Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia medis veteriner saat ini telah banyak mengalami perkembangan. Hal ini dapat
diketahui dari semakin meningkatnya kasus-kasus pada hewan kesayangan yang sampai di
meja operasi. Tindakan bedah tersebut diantaranya dilakukan di daerrah abdomen. Jenis-jenis
tindakan bedah yang sering dilakukan diantaranya adalah laparotomi, cystotomi, histerektomi,
ovarihisterektomi, kastrasi, caudektomi, enterektomi dan lain sebagainya.
Salah satu jenis tindakan bedah yang paling sering dilakukan adalah laparotomi, yaitu
penyayatan pada dinding abdomen atau lapisan peritonial. Laparotomi berasal dari dua kata
terpisah, yaitu laparo dan tomi. Laparo sendiri berarti perut atau abdomen sedangkan tomi
berarti penyayatan. Laparotomi terdiri dari tiga jenis yaitu laparotomi flank, medianus dan
paramedianus. Masing-masing jenis laparotomi ini dapat digunakan sesuai denganfungsi,
organ target yang akan dicapai, dan jenis hewan yang akan dioperasi.Umumnya pada hewan
kecil laparotomi yang dilakukan adalah laparotomi medianus dengandaerah orientasi pada
bagian abdominal ventral tepatnya di linea alba.Selain laparotomi, cystotomi, histerektomi,
ovarihisterektomi, kastrasi,caudektomi dan enterektomiiliki orientasi bedah yang sama yakni
daerah abdomen dan memiliki resiko yang sama yakni hernia. Pemilihan posisi penyayatan
laparotomi ini didasarkan kepada organ target yang dituju. Hal ini untuk menegakkan
diagnosa berbagai kasus yang terletak di rongga abdomen.
Keuntungan penggunaan teknik laparotomi sentral adalah tempat penyayatan mudah
ditemukan karena adanya garis putih (linea alba) sebagai penanda,sedikit terjadi .perdarahan
dan di daerah tersebut sedikit mengandung syaraf. Adapun kerugian yang dapat terjadi dalam
penggunaan metode ini adalah mudah terjadi hernia jika proses penjahitan atau penangan post
operasi kurang baik dan persembuhan yang relatif lama.

1.2 Tujuan
Dalam praktikum kali ini, laparotomi bertujuan untuk menemukan letak anatomis
organ-organ yang ada di dalam rongga abdomen secara langsung dan sekaligus dapat
digunakan untuk menegakkan diagnosa serta mengasah kemampuan mahasiswa dalam
melaksanakan bedah laparotomi.



BAB II
ISI
2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah towel clamp, pinset anatomis dan
sirurgis, gagang skalpel dan blade, gunting, arteri clam,arteri clam lurus anatomis, arteri clam
bengkok anatomis, arteri clam lurus sirurgis, needle holder,tampon,jarum, benang cat gut,
benang silk, silet, syringe, alat cukur,
2.2 Anestesi
Tujuan utama dari pemberian obat premedikasi adalah untuk memberikan sedasi psikis,
mengurangi rasa cemas dan melindungi dari stress mental atau factor-faktor lain yang
berkaitan dengan tindakan anestesi yang spesifik. Hasil akhir yang diharapkan dari pemberian
premedikasi adalah terjadinya sedasi dari pasien tanpa disertai depresi dari pernapasan dan
sirkulasi. Kebutuhan premedikasi bagi masing-masing pasien dapat berbeda. Rasa takut dan
nyeri harus diperhatikan betul pada pra bedah. Pemelihan obat premedikasi bergantung pada
umur, kondisi dan temperemen hewan, ada atau tidak adanya rasa nyeri, teknik anestesi yang
dipakai, adanya antisipasi komplikasi, kondisi-kondisi khusus seperti adanya fetus pada
gravid. Waktu adalah yang penting dalam pemberian premedikasi dimana waktu tepat dalam
pemberian premedikasi akan menghasilkan manfaat yang besar. Secara umum waktu
pemberian secara oral adalah 60-90 menit sebelum pembedahan, bila diberikan intramuskular
dapat diberikan 30-60 menit sebelum pembedahan dan jika diberikan secara intravena dapat
diberikan 1-5 menit sebelum pembedahan. Sesuai dengan tujuannya, maka obat-obat yang
dapat digunakan sebagai obat premedikasi dapat digolongkan seperti dibawah ini
Golongan Obat Contoh
Barbiturate Luminal
Narkotik Petidin
Morfin
Benzodiazepine Diazepam
Midazolam
Antihistamin Prometazine
Antasida Gelusil
Anticholinergik Atropine
H2 receptor antagonis Cimetidin

Premedikasi yang sering digunakan adalah golongan obat antikolinergik yaitu atropine
sulfat. Termasuk golongan antikolinergik yang bekerja pada reseptor
muskarinik (antimuskarinik), menghambat transmisi asetilkolin yang dipersyarafi oleh
serabut pascaganglioner kolinergik. Pada ganglion otonom dan otot rangka serta pada tempat
asetilkolin. Penghambatan oleh atropine hanya terjadi pada dosis sangat besar. Pada dosis
kecil (sekitar 0,25mg) atropine hanya menekan sekresi air liur, mucus, bronkus dan keringat.
Sedangkan dilatasi pupil, gangguan akomodasi dan penghambatan N. Vagus terhadap jantung
baru terlihat padadosis lebih besar. Dosis yang lebih besar lagi diperlukan untuk menghambat
peristaltic usus dansekresi asam lambung.
Pemilihan obat anestesi yang tepat dan cara pemberian yang benar akan meminimalkan
efek samping yang tidak diinginkan terhadap sistem tubuh, khususnya pada sistem
kardiovaskuler, sistem respirasi dan temperatur tubuh. Hal ini disebabkan hamper semua jenis
obat anestesi menimbulkan efek samping terhadap sistem kardiovaskuler, system respirasi dan
temperatur tubuh. Ketamin merupakan jenis obat anestesi yang dapat digunakan pada hampir
semua jenis hewan. Ketamin dapat menimbulkan efek yang membahayakan, yaitu takikardia,
hipersalivasi, meningkatkan ketegangan otot, nyeri pada tempat penyuntikan, dan bila
berlebihan dosis akanmenyebabkan pemulihan berjalan lamban dan bahkan membahanyakan.
Efek samping yang tidak diharapkan dari suatu pembiusan itu dapat diatasi dengan
mengkombinasikan obat-obatan dan mengambil kelebihan masing-masing sifat yang.
Kombinasi yang paling sering digunakan untuk ketamin adalah xylazine. Kedua obat
ini merupakan agen kombinasi yang saling melengkapi antara efek analgesik dan relaksasi
otot, ketamin memberikan efek analgesik sedangkan xylazine menyebabkan relaksasi otot
yang baik. Penggunaan xylazine dapat mengurangi sekresi saliva dan peningkatan tekanan
darah yang diakibatkan oleh penggunaan ketamine. Penggunaan kombinasi ketaminx-ylazine
sebagai anestesi umum juga mempunyai banyak keuntungan, antara lain : mudah dalam
pemberian, ekonomis, induksinya cepat begitu pula dengan pemulihannya, mempunyai
pengaruh relaksasi yang baik dan jarang menimbulkan komplikasi klinis. Ketamin-xylazin
mempunyai sifat kerja yang berbeda terhadap sistim saraf otonom. Ketamin merupakan obat
yang bersifat simpatomimetik yang bekerja menghambat saraf parasimpatis pada sistim saraf
pusat dengan neurotransmitter noradrenalin sehingga akan menimbulkan dilatasi pupil,
dilatasi bronkiolus dan vasokonstriksi pembuluh darah. Xylazin merupakan obat
parasimpatomimetik yang bekerja menghambat saraf simpatis dengan reseptor muskarinik.
Reseptor muskarinik xylazin akan menekan sistim saraf pusat, sehingga menimbulkan efek
sedatif hipnotik. Perhitungan dosis obat untuk premedikasi dan anestesi :



Jumlah permberian obat =
Berat badan x dosis aplikasi
Kandungan sediaan
2.3 Prosedur
Pada dasarnya dalam pelaksanaan operasi pada hewan jugs diperlukan suatu usaha
yang dapat melindungi luka dari kontaminasi dan infeksi bakteri sebagaimana manusia.
Sumber kontaminasi bakteri dapat berasal dari pasien, lingkungan (udara, ruang dan fasilitas
yang tersedia untuk keperluan operasi), bahan dan alat-alat operasi, serta anggota team
operasi. Untuk melindungi dan atau untuk mencegah agar luka tidak terkontaminasi atau
terinfeksi bakteri sehingga luka operasi yang dibuat diharapkan dapat mengalami kesembuhan
primer, diperlukan usaha yang dapat menghalangi masuknya organisme pengganggu antara
lain dengan cara melakukan operasi di dalam operasi yang memadai, sterilitas peralatan,
bahan dan perlengkapan operasi, persiapan operator, pembantu operator dan orang-orang
yang terlibat dalam pelaksanaan operasi, serta pasien sesuai dengan prosedur yang aseptik.
Ruang yang digunakan untuk operasi harus terang, berdinding, lantai dan langit-langit
yang bersih, sirkulasi udara minimal, dan jendela yang selalu tetap tertutup. Ruang operasi
hanya difungsikan sebagai tempat operasi, tidak menjadi tempat lalu lalang dan orang yang
tidak terlibat dalam pelaksanaan operasi tidak diperbolehkan memasuki ruang operasi. Ruang
operasi sebaiknya terletak berdekatan dengan ruang pencukuran pasien.
Persiapan serta prosedur yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan laparotomi adalah
1. Sterilisasi Peralatan Operasi
Semua alat dan bahan yang akan digunakan untuk keperluan operasi harus
disterilkan. Beberapa metode untuk sterilisasi alat dan bahan operasi yang biasa
dilakukan adalah dengan energi radiasi, panas, kimia dan gas. Masing-masing metode
sterilisasi tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu biasanya
digunakan lebih dari satu metode sterilisasi.
Sterilisasi dengan panas (dry heat atau moist heat) merupakan metode
sterilisasi yang paling umum digunakan. Metode sterilisasi dry heat (baking, flaming)
biasanya digunakan untuk mensterilkan alat-alat tajam (gunting, pisau, dll.), karena
tidak menyebabkan tumpulnya alat-alat tersebut. Adapun metode sterilisasi moist heat
(autoclaving, tekanan uap) digunakan untuk mensterilkan semua bahan dan alat
operasi kecuali alat tajam. Untuk sterilisasi alat dan bahan operasi diperlukan tekanan
20 pound, suhu 1210 C selama 30 '. Sedangkan untuk sterilisasi sarung tangan (agar
tidak rapuh) hanya diperiukan tekanan 15 pound, suhu 1210 C selama 15'. Sterilisasi
dengan autoclaving paling banyak digunakan karena mempunyai daya penetrasi lebih
dalam, bersifat bakterisid dan lebih ekonomis, namun kekurangan sterilisasi dengan
autoclaving adalah dapat menyebabkan tumpulnya alat tajam, menghanguskan bahan
dan kain, bahan dan alat yang dipak dapat menjadi basah, dan tidak dapat digunakan
untuk mensterilkan bahan yang mengandung minyak atau lemak.
Sterilisasi kimiawi biasanya digunakan untuk mensterilkan alat-alat tajam
karena tidak menyebabkan tumpul, tetapi dapat menyebabkan korosif terutama jika
digunakan larutan alkohol atau formalin. Kebanyakan bahan kimia yang digunakan
sebagai desinfektan alat-alat tidak mampu membunuh spora maka untuk mengatasi
kemungkinan adanya organisme pembentuk spora perlu dilakukan sterilisasi
menggunakan autoclaving atau dalam air mendidih. Universitas Gadjah Mada 17.
Sterilisasi alat bedah juga dapat dilakukan dengan menggunakan air mendidih
(suhu 100C) selama 30' pada tempat yang mempunyai ketinggian kurang dari 900
kaki, sedangkan pada tempat yang lebih tinggi diperlukan waktu yang lebih lama.
Untuk memperpersingkat waktu sterilisasi dapat dilakukan dengan menambahkan
sodium bikarbonat sehingga konsentrasi larutan menjadi 2%.
Gas yang biasa digunakan untuk sterilisasi adalah etilen oksida, karbon
dioksida atau freon. Etilen dioksida bersifat bakterisid dan sporosid, mempunyai Jaya
penetrasi yang tinggi. tidak menyebabkan tumpulnya alat tajam, dan dapat bekerja
efektif pada suhu yang relatif rendah. Gas tersebut sangat berguna untuk mensterilkan
alat bedah dan bahan operasi yang terbuat dari kulit, wool, kertas, rayon, plastik, dan
bahan lain yang labil terhadap pemanasan, serta alat optik dan elektrik. Namun gas
etilen dioksida harganya sangat mahal dan mudah menguap.
Sterilisasi peralatan operasi, baju operasi, masker, penutup kepala, sarung
tangan, sikat, dan handuk yang telah dicuci bersih serta dikeringkan dibungkus dengan
kain muslin atau non woven setelah terlebih dahulu dilipat dan ditata sesuai dengan
urutannya masing-masing. Peralatan yang telah dibungkus dimasukkan ke dalam oven
untuk disterilisasi dengan suhu 60
0
C selama 15-30 menit. Perlengkapan yang telah
disterilisasi digunakan pada saat operasi oleh operator dan asisten I.
Peralatan operasi minor yang telah dicuci bersih kemudian dikeringkan terlebih
dahulu baru setelah itu ditata di dalam kotak peralatan sesuai dengan urutan
penggunaannya. Kotak peralatan tersebut kemudian dibungkus dengan muslin atau
non woven dan disterilisasi menggunakan oven dengan suhu 121
0
C selama 60 menit.
Peralatan yang telah disterilisasi digunakan pada saat operasi.

Sterilisasi Peralatan Bedah
2. Persiapan dan Preparasi Hewan
Persiapan-persiapan yang dilakukan pada hewan meliputi pemeriksaan
signalemen, anamnese, status present serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu.
Data fisiologis hewan yang harus diambil sebelum operasi yaitu suhu tubuh, frekuensi
jantung, frekuensi nafas, limfonodulus, dan selaput lendir. Tahapan selanjutnya adalah
restraint hewan kemudian pembiusan yang dimulai dari tahap pembiusan, pre
medikasi, induksi, dan maintenance. Preparasi hewan dimulai dengan daerah operasi
dicukur minimal 10 cm di sekitar sayatan. Setelah itu, sayatan dan daerah di sekitar
sayatan dibersihkan dengan alkohol 70 %. Selanjutnya dikeringkan dengan tampon
kemudian diolesi dengan iodine tincture 3 %. Setelah itu hewan siap dibawa ke meja
operasi. Ketika berada di atas meja operasi, posisi hewan disesuaikan dengan keadaan.
Keempat kaki diikat ke ujung-ujung meja menggunakan sumbu kompor dengan
simpul Tomfool. Kemudian hewan ditutup dengan duk, disesuaikan, dan difiksir
dengan towel clamp. Setelah itu, operasi siap dilakukan.

Pemasangan Duk pada Pasien
3. Persiapan Operator dan Asisten
Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh operator dan asisten I adalah
menggunakan tutup kepala dan masker, mencuci kedua tangan dengan sabun dan
menyikatnya dengan sikat pada air yang mengalir. Pencucian dimulai dari ujung jari
yang paling steril kemudian dibilas dengan arah dari ujung jari ke lengan yang
dilakukan sebanyak 10-15x. Setelah selesai mencuci tangan dan membilasnya, keran
ditutup dengan siku untuk mencegah kontaminasi. Kemudian tangan dikeringkan
dengan handuk dan glove dipakai. Setelah semua langkah dilalui, operasi siap
dilakukan.

Prosedur Memcuci Tangan
4. Prosedur Bedah
Hal yang perlu diperhatikan terlebih dahulu dalam prosedur bedah laparotomi
adalah Kerusakan jaringan karena insisi harus seminimal mungkin (satu kali irisan
panjang akan lebih baik dari pada sebuah irisan pendek yang dilakukan dengan
beberapa kali sayatan). Ligasi/pengikatan pembuluh darah pada daerah insisi dapat
menyebabkan penundaan kesembuhan luka. Sebaiknya pembuluh darah hanya
dijepit/diklem dengan arteri klem (forceps hemostatic) atau perdarahan yang terjadi
dihentikan dengan penekanan tampon selama 1-2 menit. Skalpel harus benar-benar
tajam, sedapat mungkin mata pisaunya/blade harus baru. Peritoneum pada hewan kecil
adalah tipis dan bila dijahit secara terpisah/tersendiri akan mudah robek. Sebaikanya
peritoneum dijahit bersama-sama dengan semua jaringan linea alba.
Bedah laparatomi dimulai dari penyayatan kulit dimulai dari 2 cm diatas
umbilikal dan 2 cm di belakang umbilikal. Setelah kulit terbuka, dilakukan penyayatan
pada subkutis. Setelah itu lapisan subkutis dikuakkan dengan bantuan tang arteri.
Linea alba kucing dicari dan disayat tepat diatasnya. Ketika omentum telah
menyembul, linea alba dijepit bagian kiri dan kanan, kemudian dibuka dengan gunting
maka akan terlihat omentum di bawah linea alba yang di atasnya terdapat peritoneum.
Organ-organ yang terdapat di rongga abdomen dicari berdasarkan pembagian daerah,
yaitu epigastrium, mesogastrium, dan hypogastrium. Setelah pencarian organ selesai,
penjahitan dilakukan sebanyak dua kali, yang pertama terhadap lapisan peritoneum
dan linea alba. Jahitan kedua dilakukan pada kulit. Penjahitan dilakukan menggunakan
jahitan sederhana agar tidak mudah terjadi hernia. Untuk penjahitan lapisan pertama
menggunakan benang cat gut, sedangkan penjahitan kedua menggunakan benang silk.
Sebelum dilakukan penjahitan terhadap lapisan pertama, diberikan penicilin sebagai
antibiotik pula sebelum dilakukan penjahitan kedua. Setelah penjahitan selesai
diberikan iodine tingture di bekas sayatan yang telah dijahit. Setelah itu sayatan
ditutup dengan tampon segi empat dan plester. Sebelum dipakaikan gurita, hewan
disuntik oxytetrasycline 0.175 ml secara intra muscular, setelah itu hewan baru
dipakaikan gurita.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Laparotomi adalah penyayatan pada dinding abdomen atau lapisan peritoneal.
Laparotomi terdiri dari tiga jenis yaitu laparotomi flank, medianus dan paramedianus.
Pemilihan posisi penyayatan laparotomi ini didasarkan kepada organ target yang dituju. Hal
ini untuk menegakkan diagnosa berbagai kasus yang terletak di rongga abdomen. Pada bedah
dibutuhkan premedikasi dan anestesi. Pemberian premedikasi bertujuan untuk memberikan
sedasi psikis, mengurangi rasa cemas dan melindungi dari stress mental atau factor-faktor lain
yang berkaitan dengan tindakan anestesi yang spesifik. Dan anestesi memberikan efek
hilangnya kesadaran pada pasien saat dilakukan operasi. Prosedur yang dilakukan adalah
sterilisasi peralatan operasi yang akan digunakan, persiapan dan preparasi hewan, persiapan
operator dan asisten, pembedahan. Pembedahan pada ringga abdomen dilakukan dengan
penyayatan pada linea alba.
3.2 Saran
Untuk praktikum ilmu bedah umum sebaiknya peralatan yang digunakan selama
praktek dilengkapi.

Daftar Pustaka

Cuningham, JG. 2002. Textbook of Veterinary Physiology.3 rd edition. W. B saunders
Company : US
Darmojono, H. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) 1. Jakarta: Pustaka
Populer Obor.
Darmojono, H. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) 2. Jakarta : Pustaka
Populer Obor.
Elservier.Grace PA, NR Borley. 2006. Surgery at a Glance. Massachusets: Blackwell
Publishing Ltd.H
Fossum TW. 2002. Small Animal Surgery Ed-2. Missouri: Mosby
Hellyer, P. W. 2008. General Anaesthesia for Dog and Cats. Ved Med. 91 : 314-325.
I Komang W.S, Diah K. 2011. Bedah Veteriner. Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair:
Surabaya.
Katzung, BG. 2001.Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika : Jakarta
Plumb DC. 2005. Veterinary Drug Handbook Ed-5 .Iowa: Blackwelll Publishing
Sardjana, I. K. W dan D. Kusumawati. 2005. Anestesi Veteriner Jilid I. Gadjah Mada
University Press. Bulaksumur, Yogyakarta 1-49.