Anda di halaman 1dari 7

1

Kelompok 1A

Laporan Praktikum Genetika
PEMISAHAN BIOKIMIAWI PIGMEN MATA Drosophila melanogaster DENGAN
KROMATOGRAFI LAPISAN TIPIS
Cahya Guslyani*, A. A. Nova, A. N. Sasangka, A. P. Pridyantari, D. J. Carlos, I. Murdyanto, N. A. Rikmawati,
R. Julia, S. Listiani, Z. D. Pertiwi, H. Q. Ayun, R. Utami
Universitas Indonesia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Departemen Biologi
Maret 2014

Abstrak
Kromatografi adalah sebuah metode identifikasi komponen campuran berdasarkan pada kemampuannya
bermigrasi melalui medium stasioner dibawah pengaruh fase gerak. Pigmen mata Drosophia melanogaster mengandung
sejumlah pigmen warna diantaranya pteridin dan ommochrom. Drosophila melanogaster mutan memiliki kesalahan pada
sintesis pada kedua pigmen mata tersebut. Pengamatan kali ini menggunakan metode kromatografi lapisan tipis karena
kromatografi jenis ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan kromatografi lainnya, diantaranya adalah
kromatografi ini lebih cepat prosedurnya, lebih praktis, sensitifitas tinggi, dan sebagainya. Hasil yang didapat dari
praktikum ini adalah tampaknya struktur pewarnaan pada pigmen mata Drosophila melanogaster wild-type dan mutannya
yaitu Drosophila melanogaster mutan white.

Kata kunci: Pigmen mata Drosophila melanogaster wild-type; pigmen mata Drosophila melanogaster mutan white;
kromatografi lapisan tipis; ommochrom; pteridin.

Pendahuluan
Organisme di dunia ini pasti ada yang
mengalami mutasi dalam hidupnya. Salah satu contoh
organisme dengan mutan yang cukup banyak yaitu
Drosophila melanogaster. Contoh mutasi yang terlihat
jelas pada Drosophila melanogaster adalah perbedaan
2
Kelompok 1A
pigmen mata dari Drosophila melanogaster tersebut.
Penemuan mutan bermata putih oleh Morgan menandai
munculnya Drosophila sebagai model organisme genetik.
Sejak itu, puluhan mata mutan pigmen telah diisolasi
pada Drosophila melanogaster. Keberadaan begitu
banyak varian mudah dikenali dalam warna mata
menjadi pesatnya pengembangan genetika biokimia dan
secara signifikan pada analisis pigmen biokimia (Rong
& Golic 1998: 1).
Gen-gen yang ada pada organisme diproses
melalui tahapan-tahapan, yaitu Central dogma. Central
dogma menyatakan bahwa informasi genetik berjalan
dari DNA menuju protein dalam jalur informasi satu
arah. Hal ini menunjukkan bahwa genotip mengkode
fenotip tetapi fenotip tidak dapat mengkode genotip.
Selain tiga jalur informasi umum dari replikasi,
transkripsi, dan translasi, transfer lainnya mungkin
terjadi dalam organisme tertentu atau dalam keadaan
khusus, termasuk transfer informasi dari RNA ke DNA,
(dalam transkripsi terbalik) dan transfer informasi dari
RNA ke RNA (replikasi RNA) (Pierce 2005: 282).
Mutasi menghasilkan gen mutan, yang pada gilrannya
menghasilkan mRNA mutan, protein mutan, dan
akhirnya organisme mutan yang menunjukkan efek
mutasi, misalnya kesalahan bawaan pada metabolisme
(Hartl 2001: 132).
Sejarah mengenai perkembangan genetika
dimulai dari teori-teori yang bermunculan, salah satunya
adalah teori one gene one enzyme. Teori one gene one
enzyme adalah teori yang dicetuskan oleh Beadle dan
Tatum yang mengatakan bahwa fungsi gen adalah untuk
menentukan produksi enzim tertentu. Perkembangan
teori ini mengalami perubahan karena disebabkan oleh
sejumlah hal. Pertama, tidak semua protein adalah enzim.
Karena protein yang bukan enzim tetap saja produk gen,
ahli biologi molekuler mulai berpikir dalam hal satu
gen-satu protein. Namun, banyak protein yang dibangun
dari dua atau lebih rantai polipeptida yang berbeda, dan
masing-masing polipeptida ditentukan oleh gen sendiri.
Misalnya, hemoglobin, protein yang mengangkut
oksigen dari sel darah merah vertebrata, berisi dua jenis
polipeptida, dan dengan demikian dua gen kode untuk
protein ini. Oleh karena itu, teori Beadle dan Tatum
direvisi menjadi hipotesis one gene one polypeptide
(Campbell 2010. : 326).
Berdasarkan penelitian George Beadle dan
Edward Tatum dengan kapang roti, dapat disimpulkan
bahwa pertama, proses biokimia dalam makhluk hidup
dikontrol oleh genetik. Kedua, semua reaksi biokimia
dalam suatu organisme terdiri dari beberapa langkah.
Ketiga, setiap reaksi dikontrol oleh satu gen. Keempat,
mutasi pada gen tersebut akan berpengaruh pada enzim
yang terbentuk (Suryo 2012: 285).
Drosophila melanogaster merupakan organisme
yang sering digunakan oleh para peneliti dalam
mengamati kejadian mutasi pada organisme. Salah satu
contoh mutasi yang terlihat jelas pada Drosophila
melanogaster adalah perbedaan warna mata antara yang
berjenis wild-type dan mutannya. Warna mata dari
Drosophila melanogaster adalah hasil dari kombinasi
dua famili molekul pigmen, yaitu pteridin dan
ommochrom. Pteridin yang memberi warna merah cerah,
sedangkan ommochrom memberi warna coklat. Kedua
pigmen ini digabumgkan dalam ikatan membran yang
mengandung pigmen protein bergranula dengan sel
pigmen pada mata dan sel fotoreseptor. Pteridin
disintesis dari GTP pendahulu, dan ommochrom
disintesis dari trytophan (Rong & Golic 1998: 1).
Pigmen mata Drosophila melanogaster yang
diamati, yaitu pigmen mata normal dan pigmen mata
3
Kelompok 1A
mutan white. Pemisahan pigmen mata normal
Drosophila melanogaster yang diperoleh antara lain
yaitu merah (drosopterin), kuning (sepiapterin), hijau
(xanthopterin), dan hijau kebiruan (isoxantopterin).
Pigmen mata Drosophila melanogaster mutan white
tidak menghasilkan susunan warna pigmen yang terpisah,
karena mata Drosophila melanogaster mutan white tidak
memiliki pigmen. Konsentrasi komponen penyusun
pigmen mata Drosophila melanogaster antara jantan dan
betina memiliki perbedaan. Drosophila melanogaster
jantan memiliki pigmen mata yang lebih banyak
dibandingkan dengan Drosophila melanogaster betina.
Tetapi, jantan Drosophila melanogaster memiliki
pigmen mata yang sama dengan betina saat membawa
alel monoformik (Linsdley & Zimm 1992: 252).
Pengamatan komponen pigmen mata
Drosophila melanogaster dapat digunakan dengan
metode kromatografi. Kromatografi adalah metode
pemisahan yang mengandalkan perbedaan perilaku
partisi antara fase gerak mengalir dan fase diam untuk
memisahkan komponen-komponen dalam campuran.
Sebuah kolom menahan fase diam dan fase gerak
membawa sampel melalui itu. Komponen sampel yang
sangat kuat partisinya ke dalam fase diam menghabiskan
banyak waktu dalam kolom dan dipisahkan dari
komponen yang tinggal terutama di fase gerak dan
melewati kolom lebih cepat. Kromatografi memiliki
berbagai macam jenis berdasarkan fase stasionernya,
diantaranya adalah Gas chromatography (GC), High-
performance liquid chromatography (HPLC), Liquid
chromatography (LC), Size-exclusion chromatography
(SEC), Thin-layer chromatography (TLC). Gas
chromatography diterapkan pada senyawa organik yang
mudah menguap. Fase geraknya adalah berupa gas dan
fase diamnya biasanya berupa cairan pada dukungan
padat atau kadang-kadang berupa adsorben padat. High-
performance liquid chromatography adalah sebuah
variasi dari kromatografi cair yang memanfaatkan
pompa bertekanan tinggi untuk memisahkan efisiensi
pada pemisahan. Liquid chromatography digunakan
untuk analit yang terpisah dalam larutan termasuk ion
logam dan senyawa organik. Fase geraknya adalah
pelarut dan fase diamnya adalah cairan pada dukungan
padat, berupa padatan atau resin penukaran ion. Size
exclusion chromatography juga dapa disebut Gel
permeation chromatography (GPC), fase geraknya
berupa pelarut dan fase diamnya berupa kemasan
partikel berpori. Thin-layer chromatography (TLC)
adalah sebuah metode sederhana dan cepat untuk
memantau sejauh mana reaksi atau untuk memeriksa
kemurnian senyawa organik. Fase geraknya berupa
pelarut dan fase diamnya adalah adsorben yang padat
pada pengaruh bidang yang datar (Tissue 2000:1).
Thin-layer chromatography (TLC) atau biasa
disebut kromatografi lapisan tipis, adalah jenis
kromatografi dengan prosedur yang lebih sederhana,
cepat, dan murah yang memberikan kimiawan jawaban
yang cepat untuk berapa banyak komponen dalam suatu
campuran. TLC juga digunakan untuk mengidentifikasi
suatu senyawa dalam campuran ketika Rf (Retention
factor) suatu senyawa dibandingkan dengan Rf dari
senyawa yang diketahui. Sebuah pelat TLC adalah
selembar kaca, logam, atau plastik yang dilapisi dengan
lapisan tipis adsorben padat (biasanya silika atau
alumina). Sebuah campuran dengan jumlah yang sedikit
yang akan dianalisis terlihat di dekat bagian bawah pelat.
Pelat TLC kemudian ditempatkan pada pelarut dalam
sebuah wadah sehingga hanya bagian paling bawah dari
pelat berada dalam cairan pelarut. Cairan ini, atau eluen,
adalah fase gerak, dan perlahan-lahan naik ke atas pelat
4
Kelompok 1A
TLC oleh kapilaritas dari TLC tersebut. Prinsip kerja
dari TLC adalah komponen-komponen senyawa yang
diidentifikasi akan berbeda dalam kelarutan dan pada
kekuatan dari adsorpsinya untuk adsorben dan beberapa
komponen akan dibawa lebih jauh ke pelat daripada
yang lainya. Ketika pelarut telah mencapai puncak pelat,
pelat dikeluarkan dari wadah, lalu dikeringkan, dan
komponen dipisahkan dari campuran yang
divisualisasikan. Jika senyawa berwarna, visualisasi
dapat dilakukan dengan sangat mudah. Biasanya
senyawa tidak berwarna, sehingga sinar UV digunakan
untuk memvisualisasikan pelat tersebut. Pelat itu sendiri
mengandung pewarna fluorescent yang bersinar
dimanapun kecuali pada suatu senyawa organik dalam
pelat (CU Bolder 2013:1).
Retention factor (Rf) didefinisikan sebagai jarak
yang ditempuh oleh senyawa dibagi dengan jarak yang
ditempuh oleh pelarut.
Rf = jarak perpindahan sampel
jarak perpindahan pelarut
Rf untuk suatu senyawa adalah konstan dari satu
percobaan ke percobaan lainnya hanya jika kondisi
kromatografi seperti sistem pelarut, adsorben, ketebalan
adsorben, jumlah material yang terlihat, dan suhunya
juga konstan. Semakin bear nilai Rf dari suatu senyawa,
semakin besar jarak tempuhnya pada pelat TLC (Tissue
2000:1).
Tujuan dilakukannya praktikum pemisahan
biokimiawi pigmen mata Drosophila melanogaster
dengan kromatografi lapisan tipis adalah untuk
mengetahui dan memahami teknik pemisahan pigmen
mata Drosophila melanogaster, mengetahui prinsip kerja
kromatografi lapisan tipis, membandingkan
kromatogram wild-type dengan mutan dan jantan
dengan betina, serta mengetahui dan memahami
pengaruh mutasi terhadap fenotip.

Metodologi
Alat yang digunakan dalam praktikum
pemisahan biokimiawi pigmen mata Drosophila
melanogaster dengan kromatografi lapisan tipis yaitu
penggaris, pensil, pengaduk kaca, botol selai, kacamata
pelindung sinar UV, kertas karbon, sinar UV, dan
gunting. Bahan yang digunakan dalam praktikum
pemisahan biokimiawi pigmen mata Drosophila
melanogaster dengan kromatografi lapisan tipis yaitu
dua buah kertas kromatografi lapisan tipis, pigmen mata
Drosophila melanogaster wild-type dan mutannya,
larutan pengembang ammonium hidroksida, dan n-propil
alkohol dengam perbandingan keduanya 1: 1 .
Cara kerja praktikum pemisahan biokimiawi
pigmen mata Drosophila melanogaster dengan
kromatografi lapisan tipis yaitu pertama kertas
kromatografi disiapkan, kemudian kertas tersebut diberi
garis dengan menggunakan pensil dan penggaris dengan
jarak 2 cm dari bawah kertas tersebut dan diberi tanda
titik dengan interval 2 cm dengan menggunakan
pensil.Langkah selanjutnya adalah mata Drosophila
melanogaster wild-type dipisahkan dari kepalanya
dengan menggunakan jarum sonde dan pinset, kemudian
mata Drosophila melanogaster tersebut digerus dengan
ujung pengaduk kaca yang tumpul di atas titik sampel
pertama. Langkah berikutnya adalah dengan
menggunakan mata Drosophila melanogaster mutan
dengan langkah yang sama seperti sebelumnya dan mata
Drosophila melanogaster tersebut digerus diatas titik
sampel kedua. Langkah selanjutnya adalah kertas
kromatografi yang sudah berisi pigmen-pigmen dari
mata Drosophila melanogaster tersebut dimasukkan ke
5
Kelompok 1A
dalam botol selai pelarut yang berisi larutan ammonium
hidroksida dan n-propil alkohol. Titik sampel pada
kromatografi lapisan tipis tersebut diusahakan tidak
tersentuh/terendam dalam pelarut. Langkah selanjutnya
adalah botol dibungkus dengan kertas karbon lalu
disimpan dalam tempat yang gelap selama 90 menit.
Setelah 90 menit, kertas diangkat dan diperiksa di bawah
sinar UV, lalu diukur jarak pergerakan sampel serta
jarak pergerakan larutan, kemudian Retention factor (Rf)
dari kromatogram tersebut dihitung.

Hasil dan Pembahasan




































Gambar 1. Kromatogram pigmen mata Drosophila
melanogaster wild-type.
[Sumber: Dokumentasi pribadi]









Gambar 3. Kromatogram pigmen mata Drosophila
melanogaster mutan white.
[Sumber: Dokumentasi pribadi]
Cara kerja dari praktikum pemisahan
biokimiawi pigmen mata Drosophila melanogaster
dengan kromatografi lapisan tipis yang perlu
diperhatikan adalah botol yang berisi TLC harus
diletakkan pada ruang asam serta botol dibungkus
dengan kertas karbon untuk menghindari cahaya yang
masuk sehingga pigmen mata Drosophila melanogaster
tidak akan rusak sebelum dilakukan pemisahan (Hilton

Keterangan:
A. Wild-type
1. Drosopterin
2. Xantopterin
3. Biopterin
B. Jarak dari
dasar kertas 2 cm
A
B


A
B
Keterangan:
A. Mutan white
B. Jarak dari dasar
kertas 2 cm

Gambar 1. Visualisasi kromatogram dengan menggunakan
sinar UV
[Sumber: Dokumentasi pribadi]


6
Kelompok 1A
2000: 88). Pelarut yang mengandung ammonium
hidroksida dan n-propil alkohol digunakan untuk
mengikat pigmen pada pelat TLC dan menarik pigmen
tersebut ke atas pelat TLC (Salvador & Chrisvert 2007:
182). Hal yang perlu diperhatikan berikutnya adalah
sinar UV digunakan untuk memudahkan dalam
visualisasi distribusi pigmen mata yang terpisah pada
pelat TLC (Grinberg 1990: 101).
Kromatografi lapisan tipis (TLC) digunakan
dalam praktikum pemisahan biokimiawi pigmen mata
Drosophila melanogaster karena prosedur lebih cepat,
lebih praktis, serta memiliki tingkat sensitivitas yang
tinggi. Hal tersebut dapat dilihat pada saat penyimpanan
TLC selama 90 menit dan hasil yang terlihat adalah
terpisahnya komponen pigmen mata Drosophila
melanogaster dan menghasilkan tiga warna pigmen
mata normal. Berdasarkan literatur, kromatografi lapisan
tipis (TLC) merupakan metode sederhana dan cepat
untuk memantau sejauh mana reaksi atau untuk
menganalisis kemurnian senyawa organik (Tissue 2000:
1).
Hasil yang didapat dari praktikum pemisahan
biokimiawi pigmen mata Drosophila melanogaster
ditemukan tiga pigmen warna komponen penyusun
pigmen mata Drosophila melanogaster wild-type,
diantaranya adalah pigmen merah (drosopterin), hijau
(xantopterin), dan biru (biopterin), sedangkan pada
pigmen mata Drosophila melanogaster mutan white
diantaranya adalah tidak terdapat pigmen warna pada
mata tersebut. Hasil pengamatan ini kurang sesuai
dengan literatur yang menyebutkan bahwa Drosophila
melanogaster wild-type memiliki dua jalur pigmen yang
terpisah yaitu pigmen yang menghasilkan warna coklat
disebut ommochrom dan pigmen yang menghasilkan
warna merah disebut pteridin. Drosophila melanogaster
wild-type juga memiliki tujuh macam pigmen pteridin,
yaitu isosepiapterin (kuning), biopterin (biru), amino-4-
hydroxipterin (biru), sepiapterin (kuning-hijau),
xanthopterin (hijau-biru), isoxanthopterin (ungu-biru),
dan drosopterin (jingga). Hasil pengamatan yang kurang
sesuai dengan literatur terjadi akibat adanya beberapa
jalur pigmen pteridin yang mengalami mutasi atau rusak
sehingga beberapa pigmen tidak muncul atau
tervisualisasi (Pollock 2008: 10).
Berdasarkan hasil pengamatan kromatogram,
telah dilakukan perhitungan Retention factor yang
digunakan sebagai parameter untuk mengidentifikasi
karakter molekul kimia berdasarkan kemampuan migrasi.
Retention factor diukur berdasarkan jarak migrasi
pigmen dan jarak migrasi pelarut. Jarak migrasi pelarut
yaitu 5,3 cm. Jarak migrasi pigmen merah yaitu 2,6 cm,
migrasi pigmen hijau 4,2 cm, dan migrasi pigmen biru 5
cm. Akhirnya, diperoleh hasil nilai Retention factor pada
Drosophila melanogaster wild-type yaitu pigmen merah
0,49, pigmen hijau 0,79, sedangkan pigmen biru
memiliki Retention factor 0,94. Pengamatan pada
pigmen mata Drosophila melanogaster mutan white
tidak didapatkan hasil migrasi pigmen matanya karena
tidak terdapat pigmen pada mutan tersebut. Berdasarkan
literatur, pigmen mata Drosophila melanogaster mutan
white tidak memiliki pigmen karena tidak adanya
pigmen drosopterin yang diekspresikan pada jalur
pteridin dan pigmen xanthommatin pada jalur
ommochrom. Hal ini sudah sesuai dengan literatur
(Bechtel & Richardson 2000: 185).
Komponen pigmen mata Drosophila
melanogaster normal yang terpisah terdiri dari pigmen
merah (drosopterin) dari jalur pteridin dan pigmen coklat
(xanthommatin) dari jalur ommochrom (Bechtel &
Richardson 2000: 185). Berdasarkan pengamatan,
7
Kelompok 1A
pigmen mata Drosophila melanogaster mutan white
tidak mengalami pemisahan pada kertas kromatografi
lapis tipis. Hal ini disebabkan mutan white tidak
memiliki pigmen yang memberi warna pada mata
Drosophila melanogaster. Berdasarkan literatur, gen
yang mengalami mutasi akan berpengaruh pada protein
yang diekspresikan. Protein yang berpengaruh antara
lain enzim. Enzim tidak terbentuk sehingga adanya
kesalahan pada central dogma. Hal tersebut yang
menyebabkan adanya kelainan atau mutasi pada suatu
fenotip (Calleman 2009: 73).

Kesimpulan
Teknik pemisahan pigmen mata Drosophila
melanogaster dilakukan dengan metode kromatografi
lapisan tipis (TLC). Prinsip kerja dari kromatografi
lapisan tipis adalah interaksi molekul yang berbeda
melalui fase stasioner dibawah pengaruh fase gerak.
Pigmen mata Drosophila melaogaster wild-type dan
Drosophila melanogaster mutan white memiliki
perbedaan, diantaramya adalah pada Drosophila
melanogaster wild-type terdapat pigmen warna merah
(drosopterin), hijau (xantopterin), dan biru (biopterin),
sedangkan pada Drosophila melanogaster mutan white
tidak terdapat adanya pigmen warna.

Daftar Pustaka
Betchtel W. & Robert C. Richardson. 2000. Discovery
complexity. Princeton University Press, Caledonia:
xIvii+ 281 hlm.
Calleman, Carl Johan. 2009. The purposeful universe.
Lake Book Manufacturing, Vermant: xi +343 hlm.
Campbell, N. A. & J. B. Reece . 2010. Biology, 9th ed.
Benjamin Cummings. San Francisco. xlvi +
1472 hlm.
CU Bolder. 2013: 1 hlm.
http://orgchem.colorado.edu/Technique/Procedure
s/TLC/TLC.html 27 Maret 2014 pk 16:00.
Grinberg, Nelu. 1990. Modern thin-layer
chromatography. Marcel Dekker Inc, New York:
ix +481 hlm.
Hartl, D.L. & E.W. Jones. 1998. Genetics: principles
and analysis, 4th ed. Jones and Bartlett
Publishers, Inc., United States: xxiv + 840 hlm.
Hilton, Ordway. 2000. Scientific examination of
questioned documents. CRC Press, Florida: xvii
+417 hlm.
Linsdley, Dan L & Zimm Georgiana G. 1992. The
genome of Drosophila melanogaster. Academic
Press INC, California: x +1133 hlm.
Pierce, B.A. 2002. Genetics A Conceptual Approach,
2nd ed. W.H.Freeman Publishing, New York:
709 hlm.
Pollock, C. 2008. The genetics of eye color in
Drosophila melanogaster. University of British
Columbia, Columbia: 15 hlm.
Rong, Y.S. & K.G. Golic. 1998. Dominant defects in
Drosophila eye pigmentation from a
euchromatin-heterochromatin fusion gene.
Genetics Society of America: 16 hlm.
Salvador, Amparo& Alberto Chisvert. 2007. Analysis of
cosmetic products. Elsevier B.V., Netherlands:
xv +475 hlm.
Suryo. 2012. Genetika untuk strata I. edisi ke-14. Gajah
Mada University Press, Yogyakarta: 344 hlm.

Tissue, B.M. 2000: 1 hlm.
http://www.files.chem.vt.edu/chem-
ed/sep/chromato.html. 27 Maret 2014 pk. 15:52.