Anda di halaman 1dari 15

Praktikum Fisika

Dasar II
^Deviasi dan Indeks
Bias Prisma^
Kelompok I
Identitas

Nama : Ketsya Debora Lenak
NIM : 13 530 001
Kelas : Ilmu Kimia
Kelompok : I
Anggota Kelompok : - Susriany Puidumole
- Deswin Sakudu
- Meiky Mokoginta
Judul Percobaan : Deviasi dan Indeks Bias Prisma
Tanggal Melakukan Percobaan : 15 Mei 2014
Tanggal Memasukkan Percobaan : 21 Mei 2014
























I. Tujuan Percobaan
1. Agar mahasiswa dapat melakukan pengukuran dengan benar sudut deviasi dan sudut
deviasi minimum dengan alat-lat yang tersedia .
2. Dengan data yang diperoleh dari pengukuran, mahasiswa dapat menghitung dengan
benar besarnya indeks bias bahan prisma.

II. Alat dan Bahan
1. Prisma sama sisi 1 buah
2. Prisma sama kaki 1 buah
3. Jarum pentul 4 buah
4. Busur derajat 1 buah
5. Penggaris (mistar) 30cm 1 buah

III. Dasar Teori


Prisma merupakan benda yang terbuat dari gelas tembus cahaya (transparan) yang
kedua sisinya dibatasi bidang permukaan yang membentuk sudut tertentu satu sama lain.
Sudut tersebut dinamakan sudut pembias (simbol: ). Bidang permukaan prisma berfungsi
sebagai bidang pembias.
Perhatikan gambar di atas, cahaya yang datang dari udara (sinar datang) menuju
bidang permukaan prisma akan dibiaskan mendekati garis normal sesuai dengan hukum
pembiasan Snellius. Kemudian, ketika sinar meninggalkan prisma menuju udara, sinar
tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal.
Setelah melewati prisma, cahaya mengalami deviasi yang disebut dengan sudut
deviasi (). Sudut deviasi () merupakan sudut yang dibentuk oleh perpotongan dari
perpanjangan sinar datang (i
1
) dengan perpanjangan sinar yang meninggalkan prisma (r
2
).
Besarnya sudut deviasi yang dialami cahaya adalah sebagai berikut. Perhatikan gambar
berikut ini.

Perhatikan QRS.
SRQ = r
2
i
2
dan
SQR = i
1
r
1

QSR = 180 - SQR - SRQ
QSR = 180 - (i
1
r
1
) (r
2
i
2
)
QSR = 180 - i
1
+ r
1
r
2
+ i
2


Perhatikan BQR.
BQR = 90 r
1

BRQ = 90 i
2

QBR = 180 BQR - BRQ
QBR =
= 180 (90 r
1
) (90 i
2
)
= r
1
+ i
2


Sudut deviasinya () dapat dicari sebagai berikut.
= 180 - QSR
= 180 - (180 - i
1
+ r
1
r
2
+ i
2
)
= i
1
- r
1
+ r
2
- i
2

= (i
1
+ r
2
) (i
2
+ r
1
), ingat r
1
+ i
2
= maka:
= (i
1
+ r
2
)
Keterangan:
= sudut pembias prisma
i
1
= sudut datang sinar masuk
i
2
= sudut datang sinar keluar
r
1
= sudut bias dari sinar masuk
r
2
= sudut bias dari sinar keluar
= sudut deviasi

Dalam pembiasan cahaya terdapat suatu hukum yang dikenal dengan Hukum
Snellius. Hukum Snellius adalah rumus matematika yang memberikan hubungan antara
sudut datang dan sudut bias pada cahaya atau gelombang lainnya yang melalui batas
antara dua medium isotropik berbeda, seperti udara dan gelas atau kaca. Nama hukum ini
diambil dari matematikawan Belanda Willebrord Snellius, yang merupakan salah satu
penemunya. Hukum ini juga dikenal sebagai Hukum Descartes atau Hukum Pembiasan.
Hukum Snellius terdiri atas dua hukum, yaitu:
1. Hukum Sinellius I

2. Hukum Sinellius II




di mana:
n
1
: indeks bias medium di sekitar prisma (biasanya adalah udara)
n
2
: indeks bias prisma
Berdasarkan Hukum Snellius, maka besar sudut deviasi minimum dapat dinyatakan :
Jika suatu cahaya melalui perbatasan dua jenis zat, maka garis
semula tersebut adalah garis sesudah sinar itu membias dan garis
normal di titik biasnya, ketiga garis tersebut terletak dalam satu
bidang datar.
Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias selalu
konstan. Nilai konstanta dinamakan indeks bias.

dan



IV. Jalannya Percobaan
1. Meletakkan papan tripleks bulat diatas meja. Kemudian metakkan sehelai kertas diatasnya.
2. Meletakkan prisma diatas kertas dan menandai dengan pensil bidang alas prisma.
Kemudian mengangkat dan mimindahkan prisma tersebut.
3. Menandai titik ditengah-tengah garis kiri sisi segitiga. Membuat garis tegak lurus sisi
tersebut tepat di titik tersebut. Dengan busur membuat sudut 35 dititik sudut tersebut.
4. Menancapkan dua buah jarum pentul digaris yang membuat sudut 35 terhadap garis tegak
lurus. Dan letakkan kembal prisma pada posisi semula. Sekarang amati dari sisi lainnya
agar kedua jarum pentul kelihatan berimpit. Dan sementara itu, tancapkan kembali jarum
pentul ketiga dan keempat sehingga Nampak keempat jarum tersebut berimpit (tinggal
kelihatan satu)
5. Tandai dengan pensil posisi jarum ketiga dan keempat agar garisnya menyentuh sisi prisma
sebelah kanan.
6. Perpanjang garis tersebut agar berpotongan dengan perpanjangan garis dari sisi prisma
disebelah kanan.
7. Ulangi langkah 3 sampai dengan 5 dengan mengubah sudut dating menjadi 40, 45, dan
50,dan akan lebih jika setiap sudut datang
.
V. Hasil Pengamatan


Jenis Prisma





Prisma Sama Sisi 60
35 65 40
40 55 55
45 51 36
50 45 35
Prisma Sama Kaki 45
35 34 24
40 30 25
45 24 24
50 21 26

Lampiran Gambar :
Prisma Sama Sisi













Prisma Sama Kaki















VI. Pengolahan Data
1. Buatlah grafik fungsi sebagai fungsi dari perubahan sudut dating

.




2. Buatlah grafik sebagai fungsi (+

) untuk kedua jenis prisma yang digunakan.


0
10
20
30
40
50
60
35 40 45 50
Diagram Fungsi sebagai fungsi dari
perubahan sudut datang
1
(Prisma Sama
Sisi)
Sudut Deviasi
23
23.5
24
24.5
25
25.5
26
26.5
35 40 45 50
Diagram Fungsi sebagai fungsi dari
perubahan sudut datang
1
(Prisma Sama
Kaki)
Sudut Deviasi


3. Hitung harga indeks bias prisma.
untuk prisma sama sisi


untuk prisma sama kaki










0
20
40
60
80
100
120
Prisma sama sisi Prisma sama kaki
Grafik fungsi (+i
1
) untuk prisma sama kaki dan sama sisi
35 40 45 50
VII. Pembahasan
Kami melakukan praktikum mengenai penentuan nilai indeks bias prisma berdasarkan
pengukuran sudut deviasi dan sudut deviasi minimum yang digunakan dalam praktikum Fisika
Dasar II ini.
Dalam data hasil pengamatan, nilai i
1
dan untuk prisma sama sisi untuk sudut datang
(35
o
, 40
o
, 45
o
dan 50) membentuk sudut r
2
, 35,40,45,dan50 ; sedangkan untuk prisma siku-
siku sama kaki nilai i
1
dan 24,25,24,26. Nilai sudut deviasi () yang didapat dari masing-
masing jenis prisma, sudut bias, dan sudut datang yang sebelumnya telah ditentukan, telah
diuji dengan menggunakan rumus deviasi:
(

)
dan mendapatkan hubungan yang tepat dan benar berdasarkan rumus di atas.
Untuk menentukan nilai indeks bias prisma (n), pertama-tama kami menghitung terlebih
dahulu sudut deviasi minimum (
m
). Deviasi minimum sebenarnya terjadi jika i
1
= r
2
, namun
dalam praktikum yag kami laksanakan didapati bahwa nilai i
1
tidak sama dengan r
2
, baik untuk
jenis prisma sama sisi maupun prisma siku-siku sama kaki. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan nilai sudut deviasi minimum kami mengambil nilai deviasi yang paling kecil atau
mendekati (i
1
r
2
). Setelah itu, kami masukkan dalam persamaan dari Hukum Snellius II:


Karena diketahui untuk nilai indeks bias udara (n
1
) bernilai 1, maka persamaan di atas akan
menjadi:


sehingga nilai indeks bias prisma dapat dicari.
Kami menemukan bahwa nilai indeks bias prisma yang kami dapatkan (1,5) lebih besar
dari nilai indeks bias udara (1). Gambar datangnya sinar yang ditunjukkan pada data hasil
pengamatan menunjukkan bahwa sinar dibiaskan mendekati garis normal pada titik bias
prisma. Hal ini sesuai dengan penjabaran hukum I Snellius.
VIII. Kesimpulan
Setelah kami melakukan percobaan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan:
1. Prisma mempunyai dua bidang pembias. Apabila seberkas sinar datang pada salah satu
bidang prisma yang kemudian disebut sebagai bidang pembias I, akan dibiaskan mendekati
garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas sinar tersebut akan dibiaskan menjauhi
garis normal.
2. Sudut deviasi adalah sudut yang dibentuk oleh perpanjangan sinar datang mula-mula dengan
sinar yang meninggalkan bidang pembias atau pemantul. Sudut deviasi dapat dirumuskan
sebagai berikut:
(

)
3. Sudut deviasi mencapai minimum ketika besar sudut datang sinar sama dengan besar sudut
bias prisma (i
1
= r
2
)
4. Hubungan mengenai pembiasan yang terjadi pada cahaya yang melalui dua medium yang
berbeda dapat dijelaskan dengan Hukum Snellius:
a. Hukum Snellius I :
Jika suatu cahaya melalui perbatasan dua jenis zat, maka garis semula tersebut adalah garis
sesudah sinar itu membias dan garis normal di titik biasnya, ketiga garis tersebut terletak
dalam satu bidang datar.
b. Hukum Snellius II :
Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias selalu konstan. Nilai konstanta
dinamakan indeks bias.

5. Nilai indeks bias pada prisma dapat ditentukan melalui hubungan Hukum Snellius II dan rumus
sudut deviasi minimum prisma:


6. Nilai indeks bias prisma lebih besar daripada nilai indeks bias pada udara (n
2
> n
1
atau n
2
> 1),
karena itu sinar datang pada prisma dibiaskan atau dibelokkan mendekati garis normal


























Daftar Pustaka

----. 2013. Penuntun Praktikum Fisika Dasar 2. Tondano: Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri
Manado.
131604269-Laporan-Praktikum-Fisika-Dasar-II-DEVIASI-DAN-INDEKS-BIAS-PRISMA.doc
http://mafia.mafiaol.com/2013/02/pembiasan-dan-sudut-deviasi-pada-prisma.html -diunduh pada tanggal
20 April 2014

Anda mungkin juga menyukai