Anda di halaman 1dari 7

FSCT (Forer Sentence Completion Test)

Dibuat oleh Bertram R.Forer , bisa digunakan untuk anak-anak, remaja atau dewasa.
Tujuan & asumsi dasar sama dengan SSCT (Saks Sentemce Completion Test) yaitu untuk
mengetahui individu adjustment & struktur kepribadian. Struktur uji kalimat penyelesaian
ini melibatkan kedua kekhasan item kalimat dan sistem evaluasi yang digunakan untuk
menilai kualitas tanggapan. FSCT (Forer Sentence Completion Test) dikembangkan untuk
mengidentifikasi individu sikap dan pandangan tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan
dunia.


Tes ini terdiri dari 100 item yang dikelompokan berdasarkan isinya, yaitu :
1. Sikap terhadap karakteristik interpersonal figures (ayah, ibu, laki-laki, perempuan,
kelompok, tokoh otoritas)
2. Keinginan-keinginan
3. Sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang
4. Reaksi-reaksi terhadap keadaan luar
Untuk menentukan Skor terhadap tes ini, Forer telah mengembangkan Daftar Periksa dan
Formulir Evaluasi Klinis baik untuk remaja dan dewasa. Bentuk ini memberikan skema
evaluasi yang terstruktur bahwa pemeriksa dapat menggunakan grup untuk setiap item ke
dalam salah satu dari empat kategori: Interpersonal Gambar, Wishes, Penyebab Sendiri
(perasaan dan perilaku), dan Reaksi (kepada orang lain). Setiap item dinilai sesuai dengan
"sikap terhadap" dan "karakteristik" dalam dua kategori pertama dan "sikap terhadap"
dalam dua kategori terakhir. Forer telah mencoba untuk mendefinisikan istilah-istilah
tesnya secara operasional dalam pedoman klinis, secara spesifik dan implikasi tentang
struktur dan organisasi dari kepribadian seseorang. Sedangkan untuk standarisasi tes
ini,reliabilitas dan validitas masih kurang karena masih menggunakan sistem manual
yang tidak berisi informasi tentang reliabilitas dan validitasnya. Untuk penggunaan norma-
normanya pun sangat minim.Oleh karena keterbatasan tersebut, penggunaan FSCT (Forer
Sentence Completion Test) dianjurkan sebagai tambahan untuk tes psikologis dalam
penelitian klinis.






Fakultas Psikologi
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Survey mengenai penggunaan tes menemukan bahwa sentence completion tests (SCT)
paling banyak digunakan dalam instrument assessment kepribadian. Tes ini diberi
peringkat kedua oleh clinician Jepang (Ogawa & Piotrowski, 1992), peringkat ketiga oleh
psikolog klinis (Goh & Fuller, 1983), peringkat kelima oleh clinician yang bekerja pada
remaja (Archer, Maruish, Imhof, & Piotrowski, 1991), peringkat keempat oleh psikolog
sekolah (Kennedy, Faust, Willis, & Piotrowski, 1994), peringkat kelima oleh penyedia
layanan kesehatan mental representative, dan peringkat ketiga oleh anggota Society for
Personality Assessment dalam respons dengan pertanyaan: Withwhat 5 projective tests
should the professional practitioner be competent? (Piotrowski, 1985, hal. 81).
Sangat menarik bahwa SCT diklasifikasikan secara umum, sementara instrument
kepribadian lain diberi peringkat sesuai namanya (seperti Rorscach atau Minnesota
Multiphasic Personality Inventory2 [MMPI2]), tidak berdasarkan kategorinya
(misalnya inkblot dan storytelling technique). Padahal dalam SCT juga terdapat beberapa
macam tes yang dibuat oleh ahli yang berbeda. Pada makalah ini kami membahas salah
satu dari SCT tersebut, yaitu Forer Sentence Completion Test.
2.1 Sejarah Tes Forer
Bertram R. Forer (24 Oktober 1914-6 April 2000) adalah psikolog Amerika yang terkenal
dengan Forer effect, atau validasi subjektif. Lahir di Springfield, Massachusetts, Forer lulus
dari University of Massachusetts Amherst pada tahun 1936. Dia mendapat gelar M.A. dan
Ph.D. dalam psikologi klinis dari University of California, Los Angeles. Dia menjadi psikolog
dan administrasi di rumah sakit militer Perancis selama Perang Dunia Kedua. Setelah itu ia
bekerja di veteran administration klinik mental di Los Angeles, dan membuka praktik di
Malibu, California.
Dalam eksperimen klasiknya di tahun 1948, B. R. Forer memberikan sebuah uji kepribadian
pada mahasiswanya, mengabaikan jawaban mereka, dan membagikan hasil yang sama
pada setiap siswa. Ia meminta mereka menilai tugas mereka pada skala dari 0 hingga 5,
dimana 5 sangat akurat. Evaluasi yang diberikan rata-rata 4.26. Tes ini telah diulang
ratusan kali dan rata-ratanya tetap sekitar 4.2.
Orang cenderung menerima deskripsi kepribadian umum dan kabur berlaku pada diri
mereka sendiri tanpa menyadari deskripsi yang sama dapat berlaku pada siapa saja. Orang
cenderung menerima klaim mengenai diri mereka sendiri yang sebanding dengan
keinginan mereka kalau klaim tersebut benar daripada sebanding dengan ketelitian empiris
dari klaim seperti yang diukur oleh standar non subjektif.
Efek Forer mungkin penyebab kenapa orang percaya astrologi, bioritme, peramal
keberuntungan, grafologi, pembaca guratan telapak tangan, dan metode lain analisis
karakter. Forer mengatakan kalau kecerobohan dapat bertanggung jawab atas
kecenderungan pelanggan untuk menerima hasil tes kepribadian yang sama. Tampak lebih
rumit daripada itu dan mungkin melihatkan bukan hanya kecerobohan, namun juga
penipuan diri, pemikiran berharap, dan bias konfirmasi.
Kita cenderung menerima tanpa mempertanyakan, bahkan pernyataan yang samah
mengenai diri kita sendiri, bila kita merasa ia cukup positif. Kita sering memberi penafsiran
yang sangat liberal pada klaim yang kabur atau tidak konsisten mengenai diri kita sendiri
untuk membuat klaim tersebut masuk akal. (Carroll 2003: 147).
Fenomena tersebut disebut juga sebagai Barnum Effect, yang diambil dari nama P. T.
Barnum, seorang showbiz man yang pernah mengatakan bahwa any good circus should
have something for everyone. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa untuk
membuat sesuatu yang menarik, kita harus bisa membuatnya menarik bagi semua orang.
Dalam kaitannya dengan eksperimennya, Forer menyimpulkan bahwa untuk terlihat
akurat, deskripsi astrologi tidak harus akurat. Alih-alih, seorang astrologer dapat
memberikan gambaran kepribadian yang umum dan samar kepada orang-orang, yang
sebenarnya gambaran tersebut dapat berlaku juga bagi setiap orang lainnya. Dalam
beberapa literatur psikologi, hal ini juga sering disebut dengan pernyataan one size fits
all, yaitu di mana sebuah pernyataan berlaku bagi (hampir) semua orang.
Sejumlah ilmuwan psikologi mencoba mereplikasi apa yang dilakukan oleh Forer. Dari
penelitian-penelitian tersebut, ditemukan bahwa hampir semua orang sangat rentan
terhadap Barnum Effect orang tua dan kaum muda, laki-laki dan perempuan, orang-orang
yang percaya maupun yang skeptis terhadap astrologi, dan bahkan para Manajer SDM
sekalipun.
Dalam penelitian lain, Margaret Hamilton, seorang psikolog dari University of Wisconsin,
menemukan bahwa terdapat perbedaan dalam tingkat kepercayaan terhadap keakuratan
horoskop. Secara tradisional, keduabelas zodiak dibagi menjadi enam zodiak positif
(Aries, Gemini, Leo, Libra, Sagitarius, dan Aquarius) dan enam zodiak negatif (Taurus,
Cancer, Virgo, Scorpio, Capricorn, dan Pisces). Sifat-sifat yang diasosiasikan dengan zodiak-
zodiak positif cenderung lebih menyenangkan daripada sifat-sifat yang diasosiasikan
dengan zodiak-zodiak negatif. Dalam penelitian tersebut, partisipan diberikan sebuah
deskripsi kepribadian menurut zodiak. Setelah itu, mereka diminta untuk memberi
penilaian mengenai deskripsi tersebut dan sejauh mana mereka percaya terhadap
astrologi. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa partisipan yang berzodiak positif,
dibandingkan dengan mereka yang berzodiak negatif, cenderung lebih percaya terhadap
penjelasan astrologi yang dipaparkan dalam penelitian tersebut. Dalam hal ini,
terjadi flattery effect di mana orang-orang akan cenderung percaya dan mendukung
gagasan-gagasan yang membuat mereka terlihat positif. Temuan ini mendukung gagasan
Forer sebelumnya, bahwa dalam astrologi yang terpenting bukanlah akurasi, melainkan
bagaimana membuat orang mengiyakan gambaran diri yang diberikan.
Anda memiliki kebutuhan yang besar untuk disukai dan dikagumi oleh orang lain. Anda
memiliki kecenderungan untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. Anda memiliki
kapasitas besar dalam diri Anda yang belum Anda manfaatkan untuk menjadi sesuatu yang
menguntungkan. Walaupun memiliki sejumlah kelemahan, secara umum Anda mampu
mengkompensasi kelemahan itu. Di luar, Anda adalah orang yang disiplin dan mampu
mengendalikan diri, tetapi di dalam, Anda cenderung pencemas dan gelisah. Terkadang,
Anda memiliki keraguan besar apakah Anda telah membuat keputusan yang tepat atau
melakukan hal yang benar. Anda senang akan adanya sejumlah perubahan dan
keanekaragaman dalam hidup dan tidak suka jika dikelilingi oleh peraturan dan batasan.
Anda bangga menjadi seorang pemikir yang independen dan tidak bisa menerima
pernyataan orang lain tanpa adanya bukti yang meyakinkan. Anda melihat bahwa tidak
baik untuk terlalu terus terang dalam menunjukkan diri kepada orang lain. Di beberapa
kesempatan, Anda terbuka, ramah, dan mudah bergaul, di kesempatan lainnya Anda
tertutup, ragu-ragu, dan pendiam. Beberapa aspirasi Anda cenderung tidak realistis.
Keamanan adalah salah satu tujuan utama Anda dalam hidup.


(http://en.wikipedia.org/wiki/Forer_effect)






2.2 Administrasi Tes Forer
Tes Forer (ditulis pada tahun 1950; Forer, 1960, 1993) dirancang dengan fokus pada
berbagai macam attitudes dan sistem nilai yang didasari teori Henry Murray tentang
kebutuhan, tekanan, dan inner states. Tes ini diterbitkan oleh Western Psychological
Services (1998).
Tes ini mengidentifikasi sikap dan pandangan individu mengenai dirinya, orang lain, dan
dunia. Pernyataan dalam tes sebagai stimulus dicocokkan dalam kondidi orang ketiga dan
orang pertama baik tunggal maupun jamak. Struktur Tes Forer meliputi spesifikasi
pernyataan awal dan sistem evaluasi digunakan untuk meng-assess kualitas respons.
Waktu mengerjakan tes ini 15-20 menit, dengan subjek populasi remaja dan dewasa.
Tes ini terdiri dari 100 item yang dibagi dalam subskala:
Interpersonal Figures: sikap terhadap karakteristik interpersonal figures (ayah, ibu, laki-laki,
perempuan, kelompok, tokoh otoritas).
Wishes: keinginan-keinginan.
Causes of Personal Emotions: sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang.
Reactions to Emotions: reaksi-reaksi terhadap keadaan luar
Skoring
Respons diberi skor dengan menggunakan checklist dan form evaluasi klinis untuk
menganalisa subskala dalam variasi emosi, dorongan, dan keinginan. Bentuk ini
memberikan skema evaluasi yang terstruktur bahwa pemeriksa dapat menggunakan grup
dari item-item ke dalam salah satu dari empat subskala tadi.

2.3 Interpretasi Tes Forer
Setiap item ditentukan berdasarkan attitudes toward dan characteristics of dalam dua
kategori pertama, dan attitudes toward dalam dua kategori terakhir. Forer telah
mencoba untuk mendefinisikan istilah-istilah tesnya secara operasional dalam pedoman
klinis, secara spesifik dan implikasi tentang struktur dan organisasi dari kepribadian
seseorang. Sedangkan untuk standarisasi tes ini, reliabilitas dan validitas masih kurang
karena masih menggunakan sistem manual yang tidak berisi informasi tentang reliabilitas
dan validitasnya. Untuk penggunaan norma-normanya pun sangat minim. Oleh karena
keterbatasan tersebut, penggunaan tes Forer dianjurkan sebagai tambahan untuk tes
psikologis dalam setting klinis dan penelitian.

3.1 Kesimpulan
Tes Forer (ditulis pada tahun 1950; Forer, 1960, 1993) dirancang dengan fokus pada
berbagai macam attitudes dan sistem nilai yang didasari teori Henry Murray tentang
kebutuhan, tekanan, dan inner states. Tes ini diterbitkan oleh Western Psychological
Services (1998).
Waktu mengerjakan tes ini 15-20 menit, dengan subjek populasi remaja dan dewasa. Tes
ini terdiri dari 100 item yang dibagi dalam subskala:
Interpersonal Figures: sikap terhadap karakteristik interpersonal figures (ayah, ibu, laki-laki,
perempuan, kelompok, tokoh otoritas).
Wishes: keinginan-keinginan.
Causes of Personal Emotions: sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang.
Reactions to Emotions: reaksi-reaksi terhadap keadaan luar
Respons diberi skor dengan menggunakan checklist dan form evaluasi klinis untuk
menganalisa subskala dalam variasi emosi, dorongan, dan keinginan.
Setiap item ditentukan berdasarkan attitudes toward dan characteristics of dalam dua
kategori pertama, dan attitudes toward dalam dua kategori terakhir. Untuk standarisasi
tes ini, reliabilitas dan validitas masih kurang karena masih menggunakan sistem manual
yang tidak berisi informasi tentang reliabilitas dan validitasnya. Untuk penggunaan norma-
normanya pun sangat minim.
DAFTAR PUSTAKA

Bagaskara, M.Si, Sunu. 2011. Astrologi; Bisa Dipercaya Gak Sih?. Tersedia
di:http://www.dailypsychology.net.
Holaday, Margot. A. Smith, Debra. Sherry, Alissa. 2000. Sentence Completion Tests: A
Review of the Literature and Results of a Survey of Members of the Society for Personality
Assessment. _____: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Dalam JOURNAL OF PERSONALITY
ASSESSMENT, 74(3), 371383.
__________. 2011. Bertram Forer. Tersedia
di:http://www.en.wikipedia.org/Bertram_Forer.
__________. 2011. Forer Effect. Tersedia di:http://www.en.wikipedia.org/Forrer_effect.
http://www.kids-iq-tests.com/Forer-Structured-Sentence-Completion-Test.html
http://asep10508029.blogspot.com/2010/06/makalah-ssct.html