Anda di halaman 1dari 2

Penanganan komplikasi pre-prostetik, ortodontik dan konservatif

a. Perdarahan
Komplikasi ini adalah yang paling sering terjadi dengan insidensi sebesar 1% sampai 2%.
Umumnya perdarahan berhenti secara spontan dalam beberapa hari. Dapat pula terjadi
perdarahan berat yang membutuhkan transfusi, dengan insidens sebesar kurang dari 1%.
Perdarahan ditangani dengan cara yang sama dengan penanganan epistaksis. Bila setelah
beberapa lama perdarahan belum berhenti, sumber perdarahan harus dicari. Tampon yang ada
harus dikeluarkan dari hidung dan klot darah diisap, lalu diberikan nasal dekongestan topikal
dengan menggunakan kapas.
b. Nyeri
Nyeri pasca bedah bersifat individual, tindakan yang sama pada seorang pasien akan
berbeda efeknya pada pasien lain.keluhannyeri akan dirasakan berbeda tergantung beberapa
faktor antara lain :
1. tempat pembedahan ( yang ternyeri adalah pembedahan torakotomi )
2. jenis kelamin
3. umur, ambang rangsang orang tua lebih tinggi
4. kepribadian, pasien neurotik merasa lebih nyeri dari pada pasien normal
5. pengalaman pembedahan sebelumnya
6. suku, ras
7. motivasi pasien
Beberapa metode/ cara menanggulangi nyeri pasca pembedahan antara lain :stimulasi (
dilakukan untuk mengalihkan perhatian pada area nyeri ), distraksi (melakukan penekanan syaraf
yang menuju ke area nyeri ), obat analgesia.
c. Hematoma
Penanganan hematoma tergantung pada lokasi dan besar hematoma. Pada hematoma
yang kecil, tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres. Pada hematoma yang besar
lebih-lebih disertai dengan anemia dan presyok, perlu segera dilakukan pengosongan hematoma
tersebut. Dilakukan sayatan di sepanjang bagian hematoma yang paling terenggang. Seluruh
bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong. Dicari sumber perdarahan, perdarahan
dihentikan dengan mengikat atau menjahit sumber perdarahan tersebut. Luka sayatan kemudian
dijahit. Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain atau dimasukkan kasa steril sampai padat
dan meninggalkan ujung kasa tersebut diluar.
d. Infeksi
Menurut Iwan 2008, Pencegahan infeksi pasca bedah pada klien dengan operasi bersih
terkontaminasi, terkontaminasi, dan beberapa operasi bersih dengan penggunaan antimikroba
profilaksis diakui sebagai prinsip bedah. Pada pasien dengan operasi terkontaminasi dan operasi
kotor, profilaksis bukan satu-satunya pertimbangan. Penggunaan antimikroba di kamar operasi,
bertujuan mengontrol penyebaran infeksi pada saat pembedahan.Pada pasien dengan operasi
bersih terkontaminasi, tujuan profilaksis untuk mengurangi jumlah bakteri yang ada pada
jaringan mukosa yang mungkin muncul pada daerah operasi.
Tujuan terapi antibiotik profilaksis untuk mencegah perkembangan infeksi dengan
menghambat mikroorganisme. CDC merekomendasikan parenteral antibiotik profilaksis
seharusnya dimulai dalam 2 jam sebelum operasi untuk menghasilkan efek terapi selama operasi
dan tidak diberikan lebih dari 48 jam. Pada luka operasi bersih dan bersih terkontaminasi tidak
diberikan dosis tambahan post operasi karena dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap
antibiotik .Bernard dan Cole, Polk Lopez-Mayormembuktikan keefektifan antibiotik profilaksis
sebelum operasi dalam pencegahan infeksi post operasi elektif bersih terkontaminasi dan
antibiotik yang diberikan setelah operasi tidak mempunyai efek profilaksis (Bennet, J.V,
Brachman, P, 1992 : 688). Menurut Depkes (1993) dalam Iwan 2008 ,antibiotik profilaksis
diberikan secara sistemik harus memenuhi syarat :
Tepat dosis
Tepat indikasi (hanya untuk operasi bersih terkontaminasi, pemakaian implant dan protesis, atau
operasi dengan resiko tinggi seperti bedah vaskuler, atau bedah jantung).
Tepat cara pemberian harus diberikan secara I.V. 2 jam sebelum insisi dilakukan .
Tepat jenis (sesuai dengan mikroorganisme yang sering menjadi penyebab Infeksi Luka
Operasi).
Kondisi Luka. Pada pre operasi ikut berperan dalam terjadinya infeksi. Luka terbuka karena
adanya kecelakaan maka lebih beresiko terjadinya infeksi luka operasi.
e. Fraktur
Cara terbaik unuk menghindari fraktur disamping tekanan terkontrol adalah dengan
menggunakan gambar sinar-X sebelum melakukan pembedahan. Akar yang mengalami delaserasi
atau getas atau yang dirawat endodontic sering mengharuskan dilakukannya perubahan pada
rencana pembedahan, biasanya dimulai dari prosedur pencabutan dengan tang (close prosedure)
sampai melakukan pembukaan flap. Apabila sesudah dilakukan pencabutan dengan tang
menggunakan tekanan terkontrol tidak terjadi luksasi dan dilatasi alveolus, ini menunjukkan
perlunya dilakukan pembedahan. Pengenalan adanya fraktur biasanya secara klinik dan mudah
terlihat, kecuali untuk fraktur mandibula (Pedersen, 1996)

f. Neuralgia, dapat ditangani dengan dilakukan microvascular decompression secara benar,
keluhan akan hilang. Pada umumnya kerusakan saraf akan mengalami perbaikan secara spontan
terutama saraf alveolaris inferior karena terletak dalam kanalis mandibula sehingga ujung-ujung
saraf yang rusak dapat dengan lebih baik mendekat secara spontan (Pogrel, 1990).