Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN

KULIAH LAPANGAN EKOLOGI



MINIMAL AREA

OLEH
KELOMPOK VI BESAR
1. MONICA KHARISMA SWANDI (1010421004)
2. FAUZIAH (1010421012)
3. ANGGIAT W HUTAGALUNG (1010421016)
4. HIDAYATUL FAJRI MS (1010422010)
5. DEFFI SURYA NINGSIH (1010421016)
6. RAHMAN SAPUTRA (1010422018)
7. MELISA AINIL FAJRI (1010423024)
8. MIA AMELIA (1010423026)
9. EMIL SAPUTRA YARTA (1010423044)
10. ANTILAHY VICTOR HENRIO (1110424001)
ASISTEN PENDAMPING:
1. ZUHRATUS SALEH
2. VANY HELSA ANWAR


LABORATORIUM EKOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2012
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekologi adalah ilmu bagian dari biologi atau ilmu hayat. Kata ekologi berasal dari
bahasa latin yaitu Olkos dan Logos. Olkos berarti Rumah atau Tempat tinggal
dan Logos berarti Ilmu tentang. Jadi ekologi merupakan ilmu yang berkaitan
dengan hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya, baik
lingkungan biotis maupung abiotis.
Sebagai suatu ilmu, ekologivini telah berkembang luas dengan berbagai cabang
ilmunya. Kebanyakan istilah ekologi telah lazim didengar, antara lain Ekologi
populasi, Ekologi hutan dan Ekologi manusia. Ekologi selalu mengalami
perkembangan secara bertahap sepanjang sejarah peradaban manusia. Pengetahuan
manusia tentang ekologi telah dimulai sejak lama. Bermula dari keegiatan manusia
mengamati dan mempelajari lingkungan hidupnya, seperti mempelajari tumbuh-
tumbuhan, hewan sekitarnya dan tenaga-tenaga alam serta memanfaatkannya
Perkembangan ekologi diawali sekitar tahun 1900 hingga saat ini. Sekarang orang
menyadari bahwa ilmu ini sangat berguna untuk menciptakan dan memelihara mutu
peradaban manusia.
Penelitian terhadap ekologi salah satunya ekologi tumbuhan menggunakan suatu
metode dasar dengan memakai plot. Melalui plot ini, dapat ditemui berbagai masalah
baik dari segi penamaan tumbuhan yang didapat, maupun dari segi perhitungan.
Dibutuhkan perhitungan yang teliti dan akurat sehingga dari perhitungan itu didapat
hasil perhitungan yang memuaskan. Kalau perhitungan yang didapat akurat, melalui
metode ini dapat ditentukan apakah daerah tersebut baik untuk pertanian ataupun
tidak karena dalam hal ini dapat ditentukan kondisi areal tersebut baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
1.2 Tujuan
Untuk dapat mengerti tentang ekologi di lapangan diperlukan pengalaman lapangan.
perkerjaan di lapangan yaitu mengamati, mengukur, mengoleksi dan menganalisa
data. Pengetahuan mengenai minimal area ini mempunyai fungsi yang sangat penting
sekali pada daerah- daerah pertanian. Dengan metode ini dapat ditentukan apakah
daerah tersebut baik untuk pertanian atau tidak karena dalam ini dapat ditentukan
baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada daerah tertentu sehingga didapat data
yang sangat akurat dari hasil kuliah lapangan ini.





















II. TINJAUAN PUSTAKA
Studi populasi merupakan cikal bakal dalam ilmu ekologi. Jumlah individu dalam
populasi mencirikan ukurannya dan jumlah individu populasi dalam satuan daerah.
Populasi didefenisikan sebagai suatu kelompok individu dari spesies yang sama yang
menepati suatu daerah pada rentang geografis tertentu dan pada waktu tertentu. Suatu
populasi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh individu-individu yang
membangun populasi itu. Perbedaan morfologi diantara individu-individu dari
populasi yang sama disebabkan oleh keanekaragaman genetik maupun oleh
keanekaragaman oleh berbagai faktor lingkugan (Michael, 1994).
Kepadatan populasi adalah ukuran populasi yang dapat dinyatakan sebagai
jumlah atau biomasa populasi itu sendiri per satuan luas daerah atau per satuan
volume. Perubahan keadaan lingkugan suatu daerah akan sangat berpengaruh
terhadap organisme yang hidup dalam populasi tersebut. Hubungan organisme
dengan lingkugan sebenarnya tidak lain adalah pemanfaatan sumberdaya lingkungan
oleh organisme. Metoda yang paling tepat untuk mengetahui kepadatan populasi
adalah dengan menghitung semua organisme yang terdapat di daerah penelitian.
Metoda ini akan memberikan hasil yang akurat.
Kelangsungan hidup organisme menyangkut kelangsungan hidup individu,
kelangsungan hidup jenisnya (populasi) dan kelangsungan hidup komunitas. Agar
tetap lestari organisme mengeksploitasikan lingkungan tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor lingkungan. Karena kehidupan suatu organisme sangat tergantung oleh faktor
lingkungan, maka kehadiran sejenis organisme di suatu daerah menunjukkan bahwa
spesies tersebut dapat eksis di daerah tersebut. Dari lingkungan itulah spesies
tersebut mendapat energi (sumber makanan) untuk dapat bertahan hidup, tumbuh dan
berkembang. Dengan keadaan faktor lingkungan itulah spesies tersebut
mendapatkann energi dan berkembang di lingkungnnya. Bila semua faktor
lingkungan tersebut tergolong optimal bagi jenis tersebut, maka spesies tersebut
tumbuh dan bertambah sehingga kepadatan di lingkungannya menjadi tinggi.
Sebaliknya bila kompleksitas faktor lingkungan tersebut tidak bekerja optimal bagi
spesies, maka kepadatan di sana bisa jadi rendah sekali (Suin, 2003).
Minimal area adalah suatu metode dasar dalam menyelidiki ekologi
tumbuhan dengan memakai plot. Ukuran plot dibuat sedemikian rupa sehingga
representatif untuk mengambil data-data dalam ekologi tumbuhan. Metode ini sangat
objektif bila dipergunakan untuk daerah-daerah padang rumput karena vegetasinya
homogen. Di daerah negara-negara maju minimal area ini mempunyai fungsi yang
sangat penting pada daerah peternakkan atau tidak karena dalam hal ini dapat
ditentukan apakah baik secara kuantitatif atau baik secara kualitatif maupun pada
suatu areal tertentu (Tim Ekologi, 2004).
Luas minimum atau metoda minimal area digunakan untuk memperoleh
luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe
vegetasi pada suatu habitat tertentu yang akan dipelajari. Luas petak contoh
mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal
tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut,
makin luas petak contoh yang digunakan. Bentuk luas minimum dapat berbentuk
bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak
contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan
patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat (Kendeigh, 1989).
Keanekaragaman jenis tumbuhan yang berkembang dapat terjadi menurut
perbedaan tempat dan waktu karena lingkungan yang bervariasi dari satu tempat ke
tempat lain dan kebutuhan tumbuhan akan keadaan lingkungan yang khusus. Hal ini
dapat dilihat dari perbedaan jenis tumbuhan yang berkembang dengan perbedaan
tinggi tempat atau perbedaan musim. Selain itu, perbedaan ketinggian tempat di atas
permukaan laut dapat menimbulkan perbedaan cuaca dan iklim secara keseluruhan
pada tempat tersebut, terutama suhu, kelembaban, dan curah hujan. Unsur-unsur
tersebut banyak dikendalikan oleh letak lintang, ketinggian, jarak dari laut, topografi,
jenis tanah dan vegetasi (Mamesah, 1997).
Bertambahnya ketinggian tempat dari permukaan laut menyebabkan tekanan
udara menjadi berkurang yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya pergerakan
udara (angin).. Selanjutnya, menyatakan bahwa di dalam lingkungan yang tidak
menunjukkan adanya faktor khusus, maka komunitas yang menduduki lingkungan
yang bersangkutan akan menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi.,
yaitu keanekaragaman akan menjadi tinggi pada komunitas yang lebih tua dan
rendah pada komunitas yang baru terbentuk. Untuk mengkaji struktur dan
komposisi komunitas vegetasi, pembuatan sampel plot biasanya dilakukan.
Dalam hal ini ukuran plot, bentuk, jumlah plot, posisi plot dan teknik analisis
perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Ukuran plot tergantung pada ukuran
tumbuhan, jenis tumbuhan, kerapatan tumbuhan, diversitas spesies, tingkat
heterogenitas jenis tumbuhan dan tujuan pengukuran diversitas. Di sini jelas
tampak bahwa faktor fisiografi telah bertindak sebagai faktor khusus yang
mempengaruhi keanekaragaman jenis tumbuhan yang hidup di atasnya. Hal ini ikut
berpengaruh terhadap jumlah jenis, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan
jenis yang terdapat pada setiap lokasi (Odum 1971).





III. PELAKSANAAN KULIAH LAPANGAN
3.1 Waktu dan Tempat
Kuliah lapangan minimal area ini dilaksanakan di sisi jalan tepi Danau Atas, Nagari
Alahan Panjang, Kodya Solok, Sumatera Barat pada tanggal Februari 2012.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan kali ini adalah meteran, pancang, alat tulis
dan tali rafia.
3.3 Cara Kerja
Dibuat plot dengan ukuran 1 x 1 m, dicatat dan diamati jenis-jenis tumbuhan yang
terdapat di dalam plot itu. Plot tersebut diperbesar menjadi berukuran 1 x 2 m. Pada
plot yang diamati dan dicatat hanya pertambahan jenis dari plot pertama. Kemudian
ukuran plot ditambah sehingga berukuran 2 x 2 m. Diamati lagi penambahan jenis
baru pada plot tersebut. Plot kemudian diperbesar lagi mnjadi berukuran 2 x 4 m dan
4 x 4 m. Jika tidak terdapat lagi penambahan jenis baru atau kalau masih ada
penambahan tapi sangat sedikit sekali (kurang dari 10 %) maka plot tidak perlu
diperbesar lagi. Dengan demikian plot yang terakhir inilah disebut minimal area.
Selanjutnya buat grafik berdasarkan hasil pengamatan.








IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh data seperti berikut :
Tabel 8. Minimal Area
No Luas Plot Jenis Total
1 1 x 1
Sophora longipes
Sonchus arvensis
Ginura ovalis
Centela asiatica
Themeda gigantea
12
1
1
1
3
2 1 x 2
Sophora longipes
Sonchus arvensis
Ginura ovalis
Centela asiatica
Themeda gigantea
21
2
2
1
5
3 2 x 2
Sophora longipes
Sonchus arvensis
Themeda gigantea
Ageratum conyzoides
Tibouchina semidecandra
29
3
9
5
7
4 2 x 4
Sophora longipes
Sonchus arvensis
Ginura ovalis
Themeda gigantea
Ageratum conyzoides
Tibouchina semidecandra
Asystasia dalzelliana
Croton hortus
Tectaria sp.
34
5
3
12
14
16
1
2
3
5 4 x 4
Sophora longipes
Sonchus arvensis
Ginura ovalis
Themeda gigantea
Ageratum conyzoides
Tibouchina semidecandra
Croton hortus
Tectaria sp.
Imperata cylindira
Cuphea hyssopifolia
43
6
4
13
19
20
3
5
14
2

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa pada plot pertama dengan ukuran 1 x 1 m,
ditemukan 5 jenis tumbuhan. Ketika plot diperluas menjadi 1 x 2 m, tidak ada
pertambahan jenis dari plot satu ke plot dua. Kemudian ditemukan 2 jenis baru pada
plot ke 3 dengan ukuran plot 2 x 2 m. Setelah diperluas lagi menjadi ukuran 2 x 4 m,
ditemukan kembali 3 jenis baru pada plot ke 4. Pada plot ke 5 ditemukan 2 jenis baru
kembali, dengan ukuran plot 4 x 4 m.
Ukuran petak contoh harus ditentukan dengan jelas sebelum dilakukannya
analisis. Berbeda ukuran tumbuhan yang dianalisis berbeda pula ukuran petak contoh
yang diambil. Ukuran petak contoh tidak boleh kecil dari minimal area yang cocok
bagi vegetasi yang dianalisis (Suin, 2003).
Petak contoh dapat dibuat bermacam-macam bentuknya. Petak contoh dapat
berupa lingkaran, bujur sangkar, atau persegi. Pemilihan bentuk petak contoh lebih
banyak didasarkan pada kemudahan dalam menganalisis. Petak yang berbentuk
lingkaran, baik sekali digunakan untuk menganalisis padang rumput dan belukar,
sedangkan pada hutan petak berupa lingkaran tidak efisien (Michael, 1995).
Dari tabel diatas dapat dilihat, ditemukannya dua belas jenis species pada plot
terakhir tanpa ada lagi penambahan jenis baru, sehingga tidak dilanjutkan lagi pada
plot berikutnya. Penyebaran minimal area yang diambil untuk dianalisis sangat
ditentukan keadaan medan dan keadaan topografi. Untuk itu terlebih dahulu harus
dilakukan survai tinjauan umum dan pendahuluan. Dari survai tinjauan tersebut baru
ditentukan bentuk penyebaran minimal area yang akan diambil untuk dianalisis
(Odum, 1994).
Analisis minimal area ini tergantung pada tiga factor yaitu populasi dalam
minimal area yang dibuat contoh yang diambil harus dapat dihitung dengan tepat,
luas satuan tiap petak jelas dan pasti dan petak contoh yang diambil harus dapat
mewakili seluruh area daerah penelitian (Suin, 2000).
Dari tabel yang terdapat diatas didapatkan grafik seperti berikut :

Secara garis besar kami dapatkan 12 jenis tanaman yang. Metode minimal area
merupakan metode yang cepat, tepat dan sederhana. Metode ini digunakan untuk
menentukan komposisi komunitas, frekuensi spesies dan kisaran kondisi. Dengan
metode didapatkan plot-plot memuat spesies tertentu yang merupakan angka
presentase (Rasyid, 1993).











0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
Plot 5
Plot 4
Plot 3
Plot 2
Plot 1
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Pada plot 1 x 1 m didapatkan lima jenis tumbuhan yaitu Sophora longipes,
Sonchus arvensis, Ginura ovalis, Centela asiatica, dan Themeda gigantea.
2. Pada plot 1 x 2 m tidak didapatkan pertambahan jenis.
3. Pada plot 2 x 2 m dan 2 x 4 m didapatkan jenis tumbuhan di areanya.
4. Pada plot 4 x 4 pertambahan jenis kecil dari 10%.

5.2 Saran
1. Praktikan diharapkan melakukan kuliah lapangan dengan disiplin, agar hasil data
yang didapatkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Saat pengambilan sampel di lapangan yang tidak diketahui, agar mengambil
bagian-bagian khusus dari species yang dapat mendukung identifikasi.











DAFTAR PUSTAKA

Kendeigh, S.C.1980. Ecology, With Special Reference to Animal and Man. Practise
Haal of India. New delhi.
Krebs, C.J. 1982. The experimental Analysis of Distribution and Abundance. Harver
and Row Pub.London.
Mamesah, J.A.B.Struktur Komunitas bivalvia dan lingkungannya di Teluk Kotania,
Seram Barat, Maluku tengah. Jurnal ilmiah Biodiversitas Indonesia.1(1):49.
Michael, P. 1984. Ecologycal Methods for Field and Laboratory Investigations.
McGraw Hill Pub. Co. New york.
Odum, E.P 1971. Fundamental of Ecology. W.B.Saunder Company. London
Pielou, L.G. 1989. Population and community Ecology, Pricipile and Menthods.
Gordon and Breach Methods. Chapman and Hall. London.
Rasyid. 1993. Ekologi Tanaman. Malang: UMM Press.
Suin, N.M. 2002. Metoda Ekologi. Inand Press. Padang.