Anda di halaman 1dari 42

TRANSAKSI DENGAN MATA UANG ASING

OLEH
ILONA INEKEWATI 118 694 268
ANISA KHAIRINA 118 694 270
ALFIAN RIZAL 118 694 274
NURIZKI KURNIAWATI 118 694 275
AMANTA ZAIN 098 694 213
RICKO PRASETYO 108 694 229
KRESNANDA 108 694 217


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
2014
1.1 Transaksi dengan Mata Uang Asing
Selain mempergunakan mata uang rupiah, transaksi yang dilakukan oleh wajib pajak dapat
mempergunakan mata uang asing baik US $, Ringgit Malaysia, dan berbagai macam bentuk
mata uang asing lainnya.
Dipandang dari mata uang yang menjadi dasar pembukuan, wajib pajak dpat dibedakan
menjadi:
1. Menggunakan Rupiah
2. Menggunakan mata uang asing

Wajib Pajak dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan satuan
mata uang selain Rupiah yaitu Bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat.
Wajib Pajak yang diperbolehkan menggunakan pembukuan mata uang asing:
1. Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan Penanaman Modal Asing;
2. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan kontrak
dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan pertambangan selain pertambangan minyak dan
gas bumi;
3. Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan
ketentuan peraturanPerundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi;
4. Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-
Undang PPh atau sebagaimana diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak
Berganda (P3B) terkait;
5. Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun
seluruhnya di bursa efek luar negeri;
6. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan reksadana dalam denominasi
satuan mata uangDollar Amerika Serikat dan telah memperoleh Surat
Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar
Modal-Lembaga Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan pasar modal;atau
7. Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri,
yaitu perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh
perusahaan induk (parent company) di luar negeri yang mempunyai hubungan
istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan huruf b
Undang-Undang PPh.

A. Utang Piutang dengan Valuta Asing
PSAK 10 menghendaki penilaian utang piutang moneter valas dengan nilai tukar pada
tanggal neraca. Ketentuan itu berlaku baik untuk hak dan kewajiban lancar maupun
jangka panjang. Selisih nilai tukar yang terjadi antar-tiap tanggal neraca dihitung sebagai
laba-rugi beda kurs.

Sebagai contoh, PT Abuba di Indonesia membeli barang dagangan dari perusahaan
Kebangsaan Malaysia, pada tanggal 1 Des. 2007 sebesar 10.000 Ringgit saat kurs spot Rp
770. Saat tutup buku 31 Des 2007 kurs spot Rp 765, saat pelunasan hutang 30 Jan 2008
kurs spot Rp 775. Pencatatan transaksi tersebut adalah:

1 Des 2007
Persediaan Rp 7.700.000

Hutang dagang (ma) Rp 7.700.000



31 Des 2007
Hutang dagang (ma) Rp 50.000

Keuntungan pertukaran mata uang Rp 50.000

30 Jan 2008
Hutang dagang (ma) Rp 7.650.000

Kerugian pertukaran mata uan Rp 100.000

Kas Rp 7.750.000

B. Selisih Kurs
Pasal 4 ayat (1) huruf I, keuntungan karena selisih kurs mata uang asing termasuk
penghasilan yang menjadi Objek Pajak Penghasilan. Pengenaan pajaknya dikaitkan
dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dengan syarat dilakukan secara
taat asas. Oleh karena itu keuntungan selisih kurs yang diperoleh Wajib Pajak badan
maupun orang pribadi harus dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak penghasilan.
Pasal 6 ayat (1) huruf e, kerugian karena selisih kurs mata uang asing merupakan unsur
pengurang penghasilan bruto. Kerugian selisih kurs mata uang asing akibat fluktuasi kurs,
pembebanannya dilakukan berdasarkan pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dan
dilakukan secara taat asas. Apabila Wajib Pajak menggunakan sistem pembukuan
berdasarkan :
1. Kurs tetap, pembebanan selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya realisasi
perkiraan mata uang asing tersebut.
2. Kurs Neraca atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun, pembebanannya
dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau
kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun.
Kerugian yang terjadi karena selisih kurs, dapat diakui sebagai pengurang penghasilan
sepanjang Wajib Pajak tersebut mempunyai sistem pembukuan yang diselenggarakan
secara taat asas, sesuai dengan bukti dan keadaan yang sebenarnya, dan dalam rangka
kegiatan usahanya atau berkaitan dengan usahanya.
Sebagai contoh,pada 15 Desember 2012, PT Nipong mengimpor barang dari Nippon Ltd.
Jepang seharga Y 10.000, kurs Y 1 pada tanggal itu Rp. 17,00 dan pada 31 Desember
2012 menjadi Rp. 18,00. Utang dilunasi per 20 Januari 2013 dengan kurs Rp. 18.50,00.
Pencatatan yang dilakukan pada kedua metode itu sebagai berikut.
1. Metode kurs tetap
15-12-2012 Pembelian 170.000
Utang Dai Nippon 170.000
31-12-2012 Tidak ada pencatatan
20-1-2013 Utang Dai Nippon 170.000
Rugi selisih kurs 15.000
Kas 185.000
2. Metode kurs Neraca
15-12-2012 Pembelian 170.000
Utang Dai Nippon 170.000
31-12-2012 Rugi selisih kurs 10.000
Utang Dai Nippon 10.000
20-1-2013 Utang Dai Nippon 180.000
Rugi selisih kurs 5.000
Kas 185.000

C. Pembelian Aktiva Tetap
Pembayaran atas perolehan aktiva tetap (dari luar negeri) dapat dilakukan secara tunai
maupun kredit. Pembayaran secara kredit dapat dilakukan dalam jangka pendek atau
jangka panjang. Pada umumnya, perubahan nilai tukar valuta asing di abaikan pada
pencatatan nilai yang dikapitalisasi dalam pembelian tunai aktiva tetap. Penambahan
aktiva tetap dan pengurangan kas dicatat sebesar nilai tukar pada saat transaksi terjadi.
Untuk pembelian dengan jangka panjang terdapat dua pendekatan yaitu:
1. Single perpective method
Dalam metode ini menganggap aktiva tetap dan pembayarannya merupakan satu
kesatuan transaksi yang tidak terpisahkan. Perubahan nilai tukar valas sampai
dengan pembayaran utang dipertimbangkan sebagai koreksi terhadap nilai
perolehan aktiva. Apabila perusahaan memakai pembukuan dengan kurs tetap,
beda kurs yang terjadi pada saat pelunasan utang dikoreksi kepada nilai aktiva itu.
Koreksi perubahan nilai tukar terhadap harga perolehan aktiva dapat
menimbulkan komplikasi pembukuan.
2. Aual perspective method
Berlanjut pada pembahasan pertama, untuk mengeliminasikan komplikasi itu,
pendekatan kedua ini memisahkan transaksi pembelian (aktiva) dengan
pembayaran (utang). Perubahan nilai tukar valas tidak dikoreksikan kepada aktiva
tetap (dikapitalisasi) namun dianggap sebagai rugi laba beda kurs pada saat
pelunasan utang.
Sebagai contoh, pada tahun 2008 PT.Brian membeli sebuah pesawat seharga Y 100.000
dari PT.Yuda Ltd. Tokyo dengan nilai tukar RP 15.000 per Y1. Utang dilunasi pada 2011
dengan kurs Rp 18.000 per Y1. Kalau PT.Brian mengikuti pembukuan dengan kurs tetap,
maka percatatannya:
Tahun 2008
Aktiva tetap Rp 1.500.000
Uang PT.Yuda Rp 1.500.000

Tahun 2011
Rugi Beda kurs Rp 300.000
Utang PT.Yuda Rp 1.500.000
Kas Rp 1.800.000
Sebaliknya apabila pembukuan utan dalam valuta asing berdasarkan nilai tukar neraca,
rugi beda kurs senilai Rp 300.000 akan diakui secara bertahap pada akhir tahun 2008,
2009, 2010, dan pada tahun 2011 saat pelunasan utang tersebut.
D. Pergeseran Rugi Risiko Beda Kurs
Risiko moneter dalam transaksi valas dapat berupa depresiasi (Penurunan nilai tukar
secara berangsur) dan devaluasi (Penurunan nilai tukar segera). Dalam praktek
perbankan, risiko dapat digeser kepada pihak lain (sistem heading). Dengan membayar
premi kepada pihak lain. Headging meliputi Forward purchased (Kontrak pembelian di
muka valas) dan Swap (Kontrak pertukaran). Dalam forward purchased, pengusaha
menutup kontrak pembelian valas dengan membayar sejumlah tertentu di masa
mendatang. Lima unsur yang terdapat dalam kontrak Forward Purchased yaitu:
1. Spot Rate (Nilai tukar riil pada tanggal penutupan jatuh tempo kontrak)
2. Forward Rate (Spot rate + premi)
3. Premi
4. Tenor (lamanya kontrak)
5. Jumlah valas yang akan dibeli
Sebagai contoh untuk forward purchase, Bank Saudara menutup kontrak beli valuta US
Dollar pada salah satu Bank Asing di kota Surabaya sebanyak USD 250.000. Realisasi
pembelian ini akan dilakukan 24 hari kemudian. Kurs yang telah disepakati bersama oleh
kedua belah pihak adalah sebesar Rp 2.150 per USD 1

Jawab:
Perhitungan dan ayat jurnalnya sebagai berikut:
- Nilai kontrak dalam valuta rupiah: USD 250.000 x Rp 2.150 = Rp 537.500.000
- Ayat jurnal yang dilakukan pada saat penutupan kontrak akan tampak sebagai berikut:
Rekening Debit Kredit
RA Tagihan Forward Kontrak USD 250.000
RAV Forward Kontrak USD 250.000

RA Rupiah-Forward Kontrak Rp 537.500.000
RA Rupiah-Kewajiban Forward Beli Rp 537.500.000

- Ayat jurnal yang dilakukan pada saat penutupan kontrak tersebut jatuh tempo akan
tampak sebagai berikut:
Rekening Debit Kredit
Rekening Giro Valas-Bank Lain USD 250.000
RPV Rp USD 250.000

RPV Rp Rp 537.500.000
Rekening Giro Rp-Bank lain Rp 537.500.000

Contoh kasus untuk swapBeli, Bank BRI menggadaikan valuta EUR 3.000.000 kepada
Bank BCA secara Swap. Kurs pada saat gadai (1st leg of swap) Rp 1590 per EUR 1. Premi
swap ditetapkan sebesar 1 o/oo (satu per mil) dari nilai Rp. saat gadai. Jangka waktu gadai
ditetapkan 6 bulan.

Jawab:
Pembukuan yang dilakukan oleh bank pembeli valuta (Bank BCA):
Rekening Debit Kredit
Bank BRI Giro Valas EUR 3.000.000
RPV Valas Swap EUR 3.000.000

RPV Kontrak Valas Swap Rp 4.770.000.000
Pendapatan yang diterima dimuka Rp 4.770.000
premi
valas swap
Bank BRI Giro Rp Rp 4.765.320.000

Pembukuan yang dilakukan oleh bank untuk amortisasi premi :
Rekening Debit Kredit
Pendapatan diterima dimuka-premi valas
swap
(Rp 4.770.000.000/6)
Rp 795.000
Pendapatan premi swap Rp 795.000


E. Devaluasi
Penurunan nilai tukar rupiah terhadap valas dapat secara gradual (depresiasi) atau
mendadak secara sengaja karena kebijakan moneter pemerintah (devaluasi). Dalam
praktik akuntansi kerugian devaluasi itu dapat (a) dibebankan ke laba rugi sekaligus; (b)
ditangguhkan sampai saat realisasi pembayaran; (c) diaktivir ke perkiraan aktiva; (d)
dikompensasikan dengan penilaian kembali aktiva. Namun karena PSAK nomor 10
hanya menyuratkan pembebanan rugi kurs pada tahun berjalan, atau mengkapitalisasi
selisih nilai tukar karena devaluasi pada aktiva maka tampak kurang ada pilihan
perlakuan atas beda kurs devaluasi.
Untuk tujuan pajak penghasilan, selisih nilai tukar harta yang berupa valas merupakan
laba, sedangkan nilai tukar untuk utang piutang dalam valas, pengakuan laba atau ruginya
ditangguhkan sampai dengan saat realisasi..
Sebagai contoh, pada 12 September 2012 PT Andi mempunyai utang pada X Ltd. USA
sejumlah US$ 100.000 yang dilunasi per 1April 2013. Dengan adanya devaluasi rupiah
dari Rp. 1.10,00 per US$ 1 menjadi Rp 1.640,00 akan dibuat catatan sebagai berikut.

a. Pada saat devaluasi (kalau dipakai kurs tetap)
Rugi beda kurs yang ditangguhkan
Karena devaluasi Rp 53.000.000,00
Utang Rp 53.000.000,00
b. Pada akhir tahun (kalau dipakai kurs neraca, misalnya Rp 1.650,00)
Rugi beda kurs yang ditangguhkan
Karena devaluasi Rp 54.000.000,00
Utang Rp 54.000.000,00
c. Pada saat pelunasan (kurs Rp 1.670,00)
(1) Kalau dipakai kurs tetap
Utang Rp 165.000.000,00
Rugi beda kurs devaluasi Rp 2000.000,00


1.2 Penyelenggaraan Pembukuan

Umumnya transaksi keuangan dilaksanakan dalam mata uang rupiah, namun untuk
tujuan perpajakan wajib pajak tertentu diperbolehkan untuk menyelenggarakan
pembukuan/perpajakan dengan mata uang dolar. Untuk itu mata uang dalam rupiah
tersebut harus ditranslasikan menjadi dolar. Pembukuan dalam mata uang dolar member
proteksi terhadap kemungkinan pemajakan atas keuntungan dari selisih nilai tukar
(monetary gain) karena fluktuasi nilai tukar rupiah. Dengan demikian investor dapat
mempertahankan nilai investasinya semula berdasarkan mata uang Negara asal. Selain itu
pembukuan dalam bahasa dan mata uang asing sangat membantu mempermudah
penyusunan laporan keuangan konsolidasi antara perusahaan di Indonesia dengan induk
perusahaan di luar negeri sehingga mempertinggi transparasi ketentuan perpajakan
dengan standard dan praktik akuntansi internasional.
Sesuai dengan ketentuan dalam SKMK Nomor 609/KMK.04/1994 tanggal 21
Desember 1994 transaksi itu dilakukan sebagai berikut.
Pada awal penyelenggaraan Translasi mata uang (rupiah) neraca awal (akhir tahun lalu)
ke dalam US$ dihitung berdasarkan kurs konversi Bank Indonesia.

A. Selama tahun berjalan
1. Translasi transaksi dalam negeri dihitung berdasarkan kurs konversi Bank Indonesia
pada saat pencatatan transaksi (pengakuan) penghasilan dan (pembebanan)
2. Translasi transaksi luar negeri dihitung berdasarkan kurs konversi Bank Indonesia
pada saat pembebanan rekening wajib pajak pada bank relasinya.
3. Translasi untuk keperluan pembayaran pajak (PPh pasal 25, 21, 23, PPN dan
PPnBM) dihitung berdasarkan nilai tukar (triwulanan) yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan
B. Pada akhir tahun
Untuk keperluan penyampaian SPT Tahunan maka neraca dan perhitungan laba-rugi
disusun dalam bahasa Inggris dan dalam mata uang US$. Translasi ke rupiah
dilaksanakan berdasarkan kurs yang berlaku pada saat pelunasan pajak (PPh Pasal 29
dan Penyampaian SPT) menurut ketetapan Menteri Keuangan.

Dari uraian itu tampak bahwa terdapat dua macam nilai tukar (Kurs BI dan berdasarkan
KMK) yang dipakai sebagai dasar translasi. Menurut KMK no. 330/KMK.04/1999, ketentuan
translasi adalah sebagai berikut:
A. Pada awal tahun buku/tahun pajak
Penyelenggaraan pembukuan dalam USD untuk pertama kali dilakukan bertitik tolak
dari Neraca Akhir Tahun Buku/tahun pajak sebelumnya (Rupiah) yang ditranslasikan
ke USD berdasarkan kurs yang berlaku pada akhir tahun buku/tahun pajak
sebelumnya. Kerugian fiskal dalam rupiah dari tahun-tahun sebelumnya yang dapat
dikompensasikan ke tahun pembukuan dengan USD ditranslasi berdasar nilai tukar
pada akhir tahun berdasar nilai tukar menurut KMK.
B. Dalam tahun berjalan
1. Untuk transaksi dengan USD, pembukuan dicatat sesuai dengan dokumen transaksi;
2. Untuk transaksi dengan mata uang selain USD baik dalam negeri (Rupiah) atau luar
negeri (valas) ditranslasi menurut kurs yang sebenarnya berlaku pada saat terjadinya
transaksi;
3. Bukti potong/pungut dan pembayaran pajak dalam rupiah ditranslasi berdasar kurs
yang ditetapkan Menteri Keuangan pada tanggal pemotongan/pemungutan pajak.
C. Pada penyampaian SPT
SPT tahunan PPh Badan dan lampirannya disampaikan dalam mata uang rupiah
disandingkan dengan USD berdasar nilai tukar yang berlaku pada akhir tahun buku/tahun
pajak yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan.
Pembayaran PPh Pasal 25, 29, dan PPh Final yang dibayar sendiri wajib dilakukan dalam
USD.


Contoh:
PT. Andi yang menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang USD,
pada tahun 2007 dipotong PPh Pasal 22 sebesar Rp9.000.000,00 apabila nilai tukar yang
ditetapkan Menteri Keuangan pada saat itu adalah USD 1 = Rp9.000,00 maka PPh Pasal
22 akan dibuku sebesar USD 1000. Kemudian pada akhir tahun berdasar KMK, kurs
USD 1= Rp9.250,00 sesuai dengan KMK tersebut berarti PPh Pasal 22 sebesar
Rp9.000.000,00 yang telah dibuku sebesar USD 1000 pada akhir pengisian SPT tahunan
akan ditranslasi menjadi Rp9.250.000,00 Jadi dalam keadaan seperti ini WP akan
diuntungkan dari translasi dengan Rp250.000,00

Persyaratan Penyelenggaraan Pembukuan bahasa dan mata uang asing
Dalam pasal 28 (8) UU KUP kepada Wajib Pajak tertentu dalam rangka menyesuaikan
dengan praktik pembukuan yang diselenggarakan setiap hari karena kebanyakan transaksi
dilakukan dalam mata uang USD dan untuk keperluan pelaporan di negara induk
perusahaan mancanegara memakai bahasa Inggris serta meningkatkan daya saing iklim
investasi Indonesia dalam rangka menarik modal asing, dengan persyaratan tertentu,
ketentuan perpajakan memperbolehkan pembukuan dengan bahasa Inggris dan mata uang
USD.
Dengan rentannya fluktuasi nilai rupiah, apabila diselenggarakan dalam USD, maka
monetary gain yang berasal dari nilai tukar rupiah tidak akan muncul. Melemahnya nilai
tukar rupiah berpotensi mendatangkan keuntungan moneter USD, sebaliknya menguatnya
nilai tukar rupiah berpotensi mendatangkan kerugian moneter USD. Akibatnya kerugian
selisih nilai kurs sebagai akibat melemahnya nilai tukar rupiah atau menguatnya nilai
tukar USD yang mendatangkan rugi fiscal yang dapat dikompensasikan dengan laba
usaha tahun-tahun berikutnya tidak akan dapat dipulihkan dengan keuntungan moneter
yang tidak akan muncul dari menguatnya nilai tukar rupiah karena keuntungan atau
kerugian selisih nilai tukar itu nanti tidak aka nada dengan pembukuan dalam USD.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 24/PMK.11/2012,
Wajib Pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan Bahasa
Asing dan mata uang selain Rupiah, adalah:
1. Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan Penanaman Modal Asing;
2. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan kontrak dengan
Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan pertambangan selain pertambangan minyak dan gas bumi;
3. Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi;
4. Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang PPh
atausebagaimana diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) terkait;
5. Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di
bursaefek luar negeri;
6. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan reksadana dalam denominasi satuan
mata uang Dollar Amerika Serikat dan telah memperoleh Surat Pemberitahuan Efektif
Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan sesuai
dengan ketentuanperaturan perundang-undangan pasar modal;
7. Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri, yaitu
perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh perusahaan
induk (parent company) di luar negeri yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan huruf b Undang-Undang PPh;
8. Wajib Pajak yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang fungsionalnya
menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sesuai Standar Akuntansi
Keuangan yang berlaku di Indonesia.
Dengan demikian, tidak semua Wajib Pajak dapat menggunakan bahasa asing dan satuan
mata uang selain Rupiah dalam menyelenggarakan pembukuannya. Terbatas pada Wajib
Pajak di atas yang memang memerlukan pembukuan seperti itu.

Selain ketentuan substansial tentang siapa yang boleh menyelenggarakan pembukuan
dalam bahasa Inggris dan mata uang USD, masih terdapat persyaratan prosedural.

Prosedur Permohonan Izin
Untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar
Amerika Serikat, Wajib Pajak berikut ini harus mendapatkan izin tertulis dari Menteri
Keuangan:
1. Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan Penanaman Modal Asing;
2. Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang PPh
atau sebagaimana diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) terkait;
3. Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di
bursa efek luar negeri;
4. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan reksadana dalam denominasi satuan
matauang Dollar Amerika Serikat dan telah memperoleh Surat Pemberitahuan Efektif
Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan sesuai
dengan ketentuanperaturan perundang-undangan pasar modal;
5. Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri, yaitu
perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh perusahaan
induk (parent company) di luar negeri yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan huruf b Undang-Undang PPh;
6. Wajib Pajak yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang fungsionalnya
menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sesuai Standar Akuntansi
Keuangan yang berlakudi Indonesia.
Izin tertulis dapat diperoleh Wajib Pajak dengan mengajukan surat permohonan kepada
Kepala Kantor Wilayah, paling lambat 3 (tiga) bulan :
sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satua mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai;atau
sejak tanggal pendirian bagi Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun
Pajakpertama.
Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan memberikan keputusan atas
permohonan paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan dari Wajib Pajak diterima
secara lengkap. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Kepala Kantor
Wilayah belum memberikan keputusan maka permohonan Wajib Pajak dianggap
diterima dan Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan menerbitkan
keputusan pemberian izin untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat.
Wajib Pajak yang telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, harus
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat tersebut dalam jangka waktu paling sedikit 5 (lima) tahun
pajak sejak diterbitkan izin atau penyampaian pemberitahuan.

Prosedur Pemberitahuan
Wajib Pajak berikut ini cukup menyampaikan pemberitahuan tertulis untuk dapat
menyelenggarakan pembukuan dengan Bahasa Inggris dan mata uang selain Rupiah:
1. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan kontrak dengan
Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan pertambangan selain pertambangan minyak dan gas bumi;
2. Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi.
Pemberitahuan secara tertulis disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib
Pajak terdaftar paling lambat 3 (tiga) bulan sejak tanggal pendirian untuk Wajib Pajak
dalam rangka Kontrak Karya atau Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang
sejak pendiriannya menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris
dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat.
Sementara itu, Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya atau Wajib Pajak Kontraktor
Kontrak Kerja Sama yang akan menyelenggarakan pembukuan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, wajib
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib
Pajak terdaftar paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat
tersebut dimulai.

Contoh:
PT. LIST bergerak dibidang penyewaan rumah toko (ruko). Sesuai dengan kontrak, sewa
ruko tiap bulan adalah sebesar USD 2.000 dan diterbitkan invoice setiap tgl 1.
Pada tanggal 1 September 2012 PT. LIST menerbitkan invoice sebesar USD 1.000
kepada penyewa.

Pada tanggal tersebut, kurs yang berlaku adalah Rp 11.000/USD. Pada tanggal 1
September 2012 tersebut PT. LIST mengakui penghasilan atas sewa ruko sebesar :
USD 2.000 x Rp 11.000 = Rp 22.000.000

Pada tgl 15 September 2012 penyewa membayar sewa ruko. Pada tgl tersebut, kurs yang
berlaku adalah Rp 10.000/USD, sehingga nilai sewa yang dibayar adalah :
USD 2.000 x Rp 10.000 = Rp 20.000.000

Atas perbedaan waktu antara tanggal penerbitan invoice dan tanggal pembayaran timbul
kerugian selisih kurs bagi PT. LIST sebesar :
Rp 22.000.000 Rp 20.000.000 = Rp 2.000.000

Atas kerugian selisih kurs tersebut tidak diakui sebagai biaya bagi PT. LIST karena
berasal dari penyewaan ruko yang telah dikenal pajak penghasilan bersifat final.

Sementara itu, keuntungan atau kerugian selisih kurs yang tidak berkaitan langsung
dengan usaha Wajib Pajak yang dikenakan PPh final atau yang bukan obyek pajak, diakui
sebagai penghasilan atau biaya sepanjang biaya tersebut dipergunakan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.


A. Pembukuan Dalam Bahasa Asing Dan Mata Uang Selain Rupiah
Wajib Pajak yang diperkenankan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa asing dan mata uang selain Rupiah yaitu bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat adalah :
1. Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yaitu Wajib Pajak yang
beroperasi berdasarkan ketentuan Peraturan perundang-undangan Penanaman
Modal Asing;
2. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya, yaitu Wajib Pajak yang beroperasi
berdasarkan kontrak dengan Pemerintah RI sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan peraturan Perundang-undangan Pertambangan selain pertambangan
minyak dan gas bumi;
3. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi;
4. Bentuk Usaha Tetap, yaitu bentuk usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (5) Undang-Undang Pajak Penghasilan atau menurut Perjanjian
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang terkait;
5. Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun
seluruhnya di bursa efek luar negeri;
6. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan Reksadana dalam denominasi
mata uang Dollar Amerikat Serikat dan telah memperoleh Surat Pemberitahuan
Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawasa Pasar Modal-Lembaga
Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pasar modal;
7. Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri,
yaitu perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan atau dikuasai oleh
perusahaan induk (parent company) di luar negeri yang mempunyai hubungan
istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan b Undang-
Undang Pajak Penghasilan.
B. Tata Cara Pengajuan Penyelenggaraan Pembukuan Dalam Bahasa Asing Dan Mata
Uang Selain Rupiah
Penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat oleh WP harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari Menteri
Keuangan, kecuali WP dalam rangka Kontrak Karya atau WP dalam rangka Kontraktor
Kontrak Kerja Sama. Izin tertulis dapat diperoleh WP dengan mengajukan surat
permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah, paling lambat 3 (tiga) bulan :

1. Sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satauan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai;
2. Sejak tanggal pendirian bagi WP baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak
pertama.
Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan memberikan keputusan atas
permohonan tersebut paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan dari WP diterima secara
lengkap. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Kepala Kantor Wilayah belum
memberikan keputusan maka permohonan WP tersebut dianggap diterima dan Kepala
Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan menerbitkan keputusan pemberian izin untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uangan Dollar Amerika Serikat.

WP dalam rangka Kontrak Karya atau WP Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang sejak
pendiriannya maupun yang akan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, wajib menyampaikan
pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak tempat WP terdaftar paling lambat
3 (tiga) bulan sejak tanggal pendirian (bagi WP yang sudah menyelenggarakan sejak
pendiriannya) atau 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai
(bagi WP yang belum menyelenggarakan sejak pendiriannya).

WP yang telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat namun
merencanakan untuk tidak memanfaatkan izin tersebut wajib menyampaikan pemberitahuan
pembatalan secara tertulis ke KPP dalam hal Tahun Pajak sebagaimana tercantum dalam surat
izin belum dimulai dan pemberitahuan tersebut harus sudah diterima oleh KPP sebelum Tahun
Pajak tersebut dimulai. Apabila penyelenggaraan pembukuan tersebut sudah dimulai, maka
wajib mengajukan permohonan pembatalan secara tertulis ke KPP paling lama 3 (tiga) bulan
setelah tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai. Bagi WP Kontrak Karya atau WP Kontraktor
Kontrak Kerja Sama yang telah memberitahukan ke KPP untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, namun
WP tersebut akan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan
satuan mata Rupiah, wajib mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah paling
lama 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa
Indonesia dan satuan mata uang Rupiah tersebut dimulai.
Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan memberikan keputusan atas
permohonan pembatalan penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris
dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan
sejak permohonan dari WP diterima secara lengkap. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat
dan Kepala Kantor Wilayah belum memberikan keputusan, maka permohonan dianggap
diterima. WP yang mengajukan permohonan tersebut tidak diperbolehkan lagi
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak izin tersebut dicabut.


H. Tempat Penyimpanan Buku/Catatan/Dokumen

Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen
lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau
secara program on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat
kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak orang pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak
badan. Perubahan Tahun Buku Dan Metode Pembukuan Perubahan terhadap metode
pembukuan dan atau tahun buku, harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.
Wajib Pajak Badan yang Menyelenggarakan Pembukuan dengan
Menggunakan Bahasa Asing dan Mata Uang Selain Rupiah, dan Kewajiban
Penyampaian SPT Tahunan PPh-nya
Mengingat bahasa asing dan satuan mata uang selain Rupiah yang banyak digunakan
dalam pembukuan Wajib Pajak adalah Bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat, maka untuk memberikan kemudahan dan kepastian hukum kepada Wajib Pajak perlu
memberikan izin untuk penggunaan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat tersebut.
Hal ini diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.011/2012 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 196/PMK.03/2007 tentang Tata
Cara Penyelenggaraan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Asing dan Satuan
Mata Uang Selain Rupiah serta Kewajiban Penyampaian Surat Pemberutahuan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Badan.
Wajib Pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing
dan satuan mata uang selain Rupiah yaitu Bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat, adalah:
a. Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan Penanaman Modal Asing;
b. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan kontrak
dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan pertambangan selain pertambangan minyak dan gas
bumi;
c. Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan ketentuan
peraturan Perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi;
d. Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang
PPh atau sebagaimana diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)
terkait;
e. Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya
di bursa efek luar negeri;
f. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan reksadana dalam denominasi
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dan telah memperoleh Surat
Pemberitahuan Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar Modal-
Lembaga Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pasar
modal; atau
g. Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri,
yaitu perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh
perusahaan induk (parent company) di luar negeri yang mempunyai hubungan
istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan huruf b
Undang-Undang PPh.
h. Wajib Pajak yang menyajikan laporan keuangan dalam mata uang fungsionalnya
menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sesuai Standar Akuntansi
Keuangan yang berlaku di Indonesia.

Penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat oleh Wajib Pajak harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis
dari Menteri Keuangan, kecuali bagi Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya atau
Wajib Pajak dalam rangka Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Izin tertulis itu dapat
diperoleh Wajib Pajak dengan mengajukan surat permohonan kepada Kepala Kantor
Wilayah, paling lambat 3 (tiga) bulan:
a. sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai; atau
b. sejak tanggal pendirian bagi Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun
Pajak pertama.

Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan memberikan keputusan atas
permohonan Wajib Pajak paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan dari Wajib Pajak
diterima secara lengkap. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Kepala Kantor
Wilayah belum memberikan keputusan maka permohonan dianggap diterima dan Kepala
Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan menerbitkan keputusan pemberian izin untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat.

Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya atau Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja
Sama yang sejak pendiriannya menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, wajib menyampaikan
pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak
terdaftar paling lambat 3 (tiga) bulan sejak tanggal pendirian. Wajib Pajak dalam
rangka Kontrak Karya atau Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang akan
menyelenggarakan pembukuan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan
mata uang Dollar Amerika Serikat, wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke
Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum
tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai. Bagi Wajib Pajak yang diizinkan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat, berlaku ketentuan konversi ke satuan mata uang Dollar
Amerika Serikat sebagai berikut :

Pada awal tahun buku
Penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat untuk pertama kali dilakukan dengan bertitik tolak dari Neraca akhir tahun buku
sebelumnya (dalam satuan mata uang Rupiah) yang dikonversikan ke satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs :
untuk harga perolehan harta berwujud dan/atau harta tidak berwujud yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun menggunakan kurs yang
sebenarnya berlaku pada saat perolehan harta tersebut;
Untuk akumulasi penyusutan dan/atau amortisasi harta, sebagaimana poin
sebelumya, menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat perolehan harta
tersebut;
untuk harta lainnya dan kewajiban menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku
pada akhir tahun buku sebelumnya, berdasarkan sistem pembukuan yang dianut yang
dilakukan secara taat asas;
apabila terjadi revaluasi aktiva tetap, disamping menggunakan nilai historis, atas
nilai selisih lebih dikonversi ke dalam satuan mata uang Dollar Amerika Serikat
dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat dilakukannya
revaluasi;
untuk laba ditahan atau sisa kerugian dalam satuan mata uang Rupiah dari tahun-
tahun sebelumnya, dikonversi ke dalam satuan mata uang Dollar Amerika Serikat
dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun buku
sebelumnya, yakni kurs tengah Bank Indonesia, berdasarkan sistem pembukuan yang
dianut yang dilakukan secara taat asas;
untuk modal saham dan ekuitas lainnya menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku
pada saat terjadinya transaksi;
dalam hal terdapat selisih laba atau rugi sebagai akibat konversi dari satuan mata
uang Rupiah ke satuan mata uang Dollar Amerika Serikat sebagaimana dimaksud
pada huruf a), huruf b), huruf c), huruf d), dan huruf e) maka selisih laba atau rugi
tersebut dibebankan pada rekening laba ditahan.
Dalam tahun berjalan
Untuk transaksi yang dilakukan dengan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat,
pembukuannya dicatat sesuai dengan dokumen transaksi yang bersangkutan;
Untuk transaksi, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang menggunakan satuan
mata uang selain Dollar Amerika Serikat, dikonversikan ke satuan mata uang Dollar
Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat
terjadinya transaksi, yaitu sebagai berikut:
1. apabila dari dokumen transaksi diketahui kurs yang berlaku, maka kurs yang dipakai
adalah kurs yang diketahui dari transaksi tersebut;
2. apabila dari dokumen transaksi tidak diketahui kurs yang berlaku, maka kurs yang
dipakai adalah kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku, berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut yang dilakukan secara taat asas.
Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1),
ayat (2), ayat (4), dan ayat (6) Undang-Undang PPh untuk Tahun Pajak pertama
penyelenggaraan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat adalah sebesar Pajak Penghasilan Pasal 25 dalam satuan mata
uang Rupiah yang dikonversikan dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia
yang berlaku :
a. pada akhir tahun buku sebelum dimulainya pembukuan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat untuk konversi Pajak Penghasilan
sebagaimana dimaksud Pasal 25 ayat (2) Undang-Undang PPh;
b. pada saat penyampaian atau batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelum dimulainya pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat untuk konversi Pajak
Penghasilan sebagaimana dimaksud Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang PPh; atau
c. pada saat surat ketetapan pajak diterbitkan untuk Tahun Pajak sebelum dimulainya
pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat untuk konversi Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (4)
Undang-Undang PPh dan pada saat penetapan penghitungan besarnya angsuran pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (6) Undang-Undang PPh.

Pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 serta Pajak Penghasilan Final
yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak yang memperoleh izin untuk menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat, dapat dilakukan dalam satuan mata uang Rupiah. Dalam hal pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam satuan mata uang Rupiah, Wajib Pajak
harus mengkonversikan pembayaran dalam satuan mata uang Rupiah tersebut ke satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Keuangan yang berlaku pada tanggal pembayaran.

Wajib Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, wajib menyampaikan SPT PPh
Wajib Pajak Badan beserta lampirannya dalam bahasa Indonesia kecuali lampiran berupa
laporan keuangan, dan menggunakan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat. Dalam
hal terdapat bukti pembayaran atau pemotongan/ pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 dan
Pasal 23 dengan menggunakan satuan mata uang Rupiah yang akan dikreditkan dalam Surat
Pemberitahuan Tahunan PPh Wajib Pajak Badan, harus dikonversi ke dalam satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Keuangan yang berlaku pada tanggal pembayaran atau pemotongan/pemungutan
pajak tersebut.
Dalam hal Wajib Pajak telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat namun
merencanakan untuk tidak memanfaatkan izin yang dimilikinya, Wajib Pajak wajib
menyampaikan pemberitahuan tertulis atau mengajukan permohonan pembatalan secara tertulis
untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat.
Wajib Pajak yang merencanakan untuk tidak memanfaatkan izin untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat, wajib menyampaikan pemberitahuan pembatalan secara
tertulis untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat ke KPP dalam hal Tahun Pajak sebagaimana
tercantum dalam surat izin belum dimulai dan pemberitahuan tersebut harus sudah
diterima oleh KPP sebelum Tahun Pajak tersebut dimulai.
Wajib Pajak yang merencanakan untuk tidak memanfaatkan izin untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat, wajib mengajukan permohonan pembatalan secara tertulis
untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan
mata uang Dollar Amerika Serikat ke KPP paling lama 3 (tiga) bulan setelah tahun buku
yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai.
Wajib Pajak Kontrak Karya atau Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang
telah memberitahukan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat namun Wajib Pajak tersebut akan menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan satuan mata uang Rupiah, wajib
mengajukan permohonan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Indonesia dan satuan mata uang Rupiah kepada Kepala Kantor Wilayah paling
lama 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan
menggunakan bahasa Indonesia dan satua mata uang Rupiah tersebut dimulai.
Dalam hal permohonan Wajib Pajak untuk tidak menyelenggarakan pembukuan dengan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dikabulkan, Wajib Pajak tersebut
tidak diperbolehkan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak izin
tersebut dicabut. Dalam hal Wajib Pajak kemudian bermaksud menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat lagi, Wajib
Pajak harus mengajukan surat permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah setelah jangka
waktu 5 (lima ) tahun terlampaui.

Dalam hal Wajib Pajak yang tidak memperoleh izin tertulis untuk menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat
atau Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya atau Wajib Pajak dalam rangka Kontraktor
Kontrak Kerja Sama yang tidak menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke KPP tempat
Wajib Pajak terdaftar, tetapi tetap menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, terhadap Wajib Pajak tersebut
diperlakukan sebagai Wajib Pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 Undang-Undang KUP. Begitu juga dalam hal Wajib
Pajak yang telah memperoleh izin tertulis untuk menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat atau Wajib Pajak
dalam rangka Kontrak Karya atau Wajib Pajak dalam rangka Kontraktor Kontrak Kerja Sama,
yang menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar tetapi
tetap menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan satuan mata
uang Rupiah, terhadap Wajib Pajak tersebut dicabut izin untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat oleh
Kepala Kantor Wilayah dan tidak dapat diberikan izin untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat.

Sisa kerugian fiskal dalam satuan mata uang Rupiah dari tahun-tahun sebelumnya yang dapat
dikompensasikan ke Tahun Pajak dimulainya pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris
dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, dikonversikan ke dalam satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku pada
akhir tahun buku pada saat kerugian fiskal tersebut terjadi.

Wajib Pajak yang telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, harus
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat tersebut dalam jangka waktu paling sedikit 5 (lima) tahun
pajak sejak diterbitkan izin atau penyampaian pemberitahuan. (Pasal 12 PMK-196/2007)

Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pencabutan atas izin untuk menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat
dengan syarat :
a. disampaikan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak paling lama 3 (tiga) bulan
sebelum tahun buku berakhir;
b. mengemukakan alasan pencabutan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya;dan
c. permohonan harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. (lihat
paragraf sebelumnya)

Wajib Pajak yang telah dicabut izin untuk menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, wajib
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan satuan mata uang
Rupiah pada awal tahun buku berikutnya, dan tidak dapat mengajukan permohonan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak izin tersebut dicabut.

Bagi Wajib Pajak yang izin untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dicabut, konversi dilakukan
dengan bertitik tolak dari Neraca akhir tahun buku diselenggarakannya pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dengan dengan
menggunakan kurs yang berlaku dengan mengacu pada peralihan pembukuan dari satuan mata
uang Rupiah ke satuan mata uang Dollar Amerika Serikat.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.196/PMK.03/2007, tanggal 28
Desember 2007, Wajib Pajak dapat menggunakan bahasa dan mata uang asing selain bahasa
Indonesia dan mata uang Rupiah, dalam rangka pembukuan adalah bahasa Inggris dan mata
uang Dollar Amerika Serikat (USD).
1. Wajib Pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satuan mata uang USD adalah.
a. Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing yang beroperasi berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan Penanaman Modal Asing.
b. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan kontrak
dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan pertambangan selain pertambangan minyak dan gas
bumi.
c. Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang beroperasi berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan pertambangan minyak dan gas bumi.
d. Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) UU PPh atau
sebagaimana diatur dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) terkait.
e. Wajib Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di
bursa efek luar negeri.
f. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang menerbitkan reksadana dalam denominasi
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dan telah memperoleh Surat Pemberitahuan
Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga
Keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pasar modal.
g. Wajib Pajak yang berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri, yaitu
perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh
perusahaan induk (parent company) di luar negeri yang mempunyai hubungan
istimewa sebagaimana dimaksud Pasal 18 ayat (4) huruf a dan huruf b UU PPh.

2. Wajib Pajak yang menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang
USD untuk Wajib Pajak PMA, Bentuk Usaha Tetap, Wajib Pajak yang mendaftarkan
emisi sahamnya di bursa efek, harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari Menteri
Keuangan.
Prosedur untuk mengajukan permohonan izin menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang USD adalah.
a. Izin tertulis dapat diperoleh Wajib Pajak dengan mengajukan surat permohonan kepada
Kepala Kantor Wilayah dengan formulir yang sesuai dengan peraturan perpajakan, paling
lambat 3 (tiga) bulan:
i. sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satuan mata uang USD tersebut dimulai, atau
ii. sejak tanggal pendirian bagi Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak atau
Tahun Pajak pertama.
b. Permohonan izin tersebut harus dilampiri dengan:
i. fotokopi akta pendirian perusahaan dan perubahannya atau dokumen lain yang
serupa bagi Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap;
ii. fotokopi Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing dari Badan Koordinasi
Penanaman Modal bagi Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing;
iii. fotokopi surat keterangan/penunjukan kantor perwakilan Indonesia dari kantor
pusat bagi Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap;
iv. surat keterangan dari bursa efek luar negeri yang menyatakan bahwa emisi
saham Wajib Pajak pemohon didaftarkan di bursa efek tersebut bagi Wajib
Pajak yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di
bursa efek luar negeri;
v. fotokopi Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan atas penerbitan reksadana oleh
Kontrak Investasi Kolektif yang bersangkutan bagi Wajib Pajak Kontrak
Investasi Kolektif;
vi. fotokopi prospektus penawaran atas reksadana yang diterbitkan dalam satuan
mata uang USD bagi Wajib Pajak Kontrak Investasi Kolektif;
vii. surat keterangan/pernyataan dari perusahaan induk (parent company) di luar
negeri dan laporan keuangan konsolidasi (consolidated financial statement)
perusahaan induk (parent company) di luar negeri bagi Wajib Pajak yang
berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri;
viii. fotokopi Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang
terakhir, kecuali bagi Wajib Pajak baru terdaftar yang belum wajib
menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan;
ix. surat pernyataan (bermaterai Rp6.000,00) bahwa transaksi penjualan dan biaya
yang dilakukan perusahaan didominasi oleh satuan mata uang USD dan
pembukuan menggunakan bahasa Inggris serta seluruh aktiva, pasiva, modal,
pendapatan, dan biaya seluruhnya dicatat dalam satuan mata uang USD; dan
x. fotokopi Bukti Penyetoran Modal Awal dalam Dollar Amerika Serikat bagi
Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak pertama.

3. Untuk Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama
prosedur untuk menyampaikan pemberitahuan menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata USD bagi adalah:
a) surat pemberitahuan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Wajib Pajak
terdaftar dengan formulir yang telah ditentukan, paling lambat 3 (tiga) bulan:
i. sejak tanggal pendirian apabila sejak pendiriannya menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang USD;
atau
ii. sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa
Inggris dan satuan mata uang USD tersebut dimulai, apabila akan
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang USD.
b) pemberitahuan harus dilampiri dengan:
i. fotokopi Kontrak Karya bagi Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya;
ii. fotokopi Kontrak Kerja Sama bagi Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama.

4. Ketentuan penyampaian pemberitahuan secara tertulis berlaku bagi Kerja Sama Operasi
(KSO) sepanjang dipersyaratkan dalam perjanjian kerja sama/akta pendirian KSO dan
semua anggota KSO telah mendapatkan izin Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat dengan melampirkan:
a. fotokopi perjanjian kerja sama/akta pendirian KSO; dan
b. fotokopi Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang Persetujuan Pemberian Izin
Penyelenggaraan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Inggris dan Satuan
Mata Uang USD atas nama anggota-anggota KSO yang telah mendapatkannya.
c. Dalam hal tidak semua anggota KSO mendapatkan izin Menteri Keuangan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan
mata uang USD, tetapi dipersyaratkan dalam perjanjian kerja sama/akta pendirian
KSO, harus menempuh prosedur permohonan izin sebagaimana dimaksud pada
angka 3.

Wajib Pajak yang telah memperoleh izin atau menyampaikan pemberitahuan secara tertulis
untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang USD, harus menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang USD tersebut dalam jangka waktu paling sedikit 5 (lima) tahun pajak sejak
diterbitkan izin atau penyampaian pemberitahuan.

5. Dalam hal Wajb Pajak telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang USD namun merencanakan
untuk tidak memanfaatkan izin yang dimilikinya, maka Wajib Pajak wajib harus:
a. menyampaikan pemberitahuan pembatalan secara tertulis dalam hal Tahun Pajak
sebagaimana tercantum dalam surat izin belum dimulai dan pemberitahuan tersebut
harus sudah diterima oleh KPP tempat Wajib Pajak terdaftar sebelum Tahun Pajak
tersebut dimulai; atau
b. mengajukan permohonan pembatalan secara tertulis kepada Kepala KPP tempat Wajib
Pajak terdaftar paling lama 3 (tiga) bulan setelah tahun buku yang diselenggarakan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang USD tersebut dimulai,
dengan melampirkan fotokopi surat izin.
6. Atas permohonan izin tersebut Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan
harus memberikan keputusan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak
permohonan dari Wajib Pajak diterima secara lengkap.

Dasar Hukum Laba Rugi Selisih Kurs
Laba rugi selisih kurs merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi laba perusahaan.
Selisih kurs didapat dari tenggang waktu antara waktu transaksi dan waktu pembayaran dimana
didalam tenggang waktu tersebut kurs rupiah juga berubah, ketentuan perpajakan dalam UU
Nomor 36 tahun 2008 tentang perubahan ke empat atas UU Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan mengakomodir laba rugi selisih kurs, sebagai berikut :
1. Pasal 4 (1) huruf l UU PPh, Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi
atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apapun termasuk keuntungan karena selisih kurs mata uang asing.
2. Pasal 6 ayat (1) huruf e, Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam
negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi
kerugian dari selisih kurs mata uang asing.
Dalam penjelasan pasal ini dijelaskan bahwa kerugian selisih kurs mata uang asing yang
disebabkan oleh fluktuasi kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan sistem pembukuan
yang dianut, dan harus dilakukan secara taat azas. Apabila Wajib Pajak menggunakan sistem
pembukuan berdasarkan kurs tetap (kurs historis), pembebanan kerugian selisih kurs dilakukan
pada saat terjadinya realisasi atas perkiraan mata uang asing tersebut. Apabila Wajib Pajak
menggunakan sistem pembukuan berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang
sebenarnya berlaku pada akhir tahun, pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun
berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun.
Yang perlu diperhatikan adalah kerugian selisih kurs mata uang asing akibat fluktuasi kurs,
pembebanannya dilakukan berdasarkan pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dan
dilakukan secara taat asas sebagaimana ditegaskan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
Nomor SE-04/PJ.42/1999 tanggal 4 Februari 1999. Dalam pasal 9 Peraturan Pemerintah
Nomor 94 Tahun 2010 memperjelas perlakuan PPh atas keuntungan atau kerugian selisih kurs
ini, terutama dalam hal selisih kurs yang terkait dengan penghasilan yang dikenakan PPh Final
dan penghasilan yang bukan objek pajak. Pasal 9 ayat (1) menegaskan kembali prinsip umum
sebagaimana sudah dinyatakan dalam Undang-undang PPh, yaitu bahwa keuntungan atau
kerugian selisih kurs mata uang asing diakui sebagai penghasilan atau biaya berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar Akuntansi
Keuangan yang berlaku di Indonesia (PSAK Nomor 10). Pasal 9 ayat (2) menegaskan bahwa
keuntungan atau kerugian selisih kurs yang terkait langsung dengan kegiatan usaha Wajib
Pajak yang dikenakan PPh final atau yang bukan objek pajak, tidak diakui sebagai penghasilan
atau biaya.
G. Ilustrasi Penyelenggaraan Pembukuan
Berikut ini merupakan beberapa contoh translasi mulai dari pembukuan rupiah ke dolar
(dalam awal penyelenggaraan) dan berakhir dengan dolar ke rupiah (akhir penyelenggaraan).
Kegiatan ini meliputi:
1. Translasi neraca rupiah ke dolar pada saat awal penyelenggaraan pembukuan;
2. Translasi laporan keuangan yang dilampirkan dalam SPT untuk wajib pajak penanaman
modal asing;
3. Translasi laporan keuangan yang dilampirkan dalam SPT untuk BUT;
4. Translasi kredit pajak;
5. Translasi kompensasi kerugian;
6. Translasi untuk keperluan restitusi pajak;
7. Translasi aktifa tetap untuk penghitungan depresiasi dan keuntungan/kerugian capital;
8. Translasi model saham;
9. Pembelian dalam mata uang selain dolar Amerika;
10. Translasi neraca dolar ke rupiah pada akhir penyelenggaraan pembukuan.
Secara lengkap, satu per satu dari contoh translasi itu akan tampak seperti penjelasan di
bawah ini.
1. Translasi Laporan Keuangan Awal Tahun Penyelenggaraan
Neraca awal penyelenggaraan pembukuan dengan mata uang asing yang ditranslasikan
dari mata uang rupiah ke mata uang US$ dengan nilai tukar Rp2.000,00 per US$ 1 sebagai
berikut.
(US 1.00 = Rp 2.000,00
Balance Sheet Rp US$
Assets
Cash and Back Rp 500,000,000 $ 250,000
Account receivable Rp 600,000,000 $ 300,000
Inventory Rp 400,000,000 $ 200,000
Fixed Assets Rp 2,000,000,000 $ 1,000,000
Total Assets Rp 3,500,000,000 $ 1,750,000
Liabilities and Capital
Account Payable Rp 1,020,000,000 $ 510,000
Long term debt Rp 2,000,000,000 $ 1,000,000
capital stock Rp 400,000,000 $ 200,000
retained earnings Rp 80,000,000 $ 40,000
Total Equities Rp 3,500,000,000 $ 1,750,000

2. Laporan Keuangan dan SPT Akhir Tahun Pajak dengan Translasi Langsung
Pada akhir tahun buku, untuk keperluan pengisian SPT maka neraca dan laporan laba-
rugi yang sudah didenominasikan dalam US$ ditranslasikan ke dalam rupiah kembali
berdasarkan kurs triwulan pada akhir tahun buku yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan
(misalnya Rp2.060,00 per US$1).
Laporan keuangan 2012
(US$ 1,00 = Rp 2.060,00)
Balance Sheet US$ Rp
Assets
Cash and Back $ 142,587 Rp 293,729,220
Account receivable $ 150,000 Rp 309,000,000
Prepaid corporate tax $ 12,000 Rp 24,720,000
Inventory $ 100,000 Rp 400,000,000
Fixed Assets $ 1,000,000 Rp 2,000,000,000
Total Assets $ 1,404,587 Rp 3,500,000,000
Liabilities and Capital
Account Payable $ 300,000 Rp 618,000,000
Prepaid corporate tax $ 14,587 Rp 30,049,220
Long term debt $ 800,000 Rp 1,648,000,000
capital stock $ 200,000 Rp 412,000,000
retained earnings:
previous years net income $ 40,000 Rp 80,000,000
current year net income $ 50,000 Rp 103,000,000
Total Liabilities and Capital $ 1,404,587 Rp 2,891,049,220
Income Statement
Net Sales $ 5,650,000 Rp 11,639,000,000
Cost of goods sold $ 4,000,000.00 Rp 8,240,000,000
gross profit $ 1,650,000.00 Rp 3,339,000,000
operating expenses :
depreciation $ 100,000.00 Rp 206,000,000
other expenses $ 1,500,000.00 Rp 3,090,000,000
Total Operating Expenses $ 1,600,000.00 Rp 3,296,000,000
Net Income Before Tax $ 50,000.00 Rp 103,000,000
SPT Tahun 2012
Penghasilan Neto $ 50,000.00 Rp 103,000,000
Kompensasi kerugian $ - Rp -
penghasilan kena pajak $ 50,000.00 Rp 103,000,000
PPh terutang $ 10,740.00 Rp 22,125,000
PPh dibayar sendiri $ 12,000.00 Rp 24,720,000
PPh lebih bayar $ 1,260.00 Rp 2,595,000

3. Laporan Keuangan Bentuk Usaha Tetap
Bentuk usaha tetap (BUT) dapat berupa cabang dari perusahaan luar negeri. Sebagai
bagian dari penanaman modal asing, BUT juga berhak untuk melakukan pembukuan dengan
mata uang US$. Dalam ilustrasi berikut, jumlah laba-rugi BUT belum termasuk penghasilan
yang diatribusi berdasakan pendekatan force of attraction (yang untuk laporan keuanagan
komersial tidak tampak).
Laporan Keuangan 2012
(US$ 1,00 = Rp 2.060)
Balance Sheet US$ Rp
Assets
Cash and Back 7,500 15,450,000
Account receivable 8,000 16,480,000
Inventory 15,000 30,900,000
Total Assets 30,500 62,830,000
Equities
Account Payable 2,500 5,150,000
corporate tax
payable 2,765 5,695,000
Art.26 taxpayable 1,535 3,162,100
head office:
beginning 15,000


ending 23,700 48,822,000
Total Equities 30,500 62,829,100
Income Statement
Sales 70,000 144,200,000
Cost of sales 45,000 92,700,000
Other expenses 12,000 24,720,000
Profit 13,000 26,780,000
Corporate tax* 1,343 2,767,000
After tax profit 11,637 24,013,000
art 26 tax (15%) 1,749 3,601,950
Net Profits 9,908 20,411,050

*Profit (US$ 13,000) Rp 26.780.000,00
Corporate Tax
10% x Rp 25.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x Rp 1.780.000,00 Rp 267.000,00
Rp 2.767.000,00
Jumlah pajak BUT Rp 2.767.000,00setara dengan:
2.767.000/2.060 x US$1 = US$ 1,343

4. Kredit Pajak
Untuk menghitung berapa rupiah PPh pasal 29 yang harus dibayar oleh wajib pajak
sebelum pemasukan SPT, kredit pajak yang berasal dari PPh pasal 25, 22, atau 23 perlu
ditranslasikan dalam rupiah. Bagi wajip pajak translasi kredit pajak berdasarkan nilai tukar yang
berlaku pada akhir tahun pajak tersebut dapat lebih menguntungkan, walaupun, jumlah rupiah
translasi itu bukan yang sebenarnya dibayar oleh wajib pajak. Contoh berikut ini menyandingkan
translasi berdasarkan kedua nilai tukar itu.

Uraian US Dolar
Historis Akhir Tahun
Kurs Rupiah Kurs Rupiah
PPh Pasal 25
Januari 750 2,015 1,511,250 2,060 1,545,000
Februari 750 2,015 1,511,250 2,060 1,545,000
Maret 750 2,015 1,511,250 2,060 1,545,000
April 750 2,030 1,522,500 2,060 1,545,000
Mei 750 2,030 1,522,500 2,060 1,545,000
Juni 750 2,030 1,522,500 2,060 1,545,000
Juli 750 2,045 1,533,750 2,060 1,545,000
Agustus 750 2,045 1,533,750 2,060 1,545,000
September 750 2,045 1,533,750 2,060 1,545,000
Oktober 750 2,060 1,545,000 2,060 1,545,000
November 750 2,060 1,545,000 2,060 1,545,000
Desember 750 2,060 1,545,000 2,060 1,545,000
PPh Pasal 23 9,000 18,337,500 18,540,000
Juni 3,000 2,030 6,090,000 2,060 6,180,000
Total Kredit Pajak 12,000 24,427,500 24,720,000

5. Kompensasi Kerugian
Untuk memberikan perlakuan yang lebih dapat memperbaiki iklim investasi, perhitungan
kompensasi kerugian dihitung dolar per dolar sehingga yang dikenakan pajak hanyalah sebesar
sisa lebih setelah kompensasi dalam satuan mata uang dolar. Dengan demikian, tidak akan terjadi
monetary gains yang dikenakan pajak (sebagaimana terdapat dalam table kompensasi Rp2, yaitu
Rp Rp). Dalam contoh berikot ini dipersandingkan Antara translasi berdasarkan nilai tukar dan
nilai tukar pada akhir masa kompensasi (Rp1, yaitu US$-US$) dan nilai tukar historis pada saat
terjadiya kerugian (Rp2, yaitu Rp-Rp).
Tahun Rugi/Laba US$ Kurs Translasi Rp
Penghasilan Kena Pajak
US$
Kompensasi
Kompensasi
Rp 1,00 (US$-
US$)
Rp 2,00 (Rp-
Rp)
2003 Rugi 200,000 2,060 412,000,000 -200,000 -412,000,000 -412,000,000
2004 Laba 30,000 2,100 63,000,000 -170,000 -357,000,000 -349,000,000
2005 Laba 50,000 2,180 109,000,000 -120,000 -261,600,000 -240,000,000
2006 Laba 40,000 2,260 90,400,000 -80,000 -180,800,000 -149,600,000
2007 Laba 20,000 2,350 47,000,000 -60,000 -141,000,000 -102,600,000
2008 Laba 60,000 2,500 150,000,000 0 0 47,400,000

6. Restitusi PPh
Sama dengan kredit pajak, untuk keperluan pembayaran kembali (restitusi) kelebihan
pembayaran pajak, semua kredit pajak (semula dibayar dalam rupiah kemudian dilakukan dalam
US$) ditranslasikan menjadi rupiah berdasarkan nilai tukar historis karena jumlah itu merupakan
pajak yang sebenarnya telah dibayar ke kas Negara.
Setoran Pajak Triwulan Kurs US$ Rp
Rp 1,00 Rp 2,00
(US$-US$) (Rp-Rp)
PPh Pasal 25
1 2,015 10,000 20,150,000
2 2,030 10,000 20,300,000
3 2,045 10,000 20,450,000
4 2,060 10,000 20,600,000
PPh Pasal 23 2,060 20,000 41,200,000
Jumlah

60,000

122,700,000


-
SPT Maret 2012 US$ Kurs
Rugi

200,000
Pajak lebih bayar

60,000

2,075

124,500,000

122,700,000
SKKPP Maret 2013
Pajak lebih bayar

48,752

2,180

106,279,360

98,180,000

7. Aktiva Tetap
Untuk keperluan penyusutan dan perhitungan laba-rugi karena pengalihan aktiva tetap,
translasi dilakukan berdasarkan nilai mata uang pada saat penyampaian SPT. Dengan demikian,
baik penyusutan, nilai buku maupun laba-rugi dihitung dengan pendekatan US$ - US$ seperti
tampak pada table berikut ini. Dalam metode itu keuntungan sebesar US$ 375 dengan nilai tukar
Rp817.500,00. sementara itu, apabila dihitung dengan metode rupiah-rupiah (nilai historis) maka
keuntungan sebesar US$ akan diperoleh nilai tukar Rp1.402.500,00. Dari segi penerimaan tentu
metode rupiah-rupiah lebih menarik.
Uraian Kurs
Nilai Perolehan Penyusutan Nilai Buku
US$ Rp US$
Rp 1,00 Rp 2,00
US$
Rp 1,00 Rp 2,00
(US$-
US$)
(Rp-Rp) (US$-US$) (Rp-Rp)
Pembelian
Juni 2012 2,060 10,000 20,600,000 0 0 0
-
15,562,500
Akhir tahun
2012 2,075 10,000 20,750,000 2,500 5,187,500 5,150,000 7,500 11,812,500 15,450,000
Desember
2013 2,100 10,000 21,000,000 1,875 3,937,500 3,863,500 5,625 0 11,587,500
Tahun 2014 2,180 12,262,500 11,587,500
Terbakar 5,625 13,080,000 11,587,500
Asuransi 6,000 817,500 13,080,000

Keuntungan 375 1,402,500
(kerugian)


8. Modal Saham
Perkiraan modal saham (dan juga saldo laba) dalam transaksi tahunan dihitung dengan
pendekatan US$ - US$ (atau). Perbedaan rupiah karena perbedaan nilai tukar tiap tahun bukan
merupakan penghasilan. Pendekatan dolar-dolar pada tiap akhir tahun, seiring dengan depresiasi
nilai rupiah, akan memberikan angka kenaikan jumlah rupiah. Pemberlakuan nilai tukar SPT
yang anbulatoris (selalu menyesuaikan setiap akhir tahun) akan lebih memberikan iklim investasi
yang kondusif bagi para investor mancanegara. Dari translasi berikut ini tampak jumlah modal
dalam US$ tetap, tetapi dengan adanya depresiasi rupiah, translasi modal dalam rupiah selalu
naik dari tahun ke tahun. Untuk menghindari pemajakan atas monetary gains sebaliknya dipakai
translasi rupiah historis (Rp2,00 Rp Rp).
Periode Tahun Kurs US$
Rp 1,00 Rp 2,00
(US$-US$) (Rp-Rp)
Awal 1993 2,060 200,000 412,000,000 412,000,000
Akhir 1993 2,075 200,000 415,000,000 412,000,000
Akhir 1994 2,100 200,000 420,000,000 412,000,000
Akhir 1995 2,180 200,000 412,000,000 412,000,000

9. Pembelian Kredit
Dalam memperoleh barang, baik barang modal atau barang dagangan dan jasa
perusahaan dapat melakukan secara tunai atau kredit. Nilai tukar pada saat pembelian barang
sering tidak sama dengan nilai tukar pada saat pembayaran utang. Contoh di bawah ini
menggambarkan pembelian barang dagangan dengan memilahnya menjadi dua transaksi (dual
perspective) Antara pembelian dan pembayaran utang. Selisih nilai tukar yang terjadi pada saat
pembayaran dihitung sebagai kerugian.
Pembukuan terhadap pembelian yang dilakukan dalam satuan mata uang asing dan rupiah
sebagai berikut.
a. Pembelian barang dalam mata uang yen
1. Januari 1993 membeli aktiva tetap Y 147,143
Y 1.00 = Rp14,00 ; US$ 1.00 = Rp2.060,00
2. Dibayar pada tahun 1994 dengan kurs US$ 1.00 = Rp2.100,00
Y 1.00 = Rp20,00
Jumlah utang yang dibayar 147,143 x 20 = US$ 1,401
2.100
Pencatatannya adalah:
Utang US$ 1,000
Rugi beda kurs US$ 401
Kas US$ 1,401
b. Pembelian barang dalam mata uang rupiah
1. Januari 1993 membeli barang Rp2.060,00
Barang US$ 1,000
Utang US$ 1,000
2. Tahun 1994 dibayar Rp2.060,00
Kurs US$ 1.00 = Rp2.100,00
Utang US$ 1,000
Kas US$ 981
Laba beda kurs US$ 19

10. Laporan Keuangan pada Akhir Tahun penyelenggaraan
Apabila wajib pajak bermaksud untuk mengakhiri penyelenggaraan pembukuan dengan
mata uang asing menjadi rupiah, mungkin karena perubahan pemilikan sehingga wajib pajak
tidak lagi memenuhi persyaratan kembali, maka neraca dalam satuan US$ itu harus
ditranslasikan menjadi rupiah kembali berdasarkan nilai tukar yang diterapkan oleh Menteri
Keuangan. Translasi itu tampak seperti di bawah ini.


Laporan keuangan 2012
(US$ 1,00 = Rp 2.060,00)
Balance Sheet US$ Rp
Assets
Cash and Back
$
142,587
Rp
293,729,220
Account receivable
$
150,000
Rp
309,000,000
Prepaid corporate tax
$
12,000
Rp
24,720,000
Inventory
$
100,000
Rp
400,000,000
Fixed Assets
$
1,000,000
Rp
2,000,000,000
Total Assets
$
1,404,587
Rp
3,500,000,000
Liabilities and Capital
Account Payable
$
300,000
Rp
618,000,000
Prepaid corporate tax
$
14,587
Rp
30,049,220
Long term debt
$
800,000
Rp
1,648,000,000
capital stock
$
200,000
Rp
412,000,000
retained earnings:
previous years net income
$
40,000
Rp
80,000,000
current year net income
$
50,000
Rp
103,000,000
Total Liabilities and Capital
$
1,404,587
Rp
2,891,049,220

Anda mungkin juga menyukai