Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia termasuk salah satu daerah tropis di dunia yang kaya dengan flora dan fauna sehingga
dikategorikan sebagai salah satu dari tujuh negara Biodiveristy karena kekayaan
keanekaragaman ini. Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia menjadi modal dasar
pembangunan nasional yang sangat strategi sebagai keunggulan komparatif ekologis yang tidak
dimiliki negara lain (Fithria, 2003).
Ada spesies yang hidup sekitar 4100 dari kelas mamalia, jumlah terkecil spesies dalam
salah satu dari lima kelas vertebrata. Sebagian besar, hewan vertebrata darat adalah mamalia
yang merupakan bukti mereka cenderung mendominasi masyarakat terestrial, seperti yang
dilakukan dinosaurus terdahulu. Ketika kita melihat ke dataran Afrika, kita dapat melihat banyak
mamalia besar. Namun tidak semua mamalia berukuran besar. Dari 4100 spesies mamalia, 3200
adalah mamalia kecil, di antaranya yaitu jenis hewan pengerat, kelelawar, tikus, atau mol
(Hickman, 2008).
Secara fisiologi maupun susunan saraf dan tingkat intelegensianya, mamalia berada pada
urutan paling atas di antara seluruh kelas yang berada dalam kingdom animalia. Dengan
demikian, mamalia bisa terdistribusi secara luas. Salah satunya paling banyak di Indonesia.
Kekayaan jenis mamalia mencapai 515 jenis dengan 36% jenis endemik Indonesia, 36 jenis
bangsa primata dengan 18% adalah endemik Indonesia (Pranoto, 2011).
Departemen Ketuhanan (2007) menyatakan bahwa ancaman terbesar terhadap lingkungan
adalah pembukaan kawasan hutan dan perubahan tata guna lahan karena memperngaruhi fungsi
ekosistem yang mendukung kehidupan di dalamnya. Juga akan menyebabkan degradasi dan
kerusakan sumber daya hutan sehingga hutan kehilangan fungsi utamanya. Hal ini menimbulkan
dampak berbahaya bagi habitat mamalia, terutama sumber pakan, sumber minum, dan shelter
sebagai tempat berlindung mamalia. Kehilangan habitat akan meningkatkan ancaman kepunahan
terhadap berbagai spesies mamalia.


1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari morfologi dan identifikasi dari
kelas mamalia, serta mengetahui klasifikasi dan pembuatan kunci determinasi dari masing-
masing spesiesnya.
1.3 Tinjauan Pustaka
Mamalia merupakan salah satu kelas dari kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata), yang
memiliki ciri khas dapat menyusui dengan adanya kelenjar susu pada betina. Hewan mamalia
ada yang hidup di darat adapula yang di perairan. Ukuran tubuh mamalia juga beragam, dari
yang berukuran kecil hingga yang besar. Pengidentifikasian mamalia muda tergolong sulit,
karena ukuran dan warnanya sering berbeda dengan yang dewasa. Mamalia muda dari jenis yang
berukuran besar sering terlihat bersama dengan yang dewasa. Akan tetapi, dari jenis yang
berukuran lebih kecil, seperti satwa pengerat atau kelelawar, individu mudanya sering terlihat
sendirian. Sebagian besar mamalia berkembang biak dengan cara melahirkan (viviparous), tapi
beberapa mamalia yang tergolong ke dalam ordo monotremata berkembang biak dengan cara
bertelur (oviparous). Meski tidak memiliki puting susu, jenis dari ordo Monotremata tetap
memiliki kelenjar susu (Ario, 2010).
Mamalia seperti yang telah disampaikan sebelumnya termasuk hewan vertebrata karena
memiliki tulang belakang (vertebrae). Ciri- ciri lainnya yang menjadi pembeda antara mamalia
dengan kelas lain dalam vertebrata adalah keberadaan kelenjar mammae dan rambut yang
menutupi tubuh. Berbeda dengan bulu yang dimiliki oleh jenis dari kelas aves, rambut tidak
memiliki tangkai dan hanya terdapat pada mamalia saja (Ario, 2010). Tidak terkecuali paus dan
lumba-lumba. Rambut tumbuh pada moncong mereka. Tidak seperti bulu, yang berevolusi dari
sisik reptil diubah, rambut mamalia adalah bentuk yang sama sekali berbeda dari struktur kulit.
Sehelai rambut mamalia merupakan filamen memanjang yang terdiri dari sel-sel mati penuh
dengan keratin protein berserat. Fungsi lain dari rambut adalah untuk kamuflase. Pewarnaan dan
pola mantel mamalia biasanya disesuaikan dengan latar belakangnya. Rambut juga berfungsi
sebagai struktur sensorik. Mamalia yang aktif pada malam hari atau hidup di bawah tanah sering
mengandalkan kumis mereka untuk mencari mangsa atau untuk menghindari bertabrakan dengan
objek. Rambut juga dapat berfungsi sebagai senjata pertahanan. Landak landak dan melindungi
diri mereka sendiri dengan panjang, tajam, rambut kaku yang disebut duri (Hickman, 2008).
Fungsi paling penting dari rambut adalah isolasi terhadap kehilangan panas. Hewan kelas
mamalia bersifat homoterm atau berdarah panas. Artinya, suhu badan mamalia tidak dipengarui
oleh suhu lingkungannya seperti yang berlaku pada hewan kelas amphibi (Ario, 2010). Dalam
hal ini dan pernapasan dengan menggunakan paru- paru, mamalia menunjukkan ciri- ciri yang
merujuk kepada nenek moyangnya, yaitu reptilia. Permukaan paru- paru mamalia lebih luas
(Hickman, 2008).
Pada umumnya, kebanyakan jenis mamalia memiliki empat tungkai; dua di depan dan
dua di belakang. Dua tungkai di depan pada mamalia terbang bertransformasi menjadi sayap.
Untuk sistem sirkulasinya, mamalia memiliki jantung dengan empat ruang. Hewan mamalia
memiliki saraf tunjang dan kelenjar keringat. Sebagai alat tambahan pada bagian indera
pendengarannya, mamalia memiliki cuping telinga (Ario, 2010).
Beberapa jenis hewan mamalia agak mirip dengan jenis hewan kelas lainnya. Meskipun
kelelawar dapat terbang, namun tidak dikelompokkan kedalam satwa burung, karena kelelawar
tidak memiliki bulu seperti burung melainkan rambut, tidak memiliki paruh melainkan gigi dan
dapat melahirkan anak. Begitu juga mamalia yang hidup di perairan. Terkadang paus, lumba-
lumba dan pesut sering disamakan dengan ikan, padahal mereka sesungguhnya adalah mamalia
yang telah kehilangan hampir semua rambut dan tungkai belakangnya, dan kaki depannya yang
diganti oleh sirip. Mamalia laut ini menghirup udara, melahirkan dan menyusui anaknya. Landak
agak mirip dengan reptilia karena bersisik dan lidahnya panjang, tetapi sisiknya sebenarnya
dibentuk dari rambut-rambut yang menggumpal (Pranoto, 2011).
Dalam kelas mamalia, terdapat dua ordo yang masih primitif, yaitu monotremata dan
marsupial. Monotremata yang masih hidup diantaranya adalah Platypus. Monotremata masih
berkembang biak dengan cara bertelur. Struktur bahu dan panggul lebih mirip dengan yang ada
pada reptil awal dari ke mamalia hidup lainnya. Monotremata juga memiliki kloaka seperti
halnya reptilia, bukan anus yang dimiliki mamalia pada umumnya. Monotremata
menggambarkan mamalia peralihan awal yang lebih dekat kepada kelas reptilia. Selain memiliki
banyak kemiripan dengan reptilia, monotremata juga memiliki fitur mamalia seperti bulu dan
kelenjar susu yang berfungsi. Monotremata muda minum susu ibu mereka setelah mereka
menetas dari telur. Puting susu monotremata betina kurang berkembang dengan baik sehingga
bayi tidak dapat menyusu. Sebaliknya, susu merembes ke bulu ibu, dan bayi menjilatnya dengan
lidah mereka (Hickman, 2008).
Kedua, marsupial atau mamalia bersaku. Perbedaan utama antara marsupial dan mamalia
lain adalah pola perkembangan embrio. Dalam marsupial, telur dibuahi dikelilingi oleh korion
dan selaput ketuban, tapi shell tidak membentuk di sekitar telur seperti dalam monotremes.
Selama pengembangan awal, embrio berkantung dipelihara oleh yolk yang banyak. Sesaat
sebelum lahir, plasenta membentuk singkat membran korion. Segera setelah itu, kadang-kadang
dalam waktu delapan hari dari pembuahan, embrio berkantung lahir dan langsung merangkak ke
dalam kantong berkantung, di mana ia mengait pada puting dan meneruskan perkembangannya.
Marsupial berkembang tak lama sebelum mamalia plasenta, sekitar 100 juta tahun lalu
(Hickman, 2008).
Mamalia modern tergolong ke dalam mamalia berplasenta. Disebut mamalia berplasenta
karena merupakan kelompok mamalia yang menghasilkan plasenta yang sebenarnya dan
memelihara embrio selama seluruh fase pengembangan. Sebagian besar spesies mamalia yang
hidup saat ini, termasuk manusia, berada dalam kelompok ini. Dari 19 ordo mamalia yang hidup,
17 adalah mamalia plasenta. Pada awal proses perkembangan embrio, terbentuk plasenta dari
membran korion dan allantois. Kedua pembuluh darah janin dan ibu berada dalam jumlah
melimpah di plasenta, dan zat dapat dipertukarkan secara efisien antara aliran darah dari ibu dan
keturunan. Sisi ibu plasenta merupakan bagian dari dinding uterus, tempat organ muda
berkembang. Pada mamalia plasenta, tidak seperti marsupial, hewan muda menjalani jangka
waktu pengembangan yang cukup panjang sebelum mereka lahir (Hickman, 2008).
Mamalia paling mudah dilihat di daerah terbuka. Tempat yang baik mencarinya adalah di
sepanjang sungai-sungai, bukaan hutan, dan jalan setapak lebar. Banyak mamalia dapat
ditemukan dari bunyi- bunyi yang ditimbulkan oleh gerakannya mematahkan dahan- dahan, atau
gemerisik dedaunan. Beberapa jenis memiliki suara yang khas, termasuk banyak primata,
beberapa bajing dan kijang. Jejak yang ditinggalkan seperti tapak, suara, bau urine, kotoran,
cakaran di pohon, merupakan tanda-tanda umum untuk mengetahui keberadaan mamalia secara
tidak langsung di hutan (Ario, 2010).

II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum diadakan pada hari Kamis, 19 April 2012, di Museum Zoologi, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah penggaris untuk mengukur spesimen, dan
sarung tangan untuk memegang Rhinolopus macrotis. Bahan yang dipakai yaitu Felis domesticus
jantan dan betina, Lepus cuniculus jantan dan betina, dan Rhinolopus macrotis.
2.3 Cara Kerja
Pengamatan terhadap Felis domesticus dan Lepus cuniculus dilakukan dengan cara objek
diletakkan dengan posisi kepala disebelah kiri. Objek itu diamati dan digambar. Kemudian
dilakukan pengukuran serta perhitungan terhadap karakteristiknya, yaitu sebagai berikut:
Panjang badan (PB), Panjang Total (HB), Panjang ekor (T), Panjang Kaki Belakang (HF), Tinggi
Telinga (ER), dan warna bulu. Sementara untuk pengamatan terhadap Rhinolopus macrotis
dilakukan dengan parameter sebagai berikut: Panjang Badan (PB), Panjang Total (HB), Tinggi
Telinga (ER), Panjang Kaki (TIB), Panjang Kaki Belakang (HF), Panjang Kaki + Cakar (HFcl),
Panjang Lengan (FA), Panjang Ekor (T), dan warna tubuhnya.








III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Deskripsi
Dari pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:
3.1.1 Felis domesticus Linnaeus, 1758
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Carnivora
Family : Felidae
Genus : Felis
Spesies : Felis domesticus Linnaeus, 1758 (Ewer, 1973)
Dari pengamatan dan pengukuran yang telah dilakukan terhadap Felis domesticus jantan,
didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang badan (PB) 300 mm, Panjang Total (HB) 490 mm,
Panjang ekor (T) 30 mm, Panjang Kaki Belakang (HF) 155 mm, Tinggi Telinga (ER) 55 mm,
dan warna bulu kuning. Sedangkan untuk Felis domesticus betina didapatkan hasil sebagai
berikut: Panjang badan (PB) 300 mm, Panjang Total (HB) 430 mm, Panjang ekor (T) 30 mm,
Panjang Kaki Belakang (HF) 155 mm, Tinggi Telinga (ER) 50 mm, dan warna bulu putih abu-
abu dengan garis hitam.
Menurut Pugnetti (1983), Felis domesticus memiliki panjang tubuh mecapai 50 cm, atau 500
mm. Pada Felis domesticus yang praktikan amati baik jantan maupun betina memiliki panjang
tubuh yang sama, yaitu 300 mm. Felis domesticus yang praktikan amati belum mencapai panjang
yang sama dengan Felis domesticus yang dinyatakan oleh literatur. Kemungkinan Felis
domesticus yang diamati oleh Pugnetti tersebut sudah berusia jauh lebih dewasa dibandingkan
dengan Felis domesticus yang praktikan amati. Pugnetti juga menyakatan bahwa panjang ekor
Felis domesticus normalnya bisa mencapai 25 30 cm, dengan berat berat tubuh jantan 3- 6 kg
dan dapat hidup sampai 10 30 tahun. Felis domesticus yang praktikan amati bisa disebut tidak
memiliki ekor karena panjang ekornya hanya mencapai 30 mm baik jantan maupun betina. Pada
praktikum kali ini, praktikan tidak melakukan penimbangan berat badan spesimen terkendala
dengan timbangan yang tidak ada.
Rambut dan iris mata famili Felidae biasanya berwarna- warni. Hal ini karena adanya zat
yang memberikan warna pada rambut dan mata Felidae, yakni melanin (Endrawati, 2005 cit.
Lesmana, 2008). Rambut pada Felis domesticus memiliki dua jenis pigmen melanin yaitu
feomelanin dan eumelanin. Feomelanin memproduksi warna merah dan kuning, sedangkan
eumelanin memproduksi warna hitam dan coklat (Feldhamer et. al., 2003). Pada Felis
domesticus jantan yang praktikan amati berwarna kuning, sedangkan Felis domesticus betina
memiliki rambut berwarna putih abu- abu garis- garis hitam. Dapat disimpulkan bahwa pada
rambut Felis domesticus jantan terkandung Feomelanin, dan pada Felis domesticus betina
terkandung Eumelanin.
3.1.2 Lepus cuniculus Linnaeus, 1758
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Lagomorpha
Family : Lepidopora
Genus : Lepus
Spesies : Lepus cuniculus Linnaeus, 1758 (Ubio, 2012)
Dari pengamatan dan pengukuran yang telah dilakukan terhadap Lepus cuniculus jantan,
didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang badan (PB) 235 mm, Panjang Total (HB) 350 mm,
Panjang ekor (T) 60 mm, Panjang Kaki Belakang (HF) 180 mm, Tinggi Telinga (ER) 105 mm,
dan warna bulu putih dengan telinga berwarna pink pada bagian dalamnya. Sedangkan untuk
Lepus cuniculus betina didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang badan (PB) 210 mm, Panjang
Total (HB) 320 mm, Panjang ekor (T) 100 mm, Panjang Kaki Belakang (HF) 135 mm, Tinggi
Telinga (ER) 94 mm, dan warna bulu putih hitam.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh Brahmantiyo dkk (2006), kelinci
pada umumnya memiliki total panjang 353,8 mm. Data ini menunjukkan angka yang tidak jauh
berbeda dengan Lepus cuniculus jantan yang praktikan amati. Sementara, yang betina memiliki
selisih 33,8 mm. Pada umumnya, kelinci jantan memang lebih besar dibandingkan dengan
kelinci betina. Brahmantiyo dkk, juga menyatakan bahwa kelinci memiliki tinggi telinga
mencapai 106,9 mm. Angka ini juga menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu besar dengan
Lepus cuniculus jantan yang praktikan amati. Lepus cuniculus jantan yang praktikan amati
memiliki tinggi telinga 105 mm, dan Lepus cuniculus betina memiliki tinggi telinga 94 mm.
Panjang kaki belakang kelinci yang diamati oleh Brahmantiyo dkk mencapai 112,3 mm. Pada
data pengukuran ini, kelinci tersebut memiliki panjang kaki belakang yang sedikit lebih panjang
dibandingkan dengan Lepus cuniculus betina yang praktikan amati. Akan tetapi, jauh lebih
pendek dibandingkan dengan ukuran panjang kaki belakang pada Lepus cuniculus jantan
yangpraktikan amati, yaitu 180 mm.
3.1.3 Rhinolopus macrotis Blyth, 1844
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Chiroptera
Family : Rhinolopidae
Genus : Rhinolopus
Spesies : Rhinolopus macrotis Blyth, 1844 (Ubio, 2012)
Dari pengamatan dan pengukuran yang telah dilakukan terhadap Rhinolopus macrotis jantan,
didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang Badan (PB) 65 mm, Panjang Total (HB) 90 mm,
Tinggi Telinga (ER) 20 mm, Panjang Kaki (TIB) 32 mm, Panjang Kaki Belakang (HF) 9 mm,
Panjang Kaki + Cakar (HFcl) 10 mm, Panjang Lengan (FA) 60 mm, Panjang Ekor (T) 27 mm,
dan warna tubuhnya coklat dengan bagian ventral berwarna lebih pudar. Sedangkan untuk
Rhinolopus macrotis betina didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang Badan (PB) 40 mm,
Panjang Total (HB) 85 mm, Tinggi Telinga (ER) 10 mm, Panjang Kaki (TIB) 20 mm, Panjang
Kaki Belakang (HF) 17 mm, Panjang Kaki + Cakar (HFcl) 20 mm, Panjang Lengan (FA) 45
mm, Panjang Ekor (T) 45 mm, dan warna tubuhnya coklat dengan bagian ventral lebih pudar.
Menurut Csorba et. al. (2003), bulu punggung pada Rhinolopus macrotis berwarna coklat
muda dengan bulu ventral bersifat buffy. Pada Rhinolopus macrotis yang praktikan amati,
terlihat warna tubuh yang juga coklat muda. Pada bagian ventralnya, bulu tersebut lebih tenal
dan halus dengan warna yang lebih pudar sehingga mendekati kuning. Dari pengamatan yang
telah dilakukan oleh Csorba et. al., Rhinolopus macrotis yang mereka amati memiliki lengan
dengan panjang 46,9 49,9 mm yang berjari 5. Pada Rhinolopus macrotis jantan yang praktikan
amati, angka ini jauh berbeda. Pada Rhinolopus macrotis jantan, panjang lengannya mecapai 66
mm. Data pengamata literatur ini lebih mendekati Rhinolopus macrotis betina, yang panjang
lengannya hanya 45 mm. Rhinolopus macrotis mencapai berat 8,7 hingga 9,4 gram (Csorba et
al., 2003). Pada praktikum ini, praktikan tidak melakukan penimbangan berat spesimen karena
terkendala dengan timbangan yang tidak ada.
3.4 Kunci Determinasi
1a. Tanpa sayap ......................................................................... ... 2
b. Bersayap ................................................................................. Rhinolopus macrotis
2a. Gigi seri depan besar .............................................................. Lepus cuniculus
b. Gigi taring panjang ................................................................ Felis domesticus




IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
a. Felis domesticus memiliki bulu berwarna- warni karena adanya pigmen melanin dan juga
memiliki gigi taring yang jelas.
b. Lepus cuniculus memiliki gigi seri yang panjang untuk membantunya memakan makanan dan
ekor yang pendek.
c. Rhinolopus macrotis merupakan mamalia terbang dengan selaput kulit yang terbentang di
antara 5 jarinya dan bulu dominan berwarna coklat.
4.2 Saran
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, praktikan disarankan untuk berhati- hati dalam
memegang spesimen.
















DAFTAR PUSTAKA
Ario, Anton. 2010. Mengenal Satwa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Conservation
International Indonesia: Jakarta.
Brahmatiyo, B. dkk. 2006. Pendugaan Jarak Genetik Kelinci Melalui Analisis Morfometrik.
JITV: Bogor.
Ewer, RF. 1973. The Carnivores. Cornell University Pr: New York.
Feldhamer, GA, et. al. 2003. Mammalogy: Adaptation, Diversity,and Ecology. McGraw-Hill
Companies: New York.
Fithria, Abdi. 2003. Keanekaragaman Jenis Satwa Liar di Areal Hutam PT. Elbana Abadi Jaya,
Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. UNLAM: Banjar Baru.
Hickman, Cleveland P., et. al. 2008. Animal Diversity. McGraw-Hill Higher Education: New
York.
Lesmana, Titra. 2008. Morfogenetik Kucing (Felis domesticus) di Jakarta Timur. IPB: Bogor.
Pranoto, Utomo, dkk. 2011. Inventarisasi Keanekaragaman Jenis Mamalia di Kawasan Taman
Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. IPB: Bogor.
Pugnetti G. 1983. Simon & Schusters Guide to Cats. Simon & Schuster, Inc: New York.
Ubio, 2012. Biological names. http://www.ubio.org/. diakses 22 April 2012.