Anda di halaman 1dari 6

Analisis Penghematan Listrik pada AC Split dengan Refrigeran Hidrokarbon

disertai Perbaikan Faktor Daya 69



ANALISIS PENGHEMATAN LISTRIK
PADA AC SPLIT DENGAN REFRIGERAN HIDROKARBON
DISERTAI PERBAIKAN FAKTOR DAYA

Tatang Hidayat*

ABSTRACT

The use of refrigerants hydrocarbon of Pure Propane on AC split already a lot
used and has been proven could give the effect of electrical savings an average of
20% compared while AC Split still using R-22. So also electricity savings could
be obtained on AC split with way of make improvements on power electrical
power. Experiments on AC Split capacity of 2 PK with ways replacement of
refrigerant (retrofit) from previous using the R-22 to refrigerant Propane (using
type of MC-22) obtained results electricity savings who quite significant wherein
the replacement from R-22 into MC-22 added capacitor bank become 25%.
Key Word : Hydrocarbon Refrigerants, Factor Power , AC Split

ABSTRAK

Penggunaan refrigeran hidrokarbon jenis Propane murni pada AC split sudah
banyak digunakan dan telah terbukti bisa memberikan efek penghematan listrik
rata-rata 20 % dibandingkan saat AC Split masih menggunakan R-22. Begitu juga
penghematan listrik bisa diperoleh pada AC split dengan cara melakukan
perbaikan pada faktor daya lstrik.
Hasil percobaan pada AC Split kapasitas 2 PK dengan cara melakukan
penggantian refrigeran (retrofit) dari sebelumnya menggunakan R-22 ke
refrigeran Propane (menggunakan jenis MC-22) diperoleh hasil penghematan
listrik yang cukup signifikan dimana dengan penggantian dari R-22 ke MC-22
ditambahkan kapasitor bank menjadi 25 %.

Kata Kunci : Rerigeran hidrokarbon, power factor, AC Split







*) Dosen Teknik Elektro STT Bina Tunggal Bekasi


70 Jurnal Teknosain Volume VIII, Nomor 1, Pebruari 2011

PENDAHULUAN
Perkembangan sejarah yang
menyangkut tempat hunian manuia,
mengalami proses dimana secara
naluriah manusia selalu berusaha
menyesuaikan diri dan
mempertahankan kehidupannya yang
berhubungan dengan alam
sekitarnya. Pengaruh perubahan
cuaca, manusia sejak semula
senantiasa berusaha mencari tempat
yang dirasakan nyaman; sebagai
misal, bila cuaca sangat panas orang
akan berteduh, dan mencari
perlindungan yang sesuai bila terjadi
angin, hujan atau kedinginan.
Tubuh manusia memiliki
kemampuan dalam menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekitarnya,
hal ini dapat diamati dari reaksi
anatomi tubuh kita, seperti yang
dilakukan oleh saluran darah yang
akan mengkerut bila terkena
lingkungan dingin, dengan maksud
untuk mengurangi kerugian panas
yang ditimbulkan oleh adanya radiasi
dari permukaan kulit, bereaksi
sebaliknya saluran darah akan
mengembang bila terkena
lingkungan panas sehingga terjadi
radiasi panas dari permukaan kulit
yang ditandai dengan adanya
keringat yang berakibat pada
terjadinya proses penguapan keringat
untuk mendinginkan tubuh.
Kemampuan untuk penyesuaian
(adaptability) dari tubuh manusia
terhadap cuaca lingkungan tersebut
diatas dapat dianalogikan
berdasarkan teori yang diajukan oleh
Frugge, yang menyatakan bahwa
tubuh manusia dapat diibaratkan
sebagai suatu motor bakar, dimana
tubuh manusia harus mengeluarkan
panas yang dihasilkan dari
metabolisme dan aktivitasnya. Bila
hal ini tidak dapat berjalan, maka
tubuh akan merasakan keadaan yang
tidak nyaman, yang secara hasil
penelitian diukur bahwa rata-rata
permukaan kulit yang terbaik adalah
pada temperatur 33 derajat celcuis,
yang dicapai apabila panas yang
dihasilkan dari tubuh sama dengan
panas radiasi yang keluar dari
permukaan kulit.
Dalam perkembangan teknologi,
upaya untuk dapat menjaga
temperatur lingkungan, adalah
dengan cara mekanis menggunakan
alat yang disebut dengan penyegar
udara (Air Conditioner) dengan
prinsip kerja adalah mengambil kalor
dari media yang didinginkan
sehingga mencapai temperatur dan
kelembaban tertentu serta mengatur
kecepatan aliran udaranya, sesuai
dengan persyaratan kenyamanan
udara lingkungan.

TEORI
Prinsip dasar Penyegar Udara
Alat penyegar udara ruangan (Air
Conditioner) merupakan salah satu
jenis mesin pendingin yang bekerja
berdasarkan prinsip kompresi uap,
sehingga dalam sistem tersebut
memiliki komponen-komponen dasar
utama terdiri dari : kompresor,
kondensor, katup ekspansi dan
evaporator yang terangkai dalam
bentuk siklus tertutup seperti
ditunjukan pada gambar 2-1.





Gambar 1. Diagram kompresi uap

kondensor
kompresor
evaporator
Katup ekspansi
Analisis Penghematan Listrik pada AC Split dengan Refrigeran Hidrokarbon
disertai Perbaikan Faktor Daya 71

Di dalam siklus yang tertutup
tersebut, akan mengalir bahan yang
disebut refrigerant yang mampu
memberikan efek pendinginan saat
bahan tersebut melalui komponen
evaporator dengan cara mengambil
kalor dari media sekitar evaporator,
selanjutnya Kalor tersebut dibawa
refrigerant untuk dilepaskan di
komponen kondensor.
Sebagai media yang bersirkulasi dan
memiliki fungsi untuk menghasilkan
efek pendinginan, maka bahan
refrigerant memiliki karakteristik
fisika dan termodinamika yang
dipersyaratkan oleh jenis unit
pendingin tersebut.Dengan demikian
bahan pendingin (refrigerant) bisa
dibuat dengan basis bahan sintetik
dan bahan alam yang diformulasikan
sedemikian rupa sehingga memenuhi
karakteristik fisika dan
termodinamika, dan salah satu bahan
refrigerant tersebut bisa dibuat dari
Hidrokarbon yang tergolong bahan
alam yang ramah lingkungan.
Sesuai kegunaannya, AC Splt
dirancang dan dirakit sedemikian
rupa sehingga bisa digunakan untuk
kebutuhan pendinginan udara yang
ada dalam ruangan.
Dalam pengoperasian AC
Split seperti halnya juga mesin
pendingin lainnya memerlukan
energi listrik dan sebagai parameter
perhitungan kinerja suatu unit mesin
pendingin maka konsumsi energi
listrik tersebut di ambil untuk
kebutuhan menggerakan kompresor.
Besarnya arus listrik yang
dibutuhkan kulkas menggambarkan
seberapa besar kebutuhan energi
penggerak AC Split tersebut,
sehingga salah satu upaya
penghematan konsumsi energi listrik
untuk AC Split tersebut adalah
bagaimana menurunkan pemakain
arus listrik dari AC Split tersebut.

Refrigeran Hidrokarbon
Salah satu perkembangan
teknologi di bidang mesin pendingin
adalah dikembangkannya berbagai
refrigerant yang bisa memberikan
efek penghematan energi dimana
salah satunya adalah bahan
pendingin (refrigerant) dari jenis
sintetik ke jenis alam (hidrokarbon).
Sifat Fisika dan Termodinamika
refrigerant memiliki banyak
parameter, tapi yang dominan terkait
dengan efek penghematan energi
listrik ada beberapa saja, yaitu :
massa jenis (density), kekentalan
(viskositas) dan perilaku tekanan
bahan pada suhu tinggi (suhu di
kondensor). Secara umum parameter
tersebut bila hidrokarbon
dibandingkan terhadap sintetis:
massa jenisnya lebih kecil, viskositas
juga lebih kecil, demikian juga
perilaku tekanan bahan di kondensor
akan lebih kecil. Ketiga parameter
tersebut (massa jenis, viskositas dan
perilaku tekanan) memberikan
dampak pada konsumsi energi listrik
pada mesin pendingin akan lebih
kecil.
Refrigeran hidrokarbon memiliki
karakteristik fisika dan
termodinamika yang nilainya lebih
unggul dibandingkan dengan
refrigerant sintetik, sehingga bila
refrigerant hidrokarbon ini
dimasukan dalam mesin pendingin
akan memberikan kinerja mesin
pendingin menjadi lebih baik
dibandingkan bila mesin pendingin
tersebut menggunakan refrigerant
sintetik. Salah satu parameter kinerja
tersebut adalah adanya efek
penghematan konsumsi energi listrik.

72 Jurnal Teknosain Volume VIII, Nomor 1, Pebruari 2011

Perhitungan Klistrikan
Untuk bisa beroperasi
menghasilkan efek pendinginan, AC
Split memerlukan energi listrik
sebagai penggeraknya.Komponen
penting dalam AC Split yang
menjadi dasar perhitungan kinerja
sistem pendingin pada AC Split
adalah kompresor yang berfungsi
untuk mensirkulasikan refrigerant
sekaligus menaikan tekanan dari sisi
hisap kompresor yang berhubungan
dengan evaporator menuju sisi buang
kompresor yang bersesuaian dengan
unit kondensor.
Sebagai bagian dari beban
listrik dalam rangkaian arus listrik
bolak-balik, kompresor ini memiliki
impedansi sehingga perhitungan
dasar dengan hukum Ohm dapat
dinyatakan sebagai :

V = I.Z(2-1)
Dimana :
V : Tegangan efektif listrik (Volt)
I : Arus listrik efektif (Ampere)
Z : Impedansi listrik (Ohm)

Pada rangkaian arus listrik bolak-
balik Daya listrik dinyatakan dengan
persamaan:
P = V.I (2-2)
Dimana :
P : Daya nyata Listrik (Watt)
V : Tegangan efektif (Ampere)
I : Arus listrik efektif (Ampere)
Daya yang diukur disebut Daya
Semu dengan satuan VA (Volt
Ampere), sedangkan Daya yang
diukur oleh Wattmeter disebut Daya
Aktif (nyata) selalu lebih kecil dari
Daya Semu. Hubungan antara Daya
Semu dengan Daya Aktif dinyatakan
dengan persamaan :
Cos = P/S ....................... (2-3)
Dimana :
Cos : Faktor daya
P : Daya Aktif (Watt)
S : Daya Semu (VA)
Jadi besarnya Daya :
P = V.I.Cos .....................(2-4)

Gambar 2. Faktor Daya Listrik

Sedangkan besarnya biaya energy
dalam selang waktu tertentu, dapat
dihitung dengan persamaan :
E = P.t (2-3)
Dimana :
E : Energi (kWh)
P : Daya listrik (Watt)
t : jumlah waktu operasinya AC
Split (detik)

DATA
Sebagai sarana untuk
pengambilan data, digunakan AC
Split 2 PK, pengambilan data
difokuskan pada parameter konsumsi
listrik dengan cara AC Split tersebut
mula-mula diisi dengan refrigerant
sintetik jenis R-22 sampai AC Split
dinyatakan memiliki kinerja
pendinginan yang normal sesuai
spesifikasi dari AC Split tersebut
baik dari efek pendinginannya,
konsumsi listriknya dan distribusi
gradual suhu di dalam ruangan.
Berikutnya pada AC Split yang
dilakukan penggantian bahan
pendingin menggunakan refrigerant
hidrokarbon jenis MC-22 sampai AC
Split tersebut juga dinyatakan
memiliki kinerja normal dari segi
pendinginan dan distribusi suhu di
dalam ruangan yang didinginkan.
Dari pengukuran parameter arus
listrik diperoleh perbandingan data
seperti dalam table 3-1.
Analisis Penghematan Listrik pada AC Split dengan Refrigeran Hidrokarbon
disertai Perbaikan Faktor Daya 73



Tabel 1 : Data Pengukuran perbandingan R-
22 terhadap MC-22

No Parameter R-
22
MC-22+
Kapasitor
Bank
1 Arus listrik
(A)
9,9 7,5
2 Tegangan
listrik (V)
220 220

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Tabel : 2 Analisa

No Parameter R-22 MC-22 +
Kapasitor
Bank
1 Daya
Semu
(VA)
2.178 -
2 Daya
Aktif
(watt)
- 1.633.5
3 Konsumsi
listrik /
hari
2.178 W
x 24
jam
=52.272
Watt
hari =
52,3
kWh
1.633.5
W x 24
jam =
39.204
Watt hari
= 39,2
kWh
4 Konsumsi
listrik /
bulan
52,3
kWh/hr
x 30 hr
= 1.569
kWh
39,2
kWh/hr x
30 hr =
1.176
kWh

Dari table analisa diatas diperoleh
data penghematan konsumsi listrik
sebesar per bulan adalah 373 kWh,
atau 25,05 % dibulatkan menjadi 25
%


PENUTUP
KESIMPULAN
Dari analisa diatas, maka dapat
diambil beberapa kesimpulan pokok,
diantaranya adalah :
a. Pemakaian listrik pada AC
Split bisa dilakukan
penghematan dengan cara
penggantian bahan
pendingin (refrigerant) dari
jenis sintetik ke jenis
hidrokarbon
b. Penghematan listrik yang
diperoleh dari AC Split
bertambah dengan
digunakannya kapasitor
bank

SARAN
a. Untuk melihat stabilitas
kinerja pendinginan dan
konsumsi energi listrik
sebagai fungsi waktu,
diperlukan pengamatan
dalam selang periode waktu
tertantu (misalkan 3
bulanan)
b. Guna mengetahui potensi
penghematan energi listrik
penggunaan Refrigeran
Hidrokarbon perlu dilakukan
sosialisasi dan peragaan
kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA :

1. Stocker, W.F. & Jones, J.W.,
1982, Refrigeration and Air
Conditioning, Mc Graw-Hill
Book Co, New Delhi.
2. Dossat, Roy J., 1978,
Principles of Refrigeration, 2
nd
edition, John Willey and
Sons, New York.
3. Arismunandar, W, 1986,
Penyegaran Udara, PT.
Pradnya Paramita, Bandung.
74 Jurnal Teknosain Volume VIII, Nomor 1, Pebruari 2011

4. Carrier Air Conditioning
Comp., 1965, Handbook of
Air Conditioning System
Design, McGraw-Hill Book
Co., New York.
5. J.P. Holman, 1976, Heat
Transfer, fourth edition,
McGraw-Hill Kogakusha,
Ltd. Tokyo.
6. Kenneth Wark, Jr., 1995,
Advanced Thermodynamics
for Engineers, McGraw-Hill,
Inc., Singapore.
7. Cool Concerns., April 1999,
Safe Conversion and
Servicing Practices for
Refrigeration Appliances
using hydrocarbon
Refrigerants, Manual for Safe
Conversionand Servicing of
Domestic and Commercial
appliances, United Kingdom.
8. Tahun1999, Kumpulan
peraturan pemerintah
Republik Indonesia tentang :
Perlindungan Lapisan Ozon
dan Penghapusan Bahan-
Bahan Perusak Lapisan
Ozon, Unit Ozon, Kantor
Menteri Negara Lingkungan
Hidup bekerjasama dengan
UNDP.
9. Nathanael P.T., Aryadi S, Ari
D. Pasek, 20 September
1990, Refrigeran
Hidrokarbon Indonesia :
Potensi dan Kendala
Penerapannya, Laboratorium
Termodinamika PPAU-IR
ITB, Seminar Sosialisasi
pembatasan penggunaan R-
12 pada unit pendingin di
wilayah DKI.
10. Agus Maulana, Tatang
Hidayat, 9 Oktober 1999,
Aspek Teknis penggunaan zat
pendingin hidrokarbon pada
mesin pendingin, Seminar
pengenalan zat pendingin
hidrokarbon sebagai alternatif
pengganti CFC (R-12), HFC
(R-134a) dan HCFC (R-22)
pada mesin pendingin, UPT-
Teknik Pendingin STT-Bina
Tunggal bekerjasama dengan
APRRAL.
11. Totok Sulistiyanto, Juli 2000,
Peluang Penghematan
Energi pada Sistem AC,
pelatihan konservasi energi
sektor bangunan, Cisarua.
12. Andreas S., Sulistya R.,
Desember 2000, Evaluasi
Kinerja Refrigeran
Hidrokarbon Petrozon Rossy-
12 pada AC Mobil Test Bed,
Jurusan Teknik Mesin,
Fakultas Teknik, Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta.
13. Cinto Azwar, Rusdi M.,
Nasruddin, Perbandingan
Unjuk Kerja Refrigeran
Hidrokarbon Petrozon Rossy-
12 Terhadap Refrigeran
CFC-12, Teknik Mesin,
Fakultas Teknik, Universitas
Indonesia.
14. Tatang Hidayat, 1999,
Aplikasi Petrozon pada mesin
pendingin : Aspek
keselamatan, Dasar-dasar
teknik retrofitting, Pemakaian
Petrozon pada mesin
pendingin, Seminar dan
peragaan aplikasi Petrozon
pada mesin pendingin.
15. Training Manual Toyota, Air
Conditioner.