Anda di halaman 1dari 8

[1]

Proses penuaan meupakan proses yang dialami setiap makhluk hidup. Hal ini dapat
berlangsung secara fisiologis maupun patologis.Umur manusia telah ditentukan, namun
banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.Pertumbuhan manusia normal dapat
digambarkan seperti gunung.Tahap pertama meningkat, mencapai puncak (saat manusia
berumur 20-an), tiba tahap kedua menurun. Dengan sendirinya , jika proses penuaan dapat
dihentikan saat manusia berada di puncak, kemudaannya akan bertambah.
Banyak teori yang menjelaskan mengenai proses penuaan sel antara lain teori
Telomere, Teori wear-and tear, Teori Mutasi Somatik, Teori akumulasi kesalahan ,Teori
akumulasi sampah, Teori autoimun, teori Aging-Clock, Teori Cross-Linkage, Teori
radikal bebas ,Mitohormesis.Dan sekarang yang paling sering dianut adalah teori Telomer.
Namun demikian proses penuaan sel adalah multifaktorial baik secara intrinsik maupun
ekstrinsik.
Dengan mengetahui proses penuaan ini, banyak orang yang berusaha untuk
menghindari dari proses penuaan tersebut dengan munculnya produk- produk Anti Aging.
Dimana produk yang paling sering digunakan adalah produk yang memakai teori Free-
Radical.

A. Pengertian
Radikal bebas adalah atom atau molekul yang mempunyai elektron yang tidak
berpasangan pada orbital terluarnya dan dapat berdiri sendiri (Clarkson and Thompson,
2000).
Teori radikal bebas diperkenalkan pertama kali oleh Denham Harman pada tahun
1956. Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi electron tidak berpasangan.
Radikal bebas tersebut terbentuk sebagai hasil sampingan berbagai proses selular atau
metabolisme normal yang melibatkan oksigen. Sebagai contoh adalah reactive oxygen
species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS) yang dihasilkan selama metabolisme
normal. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal bebas akan
mencari pasangan electron lain dengan bereaksi dengan substansi lain terutama protein
dan lemak tidak jenuh.
Melalui proses oksidasi, radikal bebas yang dihasilkan selama fosforilaso oksidatif
dapat menghasilkan berbagai modifikasi makromolekul. Sebagai contoh, karena membran
sel mengandung sejumlah lemak, ia dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga
[2]

membran sel mengalami perubahan. Akibat perubahan pada struktur membran tersebut
membran sel menjadi lebih permeable terhadap beberapa substansi dan memungkinkan
substansi tersebut melewati membran secara bebas. Struktur didalam sel seperti
mitokondria dan lisosom juga diselimuti oleh membran yang mengandung lemak
sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas. radikal bebas juga dapat bereaksi dengan
DNA, menyebabkan mutasi kromosom dan karenanya merusak merusak mesin genetic
dari sel.
Radikal bebas dapat merusak fungsi sel dengan merusak membran sel atau
kromosom sel. Lebih jauh, teori radikal bebas menyatakan bahwa terdapat akumulasi
radikal bebas secara bertahap di dalam sel sejalan dengan waktu dan bila kadarnya
melebihi konsentrasi ambang maka mereka mungkin berkontribusi pada perubahan-
perubahan yang dikaitkan dengan penuaan. Sebenarnya tubuh diberi kekuatan untuk
melawan radikal bebas berupa antioksidan yang diproduksi oleh tubuh sendiri, namun
antioksidan tersebut tidak dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas
tersebut.
Radikal Bebas adalah molekul atau bagian molekul yang tidak utuh lagi karena
sebagian telah pecah atau melepaskan diri. Bagian yang pecah atau melepaskan diri ini
melekat pada molekul lain dan merusak atau mengubah struktur dan fungsi molekul yang
bersangkutan. Menurut Krohn, oksigen sangat reaktif, dan oksidasi dari protein, lemak,
dan hidrat arang, dan unsure lain dalam tubuh, akan menghasilkan radikal bebas ini.
Dalam proses menua, kecepatan unsure radikal bebas ini bertambah, melebihi kecepatan
perbaikan atau pemulihannya. Vitamin E diduga melindungi mitokondria terhadap
pengaruh buruk terhadap radikal bebas. Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan,
sehingga dapat menghambat proses penuaan.
Kegiatan radikal bebas juga dibangkitkan oleh pengaruh lingkungan, seperti
produk samping dari industri plastic, ozon atmosfer, asap knalpot mobil dan motor, dll.
Jadi tubuh manusia diserang dari luar dan dari dalam oleh radikal bebas. Karenanya
manusia harus melindungi diri dari pengaruh radikal bebas dengan memilih makanan
yang sesuai, agar dapat hidup lebih sehat. Dosis vitamin E (d-alfa-tocopherol) untuk usia
kurang dari 0 tahun adalah 400 IU perhari dan untuk lebih dari 40 tahun 800 IU perhari.
Selain vitamin E, dianjurkan minum vitamin C (sebaiknya yang lepas berkala)
200mg/hari, dan Beta-carotene 25.000mg/hari. Protein hewani diganti dengan protein dari
[3]

kedelai (tempe, tahu). Ikan yang dianjurkan adalah ikan sarden, mackerel, dan salmon.
Pakai minyak goreng yang segar, yang paling baik adalah minyak zaitun.
Kebanyakan radikal bebas bereaksi secara cepat dengan atom lain untuk mengisi
orbital yang tidak berpasangan, sehingga radikal bebas normalnya berdiri sendiri hanya
dalam periode waktu yang singkat sebelum menyatu dengan atom lain. Simbol untuk
radikal bebas adalah sebuah titik yang berada di dekat simbol atom (R).

B. Mekanisme Perusakan Organ Oleh Radikal Bebas
Untuk mencapai kondisi stabil, oksigen radikal akan menangkap elektron dari
senyawa-senyawa penyusun sel maupun organ, baik karbohidrat, protein ataupun lemak.
Radikal bebas akan merusak DNA sel yang dapat mengakibatkan pertumbuhan sel yang
abnormal dan dapat berkembang menjadi sel kanker ataupun tumor. Radikal bebas juga
dapat menyerang organel-organel sel yang mengakibatkan kematian sel yang berujung
pada penurunan fungsi organ dan penyakit degeneratif. Selain itu radikal bebas juga
memicu pembentukan aterosclerosis, merusak control sistim imun tubuh yang dapat
berakibat pada munculnya penyakit-penyakit autoimun.

C. Sistem Pertahanan Antioksidan dan Stres Oksidatif
Radikal bebas dan senyawa oksigen reaktif yang diproduksi dalam jumlah yang
normal, penting untuk fungsi biologis, seperti sel darah putih yang menghasilkan H
2
O
2

untuk membunuh beberapa jenis bakteri dan jamur serta pengaturan pertumbuhan sel,
namun ia tidak menyerang sasaran spesifik, sehingga ia juga akan menyerang asam lemak
tidak jenuh ganda dari membrane sel, organel sel, atau DNA, sehingga dapat
menyebabkan kerusakan struktur dan fungsi sel (Winarsi, 2007).
Namun tubuh diperlengkapi oleh seperangkat system pertahanan untuk menangkal
serangan radikal bebas atau oksidan sehingga dapat membatasi kerusakan yang
diakibatkan oleh radikal bebas. Sistem pertahanan antioksidan ini antara lain adalah
enzim Superoxide Dismutase (SOD) yang terdapat di mitokondria dan sitosol,
Glutathione Peroxidase (GPX), Glutathione reductase, dan catalase (Jackson, 2005,
Singh, 1992). Selain itu terdapat juga sistem pertahanan atau antioksidan yang berupa
mikronutrien yaitu -karoten, vitamin C dan vitamin E (Hariyatmi, 2004). Sistem
pertahanan ini bekerja dengan beberapa cara antara lain berinteraksi langsung dengan
[4]

radikal bebas, oksidan, atau oksigen tunggal, mencegah pembentukan senyawa oksigen
reaktif, atau mengubah senyawa reaktif menjadi kurang reaktif (Winarsi, 2007).
Namun dalam keadaan tertentu, produksi radikal bebas atau senyawa oksigen
reaktif melebihi sistem pertahanan tubuh, kondisi yang disebut sebagai stres oksidatif
(Agarwal et al., 2005). Pada kondisi stres oksidatif, keseimbangan normal antara produksi
radikal bebas atau senyawa oksigen reaktif dengan kemampuan antioksidan alami tubuh
untuk mengeliminasinya mengalami gangguan sehingga menggoyahkan rantai reduksi-
oksidasi normal, sehingga menyebabkan kerusakan oksidatif jaringan. Kerusakan jaringan
ini juga tergantung pada beberapa faktor, antara lain: target molekuler, tingkat stres yang
terjadi, mekanisme yang terlibat, serta waktu dan sifat alami dari sistem yang diserang
(Winarsi, 2007).

D. Mekanisme Kerja Radikal Bebas, Peroksidasi Lipid, dan Malondialdehyde (MDA)
Penelitian yang ekstensif dengan menggunakan sitem model dan dengan material
biologis in vitro, secara jelas menunjukkan bahwa radikal bebas dapat menimbulkan
perubahan kimia dan kerusakan terhadap protein, lemak, karbohidrat, dan nukleotida. Bila
radikal bebas diproduksi in vivo, atau in vitro di dalam sel melebihi mekanisme
pertahanan normal, maka akan terjadi berbagai gangguan metabolik dan seluler.
Jika posisi radikal bebas yang terbentuk dekat dengan DNA, maka bisa
menyebabkan perubahan struktur DNA sehingga bisa terjadi mutasi atau sitotoksisitas.
Radikal bebas juga bisa bereaksi dengan nukleotida sehingga menyebabkan perubahan
yang signifikan pada komponen biologi sel. Bila radikal bebas merusak grup thiol maka
akan terjadi perubahan aktivitas enzim. Radikal bebas dapat merusak sel dengan cara
merusak membrane sel tersebut.
Kerusakan pada membran sel ini dapat terjadi dengan cara :
a. Radikal bebas berikatan secara kovalen dengan enzim dan/atau reseptor
yang berada di membran sel, sehingga merubah aktivitas komponen-
komponen yang terdapat pada membran sel tersebut
b. Radikal bebas berikatan secara kovalen dengan komponen membran sel,
sehingga merubah struktur membran dan mengakibatkan perubahan fungsi
membran dan/atau mengubah karakter membrane menjadi seperti antigen
[5]

c. Radikal bebas mengganggu sistem transport membrane sel melalui ikatan
kovalen, mengoksidasi kelompok thiol, atau dengan merubah asam lemak
polyunsaturated
d. Radikal bebas menginisiasi peroksidasi lipid secara langsung terhadap asam
lemak polyunsaturated dinding sel. Radikal bebas akan menyebabkan
terjadinya peroksidasi lipid membran sel. Peroksida lipid akan terbentuk
dalam rantai yang makin panjang dan dapat merusak organisasi membran
sel. (Sikka et al., 1995).
Peroksidasi ini akan mempengaruhi fluiditas membran, cross-linking membran,
serta struktur dan fungsi membran (Slater, 1984; Powers and Jackson, 2008).
Mekanisme kerusakan sel atau jaringan akibat serangan radikal bebas yang paling
awal diketahui dan terbanyak diteliti adalah peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid paling
banyak terjadi di membran sel, terutama asam lemak tidak jenuh yang merupakan
komponen penting penyusun membran sel. Pengukuran tingkat peroksidasi lipid diukur
dengan mengukur produk akhirnya, yaitu malondialdehyde (MDA), yang merupakan
produk oksidasi asam lemak tidak jenuh dan yang bersifat toksik terhadap sel.
Pengukuran kadar MDA merupakan pengukuran aktivitas radikal bebas secara
tidak langsung sebagai indikator stres oksidatif. Pengukuran ini dilakukan dengan tes
Thiobarbituric Acid Reactive Substances (TBARS test) (Slater, 1984; Powers and
Jackson, 2008).

E. Produksi Radikal Bebas Akibat Latihan Fisik
Radikal bebas dapat terbentuk selama dan setelah latihan oleh otot yang
berkontraksi serta jaringan yang mengalami iskemik-reperfusi (Chevion et al., 2003).
Pembentukan radikal bebas terutama dihasilkan oleh otot rangka yang berkontraksi
(Powers and Jackson, 2008).
Selama melakukan latihan fisik maksimal, konsumsi oksigen tubuh meningkat
dengan cepat. Penggunaan oksigen oleh otot selama latihan fisik maksimal dapat
meningkat sekitar 100200 kali dibandingkan saat istirahat (Chevion et al., 2003). Saat
fosforilasi oksidatif di dalam mitokondria, oksigen direduksi oleh sistem transport
elektron mitokondria untuk membentuk adenosin trifosfat (ATP) dan air. Selama proses
fosforilasi oksidatif ini sekitar 2% molekul oksigen dapat berikatan dengan elektron
[6]

tunggal yang bocor dari karier elektron pada rantai pernafasan, sehingga membentuk
radikal superoksida (O2). Radikal superoksida yang terbentuk ini akan membentuk
hidrogen peroksida (H
2
O
2
) dan hidroksil reaktif (OH.) dengan cara berinteraksi dengan
logam transisi reaktif seperti tembaga dan besi (Singh, 1992).

F. Antioksidan Penetral Radikal Bebas
Sumber Antioksidan banyak terdapat dalam bahan pangan yang kita konsumsi
sehari-hari, namun antioksidan tersebut dalam bentuk terikat dengan senyawa lain
sehingga persentase yang dapat diserap oleh tubuh sangat sedikit, belum lagi dalam
proses pengolahan bahan pangan menjadi makanan dapat merusak antioksidan tersebut.
Lalu apa yang harus kita lakukan ? Cara satu-satunya adalah mengkonsumsi suplemen
antioksidan. Namun jangan salah dalam memilih suplemen antioksidan. Pilihlah yang
terbuat dari bahan alami dengan efektifitas yang bisa diandalkan atau dengan kata lain
efektifitasnya sama dengan antioksidan utama yang ada dalam tubuh kita.

G. Hasil Riset Tentang Sifat-Sifat Penting Antioksidan
Secara alami tubuh manusia telah dilengkapi suatu sistem pertahanan yang dapat
menetralkan radikal bebas, berupa antioksidan enzimatik (SOD, katalase dan
Gluthationin), senyawa antioksidan juga terdapat dalam bahan pangan yang dikonsumsi
seperti vitamin C, E dan betakaroten serta mineral-mineral tertentu. Antioksidan utama
dan yang paling efektif adalah antioksidan enzimatik berupa enzim SOD. Produksi dan
daya induksi/kerja enzim ini akan menurun sejalan dengan pertambahan usia.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan alami tubuh dalam menetralkan
radikal bebas akan menurun sejalan dengan pertambahan usia. Keadaan ini sungguh
berbahaya karena dalam waktu yang bersamaan sumber-sumber radikal bebas dari luar
tubuh semakin hari jumlahnya semakin meningkat. Untuk mencapai keseimbangan
radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh, maka diperlukan pasokan antioksidan yang
memadai. Antioksidan alami lebih tinggi tingkat pemanfaatannya oleh tubuh dibanding
dengan Antioksidan buatan/sintesis. (Yuki Niwa, Free Radicals Invite Death).
Konsumsi Antioksidan tunggal dosis tinggi dapat meningkatkan Radikal Bebas
dalam tubuh (Yuki Niwa, Free Radicals Invite Death). Multi Antioksidan jauh lebih
efektif dibanding AO tunggal, makin beragam jenis AO makin tinggi efektifitasnya (Yuki
[7]

Niwa, Free Radicals Invite Death). Antioksidan Enzimatik tidak efektif dikonsumsi
karena rusak oleh asam lambung/enzim pencernaan dan sulit diserap dinding usus karena
berat molekulnya tinggi (Yuki Niwa, Free Radicals Invite Death). Waktu paruh
antioksidan enzimatik sangat singkat sehingga tidak efektif digunakan bahkan dengan
metode penyuntikan sekalipun (Yuki Niwa, Free Radicals Invite Death).

H. Kerusakan Akibat Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas dan didalam tubuh jika fagosit pecah
dan sebagai produk sampingan di dalam rantai pernafasan didalam mitokondria. Radikal
bebas bersifat merusak, karena sangat reaktif, sehingga dapat bereaksi denga DNA,
protein, asam lemak tidak jenuh, seperti dalam membran sel.


















[8]

DAFTAR PUSTAKA

1. Aging (life cycle)
Available at : http://en.wikipedia.org/wiki/aging process.
2. Aging Process
Available at : http: //www.the rubins.com/aging/precess htm
3. Curriculum Module on the Aging Process
Available at :http://en.wikipedia.org./wiki/aging process
4. Kumar V, Cotran R.S, Robbin S.L, Basic Pathology, 84. Kumar V, Cotran R.S,
Robbin S.L, Basic Pathology, 8
th
ed, Saunders, Philadelphia, 2007 ; 28-30
5. Mengenal dan Menangkal Radikal Bebas
Available at: http:// Berita Iptek online/2006/mengenal dan menangkal radikal
bebas.htm.

Anda mungkin juga menyukai