Anda di halaman 1dari 189

1

KATA PENGANTAR

Proposal Budi Daya Singkong Gajah dan peternakan Sapi Potong dengan
segala kekurangannya disana sini Alhamdulilah dapat terselesaikan.
Proposal ini dibuat dengan harapan dapat memberikan gambaran secara
utuh tentang rencana kerja PT. SAPTARAYA MARGAJAYA yang akan
mengerjakan proyek Budi Daya Singkong Gajah dan peternakan Sapi
Potong di Desa Panggarangan Kecamatan Panggarangan Kabupaten Lebak
Provinsi Banten.
Terselenggaranya proyek Budi Daya Singkong Gajah dan peternakan Sapi
Potong dipandang perlu mengingat secara ekonomis sangat
menguntungkan dan secara sosial budaya sangat bermanpaat bagi
masyarakat sekitar.
Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi aktif dalam penyusunan
proposal ini, kami mengaturkan banyak terimakasih, semoga segala daya
uapaya kita dalam mensejahterakan masyarakat, dicatat sebagai amal saleh
yang menyelamatkan kita semua Didunia dan di akhirat. Amin


Jakarta 24 Mei 2014
PT.SAPTARAYA MARGAJAYA



Ir. Eddy Soon Purnama
Presiden Direktur



2

DAFTAR ISI

NO URAIAN HALAMAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 4 - 11
1.2 Perumusan Masalah 12
1.3 Tujuan Penulisan 12
1.4 Biaya 13 - 14
1.5 Manpaat 15
BAB II
KAJIAN TIORITIS

2.1 Budi Daya Singkong Gajah 16 - 26
2.2 Singkong Gajah Singkong yang berteknologi 27 - 30
2.3 Pengolahan Singkong 30 - 36
2.4 Pemasaran Singkong 36 41
2.5 Bioetanol 41 59
2.6 Kajian Tioritis Budi Daya Sapi Potong 61 79
2.7 Tata laksana pakan ternak sapi potong 79 99
2.8 Manajemen Pemberian Pakan 100 122
2.9 Teknik Pembuatan Biogas 123 - 141
BAB III
ANALISIS USAHA

3.1 Analisis Usaha Budi Daya Singkong Gajah 142 149
3.2 Analisis Usaha Bioetanol 150 162
3.3 Analisis Usaha Peternakan Sapi Potong 163 181
3.4 Analisis Usaha Pembuatan Pakan Ternak 182 184
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan 185
LAMPIRAN
1 DAFTAR PUSTAKA
2. RPJMD Kabupaten Lebak
3. PERDA RTRW Kabupaten Lebak
4. Undang-Undang Pternakan
5. Undang-Undang Pangan

3



EXECUTIVE SUMMARY

No Uraian kegiatan Volume Harga
Satuan
Jumlah
1. Nama Kegiatan adalah Proyek budi daya singkong gajah dan
penggemukan sapi potong.
2. Lokasi kegiatan di Desa Panggarangan Kecamatan Panggarangan
Kabupaten Lebak Banten
3. Luas lahan yang digunakan sebanyak 2.000 Ha (dua puluh juta)
meter persegi
4. Pelaksana Proyek PT. SAPTARAYA MARGA JAYA
5. Konsultan Proyek PT Palu Gada Sawargi
6. Biaya Investasi sebesar Rp.233.845.600.000 (dua ratus tiga puluh
tiga milyar delapan ratus empat puluh lima juta enam ratus ribu
rupiah)
Rincian (Uraian)

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek Budi daya singkong gajah
adalah Rp. 124.509.800.000 dengan rincian sebagai berikut:

NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Lahan 2.000 Ha 5.000 100.000.000.000
3. Biaya izin usaha 2.000 Ha 500 10.000.000.000
4. Pengolahan Tanah 2.000 Ha 150 3.000.000.000
5. Pembelian Bibit Singkong 60.000.000 bt 50 3.000.000.000
6. Upah penanaman 2.000 Ha 70.000 140.000.000
7. Pupuk Kandang 20.000 Ton 500 1.000.000.000
8. Upah buruh pemupukan 2.000 Ha 280.000 560.000.000
9. Pupuk Urea dan TSP 800.000 Kg 2.500 2.000.000.000
10. Upah buruh pemupukan 2.000 140.000 280.000.000
11. Pembersihan rumput 2.000 Ha 750.000 1.500.000.000
12. Pestisida 2.000 Ha 200.000 400.000.000
13. Biaya Panen 2.000 Ha 750.000 1.500.000.000
Jumlah Biaya Produksi 124.509.800.000
Hasil Produksi 200.000 Kg 700 140.000.000.000
Laba Sebelum Pajak 15.490.200.000
Keuntungan Pembelian Tanah 100.000.000.000
4

Jumlah Keuntungan 115.490.200.000
Pajak Penjualan 10% 1.549.020.000
Laba bersih Perusahaan 113.941.180.000

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek penggemukan sapi
potong adalah Rp. 109.335.800.000 dengan rincian sebagai berikut:

NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Bibit sapi 12.000 Ekor 7.000.000 84.000.000.000
3. Pembuatan kandang 60.000 m2 400.000 800.000.000
4. Hijauan Makanan
Ternak (HTM)
21.600.000 Kg 400 8.640.000.000
5. Konsentrat 4.320.000 Kg 1.500 6.480.000.000
6. Pakan Tambahan 6.480.000 Kg 200 1.296.000.000
7. Obat-obatan 1 Ls 60.000 720.000.000
7. Tenaga Kerja 300 orang 500.000 6.000.000.000
8. Tenaga Ahli 3 Orang 10.000.000 180.000.000
9. Bagian Administrasi 2 orang 5.000.000 60.000.000
10. Bagian Keuangan 1 0rang 5.000.000 30.000.000
11. Jumlah Biaya Produksi 109.335.800.000
12. Pendapatan
12.1. Penjualan daging sapi 4.512.000 Kg 35.000 157.920.000.000
12.2 Penjualan Kotoran
sapi
21.600.000 Kg 10 216.000.000
Jumlah Pendapat 158.136.000.000
Jumlah Biaya Produksi 109.335.800.000
Laba Usaha per-panen 48.800.200.000
Laba Usaha dalam satu tahun 97.600.400.000
Pajak Penjualan 10% 9.760.040.000
Laba bersih Perusahaan 87.840.360.000


Jumlah Biaya investasi yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek
budidaya singkong gajah dan penggemukan sapi potong adalah:
Rp.233.845.600.000 dengan rincian sebagai berikut:
A Jumlah Biaya Produksi Budi daya singkong gajah 124.509.800.000
B Jumlah Biaya Produksi peternakan sapi potong 109.335.800.000
Total Jumlah 233.845.600.000

PENDAPATAN YANG DIPEROLEH
Pendapatan yang diperoleh dari penjualan singkong dan sapi potong adalah
Rp. 456.272.000.000 dengan rincian sebagai berikut;
A Hasil penjualan Singkong 140.000.000.000
B Hasil penjualan sapi I 158.136.000.000
5

C Hasil penjualan sapi II 158.136.000.000
Jumlah pendapatan 456.272.000.000


Laba Usaha
Keuntungan yang dihasilkan perusahaan dari proyek budidaya singkong
gajah dan penggemukan sapi potong adalah: Rp. 201.781.540.000 dengan
rincian sebagai berikut:
A Laba bersih Budi daya singkong gajah 113.941.180.000
B Laba bersih peternakan sapi potong 87.840.360.000
Total Jumlah Laba usaha 201.781.540.000

Kesimpulan
Proyek budi daya singkong gajah dan penggemukan sapi potong sangat
layak untuk dijalankan. Disamping menghasilkan laba usaha yang sangat
tinggi proyek ini juga ramah lingkungan dapat menyerap tenaga kerja yang
sangat banyak sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat
sekitar.

Jakarta 23 Mei 2014
PT. SAPTARAYA MARGAJAYA




IR.EDDY SOON PURNAMA
C E O
















6







PROPOSAL
BUDIDAYA SINGKONG GAJAH DAN PETERNAKAN SAPI POTONG
DI DESA PANGGARANGAN KECAMATAN PANGGARANGAN KABUPATEN
LEBAK BANTEN

OLEH PT SAPTARAYA MARGA JAYA
DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT


BAB I
PENDAHULUAN

I LATAR BELAKANG MASALAH

INDONESIA IMPORTIR BAHAN PANGAN TERBESAR
Sudah menjadi rahasiah umum, Indonesia merupakan importer terbesar
dibidang pangan seperti: beras, jagung, kedelai, singkong dan daging. Unik
lucu dan ironis di Negara agraris yang mayoritas penduduknya petani harus
inpor bahan pangan.

Selama bertahun-tahun Indonesia menjadi importir singkong terbesar
dibandingkan negara-negara lain. Hal tersebut disampaikan pengamat
pertanian Bustanul Arifin. Menurut data yang dirilis oleh Thai Tapioka
Trade Organization (TTTO), Indonesia mengimpor singkong dari Thailand
sebesar dua juta ton. Menurut Bustanul, itu membuktikan kurangnya peran
pemerintah untuk mengawasi sektor pertanian, dalam meningkatkan
produksi pangan dalam negeri. Padahal, sebenarnya Indonesia mampu
memproduksi singkong 28 juta ton. Angka ini jauh lebih tinggi
dibandingkan Thailand yang hanya memproduksi 26 juta ton.

Akan tetapi, menurut Bustanul, penyebab impor adalah besarnya
kebutuhan sektor industri yang menggunakan bahan baku singkong.
Pemerintah, kata Bustanul, harus segera mengambil langkah untuk
memperbaiki kondisi pangan dalam negeri. Selama ini singkong hanya
dihargai rendah. Pada saat panen, harga jatuh. Ini membuat para petani
tidak bergairah menanam singkong.(DNI)
7


PERKEMBANGAN SINGKONG
DI INDONESIA
Menurut Data BPS luas area
tanaman singkong tahun 2011
tercatat 1,2 juta Ha dengan
produksi 23 juta ton singkong
segar setara dengan 8 juta ton
chips singkong atau 6,4 juta ton
tepung singkong. Industri kecil, menengah, dan besar berbahan baku
singkong terus tumbuh sampai mereka kesulitan bahan baku sudah
berjalan cukup lama, terutama di Lampung dan Jawa Barat;

Singkong sebagai bahan pangan pokok alternatif mendukung diversifikasi
pangan nasional telah masuk ke jajaran Kadin Indonesia, menjadi salah satu
komoditas strategis pangan nasional.

Mulai 28 Febuari 2010 telah berdiri Masyarakat Singkong Indonesai
(MSI) dengan Visi Singkong Sejahtera Bersama , dengan Misi
Mensejahterakan petani.

Tanggal 28 Februari 2011 pada HUT MSI I di Pondok Ratna Farm Ciawi
Bogor, Menteri Pertanian RI bersama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)
telah mencanangkan program : PENGEMBANGAN KLASTER
AGROINDUSTRI SINGKONG TERPADU

Tanggal 28 Febuari 2012 di Pandeglang, Banten dalam rangka hut MSI ke-2,
Menteri Perindustrian RI dan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah
mencanangkan : GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTER BERSAMA
(GERNAS SSB) 2012-2016.

Sampai Desember 2012 telah terbentuk 25 MSI Provinsi dan 75 MSI
Kabupaten/Kota yang siap melaksanakan Gernas SSB 2012-2016.

Dewan Pimpinan MSI Nasional telah mengirim surat kepada Menko
Perekonomian RI dan Ketua Komisi IV DPR RI untuk menetapkan singkong
sebagai komoditas strategis pangan utama setingkat dengan padi, jagung
dan kedelai. Tepung singkong dibebaskan dari pengenaan PPN 10% atau
PPN 10% ditanggung oleh pemerintah. Dukungan kepada Menteri BUMN
untuk mengucurkan CSR dari BUMN untuk mendukung pelaksanaan
GERNAS SSB 2013-2016 untuk memproduksi tepung singkong sebanyak :
8

a. Tahun 2013 memproduksi 1,2 juta ton tepung singkong
b. Tahun 2014 memproduksi 2,4 juta ton tepung singkong
c. Tahun 2015 memproduksi 4,8 juta ton tepung singkong
d. Tahun 2016 memproduksi 9,6 juta ton tepung singkong

Dewan Pimpinan Nasional MSI telah mengirim surat dan program GERNAS
SSB 2013-2016 kepada menteri BUMN RI untuk mohon dukungan dana CSR
dari BUMN untuk pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016.

Berdasarkan dukungan dana CSR dari BUMN tersebut pada butir 2.9. dan
perkiraan hasil pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016 seperti pada butir 2.8.
tersebut diatas, mulai tahun 2013-2016 Indonesia akan dapat mengurangi
import gandum sekitar 20-40%. Maka akan terjadi penghematan devisa
negara.

Dengan adanya import singkong yang semakin meningkat sampai mencapai
sekitar 2 juta ton tahun 2012, merupakan peluang emas bagi MSI dan
Pemerintah Indonesia untuk memotivasi peningkatan produksi tepung
berbahan baku singkong (Tapioca Starch, Cassava Flour dan Mocaf) melalui
pelaksanaan program GERNAS SSB 2013-2016 diseluruh Indonesia.

Dengan berhasilnya pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016 diharapkan
mulai tahun 2013-2016 dan seterusnya Indonesia akan menjadi exportir
tepung singkong terbesar (Tapioca Starch, Cassava Flour dan Mocaf).
Singkong akan menjadi pemasuk devisa bagi negara.

GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA (GERNAS SSB)

1. Untuk mencapai Singkong Sejahtera Bersama (SSB), maka Masyarakat
Singkong Indonesia (MSI) telah meluncurkan kegiatan Proyek :
PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI AGRO SINGKONG TERPADU .

2. Melalui Pengembangan Klaster ini, para petani peserta Klaster dilatih
mengolah singkong untuk menghasilkan produk setengah jadi ( chips,
gaplek, tepung singkong , mocaf, tapioka dsb) sebagai bahan baku
industri lanjutan atau industri derivatif, sehingga petani hanya menjual
barang-barang setengah jadi tersebut.

3. Ditargetkan tahun 2016 petani singkong di Indonesia tidak menjual
singkong segar lagi dan tidak lagi mempermasalahkan harga singkong
rendah , tapi yang menjadi acuan petani harga chips singkong kering.
9


4. Berdasarkan program Klaster tersebut, maka Masyarakat Singkong
Indonesia (MSI) mulai tahun 2012 meluncurkan : GERAKAN NASIONAL
SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA ATAU GERNAS SSB , Phase I , 5 Tahun ,
mulai tahun 2012 -2016,dengan target :
Th. 2012 (Februari) : Sosialisasi GERNAS SSB keseluruh Kab/Kota
yang telah ada MSI-nya (16 Propinsi dan 50 Kabupaten).
Tahun 2013 : Pelaksanaan Pilot Proyek di 50 Kabupaten/Kota
sebanyak 150 Klaster atau 3 klaster per Kabupaten/Kota, yaitu
masing-masing , 1 klaster Petani, 1 klaster buruh tani dan 1 klaster
pemuda/pemudi tani . Total biaya 150 klaster aRp 20 Milyar/klaster
= Rp 3 Triliyun ( CSR BUMN) dengan melibatkan 18.000 KK petani
atau 72.000 orang ( 1 KK = 4 orang, bapak, ibu dan 2 anak ). 150x300
Hax100 T=4,5 juta ton singkong segar= 1,5 juta chips singkong = 1,2
juta ton Tepung Singkong.
Tahun 2014 : Pelaksanaan Proyek 300 klaster (ada penambahan 150
klaster dengan biaya tambahan Rp 3 Triliyun ( CSR BUMN phase ke-2
) di 50 Kabupaten/kota di 16 propinsi, melibatkan 36.000 KK petani
atau 144.000 orang. Produksi : 300x300Hax100 Ton = 9 juta ton
singkong = 3 juta ton chips Singkong = 2,4 juta ton setara tepung
singkong.
Tahun 2015 : Perluasan MSI ke 17 Propinsi lainnya, sehingga menjadi
33 propinsi, dengan pelaksanaan proyek 600 Klaster , biaya dari
pengembanlian CSR pase-1 , dengan melibatkan 72.000 KK petani
atau 288.000 orang diseluruh Kabupaten/Kota yang telah ada MSI-
nya di 33 Provinsi. Produksi : 600x300x100ton=18 juta ton
singkong= 6 juta ton chips = 4,8 ton setara tepung singkong.
Tahun 2016 : Diteruskan melaksanakan 1.200 Klaster a 300
ha/klaster dengan melibatkan 144.000 KK atau 576.000 orang. Biaya
dari pengembalian CSR pase ke-2 oleh petani peserta terdahulu.

Pada tahun 2016 tersebut akan dihasilkan singkong Darul Hidayah atau
Manggu sebanyak 1.200 Klaster x 300 ha x 100 ton/ha = 36 juta ton
singkong basah atau setara dengan 12 juta ton chips singkong Setara
dengan 9,6 juta tong tepung singkong/Mocaf.

Apabila harga chips aRp 2.000/Kg, maka akan ada uang beredar sekitar Rp
24T ditambah peredaran uang dari hasil penjualan 9,6 juta ton mocaf (1 kg
chips = 0,8 kg mocaf) a Rp 3.500/kg sekitar Rp 33,6 T. Sehingga total uang
beredar pada akhir GERNAS SSB (thn 2016) akan mencapai Rp 57,6 T.

Jadi pada tahun th.2016 dana beredar di lingkup petani peserta klaster di
10

seluruh Kabupaten/Kota di 33 Provinsi sebesar Rp 57,6 Triliyun (dari dana
awal Rp 6 Triliyun) dan dapat mensejahterakan 144.000 KK petani atau
576.000 jiwa ( 1 KK petani terdiri 4 orang, ayah, ibu dan 2 anak).

Dengan dicanangkannya Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Bersama
(GERNAS SSB) phase I, 2012-2016, maka penanganan singkong diseluruh
tanah air secara profesional akan dapat mensejahterkan rakyat Indonesia
dan Ketahanan Pangan Nasional semakin kuat. Apabila seluruhnya
memproduksi mocaf akan dihasilkan 9,6 juta TON MOCAF dan sebagian
dapat dicampur dengan tepung terigu sehingga dapat mengurangi impor
gandum. Penghematan devisa nasional. Sisa mocaf untuk expor.

GERNAS SSB phase I, 2012-2016 dengan biaya Rp 6 Triliyun menjadi Rp
57,6 T dan secara kumulatif 2013-2016 dapat mensejahterakan 270.000 KK
petani atau 1.080.000 jiwa ( 1 kk terdiri dari 4 orang : ayah, ibu dan 2 anak
). Belum termasuk multiplier effect dari bisnis singkong dan produk
sampingannya (bibit, pakan ternak dan pupuk organik), diperkirakan akan
mensejahterakan diatas 3 juta orang dan uang beredar akan mencapai lebih
dari Rp 100 Triliyun.

Singkong yang juga dikenal
sebagai ketela pohon atau ubi
kayu, adalah pohon tahunan
tropika dan subtropika dari
keluarga Euphorbiaceae.
Umbinya dikenal luas sebagai
makanan pokok penghasil
karbohidrat dan daunnya
sebagai sayuran.



Syarat Tumbuh Tanaman Singkong
Tanaman Singkong tumbuh optimal pada ketinggian antara 10-700m dpl.
Tanah yang sesuai adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak liat
juga tidak poros. Selain itu kaya akan unsure hara. Jenis tanah yang sesuai
adalah tanah alluvial, latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol
dan andosol. Sementara itu pH yang dibutuhkan antara 4,5-8, dan untuk pH
idealnya adalah 5,8.

Curah hujan yang yang diperlukan antara 1.500 2500 mm/tahun.
Kelembaban udara optimal untuuk tanaman antara 60%-65%. Suhu udara
11

minimal 10C. Kebutuhan akan sinar matahari sekitar 10 jam tiap hari.
Hidup tanpa naungan.

Persiapan Bibit Singkong
Ubu kayu paling mudah untuk diperbanyak. Cara yang lazim digunakan
adalah perbanyakan dengan cara setek batang dari batang panenan
sebelumnya. Setek yang baik diambil dari batang bagian tengah tanaman
agar matanya tidak terlalu tua maupun tidak terlalu tua. Batang yang baik
berdiameter 2-3 cm. Pemotongan batang stek dapat dilakukan dengan
menggunakan pisau atau sabit yang tajam dan steril. Jangan memakai
gergaji untuk memotongnya karena gesekan gergaji akan menimbulkan
panas yang akan merusak bagian pangkal dari batang. Potongan batang
untuk setek yang baik adala 3-4 ruas mata atau 15-20 cm. Bagian bawah
dari batang stek dipotong miring dengan maksud untuk menambah dan
memperluas daerah perakaran.

Persiapan Lahan Budidaya Singkong
Untuk menanam ubi kayu ini tidak begitu sulit. Untuk daerah yang
mempunyai curah hujan cukup tinggi ataupun terlalu banyak air,
penanaman dilakukan dalam sebuah guludan atau bedeng. Selain itu,
dengan menggunakan guludan memudahkan kita dalam pemanenan.

Untuk daerah yang mempunyai curah hujan sedikit atau kering, penanaman
tidak perlu dilakukan dengan membuat guludan. Penanaman dapat
dilakukan pada tanah yang rata. Tanah di cangkul dan di remahkan
kemudian diratakan dan pengguludan dapat dilakukan setelah tanaman
berumur 2-3 bulan setelah tanam. Pada saat perataan dapat pula
disebarkan pupuk kandang atau kompos untuk penambahan unsure hara.
Pengolahan tanah yang sempurna diikuti dengan pembuatan guludan yang
dibuat searah dengan kontur tanah sebagai upaya pengendalian erosi.
Selain itu dengan pembuatan guludan juga dapat memaksimalkan hasil
dibandingkan dengan system tanpa olah tanah setelah tanam.

Penanaman Ubi Kayu
Waktu penanaman yang baik dilakukan pada awal musim kering atau
kemarau dengan maksud untuk hasil penanaman dapat dipanen pada awal
musim hujan.

Batang yang telah dipotong tadi kemudian ditanamkan dalam tanah. Jangan
sampai terbalik, tanda yang dapat kita lihat dari arah mata dari tiap ruas
batang yang disetek. Arah mata menuju ke atas dibawahnya bekas tangkai
daun.
12


Batang setek di tanam agak miring dengan kedalaman 8-12 cm. Pada lahan
tanaman yang subur dapat digunakan populasi tanaman 10.000 batang/ha
dan untuk lahan yang kurang begitu subur dapat digunakan populasi
14.500 batang/ha. Jarak tanam dengan system monokultur adalah 100 x 50
cm. Untuk system tumpang sari, penanaman dapat menyesuaikan dengan
lahan dan tanaman lainnya.

Pemeliharaan Tanaman Singkong
Tanaman ini termasuk tanaman yang dapat mandiri sehingga, tanaman ini
menjadi mudah dalam pemeliharaanya.

Penyulaman dapat kita lakukan 2-3 minggu setelah tanam. Bibit
penyulaman seharusnya sudah disediakan ketika pengadaan bibit tanaman
yang dapat pula ditanam pada pinggir lahan pertanaman. Hal ini untuk
membuat tanaman ini seragam dalam pemanennya.

Agar tanaman dapat tumbuh baik dan optimal dilakukan dengan
pengurangan mata tunas saat awal tunas itu muncul atau 1-1,5 bulan
setelah tanam. Sisakan maksimal 2 tunas yang paling baik dan sehat dalam
satu tanaman.

Penyiangan dilakukan pada umur 2-3 bulan setelah tanam dan menjelang
panen. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemanenan serta
mencegah kehilangan hasil panen selain mengendalikan populasi gulma
yang tumbuh. Selain itu saat penyiangan dilakukan dengan membumbuni
batang tanaman sehingga dapat menjadi guludan.

Hama dan penyakit Tanaman Singkong
Hama yang sering menyerang tanaman ini biasanya adalah hama tungau
merah (Tetranus urticae) dan serangan bakteri layu (Xanthomonas
campestis) serta penyakit Hawar Daun (Cassava Bacterial Bligh / CBB)

Panen Singkong
Kriteria ubi kayu yang optimal adalah pada saaat kadar pati optimal. Yakni
ketika tanaman itu berumur 6-9 bulan apabila untuk konsumsi. Untuk
pembuatan produk seperti tepung sebaiknya ubi kayu dipanen pada umur
lebih dari 10 bulan, dan itu juga tergantung akan varietas yang ditanam. Ciri
saat panen adalah warna daun menguning dan banya yang rontok.

Cara pemanenan dilakukan dengan membuat atau memangkas batang ubi
kayu terlebih dahulu dengan tetap meninggalkan batang sekitar 15 cm
13

untuk mempermudah pencabutan. Batang dicabut dengan tangan atau alat
pengungkit dari batang kayu atau linggis. Hindari pemakaian cangkul,
karena permukaannya yang lebar yang tanpa disadari dapat memotong ubi.

Umbi yang baik setelah panen hanya berumu 1-3 hari tergantung
penyimpanan. Setelah itu umbi sudah melakukan banyak perombakan
kalori. Bahkan, kadang umbi berwarna kebiruan apabila kandungan
HCNnya tinggi. Dan munculnya warna ini sangat mempengaruhi kualitas
tepung.

Disamping kebutuhan singkong yang begitu banyak dipasar local dan
internasional, kebutuhan daging untuk memenuhi pasar local juga cukup
signipikan seperti yang disampaikan Menteri Pertanian Republik
Indoneisia. JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertanian Suswono
menargetkan, pertumbuhan produksi daging sapi di tahun 2014 sebesar 23
persen. Tahun ini produksi daging sapi sebesar 430.000 ton, dan tahun
depan produksinya ditargetkan 530.000 ton.
Namun demikian, ketersediaan daging sapi nasional masih kurang
dibanding kebutuhan. Berdasarkan kesepakatan Ditjen Teknis pada saat
pra Rakor Pangan-Bukit Tinggi November lalu, pada tahun depan
kebutuhan nasional daging sapi ditaksir mencapai 580.000 ton.

"Daging sapi diperkirakan masih mengalami defisit 0,04 juta ton," ujar
Suswono dalam paparan kinerja 2013, Jakarta, Senin (30/12/2013).

Produksi daging sapi pada tahun ini mencatat kenaikan 2 persen dibanding
tahun lalu. Tahun lalu, produksi daging sapi sebesar 420.000 ton,
sementara produksi daging sapi sebesar 430.000 ton.

Namun, nyatanya produksi sebesar 430.000 ton tersebut masih belum
mencukupi kebutuhan nasional tahun ini. Kebutuhan nasional daging sapi
sepanjang tahun ini mencapai 540.000 ton, atau masih ada kekurangan
114.000 ton dari yang tersedia.

"Kebutuhan daging sapi lebih tinggi dari produksi. Situasi tidak mudah dan
kita atasi dengan impor. Tapi nyatanya setelah kita buka, (harga) tidak
turun signifikan. Ada permasalahan perdagangan. Harga tinggi karena
sarana angkutan dan distribusi yang belum memadai. Nah ini yang kita
harapkan ada alat transportasi untuk sapi-sapi," papar Suswono.

14

Kebutuhan daging yang belum tercukupi merupakan pelung pasar yang
sangat menjanjikan bagi peternak sapi potong. Tersajinya pasar yang cukup
memadai disatu pihak, dipihak lain melimpahnya pakan sapi potong dalam
bentu hijauan dan konsentrat merupakan peluang besar yang dapat
ditangkap oleh peternak.




Berdasarkan latar belakang masalah, penulis merumuskan masalah-
masalah yang harus dicarikan solusinya dalam penulisan proposal ini.
Masalah yang dapat dirumuskan dalam proposal ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah budi daya singkong gajah menguntungkan dan dapat
meningkatkan kesejahteraan petani ?
2. Apakah budi daya singkong gajah dapat memberikan solusi krisis
pangan dan energi.
3. Bagaimana cara budidaya singkong gajah yang baik dan benar
sehingga menghasilkan produksi yang sangat menguntungkan petani.
4. Apakah peternakan sapi potong dapat memberikan solusi krisis
daging di Indonesia.
5. Bagaimana cara beternak sapi potong yang baik dan benar sehingga
menghasilkan produksi daging yang sangat menguntungkan petani.




Tujuan penulisan proposal ini adalah :
1. Untuk memberikan gambaran secara komperhensip mengenai tata
cara budidaya singkong gajah dan penggemukan sapi potong.
2. Memberikan gambaran Study Kelayakan Investasi budi daya
singkong gajah dan penggemukan sapi potong.
3. Untuk memberikan gambaran besaran biaya investasi dalam
menjalankan proyek budi daya singkong gajah dan penggemukan sapi
potong.
4. Menyediakan informasi tentang peluang investasi di bidang usaha
penggemukan sapi yang sangat potensial untuk dikembangkan
mengingat kebutuhan akan daging yang terus meningkat.
5. Menyediakan informasi dan pengetahuan untuk mengembangkan
usaha penggemukan sapi di Kabupaten Purwakarta.



15





Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek budi daya singkong gajah
dan penggemukan sapi potong sebesar Rp.233.845.600.000 (dua ratus tiga
puluh tiga milyar delapan ratus empat puluh lima juta enam ratus ribu
rupiah) sedangkan pendapatan yang diperoleh sebesar Rp.298.136.000.000
(dua ratus Sembilan puluh delapan juta seratus tiga puluh enam juta
rupiah) sehingga laba bersih perusahaan sebesar Rp.201.781.540.000 (dua
ratus satu milyar tujuh ratus delapan puluh satu juta lima ratus empat
puluh ribu rupiah) dengaa rincian sebagai berikut:

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek Budi daya singkong gajah
adalah sebagai berikut:
NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Lahan 2.000 Ha 5.000 100.000.000.000
3. Biaya izin usaha 2.000 Ha 500 10.000.000.000
4. Pengolahan Tanah 2.000 Ha 150 3.000.000.000
5. Pembelian Bibit Singkong 60.000.000 bt 50 3.000.000.000
6. Upah penanaman 2.000 Ha 70.000 140.000.000
7. Pupuk Kandang 20.000 Ton 500 1.000.000.000
8. Upah buruh pemupukan 2.000 Ha 280.000 560.000.000
9. Pupuk Urea dan TSP 800.000 Kg 2.500 2.000.000.000
10. Upah buruh pemupukan 2.000 140.000 280.000.000
11. Pembersihan rumput 2.000 Ha 750.000 1.500.000.000
12. Pestisida 2.000 Ha 200.000 400.000.000
13. Biaya Panen 2.000 Ha 750.000 1.500.000.000
Jumlah Biaya Produksi 124.509.800.000
Hasil Produksi 200.000 Kg 700 140.000.000.000
Laba Sebelum Pajak 15.490.200.000
Keuntungan Pembelian Tanah 100.000.000.000
Jumlah Keuntungan 115.490.200.000
Pajak Penjualan 10% 1.549.020.000
Laba bersih Perusahaan 113.941.180.000

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek penggemukan sapi
potong adalah sebagai berikut:
NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Bibit sapi 12.000 Ekor 7.000.000 84.000.000.000
3. Pembuatan kandang 60.000 m2 400.000 800.000.000
16

4. Hijauan Makanan
Ternak (HTM)
21.600.000 Kg 400 8.640.000.000
5. Konsentrat 4.320.000 Kg 1.500 6.480.000.000
6. Pakan Tambahan 6.480.000 Kg 200 1.296.000.000
7. Obat-obatan 1 Ls 60.000 720.000.000
7. Tenaga Kerja 300 orang 500.000 6.000.000.000
8. Tenaga Ahli 3 Orang 10.000.000 180.000.000
9. Bagian Administrasi 2 orang 5.000.000 60.000.000
10. Bagian Keuangan 1 0rang 5.000.000 30.000.000
11. Jumlah Biaya Produksi 109.335.800.000
12. Pendapatan
12.1. Penjualan daging sapi 4.512.000 Kg 35.000 157.920.000.000
12.2 Penjualan Kotoran
sapi
21.600.000 Kg 10 216.000.000
Jumlah Pendapat 158.136.000.000
Jumlah Biaya Produksi 109.335.800.000
Laba Usaha per-panen 48.800.200.000
Laba Usaha dalam satu tahun 97.600.400.000
Pajak Penjualan 10% 9.760.040.000
Laba bersih Perusahaan 87.840.360.000


Jumlah Biaya investasi yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek
budidaya singkong gajah dan penggemukan sapi potong adalah:
A Jumlah Biaya Produksi Budi daya singkong gajah 124.509.800.000
B Jumlah Biaya Produksi peternakan sapi potong 109.335.800.000
Total Jumlah 233.845.600.000

Pendapatan yang diperoleh
A Hasil penjualan Singkong 140.000.000.000
B Hasil penjualan sapi 158.136.000.000
Jumlah pendapatan 298.136.000.000


Keuntungan yang dihasilkan perusahaan dari proyek budidaya
singkong gajah dan penggemukan sapi potong adalah:
A Laba bersih Budi daya singkong gajah 113.941.180.000
B Laba bersih peternakan sapi potong 87.840.360.000
Total Jumlah Laba usaha 201.781.540.000






17



Manpaat dari penulisan proposal ini diantaranya, untuk mempermudah
investor (pengusaha) melakukan analisis usaha dibidang budi daya
singkong gajah dan penggemukan sapi potong. Manpaat lain dari penulisan
proposal in, sebagai penambahan khajanah keilmuan yang dapat dijadikan
sumberbacaan dan sekaligus dapat dijadikanreperensi dalam penulisan
karya ilmiah.






























18

BAB II
KAJIAN TIORITIS
Pada bab ini akan dibahas
secara teori mengenai:a) Cara
budi daya singkong gajah dan
b) cara beternak penggemukan
sapi potong berikut kompoten terkait yang berhubungan dengan dua
masalah tersebut.


"SINGKONG GAJAH" merupakan
VARIETAS "ASLI" KALIMANTAN
TIMUR YANG DITEMUKAN OLEH
PROF. DR. RISTONO, MS.
Dari berbagai sampel cabutan
Singkong Gajah dengan umur
antara 4 - 9 bulan memiliki rasa
yang enak dan gurih dengan
tekstur empuk bahkan ada nuansa
rasa ketan. Berbagai jenis olahan
Singkong basah menjadi makanan
diperoleh kualitas yang bagus
antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti
kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 - 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga
berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal
(Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah
akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan
Bahan Bakar Nabati (Energi).
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga
memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi
keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang,
cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai
potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan
Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.

Lewat budidaya singkong gajah ini ke depan dapat tercipta lapangan usaha,
seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong gajah bisa
menjadi komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-etanol. Lewat
budidaya singkong gajah ini ke depan dapat tercipta lapangan usaha,
19

seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong gajah bisa
menjadi komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-etanol.
A. SYARAT PERTUMBUHAN
1. IKLIM
Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan
150- 200 mmpada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7
bulan, dan 100- 150 mm pada fase menjelang dan saat panen
(Wargiono, dkk., 2006).
Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar
10 derajat C. Bila suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan
pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena
pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong
antara 60 " 65%.
Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon /
singkong sekitar 10 jam / hari terutama untuk kesuburan daun dan
perkembangan umbinya.

2. MEDIA TANAM
Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah
yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu
poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah
mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia
dan mudah diolah.
Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong
adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran,
grumosol dan andosol.
Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela
pohon berkisar antara 4,5 - 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya
tanah di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0- 5,5,
sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman
ketela pohon.

B. PEDOMAN BUDIDAYA
1) BIBIT
Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi,
disukaikonsumen, dan sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya
varietas unggul yang dibudidayakan memiliki sifat toleran
kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran
20

keracunan Al, dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al
dan Ca.
Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12
bulan).
Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat
serta seragam
Batang telah berkayu dan berdiameter 2,5 cm lurus.
Belum tumbuh tunas-tunas baru

2) PENGOLAHAN MEDIA TANAM
2.1. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan
adalah :
Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus,
pH meter dan atau cairan pH tester.
Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan
ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan
bahan organik.
Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen.
Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan
dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat
memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.
Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan
setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga
diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat
panen dan pasar.

2.2. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala
macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman
sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran
tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan
penyakit yang mungkin ada.

2.3. Pembentukan Bedengan (Guludan)
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian.
Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai
dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk
memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti permbersihan
tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.



21

2.4. Pengapuran (Bila diperlukan)
Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam /
tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan
adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1
" 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau
pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian
pupuk kandang.

C. TEKNIK PENANAMAN
Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan
curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik
adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang
digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120 cm.

Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam
terlebih dahulu dengan pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur
dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan
hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela
pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga
bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab,
stek ditanam dangkal saja.

D. PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni
dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit
atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Penyulaman
dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas.
Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis
rumput/tanaman liar./ pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman.
Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 kali penyiangan.
Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah
antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak
dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai
75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Pembubunan Cara pembubunan
dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan setelah
dibuat seperti gundukan. Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu
penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman
ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu
dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan tidak kelihatan.
22

Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan
pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus
mempunyai cabang 2 atau 3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa
digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam mendatang. .

E. PEMUPUKAN
Pemupukan Secara Konvensional / Kebiasaan Petani Pemupukan dilakukan
dengan system pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea :
135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 135 kg. pupuk tersebut diberikan pada
saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3 atau Urea : 50 kg, TSP/SP36 :
75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada saat tanaman
berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3 atau Urea :
85 kg dan KCL : 85 kg.

Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem pemupukan
menggunakan teknologi MiG-6 Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk
kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya adalah
sebagai berikut : Disarankan saat pengolahan lahan diberikan pupuk
kandang pada setiap lubang yang akan ditanami bibit. Kebutuhan 5ton/ha.
3 hari sebelum tanam diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar dengan
campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus dicampur/dilarutkan dengan air max
200 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan air
sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup
untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan
disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk
kandang/kompos lebih maksimal. Setelah 3 hari bibit / stek siap ditanam. 5
hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg,
TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon diberikan
campuran sebanyak 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm
dari tanaman dengan kedalaman 10cm. Pemberian MiG-6 Plus selanjutnya
pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2 liter, umur 4 bulan : 2 liter,
umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk anorganik
selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K
dengan dosis Urea : 85 kg, dan KCL : 85 kg. Asumsi bila 1 hektar lahan
ditanam 7.500 pohon berarti 1 pohon diberikan sebanyak 22,5 gram
dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman
10cm.

F. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur 4-5 bulan
hendaknya selalu dalam keadaan lembab tapi tidak terlalu becek. Pada
tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber
23

air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara
menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang
baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai
kedaerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan system genangan
dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan
berdasarkan kebutuhan.

G. HAMA DAN PENYAKIT
Hama
Uret (Xylenthropus)
Ciri: berada dalam akar dari tanaman.
Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan
umbi dirusak.
Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan
atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.
Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap
cairan daun tersebut.
Gejala: daun akan menjadi kering.
Pengendalian:menanam varietas toleran dan menyemprotkan air
yang banyak.
Penyakit
Bercak daun bakteri
Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG
.
Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan
mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati.
Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong atau
memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran
tanaman dan sanitasi kebun.
Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
Ciri: hidup di daun, akar dan batang.
Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas.
Akar, batang dan umbi langsung membusuk.
Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas
yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan
pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.
Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab: jcendawan yang hidup di dalam daun.
Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat
kecil dan jaringan daun mati.
Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman
24

varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta
melakukan sanitasi kebun.
Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)
Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.
Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.
Pengendalian : memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi
kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit

H. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA / INSEKTISIDA
Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya.
Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah
embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan
serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label
merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan
ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus
hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

RUMUS PRODUKSI
Produktivitas = Genetika + Lingkungan + Manajemen
Untuk memperoleh produktivitas singkong yang tinggi dan oftimal, perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

GENETIKA SINGKONG
Pada dasarnya Singkong Gajah merupakan komoditas atau jenis singkong
yang ditemukan oleh Prof Ristono dari Indonesia. Dan Karakter Singkong
Gajah ini sangat istimewa : gen batang yang cepat membelah dalam proses
terbentuknya akar sehingga pohon Singkong Gajah ini bisa cepat tumbuh
dan sanggup menghasilkan jumlah buah / umbi yang banyak. Singkong
Gajah ini juga mampu menghasilkan singkong yang enak gurih lagi renyah.

LINGKUNGAN
Dan Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam
menentukan pilihan lahan untuk menanam Singkong Gajah (dan juga
singkong jenis lain) : Beberapa perubah lingkungan yang mempengaruhi
pertumbuhan dan produktivitas adalah:
1. Sinar matahari harus full dari pagi sampai sore jangan sampai ada
yang menghalanginya lagi.
2. Ketersediaan air yang mencukupi selama dibutuhkan dalam
pertumbuhan tanaman tersebut.
3. Kondisi tanah gembur (pourositas daya pegang air lembut dan stabil)
begitu.
4. Ketersediaan bahan organik yang lengkap dan mencukupi nutrisi.
25

5. Kombinasi kelembaban dan angin yang pas sangat membantu proses
transpirasi sehingga dapat menghasilkan proses fotosintesis dengan
baik dan benar.

MANAJEMEN
Dan Tahapan ini merupakan sebuah proses dari tahapan persiapan bibit
pengolahan lahan dan perawatan tanaman.

1. Bibit
Pada kenyataannya Batang Singkong Gajah yang baik dipergunakan sebagai
bibit adalah pohon yang tidak terlalu muda sudah mencapai ukuran
diameter optimal namun tidak terlalu tua. Batang muda akan mudah rusak
tergores sehingga memudahkan proses terinfeksi dan rusak pada tanaman.
Dan Batang yang terlalu tua akan menghambat proses perakaran sehingga
pertumbuhannya akan kerdil pendek. Lalu, Batang dipotong/stek seukuran
sekitar 25 cm atau setidaknya stek memiliki 10 mata tunas. Pemotongan
diupayakan mempergunakan alat potong yang tajam dan steril dari bakteri
dan jamur, begitu. Dan, Batang stek sebaiknya diupayakan dari luka
gores/rusak saat pemotongan penyimpanan atau pengangkutan serta
dalam proses penanaman, begitu. Dan, Perendaman stek bibit
menggunakan hormone auksin (pemacu akar) sitokinin (memacu tunas
baru) dan giberilin (pembesaran) juga sangat bagus dilakukan sebelum stek
ditanam, begitu.

2. Persiapan Lahan
Dan, Buah singkong yang berada pada akar memerlukan ruang gerak yang
gembur aerasi yang bagus daya pegang akan air yang bagus serta adanya
sehingga ada ruang yang cukup bagi akar serta adanya cadangan
makanan/unsur hara organik yang banyak , begitu.

3. Penanaman
Dan, Proses penanam dilakukan dengan menancapkan batang stek ke
dalam tanah. Sepertiga hingga setengah batang stek masuk ke dalam tanah.
Jarak tanam yang ideal adalah 1.5 m X 1.5 meter dengan jarak tanam yang
ideal ini memungkinkan cahaya matahari tetap akan bisa menembus daun
batang dan permukaan tanah sehingga proses fotosintesis bisa maksimal,
begitu.

4. Perawatan.
Dan, Cukup sederhana tidak serumit merawat tanaman hias atau komoditas
pertanian yang lain, begitu. Dan, Pemupukan selain pupuk dasar yang
diberikan pada masa pra tanam sangat diperlukan juga adanya pemupukan
26

susulan. Pemupukan susulan menggunakan pupuk kandang / kompos
dilakukan pada usia tanam 3 bulan, begitu. Dan, Lahan juga perlu dijaga
dari tumbuhnya gulma gulma pengganggu. Kondisi lahan hingga usia
tanam 4 bulan perlu dijaga kelembabannya jika musim kemarau perlu
dilakukan menyiraman atau leb (dialiri air) cukup basah saja tidak sampai
tergenang air, begitu. Dan, Ada kemungkinan muncul hama pengganggu
seperti tungau kutu kebul tikus atau jamur sehingga perlu diperhatikan
sehingga bisa segera diatasi munculnya hama pengganggu, begitu. Dan,
Dengan memperhatikan ketiga unsur (Genetika Lingkungan dan
Manajemen) dipastikan hasil panenan Singkong Gajah akan tinggi dan sehat
per batang memanen singkong di atas 20 kg tidaklah sulit, begitu.

2.
TEKNIS BUDIDAYA SINGKONG GAJAH

1. Pembibitan
a. Persyaratan Bibit
Berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12
bulan).
Pertumbuhannya normal ,sehat dan seragam.
Batangnya telah berkayu dan berdiameter 2,5 cm lurus.
Belum tumbuh tunas-tunas baru.
b. Penyiapan Bibit
27

Bibit berupa stek batang.
Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.
Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing
ikatan berjumlah antara 2530 batang stek.
Bibit yang akan ditanam, harus dilukai pada 3 ruas
dibawah ketiak daunnya dan direndam dengan Be
Natural Cair 3 cc + 1 cc Be Natural Cair + 1 cc Fungisida/
1 liter air selama 30 menit s/d 12 jam paling lama.
2. Pengolahan lahan
a. Pembukaan lahan
- Pembersihan lahan
b. Pemupukan dasar
- Pupuk dasar untuk luas lahan 10.000 m : Pupuk kandang :
3 ton, Be Natural padat : 10 kg
- pupuk padat , ditebar merata
c. Pengairan dan Penyiraman
- Lahan dibajak dan digaru dalam kondisi lembab
- Pembuatan bedengan dengan lebar 1 2,5 m, tinggi 50
cm(kedalaman gembur), jarak antar bedeng menyesuaikan
lahan.
- Lahan didiamkan selama 1 minggu
- Setelah satu minggu lahan siap ditanami
3. Penanaman
- Jarak tanam 1 meter x 1 meter atau 1 meter x 1,25 meter
- Penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek
ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang
lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah.
- Populasi per 10.000 m kurang lebih 8.000 10.000 tanaman
4. Pemeliharaan
a. Penyulaman, dilakukan pada umur 1 -2 mst
b. Penyemprotan Be Natural Cair dosis 4-6 tutup pertangki 14 liter
air mulai umur 2 mst, 6 mst, 9 mst (+ 2 tutup Be Natural
Hormon) Penyemprotan Be Natural Cair dosis 4-6 tutup
pertangki 14 liter air mulai umur 2 mst, 6 mst, 9 mst (+ 2 tutup
Be Natural Hormon)
c. Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan atau melihat kondisi
gulma di lapangan. Minimal dilakukan 2 kali selama masa
budidaya.
d. Perempelan/Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan dengan menyisakan 2 atau 3 cabang
28

utama.
e. Pemupukan
Pemupukan susulan I dilakukan pada umur 2 mst
Pemupukan susulan II dilakukan pada umur 4 mst

Tabel 1. Dosis pemupukan tanaman ubi kayu per 10.000 m
No Jenis pupuk
Dosis dan waktu aplikasi
pupuk
Keterangan
Total
(kg)
Dasar
(kg)
Sus I
(3 mst
)
(kg)
Sus II
(
3bst)
(kg)

1 Urea 200 - 70 130 Pupuk Urea, NPK dan KCl dicampur
kemudian ditebar di parit sekeliling
tanaman atau dengan tugal
2 NPK Phonska 300 - 200 100
3 KCl 180 - 60 120
4 Be Natural Padat 20 kg 10 kg 10 kg - Diencerkan dengan air kemudian
disiramkan atau dicampur pupuk
makro
5 Be Natural Cair Mulai umur 2 mst setiap 2
minggu sekali dengan dosis 0,5
1 ml/per pohon
Ket: usia 1,5 bulan, 3,5 bulan dan 4
bulan Be Natural Cair 5 tutup + 1-2
tutup Be Natural Hormon
(disemprotkan ke tanaman)

5. Kondisi lahan dari awal tanam sampai umur 45 bulan selalu
dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek.
Penyiraman 2 minggu sekali atau tergantung kebutuhan tanaman
6. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida yang sesuai
dengan jenis dan tingkat serangan hama atau penyakit
7. Panen (10 12 bulan setelah tanam)
- Ciri Panen
- Pertumbuhan daun bawah mulai berkurang.
- Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok.
Cara Panen
Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan
umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah.










29


Singkong Gajah adalah
singkong yang
berteknologi dalam
arti bahwa tanaman
ini perlu campur
tangan manusia
dengan kasih sayang
atau memerlukan
pemeliharaan yang
serius. Walaupun
tanaman ini
mempunyai daya
adaptasi yang tinggi
namun
kemampuannya
bertahan hidup dalam
mengahadapi rumput
liar kurang kuat
dibandingkan dengan jenis lainnya.

Namun ketika pemeliharaan dilakukan dengan baik misalnya
penggemburan tanah dengan penyiangan rerumputannya, pemupukan dan
penambahan unsur-unsur hara yang diperlukannya, dan pengurangan daun
atau cabang yang kurang diperlukan. Harus diperhatikan adalah musuh
utama tanaman ini yaitu babi hutan, tikus dan landak.

Pada dasarnya Singkong Gajah tidak memilih tempat tumbuh, karena dapat
tumbuh dan bertumbuh di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi
namun ia tidak cukup baik di daerah rawa atau terus menerus berair.
Kelebihan dari budidaya Singkong Gajah ini adalah bibitnya mempunyai
kekebalan terhadap hama dan penyakit tanaman. Dalam hal ini umur panen
pun yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan ubi kayu lainnya.

Kandungan kayunya cukup tinggi sehingga biasa menjadi sasaran dan
berakibat kropos, bahkan mati. Oleh karena itu, bibit tanaman ini
sebaliknya direndam bahan anti rayap atau obat perangsang tumbuh
Petani singkong tradisional lebih menggutamakan hasil panen pada umbi
sebagai bahan pangan. Dibebrapa tempat, umbi singkong dijadikan bahan
baku bioetanol. Sekarang budidaya singkong bukan lagi terpancang pada
umbi sebagai bahan pangan melainkan sudah mulai ada petani singkong
yang menjual daunnya.
30


Teknik Dasar Penanaman Singkong Gajah
Jarak Tanam pada penanaman Singkong Gajah perlu diperhatikan untuk
memperoleh umbi, bibit, dan daun yang maksimal. Keteraturan jarak tanam
menghasilkan keindahan kebun dan juga mempermudah pemeliharaan
tanaman seperti pemupukan, penyiangan, dan pemeliharaan bedeng. Jarak
tanam pada singkong ini berdasarkan hasil penelitian yang di pimpin oleh
Prof. Ristono menunjukan adanya ketergantungan pada tingkat kesuburan
tanah. Pada tanah yang subur justru menghendaki jarak tanaman yang
longgar karena keinginan singkong ini untuk keleluasaan membangun
umbinya menjadi panjang , besar serta banyak. Selain itu, percabangan
batang dan pertumbuhan daun dan batang juga akan leluasa bisa mencapai
tingkat kerimbunan yang cukup padat. Keteraturan jarak antar pohon
paling tidak satu meter, bahkan ada pula yagn menanam dengan model
jarak satu meter kali dua meter. Sebaliknya, pada tanah yang tidak subur
penanaman dengan ukuran jarak yang berdekatan walaupun umbi yang
diproduksinya menjadi pendek.

Untuk memaksilmalkan produk maka tanaman ini menginginkan tumbuh
pada tanah yang digulud atau dibedeng dengan tinggi gundukan sekitar 50
cm dan lebar bedeng paling tidak 70 cm. Dengan bedeng sirkulasi air yang
diperlukan tumbuhan ini menjadi lebih terjamin karena Singkong Gajah
tidak senang hidup pada genangan air yang berlebihan. Apabila is terpaksa
ditanam secara tumpang sari maka ia adalah tanaman yang dominan dala
memperoleh sinar matahari sedangkan tanaman yang lainnya harus berada
dibawahnya dan umur Singkong Gajah harus lebih tua daripada tanaman
yang nebeng tersebut. Oleh karena itu untuk tumpang sari sebaiknya
dilakukan secara bersamaan penanaman dengan jenis tanaman yang dapat
mendukung pertumbuhan singkong misalnya kacang tanah, kacang hijau,
atau kedelai.
Teknik menanam singkong oleh petani di Indonesia bervariasi. Untuk
Singkong Gajah disarankan mengikuti banyaknya mata benih yang yang
mungkin dapat tumbuh menjadi batang tanaman yaitu antara tiga hingga
lima mata. Ini berarti panjang benih dari 10 cm hingga 20 cm. Diameter
benih yang disarankan sekitar 1,5 cm yang diambil baigan yang relatif lebih
muda.

Penanaman Singkong Gajah harus mengacu pada input teknologi berupa
bibit tanaman. Yaitu agar bibit yang ditanam mempunyai keyakinan tinggi
dapat hidup secara baik maka sebaiknya diamati apakah bibit masih segar
dengan cara mengupas kulitnya ( dengan kuku ) apabila masih kelihatan
segar maka bibit tersebut sehat cukup tinggi.
31


Teknik Dasar Pemeliharaan Tanah
Tanah yang telah dibuka untuk lahan penanaman singkong ini harus diberi
kesempatan memperoleh sinar matahari yang cukup agar semua baigan
dipermukaan tanah memperoleh oksigen yang diperlukan oleh mikroba
tanah. Penyuburan tanah menggunakan pupuk kandan atau pupuk organic
berupa Bokasi atau kompos memerlukan sekitar 2 ton / hektar. Akan lebih
baik apabila pupuk ini bersamaan dengan proses penggemburan tanah,
proses ini akan lebih cepat dan efisien apabila dibantu dengan input pupuk
hayati. Penggunaan Biotonik yang berkualitas pada awal penanaman
diperlukan 2 - 4 liter/hektar yang berati pencampurannya 200 400 liter
air. Penambahan pupuk hayati ini perlu diulangi lagi ketika tanaman telah
tumbuh dan berumur 1 bulan dan berikutnya setelah berumur 3 bulan 5
bulan. Pada Awal tanam biasnay tumbuh rumptu pengganggu. Untuk
menagtasi gangguan ini sebaiknya dilakukan secara manual pada waktu
tanaman umur satu bulan yaitu dengan menggunakan tangan karena tanah
masih lentur dan rumptu juga masih muda dan midah dicabut. Langkah
selanjutnya dilakukan penyiangan secara manual pada umur tanam 2 bulan
dan 4 bulan. Pada singkong umur lebih dari 3 bulan rumput akan otomatis
mati di sekitar pohon karena ternaungi oleh daun singkong yang semakin
rimbun. Hasil penyiangan rumpt secara manual berupa rumput atau
serasah lainnya yang sangat baik untuk bahan pupuk organik. Pada waktu
pemeliharaan tanah secara manual dilakukan, petani juga harus memeriksa
ada tidaknya gangguan hama penyakit dan bahkan serangan hama tikus
atau babii hutan.

Pemberian Pupuk Organik
Kunci keberhasilan pertanian Sinkogn Gajah terlihat dari pengolahan laha
sejak awal dan pemberian pupuk organic secara teratur. Apabila dirasakan
memang biaya yagn diperlukan cukup tinggi, namun hasil yang diperoleh
tinggi pula. Apabila pemberian pupuk hanya menggunakan pupuk organi
dan pupuk hayati dalam artian tidak menggunakan pupuk kimia sama
sekali maka umbi yang dihasilkan paling tepat untuk bahan industri pangan
rasa Singkong Gajah yang istimewa.

Penggemburan Tanah
Penggemburan tanah akan lebih efektif dengan sekaigus menaburkan
pupuk organic atau pupuk kandang sehingga percampuran bahan yang
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sedini mungkin telah dilakukan.

Teknik Dasar Pemanenan Singkong Gajah
32

Dalam memanen singkong tergantung pada teknik pemanenan dan dalam
hal ini bagaimana keberhasilan mencabut umbi tersebut dari dalam tanah .
Pada tanah yang bersifat liat atau keras biasanya berusaha mencengkram
umbi sehingga banyak yang tertinggal didalam tanah karena putus dan
bahkan apabila tercabut pun dalam keadaan rusak. Oleh karean itu teknik
panen umbi singkong perlu dipelajari. Dengan tanaman berada pada gulud
atau bedng maka proses pemanenan akan lebih mudah karena umbi yang
dihasilkan sebagian besar berada di atas permukaan tanah utama dan
gundukan tersebut relatif gembur. Apabila waktu panen ternyata laha
kering atau keras maka dilakukan penggemburan tanah dengan menyiram
tanah denga pompa air dan dibiarkan selama 1 (satu) malam agar
pengemburan samapai ke ujung umbi/perakaran.

Umur Panen Singkong Gajah
Penegrtian panen singkong adalah pengambilan hasil dari tanaman
singkong tersebut yang biasanya diutamakan pada pengambilan umbi.
Umur tanaman 7-11 bulan akan menghasilkan umbi segar mencapai 200
ton/ha dengan prediksi perbatangnya 20kg.


4. PENGOLAHAN SINGKONG
MEMPRODUKSI GAPLEK DAN PATI SINGKONG

Di pasar internasional, gaplek dikenal dengan nama dagang casava.
Sementara pati singkong (tepung aci, tepung kanji) disebut sebagai tapioka.
Masyarakat Jakarta malahan menyebut tepung aci ini sebagai sagu.
Padahal jelas sekali perbedaan antara tepung sagu dengan pati singkong.
Yang disebut gaplek adalah singkong (ketela pohon, ubi kayu = Manihot
esculenta/Manihot utillisima) yang telah dikupas dan dikeringkan.
Biasanya pengupasan dilakukan secara manual dengan pisau dan tangan.
Sementara pengeringannya dilakukan dengan cara menjemurnya langsung
di bawah panas matahari. Tepung tapioka adalah pati singkong. Pati ini
diperoleh melalui penghancuran singkong segar, pelarutan dengan air,
pemerasan, pengendapan pati dan pengeringan. Masyarakat tradisional
melakukan proses ini secara manual dengan mengupas singkong,
memarutnya, memberinya air, memeras lalu mengendapkan air perasan
hingga diperoleh pati yang kemudian dijemur sampai kering.

Meskipun singkong berasal dari Amerika tropis dan baru ditanam di
Indonesia setelah kedatangan bangsa kulit putih, namun pengembangan
dan pemanfaatannya sudah demikian luas. Di Jawa Tengah, terutama di
kawasan-kawasan yang kering, gaplek merupakan komoditas pangan yang
33

penting. Tepung gaplek yang diberi air dan dikukus akan menjadi tiwul,
yang oleh sebagian masyarakat dijadikan makanan pokok. Apabila proses
pengeringan gaplek tidak sempurna hingga berjamur (sebagian berwarna
hitam dan cokelat) maka akan diperoleh komoditas yang dikenal sebagai
gatot. Selain ditepungkan untuk bahan tiwul, gatot juga bisa direndam,
dijadikan serpih kecil-kecil secara manual dan dikukus untuk langsung
dikonsumsi. Selain lebih lezat, gatot juga bergizi lebih baik karena jamur
(kapang) yang merusak pati singkong tersebut justru menghasilkan protein
dan asam amino yang sebelumnya tidak terdapat pada singkong. Proses
pembuatan gatot sedikit lebih rumit dibandingkan dengan gaplek. Singkong
yang telah dikupas, dijemur sebentar untuk mematikan sel-sel
(jaringannya) tetapi jangan sampai kering. Biasanya penjemuran cukup
dilakukan selama sehari sampai dua hari. Selanjutnya singkong diperam
dalam wadah yang tertutup rapat sampai berjamur. Setelah itu singkong
dijemur lagi sampai kering untuk disimpan sebagai gatot.

Dalam masyarakat modern, tepung casava adalah bahan pakan ternak yang
cukup penting, terutama untuk ternak unggas. Bersamaan dengan jagung,
bungkil, dedak, dan tepung ikan, gaplek merupakan bahan utama pakan
unggas dan juga ternak ruminansia serta babi. Fungsi gaplek adalah sebagai
sumber serat dan karbohidrat bermutu namun harganya murah. Karena
singkong hanya bisa ditanam di kawasan tropis, maka kebutuhan gaplek
negara-negara sub tropis disuplai dari Afrika dan Amerika tropis serta Asia
Tenggara. MEE, AS dan RRC merupakan konsumen gaplek dengan volume
cukup besar. Seharusnya Indonesia sebagai negara tropis bisa menangkap
peluang ini. Namun kenyataannya kuota ekspor gaplek dan tepung tapioka
kita ke MEE hampir selalu tidak bisa kita penuhi. Bebarapa kali kita
terpaksa mengimpor dari Thailand untuk kita reekspor ke MEE. Hingga
Thailand pun protes ke MEE agar kuota mereka dinaikkan serta Indonesia
diturunkan. Masalahnya adalah, Indonesia sendiri sebagai penghasil
singkong, sekaligus juga merupakan konsumen yang cukup besar pula.
Industri ternak unggas kita yang maju pesat, tentu memerlukan suplai
pakan yang akan cenderung makin banyak juga. Hingga kebutuhan bahan
pakan ternaknya pun akan terus bertambah besar. Termasuk kebutuhan
gapleknya.

Kalau dalam kehidupan modern gaplek labih banyak digunakan untuk
bahan pakan ternak, maka sekarang tepung tapioka justru merupakan
bahan makanan manusia yang cukup penting. Dulu, pemanfaatan tepung
tapioka hanyalah untuk lem dan kanji guna mengeraskan dan melicinkan
pakaian sebelum diseterika. Tetapi dalam kehidupan modern sekarang ini,
penggunaan tepung tapioka terbanyak adalah untuk bahan baku gula cair
34

(High Fructose Syrup = HFS), asam sitrat, bakso dan kerupuk. Negara-
negara maju seperti MEE, memerlukan tepung tapioka untuk menunjang
industri HFS dan asam sitrat mereka. HFS dan asam sitrat merupakan
bahan baku utama berbagai minuman instant yang diberi embel-embel
sari buah. Sementara di dalam negeri, kebutuhan tepung tapioka juga
terus naik sehubungan dengan tumbuhnya kebiasaan makan mie bakso
dengan kerupuknya, serta kebiasaan menyantap singkong goreng di
kakilima. Bahan utama bakso adalah tepung tapioka dan daging segar
(daging yang belum dilayukan). Karenanya, meskipun industri tepung
gaplek dan tapioka tumbuh di mana-mana (terutama di Lampung), namun
kuota ekspor kita ke MEE tetap tidak kunjung bisa terpenuhi. Bahkan trend
terakhir, harga gaplek dan tepung tapioka di dalam negeri menjadi lebih
tinggi dari harga ekspor (FOB).

Kelangkaan gaplek dan tepung tapioka ini sedikit banyak juga disebabkan
pula oleh turunnya minat masyarakat untuk menanam singkong. Harga
singkong yang setiap panen raya antara bulan Juni, Juli dan Agustus hanya
sekitar Rp 100,- (pembeli mencabut sendiri) atau Rp 200,- (pemilik
melakukan pencabutan). Telah menyebabkan masyarakat enggan untuk
menanam singkong. Dengan hasil rata-rata 10 ton per hektar, maka
pendapatan kotor seorang petani singkong hanyalah Rp 1.000.000,- dari
tiap hektar lahan mereka. Dengan mengolahnya lebih lanjut menjadi gaplek
dan tepung tapioka, maka keuntungan petani akan bertambah besar. Sebab
harga gaplek di tingkat petani mencapai Rp 800,- per kg. sementara tepung
tapioka bisa sampai Rp 2.000,- per kg. Dari 1 ton (1.000 kg.) singkong segar
dengan harga Rp 200.000,- 10% terdiri dari kulit dan bagian yang harus
dibuang. Sementara sekitar 60% adalah air. Hingga, dari 1 ton singkong
segar tersebut, akan dihasilkan gaplek (berkadar air 14%) dengan bobot
440 kg. Kalau harga gaplek di tingkat petani Rp 800,- maka nilai gaplek
tersebut adalah Rp 352.000,- Ongkos kupas dan jemur sekitar Rp 100.000,-
hingga masih ada marjin Rp 52.000,- untuk tiap ton singkong segar.
Sementara upah cabut (Rp 100.000,-) dan upah kupas serta penjemuran
(juga Rp 100.000,-) sebenarnya juga dinikmati oleh para petani sendiri.
Hingga keuntungan yang Rp 52.000,- per ton singkong segar tersebut
merupakan nilai tambah riil yang dinikmati oleh pemilik singkong.

Kalau singkong diolah menjadi tepung tapioka, maka nilai tambahnya akan
makin besar. Peralatan untuk mengolah singkong segar menjadi tepung
tapioka, tidak harus berupa mesin-mesin mahal. Alat pemarut kelapa yang
banyak dijumpai di pasar dan warung-warung itu pun, bisa digunakan
untuk mengolah singkong segar menjadi tepung tapioka. Selain itu juga
diperlukan alat pemeras (pengempa) dan wadah untuk mengendapkan
35

tepung tapiokanya. Biaya investasi untuk peralatan ini diperkirakan antara
Rp 5.000.000,- sampai dengan Rp 10.000.000,- yang bisa disusutkan sekitar
3 tahun. Kapasitas olahnya sekitar 1 sampai dengan 2 ton singkong segar
per hari. Setelah dikupas dan digiling, diendapkan serta dijemur, dari 1 ton
singkong segar itu, akan diperoleh sekitar 200 kg. tepung aci. Dengan
rincian, 10% dari dari volume tersebut merupakan kulit dan pangkal serta
pucuk yang harus dibuang. Sekitar 60% berupa air yang 50%nya juga akan
dibuang. Dan dari 40% bahan padat tersebut, 20% akan berupa pati dan
20% ampas. Dengan harga Rp 2.000,- per kg. nilai 200 kg. tepung aci
tersebut sekarang mencapai 400.000,- ditambah dengan nilai ampas kering
(untuk pakan ternak) @ Rp 100,- per kg X 200 kg menjadi Rp 20.000,- Jadi
total pendapatan dari pengolahan tepung aci ini adalah Rp 400.000 + Rp
20.000,- = Rp 420.000,- Dengan ongkos prosesing Rp 150.000,- per ton
singkong segar, maka masih ada marjin Rp 70.000,- yang menjadi hak
pemilik singkong dan investor.

Jika dilihat sepintas, keuntungan dari memproses sigkong segar menjadi
gaplek maupun pati ini relatif kecil. Tetapi singkong merupakan komoditas
yang jangka waktu panennya sangat pendek. Antara bulan Juni sampai
dengan Oktober (5 bulan), jutaan hektar tanaman singkong akan dibongkar
untuk diambil umbinya. Hasilnya adalah jutaan ton singkong segar. Pada
waktu panen raya demikian, harga singkong segar akan jatuh kurang dari
Rp 100,- per kg. Upaya inilah yang mestinya harus diatasi oleh para petani
sendiri dengan melakukan proses pembuatan tepung tapioka atau gaplek.
Tetapi untuk itu, para petani perlu membentuk kelompok. Kemudian
mereka juga perlu modal untuk membeli singkong secara cash ke petani
dan menunggu proses pembuatan aci serta proses pemasarannya yang
akan makan waktu antara 2 sampai dengan 3 bulan. Kalau dalam satu
kelompok beranggotakan 30 orang ada 1.000 ton singkong segar, maka
diperlukan modal untuk pembelian singkong senilai Rp 100.000.000,-
Dalam kurun waktu 2 bulan (6 hari kerja dalam seminggu) para petani
anggota kelompok itu harus bekerja mencabut singkong, mengupas,
menggiling, memeras, mengendapkan tepung dan menjemurnya dengan
upah sekitar Rp 10.000,- per hari. Berarti diperlukan modal kerja sekitar Rp
180.000.000,- Modal investasi diperkirakan paling banyak Rp 20.000.000,-
Hingga keperluan modal adalah Rp 300.000.000,-

Dari 1.000 ton singkong tersebut, akan diperoleh 200 ton tepung tapioka
dengan nilai Rp 2.000.000,- per ton. Atau total pendapatannya Rp
400.000.000,- Berarti masih ada marjin sekitar Rp 100.000.000,- yang akan
dinikmati oleh kelompok tani tersebut. Selain itu para petani juga bisa
bekerja dengan nilai upah mencapai Rp 180.000,- dalam kurun waktu
36

sekitar 2 bulan pada waktu panen singkong. Namun yang menjadi
pertanyaan adalah, siapa yang harus menyediakan (memberi pinjaman)
senilai Rp 300.000.000,- tersebut? Seandainya pinjaman itu diperoleh dari
bank, tentunya bank akan meminta koleteral. Sebenarnya para petani
tersebut bisa mengajukan singkong yang hasil akhirnya akan menjadi
tepung tapioka tersebut sebagai koleteral. Tetapi koleteral demikian tentu
akan ditolak oleh bank. Sebab bank biasanya minta koleteral berupa tanah
atau tanah dengan bangunan, kendaraan, emas dan lain-lain yang mudah
diuangkan kembali. Jaminan berupa raw material dan tepung tapioka masih
tidak lazim bagi kalangan perbankan di Indonesia. Padahal, jaminan ini juga
relatif mudah diuangkan. Dan dari hitung-hitungan kasar yang ada, proses
mengolah singkong segar menjadi tepung tapioka relatif menguntungkan.
Sebab kalau tidak menguntungkan, bagaimana mungkin Gunung Sewu
Grup, Astra dan lain-lain konglomerat papan atas Indonesia tertarik untuk
menangani singkong segar menjadi tapioka?

4.1 PENGOLAHAN UBI KAYU MENJADI GAPLEK, TEPUNG SINGKONG
DAN TAPIOKA



Ubi Kayu atau singkong (manihot utilisima) merupakan salah satu hasil
pertanian yang tidak tahan lama dan mudah rusak. Ubi kayu segar hanya
dapat disimpan selama 3 hari. Jika disimpan lebih dari 3 hari, umbinya akan
berwarna coklat kebiruan. Oleh karena itu,setelah dipanen ubi kayuharus
segera dikonsumsi atau diproses lebih lanjut. Untuk mempertahankan daya
simpannya, ubi kayu dapat diolah menjadi gaplek, tepung ubi kayu atau
tapioka.

Pembuatan Gaplek
Berdasarkan bentuknya, gaplek dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu
gaplek gelondongan, gaplek rajangan (chips), gaplek irisan (slice) dan
gaplek kubus (cubes). Secara umum tahapan pembuatan gaplek adalah
sebagai berikut:
Kupas ubi kayu lalu cuci dengan air bersih.
Belah, iris atau Rajang ubi sesuai dengan keinginan, yaitu:
Gaplek gelondongan:
Belah ubi kayu memanjang dengan menggunakan pisau atau alat
pemotong lainnya menjadi 3-5 belahan.
Gaplek Rajangan:
Belah ubi kayu menjadi 2 atau 3 bagian, kemudian potong-potong
atau Rajang dengan pisau atau alat pemotong (chopper)
37

Gaplek irisan:
Iris ubi kayu tipis-tipis dengan pisau atau alat pengiris khusus
(silicer)
Gaplek kubus potong-potong ubi kayu dengan mesin khusus menjadi
bentuk kubus dengan sisinya 1-2 cm.
Rendam ubi kayu dalam larutan garam dapur 8% (0,8 gram garam
dalam 1 liter air) selama 15 menit.
Jemur hingga kadar airnya mencapai 14% dengan menggunakan alas
dan anyaman bambu, plastic, tikar atau lantai jemur.
Untuk gaplek gelondongan, pengeringan dapat dilakukan dengan
menggantung belahan-belahan ubi tersebut. Caranya belahan ubi
ditusuk dan disusun berjejer dalam satu rentangan tali yang masing-
masing ujungnya diikatkan pada tiang.

Ubi kayu segar
Dikupas dan dicuci sampai bersih
Dibelah sesuai bentuk yang dikehendaki
Direndam dalam air garam
Dikeringkan/dijemur
Gaplek
Alur pembuatan gaplek
Tepung ubi kayu
Kupas ubi kayu, cuci sampai bersih lalu jemur hingga kering.
Masukkan ubi kayu kening kedalam lumpang, kemudian tumbuk.
Ayak dengan ayakan halus.
Sisa pengayakan ditumbuk dan diayak lagi, demikian seterusnya
hingga diperoleh tepung halus.
Jemur tepung dibawah sinar matahari. Apabila hujan, pemgeringan
dilakukan di dalam ruangan dengan pemanas buatan,seperti kompor,
oven atau lampu petromak.

Ubi kayu segar
Dikupas dan dicuci sampai bersih
Dijemur
Ditumbuk
Diayak
Tepung hasil ayak dijemur
Tepung ubi kayu

Alur pembuatan tepung ubi kayu
Tepung tapioka
Kupas ubi kayu lalu cuci hingga bersih.
38

Rendam ubi yang telah dikupas dalam larutan garam dapur 8% (0,8
gram dalam 1 liter air) selama 15 menit atau dalam larutan soda kue
(natrium bisulfit) yang biasa dijual ditoko kue. Banyaknya soda kue
yang diperlukan adalah 0,04 gram dalam 1 liter air.
Parut ubi, campur hasil parutan dengan air bersih sambil diremas-
remas, lalu saring.
Endapkan hasil penyaringan untuk memisahkan pati dengan air.
Pisahkan endapan dan air dengan jalan membuang air yang terdapat
diatas endapan.
Keringkan endapan atau aci basah lalu giling.
Hasil gulingan kemudian disaring untuk mendapatkan tepung tapioca
yang halus.

Ubi kayu segar
Dikupas dan dicuci sampai bersih
Direndam dalam air garam 8% selama 15 menit
Diparut
Hasil parutan dicampur dengan air diremas-remas
Disaring
Endapan dikeringkan
Endapan yang telah kering digiling
Hasil gilingan disaring
Tepung tapioka

5. PEMASARAN SINGKONG GAJAH



Penting !! Sebelum Kita Memutuskan Menanam Singkong Secara Luas
Baiknya Kita Cari Tahu Dahulu Dimana Nantinya Kita Akan Menjual Hasil
Panen Singkong Jika Kita Belum Mengetahui Pemasaranya.

Singkong Dalam Kehidupan Kita Sehari Hari Banyak Sekali Kegunaanya :
1. Sebagai Bahan Berbagai Macam Olahan Makanan , Seperti Getuk ,
Keripik Dll. Sebagai Bahan Berbagai Macam Olahan Makanan , Seperti
Getuk , Keripik Dll.
2. Sebagai Bahan Baku Tepung Tapioka :
Tepung Tapioka Sebagai Bahan Baku Bebagai Macam Kue , Krupuk Dan
Makanan Ringan Lainya.
Tepung Tapioka Sebagai Bahan Dasar Pasta Gigi [ Odol ]
Tepung Tapioka Sebagai Bahan Baku Perekat Kertas & Cat Tembok Dll.
3. Sebagai Bahan Baku Tepung Mocaf [ Pengganti Tepung Terigu Yang
39

100 Persen Masih Impor ]
4. Bahan Baku Bioetanol [ BBM Pengganti Bensin ]
5. Gaplek [ Singkong Yang Di Kupas Dan Di Jemur Sampai Kering ] "Di
Ekspor Ke China"
6. Bahan Baku Pakan Ternak

Dengan Segudang Manfaat Singkong Di Atas , Apakah Anda Masih Bingung
Dimana Menjual Hasil Panen Singkong Nantinya ?? Jika Anda Masih Bingung
, Berarti Ini Adalah Masalah Buat Anda.

Dalam Hukum Bisnis , Masalah Adalah Peluang - Peluang Adalah Bisnis
Jadi Tanpa Kita Sadari Kita Telah Menemukan Peluang Bisnis Baru , Bisnis
Yang Saya Maksud Adalah :
Membuat Berbagai Macam Olahan Makanan Dari Singkong Sendiri
Membuat Tepung Tapioka Sendiri
Membuat Tepung Mocaf Sendiri
Membuat Bioetanol Sendiri.

Daftar Pabrik Tepung Tapioka Di Indonesia
Kendala yang sering di alami ketika kita mau membudidayakan singkong
adalah pemasaranya , dimana nantinya kita menjual hasil panen !! Kalau
hanya 1 s/d 3 ton mungkin kita bisa menjualnya di pasar dikit demi sedikit ,
tapi bagaimana kalau penen kita perhari mencapai puluhan bahkan ratusan
ton. Berikut Adalah Daftar Pabrik Tapioka Di Indonesia Yang Siap
Menerima Hasil Panen Singkong Basah.

1. Jawa Timur
PT. Sorini Agro Asia
Alamat : Jl. Halim Perdana Kusuma No 15 Desa Tajug, Siman Ponorogo
Kapasitas Produksi Per Hari / Kebutuhan Bahan Baku Singkong : 800 Ton
Harga Semua Jenis Singkong : Rp.700 s/d 1200
Refaksi : 10 s/d 15 Persen

2. Jawa Tengah
Ngemplak Kab. Pati
Karena Pabrik Di Ngempak Jumlahnya Mencapai Puluhan Pabrik Yang
Tersebar Di Sepanjang Jalan Utama , Saya Tidak Bisa Menyebutkan Satu
Persatu Nama Pabriknya. Kapasitas Produksi Per Hari / Kebutuhan Bahan
Baku Singkong : Di Atas 1000 Ton.
Harga Singkong : Rp.900 s/d 1800
Refaksi : 30 s/d 50 Persen
40


3. Jawa Barat
CV. DELVIN AGRO
Alamat : Ds. Kaso Kec.Tambak Sari Ciamis. - Jawa Barat
Cp. 085777674822

4. Lampung Timur
PT. SORINI AGRO ASIA CORPORINDO Tbk.
Alamat : Ds. Tambah Subur , Kec. Way Bungur - Lampung Timur

Lampung Selatan
CV. SEMANGAT JAYA
Alamat : Desa Bangunsari , Kec. Negrikaton , Kab. Pesawaran - Lampung
Selatan
Pemilik Pabrik : Bapak Supar , HP : 081369501555

5. NTB
PT TAMBORA MAKMUR SEJAHTERA
Alamat : Jalan Raya Sumbawa Tano Km.26 Bhree , Desa Bremang Sumbawa
NTB.

5.1 PERUSAHAAN CINA PESAN RIBUAN TON GAPLEK

TEMPO Interaktif, Purwokerto - Perusahan yang bermarkas di Cina, Jiangsu
Gadot Noubei Biochemical Co Ltd, menandatangani kontrak pembelian
gaplek senilai total Rp 40 miliar
selama lima tahun dengan CV Syasa
Food and Agricultural Product
Company, perusahaan di Banyumas,
Jawa Tengah.
Tiap tahun Syasa mengirim gaplek
ke Negeri Panda sebanyak 240 ribu
ton. Perusahaan itu membeli
singkong dari petani Rp 700 per
kilogram dan dijual dalam bentuk gaplek U$ 320 per kilogram. Omzet
penjualan gaplek Rp 124 miliar per tahun, kata Direktur Utama Syasa,
Nurazman Sidik, usai melepas ekspor perdana gaplek ke Cina, Selasa
(19/10).

Permintaan gaplek atau singkong kering dari sejumlah negara di Asia dan
Eropa terus meningkat dari tahun ke tahun. Banyumas sendiri mampu
41

mengekspor gaplek sebanyak 20 ribu ton setiap bulan. Padahal kebutuhan
gaplek dari berbagai negara mencapai 60 ribu ton per bulan, ujar dia.

Tahun ini, kata dia, Banyumas hanya mampu mengekspor gaplek 2.000 ton
per bulan. Namun tahun depan ekspor gaplek dinaikan menjadi 3.600 ton
per bulan. Untuk itu, ia meminta pemerintah Banyumas mampu
menyediakan lahan untuk ditanami singkong karena prospek ekspor gaplek
cukup tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Banyumas Achmad Husein
mengatakan pemerintah daerah Banyumas akan menyiapkan lahan seluas
100 hektare untuk ditanami singkong. Untuk tahap awal, kami sediakan 40
hektare dulu, kata Husein.

Banyumas merupakan sentra hasil bumi seperti singkong, kunyit, jahe,
jagung, dan lainnya. Omzet tahunan untuk ekspor hasil bumi mencapai Rp
20 miliar. Husein menambahkan, Banyumas salah satu daerah tujuan
investasi menarik. Di Jawa Tengah, kata dia, Banyumas menjadi daerah
proinvestasi nomor dua terbaik setelah Purbalingga.

Menurut Mose Rachmut, Board Of Director Jiangsu Gadot Noubei
Biochemicals Co Ltd, pihaknya mengaku senang dengan penandatanganan
kontrak selama lima tahun untuk ekspor gaplek. Kami juga akan
menandatangani MoU dengan pemerintah Banyumas untuk mendirikan
pabrik asam sitrat di Banyumas, katanya.

Melalui proses sedemikian rupa, gaplek dapat menghasilkan asam sitrat,
yang juga salah satu bahan pembuat minuman berkarbonasi. Menurut
Mose, gaplek Banyumas berkualitas yang cukup baik dibandingkan dengan
gaplek dari daerah lain. Selain berwarna putih, kadar air gaplek Banyumas
juga tidak terlalu tinggi.

Perusahaannya, kata Mose, setiap tahun membutuhkan pasokan gaplek
sebanyak 600 ribu ton. Tak hanya di Cina, perusahaannya juga tersebar di
beberapa kawasan termasuk di Amerika Serikat, Belanda, dan India.

5.2 POTENSI EKSPOR GAPLEK INDONESIA KE CHINA MENCAPAI
US$150 JUTA

Jakarta (ANTARA News) - Peluang ekspor gaplek ke China bisa mencapai
150 juta dolar AS (sekitar Rp1,365 triliun) per tahun, namun pasar yang
42

sangat besar itu hanya dimanfaatkan Indonesia tidak lebih dari 14 persen
atau senilai 21 juta dolar AS (sekitar Rp191,1 miliar).

Padahal kebutuhan gaplek di negara tirai bambu itu mencapai lima juta ton
per tahun, yang sekitar 70 persennya dipasok oleh Thailand, kata seorang
pelaku usaha dari China, Liang Guo Tao, kepada pers di Jakarta, Jumat.

Liang datang ke Indonesia untuk menjajaki berbagai kemungkinan bisnis
dengan pengusaha Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan biofuel,
baik dari sisi mesinnya atau pun bahan baku.

Bersama dengan mitra bisnisnya di Indonesia, Benny Kusbini, Liang
mengatakan bahwa gaplek akan dijadikan etanol di China. China selama
beberapa tahun ini sudah mulai mengurangi konsumsi minyak bumi yang
semakin langka dan mahal. Etanol sudah dijadikan sebagai campuran BBM
di 16 provinsi di China.

Bukan hanya China yang melirik potensi etanol di Indonesia, bahkan
beberapa negara asing, lanjutnya, juga sudah mulai menjajaki kemungkinan
pembukaan pabrik etanol di Indonesia, termasuk penyediaan bahan
bakunya yaitu tanaman singkong.
"Saya sedikit terlambat datang ke Indonesia, negara lain sudah melirik
potensi gaplek dan singkong di sini sejak delapan tahun lalu," katanya.

Indonesia merupakan salah satu dari empat produsen singkong terbesar di
dunia, setelah Nigeria, Brazil dan Thailand, dengan tingkat produksi
mencapai 20 juta ton dari produksi dunia 220 juta ton.

Sementara itu, Benny Kusbini yang juga Presiden Direktur PT Mitra
Globalindo Agribisnis mengatakan, dari kebutuhan China sebesar lima juta
ton gaplek per tahun, negara itu sudah menyatakan kesediaannya untuk
menampung sekitar satu juta ton gaplek.

Pasar gaplek yang demikian besar itu, menurut Benny, seharusnya direspon
pemerintah pusat dan daerah karena akan memberi dampak bergulir yang
besar kepada masyarakat.

Jika Indonesia bisa memasok gaplek sebesar itu, katanya, maka ada omset
sebesar 150 juta dolar AS yang berasal dari harga gaplek di China yang
mencapai 150 dolar AS per ton.

"Nilai itu jika dirupiahkan bisa mencapai Rp1,3 triliun per tahun. Itu akan
43

memberi pengaruh besar bagi masyarakat, karena ada penyerapan tenaga
kerja yang besar," kata Benny yang juga salah seorang pengurus Dewan
Koperasi Indonesia.

Infrastruktur dan layanan publik lainnya juga bisa bergerak jika
pemerintah bisa memanfaatkan potensi pasar yang demikian besar. Belum
lagi jika ada dorongan dari pemerintah agar pengembangan etanol berbasis
singkong digalakkan.

Potensi etanol, menurut dia, juga demikian besar karena harganya bisa
mencapai 750 dolar AS per ton. "Potensi kita untuk etanol bisa mencapai
dua miliat dolar AS ke China," katanya.

China juga menawarkan mesin-mesin untuk pembuatan etanol yang bisa
dibeli pengusaha Indonesia dengan dukungan pinjaman berbunga lunak
enam persen per tahun dari pemerintah China selama 10 tahun.

"Pengusaha Indonesia cukup menyediakan dana sebesar 20 persen dari
harga mesin, dan sisanya bisa dipinjam dari China," katanya dan
menambahkan investasi untuk pabrik etanol berikut mesinnya dengan
kapasitas 50 ribu ton per bulan sekitar 25 juta dolar AS. (*)


6. BIOETANOL DARI UBI KAYU

Secara garis besar ada 4 langkah proses pembuatan bioetanol dengan
menggunakan ubi kayu
a. Mengubah zat pati dalam ubi kayu menjadi zat gula (hidrolisis)
b. mengubah gula (glukosa) menjadi etanol (fermentasi)
1. Destilasi, Pemurnian etanol hasil fermentasi menjadi etanol dengan
kadar 95-96%.
2. Proses dehidrasi , penghilangan air sehingga kadar etanol meningkat
menjadi 99,5%.

Teknis pembuatan setanol dengan bahan ubi kayu.
1. Kupas ubi kayu segar sebanyak 50kg. Cuci dan giling.
2. Saring hasil gilingan untuk memperoleh bubur ubi kayu.
3. Tambahkan air 40-50 lt, aduk sambil dipanasi.
44

4. Tambahkan 1,5 ml enzym alfa-amilase. Panaskan selama 30-60 menit
pada suhu 90 derajat Celcius. (hidrolisis)
5. Dinginkan hingga suhu mencapai 55-60 derajat Celcius selama 3 jam ,
lalu dinginkan hingga suhu dibawah 35 C . Gunakan alat penukar
panas (Heat exchanger) untuk mempercepat proses pendinginan.
6. Tambahkan 1 g ragi roti ,ure 65 g dan NPK 14 g . Biarkan selama 72
jam dalam keadaan tertutup , tetapi tidak rapat agar gas
karbondioksida yang terbentuk bisa keluar. Fermentasi yang berhasil
ditandai dari aroma berupa tape , suara gelembung gas yang naik
keatas , dan keasaman (PH) diatas 4. (fermentasi)
7. Pindahkan cairan yang mengandung 7-9% bioetanol itu kedalam drum
lain yang didesain sebagai penguap (evaporator).
8. Gunakan destilator , panaskan cairan bioetanol tersebut pada suhu
79C. Kontrol suhu dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara
yaitu mengatur aliran air refluks dalam alat destilasi atau dengan
mengatur api kompor.(destilasi)
9. Fraksi bioetanol 90-95% akan berhenti mengalir secara perlahan


Proses pembuatan Alkohol dari bahan mollasse
Sebelum memutuskan menggunakan bahan mollasse untuk proses
pembuatan alkohol, ada beberapa pertimbangan yang patut disimak:
Mollasse merupakan bentuk gula sederhana, sehingga dapat langsung
difermentasikan dengan menggunakan ragi/yeast . Berbeda dengan bahan
yang masih berupa pati seperti jagung dan singkong yang memerlukan
perubahan terlebih dahulu menjadi bentuk gula/glukosa dengan
menggunakan enzym. Dengan kata lain langkah-langkah proses menjadi
lebih singkat sehingga menghemat biaya. Namun demikian, pertimbangan
lain, disesuaikan dengan kondisi daerah , karena tidak semua lokasi mudah
mencari mollase.

Jagung? Untuk alkohol atau biodiesel
Jagung dapat diproses menjadi bahan bakar nabati yaitu menjadi alkohol
dan menjadi biodiesel. Mana yang lebih menguntungkan?
Kalau dilihat dari segi ekonomis tentu kita harus memperhitungkan faktor-
faktor lain seperti pemasaran dan harga dipasar. Namun untuk sejenak kita
lihat perbedaanya dari segi teknis pembuatan. Proses yang lebih singkat
dan cepat tentu memberikan keuntungan , berupa biaya produksi yang
lebih rendah.



45

7. INVESTOR DAN BIOETHANOL PRODUCTION


Pemerintah dan rakyat seolah buta bahwa ada banyak sumber energi selain
bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Bahan bakar yang tak bisa
diperbarui itu sudah mengikat masyarakat sedemikian eratnya sehingga
terus dicari dan diburu kendati harganya selalu melambung tinggi. Rasanya
sudah jemu para pemerhati lingkungan dan ilmuwan mengingatkan bahwa
bahan bakar fosil merupakan bahan bakar yang tak bisa diperbarui, juga
tidak ramah lingkungan. Selain terancam punah, bahan bakar jenis ini
dikenal pemicu polusi udara nomor satu. BBM yang dipakai kendaraan
bermotor saat ini menghasilkan zat beracun seperti CO2, CO, HC, NOX, SPM
dan debu. Kesemuanya menyebabkan gangguan pernapasan, kanker,
bahkan pula kemandulan.

Pemerintah harus memberi perhatian khusus pada pengembangan sumber
energi bahan bakar alternative ramah lingkungan. Bahan bakar macam
inilah yang kita kenal dengan sebutan bioetanol. Indonesia berpotensi
sebagian produsen bioetanol terbesar di dunia. Menurut Dr. Ir. Arif
Yudiarto, periset di Balai Besar Teknologi Pati. Ada 3 kelompok tanaman
sumber bioetanol: tanaman yang mengandung pati (seperti singkong,
kelapa sawit, tengkawang, kelapa, kapuk, jarak pagar, rambutan, sirsak,
malapari, dan nyamplung), bergula (tetes tebu atau molase, nira aren, nira
tebu nira surgum manis) dan serat selulosa (batang sorgum, batang pisang,
jerami, kayu, dan bagas).seluruh bahan baku itu semuanya ada di
Indonesia. Bahan yang mengandung pati, glukosa, dan serat selulosa ini bisa
dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Baru segelintir produsen Indonesia
mencetak keuntungan dari proses nilai tambah bioethanol ini, padahal
banyak perusahaan seperti PERTAMINA, pabrik kosmetik, parfum, farmasi,
dll. sangat membutuhkan dan siap menampung dalam jumlah berapapun
produk bioethanol ini, jadi potensi kedepan sangat menjanjikan dan tidak
akan pernah mati. Pada proposal ini menerangkan visi dan misi
perusahaan, konsep produksi, perencanaan pemasaran dan keuangan, ,
serta strategi bisnis menjalankan agrobisnis ini.

Dengan harga premium yang semakin tinggi yang diakibatkan menipisnya
minyak bumi dunia, ketika harga minyak dunia US$ 60 perbarel pemerintah
Indonesia pasti harus menaggung beban subsidi Rp 90 triliun/tahun. David
j. o. Relly, CEO chevron International seperti dikutip Herald Tribune,
memperkirakan satu triliun barel cadangan minyak bumi dunia akan habis
dalam waktu 30 tahun. Disamping itu,konsumsi minyak bumi yang terus
melonjak turut memicu pemanasan global. Solusinya ? Bioetanol salah satu
46

alternatif jawabannya. Seiring dengan issu menipisnya cadangan minyak
bumi dunia dan seluruh bahan baku yang melimpah di Indonesia. Peluang
bioetanol sebagai bahan bakar alternatif dimasa mendatang bakal
menanjak. Itulah sebabnya peluang usaha bioetanol di tanah air semakin
terbuka. Dengan begitu bioetanol tidak hanya menyelamatkan tanah air
dari krisis bahan bakar minyak tapi juga dari krisis ekonomi.

Dengan melihat peluang yang ada dalam pasaran dunia, bahan baku yang
berlimpah, dan posisi Indonesia yang strategis sebagai jalur transportasi
internasional sehingga banyak reseller danrelation antar perusahaan baik
asing maupun lokal yang siap menampung hasil produksi ini. Perlu
diketahui, Kami mahasiswa semester akhir Teknik Mesin ITS mampu
memproduksi bioethanol dengan teknologi terbaru dan telah
memasarkannya dalam skala kecil. Kami berkeinginan mengembangkannya
dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya, tetapi Kami mengalami
kendala yaitu dana. Maka dengan proposal ini, Kami bertujuan menjalin
kerja sama dengan investor agar proses produksi bioethanol ini dapat
berlangsung.

I.3 VISI DAN MISI
VISI
Menciptakan sebuah perusahaan yang integritas, komunikatif, winning goal
point, positive dan learning attitude sesuai dengan standart ISO.
MISI
I. Menjalin kerjasama dibidang Agrobisnis.
II. Membuat perencanaan dan strategi bisnis yang efektif untuk
memperkecil resiko bisnis dan keuangan dan kendala perusahaan.
III. Membuat struktur manajemen, organisasi, serta SDM yang
berkualitas dan sistem yang terorganisir.
IV. Membangun dan menciptakan sebuah branding sistem.

KONSEP PRODUKSI
Pada proposal ini akan diketahui tentang konsep produksi yang kami
hasilkan, dimana nantinya Kami tawarkan hubungan kerjasama kedua-
belah pihak. Baik pengelola & investor dalam proses produksi ini, produk
yang dihasilkan adalah Bioetanol
Dalam memenuhi standart yang ada di pasaran maka Kami mengutamakan
kualitas dalam menjalankan proses produksi, baik dari bahan baku, mesin,
manajemen, organisasi, sistem pemasaran, dan hubungan kerjasama yang
saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

47

Sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa,
Indonesia menghadapi masalah energi yang cukup mendasar. Sumber
energi yang tidak terbarukan (non-renewable) tingkat ketersediaannya
semakin berkurang. Sebagai contoh, produksi minyak bumi Indonesia yang
telah mencapai puncaknya pada tahun 1977 yaitu sebesar 1.7 juta barel per
hari terus menurun hingga tinggal 1.125 juta barel per hari tahun 2004. Di
sisi lain konsumsi minyak bumi terus meningkat dan tercatat 0.95 juta barel
per hari tahun 2000, menjadi 1.05 juta barel per hari tahun 2003 dan
sedikit menurun menjadi 1.04 juta barel per hari tahun 2004 (Tabel 1).
Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Minyak Bumi di Indonesia

Tahun Produksi (juta barel/hari) Konsumsi (juta barel/hari)
2000 1.4 0.9446
2001 1.3 0.9632
2002 1.2 0.9959
2003 1.1 1.0516
2004 1.125 1.0362
Sumber: Media Indonesia, 8 September 2004 dan Kompas, 27 Mei 2004

Petunjuk pelaksanaan pengembangan energi alternatif secara detail sudah
diatur dalam dokumen Pengelolaan Energi Nasional (PEN). Didalamnya
disebutkan mengenai rencana (roadmap) pengembangan seluruh jenis
energi alternatif. Dalam waktu dekat, pemerintah juga akan menerbitkan
Inpres tentang biofuel (biodisel dan bioetanol) yang akan merinci intensif
bagi pengembangan biofuel, termasuk instruksi kepada menteri-menteri
untuk menindaklanjuti di departemen masing-masing.

Dengan diterbitkannya tujuh izin investasi pembangunan pabrik energi
alternatif (biodiesel dan bioetanol) oleh Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) pada pertengahan tahun 2005 yang lalu, memperkuat
indikasi bahwa peluang bisnis di bidang bioenergi (bioetanol) dan
pengembangan perkebunan energi menjadi sesuatu yang prospektif di
masa depan.

BIOETANOL
Bioetanol adalah sebuah bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan,
dimana memiliki keunggulan mampu menurunkan emisi CO2 hingga
18 %. DiIndonesia, minyak bioethanol sangat potensial untuk diolah dan
dikembangkan karena bahan bakunya merupakan jenis tanaman yang
banyak tumbuh di negara ini dan sangat dikenal masyarakat. Tumbuhan
48

yang potensial untuk menghasilkan bioetanol adalah tanaman yang
memiliki kadar karbohidrat tinggi, seperti: tebu, nira, sorgum, ubi kayu,
garut, ubi jalar, sagu, jagung, jerami, bonggol jagung, dan kayu.

Banyaknya variasi tumbuhan yang tersedia memungkinkan kita lebih
leluasa memilih jenis yang sesuai dengan kondisi tanah yang ada. Sebagai
contoh ubi kayu dapat tumbuh di tanah yang kurang subur, memiliki daya
tahan yang tinggi terhadap penyakit dan dapat diatur waktu
panennya. Namun kadar patinya yang hanya 30 persen, masih lebih rendah
dibandingkan dengan jagung (70 persen) dan tebu (55 persen) sehingga
bioetanol yang dihasilkan jumlahnya pun lebih sedikit.

Biaya produksi bioetanol tergolong murah karena sumber bahan bakunya
merupakan limbah pertanian atau produk pertanian yang nilai
ekonomisnya rendah serta berasal dari hasil pertanian budidaya tanaman
pekarangan (hortikultura) yang dapat diambil dengan mudah. Dilihat dari
proses produksinya juga relatif sederhana dan murah.

2. POTENSI
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, dari beberapa jenis
tanaman tersebut ada jenis tanaman yang potensialdikembangkan kerena
karakteristik yang dimilikinya, diantaranya adalah :

a. Kelapa sawit
Kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jack) merupakan jenis tumbuhan
monokotil, dimana kandungan sabutnya (mesocarps) berakumulasi
minyak. Pabrik-pabrik biodisel skala komersial yang sekarang sudah
beroperasi di tanah air menggunakan CPO dari kelapa sawit sebagai bahan
bakunya. Faktor ketersediaan menjadi alasan utama kenapa digunakannya
CPO.

Dalam proses produksi CPO, 1 ton Tandan Buah Segar (TBS) menghasilkan
200 kg CPO, limbah padat Tandan Kosong Kelapa sawit (TKKS) 250 kg dan
0,5 m3 LCPKS. Ini dihitung dari neraca PKS, Jika dihitung dengan cara ini,
maka diperkirakan jumlah TKKS tahun 2006 adalah sebanyak 20.75 juta
ton. Misalkan kadar air TKKS ini adalah 50%, maka jumlah TKKS kering
(OD) kira-kira 10.375 juta ton. Kandungan TKKS adalah 45.80% selulosa
dan 26.00% hemiselulosa. Kembali ke perhitungan menurut Badger
(2002) maka potensi bioetanol adalah sebesar 2,000 juta Liter. Jumlah
yang tidak sedikit dan setara dengan 1446.984 liter bensin.


49

b. Jarak pagar (Jathropa curcas linneaus).
Tanaman ini tergolong tanaman yang nakal karena dapat dengan mudah
beradaptasi pada berbagai cuaca dan tidak membutuhkan banyak air serta
pupuk. Usia panen tanaman ini adalah enam hingga delapan bulan, namun
hasil buah yang optimal baru dapat dinikmati pada usia lima tahun. Bagian
yang diambil dari jarak pagar adalah biji dan kulit (karnel) buahnya, dengan
kandungan minyak masing-masing sebesar 33 persen dan 50 persen. Setiap
satu hektar lahan dapat ditanami dengan 2.500 jarak pagar dan
diperkirakan mampu menghasilkan biodisel sekitar 1,7 kilo liter biodisel
pertahun.

Rekayasa bioteknologi memungkinkan kita untuk menghasilkan bibit jarak
pagar yang memiliki kemampuan menyerap unsur hara, terutama fosfor
dan nitrogen serta mikronutrien (Zn, Mo, Fe dan Cu) lebih baik. Selain itu,
bibit tanaman tersebut akan memiliki peningkatan ketahanan terhadap
kekeringan, serangan patogen akar dan meningkat produktivitasnya.

c. Tetes Tebu ( Molase )

Molase atau tetes tebu mengandung kurang lebih 60% sellulosa dan 35,5%
hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida ini dapat dihidrolisis menjadi gula
sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi ethanol. Potensi
produksi molase ini per ha kurang lebih 10 15 ton, Jika
seluruh molase per ha ini diolah menjadi ethanol (fuel grade ethanol), maka
potensi produksinya kurang lebih 766 hingga 1,148 liter/ha FGE
(perhitungan ada di lampiran).

Produksi bioetanol berbahan baku molase layak diusahakan karena tingkat
keuntungan mencapai 24%. Jumlah itu lebih menguntungkan daripada
menyimpan dana di bank dengan tingkat bungan bank Indonesia per 6
Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan untuk produksi
bioetanol berbahan baku molase ini sangat menjanjikan .

d. Sorgum
Sorgum yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan juga berprospek
menjadi bahan bioetanol. Rendemen sorgum biji jauh lebih tinggi, kata Dr M
Arif Yudianto, kepala bidang Teknologi Etanol dan Derivatif B2TP.
Alumnus Tokyo University of Agriculture & Technologyitu menggambarkan
2,5 kg sorgum kawali dapat menjadi seliter bioetanol. Itu artinya
rendemen Sorghum bicolor 40%.

50

Tingginya nilai pati mendorong Balai Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
mencetak sorgum dengan kadar gula tinggi. Tetua yang dipakai adalah
durra asal ICRISAT India. 'Sorgum itu kemudian diinduksi sinar gamma.
Nantinya ia akan memiliki sifat tahan kekeringan, tahan serangan penyakit,
dan menelan biaya produksi rendah,' kata Dr Soeranto Hoeman, peneliti
BATAN.

Sejak diuji multilokasi pada 2001 di daerah kering seperti Gunungkidul,
Yogyakarta, diperoleh sorgum unggulan bahan bioetanol: sweet sorgum.
Sorgum dengan kode B-100 itu cukup istimewa karena memiliki kadar
briks 17. Jumlah itu mendekati tebu gula dengan kadar briks 190.
'Batangnya mengandung jus yang kalau diperas seperti tebu,' tambah
Soeranto. Dari 15 kg batang sorgum dihasilkan 1 liter bioetanol.

e. Jerami Padi
Jerami padi mengandung kurang lebih 39% sellulosa dan 27,5%
hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida ini dapat dihidrolisis menjadi gula
sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi ethanol. Potensi
produksi jerami padi per ha kurang lebih 10 15 ton, jerami basah dengan
kadar air kurang lebih 60%. Jika seluruh jerami per ha ini diolah menjadi
ethanol (fuel grade ethanol), maka potensi produksinya kurang lebih 766
hingga 1,148 liter/ha FGE (perhitungan ada di lampiran). Dengan asumsi
harga ethanol fuel grade sekarang adalah Rp. 5500,- (harga dari pertamina),
maka nilai ekonominya kurang lebih Rp. 4,210,765 hingga 6,316,148 /ha.

Menurut data BPS tahun 2006, luas sawah di Indonesia adalah 11.9 juta ha.
Artinya, potensi jerami padinya kurang lebih adalah 119 juta ton. Apabila
seluruh jerami ini diolah menjadi ethanol maka akan diperoleh sekitar 9,1
milyar liter ethanol (FGE) dengan nilai ekonomi Rp. 50,1 trilyun. Jika
dihitung-hitung ethanol dari jerami sudah cukup untuk memenuhi
kebutuhan bensin nasional.

Komponen Kandungan (%)
Hemiselulosa 27(+/- 0.5)
Selulosa 39(+/- 1)
Lignin 12(+/- 0.5)
Abu 11(+/- 0.5)

Potensi etanol dari jerami padi menurut Kim and Dale (2004) adalah
sebesar 0.28 L/kg jerami. Sedangkan kalau dihitung dengan cara Badger
51

(2002) adalah sebesar 0.20L/kg jerami. Nah, dari data ini bisa diperkirakan
berapa potensi etanol dari jerami padi di Indonesia, yaitu:

Jerami Kim and Dale (2004) Badger (2002)
54,700 15,316 juta liter 10,940 juta liter
82,050 22,974 juta liter 16,410 juta liter

Kita ambil data yang pesimis yaitu cara Badger (2002), jumlah etanol
tersebut dapat menggantikan bensin sejumlah: 7,915 - 11,874 juta liter.
Cukup untuk memenuhi kebutuhan bensin nasional selama satu tahun.

Karakteristik Lignoselulosa Sebagai Bahan Baku Bioetanol
Biomassa lignoselulosa sebagian besar terdiri dari campuran polymer
karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa), lignin, ekstraktif, dan abu.
Kadang-kadang disebutkan holoselulosa, istilah ini digunakan untuk
menyebutkan total karbohidrat yang dikandung di dalam biomassa dan
meliputi selulosa dan hemiselulosa.

Selulosa
Selulosa adalah polymer glukosa (hanya glukosa) yang tidak bercabang.
Bentuk polymer ini memungkinkan selulosa saling menumpuk/terikat
menjadi bentuk serat yang sangat kuat. Panjang molekul selulosa
ditentukan oleh jumlah unit glucan di dalam polymer, disebut dengan
derajat polymerisasi. Derajat polymerase selulosa tergantung pada jenis
tanaman dan umumnya dalam kisaran 2000 27000 unit glucan. Selulosa
dapat dihidrolisis menjadi glukosa dengan menggunakan asam atau enzim.
Selanjutnya glukosa yang dihasilkan dapat difermentasi menjadi etanol.

Hemiselulosa
Hemiselulosa mirip dengan selulosa yang merupakan polymer gula. Namun,
berbeda dengan selulosa yang hanya tersusun dari glukosa, hemiselulosa
tersusun dari bermacam-macam jenis gula. Monomer gula penyusun
hemiselulosa terdiri dari monomer gula berkarbon 5 (C-5) dan 6 (C-6),
misalnya: xylosa, mannose, glukosa, galaktosa, arabinosa, dan sejumlah
kecil rhamnosa, asam glukoroat, asam metal glukoronat, dan asam
galaturonat. Xylosa adalah salah satu gula C-5 dan merupakan gula
terbanyak kedua di di biosfer setelah glukosa. Kandungan hemiselulosa di
dalam biomassa lignoselulosa berkisar antara 11% hinga 37 % (berat
kering biomassa). Hemiselulosa lebih mudah dihidrolisis daripada selulosa,
tetapi gula C-5 lebih sulit difermentasi menjadi etanol daripada gula C-6.

52








Gambar hemiselulosa
Lignin
Lignin adalah molekul komplek yang tersusun dari unit
phenylphropane yang terikat di dalam struktur tiga dimensi. Lignin adalah
material yang paling kuat di dalam biomassa. Lignin sangat resisten
terhadap degradasi, baik secara biologi, enzimatis, maupun kimia. Karena
kandungan karbon yang relative tinggi dibandingkan dengan selulosa dan
hemiselulosa, lignin memiliki kandungan energi yang tinggi.

Glukosa
Glukosa (C6H12O6) adalah gula sederhana (monosakarida).
Glukosa adalah salah satu produk utama fotosistesis dan merupakan
komponen structural pada tanaman. Glukosa merupakan gula C-6 yang
memiliki beberapa bentuk, tetapi umumnya digambarkan sebagai cincin
karon seperti gambar di bawah ini.










Gambar glukosa
Ethanol dapat diproduksi melalui fermentasi glukosa. Umumnya
biokonversi glukosa menjadi etanol dilakukan dengan memanfaatkan yeast.
Reaksi umumnya adalah sebagai berikut: C6H12O6 -> 2CO2 +2C2H5OH +

Panas.
Pembakaran akan merombak etanol, oksidasi (penambahan oksigen dari
udara) hydrogen menghasilkan uap air (H2O), karbon menjadi
karbondioksida (CO2) dan melepaskan energi.

53











Kandungan Lignoselulosa & Potensi Etanol Yang DapatDihasilkan
Komponen selulosa yang bisa dirombak menjadi etanol adalah hasil
hidrolisis selulosa dan hemiselulosa. Data-data di bawah ini dikumpulkan
dari beberapa sumber. Potensi produksi etanol dihitung dengan metode
yang disampaikan oleh Badger (2002). Kalau ada yang punya data lebih
baik dan lebih akurat silahkan dikoreksi.

Secara umum proses produksi ethanol dari lignoselulosa adalah sebagai
berikut:
bahan baku -> pretreatment -> hidrolisis -> fermentasi -> distilasi &
dehidrasi -> fuel grade ethanol
Magnet Pacu Etanol

Para ilmuwan Brazil menemukan kegunaan gelombang magnetik untuk
meningkatkan produksi etanol. Victor Perez dan mahasiswa Universitas
Campinas menggunakan gelombang magnet frekuensi rendah untuk
memacu jumlah etanol yang dihasilkan dari fermentasi gula. Produksi
etanol meningkat 17% setelah menggunakan gelombang magnetik
frekuensi rendah dalam proses peragian tebu. Selain itu, produksi etanol
berlangsung 2 jam lebih cepat daripada metode fermentasi biasa sehingga
biaya produksi lebih irit

Pervaporasi
Pervaporasi merupakan proses pemisahan suatu campuran dengan
perubahan bentuk dari cair menjadi uap pada sisi membran. Letak
perbedaannya, teknik pemisahan berbasis membran ini bekerja
berdasarkan mekanisme difusilarutan. Dengan menggunakan metode
pervaporasi inilah dipastikan bioetanol yang dihasilkan fuel grade etanol
alias sesuai standar mutu bahan bakar yang berkadar etanol 99,8%.



54

Efektif
Untuk meningkatkan kadar etanol, teknologi membran lebih efektif.
Bandingkan dengan cara konvensional berupa destilasi dan dehidrasi.
Ketika proses destilasi, bioetanol membentuk azeotrop. Artinya, antara
etanol dan air yang terkandung sulit dipisahkan. Destilasi dengan
meninggikan kolom sekali pun, air sulit diceraikan dari etanol. Memang
masih ada sebuah cara untuk menarik air yaitu dengan menambahkan zat
toluen.

Toluen merupakan sebuah pelarut air. Ketika zat itu ditambahkan sesuai
dengan kadar air yang terkandung, air akan tertarik. Namun, tetap saja
masih ada air tersisa. Celakanya sebagian zat toluen itu juga bercampur
dengan bioetanol menjadi kontaminan.

Efisien
Artinya biaya itu jauh lebih murah ketimbang teknologi gamping. Gamping
alias kalsium karbonat acap dimanfaatkan sebagai penyerap air untuk
mengatrol kadar etanol. Pelaksanaannya memang mudah. Produsen tinggal
mencelupkan 1 kg gamping ke dalam wadah berisi 4 liter bioetanol. Sayang,
bukan cuma air yang terserap, tetapi juga bioetanol. Kehilangan bioetanol
akibat serapan gamping mencapai 30%. Alkohol tak dapat keluar lagi
lantaran terikat pada pori-pori gamping.

Jadi secara garis besar, teknologi membran ini mempunyai beberapa
keistimewaan seperti menghasilkan bioetanol berkualitas tinggi. Selain
itu produsen juga mudah mengoperasikan, ramah lingkungan, dan
ukuran alat yang lebih kecil. Satu lagi keistimewaan
membran yaitu hemat energi, karena membran hanya membutuhkan
energi listrik sebesar 1.000 watt untuk kapasitas 50 liter per hari.

Pemanfaatan Limbah Bioetanol
Limbah dari proses produksi pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan
campuran pembuatan pupuk organik. Karena berasal dari biomasa, limbah
bioetanol baik cair maupun padat mengandung bahan organik yang
dibutuhkan tanaman, mengandung unsur makro dan mikro yang
diperlukan tanaman.

Limbah Cair
Untuk membuat pupuk, 4 liter limbah cair dicampur dengan 1 liter larutan
mineral, 1 kg ampas tebu yang sudah menjadi abu, dan 2 sak alias 100 kg
pupuk kandang. Pupuk kandang asal kotoran ternak adalah sumber
nitrogen, unsur makro yang paling dibutuhkan tanaman. Limbah bioetanol
55

yang mengandung enzim alfa-amilase berperan mengurai protein dalam
kotoran ternak menjadi zat organik yang bisa diserap tanaman. Untuk
memperkaya hara, ditambahkan larutan mineral terdiri dari unsur mikro
seperti magnesium, besi, mangan, dan boron.

Sedangkan abu ampas tebu mengandung karbon aktif penghambat
pertumbuhan cendawan yang kerap menyerang akar tanaman. 'Karbon
aktif menyerap aflatoksin yang dihasilkan cendawan sehingga cendawan
tidak berkembang. Seluruh bahan itu lantas diaduk sampai rata dengan
pengaduk berkekuatan 2 PK alias 1500 watt. Dengan itu, semua bahan
tercampur sempurna sehingga bisa langsung ditaburkan di lahan.
Sebaiknya pupuk didiamkan semalam dan ditutup plastik agar enzim
bekerja sempurna.

Pengaruh pupuk organik dengan campuran limbah singkong. Dibanding
Canavalia ensiformis yang hanya dipupuk dengan pupuk kandang biasa,
produktivitas kacang kara pedang Made Satria lebih tinggi. Setiap tanaman
menghasilkan 10-15 polong, dengan pupuk kandang saja, 5 polong.

Manfaat lain jika pupuk itu dipakai pada penanaman bunga potong dan
jagung. Jagung yang ditanam di lahan 2 ha maksimal hanya 1% yang
terserang cendawan akar rigidoporus dan sclerotium. Padahal biasanya
serangan cendawan akar jagung mencapai 20%.Pada bunga potong,
pertumbuhan krisan dan sedap malam lebih cepat 15-20%. Pemakaian
pupuk limbah bioetanol pun hemat, hanya 10% dosis pupuk kandang
murni.

Limbah Padat
Sementara limbah padat bioetanol dicampur dengan bekatul dan pupuk
kandang digunakan sebagai pakan ternak sapi. Hasil penelitian di
Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya,
Malang, limbah padat kaya kandungan karbohidrat, glukosa, dan serat.
Total kalori yang dihasilkan lebih tinggi dibanding onggok ampas tapioka,
yang sama-sama dihasilkan dari singkongdan bungkil kedelai. Ragi untuk
fermentasi kaya protein. Fermentasi juga membuat protein singkong lebih
mudah diubah menjadi daging,Makanya total kalorinya lebih
tinggi. Maklum, meski pakan utamanyatanaman hijau, asupan karbohidrat
dan glukosa pada sapi membuat pertambahan bobot lebih cepat. Itu
lantaran keduanya lebih mudah dikonversi menjadi daging ketimbang
selulosa-kandungan utama pakan hijauan. Makanya begitu pakan
mengandung limbah padat bioetanol diberikan pada 3 sapi peranakan
ongole, bobotnya naik 10% dari 240 kg. Tak melulu sapi, limbah padat
56

bioetanol bisa menjadi alternatif konsentrat buatan pabrik untuk kerbau,
kambing, dan ayam.

3.1 BAHAN BAKU :
Ada 3 kelompok tanaman yang dapat dijadikan bahan baku untuk produksi
biethanol yaitu :
Mengandung Pati, semisal : singkong, kelapa sawit, tengkawang,
kelapa, kapuk, jarak pagar, rambutan, sirsak, malapari, dan
nyamplung.
Bergula, semisal : tebu (sugarcane), gandum manis (sweet
sorghum), tetes tebu (molase), nira aren, nira tebu nira surgum
manis, dan
Serat Selulosa, semisal : batang sorgum, batang pisang, jerami, kayu,
dan bagas. Seluruh bahan baku ini semuanya ada di Indonesia
Sumber biomassa lignoselulosa antara lain adalah sebagai berikut:
1. Limbah pertanian/industri pertanian : jerami, tongkol jagung, sisa
pangkasan jagung, onggok, dll
2. Limbah perkebunan: TKKS, bagase, sisa pangkasan tabu, kulit buah
kakao, kulit buah kopi, dll
3. Limbah kayu dan kehutanan: sisa gergajian, limbah sludge pabrik
kertas, dll
4. Sampah organik: sampah rumah tangga, sampah pasar, dll

3.2 PERALATAN DAN PROSEDUR PRODUKSI
Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses,
yaitu: Persiapan Bahan baku, Fermentasi, dan Pemurnian. Dimana terdiri
dari tangki penampungan, tangki evaporator, tangki pendingin, dan tangki
destilator. Untuk mendapatkan bioetanol 90%, mesin berkapasitas 100 liter
ini mampu menghasilkan 32,5-35 liter bioetanol dalam waktu 4 jam.

Peralatan :
Adapun rangkaian peralatan proses adalah sebagai berikut:
Peralatan penggilingan
Pemasak, termasuk support, pengaduk dan motor, steam line dan
insulasi
External Heat Exchanger
Pemisah padatan - cairan (Solid Liquid Separators)
Tangki Penampung Bubur
Unit Fermentasi (Fermentor) dengan pengaduk serta motor
Unit Distilasi, termasuk pompa, heat exchanger dan alat kontrol
Boiler, termasuk system feed water dan softener
Tangki Penyimpan sisa, termasuk fitting
57

Tangki penyimpan air hangat, termasuk pompa dan pneumatik
Pompa Utilitas, Kompresor dan kontrol
Perpipaan dan Electrikal
Peralatan Laboratorium
Lain-lain, termasuk alat-alat maintenance

Proses Produksi Rahasial Perusahaan
Mesin Destilator
Termometer
Pipa Pengatrol Kadar Ethanol

RINCIAN KEUANGAN

BAHAN BAKU MOLASE
No Jenis Biaya Jumlah Harga Satuan Total
Biaya investasi
1 Mesin pengolah
bioetanol
1 paket Rp
100.000.000/paket
Rp
100.000.000
2 Zeolit local 2 X 47
kg
Rp 1.500/kg Rp 141.000
Total biaya investasi Rp
100.141.000
Biaya produksi
1 Molase 280 kg Rp 700/kg Rp 196.000
2 Ragi 310 g Rp 75.000/kg Rp 23.250
3 Urea 161 g Rp 2.000/kg Rp 322
4 NPK 80 g Rp 3.500/kg Rp 280
5 Biomassa 1 m3 Rp 10.000/m3 Rp 10.000
6 Listrik 5 kwh Rp 650/kwh Rp 3.250
7 Tenaga kerja operator 2 orang Rp
20.000/orang/hari
Rp 40.000
9 Biaya
penyusutan zeolit lokal
Rp 141
Total biaya produksi perhari Rp 273.243
Biaya produksi per liter Rp 3.903,5
Pendapatan perhari 70 liter x Rp 10.000 per liter Rp 700.000
Laba perhari Rp 426.757
R/C ratio 2,561
Net B/C ratio 61 %
Payback period 0,98
58

Laba Bersih perbulan = Laba per hari x 30 hari
= Rp 426.757 x 30
= Rp 12.802.710 / 2100 Liter
= atau Rp 6.096,5 / Liter

Produksi bioetanol berbahan baku molase ini layak diusahakan karena
tingkat keuntungan mencapai 61 %. Jumlah itu lebih menguntungkan
daripada menyimpan dana di bank dengan tingkat bungan bank Indonesia
per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan untuk
produksi bioetanol berbahan baku molase ini kembali setelah kurang lebih
11 bulan.

BAHAN BAKU SINGKONG
No Jenis Biaya Jumlah Harga Satuan Total
Biaya investasi
1 Mesin pengolah
bioetanol
1 paket Rp
150.000.000/paket
Rp
150.000.000
2 Zeolit local 2 X 47 kg Rp 1..500/kg Rp 141.000
Total biaya investasi Rp
150.141.000
Biaya produksi
1 Bahan baku singkong 455 kg Rp 300/kg Rp 136.500
2 Enzim alfa amilase 135 g Rp 71.000/kg Rp 9.585
3 Enzim beta amilase 81 g Rp 77.000/kg Rp 6.237
4 Ragi 310 g Rp 75.000/kg Rp 23.250
5 Urea 161 g Rp 2.000/kg Rp 322
6 NPK 80 g Rp 3.500/kg Rp 280
7 Biomassa 2 m3 Rp 10.000/m3 Rp 20.000
10 Tenaga kerja
operator
3 orang Rp
20.000/orang/hari
Rp 60.000
12 Biaya penyusutan zeolit lokal Rp 141
Total biaya produksi perhari Rp 256.315
Biaya produksi per liter Rp 3.661,6
Pendapatan perhari 70 liter x Rp 10.000 per liter Rp 700.000
Laba perhari Rp 443.685
R/C ratio 2,73
Net B/C ratio 63,4%
Payback period 0,94

Laba Bersih perbulan = Laba per hari x 30 hari
= Rp 443.685 x 30
59

= Rp 13.310.550 / 2100 Liter
= Atau Rp 6.338,4 / Liter
Produksi bioetanol berbahan baku singkong layak diusahakan karena
tingkat keuntungan mencapai 63,4 %. Jumlah itu lebih menguntungkan
daripada menyimpan dana di bank dengan tingkat bungan bank Indonesia
per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan untuk
produksi bioetanol berbahan baku singkong ini kembali setelah kurang
lebih 11 bulan produksi.

BAHAN BAKU LIMBAH KELAPA SAWIT
No Jenis Biaya Jumlah Harga Satuan Total
Biaya investasi
1 Mesin pengolah
bioetanol
1 paket Rp
150.000.000/paket
Rp
150.000.000
2 Zeolit local 2 X 47
kg
Rp 1..500/kg Rp 141.000
Total biaya investasi Rp
150.141.000
Biaya produksi
1 Bahan
baku limbah klp sawit
455 kg Rp 150/kg Rp 68.250
2 Enzim alfa amilase 135 g Rp 71.000/kg Rp 9.585
3 Enzim beta amilase 81 g Rp 77.000/kg Rp 6.237
2 Ragi 310 g Rp 75.000/kg Rp 23.250
3 Urea 161 g Rp 2.000/kg Rp 322
4 NPK 80 g Rp 3.500/kg Rp 280
5 Biomassa 1 m3 Rp 10.000/m3 Rp 10.000
7 Tenaga kerja operator 3 orang Rp
20.000/orang/hari
Rp 60.000
9 Biaya penyusutan zeolit lokal Rp 141
Total biaya produksi perhari Rp 178.065
Biaya produksi per liter Rp 2.543.8
Pendapatan perhari 70 liter x Rp 10.000 per liter Rp 700.000
Laba perhari Rp 521.935
R/C ratio 3,93
Net B/C ratio 75 %
Payback period 0,79
Laba Bersih perbulan = Laba per hari x 30 hari
= Rp 521.935 x 30
= Rp 15.658.050 / 2100 Liter
= Atau Rp 7.456,2 / Liter
60


Produksi bioetanol berbahan baku limbah kelapa sawit layak diusahakan
karena tingkat keuntungan mencapai 75 %. Jumlah itu lebih
menguntungkan daripada menyimpan dana di bank dengan tingkat bungan
bank Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang
ditanamkan untuk produksi bioetanol berbahan baku limbah kelapa sawit
ini kembali setelah 9 bulan.

Asumsi untuk keseluruhan bahan baku :
1. Lahan yang digunakan untuk produksi adalah milik sendiri bukan
sewaan.
2. Umur ekonomis mesin produksi bioetanol 10 tahun.
3. Umur ekonomis zeolid local 500 kali pemakaian setara 500 hari.
4. Jam kerja produksi 8 jam perhari.
5. Harga jual bioetanol berkadar 99 % adalah Rp 10.000 perliter.
6. Tingkat suku bunga bank Indonesia saat perhitungan 8%.
7. Kapasitas produksi 70 liter perhari.
8. Bioetanol yang dihasilkan dari proses produksi berkadar 99,8 %.

KESIMPULAN
Bioetanol adalah bahan bakar alternatif masa depan yang ramah
lingkungan dan bersifat renewable

Pengembangan biodiesel dalam negeri terutama ditujukan untuk
mengatasi polusi yangdiakibatkan oleh emisi yang dikeluarkan oleh
bahan bakar petroleum atau bensin.

Terlaksananya pengembangan biodiesel sangat ditentukan oleh
komitmen dan dukungan pemerintah, melalui kewenangannya dalam
regulasi

Pengurangan pemborosan devisa negara karena pengurangan impor
minyak mentah.

Meningkatkan permintaan dalam negeri untuk CPO, perbaikan harga
CPO, yang pada akhirnya diharapkan berdampak pada perbaikan
pendapatan petani atau pekebun
Penurunan anggaran pemerintah untuk subsidi kesehatan golongan
masyarakat ekonomi lemah (mayoritas korban emisi tinggi
petrodiesel)

Perbandingan 1 Liter bioethanol = 2 Liter bensin dan
61

pembakarannya pun sempurna serta tidak mudah menguap seperti
bensin.

Pemakaian bioethanol tidak perlu mengganti mesin "apabila anda
memakai bioethanol berkadar 100%" dan tidak merusak mesin
kendaraan anda.

Bioethanol adalah alternatif BBM yang saat ini telah dipakai di
beberapa negara lainnya.

Negara kita sangat bagus untuk produksi bioethanol, karena kita
tidak akan kekurang bahan dan kita dapat merubah limbah industri
menjadi Energi baru





























62











































63

Sektor usaha peternakan sapi
potong (pembibitan dan
penggemukan) pernah berjaya
di Indonesia. Sebagai bukti, tiga
puluh tahun lalu, Indonesia
pernah menjadi negara
pengekspor sapi potong. Akan tetapi, setelah itu, sektor tersebut terus
mengalami kemunduran. Berkaca dari hal itu, usaha peternakan sapi
potong coba dibangkitkan kembali, dan dalam hal ini, Jawa Barat menjadi
salah satu daerah andalan.

Sesungguhnya usaha peternakan sapi potong secara lokal memang
dituntut terus berkembang, terutama bagi pemenuhan kebutuhan daging
sapi secara mandiri. Kementrian Pertanian telah merespons hal itu
melalui program Swasembada Daging Sapi yang diharapkan akan
memiliki peran ganda yaitu sebagai salah satu sumber ketahanan pangan
sekaligus upaya pembangunan usaha masyarakat dipedesaaan.

Khusus Jawa Barat dengan jumlah penduduk yang kini telah mencapai
45 juta jiwa - kebutuhan daging sapi pun semakin meningkat. Tentu saja,
tambahan pasokan pun harus semakin terpenuhi meskipun saat ini
mayoritas masih dilakukan melalui sapi hidup impor yang dibesarkan.

Melihat perkembangan, peluang pun muncul bagi usaha peternakan sapi
(Pembibitan dan penggemukan). Apabila, seharusnya sektor ini mampu
menjadi penyedia dalam jumlah lebih besar. Jika usaha peternakan sapi
Pembibitan dan penggemukan semakin berkembang, diharapkan mampu
pula menjadi salah satu usaha yang dapat diandalkan oleh masyarakat
petani pedesaan.

Pada sisi lain, ada trend bahwa tingkat konsumsi daging sapi semakin
banyak terjangkau oleh banyak golongan. Paling tidak, untuk golongan
masyarakat umum, konsumsi daging sapi sudah terjangkau, minimal
berbentuk makanan sate atau baso.

Namun, yang tengah digenjot oleh pemerintah adalah tingkat kemampuan
konsumsi daging sapi agar lebih signifikan. Bersarkan data Dinas
Peternakan, konsumsi daging sapi di Jawa Barat rata-rata masih 7
kg/kapita/tahun. Jumlah tersebut masih ketinggalan dibandingkan
dengan, misalnya Malaysia yang sudah mencapai 30 kg/kapita/tahun.

Kenyataan itulah yang kemudian menjadi tantangan. Gizi masyarakat
64

berbasis pengembangan usaha peternakan diupayakan untuk
ditingkatkan. Dalam hal ini, yang ditekankan adalah jumlah pasokan
daging sapi dan ternak sapi hidup terus meningkat, diimbangi situasi
dimana usaha ini harus menguntungkan. Kendati demikian, harganya
harus relatif stabil dan terjangkau oleh semua golongan.

Menurut Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat, ada empat hal yang
menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan peternakan di Jawa Barat,
termasuk sapi, yaitu :
1. Semakin banyak populasi ternak.
2. Semakin banyak peternak.
3. Semakin banyak daging dijual.
4. Semakin banyak warga Jawa Barat yang mengkonsumsi daging.

Sampai saat ini, pemenuhan pasokan daging sapi secara lokal nasional
masih mencapai 30%. Untuk Jawa Barat, pemenuhan kebutuhannya
malah tidak lebih dari 5%. Melihat kondisi seperti itu, tidak heran jika
kemudian pemenuhan kebutuhan daging sapi lokal masih
mengandalkan produk impor. Setiap tahun Jawa Barat mengimpor sapi
sebanyak 1.634,5 ton atau sebanyak 161.807 ekor sapi. Lainnya juga
didatangkan dari luar daerah Jawa Barat.

Selama pemenuhan produk daging sapi masih didominasi impor,
kondisinya masih dapat diartikan daging sapi hanya terjangkau sebagian
golongan masyarakat. Lain halnya jika pemenuhan kebutuhan daging
sapi mayoritas sudah dipenuhi secara lokal oleh Jawa Barat sendiri. Itu
bisa menjadi pertanda bahwa komoditas tersebut sudah merakyat.

Usaha peningkatan produksi ternak sapi pembibitan dan penggemukan
secara lokal di Jawa Barat mendapat dukungan penuh dari Menteri
Pertanian yang secara bertahap akan mengurangi impor sapi. Jumlah
impor sapi akan disesuaikan dengan perkembangan pasokan sapi lokal
dengan jumlah kebutuhan konsumsi. Semakin bertambah pasokan
ternak sapi lokal akan semakin dikurangi jumlah ternak sapi impor.

Peluang inilah yang juga melatar belakangi kami PT. SAPTARAYA
MARGAJAYA, melirik dan berencana masuk ke dalam bisnis ini. Bisnis
penggemukan sapi ini dinilai terintegrasi dengan bisnis lain dimana
bahan baku pakan berupa hijauan rumput dapat diperoleh dengan
mudah. Sementara itu, limbah kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai
pupuk di perkebunan rakyat.

65

Berdirinya bisnis peternakan sapi juga berimbas pada peningkatan
kesejahteraan melalui penciptaan lapangan pekerjaan, dan kontribusi riil
berupa pajak kepada Pemerintah Daerah.

Rencana penggemukan sapi akan menggunakan lahan di Desa Parang
Gombong, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, dengan luas 300
Ha milik masyarakat yang dapat dibebaskan dengan harga Rp. 20.000,-
per M2. Dari hasil peninjauan lokasi beberapa waktu yang lalu, lokasi
tersebut sangat memadai karena memenuhi sejumlah syarat sebagai
tempat penggemukan sapi berupa kedekatan lokasi ke sumber air, sistem
sanitasi dan keberadaan fasilitas dan infra struktur yang dapat digunakan
untuk operasional peternakan sapi nantinya.

Pembibitan sapi potong saat ini masih berbasis pada peternakan rakyat
yang mempunyai ciri sebagai berikut :
Skala Usaha Kecil
Manajemen sederhana
Pemanfaatan teknologi seadanya.
Lokasi tidak terkonsentrasi dan
Belum menerapkan sistem dan usaha agribisnis.
Saat ini, kebijakan pengembangan usaha peternakan sapi diarahkan pada
satu kawasan, baik kawasan khusus maupun terintegrasi dengan
komoditi lainnya di suatu wilayah dengan maksud untuk mempermudah
pembinaan, bimbingan dan pengawasan dalam pengembangan usaha
peternakan sapi yang baik.

Salah satu kendala yang dihadapi dalam usaha mengembangkan
peternakan sapi (penggemukan) adalah terbatasnya modal yang dimiliki
peternak. Keterbatasan modal kerja para peternak maupun para
pedagang sapi sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas sapi
yang dipasarkan.

Dalam kesempatan yang baik ini, kami PT SAPTARAYA MARGAJAYA,
sebagai peternak sapi (pembibitan dan penggemukan sapi) dan
pedagang sapi potong bermaksud mengajukan konsep kerja sama
dengan investor yang berminat untuk menambah modal usaha kami
dalam mengembangkan usaha pembibitan dan penggemukan sapi serta
perdagangan sapi potong. Dengan adanya kerjasam tersebut, diharapkan
daya serap pasaran sapi potong akan semakin meningkat.



66


Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan
skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika
dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan
mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip
budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3
(Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan
sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil.



















Dipilih sapi jantan dengan kriteria sebagai berikut : mata bersinar,
moncong pendek, badan tinggi, dada dalam badan lebar, kulit tipis , tidak
terlalu kurus, umur cukup , dan kapasitas perut besar. Pemilihan sapi
bakalan dipilih sapi jantan yang berumur 1,5 2 tahun dengan bobot 260-
300 kg. Cara menduga bobot badan dengan
menggunakan pita ukur :


67

Keterangan :
W : Bobot Badan/kg
L : Lingkar Dada/cm



2.1. LOKASI
Bertitik tolak dari potensi penggemukan sapi yang masih cukup besar,
perusahaan merencanakan untuk mendirikan peternakan sapi terpadu di
Desa Panggarangan kecamatan panggarangan kabupaten lebak provinsi
banten. Lokasi tersebut cukup strategis karena :
Tersedia lahan seluas 2.000 Ha
Tersedia lahan pakan (jagung, rumput,ketela pohon dll)
Luas lahan yang ada cukup memadai, baik untuk kandang tertutup
maupun terbuka (koloni dan individu)
Iklim dan cuaca sangat mendukung untuk pertumbuhan pembibitan
sapi maupun penggemukan sapi. Ketinggian +/- 800 M di atas
permukaan laut (DPL), suhu rata- rata 26 derajat celcius dengan RH =
70%.
Sumber air bersih tersedia cukup banyak
Tenaga kerja berpengalaman mudah didapat.
Akses jalan menuju lokasi sudah tersedia.
Tidak terjadi polusi baru karena berada di alam terbuka dan jauh dari
pemukiman penduduk serta tersedia fasilitas drainase yang
memadai.
Daya tampung sapi (kapasitas) = 12.000 ekor sapi.
Pendirian peternakan sapi mendapat dukungan penuh dari
masyarakat sekitar dan pemerintah daerah.
Akses ke lokasi peternakan sapi dapat ditempuh dari arah Selatan
yaitu dari Bandung, dari arah Timur yaitu dari Sumedang,
Majalengka, Cirebon, dari arah Utara yaitu dari Indramayu, dan dari
arah Barat yaitu dari Jakarta sehingga pasokan sapi bakalan yang
akan masuk ke peternakan dan distribusi sapi (yang telah
digemukan) sangat didukung oleh sarana jalan yang memadai.

Selanjutnya dalam rangka pengembangan usaha di bidang peternakan sapi,
perusahaan bermaksud mendirikan usaha pembibitan dan penggemukan
68





sapi dan untuk merealisasikan rencana tersebut, perusahaan telah
melakukan survey pendahuluan dengan hasil sebagai berikut :
Lokasi peternakan sapi di Desa Panggarangan Kecamatan Panggarangan
Kabupaten Lebak Banten Lokasi ini dipilih karena :
Tidak bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan
Rencana Detail Tata Ruang Daerah (RDTRD) Kecamatan
Panggarangan Kabupaten Lebak
Mempunyai Potensi sebagai sumber bibit sapi potong serta dapat
ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit ternak.
Jarak ke kampung terdekat lebih dari 1 Km sehingga tidak
mengganggu ketertiban dan kepentingan umum setempat. Terletak di
atas bukit dan terdapat banyak sungai sehingga memudahkan untuk
dibuat IPAL (Instalasi Pembuangan Air dan Limbah)
Sangat memperhatikan lingkungan dan topografi sehingga sapi dan
limbah yang dihasilkan tidak akan mencemari lingkungan.
Jarak antara lokasi penggemukan sapi dengan lokasi usaha
pembibitan unggas lebih dari 1 Km.
Jarak dari Kantor Kelurahan +/- 2 Km, dan dari Kota Lebak +/- 10Km.
Jalan ke lokasi feedlot dapat dilalui kendaraan roda empat dengan
lancar.
Ketinggian tempat +/- 800 M di atas permukaan laut, suhu rata-rata
26 derajat celcius dengan RH = 70% dimana cuaca ini sangat cocok
untuk usaha peternakan sapi.
Luas areal lahan yang akan dibebaskan 2.000 Ha, dan harus
memenuhi syarat sebagai berikut :
Bebas dari jasad renik patogen yang membahayakan ternak dan
manusia.
Sesuai dengan peruntukannya menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Luas tanah untuk kandang.
Luas tanah yang diperuntukkan kandang, baik kandang terbuka
maupun tertutup adalah 30.000 M2 (30 Ha).

Luas tanah untuk pakan hijau.
Luas tanah yang diperuntukan lahan hijauan dan lahan
penggembalaan adalah seluas 2.700.000 M2 (270 Ha)

Jumlah sapi yang akan di bibitkan sebanyak 12.000 ekor, dari jenis sapi
Brahman, sapi Limousine, Sapi Simmental atau Sapi PO (Peranakan Ongole)

69

Pembelian sapi bakalan dapat dipenuhi dari perusahaan importir sapi
seperti PT. Great Giant Stock Company di Jakarta atau dari perusahaan
importir lainnya. Dalam hal ini kami akan melakukan impor sendiri dari
Australia.

2.2. POTENSI PAKAN.

Usaha peternakan sapi yang akan dijalankan, diproyeksikan harus mampu
menyediakan pakan yang cukup bagi ternaknya, baik yang berasal dari
pakan hijauan maupun pakan konsentrat.

Pakan hijauan berasal dari rumput, leguminosa, sisa hasil pertanian dan
dedaunan yang mempunyai kadar serat yang relatif tinggi dan kadar energi
rendah. Kualitas pakan hijauan tergantung umur pemotongan (bahan),
palatabilitas dan ada tidaknya zat toksik (beracun) dan anti nutrisi
(purporium purpoides, penestrasi purporium, Brachiaria decumbien,
African Stergrands dll.

Pakan konsentrat yaitu pakan dengan kadar serat rendah dan kadar energi
tinggi, tidak terkontaminasi mikroba, penyakit, stimulant pertumbuhan,
hormone, bahan kimia, obat-obatan, mycotoxin melebihi tingkat yang dapat
diterima oleh negara pengimpor. Untuk itu kami akan membuat dan
mencampur sendiri dari bahan yang terpilih seperti pavor, bungkil, kedelai,
jagung dll. Air minum disediakan tidak terbatas (ad libitum)

Areal yang disediakan untuk lahan penanaman rumput gajah dan rumput
lainnya, tanaman jagung, ketela pohon dll adalah seluas +/- 18.000.000 M2.
yang diperhitungkan berproduksi sebanyak 70 100 ton per hektar, lahan
tersebut dibagi 120 sehingga depoliasi dapat dilaksanakan secara rotasi
seluas 5 Ha/hari.

Selain itu perusahaan akan memberdayakan masyarakat sekitar dalam
menyediakan rumput hijauan dengan cara membelinya dan sekaligus
membentuk kemitraan.

2.3. Pengadaan Obat-Obatan
Obat hewan yang digunakan meliputi sediaan biologic, farmasetik dan obat
kimia.
Obat hewan yang dipergunakan seperti bahan kimia dan bahan biologic
harus memiliki nomor pendaftaran.
70

Penggunaan obat keras harus di bawah pengawasan dokter hewan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang
obat hewan.

2.4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dipekerjakan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
Sehat Jasmani dan rohani
Tidak memiliki luka terbuka
Jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan
Telah mendapat pelatihan teknis pembibitan sapi potong.

2.5. Kesehatan Hewan
Untuk memperoleh hasil yang baik, peternakan sapi harus memperhatikan
persyaratan kesehatan hewan yang meliputi :

Situasi Penyakit
Peternakan Sapi potong harus terletak di daerah yang tidak terdapat gejala
klinis atau bukti lain tentang penyakit mulut dan kuku (foot and mouth
disease) ingus jahat (malignant catarhal fever), bovine ephemeral fever,
lidah biru (blue tongue) radang limpa (anthrax) dan Kluron menular
(brucellosis)

Pencegahan / Vaksinasi
Peternakan sapi harus melakukan vaksinasi dan pengujian/tes
laboratorium terhadap penyakit tertentu yang ditetapkan oleh instansi
yang berwenang.
Mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang dipakai dalam
kartu kesehatan ternak.
Melaporkan kepada Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan
kesehatan hewan setempat ( Instansi yang berwenang ) setiap
timbulnya kasus penyakit, terutama yang diduga/dianggap penyakit
menular.
Penggunaan obat harus sesuai dengan ketentuan dan
diperhitungkan secara ekonomis.
Pemotongan kuku dilakukan minimal 3 bulan sekali.
Dilakukan tindakan biosecurity terhadap keluar masuknya ternak.


71



Penggemukan adalah pemeliharaan ternak yang bertujuan untuk
meningkatkan produksi dan memperbaiki kualitas daging sebelum ternak
itu dijual. Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi dewasa
dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui
pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan). Beberapa hal
yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong.
Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha
penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :
a. Sapi Bali
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari
lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna
hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi
dengan baik pada lingkungan yang baru.
b. Sapi Ongole
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian
tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik.
Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya
disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi
Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
c. Sapi Brahman.
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih
pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga
menjadi primadona sapi potong di Indonesia.
d. Sapi Madura.
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata,
terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki
bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan
rendah
e. Sapi Limousin.
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna
merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong
kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat
produksi yang baik.

2. Pemilihan Bakalan.
72

Bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan
hasil akhir usaha penggemukan. Pemilihan bakalan memerlukan
ketelitian, kejelian dan pengalaman. Ciri-ciri bakalan yang baik
adalah :
Berumur di atas 2,5 tahun.
Jenis kelamin jantan.
Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm
tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.
Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena
kurang pakan, bukan karena sakit).
Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus.
Kotoran normal




4.1. PERKANDANGAN.
Secara umum, kandang memiliki
dua tipe, yaitu individu dan
kelompok. Pada kandang individu,
setiap sapi menempati tempatnya
sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe
ini dapat memacu pertumbuhan
lebih pesat, karena tidak terjadi
kompetisi dalam mendapatkan
pakan dan memiliki ruang gerak
terbatas, sehingga energi yang
diperoleh dari pakan digunakan
untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak
bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode
penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi
memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan
tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan
sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang
lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan.




73

4.1.Kebersihan kandang

Kebersihan ternak atau
kandang sangat penting agar
ternak tetap sehat, lingkungan
kandang tidak berbau dan
tidak lembab. Lantai kandang
setiap hari atau 2 hari sekali
dibersihkan dengan cara
mengumpulkan kotoran diluar
kandang.


4.2. PAKAN.
2.1. Pemberian pakan hijauan dan konsentrat
Waktu pemberian pakan diatur 2 (dua) kali sehari pagi dan sore dalam
bentuk pakan hijauan dan konsentrat. Jumlah pemberian hijauan 10%
dari bobot badan sapi, lebih baik dipotong-potong (2-5 cm) agar lebih
mudah dicerna. Jumlah pemberian konsentrat 1-2% dari bobot badan sapi,
sebaiknya diberikan 3 jam sebelum pemberian pakan hijauan. Tujuannya
adalah agar proses pencernaan berjalan secara optimal.

Pemberian konsentrat sebaiknya dalam bentuk kering (tidak dicampur air),
namun pemberian bentuk basah juga bisa dilakukan. Yang perlu
diperhatikan bila pemberian bentuk basah adalah konsentrat tersebut
harus habis dalam sekali pemberian sehingga tidak terbuang. Air minum
tersedia secara ad libitum (tersedia secara terus menerus).

Komposisi pakan konsentrat hasil kajian BPTP Sulawesi Selatan yang
disusun berdasarkan bobot badan ratarata 200 kg sebagai berikut :

Bahan pakan Jumlah (Kg/ekor/bulan)
Dedak padi 36.3
Bungkil kelapa 21.6
Jagung 3.3
74

Pikutan 0.3
Jumlah 61.5
2.2. Pemberian obat cacing
Diberikan obat cacing satu kali selama 3-4 bulan pemeliharaan

Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi
digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses,
yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara
fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara
enzimatis setelah melewati rumen.

Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan
pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan
membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat
penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan
konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir, ampas tahu,
ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan.
Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen,
sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap
dan aktif mencerna hijauan.

Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat
badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun
jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas
rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas
tinggi.

Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya
kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang
berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar
dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim
pencernaan.Oleh karena itu PT. NATURAL NUSANTARA juga mengeluarkan
suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus, POC NASA, dan HORMONIK.
Produk ini, khususnya produk VITERNA Plus menggunakan teknologi asam
amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu
dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.VITERNA Plus
mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :

75

Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam
sintesis enzim, yaitu N, P, K, Ca, Mg, Cl dan lain-lain.

Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-
lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh.
Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses
fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi
dari serangan penyakit.

Asam asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam
asetat dan asam butirat.

Sementara pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral
penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain
serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan
pertumbuhan bobot harian sapi, meningkatkan ketahanan tubuh ternak,
mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau
kotoran. Sedangkan HORMONIK lebih berfungsi sebagai zat pengatur
tumbuh bagi ternak. Di mana formula ini akan sangat membantu
meningkatkan pertumbuhan ternak secara keseluruhan.

Cara penggunaannya adalah dengan dicampurkan dalam air minum atau
komboran pakan konsentrat. Caranya sebagai berikut :
Campurkan 1 botol VITERNA Plus (500 cc) dan 1 botol POC NASA (500 cc)
ke dalam sebuah wadah khusus. Tambahkan ke dalam larutan campuran
tersebut dengan 20 cc HORMONIK. Aduk atau kocok hingga tercampur
secara merata. Selanjutnya berikan kepada ternak sapi dengan dosis 10 cc
per ekor. Interval 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.

1.5 PENGENDALIAN PENYAKIT



Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah
pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan
menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan
yang dilakukan. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga
kesehatan sapi adalah :a. Pemanfaatan kandang karantina. Sapi bakalan
yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah, dengan
tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak
diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi
sapi terhadap lingkungan yang baru.
76


Pada waktu sapi dikarantina, sebaiknya diberi obat cacing karena
berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi
rakyat) mengalami cacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, tetapi
akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan.
Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan
pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Kandang
karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi
lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang
sehat.b. Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya.

Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang
banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga
pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat. jika kandang mulai kotor
untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.c.
Vaksinasi untuk bakalan baru. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat
sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah
vaksinasi Anthrax.Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi
potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat)
dan lain-lain.

1.6 PRODUKSI DAGING


Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah Pakan. Pakan
yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik
terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan
daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah
sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang
dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat.

Faktor Genetik.Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh
dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi.
Jenis Kelamin.Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina,
sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan
daging yang lebih besar.

Manajemen.Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi
tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa
penggemukan menjadi lebih singkat.


77


1.7 KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER (KESMAVET)


Dalam rangka pelaksanaan kesehatan masyarakat veteriner, setiap
peternakan sapi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas dari
hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit.
Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan dengan
menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat dan hama
lainnya.
Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok
ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang melayani ternak
yang sakit tidak diperkenankan melayani ternak yang sehat.
Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang
ternak yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit.
Membakar atau mengubur bangkai sapi yang mati karena penyakit
menular.
Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan
tamu di pintu masuk perusahaan.
Segera mengeluarkan ternak yang mati dari kandang atau
dikubur atau dimusnahkan oleh petugas yang berwenang.
Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera diobati
atau dipotong oleh petugas yang berwenang.

2.
ASPEK KEUANGAN


Pembahasan mengenai aspek keuangan ini diprioritaskan kepada aspek
budidaya penggemukan. Dalam menentukan layak tidaknya suatu usaha,
perlu diuji dengan beberapa analisis yang sering digunakan. Oleh karena itu
perlu dikaji, apakah usaha penggemukan sapi tersebut layak untuk
dikembangkan dengan catatan bahwa usaha tersebut menggunakan sapi
bakalan yang mempunyai berat badan rata-rata 250 kg.

Parameter teknis yang digunakan dalam menentukan hasil penggemukan
sesuai dengan asumsi dasar yang disajikan dalam tabel dibawah ini.

NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
1 Periode Penggemukan a Hari Kerja Hari 180
b Bulan Bulan 6
c Frekuensi dlm 1 tahun Kali 2
78

2 Pengadaan Sapi a Sapi yang dibutuhkan 6 bulan 12.000
b Sapi yang dibutuhkan 1 tahun 24.000
c Rata-rata bobot sapi Kg 250
d Harga Sapi Rp/Kg 35.000
3 Tenaga Kerja a Manajemen Orang 10
b Bagian Administrasi Orang
5
c Bagian Lapangan Orang 300
d Gaji Manajemen Bulan/Orang 10.000.000
e Gaji bagian administrasi Bulan/Orang 2.500.000
f Gaji bagian Lapangan Bulan/Orang 1.500.000
4 Lahan a Lahan yang dibutuhkan Ha 2.000
b Harga lahan Rp.5.000 100.000.000.000
5 Penggemukan Sapi a Pertambahan bobot Kg/hari 0,7 kg
b Pertambahan Bobot Kg/6 bulan 180
c Harga Jual Rp/Kg 35.000 kg
6 Pakan a Konsumsi Rumput Kg/hari/ekor 30
b Biaya Rumput Rp/hari/ekor 100
c Konsumsi Konsentrat Kg/hari/ekor 2
d Harga Konsentrat Rp/hari/ekor 1.500
7 Obat-obatan a Vitamin Rp/ekor 6.000
b Pengobatan Rp/ekor 6.000
8 Pakan Tambahan Rp/hari/ekor 100

Untuk mengetahui perkembangan usaha peternakan sapi, dapat dilihat dari
laporan arus kas setiap tahunnya, dan dari laporan arus kas tersebut
investor dapat mengambil keputusan untuk menanamkan modalnya pada
usaha ini atau tidak. Dari laporan arus kas juga dapat dilihat besarnya saldo
kas per tahun yang bisa dihasilkan dari usaha ini, apakah besarnya saldo
kas tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh investor atau tidak
(dengan diketahuinya saldo kas, maka investor dapat mengetahui berapa
lama modalnya dapat kembali). Bagaimana trend saldo kas dari tahun ke
tahun, apakah meningkat, stabil, berfluktuasi atau cenderung menurun dan
sebagainya. Adapun proyeksi laporan arus kas usaha penggemukan sapi
dapat dilihat pada tabel (terlampir).

Berdasarkan analisis Payback Period, dapat disimpulkan bahwa modal
dapat dikembalikan seluruhnya dalam waktu 1 tahun.

3. ASPEK PRODUKSI


Lokasi peternakan sapi di rencanakan terletak di atas lahan seluas 2.000 Ha
(20.000.000 M2) yang terletak di Desa Panggarangan, Kecamatan
Panggarangan, Kabupaten Lebak dengan pemanfaatan lahan sebagai
berikut :

79

200.000 M2 (20 Ha) : untuk bangunan kandang tertutup dan
terbuka
1.780.000 M2 (70 Ha) : untuk lahan tanaman singkong
20.000 M2 (2 Ha) : untuk bangunan kantor, gudang pakan
dan sarana lainya.

Jenis pakan yang diberikan adalah hijauan rumput dan konsentrat dengan
persentase dominan adalah pakan hijauan dengan perbandingan 10
berbanding satu (10:1), mengingat jenis sapi yang di pelihara adalah sapi
bibit yang tujuan akhirnya adalah menghasilkan keturunan sapi yang baik.

Untuk kandang, beberapa hal yang harus di perhatikan diantaranya adalah
desain lay out, kapasitas dan materi bangunan kandang terutama lantai dan
atap kandang. Kesemuanya itu harus di perhatikan dalam rangka
mempermudah alur kegiatan pemeliharaan, mulai dari kedatangan sapi
bakalan, kemudahan proses pemberian pakan ternak dan minum sekaligus
menyangkut kemudahan membersihkan kandang, baik dari sisa kotoran,
makanan dan genangan air serta persiapan pengangkutan sapi yang siap di
jual. Kandang yang baik juga harus memberikan kenyamanan sapi bisa
berkembang secara optimal.

Adapun sapi bakalan adalah sapi yang terjamin kesehatannya, berumur 1,5-
2 tahun degan berat badan antara 200-385 kg. Untuk tahap awal,
rencananya akan di usahakan sebanyak 12.000 ekor sapi. Jumlah ini akan di
sesuaikan seiring dengan kebutuhan permintaan pasar di masa yang akan
datang.

Jangka waktu penggemukan sapi ini adalah sekitar 360 hari atau 1 (satu)
tahun dengan hasil produksi 2.000 ekor anak sapi. Untuk tindakan
pencegahan penyakit dilakukan secara serius, terutama dalam bentuk
pemberian vaksinasi pencegahan anthrax, antibiotic, vitamin dan lain-lain.
Selain itu, sanitasi kandang tentu juga perlu diperhatikan. Semua itu perlu
diperhatikan mengingat kesehatan adalah salah satu faktor resiko yang
sangat penting dalam usaha pemeliharaan hewan ternak.

Keberhasilan bisnis penggemukan sapi ini juga tidak terlepas dari dasar
pengetahuan sumber daya manusia mengena sapi. Dalam hal ini,
dibutuhkan pengawas ataupun penanggungjawab yang membawahi
pekerja lapangan (anak kandang) yang bertugas memelihara dan
memenuhi segala keperluan sapi. Demi kelancaran semua kegiatan
tersebut, perlu pembekalan pengetahuan mengenai pemeliharaan sapi.

80

Kapasitas sapi induk untuk tahap pertama sebanyak 6.000 ekor. Untuk
mengelola 6.000 ekor sapi induk diperlukan tenaga kerja dengan spesifikasi
sebagai berikut :
100 orang peternak untuk mengelola sapi (Induk dan kandang)
100 orang pekerja yang akan menyediakan pakan
10 orang staf administrasi
3 orang supervisor
2 orang staf marketing
2 orang dokter hewan
2 orang staf tenaga ahli peternakan
2 orang manager.

Disediakan lahan seluas 1.700 Ha (17.000.000 M2) untuk areal lahan
penanaman singkong sebagai bahan pakan yang diperlukan untuk
peternakan sapi. Sekitar `100 Ha diperuntukkan lahan tanaman jagung,
ketela pohon dan lain-lain sedangkan sisanya sebanyak 200 Ha
diperuntukkan lahan tanaman rumput gajah dan lahan penggembalaan
sapi. Lahan yang digunakan untuk tanaman rumput gajah akan lebih luas
dibandingkan untuk tanaman lainnya karena rumput gajah dapat dijadikan
stocking rate. Konsumsi hijauan ini sangat dibutuhkan dalam jumlah yang
banyak mengingat kebutuhan pakan sapi per ekor per hari menghabiskan
20 Kg

Mengingat pentingnya masalah pengadaan bibit sapi untuk kontinuitas
usaha maka perusahaan harus bermitra dengan pengusaha pembibitan sapi
sehingga perlu dipikirkan bagaimana penerapan manajemen yang mampu
menciptakan kolaborasi dan energi yang saling menguntungkan.

4. KEBUTUHAN BIAYA


Biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek budi daya penggemukan
sapi potong sebesar Rp 109.335.800.000 dengan rincian sebagai berikut:
NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Bibit sapi 12.000 Ekor 7.000.000 84.000.000.000
3. Pembuatan kandang 60.000 m2 400.000 800.000.000
4. Hijauan Makanan
Ternak (HTM)
21.600.000 Kg 400 8.640.000.000
81

5. Konsentrat 4.320.000 Kg 1.500 6.480.000.000
6. Pakan Tambahan 6.480.000 Kg 200 1.296.000.000
7. Obat-obatan 1 Ls 60.000 720.000.000
7. Tenaga Kerja 300 orang 500.000 6.000.000.000
8. Tenaga Ahli 3 Orang 10.000.000 180.000.000
9. Bagian Administrasi 2 orang 5.000.000 60.000.000
10. Bagian Keuangan 1 0rang 5.000.000 30.000.000
11. Jumlah Biaya Produksi 109.335.800.000

5. TATALAKSANA PAKAN TERNAK SAPI POTONG

Salah satu faktor penting keberhasilan usaha peternakan adalah kecukupan
kuantitas dan kualitas pakan yang diberikan. Pakan adalah semua bahan
makanan yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi ternak. Pakan yang
diberikan pada ternak harus tidak dalam keadaan rusak (busuk,
bercendawan), disukai ternak, bebas dari penyakit, mudah didapat, dan
harganya murah. Pakan juga harus mengandung zat-zat yang diperlukan
oleh tubuh hewan ternak seperti air, karbohidrat, lemak, protein, mineral
dan vitamin.
Pada usaha peternakan rakyat, pakan yang diberikan pada umumnya sesuai
dengan kemampuan peternak, bukan sesuai dengan kebutuhan ternaknya.
Pasokan pakan berkualitas rendah merupakan hal yang biasa. Namun jika
terjadi terus menerus dalam waktu yang cukup lama, maka cara ini akan
berpengaruh negative terhadap produktivitas ternak. Pemberian pakan
dimaksudkan agar ternak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus
untuk pertumbuhan dan reproduksi. Pemberian pakan yang baik juga perlu
dilakukan untuk memenuhi :
Kebutuhan hidup pokok, yaitu pakan yang mutlak dibutuhkan dalam
jumlah minimal. Pada hakikatnya kebutuhan hidup pokok adalah
kebutuhan minimal nutrien untuk menjaga keseimbangan dan
mempertahankan kondisi tubuh ternak. Kebutuhan tersebut
digunakan untuk bernafas, bergerak, dan pencernaan makanan.
Kebutuhan untuk pertumbuhan, yaitu kebutuhan pakan yang
diperlukan ternak untuk proses pembentukan jaringan tubuh dan
menambah berat badan.
Kebutuhan untuk reproduksi, yaitu kebutuhan pakan yang diperlukan
ternak untuk proses reproduksi, misalnya kebuntingan.
82

Dalam memilih bahan pakan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
antara lain :
1. Mengandung zat gizi / nutrisi yang dibutuhkan ternak
2. Mudah diperoleh dan sedapat mungkin terdapat didaerah sekitar
sehingga tidak menimbulkan masalah ongkos transportasi dan
kesulitan mencarinya.
3. Terjamin ketersediaannya sepanjang waktu dan dalam jumlah yang
cukup.
4. Disukai oleh ternak.
5. Harga bahan pakan terjangkau.
6. Bahan pakan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.
7. Tidak mengandung racun dan tidak dipalsukan.
5.1 JENIS JENIS PAKAN



Ternak ruminansia mempunyai daya cerna yang efektif terhadap berbagai
jenis bahan pakan, termasuk pakan kasar seperti hijauan atau rerumputan.
Pakan ternak ruminansia dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yakni
pakan hijauan, konsentrat dan pakan tambahan (suplemen).

1. Hijauan
Pakan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan atau tanaman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu : Hijauan Segar, seperti rumput-rumputan
(rumput unggul (seperti rumput gajah, rumput raja dll), rumput lapang),
kacang-kacangan / leguminosa (seperti daun lamptoro, turi, gamal, dll) dan
tanaman hijau lainnya.
Sebelum diberikan kepada ternak, rumput segar harus dilayukan terlebih
dahulu. Tujuannya adalah untuk menghindari kembung pada ternak.
Rumput juga sebaiknya dicacah terlebih dahulu agar ternak mudah
memakannya. Lakukan pencacahan menggunakan arit atau chopper.
Untuk mengatasi kekurangan hijauan makan dapat dimanfaatkan limbah-
limbah pertanian seperti jerami padi, batang jagung, kelobot jagung, dll).
83

Ga
mbar 1. Rumput gajah merupakan salah satu rumput unggul yang
dibudidayakan
Gambar 2. Cacahan pelepah dan daun sawit sebagai limbah perkebunan
kelapa sawit dapat juga dijadikan sebagai sumber pakan hijauan alternatif









a. Hijauan Kering, berasal dari hijauan segar yang dikeringkan dengan
tujuan agar tahan disimpan lebih lama, karena serat kasarnya tinggi
84

dan kadar airnya rendah. Termasuk dalam hijauan kering adalah
jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb.

Gambar 3. Jerami padi termasuk salah satu hijauan kering yang
dimanfaatkan sebagai bahan pakan baik sebagai hay maupun sebagai
bahan baku amoniasi jerami
b. Silase, adalah pakan yang telah diawetkan yang diproses dari bahan
baku yang berupa tanaman hijauan, limbah pertanian, dsb melalui
proses fermentasi. Contohnya : silase rumput dan silase jerami padi.

85

Gambar 3. (a) Proses pembutan silase pelepah dan daun kelapa sawit (b)
Proses pembuatan amoniasi jerami padi.

2. Konsentrat
Konsentrat merupakan pakan yang mengandung energi dan protein yang
tinggi serta serat kasar yang rendah. Bahan pakan konsentrat meliputi biji-
bijian (seperti jagung), hasil ikutan industri pertanian (seperti bekatul,
bungkil kelapa, bungkil kedelai, bungkil kelapa sawit).









Gambar 4. Konsentrat yang diberikan pada ternak sapi potong sebagai
bahan pakan tambahan
2. Pakan Suplemen
Pakan suplemen merupakan pakan tambahan bagi ternak ruminansia
yang mengandung vitamin dan mineral, seperti Urea Mollases Blok
(UMB).
Gambar 4. Konsentrat yang diberikan pada ternak sapi potong sebagai
bahan pakan tambahan
3. Pakan Suplemen
Pakan suplemen merupakan pakan tambahan bagi ternak ruminansia yang
mengandung vitamin dan mineral, seperti Urea Mollases Blok (UMB).

86











Gambar 5. UMB sebagai pakan suplemen

5.2 ATURAN PEMBERIAN PAKAN



Untuk ternak ruminansia dalam hal ini dicontohkan untuk pakan ternak
sapi, pakan yang diberikan adalah sebanyak 10 persen dari bobot badan,
dan pakan tambahan sebanyak 1-2 persen dari bobot badan. Pemberian
pakan ternak sapi dapat dilakukan dengan pengembalaan (pasture
fattening), kereman (dry lot fattening) yaitu cara pemberian pakan melalui
penjatahan atau penyuguhan.) dan kombinasi cara keduanya.


1. Jumlah Pemberian
Pemberian pakan pada sapi potong dapat diberikan secara terus-
menerus (ad libitum) dan secara dibatasi (restricted).

Pemberian secara terus menerus (add libitum) sering kali tidak
efisien karena akan menyebabkan bahan pakan banyak terbuang.
Pakan yang tersisa ini lalu akan membusuk sehingga ditumbuhi
jamur dan sebagainya. Akibatnya tentu saja membahayakan ternak
87

sapi yang memakannya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa untuk program
penggemukan hanya dengan mengandalkan bahan pakan berupa
hijauan, kurang memberikan hasil yang optimum dan
membutuhkan waktu yang cukup lama. Salah satu cara
mempercepat proses penggemukan memerlukan kombinasi pakan
antara hijauan dan konsentrat. Rasio pemberian hijauan dan
konsentrat tergantung dari ketersediaan hijauan dilokasi
penggemukan. Umumnya rasio pemberian hijauan dan konsentrat
untuk penggemukan yang digunakan adalah 75 : 25.

2. Frekuensi Pemberian
Teknik pemberian pakan yang baik untuk mencapai pertambahan
bobot badan yang lebih tinggi terutama pada penggemukan adalah
dengan mengatur jarak waktu pemberian pakan konsentrat dan
pakan hijauan. Pakan hijauan diberikan sekitar dua jam setelah
pemberian konsentrat. Frekuensi pemberian hijauan yang lebih
sering dilakukan dapat meningkatkan kemampuan sapi untuk
mengkonsumsi ransum dan meningkatkan pencernaan bahan
kering hijauan.

3. Sistem Pemberian
Konsentrat sebaiknya diberikan kepada ternak dalam bentuk kering
(tidak dicampur air), namun pemberian bentuk basah juga dapat
dilakukan. Apabila pemberian konsentrat dalam bentuk basah
maka konsentrat harus habis dalam sekali pemberian sehingga
tidak terbuang.
Perubahan jenis pakan yang dilakukan secara mendadak dapat
menyebabkan ternak sapi stress, sehingga tidak mau makan. Oleh
karena itu pemberian pakan harus dilakukan sedikit demi sedikit
agar ternak dapat beradaptasi dengan pakan barunya. Untuk
selanjutnya pemberian ditambah sampai jumlah pakan yang sesuai
kebutuhannya, sedangkan air minum diberikan secara terus
menerus (add libitum).







88

5.3 CARA MANDIRI DALAM MERAMU RANSUM

Ransum adalah jumlah total bahan makanan yang diberikan kepada sapi
selama 24 jam. Ransum merupakan faktor yang sangat penting dalam
usaha peternakan karena ransum berpengaruh langsung terhadap produksi
sapi. Perubahan ransum secara kualitas maupun kuantitas, juga perubahan
komponennya, dapat menyebabkan penurunan produksi yang cukup
serius. Akibatnya, cukup sulit untuk mengembalikan produksi seperti
semula sebelum perubahan ransum dan akan memakan waktu lama.
Ransum sapi umumnya terdiri dari hijauan dan konsentrat. Pemberian
ransum berupa kombinasi keduanya akan memberi peluang terpenuhinya
nutrisi. Apabila ransum hanya terdiri dari hijauan, maka biaya yang
dikeluarkan relative murah dan lebih ekonomis. Akan tetapi produksi yang
tinggi akan sulit tercapat dengan cepat, seperti pertambahan bobot badan
pada proses penggemukan. Sedangkan pemberian ransum hanya terdiri
dari konsentrat akan memungkinkan tercapainya produksi yang tinggi,
namun biaya ransumnya relatife mahal dan kemungkinan dapat terjadi
gangguan pencernaan pada ternak sapi.
Dalam menyusun ransum, diusahakan agar kandungan nutrisi didalam
ransum sesuai dengan nutrisi yang dibutuhkan ternak sapi demi memenuhi
kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, dan reproduksinya. Ransum
tambahan berupa dedak halus atau bekatul,bungkil kelapa, ampas tahu,
gaplek biasanya diberikan dengan cara langsung kedalam tempat pakan.
Selain itu dapat ditambahkan mineral sebagai penguat berupa garam dapur
dan kapur.
Berikut ini beberapa langkah dalam meramu pakan :

1. Identifikasi bahan baku pakan lokal yang tersedia disekitar anda
2. Ketahui kandungan nutrisi bahan baku pakan yang akan dipakai
Ketahui kebutuhan bahan pakan ternak sesuai dengan jenis sapi dan
fase-fase pertumbuhannya. Contohnya sebagai berikut :
Kadar gizi dalam bahan pakan rumput lapang, jerami padi,
ampas tahu dan dedak padi kasar


89

Tabel 1. Kandungan zat gizi (nutrisi) dalam bahan pakan
Nama Bahan Pakan
Berat
Kering
(%)
Protein
Kasar (%)
TDN
(%)
Rumput lapang 30,00 7,69 40
Jerami padi 85,00 4,00 42
Ampas tahu 10,00 20,00 72
Dedak padi kasar 86,00 7,21 50

Fase kehidupan sapi yang akan digemukkan adalah sapi jantan
berumur 2-2,5 tahun dengan berat 200 kg, dengan
pertambahan berat badan harian (PBBH) yang diinginkan
adalah 0,7 kg per hari.
Kebutuhan gizi sapi yang akan digemukkan secara individual
(berdasarkan table kebutuhan zat makanan sapi pedaging yang
sedang bertumbuh dan digemukkan dari buku Ilmu Nutrisi dan
Makanan Ternak Ruminansia/1999) sebagai berikut :
Tabel 2. Kebutuhan nutrisi ternak sapi secara individual
Berat Badan
Awal
PBBH BK
Protein
Kasar
TDN
180 Kg 0,6 Kg/hari 4,8 kg 0,57 kg 2,952 kg
Keterangan :
PBBH : Pertambahan Berat Badan Harian
BK : Berat Kering
TDN : Total Digestible Nutrient


3. Hitung formulasi pakan dengan cara coba-coba (trial and error) atau
menggunakan aplikasi teknologi untuk memudahkan perhitungan.
(contoh penyusunan komposisi bahan pakan (ransum) seperti
terlampir).
4. Timbang bahan baku sesuai dengan perhitungan.
5. Dengan cara manual, campurkan bahan pakan dengan
menyusunnya dalam suatu susunan tumpukan. Bahan pakan yang
paling besar jumlahnya berada dibawah (ratakan) lalu diikuti bahan
yang jumlahnya lebih sedikir (ratakan). Lakukan terus menurus
sampai semua bahan habis.
6. Campurkan secara bertahap sehingga pakan yang dicampur
90

omogeny (rata).
7. Setelah ransum siap makan siap diberikan kepada ternak
Lampiran :
Penyusunan Komposisi Bahan Pakan (Ransum)
Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :
Tetapkan imbangan hijauan dan konsentrat, hitung kebutuhan
nutrisi dalam kg seperti dibawah ini :
Tabel 3. Kebutuhan nutrisi bahan pakan dalam kilogram

BK
(Kg)
Protein Kasar
(Kg)
TDN
(Kg)
Kebutuhan Total 4,8 0,57 2,952
Hijauan (80 %) 3,840 0,456 2,362
Konsentrat (20 %) 0,960 0,114 0,590

Buatlah tabel kandungan gizi setiap bahan pakan sebagai
berikut:
Tabel 4. Kandungan gizi bahan pakan
Nama Bahan Pakan
Berat
Kering
(%)
Protein
Kasar (%)
TDN
(%)
Hijauan
Rumput lapang (60%) 30,00 7,69 40
Jerami padi (40%) 85,00 4,00 42
Konsentrat
Ampas tahu (35%) 10,00 20,00 72
Dedak padi kasar (65%) 86,00 7,21 50

Tentukan komposisi persentase bahan pakan yang akan
diberikan kemudian hitung kebutuhan nutrisi bahan pakan
tersebut.

Cara menghitung komposisi bahan makanan adalah sebagai berikut :
Kebutuhan BK bahan pakan (rumput lapang) = 60/100 x 3,84 = 2,304 kg
91

(60/100 merupakan persentase rumput lapang dan 3,84 adalah kebutuhan
bahan kering asal hijauan) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 5. Perhitungan komposisi bahan pakan
Nama Bahan Pakan
BK
(Kg)
Protein Kasar
(Kg)
TDN
(Kg)
Hijauan
Rumput lapang 2,304 0,274 1,417
Jerami padi 1,536 0,182 0,945
Konsentrat
Ampas tahu 0,336 0,040 0,207
Dedak padi kasar 0,624 0,074 0,384
Persentase tersebut masih berbentuk bahan kering, sehingga perlu
dikonversi kedalam berat segar. Misalnya kebutuhan bahan segar rumput
lapang 2,304 x 100/30 = 7,680 (2,304 adalah jumlah BK rumput lapang dan
100/30 merupakan angka konversi bahan kering ke bahan segar, karena
persentase berat kering rumput lapang adalah 30%)
Dengan cara perhitungan yang sama diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 6. Perhitungan berat segar bahan pakan
Nama Bahan Pakan
Berat Segar
(Kg)
Protein
Kasar
(Kg)
TDN
(Kg)
Hijauan
Rumput lapang 7,680 3,563 3,543
Jerami padi 1,306 4,550 2,250
Konsentrat
Ampas tahu 3,360 0,200 0,287
Dedak padi kasar 0,726 1,026 0,768
Total Bahan Segar 13,072 9,339 6,848
Evaluasi, lakukan evaluasi berdasarkan faktor-faktor pembatas, yaitu
kapasitas rumen terhadap bahan pakan segar yaitu sebanyak 10% dari total
berat badan sapi. Dari perhitungan diatas diperoleh berat badan segar
sebanyak 13,072 kg, sehingga masih bias ditolelir karena masih berada
dibawah angka 10% berat badan sapi (18 kg). Jika total bahan segar diatas
92

18 kg, maka perlu dilakukan perhitungan ulang dengan mengubah
persentase setiap bahan pakan.
Singkong kering atau
yang biasanya sering
juga disebut dengan
gaplek juga dapat
dimanfaatkan sebagai
pakan ternak yang
ekonomis dan mudah
didapatkan. Gaplek
(singkong
dikeringkan)biasa
juga dikenal dengan
cassavamemiliki
berbagai kelebihan
untuk alternatif
substitusi jagung. Ia mengandung kanji (starch) 70 82 %, energi
metabolik tinggi (2.900 -3.200 kcal), meski kandungan proteinnya rendah
(0,7 1,3 %).

Sementara soal harga, di tingkat pengepul berkisar Rp 800900/kg, dan
masuk jalur perdagangan dijual Rp 1.000/kg. Dibandingkan harga jagung
saat ini yang mencapai Rp 2.200/kg maka cassava layak dipilih untuk
substitusi-sebagian pemakaian jagung.

Sentra penghasil cassava antara lain Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jogjakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.
Kabupaten Gunung Kidul sejak lama terkenal sebagai sentra gaplek di
Jogjakarta. Dari luasan daerah Gunung Kidul yang 148.536 ha, ditanami
singkong 53.453 ha atau 35,98 %. Tingkat produksi 2005, 22.185,3 ton,
dengan kapasitas produksi 49,36 kuintal/ha. Dari produksi tersebut,
sebanyak 11 % dikonsumsi sendiri, disimpan sebagai gaplek 28 %, dijual
basah sebagai ubi 21 %, dan dijual untuk bahan baku olahan 41 %. Sejauh
ini baru 10 % produksi yang digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.

Netralisasi Sianogenik
Akar dan daun cassava mengandung senyawa anti nutrisi yaitu glukosida
linamarin dan lotaustralin. Jika senyawa tersebut terhidrolisa oleh aktivitas
enzim linamarase akan membebaskan asam sianogenik yang dapat
menyebabkan keracunan pada ternak apabila terdapat dalam jumlah di atas
batas aman. Dalam reaksinya, linamarin plus air dengan bantuan enzim
93

linamarase menghasilkan asam sianogenik plus aseton plus glukosa. Tinggi
rendahnya kadar total glukosida sianogenik dalam akar atau daun cassava
akan membedakan antara varietas pahit (lebih tinggi toksisitasnya) dan
varietas manis. Metoda ekonomis yang sejauh ini paling efektif
menghilangkan seluruh atau sebagian asam sianogenik adalah dengan
pemberian panas. Perlakuan suhu antara 40 dan 800C efektif untuk
menghilangkan asam sianogenik. Dehidrasi alami dengan pemanasan di
bawah sinar matahari juga merupakan cara yang aman untuk
menghilangkan asam sianogenik tanpa akan mengaktifkan enzim
linamarase. Batas aman kandungan sianogenik adalah Bunyi yang Khas.

Gaplek sebenarnya merupakan salah satu upaya pengawetan produk
singkong untuk tujuan (biasanya) non konsumsi. Cara pembuatannya
sangat sederhana yaitu umbi akar dikelupas kulitnya, dipotongpotong,
selanjutnya dijemur selama 2 3 hari tergantung intensitas sinar matahari.
Bisa juga menggunakan alat pengering. Penjemuran dihentikan setelah
kadar air turun menjadi 12-14%. Disebut kering apabila dipatahkan
mengeluarkan bunyi yang khas. Racun sianogen sebagian besar terdapat
pada kulit akar. Tindakan pengelupasan kulit, perendaman dan
penjemuran, signifikan menurunkan kandungan sianogen. Standar
spesifikasi minimum dari gaplek adalah kadar kanji minimum 65 %, serat
kasar maksimum 5 %, pasir minimum 3 %, kadar air maksimum 14 %.

Cara pengawetan lain, membuatnya dalam bentuk pellet. Cassava kering
digiling menggunakan hammer mill lalu dimasukkan dalam mesin pelletmill
dimana sebelumnya dilewatkan ke dalam conditioner yang memberikan
uap air panas (steam). Dengan bentuk pellet, kualitas bahan dan ukurannya
menjadi lebih seragam, mengurangi tepung yang timbul selama
penanganan, mengambil tempat 25 30 % lebih efisien dibandingkan jika
masih dalam bentuk potongan besar, memudahkan dan mengefisienkan
proses pengangkutan.

Kombinasi Cassava : Kedele
Karena cassava rendah protein, dalam penggunaannya sebagai bahan baku
pakan unggas dikombinasikan dengan bahan kaya protein lain (bungkil
kedele) seperti diperlihatkan pada Tabel 2. Kombinasi 82 % cassava dan 18
% kedele mempunyai kandungan nutrisi setara dengan jagung. Tepung
cassava dapat mensubstitusi 45 50 % jagung untuk pakan broiler starter
tanpa menimbulkan efek yang merugikan terhadap laju pertumbuhan,
konsumsi pakan dan konversi pakan. Percobaan lain menambahkan tepung
cassava yang berupa campuran antara bagian akar umbi dan daun serta
tangkai lunak untuk menggantikan 25 % dan 50 % jagung yang dipakai
94

(dari level jagung 50 %). Pakan percobaan mengandung 12,5 % dan 25 %
tepung cassava. Campuran tepung cassava terdiri bagian akar dan
campuran daun / tangkai 2,5 : 1; sedangkan perbandingan daun terhadap
tangkai 5 : 1. Hasil percobaan memperlihatkan meskipun cassava
digunakan pada level tinggi tidak terlihat adanya gangguan kesehatan,
meski laju pertumbuhan dan efisiensi pakan terganggu (13 % dan 19 % laju
pertumbuhan dibandingkan pakan kontrol serta 14 % dan 26 % konversi
pakan). Penggunaan tepung cassava dianggap masih bernilai ekonomis
terlebih saat harga jagung tinggi.

Efek Pigmentasi
Mengingat pakan broiler kebanyakan diberikan dalam bentuk pellet atau
crumble maka cassava bisa digunakan dalam jumlah yang lebih tinggi. Pada
percobaan terhadap ayam broiler, bagian akar cassava dapat diberikan
sampai level 45 50 % sementara bagian daunnya 5 6 %. Tabel 3
memperlihatkan contoh formulasi penggunaan cassava untuk
mensubstitusi jagung dalam percobaan pada broiler starter (3.a) dan
finisher (3.b). Penggunaan cassava level tinggi dan juga kedele utuh tidak
memberikan pengaruh merugikan terhadap kondisi litter (kotoran) yang
dihasilkan broiler. Hanya saja penggunaan cassava (bagian akar)
mengganggu pigmentasi kuning pada bagian kaki, paruh, kulit dan
perlemakan. Jika dilakukan ranking pigmentasi dari 1 (pigmentasi buruk)
sampai 4 (pigmentasi baik), maka pakan yang mengandung campuran
cassava akar dan daun memberikan kualitas pigmentasi yang sama dengan
pakan kontrol (jagung) bernilai 4. Apabila pakan disajikan dalam bentuk
tepung, sebaiknya penggunaan cassava tepung tidak lebih dari 20 %
(starter) dan 25 % (finisher).

Energi Metabolik dan Konsumsi Pakan
Berbeda dengan pakan broiler yang mensyaratkan energi tinggi, pakan
layer membutuhkan tingkat energi metabolik yang lebih rendah (2800
kcal/kg). Sebaiknya penggunaan cassava dalam pakan layer tidak lebih dari
20 %. Lebih tinggi dari itu akan berisiko menurunkan konsumsi pakan.
Pada percobaan menggunakan cassava tepung untuk mensubstitusi jagung
10 20 %, diberikan pada beberapa fase umur ayam petelur
memperlihatkan perbedaan tingkat produksi telur, meski tidak signifikan.
Ada kecenderungan konsumsi pakan sedikit menurun (1 gr/ek/hari).





95



7. MEMBUAT RANSUM PAKAN TERNAK DARI LIMBAH

Produksi tahu, tempe, tapioca, kecambah, dan huller penggilingan padi pada
umumnya banyak diusahakan sebagai industri kecil dan industri rumah
tangga seperti pembuatan minyak kelapa di pedesaan. Limbah atau sisa
ampasnya masih banyak yang dipasarkan mentahan belum diolah menjadi
komoditi produk yang memiliki nilai tambah produksi di pedesaan. Kadang
ampas atau limbah produksi pada musim basah tidak laku dijual dan
membusuk menjadi kotoran yang menimbulkan bau yang tidak sedap.
Begitu juga sisa-sisa limbah sayuran pasar setiap hari hanya menimbulkan
kotoran, belum termanfaatkan dan jumlahnya cukup banyak.

Bahan-bahan untuk membuat 20 kg ransum basah adalah sebagai berikut:
Dedak 3 kg; ampas (tahu, kelapa, ubi) 3 kg/masing-masing bagian; sisa-sisa
tanaman dan hijauan 4 kg; tapioca kg; garam dapur 100 gr; air bersih 10
liter.

Kandungan Ransum Basah:
Serat karbohidrat protein garam dan air (untuk membuat ransum
dalam jumlah besar/banyak bahan tinggal mengalikan kelipatan jumlahnya
saja).

Cara Membuat:
1. Semua bahan yang sudah ditakar sesuai dengan bahan yang akan
dibuat ransum, bahan-bahan dicampur dan diaduk jadi satu pada bak
atau wadah besar atau yang lebih baik menggunakan drum yang
bersih sekaligus menjadi tempat untuk memasaknya di atas tungku
api.
2. Bila adonan sudah menjadi seperti bubur encer, panaskan sampai
mengental.
3. Aduk terus selama proses memasak/memanaskan di atas api, jaga
jangan sampai hangus pada bagian bawah dan atasnya.
4. Proses pemanasan cukup sampai mengental/padat.
5. Angkat dan dinginkan di lantai.
6. Cetak adonan masak/pakan pada alas jemur bedek bambu. Ukuran
tebal 2,5 3 cm, panjang 30 cm dan lebar (ukuran kertas polio).
Cetakan dapat dibuat dari bingkai bambu.
7. jemur dan bolak balik sesuai keadaan.
8. kekeringan kadar air sampai 14%.
96

9. simpan ransum pada kaleng dan tutup rapat untuk persediaan
ransum sehari-hari ternak peliharaan.
10. berikan ransum ternak sesuai kebutuhan.

Cara Pemberian Ransum pada Ternak:
1. Bila tidak melakukan penjemuran/mengeringkan ransum/ransum
basah setelah dimasak dapat langsung diberikan dengan cara
tambahkan lagi air dingin agar ransum menjadi bubur encer dan
berikan pada ternak.
2. ransum padat/kering seduh/rendam dengan air panas/dingin, bila
sudah hancur buat seperti bubur hancur dan berikan pada ternak
sapi, kuda, kambing, babi dan unggas bebek, angsa dan kalkun (dosis
1 kg ransum + 5 liter air) untuk 1 x makan tambahan per hari per
ekor sapi.

8. MANAJEMEN PAKAN TERNAK RUMINANSIA (SAPI POTONG)



Usaha penggemukan sapi potong saat ini mempunyai kencenderungan
makin berkembang. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya
masyarakat di daerah yang mengusahakan penggemukan sapi. Prospek
usaha penggemukan sapi sangat menjanjikan terbukti dari beberapa hasil
kajian menunjukkan keuntungan usaha yang cukup memadai bagi peternak.
Usaha penggemukan sapi dapat dilakukan secara perseorangan maupun
secara perusahaan dalam skala besar. Namun ada pula yang mengusahakan
secara kelompok pula.

Seiring semakin berkembangnya perusahaan peternakan dan juga
kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi demi kesehatan dan
diimbangi dengan daya beli masyarakat yang meningkat pula, permintaan
akan daging sapi untuk konsumsi sehari-hari pun juga meningkat dari
tahun ke tahun. Itu ditandai dengan makin banyaknya perusahaan
peternakan khususnya perusahaan yang bergerak dalam bidang feedlot
(penggemukan). Hal ini disebabkan prospek usaha penggemukan sapi
potong cukup menguntungkan terbukti dari kebutuhan akan konsumsi
daging sapi setiap tahun selalu meningkat. Sementara itu pemenuhan akan
kebutuhan daging selalu kurang, dengan kata lain permintaan daging
sebagai konsumsi terus bertambah.

Tiga hal pokok yang perlu diperhatikan agar dapat menjadi peternak sukses
sehingga kelangsungan usaha ternak tersebut dapat berjalan. Ketiga hal
97

tersebut yaitu breeding (bibit/bakalan), feeding (pakan), dan
management (manajemen), yang saling terkait satu sama lain dan saling
melengkapi.

Usaha untuk meningkatkan pengadaan daging sapi dapat dilakukan dalam
usaha feedlot. Feedlot adalah pemeliharaan sapi di dalam kandang
tertentu, tidak diperkerjakan tetapi hanya diberi pakan dengan nutrien
yang optimal untuk menaikkan berat badan dan kesehatan sapi (Darmono,
1993). Usaha ternak sapi potong akan berhasil apabila faktor penunjangnya
(pakan)

memperoleh perhatian penuh, disamping faktor genetis. Oleh karena itu
bibit sapi yang baik harus diimbangi dengan pemberian pakan yang baik
pula dan cukup memenuhi kebutuhan nutriennya. Adapun fungsi lain dari
pakan adalah untuk mempertahankan daya tahan tubuh dan kesehatan.

Produktivitas ternak sapi potong sangat peka atau sensitif terhadap
perubahan pemberian pakan, oleh karena itu pakan yang diberikan harus
sesuai dengan ketersediaan, kesinambungan mutu maupun jumlahnya.
Disamping itu perlu diketahui bahwa biaya pakan dalam usaha
penggemukan memberikan konstribusi yang cukup besar. Oleh karena itu
dalam usaha penggemukan, peternak harus dapat memberikan pakan
yang murah namun bermanfaat bagi peningkatan produksi daging
(Siregar, 2003).

Pada dasarnya, sumber pakan sapi dapat disediakan dalam bentuk hijauan
dan konsentrat, dan yang terpenting adalah pakan harus memenuhi
kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin serta mineral. Secara
alamiah pakan utama ternak sapi baik potong maupun perah adalah
hijauan, dapat berasal dari rumput alam atau lapang, rumput unggul,
leguminosa dan limbah pertanian serta tanaman hijauan lainnya. Dalam
pemberiannya harus diperhatikan hijauan tersebut disukai ternak dan tidak
mengandung racun atau toxin sehingga dapat membahayakan
perkembangan ternak yang mengkonsumsi. Namun permasalahan yang ada
bahwa hijauan di daerah tropis seperti di wilayah Indonesia mempunyai
kualitas yang kurang baik sehingga untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak
tersebut, perlu ditambah dengan pemberian pakan konsentrat (Siregar,
1996).

Dalam pemberian pakan di kandang atau di palungan, yang perlu
diperhatikan adalah mengetahui berapa jumlah pakan dan bagaimana
ransum yang diberikan pada ternak sapi. Untuk itu, telah dibuat feeding
98

standard. Akan tetapi, dalam pemberiannya ada yang dilakukan dengan
cara ad libitum, yaitu diberikan dalam jumlah yang selalu tersedia. Ada juga
yang diberikan dalam bentuk restricted atau dibatasi (Santosa, 2002).

Mengingat pentingnya memperhatikan manajemen pemberian pakan sapi
potong dalam usaha feedlot, maka kegiatan Magang Perusahaan dengan
judul Manajemen Pemberian Pakan Sapi Potong pada CV. Sumber Baja
Perkasa yang beralamatkan di Dukuh Sentono, Desa Ngawonggo Rt.35, Rw
14, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten dilaksanakan sebagai syarat
untuk menyusun tugas akhir.

Tujuan Magang Perusahaan
1. Tujuan Umum

Magang Perusahaan ini dilaksanakan oleh mahasiswa dengan tujuan:
a. Untuk memperoleh pengalaman yang berharga dengan mengenali
kegiatan-kegiatan di lapangan kerja yang ada di bidang peternakan
secara umum.
b. Meningkatkan pemahaman mengenai hubungan antara teori dan
penerapannya serta faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga
dapat sebagai bekal bagi mahasiswa dalam terjun ke masyarakat
setelah lulus.
c. Untuk memperoleh ketrampilan kerja dan pengalaman kerja yang
praktis yakni secara langsung dapat menjumpai, merumuskan serta
memecahkan permasalahan yang ada dalam kegiatan di bidang
peternakan.
d. Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah,
instansi, terkait dan masyarakat sehingga dapat meningkatkan mutu
pelaksanan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus kegiatan Magang perusahaan adalah :

Mengetahui kondisi umum Peternakan Sapi CV. Sumber Baja Perkasa.
Mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di perusahaan
peternakan sapi potong CV. Sumber Baja Perkasa
Mengetahui menejemen pemberian pakan pada peternakan sapi
potong di CV. Sumber Baja Perkasa Dukuh Sentono




99





A. Sapi Potong
Setiap proses penggemukan sapi, pada akhirnya sapi akan menjadi
penghasil daging. Sapi-sapi yang dipekerjakan sebagai pembajak sawah
atau ternak-ternak perah yang tidak produktif lagi biasanya akan
digemukan sebagai ternak potong. Umumnya, mutu daging yang berasal
dari sapi-sapi afkiran ini tidak terlalu baik. Meskipun demikian ada
beberapa jenis sapi yang memang khusus dipelihara untuk digemukkan
karena karakteristik yang dimilikinya, seperti tingkat pertumbuhannya
cepat dan kualitas daging cukup baik. Sapi - sapi inilah yang umumnya
dijadikan sebagai sapi bakalan, yang dipelihara secara intensif selama
beberapa bulan sehingga diperoleh pertambahan berat badan yang ideal
untuk dipotong (Abidin, 2002).
Menurut para ahli, ternak sapi yang dipelihara berasal dari sapi-sapi liar
yang telah dijinakkan. Adapun golongan sapi-sapi tersebut diklasifikasikan
menjadi tiga kelompok besar sapi yaitu:
1. Bos Sondaicus atau Bos Banteng, sampai sekarang masih dapat ditemui
hidup liar di daerah margasatwa yang dilindungi di Pulau Jawa, seperti
di Pandanaran dan Ujung Kulon.
2. Bos Indicus atau Sapi Zebu, sampai sekarang mengalami
perkembangan di India dan Asia.
3. Bos Taurus atau Sapi Eropa, sampai sekarang mengalami
perkembangan di Eropa.
4. Bangsa sapi potong Asia diantaranya adalah : Sapi Bali, Sapi Ongole,
Sapi Madura, dan Sapi Brahman. Bangsa sapi potong Eropa
diantaranya adalah : Sapi Hereford, Sapi Shorthorn, Sapi Limousin dan
Sapi Charolais (Murtidjo, 2001).

Sapi potong yang berkembang di Indonesia, merupakan bangsa sapi tropis,
terdiri dari sapi lokal, dan sapi impor ( Sarwono dan Arianto,2002).
Menurut Sugeng (2002), ciri-ciri bangsa sapi tropis yaitu memiliki gelambir,
kepala panjang, dahi sempit, ujung telinga runcing, bahu pendek, garis
punggung berbentuk cekung, kaki panjang, tubuh relatif kecil, dengan bobot
badan 250-650 kg, tahan terhadap suhu tinggi, tahan terhadap caplak. Jenis
sapi yang banyak dipelihara peternak Indonesia adalah Ongole, sapi Bali,
sapi Madura, sapi Angus, sapi Brahman, sapi Brangus ( Brahman Aberdeen
Angus ), sapi Peranakan Ongole (PO) dan sapi Simmental ( Djarijah,1996 ).

100

Menurut Murtijo (1990) penilaian terhadap keadaan individual sapi potong
pada prinsipnya didasarkan pada umur, bentuk tubuh, luas tubuh,
pertambahan berat badan dan temperamen. Dianjurkan pula mengetahui
sejarah yang berkaitan dengan penyakit. Namun secara praktis pada
umumnya penilaian individual sapi dilakukan dengan mengamati bentuk
luar sapi seperti bentuk tubuh normal, ukuran normal dari bagian-bagian
tubuh, dan organ kelamin. Prioritas utama untuk memilih sapi bakalan
adalah berbadan kurus, berumur muda (sapi dara) dan sepasang giginya
telah tanggal (Sarwono dan Arianto, 2002). Menurut Santoso (2002) sapi
yang paling baik digemukan adalah sapi jantan, karena pertambahan bobot
hariannya yang tinggi.

B. Pakan Sapi Potonng

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak yang
sebagian atau keseluruhannnya dapat dicerna tetapi tidak mengganggu
kesehatan ternak tersebut. Sebagian contoh pakan hijaun (rumput,
daun-daunan), limbah pertanian (jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai,
pucuk tebu), leguminosa (daun Lamtoro, Gliricida, Kaliandra, Turi, dan
Kacang-kacangan) limbah industri pertanian (dedak, bekatul, pollard,
onggok, bungkil-bungkilan) dan lain-lain (Anonimus, 2001).

Pada dasarnya, sumber pakan sapi dapat disediakan dalam bentuk hijauan
dan konsentrat, dan yang terpenting adalah pakan yang memenuhi
kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin serta mineral
(Sarwono,2002).

Secara alamiah pakan utama ternak sapi adalah hijauan, yang dapat berupa
rumput alam atau lapangan, rumput unggul, leguminosa, limbah pertanian
serta tanaman hijauan lainnya. Dalam pemilihan hijauan pakan ternak
harus diperhatikan disukai ternak atau tidak, mengandung toxin (racun)
atau tidak yang dapat membahayakan perkembangan ternak yang
mengkonsumsi. Namun permasalahan yang ada bahwa hijauan di daerah
tropis mempunyai kualitas yang kurang baik sehingga untuk memenuhi
kebutuhan nutrien perlu ditambah dengan pemberian pakan konsentrat
(Siregar, 1996).

Pemberian pakan yang baik untuk memenuhi beberapa kebutuhan ternak
sebagai berikut:
1. Kebutuhan hidup pokok, yaitu kebutuhan pakan yang mutlak
dibutuhkan dalam jumlah minimal. Pada hakekatnya kebutuhan
hidup pokok adalah kebutuhan sejumlah minimal nutrien untuk
101

menjaga keseimbangan dan mempertahankan kondisi tubuh ternak.
Kebutuhan tersebut digunakan untuk bernapas, bergerak, dan
pencernaan makanan.
2. Kebutuhan untuk pertumbuhan, yaitu kebutuhan pakan yang
diperlukan ternak sapi untuk proses pembentukan jaringan tubuh dan
menambah berat badan.
3. Kebutuhan untuk reproduksi, yaitu kebutuhan pakan yang diperlukan
ternak sapi untuk proses reproduksi, misalnya kebuntingan.

Untuk kebutuhan nutrien sapi potong dalam praktek penyusunan
diperlukan pedoman standart berdasarkan berat badan dan pertambahan
berat badan (Murtidjo, 1990). Mutu, jumlah pakan dan cara-cara
pemberiannya sangat mempengaruhi kemampuan produksi sapi
pedaging. Untuk mempercepat penggemukan, selain dari rumput, perlu
juga diberi pakan penguat berupa konsentrat yang merupakan campuran
berbagai bahan pakan umbi-umbian, sisa hasil pertanian, sisa hasil pabrik
dan lain-lain yang mempunyai nilai nutrien cukup dan mudah dicerna
(Setiadi, 2001).

Pemberian pakan dimaksudkan agar sapi dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya sekaligus untuk pertumbuhan dan reproduksi. Pada umumnya,
setiap sapi membutuhkan pakan berupa hijauan. Sapi dalam masa
pertumbuhan, sedang menyusui dan sedang digunakan sebagai tenaga
kerja memerlukan pakan yang memadai baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya (Djarijah,1996).

Dalam menyusun ransum harus diusahakan agar kandungan nutrien di
dalam ransum sesuai dengan nutrien yang dibutuhkan ternak untuk
memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan bereproduksi
(Santoso, 2002).

Ransum adalah satu atau campuran beberapa jenis bahan pakan yang
disusun sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan ternak
selama 24 jam. Ransum yang diberikan pada sapi-sapi yang digemukan
tergantung pada sistem penggemukan yang digunakan. Penggemukan sapi
dengan sistem pasture hanya terdiri dari hijauan yang diperoleh dengan
melepas sapi-sapi untuk meruput di padang penggembalaan. Demikian pula
dengan sistem kereman yang terdapat dibeberapa daerah di Indonesia, ada
diantaranya yang hanya memberikan hijauan saja tanpa pakan tambahan
berupa konsentrat (Siregar, 2003).

102

Pakan suplemen merupakan bahan yang mengandung jasad renik
(mikroba) hidup yang sengaja ditambahkan dalam pakan sapi atau
ruminansia lainya. Dengan diberikan sedikit pakan tambahan, kebutuhan
pakan persatuan ternak dapat dikurangi. Apabila setiap hari ternak
membutuhkan 10-11 kg bahan kering (BK) untuk menaikkan 1 kg berat
badan maka, penggunaan pakan tambahan mampu mengurangi jumlah
pakan (Sarwono, 2002).



C. Manajemen Pemberian Pakan



1. Jumlah pemberian
Pemberian pakan pada sapi potong dapat dilakukan secara ad
libitum dan restricted (dibatasi). Pemberian secara ad libitum
sering kali tidak efisien karena akan menyebabkan bahan pakan
banyak terbuang dan pakan yang tersisa menjadi busuk sehingga
ditumbuhi jamur dan sebagainya yang akan membahayakan ternak
bila termakan (Santosa, 2002).

Tingkat konsumsi ternak ruminansia umumnya didasarkan pada
konsumsi bahan kering pakan, baik dalam bentuk hijauan maupun
konsentrat, persentase konsumsi bahan kering memiliki grafik
meningkat sejalan dengan pertambahan berat badan sampai tingkat
tertentu, kemudian mengalami penurunan. Rata-rata
kemampuan konsumsi bahan kering bagi ruminansia adalah 2 -
3 % dari berat badan (Mc.Cullough, 1973). Atau 2,5 3,2 %
menurut (Sugeng, 2002).
2. Imbangan Hijauan dan Konsentrat.
Ransum ternak ruminansia pada umumnya terdiri dari hijauan dan
konsentrat. Pemberian ransum berupa kombinasi kedua bahan itu
akan etabo peluang terpenuhinya etaboli dan biayanya etaboli
murah. Namun bisa juga ransum terdiri dari hijauan ataupun
konsentrat saja. Apabila ransum terdiri dari hijauan saja maka
biayanya etaboli murah dan lebih ekonomis, tetapi produksi yang
tinggi sulit tercapai, sedangkan pemberian ransum hanya terdiri
dari konsentrat saja akan memungkinkan tercapainya produksi
yang tinggi, tetapi biaya ransumnya etaboli mahal dan
kemungkinan bisa terjadi gangguan pencernaan (Siregar, 1996).

103

Pakan ternak untuk penggemukan sapi merupakan etabo yang
penting untuk meningkatkan produksinya. Pakan yang baik adalah
pakan yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan
mineral. Protein adalah etabo utama dalam pemeliharaan organ
tubuh dan pertumbuhan, sedangkan karbohidrat berguna sebagai
sumber etabo yang akan digunakan untuk proses etabolism
(Darmono, 1993)

Pada usaha penggemukan sapi, pemberiaan pakan konsentrat lebih
banyak daripada hijauan, hal ini bertujuan untuk meningkatkan
pertambahan berat badan yang cepat. Perbandingan jumlah
konsentrat dan hijauan dalam ransum penggemukan sapi atas dasar
bahan kering adalah 70 % dan 30 %( Anonimus 2001).
3. Frekuensi Pemberian
Pemberian konsentrat dapat dilakukan dua atau tiga kali dalam
sehari semalam. Pemberian konsentrat dua kali dalam sehari
semalam dapat dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dan
sekitar pukul 15.00. Lain lagi dengan pemberian yang dilakukan tiga
kali dalam sehari semalam pada saat pukul 08.00, sekitar pukul
12.00, dan sekitar pukul 16.00. Sedangkan pemberiaan hijauan
dilakukan sekitar 2 jam setelah pemberian konsentrat. Pemberian
hijauan ini dilakukan secara bertahap dan minimal 4 kali dalam
sehari semalam. Frekuensi pemberian hijauan yang lebih sering
dilakukan dapat meningkatkan kemampuan sapi itu untuk
mengonsumsi ransum dan juga meningkatkan kencernaan bahan
kering hijauan (Siregar, 2003).

Teknik pemberian pakan yang baik untuk mencapai pertambahan
bobot badan yang lebih tinggi pada penggemukan sapi potong
adalah dengan mengatur jarak waktu antara pemberian
konsentrat dengan hijauan. Pemberian konsentrat dapat dilakukan
dua atau tiga kali dalam sehari semalam. Hijauan diberikan sekitar
dua jam setelah pemberian konsentrat pada pagi hari dan dilakukan
secara bertahap minimal empat kali dalam sehari semalam (Siregar,
2003).
4. Sistem pemberian
Dalam pemberian konsentrat sebaiknya dalam bentuk kering
(tidak dicampur air), namun pemberian bentuk basah juga bisa
dilakukan. Yang perlu diperhatikan bila pemberian bentuk basah
adalah konsentrat tersebut harus habis dalam sekali pemberian
sehingga tidak terbuang. Perubahan jenis pakan, yang secara
mendadak dapat berakibat ternak stress, sehingga tidak mau
104

makan. Oleh karena itu cara pemberiannya dilakukan sedikit demi
sedikit agar ternak beradaptasi dahulu, selanjutnya pemberian
ditambah sampai jumlah pakan yang sesuai kebutuhannya,
sedangkan air minum diberikan secara ad libitum (Anonimus,
2001).

Teknik pemberian pakan yang baik untuk mencapai pertambahan
bobot badan yang lebih tinggi pada penggemukan sapi potong
adalah dengan mengatur jarak waktu antara pemberian
konsentrat dengan hijauan. Hijauan diberikan sekitar dua jam
setelah pemberian konsentrat pada pagi hari dan dilakukan secara
bertahap minimal empat kali dalam sehari semalam. Frekuensi
pemberian hijauan yang lebih sering dilakukan dapat
meningkatkan kemampuan sapi untuk mengkonsumsi ransum dan
juga meningkatkan kecernaan bahan kering hijauan itu
sendiri(Cullough, 1973).
Bagan struktur organisasi di peternakan CV.Sumber Baja Perkasa seperti
terlihat pada gambar 1 berikut :

Pemilik
Bpk. H Zainal Fanani



Manajer
Gunawan



Supervisor
Parto



Pakan
Murwito
Safari
Sugeng

Pemeliharaan
Andri
Sugeng
Ujang
Penanganan limbah
Yani
Karimin

Gambar 1. Struktur Organisasi CV. Sumber Baja Perkasa

Pemimpin perusahaan tertinggi dari CV. Sumber Baja Perkasa dipegang
pemilik sekaligus sebagai direktur yaitu Bapak Zainal Fanani. Direktur
105

dibantu oleh seorang manajer yang dipegang oleh Bapak Gunawan. Dalam
menjalankan tugas sebagai direktur seorang direktur membawahi:

a. Manajer yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
Mengelola usaha penggemukan sapi secara intensif agar mencapai
tujuan yang diinginkan
b. Supervisor yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
1) Mengawasi dan melakukan pencatatan terhadap sapi yang masuk
maupun yang keluar pternakan.
2) Melakukan transaksi dengan pembeli.
c. Pekerja kandang, yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai
berikut:
1) Melaksanakan semua aktifitas yang ada di peternakan tersebut
2) Membantu bagian pemasaran dalam proses pemasaran.
Pelaksanaan serta pembagian tugas di CV. Sumber Baja Perkasa
sudah terlaksana cukup baik walaupun perusahaan belum berdiri
lama. Untuk setiap tugas serta mengontrol jalannya peternakan
sudah jelas yang bertanggung jawab.sehingga di harapkan
kelancaran kerja dapat berjalan baik sesuai yang di harapkan.

3. Lokasi Peternakan

Peternakan sapi ini berlokasi di Dukuh Sentono RT 35 RW 14 Desa
Ngawonggo Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, yang merupakan daerah
dataran rendah dengan topografi datar dan landai. Sekitar areal kandang
merupakan area persawahan yang cukup luas yang mempunyai
temperatur 280C dengan curah hujan yang sedang, arah angin bergerak
dari selatan ke utara dan sinar matahari yang cukup. Ketersediaan air dan
pakan yang melimpah dan mudah didapat sangat mendukung usaha
peternakan sapi khususnya sapi potong.

Lokasi peternakan sebaiknya jauh dari pemukiman penduduk agar bau
yang dihasilkan oleh ternak yang berupa limbah tidak mengganggu
pemukiman penduduk sekitar. Jarak peternakan atau kandang dari
tempat pemukiman penduduk minimal 50 meter (Sarwanto dan Arianto,
2000). Menurut pernyataan Santoso (2000) bahwa lokasi peternakan
sebaiknya jauh dari lokasi pemukiman penduduk serta dekat dengan
sarana transportasi, dekat dengan sumber air dan dekat dengan sumber
pakan. Pemilihan lokasi peternakan sapi tergantung diantaranya pada
geografi dan topografi, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan bahan
pakan, ketersediaan air, transportasi dan ketersediaan bakalan yang baik.
106

Batas wilayah sebelah utara adalah pemukiman penduduk yang cukup
padat yaitu Dukuh Candi, sebelah Selatan Desa Sentono, sebelah barat areal
persawahan dan Desa Pandean, batas timur Desa Tegal Rejo.


1. Luas Areal Peternakan

Luas areal peternakan sapi potong CV. Sumber Baja Perkasa sekitar 3340
m2 yang terdiri dari bangunan penunjang, bangunan kandang, mes dan
lahan untuk menanam rumput Gajah. Jenis-jenis bangunan yang ada di
lokasi tersebut antara lain seperti terlihat tabel 1:

Tabel 1. Bangunan-bangunan di CV. Sumber Baja Perkasa.
Jenis Penggunaan Luas bangunan M2 Keterangan
1. Bangunan Penunjang
a. Gudang pakan 38,57 Tempat Menyimpan
Pakan
b. Tempat Pakan Jerami 126,83 Tempat Permentasi
c. Kamar Kecil/WC 4,12 Tempat Mandi
d. Bangunan Pengolahan
Pupuk
2,77 Tempat Untuk
mengolah Pupuk
e. Bak Penampungan Air 14,6 Tempat menampung
limbah
f. Pencampuran
Konsentrat
2,77 Untuk menampung
konsentrat
2. Bangunan Kandang
Ternak

Ukuran Kandang A 300
Ukuran Kandang B 300
Ukuran Kandang C 300
3. Bangunan Mes 51 Tempat Istirahat

5. Populasi Ternak

Jenis ternak yang dipelihara di CV.Sumber Baja Perkasa adalah bangsa sapi
Simmental, Peranakan Ongole (PO), Peranakan Frisien Holstein (PFH),
Brangus, dan Limousin. Pembelian bakalan-bakalan tersebut dilakukan
dengan sistem jogrokan atau tafsiran bukan dengan timbangan. Orang
yang diberi kepercayaan untuk mencari bakalan adalah bapak Suparto
bekerja sama dengan rekannya yang berprofesi sebagai pedagang sapi
(blantik).
107


Kebanyakan sapi-sapi bakalan didatangkan atau diperoleh dari penduduk
dan dari pasar sapi, yaitu dari pasar Sunggingan Boyolali, pasar Gemolong,
pasar Sumber Lawang. Sapi yang bagus untuk digemukan selama 6 bulan
memiliki kriteria-kriteria antara lain, dipilih bakalan yang memiliki badan
tinggi, agak kurus, badan panjang, tulang-tulang besar dan sehat tanpa ada
cacat sedikit pun. Apabila sapi memenuhi kriteria bakalan yang baik
selanjutnya dilakukan transaksi.

Umur sapi yang dipelihara rata-rata 1 1,5 tahun yang mempunyai bobot
badan sekitar 259 kg - 313 kg dari berbagai jenis ternak yang ada,
sedangkan untuk ternak yang bobot badan sekitar 370 kg 430 kg umur
rata-ratanya 1,5 2 tahun. Jumlah dan jenis ternak yang ada selama
kegiatan magang adalah seperti terlihat pada tabel 2 :
Tabel 2. Populasi Ternak

Populasi Ternak
Bangsa Sapi Jumlah (Ekor) Keterangan
Simmental 64 Jantan
PO 11 Jantan
PFH 10 Jantan
Brangus 5 Jantan
Limausin 15 7 Betina
8 Jantan
105

Semua kandang di peternakan sapi CV. Sumber Baja Perkasa memiliki
kapasitas yang sama, yaitu dapat dapat menampung 40 ekor sapi setiap
kandangnya, dan tidak ada pembedaan tempat untuk jenis sapi tertentu
atau menurut bobot badannya. Selama kegiatan magang kami mendapatkan
data sapi-sapi di CV. Sumber Baja Perkasa mulai dari jenis sapi, berat badan
awal, berat badan akhir dan pertambahan bobot badan hariannya, seperti
terlihat pada tabel 3, 4, 5.

Tabel 3. Data bobot badan sapi pada kandang A

No Jenis sapi No .Sapi BB. Awal ( Kg ) BB. Akhir( Kg ) PBBH ( Kg )
1 Simental 1 413 444 1,03
2 Simental 2 415 443 0,93
3 Simental 3 393 425 1,07
108

4 Simental 7 406 428 O,93
5 Simental 8 389 434 0,83
6 Simental 9 400 423 0,77
7 Simental 10 416 428 0,4
8 Simental 11 350 374 0,80
9 Simental 15 396 425 0,97
10 Simental 18 430 454 0,80
11 Simental 21 412 432 0,67
12 Simental 22 472 491 0,63
13 Simental 23 431 453 0,73
14 Simental 24 445 474 0,97
15 Simental 26 433 460 0,90
16 Simental 27 389 412 0,77
17 Simental 28 447 478 1,03
18 Simental 29 418 440 0,73
19 Simental 31 450 479 0,97
20 Simental 32 400 414 0,46
21 Simental 33 412 435 0,77
22 Simental 34 425 439 0,46
23 Simental 35 433 454 0,70
24 Limousin 4 386 411 0,83
25 Limousin 36 321 347 0,80
26 Limousin 37 375 400 0,83
27 Limousin 38 446 360 0,46
28 Limousin 39 449 473 0,80
29 Limousin 40 429 450 0,70
30 PO 5 376 391 0,50
31 PO 6 360 377 0,57
32 PO 12 364 378 0,47
33 PO 13 367 386 0,63
34 PO 14 346 364 0,60
35 PO 16 406 420 0,47
36 PO 17 366 385 0,63
37 PO 19 324 333 0,30
38 PO 20 419 432 0,43
39 Brangus 25 412 435 0,77
109

40 Brangus 30 352 379 0,80
Rata-rata 0,72
Sumber: data primer CV. Sumber Baja Perkasa ( 2009 )


Tabel 4. Data bobot badan sapi pada kandang B

No Jenis sapi No .Sapi BB. Awal ( Kg )BB. Akhir( Kg )PBBH ( Kg )
1 Simental 1 782 807 0,83
2 Simental 2 723 751 0,93
3 Simental 3 751 783 1,07
4 Simental 4 711 745 1,13
5 Simental 5 690 719 0,96
6 Simental 6 626 659 1,10
7 Simental 10 413 437 0,80
8 Simental 11 385 399 0,47
9 Simental 12 393 281 0,67
10 Simental 13 432 455 0,77
11 Simental 14 384 410 0,87
12 Simental 15 434 463 0,96
13 Simental 16 432 446 0,47
14 Simental 17 398 424 0,87
15 Simental 18 427 451 0,80
16 Simental 20 449 362 0,43
17 Simental 21 447 478 1,03
18 Simental 22 395 414 0,63
19 Simental 23 456 478 0,73
20 Simental 24 425 454 0,96
21 Simental 26 458 469 0,37
22 Simental 27 460 476 0,53
23 Simental 28 437 463 0,87
24 Simental 29 416 431 0,50
25 Limousin 7 403 431 0,93
26 Limousin 8 391 416 0,83
27 Limousin 9 411 434 0,77
28 Limousin 25 415 444 0,96
29 PFH 30 391 415 0,80
110

30 PFH 31 440 471 1,03
31 PFH 32 437 461 0,80
32 PFH 33 418 450 1,07
33 PFH 34 416 430 0,47
34 PFH 35 430 445 0,83
35 PFH 36 475 499 0,80
36 Brangus 19 347 368 0.70
37 Brangus 37 414 346 0,73
38 Brangus 38 483 501 0,60
Rata-rata 0,80
Sumber: data primer CV. Sumber Baja Perkasa ( 2009 )

Tabel 5. Data bobot badan sapi pada kandang C

No Jenis sapi No .Sapi BB. Awal( Kg ) BB. Akhir ( Kg ) PBBH ( Kg )
1 Simental 1 433 468 1,17
2 Simental 2 352 380 0,93
3 Simental 3 365 397 1,07
4 Simental 9 419 434 0,77
5 Simental 10 413 437 0,80
6 Simental 11 385 399 0,47
7 Simental 12 393 281 0,63
8 Simental 16 324 338 0,47
9 Simental 17 350 376 0,87
10 Simental 18 427 451 0,80
11 Simental 20 449 362 0,43
12 Simental 23 456 478 0,73
13 Simental 24 425 454 0,57
14 Simental 25 415 427 0,40
15 Simental 26 458 469 0,37
16 Simental 27 460 476 0,53
17 Simental 28 437 484 0,30
18 Limousin 4 321 321 0,50
19 Limousin 5 307 307 0,20
20 Limousin 6 329 329 0,43
21 Limousin 7 352 352 0,30
22 Limousin 8 314 314 0,33
111

23 Limousin 13 432 432 0,77
24 PO 14 413 413 0,50
25 PO 15 310 310 0,30
26 PFH 19 347 347 0,70
27 PFH 21 447 447 1,03
28 PFH 22 395 395 0,63
Rata-rata 0,62
Sumber: data primer CV. Sumber Baja Perkasa ( 2009 )

Penimbangan berat badan sapi di peternakan sapi CV. Sumber Baja Perkasa
dilakukan dengan menggunakan timbangan electrik. Penimbangan pada
saat sapi datang dan pada saat sapi akan dijual. Penimbangan juga
dilakukan setiap sebulan sekali untuk mengetahui pertambahan berat
badan hariannya.

Sapi yang baru saja datang langsung masuk kedalam kandang
bersamaan dengan sapi lain tidak dikarantina lebih dahulu karena
disana tidak ada kandang karantina hanya dibiasakan dengan kondisi
kandang atau lingkungan setempat dan pakan yang diberikan. Padahal
sebaiknya sapi yang baru saja datang di tempatkan di kandang karantina
terlebih dahulu hal ini untuk mengantisipasi terjadinya penularan bibit
penyakit yang dibawa sapi ini. Sapi bakalan yang telah sampai di
peternakan kemudian diberikan vitamin Bkomplek untuk menambah nafsu
makan dan obat cacing, pemberian tersebut juga dilakukan setiap satu
bulan sekali.

6. Pakan

Pada dasarnya, sumber pakan sapi dapat disediakan dalam bentuk hijauan
dan konsentrat. Sumber pakan di peternakan CV. Sumber Baja Perkasa
sudah memenuhi untuk usaha penggemukan sapi potong. Pakan hijauan
yang diberikan berupa rumput Gajah dan jerami padi, sedangkan
konsentrat berupa campuran dari beberapa bahan pakan seperti Singkong
fermentasi ( sigkong, bekatul, kulit kacang, tetes tebu), wheat brand, kulit
kedelai, bungkil kelapa, ampas kecap, bekatul dan tetes tebu.

Dalam usaha penggemukan sapi potong, pemberian pakan ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Kebutuhan hidup pokok
sangat tergantung dari bobot badan ternak, yaitu semakin berat bobot
badan ternak maka semakin tinggi jumlah kebutuhan pakannya, sedangkan
kebutuhan produksi sangat tergantung dari pertambahan bobot badan yang
112

dicapai, yaitu makin tinggi pertambahan bobot badan yang dicapai maka
makin banyak pula jumlah kebutuhan pakannya.

7. Perkandangan

Lokasi kandang cukup strategis karena dekat dengan jalan raya sehingga
mempermudah transportasi. Lokasi kandang membujur dari arah utara ke
selatan dengan bentuk atap kandang tertutup yang menggunakan bahan
seng. Karena harga relatif murah, mudah didapat, tahan lama dan panas
matahari dapat ditahan dengan baik, sehingga tidak langsung
mempengaruhi panas ruangan kandang. Sebagian kandang yang terbuka
yaitu pada bagian ventilasi. Sehingga sinar matahari tetap dapat masuk ke
kandang dan ventilasi udara tidak terhambat. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Abidin (2002) bahwa sinar matahari, terutama pada pagi hari,
harus dapat masuk secara langsung ke dalam kandang. Karena sinar
ultraviolet sangat baik untuk membunuh kuman-kuman penyakit yang
hidup di dalam kandang.

Bangunan kandang ada 3 buah yang masing-masing kandang berkapasitas
20 ekor. Kandang - kandang tersebut semuanya dipakai, yang terdiri
dari kandang A, B, dan C. Kapasitas tiap kandang semuanya sama, yaitu
setiap kandangnya terdiri dari 40 ekor sapi, sehingga sapi akan dapat
bergerak bebas.

Dinding kandang terbuat dari tembok. Konstruksi dinding kandang
dibuat setengah terbuka sehingga pertukaran udara lancar. Kandang sudah
bersifat permanen sehingga sangat layak dipakai dalam jangka panjang.
Lantai dari semen dengan kemiringan 30, dimaksudkan agar feses atau
urine dapat mengalir mudah ke tempat pembuangan limbah. Setiap
petak kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum.
Kandang yang ada termasuk kandang individu, dengan sistem head to head
atau saling berhadapan.

Tempat pakan ditempatkan pada sisi depan kandang dan berdampingan
dengan tempat minum memanjang dari kandang dalam bentuk bak-bak.
Tempat pakan dipakai untuk dua macam pakan yaitu pakan konsentrat
dan pakan hijauan. Keduanya terbuat dari semen sehinggga mudah
dibersihkan dan tahan lama atau permanen. Tempat minum berada
ditengah dan tempat pakan berada disamping kiri dan kanan sehingga
memudahkan sapi untuk minum.

113

Peralatan yang digunakan dalam kandang antara lain gerobak dorong, sapu
lidi, serokan, garu, sikat, selang air, gancu, sekop, ember. Sarana penunjang
lainnya adalah gudang tempat pembuatan dan penyimpanan pakan, tempat
pengolahan pupuk kompos, tempat penampungan air, loading area (tempat
menurunkan dan menaikkan sapi), truk, mess, dan toilet.

Pembersihan kandang dilakukan setiap hari secara bergiliran. Biasanya
pembersihan kandang dilakukan setelah pemberian pakan konsentrat pada
pagi hari. Limbah padat dibersihkan menggunakan garu dan diangkut
dengan gerobak dorong untuk ditampung ditempat penampungan limbah
padat untuk dijadikan pupuk kompos. Pembersihan selanjutnya disiram air
agar sisa feses langsung mengalir ke saluran pembuangan limbah cair yang
nantinya dialirkan ke sawah.

8. Penanganan Kesehatan

Kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada kondisi ternak.
Kesehatan mutlak diperlukan karena dapat mencegah kerugian bila
terjangkit penyakit. Dengan demikian diperlukan pencegahan, penanganan
dan penanggulangan penyakit. Penggemukan sapi potong kemungkinan
terjangkitnya penyakit tidak terlalu besar karena lama penggemukan tidak
terlalu lama.

Penyakit yang sering menyerang sapi di peternakan CV. Sumber Baja
Perkasa adalah pilek atau flu yang ditandai dengan keluar cairan atau lendir
dari hidung dan nafsu makan turun. Hal ini disebabkan karena gangguan
sistem pernapasan ternak, perubahan cuaca. Pengobatan yang dilakukan
dengan pemberian vitamin Bkomplek untuk meningkatkan nafsu makan,
dengan dosis pemberian 10-20 ml dengan cara disuntikan intramaskular
pada bagian punggung sapi dan diberikan dalam satu bulan sekali.

Usaha pencegahan sapi yang cacingan dengan pemberian Kalbazen C
dengan dosis pemakaian 10 cc setiap bulan sekali untuk jenis sapi besar
maupun sapi kecil melalui mulut (per oral). Apabila terjadi luka pada sapi
yang diakibatkan gesekan dengan benda sekitar kandang, penanganannya
yaitu dengan diberikan obat Gusanex dengan cara disemprotkan jarak
semprot kurang lebih 10 cm. Sedangkan untuk sapi yang terkena kudis
diberikan obat dengan Ivervet dengan dosis 6 cc untuk jenis sapi besar
maupun kecil, dengan cara disuntikan pada bagian punggung
(intramaskular).

114

Penanganan yang dilakukan selain dengan menggunakan obat-obat medis
sebaiknya dilakukan pencegahan agar bibit penyakit tidak mudah
berkembang seperti kebersihan kandang, penyemprotan kandang dengan
desinfektan dalam jangka waktu tertentu, pemberian pakan dan minum
yang terpisah dengan tempat lain, pemeliharaan ternak yang sakit dalam
kandang karantina.

Sanitasi dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan,
agar ternak terbebas dari serangan penyakit. Menurut Sugeng (2005)
sanitasi lingkungan dilakukan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman,
bagi peternak maupun ternak yang dipelihara, serta bebas dari gangguan
infeksi penyakit yang dapat merugikan ternak



9. Pergudangan

Gudang merupakan tempat untuk menyimpan bahan pakan maupun
tempat pencampuran bahan pakan. Dinding tempat penyimpanan bahan
pakan terbuat dari tembok semen sedangkan atapnya terbuat dari seng
bergelombang dan lantainya dari disemen, sedangkan untuk tempat
pencampuran bahan pakan dindingnya terbuat dari tembok dan lantainya
dari semen.

10. Penanganan Limbah

Limbah ternak merupakan sisa hasil pencernaan dan metabolisme pakan
yang berupa limbah padat berupa feses dan limbah cairnya berupa urine.
Limbah padat yang berupa feces diolah menjadi pupuk organik yang
kemudian digunakan sendiri untuk pemupukan perkebunan sendiri dan
untuk sementara ini belum dipasarkan. Sedangkan untuk limbah cairnya
yang berupa urien belum diolah dan hanya dialirkan ke persawahan sekitar
melalui saluran irigasi.

B. Uraian Kegiatan

1. Jenis Pakan
Perusahaan peternakan penggemukan sapi potong CV. Sumber Baja
Perkasa dalam memenuhi kebutuhan pakan yang diberikan pada ternak
memanfaatkan limbah pertanian atau limbah industri pertanian yang tidak
dikonsumsi oleh manusia. Pakan yang digunakan berupa hijauan dan
konsentrat. Hijauan yang digunakan berupa hijauan segar dan kering.
115

Hijauan segar yang diberikan berupa rumput Gajah karena hijauan segar
mempunyai kandungan vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh ternak.
Sedangkan hijauan kering berupa jerami padi. Jerami padi diberikan dalam
bentuk jerami fermentasi. Karena pemberian pakan jerami padi
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pakan sumber serat dan
menimbulkan rasa kenyang. Jerami padi merupakan limbah pertanian yang
cukup potensial sebagai pakan ternak karena tersedia cukup banyak dan
mudah diperoleh disekitar daerah peternakan.

Pemberian jerami padi di CV. Sumber Baja Perkasa diberikan dalam bentuk
jerami padi fermentasi. Proses pembuatan jerami padi fermentasi dengan
menggunakan starter urea dan starbio, dan diinkubasikan selama 21 hari.
Urea berfungsi untuk memperbaiki nilai gizi jerami padi. Pemberian urea
pada proses fermentasi dapat meningkatkan kandungan nitrogen pada
jerami, jumlah jerami yang dikonsumsi, dan daya cerna jerami. Urea yang
masuk rumen dihidrolisa dengan cepat oleh enzim urease dan mikrobia
rumen menjadi amoniak, yang akan digunakan oleh mikrobia rumen
untuk aktifitas sintesis protein. Starbio digunakan untuk meningkatkan
palatabilitas (tingkat kesukaan) ternak terhadap jerami tersebut. Setelah
diproses dengan menggunakan starbio akan dihasilkan jerami yang
beraroma seperti karamel dan mudah dicerna sehingga sangat disukai sapi.
Daya cerna sapi terhadap jerami padi fermentasi dapat meningkat sampai
40% (Sarwono, 2004).

Pakan konsentrat yang digunakan berupa konsentrat campuran yang
terdiri dari singkong fermentasi yang terbuat dari beberapa bahan pakan (
seperti kulit kacang digiling kasar, bekatul, singkong dan tetes tebu ), wheat
brand, bungkil kelapa, kulit kedelai,ampas kecap, bekatul dan tetes. Semua
bahan tersebut dicampur jadi satu hingga homogen. Pencampuran bahan
pakan lebih murah penggunaannya lebih banyak, hal ini bertujuan untuk
menghemat biaya pakan tanpa harus mengurangi nutrien yang dibutuhkan
oleh ternak. Kandungan nutrien bahan pakan penyusun ransum pada tabel
6 adalah sebagai berikut:

Kandungan Nutrisi bahan pakan penyusun ransum (%BK)
Bahan
Pakan
BK
(%)
PK
(%)
SK
(%)
LK
(%)
Ca
(%)
P (%) Bta-N TND
(%)
Fermentasi 86,00 4,8 10,9 1,8 0,9 0,5 - 70
Singkong 32,3 3,3 4,3 3,3 - - 87,7 81,8
Bungkil
Kelapa
87,9 21,2 13,1 17,3 - - 41,1 81
Bekatul 89,6 15,9 8,5 9,1 - - - 67
116

Tetes 87,5 3,1 - 2,7 1,0 0,41 85,6 70,7
Ampas
Kecap
63,7 23,5 16,0 24,2 - - 22,1 87
Kulit
Kedelai
88,6 41,3 8,6 15,0 - - 21,9 83,2
Wheat
Brand
88,4 17,0 8,8 15,1 0,08 1,23 - 69,9
Jerami
Padi
87,5 4,1 32,5 1,5 0,41 0,29 - 43,2


2. Cara Memperoleh Pakan

Pakan hijauan berupa rumput Gajah diperoleh dari areal perkebunan
sendiri, sedangkan untuk jerami padi diperoleh dari lokasi persawahan
yang berada di sekitar peternakan dengan harga Rp. 235.000,-/truk dengan
cara memesan terlebih dahulu. Jerami padi yang diberikan adalah jerami
padi fermentasi yang menggunakan starbio dan urea sebagai fermentornya,
dan bahan tersebut didapat dari agen toko yang ada di daerah Klaten.
Konsentrat yang diberikan adalah konsentrat campuran dari beberapa
bahan pakan yang diperoleh dari sekitar ceper dan beberapa daerah lain
seperti kulit kedelai dari Bantul, white brand dari Semarang, ampas kecap
dari Karanganyar, bungkil kelapa dari Lampung, bekatul dari Jogjakarta,
singkong dari Tawangmangu, kulit kacang dari Wonosari dan Tetes didapat
dari agen toko disekitar Ceper.

Sirkulasi pengadaan bahan pakan dilakukan dengan memperhatikan:

a. Aspek penyimpanan bahan pakan

Penyimpanan bahan pakan yang baik didasarkan pada sifat-sifatnya,
apakah bahan pakan tersebut tahan lama atau tidak. Penyimpanan bahan
pakan biasanya dalam jangka waktu yang lama, sehingga bahan pakan yang
disimpan tersebut tidak cepat rusak dan tidak menimbulkan bau tengik.
Sedangkan bahan pakan yang tidak tahan lama, maka pembeliannya lebih
sedikit untuk mengurangi resiko kerugian. Syarat syarat untuk
menyimpan bahan pakan yang baik antara lain, tempat penyimpanan
(gudang) sebaiknya dibuat alas model panggung yang tingginya 15 cm,
bahan pakan yang baru dibeli sebaiknya diletakkan paling bawah karena
bahan pakan yang lama biar lebih dulu habis dan untuk menghindari
kerusakan karena terlalu lama dalam penyimpanan.

117

b. Harga bahan pakan

Harga bahan pakan untuk formula konsentrat dapat dilihat pada tabel 7
adalah sebagai berikut :
Tabel 7. Daftar harga bahan pakan penyusun ransum ( as fed )
No Jenis Pakan Harga
1 Bekatul Rp. 1500 / Kg
2 Kulit kedelai Rp. 2200 / Kg
3 White brand Rp. 2200 / Kg
4 Ampas kecap Rp. 1000 / Kg
5 Bungkil kelapa Rp. 2500 / Kg
6 Tetes Rp. 1000 / Ltr
7 Singkong Fermentasi Rp. 1140 / Kg
Sumber: data sekunder CV. Sumber Baja Perkasa ( 2009 )

Dari data tabel diatas dapat diketahui harga konsentrat per kilogram adalah
Rp. 1.486. Singkong fermentasi tersusun dari beberapa bahan pakan (
seperti bekatul, singkong, kulit kcang dan tetes ). Sedangkan untuk jerami
fermentasi adalah Rp. 200 / Kg dengan rincian 400 kg jerami basah dengan
harga Rp. 180 / kg dicampur dengan starbio harga Rp. 8.750/kg dan urea
0,50 kg dengan harga Rp. 1.200/kg.

Bahan pakan yang berharga mahal penggunaannya sedikit, sedangkan
bahan yang harganya lebih murah maka penggunaannya akan lebih banyak.
Hal ini bertujuan menghemat biaya pakan dan bahan yang harganya
murah belum tentu kualitasnya rendah sehingga kebutuhan zat-zat
makanan yang dibutuhkan ternak dapat tercukupi. Penggunaan pakan
konsentrat jadi (buatan pabrik) dapat menambah biaya pakan dan kurang
ekonomis. Hal ini sesuai yang diungkapkan Santosa (1999), bahwa apabila
konsentrat dibeli dalam bentuk sudah jadi maka biaya untuk pembelian
konsentrat menjadi sangat mahal. Oleh karenanya sedapat mungkin
disusun konsentrat sendiri sehingga biaya pakan dapat ditekan tanpa
mengabaikan kebutuhan nutrien ternak.

3. Jumlah Pemberian Pakan

Pemberian pakan di CV. Sumber Baja Perkasa berupa konsentrat dan
hijauan. Untuk sapi yang ukuran kecil dengan bobot ratarata 380 kg
jenis PO, simmental, PFH, Brangus dan sapi Limousin pemberian
konsentratnya sama yaitu 8 kg/ekor setiap harinya. Sedangkan untuk sapi
ukuran besar dengan bobot ratarata 380 kg jenis Simmental, PFH dan
118

Sapi Limousin pemberiannya sama yaitu diberikan konsentrat sebanyak
12 kg/ekor setiap harinya. Dan untuk sapi bobot > 600 kg derikan
konsentrat sebanyak 16 kg/ekor setiap harinya.

Pemberian pakan hijauan berupa rumput Gajah dan jerami padi juga
didasarkan berat badan sapi. Untuk sapi ukuran kecil dengan bobot badan
ratarata 380 jenis PO, PFH, Simmental, Brangus, dan Limousin
diberikan jerami padi fermentasi sebanyak 4,5 kg/ekor/hari. Untuk sapi
ukuran besar dengan bobot badan ratarata 380 jenis Simmental, PFH,
dan Limousin diberikan jerami padi fermentasi sebanyak 7,5
kg/ekor/hari. Pemberian hijauan dan jerami padi fermentasi dimaksudkan
untuk memenuhi kebutuhan pakan sumber serat dan menimbulkan rasa
kenyang, serta merangsang mikroba selulitik untuk mencerna serat kasar.
Perbandingan konsentrat dan hijauan untuk ransum sapi 70 : 30 %. Total
pemberian pakan untuk masing-masing jenis sapi di CV. Sumber Baja
Perkasa dapat di lihat pada tabel 8 sebagai berikut :

Tabel 8. Pemberian pakan CV. Sumber Baja Perkasa
Jenis sapi/Bb sapi pakan Jumlah yang
diberikan
Kkg, as fed)
% BK Jumlah
diberiakn
(Kg BK)
PO (413 Kg) Konsentrat 12 69,34 8,32
Jerami
Fermentasi
7,5 31,47 2,36
PFH (347) Konsentrat 8 69,34 5,55
Jerami
Fermentasi
4,5 31,47 1,42
PFH (447) Konsentrat 12 69,34 8,93
Jerami
Fermentasi
7,5 31,47 2,36
Simmental (440 kg) Konsentrat 12 69,34 8,93
Jerami
Fermentasi
7,5 31,47 2,36
Simmental (782 kg) Konsentrat 16 69,34 11,09
Jerami
Fermentasi
10,5 31,47 3,30
Lemosin (321 Kg) Konsentrat 8 69,34 5,55
Jerami
Fermentasi
4,5 31,47 1,42
Lemosin (415 Kg) Konsentrat 12 69,34 8,95
Jerami 7,5 31,47 2,36
119

Fermentasi
Brangus (483 Kg) Konsentrat 12 69,34 8,95
Jerami
Fermentasi
7,7 31,47 2,36
Keterangan : *) Jumlah pemberian pakan (kgBK) sama dengan jumlah yang
diberikan (kg, as fed).
**) Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak
Fakultas Peternakan UNDIP (2008)

Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui jumlah pemberian pakan berdasarkan
bobot badan (%BB) dari masing masing jenis sapi seperti terlihat pada
tabel 9 sebagai berikut :

Tabel 9. Pemberian pakan berdasarkan bobot badan sapi (% BB) di CV.
Sumber Baja Perkasa.
Jenis sapi BB Sapi( kg ) Jumlah pakan
yg diberikan ( kg BK )
% BB sapi
PO 413 10,68 2,58
PFH 347 6,97 2,00
PFH 447 10,68 2,38
Simmental 440 10.68 2,42
Simental 782 14,39 1,84
Limosin 321 6,97 2,17
Limosin 415 10,68 2,57
Brangus 483 10,68 2,21
Sumber data : Hasil perhitungan berdasarkan tabel 8.

Kemampuan sapi dalam mengonsumsi ransum diukur dalam bentuk
bahan kering. Semakin tinggi bobot badan sapi akan semakin menurun
persentase kemampuannya mengonsumsi bahan kering ransum. Pada
usaha penggemukan sapi potong di CV. Sumber Baja Perkasa pemberiaan
pakannya sudah cukup karena diberikan sebesar 2%-3% BB sapi. Dari
beberapa sapi dapat diketahui bahwa rata rata pemberian pakan sudah
sesuai % dari berat badan sapi,hanya ada satu yang maseh kurang sedikit
pemberian pakannya yaitu sapi simental dengan bobot badan 782 kg.

4. Frekuensi Pemberian Pakan

Pemberian pakan di CV. Sumber baja perkasa yaitu pada pagi hari pukul
08.00 pemberian konsentrat. Setelah konsentrat habis kemudian di beri
singkong yang yang sudah dipotong potong sekitar pukul 09.00. Jerami
120

fermentasi diberikan setelah kira-kira 2 jam setelah pemberian
konsentrat. Kemudian pemberian konsentrat yang kedua pada pukul
14.30. Kemudian yang terakhir diberikan hijauan berupa rumput gajah dan
jerami fermentasi. Untuk rumput gajah hanya diberikan pada sore hari saja.
Pemberian Konsentrat dan jerami dilakukan dua kali dalam sehari.
Pemberian jerami dalam jumlah banyak pada sore hari bertujuan untuk
menimbulkan rasa kenyang dan memenuhi sumber pakan serat kasar.

Menurut Siregar (2003), sapi yang akan digemukkan dan memperoleh
ransum yang terdiri dari hijauan dan konsentrat harus diatur
pemberiannya agar tercapai hasil yang memuaskan. Pemberian hijauan
pada sapi yang digemukkan sebaiknya dihindari pemberian yang sekaligus
dan dalam jumlah yang banyak. Pemberian yang demikian akan berakibat
pada banyaknya hijauan yang terbuang dan tidak dimakan sapi, sehingga
tidak efisien. Menurut hasil penelitian yang sudah dilakukan bahwa
frekuensi pemberian pakan lebih dari dua kali sehari hasilnya lebih baik
dari pada yang dilakukan dua atau tiga kali sehari. Frekuensi pemberian
pakan semakin sering maka semakin baik, namun dalam jumlah yang sama.
5. Sistem Pemberian Pakan

Teknik pemberian pakan yang baik untuk mencapai pertambahan bobot
badan yang lebih tinggi pada penggemukan sapi potong adalah dengan
mengatur jarak waktu antara pemberian konsentrat dengan hijauan.
Hijauan diberikan sekitar dua jam setelah pemberian konsentrat pada pagi
hari dan dilakukan secara bertahap minimal empat kali dalam sehari
semalam. Frekuensi pemberian hijauan yang lebih sering dilakukan dapat
meningkatkan kemampuan sapi untuk mengkonsumsi ransum dan juga
meningkatkan kecernaan bahan kering hijauan itu sendiri(Cullough, 1973).

6. Pemberian Air Minum

Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum, dimana ketersediaannya
tidak pernah kurang bagi ternak atau secara terus menerus. Air dalam bak
dikontrol setiap saat sehingga air selalu terisi penuh. Pengontrolan dan
pembersihan tempat air minum dilakukan setelah pemberian konsentrat.
Kebutuhan air minum untuk ternak sapi didasarkan pada kebutuhan sapi
itu sendiri. Air minum sebaiknya disediakan sesaat sebelum makan
untuk menghindari terjadinya kembung perut.

Air minum diberikan secara ad libitum, dimana ketersediaannya tidak
pernah kurang bagi ternak. Menurut Akoso (1996) sapi dewasa rata-rata
membutuhkan air minum 20-30 liter setiap hari. Kebutuhan air minum
121

untuk sapi di CV. Sumber baja perkasa terpenuhi karena air minum
diberikan secara ad libitum. Kebutuhan air untuk kebutuhan ternak baik
untuk air minum maupun kebersihan kandang bersumber dari sumur bor
yang kemudiaan ditampung ke dalam bak penampungan air.

7. Pertambahan Berat Badan Harian

Pertambahan bobot badan harian yang berbeda juga dipengaruhi oleh
jumlah konsumsi pakan yang diberikan. Karena pakan yang diberikan
memiliki kandungan nutrien yang berbeda. Selain itu, yang lebih utama lagi
adalah faktor genetik ( kemampuan tubuh dalam mengubah pakan menjadi
produk atau PBB ). Kemampuan sapi ataupun ternak lainnya dalam
mengkonsumsi ransum adalah terbatas. Keterbatasan ini dipengaruhi oleh
banyak faktor yang mencakup ternak itu sendiri, keadaan ransum dan
faktor luar lainnya seperti suhu udara yang tinggi dan kelembapan udara
yang rendah. Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi maka tidak
mungkin mendapatkan angka yang tepat dan akurat untuk menentukan
kemampuaan sapi dalam mengkonsumsi ransum (Siregar, 1999).

Pertambahan bobot badan harian dihitung dari selisih bobot badan akhir
dikurangi bobot badan awal kemudian dibagi dengan lama periode
penggemukan (Rasyaf, 1993). Atau dapat ditulis dengan rumus sebagai
berikut :




Tabel 10 Pertambahan bobot badan harian sapi
No Jenis Sapi Rata-rata
berat awal
Rata-rata
berat akhir
Rata-rata
PBBH
1. PO 413 482 0,50
2. PFH 347 368 0,70
3. PFH 447 478 1,03
4. Simmental 440 471 1,03
5. Simmental 782 807 0,83
6. Limausin 321 347 0,87
7. Limausin 415 444 0,97
8. Brangus 483 501 0,60

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa untuk jenis sapi PO pertambahan
bobot badannya paling sedikit dibandingkan dengan sapi yang yang lain
122

yaitu 0,50 kg/hari. Disebabkan karena untuk jenis sapi PO memiliki
keterbatasan dalam pertambahan bobot badan meskipun dengan
pemberian pakan yang memiliki kandungan nutrien yang baik. Untuk jenis
sapi PFH(3) dan Simental(4) pertumbuhan bobot hariannya paling tinggi
yaitu 1,03 kg/hari. Sedangkan untuk jenis sapi yang lainnya memeliki
pertambahan bobot harian antara 0,60 0,90 kg/hari. Pertambahan
bobot badan harian yang berbeda ipengaruhi oleh jumlah konsumsi pakan
yang diberikan. Selain itu, yang lebih utama lagi adalah faktor genetik.
Kemampuan sapi ataupun ternak lainnya dalam mengkonsumsi ransum
adalah terbatas. Keterbatasan ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang
mencakup ternak itu sendiri, keadaan ransum dan faktor luar lainnya
seperti suhu udara yang tinggi dan kelembapan udara yang rendah. Karena
banyaknya faktor yang mempengaruhi maka tidak mungkin mendapatkan
pertumbuhan bobot harian yang sama.
8. Konversi Pakan

Konversi pakan dihitung dengan dengan cara membagi jumlah komsumsi
pakan dengan pertambahan bobot badan harian (Siregar, 1994).

Konversi Pakan = Konsumsi Pakan
PBBH
Konversi pakan untuk semua jenis sapi yang ada di CV. Sumber Baja
Perkasa dapat dilihat dari tabel. 8 sebagai berikut :
No Jenis Sapi Berat Badan Konsumsi
Pakan BK
Rat-rata
PBBH
Konversi
Pakan
1. PO 413 10,68 0,50 21,3
2. PFH 347 6,97 0,70 9,9
3. PFH 447 10,68 1,03 10,3
4. Simmental 440 10,68 1,03 10,3
5. Simmental 782 14,39 0,83 17,3
6. Limausin 321 6,97 0,87 8
7. Limausin 415 10 0.97 11
8. Brangus 483 10 0,60 18

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa untuk jenis sapi PO dan brangus
konversi pakannya paling tinggi. Untuk jenis PFH, Simmental dan Limousin
konversi pakannya paling sedikit, yang berarti lebih efisien dalam
memanfaatkan pakan yang dikonsumsi dan relatif lebih menguntungkan
dibandingkan dengan jenis sapi PO dan Brangus. Semakin kecil angka
konversi pakan maka semakin sedikit pula pakan yang dibutuhkan oleh
ternak untuk menghasilkan pertambahan berat badan.
123


9. Feed Cost Per Gain

Feed cost per gain diperoleh dengan cara menghitung jumlah biaya
pakan yang diperlukan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan
(Wodzicka et al., 1993). Feed cost per gain dihitung berdasarkan pada
harga pakan saat pelaksanaan kegiatan magang yang dikeluarkan setiap
hari dibagi dengan rerata pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Atau
dapat ditulis dengan rumus sebagai berikut :

Untuk perhitungan feed cost per gain dapat dilihat pada tabel 12 berikut:
Tabel 12. Feed Cost Per Gain

No Jenis Sapi Berat
Badan
Konsumsi
Pakan
(BK)/hari
Harga
Pakan/Kg
PBBH Feed
Cost
per
gain
1. PO 413 10,68 1,686 0,50 36,012
2. PFH 347 6,97 1,686 0,70 16,787
3. PFH 447 10,68 1,686 1,03 17,482
4. Simmental 440 10,68 1,686 1,03 17,482
5. Simmental 782 14,39 1,686 0,83 28,700
6. Limausin 321 6,97 1,686 0,87 13,507
7. Limausin 415 10,68 1,686 0,97 18,563
8. Brangus 483 10,68 1,686 0,60 30,010

Dari hasil perhitungan (tabel. 12) menunjukkan bahwa feed cost per gain
untuk sapi PO paling tinggi bila dibandingkan dengan jenis sapi sapi
yang lainnya. Nurdin (2000) cit Sugiharto, et al., (2004) menyatakan
bahwa nilai feed cost per gain erat kaitannya dengan menurunnya nilai
konversi pakan. Semakin rendah konversi pakan, maka semakin rendah
biaya yang harus dikeluarkan untuk pertambahan bobot badan.

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil magang di peternakan CV. Sumber Baja Perkasa dapat
disimpulkan, bahwa pada dasarnya manajemen penggemukan sapi potong
di CV. Sumber Baja Perkasa sudah cukup baik.. Hal ini terlihat dari beberapa
kegiatan yang dijalankan diantaranya sebagai berikut:

124

1. Pengadaan sapi bakalan sudah mempunyai langganan pedagang sapi
dari daerah Boyolali, Kalioso, Sumber Lawang dan Bayat, dengan jenis
bakalan seperti sapi Simmental, Limousin, Peranakan Friesian Holstein
(PFH), Peranakan Ongole (PO) dan Brangus.
2. Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu konsentrat pada
pukul 08.00
3. WIB dan pada pukul 14.00 WIB sedangkan untuk hijauan pada pukul
10.00 WIB dan 15.00 WIB dengan imbangan konsentrat dan hijauan
(dalam BK) dalam ransum adalah 70% dan 30% .
4. Untuk jenis sapi PO memiliki pertambahan bobot badan paling sedikit
dibandingkan jenis sapi yang lain. Peternakan sapi CV. Sumber Baja
Perkasa memelihara sapi PO dalam jumlah banyak hanya pada saat
mendekati lebaran haji.
5. 4. Penyakit yang sering muncul di peternakan CV. Sumber Baja
Perkasa adalah luka dan kudis yang penanganannya dengan diberikan
obat Gusanex dan obat Ivervet, sedangkan untuk menambah nafsu
makan dan cacingan penanganannya yaitu dengan diberikan vitamin
B-kompleks dan obat Kalbazen- C.
6. Pemasaran dengan menggunakan sistem tafsiran (jogrokan) dan
timbangan berat hidup. Super Visor di Peternakan sapi CV. Sumber
Baja Perkasa mengatakan bahwa lebih menguntungkan bila
menggunakan system jogrokan karena penafsiran tidak seakurat
timbangan.


B. Saran
1. Pelaksanaan recording atau pencatatan sebaiknya lebih lengkap dan
teratur agar mudah melakukan evaluasi.
2. 2. Sebaiknya selalu memantau perkembangan harga sapi di pasaran
sehingga pada saat
3. penjualan sapi tidak tertipu oleh pembeli.
4. sebaiknya membuat kandang karantina karena disana tidak ada
kandang karantina hanya dibiasakan dengan kondisi kandang atau
lingkungan setempat dan pakan yang diberikan. Padahal sebaiknya
sapi yang baru saja datang di tempatkan di kandang karantina terlebih
dahulu hal ini untuk mengantisipasi terjadinya penularan bibit
penyakit yang dibawa sapi ini.





125

Biogas adalah gas yang
dihasilkan dari proses
penguraian bahan-
bahan organik oleh
mikroorganisme pada
kondisi langka oksigen
(anaerob). Komponen
biogas antara lain
sebagai berikut : 60
% CH4(metana), 38
% CO2 (karbon
dioksida) dan 2 %
N2, O2, H2, & H2S.
Biogas dapat dibakar
seperti elpiji, dalam
skala besar biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik,
sehingga dapat dijadikan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan
dan terbarukan. Sumber energi Biogas yang utama yaitu kotoran ternak
Sapi, Kerbau, Babi dan Kuda. Kesetaraan biogas dengan sumber energi lain
1 m3 Biogas setara dengan :

Tabel kesetaraan biogas dengan sumber bahan bakar lain
Bahan Bakar Jumlah
Elpiji 0.46 kg
Minyak tanah 0,62 liter
Minyak solar 0,52 liter
Bensin 0,80 liter
Gas kota 1,50 m3
Kayu bakar 3,50 kg

Di negara Cina Sejak tahun 1975 "biogas for every household". Pada tahun
1992, 5 juta rumah tangga di China menggunakan biogas. Reaktor biogas
yang banyak digunakan adalah model sumur tembok dengan bahan baku
kotoran ternak & manusia serta limbah pertanian. Kemudian di negara
India Dikembangkan sejak tahun 1981 melalui "The National Project on
Biogas Development" oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional.
Tahun 1999, 3 juta rumah tangga menggunakan biogas. Reaktor biogas
yang digunakan model sumur tembok dan dengan drum serta dengan
bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian. Dan yang terakhir negara
Indonesia Mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an, pada tahun 1981
melalui Proyek Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari FAO
126

dibangun contoh instalasi biogas di beberapa provinsi. Penggunaan biogas
belum cukup berkembang luas antara lain disebabkan oleh karena masih
relatif murahnya harga BBM yang disubsidi, sementara teknologi yang
diperkenalkan selama ini masih memerlukan biaya yang cukup tinggi
karena berupa konstruksi beton dengan ukuran yang cukup besar. Mulai
tahun 2000-an telah dikembangkan reaktor biogas skala kecil (rumah
tangga) dengan konstruksi sederhana, terbuat dari plastik secara siap
pasang (knockdown) dan dengan harga yang relatif murah. Manfaat energi
biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar khususnya minyak tanah dan
dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan pengganti bahan
bakar minyak (bensin, solar).

Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi
listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa
kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik
pada tanaman / budidaya pertanian. Potensi pengembangan Biogas di
Indonesia masih cukup besar. Hal tersebut mengingat cukup banyaknya
populasi sapi, kerbau dan kuda, yaitu 11 juta ekor sapi, 3 juta ekor kerbau
dan 500 ribu ekor kuda pada tahun 2005. Setiap 1 ekor ternak sapi/kerbau
dapat dihasilkan + 2 m3 biogas per hari. Potensi ekonomis Biogas adalah
sangat besar, hal tersebut mengingat bahwa 1 m3 biogas dapat digunakan
setara dengan 0,62 liter minyak tanah. Di samping itu pupuk organik yang
dihasilkan dari proses produksi biogas sudah tentu mempunyai nilai
ekonomis yang tidak kecil pula.

Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar khususnya
minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan
pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar). Dalam skala besar, biogas
dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari
proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat
langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya
pertanian. Potensi pengembangan Biogas di Indonesia masih cukup besar.
Hal tersebut mengingat cukup banyaknya populasi sapi, kerbau dan kuda,
yaitu 11 juta ekor sapi, 3 juta ekor kerbau dan 500 ribu ekor kuda pada
tahun 2005. Setiap 1 ekor ternak sapi/kerbau dapat dihasilkan + 2
m3 biogas per hari.

Potensi ekonomis Biogas adalah sangat besar, hal tersebut mengingat
bahwa 1 m3 biogas dapat digunakan setara dengan 0,62 liter minyak tanah.
Di samping itu pupuk organik yang dihasilkan dari proses produksi biogas
sudah tentu mempunyai nilai ekonomis yang tidak kecil pula.
Alat Dan Bahan Pembuatan Biogas Sederhana.
127

Pada tahap ini dilakukan pembelian peralatan yang dibutuhkan untuk
membuat rektor ini, peralatan tersebut antara lain :
Volume reaktor (plastik) : 300 liter
Besi Siku, Mur & Baut : 10 buah
Kompresor : 1 buah
Pengaman gas (Regulator) : 3 buah
Selang saluran gas : + 10 m
Kebutuhan bahan baku : kotoran ternak dari 2-3 ekor sapi/ kerbau,
atau 6 ekor babi.
Roda : 5 buah
Tabung LPG : 3 tabung ukuran kecil








Rangkaian Elektrik
Pada bagian ini dilakukan pembelian komponen elektronika yang
dibutuhkan untuk membuat rangkaian elektriknya, peralatan tersebut
antara lain :
Solder & Pasta Solder : 2 buah
Cutter : 1 buah
Multi Meter : 1 buah
Bor PCB : 1 buah
Gunting : 1 buah
Tang Potong : 1 buah
Penyedot Timah : 1 buah
Timah : 5 buah











128



Pemasangan Reaktor Biogas Serta Pembuatan Rangkaian Elektrik. Pada
pemasangan reaktor biogas dan pembuatan rangkaian elektrik ini adapun
langkah langkahnya antara lain sebagai berikut :
Pembuatan reaktor, menggunakan plastik penampung air (tandon air
dengan kapasitas 300 liter)
Pembuatan meja tabung plastik : panjang = 2 m, lebar = 1,2m.
Kotoran sapi (fases) awal sebanyak 12 karung kantong semen atau
karung seukurannya (12 kantong semen = 240 lt). Persiapan awal ini
untuk mempercepat produksi gas yang siap untuk digunakan.
Drum untuk tempat pencampuran kotoran (fases) dengan air (1:1)
masing 1 buah (120 liter)
Merangkai rangkaian power suplly (catu daya) 5V, 12V dan 24V
Merangkai rangkaian sensor serta rangkaian SC (signal conditioning)
Merangkai rangkaian driver relay dan driver motor.
Merangkai rangkaian mikrokontoller ATMEGA8535 serta rangkaian
downloadernya.
Membuat Software untuk di displaykan pada PC (Personal Computer)

Adapun cara cara mengoprasikan reaktor biogas ini antara lain sebagai
berikut :
Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1 : 1
(bahan biogas)
Masukkan bahan biogas ke dalam reaktor melalui tempat pengisian
sebanyak 240 liter, selanjutnya akan berlangsung proses produksi
biogas di dalam reaktor.
Setelah kurang lebih 10 hari reaktor biogas dan penampung biogas
akan terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang
dihasilkan. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Sekali-sekali reaktor biogas digoyangkan supaya terjadi penguraian
yang sempurna dan gas yang terbentuk di bagian bawah naik ke atas,
lakukan juga pada setiap pengisian reaktor.

Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu
sebanyak + 40 liter setiap pagi dan sore hari. Sisa pengolahan bahan biogas
berupa sludge (lumpur) akan keluar dari reaktor setiap kali dilakukan
pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas tersebut dapat
digunakan langsung sebagai pupuk organik, baik dalam keadaan basah
maupun kering.


129


Berikut ini merupakan
cara untuk merawat
dan memelihara
reaktor biogas antara
lain sebagai berikut :
Apabila reaktor
tampak
mengencang dan
indikator pada
pressure gauge
mengalami
perubahan hal ini
di karenakan
adanya gas tetapi
gas tidak mengisi penampung gas, maka luruskan selang dari
pengaman gas sampai reaktor, karena uap air yang ada di dalam
selang dapat menghambat gas mengalir ke penampung gas. Lakukan
hal tersebut sebagai pengecekan rutin.
Cegah air masuk ke dalam reaktor dengan menutup tempat pengisian
disaat tidak ada pengisian reaktor. Serta dilakukan pengecekan rutin
jika kandungan air di dalam reaktor berlebih.

11.2
CARA MEMBUAT BIOGAS DARI KOTORAN SAPI
Cara Membuat Biogas Dari Kotoran Sapi
Cara Membuat Biogas Dari
Kotoran Sapi. Biogas dari
kotoran sapi diperoleh dari
dekomposisi anaerobik
dengan bantuan
mikroorganisme. Pembuatan
biogas dari kotoran sapi
harus dalam keadaan
anaerobik (tertutup dari
udara bebas) untuk
menghasilkan gas yang
sebagian besar adalah berupa
gas metan (yang memiliki
sifat mudah terbakar) dan
karbon dioksida, gas inilah
yang disebut biogas.

130

Proses fermentasi untuk pembentukan biogas maksimal pada suhu 30-55 C,
dimana pada suhu tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan
bahan organik secara optimal. Hasil perombakan bahan bahan organik oleh
bakteri adalah gas metan seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini:

Berikut adalah komposisi biogas (%) kotoran sapi dan campuran kotoran
ternak dengan sisa pertanian Peralatan Pembuatan Biogas Kotoran Sapi :
Jenis Gas Kotoran Sapi Biogas campuran
kotoran + sisa pertanian
Metan (CH4) 65,7 54 70
Karbon Dioksida (CO2) 27,0 45 57
Nitrogen (N2) 2,3 0,5 3,0
Karbon Monoksida (CO) 0 0,1
Oksigen (O2) 0,1 6,0
Propena (C3Hg) 0,7 -
Hidrogen Sulfida (H2S) - sedikit
Nilai kalor (kkal/m2) 6513 4800 - 6700
a. Bak Penampungan Sementara
Terbuat dari kotak dengan ukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m berguna sebagai
tempat mengencerkan kotoran sapi.

b. Digester
Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester. Digester berfungsi
untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh
bakteri. Jenis digester yang paling banyak digunakan adalah model
continuous feeding dimana pengisian bahan organiknya dilakukan secara
kontinu setiap hari. Besar kecilnya digester tergantung pada kotoran ternak
yamg dihasilkan dan banyaknya biogas yang diinginkan. Lahan yang
diperlukan sekitar 16 m2. Untuk membuat digester diperlukan bahan
bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu koral, bata merah, besi
konstruksi, cat dan pipa prolon.

c. Plastik Penampungan Gas
Terbuat dari bahan plastik tebal berbentuk tabung yang berguna untuk
menampung gas methane yang dihasilkan dari digester. Gas metan
kemudian disalurkan ke kompor gas.

d. Kompor Gas
Berfungsi sebagai alat untuk membakar gas metan untuk menghasilkan api.
Api inilah yang digunakan untuk memasak.

131

e. Bak penampungan Kompos
Bak ini dapat dibuat dengan cara mengali lobang ukuran 2 m x 3 m dengan
kedalaman 1 m sebagai tempat penampungan kompos yang dihasilkan dari
digester.
























11.3 TAHAPAN PEMBUATAN BIOGAS KOTORAN SAPI.
Setelah peralatan digester selesai dipasang maka selanjutnya adalah
tahapan pembuatan biogas dari kotoran sampi dengan cara sebagai berikut:
1. Kotoran sapi dicampur dengan air hingga terbentuk lumpur dengan
perbandingan 1:1 pada bak penampung sementara. Pada saat
pengadukan sampah di buang dari bak penampungan. Pengadukan
dilakukan hingga terbentuk lumpur dari kotoran sapi.
2. Lumpur dari bak penampungan sementara kemudian di alirkan ke
digester. Pada pengisian pertama digester harus di isi sampai penuh.
3. Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak
1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak
5 karung untuk kapasitas digester 3,5 - 5,0 m2. Setelah digester
penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.
132

4. Gas metan sudah mulai di hasilkan pada hari 10 sedangkan pada hari
ke -1 sampai ke - 8 gas yang terbentuk adalah CO2. Pada komposisi
CH4 54% dan CO2 27% maka biogas akan menyala.
5. Pada hari ke -14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk
menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari
ke-14 ini kita sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu
terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi.
6. Digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga
dihasilkan biogas yang optimal.
7. Kompos yang keluar dari digester di tampung di bak penampungan
kompos. Kompos cair di kemas ke dalam deregent sedangkan jika
ingin di kemas dalam karung maka kompos harus di keringkan.

Demikian informasi tentang cara membuat biogas dari kotoran sapi dan
baca juga cara membuat kompos dari kotoran sapi.
11.4 CARA MUDAH MEMBUAT DIGESTER BIOGAS

PENDAHULUAN
Sebagian besar penduduk Indonesia masih
mengandalkan pada sektor pertanian dan
peternakan untuk menggerakkan roda
perekonomian. Tanpa disadari, produk-
produk pertanian dan peternakan
tersebut menghasilkan hasil sampingan
yang belum banyak mendapatkan
perhatian, bahkan dianggap sebagai
sampah yang tidak dimanfaatkan. Pada
umumnya, limbah tersebut dimanfaatkan
sebagai pupuk kandang. Padahal, dari
limbah pertanian dan peternakan tersebut
dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, yaitu dari biomassa.
Sumber-sumber energi biomassa berasal dari bahan organik. Apabila
biomassa tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, maka energi
tersebut disebut dengan bioenergi. Salah satu bentuk bioenergi adalah
biogas. Salah satu upaya pemanfaatan limbah peternakan adalah dengan
memanfaatkannya untuk menghasilkan bahan bakar dengan menggunakan
teknologi biogas. Teknologi biogas memberikan peluang bagi masyarakat
pedesaan yang memiliki usaha peternakan, baik individual maupun
kelompok, untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari secara mandiri.

133

Teknologi biogas bukanlah teknologi baru. Teknologi ini telah banyak
dimanfaatkan oleh petani peternak di berbagai negara, diantaranya India,
Cina, bahkan Denmark. Teknologi biogas sederhana yang dikembangkan di
Indonesia berfokus pada aplikasi skala kecil/menengah yang dapat
dimanfaatkan masyarakat pertanian yang memiliki ternak sapi 2 20 ekor.
Penerapan teknologi biogas pada daerah yang memiliki peternakan dapat
memberikan keuntungan ekonomis apabila dilakukan perancangan yang
tepat dari segi teknis dan operasionalnya. Perancangan teknis meliputi:
desain biodigester, desain penyaluran gas dan desain tangki penampung.
Perancangan operasional meliputi kemampuan operator untuk memastikan
perawatan fasilitas biogas berjalan rutin dan terpenuhinya suplai bahan
baku biogas setiap harinya.

Potensi biogas di Indonesia cukup melimpah, mengingat peternakan
merupakan salah satu kegiatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat
pertanian. Hampir semua petani memiliki ternak antara lain sapi, kambing,
dan ayam. Bahkan ada yang secara khusus mengembangkan sektor
peternakan. Di antara jenis ternak tersebut, sapi merupakan penghasil
kotoran yang paling besar.

Dalam rangka menjawab tuntutan tersebut, maka kami mencoba untuk
menyusun tulisan sederhana ini. Tulisan ini merupakan buku sederhana
yang semoga dapat menjadi pedoman dan petunjuk dalam merancang dan
membangun biodigester, terutama untuk skala rumah tangga dan
komunitas (peternak dan petani serta masyarakat). Semoga tulisan kecil
yang kami ketengahkan ke hadapan anda semua dapat bermanfaat dalam
pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk kemandirian energi.


11.5 TENTANG BIOGAS DAN BIODIGESTER

Apakah biogas itu? Biogas merupakan gas campuran metana (CH4),
karbondioksida (CO2) dan gas lainnya yang didapat dari hasil penguraian
material organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia, tumbuhan oleh
bakteri pengurai metanogen pada sebuah biodigester. Jadi, Untuk
menghasilkan biogas, dibutuhkan pembangkit biogas yang disebut
biodigester. Proses penguraian material organik terjadi secara anaerob
(tanpa oksigen). Biogas terbentuk pada hari ke 4 5 sesudah biodigester
terisi penuh, dan mencapai puncak pada hari ke 20 25. Biogas yang
dihasilkan oleh biodigester sebagian besar terdiri dari 50 70% metana
(CH4), 30 40% karbondioksida (CO2), dan gas lainnya dalam jumlah kecil.

134

Ada tiga kelompok bakteri yang berperan dalam proses pembentukan
biogas, yaitu:
Kelompok bakteri fermentatif: Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa
jenis Enterobactericeae
Kelompok bakteri asetogenik: Desulfovibrio
Kelompok bakteri metana : Mathanobacterium, Mathanobacillus,
Methanosacaria, dan Methanococcus

Bakteri methanogen secara alami dapat diperoleh dari berbagai sumber
seperti: air bersih, endapan air laut, sapi, kambing, lumpur (sludge) kotoran
anaerob ataupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Selama beberapa
tahun, masyarakat pedesaan di seluruh dunia telah menggunakan
biodigester untuk mengubah limbah pertanian dan peternakan yang
mereka miliki menjadi bahan bakar gas. Pada umumnya, biodigester
dimanfaatkan pada skala rumah tangga. Namun tidak menutup
kemungkinan untuk dimanfaatkan pada skala yang lebih besar (komunitas).
Biodigester mudah untuk dibuat dan diperasikan. Beberapa keuntungan
yang dimiliki oleh biodigester bagi rumah tangga dan komunitas antara
lain:
Mengurangi penggunaan bahan bakar lain (minyak tanah, kayu, dsb) oleh
rumah tangga atau komunitas
Menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi sebagai hasil
sampingan
Menjadi metode pengolahan sampah (raw waste) yang baik dan
mengurangi pembuangan sampah ke lingkungan (aliran air/sungai)
Meningkatkan kualitas udara karena mengurangi asap dan jumlah
karbodioksida akibat pembakaran bahan bakar minyak/kayu bakar
Secara ekonomi, murah dalam instalasi serta menjadi investasi yang
menguntungkan dalam jangka panjang

11.5 BAGAIMANA MEMBUAT BIODIGESTER YANG OPTIMAL
Membuat biodigester gampang-gampang susah. Gampang, karena
konstruksi biodigester yang sangat sederhana. Susah, karena tidak semua
konstruksi biodigester menghasilkan biogas yang diinginkan. Kunci dalam
pembuatan biodigester adalah pada perencanaan yang matang. Dalam
pembangunan biodigester, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan,
yaitu:
Lingkungan abiotis Biodigester harus tetap dijaga dalam keadaan
abiotis (tanpa kontak langsung dengan Oksigen (O2). Udara (O2)
yang memasuki biodigester menyebabkan penurunan produksi
metana, karena bakteri berkembang pada kondisi yang tidak
sepenuhnya anaerob.
135

Temperatur - Secara umum, ada 3 rentang temperatur yang disenangi
oleh bakteri, yaitu: Psicrophilic (suhu 4 20 C) -biasanya untuk
negara-negara subtropics atau beriklim dingin
Mesophilic (suhu 20 40 C)
Thermophilic (suhu 40 60 C) hanya untuk men-digesti material,
bukan untuk menghasilkan biogas

Untuk negara tropis seperti Indonesia, digunakan unheated
digester (digester tanpa pemanasan) untuk kondisi temperatur tanah 20
30 C. Derajat keasaman (pH) Bakteri berkembang dengan baik pada
keadaan yang agak asam (pH antara 6,6 7,0) dan pH tidak boleh di bawah
6,2. Karena itu, kunci utama dalam kesuksesan operasional biodigester
adalah dengan menjaga agar temperatur konstan (tetap) dan input material
sesuai.

Rasio C/N bahan isian Syarat ideal untuk proses digesti adalah C/N = 25
30. Karena itu, untuk mendapatkan produksi biogas yang tinggi, maka
penambangan bahan yang mengandung karbon (C) seperti jerami, atau N
(misalnya: urea) perlu dilakukan untuk mencapai rasio C/N = 25 30.
Berikut tabel yang menunjukkan kadar N dan rasio C/N dari beberapa jenis
bahan organik.

Bahan Organik Rasio C/N Kadar N (%) Kekeringan
Bahan (%)
Kotoran ayam 15 6,3 25
Kotoran kuda 25 2,8 -
Kotoran Sapi - Kerbau 18 1,7 18
Tinja Manusia 6 - 10 5,5 6,5 11
Buangan BPH 2 7 - 10 -
Sampah Kota 54 1,05 -
Jerami jelai 68 1,05 -
Sayuraan 12 3,6 -
Rumput muda 12 4 -

Kebutuhan Nutrisi - Bakteri fermentasi membutuhkan beberapa bahan gizi
tertentu dan sedikit logam. Kekurangan salah satu nutrisi atau bahan logam
yang dibutuhkan dapat memperkecil proses produksi metana. Nutrisi yang
diperlukan antara lain ammonia (NH3) sebagai sumber Nitrogen, nikel (Ni),
tembaga (Cu), dan besi (Fe) dalam jumlah yang sedikit. Selain itu, fosfor
dalam bentuk fosfat (PO4), magnesium (Mg) dan seng (Zn) dalam jumlah
136

yang sedikit juga diperlukan. Tabel berikut adalah kebutuhan nutrisi
bakteri fermentasi.
Bahan Jumlah Kebutuhan
NH4 - N 3,3
PO4 - P 0,1
S 0,33
Ca 0,13
Mg 0,018
Fe 0,023
Ni 0,004
Co 0,003
Zn 0,02

Kadar Bahan Kering Tiap jenis bakteri memiliki nilai kapasitas
kebutuhan air tersendiri. Bila kapasitasnya tepat, maka aktifitas bakteri
juga akan optimal. Proses pembentukan biogas mencapai titik optimum
apabila konsentrasi bahan kering terhadap air adalah 0,26 kg/L.

Pengadukan Pengadukan dilakukan untuk mendapatkan campuran
substrat yang homogen dengan ukuran partikel yang kecil. Pengadukan
selama proses dekomposisi untuk mencegah terjadinya benda-benda
mengapung pada permukaan cairan dan berfungsi mencampur methanogen
dengan substrat. Pengadukan juga memberikan kondisi temperatur yang
seragam dalam biodigester.

Zat Racun (Toxic) Beberapa zat racun yang dapat mengganggu kinerja
biodigester antara lain air sabun, detergen, creolin. Barikut adalah tabel
beberapa zat beracun yang mampu diterima oleh bakteri dalam biodigester
(Sddimension FAO dalam Ginting, 2006)
Penghambat Konsentrasi Penghambat
Sulfat SO4 5000 ppm
Sodium Klorida (NaCI) 40.000 ppm
Nitrat (N) 0,05 mg/ml
Tembaga (Cu2) 100 mg/l
Chrom (Cr3) 200 mg/l
Nikel (Ni) 200 500 mg/l
Natrium (Na) 3500 5500 mg/l
Kalium (K) 2500 4500 mg/l
Kalsium (Ca) 2500 4500 mg/l
Magnesium (Mg) 1000 1500 mg/l
137

Mangan (Mn) Lebih dari 1500 mg/l

Pengaruh starter Starter yang mengandung bakteri metana diperlukan
untuk mempercepat proses fermentasi anaerob. Beberapa jenis starter
antara lain:
Starter alami, yaitu lumpur aktif seperti lumpur kolam ikan, air comberan
atau cairan septic tank, sludge, timbunan kotoran, dan timbunan sampah
organik
Starter semi buatan, yaitu dari fasilitas biodigester dalam stadium aktif
Starter buatan, yaitu bakteri yang dibiakkan secara laboratorium dengan
media buatan

JENIS BIODIGESTER
Pemilihan jenis biodigester disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan pembiayaan/ finansial. Dari segi konstruksi, biodigester
dibedakan menjadi:
Fixed dome Biodigester ini memiliki volume tetap sehingga produksi gas
akan meningkatkan tekanan dalam reactor (biodigester). Karena itu, dalam
konstruksi ini gas yang terbentuk akan segera dialirkan ke pengumpul gas
di luar reaktor.

Floating dome Pada tipe ini terdapat bagian pada konstruksi reaktor yang
bisa bergerak untuk menyesuaikan dengan kenaikan tekanan reaktor.
Pergerakan bagian reaktor ini juga menjadi tanda telah dimulainya
produksi gas dalam reaktor biogas. Pada reaktor jenis ini, pengumpul gas
berada dalam satu kesatuan dengan reaktor tersebut.

Dari segi aliran bahan baku reaktor biogas, biodigester dibedakan menjadi:
Bak (batch) Pada tipe ini, bahan baku reaktor ditempatkan di dalam
wadah (ruang tertentu) dari awal hingga selesainya proses digesti.
Umumnya digunakan pada tahap eksperimen untuk mengetahui potensi
gas dari limbah organik.

Mengalir (continuous) Untuk tipe ini, aliran bahan baku masuk dan residu
keluar pada selang waktu tertentu. Lama bahan baku selama dalam reaktor
disebut waktu retensi hidrolik (hydraulic retention time/HRT). Sementara
dari segi tata letak penempatan biodigester, dibedakan menjadi: Seluruh
biodigester di permukaan tanah Biasanya berasal dari tong-tong bekas
minyak tanah atau aspal. Kelemahan tipe ini adalah volume yang kecil,
sehingga tidak mencukupi untuk kebutuhan sebuah rumah tangga
(keluarga). Kelemahan lain adalah kemampuan material yang rendah untuk
menahan korosi dari biogas yang dihasilkan.
138


Sebagian tangki biodigester di bawah permukaan tanah Biasanya
biodigester ini terbuat dari campuran semen, pasir, kerikil, dan kapur yang
dibentuk seperti sumuran dan ditutup dari plat baja. Volume tangki dapat
diperbesar atau diperkecil sesuai dengan kebutuhan. Kelemahan pada
sistem ini adalah jika ditempatkan pada daerah yang memiliki suhu rendah
(dingin), dingin yang diterima oleh plat baja merambat ke dalam bahan
isian, sehingga menghambat proses produksi.

Seluruh tangki biodigester di bawah permukaan tanah Model ini
merupakan model yang paling popular di Indonesia, dimana seluruh
instalasi biodigester ditanam di dalam tanah dengan konstruksi yang
permanen, yang membuat suhu biodigester stabil dan mendukung
perkembangan bakteri methanogen.


















KOMPONEN BIODIGESTER

Komponen pada biodigester sangat bervariasi, tergantung pada jenis
biodigester yang digunakan. Tetapi, secara umum biodigester terdiri dari
komponen-komponen utama sebagai berikut:
Saluran masuk Slurry (kotoran segar) - Saluran ini digunakan untuk
memasukkan slurry (campuran kotoran ternak dan air) ke dalam reaktor
utama. Pencampuran ini berfungsi untuk memaksimalkan potensi biogas,
memudahkan pengaliran, serta menghindari terbentuknya endapan pada
saluran masuk.
139

Saluran keluar residu Saluran ini digunakan untuk mengeluarkan kotoran
yang telah difermentasi oleh bakteri. Saluran ini bekerja berdasarkan
prinsip kesetimbangan tekanan hidrostatik. Residu yang keluar pertama
kali merupakan slurry masukan yang pertama setelah waktu
retensi. Slurry yang keluar sangat baik untuk pupuk karena mengandung
kadar nutrisi yang tinggi. Katup pengaman tekanan (control valve) Katup
pengaman ini digunakan sebagai pengatur tekanan gas dalam biodigester.
Katup pengaman ini menggunakan prinsip pipa T. Bila tekanan gas dalam
saluran gas lebih tinggi dari kolom air, maka gas akan keluar melalui pipa T,
sehingga tekanan dalam biodigester akan turun.

Sistem pengaduk Pengadukan dilakukan dengan berbagai cara, yaitu
pengadukan mekanis, sirkulasi substrat biodigester, atau sirkulasi ulang
produksi biogas ke atas biodigester menggunakan pompa. Pengadukan ini
bertujuan untuk mengurangi pengendapan dan meningkatkan produktifitas
biodigester karena kondisi substrat yang seragam.

Saluran gas Saluran gas ini disarankan terbuat dari bahan polimer untuk
menghindari korosi. Untuk pembakaran gas pada tungku, pada ujung
saluran pipa bisa disambung dengan pipa baja antikarat.
Tangki penyimpan gas Terdapat dua jenis tangki penyimpan gas, yaitu
tangki bersatu dengan unit reaktor (floating dome) dan terpisah dengan
reaktor (fixed dome). Untuk tangki terpisah, konstruksi dibuat khusus
sehingga tidak bocor dan tekanan yang terdapat dalam tangki seragam,
serta dilengkapi H2S Removal untuk mencegah korosi.

PROSEDUR PERANCANGAN BIODIGESTER















140

Urutan perancangan fasilitas biodigester dimulai dengan perhitungan
volume biodigester, penentuan model biodigester, perancangan tangki
penyimpan dan diakhiri dengan penentuan lokasi.
A. Perhitungan volume biodigester
Perhitungan ini menggunakan data-data:
Jumlah kotoran sapi per hari yang tersedia. Untuk mendapatkan
jumlah kotoran sapi perhari, digunakan persamaan:



dimana n adalah jumlah sapi (ekor), 28 kg/hari adalah jumlah kotoran yang
dihasilkan oleh 1 (satu) ekor sapi dalam sehari.
Komposisi kotoran padat dari kotoran sapi. Komposisi kotoran sapi
terdiri dari 80% kandungan cair dan 20% kandungan padat. Dengan
demikian, untuk menentukan berat kering kotoran sapi adalah:



Perbandingan komposisi kotoran padat dan air. Bahan kering yang
telah diperoleh tadi harus ditambahkan air sebelum masuk
biodigester agar bakteri dapat tumbuh dan berkembang dengan
optimum. Perbandingan komposisi antara bahan kering dengan air
adalah 1:4. Dengan demikian, jumlah air yang ditambahkan adalah:



Hasil perhitungan di atas menunjukkan massa total larutan kotoran padat
(mt)
Waktu penyimpanan (HRT) kotoran sapi dalam biodigester. Waktu
penyimpanan tergantung pada temperatur lingkungan dan
temperatur biodigester. Dengan kondisi tropis seperti Indonesia,
asumsi waktu penyimpanan adalah 30 hari

Dari data-data perhitungan di atas, maka diperoleh volume larutan kotoran
yang dihasilkan adalah sebesar:





dengan t = massa jenis air (1000 kg/m3).
141

Setelah volume larutan kotoran diketahui, maka volume biodigester dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan:





dengan tr = waktu penyimpanan (30 hari).

B. Penentuan Model Biodigester
Penentuan model biodigester didasari oleh beberapa pertimbangan, yaitu:
Jenis tanah yang akan dipakai
Kebutuhan
Biaya
C. Perancangan fasilitas biodigester
D. Penentuan lokasi fasilitas biodigester
CONTOH RENCANA ANGGARAN BIAYA BIODIGESTER

























142

CONTOH MANAJEMEN OPERASIONAL BIODIGESTER
Analisis Energi











Volume digester yang akan dibangun adalah 2 m3, sehingga volume biogas
yang dihasilkan per harinya adalah 7,92 m3 (Note ganti nilainya sesuai
keadaan di lapangan. Nilai ini untuk menghitung minyak tanah yang
tergantikan (dalam liter)). Dari jumlah biogas yang dihasilkan dapat
diketahui jumlah minyak tanah yang dapat terganti oleh biogas setiap
harinya berdasarkan pada kesetaraan nilai kalori biogas dengan minyak
tanah. Tabel diatas adalah tabel Nilai Kalori Beberapa Bahan Bakar (Suyati,
2006). Dari tabel tersebut maka jumlah minyak tanah yang terganti tiap
hari adalah sebagai berikut :





Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi dilakukan untuk mengetahui break event point atau lama
waktu pengembalian biaya investasi awal yang telah dikeluarkan untuk
membangun instalasi biogas.
Pemasukan per tahun
Total produksi biogas per tahun = 365 hari x 4,3 liter x 70% = 1.098,65 liter
minyak tanah
Diasumsikan harga biogas sama dengan harga minyak tanah per liternya
yaitu Rp 2.500. Total pemasukan per tahun = 1.098,65 liter x Rp 2.500/liter
= Rp 2.746.625
Pengeluaran per tahun



143

Tabel diatas adalah pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk
pengoperasian satu unit biogas per tahun.
Waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi awal
Investasi awal = Rp 4.569.000
Keuntungan per tahun = Rp 2.746.625 Rp 1.656.900 = Rp 1.089.725
Maka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan biaya investasi awal
adalah = Rp 5.894.000 / Rp 1.089.725 = 5,4 tahun

PENUTUP
Ditengah semakin melangitnya harga minyak mentah serta bahan bakar
minyak, biogas dapat menjadi alternatif pengganti bahan bakar minyak
untuk keperluan sehari-hari. Biogas merupakan salah satu energi yang
dapat diperbaharui (renewable energy), dengan ketersediaan yang
melimpah dan sangat dekat dengan manusia serta mudah pemanfaatannya.
Semoga, tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya
dalam rangka kemandirian energi rakyat serta menjamin ketersediaan
energi dengan murah.

Tulisan singkat ini tidak lepas dari segala macam keterbatasan dan
kekurangan. Karena itu, kami mohon kritik, saran, dan masukan kepada
kami agar buku ini lebih sempurna dan bermanfaat. Kritik, saran, maupun
masukan dapat dialamatkan kepada kami melalui email:
kamase.care[AT]gmail.com



















144

Pada bab ini dibahas analisis
usaha budi daya singkong
gajah dan budi daya sapi
potong beserta usaha
turunannya, seperti analisis
usaha bioetanol, analisis
usaha biogas dan stserusnya.

1. ANALISA USAHA BUDI DAYA SINGKONG GAJAH

Singkong sejauh ini masih dipandang sebelah mata. Namun dengan
singkong mata siapa saja bisa terbelalak lebar, karena ternyata singkong
mampu menghasilkan puluhan juta rupiah per bulan. Almarhum Arie
Wibowo di tahun 1980-an menggubah sebuah lagu pop yang dia beri judul
Anak Singkong. Dalam lirik-liriknya yang bernada jenaka, lagu itu
menggambarkan keterpurukan singkong dibandingkan dengan keju. Ya,
singkong memang selalu dipandang remeh. Tapi, jika saja Arie Wibowo
masih segar bugar saat ini dan mengetahui bahwa salah satu varietas
singkong yang asli Indonesia sekaligus hasil penelitian anak negeri sendiri,
tentu dia akan menggubah lagu lain yang merupakan kebalikan dari Anak
Singkong.

Tanaman singkong sangat mudah tumbuh di bumi Indonesia dari Sabang
sampai Merauke, demikian juga kegunaannya sangat beraneka ragam
kebutuhan dari dimakan langsung tanpa dimasak hingga menjadi bahan
olahan dan sekarang digunakan sebagai pengganti terigu dalam bentuk
tepung mocaf. Namun budidaya singkong masih dilakukan secara
traditional, belum maksimal dan masih memakai bibit umum yang memiliki
produksi singkong relative rendah sehingga hasil produksi per batang
tanaman per tahun berkisar antara 3 s.d 5 kg atau dapat dikatakan masih
berada pada kisaran produksi rendah sehingga singkong masih dianggap
sebagai tanaman terpinggirkan yang belum memiliki nilai ekonomis.

Terdapat beberapa singkong varietas unggul merupakan prestasi besar di
dunia tanaman pangan yang diukirkan oleh beberapa pakar singkong
Indonesia. Melalui penelitian serta teknik penanaman super maka
berhasil dikembangkan singkong yang berukuran jumbo bahkan raksasa
bila dibandingkan dengan singkong biasa. Diantara varietas singkong
unggulan kemudian dikenal seperti singkong manggu, singkong dewo,
singkong emas, singkong gajah, singkong darul hidayah dan lain-lain. Dari
berbagai sampel cabutan singkong ungulan tersebut dengan umur antara 9
145

12 bulan memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk
bahkan ada nuansa rasa ketan.

Seperti diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor
singkong (bentuk Chip) hingga Oktober 2012 sebesar 13.300 ton dengan
nilai US$ 3,4 juta atau Rp 32,3 miliar. Situasinya adalah hasil panen
singkong dalam negeri sampai 2012 belum bisa memenuhi kebutuhan
bahan baku industi sehingga masih harus bersusah-susah impor untuk
memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri. Bahkan sampai saat ini
kita masih mengimpor singkong sebesar 3.000 ton seminggu untuk
keperluan industri pangan.
Komoditi singkong sebagai bahan baku industri seperti :
1. Sebagai bahan baku pada industri tepung (gaplek, tapioka dan mocaf),
serta bahan baku pada industri makanan ringan seperti kripik
singkong, roti atau mie instan
2. Sebagai bahan baku sektor energi yakni dijadikan bahan bakar jenis
bio ethanol pengganti bahan bakar fosil. Bio ethanol juga dipakai
dalam industri obat-obatan dan minuman.
3. Singkong dibuat chip yaitu singkong dirajang menjadi potongan kecil-
kecil kemudian dikeringkan, untuk chip ini kita masih mengimpor
untuk indusrti pangan serta bioethanol.
4. Limbah padat dari sisa pembuatan turunan singkong (kripik dan
tepung) yang banyak mengandung selulosa bisa dijadikan bahan
campuran pembuatan pelet ikan/burung, lem, pupuk organik dan lain-
lain.
5. Limbah cair dari sisa pembuatan turunan singkong (khususnya
tepung) bisa dijadikan bahan baku pembuatan natan the cassava atau
untuk industri kimia lainnya

Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek Budi daya singkong gajah
adalah Rp. 124.509.800.000 dengan rincian sebagai berikut:
NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Lahan 2.000 Ha 5.000 100.000.000.000
3. Biaya izin usaha 2.000 Ha 500 10.000.000.000
4. Pengolahan Tanah 2.000 Ha 150 3.000.000.000
5. Pembelian Bibit Singkong 60.000.000 bt 50 3.000.000.000
6. Upah penanaman 2.000 Ha 70.000 140.000.000
7. Pupuk Kandang 20.000 Ton 500 1.000.000.000
8. Upah buruh pemupukan 2.000 Ha 280.000 560.000.000
9. Pupuk Urea dan TSP 800.000 Kg 2.500 2.000.000.000
10. Upah buruh pemupukan 2.000 140.000 280.000.000
146

11. Pembersihan rumput 2.000 Ha 750.000 1.500.000.000
12. Pestisida 2.000 Ha 200.000 400.000.000
13. Biaya Panen 2.000 Ha 750.000 1.500.000.000
Jumlah Biaya Produksi 124.509.800.000
Hasil Produksi 200.000 Kg 700 140.000.000.000
Laba Sebelum Pajak 15.490.200.000
Keuntungan Pembelian Tanah 100.000.000.000
Jumlah Keuntungan 115.490.200.000
Pajak Penjualan 10% 1.549.020.000
Laba bersih Perusahaan 113.941.180.000

Tenaga Kerja yang dibutuhkan
Utuk menjalankan usaha budi daya singkong seluas 2.000 Ha, dibutuhkan
tenaga kerja sebagai berikut:
200 orang Petani Kebun
100 orang Pekerja pengolah hasil panen
10 orang staf administrasi
3 orang supervisor
2 orang staf marketing
2 orang Ir perkebunan
2 orang staf tenaga ahli perkebunan
2 orang manager.

Dengan adanya adanya tehnologi serta peluang seperti disampaikan di atas
maka kami menawarkan anda untuk bekerja sama dalam budidaya
perkebunan singkong yang telah kami tekuni selama 3 tahun. Budidaya
perkebunan singkong ini adalah salah satu jenis usaha yang sangat
prospektif, simple, aman dan sangat menguntungkan dengan keuntungan
minimal mencapai 60% per tahun dan resiko kegagalan sangat minim
bahkan hampir 0 %. Berikut gambaran mengenai Investasi Kerjasama
Budidaya Perkebunan Singkong yang kami kembangkan :

1. Lokasi Kebun
Sebagian besar lahan perkebunan untuk para calon investor terletak di
bahu jalan dan dapat dilalui oleh mobil keluarga. Lokasi berada di daerah
Kota Serang yaitu di Kecamatan Cipocok, Kecamatan Curuk serta di daerah
Kabupaten Serang yaitu Kecamatan Pabuaran, Kecamatan Ciomas,
Kecamatan Padarincang, Kecamatan Mancak. Saat ini kami sedang
melakukan pengembangan perkebunan hingga di daerah Pandeglang
Banten, yakni di Kecamatan Bojong (lokasi kebun berjarak 5 km dari
147

pabrik tepung tapioca modern). Sebagian besar lahan perkebunan
mengunakan sistem sewa berjangka.

2. Bibit Singkong
Bibit Singkong yang kami tanam adalah 2 macam, yaitu:
Bibit kawinan antara Singkong Karet dan Singkong Manggu
Bibit kawinan antara Singkong Karet dan Singkong Kasesa

3. Modal Investasi
Modal Investasi Kerjasama Budidaya Perkebunan Singkong adalah
sebesar Rp. 20.000.000,- per pohon (batang), minimal modal investasi
adalah 22.000.000 batang.
4. Hasil Keuntungan Investasi
Hasil Keuntungan Investasi Kerjasama Budidaya Perkebunan Singkong
adalah sebesar Rp. 5.000,- per pohon (batang) atau setara dengan Rp.
100.000.000.000 (seratus milyar rupiah)
5. Jumlah Tanaman yang ditanam
Jumlah sesungguhnya tanaman yang kami tanam kami lebihkan
minimal 50% dari jumlah milik Investor. Misalnya jika investor
bergabung untuk 5000 tanaman, maka kami menanam sejumlah
minimal 7.500 tanaman. Hal ini untuk mengantisipasi tanaman yang
mati atau rusak akibat hama serta apabila terjadi kegagalan
pencapaian produksi panen (panen tidak mencapai 20 kg per batang
misalnya).

Dengan adanya safety factor ini maka kami dapat memastikan bahwa
investor sangat aman untuk mendapatkan haknya sesuai MOU yang
disepakati bersama, tentunya dengan asumsi tidak terjadi force majeur
(bencana alam) selama masa kerjasama.

6. Bagi Hasil
Pola Bagi Hasil Kerjasama Budidaya Perkebunan Singkong ini adalah:
Untuk Investor (Pemodal) adalah sebesar 50% dari Panen Bersih
Pengelola (Pengarap) sebesar 50% dari Panen Bersih
7. Durasi Kerjasama
Durasi Kerjasama Budidaya Perkebunan Singkong ini adalah selama
12 bulan.
Akte perjanjian kerjasama ditandatangani bersama di hadapan
Notaris di Serang.
8. Pemasaran Hasil Panen
Saat ini kami memproduksi sendiri hasil panen singkong menjadi
berbagai turunannya seperti kripik singkong, gaplek dan tepung.
148

Kami juga adalah salah pemasok singkong segar dan turunannya ke
pasar lokal, industri food, industri feed serta industri bio ethanol di
daerah Banten hingga Lampung.
Para investor yang telah bergabung, kami bebaskan anda untuk memonitor
perkembangan kebun singkongnya kapan saja mulai dari awal pembukaan
lahan sampai penimbangan saat panen raya (terbuka/transparan) tanpa
perlu membuat perjanjian atau menghubungi kami terlebih dahulu,
langsung saja ke kebun anda (on the spot).

Berikut contoh perhitungan satuan paket kerjasama investasi perkebunan
singkong yang kami tawarkan :

Misalnya anda membeli paket minimal 1.000 batang, maka anda adalah
pemodal untuk membudidayakan minimal 1.000 batang tanaman singkong.,
maka modal investasi yang dibutuhkan dalam paket kerjasama ini adalah
sebesar :
1.000 batang x Rp 8.000,- = Rp. 8.000.000,-
Ilustrasi Perhitungan Modal Investasi serta Hasil Investasi adalah sebagai
berikut :

Perhitungan Bagi Hasil adalah sebagai berikut :
Panen Raya (Rp. 750 x 20.000 kg) ............... Rp. 15.000,000,-
149

Modal Investasi (Rp. 8.000 x 1000 batang) ..... Rp. 8.000,000,-

Hasil Panen Kotor ................................... Rp. 7.000,000,-
Biaya Panen (Rp.1000 x 1000 batang) ............. Rp. 1.000,000,-

Hasil Panen Bersih ................................. Rp. 6.000,000,-

(JAMINAN KEUNTUNGAN dari MODAL) Rp. 5.000,- x 1000 batang =
Rp. 5.000,000,-

Bagi Hasil untuk Pengarap atau Pengelola adalah : Rp. 1.000,- x 1000
batang = Rp. 1.000,000,-

Dengan demikian dana yang akan anda terima selang 12 bulan kedepan
terhitung sejak anda menandatangai kerjasama investasi tersebut adalah :

= (Modal Investasi + Jaminan Keuntungan Hasil Investasi)
= Rp. 8.000.000,- + Rp. 5.000.000,- = Rp. 13.000.000,-

Untuk paket di bawah 5000 batang, kami kenai Biaya Pembuatan Akte
Notaris sebesar Rp. 500.000,-

Berikut Tabel Garansi Keuntungan Hasil Investasi berdasarkan Nilai
Investasi yang diinginkan Calon Investor.



150

*) Nilai investasi pada tabel di atas tidak mengikat pada kelipatan 500 batang.
Misalnya, anda ingin berinvestasi sebesar Rp. 10juta, maka investasi anda
equivalen dengan 1.250 batang (Rp. 10juta dibagi Rp.8.000,-), Sehingga
Garansi Keuntungan Hasil Investasinya adalah sebesar 1.250 batang x Rp.
5.000,- = Rp. 6,25juta. Dana yang akan anda terima selang 12 bulan adalah
sebesar Rp. 16,25juta.
Penting :
GARANSI HASIL PANEN dan GARANSI KEUNTUNGAN HASIL INVESTASI
tersebut di atas kami berikan dengan syarat bahwa selama masa kerjasama
joint investasi (durasi 12 bulan) tidak terjadi force majeure yang kriterianya
sudah diatur dalam hukum yang berlaku di Indonesia.

Dari paparan serta analisa di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam
Joint Investasi yang kami tawarkan adalah sebagai berikut :
1. Biaya Investasi per batang adalah sebesar Rp. 8.000,- per batang,
minimal investasi adalah 1.000 batang tanaman, untuk investasi
penanaman di bawah 5000 batang, kami kenai biaya Akte Notaris
sebesar Rp. 500.000,-
2. Jaminan Keuntungan Hasil Investasi adalah sebesar Rp. 5.000,- per
batang.
Jaminan keuntungan yang kami berikan pada investasi ini pun
bukanlah jaminan yang tidak mempunyai kelayakan bisnis. Seperti
yang dipaparkan dalam perhitungan di atas bahwa jaminan
keuntungan dalam investasi ini adalah sebesar 62,5% pertahun
dari modal, berarti perbulan sebesar 5,2 %. Angka ini menurut
kami cukup mempunyai kewajaran bisnis dalam budang
perkebunan khususnya perkebunan singkong.
Keuntungan yang tidak wajar (layak) secara bisnis atau pemberian
keuntungan yang terlalu besar tentunya sangat mengiurkan untuk
investor. Namun pada hakekatnya adalah mengandung tingkat
resiko yang tinggi bagi calon investornya. Karena potensi tidak
tercapainya BEP (Break Even Point) sangat tinggi. Dengan tidak
tercapainya BEP tentunya pihak pengelola akan merugi, otomatis
pihak pengelola tidak mampu memberikan kewajiban untuk para
investornya yang pada akhirnya merugikan para investornya.
3. Perjanjian Kerjasama (MOU) berlaku selama 12 bulan sejak MOU
ditandatangani di hadapan Notaris di Kota Serang.
4. Safety Factor mencapai lebih dari 50%.
Dengan perhitungan analisa biaya serta proyeksi keuntungan yang
memasukkan safety faktor otomatis BEP sudah pasti tercapai
dalam durasi kerjasama ini. Dengan demikian modal investasi anda
akan kembali berikut keuntungannya setelah 12 bulan kedepan.
151

Seluruh Garansi atau Jaminan yang kami berikan sudah terdapat
point safety faktor lebih dari 50%, sehingga apabila terjadi
kegagalan pencapaian hasil produksi panen (panen tidak mencapai
20 kg per batang misalnya) atau penurunan harga jual pada saat
panen maka otomatis sudah terasi dengan adanya safety faktor
tersebut, dengan kata lain investor kami pastikan mendapatkan
haknya sesuai MOU yang disepakati bersama, yakni keamanan
pengembalian modal dan hasil keuntungan tentunya dengan
asumsi tidak terjadi force majeur selama masa kerjasama.
Dengan demikian Investor mendapatkan jaminan keamanan
kerjasama, jaminan modal kembali, jaminan bagi hasil yang halal
dan transparan serta dapat diperpanjang lagi apabila investor
berkenan melanjutkan kerjasama di tahun mendatang.


Demikian proposal joint investasi perkebunan singkong ini kami
sampaikan. Semoga bisa memberikan gambaran bagi anda sebelum
memutuskan untuk bergabung dalam budidaya perkebunan singkong yang
kami kembangkan ini.

Bilamana ada pertanyaan lebih lanjut, anda dapat hubungi kami kembali di
nomor telepon di bawah, Insya Alloh akan kami paparkan apa yang menjadi
ketidakjelasan anda seputar investasi budidaya perkebunan singkong kami.
Semoga bermanfaat, terima kasih..


















152





2. ANALISIS USAHA BIOETANOL

Harga minyak dunia semakin
lama semakin melambung,
minyak bumi (fossil fuel)
adalah bahan bakar yang tidak
dapat diperbaharui, karena
cepat atau lambat pasti akan
habis, kedepannya jika negara-
negara di dunia tidak segera
mengantisipasi kelangkaan
minyak bumi, maka harga
minyak akan naik tinggi sekali.

Saat ini banyak bahan alternatif pengganti minyak bumi, salah satunya
etanol yang terbuat dari singkong, singkong merupakan salah satu sumber
pati, karena pati merupakan senyawa karbohidrat yang komplek.
Penggunaan bahan baku ini bisa digunakan sebagai bahan bakar yang
apabila digunakan di kendaraan bertenaga bensin tanpa perlu modifikasi
mesin maka pembakarannya akan lebih sempurna, asapnya lebih ramah
lingkungan dan tanaman ini dikenal gampang hidup walau hanya ditancap
batangnya ditanah basah tetap akan tumbuh.

Hal ini merupakan peluang usaha yang menarik, apalagi mengingat bahan
baku ubi kayu untuk membuat bioetanol harganya sangat murah dan
mudah didapatkan. Permintaan akan bioetanol semakin hari juga semakin
meningkat, apalagi mengingat perusahaan di Indonesia yang memproduksi
bioetanol belum terlalu banyak. Jadi usaha di bidang ini merupakan usaha
yang bagus untuk dijalani.

Pada umumnya pelaku Usaha Bioetanol tinggal berhitung berapa pundi-
pundi rupiah yang akan Ia dapat dengan menghitung volume Bioetanol
yang Ia miliki. Luar biasa

Dengan semua kelebihan usaha Bioetanol , maka tidaklah heran bila
banyak pelaku usaha baru yang berminat untuk memulai usaha Bioetanol
ini .
153

Di antara berbagai jenis biofuel, bioetanol
tergolong paling mudah diproduksi. Biaya
operasional produksi dan pembuatan
instalasinyapun relatif murah akan tetapi
keuntungan yang didapat dari bisnis biofuel
jenis ini cukup besar. Karena termasuk low
tech, maka bioetanol dapat diproduksi oleh
siapapun dan dimanapun, asal ada
kemudahan akses ke bahan baku. Sebenarnya
masyarakat kita telah lama mengenal teknik
pembuatan bioetanol, khususnya untuk
miras, misalnya ciu, dan arak. Jadi secara
teknologi kita tidak punya masalah atau
sudah menguasai teknik pembuatan
bioetanol sehingga seharusnya kita dapat pula mengembangkan industri
bioetanol bersekala besar maupun kelas UMKM atau home industry.

Analisis SWOT pendirian UMKM Bioetanol
Sebelum mendirikan UMKM atau usaha home industry sebaiknya dilakukan
perencanaan yang matang terlebih dahulu. Sebagai tindakan awal biasanya
pelaku bisnis menjalankan analisis SWOT terhadap usahanya. Analisis
SWOT juga dilakukan setelah bisnis berjalan agar perusahaan dapat tetap
bersaing. Teknik analisis SWOT dapat dianggap sebagai teknik atau metoda
analisis yang paling fundamental, yang bermanfaat untuk melihat suatu
permasalahan bisnis/usaha dari 4 bidang yg berbeda. Hasil analisis
biasanya adalah rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan dan
menambah keuntungan dari peluang yang ada, sambil mengurangi
kekurangan dan menghindari ancaman. Jika digunakan dengan tepat,
analisis SWOT akan membantu kita untuk melihat sisi-sisi yang tidak
terlihat selama ini.

Untuk membantu membedakan apakah suatu hal dikelompokan ke dalam
kekuatan ataukah peluang dapat dilakukan dengan cara melihat asal dari
suatu hal tersebut. Hal penting yang harus diingat selama menggunakan
analisis SWOT adalah semua yang dituliskan harus berdasarkan fakta.
Dalam menganalisis data digunakan teknik deskriptif kualitatif guna
menjawab perumusan permasalahan mengenai apa saja yang menjadi
kekuatan dan kelemahan yang ada pada objek penelitian dan apa saja yang
menjadi peluang dan ancaman dari luar yang harus dihadapinya (Freddy
Rangkuti, 2001). Berikut analisis SWOT yang dapat diterapkan untuk
mengembangkan UMKM atau home industry bioetanol.

154

Kekuatan (Strengths):
Kepakaran yang dimiliki perusahaan
Produk baru atau service yang unik
Lokasi perusahaan yang strategis
Kualitas produk atau proses

Kelemahan (Weaknesses):
Minimalnya pengetahuan pemasaran (marketing)
Produk yang dihasilkan tidak dapat dibedakan dengan produk
pesaing
Letak perusahaan atau institusi terpencil
Mutu produk rendah
Peluang (Opportunities):
Market yang terus berkembang
Penggabungan perusahaan
Munculnya segmen pasar yang baru
Market internasional
Pasar yang kosong karena ketidaksanggupan kompetitor memenuhi
permintaan pelanggan
Ancaman (Threats):
Pesaing baru di segmen pasar yang sama
Persaingan harga dengan pesaing
Pesaing mengeluarkan produk yang lebih bagus kualitasnya
Pesaing menguasai pangsa pasar terbesar

Bioetanol dan Pembuatannya

Bioetanol pada dasarnya adalah etanol atau senyawa alkohol yang
diperoleh melalui proses fermentasi biomassa dengan bantuan
mikroorganisme. Bioetanol yang diperoleh dari hasil fermentasi bisa
memilki berbagai macam kadar. Bioetanol dengan kadar 90-94% disebut
bioetanol tingkat industri. Jika bioetanol yang diperoleh berkadar 94-99,5%
maka disebut dengan bioetanol tingkat netral. Umumnya bioetanol jenis ini
dipakai untuk campuran minuman keras, dan yang terakhir adalah
bioetanol tingkat bahan bakar. Kadar bioetanol tingkat ini sangat tinggi,
minimal 99,5%. Dewan Standarisasi Nasional (DSN) telah menetapkan
Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk bioetanol. Saat ini ada dua jenis SNI
bioetanol, yaitu SNI DT 27-0001-2006 untuk bioetanol terdenaturasi dan
SNI-06-3565-1994 untuk alkohol teknis yang terdiri dari Alkohol Prima
Super, Alkohol Prima I dan Alkohol Prima II. Alkohol Prima Super memiliki
kadar maksimum 96,8 % dan minimum 96,3 %, sedangkan Prima I dan
Prima II minimal 96,1 % dan 95,0 %. Semua diukur pada temperature 15
o
C.
155


Untuk mengkonversi biomassa menjadi bioetanol diperlukan langkah-
langkah sebagai berikut (Gan Thay Kong, 2010)
1. Proses hidrolisis pati menjadi glukosa. Pada langkah ini pati atau
karbohidrat dihancurkan oleh enzim atau asam mineral menjadi
karbohidrat yang lebih sederhana. Jika bahan baku yang digunakan
buah-buahan mengandung gula tidak perlu dilakukan hidrolisis
2. Proses Fermentasi, atau konversi gula menjadi etanol dan CO
2
. Jumlah
dan kadar bioetanol yang dihasilkan sangat tergantung pada proses
ini, oleh karena itu proses ini harus dikontrol sehingga dapat
dihasilkan bioetanol dalam jumlah banyak dan berkadar tinggi.
3. Proses distilasi untuk memisahkan bioetanol dari air sehingga
diperoleh bioetanol dengan kadar 95-96%. Karena titik didih air
berbeda dengan bioetanol, maka kedua komponen tersebut dapat
dipisahkan melalui teknik distilasi.
4. Proses dehidrasi untuk mengeringkan atau menghilangkan sisa air di
dalam bioetanol sehingga tercapai bioetanol dengan kadar lebih dari
99,5% (Fuel Grade Ethanol (FGE))

Bahan baku pembuatan bioetanol (bioetanol generasi pertama) yang
banyak terdapat di Indonesia antara lain singkong atau ubi kayu, jagung,
ubi jalar, dan tebu. Semuanya merupakan biomassa yang kaya karbohidrat
dan berasal dari tanaman penghasil karbohidrat atau pati.

Keunggulan Bioetanol
Bioetanol merupakan zat kimia yang memiliki banyak kegunaan,
misalnya : Sebagai bahan kosmetik, sebagai bahan bakar, sebagai
pelarut, sebagai bahan minuman keras
Penggunaan bioetanol mengurangi emisi gas CO (ramah lingkungan)
secara signifikan, Bioetanol bisa dipakai langsung sebagai BBN atau
dicampurkan ke dalam premium sebagai aditif dengan perbandingan
tertentu (Gasohol atau Gasolin alcohol), jika dicampurkan ke bensin
maka bioetanol bisa meningkatkan angka oktan secara signifikan.
Campuran 10% bioetanol ke dalam bensin akan menaikkan angka
oktan premium menjadi setara dengan pertamax (angka oktan 91),
Production cost bioetanol relatif rendah oleh karena itu bioetanol
dapat dibuat oleh siapa saja termasuk UMKM dan home industry.
Teknologi pembuatan bioetanol tergolong low technology sehingga
masyarakat awam dengan pendidikan terbatas dapat membuat
bioetanol sendiri
Sumber bioetanol, seperti singkong, tebu, buah-buahan dan jagung
mudah dibudidayakan.
156


Instalasi dan nilai investasi

Untuk pembuatan instalasi bioetanol dengan kapasitas produksi 150 L/hari
(kelas UMKM atau home industry), biaya investasi instalasi yang dibutuhkan
diperkirakan sebesar Rp. 123.000.000,- . Biaya ini belum termasuk bahan
baku. Dengan modal dasar Rp.123.000.000,- maka BEP (Break Event Point)
usaha diperkirakan tercapai dalam kurun waktu 7-11 bulan tergantung
fluktuasi harga bahan baku dan nilai jual bioetanol.

Tabel 1. Spesifikasi Instalasi bioetanol berbahan baku ubi kayu/singkong
(Sumber : Dr.Edi Mulyadi, 2011)

NO URAIAN SPESIFIKAS JUMLAH/
UNIT
1. Pemarut/chopper Ubi Kayu 100 Kg/jam (SS304) 1
2. Tangki Sakarifikator 200 L (Galvanes) 6
3. Tangki Hidrolisasi 200 L 6
4. Penyaring/Press Cake D 38 T 120: 100 Mesh 1
5. Kompor LPG Bumer 2
6. Regulator dan Selang Bumer 2
7. Tangki LPG 3 Kg 2
8. Bak akumulator 60 L 3
9. Fermentor 1100 L 6
10. Reflux 11x190 cm SS-304 1
11. Kondensor Multitube 12,120 1
12. Reboiler P80. T40. L150 1
13. Tangki Air Pendingin 1100 L 1
14. Jarigen Produk 20 L 3
15. Pompa Sirkulasi Submersible 1
16. Panel Pengendali Terkontrol 1
17. Alkoholmeter/Tester Kadar Alkohol 1
18. Bak Akumulator 60 L 3
(Sumber Dr.Edy Mulyadi, 2011)

Tabel 2. Perkiraan biaya operasional dan total investasi
Investasi tetap untuk peralatan Rp.123.500.000
Pengeluaran (Bahan, Gaji, Utilitas) selama 30hari
Singkong Rp.11.250.000
No Cook Rp.6.750.000
157

Ragi Rp.960.000
NPK Rp.247.500
Urea Rp.96.000
Gaji 2 sift x 2 orang Rp.7.200.000
Air Rp.75.000
LPG Rp.8.640.000
Listrik Rp.375.000
Total Rp.35.593.500
Penjualan (Pendapatan)
Etanol 150 Liter/Hari 90% up Rp.56.250.000
Laba (Sebelum penghitungan investasi alat) Rp.20.656.500
Perhitungan laba rugi untuk 150 Liter/hari
Investasi tetap untuk peralatan Rp.123.500.000
Modal kerja untuk 1 bulan (30 hari) Rp.35.593.500
Total Investasi Rp.159.093.500

Peluang pasar
Bioetanol merupakan bahan kimia yang ramah lingkungan (green
chemicals, biodegradable, emisi ramah lingkungan) karena dibuat dari
bahan-bahan alam yang edible maupun non edible.Hasil pembakaran
bioetanol menghasilkan CO
2
yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman
sehingga bioetanol sangat menjanjikan sebagai bahan bakar masa depan.
Selain sebagai bahan bakar bioetanol digunakan pula dalam
Industri kosmetika
Industri farmasi dan kesehatan
Rumah tangga dan UMKM (sebagai bahan bakar genset)
Pertanian
Laboratorium penelitian
Bahan baku fine chemicals lainnya seperti bioeter dan biodietilasetat
dan sebagainya
Mengingat manfaatnya dan pasarnya yang luas maka bioetanol sangat
potensial untuk terus dikembangkan di Indonesia baik sekala industri besar
maupun UMKM dan home industry.




158

MENGHITUNG PRODUKSI BIOETANOL
Seringkali kita ingin mengetahui
berapa kira-kira potensi produksi
bioetanol dari suatu bahan baku. Ini
penting, terutama untuk menghitung
kelayakan usaha bioetanol, potensi
produksi, kapasitas produksi, sampai
menentukan berapa kapasitas
distilator, kebutuhan fermentor,
tenaga kerja, dan lain-lain.

FAKTOR KONVERSI GLUKOSA-ETANOL
Fermentasi etanol adalah proses perombakan gula oleh mikroba (bisa
yast/khamir atau bakteri) menjadi etanol.
Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut: C6H12O6 > CH3CH2OH +
CO2
Sedikit kita cerita tentang reaksi kimia. Persamaan reaksi yang telah
disetarakan adalah: C6H12O6 > 2CH3CH2OH + 2CO2
Jadi setiap 1 mol glukosa akan dihasilkan 2 mol etanol. Kita ingat-ingat lagi
pelajaran kimia waktu SMU/SMA dulu. Berat molekul (BM) Glukosa adalah
180,16 gr/mol. BM etanol adalah 46,07 gr/mol.
Jadi kalau kita memfermentasi 1 gr glukosa, etanol yang dihasilkan kurang
lebih adalah = (2 x 46,07)/180,16 = 0,511gr (etanol absolute) Atau bisa
disimpukan faktor konversinya adalah 51%.
Berat jenis etanol pada kondisi standard adalah 0,789 gr/cm3 , sehingga
volumenya adalah= 0,511 gr /(0,789 gr/cm3)= 0,648 cm3
Pada kenyataannya tidak ada atau zulit zekali kita mendapatkan etanol
absolute, apalagi dengan peralatan seadanya. Demikian pula rasanya tidak
mungkin mendapatkan/merecovery 100% etanol yang ada di dalam cairan
fermentasi. Dengan kata lain rasanya mustahil bin mustahal efisiensi
hidrolisisnya mencapai 100%. Kalau kita bisa mendapatkan 95% dari total
etanol saja sudah bagus sekali.
159

Kadar bioetanol maksimal yang bisa diperoleh dari proses distilasi adalah
95%. Seringkali kadarnya hanya 60%, 80%, atau 90%. Kita menghitungnya
berdasarkan kadar etanol yang keluar dari distilator saja.

MENGHITUNG KADAR GULA
Menakar molases sebelum fermentasi
Kini saatnya mulai berhitung. Pertama
yang perlu diketahui adalah kadar gula
atau kadar glukosanya. Data ini menjadi
dasar dari semua perhitungan. Kalau tida
ada yadiperkirakan saja, yang realistis.
Coba cicipi dan perkirakan kadar gulanya.
Sebagai contoh orang jogja kalau membuat
teh manis banget, kadar gulanya kira2
lebih dari 10%.
Sebagai contoh: Kadar gula = 10%
Volume = 100 liter
maka total etanol teoritis yang bisa
diperoleh adalah: = 10% x 100 liter x
0,511= 5,11 kg
Volume etanolnya adalah= 5,1 kg x 0,789 = 4,03 liter.
Karena efisiensi distilasi tidak pernah 100%, maka perlu dikoreksi dengan
efisiensi hidrolisisnya. Misalkan saja 95%. Jadi volume etahnol absolute
yang bisa didapat adalah: = 4,03 liter x 95% = 3,83 liter
Kalau kadar etanolnya 95%, maka volumenya adalah: = (100%/95%) x 3,83
liter = 4,03 liter. Kalau kadar etanolnya 60%, bisa dihitung dengan cara
yang sama: = (100%/60%) x 3,83 litere = 6,38 liter.
MENGHITUNG PERKIRAAN OMZET
Kalau data potensi produksinya sudah
diperoleh, menghitung perkiraan
omzet menjadi lebih mudah. Kita perlu
cari informasi terlebih dahulu berapa
harga pasaran etanol saat ini. Dan juga
tidak kalah penting adalah spesifikasi
160

yang diminta. Misalnya saja etanol untuk pelarut/solvent, etanol untuk
industri farmasi, industri kosmetik, disinfektan, atau biofuel. Sejauh yang
saya tahu, bioethanol untuk fuel adalah yang paling murah, meskipun
kadarnya paling tinggi (99%). Saya tidak tahu berapa harga bioethanol
yang diminta Pertamina saat ini, tetapi info beberapa tahun yang lalu cuma
Rp. 6000/liter. Sedangkan harga etanol untuk industri bisa mencapai Rp.
13.000/liter. Jauh banget ya????!!!! Biar lebih menarik secara ekinomi,
kita ambil yang tertinggi saja, etanol untuk industri.
Omzetnya tinggal kita kalikan potensi produksi dengan harga jualnya.
Masih dengan contoh di atas,
Kadar gula = 10%
Volume = 100 liter
Efisiensi hidrolisis = 95%
Kadar etanol yang dihasilkan = 95%
Harga jual = Rp. 13.000/liter
(catatan: harga ini hanya contoh saja, harga aktualnya harus dicari sendiri)
Cara menghitungnya lihat lagi contoh perhitungan yangdi atas. = Rp. 13.000
x 4,03 liter =Rp. 52.390 per 100 liter cairan fermentasi
Kalikan lagi dengan potensi bahan baku yang tersedia. Atau kapasitas
produksi yang diinginkan.
Bagaimana? Apakah nilainya cukup menarik secara ekonomi? Kalau cukup
prospektif, jangan tunggu lama-lama untuk memulainya.
Bahan baku untuk bioetanol bisa bermacam-macam, bisa nira tebu, nira
kelapa, nira aren, sisa buah-buahan, atau bahan-bahan lain. Dari contoh
perhitunhan di atas kita sudah bisa memperkirakan berapa potensi
produksi bioetanol dari suatu bahan. Kita bisa analisis, apakah usaha ini
cukup layak dikembangkan apa tidak.
MENGHITUNG KAPASITAS PRODUKSI
Kita perlu mencari data terlebih dahulu berapa potensi ketersediaan bahan
baku. Cari data sevalid mungkin, karena ini urusannya dengan duit,
investasi, dan berimbas ke banyak hal.
Agar lebih mudah kita pakai contoh lagi. Misalkan saja di sebuah kebun
pepaya. Potensi buah afkir yang bisa diolah menjadi etanol adalah: = 0.25
ton buah per minggu per ha atau = 2 ton buah per ha per bulan
161

Sari buah yang bisa kita peroleh sekitar 80% dari beratnya, jadi volumenya:
= 2000 kg x 80% = 1600 liter
Andaikan kadar gulanya 10%, efisiensi hidrolisisnya 95%, dan kadar etanol
yang dihasilkan 95%, maka volume etanol yang dihasilkan adalah = 10% x
1600 liter x 0,511 x 0.789 x 95% x (100%/95%)
= 64,408 liter per ha per bulan.
Omzetnya adalah = 64,408 liter x Rp 13.000/liter = Rp. 838.612
Andaikan dalam sebulan ada 25 hari kerja, maka kapasitas pengolahannya
adalah = 64 liter per hektar per hari dan kapasitas produksinya adalah =
2,56 liter etanol per hektar per hari
Andaikan luas kebun di wilayah itu adalah 50 ha, maka kapasitas
produksinya = 2,56 x 50 = 128.16 liter Dan omzetnya = 128,16 liter X Rp.
13.000/liter = Rp. 1.666.080/hari
Nilai yang cukup untuk sebuah produk yang diolah dari limbah. Nilai
keuntungan ini akan semakin melimpah andaikata limbah bioetanol
tersebut diolah menjadi POC yang nilainya bisa 3 x lipat lebih tinggi dari
bioetanol. Catatan volume limbah bioetanol 13 x lipat dari kapasitas
produksinya. Jadi nilai ekonomi POC bisa mencapai 39 kali dari potensi
ekonomi bioetanol.
MENGHITUNG KEBUTUHAN PERALATAN
Masih dengan contoh di atas. Karena kapasitas pengolahannya 1600 liter x
25 hari, maka distilator yang dibutuhkan adalah distilator dengan kapasitas
olahnya 1600 per hari.
Drum fermentor
Volume cairan yang
difermentasi 1600 liter x
25 hari = 40.000 liter,
karena itu kapasitas
fermentornya harus bisa
menampung sebanyak
itu. Karena lama
fermentasi 3 hari, jadi
kapasitas fermentornya
adalah 4800 liter. Kalau
162

pakai drum dengan kapasitas 200 liter berarti perlu 14 drum. Bisa juga
menggunakan tandon air dengan kapasitas 500 liter yang jumlahnya 10
tandon.
Tandon Fermentor
Kebutuhan kebutuhan yang lain,
seperti tangki penampungan, luas
pabrik, tenaga kerja, fasilitas
pengolahan limbah bisa dihitung
sendiri. (Saya sendiri ngak hafal,
maklum bukan lulusan teknik kimia).

Kurang lebih seperti itu cara
menghitung potensi dan kapasitas
produksi bioetanol. Harap maklum kalau kurang lengkap, kurang detail, dan
banyak salahnya. Artikel ini ditulis sambil naik bis Damri Jgj-Mgl dan hanya
bermodalkan ingatan saja. Semoga bermanfaat.
3. ANALISIS USAHA BIOETANOL

Indonesia berpotensi sebagai produsen bioetanol terbesar di dunia.
Menurut Dr Ir Arief Yudiarto, periset di Balai Besar Teknologi Pati, ada 3
kelompok tanaman sumber bioetanol: tanaman mengandung pati, bergula,
dan serat selulosa. Seluruhnya ada di Indonesia, ujarnya.

Salah satu bahan baku yang sohor digunakan di tanah air adalah molase
alias tetes tebu. Limbah pabrik gula itu berkadar gula mencapai 50%. Untuk
menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 4 kg molase. Bahan baku lainnya
adalah singkong. Tanaman itu adaptif di berbagai daerah. Itulah sebabnya
singkong menjadi salah satu pilihan bahan baku. Kerabat euphorbia itu
salah satu sumber pati. Rata-rata kadar pati singkong 28,5%. Untuk
menghasilkan seliter bietanol perlu 6,5 kg singkong. selain itu sagu juga
bisa digunakan sebagai bahan baku bioetanol.

Berikut analisis usaha produksi bioetanol dari kedua bahan baku singkong.

Asumsi:
1. Lahan yang digunakan untuk produksi adalah milik sendiri, bukan
sewa.
2. Umur ekonomis mesin produksi bioetanol 10 tahun.
3. Umur ekonomis zeolit lokal 500 kali pemakaian setara 500 hari.
163

4. Jam kerja produksi 8 jam/hari.
5. Harga jual bioetanol berkadar 99% Rp5.500 per liter.
6. Tingkat suku bunga Bank Indonesia saat perhitungan 8%.
7. Kapasitas produksi 70 liter per hari.
8. Bioetanol yang dihasilkan berkadar 99%.

Bahan baku singkong
Jenis biaya Jumlah harga satuan (Rp) total (Rp)
1. mesin 1 paket 150.000.000 150.000.000
2. zeolit local 2x47kg 1500/kg 141.000
Total 150.141.000
Biaya produksi 455 kg 300/kg 136.500
Enzim alfa amilase 81 g 71.000/kg 9.585
Enzim beta amilase 81 g 77.000/kg 6.237
Ragi 310 g 75.000/kg 23.250
Urea 161g 2000/kg 322
NPK 80 g 3500/kg 280
Minyak tanah 121L 3000/L 36.000
Listrik 10 kwh 650/kwh 6500
Air 4 m3 1000/m3 4000
Tenaga kerja 3 orang 50.000/org/hari 150.000
Biaya penyusutan
mesin
41.096
Biaya penyusutan
zeolit
141
Total biaya produksi per hari 323.911
Biaya produksi per liter 4.627.3
Pendapatan per hari 385.000
Laba per hari 61.089
164

R/C ratio 1,19
Net B/C ratio 19%
Payback period 6,73
Sumber: PT Panca Jaya Raharja dan B2TP BPPT, telah diolah

Dari analisis di atas dapat disimpulkan, dengan tingkat keuntungan 19%,
produksi bioetanol berbahan baku singkong layak diusahakan karena lebih
menguntungkan daripada menyimpan dana di bank dengan tingkat bunga
Bank Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang
ditanamkan untun usaha produksi bioetanol kembali setelah 6 tahun 9
bulan.




























165











































166





B ANALISA USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

Analisa Usaha Penggemukan Sapi
Potong, Sapi potong merupakan
jenis ternak yang mempunyai nilai
jual tinggi diantara ternak ternak
lainnya. Pada umumnya masyarakat
membutuhkan hewan ini untuk
dikonsumsi, karena kandungan
proteinnya yang tinggi. Laju
pertambahan penduduk yang terus
meningkat menuntut ketersediaan
daging yang juga meningkat, oleh
karena itu usaha sapi potong merupakan salah satu usaha yang memiliki
nilai ekonomi tinggi.

Saat ini usaha penggemukan sapi potong biasanya di dominasi oleh
peternak besar maupun kecil. Ada juga beberapa peternak perorangan di
beberapa pedesaan di Indonesia. Masih sangat jarang perorangan di kota
kota besar yang mengalokasikan investasi mereka pada business ini karena
mereka mengganggap bisnis ini awam dan tidak memberikan keuntungan
yang besar, padahal pada kenyataannya bisnis ini tidak terlalu sulit dan
memberikan keuntungan yang cukup besar.

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh peternak tradisional dalam
peternakan sapi adalah produktivitas ternak sapi yang rendah. Salah satu
faktor penyebab rendahnya produktivitas adalah pemilihan pakan ternak
yang tidak sesuai dengan sistem penggemukan sapi modern juga system
kebersihan kandang yang kurang baik.

Analisa Usaha Penggemukan Sapi Potong, Sapi potong merupakan jenis
ternak yang mempunyai nilai jual tinggi diantara ternak ternak lainnya.
Pada umumnya masyarakat membutuhkan hewan ini untuk dikonsumsi,
karena kandungan proteinnya yang tinggi. Laju pertambahan penduduk
yang terus meningkat menuntut ketersediaan daging yang juga meningkat,
oleh karena itu usaha sapi potong merupakan salah satu usaha yang
memiliki nilai ekonomi tinggi.

167

Saat ini usaha penggemukan sapi potong biasanya di dominasi oleh
peternak besar maupun kecil. Ada juga beberapa peternak perorangan di
beberapa pedesaan di Indonesia. Masih sangat jarang perorangan di kota
kota besar yang mengalokasikan investasi mereka pada business ini karena
mereka mengganggap bisnis ini awam dan tidak memberikan keuntungan
yang besar, padahal pada kenyataannya bisnis ini tidak terlalu sulit dan
memberikan keuntungan yang cukup besar.

2.
ASPEK KEUANGAN


Pembahasan mengenai aspek keuangan ini diprioritaskan kepada aspek
budidaya penggemukan. Dalam menentukan layak tidaknya suatu usaha,
perlu diuji dengan beberapa analisis yang sering digunakan. Oleh karena itu
perlu dikaji, apakah usaha penggemukan sapi tersebut layak untuk
dikembangkan dengan catatan bahwa usaha tersebut menggunakan sapi
bakalan yang mempunyai berat badan rata-rata 250 kg.

Parameter teknis yang digunakan dalam menentukan hasil penggemukan
sesuai dengan asumsi dasar yang disajikan dalam tabel dibawah ini.


NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
1 Periode Penggemukan a Hari Kerja Hari 180
b Bulan Bulan 6
c Frekuensi dlm 1 tahun Kali 2
2 Pengadaan Sapi a Sapi yang dibutuhkan 6 bulan 12.000
b Sapi yang dibutuhkan 1 tahun 24.000
c Rata-rata bobot sapi Kg 250
d Harga Sapi Rp/Kg 35.000
3 Tenaga Kerja a Manajemen Orang 10
b Bagian Administrasi Orang
5
c Bagian Lapangan Orang 300
d Gaji Manajemen Bulan/Orang 10.000.000
e Gaji bagian administrasi Bulan/Orang 2.500.000
f Gaji bagian Lapangan Bulan/Orang 1.500.000
4 Lahan a Lahan yang dibutuhkan Ha 2.000
b Harga lahan Rp.5.000 100.000.000.000
5 Penggemukan Sapi a Pertambahan bobot Kg/hari 0,7 kg
b Pertambahan Bobot Kg/6 bulan 180
c Harga Jual Rp/Kg 35.000 kg
6 Pakan a Konsumsi Rumput Kg/hari/ekor 30
b Biaya Rumput Rp/hari/ekor 100
c Konsumsi Konsentrat Kg/hari/ekor 2
d Harga Konsentrat Rp/hari/ekor 1.500
7 Obat-obatan a Vitamin Rp/ekor 6.000
168

b Pengobatan Rp/ekor 6.000
8 Pakan Tambahan Rp/hari/ekor 100

Untuk mengetahui perkembangan usaha peternakan sapi, dapat dilihat dari
laporan arus kas setiap tahunnya, dan dari laporan arus kas tersebut
investor dapat mengambil keputusan untuk menanamkan modalnya pada
usaha ini atau tidak. Dari laporan arus kas juga dapat dilihat besarnya saldo
kas per tahun yang bisa dihasilkan dari usaha ini, apakah besarnya saldo
kas tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh investor atau tidak
(dengan diketahuinya saldo kas, maka investor dapat mengetahui berapa
lama modalnya dapat kembali). Bagaimana trend saldo kas dari tahun ke
tahun, apakah meningkat, stabil, berfluktuasi atau cenderung menurun dan
sebagainya. Adapun proyeksi laporan arus kas usaha penggemukan sapi
dapat dilihat pada tabel (terlampir).

Berdasarkan analisis Payback Period, dapat disimpulkan bahwa modal
dapat dikembalikan seluruhnya dalam waktu 1 tahun.

3. ASPEK PRODUKSI



Lokasi peternakan sapi di rencanakan terletak di atas lahan seluas 2.000 Ha
(20.000.000 M2) yang terletak di Desa Panggarangan, Kecamatan
Panggarangan, Kabupaten Lebak dengan pemanfaatan lahan sebagai
berikut :
200.000 M2 (20 Ha) : untuk bangunan kandang tertutup dan
terbuka
1.780.000 M2 (70 Ha) : untuk lahan tanaman singkong
20.000 M2 (2 Ha) : untuk bangunan kantor, gudang pakan
dan sarana lainya.

Jenis pakan yang diberikan adalah hijauan rumput dan konsentrat dengan
persentase dominan adalah pakan hijauan dengan perbandingan 10
berbanding satu (10:1), mengingat jenis sapi yang di pelihara adalah sapi
bibit yang tujuan akhirnya adalah menghasilkan keturunan sapi yang baik.

Untuk kandang, beberapa hal yang harus di perhatikan diantaranya adalah
desain lay out, kapasitas dan materi bangunan kandang terutama lantai dan
atap kandang. Kesemuanya itu harus di perhatikan dalam rangka
mempermudah alur kegiatan pemeliharaan, mulai dari kedatangan sapi
169

bakalan, kemudahan proses pemberian pakan ternak dan minum sekaligus
menyangkut kemudahan membersihkan kandang, baik dari sisa kotoran,
makanan dan genangan air serta persiapan pengangkutan sapi yang siap di
jual. Kandang yang baik juga harus memberikan kenyamanan sapi bisa
berkembang secara optimal.

Adapun sapi bakalan adalah sapi yang terjamin kesehatannya, berumur 1,5-
2 tahun degan berat badan antara 200-385 kg. Untuk tahap awal,
rencananya akan di usahakan sebanyak 12.000 ekor sapi. Jumlah ini akan di
sesuaikan seiring dengan kebutuhan permintaan pasar di masa yang akan
datang.

Jangka waktu penggemukan sapi ini adalah sekitar 360 hari atau 1 (satu)
tahun dengan hasil produksi 2.000 ekor anak sapi. Untuk tindakan
pencegahan penyakit dilakukan secara serius, terutama dalam bentuk
pemberian vaksinasi pencegahan anthrax, antibiotic, vitamin dan lain-lain.
Selain itu, sanitasi kandang tentu juga perlu diperhatikan. Semua itu perlu
diperhatikan mengingat kesehatan adalah salah satu faktor resiko yang
sangat penting dalam usaha pemeliharaan hewan ternak.

Keberhasilan bisnis penggemukan sapi ini juga tidak terlepas dari dasar
pengetahuan sumber daya manusia mengena sapi. Dalam hal ini,
dibutuhkan pengawas ataupun penanggungjawab yang membawahi
pekerja lapangan (anak kandang) yang bertugas memelihara dan
memenuhi segala keperluan sapi. Demi kelancaran semua kegiatan
tersebut, perlu pembekalan pengetahuan mengenai pemeliharaan sapi.

Kapasitas sapi induk untuk tahap pertama sebanyak 12.000 ekor. Untuk
mengelola 12.000 ekor sapi induk diperlukan tenaga kerja dengan
spesifikasi sebagai berikut :
100 orang peternak untuk mengelola sapi (Induk dan kandang)
100 orang pekerja yang akan menyediakan pakan
10 orang staf administrasi
3 orang supervisor
2 orang staf marketing
2 orang dokter hewan
2 orang staf tenaga ahli peternakan
2 orang manager.



170



4. BIAYA YANG DIPERLUKAN



Biaya yang diperlukan untuk menjalankan proyek penggemukan sapi
potong adalah Rp. 109.335.800.000 dengan rincian sebagai berikut:
NO URAIAN KEGIATAN VOLUME HARGA (Rp)
SATUAN JUMLAH
1. Perencanaan 1 Ls 1% 1.129.800.000
2. Pembelian Bibit sapi 12.000 Ekor 7.000.000 84.000.000.000
3. Pembuatan kandang 60.000 m2 400.000 800.000.000
4. Hijauan Makanan
Ternak (HTM)
21.600.000 Kg 400 8.640.000.000
5. Konsentrat 4.320.000 Kg 1.500 6.480.000.000
6. Pakan Tambahan 6.480.000 Kg 200 1.296.000.000
7. Obat-obatan 1 Ls 60.000 720.000.000
7. Tenaga Kerja 300 orang 500.000 6.000.000.000
8. Tenaga Ahli 3 Orang 10.000.000 180.000.000
9. Bagian Administrasi 2 orang 5.000.000 60.000.000
10. Bagian Keuangan 1 0rang 5.000.000 30.000.000
11. Jumlah Biaya Produksi 109.335.800.000
12. Pendapatan
12.1. Penjualan daging sapi 4.512.000 Kg 35.000 157.920.000.000
12.2 Penjualan Kotoran
sapi
21.600.000 Kg 10 216.000.000
Jumlah Pendapat 158.136.000.000
Jumlah Biaya Produksi 109.335.800.000
Laba Usaha per-panen 48.800.200.000
Laba Usaha dalam satu tahun 97.600.400.000
Pajak Penjualan 10% 9.760.040.000
Laba bersih Perusahaan 87.840.360.000

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh peternak tradisional dalam
peternakan sapi adalah produktivitas ternak sapi yang rendah. Salah satu
faktor penyebab rendahnya produktivitas adalah pemilihan pakan ternak
yang tidak sesuai dengan sistem penggemukan sapi modern juga system
kebersihan kandang yang kurang baik.

Prospek Investasi Sapi PO
Sapi Peranakan Ongole (sapi PO) sering disebut sebagai Sapi Lokal atau
Sapi Jawa atau Sapi Putih. Sapi PO ini merupakan hasil persilangan antara
171

pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina Jawa yang berwarna
putih. Sapi Ongole (Bos Indicus) sebenarnya berasal dari India, termasuk
tipe sapi pekerja dan pedaging yang disebarkan di Indonesia sebagai sapi
Sumba Ongole (SO).
Warna bulu sapi Ongole sendiri adalah putih abu-abu dengan warna hitam
di sekeliling mata, mempunyai gumba dan gelambir yang besar
menggelantung. Saat mencapai umur dewasa, sapi jantan mempunyai berat
badan kurang dari 600 kg dan yang betina kurang dari 450 kg. Bobot hidup
Sapi PO bervariasi, mulai 220 kg hingga mencapai sekitar 600 kg. Saat ini
Sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak disilangkan
dengan sapi Brahman. Oleh karena itu sapi PO sering diartikan sebagai sapi
lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir.

Sesuai dengan induk persilangannya, Sapi PO terkenal sebagai sapi
pedaging dan sapi pekerja. Mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi
terhadap perbedaan kondisi lingkungan, sapi ini juga memiliki tenaga yang
kuat. Aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak,
sedangkan jantannya memiliki kualitas semen yang baik. Keunggulan sapi
PO ini antara lain tahan terhadap panas, terhadap ekto dan endoparasit,
pertumbuhan relatif cepat walaupun adaptasi terhadap pakan kurang, serta
persentase karkas dan kualitas daging baik.

Investasi pada sapi PO kebutuhan hari biasa
Berikut ini contoh analisa usaha budidaya penggemukan sapi :
Asumsi-asumsi :
Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum
dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
Sapi bakalan yang dipelihara sebanyak 6 ekor jenis PO dengan harga
awal Rp. 7.000.000/ekor dan berat badan sekitar 250 kg/ekor
Sapi dipelihara selama 6 bulan dengan penambahan berat badan
sekitar 0,7 kg/ekor/hari
Kandang yang dibutuhkan seluas 30 M
2
dengan biaya Rp. 400.000/M
2

Penyusustan kandang 20 % / tahun dengan demikian penyusutan
untuk satu periode 10 %
Sapi membutuhkan obat-obatan sebesar Rp. 60.000/ekor/periode
Tenaga kerja 1 orang dengan gaji Rp. 500.000/bulan
Peralatan kandang dibutuhkan sebesar Rp 500.000/tahun, dengan
demikian untuk satu periode Rp. 250.000
Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 6.000 kg dengan
harga Rp. 200/kg
Pakan yang diperlukan untuk satu periode
HMT 40 kg x 6 x 180 x Rp.100
172

Konsentrat 3 kg x 6 x 180 x Rp. 1.500
Pakan tambahan 3 kg x 6 x 180 x Rp. 200


A. MODAL USAHA
Biaya Investasi
No Uraian Harga Rp.
1. Pembuatan kandang 30 M
2
x Rp. 400.000 12.000.000
2. Peralatan kandang 500.000
3. Biaya Variabel
3.1 Sapi bakalan 6 x Rp. 7.000.000

42.000.000
3.2 HMT 4.320.000
3.3 Konsentrat 4.860.000
3.4 Pakan Tambahan 648.000
Total Biaya Variabel 51.828.000
4. Biaya Tetap
4.1 Tenaga Kerja 1 orang x 6 x Rp. 500.000 3.000.000
4.2 Penyusustan kandang 10 % x Rp. 12.000.000 1.200.000
4.3 Penyusutan peralatan 250.000
Total Modal Tetap 4.450.000

TOTAL BIAYA PRODUKSI = Rp. 51.828.000 + Rp. 4.450.000 = Rp.
56.278.000
B. PENERIMAAN
Penjualan sapi dan kotoran
Penambahan berat badan 0,7 kg x 180 = 126 kg/ekor/periode dan
berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 376 kg, untuk
berat keseluruhan adalah 6 x 376 kg = 2.256 kg dengan harga Rp.
32.000/kg. jadi uang yang didapat adalah Rp. 72.192.000
Penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000

TOTAL PENERIMAAN = Rp. 72.192.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 73.392.000
KEUNTUNGAN = Rp. 73.392.000 - Rp. 56.278.000 = Rp. 17.114.000
B/C Ratio = Rp. 73.392.000 : Rp. 56.278.000 = 1,3 ( artinya dalam satu
periode produksi dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan
akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 130 )

BEP ( Break Even Point )
1. BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total
= Rp. 56.278.000 : 2.256
173

= Rp. 24.945 / kg
2. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual
= Rp. 56.278.000 : Rp.32.000/kg
= 1.758 kg
Artinya usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor
sapi mencapai berat badan 1.758 kg atau harga jual Rp. 24.945/kg

Investasi pada Sapi PO kebutuhan Hari Raya Qurban / Idul Adha
Untuk Sapi PO patokan harga yang biasanya dipakai adalah harga taksiran,
harga sapi PO pada saat Idul Adha bervariasi mulai dari Rp. 9,000,000 Rp.
15,000,000. Semakin mendekati hari Raya Qurban harga sapi semakin
melambung, selain itu banyak pula beredar sapi yang ditawarkan dengan
harga terlalu tinggi. Untuk hal tersebut kami menawarkan system
pembelian sapi PO kebutuhan hari raya Qurban dengan system booking.
Melalui system booking, konsumen bisa mendapatkan sapi kebutuhan hari
raya Qurban dengan kualitas bermutu dan dengan harga yang lebih murah
dibandingkan dengan membeli pada pedagang umum di hari raya qurban.

Penambahan berat badan 0,7 kg x 180 = 126 kg/ekor/periode dan berat
badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 376 kg, untuk berat
keseluruhan adalah 6 x 376 kg = 2.256 kg dengan harga Rp. 37.000/kg. jadi
uang yang didapat adalah Rp. 83.472.000

Penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000
TOTAL PENERIMAAN = Rp. 83.472.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 84.672.000

KEUNTUNGAN = Rp. 84.672.000 - Rp. 56.278.000 = Rp. 28.394.000
B/C Ratio = Rp. 84.672.000 : Rp. 56.278.000 = 1,5 ( artinya dalam satu
periode produksi dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan
akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 150 )
BEP ( Break Even Point )
1. BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total
= Rp. 56.278.000 : 2.256
= Rp. 24.945 / kg
2. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual
= Rp. 56.278.000 : Rp.35.000/kg
= 1.607 kg
Artinya usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor
sapi mencapai berat badan 1.607 kg atau harga jual Rp. 24.945/kg
Sistem Penjualan Sapi Potong


174

A. Online
Dengan membuat web jual beli sapi potong maka kita akan dengan mudah
distribusikan penjualan sapi dengan alamat
domain http://www.palugadasargi.tk dan hosting di RumahWeb.com
dengan biaya pertahun sebesar Rp. 210.000 /250MB.

Adapun system penjualan di webnya :
1. Pemesanan
Untuk Cara Pemesanan sapi sangat mudah sekali, kami menyediakan dua
metode cara pemesanan sapi :
1. Order langsung via Hp dengan format :
Nama- Kota- Jenis Sapi -Gender Sapi-Berat Sapi-Jumlah Sapi
Contoh : Rudi Jakarta Sapi Bali Jantan 300Kg 10 Ekor
Kami akan kirimkan balasan Stok sapi pesanan anda serta DP Pembelian
sapi 50% yang harus anda transfer.

2. Order via Form
Untuk Metode ke 2 silahkan anda isi Form yang tersedia di bawah ini.
Kami akan kirimkan balasan via Hp/Email berupa stok sapi2 pesanan anda
serta total DP 50% yang harus anda transfer.
*Minimal Pemesanan adalah 10 Ekor untuk dikirim ke Jabodetabek dan 100
ekor untuk luar kota.

2. Pembayaran
Metode Pembayaran di jualbelisapi..com dapat dilakukan dengan :
1. Pembayaran dilakukan dengan transfer via ATM Bersama dari Bank dan
rekening apapun.
2. Pembayaran dilakukan di Lokasi kandang Penjual
3. Pembayaran dilakukan di Lokasi kandang Pembeli

Pembayaran 50% dari total harga harus dilakukan Cash/via Transfer
di awal setelah terjadi perjanjian antara kedua belah pihak, baik
pembayaran di lokasi kandang penjual maupun kandang pembeli
Untuk sisa 50% dari pembayaran harus dilunasi Cash saat sapi telah
diterima di Lokasi kandang pembeli
Transport sepenuhnya dibebankan kepada pembeli dan harus dibayar
diawal 100% sebelum pesanan diantar ke Lokasi pembeli
Transport tidak akan dikembalikan kepada pembeli, jika ternyata
pembeli membatalkan pesanannya ditengah perjalanan pengantaran
sapi yang dipesan atau bahkan sapi telah sampai ke lokasi kandang
pembeli.
175

Kami tidak akan memproses pesanan anda, jika anda belum memenuhi
metode pembayaran yang kami tawarkan

3. Pengiriman
Kami akan selalu berusaha secepatnya mengantar pesanan anda saat anda
mengkonfirmasi pembayaran 50% dan Transport yang telah kami infokan.
Maka dihari yang sama atau maksimal 1 hari setelah pembayaran, pesanan
anda akan segera kami antar ke lokasi anda sebagai pembeli. Untuk
pemeliharaan dan penjagaaan sapi dari kandang kami hingga sampai
ketempat anda sebagai pembeli, semua menjadi tanggung jawab penuh
kami, sehingga jika ada sapi yang mati atau terluka saat dalam perjalanan
maka pihak kami yang akan menanggungnya.
Berikut beberapa jasa transportasi yang kami pergunakana :

Mobil Carry barang untuk pengantaran pesanan JABODETABEK, Jawa
Barat dan Jawa Timur yang berkapasitas 3 ekor kebawah.
Mobil Truck FUSO untuk pengantaran pesanan ke area JABODETABEK,
Jawa Barat dan Jawa Timur yang berkapasitas 15-20 ekor.
Kapal Laut Ferry untuk pengantaran Luar Provinsi (Sumatera,
Sulawesi dan Kalimantan) yang berkapasitas maksimal hingga 300
ekor.
Untuk tarif pengiriman tergantung kepada jarak lokasi pengiriman dan
Pemilihan Jasa Transportasi yang digunakan.

B. Blantik Sapi
Salah satu pemasaran sapi PO yaitu dengan blantik sapi. Sistem kami
bekerja sama dengan blantik sapi yang sudah kami percaya karena untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Masih sama seperti sistim
tradisional blantik sapi yaitu kami mematok harga fix untuk setiap sapi dan
blantik sapi akan mengambil untung dari bagaimana kepintaran mereka
dalam negoisasi penjualan sapi kepada pelanggan mereka.

Kesimpulan
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak
potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai
kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran,
industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah
kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta. Maka dari itu budidaya
sapi PO sangatlah menguntungkan dan akan cepat balik modal apa yang
sudah kita keluarkan untuk budidaya sapi PO.


176


5. ANALISIS USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI DAN PENGOLAHAN
HASIL LIMBAH SEBAGAI PUPUK ORGANIK PADAT DAN CAIR


Sapi Bali sampai saat ini masih
merupakan komoditi unggulan bidang
peternakan di Bali. Walaupun sebagai
komoditi unggulan, sapi Bali memiliki
banyak kelemahan yaitu pertumbuhan
yang relatif lambat. Usaha
penggemukan sapi Bali yang
dilaksanakan pada lahan kering
dicirikan dengan ketersediaan pakan
ternak yang terbatas. Adanya inovasi
teknologi penggemukan sapi Bali pada lahan kering memungkinkan untuk
lebih meningkatkan pertambahan bobot sapi yang akhirnya akan
menambah pendapatan bersih yang diterima petani.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2007 di Kelompok Tani Tunas
Harapan Kita Desa Sanggalangit Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng
sebagai salah satu wilayah Prima Tani yang telah mengembangkan usaha
penggemukan sapi dengan kandang koloni berikut pengolahan limbah
sebagai pupuk organik padat dan cair (Bio Urine). Dalam penerapan inovasi
teknologi tersebut tentunya seiring dengan peningkatan biaya yang
diperlukan. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mengetahui pendapatan
bersih yang diterima petani setelah penerapan inovasi teknologi tersebut.
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif, penentuan sampel secara purposive dan analisis data dengan
analisis parsial usahatani selama satu kali proses produksi (6 bulan)
menggunakan pendekatan dengan rumus perhitungan: Pd = TR TC,
dilanjutkan dengan R/C ratio.

Hasil penelitian menunjukkan usaha penggemukan sapi diperoleh
pendapatan bersih Rp. 7.831.675,- , dari pupuk organik cair (bio urine)
sebanyak Rp. 2,334,138,- serta hasil pupuk padat sebesar Rp. 1,180,313,-.
Jadi dalam periode 6 bulan usahatani penggemukan sapi Bali dan
pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik padat maupun cair,
memberikan pendapatan bersih kepada kelompok tani sebesar Rp.
11.346.125,- dengan R/C sebesar 1,2 yang berindikasi bahwa usaha
tersebut menguntungkan untuk dilakukan.

177

Keberadaan kegiatan Prima Tani yang merupakan kegiatan multi years
memungkinkan melakukan kegiatan pengembangan inovasi teknis maupun
kelembagaan secara bertahap. Salah satu kegiatan dalam mengoptimalkan
sumberdaya lokal adalah pengembangan ternak sapi, dimana terdapat
pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik dalam upaya pemulihan
hara tanah.

Bali pada tahun 1999 memiliki populasi sapi sebanyak 526.013 ekor
(Anonimous, 2000) dan telah menjadi 576.586 ekor atau meningkat 9,6%
di tahun 2004 atau dengan kepadatan 102,36 ekor/km. Dengan kepadatan
tersebut, menempatkan Bali sebagai daerah dengan populasi ternak sapi
terpadat di Indonesia (Anonimous, 2004). Sapi Bali sampai saat ini masih
merupakan komoditi unggulan bidang peternakan di Bali. Walaupun
sebagai komoditi unggulan, sapi Bali memiliki banyak kelemahan yaitu
pertumbuhan yang relatif lambat. Selain kelemahan tersebut sapi Bali
memiliki kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan jenis sapi lainnya
yaitu daya adaptasinya sangat baik dengan lingkungan pemeliharaanya
(Darma, 1997).

Keadaan Umum lahan kering untuk daerah peternakan dicirikan dengan
ketersediaan pakan ternak yang terbatas. Petani pada daerah ini pada
umumnya petani kecil dengan tingkat perekonomian yang lemah dan
tingkat pendidikan yang rendah sehingga sangat berpengaruh terhadap
cara berusahatani ataupun beternak (Suprapto, dkk. 1999).

Keberhasilan dan keberlanjutan dari usaha peternakan skala rumah tangga
untuk lahan kering akan sangat tergantung dari ketersediaan pakan guna
pemenuhan kebutuhan ternak itu sendiri. Menurut Gunawan, dkk (1996),
usaha penggemukan sapi potong memerlukan pakan dengan kwantitas
yang cukup dengan kualitas yang baik secara kontinyu. Pemberian
konsentrat sebagai pakan penguat biasanya dilakukan terbatas oleh petani
yang memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang baik (Kusnadi, dkk.
1993). Akibatnya secara umum produktivitas sapi potong yang dipelihara
petani di pedesaan menjadi rendah. Adanya inovasi teknologi tentunya
akan merubah struktur biaya dalam proses produksi untuk menghasilkan
manfaat yang diinginkan, sehingga perlu dilihat keuntungan ataupun
manfaat dari penerapan inovasi teknologi terutama dalam kegiatan
peternakan penggemukan sapi yang dilakukan di daerah pengkajian.

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. Penelitian dilaksanakan di wilayah kajian Prima Tani Lahan
Kering Dataran Rendah Iklim Kering Kabupaten Buleleng, Kecamatan
178

Gerokgak, Desa Sanggalangit yang ditentukan secara purposive pada
Kelompok Tunas Harapan Kita untuk satu kandang koloni dengan jumlah
sapi penggemukan sebanyak 10 ekor. Penelitian dilaksanakan pada bulan
Februari 2007. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara dengan alat
bantu kuisioner. Analisis usahatani dilakukan secara parsial selama satu
kali prose produksi (6 bulan) menggunakan pendekatan dengan rumus
perhitungan :

Pd = TR TC

TC = TFC + TVC

Keterangan : Pd = Pendapatan bersih ; TR = Total penerimaan ; TC = Total
biaya yang terdiri atas biaya tetap dan biaya tidak tetap ; Py = Harga per
satuan input.

Selanjutnya perhitungan R/C ratio, merupakan perbandingan antara
penerimaan dan biaya yang dikeluarkan (Soekartawi, 2002).

PEMBAHASAN
Di Desa Sanggalangit sejak tahun 2003 telah berkembang kelompok
penggemukan sapi. Penggemukan biasanya dilakukan selama 8 bulan
dengan pakan tambahan berupa dedak padi dengan pakan dasar berupa
hijauan yang ketersediannya sangat tergantung musim. Permasalahan
utama yang dihadapi dalam usaha penggemukan sapi adalah kesulitan
pakan di musim kering. Untuk itu perlu kiranya dalam usaha penggemukan
sapi Bali direncanakan dengan melihat kalender musim hasil PRA
(Participatory Rural Appraisal) serta data curah hujan yang telah
dilaksanakan sebelumnya dalam hubungannya dengan ketersediaan pakan.

Jenis pakan yang tersedia di kelompok ini sangat bervariasi tergantung
musim, dimana pada bulan-bulan basah produksinya berlimpah sehingga
petani dapat memilih jenis pakan yang dikehendaki. Semua jenis tanaman
pakan ternak produksinya meningkat seiring dengan meningkatnya curah
hujan dan menurun saat curah hujan menurun (Gambar 1). Petani
merasakan pakan sangat melimpah saat MH dan paceklik pakan saat MK.

Pakan yang umum diberikan sapi-sapi di kelompok ini antara lain rumput
lapangan, gamal (Glirisidia sp), lamtoro, limbah jagung, gamelina,
sonokeling, intaran (mimba), rumput kering di bukit, jerami padi (membeli
dari daerah lain), daun kelapa, daun asem, waru, batang pisang, daun
pisang kering dan lainnya. Secara umum di musim kering yang berlangsung
179

antara bulan Juni sampai Nopember peternak sudah mulai kesulitan
mencari pakan ternak. Pada saat MK tersebut waktu yang mereka habiskan
untuk mencari pakan cukup lama karena jarak mencari pakan cukup jauh
(sekitar 3-4 km). Gamelina, Sonokeling, dan Mimba (Intaran) merupakan
tanaman penghijauan di bukit yang dijadikan sumber hijauan di saat MK.
Selain itu, pohon mangga, asem dan tanaman lain pun tidak terlepas dari
pemangkasan untuk pakan di musim kering. Lebih parah lagi ada beberapa
petani mengumpulkan daun bambu kering untuk pakan.

Menurut Yasa, dkk (2006), sapi-sapi di Desa Sanggalangit mengalami lima
bulan krisis pakan yaitu dari bulan Juli sampai Nopember (Tabel 1). Pada
bulan-bulan tersebut, sapi-sapi diberikan pakan seadanya dengan kualitas
(kandungan gizi rendah) dan kwantitas terbatas. Pakan yang diberikan
hampir 70% berupa pakan kering (hay) seperti limbah jagung, rumput
gunung, jerami padi yang dibeli di desa lain, daun pisang kering dan pada
puncak krisis ternak diberikan daun bambu. Untuk pakan segar, hijauan
yang diberikan berupa daun gamal, lamtoro, gamelina, sonokeling, intaran
(mimba), daun kelapa, daun asam, waru, batang pisang bahkan daun
mangga juga diberikan.

Melihat kondisi tersebut (Tabel 1) masa yang tepat untuk pengemukan sapi
Bali adalah mulai dilakukan pada bulan Desember sampai dengan bulan
Juni, sehingga dengan terjaminnya kwalitas maupun kuantitas pakan yang
diberikan pada masa penggemukan diharapkan memberikan pertumbuhan
optimal serta mempercepat periode produksi. Hal ini akan menjadi lebih
efisien baik dari tenaga ataupun biaya lain dibutuhkan dalam proses
produksi. Yasa, dkk (2006) menyatakan bahwa pertambahan bobot sapi
pada bulan Maret sampai Juni, selanjutnya laju pertumbuhannya mulai
menurun dari bulan Juli sampai Agustus. Kondisi ini seiring dengan
menurunnya ketersediaan pakan khususnya untuk hijauan serta kurang
baiknya kondisi lingkungan dengan rendahnya curah hujan pada saat itu.
Memperhatikan kondisi seperti itu, penggemukan sebaiknya diawali pada
bulan Desember selanjutnya dipasarkan pada bulan Mei-Juni tahun
berikutnya. Strategi lain yang dapat dilakukan berupa peningkatan 1)
volume pemberian pakan penguat, namun dengan perhitungan secara
ekonomis terlebih dahulu; 2) memperbesar bobot badan awal sapi yang
akan digemukkan, yakni paling tidak 300 kg supaya waktu pemeliharaan
yang dibutuhkan untuk mencapai bobot potong menjadi lebih singkat (5
bulan); dan 3) meningkatkan sumber pakan hijauan bermutu melalui
penananam hijauan pakan bermutu tahan kering seperti lamtoro yang telah
terbukti berproduksi sepanjang tahun.
180

Dalam mengoptimalkan manfaat kegiatan penggemukan sapi Bali guna
memberi nilai tambah dari investasi yang ditanamkan, berbagai produk
dapat dihasilkan antara lain limbah sapi yang diolah sebagai pupuk organik
padat dan cair (bio urine). Namun dalam proses produksi ikutan tersebut,
perlu infrastruktur pendukung berupa kandang koloni untuk menunjang
Instalasi Produksi Pupuk Organik Cair. Kandang koloni ini khusus
dimanfaatkan untuk sapi penggemukan dan menunjang Instalasi Produksi
Pupuk Organik padat dan cair. Kandang ini dibangun atas kerjasama BPTP
Bali, Bappeda Provinsi Bali dan Kelompok Tani Tunas harapan Kita dengan
biaya Rp. 25.166.500,-

Petani di Desa Sanggalangit secara umum berpendapatan rendah dengan
kepemilikan lahan yang sempit (sekitar 0,5 Ha). Pendapatan yang rendah
ini akan berdampak terhadap daya beli saprodi. Di lain pihak wilayah di
desa ini merupakan lahan kritis yang butuh pupuk dan pupuk kimia
harganya terus mengalami peningkatan. Untuk memecahkan masalah ini,
maka diintroduksikan teknologi pengolahan kotoran ternak untuk
menghasilkan pupuk organik padat dan cair.

Instalasi pupuk cair serta instalasi pengolahan pupuk padat sebagai
pelengkap kandang koloni, dibangun tidak terlepas dari swadaya petani
dengan menghabiskan anggaran senilai Rp. 7.611.000,- per unit. Menurut
Yasa, dkk (2006) berbagai kelebihan diperoleh dari pupuk organik antara
lain : 1) karena bentuknya cair, aplikasinya lebih mudah, karena bisa
dilakukan dengan penyemprotan, dan pada tanaman pohon tidak harus
membuat lubang pada tanah; 2) bahan baku pupuk organik bisa bertambah
tidak hanya dari kotoran (faeces) tapi juga dari kencing ternak; dan 3)
volume penggunaanya lebih hemat dibandingkan pupuk kompos. Untuk
tanaman padi, jika pupuk kompos (padat) perhektar memerlukan 2,5 - 5
ton, maka dengan pupuk cair hanya memerlukan 1,2 ton permusim.

Satu ekor sapi memproduksi rata-rata 5 liter urin setiap hari, sehingga
instalasi bio urin yang berisi 10 ekor sapi menghasilkan pupuk organik cair
sebanyak 500 liter per sekali proses (satu kali proses butuh waktu 10 hari).
Dampak aplikasi pupuk organik ini cukup menggembirakan pada tanaman
bawang merah. Pada proses produksi pupuk organik cair ini, menggunakan
fermentor RB dan Azba produksi BPTP Bali.
Demikian halnya dengan kotoran sapi yang semakin melimpah seiring
dengan meningkatnya populasi sapi di desa ini. Untuk menjadi pupuk
organik siap pakai secara alami membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Untuk
mempercepat proses pengomposan diperlukan fermentor dan tempat
181

fermentasi seperti untuk menghindarkan kompos yang dihasilkan terkena
air hujan dan terkena sinar matahari langsung.

Penggemukan di daerah pengkajian dilaksanakan selama 6 bulan yaitu dari
bulan Januari sampai akhir Juni 2006, sapi yang diberikan pakan dasar
hijauan segar dan kering secara ad libitum dengan tambahan pakan
penguat berupa dedak padi sebanyak 2 kg/ekor; di tambah feed aditif
berupa probiotik Bio Cas 5 ml per ekor per hari. Probiotik Bio-Cas
merupakan cairan berwarna coklat hasil pengembangan BPTP Bali.
Mikroorganisme ini dilaporkan mampu menguraikan bahan organik
kompleks dalam pakan menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah
diserap oleh saluran pencernaan. Sapi yang digemukkan berumur antara
1,5 sampai 2 tahun dengan bobot awal rata-rata 254,7 kg. Sejalan dengan
periode penggemukan yang sesuai di daerah pengkajian, bobot akhir sapi
penggemukan selama 6 bulan pemeliharaan mencapai rata-rata 364,5 kg
dengan kenaikan bobot per hari mencapai 0,61 kg. Hal ini sudah dapat
meningkatkan bobot badan sapi untuk pemeliharaan di lahan marginal
yang menurut Saka (1990), dengan pola pemeliharaan secara tradisional,
tambahan bobot badan sapi Bali rata-rata 280 gram/ekor/hari.
Keberhasilan peningkatan bobot badan tersebut disertai pula dengan
peningkatan biaya diperlukan dalam proses produksi, sehingga lebih lanjut
analisis usahatani penggemukan sapi Bali dengan kandang koloni bersama
dengan pemanfaatan limbahnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Analisis Usahatani Penggemukan Sapi Bali Beserta Produksi Pupuk
Organik Cair dan Padat di Kelompok Tunas Harapan Kita Sanggalangit,
tahun 2006.
No Uraian volume Harga (Rp) Jumla (Rp)
A. Biaya
1. Sarana Produksi
- Sapi Penggemukan 10 Ekor 4.200.000 42.000.000
- Obat-obatan 000
a. Mata 10 Ekor 7.500 75.000
b. Kulit 10 Ekor 20.000 200.000
c. Biocas (1 Ltr/ekor) 10 Ekor 20.000 200.000
d. Dedak (2 kg/ekor/hari) 3650 Ekor 1.200 4.380.000
e. Kandang koloni 1 Unit 1.258.325 1.258.325
2. Tenaga Kerja 000
182

- Mencari Pakan/HMT dan
membersihkan kandang
182.5 Hok 23.000 4.197.500
3. Pembuatan Bio-rine 000
- Penyusutan Alat (usia
ekonomi 10 th)
1 unit 7.611.000 380.550
- Bahan lain 000
a. Asetobacter (1 ltr utk 400
ltr urine)
182.5 Liter 25.000 570.313
b. Rummino Bacillus (0,5 ltr
utk 400 ltr)
11.41 Liter 20.000 228.125
c. Tenaga kerja 22.81 Hok 23.000 1.049.375
4. Fermentasi pupuk
kandang
000
Fermentor Rummino
Bacillus (1 Ltr RB utk 1500
kg feces)
6 Kg 20.000 120.000
Tenaga kerja 22.81 Hok 23.000 524.688
B. Produksi/penjualan
- Sapi Jantan 10 Ekor 6.014.250 60.142.500
- Total Biaya 52.310.825
Pendapatan Bersih Ternak Sapi 7.831.675
2. Bio-urine (5 ltr/hari/ekor) 9125 Liter 500 4.562.500
Total Biaya 2.228.363
Pendapatan Bersih Bio-urine 2.334.138
3. Pupuk kandang(5
Kg/hari/ekor)
9125 Kg 200 1.825.000
Total Biaya 644.688
Pendapatan Bersih Pupuk Kandang 1.180.313
C. Total Pendapatan Bersih 11.346.125
D. R/C 1,2
Sumber : Data primer diolah
183

Biaya-biaya yang diperhitungkan dari analisis ini antara lain : 1) biaya
pembuatan kandang koloni serta instalasi pendukung pembuatan pupuk
organik padat dan cair (infrastruktur); 2) dan biaya dalam proses produksi
meliputi penggemukan sapi, pembuatan pupuk padat serta pembuatan
pupuk cair termasuk tenaga kerja yang dibutuhkan. Untuk biaya
infrastruktur dihitung rata-rata penyusutan selama usia ekonomis. Tenaga
kerja dalam keluarga diperhitungkan sesuai dengan upah yang berlaku
termasuk konsumsi dan snack diberikan selama bekerja. Harga-harga
satuan juga berdasarkan yang berlaku didaerah pengkajian, seperti harga
penjualan pupuk padat dan pupuk cair yang dihasilkan.

Dari Tabel 2 terlihat penggemukan untuk 10 ekor sapi diperoleh
pendapatan bersih Rp. 7.831.675,-. Dengan produksi urin sebanyak 5 liter
per ekor per hari dan pupuk padat sebanyak 5 kg per ekor per hari
diperoleh pendapatan bersih pupuk organik cair (bio urine) sebanyak Rp.
2,334,138,- serta hasil pupuk padat sebesar Rp. 1,180,313,-. Jadi dalam
periode 6 bulan usahatani penggemukan sapi Bali dan pemanfaatan limbah
ternak sebagai pupuk organik padat maupun cair, memberikan pendapatan
bersih kepada kelompok tani sebesar Rp. 11.346.125,- dengan R/C sebesar
1,2 yang berindikasi bahwa usaha tersebut cukup menguntungkan
dilakukan.

KESIMPULAN
Dari hasil kajian dapat disimpulkan :
1. Inovasi teknologi penggemukan sapi Bali dengan kandang koloni
dapat meningkatkan bobot sapi Bali yang sekaligus memberi nilai
tambah dengan memanfaatkan limbah ternak tersebut sebagai pupuk
organik padat maupun cair.
2. Usaha penggemukan sapi Bali dengan kandang koloni bersama
dengan pemanfaatan limbah, cukup menguntungkan dilaksanakan
dengan memberikan kontribusi pendapatan bersih sebesar Rp.
11.346.125,- dengan R/C sebesar 1,2 sehingga cukup layak untuk
dilanjutkan.









184

6. ANALISA USAHA MEMBUAT PAKAN TERNAK SAPI POTONG
MODERN



kiat usaha beternak sapi. Kali ini kami akan mengulas cara membuat dan
apa saja bahan pakan ternak sapi potong yang baik sehingga hasil ternak
sapi bisa sukses. Semua peternak pasti menginginkan ternaknya sehat,
gemuk, dan berkualitas dengan modal dan bahan seminimal mungkin
sehingga keuntungan lebih bisa didapat. Beberapa peternak mengalami
kesulitan untuk menentukan pakan yang sesuai standar dan komplit nutrisi,
kasus yang sering ditemukan adalah ketidakcocokan pakan yang diberikan
pada sapi yang ditujukan untuk dipotong. Melalui artikel ini, kami mencoba
memberikan penjelasan ringkas dan tepat pada para peternak sehingga
tidak lagi mengalami kesulitan lagi dalam menentukan pakan untuk sapi
peliharaannya agar mendapatkan hasil maksimal.

Bahan pakan sapi potong ini dapat diaplikasikan pada penggemukan semua
sapi potong seperti sapi ongole, sapi bali, dan sapi madura agar daging
konsumsinya banyak dan berkualitas. Perlu diketahui bahwa secara alami
pertambahan berat badan sapi di kisaran 500 gram 1000 gram/ hari.
Namun untuk mewujudkan itu cara pemberian konsentrat hormon
pertumbuhan belum distandarisasi secara resmi oleh dinas peternakan.
Salah satu kendala yang sering dihadapi peternak adalah masalah
keterbatasan pakan. Maka berbagai solusi pakan alternatif yang efektif
untuk penggemukan sapi potong terus diupayakan, beberapa alternatif
yang diperoleh adalah dengan membuat pakan fermentasi dengan media
pakan konsentrat alami yang akan kami bahas langsung pada artikel ini.







Pemberian konsentrat sudah menjadi alternatif penggemukan sapi modern

185

Konsentrat Sebagai Pakan Sapi Potong


Konsentrat merupakan salah satu media pakan yang bisa dibilang wajib
bagi para peternak semua jenis sapi yang mengejar penggemukan sapi
terutama sapi potongnya. Konsentrat juga dikenal sebagai bahan pakan
yang kadar nutrisi protein tinggi dan karbohidrat serta kadar serat kasar
yang rendah (dibawah 18%). Untuk membuat konsentrat yang baik ada
beberapa kombinasi bahan alami/organik yang dapat kita gunakan sebagai
komposisi pembuatan konsentrat yang baik. Bahan-bahan komposisi
konsentrat yang umum digunakan dan mudah didapat antara lain sebagai
berikut
Dedak (bekatul) dengan komposisi 70% atau 75% atau dapat diganti
dengan alternatif berupa batang rumbia yang didalamnya terdapat
sagu rumbia. Penggantian dengan batang rumbia tentu memiliki
alasan tersendiri selain secara ekonomis harga batang rumbia lebih
murah dari bekatul/dedak karena banyak juga dijumpai di hampir
seluruh wilayah Indonesia. Secara kandungan nutrisi batang rumbia
memiliki karbohidrat yang cukup tinggi. Batang rumbia dapat diolah
dengan cara dikupas kulit terluarnya lalu hancurkan batang rumbia
yang telah dikupas dengan mesin atau manual dengan cara dicincang
menjadi ukuran 0.5 cm atau lebih kecil. Terakhir rendam hasil
cincangan dengan air, biarkan selama sehari dan berikan pada sapi.
Jagung giling dengan komposisi 8%-10% sebagai penambah nutrisi
terutama kebutuhan serat dan lemak kasar yang tidak ada pada
dedak. Sehingga apabila jagung giling dan dedak dikombinasikan
akan saling melengkapi.
Bungkil kelapa dengan komposisi 10%-15% atau dapat diganti
bungkil kacang tanah atau kedelai tentunya dengan kandungan
nutrisi yg berbeda-beda. Bungkil kelapa merupakan hasil sisa dari
pembuatan dan pemerasan minyak kelapa yang diperoleh dari daging
kelapa yang telah dikeringkan terlebih dahulu dimana berperan
sebagai sumber protein.
Tepung tulang atau kalsium dengan komposisi 2%-5% sebagai
pelengkap kebutuhan akan mineral terutama kalsium juga sebagai
penambah protein.
186

Garam dapur dengan komposisi sebesar 2% sudah cukup untuk
memenuhi kebutuhan mineral.
Bila diperlukan bisa diberikan tambahan vitamin yang sudah banyak
digunakan sebagai pelengkap kebutuhan micro, tetapi tetap
berpatokan pada dosis yang ditentukan, jangan sampai berlebihan.

Dosis & Kapan Pemberian Konsentrat Pakan Sapi Potong

Dosis yang tepat pemberian pakan konsentrat ini adalah diberikan sebagai
makanan penguat/extra pada ternak sapi potong di samping makanan
pokok yang utama berupa rumput segar dan hijau. Perbandingan
pemberian pakan pokok (hijauan) dan konsentrat untuk pakan
penggemukan sapi adalah antara 30% : 70% atau maksimal 20% : 80%
. Waktu pemberian konsentrat yang baik dilakukan sekali setiap hari pada
pagi hari sebelum diberi makanan utama berupa rumput. Dri hasil
penelitian juga ditemukan bahwa urutan pemberian konsentrat lebih
dahulu sebelum makanan utama (hijauan) lebih efektif untuk
meningkatkan berat badan karena pemberian konsentrat lebih dahulu
bertujuan untuk memberikan energi yang lebih besar kepada mikroba
rumen untuk mencerna makanan pokok (rumput, dsb.) Dengan
menerapkan cara pakan ternak sapi potong seperti ini, bukan tidak
mungkin bobot sapi potong anda akan meningkat dua kali lipat.

Demikian panduan membuat pakan ternak sapi potong modern yang
apabila diterapkan bisa mengangkat berat badan sapi potong anda menjadi
dua kali lipat, sehingga bisnis ternak sapi anda juga berhasil dan
menguntungkan. Jangan lupa juga berdoa pada yang di atas agar ternak
anda sehat selalu. Salam sukses!












187

BAB IV
PENUTUP
Proyek usaha terpadu
Budidaya singkong
gajah dan
penggemukan sapi
potong berdasarkan
hasil analisis usaha
diatas sangat
menguntungkan. Keterpaduan usaha pada lahan yang sama dapat
menghemat biaya pembelian tanah, pengolahan tanah, dan tenaga kerja.

Hasil yang diperoleh dari keterpaduan Budidaya singkong gajah dan
penggemukan sapi potong disamping menghasilkan produksi pokok yaitu
singkong dan daging, juga menghasilkan produk ikutan seperti hijauan
untuk pakan tenak, pupuk kandang, biogas, bioetanol, gaplek, tepung
tapioca, dan banyak usaha ikutan lainnya.

Usaha terpadu Budidaya singkong gajah dan penggemukan sapi potong
disamping bernilai ekonomis, juga bernilai social yaitu dapat menyerap
tenaga kerja local yang jumlanya cukup signipikan, sehingga secara tidak
langsung dapat memperkecil pengangguran dan mengentaskan kemiskinan.

Dilihat daari sudut pasar, kebutuhan gaplek dan atau tepung tapioca untuk
konsumsi dunia dan untuk pakan ternak, sangat besar sekali, sehingga hasil
produksi jangan takut tidak terserap. Khusus untuk kebutuhan daging,
pasar local Indonesia masing kekurangan bangak sekali pasokan daging,
sehingga daging impor terus menerus didatangkan.

Demikian proposal Budidaya singkong gajah dan penggemukan sapi
potong ini dibuat, kami menyadari masih banyak kekurangan disana sini,
oleh sebab itu saran, masukan serta bimbingannya sangat kami harapkan
sekali. Semoga Allah SWT, menjadikan tulisan ini sebagai amal saleh yang
bermanpaat baik bagi penulis maupun bagi pembaca. Amin.

Karawang 25 Mei 2014
Konsultan Perencana
PT.Palu Gada Sawargi

Drs.H.M.Silihin
C E O

188

DAFTAR PUSTAKA


1. Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka.
Jakarta. Anonimus. 1991. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
2. . 2001. Sapi Potong. Balai Pengakajian Teknologi Pertanian Jawa
3. Tengah.
4. Darmono, 1993. Tata Laksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius
Yogyakarta. Djarijah, A.S. 1996. Usaha Ternak Sapi. Kanisius.Yogyakata.
5. Murtidjo, B. A. 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
6. Me Cullough, M. E. 1973. Optimum Feeding of Dairy Animal for Meat
and Milk
7. (Athens: The University of Georgia Press).
8. Parakkasi, A. 1998. Ilmu Nutrisi dan makanan Ternak Ruminan.
Universitas
9. Indonesia Press. Jakarta.
10. Reksohadiprodjo, S. 1984. Pengembangan Peternakan di Daerah
Tropis. BPFE.
11. Yogyakarta.
12. Santosa, U. 2002. . Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar
Swadaya.
13. Jakarta.
14. Sarwono, B. 2002. Penggemukan Sapi Secara Cepat. Penebar Swadaya.
Jakarta
15. Sarwono, B dan H. B. Arianto. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara
Cepat.
16. Penebar Swadaya. Jakarta.
17. Setiadi, B. 2001. Beternak Sapi Pedaging dan Masalahnya. Aneka
Ilmu.
18. Semarang.
19. Siregar, S. B., 1996. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya.
Jakarta.
20. . 2003. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta. Sugeng, Y. B.
2002. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
21. Wodzicka, M., Tomaszewska, A. Djajanegara, S. Gardiner, T.R.
Wiradarya, dan I.M. Mastika, 1993. Small Ruminant Production In The
Humid Tropics (With Special Reference to Indonesia). Sebelas Maret
University Press. Surakarta.
189

22. Anonimous. 2000. Informasi Data Peternakan Propinsi Bali Tahun
1999. Dinas Peternakan Propinsi Bali. Denpasar
Anonimus. 2004. Statistik Peternakan di Provinsi Bali Tahun 2004.
23. Dinas Peternakan Provinsi Bali, Denpasar
Dharma, D.M.N dan A.A.G. Putra. 1997. Penyidikan Penyakit Hewan. CV.
Bali Media Adhikarsa. Denpasar.
24. Gunawan., M.A. Yusron., Aryogi dan A. Rasyid. 1996. Peningkatan
produktivitas pedet jantan sapi perah rakyat melalui penambahan
pakan konsentrat. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan
Veteriner. Jilid 2. Puslitbangnak. Bogor.
25. Kusnadi, U., M. Sabrani., Wiloeto., S. Iskandar., D. Sugandi., Subiharta..,
Nandang dan Wartiningsih. (1993) Hasil Penelitian Usahatani Ternak
Terpadu di Dataran Tinggi Jawa Tengah. Balai Penelitian Ternak, Bogor
Saka,I.K. 1990. Pemberian pakan dan Pemeliharaan Ternak kerja.
Makalah dalam Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. Balai
Informasi Pertanian Bali. Denpasar 10-13 Desember 1990
Sukartawi. 2002. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia
26. Suprapto., I.K.Mahaputra., M.A. T. Sinaga., I.G.A. Sudaratmaja dan
M.Sumartini. 1999. Laporan Akhir Pengkajian SUT Tanaman Pangan di
Lahan Marginal. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi
Pertanian Denpasar. Bali
27. Yasa, I.M.R., I.N. Adijaya., IGAK Sudaratmaja., I.K. Mahaputra., I.W.
Trisnawati., J. Rinaldi., D.A. Elizabeth., A.K. Wirawan dan A. Rachim.
2005. Laporan Participatory Rural Appraisal di Desa Patas dan
Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak Buleleng Bali. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian. Denpasar.
28. Yasa, I.M.R. I.N. Adijaya, I.K. Mahaputra, I.A. Parwati. 2006.
Pertumbuhan Sapi Bali yang Diggemukan di Lahan Kering Desa
Sanggalangit Kecamatan Gerokgak Buleleng. Makalah Seminar
Nasional. BPTP NTB.
29. Junus, M., 1987, Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gas Bio,
Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
30. Ludwig Sasse-Borda, 1988, Biogas Plant Manual Book, A Publication of
the Deutsches Zentrum Entwicklungstechnologien GATE in:
Deutsche Gesellschaft Technische Zusammenarbeit (GTZ)
31. Suriawiria, U., 2005, Menuai Biogas dari Limbah
32. Suyati, F., 2006, Perancangan Awal Instalasi Biogas Pada Kandang
Terpencar Kelompok Ternak Tani Mukti Andhini Dukuh Butuh
Prambanan Untuk Skala Rumah Tangga, Skripsi, Jurusan Teknik Fisika,
Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.