Anda di halaman 1dari 16

..

muncul akibat teori-teori Keynes tidak dapat


menyele-saikan permasalahan ekonomi di tahun 60-
an dan 70-an. Hubungan-hubungan aggregate yang
dikembangkan Keynes mulai diragukan.
Para ekonom kembali berpaling pada teori-teori
mikroekonomi untuk menjelaskan perilaku makro (micro
underpinnings of macro model). Bahkan, Friedman sendiri
kembali melirik model pasar persaingan sempurna
classical.
Aliran monetaris
yang salah satu
pelopornya adalah
Milton Friedman
Pada tahun 60-an orang percaya bahwa ada hubungan
terbalik antara inflasi dengan tingkat pengangguran.
Artinya, selama ini para ahli percaya jika inflasi
tinggi, tingkat pengangguran rendah. Sebaliknya jika
pengangguran tinggi, tingkat inflasi rendah, sesuai
teori Phillips.
akan tetapi gejala-gejala ekonomi yang terjadi pada
tahun 70-an tidak sinkron pada anggapan tersebut.
Pada waktu itu, harga-harga menunjukan
kecenderungan peningkatan yang sangat tinggi,
didorong oleh naiknya harga-harga minyak tahun
1973/1974. yang sungguh merisaukan, pada saat
terjadinya kenaikan harga-harga (inflasi) tersebut,
pengangguran meningkat.
Pandangan itu antara lain tentang perlunya campur
tangan pemerintah dalam mengarahkan dan
membimbing perekonomian pada arah yang di
inginkan. Kritik paling vokal datang dari pakar-pakar
ekonomi neo-klasik konservatif. Mereka dapat dibagi
atas dua golongan, yaitu golongan tua dan golongan
muda
Dari golongan tua dapat disebutkan beberapa nama
seperti:
Menger,
Friedrich August von Hayek,
Ludwig von Mises (semuanya dari Austria),
Wilhelm Ropke, Lionel Robbins (dari inggris)
Semuanya mencela kebijaksanaan campur tangan
pemerintah Keynes sama kerasnya dengan celaan
mereka terhadap paham sosialisme.
Celaan paling keras datang dari kelompok
yang menamakan dirinya libertarian.
Alasan penolakan tersebut diwakili oleh
pendapat Friedrich Von Hayek yang
tertuang dalam bukunya The Road to
Serfdom (1944).
Dalam buku tersebut, Hayek mengatakan: sekali
pemerintah melakukan intervensi pasar, ini akan
mengarah pada sosialisme, yang akhirnya akan
mengakibatkan berkurangnya kebebasan.
Lebih jauh Hayek mengatakan: orang
bisa percaya bahwa ia bebas, tetapi
dalam kenyataan kebebasan telah
hilang karena pikiran tiap orang sudah
dicekoki oleh pemerintah, dan apa-apa
yang di inginkan mereka terpaksa
disesuaikan dengan apa yang di inginkan
oleh pemerintah.

Friedman melihat, peran pemerintah dalam batas-
batas tertentu justru diperlukan untuk
menciptakan suatu perekonomian dimana pasar
bebas dapat berfungsi lebih efektif.

Pandangan Friedman di atas mengikuti ajaran
dosen yang sangat dikaguminya: Henry C. Simons
(1899-1946) sewaktu ia kuliah di Chicago.
Artikelnya: A positive program for laissez-faire
(1934) sangat berpengaruh.
Dari golongan muda muncul milton
Friedman dari University of Chicago.
Dalam tulisan tersebut Simon menganjurkan
agar dalam upaya memajukan perekonomian
perlu di berantas semua bentuk:
monopoli;
batasi ukuran perusahaan;
promosikan stabilitas ekonomi;
bentuk aturan2 yg stabil utk kebijaksanaan moneter;
batasi iklan-iklan yang tidak perlu yang hanya menghambur-
hamburkan sumber daya dan dana.

Untuk menjelaskan argumentasinya
Friedman memberikan contoh tentang
kebijaksanaan upah minimum.
Ketidakberhasilan ajaran-ajaran Keynes
dalam memecahkan masalah-masalah
yang dihadapi melahirkan suatu aliran
baru yang disebut Aliran Monetaris,
yang mengutamakan kebijaksanaan
moneter dalam mengatasi kemelut
ekonomi waktu itu.
Istilah ini pertama kali digunakan oleh Karl
Burner untuk menggambarkan berbagai
studi di bidang ekonomi moneter dan
kebijaksanaan moneter.
Perkembangan (kejutan) moneter
merupakan unsur yang penting dalam:
perkembangan produksi,
kesempatan kerja, dan
harga-harga;
Friedman dalam tulisannya : A Theoritical
Framework for Monetary Analysis (1970).
Perubahan dalam jumlah uang beredar sangat
besar pengaruhnya terhadap:
1. Tingkat inflasi dalam jangka panjang
2. Perilaku GNP riil dalam jangka panjang
Friedman selalu menekankan bahwa
perilaku dalam laju pertumbuhan
jumlah uang beredar- akselerasi- dan
deselerasi- sangat mempengaruhi
aktivitas-aktivitas ekonomi riil.
Ketidakstabilan dalam pertumbuhan
moneter akan tercermin dalam berbagai
aktivitas ekonomi.

Dari studi historisnya, ia
menyimpulkan bahwa secara umum laju
pertumbuhan uang yang tinggi akan
menyebabkan terjadinya booms dan
inflasi. Sementara itu, penurunan
dalam laju pertumbuhan uang dapat
menimbulkan resesi dan kadang-kadang
bahkan juga deflasi.
Tokoh-tokoh lain yang dianggap sealiran
atau pendukung-pendukung aliran
monetaris antara lain:
Karl Burner (University of Rochester)
Allan Meltzer dan Bennet McCallum
(dari Carnegie Mellon)
Thomas Mayer (University of Callifornia,
Davis)
Philip Cagan (Columbia University)
David Laidler dan Michael Parkin
(University of Western Ontario)
William Poole (Brown University)
Kaummonetaristidakpercayapadateorikeynesian
yangmengatakanbahwaperekonomiancenderung
beradapadakeseimbangantingkatoutputrendah
disebabkankurangampuhnyamekanismekorektif
untukmembawapasarkembalipadaposisi
keseimbanganpemanfaatansumberdayapenuh.

Dalamhalini,kubumonetarismengkritikbahwaada
kekuatan-kekuatanpasaryangtidakdiikutkandalam
modelyangdikembangkankubukeynesian.Dua
kekuatantersebutyangmenyatakanturunnyasuku
bungaakanmendoronginvestasidanturunnya
tingkathargaakanmendorongkonsumsimelaluiapa
yangdisebutPigouEffect.

Kubu monetaris paling tidak suka dengan


penggunaan kebijaksanaan fiskal untuk
menstabilkan perekonomian. Alasannya, sangat
sulit mengimbangi setiap ayunan siklus
ekonomi karena adanya faktor waktu (lag).
Karena alasan di atas, tidak mengherankan
jika kubu monetaris lebih jauh, bahkan sangat
meragukan keampuhan analisis dan studi neo-
keynesian yang sering menggunakan model
ekonometri skala besar.
Kelompok monetaris percaya bahwa
kebijaksanaan peningkatan jumlah uang dalam
jangka pendek berpengaruh terhadap output riil.
Dalam bahasa kurva IS-LM yang dikembangkan
kubu neo-keynesian, kenaikan dalam jumlah
uang akan menggeser baik kurva LM maupun
kurva IS kekanan. Berarti peningkatan dalam
jumlah output. Akan tetapi, gejala seperti ini
hanya berlangsung dalam jangka pendek. Dalam
jangka panjang, perubahan dalam jumlah uang
hanya menyebabkan harga-harga naik, sedang
output riil maupun jumlah kesempatan kerja
tidak akan bertambah. Dengan demikian,
kebijaksanaan moneter yang terlalu ekspansif
tidak disukai kubu monetaris.