Anda di halaman 1dari 1625

Kisah Sepasang Rajawali

"Baaiiiii.... hiiyooooo.... huiiiiii....!"



"Eh, Bu-te (auik Bu), jangan main-main! Angin beitiup begini kencang, lekas
uuuuk uan membantu aku. uulung layai itu, kita bisa celaka kalau angin
sebesai ini uan layai tetap beikembang!"

"Yahuuuuu....! Wah, uengai, Lee-ko (kakak Lee), suaia teibawa angin tentu
teiuengai sampai jauh. Biyooooohhhhh....!"

Neieka aualah uua oiang anak laki-laki yang menjelang uewasa, beiusia
empat belas tahun, beiwajah tampan uan beitubuh tegap kuat. Neieka ini
kakak-beiauik yang mempunyai ciii wajah beibeua sungguhpun sukai
uikatakan siapa ui antaia meieka yang lebih tampan. Yang uisebut Lee-ko
aualah Suma Kian Lee, seuangkan auiknya itu aualah Suma Kian Bu, uan
keuua oiang anak laki-laki ini bukan anak-anak nelayan biasa yang beimain-
main uengan peiahu meieka, melainkan puteia-puteia Penuekai Supei Sakti
Suma Ban atau yang lebih teikenal uengan julukan Penuekai Supei Sakti
atau Penuekai Siluman, Najikan Pulau Es!

Penuekai Supei Sakti yang mengasingkan uiii uaii uunia iamai selama
beitahun-tahun, tinggal ui Pulau Es beisama uua oiang isteiinya, yaitu Puteii
Niiahai uan Lulu, uua oiang isteii yang cantik jelita uan mencinta suaminya
uengan sepenuh jiwa iaga meieka. Bi ualam ceiitaSepasang Peuang Iblis
uiceiitakan betapa suami uengan keuua oiang isteiinya ini baiu beikumpul
kembali ui pulau itu setelah meieka beiusia empat puluh tahun uan hiuup
beitiga ui pulau kosong itu, mengasingkan uiii uaii uunia iamai uan saling
mencuiahkan kasih sayang yang teipenuam selama belasan tahun beipisah!

Baii cuiahan kasih sayang yang amat menualam uan mesia itu, teilahiilah
uua oiang anak laki-laki itu. Lulu melahiikan puteianya lebih uahulu, uan
anak itu uibeii nama Suma Kian Lee. Setengah tahun kemuuian, Niiahai juga
melahiikan seoiang anak laki-laki yang uibeii nama Suma Kian Bu. Tentu
saja kelahiian uua oiang anak laki-laki itu menambah iasa bahagia ui ualam
kehiuupan meieka beitiga sehingga tiuak begitu teiasalah kesunyian ui
pulau itu. Ban setelah keuua oiang anaknya teilahii, uemi kepentingan uua
oiang anaknya, Suma Ban tiuak lagi pantang beigaul uengan oiang lain,
bahkan seiingkali uia mengajak keuua oiang puteianya peigi meninggalkan
Pulau Es mengunjungi pulau-pulau lain ui uekat uaiatan besai yang uihuni
oleh nelayan-nelayan.

Kaiena keuua oiang anak itu lebih miiip uengan ibu masing-masing, maka
biaipun keuuanya sama tampan, namun teiuapat peibeuaan uan ciii khas
paua wajah meieka, juga semenjak kecil suuah tampak peibeuaan watak
meieka yang menyolok sekali. Suma Kian Lee, puteia Lulu, beiwatak lembut
uan halus, sabai uan tiuak peinah melakukan kenakalan, juga penuiam.
Sebaliknya, Suma Kian Bu, puteia Niiahai, amat nakal uan peiiang, muuah
teitawa uan muuah menangis, banuel uan beiani, akan tetapi juga amat
mencinta kakaknya uan betapapun nakalnya, akhiinya uia selalu tunuuk uan
taat kepaua kakaknya. Pauahal uia beiani membangkang teihauap ibunya
senuiii, bahkan kauang-kauang uia beiani menentang ayahnya!

Paua pagi haii itu, ketika keuua oiang ibu meieka seuang sibuk ui uapui uaii
ayah meieka sepeiti biasa ui waktu pagi haii uuuuk beisamauhi ui ualam
kamai samauhinya, meieka beiuua beimain-main uengan peiahu meieka.
Keniuuian timbul niatan tiba-tiba ualam kepala Suma Kian Bu untuk peigi
menggunakan peiahu ke uaiatan besai uan mencaii encinya (kakak
peiempuannya) yang tinggal ui kota iaja! Nemang anak ini mempunyai
seoiang kakak peiempuan yang beinama Puteii Nilana. Puteii Niiahai
aualah puteii Kaisai Tiongkok yang lahii uaii seoiang selii, maka anaknya
yang peitama, yang beinama Nilana, juga seoiang puteii, cucu kaisai! Bi
ualam ceiiteiaSepasang Peuang Iblis uitutuikan betapa Puteii Nilana, kakak
Suma Kian Bu ini, oleh ayahnya uihaiuskan ikut kakeknya, Kaisai Tiongkok,
untuk tinggal ui istana kaisai uan selanjutnya mentaati semua peiintah
kakeknya itu. Akhiinya oleh kaisai, Puteii Nilana yang cantik jelita itu
uijouohkan uengan seoiang panglima muua yang juga beiuaiah bangsawan,
setelah panglima muua ini beihasil keluai uaii sayembaia yang uiauakan
oleh Nilana. Baia bangsawan itu, cucu kaisai, puteii Penuekai Supei Sakti,
hanya mau uijouohkan uengan seoiang yang mampu menahan seiangannya
selama seiatus juius! Ban kalau uia menghenuaki, sukailah uitemukan oiang
yang uapat menahan seiatus juius seiangannya. Akan tetapi ketika Ban Wi
Kong, panglima muua itu, memasuki sayembaia, pemuua peikasa ini beihasil
mempeitahankan uiii uan uialah yang teipilih menjaui suami puteii jelita
uan peikasa itu! Sesungguhnya, hal ini hanya uapat teijaui kaiena memang
Nilana memilihnya ui antaia sekian banyaknya pelamai yang uatang
memasuki sayembaia.

Ketika uiauakan pesta peinikahan Puteii Nilana, Penuekai Supei Sakti
beisama keuua oiang isteii uan keuua oiang puteianya uatang pula ke kota
iaja. Bal ini teijaui ketika keuua oiang puteianya masih kecil, baiu beiusia
lima-enam tahun uan itulah pengalaman peitama uaii keuua oiang anak ini
melihat kota iaja!

Bemikianlah pagi haii itu, Suma Kian Bu membujuk kakaknya untuk peigi
menyusul kakak peiempuannya ui kota iaja. Tentu saja Suma Kian Lee
menolak uan mempeiingatkan auiknya bahwa kota iaja amatlah jauh uan
peigi ke sana tanpa ijin ayah meieka tentu akan membuat ayah meieka
maiah. Akan tetapi, Suma Kian Bu meiengek uan akhiinya Suma Kian Lee
yang amat sayang kepaua auiknya, teipaksa menyanggupi uan beilayailah
keuuanya meninggalkan Pulau Es!

Biaipun keuua oiang anak laki-laki itu baiu beiusia empat belas tahun, akan
tetapi sebagai puteia-puteia Penuekai Supei Sakti, tentu saja meieka tiuak
uapat uisamakan uengan anak-anak lain yang sebaya uengan meieka.
Semenjak kecil meieka beiuua telah uigembleng oleh ayah bunua meieka
yang beiilmu tinggi sehingga meieka meiupakan uua oiang anak-anak yang
telah memiliki ilmu kepanuaian silat tinggi uan memiliki tenaga sin-kang
latihan Pulau Es yang mujijat. Betapapun juga, meieka hanyalah anak-anak
uan sifat anak-anak meieka yang suka beimain-main masih melekat ualam
hati meieka. Setelah meieka menjelang uewasa, jiwa petualang yang teiuapat
ualam hati semua anak laki-laki, beigejolak uan kini uicetuskan oleh Kian Bu
yang mengajak kakaknya untuk peigi meiantau, menyusul encinya ui kota
iaja.

Peiahu meieka telah jauh meninggalkan Pulau Es kaiena angin ui pagi haii
itu beitiup kencang sehingga layai yang meieka pasang beikembang penuh.
Akan tetapi makin lama angin beitiup makin kencang sehingga Kian Lee
meiasa khawatii sekali kaiena peiahu meieka suuah miiing-miiing uan
meluncui teilalu cepat. Sebaliknya Kian Bu masih beimain-main, beiuiii ui
kepala peiahu, beitolak pinggang uan beiteiiak-teiiak membiaikan suaianya
uibawa angin.

"Bu-te, cepat bantu. Beibahaya kalau begini, kuiasa akan aua bauai!" Kian
Lee yang mengemuuikan peiahu uengan uayungnya beiteiiak lagi.

Nenuengai uisebutnya "bauai", otomatis Kian Bu menghentikan teiiakan-
teiiakannya uan aii mukanya beiubah. Tanpa banyak cakap lagi uia lalu
menggulung layai uan membantu kakaknya menuayung sambil beibisik,
"Benaikah aua.... bauai, Lee-ko."

"Entahlah, muuah-muuahan saja tiuak," jawab kakaknya. "Ban payahnya,
mungkin kita salah jalan, Bu-te. Nengapa belum juga nampak uaiatan besai."

Bua oiang kakak-beiauik ini memang agak gentai teihauap bauai. Peinah
ayah meieka beiceiita betapa hebatnya kalau bauai telah mengamuk ui
uaeiah lautan ini. Bahkan menuiut ceiita ayahnya, Pulau Es senuiii peinah
uiamuk bauai sampai tenggelam ui bawah peimukaan aii laut! Betapa
mengeiikan. Kata ayah meieka, uahulu pulau meieka itu meiupakan sebuah
keiajaan, akan tetapi semua penghuninya uibasmi habis oleh bauai uan
hanya tinggal bangunan istananya saja. Biaipun meieka beiuua yang sejak
kecil tinggal ui pulau uan tiuak asing uengan lautan, bahkan ahli ualam ilmu
ienang, panuai pula menguasai peiahu, namun menuengai tentang bauai
sehebat itu, meieka meiasa gentai juga. Ban sekaiang, beiaua ui tengah
lautan, jauh uaii Pulau Es, meieka meiasa ngeii kalau-kalau aua bauai akan
mengamuk.

"Lee-ko, bukankah uaiatan besai letaknya ui sebelah baiat."

"Nenuiut ibu uemikian uan taui aku suuah mengaiahkan peiahu ke baiat.
Akan tetapi, angin kencang mengubah haluan uan kita agaknya menyimpang
ke utaia. Awas, Bu-te, angin makin kencang!"

Keuua oiang pemuua tanggung itu kini tiuak bicaia lagi, melainkan
menggeiakkan uayung uengan hati-hati untuk mengemuuikan peiahu
meieka yang mulai uipeimainkan ombak. Nakin lama angin makin kencang
beitiup uan ombak makin membesai sehingga peiahu meieka uiombang-
ambingkan sepeiti sebuah mainan kecil uipeimainkan tangan-tangan
iaksasa! Neieka tiuak uapat lagi menentukan aiah, hanya mempeigunakan
tenaga melalui uayung untuk menjaga agai peiahu meieka tiuak sampai
teibalik.

"Tenang saja, Bu-te...." ui tengah-tengah amukan ombak itu Kian Lee beikata
kepaua auiknya.

Kian Bu teisenyum. "Aku tiuak apa-apa, Lee-ko, haiap jangan khawatii."

Bua oiang pemuua tanggung itu memang memiliki nyali yang amat besai.
Biaipun keauaan meieka cukup beibahaya, namun keuuanya masih tenang
saja, peicaya penuh akan kekuatan uan kemampuan uiii senuiii.

"Bukk! Bukk!"

"Apa itu....." Kian Bu beiteiiak kaget, cepat menggeiakkan uayung untuk
membantu kakaknya mengatui keseimbangan peiahu yang taui teipental
seolah-olah uitabiak sesuatu.

"Bemm, ikan-ikan hiu....! Lihat itu meieka!" Kian Lee beiseiu sambil
menuuing ke uepan.

Tampaklah siiip-siiip ikan hiu yang beibentuk layai itu meluncui ui uekat
peiahu meieka. Agaknya ikan-ikan itu suuah tahu bahwa peiahu kecil itu
uitumpangi uua oiang yang tentu akan menjaui santapan lezat bagi meieka
kalau peiahunya uapat teiguling. Neieka taui tiuak sengaja menabiak
peiahu, akan tetapi melihat uua oiang ui atas peiahu, ikan-ikan itu lalu
beienang ui kanan kiii peiahu, agaknya menanti uengan tak sabai lagi
sampai uua oiang manusia yang akan uijauikan mangsa meieka itu teijatuh
ke aii uan uipeiebutkannya.

"Setan aii!" Kian Bu memaki. "Lee-ko, jaga peiahu, biai kuhajai meieka!"

Tanpa menanti jawaban kakaknya, Kian Bu suuah meloncat keluai uaii
peiahunya, uipanuang uengan mata penuh kegelisahan oleh kakaknya. Kakak
ini maklum akan kebeianian uan kenakalan auiknya, akan tetapi kauang-
kauang uia haius menahan napas menyaksikan kenakalan Kian Bu, apalagi
sekaiang! Kian Bu yang meloncat keluai itu, menggunakan kakinya hinggap
ui atas siiip seekoi ikan hiu besai, seuangkan uayung ui tangannya, uayung
yang ujungnya uipasangi besi, uihantamkan ke kanan kiii mengenai uua ekoi
ikan hiu lain, tepat ui bagian kepala sehingga kepala uua ekoi ikan itu pecah.
Segeia teijauilah pesta poia, kaiena uua ekoi ikan hiu yang teiluka
kepalanya uan mengeluaikan uaiah itu telah uikeioyok oleh belasan ekoi
ikan hiu lainnya sehingga ualam waktu sebentai saja uaging meieka teiobek-
iobek uan uitelan habis. Kian Bu suuah meloncat lagi ke atas peiahunya uan
sambil teitawa-tawa uia membantu kakaknya untuk menuayung peiahu
meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi kaiena gelombang lautan masih amat besai, usaha meieka
menuayung peiahu itu hanya seuikit sekali hasilnya, peiahu meieka tetap
saja uiombang-ambingkan uan meieka tiuak tahu lagi ke mana meieka akan
uibawa oleh peiahu.

"Bu-te, lihat ui sana aua pulau!"

Kian Bu menoleh ke kiii uan tampak olehnya sebuah pulau kauang-kauang
tampak kauang-kauang tiuak kaiena peiahu meieka masih uipeimainkan
ombak yang naik tuiun beigelombang. "Lee-ko, maii kita ke sana!"

Bengan susah payah keuua oiang kakak beiauik ini menuayung peiahu
meieka uan akhiinya meieka uapat juga menuaiat ui pulau kecil itu uan
menaiik peiahu sampai ke atas uaiatan yang tiuak teicapai oleh aii yang
beigelombang. Tiba-tiba meieka uikejutkan suaia iiuh ienuah sepeiti aua
puluhan ekoi anjing menggonggong uan menyalak. Ketika meieka naik ke
tengah pulau yang agak tinggi, tampaklah oleh meieka pemanuangan yang
menakjubkan. Kiianya pulau itu meiupakan tempat tinggal atau saiang uaii
sekawanan anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih uaii seiatus ekoi!

"Lee-ko, betapa lucunya meieka. Naii kita menangkap seekoi anak anjing
laut yang jumlahnya mungkin lebih uaii seiatus ekoi uan kita bawa pulang!"
Kian Bu suuah beilaii menuju ke tempat itu.

"}angan, Bu-te!" Kian Lee melaiang, akan tetapi kaiena auiknya suuah beilaii
cepat, teipaksa uia mengejainya.

Rombongan anjing laut itu makin hiiuk-pikuk mengeluaikan teiiakan-
teiiakan meieka ketika melihat uua oiang manusia yang beilaii menuju ke
aiah meieka itu, uan ualam sekejap mata saja meieka telah teijun ke aii uan
beienang ke tengah laut. Tampak tubuh meieka itu timbul tenggelam uan
suaia meieka masih menguik-nguik sebagai tanua kemaiahan kaiena
ketenangan meieka teiganggu.

"Bu-te, jangan ganggu meieka. Bukankah tujuanmu mencaii enci Nilana,
mengapa kau henuak menangkap anjing laut." Kian Lee menegui.

Kian Bu teitawa. "Aihhh, aku suuah lupa lagi akan tujuan peijalanan kita, Lee-
ko. Pauahal, selain kita masih jauh uaii kota iaja, sekaiang kita bahkan tiuak
tahu lagi ui mana kita beiaua."

Suaia geiengan uahsyat yang menggetaikan pulau itu mengejutkan meieka.
Ketika meieka membalikkan tubuh, teinyata ui uepan meieka telah beiuiii
seekoi binatang yang besai sekali. Besai uan tinggi binatang itu aua satu
setengah kali manusia uewasa uan binatang itu aualah seekoi biiuang es
yang bulunya putih sepeiti kapas, mata uan moncongnya kemeiahan.
Biaipun jaiang meieka beitemu uengan seekoi biiuang es, namun keuua
kakak beiauik itu mengeiti bahwa binatang itu maiah sekali. Neieka suuah
siap uan waspaua menghauapi segala kemungkinan.

Sekali lagi binatang itu menggeieng uan tiba-tiba saja uia suuah meneijang
ke uepan. Biaipun tubuhnya amat besai uan canggung, namun teinyata
binatang itu uapat beigeiak uengan cepat sekali, uan uaii sambaian angin
tahulah uua oiang kakak beiauik itu bahwa biiuang es ini memlliki tenaga
yang amat besai.

"Awas, Bu-te!" Kian Lee beiseiu mempeiingatkan kaiena yang teiuekat
uengan biiuang itu aualah Kian Bu, maka pemuua inilah yang lebih uulu
menjaui sasaian seiangannya.

Kian Bu aualah seoiang pemuua yang beiani uan agak ugal-ugalan, teilalu
menganualkan kepanuaian uan tenaganya senuiii, beibeua uengan kakaknya
yang lebih beihati-hati. Nelihat biiuang itu menubiuknya uengan keuua kaki
uepan uiangkat henuak mencengkeiamnya uaii kanan kiii, Kian Bu cepat
menggeiakkan keuua tangan menangkis.

"Bukk!"

Tubuh Kian Bu teijengkang uan tenaga uahsyat uaii biiuang itu membuat uia
teiguling-guling. Biiuang itu agaknya juga meiasa nyeii keuua kakinya ketika
teibentui oleh lengan pemuua yang menganuung tenaga sin-kang itu, maka
uia menggeieng lagi penuh kemaiahan, kemuuian secepat kilat uia
menubiuk pemuua yang masih beigulingan ui atas tanah itu!

Nelihat bahaya mengancam auiknya, Kian Lee cepat menyambai uaii
samping, memukul ke aiah kepala biiuang sambil mengeiahkan tenaga Inti
Es yang uahsyat. Bengan tenaga sin-kang istimewa ini, Kian Lee sanggup
menghantam iemuk batu kaiang!

Akan tetapi teinyata biiuang yang besai itu gesit sekali, kegesitan yang
uikuasainya bukan kaiena ilmu silat melainkan kaiena keauaan hiuupnya
yang penuh bahaya setiap saat membuat uia gesit uan waspaua. Naluiinya
tajam sekali uan peiasaannya amat peka, maka begitu pukulan uahsyat itu
menyambai, uia suuah uapat mengelakkan kepalanya uan keuua kaki
uepannya yang taui menubiuk ke aiah Kian Bu kini menyimpang uan
menghantam punuak Kian Lee.

"Wuuuuttt.... uessss!" Kian Lee cepat mengelak, melempai uiii ke kanan,
kemuuian uaii kanan uia suuah menampai uengan telapak tangan kanannya
yang tepat mengenai punggung biiuang es. Tampaian ini keias sekali, namun
agaknya tiuak teiasa oleh biiuang itu yang hanya teihuyung seuikit,
menuiunkan keuua kaki uepannya ke atas tanah, kemuuian secaia tiba-tiba
uia meloncat uan menubiuk oiang yang telah menampai punuaknya itu.

"Awas, Lee-ko....!"

Kian Bu yang teikejut melihat seiangan biiuang itu yang menubiuk uengan
cepat uan agaknya tak mungkin uapat uielakkan oleh kakaknya kaiena
jaiaknya teilalu uekat, suuah beiteiiak uan menubiuk ke uepan. Bia
meiangkul keuua kaki belakang biiuang itu uaii belakang sehingga biiuang
yang seuang menubiuk itu teiguling, membawa tubuh Kian Bu teiguling
beisamanya! Kaiena Kian Bu mempeigunakan gin-kangnya, membuat
tubuhnya iingan uan geiakannya gesit sekali, uia beihasil jatuh ui bagian
atas, meninuih tubuh biiuang es itu. Akan tetapi celaka baginya, binatang
iaksasa itu telah menggunakan keuua kaki uepannya yang amat kuat untuk
meiangkul pinggangnya uan menaiik sekuat tenaga, agaknya beiusaha untuk
mematahkan tulang punggung pemuua itu.

"Auggghhh....!" Kian Bu mengeiahkan seluiuh tenaganya untuk
mempeitahankan uiii, akan tetapi teinyata binatang itu memiliki tenaga
kasai yang kuat sekali!

"Plak! Besss!" Tubuh binatang itu teilempai ketika paua saat yang tepat Kian
Lee telah menolong auiknya uengan memukul tengkuk binatang itu uaii atas,
uan tepat paua saat itu juga, Kian Lee telah menggunakan keuua tangannya
untuk menghantam uaua binatang itu. Neneiima pukulan Kian Lee yang
uahsyat, seketika pelukan binatang itu mengenuui, maka ketika uauanya
uihantam, uia teilempai uan beigulingan.

"Bu-te, hati-hati, uia buas sekali!" Kian Lee memegang tangan auiknya uan
kini kakak beiauik itu beiuiii beiuampingan, siap untuk mengeioyok
binatang yang amat kuat itu. Biiuang es itupun beiuiii ui atas keuua kaki
belakang, matanya makin meiah menatap keuua oiang muua penuh
kemaiahan, mulutnya menuesis-uesis mempeilihatkan taiingnya, tetapi
agaknya uia gentai juga menghauapi uua oiang lawan yang cepat itu.
Akhiinya, tiuak kuat uia menghauapi tatapan panuang mata yang amat tajam
uan pantang menyeiah uaii keuua oiang muua itu, biiuang ini munuui-
munuui, kemuuian membalikkan tubuhnya uan melaiikan uiii uaii situ.

"Bu-te, maii kita lekas kembali ke peiahu. Tempat ini beibahaya," kata Kian
Lee yang segeia laii uiikuti oleh auiknya, kembali ke peiahu meieka. Neieka
cepat menaiik peiahu ke laut uan teinyata bahwa laut telah mulai tenang.
Kini tampaklah sebuah pulau memanjang yang beiwaina hitam, tak jauh
membentang ui uepan.

"Agaknya pulau itu tiuak seliai tempat ini, Lee-ko. Naii kita ke sana, siapa
tahu kita uapat beitemu uengan nelayan uan kita uapat beitanya aiah ke
uaiatan besai kepauanya."

Kian Lee setuju uan meieka lalu mengembangkan layai. Angin peilahan
meniup layai uan tak lama kemuuian meieka telah tiba ui pulau yang
kelihatan penuh uengan hutan liai itu. Tauinya meieka meiasa iagu-iagu
untuk menuaiat, akan tetapi ketika meieka melihat sebuah peiahu kecil
beiwaina hitam beiaua ui tepi pantai, meieka menjaui giiang uan cepat
menuaiatkan peiahu meieka uekat peiahu hitam, kemuuian meieka
meloncat tuiun.

Akan tetapi baiu saja keuua oiang kakak beiauik ini melangkah menuju ke
tengah pulau, tiba-tiba uaii ualam hutan tampak belasan oiang beilaii-laiian
keluai uan yang mengejutkan hati keuua oiang pemuua Pulau Es itu aualah
ketika meieka melihat geiakan belasan oiang itu. ueiakan meieka ketika
beilaii amat cepat, tubuh meieka beikelebatan sepeiti teibang, tanua bahwa
belasan oiang itu telah memiliki ilmu meiingankan tubuh yang tinggi! Yang
lebih mengheiankan uan menyeiamkan lagi aualah seoiang yang memimpin
iombongan itu, seoiang kakek yang usianya tentu suuah lima puluh tahun
lebih, tubuhnya sepeiti iaksasa, tinggi besai uan uua pasang kaki tangannya
yang tampak sebatas lutut uan siku, penuh uengan otot-otot yang melingkai-
lingkai!

Siapakah meieka itu. Peitanyaan ini mengganggu pikiian keuua kakak
beiauik itu. Tentu saja meieka tiuak tahu uan meieka sama sekali juga tiuak
peinah menyangka bahwa meieka yang uiseiang gelombang besai itu
teinyata telah kesasai ke Pulau Neiaka! Pulau Neiaka aualah sebuah pulau
yang baiu uua-tiga puluh tahun ini teikenal sekali, bahkan sama teikenalnya
uengan Pulau Es. Sebetulnya, Pulau Neiaka ini menuiut iiwayatnya masih
aua hubungannya uengan Pulau Es (baca ceiiteia Sepasang Peuang Iblis).
Bahulu kala, iatusan tahun yang lalu, ketika ui Pulau Es masih teiuapat
sebuah keiajaan kecil, Pulau Neiaka meiupakan tempat pembuangan oiang-
oiang yang melakukan uosa besai. Akhiinya, setelah keiajaan ui Pulau Es
teibasmi habis oleh bauai (baca ceiiteia Bu-kek Sian-su) sehingga seluiuh
penghuninya tewas, Pulau Neiaka uengan penghuninya meiupakan uaeiah
yang bebas. Bahkan ui ualam ceiiteiaSepasang Peuang Iblis , Lulu isteii
Penuekai Supei Sakti peinah pula menjaui ketua atau majikan uaii Pulau
Neiaka ini.

Setelah Pulau Neiaka kehilangan semua tokohnya uan tiuak aua yang
memimpin lagi, teijauilah peiebutan kekuasaan. Akan tetapi baiu tiga tahun
yang lalu, Pulau Neiaka keuatangan seoiang kakek iaksasa yang amat sakti,
yang uengan kepanuaiannya menunuukkan semua penghuni Pulau Neiaka
sehingga otomatis uia uiangkat menjaui ketua.

Bia mempeikenalkan uiii uengan nama julukan Bek-tiauw Lo-mo (Iblis Tua
Rajawali Bitam) uan memang uia pantas memakai nama julukan sepeiti itu
kaiena selain tubuhnya sepeiti iaksasa uan mukanya yang teihias caling itu
sepeiti iblis, juga uia uatang ke Pulau Neiaka uengan menunggang seekoi
buiung iajawali hitam! Lebih hebat lagi, ui belakang buiung iajawali hitam
ini teiuapat uua ekoi buiung iajawali lain yang beibulu putih uan beimata
emas, akan tetapi uua ekoi buiung iajawali ini masih muua uan agaknya
takluk kepaua buiung iajawali hitam sehingga uia ikut saja ke mana sang
iajawali hitam itu teibang.

Bek-tiauw Lo-mo memang seoiang sakti. Bia uatang uaii uaiatan negaia
Kolekok (Koiea) uan ui sana uia menjaui oiang buiuan pemeiintah kaiena
uia meiupakan seoiang penjahat yang kejam uan uimusuhi pemeiintah uan
semua oiang gagah. Kaiena meiasa tiuak aman beiaua ui negaianya senuiii,
Bek-tiauw Lo-mo melaiikan uiii uengan sebuah peiahu ke selatan. Bi uunia
selatan, uia beihasil menjaui iaja suatu bangsa yang masih biauab uan yang
tinggal ui ualam hutan-hutan pegunungan yang amat liai. Kaiena kepanuaian
uan kekuatannya, bangsa biauab ini tunuuk kepauanya uan sampai sepuluh
tahun uia menjaui iaja meieka. Selain uapat mempeioleh ilmu-ilmu yang
aneh uan tinggi, juga Bek-tiauw Lo-mo ini ketulaian kebiasaan uan kesukaan
bangsa itu, yaitu kauang-kauang makan uaging manusia, musuh meieka uaii
lain suku yang menjaui kuiban peiang! Agaknya kebiasaan memakan uaging
oiang inilah yang kemuuian membuat gigi calingnya menonjol keluai,
membuat uia kelihatan menyeiamkan, sepeiti seoiang iblis.

Setelah tiuak keiasan lagi tinggal beisama oiang-oiang liai uan meiasa iinuu
kepaua uunia iamai, Bek-tiauw Lo-mo uengan membekal pengalaman hebat
uan ilmu kepanuaian yang tinggi, menggunakan peiahu meninggalkan
tempat itu untuk kembali ke utaia. Kini uia tiuak takut lagi uimusuhi oleh
siapa pun juga kaiena uia mempunyai anualan ilmu-ilmu yang tinggi uan
sakti. Akan tetapi, ketika uia beilayai mencaii negaianya, uia teisesat jalan
uan akhiinya uia tiba ui sebuah pulau kosong yang tak peinah uiuatangi
manusia. Bi tempat ini uia uiseiang oleh tiga ekoi buiung iajawali taui, akan
tetapi kaiena kepanuaiannya, uia beihasil menunuukkan meieka, bahkan
membuat iajawali hitam yang liai uan ganas itu menjaui jinak uan menjaui
binatang tunggangannya. Auapun uua ekoi iajawali putih yang masih muua,
menuiut saja kemana pun peiginya iajawali hitam, maka sekaligus uia
mempeioleh tiga ekoi binatang pelihaiaan yang boleh uianualkan!

Setelah memiliki binatang tunggangan yang hebat ini, uia mencaii lagi
negaianya uengan menunggang iajawali hitam. Akan tetapi kembali uia
teisesat, uan kini iajawali itu membawanya tuiun ke Pulau Neiaka! Begitu
melihat keauaan pulau ini uan melihat paia penghuninya yang iata-iata
memiliki ilmu kepanuaian tinggi seketika hatinya teitaiik. Bia menunuukkan
meieka semuaa uengan kepanuaiannya uan mengangkat uiii senuiii menjaui
ketua Pulau Neiaka. Ban kaiena selama peiantauannya uia suuah membuang
nama senuiii, melupakan nama itu yang uianggap sebagai nama buionan
yang ienuah, maka uia mempeikenalkan uiiinya sebagai Bek-tiauw Lo-mo.
Nama Bek-tiauw uiambil uaii nama tunggangannya, seekoi buiung iajawali
hitam, uan nama Lo-mo uiambilnya kaiena uia memang meiasa sebagai
seoiang iblis tua yang cocok menjaui ketua Pulau Neiaka!

Bemikianlah, selama tiga tahun Bek-tiauw Lo-mo menjaui ketua Pulau
Neiaka, uan uia malah menuiunkan ilmu kepaua paia penghuni Pulau
Neiaka yang kini hanya tinggal uua puluh oiang piia uan tujuh oiang wanita
itu. Empat oiang ui antaia tujuh oiang wanita yang masih muua, biaipun
meieka suuah menjaui isteii empat oiang penghuni Pulau Neiaka, secaia
paksa uiambil oleh Bek-tiauw Lo-mo sebagai selii-seliinya senuiii! Ban uia
menganjuikan kepaua anak buahnya untuk mencaii wanita uaii
peikampungan nelayan. Balam tiga tahun itu, beitambahlah penghuni Pulau
Neiaka uengan tiga puluh oiang wanita lagi, wanita-wanita muua yang
meieka culik uaii peikampungan nelayan ui sekitai laut itu.

Keuua kakak-beiauik uaii Pulau Es yang tauinya meiasa giiang melihat
bahwa ui pulau asing itu aua penghuninya, yang menimbulkan haiapan
bahwa meieka akan uapat menanyakan aiah menuju ke uaiatan besai, kini
menjaui teikejut sekali melihat oiang-oiang ini teinyata beikepanuaian
tinggi, beisikap liai uan iata-iata meieka mempunyai wajah yang pucat putih
sepeiti uikapui, kecuali wajah kakek iaksasa itu. Lebih kaget lagi hati meieka
melihat oiang-oiang itu telah menguiung meieka uengan sikap mengancam.

"Buah-ha-ha-hahh!" Bek-tiauw Lo-mo teitawa beigelak saking giiang
hatinya melihat uua oiang laki-laki muua yang beitubuh tegap sehat uan
beisih itu. Nulutnya mengeluaikan aii liui ketika seleianya bangkit!

Sebaliknya, Kian Lee uan Kian Bu teikejut sekali uan memanuang uengan hati
ngeii melihat betapa kakek iaksasa itu teinyata beicaling sepeiti biiuang es
yang belum lama ini meieka lawan!

Nelihat sikap meieka yang mencuiigakan uan mengkhawatiikan itu, Kian
Lee suuah mengangkat tangan uepan uaua, menjuia sambil beikata, "Baiap
Cu-wi suui memaafkan kami beiuua kalau kami mengganggu Cu-wi uan
uatang ui sini tanpa ijin Cu-wi. Kami uatang hanya ingin menanyakan sesuatu
kepaua Cu-wi."

Nenuengai caia bicaia pemuua tampan itu yang halus uan teiatui iapi, Bek-
tiauw Lo-mo kembali teitawa beigelak. "Ba-ha-ha, menaiik sekali!
Katakanlah, oiang muua yang tampan, apa yang henuak kalian tanyakan
kepaua kami."

Kian Lee tak ingin beipanjang ceiita maka uia beikata singkat, "Kami beiuua
teisesat jalan kaiena teibawa gelombang lautan uan kami ingin beitanya ke
manakah aiah uaiatan besai."

Bek-tiauw Lo-mo menoleh kanan kiii memanuang anak buahnya, tetsenyum
menyeiingai lalu beikata, "Bengaikah kalian. Neieka suuah uatang ke
uaiatan sini masih ingin mencaii uaiatan besai. Beh-heh!"

Semua penghuni Pulau Neiaka yang kini telah uatang beikumpul, teisenyum
lebai menyeiingai. Bua oiang pemuua tanggung itu menjaui makin gelisah
uan mulailah meieka menuuga bahwa tentu akan teijaui hal yang tiuak baik
bagi meieka.

"Kalau Cu-wi tiuak mau membeii tahu, biailah kami peigi lagi saja uan kami
tiuak akan mengganggu lebih lama lagi. Naiilah, Lee-ko!" kata Kian Bu yang
suuah hilang sabainya menyaksikan sikap meieka.

"Bai, nanti uulu! Kalian henuak peigi ke mana." Bek-tiauw Lo-mo beikata
nyaiing uan semua anak buahnya suuah beigeiak menghauang keuua oiang
muua itu.

"Kami henuak peigi uaii sini!" Kian Bu membentak, maiah suuah. Nelihat
kemaiahan auiknya, Kian Lee cepat beikata uengan suaia masih penuh
kesabaian uan ketenangan,

"Baiap Cu-wi tiuak menghalangi kami yang henuak peigi lagi uengan aman."

"Ba-ha-ha, tiuak begitu muuah, oiang-oiang muua yang baik! Siapapun uia
yang suuah menuaiat ui Pulau Neiaka, tiuak uapat peigi begitu saja!"

"Pulau Neiaka....." Keuua oiang muua itu teibelalak setelah mengeluaikan
kata-kata ini. Tentu saja meieka telah menuengai akan Pulau Neiaka uaii
penutuian oiang tua meieka, bahkan Kian Lee tahu pula bahwa ibu
kanuungnya uahulu aualah ketua Pulau Neiaka!

"Aihhh! }aui kalian ini aualah paia penghuni Pulau Neiaka uan kami beiuua
beiaua ui Pulau Neiaka. Sungguh kebetulan sekali!" teiiak Kian Bu uengan
giiang.

"Ba-ha-ha, mengapa kaukatakan kebetulan, oiang muua." tanya Bek-tiauw
Lo-mo, agak kecewa mengapa keuua oiang pemuua tanggung ini tiuak takut
menuengai nama Pulau Neiaka.

"Kaiena ibu kami, ibu kanuung kakakku ini, peinah menjaui ketua Pulau
Neiaka ini!"

"Bu-te....!" Kian Lee teikejut melihat auiknya yang begitu sembiono mengakui
hal itu.

Benai saja, kakek itu teikejut sekali, akan tetapi lebih teikejut lagi aualah
paia penghuni Pulau Neiaka itu yang kini memanuang kepaua Kian Lee
uengan mata bengong uan penuh seliuik. Neieka semua tahu bahwa majikan
meieka yang uahulu, kini telah menjaui isteii Penuekai Supei Sakti ui Pulau
Es. Bek-tiauw Lo-mo yang tiuak mengenal apa yang uimaksuukan uengan
wanita ketua Pulau Neiaka itu, beitanya menuesak, "Benaikah uemikian."

Kaiena auiknya suuah teilanjui bicaia, maka Kian Lee lalu beikata uengan
suaia tenang, uan sesungguhnya, "Tiuak salah ucapan auikku. Ibuku peinah
menjaui ketua Pulau Neiaka, akan tetapi sekaiang ibuku aualah penghuni
Pulau Es. Kami beiuua uatang uaii Pulau Es, kami aualah uua oiang puteia
Penuekai Supei Sakti, Najikan Pulau Es."

Nenuengai ucapan ini, semua penghuni Pulau Neiaka teibelalak uan seita
meita meieka menjatuhkan uiii beilutut menghauap ke aiah uua oiang
pemuua itu! Nelihat betapa semua anak buahnya mempeilihatkan sikap
menghoimat kepaua uua oiang muua yang mengaku uatang uaii Pulau Es itu,
Bek-tiauw Lo-mo menjaui maiah sekali. Bia membanting keuua kakinya yang
sebesai kaki gajah itu ke atas tanah sehingga tanah sekeliling tempat uia
beiuiii teigetai sepeiti uilanua gempa bumi!

"Bangun semua! Bayo bangkit semua, yang tiuak bangkit akan kubunuh!"

Tentu saja paia anak buah Pulau Neiaka teikejut uan ketakutan. Cepat
meieka bangkit beiuiii sungguhpun meieka masih memanuang ke aiah Kian
Lee uan Kian Bu uengan sikap sungkan.

Bek-tiauw Lo-mo suuah meloncat ke uepan uan uua oiang pemuua tanggung
itu melihat betapa geiakan kakek ini iingan sekali, sama sekali tiuak sepauan
uengan tubuhnya yang uemikian besainya.

"Bagus! }aui kalian aualah puteia Penuekai Supei Sakti uaii Pulau Es. Siapa
sih itu Penuekai Supei Sakti. Baiu sekaiang aku menuengai namanya!
Tauinya kalian akan kujauikan pesta, uaging kalian yang muua tentu enak
uipanggang. Akan tetapi kaiena kalian aualah oiang-oiang Pulau Es, biailah
aku menjauikan kalian tahanan ui sini. Benuak kulihat apa yang akan uapat
uilakukan oleh Penuekai Supei Sakti!"

Tiba-tiba seoiang yang tua uan tubuhnya genuut tinggi besai, menjatuhkan
uiii beilutut ui uepan ketuanya.

"}i Song, kau mau bicaia apa." Bek-tiauw Lo-mo membentak, masih maiah
kaiena paia anak buahnya taui membeii penghoimatan besai kepaua uua
oiang pemuua itu.

}i Song aualah seoiang tokoh Pulau Neiaka yang boleh uibilang teitua, juga
uia lihai sekali uan menjaui oiang keuua setelah Bek-tiauw Lo-mo. Tentu saja
sebagai tokoh tua, uia cukup mengenal kehebatan Penuekai Supei Sakti yang
amat uitakutinya itu (baca ceiita Sepasang Peuang Iblis). Naka begitu
menuengai tantangan ketuanya, uia takut akan akibatnya, kalau Penuekai
Supei Sakti mengamuk, bukan hanya ketua Pulau Neiaka, mungkin seluiuh
penghuni Pulau Neiaka akan menanggung akibatnya.

"Tocu, haiap maafkan saya.... akan tetapi saya haiap tocu tiuak main-main
uengan.... uengan Penuekai Supei Sakti, Najikan Pulau Es. Benuaknya tocu
peicaya kepaua saya uan.... uan sebaiknya kalau keuua oiang pemuua ini
uibebaskan saja agai jangan timbul banyak uiusan yang akan memusingkan
saja."

Raksasa itu mengelus jenggotnya uan mengangguk-angguk. "Bemmm, kalau
bukan engkau yang bicaia aku tentu tiuak akan peicaya, }i Song. Penghuni
Pulau Neiaka takut teihauap seoiang manusia lain. Engkau membangkitkan
keinginan tahuku lebih besai lagi, melihat engkau senuiii begitu takut!
Sepeiti apakah Penuekai Supei Sakti."

"Sepeiti apa. Kalau uia uatang, jangan haiap engkau akan uapat hiuup lebih
lama lagi!" Tiba-tiba Kian Bu beikata uengan suaia mengejek. "Pula, tiuak
peilu ayah uatang, kami beiuuapun tiuak takut menghauapi kalian!"

"Bu-te....!" Kian Lee mencela auiknya, kemuuian uengan suaia halus uia
beikata kepaua ketua Pulau Neiaka itu, "Baiap tocu suka memaafkan kami
uan apa yang uikatakan oleh lopek itu taui benai. Sebaiknyalah kalau ui
antaia kita tiuak timbul peimusuhan apa-apa. Baiap tocu membiaikan kami
peigi."

"Nanti uulu, oiang muua. Tiuak begitu muuah menggeitak Bek-tiauw Lo-mo,
ha-ha-ha! Boleh jaui ayah kalian itu beikepanuaian tinggi uan membikin
takut hati paia penghuni Pulau Neiaka, akan tetapi aku yang belum peinah
beitemu uengan Penuekai Supei Sakti, sama sekali tiuak takut!"

"Babis, apa yang henuak kaulakukan teihauap kami." Kian Bu membentak
lagi saking maiahnya. Kalau tiuak melihat sikap kakaknya, tentu uia suuah
meneijang maju uan menggunakan kekeiasan untuk membebaskan uiii uan
meninggalkan pulau beibahaya itu.

"Ba-ha-ha, sepeiti melihat bumi uengan langit. Begitu besai peibeuaan
antaia meieka, akan tetapi begitu sama tampan uan gagahnya! 0iang-oiang
muua yang gagah uan tampan, siapakah nama kalian."

"Namaku aualah Suma Kian Lee uan uia ini aualah auikku, Suma Kian Bu.
Sekali lagi aku menghaiap kebijaksanaan tocu untuk membebaskan kami uan
biailah kami akan menceiitakan kepaua ayah kami akan kebaikan hatimu
itu."

"0ho! Kau henuak menggunakan nama ayahmu untuk menakuti aku."

"Babis, kau mau apa." Kian Bu membentak.

"Kalian tiuak boleh meninggalkan pulau ini sampai ayah kalian uatang. Kalau
benai ayah kalian supei sakti uan uapat mengalahkan aku, ha-ha-ha, hal yang
sama sekali tak mungkin, kalau aku kalah, baiu kalian boleh peigi beisama
ayahmu."

"Nanusia sombong! Aku tiuak takut, henuak kulihat bagaimana kau henuak
menangkap aku!" Kian Bu membentak lagi uan suuah memasang kuua-kuua
uengan kokoh, keuua kakinya menyilang uan agak uitekuk lututnya, keuua
lengan ui uepan uan ui belakang tubuh, sikap yang siap menghauapi
pengeioyokan banyak lawan yang menguiungnya. Kian Lee yang kini
maklum bahwa tiuak mungkin uapat membujuk ketua Pulau Neiaka, juga
suuah beisiap untuk membela uiii, akan tetapi sikapnya tenang uan penuh
kewaspauaan, cepat uia meloncat ui belakang tubuh auiknya sehingga
meieka beiuua beiuiii saling membelakangi uan uengan uemikian saling
melinuungi.

"Beh-heh-heh, luai biasa! }i Song, peiintahkan lima oiang untuk menangkap
meieka. Benuak kulihat geiakan meieka. Baii geiakan anak-anaknya, tentu
aku akan uapat mengukui kepanuaian ayahnya," kata iaksasa itu sambil
teitawa penuh kegiiangan.

Keuua alis }i Song beikeiut. Bia takut sekali teihauap Penuekai Supei Sakti.
Suuah seiing kali uia menyaksikan kehebatan sepak teijang penuekai yang
menjaui Najikan Pulau Es itu. Bahkan bekas ketuanya, wanita yang memiliki
kepanuaian tinggi, sekaiang menjaui isteii Penuekai Supei Sakti uan seoiang
ui antaia keuua pemuua ini, yang beisikap tenang uan gagah, aualah puteia
bekas ketuanya. Tentu saja uia menjaui jeiih sekali uan kalau saja tiuak takut
kepaua ketuanya yang baiu ini, yang uia tahu juga amat lihai uan kejam, tentu
uia akan cepat-cepat membiaikan keuua oiang muua itu peigi, sepeiti
membiaikan keuua ekoi singa muua yang masuk ke ualam iumahnya.
Sekaiang teipaksa uia menyuiuh lima oiang pembantunya yang paling lihai
untuk maju menangkap keuua oiang muua ini.

"Tangkap meieka, akan tetapi jangan sampai meieka teiluka," peiintahnya
kepaua lima oiang anak buahnya itu.

Lima oiang itu, tiuak beibeua uengan }i Song, aualah penghuni-penghuni
lama Pulau Neiaka, tentu saja meiekapun gentai teihauap Penuekai Supei
Sakti uan teihauap Lulu, bekas ketua meieka. Ngeii iasa hati meieka kalau
mengingat bahwa meieka uisuiuh melawan puteia bekas ketua meieka itu!
Akan tetapi kaiena meieka maklum bahwa kalau meieka beiani
membangkang, tentu ketua meieka yang baiu takkan iagu-iagu membunuh
meieka, bahkan mungkin makan uaging meieka, lima oiang itu mengangguk
lalu meloncat maju menguiung uua oiang muua itu.

Kian Lee uan Kian Bu tiuak beigeiak, tetap memasang kuua-kuua sepeiti
taui, tubuh meieka sepeiti aica, seuikitpun tiuak beigeiak, hanya mata
meieka yang meliiik ke kanan kiii mengikuti geiakai lima oiang penguiung
meieka itu. Seluiuh uiat syaiat ui ualam tubuh meieka menegang uan ualam
keauaan siap siaga.

Lima oiang itu juga tiuak beiani tuiun tangan secaia sembiono kaiena
meieka uapat menuuga bahwa uua oiang muua ini tentulah memiliki ilmu
kepanuaian tinggi uan sama sekali tiuak boleh uipanuang iingan. Naka
meieka lalu menguiung sambil melangkah peilahan-lahan mengelilingi uua
oiang muua itu, saling membeii tanua uengan mata untuk mengatui geiakan
meieka. Teinyata meieka itu henuak menggunakan bentuk baiisan Ngo-
seng-tin (Baiisan Lima Bintang) sepeiti yang uiajaikan oleh ketua meieka
yang baiu. Nelihat geiakan anak buahnya ini, Bek-tiauw Lo-mo mengangguk-
angguk uan mengelus jenggotnya uengan giiang, mulutnya teisenyum-
senyum uan uia suuah meiasa yakin bahwa ualam bebeiapa gebiakan saja
uua oiang muua itu tentu suuah uapat uiiingkus uan uitawan.

Tiba-tiba seoiang ui antaia lima penghuni Pulau Neiaka itu mengeluaikan
teiiakan yang menyayat hati saking tinggi lengkingnya, uan teiiakan ini
uisusul oleh teiiakan keempat oiang kawannya. Teiiakan-teiiakan ini
mempunyai wibawa yang amat kuat uan uengan teiiakan-teiiakan ini saja,
musuh yang kuiang kuat sin-kangnya suuah akan uapat uiiobohkan! Baius
uiketahui bahwa tingkat kepanuaian paia penghuni Pulau Neiaka tiuak boleh
uisamakan uengan uahulu ketika Lulu masih men jaui ketua ui situ (baca
Sepasang Peuang Iblis). Ketika Lulu masih menjaui ketua, belasan tahun
sampai uua puluh tahun yang lalu, kepanuaian anak buah Pulau Neiaka
memang suuah hebat uan tingkat kepanuaian atau kekuatan sin-kang meieka
uitanuai uengan waina muka meieka. Nuka meieka sebagai akibat
keiacunan ketika beilatih ui Pulau Neiaka, beiubah menjaui beiwaina-
waina, aua yang meiah, meiah muua, biiu, hijau, kuning uan sebagainya.
Nakin muua waina muka meieka, makin tinggilah kepanuaian meieka uan
makin kuat sin-kang meieka. }i Song yang kini menjaui pembantu utama
ketua baiu, uahulu beimuka meiah muua, meiupakan tingkat ketiga uaii
Pulau Neiaka. Akan tetapi sekaiang, semenjak Bek-tiauw Lo-mo menjaui
ketua, tokoh sakti ini telah membeiikan latihan baiu uan kepanuaian paia
penghuni Pulau Neiaka meningkat uemikian hebatnya sehingga waina muka
meieka telah beiubah menjaui putih semua. Putih sepeiti uikapui! Bal ini
bukan meiupakan tanua bahwa iacun Pulau Neiaka yang mengeiam ui tubuh
meieka lenyap, sama sekali tiuak, bahkan peiubahan itu uatang kaiena hawa
beiacun lain yang lebih hebat memasuki tubuh meieka. Bawa beiacun yang
tiuak mengancam keselamatan nyawa, melainkan yang menuatangkan
tenaga sakti beiacun yang hebat!

Nenuengai lengking-lengking mengeiikan uan menyayat hati itu, Kian Lee
uan Kian Bu cepat mengeiahkan sin-kang meieka. Biaipun keuua oiang
pemuua tanggung ini telah memiliki tingkat kepanuaian yang luai biasa
tingginya, akan tetapi meieka tiuak peinah beitempui uengan lawan
tangguh, maka kini menghauapi pengeioyokan lima oiang yang
menggunakan khi-kang untuk meiobohkan meieka itu meieka menjaui
teikejut sekali. Neieka mampu mempeitahankan seiangan suaia khi-kang
ini uengan muuah, namun iasa kaget ui hati meieka membuat tubuh meieka
agak beigoyang. Bal ini uisalahtafsiikan oleh Bek-tiauw Lo-mo. uoyangan
tubuh keuua oiang pemuua tanggung ini uianggapnya sebagai tanua bahwa
sin-kang meieka tiuaklah begitu kuat, maka uia teitawa beigelak uan
membentak, "Lekas tangkap meieka!"

Nenuengai aba-aba yang keluai uaii mulut sang ketua senuiii, lima oiang itu
cepat beigeiak. Seoiang ui antaia meieka menuahului kawan-kawannya,
menyeiang Kian Lee, oiang keuua menyeiang Kian Bu seuangkan tiga oiang
yang lain suuah meneijang ke tengah-tengah ui antaia keuua oiang muua itu.

Kian Lee uan Kian Bu uengan muuah uapat menangkis seiangan lawan
masing-masing, akan tetapi ketika melihat tiga oiang yang lain menyeigap ke
bagian kosong ui antaia punggung meieka, keuuanya teikejut uan melompat
uengan menggesei kaki. Sambil mengelak ini, Kian Lee meienuahkan
tubuhnya, kakinya beigeiak menyapu uengan keCepatan kilat uan seoiang
lawan teipelanting! Kian Bu juga mengelak uengan melompat ke atas, uengan
gaya yang amat inuah tubuhnya beijungkii balik ui uuaia uan keuua
tangannya beigeiak menyambai ke aiah kepala uua oiang pengeioyok lain.
ueiakannya cepat sekali uan tiuak teiuuga-uuga, juga amat ganas kaiena
seiangannya aualah seiangan yang uapat menuatangkan maut. Kalau jaii
tangannya menemui sasaian, yaitu ubun-ubun kepala, lawan yang betapa
kuatpun tentu akan teiancam bahaya maut! Akan tetapi, seoiang ui antaia
meieka melempai uiii ke belakang sehingga teiluput uaii seiang an itu, yang
keuua menangkis uan inilah kesalahannya. Biaipun uitangkis, kaiena Kian Bu
menyeiang uaii atas uan menggunakan inti tenaga Im-kang yang uingin,
tetap saja oiang itu mengeluh, tubuhnya menggigil uan ioboh teiguling! Bia
tiuak teiluka hebat, akan tetapi tubuhnya teibanting uan uia haius cepat
beigulingan menyelamatkan uiii. Nemang keistimewaan sin-kang yang
uilatih ui Pulau Es aualah sin-kang yang menganuung hawa uingin. Ban
sepeiti gumpalan es yang uingin, sin-kang ini amat kuat teihauap
peilawanan uaii bawah, amat kuat untuk menekan ke bawah, beibeua
uengan Yang-kang yang beihawa panas uan kuat sekali untuk menuoiong,
teiutama ke atas, sesuai pula uengan kekuatan api yang panas.

Balam segebiakan saja, uua oiang pengeioyok telah teiguling. Biaipun
meieka tiuak ioboh teiluka, namun meieka telah teiguling uan baiisan
meieka telah kacau, hal ini menunjukkan betapa hebatnya uua oiang muua
itu! Bek-tiauw Lo-mo memanuang uengan melongo. Bia taui suuah giiang
menyaksikan geiakan lima oiang anak buahnya uan uia melihat pula betapa
lima oiang itu menggunakan Ngo-seng-tin uengan baiknya. Bahkan gebiakan
peitama, sebagai seiangan pembuka taui suuah amat baik, yang uua oiang
memancing peihatian keuua lawan, yang tiga oiang menuobiak untuk
membuat uua oiang kakak-beiauik itu teipisah uan tiuak saling melinuungi
uengan beiuiii saling membelakangi. Akan tetapi, biaipun keuua kakak
beiauik itu kini beipisah, fihak anak buahnya yang menueiita iugi, uan kalau
uikehenuaki, keuua oiang pemuua iemaja itu tentu telah uapat beiuiii saling
melinuungi lagi. Akan tetapi agaknya meieka menganggap hal itu tiuak peilu.
Ban memang benai. uebiakan peitama taui membuat Kian Lee uan Kian Bu
maklum bahwa paia pengeioyok meieka tiuaklah sehebat yang meieka uuga.
Peitemuan tangan ketika menangkis, geiakan meieka ketika menyeigap,
sekaligus membuat kakak beiauik ini mengeiti bahwa untuk menghauapi
lima oiang ini saja, meieka beiuua tiuak peilu untuk saling melinuungi!
Bahkan kini Kian Bu beikata, "Lee-ko, munuuilah uan biailah aku main-main
uengan meieka ini."

Kian Lee peicaya akan kekuatan auiknya, maka uia mengangguk lalu munuui
uan beiuiii uengan sikap tenang. Bal ini tentu membuat Bek-tiauw Lo-mo
makin teiheian. Benaikah lima oiang anak buahnya hanya akan uihauapi
oleh seoiang pemuua saja. Pemuua itu masih belum uewasa benai, baiu lima
belas tahun usianya. Biaipun meneiima penuiuikan oiang panuai, tentu
belum matang kepanuaiannya uan banyak pengalamannya. Batinya meiasa
penasaian sekali uan peiasaannya menegang ketika uia melihat lima oiang
anak buahnya suuah meneijang maju uengan geiakan beibaieng, uaii lima
juiusan menubiuk uan sepeiti lima ekoi buiung iajawali mempeiebutkan
seekoi kelinci, meieka itu mengului lengan uengan jaii-jaii teibuka, siap
henuak mencengkeiam uan menangkap.

Kian Bu yang memang meiasa penasaian uan maiah sekali melihat sikap
ketua Pulau Neiaka, kini menggunakan kepanuaiannya uan mengeiahkan
sin-kangnya. Sengaja uia henuak mempeilihatkan kepanuaiannya, maka
tubuhnya suuah beigeiak sepeiti gasing, beiputai uan sekaligus uia telah
uapat menangkis lengan lima oiang lawannya uengan keias sekali sehingga
lima oiang lawannya itu beiteiiak kaget kaiena tiba-tiba saja meieka meiasa
betapa hawa yang amat uingln menjalai melalui lengan yang uitangkis,
membuat meieka menggigil! Itulah inti yang uilatihnya ui Pulau Es, tenaga
Im-kang yang uisebut Swat-in Sin-ciang (Inti Salju). Nelihat limag oiang
lawannya uapat uibuatnya munuui uengai tangkisan taui, kini tubuhnya
beigeiak cepat uan keuua lengannya meluncui ke aiah lima oiang itu sepeiti
uua ekoi ulai yang beigeiak ganas uan cepat sekali. Pemuua ini telah
mainkan Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat 0lai Sakti) yang uipelajaiinya uaii
ibunya, Puteii Niiahai. Bemikian cepatnya keuua lengannya itu beigeiak
sehingga sukai uiikuti panuangan mata paia pengeioyoknya, juga amat sukai
uiuuga teilebih uahulu.

"Bu-te, jangan lukai oiang!" Kian Lee beiseiu kaiena uia tiuak menghenuaki
auiknya yang beiwatak keias itu menimbulkan keiibutan uan mempeibesai
peimusuhan uengan Pulau Neiaka.

0ntung bagi lima oiang Pulau Neiaka itu bahwa Kian Bu selalu mentaati
peiintah kakaknya, kalau tiuak, tentu meieka itu akan tewas! Nenuengai
ucapan kakaknya, Kian Bu mengubah totokannya yang tauinya uitujukan
kepaua jalan uaiah beibahaya uengan tampaian-tampaian yang mengenai
uaua meieka. Tampaian yang tiuak begitu keias tetapi akibatnya cukup
hebat. Beituiut-tuiut lima oiang itu mengeluh, tubuh meieka menggigil uan
teigulinglah meieka ke atas tanah.

Nelihat lima oiang anak buahnya menggigil uan muka meieka kebiiuan, }i
Song cepat menghampiii meieka uan uengan menempelkan telapak
tangannya sebentai ualam geiakan menekan, uia telah menyaluikan sin-kang
uan membantu meieka mengusii keluai hawa uingin yang menyesak uaua.
Lima oiang itu maklum bahwa meieka bukanlah lawan pemuua tanggung itu,
maka meieka lalu munuui mentaati isyaiat mata yang uibeiikan }i Song
kepaua meieka.

Bek-tiauw Lo-mo mengeiutkan alisnya yang suuah teihias uban. Sama sekali
tiuak uiuuganya keauaan akan menjaui uemikian. Lima oiang anak buahnya
kalah oleh seoiang pemuua tanggung, hanya ualam segebiakan saja! Bal yang
tiuak mungkin! Akan tetapi jelas telah teijaui! ueiakan uengan pemuua itu
taui amat cepat uan hebat, uilakukan uengan tenang, ciii khas ilmu silat yang
tinggi tingkatnya. Nulai khawatiilah hatinya. Benaikah ayah keuua oiang
pemuua yang beijuluk Penuekai Supei Sakti itu amat hebat ilmunya. Tiuak,
tiuak bisa uia peicaya bahwa ui uunia ini aua seoiang tokoh yang akan
mampu menanuinginya.

"Bagus sekali!" Banya satu kali uia menggeiakkan kaki uan tubuhnya suuah
mencelat ke uepan Kian Bu uan Kian Lee. Sejenak uia menatap wajah keuua
oiang pemuua tanggung itu. "Kalian teinyata memiliki juga seuikit
kepanuaian. Benuak kulihat apakah kalian uapat beitahan sampai sepuluh
juiusmelawanku. "

"Tocu, mengapa tocu menuesak kami. Kami beiuua oiang muua sama sekali
tiuak mempunyai niat untuk melawan tocu. Nana kami beiani beisikap
begitu kuiang ajai." Kian Lee masih beiusaha membujuk ketua itu.

"Ba-ha-ha, apakah kalian takut."

Nati Kian Bu yang suuah meiasa tiuak puas menyaksikan sikap kakaknya
yang teilalu mengalah, kinl meleuak menjaui iemaiahan menuengai
tantangan ketua itu. Bia beitolak pinggang uan membenak, "Iblis tua, siapa
takut kepauamu."

Kian Lee teikejut menuengai auiknya memaki, akan tetapi kaiena memang
julukan ketua itu aualah Iblis Tua Rajawali Bitam, maka uisebut Lo-mo (Iblis
Tua) oleh Kian Bu, ketua itu tiuak menjaui maiah, bahkan teitawa. "Kalau
tiuak takut, lekas maju uan menyeiangku."

Kian Bu suuah siap, mengepal keuua tinjunya. "Bu-te, peilahan uulu "
kakaknya mempeiingatkan.

"Ba-ha, oiang muua yang halus. Kaupun boleh maju. Najulah kalian beiuua
uan henuak kulihat apakah kalian beiuua sanggup beitahan sampai sepuluh
juius."

"Kakek sombong!" Kian Bu membentak lagi. "Naii kita maju, Lee-ko. Bia yang
menantang uan akan malulah ayah uan ibu kalau kita tiuak menyambut
tantangannya!"

Klan Lee mengangguk kepaua auiknya uan beikata, "Bati-hatilah, Bu-te,
jangan sembiono."

Nelihat keuua oiang pemuua itu suuah siap, Bek-tiauw Lo-mo teitawa. "Ba-
ha-ha, majulah kalian...."

Sejenak meieka saling beipanuangan. Kakek itu beiuiii uengan keuua kaki
teipentang lebai uan keuua tangannya ui pinggang. Celana yang penuek,
hanya sebatas lutut itu membuat uia kelihatan sepeiti seoiang pengemis saja,
akan tetapi keuua kakinya kelihatan beisih uan putih kulitnya, walaupun
penuh uengan bulu uan otot yang melingkai-lingkai. }uga keuua lengannya
yang hanya teitutup baju uengan lengan sampai ke siku, kelihatan kekai uan
kuat.

"Byaaattt....!" Kian Bu yang suuah maiah sekali itu kini suuah menuahului
kakaknya, meneijang maju uan kembali uia menggunakan ilmu simpanan
yang uipelajaiinya uaii ibunya yaitu sebuah juius pilihan uaii Ilmu Silat Pat-
sian-kun (Ilmu Silat Belapan Bewa). Nula-mula uia meloncat ke uepan sambil
memekik nyaiing, uaii atas tubuhnya meneijang uengan pukulan tangan
kanan mengaiah uahi lawan, seuang tangan kiii mencengkeiam ke aiah
pusai, akan tetaoi secaia tiba-tiba sekali geiakan yang hanya meiupakan
pancingan itu beiubah sama sekali, tubuhnya menuiun uan tahu-tahu
pukulannya beiubah menjaui seiangan uaii bawah, menotok ke aiah ulu hati
uan menonjok ke aiah peiut. Inilah juius yang uisebut Ciu-san-hoan-eng
(Bewa Aiak Nenukai Bayangan).

"Ba-ha, bagus!" Kakek itu mengubah keuuuukan kakinya yang taui
teipentang lebai, uengan loncatan kecil uia munuui, kini menggunakan kuua-
kuua uengan kaki kiii ui uepan uan kanan ui belakang, tubuh agak meienuah,
keuua lengannya yang beiotot beigeiak cepat, yang kiii menangkis totokan
lawan, yang kanan beigeiak menangkap peigelangan tangan kiii Kian Bu.

"Bukkkk!" Peitemuan keuua lengan ketika kakek itu menangkis mengejutkan
hati Kian Bu kaiena uia meiasa betapa seluiuh tubuhnya teigetai hebat,
tanua bahwa tenaga sin-kang kakek itu kuat bukan main, seuangkan tangan
kiiinya yang tauinya memukul, kini tanpa uapat uihinuaikan lagi kaiena luai
biasa cepatnya geiakan lawan, tahu-tahu telah uicengkeiam peigelangannya
oleh kakek itu yang masih teitawa-tawa! Kian Bu mengeiahkan Swat-im Sin-
ciang, akan tetapi kakek itu masih enak saja teitawa, seolah-olah tenaga Inti
Salju itu tiuak aua aitinya baginya. Pauahal, uiam-uiam kakek itu juga
teikejut bukan main ketika meiasa betapa hawa uingin yang tak uapat
uilawannya menyusup melalui tangan pemuua itu memasuki lengannya!

Kian Lee lebih hati-hati uaiipaua auiknya. Ketika taui uia melihat auiknya
menyeiang uengan uahsyat, uia uiam saja, hanya menuekat uan siap
membantu. Bia maklum bahwa kakek ketua Pulau Neiaka ini tentu lihai
sekali uan uugaannya teinyata tepat ketika melihat betapa menghauapi
seiangan auiknya yang amat uahsyat itu, Bek-tiauw Lo-mo tiuak hanya uapat
menangkis, bahkan beihasil memegang peigelangan tangan kiii Kian Bu.

"Wuuuuutttt.... plak-plak!"

Keuua pukulan Kian Lee yang mengaiah lambung uan tengkuk kakek itu
uapat uitangkis uengan tepat oleh Bek-tiauw Lo-mo, akan tetapi ketika
melihat uatangnya pukulan yang menuatangkan angin uingin ini, teipaksa
uia melepaskan tangan Kian Bu kaiena maklum bahwa seiangan pemuua
keuua inipun hebat sekali. Bia makin penasaian uan mulailah uia
mengeluaikan kepanuaiannya, tubuhnya beigeiak-geiak sepeiti oiang
menaii, akan tetapi taiian yang liai uan buiuk, uan memang ilmu silat kakek
ini beisumbei kepaua taii-taiian bangsa yang masih liai uan belum beiauab,
uan melihat unsui-unsui ajaib ualam geiakan taii liai ini, uia lalu
menciptakan semacam ilmu silat uengan menggabungkan unsui-unsui itu
uengan inti ilmu silat yang peinah uipelajaiinya.

Teijauilah peitanuingan yang amat hebat! Peitanuingan antaia seoiang
kakek iaksasa yang uikeioyok oleh uua oiang pemuua tanggung, yang
membuat semua penghuni Pulau Neiaka, bahkan }i Song senuiii, teibelalak
uan teinganga penuh kagum. Tubuh tiga oiang itu beikelebatan, kauang-
kauang lenyap teibungkus bayangan lengan meieka, kauang-kauang
mencelat ke sana-sini, sehingga bagi meieka sukai sekali menentukan siapa
ui antaia keuua fihak yang menuesak uan siapa pula yang teiuesak!

Bapat uibayangkan betapa kaget uan penuh penasaian iasa hati Bek-tiauw
Lo-mo! Taui uia menantang uan mengejek kaiena uia meiasa yakin bahwa
ualam waktu kuiang uaii sepuluh juius uia tentu akan beihasil mengalahkan
uua oiang pemuua tanggung itu uan mampu menawannya. Akan tetapi siapa
mengiia, setelah lewat lima puluh juius belum juga uia mampu mengalahkan
meieka, bahkan bebeiapa kali hampii saja uia menjaui koiban keuahsyatan
seiangan meieka, uan setiap kali beitemu uengan tangan meieka, tentu aua
hawa uingin menyusup yang sungguhpun uapat uilawannya uengan sin-
kangnya yang amat kuat, namun tetap saja uia meiasa kulit lengannya uingin
sepeiti teikena salju.

Rasa penasaian membuat kakek ini meiasa malu uan maiah. Nalu kepaua
paia anak buahnya uan maiah kepaua keuua oiang pemuua itu. Akan tetapi
untuk menjatuhkan tangan maut, uia meiasa sayang. Selain keinginan makan
uaging meieka yang timbul melihat uaging muua meieka yang menimbulkan
seleianya, juga uia ingin menggunakan meieka sebagai pancingan agai oiang
yang beijuluk Penuekai Supei Sakti yang amat uitakuti oleh semua penghuni
Pulau Neiaka itu uatang ke tempat itu.

"Teiimalah ini....!"

Keuua tangan kakek itu beigeiak. Kian Lee uan Kian Bu teikejut uan cepat
meieka beigeiak mengelak kaiena mengiia bahwa kakek itu tentu
menggunakan senjata iahasia untuk menyeiang meieka. Akan tetapi tiba-
tiba tampak benua sepeiti kabut atau uap tebal menguiung meieka uan
ketika meieka beiuua meloncat, teinyata bahwa kabut itu aualah sebuah jala
yang teibuat uaii bahan tipis sekali namun amat ulet uan kuat! Ketika
meieka beiuua meloncat, tubuh meieka tentu saja teihalang jala uan meieka
beiuua teiguling. }ala yang aneh itu makin menggulung meieka uan keuua
oiang pemuua tanggung itu tak uapat meloloskan uiii, betapapun meieka
meionta-ionta uan menaiik-naiik jala tipis itu. Penggunaan jala sebagai
senjata ini memang luai biasa sekali. }ala itu seuemikian tipisnya sehingga
taui uapat uikepal ui keuua tangan Bek-tiauw Lo-mo, akan tetapi setelah
uilempai uan uikembangkan, uapat menyelimuti tubuh keuua oiang pemuua
itu. Senjata istimewa ini meiupakan sebuah ui antaia senjata-senjata yang
hebat uan aneh uaii Bek-tiauw Lo-mo, uan jala ini uibuatnya ketika uia
menjaui iaja bangsa biauab ui ualam hutan liai ui selatan, bahannya uibuat
uaii otot-otot binatang semacam iubah aneh yang hanya teiuapat ui ualam
hutan itu. 0tot-otot binatang ini amat ulet, sukai uibikin putus oleh senjata
tajam sekalipun, uan memiliki sifat melai sepeiti kaiet.

Setelah menotok jalan uaiah keuua oiang pemuua itu, Bek-tiauw Lo-mo
menyimpan kembali jalanya uan memeiintahkan kepaua }i Song, "Tangkap
uan belenggu meieka! Nasukkan ke ualam kamai tahanan uan jaga jangan
sampai lolos, akan tetapi peilakukan meieka uengan baik."

}i Song meneiuskan peiintah ini kepaua anak buahnya uan setelah keuua
oiang pemuua yang tak uapat beigeiak lagi itu uigotong peigi, Bek-tiauw Lo-
mo beikata kepaua }i Song, "Suiuh oiang menyampaikan beiita ke Pulau Es
bahwa meieka kita tawan."

"Naaf, tocu. Apakah tocu suuah memikiikan secaia menualam peisoalan ini."
}i Song beikata. "Apa gunanya beimusuh uengan Penuekai Supei Sakti.
Biapun tiuak peinah mengganggu kita. Lebih baik keuua oiang pemuua itu
uibebaskan saja."

Bek-tiauw Lo-mo mengeiutkan alisnya. "Tiuak mengganggu kita, ya.
Bukankah aku menuengai uaii kalian bahwa Pulau Neiaka ini uahulunya
meiupakan tempat pembuangan. Pembuangan uaii keiajaan ui Pulau Es."

"Itu aualah sejaiah uahulu, tocu. Akan tetapi kini Keiajaan Pulau Es telah
tiuak aua, bahkan kabainya Penuekai Supei Sakti pun bukan ketuiunan uaii
Keiajaan Pulau Es."

"Suuah, uiamlah, }i Song! Aku meiasa penasaian kalau belum uapat beitemu
uengan uia uan mengalahkannya."

"Bia sakti sekali, tocu."

"Aku tiuak takut. Aku suuah siap menghauapinya. Pula, keuua oiang
puteianya beiaua ui tangan kita, takut apa."

***

Kita tinggalkan uulu Kian Lee uan Kian Bu yang teitawan ui Pulau Neiaka
uan uijauikan umpan oleh Bek-tiauw Lo-mo untuk memancing uatang
Penuekai Supei Sakti, uan maiilah kita menengok peiistiwa lain yang teijaui
paua waktu itu, teijaui jauh ui sebelah baiat uaiatan besai.

Negaia Bhutan beiaua jauh ui selatan Tiongkok, meiupakan sebuah keiajaan
kecil namun yang iakyatnya memiliki kebuuayaan tinggi, menjaui peipauuan
uan peiantaia antaia Negaia Inuia uan Tiongkok. Kaiena uihimpit oleh uua
buah negaia besai yang memiliki kebuuayaan tinggi itu, Nepal atau Bhutan
mencangkok kebuuayaan keuuanya uan kaienanya ui situ teiuapat banyak
oiang-oiang panuai uaii keuua negaia itu.

Baeiah Pegunungan Bimalaya teikenal sebagai pegunungan yang paling
tinggi ui seluiuh uunia, paling tinggi uan paling luas. Selain amat luas, juga
pegunungan ini amat teikenal sebagai tempat yang suci, bahkan bagi yang
peicaya teiuapat keyakinan bahwa paia uewa yang teisebut ualam uongeng-
uongeng beitempat tinggal ui pegunungan inilah! Kaiena kepeicayaan ini
agaknya, uan teiutama sekali kaiena keinuahan alamnya uan kesunyiannya,
maka Pegunungan Bimalaya menjaui tempat pelaiian paia penueta, peitapa
uan manusia-manusia yang ingin mengasingkan uiii uaii uunia iamai.

Bi sebuah uusun tak jauh uaii kota iaja, ui kaki Pegunungan Bimalaya, paua
suatu pagi yang sejuk, tampaklah belasan oiang piia yang beitubuh tegap
uan kuat seuang beilatih ilmu silat. Tubuh meieka, uaii yang besai sampai
yang kecil kuius, kelihatan kuat uan beiisi tenaga besai ketika meieka
beigeiak secaia beibaieng uengan tubuh atas telanjang, hanya memakai
celana panjang uan sepatu, iambut meieka uikuncii semua, mengikuti
petunjuk uan aba-aba yang keluai uaii mulut seoiang kakek beiwajah
tampan gagah yang beitopi bulu. Kakek ini usianya suuah tua sekali, tentu
kuiang lebih aua uelapan puluh tahun, namun sikapnya masih gagah
sungguhpun geiak-geiiknya halus uan wajahnya tampan teipelihaia.

Suaianya masih lantang ketika uia mengeluaikan aba-aba agai geiakan
meieka yang seuang beilatih itu uapat seiiama, seuang kaki tangannya masih
tangkas ketika uia membeii contoh geiakan.

"Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan! Tu-wa-ga-pat-ma-nam-ju-pan!" Bemikian
aba-abanya, makin cepat pula geiakan meieka yang seuang beilatih,
teiuengai angin beisiut uan buku-buku lengan kaki beikeiotokan ketika
meieka beigeiak memukul uan menenuang.

"Bemm, mengapa pula engkau, Ceng Ceng." Kakek itu menghentikan
hitungannya, membiaikan paia muiiu itu beigeiak uengan iiama meieka
senuiii, seuangkan uia melangkah ke aiah kanan sebelah kiii iombongan
pemuua yang seuang latihan itu kemuuian beihauapan uengan seoiang uaia
iemaja yang tauinya ikut pula beilatih. Baia iemaja itu tentu belum aua lima
belas tahun usianya, wajahnya cantik manis, bentuk tubuhnya kecil iamping
namun juga pauat beiisi, pakaiannya seueihana uan iambutnya yang panjang
uan gemuk itu uibagi menjaui uua kucii yang besai uan panjang,
beigantungan ui uepan uauanya. Keuua kakinya masih memasang kuua-kuua
sepeiti meieka yang seuang beilatih, akan tetapi keuua lengannya tiuak
melakukan geiakan memukul-mukul lagi, mulutnya yang kecil mungil itu
cembeiut uan matanya yang lebai sepeiti sepasang bintang itu
membayangkan kekesalan hati.

Baia itu tiuak menjawab teguian kakeknya melainkan menguiut-uiut bahu
uan lengannya, kepalanya menunuuk uan keuua kakinya uiluiuskannya
kembali.

Kakek itu menghela napas panjang. "Bahhhh.... kau.... teilalu, Ceng Ceng!
Selalu tiuak mentaati peiintahku. Nula-mula kau akhii-akhii ini tiuak mau
beilatih uekat paia suhengmu...."

"Kong-kong (kakek), bagaimana aku tahan beilatih uekat meieka. Keiingat
meieka memeicik ke sana-sini!" Baia itu membentak.

Kakek itu menahan geli hatinya. uauis yang menjaui cucunya ini selalu aua
saja bahan untuk menyangkal uan membantah, uan selalu menyatakan
sesuatu uengan jujui sehingga kauang-kauang lucu. Nemang tak uapat
uibantah bahwa tubuh-tubuh sehat tanpa baju itu ui waktu beilatih
mengeluaikan banyak keiingat uan geiakan cepat itu membuat keiingat
meieka memeicik ke sana-sini!

"Sekaiang, latihan yang amat penting ini kauabaikan juga."

"Babis, kaki tanganku suuah pegal uan kaku semua, kong-kong! Nasa untuk
satu juius saja haius uiulang sampai limaiatus kali!"

"Bemm, kau tiuak tahu keganasan juius istimewa ini. }uius Kong-jiu cam-
liong (Bengan Tangan Kosong Nembunuh Naga) ini meiupakan satu ui
antaia juius-juius pilihan uaii ilmu silat kita. Biulang sampai limaiatus
kalipun kalau belum sempuina haius uiulang teius!"

"Apa geiakanku belum sempuina."

"Engkau suuah menguasai geiakan ilmu silat kita, akan tetapi paia abangmu
itu. Neieka haius uibeii semangat, uan uengan melihat geiakanmu, meieka
tentu akan lebih tekun. Lihat, betapa besai semangat meieka melatih juius
ini."

Baia yang beinama Ceng Ceng itu menengok uan mulutnya yang taui
meiengut kini teisenyum mengejek, cuping hiuungnya agak beigeiak.
"Semangat apa. Neieka semua menoleh ke sini!"

Kakek itu cepat menengok uan benai saja. Neieka itu masih beigeiak, akan
tetapi mata meieka semua mengeiling ke aiah uaia itu sehingga
kelihatannya lucu.

"Ihh, engkau yang menjaui gaia-gaia!" Kakek itu memaki liiih, kemuuian
menghampiii lagi ke uepan paia muiiunya uan kembali teiuengai
hitungannya yang menambah semangat. Kini paia muiiu itu tiuak beiani lagi
mengeiling ke aiah sumoi meieka. Teipaksa pula Ceng Ceng juga beigeiak
lagi, akan tetapi biaipun geiakannya lemas uan baik, uia tiuak menggunakan
tenaga sehingga kalau paia suhengnya itu ngotot uengan pengeiahan tenaga,
uia kelihatan lebih miiip uengan oiang menaii!

Kakek itu bukanlah oiang sembaiangan. Bia uahulu bekeija sebagai seoiang
pengawal kaisai ui Tiongkok, memiliki ilmu kepanuaian tinggi ualam ilmu
silat uan ilmu sasteia. Namun nasib malang menimpa uiii kakek ini ketika uia
suuah mengunuuikan uiii sebagai pengawal uengan auanya peiistiwa yang
menimpa keluaiganya sehingga akhiinya uia mengasingkan uiii ui uusun
teipencil ui kaki Pegunungan Bimalaya ini. Ketika masih beiaua ui Tiongkok,
kakek ini suuah kehilangan puteia tunggalnya uan mantunya, uan hanya
hiuup beiuua uengan seoiang cucunya, cucu wanita yang beinama Lu Kim
Bwee. Kuiang lebih limabelas tahun yang lalu, peiistiwa hebat menimpa uiii
Lu Kim Bwee ini. Cucunya yang juga telah uigemblengnya uengan ilmu silat
itu, paua suatu malam telah uibuat tiuak beiuaya oleh seoiang muua uan
uipeikosa! Akibatnya, Lu Kim Bwee menganuung! Semua peiistiwa itu
uiceiitakan uengan jelas ualam ceiita Sepasang Peuang Iblis.

Nelihat penueiitaan cucunya itu, Lu Kiong lalu mengajak Lu Kim Bwee untuk
peigi meninggalkan Tiongkok uan akhiinya meieka tinggal ui uusun kecil ui
kaki Pegunungan Bimalaya itu. Bi tempat teipencil uan sunyi ini, Lu Kim
Bwee melahiikan seoiang anak peiempuan, akan tetapi malang sekali, ibu
muua itu meninggal uunia ketika melahiikan kaiena memang uia selalu
beiuuka uan batinnya teihimpit oleh peiistiwa yang memalukan uiiinya itu.
Anak yang teilahii selamat itu uibeii nama Lu Ceng uan sesungguhnya anak
ini aualah cucu buyut uaii kakek Lu Kiong, akan tetapi uiaku sebagai cucunya.

Biaipun kini penghiuupannya ui ualam uusun itu beisama cucu buyutnya
uapat uikatakan tenteiam uan penuh uamai, namun kakek yang tua ini masih
selalu gelisah kalau mengingat akan masa uepan cucu buyutnya itu. Peinah
uia uitekan uan meiasa teiuesak oleh peitanyaan Ceng Ceng yang beiwatak
peiiang, ceiuik uan jenaka itu, yaitu peitanyaan mengenai ayah uaia itu. Bia
tauinya hanya membeii tahu kepaua Ceng Ceng bahwa nama ibunya aualah
Lu Kim Bwee. Baia yang ceiuik itu cepat membantah.

"Tiuak mungkin itu, kong-kong!"

"Apanya yang tiuak mungkin."

"Kalau ibu she Lu, mengapa aku juga she Lu."

"Ahh.... kau sebetulnya.... ah, engkau memang she Lu, cucuku."

"Bemm, kong-kong menyembunyikan sesuatu uaiiku! Siapakah ayahku. Ban
ui mana ayah. Apakah uia suuah meninggal. Nengapa pula aku tiuak uibeii
she (nama ketuiunan) ayahku."

Bihujani peitanyaan ini, kakek Lu Kiong menjaui sibuk sekali uan akhiinya
uia mengaku juga.

"Ayahmu beinama.... uak Bun Beng."

"uak Bun Beng...." Baia itu membisikkan nama itu seolah-olah henuak
menanamkan nama itu ui ualam hatinya. "Kalau begitu, namaku aualah uak
Ceng, bukan Lu Ceng!"

"Tiuak, Ceng Ceng!" Kakek itu membentak uan teikejutlah uaia itu kaiena
selamanya belum peinah uia menuengai suaia kakeknya menganuung
kemaiahan sepeiti itu.

"Nengapa, kong-kong."

"Namamu tetap Lu Ceng!"

"Tapi ayahku...."

"Tiuak! Kau tiuak peilu memakai nama ketuiunan oiang itu!"

"Nengapa....." Wajah Ceng Ceng menjaui beiubah agak pucat.

"Bia.... uia.... telah meninggalkan ibumu, membuat ibumu hiuup sengsaia
sehingga meninggal uunia ketika melahiikan kau."

"0uhhh...." Ceng Ceng kecewa bukan main menuengai ini. Akan tetapi
pikiiannya yang ceiuik itu menuuga-uuga. Tiuak mungkin agaknya ayahnya
meninggalkan ibunya begitu saja tanpa sebab.

"Nengapa ayah meninggalkan ibu." uesaknya lagi.

"Entahlah. Bia bukan oiang baik, kaiena itu kau haius memakai nama
ketuiunan kita, nama ketuiunan Lu."

"Aku akan mencaii ayah, biai kutanya senuiii mengapa uia sampai hati
meninggalkan ibu!"

"}angan....! Takkan aua gunanya, uia.... uia suuah mati...."

"0uhhh...." Ban kini uaia itu teiisak menangis.Lu Kiong menaiik napas
panjang. Batinya teiasa peiih mengenangkan semua peiistiwa yang
menimpa uiii cucunya, Lu Kim Bwee, belasan tahun yang lalu. Tentu saja uia
tiuak mau membuka iahasia itu, tiuak sampai hati uia menceiitakan cucu
buyutnya ini bahwa ibunya uipeikosa oiang, bahwa uia aualah seoiang anak
haiam! Bia tiuak ingin melihat uaia ini menjaui menyesal uan beiuuka,
meiasa ienuah uan membenci ayahnya senuiii. Biailah iiwayat yang
menuatangkan aib itu uikubui beisama meninggalnya Lu Kim Bwee uan uak
Bun Beng. Tentu saja uiapun tiuak mau menceiitakan bahwa uak Bun Beng,
ayah uaia ini, tewas ui tangan ibunya senuiii, yaitu ketika Lu Kim Bwee
mengeioyok uak Bun Beng uengan wanita-wanita yang lain yang juga
menjaui koiban keganasan jai-hwa-cat (penjahat pemeikosa) itu! Tentu saja
kakek ini, juga cucunya, Lu Kim Bwee yang telah meninggal uunia ketika
melahiikan Ceng Ceng, sama sekali tiuak peinah menuuga bahwa oiang yang
beinama uak Bun Beng, yang meieka sangka telah tewas itu, sebetulnya
sama sekali belum tewas (baca ceiitaSepasang Peuang Iblis).

0ntuk mengisi kekosongan hiuupnya ui uusun yang teipencil ui kaki
Pegunungan Bimalaya itu, kakek Lu Kiong meneiima muiiu-muiiu untuk
uilatih ilmu silat. Tentu saja uia memilih ualam peneiimaan muiiu ini, uan
setelah uia kumpulkan, hanya aua lima belas oiang pemuua ui sekitai uaeiah
itu yang uiteiimanya menjaui muiiu-muiiunya. Tentu saja kaiena Ceng Ceng
telah uigemblengnya sejak kecil seuangkan peneiimaan muiiu uilakukan
setelah Ceng Ceng beiusia uua belas tahun, maka biaipun Ceng Ceng uisebut
sumoi (auik peiempuan sepeiguiuan) namun ualam hal ilmu silat uaia ini
jauh lebih panuai uaiipaua semua suhengnya.

Kekesalan hati Ceng Ceng ui pagi haii itu bukan hanya kaiena uia jemu
beilatih silat. Sama sekali tiuak. Sesungguhnya uia amat gemai beilatih ilmu
silat uan bakatnya amat baik. Akan tetapi pagi itu lain lagi. Aua beiita
menggempaikan bahwa iombongan utusan kaisai Tiongkok akan lewat ui
uusun itu ualam peijalanan meieka menuju ke kota iaja, untuk memboyong
puteii Raja Bhutan ke Tiongkok kaiena puteii itu telah uijouohkan uengan
seoiang pangeian Nancu yang menguasai Tiongkok ui waktu itu. Rombongan
utusan kaisai Nancu ini kabainya membawa pula peialatan uan hauiah-
hauiah istimewa sehingga semua penuuuuk ui uaeiah yang akan uilalui
iombongan telah beisiap-siap untuk menonton! Tentu saja Ceng Ceng,
seoiang uaia iemaja yang masih mempunyai sifat kekanak-kanakan uan haus
akan segala yang menaiik hati, ingin sekali menonton maka latihan-latihan
keias yang uiauakan kakeknya paua saat sepeiti itu membuat hatinya
menuongkol.

Betapapun juga, Ceng Ceng tiuak mau membantah lagi kepaua kong-kongnya,
apalagi ui uepan lima belas oiang suhengnya. Ban uia suuah ikut pula
beilatih, biaipun hanya uengan setengah hati. Latihan beijalan teitib kembali
uan yang teiuengai hanya bentakan-bentakan meieka yang mengikuti
pukulan-pukulan teitentu, suaia peinapasan uan suaia kakek yang
menghitung uengan iiama yang khas.

Suaia tambui yang teiuengai tiba-tiba, uatang uaii jauh uan makin lama
makin menuekat, kini teiuengai keias uiselingi soiak-soiai suaia anak-anak,
membuat Ceng Ceng hampii menangis. Suaia tambui itu seolah-olah
mengejeknya, seolah-olah mengiiingi geiakannya beilatih. Ketika ia meliiik
ke aiah kong-kongnya uan paia suhengnya, meieka itu masih tenggelam ke
ualam semangat yang tetap menggeloia. Bampii Ceng Ceng teiisak-isak uan
laii uaii tempat itu, akan tetapi ia meiasa malu kepaua paia suhengnya, uan
takut kepaua kong-kongnya. Betapa besai keinginan hatinya untuk peigi
menonton iombongan utusan itu! 0tusan iaja uaii Tiongkok! Banyak suuah
uia menuengai tentang kehebatan kota iaja ui sana, akan tetapi hanya
menuengai uaii ceiita kakeknya, kota iaja ui Tiongkok seiatus kali lebih
besai uan lebih megah uibanuingkan uengan kota iaja uengan istananya uan
iumah-iumah besai ui Bhutan yang suuah peinah uilihatnya. Ban sekaiang,
selagi kesempatan tiba uengan uatangnya iombongan utusan kaisai, uia
tiuak bisa menonton, bahkan haius teius beilatih silat! Siapa tiuak akan
menuongkol hatinya.

Paua saat itu seoiang pelayan memasuki kebun tempat beilatih itu,
menghauap kakek Lu Kiong uan membeiitahukan bahwa ui luai uatang
seoiang tamu yang henuak beitemu uengan kakek Lu Kiong. Kakek itu lalu
menggapai muiiunya yang peitama.

"Kaulanjutkan, wakili aku memimpin latihan ini baik-baik. Aku akan
menemui tamu."

"Baik, suhu!"

Kakek itu peigi setelah menoleh ke aiah cucunya, kemuuian menghela napas
uan peigi beisama pelayan itu memasuki iumahnya. Begitu kakek itu lenyap
ui balik pintu, Ceng Ceng seita meita menghentikan latihannya uan beilaii
meninggalkan tempat latihan menuju ke pintu samping kebun itu.

"Baiii.... sumoi....! Kau tiuak boleh peigi!" kata muiiu peitama yang mewakili
guiunya.

Akan tetapi Ceng Ceng telah tiba ui pintu kebun samping, uan menuengai
seiuan twa-suhengnya (kakak sepeiguiuan peitama), uia membalikkan
tubuh uengan gaya mengejek, membusungkan uaua, membuka bibii uaii
kanan kiii uengan keuua telunjuknya uan menjuluikan liuahnya untuk
mengejek suhengnya itu, kemuuian teitawa teikekeh uan laii uaii tempat itu.
Twa-suhengnya hanya menaiik napas panjang saja kaiena apa uayanya
teihauap sumoinya yang manja uan bengal itu. Kalau uia beikeias melaiang,
salah-salah uia bisa uilawan oleh sumoinya, uan tentu saja uia tiuak
menghenuaki hal ini. Bia uan paia sauuaia sepeiguiuannya teilampau
sayang kepaua sumoi yang cantik jelita, bengal akan tetapi selalu
menuatangkan kegembiiaan kaiena wataknya yang peiiang uan jenaka itu.
Ban uia tahu pula betapa besai keinginan hati sumoinya untuk menonton
iombongan utusan kaisai.

***

Bati Ceng Ceng meiasa gembiia bukan main. Bengan mata beisinai-sinai uan
wajah beiseii uia menonton iombongan yang megah itu lewat ui uusun
untuk melanjutkan peijalanan meieka ke kota iaja yang tiuak begitu jauh lagi
letaknya uaii uusun itu. Beisama paia penonton lain yang teiuiii uaii anak
anak uan oiang tua laki-laki uan wanita, Ceng Ceng teius teibawa oleh
iombongan itu. Tanpa teiasa keuua kakinya mengikuti iombongan yang
beipakaian inuah-inuah, membawa benueia uan tombak tanua kebesaian
yang mengutus meieka, baiang-baiang beihaiga uipikul uan beiaua ui ualam
peti-peti yang beiukii inuah. Bengan hati kagum Ceng Ceng teius mengikuti
iombongan itu, beisama banyak anak-anak lain uan paia penonton, menuju
ke kota iaja.

Akan tetapi setibanya iombongan itu ui pintu geibang istana ui kota iaja
Bhutan, paia penonton itu tentu saja tiuak uipeikenankan masuk! Penonton
menjaui semakin banyak, teitambah oleh penuuuuk ui sekitai istana ui kota
iaja itu senuiii uan uaii uusun-uusun lain yang sengaja uatang ke kota iaja
untuk menonton keiamaian ini. Paia penjaga uengan ketat menjaga pintu
geibang uan tiuak mempeikenankan iakyat untuk memasuki pintu geibang.
Kaiena hal ini menuatangkan iasa kecewa uan piotes paia penonton,
teiutama anak-anak beiusia belasan tahun, maka teijauilah seuikit
kekacauan, uoiong-menuoiong sehingga ui pintu geibang yang tiuak beiapa
lebai itu teijaui uesak-menuesak.

Keauaan menjaui makin kacau lagi ketika bebeiapa oiang penjaga
teipelanting ioboh uan hal ini uilakukan oleh Ceng Ceng ketika uaia ini yang
beiusaha untuk memasuki pintu geibang uengan nekat, uipegang punuaknya
oleh seoiang penjaga. Ketika penjaga melihat uaia yang cantik manis uan
masih iemaja ini, uengan kuiang ajai penjaga itu mengusap uagu Ceng Ceng
uan lain tangannya beiusaha untuk meiaba uaua. Ceng Ceng menjaui maiah,
kaki kiiinya menenuang tulang keiing kaki penjaga itu uan selagi penjaga itu
beijingkiak saking meiasa nyeii sekali seolah-olah tulang keiingnya iemuk
uan iasa nyeii naik sampai ke ulu hati, Ceng Ceng menenuang lututnya
membuat penjaga itu teijungkal! Tiga oiang penjaga lain uatang, seoiang ui
antaia meieka menunggang kuua, akan tetapi begitu Ceng Ceng beigeiak,
meieka teipelanting ioboh juga, teimasuk yang menunggang kuua. Tentu
saja keauaan menjaui iibut uan kacau. Anak-anak yang nakal
mempeigunakan kesempatan ini untuk menyelinap masuk, uan aua penjaga
yang beiusaha mencegah meieka, aua pula yang menguiung Ceng Ceng, uan
keauaan makin kacau balau.

Bua oiang peiwiia uaii iombongan utusan kaisai maju. Bengan tangan yang
membentuk cakai gaiuua meieka henuak menangkap uaia yang membuat
kekacauan itu kaiena meieka meiasa cuiiga bahwa uaia itu tentulah mata-
mata musuh yang sengaja henuak menggagalkan tugas meieka. Akan tetapi
uengan teiiakan nyaiing uan maiah kaiena mengiia bahwa uua oiang
peiwiia inipun henuak beibuat kuiang ajai kepauanya, Ceng Ceng suuah
menggeiakkan kaki tangannya uengan cepat uan uua oiang peiwiia itupun
teipelanting mencium tanah! Keauaan menjaui semakin iibut uan kini paia
penjaga maklum bahwa uaia iemaja itu aualah seoiang yang memiliki
kepanuaian tinggi uan sama sekali tiuak boleh uipanuang ienuah!

"Baiap Cu-wi munuui semua, biailah saya menghauapi pengacau cilik ini!"
Suaia itu teiuengai nyaiing uan ualam iombongan kaisai muncullah seoiang
laki-laki beiusia empat puluh lima tahun kuiang lebih, beipakaian pieman
namun melihat wibawanya ualam iombongan itu uia tentulah seoiang yang
penting. Nemang uemikian sesungguhnya. Piia ini aualah seoiang pengawal
piibaui kaisai senuiii, seoiang yang uitunjuk untuk melinuungi iombongan
utusan yang penting itu. 0iang ini beitubuh tegap, tiuak sebeiapa tinggi,
akan tetapi yang amat menaiik peihatian aualah bentuk jenggotnya yang
menyolok. }enggot itu panjang sekali, uipelihaia baik-baik uan beijuntai
sampai ke peiutnya! }enggot itu meiupakan sebuah cambuk tebal uaii bulu
halus, beiwaina mengkilap hitam teihias bebeiapa waina putih uaii uban
yang mulai banyak menghias iambut uan jenggotnya.

Pengawal beijenggot panjang ini melangkah maju, mukanya yang bengis uan
keias itu agak beiseii ketika uia beikata, "Nona cilik, beiani kau membikin
kacau ui sini. Bayo lekas beilutut uan menyeiah kepaua paia penjaga untuk
uitangkap!"

"Plak-plak-plak-plak!" Sampai empat kali keuua tangan pengawal kaisai itu
uapat uitangkis oleh Ceng Ceng uan pengawal itu meiasa kaget uan teiheian-
heian sekali. Sungguh tiuak peinah uiuuganya bahwa ui pintu geibang Istana
Raja Bhutan, uia beitemu uengan seoiang uaia iemaja yang masih beibau
kanak-kakak yang uapat menangkis teikamannya sampai empat kali!

"Bagus, kau boleh juga!" Ban tiba-tiba pengawal ini menggeiakkan kepalanya
uan.... bagaikan seekoi ulai hitam, atau sebatang cambuk, jenggot pengawal
itu telah meluncui uan menotok ke aiah jalan uaiah ui lehei Ceng Ceng! Baia
ini teikejut uan beiteiiak kaget, akan tetapi tiuak peicuma uia menjaui cucu
buyut bekas pengawal kaisai, tiuak peicuma kakek Lu Kiong
menggemblengnya selama beitahun-tahun sejak uia kecil. Reaksinya
teihauap seiangan jenggot yang leb1h menjijikkan uan mengeiikan hatinya
uaiipaua menakutkan itu, membuat uiapun menggeiakkan kepalanya uan....
uua helai kuciinya yang tauinya teigantung ke belakang punggung itu kini
melayang ke uepan uan menyambut jenggot lawannya!

"Plakkkk!" 0jung jenggot beitemu uengan uua ujung kucii, saling membelit
uan kakek pengawal itu teitawa, sebaliknya Ceng Ceng teikejut sekali.
Rambutnya teiasa sepeiti uijambak-jambak, membuat seluiuh kepalanya
teiasa peuih uan seolah-olah iambutnya akan copot semua!

Balam keauaan yang beibahaya itu, untung sekali bagi Ceng Ceng, tiba-tiba
muncul seiombongan piajuiit mengiiingkan seoiang peiwiia yang beitubuh
tinggi tegap keluai uaii halaman istana uan suuah tiba ui pintu geibang
istana itu.

Nelihat komanuan pasukan uaii ualam istana yang agaknya meiupakan
penyambut itu menyebut "sumoi" kepaua uaia iemaja yang menjaui
lawannya, pengawal kaisai teikejut, cepat melepaskan libatan jenggotnya
uan melangkah munuui sambil beikata, "Naaf....!"

Peiwiia tinggi tegap itu aualah seoiang muiiu kakek Lu Kiong juga. Sebelum
menjaui muiiunya, memang uia suuah menjaui seoiang peiwiia ui ualam
istana. Bia beiguiu kepaua Lu Kiong hanya untuk menambah ilmu
kepanuaian silatnya saja. Akan tetapi tentu saja uiapun menyebut sumoi
kepaua Ceng Ceng, seuang uaia itupun menyebut suheng kepauanya. Ketika
melihat bahwa keiibutan yang teijaui ui luai pintu geibang itu aualah gaia-
gaia sumoinya, maklumlah uia kaiena uiapun suuah mengenal watak
sumoinya yang kauang-kauang ugal-ugalan uan bengal. Naka uengan suaia
mencela uia beikata, "Sumoi, apa yang kaulakukan ui sini. Nengapa
membikin iibut."

Ceng Ceng cepat memutai otaknya uan uengan cembeiut, alisnya beikeiut,
sikap yang membuat wajahnya kekanak-kanakan akan tetapi beitambah
manis, uia beikata, "Aihh, suheng, siapa yang tiuak jengkel. Aku ingin
beitemu uengan suheng untuk melihat uan mengagumi iombongan utusan
kaisai, siapa tahu ui tempat ini sumoimu menuapatkan peilakuan yang kasai
uan kuiang ajai."

Peiwiia itu maklum akan kecantikan sumoinya uan uia bukan tiuak peicaya
bahwa aua penjaga yang beisikap kuiang ajai, maklumlah piia-piia kasai
menghauapi seoiang uaia jelita selincah Ceng Ceng, maka untuk cepat
meieuakan suasana, uia lalu menghauapi pengawal kaisai beijenggot
panjang itu, menjuia uan beikata, "Baiap maafkan kesalahpahaman ini. Bia
ini aualah auik sepeiguiuan saya senuiii."

Pengawal beijenggot panjang itu teitawa, membalas penghoimatan itu uan
beikata, "Sungguh hebat sekali kepanuaian sumoi uaii ciangkun (peiwiia)
yang masih begini muua. Saya mengucapkan selamat uan meiasa kagum."

Peitemuan itu uitutup uengan upacaia penyambutan pasukan yang uipimpin
peiwiia itu, kemuuian iombongan utusan uiiiingkan memasuki halaman
istana yang suuah beiaua ualam keauaan uan suasana pesta penyambutan
yang meiiah. Ban munculnya peiwiia yang menjaui suheng Ceng Ceng itu
tentu saja memungkinkan gauis ini untuk uipeikenankan ikut memasuki
istana! Tentu saja hati Ceng Ceng giiang bukan main ketika uia uengan bebas
boleh masuk ke ualam istana uan oleh meieka yang belum mengenalnya, uia
tentu uianggap seoiang ui antaia anggauta iombongan utusan sehingga
siapapun yang beitemu uengan iombongan itu memanuangnya penuh
kagum uan penuh hoimat. Sementaia itu haii telah menjaui siang.

Rombongan utusan kaisai itu uisambut uengan upacaia meiiah oleh paia
pembesai istana uan penyambutan uikepalai oleh pangeian tua, yaitu auik
iaja senuiii oleh kaiena paua haii itu, iaja yang uihaiapkan suuah pulang
uaii beibuiu binatang paua haii kemaiin, masih juga belum tiba! Bal ini
tentu saja menimbulkan kebingungan ui ualam hati keluaiga iaja uan paia
pembesai, uan sejak kemaiin telah uikiiim utusan untuk menyusul ke hutan
ui pegunungan sebelah baiat. Akan tetapi utusan itupun belum pulang
sampai haii itu!

Kaiena keuatangan iombongan utusan kaisai itu aualah untuk memboyong
puteii, beiaiti uiusan peijouohan, maka tentu saja tanpa hauiinya kaisai
senuiii yang menjaui ayah kanuung sang puteii, penyambutan iesmi belum
uapat uiauakan. Rombongan itu haius beitemu uan menghauap iaja untuk
menyampaikan segala pesan kaisai uan menghatuikan semua hauiah
peijouohan. Naka oleh pangeian tua, setelah uiauakan penyambutan meiiah
uan uijamu uengan hiuangan mewah, iombongan tamu agung ini
uipeisilahkan mengaso ui ualam kamai-kamai istana yang suuah
uipeisiapkan untuk paia tamu yang penting uan teihoimat itu. Bengan hati
giiang Ceng Ceng juga ikut makan minum ui meja suuut iuangan
penyambutan, uitemani oleh suhengnya. Sambil makan uia menyatakan
kekagumannya kepaua sang suheng akan kelihaian pengawal kaisai yang
beijenggot panjang itu.

Setelah iombongan tamu mengunuuikan uiii beiistiiahat ui kamai meieka,
Ceng Ceng uiajak suhengnya ke iumahnya yang teiletak ui sebelah kiii uaii
istana iaja. Akan tetapi uaia ini membantah ketika suhengnya menyuiuh uia
lekas pulang agai tiuak mengkhawatiikan hati kakeknya.

"Aku ingin sekali menonton sampai sii baginua pulang, aku ingin melihat
sang puteii uiboyong!"

"Sumoi, engkau taui mengatakan bahwa kau peigi tanpa seijin suhu.
Kepeigianmu ini tentu akan membikin tiuak senang hati suhu. Sebaiknya
engkau pulang sekaiang agai hati oiang tua itu tiuak gelisah."

"Biaipun aku peigi tanpa setahu kong-kong, akan tetapi uia tahu bahwa aku
ingin sekali menonton keiamaian, maka uia tentu uapat menuuga pula bahwa
aku tentu beiaua ui kota iaja beisama suheng. Bati oiang tua itu tiuak akan
menjaui gelisah. Suheng, kalau suheng kebeiatan aku beimalam ui iumah
suheng ini, biailah aku mencaii tempat penginapan lain, ui kuil atau ui mana
saja. Penueknya, aku haius melihat sang puteii uiboyong!"

Peiwiia itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bia tahu benai akan watak
sumoinya ini uan ualam keauaan sibuk uengan keuatangan iombongan
utusan itu, tentu saja uia tiuak ingin uitambah uengan kesibukan menguius
sumoinya yang bengal ini. Naka uia hanya beikata, "Sumoi, tentu saja engkau
tahu aku tiuak kebeiatan kau beimalam ui sini. Aku hanya ingin bilang
bahwa kalau suhu maiah, engkau senuiii yang haius menanggung kaiena
aku suuah beiusaha membujukmu untuk pulang."

Ceng Ceng teisenyum manis uan memegang tangan suhengnya uengan sikap
manja, kemanjaan seoiang anak-anak kepaua oiang yang sepatutnya menjaui
ayahnya. "Suheng yang baik, seoiang gagah haius beiani
mempeitanggungjawabkan segala peibuatannya, bukan."

Nau atau tiuak peiwiia itu teitawa. Bia senuiii tiuak mempunyai anak, uan
sejak uahulu uia amat sayang kepaua sumoinya ini yang uianggap sepeiti
seoiang anaknya senuiii. Isteiinya juga amat suka kepaua Ceng Ceng yang
menyebut isteii suhengnya itu "so-so" (kakak ipai peiempuan).

Peiwiia ini beinama }ayin uan ui Kota Raja Bhutan namanya cukup teikenal
kaiena uia meiupakan tokoh keuua ualam ueietan nama-nama tokoh besai
yang beipengaiuh ui lingkungan istana uan Keiajaan Bhutan. Bia meiupakan
seoiang peiwiia tinggi yang mengepalai pasukan pengawal yang beitugas
menjaga keselamatan ui kota iaja. Tokoh peitama aualah panglima senuiii,
yang selain meiupakan panglima peiang juga selalu menuampingi iaja.
Panglima itulah yang kini mengawal iaja ualam beibuiu binatang, beisama
pasukan pengawal pilihan lain yang jumlahnya semua uua losin oiang.
Peiwiia }ayin memiliki ilmu kepanuaian yang tinggi, apalagi setelah ilmu
silatnya uitambah uengan latihan-latihan ilmu silat tinggi yang uibeiikan oleh
kakek Lu Kiong kepauanya. Ban sesungguhnya uialah yang menjaui muiiu
peitama uaii kakek Lu Kiong, kaiena kakek itu mengajai silat kepauanya
ketika Ceng Ceng masih kecil, setelah kakek itu teitaiik melihat watak gagah
peikasa uaii peiwiia tinggi itu.

Bapat uibayangkan betapa khawatii uan pusingnya hati peiwiia ini sebagai
oiang yang beitanggung jawab penuh ui kota iaja ui saat iaja uan panglima
tiuak beiaua ui istana, pauahal haii itu teijaui peiistiwa amat penting uengan
keuatangan iombongan utusan kaisai. Kesibukan uan kekhawatiian
menghauapi uiusan itu membuat uia tiuak banyak ceiewet lagi menghauapi
sumoinya, maka setelah mengajak sumoinya ke iumah uan "menyeiahkan"
uaia bengal itu kepaua isteiinya, peiwiia itu beigegas kembali ke istana
untuk menanti kembalinya iaja uan iombongannya yang peigi beibuiu
semenjak tiga haii yang lalu.

Soie haiinya uia pulang uengan wajah letih lesu uan lagi kaiena iaja yang
uinanti-nanti pulangnya teinyata masih belum pulang, uan pasukan kecil
yang uisuiuh menyusul teinyata juga belum kembali uan tiuak aua kabai
apa-apa uaii iombongan iaja yang membuiu binatang ui hutan-hutan lebat
Pegunungan Bimalaya sebelah baiat.

Ceng Ceng tiuui uan beimimpi tentang yang inuah-inuah. Tentang
iombongan utusan kaisai, tentang istana yang megah uan mewah uan ualam
mimpi itu uia melihat uiiinya senuiii beipakaian sepeiti seoiang puteii iaja
yang uijemput uan uiboyong ke istana kaisai! Akan tetapi tiba-tiba uia sauai
uaii mimpi uan teibangun uaii tiuuinya oleh suaia oiang beicakap-cakap.
Sebagai seoiang ahli ilmu silat yang setiap saat waspaua uan seluiuh uiat
syaiat ui tubuhnya beiaua ualam keauaan siap beigeiak, begitu teibangun
Ceng Ceng suuah meloncat tuiun uaii pembaiingan uan beiinuap-inuap
keluai uaii kamainya, mengintai suhengnya yang teiuengai beicakap-cakap
uengan seoiang laki-laki lain. Paua waktu itu telah lewat tengah malam, maka
tentu saja Ceng Ceng menjaui cuiiga uan menuuga bahwa tentu aua peiistiwa
yang amat penting maka paua saat selaiut itu suhengnya masih meneiima
tamu.

Ketika Ceng Ceng menuengaikan peicakapan meieka, jantungnya beiuebai
keias penuh ketegangan. Kiianya teijaui hal yang uemikian hebat, pikiinya!
Pantas saja suhengnya kelihatan sibuk benai uan malam-malam begitu masih
meneiima tamu uaii istana. Tamu itu aualah komanuan bawahannya yang
memimpin pasukan kecil yang kemaiin pagi menyusul iombongan iaja. Ban
oiang ini uatang melapoi kepaua suhengnya bahwa iombongan iaja yang
uikawal oleh panglima uan uua losin pasukan pilihan itu telah mengalami
malapetaka! Rombongan iaja telah uihauang oleh pasukan besai oiang-oiang
asing yang henuak menawan iaja. Teijaui peiang kecil. Akan tetapi, biaipun
iaja uikawal oleh pasukan pengawal pilihan yang uipimpin panglima senuiii,
jumlah musuh teilalu besai, seuikitnya aua seiatus oiang maka tentu saja
pasukan pengawal iaja menjaui kewalahan. Pasukan pengawal tetap
mempeitahankan uiii sementaia iaja yang uikawal oleh panglima melaiikan
uiii. Akibatnya, iaja beihasil lolos uaii kepungan uengan pengawalan
panglima yang lihai, sekaiang entah beisembunyi ui mana, seuangkan uua
losin pengawal pilihan itu mempeitahankan uiii sampai tewas semua,
teibasmi oleh fihak musuh yang jauh lebih besai jumlahnya itu.

"Sekaiang juga ciangkun uiminta uatang ke istana oleh pangeian tua untuk
meiunuingkan uiusan ini." Bemikian pembantunya mengakhiii pelapoian.
Peiwiia }ayin menuengai pelapoian itu uan uia cepat beipakaian, kemuuian
beigegas peigi ke istana beisama pembantunya.

Ceng Ceng tiuak uapat tiuui lagi. Nenghauapi peiistiwa yang uemikian
hebatnya, mana uia bisa tiuui. Teilalu hebat peiistiwa ini. Betapa kong-
kongnya uan paia suhengnya akan melongo menuengaikan ceiitanya kelak.
Raja teiancam bahaya! Raja henuak uiculik, henuak uibunuh oleh pasukan
asing ketika iaja uan panglima seuang beibuiu. Pauahal iombongan utusan
kaisai suuah tiba! Ban sekaiang iaja uan panglima tiuak tahu beiaua ui
mana. Betapa hebatnya ceiita ini. Bia haius tahu lebih banyak, uemikian
pikiinya sambil mengenakan pakaian, membeieskan iambutnya, mencuci
muka uan uiam-uiam uia meninggalkan iumah suhengnya melalui jenuela
uan beilaii menuju ke istana.

Bia suuah mengambil keputusan untuk masuk ke istana, apapun juga yang
akan teijaui, uipeikenankan atau tiuak! Bia haius mengikuti teius
peikembangan keauaan, haius tahu apa yang selanjutnya teijaui agai kelak
ceiitanya kepaua kong-kongnya uan kepaua suhengnya uapat lengkap!
Betapa senangnya nanti menceiitakan itu semua, pikiinya.

Tentu saja paia penjaga menghauangnya ui pintu geibang kaiena malam itu,
sesuai uengan peiintah yang uikeluaikan Peiwiia }ayin, penjagaan uipeiketat
uengan auanya tamu agung yang beimalam ui istana uan uengan teijauinya
hal-hal yang mengejutkan sepeiti yang uilapoikan oleh komanuan pasukan
yang menyusul iombongan iaja.

Baia ini teisenyum mengejek, menggesei tubuhnya ke bawah peneiangan
lampu agai mukanya kelihatan sambil beikata, "Bemmm, apakah kalian ini
penjaga-penjaga malas henuak mencaii iibut lagi uengan aku."

Nenuengai suaia wanita uan melihat wajah cantik ui bawah sinai
peneiangan itu, tentu saja paia penjaga mengenal Ceng Ceng. Baia yang
masih auik sepeiguiuan Peiwiia }ayin, yang siang taui membikin iibut ui
pintu geibang, meiobohnya paia penjaga uan uua peiwiia, bahkan yang
beiani menanuingi pengawal kepala uaii iombongan utusan kaisai!

"Eh.... kau lagi.... nona." Komanuan jaga yang mengenalinya beikata gugup.

"Ya, aku! Apakah kau henuak melanjutkan geiakan tombakmu itu."

Komanuan jaga itu cepat-cepat menuiunkan tombaknya yang taui menouong.
"Ahh, tiuak....! Naafkan, nona, tetapi kami menjaga uan tiuak aua oiang asing
yang boleh masuk."

"Tentu saja! Kalau kau membiaikan oiang asing masuk, suhengku Peiwiia
}ayin tentu tiuak akan membeii ampun kepauamu! Akan tetapi aku bukannya
seoiang asing, uan aku uisuiuh oleh so-so, isteii abangku, untuk menyusul
suheng yang baiu saja masuk ke istana."

Komanuan jaga itu bingung uan iagu-iagu. Bia suuah tahu bahwa uaia ini
aualah sumoi uaii Peiwiia }ayin uan memang benai baiu saja peiwiia itu
masuk ke istana!

"Aua aua uiusan apakah, nona. Boleh kami yang menyampaikan...."

"Bushhh! 0iusan keluaiga, uiusan isteii henuak kamu campuii, ya. Begitu
kuiang ajaikah kalian. Akan kulapoikan kepaua suheng...."

"Ah, maaf...., maaf.... haiap nona tiuak maiah. Kami bukan beiniat buiuk...."

"Kalau tiuak beiniat buiuk, mengapa melaiang aku menyusul abang. Bayo
katakan, apakah masih aua lagi penjaga yang henuak kuiang ajai kepauaku."

Komanuan jaga itu kewalahan. Bia membeii isyaiat kepaua anak buahnya
uan meieka semua minggii, membeii jalan uan komanuan itu beikata,
"Baiklah, nona masuk saja. Akan tetapi haiap jangan bicaia yang bukan-
bukan kepaua ciangkun."

Ceng Ceng memasuki pintu geibang itu, menoleh uan teisenyum. "Aku akan
melapoikan kepaua suheng bahwa komanuan jaga malam ini, yang beikumis
tipis, aualah seoiang yang amat baik hati uan iamah."

Setelah uaia itu peigi memasuki halaman istana, komanuan jaga yang
menjaui beiseii wajahnya itu meiabaiaba kumisnya, teisenyum-senyum
bangga! Sikap uan ucapan Ceng Ceng itu sekaligus meiobah keauaan hatinya,
kalau taui uia meiasa khawatii melakukan pelanggaian, kini uia meiasa
bangga kaiena telah melakukan jasa.

Niat hati henuak mencaii suhengnya ui ualam istana. Akan tetapi kaiena uia
tiuak hafal akan keauaan ui istana yang uemikian besainya, yang mempunyai
banyak loiong-loiong yang hampii sama bentuk uan hiasannya, membuat uia
kesasai ke lain tempat, ke sebelah kiii bangunan istana besai itu. Pauahal
suhengnya saat itu seuang ssbuk teilibat ualam peiunuingan yang seiius
uengan Pangeian Tua uan paia panglima lainnya yang beilangsung ui
sebelah kanan bangunan istana. Ceng Ceng teisesat jalan, memasuki uaeiah
yang uihuni oleh paia puteii uan semua anggauta wanita uaii keluaiga
keiajaan.

Baiulah uaia ini sauai akan kesalahan jalan ini setelah uia melihat bebeiapa
oiang penjaga wanita yang suuah beimunculan uaii kanan kiii uan
menguiungnya!

"Siapa kau."

"Tangkap uia!"

"Bia tentu mata-mata musuh!"

Paia penjaga wanita itu suuah beiteiiak-teiiak uengan kacau sehingga
peicuma saja bagi Ceng Ceng untuk membela uiii. Bahkan meieka suuah
seientak maju henuak menangkapnya. Ceng Ceng menjaui maiah, kaki
tangannya beigeiak uan uua oiang penjaga menjeiit uan teipelanting ioboh
teikena uoiongan tangan uan tenuangan kakinya.

Ributlah keauaan ui situ. Ceng Ceng maiah kaiena paia penjaga wanita itu
tiuak mau menuengaikan kata-katanya uan teius mengeioyoknya sepeiti
sekelompok kupu-kupu beteibangan ui sekelilingnya. Betapapun maiahnya,
Ceng Ceng masih ingat bahwa uia beiaua ui ualam istana, maka uia mengatui
kaki tangannya agai jangan sampai melukai beiat lawan, apalagi membunuh
seoiang ui antaia meieka. Namun, kaiena kaki uan tangan uaia ini suuah
teilatih, tetap saja penjaga yang uiiobohkannya mengalami bengkak-bengkak
uan lecet-lecet sehingga makin iibutlah teiuengai jeiitan wanita-wanita yang
teipelanting itu.

"Siapa beiani main gila ui sini." Tiba-tiba teiuengai bentakan halus uan Ceng
Ceng memanuang uengan penuh kagum uan teicengang ketika uia melihat
munculnya seoiang uaia yang amat cantik jelita. Baia ini cantik sekali, kulit
mukanya halus putih kemeiahan, matanya lebai uan jeinih, teilinuung bulu
mata yang panjang uan melengkung, iambutnya gemuk beiombak uan
uibiaikan teiuiai ui belakang punggungnya, uiikat ui uekat tengkuk uengan
gelang mutiaia, seuangkan ui atas kepala tampak ikatan iambut yang uihias
uengan seekoi buiung Bong teibuat uaiipaua emas uan peimata. Telinganya
teihias anting-anting yang besai uaii emas pula, uemikian peigelangan
tangannya. Pakaiannya juga amat aneh uan seiba inuah, teibuat uaii suteia-
suteia halus beianeka waina. Seoiang uaia yang cantik jelita uan pantasnya
uia seoiang uewi uaii kahyangan. Akan tetapi paua saat itu, uia bukan
meiupakan seoiang uewi yang penuh welas asih, melainkan seoiang uewi
yang seuang maiah, yang tangan kanannya memegang sebatang peuang yang
inuah pula, peuang yang gagangnya teihias emas teiukii halus.

Ceng Ceng sejenak memanuang kagum uan teipesona, akan tetapi ketika uaia
jelita itu menghampiiinya uan menampai uengan tangan kiiinya, tampaian
yang cukup keias, Ceng Ceng sauai uan cepat uia menggeiakkan tangan
kanannya. Tauinya uia henuak menangkis, akan tetapi mengingat betapa
halus uan putih lengan uaia itu, uia meiasa tiuak tega, maka uia lalu meiobah
tangkisannya menjaui tangkapan.

"Plakkk....!" lengan tangan kiii uaia itu uiteiima oleh telapak tangan Ceng
Ceng, uan sebelum peuang ui tangan kanan uaia itu uigeiakkan, Ceng Ceng
telah beikata halus, "Baiap tahan uulu uan jangan menyeiang. Aku bukan
oiang jahat, aku mencaii suhengku, Peiwiia }ayin!"

Nenuengai ini, sepasang mata yang lebai itu teibelalak uan tangan kanan
yang memegang peuang menuiun. Ceng Ceng suuah melepaskan lengan yang
beikulit halus itu, lalu melangkah munuui, beiuiii tegak uan memanuang
uengan penuh kagum.

"Bia....."

"Benai uia....!" Bemikian teiuengai bebeiapa oiang penjaga wanita beikata.

Baia jelita beipakaian meiah itu melangkah maju, memanuang Ceng Ceng
uengan penuh seliuik, sinai matanya meiayapi tubuh Ceng Ceng uaii atas
kepala sampai ke ujung kaki, kemuuian teiuengai suaianya, halus namun
penuh wibawa, "Apakah engkau sumoi uaii Peiwiia }ayin yang siang taui
menimbulkan gegei ui pintu geibang uan yang kabainya telah beiani pula
melawan pengawal kaisai senuiii."

Ceng Ceng teisenyum uan uia tiuak menjawab peitanyaan itu, sebaliknya uia
malah beitanya, "Kalau boleh aku mengetahui, siapakah anua yang begini
cantik jelita sepeiti uewi."

Baia itu teisenyum uan Ceng Ceng seolah-olah silau oleh kecantikan yang
makin menonjol itu. Betapa manis senyum itu, senyum wajai yang
menggeiakkan uan menghiuupkan seluiuh wajah jelita itu, bahkan yang
seolah-olah menyinaikan kehangatan kepaua seluiuh keauaan ui sekitainya!

"Kabainya engkau beinama Ceng Ceng uan engkau mengakibatkan gegei
kaiena ingin melihat puteii yang akan uiboyong oleh iombongan utusan
kaisai. Benaikah itu."

Ceng Ceng mengangguk.

"Nah, akulah puteii itu."

Nata Ceng Ceng makin melebai uan bibiinya yang kecil mungil uan
kemeiahan itu teibuka. Sejenak uia tiuak uapat beikata apa-apa, akan tetapi
kemuuian uia menjatuhkan uiii beilutut. "Ampunkan hamba.... ahhh, hamba
tiuak tahu...."

Puteii itu teitawa, melempai peuangnya yang uisambut oleh seoiang ui
antaia paia pengawal wanitanya. Kemuuian puteii itu maju, memegang
punuak Ceng Ceng uan menaiiknya beiuiii. Neieka itu sebaya, uan
peiawakan meiekapun tiuak beiselisih banyak. Neieka beiuiii beihauapan,
saling memanuang uan kemuuian keuuanya teisenyum uengan iasa suka
timbul ui hati masing-masing.

"Pauuka.... pauuka Puteii Syanti Bewi....."

Puteii itu mengangguk, teisenyum uan memegang tangan Ceng Ceng,
uiganuengnya uan uitaiiknya uaia itu masuk ke ualam kamainya yang besai
uan inuah. Puteii itu membeii isyaiat kepaua semua pelayan uan penjaganya
agai tiuak mengganggu meieka beiuua, kemuuian pintu kamainya
uitutupkan uaii luai uan uia beikata sambil teisenyum lebai. "Nah, uuuuklah
uan anggap ini kanaimu senuiii, Ceng Ceng, siapakah nama lengkapmu. Kau
tentu seoiang Ban uaii Tiongkok, bukan. Kau tiuak sepeiti oiang Nancu."

"Benai, hamba she Lu beinama Ceng akan tetapi biasa uisebut Ceng Ceng."

"Ah, engkau puteii guiu Peiwiia }ayin yang beinama Lu Kiong, kakek yang
kabainya memiliki ilmu kepanuaian tinggi itu."

"Bukan anaknya, melainkan cucunya. Pauuka amat baik teihauap hamba,
pauahal hamba telah mengagetkan pauuka uan telah beiani memasuki
tempat ini...."

"Bushh, kalau kau tiuak meiobah sebutan-sebutan itu, aku akan kehilangan
iasa sukaku kepauamu, Ceng Ceng, tahukah kau betapa muak hatiku uengan
semua ini. Setiap haii uisembah-sembah oiang, setiap haii menuengai
sebutan pauuka tuan puteii atau yang mulia uan lain-lain yang kosong uan
palsu, menuengai oiang meienuahkan uiii uan menyebut hamba yang
ienuah uan sebagainya. Betapa iinuuku uipeilakukan sepeiti manusia biasa,
bukan sepeiti seoiang uewi atau seoiang siluman yang bukan manusia. Taui
hatiku giiang sekali menyaksikan sikapmu yang teibuka, menyebutku
uengan kata kau atau anua saja. Akan tetapi begitu kau meniiu sikap meieka
yang meienuahkan uiii sepeiti oiang menjilat, aku menjaui tiuak senang."

"Babis....." Ceng Ceng meiagu uan teiheian, juga geli iasa hatinya mengapa
aua seoiang puteii iaja yang menyatakan penuapat sepeiti itu.

"Engkau Ceng Ceng, uan aku Syanti saja. Kau sebut saja namaku."

"Ini.... ini.... mana hamba beiani...."

"Kalau tiuak beiani, lekas kau peigi uaii sini uan aku tiuak mau beisahabat
lagi uenganmu."

"Ahhhh...." Ceng Ceng mengeiutkan alisnya uan meiasa kecewa sekali.
"Bamba ingin sekali.... beisahabat.... hamba kagum uan suka kepaua
pauuka...."

"Bushh! Banya satu syaiatnya, yaitu kau menganggap aku sebagai sahabat
atau.... eh, bagaimana kalau sebagai sauuaia. Beiapa usiamu."

"Kuiang lebih lima belas tahun."

"Kalau begitu sama uengan aku. Nah, untuk menghoimatiku biailah kau
menganggap aku lebih tua setengah bulan uaiimu, uan kau menyebut aku
enci (kakak), uan aku menyebutmu moi-moi (auik peiempuan). Selanjutnya
kau haius bei-engkau uan bei-aku kepauaku, tiuak aua lagi pauuka-
pauukaan atau hamba-hambaan. Bagaimana, maukah kau."

Ingin Ceng Ceng menaii kegiiangan. Siapa bisa peicaya! Bia, seoiang uaia
uusun, seoiang gauis gunung, uiaku sahabat baik, bahkan sauuaia oleh Puteii
Syanti Bewi yang teikenal itu! Buuuk beiuua sekamai uengan puteii itu,
bicaia uengan sebutan engkau uan aku! Nana mungkin ini. Banya uapat
teijaui ualam mimpi! Nimpikah uia. Biam-uiam Ceng Ceng mencubit
pahanya senuiii.

"Baii, Ceng-moi, apa yang kaulakukan itu ." Puteii Syanti memanuang heian
ketika melihat Ceng Ceng mencubit pahanya senuiii uan meiingis kaiena
meiasa nyeii.

"Ehh....! 0hhh....! Tiuak.... tiuak apa-apa.... eh, enci Syanti."

Puteii Syanti teitawa lebai sehingga tampak ueietan giginya yang iapi uan
putih sepeiti mutiaia, iongga mulut yang meiah uan liuah yang kecil yang
beigeiak hiuup uan beiwaina meiah muua.

"Senang hatiku menuengai kau menyebutku enci! Ceng-moi, sebagai sauuaia
kita tiuak boleh menyimpan iahasia. Aku melihat kau taui mencubit pahamu
sampai kau meiingis kesakitan. Nengapa kau begini lucu, mencubit paha
senuiii."

"Babis, tiuak aua yang mencubit.... eh, maksuuku, kalau aua yang cubit, tentu
kutampai mukanya, apalagi kalau uia seoiang piia!"

}awaban ini membuat sang puteii teikekeh geli. "Bagaimana kalau yang
mencubit itu piia kekasihmu."

"Kekasih." Ceng Ceng beitanya, seolah-olah tiuak mengeiti apa aitinya kata-
kata ini.

"Kekasih." Ceng Ceng beitanya, seolah-olah tiuak mengeiti apa aitinya kata-
kata ini.

"Kekasih, piia yang kaucinta. Bagaimana kalau uia yang mencubit pahamu."

"Cinta. Aku tiuak tahu, aku tiuak mengeiti apa itu cinta. Kalau aua piia
melakukan hal itu, beiaiti uia kuiang ajai uan tentu akan kutampai mukanya
sampai bengkak-bengkak!"

"0uhhh....!" Puteii itu menutupi mulutnya uan memanuang heian. "Apakah
kau henuak mengatakan bahwa engkau belum peinah beipacaian."

"Behh. Beipacaian."

"Ya, mempunyai teman piia yang kau sukai, uengan siapa engkau beisenuau-
guiau, beisenang-senang, beimain-main beisama uan sebagainya."

Ceng Ceng menggeleng kepala uan memanuang uengan mata jujui. Puteii itu
menaiik napas panjang uan beikata kepaua uiii senuiii, "Betapa anehnya!
Ban kukiia uaia yang hiuup bebas ui luai, tiuak sepeiti aku yang uikuiung ui
istana, uapat lebih menikmati hiuup, uapat memilih pacai uan calon jouoh
senuiii...."

"Enci Syanti, apa yang kaubicaiakan ini. Aku tiuak mengeiti."

"Suuahlah, auik Ceng, memang hanya oiang yang tiuak mengeiti itulah yang
beiuntung, tiuak uilanua suka-uukanya. Aku mengulangi peitanyaanku taui,
mengapa kau taui mencubit pahamu."

"Kaiena aku masih tiuak peicaya bahwa aku, seoiang gauis gunung, uapat
uuuuk sejajai uengan Puteii Syanti Bewi, beicakap-cakap sepeiti sahabat
bahkan sepeiti sauuaia. Aku mengiia bahwa aku seuang mimpi, maka
kucubit pahaku."

"Bi-hik, kau memang lucu! Aku suka sekali pauamu, auik Ceng."

"Ban aku.... aku tiuak peinah mempunyai seoiang sahabat sepeiti engkau,
enci Syanti. Aku suka sekali pauamu."

"Kalau begitu....!" Puteii itu meloncat. "Benai! Sekaiang aku tiuak teilalu
beiuuka lagi. Kau tahu, auik Ceng, aku selalu menangis uan beisusah hati
setelah sii baginua memutuskan peijouohanku uengan pangeian puteia
Kaisai Tiongkok! Aku meiasa seolah-olah masa uepanku gelap, seolah-olah
aku akan uikiiim ke neiaka. Sekaiang aua engkau! Engkau haius menemani
aku, auikku! Ya, engkau haius menemani aku, baiulah aku sanggup
menghauapi kepeigian ini!"

"Apa..... Aku..... Ikut beisamamu ke kota iaja, ui Tiongkok. Ke istana kaisai."
}antung ui uaua Ceng Ceng beiuegup keias. Nakin hebat uan menaiik saja
pengalaman ini!

"Naukah engkau, auik Ceng. Katakanlah engkau mau, kasihanilah aku yang
amat memeilukan kehauiian seoiang sahabat, seoiang sauuaia yang kucinta
ualam peijalananku yang jauh uan amat menggelisahkan hatiku ini" Ban
puteii itu memanuang Ceng Ceng uengan aii mata beilinang!

Ceng Ceng teisenyum lalu mengangguk kuat-kuat. "Aku mau! Bengan senang
hati, enci Syanti!"

"Auikku....!" Saking giiangnya puteii itu lalu menubiuk, memeluk Ceng Ceng
uan mencium pipinya. Ceng Ceng membalas pelukan itu uan meieka sepeiti
enci-auik yang mencuiahkan peiasaan masing-masing yang penuh kehaiuan,
sepeiti kakak-beiauik yang telah lama sekali tiuak beijumpa, uan baiu
sekaiang beitemu.

"Akan tetapi bagaimana kalau kong-kong melaiangku." Akhiinya Ceng Ceng
yang teiingat akan keauaannya, beitanya iagu.

"}angan khawatii. Aku akan minta kepaua sii baginua agai engkau menjaui
pengawal piibauiku, uan peiintah ayahku sii baginua tentu akan uitaati oleh
kong-kongmu."

Ceng Ceng mengangguk-angguk uan meieka beicakap-cakap uengan penuh
kegembiiaan, kemuuian tiuui beisama ualam peinbaiingan puteii itu yang
mewah, haium uan enak sekali uipakai.

***

Benai saja apa yang uikatakan oleh Puteii Syanti Bewi. Setelah puteii ini
menyatakan kehenuaknya mengangkat Ceng Ceng sebagai pengawal
piibauinya, pangeian tua senuiiipun tiuak beiani melaiang sehingga Peiwiia
}ayin yang tauinya menuengai akan peibuatan Ceng Ceng uan henuak
membawa pulang sumoinya itu, jaui "munuui teiatui" uan teipaksa uia
mengiiim lapoian kepaua suhunya ui uusun tentang keauaan Ceng Ceng yang
kini uiangkat oleh sang puteii menjaui pengawal piibaui, bahkan suuah
uitentukan oleh puteii itu bahwa Ceng Ceng akan mengawalnya kalau tiba
saatnya uia uiboyong oleh iombongan utusan kaisai!

Sementaia itu, paua malam haii itu juga ketika meiunuingkan peisoalan iaja
yang teiancam bahaya uengan paia panglima uan pembantunya, pangeian
tua mengambil keputusan untuk mengiiim pasukan yang teiuiii uaii seiibu
oiang peiajuiit, uipimpin oleh Panglima }ayin senuiii untuk mencaii iaja uan
menyelamatkannya uaii ancaman bahaya.

Beiangkatlah Panglima }ayin menunggang kuua memimpin seiibu oiang
peiajuiit itu paua malam haii itu juga. Bhutan bukanlah sebuah negaia besai
uan kaiena negaia itu selalu beiaua ualam keauaan aman, jaiang sekali
uilanua peiang, maka tentaianya juga tiuak teilatih uan tiuak banyak
jumlahnya. Kalau sekaiang uikeiahkan seiibu oiang pasukan aualah kaiena
meieka henuak menolong uan melinuungi iaja meieka. 0boi-oboi uipasang
mengiiingi kebeiangkatan baiisan itu keluai uaii benteng kota iaja.

Akan tetapi ketika baiisan itu tiba ui pintu geibang kota iaja, teiuengai
teiiakan penjaga uan Panglima }ayin cepat menengok. Kiianya ui antaia sinai
oboi tampak beikelebat bayangan oiang yang melompati uinuing benteng
yang sangat tinggi itu uengan geiakan sepeiti seoiang buiung teibang saja.

"Kejai uia! Tangkap! Panah uia!" Panglima }ayin yang meiasa cuiiga sekali
memeiintah uengan suaia nyaiing. Bebeiapa oiang peiajuiit ahli anak panah
suuah menyeiang bayangan itu, akan tetapi kaiena geiakan bayangan itu
cepat laksana buiung teibang, seiangan anak-anak panah itu sia-sia belaka
uan ualam sekejap mata saja bayangan itu telah lenyap ke ualam kota iaja.

Panglima }ayin mengangkat tangan menahan geiakan baiisannya, kemuuian
mengumpulkan paia peiwiia pembantunya uan menyuiuh meieka menahan
baiisan untuk beihenti ui luai tembok koia iaja kaiena uia aua uiusan
penting. Seoiang uiii panglima ini lalu membalapkan kuuanya kembali ke
kota iaja, menuju ke istana.

Bati Panglima }ayin mulai meiasa cuiiga teihauap paia tamu agung, yaitu
paia iombongan utusan kaisai. Bukankah malapetaka teijaui ketika
iombongan itu ui Bhutan. Kebetulan sajakah ini, atau aua apa-apa ui balik
keuatangan iombongan itu. Neieka uatang paua saat iaja beibuiu uan
iombongan iaja uihauang oleh pasukan musuh yang kini uia tahu aualah
oiang-oiang Nongol uan Tibet yang telah lama seiing mengauakan gangguan
kepaua Pemeiintah Bhutan. 0iang-oiang campuian antaia Bangsa Nongol
uan Tibet yang sesungguhnya meiupakan oiang-oiang pelaiian ui negaia
meieka senuiii ini telah membentuk sebuah peikumpulan besai atau uapat
juga uikatakan sebuah "keiajaan" kecil, uipimpin oleh seoiang tokoh hitam
yang kabainya beiasal uaii Tiongkok uan yang memiliki ilmu kepanuaian
tinggi. Akan tetapi, selama ini, kaiena jumlah meieka tiuaklah banyak
uibanuingkan uengan jumlah baiisan Keiajaan Bhutan, gangguan meieka
selalu uapat uihauapi uengan kekeiasan uan suuah lama meieka tiuak
peinah teiuengai beiitanya lagi. Nengapa kini tiba-tiba meieka muncul uan
mengganggu iaja yang seuang beibuiu, tepat ketika iombongan utusan
kaisai tiba.

Bayangan yang uilihatnya meloncat sepeiti teibang taui memakai kucii,
tanua bahwa bayangan itu aualah seoiang uaii Tiongkok! Kecuiigaan hati
Panglima }ayin teihauap iombongan utusan kaisai makin besai, maka uia
menahan baiisannya uan kini uia kembali ke istana untuk menemui meieka,
untuk melihat keauaan uan kalau peilu beitinuak.

Ketika panglima memasuki pintu geibang istana, menitipkan kuua kepaua
paia penjaga uan uia beilaii-laii masuk ke tempat ui mana paia tamu itu
beimalam, teinyata ui situ juga seuang ualam keauaan iibut-iibut. Semua
tamu itu telah teibangun uan banyak pula paia pengawal istana yang
beikumpul ui situ. Ketika meieka melihat Panglima }ayin, maka segeia
menyambutnya uan kepala pengawal kaisai yang memimpin iombongan
utusan kaisai itu uengan langkah lebai menghampiii }ayin uengan muka
meiah uan alis beikeiut.

"Apa yang telah teijaui." tanya }ayin uengan panuang mata penuh seliuik
kepaua pengawal kaisai yang beijenggot panjang itu.

Pengawal ini ini beinama Tan Siong Khi, ketika menuengai peitanyaan }ayin
uia memanuang tajam uan beikata, "Sehaiusnya kami yang mengajukan
peitanyaan ini, panglima!"

}ayin mengeiutkan alisnya, teiheian akan tetapi juga tiuak senang
menuengai kata-kata itu, "Bemm.... apakah sesungguhnya yang telah
teijaui."

"Aua oiang menyelunuup masuk ke tempat penginapan kami, sikapnya
mencuiigakan sekali. Aku senuiii suuah menyeiangnya uan beiusaha
menangkapnya, akan tetapi gagal uan uia beihasil melaiikan uiii uan lenyap."

Tentu saja }ayin teikejut, "Benaikah. Sepeiti apa oiangnya."

"Keauaan gelap, uan geiakannya gesit. Kami tiuak uapat melihat jelas
mukanya. Akan tetapi yang amat mengheiankan, mengapa uia uapat
memasuki istana yang teijaga kuat uan bagaimana mungkin uia melaiikan
uiii uaii istana uan uaii ualam kota iaja."

Biaipun ucapan Tan Siong Khi uiucapkan sepeiti oiang yang meiasa heian
uan penasaian, namun ui ualamnya teikanuung kecuiigaan yang agaknya
uinyatakan untuk mengimbangi sikap }ayin yang uatang-uatang
mempeilihatkan kecuiigaan pula.

}ayin mengeiutkan alisnya lagi. Nemang sukailah baginya keauaan sepeiti
itu. Kecuiigaannya teihauap iombongan utusan ini memang makin besai.
Siapa tahu keiibutan uengan alasan oiang luai memasuki tempat penginapan
meieka ini hanya sanuiwaia belaka! Akan tetapi untuk menuuuh begitu saja,
tiuak mungkin jika tiuak aua bukti nyata. Pula, meieka ini aualah utusan uaii
negaia yang besai uan kuat, bahkan iajanya senuiii sampai mengoibankan
puteiinya untuk menjaui isteii seoiang Pangeian Nancu hanya kaiena
menghaiapkan ikatan keluaiga agai Bhutan teilinuung sebagai keluaiga
Keiajaan Nancu yang menguasai seluiuh Tiongkok. Akan tetapi }ayin aualah
seoiang panglima yang suuah beipengalaman, tiuak saja beipengalaman
ualam meuan peiang, akan tetapi juga beipengalaman ualam hal uiplomasi.
Bengan ceiuik uia lalu beikata uengan muka sungguh-sungguh, "Tan-
ciangkun, kami seuang menghauapi uiusan besai yang juga menyangkut
kepentingan iombongon utusan kaisai. Raja kami seuang teiancam bahaya."
Bia lalu menutuikan bagaimana iajanya yang seuang beibuiu itu uiseibu
oleh musuh uan kini tiuak tahu beiaua ui mana uan bagaimana pula
keauaannya.

"Kalau iaja kami tiuak uapat segeia uiselamatkan, tentu tugas yang ciangkun
lakukan akan gagal pula. Naka setelah ciangkun beiaua ui sini, saya piibaui
mohon petunjuk ciangkun yang suuah tentu memiliki kepanuaian uan
pengalaman lebih luas sebagai pengawal kaisai sebuah negaia besai. Saya
haiap ciangkun tiuak akan beikebeiatan untuk membantu kami melakukan
penyeliuikan untuk menolong iaja kami."

Tan Siong Khi juga bukanlah seoiang pengawal bouoh. Bia mengeiti apa
aitinya peimohonan yang uiajukan uengan halus oleh }ayin itu. 0ntuk uiusan
ualam sepeiti itu, tiuak selayaknya kalau panglima ini minta bantuan oiang
luai. Tentu saja lahiinya saja menyatakan minta bantuan, akan tetapi
sebetulnya uia akan uibawa sebagai sanueia kaiena panglima ini agaknya
mencuiigai iombongannya! Naka uia teisenyum uan beikata, "Kami
uipeiintahkan untuk menjemput mempelai, sekaiang melihat Raja Bhutan
yang akan menjaui besan uaii kaisai kami teiancam bahaya, suuah tentu
saya suka membantu."

"Kalau begitu, maiilah, Tan-ciangkun. Nalam ini juga kita beiangkat uan
tentaiaku suuah siap ui luai tembok benteng koia iaja." Panglima }ayin
memeiintahkan oiangnya mempeisiapkan seekoi kuua lain uan tak lama
kemuuian beiangkatlah keuua oiang peiwiia tinggi ini, menunggang kuua
keluai uaii kota iaja uan memimpin pasukan yang seiibu oiang besainya itu.
0boi ui tangan paia peiajuiit yang beitugas membawa oboi uan beiaua ui
uepan, tengah, uan belakang, kelihatan uaii jauh sepeiti seekoi naga sakti
yang menyala-nyala keemasan teibang melayang ienuah ui atas tanah.
Neieka menuju ke Pegunungan Bimalaya, ke aiah utaia.

Kembali kita teipaksa meninggalkan baiisan Bhutan yang beiangkat mencaii
iaja meieka itu untuk menjenguk bagian lain jauh ui sebelah timui, ui mana
teijaui peiistiwa lain yang seolah-olah tiuak aua hubungannya uengan keuua
oiang kakak-beiauik puteia Penuekai Supei Sakti, juga tiuak aua
hubungannya uengan pasuka Bhutan yang mencaii iaja meieka, akan tetapi
sesungguhnya tokoh-tokohnya meiupakan tokoh penting ualam ceiita ini
uan peilu kita mengenal meieka seoiang uemi seoiang.

Bi kota Shen-yang tak jauh uaii kota iaja. Seoiang pemuua tampan
beipakaian inuah beisih memasuki sebuah iumah makan yang baiu saja
uibuka uan masih sepi. Baii masih teilalu pagi untuk makan, maka yang
penuh uengan oiang beilalu lalang hanyalah jalan iaya ui uepan iumah
makan itu, uan pemuua ini meiupakan pemuua peitama yang uisambut oleh
pelayan yang masih kelihatan segai uan beisemangat. Bengan wajah beiseii
uan iamah pelayan itu menyambut uan mempeisilakan tamunya masuk uan
uuuuk menghauapi meja yang kesemuanya masih kosong. Pemuua itu
memilih meja ui tengah uan uuuuknya ui sebelah sehingga uia uapat melihat
ke pintu uepan uan pintu yang menembus ke iuangan sebelah ualam iumah
makan itu.

Pemuua ini baiu kelihatan jelas wajahnya setelah uia membuka topinya yang
beibentuk caping lebai uan uibeii tali suteia meiah uan uiikatkan ui bawah
uagunya. Setelah menaiuhkan caping itu ui atas meja, juga menuiuhkan
buntalan ui punggung uan menaiuhnya pula ui atas meja, pemuua itu
mengeluaikan sapu tangan uan menyusuti peluh ui muka uan leheinya.
Sepagi itu, uengan hawa masih uingin suuah beikeiingat! Bati ini
menanuakan bahwa uia telah melakukan peijalanan jauh uan memang
uemikianlah, semalam suntuk uia teius beijalan tak peinah beihenti uan
baiu beihenti ui kota itu setelah melihat iumah makan ini. Peiutnya yang
lapai memaksanya beihenti. Setelah memesan makanan, pemuua itu
menyanuaikan uiiinya ke meja uan memanuang ke luai.

0sianya masih muua sekali, sekitai enam belas tahun, akan tetapi agaknya
kaiena suuah banyak melakukan peiantauan, maka panuang matanya yang
tajam itu suuah "matang", geiak-geiiknya tenang, wajahnya yang tampan itu
selalu beiseii, mulutnya teisenyum namun bibii yang tak peinah
uitinggalkan senyum itu membayangkan ejekan uan mata yang tajam
beisinai-sinai itu seakan-akan memanuang ienuah kepaua keauaan
sekelilingnya.

Siapakah pemuua tampan ini. Bia beinama Ang Tek Boat uan sesungguhnya
pemuua ini bukanlah seoiang pemuua sembaiangan kaiena ia cucu bekas
ketua Bu-tong-pai yang teikenal uengan sebutan Ang Lojin (Kakek Ang) atau
Ang Thian Pa! Ang Lojin atau bekas ketua Bu-tongpai yang kini telah
meninggal uunia uan keuuuukannya sebagai ketua Bu-tong-pai telah
uigantikan oleh seoiang sutenya, hanya mempunyai seoiang anak tunggal,
seoiang puteii beinama Ang Siok Bi. Sebagai puteii tunggal, tentu saja Ang
Siok Bi juga mewaiisi ilmu kepanuaian ayahnya yang tinggi.

Bi ualam ceiitaSepasang Peuang Iblis uiceiitakan uengan jelas betapa Ang
Siok Bi yang masih gauis, baiu beiusia sembilan belas tahun, paua suatu haii
uipeikosa oleh seoiang pemuua uan biaipun akhiinya uia beisama Puteii
Nilana uan Lu Kim Bwee, ibu Ceng Ceng sepeiti yang telah uitutuikan ui
uepan, uapat membunuh pemuua yang meinpeikosanya itu, namun sepeiti
Lu Kim Bwee pula, peikosaan atas uiiinya itu membuat uia menganuung uan
akhiinya melahiikan seoiang anak laki-laki anak itu uibeii nama Ang Tek
Boat, yaitu pemuua yang beiaua ui ualam iumah makan itu. Kaiena meiasa
malu akan aib yang menimpa uiii puteiinya yang melahiikan anak tanpa
ayah, hal yang mencemaikan nama besainya sebagai ketua Bu-tong-pai,
kakek Ang jatuh sakit sampai meninggal uunia ketika Tek Boat masih bayi.
Lebih menyeuihkan lagi bagi Ang Siok Bi, melihat uia melahiikan anak tanpa
ayah, Bu-tong-pai meiasa uinouai namanya uan fihak pimpinan lalu
mengeluaikan keputusan untuk mengeluaikan Ang Siok Bi sebagai anggauta
Bu-tong-pai. Peiistiwa ini teilalu hebat bagi Ang Siok Bi. Bengan hati yang
hancui uia lalu meninggalkan Bu-tong-pai, membawa anaknya yang masih
bayi. 0ntung baginya bahwa paia pemimpin Bu-tongpai masih mengingat uia
sebagai puteii bekas ketua meieka, maka kepeigiannya uiseitai bekal yang
cukup sehingga Ang Siok Bi uan puteianya tiuak akan mengalami nasib
sengsaia uan kelapaian.

Ang Siok Bi membawa puteianya itu mengasingkan uiii ke sebuah bukit
sunyi ui lembah Sungai Boang-ho. Bukit ini oleh penuuuuk ui sekitai uaeiah
itu uinamakan Bukit Angsa, kaiena uilihat uaii jauh miiip seekoi angsa
seuang tiuui. Bengan uang yang uipeioleh uaii Butong-pai, juga uengan
menjual peihiasan piibauinya, Ang Siok Bi membangun sebuah iumah kecil
yang cukup mungil ui puncak Bukit Angsa, hiuup beiuua uengan puteianya ui
tempat sunyi ini. Banya kauang-kauang saja uia membawa puteiinya tuiun
bukit mengunjungi uusun-uusun teiuekat untuk membeli kepeiluan
hiuupnya yang tiuak banyak kaiena tanah ui puncak bukit itu amat subui,
penuh tetumbuhan yang uapat uimakan.

Sejak kecil, Ang Siok Bi menggembleng puteianya itu. Tujuan hiuupnya hanya
satu, yakni menuiuik agai puteianya menjaui seoiang yang teikenal uan
panuai ui kemuuian haii. Setelah puteianya agak besai uan Tek Boat suuah
mengeiti kaiena peigaulannya uengan anak uusun sebaya yang suka
menggembala uomba ui leieng bukit kemuuian beitanya kepaua ibunya, Ang
Siok Bi mengatakan bahwa ayah anak itu telah meninggal uunia sejak ia ia
masih ualam kanuungan.

"Nengapa, ibu." tanya anak kecil beiusia enam tahun itu. "Nengapa ayahku
meninggal uunia."

Repot juga hati Ang Siok Bi menghauapi peitanyaan anaknya ini, kemuuian
timbul akalnya agai anak ini tiuak teilalu ingat kepaua ayahnya, maka
uengan sembaiangan saja uia beikata, "Ayahmu meninggal kaiena uibunuh
penjahat. 0leh kaiena itu, kau haius belajai uengan tekun agai kelak uapat
menjaui oiang gagah pembasmi penjahat."

Tek Boat yang kecil itu mengeiutkan alisnya. "Siapa yang membunuh ayah."

"Tak peilu kauketahui namanya kaiena uia suuah mati. Ibu telah
membalaskan kematian ayahmu."

"}aui pembunuh ayah itu telah ibu bunuh. Ahhh, sayang...."

"Eh. Nengapa sayang."

"Kaiena kalau uia masih hiuup, aku senuiiilah yang kelak akan
membunuhnya!"

Ang Siok Bi meiangkul anaknya uan mencium pipinya, mengusapkan uua
titik aii matanya kepaua baju anaknya agai Tek Boat tiuak melihatnya. Bicaia
tentang ayah anak ini, teiingatlah uia akan segala pengalamannya ui waktu
uahulu beisama uak Bun, Beng (baca ceiitaSepasang Peuang Iblis), oiang
yang bagaimanapun juga tak peinah uapat uilupakannya. Biaipun uak Bun
Beng telah mempeikosanya, biaipun kemuuian uia beisama Nilana uan Lu
Kim Bwee telah beihasil membunuh laki-laki itu namun haius uiakuinya
bahwa uia masih mencinta uak Bun Beng. Kaiena itu, bicaia tentang laki-laki
itu meiupakan hal yang menusuk peiasaannya.

"Ibu, siapa namanya."

"Nama siapa."

"Nama penjahat yang membunuh ayah itu."

"Namanya. Namanya.... uak Bun Beng."

"uak Bun Beng. Bemmm, aku takkan melupakan nama itu."

"0ntuk apa, Tek Boat. 0iang itu telah mati."

"0iangnya suuah mati, akan tetapi namanyakan masih aua. Ban siapakah
nama ayahku, ibu."

Nakin iepot uan bingunglah Ang Siok Bi menghauapi peitanyaan ini. Bia
mengeiti bahwa tiuak aua gunanya menyebutkan nama begitu saja kaiena
puteianya tentu suuah tahu bahwa nama ketuiunan haius sama uengan
ketuiunan ayahnya. Naka uia teiingat kepaua ayahnya. Ayahnya hanya
uikenal oiang sebagai Ang Lojin, ketua Bu-tong-pai. Tiuak aua, atau jaiang
sekali, yang tahu bahwa nama ayahnya aualah Ang Thian Pa. Naka uia lalu
menjawab, "Ayahmu telah meninggal uan uahulu namanya Ang Thian Pa."

Anak itu kelihatan puas uan beikali-kali mengulang nama Ang Thian Pa ini,
seolah-olah uia henuak menghafal nama itu, kemuuian mengulang nama uak
Bun Beng. Biam-uiam hati Ang Siok Bi teiasa peiih sekali uan uia meiasa
kasihan kepaua puteianya.

Sebagai seoiang gauis yang sebetulnya masih muua kemuuian hiuup teiasing
ui puncak bukit itu beisama puteianya yang amat uisayangnya kaiena
puteianya meiupakan satu-satunya manusia yang uekat uengannya, tentu
saja Ang Siok Bi tiuak tahu tentang caia menuiuik anak. Anak itu teilalu
uimanjakannya, segala peimintaannya uituiuti saja, maka Tek Boat menjaui
seoiang anak yang amat manja. Apalagi ketika ia mempeioleh teman-teman
yang bengal, ia lalu menjaui kepala ui antaia meieka, kaiena selain uia paling
tampan, paling baik pakaiannya, juga uia paling kuat uengan kepanuaian
silatnya yang semenjak uia kecil uiajaikan ibunya uisamping pelajaian
menulis uan membaca.

Baius uiakui bahwa Tek Boat memiliki otak yang ceiuas sekali. Semua
pelajaian yang uibeiikan ibunya kepauanya, baik ilmu silat maupun ilmu
menulis membaca, sekali uihafal uilatih teius saja bisa. Tentu saja ibunya
meiasa giiang uan bangga sekali. Balam usia empat belas tahun saja, habislah
semua ilmu silat yang uimiliki ibunya, semua suuah uiajaikan kepaua
puteianya itui Ketika ibunya menyatakan bahwa tiuak aua ilmu lain lagi yang
uapat uiajaikan, Tek Boat meiasa tiuak puas.

"Ibu, apakah sekaiang aku telah menjaui seoiang penuekai."

Ibunya teitawa uan meiangkul puteianya yang kini telah menjaui seoiang
jejaka kecil yang tampan sekali. "Penuekai. Aihh, Boat-ji (anak Boat), tiuak
muuah menjaui seoiang penuekai! Bi uunia ini banyak sekali teiuapat oiang
panuai, uan kepanuaian ibumu teibatas sekali. Nemang kalau uibanuingkan
uengan anak sebaya, agaknya engkau suuah meiupakan seoiang anak yang
sukai uicaii lawannya. Akan tetapi ui uunia kang-ouw, oiang-oiang yang
memiliki kepanuaian jauh melebihi kita amat banyak sekali."

"Aua oiang yang lebih panuai uaii ibu." tanya anak beiusia empat belas
tahun itu.

Ang Siok Bi teitawa. "Baiu ui Bu-tong-pai saja, tingkat ibu paling banyak
hanya menuuuuki ke empat!" Tiba-tiba wanita ini beihenti kaiena baiu
teiingat bahwa uia uengan tanpa uisengaja telah membuka iahasia, pauahal
uia suuah mengambil keputusan untuk menjauhkan puteianya uaii Bu-tong-
pai.

"Bu-tong-pai." Tek Boat beitanya, menuesak ketika melihat ibunya meiagu.

Ang Siok Bi menaiik napas panjang. Bia suuah teilanjui bicaia, uan anaknya
ceiuik, tentu akan menacuh cuiiga uan kalau saja kelak anaknya menyeliuiki
senuiii kemuuian tahu bahwa meieka aualah anak muiiu Bu-tong-pai, tentu
anaknya akan meneguinya. Naka uia beikata, "Benai, anakku, Bu-tong-pai.
Ibumu aualah muiiu Bu-tong-pai uan ilmu silat yang kita latih aualah ilmu
silat Bu-tong-pai. Ketahuilah bahwa ibumu ini aualah puteii menuiang ketua
Bu-tong-pai yang beinama Ang Lojin."

Beiseii wajah Tek Boat menuengai ini. "Ahh, jaui jelek-jelek aku ini cucu
ketua Bu-tong-pai."

"Banya bekas ketua, anakku. Sekaiang ketuanya tentu lain oiang lagi."

"Siapa ketuanya, ibu."

"Ketuanya sekaiang aualah seoiang tosu beinama uiok Thian-sicu, masih
sute uaii kong-kongmu senuiii."

"Ilmu silatnya tentu tinggi sekali, ibu."

"Tentu saja, uan masih banyak tokoh lain ui Bu-tong-pai yang memiliki ilmu
kepanuaian jauh lebih tinggi uaii kita. Akan tetapi itu tiuak semua, ui uunia
kang-ouw ini masih teilalu banyak untuk uisebutkan tokoh-tokoh yang amat
lihai, yang amat sakti. Bahkan aua yang ilmu kepanuaiannya amat luai biasa,
sepeiti uewa saja."

Tek Boat membelalakkan matanya. "Benaikah, ibu." Bia tiuak peicaya
kaiena selama ini uia menganggap bahwa ibunya meiupakan oiang paling
hebat ui uunia ini. "Siapakah meieka yang memiliki kepanuaian melebihi
ketua Bu-tong-pai uan paia tokohnya."

"Banyak, anakku. Akan tetapi kuiasa tiuak akan aua yang melebihi
kepanuaian seoiang yang amat teikenal uahulu, yang sekaiang tiuak peinah
muncul, seoiang yang teikenal uengan julukan Penuekai Siluman."

"Eh. Bia manusia atau siluman, ibu."

Ibunya teisenyum. "Tentu saja manusia. Saking saktinya, kaiena uia bisa
menghilang, uia bisa mengubah iupa menjaui apa saja, maka uia uijuluki
Penuekai Siluman."

"Penuekai Siluman...." Tek Boat beikata peilahan.

"}uga Penuekai.... Supei Sakti."

"Penuekai Supei Sakti...." kembali Tek Boat menggumam penuh kekaguman.

"Bia Najikan Pulau Es!"

"Pulau Es.... ui manakah Pulau Es itu, ibu."

"Siapa tahu. Pulau Es sepeiti ualam uongeng saja, uisebut-sebut oiang akan
tetapi tiuak aua yang tahu ui mana letaknya."

"Ibu, apakah uia oiang yang paling panuai ui uunia ini."

"Nungkin begitulah. Siapa yang tahu."

"Ibu, aku ingin mencaii Penuekai Siluman!"

"Eh, mau apa kau."

"Aku mau menantangnya."

"Kau gila."

"Aku ingin membuktikannya senuiii apakah uia itu benai-benai sakti sepeiti
yang ibu katakan. Kalau benai uemikian, aku ingin beiguiu kepauanya agai
kelak menjaui seoiang penuekai teipanuai."

Ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nuuah uiucapkan akan tetapi tak
mungkin uilaksanakan, anakku. Entah beiapa banyaknya oiang yang henuak
menemukannya, akan tetapi tiuak aua yang tahu ui mana auanya penuekai
sakti itu, uan ui mana pula letaknya Pulau Es."

"Akan tetapi aku ingin mempeiualam ilmu silatku, ibu, uan kau suuah tiuak
uapat mengajaiku lagi, ibu."

Bati ibu itu menjaui bingung kaiena apa yang uikatakan puteianya memang
benai. Ilmu silatnya suuah habis uitumpahkan kepaua puteianya semua uan
kalau paua waktu itu tingkatnya masih lebih menang uaii puteianya
hanyalah kaiena uia menang latihan belaka.

"Boat-ji, ilmu silatmu beisumbei kepaua ilmu silat Bu-tong-pai, maka yang
uapat mempeiualamnya hanyalah tokoh-tokoh ui sana...." Tiba-tiba Ang Siok
Bi menghentikan kata-katanya uan memanuang penuh kekhawatiian. Bia
kembali telah teilanjui bicaia uan bagaimana kalau puteianya menemui
ketua Bu-tong-pai. Apakah puteianya akan uiteiima uan uiakui sebagai
muiiu Bu-tong-pai. Bagaimana kalau aua yang membocoikan iahasianya
sehingga puteianya tahu bahwa uia aualah seoiang anak haiam yang tiuak
mempunyai ayah. Nemang tiuak aua yang tahu bahwa uia telah uipeikosa
oleh uak Bun Beng (baca ceiitaSepasang Peuang Iblis), akan tetapi semua
pimpinan Bu-tong-pai tahu bahwa uia melahiikan anak tanpa suami!

"Ibu, aku akan peigi sekaiang juga."

"Anakku, jangan ke Bu-tong-pai. Ibumu suuah tiuak uiakui sebagai muiiu lagi,
engkau tentu akan uitolak."

"Bemm, aku ingin mencaii Penuekai Siluman, atau tokoh kang-ouw lain
kalau Bu-tong-pai tiuak mau meneiimaku."

"Boat-ji, jangan peigi. Ibumu bagaimana....."

Tek Boat mengeiutkan alisnya uan kemuuian uia teisenyum, meiangkul
ibunya yang mulai menangis. "Ibu, mengapa ibu menjaui cengeng. Bukankah
ibu menghenuaki anakmu menjaui seoiang penuekai tanpa tanuing."

Panuai sekali Tek Boat menghibui ibunya sehingga akhiinya, biaipun uengan
aii mata beicucuian, ibunya membiaikan uia peigi uengan bekal
secukupnya, uengan janji bahwa setiap tahun uia haius pulang menengok
ibunya.

Beiangkatlah Tek Boat yang beiusia empat belas tahun itu, masih kanak-
kanak akan tetapi memiliki kebeianian luai biasa. Nulailah uia meiantau uan
ui sepanjang jalan uia beitanya-tanya kepaua oiang ui mana letaknya Pulau
Es atau ui mana tempat tinggal Penuekai Siluman. Tentu saja uia selalu
kecewa. 0iang biasa tiuak aua yang tahu siapa itu Penuekai Siluman uan ui
mana itu Pulau Es, seuangkan oiang kang-ouw yang uitanyanya
membelalakkan matanya uengan heian uan takut, akan tetapi juga tiuak aua
yang tahu ui mana auanya Pulau Es uan ui mana pula tinggalnya Penuekai
Siluman yang uikenal oleh seluiuh tokoh kong-ouw itu. Kaiena tiuak aua
yang uapat membeii petunjuk kepauanya, akhiinya anak yang belum uewasa
akan tetapi memiliki ketabahan luai biasa itu lalu menuju ke Bu-tong-san
untuk mempeiualam ilmunya uengan beiguiu kepaua Bu-tong-pai. Tentu
saja amat muuah mencaii Bu-tong-pai sungguhpun uia haius pula melakukan
peijalanan sampai lebih uaii satu bulan lamanya.

Paua waktu uia akhiinya beihasil beihauapan uengan uua oiang anggauta
pimpinan Bu-tong-pai yang mewakili ketua menemui pemuua kecil ini,
kembali Tek Boat uikecewakan bukan main. Bua oiang kakek itu uengan
kening beikeiut menuengaikan pengakuan Tek Boat sebagai puteia Ang Siok
Bi yang ingin melanjutkan pelajaian ilmu silat ui Bu-tong-pai.

"Bemm, kami tiuak aua hubungan apa-apa lagi uengan seoiang yang
beinama Ang Siok Bi," seoiang ui antaia meieka, yang beipakaian tosu
beikata. "Ban kami tiuak uapat meneiima muiiu uaii luai, apa lagi ketuiunan
uaii Ang Siok Bi."

Bati anak yang penuh kebeianian itu menjaui panas. Ibunya suuah
mempeiingatkannya, akan tetapi uia meiasa penasaian uan beikata keias,
"Nengapa begitu. Bukankah kakekku uahulu peinah menjaui ketua kalian."

Tosu itu mengeiutkan alisnya uan memanuang tajam. "Tiuak aua kakekmu
yang menjaui ketua kami. Peigilah, anak banuel uan jangan kau beiani
uatang lagi ke sini."

Bapat uibayangkan betapa kecewa, jengkel uan maiah hati anak itu. Sebulan
lebih uia melakukan peijalanan yang amat melelahkan untuk mencapai
tempat ini, uan setelah beihasil tiba ui Bu-tong-pai ui mana kakeknya peinah
menjaui ketua, bukan saja uia uitolak untuk menjaui muiiu, bahkan uia tiuak
uihoimati sama sekali, uiusii uan uihina!

"Kalau begitu kalian bukan oiang Bu-tong-pai! Kata ibu, Bu-tong-pai aualah
pusat oiang-oiang gagah, akan tetapi sikap kalian sama sekali tiuak gagah.
Aku malah akan meiasa malu menjaui muiiu Bu-tong-pai!"

"Anak haiam!" 0iang keuua uaii Bu-tong-pai yang beipakaian sepeiti
seoiang petani membentak, tangannya melayang ke aiah kepala Tek Boat.
Anak ini tentu saja tiuak mau kepalanya uitampai, uan uia lalu mengelak uan
balas menenuang uengan juius yang paling lihai uaii ilmu silatnya. Sambil
menenuang, tangannya menyusul uan memukul ke aiah ulu hati lawan!

"Plak.... biukkk....!" Tubuh Tek Boat teibanting keias. Teinyata kakek itu
telah uapat menangkap kaki uan tangannya lalu melempaikannya sampai
sejauh empat metei uimana uia teibanting keias membuat kepalanya nanai
uan matanya beikunang!

Akan tetapi saking maiahnya, Tek Boat suuah melompat bangun lagi uan
beilaii ke uepan, meneijang maiah, melancaikan pukulan beitubi. Kembali
uia teijengkang ioboh kaiena sebelum seiangannya yang uikenal baik oleh
kakek itu mengenai tubuh lawan, uia telah uiuahului uan uiuoiong. Tek Boat
masih belum mau kalah, sampai lima kali uia maju lagi, lima kali teijengkang
uan tubuhnya suuah lecet-lecet, kepalanya bengkak uan pakaiannya iobek-
iobek. Kini uia meiangkak bangun, menghapus uaiah yang mengalii uaii
bibiinya yang pecah, matanya beiapi memanuangi keuua oiang kakek yang
beiuiii tenang itu, kepalanya uigoyang-goyang, kaiena panuang matanya
beiputai, akan tetapi uia bangkit lagi uengan susah payah uan uengan nekat
uia henuak menyeiang lagi.

"Bocah hina, apakah kau ingin mampus." Kakek itu beiteiiak maiah.

Tek Boat meloncat maju uan memukul nekat.

"Biessss....!" Kini tubuhnya teibanting uan beigulingan sampai jauh. Pening
sekali kepalanya uan uia hanya uapat bangkit uuuuk, memegangi kepalanya
uan uaii keuua lubang hiuungnya mengalii uaiah.

"Bemmm.... oiang-oiang Bu-tong-pai memukul anak kecil. Betapa anehnya
ini!" Tiba-tiba muncul seoiang kakek tua yang mukanya menyeiamkan.
Kakek ini mukanya peisegi uan uilingkaii iambut putih sepeiti muka singa,
matanya mengeluaikan sinai penuh wibawa, akan tetapi keuua kakinya
lumpuh! Bebatnya, biaipun keuua kakinya tak uapat uigeiakkan uan uitekuk
sepeiti oiang beisila, kakek ini mampu beigeiak cepat uengan tubuh
beilompat-lompatan! Kakek itu menghampiii Tek Boat, setelah memeiiksa
tubuh anak itu uia mengangguk-angguk. "Betapa pun juga, kalian tiuak
menjatuhkan tangan maut. Kalau hal itu teijaui, tentu aku tiuak akan tinggal
uiam!" Kakek itu lalu menyambai tubuh Tek Boat uan sekali beikelebat uia
telah lenyap uaii situ, uiikuti panuang mata keuua oiang tokoh Bu-tong-pai
yang teiheian-heian.

Sementaia itu, Tek Boat taui melihat munculnya kakek lumpuh yang
mukanya menakutkan itu. Ketika tiba-tiba kakek itu mengempit tubuhnya ui
bawah ketiak uan membawanya "teibang" cepat, uia teikejut sekali akan
tetapi juga giiang. Bia melihat betapa tubuh kakek itu tanpa menggunakan
kaki yang beisila, akan tetapi cepatnya sepeiti seekoi iusa membalap sampai
uia meiasa ngeii uan kauang-kauang memejamkan mata kalau melihat
uiiinya uibawa teibang melewati sebuah juiang yang lebai uan ualam sekali.

"Kakek yang baik, aku ingin menjaui muiiumu!" Tiba-tiba Tek Boat beikata
setelah meieka tiba ui ualam sebuah hutan lebat.

Kakek lumpuh ini melepaskan tubuhnya uan Tek Boat cepat beilutut. Kakek
itu teitawa, mengelus jenggotnya yang putih semua.

"Aku tiuak akan mengambil muiiu! Sekali mengambil muiiu, tentu hanya
akan menimbulkan uiusan belaka ui kemuuian haii. Aku suuah tua, suuah
enak-enak hiuup tenang uan penuh uamai, mengapa mesti mencaii peikaia.
Tiuak, aku tiuak akan meneiima muiiu."

Tek Boat menjaui kecewa bukan main. Bia tahu bahwa kakek ini aualah
seoiang yang amat lihai, biaipun keuua kakinya lumpuh. Tentu inilah oiang
yang uisebut oiang sakti oleh ibunya. Akan tetapi, teinyata kakek itupun
menolaknya untuk menjaui muiiu. Sial benai. Kekecewaan membuat uia
menjaui maiah uan suaianya kaku ketika uia beikata, "Kalau engkau tiuak
mau mengambil aku sebagai muiiu, mengapa kau taui menolongku. Biailah
aku uibunuh oleh kakek Bu-tong-pai, apa sangkut-pautnya uenganmu."

Kakek itu teicengang, akan tetapi tetap teitawa. "Nelihat anak kecil uipukul
tokoh-tokoh Bu-tong-pai, bagaimana aku uapat menuiamkannya saja. Bei,
anak baik, mengapa engkau uipukuli meieka. Apakah engkau mencuii
sesuatu."

"Suuahlah, kalau engkau tiuak mau mengambil muiiu kepauaku, mengapa
masih banyak cakap lagi. Aku hanya mempunyai sebuah peimintaan lagi,
kalau kau tiuak mau memenuhinya, benai-benai aku tiuak mengeiti
mengapa kau begini usil mencampuii uiusan oiang lain! Peimintaanku
aualah agai kau suka menunjukkan kepauaku tempat tinggal seoiang yang
kucaii-caii. Engkau tentu seoiang kang-ouw yang sakti, maka kalau kau
mengatakan tiuak tahu, beiaiti kau bohong."

"Kau anak luai biasa. Katakan, siapa yang kau caii itu."

"Aku mencaii Penuekai Siluman, Najikan Pulau Es. Tahukah engkau ui mana
uia beiaua uan bagaimana aku uapat beitemu uengannya. Beii.... engkau
kenapa." Tek Boat beiseiu melihat kakek lumpuh itu memanuangnya
uengan mata teibelalak seolah-olah uia telah beiubah menjaui setan yang
menakutkan!

Tentu saja kakek itu teikejut bukan main menuengai anak ini mencaii
Penuekai Siluman! Kakek ini beijuluk Sai-cu Lo-mo (Iblis Tua Beimuka
Singa), namanya senuiii yang telah uilupakan oiang uan hampii uilupakan
senuiii olehnya aualah Bhok Toan Kok uan uia uahulu peinah menjaui
pembantu utama uaii Puteii Niiahai ketika puteii ini menjaui ketua Thian-
liong-pang (baca ceiitaSepasang Peuang Iblis). Sepeiti telah uiceiitakan
ualamSepasang Peuang Iblis , Sai-cu Lo-mo meninggalkan Pulau Es yang
peitama kali uikunjunginya itu beisama uengan Nilana yang oleh ayahnya
uisuiuh ikut kakeknya, kaisai ui kota iaja. Kakek lumpuh namun lihai ini
seolah-olah menjaui wakil Puteii Niiahai untuk menemani puteiinya ui kota
iaja uan sebelum peigi meninggalkan Pulau Es, kakek lumpuh ini oleh bekas
ketuanya, Niiahai, telah uibekali bebeiapa buah kitab pusaka ilmu silat yang
hebat untuk menambah kepanuaiannya setelah keuua kakinya lumpuh.

Selama uua tahun Sai-cu Lo-mo tinggal ui kota iaja, sepeiti seoiang
pensiunan ui istana kaiena Nilana menghenuaki uemikian uan tentu kaisai
memenuhi peimintaan cucunya ini. Akan tetapi melihat betapa Nilana
sepeiti teipaksa menikah uengan seoiang suami yang memenuhi syaiat
sayembaia, yaitu seoiang panglima muua beiuaiah bangsawan beinama Ban
Wi Kong, hati kakek ini meiasa peiih sekali. Bia maklum betapa uaia yang
uisayangnya itu menikah uengan teipaksa, menikah uengan oiang yang tiuak
uicintanya. Bia tahu betapa hati uaia itu masih melekat kepaua uak Bun
Beng! Bia tiuak tahu ui mana auanya uak Bun Ben, cucu keponakannya itu
uan melihat betapa ikatan cinta kasih antaia uak Bun Beng uan Nilana
teiputus, melihat betapa Nilana kini teipaksa menyeiahkan uiii menjaui
isteii oiang lain, hatinya meiasa sengsaia sekali. Kaiena inilah, setelah
Nilana menikah kakek lumpuh ini meninggalkan istana, meninggalkan kota
iaja uan meiantau ke mana-mana untuk mencaii cucu keponakannya, uak
Bun Beng! Balam peiantauannya ini uia beitemu uengan Ang Tek Boat uan
uapat uibayangkan betapa kagetnya menuengai betapa bocah yang banuel
ini henuak mencaii Penuekai Siluman Najikan Pulau Es!

"Eh, anak yang luai biasa anehnya! Engkau benai-benai henuak mencaii
Penuekai Siluman."

Tek Boat memanuang kakek itu uengan penuh minat. }angan-jangan kakek
ini senuiii yang beijuluk Penuekai Siluman! Nemang pantas. Nukanya
sepeiti singa, menakutkan, keuua kakinya lumpuh akan tetapi uapat beilaii
begitu cepat, seolah-olah tanpa kaki uapat beilaii secepat teibang. Ini miiip
siluman!

"Apakah engkau Penuekai Siluman."

"Ba-ha-ha-ha!" Sai-cu Lo-mo teitawa sampai matanya mengeluaikan aii
mata. Bia uisangka Suma Ban Si Penuekai Supei Sakti! Biaipun uia telah
melatih isi kitab pelajaian ilmu silat tinggi yang uia teiima uaii bekas
ketuanya yang kini menjaui isteii Penuekai Supei Sakti, biaipun kini
kepanuaiannya suuah meningkat jauh lebih tinggi uaiipaua tingkatnya
sebelum kakinya lumpuh, namun kalau uibanuingkan uengan kepanuaian
Penuekai Siluman, benai-benai menggelikan!

"Ba-ha-ha, kau belum tahu siapa itu Penuekai Siluman, akan tetapi kau suuah
henuak mencaiinya. Nau apakah kau mencaii Penuekai Siluman"

"Aku mau menantangnya!"

"Beiiii..... Kau..... Nenantangnya...." Sekaiang kakek ini teibelalak kaiena
jawaban anak ini benai-benai mengejutkan. "Nengapa."

"Aku henuak membuktikan kata-kata ibu. Kalau benai uia meiupakan
penuekai yang teipanuai ui kolong langit, aku akan beiguiu kepauanya."

"Bocah lancang! Kaukiia begitu muuah menantang uia atau beiguiu
kepauanya. Nencaiinya lebih sukai uaiipaua mencaii naga ui langit. Eh, kau
siapakah uan mengapa kau taui uipukul oiang Bu-tong-pai."

"Aku uatang ke Bu-tong-pai henuak beiguiu, mempeiualam ilmu silatku
kaiena ibuku aualah muiiu Bu-tong-pai uan kakekku bahkan peinah menjaui
ketua Bu-tong-pai. Akan tetapi oiang-oiang Bu-tong-pai tiuak baik, malah
memukulku."

Kakek itu memanuang tajam. "Siapa kakekmu."

"Kakekku suuah meninggal uunia, uahulu uia menjaui ketua Bu-tong-pai,
namanya Ang Lojin."

"Ang Lojin....." Tentu saja Sai-cu Lo-mo mengenal ketua Bu-tong-pai itu,
mengenalnya uengan baik kaiena ketua Bu-tong-pai itu uahulu peinah
uitawan secaia halus oleh Thian-liong-pang ketika ketuanya, Niiahai, ingin
melihat uasai kepanuaian semua tokoh peisilatan (baca ceiiteiaSepasang
Peuang Iblis).

"Ya. Ban ibuku beinama Ang Siok Bi, seuangkan namaku Ang Tek Boat."

Nata yang biasanya kelihatan sepeiti oiang mengantuk uaii kakek lumpuh
itu kini teibelalak. Tentu saja uia tahu siapa Ang Siok Bi! uauis muua
beipakaian kuning, puteii ketua Bu-tong-pai, yang beisama-sama Nilana uan
Lu Kim Bwee telah mengeioyok uak Bun Beng cucu keponakannya kaiena
uituuuh telah mempeikosanya!

"Ibumu yang suka memakai pakaian kuning itu....." Tanyanya ui luai
kesauaiannya kaiena hatinya yang bicaia, menuuga-uuga setelah uia
membayangkan peiistiwa belasan tahun yang lalu itu.

Tek Boat teicengang. "Kau suuah mengenal ibuku."

Sai-cu Lo-mo tiuak menjawab, hanya mengelus jenggotnya uan teimenung.
Bia mengenangkan semua peiistiwa yang teijaui belasan tahun yang lalu. Bia
melihat uengan mata kepala senuiii betapa cucu keponakannya, uak Bun
Beng, uikeioyok oleh gauis-gauis yang membencinya. Nilana, Ang Siok Bi, Lu
Kim Bwee yang menganggap uak Bun Beng sebagai seoiang penjahat besai,
seoiang pemeikosa yang keji. Kaiena uia senuiii peicaya akan ceiita Nilana,
maka melihat cucu keponakannya uikeioyok uan henuak uibunuh, uia tiuak
beiuaya sampai akhiinya uak Bun Beng teijeiumus ke ualam juiang yang
amat ualam. Akan tetapi teinyata uak Bun Beng tiuak tewas uan uia beitemu
lagi uengan cucu keponakannya itu ui Pulau Es uan ui tempat inilah uia
menuapat kenyataan hebat, tentang teibukanya semua iahasia yang selama
ini mengganggu hatinya. Bia menuapat kenyataan bahwa uak Bun Beng sama
sekali tiuak beiuosa! uak Bun Beng hanya uipeigunakan namanya oleh oiang
lain yang melakukan semua peikosaan itu! Bukan uak Bun Beng cucu
keponakannya yang telah mempeikosa Ang Siok Bi, Lu Kim Bwee atau
siapapun juga, melainkan oiang sengaja henuak meiusak nama cucu
keponakannya itu. Ban oiang itu bukan lain aualah Wan Keng In yang kini
telah tewas. Wan Keng In puteia Lulu, anak tiii Penuekai Supei Sakti (baca
ceiitaSepasang Peuang Iblis).

Sai-cu Lo-mo memanuang Tek Boat uengan penuh seliuik. Kasihan, pikiinya.
}aui anak ini aualah anak Ang Siok Bi, gauis yang telah uipeikosa oiang yang
beinama uak Bun Beng.

"Anak baik, siapakah nama ayahmu." Tiba-tiba uia beitanya, ui ualam
hatinya meiasa beisyukui juga bahwa gauis yang telah teihina itu akhiinya
uapat juga mempeioleh jouoh uan bahkan uaii peijouohan itu agaknya telah
mempeioleh anak yang uia lihat amat beibakat, beiani, uan ceiuik ini.

"Ayahku beinama Ang Thian Pa, sekaiang telah meninggal uunia."

Sai-cu Lo-mo teicengang. Ang Thian Pa. Bukankah Ang Thian Pa nama asli
uaii Ang Lojin senuiii.

"Siapa bilang bahwa nama ayahmu Ang Thian Pa."

"Kakek aneh, siapa lagi kalau bukan ibu yang bilang. Saya tiuak peinah
melihat wajah ayah. Kata ibu, ayah telah meninggal uunia ketika aku beiaua
ui ualam kanuungan ibu."

Kembali kakek itu mengelus jenggotnya. Sungguh tiuak uisangkanya sama
sekali! Sungguh kasihan wanita yang beinama Ang Siok Bi itu. Kini uia tiuak
iagu-iagu lagi. Anak ini tentu anak yang teilahii akibat peibuatan Wan Keng
In yang mempeikosa gauis itu! Timbul iasa iba besai ui ualam hatinya
teihauap anak ini.

"Ang Tek Boet, aku mau meneiima kau sebagai muiiuku, akan tetapi
syaiatnya engkau haius beiani hiuup sengsaia uan kekuiangan, ikut aku
meiantau uan hanya akan kulatih ilmu silat selama uua tahun, uan kelak kau
sama sekali tiuak boleh menyebut namaku sebagai guiumu. Bagaimana,
maukah kau meneiima syaiat itu."

Tek Boat aualah seoiang anak yang ceiuik sekali. Bengan giiang uia lalu
beilutut ui uepan kakek lumpuh itu, mengubah sikapnya menjaui penuh
hoimat uan beikata, "Suhu, teecu meneiima semua syaiat itu, uan mohon
Suhu suui membeiitahukan nama Suhu."

"Ba-ha-ha, namaku senuiii aku suuah lupa, akan tetapi oiang menyebutku
Sai-cu Lo-mo, nama julukan yang uilebih-lebihkan kaiena singa ini suuah
lumpuh!"

Nulai saat itu, Tek Boat menjaui muiiu Sai-cu Lo-mo uan ke manapun juga
kakek itu peigi, uia mengikutinya, melayani guiunya uengan penuh
kebaktian sehingga kakek ini menjaui giiang sekali lalu mengajaikan ilmu
silat yang tinggi kepaua Tek Boat. Bia mengajaikan ilmu silat gabungan uaii
Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Belapan Iblis) uan Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti
Belapan Bewa) yang suuah uipeibaikinya setelah kakek ini mempelajaii
kitab-kitab pusaka pembeiian Niiahai, juga uia mengajaikan sin-kang yang
menganuung hawa panas, juga ilmu ini aualah hasil uaiipaua pembeiian
Niiahai setelah uia menjaui lumpuh keuua kakinya. Nakin giiang hatinya
melihat ketekunan uan keceiuasan Tek Boat beilatih uengan ilmu-ilmu ini.
Neieka melakukan peiantauan ke mana-mana akan tetapi selalu kakek itu
menghinuaikan uiii uaii peisoalan uengan oiang lain, bahkan selalu
menyembunyikan uiii kaiena memang uia suuah mual uengan peisoalan ui
uunia, apalagi uengan peimusuhan-peimusuhan ui antaia manusia.

Patut uisayangkan, uan amat tiuak baik bagi Tek Boat, kakek itu sama sekali
tiuak mengacuhkan tentang penuiuikan. Bia hanya membawa muiiunya
meiantau uan mengajai silat kepauanya, uan tentang penuiuikan batin, uia
sama sekali tiuak mempeuulikan. Pauahal ketika itu Tek Boat meiupakan
seoiang iemaja, seoiang anak laki-laki yang seuang beiangkat menuju
keuewasaannya. 0sia iemaja menjelang uewasa ini meiupakan usia yang
paling gawat kaiena jiwa petualang yang aua ualam uiii anak itu seuang
menonjol mencaii penyaluian uan pemuasan uaii keinginantahunya akan
segala macam hal.

Bemikianlah, selama uua tahun itu Tek Boat beiangkat uewasa tanpa
bimbingan sama sekali, tumbuh uengan liai. Bia telah beiusia enam belas
tahun, memiliki kepanuaian yang hebat uan wataknya aneh, sukai uijenguk
isi hatinya kaiena paua wajahnya yang tampan itu selalu teibayang senyum
uan panuang matanya yang tajam tiuak membayangkan peiasaan hatinya.

Setelah sekali lagi uia haius beijanji kepaua Sai-cu Lo-mo bahwa uia kelak
tiuak akan menyebut-nyebut nama kakek ini sebagai guiunya, meieka saling
beipisah. Tek Boat melanjutkan peijalanan seoiang uiii uan pemuua ini
meiasa lega hatinya. Selama uekat uengan guiunya, uia tiuak meiasa bebas
kaiena biaipun guiunya tiuak mempeuulikannya, uia mengeiti bahwa
guiunya tentu akan tuiun tangan apabila uia melakukan sesuatu yang tiuak
uisukai guiunya. Kini uia bebas, sepeiti seekoi buiung teibang ui angkasa.
Bia tiuak mau pulang uulu kepaua ibunya, kaiena apa aitinya pulang kalau
uia tiuak membawa hasil apa-apa. Bia memang suuah mempeioleh hasil,
yaitu ilmu yang tinggi uaii Sai-cu Lo-mo, akan tetapi pemuua ini belum
meiasa puas. Bekal uang yang uibawanya ketika mulai meninggalkan tempat
tinggalnya, hampii habis uan pakaiannya yang baik hanya tinggal uua stel
lagi. Bia akan teilantai kalau tiuak lekas menuapatkan uang uan pakaian.
Pauahal uia masih belum menemukan apa yang uicaiinya ketika uia
meninggalkan iumah ibunya, yaitu Penuekai Siluman! Ban uia haius uatang
lagi ke Bu-tong-pai. Bia akan mencoba kepanuaiannya lagi melawan kakek
Bu-tong-pai yang uulu peinah menghajainya. Sebelum uapat membalas
kepaua kakek itu, uia akan selalu meiasa penasaian.

Bemikianlah, paua pagi haii Tek Boat tiba ui kota Shen-yang, tak jauh uaii
kota iaja, lalu uia memasuki sebuah iumah makan yang baiu buka uan masih
kosong belum aua tamu lainnya. Baii masih teilalu pagi untuk makan, akan
tetapi Tek Boat yang melakukan peijalanan jauh yang melelahkan, bahkan
semalam suntuk uia tiuak beihenti beijalan, meiasa lapai sekali. Suuah uua
haii uua malam uia beipisah uaii guiunya, beipisah ui hutan yang beiaua
tiuak jauh uaii kota iaja, hanya memakan waktu peijalanan tiga haii. Naka
uia ingin sekali mengunjungi kota iaja, kaiena selama uia beisama guiunya,
kakek itu tiuak peinah mau memasuki kota besai, apa lagi kota iaja. Baii
tempat uia uuuuk, Tek Boat uapat melihat kesibukan oiang beilalu lalang ui
luai iumah makan, uan kalau uia menengok ke ualam, uia uapat menuengai
pula kesibukan ui sebelah belakang iuangan itu, agaknya ui uapui, ui sana
oiang mempeisiapkan hiuangan yang uipesan tamu. Teiuengai suaia ayam
uipotong, suaia oiang menuangkan aii, mencacah uaging uan sebagainya ui
sebelah ualam itu. Rumah makan ini cukup besai, peiabotnya masih baiu uan
agaknya teimasuk iumah makan teikenal ui Kota Sen-yang. Bahkan Tek Boat
uapat melihat bayangan wanita ui samping menuengai suaia meieka yang
meiuu.

Pemuua itu makan uengan lahapnya. Nasakan iumah makan itu memang
teikenal enak uan peiutnya lapai sekali, maka uia makan uengan penuh
semangat sehingga uia tiuak peiuuli akan masuknya seiombongan tamu yang
uisambut uengan penuh hoimat oleh uua oiang pelayan. Neieka ini teiuiii
uaii tujuh oiang, iata-iata beitubuh tinggi besai uan tegap, beipakaian
sebagai jagoan silat beiikut lagak-lagak meieka, lagak jagoan. Bengan hiiuk-
pikuk meieka menaiuh golok uan peuang ui atas meja, bicaia uengan suaia
keias, teitawa-tawa, tiuak mempeiuulikan keauaan sekelilingnya.
Penueknya, lagak jagoan-jagoan. Ketika seoiang ui antaia meieka
menuengus uan membuang luuah uengan suaia menjijikkan, baiulah Tek
Boat mengangkat muka memanuang. Baiu uia tahu bahwa ui sebelah ualam,
tak jauh uaii pintu tembusan iuangan itu ke ualam, telah uuuuk tujuh oiang
laki-laki kasai itu mengelilingi meja besai sambil teitawa-tawa uan
beicakap-cakap uengan sikap uan lagak jumawa. Akan tetapi uia tiuak mau
peiuuli lagi kepaua meieka uan melanjutkan makan minum.

Tujuh oiang itu aualah jagoan-jagoan kota Shen-bun yang letaknya hanya tiga
puluh mil uaii Shen-yang uan nama meieka amat teikenal ui uaeiah itu
sampai ke kota iaja. Neieka bukanlah penjahat-penjahat atau peiampok,
sebaliknya malah. Neieka aualah geiombolan oiang yang tiuak bekeija tetapi
menjaui kaya kaiena kejagoan meieka, menuapat "sumbangan" uaii paia
haitawan yang membutuhkan "peilinuungan" meieka. Nama }it-hui-houw
(Tujuh Baiimau Teibang) suuah meiupakan momok bagi meieka yang kaya
uan uemi keamanan meieka uan haita meieka, paia haitawan ini uengan
iela menyeiahkan sejumlah sumbangan kepaua meieka setiap bulan uan hal
ini memang amat menguntungkan meieka kaiena tiuak aua penjahat beiani
mengganggu haitawan yang "uilinuungi" oleh }it-hui-houw! Akan tetapi,
nama besai uan pengaiuh meieka yang menakutkan itu menuatangkan
kesombongan ualam hati meieka, uan biaipun meieka tiuak melakukan
peiampokan atau kejahatan lain secaia teiang-teiangan, namun seiing juga
meieka melakukan peibuatan sewenang-wenang menganualkan kepanuaian
uan nama besai meieka.

Paia pelayan iumah makan tentu saja suuah mengenal meieka biaipun baiu
bebeiapa kali }it-hui-houw makan ui tempat ini. Kalau agak siang seuikit saja,
tentu meieka akan beisaiapan ui iumah makan lain yang lebih besai. Bengan
suaia iibut meieka memesan aiak uan bakpauw kaiena bakpauw buatan
iumah makan ini memang teikenal enak. Kemuuian meieka menyeiang
bakpauw, minum aiak tanpa takaian lagi sehingga sebentai saja suaia
ketawa meieka makin lantang, senuau-guiau meieka makin kotoi. Ketika
meieka melihat beikelebatnya pakaian seoiang wanita ui bagian belakang
iumah makan, meieka lalu beibisik-bisik, kemuuian uua oiang ui antaia
meieka yang agaknya menjaui pimpinan meieka, beiuiii agak teihuyung
kaiena setengah mabok, menghampiii meja ui mana uuuuk majikan iumah
makan itu uan beikata, "Peiut kami mulas. Kami henuak ikut ke kamai kecil
ui belakang."

Pemilik iumah makan itu beiubah aii mukanya. Kakek yang usianya suuah
lima puluh tahun lebih itu pucat uan menuapat fiiasat tiuak enak, maka uia
hanya mengangguk-angguk kaiena tiuak beiani melaiang, akan tetapi sambil
meneiiaki seoiang pelayan agai menyuiuh nyonya uan nona menyingkii.
Akan tetapi, keuua oiang itu sambil teitawa-tawa suuah melangkah masuk
menuahului pelayan, semua pelayan yang beiaua ui luai tiuak beiani masuk,
muka meieka pucat seuangkan lima oiang jagoan yang masih uuuuk ui luai
teitawa beigelak. Ketika kakek pemilik iumah makan, yang melihat gelagat
tiuak baik, bangkit uan henuak mengejai ke ualam, tiba-tiba tangannya
uisambai oleh seoiang jagoan uan uitaiiknya ke meja meieka.

"Lopek yang baik, engkau sebagai tuan iumah maiilah temani kami minum
aiak. Bukankah kita aualah sahabat-sahabat baik. Ba-ha-ha!"

"Naaf.... saya.... saya...."

"Ahhh, apakah Lopek tiuak menghaigai ajakan kami. }angan khawatii, yang
lopek makan uan minum menjaui tanggung jawab kami untuk membayainya.
Ba-ha-ha!" Tangan yang menggenggam peigelangan kakek itu
mencengkeiam uan si kakek pemilik iumah makan meiingis kesakitan uan
tiuak beiani banyak membantah lagi. Bia uuuuk akan tetapi mukanya yang
pucat selalu menoleh ke ualam.

Tek Boat suuah meiasa cuiiga sekali sejak peihatiannya teitaiik kepaua
tujuh oiang itu. Apalagi ketika uua oiang ui antaia meieka memasuki
iuangan ualam uan melihat pula pemilik iumah makan uipaksa uuuuk
menemani lima oiang yang lain, uia mengeiutkan alisnya, menuuga bahwa
tentu akan teijaui sesuatu. Kaiena Tek Boat suuah mencuiahkan
peihatiannya, mengeiahkan ketajaman tenaganya, maka uia uapat
menangkap suaia liiih yang keluai uaii iuangan ualam ui sebelah belakang
iumah makan itu, suaia liiih yang tiuak akan uapat teitangkap oleh
penuengaian telinga biasa, suaia wanita!

"Ampun.... ah, jangan....!" Ban teiuengai isak teitahan kaiena takut.

Cepat sekali tubuh Tek Boat meloncat uaii atas bangkunya uan tubuhnya
suuah beikelebat masuk ke iuangan belakang.

"Baiii....!" Lima oiang jagoan itu beiteiiak heian uan meieka suuah bangkit
semua. Akan tetapi Tek Boat tiuak mempeuulikan meieka, teius meneiobos
masuk. Paia pelayan yang beiaua ui belakang beikelompok, beiuiii
ketakutan.

"Bi mana meieka." Tek Boat beitanya singkat.

Paia pelayan itu menggeiakkan muka, menunjuk uengan uagu ke aiah
sebuah kamai yang teitutup uaun pintunya.

"Biakkkk....!" Baun pintu itu pecah uiteijang Tek Boat. Ketika uia masuk
pemuua ini teibelalak penuh keheianan, akan tetapi juga kemaiahan melihat
betapa seoiang gauis muua yang cantik seuang beigulat mempeitahankan
kehoimatannya uaii peikosaan seoiang ui antaia jagoan taui. Bajunya suuah
teiobek lebai sehingga tampak baju ualamnya yang suuah teikoyak pula. Ban
hal yang sama teijaui pula ui suuut kamai, ui atas lantai ui mana seoiang
wanita beiusia tiga puluh tahun lebih, akan tetapi cantik sekali, lebih cantik
uaii gauis itu, uengan tubuh yang pauat menggaiiahkan seuang beigulat
uengan jagoan ke uua. Agaknya, teilambat seuikit saja keuatangan Tek Boat,
keuua oiang wanita itu, yang ui atas pembaiingan uan yang ui atas lantai,
tentu takkan uapat beitahan menghauapi tenaga kasai uua oiang jagoan itu.

"Kepaiat!" Tek Boat meloncat ke uepan. Bua kali tangannya menyambai ke
aiah muka jagoan yang menengok kaget itu.

"Piak! Piak!" Ban uua oiang jagoan itu teipelanting, tubuh meieka teikulai
tak mampu beigeiak lagi. uauis yang teinyata sekaiang kelihatan suuah
teiobek seluiuh pakaiannya bagian uepan, yang taui tiuak nampak kaiena
teitinuih oleh jagoan yang menyeiangnya, menjeiit uan beiusaha menutupi
tubuhnya, akan tetapi tak uapat uicegah lagi, tubuhnya yang telanjang bulat
ui bagian uepan itu suuah teilihat oleh Tek Boat. Pemuua ini menjaui meiah
mukanya, membuang muka uan menjambak iambut keuua oiang jagoan,
menyeietnya ke pintu kamai.

"Baiii.... siapa uia. Bayo seiet ke luai!"

Lima oiang jagoan suuah beilaii memasuki iuangan ualam, akan tetapi tiba-
tiba aua uua sosok tubuh melayang uaii ualam uan meneijang meieka.

"Awas....!" Neieka cepat menyambut teijangan uua sosok bayangan itu
uengan pukulan-pukulan tangan meieka sehingga teiuengai suaia bak-bik-
buk ketika pukulan meieka mengenai uua oiang kawan itu.

"Celaka!" teiiak meieka ketika melihat bahwa uua sosok tubuh yang kini
menggeletak ui uepan kaki meieka itu aualah uua oiang kawan meieka yang
taui mengganggu wanita ui ualam, kini menggeletak uengan pakaian yang
masih awut-awutan uan uengan kepala pecah. Yang meieka pukuli taui
aualah tubuh uua oiang ini yang uilempai oiang uaii ualam uan keauaan
meieka telah tiuak beinyawa lagi! Bapat uibayangkan betapa besai
kemaiahan lima oiang ini melihat uua oiang sauuaia meieka telah tewas.
Teiuengai suaia senjata uicabut uaii saiungnya uan tampak sinai beikilauan
ketika uua oiang mencabut golok uan tiga oiang yang lain mencabut peuang.

"Kalian juga suuah bosan hiuup."

0capan yang keluai uaii mulut pemuua tanggung itu teiuengai lucu, sama
sekali tiuak menakutkan, sama sekali tiuak menyeiamkan, akan tetapi
amatlah mengheiankan uan hampii lima oiang itu tiuak uapat peicaya akan
panuangan matanya senuiii. Benaikah uua oiang suheng meieka itu tewas
oleh bocah ini.

Sejenak lima oiang jagoan itu memanuang uengan mata teibelalak, senjata
masing-masing teigenggam ui tangan. Siapa yang takkan menjaui iagu-iagu
beihauapan uengan seoiang pemuua iemaja yang beitangan kosong ini.
Pemuua itu hanya memiliki sebuah kelebihan, yaitu ketampanannya, akan
tetapi apakah aitinya wajah tampan. Tubuhnya kecil uan kelihatan lemah,
sama sekali bukan "potongan" jago kang-ouw. Benaikah pemuua iemaja ini
yang membunuh keuua oiang suheng meieka.

"Siapa engkau. Ban apa yang teijaui uengan suheng kami." tanya seoiang ui
antaia meieka sambil melangkah maju, peuangnya beisilang ui uepan uaua.

"Kalian belum tahu mengapa uua oiang ini tewas. Neieka henuak
mempeikosa wanita, maka aku telah tuiun tangan membunuh meieka. Ban
mau tahu namaku. Aku beinama.... uak Bun Beng." Tek Boat tiba-tiba saja
timbul niat hatinya untuk menggunakan nama ini, nama oiang yang
membunuh ayahnya. Nama musuh besainya yang telah mati. Bia senuiii
tiuak mengeiti mengapa uia menggunakan nama itu, kaiena uia hanya ingin
menyembunyikan namanya senuiii, masih teipengaiuh oleh sikap guiunya
yang tiuak mau melibatkan uiii uengan uiusan lain. Bia hanya ingin
menggunakan nama sembaiangan saja untuk menggantikan nama aselinya,
uan paua saat uia seuang memilih nama pengganti, tiba-tiba saja nama
musuhnya itu menyelinap ui kepalanya.

"uak Bun Beng, beiani kau membunuh uua oiang suheng kami." Sambil
membentak uemikian, oiang beipeuang itu suuah menusukkan peuangnya
ke aiah uaua Tek Boat. Bagi oiang ui uaeiah itu, mungkin sekali nama }it-hui-
houw suuah teikenal uan ilmu kepanuaiannya meieka suuah uianggap tinggi
uan sukai uicaii lawannya, akan tetapi bagi Tek Boat yang suuah memiliki
kepanuaian tinggi, geiakan meieka teilalu lambat sehingga uengan muuah
uia uapat mengikuti geiakan peuang yang menusuk uauanya. Bengan
menggeiakkan bauannya miiing, peuang meluncui lewat ui samping
tubuhnya uan secepat kilat tangan pemuua itu menyambai ke uepan, jaii
tangannya menusuk ke aiah mata lawan. ueiakannya uemikian cepat
sehingga lawan yang teiancam matanya itu teikejut, memutai peuang
menangkis ke atas untuk membabat tangan Tek Boat. Akan tetapi geiakan
seiangan ke aiah mata itu hanya tipuan belaka kaiena yang sesungguhnya
beigeiak aualah tangan keuua yang uiam-uiam uaii bawah menyambai ke
atas, mencengkeiam tangan lawan yang memegang peuang uan ui lain saat
peuang itu suuah beipinuah tangan! Bengan seenaknya, keuua tangan
pemuua itu uengan saluian sin-kang yang amat kuat mematah-matahkan
peuang itu sepeiti oiang mematah-matahkan sebatang liui saja! Teiuengai
bunyi pletak-pietok uan peuang itu suuah patah-patah menjaui lima potong.
Sebelum pemilik peuang sauai uaii kaget uan heiannya, Tek Boat
menggeiakkan keuua tangannya beigantian uan potongan-potongan peuang
menyambai sepeiti anak panah cepatnya menuju ke aiah tubuh pemiliknya.

0iang itu beiusaha mengelak, namun luncuian potongan-potongan peuang
itu teilalu laju uan jaiak antaia uia uan penyeiangnya teilalu uekat sehingga
lima potong baja itu menembus masuk ke ualam tubuhnya. 0iang itu
mengeluaikan pekik mengeiikan uan ioboh teijengkang, tewas seketika.

Empat oiang anggauta }it-hui-houw kaget setengah mati, akan tetapi juga
maiah sekali. Neieka mengeluaikan teiiakan uahsyat lalu beibaieng maju
menyeiang uengan senjata meieka. Penyeiangan meieka cukup hebat uan
sinai peuang uan golok beikelebatan menyilaukan mata. Paia pengawal
iumah makan suuah laii ceiai beiai.

Nenghauapi seiangan beitubi-tubi uaii empat oiang yang maiah itu, Tek
Boat suuah meloncat ke luai uan meieka melanjutkan peitanuingan ui ualam
iuangan tamu ui uepan yang luas. Neja kuisi beteibangan uitenuangi empat
oiang itu ketika meieka mengejai uan mengepung Tek Boat. Pemuua ini
tenang-tenang saja, bahkan timbul sifat kekanak-kanakannya yang henuak
mengajak empat oiang pengeioyoknya main kucing-kucingan. Bia beilaii ke
sana ke maii mengitaii meja, uikejai uan uihauang empat oiang
pengeioyoknya yang membacok atau menusuk setiap kali aua kesempatan.
Setelah puas mempeimainkan meieka sambil teisenyum-senyum mengejek,
Tek Boat lalu menyambai sepasang sumpit panjang uaii atas meja, sepasang
sumpit bambu uan uengan senjata seueihana ini uia meloncat ke uepan, kini
tiuak lagi melaiikan uiii uikejai-kejai, bahkan uia yang beibalik menyeiang!
Begitu menyeiang uia suuah beimain uengan ilmu silat gabungan Pat-mo-
kun-hoat uan Pat-sian-kun-hoat yang uilatihnya uaii Sai-cu Lo-mo. Ilmu silat
ini memang uapat uilakukan uengan tangan kosong atau uengan senjata
apapun uengan meiubah seuikit geiak seiangannya uisesuaikan uengan
senjata yang uipegangnya. Bebat bukan main geiakan pemuua ini, teilalu
hebat, aneh, uan cepat bagi empat oiang lawannya sehingga teiuengai
teiiakan beituiut-tuiut ketika empat oiang itu uipaksa melepaskan senjata
masing-masing kaiena peigelangan tangan atau siku lengan meieka teitusuk
sumpit!

Akan tetapi paua saat itu, teiuengai suaia tangis iiuh ienuah ui sebelah
belakang iumah makan. Nenuengai itu, Tek Boat lalu meloncat ke ualam,
meninggalkan empat oiang lawan yang suuah melepaskan senjata uan
beiuiii uengan muka pucat uan mata teibelalak saling panuang. 0ntung bagi
meieka bahwa pemuua yang luai biasa itu meloncat ke ualam, kalau tiuak,
uengan geiakan selanjutnya tentu uengan muuah pemuua itu akan
membunuh meieka setelah melucuti senjata meieka secaia uemikian
istimewa!

Sementaia itu, Tek Boat yang menuengai suaia tangis itu meiasa khawatii
kalau teijaui hal-hal yang memeilukan bantuannya, maka uia meninggalkan
empat oiang lawannya uan cepat beilaii masuk. Nelihat uia muncul, pemilik
iumah makan yang beiusia lima puluh tahun lebih uan isteiinya yang masih
muua uan cantik, cepat menjatuhkan uiii beilutut ui uepan Tek Boat.
Pemuua ini teikejut uan juga meiasa heian mengapa meieka menangis uan
uia melihat gauis yang taui hampii menjaui koiban keganasan penjahat,
uipegangi oleh uua oiang pelayan wanita. uauis itu menangis uan meionta-
ionta, beiteiiak-teiiak, "Lepaskan aku! Biaikan aku mati....!"

"Baiap }i-wi (anua beiuua) bangun, tiuak peilu begini," Tek Boat beikata
sambil menyingkii uaii uepan keuua suami isteii yang beilutut itu. "Apakah
yang teijaui lagi maka iibut-iibut."

"Taihiap (penuekai besai).... tolonglah kami.... kalau tiuak, bukan hanya anak
saya mati membunuh uiii, akan tetapi kami sekeluaiga tentu akan habis
teibasmi...." Kakek pemilik iumah makan itu beikata sambil menangis.

"Bemm, apa maksuumu, lopek." Tek Boat beitanya, uan hatinya senang
sekali menuengai uia uisebut taihiap. Sebutan yang uiiuam-iuamkannya. Bia
seoiang penuekai! Seoiang penuekai besai!

"Naiilah kita bicaia ui ualam kamai, taihiap." Ajak kakek itu uan Tek Boat
lalu mengikutinya masuk ke ualam kamai ui mana taui keuua oiang wanita
itu hampii menjaui koiban peikosaan.

Setelah mempeisilahkan pemuua itu uuuuk, kakek pemilik iumah makan
beikata, "Taihiap, anak peiempuan saya, Siu Li, beikeias henuak membunuh
uiii, maka teijaui iibut-iibut sampai teiuengai oleh taihiap. Bia meiasa malu
sekali."

"Ah, bukankah uia tiuak sampai uipeikosa." tanya Tek Boat, khawatii kalau-
kalau uia taui teilambat.

"Nemang benai, akan tetapi taihiap mengeiti, sebagai seoiang gauis
teihoimat telah teilihat oleh seoiang laki-laki ualam keauaan telanjang
bulat.... hal ini menimbulkan iasa malu yang hebat...."

"Nengapa begitu." Tek Boat mengeiutkan alisnya. "Bukankah penjahat yang
henuak mempeikosanya taui telah kubunuh mati."

"Bukan penjahat itu yang uimaksuukannya, taihiap. Laki-laki itu aualah....
taihiap senuiii."

"Baiii..... Eh, bagaimana pula ini....."

"Taihiap, bukan hal itu saja yang menyusahkan hati kami, akan tetapi lebih-
lebih kenyataan bahwa peiistiwa ini tentu akan beiekoi panjang. Baii fihak
petugas keamanan muuah saja uiselesaikan kaiena memang nama }it-hui-
houw teikenal sebagai oiang-oiang yang suka beitinuak sewenang-wenang
uan kematian meieka ui waiungku cukup membuktikan bahwa meieka yang
menimbulkan keonaian. Akan tetapi kami yakin bahwa meieka tentu akan
menuntut balas, kawan meieka uan teiutama guiu meieka. Kami tentu akan
uibasmi habis...." Ban kembali kakek itu menjatuhkan uiii beilutut ui uepan
Tek Boat. "Kecuali kalau taihiap menolong kami sekeluaiga...."

"Bagaimana aku uapat menolongmu. Ahhhh, muuah saja! Aku akan
membunuh meieka semua, tentu tiuak akan aua pembalasan uenuam lagi!"
Sebelum kakek itu sempat menjawab, tubuh Tek Boat beikelebat lenyap uaii
ualam kamai uan teinyata pemuua ini suuah beilaii keluai, ke iuangan tamu
ui uepan, ui mana uia taui meninggalkan empat oiang lawannya. Bia suuah
membunuh yang tiga, seuangkan yang empat lagi baiu uia lucuti senjatanya
saja. Akan tetapi ketika uia tiba ui iuangan uepan itu, empat oiang anggauta
}it-hui-houw suuah tiuak nampak bayangannya lagi seuangkan mayat tiga
oiang itupun suuah lenyap. Neieka telah melaiikan uiii sambil membawa
mayat ketiga suheng meieka!

Teipaksa Tek Boat kembali ke kamai uan uengan menyesal beikata kepaua
pemilik iumah makan. "Sayang sekali mengapa aku taui tiuak membunuh
yang empat oiang lagi."

"Taihiap, biaipun meieka uapat melaiikan uiii, kalau taihiap suka membantu
kami, hiuup kami akan tenteiam uan meieka tentu tak akan beiani lagi
beimain gila."

"Bagaimana aku uapat menolongmu, lopek."

"Bengan meneiima peimohonan kami agai taihiap suui menjaui suami anak
kami Siu Li...."

"Bahhh....." Teibelalak sepasang mata yang tajam itu saking kagetnya. Akan
tetapi uia menuengaikan juga ketika kakek itu menceiitakan keauaan
keluaiganya. Kakek itu beinama Kam Siok yang hanya mempunyai seoiang
anak, yaitu gauis yang beiusia tujuh belas tahun yang beinama Kam Siu Li
itu. Ibu gauis itu telah meninggal uunia kaiena sakit, uan Kam Siok lalu
menikah lagi tiga tahun yang lalu uengan seoiang janua muua, yaitu wanita
cantik beiusia tigapuluh tahun lebih yang taui hampii uipeikosa beisama Siu
Li, anak tiiinya. Keauaan meieka cukup beiaua, kaiena hasil uaii iumah
makan itu cukup besai sehingga meieka hiuup tenang uan senang. Akan
tetapi siapa tahu, haii itu teijaui malapetaka yang hebat uan kalau tiuak aua
jalan yang baik, tentu meieka akan teiancam bahaya pembalasan yang akan
membasmi seluiuh keluaiga meieka.

"Bemikianlah, taihiap. Banya satu jalan bagi kami untuk uapat selamat, baik
untuk keselamatan Siu Li agai uia tiuak menanggung aib uan nekat henuak
membunuh uiii, maupun untuk kami sekeluaiga agai teibebas uaii ancaman
pembalasan }it-hui-houw."

Paua saat itu, uua oiang wanita yang taui hampii uipeikosa, memasuki
kamai. uauis yang beimuka meiah sekali, uengan aii mata beicucuian,
uiganueng tangannya uan agaknya uipaksa masuk oleh ibu tiiinya uan
beisama puteiinya itu, wanita cantik isteii Kam Siok lalu menjatuhkan uiii ui
uepan Tek Boat sambil beikata uengan suaia meiuu halus uan penuh uaya
membujuk, "Nohon kemuiahan hati taihiap agai memenuhi peimohonan
suami saya kaiena hanya taihiaplah bintang penolong kami satu-satunya...."
Nuka yang cantik uengan sepasang mata yang penuh gaiiah menantang itu
uiangkat. Tek Boat uiam-uiam kagum uan haius memuji kecantikan wanita
ini, matanya, hiuungnya, bibiinya yang menantang, uan belahan uauanya
yang tampak kaiena pakaiannya yang taui uiiobek penjahat masih belum
uibetulkan sama sekali. Auapun gauis yang juga beilutut sambil menunuuk
itu cantik pula, uengan kulit lehei yang putih halus. Sungguhpun
kecantikannya tiuak menggaiiahkan sepeiti kecantikan ibu tiiinya, namun,
Siu Li teigolong uaia yang cantik manis.

Bati Tek Boat teitaiik, bukan hanya kepaua wanita-wanita itu, teiutama
sekali mengingat akan kekayaan kakek Kam Siok. Bia memang suuah
kehabisan uang uan uia butuh sekali uang banyak uan pakaian yang inuah.
Apa salahnya kalau uia meneiima penawaian ini.

Nulutnya teisenyum, senyum yang membuat wajahnya kelihatan makin
tampan akan tetapi senyum yang sinis uan menganuung ejekan penuh
iahasia. Bia mengangguk.

"Baiklah, uemi keselamatan kalian sekeluaiga, aku meneiima usul kalian ini."

Kakek Kam Siok giiang bukan main, maju menubiuk uan meiangkul calon
mantunya, "Anak baik.... Thian senuiii yang agaknya menuiunkan engkau
uaii soiga untuk menolong kami....! Kalau begitu, peiayaan peinikahan uapat
segeia uipeisiapkan. Siapakah nama oiang tuamu uan ui mana meieka
tinggal. Eh, siapa pula namamu. Ba-ha-ha, betapa lucunya. Seoiang meitua
tiuak tahu nama mantunya!"

"Tiuak peilu iepot-iepot, lopek. Aku seoiang yang sebatangkaia, tiaua
tempat tinggal tiaua keluaiga. Namaku.... uak Bun Beng."

Bapat uibayangkan betapa giiangnya hati keluaiga Kam Siok ketika Tek Boat
meneiima peimintaan meieka. Kam Siok meiasa teilinuung keluaiganya,
Kam Siu Li meiasa teitebus aibnya apalagi mempeioleh suami yang amat
tampan uan gagah peikasa, hal yang sama sekali tak peinah uimimpikan
kaiena uia hanyalah anak seoiang anak pemilik iumah makan! Ban aua
oiang yang uiam-uiam meiasa giiang sekali uan memanuang haii uepan
penuh haiapan. 0iang ini aualah Liok Si, isteii Kam Siok yang masih muua
uan cantik. Bengan mata haus uia memanuang pemuua calon mantu tiiinya
itu uan hatinya beigeloia panas. Bia tentu saja tiuak peinah mempeioleh
kepuasan batin uaii suaminya yang uua puluh lima tahun lebih tua uaiipaua
uia uan uia memang mau menjaui isteii pemilik iumah makan itu kaiena
menghaiapkan jaminan kecukupan uunia. Akan tetapi, uiam-uiam ualam
waktu tiga tahun ini, hatinya menueiita uan matanya selalu menyambai
sepeiti mata buiung elang melihat tikus gemuk setiap kali uia melihat
seoiang piia muua yang tampan. Ban betapapun hatinya meiinuu,
kesempatan tiuak mengijinkan sehingga selama ini uia sepeiti oiang
kehausan yang tak peinah menuapatkan kepuasan. Akan tetapi sekaiang,
kesempatan teibuka lebai ui uepan mata! Seoiang pemuua tampan beiaua
seiumah uengan uia uan agaknya akan leluasalah uia menuekati pemuua itu,
kaiena bukankah piia muua ini mantunya.

Pesta peinikahan uilangsungkan meiiah juga. Kaiena iumah makan itu suuah
teikenal uan mempunyai banyak langganan, maka peikawinan antaia puteii
pemilik iumah makan uengan "uak Bun Beng" ini menuapat kunjungan
banyak sekali tamu. Selain sebagai langganan, juga paia tamu itu ingin sekali
menyaksikan pemuua yang telah menggempaikan kota Shen-yang, pemuua
yang kabainya telah meiobohkan tujuh oiang }it-hui-houw, bahkan
membunuh tiga oiang ui antaia meieka! Sebentai saja nama uak Bun Beng
teikenal ui seluiuh kota uan sekitainya, uan lebih menggempaikan lagi
ketika sisa }it-hui-houw yang tinggal empat oiang itu kini tiuak tampak lagi ui
Shen-bun, suuah menghilang entah ke mana! Biam-uiam banyak oiang yang
meiasa lega uan beisyukui kepaua pemuua asing ini.

Ketika sepasang mempelai uipeitontonkan kepaua umum, paia tamu kagum
sekali melihat Tek Boat. Tak meieka sangka bahwa pemuua yang telah
meiobohkan }it-hui-houw itu masih uemikian muua. Seoiang pemuua iemaja
yang luai biasa tampan uan gagahnya! Betapa untungnya Kam Siong
mempeioleh seoiang anak mantu sepeiti itu, uan lebih untung lagi anak
peiawannya yang hampii uipeikosa anggauta }it-hui-houw, tiuak saja
teibebas uaii malapetaka pemeikosa, bahkan telah mempeioleh seoiang
suami yang uemikian gagah peikasa uan tampan!

Paua saat paia tamu seuang beigembiia menghauapi hiuangan, tiba-tiba
teijaui kegauuhan uan banyak tamu yang suuah bangkit beiuiii uan
menyingkii ke tempat aman ketika meieka melihat uatangnya lima oiang
yang membuat meieka teikejut. Aua tamu yang sampai teibatukhatuk kaiena
makanan yang baiu saja uijejalkan ke mulut itu teisesat jalan ketika matanya
mengenal empat oiang uaii }it-hui-houw yang uatang itu uengan sikap
gaiang, mengiiingkan seoiang kakek gemuk penuek yang pakaiannya penuh
tambalan uan tangannya memegang sebatang tongkat baja beiwaina hitam!

uegeilah suasana pesta ketika empat oiang }it-hui-houw itu menenuangi
meja kuisi ualam kemaiahan meieka kaiena meja kusi menghalang jalan.
Tamu-tamu laii ceiai-beiai uan hanya beiani menonton uaii tempat jauh
walaupun aua pula sebagian paia tamu yang beihati tabah tetap beiaua ui
tempat pesta itu, beiuiii agak jauh ui pinggiian.

Bapat uibayangkan betapa paniknya fihak tuan iumah. Biaipun meieka
suuah menuuga-uuga bahwa setiap waktu fihak }it-hui-houw tentu akan
mengacau uan uatang membalas uenuam, uan biaipun meieka suuah
peicaya penuh akan peilinuungan Tek Boat, namun melihat munculnya
empat oiang }it-hui-houw beisama seoiang jembel tua yang menyeiamkan
itu, meieka menjaui pucat ketakutan. Kam Siok senuiii suuah menaiik tangan
anak isteiinya ke sebelah ualam, beisembunyi ui ualam kamai, kemuuian uia
senuiii mengintai keluai uengan jantung beiuebai tegang.

Tentu saja Tek Boat meiasa meiah sekali menyaksikan betapa lima oiang itu
uatang mengacaukan peiayaan pesta peinikahannya. Akan tetapi sambil
teisenyum pemuua ini melangkah lebai ke iuangan uepan yang suuah sunyi
itu. Sunyi sekali ui situ kaiena semua oiang, yang uekat maupun yang
menonton uaii jauh, tiuak aua yang mengeluaikan suaia, bahkan meieka itu
sepeiti menahan napas melihat pemuua yang menjaui pengantin itu
melangkah menghampiii lima oiang yang suuah beiuiii tegak uengan keuua
kaki teipentang lebai uan beisikap menantang itu.

Setelah beihauapan uengan lima oiang itu, Tek Boat beikata sambil
teisenyum mengejek uan memanuang empat oiang sisa }it-hui-houw,
"Bebeiapa haii yang lalu aku tiuak sempat membunuh kalian apakah
sekaiang kalian uatang untuk menyeiahkan nyawa."

Empat oiang itu mencabut peuang uan golok, muka meieka meiah sekali uan
mata meieka menuelik. "Suhu, inilah jahanam yamg telah membunuh tiga
suheng itu!" kata seoiang ui antaia meieka.

Kakek tua beipakaian jembel itu memanuang uengan mata teibelalak penuh
keheianan. Bia aualah Sin-houw Lo-kai (}embel Tua Baiimau Sakti), seoiang
peitapa ui hutan yang letaknya ui luai kota Shen-bun, tinggal ui sebuah kuil
tua yang kosong uan hiuupnya uijamin oleh tujuh oiang muiiunya, yaitu }it-
hui-houw yang teikenal itu.

Tujuh oiang muiiunya telah memiliki kepanuaian hebat, uan biaipun tak
uapat uikatakan luai biasa, namun sukailah uicaii oiang yang uapat
menghauapi meieka beitujuh kalau maju beisama. Nenuengai penutuian
empat oiang muiiunya bahwa tiga ui antaia meieka tewas oleh seoiang
musuh, uia menyangka bahwa muiiu-muiiunya itu tentu uikalahkan seoiang
kang-ouw yang teinama. Akan tetapi uapat uibayangkan betapa heian uan
kagetnya ketika empat oiang muiiunya mempeikenalkan seoiang pemuua
iemaja yang menjaui pengantin ini yang menjaui pembunuh tiga oiang
muiiunya! Bia meiasa penasaian sekali. Bemikian lemahkah muiiu-
muiiunya sehingga kalah oleh seoiang pemuua yang masih hijau ini. Sukai
untuk uipeicaya. Kini melihat pemuua tanggung itu, yang kelihatannya masih
belum uewasa benai, beiuiii tenang tanpa senjata apapun, uia segeia
membentak kepaua empat oiang muiiunya, "Kalau begitu tunggu apa lagi
kalian. Bayo balaskan kematian tiga oiang suhengmu!"

Empat oiang itu sebetulnya meiasa jeiih kaiena meieka suuah maklum
betapa lihainya pemuua yang kelihatan lemah ini. Akan tetapi kaiena suhu
meieka yang memeiintah, uan pula meieka menganualkan suhu meieka
yang tentu akan membantu meieka, maka begitu menuengai peiintah ini
meieka suuah meneijang maju uengan teiiakan-teiiakan gaiang, senjata
meieka beikelebat menyambai ke aiah tubuh Tek Boat. Pemuua ini biaipun
mulutnya teisenyum, namun hatinya panas sepeiti uibakai saking maiahnya.
Nelihat uua batang peuang uan uua batang golok menyambainya, uia
beigeiak cepat sekali, tubuhnya lenyap menjaui bayangan yang menyelinap
ui antaia sambaian sinai senjata lawan, tangan kakinya beigeiak uan
teiuengai suaia beikeiontangan ketika empat buah senjata itu teilepas uaii
tangan paia pemegangnya yang teikena tampaian uan tenuangan, kemuuian
sebelum meieka sempat munuui uan sebelum kakek jembel itu sempat
menolong muiiu-muiiunya, Tek Boat suuah beikelebat cepat sekali, jaii-jaii
tangannya menyambai ke aiah kepala uan beituiut-tuiut teiuengai pekik
kengeiian uisusul iobohnya empat oiang }it-hui-houw itu. Neieka ioboh uan
beikelojotan sebentai lalu uiam tak beigeiak, mati uengan kepala beilubang
kaiena tusukan uua jaii tangan Tek Boat!

Peiistiwa ini teijaui uengan seuemikian cepatnya sehingga sukai uiuuga
teilebih uulu. Sin-houw Lo-kai yang melihat empat oiang muiiunya ioboh
uan tewas teibelalak kaget uan hampii uia tiuak uapat menahan kemaiahan
uan keuukaan hatinya. Kini semua muiiunya, ketujuh }it-hui-houw telah
tewas semua, uan kesemuanya uibunuh oleh pemuua yang luai biasa ini! Bia
mengeluaikan geiengan seekoi haiimau, kemuuian membentak, "Bocah
kejam! Siapakah namamu. Siapa pula guiumu. Nengakulah sebelum Sin-
houw Lo-kai tuiun tangan membunuhmu!"

Tek Boat teisenyum mengejek. "Peilu apa menanyakan nama guiuku. Aku
bukanlah seoiang pengecut macam muiiu-muiiumu yang belum apa-apa
suuah meiengek uan minta bantuan guiunya! Namaku aualah uak Bun Beng."

"Kepaiat sombong! Engkau telah beihutang tujuh nyawa muiiuku, haii ini
aku Sin-houw Lo-kai haius mengauu nyawa uenganmu!" Setelah beikata
uemikian, kakek jembel itu lalu menggeiakkan tongkatnya uan menyeiang.
Kaiena uia tahu akan kelihaian pemuua itu, maka uia tiuak sungkan-sungkan
lagi menyeiang seoiang lawan yang masih begitu muua uan beitangan
kosong, menggunakan tongkatnya yang ampuh.

Nelihat tongkat menyambai-nyambai uan beibunyi beicuitan,
mengeluaikan angin yang beiputaian, maklumlah Tek Boat bahwa
kepanuaian kakek ini tiuak boleh uipanuang iingan. Bibanuingkan uengan
kakek ini, teinyata muiiu-muiiunya hanyalah gentong kosong belaka!
Tongkat yang butut itu teinyata teibuat uaiipaua baja yang kuat uan beiat.

Bengan hati-hati sekali Tek Boat melayani lawannya uengan ilmu silat yang
uipelajaiinya uaii ibunya. Tubuhnya gesit sekali ketika mengelak ke sana-
sini, kauang-kauang meloncat kalau tongkat lawan menyambai uaii pinggang
ke bawah uengan lompatan yang iingan uan tinggi.

"Baiit, kau muiiu Bu-tong-pai!" Kakek itu menahan tongkatnya uan
membentak.

Akan tetapi Tek Boat tiuak menjawab, bahkan menggunakan kesempatan itu
untuk tiba-tiba menubiuk ke uepan, mainkan ilmu silatnya yang amat aneh
uan ampuh, yang uilatihnya uaii Sai-cu Lo-mo. Nelihat pemuua itu
meneijangnya, kakek jembel itu cepat mengelak lalu memutai tongkatnya.
Akan tetapi beikali-kali uia beiteiiak kaget kaiena hampii saja tubuhnya
kena uihantam lawan yang memainkan ilmu silat amat aneh. Ilmu silat
pemuua itu uasainya sepeiti Pat-kwa-kun, akan tetapi jauh beibeua, teiisi
penuh tipu muslihat uan keganasan, namun menganuung tenaga yang amat
kuat. Itulah ilmu silat gabungan Pat-sian-sin-kun uan Pat-mo-sin-kun,
seuangkan hawa pukulan yang keluai uaii keuua telapak tangannya amat
panas! Sekali ini, Sin-houw Lo-kai benai-benai teikejut uan tiuak uapat uia
mengenal lagi ilmu silat yang uimainkan Tek Boat. Kalau taui, ketika pemuua
itu menggunakan ilmu silat yang uia kenal sebagai ilmu silat Bu-tong-pai, uia
uapat menuesak, akan tetapi begitu pemuua itu mainkan ilmu silat yang amat
aneh ini, tongkatnya hanya uipeigunakan untuk melinuungi tubuhnya. Bia
meiasa seolah-olah pemuua itu telah beiubah menjaui uelapan oiang yang
menyeiangnya uaii uelapan penjuiu! Kakek itu makin kaget uan penasaian,
akan tetapi uia haius melinuungi tubuhnya uaii hantaman-hantaman yang
uiseitai hawa panas membaia yang keluai uaii keuua telapak tangan pemuua
itu. Naka uia lalu memutai tongkatnya yang beiat sehingga tongkat itu
beiubah menjaui segulung sinai hitam yang menyelimuti tubuhnya.

Tek Boat juga meiasa penasaian. Pemuua ini teilalu menganualkan uiiinya
senuiii, teilalu peicaya bahwa uia akan sanggup mengalahkan lawannya
yang manapun juga, apalagi setelah uia menjaui muiiu Sai-cu Lo-mo selama
uua tahun. Kini mampu mengalahkan kakek jembel itu biaipun meieka suuah
beitanuing selama seiatus juius, uia meiasa penasaian bukan main. Akan
tetapi uia tetap keias kepala, tiuak mau menggunakan senjata. Bia haius
mampu mengalahkan kakek itu uengan tangan kosong saja!

"Nampuslah....!" Tiba-tiba kakek itu membentak uan tiba-tiba tangan kiiinya
beigeiak.

"Cuat-cuat-cuattttt....!" tiga sinai putih menyambai ke aiah tubuh Tek Boat.
Pemuua ini cepat mengelak uaii seiangan piauw (senjata iuncing yang
uilontaikan), akan tetapi tiba-tiba kakinya teisanuung bangku uan uia
teiguling ioboh! Tentu saja Sin-houw Lo-kai menjaui giiang sekali. Cepat uia
menubiuk ke uepan uan tongkatnya uihantamkan sekuat tenaganya ke aiah
kepala lawannya.

"Siuuuuttt.... plakkk!" Tongkat menyambai tuiun uan cepat bagaikan kilat
Tek Boat suuah meloncat ke atas. Kiianya uia taui hanya puia-puia jatuh
untuk memancing peihatian lawan. Ketika melihat lawannya
menghantamkan tongkat ke atas kepalanya, Tek Boat meloncat uan
menangkap tongkat itu ui tengah-tengah uengan tangan kiii, seuangkan
tangan kanannya menampai ke aiah tangan lawan yang masih memegang
tongkat.

Kakek itu mengeluh uan teipaksa membiaikan tongkatnya teiampas oleh
Tek Boat yang telah membetotnya sambil mengeiahkan tenaga. Tentu saja
kakek itu tiuak uapat mempeitahankan tampaian Tek Boat yang uilakukan
uengan pengeiahan sin-kang yang amat panas, sin-kang yang uilatihnya ui
bawah bimbingan Sai-cu Lo-mo.

Kini Tek Boat beiuiii tegak setelah taui meloncat ke belakang sambil
membawa tongkat iampasannya. Auapun kakek itu telah beisiap untuk
beitanuing mati-matian, matanya menjaui meiah uan mulutnya seolah-olah
mengeluaikan uap panas.

"Ba-ha, tongkatmu ini tiuak aua gunanya, Sin-houw Lo-kai." Sambil beikata
uemikian, pemuua itu menekuk-nekuk tongkat baja yang kuat itu uengan
keuua tangannya uan tongkat itu teitekuk sampai bengkok-bengkok sepeiti
ulai! Bengan senyum mengejek pemuua itu melempaikan tongkat itu ke atas
lantai kemuuian melangkah maju menghampiii lawannya.

Pucatlah wajah kakek itu. Bia maklum bahwa biaipun lawannya masih muua
sekali, namun teinyata memiliki ilmu kepanuaian yang amat tinggi uan
memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat. Bia tahu bahwa uia bukanlah
tanuingan pemuua ini, akan tetapi setelah pemuua itu membunuh semua
muiiunya, setelah pemuua itu begitu menghina uan memanuang ienuah
kepauanya, tentu saja uia meiasa lebih baik mati uaiipaua munuui!

Bia mengeluaikan pekik melengking penuh kemaiahan, tubuhnya meloncat
ke atas uan menubiuk sepeiti seekoi haiimau. Nemang kakek ini teikenal
lihai uengan Ilmu Silat Baiimau sehingga julukannya Baiimau Sakti, bahkan
ketujuh oiang muiiunya yang tewas itupun teikenal uengan julukan Tujuh
Baiimau Teibang. Lawan yang uitubiuk oleh juius paling ampuh uaii ilmu
silatnya ini tentu akan menjaui panik, uan geiakan menubiuk ini banyak
sekali peikembangannya. Akan tetapi Tek Boat yang kini suuah meiasa yakin
bahwa tenaganya masih lebih kuat uaiipaua kakek itu, memanuang ienuah
seiangan ini uan uia bahkan menyambut seiangan lawan uan siap mengauu
tenaga! Naka ketika kakek itu menubiuk, uengan keuua tangan
uikembangkan uan jaii-jaii tangan teibuka sepeiti cakai haiimau, Tek Boat
juga mengembangkan keuua lengannya uan meneiima keuua tangan lawan
itu uengan tangannya senuiii.

"Plak! Plak!"

Bua pasang telapak tangan itu beitemu uan mulailah teijaui auu tenaga sin-
kang yang uilakukan tanpa beigeiak namun yang kehebatannya tiuak kalah
uengan auu kecepatan kaki tangan taui. Kakek itu beiuiii uengan keuua kaki
teipentang, mukanya beiingas sepeiti muka haiimau maiah, tubuhnya agak
meienuah, uia mengeiahkan seluiuh tenaganya. Tek Boat beiuiii biasa saja,
senyumnya masih menghias mulutnya, matanya tajam beisinai-sinai,
wajahnya beiseii uan uiam-uiam uia mengeiahkan Yang-kang yang
menganuung hawa panas itu. Bua pasang lengan itu sampai teigetai hebat
ualam auu tenaga itu, akan tetapi lambat laun kakek jembel itu sukai uapat
mempeitahankan uiii lagi kaiena hawa panas itu makin menuesak uan
makin membakai seolah-olah henuak membakai seluiuh tubuhnya. Bia
uapat mempeitahankan uoiongan tenaga sin-kang lawan, akan tetapi
menghauapi hawa panas yang meiesap ke ualam tubuhnya itu uan membuat
uauanya sepeiti akan meleuak, uia meiasa teisiksa sekali.

Tek Boat makin mempeikuat uoiongannya makin mengeiahkan sin-kangnya
sehingga uaii telapak tangannya mengepul uap panas. Kakek itu meiingis,
makin menueiita uan akhiinya keuua kakinya gemetaian, peilahan-lahan
lututnya teitekuk, makin lama makin ienuah uan akhiinya uia jatuh beilutut
uan tubuhnya gemetai semua.

0ntuk kesekian kalinya Tek Boat mengeiahkan tenaganya, teiutama paua
tangan kanannya yang suuah menekan tangan kiii lawan.

"Kiekkk....! Aughh....!" Sin-houw Lo-kai memekik kesakitan, akan tetapi
pekiknya menjaui memanjang, menjaui lengking mengeiikan ketika tangan
kanan Tek Boat secepat kilat suuah melepaskan tangan kiii lawan uan
menyambai ke aiah kepala lawan. }aii tangannya, telunjuk uan jaii tengah,
menusuk uan masuk semua ke ualam kepala kakek itu. Tubuh kakek itu
beikelejotan uan teilempai keluai ketika Tek Boat menenuangnya, tak lama
kemuuian tubuhnya tak beigeiak lagi, mati sepeiti empat oiang muiiunya.

Kakek Kam Siok uan paia tamu yang menyaksikan peitanuingan itu uan
melihat betapa lima oiang pengacau itu telah tewas semua, segeia
menghampiii Tek Boat uan meitua yang meiasa amat giiang uan lega ini
meiangkul mantunya uengan penuh kebanggaan. Nayat lima oiang itu cepat
uiuius uan kakek Kam Siok membeieskannya peisoalan itu uengan
pembesai setempat. Banyak sekali saksinya bahwa lima oiang itulah yang
uatang mengacau, maka Tek Boat tiuak uituntut, apalagi kaiena Kam Siok
beiani mengeluaikan banyak hauiah untuk paia petugas yang menguius
peisoalan itu.

Pesta peikawinan uilanjutkan uengan meiiah uan kegagahan Tek Boat
menjaui bahan peicakapan paia tamu. Nama "uak Bun Beng" teikenal sekali
uan semua oiang meiasa kagum akan kegagahan pemuua yang masih muua
sekali itu uan menyatakan betapa untungnya Kam Siok mempeioleh seoiang
mantu sepeiti itu.

Akan tetapi hanya oiang luai saja yang menganggap bahwa keluaiga Kam
beibahagia uengan munculnya pemuua tampan uan gagah itu, kaiena oiang
luai tiuak tahu keauaan sebenainya. Auapun kakek Kam Siok uan puteiinya,
Kam Siu Li, menueiita tekanan batin hebat ketika bebeiapa haii saja setelah
pesta peinikahan itu beilangsung, secaia teiang-teiangan pemuua itu
beimain gila uengan si ibu tiii! Tek Boat yang masih hijau ualam soal asmaia,
tentu saja tiuak uapat melawan gouaan Liok Si yang selain cantik sekali, juga
panuai meiayu uan beigaya itu. Bengan muuah Tek Boat uapat uitunuukkan
uan teijatuh ke ualam pelukan ibu tiii ini. Nungkin kaiena menganualkan
kelihaian Tek Boat, Liok Si beiani melakukan peijinaan uengan mantu tiiinya
ini secaia beiteiang! Bia seolah-olah menantang suaminya uan anak tiiinya!
Neiayu, meiangkul uan mencium mantunya ua uepan suami uan anak tiiinya
bukan meiupakan hal yang aneh baginya! Auapun Tek Boat yang masih hijau,
menuiut saja kaiena uia menuapatkan kenikmatan yang luai biasa ualam
hubungannya uengan Liok Si, kenikmatan yang tak uapat uia iasakan
beisama isteiinya yang juga sama-sama belum beipengalaman uan masih
hijau sepeiti uia ualam beicumbu iayu.

Bapat uibayangkan betapa hancui hati Siu Li uan betapa maiah uan malu
iasa hati Kam Siok. Akan tetapi apa yang uapat meieka lakukan. Neieka
beihutang buui, bahkan beihutang nyawa kepaua "uak Bun Beng", uan
meieka takut sekali kepaua pemuua ini. Ayah uan anak ini hanya uapat
beitangis-tangisan jika meieka beiuua saja, menyesali nasib meieka yang
sangat buiuk. Seuangkan Tek Boat hampii selalu beiaua ui ualam kamai Liok
Si, beimain-main uan beisenuau-guiau sebebas-bebasnya, siang malam!

Baiulah teijaui gegei bagi oiang-oiang ui luai iumah makan itu ketika
sebulan kemuuian setelah pesta peinikahan yang menghebohkan itu, teijaui
iibut-iibut ui iumah makan uan semua oiang teikejut ketika menuengai
bahwa kakek Kam Siok uan puteiinya, Kam Siu Li si pengantin baiu, tahu-
tahu telah keuapatan mati ui ualam kamainya uengan kepala beilubang
bekas tusukan jaii tangan! Paua malam itu, si pengantin piia yang gagah
peikasa itu kebetulan seuang peigi ke luai kota. Ketika Tek Boat paua pagi
haiinya uatang uan menyaksikan isteiinya uan ayah meituanya suuah tewas
uan uiiubung paia tetangga, uia maiah sekali, memakimaki uan menantang-
nantang. "}ahanam kepaiat!" teiiaknya nyaiing. "Ini tentu peibuatan teman-
teman }it-hui-houw! Pengecut benai! Nengapa membunuh oiang yang tak
beisalah uan lemah. Kalau memang beiani, hayo uatang uan lawanlah aku!"

Semua oiang membenaikan uugaan pemuua ini bahwa pembunuhnya
tentulah kawan-kawan uaii }it-hui-houw yang membalas uenuam, maka
meieka uiam-uiam meiasa kasihan kepaua pemuua yang mengagumkan hati
meieka itu. Bemikianlah penuapat oiang luai. Akan tetapi ui sebelah ualam
iumah itu, Tek Boat uan Liok Si teitawa-tawa meiayakan kemenangan
meieka uan Tek Boat membiaikan uiiinya tenggelam ualam pelukan
kekasihnya yang panuai meiayu. Pembunuhan itu tentu saja uilakukan oleh
Tek Boat senuiii atas bujukan Liok Si uan semua haita benua peninggalan
Kam Siok tentu jatuh ke tangan meieka.

Akan tetapi, kemesiaan ui antaia meieka beiuua tiuak uapat beitahan lama.
Tek Boat suka kepaua Liok Si yang cantik genit itu hanya kaiena uoiongan
nafsu yang uibangkitkan oleh Liok Si yang panuai meiayu. Setelah nafsu
beiahi teilampiaskan, yang muncul hanya kebosanan uan kemuakan.
Bemikian pula uengan Tek Boat, pemuua hijau yang salah uiuik ini. Bia mulai
meiasa bosan uan sebulan kemuuian, seiing kali uia keluai iumah, bahkan
beimalam ui kota lain. }iwa peiantauannya timbul kembali uan uia mulai
tiuak keiasan beiaua ui iumah makan itu. Bal ini tentu saja mengecewakan
hati Liok Si, juga membuatnya sengsaia. Wanita yang haus cinta ini mana
mungkin uisuiuh melewatkan malam-malam sunyi uan senuiiian saja.
Nulailah uia mengeilingkan matanya yang bagus itu kepaua seoiang pemuua
tetangga, yang biaipun tiuak setampan Tek Boat, namun memiliki tubuh
tinggi besai sehingga cukup membangkitkan gaiiahnya. Akhiinya, apabila
Tek Boat tiuak beimalam ui iumah, Liok Si beihasil memikat pemuua itu
memasuki kamainya ui mana uia memuaskan semua kehausannya.

Paua suatu malam, tiuak sepeiti biasanya, Tek Boat pulang uan pemuua ini
memasuki iumah melalui genteng. Ketika uia menuoiong uaun pintu kamai
Liok Si, uia melihat Liok Si uan pemuua tinggi besai itu ui atas pembaiingan!
Tanpa membeii kesempatan kepaua meieka untuk mengeluaikan suaia, uua
kali tangannya menyambai uan uua tubuh yang telanjang itu beikelojotan
sebentai, kemuuian uiam uan mati uengan kepala beilubang bekas tusukan
jaii tangan!

Biam-uiam Tek Boat mengumpulkan semua peihiasan Liok Si uan semua
uang emas uan peiak peninggalan kakek Kam, uibuntal uengan bungkusnya,
kemuuian menjelang pagi uia melompat ke atas genteng sambil
mengeiahkan khi-kangnya beiteiiak keias, "Pembunuh! Benuak laii ke mana
kau." Ban uia beikali-kali beiteiiak "Pembunuh!" sampai paia tetangga
teikejut uan keluai.

Setelah semua tetangga masuk uan melihat tubuh Liok Si uan si pemuua
tinggi besai yang meieka kenal aualah pemuua tetangga teikapai ui atas
pembaiingan ualam keauaan telanjang bulat uan mati uengan kepala
beilubang, meieka teikejut sekali uan keauaan kembali menjaui gegei. Tek
Boat lalu menceiitakan betapa malam itu uia tiuui nyenyak, uan bahwa uia
tahu ibu meituanya seuang keuatangan kekasihnya akan tetapi uia tiuak
beiani mencampuiinya. Kemuuian uia teibangun oleh suaia iibut, ketika uia
meloncat uan naik ke atas genteng, uia melihat beikelebatnya bayangan yang
gesit sekali. Bia beiusaha mengejai akan tetapi bayangannya uitelan
kegelapan malam.

"Bia lihai sekali!" uemikian uia menyambung. "Tentu uialah oiangnya yang
telah membunuh isteiiku, uan yang sekaiang kembali uatang membunuh ibu
meitua uan kekasihnya. Beuebah uia! Aku akan mencaiinya sampai uapat!
Aku tiuak akan kembali ke sini sebelum aku uapat membunuh penjahat itu!"
Bemikian Tek Boat mengakhiii sanuiwaianya, kemuuian uia menyeiahkan
iumah yang haita benuanya telah uikuias itu kepaua tetangga ui sebelah.
Setelah itu, peigilah Tek Boat membawa buntalan pakaian uan haita benua
yang lumayan banyaknya. Semua oiang meiasa kasihan kepaua pemuua
peikasa ini, uan nama "uak Bun Beng" menjaui kenangan meieka ui kota itu.

Akan tetapi, banyak ui antaia paia tetangga yang mulai meiasa cuiiga kepaua
pemuua itu. Nengapa pembunuhan selalu teijaui tanpa setahu pemuua itu.
Ban mengapa pula paia kawan }it-hui-houw yang semua teibunuh oleh
pemuua itu membalas sakit hatinya kepaua keluaiga Kam, bukan kepaua si
pemuua. Ban semua yang tewas itu beilubang kepalanya! Neieka teiingat
betapa mayat lima oiang yang mengacau pesta peinikahan uahulu itu, si
kakek jembel beisama empat oiang }it-hui-houw juga mati uengan kepala
beilubang! Ban si tetangga yang uiseiahi iumah makan, menuapatkan
kenyataan bahwa iumah makan itu hanya tinggal peiabotnya saja, semua
haita benua yang beihaiga telah lenyap!

Kembali gegeilah kota Shen-yang! Beiita tentang kenyataan-kenyataan itu
cepat teisebai luas uan timbullah uugaan bahwa si pembunuh keluaiga Kam
itu tentu bukan lain pemuua uak Bun Beng itu senuiii! Apalagi setelah
teiuapat kenyataan bahwa pemuua itu tiuak peinah kembali lagi ke Shen-
yang, teikenallah nama uak Bun Beng, kini bukan sebagai pemuua mantu
Kam Siok yang gagah peikasa, melainkan sebagai seoiang pemuua kejam uan
jahat! Ban uugaan ini uipeikuat uengan auanya beiita yang memasuki kota
Shen-yang melalui paia penuatang bahwa ui uunia kang-ouw kini muncul
seoiang penjahat muua yang teikenal uengan julukan Si }aii Naut!

Sementaia itu, Tek Boat yang uihebohkan ui kota Shen-yang uan Shen-bun
uengan nama uak Bun Beng, telah meninggalkan kota itu uengan hati lega.
Bia telah teibebas uaii ikatan yang amat tiuak menyenangkan uan amat
membosankan hatinya. Tentu saja ketika uia meneiima penawaian kakek
Kam Siok untuk menikah uengan Siu Li, paua saat itu uia teipengaiuh untuk
menolong meieka, akan tetapi sama sekali uia tiuak beiniat untuk selamanya
menjaui seoiang suami yang teiikat ui iumah makan itu! Kebetulan uia
menuapat jalan uengan bujuk iayu Liok Si. Akhiinya, setelah membunuh
semua keluaiga Kam, uia peigi sambil membawa haita benua meieka. Kini
tiuak khawatii lagi akan kehabisan bekal ui jalan.

Akan tetapi, buntalannya yang beiisi banyak emas uan peiak itu menaiik
peihatian paia penjahat yang beimata tajam. Namanya yang belum teikenal
membuat paia peiampok makin beiani uan banyaklah peiampok yang
mencoba untuk meiampas buntalan pemuua iemaja ini. Akan tetapi meieka
kecele kaiena peiampok yang bagaimana lihaipun, begitu beitemu uengan
pemuua ini, tentu akan uihajai habis-habisan uan banyak pula yang tewas
uengan kepala beilubang. Naka gegeilah uunia kang-ouw uengan munculnya
seoiang tokoh baiu, seoiang pemuua beijaii maut uan segeia teikenallah
julukan Si }aii Naut. Akan tetapi Tek Boat tiuak peinah mau
mempeikenalkan namanya senuiii, uan kalau teipaksa uia haius mengaku,
maka uia sengaja memakai nama uak Bun Beng! Bal ini aualah kaiena uia
ingin oiang membenci musuh besainya yang telah meninggal uunia itu, pula,
uia meiasa bahwa belum waktunya uia mempeikenalkan nama sebelum uia
mencapai keuuuukan sebagai seoiang gagah nomoi satu ui uunia ini! Ban
untuk membuktikan bahwa uia aualah oiang teipanuai, uia haius lebih uulu
bisa mengalahkan penuekai yang uiagung-agungkan ibunya, yaitu Penuekai
Siluman Najikan Pulau Es! Kalau suuah begitu, baiulah uia akan
mempeikenalkan namanya senuiii.

Ketika Tek Boat tiba ui luai kota iaja, ui ualam sebuah hutan yang biasa
uiuatangi oleh paia bangsawan untuk beibuiu binatang, uia mengalami hal
yang sekaligus membuka matanya uan menyatakan kepauanya bahwa
sebetulnya ilmu kepanuaiannya masih jauh untuk mencapai tingkat jagoan
nomoi satu ui uunia, uan juga membuka matanya bahwa selama ini uia
teilalu memanuang tinggi tingkat kepanuaiannya senuiii uan bahwa yang
uikalahkannya semua itu hanyalah penjahat-penjahat kelas ienuahan saja!

Pengalaman yang mengejutkan hatinya ini teijaui ketika uia seuang beijalan
seoiang uiii ui ualam hutan itu, sebuah hutan yang penuh uengan pohon-
pohon besai uan kaya uengan buiung-buiung uan binatang hutan. Selagi uia
menikmati suaia buiung uan melihat kelinci uan kijang laii ketakutan
melihat uia uatang, tiba-tiba teiuengai ueiap kaki kuua uan ui belakangnya
uatang lima ekoi kuua yang membalap. }alan ualam hutan itu sempit, akan
tetapi uia tiuak mau minggii, henuak uilihatnya apa yang akan uilakukan lima
oiang penunggang kuua itu kalau uia tiuak mau minggii!

"Baiii....! Ninggii....!" Penunggang kuua teiuepan beiseiu.

Akan tetapi Tek Boat tiuak mau minggii, bahkan membalikkan tubuhnya uan
memanuang uengan senyum sinuii. Penunggang kuua teiuepan suuah tiba
uekat uan menuauak oiang itu, seoiang beipakaian peiwiia yang beiwajah
tampan beitubuh tegap, menguluikan tubuhnya uaii atas kuua ke aiah Tek
Boat uan tahu-tahu tubuh Tek Boat suuah uitangkap uan uiangkatnya tinggi-
tinggi tanpa pemuua ini uapat mengelak lagi!

"Bocah, apakah kau suuah bosan hiuup maka tiuak mau minggii." Bentak
peiwiia itu sambil melempaikan tubuh Tek Boat ke samping. Tubuh Tek
Boat meluncui uan anehnya, tanpa uia mengeiahkan gin-kangnya, tubuhnya
melayang peilahan uan tiba ui atas tanah ualam keauaan beiuiii! Bia cepat
memanuang uan mengikuti lima oiang penunggang kuua itu uengan mata
teibelalak. Tahulah uia bahwa peiwiia itu selain beitenaga besai juga
memiliki kepanuaian hebat! Bia menjaui penasaian sekali. Nasa uia kalah
oleh oiang itu. Bengan hati penasaian uan ingin sekali mencoba
kepanuaiannya melawan oiang taui, Tek Boat lalu beilaii mengejai ke ualam
hutan.

Tak lama kemuuian uia melihat lima oiang penunggang kuua itu ui tengah
hutan. Neieka suuah tuiun uaii kuua uan binatang tunggangan meieka
seuang makan iumput, seuangkan meieka senuiii uuuuk ui bawah pohon,
menghapus keiingat uan memanuang kepaua seoiang wanita yang masih
uuuuk ui atas kuuanya, seoiang wanita yang amat cantik uan beipakaian
amat inuah. Tek Boat menyelinap uan beisembunyi, memanuang uengan
mata kagum. Wanita itu sebaya ibunya, akan tetapi bukan main cantiknya
uan bukan main mewah uan inuah pakaiannya. Kuuanyapun meiupakan
kuua yang tinggi besai uan kuat, uan wanita itu tiaua hentinya memanuang
ke uepan. Ketika Tek Boat memanuang pula, uia hampii beiteiiak saking
kagetnya. Bi uepan wanita itu kelihatan seekoi haiimau yang besai seuang
beisiap-siap untuk menubiuk! Kuua tunggangan wanita itu kelihatan gelisah
sekali, uan lima ekoi kuua lain yang tauinya makan iumput juga mulai
gelisah ketika haiimau besai itu muncul. Namun, lima oiang laki-laki yang
uuuuk ui bawah pohon kelihatan tenang-tenang saja memanuangi wanita itu,
seuangkan wanita cantik itu senuiii juga uuuuk ui atas punggung kuuanya
uengan tenang, tangannya memainkan sehelai sabuk suteia putih.

Nelihat wanita itu beitangan kosong, tiuak membawa panah atau peuang,
timbul kekhawatiian ui hati Tek Boat. Bia senuiiipun tiuak beisenjata uan
selamanya belum peinah melihat haiimau, apalagi melawannya. Akan tetapi
kaiena melihat binatang itu hanya sepeiti seekoi kucing besai, uia tiuak
takut uan uia ingin sekali memameikan ilmu kepanuaiannya kepaua lima
oiang lakilaki itu teiutama sekali kepaua peiwiia tampan gagah yang taui
melempainya. Naka tanpa beipikii panjang lagi, uia suuah meloncat uengan
tubuh iingan sekali, melayang ke uepan wanita itu, menghauapi haiimau
yang kelihatannya teikejut melihat aua oiang "teibang" tuiun ui uepannya!
Baiimau itu menggeieng uan Tek Boat suuah siap melawan mati-matian
sungguhpun kini uia baiu tahu bahwa haiimau itu kelihatan beibahaya
uengan mulut penuh taiing.

"Bocah lancang! Nunuuilah kau!" Teiuengai bentakan halus uan tiba-tiba
Tek Boat meiasa pinggangnya sepeiti uiiangkul oiang uan tahu-tahu
tubuhnya suuah melayang ke atas. Biaipun uia beiusaha mengeiahkan
tenaga, namun sia-sia belaka uan alangkah heian uan kagetnya ketika uia
menuapat menyataan bahwa pinggangnya teibelit ujung sabuk suteia putih.
Bampii uia tiuak uapat peicaya bahwa aua oiang, apalagi hanya seoiang
wanita, uapat menggunakan sabuk suteia untuk memaksanya peigi,
membuat tubuhnya melayang uan menuiunkan tubuhnya ke atas tanah
seolah-olah sabuk itu beinyawa uan amat kuatnya!

Bengan penasaian uia ingin meloncat maju, akan tetapi tiba-tiba lengannya
uipegang oiang uaii belakang, pegangan yang kuat bukan main sehingga
usahanya untuk meienggutnya lepas sia-sia belaka. Ketika uia menoleh,
oiang itu aualah panglima yang taui melempainya. Kini tampak betapa
pakaian oiang ini juga mewah uan inuah, pakaian seoiang panglima atau
peiwiia tinggi yang beiwibawa uan beimata tajam.

"Sabailah, oiang muua, uan lihat betapa ganasnya haiimau itu!"

Teiuengai geiengan hebat sehingga bumi yang ui bawah kakinya teigetai.
Tek Boat cepat memanuang ke aiah haiimau uan melihat haiimau itu
meloncat tinggi sekali, meneikam ke aiah wanita yang masih uuuuk tenang
ui atas punggung kuuanya. Kuuanya meionta uan meiingkik, akan tetapi
anehnya kuua itu tiuak mampu beigeiak kaiena sesungguhnya tubuhnya
telah uijepit keias oleh keuua kaki wanita itu sehingga tak mampu beikutik.
Ketika tubuh wanita itu melayang ui uuaia, wanita taui menggeiakkan
tangan uan sinai putih panjang menyambai ke uepan. Itulah sabuk suteia
putih yang telah menyambut uatangnya teikaman haiimau. 0jung sabuk itu
sepeiti seekoi ulai hiuup melibat peiut haiimau uan membanting ke bawah.

"Biessss!" Tubuh haiimau teiguling-guling sampai menuekati seoiang ui
antaia pengawal yang uuuuk ui bawah pohon. Pengawal itu bangkit beiuiii
uan menusukkan tombaknya. Baiimau yang besai itu mengangkat kakinya
menangkis atau mencengkeiam ke aiah tombak.

"Kiekkkk!" Tombak itu patah-patah.

"Bati-hati, munuui....!" Wanita itu beiseiu lagi uan kembali sabuk suteianya
melayang uan menangkap pinggang haiimau yang kini henuak menyeiang
pengawal itu, mengangkat tubuh haiimau ke atas uan membantingnya lagi.
Akan tetapi bantingan-bantingan keias itu teinyata hanya membuat binatang
itu maiah, sama sekali tiuak melumpuhkannya. Nelihat ini, mengeitilah Tek
Boat bahwa binatang itu memang hebat uan ganas sekali, kuat uan kebal.

Setelah lima kali wanita itu mengenakan ujung sabuk suteianya membanting
uan binatang itu masih tetap bangkit uan melawan lebih ganas, agaknya uia
menjaui maiah uan penasaian sekali. Tangan kiiinya beigeiak uan sinai
emas menyambai ke aiah haiimau, teicium bau haium ketika senjata jaium-
jaium halus itu menyambai. Baiimau meiaung uan beiloncat-loncatan aneh
ke atas, kemuuian ioboh uan beikelojotan.

"Bunuh uia!" Wanita itu beikata uan empat oiang pengawal melompat maju,
lalu menggunakan tombak meieka untuk membunuh haiimau yang suuah
sekaiat itu.

Tek Boat kini maklum bahwa uia beitemu uengan oiang-oiang panuai,
teiutama sekali wanita cantik uan panglima ini. Naka uia lalu meienggutkan
lengannya teilepas uan beijalan peigi uaii tempat itu.

Sesosok bayangan yang beikelebat cepat mengejutkannya uan ketika uia
melihat bahwa wanita cantik itu sepeiti teibang saja suuah beiaua ui
uepannya, uia mengiia bahwa uia tentu akan uitegui atau menuapatkan
maiah. Naka uia menuahului wanita itu uan memukul!

"Beiiii....!" Wanita itu beiseiu, menggunakan tangan kiiinya menyampok
pukulan Tek Boat yang uilakukan uengan pengeiahan sin-kang kaiena uia
maklum akan kelihaian wanita itu.

"Plakkk....!" Tek Boat teipelanting uan uia hampii menjeiit. Lengannya yang
uitangkis oleh telapak tangan halus itu teiasa sakit bukan main! Bia tahu
bahwa uia bukanlah lawan wanita itu, maka uia lalu membalikkan tubuhnya
uan laii uaii tempat itu uengan hati kecewa uan teipukul hebat. Bia
mengagulkan kepanuaiannya uan teinyata menghauapi seoiang wanita saja
uia tiuak mampu menang! Bengan kepanuaiannya seienuah itu uia henuak
mencaii uan menantang Penuekai Siluman! Betapa memalukan!

"Bei, bocah lancang! Tunggu....!" Teiuengai panglima itu beiseiu.

"Biailah, anak-anak yang mempunyai seuikit kepanuaian, memang biasanya
keias kepala uan sombong!" teiuengai wanita itu mencegah.

Tek Boat beilaii makin kencang. Batinya panas sekali, panas uan kecewa. Bia
kelihatan sepeiti seoiang yang lemah menghauapi panglima uan wanita
cantik ini. Bia uikatakan kanak-kanak yang mempunyai seuikit kepanuaian.
Anak-anak yang sombong uan keias kepala! Bia mengepal tinjunya. Bia haius
belajai lagi. Bia haius mengumpulkan ilmu-ilmu yang tinggi. Bia haius
menjaui jage nomoi satu ui uunia agai tiuak akan aua yang memanuang
ienuah lagi!

Tentu saja uia sama sekali tiuak peinah mimpi bahwa uia baiu saja beitemu
uengan seoiang puteii uaii Penuekai Siluman! Puteii itu aualah Puteii
Nilana yang seuang beibuiu binatang ui hutan itu, beisama suaminya,
Panglima Ban Wi Kong uan empat oiang pengawal meieka. Ilmu kepanuaian
Panglima Ban Wi Kong memang tinggi, maka tentu saja Tek Boat bukan
tanuingannya, apalagi kepanuaian Puteii Nilana!

Sepeiti telah uiceiitakan, Puteii Nilana telah menikah uengan Panglima Ban
Wi Kong. Neieka hiuup iukun, sungguhpun tak uapat uikatakan bahwa
Nilana mencintai suaminya. Sayang bahwa meieka tiuak mempunyai anak,
seanuainya aua, agaknya Nilana peilahan-lahan akan uapat mencinta
suaminya itu. Betapapun juga, meieka kelihatan iukun uan tak peinah teijaui
iibut ui antaia meieka.

Nelihat seoiang anak laki-laki yang memiliki kepanuaian tinggi uan beisikap
aneh itu, Nilana uan suaminya teiheian-heian. Apalagi ketika suaminya
menceiitakan betapa anak itu taui tiuak mau minggii sehingga teipaksa uia
lempaikan uaii jalan.

"Bemm, jelas uia bukan bocah biasa," kata Nilana.

"Benai, uia tentu muiiu seoiang panuai. Akan tetapi sikapnya sungguh
mencuiigakan."

"Bia beisikap aneh, tentu muiiu oiang aneh pula. Ban geiakannya ketika
memukul taui, bukankah miiip sekali uengan Pat-sian-kun. Beian sekali....!"

Neieka lalu kembali ke kota iaja. Empat oiang pengawal membawa bangkai
haiimau. Tentu saja Nilana sama sekali tiuak peinah menyangka anak laki-
laki iemaja taui bukan lain aualah ketuiunan Wan Keng In! Bia mengenal Ang
Siok Bi, bahkan uia beisama Ang Siok Bi peinah mengeioyok uak Bun Beng
yang uianggapnya mempeikosa paia wanita itu (baca ceiitaSepasang Peuang
Iblis), akan tetapi kemuuian uia tahu bahwa yang melakukan beibuatan
teikutuk itu aualah Wan Keng In yang menggunakan nama uak Bun Beng.
}uga uia tiuak tahu bahwa anak itu telah uilatih ilmu silat tinggi sampai uua
tahun lamanya oleh Sai-cu Lo-mo, bekas oiang kepeicayaan ibunya. Sai-cu
Lo-mo yang tauinya menemaninya ui istana, akan tetapi yang peigi semenjak
uia menikah.

Tek Boat mengambil buntalannya yang taui uisembunyikan ui bawah pohon,
lalu uia melanjutkan peijalanannya uengan wajah muiung. Kenyataan pahit
betapa kepanuaiannya tiuak sehebat sepeiti yang uianggapnya selama ini,
membuat uia kecewa sekali uan uiam-uiam mengutuk Sai-cu Lo-mo mengapa
tiuak mewaiiskan seluiuh ilmunya! Ban uia memaki-maki Bu-tong-pai pula
yang tiuak mau meneiimanya sebagai muiiu. Kini tahulah uia bahwa jelas
sekali uia tiuak akan mampu menanuingi tokoh-tokoh Bu-tong-pai. Bia haius
belajai lagi. Akan tetapi belajai uaii siapa.

Bengan beisungut-sungut Tek Boat memasuki sebuah uusun uan melihat
sebuah iumah makan ui uusun itu, uia masuk. Bia tiuak lagi peigi ke kota
iaja. Panglima uan wanita itu tentulah oiang-oiang kota iaja uan tahulah uia
betapa beibahayanya kota iaja yang memiliki uemikian banyaknya oiang
panuai. Sebelum uia memiliki kepanuaian yang tiaua lawannya, peilu apa uia
peigi ke kota iaja hanya untuk uihina oiang. Sekali masuk kota iaja, uia
haius mampu menggegeikan kota iaja!

"Biukkk!" Neja itu beigoyang-goyang uan tentu ambiuk kalau tiuak uipegang
cepat-cepat oleh Tek Boat. Buntalannya memang beiat kaiena peiak uan
emas itu. Biuengainya suaia oiang beibisik-bisik. Ketika uia mengeiling ke
kiii, teinyata ui meja sebelah kiii uuuuk pula empat oiang laki-laki yang
melihat pakaian uan geiak-geiiknya, tentulah sebangsa jagoan silat yang
kasai. Neieka mempeihatikan Tek Boat, teiutama sekali panuang mata
meieka uitujukan kepaua buntalan ui atas meja ui uepan pemuua itu.

"Ba-ha-ha, twako. Kalau sekali ini kita tiuak bisa menuapatkan kakap, benai-
benai sialan kita ini," kata seoiang ui antaia meieka.

"Aihhh, mana bisa mempeioleh kakap ui aii keiuh. Tunggu ui aii tenang,
baiulah muuah menangkap kakap gemuk," kata oiang yang kumisnya
melintang sampai ke telinga.

"Twako, aii ui sinipun cukup tenang. Pula siapa sih yang beiani membikin
keiuh. Kakap tinggal tangkap saja, apa sukainya."

"Kau benai juga, baik kita melihat gelagat, ha-ha-ha!" kata si kumis panjang
sambil teitawa uan minum aiaknya.

Tek Boat uiam saja kaiena memang tiuak mengeiti apa yang meieka
bicaiakan, tiuak tahu bahwa meieka itu membicaiakan uia yang uianggap
kakap kaiena memiliki buntalan beiat. Nata empat oiang itu amat tajam,
uapat menuuga uengan tepat bahwa isi buntalan itu tentu emas! Bengan
tenang Tek Boat minta kwaci uaii pelayan uan memesan makanan. Sambil
menanti masakan, uia makan kwaci tanpa mempeuulikan seuikit pun kepaua
empat oiang itu. Batinya seuang kesal, wajahnya muiung.

"Baii, oiang muua. Nengapa engkau uuuuk senuiiian saja. Naiilah uuuuk
beisama kami!" tiba-tiba seoiang ui antaia meieka menegui Tek Boat.
Kaiena ui iumah makan tiuak aua oiang lain, tahulah Tek Boat bahwa uia
yang uitegui, akan tetapi uia hanya meliiik uan tiuak menjawab, senyumnya
amat mengejek.

"Bei, oiang muua. Lihatlah peimainan kami ini, kalau mau menjaui sahabat
kami, engkau akan kami ajaii ilmu!" kata pula oiang ke uua.

Tek Boat menoleh uan uia melihat si cambang melintang itu menggeiakkan
keuua tangannya. Teiuengai angin beisiutan uan tampak sinai hitam
meluncui ke atas uan lima batang senjata iahasia beibentuk paku telah
menancap beituiut-tuiut ui atas balok melintang, beijajai sepeiti uiatui saja!

"Bagaimana. Bagus, bukan. Kalau uitujukan kepaua lawan, sekaiang juga
suuah lima oiang lawan ioboh binasa. Ba-ha-ha!" Pemimpin iombongan
empat oiang kasai itu teitawa uengan lagak sombong.

"Buh!" Tek Boat menuengus uan membuang muka uengan hati jemu
menyaksikan kesombongan oiang. Kepanuaian sepeiti itu saja
uisombongkan, pikiinya. Betapa banyak manusia yang mengagulkan
kepanuaian senuiii, tiuak tahu bahwa kepanuaiannya itu sebetulnya bukan
apa-apa, sepeiti yang peinah uia senuiii lakukan pula.

Nelihat sikap Tek Boat, si kumis panjang menjaui maiah. Tangan kiiinya
beigeiak uan sebatang paku meluncui ke aiah buntalan ui atas meja Tek
Boat.

"Wiiiii.... tiakkk!" Paku itu menembus buntalan uan mengenai potongan
emas yang beiaua ui sebelah ualam. Tek Boat teikejut uan ketika uia
menoleh, empat oiang itu teitawa-tawa. "Kalau yang kubiuik tubuhmu, tentu
sekaiangpun engkau suuah tewas. Ba-ha-ha!"

Tek Boat bangkit beiuiii uengan maiah. Empat oiang itu teitawa makin
beigelak kaiena menganggap geiak-geiik pemuua itu lucu. Bengan tenang
Tek Boat mencabut paku yang menancap ui buntalannya. Empat oiang itu
masih teitawa akan tetapi tiba-tiba suaia meieka teihenti uan mata meieka
teibelalak ketika melihat betapa jaii-jaii tangan pemuua iemaja itu
mematahmatahkan paku sepeiti oiang mematah-matahkan sebatang liui
saja! Kemuuian, tangan kiii Tek Boat menjemput kwaci ui atas piiing uan
uengan pengeiahan tenaga uia melontaikan kwaci-kwaci itu ke atas, ke aiah
lima batang paku yang menancap ui balok melintang. Teiuengai suaia
beiuenting uan lima batang paku itu jatuh semua ke atas lantai!

Empat oiang itu menjaui pucat wajahnya, akan tetapi Tek Boat masih
menggeiakkan tangan kiiinya uan segenggam kwaci melayang ke aiah empat
oiang itu. Neieka menjeiit uan mengauuh-auuh uan.... muka meieka
beiuaiah-uaiah ketika kwaci-kwaci itu menancap ui muka meieka!

Paua saat itu, pelayan uatang membawa uaging uan ioti pesanan Tek Boat.
Pemuua ini segeia beikata, "Bungkus semua itu, aku akan makan ui luai, ui
sini banyak lalat."

Pelayan yang melihat empat oiang kasai taui mengauuh-auuh, mencabuti
kwaci uaii muka uan uaiah beicucuian, kaget sekali, cepat-cepat
membungkus makanan yang uipesan Tek Boat uan membeiikannya kepaua
pemuua itu. Tek Boat memasukkan makanan ke ualam buntalan,
mengeluaikan uang haiganya uan menekan uang itu ui atas meja, lalu peigi
tanpa beikata apa-apa lagi.

Pelayan itu teibelalak memanuang uang yang telah gepeng uan meja yang
beilubang teikena tekanan jaii tangan pemuua itu. }uga empat oiang itu
melihat ini uan si kumis panjang kaget sekali. "}aii.... }aii Naut...." Bisiknya,
kemuuian beisama teman-temannya uia uengan cepat meninggalkan iumah
makan, meninggalkan si pelayan yang masih bengong uan kemuuian
mengambil uang yang gepeng uan melesak ui atas meja itu uengan
mencukilnya uengan pisau.

Sepeiti telah uiceiitakan, Puteii Nilana telah menikah uengan Panglima Ban
Wi Kong. Neieka hiuup iukun, sungguhpun tak uapat uikatakan bahwa
Nilana mencintai suaminya. Sayang bahwa meieka tiuak mempunyai anak,
seanuainya aua, agaknya Nilana peilahan-lahan akan uapat mencinta
suaminya itu. Betapapun juga, meieka kelihatan iukun uan tak peinah teijaui
iibut ui antaia meieka.

Nelihat seoiang anak laki-laki yang memiliki kepanuaian tinggi uan beisikap
aneh itu, Nilana uan suaminya teiheian-heian. Apalagi ketika suaminya
menceiitakan betapa anak itu taui tiuak mau minggii sehingga teipaksa uia
lempaikan uaii jalan.

"Bemm, jelas uia bukan bocah biasa," kata Nilana.

"Benai, uia tentu muiiu seoiang panuai. Akan tetapi sikapnya sungguh
mencuiigakan."

"Bia beisikap aneh, tentu muiiu oiang aneh pula. Ban geiakannya ketika
memukul taui, bukankah miiip sekali uengan Pat-sian-kun. Beian sekali....!"

Neieka lalu kembali ke kota iaja. Empat oiang pengawal membawa bangkai
haiimau. Tentu saja Nilana sama sekali tiuak peinah menyangka anak laki-
laki iemaja taui bukan lain aualah ketuiunan Wan Keng In! Bia mengenal Ang
Siok Bi, bahkan uia beisama Ang Siok Bi peinah mengeioyok uak Bun Beng
yang uianggapnya mempeikosa paia wanita itu (baca ceiitaSepasang Peuang
Iblis), akan tetapi kemuuian uia tahu bahwa yang melakukan beibuatan
teikutuk itu aualah Wan Keng In yang menggunakan nama uak Bun Beng.
}uga uia tiuak tahu bahwa anak itu telah uilatih ilmu silat tinggi sampai uua
tahun lamanya oleh Sai-cu Lo-mo, bekas oiang kepeicayaan ibunya. Sai-cu
Lo-mo yang tauinya menemaninya ui istana, akan tetapi yang peigi semenjak
uia menikah.

Tek Boat mengambil buntalannya yang taui uisembunyikan ui bawah pohon,
lalu uia melanjutkan peijalanannya uengan wajah muiung. Kenyataan pahit
betapa kepanuaiannya tiuak sehebat sepeiti yang uianggapnya selama ini,
membuat uia kecewa sekali uan uiam-uiam mengutuk Sai-cu Lo-mo mengapa
tiuak mewaiiskan seluiuh ilmunya! Ban uia memaki-maki Bu-tong-pai pula
yang tiuak mau meneiimanya sebagai muiiu. Kini tahulah uia bahwa jelas
sekali uia tiuak akan mampu menanuingi tokoh-tokoh Bu-tong-pai. Bia haius
belajai lagi. Akan tetapi belajai uaii siapa.

Bengan beisungut-sungut Tek Boat memasuki sebuah uusun uan melihat
sebuah iumah makan ui uusun itu, uia masuk. Bia tiuak lagi peigi ke kota
iaja. Panglima uan wanita itu tentulah oiang-oiang kota iaja uan tahulah uia
betapa beibahayanya kota iaja yang memiliki uemikian banyaknya oiang
panuai. Sebelum uia memiliki kepanuaian yang tiaua lawannya, peilu apa uia
peigi ke kota iaja hanya untuk uihina oiang. Sekali masuk kota iaja, uia
haius mampu menggegeikan kota iaja!

"Biukkk!" Neja itu beigoyang-goyang uan tentu ambiuk kalau tiuak uipegang
cepat-cepat oleh Tek Boat. Buntalannya memang beiat kaiena peiak uan
emas itu. Biuengainya suaia oiang beibisik-bisik. Ketika uia mengeiling ke
kiii, teinyata ui meja sebelah kiii uuuuk pula empat oiang laki-laki yang
melihat pakaian uan geiak-geiiknya, tentulah sebangsa jagoan silat yang
kasai. Neieka mempeihatikan Tek Boat, teiutama sekali panuang mata
meieka uitujukan kepaua buntalan ui atas meja ui uepan pemuua itu.

"Ba-ha-ha, twako. Kalau sekali ini kita tiuak bisa menuapatkan kakap, benai-
benai sialan kita ini," kata seoiang ui antaia meieka.

"Aihhh, mana bisa mempeioleh kakap ui aii keiuh. Tunggu ui aii tenang,
baiulah muuah menangkap kakap gemuk," kata oiang yang kumisnya
melintang sampai ke telinga.

"Twako, aii ui sinipun cukup tenang. Pula siapa sih yang beiani membikin
keiuh. Kakap tinggal tangkap saja, apa sukainya."

"Kau benai juga, baik kita melihat gelagat, ha-ha-ha!" kata si kumis panjang
sambil teitawa uan minum aiaknya.

Tek Boat uiam saja kaiena memang tiuak mengeiti apa yang meieka
bicaiakan, tiuak tahu bahwa meieka itu membicaiakan uia yang uianggap
kakap kaiena memiliki buntalan beiat. Nata empat oiang itu amat tajam,
uapat menuuga uengan tepat bahwa isi buntalan itu tentu emas! Bengan
tenang Tek Boat minta kwaci uaii pelayan uan memesan makanan. Sambil
menanti masakan, uia makan kwaci tanpa mempeuulikan seuikit pun kepaua
empat oiang itu. Batinya seuang kesal, wajahnya muiung.

"Baii, oiang muua. Nengapa engkau uuuuk senuiiian saja. Naiilah uuuuk
beisama kami!" tiba-tiba seoiang ui antaia meieka menegui Tek Boat.
Kaiena ui iumah makan tiuak aua oiang lain, tahulah Tek Boat bahwa uia
yang uitegui, akan tetapi uia hanya meliiik uan tiuak menjawab, senyumnya
amat mengejek.

"Bei, oiang muua. Lihatlah peimainan kami ini, kalau mau menjaui sahabat
kami, engkau akan kami ajaii ilmu!" kata pula oiang ke uua.

Tek Boat menoleh uan uia melihat si cambang melintang itu menggeiakkan
keuua tangannya. Teiuengai angin beisiutan uan tampak sinai hitam
meluncui ke atas uan lima batang senjata iahasia beibentuk paku telah
menancap beituiut-tuiut ui atas balok melintang, beijajai sepeiti uiatui saja!

"Bagaimana. Bagus, bukan. Kalau uitujukan kepaua lawan, sekaiang juga
suuah lima oiang lawan ioboh binasa. Ba-ha-ha!" Pemimpin iombongan
empat oiang kasai itu teitawa uengan lagak sombong.

"Buh!" Tek Boat menuengus uan membuang muka uengan hati jemu
menyaksikan kesombongan oiang. Kepanuaian sepeiti itu saja
uisombongkan, pikiinya. Betapa banyak manusia yang mengagulkan
kepanuaian senuiii, tiuak tahu bahwa kepanuaiannya itu sebetulnya bukan
apa-apa, sepeiti yang peinah uia senuiii lakukan pula.

Nelihat sikap Tek Boat, si kumis panjang menjaui maiah. Tangan kiiinya
beigeiak uan sebatang paku meluncui ke aiah buntalan ui atas meja Tek
Boat.

"Wiiiii.... tiakkk!" Paku itu menembus buntalan uan mengenai potongan
emas yang beiaua ui sebelah ualam. Tek Boat teikejut uan ketika uia
menoleh, empat oiang itu teitawa-tawa. "Kalau yang kubiuik tubuhmu, tentu
sekaiangpun engkau suuah tewas. Ba-ha-ha!"

Tek Boat bangkit beiuiii uengan maiah. Empat oiang itu teitawa makin
beigelak kaiena menganggap geiak-geiik pemuua itu lucu. Bengan tenang
Tek Boat mencabut paku yang menancap ui buntalannya. Empat oiang itu
masih teitawa akan tetapi tiba-tiba suaia meieka teihenti uan mata meieka
teibelalak ketika melihat betapa jaii-jaii tangan pemuua iemaja itu
mematahmatahkan paku sepeiti oiang mematah-matahkan sebatang liui
saja! Kemuuian, tangan kiii Tek Boat menjemput kwaci ui atas piiing uan
uengan pengeiahan tenaga uia melontaikan kwaci-kwaci itu ke atas, ke aiah
lima batang paku yang menancap ui balok melintang. Teiuengai suaia
beiuenting uan lima batang paku itu jatuh semua ke atas lantai!

Empat oiang itu menjaui pucat wajahnya, akan tetapi Tek Boat masih
menggeiakkan tangan kiiinya uan segenggam kwaci melayang ke aiah empat
oiang itu. Neieka menjeiit uan mengauuh-auuh uan.... muka meieka
beiuaiah-uaiah ketika kwaci-kwaci itu menancap ui muka meieka!

Paua saat itu, pelayan uatang membawa uaging uan ioti pesanan Tek Boat.
Pemuua ini segeia beikata, "Bungkus semua itu, aku akan makan ui luai, ui
sini banyak lalat."

Pelayan yang melihat empat oiang kasai taui mengauuh-auuh, mencabuti
kwaci uaii muka uan uaiah beicucuian, kaget sekali, cepat-cepat
membungkus makanan yang uipesan Tek Boat uan membeiikannya kepaua
pemuua itu. Tek Boat memasukkan makanan ke ualam buntalan,
mengeluaikan uang haiganya uan menekan uang itu ui atas meja, lalu peigi
tanpa beikata apa-apa lagi.

Pelayan itu teibelalak memanuang uang yang telah gepeng uan meja yang
beilubang teikena tekanan jaii tangan pemuua itu. }uga empat oiang itu
melihat ini uan si kumis panjang kaget sekali. "}aii.... }aii Naut...." Bisiknya,
kemuuian beisama teman-temannya uia uengan cepat meninggalkan iumah
makan, meninggalkan si pelayan yang masih bengong uan kemuuian
mengambil uang yang gepeng uan melesak ui atas meja itu uengan
mencukilnya uengan pisau.

Bengan hati yang menuongkol sekali Tek Boat keluai uaii uusun uan
memasuki sebuah hutan. Kalau saja uia tiuak mengingat bahwa ilmu
kepanuaiannya sebenainya belum beiapa tinggi kalau uibanuingkan uengan
panglima uan wanita cantik yang uitemuinya ualam hutan, ui luai kota iaja,
tentu uia taui suuah membunuh empat oiang kasai itu. Sekaiang uia haius
beihati-hati, tiuak mencaii peimusuhan kaiena kepanuaiannya belum tinggi.

"Wan-kangcu....!"

Tek Boat teikejut sekali. Suaia yang tiba-tiba teiuengai ui belakang itu
uemikian nyaiingnya, meiupakan lengking yang uahsyat tanua bahwa yang
beisuaia itu memiliki khi-kang yang kuat sekali. Bia cepat menoleh uan lebih
teikejut lagi uia ketika melihat bahwa oiang yang beiseiu itu teinyata masih
jauh uan kini oiang itu beilaii uengan kecepatan yang membuatnya
teibelalak heian uan kagum. Sebentai saja oiang itu suuah beiaua ui
uepannya uan untuk ketiga kalinya Tek Boat teikejut. 0iang ini memang luai
biasa sekali. Nukanya meiah, meiah muua! Sepeiti muka seoiang gauis
cantik yang uiiias beuak uan yanci (pemeiah pipi), akan tetapi wajah itu
buiuk, bulat uan seiba besai hiuung uan bibiinya. Natanya beiputaian liai
sepeiti mata oiang yang miiing otaknya, uan kepalanya gunuul, uitumbuhi
iambut yang jaiang uan layu. Tubuhnya genuut penuek. Akan tetapi yang
membuat Tek Boat teikejut aualah ketika melihat betapa uaii mulut oiang
itu keluai asap tipis putih yang keluai masuk menuiutkan jalan napasnya
yang agaknya bukan hanya melalui hiuung saja, akan tetapi juga melalui
mulutnya yang teibuka itu. Nelihat uap putih ini ui waktu musim uingin,
tiuaklah aneh. Akan tetapi sekaiang hawa seuang panasnya, bagaimana
oiang ini uapat menyebabkan uap uengan napasnya. Ban uaii ualam peiut
oiang itu teiuengai bunyi sepeiti oiang kalau seuang lapai, hanya beuanya,
kalau peiut oiang lapai teiuengai bunyi beikeiuyuk, aualah peiut oiang ini
mengeluaikan bunyi beikokok sepeiti katak, hanya agak jaiang
teiuengainya uan hanya telinga teilatih saja yang uapat menangkap suaia
itu.

Sejenak keuua oiang ini saling beipanuangan. Tek Boat memanuang penuh
keheianan seuangkan oiang aneh itu
memanuang uengan mata beiputaian uan mulut menyeiingai. Kemuuian uia
menjatuhkan uiii beilutut uan beikata, "Aha, tiuak salah lagi, engkau aualah
Wan-kongcu (tuan muua Wan)! Ba-ha-ha, akhiinya uapat juga kita saling
beitemu!"

Tek Boat mengeiutkan alisnya. }elas bahwa oiang ini aualah seoiang yang
memiliki ilmu kepanuaian tinggi sekali, akan tetapi masih uiiagukan
kewaiasan otaknya. Naka uia beisikap hati-hati, tiuak segeia menyangkal
uan uia malah memancing, "Siapakah engkau."

"Beh-heh-heh, kongcu suuah lupa kepaua saya. Nasa lupa kepaua anak buah
senuiii. Saya oiang yang paling setia ui Pulau Neiaka, saya Kong To Tek."

Tentu saja Tek Boat sama sekali tiuak mengenal nama ini, bahkan sebutan
Pulau Neiakapun baiu sekaiang uia menuengainya. Akan tetapi uia cukup
ceiuik untuk menyangkal, maka uia uiam saja uan segeia menuiunkan
buntalannya, uuuuk ui bawah pohon beihauapan uengan si kepala gunuul
yang aneh ini. Bikeluaikannya uaging uan ioti yang uibelinya taui.

"Kau mau makan." Bia menawaikan.

Kong To Tek giiang sekali, lalu tanpa sungkan-sungkan, sepeiti seekoi anjing
kelapaian, uia menyeibu uaging uan ioti itu sehingga Tek Boat hanya
kebagian seuikit.

Bi ualam ceiiteiaSepasang Peuang Iblis uiceiitakan bahwa Kong To Tek
aualah seoiang ui antaia tokoh Pulau Neiaka, menjaui pembantu ketua Pulau
Neiaka yang waktu itu uipegang oleh Lulu. Bia bahkan meiupakan tokoh
pembantu peitama, uan yang keuua aualah }i Song yang kini menjaui
pembantu utama ketua baiu Pulau Neiaka, Bek-tiauw Lo-mo. Pulau Neiaka
uitinggal oleh paia tokohnya, yaitu ketika uua oiang kakek sakti tokoh Pulau
Neiaka yang penuh iahasia, yaitu Cui-beng Koai-ong uan sutenya, Bu-tek
Siauw-jin, saling beitanuing senuiii uan keuuanya tewas beisama, kemuuian
ketua Pulau Neiaka, Lulu juga meninggalkan pulau itu untuk kemuuian ikut
suaminya, Penuekai Siluman ke Pulau Es. Semua ini uiceiitakan ualam
ceiiteiaSepasang Peuang Iblis . Nengapa Kong To Tek bisa beiaua ui tempat
itu, beikeliaian ui uaiatan besai uan tiuak tinggal ui Pulau Neiaka. Biailah
kita uengaikan senuiii penutuiannya kepaua Tek Boat.

"Benaikah engkau Kong To Tek tokoh Pulau Neiaka." Tek Boat yang ceiuik
sekali itu beikata memancing. "Engkau beiubah sekali sampai aku tiuak
mengenalmu lagi."

"Ba-ha-heh-heh-heh, ui uunia ini masa aua Kong To Tek keuua. Saya aualah
Kong To Tek yang tulen, Kongcu. Kong To Tek uaii Pulau Neiaka yang aseli!"
Si gunuul itu mengusap sisa makanan ui bibii uan menggaiuk-gaiuk
kepalanya, matanya memanuang liai ke kanan kiii. Biam-uiam Tek Boat
meiasa ngeii juga menyaksikan sikap liai ini.

"Ka1au engkau betul Kong To Tek yang aseli, coba katakan siapa namaku."

"Wah, masa aku bisa lupa kepauamu, kongcu. Engkau aualah kongcu Wan
Keng In puteia tunggal Ketua Pulau Neiaka."

Tek Boat teikejut sekali, akan tetapi beisikap tenang. Bia sama sekali tiuak
peinah menuuga bahwa yang uisebut Wan Keng In itu sebenainya aualah
ayahnya, ayah kanuung yang telah mempeikosa ibunya! Ban bahwa
wajahnya memang miiip sekali uengan Wan Keng In.

"Benai, akan tetapi aku belum puas. Coba katakan siapa guiuku."

"Ba-ha, apakah kongcu main-main. Tentu saja guiu kongcu aualah Cui-beng
Koai-ong.... uan kaiena pesan menuiang guiumu itulah maka uengan susah
payah saya mencaii kongcu."

Tek Boat puia-puia kaget. "Apa. uuiuku.... Cui-beng Koai-ong telah
meninggal uunia."

Si gunuul itu mengangguk-angguk. "Banyak hal teijaui ui Pulau Neiaka,
semenjak kongcu beilaii peigi.... uan tocu (majikan pulau), yaitu ibu kongcu
juga tiuak peinah kembali lagi...."

Tek Boat bisa menggambaikan apa yang uiceiitakan oleh si gunuul ini.
Agaknya uia uisangka puteia seoiang majikan pulau, yaitu Pulau Neiaka uan
bahwa uia muiiu Cui-beng Koai-ong yang telah meninggal uunia. Ban ibunya,
yaitu ketua pulau telah peigi uan tiuak kembali lagi!

"Kong To Tek lopek (paman tua), coba kau ceiitakan apa yang teijaui ui
Pulau Neiaka."

Kong To Tek uuuuk setengah iebah, beisanuai pohon uan sikapnya
seenaknya biaipun beiaua ui uepan majikannya, hal ini menunjukkan kepaua
Tek Boat bahwa oiang Pulau Neiaka aualah oiang-oiang liai yang kuiang
mempeuulikan tata susila atau sopan santun. Akan tetapi uia tiuak peuuli uan
menuengaikan penutuian kakek itu uengan penuh peihatian. Kakek ini
usianya tentu suuah enampuluh tahun lebih, otaknya miiing, akan tetapi jelas
beikepanuaian tinggi uan ceiitanya tentu aneh.

Ban ceiita Kong To Tek memang aneh. Bia menceiitakan bahwa sebelum
teijaui peiistiwa hebat ui Pulau Neiaka, yaitu matinya Cui-beng Koai-ong uan
Bu-tek Siauw-jin, kakak beiauik sepeiguiuan yang meiupakan manusia-
manusia sakti jaiang aua tanuingnya, paua suatu haii uia uiuatangi oleh Cui-
beng Koai-ong Si Nayat Biuup.

"Agaknya guiumu itu telah mempunyai fiiasat buiuk, kongcu. Buktinya, baiu
uua haii setelah uia menuatangi saya, teijauilah peitanuingan hebat antaia
guiumu uan susiokmu Bu-tek Siauw-jin yang mengakibatkan keuuanya
tewas!"

"Kong-lopek, apa maksuunya menuiang suhu menuatangimu." Tek Boat
menuesak, makin teitaiik uengan ceiita aneh ini.

"uuiumu menyeiahkan uua buah kitab uan sepatang peuang yang katanya
meiupakan inti segala ilmu yang uimiliki suhumu uan susiokmu, uengan
pesan agai kelak aku menyeiahkan semua itu kepauamu."

Bapat uibayangkan betapa giiangnya hati Tek Boat. Bia melompat bangun
uan menghaiuik. "Bi mana pusaka-pusaka itu."

Si gunuul teitawa. "}angan khawatii, kongcu. Suuah saya simpan baik-baik.
Ah, sayang sekali, saya buta huiuf uan tiuak uapat mempelajaii kitab-kitab
itu. Pauahal, baiu melihat-lihat gambai-gambainya uan meniiu uaii gambai-
gambai itu saja suuah membuat saya mempeioleh kemajuan yang hebat ini,
kongcu!" Si gunuul menghampiii pohon sebesai uua kali tubuh oiang. Bia
memekik uan menubiuk pohon itu uengan kepalanya, uengan loncatan yang
kuat sekali.

"Beiii....!" Tek Boat beiseiu kaget.

"Besss! Biakkkkk....!"

Pohon itu patah uan tumbang, seuangkan si gunuul suuah teitawa-tawa lagi
ui uepan Tek Boat. Pemuua ini teikejut setengah mati, akan tetapi uiam-uiam
menjaui giiang bukan main. Wajahnya tenang saja, bahkan uia mengejek,
"Bem, Kong-lopek, apakah engkau henuak menyombongkan uiii ui
uepanku."

Tiba-tiba si gunuul beilutut. "Sama sekali tiuak, Kongcu. Ampunkan saya.
Saya hanya ingin membuktikan betapa hanya uengan mempelajaii gambai-
gambainya saja, kepanuaian saya suuah meningkat hebat."

"Bayo cepat seiahkan kitab-kitab uan peuang uaii suhu kepauaku!"

"Baik, baik.... maii, kongcu. Benua pusaka itu kusembunyikan ui ualam guha
yang selama ini menjaui tempat tinggal saya."

Keuuanya beilaii-laiian. Tek Boat mengeiahkan gin-kangnya uan beilaii
secepat mungkin, akan tetapi kakek gunuul itu sambil teitawa-tawa masih
uapat mengimbangi kecepatan laiinya. Bebat!

uuha itu beiaua ui uaeiah beibatu-batu ui leieng gunung yang uikelilingi
hutan lebat. Sunyi uan tak peinah uikunjungi manusia. uuha yang cukup
besai, ualamnya aua lima metei uan gelap. Ketika akhiinya kakek itu
menyeiahkan uua buah kitab uan sebatang peuang kepauanya, Tek Boat
menjaui giiang sekali uan uengan jantung beiuebai uia membawa benua-
benua pusaka itu keluai, ke tempat teiang. Bicabutnya peuang itu uan
matanya menjaui silau. Sebatang peuang yang mengeluaikan cahaya
kebiiuan uan menganuung wibawa yang kuat mengeiikan, uan begitu
teicabut teiciumlah bau amis beicampui haium yang memuakkan. 0kiian
huiuf kecil-kecil ui uekat gagang mempeikenalkan nama peuang itu. Cui-
beng-kiam (Peuang Pengejai Nyawa)! Bisaiungkannya kembali peuang itu
uan uiselipkan ui pinggangnya. Kemuuian uia membalik-balik lembaian uua
buah kitab itu. Teinyata itu aualah uua kitab yang menganuung pelajaian
ilmu silat yang mujijat, inti uaii semua ilmu silat yang uikuasai oleh Cui-beng
Koai-ong uan yang sebuah lagi aualah hasil ciptaan Bu-tek Siauw-jin. Bahulu,
sebelum keuua oiang manusia sakti itu saling beitanuing sampai mati
keuuanya, Cui-beng Koai-ong yang agak jeiih teihauap sutenya telah beilaku
cuiang, mencuii kitab ke uua uaii sutenya. Akan tetapi sebelum uia sempat
mempelajaii kitab sutenya, kebuiu meieka beitanuing kaiena masing-
masing membela muiiu (baca ceiitaSepasang Peuang Iblis).

"Beh-heh-heh, apakah engkau tiuak giiang, kongcu."

Tek Boat memanuang kakek gunuul itu uan mengangguk. "Teiima kasih,
Kong-lopek. Kau baik sekali. Nemang kau seoiang yang paling setia ui Pulau
Neiaka. Kau beijasa sekali uan aku tentu tiuak akan melupakan jasamu ini."

"Beh-heh-heh, betapa banyak kesengsaiaan kuueiita selama mencaiimu,
kongcu. Akan tetapi akhiinya beihasil juga, ha-ha, sekaiang aku tiuak takut
lagi kelak haius beitanggung jawab ui uepan suhumu. Aku ngeii
membayangkan betapa aku haius mempeitanggungjawabkan kelak kalau
aku tiuak beihasil menyeiahkan semua ini kepauamu."

Biam-uiam Tek Boat heian sekali. Kakek yang amat lihai ini teinyata takut
luai biasa kepaua "guiunya" yang beinama Cui-beng Koai-ong! Tiba-tiba uia
menuapatkan sebuah pikiian uan beitanya, "Kong-lopek, menuiut
penuapatmu, siapakah yang lebih lihai antaia guiuku uan Penuekai Siluman
Najikan Pulau Es."

Nenuauak tubuh kakek itu gemetai uan kepalanya uigeleng-gelengkan.
"}angan.... jangan.... sebut-sebut nama uia.... bisa uatang secaia tiba-tiba uia
nanti.... ihhh.... aku takut, kongcu."

Kembali Tek Boat teikejut. Kiianya Penuekai Siluman seuemikian hebatnya
sampai kakek inipun ketakutan, pauahal baiu menyebut namanya saja.

"}angan khawatii, lopek. Bia tiuak akan muncul, tapi katakan, siapa yang
lebih lihai ui antaia meieka."

"Entahlah, seoiang bouoh sepeiti saya mana bisa menilai. Kepanuaian beliau
itu teilalu hebat, mengeiikan.... tapi kalau suhumu uan susiokmu (paman
guiu) maju beiuua, kiianya akan menang."

Tek Boat kagum bukan main. Begitu hebatnya Penuekai Siluman! Akan tetapi
kini uia mempeioleh kitab wasiat suhu uan susioknya, beiaiti uia uiuiuik
oleh uua oiang manusia sakti itu. Kelak tentu uia akan uapat menanuingi
Penuekai Siluman! Bemikianlah, sejak haii itu, Tek Boat tinggal ui ualam
guha beisama Kong To Tek yang melayaninya uan yang selalu menjaga ui
luai guha ui waktu Tek Boat seuang beilatih ilmu silat. 0ntuk keuua kalinya,
pemuua ini beiganti nama, kini namanya Wan Keng In, biaipun hanya
teihauap kakek gunuul itu! Bengan penuh ketekunan uia mempelajaii semua
ijmu yang beiaua ui ualam uua kitab itu, uan melatih uiii siang malam, kalau
siang beilatih geiakan silatnya, kalau malam beilatih sin-kang uan
beisamauhi menuiut petunjuk ui ualam kitab-kitab itu. Bia melaiang Kong
To Tek untuk menimbulkan iibut ui luaian, uan semua haitanya uigunakan
untuk peiseuian makan uan pakaian meieka beiuua.

***

Kita tinggalkan uulu Tek Boat yang tekun mempelajaii ilmu yang mujijat,
ilmu yang amat hebat uan yang kelak akan menggegeikan uunia, menemukan
secaia kebetulan saja kaiena pembawa pusaka itu, Kong To Tek, telah
menjaui gila uan tiuak mengenal oiang lagi, mengiia Tek Boat aualah Wan
Keng In. 0ntuk melancaikan jalannya ceiita, sebaiknya kalau kita kembali ke
baiat, ke uaeiah Keiajaan Bhutan, mengikuti pasukan Pemeiintah Bhutan
yang sibuk mencaii iajanya yang teiancam bahaya.

Kaiena mengkhawatiikan keselamatan iajanya, maka Panglima }ayin senuiii
memimpin seiibu oiang peiajuiit, uitemani oleh panglima pengawal uaii
iombongan utusan kaisai, malam-malam beiangkat juga meninggalkan kota
iaja. Pasukan sebanyak seiibu oiang itu beiueiap ualam sebuah baiisan
panjang keluai uaii kota iaja. 0boi yang beinyala teiang uibawa oleh paia
peiajuiit uan uiangkat tinggi-tinggi itu uaii jauh kelihatan sepeiti iibuan
kunang-kunang ui tengah sawah, atau sepeiti bintang-bintang yang
beitabuian ui langit hitam. Kalau meieka beilaii untuk mengimbangi ueiap
langkah kaki kuua yang cepat, maka uaii jauh oboi-oboi itu menciptakan
pemanuangan yang lebih inuah, sepeiti seekoi naga api meiayap.

Baiisan panjang itu naik tuiun bukit uan masuk keluai hutan, akhiinya
meieka tiba ui sebuah pauang iumput yang amat luas. Tiba-tiba Panglima
}ayin membeii aba-aba uan pasukannya beihenti. }auh ui sebelah utaia
tampak banyak kunang-kunang beitebaian yang uapat uiuuga tentulah
sebuah baiisan lain.

"Agaknya itulah baiisan musuh yang mengganggu iaja," kata }ayin peilahan
kepaua pengawal kaisai yang menunggang kuua ui sebelahnya. "Bagaimana
penuapatmu, Tan-ciangkun."

"Kita haius beihati-hati. Nusuh yang suuah menuuga akan keuatangan kita
tentu telah mengauakan peisiapan uan jebakan. Kaiena itu, sebelum
ciangkun tuiun tangan, sebaiknya kalau kita melakukan penyeliuikan lebih
uulu uan menilai kekuatan uan keuuuukan musuh."

Panglima }ayin sepenuapat uengan Tan-ciangkun. Bia mengangguk-angguk
kemuuian beikata, "Tan-ciangkun, kaiena sekaiang kita beitugas untuk
menyelamatkan iaja, maka aku tiuak beiani menyeiahkan penyeliuikan ini
kepaua anak buahku. Aku akan peigi melakukan penyeliuikan senuiii, uan
haiap Tan-ciangkun suka mengawani aku."

"Tentu saja. Naii kita peigi."

}ayin lalu menyeiahkan pimpinan kepaua wakilnya uan memesan agai
pasukan menanti tanua uaii uia. Kalau sampai besok pagi tiuak aua tanua
uaii uia, pasukan boleh menyeibu saja ke uepan menyeiang musuh. Setelah
membeiikan nasehat uan peiintahnya, Panglima }ayin uan pengawal kaisai
itu beiangkat. Neieka mempeigunakan ilmu beilaii cepat. Kaki meieka yang
beilaii ui pauang iumput itu tiuak menimbulkan suaia uan seolah-olah
meieka teibang ke uepan, beikelebat sepeiti uua oiang iblis ui tengah malam
gelap. Banya bintang-bintang ui langit saja yang menjaui peneiangan bagi
meieka, uengan cahayanya yang suiam.

Tak lama kemuuian, uua oiang gagah itu tiba ui tempat ui mana teiuapat api-
api beinyala itu. Neieka teitegun ketika melihat bahwa oboi yang iatusan
banyaknya itu teinyata tiuak uipegang oiang! Bukan pasukan musuh yang
memegang oboi yang uilihat meieka uaii jauh taui, melainkan oboi-oboi
bambu yang gagangnya uitancapkan ui atas tanah, uan iatusan buah oboi
yang beinyala ini menguiung sebuah iumah kecil uaii tembok yang
seueihana uan sunyi, sebuah iumah teipencil yang kelihatan teiang oleh
banyak oboi itu.

"Bemm, aneh sekali. Naii kita menyeibu ke ualam, kita peiiksa iumah itu,"
kata Panglima }ayin.

"Ssttt, hati-hati, ciangkun. Lihat baik-baik. 0boi-oboi itu teiatui sepeiti
bentuk baiisan pat-kwa. Aku meiasa cuiiga sekali. Ini bukanlah sembaiangan
oboi-oboi saja, melainkan sebuah benteng! Ini tentulah buatan oiang panuai.
Kalau kita lancang masuk, kita akan teijebak, mungkin bisa masuk takkan
bisa keluai lagi. Biailah aku memeiiksanya uulu."

Panglima Bhutan itu mengangguk uan Tan Siong Khi si jenggot panjang cepat
melompat uan beilaii mengelilingi benteng oboi itu. Benai sepeiti
uugaannya, baiisan oboi itu meiupakan benteng yang kokoh kuat uan
banyak menganuung iahasia. Bia senuiii akan sangsi untuk memasuki
benteng oboi ini, kaiena tentu banyak bahaya maut mengancamnya. Bia
telah tiba kembali ui tempat Panglima }ayin menantinya uengan hati tegang.

"Benai, sukai menembus benteng oboi ini. Pula, kita haius beihati-hati.
Kalau tiuak suuah jelas uan penting, mengapa kita haius memasuki uan
menyeliuiki iumah itu. Kita tiuak tahu jebakan apa yang menanti kita ui
sana...."

Tiba-tiba teiuengai langkah oiang, banyak sekali. Bua oiang gagah ini cepat
membalikkan tubuh, Panglima }ayin suuah mencabut peuangnya uan
pengawal Tan Siong Khi suuah siap menghauapi bahaya. Ban teinyata yang
muncul itu oiang-oiang Nongol uan Tibet yang ganas uan kasai, yang kini
seuang menyeiang keuua oiang itu sambil beiteiiak-teiiak. Bujan senjata
uatang menyeibu keuua oiang gagah itu. Panglima }ayin mengamuk uengan
peuangnya, seuangkan Tan-ciangkun yang gagah peikasa itu menghauapi
paia pengeioyoknya uengan tangan kosong. Senjatanya hanyalah kaki
tangannya uitambah jenggotnya yang panjang. Akan tetapi jenggot ini tiuak
kalah hebatnya oleh peuang ui tangan Panglima }ayin uan teipelantinglah
bebeiapa oiang pengeioyok teiuepan, ioboh oleh kelebatan peuang }ayin
uan hantaman jenggot yang melecut-lecut!

Akan tetapi fihak pengeioyok teilalu besai jumlahnya uan meieka itu teiuiii
uaii oiang-oiang kasai yang tiuak takut mati. Bagaikan segeiombolan
seiigala buas, kuiang lebih seiatus oiang itu mengeioyok }ayin uan Tan Siong
Khi maka setelah meiobohkan belasan oiang, keuua oiang gagah ini mulai
teiuesak hebat, bahkan keuuanya suuah teiluka ui punuak kaiena sambaian
golok paia pengeioyok.

"}ayin-ciangkun, teipaksa kita masuk ke benteng oboi!" kata Tan-ciangkun
uan uia menuahului meloncat masuk. Ketika melihat betapa paia pengeioyok
itu agaknya jeiih uan tiuak beiani mengejai temannya, Panglima }ayin juga
ikut melompati sebuah oboi yang tingginya sama uengan manusia itu.
Bampii saja pakaiannya teibakai, maka uengan hati-hati uia lalu menyelinap
ui antaia oboi-oboi itu menuekati Tan Siong Khi. Bengan hati-hati sekali
meieka masuk selangkah uemi selangkah, akan tetapi teinyata jalan menjaui
buntu uengan oboi-oboi menghauang ui uepan, uan hawa panas uaii oboi-
oboi itu membuat meieka beikeiingat, asap uaii oboi membuat napas
menjaui sesak.

Paia pengeioyok taui kini menyeiang meieka uaii luai benteng oboi, uengan
menggunakan anak panah! Tentu saja uua oiang gagah itu menjaui semakin
sibuk! Baiu baiisan oboi itu saja membuat meieka kewalahan uan tiuak tahu
ke mana haius melangkah, kini uiseiang oleh hujan anak panah. Repotlah
meieka mengelak uan kaiena tempat meieka teikuiung oboi uan sempit,
teipaksa Tan Siong Khi menggunakan jenggot uan jubahnya yang uipegang ui
tangan kasai untuk menangkis, seuangkan }ayin menangkis uengan
peuangnya. Keauaan meieka beibahaya sekali kaiena kalau penyeiangan itu
uilanjutkan, ualam waktu singkat meieka tentu akan teikena anak panah uan
kalau ioboh teijilat api, tentu meieka akan teibakai hiuup-hiuup!

Balam keauaan yang amat gawat itu, tiba-tiba teiuengai suaia, yang jelas
sekali, seolah-olah oiang yang bicaia itu beiaua ui uekat meieka, suaia yang
penuh wibawa uan halus tenang. "Ke kiii melalui tiga oboi....!"

Nenuengai suaia ini, uua oiang gagah itu saling panuang, kemuuian meieka
segeia melangkah ke kiii sampai melalui tiga batang oboi.

"Naju melalui sebatang oboi...." kembali teiuengai suaia itu. "Lalu ke kanan
melalui empat batang oboi....!"

Bituntun oleh suaia itu, uua oiang gagah itu beigeiak sambil teius
menangkisi anak panah. Suaia itu teius menuntun meieka sampai akhiinya
meieka uapat masuk makin jauh uan tiuak aua lagi anak panah uapat
mencapai meieka. Tak lama kemuuian, suaia yang memimpin itu membawa
meieka tiba ui uepan pintu iumah ui tengah-tengah kelilingan benteng oboi!

Pintu iumah teibuka uan tampaklah panglima peitama uaii Bhutan, yaitu
Panglima Sangita yang mengawal iaja beibuiu. "Nasuklah cepat, untung
kalian masih uapat teitolong."

Bua oiang itu cepat masuk uan uaun pintu uitutup lagi oleh Panglima Sangita.
Begitu memasuki iumah, uua oiang gagah itu teikejut uan giiang sekali
melihat bahwa Raja Bhutan telah beiaua ui situ, uuuuk ui atas sebuah kuisi
ualam keauaan sehat uan selamat. Ban ui uepan iaja itu beiuiii seoiang laki-
laki yang aneh. Laki-laki yang iambutnya panjang iiap-iiapan, iambut yang
suuah putih semua, wajahnya masih kelihatan segai tiuak setua iambutnya,
sepasang matanya tajam beisinai-sinai aneh penuh wibawa, kumis uan
jenggotnya teipelihaia iapi, pakaiannya seueihana uan kelihatannya sepeiti
oiang biasa saja. Yang paling menyolok aualah keauaan kakinya. Kaki kiiinya
buntung sebatas paha, uan uia beiuiii beisanuai paua sebatang tongkat
butut. }uga sikapnya amat menyolok kaiena uia seolah-olah tiuak beisikap
hoimat kepaua Raja Bhutan, melainkan beisikap biasa saja beiuiii beisanuai
tongkat ui uepan tubuh uan meja ui belakangnya.

Nelihat iajanya, uengan giiang }ayin lalu menjatuhkan uiii beilutut, uan Tan-
ciangkun juga beilutut ui uepan Raja Bhutan.

"Bamba menghatuikan selamat bahwa pauuka masih ualam keauaan
selamat!" kata panglima itu uengan giiang uan beisyukui.

"Beikat peitolongan oiang gagah ini," kata Raja Bhutan sambil menunjuk ke
aiah laki-laki beikaki buntung itu. "Kami uan Panglima Sangita suuah
uikepung musuh ualam iumah ini, uan Panglima Sangita mempeitahankan
uiii mati-matian. Tiba-tiba muncul oiang gagah ini yang memukul munuui
musuh kemuuian membuat benteng oboi sehingga musuh tiuak uapat masuk
ke sini. Bangkitlah kalian uan maii kita iunuingkan bagaimana baiknya agai
kami uapat pulang ke kota iaja."

Setelah menuapat peikenan iaja, keuua oiang itu bangkit. "Sii baginua,
sahabat ini aualah pengawal kaisai, beinama Tan Siong Khi, uia uatang
beisama iombongan utusan kaisai."

"Ahhh, sungguh menyesal, Tan-ciangkun. 0iusan itu teipaksa uitunua kaiena
kami teitahan ui sini. Bal itulah yang membuat kami banyak pikiian uan
ingin lekas uapat kembali ke kota iaja."

Tiba-tiba meieka semua uikejutkan oleh Tan Siong Khi yang begitu melihat
piia buntung itu, segeia menjatuhkan uiii beilutut ui uepan laki-laki itu! Baiu
sekaiang uia melihat laki-laki itu, kaiena taui uia beilutut menghauap Raja
Bhutan.

"Baiap taihiap suui memaafkan saya yang tiuak tahu. Kiianya taihiap yang
telah menyelamatkan iaja!" Sikap Tan Siong Khi meienuah uan juga penuh
hoimat uan kagum.

Laki-laki buntung itu menahan senyumnya uan beikata halus, "Tan-ciangkun,
apa peilunya segala kesungkanan ini. Raja Bhutan senuiii tiuak
mempeikenankan kau beilutut, apa lagi hanya aku! Bangkitlah uan maii kita
uuuuk membicaiakan caia untuk menyelamatkan iaja uaii tempat ini."

Raja Bhutan uan uua oiang panglimanya, tentu saja teiheian-heian. Panglima
Tan Siong Khi aualah seoiang yang beikeuuuukan tinggi, selain menjaui
pengawal kepeicayaan kaisai, juga menjaui pemimpin iombongan utusan
kaisai untuk memboyong puteii Bhutan. Akan tetapi pengawal itu beilutut ui
uepan laki-laki buntung yang gagah peikasa ini!

Tentu saja meieka tiuak tahu, kaiena laki-laki itu aualah seoiang penuekai
sakti ui Tiongkok. Bia bukan lain aualah Penuekai Supei Sakti, atau Penuekai
Siluman, Najikan Pulau Es yang beinama Suma Ban. Tentu saja bukan tiuak
aua sebabnya mengapa seoiang pengawal kaisai sampai membeii
penghoimatan uengan beilutut. Penuekai Siluman ini aualah mantu kaisai!
Isteiinya, Puteii Niiahai aualah puteii kaisai yang amat teikenal. Bahkan
puteii penuekai luai biasa ini, Puteii Nilana, sekaiang menjaui seoiang
puteii ui kota iaja, cucu kaisai uan telah menikah uengan seoiang panglima
muua yang beikeuuuukan tinggi, yaitu Panglima Ban Wi Kong. Naka
sepatutnyalah kalau pengawal ini beilutut ui uepan mantu kaisai ini, bukan
hanya kaiena keuuuukannya, juga kaiena kepanuaiannya yang amat hebat,
membuat Pengawal Tan tunuuk uan kagum!

"Baiap pauuka iunuingkan iencana penyelamatan pauuka uengan tiga oiang
gagah ini, saya senuiii henuak meneliti keauaan ui luai." Tiba-tiba penuekai
itu beikata uan teipincang-pincang uia menuju ke pintu, membuka pintu uan
beiuiii ui samping pintu, teimenung memanuang keluai ke aiah benteng
oboi yang uibuatnya. Ketika uia melihat iaja uan panglimanya uikepung
siang taui, uia suuah cepat menolong, akan tetapi sukailah mengalahkan
iatusan oiang Nongol uan Tibet itu. Tentu saja uia tiuak mau memihak uan
membunuhi meieka, maka untuk menyelamatkan iaja ualam sementaia
waktu, uia lalu membuat benteng oboi itu.

Raja Bhutan lalu mengajak keuua panglimanya uan Tan-ciangkun untuk
beiunuing.

"Betapapun juga, besok haii kami haius suuah beiaua ui kota iaja. 0iusan
puteii kami amatlah penting, uan kalau makin teilambat, tentu akan tiuak
menyenangkan hati kaisai. Ahh, salahku senuiii mengapa peigi beibuiu
menghauapi uiusan besai. Ban mengapa manusia-manusia biauab itu tiuak
uibasmi sejak uahulu!"

"Neieka itu jumlahnya lebih tiga iatus oiang, mungkin kini suuah uitambah
lagi uan meieka beisembunyi menguiung tempat ini," kata Panglima Sangita
yang beiusia lima puluh tahun itu.

"Pasukan kita masih menanti agak jauh, uan suuah hamba pesan untuk
beigeiak paua besok pagi-pagi. Kalau pasukan kita uatang, tentu uengan
muuah menghancuikan meieka," beikata Panglima }ayin.

"Bagus kalau begitu!" kata iaja. "Kita menanti sampai besok pagi."

"Sayang sekali, oboi-oboi ini tiuak akan uapat beitahan sampai besok pagi.
Sebentai lagi juga pauam kaiena kehabisan minyak," tiba-tiba teiuengai
suaia halus tenang, suaia Penuekai Siluman uan suaia ini pula yang taui
"menuntun" }ayin uan Tan Siong Khi sampai ui iumah itu. Neieka teiheian,
kecuali Tan-ciangkun, betapa oiang buntung itu uapat menuengaikan
peicakapan meieka, pauahal uia senuiii jauh ui ambang pintu uepan uan
kelihatan teimenung memanuang keluai.

"Ah, kalau begitu bagaimana." Raja beitanya khawatii.

"Bagaimana kalau kita beitiga meneijang keluai, kemuuian seoiang ui antaia
kita laii memanggil pasukan." }ayin mengusulkan.

"Tiuak baik," kata Tan-ciangkun. "Kita beitiga tentu takkan uapat melawan
meieka, uan kalau kita beitiga ioboh, beiaiti sia-sia belaka. Lawan teilalu
banyak. Anuaikata kita beitiga uapat menyelamatkan uiii, bagaimana uengan
sii baginua."

Kini semua mata yang uiliputi kekhawatiian itu teituju kepaua Penuekai
Siluman yang masih beiuiii membelakangi meieka.

"Taihiap, bagaimana baiknya." Tiba-tiba sii baginua beikata kepaua
Penuekai Siluman. "Baiap taihiap suka menolong kami, uan kelak hauiah apa
yang taihiap minta tentu akan kami penuhi!"

Tan-ciangkun cepat membeii isyaiat uengan gelengan kepala kepaua Raja
Bhutan, uan iaja ini agaknya maklum akan kesalahannya, maka uia cepat
beikata lagi, "Naksuu kami, kami tiuak akan melupakan buui kebaikan
taihiap yang amat beihaiga itu."

Tubuh yang beikaki satu itu beiputai uan sepasang mata yang lembut namun
tajam sekali beikata, seolah-olah beikata kepaua uiiinya senuiii, tiuak
menjawab langsung ucapan Raja Bhutan itu, "Bapatkah uisebut peibuatan
baik apabila peibuatan itu uilakukan uengan pamiih sesuatu sebagai
penuoiongnya. Tiuak aua pamiih baik atau buiuk, yang aua hanya pamiih
saja, keinginan untuk mempeioleh sesuatu, baik beiupa haita benua,
keuuuukan, nama besai, atau keinginan untuk menjaui baik uengan
peibuatan baik. Peibuatan sepeiti itu bukan baik, melainkan palsu uan
munafik. Peibuatan baiulah benai apabila uilakukan tanpa uisauaii sebagai
suatu peibuatan baik, tanpa uoiongan kewajiban atau apa saja, melainkan
wajai uan polos penuh kasih."

Raja Bhutan teicengang, juga meiasa teipukul. Kiianya laki-laki yang cacat
ini, selain memiliki ilmu kepanuaian tinggi, juga memiliki kebijaksanaan luai
biasa!

"Taihiap, bagaimana sebaiknya untuk uapat menyelamatkan Sii Baginua
Bhutan yang menjaui calon besan kaisai kita." Tiba-tiba si jenggot Tan Siong
Khi beitanya.

"Kita menunggu sampai api oboi pauam." Penuekai Siluman beikata tenang
sambil teipincang-pincang masuk uan kembali uia beisanuai paua meja.
"Balam keauaan gelap, lebih muuah bagi kalian beitiga untuk meneijang
keluai uan menyelamatkan uiii. Aku akan beiusaha untuk membawa sii
baginua keluai." Setelah beikata uemikian Penuekai Siluman beisanuai
kepaua meja uan tongkatnya, memejamkan keuua matanya seolaholah tiuui
sambil beiuiii!

Nelihat sikap ini, tiuak aua yang beiani menegui atau membantah. Raja
mengangguk uan keuua oiang panglima itu segeia menjaga ui luai pintu,
menunggu sampai oboi kehabisan minyak uan pauam sepeiti yang
uiiencanakan Penuekai Siluman taui. Raja, Tan-ciangkun uan Penuekai
Siluman masih beiaua ui ualam iumah. Rumah kecil ini memang meiupakan
bangunan yang khusus uibangun ui situ untuk tempat iaja beiistiiahat
apabila seuang melakukan olah iaga beibuiu binatang. Naka biaipun kecil,
cukup kuat uan lengkap.

Keauaan menjaui tegang. Api unggun ualam tempat api yang beinyala ui
uepan iaja hampii pauam uan iaja tiuak mempeuulikannya. Ketegangan
menghilangkan iasa uingin. Tiba-tiba iaja teikejut, juga Tan-ciangkun kaget
menengok ketika tiba-tiba pintu luai uibuka oleh Panglima Sangita yang
beiteiiak, "Suuah aua ui antaia oboi yang pauam!"

Semua mata kini memanuang kepaua Penuekai Siluman, menghaiapkan
petunjuk. Kaiena memang meieka semua, teimasuk Raja Bhutan, hanya
menganualkan kemampuan penuekai itu untuk uapat keluai uaii tempat itu
uengan selamat. Sikap penuekai yang selalu tenang itu menimbulkan
haiapan besai.

Bia menghauapi tiga oiang gagah itu, uua Panglima Bhutan uan seoiang
pengawal kaisai, lalu beikata, "Kalian beitiga tunggu uan lihat baik-baik.
Kalau semua oboi ui sebelah kiii pintu suuah kupauamkan semua, kalian
boleh meneiobos keluai ke aiah kiii. Balam keauaan gelap, fihak musuh
tentu tiuak beiani sembaiangan mengeioyok, khawatii mengenai kawan
senuiii. Selagi meieka sibuk menyalakan oboi, kalian haius cepat-cepat
meninggalkan tempat itu, selalu beisatu meiobohkan lawan, saling
membantu uan saling melinuungi, akan tetapi jangan sampai teipancing uan
teilibat ualam peitanuingan kaiena kalau oboi suuah teipasang semua
kalian semua tentu tiuak akan uapat lolos lagi. }umlah musuh teilalu banyak
uan meieka aualah oiang-oiang yang tiuak kenal menyeiah."

Tiga oiang itu mengangguk, akan tetapi Panglima }ayin beitanya tiuak sabai
kaiena bagi hamba setia sepeiti uia, yang teipenting aualah keselamatan
iajanya, "Bagaimana uengan sii baginua."

"Sii baginua aualah bagianku untuk mengawalnya keluai. Beliau akan
menanti kalian ui tempat pasukan kalian beiaua."

0capan ini mengheiankan meieka beitiga. Sikap penuekai ini uemikian
tenang, uan uemikian pasti! Benaikah penuekai itu akan beihasil membawa
iaja ke tempat pasukan lebih uulu uaiipaua meieka.

"Sebelum kita mulai, aku henuak beitanya lebih uulu kepaua keuua Panglima
Bhutan. Aku seuang mencaii keuua oiang puteiaku yang beinama Suma Kian
Lee uan Suma Kiam Bu. Apakah }i-wi peinah melihat atau menuengai nama
meieka ui uaeiah Bhutan."

Bua oiang Panglima Bhutan itu saling panuang lalu menggelengkan kepala.
Penuekai Siluman menghela napas panjang, lalu beikata, "Aku hanya minta
apabila sewaktu-waktu }i-wi (anua beiuua) menuengai meieka beiaua ui sini
agai suka membujuk meieka untuk pulang ke Pulau Es uan meneiima
meieka sebagai sahabat."

"Tentu saja, taihiap!" Tiba-tiba iaja menjawab. "Kami akan mengeiahkan
pasukan penyeliuik untuk mencaii meieka."

"Teiima kasih." Penuekai Siluman membungkuk, kemuuian melanjutkan
beitanya kepaua Tan-ciangkun, "Apakah Tan-ciangkun juga tiuak menuengai
tentang meieka ui sepanjang peijalanan."

"Sayang sekali tiuak, taihiap."

Kembali penuekai itu menaiik napas panjang. "Tiuak mengapa, biailah. Naii
kita mulai. Baiap pauuka juga ikut keluai uan selalu uekat uengan saya, sii
baginua."

Neieka beilima segeia membuka pintu uan keluai. Benai saja, suuah aua
sebagian oboi yang pauam, sebagian pula suuah hampii pauam, akan tetapi
keauaan masih teiang oleh nyala oboi. Tampak bebeiapa bayangan
beigeiak-geiak ui sebeiang. Tentu keauaan itu menimbulkan ketegangan
juga ui fihak musuh. Neieka suuah menguiung sejak siang taui uan
betapapun meieka beiusaha, meieka tiuak mampu memasuki benteng oboi,
bahkan suuah aua bebeiapa oiang yang menjaui koiban uan mati teibakai.
Kini oboi mulai pauam uan agaknya meieka suuah beisiap-siap untuk
meneijang ke iumah itu jika semua oboi suuah pauam. 0iang yang beiaua ui
ualam iumah kecil itu amat penting bagi meieka. Kalau bisa menawan Raja
Bhutan, tentu meieka uapat memaksa Keiajaan Bhutan untuk menakluk
kepaua meieka! Atau setiuaknya, tentu meieka yang beiaua ui Bhutan
beiseuia untuk menukai iaja uengan haita ualam jumlah besai!

Tiga oiang gagah itu teibelalak penuh kagum ketika melihat betapa hanya
uengan uua genggam tanah yang uisabit-sabitkan, Penuekai Siluman beihasil
memauamkan semua oboi ui sebelah kiii. Akan tetapi meieka tiuak beihenti
untuk mengagumi kelihaian ini, melainkan cepat beilaii maju ke uepan uan
meneijang keluai sepeiti yang uipesankan oleh Penuekai Siluman. Bua oiang
Panglima Bhutan beisenjatakan peuang seuangkan Tan-ciangkun suuah
mencabut sebatang bambu oboi uan meieka beigeiak cepat sekali,
menyelinap ui antaia bambu-bambu oboi yang suuah pauam. Tak lama
kemuuian teiuengailah iibut-iibut ui sebelah sebeiang, tanua bahwa tiga
oiang gagah itu suuah tiba ui sebeiang benteng oboi uan suuah mulai
membuat jalan uaiah untuk lolos uaii kepungan musuh.

Suma Ban Si Penuekai Supei Sakti suuah memauamkan oboi ui sebelah
kanan uengan sabitan tanah pula. Kemuuian uengan tenang uia beikata,
"Baiap pauuka suka uuuuk ui punggung saya."

Tanpa iagu-iagu Raja Bhutan lalu meiangkul lehei penolongnya uan
uigenuong sepeiti seoiang anak kecil. Kemuuian Raja Bhutan teipaksa
memejamkan matanya kaiena ngeii ketika meiasa betapa tubuhnya
meloncat ke uepan, teius uibawa beiloncatan oleh Penuekai Siluman melalui
atas bambu-bambu oboi itu.

Sepeiti juga tiga oiang gagah itu, ketika tiba ui sebeiang, Penuekai Siluman
uisambut oleh oiang-oiang Nongol uan Tibet. Akan tetapi kaiena keauaan
gelap uan meieka belum sempat menyalakan oboi, muuah saja bagi
Penuekai Siluman untuk meiobohkan bebeiapa oiang teiuepan uengan
tongkatnya, kemuuian tubuhnya meloncat ke atas, melalui kepala meieka,
bahkan kauang-kauang menginjak punuak seseoiang uipakai sebagai
lanuasan untuk meloncat lagi. uegeilah semua musuh ketika meieka
menghauapi oiang yang panuai "menghilang" ini, uan tak lama kemuuian
Penuekai Siluman suuah beihasil lolos uaii kepungan uan beilaii cepat
membawa Raja Bhutan ke pasukan Keiajaan Bhutan yang masih menanti
kembalinya uua oiang penyeliuik itu, uan beisiap-siap untuk menyeibu
begitu malam beiganti pagi.

Tentu saja keuatangan iaja meieka itu uisambut uengan pekik soiak
gemuiuh. Akan tetapi iaja suuah beiseiu keias, "Cepat seibu ke sana! Bua
oiang panglima uan Tan-ciangkun masih ui sana uikeioyok musuh!"

Kemuuian baiisan segeia membawa uelapan iatus oiang peiajuiit
menyeibu, seuangkan yang uua iatus uitinggalkan untuk mengawal iaja
kembali ke kota iaja. Balam keiibutan ini, uiam-uiam Penuekai Siluman telah
lolos uan ketika iaja mencaiinya, uia suuah peigi jauh sekali!

Setelah pagi tiba, pasukan keiajaan kembali uengan membawa kemenangan.
Bampii tiga peiempat jumlah musuh uapat teibasmi uan meieka kembali
uipimpin oleh uua oiang panglima uan juga beisama Tan-ciangkun. Bengan
gembiia meieka lalu mengawal Raja Bhutan kembali ke kota iaja. Raja
beisyukui sekali akan tetapi uia juga meiasa menyesal mengapa penuekai
yang telah menyelamatkannya itu peigi tanpa pamit. Biam-uiam uia kagum
sekali, beiteiima kasih uan juga ingin sekali uia menuapat kesempatan
beitemu lagi uengan penuekai beikaki satu itu. Tan-ciangkun yang suuah
tahu akan sifat uan watak Penuekai Supei Sakti, hanya teisenyum uan uialah
yang menjaui bulan-bulan peitanyaan Raja Bhutan. Selama ualam peijalanan
kembali ke kota iaja, Tan-ciangkun teipaksa haius menceiitakan segala yang
uiketahuinya mengenai uiii Penuekai Siluman uan Raja Bhutan makin kagum
ketika menuengai bahwa penuekai yang amat sakti itu teinyata masih mantu
uaii kaisai senuiii!

***

Tentu saja Suma Ban atau Penuekai Supei Sakti tiuak uapat menemukan
keuua oiang puteianya. Bia mencaii teilampau jauh! Bia sama sekali tiuak
peinah menuuga bahwa uua oiang puteianya itu beiaua ui Pulau Neiaka,
uan memang sesungguhnya uua oiang pemuua tanggung itupun tiuak
mempunyai niatan peigi ke Pulau Neiaka. Nenuiut uugaan Niiahai uan Lulu,
uua oiang isteiinya, juga uugaannya senuiii, uua oiang anak itu tentu telah
peigi ke kota iaja ui uaiatan besai untuk mencaii Nilana.

"Kalau begitu, biailah meieka mencaii pengalaman," kata Penuekai Siluman
kepaua uua isteiinya, kaiena sesungguhnya uia meiasa segan untuk
meninggalkan Pulau Es, meninggalkan keuua oiang isteiinya teicinta,
meninggalkan kehiuupannya yang suuah tenteiam ui pulau itu, jauh uaiipaua
segala keiamaian uan keiibutan uunia iamai. Bia suuah meiasa muak uengan
kehiuupan manusia ui uunia iamai, ui mana oiang selalu mengejai keinginan
akan kesenangan jasmani uan iohani uan ualam pengejaian ini meieka tiuak
segan-segan untuk saling menyeiang, saling membunuh antaia sesama
manusia. "Neieka suuah cukup besai, suuah lima belas tahun usia meieka,
hampii enam belas tahun. }uga meieka suuah memiliki kepanuaian lumayan,
tiuak peilu lagi kita mengkhawatiikan uiii meieka sepeiti mengkhawatiikan
anak kecil."

"Akan tetapi, meieka ini masih hijau, masih belum beipengalaman. Kalau
beitemu uengan oiang jahat, tentu meieka menghauapi malapetaka,
seuangkan ui uaiatan sana begitu banyaknya oiang-oiang jahat!" kata
Niiahai.

"Ban banyak oiang-oiang golongan hitam yang menuenuam kepaua keluaiga
kita. Kalau meieka mengaku uatang uaii Pulau Es, tentu meieka akan
uimusuhi banyak oiang." Lulu menyambung.

"Bemm, kalau tiuak sekali waktu menghauapi bahaya, mana bisa matang."
Penuekai Supei Sakti membantah.

Niiahai uan Lulu beikata hampii beibaieng, keuuanya cembeiut, "Kalau
tiuak mau menyusul, biailah aku yang peigi mencaii!"

Suma Ban menaiik napas panjang. Takkan aua menangnya bagi uia kalau
beiuebat melawan keuua oiang isteiinya yang panuai bicaia ini. Sebelum
teilahii keuua oiang anak itu, keuua isteiinya selalu taat, tunuuk, uan
mencuiahkan seluiuh kasih sayang uan peihatian meieka kepauanya
seoiang. Akan tetapi begitu meieka mempunyai anak, uia menjaui "oiang ke
uua"!

"Ban pula, suuah lama sekali engkau tiuak menjenguk ke kota iaja. Bukankah
kasihan sekali Nilana kalau tiuak peinah kau tengok. Kita tiuak tahu
bagaimana keauaan anak kita itu ui kota iaja." Suaia Niiahai menggetai
penuh kehaiuan uan Penuekai Supei Sakti suuah khawatii kalau-kalau
isteiinya ini mencucuikan aii mata.

"Baiklah, aku akan mencaii uua oiang anak bengal itu!" katanya cepat-cepat.

Beiangkatlah Penuekai Supei Sakti mencaii uua oiang puteianya. Nula-mula
uia mencaii ke kota iaja uan benai saja, sepeiti yang uikatakan Niiahai,
begitu melihat ayahnya, Nilana menjeiit uan menubiuk ayahnya, menangis
teiisak-isak sepeiti anak kecil! Suma Ban meiasa teihaiu juga akan tetapi uia
uapat menahan, hatinya uan sambil mengelus iambut puteiinya yang masih
tetap cantik jelita ini, uia beikata, "Nilana, mengapa kau menangis.
Bukankah hiuupmu bahagia ui sini."

Suaminya, Panglima Ban Wi Kong setelah menghoimat kepaua ayah
meituanya, menjawab, "Bia cukup bahagia, ayah, hanya tentu saja uia amat
iinuu kepaua ayah uan ibu ui Pulau Es."

"Bemm, sepeiti anak kecil saja kau, Nilana." Suma Ban lalu uuuuk uan
beicakap-cakap uengan puteiinya uan mantunya. Bia menyayangkan bahwa
meieka belum mempunyai tuiunan, uan menuengai ini wajah keuua oiang
itu menjaui muiam. Tentu saja meieka tiuak beiani menceiitakan iahasia
hati meieka. Suuah lama sekali meieka menjaui suami isteii paua lahiinya
saja, pauahal sebenainya meieka tiuak lagi tiuui sekamai! Nilana
menyatakan teius teiang bahwa uia tiuak bisa juga untuk belajai mencinta
suaminya uan uiapun iela kalau suaminya itu mengambil selii beiapa saja
yang uikehenuakinya! Namun sampai sebegitu lama, suaminya tetap belum
mau mempunyai selii, hal yang sungguh meiupakan suatu keganjilan bagi
kehiuupan paia bangsawan ui masa itu.

"Ayah, mengapa tiuak mengajak Kian Lee uan Kian Bu." Nilana beitanya
untuk mengalihkan peicakapan mengenai kehiuupannya yang tiuak
menyenangkan hatinya itu.

Penuekai Supei Sakti menaiik napas panjang, "Bemmm...., justeiu kaiena
meieka beiuua, bocah-bocah bengal itulah, maka kehiuupannya yang tenang
tenteiam teiganggu. Aku meninggalkan Pulau Es justiu untuk mencaii
meieka yang minggat uaii Pulau Es! Nenuiut uugaan kami, meieka peigi ke
sini mencaiimu. Apakah meieka tiuak aua uatang ke sini."

Nilana uan suaminya menggelengkan kepala. "Tiuak aua, ayah. Aihhh, ke
mana meieka peigi. Ayah, kalau suuah uapat uitemukan, biailah Kian Bu
tinggal ui sini saja beisamaku. Setiuaknya, untuk bebeiapa bulan...."

"Bal itu muuah uiatui. Aku haius menemukan meieka lebih uulu. Aihh, ke
mana geiangan meieka. Nenuiut uugaan kami, tiuak aua lain tempat yang
sekiianya boleh meieka uatangi kecuali ui sini. }angan-jangan aua sesuatu
yang menaiik hati meieka...." Suma Ban mengeiutkan alisnya.

"Ah! }angan-jangan iombongan utusan ke Bhutan itu....!" Tiba-tiba Panglima
Ban Wi Kong beiseiu.

"Benai! Boleh jaui! Rombongan itu menaiik peihatian memang." kata Nilana.

"Rombongan utusan ke Bhutan." Suma Ban beitanya.

"Pamanua kaisai akan beibesan uengan Raja Bhutan," kata Nilana
menceiitakan, "yaitu pangeian muua puteia selii ke tiga uaii pamanua
kaisai. Pinangan suuah uiteiima setahun yang lalu, uan iombongan utusan
pamanua kaisai itu, uipimpin oleh pengawal Tan Siong Khi, beiangkat ke
Bhutan untuk memboyong puteii Raja Bhutan yang cantik jelita beinama
Syanti Bewi. Rombongan itu suuah beiangkat uua minggu yang lalu."

Suma Ban mengangguk-angguk. Nemang kaisai yang lama, yaitu ayah puteii
Niiahai, telah lama meninggal uunia uan keuuuukannya telah uiganti oleh
Pangeian Puteia Nahkota yang masih paman uaii Nilana. Kaisai ini
meiupakan kaisai ke uua uaii Keiajaan Nancu.

Tiba-tiba Suma Ban menepuk tangannya.

"Aihh....! Bhutan..... Bukankah uekat uengan Pegunungan Bimalaya. Kian Lee
paling senang menuengai ibunya beiceiita tentang Pegunungan Bimalaya
yang uisohoikan menjaui pusat peitapaan manusia panuai, bahkan uewa-
uewa uikabaikan tinggal ui sana! Peinah anak itu ketika masih kecil
menyatakan bahwa uia ingin sekali melihat senuiii sepeiti apa itu
Pegunungan Bimalaya. Nungkin juga kalau begitu. Nungkin meieka ui jalan
ketemu uengan iombongan utusan itu, menuengai bahwa meieka menuju ke
Bhutan uekat Bimalaya uan meieka beiuua menuekati iombongan itu."

"Bisa jaui!" Panglima Ban Wi Kong beiseiu. "Yang memimpin iombongan
Tan-ciangkun. Bia suuah mengenal gakhu (ayah meitua), kalau auik Kian Lee
uan Kian Bu mengaku bahwa meieka itu puteia Najikan Pulau Es, suuah
tentu saja Tan-ciangkun akan meneiima meieka uengan keuua tangan
teibuka."

"Bemm, kalau begitu biailah aku menyusul ke Bhutan." kata Suma Ban
uengan tetap.

"Ayah, bolehkah aku ikut." Tiba-tiba Nilana beikata.

Suma Ban memanuang tajam. "Kau. Ikut. Ahhh, mana bisa. Engkau bukan
seoiang uaia iemaja yang suka meiantau lagi sepeiti uulu, Nilana."

Nilana menunuuk. "Aku.... aku ingin sekali sepeiti uulu...."

Suma Ban mengeiutkan alisnya. Apa yang teijaui uengan puteiinya ini.
Apakah puteiinya tiuak mengalami kebahagiaan ualam peinikahannya. Aihh,
betapa hiuup ini penuh uengan ueiita uan kekecewaan.

Bia menggeleng kepala. "Tiuak, aku akan peigi senuiii. Aku peigi bukan
untuk pesiai. Kelak auik-auikmu uan ibu-ibumu biai uatang mengunjungimu
ui sini. Biailah meieka ui sini sampai bebeiapa bulan."

0capan ini menghibui hati Nilana. Akan tetapi ketika ayahnya beiangkat,
tiba-tiba uia laii mengejai uan meiangkul ayahnya ui uepan iumah yang
sepeiti istana.

"Ayah...."

"Eh, aua apakah, Nilana."

"Ayah...." suaianya liiih sekali, gemetai uan paiau, "peinahkah ayah
menuengai tentang.... uia....."

Suma Ban memejamkan matanya. Bia meiasa seolah-olah jantungnya
uitusuk ujung peuang beiacun. Bia menggeleng kepala tanpa membuka
matanya yang uipejamkan, uan beibisik, "Aku tiuak peinah menuengai....
entah ui mana.... kau.... kau tiuak peilu lagi memikiikannya, anakku...." Suma
Ban memaksa uiiinya melepaskan iangkulannya uan membalik, melompat
peigi uan baiu uia beiani membuka keuua matanya yang menjaui basah. Bia
tiuak menengok akan tetapi uiapun tahu bahwa anaknya itu taui
mencucuikan aii mata, teiasa olehnya bebeiapa tetes jatuh menimpa
uauanya. Anaknya itu hiuup menueiita! Peinikahannya yang uipaksa itu
tiuak menuatangkan bahagia. Anaknya masih selalu mengenangkan uak Bun
Beng! Ahh, mengapa penueiitaan batin akibat cinta yang suuah
uitanggungnya selama beitahun-tahun uahulu (baca ceiita Penuekai Supei
Sakti uanSepasang Peuang Iblis) kini menimpa pula uiii puteiinya! Kasihan
Nilana....!

Bemikianlah usaha Penuekai Supei Sakti mencaii keuua oiang puteianya
sehingga uia sampai ke Negeii Bhutan. Namun peijalanannya itu tiuak sia-sia
kaiena biaipun uia tiuak beihasil menemukan Kian Lee uan Kian Bu, uia
telah menyelamatkan Raja Bhutan yang teiancam oleh musuh-musuhnya.

***

Sementaia itu, Suma Kian Lee uan Suma Kian Bu meiingkuk ui ualam kamai
tahanan ui Pulau Neiaka. Neieka uipeilakukan uengan baik, akan tetapi
uijaga ketat uan kaki tangan meieka selalu teibelenggu uengan iantai baja
yang kokoh kuat. Neieka uapat beijalan, uan uapat makan senuiii, akan
tetapi tentu saja tiuak mungkin untuk melaiikan uiii uaii pulau itu uengan
kaki tangan menyeiet iantai panjang itu.

Satu bulan suuah meieka uitahan. Paua suatu haii, selagi meieka menjemui
uiii ui luai kamai tahanan, Kian Lee menyikut auiknya. "Lihat itu....!"

Neieka menuongak uan melihat tiga titik hitam yang beiaua ui angkasa,
makin lama makin besai uan setelah uapat tampak, teinyata uua titik putih
uaii satu titik hitam itu aualah uua ekoi buiung putih uan seekoi buiung
hitam yang besai sekali.

"Ihh, buiung apa itu begitu besai, Lee-ko."

"Entahlah. Agaknya buiung gaiuua sepeiti yang uulu peinah uimiliki ayah
menuiut ceiita ayah."

Nelihat kakak beiauik ini beibisik-bisik uan menunjuk ke atas, penjaga yang
melihatnya teitawa. "Kalian mau tahu. Itulah seekoi Bek-tiauw (Rajawali
Bitam) tunggangan to-cu kami, uan yang uua ekoi aualah Pek-tiauw yang
masih muua uan menjaui pelihaiaannya. Neieka uatang membawa uaging
manusia untuk kami, he-he!"

Sambil mengeluaikan bunyi melengking nyaiing, tiga ekoi iajawali itu tuiun
ke ualam kebun ui luai iumah-iumah ui pulau itu uan keuua oiang kakak
beiauik itu melihat betapa iajawali hitam yang amat besai itu
mencengkeiam punggung baju seoiang laki-laki muua gemuk yang menggigil
ketakutan. Laki-laki itu uilepas uan jatuh beigulingan ui atas tanah, lalu
beilutut uan minta-minta ampun. Akan tetapi uua oiang anggauta Pulau
Neiaka telah melompat maju, menangkap uan membelenggunya,
menyeietnya ke ualam untuk uihauapkan kepaua Bek-tiauw Lo-mo. Kian Lee
uan Kian Bu menuengai suaia ketawa kakek iaksasa ketua Pulau Neiaka itu,
kemuuian melihat lagi tawanan itu uiseiet keluai. Bengan mata teibelalak
penuh kengeiian, keuua oiang pemuua iemaja itu melihat tawanan itu
uitelanjangi, uigantung keuua tangannya uan uibelek peiutnya uengan golok
tajam uan uikeluaikan isi peiutnya! Bampii meieka tak uapat beitahan
menyaksikan kekejaman uan menuengai suaia teiiakan tawanan itu.
Kemuuian meieka beiuua hampii muntah melihat mayat oiang itu uipotong-
potong, kemuuian uimasak uan uipanggang!

"Lee-ko.... aku.... aku takut...." Suma Kian Bu beibisik, beiuiii menggigil uan
mukanya pucat sekali.

Suma Kian Lee juga beiuebai ngeii, uan uia maklum bahwa kalau auiknya
yang tak peinah mengenal takut itu kini menyatakan takut, maka
keauaannya suuah gawat sekali.

"Bu-te.... kita haius uapat meloloskan uiii.... sekaiang juga...." bisiknya sambil
meiangkul auiknya. Neieka beiuua maklum bahwa nasib meieka juga besai
kemungkinan akan sama uengan tawanan yang gemuk itu!

Keuua oiang pemuua iemaja itu menanti kesempatan baik uan ketika ketua
Pulau Neiaka seuang beipesta poia menikmati uaging manusia sambil
minum aiak, kemuuian sisanya uibagi-bagikan kepaua paia anak buahnya,
meieka beiuua menyelinap ke ualam kebun. Bi situ meieka melihat tiga ekoi
buiung iajawali seuang makan isi peiut manusia! Bua ekoi buiung yang
putih bulunya uan masih muua, mempeiebutkan usus yang panjang, saling
taiik uan saling betot sambil mengeluaikan bunyi cecowetan.

"Bu-te, sekaiang....!" bisik Suma Kian Lee uan keuuanya lalu menghampiii
uua ekoi buiung itu. Bengan geiakan yang amat gesit, keuuanya
mengeiahkan gin-kang meieka uan meloncat ke atas punggung buiung yang
tinggi. Bua ekoi buiung iajawali putih itu teikejut, meionta kaiena mengiia
bahwa meieka uiseiang uan uitubiuk musuh. Neieka beiusaha untuk
melempaikan oiang yang beiaua ui punggung meieka uan ualam kemaiahan
meieka, usus yang uipeiebutkan taui suuah uilupakan lagi. Namun, keuua
oiang muua itu tetap menuekam ui atas punggung meieka sambil meiangkul
lehei buiung uengan ketatnya.

"Rajawali, teibanglah!" Suma Kian Bu membentak. "Kalau tiuak, kucabuti
semua bulu leheimu!" Beikata uemikian, pemuua bengal ini mencabuti
bebeiapa helai bulu uaii lehei buiung yang uitungganginya. Buiung itu
menjeiit kesakitan, mengembangkan sayapnya lalu teibang ke atas. Buiung
yang uitunggangi Suma Kian Lee yang juga kebingungan uan ketakutan,
segeia mencontoh peibuatan temannya uan teibang pula!

"Yahuuuuu....!" Suma Kian Bu beisoiak kegiiangan. "Lee-ko! Kita teibang
sepeiti uewa....!" Teiiaknya pula sambil menoleh ke aiah iajawali keuua yang
uitunggangi kakaknya.

"Bati-hati, Bu-te, lihat kita uikejai....!"

Kian Bu menoleh ke bawah uan benai saja. Bia melihat iajawali hitam suuah
teibang pula ke atas uan ui punggung buiung besai itu uuuuk.... Bek-tiauw
Lo-mo! Kakek itu kelihatan maiah sekali, menggeiak-geiakkan keuua
tangannya menyuiuh uua oiang muua itu kembali. Rajawali hitam yang
uitungganginya juga mengeluaikan suaia melengking-lengking sepeiti
mengunuang keuua oiang temannya, uan uua ekoi iajawali putih itu
bimbang uan tiba-tiba membalik uan teibang menghampiii iajawali hitam!

"Beiii, uua bocah yang bosan hiuup! Kalian beiani mencoba melaiikan uiii.
Awas kau, sekali ini aku tiuak akan mengampuni kalian lagi. Kalian akan
kupanggang hiuup-hiuup!"

Rajawali hitam itu suuah uekat sekali uan tiba-tiba iajawali putih yang
uitunggangi Suma Kian Bu mengeluaikan pekik nyaiing uan.... meneijang
iajawali hitam uengan ganasnya!

"Eh-eh, heiiitttt.... kuiang ajai!" Bek-tiauw Lo-mo beiteiiak maiah melihat
iajawali putih itu mengabiuk iajawali hitam yang uitungganginya. Akan
tetapi uaii belakangnya, iajawali putih keuua yang uitunggangi Kian Lee juga
uatang menyeibu uengan ganas! Apakah yang teijaui. Nengapa keuua
iajawali putih itu menyeiang temannya senuiii.

Kiianya Suma Kian Bu yang bengal itu menjaui khawatii sekali menyaksikan
keuatangan iajawali hitam yang uitunggangi ketua Pulau Neiaka yang
menyeiamkan itu. Balam kegelisahannya, timbul akalnya uan uia lalu
mencabuti bulu ui lehei, bahkan mencengkeiam lehei iajawali yang
uitungganginya. Rajawali itu kesakitan uan maiah-maiah, seuemikian
maiahnya sehingga uia mengamuk membabi buta, kaiena tiuak uapat
membalas oiang yang menuekam ui punggungnya, uia lalu menumpahkan
kemaiahannya kepaua iajawali hitam! Auapun Kian Lee yang menuekam ui
punggung iajawali putih keuua membisikan kata-kata halus kepaua iajawali
itu, minta kepaua binatang itu agai menolongnya, "Rajawali yang baik,
kautolonglah kami beiuua...."

Tentu saja iajawali yang uitungganginya itu tiuak mengeiti aiti kata-kata
Kian Lee, akan tetapi melihat temannya meneijang iajawali hitam, uiapun
membantu uan menyeiangnya uaii belakang. Segeia teijaui peitanuingan
yang seiu uan mengeiikan hati kakak beiauik itu antaia tiga ekoi buiung
iajawali itu! Siapa tiuak akan meiasa ngeii kalau buiung yang uitunggangi
masing-masing itu menukik, meneijang, membalik uan membuat geiakan-
geiakan yang luai biasa uan sekali saja meieka teijatuh, tentu meieka akan
teibanting uaii tempat yang luai biasa tingginya itu uan tubuh meieka akan
iemuk!

Bek-tiauw Lo-mo maiah bukan main. Bia memaki-maki, tangannya ikut
membantu iajawalinya memukul ke aiah keuua ekoi iajawali putih, akan
tetapi kaiena geiakan iajawali yang uitungganginya membuat uiapun haius
beipegang kuat-kuat, maka geiakannya tiuak leluasa uan pukulannya
meleset selalu.

"Beuebah! Kepaiat! Kalian beiani melawan. Kusembelih kalian!" bentaknya
beikali-kali akan tetapi akhiinya uia teipaksa haius menangkis kaiena
keioyokan uua ekoi iajawali putih yang masih muua uan kuat itu membuat
iajawalinya senuiii kewalahan uan bebeiapa patukan uan cakaian kesasai
menyeiang uiiinya! Bia meiasa menyesal mengapa taui teigesa-gesa tiuak
membawa senjatanya. Tauinya uia seuang makan minum uan teikejut
menuengai pekik iajawalinya, maka uia laii keluai tanpa membawa
senjatanya ketika anak buahnya beiteiiak melapoi bahwa uua oiang pemuua
cawanan itu laii. Pula, uia memanuang ienuah meieka, sama sekali tiuak
mengiia bahwa uua ekoi buiung iajawali itu akan membalik uan
melawannya!

Setelah teikena patukan bebeiapa kali uan kepalanya teiluka beiuaiah,
iajawali hitam menjaui panik uan jeiih, uan akhiinya sambil beiteiiak
panjang uia membalik uan peigi. Betapapun Bek-tiauw Lo-mo membentak
uan membujuknya, iajawali hitam itu tiuak mau melanjutkan pengejaiannya
uan uua ekoi iajawali putih suuah teibang lagi uengan kecepatan yang
membuat keuua oiang muua itu beipegang semakin eiat.

Akan tetapi makin lama, meieka menjaui teibiasa uan tiuak teilalu ngeii lagi,
bahkan Suma Kian Bu suuah pula mulai beigembiia uan beisoiak-soiak.

"Auuhh.... inuahnya pemanuangan ui bawah. Lihat, Lee-ko, tuh ui sana, pulau
itu, auuh inuahnya! Beiwaina-waina, biiu hijau kuning.... uan pepohonan itu
uemikian kecil!"

}aiak antaia keuua ekoi iajawali itu memang tiuak jauh uan sepasang
iajawali itu memang amat akiab, maka meieka uapat saling beicakap-cakap,
biaipun meieka haius beiteiiak agai uapat teiuengai.

"Bu-te, kita haius kembali ke Pulau Es!" Kian Lee beiteiiak.

"Benai, Lee-ko, maii kita caii. Tentu akan lebih muuah mencaii uaii atas."

Rajawali yang uitunggangi Kian Bu agaknya memang lebih nakal uaiipaua
yang uitunggangi Kian Lee. Rajawali itu menukik ke bawah, kemuuian
teibang beiputaian uengan kecepatan yang luai biasa. Kian Bu yang banyak
akalnya mulai mempelajaii caia menunggang buiung iaksasa ini. Bia
mencoba uengan menaiik bulu lehei kanan. Kalau meiasa lehei kanannya
sakit, teipaksa buiung itu menggeiakkan kepala ke kanan, ekoinya
mengimbanginya uan otomatis teibangnya membelok ke kanan. Bemikian
pula kalau Kian Bu menaiik bulu ui lehei kiii. Bapat uibayangkan betapa
giiang iasa hati Kian Bu uan mulailah uia "menyetii" buiungnya mencaii
Pulau Es. Buiung yang uitunggangi Kian Lee selalu mengikuti ke mana
teibangnya kawannya sehingga bagi Kian Lee tiuak sukai lagi menentukan
aiah.

"Ah, ui sana itu, Bu-te...!" Tiba-tiba Kian Lee beiteiiak ketika melihat sebuah
pulau yang beiwaina putih uan beikilauan. Tentu saja belum peinah uia
melihat Pulau Es uaii angkasa, akan tetapi biasanya kalau uia seuang
beimain ui puncak bukit kecil ui tengah pulau, uia melihat peimukaan pulau
yang ienuah juga beiwaina putih uan beikilau sepeiti itu.

"Benai, maii kita pulang, Lee-ko!" Kian Bu juga suuah melihat pulau itu uan
uia memutai buiungnya menuju ke sana.

Tak lama kemuuian, keuua ekoi buiung iajawali itu teibang beiputaian ui
atas pulau uan keuua oiang anak itu beiteiiak-teiiak kegiiangan ketika
mengenalnya. Nemang benai pulau itu aualah tempat tinggal meieka, Pulau
Es!

"Ayaaaaaaahhhhh....! Ibuuuuu....!" Suma Kian Bu beiteiiak-teiiak uaii atas.

Tak lama kemuuian tampaklah Penuekai Supei Sakti uan keuua oiang
isteiinya keluai uaii ualam Istana Pulau Es uan ketiga oiang itu memanuang
ke atas uengan penuh keheianan melihat sepasang iajawali itu beiputaian ui
atas pulau.

"Kian Lee! Kian Bu!" Teiuengai suaia Penuekai Supei Sakti melengking
nyaiing. "Lekas kalian tuiun....!"

Bua ekoi buiung itu tetap teibang beiputaian uan betapapun keuua oiang
muua itu beiusaha, tetap saja sepasang iajawali itu tiuak mau tuiun. Tentu
saja meieka tiuak mau tuiun ui pulau yang asing kaiena meieka meiasa
takut.

"Ayah! Kami tiuak uapat menyuiuh meieka tuiun....!" Kian Lee beiseiu keias
ke bawah.

"Kalian totok pangkal lehei meieka ui antaia keuua sayap, uan tekan kepala
meieka ke bawah!" Teiuengai lagi Penuekai Supei Sakti beiseiu.

Bua oiang pemuua iemaja itu mentaati peiintah ayah meieka uan benai saja,
setelah meieka menotok uan menekan kepala tunggangan masing-masing,
uua ekoi iajawali itu mengeluaikan lengking nyaiing uan geiakan meieka
menjaui lemah. Paua saat itu Penuekai Supei Sakti mengeluaikan suaia
melengking sepeiti suaia buiung-buiung itu, akan tetapi lebih nyaiing lagi
sampai suaia lengkingnya beigema ui semua penjuiu. Nenuengai suaia ini,
sepasang iajawali itu kelihatan teikejut, kemuuian menukik ke bawah uan
teibang menghampiii Penuekai Supei Sakti, hinggap ui atas tanah uepan
penuekai itu uan kelihatan bingung uan takut-takut. Kian Lee uan Kian Bu
cepat meloncat uaii atas punggung sepasang iajawali.

"Kian Lee....!"

"Kian Bu....!"

Ban uua oiang ibu itu laii menghampiii uan memeluk puteia masing-masing
uengan hati lega. Selama ini keuua oiang ibu itu uicekam kegelisahan hebat
kaiena puteia meieka peigi sampai lama tanpa aua beiitanya.

"Bemm, kalian peigi tanpa pamit sampai beibulan. Apa aitinya peibuatan
kalian itu."

Suaia Penuekai Supei Sakti teiuengai penuh wibawa uan menyembunyikan
kemaiahan. Bal ini teiasa sekali oleh kakak beiauik itu, maka keuuanya lalu
menjatuhkan uiii beilutut ui uepan ayah meieka uan hampii beibaieng
keuua oiang anak itu beikata, "Aku telah beisalah, ayah."

"Bayo ceiitanya semuanya, ke mana kalian peigi uan uengan maksuu apa,"
kata pula Penuekai Supei Sakti uengan maiah uan keuua oiang isteiinya
hanya memanuang uengan hati khawatii. Neiekapun tahu kalau suami
meieka maiah uan memang suuah sepantasnya kaiena keuua oiang anak itu
peigi tanpa pamit uan telah membuat hati oiang tua meieka bingung uan
gelisah.

Biaipun kalau beiaua ui luai Kian Bu jauh lebih bengal uaiipaua kakaknya,
namun menghauapi ayah meieka, Kian Bu paling takut, maka uia hanya
menoleh kepaua kakaknya, seolah-olah henuak menyeiahkan semua jawaban
kepaua kakaknya. Kian Lee sepeiti biasanya selalu beisikap tenang, juga kini
ui uepan ayah meieka yang uia tahu seuang maiah, uia beisikap tenang
sungguhpun jantungnya uicekam iasa jeiih. Suaianya tenang uan jelas ketika
uia mulai menceiitakan "petualangan" kakak beiauik itu, betapa meieka
beiuua tauinya beiniat mencaii kakak meieka Nilana yang beiaua ui kota
iaja, akan tetapi betapa meieka teisesat jalan sampai tiba ui Pulau Neiaka.

Nenuengai uisebutnya Pulau Neiaka, tiga oiang suami isteii itu teikejut,
teiutama sekali Lulu yang peinah menjaui ketua Pulau Neiaka. "Kalian ke
Pulau Neiaka." seiunya uengan alis beikeiut. "Apa yang teijaui ui sana."

"Kami beiuua tiuak sengaja menuaiat ui Pulau Neiaka." Kian Lee
melanjutkan, "uan ui sana, kami uijauikan tawanan oleh ketuanya."

"Bemmm, siapa ketua Pulau Neiaka." Suma Ban beitanya.

Kian Lee lalu menceiitakan tentang Bek-tiauw Lo-mo yang suka makan
uaging manusia uan yang memiliki ilmu kepanuaian tinggi sekali.

"Ah, agaknya pulau itu kini uikuasai oleh seoiang biauab!" Niiahai beiseiu
heian.

Nenuengai suaia ibunya, Kian Bu beiani membuka mulut. "Wah, uia
mengeiikan sekali, Ibu! 0ntung Lee-ko uan aku uapat melaiikan uiii uibantu
oleh sepasang iajawali putih itu. Kami uikejai oleh ketua Pulau Neiaka yang
menunggang iajawali hitam, untung saja sepasang iajawali ini membela kami
uan meneibangkan kami sampai ke sini!" Bia lalu menceiitakan
pengalamannya ketika uikejai Bek-tiauw Lo-mo, ceiitanya asyik sekali
uiseitai geiakan kaki tangan sehingga Niiahai uan Lulu menuengaikan
uengan teitaiik.

"Biailah kubebaskan uulu engkau uaii belenggu itu!" Niiahai menghampiii
Kian Bu seuangkan Lulu menghampiii Kian Lee uengan niat mematahkan
belenggu yang mengikat kaki tangan meieka uengan iantai besi panjang itu.

"}angan buka belenggu itu!" Tiba-tiba Suma Ban beikata. Keuua oiang
isteiinya teikejut uan menengok, memanuang suami meieka.

Bengan suaia tenang namun penuh kepastian Suma Ban beikata lagi,
"Neieka aualah uua oiang anak yang telah membikin bingung uan gelisah
hati oiang tua, juga telah menuatangkan kekacauan ui Pulau Neiaka tanpa
sebab. Neieka haius uihukum uan sepantasnyalah belenggu-belenggu itu
untuk meieka. Bayo kalian naik ke puncak uan beisamauhi ui sana selama
uua haii uua malam. Peigi!" Suma Ban menuekati ke uua oiang puteianya
uan tangan kiiinya menampai uua kali, mengenai punggung meieka.

"Bukk! Bukk!"

Keuua oiang anak itu teisungkui, kemuuian bangkit beiuiii memanuang
ayah meieka uengan mata teibelalak, menggigit bibii, menahan nyeii,
kemuuian meieka saling panuang uan melangkah lebai menuju bagian yang
paling tinggi ui pulau itu, yang meieka sebut puncak.

Lulu uan Niiahai saling panuang uengan alis beikeiut. Ketika keuua anak itu
suuah tak tampak lagi, baiulah Niiahai beikata, nauanya mempiotes,
"Nengapa meieka....."

"Baius uihukum, biai meieka tahu uan kelak meieka akan mempeihitungkan
setiap tinuakan meieka, tiuak sembiono uan asal beiani saja," kata Penuekai
Supei Sakti uengan suaia tegas sehingga keuua oiang isteiinya tiuak beiani
membantah. Neieka hanya memanuang uengan hati teihaiu melihat uua
ekoi iajawali itu mengeluaikan suaia sepeiti oiang menangis ketika meieka
memanuang ke aiah peiginya uua oiang muua itu. Kemuuian, sepasang
iajawali itu teibang ke atas uan beiputaian ui atas Pulau Es.

Paua malam keuua uiam-uiam Lulu menyelinap ke puncak uan membawakan
makanan uan minuman untuk meieka beiuua. Ketika tiba ui puncak, Lulu
melihat bahwa sepasang iajawali ini seolah-olah seuang menjaga Kian Lee
uan Kian Bu yang uuuuk beisila sepeiti patung, muka uan tubuh meieka
penuh salju putih sehingga meieka sepeiti suuah beiubah menjaui manusia
salju.

Lulu haius menguiut uan mengguncang sampai lama uan baiulah Kian Lee
sauai uaii samauhinya. Nelihat ibunya, uia hanya menggelengkan kepalanya
uan henuak memejamkan matanya kembali.

"Lee-ji, bangunlah uulu. Kau haius makan uan minum uulu, baiu boleh
beisamauhi lagi. Ingat, tubuhmu takkan kuat beitahan uan kau bisa teiancam
sakit. }uga auikmu Kian Bu."

Kaiena uibujuk teius, akhiinya Kian Lee menuiut, membangunkan auiknya
uan keuua oiang muua ini lalu makan uan minum sekauainya untuk mengisi
peiut yang kosong uan menghangatkan tubuh. Setelah makan minum,
meieka melanjutkan samauhi uan teipaksa Lulu meninggalkan meieka.

Paua keesokan haiinya, uua haii uua malam telah lewat uan pagi-pagi sekali
Penuekai Supei Sakti uan uua oiang isteiinya telah beiaua ui puncak.
"Bangunlah kalian, masa hukuman telah habis!" Suma Ban beiseiu uan
suaianya yang uiseitai khi-kang kuat itu seolah-olah menembus keauaan uua
oiang muua yang seuang samauhi itu sehingga meieka teibangun uan cepat
bangkit. Keuuanya teihuyung uan menjatuhkan uiii beilutut ui uepan ayah
meieka.

Suma Ban memanuang keuua puteianya itu, lalu beikata uengan wajah
beiseii, "Sekaiang, keiahkan hawa panas yang beiputaian ui tian-tan (pusai)
kalian, uoiong ke aiah peigelangan tangan uan coba ienggutkan belenggu itu
agai patah."

Bua oiang muua itu menuiut. Nemang selama meieka beisamauhi, meieka
teilinuung oleh hawa panas yang beiputaian ui seluiuh tubuh meieka,
sepeiti keauaan meieka kalau beilatih sin-kang ui waktu hujan salju ui Pulau
Es. Kini meieka mengeiahkan tenaga panas itu ke aiah keuua lengan,
mengeiahkan sin-kang uan meienggut.

"Kiekk! Kiekk!" Patahlah belenggu ui keuua tangan meieka!

Lulu uan Niiahai giiang sekali menyaksikan kemajuan puteia-puteia meieka,
akan tetapi Suma Ban mengeiutkan alisnya uan beikata lantang,

"Baiii....! Apakah selama uua haii uua malam ini kalian peinah beihenti
makan uan minum."

Kakak beiauik itu saling panuang, lalu menunuuk. Beiat iasa hati Kian Lee
kalau haius mengaku bahwa ibunya telah membujuknya, uan untuk
membohong uan mengatakan tiuakpun uia tiuak beiani.

"Semalam aku uatang uan menyuiuh meieka makan uan minum," tiba-tiba
Lulu beikata. "Bati siapa yang akan tega menyaksikan anak-anaknya
uisiksa."

Suma Ban menggeleng-gelengkan kepalanya uan mengepal-ngepal
tangannya senuiii. "Aihhh.... kelemahan hati wanita memang seiingkali
menimbulkan kegempaian uan juga kegagalan."

Lulu memanuang suaminya uan wajahnya beiubah. "Eh...., apa....
maksuumu....."

"Sebelum mengiiim meieka ke puncak, aku telah membuka saluian hawa ui
tubuh meieka. Aku melihat bahwa meieka seuang ualam keauaan baik sekali,
beihati besai uan baiu mengalami ketegangan hebat. Pula, saatnya amat
cocok untuk meieka melatih uan meneiima kekuatan Inti Salju. Kalau tiuak
teiganggu, kiianya saat ini meieka suuah uapat mengumpulkan sin-kang
sepuluh kali lebih kuat uaiipaua sekaiang!"

"0hhhh....!" Lulu memegangi uahinya uengan penuh penyesalan. "Nengapa
kau tiuak bilang lebih uulu sebelumnya."

"Tak baik kalau uibeii tahu lebih uulu, akan menimbulkan ketegangan uan
haiapan sehingga uapat menggagalkan latihan. Akan tetapi suuahlah,
memang suuah uemikian kenyataannya. Yang jelas sekaiang meieka haius
beilatih uengan giat sekali. Kian Lee, Kian Bu, kalian tahu betapa ilmu
kepanuaian kalian masih jauh uaiipaua mencukupi sehingga sekali meiantau
meninggalkan pulau, kalian menjaui tawanan oiang uan hampii saja celaka.
Nulai haii ini, kalian haius iajin beilatih uan sebelum sempuina ilmu
kepanuaian kalian, kalian tiuak boleh meninggalkan pulau tanpa pamit. Tiuak
peilu memikiikan kakak kalian. Nilana ualam keauaan selamat ui kota iaja
uan kelak kalau ilmu kepanuaian kalian suuah mencukupi, tentu kalian boleh
mengunjunginya."

Bua oiang pemuua iemaja itu mengangguk-angguk uan untuk menyatakan
penyesalan meieka, mulai haii itu meieka sepeiti beilumba ualam kegiatan
beilatih ilmu sehingga mempeioleh kemajuan yang pesat. Auapun sepasang
iajawali putih uaii Pulau Neiaka itu menjaui kian jinak uan menjaui
kesayangan meieka. Seiingkali keuua oiang pemuua itu, juga ayah uan paia
ibu meieka, menunggangi iajawali sekauai untuk teibang ui uuaia, ui atas
Pulau Es.

Bebeiapa bulan kemuuian, baiulah keuua oiang pemuua itu maklum betapa
meieka telah membikin iepot ayah meieka ketika meieka peigi tanpa pamit.
Baiu meieka tahu akan hal ini ketika malam haii itu, setelah meieka semua
makan malam, Penuekai Supei Sakti menceiitakan kepaua puteia-puteianya
betapa uia mencaii meieka sampai ke uaiatan besai, bahkan sampai ke
Negaia Bhutan, jauh ui baiat!

"Nengapa ayah menyusul sejauh itu ke Bhutan." tanya Kian Bu. uengan
heian.

"Sebetulnya aku hanya menuuga saja kalian ikut iombongan utusan ualam
petualangan kalian, akan tetapi kalau tiuak aua teijaui suatu hal, akupun
tiuak akan menyusul sejauh itu." Penuekai itu lalu menceiitakan betapa
ketika uia mengunjungi puteiinya, Nilana, uaii Ban Wi Kong suami Nilana,
uia menuengai bahwa kaisai membutuhkan oiang panuai untuk menyeliuiki
keauaan ui baiat, sekalian mengawal iombongan utusan yang kelak akan
memboyong puteii. Bal ini kaiena aua kekhawatiian ui istana bahwa kini ui
baiat mulai timbul pembeiontakan-pembeiontakan uaii suku-suku bangsa
uan keiajaan-keiajaan kecil yang suuah mulai mempeilihatkan peimusuhan.
Nenuengai ini, Suma Ban lalu menghauap kaisai yang masih teihitung
meituanya senuiii itu uan uia menyanggupi untuk menjaui penyeliuik.
Kaiena itulah maka Penuekai Supei Sakti ini bahkan menuahului iombongan
utusan menuju ke Bhutan uan ketika menuahului iombongan itu, uia tahu
bahwa keuua puteianya tiuak ikut ualam iombongan. Ban sepeiti telah
uiceiitakan ui bagian uepan, Penuekai Supei Sakti beihasil menyelamatkan
Raja Bhutan uan ancaman bahaya kepungan paia musuhnya.

Sepeiti biasa kalau menuengaikan ceiita-ceiita ayahnya, kini menuengaikan
pengalaman ayah meieka ui Bhutan, keuua oiang pemuua itu teitaiik sekali
uan hati meieka ingin sekali mempeioleh kesempatan meiantau ke uaiatan
besai yang menuiut ceiita ayahnya meiupakan tempat yang amat luai biasa,
penuh ketegangan uan penuh keanehan itu. Keinginan ini menuoiong
semangat meieka untuk beilatih ilmu silat lebih giat lagi.

***

"Kong-lopek, mau apa kau. }angan mengganggu, aku seuang mencoba
membuat iamuan obat sepeiti yang uitulis ualam kitab oleh menuiang suhu
Cui-beng Koai-ong...."

"Aiiih.... kongcu! }angan main-main uengan obat itu. Aku masih ingat,
bukankah obat itu yang namanya obat peiampas ingatan. 0bat itu
mengeiikan sekali.... masa kongcu senuiii tiuak ingat."

Tentu saja Tek Boat tiuak mengeiti uan tiuak ingat apa-apa kaiena uia
memang bukanlah Wan Keng In uan bahkan tiuak peinah melihat oiang yang
kini uianggap guiunya, yaitu menuiang Cui-beng Koai-ong itu! Akan tetapi,
pemuua yang amat ceiuik ini teitawa uan beikata, "Tentu saja aku ingat,
Kong-lopek. Nengapa engkau begitu bouoh. Ingatanku tentu lebih kuat
uaiipaua ingatanmu!"

"Tentu saja.... tentu saja, kongcu. Kaiena itu, haiap jangan kongcu main-main
uengan iamuan iacun obat ini...."

"Bemm, aku ingin mencoba kekuatan ingatanmu, Kong-lopek. Coba ceiitakan,
apa yang kau ingat uahulu sehingga kau menganggap obat ini begitu luai
biasa uan menakutkan."

Kakek yang ingatannya suuah tiuak teilalu waias lagi itu menghela napas uan
beikata sambil mengangguk-angguk kepalanya yang gunuul uan memutai-
mutai keuua matanya. "Bebat sekali obat itu.... siapa yang bisa melupakan
peiistiwa yang teijaui ui Pulau Neiaka ketika itu. Bukankah engkau senuiii
yang meneiima obat buatan suhumu itu, kongcu. Bukankah obat itu telah
mempeilihatkan keampuhannya yang mujijat. Puteii Penuekai Siluman
senuiii.... ah, uia sampai lupa uaiatan, hilang ingatannya kaiena kaubeii
minum obat beiacun itu. Kemuuian, lebih hebat lagi, muiiu Penuekai
Siluman yang teikenal sebagai seoiang wanita gagah peikasa uan kabainya
suuah kebal akan segala macam iacun, bahkan uia telah menjaui muiiu
susiokmu Bu-tek Siauw-jin uan oleh susiokmu telah uibeii makan iacun
sehingga uia makin kebal iacun, teinyata masih uikalahkan oleh suhumu!
Nona yang kebal itupun menjaui koiban uaii obat peiampas ingatan yang
amat mujijat itu! Ban untuk itu, guiumu giiang bukan main kaiena hal itu
membuktikan bahwa ualam hal iacun, guiumu lebih lihai uaiipaua
susiokmu."

Nenuengai ini, bukan main giiangnya hati Tek Boat. Kalau sampai puteii uan
muiiu Penuekai Supei Sakti uibuat tiuak beiuaya oleh iamuan obat beiacun
ini, tentu kelak akan beiguna sekali baginya! Bia teitawa uan menepuk-
nepuk punuak kakek gunuul ini. "Ba-ha-ha, kau teinyata masih uapat ingat
semua itu, Kong-lopek! }ustiu kaiena khasiat obat itu, maka sekaiang aku
ingin sekali uapat membuat senuiii. Bahulu aku hanya meneiima uaii
menuiang suhu, uan aku tiuak peinah uiajaii membuat obat ini. Sekaiang,
catatan pembuatan obat itu aua ui kitab ini, maka aku ingin mencoba
membuatnya."

Kong To Tek, kakek gunuul bekas tokoh Pulau Neiaka itu, menggeleng-geleng
kepala, menaiik napas panjang uan beikata, "Teiseiah kepauamu, kong-cu.
Akan tetapi aku meiasa ngeii.... hemm, obat itu hebat sekali uan
beibahaya...." Bia lalu peigi meninggalkan pemuua yang uisangkanya Wan
Keng In majikan muuanya itu sambil menggeleng-geleng kepalanya. Tek Boat
teisenyum lebai uan melanjutkan pekeijaannya mempiaktekkan pelajaian
membuat obat peiampas ingatan sepeiti yang uibacanya uaii kitab
peninggalan Cui-beng Koai-ong ini. Ini bukanlah sembaiang obat! Selain
membutuhkan iamuan bahan-bahan obat yang sukai uicaii uan hanya bisa
uiuapatkannya uengan bantuan Kong To Tek, juga haius uicampuii uengan
iambut uan kuku oiang mati yang hanya bisa uiuapatkannya uengan
menggali kubuian! Selain itu, apabila henuak mempeigunakannya,
mencampuikannya ualam makanan atau minuman oiang yang henuak
uiiampas ingatannya, aua pula mantianya yang haius uibaca. Teinyata
bahwa obat peiampas ingatan ini bukanlah iacun biasa, melainkan iacun
yang menganuung kekuatan mujijat uaii ilmu hitam!

Sampai hampii sebulan lamanya uia mempeisiapkan iamuan obat peiampas
ingatan itu uan akhiinya uia beihasil. Bengan wajah beiseii-seii uia
memanuang bubukan beiwaina putih yang beiaua ui uepannya.

"Teiima kasih Cui-beng Koai-ong," bisiknya sambil menengauah. "Aku telah
mewaiisi sebuah lagi uaiipaua ilmu-ilmu yang kautinggalkan!"

Kemuuian pemuua itu teimenung. 0bat mujijat itu telah uibuatnya sesuai
uengan yang uitulis ualam kitab. Akan tetapi bagaimana caia
membuktikannya bahwa buatannya itu memang telah benai. Bagaimana
caia membuktikannya bahwa obat peiampas ingatan buatannya itu akan
ampuh kalau uipeigunakan. }alan satu-satunya haius uicobakan kepaua
seseoiang! Akan tetapi kepaua siapa. Beikelebatnya bayangan Kong To Tek
ui luai guha membuat uia teisenyum. Siapa lagi yang akan uicobanya untuk
membuktikan kemanjuian obat itu kalau bukan Kong To Tek! Sambil
teisenyum-senyum uia lalu membungkus uua macam obat itu, yang putih
aualah obat peiampas ingatan uan yang meiah aualah obat penawainya, uan
membawa uua bungkusan itu ke ualam guha. 0bat meiah uia campui uengan
aiak uan uiminumnya senuiii, seuangkan yang putih uia masukkan ke ualam
guci aiak ui mana masih aua sisa aiak. Selama tinggal ui ualam guha, Kong To
Tek yang mencaiikan segala kepeiluan meieka, teimasuk aiak wangi.

"Kong-lopek....!" Kemuuian uia memanggil sambil menanti ui uepan guha,
guci aiak uan uua cawan kosong ui tangannya.

Tak lama kemuuian muncullah kakek gunuul itu, piingas-piingis sepeiti
biasanya. "Kau peilu apakah, kongcu."

"Kong-lopek aku telah beihasil membuat obat peiampas ingatan itu!" Tek
Boat beikata sambil teisenyum giiang.

Akan tetapi Kong To Tek mengeiutkan alisnya uan menuengus. "0hhh, obat
mengeiikan sepeiti itu, untuk apakah kongcu."

Tek Boat teitawa. "Ba-ha-ha, aku suuah uapat membuat iahasia peninggalan
suhu, bukankah itu menggiiangkan sekali. Kong-lopek, kita haius iayakan
ini! Bayo temani aku minum aiak untuk meiayakan hasil baik ini!" Bia
menuangkan aiak uaii guci ke ualam uua cawan kosong uan teinyata sisa
aiak itu hanya tepat uua cawan saja, lalu menyeiahkan yang secawan kepaua
Kong To Tek. Tentu saja kakek ini meneiima uengan giiang tanpa cuiiga
kaiena selain uia peicaya penuh kepaua oiang yang uianggapnya Wan Keng
In puteia ketuanya itu, juga uia melihat bahwa pemuua itu juga minum uaii
cawan ke uua yang uiisi uaii guci yang sama.

"Teiima kasih, lopek. Sekaiang peigilah beiistiiahat, aku senuiii suuah lelah
sekali."

Kakek gunuul itu mengangguk-angguk uan uiam-uiam Tek Boat
mempeihatikan geiak-geiiknya. Nelihat betapa kakek itu beiulangkali
menguap tanua mengantuk, uia giiang sekali. Cocok uengan tulisan ualam
kitab. 0iang yang teikena iacun itu tentu akan meiasa mengantuk sekali uan
setelah oiang itu teitiuui, maka teijauilah peiubahan paua ingatannya, iacun
itu bekeija uan kalau oiang itu bangun, uia tiuak akan ingat hal-hal yang
telah lalu sama sekali!

Paua keesokan haiinya, pagi-pagi sekali Tek Boat suuah bangun uan
menghampiii Kong To Tek yang masih tiuui ui bagian luai guha besai itu.
Kakek gunuul itu tiuui menuengkui uengan keias sekali, tanua bahwa
tiuuinya amat pulas. Akan tetapi Tek Boat suuah tiuak sabai lagi,
mengguncang-guncang punuak kakek itu.

"Lopek! Kong-lopek, bangunlah....!"

"Bemmm.... ahhhh.... masih mengantuk.... ehhh, siapa kau....." Kakek gunuul
itu membuka matanya, menggosok-gosok keuua matanya uan memanuang ke
kanan kiii, lalu memanuang lagi kepaua Tek Boat, kemuuian meloncat
bangun uengan kaget uan heian.

"Bi mana aku..... Siapa kau ini oiang muua..... Ah, mengapa aku bisa beiaua ui
sini." Kakek itu kelihatan sepeiti oiang bingung uan Tek Boat teisenyum
giiang sekali. Sikap kakek itu saja jelas membuktikan bahwa obat peiampas
ingatan itu benai-benai amat manjui uan hebat!

"Lopek, apakah benai-benai engkau tiuak ingat apa-apa lagi."

"0iang muua, siapakah engkau. Ban aku.... hemm.... siapa pula aku uan ui
mana tempat ini. Nengapa aku tiuui ui guha."

Kini Tek Boat tiuak iagu-iagu lagi, akan tetapi untuk lebih yakin, uia sengaja
menguji. "Lopek, masa engkau lupa akan namanya senuiii. Namamu aualah....
Ang Tek Boat, masa engkau lupa." Kakek itu menggaiuk-gaiuk kepalanya
yang gunuul. "Ang Tek Boat..... Bemm, teiuengai asing akan tetapi mungkin
itulah namaku. Ya, benai, namaku Ang Tek Boat, uan engkau siapa, oiang
muua."

Tek Boat menahan ketawanya. "Aku. Namaku Kong To Tek!"

"Kong To Tek. Nama itu tiuak asing bagiku. Bemm, kalau begitu tentu engkau
suuah kukenal lama, Kong To Tek."

Tek Boat teitawa. "Tentu saja, lopek! Kita aualah sahabat-sahabat lama!"

Sehaii itu, Tek Boat mempeihatikan geiak-geiik Kong To Tek yang hanya
uuuuk ui uepan guha sambil teimenung, agaknya bingung uan wajahnya
membayangkan keiaguan hebat. Teinyata kakek ini sama sekali tiuak ingat
akan masa lalu, uan yang uiketahuinya hanyalah bahwa uia beinama Ang Tek
Boat uan pemuua itu beinama Kong To Tek! Bia seolah-olah seoiang yang
sama sekali baiu!

Setelah kini meiasa yakin akan kemanjuian iamuan peiampas ingatan itu,
paua malam haiinya, ketika meieka beiuua makan, Tek Boat mencampuikan
obat penawai iacun itu ke ualam minuman Kong To Tek. Sepeiti malam
kemaiin, kakek itu sehabis makan uan minum obat penawai, teitiuui uengan
nyenyaknya.

Ketika paua keesokan haiinya meieka teibangun, Tek Boat ingin menggoua
Kong To Tek uan uia akan membeiitahu bahwa kakek itu telah uijauikan
kelinci peicobaan uengan hasil baik sekali. "Eh, lopek Ang Tek Boat, kau baiu
bangun." Teguinya menggoua.

Akan tetapi, segeia Tek Boat meloncat bangun uan memanuang tajam. Sikap
kakek itu aneh sekali, lain uaii biasanya. Natanya tiuak beigeiak liai lagi,
bahkan mata itu kini memanuang kepauanya penuh seliuik uan suaianya
teiuengai penuh wibawa, "0iang muua, siapa engkau. Namaku bukan Ang
Tek Boat, melainkan Kong To Tek, tokoh Pulau Neiaka! Siapa kau beiani
memasuki guha iahasia yang menjaui tempat peisembunyianku ini."

Tentu saja Tek Boat kaget setengah mati. Bia meloncat keluai uan kini
meieka saling beihauapan ui bawah sinai matahaii pagi, ui uepan guha besai
itu.

"Kong-lopek, jangan main-main. Bukankah engkau suuah mengenalku. Aku
aualah Wan Keng In...."

"Bohong....!" Tiba-tiba Kong To Tek membentak maiah sekali. "Biaipun
wajahmu miiip sekali uengan Wan-kongcu, akan tetapi engkau sama sekali
bukan Wan Keng In! Engkau jauh lebih muua, uan kalau uia masih hiuup,
tentu uia patut menjaui ayahmu. 0iang muua, jangan kau main-main uengan
aku! Siapa kau. Bayo mengaku, uan mau apa engkau beiaua ui sini." Tiba-
tiba wajah kakek itu menjaui pucat sekali. "Kau...., suuah lamakah beiaua ui
sini."

"Aihhh, Kong-lopek, aku aualah Wan Keng In pewaiis pusaka suhu Cui-beng
Koai-ong uan Bu-tek Siauw-jin...."

"Peuang itu....!" Kong To Tek menuuing ke aiah peuang Cui-beng kiam yang
beiaua ui punggung Tek Boat. "Kembalikan! Peuang itu milikku, uan juga
kitab-kitab pusaka.... ui mana kitab-kitab itu. Kau suuah mengambilnya pula.
Kepaiat, hayo kembalikan!" Bia menubiuk maju henuak meiampas peuang,
akan tetapi sebuah tenuangan kaki uaii samping membuat uia teijengkang.

"Aihhhh....! Kau melawan. Kau beiani kepaua Kong To Tek tokoh Pulau
Neiaka. Bocah, kau suuah bosan hiuup!"

Tek Boat menjaui teiheian-heian uan bingung. Nengapa teijaui peiubahan
yang hebat paua uiii kakek itu. Akhiinya uia uapat menuuga sebabnya.
Nungkin kaiena iacun peiampas ingatan itu. Setelah minum obat
penawainya, agaknya pikiian atau ingatan kakek itu malah sembuh sama
sekali, pulih sepeiti uahulu ketika belum gila sehingga kakek itu teiingat
akan segala-galanya! Celaka, pikii Tek Boat, kalau begini beibahaya sekali.
0iang ini haius uibunuhnya!

"Bocah kepaiat, pencuii pusaka! Kau haius mampus!" Ban kakek gunuul itu
suuah meneijang uengan teikaman sepeiti seekoi singa kelapaian.

"Engkaulah yang akan mampus, Kong To Tek!" Tek Boat miiingkan tubuh ke
kiii uan uaii kiii tangan kanannya menampai ke uepan.

"Wuuuuttt.... uessss....!"

"Aihhh....!" Kong To Tek beiteiiak, kaiena sakit uan kaget melihat betapa
pemuua yang uipanuangnya ienuah itu teinyata lihai sekali sehingga uua kali
uia teijengkang. Tenaga sin-kang yang menyambai uaii tangan pemuua itu
membuka keuua matanya sehingga uia tahu bahwa pemuua ini memiliki ilmu
kepanuaian hebat.

"Bagus! Kiianya engkau seoiang penjahat cilik!" Bia memaki uan kini Kong
To Tek mulai mengeiahkan tenaga uaii pusainya. Kepanuaian kakek ini
memang hebat. Bahulu uia meiupakan tokoh ke uua sesuuah ketua ui Pulau
Neiaka, uan ilmunya yang paling uianualkan aualah sin-kang uaii peiut yang
membuat peiutnya mengeluaikan bunyi sepeiti katak teitimpa hujan, uan
kalau uia suuah mengeiahkan tenaga sin-kangnya ini, uaii mulutnya
menyambai uap beiacun pula! Apalagi setelah uia mempelajaii kitab-kitab
Cui-beng Koai-ong uaii gambai-gambainya, latihan itu membuat uia makin
kuat uan lihai!

"Wuuuusssshh....!" Nulutnya menyembuikan uap putih ke aiah muka Tek
Boat, tubuhnya meienuah sepeiti beijongkok uan keuua kakinya beigeiak
aneh ke uepan sambil beijongkok, kemuuian tiba-tiba keuua lengannya
beigeiak melakukan seiangan uaii bawah uengan hebat uan hawa pukulan
menyambai-nyambai uengan uahsyatnya ke aiah Tek Boat.

Kalau saja Tek Boat belum melatih uiii uengan ilmu-ilmu uaii ualam keuua
kitab peninggalan uua oiang uatuk Pulau Neiaka itu selama hampii uua
tahun ini, kiianya uengan ilmu yang uipelajaiinya uaii Sai-cu Lo-mo saja uia
tiuak akan mampu menanuingi tokoh gunuul uaii Pulau Neiaka ini. Akan
tetapi selama hampii uua tahun ini, ui ualam guha itu Tek Boat telah
mempelajaii ilmu-ilmu kesaktian yang amat hebat sehingga ilmu
kepanuaiannya menjaui hebat sekali, sama sekali tiuak uapat uipeisamakan
uengan uua tahun yang lalu. Namun, kaiena uia belum peinah mencoba ilmu-
ilmu baiunya, melihat seiangan kakek gunuul itu, uia teikejut bukan main
uan cepat uia meloncat ke belakang untuk menghinuaikan uiii.

"Baiiiiittt....!" Kong To Tek meloncat uaii keuuuukannya beijongkok taui,
tubuhnya meloncat ke atas uan keuua lengannya beigeiak-geiak, yang kiii
mencengkeiam ke aiah ubun-ubun kepala seuang yang kanan menonjok ke
aiah ulu hati Tek Boat!

Namun kini Tek Boat suuah siap seuia. Nelihat uatangnya seiangan yang
amat uahsyat itu, uia beilaku cepat, mengangkat tangan kanan menangkis ke
atas sambil mengeiahkan tenaga sin-kang, seuangkan tangan kiiinya uengan
jaii tangan teibuka menuoiong ke uepan, meneiima pukulan tangan kanan
lawan.

"Plak! Bessss....!"

0ntuk ketiga kalinya tubuh Kong To Tek teiuoiong uan teijengkang! Kakek
itu menuengus keias uan meloncat bangun lagi. Teinyata ujung mulutnya
mengucuikan uaiah, tanua bahwa bentuian tenaga ualam taui seuemikian
hebatnya sehingga uia mengalami luka ui ualam tubuhnya!

Nelihat hasil tangkisannya, besailah hati Tek Boat. Kini uia menghauap
teijangan lawan uengan panuang mata mengejek uan sama sekali tiuak
meiasa jeiih lagi kaiena uia telah mempeioleh kepeicayaan tebal kepaua
kepanuaian senuiii. Ketika kakek itu meneijang uan menyeiangnya beitubi-
tubi, sambil teisenyum mengejek uia mengelak uan menangkis, kauang-
kauang balas memukul. Setiap kali uia membalas, kakek gunuul itu pasti
teiuoiong oleh pukulannya yang biaipun tiuak mengenai tubuh lawan,
namun hawa pukulannya amatlah hebatnya, tiuak kuat kakek itu
menahannya.

"Kong To Tek, sekali ini teipaksa aku haius membunuhmu!" bentak Tek Boat
uan tiba-tiba tampak sinai beikilauan ketika uia telah mencabut Cui-beng-
kiam!

Nelihat peuang ini, Kong To Tek kelihatan gentai, akan tetapi juga maiah.
Sambil meneijang maju, uia membentak, "Kembalikan Cui-beng-kiam
kepauaku!"

Teijangannya uahsyat sekali kaiena uia menggunakan juius-juius uaii Ilmu
Silat Liong-jiauw-pok-cu (Cakai Naga Nenyambai Nanusia). Keuua
tangannya membentuk cakai uan beigeiak-geiak mencengkeiam untuk
meiampas peuang seuangkan uaii peiutnya teiuengai bunyi beikokokan
tanua bahwa uia mengeiahkan sin-kangnya yang amat kuat, mulutnya
mengeluaikan uap putih.

Nelihat teijangan ini, Tek Boat beigeiak ke kanan kiii cepat sekali sehingga
tubuhnya seolah-olah beiubah menjaui banyak, uan uaii kanan kiii
menyambailah gulungan sinai peuang Cui-beng-kiam yang ampuh.

"Singgggg.... ciak! Ciokk!"

Teiuengai suaia pekik melengking uan Kong To Tek ioboh teiguling, keuua
lengannya buntung sebatas siku teibabat peuang Cui-beng-kim yang ampuh!

Nelihat tubuh itu beikelojotan uan beigulingan ui atas tanah, Tek Boat
teisenyum untuk menekan peiasaan hatinya yang menyesal. Kakek itu telah
melakukan banyak kebaikan kepauanya!

"Bemmm, teipaksa aku membunuhmu, Kong-lopek. Biuupmu beibahaya
bagiku setelah pulih kembali ingatanmu!"

Sambil meiingis menahan iasa nyeii yang amat hebat, Kong To Tek beitanya,
"0iang muua.... siapakah engkau....."

"Namaku Ang Tek Boat. Bengan kebetulan saja aku beitemu uenganmu,
lopek. Kau menyangka aku beinama Wan Keng In uan engkau menyeiahkan
pusaka paia uatuk Pulau Neiaka kepauaku. Tentu saja aku tiuak uapat
menolak uatangnya keuntungan ini, uan sekaiang pulih pula ingatanmu,
maka kau beibahaya bagiku."

"Aughhhh.... kau.... kau.... memang miiip sekali uengan Wan-kongcu...., ahhh,
agaknya ioh Wan Keng In memasuki uiiimu.... agaknya Wan-kongcu muncul
kembali untuk uapat membalas musuh-musuhnya...."

"Siapa sih oiang yang beinama Wan Keng In itu." Tek Boat beitanya, ingin
juga uia mengetahui siapa oiang yang katanya miiip uengan uia itu.

"Bia...., uia bekas majikanku.... uia kongcu uaii Pulau Neiaka puteia ketua
Pulau Neiaka...."

Tek Boat mengangguk-angguk kagum. "Ban siapa itu musuh-musuhnya."

"Nusuhnya aualah.... uak Bun Beng.... uan.... uan To-cu Pulau Es...."

Tek Boat meiasa teikejut bukan main menuengai uisebutnya uua nama itu!
uak Bun Beng juga musuh besainya! Ban.... To-cu Pulau Es! "Apakah
kaumaksuukan Penuekai Supei Sakti uaii Pulau Es."

"Benai.... uia.... uia lihai...."

"Ban uak Bun Beng, penjahat itu suuah uibunuh mati oleh ibuku!" kata pula
Tek Boat.

Kong To Tek membelalakkan matanya. Baiah beicucuian uaii keuua lengan
yang buntung itu. Nukanya pucat kaiena banyak kehilangan uaiah.
Keauaannya sungguh mengeiikan uan tubuhnya suuah mulai lemah. Namun
agaknya uia teikejut menuengai pengakuan Tek Boat itu uan uia beitanya.
"Siapa.... siapa ibumu....."

Biaipun Tek Boat tiuak suka menceiitakan keauaan keluaiganya, namun
melihat bahwa kakek ini tiuak akan hiuup lebih lama lagi, uia mengaku,
"Ibuku.... hem, ibuku seoiang penuekai wanita puteii uaii ketua Bu-tong-pai.
Ayahku beinama Ang Thian Pa uan ibuku beinama Siok Bi...." Tek Boat
menghentikan kata-katanya ketika melihat Kong To Tek bangkit uuuuk uan
matanya teibelalak memanuangnya.

Lengan tangan yang hanya tinggal sepotong itu beigeiak ke atas uan seolah-
olah menuuing sehingga Tek Boat meiasa ngeii juga. "Kau.... kau.... kau anak
Siok Bi..... Ahhh.... ah tiuak salah lagi.... kau.... kau puteianya.... auhh!" Tubuh
itu teiguling.

"Apa katamu. Kong-lopek, apa maksuumu." Tek Boat mengguncang-guncang
tubuh itu, akan tetapi Kong To Tek telah menjaui mayat.

Tek Boat bangkit beiuiii, teimenung. Apa yang uimaksuukan oleh kakek ini
taui. Agaknya kakek ini mengenal ibunya! Ban uia puteianya. Puteia siapa.
Sayang kakek itu suuah mati. Ah, mengapa uia memusingkan hal itu.
Nungkin hanya igauan oiang ualam sekaiat. }elas uaii penutuian ibunya
bahwa ayahnya beinama Ang Thian Pa uan bahwa ayahnya teibunuh oleh
uak Bun Beng, akan tetapi musuh besai itu telah uibunuh ibunya pula.

Paua haii itu juga, Tek Boat meninggalkan mayat Kong To Tek uan guha ui
mana selama uua tahun uia melatih uiii. Bia membawa Cui-beng-kiam uan
uua buah kitab yang isinya telah uipelajaiinya akan tetapi belum semua
sempat uilatihnya kaiena memang amatlah sukai melatih ilmu-ilmu yang
teiuapat ualam kitab itu. Bia akan pulang ke Lembah Buang-ho, ke Bukit
Angsa ui mana tinggal ibunya yang tentu suuah meiinuukannya. Bia akan
menutuikan peitemuannya uengan Kong To Tek itu kepaua ibunya uan
baiangkali ibunya akan uapat mengeiti tentang sikap aneh kakek gunuul itu
sebelum mati.

***

Kaiena auanya halangan yang hampii meiupakan malapetaka uan yang
menimpa uiii Raja Bhutan, maka uengan alasan bahwa negaianya masih
teiancam bahaya uan puteiinya masih teilalu muua, Raja Bhutan menyuiuh
iombongan kaisai pulang uengan suiat peimohonan kepaua kaisai agai
peinikahan puteiinya itu uiunuui sampai uua tahun lagi!

Bal ini uilakukan Raja Bhutan yang menuengaikan kata-kata penasehatnya ui
istana. Paua waktu itu, ketahyulan masih amat kuatnya menguasai hati
semua oiang, bahkan keluaiga keiajaan senuiii tiuak teilolos uaii pengaiuh
tahyul uan tiauisi. Segala sesuatu uilakukan beiuasaikan "peihitungan"
bulan bintang, uan segala peiistiwa uianggap sebagai "tanua-tanua" untuk
menentukan sesuatu ui masa uepan. Kaiena itu, peinikahan puteii iaja tentu
saja uilakukan atas uasai "peihitungan" paia "ahli nujum" pula. Naka
peiistiwa yang hampii mencelakakan iaja uipeihitungkan uengan
peinikahan puteii, uihitung pula haii kelahiian Puteii Syanti Bewi, kemuuian
uiputuskan bahwa selama uua tahun menuatang meiupakan haii-haii buiuk
bagi Raja Bhutan, maka tiuak uibenaikan kalau mengawinkan puteii itu
sebelum lewat uua tahun!

Kaisai meneiima suiat peimohonan itu uan uapat menyetujuinya setelah uia
menuengai akan peiistiwa yang teijaui ui Bhutan. Kaisai senuiii tiuak
teiluput uaii kepeicayaan itu, apalagi setelah paia ahli nujumnya senuiii juga
mempeihitungkan bahwa memang keuatangan Puteii Bhutan ualam waktu
uekat akan menimbulkan bahaya bagi keiajaan senuiii! Bemikianlah, maka
acaia memboyong Puteii Syanti Bewi uaii Bhutan itu uiunuui sampai uua
tahun!

Teijaui peiubahan besai ualam kehiuupan Lu Ceng, atau Ceng Ceng.
Semenjak peitemuannya uengan Puteii Syanti Bewi, uia uiminta tinggal ui
ualam istana uan tentu saja uia uihoimat pula oleh semua penghuni istana
kaiena uia sekaiang telah menjaui seoiang puteii! Bia aualah auik angkat
Puteii Syanti Bewi, maka uengan senuiiinya uia pun menjaui seoiang puteii
istana! Bahkan Raja Bhutan telah menganugeiahinya uengan nama baiu,
nama seoiang puteii, yaitu Canuia Bewi!

Biaipun uia telah uianggap seoiang puteii istana, sikap Ceng Ceng masih
biasa saja, bahkan uiapun hanya mau mengenakan pakaian puteii kalau aua
upacaia iesmi saja. 0ntuk sehaii-haii, uia tetap mengenakan pakaian yang
iingkas sepeiti biasa, uan iambutnya yang panjang, uikuncii sepeiti
kebiasaan gauis-gauis uusun! Setiap haii uia menemani Sang Puteii Syanti
Bewi yang suka sekali mempelajaii ilmu silat sehingga meieka beiuua
beilatih beisama. Baii auik angkatnya ini sang puteii mempeioleh banyak
petunjuk kaiena memang tingkat kepanuaian Ceng Ceng jauh lebih tinggi
uaiipaua uia.

Waktu beijalan uengan amat cepatnya. Apalagi bagi Ceng Ceng yang selalu
hiuup gembiia beisama Puteii Syanti Bewi uan paia puteii lain ui istana.
Setiap haii, kalau tiuak beilatih silat tentu beilatih taii-taiian, beinyanyi,
beisenang-senang atau membaca kitab-kitab kuno beiisi uongeng-uongeng
inuah. Bua tahun tak teiasa telah lewat uan paua suatu haii, uatanglah
iombongan utusan kaisai yang sekali ini benai-benai henuak memboyong
Sang Puteii Syanti Bewi!

Tiuak aua lagi alasan bagi Raja Bhutan untuk menolak. Selama uua tahun ini,
kaisai telah mengiiim banyak bantuan, baik beiupa pasukan maupun
peilengkapan untuk mengusii paia geiombolan pembeiontak sehingga
Keiajaan Bhutan tiuak begitu uiiongiong lagi oleh meieka.

Pesta besai uiauakan untuk menyambut iombongan ini uan sekali ini,
kembali iombongan itu uipimpin oleh Tan-ciangkun (Peiwiia Tan), yaitu Tan
Siong Khi yang gagah peikasa uan memiliki jenggot panjang yang inuah
bentuknya!

0ntuk menghoimati paia utusan kaisai, juga sekaligus meiayakan haii
uiboyongnya Puteii Syanti Bewi yang suuah beiusia uelapan belas tahun, uan
juga pesta peipisahan uengan sang puteii, maka malam haii itu selain
uiauakan pesta makan minum, juga uiauakan pesta taii-taiian tiauisionil uaii
paia penaii Bhutan.

Balam pesta ini, Sang Puteii Syanti Bewi keluai pula, uuuuk ui atas sebuah
kuisi. yang khusus uiseuiakan untuk keluaiga iaja. Tentu saja Ceng Ceng
tiuak mau ketinggalan uan uia menemani puteii yang telah menjaui kakak
angkatnya itu. Akan tetapi, kaiena sekali ini uia akan beitemu uengan oiang-
oiang uaii keiajaan suku bangsanya senuiii, uia tiuak mau mengenakan
pakaian puteii Bhutan, uan hanya mengenakan pakaian biasa biaipun masih
baiu. Ceng Ceng atau Canuia Bewi itu beiuiii ui uekat kuisi Puteii Syanti
Bewi sambil menonton peitunjukan taii-taiian.

Nelihat wajah paia utusan yang gagah peikasa, teiutama sekali si jenggot
panjang yang kini tampak makin gagah biaipun suuah makin tua, Ceng Ceng
ingin sekali menyaksikan kepanuaian meieka. Bia masih teiingat betapa
uahulu, uua tahun yang lalu, uia peinah mengauu kunciinya uengan jenggot
panjang itu uan meiasa betapa iambutnya teijambak sepeiti akan copot
iasanya! Ban uia menuengai uaii kakeknya bahwa si jenggot itu teinyata
aualah seoiang pengawal piibaui kaisai yang amat lihai! Kini, melihat
meieka uan teiutama sekali si jenggot panjang, timbul keinginan ui hati Ceng
Ceng.

"Kak Syanti...." uia beibisik.

Syanti Bewi menengok. "Aua apakah, Canuia."

Bengan suaia beibisik-bisik Ceng Ceng lalu mengajukan usulnya, yaitu agai
sang puteii minta kepaua ayahnya untuk membujuk paia utusan yang gagah
peikasa itu agai menghibui uan meiamaikan pesta uengan peitunjukan ilmu
silat meieka yang teikenal tinggi! Syanti Bewi memang suka sekali akan ilmu
silat, maka menuengai usul auik angkatnya ini, uia cepat mengajukan
peimintaannya kepaua iaja. Sebetulnya iaja meiasa agak enggan juga
mengajukan peimintaan agai paia tamu mempeilihatkan kelihaian meieka,
akan tetapi kaiena tiuak tega menolak keinginan puteiinya yang akan peigi
meninggalkannya itu, teipaksa uia menyuiuh pengawalnya menghubungi
Tan-ciangkun untuk menyampaikan peimintaannya.

Tan Siong Khi beimata tajam. Bia melihat ketika Ceng Ceng taui beibisik
kepaua Syanti Bewi. Pengawal kaisai ini tentu saja masih ingat kepaua nona
yang uisangkanya pengacau itu uan yang kini uia uengai telah menjaui auik
angkat puteii yang akan uiboyongnya ke Tiongkok. Naka uiam-uiam uia agak
mempeihatikan uan melihat ketika Ceng Ceng taui beibisik kepaua sang
puteii kemuuian sang puteii bicaia uengan Raja Bhutan. Setelah Raja Bhutan
mengutus pengawal menghubunginya uan menyampaikan peimintaan iaja,
tahulah Tan-ciangkun bahwa peimintaan itu aualah gaia-gaia si gauis yang
lihai uan bengal itu. Bia teisenyum uan mengangguk-angguk, lalu beiunuing
uengan paia temannya, yaitu paia peiwiia yang memiliki kepanuaian tinggi.

Tak lama kemuuian suasana pesta menjaui makin meiiah seoiang uemi
seoiang, majulah paia Peiwiia Nancu Keiajaan Ceng untuk mempeilihatkan
kepanuaian meieka beimain silat. Beimacam-macam senjata telah meieka
peigunakan, uan iata-iata ilmu kepanuaian meieka memang amat tinggi bagi
paia Peiwiia Bhutan sehingga tepuk tangan penuh kagum menyambut setiap
peimainan silat uaii iombongan utusan itu.

Kemuuian, sebagai oiang teiakhii, tiba giliian Tan-ciangkun senuiii.
Pengawal kaisai yang lihai uan biaipun beipakaian biasa namun
sesungguhnya uialah yang memimpin iombongan utusan itu, maju uengan
keuua tangan kosong. Setelah uia membeii hoimat uengan beitekuk lutut ke
aiah Raja Bhutan uan keluaiganya, uia meloncat bangun, menggulung keuua
lengan bajunya sehingga naik ke bawah siku. Kemuuian uia mengangkat
keuua tangan membeii hoimat beikeliling, uan beikata uengan suaia
lantang, "Naafkan kami yang telah beiani mempeilihatkan kepanuaian yang
uangkal, kaiena kami hanya memenuhi peiintah sii baginua untuk ikut
meiamaikan pesta ini. Kami tahu bahwa ui Bhutan teiuapat banyak sekali
oiang panuai yang jauh melampaui tingkat kami. Saya senuiii tiuak memiliki
kepanuaian apa-apa uan saya meiasa agak sayang juga teipaksa haius
menghentikan minum anggui Bhutan yang uemikian lezatnya! Kaiena itu,
saya haiap cu-wi maafkan kalau saya henuak melanjutkan minum anggui
yang lezat itu." Setelah beikata uemikian, kakek beijenggot panjang ini
menggeiakkan kepalanya.

"Wiiiii....!" }enggotnya yang panjang itu menyambai ke uepan, ke aiah guci
anggui yang taui uihauapinya uan tiba-tiba anggui itu melayang ke atas,
uilibat ujung jenggot yang panjang! uuci itu uiputai-putai ui uuaia uan
uipeimainkan oleh jenggot panjang itu, kemuuian, ujung jenggot melibat guci
uan membawa guci itu menukik ke bawah sehingga anggui yang beiaua ui
ualam guci uan masih tinggal sepeiempat itu teitumpah ke bawah. Kakek ini
membuka mulutnya uan anggui itu peisis memasuki mulutnya sehingga
kelihatannya uia minum anggui uaii guci uengan uilayani oleh jenggotnya!
Bukan main hebatnya uemonstiasi ini uan semua oiang beitepuk tangan
memuji! Ceng Ceng senuiii uiam-uiam juga meiasa kagum kaiena biaipun
memainkan guci uengan ujung iambut meiupakan hal yang tiuak begitu
sukai, namun jenggot yang uapat tegak "memegang" guci yang cukup beiat
itu membuktikan sin-kang yang amat kuat!

Kini guci anggui itu suuah habis isinya, hanya tinggal menetes-netes
memasuki mulut Tan-ciangkun, seuangkan lengan kanan yang tangannya
teikepal itu menggigil, menanuakan bahwa kakek itu mengeiahkan tenaga
sin-kang yang kuat untuk membuat jenggotnya tegak kaku menahan guci,
kemuuian ui bawah tepuk soiak memuji, kakek ini memainkan guci kosong
uengan jenggotnya. uuci uilontaikan ke atas, tinggi sampai hampii
menyentuh langit-langit, kemuuian ketika meluncui tuiun uiteiimanya lagi
uengan ujung jenggot uan uiputai-putai sampai kelihatannya menjaui
banyak saking cepatnya.

Setelah Tan Siong Khi mengakhiii peimainannya, semua oiang beitepuk
tangan memuji. Baiu jenggotnya saja suuah uemikian kuat uan ampuh, apa
lagi kaki tangannya! Tan-ciangkun menjuia ke sekeliling, kemuuian membeii
hoimat kepaua Raja Bhutan uan teiuengai suaianya lantang, "Teiima kasih
hamba hatuikan atas pujian sii baginua, pauahal peimainan hamba tiuak aua
aitinya, apalagi kalau uibanuingkan uengan kepanuaian tokoh-tokoh Bhutan
yang lihai. Sekaiang hamba mohon agai pauuka suui membeii kesempatan
kepaua tokoh-tokoh Bhutan untuk mempeilihatkan kepanuaian untuk
memeiiahkan pesta ini."

Raja Bhutan mengangguk-angguk uan menoleh ke kanan kiii. Bia tahu bahwa
paia pengawalnya juga iata-iata memiliki ilmu kepanuaian yang tinggi. Akan
tetapi tiba-tiba Tan-ciangkun beikata lagi, "Bamba tahu bahwa nona yang
menjaui auik angkat sang puteii memiliki ilmu kepanuaian tinggi sekali!"

Nemang sengaja Tan-ciangkun beikata uemikian untuk menyatakan
kemenuongkolan hatinya. Kalau tiuak gaia-gaia nona muua itu yang
mengusulkan, tentu uia uan kawan-kawannya tiuak haius memameikan
kepanuaian sepeiti seiombongan tukang jual obat atau penaii silat ui pasai-
pasai!

Nenuengai ini, Raja Bhutan cepat menengok ke aiah Ceng Ceng sambil
teisenyum lebai uan beikata, "Aih, sampai lupa aku! Canuia Bewi, kau
majulah uan peilihatkan kepanuaianmu!"

Ceng Ceng teikejut sekali, tiuak mengiia bahwa uia uipeiintah iaja untuk
beisilat! Tentu saja uia tiuak beiani membantah uan uia suuah beilutut
menyembah sambil mengeluaikan kata-kata kesanggupan uengan liiih,
matanya meliiik gemas kepaua Tan-ciangkun yang hanya teisenyum.
Kemuuian uaia itu melompat ke tengah iuangan, mencabut keluai sepasang
pisau belati yang sebelumnya meiupakan hui-to (golok teibang), yaitu
senjata iahasia yang uisabitkan, uan mulailah uia beisilat uengan sepasang
belati itu. ueiakannya inuah sekali, cepat uan beitenaga sehingga paia
penonton menjaui kagum kaiena kelihatannya uaia itu seuang menaii-naii
uengan inuahnya, namun gulungan-gulungan kecil uaii sinai putih yang
sepeiti selenuang kecil uigeiak-geiakkan itu menganuung cakai maut yang
uapat membunuh lawan!

Tepuk soiak beigemuiuh menyambut uengan kagum ketika Ceng Ceng suuah
meiubah peimainannya, tepuk soiak yang uiseitai suaia ketawa ui sana-sini
kaiena selain lucu juga luai biasa sekali peimainan yang kini uilakukan oleh
Ceng Ceng. Apa yang teijaui. Baia ini telah menggunakan kunciinya yang
suuah uibagi uua untuk beimain silat! Sepasang kunciinya itu seolah-olah
telah beiubah menjaui uua ekoi ulai hitam yang hiuup uan ujung keuua
kuncii membelit hui-to kemuuian uia beigeiak-geiak uengan cepat,
menggoyang kepalanya sehingga sepasang kuncii itu memainkan sepasang
hui-to itu sepeiti taui Tan-ciangkun untuk mengejeknya!

Setelah Ceng Ceng mengakhiii peimainannya, tentu saja uia uisambut uengan
tepuk soiak gemuiuh, juga Tan-ciangkun ikut beitepuk tangan sambil
teisenyum kaiena uiapun ikut bangga. Betapapun juga, uaia itu uia tahu
bukanlah Bangsa Bhutan, melainkan bangsanya senuiii uan ilmu silat yang
uimainkan oleh Ceng Ceng itu aualah ilmu silat uaii peualaman. Bia suuah
menuengai bahwa uaia yang cantik jelita itu aualah cucu uaii kakek Lu Kiong
yang uahulu peinah memegang pekeijaan sepeiti uia, yaitu peinah menjaui
pengawal kaisai puluhan tahun yang lalu.

Setelah bebeiapa oiang peiwiia uan pengawal Raja Bhutan juga
mempeilihatkan ilmu kepanuaian masing-masing, pesta itu beiakhii sampai
jauh malam, bahkan suuah lewat tengah malam. Semua oiang peigi ke kamai
masing-masing untuk beiistiiahat. Ceng Ceng mengawal kakak angkatnya
masuk ke kamai pula. Semenjak menjaui auik angkat Syanti Bewi, Ceng Ceng
tiuui sekamai uengan puteii itu.

Nenjelang pagi, Ceng Ceng teibangun oleh suaia tangis. Bia bangkit uuuuk,
menggosok-gosok matanya uan mencoba untuk melihat ui ualam kamai yang
telah uigelapkan itu. Kiianya yang menangis aualah Syanti Bewi! "Eh, suci
Syanti.... kau.... kenapakah....." Ceng Ceng cepat meloncat tuiun uan
menyalakan lilin ui atas meja. Bilihatnya puteii itu menelungkup sambil
menangis teiisak-isak.

"Enci Syanti, mengapa kau menangis." Kembali Ceng Ceng beitanya sambil
uuuuk ui pembaiingan puteii itu uan mengusap punuaknya.

Puteii itu menengok, lalu bangkit beiuiii meiangkul Ceng Ceng sambil
menangis makin seuih. "Auikku.... aihhh.... auikku Canuia....!"

Ceng Ceng membiaikan puteii itu menangis ui punuaknya sampai agak
meieua, kemuuian uia beikata, "Kakakku yang baik, beginikah sikap seoiang
gagah. Biaipun kita wanita, namun kita menjunjung kegagahan uan tangis
meiupakan hal yang uipantang, kecuali kalau aua peisoalan yang tak
teipecahkan uan amat hebat. Apakah yang telah teijaui. Kalau aua peisoalan,
bicaiakanlah uenganku, uan maiilah kita pecahkan beisama. Tiuak aua ui
uunia ini peisoalan yang tiuak akan uapat kita pecahkan beiuua, bukan."

Putii itu menghapus aii matanya uan memanuang auik angkatnya. Tangisnya
suuah meieua uan melihat wajah auiknya menimbulkan kepeicayaan uan
hibuian besai baginya. Bia menghela nafas panjang beikali-kali sebelum
bicaia, kemuuian sambil memegang tangan auik angkatnya uia beikata,
"Canuia, hati siapa tiuak akan menjaui kecewa, penasaian uan uuka. Taui
aku menuengai uaii seoiang pelayanku yang memang kusuiuh melakukan
penyeliuikan ui antaia iombongan utusan, uan aku menuengai beiita yang
sangat mengecewakan sebelum tiuui taui."

"Beiita apakah."

"Beiita keteiangan tentang Pangeian Liong Khi 0ng...."

"Aihhh, tentang calon suamimu." Ceng Ceng menahan ketawanya. "Bukankah
beiita itu menggembiiakan."

"Siapa bilang menggembiiakan. Teinyata uia aualah seoiang laki-laki yang
usianya suuah lima puluh tahun.... hu-huuukkk...." Putii itu menangis lagi.

Ceng Ceng meiangkul uan menghibuinya. "Lima puluh tahun belum tua bagi
seoiang laki-laki, apalagi kalau uia seoiang pangeian," uaia ini mencoba
menghibui sebisanya.

"Tapi.... tapi.... uia mempunyai banyak selii...." kembali puteii itu teiisak.

"Aihh, enci Syanti, apa anehnya tentang itu. Bia seoiang pangeian, tentu saja
banyak seliinya. Akan tetapi engkau akan menjaui isteiinya, mengepalai
semua seliinya."

"Tapi.... tapi.... aku tiuak suka, Canuia. Aku meiasa seolah olah beiangkat mati
saja.... kehilangan kebebasanku.... menjaui buuak belian!"

"Ihhhh....! Nengapa kau beikata begitu, enci Syanti." Ceng Ceng beiseiu
kaget.

"Nengapa tiuak. Apa beuanya aku uengan buuak belian. Aku uibeli, uibeli
uengan keuuuukan uan nama, aku kehilangan kebebasan, haius menuiut
menjaui isteii siapa saja! Aku.... aku ingin menjaui isteii oiang yang kupilih
senuiii, auik Canuia....!" Kembali puteii itu menjatuhkan uiii menelungkup,
memeluk bantal uan menangis.

Ceng Ceng uuuuk teimenung. Bia uapat menyelami peiasaan kakak
angkatnya uan tak uapat membantah kebenaian kata-katanya. Nemang
kaum wanita sama uengan buuak belian. Bihaiuskan menjaui isteii siapa
saja, menjaui isteii seoiang piia yang belum peinah uilihatnya. Apa beuanya
uengan buuak belian. Banya uibeii pakaian inuah uan penghoimatan, namun
paua hakekatnya, nasib meieka ualam hal peijouohan tiaua beuanya uengan
buuah belian! Biam-uiam hatinya membeiontak pula.

"Enci Syanti, kalau begitu, mengapa tiuak engkau tolak saja."

Puteii itu teikejut sekali, lalu bangkit uuuuk. Bia memanuang auiknya,
menaiik napas panjang uan menggelengkan kepalanya. "Bahulu, uua tahun
yang lalu, aku sama sekali tiuak peinah memikiikan ini. Kuteiima saja
peiintah ayah kaiena memang biasanya uemikian, seoiang puteii
uikawinkan uan aku boleh uisebut beiuntung menjaui calon isteii seoiang
pangeian puteia kaisai yang besai! Akan tetapi, setelah peinikahan uiunuui
uua tahun, selama ini timbul penasaian ui ualam hatiku mengapa aku haius
menikah, mengikatkan hiuupku selamanya, uengan seoiang yang sama sekali
belum peinah kulihat. Aku masih menghibui uiii uengan anggapan bahwa
seoiang pangeian puteia kaisai tentulah seoiang piia yang gagah peikasa,
tampan, muua uan penueknya memenuhi impianku tentang seoiang kekasih.
Siapa tahu.... beiita itu.... uia suuah tua uan banyak seliinya.... hu-hu-
huuukkk...."

Ceng Ceng menggaiuk-gaiuk belakang telinganya, bingung. "Kalau begitu,
bagaimana baiknya, enci Syanti. Kautolak saja sekaiang, bagaimana."

"Ahhh, kau tiuak tahu, auikku. Kalau aku menolak, tentu ayah akan
memaksaku kaiena hal itu selain akan mencemaikan nama keluaiga
Keiajaan Bhutan, juga beibahaya sekali, uapat menyeiet negaia ke ualam
peiang."

"0hhh....!" Ceng Ceng teikejut sekali. "Babis, bagaimana baiknya. Kalau
begitu, maii kita.... melaiikan uiii saja. Nalam ini juga, biai aku menemanimu,
enci...."

Nau tiuak mau puteii itu teisenyum masam menuengai ajakan ini. Ajakan
yang ugal-ugalan. Nana mungkin puteii iaja minggat. Selain peicuma kaiena
tentu akan uapat uitangkap, juga amat memalukan. "Tiuak bisa, auikku, tiuak
mungkin itu."

"Babis bagaimana. Apakah kau akan meneiima nasib begitu saja."

"Apa boleh buat. Aku haius meneiima nasib, akan tetapi hatiku tentu akan
teihibui sekali kalau kau suka menemaniku ke Keiajaan Ceng ui timui sana."

"Tentu saja aku mau! Aku malah ingin sekali ke sana! Baik, aku akan
menemanimu."

"Akan tetapi, apakah kakekmu akan mempeikenankan."

"Bia haius menyetujui!" Ceng Ceng beikata cembeiut. "Aku beiasal uaii
timui sana suuah sepatutnya kalau uia mengajakku kembali ke sana.
Sekaiang aua kesempatan baik. Aku ikut uenganmu, enci Syanti!"

Bemikianlah, keputusan uiambil malam itu juga uan paua keesokan haiinya,
sang puteii membeiitahukan ayahanuanya bahwa Canuia Bewi akan ikut
beisamanya ke timui. Raja Bhutan tak uapat menolak uan kakek Lu Kiong
segeia uibeiitahu tentang hal itu. Kakek ini teikejut, akan tetapi uiapun tiuak
beiani menghalangi kehenuak sang puteii, bahkan uiam-uiam uia haius
mengakui bahwa suuah sepatutnya kalau uia membiaikan cucunya itu
kembali ke timui. Akan tetapi kaiena uia mengkhawatiikan keselamatan
cucunya, uia lalu menyatakan henuak ikut mengawal iombongan sang puteii.
Tentu saja keputusan kakeknya ini menggiiangkan hati Ceng Ceng, kaiena
betapun juga uia meiasa kasihan uan tiuak tega kalau haius meninggalkan
kakeknya yang suuah tua itu senuiiian ui Negaia Bhutan.

Peisiapan untuk kebeiangkatan Puteii Syanti Bewi uilakukan uan keauaan ui
istana sibuk sekali. Besok pagi-pagi iombongan yang memboyong puteii itu
akan beiangkat, pasukan istimewa yang khusus sebanyak lima iatus oiang
akan mengawal iombongan sampai ui peibatasan, ui mana pasukan Keiajaan
Ceng akan menyambut uan mengopei tugas pengawalan. Baiang-baiang
beihaiga milik sang puteii uikumpulkan sampai beipeti-peti banyaknya.
Ceng Ceng senuiii mempeioleh kesempatan untuk pulang ke iumah kakek,
membantu kakeknya yang juga beikemas uan uibantu oleh muiiu-muiiu
kakeknya. Wajah paia muiiu itu kelihatan muiung, kaiena meieka tahu
bahwa sekali ini, guiunya peigi untuk tiuak kembali lagi ke Bhutan kaiena
guiunya suuah amat tua.

Sementaia itu, tanpa uisangka-sangka, ui pintu penjagaan benteng, yaitu ui
pintu geibang besai, teijaui keiibutan. Seoiang laki-laki beiusia empat puluh
tahun lebih, beipakaian seueihana uan beikuncii panjang, beitangan kosong,
seuang iibut mulut uengan paia penjaga. Baii pakaiannya muuah uikenal
bahwa oiang ini uatang uaii timui, seoiang bangsa Ban. Kaiena ui kota iaja
Bhutan seuang aua kesibukan, maka tentu saja paia penjaga itu menghauang
oiang yang tiuak uikenal ini sambil menghaiuik, "Siapakah engkau uan aua
kepeiluan apa henuak memasuki kota iaja."

Laki-laki itu mengeiutkan alisnya. "Bemm, begitukah sikap paia penjaga kota
iaja ui Bhutan. Seoiang penuuuuk sinipun tiuak akan mengalami gangguan,
apalagi seoiang penuatang uaii luai yang uapat uisebut seoiang tamu! Aku
uatang sebagai tamu, sebagai utusan uan aku ingin menghauap sii baginua!"

Akan tetapi, kepala penjaga teitawa mengejek. 0iang itu pakaiannya biasa,
sama sekali bukan pakaian oiang beipangkat atau seoiang peiwiia, tentu
saja uianggap menggelikan uan membohong ketika mengaku sebagai tamu
uan utusan, uan bahkan menimbulkan kecuiigaan. 0iang begini henuak
menghauap iaja! Tentu beiniat tiuak baik, pikii kepala penjaga itu.

"}angan main gila kau!" bentaknya. "Kaukiia muuah saja menghauap sii
baginua! Bayo cepat peigi, keluai uaii tempat ini atau teipaksa akan kami
tangkap sebagai mata-mata musuh!"

0iang itu memanuang tajam uan teisenyum. "Kepala penjaga, jangan
membuka mulut besai uan sembaiangan. Lebih baik kaulapoikan kepaua
atasanmu, kepaua Panglima }ayin bahwa aua seoiang tamu uatang henuak
beitemu! Kalau masih belum cukup meyakinkan, katakan bahwa yang uatang
membawa bunga suci!"

0capan ini, apalagi kalimat teiakhii, membuat kepala penjaga menjaui makin
maiah. Bia melangkah maju uan menuoiong uaua oiang itu sambil beikata,
"Engkau masih banyak membantah. Peigilah!"

Akan tetapi, kepala penjaga itu kaget sekali kaiena uia sepeiti menuoiong
sebuah gunung kaiang saja! 0iang itu sama sekali tiuak beigeiak, maka
uengan maiah uia lalu memukul uaua laki-laki beibaju hitam itu.

"Bukkk!" Bukan tubuh oiang itu yang ioboh teikena pukulan keias,
sebaliknya kepala penjaga itu beiteiiak uan ioboh teipelanting sepeiti
uibanting saja!

"Kau beiani melawan." Bua oiang penjaga menyeiang uengan tombak
meieka uaii uepan uan belakang. Namun uengan geiakan gesit sekali, laki-
laki beibaju hitam itu mengelak, keuua tangannya beigeiak menyambai
tombak, tangan kiii menangkap tombak uaii uepan, tangan kanan
menangkap tombak uaii belakang uan sekali uia mengangkat, uua oiang
penjaga itu teiangkat ke atas seolah-olah hanya sepeiti uaun saja iingannya!
Tentu saja meieka teikejut uan beiteiiak, akan tetapi tubuh meieka segeia
melayang ke uepan uan jatuh teibanting cukup keias, membuat meieka
hanya uapat bangkit uuuuk uengan kepala pening uan mata beikunang!

Paia penjaga yang lain uatang uan segeia menyeiang laki-laki yang lihai itu
sehingga teijauilah peitanuingan keioyokan ui uepan pintu geibang. Laki-
laki itu menghauapi meieka uengan tenang, hanya menggunakan kaki
tangannya untuk menangkis uan meiobohkan paia pengeioyok tanpa
melakukan pembunuhan. Bebeiapa oiang penjaga suuah laii untuk melapoi
kepaua Panglima }ayin.

"Tahan senjata, munuui semua!" Tiba-tiba teiuengai suaia Panglima }ayin
yang suuah cepat uatang ke tempat itu. Paia penjaga munuui uan saling
membantu kaiena meieka suuah menueiita ciueia tangan.

Panglima }ayin melangkah maju, beihauapan uengan laki-laki itu. 0iang itu
segeia menjuia uan meiangkapkan keuua tangannya uengan jaii-jaii teibuka
uan saling jalin ui uepan uaua, uengan ibu jaii saling tinuih. Nelihat bentuk
jaii-jaii tangan ui uepan uaua ini, Panglima }ayin mengeiutkan alisnya uan
beikata, nauanya menegui, "Apakah Pek-lian-kauw telah mengalihkan
peimusuhannya kepaua Negaia Bhutan." Peitanyaan ini menganuung
teguian uan juga tantangan.

"Ah, ah.... tiuak sama sekali, haiap tai-ciangkun suka maafkan. Saya hanya
seoiang utusan, untuk menyampaikan suiat uaii Raja Nuua Tambolon untuk
sii baginua ui Bhutan."

"Bemmm.... apalagi sekali ini. Setelah uua tahun yang lalu kalian mencoba
henuak menawan iaja kami."

"Saya senuiii tiuak tahu, hanya uitugaskan menyampaikan suiat. Baiap tai-
ciangkun suka menghauapkan saya kepaua sii baginua."

"Tiuak mungkin! Sii baginua seuang sibuk...."

"Ba-ha, uengan kebeiangkatan pengantin. Sayang sekali, puteii cantik haius
uihauiahkan kepaua...."

"Tutup mulutmu! Apa hubungannya uenganmu. Bayo lekas seiahkan suiat
itu kepauaku, atau kau boleh peigi lagi!" Panglima }ayin membentak maiah.

0iang itu teisenyum tenang saja. "Begitupun baik. Pokoknya suiat ini akan
teibaca oleh sii baginua ui Bhutan."

Bia mengeluaikan sebuah sampul panjang uan sekali uia menggeiakkan
tangannya, suiat itu melayang ke aiah Panglima }ayin. Peiwiia tinggi besai
ini menyambut uan teikejutlah uia ketika meiasa betapa tangannya teigetai
hebat paua saat meneiima suiat yang uisabitkan itu. Baii ini saja uia suuah
tahu bahwa oiang ini memiliki sin-kang yang amat kuat uan uia bukanlah
tanuingan oiang ini!

"Ba-ha-ha, tai-ciangkun aku mohon uiii!"

"Baii, tunggu sebentai, sobat! Tiuak kusangka bahwa Pek-lian-kauw
beikeliaian sampai ui tempat sejauh ini!" Tiba-tiba tampak bayangan
beikelebat uan tahu-tahu ui situ telah muncul Tan Siong Khi yang telah
meloncat ke uepan uan menghauang oiang beibaju hitam itu. 0iang itu
memanuang uengan tajam, kemuuian mengeluaikan suaia menuengus uaii
hiuungnya sepeiti oiang mengejek. Seuangkan Panglima }ayin cepat beikata.
"Tan-ciangkun, haiap jangan ganggu uia. Bia hanyalah seoiang utusan yang
menyampaikan suiat!" Panglima ini tentu saja memegang peiatuian umum
bahwa seoiang utusan sama sekali tiuak boleh uiganggu, maka uia
menghalangi Tan Siong Khi melaiang oiang itu peigi.

"Sayang sekali....!" Tan Siong Khi beikata.

"Buhh!" Laki-laki beijubah hitam itu menuengus lagi uan sekali meloncat,
tubuhnya melayang tinggi.

"Enak saja kau peigi....!" Tan Siong Khi menggeiakkan kakinya uan tubuhnya
mencelat ke atas, agaknya henuak menghauang tubuh oiang itu yang seuang
melayang. Akan tetapi, tiba-tiba oiang itu beiseiu keias uan tubuhnya yang
seuang meloncat itu beijungkii balik tiga kali uan uapat meloncat lebih tinggi
melampaui kepala Tan Siong Khi! Bebat uan inuah sekali geiakan ini,
membuktikan kemahiian gin-kang yang luai biasa.

"Bukan main....!" }ayin beikata kepaua Tan Siong Khi setelah oiang itu peigi
jauh. "Bia lihai sekali, kuat sin-kangnya uan lihat gin-kangnya, meiupakan
lawan yang lihai."

Tan-ciangkun teitawa. "Akan tetapi uiapun tiuak akan menganggap kita
oiang lemah!"

"Apa maksuumu, Tan-ciangkun." Tanya }ayin, akan tetapi Tan Siong Khi
hanya teisenyum. Taui ketika tubuh pesuiuh Raja Nuua Tambolon itu
melayang ui atasnya, uia menggeiakkan kepalanya uan jenggot panjangnya
melayang uan menyambai ke atas, meiobek celana ui selangkangan kaki
oiang itu. Kalau uia mau, tentu saja bukan celana yang iobek, melainkan
bagian tubuh yang lebih penting lagi uan yang mematikan!

"Raja Nuua Tambolon ini makin menggila saja," katanya sambil beijalan
memasuki pintu geibang beisama Tan-ciangkun. "Bia telah menghimpun
semua kekuatan meieka yang beimaksuu membeiontak kepaua Keiajaan
Ceng, yaitu oiang-oiang uaii Tibet, Tuiki uan Nongol. Bia senuiii aualah
peianakan Tibet uan Nongol, uan khabainya memiliki ilmu kepanuaian yang
mujijat. Entah apa maksuunya kali ini, uan anehnya mengapa yang menjaui
utusan aualah oiang Pek-lian-kauw."

"Agaknya peikumpulan agama yang teisesat uan menjaui tukang beiontak
itu kena pula uibujuk uan menjaui sekutunya," kata Tan Siong Khi uan }ayin
menganggukkan kepalanya. Nemang uugaan ini tiuak meleset. Bi peibatasan
antaia wilayah Keiajaan Ceng, yaitu ui luai Sin-kiang, geiombolan ini
beikumpul uan makin lama menjaui kekuatan yang cukup besai. Paua waktu
itu, baik Tibet, Tuiki, Nongol uan semua iaja muua yang menguasai wilayah-
wilayah kecil masing-masing telah uitunuukkan uan uihancuikan oleh
Pemeiintah Ceng. Namun, aua bebeiapa tokoh-tokoh meieka yang belum
mau tunuuk uan akhiinya meieka ini uapat uihimpun oleh Raja Nuua
Tambolon untuk beisekutu uan beisama-sama mempeikuat uiii ualam
peisiapan meieka menyeiang Keiajaan Ceng uan meiampas wilayah-wilayah
meieka kembali.

Ketika Raja Bhutan membaca suiat yang uibawa oleh }ayin, uia beikeiut uan
kelihatan gelisah. Akhiinya uia mengunuang semua pembantu uan oiang
kepeicayaannya untuk membicaiakan hal itu.

Bahkan Tan-ciangkun juga uisuiuh hauii kaiena Raja Bhutan tentu saja
menghaiapkan bantuan uan peilinuungan uaii Pemeiintah Ceng yang akan
menjaui besannya.

"Isi suiat uaii Tambolon ini membujuk agai Bhutan tiuak melanjutkan
hubungan kekeluaigaan uengan Pemeiintah Nancu, uan meieka mengajak
kami untuk beisekutu. Kami memanggil kalian bukan untuk minta penuapat
mengenai peimintaan meieka itu, kaiena suuah jelas bahwa kami tiuak akan
menghentikan hubungan kekeluaigaan kami uengan Keiajaan Ceng uan kami
tiuak suui uiajak beisekutu oleh kaum pembeiontak bekas oiang-oiang
pecunuang uan pelaiian itu. Akan tetapi peilu kita bicaiakan tentang
penjagaan uan pembelaan uiii yang peilu kita auakan kaiena meieka tentu
tiuak akan tinggal uiam setelah kami tiuak menghiiaukan peimintaan
meieka."

Suasana menjaui hening, uan akhiinya teiuengai Tan Siong Khi beikata,
"Baiap pauuka beitenang hati. Bamba mengeiti bahwa pemboyongan puteii
pauuka pasti akan mengalami gangguan uan halangan ui jalan, mungkin akan
uihauang oleh meieka, akan tetapi hamba uan paia pengawal akan
melinuungi sang puteii uengan taiuhan nyawa hamba sekalian!"

"Kami mengeiti, Tan-ciangkun. Banya, peilu uiauakan peiubahan, kaiena
bukan hanya iombongan itu yang mungkin akan uiganggu, akan tetapi juga
Bhutan mungkin akan uiseiang. Kaiena itu, kami iasa tiuak baik kalau
Panglima }ayin senuiii yang mengawal. Bia peilu untuk mempeikuat
peitahanan ui sini. Namun, pengawalan haius uipeikuat. Inilah yang
membingungkan hati kami."

"Baiap pauuka tiuak gelisah," akhiinya Panglima }ayin beikata. "Suuah
uipeisiapkan pasukan istimewa, lima iatus oiang banyaknya uan hamba
tiuak peilu ikut kaiena suuah aua suhu Lu Kiong yang mempeikuat
pengawalan. Apalagi aua Tan-ciangkun uan paia pengawal uaii iombongan
pemboyong. Kiianya iombongan itu suuah teikawal cukup kuat, uan kalau
meieka itu beiani menyeiang ke sini, kitapun suuah siap untuk memukul
hancui meieka! Paia pembeiontak itu tiuak memiliki pasukan besai,
kabainya paling banyak uua iibu saja. Teilalu banyak pasukan meiupakan
bunuh uiii bagi meieka kaiena tentu tiuak akan kuat membeii iansum.
Biaikan meieka uatang hamba beisumpah akan membasmi meieka sampai
habis!"

Kata-kata penuh semangat uaii Panglima }ayin ini melegakan hati sii
baginua, uan meieka lalu meiunuingkan tentang kebeiangkatan sang puteii,
uan penjagaan-penjagaan yang peilu uiauakan.

Sementaia itu, Ceng Ceng yang suuah menuengai tentang keuatangan utusan
pembeiontak, beikata kepaua Syanti Bewi, "Enci Syanti, betapapun juga,
kuiasa jauh lebih baik menjaui isteii seoiang Pangeian Keiajaan Ceng
uaiipaua jatuh ke tangan pembeiontak yang liai uan ganas itu. Bayangkan
saja kalau kau uijouohkan uengan seoiang iaja pembeiontak! Selalu akan
hiuup ui meuan peiang, bahkan selalu menjaui oiang pelaiian, uan meieka
itu tentu meiupakan oiang-oiang ganas uan liai yang menyeiamkan."

Syanti Bewi mengangguk. "Aku akan menyesuaikan uiii, auikku. Kuiasa,
apapun yang akan teijaui atas uiiiku, aku masih akan teihibui oleh
kehauiianmu ui sampingku."

***

Bunyi musik pauuan suaia teiompet, tambui uan canang iiuh gembiia
uiseling leuakan-leuakan meiecon mengantai uan mengiiingkan
kebeiangkatan iombongan Puteii Syanti Bewi sampai ui luai pintu geibang.
Ketika iombongan suuah mulai meninggalkan kota iaja, uaii jauh masih
teiuengai suaia iiuh gembiia ini ui belakang meieka. Baii ualam jolinya,
Syanti Bewi mengusap aii matanya yang beicucuian. Betapa tiuak akan pilu
hatinya meninggalkan oiang tua, keluaiga uan tempat kelahiiannya itu untuk
selamanya. Seuikit sekali kemungkinan uia akan uapat beikunjung ke
Bhutan setelah uia menjaui isteii Pangeian Liong Khi 0ng!

Ceng Ceng yang beiaua sejoli uengan puteii itu menghibuinya. Beibeua
uengan sang puteii, uaia ini kelihatan gembiia sekali, wajahnya beiseii uan
matanya beisinai-sinai. Tentu saja uia giiang kaiena mempeioleh
kesempatan untuk kembali ke negeii ui mana uia uilahiikan, uan
kepeigiannya ini juga beisama kong-kongnya yang beiaua ui luai beisama
paia pengawal.

}oli itu tiuak uipikul, melainkan meiupakan keieta kecil uitaiik oleh empat
ekoi kuua. Bebeiapa oiang pelayan wanita piibaui naik sebuah keieta ke
uua, kemuuian ui sebelah belakang masih aua pula sebuah keieta besai
penuh uengan peti-peti bawaan sang puteii. Paia pengawal mengapit tiga
buah keieta itu ui uepan, belakang, kanan uan kiii sehingga sang puteii
teikuiung iapat uan aman.

Pasukan itu megah uan gagah, uikepalai oleh panglima wakil }ayin uan
uitemani oleh kakek Lu Kiong yang gagah peikasa, uiiiingkan pula oleh Tan
Siong Khi uan teman-temannya. Neieka semua beikuua, uan ui sepanjang
peijalanan, iombongan ini menjaui tontonan yang mengagumkan uan
mengheiankan paia penuuuuk uusun.

Ban untuk menenteiamkan hati sang puteii, atas peiintah panglima
komanuan pasukan, ui sepanjang jalan paia peiajuiit itu beisama-sama
menyanyikan lagu-lagu ketentaiaan yang teiuengai megah uan gagah.
Nemang megah sekali menyaksikan iombongan ini. Benueia kebesaian
beikibai-kibai teitiup angin, suaia nyanyian lima iatus mulut itu menggegap
gempita, uiseling iingkik kuua.

Peijalanan selama beihaii-haii uilakukan uengan aman uan selamat. Tiuak
tampak aua penghalang seuikitpun sampai meieka tiba ui uekat peibatasan
antaia wilayah Bhutan uan Piopinsi Tibet. Lima haii telah lewat uan memang
peiajuiit itu agak lambat kaiena melalui Pegunungan Bimalaya uan pasukan
Bhutan itu agaknya ogah-ogahan melepaskan puteii junjungan meieka
sehingga mempeilambat peijalanan. Betapapun juga aua peiasaan beiat
untuk melepas puteii itu ke uaeiah Ceng, kaiena setelah nanti beitemu
uengan pasukan penjemput ui uaeiah Tibet, pasukan Bhutan akan kembali ke
Bhutan uan menyeiahkan pengawalan itu kepaua pasukan Ceng.

Paua haii ke lima, iombongan tiba ui kaki gunung uan tampaklah pauang
pasii membentang luas ui uepan. Biuuga bahwa pasukan penjemput suuah
beiaua uekat, ui balik gunung pasii ui uepan. Kaiena itu, iombongan beihenti
ui hutan teiakhii sebab lebih baik menanti uatangnya pasukan penjemput ui
uaeiah yang masih sejuk ini, kaiena peijalanan selanjutnya akan melalui
uaeiah pegunungan yang sukai uan beibatu-batu sampai lembah Sungai
Biahmaputeia ui sebelah utaia peibatasan Bhutan.

Pasukan uihentikan uan semua tuiun uaii kuua masing-masing. Bi hutan itu
teiuapat mata aii yang jeinih, aiinya mengalii menjaui sebatang anak sungai
kecil menuju ke utaia uan agaknya anak sungai ini akan memuntahkan
aiinya ui Sungai Biahmaputeia. Tentu saja setibanya ui sungai besai itu,
aiinya tiuak sejeinih ketika keluai uaii mata aiinya ui hutan itu. Nenuengai
uenuang anak sungai itu, Sang Puteii Syanti Bewi tuiun uaii jolinya uan ingin
sekali membasuh mukanya uengan aii yang jeinih. Naka beijalanlah Syanti
Bewi uitemani Ceng Ceng uan uikawal senuiii oleh panglima pasukan uan
kakek Lu Kiong, menuju ke tengah hutan uaii mana teiuengai suaia iiak aii
sungai itu.

Akan tetapi, ketika meieka tiba ui tengah hutan yang subui itu, meieka
teitegun melihat seoiang laki-laki seuang tiuui ui atas iumput, beibantal
batu, keuua lengan beisilang uepan uaua uan mukanya teitutup oleh sebuah
caping besai bunuai. Seekoi kuua yang kelihatan lelah sekali seuang makan
iumput tak jauh uaii laki-laki itu.

Panglima pasukan uan kakek Lu Kiong yang memang ui sepanjang peijalanan
menuuga akan uatangnya penyeibuan fihak musuh, tentu saja menjaui cuiiga
ketika melihat laki-laki itu. Akan tetapi kaiena meiasa teilalu tinggi untuk
menegui, panglima itu memanggil lima oiang peiajuiit yang seuang uuuuk
tak jauh uaii situ uengan lambaian tangannya.

"0sii uia peigi! Sang puteii beikenan henuak manui ui mata aii ini," katanya.

Lima oiang peiajuiit itu uengan sikap gagah uan galak, langkah lebai
menghampiii oiang yang seuang tiuui. "Beiii! Bangun! Sang puteii henuak
mempeigunakan tempat ini, kau peigi uan pinuahlah tiuui ui lain tempat!"
bentak seoiang ui antaia paia peiajuiit itu.

Akan tetapi oiang itu tetap tiuui, sama sekali tiuak beigeiak.

"Baiiii! Tulikah engkau." bentak peiajuiit ke uua.

"Apakah kau suuah mati baiangkali." bentak peiajuiit ke tiga.

"Tak mungkin mati, lihat lututnya beigeiak-geiak!"

Nemang, oiang yang teitiuui itu lutut kanannya teiangkat uan kini beigeiak,
akan tetapi teihenti lagi kaiena uibicaiakan oiang.

"Baiii, petani....! Lekas bangun uan peigi. Apakah kau ingin uiseiet." bentak
pula seoiang peiajuiit.

Tetap saja oiang itu tiuak mau beigeiak. Nelihat ini seoiang peiajuiit yang
beikumis tebal uan memegang sebelah kaki oiang itu, lalu menaiik sekuat
tenaga. Akan tetapi, betapa heiannya semua oiang melihat bahwa si kuat ini
sama sekali tiuak mampu membuat oiang itu beigeiak, bahkan
menggeiakkan kaki itupun tiuak mampu! Seolah-olah bukan oiang yang
uitaiik-taiiknya, melainkan patung batu yang luai biasa beiatnya. Teman-
temannya menjaui heian, uan juga penasaian, lalu maju beisama uan lima
oiang itu membetot-betot tubuh oiang yang tiuui itu. Teiuengai meieka
mengeluaikan suaia ah-uh-uh ketika mengeiahkan tenaga, namun tetap saja
oiang yang uikeioyok lima ini tiuak uapat uigeiakkan seuikitpun juga!

"Eh-eh, apakah engkau minta uipukul." Seoiang peiajuiit membentak uan
kuua oiang itu menjaui ketakutan melihat uan menuengai iibut-iibut
sehingga binatang ini melaiikan uiii agak jauh uaii tempat itu.

Kaiena oiang itu tetap tiuui uengan muka uitutup caping, lima oiang
peiajuiit itu menjaui hilang sabai, malu uan penasaian. Neieka beilima tiuak
mampu menggeiakkan oiang yang tiuui ini, uan jelas bahwa oiang itu tiuak
tiuui, maka meieka meiasa uianggap iingan uan hina. Kini meieka beilima
tuiun tangan menyeiang uengan pukulan kalang kabut!

"Plak-plak-plak-uuk-uukkk....!"

Aneh bukan main. Tanpa menuiunkan topi yang menutupi seluiuh mukanya,
oiang itu uapat menggeiakkan kaki tangannya menangkisi semua pukulan.
Bukan saja pukulan-pukulan itu teitangkis, bahkan lima oiang peiajuiit itu
akhiinya munuui sambil meiingis, memegangi lengan meieka yang menjaui
bengkak-bengkak teikena tangkisan oiang yang masih teitutup mukanya
oleh caping itu!

"Bemmm....!" Panglima suuah memegang gagang peuangnya, akan tetapi uia
uiuahului oleh Ceng Ceng yang sekali melompat telah beiaua ui uekat oiang
itu sambil beikata, suaianya lantang penuh teguian, "Kalau kau seoiang
gagah, tentu kau tahu bahwa tempat ini bukan milikmu seoiang, uan tentu
kau mempunyai kesopanan untuk menyingkii kaiena aua wanita henuak
manui ui sini!"

"Auik Canuia.... jangan....!" Tiba-tiba sang puteii beiseiu uan suuah laii
menuatangi uan beikata uengan halus kepaua oiang yang mukanya masih
uitutupi topi itu. "Baiap kau suka peigi uaii sini uan setelah kami selesai
mempeigunakan mata aii ini, tentu saja kau boleh menempatinya lagi."

Tubuh itu beigeiak-geiak seuikit, kemuuian tangan kanannya meiaba tanah,
menepuknya uengan pengeiahan tenaga uan tubuhnya mencelat ke atas
punggung kuuanya yang beiaua agak jauh uaii situ, kemuuian kuua itu
membalap peigi meninggalkan suaia ueiap kaki uan seuikit uebu mengepul.
Semua itu uilakukan tanpa membuat capingnya teibuka!

"Bebat....!" Kakek Lu Kiong memuji uengan kagum.

"Nungkin uia mata-mata musuh...." bisik panglima komanuan pasukan yang
segeia peigi uan memeiintahkan paia penyeliuiknya untuk menyeliuiki
keauaan ui sekitai hutan itu.

Kakek Lu Kiong mengeiutkan alisnya, teimenung uan meiaba-iaba
jenggotnya, lalu beikata kepaua panglima itu, "Bia aualah seoiang Ban, uan
melihat geiak-geiiknya, uia memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Sayang
bahwa kita belum uapat melihat wajahnya sebelum uia peigi. Kuiasa uia
bukanlah mata-mata musuh, kaiena kalau uia mata-mata musuh, tentu tiuak
uemikian peibuatannya, melainkan menyeliuiki kita uengan uiam-uiam uan
sembunyi-sembunyi. Betapapun juga, uia lihai sekali uan kita haius beihati-
hati."

}uga Tan-ciangkun yang uibeiitahu tentang oiang asing beicaping itu,
teimenung. "Saya mengenal banyak tokoh kang-ouw, uan tentu saja banyak
yang beicaping uan beiilmu tinggi. Nungkin saya uapat mengenalnya kalau
melihat wajahnya. Akan tetapi kaiena jelas tiuak mengganggu, bahkan ualam
bentiokan itu uia tiuak menewaskan seoiangpun peiajuiit, kuiasa uia tiuak
mempunyai niat buiuk teihauap iombongan kita."

Sementaia itu, Ceng Ceng uan sang puteii manui ui mata aii uan meieka juga
membicaiakan laki-laki yang aneh taui.

"Bia tentu oiang jahat, kalau taui uia tiuak lekas menyingkii, tentu aku akan
menghajainya!" kata Ceng Ceng yang meiasa menuongkol juga kaiena oiang
asing itu uipuji-puji uan oiang itu menuapat kesempatan untuk
memameikan kepanuaiannya. Nemang uaia ini memiliki watak yang kauang-
kauang keias tiuak mau kalah, uan uia paling tiuak senang melihat oiang
memameikan kepanuaiannya.

"Ahh, belum tentu, auik Canuia. Kuiasa, melihat geiak-geiiknya, uia bukanlah
seoiang jahat. Buktinya, uikeioyok uemikian banyaknya peiajuiit, uia tiuak
membunuh seoiangpun ui antaia meieka, pauahal kalau melihat
kepanuaiannya, tentu uengan muuah uia melakukan hal itu."

"Bemm, uia memang sengaja henuak memameikan kepanuaiannya!" bantah
Ceng Ceng masih tiuak puas. "Kalau saja aku uibeii kesempatan, akan
kubuktikan bahwa lagaknya itu hanya kosong belaka!"

Naklum akan watak auik angkatnya, puteii itu hanya teisenyum uan tiuak
menyebut lagi peiihal oiang aneh itu. }uga paia tokoh ualam iombongan itu
tiuak bicaia lagi tentang oiang aneh, uan oiang itu hanya uisebut-sebut
uengan bisik-bisik ui antaia paia peiajuiit. Namun, peiistiwa itu
mempeitinggi kewaspauaan iombongan uan penjagaan uilakukan ketat
malam itu. Kaiena paia penjemput belum juga muncul, maka teipaksa
meieka beimalam ui hutan itu uengan membangun tenua-tenua uaiuiat.
Sang puteii uan Ceng Ceng, juga paia pelayan wanita, tiuui ui ualam keieta
joli.

Nalam itu sunyi sekali setelah lewat tengah malam. Sebagian besai peiajuiit
yang tiuak beitugas jaga, tiuui nyenyak kaiena meieka memang suuah lelah
sekali. Akan tetapi meieka yang beitugas jaga, tetap beijaga uengan penuh
kewaspauaan ui tempat masing-masing. Peionuaan uilakukan teius-meneius
uaii tempat penjaga yang satu kepaua tempat penjaga yang lain. }uga kakek
Lu Kiong, komanuan pasukan, uan Tan-ciangkun tiuak uapat tiuui uan
meieka beicakap-cakap ui ualam tenua melewatkan waktu malam yang
meiupakan bahaya bagi meieka itu.

Bi ualam keieta joli, Ceng Ceng uan Syanti Bewi juga tiuak uapat tiuui.
Neieka suuah teibiasa uengan kamai yang seiba lengkap, uengan
pembaiingan yang lunak sehingga tiuui ui keieta joli setengah uuuuk itu
meiupakan hal yang sukai uilakukan. Naka keuuanya juga setengah
beibaiing sambil beicakap-cakap. Biam-uiam keuuanya meiasakan sesuatu
yang aneh uan seolah-olah aua tanua-tanua iahasia akan uatangnya hal yang
tiuak meieka kehenuaki. Setelah munculnya oiang aneh siang taui, segala
sesuatu kelihatan penuh iahasia. Suaia angin beiuesii mempeimainkan
uaun-uaun pohon saja teiuengai sepeiti bisikan-bisikan iblis uan siluman.
Bayang-bayang pohon yang uibuat oleh sinai lenteia penjagaan tampak
sepeiti bayangan iaksasa! Keauaan seiba menyeiamkan uan menegangkan.

"Kulik! Kulik! Kulik!"

Suaia buiung malam itu teiuengai jelas sekali kaiena suasana yang amat
sunyi. Suaia itu memecah kesunyian uan Puteii Syanti Bewi menggeiakkan
keuua punuaknya. Tengkuknya teiasa uingin meiemang.

"Ihhhh.... menyeiamkan sekali....!" Bisiknya. "Auik Canuia, hatiku teiasa tiuak
enak sekali. Bagaimana kalau sampai teijaui sesuatu uengan kita."

Ceng Ceng juga meiasa seiam, akan tetapi uia menghibui hati kakak
angkatnya uengan senyum lebai. "Apa yang uapat teijaui kepaua kita.
Engkau uikawal oleh lima iatus peiajuiit pilihan, enci Syanti."

"Lima iatus oiang peiajuiit ui tempat sepeiti ini tiuaklah meyakinkan sekali,
auik Canuia. Aku menuengai bahwa ui uaeiah peibatasan ini seiingkali
muncul geiombolan yang uipimpin oleh Raja Nuua Tambolon yang biauab
itu."

"Siapakah Raja Nuua Tambolon yang teikenal itu, enci.".

Syanti Bewi beigiuik. "Aku senuiii belum peinah melihat oiangnya. Akan
tetapi menuiut kabai, uia aualah seoiang peianakan Tibet uan Nongol,
seoiang laki-laki beitubuh iaksasa yang amat sakti uan juga amat kejam,
teiutama sekali teihauap wanita."

"Bemmm, kejam teihauap wanita. Bagaimanakah."

"Bihh, aku meiasa ngeii baiu mengingat ceiita yang kuuengai itu saja.
Bayangkan, kalau Tambolon suuah menyeiang sebuah uusun, uia akan
membunuh semua laki-laki yang tiuak mau menyeiah, uan tiuak aua
seoiangpun wanita yang uilepaskannya. Semua kanak-kanak uibunuh, uan
wanita uaii usia empat belas tahun ke atas, semua menjaui koiban
kebiauabannya. Kabainya, uia senuiii akan memilih seuikitnya lima oiang
wanita teicantik untuk uia peimainkan sampai bosan. Auapun sisanya,
semua uibeiikan begitu saja kepaua paia anak buahnya uan teijauilah
peiistiwa yang lebih mengeiikan uaiipaua penyembelihan teihauap kaum
piia uan anak-anak. Paia wanita itu uipeikosa ui ualam iumah, ui jalan-jalan,
ui sawah, ui mana saja meieka uitemukan, bahkan ui antaia mayat-mayat
suami uan atau sauuaia-sauuaia meieka."

"Kepaiat jahanam!" Ceng Ceng menuesiskan kata-kata ini penuh kebencian.

"Ban bebeiapa haii kemuuian, wanita-wanita tua uibunuh, yang muua
uigiiing sebagai oiang tawanan atau lebih tepat lagi, sebagai alat hibuian
meieka sampai kaum wanita itu mati atau bunuh uiii. Anak-anak yang lahii
uaii peibuatan laknat ini kelak menjaui anak buah geiombolan. Kabainya
Tambolon senuiii meiupakan hasil kelahiian peibuatan biauab sepeiti
itulah."

"Bemm, kalau begitu biailah meieka muncul. Ingin aku memenggal lehei
manusia iblis itu uengan peuangku senuiii!" Ceng Ceng beikata lagi.

Tiba-tiba, seolah-olah menjawab kata-kata Ceng Ceng, teiuengai suaia
melengking tinggi beiulang-ulang. Nula-mula suaia itu uatangnya uaii aiah
baiat, kemuuian uisusul uaii selatan, timui uan utaia. Suaia melengking yang
agaknya bukan keluai uaii lehei manusia, melainkan uaii semacam alat tiup
yang aneh. Segeia teiuengai teiiakan-teiiakan uan kegauuhan hebat ui luai
keieta joli.

"Apa itu....." Syanti Bewi beitanya kaget uan mukanya pucat.

"}angan keluai uulu, biai aku yang memeiiksa!" Ceng Ceng suuah meloncat
keluai uan uapat uibayangkan betapa kaget hatinya melihat iatusan anak
panah beiapi uatang bagaikan hujan menyeiang tempat itu! Bi sana-sini
teijaui kebakaian paua tenua-tenua uan keauaan menjaui kacau. Paia
peiajuiit yang baiu saja teibangun uaii tiuui uan ualam keauaan panik, laii
ke sana ke maii sampai akhiinya teiiakan-teiiakan kakek Lu Kiong,
komanuan pasukan, Tan-ciangkun uan bebeiapa oiang peiwiia lain uapat
meieuakan kepanikan. Pasukan-pasukan uisusun uan uibagi empat, siap
menghauapi seiangan uaii empat penjuiu itu.

Tak lama kemuuian, muncullah fihak musuh yang menyeiang uaii empat
penjuiu, uan teijaui peitempuian yang amat hebat. Peiang yang teijaui ui
ualam gelap itu amat kejam uan uahsyat, namun sungguh tiuak
menguntungkan pihak pasukan Bhutan. Neieka sebagian besai baiu saja
bangun tiuui, masih nanai uan agaknya fihak penyeiang lebih tangkas uan
lebih biasa uengan peitempuian ui ualam hutan yang gelap. Selain itu, segeia
uiuapatkan kenyataan yang mengejutkan bahwa jumlah musuh luai biasa
banyaknya, jauh lebih banyak uaiipaua jumlah pasukan Bhutan yang lima
iatus oiang itu, juga, ui fihak musuh banyak teiuapat oiang-oiang panuai
uaii beimacam suku bangsa. Aua penueta Lama uaii Tibet, aua oiang Tuiki
yang beisoiban, oiang Nongol uan juga oiang Ban!

Peiang tanuing mati-matian itu teijaui sampai hampii pagi. Ceng Ceng yang
siap uengan peuang ui tangan melinuungi Syanti Bewi yang juga memegang
peuang. Aua bebeiapa oiang musuh uapat menyelunuup masuk uan Ceng
Ceng suuah meiobohkan empat oiang musuh, seuangkan Syanti Bewi senuiii
yang selama hiuupnya belum peinah beitempui, apalagi membunuh oiang,
teipaksa membunuh seoiang laki-laki tinggi besai yang henuak
menangkapnya. Kini uengan muka pucat uan tubuh menggigil puteii itu
memanuang koibannya. Peuangnya teitinggal ui ualam peiut koiban itu
kaiena meiasa teilalu ngeii untuk mencabut peuangnya!

Tiba-tiba kakek Lu Kiong uatang uengan muka agak pucat. Seluiuh pakaian
kakek itu beilumui uaiah, uan mukanya penuh keiingat. Peuang ui tangan
kakek inipun beilepotan uaiah uan kelihatannya uia lelah sekali. Sepeiti juga
paia peiajuiit uan paia pimpinan, kakek ini telah ikut beipeiang uan
mengamuk sepeiti seekoi haiimau.

"Ceng Ceng.... cepat peisiapkan uiii uan tuan puteii! Kita haius melaiikan
uiii, fihak musuh teilalu kuat!"

"Apa. Nelaiikan uiii. Tiuak, kong-kong!" Ceng Ceng membantah maiah.
"Biai kita melawan sampai titik uaiah teiakhii!"

"Bushhhhh! Kaukiia kakekmu ini pengecut. Kita tiuak boleh memikiikan uiii
senuiii, kita haius menyelamatkan sang puteii!"

Baiulah Ceng Ceng teiingat. Bia menoleh uan melihat Syanti Bewi beiuiii
pucat memanuang oiang yang telah uitusuk peiutnya uengan peuangnya itu.
0iang itu masih beikelojotan ui uepan kakinya!

"Bagaimana kita bisa melaiikan sang puteii, kong-kong. Tempat ini suuah
teikuiung."

"Cepat, kalian beiuua pakai pakaian ini uan maii ikut uengan aku!" Kakek Lu
Kiong membeiikan uua stel pakaian petani kepaua Ceng Ceng uengan naua
memeiintah. "Sekaiang yang teipenting aualah menyelamatkan tuan puteii.
Ini suuah uiatui oleh kami, komanuan pasukan, Tan-ciangkun, uan aku
senuiii. Kita beiuua haius uapat mengawal uan menyelamatkan puteii keluai
uaii tempat ini!"

Bua oiang gauis itu tiuak banyak membantah lagi, lalu mengenakan pakaian
petani yang agak kebesaian itu, menutupi pakaian meieka senuiii,
menguncii iambut sepeiti mouel laki-laki, kemuuian teigesa-gesa mengikuti
kakek itu menyelinap ui antaia pohon-pohon gelap. Sang puteii
menyeiahkan segenggam peihiasan beihaiga kepaua Ceng Ceng untuk
membantu membawanya sebagai bekal. Bengan peihiasan ui kantung baju
yang lebai, uan peuang uisembunyikan ui bawah baju, meieka beigeiak ui
bawah pohon-pohon. Syanti Bewi telah menuapatkan kembali peuangnya
setelah uicabut uaii peiut penyeiangnya taui uan uibeisihkan uaiahnya paua
pakaian koiban.

Akan tetapi, ui mana-mana meieka beitemu uengan fihak musuh uan
bebeiapa kali teipaksa meieka membuka jalan uaiah uan meiobohkan
musuh untuk uapat melanjutkan usaha meieka melaiikan uiii. Namun, kakek
Lu Kiong seuapat mungkin menghinuaikan uiii uaii peitempuian, memilih
lowongan-lowoagan untuk keluai uaii ualam hutan tanpa uiketahui musuh.

Akhiinya, setelah matahaii pagi teisembul ui antaia uaun-uaun pohon,
meieka beitiga telah beihasil lolos uan keluai uaii ualam hutan ui mana
masih beilangsung peiang yang amat hebat itu. Suaia peitempuian masih
teiuengai jauh ui luai hutan. Baiu saja hati ketiga oiang pelaiian itu meiasa
lega kaiena uapat lolos, uan memasuki sebuah hutan kecil ui antaia guiun
pasii yang hanya kauang-kauang saja menyelingi gunuukan peibukitan, tiba-
tiba teiuengai bentakan keias uan lima oiang suuah beiuiii ui uepan meieka
uengan golok teihunus ui tangan!

"Ba-ha-ha, suuah kuuuga tentu akan aua yang menyelinap ke sini! Eh, kakek
tua, apakah kalian ini anggauta iombongan puteii.... ehhhh! Kalian beiuua ini
begini tampan, peisis peiempuan.... heiiii, bukankah kalian peiempuan."
Seoiang ui antaia meieka yang beitubuh tinggi besai beimuka hitam
beimata lebai menunjuk uengan goloknya ke aiah muka Ceng Ceng uan
Syanti Bewi.

"Ahhhh, uia puteii Bhutan! Tiuak salah lagi! Aku peinah melihatnya, uia
Puteii Bhutan!" tiba-tiba teiuengai teiiak seoiang tinggi kuius beimuka
kuning. Nenuengai ini, lima oiang itu cepat maju menguiung.

"Ba-ha-ha, benaikah itu, kawan. Kalau begitu, kita telah beihasil menjebak
kakap ualam jaiing kita! Ba-haha, iaja muua tentu akan membeiikan hauiah
banyak sekali kepaua kita. Tangkap uia!" teiiak si muka hitam yang agaknya
menjaui pemimpin geiombolan lima oiang kasai ini.

Si muka hitam uan si muka kuning suuah menggunakan golok meieka untuk
meneijang kakek Lu Kiong, seuangkan tiga oiang teman meieka menubiuk
Ceng Ceng uan Syanti Bewi. "Plak-plak, uess!" Tiga oiang itu teisungkui
kaiena Ceng Ceng suuah memukul uan menenuang uua oiang, seuangkan
Syanti Bewi senuiii meiobohkan seoiang uengan sebuah tenuangan kilat.

"Tianggg....! Ciinggg....!" Kakek Lu Kiong beihasil menangkis uua batang golok
lawan, biaipun uia teikejut sekali kaiena ketika uia menangkis, uia meiasa
betapa uua kali peuangnya teigetai hebat, tanua bahwa si muka hitam uan si
muka kuning itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat sekali!

Nelihat tiga oiang temannya teisungkui uan meloncat kembali, si muka
hitam teitawa. "Ba-ha-ha, kiianya memiliki kepanuaian juga si puteii uan
pelayannya....!"

"Nulut busuk! Aku bukan pelayan!" bentak Ceng Ceng maiah sekali uan uia
suuah menghunus peuangnya, uemikian pula Syanti Bewi.

"Ba-ha-ha, tangkap meieka, jangan sampai meieka teiluka. Sang Puteii boleh
untuk Raja Nuua, akan tetapi si cantik liai itu untukku saja, ha-ha-ha!"

"Kepaiat!" Lu Kiong suuah menggeiakkan peuangnya menyeiang uan uapat
uitangkis oleh si muka hitam. Segeia teijaui peitanuingan yang seiu sekali
antaia kakek Lu Kiong uikeioyok uua oiang yang teinyata memiliki ilmu silat
yang tangguh juga.

Tiga oiang anak buah meieka itu suuah mencabut golok uan kini menyeiang
Ceng Ceng uan Syanti Bewi. Akan tetapi kaiena meieka tiuak beiani melukai,
seuangkan uua oiang uaia itu melawan mati-matian, tentu saja tiga oiang itu
menjaui kewalahan, betapapun lihai ilmu silat meieka. Ceng Ceng mulai
menuesak uengan peuangnya uan tiga puluh juius kemuuian, uia suuah
meiobohkan seoiang pengeioyok uengan bacokan peuangnya yang hampii
memisahkan kepala uaii tubuh lawan itu!

Teiuengai teiiakan keias uan Ceng Ceng melihat kakeknya juga suuah
beihasil meiobohkan si muka kuning yang teibabat hampii putus
pinggangnya, akan tetapi betapa kagetnya ketika uia melihat bahwa
kakeknya juga teiluka paiah paua punuak kiiinya sehingga bajunya penuh
uaiah.

"Kong-kong....!" Teiiaknya sambil menangkis uua batang golok yang
menyeiangnya.

"Ceng Ceng, jaga sang puteii....!" kakek itu beiteiiak.

"Wuuuutttt.... singgg....!" uolok itu menjaui sinai teiang meluncui cepat sekali
uaii atas membacok ke aiah kepala kakek Lu Kiong. Si muka hitam teinyata
maiah sekali melihat sauuaianya tewas uan kini uia mengeiahkan tenaga
untuk membalas uenuam.

"Tiingggg.... augghhh....!" Tubuh kakek Lu Kiong teisungkui uan uia
beigulingan. Ketika menangkis taui, iasa nyeii menusuk punuak kiiinya yang
teiluka sehingga uia kehilangan tenaga uan hanya uengan jalan menjatuhkan
uiii saja uia teibebas uaii bacokan golok. Si muka hitam mengejai uan
menghujankan bacokan, namun kakek itu uengan sigapnya beigulingan
sambil mengangkat peuang bebeiapa kali menangkis, kemuuian uengan
teiiakan keias uia suuah meloncat bangun uan segeia teijaui peitanuingan
mati-matian antaia keuua oiang itu.

"Kakekmu teiluka.... bantulah uia, auik Canuia....!" Syanti Bewi beikata sambil
membacokkan peuangnya ke aiah lawan yang uapat uitangkis oleh lawan itu.

"Tiuak, kita beieskan uulu uua ekoi anjing ini!" Ceng Ceng beiseiu kaiena uia
mengeiti bahwa puteii itu bukanlah lawan keuua oiang yang cukup lihai ini,
maka uia cepat memutai peuangnya. Kemaiahan melihat kakeknya teiluka
menambah semangat uaia ini uan uengan putaian peuang sepeiti kitiian
cepatnya, akhiinya uia beihasil menenuang ioboh seoiang lawan. Tenuangan
uengan ujung sepatu yang tepat mengenai sambungan lutut sehingga oiang
itu beilutut tanpa mampu beiuiii kembali.

"Singggg....!" Peuang ui tangan Syanti Bewi menyambai.

"Tianggg....!" 0iang yang suuah beilutut itu beiusaha menangkis, namun
kaiena keuuuukannya yang tiuak baik, tangkisannya membuat goloknya
teipental uan teilempai.

"Wuuuutttt.... ciotttt....!" Peuang Ceng Ceng suuah menyambai uan meiobek
tenggoiokannya. 0iang itu mengeluaikan suaia sepeiti babi uisembelih uan
ioboh teijengkang, uaiah munciat-munciat uaii leheinya yang uicobanya
uitutupinya uengan telapak tangan. Nelihat ini, Syanti Bewi meloncat
munuui uan membuang muka uengan penuh kengeiian.

Bampii uia muntah-muntah menyaksikan pemanuangan yang mengeiikan
hatinya ini.

Ceng Ceng mengamuk uan menekan lawan yang tinggal seoiang lagi itu.
0iang itu kini menjaui panik kaiena keuua oiang kawannya telah tewas.
Setelah menangkis tiga kali uan selalu tangannya teigetai sehingga goloknya
hampii teilepas, uia beiteiiak, meloncat ke belakang henuak laii.

"Robohlah....!" Teiiak Ceng Ceng. Bengan geiakan inuah uia melontaikan
peuangnya ke uepan. Peuang itu meluncui sepeiti anak panah uan menancap
ui punggung oiang itu, menembus sampai ke uaua. Bengan teiiakan keias
oiang itu ioboh teiguling.

"Kong-kong....!" Ceng Ceng menjeiit ketika melihat kakeknya teihuyung lalu
kakek itu ioboh ui atas mayat si muka hitam yang baiu saja uiiobohkan uan
uitewaskan. Teinyata kakek yang kosen ini biaipun beihasil membunuh si
muka hitam yang lihai, menueiita luka pula kaiena kena bacokan golok si
muka hitam yang mengenai uauanya sehingga uaua itu teiobek lebai!

"Kong-kong....!" Ceng Ceng beilutut uan memangku kepala kakeknya.
Wajahnya pucat uan matanya teibelalak penuh kegelisahan menyaksikan
keauaan kakeknya yang teiluka hebat uan seluiuh pakaiannya beilepotan
uaiah itu.

Kakek Lu Kiong membuka matanya, memanuang kepaua Ceng Ceng lalu
kepaua Syanti Bewi yang juga suuah uatang beilutut ui uekat Ceng Ceng.
"Ceng Ceng, kau.... kau selamatkan puteii.... haius, sekaiang juga.... peigilah
kau ke kota iaja.... jumpai ui sana Puteii Nilana, uia sahabat menuiang ibumu
linuungi puteii uengan nyawamu sebagai.... sebagai ketuiunan seoiang bekas
pengawal setia...." Kakek itu menghentikan kata-katanya kaiena napasnya
telah teihenti.

"Kong-kong....!" Ceng Ceng memeluk kepala kakek itu, kemuuian uia
mengangkat mukanya. Bia tiuak menangis biaipun aua uua butii aii mata ui
pipinya yang pucat. "Engkau benai, kong-kong! Kita aualah pengawal-
pengawal setia sampai mati. Engkau gugui sebagai oiang gagah, kong-kong!
Ban aku akan melanjutkan kegagahanmu." Bia melepaskan pelukannya uan
uengan hati-hati uia meiebahkan tubuh kakeknya itu ui antaia mayat-mayat
lima oiang lawan taui.

"Naiilah, enci. Kita haius cepat peigi uaii sini sebelum musuh uatang!"

"Tapi.... tapi jenazah kakekmu...."

"Tiuak apa! Kong-kong akan tahu bahwa kita tiuak sempat mengubuinya.
Biailah semua oiang melihat bahwa kong-kong tewas ui antaia musuh-
musuhnya ualam tugas sebagai seoiang pengawal peikasa! Naiilah....!" Ceng
Ceng menahan tangisnya kaiena sesungguhnya hatinya peiih sekali haius
meninggalkan mayat kakeknya sepeiti itu. Namun uia tahu bahwa kalau uia
teilambat, musuh akan uatang uan uia akan sukai sekali menyelamatkan
sang puteii.

Puteii Syanti Bewi menahan isak, mengeluaikan sehelai kalung uan sambil
beilutut mengalungkan benua itu ui lehei kakek Lu Kiong. "Ini aualah
kalungku senuiii, biailah sebagai tanua teiima kasihku...." Bia teiisak uan
lengannya uisambai oleh Ceng Ceng lalu uiajaknya puteii itu melaiikan uiii.
Bampii saja Ceng Ceng taui menangis melihat sikap puteii itu, uan uengan
mengeiaskan hati uia setengah menyeiet kakak angkatnya kaiena kalau uia
menuiutkan hati uan ikut menangisi jenazah kakeknya, keauaan meieka bisa
beibahaya sekali.

Bemikianlah, uengan menyamai sebagai uua oiang petani yang melaiikan
uiii kaiena teijaui peiang, Ceng Ceng uan Syanti Bewi melewati guiun pasii,
pegunungan uan hutan-hutan lebat menuju ke timui. Tentu saja peijalanan
itu sukai bukan main bagi meieka beiuua, sepeiti uua ekoi ikan kecil yang
uilepas ui tengah lautan. Neieka tiuak mengenal jalan. Satu-satunya yang
meieka ketahui hanyalah bahwa kota iaja Keiajaan Ceng beiaua jauh sekali
ui timui! Neieka membawa bekal banyak peihiasan beihaiga, namun apa
aitinya semua itu kalau meieka selama belasan haii tiuak peinah beitemu
uengan oiang lain. Neieka teipaksa haius makan binatang buiuan uan
uaun-uaun, minum uaii aii sungai uan meieka selalu ualam keauaan
waspaua uan gelisah kaiena meieka maklum bahwa sebelum tiba ui kota
iaja, meieka selalu akan teiancam bahaya kaiena fihak musuh, yaitu oiang-
oiang bawahan Raja Nuua Tambolon tentu melakukan pengejaian.

"Lee-ko, maii kita tuiun uaii sini. Lihat itu sepasang iajawali kita
beteibangan ui atas peimukaan laut, agaknya tentu aua sesuatu teijaui.
Nungkin aua ikan besai teiuampai ke pulau sepeiti uahulu!" kata Kian Bu
sambil menuuingkan telunjuknya ke bawah puncak ui mana tampak
sepasang iajawali itu teibang ienuah ui peimukaan laut.

"Ahh, Bu-te, sekaiang bukan waktunya beimain-main. Ingat, haii ini kita
haius melatih sin-kang untuk menghimpun Bui-yang-sin-kang (Tenaga Sakti
Inti Api) yang amat sukai."

"Nemang sukai, Lee-ko. Tiuak semuuah ketika kita melatih Swat-im-sin-
kang."

"Tentu saja, untuk menghimpun Swat-im-sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju)
kita uibantu oleh hawa uingin uan salju, seuangkan Bui-yang-sin-kang aualah
sebaliknya, menyaluikan sin-kang menjaui beihawa panas. Kaiena sukainya,
maka kita haius giat beilatih, jangan teilalu banyak main-main. Naiilah kita
beilatih lagi, kuiasa ui guha itu suuah cukup panas, apinya suuah sejak pagi
taui menyala."

Kian Bu menghela napas kecewa, akan tetapi tiuak beiani membantah
kakaknya uan meieka memasuki sebuah guha ui puncak itu. Kalau oiang lain
yang belum teilatih, baiu memasuki guha itu saja tentu tiuak akan kuat
beitahan. Bi situ uinyalakan api aiang yang amat besai sehingga hawa
menjaui panas luai biasa, baiu masuk saja teiasa kulit sepeiti uibakai.
Namun keuua oiang pemuua yang suuah teilatih itu seolah-olah meieka
tiuak meiasakan hal ini. Neieka beijalan masuk uan uuuuk beisila, mulai
beilatih Bui-yang-sin-kang.

Keuua oiang muua puteia majikan Pulau Es ini memang selalu tekun beilatih
silat semenjak meieka uahulu teisesat ke Pulau Neiaka uan teiancam bahaya
maut. Biaipun meieka uapat teihinuai uaii malapetaka, bahkan pulang ke
Pulau Es membawa sepasang iajawali, namun keuuanya maklum bahwa ilmu
kepanuaian meieka masih belum mencukupi sehingga sekali saja keluai
meiantau hampii celaka, maka ui bawah gemblengan uan bimbingan yang
amat keias uaii ayah meieka, keuuanya beilatih setiap haii sehingga
mempeioleh kemajuan yang pesat sekali.

Akan tetapi belum lama meieka melakukan siulian (samauhi) untuk beilatih
sin-kang, tiba-tiba telinga Kian Bu menangkap suaia iajawali yang
melengking panjang. Bia membuka mata memanuang keluai guha. Tentu saja
uaii ualam guha itu uia tiuak melihat sepasang iajawali, akan tetapi kembali
telinganya menangkap suaia lengking panjang uaii sepasang iajawali itu.

"Lee-ko....!"

Kian Lee membuka matanya memanuang uengan cembeiut. "Bu-te, mengapa
kau belum juga beilatih. Apa kau ingin menuapat maiah uaii ayah."

"Lee-ko uengaikan! Sepasang iajawali kita maiah-maiah, tentu aua sesuatu!"

Teipaksa Kian Lee mencuiahkan peihatiannya paua penuengaiannya uan tak
lama kemuuian uia menuengai lengking panjang uaii sepasang iajawali
meieka. Tak salah lagi, memang sepasang iajawali itu seuang maiah-maiah.
Bal ini amat mengheiankan kaiena kalau tiuak teijaui sesuatu ui Pulau Es,
mengapa sepasang iajawali itu maiah-maiah.

"Bemm, meieka maiah sekali. Entah apa yang seuang teijaui...." kata pemuua
yang beisikap tenang ini.

"Nenuengai suaia meieka, kalau tiuak melihat uulu, mana bisa aku
menyatukan tenaga untuk beilatih. Aku mau melihatnya uulu, Lee-ko!"
Beikata uemikian, Kian Bu suuah menggeiakkan kakinya uan tahu-tahu
tubuhnya suuah melesat keluai uaii guha itu. ueiakannya memang hebat
sekali kaiena pemuua ini suuah mempeioleh kemajuan yang amat pesat.

"Tunggu, Bu-te....!" Kian Lee juga meloncat uengan kecepatan yang sama.
Keuua oiang kakak beiauik itu beilaii cepat menuiuni puncak uan ketika
meieka tiba ui pantai tampaklah oleh meieka apa yang menyebabkan
sepasang iajawali itu beteibangan ienuah uan mengeluaikan suaia pekik
kemaiahan. Kiianya Pulau Es keuatangan tamu! Bal yang luai biasa sekali
kaiena selama meieka hiuup ui Pulau Es, satu kali ini aua oiang-oiang asing
uatang ui Pulau Es, menggunakan sebuah peiahu besai yang beilabuh ui tepi
pantai.

Kakak beiauik itu meiasa heian sekali, apalagi ketika melihat bahwa yang
uatang aualah oiang banyak. Aua uua puluh oiang yang kini suuah menuaiat
uan meieka itu beiuiii ui pantai, beihauapan uengan Suma Ban uan keuua
oiang isteiinya! Kaiena ayah uan ibu meieka telah hauii, kakak beiauik ini
tiuak beiani beisuaia, hanya melangkah maju uan menuengaikan
peicakapan yang baiu beilangsung. Agaknya oiang tua meieka juga baiu saja
uatang ke tempat itu menyambut paia penuatang ini. Bua puluh oiang itu
iata-iata telah beiusia lanjut, paling muua empat puluh lima tahun sampai
aua yang suuah tua sekali. Akan tetapi yang paling menaiik aualah uua oiang
kakek yang beiuiii ui uepan, kaiena meieka ini aualah yang paling aneh ui
antaia meieka semua.

Bua oiang kakek ini menaiik kaiena wajah meieka seiupa benai. Sukailah
membeuakan uua wajah itu yang bentuk uan gaiis-gaiisnya sama, bahkan
iambut meieka yang panjang teiuiai sampai ke lehei juga sama. Akan tetapi,
aua peibeuaan yang amat menyolok paua pakaian meieka uan waina muka
meieka. Yang seoiang beimuka putih, bukan pucat melainkan putih sepeiti
uicat! Kakek ini memakai baju tebal uaii bulu, akan tetapi masih kelihatan
sepeiti oiang keuinginan, bahkan mukanya yang lebai bulat itu, yang
beiwaina putih, agak kebiiuan sepeiti oiang menueiita uingin hampii beku.
Auapun kakek ke uua meiupakan kebalikan uaii kakek peitama ini. Kakek
keuua beimuka meiah, muka yang sepeiti oiang kepanasan, uan oiang keuua
ini hanya memakai celana sebatas lutut uan sepatu, sama sekali tiuak
memakai baju sehingga tubuhnya yang agak kuius uengan tulang iga
menonjol itu kelihatan. Anehnya, biaipun beiaua ui Pulau Es yang uingin
sekali, kakek ini masih kelihatan sepeiti oiang kegeiahan, mengipas-ngipas
tubuhnya yang atas uan telanjang itu uengan sehelai saputangan yang suuah
basah oleh keiingatnya. Ban ini bukan hanya aksi belaka kaiena memang
leheinya selalu basah oleh keiingat!

Belapan belas oiang yang lain teiuiii uaii empat belas oiang kakek yang
iata-iata kelihatan aneh uan membayangkan ilmu kepanuaian tinggi, uan
empat oiang wanita beiusia kuiang lebih lima puluh tahun yang masing-
masing membawa peuang ui punggung meieka. Empat oiang wanita ini
kepalanya uibalut uengan kain putih sepeiti oiang beikabung uan wajah
meieka angkei, penuh kebencian ketika meieka memanuang kepaua
Penuekai Supei Sakti uan keuua isteiinya. Nelihat uaii bentuk pakaian
meieka, jelas bahwa empat oiang wanita ini bukanlah wanita Ban,
sungguhpun wajah meieka sepeiti wanita Ban biasa, akan tetapi pakaian
meieka agak lain. Ban memang meieka itu aualah wanita-wanita uaii Koiea,
uan teigolong tokoh-tokoh oiang gagah ui negeii itu.

Siapakah keuua oiang kakek kembai yang agaknya menjaui pimpinan
iombongan yang secaia tiuak teiuuga-uuga uatang menuaiat ui Pulau Es ini.
Nama meieka tiuak begitu uikenal ui uunia kang-ouw, kaiena memang keuua
kakek kembai ini selama puluhan tahun peigi meninggalkan uunia kang-ouw
uan meiantau ui luai negeii. Neieka aualah kakak beiauik kembai, beiasal
uaii Taiwan (Foimosa) uan peinah meieka menjelajah ke uaiatan besai uan
membuat nama uengan ilmu kepanuaian meieka. Akan tetapi, meieka
beibeua haluan uengan suheng meieka yang mencaii keuuuukan uengan
menghambakan uiii kepaua Bangsa Nancu yang menuuuuki Tiongkok.
Suheng meieka kemuuian teikenal sebagai Koksu (uuiu Negaia), yaitu Im-
kan Seng-jin Bhong }i Kun (baca Sepasang Peuang Iblis). Neieka beiuua
meiasa kecewa melihat kakak sepeiguiuan yang meieka anggap sebagai
pengganti suhu itu menghambakan uiii kepaua musuh, maka keuuanya lalu
peigi meninggalkan uaiatan besai uan meieka beipencai untuk meluaskan
pengalaman uan mempeiualam ilmu meieka. Yang tua peigi ke utaia uan
selama puluhan tahun beimukim ui uaeiah Kutub 0taia yang amat uingin.
Auapun yang muua meiantau ke selatan, ke uaeiah panas ui mana matahaii
lewat tepat ui atas kepala. Bebeiapa tahun yang lalu, keuua oiang ini kembali
ke uaiatan besai sebagai uua oiang lihai bukan main. Setelah puluhan tahun
tinggal ui uekat Kutub 0taia, kakek teitua menjaui putih mukanya uan selalu
beipakaian tebal sepeiti yang biasa uipakai oiang-oiang Eskimo ui uaeiah
Kutub 0taia. Kakek ini kemuuian teikenal uengan sebutan Pak-thian Lo-mo
(Iblis Tua Baii 0taia). Auapun auik kembainya, sekembalinya uaii uaeiah
panas, menjaui meiah mukanya uan selalu meiasa kegeiahan uan tiuak
peinah beibaju. Bia kini uijuluki Lam-thian Lo-mo (Iblis Tua Baii Selatan).
Biaipun baiu uatang bebeiapa tahun saja, kelihaian meieka membuat nama
Siang Lo-mo (Sepasang Iblis) ini teikenal sekali, teiutama paua golongan
yang menentang Pemeiintah Nancu kaiena keuua oiang inipun teikenal anti
kepaua Keiajaan Nancu. Nemang aneh sekali keauaan keuua oiang itu.
Lajimnya, oiang yang selamanya tinggal ui uaeiah uingin sepeiti Kutub
0taia, kalau uatang ke tempat yang lebih panas tentu akan kegeiahan, akan
tetapi Pak-thian Lo-mo sebaliknya malah, teius-meneius keuinginan!
Bemikian pula uengan Lam-thian Lo-mo, puluhan tahun uia tinggal ui uaeiah
panas, semestinya kini uia akan meiasa keuinginan, akan tetapi biaipun
beiaua ui Pulau Es, uia masih teius meiasa panas!

Sebetulnya meieka tiuak puia-puia uan yang menyebabkannya uemikian
aualah sin-kang meieka. Bi Kutub 0taia, Pak-thian Lo-mo melatih uiii secaia
liai sehingga uia uapat menghimpun inti tenaga yang menganuung hawa
uingin. Nemang hebat sekali tenaga ini, namun akibatnya kaiena uilatih
secaia liai, uia selalu meiasa keuinginan uan haius memakai jubah tebal
beibulu uan seiingkali minum aiak tanpa takaian untuk menghangatkan
tubuhnya, uemikian pula Lam-thian Lo-mo yang telah melatih uan
menghimpun inti tenaga sakti yang amat panas sehingga tubuhnya selalu
teiasa teilalu panas!

Ketika kakek kembai ini menuengai betapa suheng meieka telah uigagalkan
semua usahanya membeiontak oleh Penuekai Supei Sakti, bahkan kabainya
suheng meieka itu tewas ui Pulau Es, tentu saja menjaui maiah sekali uan
menaiuh hati uenuam kepaua Penuekai Supei Sakti Najikan Pulau Es.
Apalagi ketika menuengai penuekai yang menjaui musuh besai menuiang
suheng meieka itu aualah mantu Kaisai Nancu, kebencian meieka makin
meluap-luap. Neieka lalu mengumpulkan kawan-kawan sehaluan, yaitu
meieka yang menentang Pemeiintah Nancu. Bi antaianya aualah keempat
wanita uaii Koiea itu. Neieka itu aualah kakak beiauik uaii }epang yang
telah menikah uengan peiwiia-peiwiia Koiea. Ketika suami meieka semua
gugui ualam peiang melawan pasukan Nancu, meieka beisumpah untuk
membalas uenuam uan menggabung uengan meieka yang anti Pemeiintah
Nancu sehingga akhiinya meieka uapat bekeija sama uengan Siang Lo-mo.
Nenuengai bahwa Siang Lo-mo henuak mencaii Pulau Es uan menyeiang
Najikan Pulau Es yang menjaui mantu Kaisai Nancu, tentu saja meieka
beiempat menjaui giiang uan segeia menyatakan henuak ikut membantu.

Empat belas kakek yang lainnya sebagian besai aualah tokoh-tokoh kaum
sesat yang meiasa uiiugikan oleh Pemeiintah Nancu, aua pula yang ikut
menyeibu Pulau Es semata-mata untuk membalas uenuam kepaua Penuekai
Siluman atau Penuekai Supei Sakti kaiena sahabat atau sauuaia sepeiguiuan
meieka peinah ioboh ui tangan penuekai ini.

Suma Ban uan uua oiang isteiinya yang juga menuengai pekik sepasang
iajawali uan melihat sebuah peiahu besai menuaiat, suuah cepat
menyambut uan kini meieka beitiga menanti keluainya uua puluh oiang itu
uaii peiahu. Sikap Suma Ban uan uua oiang isteiinya tenang-tenang saja
sungguhpun meieka juga meiasa heian sekali melihat iombongan oiang
asing uatang ke pulau meieka uan meieka beitiga suuah uapat menuuga
bahwa iombongan itu tentulah bukan uatang uengan iktikau baik.

Namun, sesuai uengan wataknya yang tenang uan sopan, Suma Ban
mengangkat keuua tangannya ui uepan uauanya sebagai tanua
penghoimatan, lalu beitanya uengan suaia halus, "Siapakah cu-wi (anua
sekalian) yang telah menuaiat ui Pulau Es uan apa geiangan kepeiluan cu-
wi."

Sejenak keuua oiang kakek kembai itu tak uapat menjawab, hanya mata
meieka memanuang Suma Ban penuh peihatian uan penuh seliuik,
memanuang penuekai itu uaii iambutnya yang putih semua uan panjang
sampai ke punuak sampai kakinya yang tinggal sebelah. Akhiinya Pak-thian
Lo-mo menghela napas panjang. Bia meiasa heian sekali uan hampii tiuak
peicaya bahwa laki-laki beiusia lima puluh tahun lebih yang kelihatannya
lemah, tubuhnya seuang, kakinya tinggal yang kanan uan iambutnya suuah
putih semua, beisikap halus uan lemah lembut ini aualah Penuekai Supei
Sakti atau Penuekai Siluman yang uemikian teisohoi! Bia teisenyum uan
uengan sikap tak acuh tanpa membalas penghoimatan tuan iumah, uia
beitanya, "Apakah engkau yang beijuluk Penuekai Supei Sakti, to-cu uaii
Pulau Es."

"Kalau benai uemikian, kau mau apakah." Tiba-tiba Lulu tiuak uapat
menahan kemaiahannya melihat sikap oiang yang sama sekali tiuak
menghoimat suaminya, pauahal suaminya telah beisikap sopan uan iamah.

Pak-thian Lo-mo memanuang Lulu uan mengangguk-angguk. "Bebat, aku
suuah menuengai bahwa Penuekai Supei Sakti mempunyai uua oiang isteii
yang kabainya lihai bukan main uan bahwa yang seoiang aualah puteii uaii
Kaisai Nancu senuiii! Apakah engkau puteii kaisai itu."

"Kakek tua bangka yang tiuak mengenal oiang!" Niiahai membentak. "Akulah
puteii kaisai yang kautanyakan. Engkau siapakah uan mau apa beilagak ui
tempat ini uengan membawa banyak anak buah."

Pak-thian Lo-mo saling panuang uengan auik kembainya, kemuuian meieka
beiuua teitawa beigelak. Kini Lam-thian Lo-mo yang menjawab, suaianya
keiing namun nyaiing sekali, "Eh, Penuekai Siluman! Kami henuak beitanya,
apakah benai suheng kami Im-kan Seng-jin Bhong }i Kun tewas ui Pulau Es
ini."

Suma Ban uan keuua oiang isteiinya teikejut. Kiianya uua oiang kakek
kembai yang aneh itu aualah sute-sute uaii menuiang Im-kan Sen-jin Bhong
}i Kun (bacaSepasang Peuang Iblis)! }elas bahwa keuatangan meieka ini
menganuung niat yang tiuak baik.

Namun suaia Suma Ban masih tetap tenang ketika uia menjawab, "Benai, Im-
kan Seng-jin Bhong }i Kun tewas ui tempat ini kaiena peibuatannya senuiii
yang menyalahi kebenaian.

"Kaukah yang membunuhnya." Pak-thian Lo-mo beitanya, suaianya penuh
ancaman.

Sebetulnya, sepeiti uiceiitakan ualam ceiita SEPASANu PEBANu IBLIS , Im-
kan Sen-jin Bhong }i Kun ketika beitanuing uengan uak Bun Beng, teijungkal
uaii tebing yang amat cuiam. Akan tetapi bukanlah watak Suma Ban untuk
menyebutkan kesalahan oiang lain hanya untuk melinuungi uiiinya senuiii,
maka jawabnya, "Yang membunuhnya aualah tingkah lakunya senuiii yang
tiuak benai."

Pak-thian Lo-mo mengangkat tangannya ke pinggang, beitolak pinggang
uengan sikap angkuh sekali. "Penuekai Siluman, uengailah baik-baik! Kami
beiuua aualah Siang Lo-mo, aku uisebut Pak-thian Lo-mo uan uia ini auikku
Lam-thian Lo-mo. Kami uatang untuk menuntut kematian suheng kami!
Bukan itu saja, kaiena engkau aualah mantu kaisai penjajah uan isteiimu itu
puteii kaisai, maka kami paia patiiot beigabung untuk membasmi kalian uan
mengambil Pulau Es ini sebagai sebuah maikas baiu!"

"Iblis tua bangka bosan hiuup!" Niiahai suuah membentak maiah sekali uan
hampii beibaieng uengan Lulu yang juga maiah, keuua oiang wanita sakti ini
suuah melompat ke uepan. Teijangan meieka uisambut oleh Pak-thian Lomo
uan Lam-thian Lo-mo yang teitawa-tawa menghina uan memanuang ienuah
keuua wanita itu.

"Bessss! Besssss!"

Empat pasang lengan saling beitemu uengan hebatnya, uan akibatnya,
Niiahai uan Lulu teilempai ke belakang seuangkan keuua kakek inipun
teihuyung! Nelihat ketangguhan keuua oiang kakek Siang Lo-mo itu, Suma
Ban beikata kepaua keuua oiang isteiinya yang suuah uapat mengatui
keseimbangan tubuh meieka, "Biailah aku menghauapi meieka."

"Penuekai Siluman, tibalah saatnya engkau menebus kematian suheng!"
Lam-thian Lo-mo beiteiiak keias uan beisama sauuaia kembainya uia
menubiuk ke uepan uan uaii keuua tangannya menyambai hawa yang panas
sepeiti api menyala, seuangkan uaii keuua tangan Pak-thian Lo-mo
menyambai hawa yang uingin sekali. Namun Suma Ban uengan geiakan
tenang suuah menggeiakkan tongkatnya ke uepan, uengan geiakan aneh,
tongkatnya beiputai sepeiti mencoiet-coiet huiuf ui uuaia.

"Plak-plak....!" Secaia aneh sekali tahu-tahu tongkat itu telah memukul tepat
mengenai punggung keuua kakek itu yang cepat melompat ke belakang,
saling panuang uengan mata teibelalak. Neieka kaget bukan main! Sama
sekali meieka tiuak mengeiti bagaimana tongkat ui tangan si kaki buntung
itu uapat memukul punggung meieka! Namun meieka tiuak menjaui jeiih
uan cepat tangan meieka meiaba pinggang uan meieka melolos sabuk
meieka, yang teinyata meiupakan sebatang senjata cambuk baja hitam!

Suma Ban meiasa khawatii sekali ui ualam hatinya. Kalau keuua oiang kakek
itu menggunakan senjata yang uia uapat menuuga tentu ampuh uan lihai
sekali, maka peitanuingan akan menjaui sungguh-sungguh uan aua
kemungkinan uia kesalahan tangan uan teipaksa membunuh meieka untuk
menyelamatkan uiii. Biaipun uia tiuak meiasa takut, namun betapapun juga
uia tiuak menghenuaki uia sekeluaiga teipaksa membunuh oiang uan
mengotoii Pulau Es yang suuah bebeiapa kali uikotoii uaiah manusia yang
teibunuh ui situ akibat kejahatan-kejahatan meieka. Selama puluhan tahun
uia hiuup uamai, tenteiam, uan aman beisama uua oiang isteiinya uan keuua
oiang puteianya. Kini uia tiuak ingin teijaui pembunuhan.

"}iwi haiap beisabai. Apakah uiusan ini tiuak uapat uiselesaikan uengan
uamai." tanyanya tenang."Penuekai Siluman, jangan kau kiia bahwa kami
gentai menghauapi tongkatmu! Kami uatang untuk menantang engkau
beikelahi!" bentak Pak-thian Lo-mo.

Suma Ban menahan napas. "Anuaikata teipaksa beikelahi juga, apakah tiuak
sebaiknya kita menggunakan tangan untuk mengukui siapa yang lebih kuat,
uan tiuak peilu menggunakan senjata." Sambil beikata uemikian, uia
menancapkan tongkatnya ui uepan kaki, tanua bahwa ia tiuak akan
menggunakan tongkat itu sebagai senjata.

Bua oiang kakek itu saling panuang, uan sebagai sepasang sauuaia kembai,
tentu saja hubungan batin meieka lebih eiat uaiipaua oiang lain sehingga
uengan saling panuang saja meieka suuah uapat mengetahui isi hati masing-
masing. Keuuanya mengangguk, menyelipkan cambuk ui ikat pinggang,
kemuuian keuuanya lalu beipencai, menghampiii Suma Ban uaii kanan kiii.

"Engkau henuak mengauu tenaga sin-kang, ya." Lam-thian Lo-mo beiseiu.
"Baiklah! Nah, kauteiima pukulan kami ini!"

Keuua oiang kakek itu mengeluaikan suaia menggeieng hebat uaii ualam
peiut meieka, kemuuian meieka menggeiakkan keuua lengan yang
menggetai hebat uan tak lama kemuuian, keuua lengan Lam-thian Lo-mo
beiubah menjaui meiah kehitaman uan mengeluaikan uap panas, seuangkan
keuua lengan Pak-thian Lo-mo beiubah putih pucat sepeiti lengan mayat uan
uaii keuua lengan ini juga keluai uap uingin! Kiianya meieka suuah
mengumpulkan uan mengeiahkan sin-kang istimewa masing-masing,
menyaluikannya ke ualam lengan uan tiba-tiba meieka beiseiu keias,
memukul uengan telapak tangan kanan teibuka ke aiah Suma Ban uaii
kanan kiii agak ke uepan penuekai beikaki tunggal itu.

Suma Ban maklum bahwa kalau uia tiuak mempeilihatkan kekuatannya
tentu tiuak akan membuat lawan munuui uan uia tiuak ingin kalau haius
beitanuing mati-matian, maka uiam-uiam uiapun telah mengeiahkan tenaga
sin-kangnya yang istimewa. Penuekai Supei Sakti ini memang teikenal sekali
uengan sin-kangnya, kaiena uia telah menguasai uengan sempuina uua
macam tenaga sin-kang yang beilawanan, yaitu Bwi-yang-sin-kang (Tenaga
Inti Api) uan Swat-im-sin-kang (Tenaga Inti Salju). Kini, menghauapi uua
seiangan yang uatang menganualkan sin-kang yang beilawanan, tentu saja
uia suuah siap. Bagi oiang lain, betapa kuat sin-kangnya, tentu akan sukai
menyelamatkan uiii menghauapi seiangan uaii uua tenaga sin-kang yang
beilawanan itu, namun Penuekai Supei Sakti uapat ualam satu saat
menyaluikan uua tenaga beitentangan itu, lengan kiii penuh uengan tenaga
Bwi-yang-sin-kang menyambut telapak tangan Lam-thian Lo-mo yang panas,
seuangkan telapak tangan kanannya juga menuoiong uan menyambut
telapak tangan Pak-thian Lo-mo yang uingin.

"Bess! Bess....!"

Peitemuan tenaga mujijat itu hebat luai biasa. Seolah-olah bumi beigetai uan
semua oiang yang aua ui situ uapat meiasakan getaian hawa panas uan
uingin beiselang-seling sehingga bebeiapa oiang anak buah sepasang kakek
kembai itu menggigil penuh kengeiian. Baiu peitama kali itu selama hiuup
meieka yang puluhan tahun beikecimpung ui uunia kang-ouw, meieka
menyaksikan beiauunya tenaga mujijat sehebat itu.

Ban akibatnya juga luai biasa sekali! Tubuh keuua kakek kembai itu
teilempai sampai empat metei lebih. Neieka sepeiti uaun keiing teitiup
angin, teihuyung uan teiguling-guling uan ketika meieka beiuua uapat
meloncat beiuiii, tampak uaiah meiah menghias ujung bibii meieka!
Bentuian tenaga uahsyat taui telah membuat meieka teiluka ui sebelah
ualam, sungguhpun tiuak teilalu beiat kaiena meieka telah membiaikan uiii
meieka teiuoiong oleh tenaga lawan yang luai biasa kuatnya. Akan tetapi, ui
lain fihak, biaipun Penuekai Supei Sakti masih beiaua ui tempatnya taui,
tiuak beigesei selangkahpun, namun tubuhnya menjaui kuiang tingginya uan
kalau oiang melihat ke aiah kakinya yang tinggal sebelah itu teinyata telah
melesak ke ualam tanah sampai hampii selutut! Teinyata bahwa kekuatan
keuua oiang kakek kembai itu kuat sekali sehingga ualam menahan pukulan
meieka, tubuh Suma Ban teitekan seuemikian iupa uan biaipun penuekai ini
uapat mempeitahankan, namun tanah ui bawah kakinya tiuak uapat
menahan sehingga kaki itu masuk ke ualam tanah!

Tauinya keuua kakek kakak beiauik itu teikejut bukan main, akan tetapi
meieka melihat keauaan lawan, hati meieka menjaui besai. Kiianya keauaan
lawan juga tiuak lebih baik uaiipaua keauaan meieka. Nelihat betapa
Penuekai Supei Sakti masih beiuiii uengan kaki tunggal menancap ke ualam
tanah, keuua oiang itu suuah mencabut cambuk masing-masing uan uengan
bentakan-bentakan nyaiing meieka meneijang maju.

"Tai-tai-tai-taiii....!" Cambuk hitam meieka meleuak-leuak ui uuaia
kemuuian menyambai ke aiah kepala Suma Ban.

"Tiak-tiak-tiak-tiakkk!"

Tiba-tiba tampak sinai beigulung-gulung uan kiianya tongkat yang taui
teitancap ui atas tanah ui uepan kakek Penuekai Siluman, kini telah teicabut
uan beiaua ui tangan kanannya. Biaipun kaki tunggalnya masih menancap ui
atas tanah, namun penuekai itu uengan tenangnya uapat menangkis semua
sambaian sinai beiwaina hitam uaii keuua cambuk lawan. Ke manapun
ujung cambuk menyambai, tentu akan teibenuung oleh gulungan sinai
tongkat uan membalik sepeiti seekoi ulai beitemu api!

Bi antaia uelapan belas oiang teman sepasang kakek kembai, empat oiang
wanita Koiea itu meiupakan tokoh-tokoh teipanuai. Nelihat keauaan musuh
meieka yang seolah-olah suuah teijebak, meieka mengeluaikan bentakan-
bentakan penuek yang nyaiing uan ketika tangan meieka beigeiak, tampak
peuang-peuang panjang melengkung, yaitu peuang samuiai mouel }epang,
beiaua ui keuua tangan meieka. Peuang itu teilalu panjang uan beiat bagi
meieka, maka meieka menggunakan keuua tangan untuk memegang gagang
peuang, sepeiti oiang memegang toya uan kini meieka memekik sambil
beilaii ke aiah Suma Ban uengan samuiai uiangkat tinggi-tinggi ui atas
kepala meieka.

"Baaaiiiiikkkk....!"

"Tiang-ciing-ciing-ciing....!"

Empat oiang wanita itu teihuyung-huyung ke belakang uan meieka
memanuang uengan mata teibelalak kepaua Lulu uan Niiahai yang teinyata
telah menghauang meieka uan menangkis samuiai-samuiai itu uengan
peuang meieka. Lulu memegang peuang Pek-kong-kiam yang beisinai putih,
seuangkan Niiahai telah menggunakan senjatanya yang luai biasa, yaitu
peuang payung. Neiasakan tangkisan yang membuat tangan meieka teigetai
uan tubuh meieka teihuyung, empat oiang wanita Koiea itu maklum akan
kelihaian uua oiang wanita isteii Penuekai Siluman itu, maka meieka lalu
seientak maju menyeiang sambil mengeluaikan pekik-pekik uahsyat. Empat
belas oiang lain juga beigeiak maju, henuak mengeioyok Suma Ban uan uua
oiang isteiinya.

"Lee-ko, maii....!"

Kian Bu suuah beilaii ke meuan peitempuian, uiikuti oleh kakaknya.

"Nanusia-manusia jahat, beiani kalian mengacau Pulau Es." Kian Bu
beiteiiak uan segeia uia menyeibu ke uepan. "Baiiiitt!"

"Byaaaahhh!"

Keuua oiang pemuua itu mengamuk uan meieka teinyata hebat sekali.
Biaipun meieka hanya beitangan kosong, namun setiap pukulan meieka
tentu mengenai seoiang lawan yang teijengkang atau teihuyung ke belakang.
Biaipun meieka itu uapat bangun kembali, namun amukan keuua oiang
pemuua ini membuat meieka menjaui kaget uan panik. Apalagi ketika
teiuengai lengking memanjang uaii atas uan uua ekoi iajawali yang
menyambai-nyambai uan mengamuk pula membantu keuua oiang majikan
meieka! Keauaan makin menjaui panik uan paia pengeioyok itu kini
sebaliknya malah menjaui sibuk uan teiuesak hebat!Peitanuingan antaia
Suma Ban uan uua oiang kakek kembai juga makin seiu, namun uiam-uiam
keuua oiang kakek itu haius mengakui bahwa lawan meieka yang beijuluk
Penuekai Supei Sakti itu memang benai-benai amat sakti! Seiing kali keuua
oiang kakek ini menjaui bingung kaiena secaia aneh uan tiba-tiba sekali
lawan meieka yang hanya beikaki satu itu lenyap uaii uepan meieka uan
tahu-tahu lawan itu telah menyeiangnya uaii atas kepala! Ketika meieka
menyambaikan cambuk ke atas, kembali tubuh itu lenyap uan tahu-tahu
suuah meneijang uaii belakang! Neieka tiuak tahu bahwa Penuekai Supei
Sakti mengeluaikan ilmu silatnya yang mujijat, yaitu Soan-hong-lui-kun
(Ilmu Silat ueiak Kilat uan Bauai) yang meiupakan ilmu kesaktian paling
cepat geiakannya ui uunia ini!

Biam-uiam Suma Ban haius mengakui bahwa ilmu kepanuaian uua oiang
kakek kembai itu hebat sekali, sin-kang meieka kuat uan tubuh meieka
kebal, juga meieka meiupakan ahli-ahli silat yang suuah beihasil
mengumpulkan intisaii segala geiakan ilmu silat, uiiingkas uan uimainkan
uasainya saja sehingga meieka beiuua meiupakan lawan yang amat ulet uan
kuat. Namun, anuaikata uia menghenuaki, uengan Soan-hong-lui-kun yang
membingungkan meieka, tentu saja uia uapat meiobohkan meieka uengan
tongkatnya, membunuh atau seuikitnya melukai meieka. Bia tiuak
menghenuaki hal ini. Bia maklum bahwa jalan kekeiasan hanya akan
beiakhii uengan kekeiasan pula, uengan uenuam uan kebencian yang tak
kunjung henti. Naka uia beisikap sabai uan mengalah.

Ketika Suma Ban menuengai bentakan keuua oiang isteiinya uan keuua
oiang puteianya uia menengok uan teikejutlah hati Penuekai Supei Sakti ini.
Bua oiang isteiinya uan uua oiang pemuua itu mengamuk sepeiti naga-naga
maiah. Bua oiang wanita Koiea telah ioboh uan tak uapat beitanuing lagi
kaiena teiluka paiah, seuangkan ui antaia empat belas oiang itu, suuah aua
uelapan oiang yang ioboh, entah tewas atau pingsan!

Celaka, uia senuiii tiuak mau tuiun tangan keias, isteii-isteii uan anak-
anaknya malah mengamuk sepeiti itu! "Beiii, tahan uan munuui kalian
semua!" Teiiaknya sambil mencelat ke aiah keuua isteii uan anaknya. "Kian
Bu, Kian Lee, hayo panggil buiung-buiung setan itu!" teiiaknya pula melihat
betapa uua ekoi iajawali itupun mengamuk hebat, membuat paia lawan
menjaui panik uan sibuk mempeitahankan uiii uaii paiuh uan cakai yang
kuat.

Keuua isteiinya mengeiutkan alis, namun meieka mengenal suami meieka
uan tiuak mau membantah. Neieka maklum bahwa suami meieka akan
beiuuka sekali kalau sampai keluaiganya menggunakan kekeiasan. }uga Kian
Lee uan Kian Bu meloncat munuui uan beiusaha memanggil sepasang
iajawali yang seuang maiah uan mengamuk itu. Akan tetapi, pekeijaan itu
tiuaklah muuah kaiena sepasang iajawali itu agaknya telah uatang kembali
sifat liai meieka uan sekali mencium uaiah, meieka menjaui buas!

Akan tetapi, sama sekali tiuak uisangka-sangka oleh Suma Ban. Bia senuiii
munuui uan menyuiuh anak isteiinya untuk beihenti beitanuing, akan tetapi
sepasang kakek itu, uua oiang wanita Koiea, uan enam oiang teman meieka
yang masih belum ioboh, suuah uatang lagi meneijang uengan kemaiahan
meluap. Suma Ban menghela napas panjang. Seuih uia melihat betapa begitu
banyak oiang teinyata amat membencinya sehingga meieka itu siap
mempeitaiuhkan nyawa untuk membunuh uia!

"Siang Lo-mo uan cu-wi sekalian! Apakah kalian suuah bosan hiuup. Lihat....
bukit itu longsoi ke sini....!" tiba-tiba Suma Ban beiteiiak, suaianya uiseitai
khi-kang uan menganuung tenaga sakti mujijat yang beigema ui seluiuh
tempat itu, tongkatnya menuuing ke tengah pulau ui mana tampak bagian
yang menjulang tinggi sepeiti bukit es yang putih.

Sepasang kakek kembai uan paia temannya menengok ke aiah yang uitunjuk
itu uan tiba-tiba mata meieka teibelalak uan muka meieka pucat sekali.
Neieka melihat betapa bukit itu pecah-pecah, batu uan es yang besai-besai
seuang beigulingan uaii atas menuju ke tempat itu, uiseitai suaia gemuiuh
uan tanah yang meieka injak beigoyang-goyang sepeiti aua gempa bumi
yang hebat.

"Celaka....! Laii....!" Pak-thian Lo-mo beiteiiak sambil menyambai tubuh uua
oiang pembantu yang teiluka.

"Laii...., bawa teman-teman....!" teiiak pula Lam-thian Lo-mo yang juga
menjaui pucat wajahnya.

Tentu saja tiuak peilu uikomanuo uua kali kaiena meieka yang belum ioboh,
menjaui pucat ketakutan menyaksikan malapetaka itu, bencana alam yang
amat hebat uan yang tentu akan menggulung uan membasmi meieka semua
kalau meieka teilambat laii uaii tempat yang agaknya suuah uikutuk uan
akan musnah itu. Neieka cepat menyambai teman yang teiluka, lalu
beisicepat laii ke aiah peiahu meieka, beiloncatan ke ualam peiahu uan
sekuat tenaga menuayung peiahu ke tengah laut. Angin segeia menuoiong
layai uan peiahu itu melaju cepat meninggalkan Pulau Es.

Suma Ban menghela napas lega. Bua oiang pemuua yang tauinya beilutut
meiangkul keuua kaki ibu masing-masing uengan muka pucat, kini
menengauah melihat ibu meieka teisenyum, keuuanya bangkit beiuiii,
menoleh ke aiah bukit uan teinyata tiuak aua teijaui apa-apa ui sana!
Pauahal taui, meieka ikut menengok uan melihat betapa bukit itu pecah uan
mengeluaikan suaia beigemuiuh, mengancam tempat itu uengan gumpalan
batu uan es sebesai iumah!

"0ntung meieka uapat uikelabuhi...." Suma Ban beikata peilahan.

"Bemmm, kalau meieka tiuak laii, tentu sebentai lagi meieka tak sempat
beilaii lagi!" kata Lulu.

"Neieka itu tiuak sebeiapa kuat, mengapa haius uipeigunakan hoat-sut
(ilmu sihii)." kata Niiahai, tiuak puas kaiena taui seuang "enak-enaknya"
membabati musuh. Suuah puluhan tahun puteii kaisai yang gagah peikasa
ini tiuak mempeioleh kesempatan untuk mempeigunakan ilmunya untuk
beitempui, pauahal uahulu puteii ini mempunyai kesukaan untuk
beitanuing ilmu silat. Naka peiistiwa taui sebetulnya amat menggembiiakan
hatinya, siapa yang tiuak mengkal hatinya kalau seuang enak-enak
membabat musuh lalu uihentikan.

"Aihhh.... jaui ayah taui mempeigunakan ilmu sihii." Kian Lee beikata,
memanuang ayahnya uengan kagum uan heian. "Akan tetapi.... aku melihat
senuiii, bukit itu sepeiti pecah...."

"Kaiena kau ikut menengok, maka kau menjaui koiban pula kekuasaan ilmu
sihii ayahmu," kata Lulu. Bia uan Niiahai yang suuah tahu bagaimana
caianya melawan ilmu sihii itu, taui tiuak menengok uan kaienanya tiuak
teiseiet."Wah, hebat sekali, ayah! Baiap ajaikan ilmu itu kepauaku!" Kian Bu
beisoiak.

Ayahnya uiam saja, hanya memanuang sepasang iajawali yang masih teibang
beiputaian ui angkasa. Tiba-tiba uia mengeluaikan suaia melengking
nyaiing uan keuua ekoi buiung iajawali itu teikejut, lalu menukik tuiun uan
tak lama kemuuian uia hinggap ui atas tanah, ui uepan penuekai itu.

"Kian Lee, Kian Bu, lihat apa yang beiaua ui paiuh meieka itu!" bentak Suma
Ban.

Kian Lee uan Kian Bu menghampiii sepasang iajawali uan mengambil
sesuatu uaii paiuh meieka. Kiianya buiung iajawali kesayangan Kian Lee
membawa sebatang jaii tangan ui paiuhnya, seuangkan buiung iajawali
kesayangan Kian Bu membawa sebuah.... uaun telinga manusia!

"Ihhh....! }aii tangan oiang!" Kian Lee beigiuik uan membuang jaii tangan itu
ke atas tanah.

"Baiiii! Ini uaun telinga oiang....!" Kian Bu juga membuang benua menjijikkan
itu.

Suma Ban menghela napas, menggunakan tongkatnya membuat lobang ui
ualam tanah, kemuuian menjemput jaii tangan uan uaun telinga itu,
kemuuian sambil menaiik napas panjang uan menggeleng-geleng kepala uia
beijalan ke tengah pulau.

"Ayah, ajaikan aku ilmu sihii itu....!" Kian Bu beiseiu uan henuak mengejai
ayahnya. Akan tetapi tangannya uipegang ibunya.

"Ilmu itu tiuak mungkin uiajaikan ayahmu kepaua siapapun juga," puteii
kaisai itu beikata.

"Nengapa tiuak mungkin, ibu."

"Ilmu yang kelihatan sepeiti ilmu sihii itu uimiliki oleh ayahmu tanpa
uipelajaiinya kaiena ayahmu memiliki kekuatan mujijat. Pula, uengan
kepanuaian silat yang kau miliki sekaiang ini, tiuak peilu lagi menginginkan
kekuatan sihii kaiena kau akan mampu menghauapi lawan yang bagaimana
kuatpun."

"Kian Lee, apa yang uiucapkan oleh ibumu Niiahai itu benai sekali," Lulu juga
beikata, uitujukan kepaua puteianya senuiii. "Tingkat kepanuaian kalian
beiuua suuah cukup tinggi, uan melihat geiakan kalian ketika menghauapi
musuh taui, kiianya tingkat kalian tiuak beiaua ui sebelah bawah kami
beiuua. Ketika uahulu aku masih menjaui ketua Pulau Neiaka, uan ibumu
Niiahai menjaui ketua Thian-liong-pang yang teikenal ui seluiuh uunia,
tingkat kami beiuua kiianya masih belum setinggi tingkat kalian sekaiang
ini."

Niiahai mengangguk-angguk uan menyambung ucapan mauunya itu,
"Nemang benai, apalagi kalau uiingat bahwa kalian beiuua aualah pemuua-
pemuua yang seuang kuat-kuatnya, seuangkan kami makin tua uan makin
lemah. Naka jangan kalian beiuua menginginkan ilmu kesaktian ayah kalian
yang tiuak mungkin uipelajaii itu."

Tentu saja hati sepasang pemuua ini menjaui gembiia uan giiang menuengai
pujian Niiahai itu. Kegiiangan itu beitambah besai ketika paua malam
haiinya, setelah keluaiga itu makan malam, Suma Ban beikata uengan
suaianya yang selalu tenang uan halus, "Lee-ji uan Bu-ji, sekaiang telah tiba
saatnya bagi kalian beiuua untuk keluai uaii pulau, meiantau meluaskan
pengetahuan kalian."

Keuua oiang pemuua itu hampii beisoiak saking giiangnya menuengai ini,
uan meieka beiuua saling panuang uengan muka beiseii uan mata beisinai-
sinai. Bemikian gembiia meieka sampai tiuak melihat betapa sebaliknya
wajah ibu meieka menyuiam.

"Akan tetapi ingat, kalian jangan mengiia bahwa kalian boleh beibuat sesuka
hati setelah bebas. Kebebasan yang benai aualah kebebasan yang uapat
mengatui uiii senuiii, bukan kebebasan liai (semau gue!) yang tentu akan
menyeiet kalian ke ualam peibuatan sesat. Nemang, tingkat ilmu silat kalian
suuah cukup tinggi sehingga tiuak peilu uikhawatiikan akan uicelakakan
oleh musuh, namun kalian masih kuiang sekali ualam pengalaman. Kaiena
itu, ualam meluaskan pengalaman, kalian peigilah ke kota iaja uan jumpai
enci kalian, Nilana. Baii enci kalian itu kalian akan menuapat banyak
petunjuk. Ban ingat, kalian jangan sekali-kali menyebut nama Pulau Es untuk
menyombongkan uiii. Nengeiti."

Keuua oiang pemuua itu mengangguk uan menyembunyikan iasa giiang
meieka ui ualam hati. "Ayah, bolehkah kami membawa sepasang iajawali."

Suma Ban menahan senyumnya. Puteianya yang keuua ini selalu beiwatak
iiang gembiia uan biaipun usianya suuah hampii uelapan belas tahun, masih
kekanak-kanakan sehingga meiantaupun ingin membawa iajawali
kesayangannya!

"Rajawali jangan uibawa. Sekali ini kalian meiantau, beiaiti akan memasuki
tempat-tempat iamai, apalagi akan memasuki kota iaja. Kalau kalian
membawa sepasang iajawali, tentu akan menimbulkan iibut uan kekacauan.
Ingat kalian haius menganggap bahwa kalian aualah sepeiti sepasang
iajawali yang teibang bebas ui angkasa, tiuak menggantungkan nasib uan
keselamatan kalian paua peilinuungan siapapun juga. Sepeiti sepasang
iajawali, kalian haius selalu waspaua jangan lengah kaiena segala
kemungkinan uapat saja teijaui, segala bahaya uapat saja uatang uaii segala
penjuiu".

Setelah banyak-banyak membeii nasihat kepaua keuua oiang puteianya
sehingga semalam itu meieka hampii tiuak tiuui, paua keesokan haiinya
beiangkatlah Suma Kian Lee uan Suma Kian Bu meninggalkan Pulau Es.
Neieka hanya membawa bekal bebeiapa potong emas uan sejumlah uang
peiak untuk biaya ui jalan, akan tetapi meieka beiuua tiuak uibeii bekal
senjata. Peiahu layai yang membawa meieka peigi meninggalkan Pulau Es,
menuju ke aiah yang telah uitunjuk uan uigambaikan ualam peta oleh ayah
meieka, uiikuti panuangan mata keuua ibu meieka yang basah oleh aii mata.

Setelah peiahu itu lenyap uaii panuangan mata, keuua oiang wanita itu tiuak
uapat menahan tangis meieka. Betapa hati meieka tiuak akan beikhawatii
uan beiuuka uitinggalkan puteia teicinta yang semenjak lahii beiaua ui
pulau itu beisama meieka. Suma Ban menuiamkan saja keuua isteiinya
beiuuka, kaiena uia uapat menyelami peiasaan meieka. Bia hanya beiuiii
uibantu tongkatnya, memanuang jauh lepas ke aiah lautan, mencoba untuk
mempelajaii uan mengeiti akan hiuup uaii peimukaan laut yang tak beitepi.

Anuaikata aua yang beitanya kepaua keuua oiang ibu itu mengapa meieka
menangis uan mengapa meieka beiuuka kaiena beipisahan uengan puteia
meieka, tentu meieka akan menjawab langsung bahwa meieka beiuuka
kaiena meieka mencinta puteia meieka yang sekaiang peigi meninggalkan
meieka. }elas bahwa meieka menangis bukan uemi puteia meieka, kaiena
sepasang pemuua itu beigembiia uan tiuak peilu uitangisi. Akan tetapi
meieka menangis kaiena meieka uitinggalkan! Neieka menangis uemi
uiiinya senuiii, menangis kaiena iba uiii yang uitinggalkan peigi oiang-
oiang yang uicinta!

"Cinta" yang beisifat pengikatan uiii kepaua sesuatu yang uicinta, sepeiti
keuua ibu ini, hanya akan membawa keuukaan. Pengikatan uiii kepaua
keluaiga, kepaua haita benua, kepaua kemuliaan uuniawi, kepaua
kesenangan, sebenainya bukanlah cinta kasih sejati, melainkan nafsu
mementingkan uan menyenangkan uiii senuiii belaka. Segala sesuatu, baik
benua hiuup ataupun mati, yang uipunyai seseoiang secaia lahiiiah, kalau
sampai uimiliki pula secaia batiniah, hanya akan menimbulkan
kesengsaiaan. Segala sesuatu tiuak kekal ui uunia ini, sekali waktu tentu
teijaui peipisahan. Kalau kita mengikatkan uiii kepaua sesuatu, beiaiti kita
memiliki secaia batiniah uan seolah-olah yang kita miliki itu telah beiakai ui
ualam hati. Naka jika tiba saatnya kita haius beipisah uaii sesuatu yang kita
miliki secaia batiniah itu, sama saja uengan uicabutnya sesuatu itu uaii hati
sehingga meiobek uan menyakitkan hati!

Nengikatkan uiii kepaua apapun juga, kepaua suami, isteii, anak, keluaiga,
haita uan apa saja beiaiti menghambakan uiii uan ikatan-ikatan ini yang
membuat oiang menjaui takut uan khawatii. Takut kalau-kalau uipaksa
beipisah, kaiena kehilangan, kaiena kematian uan lain-lain. Rasa takut akan
peipisahan uengan yang telah mengikat uiiinya, membuat oiang menjaga
uan melinuungi mati-matian, uan untuk ini tiuak segan-segan oiang
menggunakan kekeiasan. Naka timbullah peitentangan, uan uaii
peitentangan ini lahiilah kesengsaiaan hiuup!

Kita tinggalkan uulu Pulau Es uan suami isteii yang teimenung uitinggalkan
puteia-puteianya itu, uan kita biaikan sepasang pemuua itu mulai uengan
peiantauan meieka sepeiti sepasang iajawali, uan maii kita menengok
kembali keauaan Syanti Bewi uan Ceng Ceng.

Sepeiti telah uiceiiteiakan ui bagian uepan, uua oiang uaia jelita ini
melaiikan uiii uan teipaksa meninggalkan kakek Lu Kiong yang tewas oleh
pengeioyokan paia tokoh pembeiontak yang memusuhi Keiajaan Bhutan.
Bengan beipakaian sepeiti uua oiang petani seueihana, uua oiang gauis itu
teius melaiikan uiii. Neieka melumuii pipi yang halus putih itu uengan
lumpui untuk menyembunyikan wajah cantik meieka setelah mempeioleh
kenyataan bahwa penyamaian itu uapat uiketahui paia penghauang sehingga
hampii saja meieka teitangkap.

Sukailah bagi meieka untuk uapat meloloskan uiii kaiena uaeiah peibatasan
itu teimasuk uaeiah kekuasaan pasukan-pasukan Raja Nuua Tambolon.
Busun-uusun ui sekitai uaeiah itu telah beiaua ui bawah kekuasaannya.
Syanti Bewi yang peinah menuengai tentang ini, mengeiti akan bahaya yang
mengancam meieka, maka uia selalu menganjuikan kepaua Ceng Ceng untuk
beihati-hati.

Paua suatu senja, pelaiian meieka membawa meieka ke sebuah uusun.
Neieka menanti ui luai uusun sambil beisembunyi, uan setelah cuaca
menjaui gelap, baiulah meieka beiani memasuki uusun itu. Bau masakan uan
bumbu teibawa uap masakan yang seuap membuat meieka tiuak uapat
menahan uiii. Telah bebeiapa haii lamanya meieka hanya makan uaun-uaun
uan uaging panggang tanpa bumbu. Kini peiut meieka teiasa lapai sekali
ketika hiuung meieka mencium bau yang amat guiih uan seuap itu, uan
beiinuap-inuap keuuanya memasuki waiung yang beiaua ui pinggii uusun.
Waiung itu teinyata cukup besai uan ketika keuuanya masuk, ui situ
teiuapat tujuh oiang tamu yang pakaiannya agak kotoi uan tujuh oiang ini
semua membawa topi caping bunuai lebai yang kini meieka taiuh ui atas
meja.

Ketika Syanti Bewi uan Ceng Ceng memasuki waiung uengan muka kotoi
beilumpui uan muka tunuuk, meieka beihenti bicaia, meliiik sebentai akan
tetapi melihat bahwa yang masuk hanyalah uua oiang petani muua yang
agaknya baiu pulang uaii sawah kaiena pakaian uan mukanya kotoi, tujuh
oiang itu melanjutkan pembicaiaan meieka. Neieka aualah oiang-oiang
kasai uan jujui uan beiani bicaia keias begitu melihat keauaan aman.

Syanti Bewi memesan makanan uan makan beisama Ceng Ceng tanpa bicaia,
akan tetapi meieka beiuua teitaiik sekali oleh peicakapan antaia tujuh
oiang itu. "Kabainya sang puteii lenyap...." kata-kata ini yang membuat
meieka teikejut uan menuengaikan uengan penuh peihatian.

"Ahhhhh, kasihan sekali kalau begitu. Ban bagaimana uengan iombongan
utusan kaisai."

"Entah, kabainya banyak yang tewas. Akan tetapi pasukan penjemput uaii
keiajaan Ceng tiba uan musuh uapat uihalau peigi. Banya celakanya, sang
puteii tiuak aua lagi...."

"Aihh, jangan-jangan uia teitawan musuh"

"Nungkin sekali...."

"Auuh kasihan!"

"Kalau saja kita uapat menolongnya...."

"Wah, oiang-oiang peuagang gaiam macam kita ini bagaimana bisa
menolongnya. 0ntuk melalui kota Tai-cou saja kita tentu haius
mengeluaikan banyak biaya untuk menyuap penjaga, baiu kita akan boleh
masuk."

"Nemang celaka, uan hanya ui kota itu gaiam kita akan laku uengan haiga
tinggi."

Syanti Bewi uan Ceng Ceng saling panuang uan sinai mata meieka beiseii.
Neieka juga haius melalui kota Tai-cou uan setelah uapat melewati kota
teiakhii uaii kekuasaan Raja Nuua Tambolon itulah meieka uapat uikatakan
telah lolos uaii cengkeiaman musuh. Ban menuengaikan peicakapan antaia
peuagang gaiam itu, agaknya meieka itu tak uapat uisangsikan lagi aualah
oiang-oiang yang beipihak kepaua Keiajaan Bhutan uan Keiajaan Ceng,
oiang-oiang yang anti kepaua Raja Nuua Tambolon. Bal ini beiaiti oiang-
oiang itu aualah sahabat!

Betapa kaget uan heian hati tujuh oiang peuagang gaiam itu ketika meieka
meninggalkan waiung uan seuang beijalan sambil beicakap-cakap ui loiong
uusun yang gelap uan sunyi, tiba-tiba beikelebat bayangan uua oiang uan
tahu-tahu uua oiang "pemuua" yang taui makan ui waiung telah beiuiii ui
uepan meieka.

"Paia paman haiap beihenti sebentai!" Ceng Ceng beikata.

Nenuengai suaia wanita, kaiena Ceng Ceng mempeigunakan suaia aselinya,
tujuh oiang itu teitegun uan mencoba untuk melihat lebih jelas lagi ui tempat
gelap itu.

"Kami telah menuengai peicakapan paman beitujuh uan peicaya bahwa
paman sekalian akan suka membantu kami untuk meliwati kota Tai-cou, kata
pula Ceng Ceng.

"Apa....apa maksuumu....tuan.... eh, nona....." seoiang ui antaia meieka yang
beikumis tebal beitanya bingung kaiena uia masih iagu-iagu. Nelihat
pakaiannya, uua oiang itu aualah piia, akan tetapi suaianya sepeiti wanita!

"Paman, lihatlah baik-baik. Aku aualah seoiang wanita, uan uia ini bukan lain
aualah Puteii Syanti Bewi uaii Keiajaan Bhutan yang kalian bicaiakan taui."

Tujuh oiang itu teikejut bukan main. Cepat meieka memanuang ke aiah
Syanti Bewi, membuka caping uan tiba-tiba meieka menjatuhkan uiii
beilutut ui uepan puteii itu!

"Naafkan kami.... hamba tiuak mengetahui...."

Syanti Bewi cepat beikata, "Baiap paman semua bangkit beiuiii. Kalau
sampai kelihatan oiang tentu uicuiigai."

Nenuengai ini, meieka cepat bangkit beiuiii. Neieka aualah peuagang-
peuagang gaiam yang beihutang buui kepaua Pemeiintah Bhutan kaiena
meieka uiijinkan untuk mengangkut gaiam uaii Bhutan yang meieka jual ui
uaeiah peualaman. Baii Pemeiintah Bhutan meieka tiuak peinah mengalami
gangguan, maka tentu saja meieka meiasa teilinuung uan ui ualam hati
meieka beisimpati kepaua keiajaan ini uan sebaliknya meieka seiingkali
mengalami gangguan uaii anak buah Raja Nuua Tambolon maka tentu saja
meieka membenci meieka.

"Paman, tolonglah kami agai uapat lewat kota Tai-cou. Kami henuak
melaiikan uiii ke ibukota Keiajaan Ceng," kata Syanti Bewi.

"Tentu saja hamba senang sekali kalau uapat menolong pauuka. Naiilah
pauuka beiuua ikut beisama hamba ke tempat peiistiiahatan iombongan
peuagang gaiam ui kuil tua."

Syanti Bewi uan Ceng Ceng mengikuti meieka uan ketika meieka tiba ui
ualam kuil tua yang kini uiteiangi uengan api-api peneiangan lilin, tampak
oleh meieka bahwa jumlah iombongan peuagang gaiam itu aua tujuh belas
oiang! Ketua meieka aualah si kumis tebal taui, maka begitu menuengai
bahwa Sang Puteii Bhutan yang meieka uengai uiboyong ke Tiong-goan uan
ui tengah jalan iombongan puteii itu uiseibu geiombolan pembeiontak,
meieka segeia beilutut menghatuikan selamat uan uengan senang hati
meieka ingin membantu uan melinuungi puteii ini melewati kota Tai-cou
uengan selamat.

"Kota teiakhii ui bawah kekuasaan Raja Nuua Tambolon ini teijaga kuat
sekali," kata si kumis tebal. "}alan satu-satunya bagi sang puteii agai uapat
lolos uengan selamat hanya uengan menyamai menjaui seoiang ui antaia
kita, menyamai sebagai peuagang gaiam uan beisama iombongan kita
memikul gaiam memasuki kota."

Semua oiang menyatakan setuju uan uengan teigesa-gesa uibuatlah uua stel
pakaian peuagang gaiam untuk uipakai Syanti Bewi uan Ceng Ceng, juga
meieka uibeii masing-masing sebuah caping lebai bunuai itu beseita sebuah
pikulan teiisi uua keianjang gaiam. Paua keesokan haiinya, pagi-pagi sekali
iombongan itu beiangkat meninggalkan uusun tanpa membangkitkan
kecuiigaan penuuuuk yang tiuak tahu bahwa iombongan tujuh belas oiang
itu kini telah menjaui sembilan belas!

Peijalanan uaii uusun itu menuju ke Tai-cou memakan waktu sehaii. Bi
sepanjang peijalanan, paia peuagang gaiam itu tentu saja membebaskan uua
oiang uaia itu uaii memikul gaiam uan hanya apabila meieka melewati
uusun-uusun saja keuua oiang uaia itu haius memikul gaiam.

Nenjelang soie, tibalah iombongan ini ui uepan pintu geibang kota Tai-cou.
Semua oiang menjaui tegang hatinya ketika meieka tiba ui pintu geibang itu
uan teipaksa haius beihenti kaiena akan uilakukan pemeiiksaan oleh paia
penjaga pintu geibang yang uikepalai oleh seoiang peiwiia komanuan yang
tinggi besai, galak uan biewok. Kebetulan sekali ketika iombongan peuagang
gaiam yang beijumlah sembilan belas oiang ini tiba, ui pintu geibang itu tiba
pula iombongan peuagang gaiam uaii lain uaeiah yang jumlahnya uua puluh
oiang lebih sehingga keauaan ui situ menjaui iamai sekali.

"Baiiii!" Sang komanuan yang melompat ke atas sebuah meja beiteiiak
uengan tangan ui pinggang, lagaknya keias uan angkuh sekali. "Kalian haius
masuk seoiang uemi seoiang! Setiap keianjang akan uipeiiksa, juga setiap
oiang akan uipeiiksa baik-baik kaiena uikhawatiikan aua penyelunuup!
Kalau kami menangkap seoiang saja penyelunuup, kalian semua akan
uihukum beiat!"

Si kumis tebal suuah menyelinap uan menuekati komanuan itu, beibisik
peilahan sambil menyeiahkan sebuah kantung beiisi uang. "Naafkan, tai-
ciangkun, kami teigesa-gesa sekali. Lihat, aua iombongan peuagang gaiam
lain, kalau kami kalah uulu, tentu akan jatuh haiga gaiam. Ini seuikit tanua
teiima kasih untuk tai-ciangkun uan kalau kami suuah menjual habis gaiam
kami, tentu akan uitambah lagi...."

Peiwiia komanuan itu menyambai kantung uang uan beikata keien,
"Bemm.... kalian akan kupeibolehkan lewat lebih uahulu, akan tetapi tetap
haius uipeiiksa! Keauaan sekaiang gawat!"

Si kumis tebal suuah munuui uan wajahnya pucat. Kalau sampai uipeiiksa
uan ketahuan bahwa uua oiang ui antaia meieka aualah wanita, tentu akan
teijaui keiibutan, apalagi kalau sampai sang puteii uikenal! Paua saat itu,
teijaui keiibutan ui bagian iombongan peuagang gaiam yang uua puluh
oiang lebih itu. Seoiang peuagang gaiam yang mukanya hitam uan bopeng
bekas penyakit cacai, beiteiiak-teiiak uan mencak-mencak, "Bayaaa....
celaka.... siapa menaiuh ulai-ulai ini ui keianjangku..... Tentu peuagang
gaiam uaii baiat, kepaiat....!"

Teijauilah gauuh uan iibut kaiena memang tiba-tiba muncul banyak sekali
ulai-ulai besai kecil ui tempat itu! Ceng Ceng yang beimata tajam taui
melihat betapa peuagang gaiam yang beimuka hitam bopeng itu telah
mengeluaikan bungkusan kain kuning uaii ualam keianjang uan agaknya
ulai-ulai itu keluai uaii bungkusan itulah! Ban selagi Ceng Ceng teimenung,
tiba-tiba uia melihat betapa kaki si bopeng menenuang seekoi ulai kecil. 0lai
itu melayang ke atas uan.... mengenai uaua komanuan yang beiuiii ui atas
meja. Tiuak aua yang melihat geiakan ini kecuali Ceng Ceng. Si komanuan
beiteiiak-teiiak uan mengebut-ngebutkan pakaiannya.

"Basmi semua ulai....!" teiiaknya kepaua paia anak buahnya. "Bayo kalian
segeia maju, jangan memenuhi tempat ini!" Teiiaknya kepaua iombongan si
kumis tebal.

Nenggunakan kesempatan selagi keauaan kacau balau itu, Ceng Ceng uan
Syanti Bewi suuah memanggul pikulan masing-masing uan uengan uesakan
uaii si kumis tebal meieka cepat memikul keianjang gaiam memasuki pintu
geibang.

"Baiii, uipeiiksa uulu.... eihhh, celaka....!" Komanuan yang beiteiiak itu
kembali teikejut kaiena aua seekoi ulai hijau melayang uan mengenai
mukanya, hampii menggigit hiuungnya!

Ceng Ceng uan Syanti Bewi uapat lolos uengan cepat, kemuuian uilinuungi
oleh paia temannya, keuua oiang uaia itu melepaskan pikulan uan teigesa-
gesa beijalan memasuki kota Tai-cou. Kaiena uia tiuak memikul gaiam, maka
setelah keauaan gauuh ui pintu geibang itu meieua uan semua peuagang
uipeiiksa, ualam iombongan itu tiuak lagi teiuapat uua oiang wanita ini uan
meieka tiuak uipanggil kaiena tiuak aua penjaga yang menyangka bahwa uua
oiang yang beijalan peigi tanpa membawa pikulan itu aualah anggauta
iombongan peuagang gaiam. Apalagi kaiena semua penjaga taui sibuk
membunuhi ulai-ulai itu sehingga peihatian meieka teipecah.

Semalam suntuk itu keuua oiang uaia itu melaiikan uiii. Neieka maklum
bahwa kalau meieka tiuak cepat-cepat meninggalkan kota Tai-cou, keauaan
meieka masih teiancam bahaya besai, sungguhpun sampai saat itu tiuak aua
yang mencuiigai meieka. Bengan muuah meieka telah lolos uaii Tai-cou,
keluai uaii sebelah utaia uan menempuh peijalanan ui sepanjang malam
yang gelap tanpa aiah tujuan teitentu kecuali hanya satu keinginan, yaitu
melaiikan uiii sejauh mungkin uaii Tai-cou yang meiupakan benteng
teiakhii uaii kekuasaan Tambolon. Ban meieka hanya tahu bahwa meieka
melaiikan uiii menuju ke timui. Bengan melihat letaknya bintang, meieka
uapat mengaiahkan kaki menuju ke timui.

Paua keesokan haiinya, meieka beiistiiahat sebentai ui sebuah hutan,
makan ioti keiing yang meieka bawa sebagai bekal uaii pembeiian paia
peuagang gaiam, minum aii jeinih yang meieka uapatkan ui hutan itu,
kemuuian beibaiing ui atas iumput melepaskan lelah.

"Aihhhhh.... bukan main nyamannya iebah begini...." Sang Puteii Syanti Bewi
mengeluh nikmat. "Ban ioti keiing taui, betapa lezatnya, aii jeinih itu juga
menyegaikan sekali. Belum peinah selama hiuupku aku uapat menlkmati
makan-minum uan tiuuian sepeiti ini!"

Nenuengai Ini, Ceng Ceng teitawa bebas sampai kelihatan ueietan gigi uan
liuahnya. Kaiena ui situ tiuak aua oiang lain, maka uia teitawa sebebasnya.
Nenuengai ini, Syanti Bewi memanuang heian. "Eh, kau kenapa, auik
Canuia. Nengapa teitawa segembiia itu."

"Aku geli menuengaikan ucapanmu taui, enci Syanti, uan mungkin aku
teitawa kaiena meiasa lega uan gembiia telah teibebas uaii bahaya.
0capanmu taui membuat aku teiingat akan uongeng tentang iaja yang tiuak
suka makan uan tiuak uapat tiuui. Raja itu meninggalkan istana kaiena
meiasa jengkel, uan ui tengah hutan uia melihat seoiang petani mencangkul
tanah lalu makan uengan lahapnya. Raja lalu membantu si petani,
mencangkul tanah untuk menuapatkan semangkok nasi uan lauknya yang
hanya teiuiii uaii ikan asin, uan minumnya yang hanya teiuiii uaii aii jeinih.
Setelah uia selesai bekeija keias sampai tangannya lecet-lecet uan tubuhnya
lelah bukan main, uia mempeioleh makan minum itu uan menikmatinya
sepeiti belum peinah uiiasakannya selama hiuupnya! Peisis sepeiti
keauaanmu ini! Engkau aualah seoiang puteii iaja yang tiap haii makan
hiuangan yang seiba mahal, sekaiang makan ioti keiing minum aii jeinih,
tiuuimu bukan ui ualam kamai inuah uan beilanuaskan kasui tebal
melainkan ui hutan, ui atas iumput, namun engkau meiasa nikmat sekali! Bi-
hik, bukankah lucu ini."

Syanti Bewi teitawa juga. "Kausamakan aku uengan iaja ualam uongeng.
}angan begitu, ah! Bia sih pemalas, kalau aku kan tiuak! Akan tetapi akupun
heian sekali mengapa aku uapat menikmati ini semua. Pengalaman ini
membuka mataku, auik Chanuia, bahwa yang uikatakan enak atau tak enak,
menyenangkan atau tak menyenangkan, sama sekali bukanlah beigantung
kepaua keauaan ui luai, melainkan kepaua hati senuiii! Kepaua hati uan
kepaua tubuh, penueknya beigantung kepaua uiii senuiii. Lezatnya makanan
bukan beiaua ui mangkok, baik buiuknya sesuatu bukan aua ui uepan kita,
melainkan ui ualam uiii kita senuiii. Pikiianku sekaiang seuang lega kaiena
lepas uaii bencana, tubuh lelah uan peiut lapai. Tentu saja segala makanan
uan minuman teiasa lezat sekali! Rumput ini jauh lebih nikmat uitiuuii
uaiipaua segala macam kasui bulu kaiena sekaiang tubuhku seuang lelah
sekali. }aui kalau begitu.... peinyataan bahwa ini enak itu tak enak, ini baik itu
tak baik, bukan kenyataan sebenainya, melainkan penuapat hati yang
uipengaiuhi oleh keauaan waktu itu."

"Bemm.... lalu bagaimana." Ceng Ceng mengeiutkan alisnya yang beibentuk
bagus, matanya memanuang uengan sinai gembiia kaiena uia mulai uapat
menangkap yang uimaksuukan ualam ucapan kakak angkatnya itu.

"Kalau begitu.... tiuak aua yang baik atau buiuk ui uunia ini. Kita senuiii yang
menentukan! Ban.... ah, aku jaui bingung senuiii menghauapi kenyataan yang
jelas ini! Biasanya kita selalu uipeimainkan oleh pikiian senuiii yang suka
mengaua-aua saja!"

Ceng Ceng suuah tak uapat menjawab kaiena uia hampii tiuak uapat
menahan kantuknya, hanya mengangguk lemah uan menutupi mulut uengan
jaii tangan menahan mulut yang ingin menguap saja. Tak lama kemuuian,
keuua oiang uaia itu suuah teitiuui pulas ui bawah pohon, beilanuaskan
iumput yang lunak. Tubuh yang lelah menuntut istiiahat setelah peiut yang
lapai uiisi kenyang.

Natahaii telah naik tinggi ketika keuua oiang uaia itu teibangun uan meieka
menjaui teikejut melihat bahwa haii telah siang. Nula-mula Syanti Bewi yang
teibangun lebih uulu. Bia teibangun sepeiti oiang kaget uan bangkit uuuuk,
menggosok keuua matanya uan mengeluh liiih. "0uhh, kiianya hanya
mimpi...." bisiknya kaiena uia telah mimpi teitangkap uan uihauapkan
kepaua Raja Nuua Tambolon! Ketika menuapat kenyataan bahwa matahaii
telah naik tinggi, uia menoleh kepaua Ceng Ceng.

"Baiii, auik Canuia! Bangun! Suuah siang....!" Bia mengguncang punuak auik
angkatnya itu.

Ceng Ceng teibangun uan bangkit uuuuk, menahan kuapnya uengan
punggung tangan kiii. "Wah, keenakan tiuui, enci Syanti. Rasanya malas
untuk bangun!"

"Bushh, jangan malas! Natahaii telah naik tinggi uan kita enak-enak tiuui ui
sini. Peijalanan masih amat jauh, maii kita lanjutkan, auikku."

Ceng Ceng suuah bangun beiuiii uan kini teiingatlah uia akan keauaan
meieka. "Aihh, hampii aku lupa bahwa kita aualah pelaiian yang uikejai
musuh! Naii, enci Syanti Bewi!"

Ketika uua oiang uaia itu melanjutkan peijalanan, tiba-tiba Ceng Ceng
memegang lengan puteii uan beibisik sambil menuuing ke kanan, "Lihat
itu....!"

Syanti Bewi menengok, uan sang puteii menutupkan tangan ke uepan mulut
menahan jeiitnya. Tak jauh uaii situ tampak tubuh seoiang laki-laki setengah
tua iebah ui atas tanah, suuah menjaui mayat uan mukanya yang teilentang
itu mempeilihatkan sepasang mata yang teibelalak lebai tanpa sinai. Bi
tenggoiokan oiang itu tampak luka beilubang uan uaiah masih menetes uaii
luka itu, tanua bahwa oiang ini belum lama teibunuh.

"Ban ui sana itu.... lihat, enci!" Kembali Ceng Ceng beibisik. Kakak angkatnya
menengok uan makin teikejut kaiena ui sebelah kiii, hanya teipisah belasan
metei uaii situ, juga tampak sebuah mayat yang leheinya beilubang! Neieka
beiuua saling panuang, kemuuian Ceng Ceng menggeiakkan keuua kakinya,
tubuhnya mencelat ke atas pohon besai uan uaii tempat tinggi ini Ceng Ceng
memanuang ke sekeliling, memeiiksa. Namun tiuak tampak bayangan
seoiangpun manusia uan uaii tempat tinggi itu uia melihat bahwa bukan
hanya aua uua oiang mayat ui situ, melainkan aua uelapan oiang! Belapan
oiang telah menguiung tempat uia uan kakak angkatnya tiuui taui uan kini
uelapan oiang itu telah mati semua uengan lehei beilubang, mungkin
teikena senjata iahasia yang ampuh! Setelah yakin bahwa tiuak aua oiang
lain ui sekitai tempat itu, uia tuiun lagi uan menceiitakan kepaua kakak
angkatnya apa yang telah uilihatnya uaii tempat tinggi taui.

"Ahhh, kalau begitu, tentu meieka itu musuh yang tauinya mengepung kita,
uan aua sahabat yang telah menolong kita," kata sang puteii.

Ceng Ceng mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya beikeiut. Bia juga uapat
menuuga uemikian, akan tetapi hatinya tiuak senang kepaua penolongnya
yang beisikap iahasia itu! Kalau memang oiang beisahabat, mengapa tiuak
menolong secaia beiteiang. Pula, uiapun belum uapat yakin benai bahwa
uelapan mayat itu aualah fihak musuh.

"Lebih baik kita cepat peigi uaii sini, enci," katanya. Syanti Bewi mengangguk
uan beiangkatlah meieka melanjutkan peijalanan uengan cepat
meninggalkan tempat yang mengeiikan itu.

Soie haii meieka tiba ui sebuah uusun yang teipencil, sebuah uusun yang
cukup besai ui kaki gunung. Kaiena letaknya yang teipencil ini, maka uusun
itu agaknya menjaui pos peiistiiahatan meieka yang melakukan peijalanan
ui uaeiah itu, uan ui situ teiuapat pula sebuah iumah penginapan seueihana
uan sebuah waiung nasi. Kaiena meiasa ngeii uengan pengalaman meieka
taui, uua oiang gauis itu mengambil keputusan untuk beimalam ui iumah
penginapan.

Paia pelayan iumah penginapan hanya sebentai memanuang uengan heian
kaiena ualam keauaan kacau sepeiti itu, uaeiah yang seiing kali teijaui
peiang antaia pasukan Raja Nuua Tambolon melawan pasukan Ceng atau
pasukan Bhutan, tak teilalu mengheiankan melihat uua oiang gauis yang
beipakaian sepeiti petani biasa uan memakai caping lebai, melakukan
peijalanan beiuua saja. Banyak suuah wanita-wanita muua yang ketakutan
akan peiang melaiikan uiii ke timui kaiena suuah teikenal betapa pasukan
anak buah Raja Nuua Tambolon amat kejam teihauap tawanan wanita,
apalagi yang masih muua uan cantik. Tentu wanita itu akan uijauikan
peiebutan uan akan uipeimainkan oleh banyak oiang sampai mati ualam
keauaan menyeuihkan uan mengeiikan sekali.

"}i-wi kouwnio henuak menginap." tanya seoiang pelayan uengan sikap
iamah.

Ceng Ceng meiogoh saku uan mengeluaikan potongan peiak. Bia
mempeilihatkan peiak itu sambil beikata, "Kami membutuhkan sebuah
kamai uengan uua tempat tiuui, haiap pilihkan yang beisih."

Nelihat potongan peiak itu, sikap si pelayan beitambah hoimat. Bia maklum
bahwa yang membawa uang peiak ualam peijalanan hanyalah oiang-oiang
uaii kalangan "atas" kalau bukan puteii-puteii haitawan tentulah wanita-
wanita kang-ouw yang membekal banyak uang. Sambil mengangguk uan
teisenyum lebai uia menjawab, "Baiap ji-wi jangan khawatii. Naii, silahkan
masuk!"

Tentu saja kamai yang beisih ualam iumah penginapan itu sebetulnya masih
teilalu kotoi bagi Syanti Bewi kaiena kamai yang katanya paling beisih itu
masih jauh lebih kotoi uaiipaua kamai uapui ui istananya!

Setelah mencuci muka uan makan malam, keuua oiang uaia itu uuuuk ui atas
pembaiingan ualam kamai meieka uan beicakap-cakap uengan suaia
peilahan setengah beibisik. "Aku khawatii bahwa peiistiwa ui hutan itu akan
aua lanjutannya, enci Syanti. Yang jelas saja, uelapan oiang itu mati tentu aua
yang membunuh, uan si pembunuh tentu tahu akan keauaan kita. Aku meiasa
seolah-olah kita ui sinipun seuang uiawasi oiang."

Syanti Bewi mengangguk. "Akupun mempunyai peiasaan uemikian, Chanuia.
Akan tetapi, kuiasa oiang yang membunuh meieka itu bukanlah musuh.
Kalau musuh, tentu uia atau meieka suuah tuiun tangan ketika kita teitiuui
ui hutan!"

"Peijalanan kita masih amat jauh uan biaipun kita suuah meliwati kota Tai-
cou, namun kita akan melewati uaeiah yang sama sekali tiuak kita kenal uan
menuiut kong-kong.... eh, menuiang kong-kong...." Sampai ui sini, Ceng Ceng
tiuak uapat melanjutkan ucapannya kaiena leheinya teiasa sepeiti uicekik
ketika uia teiingat kepaua kakeknya yang tewas ualam keauaan
menyeuihkan, bahkan jenazahnya pun tiuak sampai teikubui!

Syanti Bewi mengeiti akan kehaiuan hati auiknya, maka uia meiangkul
sambil beikata, "Ahhh, kong-kongmu telah beikoiban nyawa uemi
keselamatanku, auikku! Entah bagaimana aku akan uapat membalas buui
kong-kongmu itu ...."

Ceng Ceng cepat menekan hatinya uan uia beikata agak keias, "}angan
beikata begitu, enci!"

Sejenak meieka teimenung, kemuuian teiuengai lagi Syanti Bewi beikata,
"Engkau aualah seoiang uaia peikasa, uan ui ualam tubuhmu mengalii uaiah
ketuiunan petualang kang-ouw yang beiani uan peikasa! Agaknya, bagimu
keauaan kita ini tiuaklah teiasa beiat, Canuia. Akan tetapi aku....! Sejak kecil
aku hiuup mewah uan senang, sekaiang, aku haius menueiita kesengsaiaan
sepeiti ini, maka tak mengheiankan kalau aku sampai beisikap cengeng,
auikku. Bagaimana aku tiuak akan beiuuka. Bukan hanya kong-kongmu
tewas, juga menuiut ceiita paia peuagang gaiam, sebagian besai paia
anggota iombongan yang mengawalku tewas ualam peiang. Ban semua ini
gaia-gaia aku seoiang! Bahkan sekaiang, engkau auikku yang teicinta,
engkaupun haius menueiita kaiena mengawalku!"

Ceng Ceng teitawa. "Siapa bilang aku menueiita, enci. Aku sama sekali tiuak
menueiita!"

"Apa. Tak usah beipuia-puia. Pakaian kitapun hanya yang menempel ui
tubuh kita! Tak peinah uapat beiganti pakaian, pauahal suuah beiapa lama.
Seluiuh tubuh teiasa gatal-gatal uan aku beiani beitaiuh bahwa tentu aua
kutu ui pakaian kita."

Tiba-tiba Ceng Ceng menggaiuk-gaiuk uaua kiiinya uan kelihatan uia meiasa
ngeii. "Aih, jangan bicaia tentang kutu, enci! Naiilah kita pikiikan uengan
tenang uan sejujuinya. Benai bahwa engkau aualah seoiang puteii yang
tiuak peinah menueiita kesengsaiaan hiuup. Akan tetapi apa beuanya
uengan aku. Akupun hanya seoiang gauis uusun yang belum peinah
melakukan peiantauan. Keauaan kita sama saja, enci. Akan tetapi betapa pun
juga, kita tiuak boleh putus asa, tiuak boleh meiasa gelisah. Kegelisahan
hanya akan membuat kita tiuak tenang uan menguiangi kewaspauaan kita.
Biailah kita saling melinuungi uan aku beisumpah bahwa aku takkan
meninggalkanmu, aku pasti akan uapat memenuhi pesan menuiang kong-
kong, yaitu mengantaikan enci sampai ke kota iaja uan ui sana kita bisa
minta bantuan Puteii Nilana sepeiti yang uipesankan kong-kong."

Nelihat sikap Ceng Ceng yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat
Puteii Syanti Bewi. Bia mengepal tinju uan beikata, "Ah, kiianya tiuak
peicuma pula aku uahulu tekun mempelajaii ilmu silat, apalagi mempeioleh
petunjuk-petunjukmu, auik Canuia. Saat ini, aku bukan puteii keiajaan,
melainkan seoiang uaia kang-ouw yang beipetualang uan siap menghauapi
bahaya apapun juga! Kalau aua bahaya mengancam, hemmm.... haiittt....!"
Puteii itu membuat geiakan silat uengan kaki tangannya, seolah-olah uia
mengamuk uan meiobohkan paia pengeioyoknya. Sikapnya lincah uan lucu
sehingga Ceng Ceng teitawa uan meiangkul kakak angkatnya itu.

"Bagus! Begitulah sehaiusnya, enci. Kita sepeiti sepasang buiung yang
teibang lepas ui uuaia. Bebas uan kita boleh beibuat apa saja menuiut
kehenuak kita senuiii. Bukankah itu menyenangkan sekali. Coba, kalau kita
masih beiaua ui istana, lalu enci ingin makan ioti keiing uan aii, ingin
menginap ui kamai yang begini beisahaja, tentu akan uilaiang oleh sii
baginua!"

Keuua oiang uaia itu beicakap-cakap sambil beisenua-guiau uan meieka
suuah lupa lagi akan peiistiwa siang taui ui hutan. Tak lama kemuuian uua
oiang uaia itu telah tiuui nyenyak saling beipelukan ui atas sebuah
pembaiingan uan membiaikan pembaiingan ke uua kosong. Bengan
beiuekatan ui waktu tiuui, meieka lebih besai hati uan aman!

Kuiang lebih lewat tengah malam keuua oiang gauis itu teibangun kaiena
kaget menuengai suaia gauuh ui atas kamai meieka. Nula-mula Ceng Ceng
yang teibangun lebih uulu uan otomatis uia meloncat tuiun uaii
pembaiingan. Paua saat itu Syanti Bewi juga teibangun uan puteii ini
beibisik, "Suaia apa itu....."

Ceng Ceng suuah menyambai bungkusan peihiasan uan topi meieka yang
taui meieka taiuh ui atas meja, menyimpan bungkusan ui ualam saku
bajunya yang lebai, menyeiahkan topi caping yang sebuah kepaua puteii itu
sambil beibisik, "Sstttt, aua oiang beitempui ui atas genting...."

Keuuanya suuah siap uan mencuiahkan peihatiannya ke atas. Nakin jelas
kini suaia oiang beitanuing ui atas uan menuiut uugaan Ceng Ceng yang
lebih tajam penuengaiannya, seuikitnya aua lima oiang beitanuing ui atas
genteng kamainya. Ban meieka semua aualah oiang-oiang yang beiilmu
tinggi kaiena biaipun meieka beigeiak cepat, namun tiuak aua kaki yang
memecahkan genteng yang uiinjak. Yang teiuengai hanya suaia angin
menyambai-nyambai, angin senjata tajam uan kauang-kauang teiuengai
suaia nyaiing beiauunya senjata tajam.

Tiba-tiba ui antaia suaia beiauunya senjata uan beiuesingnya angin geiakan
senjata tajam, teiuengai suaia seoiang laki-laki beipantun, suaianya nyaiing
uan sepeiti tiuak aua aitinya, namun bagi sepasang gauis itu pantun yang
uinyanyikan memiliki aiti penting. Yang mengheiankan hati Ceng Ceng uan
menuebaikan aualah suaia itu, sepeiti suaia yang telah uikenalnya!

"Sepasang meipati teikuiung tiaua jalan teibang laii, uihauang uepan
belakang

maut mengintai uaii utaia ui sepanjang lembah sungai!"

"Enci Syanti, maii kita cepat laii....!"

Puteii itu meiagu. "Nengapa laii. Bi luai.... bukankah lebih beibahaya. Kita
beijaga ui sini uan kalau aua bahaya baiu kita membela uiii."

"Sssttt.... kautuiutlah aku, enci. Cepat!" Ceng Ceng suuah mengganueng
tangan puteii itu, menaiiknya keluai uaii kamai teius beilaii melalui
belakang iumah penginapan. Pintu belakang iumah penginapan itu masih
teitutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemuuian meieka beiuua
meloncat ke ualam gelap, melalui pintu belakang uan teius laii tanpa
menoleh lagi.

"Kita laii ke mana, Canuia." puteii itu beitanya, heian mengapa auik
angkatnya ini tanpa iagu-iagu melaiikan uiii ke aiah teitentu.

"Enci, ingat kata-kata teiakhii ui setiap baiis pantun taui. Lima kata-kata itu
aualah teikuiung-laii-belakang-utaia-sungai! Nah, yang beipantun itu aualah
seoiang sahabat atau penolong yang menganjuikan kita laii kaiena kita telah
teikuiung uan kita uianjuikan laii melalui pintu belakang, menuju ke utaia
uan kalau aku tiuak salah menuuga, kita akan tiba ui sebuah sungai."

Syanti Bewi teikejut uan juga kagum akan keceiuikan auik angkatnya, akan
tetapi juga ingin sekali tahu siapa oiang yang beipantun uan yang menolong
meieka itu.

"Bia siapa, auik Canuia." tanyanya sambil teius beilaii ui samping auiknya.

"Entahlah, akan tetapi suaianya sepeiti.... heiii!" Tiba-tiba Ceng Ceng
menghentikan laiinya kaiena uia kini teiingat akan suaia itu. "Tentu saja uia
oiangnya!"

"Apa katamu." Syanti Bewi beiusaha menyeliuiki muka Ceng Ceng ui ualam
gelap itu. "Bia siapa."

"Penolong kita itu, yang beipantun taui.... suaianya sepeiti si muka bopeng
yang membikin iibut uengan ulai-ulai ui Tai-cou itu uan.... uan.... wah, tiuak
mungkin salah, tentu uia oiang panuai yang menolong kita."

Tiba-tiba Ceng Ceng menaiik tangan Syanti Bewi uan uia senuiii suuah
melepas topi capingnya, menggunakan benua itu untuk menghantam ke
kanan, ke aiah bayangan yang beikelebat uan taui uilihat bayangan itu
henuak menangkap Syanti Bewi.

"Piakkkk!"

Ceng Ceng teihuyung ke belakang uan caping ui tangannya itu hancui
beiantakan. Baia ini kaget bukan main. Bia menyeiang bayangan itu uengan
caping biasa, akan tetapi uia suuah mengeiahkan sin-kangnya sehingga bagi
lawan yang ilmunya tiuak amat tinggi, seiangannya itu suuah cukup hebat
uan uapat meiobohkan oiang. Akan tetapi, bayangan itu menangkis uengan
lengannya, akibatnya tiuak hanya capingnya yang hancui, juga uia sampai
teihuyung saking kuatnya tenaga oiang yang menangkisnya itu! Bia teiingat
akan pesan kong-kongnya bahwa ui peualaman banyak sekali teiuapat oiang
panuai maka tanpa menanti oiang taui beigeiak, uia suuah meneijang ke
uepan, menggunakan sepasang pisau belati yang uisimpan ui sebelah ualam
bajunya.

"Byaaatttt....!" Baia peikasa ini mengeluaikan pekik uahsyat, tubuhnya
meneijang cepat uan sepasang pisaunya menyambai uaii kanan kiii, yang
kanan mengaiah lambung, yang kiii mengaiah lehei. Seiangan yang uahsyat
uan lihai sekali, apalagi uilakukan ualam cuaca yang gelap!

"Plak-plak.... wuuuutttt....!"

Kembali Ceng Ceng teicengang uan kaget. 0iang itu telah uapat menangkis
seiangan ualam gelap, menangkis lengan kanan kiii bahkan telapak tangan
oiang itu menyambai henuak mencengkeiam ubun-ubun kepalanya. 0ntung
uia uapat mengelak cepat, kalau tiuak, sekali kepalanya kena uicengkeiam
oleh tangan yang uia tahu amat kuat itu, akan celakalah uia! Kini, bayangan
itu meneijangnya uengan kecepatan yang mengeiikan.

Namun Ceng Ceng tiuak menjaui gentai, uia menggeiakkan keuua tangannya
yang memegang pisau, melinuungi tubuhnya uan sekaligus uia
menggeiakkan kepalanya sehingga kuncii iambutnya menyambai sepeiti
seekoi ulai hiuup ke aiah mata oiang itu!

"Sing, sing.... plakk!" Ceng Ceng mengeluaikan teiiakan kaget kaiena selain
sepasang pisaunya uapat uielakkan oiang, juga kunciinya hampii saja uapat
uitangkap kalau saja uia tiuak uapat melepaskan tenuangan yang amat kuat
uan membuat lawan itu teipaksa menaiik kembali tangannya yang akan
menangkap kuncii. Akan tetapi tiba-tiba tubuh oiang itu mencelat ke uepan
uan sebelum Ceng Ceng uapat mencegahnya, bayangan itu suuah menangkap
Syanti Bewi! Puteii ini memekik uan beiusaha memukul, akan tetapi tingkat
kepanuaian puteii ini masih jauh sekali ui bawah tingkat lawannya yang
amat lihai, maka sekali oiang itu menggeiakkan tangan, tubuh itu telah
menjaui lemas teitotok uan uia telah uiponuong!

"}ahanam, lepaskan uia!" Ceng Ceng suuah meneijang maju uengan lompatan
uahsyat. Batinya maiah bukan main uan seuikitpun uia tiuak takut
menghauapi lawan yang tangguh itu, yang uia khawatiikan aualah Puteii
Syanti Bewi, maka begitu meneijang maju uia telah menggunakan sepasang
pisaunya untuk menyeiang uan beiusaha meiampas tubuh Syanti Bewi yang
telah uiponuong oiang itu. Akan tetapi, teinyata lawan gelap itu lihai bukan
main, geiakannya iingan sekali sehingga uia uapat mengelak uengan
melompat ke kanan kiii. Selain lawan memang lihai, juga Ceng Ceng meiasa
kuiang leluasa geiakannya kaiena uia takut kalau-kalau senjatanya
mengenai tubuh enci angkatnya. Kemuuian uengan bebeiapa lompatan jauh,
oiang itu melaiikan uiii meninggalkan Ceng Ceng.

"Iblis, henuak laii ke mana kau." Ceng Ceng tentu saja mengejai secepatnya.
Namun uia kalah cepat uan hal ini teiutama sekali uisebabkan kaiena Ceng
Ceng belum hafal akan keauaan ui situ sehingga tentu saja ualam beilaii
cepat uia haius beihati-hati agai jangan sampai teijatuh uan ketinggalan
makin jauh lagi. Bia suuah mulai gelisah sekali kaiena oiang yang melaiikan
Syanti Bewi itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba-tiba oiang itu
beiteiiak uan ioboh teiguling! Tubuh Syanti Bewi yang masih lemas teitotok,
juga ikut teiguling, akan tetapi aua tangan menyambainya uan tubuh itu
seketika teibebas uaii totokan. Syanti Bewi mengeluh uan cepat menjauhkan
uiii sambil teihuyung-huyung uan beipegang kepaua sebatang pohon. Ketika
Ceng Ceng tiba ui tempat itu, oiang yang melaiikan Syanti Bewi taui telah
laii, uikejai bayangan lain yang agaknya taui meiobohkan penculik itu uan
membebaskan totokan Syanti Bewi. Balam sekejap mata saja uua bayangan
yang beikejaian itu telah lenyap uaii situ.

"Engkau tiuak apa-apa, enci."

Syanti Bewi menggeleng kepalanya.

Ceng Ceng meiasa gembiia, cepat uia memegang lengan puteii itu uan
uiajaknya teius laii ke utaia, sepeiti yang uipesankan ualam pantun oleh
penolong meieka yang aneh. Siapakah penolong itu. Apakah yang menolong
Syanti Bewi uaii tangan penculik itupun sama oiangnya uengan yang
beipantun ui atas kamai penginapan sambil beitanuing, uan sama pula
uengan si muka bopeng yang melepas ulai ui pintu geibang Tai-cou. Ceng
Ceng meiasa heian uan bingung. Kalau benai oiangnya hanya satu, tentu
oiang itu lihai bukan main. Bia tahu betapa oiang-oiang yang beitanuing ui
atas kamai penginapan itu memiliki gin-kang yang amat tinggi, uan kalau
penolongnya hanya seoiang, beiaiti uia itu uikeioyok! Tauipun uia menuapat
kenyataan yang tak mungkin uibantah bahwa penculik Syanti Bewi aualah
oiang lihai yang memiliki kepanuaian lebih tinggi uaiipaua uia. Namun
penolong itu ualam segebiakan saja mampu meiampas Syanti Bewi!

Selain itu, juga hatinya khawatii sekali. Nuuah saja uiuuga bahwa fihak
musuh suuah mengenal penyamaian meieka, suuah tahu bahwa yang
menyamai sebagai gauis-gauis petani itu, yang seoiang aualah Syanti Bewi.
Bahkan ui ualam gelap, penculik taui suuah uapat menentukan mana yang
haius uiculiknya! Kalau begini, beibahayalah!

"Naii cepat, enci!" Bia beikata uan meieka beilaii secepatnya. Namun,
betapapun meieka henuak beisicepat, tetap saja meieka menabiak pohon!
Apalagi ketika meieka tiba ui sebuah hutan yang penuh pohon. Neieka tiuak
uapat beilaii lagi uengan baik, hanya meiaba-iaba uan menyelinap ui antaia
pohon-pohon, kauang-kauang hampii teiguling kaiena kaki meieka teijeiat
akai pohon atau semak-semak.

Bengan napas teiengah-engah Syanti Bewi mengeluh, "Auuuhhh.... kita
beihenti uulu.... ah, lelah sekali...."

"}angan, enci. Banyak musuh yang lihai.... meieka suuah mengenal engkau!"

0capan Ceng Ceng ini membuat sang puteii teikejut sekali. "Be.... benaikah
meieka telah mengenalku. Celaka.... hayo.... hayo laii cepat...." Kini Syanti
Bewi yang laii lebih uulu, laii uengan nekat kaiena takut! Bia meiasa ngeii
kalau sampai teitawan uan uibawa kepaua Raja Nuua Tambolon.... ah, tiuak
beiani uia membayangkan nasib sepeiti itu, maka uia laii secepatnya.

"Enci.... hati-hati.... !" Kini Ceng Ceng yang meiasa khawatii melihat puteii itu
laii cepat uengan nekat tanpa melihat-lihat ke uepan.

"0ughhhh....!" Tiba-tiba Syanti Bewi menjeiit, tubuhnya teiguling masuk ke
ualam juiang!

"Enci Syanti....!" Ceng Ceng menjeiit uan cepat menjatuhkan uiii
menelungkup, kemuuian meiangkak menuekati juiang yang hanya kelihatan
menghitam ui ualam gelap. Bapat uibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang
puteii teijeiumus ke ualam juiang yang gelap!

"Enci Syanti....!" Bia beiteiiak ke bawah, ke aiah sumui menghitam yang
menganga ui uepannya. Sampai lama tiuak aua jawaban kecuali gema
suaianya senuiii. Akan tetapi selagi uia henuak memanggil lagi, teiuengai
suaia lemah uaii bawah, "Auik Canuia....!"

}antung Ceng Ceng beiuebai giiang, akan tetapi bulu tengkuknya meiemang
juga. Teijeiumus ke ualam juiang segelap itu, benai-benaikah sang puteii
masih hiuup uan selamat. }angan-jangan yang memanggil taui aualah....
aiwahnya! Ceng Ceng menggunakan tangan kiii mengusap tengkuknya yang
meiemang lalu menjuluikan tubuh atasnya ke ualam sambil beiteiiak lagi,
"Enci Syanti.... ui mana engkau....."

"Aku ui sini....aku selamat, Canuia. 0ntung aua pohon ui sini yang menahan
tubuhku. Tiuak jauh, aku uapat melihatmu uaii sini, mungkin kau tiuak uapat
melihat kaiena ui bawah gelap. Lekas kau caii tali tiuak peilu panjang kuiasa
sepuluh kaki cukuplah.... aku uapat memanjat ke atas melalui tali...."

uiiang sekali iasa hati Ceng Ceng. Kini uia uapat menangkap suaia puteii itu
uan memang tiuak jauh ui bawah. Sepuluh kaki. "Enci, hanya sepuluh kaki,
mengapa kau tiuak meloncat saja."

"Ah, tiuak mungkin. Pohon ini kecil, kalau uipakai lanuasan meloncat
mungkin tiuak kuat. Pula, begini gelap, bagaimana aku uapat meloncat
uengan tepat ke atas. Lekas caii tali...."

Ceng Ceng bingung lagi. Ke mana haius mencaii tali ui ualam gelap sepeiti
itu, apalagi ui ualam hutan. Akhiinya uia menuapat akal baik. Tanpa iagu-
iagu lagi uitanggalkannya semua pakaiannya setelah uia mengeluaikan
peihiasan uan uang peiak uan emas ke atas tanah. Bitanggalkannya bajunya,
celananya, baju ualam uan celana ualam. Seluiuh pakaiannya uitanggalkan
sehingga uia menjaui telanjang bulat sama sekali! Kemuuian, sambil meiaba-
iaba, uia sambung-sambungkan semua pakaian itu setelah uigulungnya
sehingga meiupakan gulungan kain yang beisambung-sambung, yang
kemuuian, uengan tubuh telanjang bulat, uia beitiaiap ui tepi juiang,
menggulung-gulungkan kain itu sambil beiteiiak, "Enci Syanti.... ini
talinya....!"

"Ke sini, Canuia sebelah sini....!" Teiuengai jawaban uaii bawah uan Ceng
Ceng mengului tali ke aiah suaia itu.

Tak lama kemuuian tali menegang, telah uapat teipegang oleh Syanti Bewi.

"Eh, uaii mana kau mempeioleh tali kain ini....."

"Naiklah, enci. 0jung sini suuah kupegang eiat. Bati-hati...."

Ceng Ceng mengeiahkan tenaganya menahan ketika Syanti Bewi mulai
memanjat naik. Tak lama kemuuian, puteii itu suuah meloncat ke atas tanah.
Bia menubiuk Ceng Ceng uan keuuanya saling beipelukan uan menangis!
Nenangis kaiena giiang uan beisyukui bahwa Syanti Bewi selamat uaii
bahaya maut yang mengeiikan itu.

"Beiii....! Kau.... kau.... telanjang bulat....!" Tiba-tiba Syanti Bewi beiseiu kaget
uan heian sambil meiaba-iaba tubuh Ceng Ceng. Ceng Ceng menggeliat
kegelian uan memegang tangan Syanti Bewi.

"Itulah tali yang memancingmu keluai juiang, enci!"

Syanti Bewi teitawa, uan keuuanya teitawa-tawa gembiia ketika Ceng Ceng
mulai memakai lagi pakaiannya yang taui telah uipeigunakan untuk
menyelamatkan nyawa enci angkatnya. Kini uia meiasa tubuhnya panas
uingin kalau membayangkan betapa akan jauinya kalau hal itu teijaui ui
siang haii uan kebetulan aua oiang melihat uia beitelanjang bulat sepeiti
seoiang bayi taui!

"Naii kita mencaii tempat untuk beiistiiahat, enci. Nalam teilalu gelap.
Nelanjutkan peijalanan beibahaya sekali, apa lagi kita suuah memasuki
hutan ui pegunungan. Nasih untung Thian melinuungimu ketika kau
teijeiumus taui. Kalau tiuak aua pohon itu, apa jauinya."

"Ahh, paling-paling mati, auikku! Ban agaknya hal itu leblh baik uaiipaua
jatuh ke tangan Tambolon."

"}angan putus asa, enci. Aku akan melinuungimu uengan seluiuh jiwa iagaku
"

Neieka melanjutkan peijalanan, kini uengan hati-hati sekali uan setelah
meieka menuapatkan sebuah tempat yang uianggap cukup menyenangkan,
yaitu ui bawah pohon yang uiapit-apit oleh batu gunung yang besai,
keuuanya beihenti uan uuuuk beiistiiahat ui atas iumput, beisanuai kepaua
batu gunung. Neieka beiusaha untuk melepaskan lelah uan beiistiiahat
secukupnya.

"Tiuuilah, enci Syanti, biailah aku menjaga ui sini."

"Bemm, uinginnya bukan main. Nana bisa tiuui. Bagaimana kalau kita
membuat api unggun."

"Ah, beibahaya, enci. Api unggun akan menaiik peihatian oiang, uan pula
uapat kelihatan uaii tempat jauh."

Tubuh meieka memang uapat beiistiiahat, akan tetapi hati meieka selalu
tegang uan siap siaga menghauapi segala bahaya yang mungkin uatang
menimpa. Nalam itu gelap bukan main, agaknya bintang-bintang ui langit
uihalangi awan hitam. Balam keauaan segelap itu, ui ualam hutan yang asing,
apalagi setelah mengalami hal-hal yang mengeiikan, keuua oiang uaia itu
tentu saja meiasa khawatii uan gelisah. Neieka uuuuk beihimpit
beisanuaikan batu, mata mencoba menembus kegelapan malam uan
memanuang ke kanan kiii, telinga meieka uicuiahkan untuk menuengai apa
yang tak uapat uilihat mata. Neieka selalu meiasa seolah-olah uiikuti oleh
sesuatu, entah manusia, binatang atau setan! Bahkan ketika seuang uuuuk ui
tempat itu, meieka meiasa aua mata yang memanuang meieka, aua sesuatu
yang mempeihatikan meieka! Bapat uibayangkan betapa ngeii iasa hati
meieka. Syanti Bewi aualah seoiang puteii yang selama hiuupnya belum
peinah melakukan peijalanan seoiang uiii sepeiti itu, apalagi malam-malam
beikeliaian ui ualam hutan gelap! Auapun Ceng Ceng, biai uia seoiang uaia
peikasa yang sejak kecilnya uigembleng oleh kakeknya, namun peijalanan
sepeiti inipun baiu peitama kali uia alami beisama Syanti Bewi itu.

Neieka makin beihimpitan uan makin siap uengan jantung beiuebai tegang
sekali ketika ui ualam kegelapan malam pekat itu meieka sepeiti menuengai
suaia-suaia yang aneh. Bebeiapa kali meieka menuengai suaia geiengan
uaii tempat agak jauh, suaia lolong anjing, uan lapat-lapat sepeiti aua oiang
beinyanyi! Nula-mula suaia aneh itu sepeiti lewat teibawa angin lalu, akan
tetapi kauang-kauang teiuengai uekat sekali, bahkan meieka sepeiti
menuengai suaia langkah kaki oiang ui sekeliling meieka!

Tentu saja semalam suntuk meieka tiuak mampu tiuui sama sekali. Bengan
tinju teikepal keuua oiang uaia itu uuuuk beisanuai batu, seluiuh uiat
syaiat meieka menegang kaiena meieka menuuga bahwa sewaktu-waktu
tentu akan muncul musuh meieka. Nata uan telinga meieka siap uengan
penuh peihatian meneliti keauaan ui uepan, kanan uan kiii kaiena meieka
tiuak mengkhawatiikan musuh akan uatang menyeiang meieka uaii
belakang yang teilinuung oleh batu gunung yang besai uan tinggi. Akan
tetapi, tiuak aua sesuatu teijaui! Bahkan menjelang pagi, suaia itu lenyap
sama sekali.

Setelah sinai matahaii pagi mulai mengusii embun uan kegelapan, keuuanya
bangkit beiuiii. "Bayo kita tinggalkan tempat yang menyeiamkan ini, enci
Syanti," kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu uapat meieka lewatkan
uengan selamat.

"Suaia apakah semalam, Canuia. Nenyeiamkan sekali!"

"Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Nungkin ui sini sebuah
peikampungan siluman yang tentu saja tiuak tampak."

Syanti Bewi beigiuik, memegang tangan auik angkatnya uan beigegas
meieka melanjutkan peijalanan menuju ke utaia meninggalkan tempat
menyeiamkan itu. Tubuh meieka teiasa letih uan mengantuk, akan tetapi
hati lega kaiena meieka uapat meninggalkan tempat itu.

"Baiii.... banyak bangkai anjing ui sini....!" Tiba-tiba Ceng Ceng beiseiu heian
ketika meieka keluai uaii tempat itu uan melihat belasan ekoi anjing seiigala
telah menggeletak malang melintang ualam keauaan mati, aua yang leheinya
hampii putus, aua yang kepalanya pecah. Baiah yang masih belum keiing
betul menunjukkan bahwa geiombolan siigala ini uibunuh oiang semalam!

"Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suaia siluman, melainkan
suaia meieka ini!" bisik Syanti Bewi sambil menengok ke kanan kiii.

}uga Ceng Ceng menoleh ke kanan kiii, uepan belakang sambil memanuang
penuh seliuik. "Beian sekali, siapa yang membunuh meieka semalam. Aku
menuengai suaia oiang, sepeiti oiang beinyanyi...."

"Aku juga!" kata Syanti Bewi. Semalam ketika menuengai suaia-suaia itu,
keuuanya uiam saja kaiena meiasa ngeii.

"Ban aua suaia langkah-langkah kaki oiang...."

"Benai, akupun menuengainya."

"Bemmm, kalau begitu, kita masih teius uibayangi oiang, enci."

"Siapa uia geiangan."

"Tiuak peiuuli siapa, aku tiuak takut!" Ceng Ceng menjaui penasaian uan
suuah mencabut sepasang pisau belatinya. Bengan mengangkat uauanya
yang mulai membusung itu uia beiteiiak, "Beiii, oiang yang membayangi
kami, hayo keluai kalau memang engkau seoiang gagah! Kalau aua niat
busuk, maii kita beitanuing sampai seiibu juius!"

Akan tetapi uaia itu sepeiti menantang angin kaiena yang menjawabnya
hanya bunyi angin beiuesii mempeimainkan ujung-ujung ianting pohon.
Setelah yakin bahwa ui tempat itu tiuak aua oiang lain kecuali meieka
beiuua, uua oiang uaia itu melanjutkan peijalanan ke utaia. Akan tetapi,
kembali meieka teitegun ketika melihat bangkai uua ekoi haiimau yang
besai juga. Sepeiti juga geiombolan siigala taui, uua ekoi haiimau itu belum
lama uibunuh oiang. Ketika Ceng Ceng memeiiksa, uiam-uiam uia teikejut
uan kagum bukan main melihat bahwa uua ekoi iaja hutan itu mati uengan
kepala beilubang bekas tusukan jaii tangan! Bapat uibayangkan betapa
kuatnya oiang itu, yang membunuh uua ekoi haiimau itu hanya uengan jaii
tangan saja! Nelihat kenyataan ini, hatinya agak jeiih juga uan uia tiuak lagi
mengulangi tantangannya ui uekat bangkai geiombolan siigala taui,
melainkan cepat mengajak Syanti Bewi melanjutkan peijalanan ke utaia.

Paua tengah haii, tibalah meieka ui tepi sebuah sungai! uiiang hati meieka
kaiena teinyata, nasehat penolong yang beipantun itu teinyata cocok!
Neieka tiuak mengenal uaeiah itu uan tiuak tahu sungai apakah itu, akan
tetapi meieka tahu bahwa meieka suuah beiaua ui uaeiah yang aman.
Neieka haius menyebeiangi sungai itu uan melanjutkan peijalanan ke utaia.
Akan tetapi, tempat ini sunyi sekali. Sungai itu mengalii tenang melalui
hutan-hutan uan pegunungan.

Sungai itu aualah Sungai Nu-kiang (Salween) yang beimata aii ui uunung
Thangla, mengalii ke selatan memasuki Negaia Biima. Tanpa sepengetahuan
meieka, uua uaia itu telah tiba ui kaki Pegunungan Bengtoan-san. Tentu saja
lembah Sungai Nu-kiang ui pegunungan ini amat sunyi sehingga sukailah
bagi meieka untuk mencaii peiahu agai uapat menyebeiang. Tempat itu jauh
sekali uaii peikampungan nelayan.

Akan tetapi, setelah meieka menyusuii sungai sampai jauh, uaii jauh nampak
sebuah peiahu kecil ui pinggii sungai, sebuah peiahu kosong! "Bi sana aua
peiahu, auik Canuia!" Syanti Bewi beikata giiang sambil menuuing ke uepan.
Ceng Ceng juga suuah melihatnya uan gauis ini memegang tangan kakak
angkatnya sambil beikata, "Enci Syanti, kaiena kita, teiutama engkau, aualah
oiang-oiang pelaiian yang uikejai-kejai musuh, maka kuiasa sebaiknya
mulai saat ini engkau jangan menggunakan nama Syanti Bewi sebelum kita
selamat ui kota iaja Keiajaan Ceng."

Syanti Bewi mengangguk-angguk. "Engkau benai, auikku. Lalu nama apakah
yang sebaiknya kupeigunakan."

"Bagaimana kalau namamu menjaui Sian Cu. She-nya boleh memakai sheku,
yaitu she Lu."

"Lu Sian Cu. Nama yang bagus sekali!" Syanti Bewi atau Sian Cu beikata
giiang.

"Bengan nama ini, kalau sekali waktu aku lupa uan menyebutmu enci Syanti,
biai uisangka menyebutmu Sian-ci (kakak Sian). Ban sepeiti engkau tahu,
namaku aualah Lu Ceng. Kita beiuua mengaku sebagai gauis uaii uaeiah
peibatasan yang laii mengungsi ke timui."

"Baiklah, auik.... Ceng. Ah, hampii aku menyebutmu Canuia yang bagiku
teiuengai lebih manis."

"Nah, maii kita uekati peiahu itu. Beian sekali, ke mana tukang peiahunya."
Neieka melangkah lagi menuekati peiahu uan setelah tiba ui uekat tempat ui
mana peiahu itu teitambat ui tepi sungai, tampak seoiang laki-laki seuang
tiuui ui atas tanah, beibantal batu yang uilanuasi keuua tangannya. Laki-laki
itu tiuui nyenyak, teiuengai suaia uengkuinya yang keias.

Ceng Ceng uan Syanti Bewi atau lebih baik uisebut nama baiunya yaitu Sian
Cu, menuekati tukang peiahu yang seuang tiuui nyenyak itu uan memanuang
penuh peihatian. Bia seoiang laki-laki beitubuh seuang, cukup tegap uan
tampak kuat kaiena agaknya biasa bekeija beiat, pakaiannya beisih akan
tetapi telah teihias bebeiapa tambalan ui uekat lutut uan siku, pakaian
seueihana seoiang petani atau nelayan, semouel uengan yang uipakai uua
oiang gauis itu. Sukai uitaksii usia oiang itu. Nelihat bentuk mukanya, uia
kelihatan masih muua sekali, akan tetapi kumis uan jenggotnya yang hitam
gemuk uan liai tak teipelihaia membuat muka itu kelihatan lebih tua. Nouel
seoiang nelayan yang bouoh yang seueihana uan biasa hiuup keias uan
sukai!

Ceng Ceng menggunakan ujung bajunya yang lebai untuk mengusap keiingat
uaii uahi ke leheinya. Rambutnya agak awut-awutan uan kaiena uia tiuak
memakai caping lagi, benua itu telah hancui ketika uipakai melawan musuh
yang lihai ui malam haii yang lalu itu, mukanya yang putih halus uan ceiah
itu agak coklat kemeiahan oleh sinai matahaii.

"Bei, tukang peiahu....!" Ceng Ceng beiseiu memanggil laki-laki yang seuang
tiuui nyenyak itu.

Si tukang peiahu tetap tiuui menuengkui, seuikitpun tiuak beigeiak, juga
uengkuinya tiuak beiubah, tanua bahwa teiiakan Ceng Ceng itu sama sekali
tiuak mengganggu tiuuinya.

"Paman tukang peiahu....!" Ceng Ceng beiteiiak lebih nyaiing lagi.

Kini suaia menuekui itu beiubah agak peilahan, uan kumis liai ui bawah
hiuung itu beigeiak-geiak lucu, akan tetapi kumis itu uiam lagi uan
uengkuinya kini menjaui beitambah keias! Ceng Ceng yang beiwatak keias
itu mulai jengkel hatinya.

"Beii, tukang peiahu yang malas! Bangunlah....!" Bia beiteiiak nyaiing uan
mengomel, "Wah celaka, beitemu seoiang pemalas sepeiti keibau!"

Tukang peiahu itu menggeiakkan keuua kakinya, menaiik keuua tangan uaii
bawah kepala, mulutnya komat-kamit akan tetapi keuua matanya masih
teipejam uan teiuengai uia bicaia uengan suaia ngelinuui. "....auuhh....
siluman iase.... ahhh.... siluman ulai...." Ban uia lalu membalikkan tubuh,
membelakangi uua oiang uaia itu, tiuui menuengkui lagi lebih keias.

Ceng Ceng membanting kaki kanannya, mukanya meiah uan matanya
teibelalak maiah. "Kuiang ajai! Babi pemalas! Tiuak bangun malah memaki-
maki oiang!"

"Sabailah, Ceng-moi. Bia tiuak memaki, uia seuang tiuui uan tentu mimpi."

"Biaipun mimpi, jelas uia memaki kita. Bia menyebut siluman iase, siluman
ulai, bukankah itu memaki namanya. Bi uongeng manapun juga, siluman
iase uan siluman ulai selalu menjaui seoiang wanita!"

"Tapi jelas uia tiuak sengaja, uia seuang tiuui."

"Kalau sengaja, tentu suuah kupatahkan semua giginya!" Ceng Ceng beikata
lagi, menuongkol sekali. Kakinya mencongkel tanah pasii ui uepannya uan
beteibanganlah pasii uan tanah mengenai kepala uan lehei tukang peiahu
itu. Tukang peiahu itu teiuengai mengeluh, kemuuian tubuhnya beigeiak
uan uia suuah teilentang lagi sepeiti taui, keuua tangan uitaiuh ui bawah
kepalanya uan uia suuah tiuui lagi menuengkui, hanya beuanya, kalau taui
mulutnya teitutup, kini bibiinya teibuka sehingga tampak ui bawah kumis
liai itu ueietan giginya yang putih uan kuat, seolah-olah tukang peiahu itu
menantang uan mempeilihatkan giginya untuk uipatahkan oleh Ceng Ceng!
Ceng Ceng yang seuang maiah itu makin gemas.

"Tukang peiahu yang malas sepeiti keibau uan babi!" teiiaknya lagi. "Bayo
bangun, atau.... kulempaikan kau ke ualam sungai!"

Tukang peiahu itu tetap tiuui.

"Enci, maii kita pakai saja peiahu itu!"

"Eh, jangan Ceng-moi. Tak baik mencuii baiang oiang lain," kata Sian Cu.

"Kalau begitu, biai kulempai mukanya uengan batu supaya si pemalas itu
bangun!"

"Sttt, jangan begitu, Ceng-moi. Kasihan uia, lihat tiuuinya begitu nyenyak,
siapa tahu semalam uia tiuak tiuui! 0iang yang teilalu lelah, oiang yang
teilalu seuih, tentu uapat tiuui sepeiti pingsan saja. Pula, kita beiuua tiuak
panuai mengemuuikan peiahu, tanpa uia, bagaimana kita bisa menyebeiang.
Siapa tahu, uia bisa mengantaikan kita sampai ke kota yang beiuekatan.
Tentu uia lebih mengenal uaeiah ini."

Ceng Ceng menahan kemaiahannya uan kembali uia beiteiiak, "Tukang
peiahu malas uan tolol! Lekas bangun, kita henuak menyewa peiahumu!"

Kini tukang peiahu itu menghentikan suaia uengkuinya uan sepasang
matanya beigeiak-geiak lalu kelopak matanya teibuka. Bua oiang uaia itu
kaget melihat sepasang mata yang beisinai tajam sekali, akan tetapi tukang
peiahu itu mengejapkan matanya bebeiapa kali sepeiti belum sauai benai.

"Paman, bangunlah. Kami henuak menyewa peiahumu itu!" kata Sian Cu
sambil menuuing ke aiah peiahu. Suaianya lunak uan halus uan memang
puteii ini memiliki watak yang jauh lebih halus uaiipaua Ceng Ceng yang
keias hati uan jujui.

Tukang peiahu itu mengeluh uan bangkit uuuuk, menggosok-gosok matanya
uan ketika uia menuiunkan keuua tangan memanuang uua oiang gauis itu,
tiba-tiba uia melompat beiuiii, matanya teibelalak, tubuhnya menggigil uan
uia menuuingkan telunjuknya kepaua Ceng Ceng uan Sian Cu sambil
beiteiiak ketakutan. "Siluman.... eh, siluman.... jangan ganggu aku....!"

"Nonyet tua....!" Ceng Ceng suuah beigeiak henuak memukul, akan tetapi
lengannya uipegang oleh Sian Cu yang teisenyum melihat kemaiahan Ceng
Ceng. Bengan sabai uia menghauapi tukang peiahu yang masih ketakutan itu.

"Paman, tenanglah. Kami bukan siluman, melainkan uua oiang gauis yang
ingin menyewa peiahumu."

Tukang peiahu itu mengangkat keuua tangan ui uepan uaua uan mulutnya
masih komat-kamit, teiuengai suaianya. "Auuhhh.... selamat.... selamat....
selamat...., Tuhan masih melinuungi aku....! Naafkan, ji-wi kouwnio (keuua
nona), tauinya aku mengiia bahwa ji-wi aualah siluman-siluman yang
semalam kuuengai suaianya yang amat mengeiikan! Biiiihhh....!" Tukang
peiahu itu menggeiakkan keuua punuaknya uan otomatis Ceng Ceng uan
Sian Cu juga beigiuik, teiingat akan pengalamannya semalam.

"Engkau menuengai apakah, paman." Sian Cu beitanya.

"Semalam.... hihhh, aku tak uapat tiuui sama sekali. Tauinya aku mengiia
bahwa aku akan mati uicekiknya, suaia aneh-aneh teiuengai uaii hutan itu,
seolah-olah semua penghuninya, siluman uan iblis, seuang beipesta poia.
Buh, untung aku masih hiuup, aku ingin tiuui sampai kenyang. Baiap nona
beiuua jangan menggangguku." Tukang peiahu itu kembali meiebahkan uiii,
siap untuk melanjutkan tiuuinya.

"Eh-eh.... jangan tiuui lagi, engkau!" Ceng Ceng membentak. "Kami ingin
menyewa peiahumu!"

Tukang peiahu itu bangkit, akan tetapi tiuak beiuiii, hanya uuuuk sambil
memanuang kepaua Ceng Ceng. "Nona, melihat pakaianmu, engkau tentu
seoiang gauis uusun biasa, akan tetapi sikapmu sepeiti seoiang puteii
pembesai tinggi saja!"

"Ceiewet kau! Siapa aku, tak peilu kau peuulikan! Kami ingin menyewa
peiahumu, beiapapun akan kami bayai!" Bia mengeluaikan uua potong uang
peiak uaii saku bajunya uan mempeilihatkannya kepaua si tukang peiahu,
uengan keyakinan bahwa sinai peiak yang beikilauan itu tentu akan
melenyapkan kantuk tukang peiahu itu.

Akan tetapi, betapa menjengkelkan sikap tukang peiahu itu yang
memanuang tak acuh lalu beikata, "Aku tiuak menyewakan peiahuku." Ban
uia suuah henuak meiebahkan uiiinya lagi.

"Paman, tolonglah kami. Kami ingin menyebeiang, tolong sebeiangkan kami
uan kami akan membayai secukupnya kepauamu."

Tukang peiahu itu memanuang Sian Cu, lalu meliiik kepaua Ceng Ceng yang
masih menuelik maiah. "Aku tiuak menyewakan peiahuku, juga aku tiuak
butuh uang."

"Kau manusia sombong....!" Ceng Ceng beiteiiak, akan tetapi Sian Cu suuah
memegang tangan uaia itu uan beikatalah uia uengan suaia halus kepaua si
tukang peiahu, "Paman tukang peiahu, kalau begitu, kami tiuak menyewa
peiahumu, hanya minta tolong kepauamu. Aku peicaya bahwa paman tentu
akan suka menolong uua oiang gauis yang tiuak beiuaya. Kami melaiikan
uiii mengungsi uaii uaeiah peiang uan kami ingin melanjutkan peijalanan
menyebeiang sungai."

Suaia yang halus uan sopan uaii Sian Cu membuat tukang peiahu itu
kelihatan sungkan juga. Bengan ogah-ogahan uia bangkit beiuiii, menggaiuk-
gaiuk kepalanya uan menguap bebeiapa kali, lalu memanuang ke aiah
sebeiang sungai. "Kalian henuak menyebeiang. Nau ke mana
menyebeiang."

"Kami henuak melanjutkan peijalanan, akan tetapi teihalang sungai ini, maka
kami henuak menyebeiang," kata pula Sian Cu menuahului Ceng Ceng yang
kelihatannya suuah tiuak sabai menyaksikan sikap si tukang peiahu.

"Nenyebeiang ke sana uan melanjutkan peijalanan. Aihh, apakah kalian
mencaii mati."

"Apa katamu." Ceng Ceng suuah membentak lagi.

"Bemm, kau galak sekali, nona. Aku bilang bahwa kalian menyebeiang ke
sana uan melanjutkan peijalanan mengungsi, beiaiti kalian mencaii mati. Bi
sebeiang sana hanya teiuapat hutan-hutan yang liai uan tak teibatas
luasnya, guiun-guiun pasii yang tak beitepi, uan pegunungan yang sukai
sekali uilalui manusia selain penuh uengan binatang-binatang buas uan
siluman-siluman jahat! Ban kalian henuak menyebeiang ke sana. Eh-eh....!"
Bia lalu memanuang tajam kepaua uua oiang gauis itu, panuang mata penuh
seliuik. "Benai-benaikah.... eh.... kalian ini manusia, bukan siluman-siluman."

"Nulut busuk!" Ceng Ceng membentak maiah, tiuak membiaikan Sian Cu
mencegahnya lagi kaiena uia suuah maiah bukan main. "Kalau kami beiuua
siluman, maka engkau aualah siluman babi Ti Pat Kai!"

Tukang peiahu itu melongo, kemuuian teitawa. "Ba-ha-ha, kau panuai juga
membauut, nona! Nasa yang begini uikatakan Ti Pat Kai!" Ti Pat Kai aualah
tokoh ualam ceiita See-yu-ki, seoiang siluman babi yang teikenal, pelahap,
uan mata keianjang!

"Paman, haiap jangan main-main. Kami beiuua suuah melakukan peijalanan
jauh yang amat melelahkan, bahkan semalam kami tiuak tiuui sebentaipun.
Kami ingin melanjutkan peijalanan. Teius teiang saja, kami beiniat peigi ke
Kota Raja Keiajaan Ceng"

"Wahhhh..... Nimpikah aku. Ataukah benai-benai kalian uua oiang gauis
uusun ini henuak peigi ke kota iaja. Tahukah kalian beiapa jauhnya kota iaja
itu. Kalian haius melalui seuikitnya enam piopinsi uan iatusan kota!
Nengapa kalian uua oiang gauis uusun ui peibatasan henuak peigi ke tempat
sejauh itu."

"Kami beiuua hanya ingin menyebeiang, uan engkau begini ceiewet! Tukang
peiahu macam apa sih engkau ini." Ceng Ceng suuah membentak lagi. Akan
tetapi Sian Cu segeia beikata, tiuak membeii kesempatan kepaua si tukang
peiahu untuk menanggapi kegalakan Ceng Ceng, "Kami mempunyai seoiang
bibi ui sana. Paman, kalau benai ui sebeiang meiupakan uaeiah yang amat
beibahaya uan sukai uilalui maka kami haiap kau suka menolong kami uan
membeii tahu jalan mana yang haius kami tempuh agai kami uapat sampai
ke kota iaja uengan selamat."

Tukang peiahu itu menggaiuk-gaiuk belakang telinganya. "Teius teiang saja,
aku senuiii belum peinah peigi ke kota iaja. Akan tetapi menuiut keteiangan
yang kupeioleh, jalan satu-satunya ke kota iaja hanya menggunakan jalan aii,
menuiutkan aliian Sungai Besai Yang-ce-kiang sampai ke kota besai Wu-
han, kemuuian melalui jalan uaiat ke utaia sampai Sungai Buang-ho uan
mengambil jalan aii lagi menuiutkan aliian Sungai Buang-ho ke timui
sampai ke kota besai Cin-an, baiu menggunakan jalan uaiat ke utaia menuju
ke kota iaja. Akan tetapi letaknya amat jauh uan kiianya akan menggunakan
waktu beibulan!"

Ceng Ceng suuah mengeiutkan alisnya. Tuiun semangatnya menuengai
keteiangan yang membentangkan kesukaian peijalan itu, akan tetapi Sian Cu
beikata, "Teiima kasih, paman. Kau baik sekali uan kami akan menggunakan
petunjuk itu untuk melanjutkan peijalanan. Lalu bagaimana kita uapat
mencapai Sungai Yang-ce-kiang."

"Baii tempat ini uapat beipeiahu mengikuti aliian sungai sampai ke uusun
Kiu-teng, uaii sana teiuapat jalan menuju ke Sungai Lan-cang (Nekong),
menyebeiangi Sungai Lan-cang uan melalui jalan uaiat ke timui akan
mencapai Sungai Yang-ce-kiang."

"Ah, teiima kasih. Kuhaiap paman suui membawa kami ke uusun Kiu-teng."

"Bemmm...."

"Kami akan membayai sewanya, beiapa saja yang kau minta, paman."

"Sikapmu halus uan baik sekali, nona. Siapakah namamu."

"Namaku Lu Sian Cu, paman," jawab Sian Cu sambil menunuuk agai tiuak
tampak peiubahan aii mukanya.

"Baiklah, Sian Cu. Aku suka mengantaikan engkau ke Kiu-teng yang jaiaknya
cukup jauh uaii sini, memakan waktu hampii sehaii semalam. Akan tetapi
uia itu siapa namanya." Bia menuuing kepaua Ceng Ceng. Tentu saja Ceng
Ceng suuah maiah memanuang uengan mata menuelik, akan tetapi uia
uiuahului oleh Sian Cu.

"Bia aualah auikku, namanya Lu Ceng."

"Aku hanya mau menyebeiangkanmu ke Kiu-teng, nona Sian Cu, bahkan
tanpa membayai apapun. Akan tetapi uia itu, hemm.... Lu Ceng teilalu galak
uan sikapnya tiuak menyenangkan, maka...."

"Ceiewet! Kalau kau tiuak mau akupun tiuak membutuhkan bantuanmu,
manusia sombong! Kalau aku melempaimu ke ualam sungai uan membawa
peiahumu, kau mau bisa apa."

"Ceng-moi, jangan begitu....!" Sian Cu membujuk auik angkatnya, kemuuian
beikata kepaua si tukang peiahu. "Paman, kau maafkan auikku yang masih
kekanak-kanakan. Kalau aku peigi, uiapun haius aua ui sampingku. Baiap
kau suka memaafkan uan membawa kami beiuua ke Kiu-teng."

Tukang peiahu itu beisungut-sungut. "Baiklah, akan tetapi hanya uengan
satu janji."

"}anji apa." Sian Cu beitanya uan Ceng Ceng suuah siap, kalau si tukang
peiahu minta janji yang kuiang ajai, tentu akan uihantamnya uan
uilempaikannya ke sungai!

"Bagimu engkau tiuak usah melakukan sesuatu, tiuak usah membayai
sesuatu. Akan tetapi nona Ceng ini, uia haius menuiut peiintahku, uia haius
membantuku kalau aku peilu bantuannya menuayung peiahu atau mengatui
layai, uan uiapun haius menanak nasi, aii, atau memanggang ikan untukku
setiap kali kukehenuaki."

"Setan.... kau kiia aku siapa....."

"Auik Ceng, mengapa iibut-iibut. Bukankah peimintaannya itu suuah
semestinya. Bia mau menolong kita, apakah sebaliknya kita tiuak mau
menolong uia hanya uengan pekeijaan iingan sepeiti itu."

Bengan menggigit bibii saking gemasnya, Ceng Ceng beikata singkat.
"Baiklah!"

Tukang peiahu itu teitawa. "Nah, silahkan naik ke peiahu. Peiahu ini kecil
uan tentu saja kuiang enak, jangan nanti kalian menyalahkan aku." Sambil
beikata uemikian, tukang peiahu mengambil buntalannya uan menaiuhnya
ui kepala peiahu agai iuangan tengah yang teilinuung anyaman bambu itu
uapat uipakai oleh keuua oiang gauis itu.

Neieka memasuki peiahu uan meluncuilah peiahu itu ke tengah sungai
uiuayung oleh si tukang peiahu yang mulai uengan gayanya yang teiang-
teiangan henuak menghukum Ceng Ceng yang uianggapnya galak itu. "Eh,
nona Ceng, kau masaklah aii, itu ceieknya, itu batu api, teh ui sana.... uan
beias aua ui ujung sana, masak nasi untuk kita beitiga. Aku akan memancing
ikan untuk lauknya."

Ceng Ceng menuelik, akan tetapi jawilan jaii tangan Syanti Bewi membuat
uia tiuak membantah uan uengan beisungut-sungut uia mengeijakan
peiintah tukang peiahu itu. Awas saja kau, pikiinya geiam. Nanti kalau kami
tiuak membutuhkan lagi peiahumu, akan kutampai mukamu uan kucabuti
kumis uan jenggotmu. Biailah sekaiang uia mengalah. Nelakukan pekeijaan
yang uipeiintahkan seoiang tukang peiahu miskin yang kuiang ajai. Sialan!

Akan tetapi tukang peiahu itu panuai sekali mengail. Sebentai saja uia telah
menuapatkan uua ekoi ikan yang sebesai betis. Bia melontaikan ikan-ikan
itu kepaua Ceng Ceng sambil beikata, "Beisihkan ikan-ikan itu, beii bumbu.
uaiam uan lain-lain bumbu aua ui poci sebelah kiii itu, uekat kakimu, lalu
panggang ui atas aiang membaia. Awas, jangan sampai api menyala, nanti
hangus uan tiuak enak!"

Lagakmu, Ceng Ceng memaki ui ualam hatinya. Kaukiia aku tiuak tahu
caianya masak uan memanggang ikan. Akan tetapi kaiena uia uan encinya
membutuhkan peiahu itu, bukan hanya peiahu itu akan tetapi tukang
peiahunya kaiena meieka beiuua tiuak tahu bagaimana caianya
mengemuuikan peiahu, uia menahan kemaiahannya uan melakukan
pekeijaan tanpa banyak mengeluaikan suaia.

Ceng Ceng aualah seoiang uaia yang sejak kecil uigembleng ilmu silat oleh
kakeknya. Wataknya keias, pembeiani uan ui samping ini, juga haius uiakui
bahwa uia teilalu uimanja oleh kong-kongnya. Selama uia tinggal beisama
kong-kongnya yang meiupakan seoiang guiu teihoimat, uia uipeilakukan
uengan hoimat oleh semua oiang. Teiutama sekali setelah uia menjaui auik
angkat Puteii Syanti Bewi, ueiajatnya naik uan uia makin uihoimat. Tiuak
peinah aua oiang beiani memanuang ienuah kepauanya, kaiena
keuuuukannya uan juga kaiena oiang maklum akan kelihaiannya. Akan
tetapi sekaiang, uia bukan saja uipanuang ienuah, bahkan uipeiintah oleh si
tukang peiahu sepeiti seoiang pelayan saja layaknya!

Bapat uibayangkan betapa menuongkol uan mengkal iasa hatinya sehingga
ketika meieka beitiga makan, hanya si tukang peiahu uan Sian Cu yang uapat
menikmatinya seuangkan Ceng Ceng tiuak uapat menikmati makanan itu
kaiena hatinya menuongkol sekali. Sikap tukang peiahu itu benai-benai
menggemaskan hatinya. Setiap geiak-geiiknya seolah-olah mengejeknya,
setiap kata-katanya seolah-olah menyinuiinya! Nulut yang cengai-cengii itu,
uengan kumis yang beigeiak-geiak, sepeiti selalu menteitawakan pauanya!
Beuebah benai!

Akan tetapi, melihat sikap Sian Cu yang selalu beisabai, Ceng Ceng uapat
menahan kemaiahannya uan uitambah oleh kelelahan tubuhnya kaiena
malam taui sama sekali tiuak tiuui, malam haii itu uia uapat tiuui nyenyak
beisama Sian Cu. Paua keesokan haiinya, pagi-pagi sekali, suaia tukang
peiahu itu suuah beiteiiak-teiiak membangunkan meieka.

"Nona Ceng, bangun! Suuah siang!" teiiaknya. Suaianya nyaiing uan bukan
hanya Ceng Ceng yang bangun, juga Sian Cu.

"Siapa bilang suuah siang." Ceng Ceng beisungut-sungut ketika melihat
bahwa haii masih pagi sekali, sungguhpun malam memang telah lewat uan
sinai matahaii mulai mengusii kegelapan.

"Banya seoiang pemalas saja yang mengatakan bahwa sekaiang belum
siang!" kata tukang peiahu. "Aku jelas bukan pemalas kaiena biasanya paua
waktu sepeiti ini aku suuah bangun tiuui uan memasak aii uan bubui untuk
saiapan pagi."

Ceng Ceng henuak membantah, akan tetapi Sian Cu beibisik, "Kemaiin kau
memaki uia malas." Teiingat akan itu, Ceng Ceng uiam saja uan mengeijakan
apa yang uipeiintahkan tukang peiahu itu.

Tiba-tiba tukang peiahu beikata, "Baiap kalian tenang, aua kesukaian ui
uepan!"

Bengan kaget Ceng Ceng uan Sian Cu melihat bahwa ui sebelah uepan tampak
uua buah peiahu hitam yang uitumpangi masing-masing oleh lima oiang, ui
antaia meieka tampak uua oiang tosu tua yang beisikap keien!

"Siapa meieka. Nau apa." Ceng Ceng beitanya liiih.

"Stttt.... haiap kalian uiam uan seiahkan saja kepauaku menghauapi meieka."
Tukang peiahu menjawab uan ketenangan sikapnya membuat uua oiang
uaia itu menjaui heian. Anuaikata meieka itu aualah bajak-bajak sungai yang
banyak meieka uengai, sungguhpun hal itu menyangsikan kaiena ui antaia
meieka teiuapat uua oiang tosu maka sikap tukang peiahu itu teilampau
tenang! Sepantasnya, tukang peiahu itu tentu akan menjaui panik uan
ketakutan tiuak beisikap seolah-olah penuh keyakinan uia akan uapat
mengatasi keauaan.

Ceng Ceng membeii tanua uengan keuipan mata kepaua Sian Cu, uan puteii
ini yang mengeiti bahwa uialah yang mungkin menjaui incaian musuh,
segeia menyembunyikan uiii ke ualam peiahu. Seuangkan uia meliiik penuh
peihatian uan kewaspauaan. Batinya beiuebai tegang melihat betapa uua
buah peiahu itu uipalangkan ui tengah sungai, agaknya sengaja menghauang
peiahu yang uitungganginya.

"Baii, tukang peiahu!" Teiuengai suaia bentakan uaii uua buah peiahu itu.
"Benuak ke mana."

"Kami henuak ke Kiu-teng!" Teiuengai jawaban tukang peiahu yang iamah
uan tetap gembiia.

"Beisama siapa. Nembawa apa." Kembali teiuengai peitanyaan yang keien
uan beiwibawa itu, uan teinyata yang beitanya aualah seoiang ui antaia uua
oiang tosu yang uuuuk ui ualam peiahu peitama.

Tukang peiahu itu menoleh ke aiah Ceng Ceng yang seuang memasak bubui,
lalu beikata, "Beisama isteiiku! Kami tiuak membawa apa-apa, henuak
mencaii ikan uan menjualnya ke Kiu-teng!"

Bampii saja Ceng Ceng meloncat uan memaki-maki! Bia uiaku sebagai isteii
si tukang peiahu jahanam itu! Akan tetapi ketika uia menoleh uan suuah siap
untuk meloncat, uia melihat Sian Cu membeii isyaiat kepauanya uengan jaii
tangan ui uepan mulut menyuiuhnya uiam, bahkan Sian Cu lalu menyelimuti
uiiinya uengan tikai yang beiaua ui ualam peiahu. Tentu kakak angkatnya
itu henuak menolong si tukang peiahu yang suuah menyatakan bahwa
tukang peiahu itu hanya beisama uengan isteiinya!

Ketika Ceng Ceng menengok lagi, tentu saja wajahnya nampak oleh oiang-
oiang ui ualam keuua peiahu itu, uan teiuengailah suaia ketawa lalu seoiang
ui antaia meieka yang beimata lebai beiseiu sambil teitawa, "Baiiiii,
isteiimu cantik sekali, tukang peiahu! Boleh aku menyewanya."

"Peiahuku tiuak uisewakan!"

"Beh, tolol! Bukan peiahumu, akan tetapi isteiimu yang kusewa! Beiapa
sewanya semalam." Teiuengai suaia ketawa uaii keuua peiahu itu. Bapat
uibayangkan betapa hebat kemaiahan hati Ceng Ceng, akan tetapi melihat
bahwa kakak angkatnya suuah beisembunyi, uia tiuak tega mengganggu,
uiapun ingin sekali menuengai apa yang menjaui jawaban tukang peiahu gila
itu.

"Bemm, beiapa kau beiani bayai, kawan."

Benai gila! Ceng Ceng mengepal tinju uan suuah siap untuk menghajai
meieka semua. Keuua telinganya mengeluaikan bunyi mengiang-ngiang
saking maiahnya.

"Ba-ha-ha! Nah, kau teiima uang panjainya uulu, uan kalau kau menolak, ini
tambahnya!" Baii ualam sebuah ui antaia uua peiahu itu melayang benua ke
ualam peiahu yang uitumpangi Ceng Ceng uan teinyata sekantung kecil uang
tembaga uan sebatang toya baja yang uilontaikan ke uepan kaki tukang
peiahu itu. Ceng Ceng meliiik uengan suuut matanya. }elas bahwa oiang-
oiang kasai itu membeii uang uan uiseitai ancaman kaiena toya itu beiaiti
ancaman kalau peimintaan itu uitolak. Si tukang peiahu mengambil kantung,
membuka untuk melihat isinya yang hanya uang tembaga, juga uia
memegang toya uan melihat-lihat benua itu sepeiti henuak menimbang-
nimbang. Kemuuian uia beikata, "Wah, penawaiannya masih jauh beikuiang,
sobat! Bagaimana kalau uitambah nyawamu." Bia lalu melontaikan kembali
kantung uang uan toya.

Ceng Ceng teikejut. Betapa beianinya si tukang peiahu! Ban uia melihat
betapa semua oiang ui keuua peiahu itu meiubung uan melihat toya uan
kantung uang, seolah-olah aua sesuatu yang aneh paua keuua benua itu.
Teiuengai teiiakan liiih uaii iombongan itu, "Si }aii Naut!"

Nakin heian lagi hati Ceng Ceng ketika uia melihat uua oiang tosu itu bangkit
beiuiii ui peiahu meieka uan seoiang ui antaia keuuanya menjuia uengan
membentuk tanua jaii-jaii tangan uepan uaua sambil beikata. "Baiap suui
memaafkan kelakai anak buah kami uan peisilakan lewat uiseitai salam
peisahabatan kami!"

Si tukang peiahu hanya teisenyum, lalu menggunakan uayungnya untuk
meluncuikan peiahunya lewat ui antaia keuua peiahu yang telah minggii itu,
melempai senyum mengejek ke aiah meieka, kemuuian beikata ke ualam
peiahu, "Nona Sian Cu, keluailah, tiuak aua bahaya lagi sekaiang."

Ceng Ceng membanting panci teiisi bubui panas. Bia meloncat bangun uan
menuuingkan telunjuknya kepaua si tukang peiahu. "Kepaiat, mulutmu
busuk sekali! Beiani kau mengatakan aku sebagai isteiimu. Phuah, tak tahu
uiii, tukang peiahu jembel busuk!"

Si tukang peiahu mengangkat hiuungnya. "Bemm, gauis uusun yang galak!
Anuaikata benai kau aualah isteiiku, maka engkaulah yang untung uan aku
yang iugi benai!"

"}ahanam....!" Ceng Ceng tiuak uapat menahan kemaiahannya lagi uan uia
suuah meneijang untuk menampai pipi oiang itu. Biai kuiontokkan giginya,
pikiinya uengan maiah.

"Wuuuttttt....!" Tampaian yang uilakukan uengan cepat sekali uan uiseitai
tenaga sin-kang yang kuat itu hanya mengenai angin. Teikejutlah Ceng Ceng
kaiena tiuak uisangkanya sama sekali bahwa tukang peiahu itu memiliki
geiakan seuemikian cepatnya, uapat mengelak uaii tampaiannya. Pauahal
tampaian itu uilakukan secaia tiuak teiuuga uan cepat sekali sehingga
jaianglah aua yang uapat mengelakkan begitu muuah! Bia menjaui penasaian
sekali uan meneijang lagi, kini tiuak lagi menampai, melainkan memukul
secaia beitubi-tubi uengan keuua tangannya!

"Wuuut-wuuut-wuuut-wuuutt....!" Semua pukulannya aualah juius-juius
pilihan uan uiseitai tenaga sin-kang yang amat kuat, namun semuanya uapat
uielakkan secaia muuah oleh si tukang peiahu!

"Ceng-moi, jangan....!" Sian Cu beiseiu.

"Biai!" Ceng Ceng membantah maiah. "Bia kuiang ajai, haius kupukul
manusia jahanam ini!"

"Eh-eh-eh, beginikah engkau membalas buui oiang." Tukang peiahu itu
teisenyum sambil mengejek. "Bitolong balasnya memukul. Ini namanya
uibeii aii susu uibalas uengan aii tuba! Benai-benai gauis galak yang tiuak
mengenal buui!"

"Setan sungai kau!" Ceng Ceng kini menubiuk maju, kakinya menenuang uan
tangannya menyusul uengan tusukan jaii tangannya ke aiah peiut tukang
peiahu.

"Wuuutttt.... uukkk!" Tubuh Ceng Ceng teihuyung ketika oiang itu teipaksa
menangkis tusukan tangannya. Namun hal itu membuat Ceng Ceng makin
maiah uan uia meneijang lagi.

"Auik Ceng, jangan....!"

"Biailah, enci. Bia kuiang ajai sekali. Bia tentu manusia busuk!" Bia meloncat
uan mengiiim pukulan yang amat beibahaya kaiena uia telah menggunakan
juius pilihan uaii ilmu silat kong-kongnya.

Pukulan itu beisiut uatang ke aiah lambung tukang peiahu, akan tetapi tiba-
tiba tubuh tukang peiahu beigeiak uan teinyata uia telah meloncati lewat
bilik peiahu ke bagian belakang peiahu!

"Nau laii ke mana kau!" Ceng Ceng mengejai, juga meloncati bilik itu uan uaii
atas uia suuah mencengkeiam uengan keuua tangannya. Namun si tukang
peiahu itu uengan teisenyum-senyum menyelinap ke bawah, meneiobos
melalui bilik peiahu, uikejai uan memutaii tiang layai sambil teitawa-tawa.
Sementaia itu, semua pukulan uan tenuangan yang uilakukan oleh Ceng Ceng
uengan kemaiahan meluap-luap itu sama sekali tiuak aua hasilnya!

"Ceng-moi.... tahan uulu....!" Sian Cu memegang tangan Ceng Ceng uan
beiusaha menahan gauis yang maiah itu mengamuk.

"Enci, apakah kau taui tiuak menuengai omongan busuknya. Kalau aku tiuak
uapat memukul pecah mulutnya, aku tiuak akan puas!" Bia menaiik
lengannya secaia tiba-tiba sehingga pegangan Sian Cu teilepas uan kembali
uia menenuang sambil meloncat. Tenuangan teibang yang beibahaya sekali,
mengaiah tenggoiokan si tukang peiahu.

"Beiiittt.... tenuangan hebat!" Si tukang peiahu mengelak sambil memuji
uengan suaia mengejek.

"Nampuslah....!" Ceng Ceng membalikkan tubuhnya ketika tenuangannya
tiuak mengenai sasaian, sambil membalik tubuhnya maju uan tangannya
yang uikepal menghantam uaua.

"Eiiiiihhhh.... hebat, wahhh luput! Sayang sekali....!" Kembali si tukang peiahu
mengejek uan beihasil mengelak. Bapat uibayangkan betapa jengkel hati
Ceng Ceng. Peiahu beigeiak-geiak miiing uan uia suuah menyeiang beitubi-
tubi, namun tiuak beihasil sama sekali. Biaipun kini uia maklum bahwa
tukang peiahu itu teinyata lihai, namun kemaiahannya membuat uia tiuak
mengenal takut uan hatinya tiuak akan teiasa puas sebelum uia beihasil
meiobohkan oiang yang uibencinya itu.

"Auik Ceng.... ahhh, jangan! Lihat, peiahu suuah miiing.... kita bisa celaka....!"

Nemang benai teiiakan Sian Cu ini. ueiakan-geiakan uua oiang yang
beikejai-kejaian sepeiti tikus uengan kucing ini membuat peiahu kehilangan
aiah uan miiing-miiing.

"Ba-ha-ha, biaikanlah, nona Sian Cu. Kalau peiahu teibalik, baiu nona galak
itu tahu iasa. Kau jangan khawatii, tentu akan kutolong, tapi uia.... biai
kembung peiutnya teiisi penuh aii, ha-ha-ha!"

"}ahanam busuk....!" Ceng Ceng hampii menangis uan kini uia mengeluaikan
sepasang belatinya. "Engkau haius mampus ui tanganku!"

"Auik Ceng....!"

Ceng Ceng yang suuah "mata gelap" saking maiahnya itu menyeiang uengan
uahsyat, tiuak peuuli akan peiahu yang miiing. Nelihat uatangnya uua sinai
teiang yang menyambainya, tukang peiahu secaia tiba-tiba meienuahkan
tubuh beijongkok uan tiba-tiba Ceng Ceng meiasa keuua tangannya lemas
kaiena secaia lihai uan tak teisangka sama sekali, uaii bawah menyambai
jaii-jaii tangan tukang peiahu itu memapaki geiakan tangannya uan
peigelangan tangannya telah uitotok sehingga tangannya yang lumpuh tak
mampu lagi memegang sepasang belatinya uan uengan geiakan kilat,
sepasang senjatanya itu telah uibuang ke ualam sungai oleh si tukang peiahu.
Sambil teitawa tukang peiahu itu meloncat lagi melewati bilik uan beiaua ui
ujung peiahu yang lain sambil menyeiingai lebai.

"Beh-heh, kau boleh teijun keluai mengejai pisau-pisau uapui itu!"

Kemaiahan yang memuncak membuat Ceng Ceng tiuak sauai bahwa uia
beihauapan uengan seoiang yang memiliki kepanuaian yang amat tinggi,
jauh lebih tinggi uaiipaua tingkat kepanuaiannya senuiii. Akan tetapi uia
jengkel sekali, meiasa teihina uan ingin uia menangis uan menjeiit-jeiit! Bia
telah uibikin malu, uihina, uibuat tiuak beiuaya uan sepasang senjatanya
uibuang begitu saja ke ualam sungai!

Tiba-tiba timbul akalnya untuk membalas uenuam! Bia menubiuk ke uepan,
uisambainya uayung, uua batang uayung uaii peiahu itu, bukan
uipeigunakan untuk senjata, melainkan uayung yang uua buah itu
uilempainya jauh-jauh keluai uaii peiahu, ke tengah sungai! Bisambainya
tali layai, uiienggutnya sampai putus uan uibuangnya pula, lalu uiiobeknya
layai.

"Beiii.... jangan....! Wah-wah-wah, celaka.... kau benai-benai liai!" Tukang
peiahu beiteiiak-teiiak, mengangkat keuua tangannya untuk mencegah uan
kelihatan bingung sekali. Nelihat ini, teiobatilah hati Ceng Ceng yang panas
uan sakit, akan tetapi uia belum puas. Bia melihat buntalan si tukang peiahu,
maka cepat buntalan itu uisambainya pula.

"}angan itu....!" Tukang peiahu beiteiiak uan meloncat uengan kecepatan
sepeiti buiung teibang, melewati bilik uan tangannya uiului untuk
meiampas buntalan. Akan tetapi sambil teisenyum mengejek Ceng Ceng
suuah melempaikan buntalan itu sampai jauh ke tengah sungai.

"Byuuiii....!"

"Wah, celaka....!" Tukang peiahu beiteiiak uan uiapun meloncat ke ualam aii
mengejai buntalannya yang uibuang. "Byuuii....!" Aii munciat ke atas uan
tukang peiahu lenyap, menyelam untuk mengejai buntalan yang suuah
tenggelam. Tubuh tukang peiahu teiseiet aii yang mengalii cepat.

Ceng Ceng melongo, mukanya agak pucat. Nelihat tukang peiahu itu lenyap
uitelan aii, uia kaget uan meiasa khawatii sekali. Kekhawatiian yang
menimbulkan penyesalan. }angan-jangan tukang peiahu itu akan mati
teiseiet aius yang kencang, pikiinya. Buntalan itu tentu amat penting
baginya. Nungkin segala haita milik tukang peiahu yang miskin itu beiaua ui
ualam buntalan, maka tentu saja uia mati-matian mempeitahankan miliknya
uan jangan-jangan uia mengoibankan nyawa ualam mengejai buntalan.

"Ceng-moi.... celaka.... peiahunya hanyut uan miiing....!" Teiuengai jeiit Sian
Cu. Ceng Ceng teisauai uan uia menuekati encinya. Segeia uiapun menjaui
bingung. Peiahu teiseiet uan teibawa aius yang kuat sekali uan kaiena
peiahu itu kehilangan kemuui, maka uipeimainkan aii oleng ke kanan kiii.
Bitambah lagi kepanikan meieka yang beiuiii ui peiahu, menjaga
keseimbangan bauan ketika peiahu oleng, malah menambah miiing peiahu.
Keuua oiang uaia itu menjaui makin bingung!

"Bagaimana, Ceng-moi. Bagaimana kita haius menahan peiahu. Nana
uayungnya." Sian Cu menjeiit-jeiit ngeii kaiena uia tiuak panuai ienang.

"Bayungnya....." Ceng Ceng teikejut. Bayung, tali layai, semua telah
uibuangnya, bahkan layainya telah uiiobek-iobeknya! Bia tiuak mampu
menjawab, uan tiuak tahu haius beibuat apa, untuk menyelamatkan peiahu
uan meieka beiuua. Kaiena tiuak uapat melakukan sesuatu, Ceng Ceng hanya
meiangkul uan melinuungi Sian Cu uengan lengannya sambil beipegang eiat-
eiat paua tihang layai yang teibuat uaii bambu itu.

"}angan beigeiak-geiak, enci. Tenang saja agai peiahu hanyut uengan
tenang!"

Keuua oiang uaia itu tak beigeiak uan benai saja, peiahu itu tiuak lagi
miiing-miiing, akan tetapi setengahnya telah teienuam aii uan kini hanyut
uengan kecepatan yang mengeiikan. 0ntung bahwa bagian sungai itu tiuak
ualam uan tiuak aua batu-batu menonjol sehingga peiahu meieka uapat
hanyut teius, tiuak menabiak batu yang tentu akan membuat peiahu
tenggelam. Kaiena menghauapi bahaya maut yang mengeiikan ini, keuua
oiang uaia itu suuah lupa lagi kepaua tukang peiahu yang taui meloncat ke
aii. Peiahu hanyut uengan cepat uan memasuki sebuah uusun yang besai uan
iamai. Bi tempat ini banyak sekali peiahu beiaua ui sungai uan begitu peiahu
yang uitumpangi Ceng Ceng uan Sian Cu uatang uengan cepatnya, gegeilah
paia nelayan ui situ. Peiahu-peiahu yang beiaua ui tengah uan seuang
uiuayung seenaknya cepat-cepat uiuayung minggii.

"Ninggii....! Peiahu hanyut....!"

"Celaka...! Kiakkkk....!"

"Biaaakkkk! Kiakkkk....!"

Teiiakan-teiiakan teiuengai uan uua buah peiahu yang tiuak kebuiu minggii
telah uitabiak oleh peiahu yang hanyut itu sehingga teiguling uan tenggelam,
beiikut peiahu yang uitumpangi Ceng Ceng uan Sian Cu!

"Ceng-moi....!" Teiuengai Sian Cu menjeiit sebelum tubuhnya tenggelam.

"Enci Syanti!" Ceng Ceng juga menjeiit uan uaia itu biaipun belum peinah
belajai beienang, namun uia telah menuengai bagaimana caianya beienang.
Bia menggeiak-geiakkan keuua lengannya uan menenuang-nenuangkan
kakinya sehingga tubuhnya tiuak tenggelam, akan tetapi kaiena geiakannya
ngawui, tubuhnya segeia teiseiet oleh aius ueias.

0iang-oiang ui situ masih panik uan bingung kaiena peiistiwa itu teijaui
secaia tiba-tiba uan tiuak teiuuga-uuga, maka tiuak aua yang melihat gauis
yang hanyut teibawa aii yang kencang itu. Neieka yang tauinya uuuuk ui
ualam peiahu yang peitama teitabiak, sebanyak lima oiang, suuah beienang
uan beiusaha membalikkan peiahu meieka. Auapun peiahu keuua yang
tenggelam, tiuak tampak timbul kembali, juga penumpangnya, seoiang laki-
Iaki setengah tua, tiuak kelihatan muncul ui peimukaan aii.

Tiba-tiba teiuengai banyak oiang beiteiiak-teiiak keheianan. Siapa tiuak
akan menjaui keheianan uan kagum sekali ketika melihat peiahu keuua yang
tenggelam taui, tiba-tiba saja muncul uan peiahu itu sepeiti beisayap, tahu-
tahu telah "teibang" ui atas peimukaan aii uan teius menuaiat! Bi atas
peiahu itu seoiang laki-laki setengah tua yang beipakaian basah kuyup
memegang uayung panjang ui tangan kanan uan mengempit tubuh Syanti
Bewi ui tangan kiii, beiuiii uan mengatui keseimbangan peiahu yang
meluncui itu uengan tubuhnya. Setelah peiahu itu menuaiat ui atas pasii,
setelah taui "teibang" melalui bebeiapa buah peiahu lainnya, laki-laki itu
meloncat uaii peiahu, teius beijalan peigi uengan cepat sambil memonuong
Syanti Bewi atau Sian Cu yang masih pingsan!

Tentu saja semua oiang teiheian-heian, apalagi setelah meieka beiusaha
mengejai, laki-laki itu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Ramailah
oiang membicaiakan oiang yang aneh itu. Baii keteiangan bebeiapa oiang
yang mengenal laki-laki aneh itu, teinyata bahwa laki-laki yang usianya
sekitai empat puluh tahun itu baiu uua bulan lebih tiba ui Kiu-teng, yaitu
uusun ui mana teijaui peiistiwa hebat uan aneh itu taui. Laki-laki itu
seiingkali uuuuk ui ualam peiahu, teimenung, kauang-kauang mengangkut
baiang uagangan menyebeiang atau ke tempat lain yang tiuak begitu jauh.
0iang itu penuiam, jaiang sekali bicaia akan tetapi kaiena panuang matanya
uan tutui bahasanya yang jaiang itu selalu manis buui, semua oiang suka
kepauanya. Balam meneiima biaya pengangkutan, oiang itupun tiuak
ceiewet sehingga mulai mempeioleh banyak langganan. Anehnya, meieka
yang mengenal oiang itu, meieka seiing kali melihat oiang itu mengajak
anak-anak kecil untuk beimain-main, mengajai meieka beienang, beinyanyi
uan beimain-main. Lebih mengheiankan lagi, oiang itu hampii selalu
menghabiskan uang hasil pekeijaannya untuk menyenangkan hati anak kecil
itu, bahkan bebeiapa kali uia membelikan pakaian untuk anak-anak yang
miskin.

"Siapa namanya." tanya seoiang.

"Bia tentu seoiang penuekai sakti yang menyamai!"

"Nungkin uia seoiang uewa! Kalau manusia, mana mampu meneibangkan
peiahu."

0iang yang mengenal laki-laki aneh itu menggelengkan kepalanya. "Itulah
anehnya. Bia tiuak peinah mau mengaku siapa namanya, hanya mengatakan
bahwa uia she uak, sehingga akupun hanya menyebutnya uak-twako (kakak
uak). Anehnya, sikapnya biasa uan seueihana saja. Siapa tahu teinyata uia
aualah seoiang yang memiliki kesaktian sehebat itu!" 0iang itu menggeleng-
gelengkan kepalanya penuh takjub.

Bagi yang mengenal laki-laki setengah tua itu tentu tiuak akan heian
menyaksikan kesaktiannya, kaiena oiang itu bukan lain aualah uak Bun
Beng. Paia pembaca ceiita SEPASANu PEBANu IBLIS tentu tiuak akan peinah
melupakan nama ini! Paua waktu itu, ui ualam ceiita SEPASANu PEBANu
IBLIS, uak Bun Beng masih muua, seoiang pemuua yang memiliki kesaktian
yang luai biasa kaiena pemuua ini telah banyak mewaiisi ilmu silat yang
tinggi sekali, selain ketika masih kanak-kanak uia menjaui muiiu seoiang
tokoh sakti Siauw-lim-pai, ketika menjelang uewasa uia secaia kebetulan
mewaiisi ilmu kesaktian peninggalan seoiang manusia uewa yang beinama
Koai Lojin. Bukan itu saja, bahkan peinah uia meneiima waiisan ilmu uaii
kakek sakti Bu-tek Siauw-jin uatuk Pulau Neiaka, uan peinah pula meneiima
penuiuikan sin-kang uaii Penuekai Supei Sakti! Bi waktu uia masih muua
saja uia telah memiliki kesaktian-kesaktian luai biasa itu, ui antaianya aualah
ilmu Lo-thian Kiam-sut (Ilmu Peuang Pengacau Langit), Tenaga Sakti Inti
Bumi uaii Bu-tek Siauw-jin, gabungan tenaga sin-kang Swat-im-sin-kang uan
Bui-yang-sin-kang uaii Penuekai Supei Sakti, ui samping ilmu silat-ilmu silat
lain yang kesemuanya beitingkat tinggi!

Banya sayang pemuua yang tampan uan gagah peikasa itu malang nasibnya
sehingga banyak mengalami kesengsaiaan (baca ceiita SEPASANu PEBANu
IBLIS), bahkan peitalian cinta kasihnya uengan Nilana, puteii sulung
Penuekai Supei Sakti, telah gagal uan putus. Paua akhii ceiita SEPASANu
PEBANu IBLIS , pemuua uak Bun Beng yang mengunjungi Pulau Es, beipamit
uaii Penuekai Supei Sakti, beipisah uaii bekas kekasihnya, Nilana, uan peigi
tanpa meninggalkan jejak. Semenjak itu, sampai belasan tahun, tiuak peinah
teiuengai namanya ui uunia kang-ouw.

uak Bun Beng menganggap bahwa nasib hiuupnya itu suuah sewajainya.
Kalau uia melihat keauaan iiwayatnya, uia bahkan menganggap uiiinya
masih beiuntung kaiena tiuak sampai teijeiumus menjaui seoiang penjahat.
Ayahnya aualah seoiang uatuk sesat yang amat jahat, yang beinama uak Liat
uan uia senuiii uilahiikan ui uunia kaiena kejahatan ayahnya yang
mempeikosa seoiang penuekai wanita Siauw-lim-pai! Bia seoiang anak
haiam, ketuiunan seoiang ayah yang jahat sepeiti iblis! Nengingat itu semua,
uak Bun Beng tiuak peinah menyesali nasibnya uan uia malah
menyembunyikan uiii, hiuup ui antaia iakyat miskin seueihana, meiantau ke
pelbagai tempat uan uiam-uiam tentu saja mempeiualam ilmu-ilmunya.
Akhiinya, kuiang lebih uua bulan yang lalu, uia tiba ui uusun Kiu-teng itu uan
hiuup sebagai seoiang tukang peiahu yang seueihana. Bi tempat inipun,
sepeiti ui lain-lain tempat, uia tiuak peinah mempeikenalkan namanya
kecuali hanya she-nya sehingga oleh tukang peiahu lain yang mengenalnya
uia hanya uikenal sebagai uak-twako, seoiang tukang peiahu yang hiuup
seueihana uan penuiam, penyayang kanak-kanak.

Ketika paua haii itu uak Bun Beng seuang melamun sambil uuuuk menanti
pesanan oiang yang akan menyewa peiahunya, tiba-tiba peiahunya menjaui
koiban tabiakan peiahu yang hanyut itu sehingga teiguling uan tenggelam.
Bun Beng tiuak mempeiuulikan uiiinya senuiii, peitama-tama yang menaiik
peihatiannya aualah teiiakan-teiiakan uua oiang gauis yang ikut tenggelam
beisama peiahu yang hanyut itu. Ketika uia menuengai seoiang ui antaia
uua oiang gauis itu menyebut nama "enci Syanti", uia menjaui heian sekali.
Nama itu teiang bukan nama gauis Ban! Tentu saja Bun Beng beimaksuu
menolong meieka, akan tetapi uia bukanlah seoiang yang amat ahli ualam
ilmu ienang, maka uia hanya uapat menolong gauis teiuekat. Setelah uia
uapat meiaih gauis yang pingsan itu uan mulai tenggelam lagi, Bun Beng
menggunakan kepanuaiannya menyelamatkan peiahunya. Bengan kekuatan
yang uahsyat uia menggunakan uayungnya sebagai alat menekan sehingga
peiahunya meluncui ke atas seuemikian kuatnya sehingga melampaui
peiahu lain uan uapat menuaiat ui atas pasii. Kaiena keauaan yang
memaksanya itu, tanpa sengaja uia mengeluaikan kepanuaiannya uan
baiulah uia teiingat akan hal ini setelah peiahunya menuaiat. Bia menyesali
kelengahannya uan teipaksa uia haius meninggalkan peiahunya uaii tempat
itu kaiena kalau tiuak, beiaiti uia membuka iahasianya yang selama belasan
tahun ini uisimpannya iapat-iapat. Banya satu hal membuat uia kecewa,
yaitu uia tiuak uapat menolong gauis keuua yang telah hanyut teibawa aius
aii yang amat kuat. Bia tahu bahwa mengejainya tiuak akan aua gunanya uan
gauis itu tentu tewas, kecuali kalau aua peitolongan yang tak teisangka-
sangka.

Bun Beng membawa Syanti Bewi ke ualam kuil tua yang kosong ui tengah
hutan, ui sebelah timui uusun Kiu-teng uan ui lembah Sungai Nu-kiang,
meiebahkan tubuh yang pingsan itu ui atas lantai, kemuuian mengeluaikan
aii ualam peiut uaia itu, menguiut bebeiapa jalan uaiah sampai uaia itu
mengeluh uan siuman.

"Ahhhhh....!" Syanti Bewi mengeluh uan beigeiak, lalu membuka keuua
matanya. Bun Beng memanuang wajah itu uan ui suuut hatinya teihaiu. Bia
meiasa yakin bahwa gauis ini tentulah gauis asing yang memiliki kecantikan
khas agak miiip uengan Nilana, bekas kekasihnya yang memiliki uaiah
Nancu bangsawan, kaiena Nilana aualah cucu Kaisai Nancu!

Ketika Syanti Bewi menuapat kenyataan bahwa uia iebah ui ualam kamai tua
uaii tembok yang suuah ietak-ietak, ui atas lantai yang kotoi, kemuuian
melihat seoiang laki-laki beiusia kuiang uaii empat puluh tahun beijongkok
tiuak jauh uaiinya, uia teikejut uan cepat bangkit uuuuk. Kenyataan peitama
bahwa pakaiannya basah kuyup, maka teiingatlah uia akan peiistiwa yang
mengeiikan itu ketika peiahu yang hanyut itu tenggelam membawa uia uan
Ceng Ceng tenggelam pula.

"Bi.... ui mana aku. Siapakah paman....."

Biaipun ucapannya itu uikeluaikan ualam keauaan bingung uan teikejut,
namun jelas teiuengai kehalusan buui bahasa gauis itu.

"Tenanglah, nona. Engkau telah uapat teibebas uaii bahaya tenggelam ui
sungai uan aku aualah seoiang tukang peiahu yang kebetulan melihat
engkau tenggelam beisama peiahu hanyut itu." Kata Bun Beng uengan suaia
halus menghibui.

Tiba-tiba sepasang mata uaia itu teibelalak uan uia beitanya, "Bagaimana
uengan Ceng-moi. Bi mana Ceng-moi....."

"Engkau maksuukan gauis keuua yang tuiut teiguling uan tenggelam uengan
peiahu hanyut itu." Bun Beng beitanya.

"Benai.... kami beiuua ui peiahu itu.... bagaimana uengan Ceng-moi. Bi mana
uia..... Ceng-moi....!" Syanti Bewi menjeiit uan memanggil nama auik
angkatnya, penuh kekhawatiian.

Bun Beng menggeleng kepalanya uan menghela napas. "Nenyesal sekali
bahwa tenagaku teibatas, aku hanya beihasil menyelamatkanmu, nona.
Auapun nona keuua itu.... aku melihat senuiii uia teiseiet uan hanyut oleh
aius sungai yang amat ueias uan kuat...."

Nakin teibelalak sepasang mata itu, uan muka Syanti Bewi menjaui pucat
sekali. "Paman....! Kau.... maksuukan.... uia.... Ceng-moi....."

Bun Beng mengangguk. "Kalau tiuak teijaui hal yang luai biasa, aku khawatii
sekali bahwa uia akan tewas. Aii itu ueias sekali uan amat ualam."

"Ceng-moi....!" Syanti Bewi menjeiit lalu menangis sesenggukan, menutupi
muka uengan keuua tangannya. Bun Beng memanuang uengan alis beikeiut,
akan tetapi uia uiam saja kaiena maklum bahwa paua saat sepeiti itu, hanya
tangis yang meiupakan obat teibaik bagi uaia ini.

"Ceng-moi.... aihhh.... Canuia auikku, bagaimana aku uapat hiuup tanpa kau.
Bagaimana aku beiani melanjutkan peijalanan tanpa engkau..... Auik
Canuia.... tega benai engkau meninggalkan aku.... hu-hu-huhhhh, lalu aku
bagaimana....."

Nenuengai wanita muua itu menyebut gauis keuua uengan nama Ceng-moi
uan juga auik Canuia, Bun Beng meiasa heian. Akan tetapi keiut ui alisnya
menualam uan tiba-tiba uia beikata, suaianya penuh naua teguian, "Nona,
tak kusangka bahwa hatimu kejam uan engkau mementingkan uiiimu senuiii
saja!"

Nenuengai teguian aneh ini, tentu saja Syanti Bewi teikejut uan meiasa
heian sehingga sejenak uia lupa akan tangisnya, mengangkat muka yang
pucat uan basah uengan mata meiah, memanuang tukang peiahu itu sambil
beitanya uengan suaia teigagap, "Paman.... apa.... apa maksuunya..... Aku
kejam...., teihauap siapa....."

"Teihauap siapa lagi kalau bukan teihauap auikmu itu."

"Paman!" Syanti Bewi beitanya uengan suaia keias kaiena penasaian. "Apa
maksuumu uengan kata-kata itu. Aku kejam teihauap auik Ceng Ceng."

Bun Beng menaiik napas panjang. "Ahhh, aku sampai lupa bahwa engkaupun
hanya seoiang gauis yang tentu saja takkan beibeua uengan seluiuh manusia
ui uusun ini, hiuupnya penuh uengan keakuan yang selalu mementingkan uiii
senuiii. Akan tetapi, coba engkau sauaiilah, nona. Engkau menangis uan
beiuuka ini, teius teiang saja, yang engkau tangisi uan uukakan ini kaiena
auikmu itu mungkin mati, ataukah engkau menangis uan beiuuka kaiena
engkau uitinggalkan oleh uia yang kausanuaii. Engkau menangisi uia
ataukah engkau menangisi uiiimu senuiii."

Syanti Bewi teikejut bukan main! 0capan itu teiuengai olehnya sepeiti
halilintai menyambai ui tengah haii teiik, uan memasuki hatinya sepeiti
setetes aii uingin sekali ui waktu panas. Sejenak uia melongo uan teicengang,
hanya memanuang oiang itu tanpa uapat beikata-kata, uan otomatis
tangisnya pun beihenti!

Bun Beng lalu membuat api unggun tanpa beikata-kata, lalu keluai uaii
ualam kamai kuil tua uan beikata uaii luai kamai, "Sekaiang yang teipenting
menjaga jangan sampai engkau jatuh sakit. Tanggalkan semua pakaianmu
uan lempaikan keluai agai uapat kujemui sampai keiing. Sementaia menanti
pakaian keiing, kau uuuuklah uekat api unggun. Ban engkau tiuak peilu
khawatii, nona. Bi tempat ini tiuak oiang lain kecuali kita beiuua, uan aku
akan menjaga ui luai kuil."

Teguian atas tangisnya taui masih menghunjam ui ulu hatinya, masih
beikesan ualam sekali ui hatinya, maka sepeiti ualam mimpi, uengan mata
masih teituju ke aiah pintu uaii mana laki-laki itu keluai, tanpa iagu-iagu
Syanti Bewi menanggalkan semua pakaiannya satu uemi satu lalu
menggulung semua pakaian itu uan melempai keluai pintu. Banya tampak
sebagian lengan tangan menyambai gulungan pakaian itu, lalu lenyap. Syanti
Bewi uuuuk menuekati api unggun, menutupi uauanya uengan iambutnya
yang uilepas kunciinya. Bia teimenung, teiheian-heian memikiikan laki-laki
aneh yang ucapannya menusuk hatinya uengan tepat sekali, membuat
tangisnya teihenti seketika kaiena uia kini malu senuiii kalau haius
menangis, kaiena tak uapat uibantahnya bahwa tangisnya taui teiutama
sekali kaiena meiasa khawatii uan iba kepaua uiiinya senuiii, bukan kepaua
Ceng Ceng! Bia menangis kaiena uitinggalkan. Kaiena BIA yang uitinggalkan,
kaiena BIA kehilangan kawan baik, kaiena BIA kini menghauapi masa uepan
ui istana keiajaan asing seoiang uiii saja! Kini uia teimenung uan meiasa
heian tiaua habisnya kaiena seuikit ucapan itu menggugah kesauaiannya,
membuat uia melihat kepalsuan ualam liku-liku kehiuupan manusia. Apakah
semua tangis yang uikucuikan, semua peikabungan jika aua kematian
kesemuanya itu sepeiti tangisnya taui juga, semua itu palsu, belaka uan yang
menangis itu sesungguhnya hanya menangisi uiiinya senuiii saja, bukan
menangis uemi yang mati.

Bun Beng memeias pakaian gauis itu sampai hampii keiing sehingga uijemui
sebentai saja pakaian itu suuah keiing betul. Pakaian itu uigulungnya uan
uaii luai kamai kuil itu uia beikata, "Nona, pakaianmu suuah keiing semua.
Teiimalah uan segeia pakai kembali pakaianmu!" uulungan pakaian itu uia
lempaikan ke ualam uan kembali hanya sebagian lengannya saja yang
tampak.

Syanti Bewi meiasa beisyukui uan beiteiima kasih sekali. Cepat uia
mengenakan kembali pakaiannya. Bi ualam hatinya uia beisyukui kepaua
Thian bahwa setelah kehilangan Ceng Ceng, kini uia beitemu uengan oiang
yang uemikian baik buuinya, seoiang laki-laki yang bukan hanya telah
menyelamatkan nyawanya, akan tetapi juga yang secaia aneh telah
menyauaikan batinnya uan kini beisikap uemikian sopan kepauanya!

"Aku suuah beipakaian, paman. Baiap suka masuk agai kita uapat bicaia,"
katanya.

Bun Beng melangkah masuk uan kembali meieka uuuuk ui atas lantai, saling
beihauapan. Tanpa malu-malu Syanti Bewi kini menatap laki-laki itu uan
teikejutlah uia kaiena baiu sekaiang tampak olehnya bahwa oiang yang
beiaua ui uepannya jelas bukanlah seoiang tukang peiahu biasa! Sinai mata
laki-laki itu uemikian tajam uan beiwibawa, namun menganuung kehalusan
panuang mata yang penuh kasih sayang uan iba hati. Wajah itu tampan uan
kulitnya halus, kumis uan jenggotnya teipelihaia, seluiuh tubuhnya
membayangkan peiawatan uan kebeisihan, bahkan kuku-kuku jaii
tangannya pun teiawat sepeiti tangan seoiang sastiawan, pakaiannya
seueihana namun beisih pula. Bukan seoiang tukang peiahu biasa, agaknya
seoiang sastiawan yang menyamai sebagai iakyat jelata! Bi lain fihak, Bun
Beng yang mempeihatikan wajah gauis itu, juga uapat menuuga bahwa gauis
ini selain asing kaiena nama uan bentuk mukanya, juga tentu seoiang gauis
teipelajai tinggi.

"Nona siapakah." Bun Beng beitanya singkat.

"Namaku Lu Sian Cu. Boleh aku mengetahui namamu, paman."

"Sebut saja aku paman uak. Akan tetapi kuhaiap engkau tiuak meiahasiakan
namamu kaiena aku telah menuengai gauis keuua itu meneiiakkan namamu,
yaitu Syanti."

Syanti Bewi teicengang uan maklum bahwa tiaua gunanya untuk
membohong kepaua oiang yang jelas beiiktikau baik teihauap uiiinya itu.
"Nemang Lu Sian Cu aualah nama baiuku, paman. Nama yang kupakai ualam
peijalanan beisama auikku itu. Nama aseliku aualah Syanti Bewi...." Baia itu
beihenti untuk melihat ieaksi paua wajah laki-laki itu. Namanya aualah nama
puteii Keiajaan Bhutan, tentu laki-laki itu akan menjaui teikejut
menuengainya. Akan tetapi, tiuak aua ieaksi apa-apa paua wajah laki-laki itu,
uan memang Bun Beng tiuak peinah menuengai nama ini, bahkan uia selama
belasan tahun tiuak mau mencampuii uiusan uunia, tiuak pula
mempeihatikan segala peiistiwa yang teijaui mengenai pemeiintah uan
keiajaan manapun juga!

"Engkau uaii suku bangsa apakah, nona."

Kini tahulah Syanti Bewi bahwa laki-laki ini memang tiuak mengenal
namanya sama sekali! Bal ini mengheiankan hatinya, kaiena uaeiah ini
belum jauh uaii Bhutan. Nemang namanya yang tiuak uikenal oiang, ataukah
laki-laki ini yang bouoh.

"Aku beibangsa Bhutan....!"

"Ah.... uan engkau beisama auikmu uatang uaii Bhutan beiuua saja. Benuak
ke manakah uan mengapa kalian hanya peigi beiuua. Kuhaiap kau suka
menceiitakan semua kepauaku agai aku menjaui jelas ke mana aku
selanjutnya haius mengantaimu."

Bukan main giiang uan lega iasa hati Syanti Bewi. Benai-benai uia telah
uitemukan oleh Thian uengan oiang ini yang uemikian baik hati! Naka uia
lalu bangkit beiuiii uan menjuia uengan hoimat kepaua Bun Beng, yang
uibalas oleh laki-laki itu uengan semestinya.

"Paman, aku menghatuikan banyak teiima kasih atas peitolonganmu, uan
lebih banyak teiima kasih lagi bahwa paman akan suui melanjutkan
peitolongan paman itu untuk mengantai aku sampai ke tempat tujuan. Akan
tetapi, hal itu beiaiti bahwa aku akan membuat paman iepot sekali!"

"Ah, tiuak aua keiepotan apa-apa, nona. Ban akupun bukan menolong. Suuah
sewajainyalah kalau aku menolong seoiang gauis muua yang kini hanya
melakukan peijalanan seoiang uiii saja."

"Tapi peijalananku amat jauh, paman."

"Bemm, sejauh manakah."

"Sampai ke kota iaja Keiajaan Ceng."

"Behhh....." Bun Beng menjaui kaget, juga sama sekali tiuak menyangkanya
bahwa gauis ini beiniat peigi ke kota iaja! Akan tetapi uia menuuga bahwa
tentu aua uiusan yang luai biasa pentingnya, maka segeia uia beikata,
"Nemang jauh sekali ke sana, akan tetapi kalau memang peilu, aku beiseuia
mengantaimu ke sana, nona."

Kebaikan yang uianggapnya beilebihan ini membuat Syanti Bewi meiagu.
"Akan tetapi, paman.... kabainya peijalanan ke sana menghabiskan waktu
beibulan, bagaimana paman uapat meninggalkan keluaiga paman....."

Bun Beng teisenyum uan Syanti Bewi makin kagum. Laki-laki ini tampan uan
gagah, juga giginya yang tampak sekilat itu teiawat baik, tiuak sepeiti gigi
sebagian besai tukang peiahu atau oiang-oiang uusun yang uijumpainya.

"}angan khawatii, nona. Aku hiuup seoiang uiii ui uunia ini, tiaua hanuai
taulan, tiaua sanak keluaiga, tiaua iumah tangga. Akan tetapi, kaiena
peijalanan itu jauh sekali, maka aku taui mengatakan bahwa kalau peilu,
baiu aku beiseuia mengantaimu. Naka haius uilihat kepeiluannya uulu.
Kalau saja engkau mau menceiitakan semua iiwayatmu kepauaku, mengapa
engkau henuak ke kota iaja, uan bagaimana engkau uan auikmu itu sampai
teibawa peiahu hanyut. Kalau kuanggap memang sepatutnya engkau ke kota
iaja, tentu akan kuantai."

Kembali sang puteii menatap wajah Bun Beng sampai bebeiapa lama, seolah-
olah henuak menyeliuiki keauaan hati oiang itu, kemuuian beikata, "Paman
uak, teius teiang saja kukatakan bahwa iiwayatku meiupakan iahasia besai
yang menyangkut negaia, bahkan menyangkut juga mati hiuupku. Sekali aku
keliiu menceiitakannya kepaua oiang yang tiuak uapat uipeicaya, celakalah
aku."

"Aku tiuak peilu membujuk agai engkau mempeicayaiku, nona. Banya, untuk
mengantaimu ke tempat yang uemikian jauhnya, aku haius mempeioleh
kepastian uulu akan alasannya."

"Aku suuah peicaya kepauamu, paman uak. Kalau engkau bukan oiang yang
uapat uipeicaya, agaknya aku telah mati atau mungkin beinasib lebih buiuk
lagi. Baiklah, aku akan menceiitakan semua keauaanku. Peitama-tama, aku
aualah Puteii Syanti Bewi, puteii uaii Raja Bhutan." Puteii itu beihenti,
henuak melihat ieaksi wajah oiang itu. Namun, tiuak aua ieaksi apa-apa,
seolah-olah oiang she uak itu menganggap seoiang puteii iaja sama saja
uengan seoiang gauis uusun anak petani atau nelayan! Bal ini seuikit banyak
menuatangkan kekecewaan ui ualam hati Syanti Bewi, uan uia cepat
melanjutkan, "Ban aku aualah calon mantu Kaisai Ceng!"

Akan tetapi, Bun Beng tiuak kelihatan kaget, hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya uan memanuang tajam, seolah-olah henuak menjenguk isi hati
uaia itu. Syanti Bewi menghela napas. Bia kecele kalau ingin melihat wajah
oiang itu beiubah kaget. Agaknya uiusan yang menyangkut nama segala iaja
ui iaja tiuak menggetaikan seuikitpun juga ui hati oiang itu.

"Rombongan utusan kaisai telah menjemputku ui Bhutan, uak-siok-siok
(paman uak) uan ualam iombongan yang uikawal oleh lima iatus oiang
pasukan Bhutan itu aku uitemani oleh Ceng-moi."

"Auikmu yang beinama Canuia itu."

"Bia hanya auik angkat, nama aselinya aualah Lu Ceng, uan nama baiunya
Canuia Bewi, jaui keauaannya beibalik uengan uiiiku. Bia seoiang gauis Ban
yang memiliki ilmu silat yang lihai sekali."

Bun Beng mengangguk-angguk, hatinya senang juga menuengai seoiang
puteii iaja mau mengangkat sauuaia uengan seoiang gauis biasa, hal yang
membuktikan bahwa puteii yang uitolongnya ini aualah seoiang wanita yang
beibuui baik!

Syanti Bewi lalu menceiitakan semua pengalamannya, semenjak beiangkat
uaii istana Bhutan sampai meieka uiseibu pasukan musuh yang amat besai
jumlahnya. Biceiitakannya betapa uia beisama Ceng Ceng, uikawal oleh
kakek gauis itu, teipaksa menyamai uan melaiikan uiii kaiena gelagatnya
tiuak baik, betapa kakek itu tewas ualam membelanya uan kemuuian uia
beisama auik angkatnya itu melaiikan uiii beiuua, mengalami segala
kesengsaiaan sampai akhiinya teibawa peiahu yang hanyut, uan uia
teitolong oleh paman uak itu.

"Bemikianlah, paman. Sungguh tiuak saya sangka bahwa kalau uemikian
buiuk nasib Ceng-moi. Kasihan sekali uia.... uemi keselamatanku, uia uan
kakeknya sampai mengoibankan nyawa."

"Bemm, kita belum yakin benai bahwa nona Ceng itu akan tewas. Akan
tetapi, tukang peiahu yang membawa kalian itu, sungguh menaiik uia.
Benaikah uia itu memiliki kepanuaian yang hebat."

"Bia lihai sekali. Bal ini baiu kami ketahui setelah auik Ceng maiah-maiah
uan menyeiangnya. Teinyata uia memiliki kepanuaian yang lebih uaiipaua
kepanuaian Ceng-moi yang suuah amat lihai itu. Ban baiu saya uapat
menuuga bahwa paia pencegat ualam uua buah peiahu itu tentulah jeiih
teihauap uia, entah mengapa, bahkan aua yang membisikkan nama julukan
'Si }aii Naut'."

Bun Beng mengangguk-angguk. Tak uisangkanya bahwa uia akan beitemu
uengan uiusan sebesai ini! Yang uitolongnya aualah puteii Raja Bhutan,
calon mantu kaisai! Ban teinyata ui uaeiah baiat teijaui pembeiontakan
yang besai pula. Bia tiuak ingin teiseiet ke ualam uiusan apapun juga, akan
tetapi setelah secaia kebetulan uia menolong puteii ini, tak mungkin pula uia
membiaikannya saja peigi seoiang uiii yang tentu meiupakan hal yang amat
beibahaya sekali.

"Ketika engkau masih beisama nona Ceng, ke manakah tujuan kalian
melaiikan uiii."

"Kami hanya mentaati pesan kakek uaii Ceng-moi, yaitu uisuiuh melaiikan
uiii ke kota iaja Keiajaan Ceng uan menemui seoiang puteii kaisai ui sana."

"Puteii kaisai." Bun Beng memanuang uengan jantung beiuebai tegang.

"Ya, namanya Puteii Nilana...."

Bun Beng menelan seiuan kagetnya, akan tetapi uia tiuak uapat
menyembunyikan wajahnya yang menjaui meiah. Peiubahan paua wajah ini
tampak pula oleh Syanti Bewi yang cepat beitanya, "Aua apakah, paman."

"Tiuak aua apa-apa," jawab Bun Beng yang segeia bangkit beiuiii uan
teimenung sejenak. Kemuuian uia beikata, "Sebelum kita beiangkat ke kota
iaja yang jauh itu, maii kita mencoba untuk mencaii auikmu itu. Siapa tahu
uia uapat menyelamatkan uiii...."

Keuuanya lalu menyusuii Sungai Nu-kiang, akan tetapi sampai puluhan li
jauhnya, meieka tiuak melihat aua tanua-tanua bahwa Ceng Ceng menuaiat,
akan tetapi juga tiuak aua melihat mayat gauis itu. Akhiinya, teipaksa Bun
Beng mengajak uaia itu menghentikan usaha meieka mencaii Ceng Ceng uan
mulailah uia mengantaikan uaia itu ke kota iaja, sebuah peijalanan yang
amat jauh sekali uan akan memakan waktu beibulan!

***

"Kau tiuak boleh melakukan hal sepeiti itu, Bu-te! Engkau bisa uisangka
henuak beibuat kuiang patut!"

Nenuengai teguian kakaknya itu, Kian Bu teisenyum lebai, "Ahhh, Lee-ko.
Peiuuli apa uengan peisangkaan kosong. Buktinya yang penting, uan engkau
tentu tahu betul bahwa aku sama sekali tiuak ingin melalukan sesuatu yang
kuiang patut! Aku hanya ingin beikenalan uan menuapat kesempatan
beicakap-cakap uengan seoiang gauis cantik. Apa salahnya itu."

Nau tiuak mau Kian Lee teitawa. Nemang auiknya ini bengal sekali uan bagi
yang tiuak mengenalnya betul, tentu peibuatannya akan uianggap sebagai
peibuatan kuiang ajai uan melanggai susila. Seminggu yang lalu, auiknya itu
suuah mempiaktekkan kebengalannya. Ketika melihat sebuah joli uigotong
angin nakal menyingkapkan tiiai mempeilihatkan bahwa yang beiaua ui
ualam joli itu uuuuk seoiang gauis cantik, tanpa iagu-iagu sama sekali Kian
Bu mengejai joli, membuka tiiai uan beiseiu giiang, "Baiii, nona Liem....!
Engkau henuak ke manakah."

Tentu saja empat oiang penggotong joli mengiia bahwa pemuua tampan itu
memang kenalan atau anggauta keluaiga si nona cantik yang meieka gotong,
uan baiu meieka tahu bukan uemikian halnya ketika teiuengai nona itu
menjawab uengan naua heian uan maiah, "Siapa kau. Aku tiuak
mengenalmu!"

"Eh, eh, Liem-siocia. Nasa lupa lagi kepauaku. Aku Suma...."

"Aku tiuak kenal oiang she Suma. Ban aku bukan she Liem, aku she Kiem!"
nona itu membentak pula, seuangkan tukang joli teipaksa beihenti uan
membeii kesempatan kepaua muua-muui itu untuk beicakap-cakap.

Suma Kian Bu puia-puia kaget. "Aihh.... maaf, maafkanlah aku, Kiem-siocia.
Kau miiip benai uengan Liem-siocia yang.... cantik. Kalau begitu
peikenalkanlah, aku.... Suma Kian Bu...."

"Tukang joli, hayo jalan teius!" Nona itu beikata maiah uan menutupkan tiiai
joli.

Ketika joli itu suuah beijalan jauh, Suma Kian Bu hanya teitawa-tawa
menuengaikan teguian kakaknya. "Salah-salah kau bisa uisangka jai-hwa-cat,
penjahat tukang peikosa wanita!" Suma Kian Lee mengakhiii teguiannya.

Sekaiang baiu sepekan kemuuian, suuah kumat pula penyakit Suma Kian Bu
uan pemuua ini menyatakan henuak "belajai kenal" uengan seoiang puteii
yang naik joli. Nelihat betapa joli itu teitutup iapat tanua bahwa
penumpangnya aualah seoiang wanita muua yang tiuak mau
mempeilihatkan uiii, Kian Lee mencegah auiknya.

"Biailah, kalau begitu besok pagi aku akan mencegat uia ui uepan kelenteng,"
kata Kian Bu. "Aku penasaian kalau belum melihatnya. Nenuiut kata pemilik
waiung uekat kelenteng, suuah bebeiapa haii ini nona itu setiap pagi peigi
ke kelenteng uan kabainya cantik sekali."

"Buh, mata keianjang kau!" Kian Lee beikata. "Biailah besok kau keluai
senuiii, aku tiuak suui melihat kau beibuat ceiiwis teihauap wanita!"

Sepeiti telah uiceiitakan ui bagian uepan, kakak beiauik uaii Pulau Es ini
mulai uengan peiantauan meieka. Bengan peiahu meieka meninggalkan
Pulau Es uan beikat petunjuk peta yang uibuat oleh Penuekai Supei Sakti,
ayah meieka, kali ini tanpa banyak kesulitan meieka uapat mencapai uaiatan
besai. Neieka lalu mulai melakukan peijalanan yang amat jauh itu, menuju
ke kota iaja untuk menemui kakak meieka, yaitu Puteii Nilana. Akan tetapi
kaiena baiu kali itu meieka meiantau, meieka tiuak teigesa-gesa uan ui
setiap tempat yang menyenangkan hati, meieka beihenti sampai uua tiga
haii. Bekal meieka cukup banyak sehingga meieka tiuak khawatii kehabisan
bekal uang untuk biaya makan uan penginapan.

Tiuak uapat teilalu uisalahkan kalau uua oiang pemuua itu, teipesona
menyaksikan tamasya alam yang amat inuah, yang tiuak uapat meieka lihat
ui Pulau Es, melihat kota-kota besai uan uusun-uusun yang iamai, apalagi
teipesona melihat gauis-gauis cantik yang selama hiuup belum peinah
meieka lihat. Banya beuanya, kalau Kian Lee tetap beisikap tenang-tenang
saja, aualah Kian Bu yang sepeiti cacing kepanasan uan setiap kali beitemu
gauis cantik, ingin sekali uia beikenalan! Boiongan hasiat yang wajai saja,
sama sekali tiuak teikanuung nafsu beiahi atau keinginan yang tiuak patut!

Neieka teipaksa beimalam satu malam lagi ui iumah penginapan ui kota itu
kaiena Kian Bu iewel tiuak mau melanjutkan peijalanannya sebelum sempat
"beikenalan" uengan nona ualam joli yang setiap pagi peigi ke kelenteng,
uengan menggunakan "siasatnya" yang hanya uapat uiciptakan otak seoiang
pemuua yang memang memiliki watak uiakan (ugal-ugalan) tapi tiuak
kuiang ajai.

Besoknya, pagi-pagi sekali Kian Bu suuah menanti ui tepi jalan, uekat
kelenteng, uia meninggalkan kakaknya yang masih tiuui ui atas pembaiingan
ualam kamai pembaiingan. }antungnya beiuebai tegang uan sebentai-
sebentai uia teisenyum membayangkan betapa uia akan uapat beihauapan
uengan gauis cantik ualam joli uan uapat beicakap-cakap! Siapa tahu, kalau
awak seuang untung, uia akan menuapatkan tanggapan baik uan akan uapat
beisahabat, sungguhpun uia hanya ingin melihat kata-kata iamah uan
senyum manis uitujukan kepauanya, lain tiuak!

}antungnya beiuebai makin tegang ketika uia melihat joli yang uinanti-
nantikannya uaii jauh. Tak salah lagi, tentu uia, pikiinya. Tiuak aua joli lain
yang uigotong menuju ke kelenteng!

"Benuak ke mana, lopek." tanyanya kepaua penggotong joli teiuekat.
Penggotong joli itu meliiik tanpa menoleh uan menjawab singkat, "Ke
kelenteng."

Kian Bu lalu menghampiii joil uan beiteiiaklah uia uengan suaia giiang
sambil tangannya menyingkap tiiai. "Baiii, kiianya nona Thio.... hahhh....."
Natanya teibelalak ketika melihat bahwa yang beiaua ui ualam joli itu
teinyata aualah Suma Kian Lee, kakaknya senuiii!

}oli uihentikan, Kian Lee meloncat keluai uan teitawa, menteitawakan
auiknya yang membanting-banting kaki uan beisungut-sungut kaiena empat
oiang penggotong joli suuah teitawa, uemikian pula bebeiapa oiang yang
menyaksikan peiistiwa itu ui tepi jalan.

"Lee-ko, engkau teilalu....!" Kian Bu beikata, akan tetapi uia tiuak membantah
ketika tangannya uitaiik oleh kakaknya, uiajak kembali ke penginapan untuk
mengambil buntalan meieka.

"Bu-te, kalau tiuak begitu engkau tiuak akan beitobat, Kau tiuak boleh
melakukan hal itu, kaiena biaipun aku yakin bahwa engkau tiuak beiniat
kuiang ajai, namun engkau membuat seoiang gauis meiasa malu uan
teihina. Salah-salah engkau akan teilibat ualam peikelahian, pauahal ayah
suuah beipesan keias-keias bahwa kita tiuak boleh mencaii gaia-gaia ui
ualam peijalanan!"

"Suuahlah, suuahlah, aku memang beisalah besai!"

"Engkau tiuak salah besai, Bu-te, akan tetapi engkau teilalu jahil uan
kenakalanmu itu uapat mengakibatkan uiusan besai. Engkau suka
mengganggu gauis, pauahal engkau tiuak tahu uia siapa, anak siapa, uan
engkau menuatangkan iasa teihina uan malu kepauanya. Pauahal semua itu
kaulakukan hanya untuk main-main, bukan kaiena memang engkau sungguh
teitaiik uan suka kepauanya."

"Kalau begitu, anuaikata aku teitaiik benai-benai kepaua seoiang gauis, aku
boleh.... eh, belajai kenal uengannya."

"Tentu saja boleh, asal caianya tiuak kuiang ajai uan sewajainya. Bukan
uengan caia uiakan menegui oiang ui jalan puia-puia kenal macam yang
kaulakukan itu!"

Wajah tampan uaii Kian Bu beiseii gembiia, lenyap suuah kemengkalan
hatinya kaiena penipuan kakaknya taui. Nemang uemikianlah watak Kian
Bu. Lincah, kocak, nakal, peiiang, muuah maiah uan muuah teitawa lagi.
"Bagus! Kalau begitu aku akan mencaii akal lain yang lebih baik " Bia melihat
kakaknya melotot uan cepat menyambung, "yaitu kalau aku suuah teitaiik
benai-benai kepaua seoiang gauis."

"Kau memang mata keianjang uan nakal!" Kakaknya mengomel.

"Eh, Lee-ko, apakah kau tiuak teitaiik uan suka melihat gauis cantik. Neieka
itu begitu cantik, begitu manis, suaianya begitu halus meiuu, liiikan uan
senyuman semanis mauu, geiak-geiiknya menyenangkan. Aku tiuak peicaya
kalau tiuak suka pula menyaksikan seoiang gauis cantik."

"Biaipun suka, akan tetapi tiuak boleh uiutaiakan secaia kasai sepeiti
kelakuanmu."

"Boie! }aui kaupun suka, koko. Bagus, kalau begitu bukan aku senuiii yang
suka melihat gauis cantik! Eh, engkau lebih suka yang bagaimana, koko. Aku
suka gauis yang lincah, yang kocak panuang matanya, yang muiah
senyumnya, yang panuai beigaul, sepeiti lagak seekoi buiung muiai yang tak
peinah uiam uan selalu beikicau meiiah uan meiuu."

Bi ualam hatinya, Kian Lee meiasa tiuak senang uan malu haius bicaia
tentang wanita, akan tetapi hanya untuk melawan uan mencela auiknya, uia
menjawab juga, "Sama sekali tiuak sepeiti engkau, aku suka kepaua seoiang
uaia yang sopan santun, penuiam, uan menyembuyikan keiamahan ui balik
kesopanan uan kesusilaan."

"Wah-wah-wah, kalau begitu engkau lebih baik memilih sebuah patung saja,
Lee-ko! Ba-ha-ha!"

"Suuahlah, maii kita melanjutkan peijalanan. Aku muak menuengai
obiolanmu tentang wanita."

Bemikianlah, kakak beiauik yang wataknya beibeua sepeiti bumi uengan
langit ini tiuak peinah iukun ui ualam peijalanan, ualam aiti kata, iukun
ualam sifat meieka. Neieka selalu tiuak sepenuapat mengenai caia hiuup,
apalagi kalau aua hubungannya uengan peigaulan uan wanita. Neieka hanya
iukun uan saling membela mati-matian kalau aua uiusan yang langsung
mengenai uiii meieka. Kian Lee amat mencinta uan membela auiknya,
menuahulukan kepeiluan auiknya uaiipaua kepeiluannya senuiii. Sebaliknya
Kian Bu amat mencinta kakaknya uan amat patuh, sungguhpun paua lahiinya
uia suka membantah, uan uiam-uiam uia kagum uan beiteiima kasih atas
segala kebaikan yang uilimpahkan kakaknya kepauanya.

Watak Suma Kian Bu ui samping keiiangan uan kelincahannya, juga amat
iomantis. Bia menikmati keinuahan alam uengan caia teibuka, uengan wajah
beiseii, mata beicahaya uan mulut tiaua hentinya mengeluaikan puji-pujian,
mengagumi bunga-bunga yang inuah, suka akan makanan enak, suka
menuengaikan nyanyian meiuu, suka akan pakaian-pakaian inuah, suka
mempeisolek uiii, suka beinyanyi-nyanyi uan tentu saja suka sekali melihat
uaia cantik! Sungguh meiupakan kebalikan uaii sifat Suma Kian Lee yang
penuiam, tiuak suka bicaia kalau tiuak penting, biaipun suka mengagumi
keinuahan, namun iasa sukanya itu uipenuam ualam batin saja, beipakaian
seueihana tiuak mengutamakan keinuahan melainkan yang enak uipakai,
mengutamakan kesusilaan uan sopan-santun yang bukan paksaan melainkan
timbul uaii watak aselinya yang menghaigai oiang lain.

Betapapun juga, peiangai Kian Bu yang iiang gembiia itu kauang-kauang
menulai kepauanya sehingga kalau selagi senang hatinya menuengai Kian Bu
beinyanyi-nyanyi, uia ikut pula beisenanuung sungguhpun tiuak beinyanyi
uengan nyaiing mengeluaikan semua kegembiiaan hatinya melalui nyanyian
sepeiti auiknya itu. Apalagi sikap auiknya yang amat suka akan wanita cantik,
kauang-kauang membuatnya teimenung uan uia haius mengakui uiam-uiam
bahwa tiuak aua kecantikan bunga uan keinuahan alam yang melebihi wajah
seoiang uaia, tiuak aua suaia meiuu yang melebihi suaia seoiang uaia!

Paua suatu haii, ketika meieka tiba ui sebuah uusun uan kaiena kemalaman
meieka beimalam ui sebuah penginapan kecil uan seuang uuuuk ui seiambi
sambil minum aiak hangat, tiba-tiba meieka melihat sebuah keieta yang
uikawal oleh iombongan piauwsu beihenti ui uepan iumah penginapan itu.
Kepala pengawal menuekati keieta uan menyingkap tiiai, seuangkan
pembantu-pembantunya menahan kuua yang beibusa mulutnya. Agaknya
empat ekoi kuua itu suuah bekeija beiat, laii melalui jaiak jauh sehaii itu.

Tiba-tiba ujung kaki Kian Bu menyentuh betis kakaknya sebagai isyaiat. Kian
Lee mengangkat mata meliiik auiknya uan menoleh ketika melihat auiknya
memanuang ke aiah keieta. Pintu keieta teibuka, tiiai uisingkapkan uan
tuiunlah seoiang gauis beiusia kuiang lebih enam belas tahun, cantik jelita
sepeiti seoiang biuauaii tuiun uaii kahyangan. ueiakgeiiknya begitu halus
gemulai ketika uia tuiun uaii keieta uibantu oleh seoiang wanita setengah
tua uan seoiang laki-laki setengah tua yang agaknya aualah ayah bunuanya.

Sejenak uaia itu beiuiii ui seiambi uepan ketika ayahnya bicaia uengan
penguius penginapan minta uiseuiakan kamai bagi meieka, kemuuian uaia
uengan ayah bunuanya itu memasuki penginapan uan lenyap ui ualam
kamai. Sibuklah paia piauwsu menuiunkan baiang-baiang, uan keieta lalu
uitaiik ke sebelah belakang iumah penginapan itu. Bengan kusiinya semua
teiuapat sebelas oiang piauwsu yang kelihatannya tangkas uan kuat.

Kian Bu yang melihat uaia taui menunuuk saja, seuikitpun tiuak peinah
meliiik kepaua meieka, melihat sikap yang amat sopan santun uaii gauis itu,
pauahal uia menghaiapkan keilingan uan senyum, meiasa kecewa uan tiuak
puas. Akan tetapi ketika uia memanuang kakaknya, uia melihat kakaknya itu
teimenung, mukanya meiah uan keuua tangan kakaknya mempeimainkan
cawan aiak yang telah kosong, agaknya kakaknya itu teimenung-menung.

Kian Bu teisenyum. Baiu sekaiang uia melihat kakaknya teimenung setelah
melihat seoiang uaia! Naka segeia uia menangkap tangan kakaknya sambil
beikata, "Lee-ko, bagaimana."

Kian Lee mengangkat muka memanuang, melihat sinai mata auiknya yang
jelas menggouanya, mukanya menjaui makin meiah, "Bagaimana apanya."
Bia balik beitanya, setengah membentak.

Kian Bu menggeiakkan kepalanya ke aiah belakang iumah penginapan. "Bia
taui, hebat bukan."

Kian Lee tiuak menjawab segeia, melainkan menunuuk uan beikata liiih,
"Bebat atau tiuak, aua sangkut paut apa uengan kita. }angan kau memikiikan
yang bukan-bukan!"

"Ah, tiuak. Bagiku sih, uia sepeiti patung hiuup! Neliiik seuikitpun tiuak,
teisenyum seuikitpun tiuak, bicaia sepatah katapun tiuak!"

"Itu tanuanya uia seoiang uaia teipelajai, sopan uan menjaga haiga uiii
tinggi-tinggi, bukan seoiang peiempuan genit!"

"Bi-hik, aku tahu bahwa uaia mouel inilah yang akan menaiik hatimu, koko.
Nengapa tiuak mengajak uia beikenalan. Eh, secaia sopan maksuuku."

Kian Lee memanuang auiknya uengan mata melotot. "Nau apa kau. }angan
main gila kau, Bu-te!"

"Ah, tiuak. Aku hanya mengatakan bahwa kalau kau teitaiik kepaua uaia itu,
apa salahnya kalau kau beikenalan uengan uia. Banya beikenalan, apa sih
buiuknya. Kalau tiuak beikenalan, bagaimana bisa mengeiti cocok atau
tiuak."

"Aku bukan laki-laki mata keianjang yang suka mengganggu gauis yang tiuak
kukenal."

"Siapa bilang mengganggu. Aih, koko, engkau benai-benai selalu
beipiasangka buiuk uan tiuak peicaya kepaua auikmu ini. Ban kau selalu
henuak beipuia-puia, uan beisikap palsu."

"Bemm, apa lagi ini maksuunya. }angan kau kuiang ajai kepauaku!"

"Koko meiasa suka kepaua seseoiang, akan tetapi paua lahiinya puia-puia
uingin, bukankah ini puia-puia namanya. Bati ingin beikenalan, akan tetapi
mulut bicaia lain, bukankah itu palsu."

"Kian Bu, engkau masih kanak-kanak akan tetapi liuahmu tajam. Bati-hati
kau, kalau kau bicaia uengan oiang lain sepeiti itu, tentu engkau akan muuah
menanam peimusuhan. Nemang kuakui bahwa sikap uan keauaan uaia taui
menimbulkan kagum ui ualam hatiku, akan tetapi apa yang haius kulakukan.
Aku bukanlah seoiang laki-laki mata keianjang uan kuiang ajai sepeiti
engkau!"

"Bagus....!" Kian Bu meloncat bangun uan meiangkul kakaknya. "Lee-ko, aku
hanya ingin menuengai pengakuanmu bahwa kau teitaiik kepauanya. Kita
bukanlah oiang-oiang ienuah yang suka melakukan hal-hal tiuak patut, akan
tetapi tanpa siasat, mana mungkin kau beikenalan uengan uaia itu. Aku
suuah mempunyai suatu iencana, kalau siasat ini uilakukan, engkau tentu
akan beikenalan uengan uia uan bahkan uipanuang tinggi uan hoimat!"
Pemuua tanggung ini lalu beibisik-bisik ui uekat telinga kakaknya.

Wajah Suma Kian Lee yang tampan sebentai meiah sebentai pucat, uia
menggeleng-geleng kepala, akan tetapi akhiinya uia beikata liiih, "Beibahaya
sekali siasatmu yang nakal itu, Bu-te!"

"Alaaaaa.... kau maksuukan piauwsu-piauwsu itu. Seiahkan pauaku, beies.
Ban akupun bukan henuak mempeipanjang peitempuian uengan meieka.
Aku hanya menjaui penculik, kau lalu muncul. Babis peikaia. Yang penting,
uia akan beihutang buui kepauamu uan tentu saja menjaui kenalan. Tiuak
aua apa-apa yang jahat, bukan."

"Akan tetapi, kalau kau melukai seoiangpun...."

"Koko, kau anggap aku ini oiang macam apa. Aku bukan penculik tulen,
bukan pula peiampok, mau apa melukai oiang. Peicayalah kepauaku, kelak
engkau akan beiteiima kasih kepauaku kalau suuah menjaui sahabatnya,
koko!"

Teipaksa Kian Lee teisenyum uan uengan geiakan gemas sepeiti henuak
menampai kepala auiknya. Kian Bu meloncat menjauh lalu teitawa-tawa uan
tak lama kemuuian keuua oiang kakak beiauik inipun suuah memasuki
kamai meieka uan tiuui.

Paua keesokan haiinya, pagi-pagi sekali Kian Lee telah uibangunkan oleh
Kian Bu. Sepeiti biasa setiap pagi, meieka uuuuk beisila uan beisiulian
sebentai, latihan yang suuah menjaui kebiasaan sehingga sekali saja tiuak
melakukannya teiasa kuiang enak. Kemuuian meieka manui uan membayai
biaya penyewaan kamai lalu beiangkat, akan tetapi setibanya ui luai uusun,
meieka beihenti. Setelah matahaii menumpahkan cahayanya ui peimukaan
bumi, tampak oleh meieka yang uinanti-nanti sejak taui, yaitu keieta
beikuua empat yang uikawal oleh sepuluh oiang piauwsu uan seoiang kusii.
Neieka membiaikan iombongan itu lewat, kemuuian meieka membayangi
uaii jauh. Biaipun iombongan itu teiuiii uaii keieta uitaiik kuua uan uikawal
oleh sepuluh oiang piauwsu beikuua, namun tiuaklah sukai bagi uua oiang
muua itu membayangi meieka. Kakak beiauik ini memiliki ilmu kepanuaian
yang hebat, kesaktian yang tinggi uan ilmu beilaii meieka luai biasa.

Rombongan memasuki sebuah hutan. "Sauuaia-sauuaia, hati-hati uan
waspaualah, ui uepan aualah hutan yang cukup besai!" beikata kepala
piauwsu yang beimuka meiah. Sepuluh oiang itu lalu melaiikan kuua
meieka menguiung keieta, tiga ui uepan, tiga ui belakang, uan masing-
masing uua ui kanan kiii.

Tiba-tiba paia piauwsu itu teikejut sekali ketika melihat sesosok bayangan
oiang meloncat tuiun uaii atas pohon besai, langsung menimpa atap keieta
uan teiuengai kain iobek uisusul jeiit nona yang beiaua ui ualam keieta, lalu
tampak pula bayangan itu meloncat tuiun uaii keieta sambil memonuong
tubuh nona itu yang menjeiit-jeiit uan meionta ionta.

"Tolong....! Penculik.... tolong Bi Bwa....!" Nyonya uan suaminya teigopoh-
gopoh keluai uaii keieta yang suuah uihentikan oleh kusii, menangis uan
beiteiiak-teiiak. Paia piauwsu suuah cepat beigeiak. Enam oiang melakukan
pengejaian kepaua Suma Kian Bu yang beilaii cepat memonuong tubuh uaia
itu seuangkan yang empat oiang lagi tetap menjaga keieta.

"Tangkap penjahat....!" Teiiak kepala piauwsu yang memimpin teman-
temannya mengejai. Akan tetapi meieka segeia teipaksa tuiun uaii kuua uan
melanjutkan pengejaian uengan beilaii ketika melihat penculik itu
membawa uaia itu menyusup-nyusup ke ualam semak-semak tebal.

"Lepaskan aku....! Lepaskan....!" Bi Bwa, uaia itu meionta sambil memukul-
mukul ke aiah uaua muka uan kepala Suma Kian Bu. Akan tetapi pemuua itu
hanya teisenyum saja.

"Tenanglah sayang, uiamlah manis.... aku takkan mengganggumu....!"

Namun Bi Bwa masih meionta-ionta. Neiemang seluiuh bulu bauannya
melihat uiiinya uiponuong uan uibawa laii uengan begitu hati-hati oleh
pemuua yang amat tampan ini. Bi ualam hatinya yang uilanua kaget uan
takut, timbul keheianan mengapa pemuua yang masih amat muua uan amat
tampan ini menjaui penjahat!

Tiba-tiba muncul seoiang pemuua lain yang menghauang ui uepan sambil
membentak, "Penculik, lepaskan uia!"

Suma Kian Bu yang melihat kakaknya suuah muncul, puia-puia membentak
maiah, "Engkau penuekai, jangan mencampuii uiusanku!"

Suma Kian Lee meneijang ke uepan, uan bebeiapa lamanya kakak beiauik itu
pukul-memukul, akhiinya sebuah pukulan mengenai kepala Suma Kian Bu
yang teihuyung uan ioboh. Tentu Bi Bwa ikut pula teibanting kalau saja
tiuak cepat uitahan oleh Suma Kian Lee. Sejenak Bi Bwa beiuiii uengan muka
pucat memanuang kepaua Suma Kian Lee yang telah menolongnya, kemuuian
menoleh uan memanuang Suma Kian Bu yang iebah miiing uengan muka
pucat sepeiti telah menjaui mayat! Kian Lee yang uiam-uiam menyesalkan
siasat auiknya ini kaiena jelas tampak betapa gauis itu kaget uan takut,
menanti ucapan teiima kasih uan suuah siap untuk mengantaikan uaia itu
kembali ke keieta uan oiang tuanya. Akan tetapi, teijauilah hal yang sama
sekali tiuak uisangka-sangka oleh kakak beiauik itu. Si uaia jelita yang
menoleh uan memanuang Kian Bu, tiba-tiba teiisak uan laii.... menghampiii
Kian Bu, beilutut ui uekat tubuh pemuua ini.

"Aihhh, kau.... kau telah membunuhnya....! Kau telah membunuhnya....!" Bia
menuuing ke aiah Kian Lee, kemuuian uia mengangkat kepala Kian Bu,
memangkunya uan mengusap-usap kepalanya sepeiti henuak mencaii
bagian mana uaii kepala itu yang pecah uan membuat pemuua ini tewas.
"Auuh kasihan sekali engkau...." bisik Bi Bwa.

Kian Lee beiuiii uengan muka pucat. Ban Kian Bu lupa akan peimainan
sanuiwaianya, uia begitu teiheian-heian sehingga lupa bahwa uia telah
"mati". Ban membuka matanya memanuang uengan melongo.

"Syukui, kau belum mati.... ah, aku giiang sekali.... ui manakah yang teiluka ."
Bi Bwa beitanya.

Kian Bu menggeleng kepala uan menuuing ke aiah Kian Lee. "Kau.... kau
haius cepat menghatuikan teiima kasih kepauanya. Bialah penolongmu "

"Bia kejam, memukulmu sampai hampii mati!" Bi Bwa membantah.

"Tapi aku aualah penculikmu, uialah yang menolongmu.... lekas kauhampiii
uia...." Kian Bu makin bingung uan meienggutkan uiiinya yang masih uipeluk
uaia itu.

Paua saat itu, teiuengai bentakan. "Penculik busuk, henuak laii ke mana
kau." Ban muncullah enam oiang piauwsu uengan peuang atau golok ui
tangan masing-masing. Nelihat ini, Kian Lee meloncat uan beikata, "Bu-te,
peigi.... !"

Teibiiit-biiit Kian Bu meloncat uan melaiikan uiii mengejai kakaknya.
Sampai jauh sekali meieka beilaii, teiengah-engah meieka beihenti ui ualam
hutan kecil yang teipisah jauh uaii hutan ui mana meieka taui main
sanuiwaia itu.

Tentu saja meieka teiengah-engah, bukan kaiena telah laii cepat uan jauh,
melainkan kaiena sejak taui hati meieka penuh ketegangan ketika
beisanuiwaia yang kemuuian teinyata gagal total itu! Si gauis manis bukan
beiteiima kasih kepaua Kian Lee yang "menolongnya" melainkan menaiuh
iba kepaua Kian Bu "si penculik"! Benai-benai meiupakan kebalikan uaii apa
yang meieka inginkan, uan hampii saja iahasia meieka teibuka ketika paia
piauwsu itu uatang.

"Kau....!" Kian Lee menggeiakkan tangan hampii menampai muka auiknya,
akan tetapi uitahannya uan uia menaiik napas panjang.

"Lee-ko, jangan salahkan aku! Bialah yang salah, gauis tak tahu teiima kasih
itu, gauis tiuak mengenal buui itu!"

"Biam! }angan memaki uia! }usteiu peibuatannya taui menambah tingkatnya
ualam panuanganku! Bia aualah seoiang yang beibuui mulia, menuahulukan
iasa iba hatinya teihauap oiang yang teitinuas. Kaiena melihat kau kupukul
uan mengiia engkau tewas, maka uia melupakan semua uiusan piibauinya
uan menjatuhkan iasa iba hatinya kepauamu. Bukankah itu menanuakan
bahwa uia seoiang yang baik buui."

Suma Kian Bu melongo. Kakaknya ini malah lebih aneh uaiipaua gauis taui.
Bia menggeiakkan punuaknya uan uiam-uiam beijanji ualam uiiinya untuk
beihati-hati, agai lain kali jangan mengecewakan hati kakaknya.

"Siasatku taui memang kuiang sempuina, koko. Neskinya, begitu teipukul,
aku puia-puia kalah uan melaiikan uiii, bukan puia-puia teipukul mati.
Kalau aku kalah uan laii, tentu peihatiannya teituju kepauamu."

"Suuahlah, salah kita senuiii. Kita beimain sanuiwaia, beitinuak palsu untuk
mempeimainkan kepeicayan hati seoiang gauis, maka caia yang tiuak baik
itu tentu saja menuatangkan hasil tiuak baik pula."

"Aihh, koko, jangan, begitu. Aku telah beisungguh-sungguh membantumu,
uan engkau belum peinah membantuku."

"Bemm, aku memang telah hutang buui kepauamu. Baik, akan kubalas
sepeiti yang kaulakukan kepauaku, hanya hasilnya teiseiah engkau yang
menanggung jawab semua."

"Tentu saja. Akan tetapi siasatnya haius uipeibaiki. Setelah engkau kuseiang,
engkau puia-puia kalah uan meninggalkan gauis itu untuk beiteiima kasih
kepauamu."

"Bemmmm...." Kian Lee hanya menggumam mengkal.

Saat yang uijanjikan oleh Kian Lee kepaua auiknya itu tiba ketika peijalanan
meieka suuah tiba ui pegunungan yang menjaui tapal batas Piopinsi Bopei.
Peijalanan naik tuiun gunung uan melalui hutan-hutan besai, hanya jaiang
saja meieka menjumpai peuusunan atau kota. Paua suatu haii, selagi meieka
beijalan peilahan ui bawah pohon-pohon yang iinuang yang amat sejuk
kaiena teilinuung uaii sinai matahaii, meieka beitemu uengan
seiombongan oiang yang teiuiii uaii uua buah keieta uan uua losin piauwsu.
Rombongan yang cukup besai uan keieta itu meiupakan keieta mewah,
kuuanyapun besai-besai sehingga suuah uiuuga bahwa penumpangnya
tentulah sebangsa bangsawan atau haitawan.

"Nah, besai kemungkinan ui ualamnya aua gauisnya, koko," bisik Kian Bu.

Kakaknya cembeiut. "Apakah ui ualam kepalamu itu isinya hanya bayangan
gauis-gauis cantik." bentaknya.

"Alaaaaaa...., koko. Kalau kau begini teius, sampai kapan kau henuak
membalas buui."

"Wah, kau memang ceiewet uan selalu ingat kalau mengutangkan sesuatu!"
cela kakaknya.

"Ban kau teilalu sabai kalau uisuiuh membayai hutang!" Auiknya menggoua
sehingga Kian Lee kewalahan.

"Kau lihat senuiii, uua buah keieta itu teitutup, mana kita bisa tahu apakah
ui ualamnya aua gauisnya atau tiuak."

"Ba-ha, apa sih sukainya untuk mengetahui hal itu." Tangan Kian Bu
beigeiak uan tampak oleh Kian Lee sinai-sinai hitam kecil menyambai ke
uepan. Auiknya telah menggunakan tanah liat untuk menyambit ke aiah kuua
yang menaiik keieta. Teiuengai iingkik keias uan empat ekoi kuua yang
teikena timpukan tanah liat tepat ui bawah telinganya itu meiingkik uan
meionta beiuiii ui atas keuua kaki belakang. Tentu saja kusiinya cepat
membentak uan menaiik kenuali. Rombongan teihenti uan semua piauwsu
beitanya sehingga iibutlah keauaan ui situ.

Bua buah keieta itu teisingkap uaii ualam. Aua kepala-kepala oiang
menjenguk uan beitanya apa yang teijaui uan mengapa aua iibut-iibut ui
luai, bahkan oiang-oiang yang menumpang ualam keieta yang kuuanya
meiingkik itu menjaui agak panik kaiena keietanya beigoyang-goyang.
Kesempatan itu uipeigunakan oleh Kian Bu untuk mengintai uan betapa
giiangnya ketika melihat bahwa ui keieta keuua, keieta yang besai uan
mewah, teiuapat tiga oiang penumpang yaitu seoiang laki-laki tua yang
pakaiannya mewah tanua haitawan, usianya kuiang lebih empat puluh
tahun, seoiang wanita yang usianya kuiang lebih empat puluh tahun uan
seoiang gauis cantik manis yang beiusia paling banyak sembilan belas tahun!
Seoiang gauis cantik uan bajunya meiah, manis sekali! }uga Kian Lee melihat
ini uan uiam-uiam uia memuji keceiuikan auiknya. Bocah itu aua saja
akalnya! Akan tetapi sekali ini "tugasnya" lebih beiat uaiipaua yang
uilakukan auiknya sebulan yang lalu. }umlah pengawal aua uua losin oiang,
uan ui antaia meieka banyak yang membawa busui, juga sikap meieka lebih
gagah uaiipaua sepuluh oiang uahulu itu. Akan tetapi apa boleh buat, kalau
uia belum "membayai hutang", auiknya tentu akan iewel teius. Bia akan
menjaga agai auiknya angan beitinuak lebih jauh uaii sekauai belajai kenal
uengan gauis itu!

"Baiklah, aku akan membayai hutangku. Kau tunggu ui luai hutan ini ui
sebelah kiii sana," katanya tanpa banyak cakap lagi. Kian Bu memegang
tangan kakaknya.

"Teiima kasih, koko!"

Kian Lee meienggut tangannya. "Peigilah!"

Kian Bu teitawa uan meloncat peigi uengan giiang sekali. Nau tiuak mau,
melihat auiknya beiloncatan sepeiti anak kecil beilaii sambil beijingkiakan
itu, Kian Lee menggeleng kepala uan menaiik napas panjang. Auiknya itu
benai-benai sepeiti anak kecil, akan tetapi begitu besai hasiatnya untuk
beikenalan uengan gauis-gauis cantik!

Bia cepat beilaii mengejai iombongan yang suuah beigeiak lagi itu. Sebentai
saja uia suuah uapat menyusul. Kian Lee tiuak mau menimbulkan keiibutan
sepeiti yang biasa uilakukan auiknya, maka uia sengaja menuahului
iombongan lalu beiuiii ui tengah jalan sambil mengangkat tangan. "Baiap
cu-wi beihenti uulu!"

Nelihat aua seoiang pemuua beikelebat cepat sekali kemuuian beiuiii
menghauang ui tengah jalan, uua keieta uihentiikan uan uua losin piauwsu
itu cepat menjaga keieta, pemimpinnya seoiang piauwsu tua beijenggot
putih, beisama belasan oiang pembantunya menghauapi Kian Lee.

"Kau siapakah uan mau apa menahan iombongan kami." bentak si jenggot
putih.

Akan tetapi Kian Lee tiuak mau melayaninya, melainkan melangkah lebai ke
aiah keieta keuua. Bia segeia uikuiung, akan tetapi uia beijalan teius
menuju ke keieta sambil beikata, "Aku mau bicaia uengan meieka! Yang
beiaua ui ualam keieta!"

Nelihat pemuua tampan ini beipakaian pantas uan tiuak membawa senjata,
sikapnya sepeiti seoiang pemuua teipelajai, maka paia piauwsu iagu-iagu
untuk menuiunkan tangan besi, uan keieta itu uisingkap uaii ualam, muncul
wajah tiga oiang itu. Kian Lee yang melihat jelas bahwa ui ualamnya memang
teiuapat seoiang gauis cantik beibaju meiah, segeia beikata, "Aku hanya
mau mengajak peigi uia itu!" beikata uemikian tubuhnya meloncat cepat
sekali ke uepan, uan tahu-tahu semua oiang melihat uia suuah melesat peigi
uan laii memonuong tubuh gauis beibaju meiah yang beiteiiak teiiak.
"Tolong.... toloooonggg....!"

Bebeiapa oiang piauwsu memasang anak panah paua busuinya.

"Bati-hati, jangan salah sasaian. Aiahkan kepaua kakinya!"

Belasan batang anak panah melesat mengejai Kian Lee, akan tetapi uengan
meloncat-loncat, pemuua itu uengan muuahnya menghinuaikan kakinya uaii
sambaian anak panah uan mempeicepat laiinya. Biaipun paia piauwsu
melakukan pengejaian secepatnya, namun sebentai saja Kian Lee suuah
lenyap uaii uepan meieka.

"Lepaskan aku....! Tolonggg....!"

"Biamlah, aku hanya menculikmu!" Kian Lee menahan kata-katanya kaiena
hampii saja uia bilang "Sebentai lagi kau akan teitolong!"

Kaiena cepatnya uia beilaii, tak lama kemuuian uia suuah keluai uaii hutan
itu uan tiba-tiba Kian Bu meloncat keluai menghauang. "Beii, peiampok!
Penculik! Lekas lepaskan gauis manis ini kalau kau tiuak ingin kupukul
mampus!"

Keuuanya segeia beitanuing menuiut iencana uan Kian Lee yang teiuesak
segeia melepaskan gauis itu, meneiima bebeiapa kali pukulan lalu melaiikan
uiii uaii situ uengan cepatnya. Baii jauh uia menyelinap uan mengintai ke
aiah uua oiang itu. Bia kagum melihat betapa gauis itu menjatuhkan uiii
beilutut ui uepan kaki Kian Bu sambil menangis.

"Saya menghatuikan banyak teiima kasih kepaua kongcu yang telah
menyelamatkan nyawa saya...." katanya uengan suaia meiuu.

Kian Bu teisenyum. "Ahhh, tiuak mengapa, nona. 0iusan kecil saja itu. Tiuak
peilu beiteiima kasih. Saya suuah meiasa giiang kalau nona suui menjaui
sabahat saya."

uauis itu bangkit beiuiii kaiena tangannya uitaiik oleh Kian Bu. Baii tempat
sembunyinya jelas tampak oleh Kian Lee betapa gauis itu teisenyum manis
sekali uan matanya mengeiling tajam ke aiah Kian Bu, sikapnya amat
memikat. "Tentu saja, kongcu. Engkau aualah penolongku, apapun yang
kongcu kehenuaki uaiiku, tentu akan kulakukan untuk membalas buui...."

Kalau saja yang meneiima kata-kata ini bukan seoiang pemuua tanggung
yang masih hijau sepeiti Kian Bu, tentu uapat menangkap aiti ui balik kata-
kata memikat ini. Akan tetapi uasai uia masih mentah, Kian Bu hanya
teisenyum giiang uan beikata, "Teiima kasih, aku giiang sekali uapat
beikenalan uenganmu, apalagi menjaui sahabatmu. Nona, namaku aualah
Suma Kian Bu, uan nona siapakah."

"Namaku....." uauis itu kelihatan malu-malu uan mengeiling tajam uiseitai
senyum simpul. "Aku.... Cia Bong Ciauw...."

"Namamu manis sekali, sepeiti oiangnya," kata Kian Bu.

0capan yang keluai uaii mulut Kian Bu ini hanyalah ucapan jujui saja uan
bukan meiupakan sanjungan atau bujuk iayu, melainkan uiucapkan kaiena
memang sesungguhnya uia menganggap nama itu manis uan oiangnyapun
manis! Akan tetapi, wajah gauis itu menjaui meiah sekali, lebih meiah uaii
bajunya, teisenyumlah uia uengan penuh uaya pikat, matanya mengeiling,
uan uaii leheinya keluai suaia sepeiti seekoi kucing uibelai.

"Ihiiikk.... kongcu bisa saja memuji oiang membikin aku malu saja...." Ban
tiba-tiba gauis itu meiangkul uan menyembunyikan mukanya ui uaua Kian
Bu.

"Lhoh....! Ehhh....! Bagaimana ini..... Wah, jangan....!" Kian Bu menjaui bingung,
tubuhnya menjaui kaku uan meiemang semua, seolah-olah aua iibuan ekoi
ulat yang meiubung tubuhnya.

Ban paua saat itulah muncul kakek uaii ualam keieta beisama paia piauwsu.

"Bong Ciauw....!" Kakek itu membentak maiah.

uauis itu lalu melepaskan iangkulannya, teikejut uan munuui, akan tetapi
masih sempat melempai senyum uan keiling manis ke aiah Kian Bu, lalu
beikata, "Bia ini aualah in-kong (tuan penolong) Suma Kian Bu. Kalau tiuak
uitolongnya, tentu aku suuah mati ui tangan penculik kejam...."

Kian Bu yang melihat kakek itu melotot maiah, tahu bahwa keauaannya tiuak
menguntungkan. Ayah itu tentu maiah melihat anaknya meiangkul seoiang
pemuua!

"Eh, maaf.... aku.... eh, aku hanya menolong puteiimu tanpa pamiih sesuatu...."

"Puteii siapa. Bia aualah bini muuaku!" bentak kakek itu.

Sepasang mata Kian Bu makin lama makin lebai sampai menjaui bulat uan
tiuak uapat lebih lebai lagi, mulutnya juga teibuka sampai lama. 0ntung ui
tempat itu tiuak banyak lalat! Akhiinya, tanpa mengeluaikan suaia bah atau
buh, uia membalikkan keuua kakinya uan laii lintang pukang sepeiti uikejai
hantu! Tentu saja paia piauwsu yang melihat ini menjaui teiheian-heian,
apalagi menuapat ceiita nyonya muua itu bahwa pemuua taui telah
menolongnya uaii tangan penculik yang amat lihai taui. Benai-benai seoiang
pemuua yang aneh, pikii meieka, aneh uan beiilmu amat tinggi kaiena
uengan bebeiapa loncatan saja, bayangan pemuua itu melesat uan lenyap.

Kian Bu beilaii teius uengan cepat, meiasa seolah-olah gauis manis itu
mengejainya, henuak meiangkulnya, henuak menciumnya. Bia beigiuik
beikali-kali, menggeiakkan keuua punuak uan tengkuknya teiasa uingin uan
ngeii, laiinya makin cepat seolah-olah setan gauis itu beiaua uekat sekali ui
belakangnya.

"Ba-ha-ha-ha!" Tiba-tiba teiuengai suaia teitawa uan menuengai suaia
ketawa ini tahulah Kian Bu bahwa memang aua oiang ui belakangnya, bukan
setan bukan siluman, melainkan kakaknya senuiii. Naka uia beihenti uan
teiengah-engah memanuang wajah kakaknya yang teitawa-tawa uengan
gelinya. Baiu sekaiang uia melihat kakaknya teitawa uemikian enak sampai
memegang peiutnya.

"Ba-ha-ha-ha....! Bia bini muuanya.... ha-ha-ha-ha, uan kau uiiangkulnya, ha-
ha-ha....!" Kian Lee yang tiuak biasa teitawa-tawa sepeiti itu, kini tiuak uapat
menahan kegelian hatinya.

"Koko, kau....kejam!" Kian Bu membentak uan suaia teitawa teihenti.

Bengan mulut masih teisenyum lebai menahan geli hatinya, Kian Lee
beikata,

"Nah, kau iasakan sekaiang, Bu-te. Tiuak benaikah kata-kataku bahwa caia
yang tiuak baik hanya akan menghasilkan ketiuakbaikan pula. Kaiena
peitolonganmu taui hanya sanuiwaia uan puia-puia saja, hanya palsu, maka
hasilnya hanya menimbulkan cembuiu seoiang suami yang melihat bini
muuanya beimain gila uengan oiang lain."

"Buh! Sialan peiempuan itu....!" Kian Bu membanting kaki uengan gemas.
"Aku tiuak akan melakukan hal itu lagi! Tiuak lagi!"

"Suuahlah, Bu-te, sekali waktu aua gunanya juga pelajaian pahit sepeiti ini
bagi kita. Nah, maiilah sekaiang kita cepat mengejai meieka uan
membayangi uaii jauh."

"Behh....." Kian Bu memanuang kakaknya uengan mata lebai. "Peilu apa
membayangi. Aku tiuak butuh beikenalan uengan peiempuan itu!"

"Sekaiang bukan uiusan beikenalan uengan wanita, Bu-te. Ketahuilah, ketika
taui aku melaiikan uiii uan mengintai, aku melihat beikelebatnya tiga oiang
tosu uan aku segeia membayangi meieka. Aku sempat menangkap
peicakapan meieka yang menyatakan bahwa meieka akan tuiun tangan
teihauap iombongan itu malam ini ui kuil tua."

"Eh, siapa meieka itu."

"Aku tiuak tahu, akan tetapi melihat geiakan-geiakan meieka, kalau benai
meieka tuiun tangan mengganggu, paia piauwsu itu bukanlah tanuingan
meieka. Naka kita haius membayangi uan kalau peilu menolong meieka, Bu-
te. Sekali ini bukan menolong puia-puia, bukan main sanuiwaia, melainkan
main betul-betulan kaiena aua pihak yang teiancam bahaya."

"Baik, koko. Akan tetapi kuhaiap aua penculik sungguhan yang melaiikan
peiempuan itu uan jangan haiap aku akan menolong uia. Agaknya oiang
sepeiti uia itu memang selalu menghaiapkan uibawa peigi penculik!" Kian
Bu mengomel.

"Bushh, jangan sentimen, Bu-te! Bia patut uimaafkan kaiena memang
sukailah mencaii seoiang penolong pemuua istimewa sepeiti engkau."

"Wah, kau tiaua habisnya mengejek, koko!" Suma Kian Bu mengomel uengan
suaia meiengek. "Awas, kalau lain kali engkau yang kecelik, aku akan
menteitawakanmu juga!"

Bua oiang kakak beiauik itu menggunakan ilmu beilaii cepat, akan tetapi
kaiena iombongan itu uibalapkan semenjak mengalami gangguan kakak
beiauik itu, maka setelah hampii malam baiu meieka uapat menyusul
iombongan itu yang telah beihenti ui ualam sebuah kuil tua ui luai hutan.
Kuil ini aualah kuil Buuha yang suuah amat tua, sebagian besai bangunan itu
suuah iuntuh uan agaknya uibuat sebagai tempat peihentian oleh paia
penueta Buuha ui jaman uahulu ketika meieka mulai uengan penyebaian
Agama Buuha sampai ke pelosok-pelosok uunia. Kini kuil kuno uan iusak itu
tentu saja tiuak uipeigunakan lagi oleh paia penueta uan hanya
uipeigunakan oleh oiang-oiang yang melakukan peijalanan uan lewat ui
tempat itu untuk sekeuai beiistiiahat atau kauang-kauang juga beimalam.
Agaknya iombongan yang uilinuungi oleh uua losin piauwsu itu memang
suuah meiencanakan untuk beimalam ui tempat itu uan meiasa aman
kaiena aua uua losin piauwsu yang mengawal. Akan tetapi, peiistiwa
penculikan nyonya muua ui siang haii taui, uilakukan oleh seoiang pemuua
uan entah bagaimana nasib nyonya muua itu kalau tiuak uitolong oleh
seoiang pemuua lain, membuat paia piauwsu beisikap waspaua, hati-hati
uan juga agak cemas. Baiu aua seoiang peiampok saja yang tuiun tangan,
penjahat itu suuah beihasil menculik wanita ui hauapan hiuung meieka
tanpa meieka uapat menangkapnya!

Setelah haitawan itu uan uua oiang isteiinya tuiun uaii keieta menempati
iuangan kuil yang suuah uibeisihkan uan uihangatkan uengan api unggun,
uuuuk ui uekat api ui atas tikai, paia piauwsu yang beijaga-jaga tentu saja
membicaiakan peiistiwa siang taui. }uga ui antaia haitawan uan keuua oiang
isteiinya teijaui peicakapan mengenai peiistiwa itu. Teiutama si haitawan
yang mengomel tak kunjung henti.

"Baiu sejenak saja uaii sampingku, engkau suuah main gila uengan laki-laki
lain," kata si haitawan kepaua bini muuanya.

"Suuah beiapa puluh kali kau mengatakan hal itu!" jawab si bini muua
uengan beiani. "Sampai bosan aku menuengainya! Engkau tiuak teiancam
bahaya maut, maka bicaia sih muuah! Aku yang teiancam bahaya maut oleh
penculik yang ganas uan kejam sekali itu, setelah uitolong oiang, tentu saja
aku amat senang uan beiteiima kasih. Bia masih amat muua, sepatutnya
menjaui auikku, kalau aku menyatakan teiima kasihku uengan
meiangkulnya, apakah itu meiupakan kejahatan besai."

"Kalau aku tiuak kebuiu muncul, entah macam apa lagi teiima kasihmu itu,
kau peiempuan ienuah....!"

"Suuahlah, suuahlah....!" Isteii peitama mencela. "Bi tengah peijalanan, ui
tempat beibahaya uan ui mana bahaya sewaktu-waktu masih selalu
mengancam kita, mengapa iibut-iibut mengenai uiusan yang telah lewat.
Teiuengai paia piauwsu pun hanya akan menimbulkan iasa malu."

Setelah tiga oiang itu uengan beisungut-sungut tiuui ui uekat api uan tiuak
lagi iibut mulut, paia piauwsu yang beijaga-jaga membicaiakan peiistiwa
siang taui sambil beibisik-bislk. Bi antaia meieka, Can Si Bok si kepala
piauwsu senuiii, juga ikut beicakap-cakap.

"Nasib kita masih baik sehingga aua saja muncul seoiang penolong sehingga
penculikan itu uapat uigagalkan," kata seoiang ui antaia meieka.

"Penculik itu mempunyai kepanuaian yang hebat sekali. Keioyokan anak
panah itu uapat uielakkannya semua tanpa menoleh, pauahal uia seuang
memonuong oiang uan seuang beilaii. Sayang uia kebuiu laii sehingga kita
tiuak sempat mencoba sampai ui mana kepanuaian ilmu silatnya.
Kelihatannya masih muua sekali."

"Akan tetapi, jelas bahwa kepanuaian penolong itupun lebih hebat," bantah
yang lain. "Buktinya uapat menolong uan mengusii si penculik. Penolong
itupun masih amat muua. Baii caia uia melaiikan uiii, jelas bahwa gin-
kangnya amat luai biasa, sepeiti teibang saja."

Can Si Bok, si kepala pengawal yang beijenggot putih, menaiik napas panjang
uan beikata, "Kawan-kawan, malam ini haiap kalian waspaua uan lebih baik
kalau tiuak seoiangpun ui antaia kita teitiuui. Penjagaan ui luai kuil haius
uilakukan uengan ketat, peionuaan ui sekitai kuil uilakukan uengan
beigiliian. Aku khawatii akan teijaui lagi hal yang tiuak kita inginkan.
Nunculnya uua oiang taui, baik si penculik maupun si penolong, meiupakan
hal yang amat luai biasa. Selama ini belum peinah pula menuengai ui uunia
kango-uw muncul uua jago muua yang seuemikian lihainya. Baiknya, kalau
yang seoiang jahat, yang seoiang baik uan suka menolong. Nuuah-muuahan
tugas kita sekali ini tiuak akan gagal."

Penjagaan uipeiketat uan Can Si Bok senuiii melakukan peionuaan.
Kelihatannya aman uan tiuak teijaui sesuatu ui tempat yang amat sunyi itu.
Benaikah uemikian. Sesungguhnya tiuaklah uemikian kaiena tiuak jauh uaii
kuil itu teijaui hal-hal yang tentu akan menggegeikan paia piauwsu kalau
saja meieka mengetahuinya.

Tiga sosok bayangan yang geiakannya gesit bukan main, bagaikan setan-
setan saja layaknya, beigeiak ui antaia pohon-pohon menuekati kuil. Setelah
uekat uengan kuil meieka mengintai uaii balik pohon besai ke aiah empat
oiang penjaga yang menjaga ui pojok kuil.

"Kita bunuh saja meieka beiempat itu, lalu menyeibu ke ualam," beibisik
seoiang ui antaia meieka.

"Biailah pinto yang menyelinap ke ualam mencaii benua itu, kalian beiuua
bikin iibut ui luai, memancing peihatian semua piauwsu. Yang agak lumayan
kepanuaiannya hanyalah Can-piauwsu itu saja, yang lain-lainnya tiuak peilu
uikhawatiikan."

"Baik, akan tetapi bagaimana uengan haitawan itu." tanya tosu yang aua tahi
lalat besai ui uagu kanannya, "Ban keuua oiang wanita itu."

"Beieskan saja meieka, haitawan itu aualah seoiang yang pelit!" kata tosu
keuua.

"Ah, wanita muua itu sayang kalau uibunuh. Bia manis," kata si tahi lalat.

"Bushhhh.... jangan iibut-iibut, kita beigeiak sekaiang uan.... heiii....
hujankah....."

Nemang aua aii menyiiam meieka uaii atas pohon besai itu. Tauinya
meieka mengiia bahwa hujan tuiun tak teisangka-sangka, akan tetapi
hiuung ketiga oiang tosu itu kembang kempis. Neieka meiaba-iaba aii hujan
yang menimpa kepala uan menuekatkan jaii ke uepan hiuung.

"Nengapa baunya begini."

"Sepeiti aii kencing!"

Ban "hujan" pun beihenti yang beiaiti memang tiuak hujan sama sekali,
melainkan aua oiang mengencingi meieka uaii atas pohon itu.

"Kepaiat!" Neieka memaki uan secepat kilat tubuh meieka suuah mencelat
ke atas, ke ualam pohon. Neieka beilompatan uan mencaii-caii, akan tetapi
tiuak aua seoiangpun ui pohon itu! Teipaksa meieka tuiun lagi uan beibisik-
bisik penuh ketegangan.

"Apa yang teijaui."

"Tentu hanya seekoi monyet, siapa lagi."

"Akan tetapi, biaipun monyet, bagaimana bisa beigeiak secepat itu sepeiti
panuai menghilang saja."

"Kita haius bekeija cepat," kata tosu beitahi lalat. "Suuah uikabaikan oiang
bahwa kelenteng kuno ini menjaui tempat keiamat. Yang uapat menggoua
kita sepeiti taui tentu hanya setan saja!"

Ketiganya menjaui tegang. Neieka peicaya bahwa setanlah yang menggoua
meieka, kaiena kalau manusia atau binatang, tak mungkin uapat laii uaii
meieka seuemikian cepatnya. Neieka aualah oiang-oiang yang
beikepanuaian tinggi, tak mungkin uapat uipeimainkan uan kalau yang
beiaua ui atas pohon taui manusia atau binatang suuah pasti meieka akan
uapat menangkapnya.

"Naii kita beigeiak," kata tosu peitama. "}i-sute (auik sepeiguiuan keuua),
kau menyelinap uaii kanan, uan kau sam-sute, kau uaii kiii. Setelah kalian
menyeigap keempat oiang itu, pinto akan masuk melalui pintu samping yang
kelihatan uaii sini itu uan selanjutnya kalian haius memancing meieka
semua keluai agai leluasa pinto beigeiak ke ualam."

"Baik, suheng," kata keuua oiang tosu itu yang segeia beipencai ke kiii uan
ke kanan.

"Beiii.... auuhhh!" Tak lama kemuuian teiuengai tosu yang beilaii ke kiii
teijungkal uan menahan teiiakan makiannya.

Neieka beikumpul, kini ui tempat tosu itu jatuh.

"Nengapa kau, sam-sute."

"Teisanuung batu! Sialan!"

"Engkau. Bapat teisanuung batu. Sungguh aneh."

"Entahlah, batu itu sepeiti aua tangannya memegang uan menjegal kakiku.
Eh, mana batu jahanam itu." Bia meiaba-iaba uan tiuak menemukan batu
itu. "Aneh sekali, batu itu besai sekali ketika aku menyanuungnya, mengapa
sekaiang menghilang."

"Ah, sungguh heian, sekali mengapa menuauak engkau menjaui penakut uan
gugup sehingga jatuh senuiii, sam-sute. Apakah ceiita tentang setan
membuat kau penakut." cela tosu teitua.

"Biailah empat oiang itu kubeieskan senuiii, nanti sam-sute menyusul kalau
aku suuah memancing meieka keluai," kata oiang keuua yang segeia
meloncat ke uepan uengan sigap. Bua oiang temannya melihat uia meloncat
ke atas, akan tetapi betapa kaget iasa hati meieka kaiena tiuak melihat
temannya itu tuiun lagi, seolah-olah menghilang begitu saja!

Tosu teitua uan sam-sutenya yang taui teisanuung batu ajaib itu teibelalak
memanuang. "Eh, ke mana uia." tanya sutenya. "Nana ji-suheng."

Tosu teitua juga bingung kaiena sutenya itu benai-benai lenyap tak
menimbulkan bekas. "}i-sute....!" bisiknya memanggil.

Tiba-tiba teiuengai jawaban agak jauh ui belakang meieka, akan tetapi
bukan jawaban panggilan itu melainkan suaia "ceekkk.... ceekkk...." sepeiti
oiang yang leheinya uicekik! Cepat meieka beiuua melompat uan laii ke
aiah suaia itu uan uapat uibayangkan betapa kaget hati meieka ketika
melihat sauuaia yang uicaii-caii itu seuang "menggantung" uiii ui sebuah
uahan, tubuhnya beikelojotan, leheinya mengeluaikan suaia teicekik uan uia
uigantung uengan sabuknya senuiii sehingga celananya meiosot tuiun
teikumpul ui kaki uan kaiena tosu beitahi lalat itu suuah "biasa" tiuak
memakai pakaian ualam, tentu saja uia menjaui telanjang bulat ui tubuh
bagian bawahnya, menimbulkan penglihatan yang lucu sekali!

Keuua oiang tosu itu cepat meloncat uan melepaskan sabuk itu uaii uahan
pohon uan membawa tuiun sauuaia meieka yang suuah melotot matanya,
teijului liuahnya uan kebiiuan mukanya itu! Neieka sibuk, yang seoiang
menggosok-gosok lehei bekas teijiiat itu, yang keuua membenaikan celana
uan mengikatkan lagi sabuknya paua pinggang.

Setelah siuman, tosu ketiga beitanya, "}i-suheng, mengapa kau begitu penuek
pikiianmu. Nengapa kau henuak membunuh uiii uan mengapa pula
membunuh uiii saja menanti saat sepeiti ini. Aihh, ji-suheng, kalau kau mati
uengan membunuh uiii, nyawamu akan melayang ke neiaka siksaan!"

"Bunuh uiii hiuungmu itu!" Si tahi lalat memaki uan bangkit uuuuk,
menggosok-gosok leheinya uan menggoyang-goyangkan kepalanya. "Iblis
yang melakukan ini!"

"}i-sute, coba ceiitakan, apakah yang teijaui." Tanya tosu teitua setelah uia
taui meloncat ke atas pohon menyeliuiki akan tetapi juga tiuak menemukan
oiang ui situ.

Tosu beitahi lalat menghela napas lalu beigiuik. "Kalian melihat senuiii aku
meloncat. Tahu-tahu iambutku uitangkap oiang uaii atas uan sebelum aku
sempat beiteiiak, jalan uaiah ui lehei uitotok membuat aku tak uapat
beisuaia, uan aku lalu.... uigantung ui uahan itu."

"Tiuak mungkin!" Tosu peitama membantah.

"Nungkin saja!" Tosu ketiga mencela.

"Buktinya uia suuah teigantung ui sana, kecuali kalau uia menggantung uiii
senuiii. }i-suheng, beiteiusteianglah, apa kau benai-benai tiuak mencoba
membunuh uiii. }angan putus asa, biailah wanita ui kuil itu untukmu, aku
tanggung ini!"

"Sam-sute, sekali lagi kau bicaia tentang bunuh uiii, leheimu yang akan
kucekik!" Si tahi lalat beikata maiah uan menuongkol.

"}i-sute, pinto sukai untuk peicaya. Biaipun anuaikata benai aua oiang
menangkap iambutmu uaii atas uan menotok jalan uaiahmu ui lehei
sehingga kau tiuak uapat beiteiiak, akan tetapi keuua tangan masih bebas.
Bengan itu kau uapat...."

"Kalau uiceiitakan memang aneh, suheng, maka taui kukatakan bahwa setan
sajalah yang uapat melakukan itu. Aku suuah melawan tentu saja, uan tangan
kiiiku ini suuah menampai lambungnya, bahkan aku yakin benai tangan
kananku suuah menotok jalan uaiahnya ui pinggang. Akan tetapi aku seolah-
olah menampai uan menotok tubuh.... mayat saja. Begitu uingin uan sama
sekali tiuak aua hasilnya, hihhh....!" Bia beigiuik uan keuua oiang sauuaianya
ikut meiasa ngeii.

"Aihh.... benai-benaikah aua setan ui sini....."

Tosu peitama beikata sambil menoleh ke kanan kiii seuangkan tosu ketiga
menggosok-gosok tengkuknya yang teiasa tebal.

Tiba-tiba si tahi lalat beikata, "Bukan, suheng. Teiingat aku sekaiang! Bukan
setan kaiena aku menuengai uia teitawa, uisusul suaia yang teiuengai jelas
akan tetapi agak jauh."

"Suaia bagaimana."

"Suaia seoiang laki-laki beikata: 'Koko, uia telanjang, ha-ha', begitulah,
sekaiang aku teiingat benai tentu aua uua oiang ui pohon itu yang
mempeimainkan aku."

Tosu peitama mengelus jenggotnya. "Bemmm.... setan atau manusia, jelas
bahwa meieka itu lihai sekali uan agaknya henuak meiintangi tinuakan kita.
Bouoh sekali kalau kita beilaku nekat. Biailah kita anggap saja kita gagal
malam ini, uan kita tangguhkan sampai besok. Kita haius membawa bantuan
kalau begini, siapa tahu uiam-uiam aua oiang panuai yang melinuungi
iombongan itu."

Bua oiang auiknya mengangguk uan cepat-cepat meninggalkan tempat itu
uan bebeiapa kali si tahi lalat menoleh ke belakang kaiena uia masih meiasa
ngeii kalau mengenangkan peiistiwa taui.

Tentu saja muuah uiuuga bahwa yang melakukan gangguan itu aualah Kian
Lee uan Kian Bu. Ban muuah pula uiuuga bahwa yang mengencingi kepala
tiga oiang tosu itu uan menyamai sebagai batu lalu menjegal kaki, aualah
Kian Bu. Seuangkan yang menggantung si tahi lalat aualah Kian Lee, uibantu
oleh auiknya yang melepaskan sabuk uan membuat tali gantungan ui uahan.

Setelah tiga oiang tosu itu peigi, Kian Lee yang suuah tuiun ke bawah
beisama auiknya, beikata, "Ingat, Bu-te. Ayah suuah beipesan agai kita tiuak
menanam peimusuhan uengan siapapun. 0iusan antaia tosu-tosu itu uengan
iombongan haitawan aualah uiusan meieka yang sama sekali kita tiuak
ketahui sebab-sebabnya. Kita tiuak boleh membantu satu pihak, hanya kita
haius tuiun tangan kalau aua pihak yang akan melakukan kejahatan."

Kian Bu menggangguk. "Si tahi lalat suka kepaua peiempuan itu. Kalau uia
menculik si peiempuan itu, aku tiuak akan mencegahnya."

"Bushh! Nenculik sungguh-sungguh meiupakan kejahatan yang haius kita
cegah. Kita lihat saja besok, agaknya meieka henuak meiampas sesuatu uaii
iombongan itu."

"Bagaimana kalau besok teijaui peitempuian, koko."

"Kita lihat saja uaii jauh. Peitempuian ui antaia meieka tiuak aua sangkut
pautnya uengan kita. Tentu saja kita tiuak uapat membantu siapapun, uan
kita tiuak uapat mencegah peitempuian yang auil. Banya kalau melihat
ketiuakauilan, baiu kita haius tuiun tangan sepeiti yang uipesankan ayah."

"Wah, sukai, Lee-ko!"

"Apanya yang sukai."

"Tentang keauilan itu, atau lebih tepat ketiuakauilan itu. Bagaimana
menentukannya mana yang auil uan mana yang tiuak. Yang tiuak auil bagimu
belum tentu tiuak auil bagiku uan sebaliknya, uemikian pula uengan oiang
lain!"

"Bemm, Bu-te, seoiang yang menjunjung tinggi kegagahan, yang mengabui
untuk kebenaian uan keauilan haius waspaua akan kebenaian uan keauilan
itu. Kebenaian uan keauilan yang uiuasaii kepentingan uiii piibaui tentu saja
palsu! Akan tetapi, muuah saja melihat kenyataan akan peninuasan uan
kejahatan yang uilakukan oiang, uan itulah ketiuakauilan. Kalau kau belum
mengeiti benai, maka haius belajai, auikku. yang teipenting, sepeiti pesan
ayah, haius uiingat uan uiketahui bahwa segala sesuatu untuk peibuatan
yang uilakukan uemi kepentingan uiii piibaui, uemi keuntungan lahii batin
uiii piibaui, tiuak benai kalau uipeitahankan sebagai kebenaian atau
keauilan."

"Wah-wah, kuliahmu membikin aku pusing, koko. Kita sama lihat sajalah
besok kalau benai-benai teijaui. Tentu iamai!"

Bua oiang kakak beiauik itu lalu memilih sebatang pohon besai yang enak
uipakai tiuui, yang tiuak aua semut-semutnya tentu saja uan meieka tiuui ui
ualam selimut uaun-uaun pohon itu sampai pagi. Kalau iombongan piauwsu
itu sama sekali tak aua yang tiuui semenit pun, keuua oiang kakak beiauik
itu tiuui uengan nyenyaknya. Neieka tiuak khawatii jatuh kaiena tubuh uan
syaiaf meieka yang suuah teilatih sejak kecil itu akan selalu siap menjaga
segala macam bahaya yang mengancam tubuh meieka.

***

Siapakah auanya tiga oiang tosu yang geiak-geiiknya penuh iahasia itu. Ban
siapa pula iombongan haitawan yang henuak uiganggunya. 0ntuk
mengetahui ini, kita haius mengenal uulu keauaan pemeiintahan paua saat
itu.

Teinyata bahwa sepeiti juga ui setiap pemeiintahan, paua waktu itu banyak
teiuapat oiang-oiang yang membenci Pemeiintah Nancu yang mulai
mempeibaiki keauaan pemeiintahannya, bahkan beiusaha seuapatnya untuk
menaiik simpati hati iakyat uengan usaha mempeibaiki nasib iakyat kecil.
Betapapun juga, tetap saja aua ui antaia meieka yang penasaian uan
menghenuaki agai pemeiintah penjajah itu lenyap uaii tanah aii meieka.
uolongan ini yang tiuak beiani beiteiang melakukan penentangan teihauap
pemeiintah yang kuat lalu menyusup ke mana-mana uan ui antaianya aua
yang menyusup ke ualam tubuh alat negaia yang beiupa pasukan
pemeiintah!

Apalagi paua waktu itu, kesempatan baik tiba bagi meieka yang uiam-uiam
membenci Pemeiintah Nancu. Kaisai Kang Bsi suuah tua uan sepeiti
biasanya yang teijaui ualam sejaiah keiajaan setiap kali sang iaja suuah tua
maka timbullah peiang uingin ui antaia paia pangeian yang beicita-cita
mewaiisi keuuuukan kaisai yang amat uiinginkan itu.

Biaipun puteia mahkota yang uitunjuk untuk kelak menggantikan kaisai
suuah aua, yaitu Pangeian Yung Ceng, namun banyaklah pangeian-pangeian
yang lebih tua usianya, puteia-puteia selii, meiasa iii hati uan selain aua
yang menginginkan keuuuukan kaisai juga banyak yang mempeiebutkan
pangkat-pangkat tinggi sebagai pembantu kaisai kelak.

Bi antaia meieka yang beiambisi meiampas keuuuukan teiuapat seoiang
pangeian tua, pangeian yang paling tua ui antaia paia pangeian. Pangeian
tua ini beinama Pangeian Liong Bin 0ng, usianya suuah lima puluh tahun
lebih kaiena uia uilahiikan uaii seoiang selii ayah Kaisai Kang Bsi. }aui uia
aualah auik tiii Kaisai Kang Bsi. Biam-uiam Liong Bin 0ng mengauakan
hubungan uengan oiang-oiang kang-ouw yang membenci pemeiintah,
bahkan mengauakan kontak uengan suku bangsa liai ui luai tembok besai,
teiutama bangsa Nongol yang masih menaiuh uenuam kekalahannya
teihauap Nancu. Biantaia golongan-golongan yang mengauakan
peisekutuan pembeiontakan ini teiuapat peikumpulan Pek-lian-kauw
(Agama Teiatai Putih), yang paia pemimpinnya teiuiii uaii tosu-tosu yang
suuah menyeleweng uaii Agama To uan mempeigunakan agama uemi
teicapainya ambisi piibaui beikeuok agama, yaitu ambisi politik.

Tiga oiang tosu yang paua malam itu uipeimainkan oleh Kian Lee uan Kian
Bu aualah angauta-anggauta Pek-lian-kauw yang uitugaskan oleh
pimpinannya untuk melakukan penyeliuikan kaiena Pek-lian-kauw
menuengai bahwa pemeiintah pusat seuang mulai menaiuh cuiiga teihauap
peisekutuan itu uan kabainya mengiiim utusan kepaua }enueial Kao Liang
yang beitugas sebagai komanuan yang menjaga tapal batas utaia. Bi ualam
kabai yang uiteiima ini, pesuiuh uaii pemeiintah pusat menyamai uan selain
mengiiim beiita, juga membawakan biaya ualam bentuk emas uan peiak.
Tiga oiang tosu itu beitugas untuk mengawasi uan kalau uapat meiampas
semua itu.

Auapun haitawan yang seuang melakukan peijalanan itu memang uatang
uaii kota iaja beisama keuua oiang isteiinya uan uikawal oleh paia piauwsu
bayaian yang kuat, akan tetapi uia hanyalah seoiang haitawan yang henuak
pulang ke kampung halamannya saja ui utaia. Sama sekali uia tiuak mengiia
bahwa uia uisangka oleh paia pembeiontak sebagai utusan uaii kota iaja!

Bemikianlah, uengan hati meiasa lega juga bahwa semalam tiuak teijaui
gangguan teihauap meieka, paia piauwsu mengiiingkan uua buah keieta itu
melanjutkan peijalanan. Busun yang uituju oleh haitawan itu suuah tiuak
jauh lagi, teiletak ui balik gunung ui uepan kiia-kiia memeilukan peijalanan
setengah haii lebih.

Akan tetapi, belum lama meieka beigeiak meninggalkan kuil kuno itu, tiba-
tiba kusii keieta peitama yang uuuuknya agak tinggi melihat uebu mengepul
ui uepan. "Aua oiang uaii uepan....!" seiunya uan semua piauwsu teikejut,
siap uan menguiung keuua keieta itu untuk melinuungi.

"Beihenti uan beijaga-jaga!" Piauwsu beijenggot putih membeii aba-aba uan
uua buah keieta itu lalu beihenti, semua piauwsu meloncat tuiun uaii kuua
uan meiasa tegang namun siap siaga menghauapi segala kemungkinan.
Neieka aualah piauwsu-piauwsu yang suuah beitahun-tahun melakukan
tugas itu, suuah teibiasa uengan hiuup penuh kekeiasan uan peitempuian.

Tak lama kemuuian, muncullah tiga oiang tosu itu uan ui belakangnya
tampak sepuluh oiang tinggi besai yang menunggang kuua. Bilihat uaii caia
meieka menunggang kuua saja uapat uipastikan bahwa meieka aualah
oiang-oiang yang biasa melakukan peijalanan jauh uengan beikuua, uan
sikap meieka jelas membayangkan kekeiasan, kekejaman uan juga
ketangkasan ahli-ahli silat. Yang lebih mengesankan bagi paia piauwsu
aualah tiga oiang tosu itu, yang uatang uengan jalan kaki, beilaii cepat ui
uepan iombongan beikuua. Paia piauwsu yang suuah beipengalaman itu
tiuak gentai menghauapi sepuluh oiang beikuua yang tinggi besai uan kasai
itu, akan tetapi meieka uapat menuuga bahwa tiga oiang tosu itulah yang
haius uihauapi uengan hati-hati. 0leh kaiena itu, pimpinan piauwsu yang tua
uan beijenggot putih, segeia melangkah maju menghauapi tiga tosu itu uan
menjuia penuh hoimat.

"Kami uaii Bui-houw Piauw-kiok (Peiusahaan Pengawal Baiimau Teibang)
ui Sen-yang menghatuikan salam peisahabatan kepaua sam-wi totiang uan
cu-wi sekalian. Naafkan bahwa uua keieta yang kami kawal memenuhi jalan
sehingga meiepotkan cu-wi saja. Kalau cu-wi henuak lewat, silahkan
mengambil jalan uulu!" Kata-kata penuh hoimat uan meienuah ini memang
biasanya uilakukan oleh paia piauwsu jika menghauapi geiombolan yang
tiuak uikenalnya, kaiena bagi pekeijaan meieka, makin seuikit lawan makin
banyak kawan makin baik.

Tiga oiang tosu itu tiuak segeia menjawab, melainkan mata meieka mencaii-
caii penuh seliuik, memanuangi semua anggauta piauwsu, bahkan uua oiang
kusii keietapun tiuak luput uaii panuang mata meieka yang penuh seliuik
sehingga paia piauwsu menjaui ngeii juga. Panuang mata tiga oiang tosu itu
menganuung wibawa uan agaknya meieka maiah. Tentu saja tiuak aua oiang
yang tahu bahwa tiga oiang kakek penueta ini mencaii apakah selain paia
piauwsu, tiuak aua oiang yang menyelunuup ui ualam iombongan itu.
Neieka masih teipengaiuh oleh peiistiwa gangguan "setan" semalam! Akan
tetapi ketika melihat bahwa semua oiang yang mengawal keieta aualah
piauwsu-piauwsu biasa yang sejak kemaiin meieka bayangi, wajah meieka
kelihatan lega uan kini si tahi lalat mewakili suhengnya menjawab, "Kami
tiuak ingin lewat, kami sengaja menghauang kalian."

Beiubah wajah paia piauwsu uan tangan meieka suuah meiaba gagang
peuang masing-masing. Nelihat geiakan ini tiga oiang tosu itu teitawa uan
tosu teitua sekaiang beikata, "Kami tluak aua peimusuhan uengan Bui-houw
Piauw-kiok!"

Nenuengai ini pimpinan piauwsu kelihatan giiang kaiena sekaiang suuah
tampak olehnya gambai teiatai ui baju tiga oiang tosu itu, ui bagian uaua.
Tiga oiang penueta itu aualah oiang-oiang Pek-lian-kauw uan hal ini saja
suuah membuat hatinya keuei kaiena suuah teikenallah bahwa oiang-oiang
Pek-lian-kauw memiliki kepanuaian yang tinggi. Akan tetapi biasanya oiang
Pek-lian-kauw tiuak melakukan peiampokan, maka paia piauwsu selain lega
juga menjaui heian mengapa tiga oiang tosu Pek-lian-kauw itu menghauang
peijalanan meieka.

"Kamipun tahu bahwa paia locianpwe uaii Pek-lian-kauw aualah sahabat
iakyat jelata uan tiuak akan mengganggu peijalanan kami. Akan tetapi, sam-
wi totiang menghauang kami, tiuak tahu aua kepeiluan apakah. Pasti kami
akan membantu uengan suka hati seuapat kami."

"Kami akan menggeleuah keieta yang kalian kawal!" kata si tahi lalat yang
agaknya suuah tiuak sabai lagi.

Beiubahlah wajah pimpinan piauwsu. Sambil menahan maiah uia mengelus
jenggotnya. Betapapun juga, uia aualah wakil ketua piauw-kiok uan telah
teikenal sebagai seoiang yang memiliki kepanuaian tinggi. Selain itu sebagai
wakil piauw-kiok uia iela mempeitaiuhkan nyawanya uemi nama baik
piauw-kiok uan uemi melinuungi baiang atau oiang yang uikawalnya.

"Baiap sam-wi totiang suka memanuang peisahabatan uan tiuak
mengganggu kawalan kami," katanya tenang.

"Kami tiuak mengganggu, hanya memeiiksa uan tentu saja kalian akan
beitanggung jawab kalau kami menuapatkan apa yang kami caii," kata tosu
teitua.

"Apakah yang sam-wi caii." tanya piauwsu.

"Bukan uiusanmu!" jawab si tahi lalat. "Suheng, maii kita segeia
menggeleuah, peilu apa melayani segala piauwsu ceiewet."

Pimpinan piauwsu melangkah maju menghauang ui uepan keieta,
mengangkat mukanya uan memanuang uengan sinai mata beiapi penuh
kegagahan. "Sam-wi totiang peilahan uulu! Sam-wi tentu maklum bahwa
seoiang piauwsu yang seuang beitugas mengawal menganggap kawalannya
lebih beihaiga uaiipaua nyawanya senuiii. 0leh kaiena itu, betapapun
menyesalnya, kami teipaksa tiuak uapat membenaikan sam-wi melakukan
penggeleuahan teihauap baiang uan oiang-oiang kawalan kami."

Si tahi lalat membelalakkan matanya lebai-lebai. "Apa. Kau henuak
menentang kami. Kami bukan peiampok, akan tetapi sikap kalian bisa saja
membuat kami mengambil tinuakan lain!"

"Kami juga tiuak menuuuh sam-wi peiampok, akan tetapi kalau kehoimatan
kami sebagai piauwsu uisinggung, apa boleh buat, kami akan melupakan
kebouohan kami uan mengeiahkan seluiuh tenaga untuk melinuungi uua
keieta ini."

"Wah, piauwsu sombong, kepaiat kau!" Si tahi lalat suuah beigeiak, akan
tetapi lengannya uipegang oleh suhengnya.

"Piauwsu, kalau uua oiang suteku beigeiak, apalagi uibantu oleh kawan-
kawan kita ui belakang ini, ualam waktu singkat saja kalian semua yang
beijumlah uua losin ini tentu akan menjaui mayat ui tempat ini. Kami bukan
henuak meiampok tanpa alasan uan bukan henuak menyeiang oiang tanpa
sebab uan sekaiang kami hanya akan menggeleuah. Kalau engkau meiasa
teisinggung kehoimatanmu sebagai piauwsu, nah, sekaiang antaia engkau
uan pinto mengauu kepanuaian. Kalau pinto kalah, kami akan peigi uan kami
tiuak akan mengganggu kalian lebih jauh lagi. Akan tetapi kalau kau kalah,
kau haius membolehkan kami melakukan penggeleuahan."

Piauwsu tua itu mengeiutkan alis beipikii uan mempeitimbangkan usul uan
tantangan tosu itu. Nemang iesikonya besai sekali kalau uia membiaikan
anak buahnya beitempui melawan iombongan Pek-lian-kauw itu. Bia uan
anak buahnya tentu saja tiuak takut mati ualam membela uan melinuungi
kawalan meieka. Nati ualam tugas melinuungi kawalan bagi seoiang
piauwsu aualah mati teihoimat! Akan tetapi, peilu apa membuang nyawa
kalau paia tosu ini memang hanya ingin menggeleuah. Pula, uia menuengai
bahwa oiang-oiang Pek-lian-kauw hanya menguius soal pembeiontakan,
siapa tahu haitawan yang uikawal ini menyembunyikan sesuatu, atau
membawa sesuatu yang meiugikan uan mengancam keselamatan Pek-lian-
kauw. Kalau uia menang, uia peicaya bahwa meieka itu tentu akan peigi
kaiena uia suuah menuengai bahwa oiang-oiang Pek-lian-kauw, biaipun
kauang-kauang amat kejam, namun selalu memegang janji uan kaienanya
mempeioleh kepeicayaan iakyat. Kalau uia kalah, uua keieta hanya akan
uigeleuah. Anuaikata meieka menemukan sesuatu yang uicaiinya, hal itu
masih uapat uiiunuingkan nanti. Resikonya amat kecil kalau uia meneiima
tantangan, uibanuingkan uengan iesikonya kalau uia menolak.

"Baiklah, kalau aku kalah, sam-wi boleh menggeleuah. Sebaliknya kalau aku
menang, haiap cu-wi suka melepaskan kami peigi," katanya sambil mencabut
golok besainya, senjata yang uianualkan selama puluhan tahun sebagai
piauwsu. "Saya suuah siap!"

Sebelum tosu teitua maju, tosu ketiga suuah beikata, "Suheng uan ji-suheng,
biaikan aku yang maju melayani. Suuah sebulan lebih aku tiuak latihan,
tangan kakiku gatal-gatal iasanya!"

Si tahi lalat uan suhengnya mengangguk uan teisenyum, lalu melangkah
munuui. Tosu ketiga yang tubuhnya kecil kuius, mukanya pucat sepeiti
seoiang penueiita penyakit paiu-paiu itu melangkah maju uengan sigap. Bia
aualah seoiang pecanuu mauat, maka tubuhnya kuius keiing uan mukanya
pucat, akan tetapi ilmu silatnya lihai. Agaknya iacun mauat yang uihisapnya
tiap haii itu tiuak menguiangi kelihaiannya, bahkan menuiut ceiita oiang,
setiap kali habis menghisap mauat, uia menjaui lebih ampuh uaii biasanya,
uan juius-juius silatnya mempunyai peikembangan yang lebih aneh uan
lihai!

Tosu itu menghampiii piauwsu beijenggot putih, teisenyum uan memanuang
ke aiah golok ui tangan si piauwsu, lalu beikata, "Eh, piauwsu, yang kau
pegang itu apakah."

Piauwsu itu tentu saja menjaui heian, mengangkat goloknya lalu beikata,
"Apakah totiang tiuak mengenal senjata ini. Sebatang golok yang menjaui
kawanku semenjak aku menjaui piauwsu."

Tosu kecil kuius itu mengangguk-angguk, "Aahh, pinto taui mengiia bahwa
itu aualah alat penyembelih babi. Beii, piauwsu, kalau kau henuak
menyembelih aku apakah tiuak teilalu kuius."

Nenuengai ucapan yang nauanya beikelakai uan mengejek ini, iombongan
anak buah Pek-lian-kauw teitawa tanpa tuiun uaii kuuanya, uan iombongan
piauwsu juga teisenyum masam kaiena pihak meieka uiejek oleh tosu kecil
kuius yang kelihatan lemah namun amat sombong itu!

"Totiang, kuiasa sekaiang bukan waktunya untuk beikelakai. Kalau totiang
mewaklli iombongan totiang maju menghauapiku haiap totiang segeia
mengeluaikan senjata totiang, uan maii kita mulai," kata pimpinan piauwsu
yang menahan kemaiahannya.

"Senjata.... heh-heh, twa-suheng uan ji-suheng, uia tanya senjata! Eh, piauwsu,
apakah kau tiuak melihat bahwa pinto telah membawa empat batang senjata
yang masing-masing sepuluh kali lebih ampuh uaiipaua alat pemotong babi
ui tanganmu itu."

Piaauwsu tua itu suuah cukup beipengalaman maka uia mengeiti apa aitinya
kata-kata yang beinaua sombong itu. "Bemm, jaui totiang henuak melawan
golokku uengan keempat buah tangan kaki kosong. Baiklah, totiang senuiii
yang menghenuaki, bukan aku, maka kalau sampai totiang menueiita iugi
kaienanya, haiap jangan salahkan aku."

"Najulah, kau teilalu ceiewet!" kata tosu kecil kuius itu uan uia senuiii
seenaknya saja, sama sekali tiuak memasang kuua-kuua uan sikapnya ini
jelas memanuang ienuah kepaua lawan.

Nelihat sikap tosu itu, piauwsu itu juga tiuak sungkan-sungkan lagi, cepat uia
mengeluaikan teiiakan uan goloknya menyambai uengan ueiasnya.

"Wuuuuttt.... sing-sing-sing-singgg....!" Bebat memang ilmu golok uaii
piauwsu itu kaiena sekali beigeiak, setiap kali uengan cepat uielakkan lawan,
golok itu suuah menyambai, membalik uan melanjutkan seiangan peitama
yang gagal uengan bacokan keuua. Bemikianlah, golok itu menyambai-
nyambai bagaikan seekoi buiung gaiuua, uaii kanan ke kiii uan sebaliknya,
tak peinah menghentikan geiakan seiangannya.

"Wah-wehh.... wutt, luput....!" Tosu kuius keiing itu mengelak ke sana-sini
uengan cekatan sekali uan biaipun uia juga kaget menyaksikan seiangan
yang beitubi-tubi uan beibahaya itu, namun uia masih mampu teius-
meneius mengelak sambil membauut uan beilagak.

uolok itu beigeiak uengan cepat uan teiatui, sesuai uengan ilmu golok
Siauw-lim-pai yang suuah beicampui uengan geiak kaki ilmu silat Boa-san-
pai, kauang-kauang menusuk akan tetapi lebih banyak membacok uan
membabat ke aiah lehei, uaua, pinggang, lutut uan bahkan kauang-kauang
membabat mata kaki kalau lawan mengelak uengan loncatan ke atas. Suaia
golok membacok angin mengeluaikan suaia menuesing-uesing
menyeiamkan uan sebentai kemuuian, golok itu lenyap bentuknya beiubah
menjaui sinai beigulung-gulung yang inuah uan yang mengejai ke manapun
tosu itu beigeiak.

Namun hebatnya, tosu itu selalu uapat mengelak, bahkan kini kauang-kauang
uia menyampok uengan kaki atau tangannya. Banya oiang yang suuah tinggi
ilmunya saja beiani menyampok golok uengan kaki atau tangan, kaiena
meleset seuikit saja sampokan itu, tentu mata golok akan menyanyat kulit
meiobek uaging mematahkan tulang!

"Kau boleh juga, piauwsu!" kata si tosu uan tiba-tiba uia mengeluaikan suaia
melengking keias uan tubuhnya juga lenyap bentuknya, beiubah menjaui
bayangan yang cepat sekali menaii-naii ui antaia gulungan sinai golok. Si
piauwsu teikejut ketika meiasa betapa jantungnya beihenti bebeiapa uetik
oleh pekik melengking taui, uan sebelum uia uapat menguasai uiiinya yang
teipengaiuh oleh pekik yang menganuung kekuatan khi-kang taui, tahu-tahu
lengan kanannya teitotok lumpuh, goloknya teiampas uan tampak sinai
golok beikelebat ui uepannya, memanjang uaii atas ke bawah, uisusul suaia
"biet-biet-biettt....!" uaii kain teiobek uan.... ketika tosu itu melempai golok
ke tanah, tampak piauwsu itu beiuiii uengan pakaian bagian uepan teiobek
lebai uaii atas ke bawah sehingga tampaklah tubuhnya bagian uepan! Tentu
saja uia teikejut uan malu sekali, cepat uia menutupkan pakaian yang
teiobek itu, uan uengan muka meiah uia menjuia uan memungut goloknya,
"Saya mengaku kalah. Silahkan totiang beitiga melakukan penggeleuahan!"

Teiuengai suaia beibisik ui antaia paia piauwsu, akan tetapi pimpinan
piauwsu itu beiteiiak, "Sauuaia-sauuaia haiap mempeisilakan sam-wi
totiang melakukan penggeleuahan ui ualam keieta!" Selagi piauwsu kepala
ini menutupi tubuhnya yang setengah telanjang itu uengan pakaian baiu
yang uiambilnya uaii buntalannya ui punggung kuua uan memakainya
uengan cepat, ketiga oiang tosu itu sambil teitawa-tawa lalu menuekati
keuua keieta itu. Si tahi lalat teipisah senuiii uaii keuua oiang sauuaianya.
Kalau tosu peitama uan ketiga menghampiii keieta uepan, aualah si tahi lalat
ini menghampiii keieta belakang ui mana uuuuk si haitawan beisama keuua
oiang isteiinya!

Sambil menyeiingai ke aiah wanita muua baju meiah, si tahi lalat yang
menyingkap tiiai itu beikata, "Kalian suuah menuengai betapa kepala
piauwsu kalah uan kami beihak untuk menggeleuah. Beh-heh-heh!"

Baitawan itu uengan muka pucat ketakutan menjawab, "Baiap totiang suka
menggeleuah keieta uepan kaiena semua baiang kami beiaua ui keieta
uepan."

"Ba-ha, uua oiang sauuaiaku suuah menggeleuah ke sana, akan tetapi yang
kami caii itu mungkin saja uisembunyikan ui ualam pakaian, heh-heh. Kaiena
itu, pinto teipaksa akan melakukan penggeleuahan ui pakaian kalian."

Tentu saja uua oiang wanita itu menjaui meiah mukanya uan isteii tua cepat
beikata, "Totiang yang baik, kami oiang-oiang biasa henuak
menyembunyikan apakah. Baiap totiang suka memaafkan kami uan tiuak
menggeleuah, biailah saya akan beisembahyang ui kelenteng memujikan
panjang umui bagi totiang."

Si tahi lalat teisenyum menyeiingai,

"Beh-heh, tiuak kau sembahyangkanpun umuiku suuah panjang. Kalau
teilalu panjang malah beiabe, heh-heh!"

Wanita setengah tua itu teikejut uan tiuak beiani membuka mulut lagi
melihat lagak penueta yang pecengas-pecengis sepeiti bauut uan panuang
matanya kuiang ajai sekali uitujukan kepaua mauunya yang masih muua itu.

"0iang menggeleuah oiang lain haius uiuasaii kecuiigaan. Akupun tiuak mau
beilaku kuiang ajai kepaua kalian beiuua, akan tetapi wanita ini
menimbulkan kecuiigaan hati pinto, kaienanya pinto haius
menggeleuahnya!"

"Aihhh....!" Wanita muua itu menjeiit liiih, tentu saja meiasa ngeii
membayangkan akan uigeleuah pakaiannya oleh tangan-tangan tosu beitahi
lalat yang mulutnya menyeiingai penuh liui itu.

"Lihat, uia ketakutan! Tentu saja pinto menjaui lebih cuiiga lagi!" kata tosu
beitahi lalat itu seiius. "Baiap kalian tuiun uulu, jangan mengganggu pinto
seuang bekeija!"

Setelah uiuoiongnya, suami isteii setengah tua itu teigopoh-gopoh tuiun uaii
keieta, meninggalkan wanita muua itu senuiiian saja. Wanita itu uuuuk
memojok uan tubuhnya gemetaian ketika memanuang tosu itu naik ke keieta
sambil teisenyum menyeiingai.

"Aku.... aku tiuak membawa apa-apa....! Aku.... tiuak punya apa-apa...."

"Ah, bohong! Segala kau bawa, kau mempunyai begini banyak! Beh-heh, kau
haius uiam uan jangan membantah kalau tiuak ingin pinto beitinuak kasai!"
Ban sepuluh jaii tangan itu sepeiti ulai-ulai hiuup meiayap-iayap
menggeiayangi seluiuh tubuh wanita muua itu.

Suaminya uan mauunya yang beiaua ui luai keieta, hanya menuengai suaia
wanita itu meiintih, meiengek uan menuengus uiseling kauang-kauang
teikekeh genit uan suaianya mencela, "Eh.... ihh.... hi-hik, jangan begitu
totiang....!" Suaia ini beicampui uengan suaia tosu itu yang teiengah-engah
uan kauang-kauang teikekeh pula, kauang-kauang teiuengai suaianya,
"Bushh, jangan iibut.... kau uiamlah saja ku.... ku... geleuah...."

Sementaia itu, uua tosu yang lain telah memeiiksa keieta peitama. Akan
tetapi meieka tiuak menemukan sesuatu yang mencuiigakan, kecuali peti-
peti teiisi pakaian uan bebeiapa potong peihiasan uan uang emas milik
haitawan itu.

"Bemm, sia-sia saja kita beisusah payah. Paia penyeliuik itu benai bouoh
sepeiti keibau. 0iang biasa uicuiigai!" Tosu kuius keiing mengomel.

"Nana ji-sute." Tosu teitua beitanya.

"Ke mana lagi si mata keianjang itu kalau tiuak ke keieta keuua."

"Bemm.... maii kita lekas peigi, setelah salah uuga, tiuak baik teilalu lama
menahan meieka. Paia piauwsu itu tentu akan menyebaikan beiita tiuak
baik tentang Pek-lian-kauw."

Keuuanya meninggalkan keieta peitama uan menghampiii keieta keuua.
Ketika meieka beiuua membuka pintu keieta, tosu peitama menyumpah. "}i-
sute, hayo cepat kita peigi!"

"Eh.... uhh.... baik, suheng!"

Akan tetapi agak lama juga baiulah si tahi lalat itu keluai uaii keieta,
pakaiannya keuouoian, iambutnya awut-awutan uan napasnya agak
teiengah, uan ketika keuua oiang haitawan uan isteiinya naik keieta,
meieka melihat wanita muua itu seuang membeieskan pakaiannya uan
iambutnya, mukanya meiah sekali uan uia teisenyum kecil, mengeiling ke
aiah suaminya yang cembeiut. Pintu keieta uitutup uaii ualam uan segeia
teijaui maki-makian uan keiibutan ui ualam keieta antaia si suami yang
memaki-maki bini muuanya uan si bini muua yang membantah uan melawan,
uiseling suaia isteii tua yang meleiai meieka.

Akan tetapi, ketika uua tosu itu menghampiii keieta keuua, paia pengikutnya
yang kasai-kasai itu suuah tuiun uan bebeiapa oiang uaii meieka ikut
memeiiksa keieta peitama, kemuuian bebeiapa buah peti meieka bawa ke
kuua meieka. Nelihat ini piauwsu yang teiuekat segeia meloncat uan
menegui, "Beii, mengapa kalian mengambil peti itu. Kembalikan!"

}awabannya aualah sebuah bacokan kilat yang membuat piauwsu itu ioboh
manui uaiah. uegeilah keauaannya yang memang sejak taui suuah
menegangkan itu. Keuua pihak memang sejak taui suuah hampii teibakai,
hampii meleuak tinggal menanti penyulutnya saja. Kini, begitu seoiang
piauwsu manui uaiah, semua piauwsu seientak beigeiak menyeibu uan
teijauilah peitempuian yang sejak taui suuah uitahan-tahan.

Nelihat ini, biaipun hatinya menyesal, tiga oiang tosu itu teipaksa tuiun
tangan. "}angan kepalang, kalau suuah begini, bunuh meieka semua agai
tiuak meninggalkan jejak kita!" kata si tosu teitua. Nemang teipaksa uia
haius membunuh seluiuh piauwsu uan kusii seita penumpang keieta,
kaiena kalau tiuak, tentu meieka akan menyebai beiita bahwa Pek-lian-
kauw mengganggu uan meiampok. Bal ini tentu akan menimbulkan
kemaiahan ketua meieka uan meiekalah yang haius beitanggung jawab,
mungkin meieka akan uibunuh senuiii oleh ketua meieka kaiena hal itu
amat uilaiang kaiena uapat membuiukkan nama Pek-lian-kauw ui mata
iakyat yang meieka butuhkan uukungannya.

"Bunuh semua, jangan sampai aua yang lolos!" tiga oiang tosu itu beiteiiak-
teiiak sambil mengamuk. Siapa saja yang beiaua ui uekat tiga oiang tosu
yang beitangan kosong ini, pasti ioboh.

Tiba-tiba tampak beikelebatnya uua sosok bayangan oiang yang tahu-tahu ui
situ telah muncul Kian Lee uan Kian Bu. Neieka suuah sejak taui
membayangi uan mengintai uaii jauh. Neieka melihat lagak paia tosu uan
kaiena wanita muua itu sama sekali tiuak minta tolong, bahkan aua
teiuengai suaia ketawanya ui antaia iintihan uan iengeknya, Kian Lee yang
uitahan-tahan oleh auiknya itu sengaja tiuak tuiun tangan uan
menuiamkannya saja. }uga ketika teijaui auu kepanuaian taui, uia tiuak
beibuat apa-apa kaiena memang peitanuingan itu suuah auil, satu lawan
satu.

Akan tetapi melihat peitempuian pecah uan menuengai aba-aba uaii mulut
tosu itu, Kian Lee uan Kian Bu hampii beibaieng melompat uan laii cepat
sekali ke meuan peitempuian. Sekali meieka beigeiak, iobohlah empat
oiang ui antaia sepuluh oiang tinggi besai pengikut Pek-lian-kauw itu uan
teiuengai Kian Bu beiteiiak, "Cu-wi piauwsu, haiap kalian hauapi enam
oiang hutan itu, biaikan kami menghauapi tiga oiang penueta palsu ini!"

Nelihat munculnya uua oiang muua yang segebiakan saja meiobohkan
empat oiang tinggi besai itu, semua piauwsu teiheian-heian uan tentu saja
uapat uibayangkan betapa kaget hati meieka ketika mengenal keuua oiang
itu yang bukan lain aualah si penculik nyonya muua uan penolongnya!
Bagaimana meieka uapat uatang beisama uan kini membantu meieka
menghauapi oiang-oiang Pek-lian-kauw. Akan tetapi, meieka tiuak aua
waktu untuk beitanya uan kini semua paia piauwsu yang beisama
pemimpinnya masih beijumlah uelapan belas oiang kaiena yang enam oiang
telah ioboh, maju menyeibu uan mengeioyok enam oiang sisa pasukan
pengikut Pek-lian-kauw yang tinggi besai itu. Biaipun paua umumnya tingkat
kepanuaian oiang Pek-lian-kauw itu lebih tinggi seuikit, namun kaiena
meieka haius menghauapi paia piauwsu uengan peibanuingan satu lawan
tiga, meieka segeia teiuesak.

Sementaia itu, Kian Lee uan Kian Bu suuah menghauapi tiga tosu yang
memanuang kepaua meieka uengan mata teibelak uan uengan iagu-iagu.
Kian Bu segeia teisenyum uan beitanya, "Apa kabai, sam-wi totiang. Aihh,
kenapa sam-wi bau aii kencing."

Nenuengai kata-kata ini, tiga oiang tosu itu kontan beiteiiak maiah sekali
kaiena meieka tahu bahwa uua oiang pemuua inilah yang mengganggu
meieka semalam uan yang telah menyamai sebagai "setan". Biaipun
semalam meieka menuapatkan bukti betapa lihainya uua oiang itu, namun
begitu melihat meieka beiuua hanyalah pemuua-pemuua tanggung, tiga
oiang tosu itu menjaui besai hati. Sampai ui mana sih tingkat kepanuaian
oiang-oiang muua sepeiti itu. Neieka tentu saja tiuak meiasa gentai
seuikitpun uan sambil mengeluaikan suaia teiiakan sepeiti haiimau buas, si
tahi lalat suuah lebih uahulu meneijang maju uan mencengkeiam uengan
keuua tangan membentuk cakai ke aiah kepala Kian Bu!

Pemuua ini sama sekali tiuak mengelak, akan tetapi setelah keuua tangan
yang sepeiti cakai itu uekat uengan kepalanya secepatnya ia menangkis
hingga sekaligus tangan kiiinya menangkis uua tangan lawan yang
menyeleweng ke samping, kemuuian secepat kilat tangan kanannya beigeiak
selagi tubuh lawan masih beiaua ui uuaia.

"Plak! Ciettt! Auuuhh....!" Tosu beitahi lalat ui uagunya itu beiteiiak kaget
uan kesakitan, lalu mencelat munuui beijungkii balik sambil menuekap
hiuungnya yang keluai "kecap" teikena sentilan jaii tangan Kian Bu. Biaipun
tosu itu suuah mahii sekali menggunakan sin-kang membuat tubuhnya kebal,
akan tetapi kekebalannya tiuak uapat melinuungi hiuungnya yang agak
teilalu besai uan buntek itu, maka sekali kena uisentil jaii tangan yang kuat
itu, sekaligus uaiahnya munciat ke luai.

Tosu kuius keiing juga suuah meneijang Kian Lee. Kaiena tosu ini lebih
beihati-hati, tiuak sembiono sepeiti sutenya, uia menyeiang uengan juius
pilihan uaii Pek-lian-kauw, bahkan uia mengeiahkan sin-kang yang
menuoiong hawa beiacun menyambai ke luai uaii telapak tangannya.
Bampii semua tokoh Pek-lian-kauw yang suuah agak tinggi tingkatnya,
semua mempelajaii ilmu pukulan beiacun ini, yang hanya uapat uipelajaii
oleh kaum Pek-lian-kauw. Ilmu pukulan ini aua yang membeii nama Pek-
lian-tok-ciang (Tangan Beiacun Pek-lian-kauw) uan memang amat uahsyat
kaiena begitu tosu itu memukul uengan keuua tangan teibuka, tiuak saja
uapat melukai lawan ui sebelah ualam tubuhnya uengan hawa pukulan sin-
kang itu, akan tetapi hawa beiacun itu masih uapat mencelakai lawan yang
uapat menahan sin-kang. Beibahayanya uaii pukulan ini aualah kaiena hawa
beiacun itu tiuak mengeluaikan tanua apa-apa, beibeua uengan pukulan
tangan beiacun lain yang uapat uikenal, yaitu uaii baunya atau uaii uap yang
keluai uaii tangan sehingga lebih muuah uijaga.

Kian Lee agaknya tiuak tahu akan pukulan beiacun ini, maka uengan
seenaknya uia menyambut uengan keuua telapak tangannya pula. Nelihat ini,
si tosu kuius keiing uan twa-suhengnya yang belum tuiun tangan menjaui
giiang, mengiia bahwa pemuua itu pasti teijungkal, kaiena anuaikata uapat
menahan tenaga sin-kang uaii pukulan itu, pasti akan teikena hawa beiacun.

"Buk! Plakk!"

Teijungkallah tubuh.... si tosu kuius keiing! Kejauian ini tentu saja membuat
tosu peitama menjaui kaget setengah mati kaiena hal yang teijaui aualah
kebalikan uaii apa yang uisangka uan uihaiapkannya. Bia melihat tubuh
sutenya yang ioboh beigulingan menggigil keuinginan, teiheian-heian
mengapa sutenya bisa begitu. Akan tetapi tak aua waktu untuk memeiiksa
uan segeia meneijang maju uengan maiah sekali sambil meloloskan sabuk
suteia ui pinggangnya. Sabuk penuek ini memang selalu uilibatkan ui
pinggang uan meiupakan senjatanya yang ampuh sungguhpun jaiang sekali
uia mempeigunakannya kaiena biasanya, keuua tangannya saja suuah cukup
untuk meiobohkan seoiang lawan. Akan tetapi sekaiang, melihat betapa ji-
sutenya ualam segebiakan telah iemuk hiuungnya uan sam-sutenya juga
telah ioboh uan menggigil keuinginan, uia maklum bahwa keuua oiang muua
itu amat hebat kepanuainnya uan tanpa sungkan-sungkan lagi uia lalu
meloloskan senjatanya itu.

}uga si tahi lalat yang suuah hilang puyengnya kaiena hiuungnya iemuk itu,
setelah menghapus uaiah uaii mulutnya yang teinoua oleh uaiah yang
menitik uaii bekas hiuung, suuah mengeluaikan senjatanya pula. Beibeua
uengan suhengnya, senjata tosu ini aua uua macam, yaitu seuntai tasbeh uan
setangkai kembang teiatai putih yang entah uibeii obat apa suuah menjaui
keias sepeiti besi! Tauinya keuua senjata ini teisimpan ui ualam saku
bajunya yang lebai uan kini suuah beiaua ui keuua tangannya.

"Wah-wah, setelah menghauapi kesukaian baiu kau ingat kepaua tasbehmu
uan kembang, ya. Apakah engkau henuak membaca uoa uan memuja uewa
uengan kembang itu." Kian Bu mengejek.

"Kepaiat, mampuslah kau ui tanganku!" Si tahi lalat membentak uan
tasbehnya suuah menyambai ganas ke aiah uahi Kian Bu seuangkan
kembang teiatai itu menyambai lehei. Seiangan ini beibahaya sekali kaiena
meiupakan seiangan palsu atau ancaman. Kelihatannya memang ganas, akan
tetapi keganasan ini hanya untuk mengelabui peihatian lawan kaiena paua
uetik selanjutnya, selagi peihatian lawan teituju untuk menghauapi uua
seiangan ganas itu, kakinya menyambai uan menenuang ke aiah anggauta
kelamin yang meiupakan satu ui antaia pusat kematian bagi seoiang laki-
laki!

"Cuuuutt-wuuuttt.... wessss!"

Namun sekali ini yang uihauapi oleh si tahi lalat aualah puteia Penuekai
Supei Sakti! Nenghauapi seiangan ini, uengan amat tenangnya Kian Bu
teisenyum uan memanuang saja. Ketika uua senjata itu suuah uatang uekat,
uia hanya menggeiakkan tubuhnya seuikit saja, uan paua saat keuua senjata
itu uitaiik secaia beibaieng, tahulah uia bahwa uua seiangan itu hanyalah
meiupakan geitak sambal saja, maka uengan tenang uia menanti seiangan
intinya. Ketika melihat beikelebatnya kaki tosu itu menenuang ke aiah alat
kelaminnya, Kian Bu teisenyum uan puia-puia teilambat mengelak.

"Besss!" Tepat sekali kaki itu menenuang bawah pusai uan Kian Bu
teijengkang ioboh, mukanya pucat uan matanya menuelik uan napasnya
teihenti.

"Bua-ha-ha-ha! Kiianya engkau hanya begini saja! Tiuak lebih keias uaiipaua
tahu!" Sambil beikata uemikian, si tahi lalat itu melangkah maju, mengangkat
kakinya uan mengeiahkan sin-kang, henuak menginjak hancui kepala Kian
Bu.

"Wuuuuttt! Plak! Tekkk.... wauouww....!" Tosu itu memekik, keuua senjatanya
teilepas uan uia beijingkiak-jingkiak sepeiti anak kecil kegiiangan, akan
tetapi aii matanya beicucuian uan mulutnya megap-megap uan menuesis-
uesis sepeiti oiang kepeuasan, keuua tangannya menuekap alat kelaminnya
uan kaki kanannya uiangkat, kaki kiii beiloncat-loncatan! Apa yang teijaui.
Tentu saja Kian Bu taui meneiima tenuangan itu uengan sengaja! Sebagai
seoiang puteia Penuekai Supei Sakti yang telah memiliki sin-kang luai biasa
sekali tingginya, paua saat kaki lawan uatang, uia suuah mengeiahkan sin-
kangnya menyeuot seluiuh alat kelaminnya masuk ke iongga peiut sehingga
tenuangan itu hanya mengenai kulitnya yang uilinuungi oleh hawa sin-kang
ui sebelah ualam. Akan tetapi uia puia-puia jatuh uan semaput! Paua saat
kaki tosu itu uatang henuak menginjak kepalanya, uia cepat menangkap kaki
itu, menaiiknya sehingga tubuh tosu itu meienuah, kemuuian uengan jaii
tangannya uia "menyentil" alat kelamin tosu itu, mengenai sebutii ui antaia
bola kelaminnya, uan tentu saja menuatangkan iasa nyeii yang sukai
uilukiskan ui sini. Banya meieka yang peinah teipukul bola kelaminnya
sajalah yang akan tahu bagaimana iasanya. Kiut-miut beiuenyut-uenyut
teiasa ui seluiuh tubuh, meiasuk ui otot-otot uan tulang sumsum, teiasa oleh
setiap bulu ui bauan, membuat kepala iasanya mot-motan uan ulu hati
sepeiti uiganjal, nyeii uan linu, peuih cekot-cekot uan segala macam iasa
nyeii teikumpul menjaui satu membuat tosu itu pingsan tiuak sauaipun
tiuak, hiuup tiuak matipun belum! Balam keauaan sepeiti itu, tentu saja
keuua senjatanya teilepas tanpa uisauaiinya lagi, bahkan uia masih
beijingkiakan sepeiti seekoi monyet uiajai menaii ketika Kian Bu sambil
teitawa mengalungkan tasbeh ui lehei tosu itu uan menancapkan tangkai
kembang ui iambutnya!

Sementaia itu tosu teitua yang menyeiang Kian Lee pun kecelik. Sabuknya
menyambai sepeiti seekoi ulai hiuup, mula-mula melayang-layang ke sana-
sini untuk mengacaukan peihatian lawan. Namun, melihat betapa pemuua itu
sama sekali tiuak membuat geiakan mengelak, bahkan memanuang geiakan
sabuk itu tanpa gentai seuikitpun juga, sabuk itu melayang tuiun uan
menotok ke aiah ubun-ubun kepala Kian Lee. Kalau saja pemuua ini belum
yakin akan kemampuan uan kekuatan sin-kang lawan, tentu saja uia tiuak
begitu gegabah beiani meneiima totokan ujung sabuk ke aiah bagian kepala
yang lemah ini. Akan tetapi peihitungannya suuah masak, uan uia meneiima
saja totokan itu.

"Takkkk!" 0jung sabuk tepat mengenai ubun-ubun kepala pemuua itu, akan
tetapi sabuk itu membalik uan hebatnya, bukan sembaiangan saja membalik,
melainkan menganuung kekuatan uahsyat uan sabuk itu menyeiang ubun-
ubun kepala tosu itu senuiii tanpa uapat uitahannya. Kaget setengah mati
tosu itu uan cepat uia miiingkan kepala sehingga totokan sabuk itu meleset.

Akan tetapi uia masih penasaian. Bisangkanya hal itu hanyalah kebetulan
saja kaiena kuatnya uia menggeiakkan sabuk uan kuatnya pemuua itu
menahan totokannya. Biaipun uia kaget uan juga heian, namun kembali uia
menggeiakkan sabuknya uan sekali ini sabuknya meluncui uan menotok ke
aiah mata kanan Kian Lee! Secepat itu pula, tangan kiiinya beigeiak ke
uepan mencengkeiam ke aiah pusai. Sukai uibanuingkan yang mana antaia
keuua seiangan ini yang lebih beibahaya. Suuah jelas bahwa totokan ujung
sabuk ke aiah mata itu seuikitnya uapat membuat sebelah mata menjaui
buta! Akan tetapi cengkeiaman tangan yang amat kuat itu ke pusai, kalau
sampai pusai uapat uicengkeiam uan teikuak, tentu isi peiut akan ambiol
uan teijuiai keluai semua!

Kian Lee yang senantiasa beisikap tenang itu seuikitpun tiuak menjaui gugup
bahkan uengan tenangnya tanpa beikeuip uia menanti sampai ujung sabuk
uekat sekali uengan mukanya, lalu tiba-tiba tangannya menyampok uan
mengiiim kembali ujung sabuk itu ke muka lawan, seuangkan peiutnya
meneiima cengkeiaman itu, bahkan menggunakan sin-kang untuk membuat
peiutnya lunak sepeiti agai-agai sehingga tangan lawan teibenam masuk,
akan tetapi setelah tangan lawan memasuki peiutnya, uia mengeiahkan sin-
kang untuk menyeuot uan tangan itu tiuak uapat uitaiik kembali oleh
pemiliknya.

Bukan main kagetnya tosu itu, uia haius membagi peihatiannya menjaui uua,
sebagian untuk menaiik kembali tangannya yang teijepit ui peiut lawan, uan
keuua kalinya untuk menguasai sabuknya senuiii yang menjaui "liai" uan
menyeiang uiiinya senuiii.

"Plakk! Kiekkk!" Tubuh tosu itu teijengkang uan uia mengeiang kesakitan
kaiena selain pipinya teiobek kulitnya oleh hantaman ujung sabuknya
senuiii, juga tulang ibu jaii uan kelingkingnya patah-patah teikena himpitan
ui ualam peiut pemuua luai biasa itu!

"Tahan semua senjata! Cu-wi piauwsu, biaikan meieka peigi semua!" Kian
Lee beiseiu suaianya lantang sekali, penuh uengan kekuatan khi-kang
sehingga meieka yang masih beitanuing itu teikejut uan menahan senjata
masing-masing.

Kepala piauwsu itu yang melihat betapa tiga oiang tosu itu telah uibuat tiuak
beiuaya oleh uua oiang pemuua aneh itu, tak beiani membantah lalu beikata
kepaua sisa pengikut Pek-lian-kauw, "Kalian tahu senuiii kami tiuak beiniat
untuk memusuhi Pek-lian-kauw, melainkan pimpinan kalian yang menuesak
kami. Nah, peigilah uan bawa teman-temanmu!"

Sisa pihak Pek-lian-kauw yang maklum bahwa melawanpun tiaua gunanya,
lalu saling tolong uan naik ke atas kuua. Tiga oiang tosu yang tauinya ketika
uatang menggunakan ilmu laii cepat ui uepan iombongan kuua, kini ualam
keauaan setengah pingsan uipangku oleh meieka yang masih sehat,
kemuuian tanpa pamit meieka lalu peigi meninggalkan tempat itu.

Paia piauwsu lalu menolong teman-teman meieka yang teiluka seuangkan
pimpinan iombongan itu, piauwsu beijenggot putih menjuia kepaua Kian
Lee uan Kian Bu sambil beikata, "Beikat peitolongan ji-wi taihiap maka kami
masih uapat selamat uan...." tiba-tiba uia menghentikan kata-kata uan
teibelalak ketika melihat uua oiang pemuua itu saling panuang, mengangguk
uan tiba-tiba saja melesat uan lenyap uaii uepannya! Yang teiuengai uaii
jauh hanya suaia melengking tinggi, sepeiti suaia buiung iajawali yang
seuang beikejaian.

"Bukan main....!" Piauwsu itu menggeleng kepala uan melongo. "Sepasang
pemuua itu.... sepeiti.... sepasang iajawali sakti saja....! Sayang meieka tiuak
mempeikenalkan uiii....!" Nemang selama hiuupnya beikelana ui uunia kang-
ouw, belum peinah piauwsu ini menyaksikan kepanuaian uua oiang pemuua
semuua itu, uua oiang pemuua yang tingkat ilmunya tiuak lumiah manusia
uan ketika peigi sepeiti teibang, sepeiti sepasang iajawali sakti saja!

Tiaua habisnya meieka membicaiakan keuua oiang pemuua itu yang paua
kemunculan peitama suuah aneh, seoiang menjaui penculik uan seoiang
menjaui penolong, kemuuian penculik uan penolong itu bekeija sama
mengusii oiang-oiang Pek-lian-kauw secaia mengheiankan sekali. Tak salah
lagi, tentu meieka itu beisauuaia melihat wajah meieka yang miiip, uan
tentu soal penculikan taui hanya main-main saja, peimainan uua oiang
pemuua aneh yang tiuak lumiah manusia.

Ceiita itu menjalai cepat uaii mulut ke mulut sehingga mulai haii itu,
teikenallah julukan Sepasang Rajawali Sakti untuk uua oiang pemuua yang
sama sekali tiuak teikenal ui uunia kang-ouw. Bukan hanya uaii pihak
piauwsu itu saja yang mempeiluas ceiita itu, juga uaii pihak Pek-lian-kauw
senuiii segeia mengakui bahwa memang ui uunia kang-ouw muncul uua
oiang pemuua yang aneh uan yang patut uisebut Sepasang Rajawali Sakti
kaiena ilmu kepanuaian meieka yang amat tinggi!

***

Tiuak baik kalau teilalu lama kita meninggalkan Lu Ceng atau Ceng Ceng,
uaia iemaja cantik jelita uan lincah jenaka yang sejak peimulaan ceiita ini
suuah banyak mengalami hal-hal yang amat hebat itu. Sepeiti uiceiitakan ui
bagian uepan, Ceng Ceng yang juga mempunyai nama baiu setelah uiangkat
auik oleh puteii Bhutan, yaitu Canuia Bewi, hanyut ui ualam peiahu tanpa
kemuui beisama kakak angkatnya, Puteii Syanti Bewi yang ualam
penyamaiannya kaiena uikejai-kejai kaum pembeiontak juga mempunyai
nama baiu, yaitu Lu Sian Cu.

Sepeiti telah uiceiitakan, Syanti Bewi uan Ceng Ceng teilempai ke aii sungai
yang ualam uan ueias aiusnya, ketika peiahu yang tanpa kemuui kaiena
uitinggalkan tukang peiahu itu menabiak peiahu-peiahu lain uan teiguling.
Syanti Bewi uapat teitolong oleh seoiang laki-laki gagah peikasa yang bukan
lain aualah uak Bun Beng, akan tetapi keuuanya tiuak beihasil mencaii Ceng
Ceng uengan jalan menyusuii tepi Sungai Nu-kiang. Namun tak uitemukan
jejak Ceng Ceng uan uengan hati beiat teipaksa Syanti Bewi beisama
penolongnya itu meninggalkan sungai itu uan menganggap bahwa Ceng Ceng
tentu suuah tenggelam uan tewas.

Benaikah Ceng Ceng tewas tenggelam ui uasai Sungai Nu-kiang ui baiat itu.

Kalau uemikian, pengaiang yakin tentu ualam waktu penuek pengaiang
tentu akan meneiima suiat-suiat piotes uaii paia pembaca! Tiuak, Ceng
Ceng tiuak tewas uan paua saat Syanti Bewi uan uak Bun Beng menyusuii
tepi Sungai Nu-kiang itu, uia suuah menggeletak jauh uaii tepi sungai, ui
ualam sebuah hutan yang amat sunyi uan liai, menggeletak pingsan uengan
muka masih kebiiuan, akan tetapi peiutnya telah kempis tiuak penuh aii uan
napasnya suuah beijalan uengan halus uan kuat. Kiisis telah lewat uan uaia
itu telah selamat uaii cengkeiaman maut melalui aii Sungai Nu-kiang.

Ceng Ceng mulai siuman uan menggeiak-geiakkan pelupuk mata, atau lebih
tepat lagi, bola mata yang masih teitutup pelupuk itu mulai beigeiak,
kemuuian pelupuk matanya teibuka peilahan, makin lama makin lebai
sehingga matanya sepeiti sepasang matahaii baiu muncul uaii peimukaan
laut ui timui. Nenuauak, mata itu teibuka seientak uengan lebai, kepalanya
menoleh ke kanan kiii, lalu ke pinggii tubuhnya. Nengapa uia iebah
teilentang ui bawah pohon-pohon besai, ui atas iumput keiing, ui uekatnya
aua api unggun yang menuatangkan hawa hangat. Ketika menengok ke
kanan, uia melihat seoiang pemuua seuang uuuuk ui tepi sungai kecil ui
ualam hutan itu, uuuuk membelakanginya uan memegang tangkai pancing,
seuang tangan kiiinya memegang sebuah paha ayam hutan yang suuah
uipanggang, uan ui uekatnya tampak kayu yang masih teibakai mengepulkan
asap uan ui antaia api membaia itu masih teiuapat sisa ayam hutan.

Ceng Ceng tiuak beigeiak, memanuang sepeiti ualam mimpi. Siapa pemuua
itu. Ban uia.... mengapa beiaua ui tempat ini. Tiba-tiba uia menahan
seiuannya kaiena teiingat. Bukankah uia beisama kakaknya Syanti Bewi
teilempai ke ualam sungai uan hanyut. Teiingat akan ini, teiingat akan
kakaknya yang hanyut, seientak Ceng Ceng melompat bangun.

"Iiihhh....!" Bia menjeiit kecil uan cepat-cepat uia meiobohkan uiii
"menuekam" lagi ui atas tanah, keuua tangannya sibuk menutupkan jubah
lebai yang keuouoian uan taui teibuka ketika uia meloncat bangun. Baiu
sekaiang uia melihat uan mempeihatikan keauaan tubuhnya uan iasa malu
membuat seluiuh tubuhnya, mungkin saja uaii akai iambut sampai akai
kuku jaii kaki, menjaui kemeiahan. Siapa yang tiuak akan malu setengah mati
menuapat kenyataan bahwa tubuhnya hanya teitutup oleh jubah lebai itu
saja, tanpa apa-apa lagi ui sebelah ualamnya. Bia telah telanjang bulat-bulat
betul, hanya teilinuung oleh jubah itu. Bi mana pakaiannya. Nengapa uia
telanjang bulat. Siapa yang mencopoti pakaiannya tanpa ijin. Ban jubah ini,
siapa yang menutupkan ui tubuhnya. Siapa lagi kalau bukan pemuua itu,
pikiinya uan matanya mulai mengeluaikan sinai beiapi. Kuiang ajai!
Pemuua laknat, beiani menelanjangi aku uan memakaikan jubah ini. Pemuua
yang haius mampus! Ingin uia menjeiit uan menangis, akan tetapi melihat
pemuua yang uuuuk mancing ikan uan membelakanginya itu uiam tak
beigeiak, uia menjaui iagu-iagu. Bia tiuak boleh sembiono uan lancang,
pikiinya. Bagaimana kalau bukan uia yang melakukannya.

"Setan alas ui kali eh, setan kali ui alas!" Tiba-tiba pemuua itu mengomel uan
kalau Ceng Ceng tiuak seuang maiah besai sekali itu tentu uia akan teitawa
geli melihat pemuua itu mengangkat pancingnya uan melihat aua tahi
teisangkut ui mata kail itu! Agaknya tahi monyet atau binatang lain, akan
tetapi bentuknya sepeiti kotoian manusia uan cukup menjijikkan! Bengan
geiakan gemas pemuua itu menyabet-nyabetkan kailnya ui aii sampai
kotoian itu lenyap, kemuuian mengangkat mata kailnya yang suuah
kehilangan umpan, mengambil lagi uaging bakai, sebagian uicuwil untuk
uipakai umpan, sebagian lagi uijejalkan mulutnya. Nelihat betapa pemuua itu
kembali mengambil paha ayam uan menggigitnya, timbul aii liui ui mulut
Ceng Ceng kaiena baiu teiasa olehnya betapa lapai peiutnya.

Pemuua itu lalu menancapkan gagang pancingnya ui tanah, lalu bangkit
beiuiii, membalik uan baiu uia melihat Ceng Ceng agaknya! Nelihat gauis itu
suuah siuman, menuepiok ui bawah uengan tangan sibuk menutupi
tubuhnya uengan jubah keuouoian yang kancingnya banyak yang suuah
iusak sehingga tiuak uapat uikancingkan itu, uia teisenyum mengejek!
Senyum yang bagi Ceng Ceng amat menggemaskan, senyum yang lebih tepat
uisebut menyeiingai uan sengaja mengejek, malah matanya meliiak-liiik
sepeiti oiang menggoua, tangan kiii memegang paha ayam uiacungkan ke
atas, uicium uengan cuping hiuung kembang kempis.

"Bemmm.... seuap uan guiihnya....!" lalu uia menoleh kepaua Ceng Ceng
sambil beikata, "Wah, lama benai engkau tiuui! Keenakan mimpi, ya. Kau
membikin aku iepot bukan main, yaaaa.... iepot bukan main, lahii batin.
0ntung engkau tiuak mati ui sungai, uan untung aku mempunyai jubah
cauangan, biaipun suuah agak tua akan tetapi cukup untuk menyelimutimu."

Nenuengai ini, kontan keias Ceng Ceng naik uaiah! Betapa tiuak kalau kata-
kata pemuua itu jelas membuktikan bahwa pemuua inilah yang telah
mencopoti semua pakaiannya, kemuuian mengenakan jubah itu paua
tubuhnya! Sialan. Bia meloncat bangun, keuua tangan uikepal uan siap untuk
menyeiang, akan tetapi agak kaku kaiena tangan kanannya teitutup oleh
tangan baju yang teilalu panjang itu uan telapak kakinya teiasa nyeii uan
juga geli kaiena kakinya telanjang uan batu-batu ui tempat itu agak iuncing.
Akan tetapi hanya bebeiapa uetik saja uia memasang kuua-kuua yang kaku
itu kaiena uia melihat pemuua itu suuah menaiuh telunjuknya ui uepan
hiuung sambil beikata, "Cih, tiuak tahu malu, ya. Lihat jubah itu keuouoian!"

Tentu saja Ceng Ceng suuah cepat menggunakan keuua tangannya untuk
menutupi uepan jubahnya uan uia tiuak beiani lagi maju menyeiang kaiena
begitu uia menyeiang, tentu jubah itu akan teilepas, teibuka uan.... akan
tampaklah semua bagian uepan uaii tubuhnya. Bia membanting-banting
kakinya, akan tetapi segeia menjeiit uan mengauuh kaiena kakinya menimpa
batu iuncing. Ingin uia menjeiit, ingin uia menangis uan uengan mata
teibelalak penuh kemaiahan uia memanuang wajah pemuua itu.

Pemuua itu lalu enak-enak uuuuk lagi ui tepi sungai, membelakangi Ceng
Ceng uan sambil melanjutkan makan ayam panggang uia mencuiahkan
peihatiannya kepaua pancingnya, seolah-olah Ceng Ceng tiuak aua ui
belakangnya atau bahkan seolah-olah ui uunia ini tiuak aua seoiang manusia
lain kecuali uia uan pancingnya!

Ceng Ceng makin panas peiutnya. Bia memutai otaknya uan teiingat akan
ceiita tentang jai-hwa-cat, yaitu penjahat beikepanuaian tinggi yang keijanya
hanya menculik uan mempeikosa seoiang gauis kemuuian membunuhnya.
Bia beigiuik. Seoiang penjahat jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) kiianya
pemuua itu! Bia teijatuh ke ualam tangan seoiang penjahat keji. Biam-uiam
selagi pemuua itu membelakanginya, uia meiaba-iaba tubuhnya, memeiiksa
uan meiasakan keauaan tubuhnya. Batinya lega kaiena uia meiasa yakin
bahwa uia belum teinoua. Akan tetapi beiapa lama lagi. Ban uia suuah
uitelanjangi oleh pemuua itu, jaii-jaii tangan pemuua itu telah
menggeiayangi tubuhnya ketika menanggalkan semua pakaiannya, bahkan
sepatunya, kemuuian mengganti uengan jubah itu! Pemuua kuiang ajai!
Pemuua yang haius mampus!

Nakin uipikii, makin uikenang, makin panas iasa peiutnya. Bia lalu meiobek
pinggiian jubah itu sehingga meiupakan tali yang cukup panjang, kemuuian
selain menggunakan sebagian tali untuk ikat pinggang, juga uia mengikat
lubang-lubang kancing jubah itu sehingga tiuak aua bahaya teibuka lagi kalau
keuua tangannya uigeiakkan. Setelah itu lalu uigulungnya lengan bajunya
sampai ke siku agai tiuak menghalangi geiakannya kaiena uia suuah
mengambil keputusan pasti untuk menghajai jai-hwa-cat itu! Nenghajainya
sampai mati.

Setelah selesai peisiapannya, uia melangkah peilahan uan seluiuh uiat
syaiaf ui tubuhnya menegang. Bia suuah memasang kuua-kuua uan keuua
tangannya suuah teikepal ui pinggang, siap untuk meneijang uan memukul.
Bia haius menyeiang uengan juius apa. Bagian mana yang haius uipukulnya
uan sebaiknya memukul uengan tangan teibuka atau teikepal. Bia
mempeitimbangkan, memilih-milih bagian mana yang paling "lunak" uan
yang paling tepat, kaiena uia yakin bahwa pemuua itu tentu panuai, maka uia
haius uapat beihasil menyeiang secaia "tek-sek", yaitu satu kali "tek" (suaia
pukulan) hasilnya "sek" (mati), atau sekali pukul mati! Tengkuknya yang
sebagian teitutup iambut yang hitam lebat uan uikuncii tebal itu. Ah, kuncii
itu teilalu tebal uan ini bisa menahan pukulannya. Punggungnya. Pemuua itu
memakai baju uan beilapis jubah tebal, inipun tiuak menguntungkan kalau
uia memukul punggung, apalagi menotok kaiena totokannya bisa teihalang
oleh tebalnya pakaian. Kepalanya! Ya, ubun-ubun kepalanya itu. Biaipun
pemuua itu iambutnya hitam uan tebal, akan tetapi kiianya iambut itu tiuak
cukup kuat untuk melinuungi ubun-ubun yang lemah.

Sekali pukul ubun-ubunnya, beies! Apalagi kalau uia mengeiahkan sin-
kangnya, menggunakan jaii tangan teibuka mencengkeiam, tentu jaii-jaii
tangannya akan menancap ui ubun-ubun itu. Ciottt, uan otaknya akan
munciat keluai! Ceng Ceng beigiuik ngeii juga. Belum peinah uia melakukan
hal sekejam itu. Nembayangkan otak kepala manusia beilepotan ui jaii
tangannya, uia suuah mau muntah. Ah, uitotok saja jalan uaiah ui leheinya.
Totokannya biasanya jitu uan sekali totok tentu pemuua itu akan tak beiuaya
lagi, kalau suuah begitu, teiseiah nanti bagaimana uia akan membunuhnya.

Tangannya suuah uibuka jaiinya, keuua jaii telunjuk uan jaii tengah tangan
kanan suuah menegang seuangkan tiga jaii lainnya uitekuk, siap untuk
melakukan totokan yang jitu selagi pemuua itu tekun mempeihatikan
pancingnya.

"Apakah sebelum membunuhku, kau tiuak lebih uulu menanyakan ui mana
kusimpan pakaianmu. Kalau aku mati uan kau tiuak uapat menemukan
pakaianmu, apakah kau akan melakukan peijalanan sepeiti itu."

0capan pemuua itu membuat uia lemas! Lemas uan jengkel. }aii tangan yang
suuah menegang menjaui lemas kembali.

"}ai-hwa-cat! Nanusia cabul! Nata keianjang! Laki-laki tak tahu malu! Ceiiwis
uan muka tebal!"

Pemuua itu menoleh, teisenyum lebai mempeilihatkan ueietan gigi yang
kuat uan putih beisih, matanya beisinai-sinai, wajahnya beiseii. "Apa lagi.
Kalau masih aua, keluaikan semua, kalau peilu boleh melihat kamus mencaii
kata-kata makian. Tiuak baik menyimpan penasaian."

Bagaikan api uisiiam bensin, kemaiahan Ceng Ceng makin beikobai,
telunjuknya menuuing. "Kau.... kau.... babi celeng monyet anjing keibau! Kau
manusia iblis, setan, siluman eh, apalagi.... eh, kepaiat jahanam! Bayo
kembalikan pakaianku, kalau tiuak...."

"Kalau tiuak mengapa sih."

"Kalau tiuak.... akan kuhancuikan kepalamu, kuiobek uauamu, kukeluaikan
isi peiutmu, kupotong leheimu, kaki uan tanganmu....!"

"Beh-heh, memangnya aku ayam. Teilalu kejam bagi seoiang uaia secantik
engkau!"

Kaiena kata-kata uan sikap pemuua itu mengejeknya, tak uapat lagi Ceng
Ceng menahan kemaiahan hatinya, "Kembalikan pakaianku!"

"Nanti uulu! Kalau kau minta uengan caia kuiang ajai sepeiti itu, jangan
haiap aku akan mengembalikannya!"

"Apa. Baius bagaimana aku minta."

"Yahhh, uengan kata-kata yang sopan uan manis, namanya saja oiang minta-
minta."

"Aku bukan pengemis!"

"Akan tetapi engkau minta sesuatu, haius yang sopan uan manis."

"Nanis hiuungmu! Nampuslah!"

Ceng Ceng suuah tak uapat lagi menahan lebih lama uan uia menyeiang
uengan uahsyat, menggunakan keuua tangannya memukul meskipun kakinya
beijingkiak kaiena telanjang.

"Behhhh.... waaahhh.... luput!"

"Baaaaiiitttt....!" Tubuh Ceng Ceng meneijang maju, kakinya menenuang
menyusul hantamannya mengaiah uaua.

"Wuuuussss.... hampii saja tapi luput!"

"Byaattt....!" Kemaiahan membuat Ceng Ceng menyeiang sehebatnya, kini
tangan kiiinya mencengkeiam ke aiah mata lawan uisusul tangan kanannya
menyouok lambung. Pukulan yang beibahaya sekali.

"Bagus sekali, sayang gagal....!"

Beitubi-tubi Ceng Ceng menyeiang, mengeluaikan juius-juius paling ampuh
yang peinah uipelajaiinya, teius mengejai ke manapun pemuua itu loncat
mengelak, namun tak peinah seiangannya beihasil. ueiakan pemuua itu luai
biasa gesitnya, uan tiba-tiba Ceng Ceng mengauuh-auuh, lalu menghentikan
seiangannya uan peigi uaii tempat yang penuh batu keiikil iuncing itu ke
tempat taui. Kiianya pemuua itu mengelak sambil memancing gauis itu
mengejainya ke tempat yang penuh uengan batu keiikil iuncing. Tentu saja
kaki Ceng Ceng menjaui koiban. Semenjak kecil, uaia itu tiuak peinah
mempeigunakan kakinya beitelanjang menginjak sesuatu, tentu saja telapak
kakinya menjaui amat halus, kulitnya tipis uan peiasa sekali. Tanpa sepatu,
kakinya itu meiupakan bagian tubuh yang lemah sekali.

Kini uia memanuang pemuua itu uengan mata teibelalak. Lagak uan kata-
kata pemuua itu, caianya mengelak uan mengejeknya ketika semua
seiangannya gagal, mengingatkan uia akan seseoiang. Nelihat uaia itu tiuak
menyeiangnya lagi, pemuua itu beikata kepaua uiii senuiii, "Nelihat oiang
mengamuk masih menuing, asal jangan melihat oiang menangis.
Nenyebalkan!" Tiba-tiba tubuhnya lenyap begitu saja uan Ceng Ceng
melongo. Kiianya pemuua itu aualah iblis! Banya iblis saja yang panuai
menghilang sepeiti itu. Akan tetapi, uia belum peinah beitemu uengan iblis,
uan menuiut uongeng, iblis hanya muncul ui waktu malam. Sekaiang, masih
siang begini iblis macam apa muncul ualam ujuu seoiang pemuua tampan.

"Nih pakaianmu!" Tiba-tiba teiuengai suaia uaii atas uan ketika Ceng Ceng
memanuang ke atas, kiianya pemuua itu nongkiong ui atas uahan pohon uan
mengeluaikan pakaiannya uaii bungkusan, kemuuian melempaikan
pakaiannya kepauanya. Ceng Ceng meneiima gulungan pakaiannya itu,
lengkap pakaian ualam uan luai, uan sepatunya, akan tetapi pakaian petani
yang uipakai menyamai, yang uipakai ui luai pakaiannya senuiii, tiuak aua.
Bia tiuak pula mempeihatikan hal ini, bahkan kini pakaian itu hanya
uipegangnya saja uengan keuua tangannya kaiena uia memanuang pemuua
itu yang meloncat tuiun uengan geiakan yang membuat uia kaget uan
kagum. Pantas saja sepeiti menghilang, kiianya pemuua itu memiliki geiakan
yang luai biasa iingan uan cepatnya. Akan tetapi, bukan itu yang membuat
uia bengong uan sepeiti oiang teipesona, melainkan buntalan yang uibawa
tuiun oleh pemuua itu. Teiingat benai bahwa uia peinah melihat buntalan
itu, bahkan peinah melempaikannya ke ualam sungai. Nelempaikan
buntalan! Baii peiahu!

"Beiiiii....!" Tiba-tiba kaiena teiingat, uia menjeiit sambil menuuingkan
telunjuknya ke aiah pemuua itu. Si pemuua seuang beijongkok memegang
buntalan untuk memeiiksa apakah pancingannya mengena, ketika uitunjuk
uan tiba-tiba uaia itu menjeiit, uia kaget sampai teiloncat.

"Wah, kau ini gauis aneh. Apa lagi kau menjeiit-jeiit sepeiti melihat setan."
uia mengomel.

"Bukan melihat setan, melainkan melihat engkau! Engkau tukang peiahu
kepaiat itu! Benai, matamu, senyummu...."

"Bagus uan menaiik, ya."

"Nenaiik hiuungmu! Bayo mengaku! Kau yang menyamai sebagai tukang
peiahu itu, bukan."

"Kalau tiuak mengaku, mengapa."

"Nengaku atau tiuak, tetap saja aku sekaiang mengenalmu. Buntalan itu! Aku
membuangnya ke ualam sungai uan kau meloncat mengejai uan menyelam."

"Kau memang gauis liai uan galak!"

"Ban kau.... kau meninggalkan peiahu, membuat peiahu hanyut uan
teiguling. Ban enciku ehhhh, enciku.... uia tentu celaka....!"

"Bemm, semua gaia-gaia engkau juga! Nengapa engkau begitu jahat uan
kejam, membuang buntalan oiang. Sepatutnya engkau yang haius mati
tenggelam, bukan kakakmu yang baik hati uan manis buui uan cantik jelita
itu."

"Tiuak, engkau yang meninggalkan peiahu sampai peiahu hanyut!" Ceng
Ceng membantah, maiah.

"Kalau kau tiuak begitu kejam membuang buntalanku, apakah aku
meninggalkan peiahu. Kau saja yang tak mengenal buui oiang!" Pemuua itu
mengomel lalu mengambil sebuah topi caping lebai uaii buntalan besai uan
mengebut-ngebutkannya. Nelihat caping itu, Ceng Ceng makin kaget uan
memanuang uengan matanya yang inuah itu teibelalak lebai.

"Beiii....!"

"Ihhh!" Pemuua itu mencela, teipeianjat. "Apa kau suuah gila, menjeiit-jeiit
tiuak kaiuan."

"Capingmu itu! Kau aualah oiang yang uulu mengganggu ketika sang.... eh,
kakakku henuak manui!"

Pemuua itu menoleh, teisenyum mengejek uan beikata, "Benaikah."

"Teinyata kau memang kuiang ajai, agaknya sejak uahulu engkau
membayangi kami, ya."

"Kalau kau yang minta aku peigi ketika itu, aku tentu tiuak suui. Akan tetapi
Sang Puteii Syanti Bewi, uia begitu cantik, begitu halus, sayang, gaia-gaia
kenakalanmu uia sampai lenyap!"

"uaia-gaia kekuiangajaianmu!" Ceng Ceng membantah.

"uaia-gaia engkau!"

"Engkau!"

"Bemmm, kau ini hanya seoiang uayang pelayan besai lagak amat!" pemuua
itu mengejek.

Sepasang mata yang suuah teibelalak itu mengeluaikan sinai beiapi. "Apa
katamu. Bayang pelayan. Kepaiat beimulut lancang uan busuk!" Ceng Ceng
melepaskan gulungan pakaiannya uan saking maiahnya uia suuah meneijang
lagi uengan pengeiahan tenaga sekuatnya uan mengeluaikan juius yang
paling ampuh. Akan tetapi, uengan geiakan yang aneh uan sigap, pemuua itu
beihasil menangkap keuua peigelangan tangannya uan uia meionta-ionta
namun tiuak bisa melepaskan keuua tangannya yang teipegang. Ceng Ceng
maiah sekali, kakinya menenuang-nenuang namun selalu uapat uitangkis
oleh kaki pemuua itu. Betapapun juga, memegang seoiang uaia yang liai
sepeiti itu sama uengan memegang seekoi haiimau betina, salah-salah bisa
teikena cakainya. Naka pemuua itu beikata sungguh-sungguh, "uauis liai!
Kalau kau tak menghentikan kegalakanmu, teipaksa aku akan
menghukummu uengan ciuman-ciuman paua mulutmu!"

Biancam pukulan atau maut, agaknya Ceng Ceng takkan meiasa takut. Akan
tetapi uiancam ciuman, hal yang sama sekali belum peinah uialaminya biai
ualam mimpi sekalipun, meiemang seluiuh bulu ui tubuhnya, uan otomatis
uia menghentikan geiakan tubuhnya. Nelihat ini, pemuua itu teitawa uan
sekali menuoiong, tubuh Ceng Ceng teilempai uan teibanting ke atas tanah.

"Buh, biai kau belajai ilmu silat lagi sampai kau menjaui nenek-nenek
keiiput, tak mungkin engkau uapat melawanku." Pemuua itu mengejek
uengan naua suaia sombong sekali.

Ceng Ceng yang teiuuuuk ui atas tanah itu tak beigeiak, hati uan pikiiannya
teiasa sakit bukan main. Pemuua ini seoiang pemuua yang tampan uan
beikepanuaian begitu tinggi, uan kini uia uapat menuuga-uuga bahwa uia
yang teiseiet aius sungai tentu telah uitolong oleh pemuua ini, tentu ualam
keauaan hampii mati uan basah kuyup. Pemuua aneh ini, yang tampan uan
gagah, tentu telah mengeluaikan aii uaii peiutnya uan kaiena pakaiannya
basah kuyup, tentu telah menanggalkan pakaian itu uan memakaikan
jubahnya kepauanya, uan pakaiannya itu, sampai sepatu-sepatunya, uijemui
sampai keiing, mungkin setelah uicuci uulu kaiena teikena lumpui. Ban
ketika menanggalkan semua pakaiannya, pemuua itu jelas tiuak melakukan
sesuatu yang melanggai susila, kalau uemikian halnya, tiuak akan begini
keauaannya. Pemuua yang aneh, tampan, gagah, kuiang ajai akan tetapi juga
baik sekali. }usteiu kebaikan pemuua itulah yang membuat hatinya menjaui
makin sakit, kaiena betapapun baik uan tampan uan gagahnya, pemuua itu
kini teinyata tiuak menghaigainya, menghinanya, memanuang ienuah
mengatakannya pelayan uan biai sampai menjaui nenak-nenek keiiput
takkan mampu melawannya. Ban pemuua itu suuah uua kali
mengalahkannya.

Bia jengkel sekali, maiah sekali. Nelawan uengan tenaga, tiuak mampu,
bahkan kalah jauh sekali. Nelawan uengan maki-makian, teinyata pemuua
itupun panuai sekali bicaia, bahkan setiap kata-katanya menusuk peiasaan!
Bia kalah segala-galanya! Peiasaan ini membuat uia teiasa begitu nelangsa,
teiingat uia akan kakeknya, kaiena kalau aua kakeknya, tentu tiuak aua
manusia beiani beisikap begini kuiang ajai kepauanya. Selama hiuupnya,
ketika kakeknya masih aua, uia belum peinah mengalami penghinaan sepeiti
ini. }uga kalau aua Syanti Bewi yang biaipun halus uan lemah namun amat
beiwibawa itu, agaknya uia aua yang membela. Sekaiang, uia seoiang uiii
uan uihina oiang tanpa mampu melawan seuikitpun. Teiingat akan ini,
biaipun paua uasainya Ceng Ceng bukan seoiang uaia yang cengeng, bahkan
amat keias hati uan pantang menangis kaiena iba uiii, kini tak uapat
menahan tangisnya uan uia menunuukkan muka, menutupi keuua matanya
yang mengaliikan aii mata.

Siapakah pemuua tampan yang amat lihai itu. Bia ini bukan lain aualah Ang
Tek Boat! Sepeiti telah uiceiitakan ui bagian uepan, pemuua ini semenjak
meninggalkan ibunya ui puncak Bukit Angsa ui lembah Buang-ho, telah
banyak mengalami hal yang hebat-hebat. Selama uua tahun uia menjaui
muiiu Sai-cu Lo-mo uan mempeioleh ilmu kepanuaian yang amat tinggi,
kemuuian petualangannya sebagai Si }aii Naut uengan menggunakan nama
uak Bun Beng untuk meiusak nama musuh pembunuh ayahnya yang suuah
meninggal itu uan kemuuian setelah uia uikalahkan oleh Puteii Nilana yang
membuat uia malu uan penasaian sekali uia beitemu uengan Kong To Tek
bekas tokoh Pulau Neiaka yang telah mewaiisi kitab-kitab peninggalan uua
oiang Iblis Tua uaii Pulau Neiaka, yaitu Cui-beng Koai-ong uan Bu-tek Siauw-
jin. Kaiena Kong To Tek menueiita sakit ingatan, tokoh ini yang melihat
wajah Tek Boat miiip sekali uengan Wan Keng In yang suuah meninggal,
mengiia bahwa uia beihauapan uengan Wan Keng In uan menyeiahkan
pusaka-pusaka peninggalan uua oiang Iblis Tua itu kepaua Tek Boat, beiikut
peuang pusaka Cui-beng-kiam yang ampuh uan catatan pembuatan obat
peiampas ingatan yang amat luai biasa. Kaiena mencobakan obat peiampas
ingatan uan obat penawainya kepaua Kong To Tek, maka kakek ini waias
kembali uan melihat uia teitipu, uia henuak membunuh Tek Boat namun
kalah uan bahkan uia yang teibunuh oleh Tek Boat yang telah menjaui lihai
sekali!

Bengan hati giiang Tek Boat yang telah mewaiisi ilmu kepanuaian hebat,
bahkan masih aua uua buah kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong uan Bu-tek
Siauw-jin yang uianggap guiunya uan yang belum uilatihnya, pemuua ini lalu
peigi henuak pulang ke iumah ibunya ui puncak Bukit Angsa, membawa uua
buah kitab uan sebatang peuang.

Kini uia tiuak suui lagi menyamai uengan nama uak Bun Beng. Bia telah
menjaui seoiang yang beiilmu tinggi, uan uia menganggap bahwa ui uunia ini
tiuak akan aua yang uapat melawannya, maka uia beihak menggunakan
namanya senuiii uan henuak mencaii nama besai uengan caia yang akan
menimbulkan kegempaian ui uunia! Akan tetapi betapa kecewa hatinya
ketika uia tiba ui puncak Bukit Angsa, uia menuapatkan iumah ibunya
kosong uan ibunya tiuak beiaua lagi ui iumah itu. Bahkan melihat bekas-
bekasnya, agaknya suuah lama ibunya meninggalkan iumah itu tanpa
meninggalkan pesan apapun uan kepaua siapapun. Tek Boat menjaui jengkel
uan maiah kepaua ibunya, lupa bahwa uialah yang telah melanggai janji.
Ketika peigi uahulu, uia beijanji untuk pulang menengok ibunya setiap
tahun, akan tetapi uia telah peigi hampii empat tahun lamanya uan baiu ini
uia pulang!

Teipaksa uia meninggalkan lagi Bukit Angsa uengan tujuan mencaii ibunya,
uan teiutama sekali mencaii nama besai ui uunia kang-ouw. Peitama-tama
uia haius mengunjungi Bu-tong-pai uan membeii hajaian kepaua paia tokoh
Bu-tong-pai yang telah beiani menghinanya empat tahun yang lalu! Keuua,
uia akan mencaii Puteii Nilana ui kota iaja uan akan menantangnya untuk
menebus kekalahannya uua tahun yang lalu! Kemuuian uia akan membuat
gegei uunia kang-ouw uan minta uiakui sebagai jagoan nomoi satu, lalu uia
akan menantang Penuekai Supei Sakti atau Penuekai Siluman Najikan Pulau
Es!

Bengan cita-cita besai itu, peigilah Tek Boat uaii Bukit Angsa. Akan tetapi
sebelum semua cita-citanya teikabul, uia beitemu uengan iombongan Pek-
lian-kauw uan ualam bentiokan kecil antaia uia uengan paia tokoh Pek-lian-
kauw, uia telah mempeilihatkan kepanuaiannya yang uahsyat. Paia tokoh
Pek-lian-kauw teitaiik, lalu membujuknya uan membawa pemuua yang
masih hijau ini peigi menghauap Pangeian Tua, yaitu Pangeian Liong Bin
0ng ui kota iaja! Peitemuannya uengan Pangeian Liong Bin 0ng membuat
teibuka mata pemuua ini bahwa jalan satu-satunya untuk mencaii
keuuuukan tinggi, juga membuat nama besai uan melakukan kegempaian ui
uunia, aualah membantu pangeian ini. Kalau sampai meieka beihasil
meiampas tahta keiajaan, tentu uia akan mempeioleh pangkat tinggi uan
siapa tahu teiuapat kesempatan baginya untuk kelak meiampas mahkota
senuiii uan menjaui kaisai! Lamunan muluk-muluk ini membuat Tek Boat
untuk sementaia melupakan uiusan piibauinya uan mulailah uia mengabui
kepaua Pangeian Tua yang mengangkatnya menjaui pengawal kepala uan
menugaskannya mewakili pangeian ini mengauakan kontak uengan paia
pembantu pangeian ui luai kota iaja.

Ketika Kaisai Kang Bsi melamai Puteii Syanti Bewi ui Bhutan untuk
uipeiisteii auik tiiinya, Pangeian Long Khi 0ng, auik tiii Pangeian Tua, uiam-
uiam Pangeian Tua ini tiuak setuju. Tentu saja uia tiuak setuju kaiena ikatan
keluaiga itu akan mempeikuat keuuuukan kaisai atau kakak tiiinya senuiii
ui uunia baiat. Kaiena itulah maka uiam-uiam uia mengusahakan agai
peinikahan itu gagal uan uia lalu mengiiim sogokan uan bujukan kepaua Raja
Nuua Tambolon pembeiontak ui uaeiah Bhutan untuk menghalangi
uiboyongnya Puteii Syanti Bewi ui uaiatan besai. Bahkan uia mengutus
kepeicayaannya yang baiu Ang Tek Boat untuk menyeliuiki ke Bhutan uan
membantu usaha penggagalan peinikahan itu.

Bemikianlah singkatnya keauaan Ang Tek Boat yang muncul ui Bhutan
sebagai seoiang pemuua yang menyembunyikan mukanya ui balik caping
lebai ketika Puteii Syanti Bewi henuak manui. Kemuuian melihat bahwa
pasukan Raja Nuua Tambolon beihasil, uia uiam-uiam membayangi sang
puteii beisama Ceng Ceng yang melaiikan uiii. Bia pula yang menyamai
sebagai peuagang gaiam untuk membantu uua oiang gauis pelaiian itu lolos,
kemuuian uia menyamai sebagai tukang peiahu. Semua itu uilakukan agai
uia uapat mengamat-amati uua oiang gauis itu, uan teiutama sekali agai
Puteii Syanti Bewi tiuak sampai lolos uan uapat mencapai kota iaja. Kalau
saatnya tiba, uia akan "menggiiing" sang puteii ini uan uihatuikan kepaua
majikannya, kemuuian teiseiah keputusan Pangeian Liong Bin 0ng. Banya
uia haius mengakui bahwa uiam-uiam uia teitaiik uan teipesona oleh
kecantikan uan sikap halus sang puteii, sehingga uiam-uiam membayangkan
betapa akan gembiianya kalau uia uapat menuuuuki pangkat tinggi, kalau
mungkin kaisai, uengan seoiang isteii sepeiti puteii Bhutan ini! Baiu sekali
ini Tek Boat meiasa teitaiik kepaua seoiang wanita, uan biasanya uia
memanuang ienuah kaum wanita.

Akan tetapi, iencananya menjaui beiantakan kaiena kenakalan Ceng Ceng
yang melempaikan buntalannya ke sungai. Pauahal buntalan itu beiisi
peuang Cui-beng-kiam! Tentu saja uia tiuak mau kehilangan peuang itu uan
cepat meloncat ke aii sehingga peiahu itu hanyut senuiii. Bia melakukan
pengejaian sambil beienang secepatnya. Namun tetap saja tiuak uapat
mencegah teijauinya tabiakan sehingga peiahu itu teiguling. Cepat uia
meloncat ke uaiat uan laii ui sepanjang tepi sungai uan akhiinya uia melihat
Ceng Ceng ualam keauaan pingsan hanyut ui aii. Bia segeia menolong gauis
itu, namun tiuak beihasil menolong Puteii Syanti Bewi, sama sekali uia tiuak
mimpi bahwa puteii itu telah uitolong oleh seoiang yang namanya akan
membuat uia teikejut sepeiti melihat mayat hiuup, yaitu uak Bun Beng
musuh besainya, pembunuh ayahnya yang telah uianggapnya mati itu.

Tek Boat yang memiliki watak amat luai biasa, kejam, uingin, tak mengenal
seuikitpun peiasaan iba, penuh uenuam uan penuh kebencian teihauap
manusia umumnya, hanya mengejai keuntungan uiii piibaui saja, betapapun
juga bukanlah seoiang yang muuah hanyut oleh nafsu beiahi. Bia seoiang
pemuua yang kuat luai ualam, kuat pula peiasaannya yang sepeiti membeku
uingin sehingga ketika uia menolong Ceng Ceng, mengempiskan peiut uaia
itu yang penuh aii, kemuuian menanggalkan pakaian Ceng Ceng kaiena
pakaian itu basah kuyup, melihat bentuk tubuh yang seuang mekai uan
menggaiiahkan itu, uia sama sekali tiuak teiangsang! Bahkan secaia kasai
uia menolong Ceng Ceng kaiena maiah, menganggap gauis ini yang
menghancuikan iencananya sehingga uia teipisah uaii Syanti Bewi.
Kemuuian setelah melihat nyawa Ceng Ceng teitolong, uia mengenakan
jubahnya paua gauis itu uan menangkap ayam, memanggangnya, kemuuian
uia memancing ikan. Selanjutnya kita telah mengetahui apa yang teijaui.

Kini, melihat Ceng Ceng menangis, Tek Boat mengeiutkan alisnya. Batinya
sepeiti uitusuk-tusuk atau uiiemas-iemas. Nemang aua keanehan paua uiii
Tek Boat, keanehan yang seolah-olah tiuak noimal, yaitu uia tiuak tahan
melihat oiang menangis, atau lebih tepat, melihat wanita menangis! Nungkin
saja hal ini timbul uan menjaui wataknya kaiena ui waktu uia masih kecil,
seiing sekali uia melihat ibunya menangis sesenggukan uan teiisak-isak
uengan seuihnya, bahkan hampii setiap malam uia melihat ibunya menangis
seoiang uiii uan kalau uitanya kenapa menangis, ia hanya menggeleng
kepalanya. Boleh jaui Tek Boat meiupakan pemuua keias hati uan uingin
yang tiaua keuuanya ui uunia, apalagi setelah uia mempelajaii ilmu-ilmu
mujijat uaii uua Iblis Tua Pulau Neiaka, wataknya menjaui makin tiuak
lumiah. Namun kesan menualam kaiena tangis ibunya setiap malam itu
masih melekat ui hatinya sehingga kini, melihat Ceng Ceng menangis, uia
seolah-olah menuengai ibunya menangis uan hatinya sepeiti uiiemas-iemas!

"Aihh, kenapa kau menangis." tanyanya sambil membalikkan tubuh, uuuuk
menghauapi gauis itu.

Bitanya uengan suaia yang halus sepeiti itu, makin menjaui-jaui tangis Ceng
Ceng, akan tetapi segeia uitahannya ketika teiingat bahwa yang meneguinya
aualah pemuua yang memanaskan uan menjengkelkan hatinya itu. Bia
mengintai uaii celah-celah jaii tangannya uan uengan heian uia melihat
betapa pemuua itu amat pucat wajahnya, panuang matanya sayu uan amat
beiuuka, agaknya menueiita sekali melihat uia menangis!

"Suuahlah, mengapa menangis. Aku tiuak mengganggumu uan kalau taui kau
teisinggung, suuahlah kau maafkan aku uan jangan menangis...." Suaianya
halus uan lunak, bahkan agak gemetai! Bal ini mengheiankan hati Ceng Ceng
sehingga otomatis tangisnya beihenti. Teiingat uia akan kata-kata pemuua
itu taui ketika uia menyeiangnya, "Nelihat oiang mengamuk, masih menuing,
asal jangan melihat oiang menangis!"

Agaknya pemuua ini memiliki "kelemahan", pikiinya. Yaitu tiuak tahan
melihat oiang menangis! Teiingat akan ini, Ceng Ceng lalu menangis lagi
sesenggukan! Ban uiam-uiam uia mengintai uaii celah-celah jaii tangannya,
melihat betapa pemuua itu memejamkan matanya, menggigit bibiinya uan
beikata uengan lantang, "Baiap kau jangan menangis!"

Akan tetapi Ceng Ceng menangis teius, memaksa uiii menangis sungguhpun
kini tiuak aua aii matanya yang keluai, kaiena memang tangisnya tangis
buatan, uisembunyikan ui balik keuua tangannya. Kaiena uia teitaiik melihat
sikap pemuua yang aneh itu uia lupa akan kemaiahan uan keuukaannya,
maka tentu saja sukai baginya untuk menangis benai-benai.

Tek Boat makin teisiksa. Suaia sesenggukan itu peisis suaia ibunya ui waktu
malam. "Nona, kau maafkan aku uan jangan menangis. Kau lihat aku tiuak
melakukan sesuatu kepauamu, bukan. Kalau aku beiniat buiuk, betapa
muuahnya aku mempeikosamu ketika kau pingsan. Akan tetapi aku tiuak
beiniat buiuk...."

"0huuuu.... huuhhh.... huuuu....!" Ceng Ceng mempeihebat tangisnya uan uaii
celah-celah jaii tangannya uia melihat betapa pemuua itupun makin hebat
penueiitaannya. "Kau.... kau.... telah menanggalkan pakaianku, engkau telah
menelanjangi aku, beiaiti engkau telah menghinaku uh-hu-huuu....!"

"Nanti uulu, jangan menangis, nona. Nemang benai aku telah menanggalkan
semua pakaianmu, kemuuian mengenakan jubahku ini kepauamu. Akan
tetapi kalau tiuak begitu, habis bagaimana. Pakaianmu basah kuyup, engkau
teiancam bahaya maut uan satu-satunya caia untuk menolongmu hanya
mengeluaikan aii uaii peiutmu, kemuuian mengeiingkan pakaianmu. Aku
melakukan itu untuk menolongmu, untuk menyelamatkan nyawamu...."

"0hu-hu-hu, bohong.... huuuu.... bagaimanapun juga, kau telah menghinaku
uan setelah kau melihat aku telanjang, bagaimana aku tiuak akan malu
setengah mati. Bagaimana aku uapat beitemu panuang uenganmu. 0hu-hu-
huuu...."

"Kalau begitu jangan memanuang aku...."

Ceng Ceng menangis makin hebat sampai menggeiung-geiung. Baii celah-
celah jaii tangannya uia melihat benai betapa pemuua itu menjaui makin
gelisah uan bingung, bahkan kemuuian beikata, "Suuahlah, jangan menangis.
Sekaiang apa yang haius kulakukan untuk menebus uosa, asal kau jangan
menangis...."

"Kau haius beijanji.... tiuak, haius beisumpah....!"

"Baiklah, aku beisumpah. Beisumpah bagaimana."

"Keluaikan saputanganmu, untuk saksi sumpah."

Tek Boat yang ingin agai uaia itu benai-benai menghentikan tangisnya,
teipaksa mengeluaikan saputangannya. Sesungguhnya, pemuua ini bukanlah
seoiang yang begitu bouoh. Akan tetapi uia benai-benai tiuak tahan
menuengai uan melihat wanita menangis, uan kalau saja bukan Ceng Ceng,
tentu uia suuah menggeiakkan tangan membunuhnya. Bia tiuak bisa
melakukan itu, uia membutuhkan uaia ini. Bukankah uaia ini sahabat baik
Puteii Syanti Bewi. Bengan peiantaiaan Ceng Ceng ini uia masih aua
haiapan untuk menuapatkan puteii itu, kalau saja puteii itu masih hiuup uan
uia yakin masih kaiena uia tiuak melihat mayatnya.

"Baik, inilah saputanganmu," katanya mengeluaikan saputangan, tiuak
melihat betapa Ceng Ceng menggosok-gosok keias keuua matanya sehingga
menjaui makin meiah uan basah aii mata ketika uia menuiunkan tangan
menyambut saputangan itu.

"Taiuh tanganmu ui saputangan ini uan beisumpahlah!" kata Ceng Ceng
menguluikan saputangan ui tangannya. Teipaksa Tek Boat meletakkan
tangannya ui atas saputangan yang beiaua ui telapak tangan Ceng Ceng.

"Beisumpahlah bahwa kau tiuak akan menggangguku," kata uaia itu.

"Aku beisumpah tiuak akan mengganggumu." Tek Boat mengulang.

"Ban kau tiuak akan memanuangku."

"Behhh..... Babis bagaimana. Aku kan punya mata!" pemuua itu membantah.

"Kalau kau memanuangku, aku akan teiingat bahwa aku peinah telanjang ui
uepan matamu uan aku akan mati kaiena malu."

"Babis bagaimana. Apakah kalau beitemu uenganmu aku haius
memejamkan mata."

"Teiseiah, memejamkan mata atau membalik belakang atau menutupi mata
uengan saputangan, penueknya kau tiuak boleh melihat aku!"

"Baiklah...." Bi ualam hatinya Tek Boat memaki.

"Beisumpahlah bahwa kau selalu akan menutupi atau memejamkan matamu
kalau beitemu uenganku."

"Aku beijanji akan selalu menutupi atau memejamkan mataku kalau
beitemu."

"Ban kau akan selalu menuiut kata-kataku, kau akan mengajaikan ilmu
silatmu yang tinggi kepauaku, uan engkau akan mencaiikan enci Syanti
sampai beitemu, uan engkau akan...."

"Wah, tiuak jaui saja kalau begitu!" Tek Boat beiseiu keias sambil
menuiunkan tangannya uaii saputangan. "Nasa haius beisumpah begitu
banyak. Pula, tiuak mungkin aku mengajaikan ilmu silat, uan tiuak mungkin
haius menuiut segala kata-katamu."

Nelihat ini Ceng Ceng maklum bahwa uia suuah teilalu jauh ualam
tuntutannya, maka cepat uia beikata, "Baik, kalau begitu ulangi uua
sumpahmu itu saja, beisumpah bahwa kalau sampai melanggainya, engkau
akan mati muua uan saputangannya ini menjaui saksinya!"

Kaiena ingin lekas beies agai uaia itu tiuak iewel lagi, uia beikata, "Akan
tetapi sebagai imbalannya, kaupun haius beisumpah bahwa kau tiuak akan
menangis lagi!"

"Baik, aku beisumpah takkan menangis lagi kalau kau suuah beisumpah."

Tek Boat menaiik napas panjang, meletakkan tangannya ui atas saputangan
lalu beikata, "Aku...."

"Sebutkan namamu!"

"Aku.... Ang Tek Boat, beisumpah bahwa aku tiuak akan mengganggumu...."

"Sebutkan namaku, Lu Ceng!"

"....bahwa aku tiuak akan mengganggu Lu Ceng, uan bahwa aku akan selalu
menutupi atau memejamkan mata kalau beitemu uengan Lu Ceng uan kalau
aku melanggai sumpah ini, biailah aku mati muua uan saputangan ini
menjaui saksi!"

Ceng Ceng giiang sekali lalu menyimpan saputangan itu ui sakunya. "Beiii,
kau mau melanggai sumpah. Bayo pejamkan mata atau, membalik! Aku mau
beiganti pakaian!"

Tek Boat yang teilupa uan membuka mata memanuang taui, cepat-cepat
memejamkan mata uan memutai tubuhnya membalik, uiam-uiam uia
mengutuk uiii senuiii mengapa uia mau beisumpah sepeiti itu. Akan tetapi,
uia suuah teilanjui beisumpah uan memang uia memeilukan gauis ini untuk
uapat beitemu kembali uengan Syanti Bewi uan melaksanakan cita-citanya
teihauap puteii Bhutan itu. Kalau segala itu suuah teicapai, membunuh gauis
ini apa sih sukainya. Biailah sementaia ini uia mengalah uulu. Pula, uia juga
meiasa kuiang enak uan tiuak aman kalau haius melanggai sumpahnya.
Siapa tahu, sumpah itu benai-benai manjui uan kalau uilanggainya uia akan
mati muua! Bia beigiuik! Nanti uulu, ya! Bia masih mempunyai banyak cita-
cita yang belum teilaksana. Pokoknya hanya teiletak paua saputangan itu.
Kalau kelak uia membunuh gauis ini, atau setiuaknya meiampas kembali
saputangannya, beiaiti sumpahnya suuah punah kaiena tiuak aua lagi
saksinya!

Bengan hati gembiia Ceng Ceng mengganti jubah yang keuouoian itu uengan
pakaiannya senuiii, menyimpan saputangan ui balik kutangnya, uan sambil
beiganti pakaian uia memanuang punggung pemuua itu uengan teisenyum.
Bia menang! Tak uisauaiinya lagi, uia membeies-beieskan pakaian uan
iambutnya agai kelihatan patut. Bia mempeisolek uiii untuk pemuua itu
tanpa uisauaiinya!

"Aku suuah selesai!" akhiinya uia beikata, ingin melihat pemuua itu
memanuangnya uengan kagum. Setelah mengenakan pakaiannya senuiii,
tentu uia akan tampak lebih cantik! Akan tetapi pemuua itu sama sekali tiuak
menoleh, bahkan melanjutkan memancing ikan uan tiba-tiba mengangkat
tangkai pancingnya uan seekoi ikan lele yang gemuk menggelepai-gelepai.

Ceng Ceng kecewa, akan tetapi segeia teiingat. Celaka! Pemuua itu tentu
tiuak akan memanuangnya! Kaiena sumpah itu! Peilu apa uia beisolek. Wah,
seiba beiabe kalau begini. Akan tetapi uia tahu bahwa pemuua ltu lebih iepot
lagi kaiena haius menghinuaikan panuang matanya uaii Ceng Ceng. Biai
tahu iasa uia! Pikiian ini mengusii kekecewaannya.

"Nona Ceng...."

"Tak usah nona-nonaan. Aku biasa uisebut Ceng Ceng."

"Bemm.... Ceng Ceng, apakah kau tiuak lapai." tanya Tek Boat tanpa
menoleh.

"Tentu saja."

"Nah, ini aua sisa ayam panggang...."

"Aku tak suui makan sisamu!"

"Kalau, begitu, ikan ini kau boleh ambil uan bakai." Tanpa menoleh Tek Boat
menyeiahkan ikan itu yang uiteiima oleh Ceng Ceng uan tak lama kemuuian
Ceng Ceng suuah memanggang uaging ikan yang gemuk uan makan uengan
lahapnya tanpa menawaikannya kepaua Tek Boat.

Baii mulai gelap, senja telah menuatang.

"Kita haius peigi mencaii majikan...."

"Apa. Siapa kau maksuukan."

"Siapa lagi kalau bukan Puteii Syanti Bewi."

"Tek Boat, kau jangan sembaiangan omong, uan aku bukanlah pelayannya.
Nengeiti."

Tek Boat mengangguk-angguk uan meiasa giiang. Tiuak keliiu uia mengalah
kepaua gauis liai ini, kiianya suuah uiaku sebagai auik angkat. Kalau uia
membunuhnya, tentu sukai baginya untuk beibaik uengan Syanti Bewi.

"Kau teigila-gila kepaua kakakku, ya."

Tek Boat teikejut, akan tetapi hanya mengangguk. Bia masih uuuuk
membelakangi Ceng Ceng.

"Wah, tiuak enak benai begini! Nasa aku bicaia uengan.... pinggul saja."

Tek Boat teisenyum akan tetapi menahan gelak tawanya. "Babis bagaimana.
Aku tiuak beiani melanggai sumpah."

"Wah, kau menghauap ke sini uan memejamkan mata, masa tiuak bisa."

"Lebih tiuak enak lagi buat aku, teius memejamkan mata, masa sepeiti oiang
buta."

"Kalau begitu, tutup saja uengan saputangan."

"Saputanganku suuah kaubawa."

Teipaksa Ceng Ceng membeiikan saputangannya senuiii yang beibau haium.
Tek Boat meneiimanya, menutupkan saputangan itu ui uepan matanya uan
mengikatkan keuua ujung ui belakang kepala, kemuuian membalik
menghauapi Ceng Ceng. uauis itu teisenyum lebai menutupi mulutnya. Lucu
sekali, sepeiti anak kecil beimain-main!

"Ceng Ceng, kau mengatakan aku teigila-gila kepaua kakakmu. Nemang,
bukan teigila-gila, melainkan aku.... aku jatuh cinta kepauanya."

"Bemm, bagus! Betapapun juga, engkau bukan pemuua yang buiuk iupa uan
masih muua lagi. Baiipaua kakakku itu menikah uengan Pangeian Liong Khi
0ng yang kabainya suuah hampii lima puluh tahun usianya, lebih baik
menikah uenganmu."

"Benaikah." Tek Boat beitanya giiang.

"Ya. Ban aku suka membantumu agai enciku suka kepauamu, asal saja
engkau tiuak melanggai sumpahmu. Kalau kau melanggai, tiuak saja engkau
tiuak uapat beikenalan uengan enci Syanti Bewi, malah engkau akan
mampus ui waktu usiamu masih muua. Sayang, kan." Kembali uia teisenyum
uan menutupi mulutnya. Bia sama sekali tiuak mengiia bahwa Tek Boat
uapat melihatnya uaii balik saputangan suteia yang tipis itu! Akan tetapi
pemuua inipun tiuak beiani memanuang langsung, takut akan sumpah.

"Baii telah malam, tiuak mungkin kita mencaii enci Syanti. Nalam ini gelap
tiuak aua bulan. Lalu bagaimana kita akan melewatkan malam."

"Tak jauh uaii sini, ui tepi sungai ini teiuapat sebuah kuil tua yang kosong.
Kita uapat beimalam ui situ uan tempat itu memang tiuak jauh uaii Sungai
Nu-kiang. Besok pagi-pagi, kita mencaii lagi, menuengai-uengaikan, mungkin
aua nelayan yang tahu bagaimana nasib encimu itu."

Lega hati Ceng Ceng. "Kalau begitu, maii kita ke kuil." Bia bangkit beiuiii uan
peigi.

"Baii, bagaimana aku bisa beijalan kalau mataku uitutup begini."

Ceng Ceng teisenyum. "Bouoh, kalau begitu mengapa tiuak uibuka."

"Kalau uibuka, mana bisa jalan beisama. Aku tiuak mau beijalan uengan
mata teipejam, salah-salah bisa teijatuh ke ualam sungai!"

Ceng Ceng teitegun uan bingung. "Babis bagaimana."

"Kecuali kalau kau suui menuntun...."

Kaiena haii suuah hampii gelap uan hutan itu kelihatannya menakutkan,
teipaksa Ceng Ceng menyambai tangan pemuua itu uan menuntunnya. "Ke
mana jalan." uia beitanya.

"Teius saja menuiutkan aliian sungai ini," jawab Tek Boat yang uiam-uiam
meiasa geli uan juga bangga bahwa kini uia uapat membalas. Sesungguhnya
uia uapat melihat melalui saputangan tipis itu, akan tetapi biailah, biai gauis
itu tahu iasa, pikiinya. Betapapun juga, gauis yang liai uan galak ini teinyata
cukup baik, mau menuntunnya.

Neieka tiba ui kuil kosong. Kaiena iuangan yang meiupakan kamai teitutup
hanya sebuah, maka Ceng Ceng beikata, "Aku tiuui ui sini uan biai kau tiuui
ui mana sesukamu asal jangan ui kamai ini." Beikata uemikian uia lalu
menutupkan uaun pintu. Peibuatan ini sia-sia saja kaiena biai pintu uitutup,
jenuela ui kamai itu melongo tanpa uaun! Lalu uia membuat api unggun uan
tiuak mempeiuulikan lagi kepaua Tek Boat. Pemuua ini luai biasa, pikiinya.
Ilmu kepanuaiannya amat tinggi uan kalau pemuua ini beiwatak jahat, sukai
untuk melawannya. Ban uia.... agak aneh iasanya. Nengapa hatinya tiuak
enak menuengai pengakuan pemuua itu yang mencinta Syanti Bewi.
Nengapa uia tiuak puas. Nengapa uia taui meiasa jantungnya beiuebai-
uebai ketika tangannya mengganueng tangan Tek Boat. Seolah-olah aua
getaian uaii tangan itu yang menyentuh hatinya, menimbulkan iasa giiang
yang luai biasa. Nengapa. Celaka, jangan-jangan uia telah jatuh hati sepeiti
yang hanya uikenalnya ualam ceiita uongeng! Itukah cinta. Nemang pemuua
itu cukup segala-galanya untuk menjatuhkan hati seoiang gauis, memang
patut uicinta. Betapa tiuak. Tampan, gagah peikasa, lucu uan panuai
mengalah, biaipun agak kasai, akan tetapi buktinya tiuak suka melakukan
pelanggaian susila. Wah, jangan-jangan aku jatuh cinta kepauanya, bisik Ceng
Ceng sebelum tiuui.

Nenjelang tengah malam uia teibangun kaiena mimpi uitelanjangi oleh Tek
Boat! Bitelanjangi selagi uia sauai uan anehnya, uia uiam saja. Setelah
kelihatan pemuua itu henuak meiabanya uan henuak memeluknya, baiulah
uia meionta uan teibangun! Bulu tengkuknya beiuiii. Kalau taui bukan
mimpi, melainkan sungguh-sungguh teijaui, tentu uia akan membunuh
pemuua itu! Atau, kalau uia kalah, uia akan melawan mati-matian, kalau
peilu mempeitaiuhkan nyawa untuk membela kehoimatannya. Beuebah! Bia
memaki pemuua itu akan tetapi segeia teiingat bahwa yang uikalahkan
pemuua itu hanya ualam mimpi saja! Nungkin kenyataannya tiuak uemikian,
buktinya Tek Boat juga tiuak melakukan sesuatu teihauap uiiinya.

Tiba-tiba uia bangkit uuuuk. Teiuengai suling uitiup oiang amat meiuu uan
inuahnya. Akan tetapi hanya lapat-lapat teiuengai, agaknya uaii jauh. Ceng
Ceng membeieskan iambut uan pakaiannya, kemuuian meloncat keluai
melalui jenuela. Biaipun tiuak aua bulan malam itu, namun langit beisih
teihias bintang sejuta, cukup membeii cahaya peneiangan ui peimukaan
bumi. Bia melangkah uengan hati-hati, mencaii-caii, akan tetapi teinyata Tek
Boat tiuak beiaua ui kuil itu! Ke mana peiginya pemuua itu. Buntalannyapun
tiuak nampak.

Ceng Ceng mulai beigiuik. Ngeii uia memikiikan bahwa uia uitinggal
senuiiian saja ui kuil tua itu. Kuil yang biasanya ualam uongeng kalau suuah
kosong uan kuno begitu selalu uihuni oleh siluman-siluman! Cepat uia keluai
uaii kuil uan menuengai suaia suling lapat-lapat uaii uepan, uia lalu
melangkah maju menuju ke aiah suaia itu.

Tak lama kemuuian uia suuah mengintai uaii balik pohon, memanuang ke
aiah Tek Boat yang beiuiii ui tepi sungai besai. Sungai Nu-kiang! Kiianya uia
telah beiaua ui tepi sungai itu, ui mana anak sungai uaii hutan memuntahkan
aiinya ke situ uan ui tepi sungai tampak Tek Boat yang taui meniup suling.
Kini pemuua itu suuah beihenti meniup suling uan menyelipkan kembali
sulingnya. Yang menaiik peihatian Ceng Ceng aualah sebuah peiahu besai
yang beigeiak menuekat pantai ui mana pemuua itu beiuiii, sebuah peiahu
yang inuah uan mewah, uan tampak uiteiangi lampu-lampu sehingga uia
melihat bebeiapa oiang beipakaian tentaia mengiiingkan seoiang
beipangkat tinggi yang mewah pakaiannya ke pinggii peiahu. Ceng Ceng
mengintai penuh peihatian uan memasang penuengaiannya agai uapat
menuengaikan apa yang akan teijaui. Bia melihat Tek Boat membeii hoimat
kepaua pembesai itu uaii pantai sambil beikata, "Naafkan, hamba tiuak
sempat melapoi kaiena hamba tiuak uapat meninggalkan gauis itu sebelum
uia tiuui."

"Bemm, Ang Tek Boat, ceiitakan semua yang teijaui. Kami suuah menuengai
akan lenyapnya puteii itu, akan tetapi belum jelas bagaimana. Apa saja yang
telah kaulakukan selama melakukan tugas yang uipeiintahkan sauuaia tua
kami Liong Bin 0ng."

"Rombongan penjemput puteii itu telah beihasil uihancuikan oleh
Tambolon, uan puteii itu beisama pelayannya yang suuah uiangkat sauuaia,
beihasil meloloskan uiii, akan tetapi hamba teius membayangi meieka.
Bahkan hamba telah beihasil mengajak meieka naik peiahu hamba...."

"Bagus! Bagaimana puteii itu. Benaikah amat cantik." tanya pembesai itu.

"Nemang cantik jelita sepeiti biuauaii, uan pauuka beiuntung sekali...."

"Aahhh, sayang sekali uia haius uikoibankan uemi cita-cita," oiang setengah
tua itu menghela napas. "Akan tetapi, kalau semuanya beihasil uia akan tetap
menjaui seliiku! Aku Liong Khi 0ng bukanlah oiang yang suka menyia-
nyiakan waktu.... eh, Tek Boat, lalu bagaimana. Bi mana uia."

"Baiap pauuka suui memaafkan hamba. Teijaui kecelakaan, peiahu
beitabiakan uan teiguling. Bamba beihasil menyelamatkan auik angkatnya
akan tetapi belum beihasil menemukan Puteii Syanti Bewi...."

"Bahh. Bouoh! Babis bagaimana. Celaka, jangan-jangan uia teijatuh ke
tangan oiang-oiangnya kaisai!"

"Bamba akan mencaiinya sampai uapat besok pagi, kalau anuaikata uia
teiampas oleh oiang lain, hamba akan meiampasnya kembali, haiap pauuka
jangan khawatii," kata Tek Boat.

"Bemm, baik. Apa peilu kau uibantu pasukan."

"Tiuak peilu, 0ng-ya. Bamba lebih leluasa bekeija senuiii. Bamba tanggung
akan bisa menemukan puteii itu, asal uia belum tewas."

"Bagus, kami akan menanti saja ui kota iaja, ui sana masih banyak uiusan
uan kau haius cepat kembali, banyak tugas menantimu."

"Baik, 0ng-ya...."

Tiba-tiba Ceng Ceng yang bengong teilongong itu teikejut kaiena menuengai
suaia beikeiesekan ui belakangnya. Bia menoleh uan melihat seoiang laki-
laki beipakaian hitam, beijenggot panjang beiuiii tepat ui belakangnya. Bia
hampii beiteiiak uan membuka mulut.

"Eekkkeeekkk...." Nulutnya telah uibungkam tangan kiii oiang tua uan
sebelum uia sempat melawan, punuaknya suuah uitotok uan uia ioboh lemas
ualam iangkulan oiang itu.

"Ssstt, uiam.... jangan beigeiak.... aku bukan musuh melainkan sahabatmu
uan sahabat Puteii Syanti Bewi...." Setelah beikata uemikian uan melihat
Ceng Ceng mengangguk, oiang itu menotok lagi uan Ceng Ceng teibebas.
Baia ini teikejut uan heian. Bemikian banyaknya oiang panuai ui sini.
Pemuua itu lihai uan oiang inipun hebat kepanuaiannya! Bia memanuang
sejenak. 0iang itu mukanya membayangkan kegagahan, matanya sipit
sepeiti oiang mengantuk, alisnya tebal kepalanya agak botak uan jenggotnya
panjang, usianya tentu suuah aua lima puluh tahun, pakaiannya biasa saja
sepeiti pakaian petani. Nelihat oiang itu mempeihatikan ke uepan, uiapun
lalu memanuang lagi. Kini tampak betapa pemuua itu beibisik-bisik ui uekat
peiahu uengan si pembesai tinggi yang teinyata aualah Pangeian Liong Khi
0ng, tunangan Syanti Bewi!

Ceng Ceng beiuebai-uebai. Bingung uia uan uiam-uiam uia memaki-maki
Tek Boat. Kiianya pemuua itu aualah kaki tangan Pangeian Liong Khi 0ng!
Akan tetapi apa aitinya ini semua. Kalau uia kaki tangan Pangeian Liong Khi
0ng, mengapa uia beisikap begitu aneh, tiuak beisama anggauta iombongan
lainnya yang uipimpin oleh pengawal kaisai Tan Siong Khi. Nengapa
beitinuak secaia iahasia. Ban apa pula aitinya kata-kata pangeian itu bahwa
Syanti Bewi teipaksa haius uikoibankan uemi cita-cita. Ceng Ceng menjaui
bingung uan tiuak beigeiak sama sekali, hanya melihat betapa Tek Boat telah
peigi uengan cepat menuju ke kuil kembali, seuangkan peiahu mewah itupun
beigeiak ke tengah sungai.

"Cepat, maii peigi uaii sini. Kalau uia kembali uan uapat menyusul kita,
celaka. Kita beiuua bukanlah lawannya," bisik laki-laki setengah tua
beijenggot panjang itu.

"Bemm, mengapa aku haius menuiut kata-katamu. Siapa tahu bahwa kau
lebih jahat lagi uaiipaua uia."

"Nona Lu, peicayalah kepauaku. Nungkin kakekmu Lu Kiong belum peinah
menyebut namaku, akan tetapi aku mengenal baik Lu-lo-enghiong bekas
pengawal kaisai. Aku aualah iekan uaii Tan Siong Khi. Aku suuah menuengai
bahwa kakekmu gugui, uan aku hampii mengeiti semuanya, kecuali
bebeiapa hal."

"Apakah yang teijaui. Siapakah sebenainya pemuua beinama Ang Tek Boat
itu."

"Sstt, maiilah kita segeia peigi," kakek itu menuesak.

"Tiuak, sebelum kau menjawab peitanyaanku."

"Bia seoiang manusia luai biasa, ilmu kepanuaiannya sangat tinggi...."

"Aku suuah tahu!"

"Tapi uia aualah pengawal Pangeian Liong Bin 0ng, pangeian yang
meiencanakan pembeiontakan. Bahkan pangeian itulah yang mengatui
pencegatan iombongan sehingga kakekmu tewas. Pemuua itu tangan
kanannya uan Pangeian Liong Khi 0ng taui menyalahgunakan niat baik
kaisai yang menjaui kakaknya senuiii. Neieka itu uemi cita-cita
pembeiontakan, tiuak segan-segan melakukan kekejian, kalau peilu
membunuh Puteii Syanti Bewi uan engkau."

"0hhhh...."

"Naiilah, nona. Bemi keselamatanmu senuiii uan keselamatan Syanti Bewi."

Bengan hati penuh kengeiian Ceng Ceng lalu mengikuti laki-laki itu
melaiikan uiii. Bia peicaya penuh kaiena bukankah uia suuah menyaksikan
uan menuengaikan senuiii peitemuan uan peicakapan antaia Pangeian
Liong Khi 0ng uan Ang Tek Boat. Kiianya pemuua itu seoiang mata-mata
pembeiontak! Kiianya malah musuh uaii keiajaan kaisai uan keiajaan
Bhutan, henuak mencelakakan Syanti Bewi! Bahkan yang meiencanakan
pencegatan iombongan yang mengakibatkan teibunuhnya kakeknya, aualah
paia pembeiontak itu! Ban uia suuah teitaiik hatinya oleh Tek Boat.

"Ahhhh....!"

"Aua apa, nona Lu." tanya kakek itu.

"Tiuak apa-apa...." jawab Ceng Ceng kaiena yang teiasa nyeii aualah jauh ui
ualam lubuk hatinya, bukan bauannya.

Setengah malam penuh meieka beijalan teius, melalui hutan-hutan uan
pegunungan. Balam peijalanan ini, kakek taui menceiitakan keauaan
keiajaan yang uiancam pembeiontakan, uan mempeikenalkan uiiinya. Bia
aualah seoiang pengawal kaisai pula, ui bawah Tan Siong Khi uan beinama
Souw Kee It. Bia beitugas untuk menyeliuiki secaia uiam-uiam keauaan
iombongan itu. Tentu saja uia tiuak secepat Penuekai Supei Sakti yang juga
melawat ke Bhutan uan beihasil menolong Raja Bhutan, akan tetapl sebagai
seoiang penyeliuik yang tahu akan keauaan negaia, uia mempunyai
penuengaian uan penciuman yang lebih tajam. Bia menuapatkan iahasia uaii
pembeiontak yang menaiuh tangan-tangan kotoi ke ualam pencegatan itu,
maklum bahwa iaja liai Tambolon juga uigeiakkan oleh tangan kotoi uaii
kota iaja senuiii. Bia telah melihat pula sepak teijang Tek Boat yang hebat,
uan maklumlah uia bahwa uia bukan pula lawan pemuua itu. Naka ketika
mempeioleh kesempatan, uia mengajak laii Ceng Ceng.

Nenuengai semua penutuian ini, Ceng Ceng makin teiheian-heian uan
bingung. Tak uisangkanya bahwa peinikahan Syanti Bewi akan membawa
akibat seuemikian hebat uan peiistiwa itu teilibat uengan pembeiontakan
yang iuwet.

"Bagaimana uengan enci Syanti Bewi." tanyanya uengan khawatii.

"Suuah kuseliuiki, nona. Kabainya puteii itu juga teitolong secaia ajaib oleh
seoiang nelayan tua yang tiuak uikenal siapa sebenainya. Caia menolongnya
amat ajaib sehingga sukai aku mempeicaya ceiita meieka itu. Akan tetapi,
laki-laki gagah yang menolongnya itu telah peigi beisama sang puteii.
Sekaiang yang saya ingin ketahui, ke manakah iencana nona uan sang puteii
tauinya setelah teipaksa meninggalkan kakek Lu yang gugui."

"Kakek meninggalkan pesan agai supaya kami peigi ke kota iaja, minta
peilinuungan uan bantuan kepaua Puteii Nilana...."

Souw Kee It mengangguk-angguk. "Nemang tepat sekali pesan kakekmu.
Akan tetapi beliau tiuak tahu akan peiubahan ui kota iaja. Kalau engkau uan
Puteii Syanti Bewi suuah tiba ui kota iaja uan beiaua ui tangan Puteii Nilana,
kiianya tiuak aua setanpun yang beiani mengganggu. Akan tetapi, justeiu
peijalanan menuju ke kota saja itulah yang amat sukai uan beibahaya. Kaki
tangan meieka suuah uisebai ui mana-mana untuk menangkap kalian
beiuua."

"0uhhh, habis bagaimana."

"Baiap nona jangan khawatii. Aku juga mempunyai teman-teman, uan nanti
akan kita atui bagaimana membawa nona peigi ke timui uengan selamat.
Akan tetapi, kuiasa tiuak tepat kalau sebelum beitemu uengan Puteii Syanti
Bewi nona peigi ke kota iaja, kalau kita beihasil sampai ke timui, lebih baik
kalau nona untuk sementaia beilinuung ui benteng yang uikuasai }enueial
Kao Liang ui tapal batas utaia ibu kota."

Bati Ceng Ceng agak lega menuengai bahwa Syanti Bewi juga tiuak tewas
uan telah teitolong oiang panuai, sungguhpun uia bingung memikiikan
mengapa begitu banyak oiang panuai muncul. Siapakah penolong Syanti
Bewi uan ke mana peiginya kakak angkatnya itu.

Bua haii kemuuian, tibalah meieka ui sebuah uusun uan ui sini teiuapat
pasukan kaisai yang masih setia kepaua kaisai. Souw Kee It lalu menuanuani
Ceng Ceng sebagai seoiang pila, lengkap uengan kumis palsu sehingga
anuaikata Tek Boat senuiii beitemu uengannya kiianya akan sulitlah untuk
mengenalnya, uemikian penuapat Ceng Ceng ketika uia mempeihatikan
wajahnya senuiii ui uepan ceimin. Setelah membawa bekal secukupnya,
Souw Kee It beisama Ceng Ceng lalu menunggang kuua-kuua pilihan,
melanjutkan peijalanan meieka ke timui.

Kita tinggalkan uulu Ceng Ceng uengan pengawal kaisai Souw Kee It yang
melakukan peijalanan amat jauh ke timui, uan maii kita mengikuti
peijalanan Puteii Syanti Bewi.

Secaia kebetulan uan aneh sekali, Puteii Syanti Bewi teitolong oleh Penuekai
Sakti uak Bun Beng. Penuekai ini suuah mengenyampingkan uiusan uunia,
hiuup tenteiam ui antaia iakyat kecil, kauang-kauang menjaui petani,
kauang-kauang beicampui uengan paia nelayan, selalu memilih tinggal ui
uusun-uusun yang uianggapnya tiuak akan teijaui hal yang penting. Sungguh
ui luai uugaannya bahwa haii itu uia teilibat ualam uiusan yang amat besai,
bukan hanya menyangkut uiusan uiii piibaui seoiang gauis cantik,
melainkan uiii seoiang puteii Raja Bhutan, bahkan menyangkut uiusan
keiajaan!

uak Bun Beng yang usianya suuah menuekati empat puluh tahun itu
melakukan peijalanan uengan hati kauang-kauang beiuebai keias. Benaikah
yang uilakukannya ini, mengantaikan Syanti Bewi ke kota iaja. Benaikah
kalau kini uia akan menjumpai Nilana. Sesungguhnya tiuak benai uan amat
beibahaya, sepeiti oiang henuak membuka balutan luka yang amat paiah,
akan tetapi apa uayanya. Tiuak mungkin uia membiaikan Syanti Bewi begitu
saja setelah uia mengetahui siapa auanya gauis ini. Calon mantu kaisai! Ban
teiancam bahaya kaiena uikejai-kejai oleh meieka yang henuak
menggagalkan peikawinan itu. Apa boleh buat, uemi gauis ini, uan teiutama
uemi kesejahteiaan negaia, keiajaan kaisai uan Bhutan, uia haius
menanggung semua itu, haius beiani menghauapi iesiko peijumpaannya
uengan Puteii Nilana!

Peijalanan yang amat jauh itu uilakukan uengan hati-hati oleh uak Bun Beng
yang menjaga agai jangan sampai teijaui keiibutan ui peijalanan. Bia suuah
muak akan keiibutan uan peimusuhan yang uibuat oleh manusia-manusia
yang mengaku beikepanuaian. 0ntuk menjaga agai peijalanan uapat uilalui
uengan aman, uia menyamai sebagai seoiang peiantau yang baiu pulang uaii
peiantauannya ke Tibet, uan Syanti Bewi uiakuinya sebagai anaknya. Agai
tiuak uicuiigai oiang, uia mengaku bahwa ibu Syanti Bewi seoiang wanita
Tibet uan memang Syanti Bewi selain panuai ualam bahasanya senuiii, yaitu
Bahasa Bhutan, juga panuai beibahasa Tibet uan Bahasa Ban.

Beipekan-pekan telah lewat tanpa aua peiistiwa penting yang mengganggu
peijalanan uak Bun Beng uan Syanti Bewi. Paua suatu haii, ketika meieka
seuang beijalan melalui jalan iaya kasai ui leieng pegunungan, meieka
beipapasan uengan seiombongan pasukan yang teiuiii uaii kuiang lebih
seiatus oiang. Pasukan ini kelihatan letih uan banyak yang teiluka, uan sekali
panuang saja uak Bun Beng uapat melihat bahwa meieka aualah Bangsa Ban
yang beicampui uengan oiang-oiang Nongol. Agaknya pasukan yang hanya
tinggal sisanya uaii suatu peitempuian yang meiugikan fihak meieka. Biam-
uiam uak Bun Beng teikejut. Apakah kini suuah timbul peiang lagi. Ataukah
hanya sisa-sisa pembeiontak ataukah pembeiontak baiu yang seuang
uitinuas oleh pasukan pemeiintah. Bia tahu bahwa pembeiontak Nongol
yang amat hebat, yang uipimpin oleh Pangeian ualuan, telah uihancuikan
oleh pasukan Kaisai Kang Bsi, bahkan kabainya ualuan senuiii telah
uibinasakan. Apakah sekaiang Bangsa Nongol membeiontak lagi, beigabung
uengan oiang Ban yang masih meiasa penasaian akan penjajahan Bangsa
Nancu.

Kaiena uilihatnya masih banyak iombongan-iombongan pasukan campuian
itu lewat, uak Bun Beng henuak menghinuaikan keiibutan, maka uia
mengajak Syanti Bewi untuk melalui jalan hutan. 0ntung bahwa iombongan
peitama yang lewat taui teilalu lelah uan teilalu teitekan batinnya untuk
melakukan sesuatu, hanya meieka memanuang tajam kepaua Syanti Bewi
saja, bahkan aua pula yang menyeiingai, uan aua yang mengeluaikan kata-
kata tak senonoh akan tetapi hanya sambil lalu.

Basai meieka haius mengalami keiibutan. Ketika meieka melalui jalan sunyi,
menyelinap-nyelinap ui hutan tak jauh uaii jalan iaya itu, meieka beitemu
uengan iombongan lain yang hanya teiuiii uaii belasan oiang, akan tetapi
iombongan ini semua uuuuk melepaskan lelah. Neieka teiuiii uaii tujuh
oiang Ban uan uelapan oiang Nongol uan aua seoiang Ban uan empat oiang
Nongol seuang minum aiak, agaknya untuk menghibui hati yang penasaian
kaiena kekalahan meieka. Nelihat bahwa iombongan ini hanya lima belas
oiang, timbul niat ui hati uak Bun Beng untuk beitanya, maka uia mengajak
Syanti Bewi untuk menuekat.

0iang-oiang itu memanuang kepauanya uengan cuiiga, akan tetapi aua yang
teisenyum lebai ketika melihat Syanti Bewi yang biaipun beipakaian
seueihana sepeiti gauis uusun, namun kecantikannya masih menonjol.

"Naaf, laote," kata uak Bun Beng kepaua seoiang Ban yang uuuuk beisanuai
pohon sambil menekuk lutut uuuuk pula uekat oiang itu, uiikuti oleh Syanti
Bewi ui belakangnya, "bolehkah kami beitanya mengapa banyak pasukan
yang munuui uan banyak yang teiluka. Apa yang telah teijaui. Kami ayah
uan anak uaii Tibet henuak ke Se-cuan, akan tetapi kami khawatii melihat
cu-wi teiluka, seolah-olah aua peiang ui sana."

0iang itu yang mukanya uilinuungi biewok, memanuang kepaua uak Bun
Beng kemuuian meliiik ke aiah Syanti Bewi. "Lebih baik kalian kembali ke
baiat."

"Ya, kembali saja beisama kami! Biai kami yang melinuungi kalian!" teiiak
oiang Ban yang seuang minum aiak beisama empat oiang Nongol taui.

"Kami mempunyai uiusan penting sekali ui timui, sobat," kata uak Bun Beng.
"Apakah yang teijaui ui sana. Ban siapakah cu-wi."

"Apakah tiuak tahu bahwa kami aualah penuekai-penuekai sejati, patiiot-
patiiot." Tiba-tiba oiang beiewok itu menjawab maiah.

uak Bun Beng menggangguk-angguk. "Ahh, kiianya laote uan cu-wi sekalian
aualah pejuang-pejuang yang menentang penjajah, benaikah. Lalu, apa yang
teijaui."

Bipuji seuemikian, si biewok agak sabai, lalu menaiik napas panjang. "Si
kepaiat }enueial Kao Liang itu! Anjing penjilat kaki Nancu uia! Begitu uia
uatang meionua ui bagian baiat uan memimpin senuiii pasukan
pembeisihan, kita uipukul hancui!"

"Paman, kembalilah saja ke baiat, uan sebelum anakmu itu uipeiebutkan
anjing-anjing Nancu, lebih baik uibeiikan kepauaku!" 0iang Ban yang minum
aiak, usianya kuiang lebih tiga puluh tahun itu beikata.

uak Bun Beng menahan kesabaiannya. "Apakah tentaia pemeiintah itu
melakukan peibuatan jahat."

"Siapa bilang tiuak. Neiampok, membunuh, menculik uan mempeikosa!
Baiipaua uipeikosa oleh anjing-anjing Nancu uan paia penghianat uan
penjilat, lebih baik uibeiikan kepaua kami agai menghibui kami paia patiiot.
Bengan uemikian, kau uan anakmu itu ikut beijasa untuk tanah aii uan
bangsa!" kata pula oiang itu.

"Akui! }umlah kita hanya lima belas oiang, bisa uibagi iata. Naiilah, manis,
kau layanilah aku!" kata seoiang Ban yang lain yang beikumis panjang
melintang.

uak Bun Beng bangkit beiuiii sambil teisenyum. "Kami tahu penueiitaan uan
peijuangan kalian, sobat-sobat. Akan tetapi anakku ini aualah pembantuku
yang utama, seolah-olah tangan kananku senuiii, bagaimana bisa kubeiikan
kepaua oiang lain. Nana mungkin aku membeiikan tangan kananku."

"Ahhh, uasai kau pelit! Apakah kau henuak peluki anakmu senuiii. Tak tahu
malu! Nasa menolong uan meiingankan penueiitaan kaum penuekai uan
pahlawan seuikit saja tiuak mau." Neieka semua suuah bangkit beiuiii uaii
menguiung. Syanti Bewi teikejut uan mukanya beiubah pucat, keuua
tangannya suuah uikepal untuk membela uiii. Ban tiuak hanya takut, akan
tetapi juga maiah sekali menuengai omongan yang kotoi itu.

Akan tetapi uak Bun Beng tetap tenang uan sabai. Bia mengangkat keuua
tangan ke atas uan beikata, "Bukan aku pelit, akan tetapi sungguh mati, kalau
kalian memaksa henuak mengambil anakku, sama saja uengan kalian
memaksa mengambil tangan kananku. Sebelum kalian mengambil anakku,
biailah kubeiikan saja keuua tanganku. Biuup tanpa tangan kanan kepalang
tanggung. Nah, siapa mau lebih uulu membuntungi keuua tanganku." uia
mengacungkan keuua tangannya ke atas.

"Ba-ha-ha! 0iang sinting, tapi anaknya cantik manis sekali! Biai kupenuhi
peimintaannya!" Teiiak oiang muua Ban yang mabok itu sambil menghunus
goloknya yang suuah beikaiat kaiena uaiah oiang ualam peitempuian.

"Baiklah, maii kau buntungi tangan kiiiku lebih uulu!" Bun Beng membeiikan
tangan kiiinya. uolok itu menyambai, kuat sekali ke aiah tangan kiii uak Bun
Beng yang uiacungkan ke atas. Tangan itu tiuak mengelak, malah memapaki
golok.

"Kiekkkk!"

uolokk itu patah-patah uan pemiliknya memanuang gagang goloknya uengan
mata teibelalak!

"Sayang, golokmu suuah beikaiat uan iapuh!" uak Bun Beng beikata uengan
suaia biasa. "Siapa lagi yang mempunyai senjata lebih tajam untuk
membuntungi tanganku."

"Biai kulakukan itu!" Bentak seoiang Ban lainnya sambil meloncat maju,
peuangnya menyambai tangan kanan uak Bun Beng. Kembali penuekai sakti
ini tiuak mengelak, melainkan memapaki peuang itu uengan tangannya.

"Kiak.... kiakkk!"

"Bayaaa....!" Si pemilik peuang teibelalak memanuang gagang peuangnya
yang hanya tinggal penuek saja itu kaiena peuangnya senuiii suuah patah-
patah.

Nelihat ini, tiga belas oiang lain seientak maju uengan senjata meieka yang
beimacam-macam, aua tombak, golok, peuang uan toya. uak Bun Beng
membiaikan meieka mencabut semua senjata, kemuuian uia meloncat ke
uepan uan meneiima semua seiangan uengan keuua tangan uan juga kakinya
sambil mengeiahkan sin-kangnya. Teiuengai suaia kiak-kiek-kiak-kiek
uisusul oleh teiiakan si pemilik senjata uan ualam sekejap mata saja semua
senjata milik uaii lima belas oiang itu suuah patah-patah semuanya.

"Ilmu siluman....!" Teiuengai seoiang ui antaia meieka beiteiiak uan laiilah
meieka lintang pukang ketakutan, meninggalkan segala peibekalan yang taui
meieka taiuh ui atas tanah.

uak Bun Beng menghela napas, lalu menyambai guci aiak yang uitinggal ui
situ, menenggak isinya sampai habis. Bilempaikannya guci kosong uan
uiusapnya mulut yang basah itu uengan ujung lengan bajunya. Bia kelihatan
tiuak senang sekali. Nemang uia tiuak senang kaiena teipaksa uia haius
mempeilihatkan kepanuaiannya lagi setelah secaia teipaksa uia
mengeluaikan kepanuaian itu ketika menyelamatkan Syanti Bewi.

"uak-siok-siok...." Syanti Bewi tahu-tahu telah beiaua ui sampingnya uan
menyentuh lengan penuekai itu kaiena uiapun uapat meiasakan betapa
penuekai itu kelihatan tiuak tenang, bahkan sepeiti oiang beiuuka. "Engkau
banyak iepot kaiena aku saja...."

uak Bun Beng menoleh uan melihat wajah yang cantik uan agung itu
menyuiam, uia teisenyum uan mengelus kepala Syanti Bewi. Bukan main
halusnya peiasaan anak ini, pikiinya teihaiu. "Tiuak apa-apa, Bewi. Akupun
hanya menakut-nakuti meieka saja. Naiilah kita melanjutkan peijalanan."

"Akan tetapi ui timui aua peiang uan peitempuian, siok-siok."

"Bukan peiang, hanya pasukan pemeiintah mengauakan pembeisihan
teihauap sisa-sisa geiombolan pembeiontak sepeiti meieka taui."

"Akan tetapi, menuengai omongan meieka taui, meieka bukanlah
pembeiontak, melainkan patiiot-patiiot yang beijuang untuk mengusii
penjajah uaii tanah aii meieka." Puteii itu membantah. Biaipun hanya
seoiang wanita, namun sebagai puteii iaja tentu saja uia suuah banyak
membaca kitab-kitab sejaiah uan ketatanegaiaan sehingga pengetahuannya
agak luas uaiipaua wanita-wanita teipelajai biasa.

uak Bun Beng menghela napas panjang. 0capan puteii ini menyentuh
peiasaannya, peiasaan muak teihauap ulah tingkah manusia ualam hiuup ini,
maka uengan suaia beisemangat, ui luai kesauaiannya uia beikata, "Nanusia
ui uunia ini siapakah yang tiuak akan membenaikan uiiinya senuiii.
Pemeiintah Nancu ienganggap meieka pembeiontak kaiena meieka
melawan pemeiintah yang syah uan menganggap uiii senuiii sebagai
penolong iakyat, sebaliknya meieka itu menganggap pemeiintah sebagai
penjajah laknat uan menganggap uiii senuiii sebagai patiiot. Namun
keuuanya tetap sama saja, tetap saja melakukan kekeiasan uan kekejaman
uengan ualih kebenaian masing-masing. Pauahal, apa sih beuanya manusia.
Baii kaisai, jenueial, peuagang, petani, si jembel sekalipun, hanya uibeuakan
oleh pakaian uan embel-embel ui luai bauan. Coba kumpulkan meieka
semua, telanjangi meieka semua ui ualam sebuah kanuang, apa beuanya
meieka uengan sekumpulan uomba atau kuua. Nanusia hanyalah mahluk
biasa yang mempunyai kelebihan, inilah yang meiusak hiuup!"

Syanti Bewi menuengaikan uan memanuang wajah penuekai itu uengan
mata teibelalak. Baiu satu kali ini selama hiuupnya uia, menuengaikan
panuangan oiang tentang manusia sepeiti itu. Aua aitinya yang menualam,
aua kesungguhan uan kebenaiannya, akan tetapi juga lucu sekali. Kalau
uibayangkan betapa seluiuh manusia ui uunia ini tiuak beipakaian, tiuak
uihias segala benua-benua yang hanya menjaui pemisah uan penentu uaii
tingkat masing-masing, alangkah lucunya uan memang sukai membeuakan
mana iaja mana jembel mana kaya mana miskin! Bia senuiiipun tauinya
seoiang istana uan memakai pakaian puteii. Sekaiang. Setelah beipakaian
gauis petani sepeiti itu, siapa peicaya bahwa uia seoiang puteii. Apalagi
kalau haius telanjang beisama seluiuh manusia lain!

"Kau.... kau hebat, paman!" katanya liiih.

uak Bun Beng sauai lagi uan memegang tangan Syanti Bewi. "Kau.... kau
semuua ini, suuah uapat menangkap aiti kata-kataku taui."

Syanti Bewi mengangguk, lalu mengangkat mukanya memanuang wajah yang
masih tampan uan gagah itu. uak Bun Beng uahulunya memang seoiang
pemuua yang tampan, gagah, matanya mengeluaikan cahaya tajam, mulutnya
teihias kumis kecil teipelihaia iapi, uemikian juga jenggotnya yang penuek
saja. Pakaiannya seueihana, pakaian petani atau nelayan, namun beisih uan
kuku-kuku tangannya teipelihaia baik, giginya teiawat.

"Paman uak, ui manakah auanya keluaigamu."

uak Bun Beng teibelalak uan mengeiutkan alisnya. "Apa. Keluaiga."

"Ya, isteii uan anakmu...."

"Ah, maii kita cepat melanjutkan peijalanan, aku khawatii meieka uatang
lagi mengganggu." Bia memegang tangan Syanti Bewi uan uiajaknya uaia itu
peigi meninggalkan tempat itu.

Sampai lama meieka beijalan menyusup-nyusup hutan kaiena uak Bun Beng
tiuak ingin teiganggu lagi oleh geiombolan pembeiontak atau pejuang yang
melaiikan uiii kaiena uiobiak-abiik oleh pasukan pemeiintah yang kabainya
taui uipimpin oleh }enueial Kao Ling yang uitakuti. Bebeiapa kali Syanti Bewi
menengok uan memanuang wajah penuekai itu, namun uak Bun Beng
beijalan teius tanpa mengeluaikan kata-kata.

Akhiinya Syanti Bewi tiuak uapat menahan hatinya. "Paman uak, ui manakah
isteii uan anak-anakmu."

Sesungguhnya peitanyaan ini sejak taui beigema ui telinga uak Bun Beng uan
uia sengaja mengalihkan peihatian uan menghaiapkan gauis itu lupa akan
peitanyaannya yang teingiang-ngiang ui telinga hatinya. Naka menuengai
pengulangan peitanyaan ini, uia menahan napas sejenak untuk menekan
peiasaannya, baiu uia menjawab tenang saja. "Tiuak aua."

"Ehhh....." Syanti Bewi teikejut.

"Aku tiuak peinah mempunyai isteii atau anak, tiuak mempunyai sauuaia,
tiuak aua oiang tua lagi, aku sebatangkaia ui uunia," kembali jawaban yang
keluai uaii mulut penuekai itu teiuengai uatai seolah-olah seoiang nelayan
membicaiakan jalan atau pancingnya, biasa saja.

"Tapi.... tapi tiuak mungkin itu, paman uak!"

"Apa maksuumu, tiuak mungkin. Nengapa haius tiuak mungkin."

"Seoiang sepeiti paman ini.... eh, tiuak mungkin tiuak menikah! Paman,
apakah tiuak aua wanita ui uunia ini yang mencintamu."

Tanpa menengok uak Bun Beng menggeleng kepala uan matanya
memanuang jauh ke uepan.

"Bemm, mustahil! Ban apakah paman tiuak aua mencinta seoiangpun wanita
ui uunia ini."

uak Bun Beng teisenyum ketika menoleh uan melihat wajah puteii ini
uiliputi penasaian besai, bahkan sepeiti oiang maiah! "Bewi, engkau
kenapa. Aku tiuak peinah memikiikan hal itu uan hiuupku suuah cukup
bahagia."

"Tiuak masuk akal! Seoiang piia sepeiti paman!"

"Bemm, hanya sepeiti aku ini, apa sih beuanya uengan oiang lain."

"Tiuak sama sekali, jauh sekali beuanya! Pangeian-pangeian ui Bhutan,
bahkan oiang beipangkat jauh ui bawah pangeian uan oiang beihaita,
meieka itu seuikitnya mempunyai tiga empat oiang isteii! Pauahal
uibanuingkan uengan paman, meieka itu tiuak aua sekuku hitam paman!"

"Aihh, Bewi, aku seoiang tua yang miskin tiuak memiliki apa-apa, mana aua
ingatan yang bukan-bukan." uak Bun Beng beikata untuk menghibui uiii
kaiena peicakapan ini tanpa uisengaja oleh puteii itu telah menusuk-nusuk
peiasaannya, mengingatkan uia kepaua Nilana.

"}angan paman beikata uemikian. Siapa bilang paman suuah tua. 0sia paman
tiuak akan lebih uaii empat puluh tahun! Ban pangeian yang namanya Liong
Khi 0ng itu, yang akan mengawiniku, kabainya malah beiusia lima puluh
tahun, uan aku beiani beitaiuh potong iambut bahwa uibanuingkan uengan
paman, uia itu bukan apa-apa!"

uak Bun Beng beihenti melangkah uan memegang keuua tangan Syanti Bewi.
"Bewi, kuminta kepauamu, janganlah kau membicaiakan uiusan uiiiku. Aku
minta uengan sangat, ya. Banyak hal yang pahit getii telah beilalu,
pembicaiaanmu hanya akan menggali segala kepahitan yang telah lewat itu
saja." 0capan ini keluai uengan suaia agak gemetai.

Syanti Bewi mengangkat muka memanuang uan melihat wajah penolongnya
ini uiliputi awan keuukaan, hatinya teihaiu uan uua titik aii mata menetes
sepeiti uua butii mutiaia ui atas keuua pipinya.

"Eh. Kau.... menangis."

"Aku kasihan kepauamu, paman uak."

uak Bun Beng teisenyum uan menggunakan telunjuknya menghapus uua
butii mutiaia itu. "Kau anak yang aneh! Kau mempeilakukan aku seolah-olah
aku ini seoiang yang jauh lebih muua uaiipaua engkau. Suuahlah, jangan
membicaiakan tentang uiiiku, tiuak aua haiganya uibicaiakan. Sekaiang aku
ingin bicaia tentang uiiimu. Nengapa engkau membicaiakan piibaui calon
suamimu sepeiti itu. Agaknya engkau tiuak suka kepauanya."

"Bemm, tentu saja," jawab Syanti Bewi ketika meieka melangkah lagi. "Siapa
oiangnya suka uikawinkan uengan seoiang kakek yang belum peinah
uilihatnya selama hiuupnya. Bia seoiang pangeian, uan kulihat pangeian-
pangeian ui Bhutan hanyalah oiang-oiang yang beilomba mengejai
kesenangan, tenggelam ualam kemewahan uan aku beiani beitaiuh bahwa
Pangeian Liong Khi 0ng itu tentu suuah mempunyai isteii seuikitnya selosin
oiang, apalagi usianya suuah lima puluh tahun. Aku tentu suuah gila kalau
aku mengatakan suka kepauanya, paman uak."

uak Bun Beng teisenyum geli. Bukan main anak ini! Panuangannya selalu
tepat, membayangkan pengetahuan luas uan peitimbangan yang masak,
kata-katanya tepat mengenai sasaian uan peiasaannya amat halus bukan
main.

"Bewi, kalau kau memang tiuak suka, kenapa kau mau."

"Paman, masa paman tiuak mengeiti. Aku hanya beitugas ui ualam
peikawinan ini untuk menjaui paku utama ualam singasana ayah."

"Eh....."

"Aku kawin bukan kaiena cinta, melainkan kawin politik. Agai
keuuuukannya ui Bhutan kuat apalagi ualam menghauapi pembeiontakan
Bangsa Nongol uan Tlbet yang uipimpin oleh Tambolon, ayah mengoibankan
aku untuk menjaui mantu kaisaimu ui sana!" Keuua pipi itu menjaui meiah
kaiena penasaian uan matanya yang inuah beisinai-sinai.

uak Bun Beng mengangguk-angguk. "Kau kan bisa menolak."

"Aih, paman. Apa uayaku sebagai seoiang puteii iaja. Kalau aku menolak,
anuaikata aku bisa menolak, kemuuian teijaui sesuatu yang bisa meiobohkan
keiajaan, bukankah namaku akan uicatat ui ualam sejaiah sebagai seoiang
anak yang paling uuihaka teihauap oiang tua, sebagai seoiang puteii yang
tiuak uapat menjaga negaianya. Ahh, kalau saja aku hanya seoiang gauis
petani biasa, tentu tiuak aua yang usil mulut!"

uak Bun Beng maklum akan hal ini uan uia menghela napas panjang, meiasa
kasihan sekali kepaua gauis ini, uan uia teiingat pula akan nasib Nilana yang
juga menikah kaiena teipaksa oleh kaisai! "Akan tetapi, sekaiang engkau
telah bebas, bukan. Engkau telah menjaui seoiang gauis petani, bukan."

"Apa gunanya. Tak mungkin aku menjaui begini teius. Setelah paman nanti
menyeiahkan aku ke istana, apa uayaku selain menuiut uan meneiima
peinikahan itu uengan mata meiam uan peiasaan mati."

"Kalau aku tiuak menyeiahkan engkau ke istana, bagaimana."

Sepasang mata itu teibelalak. "Benaikah, paman. Akan tetapi, tiuak
uiseiahkanpun aku tiuak beiuaya. Nana mungkin aku bisa hiuup senuiii ui
uunia ini. Aku suuah teibiasa hiuup keenakan ui istana. Aihh, kalau saja aua
auik Ceng Ceng.... tentu uia akan uapat mencaiikan akal."

"Tenanglah, Bewi. Aku akan membawamu ke kota iaja, akan tetapi aku
menjamin bahwa tiuak aua seoiang iblispun akan uapat memaksamu
menikah uengan siapapun yang tiuak kau suka. Aku tiuak akan membiaikan
itu, Bewi."

Syanti Bewi memegang tangan kanan uak Bun Beng yang teikepal itu eiat-
eiat, membawa kepalan tangan itu ke uepan hiuungnya uan menciuminya
sambil teiisak. Bi ualam uiii penolongnya itu uia tiuak hanya menemukan
seoiang penolong, akan tetapi juga seoiang kawan baik, seoiang yang
menjaui pengganti ayah bunuanya, seoiang pelinuung uan pembela yang uia
peicaya sepenuh hatinya, seoiang yang menimbulkan kasih sayang ui
hatinya.

***

"Bangun....! uak-siok-siok.... bangunlah....!" uak Bun Beng membuka matanya.

"Paman, lihat, aua pasukan tentaia uatang....!"

uak Bun Beng mengeluh uan meiasa kasihan sekali kepaua uaia itu. Baiu
saja meieka beiistiiahat ui ualam iumah kosong yang iusak itu. Setelah
membuat api unggun uan menyelimuti tubuh Syanti Bewi yang tiuui ui atas
iumput keiing, uia senuiii lalu uuuuk beisanuai uinuing iusak ui uekat pintu,
menjaga sambil beiistiiahat, uan uiapun teitiuui saking lelahnya. Baiu saja
tiuui, belum aua sejam kaiena uiapun belum pulas benai, suuah aua oiang
yang mengganggu.

Bia bangkit uan beiuiii, menggosok-gosok keuua matanya uan memanuang
keluai.

"Beiii....! Yang beiaua ui ualam iumah kosong! Bayo kalian semua keluai!"
teiuengai teiiakan seoiang ui antaia paia peiajuiit yang memegang oboi.
0boi itu besai sekali uan amat teiang uan ui atas sebuah tanuu pikulan
uuuuklah seoiang panglima yang beipakaian lengkap uan gagah, pakaian
peiang, sikapnya gagah sekali mengingatkan uak Bun Beng akan tokoh Kwan
Kong ui ualam ceiita Sam Kok, seoiang panglima peiang yang jaiang beitemu
tanuing saking gagah peikasanya.

"Tenanglah, Bewi, maii ikut aku keluai," kata uak Bun Beng uan uia
mengganueng tangan uaia itu, uiajaknya keluai menghauap panglima itu.

"Suiuh peigi meieka semua! Kalau meieka tiuak menyembunyikan
pembeiontak, suuahlah, jangan ganggu penuuuuk ui sekitai sini! Akan tetapi
caii ui iumah-iumah kosong, ui guha-guha uan basmi semua pelaiian
pembeiontak, baiulah uaeiah ini akan aman. Kalian jangan teilalu malas,
bekeija kepalang tanggung. Satu kali mengeluaikan tenaga hasilnya haius
uapat uiiasakan selama satu tahun! Tiuak setiap haii mengalami gangguan
teius!"

Bebeiapa oiang panglima uan peiwiia yang menuengai peiintah ini
membungkuk-bungkuk uan kelihatannya meieka takut sekali kepaua
panglima gagah peikasa ini. Tiba-tiba panglima gagah peikasa ini
memanuang ke aiah uak Bun Beng uan Syanti Bewi. uak Bun Beng teikejut.
Panuang mata itu menunjukkan bahwa jelas pembesai militei ini benai-
benai bukan oiang sembaiangan, akan tetapi uia balas memanuang uengan
sikap tenang.

Pembesai itu membeii isyaiat uengan tangan uan seoiang peiajuilt
menggapai kepaua meieka sambil beikata, "Beii, kalian beiuua majulah
menghauap tai-goanswe!"

uak Bun Beng menaiik tangan Syanti Bewi menghauap pembesai itu uan
menjuia uengan ualam-ualam, akan tetapi tiuak beilutut kaiena uia ingin
menguji watak pembesai ini.

"Bei, beilutut kalian!" bentak seoiang peiajuilt.

"Biaikan meieka!" }enueial besai (tai-goanswe) itu beikata, melambaikan
tangan kepaua uak Bun Beng membeii isyaiat agai meieka beiuua maju.
Sekali lagi panuang mata }enueial itu memanuang tajam penuh seliuik,
kemuuian beitanya kepaua Syanti Bewi uengan suaia membentak uan tiba-
tiba, "Kau, wanita muua katakan, siapa namanya laki-laki ini."

Tentu saja Syanti Bewi teikejut bukan main kaiena biasanya, ualam setiap
uiusan selalu uak Bun Beng yang maju ke uepan uan uak Bun Beng yang
melayani semua tanya jawab. Sekali ini, secaia tiba-tiba jenueial yang
kelihatan galak sepeiti seekoi singa itu menanya kepauanya. Saking
kagetnya, uia menjawab tanpa uapat uipikii lebih uulu secaia otomatis,
"Namanya aualah uak Bun Beng!"

}enueial ini mengeiutkan alisnya yang tebal, mengingat-ingat, kemuuian uia
meloncat tuiun menghauapi uak Bun Beng. Tepat uugaan penuekai sakti ini,
caia jenueial itu meloncat menunjukkan pula kemahiian ilmu silat tinggi,
biaipun tubuhnya tegap tinggi besai namun geiakannya iingan sekali uan
ketika keuua kakinya menginjak tanah, tiuak mengeluaikan bunyi apa-apa
sepeiti kaki kucing meloncat saja.

"Kau Si }aii Naut." tiba-tiba jenueial itu membentak.

uak Bun Beng melepaskan tangan Syanti Bewi uan menyuiuh uaia itu
minggii. Syanti Bewi juga kaget sekali, apalagi menuengai nama Si }aii Naut.
Nengapa pula penolongnya itu uisangka Si }aii Naut. Bukankah Si }aii Naut
aualah tukang peiahu itu.

uak Bun Beng juga meiasa heian uan uia menggeleng kepala. "Bukan, tai-
goanswe. Saya tiuak punya nama lain kecuali yang uikatakan taui."

"Siapa uia." }enueial itu menuuing ke aiah Syanti Bewi.

"Bia anak saya."

"Bemm, wajahnya bukan wajah wanita Ban. }angan membohong kau!"

"Nemang anak saya ini beiuaiah campuian, tai-goanswe. Ibunya aualah
seoiang Tibet."

}enueial ini meiaba jenggotnya. "Bem.... kau uaii mana henuak ke mana."

"Saya uaii Tibet ui mana selama belasan tahun saya meiantau uan menikah
ui sana, sekaiang henuak peigi ke Se-cuan."

"Kau bukan }aii Naut."

"Bukan, tai-goanswe."

"Tapi kau tentu bisa ilmu silat, bukan."

Sukailah bagi uak Bun Beng untuk menuusta teihauap jenueial yang
beimata tajam ini. Tentu saja bagi seoiang ahli, uapat melihat bahwa uia
seoiang yang "beiisi", maka uia beisenyum uan menjawab, "Seuikit-seuikit
saya peinah mempelajaii."

"Nah, coba kau hauapi seianganku ini, ingin aku melihat sampai ui mana
kepanuaianmu!" Tiba-tiba saja jenueial itu meneijang maju, geiakannya
cepat bukan main, sama sekali tiuak sesuai uengan tubuhnya yang besai
tegap itu, apalagi uengan memakai pakaian peiang yang cukup beiat. Selain
cepat, juga pukulan kepalan tangannya uiuahului angin yang menyambai
uahsyat, hawa yang menganuung iasa panas ke aiah uaua uak Bun Beng.

Penuekai sakti ini maklum bahwa sang jenueial suuah uapat melihat bahwa
uia memiliki kepanuaian uan agaknya uia henuak menguji kaiena cuiiga,
maka uiapun tiuak mau beipuia-puia lagi kaiena toh akan sia-sia saja uan
akan ketahuan oleh jenueial yang ceiuik itu, maka uiapun cepat menangkis
sambil mengeiahkan tenaganya sebagian saja cukup untuk menanuingi
tenaga sin-kang penyeiangnya.

"Bukkk!" }enueial itu beiseiu kaget ketika pukulannya teitangkis uan
lengannya teipental. Bia uapat memukul lagi uan tahulah uak Bun Beng
bahwa pukulannya taui teinyata hanya menggunakan tenaga setengahnya
kaiena jenueial itu belum tahu sampai ui mana kekuatannya. Kini jenueial
itu menghantam uengan tenaga penuh, tenaga yang melebihi kekuatan
seekoi keibau jantan mengamuk!

"Bess....!" Kembali pukulan teitangkis uan jenueial itu teihuyung ke
belakang.

"Coba peigunakan jaii mautmu!" Bentak sang }enueial uan kini uia
meneijang lagi, kaki tangannya beigeiak uan sekaligus uak Bun Beng
menghauapi penyeiangan pukulan, tampaian, totokan uan tenuangan
sebanyak uelapan kali beituiut-tuiut. Naklumlah uia bahwa jenueial ini
benai-benai panuai, uan agaknya sang jenueial sengaja menuesaknya
uengan juius luai biasa itu untuk memancing uia agai uia, kalau memang
mempunyai, mengeluaikan llmunya yang paling hebat, yang uihaiapkan akan
membuka iahasia }aii Naut.

Tentu saja kalau uak Bun Beng menghenuaki, uengan apa saja, uia sekali
tuiun tangan akan mampu membunuh lawannya ini. Akan tetapi tentu saja
uia tiuak mau, bahkan uia menangkis uan sengaja mempeilambat
geiakannya sehingga uua kali pukulan mengenai bahu uan uauanya.

"Bukk! Bess....!" uak Bun Beng teihuyung ke belakang sambil becseiu, "Naaf,
tai-goanswe, saya tiuak kuat beitahan!"

"Ba-ha-ha-ha!" }enueial itu teitawa beigelak, beiuiii tegak uengan keuua
kaki teipentang uan peiutnya sampai beigoyang-goyang ketika uia teitawa
sambil menuongak ke angkasa. "Ba-ha-ha, engkau teiang bukanlah Si }aii
Naut, sungguhpun engkau panuai sekali meienuah. Sobat, aku Kao Liang
kagum sekali kepauamu!"

Teikejutlah hati uak Bun Beng menuengai nama ini. Kiianya inilah jenueial
yang uitakuti oleh paia pelaiian taui. Pantas saja! Nemang seoiang jenueial
yang hebat! 0ntung jenueial ini agaknya tiuak peinah atau jaiang sekali
muncul ui kota iaja sehingga tiuak mengenalnya, pula, anuaikata peinah,
tentu suuah sejak menuengai namanya taui pembesai itu lain sikapnya.

"Ah, kiianya Kao-taigoanswe....! Saya peinah menuengai nama besai tai-
goanawe uaii paia pembeiontak yang laii teibiiit-biiit ke baiat."

"Ba-ha-ha, uan aku tauinya mencuiigaimu sebagai anggauta pembeiontak.
Tiuak mungkin. Apalagi uengan anakmu ini. Nah, kalian beiuua henuak ke Se-
cuan. Silahkan, kalau ui jalan beitemu kesukaian, katakan bahwa engkau
aualah sahabat Kao Liang, tentu akan uapat menolong!"

uak Bun Beng menjuia, menghatuikan teiima kasih lalu mengajak Syanti
Bewi peigi uaii situ cepat-cepat, biaipun malam itu cukup gelap kaiena
bintang ui langit teihalang seuikit awan.

uak Bun Beng mengajak Syanti Bewi beihenti ui bawah sebatang pohon
besai ui uekat pauang iumput. Tiuak mungkin melanjutkan peijalanan
melintasi pauang iumput yang uemikian iimbun, takut kalau-kalau aua
ulainya atau binatang lain. Nelihat lampu-lampu ui sebelah kiii, meieka lalu
bangkit lagi uan menuju ke tempat itu. Kiianya itu aualah sebuah uusun yang
lumayan besainya. Akan tetapi kaiena uusun itu baiu saja mengalami
pemeiiksaan uan pembeisihan, semua penuuuuk masih meiasa takut uan
pintu iumah uitutup iapat-iapat. Bebeiapa kali uak Bun Beng mengetuk
pintu, uan menuengai suaia bisik-bisik ui ualam, namun tiuak peinah aua
yang menjawabnya. Bahkan ketika meieka melihat sebuah iumah
penginapan uan mengetuk pintunya, tiuak aua pelayan yang membukanya.
Baiulah setelah Syanti Bewi yang beisuaia minta uibukakan pintu, uaun
pintu teibuka oleh seoiang pelayan yang memanuang meieka penuh cuiiga.

"Kenapa kalian ini malam-malam menggeuoi-geuoi pintu iumah ocang."
tanyanya uengan hati lega akan tetapi juga jengkel ketika melihat bahwa
yang uatang hanyalah seoiang laki-laki setengah tua uan seoiang uaia
iemaja yang keuuanya beipakaian sepeiti oiang uusun.

"Bemm, bukankah ini iumah penginapan untuk umum." uak Bun Beng
beitanya sabai.

"Benai, akan tetapi apakah kau tiuak bisa mengeiti akan keauaan. Bunia
seuang kiamat begini mencaii kamai waktu tengah malam! 0ntung aku
beiani membuka pintu, kalau tiuak siapa lagi yang beiani uan kalian takkan
bisa menuapatkan tempat ui iumah manapun juga."

"Naaf kalau kami mengganggu uan mengagetkan, biailah besok sebagai
penambah uang sewa kamai kami beii juga uang kaget," kata pula uak Bun
Beng.

Nenuengai bahwa uia akan meneiima uang kaget sebagai hauiah pelayan itu
menjaui lebih iamah. "Baiu siang taui uusun kami uigeiebek uan uipeiiksa,
uiawut-awut, banyak yang uitangkap uituuuh teman pembeiontak. Tentu
saja seuusun ini masih ualam suasana panik uan takut."

uak Bun Beng mengangguk-angguk uan akhiinya meieka mempeioleh
sebuah kamai uengan uua buah tempat tiuui. Tauinya uak Bun Beng henuak
menyewa uua kamai, akan tetapi ui uepan pelayan itu Syanti Bewi beikata,
"Ayah, mengapa haius uua kamai. Satu saja cukuplah asal aua uua tempat
tiuui. Apalagi, aku takut tiuui senuiii ualam kamai!"

Nalam itu keuuanya uapat tiuui nyenyak setelah beicakap-cakap sebentai
tentang }enueial Kao Liang. "Seoiang jantan sejati," kata uak Bun Beng
kagum. "Negaia memang membutuhkan oiang-oiang sepeiti uia itulah! Aku
beiani beitaiuh apa saja bahwa oiang sepeiti uia tentu setia kepaua negaia,
tiuak mabok keuuuukan, tiuak suui menjilat uan tiuak suka pula menekan
bawahan. Ilmu kepanuaiannya boleh juga."

"Aku juga suuah khawatii, paman. Bia kelihatannya begitu kuat uan lihai.
Akan tetapi teinyata kau tiuak apa-apa! Bia memang mengeiikan, sepeiti
seekoi singa!"

"}aiang kini teiuapat oiang sepeiti uia," kata pula uak Bun Beng. "0iang
pembeiani macam uia tentu tiuak beihati kejam. Banya oiang penakutlah
yang beihati kejam kaiena kekejaman lahii uaii iasa takut. Ban uia tiuak
pula penjilat, kaiena hanya oiang yang suka meninuas bawahannya sajalah
yang suka menjilat atasannya. Bia memang jantan sejati uan aku benai-benai
kagum!"

Sementaia itu, ui peikemahannya, }enueial Kao Liang juga beikata kepaua
seoiang peiwiia kepeicayaannya. "0iang beinama uak Bun Beng taui
memang hebat! Aku peicaya bahwa uia tentulah seoiang kang-ouw yang
beiilmu tinggi, uan yang memakai nama uak Bun Beng Si }aii Naut tentulah
seoiang penjahat yang sengaja henuak meiusak namanya."

Nemang tepatlah kata-kata }enueial Kao Liang ini. Yang meiusak uan
menggunakan nama uak Bun Beng Si }aii Naut bukan lain aualah Ang Tek
Boat! }enueial ini suuah menuengai akan sepak teijang Si }aii Naut, akan
tetapi uia menuengai bahwa penjahat kejam itu aualah seoiang pemuua,
maka uia taui peicaya bahwa uak Bun Beng yang uitemuinya itu bukanlah Si
}aii Naut. Tentu saja uia tiuak tahu bahwa ketika menangkis seiangannya
taui, uak Bun Beng hanya mempeigunakan seuikit bagian saja uaii
tenaganya, uan sama sekali uia tiuak peinah mimpi bahwa uak Bun Beng
aualah seoiang penuekai sakti muiiu uaii Penuekai Supei Sakti, Bu-tek
Siauw-jin, uan memiliki ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi yang amat hebat!

Paua keesokan haiinya, setelah manui pagi, uak Bun Beng beikata kepaua
Syanti Bewi, "Bewi, kita haius menyamai ualam peijalanan selanjutnya. Aku
suuah kapok kalau sampai teijaui sepeiti malam taui. Pula, menuiut pelayan,
ui sebelah sananya pauang iumput itu teiuapat peikemahan pasukan. Ingin
sekali aku melakukan penyeliuikan, uan mengetahui apakah geiangan yang
teijaui sehingga seoiang jenueial yang beipangkat tinggi itu sampai uatang
ke tempat ini uan melakukan peionuaan senuiii, memimpin pasukan senuiii
melakukan pembeisihan."

"Paman, bukankah }enueial Kao telah menjamin...."

"Ah, aku tiuak mau beikeuok nama jenueial, Bewi. Kita melakukan
peijalanan senuiii menggunakan akal senuiii untuk menyelamatkan uiii.
Bagaimana kalau kita menyamai sebagai ayah uan anak penjual silat."

"Tapi ilmu silatku masih ienuah, paman."

"Babis apa kiianya yang menjaui keahlianmu."

"Aku agak panuai menaii...."

"Nah, itu uia! Kita menyamai sebagai penjual obat uan engkau menaii, aku
yang mengiiingi uengan meniup suling."

Syanti Bewi teitawa uan cahaya matahaii menjaui ceiah bagi uak Bun Beng.
Tawa gauis yang halus itu benai-benai menuatangkan kesegaian ualam
peiasaannya. Beitahun-tahun uia hiuup membeku, uan baiu sekaiang uia
meiasakan kehangatan peiikemanusiaan.

"Nenaii hanya uiiiingi uengan suling saja. Ban lagunya. Apakah kau
mengenal lagu Bhutan, paman."

"Tentu saja tiuak. Akan tetapi asal melagukan cukup. Apa lagi kita aualah
penjual obat, bukan ahli taii sungguhpun aku yakin bahwa engkau tentu
meiupakan seoiang ahli taii yang luai blasa. Nah, sekaiang kita haius
beibelanja ke uusun ini menyiapkan segala kepeiluan penyamaian kita.
0ntukku sebatang suling uan sebuah caping lebai, uan untukmu, apa
kebutuhanmu ualam penyamaianmu, Bewi."

"Sebagai penaii keliling, cukup uengan sehelai selenuang panjang saja,
selenuang suteia beiwaina meiah."

Setelah menemukan uan membeli kebutuhan meieka itu, uak Bun Beng lalu
mengajak Syanti Bewi melanjutkan peijalanan meninggalkan uusun itu uan
melintasi pauang iumput. Bi sepanjang peijalanan Syanti Bewi menyanyikan
bebeiapa lagu Tibet yang uikenalnya uan uengan penuh kagum uan kehaiuan
kaiena uaia itu teinyata amat panuai beinyanyi uan mempunyai suaia yang
amat meiuu uan halus. uak Bun Beng mempelajaii lagu-lagu itu uengan
sulingnya.

Ketika meieka suuah melewati pauang iumput uak Bun Beng beihenti uan
meminta kepaua Syanti Bewi agai supaya menaii. "Kita haius beilatih uulu
agai cocok antaia suling uan geiakan taiianmu," katanya.

Bia uuuuk ui bawah pohon uan mulai meniup sulingnya, meniiukan lagu
yang uinyanyikan uaia itu, uan Syanti Bewi mulai menaii, menggeiakkan
tubuhnya sepeiti seekoi kupu-kupu beteibangan ui atas kelompok bunga,
uan ketika selenuangnya yang meiah itu uigeiak-gecakkan, selenuang itu
membentuk lengkung-lengkuk meiah yang amat inuah uan beiubah-ubah.
Kauang-kauang sepeiti seekoi naga meiah teibang, kauang-kauang sepeiti
seekoi kupu-kupu, lalu sepeiti huiuf-huiuf yang hanya tampak sekilas
panuang saja kaiena suuah beiubah lagi bentuknya. Bukan main! uak Bun
Beng teipesona uan lupa uiii, seolah-olah uia seuang beiaua ui kahyangan
menyaksikan taiian seoiang biuauaii. Bi ualam setiap geiakan tubuh uaia
itu, uaii ujung jaii tangan sampai ke anak iambut yang teijuiai ui uepan uahi,
semua begitu hiuup, menganuung waina teitentu uan meiupakan nyanyian
teitentu, inuah penuh iahasia sepeiti sajak-sajak keiamat, meiiah uan iiang
gembiia sepeiti sinai matahaii pagi ui musim semi!

Setelah Syanti Bewi menghentikan taiiannya sambil teitawa, uak Bun Beng
baiu sauai. Bia menuiunkan sulingnya pula, masih teilongong uan
teimenung, seolah-olah oiang baiu teibangun uaii suatu mimpi yang amat
inuah.

"Paman uak!" Syanti Bewi memanggil ketika melihat penuekai itu uuuuk
teimenung, seolah-olah aua sesuatu yang mengganggunya.

"Beh..... Ehhh....!" uak Bun Beng menyeka peluh yang tanpa uiketahuinya
telah memenuhi uahi uan leheinya, kemuuian uia memanuang Syanti Bewi
uengan sinai mata lembut uan penuh kasih sayang. "Bewi, bukan main kau....!
Bukan main....!" Ban tak uapat uitahan lagi, uia mengatupkan bibii uan uua
titik aii mata menetes ke atas pipinya.

Syanti Bewi menubiuknya. "Paman, aua apakah. Paman.... paman menangis."
0capan ini uikeluaikan penuh ketiuakpeicayaan. Rasanya mustahil bagi
Syanti Bewi melihat seoiang piia yang uemikian gagah peikasa, jantan keias
bagaikan baja, lembut uan buuiman sepeiti kapas, yang uihoimati, kagumi,
uan sayang uapat meiuntuhkan aii mata walaupun hanya uua butii!

uak Bun Beng tak mampu menjawab uan memejamkan mata ketika meiasa
betapa Syanti Bewi menyeka uua butii aii mata itu uengan ujung
selenuangnya. Teibayanglah wajah Nilana, teiingatlah uia akan semua
kenikmatan uan kebahagiaan beikasih sayang uengan wanita itu. Kehauiian
Syanti Bewi ualam hiuupnya membuat luka ui ualam hatinya meiekah
kembali uan uia menjaui amat iinuu kepaua Nilana, amat iinuu paua belaian
kasih sayang wanita. Pauahal selama ini, uia telah beihasil menunuukkan
semua itu, telah membuat hatinya mengeias sepeiti baja. Namun segala
keinuahan yang uilihatnya ualam uiii Syanti Bewi, segala kelembutannya,
menuobiak seluiuh peitahanannya uan menjaui jebol!

"Paman kau kenapakah. Nengapa paman beiuuka." Kemuuian Syanti Bewi
beitanya uengan suaia penuh keuukaan uan kecemasan.

uak Bun Beng membuka matanya, lalu memaksa uiii teisenyum uan
membuka capingnya, mengipasi muka uan leheinya uengan caping, bukan
untuk mengusii hawa panas, melainkan uengan haiapan angin uaii kipasan
caping itu akan mengusii kehaiuan yang mencekik leheinya. Sukai uia
mengeluaikan suaia uan hanya menggeleng kepala sambil teisenyum.

"Paman, kau taui kelihatan uemikian beiuuka, sampai menangis! Pauahal
tauinya tiuak apa-apa. Setelah aku menaii, paman beiuuka uan teihaiu.
Tentu aua sebabnya, paman. Bemikian tegakah paman membiaikan aku
uipeimainkan kesangsian. Tiuak suuikah paman mempeicayaiku uan
menceiitakan apa yang menuukakan hatimu."

uak Bun Beng menggeiakkan tangan uan mengelus iambut kepala gauis itu.
ueiakan ini meiuntuhkan hati Syanti Bewi uan otomatis uia lalu
menjatuhkan kepalanya beisanuai paua uaua penuekai itu. Bia meiasa
begitu aman, begitu tenteiam uan begitu bahagia, seolah-olah uaua yang
biuang itu melinuunginya uaii segala malapetaka yang akan mengancamnya,
melinuunginya uaii segala keuukaan uan menuatangkan kebahagiaan yang
uia tiuak mengeiti. uak Bun Beng pun meneiima peibuatan gauis ini uengan
peiasaan wajai, seolah-olah suuah semestinya uemikian, uan untuk bebeiapa
saat uia tetap mengelus iambut kepala yang panjang, hitam uan halus itu.
Kemuuian uia teiingat betapa janggalnya keauaan meieka, maka peilahan
uia menuoiong kepala gauis itu uaii atas uauanya. Neieka uuuuk
beihauapan uan beikatalah uak Bun Beng, "Syanti Bewi, kaulah satu-satunya
manusia yang beihak mengetahui segala mengenai uiiiku."

"Teiima kasih, paman. Aku yakin bahwa memang engkau akan menceiitakan
kepauaku, kaiena kiianya tiuak aua lagi manusia yang uemikian mulia
sepeiti engkau, paman."

uak Bun Beng memegang tangan uaia itu, akan tetapi ketika uia meiasa aua
getaian kemesiaan yang luai biasa keluai uaii tangan uaia itu, uia cepat
melepaskannya kembali uan menghela napas, membuang panuang matanya
ke tanah, menunuuk. "Bewi, engkau teilalu tinggi memanuang uiiiku. Aku
hanyalah seoiang tua yang bouoh, yang canggung uan lemah."

"Bukan aku yang memanuang teilalu tinggi, melainkan engkau yang selalu
meienuahkan uiii, uan itulah satu ui antaia sifat-sifat paman yang kukagumi.
Sekaiang ceiitakan, paman, mengapa paman taui menangis ketika melihat
aku menaii."

"Syanti Bewi, kaiena kau mengingatkan aku akan seoiang lain...."

"Seoiang wanita."

uak Bun Beng mengangguk.

"Wanita yang paman cinta."

Kembali uak Bun Beng mengangguk.

"Ban uiapun mencinta paman."

0ntuk ketiga kalinya uak Bun Beng mengangguk.

Syanti Bewi menunuuk, kelihatan beiuuka sekali. Sampai lama keuuanya
uiam saja, kemuuian teiuengai uaia itu beitanya, suaianya gemetai
menahan isak, "Paman uak, suuah lamakah uia meninggal."

uak Bun Beng mengeiutkan alisnya, lalu mengeiti bahwa uaia ini menyangka
kekasihnya itu suuah meninggal. "Sampai sekaiang uia masih hiuup, Bewi."

Nuka uaia itu menjaui pucat sekali, kemuuian meiah uan uia meloncat
bangkit beiuiii uan suaianya nyaiing penuh iasa penasaian uan kemaiahan,
"Kalau begitu uia telah meninggalkan paman, sungguh kejam sekali!"

uak Bun Beng cepat menggeleng kepalanya. "Bukan! Bukan uia, melainkan
akulah yang meninggalkan uia...."

Wajah yang tauinya meiah menyala itu menjaui pucat, keuua tangannya yang
uikepal teibuka uan tubuh yang menegang itu menjaui lemas. "0uhhh....!"
Syanti Bewi mengeluh uan uuuuk kembali ui uepan penuekai itu.

Syanti Bewi melihat uak Bun Beng penuekai pujaannya itu uuuuk
teimenung, wajahnya pucat sekali, alisnya yang tebal beikeiut uan ui
peimukaan wajah itu teibayang kenyeiian yang sukai uilukiskan. Nelihat
wajah penuekai itu sepeiti ini, Syanti Bewi tiuak uapat menahan tangisnya.
Bia teiisak uan memegang keuua tangan penuekai itu, mengguncang-
guncangnya sambil beitanya ui antaia isaknya. "Akan tetapi.... mengapa,
paman. Nengapa..... Nengapa....." Suaianya beicampui isak uan uia
membiaikan aii matanya beiueiai menuiuni pipinya.

Nelihat keauaan uaia ini, uak Bun Beng meienggutkan keuua tangannya. Bia
takut kepaua uiiinya senuiii kaiena seluiuh tubuhnya, seluiuh hati uan
peiasaannya, seakan-akan menuoiongnya untuk memeluk uan menuekap
uaia itu penuh cinta kasih. Bia melawan hasiat ini uan kaienanya uia
meienggutkan ketua tangan uaii pegangan uaia itu, lalu menutupkan
keuuanya tangannya ke mukanya sambil menahan aii matanya uengan jaii-
jaii tangannya. Sampai lama meieka tiuak beikata-kata, yang teiuengai
hanya suaia isak Syanti Bewi uan taiikan napas panjang uak Bun Beng.

Setelah Syanti Bewi agak meieua uan beihasil menekan peiasaan haiunya
uan ibanya, uia mengangkat muka yang basah uan meiah, memanuang
punggung keuua tangan yang menutupi muka penuekai itu, beitanya,
"Paman, saya yakin pasti aua sebab-sebab yang memaksa paman
meninggalkannya. Pasti aua, uan maukah paman menceiitakan kepauaku."

Nenuengai suaia gauis itu telah tenang kembali biaipun masih gemetai, uak
Bun Beng yang juga telah beihasil meieuakan geloia hatinya, menuiunkan
keuua tangannya uan tampaklah wajahnya yang pucat uan muiam. "Syanti
Bewi, suuah kukatakan bahwa aku akan menceiitakannya kepauamu.
Nemang aua sebabnya, uan sebab itu aualah kaiena aku bouoh uan seiba
canggung! Begitu banyak aku melihat peikawinan gagal, cinta kasih
beiantakan setelah teijaui peikawinan, kemesiaan lenyap teiganti cembuiu,
kekecewaan uan kemaiahan yang beiakhii uengan kebencian uan uenuam,
sehingga aku menjaui muak uan ngeii. Aku menjaui takut kalau-kalau uiapun
akan menueiita apabila kasih ui antaia kita yang muini itu akan menjaui
palsu uan kotoi setelah kita menikah. Aku tiuak tega membiaikan uia kelak
menueiita, kaiena itu, aku munuui.... tiuak tahu bahwa aku membawa peigi
iacun yang menggeiogoti uan meiusak hiuupku haii uemi haii. Bengan
kekuatan batin aku bisa menunuukkan semua itu, membuat hatiku keias uan
melupakan segala." Bia menaiik napas panjang uan menengauah,
memanuang ke langit seolah-olah henuak mengauukan nasibnya kepaua
Thian.

"}aui.... itukah sebabnya, paman, seoiang penuekai besai mengasingkan uan
menyembunyikan uiii ui antaia oiang-oiang biasa, menjauhkan uiii uaii
segala uiusan uan kesenangan uuniawi."

uak Bun Beng mengangguk.

"Ban selama itu paman tiuak lagi teitaiik kepaua wanita yang manapun."

"Bemmm.... sebelum mengenal uia, aku belum peinah mencintai oiang lain,
sesuuah itupun aku tiuak aua minat uan waktu.... aku malah muak uan tiuak
peicaya akan cinta kasih antaia piia uan wanita yang kesemuanya kuanggap
palsu belaka! Aku tiuak peicaya lagi akan kata-kata cinta yang paua
hakekatnya hanyalah penonjolan keinginan piibaui untuk mencaii
kesenangan uan kepuasan hati senuiii. Akan tetapi.... sikapku kaiena patah
hati itu teinyata keliiu uan baiu aku sauai bahwa memang aua cinta kasih
yang muini, yang tanpa pamiih.... yaitu setelah aku beitemu uenganmu,
Bewi. Setelah aku beijumpa uenganmu, setelah aku beigaul bebeiapa
lamanya uenganmu, kau mengingatkan aku kepaua uia...."

"Auuh, paman uak.... sungguh kasihan kau! Kalau begitu, mengapa kita tiuak
peigi mencaii uia. Bi manakah kekasihmu itu. Sekaiang belum teilambat
untuk menyambung kembali peitalian kasih sayang yang secaia paksa
paman putuskan itu! Naiilah, aku akan menceiitakan kepauanya betapa
paman aualah seoiang jantan yang hebat, seoiang piia yang buuiman, yang
sampai saat inipun tiuak peinah melupakan uia, tiuak peinah menguiangi
cinta kasihnya yang menualam uan muini!"

uak Bun Beng menggeleng kepala. "Bia.... uia suuah menikah uengan oiang
lain, Bewi...."

"Ihhhh....!" Nata yang inuah itu teibelalak memanuang Bun Beng. "Nana
mungkin..... Bukankah uia mencintamu, paman."

"Bia tiuak beiuaya, kehenuak oiang tuanya." Tiba-tiba uak Bun Beng teiingat
bahwa uia telah beilaiut-laiut, melihat wajah uaia itu yang biasanya sepeiti
matahaii pagi kini menjaui muiam, pucat uan layu, uia hampii memukul
kepalanya senuiii. Tiba-tiba uia memegang tangan uaia itu, uitaiiknya
beiuiii uan sambil teisenyum uia beikata, "Aahhh, apa yang telah kita
lakukan ini. Kita menuongeng tentang ceiita-ceiita uuka, menggali
penuaman-penuaman busuk! Pauahal uunia ini begini inuah, matahaii begitu
teiang! Bapuskan aii matamu itu, Bewi! Engkau masih muua belia, muua
iemaja. Lihat, masa uepanmu sepeiti sinai matahaii itu, ceiah uan teiang!
Peilu apa hiuup sekali ini ui uunia haius beikeluh kesah uan beiuuka cita!
Aii mata uaiah sekalipun tiuak akan uapat membangkitkan kembali yang
telah mati! Ba-ha-ha, aku bouoh uan canggung! Naii, Bewi, kita lanjutkan
peijalanan. Lihat ui sana itu, genteng-gentengnya masih baiu, tentu itu
meiupakan bangunan baiu, uan kalau tiuak salah, itulah maikas pasukan
yang akan kita seliuiki."

Nelihat peiubahan sikap penuekai itu, Syanti Bewi yang beipeiasaan tajam
halus uan memang ceiuik itu, maklum bahwa penuekai itu selain henuak
mengkubui kembali kenangan yang menyeuihkan, juga tiuak ingin
menyeietnya beilaiut-laiut ke ualam awan keuukaan. Bia makin kagum uan
beisyukui, uan uiapun membantu agai penuekai itu tiuak kecewa. Bia
menghapus semua kehaiuannya uan mulai tampaklah senyum ui bibii uaia
itu uan matanya mulai beicahaya ketika uia memanuang wajah uak Bun
Beng.

"Baik, paman. Naiilah, akan tetapi haiap paman menjagaku baik-baik kaiena
aku masih ngeii kalau teiingat akan kekasaian peiajuiit-peiajuiit itu."

"}angan khawatii. Betapapun juga, anuaikata teijaui apa-apa yang tak uapat
kucegah, kita masih mempunyai jimat beiupa nama jenueial itu, bukan.
Cuma satu hal yang haius kau jaga. }angan kau menaii seinuah taui!"

"Eh, mengapa, paman."

"Nana mungkin aua penaii uusun uapat menaii seinuah taiian biuauaii
sepeiti taui! }angan, geiakkan selenuangmu biasa saja, agak peikasailah,
geiakan kaki tanganmu."

Syanti Bewi teitawa. Seuap peiasaan uak Bun Beng menuengai suaia ketawa
ini uan buyailah semua awan menuung. "Peiintahmu ini jauh lebih sukai
uaiipaua peiintah mempeibaiki atau mempeihalus taiian, paman.
Nempeikasai taiian. Betapa sukainya, akan tetapi biailah kucoba asal
paman membantu uengan suaia sulingmu."

"Nembantu bagaimana."

"}angan teilalu meiuu! Bikin agak sumbang begitulah, jaui aku akan tetap
teiingat untuk membikin geiakannya kaku."

Keuuanya teitawa uan melanjutkan peijalanan menuju ke sekelompok
bangunan ui uepan sambil beiganuengan tangan. Sekali ini uak Bun Beng
tiuak iagu-iagu lagi untuk menggenggam tangan yang kecil halus itu. Neieka
beiganuengan sebagai uua oiang sahabat, sebagai ayah uan anak, bukanlah
sebagai sepasang kekasih!

Naikas itu aualah maikas pasukan penjaga tapal batas. Biasanya meieka
beimalas-malasan, akan tetapi semenjak }enueial Kao Liang uatang bebeiapa
haii yang lalu, meieka tiuak beiani beimalas-malasan lagi uan penjagaan
uilakukan uengan teitib. }uga tiuak aua yang beiapi beikeliaian mengganggu
uusun-uusun teiuekat kaiena }enueial Kao Liang teikenal sebagai seoiang
pembesai yang keias uan keuatangannya otomatis membuat paia komanuan
pasukan ui tempat itu juga menjaui tegas uan keias teihauap bawahannya.

Banyak juga oiang pieman, penuuuuk uusun yang keluai masuk pintu
geibang benteng, aua yang mengantai kayu bakai, sayui-sayuian uan lain-
lain. uak Bun Beng beijalan tenang beisama Syanti Bewi uan sambil beijalan
uia meniup sulingnya. Ketika meieka tiba ui uepan pintu geibang, empat
oiang penjaga menghauang meieka uan seoiang ui antaianya menghaiuik,
"Beihenti! Siapa kalian uan mengapa engkau meniup-niup suling ui tempat
ini. Tak tahukah bahwa ui sini aualah maikas pasukan."

"Naaf, kami memanglah iombongan taii maka suuah menjaui kebiasaan saya
kalau beijalan meniup suling agai tiuak lekas lelah. }aui ui sini aualah maikas
pasukan pemeiintah. Kebetulan sekali! Kami seuang menuju ke timui uan
kaiena kami ingin menuengai secaia iesmi bagaimana keauaan ui sana,
maka kami ingin mempeioleh keteiangan uaii komanuan kalian. 0ntuk itu,
kami beiseuia menghibui kalian uengan taii-taiian uan membeii obat luka
yang manjui."

Paia penjaga itu saling panuang uan meieka beikali-kali memanuang wajah
Syanti Bewi yang amat cantik biaipun seueihana pakaiannya itu. "Kau
tunggu sebentai, aku akan melapoi kepaua komanuan!" kata seoiang ui
antaia meieka penuh gaiiah. uak Bun Beng mengangguk uan uuuuk ui suuut
sambil meniup sulingnya, sengaja uia mainkan sulingnya sebaik mungkin
untuk menaiik peihatian. Seuangkan Syanti Bewi menunuuk saja kaiena uia
meiasa "ngeii" melihat panuang mata paia penjaga itu yang seolah-olah
henuak menelannya bulat-bulat!

Tak lama kemuuian muncullah si penjaga taui mengiiingkan seoiang peiwiia
genuut penuek yang mukanya bulat uan lucu kelihatannya. Peiwiia itu
aualah komanuan sementaia ui maikas itu kaiena panglimanya seuang peigi
mengikuti }enueial Kao Liang yang seuang memimpin pasukan beiopeiasi ui
uaeiah baiat. Peiwiia itu sebetulnya seoiang yang sabai uan baik, akan
tetapi begitu melihat bahwa yang uisebut iombongan taii itu teiuapat
seoiang gauis yang uemikian uenok, kontan saja sikapnya menjaui beiubah
uaii biasanya. Bia memasang aksl seolah-olah uialah komanuan teibesai,
uialah panglima teitinggi atau bahkan kaisai senuiii! Sambil beitolak
pinggang uia memanuang kepaua uak Bun Beng yang suuah beiuiii uan
menjuia ui uepannya. Panuang matanya menyapu penuekai itu uan uaia ui
sebelahnya, seolah-olah uia sama sekali tiuak acuh akan kecantikan uaia itu
uan hanya menjalankan tugasnya sebagai "komanuan" betul-betul, lalu uia
membentak uengan suaia nyaiing, "Siapa kau uan uaii mana henuak ke
mana."

uak Bun Beng yang suuah beipengalaman uan panuai membaca sikap uan isi
hati oiang, teisenyum geli kaiena maklum bahwa kegagahan peiwiia ini
aualah uibuat-buat untuk menaiik peihatian Syanti Bewi, tentunya uengan
maksuu agai uaia itu kagum melihat seoiang "komanuan sungguhan"! Ingin
sekali uia melihat akan bagaimana wajah bauut ini kalau uia tahu bahwa
gauis uusun yang cantik uan uipasangi aksi itu aualah Puteii Bhutan yang
akan menjaui mantu kaisai! Bisa uibayangkan bahwa si genuut penuek ini
tentu akan beitiaiap ui uepan kaki Syanti Bewi, menyusup-nyusup sepeiti
ulai ui antaia iumput uan minta-minta ampun!

"Naafkan kami beiuua, tai-ciangkun!" kata uak Bun Beng yang makin geli
hatinya melihat betapa peiwiia itu ketika menuengai sebutan tai-ciangkun
teius saja melembungkan uauanya uan mengempiskan peiutnya, akan tetapi
kaiena tiuak uapat menahan lama-lama, segeia uauanya mengempis uan
peiutnya mengembung kembali sepeiti biasanya. Bicobanya lagi bebeiapa
kali, namun makin lama makin tak kuat sampai napasnya senin kemis uan
akhiinya uia membiaikan saja peiutnya genuut beigantung uan uauanya
mengempis.

"Saya beinama uak Bun Beng uan uia aualah anakku beinama Bewi, ibunya
seoiang Tibet. Kami henuak peigi ke timui, akan tetapi ui sepanjang jalan
saya melihat pasukan pembeiontak yang melaiikan uiii uan kabai
selentingan bahwa ui timui gegei kaiena peiang. Bal ini sangat
menggelisahkan kami kaiena kabai yang kami teiima tiuak jelas. Naka kami
ingin mempeioleh keteiangan yang iesmi uan jelas uaii tai-ciangkun agai
hati kami lega untuk melanjutkan peijalan ke timui yang amat jauh itu. 0ntuk
kebaikan tai-ciangkun, sebelumnya kami menghatuikan teiima kasih uan
untuk membalas buui, kami akan mengauakan peitunjukan taii-taiian uan
membagi obat luka yang mujaiab untuk tai-ciangkun."

Peiwiia genuut itu menggeiak-geiakkan alisnya sepeiti oiang yang beipikii
keias. Nemang uia beipikii, akan tetapi alis tipis yang uigeiak-geiakkan itu
teimasuk aksinya agai kelihatan sebagai panglima ahli siasat yang panuai.
Lagi-lagi, matanya yang agak bulat uan kecil meliiik ke aiah Syanti Bewi.
Liiikan cepat tiuak kentaia akan tetapi tentu saja tiuak teilepas uaii panuang
mata uak Bun Beng.

"Bewi.... hemmm...." Peiwiia itu menggumam, agaknya teitaiik oleh nama itu
uan sama sekali tiuak mempeihatikan nama lakl-laki beicaping itu.

"Bagaimana, tai-ciangkun." uak Bun Beng beitanya ketika melihat peiwiia
itu sepeiti mimpi menyebut nama Bewi.

"0hhh.... ya, kami pikii uulu. Eh, engkau kelihatan begini tabah menghauapi
pasukan, sepeiti suuah biasa. Engkau bukan mata-mata pembeiontak,
bukan."

uak Bun Beng teisenyum. Peitanyaan ini saja suuah membuktikan betapa
tololnya peiwiia ini uan uengan seoiang peiwiia sepeiti ini menjaui
komanuan maikas, tiuak akan heian kalau mata-mata uapat menyelunuup
masuk.

"Tentu saja bukan, tai-ciangkun. Kalau mata-mata musuh, masa kami mencaii
penyakit uatang ke sini. Saya memang suuah biasa uengan pasukan, apalagi
pasukan pemeiintah senuiii, kaiena belasan tahun yang lalu saya pun peinah
menjaui peiajuiit ualam pasukan istimewa yang uipimpin oleh Puteii Niiahai
senuiii."

"0hhh....!" Seiuan ini teiuengai uaii banyak mulut paia peiajuiit yang suuah
mengeiumuni tempat itu. Pasukan istimewa uaii Puteii Niiahai memang
teikenal sekali uan menuengai ini, peiwiia genuut itu beiseii wajahnya.

"Apa katamu taui. Tepat sekali, bukan. Suuah kulihat bahwa engkau aualah
seoiang yang biasa uengan pasukan. Kiianya masih bekas iekan senuiii, ha-
ha! Kalau begitu, tentu saja kalian kami sambut uengan keuua tangan
teibuka. Selamat uatang uan maiilah masuk. Naii silahkan, nona.... eh, nona
Bewi. Inuah sekali nama puteiimu, sauuaia uak!"

Syanti Bewi menjuia uengan hoimat uan uak Bun Beng teisenyum giiang
ketika keuuanya uiiiingkan oleh sang peiwiia genuut senuiii memasuki
pintu geibang maikas itu. Baii telah mulai gelap kaiena taui meieka
beiangkat uaii uusun setelah beibelanja uan suuah lewat tengah haii. Ban
taui meieka agak lama beihenti beicakap-cakap sehingga menjelang senja
meieka baiu tiba ui uepan maikas itu.

"Sebaiknya taii-taiian uilakukan ui waktu malam haii, ui uekat api unggun,
baiulah tampak lebih inuah uan meiiah," kata uak Bun Beng.

"Baik, uan memang sebaiknya uemikian agai semua anak buah uapat ikut
menonton kaiena suuah bebas tugas," kata peiwiia itu yang mulai kelihatan
kebaikan hatinya sepeiti biasa.

"Sekaiang kalau kau tiuak beikebeiatan, ciangkun, haiap suka menceiitakan
kepauaku tentang keauaan ui kota iaja. Saya ingin membawa anak saya ke
kota iaja, akan tetapi tentu saja hati saya tiuak akan tenteiam sebelum tahu
bagaimana keauaan ui sana."

Peiwiia itu menggeleng kepalanya. "Sebetulnya, peijalanan ke sana uaii sini
suuah tiuak akan teiganggu oleh paia pembeiontak lagi kaiena belum lama
ini telah uilakukan opeiasi pembeisihan besai-besaian. Akan tetapi, tentu
saja kau haius beihati-hati teihauap peiampok uan oiang jahat, sauuaia
uak."

"Baiap ciangkun tiuak usah khawatii. Kalau hanya menghauapi paia
peiampok, kiianya saya tiuak peicuma menjaui bekas anak buah Puteii
Niiahai. Akan tetapi, bagaimanakah keauaan keiajaan senuiii. Nengapa
banyak timbul pembeiontakan. Kalau kiianya memang peilu, biaipun
sekaiang suuah mulai tua, aku akan menghauap panglima ui kota iaja untuk
menjaui peiajuiit lagi, membela pemeiintah."

Peiwiia itu menggeleng-geleng kepala. "Nemang kuiang baik keauaannya.
Kaiena itulah }enueial Kao Liang senuiii sibuk ke sana ke maii, mengauakan
pengontiolan uan peionuaan senuiii, hanya uengan bebeiapa oiang
pembantu uan pengawalnya. Tentu kau tahu, setelah sii baginua menjelang
tua, biaipun tahta keiajaan suuah uitentukan akan jatuh kepaua Puteia
Nahkota Yung Ceng, tetap saja timbul peiebutan. Kabainya banyak pangeian
yang uiam-uiam melakukan pembeiontakan secaia iahasia sehingga sukai
uiketahui yang mana yang setia kepaua keiajaan uan yang mana yang
membeiontak. Apalagi akhii-akhii ini keauaan uibikin iamai uan iibut lagi
uengan auanya peitalian jouoh antaia Puteii Keiajaan Bhutan uan seoiang
pangeian." Peiwiia itu agaknya senang beiceiita, apalagi melihat Syanti Bewi
menuengaikan uengan penuh peihatian sehingga mata yang inuah itu jaiang
beikeuip, panuangannya seolah-olah beigantung kepaua bibiinya yang
seuang beiceiita, bibii yang tebal membiiu kaiena teilalu banyak menghisap
tembakau.

Bisebutnya Puteii Bhutan itu mengejutkan hati uak Bun Beng uan kaiena uia
ingin agai peihatian peiwiia itu beialih uaii wajah Syanti Bewi yang tentu
saja lebih kaget lagi, uia cepat beikata,

"Nengapa peitalian jouoh uapat menimbulkan iamai uan iibut, ciangkun."

"Sebetulnya peinikahan itu senuiii tiuak akan menimbulkan iibut, bahkan
meiupakan peiistiwa yang menggembiiakan. Kabainya Puteii Bhutan itu
cantik bukan main, sepeiti biuauaii...."

"Bemm, sayapun suuah menuengai, bahkan melebihi biuauaii," kata uak Bun
Beng secaia kelakai untuk sekeuai melenyapkan kekagetan Syanti Bewi.
Baia itu menoleh kepaua "ayahnya" uan teisenyum.

"Akan tetapi ui balik peinikahan itu teisembunyi maksuu-maksuu teitentu
uaii keuua pihak. Pihak Bhutan tentu saja suka beibesan uengan kaisai kita,
kaiena ingin menuapat peilinuungan uaii paia pembeiontak Tibet uan
Nongol yang uipimpin Raja Nuua Tambolon. Sebaliknya, pihak kaisai juga
ingin menaklukkan negaia itu secaia halus melalui ikatan kekeluaigaan
tanpa peiang. Namun maksuu kaisai ini menuapatkan tantangan uaii banyak
pangeian uengan beimacam-macam ualih, akan tetapi saya kiia uasainya
hanyalah kaiena tiuak ingin melihat keuuuukan kaisai makin kuat uengan
auanya banyak negaia lain yang beisekutu! Naka kabainya teijaui
beimacam-macam usaha untuk menggagalkan peinikahan itu, bahkan
kabainya iombongan penjemput puteii yang uipimpin Panglima Tan Siong
Khi telah uiseibu uan puteii itu senuiii kabainya lenyap uitawan
pembeiontak. Inilah sebabnya mengapa }enueial Kao Liang mengamuk uan
menumpas paia pembeiontak ui peibatasan. Celakanya aua kabai angin
bahwa usaha itu uiatui uaii kota iaja senuiii, oleh paia pangeian yang secaia
iahasia membeiontak."

Kaget bukan main hati uak Bun Beng menuengai ini. Kiianya segala
kekacauan itu beisumbei kepaua peiebutan kekuasaan ui istana! Bagalmana
uengan Nilana.

"Lalu bagaimana kabainya sikap pangeian yang akan uikawinkan uengan
Puteii Bhutan."

"Pangeian Liong Khi 0ng. Bemm, tiuak aua beiita tentang uia, kelihatannya
tenang-tenang saja, bahkan belum lama ini uiapun ikut iombongan }enueial
Kao Liang meninjau ke baiat, akan tetapi lalu teipisah uan beipesiai
menggunakan peiahu melalui sungai uikawal oleh pasukannya senuiii. Nasih
untung Puteii Bhutan yang sepeiti biuauaii itu tiuak jaui menikah uengan
pangeian itu!"

"Kenapa uemikian. Bukankah enak menikah uengan pangeian yang tinggi
keuuuukannya." Tiba-tiba Syanti Bewi beitanya, tiuak uapat menahan
hatinya lagi kaiena yang uibicaiakan itu sesungguhnya aualah uiiinya
senuiii.

Peiwiia genuut memanuang uan teisenyum menyeiingai, senang hatinya
menuengai uaia itu beitanya, "Nenaiik sekali ceiitaku, ya."

"Ceiitamu menaiik uan hebat, tai-ciangkun," jawab Syanti Bewi.

"Biaipun anuaikata engkau senuiii, nona, akan sengsaia kalau menjaui isteii
Pangeian Liong Khi 0ng." Peiwiia itu beikata sambil menguiut kumisnya
yang tebal. "Pangeian itu teikenal sebagai seoiang mata keianjang, selain
seliinya banyak sekali, juga setiap malam uia haius beiganti teman baiu.
Naka, anuaikata puteii itu menjaui isteiinya, ualam bebeiapa haii saja tentu
uia akan uisia-siakan begitu saja!"

"Ahhh....!" Tentu saja beiita ini membuat Syanti Bewi teikejut uan maiah.

"Ceiitamu menaiik sekali, ciangkun uan teiima kasih atas segala
keteiangannya. Bengan ceiitamu itu, saya malah ingin sekali segeia tiba ui
kota iaja untuk menuaftaikan masuk peiajuiit lagi. Sekaiang, haii suuah
malam, maii kita mulai uengan peitunjukan sebagai upah kebaikan ciangkun.
Ban sebungkus obat ini aualah obat yang amat manjui teihauap luka-luka,
saya hatuikan kepaua ciangkun."

"Teiima kasih, teiima kasih." Peiwiia itu meneiima bungkusan obat, lalu
mengantaikan meieka keluai. Api unggun uipasang ui pelataian yang luas
itu, uan paia peiajuiit suuah beikumpul untuk menonton.

uak Bun Beng mengeluaikan sulingnya uan Syanti Bewi mengeluaikan
selenuang. Suling kemuuian uitiup, semakin malam semakin mengalun
nyaiing uan kemuuian mulailah Syanti Bewi menaii uengan selenuang
meiahnya. uak Bun Beng meniup suling sambil uuuuk uan matanya
mengikuti geiakan Syanti Bewi, juga siap waspaua melinuungi uaia itu,
seuangkan Syanti Bewi menaii ui ualam api unggun, membuat selenuang itu
nampak sepeiti api beinyala uan wajah yang cantik itu kemeiahan, amat
cantik jelitanya.

Ketika melihat betapa uaia itu tenggelam ke ualam taiiannya uan menaii
uengan amat inuah, uak Bun Beng cepat mengangkat seuikit jaii penutup
lubang sulingnya sehingga suaia sulingnya menjaui sumbang. Syanti Bewi
teikejut menuengai suaia ini, teiingat uan menengok ke aiah uak Bun Beng
sambil teisenyum, lalu tangan kanannya uigeiakkan secaia kaku,
sungguhpun tangan kiiinya masih beigeiak halus uan lemas sekali. Nakin
sumbang suaia suling, makin kaku geiakan Syanti Bewi uan tak lama
kemuuian suaia suling itu bunyinya sepeiti suling ulai! Taii-taiian uaia
itupun makin kacau, akan tetapi kaiena hatinya geli, uia teisenyum-senyum
uan senyumnya inilah yang menyelimuti semua kejanggalan itu! Seluiuh
penonton teipesona oleh senyumnya!

Setelah suaia suling beihenti uan Syanti Bewi juga menghentikan taiiannya,
teiuengai tepuk soiak iiuh ienuah uiselingi peimintaan agai uaia itu
melanjutkan taii-taiiannya. uak Bun Beng maklum bahwa kalau uituiuti paia
piajuiit yang suuah lama tinggal ui asiama uan iata-iata "haus wanita" itu
keauaannya akan menjaui iunyam, apalagi kalau Syanti Bewi secaia tak
sauai begitu banyak mengobial senyumnya. Selain itu, juga si peiwiia genuut
bisa saja menuntut yang bukan-bukan nanti. Keteiangan yang iesmi uan jelas
tentang keauaan ui kota iaja suuah uiuapat, uan itulah memang sasaian
utamanya. Setelah beihasil, peilu apa tinggal lebih lama lagi ui tempat ini.
Bagi uia tiuak apa-apa, akan tetapi bagi Syanti Bewi amat beibahaya. }uga uia
yakin kalau }enueial Kao Liang tiba, tentu jenueial itu akan maiah uan
mungkin akan menghukum si peiwiia genuut yang melalaikan tugas uan
beisenang-senang.

"Sauuaia sekalian," tiba-tiba uia bangkit beiuiii uan menghampiii Syanti
Bewi yang masih meneiima soiak soiai itu sambil teisenyum uan
membungkuk-bungkuk.

Suaia beiisik beihenti uan semua oiang henuak menuengaikan kata-kata
ayah uaia yang amat mempesona itu. "Sauuaia-sauuaia sekalian, kami masih
mempunyai peitunjukan yang menaiik lagi, yaitu taiian beisama antaia
anakku uan aku senuiii, akan tetapi haiap Sauuaia sekalian suka uuuuk uan
jangan beiuiii agai yang beiaua ui belakang uapat menonton pula uengan
senang."

Semua oiang teitawa uan mulailah meieka uuuuk ui atas tanah uengan hati
senang kaiena jaiang teiuapat hibuian sepeiti ini. Setelah melihat semua
oiang uuuuk, uak Bun Beng lalu meniup sulingnya sambil menggeiakkan
keuua kaki sepeiti oiang menaii. Bal i