Anda di halaman 1dari 133

RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN

SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT INAP JIWA RUMAH


SAKIT DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH
PERIODE JANUARI-APRIL 2014
SKRIPSI
FAHRUL
G 701 10 003
PROGRAM STUDI FARMASI JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
MEI 2014
RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN
SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT INAP JIWA RUMAH
SAKIT DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH
PERIODE JANUARI-APRIL 2014
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S1)
Program Studi Farmasi pada Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Tadulako
FAHRUL
G 701 10 003
PROGRAM STUDI FARMASI JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
MEI 2014
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Judul : Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien
Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014
Nama : Fahrul
Stambuk : G 701 10 003
Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan.
Palu, Mei 2014
Pembimbing I
Alwiyah Mukaddas, S.Farm., M.Si., Apt
NIP. 19800418 200501 2 002
Pembimbing II
Ingrid Faustine, S.Si., M.Sc., Apt
Mengetahui,
Ketua Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Tadulako
Dr. Abd. Rahman Razak, S.Si., M.Si., Apt
NIP. 19711020 199903 1 002
iii
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI
Judul : Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik Pada Pasien
Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014
Nama : Fahrul
Stambuk : G 701 10 003
Disetujui Tanggal :
DEWAN PENGUJI
Ketua : Alwiyah Mukaddas, S. Farm., M.Si., Apt.
Sekretaris : Ingrid Faustine, S.Si., M.Sc., Apt.
Penguji 1 : Yuliet, S.Si., M.Si., Apt.
Penguji 2 : Indriani, S.Far., M.Sc., Apt.
Penguji 3 : Arsa Wahyu Nugrahani, S. Farm., M.Sc., Apt.
Penguji 4 : Muhamad Rinaldhi Tandah, S.Farm., M.Sc., Apt.
Penguji 5 : Ririen Hardani, S.Farm., M.Si., Apt.
Mengetahui
Dekan FMIPA
Universitas Tadulako
Drs. H. Abdullah, MT
NIP. 196202171991031002
iv
P E R N Y A T A A N
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Palu, Mei 2014
Penulis,
Fahrul
G 701 10 003
v
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antipsikotik
meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi pada
pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
Periode Januari-April 2014. Metode yang digunakan adalah deskriptif yang
dikerjakan secara prospektif dengan mengumpulkan data primer dengan melakukan
observasi, wawancara dan data sekunder dari rekam medik pasien skizofrenia yang
menjalani rawat inap di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April
2014. Analisa data dilakukan secara deskriptif kuantitatif bertujuan untuk
menjelaskan atau memberikan gambaran karakteristik setiap variabel penelitian
meliputi : Karakteristik pasien, karakteristik klinis dan rasionalitas penggunaan obat.
Hasil rasionalitas pengobatan yang didapatkan adalah sebagai berikut : tepat indikasi
100%, tepat obat 90,4%, tepat pasien 87,8%; tepat dosis 81,6% dan tepat frekuensi
pemberian antipsikotik 90,4%. Penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di
instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-
April 2014 belum dapat dikatakan rasional.
Kata kunci : Rasionalitas, antipsikotik, skizofrenia
vi
ABSTRACT
This research is aimed to find out rationality of antipsychotic usage includes right
indication, drug, patient, dosage, and frequency in Schizophrenia at Patient
Department in Madani Mental Hospital of Central Sulawesi from January-April 2014.
This research is a descriptive study, prospectively done by collecting primary data
which is observing, interviewing and secondary data from the schizophrenia patient
medical record. Data analysis is done by descriptive quantitative to provide an
overview of the characteristic each study variables include : patient characteristic,
clinical characteristic, and rational use of drug. The results obtained rationality
treatment was as follows : 100% precise indications, 90,4% right drug, 87,8 right
patient, 81,6% right dosage and 90,4% appropriate frequency of antipsychotic usage.
Antipsychotic usage in schizophrenia at Patient Department in Madani Mental
Hospital of Central Sulawesi January-April 2014 cannot be stated as rational yet.
Key words : Rationality, antipsychotic, schizophrenia
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas segala
nikmat-Nya terutama nikmat waktu dan kesehatan sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan Skripsi ini yang berjudul Rasionalitas Penggunaan
Antipsikotik pada Pasien Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014. Shalawat dan salam
senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga
dan sahabatnya serta umat islam yang selalu istiqomah hingga akhir zaman.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat terselesaikan berkat
bantuan dan dorongan yang tulus ikhlas dari berbagai pihak, untuk itu dengan
kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya dan
penghargaan setinggi-tingginya, teristimewa kepada Ibundaku Fatmawati, S.Pd dan
Ayahandaku Tamin, A.Ma, Adik-adikku tersayang (Ahmad Rifaldi dan Salsa Nur
Fadilah) serta keluarga besarku untuk semua cinta, kasih sayang, pengorbanan serta
doanya kepada penulis. Kepada Ibu Alwiyah Mukaddas, S.Farm., M.Si., Apt selaku
pembimbing I sekaligus dosen wali dan Ibu Ingrid Faustine, S.Si., M.Sc., Apt selaku
pembimbing II yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah meluangkan waktu
memberikan bimbingan dan motivasi yang sangat berharga dalam penyusunan skripsi
ini, serta arahan selama penulis menempuh bangku perkuliahan di Program Studi
Farmasi.
viii
Terima kasih dan penghargaan yang sama penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir, S.E., M.S., Rektor Universitas Tadulako.
2. Bapak Drs. H. Abdullah, MT., Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Tadulako.
3. Bapak/Ibu Wakil Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Tadulako.
4. Bapak Syariful Anam, S.Si., M.Si., Apt dan Ibu Yuliet, S.Si., M.Si., Apt.,
Koordinator dan Sekretaris Program Studi Farmasi FMIPA UNTAD.
5. Ibu Yuliet, S.Si., M.Si., Apt, Bapak Ihwan, S.Si., M.Kes., Apt, Ibu Arsa Wahyu
Nugrahani, S.Farm., M.Sc., Apt, Bapak Muhamad Rinaldhi Tandah, S.Farm., M.Sc.,
Apt, Ibu Ririen Hardani, S.Farm., M.Si., Apt dan Ibu Indriani, S.Far., M.Sc, Apt
selaku dosen pembahas yang telah memberikan saran dan pemikiran yang
berharga dalam penyusunan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu dosen program studi Farmasi FMIPA UNTAD yang telah banyak
membantu dan membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan selama
perkuliahan.
7. Seluruh staf akademik di Fakultas MIPA UNTAD yang telah memberikan
pelayanan yang baik kepada penulis selama kuliah.
8. Ibu dr. Isharwati., M.Kes selaku direktur RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah, yang telah memberikan izin melaksanakan penelitian.
ix
9. Ibu dr. Eka, Ibu dr. Desi selaku dokter jiwa, Ibu Ni Ketut Suharyani, Amd., Kep.,
Bapak Losaende, L., Amd., Kep., Bapak Umar Mansyur., Amd., Kep., Bapak
Nursid Hadi, Amd., Kep selaku kepala ruangan inap jiwa tempat penulis
meneliti, bapak Malvin dan Ibu Rina selaku staf diklat RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah yang telah memberikan kesempatan bimbingan dan bantuan
kepada penulis selama penelitian.
10. Kesayanganku Arum Maulidiyah serta Oryza Sativa, Andika dan Panji yang
selama ini dalam suka duka telah banyak memberikan bantuan semangat dan
dukungan kepada penulis.
11. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Farmasi angkatan 2010 (POT10) yang
tidak dapat saya tuliskan satu-persatu. Kalian adalah teman-teman terbaikku.
Terima kasih atas semua kebaikan dan bantuan kalian
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca
dan semoga segala bantuan dan bimbingan dari semua pihak senantiasa mendapat
ridho Allah SWT. Amin.
Palu, Mei 2014
Penulis
x
DAFTAR ISI
SAMPUL
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN DEWAN PENGUJI .......................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN .......................................................................... iv
ABSTRAK ........................................................................................................ v
ABSTRACT ...................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ...................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvi
DAFTAR SIMBOL/ISTILAH .......................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................ 5
1.5 Batasan Masalah ................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 7
2.1 Skizofrenia ............................................................................ 7
2.2 Antipsikotik .......................................................................... 24
2.3 Rasionalitas Penggunaan Obat ............................................. 35
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................... 38
3.1 Desain Penelitian .................................................................. 38
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ 38
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ............ 38
3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ...................... 40
3.5 Teknik Pengumpulan Data ................................................... 43
3.6 Analisa Data ......................................................................... 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 45
4.1 Hasil Penelitian ..................................................................... 45
4.2 Pembahasan .......................................................................... 50
xi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 79
5.1 Kesimpulan ........................................................................... 79
5.2 Saran ..................................................................................... 79
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 81
LAMPIRAN ...................................................................................................... 86
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... 114
xii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Efek samping Farmakologik Antipsikotik .................................................... 33
4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 45
4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014.................... 45
4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 46
4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ........... 46
4.5 Distribusi jenjang pendidikan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 46
4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ........... 47
4.7 Distribusi gejala pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ........... 47
4.8 Distribusi tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014.................... 47
4.9 Distribusi jenis antipsikotik yang digunakan pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014......................................................................................... 48
4.10 Distribusi lama rawat inap pasien infeksi saluran kemih yang dirawat
inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014......................................................................................... 48
4.11 Distribusi tepat indikasi pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 49
xiii
4.12 Distribusi tepat obat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 49
4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 49
4.14 Distribusi tepat dosis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 49
4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pasien skizofrenia
yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014............................................................................ 50
4.16 Kontraindikasi Obat Antipsikotik ................................................................. 72
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Patofisiologis skizofrenia.............................................................................. 8
2.2 Skema diagnosis skizofrenia ........................................................................ 17
2.3 Algoritma antipsikotik ................................................................................. 34
4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 50
4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ................... 52
4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 53
4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 54
4.5 Distribusi jenjang penididikan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014....... 55
4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ................... 57
4.7 Distribusi gejala pada pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ................... 58
4.8 Tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014............................................... 60
4.9 Distribusi jenis antipsikotik pasien skizofrenia rawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ................... 61
4.10 Distribusi lama rawat inap pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014........... 64
xv
4.11 Distribusi tepat indikasi pada pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014........... 66
4.12 Distribusi tepat obat pada pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ................... 67
4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014................................. 71
4.14 Distribusi tepat dosis antipsikotik pada pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April
2014............................................................................................................... 72
4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pada pasien skizofrenia
yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014 ........................................................................... 76
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data pasien skizofrenia rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah Periode Januari April 2014 .................................... 86
Lampiran 2 Standar pelayanan medik RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah...... 93
Lampiran 3 Dosis dan frekuensi penggunaan antipsikotik peroral .......................... 95
Lampiran 4 Algoritma tatalaksana terpai skizofrenia tanpa riwayat ....................... 96
Lampiran 5 Algoritma tatalaksana terpai skizofrenia dengan riwayat ..................... 97
Lampiran 6 Hasil analisa data .................................................................................. 98
Lampiran 7 Surat izin penelitian penelitian ............................................................. 111
Lampiran 8 Surat keterangan telah melaksanakan penelitian .................................. 112
Lampiran 9 Dokumentasi ......................................................................................... 113
xvii
DAFTAR SIMBOL/ISTILAH
AGK : antipsikotik generasi kedua
AGP : antipsikotik generasi pertama
AP : antipsikoik
APG-I : antipsikotik generasi I
APG-II : antipsikotik generasi II
CSS : cairan serebrospinal
CT-scan : computed tomography scanning
d : kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir
DDA : dopamine depleting agent
DNA : deoxyribonucleic acid
DRA : dopamine reseptor antagonist
DSM : diagnostic and statistic manual of mental disorders
ECT : elctro convulsive therapy
EEG : electroencephalography
GABA : gamma aminobutyric acid
GEP : gejala ekstapiramidal
Hb : hemoglobin
HT : hidroksitriptamin
LED : laju endap darah
n : besar sampel minimum
xviii
N : populasi yang diketahui
PDD : pervasive developmental disorder
PDSKJI : perhimpinan dokter spesialis kedokteran jiwa
PET : positron emission tompgraphi
PIF : prolactine inhibiting factor
RSD : rumah sakit daerah
RSK : rumah sakit khusus
SDA : serotonin dopamine antagonist
VIP : very important person
WHO : world health organization
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan jiwa merupakan bentuk gangguan dalam fungsi alam pikiran.
Gangguan tersebut dapat berupa disorganisasi (kekacauan) isi pikiran, yang
ditandai antara lain oleh adanya gejala gangguan pemahaman (delusi/waham),
dan gangguan persepsi berupa halusinasi atau ilusi serta dijumpai gangguan
terhadap daya nilai realitas berupa perilaku aneh (bizzare). Gangguan jiwa tidak
menyebabkan kematian secara langsung, namun akan menyebabkan penderitanya
menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga dan lingkungan
masyarakat sekitarnya. Salah satu bentuk gangguan jiwa adalah skizofrenia
(Agus, 2005).
Pada saat ini penderita dengan gangguan jiwa jumlahnya mengalami
peningkatan terkait dengan berbagai macam permasalahan yang dialami oleh
bangsa Indonesia, mulai dari kondisi perekonomian yang memburuk, kondisi
keluarga atau latar belakang, pola asuh anak yang tidak baik sampai bencana
alam yang melanda negara kita. Selain itu, dampak modernisasi dimana tidak
semua orang siap untuk menghadapi perubahan dan kemajuan teknologi baru
(Maramis, 2004)
2
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang sangat berat. Penyakit ini
menyerang 4 sampai 7 dari 1000 orang (Saha et al, 2005). Skizofrenia biasanya
menyerang pasien dewasa yang berusia 15-35 tahun. Diperkirakan terdapat 50
juta penderita di dunia, 50% dari penderita tidak menerima pengobatan yang
sesuai, dan 90% dari penderita yang tidak mendapat pengobatan tepat tersebut
terjadi di negara berkembang (WHO, 2011). Di Indonesia, prevalensi gangguan
jiwa berat (skizofrenia) sebesar 4,6. Sulawesi Tengah menempati peringkat
pertama dari provinsi lain yang berada di Sulawesi dengan penderita skizofrenia
sebesar 5,3 yang kemudian secara berturut-turut diikuti oleh Sulawesi Selatan
3,2, Sulawesi Tenggara 2,5, Sulawesi Utara 2,4, Gorontalo 2,4, dan
Sulawesi Barat 1 (RISKESDAS, 2008).
Salah satu penanganan skizofrenia dengan menggunakan pengobatan
antipsikotik. Antipsikotik merupakan terapi obat-obatan pertama yang efektif
mengobati skizofrenia (Irwan dkk, 2008). Hasil penelitian pola penggunaan
antipsikotik pada penderita skizofrenia menunjukkan bahwa jenis antipsikotik
yang digunakan adalah klorpromazin, haloperidol, trifluoperazin, risperidon dan
klozapin. Pada terapi tunggal antipsikotik yang paling banyak digunakan adalah
risperidon (21,1%) dan terapi kombinasi antipsikotik yang banyak digunakan
adalah kombinasi haloperidol dan klorpromazin (23,2%). Pada kategori
pengobatan terdiri dari pengobatan antipsikotik tipikal, pengobatan antipsikotik
atipikal dan kombinasi antipsikotik tipikal-atipikal. Pengobatan dengan
3
menggunakan antipsikotik tipikal merupakan pengobatan terbanyak yang
digunakan dengan persentase sebesar 41,5% (Jarut dkk., 2013). Hasil penelitian
evaluasi penggunaan obat pada pasien skizofrenia adalah tepat indikasi
sebanyak 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 93,39%, dan tepat dosis 99,06%
(Setyaningsih, 2011).
Mekanisme kerja obat antipsikotik tipikal seperti haloperidol dan
klorpromazin adalah memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron
di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2
receptor antagonists). Dengan adanya mekanisme kerja tersebut maka
penggunaan antipsikotik tipikal mempunyai potensi yang besar untuk
menimbulkan efek samping diantaranya berupa gejala ekstrapiramidal (GEP)
(Maslim, 2003). Gejala ekstrapiramidal ini dapat berupa parkinsonisme
(hipokinesia, kekakuan anggota tubuh, tremor tangan dan keluar air liur
berlebihan, gejala rabbit syndrome), akathisia, dystonia akut, dyskinesia
tardive, (BPOM RI, 2008).
Rumah Sakit Daerah Madani merupakan satu-satunya Rumah Sakit milik
pemerintah di Provinsi Sulawesi Tengah sebagai rujukan untuk pasien gangguan
kejiwaan. Laporan dari unit rekam medik RSD Madani kasus pasien skizofrenia
rawat inap termasuk pasien terbanyak di rumah sakit tersebut dengan kejadian
pada tahun 2010 jumlah kasus sebanyak 326 dari 506 pasien gangguan jiwa,
2011 jumlah kasus sebanyak 347 pasien dari 560 pasien gangguan jiwa, 2012
4
jumlah kasus sebanyak 365 pasien dari 427 pasien gangguan jiwa dan 2013
jumlah kasus sebanyak 375 pasien dari 662 pasien gangguan jiwa. Data di atas,
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah pasien skizofrenia di Provinsi
Sulawesi Tengah setiap tahun. Hal tersebut seharusnya mendapat perhatian yang
lebih, baik dari keluarga, masyarakat, perawat, dokter, farmasis maupun tenaga
kesehatan lainnya di rumah sakit karena dampaknya yang luas dan berjangka
waktu lama, baik terhadap kualitas hidup atau beban bagi pasien, keluarga,
masyarakat maupun negara. Penggunaan obat yang rasional merupakan upaya
intervensi untuk mencapai pengobatan yang efektif. Dalam upaya meningkatkan
pemakaian obat secara rasional, diperlukan peningkatan secara bersama-sama
dalam seluruh proses terapi yang mencakup penegakkan diagnosis, pemilihan
kelas terapi dan jenis obat, pemberian obat ke pasien, penentuan dosis, cara dan
pemberian, harga obat, pemberian informasi yang sesuai dan kewaspadaan efek
samping. Berdasarkan berbagai hal tersebut penelitian ini perlu dilakukan untuk
mengetahui rasionalitas penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di
instalasi rawat inap jiwa Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014 ditinjau dari aspek tepat indikasi, tepat obat, tepat
pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut : bagaimana rasionalitas penggunaan antipsikotik pada pasien
5
skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014 meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat
pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan
antipsikotik pada pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa Rumah Sakit
Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ditinjau
dari aspek tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Aspek Pendidikan
Penelitian ini diharapkan sebagai sumber berbagai konsep teori
yang telah dipelajari sehingga dapat mengembangkan pemahaman,
penalaran, dan pengalaman peneliti terkait dengan masalah rasionalitas
pengobatan.
1.4.2 Aspek pengembangan penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan langkah awal untuk
penelitian selanjutnya yang terkait dengan rasionalitas penggunaan
antipsikotik pada pasien skizofrenia.
6
1.4.3 Aspek Pelayanan Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan
sumber data mengenai penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia,
khususnya di wilayah kerja RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah.
1.5 Batasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada rasionalitas penggunaan
antipsikotik pada pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa (ruang manggis,
ruang salak, ruang srikaya, ruang langsat) RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014 meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat
pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Skizofrenia
2.1.1 Definisi
Istilah schizophrenia diperkenalkan oleh Bleuler (psikiater dari
Swiss). Kata schizophrenia berasal dari bahasa Yunani, yaitu skhizo
(split/membelah) dan phren (mind/pikiran). Schizophrenia berarti
terbelah atau terpisahnya emosi dengan pikiran. Hal ini jelas terlihat
bahwa penderita gangguan schizophrenia pada umumnya ditandai
penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan
persepsi, serta oleh afek tidak wajar (inappropriate) atau tumpul
(blunted) (First et al, 2004).
Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan
ini ditandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang
kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitif dan persepsi; gejala-gejala
negatif seperti avolition (menurunnya minat dan dorongan),
berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, efek
yang datar; serta terganggunya relasi personal (Arif, 2006).
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang dalam kebanyakan
kasus bersifat sangat serius, berkelanjutan dan dapat mengakibatkan
8
kendala sosial, emosional dan kognitif (pengenalan, pengetahuan, daya
membedakan) (Tjay dkk, 2007).
2.1.2 Patofisiologis
Pada skizofrenia terdapat penurunan aliran darah dan ambilan
glukosa, terutama di korteks prefontalis, dan pada pasien yang
didominasi gejala negatif juga terdapat penurunan jumlah neuron
(penurunan jumlah substansia grisea). Selain itu, migrasi neuron yang
abnormal selama perkembangan otak secara patofisiologis sangat
bermakna.
Gambar 2.1 Patofisiologis skizofrenia (Silbernagl, 2007)
8
kendala sosial, emosional dan kognitif (pengenalan, pengetahuan, daya
membedakan) (Tjay dkk, 2007).
2.1.2 Patofisiologis
Pada skizofrenia terdapat penurunan aliran darah dan ambilan
glukosa, terutama di korteks prefontalis, dan pada pasien yang
didominasi gejala negatif juga terdapat penurunan jumlah neuron
(penurunan jumlah substansia grisea). Selain itu, migrasi neuron yang
abnormal selama perkembangan otak secara patofisiologis sangat
bermakna.
Gambar 2.1 Patofisiologis skizofrenia (Silbernagl, 2007)
8
kendala sosial, emosional dan kognitif (pengenalan, pengetahuan, daya
membedakan) (Tjay dkk, 2007).
2.1.2 Patofisiologis
Pada skizofrenia terdapat penurunan aliran darah dan ambilan
glukosa, terutama di korteks prefontalis, dan pada pasien yang
didominasi gejala negatif juga terdapat penurunan jumlah neuron
(penurunan jumlah substansia grisea). Selain itu, migrasi neuron yang
abnormal selama perkembangan otak secara patofisiologis sangat
bermakna.
Gambar 2.1 Patofisiologis skizofrenia (Silbernagl, 2007)
9
Atrofi penonjolan dendrit mengandung sinaps glutamatergik,
sehingga transmisi glutamatergiknya terganggu. Selain itu, pada area
yang terkena, pembentukan GABA dan/atau jumlah neuron GABAergik
tampaknya berkurang sehingga penghambatan sel piramidal menjadi
berkurang. Makna patofisiologis yang khusus dikaitkan dengan
dopamin; availibilitas dopamin atau agonis dopamin yang berlebihan
dapat menimbulkan gejala skizofrenia, dan penghambat reseptor
dopamin-D
2
telah sukses digunakan dalam penatalaksanaan skizofrenia.
Di sisi lain, penurunan reseptor D
2
yang ditemukan di korteks
prefontalis, dan penurunan reseptor D
1
dan D
2
berkaitan dengan gejala
negatif skizofrenia, seperti kurangnya emosi. Penurunan reseptor
dopamin mungkin terjadi akibat pelepasan dopamin yang meningkatkan
dan hal ini tidak memiliki efek patogenetik (Silbernagl, 2007).
2.1.3 Etiologi
Menurut Amir (2013), belum ditemukan etiologi yang pasti
mengenai skizofrenia. Ada beberapa hasil penelitian yang dilaporkan
saat ini :
1. Biologi
Tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang
patognomonik ditemukan pada penderita skizofrenia. Meskipun
demikian beberapa gangguan organik dapat terlihat pada sub
populasi pasien. Gangguan yang paling banyak dijumpai yaitu
pelebaran ventrikel tiga dan lateral yang stabil yang kadang-
10
kadang sudah terlihat sebelum awitan penyakit; atropi bilateral
lobus temporal medial dan lebih spesifik yaitu girus
parahipokampus, hipokampus dan amiglada; disorientasi spasial
sel pyramid hipokampus dan penurunan volume korteks prefrontal
dorsolateral. Beberapa penelitian melaporkan bahwa semua
perubahan ini tampaknya statis dan telah dibawa sejak lahir, dan
beberapa perjalanan progresif. Lokasinya menunjukkan gangguan
perilaku yang ditemui pada skizofrenia; misalnya, gangguan
hipokampus dikaitkan dengan impermen memori dan atropi lobus
frontalis dihubungkan dengan gejala negatif skizofrenia.
Penemuan lain yaitu adanya antibodi sitomegalovirus dalam
cairan serebrospinal (CSS), limposit atipikal tipe P (terstimulasi),
gangguan fungsi hemister kiri, gangguan transmisi dan
pengurangan ukuran korpus kalosum, pengecilan serebri,
penurunan aliran darah dan metabolisme glukosa di lobus frontal
(dilihat dengan PET), kelainan EEG, EPP300 auditorik (dengan
QEEG), sulit memusatkan perhatian, dan perlambatan waktu
reaksi, serta berkurangnya kemampuan menanamkan benda.
Pada individu yang berkembang menjadi skizofrenia
terdapat peningkatan insiden komplikasi persalinan, lebih besar
kecenderungan lahir pada akhir musim dingin atau awal musim
panas, dan terdapat gangguan neurologi minor. Kemaknaan
penemuan-penemuan ini belum diketahui. Bagaimanapun, ini
11
menunjukkan adanya dasar biologik dan heterogenitas
skizofrenia.
2. Biokimia
Etiologi biokimia skizofrenia belum diketahui. Hipotesis yang
paling banyak yaitu adanya gangguan neurotransmiter sentral yaitu
terjadinya peningkatan aktivitas dopamin sentral (hipotesis
dopamin). Hipotesis ini dibuat berdasarkan tiga penemuan utama :
a) Efektivitas obat-obat neuroleptik (misalnya fenotiazin) pada
skizofrenia, ia bekerja memblok reseptor dopamin pasca sinaps
(tipe D
2
).
b) Terjadinya psikosis akibat pengguanaan amfetamin. Psikosis
yang terjadi sukar dibedakan, secara klinik, dengan psikosis
skizofrenia paranoid akut. Amfetamin melepaskan dopamin
sentral. Selain itu, amfetamin juga memperburuk skizofrenia.
c) Adanya peningkatan jumlah reseptor D
2
di nukleus kaudatus,
nukleus akumben, dan putamen pada skizofrenia.
Penelitian reseptor D
1
, D
5
dan D
4
, saat ini tidak banyak
memberikan hasil. Teori lain yaitu peningkatan serotonin di susunan
saraf pusat (terutama 5-HT
2A
) dan kelebihan neurotramsmiter di
forebrain limbik (terjadi pada beberapa penderita skizofrenia).
Setelah pemberian obat yang bersifat antagonis terhadap
neurotransmitter tersebut terjadi perbaikan klinis skizofrenia.
12
3. Genetika
Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara
signifikan, kompleks dan poligen. Sesuai dengan penelitian
hubungan darah (konsanguinitas), skizofrenia adalah gangguan
bersifat keluarga (misalnya; terdapat dalam keluarga). Semakin
dekat hubungan kekerabatan semakin tinggi risiko. Pada penelitian
anak kembar, kembar monozigot mempunya risiko 4-6 kali lebih
sering menjadi sakit bila dibandingkan dengan kembar dizigot. Pada
penelitian adopsi, waktu lahir, oleh keluarga normal, peningkatan
angka sakitnya sama dengan bila anak-anak tersebut diasuh sendiri
oleh orang tuanya yang skizofrenia.
Frekuensi kejadian gangguan nonpsikotik meningkat pada
keluarga skizofrenia dan secara genetik dikaitkan dengan gangguan
kepribadian ambang dan skizotipal (gangguan spektrum skizofrenia),
gangguan obsesif kompulsif, dan kemungkinan dihubungkan dengan
gangguan kepribadian paranoid dan antisosial.
4. Faktor Keluarga
Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan penting
dalam menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan remisi.
Pasien yang pulang kerumah sering relaps pada tahun berikutnya
bila dibandingkan dengan pasien yang ditempatkan di residensial.
Pasien yang berisiko adalah pasien yang tinggal bersama keluarga
13
yang hostilitas, memperlihatkan kecemasan berlebihan, sangat
protektif terhadap pasien, terlalu ikut campur, sangat pengeritik
(ekspresi emosi tinggi). Pasien skizofrenia sering tidak dibebaskan
oleh keluarganya.
Beberapa peneliti mengidentifikasi suatu cara komunikasi yang
aneh pada keluarga-keluarga skizofrenia. Komunikasi sering samar-
samar atau tidak jelas dan sedikit tak logis. Pada tahun 1959, Betson
menggambarkan suatu karakteristik ikatan ganda yaitu pasien
sering diminta oleh anggota keluarga untuk merespon pesan yang
bentuknya kontradiksi sehingga membingungkan. Penelitian terbaru
menyatakan bahwa pola komunikasi keluarga tersebut mungkin
disebabkan oleh dampak memiliki anak skizofrenia.
2.1.4 Manifestasi klinis
Menurut Ade (2012), gambaran secara klinis terjadinya
skizofrenia pada setiap orang berbeda-beda, bahkan pada satu individu
pun akan bervariasi seiring bejalan waktu. Para peneliti dan komonitas
medis telah menyetujui bahwa terdapat 3 fase/tahapan yang berbeda
dalam perjalan penyakit skizofrenia, yaitu :
1. Fase akut
Pada fase tersebut, penderitanya mengalami gejala-gejala mayor
yang bisa dilihat jelas. Pertolongan medis berupa pemberian
antipsikotik dibutuhkan penderita. Gejala-gejala tersebut bisa saja
14
terjadi dengan sangat perlahan atau mungkin tiba-tiba. Gejala yang
dialami penderita pada episode mayor diantaranya yaitu penderita
tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan yang ada di
lingkungannya, halusinasi, delusi, asosiasi longgar, cenderung
menarik diri dari lingkungan sekitar, ambivalen, tidak mau bekerja
sama dan menyukai hal-hal yang membuat konflik disekitarnya,
tidak mau merawat diri serta gangguan nafsu makan dan tidur
(Dipiro et al, 2009).
2. Fase stabilisasi
Penderita mengalami penurunan gejala setelah fase akut, ditandai
dengan berkurangnya gejala-gejala klinis.
3. Fase stabil
Pada fase yang biasa disebut juga fase kronis atau rumatan ini,
gejala-gejala klinis yang terjadi pada episode akut sudah mampu
dikelola dengan baik, namun masih ada kesulitan untuk berfungsi
seperti semula dan berisiko kambuh pada episode akut dan
stabilisasi.
2.1.5 Gejala-Gejala skizofrenia
Menurut Hawaris (2007), gejala skizofrenia dibagi menjadi 2,
yaitu gejala positif dan negatif antara lain :
15
1. Gejala Positif skizofrenia
a) Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional.
Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya
itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.
b) Halusinansi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada
rangsangan. Misalnya penderita mendengar bisikan-bisikan
ditelinganya padahal tidak ada sumber dari bisikan itu.
c) Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya.
Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur
pikirannya.
d) Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara
dengan semangat dan gembira berlebihan.
e) Merasa dirinya Orang Besar, merasa serba mampu, serba
hebat dan sejenisnya.
f) Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada
ancaman terhadap dirinya.
g) Menyimpan rasa permusuhan
2. Gejala negatif skizofrenia
a) Alam perasaan tumpul dan mendatar. Gambaran alam
perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan
ekspresi.
b) Menarik diri atau mengasingkan diri tidak mau bergaul atau
kontak dengan orang lain, suka melamun.
16
c) Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.
d) Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
e) Sulit dalam berfikir abstrak.
f) Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada
inisiatif dan serba malas.
2.1.6 Diagnosis
Menurut Arif (2006), paling tidak terdapat enam kriteria
diagnostik skizofrenia menurut Diagnostic and Statistic Manual of
Mental Disorders (DSM) IV text revision sebagai berikut :
1. Jika terdapat dua atau lebih gejala psikotik secara terus menerus
minimal dalam waktu 6 bulan, dengan sedikitnya 1 bulan penderita
menunjukkan gejala tersebut secara intens. Gejala-gejala yang
dimaksud seperti:
a) Delusi
b) Halusinasi
c) Pembicaraan kacau
d) Tingkah laku kacau atau katatonik
e) Gejala negatif (pendataran afek atau tidak ada kemauan)
2. Disfungsi sosial
3. Durasi paling tidak selama 6 bulan. Periode 6 bulan ini mencakup
paling tidak 1 bulan dimana gejala-gejala muncul.
4. Tidak termasuk gangguan skizoefektif dan gangguan mood.
5. Tidak termasuk gangguan karena zat atau karena kondisi medis.
17
6. Hubungan dengan Pervasive Developmental Disorder (PDD). Bila
ada riwayat gangguan austistik atau gangguan PDD lainnya,
diagnosis tambahan skizofrenia hanya dibuat bila ada halusinasi
atau delusi yang menonjol, selama paling tidak 1 bulan.
Gambar 2.2 Skema diagnosis skizofrenia (Mansjoer dkk, 1999)
2.1.7 Tipe-tipe Skizofrenia
Menurut Arif (2006), ada beberapa tipe skizofrenia; masing-
masing memiliki kekhasan tersendiri dalam gejala-gejala yang
diperlihatkan dan tampaknya memiliki penyakit yang berbeda-beda
antara lain :
GEJALA PSIKOTIK
1. Waham 3. Inkoherensi
2. Halusinasi 4. Katatonia
TANDA ORGANIK
1. Penurunan kesadaran patologik
2. Disorientasi
3. Gangguan daya ingat
4. Gangguan fungsi intelektual
GANGGUAN MENTAL ORGANIK
atau GANGGUAN JIWA AKIBAT
PENYAKIT UMUM
PSIKOTIK FUNGSIONAL
(gangguan psikotik)
1. > 6 bulan 3. Deteriorasi
2. Onset < 45 tahun
skizofrenia nonskizofrenia
Ya
Tidak
Tidak Ya
18
1. Skizofrenia Tipe Paranoid
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah adanya waham yang
mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya
fungsi kognitif dan afek yang relatif masih terjaga. Wahamnya
biasanya adalah waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham
dengan tema lain misalnya waham kecemburuan, keagamaan
mungkin juga muncul.
Kriteria diagnostik untuk skizofrenia tipe paranoid:
a) Preokupasi dengan satu atau lebih waham atau sering mengalami
halusinasi auditorik.
b) Tidak ada ciri berikut yang mencolok: bicara kacau, motorik
kacau atau katatonik, afek yang tak sesuai atau datar.
2. Skizofrenia Tipe hebefrenik (disorganized)
Ciri utama disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah
laku kacau dan afek yang datar. Pembicaraan yang kacau dapat
disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak berkaitan dengan isi
pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku misalnya: kurangnya
orientasi pada tujuan dapat membawa pada gangguan yang serius
pada berbagai aktivitas hidup sehari- hari.
Kriteria diagnostik skizofrenia tipe disorganized :
a) Gejala ini cukup menonjol: Pembicaraan kacau, tingkah laku
kacau.
b) Tidak memenuhi kriteria untuk tipe katatonik.
19
3. Skizofrenia Tipe katatonik
Ciri utama pada skizofrenia tipe katatonik adalah gangguan
pada psikomotor yang dapat meliputi ketidak-bergerakan motorik,
aktivitas motor yang berlebihan, sama sekali tidak mau bicara dan
berkomunikasi, gerakan-gerakan yang tidak terkendali, mengulang
ucapan orang lain atau mengikuti tingkah laku orang lain.
Kriteria diagnostik skizofrenia tipe katatonik :
a) Aktivitas motor yang berlebihan (yang tidak bertujuan dan tidak
dipengaruhi oleh stimulasi eksternal).
b) Negativism yang ekstrim (tanpa motivasi yang jelas, bersikap
sangat menolak pada segala instruksi atau mempertahankan
postur yang kaku untuk menolak dipindahkan) atau sama sekali
diam.
c) Gerakan-gerakan yang khas dan tidak terkendali.
4. Skizofrenia Tipe Tak Terici (undifferentiated)
Pasien mempunyai halusinasi, waham dan gejala-gejala
psikosis aktif yang menonjol (misalnya; kebingungan, inkoheren)
atau memenuhi kriteria skizofrenia tetapi tidak digolongkan pada
tipe paranoid, katatonik, hebefrenik, residual dan depresi pasca
skizofrenia (Amir, 2013).
5. Skizofrenia Tipe residual
Diagnosa skizofrenia tipe residual diberikan bilamana pernah
ada paling tidak satu kali episode skizofrenia, tetapi gambaran
20
klinis saat ini tanpa gejala positif yang menonjol. Terdapat bukti
bahwa gangguan masih ada sebagaimana ditandai oleh adanya
gejala negatif atau gejala positif yang lebih halus.
Pasien dalam keadaan remisi dari keadaan akut tetapi masih
memperlihatkan gejala-gejala residual (penarikan diri secara sosial,
afek datar atau tak serasi, perilaku eksentrik, asosiasi melonggar
atau pikiran tak logis) (Amir, 2013).
6. Depresi Pasca skizofrenia
Suatu episode depresi yang mungkin berlangsung lama dan
timbul sesudah suatu serangan penyakit skizofrenia. Beberapa
gejala skizofrenia masih tetap ada tetapi tidak mendominasi
gambaran klinisnya. Gejala-gejala yang menetap tersebut dapat
berupa gejala positif atau negatif (biasanya lebih sering gejala
negatif) (Amir, 2013).
7. Skizofrenia simpleks
Skizofrenia simpleks adalah suatu diagnosis yang sulit dibuat
secara meyakinkan karena bergantung pada pemastian
perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif dari gejala
negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya riwayat
halusinasi, waham atau manifestasi lain tentang adanya suatu
episode psikotik sebelumnya, dan disertai dengan perubahan-
perubahan yang bermakna pada perilaku perorangan, yang
21
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok,
kemalasan dan penarikan diri secara sosial (Amir, 2013)
8. Skizofrenia lainnya
Skizofrenia lainnya termasuk skizofrenia senestopatik,
gangguan skzofreniform YTT, skizofrenia siklik, skizofrenia laten,
gangguan lir-skizofrenia akut (Amir, 2013).
9. Skizofrenia Tipe Yang Tidak Tergolongkan/YTT (unspecified)
Skizofrenia jenis ini gejalanya sulit untuk digolongkan pada
tipe skizofrenia tertentu.
2.1.8 Terapi skizofrenia
Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
(PDSKJI) (2012), penatalaksanaan skizofrenia dapat berupa
farmakoterapi, psikoterapi dan terapi lainnya yang dibagi dalam
beberapa fase yaitu :
1. Fase Akut
a) Farmakoterapi
Pada fase akut terapi bertujuan mencegah pasien melukai
dirinya atau orang lain, mengendalikan perilaku yang merusak,
mengurangi beratnya gejala psikotik dan gejala lainnya
misalnya agitasi, agresi dan gaduh gelisah. Pada langkah
pertama yaitu berbicara kepada pasien dan memberinya
ketenangan. Kemudian keputusan untuk memulai pemberian
obat. Pengikatan atau isolasi hanya dilakukan bila pasien
22
berbahaya terhadap dirinya sendiri dan orang lain serta restriksi
lainnya tidak berhasil. Pengikatan dilakukan hanya boleh untuk
sementara yaitu sekitar 2-4 jam dan digunakan untuk memulai
pengobatan. Meskipun terapi oral lebih baik, pilihan obat
injeksi untuk mendapatkan awitan kerja yang lebih cepat serta
hilangnya gejala dengan segera perlu dipertimbangkan.
b) Psikoedukasi
Tujuan intervensi adalah mengurangi stimulus yang
berlebihan, stresos lingkungan dan peristiwa-peristiwa
kehidupan. Memberikan ketenangan kepada pasien atau
mengurangi keterjagaan melalui komunikasi yang baik,
memberikan dukungan atau harapan, menyediakan lingkungan
yang nyaman, toleran perlu dilakukan.
c) Terapi lainnya
ECT (terapi kejang listrik) dapat dilakukan pada
skizofrenia katatonik dan skizofrenia refrakter.
2. Fase Stabilisasi
a) Farmakoterapi
Tujuan fase stabilisasi adalah mempertahankan remisi
gejala atau untuk mengontrol, meminimalisir risiko atau
konsekuensi kekambuhan dan mengoptimalkan fungsi dan
proses kesembuhan (recovery).
23
Setelah diperoleh dosis optimal, dosis tersebut
dipertahankan selama kurang 8-10 minggu sebelum masuk ke
tahap rumatan. Pada fase ini dapat juga diberikan obat anti
psikotik jangka panjang (long acting injectable), setiap 2-4
minggu.
b) Psikoedukasi
Tujuan intervensi adalah meningkatkan keterampilan orang
dengan skizofrenia dan keluarganya dalam mengelola gejala.
Mengajak pasien untuk mengenali gejala-gejala, melatih cara
mengelola gejala, merawat diri, mengembangkan kepatuhan
menjalani pengobatan. Teknik intervensi perilaku bermanfaat
untuk diterapkan pada fase ini.
3. Fase Rumatan
a) Farmakoterapi
Dosis mulai diturunkan secara bertahap sampai diperoleh
dosis minimal yang masih mampu mencegah kekambuhan. Bila
kondisi akut pertama kali, terapi diberikan sampai dua tahun,
bila sudah berjalan kronis dengan beberapa kali kekambuhan
terapi diberikan lima tahun bahkan seumur hidup.
b) Psikoedukasi
Tujuan intervensi adalah mempersiapkan pasien kembali
pada kehidupan masyarakat. Modalitas rehabilitasi spesifik,
misalnya remediasi kognitif, pelatihan keterampilan sosial dan
24
terapi vokasional, cocok diterapkan pada fase ini. Pada fase ini
pasien dan keluarga juga diajarkan mengenali dan mengelola
gejala prodromal, sehingga mereka mampu mencegah
kekambuhan berikutnya.
2.2 Antipsikotik
2.2.1 Definisi
Antipsikotik (major tranquillizers) adalah obat-obat yang dapat
menekan fungsi-fungsi psikis tertentu tanpa mempengaruhi fungsi
umum seperti berpikir dan berkelakuan normal. Obat ini dapat
meredakan emosi dan agresi dan dapat pula menghilangkan atau
mengurangi gangguan jiwa seperti impian dan pikiran khayali
(halusinasi) serta menormalkan perilaku yang tidak normal (Tjay dkk,
2007).
Antipsikotik bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronik,
suatu gangguan jiwa yang berat (skizofrenia). Obat antipsikotik
memiliki 4 ciri terpenting. Pertama berefek antipsikotis, yaitu berguna
mengatasi agresivitas, hiperaktivitas dan labilitas emosional pada pasien
psikosis. Ciri kedua yaitu dosis besar obat antipsikosis tidak
menyebabkan koma yang dalam dan anesthesia. Ciri yang ketiga yaitu
dapat menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang reversible dan
ireversible. Ciri terakhir yaitu tidak memiliki kecenderungan untuk
menimbulkan ketergantungan (Anonim, 2007).
25
2.2.2 Penggolongan Antipsikotik
Menurut Tjay dkk (2007), Antipsikotik (AP) biasanya dibagi
dalam dua kelompok besar yakni:
1. Antipsikotik typis atau klasik, terutama efektif mengatasi gejala
positif; pada umumnya dibagi lagi dalam sejumlah kelompok
kimiawi sebagai berikut :
a) Derivat-fenotiazin : klorpromazin, levomepromazin dan
triflupromazin, thioridazin dan periciazin, perfenazin dan
flufenazin, perazin, trifluoperazin dan thietilperazin.
Semua fenotiazin mempunyai struktur yang sama yaitu
tiga cincin. Perbedaan terletak pada rantai samping atom
nitrogen cincin tengah. Fenotiazine terdiri dari tiga jenis,
berdasarkan substitusi pada posisi sepuluh. Substitusi ini
memberikan pengaruh penting terhadap karakteristik
farmakologi fenotiazine. Substitusi pada rantai alifatik, seperti
klorpromazin, menyebabkan turunnya potensi antipsikotik
(AP). Obat ini cenderung menyebabkan sedasi, hipotensi, dan
efek antikolinergik pada dosis terapeutiknya. Klorpromazin
mempunya atom klorpromarin pada posisi dua. Apabila atom
klorine dibuang, akan dihasilkan promazin yaitu AP lemah.
Mensubstitusi piperidin pada posisi sepuluh dapat
menghasilkan kelompok AP seperti tioridazin. Obat ini
mempunyai potensi dan profil efek samping yang sama dengan
26
fenotiazine alifatik. Flufenazin dan trifluoperazin merupakan
AP dengan kelompok piperazin yang disubstitusi pada posisi
sepuluh. Piperazin memiliki efek otonom dan antikolinergik
lebih rendah dan tetapi memiliki afinitas yang tinggi terhadap
dopamin (D
2
) sehingga efek samping ekstrapiramidalnya (EPS)
lebih tinggi. Beberapa fenotiazin piperazin diesterifikasi pada
kelompok hidroksil bebas dengan etanoat dan asam dekanoat
sehingga terbentuk AP depo antipsikotik generasi I (APG-I)
jangka panjang (Amir, 2013).
Klorpromazin dan thioridazin: menghambat
1
adrenoreseptor lebih kuat dari reseptor dopamin D
2
. Kedua
obat ini juga menghambat reseptor serotonin 5-HT2 dengan
kuat. Tetapi afinitas untuk reseptor D
1
seperti diukur dengan
penggeseran ligan D
1
yang selektif, relatif lemah (Katzung,
1998). Klorpromazin khasiat antipsikotiknya lemah dan juga
digunakan untuk mengobati sedu yang tak henti-henti, dosis
pada psikosis oral, i.m atau i.v. 3 dd 25 mg selama 3-4 hari,
bila perlu dinaikkan sampai 1 g. Sedangkan thioridazin
memiliki khasiat antipsikotis dan sedatif yang baik, sehingga
sering digunakan pada pasien yang sukar tidur, dosis oral 2-4
dd 25-27 mg maksimal 800 mg sehari (Tjay dkk, 2007).
27
Levomepromazin : khasiat antipsikotiknya sama dengan
klorpromazin dengan dosis pada nyeri hebat i.m 12,5-25 mg,
oral 4-6 dd 12,5-50 mg. Trifluoperazin yang kurang lebih sama
dengan periciazin memiliki antipsikotik agak ringan dan efek
antiadrenergik dan seretonin kuat dengan dosis oral permulaan
5 mg sehari, dinaikkan setiap 2-3 hari dengan 5 mg sampai
maksimal 90 mg (Tjay dkk, 2007)
Perfenazin : bekerja terutama pada reseptor D
2
, efek pada
reseptor 5-HT
2
dan
1
ada tetapi pada reseptor D
1
dapat
dikesampingkan (Katzung, 1998).
b) Derivat-thioxanthen : klorprotixen dan zuklopentixol
Tioxantine mempunyai persamaan struktur cincin tiga
dengan fenotiazine tetapi nitrogen pada posisi sepuluh
disubstitusi dengan atom karbon. Klorprotixin merupakan
tioxantin alifatik potensi rendah dengan profil efek samping
sama dengan khlorpromazine (Amir, 2013).
c) Derivat-butirofenon: haloperidol, bromperidol, pipamperon dan
droperidol.
Butirofenon mempunyai cincin piperidine yang melekat
pada kelompok amino tersier. Haloperidol merupakan
antipsikotik yang termasuk kelompok ini. Haloperidol dan
28
butirofenon lain bersifat D
2
antagonis yang sangat poten. Efek
terhadap sistem otonom dan efek antikolinergiknya sangat
minimal. Haloperidol merupakan piperidine yang paling sering
digunakan (Amir, 2013).
Haloperidol merupakan obat yang digunakan untuk
skizofrenia dan pada berbagai macam gerakan spontan dari
otot kecil yang diperkirakan akibat hiperaktivitas sistem
dopamin di otak. Bromperidol berkhasiat khusus terhadap
halusinasi dan pikiran khayal sedangkan droperidol digunakan
sebagai antipsikotikum pada keadaan gelisah akut dengan
dosis i.m/i.v 5-10 mg (Tjay dkk, 2007)
d) Derivat-butilpiperidin : pimozida, fluspirilen dan penfluridol
Difenilbutil piperidine sama strukturnya dengan
butirofenon (Amir, 2013). Pimozida memiliki khasiat
antipsikotik kuat dan panjang. Efek terapi baru nyata sesudah
beberapa waktu, tetapi bertahan agak lama. Obat ini tidak layak
diberikan pada keadaan eksitasi dan kegelisahan akut, yang
memerlukan sedasi langsung, lagi pula efek sedasinya lebih
ringan dibandingkan obat lain. Pimozida khusus digunakan
pada psikosis kronis jangka panjang (Tjay dkk, 2007).
2. Antipsikotik atypis (sulpirida, klozapin, risperidon, olanzapin dan
quetiapin) bekerja efektif melawan gejala negatif, yang praktis
29
kebal terhadap obat klasik. Lagi pula efek sampingnya lebih
ringan, khususnya gangguan ekstrapiramidal dan dyskinesia tarda.
Klozapin merupakan antipsikotik generasi kedua yang efek
samping ekstrapiramidalnya dapat diabaikan. Dibandingkan dengan
obat-obat generasi pertama, semua antipsikotik generasi II (APG-II)
mempunyai rasio blokade serotonin (5 hidroksitriptamin) (5-HT) tipe
2 (5-HT2) terhadap resptor dopamin tipe 2 (D2) lebih tinggi. Ia lebih
banyak bekerja pada sistem dopamin mesolimbik dari pada striatum
(Amir, 2013).
Klozapin : bekerja dengan menghambat reseptor-D
2
agak
ringan dibandingkan obat-obat klasik (60-75%). Namun efek
antipsikotisnya kuat, yang bisa dianggap paradoksal. Juga
afinitasnya pada reseptor lain dengan efek antihistamin,
antiserotonin, antikolinergis dan antiadrenergis adalah relatif
tinggi. Menurut perkiraan efek baiknya dapat dijelaskan oleh
blokade kuat dari reseptor-D
2
, -D
4
, dan -5HT
2
. Blokade reseptor-
muskarinik dan D
4
diduga mengurangi GEP, sedangkan blokade
5HT
2
meningkatkan sintesa dan pelepasan dopamin di otak. Hal
ini meniadakan sebagian blokade D
2
, tetapi mengurangi risiko
gejala ektrapiramidal (Tjay dkk, 2007).
30
Risperidon merupakan antagonis kuat baik terhadap
serotonin (terutama 5-HT2) dan reseptor D
2
. Risperidon juga
mempunyai afinitas kuat terhadap a
1
dan a
2
tetapi afinitas terhadap
-reseptor dan muskarinik rendah. Walaupun dikatakan ia
merupakan antagonis D
2
kuat, kekuatannya jauh lebih rendah bila
dibandingkan dengan haloperidol. Akibatnya, efek samping
ekstrapiramidalnya lebih rendah bila dibandingkan dengan
haloperidol. Aktivitasnya melawan gejala negatif dikaitkan dengan
aktivitasnya terhadap 5HT2 yang juga tinggi (Amir, 2013).
2.2.3 Efek samping
Menurut Tjay dkk (2007), sejumlah efek samping serius dapat
membatasi penggunaan antipsikotik dan yang paling sering adalah :
1. Gejala ekstrapiramidal (GEP), yang berhubungan dengan daya
antidopaminnya dan bersifat lebih ringan pada senyawa butirofenon,
butilpiperidin dan obat atypis. GEP dapat berbentuk banyak macam,
yaitu sebagai:
a) Parkinsonisme (gejala penyakit Parkinson), yakni hipokinesia
(daya gerak berkurang, berjalan langkah demi langkah) dan
kekauan anggota tubuh, kadang-kadang tremor tangan dan
keluar liur berlebihan. Gejala lainnya rabbit-syndrome (mulut
membuat gerakan mengunyah, mirip kelinci), yang dapat
muncul setelah beberapa minggu atau bulan. Terutama pada
31
dosis tinggi dan lebih jarang pada obat dengan kerja
antikolinergis.
b) Dystonia akut, yakni kontraksi otot-otot muka dan tengkuk,
kepala miring, gangguan menelan, sukar bicara dan kejang
rahang. Guna menghindarkannya dosis harus dinaikkan dengan
perlahan atau diberikan antikolinergika sebagai profilaksis.
c) Akathisia, yakni selalu ingin bergerak, tidak mampu duduk diam
tanpa menggerakan kaki, tangan atau tubuh. Ketiga GEP di atas
dapat dikurangi dengan menurunkan dosis dan dapat diobati
dengan antikolinergika.
d) Dyskinesia tarda, yakni gerakan abnormal tak sengaja,
khususnya otot-otot muka dan mulut (menjulurkan lidah), yang
dapat menjadi permanen.
e) Sindroma neuroleptika maligne berupa demam, kekakuan otot
dan GEP lain, kesadaran menurun dan kelainan-kelainan sistem
saraf otonom (takikardia, berkeringat, fluktasi tekanan darah,
inkontinensi). Gejala ini tak tergantung pada dosis, terutama
terjadi pada pria muda dalam waktu 2 minggu dengan insiden
1%. Diagnosanya sukar, tetapi bila tidak ditangani bisa berakhir
fatal.
2. Galaktorrea (banyak keluar air susu), juga akibat blokade dopamin,
yang identik dengan PIF (Prolactine Inhibiting Factor). Sekresi
32
prolaktin tidak dirintangi lagi, kadarnya meningkat dan produksi air
susu bertambah banyak.
3. Sedasi, yang berhubungan dengan khasiat antihistamin, khusunya
klorpromazin, thioridazin dan klozapin. Efek sampingnya ringan
pada zat-zat difenilbutilamin.
4. Hipotensi ortostatis akibat blokade reseptor
1
-adrenergis, misalnya
klorpromazin, thioridazin dan klozapin.
5. Efek antikolinergis akibat blokade reseptor muskarin, yang
bercirikan antara lain mulut kering, penglihatan guram, obstipasi,
retensi kemih dan takikardia, terutama pada lansia. Efeknya khusus
kuat pada klorpromazin, thioridazin dan klozapin.
6. Efek antiserotonin akibat blokade reseptor-5HT, yang berupa
stimulasi nafsu makan dengan akibat naiknya berat badan dan
hiperglikemia.
7. Gejala penarikan dapat timbul, meskipun obat-obat ini tidak
berdaya adiktif. Bila penggunaannya dihentikan mendadak dapat
terjadi sakit kepala, sukar tidur, mual, muntah, anorexia dan rasa
takut. Efek ini terutama pada obat-obat dengan kerja antikolinergis.
Oleh karena itu penghentiannya selalu perlu secara berangsur.
Efek samping yang irreversible : tardive dyskinesia (gerak,
dimana tidur akan berulang involunter pada lidah, wajah,
mulut/rangka, dan anggota gerak, di mana waktu tidur gejala tersebut
menghilang). Biasanya terjadi pada pemakaian jangka panjang dan
33
pasien lanjut usia. Bila terjadi, obat antipsikosis harus dihentikan
perlahan-lahan, biasa dicoba pemberian obat 2,5 mg/hari Dopamine
Depleting Agent (DDA). Obat pengganti antipsikosis yang paling baik
adalah klozapin 50-100 mg/hari. Pada pemakaian obat jangka panjang
secara periodik harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk
deteksi dini perubahan akibat efek samping obat (Mansjoer dkk,
1999).
Kontraindikasi untuk obat ini adalah penyakit hati, penyakit
darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi, ketergantungan
alkohol dan gangguan kesadaran (Maslim, 1997).
Tabel 2.1 Efek Samping Farmakologik Antipsikosis
Sistem
organ yang
dipengaruhi
Manifestasi Mekanisme
Sistem saraf
otonom
Gangguan penglihatan, mulut
kering, sulit berkemih,
konstipasi
Hipotensi ortostatik,
impotensi, gangguan
ejakulasi
Hambatan reseptor
muskarinik
Hambatan reseptor
adrenergik
Susunan saraf
pusat
Sindrom Parkinson, akatisia
distonia,
Diskinesia tardif
Kejang Toksik
Hambatan reseptor
dopamin
Supersensitivitas
reseptor dopamin
Hambatan reseptor
muskarinik
Sistem
Endokrin
Amenorea, galaktorea,
infertilitas, impotensi
Hambatan reseptor
dopamin yang
menyebabkan
hiperprolaktinemia
Sistem lain Peningkatan berat badan Kemungkinan hambatan
reseptor H1 dan 5-HT2
Sumber: Anonim, 2007
34
Pemilihan antipsikotik sebaiknya mempertimbangkan
tanda-tanda klinis dari penderita, profil khasiat dan efek samping
dari obat-obat yang akan digunakan. Tiap-tiap tahap dapat dilewati
tergantung pada gambaran klinis atau riwayat kegagalan pemberian
antipsikotik.
Episode pertama atau belum
pernah mendapat terapi AGP
sebelumnya
Respon sebagian atau tidak ada
Respon sebagian atau tidak ada Respon sebagian atau tidak ada
Respon sebagian atau
tidak ada
Respon sebagian atau
tidak ada
Tidak ada respon
Gambar 2.3 Algoritma antipsikotik (Dipiro et al, 2011)
Tahap 1
Pemberian AGK tunggal
(ARIPIPRAZOLE, OLANZAPINE, QUETIAPINE,
RISPERIDONE, atau ZIPRASIDONE)
Tahap 2
Pemberian AGK tunggal
(selain AGK yang diberikan pada tahap 1)
Tahap 2A
Pemberian AGP tunggal
(selain AGK yang diberikan pada tahap 1)
Tahap 3
CLOZAPINE
Tahap 4
CLOZAPINE
+
(AGP, AGK atau
Tahap 5
Coba terapa dengan agen tunggal
AGP atau AGK (selain AGK yang
diberikan pada tahap 1,2 atau 2A)
Tahap 6
Terapai kombinasi, yaitu: AGK+AGP,
kombinasi AGK, (AGP atau
AGK)+ECT, (AGP atau AGK+agen
lain (misal mood stabilizer)
AGP, antipsikotik generasi pertama
AGK, antipsikotik generasi kedua
ECT, terapi electrokonvulsif
Nilai dari kegagalan
terapi clozapine tidak
ditentukan
Dilporkan tidak ada
kontrol pada penelitian
dengan penggunaan
terapi kombinasi
jangka panjang untuk
terapi skizofrenia
35
2.3 Penggunaan Obat yang Rasional
Menurut Swandari (2012), penggunaan obat yang rasional merupakan
upaya intervensi untuk mencapai pengobatan yang efektif. Penggunaan obat
dapat diidentifikasi rasionalitasnya dengan menggunakan indikator 8 Tepat
dan 1 Waspada.
1. Tepat Diagnosis
Penggunaan obat harus berdasarkan penegakan diagnosis yang tepat.
Ketepatan diagnosis menjadi langkah awal dalam sebuah proses
pengobatan karena ketepatan pemilihan obat dan indikasi akan tergantung
pada diagnosis penyakit pasien.
2. Tepat indikasi
Pasien diberikan obat dengan indikasi yang benar sesuai diagnosa
dokter. Misalnya pasien skizofrenia hanya akan diberikan obat antipsikotik.
3. Tepat pemilihan obat
Berdasarkan diagnosis yang tepat maka harus dilakukan pemilihan
obat yang tepat. Pemilihan obat yang tepat dapat ditimbang dari ketepatan
kelas terapi dan jenis obat yang sesuai dengan diagnosis. Selain itu, obat
juga harus terbukti manfaat dan keamanannya. Obat juga harus merupakan
jenis yang paling mudah didapatkan. Jenis obat yang akan digunakan
pasien juga seharusnya jumlahnya seminimal mungkin.
36
4. Tepat pasien
Obat yang akan digunakan oleh pasien mempertimbangkan kondisi
individu yang bersangkutan. Riwayat alergi, adanya penyakit penyerta
seperti kelainan ginjal atau kerusakan hati, serta kondisi khusus misalnya
hamil, laktasi, balita, dan lansia harus dipertimbangkan dalam pemilihan
obat.
5. Tepat dosis
Dosis obat yang digunakan harus sesuai range terapi obat tersebut.
Obat mempunyai karakteristik farmakodinamik maupun farmakokinetik
yang akan mempengaruhi kadar obat di dalam darah dan efek terapi obat.
Dosis juga harus disesuaikan dengan kondisi pasien dari segi usia, bobot
badan, maupun kelainan tertentu.
6. Tepat cara dan lama pemberian
Cara pemberian yang tepat harus mempertimbangkan keamanan dan
kondisi pasien. Hal ini juga akan berpengaruh pada bentuk sediaan dan saat
pemberian obat.
Lama pemberian meliputi frekuensi dan lama pemberian yang harus
sesuai karakteristik obat dan penyakit. Frekuensi pemberian akan berkaitan
dengan kadar obat dalam darah yang menghasilkan efek terapi.
37
7. Tepat harga
Penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas atau untuk keadaan yang
sama sekali tidak memerlukan terapi obat merupakan pemborosan dan
sangat membebani pasien, termasuk peresepan obat yang mahal.
8. Tepat informasi
Kejelasan informasi tentang obat yang harus diminum atau digunakan
pasien akan sangat mempengaruhi ketaatan pasien dan keberhasilan
pengobatan.
9. Waspada efek samping
Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek
tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi.
38
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan
penelitian non eksperimental observasional yang dikerjakan secara prospektif dan
hasil penelitian disajikan secara deskriptif.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi
Sulawesi Tengah.
3.2.2 Waktu penelitian
Waktu penelitian berlangsung pada periode Januari-April 2014.
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien skizofrenia yang
menjalani rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014.
39
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien skizofrenia yang
menjalani rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria
eksklusi. Untuk menghitung ukuran minimal sampel dapat diketahui dari
populasi yang diketahui jumlahnya pada tahun 2013 yang kemudian dibagi
dengan 4 sehingga didapatkan jumlah sampel selama 3 bulan. Rumusnya
adalah sebagai berikut:
n =
( )
Keterangan:
N = Besar Populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan, pada penelitian ini
digunakan 0,05.
(Notoatmodjo, 2005)
Telah dilakukan studi pendahuluan dan jumlah populasi yang
diketahui pada tahun 2013 adalah 375.
Maka:
n =
( , )
=
,
= 193,54 194
Sehingga jumlah sampel selama 3 bulan yaitu:
Jumlah sampel minimal = = = 48,5 49
40
1. Kriteria Inklusi
a) Pasien yang terdiagnosis skizofrenia tanpa penyakit penyerta
b) Pasien dengan usia 18 tahun
c) Pasien yang menjalani rawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah
2. Kriteria eksklusi
a) Pasien pulang paksa, lari, pindah rumah sakit, dirujuk ke tempat lain.
b) Pasien yang menjalani rawat inap jiwa di ruangan mangga (observasi),
apel (VIP), dan anggur (skizofrenia dengan penyakit penyerta).
c) Pasien meninggal
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total
sampling. Total sampling adalah teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi.
3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.4.1 Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah rasionalitas penggunaan obat
antipsikotik pada pasien skizofrenia meliputi tepat indikasi, tepat obat,
tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.
41
3.4.2 Definisi Operasional
1. Antipsikotik adalah obat-obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis
tertentu tanpa mempengaruhi fungsi umum seperti berpikir dan
berkelakuan normal.
2. Rasionalitas merupakan upaya intervensi untuk mencapai pengobatan
yang efektif dinilai berdasarkan tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis
dan tepat frekuensi.
3. Jenis kelamin adalah perbedaan antara perempuan dan laki-laki secara
biologis sejak seseorang lahir.
Kategori : a. Laki-laki b. Perempuan
Skala : nominal
4. Usia adalah selisih waktu kelahiran dengan waktu masuk rumah sakit.
Sampel penelitian yang digunakan pasien usia 18 tahun.
Kategori : a. 18-25 tahun c. 46-65 tahun
b. 26-45 tahun d. >65 tahun
Skala : ordinal
5. Lama rawat inap adalah selisih antara waktu masuk rumah sakit dan
waktu pulang.
Kategori : a. < 28 hari
b. > 28 hari
Skala : ordinal
42
6. Tepat indikasi adalah pemberian obat dengan indikasi yang benar
sesuai diagnosa dokter.
Kategori : a. Ya b. Tidak
Skala : nominal
7. Tepat obat adalah pemilihan obat antipsikotik yang tepat dapat
ditimbang dari ketepatan kelas terapi, jenis dan kombinasi obat yang
sesuai dengan diagnosis pada pasien skizofrenia
Kategori : a. Ya b. Tidak
Skala : nominal
8. Tepat pasien adalah kesesuaian pemilihan obat antipsikotik yang
diberikan pada pasien skizofrenia yang tidak kontraindikasi dengan
kondisi pasien seperti riwayat alergi dan kondisi khusus lainnya.
Kategori : a. Ya b. Tidak
Skala : nominal
9. Tepat dosis adalah dosis obat yang digunakan harus sesuai range terapi
obat antipsikotik.
Kategori : a. Ya b. Tidak
Skala : nominal
10. Tepat frekuensi adalah jumlah pemberian obat dalam sehari yang harus
sesuai indikasi obat antipsikotik dan penyakit skizofrenia.
Kategori : a. Ya b. Tidak
Skala : nominal
43
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan 2 cara, yaitu pengumpulan data primer
dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan melakukan observasi dan
wawancara, dimana peneliti terlibat secara langsung dalam mengamati keadaan
pasien. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mencatat isi
rekam medik meliputi :
1. Identitas pasien (nomor rekam medis, nama, tanggal lahir, jenis kelamin, usia,
alamat, suku, status perkawinan, jenjang pendidikan, pekerjaan)
2. Data klinik (gejala, diagnosis, jenis antipsikotik yang digunakan, tanggal
masuk rumah sakit, tanggal keluar rumah sakit, cara keluar)
3. Obat (nama obat, dosis, frekuensi)
3.6 Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
deskriptif kuantitatif (frekuensi) bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian yaitu :
1. Karakteristik pasien skizofrenia
a. Jenis kelamin
b. Usia
c. Suku/etnis
d. Status perkawinan
e. Jenjang pendidikan
f. Pekerjaan
44
2. Karakteristik klinis skizofrenia
a. Gejala
b. Diagnosis
c. Jenis antipsikotik yang digunakan
d. Lama rawat inap
e. Keadaan pulang
3. Rasionalitas penggunaan antipsikotik
a. Tepat indikasi
b. Tepat obat
c. Tepat pasien
d. Tepat dosis
e. Tepat frekuensi
45
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang dilakukan di instalasi rawat inap jiwa RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah selama kurun waktu 3 bulan (Januari-April
2014) diperoleh jumlah pasien sebanyak 74 orang yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi.
a. Karakteristik Pasien
1. Jenis kelamin
Tabel 4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat
inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014
Jenis kelamin Jumlah pasien Persentase (%)
Laki-laki 59 79,7
Perempuan 15 20,3
Total 74 100
2. Usia
Tabel 4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014
Usia (tahun)
Laki-laki
Usia (tahun)
Perempuan
N % N %
18-25 14 23,7 18-25 2 13,3
26-45 39 66,1 26-45 11 67,6
46-65 6 10,2 46-65 2 13,3
>65 0 0 >65 0 0
Total 59 100 Total 15 100
46
3. Suku/etnis
Tabel 4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Suku/etnis Jumlah pasien Persentase (%)
Kaili 22 29,7
Pamona 7 9,5
Mori 2 2,7
Tomini 5 6,8
Bungku 3 4,1
Dampelas 1 1,4
Lainnya 21 28,4
Tanpa Keterangan 12 16,4
Total 74 100
4. Status perkawinan
Tabel 4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Status Perkawinan Jumlah pasien Persentase (%)
Kawin 10 13,5
Tidak/Belum Kawin 53 71,6
Duda/Janda 11 14,9
Total 74 100
5. Jenjang pendidikan
Tabel 4.5 Distribusi jenjang pendidikan pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Jenjang Pendidikan Jumlah pasien Persentase (%)
Tidak Sekolah 10 13,5
SD 21 28,4
SMP 19 25,7
SMA 20 27
Akademi 1 1,4
Sarjana 3 4,1
Total 74 100
47
6. Pekerjaan
Tabel 4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Pekerjaan Jumlah pasien Persentase (%)
PNS 2 2,7
Tani/Nelayan 14 18,9
Wiraswasta 4 5,4
Buruh 1 1,4
Pelajar/Mahasiswa 2 2,7
Tidak Bekerja 51 68,9
Total 74 100
b. Karakteristik klinis skizofrenia
1. Gejala
Tabel 4.7 Distribusi gejala pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014
Gejala Jumlah Persentase (%)
Gejala Positif
Waham 18 16.2
Halusinasi 51 45.9
Inkoherensi 11 9.9
Gejala Negatif
Afek Datar 19 17.1
Alogia 9 8.1
Isolasi sosial 3 2.7
Total 100
2. Tipe-tipe skizofrenia
Tabel 4.8 Distribusi tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014
Diagnosa Jumlah pasien Persentase (%)
Skizofrenia Paranoid 30 40,5
Skizofrenia Hebefrenik 3 4,1
Skizofrenia Tak Terinci 20 27,0
Skizofrenia Residual 4 5,4
Skizofrenia YTT 17 23,0
Total 74 100
YTT: Yang Tak Tergolongkan
48
3. Jenis antipsikotik yang digunakan
Tabel 4.9 Distribusi jenis antipsikotik yang digunakan pasien
skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014
Jenis Antipsikotik Jumlah Persentase (%)
Tipikal
Klorpromazin 37 27,2
Trifluoperazin 10 7,4
Haloperidol 59 43,4
Atipikal
Klozapin 26 19,1
Olanzapin 1 0,7
Risperidon 3 2,2
Total 136 100
4. Lama rawat inap
Tabel 4.10 Distribusi lama rawat inap pasien infeksi saluran kemih
yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Lama Rawat Inap Jumlah pasien Persentase (%)
< 28 hari 22 29,7
> 28 hari 30 40,5
Total 52 70,3
5. Keadaan pulang
Keadaan pulang pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di
RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014
adalah seluruh pasien skizofrenia pulang 52 orang (70,3%) sembuh
parsial dengan tetap berobat jalan dan pasien skizofrenia belum pulang
22 orang (29,7%) masih dirawat inap. Beberapa pasien sudah
memenuhi kriteria pulang tapi masih dirawat inap karena belum
adanya keluarga yang menjemput. Namun, jika jangka waktu yang
cukup lama keluarga tidak datang, pasien diantar kerumahnya oleh
pihak rumah sakit
49
c. Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik
1. Tepat indikasi
Tabel 4.11 Distribusi tepat indikasi pasien skizofrenia yang dirawat
inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014
Tepat Indikasi Jumlah Persentase (%)
Ya 74 100
Tidak 0 0
Total 74 100
2. Tepat obat
Tabel 4.12 Distribusi tepat obat pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Tepat Obat Jumlah Persentase (%)
Ya 123 90,4
Tidak 13 9,6
Total 136 100
3. Tepat pasien
Tabel 4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Tepat Pasien Jumlah Persentase (%)
Ya 65 87,8
Tidak 9 12,2
Total 74 100
4. Tepat dosis
Tabel 4.14 Distribusi tepat dosis pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Tepat Dosis Jumlah Persentase (%)
Ya 111 81,6
Tidak 25 18,4
Total 136 100
50
5. Tepat frekuensi
Tabel 4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pasien
skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014
TFPA Jumlah Persentase (%)
Ya 123 90,4
Tidak 13 9,6
Total 136 100
TFPA : Tepat Frekuensi Pemberian Antipsikotik
4.2 Pembahasan
1. Karakteristik Pasien
a. Jenis kelamin
Gambar 4.1 Distribusi jenis kelamin pasien skizofrenia yang dirawat
inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014
Gambar 4.1 di atas menunjukkan perbedaan distribusi pasien
skizofrenia laki-laki dan perempuan pada hasil penelitian ini cukup
signifikan. Pasien laki berjumlah 59 orang (79,7%), sedangkan pasien
perempuan hanya berjumlah 15 orang (20,3%). Penelitian lain
79.7%
20.3%
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
51
menunjukan yaitu 66,9% pasien laki-laki dan 33,1% pasien perempuan
dari total 142 pasien menderita skizofrenia (Jarut dkk, 2013).
Berdasarkan wawancara peneliti dengan perawat rawat inap pasien
skizofrenia di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah, jenis kelamin
laki-laki penderita skizofrenia adalah yang paling banyak dirawat inap
dibanding dengan perempuan karena laki-laki biasanya memiliki
agresifitas sangat tinggi sehingga sulit ditangani jika hanya dirawat di
rumah, sedangkan agresifitas pada perempuan penderita skizofrenia
masih dapat ditangani oleh keluarga di rumah sehingga cenderung
dirawat di rumah. Prognosis atau perjalanan penyakit pada laki-laki
lebih buruk dibandingkan pada penderita perempuan sehingga cepat
terlihat. Penyebabnya dapat karena faktor genetik, lingkungan atau
pengaruh dari dalam diri sendiri. Hal ini juga sesuai dengan literatur
bahwa laki-laki mempunyai onset skizofrenia lebih awal dari pada
wanita dan mengalami pubertas lebih lambat karena suatu tingkat
kematangan fungsi otak berpengaruh dalam tingkat kerentanan
seseorang dalam jiwanya (Kaplan et al, 1997; Byrne et al, 2003;
Lehman et al, 2004).
52
b. Usia
Gambar 4.2 Distribusi usia pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa
di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Gambar 4.2 di atas menunjukkan distribusi usia pasien
skizofrenia berdasarkan jenis kelamin, usia yang terbanyak pada
pasien berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan adalah yang
berusia antara 26-45 tahun yaitu 66,1% dan 73,3%. Hal ini sesuai
dengan literatur bahwa skizofrenia pada laki-laki biasanya timbul
antara usia 15-25 tahun, sedangkan pada wanita antara 25-35 tahun
(Irmansyah, 2005). Lebih kurang 90% dari pasien skizofrenia dalam
pengobatan berumur antara 15-25 tahun. Hal ini disebabkan pada usia
muda terdapat faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi
perkembangan emosional, sedangkan pada usia tua lebih banyak
23.7%
13.3%
66.1%
73.3%
10.2%
2%
0% 0%
Laki-laki Perempuan
Usia(tahun)
17-25 26-45 45-65 >65
53
dipengaruhi oleh faktor biologik (Kaplan et al, 1997). Oleh karena itu,
skizofrenia yang muncul pada usia muda dapat mengurangi kualitas
hidup penderitanya. Hal ini tidak berarti usia pada penelitian ini
mempengaruhi skizofrenia karena usia pasien diambil ketika pasien
masuk rumah sakit sehingga peneliti tidak mengetahui sejak kapan
sebenarnya pasien mulai menderita skizofrenia.
c. Suku/etnis
Gambar 4.3 Distribusi suku/etnis pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Gambar 4.3 menunjukkan suku terbanyak pasien skizofrenia
adalah suku Kaili yaitu 29,70%. Hal ini disebabkan karena jumlah
responden pada saat penelitian yang paling banyak dirawat inap adalah
suku Kaili. Menurut Anonim (2011) bahwa suku Kaili mendominasi
daerah di Sulawesi Tengah, sehingga kemungkinan penderita
29.70%
9.50%
2.70%
6.80%
4.10%
1.40%
28.40%
16.40%
Suku/etnis
54
skizofrenia bersuku kaili lebih banyak berobat dibandingkan dengan
suku lain. Penelitian Sinaga (2009) di Rumah Sakit Jiwa Mahoni
Medan menunjukkan suku yang terbanyak menderita skizofrenia
adalah suku yang jumlahnya terbanyak di daerah tersebut yaitu suku
Batak (59,07%). Suku lainnya merupakan terbanyak kedua yaitu
28,40%. Suku lainnya merupakan suku yang berasal dari luar Sulawesi
Tengah. Hal ini sesuai dengan Kaplan et al (2010) disebutkan bahwa
para imigran baru memiliki stress lebih besar karena harus beradaptasi
dengan kultur sekitarnya. Namun pada penelitian ini, tidak diketahui
sejak kapan suku lainnya yang berasal dari luar Sulawesi Tengah
tinggal menetap di daerah Sulawesi Tengah dan bukan berarti
menjelaskan bahwa ada keterkaitan faktor suku dengan terjadinya
penyakit skizofrenia.
d. Status perkawinan
Gambar 4.4 Distribusi status perkawinan pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
13.5%
71.6%
14.9%
Status perkawinan
kawin
tidak/belum kawin
duda/junda
55
Gambar 4.4 menunjukkan status perkawinan pasien
skizofrenia yang terbanyak adalah status tidak/belum kawin yaitu
71,6%. Penelitian lain di RSK Alianyang Pontianak menunjukkan
pasien 69,11% belum kawin, jumlah tersebut lebih besar bila
dibandingkan dengan pasien dengan status kawin, janda dan duda
(Sira, 2011). Hal ini sesuai dengan literatur bahwa skizofrenia lebih
banyak dijumpai pada orang yang tidak kawin (Kaplan et al, 2010).
Gangguan jiwa skizofreenia biasanya mulai muncul pada masa remaja
atau belum menikah, sehingga pasien kemungkinan tidak akan
menikah dengan kondisi sakit dan perlu pengobatan karena skizofrenia
bersifat kronis dan dibutuhkan pengobatan sehingga didapatkan
kehidupan sosial pasien dan kemampuannya membangun relasi
dengan baik (misalnya untuk menikah) cenderung terganggu
(David, 2004; Sira, 2011).
e. Jenjang Pendidikan
Gambar 4.5 Distribusi jenjang pendidikan pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
13.50%
28.40%
25.7%
27.7%
1.4%
4.1%
Tidak Sekolah
SD
SMP
SMA
Akademik
Sarjana
Jenjang pendidikan
56
Gambar 4.5 menunjukkan jenjang pendidikan pasien
skizofrenia yang terbanyak yaitu pendidikan SD 28,4%. Jenjang
pendidikan yang terbanyak setelah itu adalah SMA 27,7%. Hal ini
berkaitan dengan onset dari skizofrenia, usia pertama kali terkena
skizofrenia antara 15-25 dan 25-35 tahun (Kaplan et al, 2010). Oleh
karena itu, pada usia tersebut pasien yang terkena skizofrenia tidak
dapat mendapat pendidikan yang lebih tinggi lagi karena kesulitan
untuk mengikuti pendidikan formal.
Berdasarkan latar belakang yang didapatkan dari data
sekunder menunjukkan pasien yang paling banyak adalah yang
berekonomi lemah, sehingga kemungkinan banyak juga pasien yang
tidak melanjutkan pendidikan setelah tingkat sekolah dasar. Oleh
karena itu, dapat dikatakan bahwa tidak hanya karena menderita
skizofrenia, pengaruh lainnya seperti kondisi sosial dan ekonomi juga
dapat menyebabkan pasien tidak bersekolah. Hal ini tidak berarti
bahwa jenjang pendidikan mempengaruhi kasus skizofrenia.
Tingginya pasien skizofrenia dengan jenjang pendidikan Sekolah
Dasar karena responden yang diambil pada pasien skizofrenia yang
dirawat inap di Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi
Tengah pada periode Januari-April 2014 lebih banyak dengan
pendidikan Sekolah Dasar.
57
f. Pekerjaan
Gambar 4.6 Distribusi pekerjaan pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Gambar 4.6 di atas menunjukkan distribusi pekerjaan pasien
yang terbanyak adalah tidak bekerja yaitu 62,2%. Penelitian lain di
RSK Alianyang Pontianak menunjukkan distribusi pasien skizofrenia
yang tidak bekerja adalah yang terbanyak yaitu 85,09% (Sari, 2011).
Selain motivasi diri yang kurang karena adanya gejala negatif yang
mendasarinya, stigmatisasi dan diskriminasi pada penyandang
gangguan jiwa menghalangi mereka untuk berintegrasi ke dalam
masyarakat, karena sering mendapatkan ejekan, serta isolasi sosial dan
ekonomi. Oleh karena itu, faktor ini membatasi hak berpendapat dan
hak memperoleh pekerjaaan (Perkins et al, 2002; Saperstein et al,
2011).
2.7%
25.7%
5.4%
1.4%
2.7%
62.2%
PNS
tani/nelayan
wiraswasta
Buruh
Pelajar/mahasiswa
tidak bekerja
Pekerjaan
58
2. Karakteristik Klinis
a. Gejala
Gambar 4.7 Distribusi gejala pada pasien skizofrenia yang dirawat
inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014
Gambar 4.7 di atas menunjukkan distribusi gejala skizofrenia
yang paling banyak adalah gejala positif (72,3%). Penelitian lain di
RSJ Mahoni Medan tahun 2009 gejala yang paling banyak adalah
gejala positif (63,71%) (Sinaga, 2011). Gangguan skizofrenia ditandai
dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan kacau (inkoherensi),
halusinasi, waham, gangguan kognitif dan persepsi. Gejala-gejala
negatif seperti menurunnya minat dan dorongan, berkurangnya
keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan (alogia), afek yang
datar serta terganggu relasi personal (isolasi sosial). Gejala positif
berarti bertambahnya kemunculan suatu tingkah laku dalam kadar
16.8%
44.5%
10.9%
16.8%
7.6%
3.4%
Gejala Skizofrenia
waham
halusinasi
inkoherensi
afek tumpul
alogia
isolasi sosial
negatif = 27.7% positif = 72.3%
59
yang berlebihan dan menunjukkan penyimpangan dari fungsi psikosis
normal (Arif, 2006). Menurut Hawari (2007) gejala positif skizofrenia
merupakan gambaran gangguan jiwa skizofrenia yang mencolok dan
amat mengganggu lingkungan atau keluarga dan merupakan salah satu
motivasi keluarga untuk membawa penderita berobat.
Halusinasi merupakan gejala positif yang paling banyak
ditemukan di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014 yaitu 44,5%. Menurut Maramis (2004) gangguan jiwa
berat adalah skizofrenia. Dari seluruh pasien skizofrenia, gejala yang
mendominasi adalah halusinasi. Halusinasi yaitu persepsi sensorik
yang salah di mana tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan
dengannya dengan wujud penginderaan yang keliru (Arif, 2006).
Halusinasi juga merupakan salah satu gejala psikotik yang merupakan
kriteria diagnostik skizofrenia sehingga gejala ini mendominasi dari
gejala lainnya.
Afek tumpul merupakan gejala negatif yang banyak
ditemukan di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014 yaitu 16,8%. Afek tumpul atau alam perasaan yang datar
merupakan gambaran alam perasaan yang dapat terlihat dari wajahnya
yang tidak menunjukkan ekspresi (Hawari, 2007).
60
b. Tipe-tipe skizofrenia
Gambar 4.8 Tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April
2014
Menurut Arif (2006), ada beberapa tipe skizofrenia yang
masing-masing memiliki kekhasan tersendiri dalam gejala-gejala yang
diperlihatkan antara lain skizofrenia tipe paranoid, skizofrenia tipe
hebefrenik, skizofrenia tipe katatonik, skizofrenia tipe tak terinci,
skizofrenia tipe residual, depresi pasca skizofrenia, skizofrenia tipe
simpleks, skizofrenia tipe lainnya dan skizofrenia yang tak
tergolongkan. Gambar 4.8 menunjukan tipe skizofrenia terbanyak
adalah tipe paranoid yaitu 39,3%. Penelitian lain di RSK Alianyang
Pontianak tahun 2009 menunjukan tipe paranoid merupakan tipe
terbanyak yang diderita pasien skizofrenia yaitu 79,67% (Sira, 2011).
Menurut Arif (2006) ciri utama skizofrenia tipe paranoid adalah
adanya waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks
39.2%
4.1%
27%
6.8%
23%
paraniod
hebefrenik
tak terinci
residual
Yang Tak Tergolongkan
Tipe skizofrenia
61
terdapatnya fungsi kognitif dan afek yang relatif masih terjaga. Hal ini
sejalan dengan pembahasan sebelumnya yang menyatakan bahwa
gejala halusinasi paling banyak ditemukan yang merupakan salah satu
ciri yang mendominasi tipe paranoid.
c. Jenis antipsikotik
Gambar 4.9 Distribusi jenis antipsikotik pasien skizofrenia rawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Obat antipsikotik (neuroleptik) merupakan terapi utama pada
pasien skizofrenia. Obat ini dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan
mekanisme kerjanya yaitu dopamine reseptor antagonist (DRA) atau
antipsikotik generasi I (APG-I) biasa juga disebut tipikal. dan
serotonin-dopamine antagonist (SDA) atau antipsikotik generasi II
(APG-II) biasa juga disebut atipikal (Amir, 2013). Obat antipsikotik
yang banyak digunakan dalam penatalaksanaan skizofrenia adalah
27.2%
7.4%
43.4%
19.1%
0.7%
2.2%
Jenis antipsikotik
klorpromazin
trifluoperazin
haloperidol
klozapin
olanzapin
risperidon
Tipikal = 78%
Atipikal = 22%
62
DRA karena beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal
dari aktivitas neurotransmiter dopamin yang berlebihan di bagian-
bagian tertentu di otak. Tomografi emisi positron (PET) pada
penderita skizofrenia menunjukkan kepadatan reseptor dopamin di
otak. Availabilitas dopamin atau agonis dopamin yang berlebihan
dapat menimbulkan gejala skizofrenia. Sehingga DRA digunakan
untuk menghambat aktivitas dopamin untuk menurunkan gejala-
gejala skizofrenia tersebut (Arif, 2006; Silbernagl, 2007; Katzung,
2012; Amir, 2013).
Jenis antipsikotik yang banyak digunakan di RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 adalah tipikal
yaitu 78% dan paling sedikit adalah jenis atipikal yaitu 22% (Gambar
4.9). Hal ini sejalan dengan pembahasan sebelumnya karena
antipsikotik tipikal digunakan untuk mengobati gejala positif yang
merupakan gejala yang mendominasi pasien skizofrenia. Penelitian
ini gejala positif mendominasi (72,3%) sehingga penggunaan
antipsikotik tipikal juga paling tinggi (78%).
Antipsikotik tipikal yang banyak digunakan adalah haloperidol
yaitu 43,4% (Gambar 4.9). Haloperidol merupakan antipsikotik yang
bersifat D
2
antagonis yang sangat poten. Efek terhadap sistem otonom
dan efek antikolinergiknya sangat minimal. Efek hipotensifnya sangat
63
rendah dibanding dengan klorpromazin. Haloperidol merupakan
golongan butirofenon yang paling sering digunakan. Haloperidol
berguna untuk menenangkan keadaan mania pasien psikosis. Obat ini
digunakan pada skizofrenia dan berbagai macam gerakan spontan
dari otot kecil yang diperkirakan akibat hiperaktivitas sistem dopamin
di otak. (Anonim, 2007; Tjay dkk, 2007; Amir, 2013).
Klorpromazin merupakan antipsikotik tipikal yang paling
banyak digunakan kedua yaitu 27,2% (Gambar 4.9). Penggunaan
klorpromazin lebih sedikit dibandingkan dengan haloperidol. Selain
memiliki efek samping hipotensi yang tinggi dari pada haloperidol,
klorpromazin juga memiliki efek samping sedatif kuat yang
digunakan terhadap sindrom psikosis dengan gejala gaduh gelisah,
hiperaktif, sulit tidur, kekacauan pikiran, perasaan dan perilaku.
Sedangkan haloperidol yang efek samping sedatif lemah digunakan
terhadap sindrom positif dengan gejala dominan antara lain
halusinasi, waham, apatis, menarik diri, hipoaktif kehilangan minat
dan inisiatif dan perasaan tumpul (Maslim, 2003; Dipiro et al, 2011).
64
d. Lama rawat inap
Gambar 4.10 Distribusi lama rawat inap pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Lama rawat inap pasien < 28 hari 30%, > 28 hari 40%
(Gambar 4.10). Berdasarkan standar pelayanan medik RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah, rawat inap perlu bagi pasien skizofrenia
jika membahayakan diri sendiri atau lingkungannya dan lama
perawatan pasien skizofrenia adalah minimal 4 minggu (28 hari). Hasil
penelitian menunjukkan pasien yang menjalani rawat inap > 28 hari
paling dominan hal ini dikarenakan pengobatan skizofrenia
membutuhkan waktu yang lama. Pengobatan biasanya dimulai dari
terapi inisial dalam waktu 1- 3 minggu, terapi pengawasan selama
lebih kurang 8-10 minggu dan terapi pemeliharan diberikan sampai 2
tahun, bila kronis terapi diberikan 5 tahun bahkan seumur hidup bila
dijumpai riwayat agresifitas berlebih (Amir, 2013). Namun terdapat
30%
40%
30%
Lama rawat inap
< 28 hari
> 28 hari
belum pulang
65
pula 30% pasien yang menjani rawat inap < 28 hari karena menurut
salah satu dokter spesialis jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah pasien boleh berobat jalan jika selama perawatan pasien sudah
memenuhi kriteria pasien pulang yaitu tenang, kooperatif, perawatan
diri cukup, minum obat teratur, makan dan minum teratur.
e. Keadaan pulang
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa semua
pasien yang pulang sembuh parsial sehingga masih perlu berobat jalan.
Hal ini disebabkan karena gejala skizofrenia dapat kambuh apabila
putus obat secara tiba-tiba. Terapi pengobatan skizofrenia juga
membutuhkan waktu yang lama sehingga berobat jalan berguna untuk
meminimalisir pelayanan medis di rumah sakit dan pemulihan dapat
dilakukan sendiri di rumah dengan bantuan keluaga dan mengontrol
kesehatan pasien ke rumah sakit secara rutin.
3. Rasionalitas Penggunaan Antipsikotik
a. Tepat indikasi
Ketepatan indikasi disesuaikan dengan tanda dan gejala yang
dialami oleh pasien. Pemilihan obat mengacu pada penegakkan
diagnosis. Jika diagnosis yang ditegakkan tidak sesuai maka obat yang
digunakan juga tidak akan memberikan efek yang diinginkan.
66
Gambar 4.11 Distribusi tepat indikasi pada pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Hasil penelitian menunjukan semua pasien skizofrenia
mendapatkan terapi antipsikotik. Hal tersebut menunjukkan semua
pasien 100% tepat indikasi (Gambar 4.12). Penelitian lain di RSJ Dr.
RM. Soedjarwadi Propinsi Jawa Tengah Tahun 2009 menunjukan
bahwa 100 % tepat indikasi (Setyaningsih, 2011).
b. Tepat obat
Pemilihan antipsikotik sebaiknya mempertimbangkan tanda-
tanda klinis dari pasien, profil khasiat dan efek samping dari obat-obat
yang digunakan.
100%
Tepat Indikasi
Ya
Tidak
67
Gambar 4.12 Distribusi tepat obat pada pasien skizofrenia yang
dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah periode Januari-April 2014
Hasil penelitian menunjukkan pemilihan jenis, golongan dan
kombinasi antipsikotik pada pasien skizofrenia yang tepat obat sebesar
90,4% dan yang tidak tepat obat sebesar 9,6% dari 136 antipsikotik
(Gambar 4.12). Penelitian lain di RSJ Dr. RM. Soedjarwadi Propinsi
Jawa Tengah Tahun 2009 menunjukan bahwa 93,39% tepat obat dan
7,61% tidak tepat obat (Setyaningsih, 2011).
Pasien yang mendapat episode pertama atau belum pernah
mendapat terapi dengan APG-I sebelumnya dapat dibedakan menjadi
enam tahap. Tiap-tiap tahap dapat dilewati tergantung pada
gambaran klinis atau riwayat kegagalan pemberian antipsikotik.
Pertama, pemberian APG-II tunggal yaitu aripriprazol, olanzapin,
quetiapin, risperidon atau ziprasidon. Kedua, pemberian APG-II
tunggal selain yang diberikan pada tahap pertama. Jika respon
90.4%
9.6%
Tepat Obat
Ya
Tidak
68
sebagian atau tidak ada dapat diberikan APG-I atau APG-II tunggal
selain APG-II pada langkah pertama dan kedua atau langsung ke
tahap tiga yaitu pemberian klozapin. Keempat, diberikan klozapin
dengan APG-I, APG-II atau langsung ke tahap lima yaitu dengan
mencoba terapi dengan agen tunggal APG-I atau APG-II selain yang
diberikan pada tahap satu dan dua. Tahap enam merupakan tahap
terakhir yaitu terapi kombinasi APG-II dengan APG-I, kombinasi
APG-I atau APG-II dengan terapi elektrokonvulsif (ECT), kombinasi
APG-I atau APG-II dengan agen lain misalnya mood stabilizer.
Algoritma pemberian antipsikotik pada pasien dengan riwayat
penggunaan antipsikotik atau mendapat episode kedua dan seterusnya
sama seperti pemberian antispikotik pada pasien dengan episode
pertama. Namun pada tahap terakhir, jika tidak ada respon atau
menolak pemberian klozapin dapat diberikan kombinasi tipikal
(Dipiro et al, 2011).
Penelitian pada 136 antipsikotik terdapat yang tidak tepat obat
sebesar 9,6%. Hal ini terjadi karena pasien dengan episode pertama
diberi APG-I yaitu masing-masing diberi haloperidol, trifluoperazin
dan kombinasi haloperidol dengan klorpromazin sebanyak 3 pasien.
Hal ini tidak sesuai dengan algoritma pengobatan dimana firstline
pada pengobatan episode pertama adalah APG-II. Selain itu, pasien
69
yang kesekian kalinya masuk rumah sakit dengan gejala positif dan
negatif tetapi hanya diberikan terapi trifluoperazin sebanyak 1 pasien.
Trifluoperazin merupakan APG-I yang hanya efektif terhadap gejala
positif. Penggunaan kombinasi klorpromazin dengan trifluoperazin
pada 4 pasien juga dianggap tidak tepat. Pemberian kombinasi ini
dianggap polifarmasi karena keduanya merupakan golongan
fenotiazin. Pemberian obat antipsikotik dalam satu golongan
umumnya memiliki efek yang sama misalnya pada potensi
antipsikotiknya, efek sampingnya seperti efek sedatif, efek
ekstrapiramidal dan efek hipotensif. Kombinasi tersebut selain tidak
memberikan keuntungan justru akan meningkatkan risiko efek
samping yang dapat membahayakan pasien.
Klorpromazin dan trifluoperazin adalah golongan fenotiazin.
Klorpromazin bekerja dengan menghambat dopamin, muskarinik, 1-
adrenergik dan reseptor histamin yang dapat menyebabkan efek
samping seperti mulut kering, konstipasi, sinus takikardia dan
hipotensi ortostatik. Obat ini memiliki efek sedasi dan berguna untuk
pasien beringas (violent) tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran.
Trifluoperazin memiliki efek otonom dan antikolinergik lebih rendah
tetapi memiliki afinitas terhadap D
2
sehingga efek samping
ekstrapiramidalnya lebih tinggi. Klorpromazin dan trifluoperazin
sama-sama berguna mengobati skizofrenia dan psikosis lain, mania,
70
terapi tambahan jangka pendek pada ansietas berat, agitasi psikomotor,
eksitasi dan perilaku kekerasan, impuls yang berbahaya, antiemetik
dan penggunaan prabedah (ISFI, 2008; Anonim, 2008; Amir, 2013).
Klozapin, olanzapin dan risperidon merupakan APG-II yang
selain berafinitas terhadap reseptor dopamin D
2
, juga terhadap reseptor
serotonin 5-HT2 sehingga efektif terhadap gejala positif maupun
gejala negatif. Klozapin afinitasnya terhadap dopamin D
2
rendah
sedangkan terhadap 5-HT2 tinggi. Klozapin berguna untuk skizofrenia
pada pasien yang tidak bereaksi atau intoleran terhadap obat-obat
APG-I. Olanzapin secara spesifik memblok 5-HT2 dan reseptor
dopamin D
2
. Bila dibandingkan dengan klozapin, olanzapin memblok
dopamin D
2
lebih besar, sehingga dosis tinggi dapat meningkatkan
kadar prolaktin dan efek samping ekstrapiramidal. Olanzapin berguna
untuk skizofrenia, kombinasi terapi mania dan mencegah kambuhnya
kelainan bipolar. Risperidon merupakan antagonis kuat baik terhadap
serotonin (5-HT2) dan reseptor dopamin D
2
. Walaupun dikatakan
antagonis dopamin D
2
kuat, kekuatannya jauh lebih rendah bila
dibandingkan dengan haloperidol. Akibatnya, efek samping
ekstrapiramidalnya lebih rendah bila dibandingkan dengan
haloperidol. Aktivitasnya melawan gejala negatif dikaitkan dengan
aktivitasnya terhadap 5-HT2 yang juga tinggi. Risperidon
71
diindikasikan untuk pengobatan skizofrenia akut dan kronik (Maslim,
2003; Dipiro et al, 2011; Amir, 2013).
Pemilihan obat antipsikotik dipengaruhi oleh tingkat sedasi
yang diinginkan dan kerentanan pasien terhadap efek samping
ekstrapiramidal. Bagaimanapun perbedaan antara obat antipsikotik
merupakan hal yang tidak begitu penting dibanding respon pasien
terhadap obat. Selain medikasi antipsikotik dari pengobatan
skizofrenia, intervensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis
seperti dukungan keluarga dan terapi spiritual.
c. Tepat pasien
Gambar 4.13 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap
jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode
Januari-April 2014
Gambar 4.13 menunjukan distribusi tepat pasien skizofrenia
yang mendapat terapi antipsikotik didapatkan hasil tepat pasien
87.8%
12.2%
Tepat Pasien
Ya
Tidak
72
sebesar 87,7% dan tidak tepat sebesar 12,2%. Tepat pasien jika
penggunaan obat antipsikotik sesuai dengan kondisi fisiologi dan
patofisiologi pasien atau tidak adanya kontraindikasi dengan pasien
dan tidak terdapat riwayat alergi.
Tabel 4.16 Kontraindikasi Obat Antipsikotik (Anonim, 2008)
Nama Obat Kontraindikasi
Haloperidol,
Klorpromazin,
Trifluoperazin
Koma karena depresan SSP, depresi sumsum
tulang, hindari pada feokromositoma, gangguan
hati dan ginjal berat
Klozapin,
Risperidon,
Olanzapin
Kelainan jantung berat, penyakit hati aktif,
kerusakan ginjal berat, riwayat neutropenia atau
agranulositosis, kelainan sumsumng tulang,
ileus paralitik, psikosis alkoholik dan psikosis
toksik, riwayat kolaps sirkulasi, keracunan
obat, epilepsi tidak terkontrol, kehamilan dan
menyusui.
Hasil penelitian didapatkan 12,2% pasien tidak tepat pasien,
karena 1 pasien yang mempunyai riwayat alkoholik diberikan terapi
klozapin yang kontraindikasi dengan riwayat tersebut. Selain itu,
tidak ditemukannya lagi riwayat penyakit lain pada semua pasien yang
diteliti. Menurut salah satu dokter di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah jika ditemukan riwayat dan penyakit fisik yang berat pasien di
tempatkan di ruang tersendiri yang merupakan tempat rawat inap
pasien skizofrenia dengan gangguan lainnya. Sehingga mempermudah
dokter untuk lebih berhati-hati dalam memberikan terapi antipsikotik.
73
Sebelum pasien dirawat di RSD Madani Provinsi Sulawesi
Tengah, biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu.
Namun, di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah hanya sebagian
pasien yang melakukan pemeriksaan laboratorium. Menurut Maharani
(2004) pada prinsipnya obat antipsikotik cukup aman. Sehingga pada
situasi gawat darurat dapat diberikan obat kecuali klozapin, tanpa
melakukan pemeriksaan fisik atau laboratorium pada diri pasien.
Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah pemeriksaan
laboratorium yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan hematologi
dan kimia darah. Pemeriksaan hematologi yang biasa dilakukan adalah
pemeriksaan hemoglobin (Hb), leukosit, laju endap darah (LED),
hematokrit dan trombosit. Sedangkan pemeriksaan kimia darah yang
dilakukan berupa gula darah sewaktu, kolesterol total, trigliserida,
asam urat, kreatinin, urea, SGOT dan SGPT.
Pemeriksaan laboratorium tersebut dilakukan pada pasien
skizofrenia terkait untuk melihat ada tidaknya penyakit penyerta dan
keadaan normal organ-organ tubuh khususnya hati dan ginjal. Hati dan
ginjal merupakan jalur metabolisme utama sebagian besar obat
antipsikotik (ISFI, 2008), sehingga apa bila terjadi kelainan pada
organ tersebut, proses pengobatan dengan antipsikotik dapat
disesuaikan.
74
d. Tepat Dosis
Gambar 4.14 Distribusi tepat dosis antipsikotik pada pasien
skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014
Gambar 4.14 menunjukan distribusi tepat dosis antipsikotik
pada pasien skizofrenia, dari hasil penelitian didapatkan tepat dosis
sebesar 81,6% dan tidak tepat sebesar 18,4% dari 136 antipsikotik.
Tepat dosis adalah dosis yang berada dalam area terapi obat
antipsikotik dan kesesuaian dosis tersebut berdasarkan kondisi pasien
khususnya pasien lanjut usia. Hasil penelitian ini diperoleh dosis yang
tidak tepat diberikan pada pasien lanjut usia karena dosis awal yang
diberikan sama dengan dosis untuk pasien dewasa. Pemberian dosis
obat antipsikotik pada pasien lanjut usia setengah dosis dewasa
(Anonim, 2008). Pasien usia lanjut membutuhkan dosis antipsikotik
lebih rendah karena beberapa alasan antara lain penurunan klirens
81.6%
18.4%
Tepat Dosis
Ya
Tidak
75
ginjal, penurunan cardiac output, penurunan fungsi liver, penurunan
P450 dan lebih sensitif untuk gejala ekstrapiramidal (Amir, 2013).
Penggunaan obat antipsikotik pada pasien geriatri memerlukan
perhatian khusus. Hal tersebut dikarenakan banyak hal-hal tertentu
yang sangat mempengaruhi pemberian antipsikotik kepada pasien
geriatri. Diantaranya adalah kondisi medis umum pasien, efek samping
yang mungkin timbul dan farmakodinamik serta farmakokinetik dari
obat yang digunakan (Andri, 2009).
Menurut Maharani (2004) dosis obat antipsikotik pada pasien
skizofrenia dimulai dengan dosis yang rendah lalu perlahan-lahan
dinaikkan, dapat juga langsung diberi dosis tinggi tergantung pada
keadaan pasien dan kemungkinan terjadi efek samping. Pada pasien
yang dirawat di rumah sakit boleh diberikan dosis tinggi karena
pengawasannya lebih baik (Maramis, 2004).
Apabila dosis kurang dari dosis terapeutiknya kemungkinan
efek yang diinginkan tidak muncul. Pada pengobatan skizofrenia jika
efek yang diinginkan tidak muncul maka gejala-gejala tidak dapat
ditekan sehingga pengobatan akan percuma karena tujuan dan sasaran
terapi tidak akan tercapai. Apabila terjadi pemberian dosis antipsikotik
berlebih, pada penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan
76
kerusakan pada organ hati dan ginjal serta menambah risiko efek
samping obat (Maharani, 2004).
e. Tepat Frekuensi
Gambar 4.15 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pada
pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD
Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-
April 2014
Gambar 4.15 menunjukan distribusi ketepatan frekuensi
pemberian antipsikotik pada pasien skizofrenia, dari hasil penelitian
didapatkan tepat frekuensi pemberian antipsikotik sebesar 90,4% dan
tidak tepat sebesar 9,6% dari 136 antipsikotik. Penentuan frekuensi
pemberian obat dengan fungsi organ normal dapat ditentukan dengan
melihat nilai waktu paruh (t
1
2
) obat. Waktu paruh haloperidol 12 jam,
sehingga cukup diberikan 2 kali sehari. Klorpromazin dapat diberikan
dosis awal 30-75 mg 3 kali sehari namun untuk dosis pemeliharaan
diberikan 100 mg 2 kali sehari. Klozapin hanya tersedia dalam bentuk
90.4%
9.6%
Tepat Frekuensi
Ya
Tidak
77
preparat oral, konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 2 jam
pemberian oral. Waktu paruh eliminasi adalah 12 jam (antara 10-16
jam). Sehingga klozapin cukup diberikan 2 kali sehari agar dapat
mempertahankan kadar obat dalam plasma. Kadar puncak plasma
dicapai 5 jam pemberian olanzapin. Waktu paruh 31 jam (rata-rata 21-
24 jam) dengan satu kali dosis (Dipiro et al, 2011; Amir, 2013).
Antipsikotik sering diberikan dalam dosis harian yang terbagi
dan titrasi hingga mencapai dosis efektif. Jika dosis harian efektif
pasien telah diketahui, obat dapat diberikan tidak terlalu sering. Dosis
sekali sehari, biasanya pada malam hari, dapat bermanfaat bagi
kebanyakan pasien selama menjalani terapi rumatan jangka panjang.
Penyederhanaan jadwal dosis akan meningkatkan kepatuhan pasien.
Kebanyakan antipsikotik sangat larut lemak dan terikat protein
(klorpromazin 92-97%; haloperidol 90%). Antipsikotik merupakan
lipofilik sehingga terkumpul dalam kompartenen lipid tubuh dan
afinitasnya terhadap beberapa reseptor neurotransmiter disusunan saraf
pusat sangat tinggi, durasi kerja klinisnya lebih lama dari yang
diperkirakan berdasarkan waktu paruh plasmanya. Oleh karena itu,
reseptor dopamin D
2
di otak pun lebih lama ditempati. Metabolit
klorpromazin diekskresikan dalam urin berminggu-minggu sesudah
dosis terakhir pemberian klorpromazin menahun. Serupa dengan hal
ini, relaps sempurna mungkin tidak akan tercapai sebelum 6 minggu
78
atau lebih pasca pemutusan sebagian antipsikotik (Solimando, 2003;
Katzung, 2012).
Frekuensi pemberian obat merupakan penentu dalam
memaksimalkan proses terapi obat, karena menentukan efek biologis
suatu obat seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas
(total obat yang dapat diserap), cepat atau lambatnya obat mulai
bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of action),
intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis
yang tepat untuk memberikan respons tertentu.
77
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi
Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 diteliti dengan melihat kerasionalan
pemberian antipsikotik terhadapnya. Penggunaan antipsikotik pada pasien
skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
periode Januari-April 2014 belum dapat dikatakan rasional, karena kriteria
pengobatan rasional meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis
dan tepat frekuensi belum tepat 100%. Hasil rasionalitas pengobatan adalah
sebagai berikut : tepat indikasi 100%; tepat obat 90,4%; tepat pasien 87,8%;
tepat dosis 81,6%; dan tepat frekuensi pemberian antipsikotik 90,4%.
5.2 Saran
a. Bagi institusi rumah sakit
Diharapkan untuk dapat lebih meningkatkan pelayanan dan
ketepatan terapi antipsikotik secara rasional terhadap pasien skizofrenia dan
merevisi standar pelayanan medik rumah sakit yang lebih lebih up to date
karena dampaknya yang luas dan berjangka waktu lama, baik terhadap
kualitas hidup atau beban bagi pasien, keluarga dan masyarakat.
80
b. Bagi klinisi
Diharapkan untuk dokter dapat memperhatikan dan mengevaluasi
terapi antipsikotik yang diberikan pada pasien skizofrenia khususnya pasien
lansia sesuai dengan standar. Untuk perawat diharapkan melengkapi status
pasien khususnya bobot badan pasien karena bobot badan dapat
mempengaruhi ketepatan pengobatan.
c. Bagi peneliti lain
Perlu diadakan penelitian lebih lanjut penggunaan antipsikotik pada
pasien skizofrenia rawat inap yang berada di ruang observasi dan di ruang
gangguan skizofrenia dengan penyakit penyerta agar dapat diketahui
kerasionalitas kepada seluruh pasien.
81
DAFTAR PUSTAKA
Ade, S., 2012, Buku Pedoman Bagi Pendamping:Pendamping Keluarga dengan
Anggotanya Mengalami Gangguan Jiwa, Departemen Keperawatan Jiwa,
Yogyakarta.
Agus, D., 2005, Difungsi Kognitif pada Skizofrenia. Majalah Psikiatri, Jakarta.
Amir, N., 2013, Buku Ajar Psikiatri: Skizofrenia. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Andri., 2009, Tatalaksana Psikofarmaka dalam Manajemen Gejala Psikosis
Penderita Usia Lanjut. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta.
Anonim., 2007, Farmakologi dan Terapi, Departemen Farmakologi dan Terapeutik
FKUI, Jakarta
_______., 2011, http://sultengprov.go.id/profil-sulteng/sekilas-sulteng/65-tentang-
propinsi-sulawesi-tengah (diakses 3 April 2014)
_______., 2011, http://www.who.int/mental_health/management/schizophrenia/en/
(diakses 8 Desember 2013).
Arif, I. M., 2006, Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien, Penerbit Refika
Aditama, Bandung.
BPOM RI., 2008, IONI: Informatorium Obat Nasional Indonesia. Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Byrne, M., Agerbo, E., Ewald, H., Eaton, W.W., Mortensen., P.B., 2003, Parental
Age and Risk of Schizophrenia. Arch Gen Psychiatry
David, A., 2004, Buku Saku Psikiatri. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Dipiro, J.T., Wells, B.G., Schwinghammer, T.L., Dipiro, C.V., 2009,
Pharmacotherapy Handbook, Seventh Edition, 799-813, McGraw-Hill
Medical, New York.
82
Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M., 2011,
Pharmacotheraphy A Pathophysiologic Approach 8th, McGraw-Hill
Medical, New York.
First, M.B., Tasman, A., 2004, DSM-IV-TR Mental Disorders Diagnosis.
Schizophrenia: Etiology and Treatment (640-700). Wiley, London.
Hawaris, D., 2007, Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia, Edisi 2,
Balai Penerbitan, Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia., 2008, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan,
Jakarta.
Irmansyah, M., 2005, Skizofrenia Bisa Mengenai Siapa Saja. Majalah Kesehatan
Jiwa No. 3, Jakarta.
Irwan M., Fajriansyah A., Sinuhadji B., Indrayana M. 2008, Penatalaksanaan
Skizofrenia. Fakultas Kedokteran Riau, Riau.
Jarut, M.Y., Fatimawali., Wiyono, W.I., 2013, Tinjauan Penggunaan Antipsikotik
pada Pengobatan Skizofrenia di Rumah Sakit Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang
Manado Periode Januari 2013-Maret 2013, Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT
Vol. 2 No. 03, Manado.
Kaplan, H.I., Sadock B.J., 1997, Sinopsis psikiatri Edisi ke-7, Terjemahan. Binarupa
Aksara, Jakarta.
_____________________., 2010, Sinopsis psikiatri Jilid 1. Binarupa Aksara, Jakarta.
Katzung, B., 1998, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 1, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakrata.
__________., 2012, Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi 10, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakrata.
Lehman, A.F., Lieberman, A.F., Dixon, L.B., 2004, Practice Guideline for The
Treatment of Patients with Schizophrenia (2
nd
ed).. American Psychiatric
Association, Arlington.
Maharani, F.R.L., 2004, Kajian Penggunaan Obat Antipsikosis pada Pasien
Skizofrenia di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Grhasia Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Periode Januari-Desember 2003. Skripsi. Fakultas
Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
83
Mansjoer A., Triyani K., Savitri R., Wardhani W.I., Setiowulan W., 1999, Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Asculapius, Jakarta.
Maramis, W.F., 2004, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press,
Surabaya.
Maslim, R., 1997, Diagnosis Gangguan Jiwa, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK
Unika Atma Jaya, Jakarta.
_________., 2003, Panduan Praktis Penggunaan Klinis dan Kebijakan Obat
Psikotropik (Psychotropic Medication), Edisi 3. Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
Notoatmodjo, S., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta, Jakarta.
PDSKJI., 2012, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Jiwa/Psikiatri.
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter/Spesialis Kedokteran Jiwa.
Perkins, R., Rinaldhi, M., 2002, Unemployment rates among patients with long-term
mental health problems. Psychiatric bulletin.
Riset Kesehatan Dasar., 2008, Laporan Nasional 2007. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Depertemen Kesehatan Republik Indonesia.
Saha, S., Chant, D., Welham, J., McGrath., 2005, A Systematic Review of the
Prevalence of Schizophrenia. PloS Med 2(5): e141.
Santoso., Wiria., 1995, Psikotropik, Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Saperstein, A.M., Fiszdon J.M., Bell, M.D., 2011, Intrinsic motivation as a predictor
of work outcome after vocational rehabilitation in schizophrenia J Nerv
Ment Dis:199:672
Setyaningsih, T., 2011, Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Skizofrenia di
Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM Soedjarwadi
Povinsi Jawa Tengah Tahun 2009. Skripsi, Universitas Muhammadiyah
Surakarta, Surakarta.
Silbernagl, S., 2007, Teks & Atlas Berwarna: Patofisiologi, Fakultas Kedokteran
EGC, Jakarta
84
Sinaga, B.R., 2007, Skizofrenia dan Diagnosis Banding. Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Sinaga, Y.M., 2011, Karakteristik Penderita Skizofrenia yang Dirawat Inap di
Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. Skripsi. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sira, I., 2011, Karakteristik Skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Alianyang Pontianak
Periode 1 Januari 31 Desember 2009. Naskah Publikasi Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura,
Pontianak.
Solimando, D.A., 2003, Drug Information Handbook for Oncology featuring A
Complete Guide to Combination Chemotherapy Regimens 3
rd
Edition. Lexi-
Comp, Inc
Sugiyono., 2007, Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.
Swandari, S., 2012, Penggunaan Obat Rasional (POR) Melalui 8 Tepat dan 1
Waspada, Balai Besar Pelatihan Kesehatan, Jakarta.
Tjay H,T., Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting, Edisi 6, Departemen Kesehatan
RI, PT Gramedia, Jakarta.
Yusuf., Prodjosudjadi., 2001, Hematologi: Ilmu Penyakit Dalam Edisi III. Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
85
LAMPIRAN
86
LAMPIRAN 1
Data Pasien Skizofrenia Rawat Inap Jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014
No no RM JK
U
(th)
Diagnosis G
LRI
(H)
KP Terapi Rute
Ds
(mg)
F (x dd)
Rasionalitas
TI TO TP TD TF
1 000081 P 15
Skizofrenia
paranoid
1, 2,4 36 SP
Klozapin PO 25 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 25 2 Y Y Y
2 000006 P 48
Skizofrenia
paranoid
2 35 SP
Haloperidol PO 5 3
Y
Y
Y
T Y
Klozapin PO 50 2 Y T Y
3 015247 P 28
Skizofrenia
paranoid
2 26
SP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
4 012992 P 28
Skizofrenia
YTT
2 43 SP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
5 017726 P 32
Skizofrenia
YTT
2 44 SP
Triflupperazin PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 25 2 Y Y Y
6 012165 P 37
Skizofrenia
paranoid
2 35 SP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
7
030206
(PB)
P 31
Skizofrenia
paranoid
1 23 SP
Klozapin PO 50 1
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
8 030089 P 45
Skizofrenia
residual
2, 4 34 SP Trifluoperazin PO 2.5 2 Y T T T T
9 025801 P 17
Skizofrenia
tak terinci
3,4 17 SP
Klorpromazin PO 100 2
Y
T
T
T T
Trifluoperazin PO 5 2 T T T
10 006730 P 34
Skizofrenia
Hebefrenik
2,4 34 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
11 010527 L 35
Skizofrenia
tak terinci
4,5 16 SP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
12 000498 L 30
Skizofrenia
Hibefrenik
3,6 10 SP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan
Pulang, SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat
Pasien, TD: Tepat Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.
87
No no RM JK
U
(th)
Diagnosis G
LRI
(H)
KP Terapi Rute
Ds
(g)
F (x dd)
Rasionalitas
TI TO TP TD TF
13 029541 L 21
Skizofrenia
tak terinci
4 62 SP
Haloperidol PO 2.5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 50 2 Y Y Y
14
030018
(PB)
L 37
Skizofrenia
YTT
2 33 SP Klozapin PO 50 2 Y Y Y Y Y
15 025151 L 31
Skizofrenia
paranoid
1 11 SP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
16 000117 L 30
Skizofrenia
paranoid
1,2 12 SP
Haloperidol PO 2.5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
17 022665 L 28
Skizofrenia
paranoid
1,2 47 SP
Klorpromazin PO 100 3
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
18 022316 L 34
Skizofrenia
tak terinci
4 61 SP
Klozapin PO 25 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
19 000309 L 12
Skizofrenia
paranoid
2 12 SP
Haloperidol PO 5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
20 019692 L 28
Skizofrenia
YTT
3 34 SP
Klozapin PO 50 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 3 Y Y Y
21 019692 L 27
Skizofrenia
paranoid
1,2,6 13 SP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
22 023556 L 19
Skizofrenia
paranoid
2,3,4 67 SP
Klozapin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
23 000210 L 34
Skizofrenia
tak terinci
1,2 31 SP
Klozapin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
24 029672 L 48
Skizofrenia
YTT
2 12 SP
Klorpromazin PO 100 1
Y
Y
Y
T Y
Haloperidol PO 5 2 Y T Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.
88
No no RM JK
U
(th)
Diagnosis G
LRI
(H)
KP Terapi Rute
Ds
(mg)
F (x dd)
Rasionalitas
TI TO TP TD TF
25
021450 L 24
Skizofrenia
YTT
2 9 SP
Klorpromazin PO 100 1
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
26
029642 L 28
Skizofrenia
YTT
2,3 18 SP
Klorpromazin PO 5 3
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 100 2 Y Y Y
27
000290 L 39
Skizofrenia
paranoid
2,5 19 SP
Risperidon PO 2 2
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 25 2 Y Y Y
28
029785 L 25
Skizofreni
paranoid
1,3 12 SP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
29 030620
(PB)
L 42
Skizofrenia
paranoid
1 7 SP
Haloperidol PO 5 2
Y
T
T
T T
Klorpromazin PO 100 2 T T T
30 028521
(PB)
L 26
Skizofrenia
tak terinci
4 95 SP Haloperidol PO 2.5 2 Y T T T T
31
026810 L 29
Skizofrenia
tak terinci
2,3,5 7 SP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
32
022747 L 18
Skizofrenia
YTT
2 19 SP
Klozapin PO 50 2
Y
Y
T
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
33
027748 L 27
Skizofrenia
tak terinci
2 127 SP Haloperidol PO 2.5 2 Y Y Y Y Y
34
028430 L 33
Skizofrenia
paranoid
2 101 SP Haloperidol PO 5 2 Y Y Y Y Y
35
010035 L 52
Skizofrenia
paranoid
2 35 SP
Klozapin PO 25 1
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 3 Y Y Y
36
006168 L 27
Skizofrenia
paranoid
2 27 SP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.
89
No no RM JK
U
(th)
Diagnosis G
LRI
(H)
KP Terapi Rute
Ds
(mg)
F (x dd)
Rasionalitas
TI TO TP TD TF
37
018191 L 20
Skizofrenia
tak terinci
6 106 SP Risperidon PO 2 2 Y Y Y Y Y
38
000476 L 40
Skizofrenia
residual
3 44 SP
Klorpromazin PO 100 1
Y
T
T
T T
Trifluoperazin PO 5 2 T T T
39
019160 L 34
Skizofrenia
paranoid
2,5 19 SP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
40
029779 L 56
Skizofrenia
YTT
2 43 SP
Klozapin PO 25 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y T Y
41
010100 L 63
Skizofrenia
YTT
4 23 SP
Haloperidol PO 5 1
Y
Y
Y
T Y
Klozapin PO 50 2 Y T Y
42
005229 P 49
Skizofrenia
tak terinci
2 60 SP
Trifluoperazin PO 5 3
Y
Y
Y
T Y
Klozapin PO 25 2 Y Y Y
43
030386 P 45
Skizofrenia
tak terinci
1,2,3 29 SP
Trifluoperazin PO 5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 25 2 Y Y Y
44
007770 P 28
Skizofrenia
tak terinci
2,5 - BP
Klorpromazin PO 100 1
Y
T
T
T T
trifluoperazin PO 5 2 T T T
45
000177 P 37
Skizofrenia
residual
2,4 - BP
Haloperidol PO 5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 50 2 Y Y Y
46 028440
(PB)
P 25
Skizofrenia
tak terinci
2,4 - BP Risperidon PO 2 2 Y Y Y Y Y
47
020100 L 49
Skizofrenia
paranoid
1,2 13 SP
Klorpromazin PO 100 1
Y
Y
Y
T Y
Haloperidol PO 5 2 Y T Y
48
000503 L 23
Skizofrenia
tak terinci
4 - BP
Haloperidol PO 2.5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.
90
No no RM JK
U
(th)
Diagnosis G
LRI
(H)
KP Terapi Rute
Ds
(mg)
F (x dd)
Rasionalitas
TI TO TP TD TF
49 030658
(PB)
L 41
Skizofrenia
paranoid
1,2,4,6 - BP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 50 1 Y Y Y
50
030383 L 34
Skizofrenia
residual
2 - BP
Haloperidol PO 5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
51
019160 L 26
Skizofrenia
tak terinci
4 - BP Klozapin
PO
50 2 Y Y Y Y Y
52
023678 L 28
Skizofrenia
YTT
2 19 SP
Klozapin PO 50 1
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
53
024154 L 19
Skizofrenia
paranoid
1,2 11 SP
Klozapin PO 50 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
54
027189 L 34
Skizofrenia
YTT
2,4 11 SP
Klorpromazin PO 100 3
Y
T
T
T T
Trifuoperazin PO 5 2 T T T
55
000402 L 26
Skizofrenia
paranoid
2,4 - BP
Haloperidol PO 5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 50 1 Y Y Y
56
025785 L 28
Skizofrenia
residual
2,4 136 SP
Haloperidol PO 2.5 2
Y
Y
Y
Y Y
klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
57
003916 L 35
Skizofrenia
paranoid
1,5 - BP
Haloperidol PO 2 3
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
58
001397 L 41
Skizofrenia
YTT
2 - BP
Haloperidol PO 5 1
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
59
012019 L 29
Skizofrenia
tak terinci
2 - BP
Klorpromazin PO 100 1
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
60
001157 L 28
Skizofrenia
tak terinci
2 - BP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.
91
No no RM JK
U
(th)
Diagnosis G
LRI
(H)
KP Terapi Rute
Ds
(mg)
F (x dd)
Rasionalitas
TI TO TP TD TF
61 030384
(PB)
L 24
Skizofrenia
YTT
2,5 - BP Trifluoperazin PO 5 2 Y T T T T
62
028395 L 32
Skizofrenia
paranoid
1,3 - BP
Klorpromazin PO 100 1
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
63
028100 L 31
Skizofrenia
tak terinci
2,5 - BP
Klorpromazin PO 100 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 2 Y Y Y
64
015961 L 20
Skizofrenia
paranoid
2 181 SP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
65
028844 L 32
Skizofrenia
tak terinci
1,3 - BP
Haloperidol PO 2.5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
66
001233 L 39
Skizofrenia
hebefrenik
2,3 - BP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
67
000184 L 37
Skizofrenia
paranoid
2 - BP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
68
020233 L 23
Skizofrenia
tak terinci
2,4 23 SP Trifluoperazin PO 5 3 Y Y Y Y Y
69 030263
(PB)
L 19
Skizofrenia
paranoid
1,2,4 - BP Klozapin PO 25 2 Y Y Y Y Y
70
020932 L 30
Skizofrenia
YTT
1,2,3 - BP
Haloperidol PO 5 3
Y
Y
Y
Y Y
Klorpromazin PO 100 2 Y Y Y
71
030406 L 28
Skizofrenia
paranoid
2 - BP
Klozapin PO 50 2
Y
Y
Y
Y Y
Haloperidol PO 5 1 Y Y Y
72
014301 L 54
Skizofrenia
paranoid
1 12 BP
Olanzapin PO 10 1
Y
Y
Y
T Y
Haloperidol PO 5 1 Y T Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD: Tepat
Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.
92
No no RM JK
U
(th)
Diagnosis G
LRI
(H)
KP Terapi Rute
Ds
(mg)
F (x dd)
Rasionalitas
TI TO TP TD TF
73
014386 L 18
Skizofrenia
YTT
1,4,5 48 BP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 50 1 Y Y Y
74
029164 L 21
Skizofrenia
paranoid
2,5 36 BP
Haloperidol PO 5 2
Y
Y
Y
Y Y
Klozapin PO 100 1 Y Y Y
RM : Rekem medik, PB; Pasien Baru, JK : Jenis Kelamin, L : Laki-laki, P : Perempuan, U : Umur, th : tahun, YTT: Yang Tak Tergolongkan,
G: Gejala (1 : waham, 2 : halusinasi, 3 : inkoherensi , 4: afek tumpul , 5 : alogia, 6 : isolasi sosial), LRI : Lama Rawat Inap, H : hari, KP : Keadaan Pulang,
SP :Sembuh Parsial, BP : Belum Pulang, PO: Per Oral, Ds : dosis, mg : miligram, F : Frekuensi, TI:Tepat Indikasi, TO:Tepat Obat; TP: Tepat Pasien, TD:
Tepat Dosis, TF:Tepat Frekuensi, Y:Ya, T:Tidak.
93
LAMPIRAN 2
Standar Pelayanan Medik RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
93
LAMPIRAN 2
Standar Pelayanan Medik RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
93
LAMPIRAN 2
Standar Pelayanan Medik RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah
94 94 94
95
LAMPIRAN 3
Dosis dan Frekuensi Penggunaan Antipsikotik Per Oral
Nama Generik
Dosis
Terapeutik
Efektif
Minimum
(mg)
Rentang
Dosis Yang
Sering
Digunakan
(mg/Hari)
Dosis
Maksimum
Menurut Pabrik
(mg/Hari)
Frekuensi
Antipsikotik Tipikal (Antipsikotik Generasi Pertama)
Chlorpromazine 100 100-1000 2000 2-4 x 1
Haloperidol
2
2-60 100 2-3 x 1
Trifluoperazine 5
5-60 80 2-3 x 1
Antipsikotik Atipikal (Antipsikotik Generasi Kedua)
Klozapin 50 50-500 900 1-2 x 1
Olanzapin 5 10-30 30 1 x 1
Risperidone 4 4-16 16 1-2 x 1
Catatan : Antipsikotik sering diberikan dalam dosis harian yang terbagi dan titrasi hingga
mencapai dosis efektif. Sehingga dosis sekali sehari dapat diberikan jika dosis
tersebut sudah efektif bagi pasien.
Sumber: Anonim, 2007; Dipiro et al, 2011; Katzung, 2012
96
LAMPIRAN 4
Algoritma Tatalaksana Terapi Skizofrenia Tanpa Riwayat
Episode pertama atau belum
pernah mendapat terapi AGP
sebelumnya
Sumber: Dipiro et al, 2011
Tahap 1
Pemberian AGK tunggal
(ARIPIPRAZOLE, OLANZAPINE, QUETIAPINE,
RISPERIDONE, atau ZIPRASIDONE)
Tahap 2
Pemberian AGK tunggal
(selain AGK yang diberikan pada tahap 1)
Tahap 2A
Pemberian AGP tunggal
(selain AGK yang diberikan pada tahap 1)
Tahap 3
CLOZAPINE
Tahap 4
CLOZAPINE
+
(AGP, AGK atau
Tahap 5
Coba terapa dengan agen tunggal
AGP atau AGK (selain AGK yang
diberikan pada tahap 1,2 atau 2A)
Tahap 6
Terapai kombinasi, yaitu: AGK+AGP,
kombinasi AGK, (AGP atau
AGK)+ECT, (AGP atau AGK+agen
lain (misal mood stabilizer)
AGP, antipsikotik generasi pertama
AGK, antipsikotik generasi kedua
ECT, terapi electrokonvulsif
Nilai dari kegagalan
terapi clozapine tidak
ditentukan
Dilporkan tidak ada
kontrol pada penelitian
dengan penggunaan
terapi kombinasi
jangka panjang untuk
terapi skizofrenia
97
LAMPIRAN 5
Algoritma Tatalaksana Terapi Skizofrenia Dengan Riwayat
Tidak ada riwayat
kegagalan terapi AP
Ada riwayat kegagalan
terapi AP
Olanzapin atau
Quetiapin atau
Risperidon
Olanzapin atau
Quetiapin atau
Risperidon
Tidak ada respon
Gunakan
yang lain
Gunakan
yang lain
Haloperidol
dekonat atau
Fluphenazin
decanoat
Tidak
patuh
Tidak
patuh
Gunakan
yang lain
Gunakan
yang lain
Gunakan
yang lain
Tidak ada respon
Tidak ada respon
Tidak ada
respon
Gunakan
AP lain
KLOZAPIN
Klozapin + obat pendukung (AP tipikal/atipikal,
mood stabilizer, ECT, antidepresan
Kombinasi atipikal+tipikal, atau kombinasi tipikal, atau
kombinasi atipikal, atau tipikal + ECT
Tidak ada
respon
Tidak ada
respon
Tidak ada
respon atau
menolak
klozapin
Tidak ada
respon
Tidak ada
respon
Tidak ada
respon
Tidak ada respon
Respon parsial
respon
98
LAMPIRAN 6
Hasil Analisa Data
a. Jenis Kelamin
Statistics
jenis kelamin
N Valid 74
Missing 0
jenis kelamin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid laki-laki 59 79.7 79.7 79.7
perempuan 15 20.3 20.3 100.0
Total 74 100.0 100.0
99
b. Umur
Statistics
klasifikasi umur
N Valid 74
Missing 0
klasifikasi umur
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid 17-25 16 21.6 21.6 21.6
26-45 50 67.6 67.6 89.2
46-65 8 10.8 10.8 100.0
Total 74 100.0 100.0
100
c. Suku/etnis
Statistics
Suku/Etnis
N Valid 74
Missing 0
Suku/Etnis
Frequency Percent
Valid
Percent
Cumulative
Percent
Valid kaili 22 29.7 29.7 29.7
pamona 7 9.5 9.5 39.2
mori 2 2.7 2.7 41.9
tomini 5 6.8 6.8 48.6
bungku 3 4.1 4.1 52.7
dampelas 1 1.4 1.4 54.1
lainnya 22 29.7 29.7 83.8
tanpa keterangan 12 16.2 16.2 100.0
Total 74 100.0 100.0
101
d. Status perkawinan
Statistics
Status Perkawinan
N Valid 74
Missing 0
Status Perkawinan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid kawin 10 13.5 13.5 13.5
tidak/belum kawin 53 71.6 71.6 85.1
duda/janda 11 14.9 14.9 100.0
Total 74 100.0 100.0
e.
f.
g.
102
e. Jenjang pendidikan
Statistics
Jenjang Pendidikan
N Valid 74
Missing 0
Jenjang Pendidikan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Tidak Sekolah 10 13.5 13.5 13.5
SD 21 28.4 28.4 41.9
SMP 19 25.7 25.7 67.6
SMA 20 27.0 27.0 94.6
Akademi 1 1.4 1.4 95.9
Sarjana 3 4.1 4.1 100.0
Total 74 100.0 100.0
103
f. Pekerjaan
Statistics
Pekerjaan
N Valid 74
Missing 0
Pekerjaan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid PNS 2 2.7 2.7 2.7
Tani/Nelayan 19 25.7 25.7 28.4
Wiraswasta 4 5.4 5.4 33.8
Buruh 1 1.4 1.4 35.1
Pelajar/Mahasiswa 2 2.7 2.7 37.8
Tidak Bekerja 46 62.2 62.2 100.0
Total 74 100.0 100.0
104
g. Tipe-tipe skizofrenia
Statistics
tipe skizofrenia
N Valid 74
Missing 0
tipe skizofrenia
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid skizofrenia paranoid 29 39.2 39.2 39.2
skizofrenia hebefrenik 3 4.1 4.1 43.2
skizofrenia tak terinci 20 27.0 27.0 70.3
skizofrenia residual 5 6.8 6.8 77.0
skizofrenia YTT 17 23.0 23.0 100.0
Total 74 100.0 100.0
105
h. Lama Rawat Inap
Statistics
Lama Rawat Inap
N Valid 52
Missing 22
Lama Rawat Inap
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid < 28 hari 22 29.7 42.3 42.3
> 28 hari 30 40.5 57.7 100.0
Total 52 70.3 100.0
Missing System 22 29.7
Total 74 100.0
106
i. Tepat Indikasi
Statistics
Tepat Indikasi
N Valid 74
Missing 0
Tepat Indikasi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Ya 74 100.0 100.0 100.0
107
j. Tepat Obat
Statistics
Tepat Obat
N Valid 136
Missing 0
TepatObat
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Ya 123 90.4 90.4 90.4
Tidak 13 9.6 9.6 100.0
Total 136 100.0 100.0
108
k. Tepat Pasien
Statistics
Tepat Pasien
N Valid 74
Missing 0
Tepat Pasien
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Ya 65 87.8 87.8 87.8
Tidak 9 12.2 12.2 100.0
Total 74 100.0 100.0
109
l. Tepat Dosis
Statistics
Tepat Dosis
N Valid 136
Missing 0
Tepat Dosis
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Ya 111 81.6 81.6 81.6
Tidak 25 18.4 18.4 100.0
Total 136 100.0 100.0
110
m. Tepat Frekuensi
Statistics
Tepat Frekuensi
N Valid 136
Missing 0
Tepat Frekuensi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Ya 123 90.4 90.4 90.4
Tidak 13 9.6 9.6 100.0
Total 136 100.0 100.0
111
LAMPIRAN 7
Surat Izin Penelitian
111
LAMPIRAN 7
Surat Izin Penelitian
111
LAMPIRAN 7
Surat Izin Penelitian
112
LAMPIRAN 8
Surat Keterangan Telah Melaksanakan penelitian
112
LAMPIRAN 8
Surat Keterangan Telah Melaksanakan penelitian
112
LAMPIRAN 8
Surat Keterangan Telah Melaksanakan penelitian
113
LAMPIRAN 9
Dokumentasi
Gambar pengambilan data sekunder (rekam medik)
Gambar pengambilan data primer (wawancara) pada pasien skizofrenia
Gambar pengambilan data primer (wawancara) pada tenaga medis rawat inap jiwa
Gambar pasien skizofrenia diberikan obat antipsikotik
114
RIWAYAT HIDUP
Fahrul lahir di Biromaru tanggal 20 Agustus 1992. Anak
pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Tamin,
A.Ma dan Ibu Fatmawati, S.Pd yang bertempat tinggal di
Jalan Lasoso No. 50 Desa Lolu Kecamatan Sigi Biromaru
Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Pendidikan
Sekolah Dasar di tempuh di SD Negeri Inpres Lolu dan lulus
pada tahun 2004. Pendidikan selanjutnya adalah Sekolah
Menengah Pertama, ditempuh di SMP Negeri 1 Biromaru dan
lulus pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2007
melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas ditempuh
di SMA Negeri 3 Palu dan lulus pada tahun 2010.
Pada tahun 2010, melalui jalur Seleksi Lokal Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SLMPTN) melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Universitas Tadulako Palu dan
terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
(FMIPA) Program Studi Farmasi. Selama menjalankan studi pernah menjadi anggota
bidang pengembangan olahraga dan seni Himpunan Mahasiswa Farmasi
(HIMAFAR) FMIPA UNTAD periode 2011-2012, wakil ketua Himpunan
Mahasiswa Farmasi (HIMAFAR) FMIPA Universitas Tadulako periode 2012-2013,
dewan pengawas UKOF Science Sports (S
2
) FMIPA Universitas Tadulako (2012-
2013), dewan penasehat Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMAFAR) FMIPA
Universitas Tadulako (2013-2014) dan pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa
(BPM) FMIPA Universitas Tadulako (2013-2014).