Anda di halaman 1dari 4

SEJARAH MIKROFINANCE

Seorang dosen yang membrantas kemiskinan selama puluhan tahun kini telah
menampakkan hasil. Perjuangan yang dilakukan Muhammad Yunus, seorang dosen ekonomi
yang kemudian mengabdikan hidupnya dengan mendirikan bank untuk mengentaskan
kemiskinan di negaranya, Bangladesh, dengan nama Grameen Bank atau bank desa. Berkat
perjuangan tersebut, ia telah mendapat penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2006.
Di Bangladaseh mulanya Muhammad Yunus bekerja sebagai anggota Komisi
Perencanaan Pemerintah, tapi hanya sebentar hingga kemudian ia menerima jabatan sebagai
Ketua Departemen Ekonomi di Universitas Chittagong. Ia mengaku senang mengajar dan
berharap pada karier akademik. Hingga pada tahun 1974-1975 Bangladesh mengalami
kelaparan hebat yang disebabkan bencana alam hebat yang banyak menghancurkan
infrastrukur negara.
Desa Jobra, desa yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Muhammad Yunus
mengajar tentang teori ekonomi canggih dan pasar bebas yang seolah-olah berjalan sempurna
didalam kelas, adalah satu desa termiskin di Bangladesh. Mayoritas tempat tinggal
penduduknya berupa pondok berlantai tanah dengan atap daun yang bocor. Penghasilan
mereka tidak lebih dari 2 sen sehari.
Pertanyaan yang selalu membuat Yunus gundah adalah mengapa orang yang bekerja
12 jam sehari, 7 hari seminggu tidak punya cukup makanan untuk makan? Kegeraman
muncul di hati Yunus karena ilmu yang dipelajarinya tak mampu untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Akhirnya, Yunus memutuskan untuk belajar dengan orang miskin untuk memaha-mi
masalah mereka. Selama 2 tahun dari tahun 1975 hingga 1976, Yunus mengajak
mahasiswanya berkeliling di desa Jobra. Kegundahan Yunus semakin menjadi-jadi ketika
masalah kemiskinan cukup mudah untuk dimengerti namun tidak mudah untuk menemukan
solusinya. Muhammad Yunus menemukan pencerahan ketika pada salah satu acara
berkeliling ke desa bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Namun,
karena ketidaaan modal wanita tersebut meminjam kepada rentenir untuk membeli bambu
sebagai bahan baku. Setelah bangku tersebut jadi harus dijual kepada rentenir dan dia hanya
mendapatkan selisih keuntungan sekitar 1 penny.
Dengan bantuan mahasiswanya, Muhammad Yunus menemukan 42 keluarga lainnya
yang mengalami permasalahan serupa. Karyanya diawali dengan memberikan kredit
sejumlah US$17 kepada 42 orang miskin. Pinjaman yang diberikan kurang dari US$ 1 per
orang. Namun dengan jumlah pinjaman yang kecil dan tanpa agunan tersebut, meningkatkan
omset seorang pembuat bangku dari sekitar 2 penny perhari menjadi US $ 1,25 per hari. Pada
tahap awal ini, dana yang dipinjamkannya diambil dari uang pribadi Muhammad Yunus.
Dengan meminjamkan uang tersebut, beliau tidak menganggap dirinya sebagai seorang
bankir tetapi pembebas bagi 42 keluarga miskin di Bangladesh.
Akhirnya, Yunus menemukan sebuah revolusi dalam pemikirannya, kemiskinan
terjadi bukan karena kemalasan tetapi karena permasalahan struktural, ketiadaan modal.
Sistem ekonomi yang berlangsung membuat kelompok masyarakat miskin tidak mampu
menabung bahkan hanya 1 penny sehari. Akibatnya, orang miskin tidak dapat melakukan
investasi bagi pertumbuhan usahanya. Rentenir memberikan bunga sekitar 10% bagi
pinjaman yang diberikannya. Sehinga, bagaimanapun juga orang miskin bekerja keras dirinya
tak dapat keluar dari garis kemiskinan.
Muhammad Yunus pun mencoba menyakinkan bank dekat universitas agar bersedia
meminjamkan uang pada orang miskin. Namun bank menolaknya, bank mengatakan orang
miskin tidak layak mendapatkan pinjaman. Upaya-upaya lain pun dilakukan tapi tetap gagal.
Ia mencoba cara baru, yaitu menjadi penjamin pinjaman untuk orang miskin. Bank setuju,
pinjaman pun mulai mengalir dan hasilnya luar biasa, orang miskin mengembalikan pinjaman
mereka selalu tepat waktu.

Bantuan lebih besarpun datang, 1977 MR. A.M Anisuzzaman direktur Bank Pertanian
Bangladesh mendirikan cabang khusus di Jobra untuk menguji gagasan Muhammad Yunus.
Bank tersebut diberi nama Bank Grameen (Desa), dan bank ini menikmati keberhasilan
serupa. Tapi kritikanpun mulai berdatangan, para bankir mengatakan bahwa Bank Grameen
bukanlah perbankan tapi pengasuhan, karena Muhammad Yunus dan para mahasiswanya
terlibat terlalu jauh. Kebijakan yang dibuat Bank Grameen pun banyak yang dianggap
bertentangan dengan aturan perbankan Bangladesh.
Mengetahui hal ini Muhammad Yunus memutuskan mendirikan bank terpisah bagi
masyarakat miskin, bank yang memberikan pinjaman tanpa agunan, tanpa mensyaratkan
periwayatan peminjaman bank sebelumnya, tanpa instrumen legal apapun. Dan pada tahun
1983 Muhammad Yunus akhirnya berhasil membujuk pemerintah membuat peraturan khusus
untuk konsep bank grameennya ini.
Pada bulan Mei 2009, Bank Grameen telah mempunyai cabang sebanyak 2.556 di
84.388 senter (jumlah desa di Bangladesh 68.231), dengan total anggota lebih dari 7,86 juta
orang. Bank Grameen juga telah direplikasikan di 52 negara (hanya di Indonesia yang belum
ada), dengan anggota mencapai 102 juta orang. Dana disalurkan dari tahun 1983 s/d 2005
kumulatif mencapai US $ 5.17miliar, atau lebih kurang US $ 238 juta per tahun. Jumlah
modal yang dimiliki Bank Grameen berkembang menjadi US $ 563,2 juta, sebanyak 92 %
adalah milik anggota.
Yang menarik perhatian dari 7,86 juta orang anggota Bank Grameen, sebanyak 97 %
jiwa adalah wanita. Pilihan wanita untuk menjadi anggota Bank Grameen didasarkan pada
pemikiran bahwa tanggung jawab wanita terhadap keluarga lebih besar dan wanita cenderung
mengutamakan membelanjakan uangnya hanya untuk kepentingan keluarga.
Satu program terobosan yang cukup menggemparkan, yaitu pada tahun I997 Yunus
memberikan pinjaman US $ 147.000 kepada 40.000 orang pengemis di Bangladesh, untuk
melakukan usaha yang dapat dilakukan sambil mengemis, seperti membuat anyaman,
sulaman, jualan korek api dan permen. Kepada mereka diberikan lencana nasabah Grameen.
Pada tahun 2005 ternyata 7.843 orang berhenti mengemis. Alasannya, mereka malu
mengemis karena mempunyai lencana yang membangkitkan harga diri dan mempunyai
lapangan usaha baru dari modal yang diberikan Bank Grameen.
Berikut adalah tujuh prinsip dari Bank Grameen:
1. Bank Grameen adalah milik anggotanya (92 % saham milik anggota)
2. Bank Grameen hanya akan memberikan pinjaman kepada orang yang paling miskin
dari masyarakat miskin atau yang tidak memiliki harta untuk dijadikan agunan
(termasuk para pengemis)
3. Sasaran Bank Grameen terutama adalah perempuan.
4. Pinjaman ini diberikan tanpa jaminan/agunan
5. Para peminjam sendiri dan bukan Bank Grameen yang menentukan jenis kegiatan
usahanya yang akan dibiayai dengan pinjaman dari Bank Grameen.
6. Bank Grameen membantu informasi dan sarana agar peminjam berhasil.
7. Para peminjam membayar tingkat bunga sesuai keperluan untuk menjaga agar Bank
Grameen tetap mandiri (tidak tergantung hibah atau donasi)