Anda di halaman 1dari 2

Melawan Diabetes Atau Kencing Manis dengan

Buah Pare
June 9th, 2012 |
Melawan Diabetes atau Kencing Manis dengan Buah Pare |
Dua dasawarsa ini pertumbuhan penyakit diabetes atau kencing
manis dunia semakin cepat dan terbesar terjadi di Asia Pasifik
(Dr Clive Cockram, Ketua Asia Pasifik Tipe 2 Diabetes Mellitus
Policy Group). Kenyataan ini memberi dampak besar terhadap
konsekuensi sosial ekonomi regional.
Selama ini lebih dari 90 persen kasus penyakit diabetes atau
kencing manis bukan turunan (diabetes mellitus Tipe 2) terjadi
pada kelompok usia baya dan tua. Namun, sekarang diabetes atau
kencing manis juga banyak menimpa anak, remaja, dan warga kurang
mampu. Penyebab utamanya adalah karena pola hidup dan makan yang
kurang sehat dan kurang berolahraga/gerak. AS, Rusia, Jepang,
Pakistan, dan Indonesia, termasuk negara yang tengah memikul
ancaman itu.
penyakit diabetes atau Kencing manis tergolong penyakit menahun.
Tubuh kita membutuhkan insulin yang membantu memasukkan gula ke
dalam sel dalam jumlah yang mencukup, untuk itu diperlukan obat
atau insulin tambahan. Selama insulin tubuh hanya bisa memadai
dengan bantuan obat atau tambahan suntikan insulin sudah tentu
akan membawa dampak ekonomi si pasien, selain efek sampingnya.
Khasiat Buah Pare untuk Mengobati Penyakit Diabetes atau Kencing
Manis
Khasiat buah pare (momordica charantia) sebagai obat di Cina
sudah dicatat Li sejak tahun 1578. Awalnya sebagai tonikum, obat
cacing, obat batuk, antimalaria, seriawan, penyembuh luka, dan
penambah nafsu makan. Ratusan riset di banyak negara yang
berkembang kemudian menyingkap buah pahit ini berefek menurunkan
kadar gula darah (hypopglycemic effect) pada kelinci sehat
maupun yang sudah dibuat berpenyakit gula.
Riset serupa di Jerman, Inggris, India, Jepang, Thailand, dan
Malaysia mempertegas zat berkhasiat pare sebagai antidiabetes.
Buah pare yang belum masak mengandung saponin, flavonoid, dan
polifenol (antioxidant kuat), serta glikosida cucurbitacin,
momordicin, dan charantin.
Untuk menemukan kandungan zat berkhasiat lain dalam buah pare,
analisis phytopharmaca buah pare sudah banyak dikerjakan. Sejak
lama pare digunakan juga sebagai anti-kanker, anti-infeksi, dan
dalam tahun-tahun belakangan terungkap pula kalau pare
berkhasiat sebagai anti-AIDS (Riset Zhang 1992; Eric von
Wettberg, 1998; TB Ng 1995; dan Sylvia Lee-Huang 1995). Efek
buah pare sebagai anti-virus HIV terletak pada kandungan protein
momorcharin alfa dan beta, atau pada protein MAP30 (Momordica
Antiviral Protein 30).
Efek pare dalam menurunkan gula darah pada hewan percobaan
bekerja dengan mencegah usus menyerap gula yang dimakan. Selain
itu diduga pare memiliki komponen yang menyerupai sulfonylurea
(obat antidiabetes paling tua dan banyak dipakai). Obat jenis
ini menstimulasi sel beta kelenjar pancreas tubuh memproduksi
insulin lebih banyak, selain meningkatkan deposit cadangan gula
glycogen di hati. Efek pare dalam menurunkan gula darah pada
kelinci diperkirakan juga serupa dengan mekanisme insulin.
Dari begitu banyak riset pare sebagai penurun gula darah, ada
benang merah bahwa dalam menurunkan gula darah, pare memiliki
lebih dari satu mekanisme. Lebih dari itu, penelitian pare di
Jerman berhasil menemukan dosis efektif penurun gula darah pare
pada kelinci sehat sebesar 0,5 gram/ kg berat badan, dan 1-1,5
gram/kg berat badan untuk kelinci yang sengaja dibikin kencing
manis.
Apakah dosis terapi pare pada manusia setara dengan dosis terapi
pada kelinci, hingga kini belum seluruhnya jelas. Namun,
pemakaian dosis pare yang berlebihan perlu dipertimbangkan,
apalagi jika penggunaannya digabung dengan obat antidiabetes
dari dokter. Penggunaan saripati pare pada ibu hamil, anak-anak,
dan orang-orang yang kadar gula darahnya cenderung rendah, tidak
dianjurkan, sebab bisa membahayakan.
Melihat potensi buah pare sebagai anti-diabetes, bagi pasien
diabetes pare membuka cakrawala baru. Selain pada kencing manis
turunan, pare terutama bermanfaat bagi pasien diabetes Tipe 2,
jenis diabetes atau kencing manis bukan turunan yang terbanyak
mengisi populasi diabetes dunia. Termasuk bagi warga tak mampu
di Indonesia.
Dunia menaruh harapan pada buah pare sebagai anti-diabetes oleh
karena obat kimiawi tidak lebih aman dan lebih murah
dibandingkan obat alami seperti buah pare. Di Amerika dan Eropa,
kencing manis menyedot 10 persen anggaran kesehatan nasional.
Sementara itu, dalam pilihan terapi apa pun, kini dunia semakin
condong beralih seberapa bisa mencari khasiat obat yang berasal
dari alam (phytopharmaca). Pertimbangannya, efek samping obat
dari alam umumnya tidak seburuk obat sintetis. Namun,
persoalannya tetap saja bahwa penelitian bahan alam untuk
dijadikan obat pun sama petik dan makan ongkos seperti temuan
untuk sebuah obat sintetis.
Demikian informasi tentang Melawan Diabetes Atau Kencing Manis
dengan Buah Pare.
Semoga bermanfaat bagi Anda.