Anda di halaman 1dari 84

HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 4

Tabel 1.1. Parameter geometri saluran


Bentuk Luas, A
Keliling Basah
P
Lebar Muka
Air T

A = y B P =B+2y B

y (B + my)
B +2y
2
1 m +
my B 2 +

m y
2

2y
2
1 m +

y m 2

( )
(
(

) 2 ( sin
360
2 360
4
2
u
u t
o
o o
D

( )
D
o
o
t
u
360
2 360

u sin 2D

Luas tampang aliran :
A = y (B + my) (1.1)
Keliling basah adalah panjang sisi saluran yang ditunjukkan garis a-b-c-
d, yang mempunyai bentuk :
P = B +2y
2
1 m + (1.2)
J ari-jari hidraulis adalah luas tampang aliran dibagi dengan keliling
basah :
2
1 2
) (
m y B
my B y
P
A
R
+ +
+
= = (1.3)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 1


BAB I

PRINSIP DASAR
ALIRAN


1.1. Pendahuluan
Saluran terbuka adalah saluran di mana air mengalir dengan muka
air bebas. Pada semua titik di sepanjang saluran, tekanan di permukaan
air adalah sama, yang biasanya adalah tekanan atmosfir. Pengaliran
melalui suatu pipa (saluran tertutup) yang tidak penuh (masih ada muka
air bebas) termasuk aliran melalui saluran terbuka. Oleh karena aliran
melalui saluran terbuka harus mempunyai muka air bebas, maka aliran
ini biasanya berhubungan dengan zat cair dan umumnya adalah air.
Saluran terbuka bisa berupa saluran buatan dan saluran alam. Saluran
buatan adalah saluran yang dibuat oleh manusia seperti saluran irigasi
dan drainasi, saluran untuk transportasi air, gorong-gorong, talang air,
dsb. Saluran alamadalah saluran yang terbentuk secara alami, seperti
parit, sungai, estuari (bagian hilir sungai yang dipengaruhi pasang surut).
Saluran buatan mempunyai bentuk yang teratur seperti bentuk trapesium,
segi empat, segitiga, lingkaran, lonjong (bulat telur), dsb. Dinding
saluran bisa berupa tanah, pasangan batu, beton, rumput, dsb. Saluran
alam mempunyai bentuk tidak teratur, dengan dinding berupa tanah,
berbatu, ditumbuhi tanaman. Gambar 1.1. menunjukkan beberapa bentuk
saluran terbuka. Gambar 1.1.a, b, dan c. Berturut-turut adalah aliran
dengan muka air bebas melalui pipa (gorong-gorong), saluran buatan
berbentuk trapesiumdan saluran alam. Gambar 1.2. adalah beberapa foto
saluran terbuka.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 2

Gambar 1.1. Saluran terbukabentuk lingkaran, trapesiumdan alam


Gambar 1.2. Aliran melalui gorong-gorong, saluran dan sungai
Analisis aliran melalui saluran terbuka adalah lebih sulit daripada
aliran melalui pipa (saluran tertutup). Di dalampipa, tampang lintang
aliran adalah tetap yang tergantung pada dimensi pipa. Demikian juga
kekasaran dinding pipa adalah seragamdi sepanjang pipa. Pada saluran
terbuka, misalnya sungai (saluran alam), variabel aliran sangat tidak
teratur baik terhadap ruang maupun waktu. Variabel tersebut adalah
tampang lintang saluran, kekasaran, kemiringan dasar, belokan, debit
aliran dan sebagainya. Ketidakteraturan tersebut mengakibatkan analisis
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 3
aliran sangat sulit untuk diselesaikan secara analitis. Oleh karena itu
analisis aliran melalui saluran terbuka adalah lebih empiris (berdasar
pengamatan di laboratoriumdan di lapangan) dibanding dengan aliran
melalui pipa. Untuk saluran buatan; seperti saluran irigasi, drainasi,
saluran pembawa pada pembangkit listrik tenaga air atau untuk keperlu-
an industri; karakteristik aliran di sepanjang saluran adalah seragam.
Analisis aliran jauh lebih sederhanadaripada aliran melalui saluran alam.
Teori aliran yang ada dapat digunakan untuk menyelesaikan permasa-
lahan dengan teliti.
1.2. Geometri Saluran
Tampang lintang saluran merupakan bentuk saluran yang tegak
lurus pada arah aliran. Saluran terbuka bisa berupa saluran buatan yang
mempunyai bentuk teratur seperti segi empat, trapesium, segitiga,
lingkaran; dan saluran alamseperti sungai yang mempunyai bentuk tidak
teratur.
Aliran melalui saluran terbuka sangat dipengaruhi oleh bentuk
tampang saluran, yang ditunjukkan dalam beberapa parameter aliran
seperti kedalaman aliran y, luas tampang aliran A, keliling basah P, lebar
muka air T, jari-jari hidraulis R, dan kedalaman hidraulis D. Tabel 1.1.
memberikan parameter aliran untuk berbagai bentuk tampang saluran.

Gambar 1.3. Tampang lintang saluran trapesiumdan segiempat
Gambar 1.3. adalah tampang saluran berbentuk trapesiumdengan
lebar dasar B, kedalaman aliran y, kemiringan sisi tebing 1(V) : m(H).
Beberapa parameter aliran adalah sebagai berikut ini.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 8
dengan :
Fr : anga Froude
V : kecepatan rerata aliran (m/d)
g : percepatan gravitasi (m/d
2
)
D : kedalaman hidraulis (m)
Untuk menjelaskan tipealiran, diberikan Gambar 1.7. yang meru-
pakan gelombang yang terjadi pada permukaan air diamyang mengalami
gangguan, mislannya oleh batu yang dijatuhkan pada kolam. Apabila air
dalamkeadaan diam, gelombang akan menjalar kesegala arah secara si-
metris. Kecepatan rambat gelombang adalah gD C = .

Gambar 1.7. Gelombang yang menjalar kesegala arah
Aliran disebut sub kritis apabila suatu gangguan (batu dijatuhkan
kedalamaliran sehingga menimbulkan gelombang) yang terjadi di suatu
titik pada aliran, dapat menjalar ke arah hulu. Pada tipeini, aliran dipe-
ngaruhi oleh kondisi hilir, dengan katalain keadaan di hilir akan mem-
pengaruhi aliran di sebelah hulu. Apabila kecepatan aliran cukup besar
sehinggagangguan yang terjadi tidak menjalar kehulu, maka aliran ada-
lah super kritis. Dalamhal ini kondisi di hulu akan mempengaruhi aliran
di sebelah hilir. Penentuan tipealiran dapat didasarkan padaharga angka
Froude Fr. Aliran bersifat sub kritis apabila Fr<1, kritis apabila Fr=1,
dan super kritis apabila Fr>1.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 5
Lebar muka air mempunyai bentuk :
my B T 2 + = (1.4)
Untuk saluran segi empat, nilai m =0 sehingga bentuk beberapa
parameter di atas adalah :
Luas tampang aliran :
A = y B
Keliling basah adalah panjang sisi saluran yang ditunjukkan garis a-b-c-
d, yang mempunyai bentuk :
P = B +2y
J ari-jari hidraulis adalah luas tampang aliran dibagi dengan keliling
basah :
y B
B y
P
A
R
2 +
= =
Lebar muka air mempunyai bentuk :
B T =
Parameter aliran untuk saluran dengan bentuk lingkaran dan segitiga di-
tunjukkan dalamTabel 1.1.
Padasaluran alam, seperti sungai di mana terdapat bantaran ban-
jir yang cukup lebar tetapi dangkal, bentuk tampang lintang merupakan
gabungan dari beberapa bentuk, seperti ditunjukkan dalamGambar 1.4.
tampang tersebut terdiri dari alur utamayang berada di tengah (tampang
2) dan bantaran banjir di kanan dan kiri alur utama (tampak 1 dan 3).
Apabila elevasi mukaair di bawah dasar bantaran (y<h), hitungan
parameter dan debit aliran mudah dilakukan. Tetapi jika elevasi mukaair
di atas dasar bantaran (y>h), hitungan menjadi lebih sulit. Kalau jari-jari
hidraulis R dihitung dengan caraseperti yang sudah dijelaskan di atas,
yaitu luas tampang basah dibagi dengan keliling basah, maka akan mem-
berikan nilai R kecil sehingga debit aliran akan kecil dibanding dengan
debit sebenarnya. Untuk itu tampang aliran dibagi menjadi beberapa ba-
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 6
gian, yaitu bagian 1, 2 dan 3. Pada alur utama yang mempunyai kedalam-
an besar, kecepatan aliran adalah besar sehingga debit aliran besar. Pada
bantaran di mana kedalaman kecil, kecepatan aliran kecil sehingga debit
jugakecil. Debit aliran dihitung untuk masing-masing bagian, dan debit
total adalah jumlah dari debit masing-masing bagian tersebut.

Gambar 1.4. Saluran trapesiumdengan bantaran banjir
Seperti terlihat dalamGambar 1.4. tampang saluran dibagi menja-
di tiga bagian, yaitu bagian 1, 2 dan 3. Luas tampang basang dan keliling
basah dihitung untuk masing-masing bagian. Tampang alur utama
(bagian 2) adalah tampang khayal J CDEFI, sedang tampang bantaran kiri
(bagian 1) adalah ABCJ , dan bantaran kanan (3) adalah FGHI.
1.3. Klasifikasi Aliran
Aliran dapat diklasifikasikan menurut pengaruh kekentalan, gaya
gravitasi dan tipealirannya. Menurut pengaruh kekentalan, aliran melalui
saluran terbuka dapat dibedakan menjadi aliran laminar, turbulen dan
transisi, seperti ditunjukkan dalamGambar 1.4. Aliran adalah laminer
apabila kecepatan aliran kecil dan/atau kekentalan zat cair besar. Pada
aliran turbulen ecepatan aliran besar dan/atau kekentalan zat cair kecil.
Pada umumnya tipe aliran melalui saluran terbuka adalah turbulen, ka-
renakecepatan aliran, kekentalan air adalah kecil dan kekasaran dinding
relatif besar. Aliran akan turbulen apabila angka Reynolds Re>2000, dan
laminar apabila Re<500. Angka Reynolds mempunyai bentuk :

v
R V
= Re
(1.5)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 7
dengan :
V : kecepatan rerata aliran (m/d)
R : jari-jari hidraulis (m)
v : kekentalan kinematik (m
2
/d)

Tipe Aliran Menurut Pengaruh
Kekentalan Dominan
Aliran Laminer Aliran Turbulen Aliran Transisi
V<<, viskositas >> V>>, viskositas <<
Re<500 500<Re<2000 Re>2000


Gambar 1.5. Tipealiran berdasar pengaruh dominan dari kekentalan
J ika ditinjau terhadap pengaruh dominan dari gaya gravitasi, aliran
melalui saluran terbuka dapat dibedakan menjadi aliran sub kritis (me-
ngalir) dan super kritis (meluncur). Di antara kedua tipetersebut, aliran
bersifat kritis. Gambar 1.6. menunjukkan pembagian ketiga tipealiran.
Tipe Aliran Menurut
Pengaruh Gravitasi Dominan
Mengalir
(Aliran Subkritis)
Meluncur
(Aliran Superkritis)
Aliran Kritis
Fr<1 Fr=1 Fr>1


Gambar 1.6. Tipealiran menurut pengaruh gayagravitasi dominan
Pembagian dalamketigatipeini dibedakan berdasar angkaFroude
yang mempunyai bentuk berikut :

gD
V
Fr = (1.6)
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 12
Pengaliran tidak seragamterjadi jikakecepatan berubah dengan jarak :
0 =
c
c
s
Q
; 0 =
c
c
s
y
; 0 =
c
c
s
A
; 0 =
c
c
s
V
; (1.10)
Contoh pengaliran tak seragamadalah pengaliran di dalamsaluran
yang mempunyai penampang basah tidak sama sepanjang aliran. Aliran
tak seragamdapat dibedakan menjadi dua macamyaitu aliran berubah
beraturan (gradually varied flow) dan aliran berubah cepat (rapidly
varied flow). Contoh aliran tipe pertama adalah aliran di hulu bendung
(garis pembendungan, backwater) dan aliran menuju terjunan, sedang
tipekedua adalah aliran padabendung dan bangunan pelimpah. Gambar
1.8. menunjukkan kedua tipealiran.
y
1
y
1
y
2
y y
1 2
=
y y
1 2
=
y
2
a
b


Gambar 1.8. Pengaliran seragam(a), tak seragamberubah beraturan (b) dan
aliran tak seragamberubah cepat (di hilir bendung) (c)
1.4. Persamaan Dasar Aliran
Ada tiga persamaan dasar yang dapat digunakan untuk menyele-
saikan permasalahan aliran melalui saluran terbuka, yaitu persamaan
kontinuitas, energi dan momentum. Ketiga persamaan tersebut akan
dijelaskan berikut ini.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 9
Gambar 1.8. menunjukkan perbandingan antara kecepatan aliran
dan kecepatan rambat gelombang karena pengaruh gangguan. Pada Gam-
bar 1.7.a. gangguan pada air diam(V=0) akan menimbulkan gelombang
yang merambat ke segala arah. Kecepatan rambat gelombang adalah
gy C = . DalamGambar 1.8.b. di manaaliran adalah sub kritik, gelom-
bang masih bisa menjalar kearah hulu. Pada kondisi ini angka Froude
Fr<1 atau C V < , dengan
gy
adalah kecepatan rambat gelombang dan y
adalah kedalaman aliran. Gambar 1.8.c. adalah aliran kritis di mana kece-
patan aliran sama dengan kecepatan rambat gelombang. Dalamkeadaan
ini Fr=1 atau
gy V =
. Sedang Gambar 1.8.d. adalah aliran superkritik di
mana gelombang tidak dapat merambat kehulu arena ecepatan aliran le-
bih besar dari ecepatan rambat gelombang (Fr>1 atau
gy V >
). Gambar
1.8. menunjukkan gelombang yang terbentuk oleh gangguan yang terjadi
pada permukaan air, misalnya batu yang dijatuhkan di permukaan air.
Karena air dalamkeadaan diam, maka gelombang menjalar ke segala
arah secarasimetris.

Gambar 1.5. Polapenjalaran gelombang di saluran terbuka
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 10
Aliran melalui saluran terbukajuga dapat dibedakan menjadi bebe-
rapatipeseperti ditunjukkan dalamGambar 1.6.
Aliran di hulu bendung, di
hulu terjunan, perubahan
tampang saluran
Aliran Berubah Cepat
(Rapidly Varied Flow)
Loncat air, aliran di pintu
air, aliran di bangunan
pelimpah
Aliran Tak Permanen
(Unsteady Flow)
Aliran banjir
Saluran irigasi,
drainasi, talang
Aliran Permanen
(Steady Flow)
Aliran Tak Seragam
(Non Uniform Flow)
Aliran Seragam
(Uniform Flow)
Aliran Melalui Saluran
Terbuka
Aliran Berubah Beraturan
(Gradually Varied Flow)

Gambar 1.6. Beberapatipealiran melalui saluran terbuka
Aliran bisa berupa aliran permanen atau aliran mantap (permanent
flow atau steady flow) dan aliran tak permanen atau aliran tak mantap
(non permanent flow atau unsteady flow). Aliran permanen terjadi
apabila variabel aliran seperti debit Q, kecepatan V, dan kedalaman aliran
y tidak berubah dengan waktu. Keadaan ini dapat dinyatakan dalam
bentuk matematis berikut:
0 =
c
c
t
Q
; 0 =
c
c
t
V
; 0 =
c
c
t
y
(1.7)
Contoh aliran permanen adalah aliran di saluran irigasi dan drainasi,
saluran pembawa pada pembangkit listrik tenagaair.
Aliran disebut tidak permanen jika variabel pengaliran pada setiap
titik berubah dengan waktu, yang dapat dinyatakan dalambentuk berikut
:
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 11
0 =
c
c
t
Q
; 0 =
c
c
t
V
; 0 =
c
c
t
y
(1.8)
Contoh pengaliran tidak permanen adalah aliran banjir di sungai dan
aliran di estuari (muara sungai) yang dipengaruhi pasang surut.







C

Gambar 1.7. Aliran permanen dan tak permanen (banjir di sungai)
Aliran melalui saluran terbuka disebut seragam(uniform) apabila
berbagai variabel aliran seperti debit Q, kedalaman y, tampang basah A,
kecepatan V pada setiap tampang di sepanjang aliran adalah konstan.
Padaaliran seragam, garis energi, garis muka air dan dasar saluran saling
sejajar sehingga kemiringan dari ketigabaris tersebut sama. Kedalaman
air pada aliran seragam disebut dengan kedalaman normal yn. Untuk
debit aliran dan luas tampang lintang saluran tertentu, kedalaman normal
konstan di seluruh panjang saluran. Pengaliran di saluran panjang dengan
debit dan penampang tetap, seperti saluran irigasi, adalah contoh
pengaliran ini.
Secara matematis aliran seragamdapat dinyatakan dalambentuk
berikut:
0 =
c
c
s
Q
; 0 =
c
c
s
y
; 0 =
c
c
s
A
; 0 =
c
c
s
V
(1.9)
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 16
patan. Karena dinding pipa dan saluran mempunyai kekasaran maka akan
terjadi kehilangan tenaga selama pengaliran dari titik 1 dan 2, sebesar hf.


Gambar 1.14. Persamaan energi aliran melalui pipadan saluran terbuka
Persamaan Bernoulli untuk tampang 1 dan 2 adalah :
f
h
g
V p
z
g
V p
z + + + = + +
2 2
2
2 2
2
2
1 1
1

(1.20)
dengan :
z : tinggi elevasi

p
: tinggi tekanan
g
V
2
2
: tinggi kecepatan
h
f
: kehilangan tenaga karena gesekan antara tampang 1 dan 2.
Subskrib 1 dan 2 menunjukkan parameter di tampang 1 dan 2.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 13
1.4.1. Persamaan Kontinuitas
Dipandang ruas sungai antara tampang 1 dan 2 dengan panjang
Ax seperti ditunjukan dalamGambar 1.12. Debit aliran masuk dan keluar
melalui tampang 1 dan 2. Luas basah di tampang 1 dan 2 adalah A
1
dan
A2. Sesuai dengan hukum kontinuitas, untuk aliran permanen debit
masuk di tampang 1 sama dengan debit keluar dari tampang 2 :
Q1=Q2 (1.11)
A1V1=A2V2 (1.12)

Gambar 1.12. Debit melalui ruas 1-2
Untuk aliran tidak permanen, terjadi perubahan debit dalamsuatu
interval waktu. Debit yang melewati tampang 1 dan 2 juga tidak sama.
Perubahan debit tersebut menyebabkan perubahan kedalaman aliran (y).
Apabila debit masuk (Q
1
) lebih besar dari debit keluar (Q
2
), maka
kedalaman aliran akan naik, demikian pula sebaliknya. Perubahan
kedalaman aliran tersebut menyebabkan perubahan volume air pada ruas
1-2, seperti ditunjukkan dalamGambar 1.13.
Apabila debit pada suatu tampang diketahui maka dapat dihitung
debit padajarak x A dari tampang tersebut.
Debit pada tampang 1 adalah : Q
1
=Q (1.13)
Debit pada tampang 2 adalah : x
x
Q
Q Q A
c
c
+ =
2
(1.14)
Debit aliran ditulis dalam bentuk persamaan diferensial parsiil
karena debit Q berubah dengan waktu t dan jarak x sepanjang aliran.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 14
Seperti ditunjukkan dalamGambar 1.13. karena debit masuk tidak sama
dengan debit keluar, maka volumeair netto yang terdapat pada ruas 1-2
dalaminterval waktu t A adalah :
t x
x
Q
t x
x
Q
Q Q t Q Q V A A
c
c
= A A
c
c
+ = A = A )] ( [ ) (
2 1

t x
x
Q
V A A
c
c
= A (1.15)

Gambar 1.13. Persamaan kontinuitas padaaliran tak permanen
Perubahan volume dalamruas 1-2 untuk interval waktu t A adalah :
t x A
t
V A A
c
c
= A ) ( (1.16)
Dengan menyamakan Persamaan (1.15) dan (1.16) dan kemudian kedua
ruas dibagi dengan t x A A maka akan diperoleh :


Kedua ruas dibagi dengan t x A A sehingga menjadi :
0 =
c
c
+
c
c
x
Q
t
A
(1.17)
Persamaan (1.17) dikenal dengan persamaan kontinuitas untuk aliran tak
permanen (unsteady flow). Debit aliran adalah sama dengan luas tam-
pang aliran kali kecepatan, Q=AV, sehingga persamaan di atas menjadi :
t x A
t
t x
x
Q
A A
c
c
= A A
c
c
) (
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 15
0 =
c
c
+
c
c
x
AV
t
A
(1.18)
Apabila saluran adalah segiempat, maka lebar muka air samadengan le-
bar dasar saluran (T=B) di mana B adalah konstan, sehunggaPersamaan
(1.18) menjadi :
0 =
c
c
+
c
c
x
yV
B
t
y
B
0 =
c
c
+
c
c
+
c
c
x
V
y
x
y
V
t
y
(1.19)
Apabila aliran adalah permanen, di mana debit adalah konstan terhadap
waktu, maka Persamaan (1.17) menjadi :
0 =
dx
dQ

Q = C (konstan)
Q
1
=Q
2

yang sama dengan Persamaan (1.11).
1.4.2. Persamaan Energi
Persamaan energi untuk aliran permanen ditunjukkan oleh Persa-
maan Bernoulli. Gambar 1.14. menunjukkan Persamaan Bernoulli untuk
aliran melalui pipadan saluran terbuka. Elevasi pipadan dasar saluran
adalah setinggi z dari garis referensi. Pada aliran melalui pipa, apabila
padatampang 1 dan 2 dipasang piezometer, karena pipa bertekanan ma-
ka air akan naik di piezometer. Tekanan pipa adalah sama dengan tekan-
an yang diberikan oleh zat cair setinggi kolomair dalampiezometer,
yang dinyatakan dalamtinggi tekanan. Apabila muka air pada piezome-
ter dihubungkan akan membentuk garis tekanan. Untuk aliran melalui sa-
luran terbuka, tinggi tekanan pada titik yang ditinjau adalah samadengan
kedalaman aliran. Garis tekanan adalah sama dengan garis muka air.
Garis energi beradapada jarak V
2
/2g yang disebut dengan tinggi kece-
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 20
dengan p
d
adalah tekanan hambatan (drag) yang dapat dihitung berdasar
Persamaan Bernoulli untuk titik 0 (suatu titik di depan benda) dan titik D
yang berada pada sisi depan benda (blok beton). Kecepatan pada sisi
depan bendaadalah nol, sehingga :
0 0
2
0
2
0 0
+ + = + +

d
p
g
V p


2
2
0
0
V
p p
d

+ =
Gaya total yang bekerja pada zat cair sama dengan laju perubahan mo-
mentum. Persamaan momentumuntuk gaya-gaya yang bekerja pada arah
aliran dapat ditulis dalambentuk :
E F =Q (V
2


V
1
)
) ( Q = sin
1 2 t 2 1
V V W F F F F
d
+ o (1.23)
Persamaan momentumditerapkan pada aliran yang berubah de-
ngan cepat, misalnya pada masalah loncat air (Gambar 1.17). Padamasa-
lah tersebut tinjauan dilakukan pada ruas saluran yang pendek sehingga
pengaruh gaya gesekan dengan dinding saluran adalah kecil dan dapat di-
abaikan. J uga dianggap bahwa dasar saluran adalah horisontal, sehingga
komponen gaya berat pada arah aliran adalah nol. Di antara tampang 1
dan 2 tidak ada benda perintang. Dengan demikian gaya-gaya yang be-
kerja hanya gaya hidrostatis di tampang 1 dan 2. Penjelasan tentang
loncat air akan diberikan dalambab tersendiri.
Persamaan (1.23) dapat ditulis menjadi :
) ( =
1 2 2 1
V V Q F F (1.24)
Contoh 2
Air melimpas pada peluap ambang lebar seperti tergambar. Lebar peluap
adalah 10 m. Dengan menggunakan persamaan momentum, hitung debit
aliran untuk kondisi : a) kecepatan aliran 0 dan b) kecepatan aliran 1 m/d.
Kehilangan tenaga diabaikan.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 17
Pada aliran melalui pipa, kehilangan tenaga diberikan oleh persamaan
berikut:

g
V
D
L
f h
f
2
2
= (1.21)
dengan f adalah koefisien gesekan, L adalah panjang pipa, D adalah
diameter pipa, V adalah kecepatan aliran dan g adalah percepatan
gravitasi. Untuk aliran melalui saluran terbuka, diameter pipa ditulis
dalambentuk jari-jari hidraulis yaitu D =4R, sehingga Persamaan (1.21)
menjadi :

g
V
R
L
f h
f
2 4
2
= (1.22)
Selain bisa menggunakan Persamaan (1.22), kehilangan tenaga pada
aliran melalui saluran terbuka banyak dihitung dengan menggunakan
Persamaan Manning, Chezy, dan sebagainya yang akan dibahas dalam
Bab II.
Contoh 1
Air melimpas pada peluap ambang lebar seperti tergambar. Ada dua
kondisi, yaitu apabila V=0 dan V=1 m/d. Lebar peluap adalah 10 m.
Hitung debit aliran, apabila kehilangan tenaga diabaikan.
Penyelesaian
a) Kondisi V=0,

Gambar 1.15. Aliran melalui peluap ambang lebar
Dengan bidang referensi pada dasar saluran, maka Persamaan
Bernoulli untuk aliran dari titik 1 dan 2 :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 18
g
V
2
1 2 0 4 0
2
2
+ + = + + 0 , 1
2
2
2
=
g
V

d m g V / 47 , 4 10 2 2
2
= = =
d m AV Q / 7 , 44 47 , 4 1 10
3
= = =
b) Kondisi V
1
=1 m/d
g
V
g 2
1 2
2
1
4 0
2
2
+ + = + + 05 , 1
2
2
2
=
g
V

d m V / 4.583 10 2 05 , 1
2
= =
d m AV Q / 83 , 45 583 , 4 1 10
3
= = =
1.4.3. Persamaan Momentum
Momentumsuatu benda didefinisikan sebagai hasil kali massa benda
dengan kecepatan gerak benda tersebut. Pada aliran melalui saluran
terbuka, massa air (M) mengalir dengan kecepatan V sehingga
momentumnya adalah :
Momentum=MV
Apabila selama pengaliran terjadi perubahan kecepatan, misalnya
pada pengecilan atau perbesaran penampang aliran, maka akan terjadi
perubahan momentum. Perubahan momentumakan dikonversi menjadi
gaya impuls (gaya dikalikan dengan waktu). Laju perubahan momentum
sama dengan gaya total yang bekerja pada benda tersebut. Menurut
HukumNewton II tentang gerak, resultan gaya yang bekerja pada air
yang mengalir adalah sama dengan laju perubahan momentum.
) (V Q
1 2
V F = E (1.23)
dimana :
F : gaya-gayayang bekerja pada air
: rapat massa air
Q : debit aliran
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 19
Q : massa aliran air
V : kecepatan aliran
(V
2
-V
1
) : perubahan kecepatan
Penerapan persamaan momentumpada aliran air dilakukan de-
ngan mengacu padaGambar 1.16, yang merupakan ruas saluran dengan
panjang Ax, sudut kemiringan dasar saluran adalah o, kecepatan aliran
padatampang 1 dan 2 adalah V1 dan V2, tegangan geser pada dinding sa-
luran adalah t
0
. Pada massa air antaratampang 1 dan 2 terdapat benda
(rintangan). Benda tersebut mengalami gaya hambatan (drag force) yang
ditimbulkan oleh aliran air. Dalampenurunan persamaan momentum, ga-
ya reaksi benda diperhitungkan bekerja pada aliran air. Pada penerapan
di lapangan, bendatersebut dapat berupa blok beton yang berfungsi se-
bagai penghancur energi loncat air pada bangunan penghancur energi
(stilling basin).

Gambar 1.16. Penurunan persamaan momentum
Gaya-gaya yang bekerja pada air antara tampang 1 dan 2 adalah :
1. Gaya berat zat cair : W
2. Gaya hidrostatis pada tampang 1 dan 2 : F
1
dan F
2

3. Gaya geser pada dinding saluran : F
t

4. Massa air per satuan waktu : M =Q
5. Gaya hambatan Fd
Gaya hambatan F
d
mempunyai bentuk :

d d d
p A F =
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 24
2
0
8
V
f
t = (1.29)
Persamaan (1.28) adalah bentuk kehilangan tenaga aliran melalui
saluran terbuka. Untuk aliran melalui pipa, D =4R sehingga Persamaan
(1.28) menjadi :

g
V
D
L
f h
f
2
2
= (1.30)
Persamaan (1.30) dikenal dengan persamaan Darcy-Weisbach untuk
aliran melalui pipa lingkaran. Dalampersamaan tersebut f adalah koefisi-
en gesekan pipa Darcy-Weisbach, yang merupakan fungsi dari angka
Reynold dan kekasaran pipa. Koefisien gesekan f diberikan oleh bentuk
berikut ini.
Untuk pipa hidraulis halus :
)
51 , 2
Re
( log 2
1 f
f
= (1.31)
Pipa hidraulis kasar :
k
D
f
7 , 3
log 2
1
= (1.32)
Bentuk persamaan di daerah transisi :
)
Re
51 , 2
7 , 3
( log 2
1
f D
k
f
+ = (1.33)
f : koefisien gesekan pipa
Re: angka Reynold, Re=VD/v
D : diameter pipa
k : tinggi kekasaran pipa.
Persamaan (1.31) sampai (1.33) dapat juga digunakan untuk aliran me-
lalui saluran terbuka, dengan mengubah parameter diameter pipa menjadi
jari-jari hidraulis dalamhubungan D =4R. Beberapa parameter lainnya
adalah :
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 21

Gambar 1.17. Loncat air
Penyelesaian

Gambar 1.18. Aliran melalui peluap ambang lebar
Gaya-gaya yang bekerja adalah :
80 ) 4 ( ) 10 (
2
1
2
1
=
2 2
1 1
= = y b F (1)
5 ) 1 ( ) 10 (
2
1
2
1
=
2 2
2 2
= = y b F (2)
60 ) 4 2 ( 10 2
2
1
= = +
d
F (3)
Persamaan momentum:
) ( =
1 2 2 1
V V Q F F F
d

) ( = 60 5 80
1 2
V V Q
g


(4)
Persamaan kontinuitas :

1 1 1 1
40 V 4 10 V V A Q = = =
40
V
1
Q
= (5)
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 22

2 2 2 2
10 V 1 10 V V A Q = = =
10
V
2
Q
= (6)
Substitusi Persamaan (5) dan (6) kedalamPersamaan (4) :
)
40 10
Q
( = 15
Q
Q
g


Diperoleh :
d Q / m 44,721
3
=
1.5. Tahanan Gesek pada Aliran
Pada aliran melalui pipa maupun saluran terbuka terdapat tahanan
gesek pada dinding batas yang berusaha menahan aliran. Tahanan terse-
but terjadi karena adanya kekasaran dinding batas pipa atau saluran.
Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya kehilangan tenaga selama
pengaliran.
Gambar 1.19, menunjukkan ruas saluran dengan panjang L, luas tam-
pang aliran A, keliling basah aliran P. Sudut kemiringan dasar saluran
adalah o, berat elemen zat cair adalah W, pada dinding saluran terjadi
tegangan geser t
0
. Kecepatan aliran pada tampang 1 dan 2 adalah V
1
dan
V2. Pada tampang 1 dan 2 bekerja tekanan hidrostatis sebesar F1 dan F2.
) ( sin
1 2 2 1
V V Q F F W F
t
= + o
Untuk aliran seragam, karena kedalaman aliran di tampang 1 dan 2
adalah sama maka gaya hidrostatis F
1
=F
2
sehingga saling meniadakan.
Demikian juga kecepatan aliran V1=V2. Apabila sudut kemiringan saluran
o adalah kecil maka
0
sin I tg = = o o dengan I
0
adalah kemiringan dasar
saluran. Padaaliran seragam, kemiringan dasar saluran adalah sama de-
ngan kemiringan muka air dan garis energi, I0=Im=If, sehingga persamaan
momentumpada arahaliran menjadi :
0
0
= L P I L A
f
t

f
I R t =
0
(1.25)
Didefinisikan kecepatan geser v* yang mempunyai bentuk berikut ini.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 23

f
gRI v = =

t
0
*


Gambar 1.19. Gaya-gayayang bekerjapadaaliran antaratampang 1 dan 2
Dengan R=A/P adalah jari-jari hidraulis. Dari Gambar 1.19. terli-
hat bahwa kemiringan garis energi If =hf/L, sehingga Persamaan (1.25)
dapat ditulis menjadi :

R
L
R
L
h
f
4
4
0 0

t
= = (1.26)
Percobaan yang telah dilakukan oleh paraahli menunjukkan bah-
wa kehilangan tenaga sebanding dengan V
2
. Persamaan (1.26) menunjuk-
kan bahwa hf sebanding dengan t0. Dengan demikian apabila hf =f(V
2
)
berarti juga t
0
=f(V
2
). Dengan anggapan bahwa :
t
0
=CV
2
(1.27)
dengan C adalah konstanta, maka Persamaan (1.26) menjadi :

R
L CV
h
f
4
4
2

=
g
V
R
L C
2 4
8
2

=

g
V
R
L
f h
f
2 4
2
= (1.28)
dengan f=8C/. Persamaan (1.27) dapat ditulis menjadi :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 28
Selanjutnya dengan menggunaan Persamaan (1.36) dihitung nilai f yang
baru. Apabila nilai f yang dimisalkan dengan Persamaan (1.35) sudah
mendekati nilai yang dihitung dengan Persamaan (1.36) maka hitungan
dihentikan, dan nilai f yang terakhir adalah nilai yang benar. Berdasar
Persamaan (1), nilai f tersebut digunakan untuk menghitung kecepatan
aliran V, yang selanjutkan dapat dihitung debit aliran Q.
Pada pemisalan pertama dianggap bahwa aliran adalah hidraulis
kasar, dan digunakan Persamaan (1.35) :

k
R
f
4 7 , 3
log 2
1
=
005 , 0
829 , 0 4 7 , 3
log 2
1
=
f

f =0.021755 032537 , 0 0.021755
2
= V V= . . .. .
Hitungan selengkapnya dilakukan dengan menggunakan software Excel
seperti ditunjukkan dalamTabel 1. Pada iterasi ke1, nilai f tersebut di
atas digunakan untuk menghitung V dari Persamaan (1), yang kemudian
dihitung Re. Nilai-nilai tersebut untuk menghitung f, V dan Re pada
iterasi ke2, seperti ditunjukkan dalamkolom[2], [3] dan [4]. Pada iterasi
ke2 ini nilai f dihitung dengan menggunakan Persamaan (1.36).
)
021755 , 0 981 . 138 . 4
51 , 2
829 , 0 4 7 , 3
005 , 0
( log 2
1
+

=
f

Diperoleh nilai f =0,021811.
Nilai f tersebut dibandingkan dengan nilai f pada iterasi ke1. Sebetulnya
hasil yang diperoleh sudah mendekati nilai perkiraan awal seperti ditun-
jukkan oleh tingkat kesalahan sebesar e =0,262% (tingkat kesalahan
yang diijinkan e =5%). Dalamcontoh ini hitungan dilanjutkan sampai
iterasi ke 3 yang hasilnya adalah nilai f =0,021812. Nilai f tersebut
digunakan untuk menghitung kecepatan aliran yang hasilnyaadalah V =
1,221 m/d.
Tabel 1. Hitungan f dan V
Iterasi fi V (m/d) Re e (%)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 25

Gambar 1.20. Grafik Moody
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 26
Angka Reynold :
v
R V 4
Re=
Kekasaran relatif :
R
k
4

Sehingga Persamaan (1.31) sampai (1.33) menjadi bentuk berikut ini.
Untuk saluran hidraulis halus :
)
51 , 2
Re
( log 2
1 f
f
= (1.34)
Saluran hidraulis kasar :
k
R
f
4 7 , 3
log 2
1
= (1.35)
Bentuk persamaan di daerah transisi :
)
Re
51 , 2
4 7 , 3
( log 2
1
f
R
k
f
+

= (1.36)
Persamaan (1.34) berlaku untuk aliran hidraulis halus di mana pe-
ngaruh kekentalan lebih dominan dibanding dengan kekasaran dinding,
sementara Persamaan (1.35) untuk aliran hidarulis kasar di mana penga-
ruh kekasaran dinding lebih dominan. Persamaan (1.36) berlaku untuk
kondisi transisi, yang juga bisa digunakan secara umum. Apabilaaliran
hidraulis halus, pengaruh kekasaran kecil yang ditunjukkan dengan nilai
k/4R kecil sehinggatidak banyak memberikan pengaruh pada Persamaan
(1.36). sebaliknyajikaaliran hidraulis kasar nilai k/4R besar sehingga le-
bih dominan dan nilai Rejuga besar yang dalampersamaan tersebut se-
bagai pembagi sehingga suku yang mengandung nilai Remenjadi kecil.
Contoh 3
Air (v=10
-6
m
2
/d) mengalir melalui saluran berbentuk trapesium
dengan lebar dasar 10 mdan kemiringan tebing m=2. Kedalaman aliran
y=1 m dan kemiringan dasar saluran I=0,0005. Tinggi kekasaran ks=5
mm. Hitung debit aliran.
Penyelesaian
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 27
Parameter yang diketahui :
Kekentalan kinematik : v=10
-6
m
2
/d
Luas tampang aliran, keliling basah dan jari-jari hidraulis :
2
12 ) 0 , 1 2 10 ( 0 , 1 ) ( m my B y A = + = + =
m 14,472 2 1 0 , 1 2 10 1 2
2 2
= + + = + + = m y B P
m
P
A
R 829 , 0
472 , 14
12
= = =
Persamaan kehilangan tenaga Darcy-Weisbach :

g
V
R
L
f h
f
2 4
2
=
Untuk aliran seragam, kemiringan dasar saluran sama dengan kemi-
ringan garis tenaga yaitu I0=If=0,0005; yang berarti beda elevasi dasar
saluran untuk setiap 1000 mpanjang adalah 0,5 m.
Dengan memasukkan parameter aliran yang diketahui :

81 , 9 2 829 , 0 4
1000
5 . 0
2

=
V
f
032537 , 0
2
= V f (1)
Persamaan (1) terdiri dari nilai f dan V yang belumdiketahui. Kare-
na hanya ada satu persamaan yang mengandung dua bilangan tak dike-
tahui, maka penyelesaian dari persamaan tersebut dilakukan dengan cara
coba banding. Hitungan dilakukan dengan menggunakan Persamaan
(1.36) untuk menghitung koefisien Darcy-Weisbach f, yang dapat berla-
ku secara umum, apakah aliran hidraulis halus, kasar maupun transisi.
Pertama kali ditetapkan nilai f sebarang yang kemudian dengan menggu-
nakan Persamaan (1) dihitung nilai V. Agar nilai f yang dimisalkan tidak
terlalu jauh dari nilai f yang benar, maka pertama kali dianggap bahwa
aliran adalah hidraulis kasar, dan nilai f dihitung dengan menggunakan
Persamaan (1.35). Berdasar nilai V tersebut dihitung angka Reynold.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 32
*
30
v
T
v
o = (1.38)
Di luar titik tersebut, aliran adalah turbulen dan tegangan geser karena
kekentalan dapat diabaikan.
1.6.1. Kekasaran Permukaan
Konsep adanya sub lapis laminar di dalamlapis batas turbulen dapat
digunakan untuk menjelaskan perilaku kekasaran permukaan. Apabila
permukaan bidang batas dibesarkan, akan terlihat bahwa permukaan
tersebut tidak halus seperti yang ditunjukkan dalam Gambar. 1.22.a.
Tinggi efektif ketidak teraturan permukaan yang membentuk kekasaran
disebut dengan tinggi kekasaran k. Perbandingan antara tinggi ke-
kekasaran dan jari-jari hidraulis (k/R) disebut dengan kekasaran relatif.
Apabila tinggi kekasaran lebih kecil dari tebal sub lapis laminar
(k<o') seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.22.a, ketidakteraturan
permukaan akan sedemikian kecil sehingga kekasaran akan seluruhnya
terendam di dalamsub lapis laminar. Dalamhal ini kekasaran tidak
mempunyai pengaruh terhadap aliran di luar sub lapis laminar, dan
permukaan batas disebut dengan hidraulis halus.

( a) Hidraulis halus

( b ) Hidraulis kasar
Gambar 1.22. Pengaruh kekasaran padasub lapis
Apabila tinggi kekasaran lebih besar daripada tebal lapis transisi
(k>oT) seperti ditunjukkan pada Gambar 1.22.b, maka kekasaran
permukaan akan berpengaruh pada daerah turbulen sehingga akan
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 29
[1] [2] [3] [4] [5]
1 0.021755
1.223
4,056,201 -
2 0.021812
1.221
4,050,877 0.262
3 0.021812
1.221
4,050,877 0.000
Selanjutnya dihitung debit aliran :
d m AV Q / 66 , 14 221 , 1 12
3
= = =
Penyelesaian hitungan pada Contoh 3 memberikan beberapa komentar
berikut ini. Persamaan untuk menghitung koefisien Darcy-Weisbach
dibedakan menurut tipe aliran yaitu hidraulis halus (Persamaan 1.34),
kasar (1.36) dan transisi (1.35). Dalamcontoh hitungan ini, padaiterasi
ke 1 digunakan Persamaan (1.35) untuk menghitunf nilai f, dengan
anggapan bahwa aliran adalah hidraulis kasar. Pada iterasi ke2 hitungan
menggunakan Persamaan (1.36) untuk kondisi transisi, yang bentuk
persamaannya merupakan gabungan dari persamaan untuk hidraulis
halus dan kasar. Tampak bahwa kedua persamaan memberikan hasil
yang hampir sama, perbedaan (tingkat kesalahan) terhadap nilai pada
iterasi ke 2 hanya 0,262%. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh
kekentalan yang ditunjukkan oleh angka Reynolds tidak banyak
berpengaruh terhadap nilai f. Pada aliran hidraulis kasar, pengaruh
kekasaran dinding lebih dominan dibanding kekentalan, sehingga
pengaruh kekentalan dapat diabaikan. Demikian juga pada aliran
hidraulis halus pengaruh kekentalan lebih dominan sehingga pengaruh
kekasaran dapat diabaikan. Pembedaan tipe aliran untuk
menyederhanakan bentuk persamaan sehingga hitungan nilai f menjadi
lebih mudah. Namun saat ini, dengan berkembangnya komputer dan
software untuk hitungan numerik, maka kesulitan dalamhitungan tidak
lagi menjadi masalah. Oleh karena itu lebih disarankan menggunakan
Persamaan (1.36) untuk menghitung nilai f yang bisa berlaku untuk
umum, baik kondisi aliran hidraulis halus, kasar maupun transisi.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 30
1.6. Distribusi Kecepatan
Bentuk tampang memanjang dan melintang sungai adalah tidak ter-
atur. Selain itu, karenapengaruh kekentalan air dan kekasaran dinding,
distribusi kecepatan pada vertikal dan lebar sungai adalah tidak seragam
seperti ditunjukkan dalamGambar 1.20. Dalamaliran melalui saluran
terbuka, distribusi kecepatan tergantung pada banyak faktor seperti
bentuk saluran, kekasaran dinding dan juga debit aliran. Distribusi
kecepatan tidak merata di setiap titik pada tampang lintang. Distribusi
kecepatan padavertikal mempunyai bentuk parabolis.
Distribusi Kecepatan
melintang sungai
Distribusi Kecepatan
pada vertikal
y
x z

Gambar 1.20. Distribusi kecepatan padaarah lebar dan vertikal sungai
Gambar 1.21. menunjukkan profil kecepatan di dekat bidang batas,
yang dapat dibedakan dalambeberapabagian yaitu daerah laminer yang
berada di dekat bidang batas, daerah di mana aliran adalah turbulen,
daerah transisi di mana terdapat perubahan aliran laminer dan turbulen.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 31
a
b
u
y1
Daerahlaminer
Tebal nominal
sublapislamier
Profil kecepatan
lamier
Kecepatan
turbulen
Daerah
turbulen
Daerah
transisi
c
y
u

Gambar 1.21. Profil kecepatan di dekat bidang batas
Di daerah turbulen distribusi kecepatan adalah logaritmik. Apabila
kurva tersebut diperpanjang sampai pada titik dengan kecepatan nol,
kurvatersebut akan memotong sumbu y padajarak y
1
. Di daerah laminer
distribusi kecepatan adalah parabolis (linier). Karena tipisnya daerah sub
lapis laminer dan bentuk kurva yang parabolis, maka kurva distribusi
kecepatan di dalamsub lapis laminer dapat didekati oleh garis lurus.
Perpotongan antara garis lurus tersebut dan kurva distribusi kecepatan
aliran turbulen adalah tidak halus (patah) dan terjadi pada jarak o dari
dinding batas. Berikut ini diberikan beberapa tebal lapis.
*
6 , 11
v
v
o =
dengan o adalah tebal nominal sub lapis laminar.
Tebal sub lapis laminar tersebut diberikan oleh :
*
5
'
v
v
o = (1.37)
Mengingat tebal sub lapis laminar sangat tipis maka dapat dianggap
bahwabentuk profil kecepatan di daerah tersebut merupakan garis lurus.
Daerah transisi terletak antara titik a dan c; jarak antar dinding batas
dan titik c diberikan oleh:
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 36
}
=
A
K
dA v dt E
3
2
1

Apabila profil kecepatan di atas untuk seluruh tampang diketahui, maka
energi kinetik data dihitung.
Energi kinetik total untuk kecepatan aliran merata pada tampang
lintang aliran adalah :
3

2
1
AV dt E
K
o =
Dengan menyamakan kedua bentuk energi kinetik tersebut maka didapat:
}
=
A
dA v
AV
3
3
1
o (1.44.a)
Untuk lebar satu satuan, maka :

}
=
y
dy v
yV
3
3
1
o (1.44.b)
Nilai koefisien koreksi o tergantung pada distribusi kecepatan.
Persamaan energi untuk titik 1 dan 2 dengan memperhitungkan koefisien
koreksi energi menjadi :
g
V p
z
g
V p
z
2 2
2
2 2 2
2
2
1 1 1
1
o

+ + = + + (1.45)
1.6.4. Koefisien Koreksi Momentum
Di dalampenurunan persamaan momentumuntuk aliran permanen
dan satu dimensi, kecepatan aliran dan rapat massa adalah seragampada
satu tampang lintang aliran. Pada kenyataannya, distribusi kecepatan
pada suatu tampang adalah tidak seragam. Demikian juga dengan rapat
massauntuk aliran kompresibel.
Dengan demikian sebenarnyamomentumdi dalamaliran adalah
v dA v Momentum
}
=
dengan v adalah kecepatan aliran pada pias dA dan adalah rapat massa.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 33
mempengaruhi aliran di daerah tersebut. Permukaan ini disebut dengan
hidraulis kasar.
Nilai kekasaran k

untuk berbagai permukaan ditentukan oleh
percobaan pada pipa untuk berbagai nilai angka Reynolds dan dengan
membandingkan hasil tersebut dengan hasil percobaan yang dilakukan
oleh Nikuradse untuk pipa yang dilapisi dengan pasir. Tabel 1.1
memberikan nilai ks untuk berbagai permukaan.
Tabel 1.1. Tinggi kekasaran pipa
Permukaan k (mm)
kaca halus
baja 0,03-0,09
besi diaspal 0,06-0,24
besi tuang 0,18-0,90
plester semen 0,27-1,20
Beton 0,30-3,00
Saluran tanah seragamlurus 3
pasangan batu 6
1.6.2. Distribusi Kecepatan Aliran Turbulen di Bidang Datar
Penurunan persamaan distribusi kecepatan aliran turbulen pada
bidang datar didasarkan pada persamaan
2 2 2
) (
dy
dv
y k t =

dengan t adalah tegangan geser pada titik di mana gradien kecepatan
adalah du/dy dan k adalah koefisien Karman yang mempunyai nilai
sekitar 0,4. Tegangan geser dekat dengan dinding batas dianggap
mempunyai bentuk yang sama yaitu :
2 2 2
0
) (
dy
dv
y k t =

Persamaan di atas dapat ditulis dalambentuk :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 34
y
v
y dy
dv 1 1 1
* 0
k
t
k
= =
(1.39)
dengan :

t
0
*
= v

yang disebut dengan kecepatan geser. Integrasi Persamaan (1.39) akan
diperoleh:
C y
v
v + = ln
*
k

(1.40)
Pada jarak y1 yang sangat dekat dengan dinding batas, nilai v=0,
sehinggapersamaan di atas menjadi :
C y
v
+ =
1
*
ln 0
k

1
*
lny
v
C
k
=
Apabila konstanta C disubstitusikan ke dalam Persamaan (1.40),
maka diperoleh bentuk :

1
* *
ln ln y
v
y
v
v
k k
=

1
*
ln
y
y v
v
k
=
(1.41)
Untuk nilai k=0,4 dan dan dengan menggunakan logaritma biasa,
maka Persamaan (1.41) menjadi :
1 *
log 75 , 5
y
y
v
v
=
(1.42)
Nikuradse melakukan percobaan untuk mendapatkan nilai y
1
untuk
berbagai tipekekasaran dinding. Untuk dinding halus diperoleh :
107
'
1
o
= y
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 35
Untuk dinding kasar :
30
1
s
k
y =
Substitusi bentuk tersebut kedalamPersamaan (1.42) akan diperoleh
bentuk distribusi kecepatan aliran untuk dinding halus dan kasar.
Distribusi kecepatan aliran permukaan hidraulis halus :
5 , 5 log 75 , 5
*
*
+ =
v
y v
v
v

(1.43)
Distribusi kecepatan aliran permukaan hidraulis kasar :
5 , 8 log 75 , 5
*
+ =
s
k
y
v
v

(1.44)
1.6.3. Koefisien Koreksi Energi
Dalamanalisis aliran satu dimensi, kecepatan aliran pada suatu tam-
pang dianggap konstan. Pada kenyataannya, kecepatan padapenampang
adalah tidak merata (Persamaan 1.44). Kecepatan di dinding batas adalah
nol dan bertambah dengan jarak dari dinding batas. Penggunaan kecepat-
an rerata untuk menggantikan kecepatan tidak merata dalampersamaan
Bernoulli perlu memasukkan koefisien tak berdimensi o pada suku tinggi
kecepatan. Nilai o merupakan perbandingan antara energi kinetik yang
dihitung dengan kecepatan tidak merata dan dengan kecepatan rerata.
Koefisien o dikenal sebagai koefisien koreksi energi atau koefisien
Coriolis.
Energi kinetik dari massaM yang mempunyai kecepatan V adalah:
2
2
1
V M E
K
=
Apabila kecepatan pada suatu pias kecil dA suatu penampang aliran
A adalah v, maka energi kinetik adalah :
dA v dt v dt dA v dM dE
3 2 2

2
1
v
2
1
2
1
= = =
Integrasi dari persamaan di atas untuk seluruh tampang aliran akan
memberikan energi kinetik total sebesar :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 40

Gambar 1. Distribusi kecepatan padavertikal.
b. Distribusi kecepatan untuk lebar dasar saluran 2,0 m
Hitungan dilakukan dengan cara yang samauntuk lebar dasar B=2,0
m dan hasilnya ditunjukkan dalam Gambar 2. Terlihat bahwa pada
saluran dengan lebar kecil, mempunyai kecepatan aliran yang lebih kecil.
Hal ini disebabkan karena pengaruh gesekan dinding saluran yang lebih
besar.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 37
Dengan anggapan bahwa kecepatan aliran merata maka momentum
yang terjadi di dalamaliran adalah
V VA Momentum | =
dengan | adalah koefisien koreksi momentum. Dengan menyamakan
kedua bentuk momentumdi atas maka akan dapat diperoleh koefisien
koreksi momentum
VA V
vdA v

|
}
=
Untuk fluida tak kompresibel
A V
dA v
2
2
}
= | (1.46.a)
Untuk lebar satu satuan, maka:

y V
dy v
2
2
}
= | (1.46.b)
Koefisien koreksi momentum untuk kebanyakan aliran air men-
dekati satu. Untuk aliran laminar di dalampipa, nilai | adalah 1,33.
Sedang pada aliran turbulen, nilai | bervariasi antara 1,01 dan 1,04.
Dengan memasukkan koefisien koreksi momentum |, maka per-
samaan momentummenjadi
) (
1 1 2 2
V V Q F | | = (1.47)
Contoh 4
Air (v=10
-6
m
2
/d) mengalir melalui saluran berbentuk trapesium
dengan lebar dasar 10 mdan kemiringan tebing m=2. Kedalaman aliran
y=1 m dan kemiringan dasar saluran I=0,0005. Tinggi kekasaran k
s
=5
mm.
Pertanyaan :
a. Hitung distribusi kecepatan aliran.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 38
b. Hitung pula distribusi kecepatan aliran apabila lebar saluran adalah 2
m.
c. Hitung kecapatan rerata
d. Hitung koefisien koreksi energi o
e. Hitung koefisien koreksi momentum|
Penyelesaian
a. Distribusi kecepatan
Langkah pertama diselidiki apakah aliran hidraulis halus atau kasar, yaitu
dengan membandingkan tinggi kekasaran dinding saluran dengan tebal
sub lapis laminer.
Dihitung jari-jari hidraulis :
2
1 2
) (
m y B
my B y
P
A
R
+ +
+
= = m 829 , 0
2 1 0 , 1 2 10
) 0 , 1 2 10 ( 0 , 1
2
=
+ +
+
=
Kecepatan geser :
06377 , 0 0005 , 0 829 , 0 81 , 9
0
*
= = = = gRI v

t

Tebal sub lapis laminar diberikan oleh :
m
u
000078 , 0
06377 , 0
10 5 5
'
6
*
=

= =

v
o
00047 , 0
06377 , 0
10 30 30
6
*
=

= =

u
T
v
o
m
u
000078 , 0
063774 , 0
10 6 , 11 6 , 11
6
*
=

= =

v
o
Mengingat k
s
=5mm=0,005 m >o
T
=0,00047 m, maka aliran adalah
hidraulis kasar. Persamaan (1.44) dapat ditulis dalambentuk di bawah,
dan untuk k
s
=0,005; v
*
=0,06377 dan y=0,01 mmaka diperoleh :
*
) 5 , 8 log 75 , 5 ( v
k
y
v
s
+ =
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 39
m v 652 , 0 06377 , 0 ) 5 , 8
005 , 0
01 , 0
log 75 , 5 ( = + =
Hitungan selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama untuk
berbagai kedalaman aliran y seperti diberikan dalam Tabel 1. dan
Gambar 1. Terlihat bahwa kecepatan pada jarak yang sangat dekat
dengan dinding mendekati nol dan bertambah dengan cepat pada jarak
yang sangat dekat dari dinding, yaitu pada jarak kurang dari 5 cm dari
dasar saluran. Kecepatan maksimumterjadi pada permukaan air yaitu
sebesar v=1,386 m/d.
Tabel 1. Distribusi kecepatan padavertikal
y (m) v (m/d ) y (m) v (m/d )
0.0002 0.029 0.4 1.240
0.0005 0.175 0.5 1.275
0.001 0.286 0.6 1.305
0.01 0.652 0.7 1.329
0.05 0.909 0.8 1.350
0.1 1.019 0.9 1.369
0.2 1.130 1 1.386
0.3 1.194


HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 44

y V
dy v
2
2
}
= |
Koefisien koreksi momentum dihitung dengan cara serupa seperti
diberikan dalamTabel 2, yaitu menghitung v
2
(kolom[6]) dan kemudian
dikalikan dengan Ay (kolom [7]) yang selanjutnya dijumlahkan pada
seluruh kedalaman. Koefisien koreksi momentumadalah :
0192 , 1
223 , 1 1
525142 , 1
2
=

= o
J adi koefisien koreksi momentumadalah |=1,0192.





















I. PRINSIP DASAR ALIRAN 41

Gambar 2. Distribusi kecepatan padasaluran dengan B=10 m dan B=2 m
c. Kecepatan rerata
Kecepatan rerata dihitung berdasar distribusi kecepatan seperti
ditunjukkan dalamGambar 1. Dihitung luasan dari distribusi kecepatan
tersebut. Hitungan dilakukan dengan menggunakan Tabel 1. Tabel
tersebut jugadigunakan untuk hitungan koefisien koreksi energi (kolom
[4] dan [5]) dan koefisien koreksi momentum(kolom[6] dan [7]).
Kolom[1] adalah kedalaman aliran y dihitung dari dasar saluran.
Kolom[2] adalah kecepatan aliran pada kedalaman y. Kolom[3] adalah
luasan di antaradua kecepatan, yaitu :
) (
2
) (
1 2
2 1
y y
v v
dy v
+
=
y
dy v
V
y
0
}
=
J umlah dari kolom [3] adalah luasan total distribusi kecepatan.
Kecepatan rerata adalah jumlah luasan dibagi dengan kedalaman aliran.
d m V / 223 , 1
1
223257 , 1
= =
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 42
Gambar 3 menunjukkan kecepatan rerata dibandingkan dengan
distribusi kecepatan. Terlihat bahwa perpotongan antarakurvadistribusi
kecepatan dan kecepatan rerata terjadi pada kedalaman sekitar 0,37 y
(dibulatkan 0,4 y) dari dasar saluran; atau 0,6 y dari permukaan air.
Dalampraktek di lapangan, pengukuran kecepatan rerata dilakukan pada
kedalaman 0,6y dari muka air.

Gambar 3. Distribusi kecepatan dan kecepatan rerata

Tebel 2. Hitungan kecepatan rerata, koefisien koreksi o dan |
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 43
(v1+v2)(y2-y1)/2
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]
0 0 - 0 - 0 -
0.0002 0.029 0.000003 0.000026 0.0000000 0.000868 0.0000001
0.0005 0.175 0.000031 0.005394 0.0000008 0.030758 0.0000047
0.001 0.286 0.000115 0.023336 0.0000072 0.081662 0.0000281
0.01 0.652 0.004222 0.277764 0.0013550 0.425713 0.0022832
0.05 0.909 0.031225 0.750544 0.0205662 0.825881 0.0250319
0.1 1.019 0.048199 1.058612 0.0452289 1.038703 0.0466146
0.2 1.130 0.107436 1.441195 0.1249904 1.275896 0.1157299
0.3 1.194 0.116184 1.702759 0.1571977 1.425943 0.1350919
0.4 1.240 0.121704 1.906363 0.1804561 1.537460 0.1481701
0.5 1.275 0.125771 2.075016 0.1990690 1.626850 0.1582155
0.6 1.305 0.129000 2.219977 0.2147496 1.701763 0.1664307
0.7 1.329 0.131679 2.347682 0.2283830 1.766416 0.1734089
0.8 1.350 0.133970 2.462187 0.2404935 1.823395 0.1794905
0.9 1.369 0.135971 2.566227 0.2514207 1.874405 0.1848900
1 1.386 0.137748 2.661742 0.2613984 1.920631 0.1897518
J umlah 1.223257 Jumlah 1.9253164 Jumlah 1.5251420
y (m) v (m/d)
dy v
3
3
v
2
v
dy v
dy v
2

d. Koefisien koreksi energi o
Koefisien koreksi energy dihitung dengan persamaan berikut :

}
=
y
dy v
yV
3
3
1
o
DalamTabel 2 dihitung v
3
(kolom[4]) dan kemudian dikalikan dengan
Ay (kolom[5]) dan kemudian dijumlahkan untuk seluruh kedalaman.
Koefisien koreksi energi adalah :
0518 , 1
223 , 1 1
9253164 , 1
3
=

= o
J adi koefisien koreksi energi adalah o=1,0518.
e. Koefisien koreksi momentum |
Koefisien koreksi energy dihitung dengan persamaan berikut :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 48
Chezy, seorang insinyur Perancis ketika merencanakan saluran pembawa
air dari Sungai Yvettekekota Paris pada tahun 1768.
Koefisien Chezy dapat ditulis dalambentuk koefisien Darcy-Weis-
bach. Dengan menggunakan hubungan R =D/4 dan I =h
f
/L, persamaan
Darcy-Weisbach dapat ditulis dalambentuk berikut ini.
g
V
R
L
f h
f
2 4
2
=
RI
f
g
V
8
= (2.2)
dengan I =hf/L.
Dengan membandingkan Persamaan (2.1) dan (2.2) akan diperoleh :
f
g
C
8
= (2.3)
Persamaan (2.3) menunjukan bahwa koefisien Chezy merupakan
fungsi jari-jari hidraulis R, kekasaran dinding k, dan angka Reynolds Re;
mengingat parameter f juga tergantung pada ketiga variabel tersebut.
Dengan katalain :
C = (R, k, Re) (2.4)
Dengan memperhatikan Persamaan (2.3) dan (1.36), terdapat
hubungan antara C dan f dalambentuk berikut ini.
)
Re
51 , 2
4 7 , 3
( log 2
1
8 f
R
k
f g
C
+

= = (2.5)
Pada aliran melalui saluran terbuka, biasanya permukaan dinding adalah
kasar sehingga pengaruh kekentalan adalah kecil. Dengan demikian
pengaruh angka Reynolds terhadap koefisien Chezy dapat diabaikan,
sehingga:
)
4 7 , 3
( log 2
1
8
R
k
f g
C

= = (2.6)
atau
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 45




BAB II

ALIRAN SERAGAM


2.1. Pendahuluan
Sebenarnya aliran seragamjarang terjadi di alam. Hal ini disebabkan
karena tampang aliran yang benar-benar seragamdi sepanjang saluran
jarang terjadi, baik karena ketidak-teraturan tampang saluran dan adanya
bangunan seperti bendung, pintu air, penyempitan atau pelebaran
saluran, dan sebagainya. Aliran dapat dianggap seragamapabila saluran
sangat panjang dan tampangnya sama di sepanjang saluran. Di dalam
aliran seragam, dianggap bahwa aliran adalah permanen dan satu
dimensi. Dengan anggapan satu dimensi berarti kecepatan aliran di setiap
titik pada tampang lintang adalah sama. Contoh aliran seragamadalah
aliran melalui saluran irigasi yang sangat panjang dan tidak ada
perubahan penampang. Aliran di saluran irigasi yang dekat dengan
bangunan air (irigasi) tidak lagi seragamkarenaadanya pembendungan
atau terjunan, yang menyebabkan aliran menjadi tidak seragam(non uni-
form). Pada umumnya aliran seragamdi saluran terbuka adalah turbulen,
sedang aliran laminar sangat jarang terjadi sehingga tidak dibicarakan
dalambuku ini.
Aliran seragamtidak dapat terjadi pada kecepatan aliran yang besar
atau kemiringan saluran sangat besar. Apabila kecepatan aliran me-
lampaui batas tertentu (kecepatan kritik), maka muka air menjadi tidak
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 46
stabil dan akan terjadi gelombang. Pada kecepatan yang sangat tinggi
(lebih dari 6 m/d), udara akan masuk kedalamaliran dan aliran menjadi
tidak permanen.
2.2. Rumus Chezy
Zat cair yang mengalir melalui saluran terbuka akan menimbulkan
tahanan geser pada dinding saluran. Tahanan ini akan diimbangi oleh
komponen gaya berat yang bekerja pada zat cair dalamarah aliran. Di
dalamaliran seragam, komponen gaya berat dalamarah aliran adalah
seimbang dengan tahanan geser. Tahanan geser ini tergantung pada
kecepatan aliran.
Penurunan persamaan dasar aliran seragam dilakukan dengan
anggapan berikut ini (lihat Gambar 2.1).
a
b
Garisenergi
L
v
Luas
A
P
a
b
wAL
v
2g
2

Gambar 2.1. Penurunan rumus Chezy
1. Gaya yang menahan aliran tiap satuan luas dasar saluran adalah se-
banding dengan kuadrat kecepatan dalambentuk
t
0
=k V
2

dengan k adalah konstanta. Bidang singgung (kontak) antara aliran
dengan dasar saluran adalah sama dengan perkalian antara keliling
basah (P) dan panjang saluran (L) yang ditinjau, yaitu PL. Gaya total
yang menahan aliran adalah
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 47
Gaya tahanan =t
0
P L
2. Di dalamaliran permanen, komponen gaya berat yang mengakibatkan
aliran harus sama dengan gaya tahanan total. Besar komponen gaya
berat adalah :
Komponen gaya berat = A L sin o
dengan :
: berat jenis zat cair
A : luas tampang basah
L : panjang saluran yang ditinjau
o : sudut kemiringan saluran.
Berdasarkan kedua anggapan tersebut dan dengan memperhatikan
Gambar. 2.1, makakeseimbangan antarakomponen gaya berat dan gaya
tahanan adalah :
t
0
P L = A L sin o
atau
k V
2
P L = A L sin o
atau
V
2
=
P
A
k

sin o
Oleh karena sudut kemiringan saluran o adalah kecil, maka kemiringan
saluran I =tg o =sin o dan persamaan di atas menjadi :
RI C V = (2.1)
dengan
k
C

=
dan R adalah jari-jari hidraulis, R =A/P.
Persamaan (2.1) dikenal dengan rumus Chezy dan koefisien C
disebut koefisien Chezy yang mempunyai dimensi L

T
1
atau akar dari
percepatan. Persamaan tersebut pertama kali dikemukakan oleh Antoine
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 52
6 / 1
1
R
n
C = (2.10)
Dengan koefisien tersebut maka rumus kecepatan aliran menjadi:
2 / 1 3 / 2
1
I R
n
V = (2.11)
Koefisien Manning n merupakan fungsi bahan dinding saluran yang
mempunyai nilai yang sama dengan n untuk rumus Ganguillet dan
Kutter. Tabel 2.2 memberikan nilai n. Rumus Manning ini banyak
digunakan karena mudah pemakaiannya.
Tabel 2.2. Nilai Koefisien Manning
Dinding Saluran
Koef.
Manning n
Besi tuang dilapis 0,014
Kaca 0,010
Saluranbeton 0,013
Batadilapis mortar 0,015
Pasanganbatu disemen 0,025
Salurantanah bersih 0,022
Salurantanah 0,030
Sal. dengandasar batu dantebing rumput 0,040
Sal. pada galianbatu padas 0,040

4. Rumus Strickler
Strickler mencari hubungan antara nilai koefisien n padarumus Man-
ning dan Ganguillet-Kutter, sebagai fungsi dimensi material yang mem-
bentuk dinding saluran. Untuk dinding (dasar dan tebing) dari material
yang tidak koheren, koefisien Strickler ks diberikan oleh rumus berikut
6 / 1
35
) ( 26
1
d
R
n
k
s
= = (2.12)
dengan R adalah jari-jari hidraulis, dan d
35
adalah adalah diameter butir
material (dalammeter) di mana35% dari berat sampel adalah lebih halus
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 49
k
R
g C
8 , 14
log 8 2 = (2.7)
Tinggi kekasaran untuk berbagai jenis dinding saluran diberikan dalam
Tabel 1.1.
Dari beberapa bentuk persamaan di atas terlihat bahwa terdapat
hubungan antara koefisien Chezy dan koefisien Darcy-Weisbach. Kedua
koefisien tersebut tergantung pada angka Reynolds, kekasaran dinding
batas dan bentuk tampang lintang. Koefisien gesekan f pada pipa
lingkaran telah dibahas dalamBab I, di mana tersedia persamaan untuk
menentukan nilainya. Pada aliran melalui pipa parameter aliran adalah
seragam, seperti diameter dan kekasaran pipa sepanjang aliran yang
sama, karena jenis pipayang sama. Pada aliran melalui saluran terbuka,
terutama untuk saluran alam(sungai) parameter aliran sangat bervariasi,
seperti bentuk tampang saluran, kekasaran dinding, kondisi aliran apakah
permanen atau tidak permanen. Pada saluran buatan ketidakteraturan
tersebut tidak sebesar saluran alam, namun masih tidak seteratur saluran
pipa. Oleh karena itu penentuan koefisien Chezy C lebih sulit dibanding
penentuan koefisien Darcy-Weisbach f.
Koefisien Chezy tergantung pada kedalaman aliran yang
ditunjukkan oleh jari-jari hidraulis R dan kecepatan aliran yang
ditunjukkan oleh angka Reynolds Re pada Persamaan (2.5). Hal ini
berarti bahwa koefisien Chezy C bisa berubah dengan kondisi aliran.
Padaaliran dengan debit kecil nilai C lebih rendah daripada ketika debit
besar (banjir). Pada saat banjir, sungai mampu melewatkan debit lebih
besar daripada pada saat debit kecil.
Contoh 3
Air (v=10
-6
m
2
/d) mengalir melalui saluran berbentuk trapesium
dengan lebar dasar 10 mdan kemiringan tebing m=2. Kedalaman aliran
y=1 m dan kemiringan dasar saluran I=0,0005. Tinggi kekasaran k
s
=5
mm. Hitung debit aliran.
Penyelesaian
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 50
Parameter yang diketahui :
Kekentalan kinematik : v=10
-6
m
2
/d
Lebar dasar saluran : B=10 m
Kemiringan tebing : m=2
Kedalaman aliran : y=1 m
Kemiringan dasar saluran : I=0,0005
Tinggi kekasaran : k
s
=5 mm
Luas tampang aliran, keliling basah dan jari-jari hidraulis :
2
12 ) 0 , 1 2 10 ( 0 , 1 ) ( m my B y A = + = + =
m 14,472 2 1 0 , 1 2 10 1 2
2 2
= + + = + + = m y B P
m
P
A
R 829 , 0
472 , 14
12
= = =
d m C / 60
005 . 0
829 , 0 8 , 14
log 81 , 9 8 2
2 / 1
=

= dihitung lagi!!!
Kecepatan aliran :
d m RI C V / 223 , 1 0005 , 0 829 , 0 60
3
= = =
Debit aliran :
d m AV Q / 675 , 14 223 , 1 12
3
= = =
2.3. Rumus-rumus Empiris
Beberapa ahli telah mengusulkan beberapa bentuk koefisien Chezy C
dari rumus-umum RI C V = . Koefisien tersebut tergantung pada bentuk
tampang lintang, kekasaran dinding saluran dan kecepatan aliran. Dalam
buku ini akan ditinjau beberapa rumus yang banyak digunakan.
1. Rumus Bazin
Bazin mengusulkan rumus berikut ini.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 51
R
C
B

+
=
1
87
(2.8)
dengan
B
adalah koefisien yang tergantung pada kekasaran dinding,
seperti diberikan dalamTabel 2.1.
Tabel 2.1. Koefisien kekasaran Bazin
Jenis dinding
B

Dinding sangat halus (semen) 0,06
Dinding halus (papan, batu, bata) 0,16
Dinding batu pecah 0,46
Dinding tanah sangat teratur 0,85
Saluran tanah dengan kondisi biasa 1,30
Saluran tanah dengan dasar batu pecah dan tebing rumput 1,75
2. Rumus Ganguillet-Kutter
Ganguillet dan Kutter mengusulkan rumus untuk menghitung koefi-
sien Chezy berikut ini.
R
n
I
n I
C
)
00155 , 0
23 ( 1
1 00155 , 0
23
+ +
+ +
= (2.9)
Koefisien n yang ada pada persamaan tersebut sama dengan koefisien n
padarumus Manning yang akan dijelaskan padabagian berikutnya. Ru-
mus tersebut lebih kompleks dari rumus Bazin, tetapi hasilnya tidak lebih
baik dari rumus Bazin. Untuk nilai kemiringan kecil (di bawah 0,0001)
nilai 0,00155/I menjadi besar dan rumus tersebut menjadi kurang teliti.
3. Rumus Manning
Seorang ahli dari Islandia, Robert Manning mengusulkan rumus
berikut ini.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 56

2 / 1 3 / 2
005 , 0 )
2 5
5
(
022 , 0
1
5 20
+
=
y
y
y

3 / 2
)
2 5
5
( 2445 , 1
y
y
y
+
=
3 / 2
)
2 5
5
(
2445 , 1
y
y
y
+
=
Tabel 1. Hitungan kedalaman aliran (ditambah cara manual &
Kesalahan)
No yi e (%)
1 1.5
2 1.299 -15.454
3 1.382 5.962
4 1.345 -2.704
5 1.361 1.144
6 1.354 -0.499
7 1.357 0.215
8 1.356 -0.093

Diperoleh : y=1,356 m
Soa14
Saluran trapesiumdengan lebar dasar 5,0 mdan kemiringan tebing 1:1.
Debit aliran Q =10 m
3
/d. Hitung kedalaman aliran apabila koefisien
Chezy C =50 dan kemiringan dasar saluran 0,001. (ditambah gambar
tampang saluran)
Penyelesaian
Lebar dasar saluran : B = 5,0 m
Debit aliran : Q =10,0 m
3
/d
Kemiringan tebing : 1:1 m=1
Kemiringan dasar : I=0,001
Koefisien Chezy : C =50
Luas tampang aliran : A =[B +(B+2 my)] 0,5y =(B+my) y =(5 +y) y
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 53
dari diameter butir tersebut. Dengan menggunakan koefisien tersebut
maka rumus kecepatan aliran menjadi

2 / 1 3 / 2
I R k V
s
= (2.13)
Contoh 2
Saluran segi empat dengan lebar B=6 m dan kedalaman air y=2 m. Kemi-
ringan dasar saluran 0,001 dan koefisien Chezy C=50. Hitung debit
aliran.
Penyelesaian
Luas tampang basah :

2
12 2 6 m y B A = = =
Keliling basah :

2
10 2 2 6 2 m y B P = + = + =
J ari-jari hidraulis :

2
2 , 1
10
12
m
P
A
R = = =
Debit aliran :
d m RI C A AV Q / 7846 , 20 001 , 0 2 , 1 50 12
3
= = = =
Contoh 3
Saluran segi empat dengan lebar 5 mdan kedalaman 2 mmempunyai
kemiringan dasar saluran 0,001. Dengan menggunakan rumus Bazin,
hitung debit aliran. Koefisien B=0,46.
Penyelesaian
Luas tampang basah :
2
10 2 5 m y B A = = =
Keliling basah :
2
9 2 2 5 2 m y B P = + = + =
J ari-jari hidraulis : m
P
A
R 1111 , 1
9
10
= = =
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 54
Koefisien Chezy dihitung dengan rumus Bazin :
57 , 60
1111 , 1
46 , 0
1
87
1
87
=
+
=
+
=
R
C
B


Debit aliran :
d m RI C A AV Q / 19 , 20 001 , 0 1111 , 1 57 , 60 10
3
= = = =
Contoh 4
Saluran terbuka berbentu segi empat dengan lebar 10 m dan
kedalaman aliran 4 m. Kemiringan dasar saluran 0,001. Apabila
koefisien n dari rumus Kutter adalah n=0,025; hitung debit aliran.
Penyelesaian
Luas tampang basah :
2
40 4 10 m y B A = = =
Keliling basah :
2
18 4 2 10 2 m y B P = + = + =
J ari-jari hidraulis : m
P
A
R 2222 , 2
18
40
= = =
Koefisien Chezy dihitung dengan rumus Ganguillet-Kutter (Persamaan
2.9):
72 , 45
2222 , 2
025 , 0
)
001 , 0
00155 , 0
23 ( 1
025 , 0
1
001 , 0
00155 , 0
23
=
+ +
+ +
= C
Debit aliran :
d m RI C A AV Q / 21 , 86 001 , 0 2222 , 2 72 , 45 40
3
= = = =
Contoh 5
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 55
Saluran terbuka berbentu trapesium terbuat dari tanah (n=0,022)
mempunyai lebar 10 m dan kemiringan tebing 1:m (vertikal:horisontal)
dengan m=2. Apabila kemiringan dasar saluran adalah 0,0001 dan
kedalaman aliran adalah 2 m, hitung debit aliran dengan menggunakan
Rumus Manning.
Penyelesaian
Luas tampang basah :

2
28 ) 2 2 10 ( 2 ) ( m my B y A = + = + =
Keliling basah :
94 , 18 2 1 2 2 10 1 2
2 2
= + + = + + = m y B P
J ari-jari hidraulis : m
P
A
R 478 , 1
94 , 18
28
= = =
Debit aliran dihitung dengan rumus Manning :
d m I R
n
A AV Q / 516 , 16 0001 , 0 478 , 1
022 , 0
1
28
1
3 2 / 1 3 / 2 2 / 1 3 / 2
= = = =
Contoh 6
Saluran segiempat dengan lebar 5 m, kemiringan dasar saluran I=0,005.
Koefisien Manning n=0,022. Apabila debit aliran adalah 20 m
3
/d; hitung
kedalaman aliran.
Penyelesaian
Luas tampang basah : y y B A 5 = = (ditambah gambar tampang saluran)
Keliling basah : y y B P 2 5 2 + = + =
J ari-jari hidraulis :
y
y
P
A
R
2 5
5
+
= =
Debit aliran dihitung dengan rumus Manning :

2 / 1 3 / 2
1
I R
n
A AV Q = =
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 60
Soal 6
Air mengalir melalui pipa lingkaran berdiameter 2,0 m. Apabila
kemiringan dasar saluran adalah 0,0025; hitung debit aliran apabila
kedalaman aliran adalah 1,0 m. Koefisien Manning n = 0,015.
Penyelesaian
Diameter pipa : D = 2,0 m
Kemiringan dasar saluran: I =0,0025
Kedalaman aliran : y = 1,0 m
Koefisien Manning : n =0,015


Luas tampang aliran : A = ( )
2 2
2
5708 , 1 2
8
1
4 2
1
m
D
= = t
t

Keliling basah P = ( ) m D 1416 , 13 2
2
1
2
1
= = t t
J ari-jari hidraulis = m
P
A
R 5 , 0
1416 , 3
5708 , 1
= = =
Debit aliran : Q =AV =
2 / 1 3 / 2
1
I R
n
A
= ( ) ( ) d m / 298 , 3 0025 , 0 5 , 0
015 , 0
1
5708 , 1
3 2 / 1 3 / 2
=

Soa1 7
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 57
Keliling basah : P= B + 2y
2
1 m + = B + 2y 2
J ari-jari hidraulis :
( )
2 2 5
5
y
y y
P
A
R
+
+
= =
Debit aliran : RI AC AV = Q =

( )
001 , 0
2 2 5
5
50 y)y + (5 = 10
2
1

+
+

y
y y

( )
( )
2
1
2 2 5
5
5 = 6,3246

+
+
+
y
y y
y y
y =
( )
( )
2
1
2 2 5
5
5
3246 , 6

+
+
+
y
y y
y

Persamaan diatas diselesaikan dengan metode iterasi yang akhirnya
didapat:
y =1,123 m (ditambah cara menghitung secara manual)
I yi e(%)
1 2 -
2 0.788 153.714
3 1.375 42.686
4 0.999 37.691
5 1.205 17.091
6 1.081 11.455
7 1.151 6.123
8 1.110 3.734
9 1.134 2.110
10 1.120 1.246
11 1.128 0.717
12 1.123 0.419


HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 58



Soal 5
Air mengalir melalui pipa lingkaran berdiameter 3,0 m. Apabila
kemiringan dasar saluran adalah 0,0025; hitung debit aliran apabila
kedalaman aliran adalah 0,9 D. Koefisien Chezy adalah C =50.
Penyelesaian
Diameter pipa : D = 3,0 m
Kemiringan dasar saluran: I =0,0025
Kedalaman aliran : y = 0,9 D
Koefisien Chery : C =50
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 59


cos u = 8 , 0
5 , 0
4 , 0
= =
D
D
OC
OB
u =cos
-1
0,8 =36,87
o

Luas tampang basah A =luas ABCD =Luas OACD +luas AOC
=
( )
OB BC
x D
o
o o
+

2
1
2
360
87 , 36 2 360
4
2
t

( )
) 2 ( sin
360
2 360
4
2
2
u
u t
D
D
o
o o
+

=
( )
(
(

) 2 ( sin
360
2 360
4
2
u
u t
o
o o
D
) (36,87 cos D 0,5 ) (36,87 sin 2 D 0,62452 =
o o 2
+

2 2 2
m 6,7 = (3) 0,74452 = D 0,74452 =
Keliling basah P =busur ADC
Busur ADC =
( )
D D
o
o o
4981 , 2
360
87 , 36 2 360
=

t =7,494 m

( )
D
o
o
t
u
360
2 360

m
P
A
R 894 , 0
494 , 7
7 , 6
= = =
d m x RI AC AV Q / 837 , 15 0025 , 0 894 , 0 50 7 , 6
3
= = = =

HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 64

( ) ( )
3 / 8
3 / 2
2
3 / 5
3 / 8
1
1 2 B m y B
y my B
B
Z
|
.
|

\
|
+ +
+
=
Parameter penyebut B
8/3
dapat ditulis dalambentuk
3 / 2 3 / 5 3 / 5
B B B
sehinggapersamaan di atas menjadi :

3 / 5
3 / 2 2
3 / 5
3 / 8
1
) (
) 1 2 1 (
) 1 (
B
y
B
y
m
B
y
m
B
Z
+ +
+
= (2.21)
Persamaan (2.21) memberikan hubungan antara Z1/B
8/3
dany/B. Dengan
menggunakan persamaan tersebut, dihitung Z
1
/B
8/3
untuk beberapa nilai
y/B seperti diberikan dalamTabel 2.2. Tabel tersebut dapat digunakan
untuk menghitung kedalaman aliran y apabila diketahui debit aliran Q
dan parameter saluran yaitu bentuk saluran, kekasaran dinding, dan
kemiringan dasar saluran.
Contoh
Saluran segiempat dengan lebar 5 m, kemiringan dasar saluran
I=0,005. Koefisien Manning n=0,022. Apabila debit aliran adalah 20
m
3
/d; hitung kedalaman aliran.
Penyelesaian
Dengan menggunaan Persamaan (2.20) dihitung :
22254 , 6
005 , 0
022 , 0 20
1
=

= =
I
n Q
Z
085123 , 0
) 5 (
22254 , 6
3 / 8 3 / 8
1
= =
B
Z

Dengan menggunakan Tabel 2.2 untuk 085123 , 0 /
3 / 8
1
= B Z dihitung nilai
y/B dengan interpolasi linier :
269844 , 0 ) 2 , 0 3 , 0 (
05466 , 0 09828 , 0
05466 , 0 08512 , 0
2 , 0 =

+ =
B
y

I. PRINSIP DASAR ALIRAN 61
Saluran berbentuk lingkaran dengan kemiringan dasar saluran 0,0001
dan debit aliran 5 m
3
/d. Apabilaaliran di dalampipa adalah 0,8 penuh,
berapakan diameter pipa yang digunakan. Koefisien Manning n =0,015.
Penyelesaian

Dari gambar di atas:
cos u = 6 , 0
5 , 0
3 , 0
= =
OC
OB

u =cos
-1
0,6 =53,13
o


busurADC
luasABCD
P
A
R = =
Luas ABCD =luas AOCD +luas AOC
= OB BC
D
+

2
1
2
360
13 , 53 2 360
4
0
0 0 2
t

= D
D
5 , 0
2
1
2
360
74 , 253
4
0
0 2
+
t
sin u x 0,5 D cos u
=0,5536 D
2
+0,12 D
2
=0,6736 D
2

Busur ADC = D D 2143 , 2
360
74 , 253
0
0
= t
J ari-jari hidraulis: D
D
D
P
A
R 3042 , 0
2143 , 2
6736 , 0
2
= = =
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 62
Dengan menggunakan rumus Manning

2 / 1 3 / 2
1
I R
n
A Q =
5 = ( ) ( )
2 / 1 3 / 2 2
0001 , 0 3042 , 0
015 , 0
1
67357 , 0 D D
5 =0,20311 D
8/3

Didapat:
D =3,32 m
2.4. Hantaran (Conveyance) Saluran
Beberapa contoh hitungan di atas menunjukkan bahwa ada dua
masalah dalamhitungan yaitu :
1) menghitung debit aliran apabila data saluran seperti kedalaman aliran
y, bentuk tampang lintang saluran (B, m), koefisien kekasaran din-
ding C atau n, dan kemiringan dasar saluran I
0
diketahui,
2) menghitung kedalaman aliran (y) apabiladiketahui debit dan data sa-
luran seperti bentuk tampang lintang saluran (m), koefisien kekasar-
an dinding C atau n, dan kemiringan dasar saluran I0.
Hitungan masalah yang pertama dapat dilakukan dengan mudah
karena debit aliran dapat dihitung secara eksplisit. Penyelesaian dari
masalah kedua lebih rumit karena diperlukan hitungan secara iterasi
yang memerlukan waktu panjang dan membosankan. Keberadaan
software semacam Excel sangat membantu dalam hitungan tersebut.
Namun bagi para praktisi di lapangan penyelesaian semacamitu akan
menyulitkan. Untuk memudahkan hitungan, digunakan konsep hantaran
(conveyance) dari saluran yang diturunkan berikut ini.
2.4.1. Hantaran dengan Persamaan Manning
Apabila digunakan Persamaan Manning, debit aliran mempunyai bentuk
berikut ini.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 63
2 / 1 3 / 2
1
I R
n
A V A Q = = (2.16)
atau
I K Q = (2.17)
dengan :
3 / 2
1
R A
n
K = (2.18)
Besaran K disebut hantaran (conveyance) dari tampang saluran, yaitu
kemampuan penghantar dari tampang saluran. Persamaan (2.18) dapat
digunakan untuk menghitung hantaran apabila debit dan kemiringan
dasar saluran diketahui. Parameter
3 / 2
R A disebut faktor tampang lintang
saluran untuk menghitung aliran seragamdan diberi simbol Z
1
, sehingga
:

3 / 2
1
R A Z = (2.19)
Persamaan (2.16) menjadi :
I
n Q
Z =
1
(2.20)
Untuk suatu tampang lintang tertentu parameter Z
1
adalah fungsi
dari kedalaman y. Untuk nilai Q, n dan I (atau nilai Z
1
) tertentu dapat
dihitung kedalaman aliran seragamy, yang disebut dengan kedalaman
normal y
n
.
Dipandang saluran trapesium dengan kemiringan tebing m,
Persamaan (2.19) dapat ditulis dalambentuk :

( )
3 / 2
2
3 / 2
1
1 2
) (
(
(

+ +
+
+ = =
m y B
y my B
y my B R A Z
Untuk mendapatkan bentuk tak berdimensi, keduaruas dari persamaan di
atas dibagi dengan B
8/3
sehingga:
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 68
Dengan menggunakan Tabel 2.3 untuk 113137 , 0 /
2 / 5
1
= B Z dihitung nilai
y/B dengan interpolasi linier :
22251 , 0 ) 2 , 0 3 , 0 (
0940 , 0 1791 , 0
0940 , 0 113137 , 0
2 , 0 =

+ =
B
y

m y 113 , 1 5 22251 , 0 = =
Diperoleh kedalaman aliran y=1,113 m; yang hampir sama dengan hasil
hitungan pada Contoh 4 dengan menggunakan cara iterasi yaitu y=1,123
m.
2.5. Tampang Lintang Ekonomis
Beberapa rumus kecepatan aliran yang diberikan dalam sub bab
terdahulu menunjukkan bahwa untuk kemiringan dan kekasaran saluran
tertentu, kecepatan akan bertambah dengan jari-jari hidraulis. Sehingga
untuk luas tampang basah tertentu, debit akan maksimumapabilanilai R
= A/P maksimum, atau apabila keliling basah minimum. Dengan kata
lain, untuk debit aliran tertentu, luas tampang lintang saluran akan
minimum apabila saluran mempunyai nilai R maksimum (atau P
minimum). Tampang lintang saluran seperti ini disebut tampang saluran
ekonomis (efisien) untuk luas tampang tertentu.
Penjelasan tentang tampang lintang ekonomis ini dapat dilakukan
dengan menggunakan rumus debit aliran, yang dalamhal ini misalnya
digunakan rumus Manning.
V =
2 1 3 2
I R
1
/ /
n

Q = A V =
n
/ / 2 1 3 2
I R A


dengan
P
R
A
=
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 65
m y 35 , 1 5 269844 , 0 = =
Diperoleh kedalaman aliran y=1,35 m; yang sama dengan hasil hitungan
padaContoh 3 dengan menggunaan cara iterasi yaitu y=1,356 m.

Tabel 2.2. Hubungan Z1/B
8/3
dan y/B y/B Tabel
0 0.5 1 1.5 2
0.02 0.0014 0.0015 0.0015 0.0015 0.0015
0.05 0.0064 0.0066 0.0067 0.0069 0.0070
0.10 0.0191 0.0204 0.0214 0.0221 0.0228
0.15 0.0356 0.0394 0.0422 0.0445 0.0466
0.20 0.0547 0.0627 0.0687 0.0737 0.0783
0.30 0.0983 0.1205 0.1382 0.1532 0.1669
0.40 0.1468 0.1922 0.2297 0.2621 0.2919
0.50 0.1984 0.2770 0.3440 0.4027 0.4571
0.60 0.2523 0.3748 0.4822 0.5773 0.6660
0.70 0.3079 0.4856 0.6453 0.7884 0.9222
0.80 0.3646 0.6096 0.8347 1.0383 1.2293
0.90 0.4223 0.7471 1.0516 1.3292 1.5907
1.00 0.4807 0.8984 1.2973 1.6636 2.0095
1.10 0.5398 1.0638 1.5729 2.0436 2.4892
1.20 0.5993 1.2436 1.8797 2.4713 3.0327
1.30 0.6592 1.4382 2.2189 2.9490 3.6432
1.40 0.7195 1.6480 2.5917 3.4787 4.3237
1.50 0.7800 1.8733 2.9993 4.0625 5.0771
1.60 0.8408 2.1146 3.4428 4.7024 5.9063
1.70 0.9018 2.3721 3.9233 5.4004 6.8142
1.80 0.9630 2.6462 4.4421 6.1584 7.8035
1.90 1.0243 2.9373 5.0001 6.9784 8.8770
2.00 1.0858 3.2459 5.5985 7.8623 10.0373
Kemiringan Tebing, m=
Z1/B
8/5
h/B

HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 66
2.4.2. Hantaran dengan Persamaan Chezy
Apabila digunakan Persamaan Chezy, debit aliran mempunyai bentuk
berikut ini.
RI C A Q = (2.22)
R A Z =
1
(2.23)
Dari Persamaan (2.22) dan (2.23) diperoleh :
I C
Q
Z =
1
(2.24)
Dipandang saluran trapesium dengan kemiringan tebing m,
Persamaan (2.23) dapat ditulis dalambentuk :

( )
2 / 1
2
2 / 1
1
1 2
) (
(
(

+ +
+
+ = =
m y B
y my B
y my B R A Z
Kedua ruas dari persamaan di atas dibagi dengan B
5/23
akan diperoleh :

2 / 3
2 / 1 2
2 / 3
2 / 5
1
) (
) 1 2 1 (
) 1 (
B
y
B
y
m
B
y
m
B
Z
+ +
+
= (2.25)
Dengan menggunakan Persamaan (2.25) dihitung Z
1
/B
5/2
untuk beberapa
nilai y/B seperti diberikan dalamTabel 2.3.
Contoh
Saluran trapesiumdengan lebar dasar 5,0 mdan kemiringan tebing
1:1. Debit aliran Q =10 m
3
/d. Hitung kedalaman aliran apabila koefisien
Chezy C =50 dan kemiringan dasar saluran 0,001.
Penyelesaian
Dengan menggunaan Persamaan (2.24) dihitung :
32456 , 6
001 , 0 50
10
1
= = =
I C
Q
Z
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 67
113137 , 0
) 5 (
32456 , 6
2 / 5 2 / 5
1
= =
B
Z

Tabel 2.2. Hubungan Z
1
/B
5/2
dan y/B untuk Rumus Chezy
0 0.5 1 1.5 2
0.02 0.0028 0.0028 0.0028 0.0029 0.0029
0.05 0.0107 0.0110 0.0113 0.0116 0.0119
0.10 0.0289 0.0305 0.0322 0.0340 0.0358
0.15 0.0510 0.0554 0.0600 0.0649 0.0699
0.20 0.0756 0.0845 0.0940 0.1038 0.1139
0.30 0.1299 0.1539 0.1791 0.2055 0.2329
0.40 0.1886 0.2363 0.2870 0.3402 0.3955
0.50 0.2500 0.3313 0.4180 0.5095 0.6050
0.60 0.3133 0.4383 0.5727 0.7151 0.8644
0.70 0.3780 0.5576 0.7520 0.9589 1.1766
0.80 0.4438 0.6890 0.9566 1.2428 1.5447
0.90 0.5103 0.8328 1.1875 1.5684 1.9714
1.00 0.5774 0.9891 1.4456 1.9375 2.4593
1.10 0.6449 1.1583 1.7315 2.3518 3.0111
1.20 0.7129 1.3404 2.0463 2.8127 3.6291
1.30 0.7812 1.5358 2.3907 3.3220 4.3157
1.40 0.8498 1.7446 2.7655 3.8810 5.0734
1.50 0.9186 1.9672 3.1716 4.4913 5.9043
1.60 0.9875 2.2036 3.6096 5.1544 6.8105
1.70 1.0567 2.4543 4.0803 5.8715 7.7943
1.80 1.1260 2.7194 4.5845 6.6440 8.8576
1.90 1.1954 2.9992 5.1230 7.4733 10.0024
2.00 1.2649 3.2938 5.6963 8.3607 11.2308
Kemiringan Tebing, m= y/B
2 / 5
1
/ B Z

HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 72
ini sama dengan bentuk trapesiumapabila nilai m =0, sehingga beberapa
parameter aliran mempunyai bentuk berikut :






Gambar 2.3. Saturan ekonomis bentuk segi empat (B dan y)

Luas tampang basah : A = By
Keliling basah : P = B + 2y
y
y
A
P 2 + =
J ari-jari hidraulis :
y B
yB
R
2 +
=
Debit aliran akan maksimumapabila jari-jari hidraulis maksimum, dan
ini dicapai apabila keliling basah P minimum. Untuk mendapatkan P
minimum, diferensial P terhadap y adalah nol.
0 2
2
= + =
y
A
dy
dP

0 2 = + y B
y B 2 =

J adi saluran dengan bentuk segi empat akan memberikan luas tampang
ekonomis apabila lebar dasar sama dengan 2 kali kedalaman. Untuk
saluran segi empat ekonomis, didapat :
A =2y
2
,
r
b
d
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 69
Berdasarkan rumus tersebut akan dicari, untuk kemiringan saluran I
dan kekasaran dinding n, suatu tampang lintang dengan luas yang sama
A tetapi memberikan debit maksimal. Untuk nilai A, n dan I konstan,
debit akan maksimumapabila R maksimum.
1. Saluran Trapesium
Untuk saluran tanah dengan bentuk trapesium seperti yang
ditunjukkan dalamGambar 2.2 dengan lebar dasar B, kedalaman y, dan
kemiringan tebing tg o =1/m.

l
s
r
b
d
s
l

Gambar 2.2. Saluran ekomnomis bentuk trapezium(kemiringan m)
Nilai m =1/tg o merupakan fungsi jenis tanah. Kemiringan ini diten-
tukan oleh sudut longsor material tebing. Dengan demikian hanya ada
dua variabel yaitu lebar dasar B dan kedalaman y untuk mendapatkan
bentuk tampang basah yang paling efisien. Luas tampang dan keliling
basah adalah :
A = y (B + my) ; (2.22.a)
P = B +2y
2
1 m + (2.22.b)
sehingga
2
1 2
) (
m y B
my B y
P
A
R
+ +
+
= =
Dalamhal ini y dan B adalah variabel. Apabilanilai B dari pers. (2.22.a)
disubstitusikan kedalampers. (2.22.b) makaakan didapat :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 70
) 1 ( 2
2
2
m y
y
my A
P + +

= .
a. Apabila m adalah konstan
Apabila m adalah konstan, nilai P akan minimum apabila dP/dy=0,
sehingga:
|
|
.
|

\
|
+ + =
2
1 2 m y my
y
A
dy
d
dy
dP


2
2
1 2 m m
y
A
+ + =
Substitusi nilai A dari Persamaan (2.22.a) ke dalampersamaan di atas
dan kemudian disama-dengankan nol, maka :
2
2
1 2
) (
m m
y
my B y
+ +
+
=0;
0 1 2 2
2
= + + m y my B ;
2
1 2 2 m y my B + = + (2.22.c)
atau
2
1 2 m y T + = (2.23)
dengan T adalah lebar muka air.
b. Apabila m adalah variabel
Apabila y dianggap konstan dan kemudian P didiferensialkan terha-
dap m, diperoleh :
0 2 ) 1 ( 2
2
1
2 / 1 2
= + + =

m m y y
dm
dP

0
1
2
2
=
+
+ =
m
my
y
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 71
atau
1
1
2
2
=
+ m
m

yang akhirnya didapat :
3
1
= m
atau
o =60
J adi tampang basah paling ekonomis didapat apabila lebar muka air
adalah 2 kali panjang sisi miring (tebing) saluran. Kondisi ini didapat
apabila sudut kemiringan tebing saluran terhadap horisontal adalah 60
o
.
Dengan demikian apabila dibuat suatu setengah lingkaran dengan pusat
padamuka air, setengah lingkaran tersebut akan menyinggung kedua sisi
tebing dan dasar saluran seperti yang ditunjukkan dalamGambar 2.2.
Apabila nilai B dari Persamaan (2.22.c) disubstitusikan ke dalam
persamaan jari-jari hidraulis, akan didapat
2 2
2
1 2 2 1 2
2 1 2
m y my m y
my my m y y
P
A
R
+ + +
|
.
|

\
|
+ +
= =
my m y
my m y y
R
2 1 4
1 2
2
2
+
|
.
|

\
|
+
=
yang akhirnya didapat :
2
y
R =
2. Bentuk segi empat
Saluran dengan tampang segi empat biasanya digunakan untuk
saluran yang terbuat dari pasangan batu atau beton. Bentuk segi empat
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 76
m
y
R 68 , 2
2
36 , 5
2
= = =
Kemiringan dasar saluran dihitung dengan menggunakan rumus Chezy :
V = C RI ,
1 =50 I 68 , 2
atau
I =0,00015
Contoh 2
Saluran trapesiumdengan kemiringan tebing 1 : 1 melewatkan debit
maksimumpada kedalaman y =2,4 m dan kemiringan dasar saluran 1 :
2640. Hitung debit aliran dan dimensi saluran. Koefisien Manning n =
0,02.
Penyelesaian
Untuk saluran ekonomis berbentuk trapesium:
B +2my =2y
2
1 m +

2
1 1 4 , 2 2 4 , 2 1 2 + = + B
B =1,985 m
m
y
R 2 , 1
2
4 , 2
2
= = =

2
53 , 10 4 , 2
2
)] 4 , 2 2 988 , 1 ( 988 , 1 [
m A =
+ +
=
Dengan menggunakan rumus Manning :
d m I R
n
V / 1 , 1 )
2640
1
( ) 2 , 1 (
02 , 0
1 1
2 / 1 3 / 2 2 / 1 3 / 2
= = =
Debit aliran :
Q = A V =10,53 1,1 =11,58 m
3
/s
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 73
P =4y,
2
y
P
A
R = =
yang sama dengan bentuk trapesium.
3. Bentuk setengah lingkaran
Dari semua bentuk tampang lintang yang ada, bentuk setengah
lingkaran mempunyai keliling basah terkecil untuk luas tampang terten-
tu. Beberapa parameter aliran adalah :
2
2
1
r A t =
r P t =
r
r
r
P
A
R
2
1
2
2
1
= = =
t
t






Gambar 12.7. Saluran ekonomis bentuk setengah lingkaran
J adi saluran dengan bentuk setengah lingkaran akan dapat mele-
watkan debit aliran lebih besar dari bentuk saluran yang lain, untuk luas
tampang basah, kemiringan dan kekasaran dinding yang sama.
Dalam praktek, meskipun saluran setengah lingkaran ini efisien,
namun pembuatan saluran tersebut jauh lebih sulit dari bentuk yang lain
(segi empat atau trapesium), sehingga saluran setengah lingkaran jarang
dipakai. Biasanya saluran berbentuk segi empat untuk dinding dari batu
atau pasangan beton; atau bentuk trapesiumuntuk saluran tanah. J adi ada
faktor-faktor lain selain tampang efisien yang menentukan pemilihan
tampang lintang saluran. Untuk luas tampang basah dan kemiringan
r
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 74
tebing tertentu, akan dapat ditentukan bentuk tampang basah yang efisien
sehinggabiaya pekerjaan akan minimum.
Contoh 1
Saluran trapeziumdengan kemiringan sisi tebing 1:1 (vertical:horizontal)
dan kemiringan dasar saluran 0,0005. Tentukan dimensi ekonomis
saluran apabila debit aliran 20 m
3
/d. koefisien Manning n=0,02.





Luas tampang aliran : A = y (B + my) =y(B+y) (1)
Keliling basah :
2
1 2 m y B P + + = 2 2y B + =
(2)
J ari-jari hidraulis :
2 2
) (
y B
y B y
P
A
R
+
+
= = (3)
Persyaratan saluran ekonomis berbentuk trapesium(Persamaan 2.22.c) :

2
1 2 m y T + = 2 2 2 y y B = +
y B 8284 , 0 = (4)
Persamaan debit aliran dengan menggunakan rumus Manning :
I
y B
y B y
n
y B y AV Q
3 / 2
2 2
) ( 1
) (
|
|
.
|

\
|
+
+
+ = =
0005 , 0
6568 , 3
) 8284 , 1 (
02 , 0
1
) 8284 , 1 ( 20
3 / 2
|
|
.
|

\
|
=
y
y y
y y
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 75
0005 , 0
6568 , 3
) 8284 , 1 (
02 , 0
1
) 8284 , 1 (
20
3 / 2
|
|
.
|

\
|
=
y
y y
y
y
( )
3 / 2
5 , 0 ) 8284 , 1 (
9509 , 27
y y
y = iterasi
Contoh 1
Hitung dimensi saluran ekonomis berbentuk trapesium dengan
kemiringan tebing 1 (horizontal) : 2 (vertikal) untuk melewatkan debit 50
m
3
/s dengan kecepatan rerata 1 m/s. Berapa kemiringan dasar saluran
apabila koefisien Chezy C =50 m
1/2
/s ?
Penyelesaian
Luas tampang aliran : A = y (B + my) =y(B+0,5y) (1)
Luas tampang aliran dihitung berdasar persamaan kontinuitas :

2
50
1
50
m
A
Q
A = = = (2)
Dari Persamaan (1) dan (2) :
y(B+0,5y) =50 (3)
Persyaratan saluran ekonomis berbentuk trapesium(Persamaan 2.22.c) :
2
1 2 2 m y my B + = +
2
5 , 0 1 2 + = + y y B
B =1,24 y (4)
Substitusi Persamaan (4) kedalamPersamaan (3) didapat :
y =5,36 m
B =6,65 m
Menghitung kemiringan dasar saluran.
Untuk tampang ekonomis :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 80

Gambar 3.1. Hubungan energi spesifik dan kedalaman
Nilai energi spesifik menurun sampai suatu nilai minimumpadatitik
C dan kemudian naik kembali (kurvaAC menunjukkan nilai E menurun
dan kurva CB menunjukkan nilai E bertambah). Kedalaman dan
kecepatan pada titik C disebut kedalaman kritik y
c
, dan kecepatan kritik
Vc. Untuk setiap nilai energi spesifik, selain nilai minimum, terdapat dua
kemungkinan kedalaman aliran yaitu kedalaman di atas dan di bawah
nilai kritik yang disebut dengan kedalaman tinggi (y2) dan kedalaman
rendah y
2
. Kedalaman tinggi disebut kedalaman alternatif dari
kedalaman rendah, dan sebaliknya.
DalamGambar 3.1., garis yang menghubungkan titik kritik (C) untuk
berbagai nilai debit q menunjukkan kedalaman kritik untuk debit terkait.
Garis tersebut merupakan batas antara kondisi aliran sub kritis dan super
kritis. Apabila kedalaman adalah lebih besar dari kedalaman kritik, ke-
cepatan aliran akan lebih kecil dari kecepatan kritik untuk debit aliran
tertentu, dan aliran disebut sub kritik atau mengalir. Sebaliknya, jika
kedalaman aliran lebih kecil dari kedalaman kritik, aliran adalah super
kritik atau meluncur.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 77
Contoh 4
Saluran berbentuk lingkaran dengan kemiringan dasar saluran 0,0001
dan debit aliran 3 m
3
/d. Apabilaaliran di dalampipa adalah 0,9 penuh,
berapakah garis tengah pipa yang digunakan? Koefisien Manning
n=0,014.
Penyelesaian
Dari informasi yang diberikan,
8 , 0
5 , 0
4 , 0
cos = = =
OC
OB
u
u =cos
-1
(0,8) =36 52'
ADC busur
ABCD luas
P
A
R = =
AOC luas AOCD luas ABCD luas + =
OB BC
2
1
2
360
16 286
4
D
' o 2
+ =
o
t

Luas ABCD =1/4 tD
2
(286 16' / 360) +(0,5)
2
sin (73 44')
=0,744 D
2
.
Busur ADC =t D (286 16' / 360) =2,5 D.
J ari jari hidraulis,
R =A/P =(0,744 D
2
)

/(2,5D) =0,298 D.
Dengan menggunakan rumus Manning,
Q = A R
2/3
I
1/2
/ n
3 =0,744 D
2
(0,298)
2
(0,0001)
1/2
/ 0,014
Didapat :
D =2,59 m.

HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 78



BAB III

ENERGI SPESIFIK


3.1. Definisi Energi Spesifik
Konsep energi spesifik yang pertama kali dikemukakan oleh
Bakhmeteff (1932, dalam Terry W Sturn, 2001), banyak digunakan
dalam menyelesaikan masalah pada aliran melalui saluran terbuka.
Energi spesifik didefinisikan sebagai energi pada tampang lintang
saluran, yang dihitung terhadap dasar saluran. Jadi energi spesifik adalah
jumlah dari tinggi tekanan dan tinggi kecepatan di suatu titik.
Dengan menggunakan Persamaan Bernoulli pada aliran melalui
saluran terbuka, tinggi energi total pada setiap tampang di saluran
terbuka adalah :
g
V
y z E
2
2
+ + = (3.1)
Apabila energi yang dihitung terhadap dasar saluran, maka
persamaan di atas menjadi Persamaan (3.2), yang disebut dengan energi
spesifik:
g
V
y E
2
2
+ = (3.2)
Mengingat bahwa Q=AV, maka Persamaan (3.2) dapat ditulis
menjadi :
2
2
2gA
Q
y E + = (3.3)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 79
dengan E
s
: energi spesifik, y: kedalaman aliran, Q : debit aliran, g :
percepatan gravitasi dan A : luas tampang aliran. Apabila tampang aliran
berbentuk segi empat, dapat didefinisikan debit tiap satuan lebar yaitu
q=Q/B, dengan B adalah lebar saluran, sehingga Persamaan (3.3)
menjadi :

2
2
2gy
q
y E + = (3.4)
3.2. Diagram Energi Spesifik
Hubungan antaraenergi spesifik dan kedalaman aliran (E-y) disebut
dengan diagram energi spesifik, yang dapat dibuat berdasarkan
Persamaan (3.4) atau (3.3). Dengan memasukkan berbagai nilai y ke
dalamPersamaan (3.4), maka akan diperoleh nilai E.
Dari Persamaan (3.4), apabila nilai y mendekati nol maka nilai E
mendekati tak terhingga, yang secara matematis ditunjukkan :
y 0 maka ~

+ =
2
2
0 2
0
g
q
E
Apabila y mendekati tak terhingga maka E=y , yang secara
matematis ditunjukkan berikut ini.
y maka
2
2
2
+ =
g
q
y E E=y
Gambar 3.1. menunjukkan diagramenergi spesifik untuk beberapa
nilai debit tiap satuan lebar q. Dalamgambar tersebut hubungan E=y
ditunjukkan oleh garis yang membentuk sudut 45
o
. Kurva energi spesifik
asimtotis terhadap garis dengan sudut 45
o
. Ketika kedalaman y menuju
nol, kurva energi spesifik mendekati tak terhinggadan asimtotis terhadap
sumbu E.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 84
3.4. Kecepatan Kritik
Untuk aliran kritik, hubungan antara kecepatan dan debit dapat
ditulis menjadi :
V
c
=
c
A
Q

Bentuk di atas disubstitusikan ke dalam Persamaan (3.5) sehingga
menjadi :
1
2
=
c
c c
gA
T V

atau :

c
c
c
T
gA
V =
Apabila D
c
= A
c
/T
c
, yang disebut kedalamamhidraulis pada keda-
laman kritik y
c
, maka persamaan di atas menjadi:
c c
gD V = (3.11)
Persamaan (3.11) dapat ditulis dalambentuk :
1 =
c
c
gD
V

yang merupakan bentuk bilangan Froude(Fr). J adi untuk nilai :
1 = =
c
c
gD
V
Fr
maka aliran adalah kritik. Apabila Fr<1 aliran adalah subkritik dan jika
Fr>1 aliran adalah superkritik. Bilangan Froude ini dapat digunakan
untuk mengetahui tipealiran.
3.5. Debit Maksimum
Dipandang Persamaan (3.3) :
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 81
3.3. Kedalaman Kritik
Kedalaman kritik terjadi pada energi spesifik minimumuntuk debit
yang ditinjau, sehingga kondisi y=yc dapat ditentukan dengan
mendiferensialkan energi spesifik dan menyamakannya dengan nol.
Diferensial dari Persamaan (3.3) terhadap y untuk debit Q konstan :
dy
dA
A dA
d
g
Q
dy
dE
)
1
(
2
1
2
2
+ =
dy
dA
gA
Q
3
2
1 =
Diferensial dari dA/dy di dekat permukaan air adalah dA/dy=T, dengan T
adalah lebar muka air dari tampang saluran, sehingga :
3
2
1
gA
T Q
dy
dE
=
Untuk nilai E minimum, maka dE/dy = 0 sehingga :
0 1
3
2
=
gA
T Q

atau
1
3
2
=
gA
T Q
(3.5)
Parameter penting untuk aliran melalui saluran terbuka adalah
kedalaman hidraulis yang didefinisikan sebagai D=A/T. Untuk tampang
lintang segiempat, kedalaman hidraulis adalah sama dengan kedalaman
aliran. Dengan menggunakan definisi tersebut, maka Persamaan (3.5)
menjadi :
1
2
2
=
gDA
Q
(3.6)
1
2
=
gD
V

atau
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 82
1 =
gD
V

Parameter gD V / adalah tak berdimensi, yang merupakan
perbandingan antara kecepatan rerata aliran V dan cepat rambat
gelombang ( gD C = )
di air dengan kedalaman hidraulis D, dan dikenal dengan bilangan
Froude, Fr.

gD
V
Fr = (3.7)
Apabila bilangan Froudesama dengan satu, maka seperti yang di-
tunjukkan dalamPersamaan (3.7), akan diperoleh gD V = , yang berarti
bahwa cepat rambat gelombang dan kecepatan aliran adalah sama. Pada
keadaan ini aliran adalah kritis. Apabila bilangan Froudelebih kecil dari
satu, atau gD V < , kecepatan aliran lebih kecil dari cepat rambat ge-
lombang, dan kondisi aliran adalah sub kritis atau mengalir. Apabila bi-
langan Froude lebih besar dari satu, atau gD V > , kecepatan aliran le-
bih besar dari cepat rambat gelombang, maka kondisi aliran adalah super
kritis atau meluncur.
Dari Persamaan (3.6) dapat ditulis kondisi untuk aliran kritis :

2
2
DA
g
Q
=
Untuk saluran segiempat, D=y dan A=By, sehingga :

2 3
2
B y
g
Q
=
Oleh karena bentuk di atas diturunkan dari kondisi aliran kritis, maka
dapat diperoleh kedalaman kritis y
c
:
3
2
2
gB
Q
y
c
= (3.8.a)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 83
atau

3
2
g
q
y
c
= (3.8.b)
dengan Q dan q adalah debit aliran dan debit tiap satu satuan lebar
saluran. Persamaan (3.8. a dan b) menunjukkan bahwa kedalaman kritis
merupakan fungsi dari debit aliran dan bentuk saluran.
Untuk saluran trapesium, luas tampang aliran dan lebar muka air adalah :
A =(B +my) y
T = B +2my
Substitusi bentuk tersebut kedalamPersamaan (3.5) memberikan :
1
) (
) 2 (
3 3
2
=
+
+
c c
c
y y m B g
y m B Q

atau
3
3
2
) (
) 2 (
c
c
c
my B g
y m B Q
y
+
+
= (3.9)
Kedalaman kritik y
c
dapat dihitung dengan caracoba banding.
Energi spesifik untuk aliran melalui saluran dengan tampang segi empat
diberikan oleh Persamaan (3.4). Substitusi Persamaan (3.8.b) ke dalam
Persamaan (3.4) untuk kondisi aliran kritis memberikan :

2
3
2
2
2 2
c
c
c
c
c c
y
y
y
gy
q
y E + = + =

c c
y E
2
3
=

c c
E y
3
2
= (3.10)
Kedalaman kritik adalah samadengan dua per tiga dari energi spesifik.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 88
m y
c
7415 , 0
5 81 , 9
10
3
2
2
=

=
Kecepatan kritik :
d m
By
Q
V
c
c
/ 6971 , 2
7415 , 0 5
10
=

= =
Atau bisa dihitung dengan Persamaan (3.10) :
6971 , 2 7415 , 0 81 , 9 = = =
c c
gD V m/d
Energi spesifik dihitung dengan Persamaan (3.2) :
1123 , 1
81 , 9 2
6971 , 2
7415 , 0
2
=

+ = E m
Kemiringan dasar saluran kritik dihitung dengan Persamaan (3.16),
dengan terlebih dahulu menghitung jari-jari hidraulis (R
c
) :
0,6
7415 , 0 2 5
5 7415 , 0
2
=
+

=
+
= =
y B
B y
P
A
R
0,00308
6 , 0
015 , 0 7415 , 0 81 , 9
3 / 4
2
3 / 4
2
=

= =
c
c
c
R
n gD
I


Contoh 2
Saluran trapesiumdengan lebar dasar 5,0 m dan kemiringan tebing 1:2
(V:H). Debit aliran Q = 10 m
3
/d. Hitung kedalaman kritik, energi
spesifik, kemiringan kritik apabilan=0,015.
Penyelesaian
Kedalaman air kritik dihitung dengan menggunakan Persamaan (3.9) :
3
3
2
) 2 5 ( 81 , 9
) 2 2 5 ( 10
c
c
c
y
y
y
+
+
= (1)
Hitungan y
c
dilakukan dengan metodeiterasi :
Dimisalkan y
c
=2 m
Dengan menggunakan Persamaan (1) diperoleh :
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 85
2
2
2gA
Q
y E + =
Persamaan tersebut dapat ditulis dalambentuk :
) ( 2
2 2
y E gA Q =
2 / 1
) ( 2 y E g A Q = (3.11)
Debit maksimumdiperoleh dengan mendiferensialkan Q terhadap y
dan kemudian menyamakannya dengan nol, sehingga :
)
`

+ =
dy
dA
y E y E
dy
d
A g
dy
dQ
2 / 1 2 / 1
) ( ) ( 2
Mengingat dA/dy = T, maka :
{ } 0 ) ( ) 1 ( ) ( 2
2 / 1 2 / 1
2
1
= + =

T y E y E A g
dy
dQ

) ( 2
) (
y E
A
T y E

=
T
A
y E = ) ( 2 (3.12)
Persamaan (3.3) dapat ditulis dalambentuk :

2
2
2gA
Q
y E = (3.13)
Substitusi Persamaan (3.13) kedalamPersamaan (3.12) menghasilkan :
T
A
gA
Q
=
2
2

1
3
2
=
gA
T Q
(3.14)
Persamaan (3.14) sama dengan Persamaan (3.5), yang berarti bahwa
untuk energi spesifik tertentu, debit maksimumterjadi pada kedalaman
kritik. Persamaan (3.14) dapat ditulis menjadi :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 86
1
3
2
=
c
c
maks
gA
T
Q (3.15)
Grafik hubungan antara debit dan kedalaman dapat dibuat berdasarkan
Persamaan (3.11). Debit aliran adalah fungsi dari A dan ) ( y E , di mana
A juga merupakan fungsi y. Debit aliran sama dengan nol apabila y=0
dan E=y. Debit maksimum terjadi pada kondisi aliran kritis seperti
diberikan oleh Persamaan (3.15).
Gambar 3.2. menunjukkan hubungan antara kedalaman air dan debit
aliran. Untuk suatu debit Q, akan terdapat dua kedalaman ya dan yb yang
mempunyai energi spesifik sama. Apabila debit bertambah besar kedua
kedalaman tersebut akan saling mendekat untuk menuju suatu nilai
kedalaman kritik y
c
di manadebit mencapai maksimum.
Kedalaman
Subkritik
Superkritik
Debit
Constant
s
Q Q
maks
d
max
d
1
d
c
d
2

Gambar 3.2. Hubungan Q - y untuk energi spesifik konstan
3.6. Kemiringan Kritik Dasar Saluran
Kemiringan dasar saluran yang diperlukan untuk menghasilkan aliran
seragam di dalam saluran pada kedalaman kritik disebut dengan
kemiringan kritik I
c
.
Apabila digunakan rumus Manning :
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 87
2 / 1 3 / 2
1
I R
n
V = ,

Kecepatan aliran pada kedalaman kritik diberikan oleh Persamaan (3.11)
:
c c
gD V =
Padakondisi tersebut R = Rc dan I = Ic sehingga rumus Manning menjadi
:
2 / 1 3 / 2
1
I R
n
gD
c
=

3 / 4
2
c
c
c
R
n gD
I =

(3.16)
Pers. (3.16) menunjukkan bahwa kemiringan kritik tergantung pada debit
dan kekasaran dinding.
Untuk saluran lebar, R
c
= y
c
= D
c
,

maka :
3 / 1
2
c
c
y
gn
I = (3.17)
Apabila aliran seragamterjadi pada saluran dengan kemiringan dasar
lebih kecil dari kemiringan kritik (I
0
<I
c
), maka aliran adalah sub kritik
dan kemiringan dasar disebut landai (mild) . Sebaliknya apabila
kemiringan dasar lebih besar dari kemiringan kritik (I
0
>I
c
) maka aliran
adalah super kritik dan kemiringan dasar disebut curam (steep).
Contoh 1
Saluran berbentuk segi empat dengan lebar 5 m mengalirkan debit 10
m
3
/d dalamkondisi aliran kritis. Hitung kedalaman dan kecepatan kritik,
sertaenergi spesifik pada kondisi tersebut. Hitung juga kemiringan kritik
apabila nilai n=0,015.
Penyelesaian
Kedalaman air kritik dihitung dengan menggunakan Persamaan (3.8.a) :
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 92
Hitungan kedalaman kritik dilakukan dengan cara iterasi yang
kadang menyulitkan. Untuk memudahkan hitungan dibuat tabel dan
grafik. Persamaan (3.14) dapat ditulis dalambentuk :

T
A
A
g
Q
=
Suku kanan dari persamaan di atas dapat ditulis menjadi :

T
A
A Z =
dan
Z
g
Q
=
dengan Z adalah faktor tampang untuk menghitung kedalaman kritis.
3.8.1. Saluran trapesium
Untuk saluran dengan bentuk trapesiumdengan lebar dasar B dan
kemiringan tebing 1 : m (V : H), Persamaan (3.14) menjadi :
1
) (
) 2 (
3 3
2
=
+
+
c c
c
y y m B g
y m B Q

atau

) 2 (
) (
3 3 2
c
c c
y m B
y y m B
g
Q
+
+
=
Untuk mendapatkan bentuk tak berdimensi, kedua ruas dari
persamaan di atas dikalikan dengan m
3
/B
5
sehingga :

B y m B
B m y y m B
B
m
y m B
y y m B
gB
Q m
c
c c
c
c c
/ ) 2 (
/ ) (
) 2 (
) (
6 3 3 3
5
3 3 3
5
2 3
+
+
=
+
+
=

) 2 1 (
) ( ) 1 (
3
5
2 3
B
y
m
B
y
m
B
y
m
B g
Q m
c
c c
+
(

+
=
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 89
5665 , 0
) 2 2 5 ( 81 , 9
) 2 2 2 5 ( 10
3
3
2
=
+
+
=
c
y
Kesalahan :
% 06 , 253 % 100
5665 , 0
5665 , 0 2
=

= e
Hitungan dilakukan dengan menggunakan softwareExcel, dan hasilnya
diberikan dalam tabel di bawah; dan diperoleh kedalaman kritis,
y
c
=0,6744 m.
Iterasi yi e(%)
1 2
2 0.5665 253.06
3 0.6848 17.27
4 0.6733 1.70
5 0.6744 0.16
Kecepatan kritik :
d m
A
Q
V
c
c
/ 2,3358
) 6744 , 0 2 5 ( 6744 , 0
10
=
+
= =
Energi spesifik dihitung dengan Persamaan (3.2) :
m E 9525 , 0
81 , 9 2
3358 , 2
6744 , 0
2
=

+ =
Kemiringan dasar saluran kritik dihitung dengan Persamaan (3.16),
dengan terlebih dahulu menghitung jari-jari hidraulis (Rc) :
0.5341
) 2 1 6744 , 0 2 5 (
) 6744 , 0 2 5 ( 6744 , 0
2
=
+ +
+
= =
P
A
R
0,003435
5341 , 0
015 , 0 6744 , 0 81 , 9
3 / 4
2
3 / 4
2
=

= =
c
c
c
R
n gD
I
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 90
3.7. Gaya Spesifik
Persamaan momentum untuk aliran melalui saluran terbuka
diberikan oleh Persamaaan (1.23), yaitu :
) ( Q = sin
1 2 f 2 1
V V W F F F F
d
o
Apabila kemiringan dasar saluran kecil ( 0) = sino W , dan panjang ruas
adalah kecil (Ff=0) serta tidak adarintangan dalamaliran (Fd=0), maka
Persamaan di atas dapat ditulis menjadi :
) ( Q =
1 2 2 1
V V F F (3.19)
Gayahidrostatis dapat ditulis dalambentuk :

1 1 1
= y gA F

2 2 2
= y gA F
dengan
1
y dan
2
y adalah jarak ari permukaan air kepusat berat dari luas-
an
1
A dan
2
A . Persamaan kontinuitas mempunyai bentuk :

2 2 1 1
V A V A =
Sehingga Persamaan (3.19) menjadi :
)
A
Q
( Q =
1 2
2 2 1
A
Q
y gA y gA
Kedua ruas dibagi dengan g , sehingga persamaan di atas menjadi :

2
2
2 2
1
2
1
gA
Q
= + + y A
gA
Q
y A (3.20)
Suku
gA
Q
y A
2
+ disebut dengan gaya spesifik dan diberi notasi F. Gaya
spesifik pada suatu tampang saluran berbentuk :

gA
Q
y A F
2
+ = (3.21)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 91
Untuk suatu tampang saluran dan debit aliran tertentu, ruas kanan dari
Persamaan (3.21) merupakan fungsi dari kedalaman aliran; sehingga F
juga merupakan dari y. Gambar 3.3. adalah diagram gaya spesifik
sebagai fungsi dari kedalaman aliran, F=f(y). Terlihat bahwa gaya
spesifik berkurang dengan pertambahan kedalaman dan mencapai nilai
minimumFc dan kemudian naik dengan kenaikan y. Kedalaman air di
mana F mencapai minimumdapat dihitung dengan mendiferensialkan
Persamaan (3.21) terhadap y dan kemudian disamadengankan nol.

dy
dA
gA
Q
y A
dy
d
dy
dF
2
2
) ( =

Gambar 3.3. Gayaspesifik fungsi kedalaman aliran
0
2
2
= =
gA
T Q
A
dy
dF

0
2
2
=
gA
T Q
A
1
3
2
=
gA
T Q

3.8. Faktor Tampang
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 96
BAB IV

ALIRAN TIDAK
SERAGAM



4.1. Pengaliran Tidak Seragam
Di dalamaliran tidak seragam, garis muka air tidak sejajar dengan
dasar saluran. Pengaliran ini terjadi apabila tampang lintang sepanjang
saluran tidak konstan, seperti sungai, atau juga di saluran seragam
(irigasi) di daerah dekat bangunan (bendung) atau di ujung saluran.
Analisis aliran tidak seragambiasanya bertujuan untuk mengetahui profil
aliran di sepanjang saluran atau sungai. Analisis ini banyak dilakukan di
dalamperencanaan perbaikan sungai atau penanggulangan banjir, teruta-
ma di dalammenentukan elevasi puncak tanggul, daerah genangan, ele-
vasi jembatan, dan sebagainya. Meskipun aliran banjir di sungai meru-
pakan aliran tidak permanen (unsteady flow), yang akan dibicarakan di
dalamBab VI, tetapi sering analisis profil mukaair di sepanjang saluran
dilakukan berdasarkan aliran permanen dengan menggunakan debit
puncak dari hidrograf banjir. (ketika komputer belum berkembang).
Dalam hal ini analisis aliran menjadi jauh lebih mudah dan hasil
hitungan akan lebih aman; karena debit yang diperhitungkan adalah debit
puncak yang sebenarnya terjadi sesaat, tetapi dalamanalisis ini dianggap
terjadi dalamwaktu lama.
Aliran tidak seragamdapat dibedakan dalamdua kelompok berikut
ini.
a. Aliran berubah beraturan (gradually varied flow) dengan parameter
hidraulis (kecepatan, tampang basah) berubah secara progresif dari -
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 93
atau

) 2 1 (
) ( ) 1 (
3
5
2 3
B
y
m
B
y
m
B
y
m
B
Z m
c
c c
+
(

+
=
atau

2 / 1
2 / 3
2 / 5
2 / 3
) 2 1 (
) ( ) 1 (
B
y
m
B
y
m
B
y
m
B
Z m
c
c c
+
(

+
= (3.22)
Persamaan (3.22) dapat diselesaikan untuk berbagai nilai dari my
c
/B
untuk mendapatkan hubungan antara myc/B dan m
3/2
Z/B
5/2
. Dengan
menggunakan persamaan tersebut, dihitung m
3/2
Z/B
5/2
untuk beberapa
nilai y/B seperti diberikan dalam Tabel 3.1. Tabel tersebut dapat
digunakan untuk menghitung kedalaman kritis y
c
apabila diketahui debit
aliran Q dan bentuk saluran.
3.8.2. Saluran lingkaran
Untuk saluran dengan bentuk lingkaran dengan diameter D dan
kedalaman y seperti ditunjukkan dalam Gambar 3.4 maka beberapa
parameter aliran adalah sebagai berikut ini.

Gambar 3.4. Aliran melalui saluran lingkaran

y
D
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 94
m
3/2
Z/B
5/2
0 0.5 1 1.5 2
0.02 0.0000 0.0010 0.0029 0.0053 0.0082
0.05 0.0000 0.0040 0.0115 0.0213 0.0333
0.10 0.0000 0.0115 0.0333 0.0628 0.0994
0.15 0.0000 0.0213 0.0628 0.1202 0.1925
0.20 0.0000 0.0333 0.0994 0.1925 0.3124
0.30 0.0000 0.0628 0.1925 0.3824 0.6342
0.40 0.0000 0.0994 0.3124 0.6342 1.0717
0.50 0.0000 0.1426 0.4593 0.9510 1.6330
0.60 0.0000 0.1925 0.6342 1.3363 2.3263
0.70 0.0000 0.2491 0.8379 1.7936 3.1595
0.80 0.0000 0.3124 1.0717 2.3263 4.1401
0.90 0.0000 0.3824 1.3363 2.9377 5.2755
1.00 0.0000 0.4593 1.6330 3.6309 6.5727
1.10 0.0000 0.5432 1.9627 4.4092 8.0383
1.20 0.0000 0.6342 2.3263 5.2755 9.6788
1.30 0.0000 0.7324 2.7249 6.2329 11.5005
1.40 0.0000 0.8379 3.1595 7.2840 13.5095
1.50 0.0000 0.9510 3.6309 8.4317 15.7117
1.60 0.0000 1.0717 4.1401 9.6788 18.1127
1.70 0.0000 1.2001 4.6881 11.0278 20.7181
1.80 0.0000 1.3363 5.2755 12.4813 23.5333
1.90 0.0000 1.4806 5.9035 14.0417 26.5637
2.00 0.0000 1.6330 6.5727 15.7117 29.8142
y/B
Kemiringan Tebing, m=


Lebar muka air adalah :
u u tg D y tg
D
y T ) 2 ( )
2
( 2 = =
Luas tampang saluran :

I. PRINSIP DASAR ALIRAN 95

4
)
2
2 sin
( =
2
D
A
u
u t +

(
(
(
(

+
+
u
u
u t
u
u t
tg D y
D
D
Z
c
) 2 (
4
)
2
2 sin
(
4
)
2
2 sin
( =
2
2


(
(
(
(

+ +
u
u
u t
u
u t
tg
D
y
D
Z
c
) 1 ( 2
4
1
)
2
2 sin
(
4
)
2
2 sin
(
=
2 / 5


Hubungan antara
2 / 5
/ D Z dan y/D diberikan dalamTabel 3.2.



) 2 1 (
) )( 1 (
3
5
2 3
B
y
m
B
y
m
B
y
m
B g
Q m
c
c c
+
(

+
=












HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 10
0
3
2 2
2 gA
T Q
g
V
dy
d
=
|
|
.
|

\
|

Dengan demikian Persamaan (3.5) dapat ditulis dalambentuk :
3
2
0
1
gA
T Q
I I
dx
dy f

= (3.6)
Dalampersamaan tersebut kemiringan garis energi I
f
dianggap sama
dengan kemiringan garis energi pada pengaliran seragam. Apabila di-
gunakan rumus Manning, kemiringan garis energi adalah :
3 / 4
2 2
R
V n
I
f
= (3.7.a)
atau
3 / 4 2
2 2
R A
Q n
I
f
= (3.7.b)

sedang jika digunakan rumus Chezy :
R C
V
I
f
2
2
= (3.8.a)
atau
3 2
2
A C
P Q
I
f
= (3.8.b)
Persamaan (3.6) merupakan persamaan diferensial aliran berubah
beraturan yang dapat digunakan untuk memprediksi profil muka air
aliran melalui saluran terbuka. Berdasarkan Persamaan (3.6) tersebut
dapat dibedakan tiga kondisi muka air berdasarkan nilai dy/dx, seperti
yang ditunjukkan dalamGambar 3.2.

I. PRINSIP DASAR ALIRAN 97
satu tampang ke tampang yang lain. Kecepatan aliran di sepanjang
saluran dapat dipercepat atau diperlambat yang tergantung pada
kondisi saluran. Apabila di ujung hilir saluran terdapat bendung,
maka akan terjadi profil muka air pembendungan dengan kecepatan
aliran akan berkurang (diperlambat). Sedang apabila terjadi terjunan,
maka profil aliran akan menurun dan kecepatan akan bertambah
(dipercepat). Aliran di dalamsungai biasanya termasuk dalamtipeini.
b. Aliran berubah cepat (rapidly varied flow), dengan parameter
hidraulis berubah secara mendadak dan kadang-kadang juga tidak
kontinu (discontinuous). Contoh aliran ini adalah perubahan tampang
mendadak (saluran transisi), loncat air, terjunan, aliran melalui
bangunan pelimpah dan pintu air, dan sebagainya. Kehilangan tenaga
karena gesekan adalah kecil (jarak pendek) dibandingkan dengan
kehilangan tenaga karena turbulensi.
Rumus aliran yang ada dalam aliran seragam dianggap dapat
digunakan untuk menentukan kemiringan garis energi pada pengaliran
berubah beraturan padasuatu tampang lintang. Demikian juga koefisien
kekasaran yang dikembangkan untuk aliran seragam juga dapat
digunakan untuk aliran tidak seragam. Anggapan ini akan memberikan
hasil yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi kesalahan yang terjadi
adalah kecil sehingga masih bisa ditolerir.
Penurunan persamaan dasar aliran berubah beraturan dilakukan
dengan menggunakan Gambar 3.1. Gambar tersebut merupakan profil
muka air dari aliran berubah beraturan pada elemen sepanjang dx yang
dibatasi tampang 1 dan 2. Tinggi tekanan total terhadap garis referensi
padatampang 1 adalah :
g
V
d z H
2
) (cos
2
o
u + + = (3.1)
dengan :
H : tinggi tekanan total
z : jarak vertikal dasar saluran terhadap garis referensi
d : kedalaman aliran
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 98
u : sudut kemiringan dasar saluran
o : koefisien energi
V : kecepatan aliran rerata pada tampang 1
Koefisien o biasanya mempunyai nilai di antara 1,05 dan 1,40, yang
dihitung berdasarkan distribusi vertikal dari kecepatan. Oleh karena
profil kecepatan ini tidak diketahui, maka biasanya koefisien tersebut
dihilangkan (dianggap o =1). Pada pengaliran berubah beraturan, sudut
kemiringan dasar saluran biasanya kecil sehingga d cos u ~ y. Dengan
demikian Persamaan (3.1) menjadi :
g
V
y z H
2
2
+ + = (3.2)
Diferensial dari Persamaan (3.2) terhadap variabel x akan menghasilkan :
1 2
Garis horisontal
Garis energi, kemiringan I
f
y
dH
Dasar saluran, kemiringan I
0
d
z
Garis referensi
y
d

I. PRINSIP DASAR ALIRAN 99
Gambar 3.1. Penurunan persamaan aiiran berubah beraturan

|
|
.
|

\
|
+ + =
g
V
dx
d
dx
dy
dx
dz
dx
dH
2
2
(3.3)
Kemiringan garis energi didefinisikan sebagai I
f
=dH/dx sedang
kemiringan dasar saluran adalah I0 = dz/dx. Substitusi kemiringan
tersebut kedalamPersamaan (3.3) akan menghasilkan :
|
|
.
|

\
|
+ + =
g
V
dx
d
dx
dy
I I
f
2
2
0
(3.4)
atau
f
I I
g
V
dx
d
dx
dy
=
|
|
.
|

\
|
+
0
2
2

Apabila suku kedua ruas kiri dikalikan dy/dy dan kemudian diselesaikan
untuk mencari dy/dx, maka akan diperoleh :
f
I I
g
V
dx
d
dy
dy
dx
dy
=
|
|
.
|

\
|
+
0
2
2

|
|
.
|

\
|
+

=
g
V
dy
d
I I
dx
dy f
2
1
2
0
(3.5)
Di dalampengaliran berubah beraturan, nilai
|
|
.
|

\
|
g
V
dy
d
2
2
merupakan
perubahan tinggi kecepatan. Oleh karena V = Q/A dengan Q adalah
konstan dan dA/dy=T, maka tinggi kecepatan dapat ditulis dalambentuk :
dy
dA
gA
Q
dy
dA
g
Q
g
V
dy
d
3
2 2 2 2
2 2
= =
|
|
.
|

\
|


atau
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 10
4
y>y >y o c
y >y>y o c
yo
yc
y >y >y o c
M1
M2
M3
dy
dx
-
-
dy
dz
-
+
dy
dx
-
-
Horiz.
Mild Slope
yo
yc
y >y >y c o
y>y >y o c
y>y >y c o
y >y>y c o
S1
S2
S3
Horiz.
Sleep slope
dy
dx
+
+
dy
dx
-
-
dy
dz
+
-
y> y =y ( ) o c
y< y =y ( ) o c
y =y o c
Horiz.
dy
dx
-
-
dy
dx
+
+
C1
C3
Critical slope
y>yc
A2
A3
dy
dx
-
+
dy
dz
-
-
y = o
y<yc
yc
yc
y = o y>yc
y<yc
H2
H3
Horizontal slope
Adverse slope
A3 J
A2
H1
yc
J
H3
H2
dy
dx
-
+
dy
dz
-
-
C1
yc y =y o c
y =y o c
C2
C3
y =y o c
yo
yo
yo
J
S1
S1
S1
S2
S3
yo
yc
J
J
yc
yo
yo
M1
M2
M3
M1
yc
yc
J yo


Gambar 12.12. Berbagai bentuk profl muka air
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 10
1
y
n
dy/dx >0
dy/dx =0
dy/dx <0

Gambar 3.2. Frofil muka air

J ika dy/dx =0, maka muka air sejajar dengan dasar saluran,
dy/dx >0, kedalaman air akan bertambah di sepanjang saluran,
dy/dx <0, kedalaman air akan berkurang di sepanjang aliran.


12.11. Klasifikasi Profil Muka Air
Pers. (12.20) akan digunakan untuk menentukan berbagai bentuk
profil muka air yang banyak dijumpai dalamaliran tidak seragam. Di
dalampersamaan tersebut pembilang dan penyebut yang ada padaruas
kanan dipengaruhi oleh karakteristik saluran dan debit aliran. Untuk
menyederhanakan analisis maka ditinjau suatu saluran lebar dan dangkal
berbentuk segi empat dengan debit konstan. Saluran dengan bentuk
tampang lintang lain yang banyak dijumpai di lapangan mempunyai
karakteristik profit tidak jauh berbeda dengan saluran yang ditinjau.
Pers. (12.20) dapat ditulis dalambentuk
3 2
0
/ 1
) 1 (
gA T Q
I I I
dx
dy f c


= (12.38)
Berdasarkan rumus Manning, kemiringan garis energi untuk saluran
lebar dan dangkal diberikan oleh
3 / 10 2 2 2 3 / 4 2 2
= =
n n f
y B Q n y V n I (12. 39. a)
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 10
2
Untuk allran seragamdengan I
f
= I
0
, dan kedalaman aliran adalah y
n
(kedalaman normal) sehingga
3 / 10 2 2 2 3 / 4 2 2
0

= =
n n
y B Q n y V n I (12.39.b)
Untuk saluran segi empat kedalaman kritik y
c
diberikan oleh
3 / 1
2
2
|
|
.
|

\
|
=
gB
Q
y
c
(12.39.c)
Dengan menggunakan hubungan (12.39.a), (12.39.b) dan (12.39.c),
maka pers. (12.38) dapat dituliskan dalambentuk
3
3 / 10
0
) / ( 1
) / ( 1
y y
y y
I
dx
dy
c
n

= (12.40)
Pers. (12.40) menggambarkan perubahan kedalaman pada arah
aliran. Profil muka air akan berubah yang tergantung pada I
0
dan apakah
y
n
/y dan y
c
/y lebih besar atau kecil dari satu. Kemiringan dasar saluran
dapat negatif, nol atau positif. Kemiringan negatif disebut kemiringan
balik, yang diberi simbol A (adverse slope), apabila elevasi dasar saluran
bertambah dalamarah aliran. Kemiringan dasar nol apabiladasar saluran
horizontal yang diberi simbol H. Kemiringan positif dapat dibedakan
menjadi landai (mild), kritik (critical) dan curam(steep) yang diberi
simbol M, C dan S. Aliran disebut mengalir apabila y
n
> y
c
, kritik jika y
n

= y
c
, dan curamapabila y
n
< y
c
. Gab. 12.12 menunjukkan berbagai
bentuk profil muka air berdasarkan posisi muka air terhadap kedalaman
kritik dan normal. Setiap gambar terbagi dalamtiga daerah yang dibatasi
oleh garis dasar saluran, garis kedalaman kritik dan normal. Setiap
daerah mempunyai bentuk kurve tertentu yang hanya berlaku di dalam
batas-batas daerah tersebut. Apabila kurve berada di atas garis
kedalaman kritik dan normal, maka simbol kurvetersebut diberi indeks 1
(misalnya M
l
, S
l
, C
1
), indeks 3 jikaberada di antara garis dasar saluran
dan garis kedalaman kritik dan normal, dan indeks 2 bila kurve di antara
garis kedalaman kritik dan normal. Semuakurveberindeks 1 mempunyai
kemiringan permukaan positif dan disebut dengan garis pembendungan
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 10
3
(backwater) sedang yang berindeks 2 mempunyai kemiringan negatif dan
disebut garis terjunan (drawdown).
Berikuf ini diberikan penjelasan dari berbagai tipeprofil muka air.
1. KurveM
Kurve M terjadi apabila I
0
<I. dan y
n
> y
c
. Ada tiga tipe kurve M
seperti berikut ini.
Profil muka air adalah M
l
apabila y >y
n
>y
c
. Suatu bangunan air
seperti bendung, atau penyempitan dan belokan di sungai dapat menye-
babkan terjadinya pembendungan di daerah sebelah hulu bangunan.
KurveMl mempunyai asimtot dengan kedalaman normal di sebelah hulu
dan asimtot dengan garis horizontal di sebelah hilir.
Profil M
2
terjadi apabila y
n
> y > y
c
, yang merupakan garis terjunan.
Tipeini terjadi pada saluran landai dengan ujung hilirnya adalah saluran
curam, perlebaran saluran atau terjunan. Kedalaman air padaarah aliran
berkurang.
Profil muka air adalah M
3
apabila y
n
> y
c
> y. Profil ini terjadi
apabila air mengalir dari saluran curammenuju saluran landai. Profil M2
dan M
3
sangat pendek dibandingkan dengan M
l
.
2. KurveS
Kurve S terjadi apabila I0 >Ic dan y0 <yc. Ada tiga tipe kurve S
seperti berikut ini.
Profil muka air adalah S
l
apabila y > y
c
> y
n
. Profil ini terjadi di
sebelah hulu bangunan (bendung) yang berada di saluran curam, sedang
di sebelah hulunya terdapat loncat air.
Profil S2 biasanya terdapat pada perubahan aliran dari saluran landai
masuk kesaluran curam, atau pada pemasukan kesaluran curam. Prodfil
S2 ini sangat pendek.
Profil S
2
terjadi di sebelah hilir pintu air yang berada di saluran
curamatau di sebelah hilir perubahan saluran curamkesaluran kurang
curam. Profil ini merupakan transisi antara profd M dan S.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 10
8
6. Sesudah nilai y
i +1
yang benar diperoleh, dihitung nilai y
i +2
yang
berjarak x dari yi+1.
7. Prosedur di atas diulangi lagi sampai diperoleh nilai y di sepanjang
saluran.
Langkah-langkah hitungan tersebut akan menjadi sederhana apabila
dilakukan dengan menggunakan programkomputer.
12.12.2. Metode langkah langsung (direct step method)
Saluran dibagi menjadi sejumlah pias panjang Ax. Mulai dari ujung
batas hilir dengan karakteristik hidraulis di tampang tersebut diketahui,
dihitung kedalaman air pada tampang di sebelah, sampai akhirnya
didapat kedalaman air di sepanjang saluran. Ketelitian hitungan
tergantung pada panjang pias, semakin kecil Ax, semakin teliti hasil yang
diperoleh.
Gambar 12.13 menunjukkan pias saluran antara tampang 1 dan 2
yang berjarak Ax. Dengan menganggap bahwa distribusi kecepatan
adalah seragampada tampang lintang dan koefisien Coriolis satu, maka
z
l
+y
l
+ g V /
2
1
=z
2
+y
2
+ g V /
2
2
+h
f
,
sedang
z
l
z
2
=I
0
Ax
dan hf = If Ax
sehingga
x I g V y g V y x I
f
A + + = + + A / /
2
2
2
1
2
2
1
2
1
1 0

atau
f
I I
g P y g V y
x

+ +
= A
0
2
1
2
1
1
2
0
2
1
2
) / ( ) / (

atau
f
I I
E E
x

= A
0
1 2
) (
(12.44)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 10
5
3. Protil C
Profil ini terjadi apabila I
0
= I
c
dan y
n
= y
c
.

Mengingat garis
kedalaman normal dan kritik berimpit, maka hanya ada duaprofil. Profil
C dan C
3
mempunyai asimtot terhadap garis horizontal di sebelah hilir.
4. Protil B
Profil H terjadi apabila I
0
=0 dan y
n
= sehingga hanya ada dua
profil (H
2
dan H
3
). Profil ini serupa dengan profil M tetapi untuk dasar
saluran horizontal. Profil H
2
dan H
3
sama dengan profil M
2
dan M
3
.
5. Profil A
Profil A terjadi apabila I
0
<0. Karena nilai y
n
tidak real, maka hanya
ada dua profil yaitu A
2
dan A
3
. Profil A
2
dan A
3
serupa dengan profil H
2

dan H
3
.

















HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 10
6








12.12. Hitungan Profil Muka Air
Kedalaman aliran di sepanjang saluran dapat dihitung dengan
menyelesaikan persamaan diferensial untuk aliran berubah beraturan
(pers. 12.20). Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk
menyelesaikan menyelesaikan persamaan tersebut di antaranya adalah
pengintegralan numerik, metode pengintegralan grafis, dan metode
langkah langsung.
12.12.1. Metode pengintegralan numerik
Digunakan rumus Manning untuk kecepatan rerata,
n I R V /
2 / 1 3 / 2
= ,
dan debit aliran
n I AR Q /
2 / 1 3 / 2
=
atau
3 / 4 2
2 2
R A
Q n
I
f
=
Kombinasi kedua bentuk tersebut dengan pers. (12.30) akan mengha-
silkan
3 1 2
3 / 4 2 2 2
0
1

=
A Tg Q
R A Q n I
dx
dy
(12.41)
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 10
7
Persamaan tersebut merupakan persamaan diferensial tidaklinear,
mengingat ruas kanan persamaan merupakan fungsi tidak linear terhadap
y. Penyelesaian secara numerik dilakukan dengan menggunakan
persamaan deret Taylor yang dalamhal ini menyangkut order satu saja.
y
n+
= y
i
+(dY/dx) x
Indeks i menunjukkan fungsi (y, A, R, T) di sepanjang saluran.
Apabila x kecil maka dapat dianggap bahwanilai dy/dx berubah secara
linear di sepanjang pias x sehingga
x
dx
dy
dx
dy
y y
i i
i i
)
`

|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
+ =
+
+
1
2
1
1

atau
x f f y y
i i i
) (
1
2
1
1 1 + +
+ + =
dengan f = dy/dx
Kombinasi bentuk di atas dengan pers. (a) menghasilkan
3 2
3 / 4 2 2 2
0
/ 1 gA T Q
R A Q n I
f

=


Persamaan (12.42) dan (12.43) dapat diselesaikan dengan langkah
berikut ini.
1. Berdasarkan nilai y
j
awal yang diketahui, dihitung nilai f
i
dari pers.
(12.43c).
2. Pertama kali dianggap fi +1 =fi.
3. Hitung nilai y
i+l
dari pers. (12.42) dengan menggunakan nilai f
i +2
yang
diperoleh dalam langkah 2 atau nilai f
i +1
yang diperoleh dalam
langkah 4.
4. Hitung nilai baru y
i +l
dengan menggunakan nilai f
i +l
yang dihitung dari
nilai yi +1dari langkah 3.
5. Apabila nilai y
i +1
yang diperoleh dalamlangkah 3 dan 4 masih ber-
beda jauh, maka langkah 3 dan 4 diulangi lagi.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 11
2
12.12.3. Metode Integrated Grafis
Metode ini dapat digunakan untuk semua tipe aliran berubah
beraturan, yang didasarkan pada pengintegralan pers. (12.20) secara
grafis. Prinsip dasar dan aplikasi metode tersebut akan dijelaskan di
bawah.
Pers. (12.38) dapat ditulis dalambentuk
3 / 4 2 2 2
0
3 1 2
1

=
R A Q n I
A Tg Q
dy
dx
(12.45)
Ruas kanan pers. (12.45) hanya merupakan fungsi dari g untuk bentuk
saluran tertentu, sehingga dapat ditulis sebagai (y),
dx = (y) dy
Dipandang suatu pias saluran yang dibatasi oleh dua tampang lintang
yang berjarak x
l
dan x
2
dari titik O yang mempunyai kedalaman y
l
dan y
2

(Gb.12.14). Dari gambar tersebut nampak
x = x
2
x
1
,
} }
=
2
1
2
1
) (
y
y
x
x
dy y dx
Penggambaran grafik hubungan antara y dan (y) dapat memberikan
panjang kurve muka air sampai pada suatu stasiun seperti yang
ditunjukkan dalamGb.12.14.b.
y
Flow profile
y
1
y
2
0
x
x
1
x
2
(a)
dx
dy
y
1
y
2
dx
dy
1
dx
dy
2
dx
dy
y 0
x = dy
y
2
y
1
dx
dy
dy
(b)

Gambar 12.14. Metodepengintegralan grafis
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 10
9
z1
z1
z2
z2
y2
V
Q
2
2
2
2g
V
Q
1
2
1
2g
y1
1
2
h a

Gambar 12.13. Metodelangkah lansung
Dengan mengetahui karakteristik aliran dan kekasaran pada satu
tampang, maka kecepatan dan kedalaman aliran di tampang yang lain
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan di atas. Kemiringan
garis energi If adalah nilai rerata di tampang 1 dan 2, yang dapat dida-
sarkan pada persamaan Manning atau Chezy. Apabila karakteristik aliran
di kedua tampang diketahui, maka jarak antaratampang dapat dihitung
dengan rumus (12.44).
Contoh 5
Suatu aliran segi empat dengan lebar B =2 mmengalirkan air dengan
debit Q =2 m
3
/s. Kedalaman air padadua titik yang berdekatan adalah
1,0 dan 0,9 m. Apabila koefisien Manning n =0,0212 dan kemiringan
dasar saluran I
0
= 1 : 2500, hitung jarak antara keduatampang tersebut.
Penyelesaian
A1=2 1,0 =2,0 m
2

p
1
=2 +2 1,0 =4,0 m
R
I
=A
1
/P
l
=0,5 m
051 , 0 /
2 2
2
1 2
1
2
1
= = gA Q V
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 11
0
A
2
=2 0,9 =1,8 m
2
.
P
2
=2 2 0,9 =3,6 m
2

R2 =A2/P2 =0,474
0617 , 0 /
2
2
1
= g V
J arak antara kedua tampang adalah
2 2 / 3 2
1
2
1
2
1
2
2
0
2
1
) (
) / ( ) / (

+ +
= A
R nV I
y g V y g V
x
r

Nilai rerata untuk kecepatan dan jari-jari hidraulis adalah
V
r
=(V
l
+V
2
) =1,05 m/s;
Rr = (R1 +R2) =0,497 m/s,
sehingga
2 3 / 2
) 0487 , 0 012 , 0 05 , 1 ( 0004 , 0
052 , 1 962 , 0



= Ax
= 0,089 / (0,0004 0,000416) =5562,5 m.



Contoh 1
Suatu saluran segi empat dengan lebar B =2 mmengalirkan air de-
ngan debit Q =2 m
3
/s. Kedalaman air pada dua titik yang berdekatan
adalah 1,0 dan 0,9 m. Apabila koefisien Manning n = 0,0212 dan
kemiringan dasar saluran I
0
= 1 : 2500, hitung jarak antara kedua
tampang tersebut.
Penyelesaian
Parameter aliran di tampang 1 :
A
1
=21,0 =2,0 m
2

3 m
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 11
1
p
1
=2 +21,0 =4,0 m
R
1
=A
1
/P
l
=0,5 m
051 , 0
2 2
2
1
2 2
1
= =
gA
Q
g
V

Parameter aliran di tampang 2 :
A2=20,9 =1,8 m
2
.
P2=2 +20,9 =3,6 m
2

R2 =A2/P2 =0,474
0617 , 0
2 2
2
2
2 2
2
= =
gA
Q
g
V

Nilai rerata untuk kecepatan dan jari-jari hidraulis adalah
V
r
=(V
l
+V
2
) =1,05 m/s;
A
r
=(A
l
+A
2
) =1,90 m
2
;
R
r
= (R
1
+R
2
) =0,497 m/s,
Kemiringan garis energi dihitung berdasar nilai rerata di atas :
0004166 , 0
487 , 0 9 , 1
2 012 , 0
2 2
2 2
3 / 4 2
2 2
=


= =
r r
f
R A
Q n
I
J arak antara kedua tampang adalah :
m x 5300
0004166 , 0 0004 , 0
) 051 , 0 1 ( ) 062924 , 0 1 (
=

+ +
= A




HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 11
6

BAB V

LONCAT AIR


5.1. Pendahuluan
Loncat air terjadi apabila aliran di saluran berubah dari aliran super
kritis menjadi sub kritis. Padaaliran super kritis kedalaman aliran kecil
dan kecepatan besar, yang ditunjukkan oleh angka Froude Fr>1. Pada
aliran subkritis, kedalaman aliran besar dan kecepatan aliran rendah
(Fr<1). Di daerah transisi, antara aliran super kritis dan sub kritis, terjadi
tumbukan antara aliran dengan kecepatan tinggi dan kecepatan rendah,
dan muka air naik secara mendadak, terbentuk pusaran, turbulensi, dan
peredaman energi yang besar.
Loncat air (hydraulic jump) banyak dijumpai dalamaliran melalui
saluran terbuka, misalnya pada bagian hilir bangunan pelimpah dan ben-
dung serta pada aliran melalui pintu air (Gambar 5.1). Gambar 5.1.a, ada-
lah aliran di hilir bendung, di mana tampang memanjang saluran berubah
dari kemiringan curammenjadi landai. Aliran di bagian hulu adalah su-
per kritis sedang di hilir adalah subkritis. Di antara kedua tipealiran ter-
sebut terdapat daerah transisi di mana loncat air terjadi.


Gambar 1. Loncat air pada kaki bangunan pelimpah dan pintu air
Super kritis
Sub kritis
Loncat air
Super kritis
Sub kritis
Loncat air
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 11
3
Contoh 8
Suatu saluran segi empat mempunyai lebar dasar B =19 m, ke-
dalaman air normal y
n
=2,76 mdan kedalaman air di batas hilir 4,67 m.
Kemiringan saluran I
0
= 0,0005. Koefsien kekasaran Manning n =0,023,
Chezy C =50 m
2
/s. Koefisien Coriolis =1,11 dan percepatan gravitasi g
=9,78 m/s
2
. .
Penyelesaian
Perhitungan debit aliran.
A =10 2,71 = 27,1 m
2

P =10 +2 2m71 = 15,42 m
2
.
A =10 2,71 = 27,1 m
2

R = A/P =1,78 m
Q = AC \(RI) = 27,1 50 \(1,76 0,0005) =40,1 m
3
/s.
Perhitungan profil muka air.
} }
=
2
1
2
1
) (
y
y
x
x
dy y dx
I
A
I I
A Tg Q
y
f


=

=

0005 , 0
78 , 109 1 , 40 11 , 1 1 1
) (
3 1 2
0
3 1 2

=(1 1825 A
3
)/(0,0005 I)
Dengan menggunakan rumus Chezy,
Q =A C R
1/2
I
1/2

atau
I =Q
2
R
l
A
2
C
2
=(40,1)
2
(50)
2
R
1
A
2

=0,644 / (RA
2
)
Hitungan dilakukan dengan menggunakan tabel di bawah. Nilai y
pada kolomkedua tabel tersebut ditentukan secara sembarang kecuali
nilai pada batas hulu dan hilir. Kemudian akan dicari jarak dari ke-
dalaman tersebut dari titik referensi.
Profil y (m) B (m) A (m
2
) P (m) R (m) I (y)
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 11
4
0 2,71 10 27,1 15,42 1,75 0,000500 I
I 3,00 10 30,0 16,00 1,88 0,000380 7750
II 3,50 10 35,0 17,00 2,06 0,000255 3900
III 4,00 10 40,0 18,00 2,22 0,000182 3080
IV 4,50 10 45,0 19,00 2,27 0,000134 2680
V 4,87 10 48,7 19,74 2,47 0,000100 2520
Hubungan antara y dan (y) dibuat dalambentuk grafik di bawah.
J arak antara dua stasiun adalah sama dengan luas masing-masing pias
pada grafik.
7750
3900
3080
2580 2520
3,0 3,5 4,0 4,5 4,87
I II III IV V 0
2,71
y

Gambar 12.15. Pengintegralan grafis
I I x x x = + = = 92 , 0 ) 7750 (
2
1
01 1 0

2913 50 , 0 ) 3900 7750 (
2
1
12
= + = x m
1745 50 , 0 ) 3080 3900 (
2
1
23
= + = x m
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 11
5
960 50 , 0 ) 2680 3080 (
2
1
34
= + = x m
960 50 , 0 ) 2520 2680 (
2
1
5 4
= + =

x m
atau
z
maks
x
4
=980 x
maks
x
1
=7058
x
maks
x
4
=2400 x
maks
x
0
=
x
maks
x
2
=4145























HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 12
0
Dengan prosedur penurunan yang sama, apabila diketahui kedalaman air
di hilir loncat air y2, akan dapat dihitung kedalaman air di hulu loncat air
y
1
dengan persamaan berikut :
) 1 8 1 (
2
1
2
2
2
1
+ = Fr
y
y
(5.5)
Persamaan (5.4) dan (5.5) mengandung tiga variable bebas,
sehingga untuk menghitung salah satunya perlu diketahui dua variable
lainnya. Apabila yang diketahui adalah aliran di hulu loncat air, yaitu
kedalaman dan kecepatan aliran (y1 dan V1), maka bisa dihitung
kedalaman aliran di hilir loncat air y
2
. Kedalaman y
2
disebut dengan
kedalaman konjugasi terhadap y
1
, dan sebaliknya.
Kehilangan tenagapada loncat air :


(
(

+
(
(

+ =
g
V
y
g
V
y E E
s s
2 2
2
2
2
2
1
1 1 1


2
2
2
2
1
2
2 1
2 2
) (
gy
q
gy
q
y y + =
( )
2
1
2
2
2
2
2
1
2
1
2 1
2
) ( y y
y gy
q
y y + =
Dengan menggunakan Persamaan (....) untuk mengeliminasi q, maka
persamaan di atas menjadi :
2 1
3
1 2
1 1
4
) (
y y
y y
E E E
s s s

= = A (....)
Untuk mendapatkan panjang loncat air L, tidak ada rumus teoritis
yang dapat digunakan untuk menghitungnya. Panjang loncat air dapat
ditentukan dengan percobaan di laboratorium. Untuk saluran segiempat,
panjang loncat air diambil antara 5 sampai 7 kali tinggi loncat air :
L =5 ~7 (y2 y1)
Dalampraktek, panjang loncat air ini digunakan untuk menentukan
panjang perlindungan saluran di mana loncat air terjadi.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 11
7
Gambar 2.a menunjukkan peluapan melalui bendung dan loncat air yang
terjadi di hilir kaki bangunan, sedang Gambar 2.b adalah bagian-bagian
loncat air..

(a)


http://www.LMNOeng.com (b)
Gambr 2. Loncat air di hilir bendung dan bagian-bagian loncat air
5.2. Persamaan Loncat Air
Pada loncat air kecepatan aliran berkurang secara mendadak dari V
1

menjadi V2. Sejalan dengan itu kedalaman aliran bertambah dengan cepat
dari y
1
menjadi y
2
(Gambar 3).

Gambar 3. Kehilangan tenagapada loncat air.
Loncat Air
Sub kritis
Super kritis
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 11
8
Pada loncat air terjadi olakan yang sangat besar, yang disertai dengan
berkurangnya energi aliran. Setelah loncat air, aliran menjadi tenang,
dengan kedalaman besar dan kecepatan kecil. Karena olakan (turbulensi)
yang sangat besar maka loncat air dapat menyebabkan terjadinya erosi di
lokasi tersebut.
Di dalammempelajari loncat air, parameter yang akan dicari adalah
kedalaman air awal y
1
, kedalaman air akhir y
2
, dan panjang loncat air.
Penurunan rumus-rumus loncat air dilakukan dengan melihat Gambar 3.
Dipandang aliran pada loncat air yang dibatasi oleh tampang 1 dan 2.
Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya tekanan hidrostatis di tampang 1
dan 2. Debit aliran adalah Q. apabila saluran berbentuk segiempat, maka
debit tiap satuan lebar saluran adalah q=Q/B, dengan B adalah lebar
saluran. Gaya tekanan hidrostatis tiap satuan lebar pada tampang 1
adalah :
2
1
2
1 1
2
1
2
1
y g y F = = (5.1)
Gayatekanan hidrostatis tiap satuan lebar padatampang 2 adalah :
2
2
2
2 2
2
1
2
1
y g y F = = (5.2)
Persamaan momentumuntuk gaya-gaya tiap satuan lebar adalah :
) (
1 2
V V q F = (5.3)
Persamaan (5.1) dan (5.2) disubstitusikan ke dalamPersamaan (5.3)
sehinggadiperoleh :
) ( ) (
2
1
2
1
1 2
1 2
2
2
2
1
y
q
y
q
q V V q y g y g = =
)
1 1
(
2
) (
2 1
2
2
1
2
2
y y g
q
y y =
) y - (
2
) (
1 2
2 1
2
2
1
2
2
y
y y g
q
y y =
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 11
9
) - (
2
) ( ) (
1 2
2 1
2
1 2 1 2
y y
y y g
q
y y y y = +

2 1
2
1 2
2
y y g
q
y y = +

1
2
2 1
2
2
2
y g
q
y y y = +
0
2
1
2
2 1
2
2
= +
y g
q
y y y
Penyelesaian dari persamaan di atas (persamaan kuadrat) akan
didapat nilai y
2
:

2
/ 2 4 y -
2 2
1 1
2
gy q y
y
+
=
Dari kedua nilai y2 diambil yang positip, sehingga :
1
2 2
1
1 2
2
4
y
2
1
gy
q y
y + + =
1
2
1
2
1
2
1
1
2
4 2
1
gy
V y y
y + + =
1
2
1
1 1
8
1
2
1
2
1
gy
V
y y + + =
) 8 1 1 (
2
1
2
1 1 r
F y + + =
) 1 8 1 (
2
1
2
1
1
2
+ = Fr
y
y
(5.4)
Dengan
gy
V
Fr
1
1
= adalah angka Froude pada aliran sebelah hulu. De-
ngan demikian apabila y1 diketahui dapat dihitung y2.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 12
4
Apabila kedalaman air di hilir loncat air y
n
lebih besar dari y
2
,
maka loncat air akan terdorong kehulu sehingga tidak terjadi loncat air
sempurna, yang disebut dengan loncat air terendam. Apabila kedalaman
air yn lebih kecil dari kedalaman konjugasi y2, maka posisi loncat air
akan bergeser kehilir. Profil muka air di hulu loncat air mengikuti kurva
M3 atau H3 (tergantung apakah dasar saluran miring atau harisontal).
J arak bergesernyaposisi loncat air bisa cukup jauh, sedemikian sehingga
kedalaman air di hulu loncat air
1
y' merupakan kedalaman konjugasi dari
y
n
. Jarak antaray
1
dany
n
di mana alirannya adalah superkritis bisa cukup
panjang, yang dapat dihitung dengan cara seperti diberikan dalamBab
IV.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 12
1
Contoh
Saluran segiempat dengan lebar 3 mmengalirkan air dengan debit
Q=15 m3/d pada kedalaman 0,6 msebelumterjadi loncat air. Hitung
kedalaman air kritis dan kedalaman air di hilir loncat air.
Penyelesaian
Debit aliran tiap satuan lebar :
m d m
B
Q
q / / 5
3
15
3
= = =
Kedalaman kritis :
m y
c
366 , 1
81 , 9
5
3
2
= =
Kecepatan aliran :

d m
y
q
V / 33 , 8
6 , 0
5
1
1
= = =
Angka Froudedi sebelah hulu loncat air :
435 , 3
6 , 0 81 , 9
33 , 8
1
1
1
=

= =
y g
V
F
r

Kedalaman air di hilir loncat air :
|
.
|

\
|
+ = |
.
|

\
|
+ = 1 ) 435 , 3 ( 8 1
2
1
1 8 1
2
1
2 2
1
1
2
r
F
y
y

Diperoleh :
m y 63 , 2
2
=
Contoh
Seluran segiempat dengan lebar 3 mmengalirkan debit 15 m3/d.
Kemiringan dasar saluran 0,004 dan koefisien Manning 0,01. Padasuatu
titik di saluran di mana aliran mencapai kedalaman normal, terjadi loncat
air. Ditanyakan : a. Tipealiran, b. Kedalaman air setelah loncat air, c.
Panjang loncat air, d. Kehilangan tenaga padaloncat air.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 12
2
Penyelesaian
a. Tipaaliran
Kedalaman air kritik dihitung dengan menggunakan Persamaan (3.8.a) :
m
gB
Q
y
c
366 , 1
81 , 9
) 3 / 15 (
3
2
3
2
2
= = =
Kedalaman air normal dihitung dengan menggunakan rumus
Manning :
2 / 1 3 / 2
1 1 1 1
1
I R
n
A V A Q = =
dengan :
1 1 1
3y y B A = =

) 2 3 (
3
) 2 (
1
1
1
1
y
y
y B
y B
P
A
R
+
=
+
= =
Sehingga :
2 / 1
3 / 2
1
1
1
) 004 , 0 (
) 2 3 (
3
01 , 0
1
3 15
|
|
.
|

\
|
+
=
y
y
y
Penyelesaian dari persamaan di atas menghasilkan :
m y 08 , 1
1
=
Kecepatan aliran :
d m
A
Q
V / 63 , 4
08 , 1 3
15
1
1
=

= =
Angka Froudedi sebelah hulu loncat air :
422 , 1
08 , 1 81 , 9
63 , 4
1
1
1
=

= =
y g
V
F
r

Oleh karena 1
1
>
r
F , berarti aliran adalah super kritis.
b. Kedalaman aliran y
2
:
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 12
3
m F
y
y
r
70 , 1 1 ) 42 , 1 ( 8 1
2
08 , 1
1 8 1
2
2 2
1
1
2
= |
.
|

\
|
+ = |
.
|

\
|
+ =
c. Panjang loncat air :
Panjang loncat air dihitung dengan menggunakan Persamaan ...
L =7 (y
2
y
1
) =7 (1,70 1,08) =4,34 m
d. Kehilangan tenagapada loncat air.
m
y y
y y
E
s
032 , 0
08 , 1 70 , 1 4
) 08 , 1 70 , 1 (
4
) (
3
2 1
3
1 2
=


=

= A
5.3. Tipe Loncat Air


5.4. Pengaruh Kedalaman Hilir terhadap Lonct Air
Dipandang suatu loncat air yang terjadi pada aliran melalui pintu
air seperti ditunjukkan dalamGambar 5.4. Aliran di bawah pintu air
adalah super kritis. Pada titik kontraksi maksimum (vena kontrakta),
kedalaman aliran adalah y
1
yang merupakan titik awal loncat air.
Kedalaman hilir loncat air (kedalaman konjugasi terhadap y1 adalah y2
yang dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (5.4.).
Aliran di sebelah hilir loncat air adalah sub kritis, yang
kedalamannya tidak dipengaruhi oleh kondisi di hulu, tetapi oleh titik
kontrol di hilir. Kedalaman tersebut adalah kedalaman noramal yn yang
dipengaruhi oleh parameter saluran, yaitu tampang, kemiringan dan
kekasaran dinding. Apabila y
n
sama dengan y
2
, maka akan terbentuk
loncat air di lokasi tersebut (y
1
pada vena kontrakta). Pada aliran
superkritis dan loncat air, kecepatan aliran dan turbulensi besar yang
dapat mengerosi dasar dan tebing saluran. Untuk itu saluran harus
diperkuat dengan pasangan batu atau beton sehingga mampu menahan
erosi. DalamGambar 5.4.a, dasar dan tebing saluran diperkeras mulai
dari awal aliran superkritis sampai ujung hilir loncat air.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 12
8







I. PRINSIP DASAR ALIRAN 12
5


sehingga perkuatan dasar dan tebing saluran menjadi mahal. ,
Aliran di hulu loncat air adalah super kritis yang mempunyai kecepatan
tinggi yang bisa mengerosi saluran. Untuk itu maka saluran harus dibuat
tahan erosi, misalnyadengan membuat pasangan batu atau beton. Namun
mengingat panjangnya aliran super kritis tersebut, maka dalam
perencanaan peredamenergi di hilir bangunan pelimpah, elevasi dasar
bangunan diturunkan untuk mendapatkan kedalaman konjugasi y2.
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 12
6
Gambar .... menunjukkan penurunan dasar bangunan peredam energi
dengan menggali dasar saluran atau sungai.












dan Misalnya yang diketahui adalah y1 dan V1, maka








yn
yc
yn
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 12
7
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 13
2
Sebuah lompatan hidrolik adalah fenomena dalam ilmu hidrolika
yang sering diamati dalam aliran saluran terbuka seperti sungai dan
spillways. Ketika cair pada pembuangan kecepatan tinggi ke zona
kecepatan rendah, kenaikan agak mendadak terjadi pada permukaan
cairan. Cairan ini mengalir dengan cepat tiba-tiba melambat dan
peningkatan tinggi badan, mengubah sebagian energi kinetik awal aliran
ke dalam peningkatan energi potensial, dengan beberapa energi
ireversibel hilang melalui turbulensi terhadap panas. Dalam aliran
saluran terbuka, ini bermanifestasi sebagai aliran cepat cepat
memperlambat dan menumpuk di atas itu sendiri mirip dengan
bagaimanabentuk shockwave.
Persamaan momentum pada aliran melalui saluran terbuka
diterapkan pada peristiwa loncat air.

I. PRINSIP DASAR ALIRAN 12
9

Figure1.
Hydraulic J ump Overall Schematic




Loncat Air
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 13
0



I. PRINSIP DASAR ALIRAN 13
1




MEKANIKA FLUIDA 136


DAFTAR PUSTAKA


Abbott, M.B., 1980, Notes for Short Course on Computational Hydraulics,
Texas A & M University, Texas.
Batchelor, G. K., 1970, An Introduction to Fluid Dynamics, Cambridge
University Press, Cambridge.
Bod, M. G., 1984, Discharge Measurements Structures, International Institute
for Reclamation and Improvement (ILRI), Wageningen.
Chaudhry, M. H., 1979, Applied Hydraulic Transient, Van Nostrand Reinholt
Company, Toronto.
Chow, V. T., 1959, Open Channel Hydraulics, McGraw-Hill, KogakushaLtd.,
Tokyo.
Daily, J. W., Harleman, D. R. F., Fluid Dynamics, Addison-Wesley Publishing
Company, Inc.
Dake, J. M. K.,1983, Hidrolika Teknik (terjemahan), Penerbit Erlangga, Jakarta.
Depeweg, H.,1987, Basic Hydraulics Exercise, Bipowered, Bandung.
Dougherty, Franzini, 1965, Fluid Mechanics with Engineering Applications,
McGraw-Hill Kogakusha, Tokyo.
Douglas, J . F., Gasiorek, J. M., Swaffield, T. A.,1986, Fluid Mechanics,
Longman Scientific & Technical, Harlow.
Evett, J. B., 1988, Fundamentals of Fluid Mechanics, McGraw-Hill In-
ternational Editions, Singapore.
Fischer, H. B., 1981, Transport Models for Inland and Coastal Waters,
Academic Press, New York.
Harijono Djojodihardja, 1983, Mekanika Fluida, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Ippen, A. T., 1966, Estuary and Coastline Hydrodynamics, McGraw-Hill Book
Company, New York.
Kartvelishvili, N. A.,1970, Water Harmmer and Surge Tanks, Keter Press,
Jerusalem.
Kaufmann, W., 1979, Fluid Mechanics, McGraw-Hill Kogakusha, Tokyo.
I. PRINSIP DASAR ALIRAN 13
3

, seperti aliran di ujung hilir bangunan pelimpah atau spillway.






Gambar (a) Loncat air


yn
yc
yn
HIDRAULIKA SALURAN TERBUKA 13
4










SLUISKOKER
Sluiskoker termasuk peluap ambang lebar dengan tinggi ambang sangat
kecil (p=0). (penyempitan tampang aliran).
A : tinggi ambang
B: lebar sluiskoker
C :





I. PRINSIP DASAR ALIRAN 13
5
BAB VI

ALIRAN TAK MANTAP

MEKANIKA FLUIDA 140
air di saluran / sungai dan bisajugasebagai penggerak pengilingan tradisional di
negara-negaraEropa. Di negaradengan sungai yang cukup besar dan deras
alirannya, serangkaian bendung dapat dioperasikan membentuk suatu sistem
transportasi air. Di Indonesia, bendung dapat digunakan untuk irigasi bila
misalnyamukaair sungai lebih rendah dari mukatanah yang akan diairi.


Daftar Pustaka 137
Khurmi, R. S., 1987, Hydraulics Fluid Mechanics and Hydraulics Machines,
Schand & Company, New Delhi.
King, H. W., Wisler, C. O., Woodburn, J. G., 1948, Hydraulics, John Wiley &
Sons, Inc, Tokyo.
Lowe, H. C., 1979, Fluid Mechanics, TheMac Millan Ltd., London.
Mathieu, J., 1982, Mecanique des Fluides, EcoleCentraledeLyon, Lyon.
Mohanty, A. K.,1986, Fluid Mechanics, PrenticeHall of India, New Delhi.
Morris, H. M.,1976, Applied Hydraulics in Engineering, John Wiley & Sons,
New York.
Novak, P., 1983, Development in Hydraulic Engineering - 1, Applied Science
Publishers, London.
Panton, R. L., 1984, Incompressible Flow, John Wiley & Sons, Singa-pore.
Patel, R. C., Pandya, A. D., Patel, B. M., 1986, Elements of Hydraulics, Acharya
Book Depot, New Delhi.
Pedlosky, J ., 1979, Geophysical Fluid Dynamics, Springer-Verlag, New York.
Pickford, J., 1969, Analysis of Surge, MacMillan, London.
Prijani, V. B., 1966, Fundamental Hydraulics, Charotal Book Stall, India.
Raju, R., 1981, Flow Through Open Channel, TataMcGraw-Hill, New Delhi.
Raudkivi, A. J., 1976, Loose Boundary Hydraulics, Pergamon Press, New York.
Rouse, H., 1961, Engineering Hydraulics, John Wiley & Sons, New York.
Sabersky, R. H., Acosta, A. J., Haupmann, E. G., 1971, Fluid Flow, Collier
MacMillan International Editions, London.
Simons, D. B., Senturk, F., 1976, Sedimen Transport Technology, Water
Resources Publication, New York.
Stephenson, D., 1984, Pipe Flow Analysis, Elsevier, Amsterdam.
Streeter, V. L., 1962, Fluid Mechanics, McGraw-Hill Book Company Inc, New
York.
Streeter, V. L., Wylie, J., 1984, Mekanika Fluida (terjemahan), Penerbit
ErlanggaJakarta.
Vanoni, V. A., , 1977, Sedimentation Engineering, Headquarters of theSociety,
New York.
Vasandani, P. V., 1980, Theory of Hydraulic Machines, Khanna Publishers,
New Delhi.
MEKANIKA FLUIDA 138
Vennard, J. K., Street, R. L., 1976, Flementary Fluid Mechanics, John Wiley &
Sons, New York.
Webber, N. B., 1965, Fluid Mechanics for Civil Engineers, WilliamClowes &
Sons, New York.
Welty, J. R., Wicks, C. E., Wilson, R. E., 1984, Fundamentals of Momentum,
Heat and Mass Transfer, John Wiley & sons, New York.
White, F. M., 1979, Fluid Mechanics, McGraw-Hill KogakushaLtd., Tokyo.
Yang, J. C., 1986, Numerical Simulation of Bed Evolution in Multi Channel
River Systems, Thesis Doktor, TheUniversity of Iowa.
Yuan, S. W., 1969, Foundations of Fluid Mechanics, Prentice-hall of India
PrivateLimited, New Delhi.





Saluran Mataram adalah kanal irigasi yang menghubungkan Kali Progo di
barat dan Sungai Opak di timur. Masyarakat lebih mengenal namapopulernya,
Selokan Mataram. Selokan Mataramini terletak di Daerah IstimewaYogyakarta
dan menjadi bagian dari Jaringan Saluran Induk Mataram.
Selokan Matarammemiliki panjang 31,2 kmdan dibangun padaMasa
Pendudukan Jepang. Kalaitu Jepang sedang menggalakkan Romushauntuk
mengeksploitasi sumber dayaalamIndonesiaataupun untuk membangun sarana
prasaranagunakepentingan perang Jepang melawan Sekutu di Pasifik. Di
tengah gencar-gencarnyaRomusha, RajaYogyakartasaat itu, Sri Sultan
Hamengku Buwono IX berusahamenyelamatkan wargaYogyakartadari
kekejaman Romusha. Dengan berpikir cerdik, Beliau melaporkan kepadaJ epang
bahwaYogyakartaadalah daerah minus dan kering, hasil buminyahanyaberupa
singkong dan gaplek. Dengan laporan tersebut Sri Sultan mengusulkan kepada
Jepang agar warganyadiperintahkan untuk membangun sebuah selokan saluran
air yang menghubungkan Kali Progo di barat dan Sungai Opak di timur. Dengan
demikian lahan pertanian di Yogyakartayang kebanyakan lahan tadah hujan
dapat diairi padamusimkemarau sehinggamampu menghasilkan padi dan bisa
memasok kebutuhan pangan TentaraJepang.
Ternyatausulan Sri Sultan disetujui J epang dan terbebaslah wargaYogyakarta
untuk ikut Romusha, melainkan dialihkan untuk membangun saluran air yang
Daftar Pustaka 139
sebenarnyauntuk kemakmuran wargajuga. menurut legenda jugadiceritakan
bahwaSunan Kalijagapernah berujar bahwaYogyakartabisamakmur jikaKali
Progo dan Sungai Opak bersatu. Hal tersebut mungkin adabenarnya, namun
keduasungai itu bukan bersatu secaraalami melainkan disatukan dengan saluran
air. Kenyataannya, wargaYogyakartasekarang lebih makmur daripadasebelum
adanyaSelokan Mataramdan selokan itu telah mengairi ribuan hektar lahan
pertanian yang sampai saat ini masih menghijau padasaat musimkemarau.
Jaringan Saluran Induk Mataramadalah sistemirigasi yang menjadi tulang
punggung penyediaan air pertanian di wilayah Yogyakartabagian utara.
Jaringan ini terbagi menjadi tigabagian, yaitu Saluran Induk Karangtalun
(panjang lebih dari 3 km), Saluran Mataram(31,2 km), dan Saluran Van der
Wicjk (17 km). Aliran sungai yang digunakan bagi saluran ini adalah aliran
Sungai Progo di barat dan Sungai Opak di bagian timur. Untuk menangkap air
dari sungai-sungai ini dibuat sejumlah bendung. Di bagian paling barat atau
pangkal Saluran Van der Wijck adalah Bendung Karangtalun (populer
dinamakan Ancol dan sekarang menjadi tempat wisata). Instalasi ini dibangun
antaratahun 1909-1932. Saluran Van der Wijck kemudian diteruskan dengan
dengan pembangunan Saluran Mataramdi masapendudukan Jepang (kalaitu
dinamakan Kanal Yoshiro). Dengan selesainyaSaluran Mataram, terhubunglah
aliran Kali Progo menuju Kali Opak. Padatahun 1950 (dan diperbaik 1980)
dibangun Bendung Karangtalun.
Pengelolaan jaringan irigasi ini dilakukan oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya
Air Wilayah Sungai Progo-Opak-Oyo (Balai PSDA WS POO/Balai POO) dan
meliputi Kabupaten Sleman, KotaYogyakarta, Kabupaten Bantul, dan
Kabupaten Gunungkidul. Cakupan pengairan potensial adalah 33.000 ha, untuk
pengelontoran sistemsanitasi kotasekitar 0.4m
3
/detik dan pemasokan keperluan
industri gulaPG Madukismo 0,55 m
3
/detik padamusimgiling, serta0,22
m
3
/detik padamusimpemeliharaan melalui suplesi di Sungai Winongo yang
diambil di Bendung Korbri.
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air
menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga
digunakan untuk mengalirkan air kesebuah Pembangkit Listrik TenagaAir.
Kebanyakan damjugamemiliki bagian yang disebut pintu air untuk membuang
air yang tidak diinginkan secarabertahap atau berkelanjutan.
Bendungan(dam) dan bendung(weir) sebenarnyamerupakan struktur yang
berbeda. Bendung (weir) adalah struktur bendungan berkepalarendah (lowhead
dam), yang berfungsi untuk menaikkan mukaair, biasanyaterdapat di sungai.
Air sungai yang permukaannyadinaikkan akan melimpas melalui puncak /
mercu bendung (overflow). Dapat digunakan sebagai pengukur kecepatan aliran
MEKANIKA FLUIDA 144
terbuka. J ean Borda (1733-1799) mempelajari aliran melalui lobang dan
orang pertama yang menggunakan faktor 2g secara eksplisit dalam
rumus-rumus hidraulika. Dapat disebut di sini beberapa ahli lainnya
seperti J ean Baptiste Belanger (1789-1874) yang mempelajari garis
pembendungan (backwater); Benoit Fourneyron (1802-1867)
mengembangkan turbin hidraulis; Gaspar de Coriolis (1792-1843)
mempelajari distribusi kecepatan aliran dan pengaruh perputaran bumi
terhadap aliran. J ean Louis Poiseuille (1799-1869) mengembangkan
persamaan aliran laminer; Barre de Saint Venant (1797-1886)
mempelajari gerak gelombang di saluran terbuka; ArseneDupuit (1804-
1866) mengembangkan hidraulika air tanah; Antoine Charles Bresse
(1822-1883) melakukan studi hitungan profil muka air. Henri Darcy
(1803-1858) me- ngemukakan hukumtahanan aliran melalui pipa yang
diturunkan berdasarkan percobaan pipa, dan aliran melalui media
berpori. Paul du Boys (1847-1924) melakukan penelitian gerak sedimen
dasar di saluran dan sungai. Henri-EmileBazin (1829-1917) melakukan
studi distribusi kecepatan pada arah transversal saluran dan mengusulkan
rumus kekasaran dinding saluran dalambentuk koefisien Chezy. Pada
saat yang hampir bersamaan dengan Darcy dan Bazin, Emile Oscar
Ganguillet (1818-1894) dan Wilhelm-Rudolph Kutter (1818-1888) juga
mengusulkan rumus tahanan aliran. Rumus serupa juga diusulkan oleh
Philippe-Gaspard Gauckler (1826-1905) dan Robert Manning (1816-
1897). Giovanni Venturi (1746-1822) mempelajari pengaruh perubahan
penampang pipa dan saluran terhadap tekanan dan profil aliran.
Pada awalnya, ilmu hidraulika, hidrodinamika dan mekanika fluida
berkembang dengan pesat di Eropa. Mulai akhir abad ke 19 dan awal
abad ke20 para peneliti dan insinyur Amerika juga banyak melakukan
penelitian tentang ilmu tersebut. Dapat dicatat di sini nama-nama seperti
Buckingham(1867-1940) yang mengembangkan teknik analisis dimensi
dan kesebangunan; Boris Alexandrovitch Bakhmeteff (1880-1951)
banyak meneliti aliran melalui saluran terbuka; Keulegan yang banyak
meneliti gerak gelombang, tahanan pada aliran melalui pipa dan saluran
terbuka, dan aliran dengan perbedaan rapat massa.
Daftar Pustaka 141


MEKANIKA FLUIDA 142

1.3. Sejarah Aliran Melalui Saluran Terbuka
Ilmu hidraulika didefinisikan sebagai cabang dari ilmu teknik yang
mempelajari perilaku air. Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan manusia,
untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti air minum, irigasi, pembangkit listrik
dan sebagainya. Perencanaan bangunan air untuk memanfaatkan dan
mengaturnya merupakan bagian dari teknik hidro yang termasuk dalambidang
teknik sipil.
Pada zaman Mesir kuno dan Babilonia, teknik hidraulik telah
dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bangunan-bangunan irigasi dan
drainasi seperti bendungan, saluran, akuaduk, dan sebagainya telah dibangun
padatahun 2500 sebelummasehi. Padamasatersebut jugatelah dibuat saluran
besar dari Laut Tengah ke Laut Merah. Sekitar tahun 1400 sebelummasehi
dibuat saluran serupa dari Sungai Nil ke Laut Merah. Akuaduk (saluran air)
yang dibangun padajaman Romawi digunakan untuk mengalirkan air dari mata
air kereservoir distribusi dengan jarak cukup jauh. Akuaduk tersebut berbentuk
saluran segi empat terbuat dari pasangan batu. Ketika melintasi lembah dan
sungai, akuaduk didukung oleh struktur jembatan lengkung pasangan batu.
Daftar Pustaka 143
Gambar 1.2. adalah foto akuaduk romawi yang melintasi sungai. Pada jaman
Kerajaan Majapahit jugatelah dibuat saluran irigasi dan sistemjaringan air di
ibukotaMajapahit.

http://www.kmkz.com/jonesj/index.php?id=gallery&course=ID11&category=Rome

Pendekatan ilmu hidraulikamulai berkembang ketika Leonardo da Vinci
(1452-1519) melakukan penelitian mengenai aliran melalui saluran
terbuka, prinsip kontinuitas pada sungai dengan pengecilan penampang.
gerak relatif fluida dan benda yang terendamdalamair, gelombang,
pompahidraulis, dan sebagainya.
Perkembangan hidrodinamika terpisah dengan studi hidraulika
eksperimen, yang juga berkembang sangat pesat pada abad ke18 dan 19.
Henri Pitot (1695-1771) menemukan alat untuk mengukur kecepatan
aliran zat cair, dan alat tersebut kemudian dikenal dengan tabung Pitot.
Antoine Chezy (1718-1798) mempelajari tahanan hidraulis yang
kemudian dikenal dengan rumus Chezy untuk aliran melalui saluran
MEKANIKA FLUIDA 148


Daftar Pustaka 145

1.4. Distribusi Kecepatan
Bentuk tampang memanjang dan melintang sungai adalah tidak teratur.
Selain itu, karena pengaruh kekentalan air dan kekasaran dinding, distribusi
kecepatan pada vertikal dan lebar sungai adalah tidak seragam seperti
ditunjukkan dalam Gambar 1.10. Dalam aliran melalui saluran terbuka,
distribusi kecepatan tergantung pada banyak faktor seperti bentuk saluran,
kekasaran dinding dan juga debit aliran. Distribusi kecepatan tidak merata di
setiap titik padatampang lintang.
Gambar 1.11 menunjukkan distribusi kecepatan pada tampang lintang
saluran dengan berbagai bentuk saluran, yang digambarkan dengan garis kontur
kecepatan. Terlihat bahwa kecepatan minimumterjadi di dekat dinding batas
(dasar dan tebing) dan bertambah besar dengan jarak menuju kepermukaan. Hal
ini terjadi karenaadanyagesekan dinding dengan tebing saluran dan jugakarena
adanya gesekan dengan udara permukaan. Untuk saluran yang sangat lebar,
distribusi kecepatan di sekitar bagian tengah lebar saluran adalah sama. Hal ini
disebabkan karena sisi-sisi saluran tidak berpengaruh pada daerah tersebut,
sehinggasaluran di bagian itu dapat dianggap duadimensi (vertikal). Keadaan
ini akan terjadi apabilalebar saluran lebih besar dari 5 - 10 kali kedalaman aliran
yang tergantung padakekasaran dinding. Dalampraktek, saluran dapat dianggap
sangat lebar (lebar tak terhingga) apabilalebar saluran lebih besar dari 10 kali
kedalaman.
Distribusi kecepatan padaarah vertikal dapat ditentukan dengan melakukan
pengukuran pada berbagai kedalaman. Semakin banyak titik pengukuran akan
memberikan hasil semakin baik. Biasanya pengukuran kecepatan di lapangan
dilakukan dengan menggunakan current meter. Alat ini berupa baling-baling
yang akan berputar karena adanya aliran, yang kemudian akan memberikan
hubungan antarakecepatan sudut baling-baling dengan kecepatan aliran. Untuk
keperluan praktis dan ekonomis, di mana sering diperlukan kecepatan rerata
pada vertikal, pengukuran kecepatan dilakukan hanya pada satu atau dua titik
tertentu. Kecepatan reratadapat diukur pada0,6 kali kedalaman dari permukaan
air, atau nilai reratakecepatan pada0,2 dan 0,8 kaki kedalaman. Ketentuan ini
hanya berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan tidak adapenjelasan secara
teoretis. Besar kecepatan rerataini bervariasi antara0,8 dan 0,95 kecepatan di
permukaan dan biasanyadiambil sekitar 0,85.


MEKANIKA FLUIDA 146



Distribusi Kecepatan
melintang sungai
Distribusi Kecepatan
pada vertikal
y
x z

Gambar 1.10. Distribusi kecepatan padaarah lebar dan vertikal sungai
Daftar Pustaka 147
2
.0
1
.5
1
.0 0
.5
2.5
1.5
1.0
0.5
2.0
1.5 1.0 0.5
2.5
1.5
1.0
0.5
2.0
2.0
2.0
1.5
1.0
0.5
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5
Salurantrapesium
Salurandangkal
Saluranalas Saluranpipa
Segiempat sempit
Saluransegitiga


Gambar 1.3 Distribusi kecepatan padasaluran







Gambar 1.14. Persamaan energi aliran melalui pipadan saluran terbuka

V
2

F
1

V
1

1
F
2

2
Fd
MEKANIKA FLUIDA 152
berdasarkan data percobaan untuk berbagai batasan. Dengan demikian suatu
rumus tidak bisadigunakan untuk bermacam-macamkondisi aliran. Di samping
rumus-rumus empiris tersebut, Prandtl mengusulkan suatu rumus semi empiris
yang dapat digunakan secaramenyeluruh (berbagai angkaReynolds).
Pertamakali akan ditentukan koefisien gesekan f untuk aliran laminar, dan
kemudian akan dijelaskan nilai f berdasarkan rumus empiris dan semi empiris.
10.6.3.Rumus semi empiris aliran melalui pipa
Dalamsub bab 10.4 telah diturunkan kecepatan rerata aliran melalui pipa
untuk pipahidraulis halus dan kasar.
Untuk pipahalus,
75 , 1
*
log 75 , 5
*
0
+ =
v
r u
u
V
(10.9)
untuk pipakasar,
75 , 3 log 75 , 5
*
0
+ =
k
r
u
V
(10.9)
sedang dalamsub bab 10.5 telah ditunjukkan hubungan antarakecepatan geser
dan kecepatan gesekan pipadalambentuk
8 / * f V u = (10.12)
Apabilapers. (10.12) disubstitusikan kedalampers. (10.9), maka
75 , 1 } 8 / log{ 75 , 5
8 /
0
+ =
v
r
f V
f V
V

atau
6187 , 0 ) 2 4 / log( 03 , 2
1
+ = f RE
f

atau
91 , 0 ) log( 03 , 2
1
= f RE
f

atau
B f RE A
f
+ = ) log(
1

Daftar Pustaka 149



10.4. Kecepatan Rerata
Apabila debit aliran melalui pipa dengan jari-jari r
0
adalah Q, maka
kecepatan rerataV diberikan oleh
2
0 0
0
2
r
dr r v
r
Q
V
r
t
t
t
o
}
= =
dengan o adalah tebal sub lapis laminar. Mengingat o adalah sangat kecil maka,
MEKANIKA FLUIDA 150
2
0
0
0
0
) ( 2
r
dy y r v
V
r
t
t
}

=
dengan r =r
0
y dan dr = dy.
Substitusi pers. (10.6) kedalampersamaan di atas akan menghasilkan
dy y r
y u
r u
V r
) ( 5 , 3
*
log 75 , 5
2
*
0
0
2
0
0

)
`

+ =
}
v

Pengintegralan persamaan di atas akan menghasilkan kecepatan rerata untuk
pipahalus.
75 , 1
*
log 75 , 5
*
0
+ =
v
r u
u
V
(10.9)
Dengan cara yang sama, substitusi pers. (10.8) akan menghasilkan rumus
berikut untuk pipakasar
75 , 1 log 75 , 5
*
0
+ =
k
r
u
V
(10.10)
Apabila pers. (10. 6) dikurangi dengan pers. (10.9) dan pers. (10.8)
dikurangi dengan pers. (10.10), makaakan didapat
75 , 5 log 75 , 4
*
0
+ =

r
y
u
V u
(10.11)
yang menunjukkan bahwa kecepatan di dalamlapis turbulen untuk pipa halus
dan kasar adalah sama.
10.5. Hubungan Distribusi Kecepatan dan Koefisien Gesekan
Seperti telah diberikan dalamsub bab 10.2, tegangan geser di dinding pipa
mempunyai bentuk
2
2
0
V
C
f
t =
atau
2
2
0
V
C
f
=

t

Mengingat u* =V \ (f/8) dan f =4C
f
makapersamaan di atas dapat ditulis dalam
bentuk
8 / * f V u = (10.12)
Daftar Pustaka 151
yang memberikan kecepatan geser sebagai fungsi koefisien gesekan Darcy-
Weisbach.
Apabila pers. (10.12) disubstitusikan ke dalampers. (10.11), maka akan
didapat
75 , 3 log 75 , 5
8 /
0
+ =

r
y
f V
V u

atau
32 , 1 log 03 , 2
0
+ =

r
y
f V
V u

atau
} 32 , 1 log 03 , 2 { 1
0
+ + =
r
y
f
V
u
(10.13)
yang menunjukkan bahwa distribusi kecepatan terhadap kecepatan rerata di
dalampipa merupakan fungsi dari f, baik untuk pipa halus maupun kasar.
Percobaan yang dilakukan oleh Nikuradze menunjukkan adanya perbedaan
antarakonstanta pers. (10.13) dengan hasil percobaan yang mempunyai bentuk
berikut ini.
} 43 , 1 log 15 , 2 { 1
0
+ + =
r
y
f
V
u
(10.14)
Kecepatan maksimum u
maks
terjadi pada sumbu pipa y = r
0
, sehingga
persamaan di atas menjadi
f
V
u
maks
43 , 1 1+ =
yang menunjukkan bahwakecepatan maksimumhanyatergantung padaf. Oleh
karenaitu penting untuk menentukan koefisien gesekan f suatu pipauntuk dapat
menentukan kehilangan tenagadan distribusi kecepatan.
10.6. Persamaan Tahanan Gesek Pipa
Dalam sub bab 10.2 telah dijelaskan bahwa kehilangan tenaga selama
pengaliran melalui pipa tergantung pada koefisien gesekan Darcy-Weisbach.
Dalamsub bab ini akan dipelajari penentuan nilai f berdasarkan beberaparumus
yang diusulkan oleh para ahli. Ada beberapa rumus empiris yang dapat
digunakan untuk menentukan nilai f untuk beberapa batasan tertentu (terutama
angkaReynolds dan tipealiran di dalampipa). Rumus-rumus tersebut diperoleh
MEKANIKA FLUIDA 156
54 , 2
4 / 5 , 0
5 , 0
2
= = =
t A
Q
V m/s
AngkaReynolds,
5
6
10 35 , 6
10 2
5 , 0 254 , 0
Re =


= =

v
VD

Untuk pipakasar makakoefisien gesekan dihitung dengan rumus berikut.
01 , 0
5 , 0 7 , 3
log 2
7 , 3
log 2
1
= =
k
D
f

Persamaan di atas diselesaikan dengan cobabanding untuk mendapatkan nilai f,
dan hasilnyaadalah
f =0,00895
b. Tegangan geser padadinding
Tegangan geser pada dinding dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut.

c. Kecepatan padasumbu pipa
Kecepatan geser dihitung dengan rumus berikut.
0846 , 0
100
2 , 7
*
0
= =

t
u m/s
Kecepatan di sumbu pipadihitung dengan rumus
5 , 8 log 75 , 5
*
+ =
k
y
u
u

atau
} 5 , 8
01 , 0
25 , 0
log 75 , 5 { 0846 , 0 + = u
85 , 2 = =
maks
u u m/s
Kecepatan padajarak 100 mmdari dinding pipa,
} 5 , 8
01 , 0
10 , 0
log 75 , 5 { 0646 , 0 + = u
67 , 2 = =
maks
u u m/s
Daftar Pustaka 153
Hasil percobaan yang dilakukan oleh Nikuradze memberikan konstanta
yang sedikit berbeda dengan persamaan di atas, yaitu A =2 dan B = 0,8;
sehinggapersamaan menjadi
8 , 0 ) log(Re 2
1
= f
f

atau
) 51 , 2 / log(Re 2
1
f
f
= (10.20)
untuk selanjutnyapers. (10.20) digunakan untuk menghitung koefisien gesekan
pipahalus.
Dengan cara yang sama untuk aliran turbulen melalui pipa kasar, akan
diperoleh:
68 , 1 log 03 , 2
1
0
+ =
k
r
f

atau
B f A
f
+ = ) log(Re
1

Seperti halnya untuk pipa halus, percobaan Nikuradze juga menghasilkan
persamaan dengan konstantayang sedikit berbeda. Persamaan tersebut adalah
74 , 1 log 2
1
0
+ =
k
r
f

atau
k
D
f
7 , 3
log 2
1
= (10.21)
Contoh 2
Minyak dengan kekentalan kinematik v =1,17 10
-4
m
2
/s mengalir melalui
3.000 mpipa yang bergaris tengah 300 mmdengan debit aliran Q =401/s.
Berapakah kehilangan tenagapadapengaliran tersebut.
Penyelesaian
Pertamakali diselidiki tipealiran.
Kecepatan aliran,
MEKANIKA FLUIDA 154
566 , 0
4 / 30 , 0
040 , 0
2
= = =
t A
Q
V m/s;
angkaReynolds,
1451
10 17 , 1
3 , 0 566 , 0
Re
4
=

= =

v
VD

yang berarti bahwatipealiran adalah laminar.
Koefisien gesekan pipadihitung dengan rumus berikut.
044 , 0
1451
64
Re
64
= = = f
Kehilangan tenaga,
18 , 7
81 , 9
566 , 0
3 , 0
3000
44 , 0
2
2
1
2
2
1
= = =
g
V
D
L
f h
f
m.
Contoh 3
Pipa halus dengan garis tengah 0,5 mdan panjang 1000 mmengalirkan
dengan debit 50 liter/s. Apabilakekentalan kinematik v =2 10
6
m
2
/s, hitung
kehilangan tenaga, tegangan geser padadinding, kecepatan padasumbu pipadan
tebal sub lapis laminar.
Penyelesaian
a. Menghitung kehilangan tenaga
Pertamakali diselidiki tipealiran.
Kecepatan aliran
254 , 0
4 / ) 5 , 0 (
05 , 0
2
= = =
t A
Q
V m/s.
angkaReynolds,
4
6
10 35 , 6
10 2
5 , 0 254 , 0
Re =


=


yang berarti bahwatipe aliran adalah turbulen. Karenapipahalus dan 4.000 <
Re<10
5
, makakoefisien gesekan dapat dihitung dengan rumus Blasius.
0198 , 0
Re
316 , 0
25 , 0
= = f ;
kehilangan tenaga,
Daftar Pustaka 155
13 , 0
81 , 9
254 , 0
5 , 0
1000
0198 , 0
2
2
1
2
2
1
= = =
g
V
D
L
f h
f
m.
Kehilangan tenaga selama pengaliran melalui pipa sepanjang 1000 madalah
0,13 m.
b. Tegangan geser padadinding
Tegangan geser pada dinding dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut.
16 , 0
8
254 , 0
1000 0198 , 0
8
2 2
2
2
1
0
= = = =
V
f V C
f
t N/m
2
.
c. Kecepatan padasumbu pipa
Kecepatan geser dihitung dengan rumus berikut.
0126 , 0
1000
16 , 0
*
0
= = =

t
u m/s
Kecepatan di sumbu pipadihitung dengan rumus
5 , 5
*
log 75 , 5
*
+ =
v
y u
u
u

atau
} 5 , 5 ) 10 / 25 , 0 0126 , 0 log( 75 , 5 { 0126 , 0
8
2
1
+ =

u
u =u
maks
=0,3 m/s.
d. Tebal sub lapis batas laminar
Digunakan rumus berikut ini
4
6
10 94 , 7
0126 , 0
10 2 5
*
5

=

= =
u
o m.
Contoh 4
Seperti padacontoh 1 tetapi untuk debit aliran 500 liter/s dan untuk tinggi
kekasaran dinding 0,01 mm. Hitung koefisien gesekan Darcy-Weisbach f,
tegangan geser padadinding, kecepatan pada sumbu pipa, dan kecepatan pada
jarak 100 mmdari dinding pipa.
Penyelesaian
Kecepatan aliran:
MEKANIKA FLUIDA 160
|
.
|

\
|
c
c
+
c
c
=
c
c

c
c

t
V
V
t
V
s
p
s
z

atau
0
1
=
c
c
+
c
c
+
c
c
+
c
c
s
V
g
s
V
t
V
V
t
V


atau
0
1
=
c
c
+
c
c
+
c
c
+
c
c
t
V
s
V
V
s
z
g
s

(4.5)
Untuk aliran permanen, diferensial terhadap waktu adalah nol sehingga
0
1
=
c
c
+
c
c
+
c
c
s
V
V
s
z
g
s


Oleh karena variabel-bariabel persamaan di atas hanyatergantung pada jarak s,
makaturunan parsial dapat diganti dengan turunan biasa.
0
1
= +
c
+
ds
dV
V
s
dz
g
ds
dp


Apabilamasing-masing suku dikalikan dengan ds makaakan didapat
dp/ +g dz +V dV =0 (4.6)
Pers. (4.6) dikenal sebagai persamaan Euler untuk pengaliran permanen dan
fluidaideal. Apabilap merupakan fungsi p, makapers. (4.6) jugadapat berlaku
untuk aliran kompresibel. Apabilakedua ruas persamaan ini dibagi dengan g dan
kemudian hasilnyadiintegralkan, makaakan didapat hasil berikut ini.
C
g
V
z
p
= + +
2
2
t

dengan
z : elevasi
t=pg : berat jenis fluida
p/t : tinggi tekanan
V
2
/g : tinggi kecepatan dan menunjukkan tinggi energi kinetik tiap satuan
berat (mV
2
).
Daftar Pustaka 157
d. Tebal sub lapis batas laminar
Digunakan rumus berikut ini
4
6
10 182 , 1
0846 , 0
10 2 5
*
5

=

= =
u
o m=0,118 mm.
Contoh 5
Pipa bergaris tengah 300 mm mengalirkan minyak dengan kekentalan
kinematik v =6 10
7
m
2
/s dengan debit aliran 200 liter/s. Tentukan tinggi
kekasaran maksimum sedemikian sehingga pipa diklasifikasikan sebagai
hidraulis halus. Berapakah tinggi kekasaran minimum supaya pipa menjadi
hidraulis kasar?
Penyelesaian
Kecepatan aliran,
83 , 2
4 / 3 , 0
2 , 0
2
= = =
t A
Q
V m/s
AngkaReynolds,
6
7
10 42 , 1
10 6
3 , 0 83 , 2
Re =


= =

v
VR

Untuk pipahalus dan dengan angkaReynolds tersebut, makakoefisien gesekan
dapat dihitung dengan rumus berikut.
)
51 , 2
10 42 , 1 log( 2
51 , 2
Re log 2
1
6
f f
f
= =
Persamaan di atas diselesaikan dengan cobabanding untuk mendapatkan nilai f,
dan hasilnyaadalah
f =0,011
Kecepatan geser dihitung dengan rumus berikut.
104 , 0
8
011 , 0
63 , 2 8 / * = = = f V u m/s
Tinggi kekasaran maksimumuntuk pipahalus adalah:
5
7
10 88 , 2
104 , 0
10 6 5
*
5

=

= =
u
k m=0,0288 mm
Tinggi kekasaran minimumsupayapipakasar adalah:
MEKANIKA FLUIDA 158
2015 , 0
104 , 0
10 6 35
*
35
7
=

= =

u
k mm











Persamaan energi untuk pengaliran sepanjang garis arus didasarkan pada
hukumNewton II tentang gerak (F = m a). Persamaan energi juga disebut
persamaan Euler. Persamaan ini diturunkan berdasarkan anggapan sebagai
berikut:
1. Fulida adalah ideal, jadi tidak mempunyai kekentalan (kehilangan energi
akibat gesekan adalah nol).
2. Fluidaadalah homogen dan tidak termampatkan (rapat massafluidaadalah
konstan).
3. Pengaliran bersifat kontinu dan sepanjang garis arus.
4. Kecepatan aliran bersifat meratadalamsuatu penampang.
5. Gayayang bekerjahanyagayaberat dan tekanan.
Gambar 4.11 menunjukkan unsur berbentuk silinder dari suatu tabung arus
yang bergerak sepanjang garis arus dengan kecepatan dan percepatan di suatu
tempat dan suatu waktu adalah V dan a. Panjang, tampang lintang, dan rapat
massaunsur tersebut adalah ds, dA, dan sehinggaberat elemen adalah ds dA
g. Oleh karena tidak ada gesekan, maka gaya-gaya yang berkerja hanya gaya
Daftar Pustaka 159
padaujung unsur dan gaya berat. Hasil kali massaunsur dan percepatan harus
samadengan gaya-gayayang berkejapadaunsur
F = M a
Dengan mengisikan gaya-gaya yang berkerja pada tabung, maka hukum
Newton II menjadi
g ds dA cos o +p dA {p +(cp/cs) ds} dA = ds dA a
atau
g ds cos o (cp/cs) ds = ds a
ds
dA
pdA
pdA

Gambar 4.11. Unsur fiuidayang bergerak sepanjang garis aliran
Oleh karena
cos o =z / s
dan kemudian dilakukan substitusi pers. (4.2) untuk percepatan serta membagi
keduaruas dengan ds makaakan diperoleh
MEKANIKA FLUIDA 164
VA V
vdA v

|
}
=
Untuk fluidatak kompresibel
A V
dA v
2
2
}
= |
Koefisien koreksi momentumuntuk kebanyakan aliran air mendekati satu.
Untuk aliran laminar di dalampipa, nilai | adalah 1,33. Sedang pada aliran
turbulen, nilai | bervariasi antara1,01 dan 1,04.
Dengan memasukkan koefisien koreksi momentum |, maka persamaan
momentummenjadi
) (
1 1 2 2
V V Q F | | = (4.13)




Untuk aliran tak seragam, kecepatan dan kedalaman aliran berubah
sepanjang aliran, sehingga persamaan momentummenjadi :
) ( =
1 2 2 1
V V Q F F F
d


L A W =
Berdasarkan HukumNewton II tentang gerak, dapat diturunkan persamaan
momentum yang menyatakan bahwa jumlah gaya yang bekerja pada suatu
elemen zat cair sama dengan perubahan momentum, yang dinyatakan dalam
bentuk :
E F =Q (V2 V1)
Gaya-gaya dalamarah aliran,

Daftar Pustaka 161
Tetapan C adalah tinggi energi total yang merupakan jumlah dari tinggi
tempat, tinggi tekanan dan tinggi kecepatan, yang berbeda dari garis arus yang
satu kegaris arus yang lain. Oleh karenaitu persamaan tersebut hanyaberlaku
untuk titik-titik padasautu garis arus.
Pers. (4.12) dikenal sebagai persamaan Bernoulli untuk aliran permanen,
fluida ideal dan tak kompresibel. Persamaan tersebut merupakan bentuk
matematis kekekalan energi di dalamaliran fluida.
Persamaan Bernoulli dapat digunakan untuk menentukan garis tekanan dan
tenaga(Gb. 4.12). Garis tenagadapat ditunjukkan oleh evaluasi mukaair pada
tabung Pitot yang besarnyasamadengan tinggi total tetapan Bernoulli.
H = z +p/t +V
2
/g
g V
A
/
2
2
1
t /
A
p
t /
B
p
g V
B
/
2
2
1
B
Garis acuan
Garis tekanan
Garis tenaga
A
A
z
A
z
B

Gambar 4.12. Garis tenagapadafluidaideal
Pada pengaliran fluida ideal, garis tenaga mempunyai tinggi tetap yang
menunjukkan jumlah tinggi elevasi, tinggi tekanan dan tinggi kecepatan. Garis
tekanan menunjukkan jumlah tinggi elevasi dan tinggi tekanan z + p/ t yang
bisanaik atau turun padaarah aliran dan tergantung padaluas tampang aliran.
Tinggi tekanan h
l
=p
l
/t dan h
2
=p
2
/ t adalah tinggi kolomfluida yang
beratnya tiap satuan luas merupakan tekanan p
l
=th
1
dan p
2
=t h
2
. Oleh
MEKANIKA FLUIDA 162
karenaitu tekanan p yang adapada persamaan Bernoulli biasadisebut sebagai
tekanan statis.
Aplikasi persamaan Bernoulli untuk keduatitik di dalammedan aliran akan
memberikan
g
V p
z
g
V p
z
2
2
2
2
2
2
2
1 1
1
+ + = + +
t t

yang menunjukkan bahwa jumlah tinggi elevasi, tinggi tekanan dan tinggi
kecepatan di kedua titik adalah sama. Dengan demikian garis energi total adalah
konstan.




4.7. Koefisien Koreksi Energi
Dalamanalisis aliran satu dimensi, kecepatan aliran pada suatu tampang
dianggap konstan. Pada kenyataannya, kecepatan padapenampang adalah tidak
merata (Persamaan ...). Kecepatan di dinding batas adalah nol dan bertambah
dengan jarak dari dinding batas. Penggunaan kecepatan rerata untuk
menggantikan kecepatan tidak merata dalam persamaan Bernoulli perlu
memasukkan koefisien tak berdimensi o pada suku tinggi kecepatan. Nilai o
merupakan perbandingan antaraenergi kinetik yang dihitung dengan kecepatan
tidak meratadan dengan kecepatan rerata. Koefisien o dikenal sebagai koefisien
koreksi energi atau koefisien Coriolis.
Energi kinetik dari massaM yang mempunyai kecepatan V adalah:
2
2
1
V M E
K
=
Apabila kecepatan pada suatu pias kecil dA suatu penampang aliran A
adalah u, makaenergi kinetik adalah :
dA v dt v dt dA v dM dE
3 2 2

2
1
v
2
1
2
1
= = =
Integrasi dari persamaan di atas untuk seluruh tampang aliran akan
memberikan energi kinteik total sebesar :
Daftar Pustaka 163
}
=
A
K
dA v dt E
3
2
1

Apabilaprofil kecepatan di atas untuk seluruh tampang diketahui, makaenergi
kinetik datadihitung.
Energi kinetik total untuk kecepatan aliran merata pada tampang lintang
aliran adalah :
3

2
1
AV dt E o =
Dengan menyamakan keduabentuk energi kinetik tersebut makadidapat :
}
=
A
dA v
AV
3
3
1
o
Nilai koefisien koreksi o tergantung pada distribusi kecepatan. Persamaan
energi untuk titik 1 dan 2 dengan memperhitungkan koefisien koreksi energi
menjadi :
g
V p
z
g
V p
z
2 2
2
2 2 2
2
2
1 1 1
1
o

+ + = + + (.....)
4.10. Koefisien Koreksi Momentum
Di dalampenurunan persamaan momentumuntuk aliran permanen dan satu
dimensi, kecepatan aliran dan rapat massa adalah seragampada satu tampang
lintang aliran. Pada kenyataannya, distribusi kecepatan pada suatu tampang
adalah tidak seragam. Demikian juga dengan rapat massa untuk aliran
kompresibel.
Dengan demikian sebenarnyamomentumdi dalamaliran adalah
v dA v Momentum
}
=
dengan v adalah kecepatan aliran padapias dA dan adalah rapat massa.
Dengan anggapan bahwa kecepatan aliran merata maka momentumyang
terjadi di dalamaliran adalah
V VA Momentum | =
dengan | adalah koefisien koreksi momentum. Dengan menyamakan kedua
bentuk momentum di atas maka akan dapat diperoleh koefisien koreksi
momentum
Daftar Pustaka 165
Air yang mengalir Dalamsub bab 10.2 telah dijelaskan bahwakehilangan
tenaga selama pengaliran melalui pipa tergantung pada koefisien gesekan
Darcy-Weisbach. Dalam sub bab ini akan dipelajari penentuan nilai f
berdasarkan beberaparumus yang diusulkan oleh paraahli. Adabeberaparumus
empiris yang dapat digunakan untuk menentukan nilai f untuk beberapabatasan
tertentu (terutamaangkaReynolds dan tipealiran di dalampipa). Rumus-rumus
tersebut diperoleh berdasarkan datapercobaan untuk berbagai batasan. Dengan
demikian suatu rumus tidak bisa digunakan untuk bermacam-macamkondisi
aliran. Di samping rumus-rumus empiris tersebut, Prandtl mengusulkan suatu
rumus semi empiris yang dapat digunakan secara menyeluruh (berbagai angka
Reynolds).
Pertamakali akan ditentukan koefisien gesekan f untuk aliran laminar, dan
kemudian akan dijelaskan nilai f berdasarkan rumus empiris dan semi empiris.
10.6.1. Aliran Laminar
Dalamsub bab 7.7 telah dipelajari aliran laminar melalui pipa lurus dengan
tampang lintang lingkaran. Dalamsub bab tersebut telah diturunkan persamaan
kehilangan tenagapadaaliran laminar, yang mempunyai bentuk
2
32
gD
VL
H
f
v
=
Persamaan tersebut dapat ditulis dalambentuk
g
V
D
L
VD
H
f
2
64
2
v
=
atau
g
V
D
L
H
f
2 Re
64
2
=
Persamaan di atas dapat ditulis dalambentuk persamaan DarcyWeisbach,
g
V
D
L
f H
f
2
2
1
=
dengan f =64 / RE.
Dengan demikian, untuk aliran laminar, koefisien gesekan mempunyai bentuk
seperti padarumus di atas.


V
1

V2
2
/2g
h
f

V
1
2
/2g
MEKANIKA FLUIDA 166











... dapat ditulis menjadi :
)
2
( )
2
( ) (
2
1
1
2
2
2 0
g
V
y
g
V
y x I I
f
+ + = A
f
I I
g
V
y
g
V
y
x

+ +
= A
0
2
1
1
2
2
2
)
2
( )
2
(


Setiap kali terjadi perubahan momentum, waktunya akan
diubah menjadi kekuatan impuls (gaya dikalikan dengan waktu).
Momentum suatu partikel atau benda didefinisikan sebagai perkalian
massanya M dengan kecepatannya V.
Momentum=M V
Menurut HukumNewton II tentang gerak, gaya-gaya yang bekerja benda
yang bergerak adalah samadengan laju perubahan momentum. Laju momentum
didefinisikan sebagai perkalian antara laju aliran massa ( Q) dan perubahan
kecepatan aliran (V)
A
P
Daftar Pustaka 167
) (V Q
1 2
V F = E

=
Contoh 1
Saluran segi empat dengan lebar 5 m melewatkan debit 10 m
3
/s pada
kedalaman 1 koefisien Manning untuk aliran seragam apabila kemiringan
saluran 1 : 500.
Penyelesaian
A = By =5 l =5 m
2
;
P = B +2y =5 +2 l =7 m
R = A/P =0,714 m
V = Q/A =10 m
3
s
-1
/5 m
2
=2 m/s.
Dengan menggunakan rumus Manning,
n
V
/ / 2 1 3 2
I R
=
atau
n
/ / 2 1 3 2
) 500 / 1 ( ) 714 , 0 (
2

=
didapat n =0,0177.


1. Saluran trapesium dengan lebar dasar 10,0 m dan kemiringan tebing
1(V):2(H). Debit aliran Q =20 m
3
/d. Hitung kedalaman aliran apabila
koefisien Manning n=0,03 dan kemiringan dasar saluran 0,001.
2. Saluran trapezium dengan kemiringan tebing 1:2 dan kemiringan dasar
saluran 0,0005. Tentukan dimensi ekonomis saluran apabiladebit aliran 25
m
3
/d dan koefisien Manning n=0,02.