Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM KONSTRUKSI JALAN

UJI PENETRASI ASPAL




Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Praktikum Konstruksi Jalan
di Laboraturium Jalan Raya



Mata Kuliah:
Konstruksi Jalan Raya


Dosen Pengampu:
Faqih Maarif, M.Eng.



Disusun Oleh:
Sovia Fitri Astuti
(12510134004)



JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
ii

KATA PENGANTAR
Segala Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
Rahmat dan Hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum
Konstruksi Jalan ini. Praktikum Konstruksi Jalan memiliki bertujuan agar
mahasiswa memiliki gambaran tentang keguanaan dan manfaat di dalam suatu
pekerjaan di lapangan. Pada kesempatan ini ijinkanlah kami mengucapkan
terimakasih kepada beberapa pihak yang telah tulus dan memberikan bantuannya
kepada kami yang sangat berharga bagi kami yaitu:
1. Bapak Faqih Maarif, M.Eng, selaku Dosen Pengampu yang selalu
membimbing kami.
2. Bapak Sudarman selaku teknisi di ruang praktikum yang selalu membantu
dalam penyiapan alat dan bahan pengujian.
3. Teman teman satu kelompok yang memberikan bantuannya dan
masukannya dalam pembuatan laporan ini.
4. Semua pihak yang telah mendukung dan memberi bantuan dalam proses
Praktikum Konstruksi Jalan tersebut sehingga dapat berjalan dengan lancar.
Pembuatan laporan Praktikum Konstruksi Jalan ini tentunya masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik
yang bersifat memberi dorongan dan membangun sangat kami harapkan.. Semoga
laporan ini bermanfaat bagi kami mahasiswa khusunya , bagi jurusan Teknik Sipil
dan semua pihak pada umumnya.


Yogyakarta, 4 Maret 2014

Penulis




iii

DAFTAR ISI
Judul Laporan ............................................................................................. i
Kata Pengantar ........................................................................................... ii
Daftar Isi ..................................................................................................... iii
Daftar Tabel ............................................................................................... iv
Daftar Gambar ............................................................................................ v
A. Jenis Pengujian ...................................................................................... 1
B. Kajian Teori ........................................................................................... 1
C. Alat Dan Bahan ..................................................................................... 3
D. Langkah Kerja ....................................................................................... 7
E. Penyajian Data ....................................................................................... 8
F. Pembahasan ........................................................................................... 11
G. Kendala Praktikum ................................................................................ 18
H. Kesimpulan ........................................................................................... 18
I. Saran ....................................................................................................... 19
Daftar Pustaka ............................................................................................ 20
Lampiran .................................................................................................... 21














iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Waktu Dan Tempat Praktikum Penetrasi ..................................... 8
Tabel 2. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Bagian A ......................... 8
Tabel 3. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Bagian B ......................... 8
Tabel 4. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Bagian C .......................... 9
Tabel 5. Waktu Dan Tempat Praktikum Penetrasi Aspal Recycle ............ 9
Tabel 6. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Recycle Bagian A ............ 10
Tabel 7. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Recycle Bagian B ............ 10
Tabel 8. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Recycle Bagian C ............ 10
Tabel 9. Toleransi/Ketentuan Hasil Pembacaan Arloji Penetrometer ........ 11
Tabel 10. Lembar Konsultasi ..................................................................... 16



















v

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Penetrometer ............................................................................. 4
Gambar 2.Cawan ........................................................................................ 4
Gambar 3. Termometer .............................................................................. 5
Gambar 4. Baskom perendam ..................................................................... 5
Gambar 5. Stopwatch .................................................................................. 6
Gambar 6. Aspal ......................................................................................... 6
Gambar 7. Es batu ...................................................................................... 7
Gambar 8. Sketsa Pengujian penetrasi pertama .......................................... 9
Gambar 9. Sketsa pengujian penetrasi kedua .............................................. 11
Gambar 10. Grafik perbandingan suhu dengan hasil penetrasi I ................ 12
Gambar 11. Grafik perbandingan suhu dengan hasil penetrasi II ............... 12
Gambar 12. Grafik hubungan suhu dan koefisien varian penetrasi I .......... 15
Gambar 13. Grafik hubungan suhu dan koefisien varian penetrasi II ........ 18
Gambar 14. Pengukuran suhu aspal dengan termometer ............................ 21
Gambar 15. Proses penetrasi pada aspal .................................................... 21
1

A. JENIS PENGUJIAN
Pengujian yang dilakukan adalah pengujian penetrasi aspal. Aspal yang
digunakan adalah aspal padat yang berada di Laboratorium Jalan Raya
Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

B. KAJIAN TEORI
Pada 1888, HC Bowen dari Barber Asphalt Paving menemukan cikal
bakal Perusahaan untuk uji penetrasi, Bowen Penetrasi Mesin (Halstead dan
Welborn, 1974). Ini prinsip dasar, dan prinsip dasar dari uji penetrasi, adalah
untuk menentukan kedalaman mana suatu benda uji aspal dipotong jarum
jahit menembus sampel aspal di bawah kondisi tertentu beban, waktu dan
suhu. Ini adalah metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur
konsistensi dari bahan mengandung bitumen pada suhu tertentu.
Cara klasifikasi berdasarkan ukuran kualitas. ukuran perlawanan yang
ditawarkan oleh fluida terhadap deformasi kontinu bila mengalami tegangan
geser. Konsistensi adalah fugsi bahan kimia konstituen dari aspal yaitu
molekul berat, yang bertanggung jawab untuk kekuatan dan kekakuan, resin
(bertanggung jawan untuk adhesi dan daktalitas) dan minyak (berat molekul
rendah, yang bertanggung jawab atas viskositas dan fluiditas). Jenis dan
jumlah konstituen ini ditentukan oleh sumber minyak dan metode pengolahan
di kilang tersebut. Penetrasi berhubungan dengan viskositas dan hubungan
empiris telah dikembangkan untuk bahan. Jika penetrasi diukur melalui
berbagai suhu, kepekaan terhadap suhu dari aspal. ( anonim,2014)
Aspal merupakan bahan pengikat agregat yang mutu dan jumlahnya
sangat menentukan keberhasilan suatu campuran beraspal yang merupakan
bahan jalan. Salah satu jenis pengujian dalam menentukan persyaratan mutu
aspal adalah penetrasi aspal yang merupakan sifat rheologi aspal yaitu
kekerasan aspal (RSNI 06-2456-1991).
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan penetrasi bitumen
keras atau lembek (solid atau semi solid) dengan memasukkan jarum
penetrasi ukuran tertentu,beban dan waktu tertentu kedalam bitumen pada
2

suhu tertentu. (Buku panduan praktikum bahan lapis keras, Laboratorium
Teknik Transportasi Universitas Gajah Mada).
Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan dalam hal
pengendalian mutu aspal atau tar untuk keperluan pembangunan, peningkatan
atau pemeliharaan jalan. Pengujian penetrasi ini sangat dipengaruhi oleh
faktor berat beban total, ukuran sudut dan kehalusan permukaan jarum,
temperatur dan waktu. Oleh karena itu perlu disusun dengan rinci ukuran,
persyaratan dan batasan peralatan, waktu dan beban yang digunakan dalam
penentuan penetrasi aspal (RSNI 06-2456-1991).
Aspal keras/panas (Aspalt cement, AC), adalah aspal yang digunakan
dalam keadaan cair dan panas. Aspal ini berbentuk padat pada keadaan
penyimpanan ( termperatur ruang). Di Indonesia, aspal semen biasanya
dibedakan berdasarkan nilai penetrasinya yaitu:
1. AC pen 40/50, yaitu AC dengan penetrasi antara 40-50.
2. AC pen 60/70, yaitu Ac dengan penetrasi antara 60-70.
3. AC pen 85/100, yaitu aspal dengan penertrasi antara 85-100.
4. AC pen 120/150, yaitu AC dengan penetrasi antara 120-150.
5. AC pen 200/300, yaitu AC dengan penetrasi antara 200-300.
Aspal semen dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca
panas atau lalu lintas dengan volume tinggi, sedangkan aspal semen dengan
penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin atau lalu lintas
volume rendah. Di Indonesia umumnya dipergunakan aspal semen dengan
penetrasi 60/70 dan 85-100 (Sukirman,1999)
Penetrasi merupakan suatu pengujian yang sangat penting.itu
dikarenakan penetrasi dapat menunjukan mutu suatu aspal. Penetrasi adalah
masuknya jarum penetrasi kedalam permukaan aspal dalam waktu 5 detik
dengan beban 100 gram pada suhu 25C (SNI 06 2456 1991). Pengujian
ini ditujukan untuk menentukan kekerasan dan kelembekan suatu aspal.
Semakin besar angka penetrasi makin lembek aspal tersebut dan sebaliknya
semakin kecil angka penetrasi maka aspal tersebut semakin keras.

3

C. ALAT DAN BAHAN
Dalam praktik ini di perlukan alat dan bahan untuk menunjang lancarnya
pelaksanaan dalam praktik, alat dan bahan yang perlu di gunakan dalam
praktik ini, antara lain:
1. Alat
a. Penetrometer
1) Alat penetrometer yang dapat melepas pemegang jarum untuk
bergerak secara vertikal tanpa gesekan dan dapat menunjukkan
kedalaman masuknya jarum ke dalam benda uji sampai 0,1 mm
terdekat.
2) Berat pemegang jarum 47,5 gram 0,05 gram. Berat total
pemegang jarum beserta jarum 50 gram 0,05 gram. Pemeganng
jarum harus mudah dilepas dari penetrometer untuk keperluan
pengecekan berat.
3) Penetrometer harus dilengkapi dengan waterpass untuk
memastikan posisi jarum dan pemegang jaruum tegak (90o) ke
permukaan.
4) Berat beban 50 gram 0,05 gram dan 100 gram 0,05 gram
sehingga dapat digunakan untuk mengukur penetrasi dengan berat
total 100 gram atau 200 gram sesuai dengan kondisi pengujian
yang diinginkan. (RSNI 06-2456-1991-Penetrasi Aspal)

Gambar 1. Penetration test
(Sumber : Alfi, 2014)

4

b. Cawan
Terbuat dari logam atau gelas yang berbentuk silinder dengan dasar
yang rata dan berukuran sebagai berikut :
1) Untuk pengujian penetrasi dibawah 200 :
a) Diameter 55 mm
b) Tinggi bagian dalam 35 mm
2) Untuk pengujian penetrasi antara 200 dan 350 :
a) Diameter 55-75 mm
b) Tinggi bagian dalam 45-70 mm
3) Untuk pengujian penetrasi antara 350 dan 500:
a) Diameter 55 mm
b) Tinggi bagian dalam 70 mm
(RSNI 06-2456-1991-Penetrasi Aspal)

Gambar 2. Cawan Benda Uji
(Sumber : Adik, 2014)
c. Thermometer
1) Thermometer harus dikalibrasi dengan maksimum kesalahan skala
tidak melebihi 0,1
o
C atau dapat juga digunakan pembagian skala
thermometer lain yang sama ketelitiannya dan kepekaannya;
2) Thermometer harus sesuai dengan SNI 19-6421-2000 Spesifikasi
Standar Termometer (RSNI 06-2456-1991-Penetrasi Aspal)

5

Gambar 3. Termometer
(Sumber : Alfi,2014)
d. Bak Perendam (waterbath)
Bak perendam (waterbath) untuk merendam benda uji dalam es.

Gambar 4. Bak Perendam
(Sumber : Dokumen Pribadi,2014)
e. Stopwatch
Digunakan untuk menghitung waktu pengujian.

Gambar 5. Stopwatch
(Sumber: Dokumen Pribadi, 2014)
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam pratikum penetrasi ini adalah sebagai
berikut:
a. Aspal
Aspal merupakan bahan yang akan diuji. Aspal digunakan sebagai
bahan pengikat agregat dalam perkerasan jalan.
6


Gambar 6. Aspal
(Sumber: Dokumen Pribadi, 2014)
b. Es Batu
Digunakan untuk merendam aspal agar mencapai suhu rendah.

Gambar 7. Es Batu
(Sumber :Nisa, 2014)

D. LANGKAH KERJA
Langkah kerja yang harus dilakukan dalam praktikum pengujian penetrasi
aspal ini adalah:
1. Berdoa dahulu sebelum di mulainya kegiatan.
2. Alat dan bahan di persiapkan.
3. Benda uji di rendam ke dalam baskom yang telah berisi air dan pecahan es
batu hingga tenggelam selama 30 menit.
4. Benda uji di angkat dari baskom berisi air es, lalu di ukur suhu benda uji
hingga mencapai suhu 25 1o C.
5. Benda uji yang telah di ukur di letakkan pada alat penetrasi.
7

6. Jarum diperiksa agar terpasang dengan baik dan di bersihkan dengan
cairan bensin. Kemudian di keringkan jarum dengan lap kering.
7. Jarum di turunkan perlahan lahan menyentuh permukaan benda uji
kemudian di atur angka 0 pada arloji penetrometer sehingga jarum
penunjuk berimpit.
8. Penahan jarum ditekan selama 5 detik dan di lepaskan bersamaan dengan
berjalannya stopwatch.
9. Arloji penetrometer di putar dan di baca angka penetrasi yang berimpit
dengan jarum penunjuk. Di bulatkan hingga 0,1 mm terdekat.
10. Jarum dilepaskan dari pemegang jarum untuk titik pembacaan berikutnya
sejauh 1 cm dari titik pembacaan awal dan tepi sisi dinding cawan.
11. Dibersihkan jarum dengan lap kering, kemudian di ukur suhu kembali
pada benda uji tersebut sebgai suhu berbeda dan titik berbeda dari titik
awal.
12. Pekerjaan 1-10 dilakukan, hingga tidak kurang 3 bagian untuk benda uji
yang sama. Setiap 2 bagian dengan suhu yang sama ada 3 bacaan titik
yang berbeda-beda dan bagian selanjutnya berbeda suhu benda uji dengan
pembacaan awal.
13. Tempat dan alat praktek di bersihkan setelah selesai pengujian.
14. Membuat laporan sementara dan hasilnya dilaporkan kepada dosen atau
teknisi.

E. PENYAJIAN DATA
1. Penyajian Data 1
Pada pelaksanaan praktik penetrasi aspal didapat data sebagai berikut:
Tabel 1. Data Praktikum Penetrasi
Waktu Pengujian
Suhu Ruangan
Tempat
Pengujian
Hari,Tanggal Waktu
Selasa, 25
Februari 2014
11.00 s.d
12.40
WIB
28C
Laboratorium
Jalan Raya,
PTSP, FT
UNY
8

Tabel 2. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Bagian A
No. Notasi Suhu (
o
C) Nilai Penetrasi
(mm)
1 A
1
25 35
2 A
2
25 97
3 A
3
25 75
Rata-rata 25 69

Tabel 3. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Bagian B
No. Notasi Suhu (
o
C) Nilai Penetrasi
(mm)
1 B
4
25 65
2 B
5
25 100
3 B
6
23 48
Rata-rata 24,3 71


Tabel 4. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Bagian C
No. Notasi Suhu (
o
C) Nilai Penetrasi
(mm)
1 C
7
23 45
2 C
8
24 83
3 C
9
24 76
Rata-rata 23,6 68





UTARA





Gambar 8. Sketsa hasil penetrasi pertama

9

2. Penyajian Data 2
Berikut ini adalah hasil praktikum penetrasi aspal kedua (recycle)
Tabel 5. Data Praktikum Penetrasi Aspal Recycle
Waktu Pengujian
Suhu Ruangan
Tempat
Pengujian
Hari,Tanggal Waktu
Selasa, 4
Maret 2014
11.00 s.d
12.40
WIB
28C
Laboratorium
Jalan Raya,
PTSP, FT
UNY

Tabel 6. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Recycle Bagian A
No. Notasi Suhu (
o
C) Nilai Penetrasi
(mm)
1 A
1
25 9
2 A
2
25 6
3 A
3
26 13
Rata-rata 25,3 9,3

Tabel 7. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Recycle Bagian B
No. Notasi Suhu (
o
C) Nilai Penetrasi
1 B
4
24 14
2 B
5
25 16
3 B
6
25 12
Rata-rata 24,6 14

Tabel 8. Data Hasil Pengujian Penetrasi Aspal Recycle Bagian C
No. Notasi Suhu (
o
C) Nilai Penetrasi
1 C
7
27 20
2 C
8
25 18
3 C
9
26 17
Rata-rata 26 18,3







10





UTARA





Gambar 9. Sketsa hasil penetrasi kedua

F. PEMBAHASAN
Pelaksanaan praktikum pengujian pembakaran aspal yang telah
dilakukan, benda uji yang berisi aspal telah didinginkan pada suhu ruangan
yang seharusnya ruangan dalam keadaan dingin. Waktu pelaksanaan pratikum
ini cuaca di Laboratorium panas sehingga kurang memungkinkan benda uji
bersuhu dingin sehingga benda uji direndam di dalam baskom yang telah diisi
es selama 30menit. Pembacaan jarum pada penetrometer dilakukan mengacu
pada ketentuan bahwa hasil hasil pembacaan tidak melampui ketentuan /
toleransi:
Tabel 9. Toleransi / Ketentuan Hasil Pembacaan Arloji penetrometer
(RSNI 06-2456-1991 )

Dilihat dari tabel angka toleransi antar titik penetrasi menurut SKSNI
1991, hasil pengujian yang dilakukan masuk ke dalam kategori penetrasi 50 -
149. Di dalam tabel disebutkan bahwa kategori 50 149 memiliki maksimum
perbedaan nilai penetrasi antara yang tertinggi dengan yang terendah yaitu
bernilai 4. Dan Hasil pengujian ternyata melenceng jauh dari standar toleransi
yang diijinkan.
Hasil penetrasi 0 - 49 50 149 150 249 250
Toleransi 2 4 6 8
11

Hasil pengujian penetrasi aspal I dan II dapat dijabarkan dalam sebuah grafik
perbandingan antara suhu dengan hasil penetrasi sebagai berikut:

Gambar 10. Grafik Perbandingan Antara Suhu dengan Hasil Penetrasi I


Gambar 11. Grafik Perbandingan Antara Suhu dengan Hasil Penetrasi II






y = 25
R = 0.988
y = 0.0327x + 22.01
R = 0.5644
y = 0.0281x + 21.755
R = 0.97
22.5
23
23.5
24
24.5
25
25.5
0 20 40 60 80 100 120
S
u
h
u

(


C

)

Penetrasi I
Perbandingan Antara Suhu
dengan Hasil Penetrasi I
y = 0.1486x + 23.946
R = 0.8176
y = 24.66
R = 0.187
y = 0.4286x + 18.143
R = 0.4286
23.5
24
24.5
25
25.5
26
26.5
27
27.5
0 5 10 15 20 25
S
u
h
u

(


C

)

Penetrasi II
Perbandingan Antara Suhu
dengan Hasil Penetrasi II
12

1. Perhitungan Koefisien Varian Penetrasi I
Tabel 10. Perhitungan Koefisien Varian Penetrasi I
Pengamatan
(Titik Uji)
Penetrasi
I (Xi)
Xi -X
rata-
rata
|Xi-X rata-
rata|
|Xi-X rata-
rata|2
Bagian A
A
1
35 -34
34 1156
A
2
97 28
28 784
A
3
75 6
6 36
Rata-rata 69 0
22.66667 658.6667
Bagian B
B
4
65
-6 6 36
B
5
100
29 29 841
B
6
48
-23 23 529
Rata-rata
71 0 19.33333 468.6667
Bagian C
C
7
45
-23 23 529
C
8
83
15 15 225
C
9
76
8 8 64
Rata-rata 68 0 15.3333 272.667


a. Menghitung Varian
Rumus :
S
2
=


S
2
A =


= 329,333
S
2
B =


= 234,333
13

S
2
C =


= 136,333

b. Menghitung Standar Deviasi
Rumus :
Sd =
Sd A =
=


= 18,147
Sd B =
=


= 15,307
Sd C =
=


= 11,676

c. Menghitung Koefisien Varian
Rumus :
KV =

x 100%
KV A =


x 100%
=

x 100%
= 26,3%
KV B =


x 100%
14

=

x 100%
= 21,56%
KV C =


x 100%
=

x 100%
= 17,17%

Tabel 11. Hubungan Suhu dan Koefisien Varian Penetrasi I
Pengujian Suhu (C) Koefisien Varian (%)
Area A 25 26.3
Area B 24,3 21.56
Area C 23,6 17.17





Gambar 12. Grafik Hubungan Suhu dan Koefisien Varian Penetrasi I





y = 2.7719x - 51.751
R = 0.7689
-10
-5
0
5
10
15
20
25
30
0 5 10 15 20 25 30
S
u
h
u

(

C
)

Koefisien Varian (%)
15

2. Perhitungan Koefisien Varian Penetrasi II
Tabel 12. Perhitungan Koefisien Varian Penetrasi I
Pengamatan
(Titik Uji)
Penetrasi II
(Xi)
Xi -X rata-
rata
|Xi-X
rata-rata|
|Xi-X
rata-
rata|2
Bagian A
A
1
9 -0.3
0.3 0.09
A
2
6 -3.3
3.3 10.89
A
3
13 3.7
3.7 13.69
Rata-rata 9.3 0.0
2.4 8.2
Bagian B
B
4
14
0 0 0
B
5
16
2 2 4
B
6
12
-2 2 4
Rata-rata
14 0 1.3 2.7
Bagian C
C
7
20
1.7 1.7 2.89
C
8
18
-0.3 0.3 0.09
C
9
17
-1.3 1.3 1.69
Rata-rata 18.3 0.0 1.1 1.6
a. Menghitung Varian
Rumus :
S
2
=


S2A =


= 4,1
S
2
B =


= 1,35
16

S
2
C =


= 0,8
b. Menghitung Standar Deviasi
Rumus :
Sd =
Sd A =
=


= 2,02
Sd B =
=
= 1,16
Sd C =
=


= 0,89
c. Menghitung Koefisien Varian
Rumus :
KV =

x 100%
KV A =


x 100%
=

x 100%
= 21,72%
KV B =


x 100%
=

x 100%
17

= 8,28%
KV C =


x 100%
=

x 100%
= 4,86%

Tabel 13. Hubungan Suhu dan Koefisien Varian Penetrasi II
Pengujian Suhu (C) Koefisien Varian (%)
Area A
25,3
21.72
Area B
24,6
8.28
Area C
26
4.86


Gambar 13. Grafik Hubungan Suhu dan Koefisien Varian Penetrasi II

G. KENDALA PRAKTIKUM
Kendala dalam pelaksanaan Praktikum Pengujian Penetrasi Aspal salah
satunya adalah keterbatasan alat, penetrometer yang ada hanya 1 dan jarum
penunjuk angka pada alat tersebut sudah rusak.

H. KESIMPULAN
Berdasarkan dari percobaan yang telah kelompok kami lakukan, kami
menyimpulkan bahwa penentuan penetrasi adalah suatu cara untuk
y = -1.1064x + 21.523
R = 0.4315
-5
0
5
10
15
20
25
30
0 5 10 15 20 25
S
u
h
u

(

C
)

Koefisien Varian (%)
18

mengetahui konsistensi aspal. Konsistensi aspal merupakan derajat
kekentalan aspal yang sangat dipengaruhi oleh suhu.dan pada percobaan
pertama kami mendapatkan hasil penurunan yang relatif stabil yaitu setiap
percobaan mempunyai selisih sebesar 2 mm. Sedangkan pada pengujian
kedua mendapatkan hasil yang tidak sama dengan percobaaan pertama
mungkin ada bebrapa faktor yang mempengaruhi yaitu suhu dan waktu.

I. SARAN SARAN
Alangkah baiknya jika semua peralatan yang digunakan sesuai dengan
standar yang sudah ditetapkan dan lakukanlah pengujian sesuai dengan
prosedur yang ada termasuk mencatat waktu mulai dan selesai saat
pengukuran suhu. Pengujian juga harus dilakukan secara teliti sehingga
didapatkan hasil yang akurat.


















19

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad, Ridho (2012) Laporan Pengujian Aspal. Diunduh dari http://em-
ridho.blogspot.com/2012/01/laporan-praktikum-pengujian-
penetrasi.html. Diakses pada tanggal 11 Maret 2014, Pukul 11.30
WIB.
RSNI 06-2456-1991. Metoda Pengujian Penetrasi Bahan-bahan Bitumen. Badan
Standarisasi Nasional
RSNI S-01-2003. Spesifikasi Aspal Keras Berdasarkan Penetrasi. Diunduh dari
www.pu.go.id/satminkal/itjen/peraturan/sni/RSNI%20S-01-2003
Diakses pada tanggal 11 Maret 2014, pukul 21.38 WIB.
SNI 2432-2011. Cara Uji Penetrasi. Badan Standarisasi Nasional.
Sukirman, Silvia. (1999). Diunduh dari http://onlinebook.google.com/Silvia
Sukirman . Diakses pada tanggal 11 maret 2014, pukul 14.17 WIB

















20

LAMPIRAN


Gambar 14. Pengukuran suhu aspal dengan termometer
(sumber: Adik, 2014)



Gambar 15. Proses penetrasi pada aspal
(sumber: Adik, 2014)