategis
kawasan. Berkaitan dengan kebijakan otonomi daerah tersebut, wewenang
penyelenggaraan penataan ruang oleh pemerintah dan pemerintah daerah, yang
mencakup kegiatan pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan
penataan ruang, didasarkan pada pendekatan wilayah dengan batasan wilayah
administratif.
Secara administratif wilayah Kota Lhokseumawe, merupakan bagian dari
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri atas wilayah nasional,


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-19


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
wilayah provinsi, wilayah kabupaten dan wilayah kota, yang setiap wilayah
tersebut merupakan subsistem ruang menurut batasan administratif. Di dalam
subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam
kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan, dan dengan
tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda, yang apabila tidak ditata dengan
baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar
wilayah serta ketidaksinambungan pemanfaatan ruang.
Pengembangan Kota Lhokseumawe kedepan merupakan pengembangan
lanjutan dari keadaan yang ada saat sekarang ini, dengan kata lain bukanlah
pengembangan kota baru. Pola pemanfaatan ruang yang ada akan lebih banyak
mempengaruhi struktur ruang kota daripada sebaliknya.
Skenario pengembangan untuk mewadahi atau memberi bingkai bagi
strategi pengembangan tata ruang wilayah Kota Lhokseumawe adalah skenario
pengembangan yang berorientasi ke luar dengan sistem outlet hirarkis fungsional
dan dengan memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan dan
pemerataan.
Pengembangan tata ruang yang berorientasi keluar berarti melihat Kota
Lhokseumawe sebagai wilayah terbuka yang berinteraksi dengan wilayah lain di
luar Kota Lhokseumawe, baik secara regional maupun nasional. Untuk itu
perekonomian Kota Lhokseumawe harus didorong untuk memanfaatkan
peluang-peluang eksternal dan mengoptimalkan potensi-potensi internal yang
dimiliki, sehingga potensi yang dimiliki oleh Kota Lhokseumawe semakin besar
dan semakin berperan secara regional dan nasional. Dengan skenario ini,
diharapkan pembangunan Kota Lhokseumawe dapat menjawab tantangan
regional, nasional bahkan secara global. Dalam berhubungan dengan dunia luar,
Kota Lhokseumawe akan memiliki pintu-pintu yang secara fungsional
berhirarki, artinya akan ada beberapa terminal, dermaga pedalaman dan
peningkatan kapasitas bandara Malikussaleh Aceh Utara, yang saling
berintegrasi dan memiliki saling jalinan simpul. Hirarki ini dimaksudkan untuk
efisiensi pergerakan barang dan orang, serta menghemat pengeluaran
pemerintah dalam pembangunan infrastruktur. Untuk menyeimbangkan


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-20


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pertumbuhan dan pemerataan, maka di dalam wilayah Kota Lhokseumawe
harus diupayakan terjadi interaksi antara pusat-pusat pertumbuhan dengan
wilayah belakangnya. Secara konseptual, hubungan ini merupakan jabaran dari
konsep pengembangan pusat-pusat pertumbuhan (growthpoles). Prasarana
transportasi selain akan berfungsi sebagai media berlangsungnya spread effect,
juga berperan untuk melayani (peran pasif) sekaligus membangkitkan (peran
aktif) kegiatan sosial ekonomi pada pusat-pusat pertumbuhan wilayah.
Kondisi wilayah-wilayah yang masih relatif belum maju dan tertinggal
sangat membutuhkan intervensi kebijakan pembangunan dari pemerintah,
sehingga diharapkan dapat mempercepat pembangunan di wilayah-wilayah ini
yang pada akhirnya dapat meningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan
masyarakat secara keseluruhan. Sasaran dari pengurangan ketimpangan
pembangunan antar wilayah adalah:
1. Terwujudnya percepatan pembangunan di wilayah-wilayah cepat tumbuh
dan strategis serta wilayah tertinggal dalam suatu sistem wilayah
pengembangan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis;
2. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antara kota dengan
wilayah pedesaan kecil secara hirarkis dalam suatu sistem pembangunan
perkotaan;
3. Terwujudnya percepatan pembangunan wilayah kota dengan wilayah
pedesaan, sehingga diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai motor
penggerak pembangunan di wilayah-wilayah pengaruhnya dalam suatu
sistem wilayah pengembangan ekonomi, termasuk dalam melayani
kebutuhan masyarakat warga kotanya;
4. Terkendalinya pertumbuhan kota-kota dalam suatu sistem wilayah
pembangunan kota yang compact, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta
mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan;
5. Terwujudnya keterkaitan kegiatan ekonomi antar wilayah perkotaan dan
perdesaan dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang saling
menguntungkan;


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-21


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
6. Terwujudnya keserasian pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam suatu
sistem wilayah pembangunan yang berkelanjutan;
7. Terwujudnya sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta
terlaksananya penegakan hukum terhadap hak atas tanah masyarakat dengan
menerapkan prinsip-prinsip keadilan, transparansi dan demokrasi.

3.1.4. Rencana Sistem Jaringan Prasarana
3.1.4.1. Rencana Sistem Jaringan Transportasi
Pengembangan sistem transportasi diarahkan untuk mencapai sistem
transportasi yang efisien dan efektif, terselenggaranya pelayanan angkutan yang
aman, tertib, nyaman, teratur, lancar dan efisien serta sesuai dengan
perkembangan teknologi transportasi.

3.1.4.1.1. Transportasi Darat
3.1.4.1.1.1. Jaringan Jalan
Rencana Pengembangan sistem prasarana jaringan jalan meliputi
penataan fungsi dan hirarki jaringan jalan, pembangunan terminal dan lainnya.
Rencana pengembangan jaringan jalan di Kota Lhokseumawe mengikuti pola
yang sudah ada baik berdasarkan kondisi saat ini yang membentuk pola linier
dan radial atau bersifat radial simetris. Dasar pembentukan pola jaringan
jalan ini adalah bentuk dan morfologi lahannya, efisiensi pemanfaatan lahan,
kemudahan dalam sistem utilitas dan aksebilitas yang ditimbulkannya lebih
baik. Arahan pengembangan jaringan jalan adalah sebagai berikut:
1. Penambahan jaringan jalan, terutama jalan kolektor yang menghubungkan
pusat bagian wilayah kota dengan pusat sub bagian wilayah kota yang baru.
2. Peningkatan fungsi jalan, yaitu menyesuaikan fungsi jalan dengan sistem
perkotaan yang baru.
3. Perbaikan kualitas jalan negara, provinsi dan kabupaten/ kota yang rusak
berat, sedang dan ringan.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-22


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4. Pengembangan jalan alternatif, dimaksudkan untuk mengurangi beban lalu
lintas jalan raya utama (jalan negara) yang selama ini menghubungkan Banda
Aceh - Medan.
Pengembangan sistem jaringan transportasi di Kota Lhokseumawe
berperan penting untuk:
Memudahkan interaksi dan proses koleksi distribusi antar wilayah/ sub-
wilayah, sehingga diperoleh manfaat sosial ekonomi dan tata ruang
perwilayahan seperti peningkatan mobilitas penduduk, pengembangan
sektor-sektor produktif.
Membuka isolasi sub-sub wilayah yang terbelakang, sehingga wilayah secara
keseluruhan akan berkembang.

3.1.4.1.1.2. Terminal
Terminal merupakan prasarana transportasi tempat naik dan/ atau
turunnya penumpang. Prasarana terminal yang ada di Kota Lhokseumawe
meliputi; terminal transit angkutan regional, terminal angkutan dalam kota dan
sub terminal angkutan kota.
Sistem terminal di Kota Lhokseumawe dibedakan dalam dua bagian
yaitu terminal angkutan regional (primer) dan terminal angkutan dalam kota.
Pemisahan ini bertujuan untuk memisahkan lalu lintas angkutan yang
mempunyai jangkauan regional dan angkutan yang hanya melayani dalam kota
saja.
Rencana pengembangan dan penetapan lokasi terminal adalah sebagai
berikut:
1. Terminal Transit Angkutan Regional
Terminal ini direncanakan di kawasan Alue Awe dan berlokasi pada jalur
jalan regional dan jalan elak. Terminal ini akan berfungsi sebagai terminal
angkutan penumpang dan barang yang bersifat regional. Fasilitas pendukung
yang akan dibutuhkan untuk pengambangan terminal ini adalah sebagai berikut:



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-23


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
a. Terminal Angkutan Penumpang:
Bangunan terminal dan ruang tunggu penumpang
Tempat parkir kendaraan (bus dan mobil)
Kantor
Fasilitas umum
b. Terminal Angkutan Barang:
Terminal bongkar muat barang
Gudang
Tempat parkir kendaraan (truk dan mobil)
Kantor
Fasilitas umum

3.1.4.1.1.3. Sarana Transportasi
Pengembangan sarana transportasi dimaksudkan untuk memberikan
pelayanan pergerakan barang dan manusia didalam lingkup lokal maupun
regional. Penyediaan jumlah sarana ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan
masyarakat dan kegiatan sosial ekonomi, sehingga mampu meningkatkan
kegiatan perekonomian kota. Jenis sarana transportasi darat yang akan
dikembangkan dibedakan berdasarkan skala pelayanannya, yaitu:
Untuk pelayanan regional, jenis angkutan orang/ penumpang dengan skala
pelayanan regional direncanakan sarana ukuran besar ( 30 penumpang).
Sedangkan untuk jenis angkutan barang diperlukan truk ukuran minimum 3
ton.
Untuk pelayanan lokal/ kota, dapat digunakan jenis kendaraan roda empat
yang mampu mengangkut minimal 12 penumpang dan kendaraan bermotor
roda dua.






Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-24


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
3.1.4.1.2. Rencana Pengembangan Jaringan Utilitas Kota
3.1.4.1.2.1. Air Bersih
Pelayanan jaringan air bersih yang disediakan PDAM di wilayah Kota
Lhokseumawe baru menjangkau sebagian kecil kebutuhan penduduk. Untuk
pemenuhan kebutuhan air bersih, sebagain besar penduduk masih
memanfaatkan sumur galian, pompa dan sungai.
Sistem pelayanan air bersih yang di Kota Lhokseumawe dikelola oleh
Perusahaan Daerah Air Minum Mon Pase yang bergabung pengelolaannya
dengan Kabupaten Aceh Utara. Namun saat ini Kota Lhokseumawe sudah
memiliki PDAM sendiri yaitu PDAM Ie Beusare Rata, namun belum beroperasi
maksimal karena masih dalam proses pengalihan aset dengan PDAM Mon Pase.
Sumber air PDAM berasal dari sungai atau air permukaan dan air tanah,
sedangkan air permukaan berasal dari luar kota yaitu dari daerah Krueng Mane,
Krueng Peusangan dan Krueng Pase.
Untuk melayani kebutuhan konsumsi air bersih yang masih sangat
kurang untuk kebutuhan kota terutama daerah pusat Kota Banda Sakti, maka
rencana pendistribusian air bersih dimasa yang akan datang akan dilakukan
dengan sistem bercabang dengan menambah langgaan dan jaringan terutama
pada wilayah yang belum terjangkau oleh sistem distribusi. Target pelayanan air
bersih sampai dengan tahun 2027 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.3
Rencana Pelayanan Air Bersih Kota Lhokseumawe
Target Pelayanan Air Bersih (l/ hari) No.

Kecamatan
2012 2017 2022 2027
1 Blang Mangat 2.243.730 2329141 2417804 2509842
2 Banda Sakti 8.888.071 9226410 9577630 9942219


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-25


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
3 Muara Dua 4.540.547 4713390 4892814 5079067
4 Muara Satu 4.037.408 4191099 4350640 4516255
5 Total Rumah Tinggal 19.709.755 20460041 21238888 22047383
6 Fasilitas
Sosial/ Pemerintahan 3.941.951 4092008 4247778 4409477
7 Total Kebutuhan 23.651.706 24552049 25486665 26456859
8 Kebocoran 4.730.341 4910410 5097333 5291372
9 Jumlah Total 28.382.047 29462459 30583998 31748231
10 Debit yang dibutuhkan
(l/ dtk) 328 341 354 367
Sumber: Hasil Analisa, 2012
Rencana program pengembangan sistem penyediaan air bersih antara
lain:
1. Pengoptimalan kapasitas instalasi pengolahan air bersih
2. Pembangunan jaringan pipa distribusi
3. Penyuluhan sadar air bersih
4. Eksplorasi sumber-sumber air potensial serta perlindungan daerah sumber air
5. Peningkatan kualitas pelayanan

3.1.4.1.2.2. Jaringan dan Kapasitas Listrik
Kapasitas listrik untuk Kota Lhokseumawe saat ini masih belum
memadai, sehingga untuk kebutuhan dimasa yang akan datang perlu adanya
penambahan pemasangan daya listrik ini. Sumber listrik bagi Kota
Lhokseumawe saat ini berasal dari PLN jaringan Sumatera Utara-Aceh.
Rencana kebutuhan listrik dimasa mendatangnya adalah sebesar
95.819.880 watt atau 95.819,88 Kilo Watt (KWH). Angka ini diperoleh dari rata-


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-26


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
rata kebutuhan penduduk yaitu sekitar 900 sampai 1.300 Watt/ KK, yang
disesuaikan dengan kondisi kota (baik jumlah penduduk dan bangunan, serta
kondisi perekonomiannya).
Perhitungan kebutuhan ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap KK
pada akhir tahun perencanaan terdiri 5 jiwa. Sementara itu juga ditunjang oleh
kebutuhan listrik untuk fasilitas sosial diasumsikan sebesar 30 % dari kebutuhan
listrik rumah tangga, sedangkan untuk industri dan penerangan jalan
diasumsikan menyerap masing-masing 10 % dari kebutuhan rumah tangga.
Faktor keserempakan adalah 80 % dari jumlah kebutuhan keseluruhan.
Untuk menunjang realisasi di atas, maka sistem penerangan listrik
ditekankan pada faktor-faktor :
a. Rehabilitasi sistem yang ada, yakni :
- Jumlah pemadaman per tahun yang sekecil mungkin.
- Waktu pemadaman per gangguan yang sependek mungkin.
b. Kualitas tegangan yang baik, tegangan yang stabil pada titik beban.
c. Efisiensi sistem yang baik, dengan memperkecil kerugian di saluran
tegangan tinggi, menengah dan rendah.
d. Fleksibilitas sistem yang baik, mampu menampung penambahan beban yang
diakibatkan oleh peningkatan penduduk dan aktivitasnya.
e. Ekonomis, dalam arti sistem yang direncanakan secara ekonomis, dan sejauh
mungkin memanfaatkan sistem yang telah ada.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik sebagaimana tertera dalam tabel
diatas, perlu diupayakan penambahan dari sumber tenaga yang baru. Sistem
jaringan listrik disalurkan dari gardu pembangkit kepada gardu bagi (travo
feeder). Kapasitas dari travo feeder tergantung dari kebutuhan pelayanan tiap-
tiap travo. Dari travo bagi ini disalurkan kepada setiap pelanggan.

3.1.4.1.2.3. Jaringan Telepon
Sarana telekomunikasi pada saat ini sangat penting untuk menunjang
hampir seluruh aspek kehidupan, terutama untuk menunjang kegiatan ekonomi.
Saat ini di wilayah Kota Lhokseumawe, selain sistem telepon sistem kabel, juga


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-27


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
telah tersedia fasilitas telepon bergerak (handphone) yang dilayani oleh operator
Telkomsel, Excelcomindo, Indosat dan Telkomflexi.
Dari aspek jangkauan, maka kedepan yang diperlukan adalah
memperluas jaringan dan jangkauan cakupan area yang mampu tercover
layanan telepon selular, dengan menambah jumlah jaringan BTS sehingga
mampu menjangkau seluruh wilayah Kota Lhokseumawe.

3.2. Strategi Pengembangan Infrastruktur Kota
A. Infrastruktur Pengelolaan Air Limbah Kota
Setiap hari manusia menghasilkan air limbah rumah tangga (domestic
waste water). Air limbah tersebut ada yang berasal dari kakus atau yang disebut
black water. Ada pula yang berasal dari kamar mandi, tempat mencuci pakaian,
tempat mencuci piring dan peralatan dapur yang disebut juga grey water.
Secara umum ada dua tipe sistem pengolahan air limbah. Pertama, sistem
pembuangan setempat (On Site Sanitation). Pada setiap pembuangan setempat
ini, air limbah dialirkan ke tempat pembuangan atau pengolahan yang terletak di
sekitar pekarangan rumah atau bangunan. Istilah lain dari sistem setempat ini
disebut juga sebagai sistem individual. Adapun jenis sarana yang termasuk tipe
ini, misalnya cubluk, septic tank, dan lain-lain.
Kedua, sistem pembuangan terpusat (Off Site Sanitation). Pada sistem
pembuangan terpusat ini, air limbah disalurkan ke saluran air limbah kota yang
mengalir menuju pengolahan air limbah kolektif di Gampong Mon Geudong.
Sistem ini juga dikenal dengan istilah sistem komunal. Jelasnya, pada sistem
komunal air limbah dialirkan dari sumbernya menuju ke tempat pengolahan
terpusat dengan mempergunakan pipa riol. Adapun riol yang dipakai untuk
mengalirkan air limbah tersebut dinamakan dengan Sewerage System.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-28


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Perencanaan sistem jaringan air limbah dilakukan dengan cara sebagai
berikut :Sistem tertutup pada tempat-tempat tertentu (misalnya permukiman,
perkantoran, dll) atau pada kawasan pusat kota Sistem terpisah yang dilengkapi
dengan kolam penampungan/ pengolahan di daerah yang karakteristik air
buangannya buruk (misalnya kawasan industri, pasar, dll)
Membuat saluran berdasarkan hirarki sehingga dapat mengalirkan seluruh
air buangan
Mengatur dan membangun lokasi penampungan
Sistem saluran air limbah disesuaikan dengan keadaan topografinya, yang
dalam penanganannya memanfaatkan gaya gravitasi
Pembuangan air limbah dapat menimbulkan dampak, yaitu dapat
merugikan makhluk hidup (manusia, tumbuhan dan binatang) yang berada
dalam badan penerima air limbah. Berdasarkan asal buangannya air limbah
terbagi atas 2 kategori, yaitu :
1. Air limbah domestik, yang berasal dari kegiatan rumah tangga
2. Air limbah non domestik, yang berasal dari selain kegiatan rumah tangga,
seperti kawasan komersil, industri dan sebagainya
Air limbah domestik umumnya mengandung zat organik dan BOD yang
cukup tinggi. Sedangkan air limbah industri mengandung zat kimia yang
beragam dan terkadang berwarna, tergantung jenis industrinya, bahkan ada
yang mengandung bahan B3 (Buangan Beracun dan Berbahaya). Penanganan air
limbah di Kota Lhokseumawe dilakukan dengan cara sebagai berkut :
Penanganan limbah yang berasal dari industri, rumah sakit, hotel, dan lain-
lain dilakukan dengan cara Instalasi Pengolahan Air Limbah. Setelah melalui
beberapa tahap proses pengolahan di instalasi tersebut air limbah yang
sudah bebas dari zat beracun dapat dialirkan melalui badan sungai yang
terdekat sehingga badan sungai tersebut bebas dari pencemaran lingkungan.
Penanganan limbah manusia dilakukan melalui 2 cara, yaitu untuk limbah
padat dapat menggunakan septik tank terpusat melalui saluran riol induk
yang dikelola oleh instansi pengelola dan limbah cairnya dialirkan ke saluran


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-29


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
air buangan. Cara kedua adalah dengan membuat beberapa septik tank pada
setiap rumah tangga dengan pengolahan sendiri sehingga hasil dari tahap
penjernihan dapat dibuang melalui saluran-saluran drainase pada setiap
rumah atau lingkungan permukiman.
Untuk pengelolaan limbah cair, targetnya diarahkan melalui upaya-
upaya intensif baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun peningkatan
kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kondisi sanitasi lingkungan yang
baik, dalam hal ini perlu dilanjutkan terus dengan memperhatikan kegiatan
penyuluhan secara intensif serta menggunakan cara yang sesuai dengan
lingkungan setempat.
Sistem penanganan air limbah di Kota Lhokseumawe menggunakan
sistem pembuangan on site, sehingga dianjurkan menggunakan metode septic
tank atau cubluk (tunggal atau kembar). Penanganan pembuangan sistem on site
memerlukan transportasi lumpur tinja untuk pengosongan tanki dengan
menggunakan truk berkapasitas 2-4 atau 6 meter kubik atau menggunakan
trailer untuk melayani penyedotan daerah padat dengan jalan relatif sempit.
Tabel 3.4
Rencana Pelayanan Air Limbah Kota Lhoseumawe
Target Pelayanan Air Limbah (m
3
)
No Kecamatan
2007 2012 2017 2022 2027
1 Blang Mangat 14.410 14.958 15.528 16.119 16.732
2 Banda Sakti 57.081 59.254 61.509 63.851 66.281
3 Muara Dua 29.160 30.270 31.423 32.619 33.860
4 Muara Satu 25.929 26.916 27.941 29.004 30.108
TOTAL 126.580 131.398 136.401 141.593 146.981
Sumber : Hasil Analisis, 2012
Pada tahun 2007 menunjukkan bahwa Kecamatan Banda Sakti
merupakan kecamatan yang membutuhkan pelayanan air buangan terbesar
yaitu 57.081 m
3
. Sedangkan Blang Mangat merupakan kecamatan terendah yang
membutuhkan pelayanan air limbah yaitu sebesar 14.410 m
3
. Selanjutnya tahun


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-30


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2012 hingga tahun 2027 menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan air limbah
terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk.
Strategi peningkatan pengelolaan air limbah di Lhokseumawe juga ikut
mengacu pada target-target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat yaitu :
1) Target Nasional
Target/ sasaran pambangunan masalah air limbah diarahkan untuk dapat
dilaksanakan melalui beberapa cara : yaitu dengan pengelolaan pembuangan
limbah sistem setempat (on site sanitation disposal system)
a. Sistem Individual
Sistem pembuangan setempat, yang dilakukan masyarakat dengan
jamban/ kakus cubluk atau dengan tangki septic perlu didukung dengan
usaha penyuluhan dan perbaikan serta pemeliharaan kondisi dari fasilitas
tersebut. Fasilitas pengurasan tangki septic dan pengadaan tempat
pembuangan lumpur tinja harus disediakan untuk melayani masyarakat
pemakai.
b. Sistem Komunal
Sistem pembuangan limbah setempat secara komunal yang sudah dikenal
berupa fasilitas MCK disamping memberikan manfaat yang nyata juga
menimbulkan dampak negatif yang umumnya disebabkan kurangnya
kesadaran masyarakat dalam hal kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Program penyediaan fasilitas MCK perlu disesuaikan dengan kebiasaan
masyarakat setempat dan didukung oleh program penyuluhan kesehatan
yang intensif. Fasilitas MCK terutama diarahkan untuk daerah-daerah dengan
tingkat ekonomi rendah.
2) Kebijaksanaan dan Strategi Penanganan Air Limbah Domestik
a) Peningkatan pembangunan, pengelolaan prasarana dan sarana sanitasi,
untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan menjaga
kelestarian lingkungan


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-31


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
b) Penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi yang
terjangkau oleh masyarakat luas sampai kepada yang berpenghasilan
rendah.
c) Pengembangan rekayasa teknis untuk mendapatkan teknologi tepat
guna yang sederhana.
d) Penyelenggaraan pembangunan yang berwawasan Iingkungan dan
berkelanjutan.
e) Penetapan dan penerapan pemberlakuan harus memenuhi baku mutu
lingkungan di kawasan perumahan dan pemukiman.
f) Peningkatan peran serta swasta dan masyarakat.
g) Pemantapan kelembagaan.
h) Peningkatan pemanfaatan, operasi dan pemeliharaan prasarana dan
sarana yang telah dibangun.
i) Peningkatan kemandirian masyarakat dalam penyediaan dan
penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana.
3) Strategi Teknis
a) Menentukan spesifikasi teknis minimum prasarana dan sarana dasar
sanitasi.
b) Menentukan standar baku mutu lingkungan permukiman yang sehat.
c) Mendorong terlaksananya operasi dan pemeliharaan prasarana dan
sarana dasar sanitasi.
d) Menyiapkan rencana pengelolaan secara terpadu sebelum pelaksanaan.
4) Strategi Finansial/ Pendanaan
Perlu menciptakan iklim pendanaan yang memungkinkan dan menarik
dunia usaha maupun dana lain yang tidak mengikat untuk ikut serta
membiayai penyediaan dan pengelolaan prasarana dan sarana dasar.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-32


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

Peta 3.1
Jaringan Air Limbah Kota Lhokseumawe

B. Infrastruktur Persampahan Kota
Penanganan akhir sampah di Kota Lhokseumawe menggunakan sistem
open dumping. Tempat Pembangunan Akhir (TPA) terletak di Alue Lim. Dalam
proses pengumpulan sampah, di rencanakan pengembangan TPS di setiap pusat
sub kota. Luas TPA 8 ha dengan volume sampah yang masuk ke TPA 202
m
3
/ hari, jarak TPA dari pusat kota 20 Km. Pengelolaan persampahan Kota
Lhokseumawe dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan.
Mekanisme Sistem pengelolaan sampah di Kota Lhokseumawe dilakukan dalam
beberapa tahapan yaitu:
1. Pewadahan
Pola pewadahan yang direncanakan berupa pola pewadahan individual yang
diletakkan dekat rumah untuk permukiman dan diletakkan di belakang
untuk pertokoan serta pola pewadahan komunal yang diletakkan sedekat
mungkin dengan sumber sampah di tepi jalan besar.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-33


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2. Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah sama dengan pola pewadahan, rencana sistem
pengumpulan sampah mengunakan dua sistem yaitu pengumpulan
individual yang dilakukan dengan sistem pelayanan door to door (dengan truk
kecil dikumpulkan ke depo atau langsung diangkut ke Tempat Pembuangan
Akhir) dan sistem pelayanan door to door (dengan gerobak dan dikumpulkan
di depo atau Tempat Pembuangan Sementara yang akan disediakan pada
setiap pusat sub kota). Cara lain dengan sistem individual adalah dengan
mengumpulkan sekaligus memusnahkan sampah sendiri. Sistem
pengumpulan komunal adalah masyarakat mengantarkan sampah ke tempat
yang telah ditentukan.
3. Pengangkutan Sampah
Pengangkutan dilakukan dengan dump truk, arm rool truk dan mobil patrol
dari Tempat Pembuangan Sementara ke Tempat Pembuangan Akhir.
4. Tempat Pembuangan Akhir
Tempat pembuangan akhir berlokasi di Gampong Alue Lim dengan sistem
open dumping, lokasi ini dianggap cukup representatif karena jauh dari
permukiman penduduk dan memiliki areal yang cukup luas.
Pengolahan sampah menjadi pupuk kompos sudah dilakukan sebagai
upaya pengelolaan persampahan. Lokasi komposting terdapat di lokasi TPA
Alue Lim. Komposting persampahan masih dalam skala kecil, pembuatan
dilakukan hanya apabila ada pemesanan dari konsumen. Pupuk kompos yang
diolah belum ada jaminan kualitas, sistem pengolahan yang digunakan masih
sederhana. Dalam rangka pengelolaan persampahan di Kota Lhokseumawe juga
sudah diselenggarakan bank sampah dibeberapa sekolah dasar, hal ini juga
sebagai upaya pemahaman untuk mengelola sampah dan mencintai lingkungan
sejak dini kepada para siswa-siswi di sekolah.
Sampah dikumpulkan dibeberapa titik tertentu guna memudahkan
pengangkutan ke lokasi TPA. Bin kontainer diletakkan di beberapa tempat yaitu
bin container misbahul yang berlokasi di Cot Panggoi Kecamatan Muara Dua.
Bin Kontainer Pasar Cunda di Kecamatan Banda Sakti, Bin Kontainer Dayah


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-34


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Ulumuddin di Uteuen Kot Kecamatan Muara Dua. Bin kontainer ini berfungsi
untuk penampungan sampah sementara sebelum diangkut ke TPA. Jalur
pengangkutan sampah dilakukan melalui titik-titik penampungan persampahan,
dikumpulkan kemudian diangkut ke TPA dengan angkutan truck yang sudah
disediakan oleh pihak pengelolaan persampahan.
Tabel 3.5
Jumlah Sanana Eksisting Dibandingkan Dengan Standar
Ketersediaan Sarana

No Kecamatan
Jumlah
KK
Sarana Jumlah Standar Jumlah sarana Kekurangan

Persampahan

yang harus ada
Sarana
Eksisting
I Banda Sakti 16,893 Kontainer 13 1 m/ 200 kk 84.47 71.47
Gerobak 8 1 m/ 200 kk 84.47 76.47
Truk 8 8m/ 1000 kk 16.89 8.89

II Muara Satu 16,838 Kontainer 1 1 m/ 200 kk 84.19 83.19
Gerobak 2 1 m/ 200 kk 84.19 82.19
Truk 3 8m/ 1000 kk 16.84 13.84

III Muara Dua 21,507 Kontainer 1 1 m/ 200 kk 107.54 106.54
Gerobak 2 1 m/ 200 kk 107.54 105.54
Truk 3 8m/ 1000 kk 21.51 18.51

IV Blang Mangat 4,830 kontainer 1 1 m/ 200 kk 24.15 23.15
Gerobak 2 1 m/ 200 kk 24.15 22.15
Truk 3 8m/ 1000 kk 4.83 1.83
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa sarana persampahan dibandingkan
dengan standar ketersediaan sarana eksisting di Kota Lhokseumawe yautu


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-35


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
kontainer, gerobak, truk masih mengalami kekurangan sarana yang menunjang
pengelolaan persampahan Kota Lhokseumawe.
Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) tersedia 1 (satu) TPA
untuk 100.000 penduduk, di Kota Lhokseumawe dengan jumlah penduduk
Tahun 2010 170.150 memiliki 1 unit TPA. Kedepan pengelalaan TPA
direncanakan dari open dumping akan menggunakan sistem controlled lanfild
menuju sanitary landfild.
C. Sistem Infrastruktur Drainase Kota
Pengembangan sistem jaringan drainase erat kaitannya dengan badan air
penerima. Untuk wilayah perencanaan badan air penerima yang sesuai bagi air
buangan adalah sungai, tapi untuk kasus Kota Lhokseumawe menggunakan
reservoir yang berada di Teluk Pusong.
Perencanaan sistem jaringan drainase dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
Membuat saluran berdasarkan hirarki sehingga dapat mengalirkan seluruh
air buangan
Sistem saluran drainase disesuaikan dengan keadaan topografinya, yang
dalam penanganannya memanfaatkan gaya gravitasi
Pengembangan saluran drainase dilakukan secara bertahap, yaitu
pengembangan saluran air limbah bagi permukiman baru dan perbaikan
saluran-saluran, terutama yang terdapat di pusat kegiatan.
Pengembangan di wilayah perencanaan diatur sebagai berikut :
Saluran induk yang berfungsi sebagai pengumpul untuk dialirkan ke badan
air penerima ditempatkan disepanjang jalan arteri sekunder.
Saluran sekunder yang berfungsi sebagai perantara saluran tersier dengan
riol induk ditempatkan di jalan kolektor.
Saluran tersier yang berfungsi sebagai penyalur langsung air buangan dari
catchment area ditempatkan di jalan lokal.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-36


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
10/29/2010 27
Aceh and Nias Sea Defence, Flood Protection, Refuges and Early Warning Project
Sistem jaringan drainase merupakan suatu sistem saluran yang berfungsi
untuk memindahkan air hujan secepat mungkin dari suatu daerah tangkapan air
(catchment area) ke badan air penerima tanpa menimbulkan erosi. Sistem jaringan
drainase ini bertujuan untuk mencegah terjadinya banjir dan genangan yang
akan memberikan dampak negatif pada segala aspek kehidupan, seperti:
longsor, berkembangnya wabah penyakit, rusaknya jalan dan sarana penting
lainnya.
Perencanaan sistem drainase suatu wilayah selalu berkaitan dengan
sistem drainase sekitarnya. Keterpaduan jaringan tersebut merupakan bagian
dari suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Dimana dalam satu Daerah Aliran
Sungai, pengaliran air dari hulu sampai hilir beserta anak sungainya ditinjau
sebagai satu kesatuan, sebab buangan air daerah-daerah yang dilewati dari hulu
sampai hilir akan saling mempengaruhi.
Sistem drainase di Kota Lhokseumawe diarahkan dengan menggunakan
pola sebagai berikut:
Air limpasan mengalir secara gravitasi dari catchment area ke saluran tersier,
saluran sekunder dan bertemu disaluran primer dan berakhir di reservoir
raksasa yang berukuran 60 ha. Sistem ini dapat digunakan untuk daerah
yang berada cukup jauh dari badan penerima air, misalnya daerah
permukiman, perkantoran, perdagangan dan lain-lain.
Untuk daerah sekitar sungai, air limpasan dapat mengalir secara langsung ke
badan penerima air (sungai).







Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-37


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Berdasarkan fungsi pelayanan, sistem drainase perkotaan dibagi menjadi
2, yaitu sebagai berikut :
Sistem drainase lokal, adalah sistem saluran awal yang melayani suatu
kawasan kota tertentu, seperti komplek permukiman, areal pasar,
perkantoran areal industri dan komersial. Sistem ini melayani area <dari 10
ha. Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat,
pengembang atau instansi lainnya.
Sistem drainase utama, adalah saluran drainase primer, sekunder beserta
bangunan kelengkapannya yang melayani sebagian besar kawasan
perkotaan. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab
pemerintah kota.
a. Dimensi Saluran Drainase yang Tidak Memadai








Drainase Kota terutama di Kecamatan Banda Sakti yang ada masih belum
mampu berfungsi sebagaimana mestinya dan perlu dilakukan penyempurnaan
untuk menghindari banjir musiman yang disebabkan karena Kota Lhokseumawe
berada dibawah permukaan laut. Dengan semakin banyaknya kawasan-kawasan
yang menjadi daerah banjir maka akan menimbulkan dampak negatif bagi
kesehatan, sanitasi lingkungan dan tentunya terhadap kenyamanan serta
keindahan Kota Lhokseumawe.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-38


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dimensi saluran drainase di sebagian area sudah memadai, tetapi masih
sangat banyak dimensi saluran yang tidak sesuai dengan besarnya debit air yang
harus ditampung. Kondisi ini disebabkan karena dimensi saluran penerima lebih
kecil dibandingkan saluran penyalur dan kemiringan saluran pada saluran
penerima lebih datar daripada saluran penyalur. Hal ini dapat menyebabkan
berbaliknya arah aliran atau terjadi over flow, yang menyebabkan aliran sulit
mencapai saluran pembuang utama dan terjadi genangan yang relatif lama pada
daerah hulu.
Selain itu dengan pesatnya pembangunan fisik kota mengakibatkan
semakin berkurangnya area terbuka dan area resapan kota (catchment area),
bahkan apabila diperhatikan dengan lebih seksama, Kota Lhokseumawe
memiliki sangat sedikit area terbuka hijau. Pembangunan fisik yang semakin
pesat menyebabkan semakin bertambahnya luasan area yang ditutupi oleh
perkerasan baik itu berupa bangunan maupun jalan. Dengan demikian air hujan
yang meresap ke dalam tanah semakin sedikit dan beban saluran drainase
menjadi semakin besar dengan semakin banyaknya air limpasan. Apabila
kondisi ini tidak didukung oleh saluran yang memadai tentu dapat
menimbulkan overflow air yang dapat menimbulkan genangan dan banjir.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 III-39


RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

D. Penyediaan Infrastruktur Jaringan Pejalan Kaki
Prasarana dan sarana pejalan kaki adalah berupa trotoar di sisi jaringan
jalan. Fungsi trotoar adalah agar pejalan kaki merasa nyaman dari arus lalu lintas
kendaraan bermotor. Rencana penyediaan jalur pejalan kaki di Kota
Lhokseumawe diarahkan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Keamanan, kenyamanan dan segi estetika melalui pengendalian
pemanfaatan trotoar dari pemanfaatan yang tidak pada tempatnya seperti
pedagang kaki lima dan kendaraan bermotor yang parkir
2. Dilengkapi dengan vegetasi sebagi peneduh
3. Hirarki jalan sekitarnya
4. Penyediaan Jalur Pedestrian diarahkan pada kawasan pusat kegiatan kota
dan pusat kegiatan kemasyarakatan.
Sarana yang lain untuk pejalan kaki adalah pengadaan zebra cross untuk
menyeberang jalan pada jalur jalan dan persimpangan yang padat arus lalu
lintasnya dilengkapi rambu lalu lintas dan traffic light.
Daerah
Genanggan
Daerah
Genanggan
Daerah
Genanggan
http://www.bappedalhokseumawe.web.id
Bappeda Kota Lhokseumawe
BAB IV

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-1

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017




RENCANA PROGRAM
INVESTASI INFRASTRUKTUR

4.1Rencana Pengembangan Permukiman
Kawasan perkotaan dan perkembangannya adalah sesuatu yang tidak
terpisahkan. Kawasan perkotaan dengan kompleksitas kegiatannya akan
berkembang seiring waktu dan meliputi semua bidang pembangunan. Adanya
perkembangan pembangunan fasilitas diperkotaan akan menimbulkan daya
tarik masyarakat untuk tinggal di kota. Hal ini akan menimbulkan arus migrasi
dan urbanisasi yang menambah beban kawasan perkotaan dari segi keruangan
maupun intensitas kegiatan urban.
4.1.1 Petunjuk Umum
Dalam membuat sebuah perencanaan perumahan yang dapat menjawab
tuntutan kebutuhan masyarakat, perlu dipertimbangkan secara menyeluruh
aspek-aspek dalam perencanaannya. Peran pemerintah diperlukan sebagai
pembangun perumahan atau paling tidak memfasilitasi pembangunan
perumahan, serta sebagai pengendali pembangunan perumahan. Arahan
pembangunan tersebut tidak hanya berhenti sampai membangun perumahan
saja, tetapi juga ditujukan pada pembangunan permukiman.
4.1.2. Profil Pembangunan Permukiman
Profil Pembangunan Kota Lhokseumawe baik dengan kondisi
eksistingnya maupun rencana pengembangannya akan dijabarkan dalam subbab
berikut ini:

BAB IV

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-2

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.1.2.1 Kondisi Umum
Secara umum kondisi perumahan yang ada selama ini akan dibagi dalam
deskripsi secara umum, prasarana dan sarana permukiman yang telah tersedia,
parameter teknis wilayah, aspek pendanaan hingga aspek kelembagaannya yang
mengelola perumahan selama ini.
4.1.2.1.1 Gambaran Umum
Dengan mengacu pada angka pertumbuhan penduduk selama periode
2005-2010 dan diasumsikan tidak mengalami dinamika penduduk yang cukup
luar biasa, maka proyeksi jumlah penduduk Kota Lhokseumawe hingga tahun
2030 mencapai 258.343 jiwa. Oleh karena itu, diperkirakan konsentrasi penduduk
akan semakin lebih besar terutama di Kecamatan Banda Sakti, kondisi ini
berlaku apabila tidak diikuti oleh pengembangan permukiman dan
pengembangan aktifitas-aktifitas ekonomi ke wilayah-wilayah luar Kecamatan
Banda Sakti.
Tabel 4.1
Proyeksi Jumlah Penduduk Kota Lhokseumawe

Tahun Proyeksi jumlah Penduduk (jiwa)
2012 177,420
2013 181,171
2014 185,001
2015 188,874
2020 209,659
2025 232,732
2030 258,343
Sumber: RTRW Kota Lhokseumawe, 2010
Konsentrasi penduduk lebih banyak berada di Kecamatan Banda Sakti
sebagai pusat Pemerintahan Kota Lhokseumawe dan sekaligus masih
merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Utara. Data mengenai luas
wilayah dibandingkan dengan jumlah penduduk, kepadatan penduduk rata-rata
dan prosentasi persebaran penduduk tiap kecamatan dapat dilihat kembali pada
Tabel 2.16.
Berdasarkan data kependudukan dari dokumen RTRW Kota
Lhokseumawe 2010, terdapat rumah tangga miskin di Kota Lhokseumawe. Pada

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-3

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tahun 2008 mencapai 13.269 Rumah Tangga (RT) miskin yang mencakup 51.978
jiwa. Jumlah ini mencapai 39,03 % dari jumlah rumah tangga yang ada. Data
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini.


Tabel 4.2
Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk Kategori Miskin
menurut Kecamatan di Kota Lhokseumawe Tahun 2008

Jumlah Kategori Miskin
Kecamatan
Desa RT Jiwa RT Jiwa
%
RTM
Blang Mangat 22 4,103 18,744 2,491 9,059 60.71
Muara Dua 17 7,559 36,881 3,336 13,275 44.13
Muara Satu 11 7,486 31,249 2,769 11,133 36.99
Banda Sakti 18 14,847 71,295 4,673 18,511 31.47
Jumlah 68 33,995 158,169 13,269 51,978 39.03
Sumber: RTRW Kota Lhokseumawe, 2010
Penggunaan lahan terbesar di Kota Lhokseumawe adalah untuk
pemukiman seluas 10.877 ha atau sekitar 60,07% dari luas yang ada. Kebutuhan
lahan yang menonjol adalah untuk usaha persawahan 3.747 ha atau sekitar
20,69%, industri 894 ha (4,94%), semak dan hutan belukar 778 ha (4,29%),
perkebunan rakyat 749 ha (4,14%), perairan darat 626 ha (3,46%), Data
selengkapnya penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.3
Penggunaan Lahan di Kota Lhokseumawe

No Jenis Penggunaan Luas (ha) % Prosentasi
1 Pemukiman 10.877 60,07
2 Industri 894 4,94
3 Persawahan 3.747 20,69
4 Pertanian semusim 308 1,70
5 Perkebunan Rakyat 749 4,14
6 Semak & Hutan Belukar 778 4,29
7 Perairan Darat 626 3,46
8 Lain-lain 127 0,70
Jumlah 18.106 100,00
Sumber : BPS, Kota Lhokseumawe Dalam Angka, 2010


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-4

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.1.2.1.2 Prasarana dan Sarana Dasar Permukiman
a. Sarana Air Bersih
Permasalahan air bersih di Kota Lhokseumawe dapat kita lihat dari
bagaimana pola masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersihnya.
Masyarakat menggunakan berbagai macam cara dalam memenuhi kebutuhan
airnya. Dari data profil kesehatan lingkungan terlihat bahwa sebanyak 25.039
atau 82,91 % rumah menggunakan sumur gali (pada kategori memenuhi syarat).
Sedangkan ada juga rumah yang menggunakan sumur gali yang tidak
memenuhi syarat sebanyak 5.162 atau 17,09% rumah. Metode lain yang
digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersihnya adalah
dengan mengandalkan sumur pompa. Masyarakat yang menggunakan sumur
jenis sebanyak 264 rumah atau 98,51% yang berada dalam kondisi memenuhi
syarat. Namun ada juga masyarakat yang menggunakan sumur ini pada
kategori tidak memenuhi syarat sebanyak 1,49% atau 4 rumah. Sumber air bersih
lainnya yang digunakan oleh masyarakat adalah PAH (Penampungan Air
Hujan). Menurut hasil survei, wilayah yang banyak menggunakan fasilitas ini
adalah masyarakat di wilayah Kecamatan Muara Dua dengan jumlah rumah
adalah 532 rumah dengan kondisi memenuhi syarat.
Seluruh wilayah Kota Lhokseumawe diprioritaskan untuk
pengembangan jaringan air minum ini karena Kota Lhokseumawe tidak
memiliki sumber air permukaan dan sumur dangkal yang kualitas airnya
memenuhi syarat kesehatan untuk dikonsumsi.

b. Pengelolaan Sampah
Masih belum meratanya pengelolaan sampah di Kota Lhokseumawe
merupakan permasalahan yang besar dalam penyediaan sarana dan prasarana
permukiman yang ada. Kecamatan Banda Sakti menyumbang timbulan sampah
tertinggi di Kota Lhokseumawe dengan tingkat timbulan sampah mencapai 5,69
kg/ hari/ rumah. Hal ini didukung dengan jumlah kepadatan penduduk yang
tinggi di kecamatan tersebut. Kecamatan Muara Satu menyumbang timbulan
sampah kedua terbesar yaitu 2,37 kg/ hari/ rumah. Dua kecamatan lainnya yaitu
Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat masing-masing

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-5

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
menyumbang timbulan sampah sebesar 2,16 kg/ hari/ rumah dan 2,02
kg/ hari/ rumah.
Sampah pasar adalah sampah yang paling banyak menimbulkan
timbulan sampah di Kota Lhokseumawe. Sampah yang berasal dari pasar
menghasilkan timbulan sampah sampai 18.100 kg/ hari. Pada rangking kedua,
sampah sarana pendidikan menyumbangkan timbulan sampah mencapai
2.447,25 kg/ hari. Secara berturut-turut terlihat bahwa sampah perhotelan,
sampah rumah sakit, sampah perbengkelan dan sampah perkantoran
menyumbangkan timbulan sampah dengan nilai 1.412,50 Kg/ hari, 885,06
Kg/ hari, 332,76 Kg/ hari, dan 325,66 Kg/ hari.

c. Drainase
Sistem drainase yang direncanakan adalah sistem saluran terbuka dan
tertutup. Untuk mengatasi masalah banjir dan genangan di kawasan pusat kota
dan permukiman disekitarnya, telah dibuat reservoir di Teluk Pusong yang
digunakan sebagai kolam penampungan air sebelum dialirkan ke laut. Reservoir
ini dibuat dengan kedalaman 1 meter di bawah permukaan air laut sehingga air
limpasan dari kota dapat mengalir ke reservoir. Saluran primer akan langsung
terhubung dengan reservoir Teluk Pusong. Untuk saluran sekunder perlu
direncanakan ulang secara keseluruhan agar dapat terkoneksi dengan saluran
primer yang telah dibuat.
Tahun 2008 curah hujan tertinggi sebesar 402,1 mm yang terjadi pada
bulan November dan yang terendah pada bulan Juni sebesar 3,1 mm dengan
rata-rata sebesar 102,4 mm, dan dalam rangka pengembangan dan penataan
kawasan permukiman dan peningkatan taraf hidup masyarakat di Kota
Lhokseumawe, penanganan drainase merupakan salah satu prioritas yang perlu
mendapatkan penanganan. Karena gangguan dan kerugian akan masalah banjir
dan genangan telah mengakibatkan dampak penurunan kondisi sosial ekonomi
masyarakat, kerusakan lingkungan pemukiman dan sektor-sektor ekonomi yang
potensial. Setelah reservoir selesai, masih ditemukan genanggan banjir pada
Gampong Lancang Garam Kecamatan Banda Sakti. Sementara pada Kecamatan
Blang Mangat daerah genangan terdapat pada Alue Raya dimana terjadi

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-6

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
penyempitan saluran (bottle neck) yang berbentuk leher botol. Dan pada
Kecamatan Muara Satu terdapat pada Gampong Ujong Pacu dan Cot Trieng.

d. Sarana dan Prasarana Transportasi
Sarana dan prasarana transportasi yang ada di Kota Lhokseumawe
adalah transportasi darat, laut dan transportasi udara.
Transportasi darat atau angkutan umum yang tersedia terutama
melayani jalur antar kota dalam provinsi, maupun antar provinsi. Jenis aarmada
yang dipergunakan meliputi kendaraan bus, mini bus dan untuk jarak pendek
berupa angkutan kota (angkot). Angkutan darat lain yang tengah dipersiapkan
adalah jalur kereta api yang rencananya akan menghubungkan kota Banda Aceh,
Medan hingga Lampung di Sumatera Selatan.
Pelabuhan udara yang ada di Kota Lhokseumawe merupakan pelabuhan
udara domestik yang melayani penumpang dalam negeri dengan operator
penerbangan yang masih terbatas, walau pun direncanakan adanya penambahan
operator penerbang dalam waktu dekat ini. Pelabuhan udara Malikussaleh ini
awalnya hanya memenuhi kebutuhan transportasi yang terkait dengan adanya
perusahaan gas alam cair PT. Arun NGL, namun dengan tingginya animo
masyarakat untuk menggunakan pesawat udara dalam berpergian, maka
Bandara Malikussaleh ini secara rutin juga melayani masyarakat umum.
Sedangkan untuk transportasi laut yang terletak di Krueng Geukuh,
selain sebagai pelabuhan yang melayani pergerakan barang dan penumpang
dari dan ke Lhokseumawe, pelabuhan ini juga berfungsi sebagai pelabuhan TNI
Angkatan Laut.
4.1.2.1.3 Parameter Teknis Wilayah
Menciptakan lingkungan perkotaan berkelanjutan sangat krusial karena
aktivitas perkotaan berkontribusi terhadap permasalahan lingkungan dan
memegang peranan penting dalam perbaikan kesejahteraan manusia dengan
memfasilitasi pembangunan sosial, kultural dan ekonomi (Urban and Regional
Development Institute, URDI, 2002). Konsep pembangunan berkelanjutan
(sustainable development) merupakan perpaduan antara aspek teknis, ekonomis,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-7

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
sosial dan ekologis yang dituangkan dalam perumusan kebijakan nasional
(Arsyad, 2005). Pendekatan kemitraan terhadap semua permasalahan (Timmer
dan Kate, 2006). Pembangunan berkelanjutan sektor perumahan diartikan
sebagai pembangunan perumahan termasuk di dalamnya pembangunan kota
berkelanjutan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi sosial, ekonomi, dan
kualitas lingkungan tempat hidup dan bekerja semua orang. Inti pembangunan
perumahan berkelanjutan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup
secara berkelanjutan (Kirmanto, 2005). Pembangunan berkelanjutan sektor
perumahan dan permukiman akan mendominasi penggunaan lahan dan
pemanfaatan ruang. Untuk itu, perlu dipertimbangkan empat hal utama, yaitu:
1. Pembangunan yang secara sosial dan kultural bisa diterima dan
dipertanggung-jawabkan (socially and culturally suitable and accountable);
2. Pembangunan yang secara politis dapat diterima (politically acceptable);
3. Pembangunan yang layak secara ekonomis (economically feasible), dan
4. Pembangunan yang bisa dipertanggung-jawabkan dari segi lingkungan
(environmentally sound and sustainable).
Hanya dengan jalan mengintegrasikan hal tersebut secara konsisten dan
konsekuen, pembangunan perumahan dan permukiman bisa berjalan secara
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, baik sosial maupun ekonomi
(Soenarno, 2004). Untuk mencapai keberlanjutan perkotaan perlu melibatkan
berbagai pihak yang terkait dengan perkotaan. Pemerintah kota tidak dapat lagi
memecahkan permasalahannya sendiri. Peran pemerintah kota semakin lama
akan semakin bergeser ke peran sebagai fasilitator. Intinya, sistem pelaku
majemuk akan menggantikan sistem pelaku-tunggal yang selama ini didominasi
pihak pemerintah. Di masa depan, akan terdapat titik majemuk kewenangan dan
pengaruh, dan tantangannya adalah bagaimana memberdayakan mereka agar
dapat bekerja sama. Manfaatnya adalah adanya kepercayaan dan koneksi sosial
(modal sosial) yang terus terakumulasi, yang pada gilirannya akan mencapai
tiga sasaran yaitu : menjaga agar pemerintah semakin memiliki akuntabilitas dan
tidak korup; menurunkan sumber konflik, dan memberdayakan para pelaku
non-pemerintah (Alexander et al., 2006).

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-8

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.1.2.1.4 Aspek Pendanaan
Dalam usaha pembangunan Kota Lhokseumawe, diperlukan adanya
modal untuk menunjang pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan yang telah
diprogramkan. Dalam pembangunan ini, sumber dana didapat dari:
- Pemerintah, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, maupun
Pemerintah Kota Lhokseumawe yang berasal dari anggaran pembangunan.
- Penerimaan sendiri yang berasal dari partisipasi masyarakat untuk menunjang
kegiatan, serta modal dari pihak swasta yang membantu pembangunan di Kota
Lhokseumawe.
- Pinjaman luar negeri bagi fasilitas tertentu.
Sumber pembiayaan dari pemerintah serta dari penerimaan sendiri akan
membiayai pembangunan dari kegiatan-kegiatan tertentu. Hal itu disesuaikan
dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam hal ini sumber
pembiayaan dari pemerintah akan menunjang kegiatan yang bersifat eksternal
yaitu untuk kepentingan pembangunan kota secara umum, proyek yang tidak
dapat langsung mengembalikan modal yang dikeluarkan, serta kegiatan yang
tidak mungkin atau tidak mampu dilaksanakan dengan pembiayaan dari
masyarakat. Sedangkan sumber pembiayaan dari penerimaan sendiri untuk
menunjang kegiatan yang bersifat internal, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu dan
langsung melibatkan masyarakat. Dalam pelaksanaan program-program yang
direncanakan, diprioritas-kan pada program-program yang tidak membutuhkan
biaya besar serta pertimbangan pada program prioritas. Hal ini agar
pembangunan Kota Lhokseumawe dapat mencapai daya guna serta hasil guna
yang diharapkan.
4.1.2.1.5 Aspek Kelembagaan
Agar sebuah rencana dapat dilaksanakan dalam waktu yang telah
ditentukan, maka peran pemerintah selaku pengelola pembangunan sangat
menentukan. Untuk itu diperlukan pengorganisasian aparatur/ lembaga
pelaksana pembangunan dengan baik.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-9

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Organisasi otonom adalah aparat pemerintah daerah yang bertanggung
jawab langsung kepada daerah, sedangkan organisasi vertikal adalah organisasi
yang diperbantukan oleh pemerintah pusat untuk ikut mengelola pembangunan
di daerah.
Ditetapkan dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999, bahwa Walikota
adalah satu-satunya Kepala Daerah yang bertanggungjawab atas jalannya
pembangunan di kota. Oleh karena itu, di Kota Lhokseumawe pengelolaan
administrasi dan organisasi pembangunan langsung ditangani dan di bawah
koordinasi Walikota, sehingga semua aparat pelaksana daerah adalah di bawah
koordinasinya.
Dalam pengorganisasian pembangunan, yang perlu diperhatikan adalah:
1. Azas desentralisasi, yaitu pelaksanaan pembangunan yang menjadi wewenang
penuh daerah. Jadi permasalahan dan program harus dapat diselesaikan dan
dilaksanakan oleh aparat daerah;
2. Rencana-rencana tata ruang yang telah disusun pada daerah yang bersangkutan,
sehingga arah pembangunan sesuai dengan yang dikehendaki;
3. Pembagian tugas yang sesuai dengan volume pekerjaan, yaitu program- program
yang hendak dilaksanakan;
4. Ketiga hal diatas dapat memberikan bentuk organisasi yang berlainan, namun
tetap perlu dijaga keserasian hubungan lintas sektoral dan wilayah dengan daerah
atau pemerintahan atasan (lingkup provinsi dan nasional).
4.1.2.2 Sasaran
Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan program
pengembangan permukiman ini adalah peningkatan kualitas dan derajat
kesehatan masyarakat serta menciptakan kehidupan yang lebih manuasiawi
serta menjaga prinsip-prinsip dasar bagi perlindungan dan pemenuhan hak
rakyat atas perumahan. Prinsip-prinsip utama dalam pemenenuhan hak rakyat
atas perumahan, seperti:
a. Prinsip aksesibilitas (accessibility). Prinsip ini bermakna bahwa perumahan
mesti dapat dimiliki setiap orang. Dalam prinsip ini dikenal dengan
pemenuhan perumahan berdasarkan prioritas, seperti akses perumahan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-10

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
untuk komunitas atau golongan yang tak beruntung (disadvantaged groups)
dan komunitas yang rentan seperti individu lanjut usia (lansia), anak-anak,
orang cacat, dan individu yang menderita penyakit kronis;
b. Prinsip keterjangkauan/ afordabilitas (affordability). Prinsip ini secara singkat
bermakna bahwa setiap orang dalam praktik dapat memiliki rumah. Harga
rumah harus dapat terjangkau bagi setiap orang;
c. Prinsip habitabilitas (habitability). Prinsip ini juga merupakan prasyarat
sebuah rumah dapat dikatakan memadai. Prinsip ini bermakna bahwa
rumah yang didiami mesti memiliki luas yang cukup dan juga dapat
melindungi penghuninya dari cuaca, seperti hujan, panas dan ancaman
kesehatan bagi para penghuninya.
4.1.3 Permasalahan Pembangunan Permukiman
Meningkatnya jumlah penduduk dan intensitas aktivitas pada kawasan
perkotaan perlu disikapi dan diantisipasi oleh pemerintah kota secara dini.
Fenomena tersebut akan banyak menimbulkan masalah terutama berkait dengan
ketersediaan dukungan permukiman dan infrastruktur perkotaan. Akibat yang
jelas terlihat adalah kesenjangan penyediaan pelayanan infrastruktur kota,
lingkungan permukiman yang tidak layak, perkembangan permukiman yang
tidak terkendali dan munculnya permukiman kumuh kota.
4.1.3.1 Analisa Permasalahan, Alternatif Pemecahan dan Rekomendasi
Keberadaan kawasan perkotaan yang tumbuh tanpa perencanaan akan
menyebabkan timbulnya daerah-daerah kumuh. Daerah-daerah kumuh dalam
banyak kawasan perkotaan sering memberikan sumbangan negatif terhadap
kawasan perkotaan yang lebih besar seperti:
1. Tempat berdiamnya pelaku kriminal, hal ini menjadi ancaman keamanan bagi
kawasan perkotaan;
2. Tempat endemi penyakit karena tidak baiknya sanitasi dan persampahan;
3. Memberikan citra kota yang buruk karena tumbuh tanpa perencanaan
sehingga tidak didukung oleh infrastruktur yang baik;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-11

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4. Berubahnya tataguna lahan disebabkan terpakainya kawasan peruntukan
bukan untuk hunian menjadi kawasan hunian/ kawasan kumuh;
5. Kurang tersedianya fasilitas pendidikan di kawasan ini akan melahirkan
sumber daya manusia yang rendah.
Selain adanya kawasan-kawasan kumuh, kawasan-kawasan perkotaan
lainnya juga perlu direncanakan perkembangan dan pertumbuhannya. Bahwa
penduduk kota yang ada, selain dari faktor urbanisasi, juga berkembang
mengikuti perkembangan jumlah penduduk dan kebutuhan hidupnya.
Meningkatnya kebutuhan hidup menuntut meningkatnya fasilitas penunjang
kehidupan, yang hal ini berarti bertambahnya kebutuhan akan lahan-lahan baru,
bangunan-bangunan baru dengan berbagai fungsinya.
Kawasan-kawasan kota yang semula diidentifikasi sebagai kota yang
terencana (planed) terus berkembang tetapi tidak mempunyai perencanaan
jangka panjang, maka akan terjadi perubahan yang nyata, kawasan-kawasan
kota yang terencana (planed) menjadi kawasan yang tidak terencana (unplaned).
Kondisi permukiman di kawasan prioritas ini yaitu permukiman
sepanjang kawasan pantai Pusong Lama dan Pusong Baru sampai ke Ujung
Blang diwarnai oleh kondisi susunan rumah kumuh (slum area) dan rumah liar
(squatter area). Kondisi kumuh demikian terutama pada wilayah tepian pantai
selebar 500 meter di pinggir tepian arus pasang naik hingga ke daerah periphery.
Daerah periphery ini menampilkan kondisi transformasi fisik perumahan antara
rumah kayu papan ke arah perumahan batu bata. Kondisi infrastruktur dasar
(jalan setapak, saluran air kotor) menunjukan adanya kesenjangan antara
permukiman tepi pantai dengan permukiman kota.
Kondisi sosial-ekonomi masyarakat kawasan prioritas ini menunjukan
kondisi kemiskinan dan keragaman mata pencaharian yang sebagian besar
sudah tidak lagi menggantungkan hidup sebagai nelayan (beberapa keluarga
beralih profesi sebagai pedagang atau buruh bangunan). Telah terjadi perubahan
pola mata pencaharian para penduduk di kawasan prioritas ini. Arus urbanisasi
masyarakat yang masuk ke wilayah kota Lhokseumawe sebagian besar juga
turut andil dalam pembentukan kekumuhan kawasan ini.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-12

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tata ruang pemukiman kawasan prioritas ini menunjukkan indikasi
urban sprawl (yang lazim disebut sebagai ketidak teraturan tatanan urban).
Tidak adanya regulasi yang rinci dan guide lines bangunan (panduan
pembangunan permukiman kota) menjadikan kawasan ini sebagai kawasan
padat dan tidak mempunyai orientasi tatanan permukiman yang jelas.
Diluar kondisi fisik kawasan permukiman yang memprihatinkan tersebut
kawasan prioritas ini merupakan kawasan budi daya yang cukup potensial
dengan beberapa keunggulan antara lain:
- Merupakan kawasan dengan potensi daratan dan kelautan yang menyediakan
sumber daya alam khas menunjang keragaman jenis usaha perekonomian;
- Kawasan pantai yang indah sebagai potensi pariwisata bahari;
- Adanya komitmen pembangunan permukiman kota oleh Pemerintah Kota
mengatasi bertambahnya kawasan pemukiman kumuh di sepanjang pesisir
kota Lhokseumawe;
- Adanya daya dukung lahan yang cukup bagi pengembangan pemukiman
yang layak huni;
- Ditetapkannya pembangunan infrastruktur jalan lingkar melintas pantai
sebagai sarana transportasi utama kawasan ini;
- Adanya perencanaan tata ruang kawasan berbasis mitigasi bencana.
4.1.4 Usulan Pembangunan Permukiman
Dengan kepadatan Kota Lhokseumawe yang tidak merata dan hanya
terpusat pada Kecamatan Banda Sakti saja, maka diharapkan adanya prioritas
pembangunan yang lebih diarahkan pada tiga kecamatan yang lain, yaitu
Kecamatan Blang Mangat, Muara Dua dan Muara Satu. Untuk Kecamatan Muara
Dua lebih diprioritaskan pada Kawasan Gampong Blang Crum yang merupakan
kawasan permukiman baru. Hal ini didukung dengan telah adanya perumahan
masyarakat korban tsunami yang telah dibangun oleh BRR dan save the
childrent paska Aceh diguncang gempa hebat dan terpaan tsunami 2005 silam.
Sarana dan prasarana umum seperti jalan dan saluran masih sangat buruk,
sehingga perua adanya keseriusan pemerintah daerah dan pihak lainnya untuk

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-13

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
lebih memfokuskan diri dalam meningkatkan derajat dan kualitas kehidupan
masyarakat.

4.1.4.1 Sistem Infrastruktur Permukiman yang Diusulkan
Sistem dari infrastruktur permukiman yang ingin diusulkan diantaranya
adalah sistem infrastruktur yang terkoneksitas dengan rencana pengembangan
infrastruktur yang ada baik dari kebijakan provinsi maupun dengan kebijakan
nasional dengan tetap memperhatikan lingkungan dan geografis dan
ketersediaan lahan dan daya dukung kawasan yang ada. Pembangunan
infrastruktur permukiman yang tak lepas dari sistem infrastruktur perkotaan,
juga masih menyisakan jaringan jalan yang mendekatkan antara daerah produksi
dengan wilayah pasar yang ada, dimana konsep jaring laba-laba yang belum
semuanya terselesaikan. Demikian juga dengan pembangunan jalan
lingkar/ Lhokseumawe Outer Ring Road (LORR) serta jembatan Pusong-Kandang
(Lhokseumawe golden way).

4.1.4.2 Usulan dan Prioritas Program Pembangunan Permukiman
Muncul oleh adanya keterkaitan antara fasilitas ruang-ruang umum kota
dengan seluruh kegiatan yang menyangkut penggunaan ruang kota yang
menunjang akan keberadaan ruang-ruang umum kota. Kegiatan-kegiatan dan
ruang-ruang umum bersifat saling mengisi dan melengkapi.
Pada dasarnya support activity adalah:
a. Aktifitas yang mengarahkan pada kepentingan pergerakan (importance of
movement).
b. Aktivitas kehidupan kota dan kegembiraan (excitement).
Keberadaan aktifitas pendukung tidak lepas dari tumbuhnya fungsi-
fungsi kegiatan publik yang mendominasi penggunaan ruang-ruang umum kota,
semakin dekat dengan pusat kota makin tinggi intensitas dan keberagamannya.
Bentuk support activity adalah kegiatan penunjang yang menghubungkan
dua atau lebih pusat kegiatan umum yang ada di kota, misalnya open space
(taman kota, taman rekreasi, plaza, taman budaya, kawasan PKL, pedestrian

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-14

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
ways dan sebagainya) dan juga bangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan
umum.
4.1.4.3 Usulan dan Prioritas Proyek Pembangunan Infrastruktur Permukiman
Pembangunan Infrastruktur Kawasan Permukiman akan meliputi
pembahasan strategi yang berkaitan dengan pembangunan air bersih, air
limbah/ sanitasi lingkungan, drainase, persampahan dan jalan lingkungan.
Strategi-strategi tersebut akan memperoleh pembahasan dalam konteks aspek
fisik, pembiayaan, kelembagaan, pelibatan masyarakat, sosial dan legislasi untuk
kemudian dirangkaikan dengan kontribusi masing-masing stakeholder dalam
mengambil peran dalam kegiatan pembangunan permukiman dan infrastruktur
perkotaan Kota Lhoseumawe ini.
A. Pembangunan Infrastruktur Air Bersih
Pembangunan infrastruktur Air Bersih meliputi adanya:
penataan jaringan air bersih untuk peningkatan layanan;
penyusunan identifikasi air baku alternative selain air baku dari Aceh
Utara;
penyusunan perencanaan pemerintah kota Lhokseumawe meminimalkan
ketergantungan air bersih dari PDAM Aceh Utara;
pelaksanaan pendataan dan perbaikan pipa air bersih yang bocor;
adanya kajian penambahan koneksi sumber air baru dengan PIM dan PT
Arun;
regulasi pencegahan pencemaran air bersih lingkungan.
B. Pembangunan Infrastruktur Air Limbah/ Sanitasi
Pembangunan infrastruktur Air Limbah/ sanitasi untuk meliputi adanya:
peningkatan pembangunan fisik sanitasi;
pembangunan sarana dan prasarana sanitasi dengan design sesuai
kondisi geografi;
peningkatan IPLT Alue Liem.
C. Pembangunan Infrastruktur drainase
Pembangunan infrastruktur drainase meliputi adanya:

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-15

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pemerataan pembangunan fasilitas jaringan drainase;
penetapan hirarki jaringan primer, sekunder dan tertier dengan
melakukan revitaslisasi sistem jaringan;
peningkatan peran aktif dinas terkait dalam melakukan pengawasan,
serta monitoring evaluasi;
pelaksanaan rekondisi bagi jaringan-jaringan drainase eksisting yang
rusak;
penyusunan master design Sistem jaringan dengan konsep eko drain
yang menyeluruh dan terintegritas.
D. Pembangunan Infrastruktur Persampahan
Pembangunan infrastruktur persampahan untuk meliputi adanya:
pemanfaatan dan pengolahan sampah sebagai salah satu sumber daya
(energi dan ekonomi);
pembentukan desain pengelolaan bank sampah;
pemanfaatan dana CSR Arun dalam pengolahan sampah kota;
pemanfaatan penyusunan kajian (FS, DED, Amdal) dari UNDP untuk
TPA Regional;
peningkatan PAD dari retribusi sampah;
peningkatan ekonomi dari upaya pemberdayaan masyarakat dalam
mengelola daur ulang sampah (TPA Alue Liem);
pembangunan dan pengembangan TPA Regional terpadu Aceh Utara-
Lhokseumawe;
peningkatan pola, perilaku, disiplin, budaya masyarakat dalam
membuang sampah secara tertib, bersih dan tidak sembarangan;
pemanfaatan teknologi pengelolaan sampah (komposting) dan konsep 3R
di TPA;
penguatan dukungan dana daerah (APBK);
peningkatan pelayanan sampah wilayah yang masih kurang
(persampahan baru terlayani 60 % dari total wilayah Kota Lhokseumawe
dan 70 % dari total penduduk Kota Lhokseumawe);

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-16

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pembangunan sarana dan prasarana pendukung tentang persampahan
yang kurang memadai serta strategi penambahan armada pada BLHK.

E. Pembangunan Infrastruktur Jalan
Pembangunan infrastruktur jalan meliputi adanya:
Strategi penyusunan peta jaringan jalan yang terarah dan
berkesinambungan menjangkau pelosok wilayah dan kota Lhokseumawe.
Strategi penyusunan kebijakan transportasi dalam penanganan lalu lintas
mengantisipasi tingginya laju pertumbuhan kendaraan bermotor
dibandingkan dengan pertumbuhan pembangunan prasarana jalan.

4.1.4.4 Kerangka Dasar Pengembangan Permukiman
Yang menjadi kerangka dasar dari sebuah pengembangan permukiman
di Kota Lhokseumawe adalah:
Legal security of tenure
Problem legal security of tenure masih menjadi problem utama dalam isu hak
rakyat atas perumahan. Di Indonesia, satu aturan domestik mengenai hak atas
penguasaan tanah diatur dalam Undang-undang Pokok Agraria (UU No.
5/ 1960). Banyak sekali aturan domestik yang mengelobarasi maupun merujuk
UU ini sebagai konsiderannya. Hak atas tanah, baik berupa hak milik, hak
guna bangunan maupun hak pakai diakui keberadaannya sebagai hak
hukum. Lebih dari itu, dalam aturan agraria, mekanisme adverse possession
juga diakui di Indonesia. Apabila individu menempati dan mengolah tanah
selama 20 tahun, maka dia dapat mengajukan hak milik atas tanah.
Data statistik perumahan dan permukiman
Perlu adanya data yang akurat terhadap kebutuhan utama akan perumahan
ini, karena tanpa adanya data yang memiliki tingkat falidasi yang rendah
akan mempengaruhi para stakeholder dalam menetukan skala prioritas dan
penentuan anggaran yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan
perumahan yang ada saat ini. Pendataan ini juga mampu menentukan,
seberapa parahnya tingkat kronis permasalahan perumahan itu sendiri,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-17

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
dengan data ini pula akan mampu memberikan solusi akurat apa yang
dibutuhkan oleh masyarakat.
4.2 Rencana Investasi Penataan Bangunan Lingkungan
Suatu kota yang baik harus merupakan satu kesatuan sistem organisasi
yang mampu mengakomodasi kegiatan-kegiatan sosial, ekonomi, budaya,
memiliki citra fisik maupun non fisik yang kuat, keindahan visual serta
terencana dan terancang secara terpadu. Untuk meningkatkan pemanfaatan
ruang kota yang terkendali, suatu produk tata ruang kota harus dilengkapi
dengan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungannya. Hal tersebut sebagai
bagian dari pemenuhan terhadap Persyaratan Tata Bangunan seperti tersirat
dalam Undang Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) diperlukan sebagai
perangkat pengendali pertumbuhan serta memberi panduan terhadap wujud
bangunan dan lingkungan pada suatu kawasan dan RTBL disusun setelah suatu
produk perencanaan tata ruang kota disahkan oleh Pemerintah Daerah setempat
sebagai qanun.
4.2.1 Petunjuk Umum
Penyusunan kebijakan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan ini
bertujuan untuk:
1. Menghindari pertumbuhan kawasan yang tidak terarah dan tidak terkendali;
serta mendorong ke arah keseragaman wajah/ rupa kota;
2. Mempertahankan keunggulan spesifik suatu kawasan sebagai kawasan yang
berjati diri;
3. Merespon berbagai konflik kepentingan dalam penataan: antar bangunan;
bangunan dengan lingkungannya; bangunan dengan prasarana kota;
lingkungan dengan konteks regional/ kota; bangunan dan lingkungan dengan
aktivitas publik; serta lingkungan dengan pemangku kepentingan;
4. Merespon kebutuhan tindak lanjut atas rencana tata ruang yang ada sekaligus
manifestasi atas pemanfaatan ruang;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-18

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
5. Merespon kebutuhan untuk merealisasikan, melengkapi, dan
mengintegrasikan berbagai peraturan yang ada pada suatu kawasan, ataupun
persyaratan teknis lain yang berlaku;
6. Merespon kebutuhan alternatif perangkat pengendali yang mampu
dilaksanakan langsung di lapangan.
4.2.1.1 Penataan Bangunan
Penyusunan dokumen RTBL dilaksanakan oleh pemerintah daerah atau
berdasarkan kemitraan pemerintah daerah, swasta, masyarakat dan/ atau
dengan dukungan fasilitasi penyusunannya oleh Pemerintah sesuai dengan
tingkat permasalahan pada lingkungan/ kawasan yang bersangkutan.
Penyusunan Dokumen RTBL juga dilakukan dengan mendapat
pertimbangan teknis dari tim ahli bangunan gedung dan mempertimbangkan
pendapat publik, selanjutnya Dokumen ini ditetapkan dengan Peraturan
Walikota.
4.2.1.1.1 Permasalahan Penataan Bangunan
Penyusunan dokumen RTBL dilaksanakan oleh pemerintah daerah atau
berdasarkan kemitraan pemerintah daerah, swasta, masyarakat dan/ atau
dengan dukungan fasilitasi penyusunannya oleh Pemerintah sesuai dengan
tingkat permasalahan pada lingkungan/ kawasan yang bersangkutan.
Penyusunan Dokumen RTBL juga dilakukan dengan mendapat
pertimbangan teknis dari tim ahli bangunan gedung dan mempertimbangkan
pendapat publik, selanjutnya Dokumen ini ditetapkan dengan Peraturan
Walikota.

4.2.1.1.2 Landasan Hukum
Adapun yang menjadi landasan hukum dari kegiatan Rencana Tata
Bangunan dan Lingkungan ini diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Undang-undang Republik Indonesia nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan
dan Permukiman;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-19

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2. Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1997 tentang
Lingkungan Hidup;
3. Undang-undang Republik Indonesia nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan
gedung;
4. Undang-undang Republik Indonesia nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang;
5. Undang-undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 69 tahun 1996 tentang
Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran
Masyarakat dalam Penataan Ruang;
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 27 tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 15 tahun 2010 tentang
Penyelengaraan Penataan Ruang;
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia nomor
06/ PRT/ M/ 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan.
4.2.1.2 Penataan Lingkungan
Penataan Lingkungan merupakan rencana pendayagunaan pemanfaatan
ruang untuk membentuk jati diri kota yang produktif dan efisien. Rencana ini
dilakukan pada kawasan-kawasan kota guna meningkatkan kemampuan
kawasan sesuai dengan potensi yang dimiliki kawasan tersebut, sehingga
memberikan manfaat tidak saja kepada penduduk setempat tetapi juga kepada
calon-calon pengusaha, warga masyarakat dan pemerintah kota, serta
pembangunan perkotaan.
Peningkatan fungsi kawasan kota melalui Penataan Lingkungan dapat
diprioritaskan pada kawasan andalan yang terpilih sesuai dengan rencana tata
ruang kota. Peningkatan kawasan potensial ini dilaksanakan melalui
penyusunan tata lingkungan yang berskala ekonomi sebagai wujud dari rencana
tata ruang kota.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-20

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Penataan Lingkungan ini juga akan berperan penting pada kawasan
spesifik yang memiliki nilainilai kultural, historis serta secara visual estetis
memiliki karakter sebagai memori kota agar dapat dilakukan penanganan lebih
lanjut dari sekedar perencanaan kota (urban planning). Perlu dilakukan upaya
dan strategi, arahan pengembangan kawasan agar lebih terkendali, terpadu dan
berkelanjutan. Pemanfaatan kawasan spesifik yang berkembang cepat juga harus
diikuti pengaturan, pengendalian bangunan baik mengenai tata lingkungan
sebagai bagian kesatuan manajemen pembangunan perkotaan. Diharapkan
kawasan yang dikembangkan secara ekonomi akan bermanfaat pula secara
psikologis, visual estetis, ekologis dalam kesatuan arsitektur kota dinamis.

4.2.1.3 Pencapaian Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
Sering kali pengaturan bangunan (tinggi, Koefisien Dasar Bangunan,
Koefisien Luas Bangunan, Sempadan, dll) diterapkan hanya berdasar pada
produk-produk rencana tata ruang seperti RTRK dan RDTRK. Dengan sifat
perencanaan dua dimensinya, maka beberapa aspek teknis yang terkait dengan
analisis tiga dimensi bangunan praktis diabaikan. RTBL sebagai manifestasi
perancangan kota (urban desain) merupakan jembatan antara perencanaan tata
ruang kota (urban planning) dengan arsitektur bangunan (architecture). Dengan
basis perancangan tiga dimensi yang dimilikinya serta penekanan pada potensi
dan kendala lokal, menjadikan produk RTBL dinilai lebih tepat untuk
pengaturan bangunan.
4.2.1.4 Kebijakan, Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan di Kota
Lhokseumawe

Dalam tahapan pembangunan kota, perancangan kota (urban design)
merupakan proses kelanjutan dari perencanaan kota (urban planning). Urban
design lebih mengacu pada penjabaran wujud fisik tiga dimensi kota sebagai
kelanjutan dari perencanaan dua dimensi yang dihasilkan dalam produk-produk
rencana kota. Perancangan kota merupakan dasar yang seharusnya menjadi
panduan (guidenlines) bagi perancang bangunan (architec).

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-21

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dalam suatu proses perencanaan (planning) bila data kondisi lokasi
(input) sama kemudian dilakukan dengan model atau alat analisis yang sama
maka akan diperoleh hasil perencanaan yang relatif sama. Pada produk
perancangan (design) meskipun input sama dan dianalisis dengan alat dan model
yang sama belum tentu memiliki out put yang sama dan bahkan cenderung
selalu berbeda. Hal ini karena adanya beberapa pertimbangan persepsi dan
kognisi pengamat/ pengguna seperti aspek sosial budaya, perilaku, art/ estetika
dan lain-lain.
Dengan kemungkinan beragamnya bentuk hasil perancangan kota, maka
permasalahan yang muncul adalah produk perencanaan mana yang benar.
Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mengkaitkan dengan
pelaku dan pemakai wilayah perancangan, suatu produk design yang baik
adalah yang dapat diterima secara lebih tepat sesuai kondisi masyarakatnya.
Selain itu, produk perencanaan harus sesuai dengan karakteristik wilayah yang
mampu memanfaatkan potensi dan meminimalisasi kendala wilayah. Untuk
dapat mencapai hal tersebut mutlak diperlukan pendekatan pada aspekaspek
sosial masyarakatnya. Pada tataran inilah peran urban design diharapkan lebih
dapat mengakomodasikan berbagai tututan masyarakat penggunanya.
Dalam pembangunan kota, kepentingan dari urban design terletak di
antara dua skala, yaitu skala arsitektur yang berkepentingan dengan wujud fisik
dari bangunan secara individu yang bersifat private, serta skala perencanaan
kota yang berkepentingan dengan pengembangan kawasan atau kota yang
berorientasi pada kepentingan umum dan makro ekonomis pada konteks kota
yang lebih luas. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa urban design
berkepentingan dengan kualitas fisik dan kualitas spesial dari lingkungan binaan
kota.
Kebijakan pemerintah daerah dalam jangka menengah adalah
penangganan kawasan strategis dan cepat tumbuh yang berada dalam kawasan
Kota Lhokseumawe. Kawasan yang terpilih dalam untuk kegiatan Rencana Tata
Bangunan dan Lingkungan (RTBL) meliputi:

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-22

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
1. Penataan kawasan Ujong Blang sebagai kawasan permukiman nelayan,
pengembangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), industri pengolahan Perikanan
serta pengembangan pariwisata bahari Kecamatan Banda Sakti;
2. Revitalsasi kawasan permukiman nelayan pada kawasan Pusong dan pusat
pengembangan kawasan minapolitan berskala Kota Lhokseumawe dengan
telah dibangunnya cold storage, SPBU, doking kapal dan dermaga Pelabuhan
Pendaratan ikan (PPI) Kecamatan Banda Sakti;
3. Penataan kawasan pariwisata bahari Pulo Seumadu Kecamatan Muara Satu;
4. Penataan kawasan permukiman Blang Crum (eks. Relokasi permukiman BRR
dan Save the Children) Kecamatan Muara Dua. Kawasan ini merupakan
kawasan permukiman baru yang dibangun pasca terjadinya bencana gempa
dan tsunami yang memporak-porandakan Aceh;
5. Penataan kawasan Bukit Rata dan Alue Awe Kecamatan Muara Dua yang
merupakan kawasan campuran yang terdiri dari Perguruan Tinggi,
Perkantoran, bisnis dan permukiman.
4.2.2 Profil Rinci Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
Pada profil rinci penataan bangunan Gedung dan lingkungan akan
digambarkan Gambaran Umum Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
serta Kondisi Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan di daerah ini secara
lengkap.
4.2.2.1 Gambaran Umum Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
Secara umum Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan di daerah ini
masih belum menunjukkan adanya penangganan yang serius dari pemerintah.
Selain dokumen dan payung hukum yang belum jelas tersusun secara baik juga
rendahnya pengendalian dari pemanfaatan ruang yang ada.
Di Kota Lhokseumawe Bangunan Gedung terdiri atas bangunan gedung
milik Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Bangunan Gedung milik Pemerintah
Kabupaten Aceh Utara. Kota Lhokseumawe sebagai kota pemekaran telah
menimbulkan permasalahan aset dari sejak pemekaran tahun 2001.
Perkantoran pemerintah Kota Lhokseumawe terpusat pada Kawasan
kecamatan Banda Sakti. Pada kawasan tersebut terdiri dari kantor pelayanan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-23

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Status Tahun
Status
Gedung
Tahun
Pembangunan
RB RS RR Jenis Luas(m2) Estimasi Biaya
Tata
Ruang
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 Sekretariat DPRK Milik Pemda 2008 30% Bertingkat 1.850 sesuai
2 Sekretariat Daerah Milik Pemda 2005 20% Bertingkat 1.400 sesuai
3 Dinas Pekerjaan Umum Milik Pemda 2003 55% 600 9.000.000.000 sesuai
4 Dinas Perhubungan, Pariwisatadan Kebudayaan Kontrak/ Sewa 2010 Bertingkat 800 2.400.000.000
5 Dinas Kesehatan Milik Pemda 2007 Bertingkat 1.175 sesuai
6 Dinas Pendidikan, Pemudadan Olahraga Hak Pakai 2003 Bertingkat 1.100 4.500.000.000
7 Dinas Syariat Islam Sewa 2009 Bertingkat 500 1.500.000.000
8 Dinas sosial dan TenagaKerja Sewa 2009 Bertingkat 960 2.100.000.000
9 Badan Pem. Perempuan, Perlind. Anak dan Kel. Sejahtera Sewa 2009 Bertingkat 500 1.500.000.000
10 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Milik Pemda 2008 Bertingkat 950 1.650.000.000 sesuai
11 Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian Sewa 2005 2.550.000.000
12 Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Sewa 2009 Bertingkat 1.600 1.800.000.000
13 Dinas PengelolaKeuangan dan Aset Daerah Milik Pemda 2008 Bertingkat 1.332 sesuai
14 Kantor Pelayan, Perizinan Terpadu Sewa 2008 Bertingkat 960 1.500.000.000
15 Inspektorat Sewa 2009 400 2.100.000.000
16 Satuan Polisi PP dan WH Sewa 2008 600 1.800.000.000
17 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Milik Pemda 2003 30% 9.000.000.000 sesuai
18 Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Sewa 2003 543
19 Badan Pemberdayaan Masyarakat Hak Pakai 2010 30% 600 1.800.000.000
20 Kantor Kesatuan bangsa, politik dan Perlindungan Masyarakat Sewa 2009 Bertingkat 1.200 1.800.000.000
21 Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Sewa 2009 350 2.100.000.000
22 Badan Penanggulangan BencanaDaerah Sewa 2010 560 1.680.000.000
23 Kantor Camat BandaSakti Milik Pemda 2005 30% 420 sesuai
24 Kantor Camat BlangMangat Milik Pemda 2005 380 sesuai
25 Kantor Camat MuaraSatu Milik Pemda 2007 350 sesuai
26 Kantor Camat MuaraDua Milik Pemda 2003 40% 380 sesuai
16.260 48.780.000.000 Jumlah
No Kantor/ SKPD
Otonomi Kondisi Gedung/ Kantor Usulan
kesehatan, pendidikan, pelayanan administrasi penduduk dan militer. Sebagian
gedung Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masih menggunakan ruko dan
menyewa, sehingga mengurangi tingkat kenyamanan kerja, hal ini disebabkan
oleh lingkungan pasar atau permukiman yang ada disekitar ruko yang disewa
tersebut. Tata letak ruang ruko tersebutpun sangat sulit untuk di setting
representatif dan terkesan berdesak-desakan. Adapun tabel kepemilikan
bangunan gedung miliki Pemerintah Kota Lhokseumawe dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
Tabel 4.4
Kepemilikan Bangunan Gedung Miliki Pemerintah
Kota Lhokseumawe









4.2.2.2 Kondisi Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
Kondisi penataan Bangunan Gedung dan lingkungan terhadap
keselamatan, keamanan dan kenyamanaan bangunan gedung termasuk pada
daerah rawan. Pusat perkantoran Kota Lhokseumawe yang terletak di
Kecamatan Banda Sakti tidak terlepas akan bahaya banjir, baik yang disebabkan
oleh hujan maupun oleh pasang purnama.
Untuk penanggulan banjir, pihak Pemerintah dan MDF telah
melaksanakan pembangunan reservoir dan maindrain pada tahun 2010, yang

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-24

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
mampu menampung banjir yang terjadi akibat debit puncak. Sedangkan untuk
pasang purnama juga telah dibangun break water atau tanggul laut yang mampu
menghadang hantaman gelombang, sehingga untuk tahun-tahun kedepan
masalah banjir ini telah tertangani secara baik.

Gambar 4.1
Peta Rawan Bencana dan Jalur Evakuasi












Peta di atas menunjukkan peta rawan bencana dan jalur evakuasi.
Sedangkan untuk sarana dan prasarana belum tersedia hidran yang memadai,
tapi hal ini disiasati dengan menyediakan racun api secara memadai pada setiap
sudut bangunan gedung sehingga mampu mencegah sumber api yang berasal
dari bangunan gedung yang ada.
Pelaksanaan perizinan telah dilaksanakan secara terpadu pada Kantor
perizinan terpadu Satu Pintu dengan tetap dibawah pengawasan teknis oleh
Dinas Pekerjaan Umum Kota Lhokseumawe. Sedang alur diagramnya dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-25

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

4.2.3 Permasalahan yang Dihadapi
Permasalahan yang ada selama ini mengenai penataan bangunan gedung
dan lingkungan diataranya adalah:
- Kurang nya sosialisasi mengenai kebijakan pemerintah mengenai masalah ini,
sehingga dalam pemanfaatan penataan bangunan gedung dan lingkungan
adanya penyimpangan.
- Adanya oknum aparatur yang mengeluarkan izin dengan tidak mengikuti
aturan yang sesuai dengan pemanfaatan yang direncanakan.
4.2.3.1 Sasaran Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
Sasaran dari penyusunan RTBL sebagai suatu produk kajian, maka
keberhasilan pengaturan bangunan melalui RTBL sangat tergantung pada
kemampuan perencana, kesungguhan pelaksana serta peran serta
masyarakat dan investor. Tanpa dikuti sinergi semua stakeholder maka produk
RTBL hanya akan menjadi dokumen rapi yang tersimpan di dinas/ instansi
Pemerintah Daerah atau Kota.
4.2.3.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan penyederhanaan sebuah permasalahan
yang ada yang bertujuan menemukan solusi dan alternatif penangganan yang
cepat dan jitu. Untuk mendapatkan hal tersebut, perlu adanya data yang bersifat
kuantitatif dan kualitas yang bersifat primer maupun sekunder.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-26

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Masalah penataan bangunan dan lingkungan menjadi hal yang
termarginal, disebabkan sebagian besar anggaran dari APBK Kota Lhokseumawe
tercurah pada bidang pelayanan pendidikan dan kesehatan, sehingga
penangganan masalah tata bangunan dan lingkungan seolah-olah terabaikan,
dan masih mengharapkan adanya bantuan dari provinsi dan nasional.
4.2.4 Analisis Permasalahan dan Rekomendasi
Perlu dilakukakan pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah
pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan (Wilayah Kota/ Kawasan
Perkotaan) untuk mewujudkan keterpaduan, keseimbangan dan keserasian
pembangunan antar sektor dalam rangka penyusunan dan pengendalian
program-program pembangunan kota/ kawasan perkotaan jangka panjang.
4.2.4.1 Analisis Kebutuhan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Analisis terhadap kebutuhan penataan bangunan dan lingkungan
diperlukan dalam menentukan prioritas dan penetuan langkah strategis yang
perlu ditempuh dalam penyelesaian permasalahan yang ada. Kebutuhan yang
paling mendesak dari upaya penataan bangunan dan lingkungan adalah
rendahnya kemampuan dari aparatur pelaksana penataan bangunan dan
lingkungan baik yang mampu melakukan self assesment terhadap penyusunan
dokumen rencana tata bangunan dan lingkungan yang ada, sehingga sebuah
dokumen lebih aplikatif dan mudah dalam pelaksanaannya.
Selain itu perlu adanya keterlibatan masyarakat dalam penyusunan
kebijakan penataan bangunan dan lingkungan, guna menciptakan sense of
belonging dan mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat.
4.2.4.2 Rekomendasi
RTBL sebagai produk ideal dalam upaya pengaturan bangunan dan
lingkungan kawasan kota adalah tidak dapat terlepas dari berbagai kendala
dalam penyusunan dan terlebih lagi dalam tahap pelaksanaannya. Hal ini terjadi
mengingat produk-produk perancangan yang dihasilkan adalah bersinggungan
langsung antara kepentingan public dan private. Pengaturan yang ideal untuk

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-27

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
kepentingan publik tentu akan banyak memberikan batasan pada kepentingan
private dan demikian sebaliknya. Bagaimana suatu produk RTBL dapat berada
pada keseimbangan kepentingan public dan private tentu merupakan posisi
perancangan yang ideal dalam arti sebenarnya.
Berkaitan dengan penyusunan RTBL, terdapat beberapa hal penting yang
harus diperhatikan sebagai berikut:
1. Perancangan tata bangunan dan lingkungan harus berdasar pada kebutuhan
dan aspirasi kondisi dan permasalahan warga/ masyarakat setempat,
sehingga bentuk analisis dan perancangan yang disusun dapat diterima
dalam masyarakat. Suatu konsep study yang sangat baik, namun butuh usaha
luar biasa untuk implementasinya;
2. Perancangan elemen-elemen bangunan dan lingkungan harus dapat
membentuk citra lokal yang seharusnya tidak dapat secara mudah
diimplementasikan secara mudah untuk kawasan lain;
3. Ketersediaan data kapling dan masa bangunan eksisting menjadi syarat
utama yang seringkali tidak tersedia. Hal ini tentu bukan merupakan kendala
biaya biaya pengukuran tapak kawasan dan bangunan dapat dilakukan;
4. Bahwa produk RTBL hendaknya berbasis perancangan secara tiga dimensi
dan tidak lagi hanya mengkaji aspek fungsi dan tata ruang;
5. Produk RTBL tidak hanya berhenti pada tampilan gambar-gambar perspektif
yang idealis dan sangat menarik, namun menekankan pula aspek
realisasinya di lapangan;
6. Semua bentuk pendekatan dan perancangan harus dapat disertai dengan
arahan dan manajemen dalam realisasi pelaksanaan, termasuk berbagai
insentif dan disinsentif yang akan diterapkan;
7. Keterbatasan biaya untuk penyusunan produk RTBL dapat menjadi akar
permasalahan mengenai kualitas produknya.
4.2.5 Program Yang Diusulkan
Adapun program / kegiatan yang diusulkan:
1. Penetapan kebijakan RTBL;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-28

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2. Sosialisasi kebijakan RTBL;
3. Rapat koordinasi tentang RTBL;
4. Pelatihan aparatur dalam perencanaan, pengawasan pemanfaatan ruang;
5. Penyusunan norma, standar dan kriteria Pemanfaatan ruang;
6. Sosialisasi kebijakan, norma, standaar, prosedur dan manual pemanfaatan
ruang;
7. Monitoring, evaluasi dan pelaporan pemanfaatan ruang;
4.2.5.1 Usulan dan Prioritas Program
Selain 5 (lima) kawasan yang telah kami usulkan pada subbab
sebelumnya, ada beberapa kawasan penting lainnya yang memerlukan
perhatiaan khusus dan penangganan segera diantaranya:
1. Penataan Kawasan Islamic Center Kota Lhokseumawe;
2. Penataan Kawasan campuran yang berisiskan, perkantoran pemerintah, pusat
olahraga dan kuliner pada Gampong Mon Geudong Banda Sakti;
3. Penataan Kawasan KP3 yang merupakan plaza terbuka dan pusat kuliner;
4. Revitalisasi Kawasan Pasar Los Kota Lhokseumawe;
5. Penataan kawasan selamat datang pada sebelah Timur dan Barat;
6. Penyusunan Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Water Front
City Kota Lhokseumawe;
7. Pembangunan Sarana dan Prasarana Lingkungan Permukiman (Revitalisasi
Kawasan Cunda) Kota Lhokseumawe Tahap III.

4.2.5.2 Usulan dan Prioritas Proyek Penataan Bangunan Gedung dan
Lingkungan

Pada subbab di atas, Penataan Kawasan Islamic center Kota
Lhokseumawe merupakan sebuah kegiatan yang mendesak untuk dilakukan
penyusunan kegiatan RTBL, karena kawasan yang berada di jantung Kota
Lhokseumawe dan kawasan tersebut merupakan kawasan strategis dan perlu
mendapatkan perhatian terhadap penataan bangunan dan lingkungan sehingga
menciptakan kawasan yang asri dan tertata secara lebih baik. Konsep
pembangunan Kawasan Islamic center Kota Lhokseumawe, bukan hanya

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-29

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
sekedar sebagai tempat ibadah semata, tapi juga dipersiapkan sebagai tempat
ekonomi dan bisnis islam, museum dan pusat kajian agama islam.
4.2.5.3 Pembiayaan Proyek Penyediaan Pengelolaan
Dalam rangka pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah sebagaimana
telah ditetapkan dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan keuangan antara lain Undang-undang nomor 17 tahun 2003, Undang-
undang nomor 1 tahun 2004, Undang-undang nomor 15 tahun 2004, Undang-
undang nomor 25 tahun 2004, Undang-undang nomor 32 tahun 2004, Undang-
undang nomor 33 tahun 2004, maka timbul hak dan kewajiban daerah yang
kemudian oleh daerah diwadahi dalam kebijakan keuangan.
Kota Lhokseumawe pada prinsipnya selalu bekerjasama dengan pihak
provinsi maupun pusat terhadap penyediaan Dana Daerah untuk Bersama
(DDUB) baik untuk pembebasan lahan maupun dana operasional maupun dana
pendukung lainnya. Hal ini mennjukkan komitmen Pemerintah Kota
Lhokseumawe dalam memenuhi target MDGs yang tertuang dalam dokumen
prioritas daerah.

4.3 Rencana Investasi Sub Bidang Air Limbah
4.3.1 Petunjuk Umum Pengelolaan Air Limbah
Limbah cair adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga dan
industri serta tempat-tempat umum lainnya dan mengandung bahan atau zat
yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu kelestarian
lingkungan hidup.

4.3.1.1 Umum
Air limbah domestik merupakan air yang timbul dari sisa kegiatan di
rumah tangga, seperti air bekas mandi, mencuci dan kakus serta juga kegiatan
lainnya yang dilakukan di dalam rumah. Air hujan bukan merupakan bagian
dari air limbah domestik, karenanya air hujan harus dipisahkan penanganannya
dari air limbah domestik dengan menyalurkannya ke saluran drainase kota.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-30

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tujuan pengolahan air limbah domestic ini adalah dalam rangka untuk
menjaga kualitas lingkungan badan air penerima, seperti sungai, sehingga air
limbah domestik yang dibuang ke sungai tersebut telah memenuhi baku mutu
yang telah ditetapkan pemerintah.
Sumber air limbah antara lain:
1. Air limbah rumah tangga (domestic wastes water);
2. Air limbah kota praja (municipal wastes water);
3. Air limbah industri (industrial wastes water).

4.3.1.2 Kebijakan, Program dan Kegiatan Pengelolaan Air Limbah Dalam
Rencana Kota Lhokseumawe

Strategi peningkatan pengelolaan air limbah di Lhokseumawe juga ikut
mengacu pada target-target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat yaitu:
A. Kebijaksanaan dan Strategi Penanganan Air Limbah Domestik
a. Peningkatan pembangunan, pengelolaan prasarana dan sarana sanitasi,
untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan menjaga kelestarian
lingkungan;
b. Penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi yang
terjangkau oleh masyarakat luas sampai kepada yang berpenghasilan
rendah;
c. Pengembangan rekayasa teknis untuk mendapatkan teknologi tepat guna
yang sederhana;
d. Penyelenggaraan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan;
e. Penetapan dan penerapan pemberlakuan harus memenuhi baku mutu
lingkungan di kawasan perumahan dan pemukiman;
f. Peningkatan peran serta swasta dan masyarakat;
g. Pengembangan sistem pendanaan;
h. Pemantapan kelembagaan;
i. Peningkatan pemanfaatan, operasi dan pemeliharaan prasarana dan
sarana sanitasi yang telah dibangun;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-31

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
j. Penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi yang
terpadu dengan program/ sektor lain;
k. Peningkatan kemandirian masyarakat dalam penyediaan dan
penye!enggaraan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi;
l. Menyiapkan rencana pengelolaan secara terpadu sebelum pelaksanaan.
B. Strategi Financial/ Pendanaan
a. Menciptakan iklim pendanaan yang memungkinkan dan menarik dunia
usaha untuk ikut membiayai penyediaan dan pengelolaan prasarana dan
sarana dasar;
b. Menggali sumber dana masyarakat untuk ikut membiayai dan
pengelolaan prasarana dan sarana dasar sanitasi;
c. Menyempurnakan mekanisme sistem bantuan keuangan untuk
penyediaan prasarana dan sarana dasar sanitasi.
C. Strategi Kelembagaan/ Peraturan Perundang-undangan
a. Meningkatkan fungsi kelembagaan yang sudah ada;
b. Mendorong terbentuknya lembaga pengelola sarana dan prasarana
sanitasi;
c. Mendorong pelaksanaan perundang-undangan;
d. Melengkapi peraturan dan perundangan yang ada;
e. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia;
f. Meningkatkan jumlah tenaga ahli sanitasi.
D. Strategi Pencapaian Sasaran Sub Program Air Limbah
a. Mengembangkan teknologi sanitasi dasar tepat guna yang terjangkau
oleh masyarakat berpenghasilan rendah;
b. Mengembangkan sistem pengelolaan air Iimbah terpusat terutama di
kawasan potensial, serta mengembangkan sistem perpipaan air limbah
sederhana bagi kawasan kumuh dan padat;
c. Mengembangkan dan memantapkan kelembagaan pengelolaan air
limbah melalui pembentukan unit pengelola air limbah, dinas atau

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-32

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
perusahaan daerah serta mendorong kemitraan dengan dunia usaha dan
masyarakat;
d. Mengembangkan percontohan sarana pengelolaan air limbah pedesaan
serta memasyarakatkan pembuatan sarana sanitasi sederhana;
e. Menentukan tolak ukur mutu lingkungan air di dalam kawasan
perumahan dan pemukiman;
f. Mengembangkan sistem pendanaan subsidi silang, sistem bantuan
keuangan dan peran serta dunia usaha;
g. Mempercepat terwujudnya peraturan dan perundang-undangan yang
menyangkut pengelolaan air limbah.
E. Strategi Promosi
a. Melaksanakan apresiasi maupun pelatihan untuk meningkatkan
pengelola sarana dan prasarana sanitasi;
b. Melaksanakan training untuk meningkatkan pengelola prasarana dan
sarana air limbah;
c. Melaksanakan pelatihan teknis;
d. Melaksanakan kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran dan
peran serta masyarakat dalam rangka mencapai hasil pengelolaan yang
optimal;
e. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam penyediaan dan
pengelolaan prasarana dan sarana sanitasi;
f. Meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat akan kesehatan
Iingkungan permukiman;
g. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam pengadaan prasarana dan
sarana sanitasi.
Pembangunan prasarana dan sarana air Iimbah harus memperhatikan
dampak samping yang mungkin timbul akibat penyebaran wabah melalui
pencemaran dan bidang resapan dan konstruksinya harus benar-benar
diperhatikan agar tidak mencemari air tanah.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-33

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.3.2 Profil Pengelolaan Air Limbah
4.3.2.1 Gambaran Umum Sistem Pengelolaan Air Limbah Saat Ini
Pada umumnya masyarakat di wilayah Kota Lhokseumawe
menggunakan dua sistem yaitu sistem terpisah dan sistem gabungan. Sistem
terpisah yaitu terjadinya pemisahan antara penyaluran air limbah dan air hujan.
Air limbah dialirkan ke dalam SPAL yang berbentuk septic tank. Air hujan
umumnya disalurkan melalui saluran drainase kota. Sistem gabungan yaitu
semua air limbah tersebut masuk ke dalam satu wadah (septic tank). Pemerintah
Kota telah melakukan pengadaan sarana dan prasarana yang berhubungan
dengan pengelolaan limbah ini.
4.3.2.1.1 Tingkat Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan
Masyarakat mempunyai perannya masing-masing sesuai dengan tingkat
kesadaran akan kesehatan lingkungan dan kemampuan finansialnya masing-
masing. Masyarakat yang telah mampu, umumnya telah memiliki fasilitas
penanganan limbah cair dengan baik. Namun masyarakat yang belum memiliki
kemampuan keuangan, penyediaan sarana ini menjadi sulit bagi mereka.
Sehingga dapat kita katakan dengan kondisi masyarakat dengan berbagai latar
belakang yang dimilikinya, penanganan leimbah ini belum maksimal. Hal ini
terlihat dari data kesehatan lingkungan bahwa 36.119 rumah yang disurvei,
hanya 14.201 rumah yang memiliki SPAL. Bahkan dari total 14.201 SPAL
tersebut, 53,84% SPAL berada dalam kondisi memadai, sedangkan sisanya
sebesar 46,16% berada dalam kondisi tidak memadai.
4.3.2.1.2 Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah
Dari data Badan Kebersihan dan Lingkungan Hidup bahwa Kota
Lhokseumawe telah memiliki Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)
sebanyak 1 unit. Pemerintah pun telah memiliki 2 unit mobil penyedot dan
pengangkut tinja. Volume lumpur tinja yang dibuang ke ILPT ini berkisar 3
m3/ hari.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-34

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

4.3.2.2 Kondisi Sistem Sarana dan Prasarana Pengelolaan Air Limbah
Pengelolaan air limbah di Kota Lhokseumawe secara umum disediakan
oleh masyarakat sendiri. Saluran penyaluran air limbah yang masih bercampur
dengan air hujan kondisinya sudah tersedia di setiap ruas jalan. Untuk
pembuangan limbah tinja dilakukan oleh pihak swasta dan pemerintah, untuk
saat ini masih dominan dilakukan oleh pihak swasta. Pemanfaatan IPLT belum
maksimal karena untuk penghematan biaya operasional oleh pihak swasta
sehingga banyak yang membuang hasil penyedotan di tempat yang tidak
diketahui. Hal ini dikarenakan lemahnya pengawasan dan pengelolaan dari
pemerintah daerah.
4.3.3 Permasalahan Yang Dihadapi
Sistem penanganan air limbah di Kota Lhokseumawe menggunakan
sistem pembuangan on site, sehingga dianjurkan menggunakan metode septic
tank atau cubluk (tunggal atau kembar). Penanganan pembuangan sistem on site
memerlukan transportasi lumpur tinja untuk pengosongan tanki dengan
menggunakan truk berkapasitas 2-4 atau 6 meter kubik atau menggunakan
trailer untuk melayani penyedotan daerah padat dengan jalan relatif sempit.
Sebagaimana yang telah ditargetkan secara nasional, penanganan air limbah
diarahkan untuk dilakukan dengan metode onsite sanitation disposal baik secara
individual maupun secara komunal.
Pembangunan prasarana dan sarana air Iimbah harus memperhatikan
dampak samping yang mungkin timbul akibat penyebaran wabah melalui
pencemaran dan bidang resapan dan konstruksinya harus benar-benar
diperhatikan agar tidak mencemari air tanah.
4.3.3.1 Sasaran Pengelolaan Prasarana dan Sarana (PS) Air Limbah
Pengelolaan prasarana dan sarana air limbah harus melibatkan semua
pihak yaitu pihak penyedia dan pihak pengguna. Pihak penyedia prasarana dan
sarana yaitu pemerintah Kota Lhokseumawe, pihak pengguna yaitu masyarakat

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-35

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
harus terlibat secara aktif untuk memelihara sistem prasarana dan sarana air
limbah yang disediakan oleh pemerintah.
4.3.3.2 Rumusan Masalah
1. Masih ada pandangan dari masyarakat yang beranggapan bahwa pengelolaan
limbah ini tidak begitu mendesak atau tidak menjadi perhatian bagi
masyarakat. Masyarakat masih menggunakan cara yang tidak sehat yaitu
dengan memanfaatkan badan sungai atau saluran drainase untuk memenuhi
kebutuhan sarana prasarana pengelolaan limbah cair ini;
2. Untuk wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan
juga ketersediaan lahan yang tidak begitu luas bagi penyediaan SPAL,
tentunya sistem SPAL berskala rumah tangga lebih sulit diterapkan karena
keterbatasan lahan yang dimiliki. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian
kita semuanya;
3. Unit pengolahan tinja yang dimiliki Pemerintah Kota Lhokseumawe sudah
penuh dan bahkan dua bak penampungnya sudah rusak sehingga tidak dapat
difungsikan lagi. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh kepada
pengelolaan limbah cair;
4. Banyak saluran air limbah yang tidak berfungsi dengan baik, air tidak
mengalir dengan baik;
5. Banyak terdapat endapan lumpur dalam saluran;
6. Penurunan permukaan tanah yang menyebabkan fungsi saluran tidak baik;
7. Banyak sampah dalam saluran disebabkan kurang pedulinya masyarakat
terhadap kebersihan lingkungan.
4.3.4 Analisa Permasalahan dan Rekomendasi
4.3.4.1 Analisa Permasalahan
1. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan limbah dikarenakan
masih minim pengetahuan, kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan
lingkungan;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-36

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2. Perlu adanya pemerataan persebaran penduduk agar pengelolaan air limbah
bisa maksimal dan tidak hanya menumpuk dalam Kecamatan Banda Sakti
dengan kondisi tanah yang selalu mengalami penurunan yang
mengakibatkan aliran saluran tidak berfungsi dengan baik;
3. Perlunya perhatian pemerintah secara bijaksana dalam pengelolaan limbah
cair terutama tinja karena jika hal ini diabaikan akan mengakibatkan
perusakan lingkungan yang fatal.
4.3.4.2 Alternatif Pemecahan Persoalan
1. Membangun, mendidik masyarakat untuk mencintai lingkungan, mengelola
limbah mulai dari rumah sendiri dan lingkungan sekitar. Melibatkan
masyarakat secara aktif dalam pengelolaan limbah ditingkat gampong dengan
koordinasi keuchik dan ditingkat lorong dengan dikomandoi oleh kepala
lorong;
2. Penataan pembangunan perumahan dan permukiman dengan merencanakan
secara sinkron pengelolaan limbah cair;
3. Adanya pengolahan tinja secara baik apabila tidak bisa ditangani oleh
pemerintah bisa diserahkan kepada swasta atau bisa dengan kerja sama
antara pemerintah dan swasta. Apabila limbah tinja hanya dibuang tanpaa
proses pengelahan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan;
4. Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan
pengelolaan air limbah;
5. Menyusun perangkat peraturan perundangan yang mendukung
penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman;
6. Menyebarluaskan informasi peraturan perundangan terkait penyelenggaraan
pengelolaan air limbah;
7. Menerapkan peraturan perundangan;
8. Penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas personil pengelolaan air
limbah;
9. Memfasilitasi pembentukan dan perkuatan kelembagaan pengelola air limbah
masyarakat;
10. Mendorong pembentukan dan perkuatan institusi pengelola air limbah;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-37

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
11. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar lembaga;
12. Mendorong peningkatan kemauan politik para pemangku kepentingan
untuk memberikan prioritas yang lebih tinggi terhadap pengelolaan air
limbah.
4.3.5 Sistem Prasarana Yang Diusulkan
Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan terpusat (off site system)
ataupun sistem pengolahan setempat (on site system). Kedua sistem tersebut
memiliki kelebihan dan kekurangan.

Off Site System On Site System
Keuntungan :
Menyediakan pelayanan yang
terbaik.
Sesuai untuk daerah dengan
kepadatan tinggi.
Pencemaran terhadap air tanah dan
badan air dapat dihindari
Memiliki masa guna lebih lama.
Dapat menampung semua Limbah
Keuntungan :
Menggunakan teknologi sederhana.
Memerlukan biaya yang rendah.
Masyarakat dan tiap-tiap keluarga
dapat menyediakan sendiri.
Pengoperasian dan pemeliharaan
oleh masyarakat.
Manfaat dapat dirasakan secara
langsung.
Kerugian :
Memerlukan biaya investasi, operasi,
dan pemeliharaan yang tinggi.
Menggunakan teknologi tinggi.
Tidak dapat dilakukan oleh
perseorangan.
Manfaat secara penuh diperoleh
setelah selesai jangka panjang.
Waktu yang lama dalam
perencanaan dan pelaksanaan.
Perlu pengelolaan, operasional, dan
pemeliharaan yang baik.

Kerugian :
Tidak dapat diterapkan pada setiap
daerah, misalkan sifat permeabilitas
tanah, tingkat kepadatan, dan lain-
lain.
Fungsi terbatas hanya dari buangan
kotoran manusia, tidak melayani air
limbah kamar mandi dan air bekas
cucian.
Operasi dan pemeliharaan sulit
dilaksanakan.
4.3.5.1 Kebutuhan Pengembangan Pengelolaan
Pengembangan sistem pengelolaan dengan melibatkan berbagai pihak
yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta dapat dilakukan dengan tahapan
berikut ini:

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-38

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
- Tahap awal pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi
berbasis masyarakat, dilakukan melalui beberapa tahap pertemuan rembug
warga, untuk menentukan Perumusan kebutuhan, Perumusan program,
Perumusan sumber dana, Pembentukan panitia pembangunan;
- Tahap pembangunan dilaksanakan secara berdampingan dengan pihak donor
baik dari lembaga pemerintah maupun swasta bahkan dari masyarakat itu
sendiri. Dalam tahap pembangunan terdiri dari beberapa kegiatan : Mobilisasi
sumber daya yang ada baik dana atau sumber daya manusia, Program
pelaksanaan pembangunan dan pengembangan, Rencana pelibatan
stakeholder terkait;
- Tahap pengembangan dengan melaksanakan pemantauan dan evaluasi
terhadap pelaksanaan yang dikelola dalam struktur organisasi RT/ RW.
4.3.5.2 Usulan dan Prioritas Program
Usulan dan prioritas program yang disarankan dalam untuk perbaikan
sistem air limbah Kota Lhokseumawe antara lain:
- Penyusunan master plan air limbah Kota Lhokseumawe;
- Pembangunan jaringan air limbah;
- Pembangunan instalasi air limbah;
- Pembangunan IPLT dan pengembangan IPLT;
- Pembangunan saluran primer, sekunder dan tersier;
- Pembangunan tando;
- Pemeliharaan jaringan primer, sekunder dan tersier yang sudah ada;
- Pembangunan sistem pengolahan air limbah terpusat skala lingkungan untuk
200-400 KK, terdiri dari sambungan rumah, pipa air limbah, bak kontrol dan
instalasi pengolahan;
- Pembangunan jaringan air limbah terpusat skala lingkungan untuk minimal
50 KK yang akan dihubungkan dengan sistem air limbah terpusat yang sudah
ada (skala kota).




Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-39

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.3.5.3 Pembiayaan Pengelolaan
Pembiayaan pengelolaan limbah didanai dari anggaran Pemerintah Kota
Lhokseumawe, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.
Pembiayaan pengelolaan air limbah dapat ditempuh juga melalui
Peningkatan dan pengembangan alternatif sumber pendanaan pembangunan
prasarana, Mendorong berbagai alternatif sumber pembiayaan untuk
penyelenggaraan air limbah dan Pembiayaan bersama pemerintah pusat dan
daerah dalam mengembangkan sistem air limbah perkotaan dengan proporsi
pembagian yang disepakati bersama.

4.4 Rencana Investasi Sub-Bidang Persampahan
4.4.1 Petunjuk Umum Pengelolaan Persampahan
Masalah persampahan sangat terkait dengan upaya yang lebih luas
dalam pengelolaan persampahan secara menyeluruh. Dalam hal ini kebersihan
dan keberadaan sampah turut dipengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk.
4.4.1.1 Umum
Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta
aktivitas lainnya adalah bertambahnya pula buangan/ limbah yang dihasilkan.
Limbah/ buangan yang ditimbulkan oleh aktivitas dan konsumsi masyarakat
yang lebih dikenal sebagai limbah domestik telah menjadi permasalahan
lingkungan yang harus ditangani oleh pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
Limbah domestik tersebut, baik itu limbah cair maupun limbah padat
menjadi permasalahan lingkungan karena secara kuantitas maupun tingkat
bahayanya mengganggu kesehatan manusia, mencemari lingkungan, dan
mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya.
Khusus untuk sampah atau limbah padat rumah tangga, peningkatan
jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia diperkirakan akan bertambah 2,5
kali lipat pada tahun 2029.
4.4.1.2 Kebijakan, Program dan Kegiatan Pengelolaan Persampahan Dalam
Rencana Kota

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-40

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

Pengelolaan sampah di Kota Lhokseumawe diarahkan dengan
melibatkan secara aktif peran serta masyarakat. Selain itu ada beberapa program
yang dapat dilakukan diantaranya:
1. Meningkatkan kemampuan SDM yang ada, yaitu kemampuan manejerial dan
operasional staf institusi pengelolaan sampah perlu ditingkatkan secara
berlanjut melalui pelatihan dan kursus-kursus;
2. Penerapan sanksi terhadap pelanggar ketentuan pembuangan sampah perlu
ditegakkan, sehinggal pengelolaan sampah secara intensif bail oleh
pemerintah maupun masyarakat dapat diwujudkan;
3. Melibatkan secara aktif semua elemen yang ada di masyarakat untuk
berperan aktif dalam pengelolaan persampahan.
4.4.2 Profil Persampahan
Pada sub bab ini akan dipaparkan gambaran umum sistim dari
pengelolaan persampahan yang ada serta gambaran umum kondisi dari sistim
sarana dan prasarana yang ditinjau dari aspek teknis pengelolaan
persampahannya.
4.4.2.1 Gambaran Umum Sistem Pengelolaan Sampah Saat Ini
Sistem penanganan akhir sampah di Kota Lhokseumawe masih
menggunakan open dumping dengan TPA yang terletak di Alue Lim.
Sedangkan untuk membantu pengumpulan sampah, di rencanakan
pengembangan TPS di setiap pusat BWK.
4.4.2.2 Kondisi Sistem Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan (Aspek
Teknis)

Mekanisme sistem pengelolaan sampah di Kota Lhokseumawe adalah
sebagai berikut:
1. Pewadahan
Pola pewadahan yang direncanakan berupa pola pewadahan individual yang
diletakkan dekat rumah untuk permukiman dan diletakkan dibelakang untuk

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-41

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pertokoan serta pola pewadahan komunal yang diletakkan sedekat mungkin
dengan sumber sampah di tepi jalan besar.
2. Pengumpulan Sampah
Sama dengan pola pewadahan, rencana sistem pengelolaan sampah akan
menggunakan dua sistem yaitu pengumpulan individual yang dilakukan
dengan sistem door to door (dengan truk kecil langsung diangkat ke TPA). Cara
lain dengan sistem individual dengan cara mengumpulkan sekaligus
memusnahkan sampah tersebut.
3. Pengangkutan Sampah
Pengangkutan dilakukan dengan dump truck, amrol truck dan mobil patrol
dari TPS ke TPA.
4. Tempat Pembuangan Akhir
TPA berlokasi di Gampong Alue Lim dengan sistem open dumping, lokasi ini
dianggap cukup representative karena jauh dari pemukiman rakyat dan
arealnya luas.

4.4.2.3 Aspek Pendanaan
Untuk pembiayaan dan pengelolaan drainase Kota Lhokseumawe selama
ini bersumber pada pendanaan yang bersumber dari dari dana APBN murni,
APBA Provinsi Aceh dan APBK Kota Lhokseumawe.
4.4.2.4 Aspek Kelembagaan Pelayanan Persampahan
Dinas yang terkait dengan pengelolaan persampahan adalah Badan
Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Lhokseumawe.
4.4.2.5 Aspek Peraturan Perundangan
Undang-Undang Republik Indonesia:
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang
persampahan.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-42

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia:
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Keputusan Menteri Republik Indonesia:
- Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
2001 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan
AMDAL.
Peraturan Daerah (Qanun) Kota Lhokseumawe:
- Qanun Kota Lhokseumawe No 08 Tahun 2007 mengenai Retribusi Pelayanan
Persampahan/ Kebersihan dalam wilayah Kota Lhokseumawe.
- Qanun Kota Lhokseumawe No 06 Tahun 2003 mengenai Syarat Kontruksi
Bangunan dalam wilayah Kota Lhokseumawe.
4.4.2.6 Aspek Peran Serta Masyarakat
Masyarakat telah melakukan upaya pengelolaan sampah sesuai dengan
kondisi kemampuan ataupun pengetahuan yang dimilikinya. Di beberapa
kawasan perumahan, seperti Kompleks Panggoi Indah, Kompleks Banda Masen,
Kompleks Mutiara dan Komplek Bank Duta, warga perumahan dari kompleks
tersebut telah melakukan pemilahan jenis sampah kering dan sampah basah.
Menurut data dari Badan Lingkungan dan Kebersihan Kota Lhokseumawe tahun
2010, di kawasan pemukiman tersebut telah mampu melakukan pemilihan
sampah basah dan kering dengan bobot mencapai 0,5 m
3
/ hari/ 35 rumah tangga.
Data tersebut juga memberikan makna kepada kita bahwa masyarakat juga telah
mampu mengolah sampah di tempat (on site) di rumahnya sendiri atau
dikawasan perumahannya sendiri.
4.4.3 Permasalahan Yang Dihadapi
Permasalahan yang ada selama ini masih berupa :
1. Masalah keterbatasan anggaran
2. Keterbatasan sarana dan prasarana

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-43

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
3. SDM teknis yang memadai
4. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan
5. Aspek kelembagaan yang perlu diperjelas.

4.4.3.1 Sasaran Penyediaan Prasarana dan Sarana Pengelolaan Sampah
1. Kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat masih kurang. Hal ini
jelas terlhat dari tingkat pencemaran saluran drainase oleh timbunan sampah.
2. Kesadaran masyarakat untuk membayar retribusi kebersihan masih rendah.
Dengan tingkat retribusi sampah yang rendah menjadikan pelayanan
persampahan menjadi tidak begitu optimal.
4.4.3.2 Rumusan Masalah
Sarana dan prasarana sampah belum mampu menjawab kebutuhan akan
pelayanan persampahan yang baik. Lokasi TPA misalnya, bila masih
menggunakan model pengelolaan sampah hanya dengan menggunakan metode
open damping saja, maka dalam waktu yang tidak begitu lama, pemerintah harus
mencari lokasi baru atau melakukan perluasan lokasi TPA. Artinya life time
penggoperasian TPA tidak begitu lama.
Terdapat beberapa wilayah di Kota Lhokseumawe yang belum
terjangkau oleh layanan persampahan. Keterbatasan kemampuan pemerintah
dalam memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada semua anggota
masyarakat membuat masalah persampahan menjadi tidak tuntas ditangani.
Artinya pelayanan ini masih bersifat parsial.
4.4.4 Analisa Permasalahan dan Rekomendasi
4.4.4.1 Analisis Permasalahan
Dalam analisis persampahan ini adalah analisis mengenai sistem
pengolahan persampahan yang dihasilkan Kota Lhokseumawe. Oleh karena
petimbunan sampah umumnya banyak terjadi di wilayah perkotaan, maka
sistem yang diterapkan adalah sama dengan sistem pengelolaan sampah di
perkotaan pada umumnya yang meliputi pewadahan, pengumpulan,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-44

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pemindahan, pengangkutan dan penyapuan jalan serta pengolahan akhir di
TPA.
4.4.4.2 Alternatif Pemecahan Masalah
Alternatif pemecahan masalah pengelolaan sampah adalah dengan
penanganan sampah yang efektif dan efisien, melalui daur ulang dan
composting untuk jenis sampah organik dan anorganik. Selain itu kebijakan dari
pemerintah yang dibuat dengan pendekatan menyeluruh sehingga dapat
dijadikan payung bagi penyusunan kebijakan di tingkat pusat maupun daerah.
Pendekatan pengelolaan yang sebelumnya secara wilayah administrasi,
dapat diubah melalui pendekatan regional dengan menggabungkan beberapa
kota dan kabupaten dalam pengelolaan persampahan. Hal ini sangat
menguntungkan karena akan mencapai skala ekonomis baik dalam tingkat
pengelolaan TPA, dan pengangkutan dari TPS ke TPS.
4.4.5 Sistem Pengelolaan Persampahan Yang Diusulkan
Dalam Pengelolaan Sampah Terpadu sebagai salah satu upaya
pengelolaan Sampah Perkotaan adalah konsep rencana pengelolaan sampah
perlu dibuat dengan tujuan mengembangkan suatu sistem pengelolaaan sampah
yang modern, dapat diandalkan dan efisien dengan teknologi yang ramah
lingkungan. Dalam sistem tersebut harus dapat melayani seluruh penduduk,
meningkatkan standar kesehatan masyarakat dan memberikan peluang bagi
masyarakat dan pihak swasta untuk berpartisipasi aktif.
Pendekatan yang digunakan dalam konsep rencana pengelolaan sampah
ini adalah meningkatkan sistem pengelolaan sampah yang dapat memenuhi
tuntutan dalam pengelolaan sampah yang berbasis peran serta masyarakat.
Kebijakan pengelolaan sampah perkotaan yang ditetapkan di kota-kota di
Indonesia meliputi 5 (lima) kegiatan, yaitu:
1. Penerapan teknologi
Teknologi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan sampah ini
merupakan kombinasi tepat guna yang meliputi teknologi pengomposan,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-45

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
teknologi penanganan plastik, teknologi pembuatan kertas daur ulang,
Teknologi Pengolahan Sampah Terpadu menuju Zero Waste harus
merupakan teknologi yang ramah lingkungan. Teknologi yang digunakan
dalam proses lanjutan yang umum digunakan adalah:
2. Teknologi pembakaran (Incenerator)
Dengan cara ini dihasilkan produk samping berupa logam bekas (skrap) dan
uap yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik. Keuntungan lainnya
dari penggunaan alat ini adalah:
a. dapat mengurangi volume sampah 75%-80% dari sumber sampah tanpa
proses pemilahan.
b. abu atau terak dari sisa pembakaran cukup kering dan bebas dari
pembusukan dan bisa langsung dapat dibawa ke tempat penimbunan pada
lahan kosong, rawa ataupun daerah rendah sebagai bahan pengurung
(timbunan).
3. Teknologi composting yang menghasilkan kompos untuk digunakan sebagai
pupuk maupun penguat struktur tanah.
Teknologi daur ulang yang dapat menghasilkan sampah potensial, seperti:
kertas, plastic logam dan kaca/ gelas.
4. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan
Partisipasi masyarakat dalam pengelolan sampah merupakan aspek yang
terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara
terpadu. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan
salah satu faktor teknis untuk menanggulangi persoalan sampah perkotaan
atau lingkungan pemukiman dari tahun ke tahun yang semakin kompleks.
Masyarakat senantiasa ikut berpartisipasi terhadap proses-proses
pembangunan bila terdapat faktor-faktor yang mendukung, antara lain:
kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran, kebutuhan sarana dan prasana,
dorongan moral, dan adanya kelembagaan baik informal maupun formal.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-46

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
5. Mekanisme keuntungan dalam pengelolaan sampah
Solusi dalam mengatasi masalah sampah ini dapat dilakukan dengan
meningkatkan efisiensi terhadap semua program pengelolaan sampah yang di
mulai pada skala yang lebih luas lagi. Misalnya melalui kegiatan pemilahan
sampah mulai dari sumbernya yang dapat dilakukan oleh skala rumah tangga
atau skala perumahan. Dari sistem ini akan diperoleh keuntungan berupa:
biaya pengangkutan dapat ditekan karena dapat memotong mata rantai
pengangkutan sampah, tidak memerlukan lahan besar untuk TPA, dapat
menghasilkan nilai tambah hasil pemanfaatan sampah menjadi barang yang
memiliki nilai ekonomis, dapat lebih mensejahterakan petugas pengelola
kebersihan, bersifat lebih ekonomis dan ekologis, dapat lebih memberdayakan
masyarakat dalam mengelola kebersihan kota.
6. Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA)
Pada dasarnya pola pembuangan sampah yang dilakukan dengan sistem
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah tidak relevan lagi dengan lahan kota
yang semakin sempit dan pertambahan penduduk yang pesat, sebab bila hal
ini terus dipertahankan akan membuat kota dikepung lautan sampah
sebagai akibat kerakusan pola ini terhadap lahan dan volume sampah yang
terus bertambah. Pembuangan yang dilakukan dengan pembuangan sampah
secara terbuka dan di tempat terbuka juga berakibat meningkatnya intensitas
pencemaran. Penanganan model pengelolaan sampah perkotaan secara
menyeluruh adalah meliputi penghapusan model TPA pada jangka panjang
karena dalam banyak hal pengelolaan TPA masih sangat buruk mulai dari
penanganan air sampah (leachet) sampai penanganan bau yang sangat buruk.
Cara penyelesaian yang ideal dalam penanganan sampah di perkotaan adalah
dengan cara membuang sampah sekaligus memanfaatkannya sehingga selain
membersihkan lingkungan, juga menghasilkan kegunaan baru. Hal ini secara
ekonomi akan mengurangi biaya penanganannya.
7. Kelembagaan dalam pengelolaan sampah yang ideal.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-47

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dalam pengelolaan sampah perkotaan yang ideal, sistem manajemen
persampahan yang dikembangkan harus merupakan sistem manajemen yang
berbasis pada masyarakat yang di mulai dari pengelolaan sampah di tingkat
rumah tangga. Dalam rencana pengelolaan sampah perlu adanya metode
pengolahan sampah yang lebih baik, peningkatan peran serta dari lembaga-
lembaga yang terkait dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pengelolaan sampah, meningkatkan pemberdayaan masyarakat, peningkaan
aspek ekonomi yang mencakup upaya meningkatkan retribusi sampah dan
mengurangi beban pendanaan serta peningkatan aspek legal dalam
pengelolaan sampah.

4.4.5.1 Kebutuhan Pengembangan
Pengelolaan persampahan perlu diperhatikan dan dikembangkan
mengingat pengelolaan sampah di Kota Lhokseumawe masih sangat minim dan
belum menggunakan teknologi yang canggih. Pengelolaan umumnya masih
sebatas pengumpulan, pembuangan ke TPA. Belum ada pemilahan dan
pengelohan sampah, jikapun ada hanya dilakukan oleh pihak swasta hanya
untuk sampah-sampah yang mengandung nilai ekonomi.
4.4.5.2 Usulan dan Prioritas Program Pengelolaan Persampahan
Usulan dan Prioritas Program pengelolaan persampahan adalah:
1. Perencanaan Peningkatan Kinerja TPA;
2. Pembangunan TPA;
3. Supervisi Pembangunan TPA;
4. Pelatihan 3R;
5. Peningkatan/ Pembangunan TPST/ 3R;
6. Pengadaan Container Sampah & Landasan;
7. Pembangunan persampahan terpadu 3R;
8. Pengadaan Bin Container;
9. Pengadaan Truck/ Amrol Sampah;
10. Pengadaan Vacuum Truck;
11. Pengadaan Buldozer D6;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-48

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
12. Pengadaan Wheel Loader;
13. Pengadaan Penyedot Debu;
14. Pengadaan Penyedot Debu;
15. Pengadaan Mesin Pencacah Sampah;
16. Pengadaan Peralatan Laboratorium Pemantau Pencemaran Udara;
17. Pengadaan Mesin Komposting;
18. Pembangunan Transfer Station (SPA), komponen minimal yang dibangun
terdiri dari:
- Hanggar;
- Luas minimal 20.000 m
2
;
- Bak pengendap untuk lindi;
- Sumur resapan;
- Area parkir;
- Mesin pemadat.
4.4.5.3 Pembiyaan Pengelolaan
Pembiayaan untuk penyediaan peralatan dan pengelolaan sistem
persampahan Kota Lhokseumawe dilakukan dengan sumber pendanaan dari
APBK, APBA dan APBN dengan persentase pendanaan yang ditentukan dan
disepakati antara pemerintah Kota Lhokseumawe, Pemerintah Aceh dan
Pemerintah Pusat.

4.5 Rencana Investasi Sub-Bidang Drainase
4.5.1 Petunjuk Umum Sistem Drainase Perkotaan
Secara umum, sistem drainase dapat didefinisikan sebagai serangkaian
bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/ atau membuang kelebihan
air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara
optimal.

4.5.1.1 Umum

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-49

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain),
saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran
induk (main drain), dan badan air penerima (receiving waters). Di sepanjang sistem
sering dijumpai bangunan lainnya seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air
(aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, kolam tando, dan stasiun pompa.
Dalam rangka pengembangan dan penataan kawasan permukiman dan
peningkatan taraf hidup masyarakat di Kota Lhokseumawe, penanganan
drainase merupakan salah satu prioritas yang perlu mendapatkan penanganan.
Karena gangguan dan kerugian akan masalah banjir dan genangan telah
mengakibatkan dampak penurunan kondisi sosial ekonomi masyarakat,
kerusakan lingkungan pemukiman dan sektor-sektor ekonomi yang potensial.
4.5.1.2 Maksud dan Tujuan
Rencana pengembangan prasarana drainase disesuaikan dengan tingkat
perkembangan kawasan terbangun dan prasarana jalannya serta terintegrasi
dengan pengendalian banjir dan program perbaikan jalan.

4.5.1.3 Arah Kebijakan Penanganan Drainase
Perencanaan sistem drainase di Kota Lhokseumawe meliputi pembuatan
sistem saluran primer, sekunder, dan tersier (kawasan permukiman), rehabilitasi
saluran yang kondisinya buruk, pemasangan pompa dan pemasangan pintu-
pintu air . Saluran pembuangan air yang direncanakan adalah Krueng Cunda
dan Krueng Meuraksa serta alur-alur sungai lainnya. Saluran drainase primer
mengikuti jalan utama (arteri primer, arteri sekunder dan kolektor primer),
sedangkan saluran drainase sekunder mengikuti jalan kolektor sekunder dan
jalan lokal, sementara saluran drainase tersier mengikuti jalan lingkungan
permukiman penduduk.

4.5.1.4 Isu-isu Strategis dan Permasalahan
Beberapa permasalahan terkait dengan pengembangan system drainase
Kota Lhokseumawe, yang mencakup aspek kelembagaan, teknis operasional,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-50

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pembangunan saluran, aspek peraturan perundang-undangan dan peran serta
masyarakat meliputi antara lain:
1. Pada ruas saluran drainase terjadi luapan pada musim hujan karena kapasitas
saluran tidak terpenuhi;
2. Tidak berfungsinya dengan baik beberapa saluran drainase akibat genangan;
3. Pada beberapa wilayah tidak ada gorong-gorong untuk saluran sekinder dan
tersier tidak terawatt, adanya bangunan diatas saluran dan penutupan saluran
untuk pertokoan;
4. Tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat yang belum maksimal
dilibatkan untuk bersama-sama melakukan pemeliharaan atas saluran
drainase yang ada;
5. Kendala dan permasalahan lainnya terkait dengan keterbatasan anggaran
yang mampu disediakan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe untuk
mempercepat peningkatan dan pemeliharaan saluran drainase sehingga dapat
menurunkan tingkat genangan yang muncul pada saat musim hujan.
4.5.1.5 Kebijakan, Program dan Kegiatan Pengelolaan Drainase Dalam
Rencana Kabupaten/Kota

Pembangunan rencana sistem drainase saat ini antara lain belum
memadainya jaringan drainase baik dalam jumlah maupun kapasitas. Sistem
drainase eksisting baru mencakup sebagian kecil dari daerah pelayanan dan
sebagian besar berada di daerah pusat-pusat kegiatan saja. Dapat dikatakan
banyak terdapat fungsi saluran drainase yang masih digunakan bersama-sama
dengan sistem penyaluran air limbah baik domestik maupun industri (sistem
tercampur) sehingga terjadi penurunan kapasitas aliran pada saat musim hujan.
Rencana pengembangan prasarana drainase disesuaikan dengan tingkat
perkembangan kawasan terbangun dan prasarana jalannya serta terintegrasi
dengan pengendalian banjir dan program perbaikan jalan.
Perencanaan sistem drainase di Kota Lhokseumawe meliputi pembuatan
sistem saluran primer, sekunder, dan tersier (kawasan permukiman), rehabilitasi
saluran yang kondisinya buruk, pemasangan pompa dan pemasangan pintu-

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-51

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pintu air . Saluran pembuangan air yang direncanakan adalah Krueng Cunda
dan Krueng Meuraksa serta alur-alur sungai lainnya. Saluran drainase primer
mengikuti jalan utama (arteri primer, arteri sekunder dan kolektor primer),
sedangkan saluran drainase sekunder mengikuti jalan kolektor sekunder dan
jalan lokal, sementara saluran drainase tersier mengikuti jalan lingkungan
permukiman penduduk.

4.5.2 Profil Drainase
Pada sub bab profil drainase ini akan dideskripsikan tentang gambaran
umum kondisi drainase yang ada baik dari aspek teknis, kelembagaan, aspek
pendanaan, aspek hukum serta peran serta masyarakat.
4.5.2.1 Gambaran Umum Kondisi Drainase Saat Ini
Sistem drainase yang direncanakan adalah sistem saluran terbuka dan
tertutup. Untuk mengatasi masalah banjir dan genangan di kawasan pusat kota
dan permukiman disekitarnya, telah dibuat reservoir di teluk pusong yang
digunakan sebagai kolam penampungan air sebelum dialirkan ke laut. Reservoir
ini dibuat dengan kedalaman 1 meter dibawah permukaan air laut sehingga air
limpasan dari kota dapat mengalir ke reservoir. Saluran primer akan langsung
terhubung dengan reservoir teluk pusong. Untuk saluran sekunder perlu
direncanakan ulang secara keseluruhan agar dapat terkoneksi dengan saluran
primer yang telah dibuat.
4.5.2.2 Aspek Teknis
Sarana drainase yang ada di Kota Lhokseumawe lebih banyak mengikuti
pola dan drainase jalan, khususnya di kawasan pusat kota. Kontruksi saluran
dibuat dari pasangan bata dan beton, sedangkan dibagian pinggiran lebih
banyak dalam bentuk saluran tanah.
Menurut survey yang pernah dilakukan, terdapat sekitar 106 km saluran
drainase di Kota Lhokseumawe, 37,2 km diantaranya adalah saluran primer dan
sekunder, 69,1 km berupa saluran tersier, sebagian besar saluran sudah
berdinding pasangan/ beton dengan variasi kondisi. Sebagian besar saluran

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-52

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
primer merupakan saluran buatan, karena tidak ada sungai yang mengalir di
Kota Lhokseumawe.
Kondisi drainase saat ini, masih menggunakan sistem gravitasi dan
pompa, dimana pada kondisi pasang, kelebihan air hujan dibuang dengan
menggunakan pompa. Terdapat 3 sistem pompa masing-masing ada di 3 stasiun
pompa (Tando 1, Tando 2 dan Tando 3). Tetapi mulai tahun 2011 sistem pompa
akan ditiadakan dengan telah dibangunnya reservoir seluas 60 Ha yang akan
mampu menampung banjir akibat hujan.
4.5.2.3 Aspek Kelembagaan
Dinas yang terkait dengan pengelolaan drainase adalah Dinas Pekerjaan
Umum dan Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK).

4.5.2.4 Aspek Pendanaan
Untuk pembiayaan dan pengelolaan drainase Kota Lhokseumawe selama
ini bersumber pada pendanaan yang bersumber dari dari dana APBN murni,
APBA Provinsi Aceh dan APBK Kota Lhokseumawe.
4.5.2.5 Aspek Peraturan Perundangan
Undang-Undang Republik Indonesia:
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang
Perumahan dan Pemukiman.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia:
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 Tentang
Pengaturan Air.
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 Tentang
Sungai.
Keputusan Menteri Republik Indonesia:
- Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor
35/ MENLH/ 7/ 1995 tentang Program Kali Bersih.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-53

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.5.2.6 Aspek Peran Serta Masyarakat
Secara keseluruhan dapat kita katakan bahwa masyarakat kurang peduli
terhadap pengelolaan drainase lingkungan. Perilaku masyarakat yang dapat kita
amati di wilayah Kota Lhokseumawe adalah masyarakat masih menggunakan
drainase sebagai saluran pembuangan sampah. Akibatnya selalu terjadi
penyumbatan saluran drainase lingkungan. Kecenderungan yang lainnya adalah
sering kali badan drainase digunakan sebagai tempat usaha masyarakat.
4.5.3 Permasalahan Yang Dihadapi
4.5.3.1 Permasalahan Sistem Drainase Yang Ada
Beberpa permasalahan terkait dengan pengembangan sistem drainase
Kota Lhokseumawe meliputi:
1. Kondisi dan lokasi genangan di wilayah Kota Lhokseumawe pada umumnya
terjadi pada bulan Oktober, November dan Desember;
2. Beberapa ruas saluran drainase terjadi luapan pada musin hujan karena
kapasitas saluran tidak terpenuhi;
3. Tidak berfungsinya dengan baik beberapa saluran drainase akibat genangan;
4. Pada beberpa wilayah tidak adanya gorong-gorong untuk saluran sekunder
dan adanya saluran sekunder dan tersier tidak terawatt, adanya saluran di
atas saluran, dan penutupan saluran untuk akses pertokoan, endapan dan
sampah;
5. Tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat yang belum maksimal
dilibatkan untuk sama-sama melakukan pemeliharaan atas saluran drainase
yang ada;
6. Kendala dan permasalahan lainnya terkait dengan keterbatasan anggaran
yang mampu disediakan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe.
4.5.3.2 Sasaran Drainase
Sasaran yang ingin dicapai untuk meningkatkan pengelolaan drainase
antara lain:

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-54

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
1. Mengoptimalkan saluran utama (primer) dengan mengembalikan kapasitas
saluran dengan melakukan pemeliharaan, penggalian/ pendalaman pada
beberapa ruas.
2. Mengurangi genangan air pada saat musim hujan dan mewujudkan
KotaLhokseumawe bebas banjir.
4.5.3.3 Rumusan Masalah
Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan drainase kota adalah
faktor kelerengan wilayah yang relatif datar dan adanya penurunan permukaan
tanah yang terjadi signifikan setiap tahun, sehingga memperlambat proses
pengeringan air hujan yang dialirkan.
4.5.4 Analisa Permasalahan dan Rekomendasi
4.5.4.1 Analisa Kebutuhan
Analisa kebutuhan jaringan drainase yang akan datang adalah
meningkatkan kondisi fisik jaringan drainase yang ada serta mengembangkan
jaringan drainase pada setiap pust pemukiman yang belum memiliki jaringan
drainase.

4.5.4.2 Analisa Sistem Drainase
Dalam rangka pengembangan dan penataan kawasan permukiman dan
peningkatan taraf hidup masyarakat di Kota Lhokseumawe, penanganan
drainase merupakan salah satu prioritas yang perlu mendapatkan penanganan.
Karena gangguan dan kerugian akan masalah banjir dan genangan telah
mengakibatkan dampak penurunan kondisi sosial ekonomi masyarakat,
kerusakan lingkungan pemukiman dan sektor-sektor ekonomi yang potensial.

4.5.4.3 Analisa Jaringan Drainase
Jaringan drainase terus diupayakan peningkatan dan pemeliharaan
saluran yang telah ada sehingga lebih optimal fungsi seluruh jaringan drainase
baik primer, sekunder dan tersier terintegrasi dengan baik.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-55

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.5.4.4 Analisa Ekonomi
Dalam pengelolaan sistem drainase analisis ekonomi perlu dilakukan
dengan memperhatikan pengaruh langsung dan tidak langsung, biaya
pembangunan dan biaya operasi dan pemeliharaan.
a. manfaat proyek dihitung dari pengaruh langsung dan tidak langsung;
b. biaya proyek dihitung dari biaya pembangunan dan biaya operasi dan
pemeliharaan;
c. Pengaruh langsung terdiri dari:
1. pengurangan biaya untuk pembuatan dan perbaikan sistem drainase yang
rusak;
2. pengurangan biaya untuk pembuatan dan perbaikan prasarana dan sarana
kota lainnya yang rusak;
3. pengurangan biaya untuk pembuatan dan perbaikan bangunan dan
rumah-rumah yang rusak;
4. pengurangan biaya penanggulangan akibat genangan;
5. biaya harga tanah.
d. Pengaruh tidak langsung terdiri dari:
1. pengurangan biaya sosial akibat bencana banjir, seperti: kesehatan,
pendidikan dan lingkungan;
2. pengurangan biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat akibat
banjir, seperti: produktifitas, perdagangan, jasa pelayanan;
3. kenaikan harga tanah.
e. Usulan biaya pembangunan terdiri dari:
1. biaya dasar konstruksi untuk pekerjaan baru maupun perbaikan;
2. biaya pembebasan tanah;
3. biaya pembuatan rencana teknik dan pengawasan;
4. biaya administrasi;
5. biaya pajak;
6. biaya tidak terduga yang tidak lebih dari 10% biaya konstruksi.
f. biaya operasi dan pemeliharaan meliputi:
1. peralatan;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-56

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2. upah;
3. material;
4. adminitrasi dan umum;
5. penyusutan.

g. kriteria kelayakan ekonomi dan keuangan
1. Net Present Value (NPV) >0;
2. Economic Internal Rateof Return (EIRR) >tingkat bunga berlaku;
3. Benefit Cost Ratio >1.
4.5.4.5 Alternatif Penyelesaian Masalah
Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan drainase kota salah satu
alternatif yang bisa diterapkan adalah dengan sistem mekanis (pompanisasi) da
dengan menerapkan sistem biopori untuk menghindari adanya genangan karena
penyerapan air akan lebih bagus. Air di daerah genangan di pompa menuju
saluran sekunder/ saluran primer.
4.5.4.6 Rekomendasi
1. Sistem Jaringan Makro
Sistem ini merupakan suatu jaringan drainase antara saluran utama/ induk
yang berfungsi mengumpulkan alirn-aliran dari sistem drainase mikro dan
mengalirkannya ke sungai atau ke reservoir.
2. Sistem Jaringan Mikro
Dalam sistem jaringan mikro, kontinuitas salurannya dihubungkan oleh
saluran sekunder yang menginduk ke saluran primer.
3. Sistem Mekanis (pompanisasi)

4.5.5 Sistem Drainase Yang Diusulkan
Sistem pembuangan air dan gorong-gorong kota adalah hal yang harus
diperhatikan pada saat hujan/ volume air dalam kota sedang tinggi, dengan
sistem pembuangan air dan gorong-gorong yang baik maka banjir dalam kota
dapat dihindari. Akan tetapi, semuanya hanya dapat di realisasikan apabila ada

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-57

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
kerjasama antara pemerintah sebagai pembuatan kebijakan dan warga sebagai
pelaksana kebijakan.
Dalam merencanakan pengelolaan sistem drainase perkotaan ada
kriteria-kriteria dan anlisis-analisis yang harus dilakukan baik secara teknis
maupun non teknis.

4.5.5.1 Usulan dan Prioritas Program
Usulan dan Prioritas Program yang diusulkan pada tahun 2013 adalah:
1. Pembangunan Drainase Primer Sp. Besi Tua - Tando 4 Kota Lhokseumawe;
2. Pembangunan Drainase Jl. Tgk. Chik Di Tiro Kota Lhokseumawe;
3. Pembangunan Tando 4 Kota Lhokseumawe;
4. Supervisi Pembangunan Drainase Kota Lhokseumawe.

4.5.5.2 Usulan dan Prioritas Proyek Penyediaan Drainase
Prioritas dalam pengelolaan dan peningkatan drainase Kota
Lhokseumawe yang harus diperhatikan antara lain Perbaikan drainase,
Penigkatan kualitas drainase, pengelolaan drainase dengan sistem yang baik,
sistem drainase yang dapat mengelola banjir, sistem drainase yang sehat,
menghilangkan kekumuhan sistem drainase perkotaan.

4.5.5.3 Pembiayaan Proyek Penyediaan Drainase
Pembiayaan pengelolaan sistem drainase Kota Lhokseumawe dilakukan
dengan sumber pendanaan dari APBK, APBA dan APBN dengan persentase
pendanaan yang ditentukan dan disepakati antara pemerintah Kota
Lhokseumawe, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.

4.6 Rencana Investasi Pengembangan Air Minum
4.6.1 Petunjuk Umum
Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan,
tumbuhan dan jasad-jasad lain. Air yang kita perlukan adalah air yang
memenuhi persyaratan kesehatan baik persyaratan fisik, kimia, bakteriologis dan
radioaktif. Air yang tidak tercemar, didefinisikan sebagai air yang tidak

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-58

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi batas yang
ditetapkan sehingga air tersebut dapat dipergunakan secara normal. Air yang
memenuhi syarat, diharapkan dampak negatif penularan penyakit melalui air
bisa diturunkan.
4.6.2 Gambaran Kondisi Pelayanan Air Minum
Pelayanan Air minum Kota Lhokseumawe di layani oleh Perusahaan
Daerah Air Minum Tirta Mon Pase Kabupaten Aceh Utara yang melayani
kebutuhan air minum masyarakat Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh
Utara. Untuk saat ini Kota Lhokseumawe sudah memiliki perusahaan
pengolahan air minum sendiri yaitu PDAM Ie Beusare Rata namun masih dalam
tahap awal belum sampai pada tahap penyaluran jaringan air minum bagi
masyarakat Kota Lhokseumawe.
4.6.2.1 Gambaran Umum Sistem Penyediaan dan Pengelolaan
Jumlah desa dilayani untuk Kota Lhokseumawe sebanyak 68 Desa
dengan 4 kecamatan, terdapat 6962 sambungan aktif. Sedangkan untuk total
meteran yang rusak sebanyak 317 unit untuk ke dua lokasi tersebut. PDAM Tirta
Mon Pase menggunakan sumber air sungai dalam dan sungai dengan sistem
pengolahan IPA, untuk sistem pengaliran sistem air baku menggunakan pompa
dan sistim distribusi menggunakan pompa/ gravitasi. Kapasitas IPA Terpasang
465 Lt/ det, dan kapasitas Pemanfaatan 240 Lt/ det, untuk jam operasi 17 jam 24
hari. Air yang diproduksi sebanyak 624,240 M3/ bln dan air yang terdistribusi
sebanyak 533,034 M3/ bln, 275,431 M3/ det untuk air yang terjual. Berdasarkan
data di PDAM hanya 56% tingkat kehilangan air.
4.6.2.2 Kondisi Sistem Sarana & Prasarana Penyediaan & Pengelolaan Air Minum

4.6.2.2.1 Sistem Non Perpipaan
Masyarakat Kota Lhokseumawe selain menggunakan air dari sistem
perpiaan PDAM juga maasih dominan menggunakan air tanah (sumur) untuk
kebutuhan air minum dan air minum.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-59

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.6.2.2.1.1 Aspek Teknis
Secara teknis pemeuhan kebutuhan air minum bagi masyarakat melalui
sistem non perpipaan menggunakan sumur cincin, sumur bor, ada juga yang
membeli air air dengan jerigen atau tanki dari perusaan penyedia air minum
karena banyak wilayah di Kota Lhokseumawe yang air tanah tanahnya tidak
layak konsumsi.
4.6.2.2.1.2 Aspek Pendanaan
Pemenuhan air dengan sistem pendanaan dilakukan secara mandiri oleh
masyarakat jadi pendanaan dilakukan oleh masing-masing masyarakat yang
membutuhkan kebutuhan air minum.
4.6.2.2.1.3 Aspek Kelembagaan dan Peraturan
Tidak ada kelembagaan dan peraturan secara formal mengenai
pemenuhan air minum dengan sistem non perpipaan karena dilakukan secara
individu oleh masyarakat tanpa ada keterlibatan pemerintah dalam hal ini
sehingga tidak ada peraturan yang mengikat.
4.6.2.2.2 Sistem Perpipaan
Pemenuhan kebutuhan jaringan air minum melalui sistem perpipaan
dilakukan oleh pihak pemerintah masyarakat membayar retribusi kepada pihak
penyedia air minum. Akan tetapi kualitas pelayanan dan kualitas air minum
masih sangat rendah di Kota Lhokseumawe. Pemenuhan kebutuhan air minum
belum bisa dilakukan selama 24 jam dan kualitas kejernihan air belum
memenuhi persyaratan untuk air minum.

4.6.2.2.2.1 Aspek Teknis
Secara teknis air minum dengan sistem perpipaan masih menggunakan
sistem perpipaan dari Kabupaten Aceh Utara. sistem perpipaan yang ada belum
mampu menjangkau seluruh wilayah Kota Lhokseumawe dan belum
menjangkau seluruh lapisan masyarakat.



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-60

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.6.2.2.2.2 Aspek Pendanaan
Pendanaan dilakukan oleh pihak pemerintah Kota Lhokseumawe,
Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.

4.6.2.2.2.3 Aspek Kelembagaan dan Peraturan
Pengelolaan air minum dengan sistem perpipaan Kota Lhokseumawe
dikelola oleh PDAM Tirta Mon Pase dan sekarang beralih pada PDAM Ie
Beusare Rata yang dibentuk pada akhir tahun 2011 lalu.
4.6.3 Permasalahan Yang Dihadapi
4.6.3.1 Sasaran Penyediaan dan Pengelolaan Prasarana dan Sarana (PS) Air
Minum

Sasaran pelayanan air minum diharapkan mampu menjangkau seluruh
lapisan masyarakat di wilayah Kota Lhokseumawe, karena apabila
mengandalkan air tanah untuk kebutuhan air minum dikhawatirkan sudah
tercemar oleh polusi karena kondisi peruntukan lahan yang sudah beragam dan
tingkat kepadatan yang sudah tinggi.

4.6.3.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang dihadapi dalam pemenuhan air minum di Kota
Lhokseumawe antara lain:
1. Belum merata ke seluruh lapisan masyarakat jaringan air minum;
2. Perpipaannya belum menjangkau ke seluruh wilayah Kota Lhokseumawe;
3. Adanya peralihan dari PDAM Tirta Mon Pase ke PDAM Ie Beusare Rata;
4. Kualitas pelayanan dan kualitas air minum belum memenuhi kualitas
kelayakan yang standar;
5. Belum dapat melayani selama 24 jam untuk wilayah yang sudah tersedia
jaringan perpipaan.
4.6.4 Analisa Permasalahan dan Rekomendasi
Permasalahan-permasalahan diatas dapat diatasi apabila perusahaan
penyedia layanan air minum memiliki komitmen yang tinggi untuk memberi

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-61

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pelayanan yang baik bagi masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan air
minum masyarakat. Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan teknis
jaringan air minum.


4.6.4.1 Analisa Kebutuhan Prasarana Air Minum
Kota Lhokseumawe masih membutuhkan pelayanan prasarana air
minum yang memenuhi standar pelayanan minimal (SPM) air minum.
Penambahan jaringan perpipaan dan sambungan rumah masih banyak
dibutuhkan, masih banyak masyarakat yang belum terlayani oleh sambungan
jaringan air minum yang memadai. Pemenuhan kebutuhan air minum tidak
hanya sekedar memperhatikan kuantitas tetapi kualitas air minum yang harus
diperhatikan selain itu faktor intensitas pelayanan harus mampu melayani
kebutuhan selama 24 jam, karena air minum adalah kebutuhan yang sangat
mendesak bagi kehidupan masyarakat.

4.6.4.1.1 Analisis Kondisi Pelayanan
Kondisi pelayanan air minum yang ada di Kota Lhokseumawe untuk saat
ini belum dapat dijadikan acuan untuk pemenuhan air bersih bagi masyarakat
yang bersumber dari jaringan perpipaan. Pada umumnya pemenuhan air minum
dari jaringan perpipaan hanya sebagai cadangan bagi masyarakat. Selain itu
masyarakat harus memiliki sumur galian cadangan atau membeli air
tanki/ jerigen disebabklan penyaluran dari jaringan perpipaan belum mampu
memenuhi standar pelayanan minimum terutama dilihat dari kualitas dan waktu
pelayanan yang tidak ada jaminan selalu ada.

4.6.4.1.2 Analisis Kebutuhan Air
Kebutuhan air minum dalam suatu kota dihitung berdasarkan jumlah
penduduk dan standar pemenuhan air minum dan pemakaian air perorangan.
Untuk mengetahui pemakaian air domestik untuk negara-negara di Asia
Tenggara Penggunaan Kuantitas (liter/ kapita/ hari) dapat dilihat pada tabel
berikut:


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-62

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel 4.5
Pemakaian Air Domestik untuk Negara-negara di Asia Tenggara
Penggunaan Kuantitas (liter/kapita/hari)

Penggunaan Air Satuan (liter/kapita/hari)
Minum
Memasak
Sanitasi
Mandi
Mencuci piring
Mencuci pakaian
5
3
18
20
15
20
Total (tanpa kehilangan air/ water loss) 81
Sumber: Small community water supplies, IRC, 2002

Tabel 4.6
Tipikal Unit Konsumsi Air untuk Fasilitas Umum
Kategori Kebutuhan Air Jumlah Air

Jenis Penggunaaan Air Satuan
1. Tempat Ibadah
Masjid/ mushola
Gereja
Vihara
Pura

30 lt/ kapita/ hari 200 orang
10 lt/ kapita/ hari 150 orang
10 lt/ kapita/ hari 50 orang
10 lt/ kapita/ hari 50 orang

2. Umum
Terminal
Rumah sakit
Bank
Puskesmas

15 lt/ kapita/ hari 100 orang
250 lt/ kapita/ hari 100 orang
25 lt/ kapita/ hari 50 orang
1000 lt/ kapita/ hari -

3. Komersial
Bioskop
Hotel
Restoran
Toko
Pasar

15 lt/ kapita/ hari 100 orang
90 lt/ kapita/ hari 50 orang
70 lt/ kapita/ hari 100 orang
10 lt/ kapita/ hari 20 orang
1000 lt/ kapita/ hari
4. Institusional
Kantor
LP
Industri

30 lt/ kapita/ hari -
50 lt/ kapita/ hari 100 orang
4000 lt/ kapita/ hari -

Sumber: Ir. Sarwoto MSc, Penyediaan Air Bersih volume 1
Diperkirakan rata-rata penggunaan air untuk fasilitas umum sekitar 10%-
15% dari penggunaan air untuk satu rumah tangga. Estimasi ini hanya dapat
digunakan untuk preliminary design dan merupakan estimasi secara kasar.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-63

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Untuk perencanaan lebih lanjut (final design) perhitungannya harus memakai
data yang lebih lengkap dengan memperhatikan kondisi lokal (Smet Jo, 2002).
Kebutuhan air bersih domestik merupakan jumlah dari kebutuhan air
rumah tangga penduduk, kebutuhan air untuk fasilitas umum, hidrant, dan
kebocoran. Untuk mendapatkan kebutuhan air rumah tangga penduduk, dipakai
perhitungan sebagai berikut:
Tabel 4.7
Kebutuhan Air Kota Lhokseumawe Tahun 2010

Kebutuhan Air Kuantitas
Kebutuhan Air
Minum Kota
Lhokseumawe
(ltr/kapita/hari)
Kebutuhan air
rumah tangga
=300 liter/ rumah tangga/ hari
Diasumsikan
dalam satu rumah
tangga terdiri dari
5(lima) anggota,
sehingga
kebutuhan air
rumah tangga
=300 / 5 =60 liter/ kapita/ hari.
=jml penduduk*
60/ ltr/ kapita/ hr
=debit (l/ hari)
10,269,780

Kebutuhan air
untuk fasilitas
umum
=10% x kebutuhan air rumah
tangga
=debit (l/ hari)
102,697,800
Kebutuhan air
untuk kebocoran
=1,5% x kebutuhan air rumah
tangga
=debit (l/ hari
154,046,7
Kebutuhan air
untuk hidran
=20% x kebutuhan air rumah
tangga
= debit (l/ hari)
2,053,956
Kebutuhan air
Total
=Kebutuhan air rumah tangga
+fasilitas umum +kebocoran
+hidran
=debit (l/ hari)
115,175,582,7

Sumber: Hasil Analisis 2012
Berdasarkan standar kebutuhan air di atas, kebutuhan air Kota
Lhokseumawe untuk komposisi penduduk tahun 2010 adalah 171,163 dengan
jumlah rumah tangga 388,673. Dari tabel diatas terdapat rincian kebutuhan air
minum berdasarkan peruntukan menurut standar, total kebutuhan air minum

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-64

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tahun 2010 adalah 115,175,582,7 ltr/ kapita/ hari. Kapasitas pemenuhan air
minum yang sudah mampu diselenggarakan oleh perusahaan air minum melalui
jaringan perpipaan untuk Kota Lhokseumawe adalah seperti terlihat pada tabel
berikut.
Tabel 4.8
Tingkat Pelayanan PDAM Di Kota Lhokseumawe

No URAIAN Th 2008 Th 2009 Th 2010
1 Jumlah Penduduk (Jiwa) 158.760 159.239 171.163
2 Penduduk yg menikmati air (jiwa) 40.194 40.494 41.352
Persentase (%) 25,32 25,43 24,16
3 Jumlah Pelanggan (sambungan) 6.699 6.749 6.892
Sumber : PDAM Tirta Mon Pase, Tahun 2010
: BPS TAHUN 2008 (Angka tahun 2010 adalah angka perkiraan)

Dari tabel diatas menunjukkan penduduk yang menikmati air bersih
adalah 41,352 untuk tahun 2010. Jumlah rumah tangga yang sudah menikmati
sambungan jaringan air minum 6,042 dari 388,673 jumlah rumah tangga.

4.6.4.2 Analisis Sistem Prasarana dan Sarana Air Minum
Sistem sarana dan prasarana air minum ditinjau mengenai sistem yang
sudah ada baik dari unit air baku, transmisi, produksi dan distribusi. Sistem
sarana dan yang diperlukan dalam pengelolaan air minum harus mampu
memenuhi kebutuhan untuk keperluan dalam pemilihan sumber air baku,
pengukuran debit (kuantitas), pengukuran kualitas air sungai, dan dalam
penghitungan kriteria desain
Minimnya sarana dan prasarana pengolahan air minum pada Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM berimbas pada pelayanan kepada pelanggan. Dari
belasan instalasi pengolahan air minum, lebih dari separuhnya sudah aus
termakan usia hingga tidak maksimal dalam melakukan pengolahan air.
Banyak peralatan yang usianya sudah tua, bahkan kebanyakan sarana
beberapa kondisinya sudah tidak layak untuk digunakan, seperti halnya pipa
induk. Tidak layaknya lagi sarana dan prasarana yang ada tentu saja berimbas
pada jumlah debit air yang keluar, kejernihan air, dan banyaknya kasus pipa

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-65

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
bocor. Hal ini tentunya ini menghambat optimalisasi pelayanan kami terhadap
pelanggan. Minimnya anggaran membuat revitalisasi atau peremajaan alat-alat
yang tidak layak pakai menjadi tersendat.

4.6.4.3 Analisis Kebutuhan Program
Kebutuhan program untuk penyediaan air minum adalah program-
program yang dapat meningkatkan penyediaan air minum bagi masyarakat Kota
Lhokseumawe. Kebutuhan program untuk meningkatkan pelayanan air minum
bagi masyarakat Kota Lhokseumawe adalah:
1. Pembangunan dan peningkatan Kapasitas IPA 60 liter/ detik Kota
Lhokseumawe Gp. Blang Panyang Kec. Muara Satu;
2. Penambahan jaringan distribusi air minum;
3. Instalasi sambungan rumah;
4. Pengadaan dan Pemasangan Pipa Transmisi Air Baku diameter 250 mm,
lengkap asesoris.
4.6.4.4 Rekomendasi
1. Pemerintah daerah berperan sebagai penyedia sarana air bersih perdesaan,
dan fasilitator pembentukan organisasi pengelola masyarakat serta
melakukan pembinaan berkala sistem penyediaan air minum;
2. Diperlukan regulasi yang mengatur tanggung jawab dan peran PDAM dalam
pemenuhan air minum;
3. Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi kualitas, kuantitas dan kontinuitas
air secara periodik oleh pemerintah daerah;
4. Pengembangan konsep paradigma air memiliki nilai ekonomi, dilakukan
dengan menerapkan tarif air bagi pelanggan;
5. Pengukuran pemakaian air menggunakan meter air pelanggan, baik meter air
individual maupun komunal.
4.6.5 Sistem Prasarana Yang Diusulkan
Sistem prasarana yang dibutuhkan meliputi sistem prasarana perpipaan
dan non perpipaan.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-66

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.6.5.1 Sistem Non Perpipaan
Untuk Kota Lhokseumawe pada umumnya penyediaan air minum sistem
non perpipaan menggunakan sumur cincin/ bor. Kota Lhokseumawe terdiri
ataas 4 kecamatan, untuk Kecamatan Banda Sakti kondisi air tanah
penggunaannya harus lebih berhati-hati karena sudah banyak tercemari dengan
kondisi permukiman yang padat. Kondisi dasar air tanah di Kecamatan Banda
Sakti hanya dibeberapa wilayah saja yang layak konsumsi selebihnya hanya bisa
digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

4.6.5.2 Sistem Perpipaan
Pemenuhan air minum melalui sistem perpipaan harus memperhatikan:
1. Kapasitas sistem
2. Sumber air minum
Kapasitas sumber air;
Kapasitas yang diambil;
Jarak unit produksi dari daerah pelayanan;
Sistem pengambilan.
4.6.5.3 Usulan dan Prioritas Program
1. Priorioris
Pemanfaatan kapasitas produksi tidak terpakai berupa perluasan jaringan
distribusi, sambungan rumah dan hidran umum;
Optimalisasi;
Pengurangan kebocoran teknis dan non teknis;
Peningkatan kapasitas yang ada;
2. Usulan
Pengadaan dan pemasangan;
Konstruksi;
O & M.



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-67

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.6.5.4 Usulan dan Prioritas Proyek Penyediaan Pengelolaan Air Minum
Rendahnya peningkatan persentase cakupan pelayanan di Indonesia
sampai saat ini (khususnya sistem perpipaan) harus dipandang sebagai bentuk
kualitas dari aspek-aspek yang melingkupi pengelolaan air bersih itu sendiri,
yang terdiri dari:
1. Aspek teknis
Dari sudut aspek teknis, kendala yang dihadapi antara lain rendahnya
cakupan pelayanan dipengaruhi oleh operasi dan pemeliharaan sarana
prasarana air bersih yang tidak sesuai standard, sumber air baku yang
terbatas, jam operasi yang terbatas, dan tingkat kehilangan air yang masih
tinggi.
2. Aspek keuangan
Dari sudut aspek keuangan, kendala yang dihadapi antara lain tarif yang
berlaku belum mencapai cost recovery, bahkan untuk mengcover biaya operasi
dan pemeliharaan yang sesuai kebutuhan/ standard saja, mengalami
kesulitan.
3. Aspek kelembagaan
Dari aspek kelembagaan, kendala yang dihadapi antara lain rendahnya
kualitas dan kapabilitas manajemen dan SDM pengelola. penduduk perkotaan
yang mendapat pelayanan baru mencapai 39% (Penyediaan Air Bersih di
Indonesia, Dirjen Kodes, dalam Memorandum Nasional Action Plan,
Kimpraswil 2004) sedang untuk penduduk perdesaan baru mencapai 8%.
(Survey Ekonomi Nasional Depkes 2001, dalam Memorandum Nasional
Action Plan, Kimpraswil 2004).
4. Aspek legal dan peran serta masyarakat/ swasta
Kendala yang dihadapi pada aspek legal dan peran serta masyarakat saling
berkaitan yaitu masih lemahnya kebijakan yang mampu mendukung
pengelolaan air bersih yang partisipatif dan berkesinambungan dan masih
banyaknya masyarakat yang mengunakan air non pipa (non PDAM) sebagai
subtitusi air bersih PDAM.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 IV-68

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
4.6.5.5 Pembiayaan Proyek Penyediaan Pengelolaan
Pembiayaan dan pengelolaan dilakukan dari pihak Pemerintah Kota
Lhokseumawe, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.























http://www.bappedalhokseumawe.web.id
Bappeda Kota Lhokseumawe
BAB V

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-1

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017




SAFEGUARD SOSIAL
DAN LINGKUNGAN

5.1. Petunjuk Umum
Sumber daya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat
dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidupnya. Dengan
demikian sumber daya alam memiliki peran ganda, yaitu sebagai modal
pertumbuhan ekonomi (resource based economy) dan sekaligus sebagai penopang
sistem kehidupan (life support system). Hingga saat ini, sumber daya alam sangat
berperan sebagai tulang punggung perekonomian. Namun di lain pihak,
kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada pertumbuhan jangka pendek telah
memicu pola produksi dan konsumsi yang agresif, eksploitatif dan ekspansif
sehingga daya dukung dan fungsi lingkungan hidupnya semakin menurun,
bahkan mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan.
Penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable
development) di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat utama untuk
diinternalisasikan ke dalam kebijakan dan peraturan perundangan, terutama
dalam mendorong investasi pembangunan jangka menengah (2004-2009).
Prinsip-prinsip tersebut saling sinergis dan melengkapi dengan pengembangan
tata pemerintahan yang baik (good governance) yang mendasarkan pada asas
partisipasi, transparansi dan akuntabilitas yang mendorong upaya perbaikan
pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Peranan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam perumusan
kebijakan pengelolaan sumber daya alam terutama dalam rangka perlindungan
dari bencana ekologis. Sejalan dengan otonomi daerah, kontrol masyarakat
dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup
BAB V

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-2

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
merupakan hal yang penting. Dengan demikian hak dan kewajiban masyarakat
untuk memanfaatkan dan memelihara keberlanjutan sumber daya alam dan
lingkungan harus dapat dioptimalkan. Kesalahan dalam pengelolaan dapat
berpotensi mempercepat terjadinya kerusakan sumber daya alam, termasuk
kerusakan hutan lindung, pencemaran udara, hilangnya keanekaragaman hayati,
kerusakan konservasi alam dan sebagainya.
Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri perlu
dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak tempat
yang antara lain berupa pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak
memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang
tidak aman bagi lingkungan, kegiatan pertanian, penangkapan ikan dan
eksploitasi hutan lindung yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung
lingkungan.
Menjaga dan melestarikan lingkungan adalah sudah menjadi tugas dan
tanggung jawab bersama manusia sebagai makhluk yang berperan paling besar
dalam lingkungan, namun perlu dibarengi dengan sikap pengendalian,
pengawasan, pemulihan dan pengembangan.
Kegiatan tersebut adalah bagian dari upaya bagaiimana kita mengelola
lingkungan yang dilakukan secara bertahap, terpadu dan konsisten. Tindakan
dalam melakukaan perencanaan (planning), agar tujuan yang hendak dicapai
sesuai dengan apa yang diinginkan.

5.1.1 Prinsip Dasar Safeguard
Kota Lhokseumawe peserta program, semua pihak terkait wajib
memahami, menyepakati dan melaksanakan dengan baik dan konsisten
kerangka Safeguard Lingkungan dan Sosial. Para Walikota/ Bupati/ Gubernur
secara formal perlu menyepakati isi kerangka Safeguard Lingkungan dan Sosial
yang disusun. Disamping itu kerangka safeguard juga perlu disepakati dan
dilaksanakan bersama oleh stakeholder Provinsi/ Kabupaten/ Kota yang
bersangkutan, tidak hanya dari kalangan pemerintah daerah saja, namun juga
dari DPRD, LSM, Perguruan Tinggi dan warga kota lainnya.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-3

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Agar pelaksanaan kerangka safeguard dapat dilakukan secara lebih efektif,
diperlukan penguatan kapasitas lembaga pelaksana. Fokus penguatan kapasitas
mencakup kemampuan fasilitasi, penciptaan arena multi-stakeholde dan
pengetahuan teknis dari pihak-pihak terkait.
Kerangka safeguard harus dirancang sesederhana mungkin, mudah
dimengerti, jelas kaitannya dengan tahap-tahap investasi dan dapat dijalankan
sesuai prinsip dalam kerangka proyek.
Prinsip utama safeguard adalah untuk menjamin bahwa program investasi
infrastruktur tidak membiayai investasi apapun yang dapat mengakibatkan
dampak negatif yang serius yang tidak dapat diperbaiki/ dipulihkan. Apabila
terjadi dampak negatif maka perlu dipastikan adanya upaya mitigasi yang dapat
meminimalkan dampak negatif tersebut, baik pada tahap perencanaan,
persiapan maupun tahap pelaksanaannya.
Diharapkan RPIJM tidak membiayai kegiatan investasi yang karena
kondisi lokal tertentu tidak memungkinkan terjadinya konsultasi safeguard
dengan warga yang secara potensial dipengaruhi dampak lingkungan atau
(PAP-Potentially Affected People) warga terasing dan rentan (IVP-Isolated and
Vulnerable People) atau warga yang terkena dampak pemindahan (DP-Displaced
People), secara memadai.
Untuk memastikan bahwa safeguard dilaksanakan dengan baik dan benar,
maka diperlukan tahap-tahap sebagai berikut:
Identifikasi, penyaringan dan pengelompokkan (kategorisasi) dampak;
Studi dan penilaian mengenai tindakan yang perlu dan dapat dilakukan.
Pada saat yang sama, juga perlu diseminasikan dan didiskusikan dampak dan
alternatif rencana tindak penanganannya;
Perumusan dan pelaksanaan rencana tindak;
Pemantauan dan pengkajian terhadap semua proses di atas; dan
Perumusan mekanisme penanganan dan penyelesaian keluhan (complaints)
yang cepat dan efektif.
Setiap keputusan, laporan dan draft perencanaan final yang berkaitan
dengan kerangka safeguard harus dikonsultasikan dan diseminasikan secara luas,

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-4

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
terutama kepada warga yang berpotensi terkena dampak. Warga, terutama yang
terkena dampak, harus mendapat kesempatan untuk ikut mengambil keputusan
dan menyampaikan aspirasi dan atau, keberatannya atas rencana investasi yang
berpotensi dapat menimbulkan dampak negatif atau tidak diinginkan bagi
mereka.
1.1.2 Kerangka Safeguard
Kerangka Pengamanan Lingkungan dan Sosial ini menyediakan kebijakan
dan pedoman umum untuk mencapai tujuan berikut:
Melindungi kesehatan manusia;
Mencegah atau mengkompensasi setiap kehilangan penghidupan;
Mencegah kerusakan lingkungan sebagai akibat dari investasi individu
ataupun dampak kumulatifnya;
Menghindari atau meminimalkan pengadaan tanah non-sukarela dan/ atau
pemindahan penduduk dan menangani dampak pengadaan tanah
tanah/ pemindahan penduduk, jika ada;
Menghindari konflik sesama anggota masyarakat dan memperkuat
keterikatan sosial masyarakat;
Mencegah atau mengkompensasi setiap kehilangan penghidupan dari
hilangnya tanah atau hilangnya akses terhadap sumber daya alam termasuk
yang diakibatkan oleh proyek;
Memulihkan kondisi kehidupan masyarakat terkena dampak.
Prinsip-prinsip lingkungan yang mendasar adalah:
1. Usulan kegiatan harus menghindari atau meminimalkan dampak lingkungan
negatif dan harus mencari desain dan material alternatif untuk
meminimalkan dampak lingkungan negatif;
2. Proposal harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan
menghindari wilayah-wilayah yang dilindungi yang telah ditetapkan oleh
Kementrian Lingkungan;
3. Setiap proposal yang akan memiliki dampak lingkungan harus dilengkapi
dengan rencana pengelolaan lingkungan untuk memitigasi dampak.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-5

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
1.1.3 Pembiayaan
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
menjadi dasar pelaksanaan Otonomi Daerah di Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Perubahan paradigma pengelolaan Otonomi Daerah tidak
terpisahkan terhadap perubahan pengelolaan Keuangan Daerah. Perubahan ini
menjadikan pengelolaan keuangan daerah dapat dijalankan secara tertib,
transparan, akuntabilitas, konsistensi, komparabilitas, akurat, efisien dan efektif.
Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000
menjadi pedoman tentang penganggaran pembangunan di daerah. Perubahan
penganggaran dan pengelolaan daerah dari anggaran berimbang dan dinamis
menjadi anggaran berbasis kinerja. Penganggaran berbasis kinerja lebih
mengutamakan outcome, benefit dan impact, tidak hanya hasil dari suatu kegiatan.
Penyusunan teknis anggaran berbasis kinerja dilaksanakan dengan mengacu
kepada Kepmendagri No.29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan.
Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha
Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Dalam perkembangannya, terjadi perubahan-perubahan lebih
lanjut pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan untuk
penyempurnaan pengelolaan keuangan, seperti Undang-undang Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara, Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara dan Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.

5.2. Komponen Safeguard
5.2.1 Komponen Sosial Ekonomi
Struktur perekonomian Kota Lhokseumawe dengan memasukkan unsur
minyak dan gas pada tahun 2010 didominasi oleh kelompok sekunder yang
terdiri dari sektor industri pengolahan yang memberikan sumbangan terbesar
mencapai 65,20 persen. Sebagian besar nilai tersebut berasal dari industri

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-6

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pengolahan gas. Unsur migas masih didominasi oleh sektor-sektor kelompok
sekunder selama periode 2007-2010, walaupun mempunyai kencenderungan
menurun setiap tahunnya, sedangkan kelompok primer dan tersier mempunyai
kecenderungan meningkat setiap tahunnya.
Kemudian apabila dilihat dari tata guna lahan terbesar di Kota
Lhokseumawe adalah untuk pemukiman seluas 10.877 ha atau sekitar 60,07
persen dari luas yang ada. Kebutuhan lahan yang menonjol adalah untuk usaha
persawahan 3.747 ha atau sekitar 20,69 persen industri 894 ha (4,94), semak dan
hutan belukar 778 ha (4,29%), perkebunan rakyat 749 ha (4,14%) perairan darat
626 ha (3,46%) data selengkapnya penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 5.1
Profil Penggunaan Lahan Kota Lhokseumawe
Menurut Jenis dan Luas
No Jenis Penggunaan Luas (ha) Persentase (%)
1 Pemukiman 10.877 60,07
2 Industri 894 4,94
3 Persawahan 3.747 20,69
4 Pertanian Semusim 308 1,70
5 Perkebunan Rakyat 749 4,14
6 Semak & Hutan Belukar 778 4,29
7 Perairan darat 626 3,46
8 Lain-lain 127 0,70
Jumlah 18.106 100,00
Sumber: PDRB Kota Lhokseumawe 2007-2010
5.2.2 Komponen Sosial Budaya
Suatu sistem sosial pada dasarnya tiada lain adalah suatu sistem daripada
tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi diantara
berbagai individu yang tumbuh dan berkembang tidak secara kebetulan,
melainkan tumbuh dan berkembang di atas standar penilaian umum yang
disepakati bersama oleh para anggota masyarakat. Adapun standar penilaian
umum tersebut adalah ada yang dikenal sebagai norma-norma sosial. Norma-
norma sosial itulah yang sesungguhnya membentuk struktur sosial.
Definisi tentang sistem sosial, yaitu suatu proses interaksi di antara para
pelaku sosial (aktor), yang merupakan struktur sistem sosial adalah struktur

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-7

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
relasi antara para pelaku sebagaimana yang terlibat dalam proses interaksi dan
yang dimaksudkan dengan sistem itu ialah suatu jaringan relasi tersebut, (talcott
persons).
Kondisi sosial budaya masyarakat Kota Lhokseumawe yang heterogen,
bahkan kota ini termasuk sebagai salah satu kota yang paling heterogen
dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat setelah Kota Banda Aceh.
Kendati demikian, tantangan-tantangan tidak dapat dihindari antara lain sebagai
berikut:
a. Kebudayaan dan nilai-nilai tradisi daerah Kota Lhokseumawe yang sudah
mulai hilang dalam kehidupan masyarakat, bahkan banyak dari masyarakat
yang tidak lagi mengerti tentang adat dan budaya Aceh. Hal ini mungkin
disebabkan oleh pengaruh derasnya arus informasi komunikasi yang
bersumber dari budaya Asing yang diserap secara langsung tanpa adanya
filter. Untuk itu perlu ditata kembali proses pembelajaran tentang
pengetahuan adat-istiadat, budaya dan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam
masyarakat Aceh;
b. Mengembangkan nilai-nilai adat budaya daerah serta mengelola
keanekaragaman budaya daerah yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan
daerah;
c. Masih terbatasnya informasi mengenai budaya dan adat istiadat Aceh;
d. Terbendungnya nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan syariat Islam.

5.2.3 Komponen Lingkungan
Pembahasan tentang lingkungan tentunya kita harus mengetahui
pengertian dasar lingkungan, mengapa kita harus peduli terhadap lingkungan
dan berbagai langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki dan
melestarikan lingkungan, namun apa sebenarnya lingkungan itu. Lingkungan
adalah pusat dari semua kehidupan, kehidupan kita dan pengembangan setiap
aktifitas yang berbeda yang tidak semuanya berhubungan dengan lingkungan,
tetapi juga berlangsung dalam tatanan ekonomi bahkan perubahan-perubahan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-8

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
sebagai hasil komponen dalam kerugian yang sangat berpengaruh pada semua
aspek.
Dalam lingkungan kita mempertimbangkan dua tipe dasar komponen
yang berinteraksi satu sama lain karena mereka berada dalam kontak langsung
dengan satu sama lain dan keduanya memodifikasi perilaku mereka sesuai
dengan perubahan dalam simbiosis. Banyak hal yang patut kita ketahui tentang
perencanaan yang mengacu tentang lingkungan pada kawasan perkotaan atau
bisa kita sebutkan rencana pola ruang, rencana pola ruang Kota Lhokseumawe
yaitu:

1. Kawasan Lindung
Kawasan lindung didefinisikan sebagai kawasan yang ditetapkan dengan
fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan yang mencakup sumber
alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna
kepentingan pembangunan berkelanjutan yang bertujuan untuk mencegah
timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup. Kawasan lindung meliputi
kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan dibawahnya,
kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam dan cagar budaya dan
kawasan rawan bencana serta wilayah sepadan pantai, sungai dan rawa.
Kawasan bergambut
Yaitu kawasan yang unsur pembentukan tanahnya sebagian besar
berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang
lama, perlindungan kawasan ini dimaksudkan untuk mengendalikan
hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah
banjir serta melindungi ekosistem yang khas di kawasan bergambut
adalah tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang
terdapat dibagian hulu sungai dan rawa.
Kawasan resapan air
Yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menerapkan
air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer)
yang berguna sebagai sumber air, perlindungan kawasan ini dilakukan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-9

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada
daerah tertentu untuk keperluan penyedian kebutuhan air tanah dan
penanggulangan banjir baik untuk kawasan bawahannya maupun
kawasan yang bersangkutan. Tatanan hidrologi Kota Lhokseumawe
terbagi atas wilayah air tanah dengan produktivitas akuifer, yaitu;
wilayah air tanah dengan akuifer setempat produktif penyebaran luas.
Wilayah ini terdapat di bagian utara menempati pendataran rendah
sampai landau yang tersebar antara Krueng Geukueh Lhokseumawe.
Berdasarkan data pemboran dalam Kota Lhokseumawe, terdapat
akuifer pembawa air yang menunjukkan air berasa tawar pada
kedalaman 85-100,4 m 108-114 m, 115-125 m, 160-166,5 m dan 170-173
m, akuifer yang berasa payau hingga asin terdapat di kedalaman 12,8-
83 m dan 145-151,5 m dibawah rata tanah setempat.
Wilayah air tanah dengan akuifer setempat produktif sedang. Wilayah
ini menempati daerah perbukitan bergelombang kondisi air tanah
berkisar 4,5-11 m dibawah muka tanah setempat dengan debit sumur
diperkirakan lebih kecil dari 5 liter/ detik dan kondisi air tanah dalam
cukup jernih. Wilayah air tanah terdiri dari:
1). Wilayah air tanah dengan akuifer produktif sedang, wilayah ini
menempati daerah perbukitanbergelombang. Kondisi air tanah
umumnya jernih dengan kedalaman dangkal berkisar antara 4-7m
dibawah arata tanah setempat;
2). Wilayah air tanah dengan akuifer setempat produktif, wilayah ini
menempati perbukitan memanjan. Kedalaman air tanah cukup
dalam di bagian puncak, sedangkan dibagian lereng bawah
relative dangkal berkisar 6-10 m dibawah rata tanah berproduktif
kecil;
3). Wilayah air tanah berproduktif kecil, wilayah ini menempati
pendataran bergelombang di bagian barat dengan tanah berkisar
3,5-7 m dibawah rata tanah setempat.



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-10

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
b. Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan perlindungan setempat ini terdiri dari:
a. Sempadan pantai
Yaitu kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat
penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai.
Perlindungan kawasan ini dilakukan untuk melindungi wilayah pantai
dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai.
b. Sempadan sungai
Yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai
buatan/ kanal/ saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat
penting untuk merpertahankan kelestarian fungsi sungai.
c. Kawasan sekitar danau/ waduk
Yaitu kawasan tertentu disekeliling danau/ waduk yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan fungsi danau/ waduk.
Perlindungan kawasan ini dilakukan untuk melindungi danau/ waduk
dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian fungsi
danau/ waduk.
d. Kawasan sekitar mata air
Yaitu kawasan disekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting
untuk mempertahankan fungsi mata air. Perlindungan kawasan ini
dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang
dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya.
Kriteria untuk kawasan sekitar mata air adalah sekurang-kurangnya
dengan radius 200 meter disekitar mata air.

2. Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas
baik dalam bentuk area/ kawasan maupun dalam bentuk area
memanjang/ jalur dimana dalam penggunaanya lebih bersifat terbuka yang
pada dasarnya tanpa bagunan. Ruang terbuka hijau kawasan perkotaan
(RTHKP) adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-11

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial
budaya, ekonomi dan estetika.
RTHKP terbagi dalam kawasan:
a. RTHKP publik atau milik umum yaitu RTHKP yang penyediaan dan
dipergunakan oleh masyarakat umum, seperti taman rekreasi, taman olah
raga, taman kota Taman Pemakan Umum (TPU), jalur hijau jalan, bantaran
rel kereta api, saluran umum tegangan ekstra tinggi (SUTET), bantaran kali
serta hutan kota.
b. RTHKP milik pribadi atau badan hukum yaitu RTHKP yang penyediaan
dan pemelihraannya menjadi tanggungjawab pihak lembaga swasta,
perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan
ruang oleh pemerintah kota, seperti halaman rumah tingga, perkantoran,
tempat ibadah, sekolah atau kampus, hotel, rumah sakit, kawasan
perdagangan (pertokoan, rumah makan), kawasan industri, stasiun,
bandara, pelabuhan dan lahan pertanian.
3. Kawasan RTNH
Kawasan Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH)
Ruang terbuka (open space) untuk perencanaan, adalah meliputi beberapa
macam seperti taman, sungai, jalan umum, air port, bangunan umum, plaza,
greenbelt jalan, pendestrian dan sebagainya. Semuanya terjalin dan
membentuk suatu struktur yang merupakan kerangka pengembangan.
Pengertian daerah tidak boleh dibangun ada dua hal, yaitu:
1. Sebagai daerah cadangan (pembangunan terbatas) yaitu daerah yang
dicadangkan untuk penyediaan fasilitas atau sarana untuk umum seperti
untuk pusat lingkungan, sekolah, masjid, gereja, pasar dan lain-lain.
Bahkan untuk keperluan yang lebih luas lagi seperti air port atau daerah
pengembangan.
2. Sebagai daerah yang dilindungi (preservasi) yaitu daerah yang mutlak tidak
boleh dibangun. Sebagai contoh dalam skala regional adalah daerah
dengan kriteria subur, cagar alam, daerah bencana kritis, potensi rekreasi,
jalur-jalur bersejarah.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-12

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
5.3 Metoda Pendugaan Dampak
Tahap prakiraan dampak merupakan langkah yang dipandang paling
sulit, karena metode atau teknik prakiraan dampak ini sangat tergantung dari
kemajuan tiap ilmu yang digunakan dan penguasaan dari tiap satuan kerja atau
anggota tim dalam bidangnya masing-masing. Masalah lain, prakiraan dampak
suatu aspek tertentu diperhitungkan dan dibahas lebih dari sekedar teoritis
tetapi juga kemungkinan realitasnya.
Prakiraan dampak adalah suatu proses untuk menduga/ memperkirakan
respon atau perubahan suatu parameter lingkungan tertentu akibat adanya
kegiatan tertentu, pada perspektif ruang dan waktu tertentu. Prakiraan
munculnya sesuatu dampak pada hakekatnya merupakan jawaban dari
pertanyaan mengenai besar perubahan yang timbul pada setiap komponen
Lingkungan sebagai akibat dari aktivitas pembangunan (UNEP, 1988). Seperti
telah diterangkan di muka bahwa dampak pada hakekatnya merupakan proses
lebih lanjut yang terjadi setelah ada pengaruh dari suatu kegiatan. Jadi sasaran
memprakirakan atau menduga dampak adalah mencari besar dampak terhadap
setiap komponen. Hal ini di perhitungkan untuk komponen-komponen fisik,
sosial ekonomi budaya dan kesehatan masyarakat. Dampak terhadap
lingkungan biasanya berpengaruh pada kesejahteraan dan atau kesehatan
manusia.
Pendugaan dampak dilakukan terhadap setiap komponen atau parameter
lingkungan. Misalnya air limbah buangan pabrik, akan mempengaruhi kualitas
air dan menimbulkan dampak pada perairan dan akan berdampak pula
terhadap kondisi ekonomi masyarakat nelayan.
Disebutkan bahwa arti dari dampak lingkungan adalah selisih antara
keadaan lingkungan tanpa proyek dengan keadaan lingkungan dengan proyek.
Pendugaan keadaan lingkungan tanpa proyek di masa yang akan datang
dilakukan berdasarkan keadaan lingkungan saat penelitian. Keadaan
lingkungan saat penelitian atau studi disebut sebagai rona lingkungan awal atau
environmental baseline atau environmental setting.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-13

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Pendugaan keadaan lingkungan di masa yang datang ini bukan
pekerjaan mudah. Disamping memerlukan keahlian yang tinggi juga banyak
faktor lingkungan yang harus diketahui karena dalam pendugaan ini harus
memenuhi dinamika dari lingkungan tempat studi. Alat yang dapat membantu
mempermudah pendugaan adalah informasi mengenai sejarah atau
kecenderungan perkembangan lingkungan di daerah atau kawasan tersebut.
Sehingga perlu mengumpulkan data dan informasi keadaan pada kawasan yang
telah ditentukan untuk dilaksankan pembangunan, baik pembangunan fisik
maupun non fisik. Pendugaan untuk jangka waktu makin lama atau makin
panjang akan makin sulit atau makin terbuka lebih banyak kesalahan yang lebih
besar. Makin dekat atau jangka pendek kesalahan akan makin dapat diperkecil.
Untuk keadaan lingkungan yang belum banyak digunakan manusia dan tidak
ada atau sedikit rencana pengubahan lingkungan dimasa-masa yang akan
datang maka pendugaan relatif lebih mudah. Tetapi daerah yang sudah
berkembang dan untuk waktu dekat dan waktu lama sudah banyak rencana
pembangunan lain, maka makin sulit melakukan pendugaan dan makin banyak
memungkinkan membuat kesalahan. Apabila diharapkan pendugaan mendetail
untuk jangka panjang akan tidak mudah, kecuali kalau pendugaannya bersifat
garis besar saja.
Gunakan uraian proyek menurut lokasinya dan pelingkupan sebagai
petunjuk; tentukan data dasar minimum yang diperlakukan; pilih metode yang
sesuai untuk mengumpulkan masing- masing jenis data dasar.
Oleh karena dampak yang diduga ini terjadi pada waktu mendatang
maka harus dipertimbangkan adanya ketidakpastian. Untuk menjamin presisi
pendugaan dampak dan menanggulangi ketidakpastian ini maka perlu diketahui
adanya kesesatan atau kesalahan yang berasal dari bebarapa sumber.
Perlu dikemukakan bahwa dalam pendugaan dampak untuk waktu yang
akan datang maka masalah ketidakpastian patut mendapat perhatian dan
pertimbangan. Masalah ketidakpastian dapat dimasukkan dalam analisis
probabilitas.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-14

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
5.4 Pemilihan Alternatif
Dalam pemilihan sebuah alternatif memerlukan beberapa penjelsan baik
dari segi proses pemilihan alternatif itu sendiri maupun cara penyajiannya secara
sistimatis dan teratur.

5.4.1 Proses Pemilihan Alternatif
Proses pemilihan alternatif dilakukan atas dasar pengembangan isu
strategis pembangunan Kota Lhokseumawe, beberapa isu yang anggap strategis
dalam pengembangan wilayah Kota Lhoksuemawe, antara lain sebagai berikut:
Ketergantungan pemerintah Kota Lhokseumawe terhadap PDAM Tirta Mon
Pase Aceh utara (tidak tersedianya sumber air baku untuk pengolahan air
bersih);
Pemindahan pusat pemerintah Aceh Utara ke Lhoksukon yang selama ini
berada di wilayah pemerintah Kota Lhokseumawe;
Rencana pencetakan sawah baru di Cot Trieng terkendala dengan kondisi
alam dilokasi tersebut yang belum mampu ditangani secara optimal;
Pengolahan reservoir untuk penanganan banjir dan prospek pengembangan
kawasan teluk Pusong sebagai sebagai kawasan pariwisata;
Tidak dimasukkannya sektor pariwisata dalam rancangan RTRW Aceh
sebagai salah satu sektor unggulan yang akan di kembangkan di Kota
Lhokseumawe yang berskala regional Aceh;
Pengembangan TPA terpadu regional model sanitari landfill di Alue Lim
sebagai TPA bersama antara Kota Lhokseumawe dan Aceh utara.

5.4.2 Penyajian Pemilihan Alternatif
Beberapa isu di atas dapat kita jabarkan secara lebih detail yaitu:
a. Perubahan Orientasi Sektor Basis
Sektor industri pengolahan (terutama migas) merupakan sektor basis
utama di Kota Lhokseumawe dengan kontribusi sebesar 78,29% pada
tahun 2004;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-15

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Terjadinya penurunan kontribusi pendapatan daerah dari sektor migas
sehingga terjadi penurunan ekonomi (economic slow down) untuk itu terjadi
perubahan orientasi sektor basis dari migas ke sektor non migas;
Dibutuhkan pengembangan sektor basis lain, misalnya menjadi pusat
pelayanan dan pengolahan bagi komoditas yang dihasilkan wilayah
hiterland (Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bener
Meriah, Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Aceh Timur).
b. Perubahan Fungsi Lahan
Berdasarkan kondisi fisik dasar yang telah dipaparkan sebelumnya terdapat
beberapa hal yang dapat disimpulkan mengenali daya dukung lain di Kota
Lhokseumawe, khususnya dalam menampung dan mendukung aktifitas
masyarakat Kota Lhokseumawe diatasnya. Dari karakteristik topografi dan
geologi tanah, ternyata sebagian besar wilayah ini sangat potensial untuk
dijadikan kawasan budidaya terutama karena daerahnya yang datar, namun
jenis pengembangannya juga disesuaikan dengan jenis tanahnya. Namun
yang perlu diperhatikan adalah letak Kota Lhokseumawe yang berada pada
daerah rawan gempa dan tsunami, sehingga untuk pengembangan dimasa
depan beberapa daerah yang dianggap menjadi titik rawan gempa dan
tsunami. Di wilayah ini perlu direncanakan kawasan konservasi atau
kawasan budidaya yang tidak padat penduduk.
Penggunaan lahan di Kota Lhokseumawe sebagian besar masih didominasi
oleh pengguna lahan non perkotaan. Sedangkan kegiatan perkotaan seperti
pemukiman dan perdagangan jasa terpusat pada Kecamatan Banda Sakti,
sementara kegiatan industri terpusat pada Kecamatan Muara Satu. Guna
lahan budidaya perikanan darat menempati lahan yang cukup luas
disepanjang pesisir Kota Lhokseumawe. Sedangkan daerah pedalamannya
didominasi oleh alang-alang dan belukar, ladang, sawah, serta perkebunan
kelapa sawit yang terutama terpusat di Kecamatan Blang Mangat.
Kecenderungan perubahan penggunaan lahan di masa depan sepertinya tidak
besar, kepadatan penduduk yang rata-rata masih cukup rendah dapat
menyebabkan rendahnya perubahan penggunaan lahan. Beberapa perubahan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-16

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pengguna lahan mungkin terjadi karena pemekaran kawasan industri dan
pemukiman serta kawasan perdagangan/ perekonomian yang relatif kecil.
Perubahan penggunaan lahan lainnya dimungkinkan dari rencana penetapan
kawasan pariwisata. Selanjutnya, upaya memfungsikan kembali lahan
pertanian yang tidak produktif agar bisa difungsikan secara massif dan
berskala besar seperti dilahan pertanian Cot Trieng dan Alue Lim.
Secara administartif daerah rencana percetakan sawah baru di rawa Cot
Trieng terletak di Kecamatan Muara Satu. Lokasi tersebut terdapat di Paya
Cot Trieng dengan luas areal lahan terlantar berupa rawa-rawa 950.45 Ha
areal tersebut secara administrasi kawasan tersebut terbagi kedalam 2 (dua)
daerah administrasi pemerintahan yang di pisahkan oleh sungai krueng
beuregang selanjutnya disebut rawa cot trieng kiri dengan luas areal potensial
433 ha termasuk kedalam Kecamatan Nisam Aceh Utara. Areal tersebut telah
dilakukan kajian oleh bappeda Aceh Utara tahun anggaran 2005, berupa
pekerjaan Survei dan inventaris Lahan terlantar untuk pengembangan areal
pertanian produktif. Kedua, areal Rawa Cot Trieng yang terletak disebelah
kanan sungai Kr. Beuregang dengan luas areal Rawa 517,45 ha dengan luas
lahan potensial 310.24 ha.
Sarana umum kawasan perencanaan ini terletak di Desa Alue Liem
Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe, dengan luas area lahan 125,263
ha yang sebagian besar merupakan lahan tidur dan menjadi lahan terlantar.
Apabila lahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi lahan produktif, akan
dapat meningkatkan income generate yang mendorong kesejahteraan ekonomi
masyarakat setempat. Sehingga dapat mengurangi angka kemiskinan.
Disamping itu juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap PAD
Kota Lhokseumawe secara signifikan.






Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-17

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
5.5 Rencana Pengelolaan Safeguard Sosial dan Lingkungan
5.5.1 Sistem Pengelolaan
Pemerintah Kota Lhokseumawe selalu berupaya meningkatkan
kinerjanya dalam pelaksanaan program-program pembangunan dan
pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup menuju good governance.
Untuk melaksanakan hal tersebut tentu akan ada hambatan dengan
bermacam persoalan, diantaranya benturan sumber pendanaan dan upaya agar
pemerintah Kota Lhokseumawe sebagi fasilitator bisa membangun hubungan
kemitraan yang efektif dengan masyarakat sebagai stakeholder lingkungan serta
memobilasi segala sumber daya yang ada untuk memjalankan program
pembangunan secara berkelanjutan
Rencana strategis peningkatan kualitas lingkungan Kota Lhokseumawe
berisi kebijakan nasional maupun issue dan masalah lingkungan yang selama ini
mendesak untuk ditanggulangi.
Sistem atau strategi untuk tercapainya keserasian lingkungan hidup
didalam penataan dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat yaitu:
a. Mengembangkan program peremajaan kawasan kumuh terutama pada
kawasan Pusong;
b. Mendorong percepatan dan keberlanjutan pembangunan rumah susun
sebagai usaha untuk meremajakan kawasan kumuh;
c. Mengembangkan dan menata sistem drainase Kota Lhokseumawe dengan
memadukan dengan reservoir teluk pusong agar Kota Lhokseumawe bebas
banjir dan bebas genangan;
d. Merevitalisasi kawasan pantai Ujong Blang dan pasar kota secara terpadu
dengan rencana pembangunan jalan lingkar Lhoksumawe dan jembatan
pusong kandang;
e. Mendorong pertumbuhan kawasan pemukiman kepadatan sedang sampai
tinggi dalam upaya efisiensi pemanfaatan ruang;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-18

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
f. Menetapkan control intesitas bangunan dengan ketat dikawasan pusat kota;
g. Mengembangkan RTH di seluruh kawasan dengan tingkat tutupan hijau
(green cover) minimum 30%.

5.5.2 Pelaksanaan Pengelolaan
Pelaksanaan Pengelolaan memiliki beberapa tahap:
1. Pencegahan;
2. Mitigasi;
3. Persiapan;
4. Respon;
5. Penyembuhan dan;
6. Pembangunan.
Semua tahap ini saling terkait sehingga satu tahap tidak akan efektif
tanpa kehadiran yang lainnya. Dengan kata lain, tahap sebelum suatu kejadian
pencegahan, persiapan dan mitigasi sama pentingnya dengan respon,
penyembuhan dan pembangunan kembali.
Sebuah pendekatan terpadu yang meliputi penilaian keragamanhayati,
ekosistem, mata pencaharian dan nilai ekonomi sangat penting aritnya dalam
memastikan bahwa gambaran secara menyeluruh diperoleh selama
berlangsungnya siklus pengeloaan bencana.
Hanya ketika dilakukan pendekatan secara menyeluruhlah pengurangan
semua jenis kerentanan. Melalui pendekatan terpadu resiko dapat diminimalisir
dalam jangka panjang. Pendekatan yang menyeluruh juga memberikan
kesempatan dalam mengidentifikasi kekurangan-kekurangan dari siklus
pengelolaan bencana. Sebagai tambahan, pendekatan yang terpadu dalam
mengelolaan bencana menuntut keterlibatan dan kolaborasi tidak hanya diantara
sektor lokal tapi juga pada tingkat nasional dan regional, yang mengarah pada
pembangunan yang dilakukan pada tingkat landscap dan menghasilkan
gambaran besar. Ini merupakan pendekatan yang paling efektif.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-19

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Sangat penting artinya mengidentifikasi langkah-langkah yang harus
diikuti pada setiap tahap siklus pengelolaan bencana. Harus ditekankan bahwa
keputusan kebijakan dan tindakan yang diambil selama tahap pencegahan dan
mitigasi memiliki dampak yang besar dan luas pada semua tahap dari
manajemen pasca bencana. Semua keputusan dan tindakan yang diambil setelah
bencana akan di justifikasi berdasarkan infromasi yang dikumpulkan dan
tindakan yang diambil selama fase pra-bencana yakni pencegahan dan mitigasi.
Sehingga, keberhasilan pengelolaan atau menajemen pasca bencana secara
keseluruhan tergantung pada manajemen pra-bencana. Sangat penting artinya
merencanakan dan menerapkan tindakan untuk mengurangi dampak bencana
alam selama tahap pra-bencana untuk meminimalisir dampak setelah bencana.
Hasil akhirnya haruslah menempatkan perlindungan lingkungan pada setiap
tahap siklus pengelolaan bencana, demikian pula dalam pembangunan umum.
5.5.3 Pembiayaan Pengelolaan
Pembiayaan yang akan timbul dalam pengelolaan safeguard dan sosial
lingkungan ini, di masukkan kedalam anggaran belanja kota atau APBK Kota
Lhokseumawe dan sumber- sumber pendanaan lainnya yang bisa di manfaatkan
untuk kegiatan ini.

5.6 Rencana Pemantauan Safeguard Sosial dan Lingkungan
5.6.1 Tipe Pemantauan
Perencanaan suatu proyek, pemerintah sudah seharusnya diadakan studi
Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). PIL merupakan suatu alat pemerintah
untuk memutuskan apakah proyek yang diusulkan ini perlu AMDAL atau tidak.
Dengan mempelajari laporan PIL, pemerintah sebagai pengambil keputusan
menilai apakah proyek yang diusulkan ini potensial menimbulkan dampak yang
besar atau tidak. Kalau dianggap berpotensi besar untuk menimbulkan dampak
terutama yang negatif, maka pengambil keputusan akan mengharuskan pemilik
proyek melakukan AMDAL. Sebaliknya apabila dianggap tidak menimbulkan
dampak yang berarti, maka pemilik proyek tersebut tidak perlu melakukan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-20

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
AMDAL dan dapat mulai membangun proyeknya dengan diberikan pedoman
pengelolaan dan pemantauannya.
Keputusan yang dapat diambil adalah:
Proyek tidak boleh dibangun;
Proyek boleh dibangun sesuai dengan usulan (tanpa persyaratan);
Proyek boleh dibangun, tetapi dengan saran-saran tertentu yang harus diikuti
pemilik proyek (dengan syarat).
Dengan mempelajari AMDAL, pengambil keputusan mencoba melihat:
Apakah akan ada dampak pada kualitas lingkungan hidup yang melampaui
toleransi yang sudah ditetapkan;
Apakah akan menimbulkan dampak pada proyek lain sehingga dapat
menimbulkan pertentangan;
Apakah akan timbul dampak negatif yang tidak akan dapat ditoleransi
masyarakat serta membahayakan keselamatan masyarakat;
Sejauh mana pengaruhnya pada pengaturan lingkungan yang lebih luas. Dan
masih banyak lagi pertimbangan yang akan digunakan dan biasanya tiap
negara mempunyai urutan prioritas di dalam menggunakan pertimbangan.

5.6.2 Prosedur Pemantauan
Kebijakan safeguard lingkungan diterapkan untuk memastikan bahwa
semua kegiatan proyek telah dievaluasi sebelum pelaksanaan dan bahwa
masalah-masalah lingkungan hidup telah diidentifikasi dan ditanggulangi
sebelum pelaksanaan kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak negatif
pada lingkungan hidup. Dampak negatif dapat mencakup: (1) pencemaran udara
oleh kendaraan, (2) banjir jika letak jembatan tidak tepat, (3) makin banyaknya
debu di udara, (4) kebisingan, (5) meningkatnya erosi, dan (6) berpindahnya arus
air hujan.
Evaluasi menggunakan lima metode mitigasi spesifik: (1) seleksi
alignment yang dapat mengurangi kerusakan lingkungan; (2) penggunaan
pekerjaan sipil dan tanaman untuk membatasi dampak negatif; (3) memastikan
perawatan dan perbaikan dilakukan pada waktu yang tepat; (4) penggunaan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-21

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tanaman untuk menstabilkan lereng-lereng dan mencegah erosi; dan (5)
penggunaan perlakuaan khusus, seperti pembuangan air, untuk mengatasi
masalah air tanah.
Dalam hal evaluasi menghasilkan kesimpulan bahwa berdasarkan
potensi hasil-hasilnya suatu kegiatan patut dilakukan, meski mungkin ada
dampak negatifnya, penjelasan ini memberikan garis besar prosedur
pelaksanaan standar yang telah dimasukkan ke dalam untuk memperkecil dan
mengurangi dampak-dampak negatif itu.
Tiga prinsip dasar penyiapan rencana dan kerangka lingkungan hidup
adalah:
1. Usulan menghindarkan atau memperkecil dampak negatif atas lingkungan,
dan untuk setiap usulan digali berbagai alternatif yang dapat dilaksanakan
tanpa dampak negatif atau dengan dampak negatif yang kecil;
2. Sebelum suatu kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak negatif atas
lingkungan yang telah diidentifikasi dapat dilaksanakan setelah tahap
perencanaan, kegiatan tersebut harus dilengkapi dengan rencana untuk
mengurangi dampak negatif bersangkutan;
3. Kegiatan yang diusulkan harus sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang
dan menghindari wilayah-wilayah yang telah ditetapkan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup.

5.6.2 Pelaksanaan Pemantauan
Tujuan umum dilakukan kegiatan ini adalah dalam rangka membuat
analisis dampak sosial terhadap Pelaksanaan Proyek yang dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat sasaran proyek, Pemerintah,
Lembaga Donor dan Pelaksana Proyek dalam melakukan evaluasi kebijakan
selama proyek berjalan. Secara khusus tujuan dari kegiatan ini adalah:
1. Mengidentifikasi dampak penting dari rencana kegiatan pembangunan yang
berpotensi menjadi sumber dampak terhadap lingkungan sosial masyarakat.
Dampak penting yang timbul dapat berupa dampak positif maupun negatif
baik langsung maupun tidak langsung;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 V-22

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2. Mengidentifikasi rona lingkungan sosial terutama yang akan terkena dampak
pada saat pembangunan dilaksanakan. Komponen lingkungan sosial yang
akan diidentifikasi mencakup demografi, sosial ekonomi dan budaya
masyarakat;
3. Mendeskripsikan dan mengukur dampak penting dari kegiatan yang
berpotensi terhadap lingkungan sosial ekonomi dan sosial budaya
masyarakat, baik positif maupun negatif;
4. Menganalisis kemungkinan pencegahan dan atau pengendalian terhadap
dampak yang tidak dikehendaki dan meningkatkan dampak yang
dikehendaki agar masyarakat mendapatkan manfaat dari perubahan yang
terjadi;
5. Memantau pelaksanaan pembangunan (untuk memantau dampak yang nyata
dan terjadi) maupun strategi mitigasinya (untuk menentukan efektivitasnya).



http://www.bappedalhokseumawe.web.id
Bappeda Kota Lhokseumawe
BAB VI

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-1

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017




KEUANGAN DAN
RENCANA PENINGKATAN
PENDAPATAN

6.1. Petunjuk Umum
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dijelaskan bahwa ruang lingkup
keuangan daerah meliputi:
a. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta
melakukan pinjaman;
b. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan
membayar tagihan pihak ketiga;
c. penerimaan daerah;
d. pengeluaran daerah;
e. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat
berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang,
termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan
f. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka
penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/ atau kepentingan umum.
Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang dapat dinilai dengan uang,
termasuk segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
daerah. Penyelenggaraan fungsi Pemerintahan Daerah akan terlaksana secara
optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan
BAB VI

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-2

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah dengan
mengacu pada peraturan perundang-undangan.
Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan
untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan
daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah. Mengingat
bahwa pengelolaan keuangan daerah diwujudkan dalam suatu APBD maka
analisis pengelolaan keuangan daerah dilakukan terhadap APBD dan laporan
keuangan daerah sekurang-kurangnya 5 tahun sebelumnya.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota (APBK) merupakan rencana
pengelolaan keuangan tahunan Pemerintah Daerah yang disetujui oleh DPRK
dalam Qanun. APBK merupakan komitmen politik penyelenggara Pemerintahan
Daerah untuk mendanai strategi pembangunan pada satuan program dan
kegiatan selama kurun waktu 5 tahun.

6.1.1. Komponen Keuangan
6.1.1.1 Komponen Penerimaan Pendapatan
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
penerimaan pendapatan daerah terdiri dari:
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD);
b. Dana Perimbangan, dan
c. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah.

6.1.1.1.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan asli daerah merupakan tolok ukur keberhasilan pelaksanaan
otonomi pada suatu daerah, maka Daerah berkewajiban menggali dan mengelola
sumber-sumber penerimaan daerah agar ketergantungan keuangan daerah pada
subsidi Pusat dapat berkurang.
Pernyataan berotonomi juga ber-otomoney, berarti menunjukkan ketidak-
tergantungan (khususnya dalam hal keuangan) Daerah kepada Pusat dalam
pembangunan daerahnya. Idealnya sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-3

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
mampu menyumbangkan bagian terbesar dari seluruh pendapatan daerah
dibanding sumber pendapatan lainnya seperti subsidi dan bantuan. Dengan
proporsi semacam itu, daerah dapat secara leluasa menjalankan hak otonomnya.
Sebaliknya, terbatasnya sumber PAD dalam membiayai pembangunan di daerah,
menunjukkan rendahnya kemapuan otonominya.
Berkenaan dengan uraian di atas, maka pendapatan asli daerah
dipandang sebagai salah satu unsur yang sangat penting dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan daerah harus tetap dilaksanakan. Oleh karena
itu, sepanjang sumber-sumber keuangan/ pendapatan asli daerahnya belum
cukup dapat memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah, maka
ketergantungan pada subsidi Pemerintah tetap akan ada.
Pendapatan asli daerah sebagaimana ketentuan perundang-undangan
yang berlaku adalah meliputi lima komponen yaitu pajak daerah, restribusi
daerah, zakat, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Dalam struktur APBK Lhokseumawe sumber Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kota Lhokseumawe terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah,
Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-lain Pendapatan Asli
Daerah yang Sah.

A. Pajak Daerah
Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2009 tentang
Pajak dan Retribusi Daerah, Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada
Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Pada Pasal 2 UU No. 28 Tahun 2009, Pemerintah Kabupaten dan Kota
diperkenankan untuk memungut beberapa Objek Pajak Daerah yaitu:
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-4

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
g. Pajak Parkir;
h. Pajak Air Tanah;
i. Pajak Sarang Burung Walet;
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, dan
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Dalam pelaksanaan proses pemungutan pajak daerah di Kota
Lhokseumawe, Pemko Lhokseumawe sudah mengeluarkan aturan daerah
berupa Qanun dan Perkada. Tabel berikut ini menggambarkan jenis dan dasar
hukum pajak daerah Kota Lhokseumawe.

Tabel VI-1
Jenis dan Dasar Hukum Pajak Daerah Kota Lhokseumawe

NO Uraian Dasar Hukum
1 2 3

Pajak Hotel
Qanun No.02 Tahun 2007
1 Hotel Bintang Tiga Sda
2 Hotel Melati Tiga Sda
3 Losmen/ Penginapan/ Hotel/ Rumah Kos
Sda

Pajak Restoran
Qanun No.01 Tahun 2007
4 Restoran Sda
5 Rumah Makan Sda

Pajak Hiburan
6 Keramaian
7 Permainan Anak

Pajak Reklame
Qanun No.03 Tahun 2007
8 Reklame Papan Sda
9 Reklame Kain Sda
10 Reklame Melekat/ Stiker Sda
11 Reklame Selebaran Sda
12 Reklame Berjalan Sda
13 Reklame Bersinar Sda


Pajak Penerangan Jalan
Qanun No.04Tahun 2007

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-5

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
14 Pajak Penerangan Jalan PLN Sda
15 Pajak Penerangan Jalan Non PLN Sda

16 Pajak Pengambilan Bahan Gal.Gol.C
Kep. Walikota No 13 Th. 2009

Pajak Parkir Qanun No. Tahun .
17 Pajak Parkir

Pajak Air Bawah Tanah
18 Pajak Air Bawah Tanah

Pajak Hewan Perkada No 025 Tahun 2005
19 Pajak Potong Hewan
Sumber: Data DPKAD Kota Lhokseumawe, 2011

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat 15 jenis pajak
daerah yang sudah disusun peraturan daerah dan qanunnya, sedangkan untuk 4
jenis lainnya belum mempunyai peraturan. Dengan regulasi yang tidak tersedia,
menjadikan kegiatan pemungutan pajak daerah menjadi tidak maksimal.
Dampak dari tidak adanya regulasi ini akan bermuara pada pencapaian target
pendapatan yang tidak maksimal.
Selanjutnya Target dan Realisasi Pajak Daerah di Kota Lhokseumawe
selama kurun waktu Tahun 2007 s/ d 2011 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel VI-2
Target dan Realisasi Pajak Daerah Kota Lhokseumawe Th. 2007- 2011
NO. TAHUN TARGET (Rp) REALISASI (Rp) REALISASI ( % )
1 2 3 4 5 = 4/3
1 2007 13.319.663.371 14.149.458.908 106,23%
2 2008 14.875.245.940 13.167.627.226 88,52%
3 2009 14.040.643.385 12.892.152.930 91,82%
4 2010 14.215.130.000 9.757.844.152 68,64%
5 2011 16.361.380.000 - 0,00%








Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-6

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017



Grafik VI-1
Target dan Realisasi Pajak Daerah Kota Lhokseumawe Th. 2007-2011


Dari tabel dan grafik di atas dapat dilihat bahwa target pajak daerah di
Kota Lhokseumawe selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada
tahun 2007 Pajak Daerah ditargetkan sebesar Rp. 13.319.663.371,- dengan
realiasasi sebesar Rp. 14.149.458.908,-. Pada tahun 2008 pajak daerah di Kota
Lhokseumawe ditargetkan sebesar Rp. 14.875.245.940,- dengan realisasi hanya
sebesar Rp. 13.167.627.226,-.
Tahun 2009 pajak daerah yang ditargetkan lebih rendah dibandingkan
dengan tahun 2008 yaitu sebesar Rp. 14.040.643.385,- dengan realisasi sebesar Rp.
12.892.152.930,-. Selanjutnya pajak daerah pada tahun 2010 ditargetkan
meningkat dari tahun 2009 yaitu sebesar Rp. 14.215.130.000,- tetapi realisasinya
hanya mencapai Rp. 9.757.844.152,- dan pada tahun 2011 target pajak daerah
Kota Lhokesumawe ditargetkan sebesar Rp. 16.361.380.000,-.
Jika ditinjau dari sisi prosentase realisasi pajak daerah di Kota
Lhokseumawe, prosentase tertinggi (melebihi target) hanya dicapai pada tahun
2007 yaitu mencapai 106,23%. Selanjutnya disusul tahun 2009 yang mencapai
91,82% kemudian pada tahun 2008 prosentase realisasi pajak daerah sebesar
88,52%. Realisasi pajak daerah pada tahun 2010 merupakan realisasi terendah

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-7

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
dibandingkan dengan realisasi tahun-tahun sebelumnya baik dari sisi
pencapaian angka maupun prosentase yaitu hanya sebesar 68,64%.
Untuk melihat prosentase realisasi pajak daerah di Kota Lhokseumawe
selama kurun waktu 2007 s/ d 2010 dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik VI-2
Prosentase Target & Realisasi Pajak Daerah Kota Lhokseumawe Th. 2007-2010


Dari grafik di atas dapat dilihat prosentase realisasi pencapaian pajak
daerah di Kota Lhokseumawe dari tahun 2007 sampai dengan 2010 setiap
tahunnya sangat fluktuatif dan cenderung mengalami penurunan walaupun dari
segi target setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.
Berfluktuasianya prosentase realisasi pajak daerah di Kota Lhokseumawe
tidak terlepas dari berbagai hambatan dalam pemungutan pajak daerah.
Hambatan tersebut dapat dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu Perlawanan
Pasif dan Perlawanan Aktif.
Perlawanan Pasif yaitu masyarakat enggan (pasif) dalam membayar
pajak, yang disebabkan oleh:
Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.
Rendahnya kesadaran para wajib pajak dalam kedisiplinannya membayar
pajak.
Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat.
Ada sebagian wajib pajak yang tidak tahu tata cara perhitungan dan
pembayaran pajak daerah.
Sistem kontrol tidak dapat dilakukan dan dilaksanakan dengan baik.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-8

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Objek pajak daerah tidak semuanya dapat terawasi oleh dinas terkait karena
terbatasnya Sumber Daya Manusia.
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara
langsung ditunjukkan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak
daerah, bentuknya antara lain:
Tax Avoidance yaitu usaha meningkatkan beban pajak dengan tidak
melanggar Undang-undang.
Ada sebagian wajib pajak daerah didalam pembayarannya meminta dengan
cara kredit sehingga akan meringankan beban pajak yang ditanggungnya.
Tax Evasion yaitu usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar
Undang-undang.
Masih ada wajib pajak daerah yang membayar pajak di bawah potensi
semestinya, misalnya Potensi Pajak Reklame dilapangan adalah 5 namun
yang dibayarkan cuma 3 berarti masih ada selisih 2 yang tidak dibayarkan.
Dari beberapa hambatan dan kendala di atas Pemerintah Kota
Lhokseumawe perlu kiranya melakukan upaya-upaya dalam rangka
peningkatan pajak daerah yaitu berupa Intensifikasi dan Ekstensifikasi objek
pajak daerah.
Intensifikasi yaitu suatu cara untuk memperbesar jumlah pendapatan
dimana sumber-sumber penerimaan yang ada pada saat ini ditingkatkan jumlah
penerimaanya dengan cara mengevaluasi, mengkaji kembali dan apabila di
perlukan menaikkan pengenaan tarif yeng berdasarkan Peratuaran Perundang-
undangan yang berlaku. Sehloubungan dengan hal tersebut SKPK terkait juga
membentuk tim untuk bertugas memberikan pengarahan dan penerangan
mengenai arti pentingnya membayar pajak daerah kepada masyarakat
khususnya pengusaha dan pedagang.
Ekstensifikasi yaitu usaha-usaha mencari objek pajak daerah baru yang
dapat dikenakan pajak daerah, yang objek-objek ini pada waktu yang lalu tidak
dikenakan pajak.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-9

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dengan adanya upaya-upaya tersebut diharapkan kontribusi masing-
masing objek pajak terhadap total penerimaan pajak daerah dapat lebih
ditingkatkan. Untuk lebih jelasnya kontribusi masing-masing objek pajak daerah
terhadap total penerimaan pajak daerah dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel VI-3
Kontribusi Realisasi Masing-masing Pajak Daerah Terhadap
Penerimaan Pajak Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2010


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-10

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2007 2008 2009 2010
1 2
HASIL PAJAK DAERAH 100,00 100,00 100,00 100,00
Paj ak Hotel 1,48 2,71 2,14 2,21
1 Hotel Bintang Tiga 0,71 1,28 0,96 0,58
2 Hotel Melati Tiga 0,71 1,33 1,02 1,46
3 Losmen / Rumah Penginapan
/ Hotel/Rumah Kos
0,06 0,11 0,15 0,18
Paj ak Restoran 3,93 8,42 9,15 11,45
4 Restoran 3,75 8,21 8,97 11,29
5 Rumah Makan 0,18 0,20 0,18 0,16
Paj ak Hiburan 0,21 0,05 0,01 0,04
6 Keramaian 0,19 0,05 0,01 0,04
7 Permainan Anak 0,02 - - -
Paj ak Rekl ame 1,67 2,22 1,83 3,39
10 Reklame Papan 0,71 1,29 1,10 2,70
11 Reklame Kain 0,33 0,35 0,21 0,18
12 Reklame Melekat/Stiker 0,01 0,02 0,02 0,00
13 Reklame Selebaran 0,01 - 0,04 -
14 Reklame Berjalan - 0,03 0,02 0,04
15 Reklame Bersinar 0,60 0,52 0,44 0,48
Paj ak Penerangan Jalan 90,33 84,97 84,68 77,61
16 Pajak Penerangan J alan PLN 21,26 24,51 29,32 44,05
17 Pajak Penerangan J alan Non
PLN
69,07 60,46 55,36 33,55
Paj ak Pengambi lan Bahan
Gal.Gol.C
2,22 1,46 2,08 5,18
Paj ak Parkir 0,07 0,09 0,04 -
19 Pajak Parkir 0,07 0,09 0,04 -
Paj ak Air Bawah Tanah - - - -
20 Pajak Air Bawah Tanah - - - -
Paj ak Hewan 0,09 0,08 0,08 0,11
21 Pajak Potong Hewan 0,09 0,08 0,08 0,11
NO URAIAN
KONTRIBUSI ( % )

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa kontribusi terbesar Pajak Daerah
disumbangkan oleh Objek Pajak Penerangan Jalan walaupun setiap tahunnya
mengalami penurunan yaitu sebesar 90,33% pada tahun 2007, tahun 2008
menyumbang sebesar 84,97%, tahun 2009 kontribusinya turun menjadi 84,68%
dan pada tahun 2010 kontribusinya semakin turun menjadi 77,61%. Walaupun

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-11

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
kontribusi setiap tahunnya menunjukan trend yang selalu menurun tetapi objek
pajak penerangan jalan merupakan tulang punggung penerimaan dari sektor
Pajak Daerah.
Pajak Restoran merupakan objek pajak yang memberikan kontribusi
setelah Pajak Penerangan Jalan, dan kontribusinya selalu menunjukkan
peningkatan sejak tahun 2007 sampai dengan 2010. Pada tahun 2007
kontribusinya sebesar 3,93%, tahun 2008 kontribusinya sebesar 8,42%, tahun 2009
sebesar 9,15% dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 11,45%.
Selanjutnya Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C merupakan
kontributor ketiga walaupun setiap tahun kontribusinya selalu berfluktuasi.
Pada 2007 kontribusinya 2,22%, tahun 2008 kontribusinya menurun menjadi
1,46%, selanjutnya pada tahun 2009 kontribusi Pajak Pengambilan Bahan Galian
Golongan C kembali meningkat menjadi 2,08% dan pada tahun 2010 meningkat
lagi menjadi 5,18%.
Kontributor keempat dalam penerimaan pajak daerah adalah Objek Pajak
Reklame. Pada tahun 2007 Pajak reklame menyumbangkan kontribusi sebesar
1,67%, tahun 2008 sebesar 2,22%, tahun 2009 kontribusi pajak reklame turun
menjadi 1,83% dan pada tahun 2010 kembali meningkat menjadi 3,39%.
Pajak Hotel sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 merupakan
kontributor kelima dalam penerimaan pajak daerah. Hal ini dapat dilihat bahwa
pada tahun 2007 kontribusinya sebesar 1,48%, tahun 2008 menyumbangkan
kontribusi sebesar 2,71%, tahun 2009 kontrisbusinsya turun menjadi 2,14% dan
tahun 2010 kontribusinya meningkat menjadi 2,21%.
Untuk lebih jelasnya kontribusi masing-masing sektor pajak daerah di
Kota Lhokseumawe sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 dapat dilihat
pada grafik berikut ini.
Grafik VI-3
Kontribusi Realisasi Masing-masing Pajak Daerah Terhadap
Penerimaan Pajak Daerah Kota Lhokseumawe

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-12

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tahun 2007 s/d 2010


Berdasarkan uraian dan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa dari
sembilan sektor pajak daerah yang ada dalam struktur pendapatan asli daerah
Kota Lhokseumawe, lima sektor pajak daerah tersebut yang selalu menjadi
penopang pendapatan asli daerah Kota Lhokseumawe. Selebihnya Pajak Potong
Hewan, Pajak Hiburan dan Pajak Parkir setiap tahunnya hanya memberikan
kontribusi rata-rata masing-masing sebesar 0,09%, 0,08% dan 0,05%. Sedangkan
Pajak Air Bawah Tanah sejak tahun 2007 sampai dengan 2010 belum
memberikan kontribusi dalam penerimaan pajak daerah di Kota Lhokseumawe.
Retribusi Daerah
Seiring dengan berjalannya otonomi daerah, diharapkan pemerintah
daerah mampu mengelola dan memaksimalkan sumber daya yang ada di daerah
untuk kelangsungan dan kemajuan daerahnya sendiri. Salah satu upaya
Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam meningkatkan Pendapatan Asli
Daerahnya dengan melalui retribusi daerah.
Pada dasarnya retribusi sama dengan pajak, yang membedakan adalah
imbalan atau kontraprestasi dalam retribusi langsung dapat dirasakan oleh
pembayar. Unsur-unsur yang melekat dalam retribusi antara lain:

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-13

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
1. Pungutan retribusi harus berdasarkan undang-undang;
2. Pungutannya dapat dipaksakan;
3. Pemungutannya dilakukan oleh pemerintah;
4. Digunakan sebagai pengeluaran masyarakat umum;
5. Imbalan atau prestasi dapat dirasakan secara langsung oleh pembayar
retribusi.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2009
tentang Pajak dan Retribusi Daerah, Objek Retribusi terbagi menjadi tiga jenis
yaitu:
a. Retribusi Jasa Umum
Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau
diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum
serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan Jenis Retribusi Jasa Umum
adalah:
a. Retribusi Pelayanan Kesehatan;
b. Retribusi Pelayanan Persampahan/ Kebersihan;
c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta
Catatan Sipil;
d. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat;
e. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum;
f. Retribusi Pelayanan Pasar;
g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;
h. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran;
i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;
j. Retribusi Penyediaan dan/ atau Penyedotan Kakus;
k. Retribusi Pengolahan Limbah Cair;
l. Retribusi Pelayanan Tera/ Tera Ulang;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-14

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
m. Retribusi Pelayanan Pendidikan; dan
n. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.

b. Retribusi Jasa Usaha
Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh
Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi:
a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;
b. Retribusi Pasar Grosir dan/ atau Pertokoan;
c. Retribusi Tempat Pelelangan;
d. Retribusi Terminal;
e. Retribusi Tempat Khusus Parkir;
f. Retribusi Tempat Penginapan/ Pesanggrahan/ Villa;
g. Retribusi Rumah Potong Hewan;
h. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan;
i. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;
j. Retribusi Penyeberangan di Air; dan
k. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

c. Retribusi Perizinan Tertentu
Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu
oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan
untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang,
penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu
guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah:
a. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-15

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
b. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol;
c. Retribusi Izin Gangguan;
d. Retribusi Izin Trayek; dan
e. Retribusi Izin Usaha Perikanan.
Berdasarkan Peraturan Kepala Daerah dan Qanun tentang Retribusi Kota
Lhokseumawe yang telah dan belum disusun dasar hukumnya dapat dilihat
pada tabel berikut ini.
Tabel VI-4
Jenis dan Dasar Hukum Retribusi Kota Lhokseumawe

No. Uraian Dasar Hukum Perda/Qanun
1 2 3
HASIL RETRIBUSI DAERAH

A. Retribusi Jasa Umum Keputusan Walikota
1 Ret.Pelayanan Kesehatan No.41 Tahun 2002
2 Ret. PHB / Askes
3 Ret.Pelayanan Persampahan/ Kebersihan Qanun No.08 Tahun 2007
4 Ret.Penggantian Biaya KTP & Capil
5 Ret.Pelayanan Parkir Qanun No.06 Tahun 2007
6 Ret.Pelayanan Pasar
Keputusan Walikota No.39
Thn.2002
7 Ret.Pengujian Kend.Bermotor
Keputusan Walikota No.18
Thn.2004
8 Ret.Pelayanan Rumah Potong Hewan
9 Ret.Pelayanan Kesehatan Hewan Perkada No.024 Tahun 2005
10 Ret.Leges Qanun No.026 Tahun 2005

B. Retribusi Jasa Usaha
11 Ret.Pemakaian Kekayaan daerah
Keputusan Walikota No.39 Thn
2002
12 Retribusi Terminal Qanun No.07 Tahun 2007

C. Retribusi Perizinan Tertentu
13 Ret.Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Qanun No.05 Tahun 2007
14 Ret.Izin Gangguan (HO) Qanun No.10 Tahun 2007
15 Ret.Izin Usaha Perikanan Qanun No.06 Tahun 2007
16 Pengolahan Pengawetan Ikan
17 Ret.Izin Usaha (SITU) Qanun No.10 Tahun 2007
18 Ret.Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK)

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-16

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
No. Uraian Dasar Hukum Perda/Qanun
1 2 3
19 Ret.Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Qanun No.09 Tahun 2007
20 Ret.Tanda Daftar Perusahaan (TDP) Qanun No.09 Tahun 2003
21 Ret.Tanda Daftar Industri (TDI) Qanun No.08 Tahun 2003
22 Ret.Biaya Administrasi Penerbitan (IUI)
23 Ret.Biaya Administrasi Penerbitan (IPUI)
24 Ret.Biaya Administrasi Pendaftaran Gudang
25
Ret.Izin Usaha Perdagangan Bahan
Gal.Gol.C
Qanun No.19Tahun 2008
26 Ret.Pengesahan Badan Hukum Koperasi
27 Ret.Izin Apotik
28 Ret.Izin Toko Obat
29 Ret.Izin Bidan / Perawat
30 Ret.Izin Praktek Fisioterapi
31
Ret.Pendaftaran Pengobatan Tradisional /
Alternatif

32 Ret.Rekomendasi Rumah Sakit Swasta
33 Ret.Izin Penyelenggaraan Rumah Bersalin
34 Ret.Izin Praktek Tukang Gigi
35 Ret.Izin Optik
36 Ret.Izin Pusat Kebugaran
37 Ret.Izin Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum
38 Ret.Izin Usaha Angkutan Perkada No.19 tahun 2005
39 Ret. Izin Trayek
Sumber: Data DPKAD Kota Lhokseumawe, 2011

Berdasarkan tabel jenis dan dasar hukum retribusi Kota Lhokseumawe
terdapat 18 jenis retribusi yang sudah ada peraturan daerah dan qanunnya,
sedangkan untuk 21 jenis lain belum mempunyai peraturan. Hal ini diharapkan
kepada pemerintah Kota Lhokseumawe untuk menyusun dan menuangkan
peraturan tersebut dalam peraturan daerah dan qanun. Tabel berikut
memperlihatkan target retribusi daerah di Kota Lhokseumawe sejak tahun 2007
sampai dengan tahun 2011.

Tabel VI-5
Target & Realisasi Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-17

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Rp. %
1 2007 1.596.872.590 1.405.616.915 88,02
2 2008 2.228.996.050 2.178.729.500 97,74
3 2009 2.489.675.000 2.132.928.292 85,67
4 2010 3.785.350.000 2.525.325.900 66,71
5 2011 4.150.095.000 -
Sumber : APBK Lhokseumawe
No. Tahun Target (Rp)
Realisasi

Grafik VI-4
Target dan Realisasi Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Dari tabel dan grafik di atas dapat dilihat bahwa selama periode 2007
sampai dengan 2011 target Retribusi Daerah di Kota Lhokseumawe selalu
mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 Retribusi Daerah ditargetkan sebesar
Rp.1.596.872.590,- yang terdiri dari Retribusi Jasa Umum sebesar Rp.626.182.240,-
Retribusi Jasa Usaha sebesar Rp.300.000.000,- dan Retribusi Perizinan Tertentu
sebesar Rp.670.690.350,-.
Selanjutnya pada tahun 2008 Retribusi Daerah ditargetkan sebesar
Rp.2.228.996.050,- yang terdiri dari Retribusi Jasa Umum sebesar Rp.984.305.000,-
Retribusi Jasa Usaha sebesar Rp.454.030.000,- dan Retribusi Perizinan Tertentu
sebesar Rp.790.661.050,-.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-18

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Pada tahun 2009 Retribusi Daerah ditargetkan sebesar Rp.2.489.675.000,-
yang terdiri dari Retribusi jasa Umum sebesar Rp.1.251.925.000,- Retribusi Jasa
Usaha sebesar Rp.552.000.000,- dan Retribusi Perizinan Tertentu sebesar
Rp.685.750.000,-.
Tahun 2010 Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe ditargetkan lebih tinggi
dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp.3.785.350.000,-
yang terdiri dari Retribusi Jasa Umum sebesar Rp.2.161.000.000,- Retribusi Jasa
Usaha sebesar Rp.772.350.000,- dan Retribusi Perizinan Tertentu sebesar
Rp.788.000.000,-. Dan pada tahun 2011 Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe
ditargetkan sebesar Rp.4.150.095.000,-. Target di tahun 2011 merupakan target
tertinggi selama lima tahun terakhir sejak tahun 2007.
Dari target yang ditetapkan setiap tahunnya, prosentase realisasi retribusi
daerah di Kota Lhokseumawe setiap tahunnya juga mengalami fluktuasi. Pada
tahun 2007 realisasi Retribusi Daerah sebesar 88,02% atau sebesar
Rp.1.405.616.915,-. Tahun 2008 realisasi retribusi daerah mencapai 97,74% atau
sebesar Rp.2.178.729.500,-. Realisasi tahun 2009 mencapai 85,67% atau sebesar
Rp.2.132.928.292,- dan pada tahun 2010 realisasi Retribusi Daerah hanya
mencapai 67,86% atau sebesar Rp.2.525.325.900,-. Prosentase realisasi Retribusi
Daerah dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik VI-5
Prosentase Realisasi Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2010

88,02
97,74
85,67
67,86
-
20,00
40,00
60,00
80,00
100,00
120,00
2007 2008 2009 2010


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-19

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa prosentase realisasi Retribusi
Daerah di Kota Lhokseumawe pada tahun 2009 dan 2010 cenderung mengalami
penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2008 dan 2007, walaupun dari sisi
penerimaan nominalnya terus meningkat setiap tahunnya.
Selanjutnya untuk kontribusi realisasi masing-masing retribusi daerah
yang ada di Kota Lhokseumawe selama kurun waktu tahun 2007 sampai dengan
tahun 2010 dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik VI-6
Kontribusi Realisasi Masing-masing Retribusi Daerah Terhadap
Penerimaan Retribusi Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2010


Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa sejak tahun 2007 sampai dengan
2010 penerimaan retribusi daerah di Kota Lhokseumawe didominasi oleh
Retribusi Jasa Umum dengan kontribusi setiap tahunnya masing-masing sebesar
46,02% pada tahun 2007, tahun 2008 turun menjadi 42,56%, tahun 2009
kontribusinya kembali meningkat yaitu sebesar 47,74% dan pada tahun 2010
kontribusinya kembali mengalami penurunan yaitu menjadi 46,88%.
Selanjutnya Retribusi Perizinan Tertentu menjadi kontributor kedua
terhadap penerimaan retribusi daerah di Kota Lhokseumawe. Pada tahun 2007
sektor ini menyumbangkan kontribusi sebesar 35,21%, tahun 2008 naik menjadi

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-20

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
36,86%, tahun 2009 turun menjadi 34,93% dan terus mengalami penurunan pada
tahun 2010 hanya memberikan kontribusi sebesar 33,39%.
Retribusi Jasa Usaha merupakan kontributor ketiga terhadap penerimaan
retribusi daerah. Sejak tahun 2007 sampai dengan 2010 kontribusinya masih
dibawah 20% setiap tahunnya. Hanya pada tahun 2008 kontribusinya mencapai
20,58%.
Kontribusi masing-masing sektor retribusi daerah tentunya sangat
dipengaruhi oleh realisasi yang dicapai setiap tahunnya. Dalam hal ini, perlu
adanya upaya-upaya untuk meningkatkan realisasi retribusi daerah,
diantaranya:
a. Segi penerimaan, dengan melakukan penyuluhan tentang retribusi daerah;
b. Segi Kebijakan, dalam segi kebijakan yang antara lain dengan menetapkan
Peraturan Daerah, Peraturan Kepala Daerah maupun keputusan-keputusan
lainnya;
c. Melakukan Pendataan dan Pemeriksaan Wajib Retribusi.
Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan masing-masing objek retribusi
daerah dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap total penerimaan
retribusi daerah di Kota Lhokseumawe setiap tahunnya.
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan adalah kontribusi
wajib kepada daerah yang dilaksanakan oleh perusahaan atau badan yang
bersifat memaksa, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya untuk kemakmuran
rakyat.
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan merupakan sumber
PAD yang diperoleh dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). BUMD adalah
suatu Badan usaha yang dimiliki oleh daerah yang dibentuk dan didirikan oleh

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-21

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Pemerintah Daerah, dengan bentuk Badan Hukum Perseroan Terbatas (PT) atau
Perusahaan Daerah (PD).
Perusahaan Daerah merupakan salah satu komponen yang diharapkan
dapat memberikan konstribusi bagi pendapatan daerah tapi sifat utama dari
perusahaan daerah bukanlah berorientasi pada profit atau keuntungan, akan
tetapi justru dalam memberikan jasa dan menyelenggarakan kemanfaatan
umum.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 26
ayat (3), Jenis Objek Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
mencakup:
a. Bagi laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/ BUMD;
b. Bagi laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/ BUMN;
c. Bagi laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau
kelompok usaha masyarakat.
Dalam pelaksanaan proses pemungutan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang dipisahkan di Kota Lhokseumawe, Pemerintah Kota Lhokseumawe
sudah mengeluarkan aturan daerah yang berupa Qanun dan Perkada. Tabel
berikut ini menggambarkan jenis dan dasar hukum pajak daerah Kota
Lhokseumawe.
Tabel VI-6
Jenis dan Dasar Hukum Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

No Uraian
Dasar Hukum
(Perda/Qanun)
1 2 3

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan
Permendagri No. 13
Tahun 2006


Bagi Laba atas penyertaan modal pada
Perusahaan Milik Daerah/ BUMD
1 Perusahaan Daerah
2 BUMD


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-22

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Bagi Laba atas penyertaan modal pada
Perusahaan Milik Pemerintah/ BUMN
3 BUMN


Bagi laba atas penyertaan modal pada
perusahaan Milik Swasta
4 Perusahaan Swasta


Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dasar hukum Objek Hasil
Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan hanya ada 1 jenis saja yaitu
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006. Dengan regulasi yang tidak tersedia,
menjadikan kegiatan pemungutan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan menjadi tidak maksimal. Dampak dari tidak adanya regulasi ini akan
bermuara pada pencapaian target hasil pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan yang tidak optimal.
Selanjutnya Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Kota
Lhokseumawe dari tahun 2007 sampai dengan 2011 dapat dilihat dalam tabel
berikut ini:
Tabel VI-7
Target dan Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011
Rp. %
1 2007 386.024.410 267.154.063 69,21
2 2008 2.240.000.000 373.496.344 16,67
3 2009 2.540.000.000 1.782.104.408 70,16
4 2010 2.540.000.000 2.178.559.393 85,77
5 2011 2.540.000.000 - -
Sumber : APBK Lhokseumawe
No. Tahun Target (Rp)
Realisasi




Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-23

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-7
Target dan Realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Dari tabel dan grafik di atas dapat dilihat bahwa masih terjadi disparitas
yang sangat mencolok antara target dan realisasi Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan terutama pada tahun 2008 dan 2009. Pada tahun 2007
Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Milik Daerah (BUMD)
yang berasal dari Deviden BPD Cabang Lhokseumawe ditargetkan sebesar
Rp.386.024.410,- dengan realisasi sebesar Rp.267.154.063,- atau 69,21%. Tahun
2008 ditargetkan sebesar Rp.2.400.000.000,- tetapi terealisasi hanya 16,67% atau
hanya Rp.373.496.344,-.
Pada tahun 2009 target dari Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan meningkat menjadi Rp.2.540.000.000,-. Pada tahun ini penerimaan
pada pos ini berasal dari Deviden BPD Cabang Lhokseumawe dan BPR Sabe
Meusampe dengan realisasi sebesar Rp.1.782.104.408,- atau 70,16%. Selanjutnya
target tahun 2010 sama dengan target tahun 2009 dengan realisasi sebesar
Rp.2.187.559.393,- atau sebesar 86,12%, dan pada tahun 2011 target Hasil
Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan masih sama dengan target tahun
2010.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-24

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Sebagaimana dimaksud pada pasal 6 ayat (1) huruf d Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2004, disebutkan dalam pasal 6 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2004, bahwa Lain-lain PAD yang Sah meliputi:
a. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan;
b. jasa giro;
c. pendapatan bunga;
d. penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah;
e. penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari
penjualan dan/ atau pengadaan barang dan/ atau jasa oleh daerah;
f. penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang
asing;
g. pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;
h. pendapatan denda pajak;
i. pendapatan denda retribusi;
j. pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;
k. pendapatan dari pengembalian;
l. fasilitas sosial dan fasilitas umum;
m. pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; dan
n. pendapatan dari angsuran/ cicilan penjualan.
Sejak tahun 2007 sampai dengan 2011 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah
Yang Sah di Kota Lhokseumawe berasal dari Penerimaan Jasa Giro, Pendapatan
Bunga, Pendapatan dari Pengembalian dan Pendapatan dari Angsuran. Untuk
mengetahui target dan realisasi Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah di
Kota Lhokseumawe dapat dilihat pada tabel berikut.





Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-25

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel VI-8
Target dan Realisasi Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Tahun 2007 s/d 2011
NO TAHUN TARGET (Rp) REALISASI (Rp) Realisasi (%)
1 2 3 4 5
1 2007 2.603.000.000 3.165.746.005 121,62
2 2008 6.057.329.431 4.879.113.311 80,55
3 2009 6.588.000.000 4.783.616.345 72,61
4 2010 5.542.500.000 4.944.264.037 89,21
5 2011 4.455.000.000 - -
Sumber : DPKAD Kota Lhokseumawe, 2011

Grafik VI-8
Target dan Realisasi Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Tahun 2007 s/d 2011


Selama kurun waktu empat tahun terakhir (2007 s/ d 2011) dapat dilihat
bahwa pencapaian penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
hanya pada tahun 2007 realisasinya melebihi dari target yang ditetapkan hingga
mencapai 121,62% atau Rp.3.165.746.005,- dari target Rp.2.603.000.000,-. Pada
tahun 2008 target Lain-lain PAD yang Sah sebesar Rp.6.057.329.431,- terealisasi
sebesar Rp.4.879.113.311,- atau 80,55%. Target tahun 2009 lebih tinggi dari tahun
sebelumnya yaitu sebesar Rp.6.588.000.000,- tetapi hanya terealisasi sebesar
Rp.4.783.616.345,- atau hanya 72,61%. Pada tahun 2010 target Lain-lain PAD yang

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-26

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Sah turun dari tahun 2009 atau sebesar Rp.5.542.500.000,- dengan realisasi
mencapai Rp.4.944.264.037,- atau 89,21% dan tahun 2011 Lain-lain PAD yang Sah
ditargetkan sebesar Rp.4.455.000.000,-. Untuk lebih jelasnya prosentase realisasi
Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah selama kurun waktu 2007 sampai 2010 dapat
dilihat pada grafik berikut.
Grafik VI-9
Prosentase Realisasi Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Tahun 2007 s/d 2011

2007 2008 2009 2010
Realisasi 121,62% 80,55% 72,61% 89,21%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
120,00%
140,00%

Dari grafik di atas terlihat bahwa prosentase realisasi penerimaan lain-
lain PAD yang Sah setiap tahunnya selalu berfluktuasi. Dari empat tahun
terakhir prosentase realisasi hanya dicapai pada tahun 2007 sedangkan tahun-
tahun setelahnya masih dibawah target yang ditetapkan. Tentunya hal ini harus
menjadi perhatian dari pihak-pihak terkait dalam rangka pengoptimalan
pencapaian penerimaan Pendapatan Asli Daerah.
6.1.1.1.2 Dana Perimbangan
Keterbatasan kemampuan pendanaan kota untuk membiayai seluruh
pelaksanaan fungsi pelayanan pemerintahan, secara legal formal, akan dibantu
terutama melalui dana perimbangan (komponen DAU). Jika melihat komposisi
sumber pendapatan Kota Lhokseumawe, maka proporsi dana perimbangan
terhadap total pendapatan Kota Lhokseumawe masih sangat dominan dalam
periode anggaran tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-27

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Proporsi rata-rata dana perimbangan Kota Lhokseumawe terhadap total
pendapatan masih dominan sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut.
Tabel VI-9
Proporsi Dana Perimbangan dalam Pendapatan Kota Lhokeumawe
Tahun 2007 s/d 2011
NO TAHUN
PENDAPATAN
DAERAH
DANA
PERIMBANGAN
PROPORSI (%)
1 2 3 4 5
1 2007 358.124.093.624 321.029.198.873 89,64
2 2008 396.412.389.700 348.205.492.687 87,84
3 2009 424.283.141.107 381.898.298.138 90,01
4 2010 420.573.975.153 354.814.107.338 84,36
5 2011 537.322.616.370 424.547.883.984 79,01
Sumber : APBK Lhokseumawe, 2011

Grafik VI-10
Proporsi Dana Perimbangan dalam Pendapatan Kota Lhokeumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Dari tabel dan grafik diatas dapat dilihat proporsi dana perimbangan
dalam struktur pendapatan Kota Lhokseumawe masih sangat besar, dengan rata-
rata setiap tahunnya mencapai 86,17%. Pada tahun 2007 Total Pendapatan Kota
Lhokseumawe sebesar Rp.358.124.093.624,- dengan kontribusi dana
perimbangan sebesar Rp.321.029.198.873,- atau sebesar 89,64%. Tahun 2008 dana

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-28

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
perimbangan memberikan kontribusi sebesar Rp.348.205.492.687,- atau sebesar
87,84% dari total pendapatan Kota Lhokseumawe.
Pada tahun 2009 proporsi dana perimbangan dalam pendapatan Kota
Lhokseumawe sebesar Rp.381.898.298.138,- atau 90,01% dari total pendapatan
Kota Lhokseumawe. Selanjutnya tahun 2010 proporsi dana perimbangan turun
menjadi 84,36% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebesar
Rp.354.814.107.338,-, dan pada tahun 2011 proporsi dana perimbangan dalam
pendapatan Kota Lhokseumawe mencapai Rp.424.547.883.984- atau sebesar
79,01% dari total pendapatan Kota Lhokseumawe. Kontribusi dana perimbangan
dalam pendapatan Kota Lhokseumawe dapat dilihat pada gambar berikut.
Grafik VI-11
Kontribusi Dana Perimbangan dalam Pendapatan Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Dari komponen-komponen dana perimbangan, komponen Dana Bagi
Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak dan Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan
dua komponen sumber pendanaan yang penting yang dapat digunakan sebagai
komponen-komponen yang akan menjadi sumber kekuatan pendanaan internal
Kota Lhokseumawe selain Dana Alokasi Khusus (DAK).



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-29

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
a. Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak
Kontribusi Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak dalam
Pendapatan Dana Perimbangan di Kota Lhokseumawe selama periode lima
tahun terakhir (2007 s/ d 2011) berkisar antara 15,60% sampai dengan 26,17%
dengan rata-rata kontribusi sebesar 22,09%.
Pada tahun 2007 kontribusi Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan
Pajak memberikan kontribusi sebesar Rp.84.016.198.873,- dari total dana
perimbangan. Tahun 2008 pos pendapatan ini menyumbang sebesar
Rp.83.687.065.687,-. Selanjutnya tahun 2009 kontribusinya dalam dana
perimbangan sebesar Rp.99.077.112.138,-. Kemudian tahun 2010 dan 2011
masing-masing memberikan kontribusi sebesar Rp.66.344.741.388,- dan
66.250.304.144,-. Selengkapnya kontribusi Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil
Bukan Pajak dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut.
Tabel VI-10
Kontribusi Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak
dalam Pendapatan Dana Perimbangan Kota Lhokeumawe
Tahun 2007 s/d 2011
NO TAHUN
DANA
PERIMBANGAN
DANA BAGI HASIL
PAJAK / BUKAN
PAJAK
KONTRIBUSI
(%)
1 2 3 4 5
1 2007 321.029.198.873 84.016.198.873 26,17
2 2008 348.205.492.687 83.687.065.687 24,03
3 2009 381.898.298.138 99.077.112.138 25,94
4 2010 354.814.107.338 66.344.741.338 18,70
5 2011 424.547.883.984 66.250.304.144 15,60
Sumber : APBK Lhokseumawe, 2011






Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-30

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-12
Kontribusi Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak
dalam Pendapatan Dana Perimbangan Kota Lhokeumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa kontribusi dana bagi hasil
pajak/ bagi hasil bukan pajak dalam struktur dana perimbangan selama periode
2007 s/ d 2011 sangat berfluktuatif. Pada tahun 2007 kontribusinya mencapai
26,17%, tahun 2008 kontribusinya turun menjadi 24,03%. Selanjutnya tahun 2009
kontribusinya meningkat kembali menjadi 25,94%, serta tahun 2010
kontribusinya turun menjadi 18,70% dan tahun 2011 kontribusinya semakin
menurun hingga mencapai 15,60%.
b. Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan sub-komponen Dana
Perimbangan yang sangat dominan kontribusinya terhadap dana perimbangan
Kota Lhokseumawe. Kontribusi DAU mencapai lebih dari 65% hingga lebih dari
79% dari total dana perimbangan. Rata-rata kontribusi DAU dari tahun 2007
sampai tahun 2011 mencapai lebih dari 71%.
Untuk masa mendatang penggunaan sebagian dana DAU diperuntukan
untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan pengembangan sarana
kebutuhan dasar terutama pengembangan air minum masyarakat dan sanitasi
perkotaan yang akan menjadi salah satu langkah yang dijalankan Pemerintah

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-31

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Kota Lhokseumawe mengingat masalah air minum masyarakat dan sanitasi
perkotaan merupakan salah satu agenda wajib yang harus diselenggarakan.
Kontribusi Dana Alokasi Umum Kota Lhokseumawe selama periode 2007 s/ d
2011 dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut.
Tabel VI-11
Kontribusi Dana Alokasi Umum (DAU)
dalam Pendapatan Dana Perimbangan Kota Lhokeumawe
Tahun 2007 s/d 2011
NO TAHUN
DANA
PERIMBANGAN
DANA ALOKASI
UMUM (DAU)
KONTRIBUSI
(%)
1 2 3 4 5
1 2007 321.029.198.873 211.310.000.000 65,82
2 2008 348.205.492.687 233.315.427.000 67,01
3 2009 381.898.298.138 248.522.186.000 65,08
4 2010 354.814.107.338 269.242.266.000 75,88
5 2011 424.547.883.984 336.692.779.840 79,31
Sumber: APBK Lhokseumawe, 2011
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari tahun 2007 s/ d 2011
komponen DAU di Kota Lhokseumawe kontribusinya terus mengalami
peningkatan. Kontribusi DAU tahun 2007 sebesar Rp.211.310.000.000,- atau
sebesar 65,82% dari total Dana Perimbangan. Tahun 2008 kontribusinya
meningkat menjadi Rp.233.315.427.000,- atau sebesar 67,01% dari total Dana
Perimbangan. Selanjutnya tahun 2009 kontribusi DAU terhadap Dana
Perimbangan di Kota Lhokseumawe sebesar Rp.248.522.186.000,- atau 65,08%.
Tahun 2010 DAU Kota Lhokseumawe mencapai Rp.269.242.266.000,- atau 75,88%
dari total Dana Perimbangan, dan tahun 2011 kontribusi DAU mencapai 79,31%
dari total Dana Perimbangan atau sebesar Rp.336.692.779.840,-. Persentase
Kontribusi DAU terhadap Dana Perimbangan di Kota Lhokseumawe dapat
dilihat pada grafik berikut.



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-32

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-13
Kontribusi Dana Alokasi Umum dalam Pendapatan Dana
Perimbangan Kota Lhokseumawe Th 2007 s/d 2011


c. Dana Alokasi Khusus (DAK)
DAK merupakan anggaran APBN yang diperuntukkan bagi daerah guna
pelaksanaan program yang ditetapkan dari Pusat. Sesuai dengan
peruntukannya, maka besaran anggaran DAK Kota Lhokseumawe sangat
fluktuatif dalam periode waktu tahun 2007 hingga tahun 2011. Rata-rata proporsi
DAK terhadap total dana perimbangan adalah sebesar 7,29%, dengan proporsi
DAK terkecil terjadi pada tahun 2011 yang mencapai 5,09%, sedangkan pada
tahun 2009 proporsi DAK mencapai lebih dari 8% dari total dana perimbangan.
Tabel VI-12
Kontribusi Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam Pendapatan
Dana Perimbangan Kota Lhokeumawe Th. 2007 s/d 2011
NO TAHUN
DANA
PERIMBANGAN
DANA ALOKASI
KHUSUS (DAK)
KONTRIBUSI
(%)
1 2 3 4 5
1 2007 321.029.198.873 25.703.000.000 8,01
2 2008 348.205.492.687 31.203.000.000 8,96
3 2009 381.898.298.138 34.299.000.000 8,98
4 2010 354.814.107.338 19.227.100.000 5,42
5 2011 424.547.883.984 21.604.800.000 5,09
Sumber : APBK Lhokseumawe, 2011


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-33

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-14
Kontribusi Dana Alokasi Khusus (DAK)
dalam Pendapatan Dana Perimbangan Kota Lhokeumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Mengingat DAK sangat dipengaruhi dengan program pemerintah pusat,
maka anggaran DAK kurang bisa diprediksikan sebagai sumber pendanaan,
sehingga diperlukan upaya-upaya strategis untuk mendorong Pusat agar lebih
memprioritaskan pembangunan daerah dalam alokasi DAK.

6.1.2. Komponen Pengeluaran Belanja
Komponen belanja terdiri dari belanja tidak langsung dan belanja
langsung. Pengelolaan belanja daerah dilaksanakan berlandaskan pada
anggaran Kinerja (Performance budget) yaitu belanja daerah yang berorientasi
pada pencapaian hasil atau kinerja. Kinerja tersebut mencerminkan efisiensi
dan efektifitas pelayanan publik, yang berarti belanja daerah harus berorientasi
pada kepentingan publik. Oleh karena itu arah pengelolaan belanja daerah
harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik terutama
masyarakat miskin dan kurang beruntung (pro-poor), pertumbuhan ekonomi
(pro-growth) dan perluasan lapangan kerja (pro-job).

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-34

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Gambaran Belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota
(APBK) Lhokseumawe selama 5 tahun terakhir (2007-2011) sebagaimana tabel
dibawah ini:
Tabel VI-13
Komposisi Belanja Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011
NO TAHUN
BELANJA TIDAK
LANGSUNG
BELANJA LANGSUNG TOTAL BELANJA
1 2 3 4 5
1 2007 199.756.568.214 265.391.451.791 465.148.020.005
2 2008 232.725.158.060 241.710.006.270 474.435.164.330
3 2009 258.277.127.702 211.143.060.731 469.420.188.433
4 2010 258.838.844.029 162.841.844.190 421.680.688.219
5 2011 326.744.062.742 221.926.154.212 548.670.216.954
Sumber : APBK Lhokseumawe, 2011
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa belanja daerah Kota Lhokseumawe
selama lima tahun (2007 s/ d 2011) terakhir sangat berfluktuasi. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh pendapatan yang diperoleh oleh Pemerintah Kota
Lhokseumawe dalam membiayai belanja daerah. Pada tahun 2007 belanja daerah
Kota Lhokseumawe sebesar Rp.465.148.020.005,- dengan komposisi Belanja
Tidak Langsung sebesar Rp.199.756.568.214,- dan Belanja Langsung sebesar
Rp.265.391.451.791,-. Tahun 2008 jumlah belanja daerah Kota Lhokseumawe
meningkat menjadi Rp.474.435.164.330,- dengan komposisi Belanja Tidak
Langsung Rp.232.725.158.060,- dan Belanja Langsung Rp.241.710.006.270,-.
Selanjutnya tahun 2009 belanja daerah Kota Lhokseumawe berjumlah
sebesar Rp.469.420.188.433,- dengan komposisi belanja tidak langsung sebesar
Rp.258.277.127.702,- dan belanja langsung sebesar Rp.211.143.060.731,-.
Komposisi belanja tidak langsung pada tahun 2010 sebesar Rp.258.838.844.029-
dan komposisi belanja langsung sebesar Rp.162.841.844.190,- dengan total belanja
sebesar Rp.421.680.688.219,-. Tahun 2011 komposisi belanja tidak langsung
mencapai Rp.326.744.062.742,- dan komposisi belanja langsung
Rp.221.926.154.212,- dengan total belanja sebesar Rp.548.670.216.954,-.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-35

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-15
Komposisi Belanja Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Selama tiga tahun terakhir (2009-2011) total belanja daerah Kota
Lhokseumawe didominasi oleh Belanja Tidak Langsung. Belanja tidak langsung
ini peruntukannya digunakan untuk Belanja Pegawai, Belanja Hibah, Belanja
Bantuan Sosial, Belanja Bantuan Keuangan dan Belanja Tidak Terduga.

6.1.3. Komponen Pembiayaan
Komponen pembiayaan terdiri dari sub-komponen penerimaan
pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Sub-komponen penerimaan
pembiayaan terdiri dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran
sebelumnya (SilPA); pencairan dana cadangan; hasil penjualan kekayaan daerah
yang dipisahkan; penerimaan pinjaman daerah; penerimaan kembali pemberian
pinjaman; dan penerimaan piutang daerah.
Sub-komponen pengeluaran pembiayaan daerah terdiri pembentukan
dana cadangan; penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah; pembayaran
pokok utang; dan pemberian pinjaman daerah. Pembiayaan daerah digunakan
untuk menutupi kekurangan pendanaan terhadap belanja daerah.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-36

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

Tabel VI-14
Komponen Pembiayaan Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011
NO TAHUN
PENERIMAAN
PEMBIAYAAN
PENGELUARAN
PEMBIAYAAN
TOTAL
PEMBIAYAAN
1 2 3 4 5 = 3 - 4
1 2007 165.588.890.754 10.000.000.000 155.588.890.754
2 2008 81.054.774.630 3.032.000.000 78.022.774.630
3 2009 45.137.047.326 - 45.137.047.326
4 2010 1.106.713.066 - 1.106.713.066
5 2011 11.722.600.584 375.000.000 11.347.600.584
Sumber: APBK Lhokseumawe, 2011
Selama periode 2007 s/ d 2011 komponen pembiayaan didominasi oleh
sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA). Tahun
2007 penerimaan pembiayaan mencapai Rp.165.588.890.754,- dengan
pengeluaran pembiayaan sebesar Rp.10.000.000.000,- yang digunakan untuk
penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah.
Grafik VI-16
Komposisi Belanja Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011




Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-37

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tahun 2008 penerimaan pembiayaan sebesar Rp.81.054.774.630,- dengan
pengeluaran pembiayaan sebesar Rp.3.032.000.000,- yang digunakan untuk
penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah. Selanjutnya tahun 2009
penerimaan pembiayaan sebesar Rp.45.137.047.326,- dan tahun 2010 penerimaan
pembiayaan hanya sebesar Rp.1.106.713.066,- serta tahun 2011 penerimaan
pembiayaan sebesar Rp.11.722.600.584,- dengan pengeluaran pembiayaan untuk
penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah sebesar Rp.375.000.000,-.
Pembiayaan Daerah di Kota Lhokseumawe dari tahun ke tahun selalu
diupayakan untuk terus menurun, karena semakin kecil penerimaan
pembiayaan khususnya dari pos SiLPA maka penilaian terhadap kinerja
Pemerintah Kota Lhokseumawe pada tahun anggaran sebelumnya dianggap
semakin baik.
6.2. Profil Keuangan Kota Lhokseumawe
6.2.1 Keuangan Daerah
Sebagaimana diatur dalam Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-undang 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, menetapkan dan mengatur
pembagian kewenangan dan pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa keuangan daerah harus dikelola
secara tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab
sesuai dengan azas kepatutan dan rasa keadilan. Pemerintah Kota
Lhokseumawe dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah berpedoman
pada Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara,
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006
jo. Pemendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah dan secara spesifik pengelolaan keuangan Daerah Kota Lhokseumawe
diatur dalam Peraturan Daerah Kota Lhokseumawe Nomor 11 Tahun 2006

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-38

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Lhokseumawe dilaksanakan dalam
suatu sistem terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun
ditetapkan dengan Peraturan Daerah. APBD merupakan instrumen yang
menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait
dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah.
Struktur APBD Kota Lhokseumawe terdiri dari (1) Penerimaan Daerah
yang didalamnya terdapat pendapatan daerah dan penerimaan pembiayaan
daerah; (2) Pengeluaran Daerah yang didalamnya terdapat Belanja Daerah
dan (3) Pengeluaran Pembiayaan Daerah. Pengelolaan keuangan daerah pada
dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau
kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan
pembangunan daerah, sehingga analisis pengelolaan keuangan daerah
menjelaskan tentang aspek kebijakan keuangan daerah, yang berkaitan dengan
pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah guna mewujudkan visi dan misi.
Selama lima tahun terakhir (2007-2011) Ringkasan Keuangan Daerah Kota
Lhokseumawe meliputi kebijakan penerimaan keuangan daerah dan kebijakan
pengeluaran keuangan daerah sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut.
Tabel VI-15
Ringkasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011
No. URAIAN 2007 2008 2009 2010 2011
1 Pendapatan Daerah 358.124.093.624 396.412.389.700 424.283.141.107 420.573.975.153 537.322.616.370
2 Belanja Daerah 465.148.020.005 474.435.164.330 469.420.188.433 421.680.688.219 548.670.216.954
3 Pembiayaan Daerah 155.588.890.754 78.022.774.630 45.137.047.326 1.106.713.066 10.747.600.584
Sumber: APBK Lhokseumawe, 2011



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-39

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-17
Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Lhokseumawe Th. 2007 s/d 2011


Sebagaimana telah diuraikan pada komponen keuangan sebelumnya,
bahwa pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah setiap
tahunnya selalu berfluktuatif. Pendapatan daerah yang merupakan penerimaan
pendapatan untuk memenuhi pembiayaan pembangunan di Kota Lhokseumawe
diperoleh dari sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan
Lain-lain Pendapatan Yang Sah.
Kapasitas keuangan daerah akan menentukan kemampuan pemerintah
dalam menjalankan fungsi pelayanan masyarakat. Analisis kemampuan
pemerintah dapat diukur dari penerimaan pendapatan daerah. Selama 5 tahun
terakhir (2007-2011) pendapatan daerah Kota Lhokseumawe menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun dengan rata-rata proporsi pendapatan daerah
pertahun didominasi oleh pendapatan di sektor Dana Perimbangan (rata-rata
proporsi sebesar 85,67%), secara rinci dapat dilihat pada grafik & tabel berikut.
Grafik VI-18
Rata-rata Proporsi Pendapatan Daerah Kota Lhokseumawe Th. 2007 s/d 2011



Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-40

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel landscape
































Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-41

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dalam pengelolaan pendapatan daerah, sumber pendapatan yang
berasal dari pemerintah melalui desentralisasi fiskal dalam bentuk Dana Alokasi
Umum (DAU) saat ini menempati proporsi yang paling besar terhadap daerah,
yakni sekitar 60,80%, Pendapatan Asli Daerah hanya memberikan proporsi
sebesar 5,99% dan lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah memberikan kontribusi
sebesar 8,34% dari total Pendapatan Kota Lhokseumawe. Sumber Pendapatan
Asli Daerah yang berasal dari pajak dan retribusi perlu ditingkatkan, namun
tetap mempertimbangkan kemampuan masyarakat serta tidak membebani
perkembangan dunia usaha. Demikian pula dengan sumber-sumber pendapatan
lainnya juga perlu ditingkatkan, antara lain: lain-lain pendapatan yang sah,
dan perimbangan, bagi hasil pajak dan bagi hasil bukan pajak, sehingga dalam
kurun waktu lima tahun mendatang, porsi Dana Alokasi Umum (DAU) secara
bertahap dapat dimulai dan digantikan oleh sumber pendapatan yang dapat
diupayakan oleh daerah.
Dari sisi pengelolaan belanja daerah, dilaksanakan berlandaskan pada
anggaran berbasis kinerja yaitu belanja daerah yang berorientasi pada
pencapaian hasil atau kinerja. Kinerja tersebut mencerminkan efesiensi dan
efektivitas pelayanan publik, yang berarti belanja daerah harus berorientasi pada
kepentingan publik. Oleh karena itu arah pengelolaan belanja daerah harus
digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik terutama masyarakat
miskin dan kurang mampu (pro-poor), pertumbuhan ekonomi (pro-growth) dan
perluasan lapangan kerja (pro-job). Gambaran rata-rata proporsi belanja terhadap
total belanja daerah Kota Lhokseumawe selama periode 2007-2011 dapat dilihat
pada tabel berikut.







Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-42

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

Tabel landscabe































Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-43

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-19
Rata-rata Proporsi Belanja Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011



Selama lima tahun terakhir (2007-2011) proporsi rata-rata belanja daerah
Kota Lhokseumawe didominasi oleh belanja tidak langsung yaitu sebesar 53,59%
sedangkan belanja langsung hanya sebesar 46,41%. Penggunaan belanja tidak
langsung dialokasikan untuk belanja pegawai, belanja hibah, belanja bantuan
sosial, belanja bantuan keuangan kepada provinsi/ kabupaten/ kota/ pemerintah,
dan belanja tidak terduga. Selanjutnya belanja langsung dialokasikan
penggunaanya untuk belanja pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja
modal. Proporsi tiap pos belanja setiap tahunnya sangat fluktuatif.
Pada tahun 2007 dan 2008 alokasi belanja daerah Kota Lhokseumawe
proporsinya lebih besar belanja langsung dibandingkan dengan belanja tidak
langsung. Proporsi belanja langsung pada dua tahun tersebut sebesar 57,06% dan
50,95%, sedangkan belanja tidak langsung proporsinya untuk dua tahun tersebut
sebesar 42,94% dan 49,05%. Gambaran proporsi masing-masing belanja terhadap
total belanja daerah Kota Lhokseumawe sebagaimana tabel berikut.




Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-44

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel VI-18
Proporsi Masing-masing Belanja Daerah Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011
2007 2008 2009 2010 2011
2 BELANJA DAERAH
2.1 Belanja Tidak Langsung 42,94% 49,05% 55,02% 61,38% 59,55%
2.1.1 Belanja Pegawai 31,14% 35,79% 40,25% 48,25% 42,40%
21.2 Belanja Bunga
2.1.3 Belanja Subsidi
2.1.4 Belanja Hibah 1,99% 5,19% 4,35% 5,63%
2.1.5 Belanja Bantuan Sosial 9,98% 9,53% 9,37% 7,23% 9,95%
2.1.6 Belanja Bagi Hasil Kepada Prov/ Kab/ Kota/ Pemdes
2.1.7 Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prov/ Kab/ Kota/ Pemdes 1,49% 1,53% 1,44% 1,43%
2.1.8 Belanja Tidak Terduga 0,32% 0,21% 0,21% 0,12% 0,14%
2.2 Belanja Langsung 57,06% 50,95% 44,98% 38,62% 40,45%
2.2.1 Belanja Pegawai 10,05% 9,29% 8,52% 7,76% 5,82%
2.2.2 Belanja Barang dan Jasa 15,09% 17,30% 18,92% 13,94% 14,06%
2.2.3 Belanja Modal 31,91% 24,36% 17,54% 16,92% 20,56%
Sumber : APBK Lhokseumawe, 2011
No. URAIAN
PROPORSI
Sejak tiga tahun terakhir (2009-2011) proporsi belanja tidak langsung
lebih dominan dibandingkan dengan belanja langsung. Proporsi terbesar dalam
komponen belanja tidak langsung adalah belanja pegawai yaitu untuk
pembayaran gaji pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kota
Lhokseumawe, gaji kepala daerah/ wakil kepala daerah, serta gaji anggota DPRK
Lhokseumawe. Meningkatnya proporsi belanja pegawai dalam belanja tidak
langsung sangat dipengaruhi oleh kenaikan gaji PNS setiap tahunnya dan
penambahan jumlah PNS di lingkungan Pemerintah Kota Lhokseumawe.
Selanjutnya sub-komponen lain dalam belanja tidak langsung adalah
belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bantuan keuangan, dan belanja
tidak terduga. Proporsi belanja hibah setiap tahunnya juga sangat berfluktuasi,
hal ini sangat tergantung dengan kemampuan keuangan daerah, selain itu
belanja hibah sifatnya tidak mengikat.
Belanja bantuan sosial dalam belanja tidak langsung menduduki posisi
kedua, dengan proporsi sejak 2007-2011 masing-masing 9,98%; 9,53%; 9,37%;

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-45

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
7,23%; dan 9,95%. Selanjutnya belanja hibah; belanja bantuan keuangan kepada
provinsi/ kabupaten/ kota/ pemerintah desa; dan belanja tidak terduga
memberikan proporsi rata-rata kurang dari 2% setiap tahunnya.
Dari sisi belanja langsung, proporsi belanja setiap tahunnya sangat
berfluktuasi. Tahun 2007 proporsi belanja langsung sebesar 57,06% dengan
proporsi subkomponen belanja modal mencapai 31,91%; belanja barang dan jasa
15,09%; dan belanja pegawai sebesar 10,05%. Pada tahun 2008 proporsi belanja
langsung turun menjadi 50,95% dengan proporsi subkomponen belanja modal
sebesar 24,38%; belanja barang dan jasa sebesar 17,30% dan belanja pegawai
sebesar 9,29%.
Selanjutnya tahun 2009 proporsi belanja langsung turun menjadi 44,98%
dengan proporsi subkomponen belanja modal sebesar 17,54%; belanja barang
dan jasa sebesar 18,92%; dan belanja pegawai sebesar 8,52%. Tahun 2010 proporsi
belanja langsung merupakan proporsi terendah selama lima tahun terakhir yaitu
hanya sebesar 38,62%, hal ini dikarenakan meningkatnya belanja pada sisi
belanja tidak langsung. Dan tahun 2011 proporsi belanja langsung kembali naik
menjadi 40,45%.

6.3. Permasalahan dan Analisa Keuangan
6.3.1. Kondisi Keuangan Pemerintah Kota Lhokseumawe
Dengan implementasi otonomi daerah, faktor keuangan merupakan
faktor yang sangat penting serta merupakan indikasi Kemandirian keuangan
suatu Pemerintah Daerah untuk mengukur, membiayai, dan mengukur rumah
tangganya sendiri dengan sebaik-baiknya.
Rasio Kemandirian Keuangan Daerah menunjukkan kemampuan
pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah,
pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak
dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah yang dapat
diformulasikan.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-46

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Rasio Kemandirian Keuangan Daerah menggambarkan ketergantungan
daerah terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian
mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan bantuan pihak ekstern
(terutama pemerintah pusat dan propinsi) semakin rendah dan demikian pula
sebaliknya. Rasio kemandirian juga menggambarkan tinggi partisipasi
masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian
semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan
retribusi daerah yang merupakan komponen utama pendapatan asli daerah.
Dengan data pendapatan di atas dapat dihitung besarnya rasio kemandirian
keuangan daerah dari tahun 2007 s/ d 2011, adalah sebagai berikut:

Pola hubungan Pusat-Daerah menurut Paul Hersey dan Kenneth
Blanchard dalam Halim (2001), dikemukakan hubungan antara pemerintah pusat
dan daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah, terutama pelaksanaan undang-
undang tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah,
yaitu sebagai berikut:
1. Pola Hubungan Instruktif yaitu peranan pemerintah pusat lebih dominan
daripada kemandirian pemerintah daerah (daerah tidak mampu
melaksanakan otonomi daerah secara finansial);
2. Pola Hubungan Konsultatif, yaitu campur tangan pemerintah pusat sudah
mulai berkurang dan lebih banyak pada pemberian konsultasi karena daerah
dianggap sedikit lebih mampu melaksanakan otonomi daerah;
3. Pola Partisipatif, yaitu pola dimana peranan pemerintah pusat semakin
berkurang mengingat tingkat kemandirian daerah otonom bersangkutan
mendekati mampu melaksanakan urusan otonomi. Peran pemberian
konsultasi beralih ke peran partisipasi pemerintah pusat;
4. Pola Hubungan Delegatif, yaitu campur tangan pemerintah pusat sudah
tidak ada lagi karena daerah telah benar-benar mampu dan mandiri dalam
melaksanakan urusan otonomi daerah. Pemerintah pusat siap dan dengan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-47

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
keyakinan penuh mendelegasikan otonomi keuangan kepada pemerintah
daerah.
Klasifikasi tingkat kemandirian keuangan daerah, pola hubungan
pemerintah pusat dan daerah, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel VI-19
Pola Hubungan, Tingkat Kemandirian & Kemampuan Keuangan Daerah

Kemampuan
Keuangan
Rasio
Kemandirian (%)
Pola Hubungan
Rendah Sekali 0 25 Instruktif
Rendah >25 50 Konsultatif
Sedang >50 75 Partisipatif
Tinggi >75 - 100 Delegatif

Untuk lebih jelasnya mengenai tingkat rasio kemandirian keuangan
daerah serta pola hubungan pemerintah daerah Kota Lhokseumawe dalam
melaksanakan otonomi daerah dengan pemerintah pusat dari tahun 2007 s/ d
2011, dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel VI-20
Rasio Kemandirian Keuangan Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011
No Tahun PAD Non PAD
Total Rasio
Kemandirian
(%)
Ket
1 2007 20.355.560.371 337.768.194.847 6,026
2 2008 25.404.571.421 371.007.818.279 6,847
3 2009 25.658.318.385 398.624.822.722 6,437
4 2010 26.080.980.000 394.492.995.153 6,611
5 2011 30.506.475.000 506.816.141.370 6,019





Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-48

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Grafik VI-20
Rasio Kemandirian Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Dari data diatas menggambarkan, pada tahun 2007 Rasio Kemandirian
Kota Lhokseumawe sebesar 6.026%, sedangkan tahun 2008 Rasio Kemandirian
Kota Lhokseumawe menjadi sebesar 6.847% atau mengalami kenaikan sebesar
0,821%, selanjutnya pada tahun 2009 terjadi penurunan angka Rasio
Kemandirian menjadi sebesar 6.437% atau mengalami penurunan sebesar
0,410%. Sementara pada tahun 2010 rasio kemandirian mengalami kenaikan
kembali menjadi sebesar 6.611 % atau naik sebesar 0,174%. Untuk tahun 2011
rasio kemandirian sebesar 6,019%. Berfluktuasinya rasio kemandirian keuangan
ini menunjukkan adanya upaya Pemerintah Kota Lhokseumawe untuk
meningkatkan sumber-sumber pendanaan yang bisa meningkatkan kemandirian
keuangan Kota Lhokseumawe.
Dari data rasio kemandirian keuangan Kota Lhokseumawe selama lima
tahun terakhir (2007-2011), menunjukkan bahwa peranan pemerintah pusat lebih
dominan daripada kemandirian pemerintah daerah atau dengan kata lain pola
hubangan antara Pemerintah Kota Lhokseumawe dengan pemerintah pusat
masih dalam pola hubungan instruktif dan kemampuan keuangan Kota
Lhokseumawe masih rendah sekali.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-49

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Selanjutnya untuk mengetahui kemampuan daerah dalam menjalankan
tugas untuk merealisasikan Pendapatan Asli Daerah yang direncanakan
dibanding dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi asli daerah diukur
dengan Rasio Efektivitas.

Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif
apabila rasio yang dicapai minimal 100%. Namun semakin tinggi rasio efektifitas
menggambarkan kemampuan daerah semakin baik. Departemen Dalam Negeri
dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) No. 690.900-327 Tahun
1996 mengkategorikan kemampuan efektifitas keuangan daerah otonom ke
dalam lima tingkat efektifitas seperti terlihat pada tabel.
Tabel VI-21
Klasifikasi Efektivitas Keuangan Daerah Otonom

Kemampuan
Keuangan
Rasio
Kemandirian (%)
Sangat Efektif > 100
Efektif > 90 - 100
Cukup Efektif > 80 - 90
Kurang Efektif > 60 - 80
Tidak Efektif 60

Untuk lebih jelasnya mengenai tingkat rasio efektifitas keuangan daerah
Kota Lhokseumawe dari tahun 2007 s/ d 2011, dapat dilihat dalam tabel berikut.





Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-50

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Tabel VI-22
Rasio Efektivitas Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011

No. Tahun PAD Realisasi
Total Rasio
Efektifitas
(%)
Ket
1 2007 20.355.560.371 21.093.748.566 103,63
2 2008 25.404.571.421 20.604.686.381 81,11
3 2009 25.658.318.385 14.212.385.947 55,39
4 2010 26.080.980.000 19.414.688.503 74,44
5 2011 30.506.475.000 25.243.711.219 82,75 79,46

Grafik VI-21
Rasio Efektifitas Kota Lhokseumawe
Tahun 2007 s/d 2011


Dari hasil perhitungan rasio efektifitas Kota Lhokseumawe periode 2007
s/ d 2011 menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan
PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan
berdasarkan potensi riil daerah menggambarkan kemampuan daerah selama 5
tahun sangat berfluktuasi. Hal ini dapat dilihat tahun 2007 masih dalam kategori
sangat efektif yaitu mencapai 103.63% namun mengalami penurunan dari tahun
2006 sebesar 0.21%. Selanjutnya kemampuan daerah dalam menjalani tugas pada
tahun 2008 dikategorikan cukup efektif, namun mengalami penurunan dari

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-51

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tahun 2007 sebesar 31.7% yaitu rasio efektifitasnya sebesar 81.11%. Untuk tahun
2009 kemampuan daerah dalam menjalani tugas dikategorikan kurang efektif, ini
dapat dilihat dari rasio efektifitas nya sebesar 55.39% dan mengalami penurunan
dari tahun 2008 sebesar 98.2%. Untuk tahun 2010 rasio efektifitas Kota
Lhokseumawe meningkat kembali dari tahun 2009 yaitu menjadi 74,44% serta
tahun 2011 rasio efektifitas Kota Lhokseumawe berada dalam kategori cukup
efektif yaitu mencapai 82,75%.
Dari data rasio efektifitas Kota Lhokseumawe tahun 2007 s/ d 2011
menunjukkan bahwa kemampuan efektifitas keuangan daerah Kota
Lhokseumawe berada dalam kategori kurang efektif dengan rasio rata-rata
sebesar 79,46%.

6.3.2. Proyeksi Kemampuan Keuangan Kota Lhokseumawe
6.3.2.1 Proyeksi PAD dan Dana Perimbangan
Berdasarkan kinerja pertumbuhan dan kontribusi pendapatan daerah
rata-rata selama lima tahun terakhir, untuk pemenuhan pendanaan
pembangunan Kota Lhokseumawe Tahun 2013-2017 kebijakan pengelolaan
keuangan daerah diarahkan pada peningkatan kemandirian keuangan daerah
untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
melalui upaya intensifikasi dan ektensifikasi pendapatan daerah, optimalisasi
aset dan kekayaan pemerintah kota termasuk mengembangkan Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) baru dengan menganut prinsip-prinsip; (1) Potensial,
lebih menitikberatkan pada potensi daripada jumlah atau jenis pungutan yang
banyak; (2) Tidak memberatkan masyarakat; (3) Tidak merusak lingkungan; (4)
Mudah diterapkan dan dilaksanakan; dan (5) Penyesuaian pendapatan baik
mengenai tarif maupun materinya.
Sedangkan asumsi target penerimaan pendapatan daerah adalah
sebagai berikut.
1. Pendapatan Asli daerah (PAD).

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-52

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kota Lhokseumawe Tahun 2013-2017
diproyeksikan sebesar 11,25% pertahun, dengan mempertimbangkan hal-
hal sebagai berikut:
a. Realisasi penerimaan PAD selama kurun waktu lima tahun terakhir
mencapai rata-rata sebesar 79,46%;
b. Kebijakan Pemerintah Provinsi dan Pusat tentang Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang diserahkan pemerintah daerah
pada tahun 2011 dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang direncanakan
akan diserahkan ke Pemerintah Daerah pada tahun 2014;
c. Upaya serius dari Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam menggali
potensi sumber-sumber pendapatan asli daerah melalui intensifikasi dan
ekstensifikasi PAD.
Pada penerimaan PAD yang menjadi unggulan dan memiliki kontribusi
besar dalam menyokong penerimaan PAD adalah Pajak Daerah sebesar 64,49%
yang meliputi BPHTB dan pajak daerah yang lain. Retribusi Daerah sebesar
19,72% yang meliputi retribusi parkir, dan penerimaan lain PAD yang sah
sebesar 14,39%.
2. Dana Perimbangan
Proyeksi penerimaan dari Dana Perimbangan Kota Lhokseumawe Tahun
2013-2017 sebesar 11,25%, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:
a. Realisasi penerimaan Dana Perimbangan selama kurun waktu lima tahun
terakhir rata-rata sebesar 16,47%;
b. Berkurangnya penerimaan Dana Perimbangan yang berasal dari Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB);
c. Dana Alokasi Umum merupakan pos yang memiliki Kontribusi
terbesar dalam menyokong penerimaan Dana Perimbangan yakni sebesar
85,67%. Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Pusat dan Keuangan Daerah, DAU diberikan berdasarkan
celah fiskal/ keuangan dan alokasi dasar. Celah fiskal/ keuangan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-53

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
merupakan kebutuhan daerah yang dikurangi dengan kapasitas
fiskal/ keuangan daerah. Kebutuhan daerah merupakan variabel-variabel
yang ditetapkan undang-undang antara lain penduduk, luas wilayah,
penduduk miskin dan indeks harga, perhitungan kapasitas keuangan
didasarkan atas PAD dan Dana Bagi Hasil yang diterima daerah,
sedangkan alokasi dasar merupakan pemenuhan gaji PNS. Kebutuhan
fiskal Kota Lhokseumawe ditahun-tahun mendatang akan mengalami
peningkatan seiring dengan Penduduk Kota Lhokseumawe mengalami
peningkatan rata-rata sebesar 1,43% per tahun, luas wilayah daratan
mengalami peningkatan (akibat reklamasi pantai) dan penduduk miskin
relatif sebesar 21,11%.
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah.
Penerimaan pada pos ini juga diproyeksikan mengalami peningkatan
sebesar 11,25% pertahun. Kontribusi terbesar pada pos Dana Bagi Hasil Pajak
dari Provinsi dan Pemerintah daerah lainnya sebesar 59,18%, Dana Penguatan
Desentralisasi Fiskal & Percepatan sebesar 27,91%, dan Bantuan Keuangan
dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya sebesar 12,91%. Dalam upaya
optimalisasi penerimaan pendapatan, maka Pemerintah Kota Lhokseumawe
harus secara intensif melakukan koordinasi menggali potensi penerimaan Lain-
lain pendapatan daerah yang sah dengan Pemerintah Pusat, Provinsi maupun
pemerintah daerah lainnya.
Penerimaan pendapatan daerah Kota Lhokseumawe Tahun 2013-2017
yang terdiri dari penerimaan Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan
Lain-lain Penerimaan Daerah yang sah diproyeksikan mengalami peningkatan
rata-rata sebesar 11,25% per tahun secara rinci sebagaimana tabel berikut.






Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-54

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

Tabel landscabe































Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-55

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan
Pendapatan Kota Lhokseumawe per tahun sebesar 11,25% persen. Perkiraan
pertumbuhan pendapatan setiap tahun tersebut diperoleh dari perkiraan
pertumbuhan masing-masing bagian dari Dana Perimbangan, Pendapatan Lain-
lain dan PAD, berupa Pajak daerah, Retribusi daerah, Hasil BUMD dan
Kekayaan Daerah yang dipisahkan dan Lain-lain PAD.
Arah pengelolaan kebijakan Pendapatan diarahkan kepada pengelolaan
potensi sumber ekonomi daerah bersumber dari faktor internal dan eksternal
(internal dan external sources). Internal source atau local source adalah sumber-
sumber ekonomi daerah yang digali dan dikelola sendiri dalam wilayah
hukumnya. Apakah dalam bentuk sumberdaya alam maupun dalam bentuk
potensi pajak daerah dan retribusi daerah.
Sumber eksternal adalah bersumber dari luar pemerintah daerah atau
berbentuk pinjaman daerah. Sumber eksternal terbagi dua, pertama yang
bersumber dari pemerintahan diatasnya dan dikenal dengan allocation budget
atau dana yang tersedia atau teralokasi bagi pemda, seperti dana kontijensi yaitu
dana untuk belanja pegawai dan belanja non pegawai karena adanya pengalihan
personil, peralatan, pembiayaan dan dokumen (P3D). Intergovernmental transfer
atau pelimpahan dana antar tingkatan pemerintahan, seperti terlihat pada
penerimaan bagi hasil pada DAU dan DAK maupun dana bantuan kepada
daerah bawahan. Kedua pinjaman daerah yang berbentuk bantuan luar negeri
maupun dalam negeri atau dengan istilah Government to Government (G to G
loans) atau Bussiness/ Private to Government (B/P to G =investasi).
Bertolak kepada kondisi Pendapatan Asli Daerah di masa lalu untuk
periode 5 tahun yang akan datang, kebijakan ini akan dikuatkan melalui upaya
intensifikasi Pendapatan Daerah yang mencakup:
1. Melaksanakan tertib penetapan besarnya pajak yang harus dibayar oleh
wajib pajak, tertib dalam pemungutan kepada wajib pajak dan tertib dalam

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-56

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
administrasi pembukuan serta tertib dalam penyetoran pendapatan ke kas
daerah;
2. Melaksanakan pemungutan secara optimal pajak daerah dan retribusi daerah
sesuai potensi yang objektif berdasarkan peraturan yang berlaku;
3. Melakukan pengawasan dan pengendalian secara sistematis dan terus
menerus agar tidak terjadi penyimpangan pelaksanaan pemungutan
pendapatan daerah oleh aparat petugas sehingga dihindari sedini mungkin
penyimpangan;
4. Mengadakan rapat evaluasi secara berkala dengan instansi pengelola PAD
untuk membahas kendala-kendala yang dihadapi dan mencari solusinya;
5. Memberikan rangsangan berupa hadiah kepada aparat pengelola PAD yang
dapat melampaui penerimaan dari target yang ditetapkan.
Untuk menghadapi perubahan yang ada dan keinginan untuk maju
dalam bidang ekonomi yang punya kaitan dengan potensi pajak daerah, maka
potensi ekonomi lokal sebagai sumber pajak daerah dengan pendekatan klaster
komoditas dapat menjadi pilihan untuk menggali unsur pajak daerah. Disadari
bahwa untuk memberdayakan potensi ekonomi lokal diperlukan suatu sinergi
dari seluruh stakeholders yang terlibat didalamnya sebagai suatu kekuatan modal
sosial (social capital). Penggalian dan penumbuhan potensi ekonomi lokal tidak
dapat diselesaikan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe saja, tetapi diperlukan
pula unsur lain seperti masyarakat ataupun pihak swasta. Dengan tergalinya
potensi ekonomi lokal diharapkan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi
dan kesempatan kerja, dengan perhatian khusus diberikan pada dampak
pertumbuhan ekonomi terhadap rumah tangga miskin dan usaha kecil.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, direncanakan untuk membentuk
suatu mekanisme yang lebih efektif dalam memberdayakan unsur-unsur
stakeholders tersebut ke dalam suatu jaringan, melalui organisasi jaringan tersebut
potensi ekonomi lokal diusahakan dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi riil.
Oleh karena pengembangan ekonomi lokal masih merupakan isu yang
cukup baru, masih diperlukan adaptasi dalam bereaksi terhadap kebutuhan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-57

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
untuk bisnis dan ekonomi sejak desentralisasi dan bagaimana dapat menanggapi
kebutuhan semacam itu di masa depan. Pengetahuan semacam ini akan
menolong kebijakan, strategi dan tindakan yang dapat mengurangi korupsi dan
hal-hal lainnya yang membahayakan bisnis lokal, menyediakan produsen yang
lebih baik dan memiliki keterkaitan pasar, serta membuat pengembangan
ekonomi lokal sesuai aturan.
Partisipasi swasta yang baik dapat tercapai dengan adanya kerjasama
pemerintah dan swasta yang didukung oleh strategi pengembangan ekonomi
lokal yang komprehensif. Dengan adanya partisipasi swasta yang efisien,
diharapkan dapat mengurangi beban fiskal di Pemerintah Kota dan
membebaskan sumberdaya umum untuk program-program prioritas.
Dalam mengatur sumberdaya substansial dari sektor swasta,
membutuhkan pembentukan kelembagaan dan peraturan lingkungan yang
menarik investasi swasta, produk hukum dan peraturan yang mendukung,
pengenalan konsep pemberian harga yang merefleksikan biaya (cost-reflective
pricing) dan menyediakan prosedur dan proses privatisasi dan/ atau divestasi
yang transparan. Reformasi semacam ini juga berkontribusi dalam
meningkatkan akuntabilitas sektor publik dan menyediakan pelayanan publik
yang baik.
Berkaitan dengan pertumbuhan PAD setiap tahun tersebut diperoleh dari
perkiraan pertumbuhan masing-masing bagian dari PAD, yaitu : pajak daerah,
retribusi daerah, hasil BUMD dan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-
lain PAD.
Dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) seringkali
menimbulkan permasalahan dengan masyarakat khususnya para pengusaha.
Kebijakan ekstensifikasi pajak dan retribusi atau penetapan tarif yang terlalu
tinggi seringkali dikeluhkan menghambat pertumbuhan sektor rill. Untuk itu
perlu dikembangkan terobosan baru untuk meningkatkan PAD, yaitu dengan:


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-58

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
a. Perbaikan Manajemen
Dengan perbaikan manajemen diharapkan mampu merealisasikan setiap
potensi menjadi pendapatan daerah. Manajemen yang profesional dapat dicapai
dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perbaikan serta
penyederhanaan sistem dan prosedur.
b. Peningkatan Investasi
Peningkatan investasi dapat didorong dengan membangun iklim usaha
kondusif. Hal ini dapat dicapai dengan menjaga stabilitas ekonomi daerah,
menyederhanakan prosedur perijinan, mempertegas peraturan-kebijakan agar
tidak tumpang tindih baik antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota maupun
antar sektor, meningkatkan kepastian hukum terhadap usaha, menyehatkan
iklim ketenagakerjaan sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja,
meningkatkan keamanan dan ketertiban, meniadakan tumpang tindih
pemungutan dan menyederhanakan prosedurnya.
c. Optimalisasi Aset Daerah
Peningkatan PAD juga dapat diraih dengan meningkatkan penggunaan
aset daerah. Optimalisasi aset dapat dicapai dengan perbaikan administrasi aset.
Optimalisasi aset juga dapat dilaksanakan bekerjasama dengan swasta. Selain itu
hal diperlukan juga perbaikan manajemen BUMD, selain itu upaya tersebut
perlu didukung rencana untuk membentuk badan usaha baru.
d. Kebijakan Penguatan PAD Melalui Respon Positif Kebijakan Anggaran
Nasional
Adanya perkembangan kebijakan di tingkat nasional yang akan
diterapkan oleh seluruh daerah di Indonesia diyakini akan semakin menguatkan
langkah Kota Lhokseumawe khususnya dalam kerangka kemandirian
pendanaan 5 tahun yang akan datang. Adanya perubahan struktur pendapatan
daerah sebagaimana yang digariskan bahwa PBB dan BPHTB mulai tahun 2011
sudah menjadi bagian PAD. Dengan demikian Kota Lhokseumawe di masa
yang akan datang justru memiliki kekuatan yang lebih baik lagi dalam rangka

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-59

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
meningkatkan kemandirian daerah untuk melaksanakan roda pemerintahan
selanjutnya.
Atas dasar gambaran kinerja keuangan masa lalu Dana Perimbangan
yang telah dijelaskan sebelumnya, maka arah kebijakan yang terkait dengan
upaya perolehan pendapatan melalui Pos Dana Perimbangan Keuangan Kota
Lhokseumawe tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 dapat dijelaskan pada data
sebelumnya.
Rata-rata pertumbuhan Dana Perimbangan Keuangan sebesar 11,25%
persen. Rata-rata pertumbuhan dana perimbangan setiap tahun tersebut
diperoleh dari perkiraan pertumbuhan masing-masing bagian dari dana
perimbangan yaitu: Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi
Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Dana Alokasi Umum
Arah kebijakan yang terkait dengan DAU agar meningkat adalah dengan
jalan meningkatkan PDRB serta meningkatkan kapasitas fiskal serta
penyampaian APBD tepat waktu setiap tahunnya.

Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak
Arah kebijakan yang terkait dengan peningkatan Dana Bagi Hasil Pajak
yaitu dengan meningkatkan target perolehan Pajak Bumi Bangunan (PBB),
BPHTB serta target perolehan PPh Pasal 25, Pasal 29 tentang Wajib Pajak Orang
Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.
Sedangkan arah kebijakan yang terkait dengan DBH bukan Pajak
dilakukan upaya meningkatkan perolehan pajak dari sektor kehutanan,
pertambangan umum dan perikanan. Sedangkan sektor perkebunan belum
ditetapkan dalam Undang-Undang sebagai objek pajak yang diposkan pada
DBH Non Pajak.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-60

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Dana Alokasi Khusus (DAK)
Rata-rata pertumbuhan Dana Alokasi Khusus (DAK) pada periode tahun
2013-2017 diproyeksikan sebesar 11,25%. Dana Perimbangan dan Bagi Hasil
yang berasal dari DAU perlu dikelola dengan sebaik-baiknya, meskipun relatif
sulit untuk memperkirakan jumlah realisasinya karena tergantung pada
pemerintah pusat.
Sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK) juga dapat diupayakan
peningkatannya melalui penyusunan program-program unggulan yang dapat
diajukan untuk dibiayai dengan dana DAK. Bagi hasil pajak provinsi dan pusat
dapat diupayakan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Pendapatan bagi hasil
sangat terkait dengan aktifitas perekonomian daerah. Dengan semakin
meningkatnya aktifitas ekonomi akan berkorelasi dengan naiknya pendapatan
yang berasal dari bagi hasil. Pemerintah Kota harus mendorong meningkatnya
aktifitas perekonomian.
Atas dasar gambaran kinerja keuangan masa lalu Lain-lain Pendapatan
Daerah yang Sah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka arah kebijakan yang
terkait dengan upaya perolehan pendapatan melalui Pos Lain-lain Pendapatan
Daerah yang Sah dapat dijelaskan sebagai berikut:
Arah kebijakan yang dilakukan untuk perolehan Lain-Lain Pendapatan
Daerah yang sah dengan jalan meningkatkan hasil penjualan aset daerah dengan
memanfaatkan harga pasar secara optimal, meningkatkan jasa giro yang
diperoleh dari simpanan, menempatkan dana pada Bank yang memiliki Bunga
Deposito yang tinggi, upaya perolehan komisi, potongan atau pengadaan barang
jasa dan memanfaatkan secara jeli dari depresiasi selisih kurs Rupiah terhadap
mata uang asing, memanfaatkan denda atas keterlambatan pekerjaan,
memanfaatkan denda atas pajak dan retribusi, hasil eksekusi atas jaminan serta
memanfaatkan fasilitas umum dan sosial agar diberdayagunakan dengan
intensif.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-61

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
6.3.2.2 Proyeksi Belanja Kota Lhokseumawe
Atas dasar gambaran kinerja keuangan khususnya dalam sisi
pembelanjaan masa lalu yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kebijakan
keuangan yang terkait dengan upaya efisiensi pengelolaan belanja daerah dapat
dijelaskan sebagai berikut:
Kebijakan umum belanja daerah diarahkan pada peningkatan efesiensi,
efektifitas, transparansi, akuntabilitas dan prioritas alokasi anggaran. Selain itu,
kebijakan belanja daerah juga diarahkan untuk mencapai visi dan misi yang
tetapkan dalam rangka memperbaiki kualitas dan kuantitas pelayanan publik.
Secara spesifik, efesiensi dan efektifitas belanja harus meliputi pos-pos belanja.
Belanja daerah dikelompokkan ke dalam Belanja Langsung dan Belanja Tidak
Langsung yang masing-masing kelompok dirinci ke dalam jenis belanja. Untuk
Belanja Tidak Langsung, jenis belanjanya terdiri atas Belanja Pegawai, Belanja
Bunga, Belanja Subsidi, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Keuangan, Belanja
Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil dan Belanja Tidak Terduga. Sementara itu,
untuk Belanja Langsung, jenis belanjanya terdiri atas Belanja Pegawai, Belanja
Barang dan Jasa, serta Belanja Modal.
Pada Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan
Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 belanja daerah digunakan untuk mendanai
pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten yang
terdiri atas urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam
bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah
dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan
ketentuan perundang-undangan dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan
yang diklasifikasikan menurut urusan wajib dan urusan pilihan. Pelaksanaan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan Permendagri
Nomor 59 Tahun 2007 diharap mulai berlaku satu tahun sejak peraturan tersebut
diundangkan.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-62

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Menurut Pasal 32 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana
diubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 klasifikasi belanja menurut
urusan wajib mencakup: (1) pendidikan; (2) kesehatan; (3) pekerjaan umum; (4)
perumahan; (5) penataan ruang; (6) perencanaan pembagunan; (7) perhubungan;
(8) lingkungan hidup; (9) pertanahan; (10) kependudukan dan catatan sipil; (11)
pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; (12) keluarga berencana dan
keluarga sejahtera; (13) sosial; (14) ketenagakerjaan; (15) koperasi dan dan usaha
kecil menengah; (16) penanaman modal; (17) kebudayaan; (18) pemuda dan olah
raga; (19) kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; (20) otonomi daerah,
pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perngkat daerah,
kepegawaian dan persandian; (21) ketahanan pangan; (22) pemberdayaan
masyarakat dan desa. 23) statistik; (24) kearsipan; (25) komunikasi dan
informatika, dan (26) perpustakaan. Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan
mencakup : (1) pertanian; (2) kehutanan; (3) energi dan sumberdaya mineral; (4)
pariwisata; (5) kelautan dan perikanan; (6) perdagangan; (7) industri; dan (8)
ketransmigrasian.
Belanja Daerah dilaksanakan secara efektif, efisien dan diarahkan sesuai
target kinerja yang akan dicapai dari program/ kegiatan dengan mengutamakan
produksi dalam negeri sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah. Belanja
daerah diarahkan untuk mendukung Belanja Aparatur dan Belanja publik yang
proporsional.
Memperhatikan Permendagri 13 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan
Permendagri Nomor 59 Tahun 2007, pasal 36 bahwa belanja menurut kelompok
belanja terdiri atas belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak
langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung
dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja langsung
merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan.
Kelompok belanja tidak langsung, dibagi menurut jenis belanja yang
terdiri atas: (1) belanja pegawai; (2) bunga; (3) subsidi; (4) hibah; (5) bantuan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-63

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
sosial; (6) belanja bagi hasil; (7) bantuan keuangan; dan (8) belanja tidak terduga.
Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja
yang terdiri atas: (1) belanja pegawai; (2) belanja barang dan jasa: dan (3) belanja
modal.
Kemungkinan dalam lima tahun ke depan pemerintah akan menaikkan
gaji Pegawai Negeri Sipil, sehingga selama lima tahun mendatang diperkirakan
Belanja Tidak Langsung akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan
terutama untuk biaya gaji tetap. Kenaikan gaji pegawai negeri sipil tersebut
dibiayai oleh sumber pendapatan DAU. Dengan demikian kenaikan gaji pegawai
diharapkan dapat diikuti oleh kenaikan DAU. Belanja yang signifikan pada
kelompok belanja tidak langsung adalah belanja bantuan sosial. Alokasi bantuan
sosial diarahkan kepada masyarakat dan berbagai organisasi baik profesi
maupun kemasyarakatan. Tujuan alokasi belanja bantuan sosial adalah sebagai
manifestasi pemerintah dalam memberdayakan masyarakat. Mekanisme
anggaran yang dilaksanakan adalah bersifat block grant, artinya masyarakat
dapat merencanakan sendiri sesuai dengan kebutuhan, dengan tidak keluar dari
koridor peraturan yang berlaku. Selain itu, komitmen Pemerintah Kota
Lhokseumawe untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan kesehatan juga
berimplikasi pada meningkatnya belanja subsidi pendidikan dan kesehatan yang
juga akan berpengaruh pada peningkatan Belanja Tidak Langsung dalam lima
tahun ke depan.
Belanja Langsung terdiri atas Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa,
serta Belanja Modal. Belanja Pegawai dalam Belanja Langsung ini berbeda
dengan Belanja Pegawai pada Belanja Tidak Langsung, Belanja Pegawai pada
Belanja Langsung antara lain untuk Honorarium Pegawai Tidak Tetap (Honorer
Daerah dan Tenaga Bakti), Belanja Beasiswa Pendidikan dan Belanja Kursus.
Sementara itu, Belanja Langsung untuk jangka waktu lima tahun ke depan
diarahkan pada pencapaian visi dan misi Kota Lhokseumawe, antara lain untuk
peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan, kesehatan, pengurangan
kemiskinan, eksplorasi potensi pariwisata serta perbaikan infrastruktur untuk

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-64

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
peningkatan pelayanan jasa. Besarnya dana yang dikeluarkan untuk masing-
masing kegiatan juga diperkirakan akan meningkat. Sementara itu, khusus untuk
Belanja Modal, pengeluaran belanja modal pada lima tahun mendatang
diprioritaskan untuk membangun sarana dan prasarana yang mendukung
tercapainya visi Kota Lhokseumawe.
Mengacu pada proporsi Belanja Daerah selama lima tahun terakhir,
kebijakan belanja daerah sampai dengan tahun 2017 diperkirakan akan
didominasi oleh Belanja Tidak Langsung sekitar 60%, sedangkan untuk Belanja
Langsung diperkirakan berkisar 40%.
Merasionalkan belanja sangat penting agar belanja yang dikeluarkan
dapat efektif dan efisien. Oleh karena itu formulasi kebijakan umum anggaran
belanja daerah diarahkan pada program prioritas, yaitu pendidikan, kesehatan
dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang didukung dengan pembangunan
infrastruktur wilayah untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor lainnya di
Kota Lhokseumawe.

6.4. Analisa Tingkat Ketersediaan Dana
6.4.1 Analisis Kemampuan Keuangan Kota Lhokseumawe
Potensi sumber ekonomi daerah bersumber dari faktor internal dan
eksternal (internal dan external sources). Internal source atau local source adalah
sumber-sumber ekonomi daerah yang digali dan dikelola sendiri dalam wilayah
hukumnya. Apakah dalam bentuk sumberdaya alam maupun dalam bentuk
potensi pajak daerah dan retribusi daerah.
Sumber eksternal adalah bersumber dari luar pemerintah daerah atau
berbentuk pinjaman daerah. Sumber eksternal terbagi dua, pertama yang
bersumber dari pemerintahan diatasnya dan dikenal dengan allocation budget
atau dana yang tersedia atau teralokasi bagi pemda, seperti dana kontijensi yaitu
dana untuk belanja pegawai dan belanja non pegawai karena adanya pengalihan
personil, peralatan, pembiayaan dan dokumen (P3D). Intergovernmental transfer

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-65

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
atau pelimpahan dana antar tingkatan pemerintahan, seperti terlihat pada
penerimaan bagi hasil pada DAU dan DAK maupun dana bantuan kepada
daerah bawahan. Kedua pinjaman daerah yang berbentuk bantuan luar negeri
maupun dalam negeri atau dengan istilah Government to Government (G to G
loans) atau Bussiness/ Private to Government (B/P to G =investasi).
Berdasarkan data Realisasi Pendapatan Kota Lhokseumawe,
menunjukkan bahwa peranan pemerintah pusat cukup besar dalam realisasi
penerimaan Kota Lhokseumawe, yaitu dalam bentuk dana perimbangan (DAU,
DAK dan DBH). Untuk mengurangi ketergantungan pada pengalihan keuangan
dari pemerintah, Pemerintah Kota Lhokseumawe siap menelusuri upaya-upaya
untuk meningkatkan kapasitas finansialnya dengan mengembangkan basis
pajak, meningkatkan pengumpulan pajak dan retribusi.
Lapangan usaha yang memberikan sumbangan cukup signifikan
terhadap pendapatan daerah di Kota Lhokseumawe adalah : (1) perdagangan,
hotel dan restoran dan (2) industri dan pariwisata, yang didukung oleh sektor-
sektor lainnya seperti air bersih, bangunan, angkutan dan komunikasi, keuangan
persewaan dan jasa-jasa.
Untuk mengembangkan sumber pendapatan daerah perlu diterapkan
asas transparansi terhadap sumber-sumber pendapatan daerah tersebut, berupa
penjelasan secara rinci mengenai jumlah objek (orang, benda, tempat, dan lain-
lain) pajak dan retribusi daerah yang ditargetkan. Hal tersebut dimaksudkan
untuk menekan potensi penyimpangan dan penggelapan sumber-sumber
pendapatan daerah.
Beberapa langkah positif yang dapat diambil adalah mengembangkan
basis pajak daerah, berupa pajak properti, merestrukturisasi kesulitan BUMD
dan instansi layanan publik pemerintah lainnya agar lebih profitable dan
meningkatkan cost recovery untuk pelayanan sehingga dapat membantu
peningkatan PAD dan membangun mekanisme keuangan Kota Lhokseumawe
yang berkelanjutan.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-66

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Bila dibutuhkan maka Pemerintah Kota Lhokseumawe dapat
mengajukan pinjaman daerah. Yang perlu mendapat perhatian adalah
penggunaan dari pinjaman tersebut yaitu: (1) pinjaman jangka pendek
dipergunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas; (2) pinjaman jangka
menengah dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang
tidak menghasilkan penerimaan dan (3) pinjaman jangka panjang dipergunakan
untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan.
Pinjaman daerah bersumber dari: (1) Pemerintah, diberikan melalui
Kementerian Keuangan; (2) Pemerintah Daerah lain; (3) Lembaga Keuangan
Bank; (4) Lembaga Keuangan bukan Bank; dan (5) Masyarakat atau
perseorangan. Pengajuan pinjaman daerah harus mengikuti prosedur
perundang-undangan yang telah ditetapkan.

6.5. Rencana Pembiayaan Program
6.5.1 Rencana Pembiayaan
Manajemen pembiayaan daerah siap ditingkatkan ke arah akurasi,
efisiensi, efektivitas dan profitabilitas. Kebutuhan pembangunan daerah yang
semakin meningkat akan berimplikasi pada kemungkinan terjadi defisit
pendapatan, maka kebijakan pembiayaan daerah bersumber dari: (1) sisa lebih
perhitungan anggaran tahun lalu, (2) transfer dana cadangan daerah, (3) hasil
penjualan aset daerah yang dipisahkan dan (4) pinjaman daerah atau obligasi
daerah, bila terjadi surplus pembiayaan maka kebijakan pengeluaran
pembiayaan ditujukan untuk: (1) pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh
tempo, (2) penyertaan modal (investasi daerah) dan (3) transfer ke rekening dana
cadangan.
Analisis kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil
keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program
pembangunan selama 5 (lima) tahun ke depan. Langkah awal yang harus
dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh penerimaan daerah sebagaimana
telah dihitung pada bagian di atas dan ke pos-pos mana sumber penerimaan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-67

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
tersebut akan dialokasikan. Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total
penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau belanja dan
pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama.
Sebelum dialokasikan ke berbagai pos belanja dan pengeluaran, besaran
masing-masing sumber penerimaan memiliki kebijakan pengalokasian yang
harus diperhatikan, antara lain:
a. Penerimaan retribusi pajak diupayakan alokasi belanjanya pada program
atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan layanan
dimana retribusi pajak tersebut dipungut;
b. Penerimaan dari pendapatan hasil pengelolaan aset daerah yang dipisahkan
dialokasikan kembali untuk upaya-upaya peningkatan kapasitas dimana
dana penyertaan dialokasikan sehingga menghasilkan tingkat pengembalian
investasi terbaik bagi kas daerah;
c. Penerimaan dana alokasi umum diprioritaskan bagi belanja umum pegawai
dan operasional rutin pemerintahan daerah;
d. Penerimaan dari dana alokasi khusus dialokasikan sesuai dengan tujuan
dimana dana tersebut dialokasikan;
e. Penerimaan dana bagi hasil agar dialokasikan secara memadai untuk
perbaikan layanan atau perbaikan lingkungan sesuai jenis dana bagi hasil
didapat.

6.5.2 Pelaksanaan Pembiayaan RPIJM
APBK merupakan sumber pendanaan utama dalam pembangunan dan
pengembangan infrastruktur di Kota Lhokseumawe. Secara umum APBK
merupakan penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi yang terdiri
dari Pendapatan Daerah, Belanja dan Pembiayaan. Secara detail komponen-
komponen pendapatan dan pembiayaan dapat menjadi sumber pendanaan
infrastruktur. Berdasarkan kondisi dan kecenderungan pengalokasian anggaran,
maka strategi pengoptimalan penggunaan APBK untuk pembangunan dan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-68

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pengembangan infrastruktur Kota Lhokseumawe dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Penetapan Kebutuhan Program Pembangunan dan Pengembangan
Infrastruktur Kota Lhokseumawe

Penetapan kebutuhan program pembangunan dan pengembangan
infrastruktur perlu untuk dilaksanakan untuk menstrukturkan dan
mengintegrasikan langkah-langkah pembangunan infrastruktur di Kota
Lhokseumawe. Program ditetapkan berdasarkan target-target pembangunan
infrastruktur sebagaimana telah ditetapkan di dalam RPJMD, RPJMN, SPM,
maupun MDGs.
Untuk tahap awal kebutuhan program pembangunan infrastruktur ini
akan dihitung sampai dengan tahun 2017 (disesuaikan dengan masa
perencanaan RPJMD). Secara detail, kebutuhan program-program
pembangunan infrastruktur ditetapkan berdasarkan target-target pembangunan
yang ada. Adapun target-target pembangunan infrastruktur secara garis besar
dijelaskan sebagai berikut:
Penetapan program meliputi identifikasi program-program
pembangunan fisik infrastruktur maupun program non-fisik infrastruktur
(kampanye, advokasi, maupun capacity building). Pembangunan program non-
fisik tidak kalah penting dari pembangunan fisik terutama guna optimalisasi
pemanfaatan infrastruktur yang akan dibangun. Program-program yang
diidentifikasikan di atas juga akan disusun dengan perencanaan detail teknis dan
kebutuhan pendanaannya.
2. Penetapan Kebutuhan Anggaran Infrastruktur Perkotaan
Identifikasi kebutuhan program pembangunan selanjutnya
diterjemahkan menjadi kebutuhan pendanaan guna penyelenggaraan program-
program tersebut. Dalam hal ini, kebutuhan anggaran berdasarkan program-
program di atas akan dilengkapi dengan kebutuhan pengelolaan infrastruktur

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-69

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
yang telah terbangun (termasuk juga penghitungan setelah program
pembangunan infrastruktur dilaksanakan).
- Kebutuhan anggaran dan program pembangunan infrastruktur perkotaaan.
Pembangunan infrastruktur baru sangat terkait dengan perluasan
cakupan layanan infrastruktur perkotaan guna mengejar pemenuhan target
layanan infrastruktur yang harus diselenggarakan oleh Pemerintah Kota
Lhokseumawe. Pembangunan infrastruktur juga diiringi dengan program
advokasi dan kampanye baik kepada pemerintah maupun masyarakat terutama
tentang pentingnya infrastruktur serta dampaknya. Tujuan utama dari
kampanye dan advokasi adalah untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran
serta pengetahuan tentang infrastruktur serta dampak yang ditimbulkannya.
- Kebutuhan anggaran dan program pembangunan non-fisik infrastruktur
perkotaan

Kebutuhan anggaran untuk program pembangunan non fisik
infrastruktur (seperti kampanye dan advokasi, maupun program capacity building
untuk pejabat pemerintah Kota Lhokseumawe). Pembangunan non-fisik
terutama ditujukan untuk mendukung perubahan perilaku infrastruktur
masyarakat maupun pemerintah, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan
infrastruktur melalui peningkatan kualitas sumberdaya pengelola layanan
infrastruktur.
- Kebutuhan anggaran operasional dan pemeliharaan layanan infrastruktur
terbangun

Kebutuhan ini penting untuk dihitung terutama dalam kaitannya dengan
kelanggengan penyelenggaraan layanan infrastruktur Kota Lhokseumawe.
Kebutuhan anggaran ini dapat diturunkan dari kebutuhan total operasional dan
pemeliharaan prasarana terbangun dikurangi dengan retribusi infrastruktur
yang dapat dikumpulkan. Besaran kebutuhan anggaran pembangunan dan
pengembangan infrastruktur perkotaan di atas akan menjadi landasan bagi
pengembangan strategi pendanaan lainnya.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-70

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
3. Estimasi Kekuatan Pendanaan Internal Kota Lhokseumawe untuk
Infrastruktur

Kekuatan pendanaan internal kota dapat diturunkan dari pendapatan
pajak daerah (komponen PAD) serta pendapatan bagi hasil pajak/ non-pajak
dengan Pemerintah Pusat dan Provinsi (komponen dana perimbangan).
Komponen lain tidak dapat dijadikan sebagai komponen kekuatan internal
terutama mengingat karakteristik masing-masing komponen. Seperti misalnya
pendapatan retribusi yang akan kembali digunakan untuk kepentingan layanan
yang dikenai retribusi (dan biasanya masih memerlukan subsidi untuk tetap
menjalankan layanan tersebut).
Sedangkan DAU diturunkan berdasarkan celah fiskal kota, dan DAK
yang sangat tergantung dengan program pemerintah pusat yang sangat top down.
Dengan kondisi yang ada, maka estimasi pajak daerah ditetapkan dengan
melihat proporsinya terhadap penerimaan PAD (pertumbuhan pajak daerah
menunjukkan pertumbuhan yang sangat fluktuatif, sedangkan besaran
proporsinya terhadap PAD memperlihatkan besaran yang lebih stabil). Yang
perlu diperhatikan dari perhitungan ini adalah bahwa estimasi pendanaan
adalah merupakan estimasi total pendanan yang digunakan untuk
melaksanakan seluruh urusan pemerintahan Kota Lhokseumawe.
4. Penetapan Komitmen Pendanaan untuk Pengelolaan Infrastruktur
Dengan diestimasikannya kekuatan pendanaan internal kota, selanjutnya
penetapan komitmen pendanaan untuk pengelolaan layanan infrastruktur perlu
dibentuk. Komitmen yang dimaksud adalah besaran proporsi pendanaan
infrastruktur terhadap total pendanaan internal Kota Lhokseumawe. Penetapan
proporsi anggaran untuk infrastruktur akan dibentuk berdasarkan kesepakatan
dengan DPRK Lhokseumawe.
Dengan terbentuknya komitmen ini, maka pemilahan program
berdasarkan sumber pendapatan akan dapat dilakukan dengan lebih cermat dan
obyektif. Langkah ini lebih lanjut dapat menunjukkan celah fiskal untuk layanan
infrastruktur Kota Lhokseumawe. Dengan kata lain akan terlihat gap pendanaan

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-71

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
yang ditunjukkan melalui kapasitas fiskal Kota Lhokseumawe dengan
kebutuhan pendanaan untuk layanan infrastruktur perkotaan.
5. Pemilahan program yang akan didanai dengan anggaran internal Kota
Lhokseumawe

Berdasarkan identifikasi program serta besaran kebutuhan
pendanaannya, maka selanjutnya Pemerintah Kota Lhokseumawe akan memilah
program-program infrastruktur yang akan didanai dengan pendanaan internal
kota sendiri. Program-program pembangunan infrastruktur yang belum
terakomodir selanjutnya akan didanai melalui sumber-sumber lainnya.
6. Pengusulan perbaikan alokasi DAU untuk layanan infrastruktur
Mengingat layanan infrastruktur merupakan salah satu layanan publik
yang menjadi urusan wajib kota, maka Pemerintah Kota Lhokseumawe akan
memperhitungkan proporsi untuk pendaaan layanan infrastruktur berdasarkan
perhitungan gap fiskal di atas. Dengan pengalokasian dana DAU yang lebih jelas
untuk menutupi gap fiskal layanan infrastruktur, maka pembangunan dan
pengembangan layanan infrastruktur Kota Lhokseumawe akan dapat
dilaksanakan dengan lebih efisien, terarah dan lebih obyektif.
7. Penetapan proporsi pendanaan infrastruktur dalam DAK
DAK sangat berkaitan dengan program yang dilaksanakan oleh
Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, besaran DAK sulit untuk dapat diprediksikan
besarannya setiap tahunnya. Selain itu peruntukan pendanaan bagi infrastruktur
tidak dijelaskan secara eksplisit dalam DAK.
Walaupun demikian peruntukan layanan infrastruktur yang dapat
dikaitkan dengan bidang pendanaan DAK adalah bidang kesehatan, air bersih,
prasarana dan lingkungan hidup. Karena itu Pemerintah Kota Lhokseumawe
akan berusaha menetapkan dan mengalokasikan pendanaan untuk infrastruktur
dari bagian bidang-bidang tersebut.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-72

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
8. Penetapan proporsi pendanaan infrastruktur dalam Dana Otsus dan TDBH
Migas

Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak
dan Gas (TDBH Migas) dimana peruntukkannya 40% dikelola oleh Pemerintah
Aceh dan 60% dikelola oleh Kabupaten/ Kota di Aceh. Dalam hal ini Pemerintah
Kota Lhokseumawe selain memanfaatkan dana Otsus dan TDBH Migas
Kabupaten/ Kota juga akan mengupayakan pembangunan infrastruktur melalui
program-program yang didanai dengan Otsus Aceh dan TDBH Migas Aceh.
9. Memanfaatkan surplus anggaran untuk pendanaan layanan infrastruktur
perkotaan
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, surplus anggaran merupakan salah
satu sumber pendanaan yang dapat digunakan untuk pembangunan dan
pengembangan infrastruktur Kota Lhokseumawe. Permasalahan yang berkaitan
dengan surplus anggaran ini adalah bahwa surplus anggaran tidak dapat
diprediksikan besarannya hingga akhir tahun fiskal berjalan.
Secara garis besar surplus anggaran dapat digunakan untuk keperluan-
keperluan sebagai berikut:
- Penggunaan surplus anggaran untuk pembiayaan belanja defisit layanan
infrastruktur perkotaan;
- Penyertaan modal untuk pengelolaan infrastruktur perkotaan;
- Memasukkan sebagian surplus anggaran ke dalam dana cadangan guna
membiayai program pembangunan infrastruktur kota skala besar.
Untuk dapat menggunakan surplus anggaran di atas, maka Pemerintah
Kota Lhokseumawe akan mengkaji langkah-langkah berikut:
- Mengidentifikasikan besaran-besaran defisit anggaran layanan infrastruktur
untuk kemudian dibiayai melalui surplus anggaran.
- Mengidentifikasikan program pembangunan infrastruktur Kota
Lhokseumawe skala besar serta besarnya dana anggaran yang dibutuhkan.
Setelah itu Pemerintah Kota Lhokseumawe akan berusaha mengkaji untuk

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-73

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
membentuk komitmen pembentukan dana cadangan untuk pembiayaan
program tersebut.

10. Memanfaatkan Anggaran Pemerintah Pusat dan Anggaran Provinsi
Sebagaimana disebutkan di atas, maka untuk tahap ini, Pemerintah Kota
Lhokseumawe akan menetapkan program-program pembangunan infrastruktur
yang tidak mampu didanai dengan pendanaan internal kota untuk diusulkan
dibiayai dengan RPIJM ataupun dana anggaran pendapatan dan belanja Aceh.
Langkah-langkah yang akan diambil untuk menerapkan strategi pemanfaatan
RPIJM adalah sebagai berikut:
- Identifikasi program pembangunan infrastruktur infrastruktur Kota
Lhokseumawe yang tidak dapat terakomodir oleh pendanaan internal;
- Membentuk proposal usulan program terpilih kepada Kementrian PU yang
terdiri dari proposal administrasi, usulan teknis dan proposal pembiayaan
program;
- Menyampaikan proposal usulan program kepada Kementrian PU dan
melakukan pendekatan kepada Tim Teknis Infrastruktur Pusat.
Sedangkan langkah-langkah yang akan diambil untuk mendapatkan
pembiayaan dari APB Aceh adalah sebagai berikut:
- Melakukan koordinasi dengan Pemerintah Aceh terutama untuk
mengidentifikasikan besaran anggaran yang bisa didapatkan untuk
membiayai pembangunan infrastruktur di Kota Lhokseumawe;
- Identifikasi program pembangunan infrastruktur Kota Lhokseumawe yang
tidak terakomodir dengan pendanaan internal;
- Membentuk proposal usulan program terpilih kepada Pemerintah Aceh yang
terdiri dari proposal administrasi,usulan teknis dan proposal pembiayaan
program;
- Menyampaikan proposal serta membentuk komitmen pendanaan kepada
Pemerintah Aceh.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-74

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
11. Memanfaatkan Pendanaan Melalui Hibah Luar Negeri.
Mengingat konsekuensi pengembalian pinjaman dapat membebani
keuangan daerah, sementara investasi di sektor infrastruktur yang umumnya
belum dapat cost recovery, maka Pemerintah Kota Lhokseumawe akan lebih
memfokuskan pada pembiayaan hibah luar negeri.
Untuk itu tahapan yang akan dilakukan Pemerintah Kota Lhokseumawe
adalah sebagai berikut:
- Mengidentifikasikan program-program infrastruktur skala besar yang belum
mampu dibiayai pendanaan internal kota;
- Penyusunan proposal administrasi, teknis, dan proposal finansial untuk
program terpilih;
- Penyampaian usulan hibah kepada pemerintah (langsung kepada Bappenas
ataupun melalui Kementrian Teknis terkait).

12. Memanfaatkan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan.
Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan merupakan salah satu
unsur dalam sistem perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah. Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan
Pemerintahan Daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil,
proporsional, demokratis, transparan dan bertanggungjawab dalam rangka
pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi,
kondisi dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan penyelenggaraan
dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
Menurut UU No. 33 Tahun 2004, pelimpahan kewenangan dalam rangka
pelaksanaan Dekonsentrasi dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah
diikuti dengan pemberian dana. Dana yang diberikan untuk mendanai sebagian
kewenangan yang dilimpahkan merupakan Dana Dekonsentrasi yang berasal
dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat,
tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk Instansi Vertikal Pusat di daerah.

Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VI-75

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017

http://www.bappedalhokseumawe.web.id
Bappeda Kota Lhokseumawe
BAB VII


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VIII-1

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017




RRENCANA KESEPAKATAN
(MEMORANDUM)
RENCANA INVESTASI
DAN KAIDAH PELAKSANAAN

Rencana Pembangunan Investasi Jangka Menengah Pekerjaan Umum
Cipta Karya Kota Lhokseumawe Tahun 2013-2017 sebagai pedoman, landasan
dan referensi dalam menyusun program pembangunan sarana dan prasarana
yang terpadu bagi Kota Lhokseumawe. RPIJM Tahun 2013-2017 selanjutnya
diharapkan dapat menjadi pedoman bagi penyusunan Rencana Kerja Pemerintah
Daerah Bidang Cipta Karya setiap tahunnya.
RPIJM Pekerjaan Umum Bidang Cipta Karya Kota Lhokseumawe Tahun
2013-2017 yang telah disusun ini hendaknya dapat dilaksanakan secara
konsisten, jujur, transparan, partisipatif dan penuh tanggungjawab dan
merupakan pedoman bagi penyusunan bagi program pembangunan selanjutnya.
Untuk itu perlu ditetapkan kaidah-kaidah pelaksanaan sebagai berikut:
1. Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kota Lhokseumawe serta
masyarakat termasuk dunia usaha berkewajiban untuk melaksanakan
program-program dalam RPIJM PU/ Cipta Karya Kota Lhokseumawe Tahun
2013-2017 dengan sebaik-baiknya;
2. Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Kota Lhokseumawe berkewajiban
untuk menyusun rencana strategis yang memuat visi, misi, tujuan, strategi,
kebijakan, program dan kegiatan pokok pembangunan yang disusun dengan
berpedoman pada Program Jangka Menengah Kota Lhokseumawe Tahun
BAB


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VIII-2

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
2013-2017 yang nantinya akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana
Strategis Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah;
3. Satuan Kerja Perangkat Daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Lhokseumawe yang
telah ditetapkan maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi
Aceh;
4. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah Kota Lhokseumawe Tahun 2013-2017, Dinas
Pekerjaan Umum berkewajiban untuk melakukan monitoring dan evaluasi
terhadap penjabaran Rencana Program Jangka Menengah Bidang Cipta Karya
Kota Lhokseumawe Tahun 2013-2017 ke dalam Rencana Strategis Satuan
Kerja Perangkat Daerah;
5. Dalam pelaksanaan pembiayaan Program Jangka Menengah Bidang Cipta
Karya Kota Lhokseumawe Tahun 2013-2017 ini perlu sinkronisasi antara pola
investasi yang direncanakan oleh pemerintah daerah dengan investasi
pembangunan yang direncanakan dan dibangun oleh pemerintah pusat (baik
badan, instansi maupun departemen yang terkait);
6. Melalui Program Jangka Menengah Bidang Cipta Karya Kota Lhokseumawe
Tahun 2013-2017 nantinya dapat meningkatkan pelayanan pemerintah
terhadap masyarakat dan dapat meningkatkan dan mengembangkan
kapasitas pemerintah daerah Kota Lhokseumawe. Pelayanan terhadap
masyarakat yang akan terus membaik yang pada gilirannya kelak akan
menciptakan kemajuan dan kesejahteraan kehidupan di Kota Lhokseumawe.
Melalui Program Jangka Menengah Bidang Cipta Karya Kota
Lhokseumawe Tahun 2013-2017 diharapkan dapat meningkatkan taraf (kualitas)
hidup dan kesejahteraan masyarakat Kota Lhokseumawe.
Untuk memberikan dasar hukum Program Investasi Jangka Menengah
Bidang Ke Cipta Karyaan yang diusulkan Kota Lhokseumawe diperlukan lembar
kesepakatan antara DPRK dan Walikota untuk melaksanakan dan mendanai
program investasi bidang Cipta Karya. Nota Kesepakatan ini penting bagi


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VIII-3

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
pelaksanaan program investasi yang termuat dalam Rencana Program Investasi
Jangka Menengah, antara lain:
1. Sebagai dasar penentuan dukungan Pemerintah Pusat kepada Kota
Lhokseumawe pada penyelenggaraan bidang Cipta Karya;
2. Mendorong komitmen Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam menyusun
program investasi bidang Cipta Karya dalam RPIJM;
3. Memberikan penguatan dalam prosedur pendanaan, terutama dana dari
lingkungan eksternal Pemerintah Kota Lhokseumawe, antara lain dari
Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pinjaman Luar Negeri, masyarakat
atau kerjasama dengan pihak swasta.
8.1. Ringkasan Rencana Pembangunan Kota Lhokseumawe
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota
Lhokseumawe Bidang Cipta Karya merupakan keterpaduan kegiatan mulai dari
perencanaan, pelaksanaan sampai monitoring dan evaluasi program yang akan
menjadi pedoman dalam kegiatan pembangunan dan peningkatan bidang
PU/ Cipta Karya.
Adapun ringkasan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)
Kota Lhokseumawe adalah sebagai berikut:
a. Rencana Investasi Bidang Air Minum
b. Rencana Investasi Bidang Persampahan
c. Rencana Investasi Bidang Air Limbah
d. Rencana Investasi Bidang Drainase
e. Rencana Investasi Bidang Penataan Bangunan Lingkungan
f. Rencana Investasi Pengembangan Permukiman
Dengan adanya program yang jelas dan terperinci ini diharapkan
pelaksanaannya akan dapat lancar dan terkoordinasi dengan baik tahapan
pelaksanaannya.


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VIII-4

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
8.2. Ringkasan Program Prioritas Infrastruktur
Ringkasan program prioritas infrastruktur bidang Cipta Karya di Kota
Lhokseumawe disusun atas dasar kebutuhan dasar masyarakat dan wilayah
Kota Lhokseumawe yang telah terangkum pada matrik terlampir. Untuk
memudahkan pelaksanaannya dibuat kerangka logis usulan program/ kegiatan
yang sangat dibutuhkan dengan jelas dan tepat sasaran serta terjamin
keberlanjutannya secara efektif dan efisien.
Dalam penyusunan kerangka logis (logical framework) agar dapat
memberikan gambaran tujuan, parameter penilaian, cara menilai dan evaluasi
pelaksanaan dengan jelas.
8.3. Pengaturan dan Mekanisme Pelaksanaan
Pengaturan dan mekanisme pelaksanaan Rencana Program Investasi
Jangka Menengah (RPIJM) bidang Pekerjaan Umum Cipta Karya Kota
Lhokseumawe memerlukan kesepakatan bersama antara Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kota Lhokseumawe maupun dengan
masyarakat/ swasta agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar.
Kesepakatan bersama ini merupakan acuan dan pedoman dalam pelaksanaan
program dan kegiatan serta komitmen dalam penganggarannya dengan jelas.
RENCANA KESEPAKATAN (MEMORANDUM)
TENTANG
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH (RPIJM)
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE TAHUN 2013-2017

Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah telah ditetapkan pembagian kewenangan antara
Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota.
Penyediaan infrastruktur permukiman menjadi kewenangan wajib bagi


Bappeda Kota Lhokseumawe, 2012 VIII-5

RPIJM
PKD
RENCANA PROGRAM INVESTASI JANGKA MENENGAH
BIDANG CIPTA KARYA KOTA LHOKSEUMAWE 2013-2017
Pemerintah Kabupaten/ Kota, sehingga lebih mendekatkan antara pengambil
kebijakan dengan masyarakat pengguna infrastruktur permukiman.
Menghadapi dinamika perubahan yang terjadi tersebut, kami menyadari
bahwa diperlukan keselarasan dalam cara pandang atau paradigma
pengembangan sektor-sektor dalam konstelasi pembangunan regional dan
nasional yang berkelanjutan. Untuk itu, kami menyepakati untuk melakukan
kesepakatan dalam perencanaan dan pelaksanaan Program Program Investasi
Jangka Menengah (RPIJM) Bidang PU/ Cipta Karya Kota Lhokseumawe tahun
20132017 sebagaimana terlampir.
Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Bidang PU/ Cipta
Karya Kota Lhokseumawe tahun 20132017 ini pada dasarnya dapat dilanjutkan
dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan yang ada pada
tahun-tahun berikutnya.
Demikian Rencana Kesepakatan (Memorandum) ini kami buat
berdasarkan kepedulian kami dalam upaya-upaya percepatan pelaksanaan
pembangunan bidang PU/ Cipta Karya yang berkelanjutan.

Mengetahui,
KETUA DPRK LHOKSEUMAWE

SAIFUDDIN YUNUS
Lhokseumawe, Juli 2012
WALIKOTA LHOKSEUMAWE

SUAIDI YAHYA