Anda di halaman 1dari 21

Nama : Wardatul Hasanah

NPM : 11 - 041

SELEKSI KASUS DAN RENCANA PERAWATAN ENDODONTI

Pertimbangan umum :
1. kesehatan penderita
2. umur penderita
3. keadaan social ekonomi penderita

1. Keadaan Pasien

Keadaan Medis

Seperti penyakit jantung kelainan pendarahan, diabetes, kanker , AIDS, kehamilan ,
alergi dalam pengobatan steroid, penyakit menular, cacat fisik, dialysis, dan lain lain.

Keadaan psikis

Seperti motivasi, masalah manajemen pasien, keadaan ekonomi

2. Pertimbangan Keadaan Lokal

Apakah gigi tersebut harus dipertahankan
Keadaan mulut penderita
Keadaan mahkota gigi
Keadaan saluran akar gigi
Keadaan akar
Keadaan jaringan periodontal
Keadaan jaringan peridonsium
Keadaan prosesus alveolaris

3. Kondisi Gigi

Morfologi gigi
Seperti bentuk panjang gigi dan saluran akar yang tidak biasa, derajat lengkung saluran
akar, jumlah saluran akar, resorpsi, dan kalsifikasi.

Perawatan yang sudah pernah dilakukan
Seperti kesalahan preparasi saluran akar, pengisian, instrument yang patah, dan
perforasi.

Lokasi gigi

Seperti pengalaman kerja, kemampuan, dan peralatan yang cukup.

RENCANA PERAWATAN

Menghilangkann rasa sakit dan drainase.Bila tidak sakit lagi, pemeriksaan menyeluruh
dapat dilanjutkan dan rencana perawatan ditentukan.
Tahap perawatan :

a. perawatan darurat untuk menghilangkan sakit
b. ekstraksi gigi yang tidak dapat dipertahankan
c. perawatan karies ( preventif )
d. perawatan periodontal
e. perawatan saluran akar
f. prosedur restorative

MEMILIH KASUS PERAWATAN PULPA, PERAWATAN AKAR, DAN PERAWATAN
PERIAPIKAL.

Terbukanya dentin
Terbukanya pulpa
Keadaan patologis dari pulpa : pulpitis dan nekrosis
Resorpsi internal
Fraktur akar, karena trauma
Keadaan patologi periapikal dan radicular

PERAWATAN KELAINAN / PENYAKIT PULPA DAN PERIAPIKAL

Tergantung dari :
1. Pertimbangan dalam memilih kasus
2. Diagnosa gigi yang dirawat

MACAM-MACAM PERAWATAN ENDODONTIK

A. ENDO KONVENSIONAL

1. PULP CAPPING
a. DIREK
b. INDIREK

2. PULPOTOMI

3. PERAWATAN S.A
a. PULPEKTOMI
b. ENDOINTRAKANAL

4. APEKSIFIKASI


B. ENDO BEDAH

1. KURETASE APEKS
2. RESEKSI APEKS
3. INTENTIONAL REPLANT
4. HEMISEKSI
5. IMPLAN ENDODONTIK

Indikasi umum perawatan endodonsia :
1. Gigi dengan kelainan yang telah mengenai jaringan pulpa dan periapikal
2. Sebagai pencegahan untuk menghindari infeksi jaringan periapikal
3. Untuk rencana pembuatan mahkota pasak
4. Sebagai penyangga / abunment gigi tiruan
5. Kesehatan umum pasien baik
6. Oral hygiene pasien baik
7. Masih didukung jaringan penyangga gigi yang baik
8. Pasien bersedia untuk dilakukan perawatan
9. Operator mampu.

Kontraindikasi perawatan endodonsia :
1. Gigi yang tidak dapat direstorasi lagi
2. Tidak didukung jaringan penyangga gigi yang cukup
3. Gigi yang tidak strategis, tidak mempunyai nilai estetik dan fungsional. Misalnya gigi
yang lokasinya jauh di luar lengkung.
4. Fraktur vertikal
5. Resorpsi yang luas baik internal maupun eksternal
6. Gigi dengan saluran akar yang tidak dapat dipreparasi; akar terlalu bengkok, saluran
akar banyak dan berbelit-belit.
7. Jarak interoklusal terlalu pendek sehingga akan menyulitkan dalam instrumentasi.
8. Kesehatan umum pasien buruk
9. Pasien tidak bersedia untuk dilakukan perawatan
10. Operator tidak mampu.

PERAWATAN ENDODONTIK KONVENSIONAL
Tujuan dasar dari perawatan endodontik pada anak mirip dengan pasien dewasa, yaitu
untuk meringankan rasa sakit dan mengontrol sepsis dari pulpa dan jaringan periapikal
sekitarnya serta mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara
biologis oleh jaringan sekitarnya. Ini berarti bahwa tidak terdapat lagi simtom, dapat
berfungsi dengan baik dan tidak ada tanda-tanda patologis yang lain. Faktor
pertimbangan khusus diperlukan pada saat memutuskan rencana perawatan yang
sesuai untuk gigi geligi sulung yaitu untuk mempertahankan panjang lengkung rahang.

1 Pulp Capping
Pulp Capping didefinisikan sebagai aplikasi dari satu atau beberapa lapis bahan
pelindung di atas pulpa vital yang terbuka.
Bahan yang biasa digunakan untuk pulp capping ini adalah kalsium hidroksida karena
dapat merangsang pembentukan dentin sekunder secara efektif dibandingkan bahan
lain. Tujuan pulp capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan
melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat mempertahankan vitalitasnya. Dengan
demikian terbukanya jaringan pulpa dapat terhindarkan. Teknik pulp capping ini ada
dua yaitu indirect pulp capping dan direct pulp capping.

a. Indirect Pulp Capping

Istilah ini digunakan untuk menunjukan penempatan bahan adhesif di atas sisa dentin
karies. Tekniknya meliputi pembuangan semua jaringan karies dari tepi kavitas dengan
bor bundar kecepatan rendah. Lalu lakukan ekskavasi sampai dasar pulpa, hilangkan
dentin lunak sebanyak mungkin tanpa membuka kamar pulpa. Basis pelindung pulpa
yang biasa dipakai yaitu zinc okside eugenol atau dapat juga dipakai kalsium hidroksida
yang diletakan di dasar kavitas. Apabila pulpa tidak lagi mendapat iritasi dari lesi karies
diharapkan jaringan pulpa akan bereaksi secara fisiologis terhadap lapisan pelindung
dengan membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil jaringan pulpa harus
vital dan bebas dari inflamasi.
Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini
terjadi maka tindakan selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan
yang lebih radikal lagi yaitu amputasi pulpa (pulpotomi).

b. Direct Pulp Capping

Direct Pulp Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung ke jaringan
pulpa. Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva, kalsium hidroksida
dapat ditempatkan di dekat pulpa dan selapis semen zinc okside eugenol dapat
diletakkan di atas seluruh lantai pulpa dan biarkan mengeras untuk menghindari
tekanan pada daerah perforasi bila gigi di restorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari
gejala patologis dan akan lebih baik jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan
ini berhasil maka pulpa di sekitar daerah terbuka tersebut harus vital dan dapat terjadi
proses perbaikan.

Langkah-langkah Pulp Capping :
1. Siapkan peralatan dan bahan.
Gunakan kapas, bor, dan peralatan lain yang steril.
2. Isolasi gigi.
Selain menggunakan rubber dam, isolasi gigi juga dapat menggunakan kapas dan
saliva ejector, jaga posisinya selama perawatan.
3. Preparasi kavitas.
Tembus permukaan oklusal pada tempat karies sampai kedalaman 1,5 mm (yaitu kira-
kira 0,5 mm ke dalam dentin. Pertahankan bor pada kedalaman kavitas dan dengan
hentakan intermitten gerakan bor melalui fisur pada permukaan oklusal.


4. Ekskavasi karies yang dalam
Dengan perlahan-lahan buang karies dengan ekskavator, mula-mula dengan
menghilangkan karies tepi kemudian berlanjut ke arah pulpa. Jika pulpa vital dan
bagian yang terbuka tidak lebih besar diameternya dari ujung jarum maka dapat
dilakukan pulp capping.
5. Berikan kalsium hidroksida.
Keringkan kavitas dengan cotton pellet lalu tutup bagian kavitas yang dalam termasuk
pulpa yang terbuka dengan pasta kalsium hidroksida.


2 Pulpotomi

Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa kemudian diikuti oleh
penempatan obat di atas orifis yang akan menstimulasikan perbaikan atau
memumifikasikan sisa jaringan pulpa vital di akar gigi. Pulpotomi disebut juga
pengangkatan sebagian jaringan pulpa. Biasanya jaringan pulpa di bagian korona yang
cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk mempertahankan vitalitas jaringan pulpa
dalam saluran akar. Pulpotomi dapat dipilih sebagai perawatan pada kasus yang
melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut
untuk dicabut, pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan
simtom-simtom khususnya pada anak-anak.

Indikasi pulpotomi adalah anak yang kooperatif, anak dengan pengalaman buruk pada
pencabutan, untuk merawat pulpa gigi sulung yang terbuka, merawat gigi yang apeks
akar belum terbentuk sempurna, untuk gigi yang dapat direstorasi.
Kontraindikasi pulpotomi adalah pasien yang tidak kooperatif, pasien dengan
penyakit jantung kongenital atau riwayat demam rematik, pasien dengan kesehatan
umum yang buruk, gigi dengan abses akut, resorpsi akar internal dan eksternal yang
patologis, kehilangan tulang pada apeks dan atau di daerah furkasi. Saat ini para dokter
gigi banyak menggunakan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Formokresol
merupakan salah satu obat pilihan dalam perawatan pulpa gigi sulung dengan karies
atau trauma. Obat ini diperkenalkan oleh Buckley pada tahun 1905 dan sejak saat itu
telah digunakan sebagai obat untuk perawatan pulpa dengan tingkat keberhasilan yang
tinggi.

Beberapa tahun ini penggunaan formokresol sebagai pengganti kalsium hidroksida
untuk perawatan pulpotomi pada gigi sulung semakin meningkat. Bahan aktif dari
formokresol yaitu 19% formaldehid, 35% trikresol ditambah 15% gliserin dan air.
Trikresol merupakan bahan aktif yang kuat dengan waktu kerja pendek dan sebagai
bahan antiseptik untuk membunuh mikroorganisme pada pulpa gigi yang mengalami
infeksi atau inflamasi sedangkan formaldehid berpotensi untuk memfiksasi jaringan.
Sweet mempelopori penggunaan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Awalnya
perawatan pulpotomi dengan formokresol ini dilakukan sebanyak empat kali kunjungan
namun saat ini perawatan pulpotomi dengan formokresol dapat dilakukan untuk satu
kali kunjungan.

Beberapa studi telah dilakukan untuk membandingkan formokresol dengan kalsium
hidroksida dan hasilnya memperlihatkan bahwa perawatan pulpotomi dengan
formokresol pada gigi sulung menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih baik
daripada penggunaan kalsium hidroksida. Formokresol tidak membentuk jembatan
dentin tetapi akan membentuk suatu zona fiksasi dengan kedalaman yang bervariasi
yang berkontak dengan jaringan vital.

Zona ini bebas dari bakteri dan dapat berfungsi sebagai pencegah terhadap infiltrasi
mikroba. Keuntungan formokresol pada perawatan pulpa gigi sulung yang terkena
karies yaitu formokresol akan merembes melalui pulpa dan bergabung dengan protein
seluler untuk menguatkan jaringan. Penelitian-penelitian secara histologis dan
histokimia menunjukkan bahwa pulpa yang terdekat dengan kamar pulpa menjadi
terfiksasi lebih ke arah apikal sehingga jaringan yang lebih apikal dapat tetap vital.
Jaringan pulpa yang terfiksasi kemudian dapat diganti oleh jaringan granulasi vital.
Perawatan pulpotomi formokresol hanya dianjurkan untuk gigi sulung saja, diindikasikan
untuk gigi sulung yang pulpanya masih vital, gigi sulung yang pulpanya
terbuka karena karies atau trauma pada waktu prosedur perawatan.

a. Pulpotomi Vital

Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital formokresol satu kali kunjungan untuk gigi
sulung :

1. Siapkan instrumen dan bahan. Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit
saat perawatan

2. Isolasi gigi.
Pasang rubber dam, jika rubber dam tidak bisa digunakan isolasi dengan kapas dan
saliva ejector dan jaga keberadaannya selama perawatan.

3. Preparasi kavitas.
Perluas bagian oklusal dari kavitas sepanjang seluruh permukaan oklusal untuk
memberikan jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa.

4. Ekskavasi karies yang dalam.

5. Buang atap pulpa.
Dengan menggunakan bor fisur steril dengan handpiece berkecepatan rendah.
Masukkan ke dalam bagian yang terbuka dan gerakan ke mesial dan distal seperlunya
untuk membuang atap kamar pulpa.

6. Cuci dan keringkan kamar pulpa.
Semprot kamar pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril.
Penyemprotan akan mencuci debris dan sisa-sisa pulpa dari kamar pulpa. Keringkan
dan kontrol perdarahan dengan kapas steril.

7. Aplikasikan formokresol.
Celupkan kapas kecil dalam larutan formokresol, buang kelebihannya dengan
menyerapkan pada kapas dan tempatkan dalam kamar pulpa, menutupi pulpa bagian
akar selama 4 sampai dengan 5 menit.

8. Berikan bahan antiseptik.
Siapkan pasta antiseptik dengan mencampur eugenol dan formokresol dalam bagian
yang sama dengan zinc oxide. Keluarkan kapas yang mengandung formokresol dan
berikan pasta secukupnya untuk menutupi pulpa di bagian akar. Serap pasta dengan
kapas basah secara perlahan dalam tempatnya. Dressing antiseptik digunakan bila ada
sisa-sisa infeksi.

9. Restorasi gigi.
Tempatkan semen dasar yang cepat mengeras sebelum menambal dengan amalgam
atau penuhi dengan semen sebelum preparasi gigi untuk mahkota stainless steel.

b. Pulpotomi Non Vital

Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk
mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan
proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di
saluran akar.
Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital yaitu perawatan
pulpotomi mortal (pulpotomi devital). Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan
endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian
dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar.

Langkah-langkah perawatan pulpotomi devital :

Kunjungan pertama:
1. Siapkan instrumen dan bahan.
2. Isolasi gigi dengan rubber dam.
3. Preparasi kavitas.
4. Ekskavasi karies yang dalam.
5. Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece kecepatan rendah.
6. Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar.
7. Cuci dan keringkan pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum
steril.
8. Letakkan arsen atau euparal pada bagian terdalam dari kavitas.
9. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
10. Bila memakai arsen instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai dengan 3 hari,
sedangkan jika memakai euparal instruksikan pasien untuk kembali setelah 1 minggu



Kunjungan kedua :
1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
2. Buang tambalan sementara.
Lihat apakah pulpa masih vital atau sudah non vital. Bila masih vital lakukan lagi
perawatan seperti pada kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan
perawatan selanjutnya.
3. Berikan bahan antiseptik.
4. Tekan pasta antiseptik dengan kuat ke dalam saluran akar dengan cotton pellet.
5. Aplikasi semen zinc oxide eugenol.
6. Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

3 Pulpektomi

Pulpektomi adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa. Pulpektomi merupakan
perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang bersifat
irreversibel atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Meskipun
perawatan ini memakan waktu yang lama dan lebih sukar daripada pulp capping atau
pulpotomi namun lebih disukai karena hasil perawatannya dapat diprediksi dengan baik.
Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik
akan diperoleh hasil perawatan yang baik pula.

Indikasi perawatan pulpektomi pada anak adalah gigi yang dapat direstorasi, anak
dengan keadaan trauma pada gigi insisif sulung dengan kondisi patologis pada anak
usia 4-4,5 tahun, tidak ada gambaran patologis dengan resorpsi akar tidak lebih dari
dua pertiga atau tiga perempat.

a. Pulpektomi Vital

Langkah-langkah perawatan pulpektomi vital satu kali kunjungan :

1. Pembuatan foto Rontgen.
Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan jaringan sekitar gigi
yang akan dirawat. Pemberian anestesi lokal untuk menghilangkan rasa sakit pada saat
perawatan.

2. Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari kontaminasi bakteri
dan saliva.

3. Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa dibuang dengan
menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas dengan bor fisur steril.

4. Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan ekskavatar atau bor
bundar kecepatan rendah.


5. Perdarahan yang terjadi setelah pembuangan jaringan pulpa dikendalikan dengan
menekankan cotton pellet steril yang telah dibasahi larutan saline atau akuades selama
3 sampai dengan 5 menit.

6. Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah terlepas kemudian
diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril. Jaringan pulpa di saluran akar
dikeluarkan dengan menggunakan jarum ekstirpasi dan headstrom file.

7. Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran dan darah
kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper point steril yang telah dibasahi
dengan formokresol kemudian diaplikasikan ke dalam saluran akar selama 5 menit.

8. Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal dengan
menggunakan jarum lentulo.

9. Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian.

10. Kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng oksida eugenol
atau seng fosfat.

11. Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen.

b. Pulpektomi Non Vital

Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital adalah pulpektomi
mortal (pulpektomi devital). Pulpektomi mortal adalah pengambilan semua jaringan
pulpa nekrotik dari kamar pulpa dan saluran akar gigi yang non vital, kemudian
mengisinya dengan bahan pengisi. Walaupun anatomi akar gigi sulung pada beberapa
kasus menyulitkan untuk dilakukan prosedur pulpektomi, namun perawatan ini
merupakan salah satu cara yang baik untuk mempertahankan gigi sulung dalam
lengkung rahang.

Langkah-langkah perawatan pulpektomi non vital :

Kunjungan pertama :
1. Lakukan foto rontgen.
2. Isolasi gigi dengan rubber dam.
3. Buang semua jaringan karies dengan ekskavator, selesaikan preparasi dan
desinfeksi kavitas.
4. Buka atap kamar pulpa selebar mungkin.
5. Jaringan pulpa dibuang dengan ekskavator sampai muara saluran akar terlihat.
6. Irigasi kamar pulpa dengan air hangat untuk melarutkan dan membersihkan debris.
7. Letakkan cotton pellet yang dibasahi trikresol formalin pada kamar pulpa.
8. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
9. Instruksikan pasien untuk kembali 2 hari kemudian.

Kunjungan kedua :
1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
2. Buang tambalan sementara.
3. Jaringan pulpa dari saluran akar di ekstirpasi, lakukan reaming, filling, dan irigasi.
4. Berikan Beechwood creosote.
2. Celupkan cotton pellet dalam beechwood creosote, buang kelebihannya, lalu
letakkan dalam kamar pulpa.
5. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
6. Instruksikan pasien untuk kembali 3 sampai dengan 4 hari kemudian.

Kunjungan ketiga :
1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
2. Buang tambalan sementara.
3. Keringkan kamar pulpa, dengan cotton pellet yang berfungsi sebagai stopper
masukkan pasta sambil ditekan dari saluran akar sampai apeks.
4. Letakkan semen zinc fosfat.
5. Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

3.3.4 Endo Intrakanal
Endo intrakanal adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa yang sudah mati
seluruhnya. Endo intrakanal merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang telah
mengalami kerusakan yang bersifat irreversibel atau untuk gigi dengan kerusakan
jaringan keras yang luas. Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran diangkat serta saluran
akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil perawatan yang baik pula. Tahapan
perawatan endo intrakal sama dengan perawatan pulpektomi, perbedaan perawatannya
adalah pada pemakaian anastesi, pada perawatan endo intrakanal tidak memerlukan
anastesi karena gigi dalam kondisi non vital.

Indikasi endo intrakanal :
- Nekrosis pulpa totalis
- Perawatan ulang
- Kelainan periapikal

Kontraindikasi endo intrakanal :
- OH jelek
- Tidak mempunyai nilai estetik / fungsional
- Fraktur dengan arah vertikal
- Mengganggu pertumbuhan gigi tetangga
- Resorbsi interna / eksterna meliputi setengah akar

Langkah-langkah perawatan endo intrakanal :
1. Pembuatan foto Rontgen.
Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan jaringan sekitar gigi
yang akan dirawat.
2. Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari kontaminasi bakteri
dan saliva.
3. Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa dibuang dengan
menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas dengan bor fisur steril.
4. Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan ekskavatar atau bor
bundar kecepatan rendah.
5. Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah terlepas kemudian
diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril. Jaringan pulpa di saluran akar
dikeluarkan dengan menggunakan jarum ekstirpasi dan headstrom file.
6. Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran dan darah
kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper point steril yang telah dibasahi
dengan formokresol kemudian diaplikasikan ke dalam saluran akar selama 5 menit.
7. Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal dengan
menggunakan jarum lentulo.
8. Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian.
9. Kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng oksida eugenol
atau seng fosfat.
10. Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen.

3.4 TEKNIK PERAWATAN SALURAN AKAR
Tahap-tahap perawatan endotektomi :
- Membuat foto untuk diagnose dan rencana perawatan
- Menyiapkan file, paper point
- Melakukan devitalisasi untuk gigi yang masih vital
- Untuk gigi non vital dilakukan pre sterilisasi
- Open bur, mengambil atap pulpa, mencari orifice : preparasi cavity entrance
- DWF ; tentukan panjang kerja
- Preparasi saluran akar dengan file, irigasi, foto preparasi : teknik konvensional, teknik
step back, teknik crown down
- Sterilisasi memakai paper point, obat, kapas steril, tumpatan sementara. Sterilisasi
ulang, sampai paper point kering dan tidak berbau
- Tes perbenihan
- Pengisian pasta Zn Oxide Eugenol : teknik single cone, teknik kondensasi lateral,
teknik kondensasi vertikal
- Foto pengisian
- Basis Zn PO4
- Control 2 minggu kemudian, apabila tidak ada keluhan, dapat ditumpat tetap.


Fase-fase Perawatan Endodontik :
3.4.1. Preparasi Akses :
- Fase yang paling penting dari aspek teknik perawatan akar.
- Merupakan kunci untuk membuka pintu bagi keberhasilan tahap pembersihan,
pembentukan dan obturasi saluran akarnya.
- Tujuan:
o Membuat akses yang lurus.
o Menghemat preparasi jaringan gigi.
o Membuka atap ruang pulpa.

Teknik Akses Preparasi Cavity Entrance
3.4.1.1 Outline Form Cavity Entrance
- Proyeksi ruang pulpa ke permukaan gigi di bagian cingulum untuk gigi anterior atau
oklusal untuk gigi posterior.
- Tujuan : Untuk membuat akses yang lurus, menghemat preparasi jaringan gigi,
membuka atap ruang pulpa.
a. Outline Form Insisivus RA : bentuknya trangular dengan alas sejajar insisal



b. Outline Form Kaninus RA : bentuknya oval / bulat dengan arah insiso servikal

c. Outline Form Premolar RA : bentuknya oval memanjang seperti ginjal dengan arah
bukal palatal



d. Outline Form Premolar RB : bentuknya bulat / oval

e. Outline Form Molar RA : bentuknya triangular dengan alas sejajar bukal



f. Outline Form Molar RB : bentuknya triangular dengan alas sejajar mesial


3.4.1.2 Preparasi Cavity Entrance
3.4.1.2.1 Alat Preparasi Kavitas
1. Contra Angle Handpiece Low Speed
2. Macam-macam mata bur Low Speed
a. Round bur kecil
b. Round bur besar
c. Fissure bur silinder
d. Fissure bur long shank dan round end

3.4.1.2.2 Saluran Akar Tunggal
- Preparasi dimulai dengan round bur no 2 atau 4 atau tapered fissure diamond bur
dengan arah tegak lurus pada permukaan enamel sampai menembus jaringan dentin
dan diteruskan sampai atap pulpa terbukan dengan kedalaman 3 mm.
- Setelah itu arah bur diubah menjadi sejajar sumbu gigi sampai menembus ruang
pulpa sehingga ditemukan lubang saluran akar yang terletak pada dasar ruang pulpa
yang disebut orifice.
- Gunakan tapered fissure no 2 atau 4 untuk membentuk dinding cavity entrance
divergen ke arah oklusal atau insisal sampai jarum miller dapat masuk dengan lurus,
setelah terasa tembus maka orifice dicari dengan menggunakan jarum miller.
- Menghilangkan tanduk pulpa menggunakan round diamond bur dengan gerakan
menarik keluar kavitas sehingga cavity entrance terbentuk dengan baik dan alat
preparasi dapat dimasukkan ke dalam saluran akar dengan bebas. Masukkan jarum
ektirpasi, diputar searah jarum jam dan ditarik keluar, diulang lagi sampai jaringan pulpa
dicabut.

Preparasi Cavity Entrance Insisivus RA

3.4.1.2.3 Saluran Akar Ganda
- Pembutan cavity entrance menggunakan round bur no1 atau tapered fissure diamond
bur pada tengah fossa di bagian oklusal atau endo access.
- Setelah kedalaman preparasi mencapai dentin, preparasi dilanjutkan menggunakan
fissure diamond bur sampai ditemukan orifice ke 3 saluran akar.
- Pada gigi berakar ganda, bila atap pulpa belum terbuka maka cari orifice yang paling
besar terlebih dahulu, kemudian atap pulpa diangkat dengan bur sesuai letak orifice.
- Menghilangkan tanduk pulpa menggunakan round diamond bur dengan gerakan
menarik keluar kavitas, sehingga cavity entrance terbentuk dengan baik dan alat
preparasi dapat dimasukkan ke dalam saluran akar dengan bebas.

Preparasi Cavity Entrance Premolar RA


Preparasi Cavity Entrance Molar RA


Preparasi Cavity Entrance Molar RB

3.4.1.2.4 Kesalahan-Kesalahan yang mungkin dapat terjadi pada waktu preparasi cavity
entrance :
1. Preparasi salah arah menyebabkan terjadinya step atau perforasi lateral
2. Preparasi terlalu dalam menyebabkan perforasi menembus bufurkasi
3. Jika preparasi cavity entrance terlalu lebar maka dinding kavitas menjadi tipis dan
mudah pecah jika ditumpat.


3.4.2. Penentuan Panjang Kerja
- Panjang Kerja : Panjang dari alat preparasi yang masuk ke dalam saluran akar pada
waktu melakukan preparasi saluran akar.
- Menentukan panjang kerja dikurangi 1 mm panjang gigi sebenarnya, untuk
menghindari :
o Rusaknya apical constriction (penyempitan saluran akar di apical).
o Perforasi ke apical.

- Cara melakukan DWP (Diagnostic Wire Photo)
Masukkan jarum miller atau file nomor kecil yang diberi stopper dengan guttap perca
pada batas panjang gigi rata-rata dikurangi 1-2 mm lalu dilakukan foto R. Dari hasil
foto dilakukan pengukuran dengan menggunakan rumus :
PGS = PGF x PAS
PAF
Keterangan :
PGS = panjang gigi sebenarnya
PGF = panjang gigi foto
PAS = panjang alat sebenarnya
PAF = panjang alat foto

3.4.3. Pembersihan dan Pembentukan Saluran Akar
- Pembersihan debridement : pembuangan iritan dari sistem saluran akar.
- Tujuan : Membasmi habis iritan tersebut walaupun dalam kenyataan praktisnya
hanyalah sebatas pengurangan yang signifikan saja.
- Iritan: bakteri, produk samping bakteri, jaringan nekrotik, debris organik, darah dan
kontaminan lain.

3.4.4. Pembentukan Saluran Akar
- Membentuk saluran akar melebar secar kontinyu dari apeks ke arah korona.
- Pelebaran
Saluran akar harus cukup besar untuk melakukan debridement yang baik dan dapat
memanipulasi serta mengendalikan instrumen dan meterial obturasi dengan baik tapi
tidak sampai melemahkan gigi serta meningkatkan peluang terjadinya kesalahan
prosedur.
- Ketirusan
Ketirusan hasil preparasi harus cukup sehingga instrumen penguak dan pemampat
gutta perca dapat berpenetrasi cukup dalam.
- Kriteria
Saluran akar siap menerima obturasi baik dengan kondensasi lateral maupun vertikal,
saluran akar harus berbentuk corong ke arah korona dan dalam ukuran cukup besar
sehingga instrument pemampat dan penguak dapar masuk cukup dalam.

3.4.5. Ekstirpasi Pulpa
Menggunakan jarum ekstirpasi, reamer ataupun miller.

3.4.5.1 Indikasi :
- Saluran akar lurus, tidak bengkok
- Tidak ada obliterasi saluran akar
- Saluran akar jelas
- Kerusakan belum mengenai bifurkasi
- Resorbsi < panjang akar gigi Pulpektomi - Resorbsi > panjang akar gigi
Pulpotomi.

3.4.6. Teknik Perawatan Saluran Akar
3.4.6.1 Alat Preparasi Saluran Akar :
1. Jarum miller
2. Jarum ekstirpasi
3. Flexofile no. 15-80 penjang disesuaikan dengan panjang elemen
4. Alat irigasi
5. Cotton pellet, paper point steril, dan cotton roll
6. Tempat jarum
7. GGD

3.4.6.2 Gigi Permanen
3.4.6.2.1 Teknik Konvensional
1. Teknik konvensional yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada gigi
dengan saluran akar lurus dan akar telah tumbuh sempurna.
2. Preparasi saluran akar menggunakan file tipe K
3. Gerakan file tipe K-flex adalah alat diputar dan ditarik. Sebelum preparasi stopper file
terlebih dahulu harus dipasang sesuai dengan panjang kerja gigi. Stopper dipasang
pada jarum preparasi setinggi puncak tertinggi bidang insisal. Stopper digunakan
sebagai tanda batas preparasi saluran akar.
4. Preparasi saluran akar dengan file dimulai dari nomor yang paling kecil. Preparasi
harus dilakukan secara berurutan dari nomor yang terkecil hingga lebih besar dengan
panjang kerja tetap sama untuk mencegah terjadinya step atau ledge atau
terdorongnya jaringan nekrotik ke apikal.
5. Selama preparasi setiap penggantian nomor jarum preparasi ke nomor yang lebih
besar harus dilakukan irigasi pada saluran akar. Hal ini bertujuan untuk membersihkan
sisa jaringan nekrotik maupun serbuk dentin yang terasah. Irigasi harus dilakukan
secara bergantian anatar H2O2 3% dan aquadest steril, bahan irigasi terakhir yang
dipakai adalah aquadest steril.
6. Bila terjadi penyumbatan pada saluran akar maka preparasi diulang dengan
menggunakan jarum preparasi yang lebih kecil dan dilakukan irigasi lain. Bila masih ada
penyumbatan maka saluran akar dapat diberi larutan untuk mengatasi penyumbatan
yaitu larutan largal, EDTA, atau glyde (pilih salah satu).
7. Preparasi saluran akar dianggap selelsai bila bagian dari dentin yang terinfeksi telah
terambil dan saluran akar cukup lebar untuk tahap pengisian saluran akar.

Preparasi saluran akar teknik konvensional

3.4.6.2.2 Teknik Step Back
a. Yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada saluran akar yang bengkok
dan sempit pada 1/3 apikal.
b. Tidak dapat digunakan jarum reamer karena saluran akar bengkok sehingga
preparasi saluran akar harus dengan pull and push motion, dan tidak dapat dengan
gerakan berputar.
c. Dapat menggunakan file tipe K-Flex atau NiTi file yang lebih fleksibel atau lentur.
d. Preparasi saluran akar dengan jarum dimulai dari nomer terkecil :
No. 15 s/d 25 = sesuai panjang kerja
File No. 25 = Master Apical File (MAF)
No. 30 = panjang kerja 1 mm MAF
No. 35 = panjang kerja 2 mm MAF
No. 40 = panjang kerja 3 mm MAF
No. 45 = panjang kerja sama dengan no. 40 dst
e. Setiap pergantian jarum file perlu dilakukan pengontrolan panjang kerja dengan file
no. 25, untuk mencegah terjadinya penyumbatan saluran akar karena serbuk dentin
yang terasah.
f. Preparasi selesai bila bagian dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar
cukup lebar untuk dilakukan pengisian.

Preparasi saluran akar teknik step back

3.4.6.2.3 Teknik Balance Force
1. Menggunakan alat preparasi file tipe R- Flex atau NiTi Flex
2. Menggunakan file no. 10 dengan gerakan steam wending, yaitu file diputar searah
jarum jam diikuti gerakan setengah putaran berlawanan jarum jam.
3. Preparasi sampai dengan no. 35 sesuai panjang kerja.
4. Pada 2/3 koronal dilakukan preparasi dengan Gates Glidden Drill (GGD)
GGD #2 = sepanjang 3 mm dari foramen apical
GGD #3 = sepanjang GGD #2 2 mm
GGD #4 = sepanjang GGD #3 2 mm
GGD #5 = sepanjang GGD #4 2 mm
GGD #6 = sepanjang GGD #5 2 mm
5. Preparasi dilanjutkan dengan file no. 40 s/d no.45
6. Dilakukan irigasi
7. Keuntungan balance force :
- Hasil preparasi dapat mempertahankan bentuk semula
- Mencegah terjadinya ledge dan perforasi
- Mencegah pecahnya dinding saluran akar
- Mencegah terdorongnya kotoran keluar apeks

3.4.6.2.4 Teknik Crown Down Presureless
a. Teknik disebut juga dengan teknik step down, merupakan modifikasi dari teknik step
back.
b. Diawali dengan file terbesar sx/Gates Gliden Drill preparasi 1/3 koronal (19 mm).
c. Menghasilkan hasil yang serupa yakni seperti corong yang lebar dengan apeks yang
kecil (tirus).
d. Bermanfaat pada saluran akar yang kecil dan bengkok di molar RA dan RB.
e. Saluran akar sedapat mungkin dibersihkan dengan baik sebelum instrument
ditempatkan di daerah apeks sehingga kemungkinan terjadinya ekstruksi dentin ke
jaringan periapeks dapat dikurangi.
f. Menggunakan instrument nikel-titanium, baik yang genggam maupun digerakkan
mesin.

3.4.6.3 Gigi Sulung
Teknik Konvensional
Prosedur Teknik Konvensional pada Gigi Sulung sama seperti Teknik Konvensional
pada Gigi Permanen.

3.4.7. Irigasi Saluran Akar
3.4.7.1 Tujuan :
Untuk mengeluarkan sisa jaringan nekrotik, serbuk dentin, dan kotoran-kotoran lain
yang terdapat di saluran.
- Irigasi dilakukan setiap :
o Pergantian file pada saat preparasi saluran akar
o Pada saat akan melakukan perbenihan
o Sterilisasi saluran akar

3.4.7.2 Bahan irigasi yang digunakan :
- H2O2 3%
- Aquadest steril
- NaOCl

3.4.7.3 Alat irigasi yang digunakan :
- Spuit 2,5 cc dengan jarum yg dibengkokan dan ujungnya ditumpulkan
- Alat irigasi yang dipakai harus diberi tanda untuk membedakan isi cairan irigasi yang
dipakai
- Alat irigasi disimpan dalam botol tertutup berisi alkohol 70% agar tetap terjaga
sterilisasinya

3.4.7.4 Cara irigasi :
- Jarum irigasi dimasukkan kedalam saluran akar. Jarum irigasi yang masuk kedalam
saluran akar tidak boleh terlalu besar sehingga membuntu saluran akar yang akan
mengakibatan cairan irigasi yang disemprotkan tidak mengalir keluar.
- Bahan irigasi disemprotkan secara perlahan-lahan ke dalam saluran akar
- Bahan irigasi digunakan secara bergantian. Bahan irigasi yang terakhir disemprotkan
ke dalam saluran akar harus aquadest steril.
- Menghisap cairan irigasi yang keluar dengan cotton roll atau saliva ejector atau
section. Tidak boleh terkontaminasi dengan saliva.
- Setelah irigasi, saluran akar dikeringkan dengan menggunakan paper point. Tidak
boleh pakai hembusan udara

3.4.8. Bahan dan Obat-obatan Sterilisasi
3.4.8.1 Sebagai desinfektan antibakteri dengan spektrum luas :
- ChKM ( Chlorophenol Kamfer Menthol )
- Cresophene
- Cresatin
- Formokresol
- TKF ( Tri Kresol Formalin )
- Eugenol (sebagai sedative, digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang
dikombinasikan pada saat dilakukan devitalisasi.)

3.4.8.2 Preparat poliantibiotik :
Grossman :
- Penisilin ( efektif terhadap gram (+)
- Streptomysin ( efektif terhadap gram ()
- Sodium kapsilat ( efektif terhadap jamur )

3.4.8.3 Kombinasi antibiotik kortikosteroid :
- Kortikosteroid ( mengurangi keradangan periapikal .)
- Antibiotik ( membunuh bakteri ex : septomixine dan ledermix .)

3.4.8.4 Bahan devitalisasi
- Arsen ( As2O3 ) ( digunakan pada gigi permanen.)
- Caustinerf Pedodontique / forte ( digunakan pada gigi sulung.)
- TKF ( Tri Kresol Formalin )

3.4.8.5 Medikamen Intrakanal yang biasa digunakan :
3.4.8.5.1 Golongan Fenol :
- Eugenol
- CMCP ( Camphorated Monoparachlorophenol )
- Parachlorophenol ( PCP )
- Camphorated parachlorophenol ( CPC )
- Metakresilasetat ( cresatin )
- Kresol
- Creosote ( beechwood )
- Timol

3.4.8.5.2 Aldehid :
- Formokresol
- Glutaraldehid

3.4.8.5.3 Halida :
- Natrium hipoklorit
- Iodine kalium iodida

3.4.8.5.4 Steroid

3.4.8.5.5 Hidroksida kalsium
Bukan antiseptik konvensional
Dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Bekerja lambat
Harus berkontak langsung
Dapat digunakan sebagai antiseptik antar kunjungan (terutama pada gigi nekrotik)

3.4.8.5.6 Antibiotik
3.4.8.5.7 Kombinasi

3.4.9. Perbenihan
3.4.9.1 Prosedur perbenihan :
- Pasien dikontrol lebih dulu
- Siapkan papper point dan cotton pellet. Masukkan papper point dan cotton pellet ke
dalam Glassbead sterilisator dan ditutup, nyalakan, biarkan sampai lampu pada
glassbead sterilisator menjadi hijau (Ready). Papper point dan cotton pellet siap
digunakan. Buka alat glassbead sterilisator.

Hasil Perbenihan negatif, saluran akar dapat diisi dengan memperhatikan ketentuan
sebagai berikut :
- Tidak ada keluhan pasien
- Tidak ada gejala klinik
- Tidak ada eksudat dalam saluran akar (cek dari papper point yang terdapat dalam
saluran akar caranya ulaskan papper point pada glass lab. Bila tidak berbekas, berarti
bisa dilakukan pengisian), papper point diulaskan di glass lab.
- Tumpatan sementara masih baik

Hasil pembenihan positif, maka dilakukan sterilisasi ulang sampai hasil pembenihan
negatif.

3.4.10. Bahan Pengisian Saluran Akar
3.4.10.1 Syarat-Syarat Bahan Pengisi Saluran Akar
a. Bahan harus dapat dengan mudah dimasukkan ke saluran akar.
b. Harus menutup saluran ke arah lateral dan apikal.
c. Harus tidak mengerut setelah dimasukkan.
d. Harus kedap terhadap cairan.
e. Harus bakterisidal atau paling tidak harus menghalangi pertumbuhan bakteri.
f. Harus radiopak.
g. Tidak menodai struktur gigi.
h. Tidak mengiritasi jaringan periapikal atau mempengaruhi struktur gigi.
i. Harus steril atau dapat segera disterilkan dengan cepat sebelum dimasukkan.
j. Bila perlu dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran akar.

3.4.10.2 Gigi Sulung
- Zinc oxide eugenol paste
- Iodoform paste
- Calcium hydroxide

3.4.10.3 Gigi Permanen
3.4.10.3.1 Siller berbasis OSE
Keuntungan :
Riwayat keberhasilan berlangsung lama, kualitas positif mengalahkan aspek negatifnya
(mewarnai gigi, waktu pengerasan sangat lambat, tidak adhesive, larut).

3.4.10.3.2 Formula Grossman
Bubuk :
- ZnO (badan semen) 42 bagian
- Resin stabelit (konsistensi dan waktu pengerasan) 27 bagian
- Bismuth subkarbonat 15 bagian
- BaSO4 (keradiopakkan) 15 bagian
- Na-barat 1 bagian
Cairan : Eugenol
Masalah yang ada pada formula ini adalah waktu pengerasan sangat lambat, > 2
bulan.

3.4.10.3.3 Plastik
Epoksi tersedia dalam formula bubuk cairan (AH26).
Sifat yang dimiliki : antimikroba, adhesi, waktu kerja yang lama, mudah mengaduknya,
dan kerapatan yang sangat baik.
Kekurangannya : mewarnai gigi, relative tidak larut dalam pelarut, agak sedikit toksik
jika belum mengeras dan agak larut pada cairan mulut.

3.4.10.3.4 Hidroksida kalsium (CaOH)2
Siller Ca(OH)2 yang telah diperkenalkan adalah siller yang Ca(OH)2 nya
diinkoporasikan ke dalam basis OSE atau basis plastiknya.

3.4.10.3.5 Ionomer Kaca
Material ini memiliki keuntungan bisa beradhesi ke dentin sehingga diharapkan bisa
mencapai kerapatan yang baik di apeks dan korona dan biokompatibel. Tapi, kekerasan
dan ketidaklarutannya menyukarkan perawatan ulang jika diperlukan dan menyukarkan
pembuatan pasak.

3.4.11. Teknik Pengisian Saluran Akar
3.4.11.1 Alat Pengisian Saluran Akar :
1. Glass plate
2. Alat pengaduk semen
3. Stopper semen
4. Jarum lentulo
5. Finger spreader

Gigi Sulung dan Gigi Permanen
3.4.11.2 Teknik single cone
Teknik pengisian saluran akar untuk teknik preparasi secara konvension
Tahapan :
- Pencampuran pasta saluran akar petunjuk pabrik
- Pasta diulaskan pada jarum lentulo dan guttap point untuk kemudian dimasukan
kedalam saluran akar yang telah dipreparasi jarum lentulo sesuai panjang kerja dan
diputar berlawanan jarum jam.
- Guttap point ( trial foto disterilkan dengan alcohol 70% dan dikeringkan )
1. Pilih guttap point yang diameternya sesuai dengan reamer / file terakhir yang
digunakan pada waktu preparasi saluran akar.
2. Tandai guttap point sesuai dengan panjang kerja.
3. Masukkan guttap point dalam saluran akar sebatas tanda.
4. Guttap point yang memenuhi syarat dapat masuk saluran akar sebatas panjang kerja
dan rapat dengan dinding saluran akar.
- Kering ( diulas dengan pasta ) masuk ke dalam saluran akar.
- Guttap point di potong 1-2mm dibawah orifice dengan ekskavator yang ujungnya telah
di panasi dengan bunsen burner hingga membara.
- Kemudian dasar ruang pulpa diberi basis semen seng fosfat lalu ditutup kapas dan
tumpatan sementara menggunakan fletcher atau cavit.



daftar pustaka

www.UI.seleksi_kasus_rencana_perawatan.pdf.com